Anda di halaman 1dari 17

TRANSISI KEPENDUDUKAN

Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Demografi Dosen pengampu: Ns. Tantut Susanto, M.Kep., Sp.Kep.Kom

Kelompok 3: 1. Septian Affan H. 2. Eka Trisnawati 3. Yuyun Ernawati 4. Alfian Fahrosi 5. Suyanti 072310101038 082310101021 082310101058 082310101069 092310101088

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS JEMBER TAHUN 2012

1. Pertumbuhan Penduduk Dunia Jumlah penduduk pada suatu wilayah atau negara pada dasarnya dapat dikelaskan sebagai model atau beban pembangunan, hal tersebut didasarkan jumlah penduduk yang banyak jika disertai dengan kualitas yang memadai baik tingkat kesehatan, pendidikan maupun kemamuan beradaptasi dengan perkembangan tehnologi yang sangat mendukung terhadap proses perkembangan negara (Utoyo, 2005) Pertumbuhan penduduk selalu berubah dari waktu ke waktu, ada beragam faktor yang menyebabkan perubahan jumlah penduduk, misalnya peperangan, wabah penyakit atu epidemik, kelaparan, dan bencana alam. Hal lain seperti kestabilan negara, peningkatan gizi dan kesehatan dapat meningkatkan jumlah penduduk cenderung naik. Fenomena bertambah atau berkurangnya jumlah penduduk dari waktu ke waktu dalam suatu wilayah tertentu dinamakan dinamika penduduk. Gejala dinamika penduduk dipengaruhi 3 faktor yaitu kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas), dan perpindahan penduduk (migrasi). Pertumbuhan penduduk dapat dibedakan menjadi dua yaitu pertumbuhan penduduk alami dan pertumbuhan penduduk total: a. Pertumbuhan penduduk alami merupakan kenaikan atau penurunan jumlah penduduk akibat pertumbuhan penduduk alami, di gunakan rumus:
Pt= Po + (L-M)

Sedangkan

persentase

pertumbuhan

penduduk

alami

dapat

dihitung

menggunakan rumus sebagai berikut:


%= L-M x 100% Po

Keterangan: Pt P0 L M % : Jumlah penduduk tahun akhir perhitungan : Jumlah penduduk tahun awal perhitungan : Jumlah kelahiran : Jumlah kematian : persentase pertumbuhan penduduk alami

b. Pertumbuhan penduduk total merupakan kenaikan atau penurunan jumlah penduduk yang diakibatkan oleh selisih jumlah kelahiran, kematian dan migrasi. Rumus yang digunakan sebagai berikut:
Pt= Po + (L-M)+ (I-E)

Sedangkan persentase pertumbuhan penduduk total dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
%= (L-M) + (I-E) x 100% Po

Pt P0 L M I E %

: Jumlah penduduk tahun akhir perhitungan : Jumlah penduduk tahun awal perhitungan : Jumlah kelahiran : Jumlah kematian : Jumlah imigrasi : Jumlah emigrasi : persentase pertumbuhan penduduk total

Seperti pembahasan di atas bahwa pertumbuhan penduduk pada suatu wilayah dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu fertilitas, mortalitas dan imigrasi. a. Fertilitas Fertilitas merupakan gambaran mengenai jumlah kelahiran hidup dalam suatu wilayah pada periode waktu tertentu. Fertilitas atau angka kelahiran disebut natalitas. Secara umum fertilitas diklasifikasikan menjadi tiga yaitu angka kelahiran kasar, angka kelahiran umum dan angka kelahiran menurut kelompok usia. 1. Angka kelahiran kasar adalah angka yang menunjukkan banyaknya bayi lahir hidup dari setiap seribu penduduk dalam periode tahun tertentu. Untuk menghitung angka kelahiran kasar digunakan rumus sebagai berikut:
CBR= B/P X K

Keterangan: CBR B P K : angka kelahiran kasar : jumlah bayi yang lahir hidup : jumlah penduduk : konstanta (nilainya 1000)

2. Angka kelahiran umum yaitu angka yang menunjukkan jumlah komposisi bayi lahir hidup dari setiap seribu penduduk wanita usia reproduksi dalam periode tahun tertentu. Usia reproduksi adalah usia wanita sudah berpotensi untuk melahirkan, yaitu antara umur 15-49 tahun. Untuk menghitung angka kelahiran umum dapat digunakan rumus:
GFR= B XK Pf (15-59)

