Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI SISTEM SARAF

Oleh KELOMPOK 12 Melasari M. Irwansyah Ade Andrew S.P Ihwal Nur Kasmar Lidia N Gallaran (O 111 10 270) (O 111 10 136) (O 111 10 251) (O 111 10 288) (O 111 10 144)

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN HEWAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2012

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pada dasarnya, system-sistem organisme bekerja secara selaras dan teratur dalam menyelenggarakan aktivitas metabolisme tubuh secara keseluruhan. Untuk mengontrol dan mengatur kerja system organ tubuh kita memiliki suatu system yang dikenal sebagai system koordinasi atau system syaraf. Pada umumnya system syaraf mengatur aktivitas alat-alat tubuh yang mengalami perubahan cepat seperti pergerakan otot rangka, pergerakan otot polos, dan sekresi kelenjar. Fungsi dari suatu organ atau suatu sistem dapat diketahui dengan cara melakukan rangsangan (stimulasi) atau penghambatan (inhibisi) pada organ atau sistem tersebut. Organisasi system syaraf akan menimbulkan tanggapan terhadap rangsangan yang diterima. Hal ini disebut dengan gerak refleks. Dimana gerakan ini terjadi tanpa disadari terhadap stimulus. Pada percobaan ini yang ingin diketahui yaitu gerakan refleks terhadap stimulus yang berupa tekanan dan zat kimia tertentu dengan cara menghilangkan bagian-bagian dari organ atau sistem, kemudian diamati aktivitas fungsional organ atau sistem yang hilang.

1.2 Tujuan Untuk mengetahui fungsi dari bagian-bagian susunan saraf pusat.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Sistem syaraf merupakan sistem koordinasi yang berfungsi sebagai penerima dan penghantar rangsangan ke semua bagian tubuh dan selanjutnya memberikan tanggapan terhadap rangsangan tersebut. Jadi, jaringan saraf merupakan jaringan komunikasi dalam tubuh. Sistem saraf merupakan jaringan khusus yang berhubungan dengan seluruh bagian tubuh (Campbell, 2004). Integrasi adalah proses penerjemahan informasi yang berasal dari stimulasi reseptor sensoris oleh lingkungan, kemudian dihubungkan dengan respon tubuh yang sesuai. Sebagian besar integrasi dilakukan dalam sistem saraf pusat, yaitu otak dan sum-sum tulang belakang (pada vertebrata). Output motoris adalah penghantaran sinyal dari pusat integrasi ke sel-sel efektor. Sinyal tersebut dihantarkan oleh saraf (nerve). Susunan Sistem Saraf Amphibia Sistem saraf pada Amphibi dibedakan menjadi sistem saraf pusat (sentral) dan sistem saraf tepi (perifer). a. Sistem saraf pusat Sistem saraf pusat meliputi otak (ensefalon) dan sumsum tulang belakang (Medula spinalis). Medulla spinalis berfungsi menghantarkan impuls sensori dari saraf perifer ke otak dan menyampaikan impuls motoris dari otak ke saraf perifer. Selain itu juga merupakan pusat dari refleks. Otak, pada otak amphibi terdapat bagian-bagian a. Lobus olfaktorius b. Otak besar (serebrum) Otak besar merupakan sumber dari semua kegiatan atau gerakan sadar atau sesuai dengan kehendak, walaupun ada juga beberapa gerakan refleks otak. Pada bagian korteks serebrum yang berwarna kelabu terdapat bagian penerima rangsang (area sensor) yang terletak di sebelah belakang area motor yang berfungsi mengatur

