Anda di halaman 1dari 2

Penatalaksanaan Glaukoma Sudut Tertutup Akut pada Pria Umur 54 Tahun

ABSTRAK

Glaukoma primer sudut tertutup terjadi bila terdapat kenaikan mendadak dari tekanan intraokuler yang disebabkan penutupan sudut coa yang mendadak oleh akar iris, sehingga menghalangi sama sekali keluarnya humor akuous melalui trabekula menyebabkan meningginya TIO. Sakit yang sangat di mata secara mendadak dan menurunnya ketajaman penglihatan secara tiba-tiba, disertai tanda-tanda kongesti di mata seperti mata merah, kelopak mata bengkak. Pada kasus ini pasien didiagnosis glaukoma sudut tertutup akut berdasarkan dari anamnesis dan pemeriksaan oftalmologi. Penatalaksanaannya berupa segera menghentikan serangan akut dengan obat-obatan (medikamentosa inisial), melakukan iridektomi perifer pada mata yang mengalami serangan sebagai terapi definitive (tindakan bedah inisial), melindungi mata sebelahnya dari kemungkinan terkena serangan akut, menangani sekuele jangka panjang akibat serangan serta jenis tindakan yang dilakukan. Pasien mendapat terapi tetes mata Timolol 0,5% 3 dd gtt I OS, kapsul yang terdiri dari metampiron dan dexametason.
Kata Kunci : glaukoma sudut tertutup akut, terapi KASUS Pasien datang dengan keluhan penglihatan mata kiri kabur. Keluhan dirasakan sejak 1 bulan yang lalu, awalnya pasien mengeluh tiba-tiba mata terasa pegal terutama pada kiri disertai mual, terasa lebih silau bila ada cahaya dan tampak merah. Lama kelamaan pandangan terasa kabur. Pasien sudah berobat ke Puskesmas dan diberi obat tetes namun belum membaik. Keluhan memberat terutama saat capek dan terasa berkurang dengan istirahat. Belum pernah menderita sakit serupa sebelumnya.Riwayat penyakit sistemik seperti hipertensi (-), diabetes mellitus (-), alergi (-). Dari pemeriksaan fisik visus OS 1/60, TIO OS meningkat, konjungtiva OS hiperemis (+), COA OS dangkal dan keruh (+), pupil OS diameter 5 mm posisi ditengah, reflek cahaya direk OS menurun (+), reflek cahaya indirek menurun (+). OD tidak ada kelainan. Diagnosis OD : Emetrop OS : Glaucoma sudut tertutup akut Terapi

Pasien mendapat terapi tetes mata Timolol 0,5% 3 dd gtt I OS, kapsul yang terdiri dari metampiron dan
dexametason. Diskusi Pada kasus ini didiagnosis sebagai glaukoma primer sudut tertutup akut karena : Pada anamnesis didapatkan adanya keluhan utama adanya pandangan kabur mata kiri. Keluhan dirasakan sejak 1 bulan yang lalu, awalnya pasien mengeluh tiba-tiba mata terasa pegal terutama pada kiri disertai mual, terasa lebih silau bila ada cahaya dan tampak merah. Lama kelamaan pandangan terasa kabur. Pasien sudah berobat ke Puskesmas dan diberi obat tetes namun belum membaik. Keluhan memberat terutama saat capek dan terasa berkurang dengan istirahat. Data tersebut sesuai dengan gejala yang didapatkan pada glaukoma primer sudut tertutup pada fase akut dimana pada keadaan ini terjadi penurunan visus disertai