Keterangan: GFR B : angka kelahiran umum : jumlah bayi yang lahir hidup

Pf (15-49) : jumlah penduduk wanita usia reproduksi K : konstanta (nilainya 1000)

3. Angka kelahiran menurut kelompok usia adalah angka yang menunjukkan banyaknya bayi lahir hidup dari setiap seribu penduduk wanita perkelompok umur pada usia reproduksi dalam periode tahun tertentu. Dalam demografi, interval usia ang biasa digunakan adalah lima tahun 15-19, 20-24, 25-29, 3034, 35-39, 40-44, 45-49. Untuk menghitung angka kelahiran menurut kelompok usia menggunakan rumus sebagai berikut:
ASFRx= Bx xk Pf (15-49)

ASFRx

: angka kelahiran menurut kelompok usia

Bx

: jumlah bayi yang lahir hidup dari penduduk wanita kelompok usia tertentu

Pf

: jumlah penduduk wanita usia subur pada kelompok umur tertentu

: konstanta (nilainya 1000)

Dari ketiga metode penghitungan diatas angka kelahiran yang akurasinya paling tinggi adalah angka kelahiran menurut kelompok usia. Hal ini dikarenakan dalam perhitungannya mempertimbangkan faktor jenis kelamin, usia reproduksi perkelompok umur dan banyaknya bayi lahir dari tiap penduduk wanita kelompok umur dalam usia reproduksi. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya tingkat kelahiran hidup pada suatu wilayah antara lain menikah di usia muda, anggapan bahwa banyak anak banyak rejeki dan tingginya tingkat kesehatan masyarakat. Sedangakan faktor yang menghambat angka kelahiran antara lain ketentuan batas minimal usia perkawinan, penundaan usia perkawinan, dan adanya program KB.

b. Mortalitas Faktor kedua yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk adalah angka kematian atau mortalitas. Mortalitas adalah angka yang memberikan gambaran mengenai jumlah penduduk yang meninggal dunia dalam waktu tertentu dalam tiap seribu penduduk. Banyak faktor yang menyebabkan kematian penduduk di suatu wilayah, diantaranya sebagai berikut: 1) Faktor pendorong, meliputi tingkat kesehatan penduduk yang rendah, fasilitas kesehatan yang kurang memaai, bencana alam, wabah penyakit, dan konflik antar suku bangsa. 2) Faktor penghambat, meliput kualitas kesehatan penduduk yang baik, fasilitas kesehatan yang memadai, kesadaran penduduk akan pentingnya kesehatan tinggi, dan sanitasi yang baik Seperti halnya fertilitas, angka kematian dibedakan dibedakan menjadi tiga yaitu angka kematian kasar, angka kematian menurut usia, jenis kelamin dan angka kematian bayi.

1. Angka kematian kasar menunjukkan banyaknya jumlah penduduk ang meninggal dunia dari tiap-tiap seribu penduduk. Untuk menghitung angka kematian kasar pada suatu wilayah digunakan rumus sebagai berikut:
CDR= D P XK

Keterangan: CDR D P k : angka kematian kasar : jumlah penduduk yang meninggal dunia : jumlah penduduk : konstanta (1000)

2. Angka kematian menurut usia menunjukkan jumlah penduduk yang meninggal dunia dari seribu penduduk pada kelompok usia tertentu. Angka kematian menurut kelompok usiadihitung dengan menggunakan rumus:
ASDR= Dx Px XK

Keterangan : ASDR Dx Px k : angka kematian menurut kelompok usia : jumlah penduduk yang meninggal pada usia tertentu : jumlah penduduk pada klompok usia tertentu : konstanta

3. Angka kematian bayi menunjukkan jumlah bayi meninggal dunia dari seribu bayi yang lahir hidup pada periode tahun tertentu. infant mortality dihitung menggunakan rumus berikut:
IMR= Do B XK

Keterangan: IMR Do B : angka kematian bayi : jumlah kematian bayi : jumlah kelahiran hidup