gerakan sadar atau merespon rangsangan. Selain itu terdapat area asosiasi yang menghubungkan area motor dan sensorik. Serebrum pada amphibi terdiri atas sepasang hemispermiun serebri. Pada serebrum memungkinkan terjadinya aktivitas-aktivitas yang kompleks, misalnya pembiakan dan macam-macam gerak. c. Otak tengah (mesensefalon) d. Otak Kecil (Serebelum) Serebelum mempunyai fungsi utama dalam koordinasi gerakan otot yang terjadi secara sadar, keseimbangan, dan posisi tubuh. Bila ada rangsangan yang merugikan atau berbahaya maka gerakan sadar yang normal tidak mungkin dilaksanakan. Serebelum pada amphibi mereduksi, karena aktifitas otot relative berkurang e. Sumsum lanjutan (medulla oblongata) Sumsum lanjutan berfungsi menghantar impuls yang datang dari medula spinalis menuju ke otak. Sumsum lanjutan juga mempengaruhi refleks fisiologi seperti detak jantung (pusat pengatur percepatan dan penghambat denyut jantung) , tekanan darah (pusat pengaturan penyempitan dan pelebaran pembuluh darah), volume dan kecepatan respirasi, gerak alat pencernaan, dan sekresi kelenjar pencernaan.Selain itu, sumsum lanjutan juga mengatur gerak refleks yang lain b. Sistem Saraf Tepi Sistem saraf tepi terdiri dari sistem saraf sadar dan sistem saraf tak sadar (sistem saraf otonom). Sistem saraf sadar mengontrol aktivitas yang kerjanya diatur oleh otak, sedangkan saraf otonom mengontrol aktivitas yang tidak dapat diatur otak antara lain denyut jantung, gerak saluran pencernaan, dan sekresi keringat.

Adapun gerak refleks adalah gerak spontan yang tidak melibatkan kerja otak. Gerak ini dilakukan tanpa kesadaran. Gerak ini berguna untuk mengatasi kejadian yang tiba-tiba. Mekanisme kerjanya (Wulangi, 1994): Rangsang diterima reseptor lalu diteruskan ke sum-sum tulang belakang melalui saraf sensorik. Dari sum-sum tulang belakang, rangsang diteruskan ke efektor tanpa melalui saraf motorik ke otak, tetapi langsung ke otot melalui jalan terpendek yang disebut lengkung refleks.

BAB III MATERI DAN METODE

2.1 Alat dan bahan a. Papan fiksasi katak b. Penjepit tulang / Pinset c. Jarum pentul d. Stopwatch e. Gunting f. Larutan asam cuka 1% g. Box/ ember berisi air h. Katak (Rana Sp.) 2.2 Metode / Cara Kerja 2.2.1 Pengamatan Aktivitas Katak Normal a. Letakkan katak pada papan fiksasi kemudian lihat sikap badan (posisi tubuh dan sudut yang dibentuk tubuh dengan papan fiksasi). Amati dan hitunglah frekuensi napas, frekuensi denyut jantung/denyut nadi. b. Amati gerakan spontan atau keseimbangan pada katak (kemampuan hewan mencoba untuk bangkit kembali setelah ditelentangkan dengan cepat). c. Taruh katak didalam ember yang berisikan air, perhatikan gerakan katak saat berenang. Lalu angkat katak dan letakkan kembali di papan fiksasi, Amati dan hitunglah frekuensi napas, frekuensi denyut jantung/denyut nadi. 2.2.2 Katak Deserebrasi a. Pegang katak dengan tangan kiri, ambil gunting yang kuat lalu masukkan salah satu kaki gunting ke dalam mulut katak. b. Gunting rahang atas katak dengan batas antara kelopak mata bagian belakang dan membran timpani bagian depan (didapatkan katak deserebrasi).

c. Biarkan katak hilang shock setelah pemotongan rahang atas, kemudian hitunglah berapa menit lamanya keadaan shock hilang. Lalu letakkan pada papan fiksasi.

Katak Deserebrasi 2.2.3 Katak Spinal a. Katak deserebrasi kemudian dirusak cerebelum dan medula oblongatanya dengan jarum pentul. b. Jarum pentul dibatasi sepanjang dari tempat pemotongan 2.2.2.b sampai ke foramen magnum, kemudian ditusukkan ke ventrikel otak dan diputar-putarkan sehingga cerebelum dan medula oblongatanya rusak. c. Didapatkan katak spinal. Letakkan katak pada papan fiksasi, amati dan hitunglah sampai berapa lama (detik/menit) sampai timbulnya aktivitas (hilangnya fasespinal shock). 2.2.4 Pulihnya Refleks-Refleks a. Rangsang Mekanis 1) Refleks Mandibula Jepitlah mandibula katak menggunakan pinset. Bila shock belum hilang, katak tidak bereaksi. Tetapi jika shock telah hilang, katak akan bereaksi. Hitung berapa detik waktu katak menunjukkan reaksi (waktu reflex).

