Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PRAKTIKUM DASAR-DASAR ILMU HAMA TUMBUHAN

ACARA IV PENGENALAN PESTISIDA DAN SEMIOKIMIA : MACAM DAN FORMULASI

Disusun Oleh:

NAMA NIM

: :

TRISNA SUSILOWATI 12544 A3 JATU BARMAWATI RADIYANI MIRZA ALFARIZI

GOLONGAN : ASISTEN :

LABORATORIUM ENTOMOLOGI TERAPAN JURUSAN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2013

ACARA IV Pengenalan Pestisida dan Semiokimia : Macam dan Formulasi

I.

Pendahuluan

A. Latar Belakang Pestisida berfungsi sebagai racun pembasmi jasad hidup yang mengganggu tanaman. Kata pest berarti hama, sida berarti pembunuh. Pestisida merupakan istilah pengendalian hama secara kimiawi, selain pestisida ada juga senyawa senyawa semiokimia yaitu bahan bahn kimia atau campurannya yang mengandung pesan atau sinyal komunikasi antar organism atau serangga. Contoh senyawa semiokimia adalah feromon, kairomon, dan allomon. Ketiga senyawa tersebut berfungsi sebagai penarik (attractant) maupun pengusir ( repellent). Pestisida yang beredar di pasaran bermacam macam dan dapat digolongkan menurut beberapa cara. Berdasar target sasaran pestisida digolongkan menjadi 1. Fungisida (pembunuh jamur) 2. Insektisida (pembunuh serangga) 3. Rodentisida (pembunuh rodensia, termasuk tikus) 4. Nematisida (pembunuh nematode) 5. Moluskisida (pembunuh moluska, termasuk bekicot) Berdasarkan mode of entry nya, pestisida digolongkan sebagai berikut 1. Racun perut ( melalui system pencernaan)

2. Kontak (melalui kulit) 3. Fumigan ( melalui pernafasan) Berdasarkan sifat senyawa kimia penyusunnya 1. Pestisida nonorganic ( tidak mengandung unsure karbon), 2. Pestisida organic (mengandung unsure karbon), pestisida organic dibagi lagi menjadi organic sintetik dan organic alami.

Ada beberapa istilah yang digunakan untuk pada produk pestisida, yaitu bahan aktiv, bahan pembantu, dan formulasi. Bahan aktif adalah bahan inti atau bahan terpenting dari pestisida contohnya Bacillus thuringinsis, karbabil, asepat, khlorpirifos, deltamethrin, dan sebagainya.

Bahan aktif ini, dengan bantuan bahan pembantu (perekat, pengemulsi, dan bahan pelarut) akan diformulasikan menjadi bentuk yang siap dipasarkan. Formulasi pestisida dapat berupa EC (emulsifiable concentrates), WP (wettable powders), S (Solution), D (Dust), G (Granules), A (Aerosols), B (Baits), dan sebagainya. Informasi jenis formulasi pestisida ini biasanya digunakan untuk memilih alat pengaplikasi (aplikator) yang tepat. Misalnya, insektisida aerosol harus dilarutkan dahulu menggunakan pelarut minyak, sebelum diaplikasikan menggunakan semprotan bertekanan tinggi yang menghasilkan droplet berukuran sangat halus (kabut). Senyawa semokimi umum digunakan untuk program pamantauan (monitoring populasi hama di lingkungan), atau memang untuk menangkap, membunuh hama, dan mengusir hama. Minyak citronella dari tanaman genus Cymbopogon, minyak nimbi, dan lavender adalah beberapa contoh senyawa semiokimia yang digunakan sebagai pengusir serangga, sedangkan metal eugenol (ME) biasa digunakan untuk menarik beberapa spesies lalat buah. B. Tujuan Praktikum 1. Mengenal beberapa jenis pestisida dan senyawa semiokimia berdasarkan nama dagang, formulasi, dan nama bahan aktif. 2. Mengenal beberapa alat dan perlengkapan aplikasi pestisida dan senyawa semiokimia.

II.

