MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -8

-

Modul 1 1.1. Judul : Gaya ƊGaya dan Keseimbangan Gaya
Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah membaca modul, mahasiswa bisa memahami pengertian tentang gaya. Tujuan Pembelajaran Khusus : Mahasiswa dapat menjelaskan konsep pengertian tentang gaya dan bagaimana bisa melakukan penjumlahannya 1.1.1. Pendahuluan Gaya serta sifat-sifatnya perlu difahami dalam ilmu Mekanika Teknik karena dalam ilmu tersebut, mayoritas membicarakan tentang gaya, sedang Mekanika Teknik adalah merupakan mata kuliah dasar keahlian yang perlu dimengerti oleh semua sarjana Teknik Sipil. Jadi dengan memahami sifat-sifat gaya, mahasiswa akan lebih mudah memahami permasalahan yang terjadi di pelajaran Mekanika Teknik. Misal pada suatu jembatan, kendaraan yang lewat adalah merupakan suatu beban luar yang ditampilkan dalam bentuk gaya. Contoh : * Suatu kendaraan yang terletak diatas jembatan * Beban roda kendaraan pada jembatan tersebut adalah suatu beban atau gaya.

gaya

struktur jembatan

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -9-

1.1.2. Pengertian tentang Gaya dan Garis Kerja gaya Gaya adalah merupakan vektor yang mempunyai besar dan arah.

Penggambarannya biasanya berupa garis dengan panjang sesuai dengan skala yang ditentukan. Jadi panjang garis bisa dikonversikan dengan besarnya gaya. * Contoh 1

Orang berdiri dengan berat 50 kg Panjang gaya 1 cm arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi) ditunjukkan dengan gambar anak panah ke bawah dengan skala 1 cm = 50 kg

Jadi 50 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh orang berdiri tersebut dengan arah gaya kebawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan berat 50 kg. * Contoh 2 Batu diatas meja dengan berat 10 kg
Panjang gaya = 1 cm

Arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi) ditunjukkan dengan gambar anak panah dengan skala 1 cm = 10 kg

Jadi 10 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh batu yang menumpu di atas meja dengan arah gaya ke bawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan gaya 10 kg.

* Contoh 3 15 kg Orang mendorong mobil mogok kemampuan orang mendorong tersebut adalah 15 kg. 1 cm Panjang gaya Arah dorongan kesamping kanan ditunjukkan dengan gambar anak panah arah kesamping dengan skala 1 cm = 15 kg

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -10-

Jadi 15 kg adalah gaya yang diberikan oleh orang untuk mendorong mobil mogok dengan arah kesamping kanan, yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena 1 cm setara dengan 15 kg.

Garis kerja gaya adalah garis lurus yang melewati gaya Seperti contoh di bawah : Contoh * Garis kerja gaya Garis kerja gaya orang yang mempunyai berat 50 kg tersebut adalah vertikal

Orang dengan berat 50 kg garis kerja gaya 15 kg Garis kerja gaya untuk mendorong mobil mogok tersebut adalah horisontal

Titik tangkap gaya adalah titik awal bermulanya gaya tersebut. Contoh: mobil mogok diatas jembatan, roda mobil serta tumpuan tangan orang yang mendorong adalah merupakan titik tangkap gaya.

titik tangkap gaya Titik tangkap gaya

gaya

50 kg

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -11-

1.1.3. Sifat Gaya Gaya dan titik tangkap gaya bisa dipindah-pindahkan asal masih dalam daerah garis kerja gaya Contoh dalam gambar K dan K1 adalah merupakan gaya. Ga Posisi gaya K lama Posisi gaya K baru mb ar garis kerja gaya K1 Posisi gaya K1 lama 1.1 . Ga mb Posisi gaya K1 baru is kerja gaya ar gar

1.1.4. Penjumlahan Gaya Penjumlahan gaya bisa dilakukan secara analitis maupun grafis.

1.1.4.1. Penjumlahan secara grafis Penjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama, jadi gaya-gaya tersebut sebidang, bisa secara langsung dijumlahkan secara grafis.

A K1

C R = K1 + K2 



D K2 Titik tangkap gaya

B 

K1, K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan Urut-urutan penjumlahan Buat urut-urutan penjumlahan garis sejajar dengan K1 dan K2 di ujung gaya, (K1 diujung K2 dan sehingga K2 diujung K1 ) membentuk bentuk jajaran genjang D.A.C.B Salah satu diagonal yang panjang tersebut yaitu R

.Buat garis-garis sejajar gaya K1 dan K2 di ujung-ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang. OABC .2. Penjumlahan gaya secara grafis Penjumlahan 2 gaya yang sebidang. 2 gaya tersebut tidak mempunyai titik tangkap yang sama.. .Salah satu diagonal yang terpanjang (R) adalah merupakan jumlah dari K1 dan K2. tapi titik tangkapnya tidak sama.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -12- Gambar 1. Gaya-gaya tersebut bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya. ar 1.3 Penju mlaha n gaya secara grafis. Gamb R = K1 + K2 A Posisi awal (K2)KK 22 Posisi awal KK 1 1 (K1) 0 K1 C B K1 dan K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan. pertemuannya di titik 0. tapi masih sebidang. yang titik tangkapnya tidak sama Urutan-urutan penjumlahan .Gaya K1 dipindah searah garis kerja gaya sampai garis kerja gaya K1 bertemu dengan garis kerja gaya K2.

K2 dan K3 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan dengan titik tangkap tunggal. K2 dengan cara membuat garis sejajar Gambar 1. . 0 K3 D  Jumlahkan dulu K1. Urut-urutan penjumlahan. Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tangkap tunggal   Penjumlahan tersebut dilakukan secara bertahap Titik tangkap gaya bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya. K2) di ujung-ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang 0ACB    Salah satu diagonal terpanjang yaitu R1 adalah merupakan jumlah K1 + K2 Buat garis sejajar K3 dan R1 di ujung gaya-gaya yang berlainan sehingga membentuk jajaran genjang 0CED Salah satu diagonal terpanjang (R2) adalah jumlah dan R1 dan K3 sehingga sama dengan jumlah antara K1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -13- Penjumlahan 3 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal Penjumlahan tersebut bisa dilakukan secara bertahap C R1=K1+K2 R1 A K1 K2 B R2 E R2 R2 = R1 + K3 = K1 + K2 + K3  K1. K2 dan K3. Penjumlahan 3 gaya secara grafis dengan gaya-gaya tersebut (K1.4.

 A K1 K2 0 R2 = R1 + K3 = K1 + K2 + K3 F D B Kerjakan dulu penjumlahan antara K1 dan K2 dengan cara :  Tarik gaya K1 dan K2 sehingga titik tangkapnya bertemu pada satu titik di O. secara grafis jang OACB Posisi awal (K3)  Salah satu diagonal yang terpanjang yaitu R1 adalah merupakan jumlah dari K1 dan K2. Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tunggal.  Tarik gaya R1 dan K3 sehingga titik tangkapnya bertemu pada titik di 01 .  Buat garis sejajar K1 dan K2 pada yang ujung-ujung berlainan gaya sehingga membentuk jajaran genR1 E K3 01 Gambar 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -14- (posisi awal) K1 R1 = K1 + K2 C (Posisi awal) K2 Urut-urutan penjumlahan  K1.5. K2 dan K3 adalah gayagaya yang akan dijumlahkan.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -15-  Buat garis sejajar R1 dan K3 melalui ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk jajaran genjang 01. salah satu diagonal yang terpanjang adalah R2 yang merupakan jumlah antara R1 dan K3 berarti jumlah antara K1 dan K2 dan K3. K3 . D F E.

perlu dibuat jari-jari polygon (lihat gambar) dengan cara sebagai berikut : buat rangkaian gaya K1. K3 dan K4 secara berurutan dimana tiap-tiap gaya sejajar dengan gaya aslinya (pada gambar jari-jari polygon). Ambil titik 0 sembarang di daerah sekitar R Tarik garis dari 0 ke ujung-ujung gaya sehingga ketemu titik a. Dari gaya-gaya asal yang akan dijumlahkan ditarik garis sejajar O a ) pada garis tersebut. Dari titik B dibuat garis sejajar Oc ( ) memotong K3 di .garis tersebut diberi tanda titik satu buah ( ) sampai lima buah ( jari-jari polygon. garis . Garis-garis tersebut dinamakan . b. dan e.6. c. K2. K2. pangkal gaya K1 dan ujung gaya K4 merupakan jumlah (resultante) gaya K1. d. yang diwakili oleh garis sepanjang a-e tapi letak titik tangkapnya belum betul. K2.Dari titik garis sejajar Ob ) memotong gaya K2 di titik B ( A dibuat ) memotong gaya K 1 di (titik A. Polygon batang dan jari-jari polygon   Gaya K1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -16- a K1 b1 K1 A B K2 C Oƞ Rƞ K3 D K2 K4 K1 c K3 K4 e d R O titik tangkap Polygon Batang Jari-jari Polygon Gambar 1. K3 dan K4 adalah gaya-gaya yang mau dijumlahkan Untuk pertolongan. K3 dan K4 yaitu R.

Jadi Rƞ adalah merupakan jumlah (resultante) dari gaya-gaya K1. K2. yang mana biasanya sering dipakai adalah sumbu oxy. dengan garis kerja melewati 0ƞ 1. .2. K3 dan K4 dengan titik tangkap yang betul. Contoh : y Pernjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal y K2 y K1 y E K1 K2  O F K2x x  K1 dan K2 adalah gayagaya yang akan dijumlahkan dimana mempunyai titik tangkap tunggal di O . K3 dan K4.4. Eadalah sudut antara K1 dengan sumbu ox Fadalah sudut antara K2 dengan sumbu ox K1 dan K2 diuraikan searah Gambar 1. Penjumlahan gaya secara analitis dengan sumbu x dan y K1x = K1 cos E K1y = K1 sin E .7. Dari titik Oƞ dibuat garis sejajar R yaitu garis Rƞ.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -17- titik C. K2. perpanjangan garis ( ) ) pada polygon batang akan ketemu di titik Oƞ yang merupakan titik tangkap jumlah (resultante) gaya-gaya K1. Penjumlahan secara analitis Dalam penjumlahan secara analitis kita perlu menentukan titik pusat (salib sumbu) koordinat. K2x = K2 cos F K2y = K2 sin F K1x . .1. diproyeksikan. Didalam salib sumbu tersebut gaya-gaya yang akan dijumlahkan. Dari titik C dibuat garis sejajar Od ( Dari titik D dibuat garis sejajar Oe ( dan garis ) ( ) memotong K4 di D.

Rx = K1x + K2x Ry = K1y + K2y Rx = § Kx Ry = § Ky Jumlah gaya-gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari komponen-komponen tersebut adalah : .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -18- Semua komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang searah dengan oy. Penjumlahan gaya dengan titik tangkap berbeda.  K1 dan K2 diuraikan searah dengan sumbu x dan y K2 K2y F O K1x K2x x Gambar 1. K1 membentuk sudut E dengan sumbu ox K2 membentuk sudut Fdengan sumbu ox.8. K2y = K2 sin F Semua Komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang searah oy. K2x = K2 cos F K1y = K1 cos E . Rx = K1x + K2x Ry = K1y + K2y Rx = § Kx Ry = § Ky Jumlah gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari komponen-komponen tersebut adalah : R= Rx ²  Ry ² Penjumlahan 2 gaya dengan letak titik tangkap berbeda y K1y E K1  K1 dan K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlah-kan dengan letak titik tangkap berbeda. secara analitis K1x = K1 cos E .

sudut yang dibentuk antara 2 gaya tersebut adalah 45°. Latihan 1. Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun grafis 2. Rangkuman     Gaya adalah suatu besaran vektor yang mempunyai besar dan arah serta diketahui letak titik tangkapnya. K1 Dua gaya K1 dan K2 tidak mempunyai titik tangkap yang sama K1 = 10 ton dan K2 = 4 ton Garis kerja ke dua gaya tersebut bertemu dan K2 membentuk sudut 60° Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun garfis. 3. . Penjumlahan gaya lebih dari 4 buah bisa memakai cara grafis dengan bantuan polygon batang. K2.1.6.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -19- R= Rx ²  Ry ² 1. 5 ton 0 K1 K2 K3 K4 7 ton 9 ton 4 ton Empat gaya K1. 1. Gaya bisa dipindah-pindah sepanjang garis kerja gaya Penjumlahan gaya-gaya bisa dilakukan secara grafis ataupun analitis. dengan besar dan arah seperti pada gambar Cari besar dan arah jumlah gaya-gaya tersebut (R) dengan cara polygon batang. K1 45° K2 Dua gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama seperti seperti pada gambar.1.5. K1 = 5 ton dan K2 = 7 ton. K3 dan K4.

Soal 1 dan 2 ada jawaban secara analitis dan grafis.8. Penutup Untuk mengukur prestasi. No. French.7. Daftar Pustaka 1. Samuel E. 3. Bab I. Suwarno. Bab I 1.5° dari sumbu x R = 12. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM bab I. ƏDeterminate StructuresƐ ITP (International Thomson Publishing Company) 1996. 3 hanya berupa grafis.1. Soemono.5 ton sdt = 30° dari sumbu x R = 12.1 ton sdt = 22. 2. skor penilaian ada di tabel bawah untuk mengontrol berapa skor yang didapat.5° dari sumbu x R = 11. secara bertahap.1. ƏStatika IƐ ITB. Senarai Gaya Resultante = mempunyai besar dan arah = jumlah .9. soal Sub Jawaban 1 Analitis Grafis 2 Analitis Grafis Jawaban R = 11.5 ton sdt = 30° dari sumbu x R = 24 ton Skor Nilai 50 50 50 50 3 Grafis Jari-jari polygon Polygon batang 50 50 1.1 ton sdt = 22.1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -20- 1. sedang soal no. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci yang ada.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -21- .

reaksi. kolom. bentuk gedung bertingkat dalam penggambaran di mekanika teknik kolom Kolom = tiang-tiang vertical Balok = batang-batang horisontal balok perletakan Gambar 1. kolom. Contoh : a. 1. gaya dalam dan bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik. reaksi dan gaya dalam.2.2. Pendahuluan Dalam disiplin ilmu teknik sipil dimana mahasiswa akan diajak bicara tentang bangunan gedung. maka siswa bisa memahami secara jelas apa itu bentuk-bentuk struktur di bidang teknik sipil. sehingga dalam menerima pelajaran akan lebih mudah menerima. JUDUL : PENGGAMBARAN STRUKTUR DALAM MEKANIKA TEKNIK Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar tentang struktur dalam suatu bidang Teknik Sipil. balok. mengerti tentang beban. serta bisa menggambar skema struktur dalam mekanika teknik.1. apa itu beban. Gambar portal gedung bertingkat dalam mekanika teknik .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -22- 1. jembatan dan lainsebagainya.9. maka mahasiswa perlu tahu bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik. balok.

Beban terpusat Beban terpusat adalah beban yang terkonsentrasi di suatu tempat. beban yang bisa bergerak umumnya disebut beban hidup misal : manusia. Beban yang tidak dapat bergerak disebut beban mati. balok perletaka n Gambar 1. manusia yang berdiri diatas jembatan P beban terpusat Penggambaran dalam mekanika teknik a. a.2. Kendaraan berhenti diatas jembatan P1 P2 P3 Penggambaran dalam mekanika teknik . bentuk jembatan sederhana dalam penggambarannya di mekanika teknik. a. Beban Didalam suatu struktur pasti ada beban.2.2.10. Gambar jembatan dalam mekanika teknik 1. kendaraan. dan lain sebagainya. misal : meja.1. peralatan dan lainsebagainya. Ada beberapa macam beban yaitu beban terpusat dan beban terbagi rata.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -23- b.

Beban terbagi rata Beban terbagi rata adalah beban yang tersebar secara merata baik kearah memanjang maupun ke arah luas. Gambar 1.11. Penggambaran beban terbagi rata dalam mekanika teknik .12. kg/cm Newton/mƞ dan lainsebagainya. Gambar 1. Newton. anak-anak berbaris diatas jembatan q t/mƞ Penggambaran dalam mekanika teknik Notasi beban terbagi rata = q Satuan beban terbagi rata = ton/mƞ. Gambar beban terpusat dalam mekanika teknik b. dan lainsebagainya.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -24- Notasi beban terpusat = P Satuan beban terpusat = ton. kg.

maka siswa bisa memahami pengertian tentang perletakan dan bagaimana pemakaian perletakan ini pada suatu struktur. jembatan. konsep pengertian tentang perletakan. sedang yang masuk pada lapisan permukaan bumi disebut dengan bangunan bawah. serta konsep kedudukan perletakan dalam suatu struktur.1. dan lainsebagainya. Bangunan-bangunan tersebut harus terletak diatas permukaan bumi. 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -25- 1. Hubungan antara bangunan atas jembatan dan bangunan bawah pondasi. y Tujuan Pembelajaran Khusus : Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar dan pengertian tentang struktur.2.3. hubungan antara bangunan tersebut dengan lapisan permukaan bumi dikaitkan dengan suatu pondasi. Pendahuluan Dalam bidang teknik sipil kita selalu membicarakan masalah bangunan seperti bangunan gedung. Bangunan yang terletak diatas permukaan bumi disebut bangunan atas.3.2. Perletakan y Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah membaca modul bagian ini. Contoh : a. Struktur jembatan (bangunan atas) perletakan Pondasi Penggambaran pada mekanika (bangunan struktur . Hubungan antara bangunan atas dan bawah melalui suatu tumpuan yang disebut dengan ƠPerletakanơ.

pada suatu struktur jembatan yang bertugas untuk menyangga sebagian dari jembatan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -26- Gambar 1. Gambar perletakan jembatan dalam mekanika teknik b. a.3. karena bias itu bergeser rol ke arah horizontal. maka oleh rol tersebut dari atas. . Ada 4 macam perletakan dalam mekanika teknik yaitu : rol.2. Gambar perletakan gedung (tumpuan)dalam mekanika teknik Macam-Macam Perletakan Dalam mekanika teknik perletakan berfungsi untuk menjaga struktur supaya kondisinya stabil. jepit dan perodel. Hubungan antara bangunan gedung dan pondasi Bangunan gedung (bangunan atas) muka tanah Perletakan (tumpuan) Pondasi (bangunan bawah) Penggambaran pada mekanika teknik 1.15) silinder baja Karena struktur harus stabil maka perletakan rol tersebut tidak boleh turun jika kena beban Rv Perletakan rol bila dilihat dari gambar struktur. sendi. Rol Strukt Bentuk perletakan rol. ada reaksi vertikal. Skema perletakan rol diberi beban momen jadi tidak mempunyai reaksi momen.14. (Gambar 1. jadi tidak bisa mempunyai reaksi horizontal. perletakan Gambar 1.2. Pada perletakan Rol Rv Penggambaran perletakan rol dalam bidang mekanika teknik.13. bisa berputar tersebut harus mempunyai reaksi jika Gambar 1.15.

Aplikasinya perletakan rol dalam mekanika teknik Rv b. Karena struktur harus stabil. Jadi sendi tidak mekanika teknik.17). Sendi Bentuk perletakan sendi pada suatu struktur jembatan. Aplikasinya perletakan sendi di dalam mekanika teknik Bentuk perletakan jepit dari suatu . Jepit Rv balok jembatan Gambar 1.17.16. Skema perletakan Sendi Pada perletakan karena itu mempunyai sendi tersebut harus reaksi vertikal (Rv). yang bertugas untuk menyangga sebagian dari jembatan (Gambar 1. Rv RH c. Strukt RH silinder baja Selain itu perletakan sendi tidak boleh bergeser horizontal.18. RH sendi tersebut bisa berputar jika Penggambaran perletakan sendi dalam diberi beban momen.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -27- Balok jembatan Gambar 1. maka perletakan sendi tidak boleh turun jika kena beban dari atas. oleh Rv Gambar 1. ada reaksi vertikal dan horisontal punya reaksi momen. Oleh karena itu perletakan sendi harus mempunyai reaksi horizontal (RH).

Pendel V Penggambaran perletakan jepit dalam mekanika teknik. Skema perletakan pendel pada suatu struktur baja RR R . Penggambaran perletakan pendel dalam mekanika teknik.20. Aplikasi perletakan jepit di dalam mekanika teknik Bentuk perletakan jepit dari suatu struktur. hanya searah dengan sumbu pendel tersebut. ada reaksi searah pendel.21. balok baja pendel Gambar 1.) Pendel tersebut hanya bisa menyangga sebagian jembatan.21. dan momen Gambar 1. ada reaksi vertikal. horizontal. jadi hanya mempunyai satu reaksi yang searah dengan sumbu pendel. bertugas untuk menyangga sebagian dari struktur baja (Gambar 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -28- RH RM RV RH RM R d.

Aplikasi di perletakan dalam pendel pende l mekanika teknik .22.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -29- balok baja Gambar 1.

Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat memahami pengertian keseimbangan dalam suatu struktur dan syarat-syarat apa yang diperlukan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -30- 1. hal itu merupakan syarat utama. Contoh : benda dalam keadaan seimbang (tidak bisa bergerak) kotak lem meja Gambar 1. maka kotak tersebut dalam keadaan seimbang. suatu kotak yang dilem diatas meja 1. Keseimbangan vertikal . 1. JUDUL : KESEIMBANGAN BENDA Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan bisa mengerti apa yang disebut keseimbangan pada suatu benda.1. yang berarti kotak tersebut tidak bisa turun. serta manfaatnya dalam struktur tersebut.2. Bangunanƛbangunan tersebut supaya tetap berdiri.3. Pendahuluan Dalam bidang teknik sipil mahasiswa selalu diajak berbicara tentang bangunan gedung.3.23. Pengertian tentang keseimbangan Sebuah kotak yang dilem diatas meja. a. Apa saja syaratsyaratnya supaya suatu bangunan tetap seimbang. maka struktur-strukturnya harus dalam keadaan seimbang. jembatan dan lain sebagainya.3. dan bagaimana cara menyelesaikannya. mahasiswa perlu mengetahuinya. tidak bisa bergeser horisontal dan tidak bisa berguling.

Keseimbangan horisontal PH Kotak Lem RH Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH). Keseimbangan vertikal Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas lumpur Kalau kotak tersebut dibebani Lumpur secara vertikal (Pv). yang berarti Kotak tenggelam lumpur tersebut tidak mampu memberi perlawanan secara Pv Rv vertikal (Rv). yang berarti meja tersebut mampu memberi perlawanan vertikal (Rv). Kotak Gambar 1. perlawanan Meja vertikal tersebut (Rv) disebut reaksi vertikal. maka kotak tersebut langsung tenggelam. maka kotak tersebut tidak bisa bergeser secara horisontal. (Gambar 1. yang meja berarti lem yang merekat antara kotak dan meja tersebut .25) Gambar 1. maka kotak tersebut tidak bisa turun. Kotak tenggelam dalam lumpur b.24.25.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -31- Pv kalau kotak tersebut dibebani Kotak Lem secara vertikal (Pv).

maka kotak tersebut tidak bisa berputar (tidak bisa terangkat).27. maka kotak tersebut langsung bergeser. Keseimbangan horizontal memberi perlawanan horisontal (RH).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -32- mampu Gambar 1. Keseimbangan Momen Kalau kotak tersebut dibebani momen (PM). yang berarti lem perekat antara kotak dan meja tersebut mampu memberikan perlawanan momen (RM). karena tidak ada yang menghambat. sehingga bisa menahan kotak untuk tidak bergeser. perlawanan momen tersebut (RM) disebut dengan reaksi momen.27) Gambar 1. yang berarti meja tersebut tidak mampu memberi perlawanan horisontal (RH) (Gambar 1. Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem Kalau kotak tersebut dibebani secara PH kotak yang bergeser horisontal (PH). PM Kotak Lem Meja . Kotak yang bergeser Karena beban horizontal c.26. Perlawanan horisontal tersebut (RH) disebut reaksi horisontal.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -33- Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem. meja mampu yang tersebut berarti tidak memberikan perlawanan momen (RM). Kotak yang terangkat karena beban momen d Keseimbangan Statis PV PH PM Kotak Lem  Kalau kotak tersebut di lem diatas meja. Meja karena tidak ada lem yang mengikat antara kotak dan meja tersebut. Gambar 1. RV Meja tidak bisa bergeser horisontal. Keseimbangan statis . RM Gambar 1.30.29. momen maka kotak tersebut bisa terangkat. PM Kotak yang terangkat Kalau dibebani kotak tersebut (PM). dan tidak bisa terangkat. yang RH berarti harus stabil. benda tersebut harus tidak bisa turun.