2) Refleks Ekstremitas Jepitlah kaki belakang katak pakai pinset. Bila shock belum hilang, katak tidak bereaksi. Tetapi shock telah hilang, katak akan menarik kaki saat dijepit (melakukan refleks pelindung/withdrawal reflex) Adakalanya kakinya tetap diangkat, setelah menarik kakinya. Untuk hal ini, jepitlah kaki lainnya, sehingga katak akan menurunkan

kakinyakembali (penghambatan reflektorik). Hitung berapa detik waktu yang diperlukan sejak saat dijepit sampai saat katak menarik kakinya (waktu reflex) b. Rangsng Kimia 1) Daerah eksremitas Ambil larutan asam cuka 1% dan teteskan pada salah satu kaki katak. Sesaat kemudian, kaki tersebut ditarik keluar oleh katak (reflex pelindung/withdrawal reflex). Hitung berapa detik waktu yang diperlukan sejak ditetesi sampai saat katak menarik kakinya (waktu reflex). 2) Derah abdominal Ambil larutan asam cuka 1% dan teteskan pada daerah abdominal bagian medial katak. Perhatikan apa yang terjadi dan apa yang dilakukan katak. Hitung berapa detik waktu yang diperlukan sejak ditetesi sampai katak menunjukkan reaksi.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Dalam keadaan normal, sebelum otak katak dan sumsum tulang belakang dirusak posisi katak yang tertelungkup, menunjukkan posisi tubuh katak dengan kepala yang tegak, posisi tubuh sempurna dan seringkali melompat-lompat. Pada saat tubuh di balikkan atau dalam posisi terlentang, katak segera membalikkan tubuhnya dengan cepat. Hal ini terjadi karena, katak masih dalam keadaan normal yaitu masih memiliki alat keseimbangan dan sumsum tulang belakang. Begitu pula frekuensi nafas dan denyut jantungnya yang masih normal. Pada saat dimasukkan ke air, katak sangat aktif berenang, dan frekuensi denyut jantungnya juga pernafasannya meningkat. Berdasarkan hasil praktikum, katak deserebrasi menunjukkan kesadaran yang menurun, dan mengalami shock, tidak menunjukkan pergerakan selama 15 detik. Dan pada saat spinal saat serebellumnya dirusak, katak juga sempat mengalami shock dan penurunan kesadaran. Namun pada saat spinal ini shock lebih cepat hilang yakni 5 detik. Hasil praktikum ini sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa, pada serebellumnya yang dirusak, kesadarannya menurun. Gerakan spontan kurang baik pada katak deserebrasi dan tetap menurun pada pengrusakan serebellum dan katak spinalis. Menurut literatur, Sumsum lanjutan berfungsi menghantar impuls yang datang dari medula spinalis menuju ke otak. Selain itu, sumsum lanjutan juga mengatur gerak refleks yang lain. Dengan kata lain, hasil praktikum tersebut sejalan dengan literatur karena gerakan spontan makin menurun ketika medulla oblongata dirusak. Pada hasil percobaan setelah bagian otak katak dirusak sehingga hanya mempunyai sumsum tulang belakang sebagai pusat saraf. Kemudian tungkai belakang dijepit maka terjadi reflek pada kaki katak dengan menimbulkan tanggapan berupa kaki gemetar dan pergerakan kaki cepat menghindari tekanan. Hal ini kurang sesuai dengan teori karena seharusnya reflex pada kaki katak bergerak lambat. Hal ini mungkin disebabkan karena pada