Tatalaksana Praktikum

Praktikum Dasar Dasar Ilmu Hama Tanaman acara IV Pengenalan Pestisida dan Semiokimia : Macam dan Formulasi dilaksanakan pada hari Rabu, 10 April 2013 di Laboratorium Entomologi Terapan, Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Pada praktikum ini terdapat pestisida dan alat pengendali hama. Pestisisa kita amati dan dicatat nama dagang, nama bahan aktif, formulasi, dan organism sasaran. Alat pengendali hama juga kita amati dan kita diskripsikan meliputi nama, formulasi, dan mekanisme kerja.

III.

Pembahasan

Pestisida mencakup bahan-bahan racun yang digunakan untuk membunuh jasad hidup yang mengganggu tumbuhan, ternak dan sebagainya yang diusahakan manusia untuk kesejahteraan hidupnya. Dalam praktek, pestisida digunakan bersama-sama dengan bahan lain misalnya dicampur minyak untuk melarutkannya, air pengencer, tepung untuk mempermudah dalam pengenceran atau penyebaran dan penyemprotannya, bubuk yang dicampur sebagai pengencer (dalam formulasi dust), atraktan (misalnya bahan feromon) untuk pengumpan, bahan yang bersifat sinergis untuk penambah daya racun, dsb. Karena pestisida merupakan bahan racun maka penggunaanya perlu kehati-hatian, dengan memperhatikan keamanan operator, bahan yang diberi pestisida dan lingkungan sekitar. Perhatikan petunjuk pemakaian yang tercantum dalam label dan peraturan-pearturan yang berkaitan dengan penggunaan bahan racun, khususnya pestisida. Jenis racun pestisida Dari segi racunnya pestisida dapat dibedakan atas : 1. Racun sistemik, artinya dapat diserap melalui sistem organisme misalnya

melalui akar atau daun kemudian diserap ke dalam jaringan tanaman yang akan bersentuhan atau dimakan oleh hama sehingga mengakibatkan peracunan bagi hama. 2. Racun kontak, langsung dapat menyerap melalui kulit pada saat pemberian

insektisida atau dapat pula serangga target kemudian kena sisa insektisida (residu) insektisida beberapa waktu setelah penyemprotan. Formulasi pestisida Pestisida dalam bentuk teknis (technical grade) sebelum digunakan perlu diformulasikan dahulu. Formulasi pestisida merupakan pengolahan (processing) yang ditujukan untuk meningkatkan sifat-sifat yang berhubungan dengan keamanan, penyimpanan, penanganan (handling), penggunaan, dan keefektifan pestisida. Pestisida yang dijual telah diformulasikan sehingga untuk penggunaannya pemakai tinggal mengikuti petunjuk-petunjuk yang diberikan dalam manual.

Formulasi insektisida yang digunakan dalam pengawetan kayu dan pengendalian hama hasil hutan pada umumnya adalah dalam bentuk: 1. Untuk Penyemprotan (sprays) dan pencelupan (dipping) 1.1. Emulsifiable / emulsible concentrates (EC) 1.2. Water miscible liquids (S) 1.2a. Water soluble concentrates (WSC) 1.2b. Soluble concentrates (SC) 1.3. Wettable powder (WP) 1.4. Flowable suspension (F) 1.5. Water soluble powders (SP) 1.6. Ultra Low Volume Concentrates (ULV)

2. Dalam bentuk Dusts (D) 2.1. Racun dust yang tidak diencerkan, misalnya langsung dioleskan pada bagian tiang yang akan ditanam ( direct dust admixture ) 2.2. Racun dengan pengencer aktif, misalnya belerang 2.3. Racun dengan pengencer inert, misalnya pyrophyllite

3.

