Anda di halaman 1dari 59

Tafsir Al-Furqon adalah karya besar A.

Hassan

Bagian pertama al-Furqon diterbitkan pada tahun 1928. Terbitan pertama itu mungkin belum seperti yang diharapkan karena baru dapat memenuhi sebagian ilmu yang diperlukan oleh umat Islam di Indonesia. Untuk memenuhi desakan sejumlah anggota Persatuan Islam, bagian kedua tafsir itu diterbitkan tahun 1941, tetapi hanya sampai Surah Maryam. Selanjutnya, atas bantuan seorang pengusaha, yaitu Saad Nabhan, pada tahun 1953 barulah proses penulisannya dilanjutkan kembali hingga akhirnya tulisan Tafsir Al-Furqn secara keseluruhan (30 juz) dapat diterbitkan pada tahun 1956. Mengingat tafsir tersebut ditulis pada dekade sebelum 1960-an, bahasa Indonesia yang digunakan pun tentunya bahasa Indonesia yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku pada saat itu. Dalam periode selanjutnya bahasa Indonesia mengalami perkembangan dan kemajuan yang sangat berarti, terutama setelah ditetapkannya Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (Edisi Kedua, 1987), penulisan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (Edisi Pertama, 1988), Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Pertama, 1988), dan Pedoman Transliterasi Arab-Indonesia (1987). Penulisan tafsir ini yang merupakan langkah pertama dalam sejarah penerjemahan al-Quran ke dalam bahasa Indonesia itu dilakukan dalam kurun waktu 1920-1950-an. Dalam penerjemahan ayat-ayat al-Quran, A. Hassan menggunakan metode harfiah, yaitu penerjemahan kata demi kata, kecuali terhadap beberapa hal yang tidak memungkinkan penggunaan metode itu. Untuk hal seperti itu, barulah A. Hassan menggunakan metode maknawiah (semantik). Tafsir Al-Furqn merupakan gabungan dari terjemahan dan tafsiran yang dilakukan oleh A. Hassan, seorang yang dikenal luas reputasi keilmuannya. Usaha yang serius dan bertanggung jawab yang dilakukannya dalam tafsir ini diakui oleh banyak kalangan sebagai usaha yang berhasil. Bahkan, tidak sedikit orang yang lebih memilih menggunakan tafsir ini untuk mendapatkan terjemahan dan pemahaman Quran daripada tafsir dan terjemahan Quran dalam bahasa Indonesia yang lain. Inilah yang membuat keinginan keluarga besar A. Hassan untuk memutakhirkan bahasa Indonesia tafsir ini disambut oleh tim, sebagai upaya pelestarian aset intelektual bangsa. Ini juga merupakan upaya untuk menjaga amal jariah yang ditinggalkan A. Hassan, yang akan baik bila tidak diputus rantainya hanya karena bahasa yang dipergunakan sudah tidak akrab lagi dengan pembaca masa kini.

TAFSIR AN-NUR Karya Prof. Dr. Hasbi al-shiddieqy

TAFSIR AN-NUR Karya Prof. Dr. Hasbi al-shiddieqy by sariono sby I. PENDAHULUAN RIWAYAT TAFSIR AN-NUR Tafsir An-Nur ini dikerjakan oleh Hasbi Ash-Shiddiqy sejak tahun 1952-1961 (sembilan tahun) di sela-sela kesibukannya mengajar, memimpin fakultas, menjadi anggota konstituante dan kegiatan-kegiatan lainnya. Hidupnya yang sarat dengan beban itu tidak memberi peluang baginya untuk secara konsisten mengikuti tahap-tahap kerja yang lazim dilakukan oleh penulis-penulis profesional. Dengan bekal pengetahuan, semangat dan dambaannya untuk menghadirkan sebuah kitab tafsir dalam bahasa indonesia yang tidak hanya sekedar terjemahan, ia mendiktekan naskah kitab tafsirnya ini kepada seorang pengetik dan langsung menjadi naskah siap cetak. Memang ketika ia mendiktekan naskah itu, di atas meja kerjanya penuh terhampar buku-buku referensi dan catatan-catatannya berupa kertas berserakan. Itulah yang menjadi salah satu penyebab terjadi pengulangan informasi, penekanan ayat, penomoran catatan kaki yang tidak mengikuti metode penulisan karya ilmiah dalam tafsir ini. Tafsir an-Nur telah dicetak sebanyak dua kali, cetakan yang kedua telah mengalami beberapa penyempurnaan menyangkut penggantian kulit muka dan struktur bahasa indonesia. Tafsir An-Nur yang pertama terbit pada tahun 1956, ini adalah kitab tafsir pertama yang diterbitkan di indonesia, sehingga merupakan pelopor dari khazanah perpustakaan di tanah air, menurut penilaian seorang mubaligh, tafsir ini mudah dicerna tidak saja oleh golongan pemula, namun juga bisa dipelajari dan dijadikan objek penelitian dan para peminat tafsir. Penerbitan cetakan kedua dilakukan penyempurnaan bahasa oleh H. Sudarto, seorang wartawan yang berdiam di Semarang, dan juga penyuntingan, persiapan sistem penyusunan tafsir oleh alm. Prof. Dr. Nourrouzzaman shiddiqi, M. A. (salah seorang putera alm. Teungku muhammad hasbi ash-shiddiqi, yang wafat pada tanggal 19 Juli 1999). II. BIOGRAFI HASBI AL-SHIDDIEQY Prof. DR. Hasbi al-Shiddieqy Lahir di Lhokseumawe, 10 Maret 1904 Wafat di Jakarta, 9 Desember 1975. Seorang ulama Indonesia, ahli ilmu fiqh dan usul fiqh, tafsir, hadis, dan ilmu kalam. Ayahnya, Teungku Qadhi Chik Maharaja Mangkubumi Husein ibn Muhammad Suud, adalah seorang ulama terkenal di kampungnya dan mempunyai sebuah pesantren (meunasah). Ibunya bernama Teungku Amrah binti Teungku Chik Maharaja Mangkubumi Abdul Aziz, putri seorang Qadhi Kesultanan Aceh ketika itu. Menurut silsilah, Hasbi al-Shiddieqy adalah keturunan Abu Bakar al-Shiddieq (573-13 H/634 M), khalifah pertama. Ia sebagai generasi ke-37 dari khalifah tersebut melekatkan gelar al-Shiddieqy di belakang namanya. Pendidikan agamanya diawali di dayah (pesantren) milik ayahnya. Kemudian selama 20 tahun ia mengunjungi berbagai dayah dari satu kota ke kota lain. Pengetahuan bahasa Arabnya diperoleh dari Syekh Muhammad ibn Salim al-Kalali, seorang ulama berkebangsaan Arab. Pada tahun 1926, ia berangkat ke Surabaya dan melanjutkan pendidikan di Madrasah al-Irsyad, sebuah organisasi keagamaan yang didirikan oleh Syekh Ahmad Soorkati (1874-1943), ulama yang berasal dari Sudan yang mempunyai pemikiran modern ketika itu. Di sini ia mengambil pelajaran takhassus (spesialisasi) dalam bidang pendidikan dan bahasa. Pendidikan ini dilaluinya selama 2 tahun. Al-Irsyad dan Ahmad Soorkati inilah yang ikut berperan dalam membentuk pemikirannya yang modern sehingga, setelah kembali ke Aceh. Hasbi ash-Shiddieqy langsung bergabung dalam keanggotaan organisasi Muhammadiyah. Pada zaman demokrasi liberal ia terlibat secara aktif mewakili Partai Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) dalam perdebatan ideologi di Konstituante. Pada tahun 1951 ia menetap di Yogyakarta dan mengkonsentrasikan diri dalam bidang pendidikan. Pada tahun 1960 ia diangkat menjadi dekan Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Jabatan ini dipegangnya hingga tahun 1972. Kedalaman pengetahuan keislamannya dan pengakuan ketokohannya sebagai ulama terlihat dari beberapa gelar doktor (honoris causa) yang diterimanya, seperti dari Universitas Islam Bandung pada 22 Maret 1975 dan dari IAIN

Sunan Kalijaga pada 29 Oktober 1975. Sebelumnya, pada tahun 1960, ia diangkat sebagai guru besar dalam bidang ilmu hadis pada IAIN Sunan Kalijaga. Hasbi ash-Shiddieqy adalah ulama yang produktif menuliskan ide pemikiran keislamannya. yang didasari karena lima jasa yang dimiliki oleh beliau, yakni : 1. Pembinaan IAIN; 2. Perkembangan Ilmu agama Islam; 3. Jasa-jasa beliau kepada masyarakat; 4. Pokok-pokok pemikiran beliau tentang cita-cita hukum Islam, dan: 5. Pendapat-pendapat beliau tentang beberapa masalah hukum. Sementara gelar Professor dalam bidang ilmu Hadits beliau peroleh tahun 1962 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Agama No. B.IV.I/37-92 tanggal 30 Juli 1962 dan dikukuhkan dengan Keputusan Presidn RI No. 71/M-1 tanggal 22 Mei 1963. Ada beberapa sisi menarik pada diri Muhammad Hasbi, antara lain: Pertama, ia adalah seorang otodidak. Pendidikan yang ditempuhnya dari dayah ke dayah, dan hanya satu setengah tahun duduk di bangku sekolah Al Irsyad (1926). Dengan basis pendidikan formal seperti itu, ia memperlihatkan dirinya sebagai seorang pemikir. Kemampuannya selaku seorang intelektual diakui oleh dunia internasional. Ia diundang dan menyampaikan makalah dalam Internasional Islamic Colloquium yang diselenggarakan di Lahore Pakistan (1958). Selain itu, berbeda dengan tokoh-tokoh lainnya di Indonesia, ia telah mengeluarkan suara pembaharuan sebelum naik haji atau belajar di Timur Tengah. Kedua, ia mulai bergerak di Aceh, di lingkungan masyarakat yang dikenal fanatik, bahkan ada yang menyangka angker. Namun Hasbi pada awal perjuangannya berani menentang arus. Ia tidak gentar dan surut dari perjuangannya kendatipun karena itu ia dimusuhi, ditawan dan diasingkan oleh pihak yang tidak sepaham dengannya. Ketiga, dalam berpendapat ia merasa dirinya bebas tidak terikat dengan pendapat kelompoknya. Ia berpolemik dengan orang-orang Muhammadiyah dan Persis, padahal ia juga anggota dari kedua perserikatan itu. Ia bahkan berani berbeda pendapat dengan jumhur ulama, sesuatu yang langka terjadi di Indonesia. Keempat, ia adalah orang pertama di Indonesia yang sejak tahun 1940 dan dipertegas lagi pada tahun 1960, menghimbau perlunya dibina fiqh yang berkepribadian Indonesia. Himbauan ini menyentak sebagian ulama Indonesia. Mereka angkat bicara menentang fiqh (hukum in concreto) di-Indonesia-kan atau dilokalkan. Bagi mereka, fiqh dan syariat (hukum in abstracto) adalah semakna dan sama-sama universal. Kini setelah berlalu tigapuluh lima tahun sejak 1960, suara-suara yang menyatakan masyarakat muslim Indonesia memerlukan fiqh Indonesia terdengar kembali. Namun sangat disayangkan, mereka enggan menyebut siapa penggagas awalnya. Mencatat penggagas awal dalam sejarah adalah suatu kewajiban, demi tegaknya kebenaran sejarah. Pada tanggal 9 Desember 1975, berusia 71 tahun, setelah beberapa hari memasuki karantina haji, dalam rangka menunaikan ibadah haji, beliau berpulang ke rahmatullah, beliau meninggal di Rumah Sakit Islam Jakarta dan jasad beliau dimakamkan di pemakaman keluarga IAIN Ciputat Jakarta. Pada waktu pemberangkatan jenazahnya dari rumah anaknya yang bungsu di Tanjung Duren Selatan Jakarta Barat ke Pekuburan IAIN Syarif Hidayatullah di Ciputat Jakarta selatan telah memberikan kata sambutan pelepasan : Amelz (Abdul Manaf el-Zamzami) mewakili keluarga, serta Prof. Dr. Hamka dan Drs. H. Kafrawi Ridwan, M.A atas nama menteri agama. Makamnya berdampingan dengan Prof. Thoha Yahya Umar M.A, dan dekat makam Saadudin Jambek. III. KARYA-KARYA HASBI ASH-SHIDDIEQY Hasbi Ash-Shiddieqy adalah seorang alim yang sangat produktif dan banyak menulis. Karya tulisnya mencakup berbagai disiplin ilmu keislaman. Menurut catatan, buku yang ditulisnya berjumlah 73 judul (142 jilid). Sebagian besar karyanya adalah tentang fiqh (36 judul). Bidang-bidang lainnya adalah hadis (8 judul), tafsir (6 judul), tauhid (ilmu kalam; 5 judul). Sedangkan selebihnya adalah tema-tema yang bersifat umum. Beberapa diantaranya adalah : 1. Tafsir an-Nur 2. Al-Bayan, yang merupakan penyempurnaan dari tafsir an-nur 3. Sejarah dan Pengantar Ilmu al-Quran. Karena keahliannya dalam bidang tafsir, sehingga ia diberi penghargaan sebagai salah seorang penulis tafsir terkemuka di Indonesia pada tahun 1957/1958, serta dipilih sebagai wakil ketua lembaga penerjemah dan Penafsir al-Quran Departemen Agama RI. 4. Pengantar Hukum Islam 5. Peradilan dan Hukum Acara Islam

6. Sejarah Pengantar Ilmu Hadis 7. Pokok-pokok Ilmu Diniyah Hadis (I-II) 8. Kuliah Ibadah 9. Fiqh Mawaris 10. Pedoman Haji 11. Pidana Mati dalam Syariat Islam 12. Hukum-hukum Fiqih Islam 13. Pengantar Fiqh Muamalah 14. Filsafat Hukum Islam 15. Kriteria antara Sunnah dan Bidah 16. Buklet Penoetoep Moeloet (karya pertama pada awal tahun 1930-an) 17. Buku Al-Islam, dua jilid (1951) 18. Buku Pedoman Shalat, yang dicetak ulang sebanyak 15 kali oleh dua percetakan yang berbeda (1984) 19. Buku Mutiara Hadits, sebanyak 8 jilid (1968) 20. Buku Koleksi Hadits Hukum, sebanyak 11 jilid, baru terbit 6 jilid (1971) dll. IV. METODE PENAFSIRAN Untuk menentukan metode apa yang di gunakan oleh Hasbi Ash-Shiddieqy, harus diketahui dulu motivasi dan sumber-sumber dalam penafsiran An-Nur. Pada kata pengantar Tafsir An-Nur, beliau mengatakan : Indonesia membutuhkan perkembangan tafsir dalam bahasa persatuan Indonesia, maka untuk memperbanyak lektur Islam dalam masyarakat Indonesia dan untuk mewujudkan suatu tafsir yang sederhana yang menuntun para pembacanya kepada pemahaman ayat dengan perantaraan ayat-ayat itu sendiri. Sebagaimana Allah telah menerangkan ; bahwa Al-Quran itu setengahnya menafsirkan yang setengahnya, yang meliputi penafsiran-penafsiran yang diterima akal berdasarkan pentakhwilan ilmu dan pengetahuan, yang menjadikan intisari pendapat para ahli dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan yang diisyaratkan AlQuran secara ringkas. Dengan berharap taufiq dan inayah yang maha pemurah lagi maha penyayang, kemudian dengan berpedoman kepada kitab-kitab tafsir yang mutabar, kitab-kitab hadits yang mutamad, kitab-kitab sirah yang terkenal. Saya menyusun kitab tafsir in dengan saya namai An-Nur. Melihat ungkapan diatas, terlihat bahwa motivasi Hasbi Ash-Shiddieqy sangat mulia yaitu untuk memenuhi hajat orang Islam di Indonesia untuk mendapatkan tafsir dalam Bahasa Indonesia yang lengkap, sederhana dan mudah dipahami, sesrta ia menerangkan sepenggal-sepenggal ayat al-quran dengan menulisnya menggunakan bahasa latin dimaksudkan agar orang-orang yang tidak bisa membaca al-quran dengan bahasa arabnya maka ia bisa membacanya dengan huruf latin. Sumber yang beliau gunakan dalam menyusun tafsir An-Nur adalah : 1. 'Umdatut Tafsir 'Anil Hafidz Ibnu Katsir, 2. Tafsir al-Manar(karya Muhammad Abduh); 3. Tafsir al-Qasimy; 4. Tafsir al-Maraghy (karya Ahmad Musthafa al-Maraghi), dan 5. Tafsir al-Wadhih. Sedangkan metode yang dilakukan oleh Hasbi Ash-Shiddieqy adalah: Pertama, mengemukakan ayat-ayat yang akan ditafsirkan satu, dua, atau tiga ayat dan kadang-kadang lebih. Dan dalam hal ini Hasbi Ash-Shiddieqy menuruti al-maragy, yang pada umumnya menuruti al-manar dan kadang-kadang menuruti tafsir al-wadhih. Kedua, ayat-ayat tersebut kemudian di bagi kepada beberapa jumlah. Masing-masing jumlah ditafsirkan sendiri-sendiri. Ketiga, dalam menerjemahkan ayat ke dalam bahasa indonesia, Hasbi Ash-Shiddieqy berpedoman kepada tafsir abu suud, tafsir shiddiqy hasan khan dan tafsir al-qasimy. Keempat, menerangkan tafsiran ayat, dalam materi penafsiran Hasbi Ash-Shiddieqy mensarikan dari uraian al-maraghy dan al-manar, dan dalam menafsirkan ayat-ayat yang semakna menuruti tafsir al-imam ibnu katsir. Kelima, menerangkan asbabun nuzul ayat, apabila terdapat atsar yang diakui keshahihannya oleh ahli atsar. Metode semacam ini juga dipergunakan oleh mufassir pada abad modern yang ditulis pasca kebangkitan umat Islam, seperti metode yang dipakai Prof. DR. Hamka (Indonesia). Berdasarkan sumber-sumber yang dipakai, maka dapat diketahui bahwa metode yang dipakai oleh Hasbi Ash-Shiddieqy dalam menyusun tafisir An-Nur adalah metode campuran antara metode bil Royi atau bil

Maqul. Hal ini juga beliau kemukakan bahwa, dalam menyusun tafsir ini berpedoman pada tafsir induk, baik kitab tafsir bil Matsur maupun kitab tafsir bin Maqul. Sementara jika diperhatikan sistematika yang terkandung dalam kitab tafsir An-Nur, terdiri dari 4 (empat) tahap pembahasan, yakni : 1. Penyebutkan ayat secara tartib mushaf tanpa diberi judul; 2. Terjemahan ayat kedalam Bahasa Indonesia dengan diberi judul Terjemahan; 3. Penafsiran masing-masing ayat dengan didukung oleh ayat yang lain, hadits, riwayat Shahabat dan Tabiin serta penjelasan yang ada kaitannya dengan ayat tersebut dan tahapan ini diberi judul Tafsirnya; 4. Kesimpulan, intisari dari kandungan ayat yang diberi judul Kesimpulan. V. KESIMPULAN Tafsir An-Nur karya Hasbi Ash-Shiddieqy tidak mempunyai corak dan orientasi terhadap bidang tertentu, sebab kalau diperhatikan semua tafsirnya tidak memuat bidang ilmu tertentu, seperti bidang Bahasa, hukum, sufi, filsafat dan sebagainya. Hasbi Ash-Shiddieqy membahasnya dengan mengaitkan bidang ilmu pengetahuan secara merata artinya tidak ada penekanan pada bidang tertentu, sebab membahas dengan memfokuskan pada bidang tertentu menurutnya akan membahwa para pembaca keluar dari bidang tafsir. Pada kata pengantar kitab tafsir an-Nur beliau menyatakan : Meninggalkan uraian yang tidak langsung berhubungan dengan tafsir ayat, supaya tidak selalu para pembaca dibawa keluar dari bidang tafsir, baik ke bidang sejarah atau bidang ilmiah yang lain Dari ungkapan di atas, Hasbi Ash-Shiddieqy tidak bermaksud menafsirkan ayat-ayat Al-Quran dengan uraian ilmiah yang panjang lebar yang dikhawatirkan keluar dari tujuan ayat-ayat tertentu. Dengan demikian tafsir An-Nur tidak mempunyai corak atau orientasi tertentu, namun bisa dikatakan komplit, artinya meliputi segala bidang. http://referensiagama.blogspot.com

STUDI ANALISIS ATAS TAFSIR AL-AZHAR Karya Prof. DR. Hamka December 30, 2011 Pendahuluan Al-Quran merupakan sumber tasyri dan hukum yang menuntut kaum muslimin untuk mengetahui, mendalami dan mengamalkan segala isinya. Di dalamnya terdapat penjelasan tentang halal-haram, perintah dan larangan, etika dan akhlak, dan lainnya, yang kesemuanya itu harus dipedomani oleh mereka yang mengaku menjadikan Al-Quran sebagai Kitab Sucinya. Keharusan itu dapat dipahami, karena memegangteguh ajaran Al-Quran merupakan sumber kebahagiaan, petunjuk dan kemenangan di sisi Tuhan berupa surga yang penuh kenikmatan. Jika demikian halnya, maka aktivitas tafsir Al-Quran serta upaya penjelasan makna-maknanya yang dianggap musykil oleh kebanyakan kaum Muslimin menjadi suatu keniscayaan, semenjak ia turun pada masa hidup Rasulullah Saw. dan sepeninggal beliau, bahkan hingga sekarang dan yang akan datang. Untuk merespon kenisacayaan itu, dalam sejarah perjalanan umat ini bersama Kitab Sucinya, banyak sudah ulama yang mencurahkan perhatiannya untuk membidangi tafsir dengan berbagai manhaj, bentuk serta coraknya. Pada setiap fase waktu dapat kita temukan peninggalan tafsir yang sejalan dengan tuntutan dan dinamika masanya. Kemunculan para mufasir dari satu masa ke masa berikutnya memperpanjang daftar perbendaharaan rahasia dan ilmu-ilmu Al-Quran. Pergantian zaman, penemuan ilmu-pengetahuan dan kemajuan akal-pikir manusia semakin memperjelas betapa luasnya samudera hikmah yang dikandung AlQuran. Di antara karya tafsir modern Indonesia yang dapat kita jumpai dengan cukup mudah dan banyak dibicarakan (dikaji) orang adalah Tafsir Al-Azhar. Tulisan ini akan coba menampilkan sosok tafsir tersebut. Sosok yang ditampilkan sangat mungkin tidak utuh (karena berbagai pertimbangan). Yang penulis coba tampilkan dalam makalah ini memang hanya sisi-sisi yang dianggap penting saja, terutama tentang manhaj yang ditempuh oleh sang mufasir serta bagaimana penerapannya dalam tafsirnya. Sekilas Biografi Prof. Dr. Hamka Hamka adalah nama singkatan Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Lahir di Maninjau, Sumatera Barat, 16 Februari 1908 dan wafat di Jakarta, 24 Juli 1981. Beliau dikenal sebagai seorang tokoh dan pengarang (pujangga) Islam. Ia adalah putera seorang ulama terkemuka, yang terkenal dengan sebutan Haji Rasul, yang mendapat gelar doktor kehormatan dari Universitas Al-Azhar Mesir dan membawa pembaharuan dalam soal agama di Minangkabau. Pendidikan formalnya hanya sampai SD, tetapi banyak belajar sendiri (otodidak), terutama dalam bidang agama. Keahliannya dalam Islam diakui dunia internasional sehingga kemudian mendapat gelar kehormatan dari Universitas Al-Azhar (1955) dan dari Universiti Kebangsaan Malaysia (1976). Tahun 1924 mulai merantau ke tanah Jawa untuk belajar antara lain kepada HOS Cokroaminoto, lalu aktif dalam organissi Muhammadiyah. Tahun 1927 berangkat ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Kemudian menetap di Medan di mana ia aktif sebagai ulama dan bekerja sebagai redaktur majalah Pedoman Masyarakat dan Pedoman Islam (1938-1941). Pada waktu itu ia mulai banyak menulis roman, sehingga timbul heboh karena ada pihak yang tidak setuju kiai mengarang roman. Di antara roman yang ditulisnya adalah Di Bawah Lindungan Kabah (1938), Merantau ke Deli (1940), Di Dalam Lembah Kehidupan (1940; kumpulan cerita pendek), Ayahku (1949; merupakan riwayat hidup dan kisah perjuangan ayahnya).[1] Di zaman Orde Lama pernah meringkuk dalam tahanan beberapa tahun. Dalam kesempatan itulah ia menyelesaikan Tafsir Al-Azhar-nya. Hamka banyak sekali menulis buku tentang Islam, seluruhnya ratusa judul. Beliau adalah imam masjid Al-Azhar Kebayoran. Pernah memimpin majalah Panji Masyarakat yang terbit sejak 1959. Sementara itu sejak tanggal 21 Mei 1981 Hamka meletakkan jabatannya selaku ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI).[2] Sekilas Profil Tafsir Al-Azhar Kitab Tafsir berbahasa Indonesia yang akan kita kaji sekarang ini adalah terbitan Pustaka Panjimas, Jakarta, cetakan I, 1982. Sebelum betul-betul masuk dalam tafsir ayat Al-Quran, sang mufasir terlebih dahulu memberikan banyak pembukaan, yang terdiri dari: Kata Pengantar, Pandahuluan, Al-Quran, Ijz AlQuran, Isi Mujizat Al-Quran, Al-Quran Lafaz dan Makna, Menafsirkan Al-Quran, Haluan Tafsir, Mengapa Dinamai Tafsir Al-Azhar, dan terakhir Hikmat Ilahi. Dalam Kata Pengantar, Hamka menyebut beberapa nama yang ia anggap berjasa bagi dirinya dalam pengembaraan dan pengembangan keilmuan keislaman yang ia jalani. Nama-nama yang disebutnya itu boleh jadi merupakan orang-orang pemberi motivasi untuk segala karya cipta dan dedikasinya terhadap

pengembangan dan penyebarluasan ilmu-ilmu keislaman, tidak terkecuali karya tafsirnya. Nama-nama tersebut selain disebut Hamka sebagai orang-orang tua dan saudara-saudaranya, juga disebutnya sebagai guru-gurunya. Nama-nama itu antara lain, ayahnya sendiri, Doktor Syaikh Abdulkarim Amrullah, Syaikh Muhammad Amrullah (kakek), Ahmad Rasyid Sutan Mansur (kakak iparnya).[3] Di bawah Pendahuluan Hamka menyitir beberapa patokan dan persyaratan yang mesti dimiliki oleh seseorang yang akan memasuki gelanggang tafsir. Ia menulis: Syarat-syarat itu memang berat dan patut. Kalau tidak ada syarat demikian tentu segala orang dapat berani saja menafsirkan Al-Quran. Ilmu-ilmu yang dijadikan syarat oleh ulama-ulama itu alhamdulillah telah penulis ketahui ala kadarnya, tetapi penulis tidaklah mengakui bahwa penulis sudah sangat alim dalam segala ituMaka kalau menurut syarat yang dikemukakan ulama tentang ilmu-ilmu itu, wajiblah ilmu sangat dalam benar lebih dahulu, tidaklah akan jadi Tafsir ini dilaksanakan. Jangankan bahasa Arab dengan segala nahwu dan sharaf-nya, sedangkan bahasa Indoensia sendiri, tempat Al-Quran ini akan diterjemah dan ditafsirkan tidaklah penulis tafsir ini termasuk ahli yang sangat terkemuka.[4] Intinya, dalam sub ini Hamka sadar betul akan pentingnya pemenuhan syarat-syarat tafsir bagi orang yang hendak menafsir. Hanya saja, patokan-patokan yang berat itu tidak harus menjadi kendala dan penghalang bagi lahirnya karya-karya baru tafsir, terutama bagi ia yang sudah memiliki standar minimal dalam pemenuhan syarat-syarat tersebut. Bagian yang penulis anggap menarik dari sub-sub yang terdapat dalam pembukaan tafsir Al-Azhar adalah sub Haluan Tafsir dan Mengapa Dinamai Tafsir Al-Azhar. Karena itu, dua sub itu akan penulis jadikan sub juga dalam makalah ini. Haluan Tafsir Tiap-tiap tafsir Al-Quran memberikan corak haluan daripada peribadi penafsirnya, demikian Hamka mengawali paparannya tentang haluan tafsir. Dalam Tafsir Al-Azhar-nya, Hamka, seperti diakuinya, memelihara sebaik mungkin hubungan antara naqal dan aql; antara riwyah dan diryah. Hamka menjanjikan bahwa ia tidak hanya semata-mata mengutip atau menukil pendapat yang telah terdahulu, tetapi mempergunakan juga tinjauan dan pengalaman pribadi. Pada saat yang sama, tidak pula melulu menuruti pertimbangan akal seraya melalaikan apa yang dinukil dari penafsir terdahulu. Suatu tafsir yang hanya mengekor riwayat atau naqal dari ulama terdahulu, berarti hanya suatu textbook thinking belaka. Sebaliknya, kalau hanya memperturutkan akal sendiri, besar bahayanya akan terpesona keluar dari garis tertentu yang digariskan agama melantur ke mana-mana, sehingga dengan tidak disadari boleh jadi menjauh dari maksud agama.[5] Masih dalam kerangka Haluan Tafsir, Hamka mengabarkan bahwa Tafsir Al-Azhar ditulis dalam suasana baru, di negara yang penduduk Muslimnya adalah mayoritas, sedang mereka haus akan bimbingan agama haus akan pengetahuan tentang rahasia Al-Quran, maka perselisihan-perselisihan mazhab dihindari dalam Tafsirnya. Dan Hamka sendiri, sebagai penulis Tafsir, mengakui bahwa ia tidaklah taashshub kepada satu paham, melainkan sedaya upaya mendekati maksud ayat, menguraikan makna dan lafaz bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia dan memberi kesempatan orang buat berpikir.[6] Masih dalam kerangka Haluan Tafsir, Hamka mengemukakan ketertarikan hatinya terhadap beberapa karya tafsir. Di antara karya tafsir yang jelas-jelas ia menyatakan ketertarikan hati terhadapnya adalah tafsir Al-Manr karya Sayyid Rasyd Ridh. Tafsir ini ia nilai sebuah sosok tafsir yang mampu menguraikan ilmu-ilmu keagamaan sebangsa hadis, fikih, sejarah dan lainnya lalu menyesuaikannya dengan perkembangan politik dan kemasyarakatan yang sesuai dengan zaman di waktu tafsir itu ditulis. Selain tafsir Al-Manr, tafsir al-Margh, al-Qsim dan F Zhill Al-Qurn juga termasuk tafsir-tafsir yang Hamka saluti. Tafsir yang disebut terakhir misalnya, ia nilai sebagai satu tafsir yang munasabah buat zaman ini. Meskipun dalam hal riwyah ia belum (tidak) mengatasi al-Manr, namun dalam diryah ia telah mencocoki pikiran setelah Perang Dunia II. Secara jujur Hamka mengatakan bahwa Tafsir karya Sayyid Quthub itu banyak mempengaruhinya dalam menulis tafsir Al-Azhar-nya.[7] Hingga di sini penulis makalah hendak mengatakan bahwa Tafsir Al-Azhar mempunyai corak non-mazhabi, dalam arti menghindar dari perselisihan kemazhaban, baik fikih maupun kalam.