4. tumpuannya mampu memberi perlawanan secara vertikal pula. atau RV . maka syarat minimum RM = PM atau RM . Agar kotak tersebut tidak bisa bergeser secara horisontal maka syarat minimum RH = PH atau RH ƛ PH = 0 atau 7H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol)  Kalau kotak tersebut dibebani secara momen (PM ). Agar kotak tersebut tidak bisa terpuntir (terangkat).  Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH ).  Dari variasi tersebut diatas. dapat dikatakan bahwa suatu benda yang stabil atau dalam keadaan seimbang. maka pada tumpuannya mampu memberi perlawanan secara horisontal (RH ). 1. maka pada tumpuannya mampu memberi perlawanan secara momen (RM ). Suatu benda diatas meja dengan berat sendiri = 5 kg Pv = 5 kg . agar kotak tersebut tidak bisa turun syarat minimum RV = PV.3. maka harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : 7V = 0 (jumlah gaya-gaya vertikal antara aksi (beban) dan reaksi harus sama dengan nol) 7H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara aksi (beban) dan reaksi sama dengan nol) 7M = 0 (jumlah gaya-gaya momen antara aksi (beban) dan reaksi harus sama dengan nol).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -34-  Kalau kotak tersebut dibebani secara vertikal (PV). Latihan 1.PV = 0 atau 7V = 0 (jumah gayagaya vertikal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol).PM = 0 atau 7M = 0 (jumlah gaya-gaya momen beban dan reaksi harus sama dengan nol).

Rv = ? 2. Penutup . satuan kg/mƞ atau ton/mƞ atau Newton / mƞ o Macam Perletakan .3.5.Beban terbagi rata.3. Suatu kantilever (konsol) dengan beban seperti pada gambar.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -35- Berapa reaksi vertikal yang terjadi supaya balok tersebut tidak turun ?.Jepit punya 3 reaksi .Rol punya 1 reaksi . RH dan RM sejajar dengan batang pendel o Syarat Keseimbangan Ada 3 syarat keseimbangan yaitu : 7v = 0 7H = 0 7M = 0 1. P.Beban terpusat. PV = 5 kg PH = 2 kg PM = 5 kgm Cari reaksi-reaksi yang terjadi supaya konsol tersebut tak roboh. q. notasi.Pendel punya 1 reaksi Rv Rv dan RH Rv. 1. Rangkuman o Macam-Macam Beban . satuan.Sendi punya 2 reaksi .6. notasi. kg atau ton atau Newton .

8.3. 2. Nomor Soal 1 2 Reaksi yang ada Rv Rv RH RM Besar Reaksi 5 kg 5 kg 2 kg 5 kg m Arah o o p 1 1. Senarai Beban = aksi Reaksi = perlawanan aksi . Daftar Pustaka 1. Suwarno.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -36- Untuk mengukur prestasi.7.3. Soemono ƏStatika IƐITB Bab I 1. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM Bab I. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci yang ada.

Balok jembatan diatas 2 Balok jembatan B A rol sendi perletakan A dan B Perletakan A adalah rol Perletakan B adalah sendi . Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa selain dapat mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis tertentu. Mahasiswa diwajibkan memahami struktur yang paling sederhana sebelum melangkah ke yang lebih kompleks. JUDUL : KONSTRUKSI STATIS TERTENTU Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis tertentu. Contoh : contoh struktur sederhana yaitu balok jembatan diatas 2 tumpuan. jembatan dan lain sebagainya. mulai dari yang sederhana sampai dengan yang kompleks. seperti gedung-gedung.1. sistim yang paling sederhana tersebut disebut dengan konstruksi statis tertentu. mengetahui syarat-syarat apa yang diperlukan dan bagaimana cara pemanfaatannya.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -37- MODUL 2 : ARTI KONSTRUKSI STATIS TERTENTU DAN CARA PENYELESAIANNYA 2.1.1. Pendahuluan Dalam bangunan teknik sipil. ada beberapa macam sistem struktur. 2.

1. Contoh a).3. Definisi Statis Tertentu Suatu konstruksi disebut statis tertentu jika bisa diselesaikan dengan syaratsyarat keseimbangan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -38- Gambar 2.1. maka jumlah reaksi yang tidak diketahui maksimum adalah 3. Gambar konstruksi jembatan dalam Mekanika Teknik 2. jumlah bilangan yang tidak diketahui dalam persamaan tersebut maximum adalah 3 buah. Jika dalam menyelesaikan suatu konstruksi tahap awal yang harus dicari adalah reaksi perletakan. Ada beberapa syarat-syarat keseimbangan Sesuai dengan materi yang sebelumnya ada 3 (tiga) syarat keseimbangan yaitu : § V ! 0 ( jumlah gaya  gaya vertikal sama dengan nol) § H ! 0 ( jumlah gaya  gaya horisontal sama dengan nol) § M ! 0 ( jumlah momen sama dengan nol) Kalau dalam syarat keseimbangan ada 3 persamaan. Balok diatas dua perletakan dengan P beban P seperti pada gambar. B= rol dengan reaksi tidak diketahui (RBV = reaksi vertikal di B) .2. A = sendi dengan 2 reaksi tidak RAH A B diketahui (RAV dan RAH adalah reaksi-reaksi vertikal dan horizontal RAV RBV di A).1.maka pada konstruksi statis tertentu yang harus bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan. 2.

2. Konstruksi statis tidak tertentu . RAH = reaksi horizontal di A RM = momen di A. Konstruksi statis tertentu Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 3 buah. A = jepit dengan 3 reaksi yang tidak diketahui.3. b). maka konstruksi tersebut statis tak tertentu. B = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RBV dan RBH (reaksi vertical dan reaksi horizontal di B). A B Gambar 2. Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 4 buah. maka konstruksi tersebut adalah konstruksi statis tertentu. Jumlah reaksi yang tidak diketahui ada 3 buah.4. RAV = reaksi vertical di A RM RAH A RAV Gambar 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -39- Gambar 2. sedang persamaan syarat keseimbangan hanya ada 3. Konstruksi statis tertentu c) P Balok diatas 2 perletakan A = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RAV dan RAH (reaksi vertikal dan reaksi horisontal di A). P Suatu konstruksi kolom yang berkonsol dengan perletakan di A adalah jepit. maka konstruksi tersebut adalah statis tertentu.

Tunjukkan apakah konstruksi tersebut statis tertentu atau bukan. Perletakan A dan C sendi. b). Persamaan syarat-syarat keseimbangan adalah 3 buah 7V = 0 7H = 0 dan 71 = 0 2. Rangkuman Konstruksi disebut statis A tertentu.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -40- 2.5.1. 2. Perletakan A adalah sendi dan di B adalah rol. jika bisa diselesaikan dengan persamaan syarat-syarat keseimbangan.1. P C A B suatu balok ABC berkantilever terletak diatas dua perletakan dengan beban P seperti pada gambar. Penutup Untuk mengukur prestasi. Tunjukkan apakah konstruksi statis tertentu atau bukan.1.4. P B C dua seperti pada adalah tersebut suatu balok ABC terletak diatas perletakan dengan beban P gambar.mahasiswa bisa melihat kunci dari soal-soal yang ada sebagai berikut : Jawaban Soal P C A B titik A B Macam Perletakan Sendi sendi Total reaksi Jumlah reaksi 2 buah 1 buah 3 buah .6. Latihan a).

Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat menggunakan teori yang telah diberikan untuk menghitung gaya dalam suatu struktur serta bisa menggambarkan gaya-gaya dalam tersebut secara rinci pada struktur statis tertentu. Suwarno ƠStatika Iơ ITB bab I 2. JUDUL : GAYA DALAM Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa bisa mengetahui apa yang disebut dengan gaya dalam dan bisa mengetahui bagaimana cara mencarinya. 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -41- Bisa diselesaikan dengan persamaan syarat keseimbangan. kayu.1. Dalam pembuatan struktur-struktur tersebut perlu diketahui ukruan atau yang lazim disebut dengan demensi dari tiap-tiap elemen .7. Suwarno ƠMekanika Teknik Statis Tertentuơ UGM bab I 2.8.1. Daftar Pustaka 1. Pendahuluan Bangunan teknik sipil pada umumnya terbuat dari struktur beton. Jadi konstruksi statis tidak tertentu. 2.1.2. b) P B C konstruksi A Macam Perletakan Jumlah reaksi Sendi 2 buah sendi 2 buah Total reaksi 4 buah Persamaan tidak bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan. Jadi diatas adalah statis tertentu. baja dan lain-lain. Senarai Konstruksi statis tertentu = konstruksi yang bisa diselesaikan syarat-syarat keseimbangan dengan Itik A B 2.2.

tinggi. maka balok tersebut akan menderita beberapa gaya dalam yaitu : y Balok menderita beban lentur yang menyebabkan balok bentuk tersebut berubah Gaya melentur. Yang menjadikan urat-urat tangan orang (A) tersebut menonjol sehingga tampak dari luar A B adalah karena adanya gaya dalam pada tangan tersebut akibat beban P = 5 kg. 2. Pengertian tentang Gaya Dalam A L2 B Ada 2 (dua) orang yang mempunyai bentuk tubuh yang berbeda. maka kedua tangan orang A dan B tersebut tertegang. Contoh : a).2. o Dua buah struktur seperti pada gambar (a) dan (b) dengan beban (P) dan bentang (l) berbeda. pelat. pendek (A).6. Contoh (b) 2.2.7. demikian juga untuk orang B.5. Macam-macam Gaya dalam P1 P reaksi A RA l Gambar 2. dalam yang menyebabkan pelenturan balok tersebut disebut momen yang . P1 A L1 Gambar 2. Balok diatas 2 perletakan dan menerima beban P (sehingga melendut) P B beban RB Suatu balok terletak pada 2 perletakan dengan beban seperti pada gambar. Namun hal ini tidak terjadi pada B karena orangnya besar. sampai suatu saat tangan A tidak mampu Gambar 2. Gambar 2.2. yang satu lagi besar.8. P P Untuk A orangnya pendek. Kalau beban P tersebut dinaikkan secara bertahap.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -42strukturnya (balok. satu kecil. kolom.kecil dalam membawa beban P tersebut urat-urat yang ada pada tangannya tertegang dan menonjol keluar sehingga kita bisa melihat alur uratP = 5 kg P = 5 kg uratnya. Contoh (a) P2 B o Gaya dalam yang diterima pada struktur (a) berbeda pula dengan gaya dalam yang diterima oleh struktur (b). maka demensi dari struktur (a) akan berbeda pula dengan struktur (b). memerlukan gaya dalam. beban Beban maksimum yang dipikul oleh orang A akan lebih kecil dari pada beban maksimum yang bisa dipikul oleh orang B karena diameter lengan orang A lebih kecil dari diameter lengan orang B. tinggi (B). dansebagainya). Jika kedua-duanya membawa barang beban P = 5 kg. Orang membawa membawa beban tersebut.3. Untuk menentukan demensi-demensi dari elemen struktur tersebut.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -43- .

4. Momen untuk daerah balok antara perletakan A ke perletakan B dengan variable x bisa ditulis sebagai berikut : I (1) II (dihitung dari kiri ke potongan c-c) Ʀ. Balok yang menerima beban terpusat dan terbagi rata Definisi Momen adalah perkalian antara gaya x jarak. Mx = RA . ½ x 1) gaya jarak gaya jarak . Balok yang menerima gaya yang searah dengan sumbu batang. Balok yang terletak antara tumpuan A dan B menderita (menerima) momen. x ƛ q. maka akan menerima beban gaya dalam yang disebut Normal yang diberi notasi N. ada beban terbagi rata q (kg/mƞ) dan beban terpusat P (kg).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -44- o Balok tersebut menderita gaya tekan karena adanya beban P dari kiri dan kanan.9. Gaya Dalam Momen a).(pers. (atau menerima gaya dalam momen) Gambar 2. 2. yang berarti balok tersebut menerima beban lentur atau momen. Balok tersebut akan menerima beban lentur sehingga balok akan melendut. Pengertian Momen (M) c A c x RA l (m) RB P (kg) q kg/mƞ B Suatu balok yang terletak diatas 2 tumpuan dengan beban seperti pada gambar. balok tersebut menerima gaya dalam yang disebut gaya lintang dan diberi notasi D.x. o Balok tersebut menderita gaya lintang. akibat adanya reaksi perletakan atau gaya-gaya yang tegak lurus ( B ) sumbu batang.2.

½ (l -x) (dihitung dari kanan) ƦƦƦ. 2) Kalau diambil di potongan c-c RB (reaksi di B) merupakan gaya I (l-x) = jarak dari RB ke potongan c-c Q (l-x) = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh (l-x) q (l-x) = Q2 ½ (l-x) = adalah jarak dari titik berat beban terbagi . Gambar potongan struktur bagian kiri Kalau dihitung dari sebelah kanan ke (c-c) I II Mx = RB (l-x) ƛ q (l ƛ x) .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -45- Misal kita ambil potongan c-c yang terletak sejarak x dari A RA (reaksi di A) merupakan gaya x = adalah jarak dari RA ke potongan c-c sejauh x qx = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh x yang diberi notasi (Q1 = qx) ½x= adalah jarak dari titik berat beban terbagi rata sepanjang x ke potongan c-c I II q (kg/mƞ) titik berat qx c ½x Q1= qx x c Gambar 2. (pers.10.

GayaRA RB gaya tersebut adalah RA . Demikian juga sebaliknya. Gambar potongan struktur bagian momen yang mempunyai arah berbeda.5.13. Gaya Lintang (D) c P (kg) q (kg/mƞ) Kalau dilihat.11. balok yang terletak diatas 2 (dua) perletakan A dan B. Tanda momen (-) * Gambar 2.2. menerima gaya-gaya yang c arahnya B (tegak lurus) terhadap sumbu balok.12. maka tertekankanan perlu memberi tanda terhadap momen tersebut. Gambar balok menerima beban memberi gaya lintang terhadap .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -46- II c c q (kg/mƞ) titik berat dari q (l-x) (2) Kalau menghitung besarnya momen di cboleh dari kiri potongan seperti pada persamaan (1) ataupun menghitung dari kanan potongan seperti pada persamaan dan hasilnya pasti sama. Jika momen tersebut mampu melentur suatu tertarik tertarik balok sehingga serat atas tertekan dan serat Tanda momen (+) * Tanda momen (+) * bawah tertarik maka momen tersebut diberi tanda (+) = positif. ½ (l-x) c Q2 = q (lx) l -x y Tanda Gaya Dalam Momen Untuk memberi perbedaan antara momentertekan Gambar 2. Tanda momen 2. q dan RB gaya-gaya tersebut yang Gambar 2.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -47- Definisi : Gaya lintang adalah gaya-gaya yang B dengan sumbu batang. maka D1 = RB ƛ q (l-x) ƛ P = RB ƛ Q2 ƛ P kanan potongan) P c q (kg/mƞ) (gaya lintang di c yang dihitung dari c Q2 = q (lx)x) (l ƛ RB Gambar 2. maka coba gaya-gaya apa saja yang arahnya B (tegak lurus) terhadap sumbu AB. Potongan balok bagian kanan . maka (1) Dc = RA ƛ q x = RA ƛ Q1 (gaya lintang di c yang dihitung dari kiri x q (kg/mƞ) c potongan) c Q1=q x RA Gambar 2.14. Potongan balok bagian kiri y (2) Kalau dihitung dari titik c ke kanan potongan.15. y kalau dilihat dari C ke kiri potongan. Kalau kita ambil salah satu potongan antara perletakan A-B yaitu c-c.

atau kalau dilihat di kanan RB potongan.16.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -48- y Tanda Gaya Lintang P C A RB C C RA B Untuk membedakan gaya lintang. . Karena RB adalah merupakan reaksi. jumlah gaya arahnya ke Gambar 2. gaya yang C ada B terhadap sumbu adalah RB ( o ) keatas dan RB P (q ) kebawah. maka perlu memberi tanda (+) dan (-). Definisi : * Gaya lintang diberi tanda positif jika dilihat di kiri potongan titik yang ditinjau. gaya yang ada hanya RA. P Jika dilihat dari kanan potongan c. C RA Dilihat dari kiri potongan C. maka P > RB sehingga jumlah antara P dan RB arah ( q ) kebawah. jumlah gaya arahnya ke atas. jadi jumlah gaya-gayanya yang B sumbu hanya RA dengan arah o (keatas) jadi tanda gaya lintang adalah positip. Skema gaya lintang dengan tanda positif (+) Coba dilihat pada Gambar 1 dari kalau kita mau menghitung besarnya gaya lintang di c (Dc).

jika dilihat di kiri titik potongan P A D B D yang ditinjau arahnya kebawah ( q ) dan bila ditinjau di kanan titik potongan yang ditinjau arahnya ke atas.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -49- * P D B Definisi : * Gaya lintang diberi tanda negatif. D maka gaya lintangnya tandanya negatif. Jadi gaya lintangnya tandanya adalah . Jadi RA < P.17. gaya-gaya yang B RA sumbu hanya RA dan P. maka resultante gaya-gaya antara RA dan P arahnya adalah kebawah ( q ). karena RA adalah reaksi. Jika dilihat di sebelah kanan potongan gayagaya yang B sumbu hanya RB dengan arah ke RB atas ( o ). A Dilihat dari kiri potongan D.17 bagaimana kalau kita mau menghitung besarnya gaya P D lintang di D (DD). Gambar 2. Gambar Skema gaya lintang 2 dengan tanda negatif (-) Coba dilihat pada Gambar 2.

berarti balok tersebut tidak mempunyai gaya normal (N).18. maka pada batang AB (Gambar 3. * Tanda Gaya Normal . * Jadi kalau kita lihat balok yang seperti pada Gambar 2.6. .18 yang RA Gambar 3 Gambar 2.Jika gaya yang ada arahnya menekan balok.19.19) menerima gaya normal (N) sebesar P. P P Kalau dilihat pada Gambar 3. Balok menerima beban gaya normal RA (sejajar) sumbu batang yaitu P.2. baik dihitung dari kiri ataupun kanan hasilnya harus sama. Balok tanpa beban normal RB mana tidak ada gaya-gaya yang sejajar sumbu batang. Pengertian Tentang Gaya Normal (N) P A B Definisi : Gaya normal adalah gaya-gaya yang arahnya sejajar (//) terhadap sumbu beban balok. maka tanda gaya normalnya P adalah negatif (-) { € €p P n €€ }. 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -50- Jadi untuk menghitung gaya lintang.19 dimana ada gaya-gaya yang // Gambar 4 RB Gambar 2.

Ringkasan Tanda Gaya Dalam M tekan M tanda momen positif (+) tarik tarik tekan M M tanda momen negatif () tanda gaya lintang positif (+) tanda gaya lintang negatif (-) tanda gaya normal negatif (-) . 2.2.7.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -51- . maka tanda gaya normalnya P €€ adalah positif (+) { n P € €p }.Jika gaya yang ada arahnya menarik balok.

Contoh : Penyelesaian Soal 1 Sebuah balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban seperti pada gambar.2. P3 = 2t (´) P4 = 3t . q1 = 2 t/mƞ. Ringkasan tanda gaya dalam 2.20. q2 = 1 t/mƞ P1 = 2 2 t q1 = 2t/mƞ P2 = 6 ton q2 = 1 t/mƞ P4 = 3 ton P1v = 2 t 45 ° C P1H = 2 t A D P = 2t 3 E B RBV RBH 6m RAV 2m 10 m 2m .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -52- tanda gaya normal positif (+) Gambar 2.8. P1 = 2 2 t (º). P2 = 6t (¶).

6  2.21.2 = 9 ton (µ) 10 RBV = Karena tanda RBV adalah positif berarti arah reaksi RBV sama dengan permisalan yaitu (µ) keatas. Untuk mengetahui apakah reaksi di A (RA) dan reaksi di B (RB) adalah benar. (Bidang M.6. dan D) Jawab : Mencari reaksi vertical RA (µ) keatas dan arah reaksi vertical di B Dimisalkan arah reaksi vertical di A RB (µ) juga keatas.12 ƛ q1.7  6. RBV 71%! RBV.2) ƛ (RAR + RBR) = 0 (2 + 2.1  6.6 ƛ q1. yang searah diberi tanda sama.1 = 13 ton (µ)Karena tanda + berarti arah sama dengan permisalan (+) 10 RAV = Pemberian tanda pada persamaan berdasarkan atas arah momen.6 + P2 + q2. maka perlu memakai kontrol yaitu § V = 0 (P1R + q1.3  2.2 .6.3 + P1R.6 + 6 + 1.q1 ƛ P2. gaya lintang dan bidang normal.7 ƛ P2.q2.2 = 0 1. Mencari RAV dengan 7MB = 0 (jumlah momen-momen terhadap titik B = 0) RAV.4  2.1.6.4 + 2. N. sedang yang berlawanan arah diberi tanda berlawanan.1 = 0 2.6.12  2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -53- Gambar 2. Balok diatas 2 perletakan dan pembebanannya Diminta : Gambar bidang momen.10 ƛ q2.10 ƛ P1R.2) ƛ (13 + 9) = 0 Beban vertikal Reaksi vertikal .

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -54- Mencari Raksi Horizontal Karena perletakan A = rol tidak ada RAH. Perletakan B = sendi ada RBH. D Beban P1 = 2 2 (45°) bisa diuraikan menjadi P1V = 2t (¶) dan P1H = 2t ( ) P2 = 6 q1 = 2 ton 2t t/mƞ P3 = 2 ton C D 6m RA = 13 t X A . di kiri potongan arah gaya lintang kebawah (¶) DA kn (gaya lintang (D) di kanan titik A) DA kn = .2 ton (gaya lintang (D) di kiri titik A. Untuk mencari RBH dengan memakai syarat keseimbangan ( § H = 0) §H = 0 RBH = P1H + P3 + P4 = 2 + 2 + 3 = 7 ton (³) Menghitung dan Menggambar Gaya Lintang (D) Dihitung secara bertahap Daerah C A lihat dari kiri Gaya lintang dari C ke A bagian kiri adalah konstan DA kr = P1R = .P1R + RAR = -2 + 13 = 11 ton (di kiri potongan arah gaya lintang ke atas).

