Anda di halaman 1dari 30

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah Berdasarkan data Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik Depkes, pada tahun 2007 jumlah rumah sakit di Indonesia sebanyak 1.319 yang terdiri atas1.033 RSU dengan jumlah kunjungan ke RSU sebanyak 33.094.000, sementara data kunjungan ke IGD sebanyak 4.402.205 (13,3 % dari total seluruh kunjungandi RSU), dari jumlah seluruh kunjungan IGD terdapat 12,0 % berasal dari pasien rujukan. Pelayanan pasien gawat darurat adalah pelayanan yang memerlukan pertolongan segera yaitu cepat, tepat dan cermat untuk mencegah kematian dan kecacatan, atau pelayanan pasien gawat darurat memegang peranan penting yang sangat penting (Time saving is life saving) bahwa waktu adalah nyawa. Salah satu indikator mutu pelayanan berupa respon time atau waktu tanggap, hal ini sebagai indikator proses untuk mencapai indikator hasil yaitu kelangsungan hidup.1 Pertolongan gawat darurat melibatkan dua komponen utama yaitu pertolongan fase pra rumah sakit dan fase rumah sakit. Kedua komponen tersebut sama pentingnya dalam upaya pertolongan gawat darurat. Pertolongan gawat darurat memiliki sebuah waktu standar pelayanan yang dikenal dengan istilah waktu tanggap (respon time) yaitu maksimal 5 menit. Waktu tanggap gawat darurat merupakan gabungan dari waktu tanggap saat pasien tiba di depan pintu rumah sakit sampai mendapat respon dari petugas instalasi gawat darurat dengan waktu pelayanan yang diperlukan pasien sampai selesai proses penanganan gawat darurat.1,2 Dari beberapa penelitian sehubungan dengan waktu tanggap (respon time) penanganan gawat darurat di Instalasi Gawat Darurat (IGD) di beberapa rumah sakit, di dapatkan rerata waktu tanggap di IGD RS. Cipto Mangunkusumo kurang lebih delapan menit. Adapun di RSUD. Bantul didapatkan rerata waktu tanggap baik kasus bedah maupun non bedah di Instalasi Gawat Darurat RSUD Bantul adalah 10 menit.3,4 Waktu tanggap tersebut harus mampu dimanfaatkan untuk memenuhi prosedur utama dalam penanganan kasus gawat darurat yaitu Airway, Breathing, Circulation dan Disability. Airway berarti penanganan pada saluran nafas yang terhambat karena kecelakaan atau penyakit. Breathing berarti penanganan terhadap
1

kemampuan paru-paru dalam memompa keluar-masuk udara. Circulation yang berarti penanganan terhadap kemampuan jantung untuk memompa darah dan disability yang berarti penanganan terhadap kemungkinan terjadinya cacat permanen akibat kecelakaan.1,5,6 Waktu tanggap pelayanan dapat dihitung dengan hitungan menit dan sangat dipengaruhi oleh berbagai hal baik mengenai jumlah tenaga maupun komponenkomponen lain yang mendukung seperti pelayanan laboratorium, radiologi, farmasi, dan administrasi. Waktu tanggap dikatakan tepat waktu atau tidak terlambat apabila waktu yang diperlukan tidak melebihi waktu rata-rata standar yang ada. Salah satu indikator keberhasilan penanggulangan medik penderita gawat darurat adalah kecepatan memberikan pertolongan yang memadai kepada penderita gawat darurat baik pada keadaan rutin sehari-hari atau sewaktu bencana. Keberhasilan waktu tanggap sangat tergantung kepada kecepatan yang tersedia serta kualitas pemberian pertolongan untuk menyelamatkan nyawa atau mencegah cacat sejak di tempat kejadian, dalam perjalanan hingga pertolongan rumah sakit.
1,5,6

I.2 Rumusan Masalah Sesuai dengan latar belakang, maka dirumuskan masalah: Bagaimana gambaran respon time penanganan trauma di IGD RS Labuang Baji Makassar Januari 2013

I.3 Tujuan Penelitian Tujuan Umum : Mengetahui gambaran respon time penanganan trauma di IGD RS Labuang Baji Makassar Januari 2013 Tujuan Khusus : 1. Mengetahui gambaran tenaga medis yang dibutuhkan pada respon time penanganan trauma di IGD RS Labuang Baji Makassar Januari 2013 2. Mengetahui gambaran fasilitas medis di IGD pada respon time penanganan trauma di IGD RS Labuang Baji Makassar Januari 2013 3. Mengetahui gambaran kinerja tenaga dokter pada respon time penanganan trauma di IGD RS Labuang Baji Makassar Januari 2013

I.4 Manfaat Penelitian 1. Manfaat bagi tempat penelitian Hasil penelitian dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi tenaga kesehatan yang bertugas di IGD RS.Labuang Baji Makassar, sehingga dapat meningkatkan pengetahuan dalam penanganan trauma. 2. Manfaat bagi institusi pendidikan Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan atau masukan untuk melakukan penelitian yang berkaitan dengan respon time penanganan trauma di IGD. 3. Manfaat bagi peneliti Penelitian ini sebagai sarana dalam mengembangkan dan mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang didapat selama pendidikan dengan kenyataan yang ada di lapangan serta untuk menambah wawasan dalam pembuatan karya tulis ilmiah.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1.

Tenaga medis Tenaga medis adalah tenaga ahli di bidang kesehatan dengan fungsi utamanya adalah memberikan pelayanan medis kepada pasien dengan mutu sebaik-baiknya dengan menggunakan tata cara dan teknik berdasarkan ilmu pengobatan dan etik yang berlaku serta dapat dipertanggungjawabkan. 6