2. Perkiraan Pertumbuhan Penduduk Dunia Sejalan dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan perkembangan teknologi dalam mengolah sumber daya alam yang ada, tingkat kehidupan manusia menjadi semakin baik. Hal ini sangat mempengaruhi penurunan tingkat mortalitas penduduk. Seperti banyak yang dikemukakan ahli demografi, bahwa ledakan pendudukyang terjadi pada abad-abad terakhir ini terutama karena menurunnya tingkat kematian dengan cepat, sementara tingkat kelahiran belum dapat dikontrol dengan baik. Dengan hanya membutuhkan waktu lebih dari tiga abad sejak tahun 1650, jumlah penduduk dunia sudah menjadi sekitar 2.400 juta jiwa, dengan tingkat pertumbuhna penduduk setiap tahun sekitar satu persen. Bogue (1969), memperhitungkan tingkat pertumbuhan penduduk dunia setelah tahun 1650 sebagai berikut. Pada periode tahun 1650-1750 tingkat pertumbuhan penduduk dunia sekitar 0,34% pertahun, dan pada periode tahun 1900-1920 meningkat menjadi 0,56% dan pada decade 1950-an meningkat menjadi 1,81%, dan pada periode tahun 1995-2000 menurun menjadi 1,3% (United Nation, 1998). Gambar 1: perkembangan pertumbuhan penduduk dunia sejak permulaan tahun masehi

Sumber: Bogue (1969)

3. Model Transisi Demografi 3.1 Boque (1969) a. Pra tansisi (pre-transitional) A ke B b. Transisi (transitional) B ke E 1) Early transitional B ke C 2) Mid transisional C ke D 3) Late transisional D ke E c. Post transisional E ke F 3.2 Thompson dan Lewis (1978) Lima periode perkembangan penduduk a. Periode 1650-1800 b. Periode 1800-1850 c. Periode 1850-1900 d. Periode 1900-1930 e. Periode 1930 hingga sekarang 3.3 David Lucas (1982) Modernisasi memberi kontribusi besar dari pada industrialisasi terhadap tingkat kelahiran dan kematian.

4. Tahap-tahap Transisi Demografi 4.1 Bogue (1969) Transisi demografi menunjukkan perubahan kondisi demografi suatu negara atau wilayah dari keadaan dengan angka kematian dan angka kelahiran yang tinggi menuju keadaan dengan angka kematian dan angka kelahiran yang rendah (Hatmadji dan Anwar, 1993). Perubahan angka kematian dan kelahiran ini melahirkan teori pokok dalam demografi yaitu transisi vital. Transisi vital adalah perubahan-perubahan tingkat kelahiran dan tingkat kematian dimulai dari tingkat kelahiran dan kematian tinggi, berangsur-angsur berubah menjadi tingkat kelahiran dan kematian rendah, dan tingkat kematian menurun lebih cepat dibandingkan dengan tingkat kelahiran (Mantra, 2003).

Bogue (1969) seorang ahli demografi membuat pentahapan transisi vital menjadi tiga tahap, yaitu: I. Pra-Transisi (pre transitional), dari A hingga B, dengan ciri tingkat kelahiran dan kematian yang sama-sama tinggi. angka pertumbuhan alami penduduk sangat rendah (hampir mendekati nol). Pra-transisi di Eropa terjadi sebelum tahun 1650, menyebabkan penduduk dunia stabil. II. Transisi (Transitional), dari B ke E, dicirikan dengan penurunan tingkat kelahiran dan tingkat kematian, tingkat kematian lebih rendah daripada tingkat kelahiran, mengakibatkan tingkat pertumbuhan penduduk alami sedang atau tinggi. fase transisi ini dibagi lagi menjadi tiga: a. Permulaan transisi (early transitional), dari B ke C, dicirikan dengan tingkat kematian menurun , tetapi tingkat kelahiran tetap tinggi, bahkan ada kemungkinan meningkat karena perbaikkan kesehatan. b. Pertengahan transisi (mid transitional), dari C ke D, tingkat kematian dan tingkat kelahiran kedua-duanya menurun, tetapi tingkat kelahiran menurun lebih cepat dari tingkat kelahiran. c. Akhir transisi (late transitional), dari D ke E, tingkat kematian rendah dan tidak berubah atau menurun hanya sedikit, dan angka kelahiran antara sedang dan rendah, dan berfluktuasi atau menurun. Pengetahuan tentang kontrasepsi meluas. III. Pasca transisi (post transitional), dari E ke F, dicirikan oleh tingkat kematian dan tingkat kelahiran kedua-duanya rendah, hampir semuanya mengetahui caracara kontrasepsi dan dipraktekkan. Tingkat kelahiran dan tingkat kematian (vital rate) mendekati keseimbangan. Pertumbuhan penduduk alami amat rendah dalam jangka waktu yang panjang.

