Anda di halaman 1dari 3

Kebijakan Penyediaan Buku Elektronik Sekolah, Apakah bermanfaat?

Buku sekolah elekronik adalah sebuah produk yang dikeluarkan oleh Direktorat Pendidikan Nasional
Indonesia untuk menggantikan semua buku paket yang menggunakan kertas menjadi elektronik via internet. Berkenaan dengan hal itu, sudah hampir tiga tahun ini, pemerintah mencanangkan program buku sekolah elektronik (BSE) yang dapat diunduh secara gratis dari website www.bse.kemdiknas.go.id. Melalui mekanisme penilaian, pemerintah telah membeli hak cipta buku dari penulis dan penerbit untuk dijadikan BSE. Selain dalam bentuk softcopy, pemerintah juga memberi keleluasaan kepada perusahaan maupun perorangan untuk menggandakan dan memasarkan BSE dalam bentuk hardcopy (cetak). Untuk itu, pemerintah mengeluarkan Permendiknas Nomor 13 Tahun 2008 tentang Harga Eceran Tertinggi (HET) yang kemudian diubah dalam Permendiknas Nomor 28 Tahun 2008. Permendiknas tersebut selain mengatur masalah harga juga mengatur spesifikasi BSE versi cetak. Jadi, dapat dikatakan dana yang dibutuhkan untuk implimentasi kebijakan ini sangat besar, mulai dari pembelian lisensi buku dan pembuatan website khusus untuk mengelolanya secara berkesinambungan. Puluhan miliar uang rakyat sudah dipakai, tetapi sampai sekarang

belum terasa dampaknya pada rakyat. Kebijakan buku sekolah itu harus buku gratis, bukan buku murah.
Sekedar informasi berdasarkan data di laman www.bse.kemdiknas go.id, jumlah BSE sudah

mencapai 927 buku. Rinciannya, 291 buku SD, 154 buku SMP, 276 buku SMA, 204 buku SMK, dan 2 buku bahasa. Lalu apakah bermanfaat untuk rakyat?
Mungkin di telinga kita-kita yang suka menamakan dirinya maniak internet istilah buku elektronik/ ebook sudah tidak asing didengar. Namun, tidak dengan rakyat Indonesia yang sebagian besar rakyatnya masih buta internet. Alhasil, pemerintah Indonesia mencoba terobosan terbaru dalam dunia teknologi dengan menciptakan buku sekolah elektronik yang disediakan bagi sekolah SD, SMP, dan SMA/SMK. Ciptaan ini terkesan bombasitis mengingat Indonesia selama ini adalah negara yang masih belum bisa bebas dari kertas, malah sekarang beralih ke internet. Penggunaan buku sekolah elektronik mungkin terletak pada pemerintah yang terasa sangat dini dalam mengambil keputusan meluncurkan buku elektronik untuk sekolah, mengingat internet saja masih belum ada di banyak sekolah. Bahkan komputer saja sudah luar biasa jika memang ada itupun mungkin hanya untuk bagian administrasi saja. Mungkin bagi kebanyakan sekolah di kota besar, internet sudah terjangkau. Bagaimana dengan yang di daerah?. Pemerintah memang punya dalih sudah menyediakan dana, tetapi bukankah dana yang masuk saja sudah banyak dikorupsi oleh banyak orang yang terlibat dalam kepanitian pengadaan buku elektronik? dari kejadian tersebut bisa dilihat bahwa Indoensia bukanlah negara yang siap untuk pemakaian buku sekolah elektronik sehingga nantinya bukan manfaat yang di dapat melainkan kekacauan yang semakin terjadi. Salah satu lagi kendala buku elektronik belum bisa di akses adalah kecepatan data untuk mendapatkan buku sekolah elektronik juga menjadi keluhan bagi penduduk di pedalaman. Menurut Kompas.com. ternyata, bagi para siswa yang ada di daerah, buku sekolah elektronik dibagikan dengan cara diknas membuat hard copy untuk dibagikan di Direktorat Jenderal Pendidikan Daerah agar didistribusikan di sekolah-sekolah di daerah tersebut. Bukankah hal itu menjadi sama