Yang dimaksud dengan Tenaga Kesehatan adalah: A. Tenaga kesehatan sarjana 1. Dokter 2. Dokter gigi 3. Perawat 4. Bidan 5. Apoteker 6. Sarjana-sarjana lain dalam bidang kesehatan B. Tenaga Kesehatan sarjana-muda, menengah dan rendah: a. Dibidang farmasi : asisten-apoteker dan sebagainya; b. Dibidang kebidanan: bidan dan sebagainya; c. Dibidang perawatan: perawat, physio-terapis dan sebagainya; d. Dibidang kesehatan masyarakat : penilik kesehatan, nutrisionis dan lainlain; e. Dibidang-bidang kesehatan lain. 2. Apa yang dimaksud dengan IGD Instalasi Gawat Darurat (IGD) adalah salah satu bagian di rumah sakit yang menyediakan penanganan awal bagi pasien yang menderita sakit dan cedera, yang dapat mengancam kelangsungan hidupnya. 5,6 Instalasi Gawat Darurat merupakan salah satu fasilitas terpenting dalam sebuah rumah sakit. IGD merupakan tempat penanganan awal bagi pasien yang datang dalam kondisi terancam nyawanya atau dalam keadaan darurat dengan kata lain butuh penanganan dan pertolongan cepat dan tepat. Oleh karena IGD memiliki
4

peran yang tidak kecil, maka dibutuhkan IGD dengan fasilitas dan segala aspek yang dapat menunjang seluruh pasien gawat darurat yang datang, terutama IGD dalam sebuah rumah sakit yang ramai akan pasien yang datang untuk mendapatkan penanganan segera. Dalam simulasi ini, kami ingin melakukan sistem pemodelan IGD agar mendapatkan sistem IGD yang efisien dan efektif sehingga para pasien gawat darurat yang datang dapat dengan segera mendapat pertolongan yang cepat dan tepat. 6 3. Kinerja Tenaga Medis Memberikan pelayanan sebagai berikut: 1. Diagnosis dan penanganan : Permasalahan pada A, B, C dengan alat- alat yang lebih lengkap termasuk ventilator 2. Penilaian disability, penggunaan obat, EKG, defibrilasi 3. Observasi HCU/R. Resusitasi ICU 4. Bedah cito

Sistem penanganan trauma Kematian akibat trauma memperlihatkan distribusi trimodal

(Trunkey,1982). Pada satu kelompok kematian kematian terjadi dalam beberapa detik setelah cedera, biasanya akibat cedera otak atau vaskular yang parah. Walaupun beberapa pasien dari kategori ini dapat diselamatkan apabila tersedia sistem transportasi darurat yang cepat, namun hanya pendidikan dan legislasi mengenai berbagai masalah seperti pemakaian sabuk pengaman, menyetir dalam keadaan mabuk, dan pemilikan senjata api yang akan memiliki dampak nyata. Perawatan pasien trauma dapat dikonseptualisasikan sebagai suatu proses siklik yang berawal dari kejadian traumatik dan berlanjut melalui fase resusitasi, operasi, perawatan intensif, perawatan intermediat, dan rehabilitasi. Sepanjang siklus trauma, tugas perawat adalah mengidentifikasi dan menangani respons manusia terhadap cedera. Selain keadaan fisiologi mereka yang sudah ada sebelumnya, respons masing-masing pasien terhadap cedera juga dipengaruhi oleh berbagai faktor perkembangan, sosial, ekonomi dan lingkungan. Dengan memusatkan perhatian pada keunikan dari setiap orang, maka pendekatan
5

penatalaksanaan yang bersifat generik dan sembrono dapat dihindari. Karena alur tanggung jawab merawat pasien dari departemen gawat darurat ke ruang operasi, unit perawatan intensif, dan bagian-bagian lain, perawat harus tetap mempertahankan kontinuitas perawatan, berperan sebagai penasehat pasien, memastikan bahwa kebutuhan masing-masing pasien terpenuhi. Selama evaluasi segera pasien yang ditraumatisasi sangat penting menentukan prioritas terapi. Pada hakekatnya penatalaksanaan pasien mencakup 1. Evaluasi primer yg cepat 2. Resusitasi fungsi vital 3. Penilaian sekunder lebih terinci dan 4. Pemulaan perawatan definitif.

I.

Primary survey Penilaian keadaan penderita dan prioritas terapi berdasarkan jenis perlukaan, tanda-tanda vital, dan mekanisme trauma. Pada penderita yang terluka parah, terapi diberikan berdasarkan prioritas. Tanda vital penderita harus dinilai secara cepat dan efisien. Pengelolaan penderita berupa primary survey yang cepat dan kemudian resusitasi, secondary survey dan akhirnya terapi definitif. Proses ini merupakan ABC-nya trauma, dan berusaha untuk mengenali keadaan yang mengancam nyawa terlebih dahulu, dengan berpatokan pada urutan berikut: 8,9,10 A: Airway, menjaga airway dengan kontrol servikal (Cervikal spine control). B: Breathing, menjaga pernafasan dengan ventilasi C: Circulation dengan kontrol perdarahan (hemorrhage control) D: Disability, status neurologis E: Exposure/ environmental control: buka baju penderita tetapi cegah hipotermi.

A. Airway Yang pertama harus dinilai adalah kelancaran jalan nafas. Ini meliputi pemeriksaan adanya obstruksi jalan nafas yang dapat disebabkan benda asing, fraktur tulang wajah, fraktur mandibula atau maksila, fraktur laring atau trakea. Gangguan airway dapat timbul secara mendadak dan total, perlahan-lahan dan sebagian, dan progresif atau berulang. Saat initial assesment pada airway, penderita yang mampu berbicara memberi jaminan bahwa airwaynya terbuka dan tidak dalam keadaan berbahaya. Oleh karena itu, tindakan awal yang paling penting adalah dengan mengajak penderita berbicara dan memancing jawaban verbal.
6

Suatu respon verbal yang positif dan sesuai menunjukkan bahwa airway penderita terbuka, ventilasi utuh, dan perfusi otak cukup. Tanda-tanda objektif sumbatan airway, yaitu:9,10 (1). Lihat (look) apakah penderita mengalami agitasi atau tampak bodoh. Agitasi memberi kesan adanya hipoksia, dan tampak bodoh memberi kesan adanya hiperkarbia. Sianosis menunjukkan hipoksemia yang disebabkan kurangnya oksigenasi dan dapat dinilai dengan melihat pada kuku dan kulit sekitar mulut. Lihat adanya retraksi dan penggunaan otot-otot bantu pernafasan yang merupakan bukti tambahan adanya gangguan airway. (2.) Dengar (listen) adanya suara-suara abdorrmal. Pernafasan yang berbunyi (suara nafas tambahan) adalah pernafasan yang tersumbat. Suara mendengkur (snoring), berkumur (gurgling), dan bersiul (crowing sound, stridor) mungkin berhubunagn dengan sumbatan parsial pada faring atau laring. Suara parau (hoarseness, dysphonia) menunjukkan sumbatan pada laring. Penderita yang melawan dan berkata-kata kasar (gaduh gelisah) mungkin mengalami hipoksia dan tidak boleh dianggap karena keracunan atau mabuk. (3). Raba (Feel) lokasi trakea dan dengan cepat tentukan apakah trakea berada ditengah. Bila penderita mengalami penurunan tingkat kesadaran, maka lidah mungkin jatuh kebelakang dan menyumbat hipofaring. Bentuk sumbatan seperti ini dapat segera diperbaiki dengan cara mengangkat dagu (chin-lift maneuver) atau dengan mendorong rahang bawah ke arah depan (jaw-thrust maneuver). Airway selanjutnya dapat dipertahankan dengan airway orofaringeal (oropharyngeal airway) atau nasofaringeal (nasopharyngeal airway). Karena semua tindakantindakan ini mungkin mengakibatkan pergerakan pada leher, maka perlindungan terhadap servikal (cervical spine) harus dilakukan pada semua penderita. Servikal harus dilindungi sampai kemungkinan cedera spinal telah disingkirkan dengan penilaian klinis dan pemeriksaan foto rontgen yang sesuai. 8,9,10