2 RBV = 9 ton B E P4 = 3 ton Lebih mudah kalau dihitung dari kanan dari E menuju B. Variabel x2 berjalan dari E ke B. DD kn : -2 + 13 ƛ 12 ƛ 6 = . melampaui beban P2. jadi Bidang D sama senilai DD kn (konstan dari D sampai B). sedang beban yang dihitung dimulai dari titik C. DE = 0 Dx2 = q2 .7 ton (dikiri potongan arah gaya lintang ke bawah) Dari titik D s/d B tidak ada beban. Dx = -2 + 13 ƛ q1 x = (-P1V + RA ƛ q1x) Persamaan (Linier) didapat Untuk x = 0 DAkn = -2 + 13 = + 11 ton (di kiri potongan arah gaya DD kr= -2 + 13 ƛ 12 = . Daerah B-E 2m q2 = 1 t/mƞ x.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -55- Variabel x berjalan dari A ke D (sebelah kiri titik P2). x2 = + x2 (persamaan liniear) .1ton lintang ke bawah) 2.6 didapat Untuk x = 6 m DD kn : sedikit di kanan titik D.

dimana gaya normal dihitung dari titik C. batang dari D ke B nilai gaya normal konstan). ND kn = (-2 ƛ 2) ton = . NB kn = + 3 ton (gaya normal menarik batang) Kalau dihitung dari kiri.7 ton (kanan potongan arah ke atas) Melewati perletakan B MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG NORMAL (N) Daerah CD dihitung dari kiri sampai D.4 ton (gaya normal menekan batang) NB kr = NDkn = .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -56- DB kn kanan perletakan B (x2 = 2 m) arah ke DB kn = + 2 ton (kanan potongan kebawah) DB kr (kiri titik B) DB kr = + 2 ƛ 9 = . P2 tidak termasuk dari C ke D nilai gaya normal konstan. ND kr = . dari E ke B nilai gaya normal konstan.2 ton (gaya normal menekan batang) Daerah DB dihitung dari kiri (beban yang dihitung mulai dari titik C.P1H = .4 ton Daerah BE dihitung dari kanan. Dari kiri DBkn = (-4 + 7) t = + 3 ton (gaya normal menarik batang) MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG MOMEN (M) Daerah C A C P1H = 2t 2m x P1V = 2t A .

x = .2 = .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -57- Variabel x berjalan dari C ke A Mx = .4 tm. sehingga tanda negatif (momen P1v .2 x (linier) Untuk x = 0 x=2 Mc = 0 MA = . x mengakibatkan serat atas tertarik (-) ).P1v .2. Daerah A D .

½ q1 x12 + 11 x1 ƛ 4 6 m MENCARI MOMEN MAXIMUM D Mx 1 !0 d x1 d Mx1 !  q1 x1  11 ! 0 d x1 p x1 ! 5. lihat pada Gambar .5.22.m Letak dimana harga Mmax = Letak dimana harga (D = 0) 2.1 RAV = 13t 2 m Variabel x1 berjalan dari A ke D Mx1 = -P1V (2 + x1) + RA.5)² + 11.5 ƛ 4 = 26. x1 = 5.x1 ƛ ½ q1 x1² Mx1 = -2 (2 + x1) + 13 x1 ƛ ½ q1 x12 (persamaan parabola) = .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -58- Gaya-gaya yang dihitung mulai dari titik C q1 = 2 t/mƞ P1V = 2t C P1H = 2t A D x.2 (5.25 tm.5.5 m Mmax = .½ .

4 = -2 tm didapat Untuk x2 = 2 .x12 + 11 x1 ƛ 4 = 0 = x12 ƛ 11 x1 + 4 = 0 x1 = 0.62 m (tidak mungkin) Untuk x1 = 6 MD = -36 + 66 ƛ 4 = + 26 tm Daerah E-B (dihitung dari kanan.q1.½ q2 x22 Untuk x2 = 0 didapat ME = 0 MB = . titik E ke titik B) variabel x2 berjalan dari E ke B q2 = 1 t/mƞ P4 = 3 t B 2m x2 E Dihitung dari kanan Parabola Mx2 = . 1.3756 m (yang dipakai) x1ƞ = 10.½ .½ .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -59- Mencari titik dimana M = 0 Mx1 = .

3756 parabola BIDANG M linier Gambar 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -60- P1V = 2 t C =2t A q1 = 2t/mƞ P2 = 6 ton D P3 = 2 ton B RBV ton q2 = 1t/mƞ E P4 = 3 ton = P1H RAV = 13 t RBH 7t =9 11 2 - + 6 t BIDANG D 1 t - 2 t + 7 t 2 t 2 t 4t + 3 t BIDANG N 5.5 m linier - 4 tm + - 2 tm parabola 0.286 0. Gambar bidang M. N. D balok diatas 2 tumpuan .22.

23.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -61- 2. Bidang M.5 24.9. Contoh 2 Diketahui: KONSOL (CANTILEVER) P2 D 1t C 1m RD 2m B = q=1 t/mƞ P1 2t A Suatu konstruksi konsol (cantilever) dengan perletkan di D = jepit dengan beban P1 = 2t = (¶).5 32.5 parabola Dx2 = 2 + 1 + q . D 3m x1 x2 Jawab : Mencari reaksi di D dengan syarat keseimbangan RD = ? 7v = 0 RD ƛ P2 ƛ P1 ƛ q. N. x2 Untuk x2 = 3 DB kr = 2 + 1 + 1.5 = 0 RD = 2 + 1 + 5. x1 Untuk x = 3 DB kn = 2 + 1. 5 8 BIDANG D + 1t Bidang D (dari kanan) DA kr = + 2 ton Daerah A B BIDANG M x1 merupakan variabel yang bergerak dari A ke B Dx1 = 2 + q. N. parabola x2 merupakan variabel yang bergerak dari A ke C Daerah B C 10. pilih yang lebih mudah dalam hal ini pilih yang dari kanan.3 = 6 ton Untuk x2 = 5 DC = 2 + 1 + 5 = 8 ton Daerah A B Bidang M (dari kanan) MA = 0 linierGambar 2. D Balok cantilever .2.3 = 5 ton (dari kanan potongan arah gaya ke bawah tanda positif (+) ).1 = 8 t (o) Untuk menggambar gaya dalam kita bisa dari kiri atau kanan. P2 = 1t (¶) dan beban terbagi rata q = 1 t/mƞ Ditanya : Gambar bidang M.

3.5² = . Soal 1 P1 = 4t P2 = 4 2t HA A B VA 2m 3m 3m RB Balok AB dengan beban seperti tergambar A = sendi B = rol P1 = 4 ton P2 = 4 2 ton Ditanyakan.P1.C : Mx2 = -P1 x2 ƛ P2 (x2 ƛ3) ƛ ½ q x2 : MC = -2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -62- 2 Daerah B .24.5 + 1) = -12 ƛ 3 ƛ 5.2 ƛ ½ .1.1 (2. Latihan Balok diatas 2 tumpuan. a) reaksi perletakan b) bidang N.5 = 32. D dan M 45 ° Soal 2 P! t P3 = 32 2t HA A VA 2m 4m q = 1 t/m' 45° D B RB 2m C .3 ƛ 5.6 ƛ P2. a) reaksi perletakan b) bidang N.2. D dan M Balok ADCB dengan beban seperti tergambar A = sendi B = rol P1 = 3 2 ton q = 1 ton/m· Ditanyakan.5 tm ( ) MD : .10.5 ƛ 1.5 t ( ) 2.

reaksi perletakan b).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -63- Soal 3 q   . Ditanyakan.5 ton /m· . a). bidang N. t/m' HA A VA 6m ¡¢ ¤2   2 2t ° £ P1   2t 2m B RB 2m C Balok ADCB dengan beban seperti tergambar : A = sendi B = rol . D dan M q = 1. P1 = 2 ton P2 = 2 2 ton .

5 ton 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -1- 2.2. Penutup Untuk mengukur prestasi.5 ton 4 ton 4 ton 0 4.5 tm 0 Tanda/arah o o p . 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D D²B A²C C²D D²B A C D B Nilai 4.5 ton 3.5 ton 0 9 tm 10. Rangkuman Dalam suatu konstruksi ada gaya dalam sebagai berikut : M (momen) dengan tanda + D (gaya lintang) dengan tanda + N (gaya normal) dengan tanda + - 2.tekan + + + + Momen = M .5 ton 0. mahasiswa bisa melihat kunci dari soal -soal yang ada sebagai berikut : Jawaban Soal No.12.2.11.

tekan + + Momen = M + + - .tekan + + Momen = M + + Jawaban Soal No.08 m kanan A A X = 3. 2 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D D²B A ² D kiri D kanan B kiri B kanan C A D B C 2 m kanan D Nilai 3 ton 6 ton 3 ton 3 ton 0 3 ton 0 4 ton 2 ton 0 0 6 tm 2 tm 0 4 tm Tanda/arah o o p .625 ton 4.0 tm 0 Tanda/arah o o p .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -2- Jawaban Soal No.375 ton 2 ton 2 ton 4.625 ton 4.75 tm 4. 3 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D²B²C A D kiri D kanan ² B kiri B kanan ² C X = 3.08 m D B C Nilai 4.13 tm 0.375 ton 2.375 ton 2 ton 0 0 7.

. ½ dx dan kanan ada Mx + dMx o ½ qx.dx² } 0 karena dx = cukup kecil dan dx² bertambah kecil sehingga bisa diabaikan. gaya lintang dan momen. Dengan beban sepanjang dx tersebut kita akan mencari hubungan antara beban. qx = beban terbagi rata Mx = momen di potongan I ( ) Dx = gaya lintang di potongan I ( o) qx .3. ½ dx ƛ (Mx + d Mx) = 0 ½ q. distribusi gaya dalam pada balok sepanjang dx Keseimbangan gaya ƛ gaya vertikal 7 V = 0 di potongan II Dx ƛ qx dx ƛ (Dx + d Dx) = 0 (kiri ada Dx ( o) dan qx dx ( q) dan kanan ada Dx + d Dx ( q) dDx = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -3- 2. Dx dx dan qx. dx² . dx o Kiri ada Mx . potongan tersebut antara I dan II sepanjang dx. Mx + dMx = momen di potongan II ( ) dMx = selisih momen antara I dan II qx ½ dx beban qx.dx.dx . dx = berat beban terbagi rata Sepanjang dx Dx + dDx = gaya lintang di potongan II (¶) dDx = selisih gaya lintang antara Potongan I dan II.24. Gaya Lintang D dan q (Muatan) Pada gambar terdapat potongan sepanjang dx batang yang diberi beban terbagi rata (qx).0 d Mx = Dx .dx Mx Dx M x + dMx D x + dDx batang I dx II Gambar 2.qx dx d Dx !  qx dx (turunan pertama dari gaya lintang adalah beban) Keseimbangan momen 7 M = 0 di potongan II Mx + Dx dx ƛ qx . Hubungan Antara Momen (M) .

misal : tangga. 2. balok atap dan lain sebagainya. Namun disini perlu lebih berhati-hati karena dalam baloknya menghitung (b) Gambar 2. Pengertian Dasar Balok miring adalah suatu balok yang berperan sebagai pemikul struktur yang posisinya membentuk sudut dengan bidang datar.25.4. Dasar Penyelesaian Dalam penyelesaian struktur. Pada kenyataan sehari -hari balok-balok tersebut bisa berdiri sendiri atau digabungkan dengan balok vertikal atau horisontal. Seperti pada gambar.4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -4- d Mx ! Dx dx * turunan pertama dari momen adalah gaya lintang 2. Skema balok miring . Balok Miring Pada pelaksanaan sehari -hari sering kita menjumpai balok yang posisinya miring seperti : tangga.1. terutama untuk menghitung dan menggambar gaya dalam adalah (a) sama dengan balok biasa (horizontal). dalam hal ini kita harus tahu bagaimana menyelesaikannya.

2.4. dan beban terbagi rata q = 1 t/mƞ dari D ke B dengan arah vertikal.2. Contoh soal Diketahui Suatu balok miring di atas 2 tumpuan. perletakan B = rol duduk pada bidang miring // dengan sumbu batang. Beban P 1 = 4 t vertikal di C dan beban P2 = 4t vertikal di D. perletakan A = sendi duduk di bidang horizontal. Ditanya : Gambar bidang M. N. D Jawab : q = 1 t/mƞ B rol P 1=4 C P2=4 t D A R AH ­ E 1m 1m 1m RB Dim B = rol jadi reaksinya hanya 3 satu B sumbu batang 5 3 E send RAV 4m 1m 2m 1m 4 di B = rol jadi reaksinya hanya satu B sumbu batang .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -5- Dalam hal ini mahasiswa bisa lebih mendalam dalam pengetrapan pengertian gaya -gaya dalam pada semua kondisi balok.

a.1 = 0 RAV = 7.5 ƛ 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -6- Gambar 2.16 ton 5 Mencari R AV dengan 7 M B = 0 RAV 7 MB = 0 RAV.3 ƛ P 1.2.6 ton = 2.4 ƛ 2.4 ƛ RAH.1 = 0 18 ! 3.16.3.26.3 ƛ 4. Pembebanan pada balok miring Untuk mencari reaksi kita lebih cepat kalau yang dicari reaksi di B dulu.2.2 ƛ q.1 = 0 RB = 5 Untuk mencari R AV dicari dulu R AH dengan syarat keseimbangan horizontal.3 ƛ P2.2 ƛ P1.5 ƛ q.3 ƛ 4.3 ƛ P2. Reaksi di B RB B bidang sentuh RB dicari dengan 7 MA = 0 RB.1 = 0 RAV.3 ƛ 4.1.12 ton .2 ƛ 2.2 ƛ 4.2. RAH 7 H = 0 RAH ƛ RB sin2 = 0 3 RAH = .6 ton (arah R B B sumbu batang) RB.

// sumbu batang .3.3/5 = .3.3. sin E = -2 .2 .6 ton MEN GHITUN G GAYA LINTAN G (D) (dari kanan) DB kr = .3. 3/5 = . 4/5 = .26.6 + q. Distribusi beban pada balok miring Gaya yang // sebagai bata ng Gaya yang B sebagai batang menjadi gaya normal (N) a ! q sin E ¾ ® ¯ ¿ b ! q cos E À ° menjadi gaya lintang (D) ND kn = -2q .6 + (2 + 4 + 4) cos.(4 + 2) sin E = -6 .6 + q. cos E DD kn = .6 + 2.(4 + 4 + 2) sin E = -10.b.RB = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -7- MEN GHITUN G BIDAN G NORMAL (N ) Beban P dan q diuraikan menjadi : .2 ton (dari kanan) ND kr = .x .E! 4.3. cos E= .4 ton 4/5 .1.6 + (2 + 4) 4/5 = 1.2 ton DD kr = -3. 3/5 = -1.6 ton NC kr = .3.2 ton Dc kr = .B sumbu batang 1 m a E q q E b Gambar 2.6 ton Dari B ke D Dx = .

q. 2 1  .4 !  7 tm 4/5 2 4 t D x B RB x 1 Mx = RB .75 ƛ 2.q.2.2 ƛ P.  .6 . N. D 1 t/mƞ 4t B .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -8- 1 t/mƞ B 4t 4t D A 1m C 1m 2m x 3m 1 t/mƞ MEN GHITUN G BIDAN G MOMEN (M) Dihitung dari kanan B ke D 4 t C A Untuk x = 0 Untuk x = 2 MB = 0 M D = 3. 3 .6 .x ² cos E 2 x cos E E x Mc = RB .1.1 cos E = 3. 3.5 tm Gambar bidang M.1 = + 5.2 ƛ 4.

Gambar 2. Seperti contoh dibawah ini.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -9- Seperti teori sebelumnya kita bisa menghitung gaya -gaya dalam dari dan hasilnya harus sama.27. Bidang gaya dalam pada balok miring .

6 ton Gaya normal di D kanan ada pengaruh P = 4 ton.RAH . Pengertian Dasar Beban segitiga seiring terjadi pada kenyataan di lapangan seperti beban tekanan air dan tekanan tanah. sin E + RAH .5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -10- PERHITUN GAN DARI KIRI RAV diuraikan menjadi : RAV.5. Cos E) RAH = 2. DA kn = 7. cos E RAH diuraikan menjadi : RAH.1.[(7. 4/5) t = . sin E (gaya B sumbu batang) RAH. Cos E (gaya B sumbu batang) RAV .2 ton Gaya normal dari D ke B linier { NB = .(RAV .6 ton Gaya normal di C kanan ke D kiri adalah konstan Di Nc kanan ada pengaruh beban P = 4 ton.3.2 + q. 3/5 + 2.12 ƛ 4 ƛ 4) 3/5 + 2.12 ƛ 4) 4/5 ƛ 2. Beban Segitiga Pada kenyataan di lapangan beban tak hanya terpusat a tau terbagi rata. 4/5] = . cos E (gaya // sumbu batang) RAV. Sin E (gaya // sumbu batang) RAH  RAV = 7.2 .(7.16 t D = + RAV .16 . cos E .1. NC kn = .16 . sin E E RAV .12 . 4/5 = .2 ton.4 ton Gaya lintang di C kanan ada pengaruh P = 4 ton Gaya lintang dari C kanan ke D kiri adalah konstan Dc kn = (7. beban tekanan tanah dan lain sebagainya.2 ton Gaya lintang di D kanan ada pengaruh P = 4t DD kn = (7. 3/5 = 4.[(7. 4/5] = .2 + 2.R AH sin E Gaya lintang dari A kn ke C kiri adalah konstan.1 . 3/5 + 2.16 .6 ton 2.12 . 2.1 .12 NA kn = .1. Contoh dinding dinding tangki tangki Sin E = 3/5 Cos E = 4/5 air . 3/5 = 0 ton Gaya lintang DA kn = R AV cos E . 3/5 = 1.16 .16 . 4/5 ƛ 2. sin% E  E RAV R AH sin E A E RAH cos E N = .12 ƛ 4). sin E NB = . Gaya lintang dari D ke B adalah linier karena ada beban terbagi rata.3.1. namun ada yang berbentuk segitiga seperti beban tekanan . 3/5 = .16 . NDkn = .12 ƛ 4 ƛ 4) 4/5 ƛ 2. DB = -2 ƛ 2.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-11-

2.5.2.

Gambar 2.28.a. Diagram beban segitiga

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-12-

Dasar Penyelesaian Prinsip dasar penyelesaiannya adalah sama dengan yang lain -lain namun kita harus lebih hati -hati karena bebannya membentuk persamaan.

Persamaan a x = x .a l ax A Px a.l 6 B

a t/mƞ

RA =

2/3x 1/3x

RB = P=

a .l ton 2 Gx ambar 2.28.b. Beban segitiga pada struktur

a .l 3

l Mencari Reaksi Perletakan Titik berat beban P : 2/3 l dari A atau 1/3 l dari B l 0 p R ! 1/ 3 l  P 1/3 l § M B ! 0 p R A .l  P .12/3 / 3l ! A l 1 / 3 l a.l a.l ton RA ! x ! 2 6 l 2/3 l § M A ! 0 p R B .l  P . 2 / 3 l ! 0 p R B ! P l 2 / 3 l a.l a.l x ! R ! ton l 2 3

Menghitung Bidang D (dari kiri) X = variable bergerak dari A ke B x Di potongan x ax = . a l Beban segitiga sepanjang x Px = ½ x. ax ax ² x Beban Px = ½ x . . a ! 2l l Persamaan gaya lintang : a.l ax ² Dx = RA ƛ Px = (parabola)  6 2l Persamaan pangkat 2 Mencari tempat dimana gaya lintang = 0

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-13-

D=0

RA ƛ Px = 0 a.l ax ² l² ! p x² ! 6 2. l 3 XD ! 0 ! l² 1 ! l 3 3 3

MEN GHITUN G BIDAN G M x Mx = RA . x ƛ Px . 3 a.l ax ² x = .x  . 6 2 .l 3 a a .l = (persamaan pangkat 3 / parabola) x  . x³ 6l 6

M max terletak di daerah untuk D = 0 1 x= l 3 3 3 a.l ¨ 1 ¸ ¸ a ¨1 M max = l 3  l l 3 ¹ © ¹ © 6 ª3 º º 6 ª3 a.l² a .l² 3 3 = 54 18

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-14-

Contoh Perhitungan ax = x
2/3 x 1/3 x

x .3 6 Jawab : h=3 ton/mƞ TOTAL BEBAN B P=½lxh RB P= 7 MB 0 RA = 7 MA 2 .9 = 3 ton 6 RB . l ƛ P.2/3 l = 0 RB .6-9.4 = 3.6 = 9 ton 2 RA.l ƛ P l/3 = 0 RA . 6-9.2 =

A Px RA 2 l/3 l=6 m P l/3

3,464 m 3t + D=0 BIDAN G D 6t

0 RB = 4 .9 = 6 ton 6

Menghitung Bidang D x = variable bergerak dari A ke B ax ! x x .3 ! 2 6

Gambar 2.29. Bidang gaya dalam pada beban segitiga x = 0 DA = + 3 ton x = 6 DB = - 6 ton + Menghitung Bidang M x Mx = RA . x ƛ Px . 3 x² x x³ = 3x . ! 3x  BIDA N G 4 3 12 Mmax M D=0 M max (x = 3,464 m) M
max

Px = ½ x . ax Px ! x x x² . ! 4 2 4 Dx = R A ƛ Px

Persamaan gaya lintang Dx = 3 x² 4

Tempat dimana gaya lintang = 0

x² D=0 !3 3 4 ¨ 3,464 ¸ 3.3,464 - © ¹ ! 10,392  3,464 ! 6,928 tm ª 12 º

2.5.3. LATIHAN Soal 1 : Balok Miring

B = rol. a) reaksi perletakan b) bidang N. Beban q = 1 t/m· . B = rol Ditanyakan. D dan M 30° Soal 2 q = 1. seperti tergambar Beban q = 1 t/m· . D dan M Soal 4 3m RB . . q ¦ t/m' X RHA A VA L Balok AB dengan beban segitiga seperti tergambar A = sendi.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -15- P q ¥ 1 t/m' C B ¥3t HA A VA 6m 1m Balok miring ABC ditumpu di A = sendi. B = rol. D dan M Portal ACB dengan perletakan A = sendi .5 t/m' P=4t B HA A E 3m RB VA 4m Soal 3 : Balok dengan beban segitiga. a) reaksi perletakan b) bidang N. a) reaksi perletakan c) bidang N. P = 3 ton Ditanyakan. P = 3 ton Ditanyakan. seperti tergambar.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -16- q § 3 t/m' RHA A B RAV 4m RB 2m C Balok ABC dengan beban segi tiga q = 3 t/m ditumpu pada A = sendi . Penutup Untuk mengukur prestasi. 2.88m jarak miring dr A A B C X = 2.63 t 2.5.50 t 1.815 t 4. a) reaksi perletakan b) bidang N. D dan M 2.tekan + + Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Momen = M + .5.88 t 3 ton 9.tekan . B = rol.tekan . Beban segitiga (() adalah beban yang terjadi akibat tekanan air dan tekanan tanah.4.16 t t 2.76 ton 1. Rangkuman - Balok miring adalah balok yang seiring dipergunakan dalam struktur tangga.50 t 2.12 ton 5. besarnya merupakan fungsi x.6 t 0 0 3 tm 0 3. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi miring Titik A : VA B : RB Atau : H B VB A : HA A B kiri B kanan ² C A B kiri B kanan ² C X = 2.88 m Nilai 4. seperti tergambar.11 tm Tanda/arah o n o p . ketelitian perhitungan perlu. mahasiswa bisa melihat kunci soal -soal yang ada sebagai berikut : Soal no.5. Ditanyakan.