saja, karena akhirnya bukan buku sekolah elektronik yang didapat malahan kertas yang di print kan sehingga tetap menjadi bentuk cetak Bukankah sama-sama memakai kertas? Sebenarnya hal mendasar yang membuat masih bertanya-tanya adalah apakah dengan menggunakan buku sekolah elektronik tersebut sudah bisa memecahkan masalah pendidikan di Indonesia yang terkenal terbelakang dan lebih lambat dibanding dengan negara serumpun kita seperti Malaysia dan Singapura? Mungkin dalam hal mengurangi dampak global warming yang sering diusung oleh pemerintah dengan luar biasa yaitu dengan program penanaman satu miliar pohon dan kebijakan penghematan sumber daya energy sudah jelas dampak penggunaan buku sekolah elektronik sangat dirasa manfaatnya yaitu mengurangi penggunaan kertas. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah apakah Indonesia sudah siap menggantikan kertas dengan elektronik, sedangkan di banyak tempat di Indonesia sekarang sedang mengalami krisis listrik yang berkepanjangan. Bahkan belum dialiri listrik? Bukankah buku sekolah elektronik semakin sulit diakses oleh anak sekolah dan dengan demikian maka bisa dikatakan bahwa nantinya akan kembali kebentuk kertas yang harus di cetak ulang. Bukankah itu hasilnya akan sama saja? Bagi kebanyakan orang yang berada, adanya buku sekolah elektronik mungkin merupakan salah satu kemudahan teknologi yang bisa dirasakan, tetapi apakah bagi masyarakat yang miskin, kemudahan teknologi yang satu itu bisa memecahkan masalah pendidikan? Bukankah untuk membeli komputer saja mereka tidak mampu, bagaimana dengan kemudahan untuk pembelian buku sekolah elektronik. Bukankah sebaiknya pemerintah menyediakan solusi yang cukup bijaksana mengingat rakyat kita berada di dua kelas yang sangat kontras yaitu kaya dan miskin. Selain itu apakah sekolah-sekolah sudah memanfaatkan adanya BSE yang diprogramkan pemerintah dalam menggunakan buku-buku pegangan atau panduan dalam mengajar? Padahal jika ditelaah ulang yang merancang kurikulum kan pemerintah, kenapa banyak buku BSE yang tidak digunakan?. Apa sudah sesuai dengan nilai Pancasila? Saya hanya menilai dari tiga nilai saja dari nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila sebagai tolak ukur kebijakan yang diambil pemerintah sebagai paradigma pembangunan suatu bangsa. 1. Sudah adil-kah?. Dalam hal ini, pemerintah kurang adil dalam menyediakan fasilitas ini, karena pemanfaatannya masih memiliki porsi besar bagi di kota-kota besar atau daerah maju. Bagaimana dengan daerah tertinggal? di Papua misalnya yang akses untuk mencapai sekolah saja tidak semudah di tempat lain dan sekolahnya tidak memiliki jaringan internet. Mungkin listrik dan computer saja belum ada? 2. Bukannya pemerintah harus menghindari monopoli?. Dengan adanya BSE ini, dapat dikatakan pemerintah telah melakukan monopoli terhadap bukubuku pendidikan. Hal ini dapat berakibat dalam bisnis pernerbitan buku yang di dalamnya terdapat pekerja yang menafkahi keluarganya menjadi terpuruk. Sehingga berdampak pada PHK

besar-besaran di industri penerbitan tidak dapat dihindari. Banyak karyawan penerbitan yang harus kehilangan pekerjaan karena pekerjaan mereka telah digantikan oleh pemerintah.
3. Membuat kesejahtraan rakyat meningkat?

Dengan tidak meratanya infrastruktur jaringan internet di seluruh Indonesia. Alih-alih mendapatkan buku secara gratis, masyarakat justru harus merogoh kocek lebih dalam

untuk mendapatkan buku yang diinginkannya. Karena harus pergi ke warnet untuk mengunduhnya. Dan lagi-lagi apakah semua siswa memiliki computer untuk membacanya? Sepertinya akan kembali lagi ke kertas yaitu dengan di print kan. Lalu, bagaimana dikatakan murah jika datang ke kota saja untuk mengunduh butuh biaya mahal. Bagaimana cara mengatasinya? Beberapa solusi yang dapat dilakukan dari banyak solusi lainnya: 1. Perluas Jaringan Pustekom dan Fasilitas Offline Pustekom pemerintah tidak ada salahnya memperluas mirroring dan merangkul beberapa kampus dan sejumlah instansi di daerah untuk memudahkan. Lalu lintas pengunduh buku akan diatur bersama. Server utama tetap ada di Depdiknas yang terdapat pada jaringan Pendidikan Nasional. Fasilitas offline tidak ada salahnya ditempuh Depdiknas. Intinya, berbagai materi Buku Sekolah Elektronik kemudian diformat ke dalam bentuk kepingan compact disc (CD). Selanjutnya, didistribusikan di dinas-dinas pendidikan seluruh Indonesia. Jadi, sekolah yang merasa kesulitan, bisa meminta CD tersebut. 2. Mengefektifkan dinas-dinas terkait. Contohnya: diknas pendidikan yang kemungkinan tempatnya sedikit lebih dekat ke kota atau dengan menggunakan dana yang ada bisa membantu guru-guru di daerah yang benar-benar desa. Seperti, membantu mengunduh dan membagikan soft file ke guru-guru tersebut. 3. Pengelolaan berbasis perpustakaan.
Caranya yaitu, BSE yang telah diunduh dicetak oleh perpustakaan dan dijadikan sabagai bagian dari koleksi perpustakaan. Pengelola perpustakaan dapat mencetak BSE kemudian menjilidnya, mengolahnya sebagai koleksi perpustakaan dan melayankan BSE kepada siswa baik dengan cara dipinjam ataupun dengan cara dibaca ditempat. Dengan cara pertama ini, memungkinkan siswa meminjam atau membaca BSE melalui BSE yang dilayankan perpustakaan. Selain dapat membaca atau meminjam BSE, cara pertama ini memungkinkan siswa memfoto copy BSE sehingga dapat menekan biaya yang dikeluarkan dibandingkan dengan cara mencetak langsung BSE.

Diluar banyak kekurangan, kebijakan pemerintah tentang penyediaan buku elektronik sebenarnya sangat bagus. Kebijakan ini akan berhasil jika didukung oleh seluruh kalangan dari pemerintah pusat, daerah, dinas terkait, LSM, perorangan dan tentunya sekolah dalam menyediakan hardcopy dan CD dari buku tersebut terlebih setelah adanya BOS. Terima kasih..