Fumigan misalnya kloropikrin untuk Cryptotermes

4. Umpan (baits)

A. Pestisida 1. Curacron 500 EC


Keterangan Nama dagang : Curacron 500 EC Nama Bahan Aktif : Profenofos 500 g/l Formulasi : EC Organisme sasaran : rayap kayu kering dan rayap tanah Cara Kerja : Penyemprotan volume tinggi

(sumber : www.lembahpinus.com) Curacron 500 EC adalah insektisida racun lambung dan kontak yang berspektrum luas dan dapat mengendalikan berbagai jenis hama serangga mulai dari kutu daun sampai ulat pada tanaman bawang merah, cabai, jeruk, kacang hijau, kapas, kentang, kubis, semangka, tebu, tembakau dan tomat. Mudah diserah oleh jaringan tanaman dengan demikian mampi mengendalikan hama yang tersembunyi di balik daun. Efek translaminar ini membuat Curacron 500 EC sangat efektif dalam mengendalikan hama secara tuntas selain itu tidak mudah tercuci oleh air hujan (anonym, 2013). 2.Termiban 400 EC
Keterangan Nama dagang : Termiban 400 EC Nama bahan aktif : Klorpirifos 400 g/l Formulasi : EC Organism sasaran : rayap kayu kering dan rayap tanah Cara Kerja : proses vakum tekan perendaman dingin untuk rayap kayu kering dan peracunan tanah untuk rayap tanah

(Sumber :http://store.doyourownpestcontrol.com/dominion-2l)

Cara kerja Termiban 400 EC pada dasarnya dapat dilakukan dengan menghancurkan sarang rayap dan semua anggota koloni rayap terutama ratu. Akan tetapi di areal tanaman budidaya, misalnya areal tanaman kelapa sawit yang terserang, terutama di areal gambut, sulit untuk menemukan sarang rayap. Berbeda dengan Curacron 500 EC, aplikasi pestisida Termiban 400 EC dilakukan dengan perendaman dingin baru setelah itu disemprotkan pada daerah yang terserang hama rayap. Sasaran hama dalam penggunaan Termiban 400 EC adalah insektisida yang sangat aktif dalam mengendalikan populasi segala macam jenis rayap, seperti rayap kayu dan rayap tanah (anonym, 2013). 3.Decis 25 EC Keterangan Nama dagang : Decis 25 EC Nama Bahan Aktif : deltametrin 25 g/l Formulasi : EC Organisme sasaran : thrips, ulat grapyak S.podoptera litura Cara Kerja : Penyemprotan volume tinggi (sumber : www.lembahpinus.com) Decis adalah insektisida non sistemik, yang bekerja pada serangga dengan cara kontak dan pencernaan. Decis menguasai spektrum besar dari serangga hama yang berbeda seperti Lepidoptera, Homoptera, dan Coleoptera. Decis juga aktif untuk beberapa serangga hama dari kelas lain seperti Hemiptera ( hama) , Orthoptera ( belalang) , Diptera ( lalat) dan Thysanoptera ( thrips). Sekarang ini hampir semua Pyrethroid terdiri atas beberapa isomers yang antaranya aktif, dan beberapa diantaranya tidak aktif.Bahan aktif Decis yang terdiri atas hanya satu isomer, yaitu isomer murni D-CIS. Selalu lebih baik untuk memakai isomer yang paling aktif daripada campuran optik isomers untuk melakukan perawatan pada tanaman (anonym,2013).

4.Sevin 85 S Keterangan Nama dagang : Sevin 85 S Nama Bahan Aktif : karbonil 85 % Formulasi : S Organisme sasaran : ulat grapyak Spodoptera litura, belalang Cara Kerja : Penyemprotan volume tinggi (sumber:www.bibitbenihunggul.com) Insektisida racun kontak dan lambung berbentuk tepung berwarna putih yang dapat disuspensikan, digunakan untuk mengendalikan hama pada tanaman jagung, kacang tanah, kapas, kedelai, kelapa, kelapa sawit, kopi, lada, tebu the dan tembakau. (anonym, 2013). 5.Confidor 200 SL Keterangan Nama dagang : confidor 200 SL Nama Bahan Aktif : Imidokloprid 200 g/l Formulasi : SL Organisme sasaran : kutu daun Aphis sp dan thrips (sumber : www.nokaut.pl) Cara Kerja : Penyemprotan volume tinggi