X= Momen = M L 3 = 0.l 6 q. 4 .l 6 q.2 ton 0 4 ton 0 12 tm(max) 9 tm 0 Tanda/arah o o p .5774 L dari A A B C X= Nilai q.6 ton 0 0 5. 3 Keterangan Reaksi vertikal Titik A : RAV B : RB Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D A : RAH A-B A «««.tekan Gaya lintang = D + + + Momen = M Jawaban soal no. 2 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Data pendukung Gaya normal = N Titik A : VA B : RB A : HA Sin E Cos E A C bawah C kanan ² B A C kiri C kanan ² B A C X = 2 m horisontal dari A B Nilai 6 ton 4 ton 0 3/5 4/5 3.06415 x q x l2 (max) + Tanda/arah o o + - L 3 ««««... B «««.l 3 0 0 q. Jawaban soal no.l 3 0 0 0 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -17- Jawaban soal no.

73 tm Tanda/arah o o p + + Momen = M + 2. Senarai Balok miring = balok yang membentuk sudut Beban segitiga = besarnya merupakan fungsi x . ITB. Bab I. Daftar Pustaka - Suwarno.5.5 ton 4.5 ton 0 0 4.6.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -18- Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : RAH A²B-C A B kiri B kanan C X = 2.7.24m Nilai 4.5 ton 3. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ.5. Bab I Soemono. ƏStatika IƐ.67 tm 3. 2.5 ton 1 ton 0 0 0 0.24m dari B A B X = 2. UGM.

a l a .2.l ton Resultante Beban : P = 2 Persamaan garis ax = Diketahui : .2 2 = panjang beban terbagi rata 2 = jarak titik berat q ke titik D. x Di ujung titik A RAV dan RAH diuraikan menjadi gaya -gaya yang B (tegak lurus) dan // (sejajar) dengan sumbu x = jarak R B ke sepanjang batang cos E BD x .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -19- 4/5 RB RB 3/5 R B catatan : q.

Tahap penyelesaiannya adalah sebagai berikut : Persamaan a x = x .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -20- Balok di atas 2 perletakan A dan B. Ditanya : Selesaikan dan gambar bidang gaya dalamnya Pada pelaksanaan sehari -hari sering dijumpai beban yang berbentuk linier segitiga. Balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban U (segitiga) seperti pada gambar.l ton 2 a.l 6 B a t/mƞ RA = 2/3x 1/3x x l 2/3 l RB = P= a . dengan beban segitiga diatasnya. bagaimana penyelesaiannya bisa lihat dalam contoh soal.a l ax A Px a. seperti bebab Tekanan tanah dan beban air pada tandon air.l 3 1/3 l . tinggi beban di atas perletakan B adalah 3 ton/mƞ= h.

Plat lantai kendaraan yang terbuat dari beton Gambar 2. Untuk jembatan yang terbuat dari kayu. Jembatan dengan gelagar langsung Jembatan yang roda kendaraannya bisa diterima langsung oleh plat lantai kendaraan yang terbuat dari beton disebut dengan gelagar langsung. Pengertian Dasar Ada beberapa macam model jembatan yang ada di lapangan yaitu jembatan yang terbuat dari beton dan jembatan yang terbuat dari kayu.6. dan profil baja.30.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -21- 2.31. maka roda kendaraan tidak bisa secara langsung diterima oleh struktur kayu. bambu. bambu atau baja tersebut. . baja. Gelagar Tidak Langsung 2.1. gelagar memanjang dan plat lantai dasar (lihat Gambar 2. maka dalam hal ini roda kendaraan bisa diterima langsung oleh plat lantai yang terbuat dari beton tersebut. bambu.6. Untuk jembatan dimana yang roda kendaraan tidak bisa langsung diterima oleh struktur utama disebut dengan gelagar tidak langsung atau beban tidak langsung yang mana da lam penggambaran seperti pada Gambar 2. Kalau jembatan yang terbuat dari beton karena bentuknya bisa dibuat sesuai dengan yang diinginkan.31). melainkan harus lewat suatu perantara yang disebut dengan gelagar melintang.

31.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -22- arah muatan aspa l Gel. Skema gelagar tidak langsung dari suatu jembatan . melintang Potongan melintang Gelagar induk Gel. memanjang Potongan Melintang Gambar 2.

induk). tida k langsung Gambar 2.32. memanjang gel. Penyederhanaan akhir.33. tidak 2. memanjang P P P . melintang gel.3. induk / G ambar 2. Penyederhanaan awal. gel. Cara distribusi beban Karena roda kendaraan tidak langsung diterima oleh gelagar utama (gel. melainkan lewat perantara gelagar melintang.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -23- 2.6.2. q kg/mƞ beban terbagi rata gel. gel. mas uk ke gelagar induk (utama) menjadi beban P beban terbagi rata diatas gel. maka beban yang diterima oleh gelagar induk tidak selalu sama dengan beban yang berada diatas jembatan. melintang P gelagar induk / utama beban terbagi rata tersebut akan ditransfer ke gelagar induk melewati gelagar melintang jadi yang sebenarnya beban merata.6. Skema Penggambaran MuatanTidak Langsung dalam Mekanika Teknik Untuk mempercepat perhitungan maka struktur dengan muatan tak langsung harus mengalami penyederha naan. untuk gel.

Distribusi beban terpusat pada gelagar tidak langsung BEBAN TAK LANGSUNG Contoh : Suatu gelagar yang tidak langsung mendapat beban q t/m¶ dengan jumlah bentang gel. memanjang genap. P = 6q P² .P. maka Q tersebut didistribusi menjadi beban Q 1 dan Q 2. 2P . II I q t/mƞ Potongan I ƛ I = tepat diatas gel. melintang.P/2 .35. dimana P Q1 Q2 Q2 = b a Q dan Q1 ! x x A Gambar 2. 2P .q P² = 4 q P² (muatan tidak langsung) II P/2 P I P gelagar induk 6P P P 3 q P II I 3qP . melintang Menghitung momen di potongan I -I P P/2 M I (untuk potongan I -I) M I = RA .qP² . melintang Potongan II-II = ditengah-tengah gel.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -24- a Q b Jika beban terpusat Q berada diantara gel.

2 q P² = 4 q P² Catatan : Besar M (momen) pada titik balok penghubung (gel. 1.375 q P² .½ q P .q P .25 q P² Perbedaan momen (0.125 q P ² 8 P/2 = 3 qP .1.q P . 1.5 P)² = 4.125 q P² = 3.5 P . Melintang) boleh dihitung sebagai beban langsung. 1.½ q (2P)² = 6q P² . ½ P = 3. Penyelesaian : P=qP RA = RB = 3q P Beban diantara perletakan P = q P Beban di atas perletakan P/2 = q P/2 Perhitungan Momen Pada Potongan II q t/mƞ II Dengan memakai beban langsung MII II P 3q P ½ qP qP II Jika dihitung dengan beban tidak langsung P 3qP P/2 q t/mƞ II M II = 3q P .125 q P² Momen lantai = kendaraa 1 q P ² ! 0.5 P . 2P .½ q (1.125 q P²) q t/mƞ Perbedaan tersebut adalah dari : P 0.5P .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -25- Kalau dicek memakai muatan langsung adalah : M I = beban langsung M I = 3.5 P² .

25 q P² jadi dalam hal ini ada perbedaan nilai perhitungan momen pada gelagar tak langsung untuk potongan dibawah gelagar melintang dan potongan diantara gelagar melintang. Perhitungan gaya lintang (D) ½ P P P P P P ½ P Walaupun beban terbagi rata.375 q P² . Bidang gaya l intang (D) dari gelagar tidak langsung . namun s eperti gaya lintang beban terpusat. 2½ P Gambar 2. garisnya 3P P 2½ P P + P P P Bidang D 3P bukan linier. lantai = 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -26- Catatan : Momen tidak langsung (diantara gelagar) MII = M langsung ƛ M.125 q P² = 3. maka gambar bidang D (bidang gaya lintang).0.37. tapi kalau gelagarnya tidak langsung.

Rangkuman - Gelagar tidak langsung biasanya terdapat pada jembatan kayu atau baja - Apapun bentuk beban yang terdapat diatas jembatan.6. Ditanyakan : a). q = 1.6. M.4. H A . Bidang N.6.5. 3t P 2 = 1t P1 = P = 3m P P Ditanyakan : a).5 t/mƞ sepanjang bentang. 2.6.5 t/mƞ Balok AB mendapat beban tak langsung seperti tergambar. Latihan Soal 1: q = 1. Penutup Untuk mengukur prestasi. RB b). D. transfernya ke gelagar utama selalu berbentuk beban terpusat. M 1 2 3 HA VA P P P = 2m Soal 2 : P1=3t 1m 2 3 A 4 P 5 B R B P2=1t 4 5 B P RB C 6 1 HA P VA Balok ABC mendapat beban tak langsung seperti tergambar. H A.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -27- 2. D. Gaya reaksi V A. RB b). Gaya reaksi V A. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci kunci yang ada. 2. Bidang N. .

25 tm 4.5 t 4.25 t 1.75 t 0.5 t 0 9 tm 12 tm 9 tm 0 Arah / Tanda o o q q q q q         Soal N o.5 t 0 4.25 t 1.00 t 0 5.0 t 1.75 tm Arah / Tanda o q q q         Gaya Normal = N Gaya Lintang = D Momen = M .5 t 1.5 t 1. 2 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Beban Pada Titik Titik A : VA B : RB A : HA 1 2 3 4 5 6 1-2-3-4-5-6 1-2 2-3 3-4 4-5 5-6 A=1 2 3 4 N ilai 1.75 t 2.25 t 0 0 2t 1t 0 0 1t 0 1.5 t 3.5 tm 0.0 t 3.0 t 3.25 t 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -28- Soal no 1 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Beban Pada Titik Gaya Normal = N Gaya Lintang = D Momen = M Titik A : VA B : RB A : HA 1 2 3 4 5 1-2-3-4-5 1-2 2-3 3-4 4-5 A=1 2 3 4 5=B N ilai 6t 6t 0 1.

UGM Bab I.6.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -29- Gaya Normal = N Gaya Lintang = D 5=B 6=C AƛBƛC A B kiri B Kanan C X = 2.5 ton 1 ton 0 0 0 0.6. 2. Senarai Muatan tak langsung = beban tak langsung = beban yang tak langsung terletak di balok induk.5 ton 3.0 tm 0 0 4. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ .8.73 tm  + + Momen = M + 2.7. ƏStatika IƐ.67 tm 3. ITB-Bab I Suwarno. Daftar Pustaka - Soemono. .24 m dari B A B X = 2.24 m 3.

maka kaitannya adalah : Berapa besarnya nilai maksimum dari gaya -gaya dalam di suatu tempat di struktur tersebut. Garis pengaruh ini sebagai alat bantu untuk mencari nilai reaksi. Garis Pengaruh 2. gaya lintang dan gaya normal. Sedang bentuk garis pengaruh tersebut adalah suatu garis yang menunjukkan nilai dari apa yang akan dicari tersebut misal : Reaksi (R) atau gaya momen (M) atau. Pendahuluan Kalau kita meninjau atau melihat suatu jembatan. reaksi-reaksi kemudian gaya -gaya dalamnya yaitu.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -30- 2. Di sisi lain kalau kita meng analisa struktur maka yang dicari dari struktur tersebut adalah. jika ada muatan yang berjalan di atasnya ?.1. atau gaya dalam M (Momen). tersebut berjalan suatu muatan.7. atau N (Normal). muatan yang dipakai sebagai standard adalah beban P sebesar satu satuan (ton atau kg atau Newto n) yang berjalan diatas struktur suatu jembatan tersebut.2. Untuk menjawab hal tersebut diperlukan suatu garis pengaruh.7. Pengertian Dasar Untuk mempermudah suatu penyelesaian. atau D (Lintang) disuatu titik akibat pengaruh dari muatan sebesar 1 ton berjalan. gaya lintang (D) atau gaya normal (N) di suatu tempat pada gelagar tersebut. dan gaya no rmal. Definisi Garis pengaruh : adalah garis yang menunjukkan besarnya R (Reaksi).7. gaya lintang. maka didalam suatu garis pengaruh. maka struktur tersebut selalu dilewati oleh suatu muatan yang berjalan. gaya momen. jika di atas struktur jembatan 2. gaya momen. Jika dua hal tersebut dipadukan. .

P.x) l  x ! ton (linier ) l l x=0 x=l RA = 1 ton RA = 0 ton Untuk P di A Untuk P di B + 1 ton G.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) 7 MB = 0 RA = G.l ƛ P. l ƛ P (l-x) = 0 P(l .P.P. R B + G.x x RB = ton (linier) ! l l 1 ton Untuk P di A Untuk P di B x=0 x=l RB = 0 RB = 1 ton Gambar 2.38. R A RA .RB (Garis Pengaruh Reaksi di B) 7 M A = 0 R B. Gambar garis pengaruh R A dan RB .x = 0 P.P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -31- Contoh 1 : Mencari garis pengaruh Reaksi (R A dan R B) x P=1 ton A RA l x = variabel sesuai letak (posisi) P yang bergerak dari titik A ke titik B B RB Muatan P = 1 ton berjalan dari A ke B G.

dimana d c ton dan y 4 = ton.R B (Garis Pengaruh Reaksi di B) Garis ini menunjukkan besarnya n ilai R B sesuai B dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar P=1 t B 1t 1t GP.R A + P=1 GP. maka besarnya reaksi di A RA = y1 dan besarnya reaksi di B R B = y2. y2 atau Gambar 2. maka besarnya reaksi di A R A = y3 dan besarnya reaksi di B 1t RB = y4.RB Gambar 2.39.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -32- 2. Kegunaan dari suatu Garis Pengaruh X A RA + GP.40 P= 4 ton A a + y1 C b 1t GP.R B Gambar 2.R B + 1t Bagaimana kalau P tidak sama dengan 1 ton Jika P = 4 ton terletak di titik c Maka RA = 4 . Kegunaan dari garis pengaruh untuk beban di titik c * Jika beban P = 1 ton berada di atas titik D sejauh c dari perletakan A dan sejauh d dari perletakan B. jadi y3 = l l d c RA = ton dan R B = ton B l l Gambar 2.41. Kegunaan digaris pengaruh untuk beban di titik D GP.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) Garis ini menunjukkan besarnya nilai R A sesuai dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar Ini adalah GP.R B t A C a + y1 y2 GP.RA + P=1 t D d * Jika beban P = 1 ton berada di titik C sejauh a dari perletakan A dan sejauh b dari perletakan B. jadi l l b a ton dan R B = ton RA = l l B Gambar 2. dimana 1t b a y1 = ton dan y 2 = ton.R A y2 GP.39 A c 1t + y3 GP.RA + y4 + b 1t l RB Ini adalah GP.3.7.40. Kegunaan garis pengaruh untuk tidak 4 b 4 a dengan 1 ton RA = dan RB ! l l .beban y1 dan RB =sama 4 .

Kegunaan garis pengaruh untuk beban P = 6t GP. Mencari Garis Pengaruh Gaya Lintang (G.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -33- P=6 t A c 1t + y3 GP.D) P = 1 ton berjalan dari A ke B X = variabel yang bergerak sesuai dengan posisi P dari A ke B C = suatu titik terletak antara A ƛ B . RB = 4 y2 + 6 y4 = 4 y4 b d ton  6 ton l l c a ton  6 ton l l Gambar 2. sejarak d dari titik B. sejarak b dari titik B. dan P 2 = 6t sejarak c dari titik A.RA 1t d B + + D d B Jika P = 6 ton terletak ti titik D Maka RA = 6 . y3 dan R B = 6 y4 atau RA = c 6d ton dan R B ! 6 ton l l Gambar 2.42.RB P= 4 ton A a C 1t Bagaimana kalau ada beberapa muatan : y Jika di atas gelagar ada muatan P1 = 4t di c. Kegunaan garis pengaruh untuk beban P 1 = 4 ton dan P 2 = 6 ton Beberapa Contoh 1.P.R A y4 P2= 6 ton D b c y1 + y2 GP.R B + y3 GP. sejarak dari titik A. maka 1t RA = 4y1 + 6y3 = 4 .43.

44. Dc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C) B C 7 MA = 0 RB . D c Untuk P di C kn Dc = l a b ! ton l l ll ! 0 ton l Gambar 2.x = 0 P berjalan dari A ke C A RA a l RB RB = b Px x ! ton l l Dc dihitung dari kanan Dc = -RB =  P = 1t x Untuk P di C kr x = a A C a l x ton (linier) l x=0 Dc = 0 Dc = - Untuk P di A a ton l B P berjalan dari C ke B P (l  x ) l  x RA = ! ton l l Dc dihitung dari kiri + Dc = RA = G.P.P. R B - b/l G. Gambar garis pengaruh gaya lintang .P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -34- P = 1t x G.P. R A l x ton (linier ) l x=a G. l ƛ P.

tm ª l º l Untuk P di B x=l ¨l l ¸ Mc = © ¹ a . a tm ª l º Untuk P di C GP R A. P = 1t x G. a tm = © ¹ .a x=a Mc = G.P. b tm (linier ) l Mc = 0 Mc = + a .P. a .M) P = 1 ton berjalan dari A ke B x = variabel yang bergerak dari A ke B sesuai posisi P.b tm l x=0 x=a P = 1t x A C B Untuk P di C P berjalan dari C ke B RA = P (l  x ) l x ton ! ton l l Mc dihitung dari kiri + GP RB.45. M c ¨l a¸ b © ¹ ! .P.b tm l ¨l x ¸ Mc = + RA . tm ª l º = 0 tm Gambar 2.b a.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -35- Mencari Garis Pengaruh Momen (G. Mc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C) B C RA a l b RB P berjalan dari A ke C RB = Px x ! ton l l A Mc dihitung dari kanan Mc = + RB . Gambar garis pengaruh momen di c (GP Mc) . b =  Untuk P di A x .

MD lihat kanan bagian x M D = RB .2 ! MD = 3 l 6 Untuk P di B x = 8 m 2 68 MD = .RA + P B C Diketahui : Balok ABC diatas 2 perletakan A dan B Ditanya : Gambar Garis Pengaruh R A.R A : 7 MB = 0 - l 1= 2 m RA = lx ton l 1t 1/3 t Untuk P di A x = 0 RA = 1 ton Untuk P di B x = l RA = 0 Untuk P di C x = 8 1 l 8 68 2 RA = ! !  ton ! ton 3 l 6 6 GP. 2 = .M D + GP.R B 1 t 3 2 3 + GP.R B. RB.2 - GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -36- 3.4 GP. 4 = . M D. M A = 0 RB = x ton lt RB = 0 RB = 1 ton GP. DBkn Jawab : GP. t !  tm 3 63 P antara A-D 4 tm 3 GP. 4 tm l Untuk P di A x = 0 MD = 0 Untuk P di D x = 2 m 2.R A .R B : 7 . Contoh lain x D A 2 m l=6 m GP. DD.4 4 MD = ! tm 6 3 P antara D-C lihat bagian l x M D = RA .DD - 1 t 3 GP.2 ! tm .R B + 1t 4 3 Untuk P di A Untuk P di B Untuk P di C 8 8 ! ! RB = l 6 x=0 x=l x=8 4 ton 3 2/3 ton GP.R A.2 l Untuk P di D x = 2m 4 l 2 62 .

DBkr 1t GP.D Bkn 1t + P antara B ƛ C DBkn = P = 1 ton lihat kanan bagian lihat kanan bagian GP.DBkr C P antara A-Bkr DBkr = .DBkn P antara A ƛ B DBkn = 0 GP.RB lihat kanan bagian Bkr A B GP.R A 1/3 t P antara B-C DBkr = + RA lihat kiri bagian GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -37- GP.R B GP. Gambar knmacam-macam garis x=0 x = 2m MB = 0 M B = -2 tm lihat kanan bagian lihat kanan bagian .MB 2 tm GP.RB = P di A P di D lihat kanan bagian x ton l x = 0 DD = 0 x = 2 DD = -2/6 ton = -1/3 ton lihat kiri bagian P antara D-C D D = RA = P di D P di B P di C l x ton l DD = x=2 x=6m x=8m 62 2 ! ton 6 3 DD = 0 DD = 68 1 !  ton 6 3 Bkn GP.DD P antara A-D D D = .M B P antara A ƛ B MB = 0 x P antara B ƛ C M B = -x tm P di B P di C Gambar 2.46.

RB max. DI (-) max. GP MI a) Bila beban Ditanya. GPRB. MI max. Soal 2 A 3m berjalan. max. GP D I. 3m berjalan. GPD I. GP RB. 4t DI (+) max.4. ditanyakan GPR A. GPMI b) Bila beban P1 = Ditanya. .7. LATIHAN Soal 1 berjalan P ¨ 1 t bejana A B I RA 3m 5m RB a) Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC. P2 = 2t berjalan P = 1 t ©   I RA 4m 5m B RB 3m C Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC. MI max. M max. ditanyakan GP R A.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -38- 2.

6. akibat muatan berjalan sebesar 1 ton. = + 9 tm Mmax. o Beban yang dipakai untuk garis pengaruh adalah satu satuan muatan (ton atau kg atau Newton).1875 tm . = + 3.3 ton MI max. mahasiswa bisa melihat hasil jawaban sebagai berikut : Jawaban soal no. = + 9. Max.7. Rangkuman o Garis pengaruh adalah : garis yang menunjukkan besarn ya reaksi atau gaya-gaya dalam disuatu titik. = + 5. 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -39- 2. Penutup o Untuk mengukur prestasi.7.5. 1 Keterangan RA RB DI P = 1 ton di titik A B A B A I kiri I kanan MI A B I Nilai 1 ton 0 0 1 ton 0 3 t 8 5 8 0 0 15 tm 8 Tanda/arah + o + + o + RA max.5 ton D I (+) max.