B. Breathing dan Ventilasi Menjamin terbukanya airway merupakan langkah penting pertama untuk pemberian oksigen pada penderita. Airway yang terbuka tidaka kan berguna bagi penderita kecuali penderita juga bernafas dengan adekuat. Ventilasi mungkin terganggu oleh sumbatan airway tetapi juga oleh gangguan pergerakan nafas atau

depresi susunan saraf pusat. Tanda-tanda objektif ventilasi yang tidak adekuat, yaitu: 8,9,10 (1) Lihat (look) naik turunnya dada yang simetris dan pergerakan dinding dada yang adekuat. Tiap pernafasan yang dilakukan dengan susah (labored breathing) harus dianggap sebagai ancaman oksigenasi penderita. (2) Dengar (Listen) adanya pergerakan udara pada kedua sisi dada. Penurunan atau tidak terdengarnya suara nafas pada satu atau kedua hemitoraks merupakan tanda akan adanya cedera dada. (3) Gunakan pulse Oxymeter. Alat ini mampu memberikan informasi tentang saturasi oksigen dan perfusi perifer penderita, tetapi tidak memastikan adanya ventilasi yang adekuat. Cara terbaik memberikan oksigen adalah dengan cara menggunakan masker wajah yang melekat ketat dengan reservoir oksigen (tight-fitting oxygen reservoir face mask). Cara lain misalnya kateter nasal, kanula nasal, masker nonrebreather juga dapat meningkatkan konsentrasi oksigen yang dihisap.

C. Circulation dengan Kontrol Perdarahan Perdarahan merupakan sebab utama kematian pasca bedah yang mungkin dapat diatasi denagan penanganan yang cepat dan tepat di rumah sakit. Suatu keadaan hipotensi pada penderita trauma harus dianggap disebabkan oleh hipovolemia, sampai terbukti sebaliknya. Dengan demikian maka diperlukan penilaian yang cepat dari status hemodinamik penderita. Ada tiga temuan klinis, yakni tingkat kesadaran, warna kulit, dan nadi. 8,9,10 (1) Tingkat Kesadaran Bila volume darah menurun, perfusi otak dapat berkurang, yang akan mengakibatkan penurunan kesadaran. (2) Warna kulit Penderita trauma yang kulitnya kemerahan, terutama pada wajah dan ekstremitas, jarang yang dalam keadaan hipovolemia. Sebaliknya, wajah pucat dan kulit ekstremitas yang pucat merupakan tanda hipovolemia. (3) Nadi Periksa pada nadi yang besar seperti a. femoralis atau a. karotis (kiri-kanan) untuk kekuatan nadi, kecepatan dan irama. Nadi yang cepat dan kecil merupakan tanda hipovolemia, walaupun dapat disebabkan keadaan yang lain.
8

Nadi yang tidak teratur biasanya merupakan tanda gangguan jantung. Tidak ditemukannya pulsasi pada arteri besar merupakan pertanda diperlukannya resusitasi segera. Lakukan kontrol perdarahan dengan tekanan langsung atau secara operatif. Bila ada gangguan sirkulasi harus dipasang sedikitnya dua IV line. Kateter IV yang dipakai harus berukuran besar. Besar arus tetesan infus yang didapat tidak bergantung dari ukuran vena tetapi tergantung dari besar kateter IV. Pada awalnya sebaiknya menggunakan vena pada lengan. Pada saat memasang kateter IV harus diambil contoh darah untuk permintaan darah dan pemeriksaan laboratorium rutin, termasuk tes kehamilan pada semua penderita wanita berusia subur. Pada saat datang penderita diinfus cepat dengan 2-3 liter cairan kristaloid, sebaiknya Ringer Lactat. Bila tidak ada respon dengan pemberian bolus kristaloid maka diberikan transfusi darah segolongan. Jangan diberikan vasopresor,steroid atau Bicarbonas Natricus. Juga jangan terapi syok hipovolemik dengan infus RL atau pemberian darah secara terus-menerus, dalam keadaan ini harus dilakukan resusitasi operatif untuk menghentikan perdarahan.8,9,10,11

D. Disability (Neurologic Evaluation) Menjelang akhir primary survey dilakukan evaluasi terhadap keadaan neurologis secara cepat. Yang dinilai adalah tingkat kesadaran, ukuran dan reaksi pupil, tanda-tanda lateralisasi dan tingkat (level) cedera spinal. GCS (Glasgow coma Scale) adalah sistem skoring yang sederhana dan dapat meramal kesudahan (outcome) penderita. Penurunan kesadaran dapat disebabkan penurunan oksigenasi atau/ dan penurunan perfusi ke otak, atau disebabkan trauma langsung pada otak. Penurunan kesadaran menuntut dilakukannya reevaluasi terhadap keadaan oksigenasi, ventilasi, dan perfusi.6,8 E. Exposure Penderita harus dibuka keseluruhan pakaiannya. Setelah pakaian dibuka, pentingpenderita diselimuti agar tidak kedinginan. Harus dipakaikan selimut hangat, ruangan cukup hangat dan diberikan cairan intravena yang sudah dihangatkan.8