Di sisi lain, ia juga, seperti diakuinya, banyak diwarnai (diberi corak) oleh tafsir modern yang telah ada sebelumnya, seperti Al-Manr dan F Zhill Al-Qurn. Selama ini, dua tafsir tersebut dikenal bercorak adabi-ijtim`, dalam makna selalu mengaitkan pembahasan tafsir dengan persoalanpersoalan riil umat Islam. Warna-warna tafsir itu mempengaruhi Tafsir Al-Azhar yang penulisnya jelas-jelas menyatakan kekaguman dan keterpengaruhannya. Dengan begitu, dapat dengan mudah kita katakan bahwa corak Tafsir yang sedang kita kaji ini bercorak Adabi-Ijtim`, dengan setting sosial-kemasyarakatan keindonesiaan sebagai objek sasarannya.[8] Hal lain yang dimasukkan Hamka dalam sub ini adalah janjinya untuk menyuguhkan sebuah tafsir yang tengah-tengah. Dalam bahasa dia: penafsiran tidak terlalu tinggi mendalam, sehingga yang dapat memahaminya tidak hanya semata-mata sesama ulama, dan tidak terlalu rendah, sehingga tidak menjemukan.[9] Mengapa Dinamai Tafsir Al-Azhar? Nama Al-Azhar diambil dari nama masjid tempat kuliah-kuliah tafsir yang disampaikan oleh Hamka sendiri, yakni masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru. Nama masjid Al-Azhar sendiri adalah pemberian dari Syaikh Mahmoud Syaltout, syaikh (rektor) Universitas Al-Azhar, yang pada bulan Desember 1960 datang ke Indonesia sebagai tamu agung dan mengadakan lawatan ke masjid tersebut yang waktu itu namanya masih Masjid Agung Kebayoran Baru. Pengajian tafsir setelah shalat shubuh di masjid Al-Azhar telah terdengar di mana-mana, terutama sejak terbitnya majalah Gema Islam. Majalah ini selalu memuat kuliah tafsir bada shubuh tersebut. Hamka langsung memberi nama bagi kajian tafsir yang dimuat di majalah itu dengan Tafsir AlAzhar, sebab tafsir itusebelum dimuat di majalahdigelar di dalam masjid agung Al-Azhar.[10] Studi Kritis Tafsir Al-Azhar: Metode Tafsir Manhaj yang ditempuh tafsir Al-Azhar adalah Tahlili. Dalam arti menafsir ayat demi ayat sesuai urutannya dalam mushhaf serta menganalisis begitu rupa hal-hal penting yang terkait langsung dengan ayat, baik dari segi makna atau aspek-aspek lain yang dapat memperkaya wawasan pembaca tafsirnya. Ketika membahas ayat pertama surat al-Baqarah, yang berupa huruf-huruf yakni Alif Lm Mm, misalnya, ia katakan bahwa dalam Al-Quran kita akan menemukan beberapa surat yang dimulai dengan hurufhuruf seperti: Kf H Y An Shd, Alif Lm Mm R, Th H dan semacamnya. Pandangan para mufasir tentang huruf-huruf pembuka surat (fawtih al-suwar) seperti itu, kata Hamka, terbagi kepada dua golongan. Pertama, mereka yang memberikan arti sendiri bagi huruf-huruf tersebut. Yang banyak memberikan arti bagi huruf-huruf itu adalah sahabat-mufasir yang terkenal yakni Abdullah bin Abbas. Alif Lam Mim, menurut Ibnu Abbas, merupakan isyarat bagi tiga nama; Alif untuk nama Allah; Lam untuk nama Jibril, dan Mim untuk nama Nabi Muhammad Saw. Demikian halnya huruf-huruf pembuka surat lainnya, menurut Ibnu Abbas ada maknanya sendiri. Kedua, pendapat yang mengatakan bahwa huruf-huruf di pangkal surat itu adalah rahasia Allah, termasuk ayat mutasyabihat yang kita baca dan percayai saja. Tuhanlah yang lebih tahu akan artinya.[11] Ada pula, lanjut Hamka, segolongan ahli tafsir yang menyatakan bahwa huruf-huruf itu adalah sebagai pemberitahuan, atau sebagai panggilan untuk menarik perhatian tentang ayat-ayat yang akan turun mengiringinya.[12] Hamka menutup pembahasan tentang huruf-huruf fawtih al-suwar ini dengan mengatakan: Nyatalah bahwa huruf-huruf itu bukan kalimat bahasa yang bisa diartikan. Kalau dia suatu kalimat yang mengandung arti, niscaya tidak akan ragu-ragu lagi seluruh bangsa Arab akan artinya. Oleh sebab itu maka lebih baiklah kita terima saja huruf-huruf itu menurut keadaannya Sebab mendalami Al-Quran tidaklah bergantung daripada mencari-cari arti dari huruf-huruf itu. Apatah lagi kalau sudah dibawa pula kepada arti rahasia-rahasia huruf, angka-angka dan tahun..sehingga telah membawa Al-Quran terlampau jauh dari pangkalan aslinya.[13] Hingga di sini dapat kita nilai bahwa Hamka dalam hal yang berkaitan dengan makna huruf-huruf di pangkal surat lebih cenderung menyerahkan pengertiannya semata kepada Allah. Sebab hal itu dinilainya lebih selamat, pula hal itu tidak bersentuhan langsung dengan tujuan pendalaman dan pengkajian AlQuran.[14] Ketajaman analisis Hamka juga teruji ketika, misalnya, dengan jeli menunjukkan korelasi antara makna yang terdapat pada akhir surat al-Ftihah dengan makna yang ada pada awal surat al-Baqarah (ayat

2: Inilah Kitab itu; tidak ada sebarang keraguan padanya; satu petunjuk bagi orang-orang yang hendak bertakwa). Hamka menulis: Kita baru saja selesai membaca surat al-Fatihah. Di sana kita telah memohon kepada Tuhan agar ditunjuki jalan yang lurus, jalan orang yang diberi nikmat, jangan jalan orang yang dimurkai atau orang yang sesat. Baru saja menarik nafas selesai membaca surat itu, kita langsung kepada surat al-Baqarah dan kita langsung kepada ayat ini. Permohonan kita di surat al-Fatihah sekarang diperkenankan. Kamu bisa mendapat jalan yang lurus, yang diberi nikmat, bukan yang dimurkai dan tidak yang sesat, asal saja kamu suka memakai pedoman kitab ini. Tidak syak lagi, dia adalah petunjuk bagi orang yang suka bertakwa.[15] Kendati kita akui ketajaman analisis Hamka, ada satu hal menarik yang ia lewatkan yang sepatutnya disitir barang sedikit sebelum lebih jauh membahas korelasi antara akhir surat al-Fatihah dengan awal ayat surat al-Baqarah, atau sebelum membincang soal takwa dan ciri-ciri muttaqin, yaitu soal penggunaan isyarat jauh untuk menunjuk Al-Quran (Dzlik al-Kitb). Padahal di tempat lain, seperti kata Pak Quraish dalam Al-Mishbah-nya, semua ayat yang menunjuk kepada firman-firman Allah dengan nama Al-Quran (bukan al-Kitab) ditunjuk dengan isyarat dekat ( Hdz Al-Qurn). Penggunaan isyarat jauh ini, masih kata Pak Quraish, bertujuan memberi kesan bahwa kitab suci berada dalam kedudukan yang amat tinggi dan sangat jauh dari jangkauan makhluk, karena dia bersumber dari Allah Yang Maha Tinggi, sedang penggunaan kata hadza/ini, untuk menunjukkan betapa dekat tuntunan-tuntunannya pada fithrah manusia.[16] Kembali ke Tafsir Al-Azhar, bila kita tinjau dari sisi sumber rujukan penafsiran yang dipergunakan, Hamka juga menempuh manhaj naql (tafsr bi al-ma`tsr/bi al-riwyah). Itu terlihat misalnya ketika ia menukil riwayat dari Abu Hurairah ra. tatkala membahas arti takwa dalam kerangka penafsiran ayat hudan li al-muttaqn. Tentang hal ini Hamka menulis: Pernah ditanyakan orang kepada sahabat Rasulullah Saw., Abu Hurairah ra., apa arti takwa? Beliau berkata: Pernahkah engkau bertemu jalan yang banyak duri dan bagaimana tindakanmu waktu itu? Orang itu menjawab: Apabila aku melihat duri, aku mengelak ke tempat yang tidak ada durinya atau aku langkahi, atau aku mundur. Abu Hurairah menjawab: Itulah dia takwa! (Riwayat dari Ibnu Abi ad-Dunya).[17] Kejadian serupa (menukil riwayat) juga kita dapati ketika Hamka menerangkan ciri-ciri orang yang takwa, yaitu orang-orang yang percaya bahwa di balik benda yang nampak ini, ada lagi hal-hal yang gaib. Kaum Muslimin yang telah hidup belasan abad sepeninggal Rasulullah Saw. dan keturunanketurunan kita mendatang, bertambah lagi keimanan kepada yang gaib itu, karena kita tidak melihat wajah beliau. Itu pun termasuk iman kepada yang gaib. Tentang hal ini Hamka memperkuatnya dengan banyak riwayat, di antaranya dari Imam Ahmad, al-Baqawardi dan Ibu Qani di dalam Majma al-Shahabah, juga Imam al-Bukhari di dalam Tarikh-nya, al-Tahbrani dan al-Hakim. Mereka meriwayatkan dari Abu Jumah al-Anshr.[18] Mekanisme Kerja (Langkah-langkah) Tafsir Sejauh pengamatan penulis atas tafsir surat al-Baqarah, dapat kiranya penulis menyebut mekanisme kerja Tafsir Al-Azhar sebagai berikut: Pertama, menyebut nama surat dan artinya dalam bahasa Indonesia, nomor urut surat dalam susunan mushhaf, jumlah ayat dan tempat diturunkannya surat. Seperti berikut: Surat Al-Baqarah (Lembu Betina) Surat 2: 286 ayat Diturunkan di MADINAH Hemat penulis, langkah seperti ini dilakukan oleh semua penafsir. Hanya saja Hamka tidak membincang lebih panjang tentang kata Al-Baqarah yang menjadi nama surat ini. Komentar dia tentang kata ini hanya sedikit saja, seperti ini: Surat yang kedua ini bernama Surat Al-Baqarah yang berarti lembu betina, karena ada kisah tentang Bani Israil (yang) disuruh oleh Nabi Musa mencari seekor lembu betina (yang) akan disembelih, yang tersebut pada ayat 67 sampai 74. Adapun nama surat-surat Al-Quran bukanlah sebagai judul dari satu rencana atau nama dari satu buku yang menerangkan suatu yang khas. (Ia) hanyalah sebagai tanda belaka dari Surat yang dinamai itu, dan bukan karena nama itu lebih penting dari yang lain

yang diuraikan di dalamnya, karena semuanya penting. Yang menentukan nama-nama ini adalah Rasulullah Saw. sendiri dengan petunjuk Jibril as.[19] Di sini kita melihat bahwa Hamka tidak menjadikan nama Al-Baqarah sebagai tema sentral keseluruhan surat Al-Baqrah. Ini berbeda dengan, misalnya, Quraish Shihab yang justru memandang nama tersebut sebagai tema pokok surat. Quraish menulis, Surah ini dinamai al-Baqarah karena tema pokok-nya adalah inti ayat-ayat yang menguraikan kisah al-Baqarah, yakni kisah Bani Israil dengan seekor sapi. [20] Kedua, mengelompokkan ayat-ayat dalam satu surat menjadi beberapa kelompok sesuai tuntutan sub-tema dari keseluruhan tema surat. Kelompok pertama dari surat al-Baqarah terdiri dari lima ayat pertama (dari Alif Lm Mm sampai wa ul`ika hum al-muflihn). Setiap kelompok ayat diberi nama subtema. Kelompok pertama, sebagai misal, diberi nama Takwa dan Iman. Catatan penulis, pengelompokkan semacam itu pun bisa dibilang sebagai salah satu langkah para mufasir. Perbedaan antara mereka hanya terletak pada penentuan jumlah ayat yang berada dalam satu kelompok tertentu. Tafsir Al-Margh dan Al-Manr misalnya, menjadikan kelompok pertama dari surat al-Baqarah hanya terdiri dari dua ayat saja: Alif Lm Mm (ayat 1) Dzlik al-kitb l raib fh hudan li al-muttaqn (ayat 2).[21] Sementara itu Pak Quraish baru melakukan pengelompokkan pada ayat 3, 4 dan 5 (baca: ayat 3, 4 dan 5 menjadi satu kelompok), sedang ayat 1 dan 2 ditafsirkan secara terpisah.[22] Tidak penulis temukan dasar bagi masing-masing Hamka, al-Maraghi, Rasyid Ridha dan Quraish Shihab dalam menentukan jumlah ayat dalam satu kelompok tertentu tersebut. Yang jelas bahwa penentuan itu terkait dengan penilaian masing-masing tentang kesatuan sub tema antara ayat-ayat yang tergabung dalam satu kelompok tertentu. Hamka barangkali memandang bahwa lima ayat pertama itu memiliki kesatuan sub tema. Sementara al-Maraghi dan Ridha melihat bahwa sub tema pertama surat al-Baqarah hanya diwakili oleh dua ayat saja (ayat 1 dan 2), dan demikian seterusnya. Ketiga, memberi pendahuluan sebelum betul-betul masuk pada penafsiran atas ayat-ayat yang sudah dipenggal dalam satu kelompok ayat. Hemat penulis, peletakkan pendahuluan setelah sebelumnya menampilkan satu kelompok ayat yang memiliki kesatuan sub-tema, kurang proporsional. Sebab pendahuluan ini isinya berupa gambaran umum dan inti sari tentang seluruh surat al-Baqarah, bukan gambaran umum tentang kelompok ayat yang akan ditafsir. Jadi, yang tepat pendahuluan ini diletakkan sebelum menampilkan kelompok ayat yang akan ditafsir, sehingga tidak mengaburkan konsentrasi yang telah tertuju untuk membaca tafsir atas penggalan ayat yang sudah ditampilkan sebelumnya.[23] Terlepas dari itu, pendahuluan tersebut berisikan antara lain arti nama surat, tiga front masyarakat yang dihadapi Rasulullah di Madinah, pembinaan masyarakat Muslim oleh Nabi Saw., dan pembentukan jiwa kaum Mukminin di dalam memegang teguh agama, serta beberapa karakteristik ayat dalam surat al-Baqarah yang tergolong sebagai surat Madaniyah dibanding ayat-ayat lain yang tergolong dalam kelompok surat-surat Makiyah. Keempat, menafsirkan ayat perayat dari satu kelompok ayat. Misalnya, kelompok pertama dari surat alBaqarah terdiri atas lima ayat (1-5). Dalam operasional tafsirnya, Hamka menafsirakan ayat 1, kemudian ayat 2, lalu 3 dan begitu seterusnya hingga ayat 5. Tidak menafsirkan satu kelompok secara sekaligus.[24] Langkah ini berbeda dengan tafsir Al-Maraghi dan Al-Manar yang memenggal satu ayat yang ada dalam satu kelompok tertentu menjadi beberapa penggalan. Ayat kedua (dzlik al-kitb l raiba fh hudan li al-muttaqn) misalanya, al-Maraghi pecah lagi menjadi tiga penggalan: dzalik al-kitab, l raiba fh, hudan li al-muttaqin. Demikian juga Rasyid Ridha dalam Al-Manr. Menurut penulis, langkah Hamka yang menafsir satu ayat sekaligus, dan tidak memenggalnya menjadi beberapa penggalan, lebih tepat dan efektif bagi para pembaca Indonesia, karena mereka dapat membaca dan menangkap kandungan ayat tersebut secara lengkap dalam waktu yang relatif singkat. Pula langkah Hamka, penulis nilai, lebih menjaga kesinambungan isi-isi yang terdapat dalam satu ayat tertentu, ketimbang membaginya menjadi beberapa penggal kecil. Kelima, memberikan butiran-butiran hikmah atas satu persoalan yang dianggapnya krusial dalam bentuk pointers. Sebagai sampel dapat dilihat ketika Hamka menunjuk lima hikmah dari iman kepada hari akhirat tatkala menafsirkan penggalan kedua ayat 4 surat al-Baqarah ( wa bi al-khirati hum yqinn).[25]

Dalam pengamatan penulis, langkah seperti ini tidaklah baku. Artinya tidak setiap akhir penafsiran atas satu ayat mesti diakhiri dengan pemberian buturan-butiran hikmah dalam bentuk pointers. Hal ini sepenuhnya terpulang kepada tuntutan tema ayat yang sedang ditafsir. Buktinya, dari ayat 1 hingga ayat 3 dari surat al-Baqarah tidak kita temukan bentuk pounters semacam itu. Baru pada ayat 4 kita temukan. Pada ayat 5 juga tidak ada. Ini menandakan bahwa langkah itu sifatnya situasional. Terlepas dari itu, ada baiknya kita tuangkan di sini lima butir yang disebut Hamka sebagai hikmah dari beriman kepada hari akhir itu. Sebagai berikut: 1. Apa yang kita kerjakan di dunia ini adalah dengan tanggung jwab yang penuh. Bukan tanggung jawab kepada manusia, tetapi kepada Tuhan yang selalu mengawasi kita; 2. Kepercayaan kepada hari akhir meyakinkan kita bahwa apapun peraturan atau susunan yang berlaku di alam dunia ini tidaklah kekal; semuanya bergantian, semuanya berputar, dan yang kekal hanyalah peraturan kekal dari Allah; 3. Setelah hancur alam ini, Tuhan akan menciptakan alam yang lain, dan manusia dipanggil buat hidup kembali di alam yang baru dan akan ditentukan tempatnya sesudah penyaringan dan perhitungan amal di dunia; 4. Tempat baru itu adalah surga bagi mereka yang berat amal baiknya, dan neraka bagi mereka yang berat amal jahatnya. Semua itu akan diperhitungkan dengan adil; 5. Kepercayaan kepada hari akhirat memberikan satu pandangan khas tentang menilai bahagia atau celakanya manusia. Harta yang melimpah, kegagahan dan pencapaian duniawi bukan ukuran kebahagiaan. Kejayaan yang hakiki adalah pada nilai iman dan takwa di sisi Allah, di hari kiamat. [26] Keenam, memperkuat penjelasan dengan ayat-ayat dan riwayat-riwayat yang sepadan kandungannya dengan ayat yang sedang ditafsirkan.[27] Dalam pengamatan penulis, riwayat hadis yang dikutip Hamka tidak menampilkan semua untaian rawi yang ada dalam sanad hadis, tapi hanya menampilkan rw al (rawi pada level shahabat) saja dan penulis kitab hadis tersebut, seperti Imam al-Bukhr, Muslim dan lainnya. Jadi, bagi mereka yang ingin mengetahui untaian rawi bagi hadis yang dikutip Hamka secara lengkap harus merujuk langsung kepada kitab hadis yang disebut oleh Hamka. Langkah seperti ini nampaknya sengaja ditempuh Hamka untuk menjadikan tafsirnya lebih praktis dan efektif bagi pembaca Indonesia yang umumnya awam tentang ilmu hadis dan kurang peduli dengan validitas sanad sebuah hadis. Perbincangan tentang sanad hadis bagi umumnya orang Indonesia bisa dibilang sudah tak lagi urgen, sebab mereka berpikiran bahwa persolaan tentang sanad telah usai dengan telah dibukukannya hadis ke dalam berbagai bentuk kitab hadis, seperti Jmi Shahh, Sunan, Mujam dan sebagainya. Jadi yang penting matan-nya, bukan sanad. Seperti itu barangkali pertimbangan Hamka. Ketujuh, menyuguhkan tafsir dalam kemasan bahasa yang mudah dipahami dengan sentuhan logika yang tidak sulit dicerna, serta dilengkapi dengan pendekatan sosio-kultural keindonesiaan. Semua ini penulis nilai sebagai upaya membumikan Al-Quran. Barangkali kutipan dari tafsir Hamka atas ayat 3 surat al-Baqarah sedikitnya dapat memperkuat apa yang penulis nyatakan dalam poin ketujuh di atas. Berikut kutipanya: Inilah tiga tanda pada taraf yang pertama: Percaya kepada yang gaib. Yang gaib adalah yang tidak dapat disaksikan oleh pancaindera; tidak nampak oleh mata, tidak terdengar oleh telinga, yaitu dua indera yang utama dari kelima (panca) indera kita. Tetapi dia dapat dirasa adanya oleh akal. Maka yang pertama sekali adalah percaya kepada Allah, zat yang menciptakan sekalian alam, kemudian itu percaya akan adanya hari kemudian, yaitu kehidupan kekal yang sesudah dibangkitkan dari maut. Iman yang berarti percaya, yaitu pengakuan hati yang terbukti dengan perbuatan yang diucapkan oleh lidah menjadi keyakinan hidup. Maka iman akan yang gaib itulah tanda pertama atau syarat pertama dari takwa. Kita sudah sama tahu bahwa manusia itu dua juga coraknya; pertama orang yang hanya percaya kepada benda yang nyata, dan tidak mengakui bahwa ada pula di balik kenyataan ini sesuatu yang lain. Mereka tidak percaya ada Tuhan, atau Malaikat, dan dengan sendirinya mereka tidak percaya akan ada lagi hidup akhirat itu. Malahan terhadap adanya nyawapun, atau roh, mereka tidak percaya. Orang yang seperti ini niscaya tidak akan dapat mengambil petunjuk dari Al-Quran. Bagi mereka koran pembungkus gula sama dengan Al-Quran.