2. Bab I.Soemono. ITB. Senarai .8.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -40- Jawaban soal no. 2.7. UGM Bab I.2 tm 0 0 3 TM Tanda/arah + + + + o o o o RB DI MI + - MB - RB max. Daftar Pustaka . ƏStatika IƐ.4 tm 1.Garis pengaruh - Beban berjalan . 2 Keterangan RA P = 1 ton di titik A B C A B C A I kiri I kanan B C A B I C A B C = + 5. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ .3 ton 0 0 2.18 tm Nilai 1 ton 0 0.7.4 ton 0.3 ton 0 1 ton 1.175 ton = + 9.7. - Suwarno. MI max.6 ton 0 0.3 ton 0 0.

sehingga mempunyai perletakan > 2 buah. Pendahuluan Didalam kenyataan se -hari-hari jarang dijumpai jembatan y ang berbentang Satu.1. perletakan dari jembatan tersebut > 2 buah. B = rol dan C = rol.1. syarat -syarat yang diperlukan untuk menyelesaikan dan mahasiswa bisa menggambarkan bidang -bidang gaya dalam balok tersebut. a). A B Jembatan berbentang satu Kalau dilihat pada gambar b. maka jumlah . Kalau di perletakan A terdapat 2 reaksi (karena A = sendi) yaitu R AH dan R AV. 3. Judul : BALOK GERBER Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca materi ini diharapkan mahasiswa mengerti apa arti balok gerber serta mengetahui bagaimana cara menyelesaikan struktur tersebut. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa diharapkan bisa mengerti dengan seksama tentang pengertian balok gerber. Untuk mengatasi penyeberangan sungai penampang cukup besar (>100m) ( ) maka dibuatlah suatu jembatan yang berbentang lebih dari satu. perletakan di B terdapat 1 reaksi (karena B = rol) yaitu R BV. perletakan di C ada 1 reaksi (karena C = rol) yaitu R . ( yang mempunyai lebar > 100 m ).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -41- MODUL : 3 : ARTI BALOK GERBER DAN CARA PENYELESAINNYA 3. yaitu 3 buah dimana A = sendi.1.

dalam keadaan tersebut konstruksi jembatan (b) disebut dengan kontruksi statis tidak tertentu . maka persamaan baru tersebut adalah 7 M D = 0 Sedang titik D tersebut disebu t dengan sendi gerber A B D C Sendi gerber Gambar 3.2. 7 M = 0) berarti untuk bisa menyelesaikan struktur jembatan (b) masih memerlukan 1 buah persamaan baru lagi. maka bisa didefinisikan bahwa : . Definisi Balok Gerber Dengan uraian seperti dalam pendahuluan. Kalau 1 (satu) persamaan baru tadi bisa disediakan maka syarat syarat keseimbangan masih bisa dipakai untuk menyelesaikan konstruksi jembatan (b) tersebut (4 buah bilangan yang dicari yaitu R AV. Macam-macam bentang jembatan Jika dalam persamaan keseimbangan hanya punya 3 buah ( 7V = 0. Skema balok gerber 3.1. karena masih bisa diselesaikan dengan statis syarat -syarat keseimbangan dan konstruksinya dinamakan dengan konstruksi balok gerber. 7H = 0. 7M = 0 dan 1 (satu) persamaan baru). Jika 1 (satu) persamaan baru tersebut dengan memberikan 1 buah perletakan baru di D yang berbentuk sendi. RCV dengan 4 buah persamaan yaitu 7V = 0.2. 7M = 0. Dalam kondisi tersebut konstruksi masih tertentu. RBV. 7H = 0. RAH. RCV bisa didapat sedang untuk konstruksi statis tertentu persamaan yang tersedia hanya 3 buah yiatu 7 V = 0. RBV.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -42- b). A B C Jembatan berbentang lebih dari satu Gambar 3.1. supaya bilangan yang tidak diketahui yaitu RAV. RAH. 7H = 0.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -43- Konstruksi balok gerber : adalah suatu konstruksi balok jembatan yang mempunyai jumlah reaksi perletakan > 3 buah. . namun masih bisa diselesaikan dengan syarat syarat keseimbangan.

Kondisi kontruksi tersebut adalah : Jumlah bilangan yang tidak diketahui = jumlah persamaan yang ada ( 7V = 0. . dimana ada 2 reaksi yaitu R AV dan R AH. RBV dan R CV) = jumlah bilangan yang dicari Maka konstruksi tersebut. RAH. disebut dengan konstruksi balok ge rber. 7 H = 0. C = rol. 7M = 0 dan 7M D = 0. R . 7 H = 0. R . B = rol.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -44- Contoh : Sendi gerber RAH A RAV B RBV D C RCV Suatu konstruksi balok gerber ABC dengan perletakan : A = sendi. 7M = 0 dan 7MD = 0) = jumlah persamaan (yaitu R AV. 7H = 0 dan 7M = 0 1 (satu) buah persamaan baru yaitu 7 M D = 0 Jadi jumlah persamaan ada 4 (empat) buah yaitu 7V = 0. dimana ada 1 reaksi yaitu R BV. yang masih statis tertentu. dimana ada 1 reaksi yaitu R CV Jadi jumlah reaksi adalah 4 buah yaitu. R dan Persamaan yang tersedia adalah : 3 (tiga) buah persamaan syarat keseimbangan yaitu 7V = 0.

3. maka bentuk konstruksi gerber tersebut seperti pada gambar.1. Sendi gerber D A RAH B C R AV RB RC Detail perletakan D (sendi gerber) Gambar 3. Detail sendi gerber .3. Bentuk Sendi Gerber Kalau balok gerber tersebut adalah dibuat dari balok beton.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -45- 3.

4. Menentukan letak sendi gerber beban = q kg/mƞ C B A .4.1. 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -46- A RAH RAV B D C RBV RCV A RAH RAV B D C RCV RBV atau D RDH RDV C R CV A RAH RAV B RDV D RDH R BV Gambar 3. Skema pemisahan balo k gerber Catatan : Reaksi di balok DC menjadi (beban) pada balok AB. dimana balok DC tertumpu di balok AB. Jadi kalau diuraikan balok gerber ABC tersebut merupakan gabungan dari 2 balok statis tertentu DC dan ABD.

jika kita a1 A 1 memilih titik (1) sebagai sendi gerber. akan dan seperti jika pada diuraikan strukturnya akan seperti pada gambar a 3. Apakah mungkin ? Perhatikan . Kalau dilihat dari sub bab 3. maka alangkah tepatnya jika untuk menentukan posisi di titik D dicari tempat-tempat yang momennya Dalam hal seperti tersebut diatas. dimana di titik D dibuat sendi gerber dengan persamaan baru 7M D = 0. dan jika diberi beban terbagi rata sebesar q kg/mƞ.2.6. maka gambarnya adalah seperti pada 1 A a2 D A a3 B TIDAK MUN GKIN Gambar 3. maka konstruksinya masih statis tak tertentu. untuk mahasiswa semester I belum bisa mengerjakan. alternatif tempat dimana momennya sama dengan nol adalah titik 1 dan 2 yang posisinya di kiri dan kanan perletakan B. balok tersebut jika disederhanakan Gambar a 2. maka gambar bidang momennya (bidang M) seperti gambar dibawahnya.5. jadi untuk sementara diterima saja. D B C Cara memilih : alternatif (1). sehingga struktur bisa diselesaikan. Balok statis tak tentu dan skema bidang momennya Jika dalam balok ABC.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -47- Gambar 3. Penentuan sendi gerber yang tak mungkin C D B C Gambar a 1 dimana balok AD terletak di atas balok DBC.1. Karena kita hanya membutuhkan 1 (satu) buah persamaan baru. maka kita cukup memilih salah sa tu dari 2 (dua) alternatif tersebut sendi gerber diatas. Bagaimana cara mencari bidang momen (bidang M) tersebut. sendi gerber belum ada.

mempunyai 1 (satu) reaksi yaitu RBV. Balok gerber dan cara pemisahannya sendi mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu R DV dan R DH. Perletakan D = Gambar 3. sehingga strukturnya adalah statis tidak tertentu.7. maka gambarnya adalah seperti gambar (b1) dimana balok DC terletak diatas balok ABD. jadi konstruksi balok ABD masih statis tertentu. sehingga jumlah reaksi hanya ada 2 (dua) buah. RDH).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -48- Lihat balok AD. y Jadi pemilihan titik (2) sebagai sen di gerber adalah mungkin . maka konstruksi balok DC adalah statis tertentu y Perhatikan balok ABD. karena kedua perletakan B dan C adalah rol. . maka struktur balok DBC tidak stabil sendi gerber adalah tidak Alternatif 2 mungkin . balok tersebut jika akan gambarnya disederhanakan seperti pada gambar (b 2). Perhatikan balok DC yag terletak diatas balok ABD. perletakan C = rol dengan 1(satu) buah reaksi (R CV). sehingga jumlah reaksi ada 4 (empat) buah. Perhatikan balok DBC. perletak B = rol. dan jika diuraikan strukturnya ak an menjadi seperti pada gambar (b 3) apakah mungkin ?. Jumlah total reaksi adalah 3 (tiga) buah. perletakan B = rol dengan 1 buah reaksi (R BV). perletakan A = sendi. RAH) perletakan D = sendi dengan 2 reaksi (R DV. perletakan A = sendi dengan 2 reaksi (R AV. mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu R AH dan R AV. sedang Jumlah letak reaksi adalah 3 (tiga). D b1 2 A B A RDH D RDV b3 A B D RDH C B C b2 sendiC gerber Jika yang sebagai dipilih adalah titik (2) sendi gerber.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -49- .

8. maka b1 1 A B D A B RD RD yang perlu dikerjakan pertama adalah memisahkan balok tersebut C menjadi beberapa konstruksi balok statis tertentu. gambar (b) terdiri dari gambar (b 1) dan (b 2). demikian juga gambar (c) D RD C2 A B C1 dan C2 mungkin RD C Gambar 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -50- 3. seperti kita pada bisa gambar maka konstruksi memisahkan C menjadi tersebut b1 dan b 2 C1 A B tidak D C konstruksi tersebut konstruksi beberapa seperti dimana beberapa menjadi statis tertentu pada gambar (b) atau (c).1.5. Mekanisme Penyelesaian Balok Gerber A B D C Jika D ada suatu konstruksi balok a gerber seperti pada gambar a. b2 Jika konstruksinya (a). Skema penyelesaian balok gerber Tinjauan gambar b 1 dan b2 .

perletakan D = sendi (ada 2 reaksi). dan jika diuraikan strukturnya akan menjadi seperti pada gambar (C2). Jadi balok DC adalah balok statis tertentu Perhatikan struktur balok ABD (gambar (C2)). Perhatikan balok DC (gambar b2). perletakan D = sendi. sehingga reaksi R D dari balok ABD akan menjadi beban (aksi) pada titik D balok DC. c = rol (ada 1 reaksi). titik D = be bas (tak mempunyai tumpuan).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -51- Titik D dari balok ABD (gambar (b1) menumpu pada titik D pada balok DC. Perhatikan struktur balok DC gambar (C2). Perhatikan struktur balok ABD (gambar b2). dan jika dijabarkan (diuraikan) strukturnya akan menjadi seperti gambar (b2). . perletakan A = sendi (ada 2 reaksi). Sehingga alternatif (b) adalah tidak mungkin . perletakan B = rol (ada 1 reaksi). dimana titik D pada balok ABD menumpu pada titik D balok DC. (ada 2 reaksi). jadi jumlah total reaksi hanya ada 1 buah yaitu R CV di C. Tinjauan gambar (c1) dan (2) Titik D dari balok DC (gambar (C1) menumpu pada titik D balok ABD. Dalam kondisi seperti tersebut diatas balok DC merupakan balok yang tidak stabil atau labil. Jadi alternatif (C) adalah mungkin. jadi balok ABD merupakan balok statis tidak tertentu. sehingga reaksi RD dari balok DC akan menjadi beban (aksi) pada titik D balok ABD. perletakan. Jadi total perletakan balok ABD ada 5 (lima) buah. dimana titik D dari balok DC menumpu pada titik D balok ABD. Jadi balok ABD adalah balok statis tertentu juga. perletakan C = rol (ada 1 reaksi) total jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah. perletakan B = rol (ada 1 reaksi) jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah. jadi tidak ada reaksi. per letakan A = sendi (ada 2 reaksi).

D balok gerber merupakan penggabungan dari bidang M. D) bisa diselesaikan sendiri-sendiri pada balok DC dan AB. N. Dengan beban yang ada (q) dan beban R D. yang kemudian diuraikan seperti pada gambar (b). N. maka tahapan pengerjaannya adalah sebagai berikut : y Balok DC dikerjakan dulu sehingga menemukan R D dan R C. maka balok AB bisa diselesaikan. Skema pemisahan balok gerber . D dari masing-masing C P D C y q b RD RD D A B y RC y y Gambar 3. N. Bidang-bidang gaya dalam (M. Reaksi R D dari balok DC akan menjadi beban di titik D dan balok ABD.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -52- Tahapan Penyelesaian q D a A B Sendi gerber P Kalau kita mempunyai balok gerber ABC seperti pada gambar (a). Penggambaran bidang M.9.

10.667 m 7 MA = 0 RS. D.3 = 0 BID.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -53- 3. 4 ƛ P. B = sendi S = sendi gerber Beban P = 4 ton.6.6 ƛ 1. dengan jarak 1 m dari A.2 ƛ 2. .6.0287 tm + 2 Balok A-S (mencari RA dan RS) t 3 7 MS = 0 RA.3 = 0 RA.8 ƛ q.1 = 0 RS = P.8 ƛ 2. M 2.33t 3t + 1t BID.1 ! ! 1t 4 4 Reaksi Rs = 1t akan menjadi beban di titik S pada balok S B C (gambar (b)) 6. x (b) A P=4t S Rs = x1 Rs S B 3 tm + R B = 7 1/3 t 2 tm RC = 5 Jawab: Struktur balok gerber seperti pada gambar (a) kalau diuraikan akan menjadi struktur seperti pada gambar 2 t/mƞ x2 C (b). 4 ƛ P. Gambar-gambar gaya Bidang Momen (M) dalam balok gerber 34 ! 5 2 / 3t 6 . D + - Balok S B C (mencari RB dan R C) 7 MC = 0 RB.6 + RS.6.3 = 0 2 5 t 1 44 3 RB = t!7 t 3 6 7 MB = 0 RB.2 ƛ q.6 ƛ RS.= P. N.6. Balok AS harus diselesaikan lebih dahulu. baru selanjutnya reaksi Rs dari balok As menjadi beban / aksi ke balok SBC RA = 3t (c) - 8.6. dan beban terbagi rata q = 2 4m 2m 6m t/mƞ dari B ke C.3 ! ! 3t 4 4 BID. Ditanya : Gambar bidang M.833 m 5.1 4.3 = 0 RC.6 + 1.3 4. N Gambar 3. A = rol C = rol .3 = 0 RC.1. Contoh Soal P=4t (a) A S 1m B q = 2t /mƞ C Suatu struktur balok gerber ABC dengan beban seperti pada gambar.

667-x2 ) = 0 x2 =5.x (linear) x=0 x=1 MA = 0 MP = 3 tm (momen dibawah P) S Daerah P Mx = RA.0546 ƛ 8.667 x 2 ƛ x22 = 0 X2 (5.1.q x2² (parabola) 2 1 .x1 = .2.x 2 - = 5.x-P (x-1) = 3.x1 (linear) = -x1 x1 = 0 x2 = 2 Ms = 0 MB = -2 tm B (dari kanan) 1 . 2.x ƛ 4 (x-1) x=1 x=4 MP = 3 tm MS = 0 Balok SBC Daerah S B (dari kiri) Mx1 = .667 m ( Letak dimana momen = 0 ) Bidang D ( GAYA LINTAN G ) .833 m (lokasi dimana terletak M max M x2 max =5.x2² 2 Daerah C Mx2 = Rc.0287 tm.833)² = 16.x2 - Mx2 = 5.x2² Mencari M max dMx 2 =0 dx 2 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -54- Balok A-S Daerah A P (P = letak beban P = 4t) Mx = RA.02589 = 8.667 ƛ 2 x2 = 0 = x2 = 2.667 x 2 .833 ƛ (2.667.Rs.667. Mencari titik dimana momen = 0 M x =5.x = 3.

P = 3 ƛ 4 = -1 t (Konstan ) Balok S Ɗ B C Daerah S B ( Dari Kiri ) Dx = .667 + 2.667 + 2 . Latihan .833 m M max ) (Letak D = 0 sama dengan letak Bidang N ( Normal ) Bidang N tidak ada 3.6.667 + 2X 2 = 0 X2 = 2.1.Rc + q .667 t Dbkn = -5. x (Linieair) X2 = 0 X2 = 6 Dc = .5.333 t Mencari titik dimana D = 0 -5.Rs = -1 t (Konstan) Daerah C B (Dari Kanan) Dx2 = . x 2 2 = .6 = + 6.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -55- Balok A-S Daerah A P ( dari Kiri ) D2 = + Ra = + 3 + ( Konstan ) Daerah P S ( Dari kiri ) Dx = + R a .5.

8. dan di sendi gerber ditentukan daerah bagian balok tertumpu . P = 5t S B q = 2t/mƞ C Suatu balok gerber dengan beban dan struktur seperti gambar. Gambar : bidang.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -56- Dalam mempraktekan teori ƛ teori yang ada di depan ( bagian sebelumnya ).Rangkaian dari beberapa balok statis tertentu. dengan perletakan A = sendi. 2m dari A q = 2t/mƞ sepanjang bentang SC. Rangkuman o Balok gerber adalah : . o Tahap awal penyelesaiannya adalah : balok tersebu t harus diuraikan lebih dahulu. B = rol C = rol. D) Suatu balok gerber dengan 1).Suatu balok yang mempunyai jumlah reaksi lebih besar dari 3 buah. tapi masih bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan. S = sendi gerber Beban : P = 5t. N. maka perlu diadakan (diberi) suatu latihan . B = rol S = sendi gerber Beban P = 5 2 t dengan sudut 45° terletak di tengah bentang SB. A 2 m 5m 2 m 4m 2).bidang 3. Atau .1. Gambar : bidang-bidang gaya dalamnya (Bidang M. S A 2m 3m P=5 2t 45° B 3m beban dan struktur seperti pada gambar dengan perletakan : A = jepit.

o Gambar bidang gaya dalamnya adalah merupakan gabungan dari masing-masing balok tersebut. Penutup Untuk mengukur prestasi. 3. 1 Keterangan Titik A Harga 1.4 ton 7.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -57- mana yang terletak diatas (tertumpu) dan mana yang menumpu ( ) o Penyelesaiannya dilakukan secara bertahap dari masing -masing balok tersebut.4 ton 3. Soal No.1.6 ton 4 ton 4 ton Arah o o o o Reaksi B S C Keterangan Momen (M) Gaya Lintang (D) Gaya Normal (N) Titik A B S C A B kiri B kanan C - Harga 0 8 tm 0 0 1.6 ton 4 ton 4 ton - Tanda (-) (+) (-) (+) (-) - .9. mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban dari soal-soal tersebut diatas sebagai kontrol. o Balok yang salah satu perletakannya tertumpu (menumpang) diselesaikan terlebih dahulu.

ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM bab V-4 3.1.2.5 ton 2. 3. Garis Pengaruh Balok Gerber . Suwarno.5 ton 2.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -58- Soal 2 Keterangan Titik AV Reaksi AH MA S B A Momen (M) S di P B Gaya Lintang (D) A B A Gaya Normal (N) S P kiri Harga 2.10.11. Daftar Pustaka 1.5 tm 0 2.5 ton 5 ton 5 tm 2. Soemono ƏStatika IƐ ITB bab V 2.5 ton 5 tm 0 7. Senarai : Sendi Gerber : tempat penggabu ngan balok satu dengan balok lainnya.5 ton 5 ton 5 ton 5 ton (+) (-) (-) (-) (-) (+) (-) Tanda 3.

jika ada muatan yang berjalan diatas balok gerber tersebut. Prinsip Dasar Yang perlu diperhatikan dalam membuat garis pengaruh balok gerber adalah : (a ) A B S C o Harus bisa memisahkan balok yang mana yang disangga dan yang mana yang menyangga.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -59- 3. reaksi ada di B (R B). RC ada o Namun jika ada muatan berjalan diatas balok S-C maka reaksi di A (R A).2. 3. Reaksi perletakan pada balok gerber dengan muatan berjalan diatas . atau gaya momen (M) atau gaya lintang (D) atau gaya normal (N). o Dalam gambar sebelah o Balok SC yang disangga RS RS (b ) A RA B P RB RS RS (c ) RA ada P (d ) RA ada tidak ada reaksi RB ada tidak ada reaksi R B ada RC o Balok ABS yang menyangga.2.2. Pendahuluan Seperti halnya balok diatas 2 perletakan. maka untuk balok gerber inipun kita harus mencari besarnya reaksi. o Kalau ada muatan berjalan diatas ABS maka reaksi di S (R S) dan reaksi di C (Rc) tidak ada (Gambar d). Pengertian dasar dan definisinya sama dengan garis pengaruh balok diatas 2 perletakan.11.1. Gambar 3. reaksi di S (Rs) dan reaksi di C (Rc) semuanya ada (Gambar c). Standart beban yang dipakai juga sama yaitu muatan berjalan dengan beban P = 1 t on atau satu satuan beban.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-60-

Contoh
Balok gerber seperti pada gambar Cari garis pengaruh reaksi -reaksinya P=1 x1 x P=1t t A l
1

GP.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) P berjalan dari A ke S x = variable bergerak sesuai posisi P dari A ke C 7 Ms = 0 P (l1  x ) l1  x RA = ton ! l1 l1 Untuk P di A x = 0 RA = 1 ton Untuk P di S x = l1 RA = 0 P dari S ke C RA tidak ada pengaruh terhadap

S

B l
2

C

a

A

S

RS RS B C

GP.R S (Garis Pengaruh Reaksi di S) GP.R A 1t + P dari A Rs = ke S

Px x ! l1 l1

GP.R S +

P di A x = 0 Rs = 0 P di S x = l1 RS = 1t P dari S ke C tidak ada pengaruh untuk reaksi di S (Rs)

GP.R B (Garis Pengaruh Reaksi di B) x1 variabel bergerak dari C ke A sesuai

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-61-

1t

GP.R B

1t

P= 1t x1

+

¨ l2  a ¸ © ¹ © l ¹ ª 2 º A S B C GP.Rc (Garis Pengaruh Reaksi di C) P berjalan dari C ke S l  x1 Rc = 2 t l2 P di C x1 = 0 x1 + a/l
2

GP. Rc

P = 1t

Rc = 1t Rc = 0

P di B P di S

x 1 = l2 Rc =

1t

Rs . a a karena ! l2 l2

(Rs = 1t) P di A Rs = 0 Rc = 0

Gambar 3.12. Garis pengaruh reaksi (RA; Rs; RB dan Rc) Jika potongan I -I antara : A3 Jika potongan II-II antara : BC b x A P I I l1 A Rs B S a B II II l2 C c d

cari garis pengaruh D I-I dan M I-I cari garis pengaruh D II-II dan M II-II e GARIS PEN GARUH D DAN M G.P.DI-I (Garis Pengaruh Gaya Lintang di potongan I -I) P berjalan di kiri potongan I -I (perhitungan dari kanan potongan) DI = - Rs (dari kanan)

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-62-

Gambar 3.13. Garis pengaruh D I-I dan M I-I

G.P.MI-I (Garis Pengaruh Momen di Potongan I-I) P berjalan di kiri potongan I -I (perhitungan dari kanan) M I = Rs . c = Untuk P di A Untuk P di I-I x Px .c .c ! l t1 l t1 x=0 x=b MI = 0 MI = b.c l1

P berjalan di kanan potongan (perhitungan dari kiri) l x M I = RA . b = 1 .b l1 Untuk P di I-I x=b

l b c.b MI = 1 .b ! l1 l1

Jika P berjalan dari S ke C tidak ada M I x A l1 P S B d II II a l2 e C G.P. D II-II (Garis Pengaruh Gaya Lintang di potongan II -II) P berjalan dari A ke P otongan II (perhitungan kanan potongan II) DII = - Rc (sama dengan g.p. Rc)

A

S

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-63-

Sama dengan g.p. Rc

Sama dengan g.p. RB G.P. M II-II (Garis Pengaruh Momen di potongan II-II) P berjalan dari A ke II (perhitungan dari kanan potongan) MII = Rc . e (sama dengan GP.Rc x e) Untuk P di S Rs = 1t Rc = a l2

a/l2. b + d/ l2 . e

g.p. Rc.e

g.p. R B.d M II = -

a l2

.e

Gambar 3.14. Garis pengaruh D II-II dan M II-II P berjalan dari II ke C (perhitungan dari kiri) M II = RB . d Untuk P di II RB = M II =
e l2
e l2 dtm e l2 d