Gambar 2: Model Transisi Demografi

Ida bagoes Mantra (2003, halaman 42)

4.2 Thompson dan Lewis (1978) Thompson dan Lewis (1978) merupakan ahli demografi yang meruskan teorinya berkaitan dengan tahap perkembangan teknologi maupun peristiwa-peristiwa social ekonomi penting yang dialami penduduk dunia sejak tahun 1650 dan membagi periode perkembangan penduduk dunia ke dalam lima periode, yaitu: 1. Periode 1650-1800 Ditandai dengan pengembangan teknik-teknik pertanian baru, pendirian pabrikpabrik dalam tahap awal, serta pengembangan sarana transportasi dan perhubungan, disertai dengan kestabilan politik yang relative terjadi di banyak Negara di dunia. Factor-faktor tersebut memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap pertumbuhan penduduk, terutama di Negara-negara barat. Penduduk dunia pada akhir periode ini diperkirakan sebanyak 900 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan penduduk 0,4% per tahun.

2. Periode 1800-1850 Pertumbuhan penduduk dunia sudah menunjukkan variasi antar Negara satu dengan Negara yang lain. Negara-negara di Eropa pada umumnya menunjukkan laju pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi. dalam waktu hanya 50 tahun, penduduknya bertambah sekitar 33,3%. Peningkatan penataan kehidupan politik dan ekonomi bangsabangsa pada masa ini mendorong stabilnya penyediaan pangan yang cukup bagi penduduk, disamping kesadaran akan kesehatan lingkungan. Salah satu hal penting yang patut dicatat dalam periode ini adalah kesadaran untuk mengontrol laju pertumbuhan penduduk, khususnya di Perancis. 3. Periode 1850-1900 Ditandai dengan sudah banyaknya Negara di dunia yang melaksanakan sensus penduduk secara lengkap, sehingga data kependudukan dunia sudah semakin banyak dan reabilitasnya semakin tinggi. kemajuan teknologi pada periode ini semakin mendorong peningkatan produktivitas manusia. Pengorganisasian kehidupan social, ekonomi,dan politik penduduk Negara-negara barat semakin Nampak, terutama di daerah-daerah urban. Perubahan yang paling penting pada periode ini adalah telah mulai menurunnya tingkat fertilitas di beberapa Negara barat. Di Eropa, misalnya sudah timbul kesadaran dan keyakinan bahwa pertumbuhan penduduk sepenuhnya dapat dikendalikan melalui usaha penurunan tingkat kelahiran dan tingkat kematian. 4. Periode 1900-1930 Peristiwa dunia yang membawa pengaruh demografis yang besar ialah perang dunia I. dalam peristiwa ini banyak penduduk yang meninggal di medan perang, ataupun meninggal karena buruknya keadaan ekonomi. Banyak penyakit yang menyebabkan kematian, terutama penyakit infeksi. Dalam periode ini perkembangan penduduk dunia secara garis besar dapat dipisahkan atas tiga wilayah. Wilayah pertama mencakup Negara-negara eropa barat dan amerika serikat, kedua Negara ini sudah nampak dengan rapi dalam pengendalian kelahiran dan kematian. Wilayah kedua mencakup Negara-negara Eropa timur, Afrika utara, amerika latin dan Jepang. Di Negara ini usaha penurunan tinggakat kelahiran belum banyak berhasil dibandingkan dengan penurunan tingkat kematian , sehingga masih terjadi pertumbuhan penduduk yang relative besar. Wilayah ketiga, yang