II. Resusitasi

Setelah survei primer diselesaikan, maka tindakan resusitasi dimulai pada semua pasien dengan trauma besar. Ia mencakup pemberian oksigen tambahan dan pemasangan paling kurang dua jalur intravena berlumen besar. Pada waktu yang sama, harus diambil sedikit contoh darah, sehingga bisa ditentukan golongannya dan dicocok-silang serta dilakukan pemeriksaan kimia diagnostik dasar. Jika diidentifikasi hipotensi, maka harus diantisipasi syok hipovolemik dan larutan garam seimbang diberikan secara cepat. Pemantauan elektrokardiografi dilakukan untuk mendeteksi timbulnya aritmia serta kateter urina dan sonde lambung harus dipasang jika tak ada kontraindikasi. Bila hipovolemia menyebabkan penurunan curah jantung dan perfusi tepi yang tak adekuat, maka metabolisme aerobik pada tingkat sel jelas terganggu. Asidosis laktat sebagai akibat metabolisme aerobik sel cepat terjadi. Di samping itu, cairan ekstrasel hilang ke ruang intrasel karena pompa Na+ - K+ adenosin trifosfat (ATP) gagal serta natrium dan air ekstrasel melintasi membran sel dalam pertukaran dengan kalium. Hiperkalemia berikutnya dan kematian sel sering menyebabkan kegagalan organ. Adanya asidosis metabolik yang parah berhubungan dengann penurunan kontraktilitas myocardium, sehingga lebih memperburuk akibat pengurangan aliran darah organ. Karena perdarahan didefinisikan sebagai kehilangan akut volume darah yang bersirkulasi normal, penting dokter mempunyai cara menilai volume darah yang normal. Volume darah pada pria normal menunjukkan sekitar 7,2 persen berat badan ideal. Pada kelompok usia pediatri, volume dara total bisa dihitung pada sekitar 80 sampai 90 ml per kg berat badan ideal. Perdarahan telah diklasifikasi menurut jumlah perdarahan akut yang dialami oleh pasien. Perdarahan kelas I didefinisikan sebagai perdarahan sampai 15 persen dari volume darah total yang bersirkulasi; kelas II suatu perdarahan akut 20 sampai 25 persen volume darah; Kelas III suatu perdarahan akut 30 sampai 35 persen volume darah serta Kelas IV suatu perdarahan akut 40 sampai 50 persen volume darah yang bersirkulasi.

10

Keparahan perdarahan bisa diperkirakan dari gejala klinik yang ditampilkan. Perdarahan kelas I biasanya dimanifestasikan oleh peningkatan sangat minimum dalam kecepatan nadi. Dalam perdarahan Kelas II, denyut nadi akan lebih dari 100 dan pasien mulai menunjukkan takipne. Disamping itu, bisa memperlihatkan peningkatan tekanan diastolik sekunder terhadap perluasan katekolamin yang bersirkulasi dengan akibat penurunan dalam tekanan nadi. Perdarahan Kelas IV disertai oleh takikardia jelas lebih dari 140 dengan tekanan darah sistolik kurang dari 50 sampai 60 mm Hg. Kepucatan dan penurunan suhu permukaan bisa dinilai. Perdarahan dalam Kelas I dan Kelas II bisa diterapi dengan pemberian larutan garam seimbang. Larutan demikian diberikan supaya menginfus sekitar 3 unit larutan kristaloid untuk setiap unit perdarahan. Perdarahan kelas III dan IV memerlukan pemberian larutan garam seimbang dan darah lengkap untuk memulihkan stabilitas hemodinamik. Pemulihan volume darah yang bersirkulasi bisa dinilai dengan serangkaian evaluasi tanda dan gejala klinik, yang mencakup frekuensi nadi, fekuensi pernapasan dan tekanan darah; pemulihan curah urina adekuat; hilangnya asidosis metabolik dan pemulihan volume yang adekuat tak segera dicapai, maka harus dicurigai keadaan hipovelemia persisten. Dosis tes tantangan cairan yang terdiri dari 200 ml larutan Ringer laktat diberikan dalam masa 10 menit sering memperbaiki tanda vital dan menggambarkan menetapnya hipovolemia. Dalam pasien anak, tantangan cairan demikian terdiri dari 20 sampai 40 ml per kg per jam larutan Ringer laktat.

III. Secondary Survey Secondary survey dilakukan setelah primary survey selesai, resusitasi dilakukan dan ABC-nya penderita dipastikan membaik. Survei sekunder adalah pemeriksaan kepala sampai kaki (head to toe examination), termasuk re-evaluasi pemeriksaan tanda vital.8,9 A. Anamnesis Setiap pemeriksaan yang lengkap memerlukan anamnesis mengenai riwayat perlukaan. Seringkali data seperti ini tidak bisa didapat dari penderita sendiri dan harus didapat dari petugas lapangan atau keluarga.

11

Riwayat AMPLE perlu diingat: A: Alergi M: Medikasi (obat yang diminum saat ini) P: Past illnes (penyakit penyerta)/ Pregnancy L: Last meal E: Event/environment (lingkungan) yang berhubungan dengan kejadian perlukaan.

B. Pemeriksaan fisik (1) Kepala Survei sekunder mulai dengan evaluasi kepala. Seluruh kulit kepala dan kepala harus diperiksa akan adanya luka, kontusio atau fraktur. Karena kemungkinan bengkaknya mata yang akan mempersulit pemeriksaan yang teliti, mata harus diperiksa akan adanya:7 a. Ketajaman visus b. Ukuran pupil c. Perdarahan konjungtiva dan fundus d. Luka tembus pada mata e. Dislocatio lentis f. Jepitan otot bola mata Ketajaman visus dapat diperiksa dengan membaca gambar Snellen, membaca huruf pada botol infus atau bungkus perban. Gerakan bola mata harus diperiksa karena kemungkinan terjepitnya otot mata oleh fraktur orbital. (2) Maksilo-fasial Trauma maksilofasial dapat menggangu airway atau perdarahan yang hebat, yang harus ditangani saat survei primer. Trauma maksilofasial tanpa gangguan airway atau perdarahan hebat, baru dikerjakan setelah penderita stabil sepenuhnya dan pengelolaan definitif dapat dilakukan dengan aman. Penderita dengan fraktur tulang wajah mungkin juga ada fraktur pada lamina cribrosa. Dalam hal ini, pemakaian kateter lambung harus melalui jalan oral.8,9 (3) Vertebra servikalis Penderita dengan maksilofasial atau tarauma kapitis dianggap ada fraktur servikal atau kerusakan ligamentous servikal, pada leher kemudian dilakukan imobilisasi sampai vertebra servikal diperiksa dengan teliti. Tidak adanya kelainan neorologis tidak menyingkirkan kemungkinan fraktur
12

