Anda di halaman 1dari 15

Oleh : DRS. RICHARD PANJAITAN, APT.

, SKM DIREKTUR JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALKES


Disampaikan pada : Pertemuan Perencanaan Kesehatan Nasional Tahun 2006 Jakarta, 19-20 September 2006

TUJUAN KEBIJAKAN OBAT NASIONAL


Menjamin : 1. Ketersediaan, pemerataan dan keterjangkauan obat, terutama obat esensial 2. Keamanan, khasiat dan mutu semua obat yang beredar serta melindungi masyarakat dari penggunaan yang salah dan penyalahgunaan obat
3. Penggunaan obat yang rasional

KETERJANGKAUAN

POR
HARGA

PENDANAAN

AKSES
SISTEM KES & SUPLAI

OBAT
KETERSEDIAAN

JENIS

JUMLAH

OE
EFEKTIF BERKUALITAS

AMAN

PENGGUNAAN OBAT YANG RASIONAL


Sasaran : Penggunaan obat dalam jenis, bentuk sediaan, dosis dan jumlah yang tepat disertai informasi yang benar, lengkap dan tidak menyesatkan

MANFAAT PENGGUNAAN OBAT YANG RASIONAL

1. Meningkatkan mutu pelayanan 2. Mencegah pemborosan sumber dana 3. Meningkatkan akses terhadap obat esensial

SIKLUS MANAJEMEN OBAT


Seleksi

Penggunaan

Manajemen pendukung -Organisasi -Anggaran -M. Informasi -SDM

Pengadaan

Distribusi

ISU YANG HARUS DIANTISIPASI DALAM PENGGUNAAN OBAT


Di era desentralisasi : pelayanan kesehatan menjadi salah satu aset sumber PAD Pergeseran nilai sosial obat ke arah komoditas bisnis, mengakibatkan kepentingan pasien dapat terabaikan Pengobatan tidak berdasarkan bukti/data ilmiah (evidence based treatment) sehingga tidak rasional

Strategi untuk menjamin penggunaan obat yang rasional


Penerapan penggunaan DOEN dlm setiap upaya pelayanan kesehatan

Penerapan pendekatan farmakoekonomi melalui analisis biaya-efektif dengan biayamanfaat pd seleksi obat yg digunakan di semua tingkat pelayanan kesehatan
Penerapan pelayanan kefarmasian yang baik (pharmaceutical care), perubahan dari product oriented ke patient oriented

Pemberdayaan masyarakat melalui KIE

KEPMENKES YANG MENUNJANG POR

SK MENKES NO: 085/MENKES/PER/I/1989


KEWAJIBAN MENULISKAN RESEP DAN/ATAU MENGGUNAKAN OBAT GENERIK DI FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN PEMERINTAH

KEPMENKES NO: 1009/MENKES/SK/X/1995

SEMUA RS PEMERINTAH DIWAJIBKAN MEMBENTUK KFT


BERTUGAS MEMBANTU DIREKTUR MENENTUKAN KEBIJAKAN DI BIDANG OBAT, PENGOBATAN , DAN FARMASI

UNTUK MENINGKATKAN MUTU, EFISIENSI DAN EFEKTIVITAS PELAYANAN RS

SK BERSAMA MENKES DAN MENDAGRI NO: 394/MEN.KES/SK/VII/1981DAN NO: 196 TAHUN 1981 TENTANG PENGADAAN OBAT UNTUK UNIT PELAYANAN PEMERINTAH PUSAT &DAERAH PENGADAAN DG MENGGUNAKAN APBN DAN APBD DILARANG MENYIMPANG DARI KETENTUAN DAFTAR OBAT ESENSIAL NASIONAL (DOEN) PENGADAAN HARUS DALAM BENTUK ESENSIAL GENERIK

FAKTOR PENUNJANG PENINGKATAN PENGGUNAAN OBAT YANG RASIONAL


1. 2. 3. 4. 5. Pasien dan masyarakat terdidik Tersedianya pedoman pengobatan Tersedianya obat esensial Kebijaksaan harga obat yang baik Tersedianya peraturan yang meningkatkan peresepan rasional 6. Masuknya POR dalam kurikulum tenaga kesehatan 7. Pengawasan terhadap iklan dan tekanan dari pabrik 8. Insentive untuk penggunaan DOEN

SUKSESNYA POR MEMBUTUHKAN DUKUNGAN KEBIJAKSANAAN YANG KOMPREHENSIF


Pemerintah Pusat

Pemerintah Daerah

LSM

KONAS

Badan Pengawasan Obat

Masyarakat

Asosiasi Profesi Kesehatan

Perguruan Tinggi

Peningkatan penggunaan obat rasional merupakan bagian integral dari Kebijakan Obat Nasional (KONAS)