Kedua ialah orang-orang yang percaya bahwa di balik benda yang nampak ini, ada lagi hal-hal yang gaib. Bertambah banyak pengalaman dalam arena penghidupan, bertambah mendalamlah kepercayaan mereka kepada yang gaib itu. Kita kaum Muslimin yang telah hidup empat belas abad sesudah wafatnya Rasulullah Saw. dan keturunanketurunan kita yang akan datang di belakang pun insya Allah, bertambah lagi keimanan kepada yang gaib itu, karena kita tidak melihat wajah beliau.[28] Hingga di sini penulis mencatat beberapa hal, antara lain: 1. Hamka tidak mengawali tafsirnya dengan memberikan penjelasan arti kata-kata tertentu dalam ayat (syarh al-mufradt). Kuat dugaan, hal ini sengaja ditempuh karena masyarakat pembaca tafsirnya (orang Indonesia) tidak membutuhkan kajian kebahasaan seperti itu yang sifatnya suplemen atau pelengkap sekunder semata. 2. Hamka tidak mengawali tafsirnya atas beberapa ayat yang sudah ia penggal ke dalam satu kelompok dengan makna global (al-man al-jumal) seperti yang kerap dilakukan oleh Tafsr Al-Maraghi, salah satu karya tafsir yang dikaguminya. Besar dugaan, hal itu ditempuh karena ia ingin membawa pembacanya untuk meneliti tafsir ayat demi ayat secara teliti dan tuntas. Sebab bisa saja kalau didahului oleh tafsir global, di antara pembaca ada yang mencukupkan dengan tafsiran singkat tersebut. Hal demikian menjadikan pembacaan tafsir tidak tuntas dan menyeluruh. 3. Menghindari persoalan nahw dan sharf. Ini dapat dimaklumi sebab konsumen tafsirnya adalah masyarakat Indonesia yang umumnya awam dengan persoalan semacam itu. Jika persoalan semacam itu ditampilkan, hasilnya malah akan kontra-prorduktif, tidak efektif bagi pembaca tafsir Indonesia yang diharapkan mendapatkan pencerahan Qurani, bukan wawasan kebahasaan. 4. Hanya menuangkan hal-hal yang benar-benar diinginkan oleh para pembaca tafsir, seraya menghindari perselisihan paham dan takwil-takwil jauh yang tidak perlu. Ini sejalan dengan apa yang dikatakan (dijanjikan) Hamka dalam Haluan Tafsir-nya ketika menulis: Tafsir Al-Azhar ini ditulis dalam suasana baru, di negara yang penduduk Muslimnya lebih besar jumlahnya dari penduduk lain, sedang mereka haus akan bimbingan agama, haus hendak mengetahui rahasia Al-Quran, maka pertikaian-pertikaian mazhab tidaklah dibawakan dalam tafsir ini, dan tidaklah penulisnya taashshub kepada suatu faham, melainkan mencoba sedaya upaya mendekati maksud ayat, menguraikan makna dan lafaz bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia dan memberi kesempatan orang buat berfikir.[29] 5. Tidak menyebutkan sumber rujukan tafsir. Pikir penulis, seorang mufasir berkaliber tinggi pun hampir bisa dipastikan tidak dapat menghidar dari menukil dan merujuk karya atau pendapat orang lain. Hamka sendiri dalam Haluan Tafsir-nya mengakui bahwa Al-Manr, Al-Margh, Al-Qsim, dan F Zhill Al-Qurn adalah karya-karya tafsir yang banyak memberikan masukan baginya dalam menulis Tafsir Al-Azhar. Harap penulis, ketika ia merujuk suatu pendapat dari tafsir lain ia menyebut, paling tidak, nama Tafsir dan penulisnya; tidak harus menyebut tempat, nomor halaman, jilid dan lainnya secara detail.[30] Namun demikian, kebesaran dan nilai Tafsir Al-Azhar tidak berkurang barang sedikit pun. Corak Tafsir Sub ini terkait erat dengan sub sebelumnya yaitu Haluan Tafsir. Bila dalam sub Haluan Tafsir sudah disitir beberapa karakter yang dapat diasumsikan sebagai corak tafsir Al-Azhar secara umum dan teoritis, pada sub ini sitiran tersebut akan dibuktikan secara nyata dan praktis dengan mengemukakan contohcontoh nyata dari penafsiran langsung atas ayat. Kiranya lebih dari satu corak yang dapat kita tunjuk buat tafsir Al-Azhar, tergantung dari sudut mana kita meninjau. Dari sudut pandang mazhab yang dianut dapat kita sebut tafsir Al-Azhar bercorak Salafi. Dalam arti penulisnya menganut mazhab Rasulullah dan sahabat-sahabat beliau serta ulama yang mengikuti jejak beliau. Ini seperti ia akui dalam Haluan Tafsir-nya: Mazhab yang dianut oleh Penafsir ini adalah Mazhab Salaf, yaitu mazhab Rasulullah dan sahabat-sahabat beliau dan ulama-ulama yang mengikuti jejak beliau. Dalam hal akidah dan ibadah, semata-mata taslim, artinya menyerah dengan tidak banyak tanya lagi. Tetapi tidaklah semata-mata taklid kepada pendapat manusia, melainkan meninjau mana yang lebih dekat kepada kebenaran untuk diikuti, dan meninggalkan mana yang jauh menyimpang. Meskipun penyimpangan yang jauh itu bukanlah atas suatu sengaja yang buruk dari yang mengeluarkan pendapat itu.[31]

Contoh nyata untuk menunjukan ke-salaf-an tafsir Al-Azhar adalah ketika membahas huruf-huruf pembuka suatu surat (fawtih al-suwar). Dalam hal ini mufasir Al-Azhar memilih menyerahkan pengertiannya semata kepada Allah. Sebab hal itu dinilainya lebih selamat, pula tidak bersentuhan langsung dengan tujuan pendalaman dan pengkajian Al-Quran. Hamka menulis: mendalami Al-Quran tidaklah bergantung daripada mencari-cari arti dari huruf-huruf itu. Apatah lagi kalau sudah dibawa pula kepada arti rahasia-rahasia huruf, angka-angka dan tahunsehingga telah membawa Al-Quran terlampau jauh dari pangkalan aslinya.[32] Dalam sub Haluan Tafsir, Hamka mengemukakan ketertarikan hatinya terhadap beberapa karya tafsir, di antaranya tafsir Al-Manar. Tafsir ini menurutnya sebuah tafsir yang sanggup menguraikan ilmu-ilmu keagamaan sebangsa hadis, fikih, sejarah dan lainnya lalu menyesuaikannya dengan perkembangan politik dan kemasyarakatan yang sesuai dengan zaman di waktu tafsir itu ditulis. Tafsir yang demikian dinilai oleh para ahli sebagai tafsir bercorak adabi-ijtima (sosial-kemasyarakatan). Maka dapatlah diasumsikan bahwa sedikit banyak tafsir Al-Azhar mewarisi corak tersebut. Contoh konkret untuk corak ini adalah ketika mufasir Al-Azhar membincang wacana iman. Menurutnya, pengakuan iman perlu pembuktian dalam tataran sosial-praktis, misalnya dengan memperbanyak derma, sedekah, suka menolong sesama dan amal-amal sosial lainnya. Di tingkat pertama percaya kepada yang gaib, dan kepercayaan kepada yang gaib dibuktikan dengan sembahyang, sebab hatinya dihadapkannya kepada Allah yang diimaninya. Maka dengan kesukaan memberi, berderma, bersedekah, membantu dan menolong, imannya telah dibuktikannya pula kepada masyarakat. Orang Mukmin tidak mungkin hidup nafsi-nafsi dalam dunia. Orang Mukmin tidak mungkin menjadi budak dari benda, sehingga ia lebih mencintai benda pemberian Allah itu daripada sesamanya manusia. Orang yang Mukmin apabila dia ada kemampuan, karena imannya sangatlah dia percaya bahwa dia hanya saluran saja dari Tuhan untuk membantu hamba Allah yang lemah.[33] Warna ijtim` tafsir Al-Azhar juga dapat kita lihat ketika mufasirnya menjadikan pengalaman pribadi dalam bermasyarakat sebagai anasir pelengkap tafsirnya. Sekadar sampel, ketika sang mufasir membahas soal takwa ia katakan bahwa kebudayaan Islam adalah kebudayaan takwa. Kesimpulan untuk mengatakan kebudayaan Islam adalah kebudayaan takwa ini diambil dari kesepakatan Konferensi Kebudayaan Islam di Jakarta yang diselenggarakan pada akhir Desember 1962. Selanjutnya mufasir menegaskan bahwa dalam takwa terkandung cinta, kasih, harap, cemas, tawakal, ridha, sabar dan lainnya. Takwa lebih mengumpul akan banyak hal. Bahkan dalam takwa, lanjutnya, terdapat juga berani![34] Menandai sebuah karya tafsir sebagai bercorak ijtim`, hampir dapat dipastikan akan membawa pada kesimpulan lain tentang corak tafsir tersebut, yaitu bahwa tafsir itu juga bercorak hida`. Dikatakan demikian karena tafsir ijtim` adalah tafsir yang banyak mengedepankan fenomena-fenomena sosial-kemasyarakatan dalam upayanya me-landing-kan pesan, kesan, tuntutan dan tuntunan AlQuran. Upaya demikian tak lepas dari tujuan sang mufasir untuk menjadikan Al-Quran benar-benar sebagai sumber petunjuk dan pedoman hidup setiap Muslim dalam memerankan fungsi khilafahnya di muka bumi ini. Tafsir Al-Azharseperti diakui mufasirnya dalam Haluan Tafsirmemanglah dirancang seperti itu. Yaitu bagaimana tafsir ini dapat menjadi obor penerang bagi sebanyak mungkin masyarakat Muslim dengan berbagai latar belakang pendidikan, jenis profesi dan beragam status sosial lainnya. Paling kurang, itu nampak dalam pernyataan mufasir berikut: Ketika menyusun (tafsir) ini terbayanglah oleh penafsirnya corak ragam dari murid-murid dan anggota jamaah yang mamum di belakangnya sebagai imam. Ada mahasiswa-mahasiswa yang tengah tekun berstudi dan terdidik dalam keluarga Islam. Ada sarjana-sarjana yang bertitel SH, Insinyur, Dokter dan Profesor. Ada pula perwira-perwira tinggi yang berpangkat jenderal dan laksamana dan ada juga anak buah mereka yang masih berpangkat letnan, kapten, mayor dan para bawahan. Dan ada pula saudagar-sudagar besar, agen automobil dengan relasinya yang luas, importir dan exportir kawakan di samping saudagar perantara. Dan ada juga pelayan-pelayan dan tukang tukang pemelihara kebun dan pegawai negeri, di samping isteri mereka masing-masing. Semuanya bersatu membentuk masyarakat yang beriman, dipadukan oleh jamaah subuh, kasih-mengasihi dan harga menghargai. Bersatu di dalam shaf yang teratur, menghadapkan muka bersama, dengan khusyu kepada Ilahi.[35]

Hingga titik ini, tidak keliru rupanya jika kita katakan bahwa Tafsir Al-Azhar bercorak hida`. Ke-hida`-an Al-Azhar juga nampak pada tipe paparan tafsir yang disuguhkan. Ia tidak terpancing memunculkan perselisihan pendapat (fikih dan teologi) yang memang tidak menyuntuh inti tafsir. Ia juga menghindar dari kajian kebahasaan, qiraat dan tetek bengek non-tafsir lainnya. Kajian-kajian semacam itu memang dalam banyak hal sering cukup mengaburkan tujuan semula pembaca tafsir terlebih jika ia orang non-Arabyaitu mencari butiran-butiran hikmah dan hidayah Al-Quran. Penutup Tafsir Al-Azhar adalah salah satu tafsir buah tangan salah satu putra terbaik bumi pertiwi. Mufasirnya, Prof Dr Hamka, telah membuktikan betapa seorang Muslim non-Arab pun mampu menghasilkan sebuah karya tafsir yang cukup membanggakan, sekurangnya bagi kaum cerdik-cendekia Muslim Indonesia. Penulis makalah ini menyerahkan sepenuhnya kepada Anda, pembaca tafsir Al-Azhar, untuk menilai plus-minus yang terkandung dalam tafsir tersebut. Penulis hanya mengatakan bahwa apa pun kesan Anda tentang tafsir Al-Azhar, ia harus diakui sebagai maha karya Hamka yang patut dipuji. Dan yang lebih penting tentu bukan sekadar memuji, tapi mengelaborasikan pesan-pesan Qurani yang disampaikannya dalam tata kehidupan keseharian kita sebagai Muslim yang mengaku diri menjadikan Al-Quran sebagai pedoman hidup. Bagi para pengkaji tafsir, kekaguman terhadap Hamka dan tafsirnya tentu harus menjadi pemicu untuk menghasilkan karya serupa. Kalaupun tidak sanggup secara sendiri-sendiri, kerja kolektif pun akan sangat berarti dan cukup menggembirakan. Wallhu Alam? Bahan Bacaan Ensiklopedi Tematis Dunia Islam [ed. Taufik Abdullah], Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve cet. I, vol. IV. Ensikopedi Indonesia, Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve, cet. I, 1990, vol. II. Federspiel, Howard M., Popular Indonesian Literature of the Al-Quran (terj. Dr. Tajul Arifin, MA, Kajian Al-Quran di Indonesia), Bandung: Mizan, cet. I, 1996. Hamka, Prof. Dr., Tafsir Al-Azhar, Jakarta: Penerbit Pustaka Panjimas, cet. I 1982, juz I. Malf, Louis, Al-Mujid f al-Lughah wa al-Alm, Beirut: Dr al-Masyriq, cet. XXXVII, tt. Al-Margh, Ahmad Mushtaf, Tafsr al-Margh, Kairo: Syirkah wa Mathbaah Mushtaf al-Bb alHalab, cet. IV, 1969, vol. I. Ridh, Muhammad Rasyd, Tafsr Al-Manr, Beirut: Dr al-Marifah li al-Thibah wa al-Nasyr, cet. II, tt, vol. I. Shihab, M. Quraish, Tafsir al-Mishbh, Jakarta: Lentera Hati, cet. I 2000, vol. I. [1]Ensikopedi Indonesia, Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve, cet. I 1990, vol. II h. 1217. [2]Ibid, h. 1218 [3]Lihat Kata Pengantar Penulis dalam Tafsir Al-Azhar, Jakarta: Penerbit Pustaka Panjimas, cet. I 1982, juz` I, h. 1. [4]Ibid, h. 3-4. [5]Lihat Haluan Tafsir dalam Mukaddimah Tafsir Al-Azhar, Op Cit, h. 40. [6]Ibid, h. 41. [7]Lihat Ibid. [8]Ibid. h. 42. Di berbagai penafsiran ayatnya menyangkut ajaran keesaan Tuhan (Tauhid), Hamka tidak sekadar menjelaskan ayat, tetapi juga banyak mengecam praktek ziarah kubur, kepercayaan kepada keris, dan adat kebiasaan lain dalam masyarakat Indonesia (lihat Ensiklopedi Tematis Dunia Islam [ed. Taufik Abdullah], Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve cet. I, vol. IV, h. 55). [9]Haluan Tafsir, Mukaddimah Tafsir Al-Azhar, h. 42. Dalam penelitian Howard M. Federspiel, Tafsir AlAzhar termasuk tafsir yang mewakili tafsir-tafsir generasi ketiga. Tafsir-tafsir generasi ini bertujuan untuk memahami kandungan Al-Quran secara komprehensif dan, oleh karena itu berisi materi tentang teks dan metodologi dalam menganalisis tafsir. Tafsir-tafsir ini menekankan ajaran-ajaran Al-Quran dan konteksnya dalam bidang keislaman (lihat Howard M. Federspiel, Popular Indonesian Literature of the Al-Quran [terj. Dr. Tajul Arifin, MA, Kajian Al-Qur'an di Indonesia], Bandung: Mizan, cet. I, 1996, h. 137). [10]Mukaddimah Tafsir Al-Azhar, h. 48. [11]Tafsir Al-Azhar, juz` I, h. 121-122. [12]Ibid, h. 122. Al-Maraghi berpendapat seperti itu. Menurutnya, Alif Lm Mm dan huruf-huruf pembuka surat lainnya merupakan huruf-huruf li al-tanbih (pemberitahuan atau panggilan) sama seperti Al dan Y.

Di sini tujuannya untuk membangkitkan perhatian mukhthb kepada Al-Quran, menunjukkan kemukjizatannya dan menampakkan hujjah-nya atas Ahli Kitab serta lainnya yang terkandung dalam surat al-Baqarah (lihat Tafsr al-Margh, Kairo: Mathbaah al-Bb al-Halab, cet. IV, 1969, vol. I h. 39). [13]Tafsir Al-Azhar, Loc Cit. [14]Pakar tafsir Indonesia pasca Hamka, M. Quraish Shihab, juga mengambil sikap seperti itu. Ia menulis: Tampaknya jawaban: Allah Alam, yakni Allah lebih mengetahui, masih merupakan jawaban yang relevan hingga kini, kendati tidak memuaskan nalar manusia (lihat M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, Jakarta: Lentera Hati, cet. I 2000, vol. I, h. 84). Rasyid Ridha, meski sepakat dengan Muhammad Abduh yang menyerahkan makna dan rahasia di balik huruf-huruf itu kepada Allah, ia menuangkan juga pendapat mufasir-mufasir lain yang mencoba menguak rahasia di balik huruf-huruf itu (lihat Tafsir al-Manr, Beirut: Dr al-Marifah, cet. II, tt, vol. I h. 122). [15]Tafsir Al-Azhar, juz` I, h. 122. [16]M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbh, Op Cit, h. 85. [17]Tafsir Al-Azhar, h. 123. [18]Ibid, h. 124-125. Jika pun pengambilan riwayat seperti itu tidak terkategorikan sebagai manhaj, bolehlah disebut sebagai pendekatan. Tapi penulis sendiri lebih suka menamainya sebagai manhaj. [19]Tafsir Al-Azhar, h. 117. [20]M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbh, Op Cit, h. 81. Kelanjutan keterangan Quraish di atas adalah: Ada seseorang yang terbunuh dan tidak diketahui siapa pembunuhnya. Masyarakat Bani Israil saling mencurigai bahkan tuduh-menuduh tentang pelaku pembunuhan tanpa ada bukti, sehingga mereka tidak memperoleh kepastian. Menghadapi hal tersebut mereka menoleh kepada Nabi Musa as. meminta beliau berdoa agar Allah menunjukkan siapa pembunuhnya. Maka Allah memerintahkan mereka menyembelih seekor sapi. Dari sini dimulai kisah l-Baqarah. Akhir dari kisah itu adalah, mereka menyembelihnya setelah dialog tentang sapi berkepanjangandan dengan memukulkan bagian sapi itu kepada mayat yang terbunuh, maka atas kudrat Allah korban hidup kembali dan menyampaikan siapa pembunuhnya (lihat Ibid, h. 81-82). [21]Lihat Tafsir al-Manr, Beirut: Dr al-Marifah, cet. II, tt, vol. I h. 122 dan Tafsr al-Margh, Kairo: Syirkah wa Mathbaah Mushtaf al-Bb al-Halab, cet. IV, 1969, vol. I, h. 39. [22]Lihat Tafsir Al-Mishbah, h. 83-88. [23]Untuk lebih jelasnya lihat Ibid, h. 117. Bandingkan misalnya dengan Tafsir Al-Mishbah yang secara tepat meletakkan pendahuluan sebelum betul-betul menampilkan ayat-ayat dalam surat yang akan ditafsir (lihat Tafsir Al-Mishbh, h. 81-82). [24]Lihat Tafsir Al-Azhar, h. 120-128. [25]Lihat Ibid, h. 128. [26]Lihat Ibid, h. 129. [27]Lihat misalnya Ibid, h. 123-125. [28]Lihat Ibid, h. 124. [29]Lihat Haluan Tafsir dalam Mukaddimah Tafsir Al-Azhar, h. 40-41. [30]Bandingkan misalnya dengan tafsir Al-Manr dan Al-Margh yang kerap kali menyebut Qla alUstdz al-Imm untuk menunjukkan bahwa mereka menukil pendapat Syaikh Muhammad Abduh, atau tafsir Al-Mishbh yang acap kali menyebut nama seperti al-Thabthab`, al-Biq`, Al-Syarw, Murtadha Muthahhari atau Sayyid Quthub. [31]Lihat Haluan Tafsir dalam Mukaddimah Tafsir Al-Azhar, h. 41. [32]Tafsir Al-Azhar, h. 122. [33]Ibid, h. 127. [34]Ibid, h. 123. [35]Lihat Haluan Tafsir dalam Tafsir Al-Azhar, h. 41-42.

Tafsir Al-Qur'an Al-Karim Mahmud Yunus


DIposting Oleh Administrator | 9:28 PM | a. Makalah Ilmu Tafsir | 0 comments A. Pendahuluan Tafsir Al-Qur'an Al-Karim Mahmud Yunus>>> Tafsir al-Quranul karim karangan Mahmud Yunus ini awalnya di terjemahkan pada tahun 1992 kemudian di terbitkan tiga juz dengan huruf arab-malayu. Pada masa itu umumnya Ulama islam mengatakan haram untuk menterjemahkan al-Quran namun, bantahan dari Ulama islam tersebut tidak beliau perdulikan dan beliaupun tetap menterjemahkan al-Quran al-Karim tersebut. Kemudian beliau berhenti menterjemahkan al-Quran, karena beliau lebih memilih untuk melanjutkan ilmu pengetahuannya di Mesir (Th 1924) di berbgai tempat hingga akhirnya di Darul Ulum. Beliau menerima pelajaran dari Syeokh Darul Ulum, bahwa menterjemahkan al-Quran itu hukumnya mubah, bahkan di anjurkan atau hukumnya fardu kifayah, untuk menyampaikan dakwah islamiyah kepada bangsa asing yagn tidak mengetahui bahasa arab. Bagaimanakah menyampaikan kitabullah kepada mereka, kalau tidak di terjemahkan kedalam bahasanya? Dengan berbagai ilimu yang telah diserap oleh akal pikirannya, pada bulan Ramadlan tahun 1354 H (Desember 1935) beliau mulai kembali menterjemahkan al-Quran serta tafsir ayat-ayatnya yang penting yang kemudian beliau beri nama : Tafsir al-Quranul Karim. Dengan susah payah di terbitkan tefisr tersebut berjuz 2 tiap 2 bulan. Sedang menterjemahkan juz 7 sampai dengan 18 dibantu oleh almarhum H.M. Bakry. Pada bulan April 1938 tamatlah 30 juz dengan pertolongan Alah awt. dan disiarkan di seluruh Indonesia. Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1950, dengan petunjuk menteri Agama Almarhum Wahid Hasyim, salah seorang penerbit Indonesia Tafsir al-Quranul Karim itu dengan mendapatkan fasilitas kertas dari Menteri Agama dan di cetak sebanyak 200.000 aksemplar. Lalu di tunjuk percetakan bangsa Indonesia untuk mencetaknya. Kabarnya ada bantuan dari Ulama Yogyakarta, supaya di stop mencetak Tafsir Quran Karim itu. Bantahan itu dikirim nya kepada Maeteri Agama RI tetapi saya tidak menerima bantuan. Boleh jadi karena bantahan itu karena sebab-sebab yang lain, yang empunya percetakan tidak mau meneruskan mencetak tafsir Quran karim itu, padahal telah dimulainya mencetak beberapa halaman banyaknya. Akhirnya di ambil alih oleh M. Baharata Direktur percetakan Al-Maarif Bandung. Lalu ia dicetak dan di terbitkan sebanyak 200.000 aksemplar dan dijualnya dengan harga Rp. 21 per eksemplar. Pada tahun 1953 seorang Ulama dari Jatinegara membantah pula, bantahan itu dikirinya kepada Presiden RI dan Menteri Agama. Salinannya disampaikan kepada Mahmud Yunus oleh Menteri Agama, lalu Mahmud yunus balas suratnyaitu dengan lebar panjang. Tembusannya M. Yunus kirimkan kepada Presiden RI dan Menteri Agama. Akhirnya beliau tidak berkituk lagi, hanya diam. Kemudian setelah habis cetakan itu, Mahmud yunus bersama istri Darisah binti Ibrahim meneruskan menerbitkan tafsir Quran Karim itu. Lalu mereka terbitkan beberapa kali tanpa ada perubahan yagn besar. Hanya ada perubahan sedikit demi sedikit. Ditegaskan bahwa tafsir in serta kesimpulan isi al-Quran, bukanlah tejemahan dari kitab bahasa arab, melainkan hasil penyelidikan pengarang sejak berumur 29 tahu sampai sekarang berumur 73 tahun. Sebab itu tafsir ini berlainan dengan tafsir-tafsir yang lain. Dalam tafisir in yang paling dipentingkan ialah menerangakan dan menjelaskan petunujuk-petunjuk yang termaktub dalam al-Quran untuk diamalkan kaum Muslimin khususnyadan seluruh umat manusia pada umumnya sebgai petunjuk universal. Karena petunujuk itulah tujuan utama kitab suci al-Quran seperti diterangkan Allah dalam firman-Nya pada permulaan surat al-Baqoroh:

Artinya: Kitab itu (Al-Quran) tidak ada keraguan didalamnya, jadi petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. Selain itu ditrgaskan pula sebab-sebab majunya satu umat dan sebab-sebab mundurnya, sebab kuat dan lemahnya, sebab tegaknya dan jatuhnya, sebab hidu dan matinya. Demikian itu dengan mengambil brah dan pengajaran dari sejarah umat dahulu kala. Karena sejarah itu tetap mengulang jejaknya. B. Biografi Mahmud Yunus Dilahirkan di Sungkayang Batusangkar Sumetera Barat pada hari sabtu 10 Februari 1899 (30 Ramadlan 1361). Ayahnya bernama Yunus bin Incek dan ibunya bernama Hafsoh bini M.Tahir. buyutnya dari pihak ibu adalah seorang ulama besar di Sungkayang Batu sangkar, bernama Muhammad Ali gelar angku kolo. Pendidikan Mahmud Yunus belajar dari al-Quran dan bahasa Arab yang ia tempuh semenjak berusia tujuh tahun di Surau kakeknya M.Tahir. di samping itu ia juga memasuki sekolah rakyat, tetapi hanya sampai kelas tiga saja. Dari surau kakeknya ini, Mahmud Yunus pindah ke Madrasah yang diasuh oleh Syeikh H. Muhammad Thaib di Surau Tanjung Pauh. Berkat ketekunannya dalam waktu empat tahun, Mahmud Yunus telah sanggup mengajarkan kitab-kitab Mahalli, al-Fiyah dan Jamul Jawami. Minatnya terhadap studi al-Quran serta bahsa arab telah menimbulakan hasarta besar dalam diri Mahmud Yunus untuk menulis tafsir al-Quran yang kemudian menjadi karya monumentalnya sendiri yagn tetap populer sampai saat ini. Penulisan tafsir ini dimulai pada November 1922 yang dilakukan secara berangsurangsur juz demi juz sampai dengan selesai juz ke-tiga puluh. Perlu di garis bawahi disini bahwa upaya penulisan Mahmud Yunus ketika itu, disaat masih suburnya pandangan yang mengatakan bahwa haram menterjemahkan al-Quran, merupakan tindakan yang cukup berani. Profesi sebagai guru semenjak masih menjadi pelajar di Surau Tanjung Pauh sudah ia geluti. Kemampuan menjadi guru tersebut lebih menonjol manakala ia kembali dari Mesir . secara terus menerus Mahmud Yunus mengajar dan memimpin berbgai sekolah, yakni pada al-Jamiah al-Islamiyah Batusangkar (19311932), Kuliyah Mualimin Islamiyah Noramal Islam Padang (1932-1946), Akademi Pramong Praja di Bukit Tinggi (1948-1949), Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) jkarta (1957-1980), menjadi Dekan dan Guru Besar pada fakultas Tarbiyah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1960-1963), Rektor IAIN Imam Bonjol Padang (1966-1071). Atas jasa-jasanya dibidang pendidikan ini, pada 15 Oktober 1977, IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta menganugerahi Mahmud Yunus Doctor Honoris Causa dalam Ilmu Tarbiyah. Banyak karya tulis yang telah di hasilkan Mahmud Yunus dalam berbgai bidang Ilmu Agama Islam, terutama pendidikan Islam di samping bidang-bidang lain seperti bahasa, sejarah, tauhid akidah, hokum, dan peribadatan, tafsir, hadist, perbandingan agama, yang ia tulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Arab. Pandangan terpenting tentang metode mengajar adalah Metode itu lebih penting daripada pengajaran. Akhirnya pada 18 Januari 1983, dalam Usia 83 Mahmud Yunus berpulang ke Rohmatullah di kediamannya, kelurahan Kebon Kosong, Kemayoran Jakarta Pusat. Sehari kemudian ia dimakamkan di pemakaman IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Adapun karya-karya Mahmud Yunus antara lain: 1. Tafsir al-Quran tamat 30 juz, tahun 1938. 2. Terjemahan Tafsir al-Quran tanpa tafsir, untuk memudahkan membaca al-Quran. 3. Marilah sembahyang, Pelajaran Sholat untuk-untuk anak0anak SD, 4 jilid. 4. Puasa dan Zakat untuk anak-anak SD. 5. Haji ke Mekkah, cara mengerjakan haji, untuk anak-anak SD. 6. Keimanan dan Akhlaq, untuk anak-anak SD, 4 jilid. 7. Beberapa kisah pendek, untuk anak-anak SD. 8. Riwayat Rasul dua puluh lima, bersama Rasyidin/Zubir Usman. 9. Lagu-lagu baru/Not angka-angka, bersama Kasim St. M. Syah.