Untuk P di II

Rc =

d l2 M II = -

d .e l2

a. dimana dx 0 (mendekati 0) y = ordinat dibawah dx Mencari harga Dc Untuk beban titik GP. MEN CARI HARGA MOMEN DAN GAYA LIN TAN G DEN GAN GARIS PEN GARUH Jika ada suatu rangkaian muatan atau muatan terbagi rata berjalan diatas gelagar berapa momen maximum di titik C dan berapa gaya lintang maximum di titik C.y GP.Dc y1ƞ y2ƞ + y3ƞ y4ƞ Dc = -P1ƞ y1ƞ + P 2ƞ y2ƞ + P 3ƞ y3ƞ + P4ƞ y4ƞ Dc = q F Beban terbagi rata Dc = q F .Mc + ´ y dx ! luas bagian yang diarsir ! F Mc = q F Luas = F y P 1ƞ P2 ƞ P 3ƞ P 4ƞ q dx = muatan q sejarak dx.2.Mc y2 C dx P.qdx ! q ´ y dx Mc = 7 P.3.q dx Mc = ´ y. A C B Mencari harga Mc a b l Kondisi muatan seperti pada 1) Mc = P1 y1 + P 2 y2 + P3 y3 * P P2 P3 1 Kondisi muatan seperti pada 2) 1) Mc = P1ƞ y1ƞ + P2ƞ y2ƞ + P3ƞ y3ƞ + P4ƞ * y4 ƞ P4ƞ 2) P 1ƞ P2ƞ P3ƞ y1 ƞ A GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -64- 3.b l y3 y 1 y4 ƞ y2 y3 B Untuk muatan terbagi rata = q t/mƞ q t/mƞ d Mc = y.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -65- q t/mƞ Luas = F + - GP. Mencari gaya lintang (D) dan momen (M) dengan garis pengaruh .15.Dc Gambar 3.

muatan yang melewati suatu jembatan adalah tidak menentu.1. .16.Untuk mencari nilai maximum tersebut perlu memakai ga ris pengaruh dari gaya dalam yang dicari sebagai perantaranya. Pendahuluan Pada kenyataannya. Muatan berjalan diatas gelagar Berapa momen maximum yang terjadi di titik C jika ada suatu rangkaian muatan seperti pada gambar tersebut melewati jembatan seperti pada gambar.4.4. ada yang lewat sendirian atau merupakan suatu rangkaian muatan.2. 3.2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -66- 3.2. Mencari Momen Maximum di Suatu Titik Pada Gelagar 3. Misal : Suatu gelagar muatan P1 P2 A C a l b P3 P4 P5 P6 B Suatu gelagar Jembatan Gambar 3. Dalam kondisi tersebut kita tetap harus mencari berapa nilai momen maximum di suatu tempat pada gelagar tersebut.Untuk mencari nilai momen maximum di suatu untuk didalam gelagar maka kita perlu mencari posisi dimana muatan tersebut berada yang menyebabkan momen di titik tersebut maximum. . Prinsip dasar perhitungan .2.4.

jika ada rangkaian muatan yang berjalan diatasnya berapa Mc maximum yang terjadi. ordinat garis pengaruh dinyatakan dengan y 1 s/d yS. Perpindahan ordinat untuk muatan berjalan yơ GP. atau Mc = 7 Py = P 1 y1 + P 2 y 2 + P 3 y 3 + P 4 y2 ƞ y 3ƞ y4 ƞ y5 ƞ = posisi kedua r B C (l.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -67- .c) Mencari Mc max untuk rangkaian muatan berjalan (dari kiri k e kanan) Jarak rangkaian muatan constant (tetap) = posisi awal .17. Contoh Mencari Momen Maximum Pada Gelagar Ada suatu balok terletak diatas 2 perletakan seperti pada Gambar. (x P1 P 1ƞ P P 2ƞ P3 P3ƞ P4 P4ƞ P5 P5ƞ 2 Jawab : A (c) l l (x y 1ƞ y1 y2 y3 C1 yƞ yƞ yơ y4 + P5 y 5 Gambar 3.Mc y4 y5 Pada posisi awal.Kemudian nilai maximum tersebut didapat dengan cara mengalikan antara beban yang terletak diatas gelagar dengan ordinat dari garis pengaruh yang dipakai.

dimana ordinat garis pengaruh dinyatakan dengan y 1ƞ s/d y5ƞ dan Mc = 7 Pyƞ (dalam hal ini y berubah menjadi yƞ) Jika ditinjau 2 bagian : .c1 ? l c À °c ql qr ql = jumlah beban rata -rata di sebelah kiri titik C qr = jumlah beban rata -rata di sebelah kanan titik C Jika q l > qr ( M positif ql = Jika muatan bergeser terus ke kanan sehingga P2 melampaui C P1 C .c1 ¹  § Pr © .c1 ¯  ql  qr A ¿ ! (x.(P3 + P4 + P5) yơ + P5) = 7 Pr jika (P1 + P2) = 7 Pl dan (P3 + P4 ¨ (x ¸ ¨ (x ¸ = 7 Pl © .bagian kanan titik C Di kiri titik C ordinat bertambah yƞ dan Di kanan titik C ordinat berkurang yơ yƞ = yơ = (x . c1 c (x .bagian kiri titik C dan . c1 ( l  c) Perbedaan nilai momen ( (M) dari perpindahan posisi beban adalah sebagai berikut : ( Mc = P1 yƞ + P2 yƞ ƛ P3 yơ ƛ P4 yơ ƛ P5 yơ = (P1 + P2) yƞ .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -68- Muatan bergerak ke kanan sejauh (x.c1 ¹ c l c  ª º ª º § Pl § Pr ¾ ® ( x.

Posisi beban terbagi rata untuk Mencari M maximum kiri kana n Mmax terjadi jika psosisi beb an tota l q l = qr = q s Mencari perkiraan posisi beban dalam mencari momen max supaya beban di kiri dan di kanan potongan seimbang. 12. 34. maka bisa diperkirakan secara grafik sebagai berikut : Gelagar diatas 2 perletakan A -B.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -69- ql menjadi kecil sehingga q l < qr ( M negatif (pergerakan P2 dari kiri C ke kanan C menjadikan tanda ( M dari positif ke negatif) Jadi Mmax terjadi jika P2 diatas C.34 dan 45 Cara : buat garis AB dibawah gelagar. M max terjadi jika salah satu muatan di atas potongan sehingga § Pl Pr !§ atau C l c ql = qr Mmax di suatu titik untuk muatan terbagi rata a b Untuk muatan terbagi rata Mc max terjadi jika : q l = qr B a b ab ! ! c (l  c) l A C c (l ƛ c) ql qr qs Gambar 3.di ujung bagian kanan (Bƞ) buat muatan tumpukan beban dari 45. 23. .12. dan 01 (dengan skala) .18.Tarik dari titik 0 (ujung dari beban 01) ke ujung garis bagian kiri (Aƞ) sehingga membentuk sudut ( E) . digunakan rangkaian muatan berjalan dengan nomor urut 01. 23.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -70- .Dengan cara yang sama. tarik garis dari potongan II ke bawah sampai pada garis Aƞ-Bƞ dan memotong di potongan IIƞ. . .Tarik dari titik Iƞ sejajar (//) dengan garis Aƞ0 dan garis tersebut akan memotong tumpukan muatan di beban 01.Kalau kita mau mencari dimana letak beban yang mengakibatkan momen di potongan I maksimum. sampai memotong garis Aƞ -Bƞ di Iƞ.Dari titik IIƞ ditarik garis // (sejajar) dengan Aƞ ƛ O dan memotong tumpukan muatan di beban 12. . yaitu dengan menarik garis dari potongan I kebawah. . °1 12 23 34 45 Mmax terjadi jika q l = qr = qs = tg E B tg E! 01  12  23  34  45  l A I II l III IV 0 1 2 3 4 E Aƞ 5 . .Jadi M II akan maximum jika beban 12 terletak diatas potongan II. * Bagaimana posisi beban untuk mendapatkan momen di potongan II maximum.Jadi M I akan maximum jika beban 01 terletak di atas potongan I.

Mencari posisi muatan untuk mendapatkan Mmax dengan cara grafis M I max terjadi jika muatan OI terletak diatas potongan I -I.Letak posisi titik dimana momen maximum terjadi. . mencari momen maximum-maximorum di suatu gelagar ini posisi titiknya tidak tertentu.5. Pendahuluan Mencari momen maximum maximorum ini berbeda dengan mencari momen maximum di suatu titik pada gelagar.2. M III max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan III -III. Mencari Momen Maximum Maximorum di Suat u Gelagar 3.2. Jadi dalam hal ini titik letak dimana momen maximum terjadi.19.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -71- Iƞ IIƞ IIIƞ IVƞ Bƞ Gambar 3.Letak posisi beban yang menyebabkan momen maximum.5. 3. Jadi dalam hal ini-: dicari !!.1. M IV max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan atau mutan 45 terletak diatas potongan IV -IV dan diambil yang besar. M II max terjadi jika muatan 12 terletak diatas potongan II -II. . serta posisi beban yang menyebabkan terjadinya momen maximum harus dicari. .

a ƛ R2 .r = R1 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -72- 3. Prinsip Dasar Perhitungan .Dalam mencari momen maximum -maximorum ini harus memakai persamaan.2. Contoh 1 P1 (a ) A P2 P3 P4 P 5 B Suatu gelagar diatas 2 perletakan A ƛ B. P 3. Jawab : R1 = resultante dari P 1 dan P 2 R2 = resultante dari P 3 dan P 4 Rt = resultante dari R 1. b 7 MA = 0 1 _P3 .5. P4. . r P1 P2 P 4 P5 P3 (b ) RA R1 a x l Rt Rt b R2 7M di P 3 = 0 RB Rt. P5 r = jarak antara Rt dan P 3 a = jarak antara R 1 dan P 3 b = jarak antara R 2 dan P 3 b P1 P2 P3 P4 P5 R1 r R2 Rt a Rangkaian muatan terl etak diatas gelagar dan dimisalkan momen maximum terletak dibawah beban P 3 dengan jarak x dari perletakan A. R2 dan P3 atau resultante P 1.x  R1 ( x  a )  R 2 ( x  ba lt Momen dibawah P 3 dengan jarak x dari titik A RB = .Untuk mencari momen maximum -maximorum di suatu gelagar ini tidak bisa memakai garis pengaruh karena titik letak momen maximum terjadi harus dicari. Berapa dan dimana momen maximum-maximorumnnya ?. P2.2. dan suatu rangkaian muatan dari P 1 s/d P5.

Rt . P1 (e A ) r ½ r½ r Mmax terjadi dibawah beban B P 1 M 1 max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 1.4.5).2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -73- Rt M max terdapat dibawah P 4 = M4max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 4 Mextrem = Mmax ƛ maximorum adalah tengah-tengah momen yang terbesar diantara bentang Mmax (1.3.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -74- ½r x ½ l M max terdapat dibawah P1 = M 1 max P1 (f) A tengahtengah B P2 P3 P4 P5 Mmax terjadi dibawah beban P2 M 2 max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 2.20. 1m 1m Cari besarnya momen maximum A B maximum maximorum. r ½ r Rt x=½l+½r M max terdapat dibawah P 2 = M 2 max P 1 P2 (g A ) r tengah bentang ½ r ½ r P 3 P4 P 5 B Mmax terjadi dibawah beban P5 M 5 max Dalam hal ini : r = jarak antara Rt dengan P 5 Rt x=½l+½r M max terdapat di bawah P 5 = M 5 Gambar 3. Posisi beban untuk kondisi Mmax 1 s/d M Suatu gelagar dengan bentang l = 10 max5 Contoh 2 m dan ada suatu rangkaian muatan P1=8 P2=6 P 3=6 berjalan dengan lebar seperti pada gambar. l = 10 Jawab : kondisi beban seperti pada gambar .

Posisi beban untuk mencari momen maximum maximorum 3.2 = 20 . Latihan : Garis pengaruh pada balok menerus dengan sendi-sendi gerber Soal 1 : P=1t berjalan 2m S A I B C Balok ABC dengan sendi gerber S seperti tergambar.95 Rt Kondisi 3 Dimana M max dibawah P 3 P1 tengah-tengah bentang P1 P2 P3 P2 P3 B l-x Rt 4.45 r =1.6.1 + 6. Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok. GP R B.2.1 4.2 = Rt.45 ½ Kondisi 2 Dimana M max dibawah P 2 P1 P2 P3 A 0.21.45 Rt Gambar 3.x 6.1 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -75- Kondisi 1 Dimana M max dibawah P 1 tengah P1 A 5m x=½l+ r = 5½ + 0. ditanyakan : GP R A . GP R C . x x= B tengahtengah bentang P2 P3 B 4.1 + P3.55 8t 1m x 4t 1m 6t Rt Rt = P 1 + P2 + P 3= 20 ton Statis momen terhadap P 1 P 2.

7. 3. ditanyakan : MI max . GP DB kanan 2 2 b). GP R A . GP R C .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -76- Soal 2 : 4m S1 A I B P = 1 t berjalan S2 C RB RC 6m 2m 6m D RD Balok ABCD dengan sendi gerber S 1 dan S 2 seperti tergambar. RA 8m 2m a). GP D I. Akibat rangkaian beban M max berjalan. Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok. Rangkuman . ditanyakan. GP R B.2. GP R D GP M I. GP M B. P1=4 P2=4 P 3=2 t t t maximorum pada balok tersebut.

8.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -77- . harus tahu dulu bagaimana memisahkan balok terse but menjadi bagian bagian yang tertumpu dari bagian yang menumpu.Untuk mengerjakan garis pengaruh balok gerber. . Penutup Untuk melihat prestasi mahasiswa dalam mengerjakan latihan. perlu dibuat dulu garis pengaruh reaksi.2. 1 Keterangan RA P =1t Titik A B S C A B S C A B S C N ilai 1t 0 1/3 t 0 0 1t 4/3 t 0 0 0 0 1t Tanda / Arah  o  q RB   o o RC  o .Sebelum mengerjakan garis pengaruh gaya -gaya dalam. maka bisa melihat jawaban soal sebagai berikut : Jawaban : Soal No. 3. karena dari garis pengaruh reaksi tersebut garis pengaruh gaya dalam mudah dikerjakan.

667 tm 0 0 1/3 t 2/3 t 0 1/3 t 0 0 0 2 tm 0 Tanda / Arah       Soal N o.333 t 1t 0 Tanda / Arah  o  q RB   o o RC   o o . 2 a).333 tm 0 0.25 t 0 0 0 0 1t 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -78- Lanjutan Jawaban Soal 1 Keterangan MI DI MB P =1t Titik A I B S C A I kiri I kanan B S C A B S C N ilai 0 1. Keterangan RA P = 1 dititik A B S1 S2 C D A B S1 S2 C D A B S1 S2 C D Nilai 1t 0 0.25 t 0 0 0 0 0 0 1.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -79- Keterangan RD MI P = 1 dititik A B S1 S2 C D A I B S1 S2 C D Nilai 0 0 0 0.25 t 0 0 0 0 0 2 tm 0 0 0 0 0 1t 1t 0 0 0 Tanda / Arah      b).5 t 0.5 t 0 0. pada saat P 2 terletak pada titik I . MI max = + 14 tm.333 t 0 1t 0 2 tm 0 1 tm 0 0 0 Tanda / Arah     q o Lanjutan Jawaban Soal 2 Keterangan DI MB DB kanan P =1t Titik A I kiri I kanan B S1 S2 C D A C S1 S2 C D A I kiri I kanan B S1 S2 C D N ilai 0 0.

Suwarno. bab V . UGM. terjadi pada titik dibawah P 2 3.10.9.2. . ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ . Daftar Pustaka .2. ƏStatika IƐ. ITB. Senarai Balok gerber = balok yang bisa dipisah -pisah menjadi beberapa konstruksi statis tertentu Sendi gerber = sendi yang dipakai sebagai penghubung antara balok satu dengan balok yang lain. bab V-4 3.05 tm.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -80- MI max maximum = + 14.Soemono.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -81- .

D) 4.1. Pendahuluan Konstruksi pelengkung 3 sendi biasanya dipergunakan pada konstruksi jembatan. sehingga sulit untuk membuat pilar di tengah -tengah jembatan ?. tapi dengan kondisi yang bagaimana ?. dalam. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah membaca materi ini mahasiswa salain mengerti apa arti struktur pelengkung 3 sendi. dan dasar sungainya tidak terlampau + 30 (b). (c). serta bisa menggambarkan bidang gaya dalamnya (Bidang M. pada umumnya dipakai jembatan balok diatas 2 perletakan bias a seperti pada Gambar Untuk sungai yang mempunyai lebar cukup berarti misal : + 100 m.1. dan dasar sungainya tidak terlampau dalam. maka + 100 m Pilar dibuatlah jjembatan balok dengan beberapa bentang. mengerti juga kapan struktur itu digunakan dan tahu cara menyelesaikan struktur tersebut.1. Judul : PELEN GKUN G 3 SEN DI Tujuan Pembelajaran Umum Dengan membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui apa itu arti struktur pelengkung 3 sendi dan tahu bagaimana menyelesaikan struktur tersebut. a. seperti pada gambar (b) yaitu jembatan balok dengan 2 bentang (perletakan di tengah Tapi bagaimana kalau kit a mendapatkan sungai dengan lebar yang cukup berarti dan dasar sungai juga cukup dalam. (a).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -82- MODUL 4 : PELENGKUNG DAN PORTAL 3 SENDI SERTA CARA PENYELESAIANNYA 4. Untuk sungai yang lebarnya tidak besar missal : + 30. N. .

Pelengkung sungai Gambar 4. maka perlu tambahan 1 (satu) persamaan lagi yaitu 7 Ms = 0 (jumlah momen pada sendi = 0). Pengertian tentang Pelengkung 3 Sendi 4. kedua perletakan dibuat sendi. S Pengertian Dasar Untuk menjaga kestabilan dari perletakan. Jadi total reaksi ada 4 (empat) buah.1. tempat dimana kendaraan lewat bisa tertumpu pada tiang-tiang penyangga yang terletak pada pelengkung tersebut. 4. sedang persamaan dari syarat keseimbangan hanya 3 (tiga) buah yaitu : 7 H = 0.1. gelagar memanjang. Skema pelengkung 3 Jadi agar struktur tersebut bisa sendi diselesaikan secara statis tertentu.1.2. struktur pelengkung tersebut.1. Dengan konstruksi pelengkung terse but. Penempatan Titik s (sendi) . A VA HA HB VA B Gambar (a) Gambar 4.1. S = sendi yang terletak pada pelengkung tersebut sehingga struktur tersebut dinamakan struktur pelengkung 3 sendi atau struktur pelengkung yang mempunyai 3 buah sendi.2. 7 V = 0 dan 7 M = 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -83- Tiang penyangga Maka jawabannya adalah konstruksi utama dibuat pelengkung sehingga tidak memerlukan pilar di tengah -tengah sungai (Gambar c).2. Perletakan A = sendi (ada 2 reaksi V A dan H A).2. Bermacam-macam bentuk jembatan 4. B = sendi (ada 2 reaksi V B dan H B).2.

3. dimana letak sendi s tidak di tengah-tengah busur pelengkung B A (b) Gambar 4. Contoh posisi sendi pelengkung 3 sendi . Hal ini tergantung dari kondisi lapangan : seperti pada gambar (b). S Letak sendi tersebut bisa ditengah-tengah busur pelengkung atau tidak.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -84- Sendi s yang dipakai untuk melengkapi persamaan pelengkung 3 s endi terletak di busur pelengkung antara perletakan A dan B.

3. Pemilihan Bentuk Pelengkung q kg/mƞ A RA B Kita kembali ke belakang.4.h1 I II VB Nilai M E-E dibagi menjadi 2 bagian.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -85- 4. Bidang M struktur 1 statis tertentu M= q l² dengan beban terbagi 8 rata 1 q l² (coba dihitung lagi sendiri) 8 S Struktur pelengkung dengan bentang = l dan tinggi = f di A ada 2 reaksi VA dan H A di B ada 2 reaksi VB dan H B f HA S E l HB A Kalau kita mau mencari besarnya momen di 1 potongan E ƛE.x1.q x12 ƛ 2 B HA. 2 q kg/mƞ (c) Gambar 4. maka M E-E = VA. h1 f I = VA . kalau kita R B mempunyai balok statis tertentu diatas 2 l + parabola Bidang M (dua) perletakan A dan B dengan beban terbagi rata q kg/mƞ. x 1 HA HB II = HA.x .h1 B Nilai I = V A .q x² diatasnya.1. maka bidang momennya berbentuk parabola dengan tanda bidang M adalah positif (+) dengan nilai maximum di tengah -tengah bentang = dengan persamaan momen Sekarang kalau ditin jau struktur pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata 1 Mx = RA.2. x1 l persamaan momen gambar (c) yaitu 2 (dua) VA x1 VB perletakan dan dengan gambar bidang momen 1 q x1 2 2 A 1 q x12 sama dengan 2 .