saat menusuk serebellum dan medulla oblongatanya kurang tepat, sehingga serebellum dan medulla oblongata tidak rusak sepenuhnya dan masih dapat berfungsi. Meskipun demikian, sebenarnya jika otak dan medulla oblongata telah dirusak, tetapi katak tersebut masih mengalami gerak reflek. Reflek gerak pada tungkai katak berpusat di sumsum tulang belakang (medulla spinalis). Sehingga walaupun otak katak telah dirusak, tetap saja katak tersebut masih dapat melakukan gerak reflek. Jalannya impuls pada gerak reflek menurut Bell dan Magendie adalah: reseptor - saraf sensoris (melalui lengkunsg dorsal) medulla spinalis (sumsum tulang belakang) saraf motoris (melalui lengkung ventral) efektor. Begitu pula dengan percobaan saat ditetesi asam cuka, setelah bagian otak katak dirusak sehingga hanya mempunyai sumsum tulang belakang (medulla spinalis) sebagai pusat saraf. Kemudian salah satu kaki katak ditetesi larutan asam cuka, maka terjadi reflek pada katak dengan menimbulkan tanggapan berupa gerakan kaki secara lambat. Dan reaksi cepat pada daerah perut atau abdominal katak. Hal ini sesuai dengan teori dimana katak tersebut mengalami gerak reflek yang berpusat disumsum tulang belakang (medulla spinalis), sehingga walaupun otak katak telah dirusak, tetapi,katak tersebut masih dapat melakukan gerak reflek. Meskipun hampir seluruh saraf spinalnya sudah mengalami kerusakan ternyata gerakan refleks masih dapat terjadi. Hal ini dikarenakan sistem koordinasi dari sistem saraf masih dapat berjalan, terutama sumsum tulang belakang sebagai sistem utama gerak refleks selain otak. Sejumlah gerakan refleks yang terjadi melibatkan hubungan antara banyak interneuron dalam sumsum tulang belakang. Sum-sum tulang belakang tidak hanya berfungsi dalam menyalurkan impuls dari dan ke otak tetapi juga berperan dalam memadukan gerak refleks. Refleks pada katak yang dicelupkan ke dalam larutan asam cuka lebih cepat dari rangsangan yang lain karena pada rangsangan cubit dan jepit keras bersifat rangsangan lokal sehingga hanya sel saraf perifer saja yang dirangsang. Sedangkan rangsangan pada larutan cuka bersifat difusi dan mengenai seluruh bagian tubuh katak tersebut sehingga menimbulkan kontraksi dari otot rangka.

BAB V KESIMPULAN

Berdasarkan hasil praktikum, dapat disimpulkan bahwa : 1. Reflek spinal pada katak terjadi jika ada rangsangan baik berupa rangsangan mekanis maupun kimia. 2. Perusakan otak tidak mempengaruhi reflek spinal pada katak. 3. Kerja reflek spinal diatur oleh sumsum tulang belakang (medulla spinalis). 4. Jika medulla spinalis dirusak maka katak tidak dapat lagi merespon rangsangan yang diberikan karena tidak ada lagi pusat gerak reflex

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Laporan Praktikum : Efek Spinal pada Katak.


http://epzna.blogspot.com/2011/03/laporan-praktikum-efek-spinal-pada.html.

Diakses

tanggal 14 Mei 2012. Anonim. 2011. Sistem Saraf Amphibia (Sistem Saraf pada Katak).
http://lenimaryati.blogspot.com/2011/06/sistem-saraf-amphibia.html. Diakses tanggal 14

Mei 2012. Sari, Lela Juwita.,dkk. Fisiologi Sistem Saraf pada Katak Jurnal.
http://ml.scribd.com/doc/51990563/jurnal-sistem-saraf-katak. Diakses tanggal 14 Mei

2012. Yesica. 2010. Laporan Praktikum Fisiologi Sistem Saraf.


http://www.scribd.com/doc/40005625/LAPORAN-PRAKTIKUM-FISIOLOGI. Diakses tanggal

14 Mei 2012.

Lampiran

HASIL PEGAMATAN

1. Aktifitas normal a. Nafas b. Denyut jantung : 120 per menit : 100 per menit

c. Gerakan Spontan : Ada, cepat Setelah berenang a. Nafas b. Denyut Jantung 2. Katak Deserebrasi Shock hilang setelah 15 detik 3. Katak Spinal Shock hilang setelah 5 detik 4. Gerak refleks a. Mekanis 1) Reflex mandibula 2) Reflex aktremitas/ tungkai/kaki b. Kimia 1) Ekstremitas/ tungkai/kaki 2) Abdominal/perut : 6 detik reflex +3 : 1 detik reflex +4 : 1 detik reflex +4 : 1-2 detik reflex +4 : 140 per menit : 110 per menit