10. Beriman dan Berbudi Perkerti, untuk anak-anak SD. 11. Pemimpin Pelajaran Agama, 3 jilid, untuk murid-murid SMP. 12 Hukum Warisan dalam Islam. untuk tingkat Aliyah. 13. Perbandingan Agama, untuk tingkat Aliyah. 14. Kumpulan Doa, untuk tingkat Aliyah. 15. Doa-doa Rasulullah, untuk tingkat tsanawiyah. 16. Marilah ke Al-Quran, untuk tingkat tsanawiyah/PGA bersama H. Ilyas M. Ali. 17. Moral Pembangunan dalam Alam, untuk tingkat Aliyah. 18. Akhlaq (bahasa Indonesia),. untuk tingkat Aliyah 19. Pelajaran Sembahyang, untuk tingkat Aliyah, mahasiswa/umum. 20. Hukum perkawinan dalam Islam, 4 Madzhab. 21. Soal Jawab HUkum Islam, 4 Madzhab. 22. Ilmu Mustalahul Hadist, bersama H. Mahmud Aziz. 23. Sejarah Islam di Minangkabau, dlaam penyelidikan baru. 24. Kesimpulan isi al-Quran, untuk Muballigh-Muballigh / umum. 25. Allah dan Makhluq-Nya, Ilmu Tauhid menurut Al-Quran. 26. Pengetahuan Umum Ilmu Mendidik, bersama St. M. Said. 27. Pkok-pokok Pendidikan/Pengajaran, Fak. Tarbiyah / PGAA. 28. Metodik Khusus Pendidikan Agama, Fak. Tarbiyah / PGAA 29. Metodik Khusu bahasa Arab, Fak. Tarbiyah / PGAA 30. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. 31. Sejarah PEndidikan Islam (umum). 32. Pendidikan-Pendidikan Umum di Negara-negara Islam/Pendidikan Barat. 33. Ilmu Jiwa kanak-kanak, kuliyah untuk kursus-kursus. 34. Pedoman Dakwah Islamiyah, kuliyah untuk dakwah. 35. Dasar-dasar Negara Islam. 36. Manasik haji, untuk orang dewasa. 37. Juz Amma dan terjemahnya. C. Sistematika Tafsir Sistematika Tafsir karangan Mahmud Yunus susunannya diawali dengan pendahuluan yang di dalamnay dijabarkan tentang penulisan dan usaha yang ditempuh oleh Mahmud Yunus ketika beliau menterjemahkan dan menerbitkan al-Quran tersebut. Setelah penaduhulan kemudian langsung kepada ayat al-Quran berupa terjemahan dan dibawahnya langsung dijelaskan tafsirnya yang diawali dengan surawt al-fatihah, alBaqoroh hingga pada akhir surawt an-Naas (30 Juz)untuk dapat membuka mengetehui isi al-Quran ini dengan mudah, kita dapat membuka dan melihat pada halaman belakang yaitu Daftar Surat dan isi Tafsir alQuran Karim disini ditulis surat dan beberapa tema yang biasa di kaji beserta nomor urut halaman, sebelum mengerjakan pekerjaan yang beik diucapkan Bismillah..I, apabila mendapatkan nikmat diucapkan AlhamdulillahI, orang-orang yang dimurkai dan orang orang yang sesat2, kemudian yang ketiganya terdapat dalam surat al-Baqoroh, seperti orang-orang yang bertaqwadan sifat-sifatnya..3, dan seterusnya. Kemudian seterusnya dihalaman belakang kitab terdapat daftar isi surat-surat al-Quran beserta nomor halaman yang memudahkan pembaca dalam pencarian surat seperti surat al-Araf..2-8. Surat Al-Ala--898dan seterusnya. Setelah daftar isi dan surat-surat kemudian juga terdapatdaftar isi juz-juz al-Quran yang tujuannya memudahkan pembaca dalam pencarian sebuah ayat al-Quran seperti juz ke-1..I, Juz ke-229, dan seterusnya. Tafsir al-Quran ini dibelakangi juga terdapat beberapa kesimpulan isi al-Quran, yang berhubungan dengan keimanan, hokum-hukum, petunjuk atau pengajaran, akhlaq, ekonomi, dan ilmu pengetahuan. Disamping itu kitab tafsir ini terdapat daftar kesimpulan isi al-Quran.

D. Sistematika Penafsiran Dalam tafsir Mahmud Yunus ini telah dijelaskan sebelumnhy bahwa didalamnya dibelakangi kitab terdapat kesimpulan isi al-Quran, ini tidak dapat di muat diawal kitab, karena berhubung tafsir al-Quran in berubah halamanny adari cetakan yang lama ke percetakan yang beru dan karangan ini. Kitab ini terdiri dari dua jilid yaitu pertama satu jilid tamat dari juz 1 sampai dengan 30, kedua , tiga jilid, pertama dari juz 1 sampai dengan 10 n, jilid kedua dari juz 11 sampai dengan 20, jilid ketiga dari juz 21 sampai dengan 30. Tafsir al-Quran in sistematika penafsirannya sama seperti isi al-Quran dan terjamahan disamping kanan ayat (setiap ayat) kemudian terjemahannya dibawahnya terdapat penafsiran. Sistematika penafsiran Mahmud Yunus menafsirkan seluruh ayat sesuai susunannya dalam mushaf al-Quran ayat demi ayat, surat demi surat, dimulai dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surah an-Naas. Maka secara sitematika penafsiran tafsir ini menempuh tartib Mushaf. E. Sumber-sumber Tafsir al-Quran Mahmud Yunus Setelah mempelajari: 1. Tafsir at-Thabaryjuz 1 hal 42 2. Ibnu Katsir juz 1 hal 3 3. Al-Qasimy juz 1 hal 7 4. Fajrul Islam juz 1 hal 199 5. Zhurul Islam juz 2 hal 40-43 dan juz 3 hal 37 Dapatlah diambil kesimpulan bahwa sumber-sumber tafsir itu tujuh: a). tafsir al-Quran dengan al-Quran, karena ayat-ayat itu tafsir-menafsirkan dan jelas-menjelaskan antara satu dengan yang lain. b). Yafsir dengan hadist yang shahih, seperti hadist Bukahri dan Muslim. Sekali-kali tidak boleh dengan hadist yagn Maudlu dan Dloif. c). Tafsir dengan perkataan sahabat, tapi khusus dengan menerangakan sebab-sebab turunnya sayat, bukan menurut pendapat dan pikirannya. d). Tafsir dengan perkataan tabiin, bila mereka ijma atas semua tafsir. Hal ini menurut pendapat bahwa ijma itu hujjah. e). Tafsir dengan umum bahasa arab bagi Ahli Ilmu Lughah. f). Tafsir dengan Ijtihad bagi Mujtahid. g). Tafsir dengan tafsir Aqli bagi Mutazilah. Selain dari pada itu ada lagi tafsir Akil menurut Syiah dan tafsir Shufi bagi ahli Tasawwuf. F. Metode dan Corak Tafsir Tafsir al-Quran Karim Mahmud Yunus ini menunjuk pada metode tahlili, suatu metode tafsir yagn bermaksud menjelaskan kandungan ayat-ayat al-Quran dan seluruh aspeknya.

dalam tafsir Mahmud Yunus, aspek kosa kata dan penjelasan arti global tidak selalu dijelaskan. Kedua aspek tersebut dijelskan ketika dianggap perlu atau kadang pula suatu ayat, suatu lafadz dijelaskan arti kosakatakatanya, sedangakan lafadz yang lain dijelaskan arti kosa katanya, sedengkan lafadz yang lain dijelaskan arti globalnya karena mengadung suatu istilah, bahkan dijelaskan secara terperinci dengan memperlihatkan penggunaan istilah itu pada ayat-ayat yang lain. G. Keistimewaan Tafsir al-Quran Karim Mahmud Yunus Adapun keistimewaannya adalah: ? Terjemahan al-Quran disusun baru, sesuai dengan perkembangan bahasa Indonesia, serta mudah difahami oleh pembaca. Bahkan mahasiswa-mahasiswa dapat memperluas bahasa arabnya. ? Teks al-Quran terjemahannya disusun sejajar dan setentang. Dengan demikian mudah mengetahui nomornomor ayat al-Quran dalam teks bahasa arab dan terjemahanny adalam bahasa Indonesia. ? Keterangan-keterangan ayat ditaruh dan diletakkan didalam ayat yang bersangkutan, sehingga mudah mempelajarinya tanpa memeriksa ke halaman-halaman yagn lain, seperti cetakan yang lama. ? Keterangan-keterangan ayat ditambah dan diperluas, setengahnya berupa masalah-masalah ilmiyah yang harus dipelajari oleh mahasiswa-mahasiswa. H. Kesimpulan Tafsir al-Quran Mahmud Yunus ini mudah untuk dipelajari dan dipahami kaerna di dalamnya sudah kategori-kategori membuka kitab tafsir tersebut dan didalamnya juga terdapat beberapa kesimpulan yang memudahkan kita untuk mengetahui isi kandungan tafsir tersebut secara garis besar kesimpulan isi al-Quran. Inilah kesimpulan isi al-Quran yang berhubungan dengan keimanan, hokum-hukum, petunjuk/pelajaran, akhlaq, ekonomi dan ilmu pengetahuan, diterangkan dengan ijmal (kesimpulan) saja. Sebenarnya kaum Muslimin memuliakan dan menjunjung tinggi al-Qran . tapi jika mereka ditanya apa isi quran itu? Mereka tidak bias menjawab apa-apa. Sekarang dengan keluarnya kesimpulan isi al-Quran ini, tentu mereka dapat menjawabnya. Saudara-saudara yang tidak sanggup membaca al-Quran dari awal sampai tamat, sekurang-kurangnya hendanyalah dibacanya kesimpulan isi al-Quran ini. Apabila orang-oarang islam menurut sebagaimana yang termaktub didalamnya itu, niscaya mereka akan mendapat kemajuan dan keselamatan dari dunia sampai akherat. Oleh sebab itu hendaknya tiap-tiap kita bersungguh-sungguh mengikutinya sekedar tenaga, serta mengajak teman sejawat, supaya bersama-sama ke jurusan itu. Sesunggunhnya mengeluarkan hukum-hukum atau ilmu pengetahuan dan yang lain-lain dari dalam al-Quran tak ubahnya seperti mengeluarkan mutiara dari dalam lautan. Jika orang yang mengeluarkan mutiara itu hanya memekai perkakas lama dan serba kurang, tentu ia dapat mengeluarkan sedikit saja. Tetapi apabila ia mempunyai perkakas yang modern serta sempurna, tentu ia menghasilkan mutiara yang amat banyak. Tetapi meskipun begitu, mutiara yang dalam lautan itu tidak juga akan habisn-habisnya. Maka bagitulah juga dalam mengeluarkan hukum-hukum dan ilmu pengetahuan dari dalam Quran itu. Meskipun sekarang telah kita usahakan mengeluarkan apa-apa yagn tersebut dalam kitab ini., tetapi janganlah kita sangka, bahwa mutiara yang ada dalam al-Quran itu telah habis, bahkan masih banyak lagi yang tersembunyi di sana sini. Jika selalu kita membaca al-Quran dan memperhatikan isinya, niscaya akan terbuka juga bagi kita rahasiarahasianya yang lain. Oleh sebab itu hendaklah tiap-tiap orang islam membiasakan membaca al-Quran, meskipun beberapa ayat di tiap-tiap hari, supaya bertambah kaimanan kita kepada Allah swt. dan supaya bersih hati kita kita dari pada sifat yang tidak baik. Contoh Tafsir Mahmud Yunus dalam surat An-Nisa ayat 9:

Artinya: Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. Keterangan ayat 9: dalam ayat ini Allah menganjurkan kepada orang tua agar memikirkan akibat anakanaknya yang masih lemah (kecil), bila ia meninggal dunia. Sebab itu hendaklah ia bertakwa dan berusaha meninggalkan harta pusaka untuk mereka. Janganlah mewasiatkan hartanya untuk fakir miskin dan amalan sosial lebih dari mestinya, supaya tidak terlantar kehidupan anak-anaknya yang masih kecil itu. Menurut islam, berwasiat itu hukumnya sunnah, sedang mendidik anak-anak hukumnya wajib. Yang wajib harus didahulukan daripada yang sunnah. Demikian hukum islam. Referensi: => Mahmud Yunus, Tafsir al-Quran Mahmud Yunus. => Abdul Ghofur, Faham Tauhid Nabi Ibrahim Menurut Ibnu Katsir, Studi Analisis Surah Al-Anam Ayat 74-79. => Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Ensiklopedi Islam

Tafsir Al-Qur'anul Majid atau yang lebih dikenal dengan nama TAFSIR AN-NUR ini adalah salah satu karya monumental ulama Indonesia asal Aceh, yaitu Prof. Dr. Teungku Muhammad (TM) Hasbi ashShiddiegy. Tafsir An-Nur pertama kali terbit pada tahun 1956. Ini adalah kitab tafsir lengkap pertama karya ulama ahli tafsir Indonesia yang diterbitkan di Indonesia. Tafsir ini mudah dicerna oleh semua golongan masyarakat, dari para peneliti sampai para pemula. Tafsir inilah pula yang menjadi rujukan Terjemah Qur'an Departemen Agama yang pertama tahun 1952. Tafsir An Nur menggunakan dua metode sekaligus, yaitu mudhi'i tahlili karena dibuat berdasarkan urutan dan susunan Al-Qur'an, ayat per ayat dan surah per surah, dan dengan bentuk penyajian yang rinci, dan juga metode maudhu'i (tematik) karena sebelum menjelaskan tafsir suatu surah terlebih dahulu dijelaskan gambaran umum surah tersebut. Tafsir ini juga dapat digolongkan sebagai at-tafsir bil ra'y (tafsir berdasarkan ijtihad), walaupun tidak semua ayat dijelaskan dengan metode tersebut. Dapat pula digolongkan sebagai at-tafsir bil-ma'tsur (tafsir dengan riwayat), yaitu penjelasan suatu ayat dengan ayat lain atau dengan hadits dan atsar yang shahih . Dalam kitab tafsir ini Hasbi ash-Shiddieqy banyak mengutip dari rujukan-rujukan mu`tabar (otoritatif). Sebut saja di antaranya, tafsir Jami` al-Bayan karya ath-Thabari, Tafsir al-Quran al`Azhim karya Ibnu Katsir, tafsir al-Qurthubi, tafsir al-Kasysyaf karya az-Zamakhsyari, dan atTafsir al-Kabir karya Fakhruddin ar-Razi. Tidak hanya tafsir klasik, tafsir ulama mutaakhkhirin juga menjadi sumber ash-Shiddieqy, seperti, tafsir al-Manar karya Muhammad Rasyid Ridha, tafsir al-Maraghi, tafsir al-Qasimi, dan tafsir al-Wadhih. Selain kitab-kitab tafsir, ia juga merujuk kepada kitab-kitab induk hadis yang mu`tamad (dipercaya), semisal, kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dan kitab-kitab as-Sunan. Melihat sederet rujukan yang digunakan, tampaknya T.M. Hasbi ash-Shiddieqy menggarap karya tafsirnya ini dengan sangat serius, terlebih lagi ia mempunyai kapasitas yang mumpuni dalam bidang ushul at-tafsir, yaitu ilmu yang mempelajari media-media yang diperlukan untuk menafsirkan al-Quran. Karenanya, wajar bila Tafsir an-Nur menjadi sebuah karya yang cukup diperhitungkan dan menjadi rujukan kalangan intelektual di Indonesia. Tafsir Al-Qur'anul Majid An-Nur, sebagai sebuah kitab tafsir yang ringkas namun lengkap, menjelaskan apa yang dimaksud tiap-tiap ayat. Pembahasan ayat disertai keterangan hadits, dalil, dan pendapat yang kuat. Untuk membantu para pemula dalam membaca dan mendalami Al-Qur'an, kitab Tafsir An-Nur ini dilengkapi pula dengan transliterasi huruf ke Arab ke dalam huruf latin.

*****

Mahmud Yunus adalah seorang tokoh pendidikan nasional, karya-karyanya banyak dipergunakan di sekolah-sekolah khususnya di pesantren. Mahmud Yunus dikenal sebagai seorang tokoh pembaharu dalam metode pengajaran bahasa Arab. Beliau sendiri mempunyai karya yang berupa kamus Arab-Indonesia yang masih mudah didapatkan saat ini. Beberapa karyanya yang lain adalah seperti al-Fiqh al-Wadhih (fikih sederhana berbahasa Arab) yang terdiri dari 3 juz, at-Tarbiyah wa at-Talim yang juga terdiri dari tiga juz. Dalam bidang keilmuan Alquran, sebagai seorang yang mempunyai spesialisasi dalam bidang bahasa Arab, beliau berhasil menulis Tafsir Alquran al-Karim. Karya ini merupakan salah satu pionir karya tafsir berbahasa Indonesia yang banyak digunakan oleh orang-orang berbahasa Melayu. B. Biografi Mahmud Yunus. Disebutkan dalam buku Tokoh dan Pemimpin Agama, Biografi Sosial-Intelektual, Mahmud Yunus lahir di desa Sungayang, Batusangkar, Sumatera Barat, hari Sabtu 10 Pebruari 1899. Keluarganya adalah tokoh agama yang cukup terkemuka. Ayahnya bernama Yunus bin Incek menjadi pengajar surau yang dikelola sendiri. Ibundanya bernama Hafsah binti Imam Samiun merupakan anak Engku Gadang M Tahir bin Ali, pendiri serta pengasuh surau di wilayah itu. Sejak kecil, Mahmud Yunus dididik dalam lingkungan agama. Dia tidak pernah masuk ke sekolah umum. Ketika menginjak usia tujuh tahun (1906), Mahmud mulai belajar Alquran serta ibadah lainnya. Gurunya adalah kakeknya sendiri. Mahmud sempat selama tiga tahun menimba ilmu di sekolah desa, tahun 1908. Namun saat duduk di kelas empat, dia merasa tidak betah lantaran seringnya pelajaran kelas sebelumnya diulangi. Dia pun memutuskan pindah ke madrasah yang berada di Surau Tanjung Pauh bernama Madras School, asuhan HM Thaib Umar, seorang tokoh pembaru Islam di Minangkabau. Sejarah mencatat HM Umar Thaib amat berpengaruh terhadap pembentukan keilmuan Mahmud Yunus. Melalui karya-karya gurunya itu, Mahmud dapat menyerap semangat pembaruan yang dibawa. Misalnya dalam karya Al-Munir, ditekankan penguasaan pengetahuan umum serta bahasa Eropa. Karenanya para santri di surau/pesantren HM Umar Thaib diwajibkan mempelajari ilmu agama, bahasa Eropa maupun ilmu pengetahuan umum. Maksudnya agar para santri dapat juga memanfaatkan ilmu-ilmu tersebut bagi peningkatan kesejahteraan umat dan perkembangan Islam. Saat Mahmud belajar di Madras School antara tahun 1917-1923, di Minangkabau tengah tumbuh gerakan pembaruan Islam yang dibawa oleh para alumni Timur Tengah. Umumnya pembaruan Islam terwujud dalam dua bentuk, purifikasi dan modernisasi. Nah, yang dilakukan oleh para alumni adalah gerakan purifikasi untuk mengembalikan Islam ke zaman awal Islam dan menyingkirkan segala tambahan yang datang dari zaman setelahnya. Mahmud Yunus mulai terlibat di gerakan pembaruan saat berlangsung rapat besar ulama Minangkabau tahun 1919 di Padang Panjang. Dia diminta untuk mewakili gurunya. Pertemuan itu secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi pola pemikiran pembaruan Mahmud, terutama berkat pandangan-pandangan yang dikemukakan sejumlah tokoh pembaru seperti Abdullah Ahmad serta Abdul Karim Amrullah.[1] Bersama staf pengajar lainnya yang bergiat di gerakan pembaruan, tahun 1920 Mahmud membentuk perkumpulan pelajar Islam di Sungayang bernama Sumatera Thawalib. Salah satu kegiatan kelompok ini adalah menerbitkan majalah al-Basyir dengan Mahmud Yunus menjadi pemimpin redaksinya. Interaksi yang kian intens dengan gerakan pembaru, mendorongnya untuk menimba pengetahuan lebih jauh di Mesir. Tidak mudah untuk mewujudkan hasratnya itu, berbagai kendala dihadapi. Namun pada akhirnya kegigihan Mahmud Yunus dapat mengantarkannya ke al-Azhar, Kairo, tahun 1924. Di sana dia mempelajari ilmu ushul fiqh, ilmu tafsir, fikih Hanafi dan sebagainya. Mahmud Yunus seorang murid yang cerdas. Hanya dalam tempo setahun, dia berhasil mendapatkan Syahadah Alimiyah dari alAzhar dan menjadi orang Indonesia kedua yang memperoleh predikat itu. Tetapi dia merasa belum cukup dengan apa yang telah diperoleh lantaran peningkatan pengetahuan umumnya belum terpenuhi. Dia pun berkeinginan melanjutkan studi ke madrasah Dar al-Ulum yang

memang mengajarkan pengetahuan umum. Mahmud Yunus kemudian meneguhkan diri untuk mengikuti seluruh persyaratan yang diminta dan terbukti mampu memenuhi. Dia dimasukkan sebagai mahasiswa di kelas bagian malam (qiyam lail). Semua mahasiswanya berkebangsaan Mesir, kecuali Mahmud Yunus. Tercatat dia menjadi orang Indonesia pertama yang masuk Dar al-Ulum. Kuliah Mahmud Yunus berakhir dengan lancar. Tahun 1929, dia mendapat ijazah diploma guru dengan spesialisasi bidang ilmu kependidikan. Setelah itu, dia kembali ke kampung halamannya di Sungayang Batusangkar. Gerakan pembaruan di Minangkabau saat itu makin berkembang. Ini amat menggembirakan Mahmud Yunus yang lantas mendirikan dua lembaga pendidikan Islam, tahun 1931, yakni al-Jami'ah Islamiyah di Sungayang dan Normal Islam di Padang. Di kedua lembaga inilah dia menerapkan pengetahun dan pengalaman yang didapatnya di Dar al-Ulum, Kairo. Karena kekurangan tenaga pengajar, al-Jami'ah Islamiyah terpaksa ditutup tahun 1933. Sedangkan Normal Islam hanya menerima tamatan madrasah 7 tahun dan dimaksudkan untuk mendidik calon guru. Ilmu yang diajarkan berupa ilmu agama, bahasa Arab, pengetahuan umum, ilmu mengajar, ilmu jiwa dan ilmu kesehatan. Dua penekanan dalam pembaruan Mahmud Yunus di lembaga pendidikannya yakni pengenalan pengetahuan umum dan pembaruan pengajaran bahasa Arab. Pengajaran pengetahuan umum di sekolahnya sebenarnya tidaklah baru. Tahun 1909 Abdullah Ahmad sudah mengajarkan berhitung, bahasa Eropa di Adabiyah School. Sementara Mahmud menambahkan beberapa pelajaran umum semisal ilmu alam, hitung dagang, dan tata buku. Pada bidang pengajaran bahasa Arab, pembaruan Mahmud Yunus tak hanya menekankan penguasaan bahasa Arab, namun juga menunjukkan bagaimana secara didaktis-metodis modern para siswa menguasai bahasa tersebut dengan cepat dan mudah. Dia memimpin Normal Islam selama 11 tahun, mulai 1931-1938 dan 1942 dan 1946. Pada tahun 30-an, dia juga aktif di organisasi Islam antara lain menjadi salah satu anggota Minangkabau Raad. Lantas tahun 1943 dipilih menjadi Penasehat Residen mewakili Majelis Islam Tinggi. Demikian pula di kementerian agama yakni dengan menjabat selaku Kepala Penghubung Pendidikan Agama. Awal tahun 1970 kesehatan Mahmud Yunus menurun dan bolak balik masuk rumah sakit. Tahun 1982, dia memperoleh gelar doctor honoris causa di bidang ilmu tarbiyah dari IAIN Jakarta atas karya-karyanya dan jasanya dalam pengembangan pendidikan Islam di Indonesia. Sepanjang hidupnya, Mahmud menulis tak kurang dari 43 buku. Pada tahun 1982, Mahmud Yunus meninggal dunia[2] B. Pemikiran Mahmud Yunus Dalam Tafsir Alquran al-Karim. Berikut akan penulis sajikan pemikiran Mahmud Yunus yang tertuang dalam karyanya, yakni pemikiran yang bercorak aliran al-Qadariyah dalam masalah takdir Prof. Dr. H. Mahmud Yunus telah menulis di dalam kitabnya Tafsir Quran Karim" mengenai iman, atau apa yang dikatakan Rukun Iman. Beliau menyatakan seperti berikut: "Iman (percaya) yaitu: Beriman kepada: 1. Allah, 2. Rasul-rasulNya, 3. Malaekat-malaekatNya, 4. Kitab-kitabNya, 5. Hari yang kemudian atau kiamat (surat al-Baqarah: 285)

6. Percaya kepada taqdir (dalam hadits Nabi s.a.w.) Sebelum diteruskan tulisan di sini, ingin ditegaskan bahwa rukun yang kelima seperti yang dicatat itu, tidak didapati tercatat di dalam ayat al-Baqarah tersebut. Ayat tersebut ada pada an-Nisa:136. Maka, lima daripada enam rukun iman itu telah diajar oleh Allah. Dan, yang keenam, yang terakhir, diajar oleh "hadits Nabi s.a.w." Justru, rukun yang keenam, Percaya kepada taqdir, adalah tambahan kepada ajaran Allah. Takdir adalah (takdirullah) sesuatu yang ditentukan oleh Allah terlebih dahulu, penentuan dari Allah, Dengan itu, percaya kepada takdir artinya percaya bahwa segala-galanya sudah ditentukan oleh Allah terlebih dahulu. Ajaran percaya kepada taqdir telah mengelirukan sesetengah umat Islam. Sehingga ada yang percaya seperti, jika mereka dimasukkan ke dalam neraka, itu adalah karena Allah sudah takdirkan baginya - atau, Allah sudah tentukan, terlebih dahulu, neraka baginya di akhirat kelak. Seolah-olah mempercayai Tuhan itu zalim. Kepercayaan tersebut adalah penyimpangan dalam Islam, karena bertentangan dengan sifat dan ajaran Allah yang sebenarnnya. Dai dalam Alquran disebutkan: 33) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) "Allah tidak menzalimi mereka, tetapi diri-diri mereka sendiri mereka menzalimkan." (QS an-Nahl:33) Memang benar kata orang-orang yang percaya kepada takdir yaitu semuanya datang dari Allah, atau, setelah diizinkan-Nya, yang baik, maupun yang buruk. Namun, Dia tidak mencipta segala sesuatu tanpa menurut ukuran tertentu. 49) )4 ) ) ) ) ) )4 ) ) Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. (QS al-Qamar: 49). Dia mencipta manusia dan jin untuk menyembah-Nya. Di samping itu, manusia diberi kuasa memilih, apakah seseorang mau menyembah-Nya atau tidak. Kuasa untuk memilih itu agak jelas ditunjukkan apabila Dia menurunkan yang benar, dan kemudian, memberi kebebasan kepada manusia untuk percaya kepadanya, atau memilih untuk tidak percaya kepadanya. Di dalam Alquran disebutkan: ) ) )4 ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) 29) ) ) ) ) ) ) ) ) ) "Katakanlah, 'Yang benar adalah daripada Pemelihara kamu; maka hendaklah sesiapa yang menghendaki, percaya; dan hendaklah sesiapa yang menghendaki, tidak percaya.'" (QS al-Kahfi: 29) Contoh kedua ialah dalam masalah buah-buahan dan anggur yang Dia rezekikan. Manusia diizinkan-Nya membuat minuman yang baik dan yang memabukkan. Hal ini disebutkan dalam Alquran: ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) "Dan daripada buah-buahan palma dan anggur, kamu mengambil daripadanya minuman yang memabukkan, dan rezeki yang baik." (QS an-Nahl: 67) lalu bolehkah orang yang mabuk berkata kemudian bahwa dia menjadi seorang pemabuk karena Allah telah menakdirkannya demikian? dia telah diberi pilihan untuk mengambil "rezeki yang baik" dari buah-buahan tersebut!