sakit hebat di dalam mata yang menjalar sepanjang nervus V, sakit di kepala, muntah-muntah, nausea, tampak warna pelangi di sekitar lampu. Nyeri merupakan tanda khas pada serangan akut Pada pemeriksaan fisik didapatkan konjungtiva bulbi hiperemis pada mata kiri dengan injeksi silier, injeksi konjungtiva dan injeksi episklera. Pada bilik mata depan tampak dangkal yang dapat dilihat dengan penyinaran bilik mata depan dari samping. Pada pupil tampak melebar (midriasis) dengan refleks cahaya yang sangat lamban baik reflek direk maupun indirek. Dengan tonometri digital tekanan intraokuler mata kiri teraba meningkat. Penemuan ini pada pemeriksaan fisik merujuk pada adanya suatu keadaan sebagai akibat dari adanya penekanan tekanan intra okular yang berakibat pada munculnya tanda-tanda tersebut. Pada pemeriksaan dengan menggunakan alat yang lebih canggih misalnya dengan genioskopi akan dapat dilihat sudut iridokornea yang terbuka dan dengan memeriksa lempeng optic dan menentukan apakah mengalami cupping patologis. Penatalaksanaan pada pasien ini bertujuan untuk : a. Segera menghentikan serangan akut dengan obat-obatan (medikamentosa inisial) b. Melakukan iridektomi perifer pada mata yang mengalami serangan sebagai terapi definitive (tindakan bedah inisial) bila memungkinkan. c. Melindungi mata sebelahnya dari kemungkinan terkena serangan akut d. Menangani sekuele jangka panjang akibat serangan serta jenis tindakan yang dilakukan Medikamentosa yang dapat diberikan adalah berupa miotikum dengan tujuan untuk mengecilkan pupil, sehingga iris lepas dari lekatannya di trabekula dan sudutnya menjadi terbuka. Obat yang dapat diberikan salah satunya adalah pilokarpin 2-4% 1 tetes tiap 30 menit -1 jam pada mata yang mengalami serangan dan 3x1 tetes pada mata sebelahnya. Adanya produksi humor akuos yang berlebihan dapat diatasi dengan pemberian glaukon supaya mengurangi produksi humor akuos. Juga perlu diberikan analgesik untuk menangani rasa sakit pada mata misalnya dengan metampiron. Pasien harus kontrol dengan teratur untuk mendapatkan hasil pengobatan yang terbaik. Kepatuhan pasien menentukan prognosis kasus ini. Kesimpulan Glaukoma adalah suatu keadaan patologi dimana terjadinya peningkatan tekanan intraokular (TIO) yang lebih tinggi dari normal secara berangsur-angsur akan merusak serabut saraf optik yang terdapat di dalam bola mata sehingga mengakibatkan gangguan lapangan pandang pengelihatan yang khas dan atrofi papil saraf optik. Glaukoma primer sudut tertutup terjadi apabila terbentuk iris bombe yang menyebabkan sumbatan pada bilik mata depan oleh iris perifer. Hal ini menyumbat aliran humor aquos dan tekanan intraokuler meningkat dengan cepat, menimbulkan nyeri hebat, kemerahan, dan kekaburan penglihatan. Glaukoma sudut tertutup terjadi pada mata yang sudah mengalami penyempitan anatomik pada bilik mata depan( dijumpai terutama pada hipermetrop). Serangan akut biasanya terjadi pada pasien berusia tua seiring dengan pembesaran lensa kristalina yang berkaitan dengan penuaan. Pada glaukoma sudut tertutup, pupil berdilatasi sedang, disertai sumbatan pupil. Hal ini biasanya terjadi pada malam hari,saat tingkat pencahayaan berkurang. Terapi yang diberikan dapat berupa terapi medis, terapi laser dan terapi bedah. Referensi 1. 2. 3. 4. Wijaya, Nana. 1993. Ilmu Penyakit Mata. James, bruce., Chew Chris., Bron Anthoni. 2006. Lecture Notes Oftalmologi. Jakarta: EMS Glaukoma. Last updated 2009. Available from http://www.irwanashari.com/2009/03/glaukoma.html Vaughan, Daniel G, MD, Asbury, Taylor, MD, dan Riordan-Eva, Paul, FRCS, FRCOphth. Editor; Diana Susanto. Oftalmologi Umum. EGC. Jakarta. 2009. hal; 12 dan 212-229 5. Rosita CE. Glaukoma. Last updated 2009. Available from http://www.scribd.com/doc/35013418/refratmata-revisi Penulis Luri Aulianti, Ilmu Kesehatan Mata FKIK UMY RSUD Setjonegoro Wonosobo.