merupakan sisa dari wilayah pertama dan kedua, masih mengalami tingkat kelahiran dan kematian yang tinggi. variasi pertumbuhan penduduk antarnegara dalam wilayah ini pada umumnya hanya disebabkan oleh perbedaan tingkat kematian, oleh karena itu tingkat kelahiran cenderung masih statis. 5. Periode 1930 hingga sekarang Merupakan periode peledakan penduduk dunia yang cukup besar, terutama setelah perang dunia ke II. kecuali perang itu sendiri, hampir tidak ada lagi penyebab pembunuh manusia yang berarti. Pelayanan kesehatan semakin jauh meningkat, terutama dengan penemuan berbagai obat antibiotic. Penemuan-penemuan teknologi modern semakin mendorong peningkatan kualitas hidup. Disatu pihak keadaan ini semakin mensukseskan usaha pengendalian penduduk Negara-negara maju, namun sebaliknya di Negara-negara belum maju terutama pada awal-awal periode ini, justru mendorong pertambahan penduduk yang cukup besar. Dalam periode inilah angka 4 miliar dari jumlah penduduk dunia dicapai. Dalam periode ini pula, kesadaran akan penurunan tingkat kelahiran sebagai usaha-usaha menekan laju pertumbuhan penduduk, menjadi program internasionel yang mencakup hampir semua Negara di dunia.

4.3 David Lucas (1982) Lucas (1982), menyatakan bahwa proses penurunan tingkat kematian dan kelahiran di beberapa Negara tidaklah sederhana seperti yang dilukiskan dalam model transisi vital Bogue (1969). Di Eropa, penurunan tingkat mortalitas lebih berkaitan dengan perkembangan social ekonomi, di Negara-negara sedang berkembang, turunnya tingkat mortalitas terutama disebabkan terutama oleh tingginya efektifitas penggunaan obat-obatan modern dan anti biotika. Suasana di Negara-negara yang sedang berkembang dewasa ini sangat berbeda. Penggunaan alat-alat kontrasepsi oleh penduduk lebih mantap, dan pemerintah menaruh perhatian yang serius terhadap masalah penduduk di negaranya, sehingga penurunan tingkat fertilitas lebih cepat dari yang terjadi di Negara-negara Eropa pada abad ke 17. Menurut Lucas (1982) di Negara-negara sedang berkembang sector pertanian merupakan sector dominan, maka ia dan para penulis lainnya cenderung mengatakan bahwa modernisasi daripada industrialisasi sebagai penyebab penurunan tingkat fertilitas.

Table 1: tahap transisi Lucas Tahap Tingkat kelahiran 1. Stasioner tinggi 2. Awal perkembangan 3. Akhir perkembangan Menurun Lambat menurun Menurun lebih cepat daripada tingkat kelahiran 4. Stasioner rendah Rendah Rendah Nol/sangat rendah Cepat Tinggi Tingkat kematian Tinggi Pertumbuhan alami Nol/sangat rendah Lambat Eropa pada abad 14 India sebelum PD II Eropa selatan sebelum PD II, India setelah PD II Australia, Selandia Baru, Amerika serikat pada tahun 1939-an 5. Menurun Rendah Lebih tinggi daripada tingkat kelahiran Negative Perancis sebelum PD II, Jerman timur dan barat pada tahun 1975. Sumber: David Lucas (1982) Contoh

5. Perkiraan Komponen Perubahan Penduduk Proyeksi penduduk adalah perhitungan yang menunjukkan angka fertilitas, mortalitas dan migrasi dimasa yang akan datang. Perkiraan penduduk tidak hanya beberapa tahun, tetapi bisa saja perkiraan beberapa puluh tahun yang akan datang. Semua perencanaan pembangunan sangat membutuhkan data penduduk tidak saja pada saat merencanakan pembangunan tetapi juga pada masa-masa mendatang yang disebut