Pengendalian hama dilakukan dengan menyemprotkan insektisida Confidor 200 SL sesuai dosis yang terdapat di petunjuk pakai pada kemasan. Penyemprotan dilakukan seminggu sekali, dengan penyemprotan menggunakan volume tinggi. Hama sasaran organisme sasaran pestisida jenis ini antara lain kutu daun, penggerek daun dan wereng daun teh. Aplikasi pestisida confindor 200 SL dilakukan dengan cara penyemprotan dengan konsentrasi formulasi tertentu pada masing-masing jenis hama yang menyerang tanaman, seperti Hama kutu daun, penggerek daun dan wereng daun teh, dan sebagainya (anonym, 2013).

6. Confidor 5 WP

Keterangan Nama dagang : confidor 5 WP Nama Bahan Aktif : Imidokloprid 5% Formulasi : WP Organisme sasaran : thrips .kutu kebul Cara Kerja : Penyemprotan volume tinggi (sumber :faedahjaya.com) Confidor 5 WP yang bekerja secara sistemik utuh. Walaupun bersifat sistemik, cara aplikasi penyemprotan wereng cokelat dengan Confidor tetap dimulai dari batang bagian bawah supaya pengendalian lebih sempurna. Formulasi berbentuk tepung semprot ( Wettable Powder = WP). Fungisida berbentuk tepung brwarna crem dapat disuspensikan. Aplikasi pestisida dilakukan dengan cara penyemprotan dengan konsentrasi tertentu sesuai dengan jenis hama yang menyerang tanaman. Penyemprotan dilakukan dengan menggunakan volume tinggi. 7.Furadan 3 G Keterangan Nama dagang : furadan 3 G Nama Bahan Aktif : Karbofuran 3 % Formulasi : GR Organisme sasaran : nematoda bintil akar dan lalat daun Cara Kerja : penaburan pada tanah

(sumber : 2011keralaelectionresults.blogspot.com)

Insektisida berbahan aktif Karbofuran 3 % W/W dengan Nomor Pendaftaran RI.16/820026T berbentuk butiran berwarna biru tua. Furadan 3 G kini diproses dengan teknologi baru Manufacturing Use Product (MPU) dengan keunggulan sbb :

Lebih sedikit debu sehingga lebih aman bagi pengguna dan lingkungan dari resiko keracunan

Sistempelepasan karbofuran lebih stabil dan toleran dalam kisaran ph tanah. Pelapisan bahan aktif terhadap butiran lebih merata Warna lebih seragam.

Karakteristik Furadan 3 G :

Kombinasi unik antara karakteristik kimia dan biologi Sejalan dengan program IPM sebab aman bagi predators dan parasites Non Persisten dan non phototoxid Tidak mempunyai potensi bioakumulasi Hasil metabolit dari penguraian Furadan mempunyai toksisitas lebih kecil Waktu paruh pada tanah jenin sandy loam & silt loam : 30 hari sedang pada jenis tanah muck : 60 hari

Daya larut dalam air sangat tinggi, sifat ini mempermudah untuk diserap tanaman.

Cara Kerja Furadan.

Masuk ke jaringan melalui absorbsi perakaran yang selnjutnya ditranslokasikan melalui sistem vasculer ke bagian tanaman yang lainnya tetapi tidak ditranslokasikan ke bunga dan buah.

Bereaksi dengan bantuan sinar ultr-violet Tidak mematikan musuh alami Memiliki sifak kontak dan juga sistemik.

8.Marsal 200 EC Keterangan Nama dagang : marshal 200 EC Nama Bahan Aktif : karbosulfan 200 g/l Formulasi : EC Organisme sasaran : Apogonia dan ulat kantong (sumber:www.obattanaman.wordpress.com) Cara Kerja : Penyemprotan volume tinggi