3.x1 ƛ ½ q x1² + Bidang M + Gambar nilai II = H A.b1 = 0 (1) .l ƛ HA.3. Pendekatan 1 : Jika HA dan V A atau H B dan V B dicari bersamaan.h1 Gambar 4.6. Skema Nilainya bidang M pada pelengkung mengecil Harga momen total adalah sebagai berikut : Nilai I dan nilai II = nilai tota l M E-E = nilai total M E-E + + = nilai kecil (saling menghapus) Dari uraian tersebut diatas terlihat bahwa bentuk pelengkung itu akan memperkecil nilai momen. Cara Penyelesaian 4. (hA-hB) ƛ P1.5. Pendekatan 2 : Jika V A dan V B dicari dulu baru H A dan H B kemudian a b Gambar 4. P1 S1 hB HB a1 A HA b1 B VB hA Mencari Reaksi Perletakan S Ada 2 (dua) cara pendekatan penyelesaian untuk mencari reaksi. 4.1. Skema gaya dan jarak pada pelengkung (pendekatan 1) Pendekatan 1VA HA dan V Al dicari dengan persamaan 7 MB = 0 dan 7M S = 0 (bagian kiri) (2 persamaan dengan 2 bilangan tak diketahui) Gambar (a) 7M B = 0 V A.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -86- Bidang M. Gambar nilai I = V A.1.

hA ƛ P1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -87- 7M S = 0 V A.S 1 = 0 (bagian kiri) (2) .a ƛ HA.

h B ) = 0 (bagian kanan) Dari persamaan (3) dan (4) maka V B dan H B bisa dicari. 7M A = 0 VB. Pendekatan 2 P1 S S1 f a Ba Reaksi horizontal H A dan HB ditiadakan kemudian arahnya diganti.H B .l . (4).l + HB (hA ƛ hB) ƛ P1. masing -masing menuju ke arah perletakan yang lainnya menjadi Ab ¸ dan ¹ Ba B Dengan arah Ab yang menuju perletakan B dan . HB dan V B dicari dengan persamaan 7M A = 0 dan 7M S = 0 (bagian kanan) 2 persamaan dengan 2 bidang tidak diketahui (3).a1 = 0 7 M S = 0 V B .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -88- Dari 2 persamaan tersebut diatas yaitu (1) dan (2) maka V A dan H A bisa dicari.

a  P1S1 dengan memasukkan nilai A v dari Ab = f persamaan (1). f = 0 Av .a ƛ P 1. f = 0 Bv . b1 = 0 Pb Av = 1 1 l (1) y Mencari reaksi Bv 7 MA = 0 Bv. y Mencari reaksi Ba 7 MS = 0 (bagian kanan) persamaan (2) maka nilai Ba bisa dicari.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -89- y Mencari reaksi Av 7 MB = 0 Av. maka nilai Ab bisa dicari.l ƛ P1.l ƛ P1. Bv. a1 = 0 Pa Bv = 1 1 l (2) y Mencari reaksi Ab 7 MS = 0 (bagian kiri) Av.b ƛ Ba . b Ba = dengan memasukkan nilai Bv dari f Lihat posisi Ba dan Ab dan Ab ( ¸) merupakan reaksi yang arahnya miring Ba ( ¹) Ba cos E Ba E Ab sin E Ba sin E Ab .S1 ƛ Ab .

y Bagaimana dengan komponen -komponen itu selanjutnya ? Ternyata : Ab cos E = HA pada cara pendekatan 1 yaitu merupakan reaksi horizontal di A.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -90- Kedua reaksi ini harus gaya dan diuraikan gaya menjadi vertical yang horizontal Ab diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu : Ab cos E( ) merupakan uraian horizontal dan Ab sin E(µ) merupakan uraian vertical sedang. (³) dan : VA (µ) = Av ( µ) + Ab sin E (µ) pendekatan 2 gambar (b) dan Pendekatan 1 gambar (a) VB (µ) = Bv (µ) + Ba sin E (¶) pendekatan 2 gambar (b) Pendekatan 1 gambar (a) . ( ´) Ba cos E = HB pada cara pendekatan 2 yaitu merupakan reaksi horizontal di B. Ba juga diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu : Ba cos E (³) merupakan uraian horizontal dan Ba cos E (¶) merupakan uraian vertikal.

gaya-gaya dalam yang ada pada suatu balok adalah gaya dalam momen (M).1.8. Gaya dalam untuk balok diatas 2 perletakan Bagaimana dengan bidang gaya dalam pada pelengkung ?.9 disamping.b l RA + Bidang D RB Gambar 4.1.3.3 Gambar (c). maka dengan mudah B kita menggambarkan bidang momennya (Bidang M) dan bidang gaya lintangnya (Bidang D). seperti pada gambar (4. y I = VA . II II = HA .2. merupakan nilai konstan Dx = R A (x A a RA l Bidang + b P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -91- 4. y HA = konstan nilainya y = jarak titik dasar ke pelengkung S y A HA VA Gambar 4. bukan pelengkung. (x dari 0 ke a) linear dan bidang D dari 0 ke a). x q kg/mƞ Lihat pada gambar 4.2. x. maka Mx = V A . Jika x adalah titik yang ditinjau bergerak dari A s/d B. x P Untuk balok yang lurus. Mencari Gaya-gaya Dalam Seperti telah diketahui sebelumnya. x ƛ ½ q x² .HA .9 Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata HB B VB . dimana suatu pelengkung 3 sendi dibebani beban terbagi rata q kg/mƞ. RA Karena bidang M merupakan fungsi x Mx = RA .8).a. x ƛ ½ q x² gambarnya adalah parabola seperti pada I sub bab 4. gaya lintang (D) dan gaya normal (N).

dimana pada umumnya persamaannya adalah : y = II = HA. Vx = V A ƛ q . x (jumlah gaya -gaya vertikal di x kalau di hitung dari bagian kiri) Hx = H A HA VA HB VB Gambar 4. * Bagaimana dengan bidang D (bidang gaya lintang) Kita lihat titik dimana x berada di situ ada x Hx S Vx Vx dan Hx. maka Vx dan Hx harus diuraikan ke E . Gaya vertical dan horizontal disuatu titik pa da pelengkung 3 sendi Bagaimana nilai Dx dan Nx ? gaya-gaya tersebut Vc dan Hx harus diuraikan ke gaya -gaya yang B (tegak lurus) dan // (sejajar sumbu) Dimana posisi sumbu batang?.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -92- y adalah merupakan persamaan parabola dari pelengkung.y gambarnya juga parabola 4 fx ( l  x ) l² Jadi Mx = I ƛ II merupakan penggabungan 2 parabola yaitu parabola I dan II yang tidak mudah penggambarannya !.10. Garis singgung tersebut membentuk Garis singgung di x sudut E dengan garis horizontal. Posisi sumbu batang adalah merupakan garis singgung dimana titik x berada.

maka Dx = Vx cos E Hx sin E Jumlah gaya dari kiri bagian arah ke atas tanda (+) Jumlah gaya dari kiri bagian dengan arah ke bawah tanda (-) Nx = .Vx sin E. x cos E = . Karena setiap letak x berubah garis singgung akan berubah sudutnya dan nilai E akan berubah lihat gambar bawah.11.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -93- Hx sin E Vx sin E E Vx cos E Vx Hx E Hx cos E * Uraian Vx ke garis singgung singgung * Uraian Hx ke garis Gambar 4.( Vx sin E Hx cos E   Kedua gaya ini menekan batang tanda (-) Dari uraian tersebut diatas kalau kita mau menggambar bidang D (gaya lintang) atau bidang N (gaya normal) akan mendapat kesulitan . Uraian Vx dan Hx pada sumbu batang Dx = jumlah komponen yang B garis singgung Nx = jumlah komponen yang // garis singgung. Garis singgung Garis singgung E x di sebelah kanan titik puncak .

Namun biasanya yang ditanyakan adalah besarnya nilai momen. M). dan nilai gaya normal di salah satu titik di daerah pelengkung tersebut.5 m xc VA 5m VB 5m Gambar 4. Contoh Penyelesaian Contoh 1 3 t/mƞ Diketahui : Pelengkung 3 sendi dengan persamaan 4fx(lt  x ) parabola y = l² y = jarak pelengkung dari garis horizontal dasar x = aksis yang bergerak secara horizontal dari A ke B l = bentang pelengkung f = tinggi pelengkung H B Pelengkung tersebut dibebani secara terbagi rata q = 3 t/mƞ. bidang gaya lintang (Bid. D) ataupun bidang normal (Bid. VB.5 m dari titik A. S Ec C yc f=3 m A H 2.12. Perubahan arah garis singgung Biasanya yang ditanyakan dalam struktur pelengkung bukanlah bid ang momen (Bid. H.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -94- Gambar 4. nilai gaya lintang. Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata Dintanya : Nilai VA. Dc dan Nc Dimana c terletak sejarak x c = 2. Mc.13. . N).

q (5)² 15.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -95- Jawab : Lihat notasi reaksi yang ada di perletakan A dan B. l ƛ q. ½ l = 0 VB . Sudut Ec B Menentukan nilai Ec y= Ec lintang Untuk mencari gaya lintang maupun gaya normal pada potongan x. (5)² = 0 H= V .14. 3 .5 m yc = 4.5² = 0 (nilai momen = 0) y Mencari gaya normal dan gaya Hc Vc A 2. 2.3.l.5 (10  2. 25 ! ! 12. 2.5  1 / 2.5  1 / 2 .5 .2. l ƛ q.q.10 = 15 ton ( o) VB = 15 ton (o) y Mencari ordinat titik c guna mencari Mc dengan persamaan parabola y = 4 fx ( l  x ) l² untuk x = 2.H .3. reaksi horizontal di B ditulis H bukanlah H B (HA) dan di B (H B) adalah sama. ½ l = 0 VA = ½ .5 ton 3 3 VA .25 ƛ ½ .5 ƛ 12. maka 4 f x (l  x ) 4 f (l  2 x   y' ! l² l² . yang berarti reaksi horizontal di A HA = HB kenapa ? dengan mengacu bahwa 7H = 0 maka H A = HB = H dimana beban luar secara horizontal tidak ada Mencari V A dan VB 7 MB = 0 7 MA = 0 mencari H 7 Ms = 0 (kiri bagian dari S) VA . 3 .yc ƛ ½ . 2.25 m 10² y Mencari Mc (momen di titik c) dihitung dari kiri c Mc = VA .Xc ƛ H. l. 5. di A ada V A dan H dan di B ada V B dan H Reaksi horizontal di A ditulis H buk anlah H A demikian juga.Xc² = 15 .5m Gambar 4. 3 ƛ ½ q .5) ! 2.

hanya beban luar yang berbeda yaitu P = 6 ton ( ) horizontal .5145 + 12. Nc = -14. Contoh 2 xc=2.(7.5 . 0.5 ton ( ) Dc = Vc cos Ec ƛ Hc sin Ec = 7.5 . Vc = VA ƛ q.8575) = . 0.5 = 7.5m xp=2m C P=6t yp HA yc f=3 m HB Diketahui : S Pelengkung 3 sendi dengan persamaan 4fx(l  x ) bentang l = 10 m parabola l² dan tinggi f = 3 m persis seperti pada contoh 1.5 ton ( o) Hc = H = 12.4312 ƛ 6.14.2. 0.5774 ton.5 .15.sin Ec + Hc cos Ec) = .5145 = 6.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -96- kita perlu mencari sudut Ec yaitu sudut yang terbentuk antara garis singgung di titik c dan garis horizontal. Dc = 0.5 .x = 15 ƛ 3.(Vc.5774 ton Dari Mc hasil = nilai gaya dalam tersebut tampak bahwa nilai 0. jadi ini jelas bahwa struktur pelengkung ditekankan menerima gaya tekan.4312 = 0 Hc sin Ec Ec Vc sin Ec Ec Vc cos E c Vc Hc Hc cos Ec Gambar 4. 0.8575 ƛ 12. Uraian gaya Vc dan Hc Nc = .

Gambar pelengkung 3 sendi pada contoh soal .16.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -97- Gambar 4.

3 ƛ 6 .152 . ½ l ƛ H B . 1. l .P.1.92 = 0 VA + VB = 0 cocok VA = -1.152 . ½ l ƛ HA .152 ton ( q) 7 MA = 0 VB = + 1. 3 = 0 HB = 1. 5 ƛ HA . 5 ƛ HB .yp = 0 VA . f ƛ P ( f ƛ yp ) = 0 .76 ƛ HA . l + P. 1.92 = 0 VB .3.76  6.92 ton ( n)  5. 3 ƛ 6 (3 ƛ 1.92) = 0 .92 = 0 (cocok) .152 ton ( o) 7v=0 Mencari H A dan HB 7 M S = 0 (kiri) 7 MS = 0 VA .08 ton (n) 3 Kontrol 7H = 0 P + HA + HB = 0 6 ƛ 4.5.08 ƛ 1.6 . 1.yp = 0 VB . 10 .92 m Yp = 10² 7 MB = 0 VA .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -98- Jawab : Karena ada beban horizontal maka H A { HB Mencari V A dan V B Untuk mencari VA dan VB perlu tahu tinggi yp untuk Xp = 2 m 4. 10 + 6 .2 (10  2) ! 1.48 ! 4.08 = 0 HA = 7 M S = 0 (kanan) 7 MS = 0 VB . f = 0 1.

Vc cos Ec ƛ Hc sin Ec = -1.92 .5145.9757 ton Nc = + Vc sin Ec ƛ Hc cos Ec .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -99- Mencari M. Distribusi Vc dan Hc Vc Vc cos E Ec Hc sin Ec Ec Hc cos Ec Vc = 1.5145 Dc = .96° sin Ec = 0.152 .2. 2.08 = 1. 2.5 + 4.08 . yc ƛ P (yc ƛ yp) C P=6 t yc HA VA Ec Mc 1.92) = -1.V A . 0.25 m Ec = 30.152 . = -1. 25 ƛ 6 (2.25 ƛ = .17.92 ( ) 0.152 ton ( q) Hc = 6 ƛ 4.8575 Mc = . Dc dan Nc Seperti pada contoh 1 yc = 2.Xc + HA .18 ƛ 1.32 tm VB Hc C Hc Vc P Vc sin E HA VA Gambar 4. cos E = 0.88 + 9.98 HB = 4.8575 ƛ 1.

VB. HB. 0. c P = 4t A HA HB B Persamaan parabola : y = VB 4 f x (l  x ) l² Xp=2 m VA Xc=3 m 5m 5m .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 100- - = 1. HB. Dc f=4 m sendi ABS dengan beban = 3 t/mƞ sepanjang dan P = 4 ton horizontal m dari A. Nc. Dc f=3 m A HA B Persamaan Parabola : y= 2).8575 = . 2m HB 2m VA 4m 4m VB Ditanyakan : VA. 0. VB.152 . q=2 P = 6t c S Suatu pelengkung 3 sendi ABS dengan beban terbagi rata q = 2 t/mƞ sepanjang setengah bentang.0537 ton 4. HA.5145 ƛ 1.1. Mc. 4 f x (l  x ) l² q=3 Suatu pelengkung terbagi rata q setengah bentang terletak di sejarak 2 S Ditanyakan : VA.4. HA.92 . Latihan Untuk mempraktekan teori -teori yang ada diuraian depan. maka perlu diadakan suatu lat ihan sebagai berikut : 1). Nc. dan P = 6t vertical terletak sejarak 2 m horizontal dari B. Mc.1.

75 0.5.6 0.667 ton 2. gaya lintang dan gaya normal di salah satu titik. 4. o Struktur tersebut masih merupakan struktur statis tertentu yang bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan.5 ton 4. Rangkuman o Pelengkung 3 sendi adalah struktur jembatan yang dipergunakan untuk penampang sungai yang mempunyai dasar cukup dalam.25 m 0. bidang ga ya lintang dan bidang normal tidak dihitung karena penggambarannya cukup kompleks. 1 Keterangan Titik N ilai Arah / Tanda Reaksi Vertikal A B Reaksi Horizontal A B Data Pendukung yc yƞ Sin E Cos E 7.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 101- - 4.5 ton 6.8 o o p n .6. Sedang bidang momen. o Yang biasanya dicari dalam struktur pelengkung adalah nilai momen.1. mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban darsoal -soal tersebut diatas sebagai kontrol.1. Soal No. Penutup Untuk mengukur prestasi.667 ton 4.

3672 tm 2.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 102- - Momen Gaya Lintang Normal C C C 0.64 0.36 m 0. berfungsi supaya pelengkung tersebut menjadi statis tertentu.184 ton 5. Soemono ƠStatika Iơ ITB. bab 2. Senarai Pelengkung sendi : struktur pelengkung di suatu jembatan dimana salah satu sendinya (selain perletakan). UGM. Suwarno ƠMekanika Teknik Statis Tertentuơ.5625 tm ~0 5.774 ton 1. Daftar Pustaka 1. .1.9675 ton 5.6854 (+) (-) (-) o o p n 4.7.8336 ton (-) (-) Soal No.539 0.226 ton 4.9675 ton 3.8. 2 Keterangan Titik N ilai Arah / Tanda Reaksi Vertikal A B Reaksi Horizontal A B Data Pendukung yc yƞ Sin E Cos E Momen Gaya Lintang Normal C C C 10.842 7. bab 4.

b l . x = 0 Untuk P di B . yaitu besarnya reaksi atau gaya -gaya dalam disuatu tempat yang diakibatkan muatan berjalan sebesar satu satuan muatan. V A dan V B (garis pengaruh reaksi di A dan B) P berjalan dari A ke B.P.2.f Untuk P di A . b f VA . a.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 103- - 4. x = 0 1t Untuk P di B .18. f = 0. VB . Garis Pengaruh Pelengkung 3 Sendi 4.P. Pengertian Dasar Pengertian tentang garis pengaruh pada pelengkung 3 sendi sama dengan pengertian garis pengaruh pada balok menerus. x = l VB = 0 V B = 1 ton 6 MB = 0 VA = P (l x) ton (linier) l V A = 1 ton VA = 0 (+ G. x = l G. ton (di persamaan atas V B = l f Gambar 4. b ƛ H . 6 MA = 0 VA H l a G. Pendahuluan Seperti pada balok diatas dua perletakan.P.H (Garis Pengaruh reaksi horizontal) HA = HB (karena beban hanya vertikal) Jika P berjalan dari A ke S (li hat bagian kanan S) 6 MS = 0 H= VB . 4. b = f V B . gaya lintang) pada suatu titik dipelengkung tersebut perlu adanya garis pengaruh. Untuk mencari besarnya gaya dalam (momen.P VA (+) 1t G. s truktur pelengkung 3 sendi difungsikan sebagai jembatan yang mana diatasnya selalu ada muatan yang berjalan.1.2.2.P V B VB = Px l f H b VB VB Untuk P di A . 4. a f Px b .2.3 Prinsip penyelesaian. Garis pengaruh V A. V B dan H Px ) l .2. H P. Garis Pengaruh Reaksi x P S G. a .

f ton H= 6 MS = 0 VA .P. a .f Jika P berjalan dari S ke B (lihat bagian kiri S): H.b ton l.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 104- - Untuk P di A .P. B H b MC = VB .C = G.f v G.b c l . u . Jika P berjalan di kanan Potongan C (dari C ke B). M C (Garis Pengaruh Momen dititik C). bagian II (-) Untuk P di C maka M C = P . bagian I (+) P . u . u . x = l Untuk P di S .H .b ton H= l . a . M C = VA .P. x = a H=0 P.v l G. c I II (dibagi menjadi dua bagian I dan II) u VA c A H a f VB P dikiri potongan C (dari A ke C) lih at kanan potongan.H .f = 0 a H = VA . v .P. R l C u VA VB Bagian II H.P. M C pada balok di atas dua perletakan l G. v sama dengan G. x = 0 p H = 0 Untuk P di S . c I II (dibagi menjadi dua bagian I dan II) Bagian I VA . x = a p H = P. u dan V B . M C Garis Pengaruh Total (M C) sama dengan jumlah dari garis pengaruh bagian I dan bagian II (+ (-) . H x C v P. a - P ( l  x ) a ton f l dipusatkan VA = P (l  x ) l Untuk P di B .P. maka lihat kiri potongan (kiri C).f G. a.

NC bagian I Q sin E l (+) ( .P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 105- - Gambar 4.(VA sin D + H cos D ) I II DC = VA cos D . Gaya Lintang balok diatas 2 perletakan untuk G.H sin D I II I -> identik dengan G. Gambar GP.Mc C.) v sin E H b l GP VB sin GP.P.P. VA sin D dan V A cos D. a . Gaya normal perlu dikalikan sin D dan untuk G.P. HC = H H cos H D diuraikan E menjadi gayaD gaya yang Sin sejajar ( // ) H sin dan tegak lurus VA yaitu H cos D dan H sin D.P Gaya Lintang perlu dikalikan cos D v G. V A Sin D D GP NC Bagian II () P.19. N dan D Jika P berada dikanan C (lihat dari A ke C) H a l G. Garis Pengaruh Gaya Lintang (D) dan N ormal (N) u VA S C VA D H f V C = VA HC = H VA sin D VA diuraikan VB menjadi gaya VA cos D D yang sejajar C ( // ) dan ( ^ ) garis B singgung di C.f . sehingga: NC = . b cos E l .

Gaya normal perlu dikalikan cos E dan untuk GP.20. D C a b sin E l.P. G. untuk GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 106- - v sin E l GP NC Total ( I dan II ) II (-) a .f identik dengan garis pengaruh gaya horizontal (H).P.DC bagian II  y= yƞ = 4fx (lt  x ) l² 4f ( lt  2 x ) l² - Pab sin E lf u cos E l GP DC Total (I + II) Mencari nilai E Persamaan parabola 4 fx ( l  x ) y= l² 4f ( l  2 x ) l² Untuk nilai x tertentu E bisa dicari y' = (-) v cos E l.b cos E l . NC v cos E l perlu dikalikan cos sin E (-) (+) VB cos E v cos E l Mencari N ilai E Persamaan parabola VA cos E GP. Garis pengaruh gaya lintang (D) dan gaya normal (N) . f Gambar 4. Gaya lintang G.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 107-

-

1. Contoh Soal x C P S EC

Diketahui : suatu pelengkungan 3 sendi seperti pada gambar dengan persamaan parabola:

4 fx ( l  x ) l² Ditanyakan : G.P reaksi dan G.P. Nc dan Dc Y= f =3 m Jawab : H B VB GP V A § MB = 0 P (l  x) lx ton = ton VA = l l Untuk P di A x=0 VA = 1 ton Untuk P di B x=l VA = 0 G.P. V B § MA = 0 Px x VB = ton ! ton l l 1tUntuk P di A Untuk P di B x=0 x= l VB = 0 VB = 1 ton

A VA 2.5 m

H 5m l G.P. VA 5m

1t

(+) G.P. V B t (+) G.P. H (+) 5/6

G.P. H P berjalan antara A - S (lihat kanan S) § MA = 0 § MS = 0 VB = VB
Px x ! l l

Gambar 4.21. GP VA; VB dan H dari pelengkung 3 sendi

1 l - H.f = 0 2 VB . 5 - H. 3 = 0 H= VA . 5 3 ( l  x ) 5 (10  x ) 5 H= . ! t l 3 10 3 Untuk P di B x = 10 H=0t Untuk P di S x=5 H= 105 5 5 5 5 ! t . ! 10 3 10 3 6  .a.b 1.5.5 5 Atau H = ! ! t l. f 10.3 6

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 108-

-

C

S i VA cos E

VA VA sin E EC VC = VA HC = H

A G.P. NC Bagian I (+ 0.3858 0.1286 t (-) G.P. NC Bagian (-)
0.714 t

B H cos E EC H sin E NC = - (VA sin E + H cos E) I = VA cos E - H sin E I II II

DC G.P NC 0.5144 t ( -) 0.9712 (-) 0,2143 Bag.I (+) G.P.D C

Mencari nilai EC 4 f .x (l  x ) 4.3 (10  x ) ! Y= l² 10² 4 f ( l  x ) 4 . 3 x (10  2 x ) ! l² 10² 4.3 (10  5) 60 3 Untuk x = m y' = ! ! 100 100 5 y' =3/5 = arc tg EC EC = 30.96º sin E = 0.5145 cos E = 0.8575 .G.P. NC NC = - (VA sin E + N cos E) Y' = I I untuk P di C II x = 2.5 m VA = ¾ t VB = ¼

0.643 1 G.P. DC bag. II (-) 0.42875

(-)

G.P. D C 0.4286

I

t VA sin E = ¾ . 0,5145 = 0,3858 VB sin E = ¼ . 0,5145 = 0,1286 II H cos E Untuk P di S H cos E = 5/6 . 0,8575 = 0,714 G.P. D C DC = V A cos E - H sin E Untuk P di C x = 2,5

0,428 8 Gambar 4.22. GP Nc dan Dc pada pelengkung 3 sendi

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 109-

-

4.3.