servikal, dan tidak adanya fraktur servikal hanya ditegakkan setelah ada foto servikal, dan foto ini telah diperiksa dokter yang berpengalaman.9 Pemeriksaan leher meliputi inspeksi, palpasi, dan auskultasi. Nyeri daerah vertebra servikalis, emfisema subkutan, deviasi trakea dan fraktur laring dapat ditemukan pada pemeriksaan yang teliti. Dilakukan palpasi dan auskultasi pada arteri karotis. Adanya jejas daerah arteri karotis harus dicatat karena kemungkinan adanya perlukaan pada arteri karotis. Penyumbatan atau diseksi arteri karotis dapat terjadi secara lambat, tanpa gejala. Angiografi atau Doppler Sonografi dapat menyingkirkan kelainan ini. Kebanyakan trauma arteri besar daerah leher atau cedera karena sabuk pengaman dapat menyebabkan kerusakan intima, diseksi dan trombosis.9,10 (4) Toraks Inspeksi dari depan dan belakang akan menunjukkan adanya flail chest atau open pneumothorax. Palpasi harus dilakukan pada setiap iga dan klavikula. Penekanan pada sternum dapat nyeri bila ada fraktur sternum. Kontusio dan hematoma pada dinding dada mungkin disertai kelainan dalam rongga toraks. Kelainan pada toraks akan disertai nyeri dan /atau dispnoe.9 Evaluasi toraks dapat dilakukan dengan pemeriksaan fisik termasuk auskultasi disusul foto toraks. Bising nafas diperiksa pada bagian atas toraks untuk menentukan pneumotoraks, dan pada bagian posterior untuk adanya hemotoraks. Bunyi jantung yang jauh disertai tekanan nadi yang kecil mungkin disebabkan tamponade jantung. Adanya tamponade jantung atau tension pneumotoraks dapat terlihat dari adanya distensi pada vena jugularis, walaupun adanya hipovolemia akan meniadakan tanda ini. Melemahnya suara nafas dan hipersonor pada perkusi paru disertai syok mungkin satusatunya tanda akan adanya tension pneumotoraks, yang menandakan perlunya dekompresi segera.9,10 (5) Abdomen Trauma abdomen harus ditangani dengan agresif. Diagnosis yang tepat tidak terlalu dibutuhkan, yang penting adalah adanya indikasi untuk operasi. Pada saat penderita baru datang, pemeriksaan abdomen yang normal tidak menyingkirkan diagnosis perlukaan intraabdomen, karena gejala mungkin timbul agak lambat. Diperlukan pemeriksaan ulang dan observasi ketat, kalau bisa oleh petugas yang sama. Diperlukan konsultasi ahli bedah.
13

Penderita dengan hipotensi yang tidak dapat diterangkan, kelainan neurologis, gangguan kesadaran karena alkohol dan/atau obat dan penemuan pemeriksaan fisik abdomen yang meragukan, harus dipertimbangkan diagnostik peritoneal lavage (DPL), USG abdomen, atau bila keadaan umum memungkinkan, pemeriksaan CT Scan abdomen dengan kontras. Fraktur iga terbawah atau pelvis akan mempersulit pemeriksaan, karena nyeri dari daerah ini pada palpasi abdomen.9 (6) Perineum/rectum/vagina Perineum diperiksa akan adanya kontusio, hematoma, laserasi dan perdarahan uretra. Colok dubur harus dilakukan sebelum memasang kateter uretra. Harus diteliti akan kemungkinan adanya darah dari lumen rektum, prostat letak tinggi, adanya fraktur pelvis, utuh tidaknya dinding rektum dan tonus musculus sfinkter ani. Pada wanita, pemeriksaan colok vagina dapat menentukan adanya darah dalam vagina atau laserasi. Juga harus dilakukan tes kehamilan pada semua wanita usia subur. (7) Muskuloskeletal Ekstremitas diperiksa untuk adanya luka atau deformitas. Fraktur yang kurang jelas dapat ditegakkan dengan memeriksa adanya nyreri, krepitasi atau gerakan abnormal. Penilaian pulsasi dapat menentukan adanya gangguan vaskular. Perlukaan berat pada ekstremitas dapat terjadi tanpa disertai fraktur. Kerusakan ligamen dapat menyebabkan sendi menjadi tidak stabil, kerusakan otot tendo akan mengganggu pergerakan. Gangguan sensasi dan/atau hilangnya kemampuan kontraksi otot dapat disebabkan kerusakan saraf perifer atau iskemia (termasuk karena sindrom kompartemen).9

(8) Neurologis Pemeriksaan neurologis yang teliti meliputi pemeriksaan tingkat kesadaran, ukuran dan reaksi pupil, pemeriksaan motorik dan sensorik. Perubahan dalam status neurologis dapat dikenal dengan pemeriksaan GCS. Bila ada cedera kepala harus segera dilakukan konsultasi neurologis. Harus dipantau tingkat kesadaran penderita, karena merupakan gambaran perkembangan cedera intrakranial. Bila terjadi penurunan status neurologis harus diteliti ulang perfusi, oksigenasi, dan ventilasi (ABCDE). Mungkin diperlukan tindakan pembedahan atau tindakan lain untuk menurunkan
14

peninggian tekanan intrakranial. Perlunya tindakan bedah bila ada perdarahan epidural, subdural, atau fraktur kompresi yang ditentukan oleh ahli bedah saraf.9

15

BAB III KERANGKA KONSEP

II1.1. Dasar pemikiran variabel penelitian Beberapa faktor yang mempengaruhi Respon Time penanganan trauma yaitu mengenai jumlah tenaga medis maupun komponen-komponen lain yang

mendukung seperti pelayanan laboratorium, radiologi, farmasi, dan administrasi serta kecepatan dan kualitas tenaga medis dalam pemberian pertolongan pertama pada pasien trauma.6,12 Jumlah Tenaga Medis Jumlah tenaga medis merupakan aspek yang menunjang pelayanan pasien di rumah sakit. Keadaan petugas yang kurang menyebakan penyelenggaraan pelayanan tidak maksimal dan kurang memenuhi kepuasan pasien atas pelayanan yang diberikan. Selain itu, akan mengalami kewalahan dalam menjalankan tugasnya sehingga menurunkan tingkat kemampuan kerja. IGD RSUD Haji merupakan instalasi gawat darurat bintang III yang harus memiliki dokter spesialis empat besar (dokter spesialis bedah, penyakit dalam, spesialis anak, spesialis kebidanan) yang siaga di tempat (on-site) dalam 24 jam, dokter umum siaga di tampat (on-site) 24 jam. 6,12,13

Perhitungan tenaga keperawatan di ruang Gawat Darurat Menurut DepKes 2005 Rumus : Rt2 jumlah px prhr X jmlh jam prwtn prhr + Loss day Jam efektif prwt