Insektisida berbahan aktif Karbosulfan 200 gr/lt dengan Nomor Pendaftaran RI.489/112002/T berbentuk pekatan kuning muda jernih yang dapat diemulsikan dalam air. Sangat Efektif mengendalikan kumbang Apogonia dan ulat kantong (Metisa plana) pada tanaman Kelapa Sawit. Aplikasinya sangat mudah dengan cara spraying atau fogging segera setelah diketemukan larva dengan dosis 0,5 -2 cc/lt dengan interval 2 minggu sekali hingga serangan OPT terkendali dengan baik. 9.Regent 0,3 G Keterangan Nama dagang : regent 0,3 G Nama Bahan Aktif : fipronil 0,3% Formulasi : G Organisme sasaran : hama penggerek batang padi dan hama penggerek pucuk tebu (sumber:www.harapanargomandiri.com) Cara Kerja : ditabur secara merata dipertanaman pada umur 20 HST untuk padi, untuk tebu 3 bulan setelah tanam

Regent 0,3G merupakan sebuah insektisida baru berdasarkan bahan aktif fipronil milik kelompok pyrazole fenil. Fipronil tidak hanya mengendalikan serangga secara efektif, tetapi juga menunjukkan efek pertumbuhan tanaman peningkatan. Selain pengendalian hama tanaman pertanian juga dapat digunakan untuk mengendalikan hama rumah tangga. Aplikasi pestisida jenis ini adalah dengan cara ditaburkan secara merata di pertanaman pada umur 20 hari setelah tanam pada padi dan 3 bulan setelah tanam pada tanaman tebu.Pengendalian secara kimiawi dilakukan apabila tingkat serangan pada fase awal vegetatif ditemukan kelompok telur rata-rata >1 kelompok telur/ 3m2 atau intensitas serangan rata-rata >5% dengan menggunakan insektisida butiran dengan dosis 5kg/500 m2. Selain itu juga dapat dilakukan dengan menggunakan sex pheromon yang digunakan untuk memantau populasi dan menentukan waktu aplikasi pestisida. Pengendalian pada daerah serangan sporadik dapat dilakukan dengan cara yang disesuaikan dengan keadaan setempat. Penggunaan pestisida dilakukan setelah dilakukan pengamatan serangan. Pengendalian dengan menggunakan pestisida dilakukan apabila telah ditemukan rata-rata > 1 kelompok telur/3 m2 atau intensitas serangan penggerek batang padi (sundep) rata-rata > 5% dan beluk rata-rata 10 % selambatlambatnya tiga minggu sebelum panen (Jumar,2000). 10. Applaud 10 WP

Keterangan Nama dagang : Applaud 10 WP Nama Bahan Aktif : buprofezin 10 % Formulasi : WP Organisme sasaran wereng Cara Kerja : penyemprotan volume tinggi untuk luas area 500 l/ha dan penyemprotan volume rendah untuk luas area 50-100 l/ha

(sumber:www.agrochemical.com)

Insektisida ini bersifat menghambat pertumbuhan chitin, mempunyai cara kerja yang unik untuk mengendalikan wereng coklat, wereng hijau pada tanaman padi, kutu putih Bemisia tabaci pada tanaman kedelai, tungau kuning Polyphagotersonemus latus pada tanaman cabai merah dan wereng daun Empoasca sp pada tanaman teh.

Sangat efektif dan memiliki efek residu yang lama terhadap serangga tersebut di atas tanpa menimbulkan resurjensi. 11. Spontan 400 SL

Keterangan Nama dagang : spontan 400 SL Nama Bahan Aktif : dimehipo Formulasi : SL (sumber :radeseama.blogspot.com) Organisme sasaran wereng coklat dan lalat daun Cara Kerja : penyemprotan volume tinggi Insektisida racun kontak, lambung dan sistemik berbentuk pekatan yang dapat larut dalam air, berwarna coklat kemerah-merahan untuk mengendalikan hama penggerek batang (Tryporyza incertulas) , wereng coklat (Nilaparvata lugens) , hama putih (Nymphula depunctalis), lalat daun (Hydrellia philipina), hama putih palsu (Cnaphalocrosis medinalis) pada tanaman Padi, lalat bibit (Ophiomya phaseoli) dan penggulung daun (Lamprosema indicate) pada tanaman Kedelai, lalat penggorok daun (Lirimyza huidobrensis) pada tanaman Kentang, dan belalang (Locusta migratoria) pada tanaman Jagung serta (Sexava nubila) pada tanaman Kelapa. Petunjuk penggunaan Dosis Konsentrasi/Formulasi Volume Waktu