Ayat itu juga menyebut mengenai kaum yang memahami, atau yang menggunakan akal fikiran, yang juga merupakan salah satu karunia terbesar Allah swt. kepada manusia untuk dipakai semasa menggunakan kuasa memilih tersebut. Potensi lain adalah penglihatan dan pendengaran. Mereka yang tidak menggunakan ketiga-tiga potensi itu akan dimasukkan ke dalam Jahanam. Di Jahanam nanti, mereka tidak bisa beralasan dengan mengatakan bahwa telah menakdirkan mereka untuk masuk neraka. Bukti terakhir untuk menunjukkan bahwa Allah tidak menentukan terlebih dahulu apa yang akan terjadi kepada seseorang, seperti yang diajar oleh hadis, ialah kejadian Adam. Adam dan isterinya telah dapat diperdaya oleh Syetan, sehingga mereka berdua melanggar perintah Allah. Akan tetapi, mereka berdua, kemudian, meminta ampun serta bertaubat kepada Allah. Dari ayat yang menceritakan tentang peristiwa tersebut, tidak kelihatan bahwa Allah telah menentukan terlebih dahulu bahwa Adam dan isteri akan makan daripada pohon tertentu. Memang benar juga kata mereka yang percaya kepada takdir bahwa Allah mengetahui segala-galanya. Akan tetapi, mengetahui dan menentukan sesuatu adalah dua perkara yang jauh berbeda. Dia mengetahui bahwa seseorang itu akan ditimpa keburukan, tetapi keburukan yang menimpa orang itu merupakan akibat dari usahanya sendiri. Oleh yang demikian, ajaran Percaya kepada takdir memang tidak dianjurkan Allah. Malah, ajaran tersebut bertentangan dengan kehendak-Nya Ajaran yang bertentangan dengan ajaran Allah itu datang dari hadis, seperti yang telah dinyatakan oleh Prof. Dr. Mahmud Yunus. Di dalam kitab-kitab hadis terdapat beberapa buah hadis, yang kononnya telah disabdakan oleh Nabi, mengenai kepercayaan tersebut. Semua hadis yang menyatakan ajaran tersebut pada dasarnya dapat dibantah karena bertentangan dengan ajaran Alquran itu sendiri. Jadi, Percaya kepada Takdir bukanlah rukun iman dalam Islam. Karena itu, wajarlah ia ditolak.[3] C. Tafsir Alquran al-Karim: Kajian Kritis. 1. Pembaharu Pemikiran. Mahmud Yunus merupakan seorang tokoh pendidikan, dan pembaharu dalam pendidikan. Metode-metode yang dibangun oleh beliau sangat berpengaruh dalam pendidikan bahasa Arab di Indonesia. Namun selain itu ternyata dalam pemikiran yang beliau tuangkan dalam karyanya Tafsir Alquran al-Karim, Mahmud Yunus juga merupakan seorang pembaharu pemikiran ummat muslimin. Terlepas dari pengaruhnya terhadap pemikiran ummat muslimin, Mahmud Yunus menginginkan Ummat Islam sebagai ummat yang dinamis yang tidak hanya bersandar kepada takdir seperti yang banyak diyakini oleh ummat Islam pada masanya. Corak pemikiran al-Qadariyah ini memang sungguh kental pada pemikiran beliau. 2. Corak bir-Rayi dan bil-Matsur. Bila melihat sumber penafsiran yang digunakan di dalam Tafsir Alquran al-Karim, dapat dikatakan bahwa karyanya ini merupakan tafsir bir-rayi[4] meskipun ada banyak sumber yang berupa riwayat-riwayat dipergunakan sebagai penafsir bagi ayat-ayat tertentu. 3. Tahlili atau Ijmali[5] Pada dasarnya, Tafsir Alquran al-Karim karya Mahmud Yunus ini adalah tafsir ijmali yakni hanya menafsirkan ayat secara global saja. Namun pada beberapa ayat, beliau memberikan perhatian lebih hingga terlihat corak penafsiran tahlilil.

D. Penutup. Mahmud Yunus lebih dikenal sebagai tokoh pendidikan yang mempunyai spesialiasi dalam bidang ilmu Bahasa Arab. Dalam bidang tafisr, beliau menulis Tafsir Alquran al-Karim. Yang merupakan salah satu pionir karya tafsir berbahasa Indonesia yang banyak digunakan oleh orang-orang berbahasa Melayu. Salah satu pemikiran yang beliau tuangkan dalam karyanya ini adalah gugatan terhadap kepercayaan yang berlebihan akan takdir. Beliau beranggapan bahwa iman terhadap qada dan qadar bukanlah termasuk dari rukun iman karena tidak didapatkan dalam Alquran dan banyak ayat-ayat yang menentangnya. Kepercayaan ini didapatkan dalam hadis, akan tetapi hadis tersebut menurut beliau lemah karena bertentangan dengan Alquran. Penekanannya terhadap penolakan kepercayaan takdir merupakan antisipasi terhadap statisnya dinamika kehidupan ummat Islam.

Disertasi Ilmiah 4 - Tafsir al-Bayan oleh Prof. Dr. T.M Hasbi ash Shiddieqy
PENDAHULUAN Tafsir al-Bayan merupakan sebuah kitab tafsir yang unggul di rantau ini. Dikarang oleh tokoh agung yang tidak asing lagi iaitu Prof. Dr. T.M Hasbi ash Shiddieqy. Hasil karya ini terdiri daripada dua jilid dan merupakan karya kedua beliau selepas Tafsir an-Nur. Prof. Dr. T.M Hasbi ash Shiddieqy menggunakan metode tersendiri dalam menyusun dan mengolah Tafsir al-Bayan dan mempunyai kelainan dengan karya yang pertamanya. Kitab ini juga mempunyai keistemewaan dan perbezaan yang tersendiri berbanding dengan kitab-kitab tafsir lain. Tafsir al-Bayan adalah kitab tafsir dan terjemahan al-Quran dalam bahasa Indonesia yang di hasilkan pengarang seawal tahun 60-an lagi. Cetakan pertamanya ialah pada tahun 1971 yang diterbitkan PT. Almaarif, Bandung, dengan ukuran 15 x 22 cm. Kitab ini dinamakan Tafsir al-Bayan diambil sempena ayat al-Quran, surah Ali Imran ayat 138. Frman Allah s.w.t :

Yang bererti: Al-Quran adalah penerangan (penjelasan) bagi seluruh manusia dan nasihat bagi mereka yang bertakwa Al-Bayan yang dinamakan oleh pengarang adalah bermaksud Suatu penjelasan bagi makna-makna alQuran. Jelasnya, kitab tafsir ini banyak memberi sumbangan terhadap pengajian dan pembelajaran Ulum al-Quran di Nusantara. Khidmatnya masih digunakan sehingga ke hari ini. BIOGRAFI PENGARANG 1. KELAHIRAN DAN LATAR BELAKANG KELUARGA Profesor Doktor Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy dilahirkan di Lhokseumawe pada 10 March 1904. Ayahnya Teungku Qadhi Chik Maharaja Mangkubumi Husien ibn Muhammad Suud, adalah seorang ulama terkenal di kampungnya dan mempunyai sebuah pondok. Ibunya Teungku Amrah binti Teungku Chik Maharaja Mangkubumi Abdul Aziz , merupakan anak seorang Qadi Kesultanan Acheh ketika itu. Menurut salasilah, Hasbi ash Shiddieqy adalah berketurunan Abu Bakar al-Shiddiq (573-13/634M) iaitu khalifah yang pertama. Beliua merupakan generasi ke 37 dari Abu Bakar al-Shiddiq yang meletakkan gelaran ash Shiddieqy diakhir namanya. [1] 2. PENDIDIKAN Prof. Dr. Teungku Muhammad Hasbi ash Shiddieqy mula mendapat pendidikan awalnya di pondok pengajian milik bapanya. Beliau menuntut ilmu di pelbagai pondok pengajian dari stu kota ke kota yang lain selama 20 tahun.Beliau mempelajari bahasa Arab daripada gurunya yang bernama Syeikh Muhammad ibn Salim al-Kalali, seorang ulama berbangsa Arab. Pada tahun 1926 T.M Hasbi ash Shiddieqy berangkat ke Surabaya dan melanjutkan pelajarannya di Madrasah al-Irsyad iaitu sebuah organisasi keagamaan yang didirikan oleh Syeikh Ahmad Soorkati (1874-1943), seorang ulama yang berasal dari Sudan . Di Madrasah al-Irsyad Hasbi ash Shiddieqy mengambil takhassus dalam bidang pendidikan selama 2 tahun. Pengajiannya di al-Irsyad dan gurunya Ahmad Soorkati banyak memberi didikan ke arah pembentukan pemikiran moden. Beliau juga pernah menuntut di Timur Tengah. 3. KEILMUAN T.M Hasbi ash Shiddieqy merupakan seorang ulama Indonesia yang terkenal. Beliau memiliki kepekaran [

dalam bidang ilmu fiqh dan usul fiqh, tafsir, hadith, dan ilmu kalam. T.M Hasbi ash Shiddieqy telah dianugerahkan dua gelaran Doctor Honoris Cause sebagai penghargaan di atas jasa-jasanya terhadap perkembangan Perguruan Tinggi Islam dan perkembangan ilmu pengetahuan keislaman Indonesia. Anugerah tersebut diperolehi dari Universiti Islam Bandung dan (UMSBA) pada 22 March 1975, dan dari IAIN Sunan KalijagaYogyakarta pada 29 Oktober 1975. 4. PENGLIBATAN POLITIK DAN ORGANISASI Pada zaman demokrasi liberal T.M Hasbi ash Shiddieqy terlibat secara langsung dalam Parti Masyumi (Majlis Syura Muslimin Indonesia) dan mewakilinya dalam perdebatan ideologi di Konstituante. Beliau turut menganggotai Organisasi Muhammadiyah. 5. KETOKOHAN T.M Hasbi ash Shiddieqy menetap di Yogyakarta pada tahun 1951 dan melibatkan diri secara serius dalam bidang pendidikan. Pada tahun 1960 beliau diangkat menjadi dekan di Fakulti Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Beliau menyandang jawatan ini hingga tahun 1972.. Kepakaran beliau dalam pengetahuan Islam dan pengiktirafan ketokohannya sebagai ulama dapat dilihat dari beberapa gelaran doktor (honoris cause) yang diterimanya seperti dari Universiti Islam Bandung pada 22 March 1975 dan dari IAIN Sunan Kalijaga pada 29 Oktober 1975. Sebelum itu, pada tahun 1960, beliau diangkat sebagai ketua dalam bidang ilmu hadith di IAIN Sunan Kalijaga. Pendidikan yang diterimanya dari pondok-pondok pengajian dan Madrasah al-Irsyad mampu menyerlahkan dirinya sebagai seorang pemikir. Kemampuannya sebagai seorang intlektual diakui dunia antarabangsa. T.M Hasbi ash Shiddieqy pernah diundang dan menyampaikan makalah dalam International Islamic Colloquium yang diadakan di Lahore Pakistan (1958). Beliau mula bergerak di Acheh dalam lingkungan masyarakat fanatik. Namun begitu, Hasbi masih meneruskan perjuangannya walaupun beliau dimusuhi oleh pihak yang tidak bersefahaman dengannya.

6. PEMIKIRAN Seperti ulama lain, Hasbi ash Shiddieqy berpendirian bahawa syariat Islam bersifat dinamik, sesuai dengan perkembangan masa dan tempat. Ruang lingkupnya mencakupi semua aspek kehidupan manusia, baik dalam hubungannya dengan sesama manusia mahupun hubungan dengan Tuhannya. Syariat Islam yang bersumbekan wahyu Allah swt, difahami oleh umat Islam melalui metode ijtihad untuk diadaptasikan setiap perkembangan yang berlaku dalam masyarakat. Ijtihad inilah yang kemudiannya melahirkan fiqh. Banyak kitab fiqh yang ditulis oleh ulama mujtahid. Di antara mereka yang terkenal adalah imam-imam mujtahid mazhab empat iaitu Abu Hanifah, Malik, al-Syafii dan Ahmad ibn Hanbal. Menurut Hasbi ash Shiddieqy, kebanyakan umat Islam, khususnya di Indonesia tidak membezakan antara syariat asal dari Allah swt dan fiqh yang merupakan ijtihad ulama terhadap syariat tersebut. Selama ini terdapat masyarakat Indonesia yang yang cenderung menganggap fiqh sebagai syariat. Akibatnya, kitab-kitab fiqh yang ditulis oleh imamimam mazhab diambil sebagai sumber syariat, walaupun kadang-kadang pendapat imam mazhab tersebut ada yang perlu diteliti dan dikaji dengan konteks terkini, kerana hasil ijtihad mereka tidak terlepas dari situasi dan keadaan sosial budaya serta lingkungan geografik. Tentu sahaja hal ini berbeza dengan keadaan masyrakat kita sekarang. Menurutnya, hukum fiqh yang dianuti oleh masyarakat Islam Indonesia banyak yang tidak sesuai dengan keperibadian bangsa Indonesia. Mereka terlalu berkecenderungan mengikut mazhab imam-imam tersebut. Sebagai alternatif terhadap sikap tersebut, beliau mencadangkan gagasan perumusan kembali fiqh Islam yang berkeperibadian Indonesia. Menurutnya, umat Islam harus mencipta hukum fiqh yang sesuai dengan latar belakang masyarakat Indonesia. Namun begitu begitu, tidak beerti ijtihad ulama terdahulu harus

dibuang sama sekali, tetapi harus diteliti dan dipelajari secara bebas, kritis dan terlepas dari sikap fanatik. Dengan demikian, pendapat ulama dari mazhab manapun, asalkan sesuai dan relevan dengan situasi masyarakat Indonesia dapat diterima dan diterapkan. Untuk usaha ini, ulama harus mengembangkan dan menggalakkan ijtihad. Hasbi ash Shiddieqy berpendapat bahawa pintu ijtihad tidak pernah tertutup, kerana ijtihad adalah sesuatu yang tidak dapat dielakkan dari semasa ke semasa. Menurutnya, untuk menuju fiqh Islam yang berwawasan ke Indonesiaan, ada tiga bentuk ijtihad yang perlu dilakukan. Pertama: Ijtihad dengan mengklasifikasi hukum-hukum keluaran ulama mazhab terdahulu. Ini bertujuan agar dapat memilih pendapat yang masih sesuai untuk diterapkan dalam masyarakat. Kedua: Ijtihad dengan mengklasifikasikan hukum-hukum yang semata-mata didasarkan pada adat kebiasaan dan suasana masyarakat di mana hukum itu berkembang. Hukum ini, menurut beliau berubah sesuai dengan perubahan masa dan keadaan masyarakat. Ketiga: Ijtihad dengan mencari hukum-hukum terhadap masalah kontemporari yang timbul akibat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Disebabkan kompleksnya permasalahan yang terjadi akibat daripada kemajuan,maka pendekatan yang dilakukan untuk mengatasinya tidak boleh dikhususkan hanya pada bidang-bidang tertentu sahaja. Oleh kerana itu, ijtihad tidak dapat dilaksanakan dengan efektif jika dilakukan secara individu. Hasbi ash Shiddieqy menawarkan gagasan ijtihad jamai.Dianggotai bukan hanya golongan ulama, tetapi juga terdiri dari pelbagai kalangan muslim yang lain seperti, ahli ekonomi, sarjana, budayawan, dan ahli politik yang mempunyai visi dan wawasan terhadap permasalahan umat Islam. Mereka yang duduk dalam lembaga ijtihad masing-masing berusaha memberi buah fikiran yang sesuai dengan keahlian dan dan disiplin ilmu. Dengan demikian, rumusan ijtihad yang diputuskan oleh lembaga ini lebih mendekati kebenaran dan lebih sesuai dengan tuntutan situasi dan kemaslahatan masyarakat. Dalam gagasan ijtihad ini memandang metodologi pengambilan dan penetapan hukum (istinbat) yang telah dirumuskan oleh para ulama seperti qias, istihsan, masalah mursalah dan urf. HASIL KARYA Semasa hayatnya T.M Hasbi telah menghasilkan 72 judul buku dan 50 artikel dalam bidang tafsir, hadith, fiqh dan pedoman ibadah. KEWAFATAN T.M Hasbi ash Shiddieqy kembali ke rahmatullah tanggal 9 Disember 1975 ketika dalam membuat persiapan untuk menunaikan ibadah haji. Beliau dimakamkan di permakaman IAIN Ciputat Jakarta. Turut hadir almarhum Hamka dan almarhum Mr. Moh. Rum di hari pengkebumiannnya. PENGENALAN KITAB TAFSIR AL-BAYAN Tafsir al-Bayan merupakan hasil karya ke dua yang dikarang oleh Prof. T.M hasbi ash Shiddieqy dalam bidang pentafsiran al-Quran selepas karyanya yang pertama iaitu Tafsir An-Nur yang diterbitkan pada tahun 1956. [2] Pada Muqaddimah tafsir ini, yang bertarikh Yokyakarta: 21 Mei 1966, pengarang menulis: Dengan inayah Allah Taala dan taufiq-Nya, setelah saya selesai dari menyusun Tafsir An-Nur yang menterjemahkan ayat dan menafsirkannya, tertarik pula hati saya kepada menyusun al-Bayan[3]. Pengarang menyatakan sebab-sebab penulisan tafsir ini adalah untuk menyempurnakan sistem penterjemahan yang terdapat dalam Tafsir An-Nur karya pertamanya dalam bidang ini. Juga pengarang mendapati bahawa terjemahan-terjemahan al-Quran yang beredar ditengah-tengah masyarakat perlu dikaji [ [

dan ditinjau semula. Pengarang berkata di dalam kitab tafsirnya: Maka setelah saya memerhatikan perkembangan penterjemahan al-Quran akhir-akhir ini, serta meneliti secara tekun terjemahan-terjemahan itu, nyatalah bahawa banyak terjemahan kalimat yang perlu ditinjau dan disempurnakan. Oleh karananya, dengan memohon taufiq daripada Allah Taala, saya menyusun sebuah terjemah yang lain dari yang sudah-sudah[4] Karyanya yang kedua ini juga merupakan terjemahan dan tafsir al-Quran dalam bahasa Indonesia yang diperkirakan dihasilkan oleh pengarang pada awal tahun 60-an lagi. Cetakan pertama kitab tafsir ini ialah pada tahun 1971 melalui terbitan PT Almaarif Bandung, dengan ukuran 15 x 22 cm. Al-Bayan yang dinamakan oleh pengarang adalah bermaksud Suatu penjelasan bagi makna-makna alQuran. Kitab ini terdiri dari dua jilid. Jilid pertama mengandungi nas-nas ayat al-Quran bermula dari surah al-Fatihah dan berakhir dengan ayat 75 surah al-Kahf. Kesemua terjemahan dan tafsiran bagi jilid pertama mengandungi 789 muka surat. Bagi jilid ke dua Tafsir al-Bayan ini, dimulai dari surah al-Kahf ayat ke 75 dan berakhir dengan surah al-Nas bersama terjemahan dan tafsirannya yang terkandung dalam muka surat 789 sehingga 1604[5]. 1. Pendahuluan Segala puji bagi Allah yang telah berfirman dalam kitabNya yang mulia: [ 6] Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan. Dan Nabi Muhammad s.a.w telah bersabda:

Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari al-Quran dan yang mengajarkannya. ( Al-Hadith ) Atas dasar itu penulis merasa satu kenikmatan dan ketenangan apabila terlibat dalam tugas ini. Apatah lagi mengkaji kandungan kitab suci al-Quran, walaupun tidak secara mendalam tetapi cukup sebagai satu kepuasan dalam diri. Penterjemahan al-Quran merupakan salah satu cara dakwah yang kesannya cukup mendalam terhadap sesebuah masyarakat kerana isi kandungannya lebih mudah difahami. Bentuk masyarakat yang berbagai memerlukan kepada kaedah dakwah yang pelbagai. Penterjemahan yang salah pula membawa kepada kepada kesalahfahaman masyarakat terhadap isi kandungan al-Quran yang akhirnya menjejaskan akidah mereka. Oleh itu,segala usaha peterjemahan sepatutnya diberi sokongan penuh kerana usaha mereka terlalu mulia di sisi Islam. Kitab yang ada ditangan penulis ini mudah-mudahan membawa manfaat kepada seluruh masyarakat Islam atas usaha-usaha mereka yang murni lagi suci. Di kesempatan ini, penulis cuba meninjau kaedah-kaedah yang digunakan oleh penterjemah terhadap kitab ini, mudah-mudahan ada baiknya untuk masyarakat Islam keseluruhannya.

2. Pengenalan Kitab Nama Kitab : Al-Quran dan Terjemahnya (Indonesia) Penterjemah : Yayasan Penyelenggara Penterjemah / Pentafsir Al-Quran, Jakarta. Cetakan : Mujamma al-Malik Fahd li Tibaat al-Mushaf al-Syarif, [ [ [

Medinah Munawwarah, Saudi Arabia. ( 1418H ) Bil. Jilid : 1 Jilid 3. Latarbelakang Penterjemah Yayasan Penyelenggara Penterjemah / Pentafsir al-Quran merupakan satu badan yang dipertanggungjawabkan oleh Menteri Agama untuk menterjemah, menerbit dan mengedarkan Kitab Tafsir al-Quran dan Terjemahnya kepada masyarakat Islam setempat dan sekitarnya. Terjemahan ini mengambil masa lapan tahun (1964-1971) untuk disempurnakan oleh anggota Dewan Penterjemah seramai sebelas orang yang terdiri dari kalangan tokoh-tokoh ulama terkenal. Mereka itu ialah: 1. Prof. R. H. A. Soenarjo S. H. (Ketua) 2. Prof. T. M. Hasbi Ashshiddiqi. 3. Prof. H. Bustami A. Gani. 4. Prof. H. Muchtar Jahya. 5. Prof. H. M. Toha Jahya Omar. 6. Dr. H. A. Mukti Ali. 7. Drs. Kamal Muchtar. 8. H. Gazali Thaib. 9. K. H. A. Musaddad. 10. K. H. Ali Maksum. 11. Drs. Busjairi Madjidi.[7] Di antara kesebelasan anggota di atas, penulis ingin mengenengahkan salah seorang tokoh untuk ditonjolkan latarbelakangnya. Beliau adalah Prof. T. M. Hasbi Ashshiddiqi.

3.1 Biodata Prof. T.M. Hasbi Ashshiddiqi Nama : Muhammad Hasbi Ashshiddiqi. Tarikh dan Tempat Lahir : Dilahirkan pada 10 Mac 1904 di Lhokseumawe yang terletak di Acheh Utara. Keturunan : Beliau berdarah campuran Arab. Menurutnya silsilah yang diketahui beliau adalah keturunan ketiga puluh tujuh dari Khalifah Abu Bakr al-Siddiq. Latarbelakang Keluarga : Keluarganya tergolong dari kalangan ulama pejabat. Ibunya bernama Teungku Amrah yang merupakan puteri kepada Teungku Abdu Aziz, pemangku Qadhi Chik Maharaja Mangkubumi. Bapanya pula bernama al-Hajj Teungku Muhammad Husen bin Muhammad Masud. Ketika berusia 6 tahun ibunya meninggal dan diasuh oleh neneknya yang bernama Teungku Syamsiyah. Latarbelakang Pendidikan : Beliau mula belajar ketika berusia lapan tahun di beberapa sekolah-sekolah pondok. Setelah itu belajar di sekolah kerajaan iaitu sekolah al-Irsyad selama satu setengah tahun. Walaupun tempoh beliau belajar sedikit tetapi dapat dilihat dari keperibadiannya sebagai seorang pemikir yang hebat. Keintelektualannya diiktiraf dunia. Pada tahun 1958, beliau dijemput untuk membentangkan kertaskerja dalam SeminarIslam Antarabangsa di Lahore Pakistan. Beliau berani dalam mengutarakan pendapatnya, walaupun kerananya ia dimusuhi, dipenjara dan sebagainya. Beliau adalah orang pertama yang menimbulkan isu perlunya kepada kekinian fiqh yang berkepribadian Indonesia atau istilahnya sebagai Fiqh Indonesia. Cetusan ini telah menimbulkan polemik yang hebat di kalangan para ulamak sezamannya hingga sekarang. Karya-karya Yang Dihasilkan : Beliau telah menghasilkan karya-karya dalam bidang [

tafsir, hadith, fiqh dan panduan ibadah umum. Bilangan karyanya mencapai 72 buah buku dan 50 artikel. Antaranya seperti: 1. Al-Islam. 2. Kriteria Antara Sunnah dan Bidah. 3. Mutiara Hadith. 4. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadith. 5. Fiqhul Mawarith 6. Tafsir al-Quran an-Nur. 7. Pedoman Shalat 8. Pedoman Puasa. Gelaran Yang Diterima : Beliau memperoleh dua gelaran sepanjang hidupnya. Gelaran itu ialah Doctor Honoris Causa yang diperoleh dari dua institusi pengajian tinggi di Indonesia. Institusi yang pertama ialah Universitas Islam Bandung (UNISBA) pada 22 Mac 1975 dan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada 29 Oktober 1975. Anugerah ini diberikan sebagai jasa-jasa beliau terhadap perkembangan Perguruan Tinggi Islam dan perkembangan pengetahuan keislaman di Indonesia. Kembali Ke Rahmatullah : Beliau meninggal pada 9 Disember 1975 dan dikebumikan di pemakaman keluarga IAIN Ciputat Jakarta.[8] 4. Metodologi Penulisan Mukadimah Ia dibahagikan kepada enam bab utama. Bab Satu : Sejarah al-Quran. Bab Dua : Nabi Muhammad sallallahu alayhi wa sallam. Bab Tiga : Kandungan al-Quran. Bab Empat : Al-Quran Sebagai Mukjizat. Bab Lima : Al-Quran dan Ilmu Pengetahuan. Bab Enam : Keutamaan Membaca al-Quran dan Cara Bacaannya.[9] Bibliografi diletakkan selepas membicarakan bab-bab di atas. Ternyata penterjemah mengambil rujukan dari kitab-kitab yang muktabar dan pelbagai dan bilangannya sebanyak 105 buah kitab. Antara rujukannya seperti; 1. Al-Tabari, Jami al-Bayan fi Tafsir al-Quran. 2. Ali Abd Allah Yusuf, The Holy Quran. 3. Al-Fayruz Abadi, Tanwir al-Miqbas min Tafsir Ibn Abbas. 4. Al-Fakhr al-Razi, Al-Tafsir al-Kabir. 5. Al-Zamakhsyari, Al-Kasysyaf.[10] Transliterasi yang digunakan mengikut kaedah Indonesia. Sebagai contoh; 1. Dh = 2. Th = 3. Sh = 4. aa - sebagai tanda bacaan fathah yang panjang. [ [ [

5. ii - sebagai tanda bacaan kasrah yang panjang.[11] Sebelum penterjemahan pada setiap surah dibuat, ia didahului dengan mukadimah yang menyatakan beberapa perkara penting yang dihuraikan dalam bentuk sinopsis. Secara umumnya, bahagian ini menyatakan bilangan ayat, pengkategorian al-Makki atau al-Madani, pendefinisian nama pada setiap surah, nama-nama lain bagi surah dan topik-topik penting yang dibincangkan pada keseluruhan surah. Dalam menyatakan topik-topik penting ini ia dibahagikan kepada empat bahagian; 1. Keimanan: Bahagian ini dinyatakan secara ringkas konsep-konsep keimanan yang dibincangkan pada surah. 2. Hukum-hukum: Bahagian ini dinyatakan secara ringkas tentang perbincangan mengenai hukum yang boleh dipetik dari surah. 3. Kisah-kisah: Bahagian ini memberikan gambaran ringkas mengenai kisah yang terdapat pada surah. 4. Lain-lain: Bahagian ini memasukkan perbincangan selain dari tiga bahagian di atas seperti balasan perbuatan baik,akibat perbuatan buruk, nikmat Allah yang tidak terhitung dan sebagainya. Teknik penulisan terjemahan dalam kitab ini adalah secara bersebelahan antara ayat dan terjemahan pada setiap lembaran.[12] Konsep terjemahan yang dibuat, ialah berdasarkan tahlili mawdui. Penterjemah membahagikan kepada tajuk-tajuk penting yang ada pada setiap surah dengan ditulis secara huruf besar, kecuali surah al-Fatihah dengan tidak ditulis tajuk padanya.[13] Di antara surah-surah yang paling banyak tajuk-tajuk penting di dalamnya ialah surah al-Maidah sebanyak lapan belas tajuk. Ia dimulai dengan tajuk JANJI PRASETIA KEPADA ALLAH DAN PENYEMPURNAAN AGAMA ISLAM dan diakhiri dengan tajuk BEBERAPA KISAH TENTANG ISA A.S.. Adapun yang paling sedikit sekali ialah satu tajuk seperti surah al-Ikhlas, al-Falaq, al-Nas dan sebagainya. Setiap tajuk itu pula terdapat tajuk-tajuk kecil sebagai pendetilan tajuk-tajuk besar tersebut. Sebagai contoh, pada awal surah al-Baqarah diberi tajuk besar yang berbunyi TIGA GOLONGAN MANUSIA DALAM MENGHADAPI AL-QURAN. Selepas tajuk besar itu terdapat tajuk-tajuk kecil yang menjelaskan tajuk besar tersebut iaitu; 1. Golongan Mukmin. 2. Golongan Kafir. 3. Golongan Munafik.[14] Terdapat nota kaki yang menjelaskan atau mentafsirkan terjemahan yang dibuat. Penjelasan pada nota kaki ini boleh dikatakan sebagai tahlili kerana ia meliputi dari segi pendapatpendapat ulama tafsir terhadap sesuatu kalimah atau ayat, sebab-sebab nuzul, nasikh mansukh, qiraat dan sebagainya. Contoh-contoh perkara di atas dapat dilihat dalam kitab ini seperti; 1. Pendapat ulama tafsir terhadap sesuatu kalimah atau ayat: Dalam menhuraikan maksud ayat 5 surah al-Anfal;