LossDay : Jmlh hr minggu dlm1 thn + Cuti X Jmlh prwt Jmlh hari kerja efektif

Fasilitas Medis IGD Fasilitas merupakan sarana bantu bagi instansi dan tenaga kesehatan dalam melakukan pelayanan kepada pasien di rumah sakit. Fasilitas dan
16

penunjang yang harus tersedia selain ditentukan oleh kelas IGD rumah sakit juga ditentukan oleh jumlah kasus yang ditangani. Ketanggapan dan kinerja tenaga Dokter Kinerja adalah prestasi kerja atau hasil kerja (output) berupa produk atau jasa yang dicapai seseorang atau kelompok dalam menjalankan tugasnya, baik kualitas maupun kuantitas melalui sumber daya manusia dalam melaksanakan tugas kerjanya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja terdiri dari faktor internal dan faktor eksternal. Faktor Internal (disposisional) yaitu faktor yang dihubungkan dengan sifat-sifat seseorang, misalnya kinerja seseorang baik disebabkan karena mempunyai kemampuan tinggi dan seseorang itu tipe pekerja keras, sedangkan seseorang mempunyai kinerja jelek disebabkan orang tersebut mempunyai kemampuan rendah dan orang tersebut tidak memiliki upaya-upaya untuk memperbaiki kemampuannya. Faktor Eskternal yaitu faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja seseorang yang berasal dari lingkungan, seperti perilaku, sikap dan tindakan-tindakan rekan kerja, bawahan atau pimpinan, fasilitas kerja dan iklim organisasi.13,14,15 Ketanggapan dan kinerja tenaga medis berhubungan dengan aspek kesigapan tenaga medis dalam penanganan dan pelayanan pasien di rumah sakit. Terdapat beberapa indikator untuk minilai kinerja dokter yaitu, Seluruh dokter memiliki privilege, kelengkapan jumlah dan jenis spesialis, memiliki izin praktek yang syah, bersertifikat ATLS (IGD) mengikuti pelatihan teknis 20 jam setahun, ketepatan waktu pelayanan, time reponse pelayanan, time Motion pelayanan, pelayanan sesuai protap dan standar mutu, menerapkan program patient safety, tuntutan terhadap dokter. 14 jumlah pasien yang dilayani, kepuasan Pasien

terhadap dokter, besaran pendapatan yang dihasilkan dokter, tidak adanya

17

III.2. Kerangka konsep Jumlah Tenaga Medis

Kinerja tenaga Dokter dalam pemberian pertolongan

Respon Time Penanganan Trauma di IGD

Fasilitas medis di IGD Ket :

: Variabel terikat (Dependen)

: Variabel bebas (Independen)

III.3. Definisi operasional Trauma Trauma dapat didefinisikan sebagai cedera pada tubuh akibat pemajanan akut tubuh kesuatu bentuk energi atau akibat ketiadaan suatu bahan esensial misalnya oksigen dan panas. Walaupun jaringan memiliki elastisitas untuk menyerap energi, namun apabila kemampuan tersebut terlampaui maka akan terjadi cedera. Cedera dapat terbatas pada satu organ atau sistem, misalnya pada kecelakaan lalu lintas yang banyak mengakibatkan cedera pada kepala, dada, perut, dan tulang. (Shechy,1989)
-

Respon time Respon time yang dimaksud adalah merupakan gabungan dari waktu tanggap saat pasien tiba di depan pintu rumah sakit sampai mendapat respon dari petugas instalasi gawat darurat dengan waktu pelayanan yang diperlukan pasien sampai selesai proses penanganan.

18

Kriteria Objektif: 2 Tepat : Waktu tanggap (respon time) dikatakan tepat waktu atau tidak terlambat apabila waktu tanggap 5 menit Terlambat : Waktu tanggap (respon time) dikatakan terlambat apabila waktu tanggap > 5 menit

- Jumlah Tenaga Medis Jumlah tenaga medis yang dimaksud adalah semua tenaga medis yang bekerja di IGD RS. Labuang Baji Makassar. Kriteria Objektif:
2,4

Cukup : Jumlah tenaga medis yaitu jumlah tenaga perawat 10 orang, mempunyai 1 dokter umum dan 4 dokter spesialisasi yang siaga di IGD (on-site) dalam 24 jam.

Tidak Cukup : Jumlah tenaga medis yaitu jumlah tenaga perawat < 10 orang, dokter umum dan 4 dokter spesialisasi tidak siaga di IGD dalam 24 jam.

- Fasilitas Medis di IGD Fasilitas medis yang dimaksud adalah penyediaan peralatan medis, alat medis, obat-obatan dan penyediaan fasilitas penunjang yaitu, ruang radiologi dan ruang laboratorium yang ada di IGD RS Labuang Baji Makasaar. Kriteria Objektif: 4 Cukup : 80% alat dan fasilitas medis tersedia di IGD

o Ventilator Ambulatory o Peralatan Resusitasi o Rung tindakan medical o Ruang observasi o Ruang tindakan bedah minor o Ruang tunggu yang nyaman o Ambulans Belum Cukup : < 80 % alat dan fasilitas medis tersedia di IGD
19

- Kinerja tenaga medis Yang dimaksud adalah kinerja tenaga medis dalam pemberian pertolongan pertama pada pasien trauma di IGD RS. Labuang Baji Makassar. Indikator yang digunakan dalam penilaian kinerja tenaga medis pada penelitian ini adalah ketepatan waktu pelayanan dan pernah mengikuti pelatihan kegawatdaruratan. Baik : Ketanggapan dan kinerja baik, jika tepat dan pernah mengikuti pelatihan kegawatdaruratan. Kurang : Ketanggapan dan kinerja kurang, jika tidak tepat waktu waktu pelayanan

pelayanan dan tidak pernah mengikuti pelatihan kegawatdaruratan.

20

BAB IV METODE PENELITIAN

IV.1 Desain Penelitian Penelitian ini termasuk penelitian dengan rancangan deskriptif yang

dimaksudkan untuk mendeskripsikan data sebagaimana adanya. Data yang diperoleh dari hasil survey ini selanjutnya akan digambarkan berdasarkan tujuan penelitian yang akan dicapai.

IV.2. Subjek Penelitian a. Populasi Penelitian Populasi pada penelitian ini adalah semua tenaga medis perawatan yang bertugas di IGD RS. Labuang Baji Makassar dan semua data rekam medik pasien (pasien trauma) yang dirawat di IGD RS Labuang Baji Makassar Januari 2013 b. Sampel Penelitian Sampel pada penelitian ini adalah tenaga medis perawatan yang bertugas di IGD RS. Labuang Baji Makassar dengan semua data rekam medik pasien (pasien trauma) yang dirawat di IGD RS Labuang Baji Makassar Januari 2013. Metode sampling yang digunakan adalah total sampling yaitu semua populasi dijadikan sebagai sampel. c. Cara Pengambilan Sampel Menetapkan seluruh populasi yang tercatat di IGD RS. Labuang baji Makassar sebagai sampel, kemudian sampling dilakukan dengan cara mengambil seluruh tenaga paramedis perawatan di IGD RS Labuang Baji selama periode penelitian.