Tanaman Hama Padi

Semprot Penggunaan 400 600 l/ha - Apabila ditemukan

Penggerek batang 0,75 - 1,5 l/ha Tryporyza incertulas

rata-rata>0,3 kelompok (>3 telur/10m2) telur/m2 kelompok atau

serangan sundep ratarata>10% Wereng Coklat 0,375 - 0,75 l/ha 400 - Apabila ditemukan

Nilaparvata lugens

600 l/ha

rata-rata>20 ekor/rumpun atau 1 ekor/tunas

Hama Nymphula depunctalis Lalat Hydrellia phlilipina

Putih 0,75 - 1,5 l/ha

400 600 l/ha

Daun 0,75 - 1,5 l/ha

400 600 l/ha

Hama Putih Palsu 0,75 - 1,5 l/ha Cnaphalalocrosis medinalis Kedelai Lalat Ophiomya phaseoli Bibit 0,75 - 1 ml/l

400 600 l/ha

400 600 l/ha

- Penyemprotan dilakukan segera

setelah terlihat adanya serangan atau 7 hari setelah tanam

Penggulung Daun 0,375 - 0,75 ml/l Lamprosema indicata

400 600 l/ha

- Penyemprotan dilakukan segera

setelah terlihat adanya serangan atau 7 hari setelah tanam

Kentang

Lalat Daun

Penggorok 0,5 - 1 ml/l Liriomyza

400 600 l/ha

- Penyemprotan dilakukan segera

huidobrensis

setelah terlihat adanya serangan

Jagung

Belalang Locusta migratoria

2 - 4 ml/l

400 600 l/ha

- Penyemprotan dilakukan segera

setelah terlihat adanya serangan

Kelapa

Hama Sexava nubila

10 - 20 ml/pohon injeksi batang

12. Racumin 0,75 RB Keterangan Nama dagang : Racumin Nama Bahan Aktif : kumatetralil 0,75 % Formulasi : RB Organisme sasaran :tikus sawah Cara Kerja : penyemprotan volume tinggi untuk luas area 500 l/ha dan penyemprotan volume rendah untuk luas area 50-100 l/ha (sumber:www.indonetwork.co.id)

Racumin RB (Ready-Made Bait) ( umpan tikus), adalah rodentisida antikoagulan, yang mengandung bahan aktif kumatetralil 0.0375% . Dibandingkan dengan umpan antikoagulan lain, Racumin relatif lebih tidak toksik pada hewan bukan sasaran. Sehingga Racumin sangat cocok dikombinasikan dengan pengendalian hayati lainnya.Berupa umpan siap pakai berbentuk butiran biru dengan kemasan 250 gr untuk mengendalikan tikus. Dibandingkan dengan umpan antikoagulan lain.

B. Alat Pengendali Hama 1. Knapsack sprayer


Nama Alat : Knapsack sprayer

Formulasi : S Mekanisme kerja : selam penyemprotan dipompa terus dan didalam tabung terjadi pengadukan.

(sumber : www.hiwtc.com) Knapsack sprayer disebut juga alat semprot panggung. Sprayer jenis ini paling banyak digunakan di perkebunan. Prinsip kerja knapsack sprayer adalah sebagai berikut : larutan dikeluarkan dari tangki akibat adanya tekanan udara melalui tenaga pompa yang dihasilkan oleh gerakan tangan penyemprot. Pada waktu ganggang pompa digerakkan, larutan keluar dari tangki menuju tabung udara sehingga tekanan di dalam tabung meningkat. Keadaan ini menyebabkan larutan herbisida dipaksa keluar melalui klep dan selanjutnya diarahkan oleh nozzle ke gulma sasaran (Barus, 2003) . 2. Hand sprayer
Nama Alat : hand sprayer

Formulasi : S Mekanisme kerja : tuas ditekan kemudian disemprot sampai tekanan penuh kemudian baru disemprot

(sumber: http://chinasprayers.en.made-in-china.com) Hand Sprayer adalah salah satu jenis alat penyemprot pestisida yang berukuran relatif lebih kecil. Dibandingkan dengan Knapsack sprayer, ukuran hand sprayer jauh lebih kecil.