Penterjemah mengambil pendapat al-Maraghi yang menyatakan: Allah mengatur pembahagian harta rampasan perang dengan kebenaran, sebagaimana Allah menyuruhnya pergi dari rumah (di Madinah) untuk berperang ke Badar dengan kebenaran pula. Manakala pendapat al-Tabari: Keluar dari rumah dengan maksud berperang.[15] [ [ [ [ [

2. Pada menyatakan sebab-sebab nuzul, penterjemah ada membawa riwayat al-Tabari berkenaan ayat 115 surah al-Baqarah;

Al-Tabari menyebutkan bahawa ayat ini turun berkenaan tentang suatu kaum yang suatu ketika tidak dapat melihat arah kiblat yang tepat, sehingga mereka salat ke arah yang berbeda-beda.[16] 3. Contoh nasikh mansukh dalam kitab ini dinyatakan pada membicarakan ayat 180 surah al-Baqarah;

Maruf ialah adil dan baik. Wasiat itu tidak melebihi sepertiga dari seluruh harta orang yang akan meninggal itu. Ayat ini dinasakhkan dengan ayat mawarith.[17] 4. Dalam bab qiraat penterjemah ada menyatakan pada ayat 4 surah al-Fatihah;

Maalik (Yang menguasai), dengan memanjangkan mim ia bererti: pemilik (yang empunya). Dapat pula dibaca dengan Malik (dengan memendekkan mim) berarti raja.[18] Nota kaki yang dibuat adalah mengikut turutan dari awal surah hingga akhir surah al-Quran yang bilangannya mencapai angka 1,610 nota kaki. Jika terdapat pengulangan dari segi penjelasan pada nota kaki, metod yang digunakan seperti; 1. Jika ia merupakan suatu penjelasan terhadap sesuatu kalimah ia akan ditulis seperti Lihat yang dimaksud dengan . not no. [19]. 2. Jika ia merupakan penjelasan berkenaan sesuatu kisah, ia akan ditulis seperti Lihat kembali kisah kaum Luth ini pada surat ( )[20] ayat . s/d[21] .. 3. Jika ia merupakan huraian terhadap sesuatu terjemahan, ia akan ditulis seperti Lihat not .. Dalam membicarakan pada ayat-ayat akidah penterjemah lebih berminat mengambil pendapat Asyariyyah. Sebagai contoh pada ayat 255 surah al-Baqarah;

Kursi dalam ayat ini oleh sebahagian mufassirin diartikan dengan ilmu Allah dan ada pula yang mengartikan dengan kekuasaanNya. Pendapat yang sahih terhadap makna Kursi ialah tempat letak telapak kakiNya.[22] Terdapat juga penjelasan sesuatu ayat yang diambil dari mafhum sesuatu hadith dan dinilai oleh penterjemah dengan menyatakan rujukan kitab hadith yang diambil dan bab pada kitab tersebut. Sebagai contoh pada membicarakan ayat 144 dari surah Ali Imran;

Abu Bakar r.a. mengemukakan ayat ini di mana terjadi pula kegelisahan di kalangan para sahabat di hari wafatnya Nabi Muhammad s.a.w. untuk mententeramkan Umar Ibnul Khaththab r.a. dan sahabat-sahabatnya yang tidak percaya tentang kewafatan Nabi itu. (Sahih Bukhari bab Ketakwaan Sahabat).[23] Penterjemah mengakhiri setiap surah dengan membuat kesimpulan terhadap keseluruhan surah, yang ditulis padanya sebagai PENUTUP. Seterusnya dinyatakan hubungkait antara surah samada pada permulaan, isi kandungan atau pengakhirannya. Sebagai contoh pada membicarakan HUBUNGAN SURAT AN NABA DENGAN SURAT AN NAAZIAAT.; 1. Surat An Naba menerangkan ancaman Allah terhadap sikap orang-orang musyrik yang mengingkari adanya hari berbangkit, serta mengemukakan bukti-bukti adanya hari berbangkit, sedang pada surat An [ [ [ [ [ [ [ [

Naaziaat Allah bersumpah bahawa hari kiamat yang mendahului hari berbangkit itu pasti terjadi. 2. Sama-sama menerangkan huru-hara yang terjadi pada hari kiamat dan hari berbangkit.[24] 5. Kesimpulan Setelah ditinjau secara rambang kitab Al-Quran dan Terjemahnya, penulis mendapati ia merupakan kitab yang cukup menarik dan mudah difahami. Ini kerana terjemahan yang dibuat tidak terlalu panjang dan tidak terlalu ringkas. Selain dari itu huraian-huraian atau penjelasan yang dibuat pada nota kaki, menggambarkan penterjemah cukup teliti dan memahami keperluan pembaca yang terdiri dari orang awam. Sehubungan dengan itu, penulis percaya kitab ini mendapat perhatian pembaca dan tidak hairanlah kitab ini dipilih untuk dicetak di Mujamma al-Malik al-Fahd li Tibaat al-Mushaf al-Syarif di Madinah untuk disebarkan kepada masyarakat Islam di rantau ini. Penulis berpendapat agar kitab ini dapat diperbaiki lagi penterjemahannya terutama dari segi akidah kepada yang lebih selamat dan berlandaskan ahli sunnah wal jamaah.
[ [

1] Biografi pengarang diambil dari http//www.rizki-putera.com./hasbi.htm 2] Muhammad Nur Lubis, Data-data Terbitan Awal Penterjemahan Dan Penafsiran Al-Quran Di Alam Melayu, Terbitan Al-Hidayah Publishers, Kuala Lumpur, cetakan pertama 2002. Hlm 99 [ 3] Prof. T.M Hasbi ash Shiddieqy, Dr. Tafsir al-Bayan, PT Almaarif, Bandung, J 1, hlm 7. [ 4] Ibid [ 5] Muhammad Nur Lubis, op.cit, hlm 100-101 [ 6] Surah al-Maidah : 15 [ 7] Lihat lampiran m/s: 16 [ 8] Siddiqi, Prof. Dr. Nourouzzaman MA, (1997) Fiqh Indonesia, Yogyakarta. [ 9] Lihat lampiran m/s: 17 [ 10] Lihat lampiran m/s: 21 [ 11] Lihat lampiran m/s: 19 [ 12] Lihat lampiran m/s: 20 [ 13] Penulis berpendapat ia sesuai dengan fungsinya sebagai Umm al-Kitab. [ 14] Lihat lampiran m/s: 18 [ 15] Lihat nota kaki no. 596. [ 16] Lihat nota kaki no. 83. [ 17] Lihat nota kaki no. 112. [ 18] Lihat nota kaki no. 4. [ 19] No. di atas bermaksud nombor rujukan pada nota kaki sebelumnya. [ [ [ [ [ [ [ [ [ [ [ [ [ [ [ [ [ [ [ [

[ [

20] Dalam kurungan bermaksud no. bilangan surah yang terdapat dalam al-Quran. 21] Penulis berpendapat ia bermaksud sehingga datang. [ 22] Lihat nota kaki no. 161. [ 23] Lihat nota kaki no. 234. [ 24] Lihat m/s: 1017.

[ [ [ [ [

Tafsir Al-Mishbah
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Belum Diperiksa Langsung ke: navigasi, cari Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia
Merapikan artikel bisa berupa membagi artikel ke dalam paragraf atau wikifikasi artikel. Setelah dirapikan, tolong hapus pesan ini.

Tafsr al-Mishbh adalah karya monumental Muhammad Quraish Shihab dan diterbitkan oleh Lentera Hati. Tafsir al-Misbah adalah sebuah tafsir al-Quran lengkap 30 Juz pertama dalam kurun waktu 30 tahun terakhir. Warna keindonesiaan penulis memberi warna yang menarik dan khas serta sangat relevan untuk memperkaya khazanah pemahaman dan penghayatan umat Islam terhadap rahasia makna ayat Allah SWT.

Sekilas Tentang Isi Tafsir

M. Quraish Shihab dalam rekaman "Kultum" di RCTI (2007) M. Quraish Shihab memulai dengan menjelaskan tentang maksud-maksud firman Allah swt sesuai kemampuan manusia dalam menafsirkan sesuai dengan keberadaan seseorang pada lingkungan budaya dan kondisisosial dan perkambangan ilmu dalam menangkap pesan-pesan al-Quran. Keagungan firman Allah dapat menampung segala kemampuan, tingkat, kecederungan, dan kondisi yang berbeda-beda itu. Seorang mufassir di tuntut untuk menjelaskan nilai-nilai itu sejalan dengan perkembangan masyarakatnya, sehingga al-Quran dapat benar-benar berfungsi sebagai petunjuk, pemisah antara yang haq dan bathil serta jalan keluar bagi setiap probelam kehidupan yang dihadapi, Mufassir dituntut pula untuk menghapus kesalah pahaman terhadap al-Quran atau kandungan ayat-ayat. M. Quraish Shihab juga memasukkan tentang kaum Orientalis mengkiritik tajam sistematika urutan ayat dan surah-surah al-Quran, sambil melemparkan kesalahan kepada para penulis wahyu. Kaum orientalis berpendapat bahwa ada bagian-bagian al-Quran yang ditulis pada masa awal karier Nabi Muhammad saw. Contoh bukti yang dikemukakannya antara lain adalah: QS. Al-Ghasyiyah. Di sana gambaran mengenai hari kiamat dan nasib orang-orang durhaka, kemudian dilanjutkan dengan gambaran orang-orang yang taat. Kemudian beliau mengambil tokoh-tokoh para ulama tafsir, tokoh-tokohnya seperti: Fakhruddin ar-Razi (606 H/1210 M). Abu Ishaq asy-Syathibi (w.790 H/1388 M), Ibrahim Ibn Umar al-Biqai (809-885 H/14061480 M), Badruddin Muhammad ibn Abdullah Az-Zarkasyi (w.794 H) dan lain-lain yang menekuni ilmu Munasabat al-Quran/keserasian hubungan bagian-bagian al-Quran. Ada beberapa prinsip yang dipegangi oleh M. Quraish Shihab dalam karya tafsirnya, baik tahll maupun mawdh, di antaranya bahwa al-Quran merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Dalam al-Mishbh, beliau tidak pernah luput dari pembahasan ilmu al-munsabt yang tercermin dalam enam hal:

keserasian kata demi kata dalam satu surah; keserasian kandungan ayat dengan penutup ayat (fawshil); keserasian hubungan ayat dengan ayat berikutnya; keserasian uraian awal/mukadimah satu surah dengan penutupnya; keserasian penutup surah dengan uraian awal/mukadimah surah sesudahnya; Keserasian tema surah dengan nama surah. Tafsr al-Mishbh banyak mengemukakan uraian penjelas terhadap sejumlah mufasir ternama sehingga menjadi referensi yang mumpuni, informatif, argumentatif. Tafsir ini tersaji dengan gaya bahasa penulisan yang mudah dicerna segenap kalangan, dari mulai akademisi hingga masyarakat luas. Penjelasan makna sebuah ayat tertuang dengan tamsilan yang semakin menarik atensi pembaca untuk menelaahnya. Begitu menariknya uraian yang terdapat dalam banyak karyanya, pemerhati karya tafsir Nusantara, Howard M. Federspiel, merekomendasikan bahwa karya-karya tafsir M. Quraish Shihab pantas dan wajib menjadi bacaan setiap Muslim di Indonesia sekarang. Dari segi penamaannya, al-Mishbah berarti lampu, pelita, atau lentera, yang mengindikasikan makna kehidupan dan berbagai persoalan umat diterangi oleh cahaya alQuran. Penulisnya mencitakan al-Quran agar semakin membumi dan mudah dipahami. Tafsr al-Mishbh merupakan tafsir Al-Quran lengkap 30 juz pertama dalam 30 tahun terakhir, yang ditulis oleh ahli tafsir terkemuka Indonesia : Prof. Dr. M. Quraish Shihab. Ke-Indonesiaan penulis memberi warna yang menarik dan khas serta sangat relevan untuk memperkaya khasanah pemahaman dan penghayatan kita terhadap rahasia makna ayat-ayat Allah. Mari terangi jiwa dan keimanan kita dengan Tafsr al-Mishbh sekarang juga. Buku ini terdiri dari 15 volume: Volume 1 : Al-Fatihah s/d Al-Baqarah Halaman : 624 + xxviii halaman Volume 2 : Ali-Imran s/d An-Nisa Halaman : 659 + vi halaman Volume 3 : Al-Maidah Halaman : 257 + v halaman Volume 4 : Al-Anam Halaman : 367 + v halaman Volume 5 : Al-Araf s/d At-Taubah Halaman : 765 + vi halaman Volume 6 : Yunus s/d Ar-Rad Halaman : 613 + vi halaman Volume 7 : Ibrahim s/d Al-Isra Halaman : 585 + vi halaman Volume 8 : Al-Kahf s/d Al-Anbiya Halaman : 524 + vi halaman Volume 9 : Al-Hajj s/d Al-Furqan Halaman : 554 + vi halaman Volume 10 : Asy-Syuara s/d Al-Ankabut Halaman : 547 + vi halaman Volume 11 : Ar-Rum s/d Yasin Halaman : 582 + vi halaman Volume 12 : Ash-Shaffat s/d Az-Zukhruf Halaman : 601 + vi halaman Volume 13 : Ad-Dukhan s/d Al-Waqiah Halaman : 586 + vii halaman Volume 14 : Al-Hadid s/d Al-Mursalat Halaman : 695 + vii halaman Volume 15 : Juz Amma Halaman : 646 + viii halaman

Tafsir Mahmud Yunus

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Mahmud Yunus merupakan salah seorang Mufassir Indonesia yang mampu menafsirkan al-Quran 30 Juz lengkap. Ia tumbuh pada saat penerjemahan al-Quran ke dalam bahasa Indonesia merupakan hal yang diharamkan pada Ulama semasanya. Tindakannya yang progresif ini terbukti menyadarkan kita bahwa Tafsir bukanlah karya yang mustahil jika umat Islam benar-benar mengkaji keilmuan dan persyaratan penafsiran. Islam menjadi semakin difahami dengan adanya Tafsir-tafsir bahasa Indonesia yang bermunculan di abad 20-an. Karnanya agama merupakan salah satu upaya agar mampu meningkatkan moralitas ummat yang kini menurun. Lahirnya Tafsir masakini juga tidak luput dari upaya ulama masa lalu yang turut mengkaji dan menafsirkan al-Quran meskipun masih tergolong penafsiran yang gobal. Namun sejarah membuktikan bahwa eksistensi dari progresifitas ummat yang berkembang dan maju harus sebenarnya telah ddimulai dari sejarah. Karenanya tiap decade dan periode hendaknya menciptakan sejarahnya sendiri khususnya Umat Islam dalam bidang terpenting yakni penafsiran al-Quran.

B. Rumusan Masalah a. b. Biografi dan karya-karya Mahmud Yunus Sekilas tentang kitab Tafsir al-Quran al-Karim , metode, corak, sistematika, dan contoh penafsirannya.

PEMBAHASAN

A. Biografi Prof. DR. H. Mahmud Yunus 1. Profil Mahmud Yunus Mahmud Yunus dilahirkan dari pasangan Yunus B. incek dan hafsah binti Imam Samiun, Mahmud Yunus lahir pada tanggal 10 februari 1899 M/30 Ramadhan 1316 H, di desa Sunggayang, Batusangkar, Sumatra Barat. Ayahnya adalah seorang imam, sedangkan ibunya adalah anak dari Engku Gadang M.Thahir bin Ali. Ketika usianya masih balita, ayah ibunya Mahmud Yunus bercerai, ia ikut ibunya, dan hanya sekali ayahnya menjenguknya.[1] Mahmud Yunus tumbuh dikalangan keluarga yang taat beragama. Ayahnya bernama Yunus bin Incek, seorang pengajar di Surau dan Ibunya Hafsah binti Imam Samiun adalah anak Engku Gadang M. Tahir bin Ali, pendiri serta pengasuh surau si wilayah tersebut. [2] Meski ada yang mengatakan bahwa ayah dan Ibu Mahmud Yunus bercerai sejak balita, namun Yunus tetap antusias dalam belajar baik agama maupun umum. Yunus memulai pendidikannya dengan belajar Alquran dan bahasa Arab, yang langsung ia peroleh dari kakeknya. Di samping mendapat pendidikan agama, Yunus juga pernah bersekolah di pendidikan sekuler, yakni di Sekolah Desa pada tahun 1908. Tahun pertama Sekolah Desa ia selesaikan hanya dalam masa 4 (empat) bulan, karena ia memperoleh penghargaan untuk dinaikkan ke kelas berikutnya. Pendidikan di Sekolah Desa hanya dijalaninya selama kurang dari tiga tahun. Sebab, pada waktu belajar di kelas empat, Yunus menunjukkan ketidakpuasannya terhadap mata pelajaran di sekolah tersebut. Karena merasa masih haus pengetahuan, Yunus lantas pindah belajar di madrasah milik H. M Thaib Umar di Tanjung Pauh Sunggayang. Madrasah ini bernama Madras School. Di sekolah ini, ia mempelajari ilmu Nahwu, ilmu Sharaf, Berhitung dan Bahasa Arab. Siang hari ia belajar disana dan malam harinya mengajar di Surau kakeknya.[3] Di tangan Thaib Umar ini Yunus dapat mempelajari pelbagai disiplin keilmuan Islam. Selain ilmuilmu keagamaan yang ia dapatkan, Ia juga mewarisi semangat pembaharuan sang guru. Pada tahun 1917, Syekh H.M. Thaib Umar sakit. Karena itu, Yunus secara langsung ditugasi untuk menggantikan gurunya memimpin Madras School. Saat bersamaan, dalam rentang waktu 1917-1923, di Minangkabau tengah tumbuh gerakan pembaruan Islam yang dibawa oleh para alumni Timur Tengah. Umumnya, pembaruan Islam ini terwujud dalam dua bentuk, yakni purifikasi dan modernisasi. Para alumni Timur Tengah lebih condong dalam gerakan purifikasi, yaitu gerakan yang bertujuan untuk mengembalikan Islam ke zaman awal Islam dan menyingkirkan segala tambahan yang datang dari zaman setelahnya.[4] Tak heran hanya dalam waktu empat tahun ia telah dipercaya oleh sang Guru untuk menggantikannya mengajar bahkan mewakilinya dalam forum akbar ulama Minangkabau tahun 1919 di Padang Panjang. Lalu [ [ [ [ Herry Mohammad, dkk. Tokoh-tokoh Islam Yang Berpengaruh Abad 20, (Jakarta: Gema Insani Press, 2006). Hal. 85-86 2] Saiful Amin Ghofur, Profil Para Mufassir, (Yogyajarta: Pustaka Insan Madani, 2008), hal: 197 3] http://menyempal.wordpress.com/kajian-pemikiran/tafsir-alquran-mahmud-yunus/ di unduh pkl 12:19 tgl 20-10-11 4] http://menyempal.wordpress.com/kajian-pemikiran/tafsir-alquran-mahmud-yunus/ di unduh pkl 12:19 tgl 20-10-11
1]

pada tahun 1920 Yunus membentuk perkumpulan pelajar Islam yang juga menerbitkan majalah al-Basyir, dan Yunus sebagai pemimpi redaksinya. Pada tahun 1924, Yunus mendapat kesempatan untuk belajar di alazhar, Kairo-Mesir. Dalam tempo setahun ia mampu mempelajari ushul fiqh, fiqh hanafi dan tafsir. Karena kebriliannya ini ia mendapatkan Syahadah alimiyah dari al-Azhar , dan menjadi orang kedua yang menyabet predikat tersebut.[5] kemudian pada tahun 1926-1930 belajar di madrasah darul ulum ulya, beliau adalah orang Indonesia yang pertama belajar disini. Beliau mengambil takhasshus tadris sampai memperoleh ijazah tadris (diploma guru).[6] Kemampuan mengajar yang ia miliki sejak masih belajar di Batusangkar memantabkan karier ke-guruannya terutama setelah ia kembali dari Mesir. Secara terus menerus Mahmud Yunus mengajar dan memimpin berbagai sekolah, yakni pada al-Jamiah al-Islamiyah Batusangkar (1931-1932), Kuliyah Mualimin Islamiyah Noramal Islam Padang (1932-1946), Akademi Pramong Praja di Bukit Tinggi (19481949), Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) Jakarta (1957-1980), menjadi Dekan dan Guru Besar pada fakultas Tarbiyah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1960-1963), Rektor IAIN Imam Bonjol Padang (19661071). Atas jasa-jasanya dibidang pendidikan ini, pada 15 Oktober 1977, IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta menganugerahi Mahmud Yunus Doctor Honoris Causa dalam Ilmu Tarbiyah.[7] Selain itu Yunus juga sering berkunjung ke luar negri, baik sebagai tugas yang diberikan pemerintah kepada beliauu maupun atas undangan untuk menghadiri berbagai muktamar. Prof. DR. H. Mahmud Yunus juga banyak menulis buku, terutama buku pelajaran agama islam untuk anak-anak, termasuk pula tafsir dan terjemahan al-quran.[8] Pada awal tahun 1970 kesehatan Mahmud Yunus menurun dan bolak balik masuk rumah sakit. Sepanjang hidupnya, Mahmud menulis tak kurang dari 43 buku. Pada tahun 1982, Mahmud Yunus meninggal dunia. 2. Karya-karya Mahmud Yunus Pada perjalanan hidupnya, ia telah menghasilkan buku sebanyak 82 buah meskipn sebagian menyebutkan karyanya hanya berkisar 43 buku. Dari jumlah itu, Yunus membahas berbagai bidang ilmu, yang sebagian besar adalah bidang-bidang ilmu agama Islam, seperti bidang Fiqh, bahasa Arab, Tafsir, Pendidikan Islam, Akhlak, Tauhid, Ushul Fiqh, Sejarah dan lain-lain. Di antara bidang-bidang ilmu yang disebutkan, Yunus lebih banyak memberi perhatian pada bidang pendidikan Islam, bahasa Arab (keduanya lebih banyak memfokus pada segi metodik), bidang Fiqh, Tafsir dan Akhlak yang lebih memfokus pada materi sajian. Sesuai dengan kemampuan bahasa yang ia miliki, buku-bukunya tidak hanya ditulis dalam bahasa Indonesia, akan tetapi juga dalam bahasa Arab. Ia memulai

[ [ [ [

Saiful Amin hal: 198 Herry Mohammad, dkk Hal. 85-86 http://pusat-akademik.blogspot.com/2008/10/tafsir-al-quran-al-karim-mahmud-yunus.html, di unduh pkl 12:19 tgl 20-10-11 8] Mahmud Yunus. Tafsir al-Quran al-Karim, (Jakarta: PT.Hidakarya Agung,1969). Lihat kulit depan tafsir beliau.
5] 6] 7]

mengarang sejak tahun 1920, dalam usia 21 tahun. Karirnya sebagai pengarang tetap ditekuninya pada masa-masa selanjutnya. Yunus senantiasa mengisi waktu-waktunya untuk menulis, dalam situasi apapun.[9] Adapun diantara karya-karya Mahmud Yunus ialah:[10] 1. Tafsir al-Quran tamat 30 juz, tahun 1938. 2. Hukum Warisan dalam Islam. untuk tingkat Aliyah. 3. Perbandingan Agama, untuk tingkat Aliyah. 4. Hukum perkawinan dalam Islam, 4 Madzhab. 5. Ilmu Mustalahul Hadist, bersama H. Mahmud Aziz. 6. Kesimpulan isi al-Quran, untuk Muballigh-Muballigh / umum. 7. Allah dan Makhluq-Nya, Ilmu Tauhid menurut Al-Quran. 8. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. 9. Pendidikan-Pendidikan Umum di Negara-negara Islam/Pendidikan Barat. 10. Ilmu Jiwa kanak-kanak, kuliyah untuk kursus-kursus. 11. Pedoman Dakwah Islamiyah, kuliyah untuk dakwah. 12. Dasar-dasar Negara Islam. 13. Juz Amma dan terjemahnya. B. Sekilas Tentang Tafsir al-Quran al-Karim Secara singkat, aktivitas seputar Al Quran di Indonesia dirintis oleh Abdur Rauf Singkel, yang menerjemahkan Al Quran ke dalam bahasa Melayu, pada pertengahan abad XVII. Upaya rintisan ini kemudian diikuti oleh Munawar Chalil (Tafsir Al Quran Hidayatur rahman), A.Hassan Bandung (Al-Furqan, 1928), Mahmud Yunus (Tafsir Quran Indonesia, 1935). [11] Dalam konsep Howard M. Federspiel, ia membagi kemunculan dan perkembangan Tafsir di Indonesia dalam 3 periode. Yakni periode pertama mulai abad ke-20 ditandai dengan penafsiran terpisah-pisah, periode kedua (1960) dengan ditandai dengan catatan kaki kemudian periode ketiga (1970) ditandai dengan penjelasan yang lebih luas dari periode kedua.[12] Karya Mahmud Yunus tetap menjadi literature yang paling popular di bandingkan karya Tafsir semasanya meskipun kemudian lahirlah karya-karya Tafsir yang lebih ilmiah.[13] Sedangkan Baidan mengelompokkan , setidaknya ada enam buah karya Tafsir yang muncul pada masa Mahmud Yunus yang berturut-turut hingga menjelang kemerdekaan Indonesia menurut Nashruddin Baidan: a. A.Hassan Bandung (Al-Furqan, 1928) b. Al-Quran Indonesia oleh Syarikat Kweek School Muhammadiyah (1932) [ [
9] Saiful Amin hal: 200 10] http://pusat-akademik.blogspot.com/2008/10/tafsir-al-quran-al-karim-mahmud-yunus.html,

di unduh pkl

12:19 tgl 20-10-11 [ 11] http://luluvikar.wordpress.com/2004/12/22/arkeologi-pemikiran-tafsir-di-indonesia/ diunduh pada 12:59 [12] Islah Gusmian, Khazanah Tafsir di Indonesia, (Bandung: penerbit Teraju, 2003), hal: 65 [13] Howard M. Federspiel, Kajian al-Quran di Indonesia, (Bandung: Penerbit Mizan, 1994), hal: 130

c. e. f.