dengan proyeksi penduduk. Proyeksi penduduk bukan merupakan ramalan jumlah penduduk untuk masa mendatang, tetapi juga perhitungan ilmiah yang didasarkan asumsi dari komponen laju pertumbuhan penduduk yaitu kelahiran, kematian, dan migrasi penduduk. Ketiga komponon inilah yang menentukan besarnya jumlah penduduk dan struktur penduduk yang akan datang. Untuk menentukan asumsi tingkat kelahiran, kematian, dan perpindahan dimasa yang akan datang, diperlukan data yang menggambarkan keadaan dimasa lampau hingga kini, factor-faktor yang mempengaruhi masa komponen, dan hubungan antara satu komponen dengan komponen yang lain serta target yang akan dicapai di masa yng akan datang. Proyeksi penduduk ini secara periodik perlu direvisi, karena sering terjadi bahwa asumsi tentang kecenderungan tingkat kelahiran, kematian, dan perpindahan penduduk ( migrasi ) yang melandasi proyeksi lama tidak sesuai lagi dengan kenyataan. Pertumbuhan jumlah penduduk dapat mempengaruhi kesejahteraan daerah atau Negara yang bersangkutan. Perhitungan proyeksi penduduk penulis lakukan dengan memproyeksikan penduduk berdasarkan tingkat pertumbuhan penduduk pada periode 1998-2008. Hal tersebut ditempuh karena informasi mengenai salah satu komponen kependudukan yaitu migrasi tidak tersedia untuk tingkat Kabupaten / Kotamadya. Adapun tahapan-tahapan yang dilakukan dalam perhitungan proyeksi ini adalah sebagai berikut: 1. Menghitung tingkat pertumbuhan Kabupaten Simalungun menurut jenis kelamin untuk periode 1998-2008, dengan metode Geometrik. 2. Memproyeksikan penduduk Kabupaten Simalungun menurut jenis kelamin berdasarkan tingkat pertumbuhan 1998-2008 dengan meted Geometrik. Adapun rumus Geometrik Rate Of Growth tersebut adalah: ( Keterangan: Pt = Jumlah penduduk dalam tahun t Po = Jumlah penduduk pada aawal tahun r t = Angka pertumbuhan penduduk = Jangka waktu dalam tahun )

Metode yang digunakan 1. Angka Pertumbuhan Penduduk Angka pertumbuhan penduduk menunjukkan angka rata-rata pertambahan penduduk pertahun pada periode atau waktu tertentu, dan biasanya dinyatakan dengan persen (%). Dalam menghitung proyeksi pertumbuhan digunakan beberapa asumsiasumsi, yaitu: 1) Pertumbuhan Aritmatika Pertumbuhan penduduk secara aritmatika adalah pertumbuhan penduduk dengan jumlah setiap tahun adalah sama. Dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: Pn = Po (i + rn) keterangan: Pn Po r n = Jumlah penduduk pada n tahun = Jumlah penduduk pada awal tahun = Tingkat pertumbuhan penduduk = Periode waktu dalam tahun

2) Pertumbuhan Geometri Pertumbuhan geometri adalah pertumbuhan penduduk bertahap, yaitu dengan memperhitungkan pertumbuhan penduduk hanya paada akhir tahun dari suatu periode. Dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: ( keterangan: Pn Po r n = Jumlah penduduk pada n tahun = Jumlah penduduk pada awal tahun = Tingkat pertumbuhan penduduk = Periode waktu dalam tahun )

3) Pertumbuhan Eksponensial Pertumbuhan penduduk adalah pertumbuhan penduduk yang berlangsung secara terus menerus (continous). Ukuran penduduk secara eksponensial ini lebih tepat, mengingat dalam kenyataannya pertumbuhan penduduk juga berlangsung terusmenerus. Dapat dihitung denngan menggunakan rumus sebagai berikut:

keterangan : Pn Po r n e = Jumlah penduduk pada n tahun = Jumlah penduduk pada awal tahun = Tingkat pertumbuhan penduduk = Periode waktu dalam tahun = jumlah konstanta yang besarnya 2,71828183

2. Rasio Jenis Kelamin Rasio adalah perbandingan dua perangkat, yang dinyatakan dalam satu satuan tertentu. Dalam pengerjaannya, rasio (ratio) adalah perbandingan dikalikan 100.

Ukuran rasio ini sangat serinng dilakukan. Rasio jenis kelamin (Sex Ratio)adalh perbandingan jumlah antara jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Hal ini biasanya dinyatakan dalam banyaknya penduduk lakilaki per 100 perempuan. Secara umum dapat ditulis: SRi = x 100%

Rasio jenis kelamin (Sex ratio) menurut kelompok umur maka dituliskan sebagai berikut: Sri = keterangan: SRi= Rasio jenis kelamin pada golongan umur I tahun Mi = Jumlah penduduk laki-laki pada golongan umur i tahun Fi = Jumlah penduduk perempuan pada golongan umur i tahun K = Konstanta, biasanya 100 xK

Referensi: 1. Bagoes Mantra, Ida. 2010. Demografi Umum. Yogyakarta: Pustaka Pelajar 2. Utoyo, Bambang. 2005. Geografi: Membuka Cakrawala Dunia. PT. Setia Purna