Mekanisme kerja hand sprayer adalah dengan cara menekan tuas dengan jari tangan maka pestisida akan tersemprot keluar. Formulasi pestisida yang cocok diaplikasikan dengan alat ini adalah Solution atau cairan karena tidak adanya endapan seperti pada formulasi emulsifiable concentrate sehingga semua cairan dalam hand sprayer dapat disemprotkan. Alat ini cocok digunakan pada lahan pertanian yang lahannya tidak begitu luas. Hand Sprayer tidak efektif digunakan pada lahan perkebunan yang luas karena cara kerja alat ini harus dipompa manual dengan jari tangan sehingga akan menguras tenaga lebih banyak dan tidak efisien waktu apabila digunakan di lahan perkebunan. 3. Soil injector
Nama Alat : soil injector

Formulasi : EC Mekanisme kerja : diatur tekanannya terlebih dahulu kemudian ditancapkan ke dalam tanah dan dimasukkan pestisidanya

(sumber:www.jpetermen.com) Soil injector adalah salah satu alat aplikasi pestisida yang penggunaanya diinjeksikan ke dalam tanah. Formulasi pestisida yang cocok digunakan menggunakan soil injector adalah solution. Pestisida berformulasi cair dimasukkan kedalam tangki. Kemudian bagian bawah soil injector yang berbentuk runcing dimasukkan ke dalam permukaan tanah, kemudian tuas diputar maka pestisida yang ada di dalam tangki akan di injeksikan ke dalam lapisan tanah. Penggunaan soil injector sangat efektif digunakan dalam pengendalian populasi hama terutama nemtoda dan hama lain yang bersarang di bawah lapisan tanah (anonim, 2013). 4. Micron ulva
Nama Alat : micron ulva

Formulasi : pestisida pekat Mekanisme kerja : ditekan lalu disemprotkan ke sasaran

(sumber: agro.ctcgroupltd.com)

Miron ulva adalah alat pengendali hama yang terdiri dari penyemprot dan tuas. Formulasi pestisida yang cocok diaplikasi dengan alat ini adalah pestisida pekat (Emulsifiable Emulsion). Bahan pestisida dimasukkan ke dalam tangki kemudan tuas ditekan dan pestisida akan menyemprot keluar.bentuk tubuh micron ulva yang panjang menyebabkan alat ini cukup efektif untuk mengendalikan populasi hama yang berada di tempat yang tinggi. 5. Emposon

Nama Alat : emposon

Formulasi : aerosol (A) Mekanisme kerja : ditekan lalu disemprotkan ke sasaran

(sumber:indonetwork.co.id) Emposan adalah alat pengendali hama yang hanya cocok digunakan untuk pestisida yang berformulasi Aerosol. Bagian emposan teriri atas tiga bagian yaitu tuas, tangki yang berisi kipas dan selang penyemprot yang berbentuk silinder. Cara menggunakan emposan adalah dengan cara memasukkan pestisida ke dalam tangki kemudian memutar tuas sehingga kipas yang berda didalam tangki ikut keluar sehingga membantu pestisida keluar dari emposan.

6. Duster
Nama Alat : duster

Formulasi : D Mekanisme kerja : diputar dan keluar butiran berupa serbuk

(sumber:www.alibaba.com) Duster adalah alat penghembus bahan berbentuk tepung atau butiran halus. Alat inimemiliki konstruksi yang lebih sederhana dibandingkan alat penyemprot cairan (sprayer) danbagian-bagian yang bergerak lebih sedikit Pupuk butiran (granular) dapat disebarkan secara seragam di seluruh lahan, disebut broadcast application (sebar acak), atau dapat diaplikasikan dalam alur barisan, yang disebut banded application. Peralatan untuk mengaplikasikan bahan butiran adalah penebar tipe gravitasi (drop type), rotari (centrifugal), dan tekanan udara (pneumatic) (Handoko,2000). 7. Mist blower
Nama Alat : mist blower