Tafsir Hibarna oleh Iskandar Idris (1934) Tafsir Al-Qurannul karim oleh Mahmud Yunus (1938) Tafsir Quran Bahasa Indonesia oleh Mahmud Aziz (1942) Jika keenam kitab tersebut diamati secara seksama maka secara umum penafsiran mereka belum terlau signifikan perkembangannya. Namun bagaimanapun karya para Ulama tersebut sangat berarti karena merupakan upaya konkrit dan sistematis dalam usaha untuk memahami al-Quran. [14] Manfaat tersebut juga dapat dirasakan pada generasi-generasi setelahnya. Bila diteliti lebih lanjut lagi, dalam penafsiran yang mereka berikan secara umum masih dipengaruhi oleh budaya dan tradisi Arab sehingga budaya dan bahasa Indonesia belum terlihat secara ekplisit.[15] Selanjutnya, Mahmud Yunus mulai menterjamahkan al-Quran dan diterbitkan tiga juz dengan huruf arab-melayu pada tahun 1922. Meskipun saaat itu para ulama mengharamkan penterjemahan al-Quran tetapi ia tetap berusaha untuk menterjemahkan al-Quran. [16] Pada bulan ramadhan tahun 1354 H/Desember 1935, Mahmud mulai menterjemahkan al-Quran serta tafsir ayat-ayat yang di anggap penting, yang kemudian dinamai dengan tafsir al-Quran al-Karim. Pada waktu menterjemahkan juz 7 sampai juz 18 beliau dibantu oleh almarhum H. M. K. Bakry, pada bulan april 1938 beliau menyelesaikan tiga puluh juz dan di sebar luaskan keseluruh Indonesia. Setelah Indonesia merdeka, pada tahun 1950 dengan persetujuan menteri agama almarhum Wahid Hasyim, salah satu penerbit Indonesia hendak menerbitkan tafsir al-Quran al-Karim itu dengan mendapat fasilitas kertas dari menteri agama dan dicetak sebanyak 200.000 eksemplar. Kabarnya ada bantahan dari ulama Yagyakarta, supaya diberhentikan mencetak tafsir al-Quran itu, bantahan itu dikirimnya kepada menteri agama R.I. hingga membuat percetakan tidak lagi mau menerbitkan Tafsir al-Quranul Karim. Akhirnya di ambil alih oleh M.Baharta direktur percetahan Maarif Bandung, lalu dicetak dan diterbitkan sebanyak 200.000 eksemplar dan dijualnya dengan harga Rp. 21.00 per eksemplar. Pada tahun 1953 M seorang ulama dari Jatinegara membantah pula, bantahan itu dikirimnya pada Presiden R.I. dan menteri Agama. Salinannya disampaikan kepada beliau (Mahmud Yunus) oleh kementerian agama, kemudian beliau membalas suratnya dengan panjang lebar dan mengukuhkan pendiriannya untuk tetap menerbitan Terjemah alQuran yang merupakan Tafsir Bahasa Indonesia pertama tersebut. Tembusannya beliau kirimkan kepada Presiden R.I. dan menteri agama, akhirnya tidak ada yang mengganggu gugat lagi. Kemudian setelah menyelesaikan percetakan itu, beliau bersama istrinya (Darisah binti Ibrahim) meneruskan usahanya dalam menerbitkan tafsir al-Quran al-Karim itu. Terjadi beberapa kali revisi, diantaranya ialah merevisi dari penulisan arab melayu menjadi bahasa Indonesia dengan penulisan latin sebelum kemudian tafsir al-Quran al-Karim diterbitkan oleh CV. Al-Hidayah.

d. Tafsir asy-Syamsiyah oleh KH. Sanusi (1935)

[ [ [

Nashruddin Baidan, Perkembangan Tafsir al-Quran di Indonesia, (Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2003) hal: 88 15] Nashruddin Baidan hal: 89 16]Mahmud Yunus. Tafsir al-Quran al-Karim, (Jakarta: PT.Hidakarya Agung,1969), hal. III Pendahuluan
14]

1. Motivasi penulisan Tafsir Sejak kecil Mahmud Yunus telah mempelajarari berbagai displin keagaman Islam terutama bahasa Arab. Ia telah mencintai ilmu-ilmu kebahasaan dan juga menguasai metode mengajar. Minatnya terhadap studi al-Quran serta bahasa arab telah menimbulkan hasrat besar dalam diri Mahmud Yunus untuk menulis tafsir al-Quran yang kemudian menjadi karya monumentalnya sendiri yang tetap populer sampai saat ini. Selain itu kebutuhan untuk mengajar dan menjadikan al-Quran aar lebih mudah dipahami oleh umat Islam di Nusantara. Penulisan tafsir ini dimulai pada November 1922 yang dilakukan secara berangsur-angsur juz demi juz sampai dengan selesai juz ke-tiga puluh. Perlu di garis bawahi disini bahwa upaya penulisan Mahmud Yunus ketika itu, merupakan tindakan yang cukup berani disaat masih maraknya pandangan yang mengatakan bahwa haram menterjemahkan al-Quran. 2. Sistematika Penulisan Tafsir Kitab ini terdiri dari dua jilid yaitu pertama satu jilid tamat dari juz 1 sampai dengan 30, kedua , tiga jilid, pertama dari juz 1 sampai dengan juz 10, jilid kedua dari juz 11 sampai dengan 20, jilid ketiga dari juz 21 sampai dengan 30. Tafsir al-Quran ini sistematika penafsirannya sama seperti isi al-Quran dan terjamahan disamping kanan ayat (setiap ayat) kemudian terjemahannya dibawahnya terdapat penafsiran. Sistematika penafsiran Mahmud Yunus menafsirkan seluruh ayat sesuai susunannya dalam mushaf al-Quran ayat demi ayat, surat demi surat, dimulai dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surah an-Naas. Maka secara sitematika penafsiran tafsir ini menempuh tartib Mushaf.[17] 3. Sumber-sumber tafsir al-Quran al-Karim: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Tafsir al-Quran dengan al-Quran Tafsir al-Quran dengan hadis yang shahih Tafsir al-Quran dengan perkataan sahabat Tafsir al-Quran dengan perkataan tabiin Tafsir al-Quran dengan ilmu bahasa arab bagi ahli ilmu lughah arabiyyah Tafsir al-Quran dengan ijtihad bagi ahli ijtihad. Jadi, sumber utama penafsiran Mahmud Yunus masih tergolong bil-matsur. 4. Referensi penafsiran dari pelpagai kitab-kitab tafsir, diantaranya adalah: 1) 2) 3) [ Tafsir al-Thabary Tafsir Ibn Katsir Tafsir al-Qasimy http://pusat-akademik.blogspot.com/2008/10/tafsir-al-quran-al-karim-mahmud-yunus.html, di unduh pkl 12:19 tgl 20-10-11
17]

4) 5)

Fajrul Islam Dhuhal Islam[18]

5. Metode dan corak Penafsiran al-Quran al-Karim Tafsir al-Quran Karim Mahmud Yunus ini menunjuk pada metode tahlili, suatu metode tafsir yagn bermaksud menjelaskan kandungan ayat-ayat al-Quran dan seluruh aspeknya. Dalam tafsir Mahmud Yunus, aspek kosa kata dan penjelasan arti global tidak selalu dijelaskan. Kedua aspek tersebut dijelaskan ketika dianggap perlu.[19] Dalam pandangan Nashruddin Baidan, Tafsir Mahmud Yunus ialah umum sebagaimana Tafsir yang tumbuh semasanya. Artinya belum ada suatu ke-khas-an yang khusus dalam Tafsirnya. 6. Kelebihan sistematika penulisan Tafsir al-Quran al-Karim 1) 2) 3) 4) Terjemahan al-Quran disusun baru, sesuai dengan perkembangan bahasa Indonesia Teks al-Quran dan terjemahan disusun sejajar, sehingga memudahkan pembaca untuk mencari terjemah. Keterangan-keterangan atau penafsirannya diletakkan dihalaman ayat yang bersangkutan (footnote) Keterangan-keterangan ayat ditambah dan diperluas, Mahmud Yunus juga menambahkan keterangan dan mengaitkannya dengan isu-isu kontemporer saat itu.[20] [21] 7. Contoh Penafsiran Contoh Tafsir Mahmud Yunus dalam surat An-Nisa ayat 9: u9ur %!$# qs9 (#q.ts? `B Og=yz Zph $y (#q%s{|
Ngn=t (#q)Gu=s !$# (#q9q)u9ur Zwqs% #y

Artinya: Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. Keterangan ayat 9: dalam ayat ini Allah menganjurkan kepada orang tua agar memikirkan akibat anak-anaknya yang masih lemah (kecil), bila ia meninggal dunia. Sebab itu hendaklah ia bertakwa dan berusaha meninggalkan harta pusaka untuk mereka. Janganlah mewasiatkan hartanya untuk fakir miskin dan amalan sosial lebih dari mestinya, supaya tidak terlantar kehidupan anak-anaknya yang masih kecil itu. Menurut islam, berwasiat itu hukumnya sunnah, sedang mendidik anak-anak hukumnya wajib. Yang wajib harus didahulukan daripada yang sunnah. Demikian hukum islam [ [ Mahmud Yunus. Tafsir al-Quran al-Karim, (Jakarta: PT.Hidakarya Agung,1969). Hal. VI pendahuluan http://pusat-akademik.blogspot.com/2008/10/tafsir-al-quran-al-karim-mahmud-yunus.html, di unduh pkl 12:19 tgl 20-10-11 [20] Seperti halnya dengan isu hukum ber-Jilbab di Indonesia. (Lihat di ayat-ayat Aurat dalam Tafsir alQuranul Karim) 21] Mahmud Yunus. Tafsir al-Quran al-Karim, (Jakarta: PT.Hidakarya Agung,1969), hal. VI-V Pendahuluan
18] 19]

8. Lampiran contoh Kitab Tafsir. Berikut ini penulis melampirkan contoh Kitan Tafsir al-Quran al-Karim karya Mahmud Yunus. Lampiran itu juga menunjukkan sistematika, karakteristik Tafsir, corak umum dan metode Tahily dan juga sumber penafsiran Bil Rayi karna upaya penerjemahan tersebut juga merupakan suatu ijtihad berdasarkan Rayu.

PENUTUP
Kesimpulan 1. Mahmud Yunus merupakan salah satu mufassir dan penulis produktif yang menulis sejak usia 21 tahun dan mengajar sejak dini. Minat dalam dunia pendidikan ini tidak hanya mengantarkannya ke berbagai daerah dan belahan dunia namun juga mempengaruhi sistem pendidikan agama Islam dimasanya hingga sekarang. Beliau adalah alah satu tokoh yang berpengaruh di Indonesia karena produktivitas tulisannya dan juga progresfitas pemikirannya. 2. Tafsir al-Quran al-karim merupakan penafsiran dengan corak umum dan global. Metode yang digunakannya juga tergolong tahlily. Penafsirannya masih sebatas penjelasan Al-Quran secara global dan belum sampai pada taraf yang khas dan khusus.

DAFTAR PUSTAKA Baidan, Nashruddin Perkembangan Tafsir al-Quran di Indonesia, Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2003 Federspiel, Howard M. Kajian al-Quran di Indonesia, Bandung: Penerbit Mizan, 1994 Ghofur, Saiful Amin, Profil Para Mufassir, Yogyajarta: Pustaka Insan Madani, 2008 Gusmian, Islah, Khazanah Tafsir di Indonesia, Bandung: penerbit Teraju, 2003 2003 Mohammad, Herry dkk. Tokoh-tokoh Islam Yang Berpengaruh Abad 20, Jakarta: Gema Insani Press, 2006 Yunus, Mahmud. Tafsir al-Quran al-Karim, Jakarta: PT.Hidakarya Agung,1969 http://menyempal.wordpress.com http://pusat-akademik.blogspot.com http://luluvikar.wordpress.com

Muhammad Hasbi
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Belum Diperiksa Langsung ke: navigasi, cari

Prof. Dr. T.M. Hasbi Ash Shiddieqy


Lahir Meninggal Agama Islam 10 Maret 1904 Lhokseumawe 9 Desember 1975 Islam

Profesor Doktor Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy lahir di Lhokseumawe , 10 Maret 1904 meninggal di Jakarta, 9 Desember 1975 pada umur 71 tahun.

Daftar isi

1 Keluarga 2 Pendidikan 3 Karya 4 Bacaan Lebih Lanjut: 5 Sumber

Keluarga
Ayahnya Teungku Qadhi Chik Maharaja Mangkubumi Husien ibn Muhammad Suud, adalah seorang ulama terkenal di kampungnya dan mempunyai sebuah pondok. Ibunya Teungku Amrah binti Teungku Chik Maharaja Mangkubumi Abdul Aziz , merupakan anak seorang Qadi Kesultanan Acheh ketika itu. Menurut salasilah, Hasbi ash Shiddieqy adalah berketurunan Abu Bakar al-Shiddiq (573-13/634M) yaitu khalifah yang pertama. Beliua merupakan generasi ke 37 dari Abu Bakar al-Shiddiq yang meletakkan gelaran ash Shiddieqy diakhir namanya.

Pendidikan
Prof. Dr. Teungku Muhammad Hasbi ash Shiddieqy mula mendapat pendidikan awalnya di pondok pengajian milik bapanya. Beliau menuntut ilmu di pelbagai pondok pengajian dari stu kota ke kota yang lain selama 20 tahun. Beliau mempelajari bahasa Arab dari gurunya yang bernama Syeikh Muhammad ibn Salim al-Kalali, seorang ulama berbangsa Arab. Pada tahun 1926 T.M Hasbi ash Shiddieqy berangkat ke Surabaya dan melanjutkan pelajarannya di Madrasah al-Irsyad yaitu sebuah organisasi keagamaan yang didirikan oleh Syeikh Ahmad Soorkati (1874-1943), seorang ulama yang berasal dari Sudan . Di Madrasah al-Irsyad Hasbi ash Shiddieqy mengambil takhassus dalam bidang pendidikan selama 2 tahun. Pengajiannya di al-Irsyad dan gurunya Ahmad Soorkati banyak memberi didikan ke arah pembentukan pemikiran moden. Beliau juga pernah menuntut di Timur Tengah.

Karya
Semasa hidupnya, Hasbi ash-Shiddieqy aktif menulis dalam berbagai disiplin ilmu, khususnya ilmu-ilmu keislaman. Menurut catatan, karya tulis yang telah dihasilkannya berjumlah 73 judul buku, terdiri dari 142 jilid, dan 50 artikel. Sebagian besar karyanya adalah buku-buku fiqh yang berjumlah 36 judul. Sementara bidang-bidang lainnya, seperti hadis berjumlah 8 judul, tafsir 6 judul, dan tauhid 5 judul, selebihnya adalah tema-tema yang bersifat umum. Karya terakhirnya adalah Pedoman Haji, yang ia tulis beberapa waktu sebelum meninggal dunia.

Karya Hasbi paling fenomenal adalah Tafsir an-Nur. Sebuah tafsir al-Qur`an 30 juz dalam bahasa Indonesia. Karya ini fenomenal karena tidak banyak ulama Indonesia yang mampu menghasilkan karya tafsir semacam itu. 1. : , Biro Kemahasiswaan I.A.I.N. "Sunan Kalidjaga", 1967 - 135 halaman. 2. 2002 [i.e. Dua ribu dua] mutiara hadiets, Bulan Bintang, 1962 - 576 halaman. 3. 2002 mutiara hadiets, Volume 1, Bulan-Bintang, 1955 - 584 halaman. 4. Al-Ahkaam:Hukum-hukum fiqih Islam, Volumes 1-2, Islamyah, 1951. 5. al-Islam, Bulan Bintang,", 1964. 6. Al Islam: kepertjaan, kesusilaan, amal kebadjikan, Islamyah, 1969 - 636 halaman. 7. al-Islm: penuntun bathin & pembimbing masjarakat, Bulan Bintang, 1956 - 934 halaman. 8. al Qurn mu'djiat jang terbesar jang tak terkalahkan: kandungan dan artinja bagi ummat Islam chususnja dan ummat manusia umumnja, s. n. - 44 halaman. 9. Biografie pelopor2 pahlawan Islam, Pustaka Alhambra, 1950 - 152 halaman. 10. Dasar-dasar Fiqih Islam, Tokobuku Islamyah, 1953 - 122 halaman. 11. Dasar-dasar ideologi Islam, Saiful, 1953 - 181 halaman. 12. Dasar-dasar kehakiman dalam pemerintahan Islam, C.V. Bulan-Bintang, 1955 - 94 halaman. 13. Fakta2 keagungan sjari'at Islam, Pudjangga Islam - 40 halaman. 14. Falsafah hukum Islam, Bulan Bintang, 1975 - 488 halaman. 15. Fighul mawaris: hukum-hukum warisan dalam syariat Islam, Bulan Bintang, 1973 - 324 halaman. 16. Fiqh Islam, Attahirijah - 476 halaman. 17. Fiqih Islam mempunyai daya elastis, lengkap, bulat dan tuntas, Bulan Bintang, 1975 - 168 halaman. 18. Hakikat Islam dan unsur-unsur agama, Menara Kudus, 1982 - 117 halaman. 19. Hukum antar golongan dalam fiqih Islam, Bulan Bintang, 1971 - 164 halaman. 20. Hukum-hukum fiqih Islam: yang berkembang dalam kalangan ahlus sunnah, Bulan Bintang, 1978 677 halaman. 21. Hukum perang dalam slam, Biro Kemahasiswaan I.A.I.N. Sunan Kalidjaga, 1967 - 91 halaman. 22. Ichtisar tuntunan zakah dan fithrah, Bulan Bintang, 1958 - 64 halaman. 23. Ideologi Islam dan qaedah pemerintahan, 1950 - 95 halaman. 24. Ilmu2 al-Qurn: media2 pokok dalam menafsirkan al-Qurn, Bulan Bintang, 1972 - 300 halaman. 25. Islam dan HAM (Hak Asasi Manusia): Dokumenter Politik Pokok-pokok Pikiran Partai Islam dalam Sidang Konsituante 4 Februari 1958, Pustaka Rizki Putra, 1999 - 93 halaman. 26. Ke arah fiqh Indonesia: mengenang jasa Prof. Dr. T.M. Hasbi Ash Shiddieqy, Forum Studi Hukum Islam, Fakultas Syari'ah, IAIN Sunan Kalijaga, 1994 - 158 halaman. 27. Kelengkapan dasar2 fiqih Islam: pengantar ushul fiqih, Islamyah, 1953 - 207 halaman. 28. Koleksi Hadits-hadits Hukum, 9 Jilid, Alma'arif, 1970. 29. Kriteria antara sunnah dan bid'ah, Thinker's Library, 1986 - 160 halaman. 30. Kulijah hadiets: sjarahan hadiets-hadietstasjrie' ibadah, Darul Irfan. 31. Kullijah 'ibdah: ibadah ditindjau dari segi hukum dan hikmah, Bulan Bintang, 1968 - 236 halaman. 32. Kumpulan soal-jawab dalam post graduate course jurusan ilmu fiqh dosen2 I. A. I. N., Bulan Bintang, 1973 - 108 halaman. 33. Kursus sembahjang dan do'a, Pustaka Madju - 96 halaman. 34. Lapangan perjuangan wanita Islam, Menara Kudus, 1952 - 40 halaman. 35. Lembaga pribadi, Madju - 175 halaman. 36. Mu'djizat al-Qurn, Bulan Bintang, 1966 - 56 halaman. 37. Mukhtrt min adth al-akm li-qism al-duktrh al-l, biro Kemahasiswaan I.A.I.N. alDjami'ah "Sunan Kalidjogo,", 1965 - 128 halaman. 38. Mutiara Hadis 1 (Keimanan). 39. Mutiara Hadis 2 (Thaharah & Shalat). 40. Mutiara Hadis 3 (Shalat). 41. Mutiara Hadis 4 (Jenazah, Zakat, Puasa, Iktikaf & Haji). 42. Mutiara Hadis 5 (Nikah & Hukum Keluarga, Perbudakan, Jual Beli, Nazar & Sumpah, Pidana & Peradilan, Jihad). 43. Pahala dan keutamaan ibadat, doa dan dzikir, Ramadhani - 78 halaman.

44. Pedoman dzikir dan doa, Bulan Bintang, 1964 - 568 halaman. 45. Pedoman Hajji, Thinker's Library, 1986 - 262 halaman. 46. Pedoman hukum Sjar'y jang berkembang dalam 'alam Islamy Sunny, Volume 1, Pustaka Islam, 1956 - 382 halaman. 47. Pedoman ibadat puasa, Bulan Bintang, 1954 - 144 halaman. 48. Pedoman puasa, Bulan Bintang, 1963 - 208 halaman. 49. Pedoman shalat, Bulan Bintang, 1963 - 478 halaman. 50. Pelajaran tauhid: pokok2 aqaid Islam : untuk pelajaran agama bagi sekolah2 permulaan dan umum, Madju, 1962 - 58 halaman. 51. Pemindahan darah (blood transfusion) dipandang dari sudut hukum agama Islam, Bulan-Bintang, 1954 - 24 halaman. 52. Pengantar hukum Islam, Bulan Bintang, 1968 - 432 halaman. 53. Pengantar fiqih mu'amalah, Bulan Bintang, 1974 - 216 halaman. 54. Pengantar ilmu fiqh, Bulan Bintang, 1978 - 272 halaman. 55. Pengantar ilmu perbandingan madzhab, Bulan Bintang, 1975 - 92 halaman. 56. Perbedaan mathla tidak mengharuskan kita berlainan hari pada memulai puasa, Ladjnah Talif Wan Nasjr Fakultas Sjariah Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalidjaga, 1971 - 35 halaman. 57. Perbendaharaan zakat, Al-Ma'arif, 1953 - 121 halaman. 58. Pidana mati (dalam syari'at Islam), Lembaga Penerbitan, Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga, 1974 - 24 halaman. 59. Pokok-pokok ilmu dirajah hadiets, Bulan Bintang, 1958 - 274 halaman. 60. Pokok-pokok pegangan imam-imam madzhab dalam membina hukum Islam, Bulan Bintang, 1973. 61. Pokok-pokok sebab perbedaan faham para ulama/fuqoha dalam menetapkan hukum syara, Ramadhani, 1973 - 24 halaman. 62. Polygami, menurut hukum Islam, C.V. "Bulan-Bintang", 1955 - 20 halaman. 63. Problematika bulan Ramadhan, Menara Kudus, 1972 - 59 halaman. 64. Problematika hadits sebagai dasar pembinan hukum Islam, Bulan Bintang, 1964 - 63 halaman. 65. Problematika 'iedul fithri, Menara Kudus, 1972 - 34 halaman. 66. Ridjalul hadiets: biographi 7 shahabi dan 18 tabi'in jang terkemuka dalam lapangan hadiets : kullijah hadiets, Biro Kemahasiswaan IAIN al-Djami'ah Jogjakarta - 155 halaman. 67. Sedjarah dan pengantar 'ilmu al-Qurn/tafsir, Bulan Bintang, 1965 - 272 halaman. 68. Sedjarah dan pengantar ilmu hadits, Bulan Bintang, 1965 - 276 halaman. 69. Sedjarah dan pengantar ilmu tafsir, Bulan-Bintang, 1955 - 180 halaman. 70. Sedjarah dan perdjuangan 40 pahlawan utama dalam Islam, Pustaka Islam, 1955 - 119 halaman. 71. Sedjarah kehakiman dalam pemerintahan2 Islam, Islamyah, 1950 - 76 halaman. 72. Sedjarah peradilan Islam, Biro Kemahasiswaan I.A.I.N., al-Djamilah - 106 halaman. 73. Sedjarah petumbuhan dan perkembangan hukum Islam, Bulan Bintang, 1971 - 288 halaman. 74. Syari'at Islam adalah syari'at dunia dan kemanusiaan, Ramadhani, 1972 - 61 halaman. 75. Sjari'at Islam mendjawab tantangan zaman, Bulan Bintang, 1966 - 48 halaman. 76. Tafsir al-Bayaan, Alma'arif, 1966. 77. Tafsir al Qurnul majied "An Nur", Bulan Bintang, 1976. 78. Tafsir al-Qur'anul Majid an-Nuur: Surat 42-114, Pustaka Rizki Putra, 2000 - 4760 halaman. 79. Tafsier al-Qurnul madjied "An-Nur", Volume 3, Bulan Bintang, 1967. 80. Tafsir al-Qurnul madjied "An-Nur", Volume 4, Bulan Bintang, 1965. 81. Tafsir al-Qurnul madjied "An-Nur", Volume 5, Bulan Bintang, 1965. 82. Tafsir al-Qurnul madjied "An-Nur", Volume 6, Bulan Bintang, 1965. 83. Tafsier al-Qurnul madjied "An-Nur", Volume 25, Bulan Bintang. 84. Tuntunan zakah dan fithrah:tjaranja memberi, menerima dan membagi, slamijah, 1949 - 69 halaman. 85. Tuntutan qurban, 1966 - 68 halaman.

Memperjelas Posisi Hamka soal Pluralisme Agama


Jum'at, 20 April 2012

Oleh: Dr. Adian Husaini BELUM lama, pada 20 Maret 2012, salah satu peneliti INSISTS, Akmal Syafril, ST., M.Pd.I., menerbitkan bukunya yang berjudul Buya Hamka: Antara Kelurusan Aqidah dan Pluralisme. Buku ini sebenarnya merupakan Tesis Master Pendidikan Islam di Universitas Ibn Khaldun Bogor. Penerbitan buku ini sangat penting untuk menjernihkan dan mempertegas pemikiran Buya Hamka tentang Pluralisme Agama. Menurut penulisnya, pada awalnya penulisan buku ini bersumber dari sebuah makalah yang dibuatnya saat sedang mengikuti studi di Program Pascasarjana Pendidikan Islam Universitas Ibn Khaldun (UIKA), Bogor. Isinya mengulas sebuah artikel karya Ahmad Syafii Maarif yang dimuat di Rubrik Resonansi, surat kabar Republika, edisi 21 November 2006, yang diberi judul Hamka Tentang Ayat 62 Al-Baqarah dan Ayat 69 Al-Maidah. Sebagian besar isinya adalah kutipan-kutipan dari Tafsir Al Azhar karya Buya Hamka. Di bagian awalnya, Syafii Maarif menjelaskan alasan di balik penelitiannya terhadap kedua ayat ini: Pada suatu hari bulan November 2006 datanglah sebuah pesan singkat dari seorang jenderal polisi yang sedang bertugas di Poso menanyakan tentang maksud ayat 62 surat alBaqarah. Kata jenderal ini pengertian ayat ini penting baginya untuk menghadapi beberapa tersangka kerusuhan yang ditangkap di sana. Di antara berbagai kutipan Tafsir Al Azhar dari artikel tersebut, inilah salah satunya yang nampaknya paling penting: Inilah janjian yang adil dari Tuhan kepada seluruh manusia, tidak pandang dalam agama yang mana mereka hidup, atau merk apa yang diletakkan kepada diri mereka, namun mereka masing-masing akan mendapat ganjaran atau pahala di sisi Tuhan, sepadan dengan iman dan amal shalih yang telah mereka kerjakan itu. Setelah menjelaskan bahwa Hamka menolak pendapat yang menyatakan bahwa ayat ke-62 dalam Surah al-Baqarah telah dinasakh oleh ayat ke-85 dalam Surah Ali Imran, Syafii Maarif pun memungkas artikelnya dengan opini berikut: Sikap Hamka yang menolak bahwa ayat 62 al-Baqarah dan ayat 69 al-Maidah telah dimansukhkan oleh ayat 85 surat Ali Imran adalah sebuah keberanian seorang mufassir yang rindu melihat dunia ini aman untuk didiami oleh siapa saja, mengaku beragama atau tidak, asal saling menghormati dan saling menjaga pendirian masing-masing. Sepengetahuan saya tidak ada Kitab Suci di muka bumi ini yang memiliki ayat toleransi seperti yang diajarkan Al-Quran. Pemaksaan dalam agama adalah sikap yang anti Al-Quran (lih. al-Baqarah 256; Yunus 99). Memang, setelah keluarnya tulisan Syafii Maarif tersebut, terjadi perdebatan yang cukup seru di Rubrik Opini Harian Republika. Saya pun segera menulis artikel yang menjawab artikel Syafii Maarif tersebut. Intinya, saya menegaskan, bahwa Buya Hamka sama sekali bukan seorang Pluralis Agama. Perlu dicatat, bahwa Pluralisme Agama, dalam CAP ini adalah paham yang menyatakan bahwa semua agama merupakan jalan yang sah menuju inti realitas keagamaan. Dalam Pluralisme agama, tidak ada satu agama yang merasa superior dibanding yang lain. Tapi, setiap agama dipandang sebagai jalan yang sama-sama sah menuju kebenaran dan Tuhan (In pluralism, no one religion is superior to any other; each and every religion is equally valid way to truth and God). (Alister E. Mcgrath, Christian Theology: an Introduction, (Oxford: Blackwell Publisher, 1994). Menurut Akmal, dalam makalahnya, ia mengaku menemukan beberapa kesalahan fatal yang telah dilakukan oleh Syafii Maarif dalam pengutipan Tafsir Al Azhar tersebut, terlepas dari ada-tidaknya unsur kesengajaan. Kesalahan pertama, adalah perihal penggunaan kedua ayat tersebut yang jauh dari konteks aslinya. Syafii Maarif dan sang Jenderal Polisi yang berkonsultasi dengannya menganggap bahwa kedua ayat ini dapat digunakan untuk menanggulangi konflik horizontal di Poso. Dari paragraf kesimpulan yang ditulis oleh Syafii Maarif sebelumnya, kita dapat memahami bahwa konflik horizontal yang dimaksud adalah konflik antar umat beragama. Karena digali dari al-Quran, maka dapat dipahami pula bahwa penelaahan ini digunakan untuk meredam keinginan sementara pihak di kalangan umat Muslim untuk melakukan kekerasan pada umat lain. Padahal, tegas Akmal, jika Tafsir Al Azhar dibaca secara runut, akan ditemukan asbabun nuzul dari ayat ke-62 dalam Surah alBaqarah itu, yakni untuk menjawab pertanyaan Salman al-Farisi r.a. seputar orang-orang sholeh yang dijumpainya di masa lampau, sedangkan orang-orang tersebut beragama Nasrani, Yahudi dan lain-lain. Kesalahan kontekstual ini akan terlihat jelas kemudian. Kesalahan kedua disebabkan oleh kelengahan Syafii Maarif untuk melacak penjelasan nama-nama agama Yahudi, Nasrani dan Shabiin dalam Tafsir Al Azhar. Padahal, Buya Hamka sudah menjelaskan masalah ini. Menurut Hamka, Yahudi (berasal dari nama Yehuda, salah satu anak Nabi Yaqub as) pada hakikatnya adalah agama-keluarga, Nasrani (berasal dari nama Nashirah, yaitu daerah kelahiran Nabi Isa as) pada hakikatnya adalah agama-bangsa, dan Shabiin adalah nama yang diberikan bagi orang yang keluar dari agama nenek moyangnya, sehingga Nabi Muhammad Shallahu Alaihi Wassalam pun pernah disebut sebagai shabi.