IV. 3. Kriteria Inklusi dan Eksklusi a. Kriteria Inklusi Semua tenaga medis perawatan di IGD yang terdaftar Tenaga medis perawatan yang berada di IGD RS Labuang Baji selama periode penelitian. Tenaga medis yang mengisi dan mengembalikan kuesioner penelitian

21

Data rekam medik pasien yang tertera keterangan waktu datang dan waktu respon time

b. Kriteria Eksklusi Tenaga medis perawatan yang tidak berada di IGD RS Labuang Baji selama periode penelitian. Tenaga medis yang tidak mengisi dan mengembalikan kuesioner penelitian Data rekam medik pasien yang tidak tertera keterangan waktu datang dan waktu respon time

IV.4 Teknik pengumpulan Data Data Primer Pengumpulan data diperoleh dengan teknik wawancara, menggunakan kuesioner yang diisi langsung oleh responden dan 4 lembar check list yang memuat daftar fasilitas medis yang harus tersedia di IGD. Data sekunder Pengumpulan data diambil dari data rekam medik pasien.

IV.5 Pengolahan Data Data yang terkumpul selanjutnya diolah dengan menggunakan perangkat komputer dan kalkulator. Data hasil penelitian ini kemudian disajikan melalui beberapa tahapapan yaitu: 1. Editing data dilakukan untuk memeriksa adanya kesalahan atau kekuranglengkapan data yang diisi oleh responden. Hal ini dapat dikerjakan dengan memeriksa tiap lembar kuesioner pada waktu menerima dari pengumpulan data. 2. Coding data dilakukan untuk memberi kode nomor jawaban yang diisi oleh responden yang terdapat pada daftar pertanyaan. Hal ini dilakukan untuk memudahkan peneliti dalam proses entry data pada pengolahan dengan menggunakan komputer. 3. Entry data yang sudah dilakukan pengkodean dimasukkan kedalam komputer dengan menggunakan program SPSS untuk dilakukan analisa data.
22

DAFTAR PUSTAKA

1.

Sucista A. 2011. Pembuatan aplikasi penentuan rute optimal menuju pelayanan gawat darurat berbasis mobile. Skripsi. Stmik Amikom: Yogyakarta.

2.

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 2008. Tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit. Jakarta.

3.

Purnama DI. 2008. Evaluation of Obstetric Emergency Referral Cases at Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital January - December 2008. Skripsi. Jakarta.

4.

Pranowo KT, Hendrik. 2006 Pengaruh waktu Penatalaksanaan Kegawatdaruratan Medis terhadap Mutu Pelayanan di Instalasi Gawat Daurat Bantul. Skripsi. Yogyakarta.

5.

Haryatun N. 2008. Perbedaan Waktu Tanggap Tindakan Keperawatan Pasien Cedera Kepala Kategori 1 V di Instalasi Gawat Darurat RSUD dr. Moewardi: Jawa Tengah.

6.

Pratiwi A, Panggah W. 2008. Hubungan Beban Kerja Dengan Waktu Tanggap Perawat Gawat Darurat Menurut Persepsi Pasien Di Instalasi Gawat Darurat RSU. Pandan Arang Boyolali. Jawa Tengah.

7.

Manuaba TW. Tindak bedah organ dan sistem organ payudara. In: R. Sjamsuhidayat, Jong 2005. p. 388- 401. WD, editor. Buku ajar ilmu bedah. 2nd ed. Jakarta: EGC;

8. Driscoll P, David Skinner. Initial assessment and management Primary Survey Peter Driscoll. available at www.primarytraumacare.org/PTCmain/Training/pdf/PTCC_INDO.pdf 9. Advanced Trauma Life Support Untuk Dokter. Edisi 7. Komisi Trauma IKABI 2004. 10. Dries D. Initial Evaluation of the Trauma Patient. Update on 2 January 2012, available at http://www.medscape.com 11. Saanin S. Manajemen Penanganan Korban Bencana Tindakan Pada Pasien Gawat-Darurat. Update on 29 th Desember 2011, available at http://www.angelfire.com/nc/neurosurgery 12. Anjaryani WD. 2009. Kepuasan Pasien Rawat Inap Terhadap Pelayanan Perawat di RSUD Tugurejo Semarang. Skripsi. Universitas Diponegoro: Semarang.
23

13. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 2007. Tentang Standar Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit. Jakarta. 14. Permana HP. 2007. Indikator Kinerja Rumah Sakit. Update on 26th January 2012, available at Indikator Kinerja RS-Hanna Subanegara.pdf. 15. Pranowo KT, Hendrik. 2006 Pengaruh waktu Penatalaksanaan Kegawatdaruratan Medis terhadap Mutu Pelayanan di Instalasi Gawat Daurat Bantul. Skripsi. Yogyakarta.

24

Level IV Memberikan pelayanan sebagai berikut: 1. Diagnosis dan penanganan : Permasalahan pada A, B, C dengan alat- alat yang lebih lengkap termasuk ventilator 2. Penilaian disability, penggunaan obat, EKG, defibrilasi 3. Observasi HCU/R. Resusitasi ICU 4. Bedah cito

Level III Memberikan pelayanan sebagai berikut: 1. Diagnosis dan penanganan : Permasalahan pada A, B, C dengan alat- alat yang lebih lengkap termasuk ventilator 2. Penilaian disability, penggunaan obat, EKG, defibrilasi 3. Observasi HCU/R. Resusitasi ICU 4. Bedah cito

Level II Memberikan pelayanan sebagai berikut: 1. Diagnosis dan penanganan : Permasalahan pada A: Jalan nafas (Airway problem) B: Pernafasan (Breathing problem) dan problem) 2. Penilaian disability, penggunaan obat, EKG, defibrilasi 3. Bedah cito C: Sirkulasi pembuluh darah (Circulation

Level I Memberikan pelayanan sebagai berikut:

25

1. Diagnosis dan penanganan : Permasalahan pada A: Jalan nafas (Airway problem) B: Pernafasan (Breathing problem) dan problem) 2. Melakukan Stabilisasi dan evakuasi C: Sirkulasi pembuluh darah (Circulation

Level IV

Level III

Level II

Level I

Memberik an pelayanan sebagai berikut: 5. Diagnosis dan penanganan : Permasalahan pada A, B, C dengan alat-

Memberik an pelayanan sebagai berikut: 1. Diagnosis dan penanganan : Permasalahan pada A, B, C dengan alat-