Formulasi : EC Mekanisme kerja : mist blower mengeluarkan kabut dan kabut tersebut terbang keatas dan mengenai bagian atas dan bawah pada daun tanaman

(sumber: www.kyoli.com) Petunjuk Cara Pemakaian Mist Duster/Blower MIURA MD-3WF3 Pada prinsipnya baik cara pemakaian maupun pemeliharaannya hampir sama dengan Handsprayer. Hanya bedanya Mist Blower mempergunakan tenaga mesin dan biasanya dipakai di tempat yang

terbuka/luas, contohnya di halaman luar atau di perkebunan. Mesin ini digunakan untuk di luar ruangan dan menggunakan motor bakar 2 silinder untuk menggerakkan rotari blower

dan nozzle sistem vortical. Partikel yang disemburkan berada di bawah kisaran 20 mikron dengan output sekitar 45 ml 160 ml per menit. Jika dipasang double nozzle outputnya sekitar 360 ml per menit.Kinerja mesin tergantung dari penyetelan gas agar menghasilkan hembusan udara sebesar 2,68 m3 per menit dan tekanan 3 psi. Cara menghidupkan yaitu buka aliran bensin apabila mesin masih dingin,tekan choke korburator bensin di tempat karburator penuh.Buka gas kurang lebih setengahnya kemudian ditarik starter dengan hatihat, jangan dihentikan bila mesin hidup. Mulai mengatur gas sehingga mesin berjalan

normal.Pemeliharaan Preventif setelah Mist Blowerselesai digunakan, sebaiknya segera ducuci agar larutan kimia tidak tertinggal di tangki. Hidupkan mesin dan semprotkan sampai tidak ada lagi semburan. Kosongkan tangki bensin dan hidupkan mesin.Buka busi dan teteskan oli secukupnya.Simpan di tempat yang aman, tidak terkena langsung cahaya matahari dan jauh dari templas air hujan.

IV.

Kesimpulan

1. Pengendalian hama tanaman dapat dilakukan menggunakan pestisida dan alat pengendali hama 2. Formulasi pestisida dapat berupa EC (emulsifiable concentrates), WP (wettable powders), S (Solution), D (Dust), G (Granules), A (Aerosols), B (Baits), dan sebagainya.

V.

Daftar Pustaka

Anonym, 2013. Pengendalian Hayati. http://store.doyourownpestcontrol.com/dominion-2l. Diakses tanggal 13,april 2013.

Anonym, 2013. Pestisida Pemberantas Hama Tanaman. http://pusatpestisida.indonetwork.co.id/2190484. Diakses tanggal 13,april 2013.

Anonym, 2013. Penggunaan Pestisisda Sevin. http://www.distrobandungonline.com/product/12/207/Sevin-85-S/?o=default. Diakses tanggal 13,april 2013. Anonym, 2013. Produk Pestisida Marsal. http://www.antakowisena.com/product/pestisida/marshal-200-ec.html. Diakses tanggal 13,april 2013.

Anonym, 2013.Pembasmi Musuh Tanaman. hhtp://owisena.com/product/furadan-3-g.html. Diakses tanggal 13,april 2013.

Anonym, 2013. Alat Mesin Pertanian. http://www.agricon.co.id/Produk1.asp?ProdukID=1. Diakses tanggal 13,april 2013.

Anonym, 2013. Mesin Pemberantas Hama Tanaman. http://garudasby.blogspot.com/feeds/posts/default. Diakses tanggal 13,april 2013.

Barus, E. 2003. Pengendalian Gulma di Perkebunan, Efektivitas dan Efisiensi aplikasi Herbisida. Kanisius, Yogyakarta

Handoko, 2000. Aplikasi bahan kimia tepung/butiran. Erlangga. Jakarta.

Jumar. 2000. Entomologi Pertanian. Rineka cipta. Jakarta