Dengan definisi tersebut, maka orang yang terlanjur dikenal sebagai Yahudi, Nasrani dan Shabiin di masa lampau (yaitu sebelum masa kenabian Rasulullah saw) bisa beriman dan tak beriman. Contoh yang dapat diambil adalah Pendeta Bahira. Sejarah mengenalnya sebagai tokoh yang pertama kali membenarkan kenabian Muhammad Shallahu Alaihi Wassalam berdasarkan tanda-tanda yang diketahuinya dari Injil, dan oleh karena itu, ia dikategorikan sebagai orang yang beriman. Meski demikian, Bahira tetaplah dikenal sebagai penganut agama Nasrani, karena memang ia tidak sempat mengikuti ajaran Nabi Muhammad. Tentu saja, Bahira dapat dianggap sebagai Nasrani yang beriman hanya karena ia hidup pada masa prakenabian Rasulullah saw. Jika ia sempat bertemu dengan dakwah Rasulullah, tentu ia harus mengucap syahadatain, dan hanya dengan cara itulah ia bisa dianggap sebagai orang yang beriman. Hal ini akan semakin jelas pada poin berikutnya. Kesalahan ketiga mungkin yang paling fatal adalah tidak dicantumkannya sebuah paragraf penting yang dapat ditemukan di akhir penjelasan ayat ke-62 dalam Surah al-Baqarah dalam Tafsir Al Azhar yang justru menyimpulkan pendapat Buya Hamka yang sebenarnya secara utuh. Penjelasannya adalah sebagai berikut: Yahudi dan Nasrani sudah sepatutnya terlebih dahulu percaya kepada kerasulan Muhammad apabila keterangan tentang diri beliau telah mereka terima. Dan dengan demikian mereka namanya telah benar-benar menyerah (Muslim) kepada Tuhan. Tetapi kalau keterangan telah sampai, namun mereka menolak juga, niscaya nerakalah tempat mereka kelak. Umumnya, kesimpulan dari sebuah uraian ilmiah, termasuk penafsiran al-Quran, dapat dijumpai di bagian akhirnya. Dengan menyimak betapa pentingnya penjelasan di atas, kita pun bertanya-tanya mengapa Syafii Maarif justru memilih untuk meninggalkan penjelasan ini, yang jika dicantumkan akan segera menghapus kesan pluralis dari sosok Buya Hamka dalam artikel tersebut? tulis Akmal, yang sebelumnya sudah dikenal sebagai penulis buku Islam Liberal 101. . Opini dan kesan bahwa Buya Hamka seorang pluralis, bagaimana pun, telah terlanjur bergulir. Hanya berselang enam hari dari dimuatnya artikel Syafii Maarif tentang Tafsir Al Azhar di surat kabar Republika, Ayang Utriza NWAY menyampaikan makalahnya dalam acara diskusi publik bertajuk Islam dan Kemajemukan di Indonesia. Diskusi publik tersebut diadakan sebagai rangkaian kegiatan dalam Nurcholish Madjid Memorial Lecture di sebuah Perguruan Tinggi di Banten. Makalah yang dibawakannya berjudul Islam dan Pluralisme di Indonesia: Pandangan Sejarah. Dalam makalahnya, Ayang bahkan telah melangkah lebih jauh lagi daripada Syafii Maarif. Setelah mengutip beberapa poin dalam Tafsir Al Azhar lagi-lagi untuk QS. alBaqarah [2]: 62 Ayang menyimpulkan: Ini berarti bahwa walaupun seseorang mengaku beragama Islam, yang hanya bermodalkan dua kalimat syahadat, tetapi tidak pernah menjalankan rukun Islam, maka ia tidak akan pernah mendapat ganjaran dari Allah, yaitu surga. Sebaliknya jika ada non-Muslim yang taat dan patuh menjalankan ajaran agamanya, walaupun tidak mengucapkan dua kalimat syahadat, maka dia akan mendapatkan ganjaran dari Allah: surga. Menurut Akmal, tidaklah sulit menunjukkan kesalahan (untuk tidak menyebutnya ketidakjujuran) fatal yang dilakukan oleh Ayang Utriza NWAY. Saya pribadi (Adian Husaini) juga menemukan tulisan Ayang Utriza yang menfitnah Buya Hamka dalam buku Bayang-bayang Fanatisisme: Esei-esei untuk Mengenang Nurcholish Madjid, (Jakarta: Universitas Paramadina, 2007). Kutipan makalah Peneliti di Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Universitas Paramadina itu dimuat di halaman 307. Saya sudah menulis jawaban terhadap tulisan Ayang tersebut untuk buku 100 Tahun Buya Hamka. Bahkan, saat bertemu keluarga Hamka, saya sampaikan keprihatinan saya tentang tulisan-tulisan yang menfitnah Buya Hamka. Akan tetapi, meskipun artikel dan makalah sudah kita tulis di berbagai media massa, tetap saja pendapat yang mengutip tulisan Buya Hamka secara tidak proporsional juga terus berkeliaran. Bahkan, hingga kini, tak ada koreksi terhadap kekeliruan yang sudah dilakukan. Dalam kaitan itulah, hadirnya buku Akmal ini menjadi penting. Fungsinya, untuk memperjelas posisi Hamka dalam soal Pluralisme Agama dan membentengi upaya orang-orang yang mengutip tulisan Hamka secara tidak proporsional atau bahkan memuarbalikkan makna tulisan Hamka yang sebenarnya. Menurut Akmal, itulah yang mendasarinya mengembangkan makalahnya menjadi sebuah Tesis dengan judul Studi Komparatif Antara Pluralisme Agama dengan Konsep Hubungan Antar Umat Beragama dalam Pemikiran Hamka. Sesuai dengan judulnya, tesis ini tidak hanya membahas kontroversi dari artikel Syafii Maarif dan makalah Ayang Utriza NWAY belaka, melainkan mengupas tuntas jawaban dari sebuah pertanyaan besar: apakah Buya Hamka memang seorang pluralis? Buku Buya Hamka: Antara Kelurusan Aqidah dan Pluralisme merupakan hasil adaptasi dari tesis tersebut. Persoalan paling fundamental yang pasti muncul ketika membahas pluralisme, sebagaimana dijelaskan oleh Anis Malik Thoha dalam bukunya Tren Pluralisme Agama, adalah mendefinisikan makna Pluralisme itu sendiri. Masing-masing pihak yang mengusung pluralisme memiliki konsepnya sendiri-sendiri, bahkan tidak jarang orang menulis sebuah makalah atau buku tentang pluralisme tanpa pernah memberikan definisi pluralisme itu. Oleh karena itu, buku ini pun menguraikan secara mendalam persoalan definisi pluralisme, sejarah pluralisme dan tren-tren pluralisme yang ada. Hal-hal ini dijabarkan di dalam bab ketiga. Setelah menjelaskan tren-tren tersebut, bab keempat dalam buku ini menguraikan argumen-argumen yang digunakan oleh kaum pluralis dari kalangan Muslim, terutama dengan bersandar pada sejumlah ayat al-Quran. Pembahasan ini cukup penting, selain karena posisi sentral al-Quran dalam ajaran Islam, juga karena tokoh yang pemikirannya sedang dibahas yaitu Buya Hamka adalah seorang mufassir. Dengan memperbandingkan penafsiran Hamka dengan penjelasan ayat-ayat tersebut oleh kaum pluralis Muslim, kita bisa mendapatkan gambaran yang jelas mengenai persamaan dan/atau perbedaan cara berpikir keduanya. Karena pada masa hidup Buya Hamka dahulu istilah pluralisme belum dikenal, maka penulis buku ini merasa perlu

menguraikan konsep hubungan antar umat beragama menurut Hamka ke dalam beberapa poin penting. Poin-poin ini merupakan hal-hal yang sangat fundamental dalam gagasan pluralisme, misalnya konsep agama, posisi Islam di antara agamaagama lainnya, pandangan seputar aliran-aliran yang menyimpang, pengejawantahan toleransi beragama, dan sebagainya. Sebagai contoh, seorang pluralis pasti menganggap Islam sejajar dan tidak lebih unggul daripada agama lainnya. Siapa pun yang berpikiran seperi itu, maka ia memang seorang pluralis. Tetapi Hamka tidak berpikiran seperti itu. Referensi yang telah ditinggalkan oleh Hamka begitu berlimpah, sehingga usaha pencarian jawaban atas pertanyaan-pertanyaan semacam ini tidaklah sulit untuk dilakukan. Walhasil, di tengah carut-marutnya pemikiran di Indonesia dewasa ini, buku Buya Hamka: Antara Kelurusan Aqidah dan Pluralisme karya Saudara Akmal ini cukup memberikan penjelasan tuntas seputar kesemrawutan konsep pluralisme. Karya ini diharapkan mampu merangsang kembali minat para pemuda Muslim untuk menggali kembali warisan intelektual dari Buya Hamka, dan juga dari para cendekiawan Muslim terdahulu lainnya. Adapun seputar klaim pluralisme terhadap pribadi Hamka, insya Allah mereka yang sudah tuntas membaca buku ini tidak akan memiliki keraguan lagi, tulis Akmal yang menyelesaikan sarjana S-1 nya di bidang civil engineering di Institut Teknologi Bandung. Semoga bermanfaat, dan kita menunggu terus karya-karya ilmiah yang bermutu dari para pejuang Islam lainnya.*/Jakarta, 20 April 2012 Penulis Ketua Program Studi Pendidikan IslamProgram Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor). Catatan Akhir Pekan (CAP) bekerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah.com Ilustrasi: serbasejarah WP

Red: Cholis Akbar More Sharing ServicesShare | Share on facebook Share on twitter Share on google Share on favorites KOMENTAR

Avi , Jum'at, 20 April 2012 Bukunya di jual gak ya ? ane berminat nih Akmal , Jum'at, 20 April 2012 Alhamdulillaah, ust Adian menulis CAP tentang buku saya. Mudah2an ini membantu penyebarluasan pemikiran yg terkandung di dalamnya, terutama untuk membersihkan nama Buya Hamka dari klaim2 kaum pluralis. Bagi yg ingin memesannya, silakan kirim email ke malami.bookstore@gmail.com. Afwan, bukunya memang disebarluaskan secara online, jadi belum masuk ke toko-toko buku. :) Nurim , Sabtu, 21 April 2012 Pluralisme dan liberalisme menggejala krn kaum muslim pada hari ini belum bisa membuktikan kehebatan Islam, baik dlm perilaku maupun peranan di masyarakat, keadaan muslim hari ini, baik individu maupun negara, spt dalam hegemoni kekuatan-kekuatan yang datang dari non-muslim di Amerika, Eropa, Jepang, Korea selatan, dll. Keadaan ini menyebabkan banyak muslim yg silau dgn kehebatan org-org tsb, shg merembet pd bidang agama dengan menyatakan semua agama itu adalah sama!! Kehebatan seseorg itu bisa mempengaruhi org lain dlm semua hal: gaya hidup, bahasa, termasuk agama!! Bangsa yg ditaklukan cenderung mengagumi semua hal yg datang dari para penakluknya. Muhammad Abduh , Ahad, 22 April 2012 Ahamdulillah. semoga ustadz DR Adian Husaini senantiasa diberikan kekuatan oleh Allah swt untuk selalu istiqamah dlm mengawal dan menjaga kebenaran dan kesucian Islam melalui tulisan2 beliau dari upaya pengkaburan oleh kaum kuffar. Jazaakallah ahsanal jaza'....amin Miftach , Senin, 01 Oktober 2012 Memang informasi ini sangat diperlukan khususnya dlm meluruskan asumsi salah yg beredar selama ini, setidaknya mampu meluruskan kembali dr ketidak benaran.....syukron, smga ini m'jadi amal sholih si Penulis....Aminnn

Tafsir dan Penafsiran Buya Hamka


7:09 PM Tafsir No comments CORAK TAFSIR BUYA HAMKA Agama bersifat netral, tidak memihak, dia hanya menjelaskan pengertian raji. Sementara hamka dalam menjelaskan ayat itu, beliau mengguanakan contoh-contoh yang hidup di tengah masyarakat,baik masyarakat kelas atas seperti raja, rakyat biasa, maupun secara individu.Berdasarkan fakta yang demikian, tafsir Hamka dalam menjelaskan ayat itu bercorak sosial kemsyarakatan (adabi ijtimai). KARAKTERISTIK TAFSIR AL-AZHAR Tafsir al-Azhar merupakan karya Hamka yang memperlihatkan keluasan pengetahuan beliau, yang hampir mencakup semua disiplin ilmu penuh berinformasi. Sumber penafsiran yang dipakai olehHamka antara lain, al Quran, hadits Nabi, pendapat tabiin, riwayat dari kitab tafsir mutabar seperti al-Manar, serta juga dari syair-syair seperti syair Moh. Iqbal. Tafsir ini ditulis dalam bentuk pemikiran dengan metode analitis atau tahlili.Karakteristik yang tampak dari tafsir al-Azhar ini adalah gaya penulisannya yang bercorak adabi ijtimai (social kemasyarakatan) yang dapat disaksikan dengan begitu kentalnya warna setting sosial budaya Minangnya yang ditampilkan oleh Hamka dalam menafsirkan ayat-ayat al Quran PERBEDAAN DENGAN TAFSIR LAIN Tafsir al-Azhar sangatlah berbeda dengan tafsir-tafsir lainnya. Mulai dari sudut pemikiran sampai sudut bahasa yang digunakan dalam menafsirkan pun sangatlah berbeda. Oleh karena itu, kamiakan membendingkan tafsir al-Azhar ini dengan tafsir Depag dan tafsir al-Misbah. Yaitu sebagaiberikut: Perbedaan gotong dari sudut pemikiran: royong) a. Depag : Sudut pemikirannya datar (karena tafsir ini ditulis oleh banyak ulama atau dapat dikatakan tulisan b.Tafsir al-Misbah : Sudut pemikirannya mendalam dan dilengkapi oleh data-data kontemporer(modern) c. Tafsir al-Azhar : Sudut pemikirannya selalu menggiring seseorang kepada tasawuf (karenaberangkat dari setting sosial politik pada saat tafsir ini ditulis dan untuk selamat dari kondisiseperti itu, maka seseorang harus terjun ke dalam tasawuf. Perbedaan dari sudut bahasa. Tafsir Depag : Sudut bahasa yang digunakan sangatlah standart atau datar (dimaksudkan agar memudahkan seseorang dalam memahaminya) CONTOH PENAFISRAN HAMKA Penafsiran Buya Hamka terhadap ayat-ayat Amar Marf nah Munkar dalam Tafsir al-Azhar. Menurut Hamka dalam tafsir al-Azhar, kata marf ( )berasal dari kata urf ( )artinya yang

dikenal,atauyang dapat dimengerti dan dapat dipahami serta diterima oleh masyarakat. Dalam pengertian lain, marf ( )berarti perbuatan yang patut, pantas dan sopan yang berlaku secara umum. Lebih lanjut Hamka menjelaskan bahwa suatu perbuatan dapat dikatakan baik ( )jika perbuatan itu dapat diterima dan dipahami oleh manusia, dan dipuji. Perbuatan itu patut diterima dan dipahami ma-nusia karena memang perbuatan baik ( )itulah yang patut dikerjakan oleh manusia yang berakal. Kebalikan dari kata marf ( )adalah kata munkar ( ), berarti yang dibenci, yang tidak disenangi atau ditolak oleh masyarakat, karena tidak patut, tidak pantas. Tidak selayaknya yang demikian itu dikerjakan oleh manusia berakal; segala gejala-gejala buruk yang tidak diterima oleh masyarakat secara akal sehat. Demikian sekilas penjelasan mengenai pengertian marf ( )dan munkar ( )menurut Hamka Seperti diketahui bahwa ayat amar marf nah munkar dituliskan secara bersambung disebutkan dalam alQurn pada lima surat, yaitu al-Araf ayat 157, Luqman ayat 17, Ali Imran ayat104, 110, dan 114, al-Hajj ayat 103, dan 103, serta al-Taubah ayat 67, 71, dan 112. Masing-masing ayat mempunyai konteks dan situasi yang berbeda. Meskipun begitu, semua ayat ini menyerukan agar mengerjakan perbuatan yang marf dan menjauhi perbuatan keji yang dilarang oleh Allh SWT. Pada surat al-Arf ayat 157, sebagaimana akan dijelaskan di bawah ini, konteks amar marf dan nah munkar menjelaskan tentang keberadaan Nabi Muhamad saw sebagai seorang rasul Tuhan. Nabi Muhamad saw adalah seorang yang umm (yang tidak pandai menulis dan membaca) yang telah disebutkan bahwa beliau akan datang sebagai Nabi akhir zaman di dalam Taurat dan Injil. Risalah yang akan dibawa oleh Nabi akhir zaman itu ialah yang menyuruh akan mereka berbuat yang marf dan mencegah akan mereka yang munkar. Kalimat yang terdapat dalam surat al-Arf ayat 157 seperti tersebut di atas, menjelaskan tentang peran yang telah dimainkan oleh para nabi dan rasul, seperti nabi Musa, nabi Isa dan nabi Muhamad saw yang ummi, dalam menjalankan risalah atau nubuwah kepada umat manusia. Sebagai nabi yang ummi, beliau juga mendapat tugas untuk menyebarkan risalah ketuhanan kepada umat manusia, termasuk ke-pada para ahl al-kitab. Dalam konteks ini, Hamka menjelaskan bahwa sebagai nabi yang ummi, tugas berat yang diemban nabi Muhamad saw, akan selalu menghadapi risiko. Tetapi, seberat apapun risiko itu, nabi siap menanggungnya, karena beliau telah mendapatkan amanah untuk melaksanakan yang marf () dan mencegah yang munkar (). Menurut Hamka, kata marf ( )yang terdapat dalam surat ini, berarti yang dikenal atau patut untuk dilakukan. Dalam konteks amar marf nah munkar, ditafsirkan oleh Hamka dengan kalimat sehaja. Apabila suatu perintah datang kepada manusia yang berakal budi, langsung disetujui oleh hatinya, karena hati nurani mengenalnya sebagai suatu yang baik, yang memang patut dikerjakan. Oleh karena itu, segala perintah yang dikerjakan oleh nabi yang ummi, pastilah sesuai dengan jiwa, sebab jiwa mengenalnya sebagai suatu yang baik. Di antara contoh yang diberikan Hamka adalah perintah shalat dan membayar zakat. Nabi Muhamad dan umatnya diperintahkan untuk melaksanakan shalat, karena shalat adalah pekerjaan yang patut dilakukan. Begitu juga pemberian zakat, karena memang masyarakat miskin perlu mendapat bantuan. Dengan kalimat pendek Hamka menyimpulkan bahwa tidak ada suatu perintahpun yang tidak marf ( )kepada jiwa, kecuali jiwa yang sakit.

Selanjutnya ayatayat yang menjelaskan amar marf nah munkar (


secara berurutan ialah surat li Imrn ayat 104, 110, dan 114. Ayat-

ayat

tersebut

adalah

sebagai

berikut.

Artimya: Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang yang beruntung (QS. Ali-Imran:104)

Artinya: kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik (Ali-Imran:110) Artinya:mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang Munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu Termasuk orang-orang yang saleh (Ali-Imran 114) Pada surat l-Imrn ayat 104, menurut Hamka, terdapat hal penting yang menjadi tugas dan kewajiban umat manusia, yaitu melakukan dakwah. Suatu golongan yang terdapat dalam ayat tersebut, yaitu ummat, memiliki tugas dan kewajiban untuk mengajak dan membawa manusia kepada kebaikan, menyuruh berbuat marf (), yaitu perbuatan yang patut, pan-tas dan sopan, dan mencegah, melarang perbuatan munkar (
), yang dibenci dan yang tidak diterima oleh akal dan jiwa yang sehat. Menurut Hamka, dalam konteks

ayat tersebut, terdapat dua kata penting, yaitu me-nyuruh berbuat marf ( ), dan mencegah perbuatan munkar (). Kata marf (), diambil dari kata urf (( yang berarti dikenal atau yang dapat dimengerti, dapat dipahami serta dapat diterima oleh manusia, dan dipuji. Karena begitulah yang patut dikerjakan oleh manusia yang berakal. Sedang yang munkar, ( ), artinya yang dibenci, yang tidak disenangi, yang ditolak oleh masyarakat, karena tidak patut dan tidak pantas untuk dikerjakan. Oleh karena itu, menurut Hamka lebih lanjut, kalau ada orang berbuat maruf, seluruh masyarakat, umumnya menyetujui, membenarkan dan memuji. Sebaliknya, kalau ada perbuatan munkar, seluruh masyarakat menolak, membenci dan tidak menyukainya. Untuk mengatasi masalah ini, Hamka memberikan sebuah tips, yaitu pengetahuan keagamaan dan sikap keberagamaan. Menurutnya, semakin tinggi kecerdasan beragama, bertambah kenal orang akan yang maruf, dan bertambah benci kepada yang munkar. Untuk itu, hendaknya dalam suatu masyarakat, ada sekelompok umat yang bertugas dan bekerja keras untuk menggerakkan masyarakat agar mereka berbuat yang maruf, dan menjauhi yang munkar, supaya masyarakat itu bertambah tinggi nilainya. Kesimpulan yang disampaikan oleh Hamka dalam penafsirannya pada surat li Imrn ayat 104 dalam tafsir al-Azhar adalah bahwa itu adalah menyeru untuk melakukan ke-bajikan dan mencegah kemunkaran. Menyeru atau mengajak merupakan aktivitas dakwah. Dengan dakwah, ada dinamika kehidupan umat Islam, menjadi lebih dinamis dan agama menjadi hidup. Sebaliknya, apabila tidak ada dakwah, maka tidak ada dinamika kehidupan beragama. Karena itu, haruslah ada sekelompok orang yang mengajak pada kebaikan dan mencegah keburukan. Dalam konteks dakwah, Hamka tampaknya membagi bidang garapan dakwah menjadi dua, yaitu; umum, adalah untuk kalangan masyarakat umum, dan

khusus, untuk keluarga sendiri. Dakwah yang bersifat umum adalah memberikan penjelasan kepada masyarakat serta mengajak mereka untuk memahami hikmah ajaran Islam yang benar, serta menangkis tuduhan yang tidak benar yang diarahkan kepada agama Islam. Sedang dakwah yang bersifat khusus, ditujukan kepada keluarga sendiri, agar patuh kepada Tuhan. Di dalam ayat 104 surat l-Imrn ini terdapat 3 (tiga) kewajiban, yaitu menyuruh berbuat maruf ( ), melarang berbuat munkar(), dan ketiga mengajak kepada kebaikan ( )Menurut Hamka, ketiga kewajiban itu, yaitu amar maruf dan nahi munkar , semua berpusat pada yang satu, yaitu mengajak pada ke-baikan. Menurut Hamka, yang dimaksud dengan kata () yang berarti kebaikan, yang dimaksud di dalam ayat ini adalah Islam, yaitu memupuk kepercayaan dan iman kepada Tuhan, termasuk tauhid dan marifat. Hal itulah, menurut Hamka sebagai hakikat kesadaran beragama yang menimbulkan pengetahuan sehingga dapat membedakan mana yang baik, yang maruf (
), dan mana yang tidak baik, yaitu munkar ( ). Di sinilah, menurut Hamka pentingnya juru dakwah

atau dai memberikan penjelasan kepada masyarakat mengenai ajaran agama Islam yang sebenarnya, sehingga masyarakat memiliki pengetahuan dan kesadaran beragama yang tinggi. Dengan kesadaran beragama yang tinggi, maka akan berdampak pada sikap dan perilaku seseorang dalam bermasyarakat, sehingga ia memiliki keberanian untuk melakukan kebaikan dan mencegah keburukan. Sebaliknya, apabila sikap keberagamaan masyarakat belum tumbuh dan masih rendah, maka percuma saja menyebut yang marf (), dan menentang yang munkar. Sebab, menurut Hamka untuk membedakan yang marf (
),

dengan

yang

munkar

()

tidak

ada

lain

kecuali

ajaran

Islam.

Kalimat , artinya umat mengajak pada kebaikan yang terdapat pada surat l-Imrn ayat 104, menurut Hamka memiliki dua kata penting, yaitu ummatun ( ) dan kedua kata yadna . Dari ayat ini dapat dipahami bahwa dikalangan umat Islam yang besar jumlahnya, hendaklah ada segolongan umat yang menjadi inti, yang kerjanya khusus mengadakan dakwah, atau seluruh umat ini sendiri sadar akan kewajibannya yaitu melaksanakan dakwah. Sebab kehidupan agama, kemajuan dan kemundurannya sangat tergantung pada dakwah. Pelaksanaan dakwah yang dimaksudkan Hamka tidak hanya kegiatan dakwah ke dalam, yaitu dakwah di kalangan umat Islam sendiri, juga dakwah ke masyarakat luar Islam. Tujuannya, bila dakwah ke dalam, diharapkan umat Islam semakin kuat kesadaran beragamanya, sehingga mampu melakukan yang maruf ( )dan mencegah yang munkar (). Sedang dakwah ke luar Islam tujuannya agar masyarakat non-muslim memahami posisi Islam sebagai sebuah agama damai dan memberikan pengertian tentang hakikat kebenaran Islam kepada orang-orang yang belum memeluknya. Seperti ditegaskan sebelumnya bahwa Hamka mengartikan kata maruf ( )dengan suatu perbuatan baik yang diterima oleh masyarakat dan akal sehat. Oleh karena itu, menurutnya, seorang dai apabila berdakwah hendaklah ia mengeluarkan pendapat umum yang sehat atau public opini yang sehat dan dapat diterima masyarakat umum. Diharapkan dengan adanya kegiatan dakwah, akan terbentuk masyarakat yang sehat. Bila amar maruf nahi munkar , terhenti, sebagai bagian dari aktivitas dakwah, maka hal itu dapat dijadikan sebagai indikator masyarakat yang sedang sakit. Oleh sebab itu, lanjut Hamka, mereka yang melakukan kebaikan ( )dan melaksanakan amar maruf nahi munkar, adalah mereka yang

akan memperoleh kemenangan. Karena mereka telah melakukan amar maruf nahi munkar
, dan mengajak pada kebaikan, sehingga keburukan dapat dihindari atau dikalahkan, sehingga

umat menjadi pelopor kebajikan di dalam dunia. Dalam konteks ini ayat tersebut di atas, ada tiga hal yang harus dilakukan oleh kaum muslimin. Pertama, mengajak orang kepada al-khair () . Kedua, mengajak orang kepada yang al-marf (
). Ketiga, mencegah orang dari al-munkar ( ) . Dari terjemahan ayat tersebut, lafal

atau kata al-khair ( )dan lafal al-marf menurut harfiahnya sama, yaitu kebaikan. Terdapat dua ka-ta yang berbeda akan tetapi memiliki pengertian sama. Oleh karena itu, ke-simpulan umum yang hendak dijelaskan pada ayat ini adalah suatu kewajiban bagi umat Islam untuk menyampaikan yang maruf (
)dan melarang perbuatan yang munkar( ). Karena perbuatan demikian merupakan ujung tombak

dari

dakwah

Islam,

yakni

menyampaikan

yang

baik

dan

melarang

kepada

yang

munkar.

lanjut yach... baca juga ulama tafsir Quraisy Shihab