Memberik an pelayanan sebagai berikut: 1. Diagnosis dan penanganan : Permasalahan pada A: Jalan nafas (Airway problem) Pernafasan (Breathing problem) dan C: Sirkulasi B: n

Memberika pelayanan

sebagai berikut: 1. Diagnosis dan penanganan Permasalahan pada A: Jalan nafas (Airway problem) Pernafasan (Breathing problem) C: dan B: :

alat yang lebih lengkap termasuk ventilator 6. Penilaian disability, penggunaan obat, EKG,

alat yang lebih lengkap termasuk ventilator 2. Penilaian disability, penggunaan obat, EKG,

Sirkulasi

pembuluh darah (Circulation problem) 2. Penilaian disability, penggunaan obat, EKG,

pembuluh darah (Circulation problem) 2. Melakukan Stabilisasi dan evakuasi

defibrilasi 7. Observasi HCU/R. Resusitasi ICU 8. Bedah cito

defibrilasi 3. Observasi HCU/R. Resusitasi ICU 4. Bedah cito

defibrilasi 3. Bedah cito

26

Kualifikasi Tenaga Dokter Subspesialis Semu a jenis on call Dokter Spesialis 4 Besar + - Bedah, obgyn, Anak, Penyakit Dalam on Anak, Penyak it Dalam on call Bedah , obgyn -

Anast esi on site (dr Spesia lis on call) Dokter PPDS On site 24 jam Dokter (+Pelatihan Kegawatdaruratan ) GELTS, ATLS, ACLS dll Perawat S1, DIII(+Pelatihan Kegawat Daruratan) Kepala Jam kerja / Diluar jam kerja Umum On site 24 jam

site (dokter spesialis lain on call

On site 24 jam (Rs

Pendidikan ) On site 24 jam On site 24 jam On site 24 jam

Jam kerja / Diluar jam kerja

Jam kerja / Diluar jam kerja

Jam kerja / Diluar jam kerja

27

Emergency Nursing, BCLS dll Perawat (+Pelatihan Emergency Nursing) Non Medis On site 24 jam On site 24 jam On site 24 jam On site 24 jam On site 24 jam On site 24 jam On site 24 jam On site 24 jam BTLS,

Bagian Keuangan Kamtlb (24 jam) Pekarya (24 jam)

1. Pengertian Pengertian 1. Pasien Gawat Darurat : adalah Pasien yang tiba-tiba berada dalam keadaan gawat atau akan menjadi gawat dan terancam nyawanya atau anggota badannya (akan menjadi cacat) bila tidak mendapat pertolongan secepatnya. 2. Pasien Gawat Tidak Darurat : adalah Pasien berada dalam keadaan gawat tetapi tidak memerlukan tindakan darurat, misalnya kanker stadium lanjut. 3. Pasien Darurat Tidak Gawat : adalah Pasien akibat musibah yang datang tiba-tiba, tetapi tidak mengancam nyawa dan anggota badanya, misalnya luka sayat dangkal. 4. Pasien Tidak Gawat Tidak Darurat : adalah pasien yang datang dalam keadaan baik tidak mengancam nyawa dan anggota badannya, misalnya pasien dengan ulcus tropicum. 5. Kecelakaan (accident) adalah suatu kejadian dimana terjadi interaksi berbagai faktor yang datangnya mendadak, tidak dikehendaki sehingga menimbulkan cedera (fisik, mental, social).

enis jenis tindakan emergency


Tindakan penyelamatan jiwa pada pasien henti nafas dan henti jantung Penanganan serangan jantung / payah jantung, sesak nafas Penanganan akut abdomen Resusitasi cairan akibat dehidrasi / penanggulangan shock Penanggulangan pendarahan saluran cerna Penanggulangan penyakit stroke Penanggulangan trauma / kecelakaan Penanggulangan patah tulang, kelainan musculoskeletal Penanggulangan intotoksikasi obat / bahan lain Penanganan penyakit akut lainnya Pembedaan minor Penanggulangan bencana alam 28

Penanganan keracunan massal Tenaga medis Dokter - dokter IGD memiliki latar belakang pendidikan :

PPGD (Penanggulangan Pasien Gawat Darurat) ACLS (Advance Cardiac Life Support) Serta pelatihan pelatihan lain yang sangat diperlukan dalam menangani kasus kasus gawat darurat. Fasilitas : IGD RS. Usada Insani memiliki sarana serta prasarana yang memadahi, berkapasitas 11 tempat tidur yaitu :

Ventilator Ambulatory Peralatan Resusitasi Rung tindakan medical Ruang observasi Ruang tindakan bedah minor Ruang tunggu yang nyaman Ambulans IGD RS. usada Insani menerima pasien yang berobat baik pasien umum, asuransi dan pasien jaminan perusahaan

Trauma adalah keadaan yang disebabkan oleh luka atau cedera. Definisi ini memberikan gambaran superfisial dari respon fisik terhadap cedera. Trauma juga mempunyai dampak psikologis dan sosial dan dapat menyebabkan hilangnya produktivitas seseorang. Trauma merupakan penyebab kematian utama pada kelompok umur di bawah 35 tahun. Di Indonesia, trauma merupakan penyebab kematian nomor empat, tetapi pada kelompok umur 15-25 tahun, merupakan penyebab kematian utama.7 Trauma dpat didefinisikan sebagai cedera pada tubuh akibat pemajanan akut tubuh kesuatu bentuk energi atau akibat ketiadaan suatu bahan esensial misalnya oksigen dan panas (Shechy,1989). Walaupun jaringan memiliki elastisitas untuk menyerap energi, namun apabila kemampuan tersebut terlampaui maka akan terjadi cedera. Cedera dapat

29

terbatas pada satu organ atau sistem, misalnya pada kecelakaan lalu lintas yang banyak mengakibatkan cedera pada kepala, dada, perut, dan tulang. Tidak seperti penyakit progresif, trauma adalah suatu kejadian akut. Dalam beberapa detik, kondisi pasien trauma dapat bergeser dari keseimbangan relatif menjadi stres fisiologis yang berat. Derajat stres bergantung pada faktor-faktor misalnya keparahan cedera yang dialami, efektivitas usaha resusitasi, usia dan patofisiologi yang sudah ada sebelumnya (Richardson & Rodriguez, 1987). Anak, lansia, dan pasien yang sudah mengidap penyakit lain dapat meninggal akibat stres dalam waktu yang lebih cepat dan memiliki resiko mengalami komplikasi yang lebih besar. Di pihak lain tubuh anak yang lebih besar dan orang dewasa muda yang sehat dapat melakukan kompensasi lebih lama sehingga deteksi cedera yang samar menjadi lebih sulit.

30