Muatan tak langsung untuk pelengkung 3 sendi

4.3.1. Pendahuluan Seperti pada balok menerus, pada pelengkung 3 sendi ini pun terdapat muatan yang tak langsung. Pada kenyataannya tidak pernah ada muatan yang langsung berjalan diatas gelagar pelengkung 3 sendi, yang melewati diatas pelengkung 3 sendi harus melalui gelagar perantara. Gelagar perantara Kolom perantara Pelengkungan

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 110-

-

S

Gambar 4.23. Gelagar perantara pada pelengkung 3 sendi

4.3.2. Prinsip dasar Prinsip dasar penyelesaiannya sama dengan muatan tak langsung pada balok. Muatan akan ditransfer ke struktur utama, dalam hal ini pelengkung 3 sendi, melewati gelagar perantara dan kemudian ke kolom perantara.

q = kg/mƞ

a

P

b

q kg/mƞ P

R1 R1

R2 R2

R3 R3

R4 R4

R5 R5

R6 R6

S

P

P

P L =5P

P

P

(a). Kondisi pembebanan kolom (b). P = qP = ½ qP + (L/P )P R3 = q . Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi 1t 1t q = 1 t/mƞ 2 3 S 4 a a5 6 . . . .24. transfer beban lewat perantara P q = kg/mƞ R1 P R2 P R3 R4 a P b R5 P P R6 (c) Perhitungan nilai R (beban yang ditransfer) R1 = q . ½ P = ½ q P R2 = q . P R4 = a P P R5 = R6 = 0 Gambar 4. . .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 111- - . ½ P + (b/P ).

. R4 Yc HA VA HB VB Hc = H Mc = VA. Muatan Tak Langsung Pelengkung 3 Sendi. . Beban dipindahkan ke pelengkungan melalui gelagar. Cos E .Xc-R2. .5 ton a R1 R2 C R3 S e . Menjadi (R1. . Pada Suatu konstruksi pelengkung 3 sendi dengan muatan tak langsung seperti pada gambar.Yc Vc = VA. Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi 4.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 112- - Contoh.Xc-R2.e-HA. R4 dan R5) b R2 = R3 = ½ P.4.Hc sin E Vc Vc cos E Vc sin E Ec C Hc cos E C Hc Hc sin E G ambar 4.4. Garis pengaruh gelagar tak langsung pada pelengkung 3 sendi 4. R3. . .qton R5 R6 Vc = Av ƛ R1 R4 = 0. Pendahuluan . R2. . Prinsip penyelesaian sama dengan muatan tak langsung pada balok sederhana diatas 2(dua) perletakan.25. sin E + Hcos E) Dc = Vc.e-HA.Yc Nc = -(Vc .5 ton R5 = 1.

atau 1 kg atau Newton) .33 A C I D E B y1 y y2 + C P1 I D P2 GP M I gel. Seperti garis pengaruh pada gelagar tak langsung diatas-atas 2 tumpuan. P .N.33 P 54. karena potongan I tersebut terletak diantara gelagar lintang C dan D. Garis pengaruh momen di potongan I untuk gelagar langsung P 54.D) disuatu ttitik pada gelagar tersebut. P . A C I D E ½ ½ P P + 1. Beban standart yang dipakai adalah muatan berjalan sebesar satu satuan. P .25P 15 ! P puncak adalah 4P 8  Kalua gelagarnya tak langsung. Jika letak . dengan ordinat 1. (1 ton. Jadi ordinat yang bawah titik I adalah (P1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 113- - Seperti biasanya pada sutau jembatan tentu selalu dilewati muatan yang berjalan diatasnya. maka kalau diperhatikan beban tak pernah lewat diatas potongan I.5 P . B Bagaimana garis pengaruh momen dipotongan I pada gambar dengan gelagar tak langsung (gambar a). 4. P .33 P 54.33  Gambar b adalah gambar garis pengaruh mome n dipotong I (GP M I) untuk gelagar langsung dengan puncak dibawah potongan I.26.5 P 15 ! P P 8 GP M I untuk gelagar langsung Gambar 4.4.Y2). transfer beban hanya disalurkan lewat kolom perantara.2.5P .Y1 + P2. untuk itu garis pengaruh selalu diperlukan untuk mencari reaksi atau gaya-gaya dalam (M. langsung y1 y2 Beban tersebut selalu ditransfer ke gelagar lewat titik C dan D dengan C D I nilai P1 dan P2. Prinsip Dasar Sama seperti pada balok diatas gelagar tak langsung 2 tumpuan. 2. Kalau muatan berada diatas gelagar C ƛ D beban tak penuh melewati tepat pada potongan I P P 54.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 114- - GP. M I gel. Dc dan Nc . Gambarkan Garis pengaruh Mc . Garis pengaruh m omen di potongan I untuk gelagar tak langsung potongan I ditengah -tengah C-D maka ordinat dibawah potongan I adalah ½ y 1 + ½ y2 C I D y1 y2 ½ y1 + ½ y Jadi garis pengaruh untuk gelagar tak langsung sama dengan garis pengaruh pada gelagar langsung dengan pemotongan puncak dipap ar dimana titik tersebut berada. Pemaparan pada gelagar disebelah kiri dan kanan dimana titik berada seperti pada gambar d.27. tak langsung ½ y1 + ½ y Gambar 4. Contoh Suatu struktur pelengkug 3 sendi dengan gelagar tak langsung seperti pada gambar.

Y l I + pemaparan GPMc bagian II pemaparan P. 28.Y l P.a .Nc = .5.f G.H sin E Cos E P.a . Cuma dipapar pada bagian gelagar yang bersangkutan. Mc total (bag I + bag II) - II + P. Pen yelesaiann ya sama dengan beban langsung. S .(Av sin E + H cos E ) pemaparan Sin E pemaparan P. f H R VB H VA Q .Dc = Av cos E .b cos E lf pemaparanG.P. Pendahuluan .a . C yc . a . Untuk garis pengaruh gelagar tak langsung.Q. b GPMc bagian I P.b yc l. GP Mc = V .5.b sin E lf pemaparan Gambar 4.f G. Judul : Portal 3 sendi 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 115- - Penyelesaian.Q.P.b yc l.P. .1. 4.x  H.yc A  ] II I .a.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 116- - Bentuk dengan suatu struktur adalah bermacam-macam.2. Kalau dibagian sebelumnya ada struktur pelengkung 3 sendi. Prinsip Dasar Prinsip dasar penyelesaian nya sama dengan pelengkung 3 sendi yaitu memakai 2 pendekatan Pendekatan I .29. bisa berupa balok menerus. pelengkung 3 sendi dan gelagar lainnya. Bentuk portal 3 sendi Portal 3 sendi adalah suatu penyederhanaan sederhana dari pelengkung 3 sendi supaya penyelesaiannya lebih sederhana dan tidak perlu memakai gelagar yang tak langsung. 4.5. balok gerder. maka bentuk lain dari struktur tersebut adalah portal 3 sendi sepeti tergambar dibawah ini S A B Gambar 4.

30.l + HA.a + HA. b2 = 0 VA.l + HB. S 2 = 0 VB dan H B dapat ditentukan (dari kanan) 7 MB = 0 7 MS = 0 (dari kiri) VA.hƞ ƛ P 1 . (h ƛ hƞ) ƛ P2 .h ƛ P 1 . Arah reaksi -reaksi dari portal 3 sendi untuk penyelesaian dengan cara pendekatan I Prinsip penyelesaiannya sama den gan pada pelengkung 3 sendi yaitu memakai 2 pendekatan. a2 ƛ P1 . S1 = 0 VA dan H A dapat ditentukan Pendekatan II . b1 ƛ P2 . a1 = 0 VB.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 117P1 S a1 a2 - S2 P1 P2 b1 b2 B VB h' HB h h A VA HA a L b Gambar 4.hƞ ƛ P2 . Pendekatan I 2 cara seperti pada pelengkung 3 sendi.l + HB. 7 MA = 0 7 MS = 0 VB.

31. Arah reaksi portal 3 sendi dengan cara pendekatan II .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 118P1 P1 P 2 S - S1 a1 a2 S S2 b1 b2 B BV h' BA h h A AV AB a b L P1 S P1 fƞ ff ƞ B BA BV A AV AB a b L Av ƞ A AB HA HB BA B Bv Ɲ Gambar 4.

f ƞ Bv. a1 ƛ P2 .b 2 l 7 MA = 0 Bv.b ƛ P2 .a ƛ P1 .a  P1 . f = 0 . f Ɲ 7 MS = 0 (kiri) HA .a 1  P2 . f = 0 BA = Bv . b  P2 . S 2 f Nilai BA . f ƞ Av. f = HB .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 119- - Cara 2 7 MB = 0 Av.l ƛ P1 . b 2 = 0 Av = P1. S1 AB = Av f 7 MS = 0 (kanan) HB . S 2 ƛ BA . S 1 ƛ AB . f Ɲ AB dan B A diuraikan HA = AB cos E HB = BA cos E Av Ɲ = A B sin E Bv Ɲ = B A sin E Maka : VA = Av + Av Ɲ VB = Bv ƛ Bv Ɲ HA = AB cos E HB = BA cos E Contoh . f = HA . b 1 ƛ P2 .b1  P2 . a2 = 0 Bv = P1.a 2 l Nilai A B .l ƛ P1 .

4333 ( q) Bvƞ = 0. 3 .5 = 0 Bv Av. tg E Avƞ = 1.6 ± 4. m P1 q  2t/m' S 4t Memakai pendekatan 2 D C 7 MB = 0 4m 5m (fƞ) AB B Av.5 .3 . 1.5 = 0 Bv Ɲ HB = 4 5/6 . 1.3 . 4.5 - P. 1.3 ton .l ± q .3 .l ± P. Skema reaksi yang terjadi dalam portal 3 sendi HA = 1. 4.1 = 0 BA 2m HA Av HB 3m 3m Av = 27  4 ! 5 1 / 6 ton 6 B 7 MA = 0 Av.5 ± 2.4333 ( o) q  2t/m' S C 20  9 ! 4 5 / 6 ton 6 MS = (dari kiri) Av .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 120- - Suatu struktur portal 3 sendi seperti pada gambar .5 = 0 Bv = HA E AB Av Ɲ BA E HB Gambar 4. 38 ! 1. 2/6 = 0.1 = 0 Av. 3ƛ2. 3 .q . P =1 Penyelesaian. selesaikanlah struktur tersebut.5ƛ HA.3.32.5 ± 4.3 ton Avƞ = H A .6 ± 2.

7334 t VB = Bv + 0.7334 + 5.2666 t Kontrol : 7 Kontrol : 7 V =0 6 + 4 = 4.3t B B 5.2666 4t P1 D H =0 H A ( ) = H B (n ) A A Pusat 1.4333 = 4.7334t 1.2666 t .3t 4.4333 m = 4 5/6 + 0.n 5 VA = Av ƛ Avƞ = 5 1/6 ƛ 0.4333 = 5.

6 = .6 = 5.2666 tm N = -V B = N = -HA = -HB N = -VA .60127 5.3.8 tm - Mc = -HA .3t Dx = VA ƛ qx 1. 4 = -1.2666 t x=3m Ds = 4.3667 ƛ ½ . Bidang M. 2. q (x²) .40127 tm (M max) MD = -HB .7334 t BIDANG N - Di S 5.3 t 1.3 .3 t 1.1 ƛ 7.3 ton Daerah B-D 5.2 tm Mmax teletak di D = 0 x = 2.2666.2 + 11.1 H B.3 . 4 + 4.2 tm - S D 7. D portal 3 sendi Bidang N (gaya N ormal) Daerah A-C = -4.5.5334 tm Bidang D (gaya lintang) Daerah A-C Daerah C-D D = -HA = -1.2.7.2666 tm Daerah B-D D = -HB = -1. 2.7334 t + 4 + BIDANG D BIDANG M B 1.3667 ƛ ½ .7334 .8 tm Momen dibawah beban P MP=VB. 4 + VA . 6 = -1.3667 Mx = -HA .8 1.7334 ton Daerah C-D = -1.3 t 4.2666 t Mx = -1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 121Bidang M (momen) - 5. N.3 t = .20254 ƛ 5.7334 ƛ 6 = -1.2666 t = 0.3667 m (daerah cs) x = 2.4 = .3667)² = -5.C A x 4.3 t Gambar 4.32. 2 (2.

34. maka untuk memperpanjang bentang. Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi menjadi 2 bagian S RS1 (b ) - Prinsip penyelesaian dasar seperti pada Balok gerber biasa. - Harus pula diketahui mana struktur yang ditumpu dan mana pula struktur yang menumpu.6.2. 4. dibuat balok gerber dari portal 3 sendi dengan skema struktur seperti pada Gambar (a). Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi beban pada struktur menumpu. S S1 C (a) S = sendi dari portal 3 sendi S1 = sendi gerber A B RS1 C Rc Gambar 4. Prinsip Penyelesaian Dasar S1 C R S1 R S1 - Dipisahkan dulu struktur gerber tersebut menjadi 2 ba gian.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 122- - 4.6. dimana kedua-duanya harus merupakan S konstruksi statis tertentu.6. Pendahuluan Seperti pada balok menerus diatas 2 perletakan.33. . - Struktur yang ditumpu diselesaikan dulu dan reaksinya merupakan yang Gambar 4. JUDUL : BALOK GERBER PADA PORTAL 3 SENDI 4.1.

RC HA A HB B VA VB Reaksi R S1 pada struktur S1-C merupakan beban pada struktur portal sendi A B S 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 123- - 4. .35.3. termasuk penyelesaian gaya -gaya dalamnya. Baik struktur S 1-C ataupun struktur A B S 1 kedua-duanya merupakan struktur sta tis tertentu Gambar 4.6. merupakan struktur yang menumpu. Pemisahan struktur gerber portal 3 sendi Penyelesaian kedua struktur tersebut. Contoh Penyelesaian P1 S S1 C GERBER PADA PORTAL 3 SEN DI q t/mƞ S = sendi portal S1 = sendi gerber A B Penyelesaian dengan prinsip balok gerber P1 sama pada Balok S 1-C merupakan struktur yang ditumpu dari portal 3 sendi RS1 q t/mƞ S RS1 A B S. baik S 1-C maupun A B S 1 diselesaikan seperti biasanya.

namun S1 C sebaliknya jjika muatan berada diats S1C maka reaksi-reaksi di struktur ABS 1 ada.7. besarnya momen serta gaya lintang disuatu titik memerlukan suatu garis pengaruh. maka RS 1 dan Rc di struktur S 1C tidak ada. 4.7. Prinsip Dasar Untuk menghitung garis pengaruh tersebut perlu diketahui mana struktur yang ditumpu dan mana yang menumpu. (a) S S1 C Seperti pada gambar (a) dan (b) struktur S.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 124- - 4. S (b) B GA ambar 4.2.36. Contoh Penyelesaian .7.1. Jadi untuk menghitung besarnya reaksi. Pemisahan struktur pada gerber portal 3 sendi 4.3.C adalah yang ditumpu sedang struktur ABS 1 adalah struktur yang menumpu Kalau A B muatan berada diatas struktur ABS1.7. Pendahuluan Seperti biasanya. bahwa jembatan gerber pelengkung 3 sendi selalu dimuati oleh suatu kendaraan yang berjalan. Garis Pengaruh Gerber Pada Portal 3 Sendi 4.

b l .RA a.R B + c l + + d l a.H u.f GP.ND=G P.f ! l.c l .a l cb l GP.b a. Garis pengaruh pada gerber portal 3 sendi GP.RA .37.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 125- - GARIS PENGARUH GERBER PORTAL 3 SENDI x u E Aƞ D S P v Bƞ S1 C f A c H a l b H B d e d l - l c l GP.b .d l.M D cb l Gambar 4.f GP. f l d.f - + + GP.DD Q l GP.v l a.R A + 1t C l V l 1t l d l GP.RB b.

RB RB = P di E P di A P di B P di S 1 x ton l x=-c x=0 x=l RB = c ton l RB = 0 ton R B = 1 ton RA = l d ton l x=l+d GP. R B f P di E RB = c c l c.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 126- - RA = P di E P di A P di B l x ton l x=-c x=0 x=l RA = RA = l c ton l l ! 1 ton l R A = 0 ton RA = d ton l P di S 1 x=l+d GP.p. P berada antara E lihat kanan S RB = x l 7 Ms = 0 (lihat kanan s) RB . ~ g. N D Garis pengaruh N D sama dengan g.f = 0 H = RB . b .b p H ! x p ND !  l l f lf . b ƛ H. DD P berada antara E P berada antara D D C lihat kanan potongan lihat kiri potongan DD = -RB D D = RA GP.p nilai H.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 127- - P di S RB = a. Q . Latihan : Garis pengaruh pada Pelengkung dan Portal tiga sendi . f I II I = RA Q = Garis pengaruh M D diatas 2 perletakan P di D MD = Q. 4.MD P berada antara D C M D = RA .a f P di S b a ab RA = b p H ! .V l II = H .f = 0 H= R A .H . p N D !  l l f lf ab b a RA = b p H ! . p N D !  l l f l f P di S 1 GP. a ƛ H.b a a b p H ! x p ND !  l l f lf lihat kiri S RA = l x t l P berada antara DC 7 Ms = 0 (lihat kiri s) RA .8. f = Garis pengaruh H x f.

M C f= 4 H H B H 8m 8m VB VA Soal 2. H. N C . Pelengkung mengikuti persamaan parabola: y = 4fx (l . dimana dalam penyelesaiannya merupakan gabungan dari penyelesaian masing -masing struktur statis tertentu tersebut.P VA . G. ditanyakan : G. 4m C yc A H S P = 1 t berjalan Pelengkung 3 sendi seperti tergambar. G.x) / l² Akibat beban P = 1t berjalan diatas pelengkung.P. . G.P D C kanan A B H f=3m EE 4m 4m 4m VA H 4m VB Portal 3 sendi adalah suatu portal yang kondisinya masih statis tertentu. G.P NC kanan.P D C bawah. C S D Portal 3 sendi ABCD seperti tergambar Akibat beban P = 1t berjalan diatas portal.P.P N C bawah . ditanyakanL G.D C .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 128- - Untuk memacu mahasiswa belajar maka perlu diberi latihan Soal 1. VA . G. Gerber portal 3 sendi adalah suatu rangkaian antara portal 3 sendi dan balok statis tertentu. G.PH.P.P. G. G. G.P.

447t 0 0 0 1.5 0.782t 1. Keterangan VA P = 1t dititik A B A S B Yc Y' = tng E Sin E Sin E Nilai 1t 0 0 1t 0 3m 0. Rangkuman 4.335t 0.9. perlu melihat jawaban soal-soal tersebut seperti dibawah ini.894 Tanda / Arah + o Di A = H + p Data pendukung Keterangan NC P = 1t di titik A C kiri C kanan S B A C kiri C kanan S B Nilai 0 0.5t m 1.10.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 129- - 4.447t 0.1175t 0 0 0.447 0.0t m 0 Tanda / Arah - DC + MC A C S B + - . Penutup Untuk mengetahui kemampuan mahasiswa.

ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ. Daftar Pustaka Suwarno.20t 0.333t 0 0 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 130- - Soal No.25t 0.084t 1.336t 0 0 0. UGM Bab VI dan VII .333t 0 0 0.384t 0.11. 2 Keterangan VA P = 1t di titik A B A S B A C bawah C kanan S B A C bawah C kanan S B NC kanan A S B A C bawah C kanan B A C S B Nilai 1t 0 0 1.40t 0 0 1.60t 0.75t 0 0 1t m 2t m 0 Tanda/ Arah + o Di A = H + p NC bawah - DC bawah - - DC kanan + MC + - 4.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 131- - 4.12. Gerber portal 3 sendi = gabungan antara portal 3 sendi dan balok.B. JUDUL : KO NSTRUKSI RAN GKA BATAN G (K. Senarai Pelengkung 3 sendi : struktur pelengkung yang masih statis tertentu Portal 3 sendi = struktur portal yang masih statis tertentu Gerber pelengkung 3 sendi = gabungan antara pelengkung 3 sendi dan balok.1. MODUL 5 : ARTI KONSTRUKSI RANGKA BATANG DAN CARA PENYELESAIANNYA 5.R.) .

Bentuk-bentuk dari suatu konstruksi Bentuk Rangkaian Konstruksi rangka batang tersebut merupakan rangkaian dari be ntuk segitiga.1. ba mbu atau baja.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 132- - 5. Jika materialnya dari beton. maka kita harus merangkai material tersebut. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca materi ini mahasiswa diharapkan bisa mengerti arti serta cara menyelesaikan struktur konstruksi rangka batang.1. maka struktur bisa dibuat sesuai dengan keinginan perencana.2. Rangkaian dari material bambu.4. 5. kayu atau baja tersebut disebut dengan konstruksi rangka batang. . Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui bentuk -bentuk KRB serta bisa menyelesaikan struktur tersebut dengan beberapa cara pendekatan yang telah dijalankan diajarkan serta tahu persyaratan-persyaratan yang diperlukan.1.1.3. 5. Kenapa bentuk ( tersebut dipilih !. tapi kalau materialnya dari kayu. Pendahuluan Dalam membuat suatu struktur bangunan maka kita harus menyesuaikan dengan material yang ada terutama dengan nilai harga yang paling murah. Missal : Rangka batang dari suatu jembatan Rangka batang dari suatu kuda kuda Gambar 5.

pasak atau paku. Untuk menyambung titik sudut digunakan plat buhul / simpul.1. Bentuk Konstruksi Rangka Batang 5. Bagaimana jika tersebut segiempat ( ) segiempat ( ) tersebut tidak stabil.B.1.5. P segiempat mudah berubah menjadi jajaran genjang. = Suatu konstruksi yang terdiri dari batang -batang yang berbentuk segitiga Segitiga (bentuk teta p). Pada konstruksi kayu memakai baut. paku keling atau las. Pada konstruksi baja sambungan -sambungan pada plat buhul digunakan baut.5. Bentuk K.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 133- - Bentuk bentuk bentuk bentuk segitiga ( () tersebut dipilih karena segitiga tersebut adalah suatu yang mantap (stabil) tidak mudah berubah. . 5.R.

. Bentuk Konst ruksi Rangka Batang + + + + + + + + Batang Plat buhul Titik buhul Paku keling / baut Gambar 5. Detail I.2. tapi dalam perhitungan titik buhul ini dianggap SENDI.3.B = segitiga yang dihubungkan melalui plat buhul pada titik buhulnya I titik buhul Gambar 5. salah satu sambungan Titik buhul sebagai sambungan tetap / stabil.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 134- - titik buhul K.R.

sisi 1 K.B.B. Bidang. Bentuk konstruksi rangka batang pada jembatan 5.R.B. atas (ikatan angin atas) 1 K.R.4.R.R.2.B.B.R.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 135- - K. Perletakan : 1 sendi dan 1 lagi merupakan rol karena konstruksi statis tertentu Sendi Rol 2 Reaksi 1 Reaksi . Pada Jembatan K.B.5.1. bawah (ikatan angin bawah) K. Ruang terdiri dari 2 K. Gambar 5.R.B. Ruang bisa dipisahkan menjadi K.R.

Pada konstruksi dibawah ini (Gambar 5).B. 7H = 0 7V = 0 7M = 0 3 persamaan keseimbangan Jadi maximum harus ada 3 reaksi yang tidak diketahui (3 bilangan yang tidak diketahui) Pendekatan Penyelesaian Konstruksi Rangka Batang K.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 136- - Perletakan sendi RH ada 2 reaksi R V = Reaksi vertikal R H = Reaksi horizontal RV Perletakan rol RV ada 1 reaksi R V = Reaksi vertikal 5. merupakan kumpulan dari batang -batang yang mana gaya -gaya batang tersebut harus diketahui.5.5. Konstruksi rangka batang bidang .R.3. (Konstruksi Rangka Batang) Konstruksi statis tertentu adalah suatu konstruksi yang masih bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan . Dalam hal ini gaya -gaya batang tersebut beberapa gaya tarik atau tekan.B.1. Konstruksi Statis Tertentu Pada K. Jumlah bilangan yang tidak 2 4 4 8 6 diketahui : Reaksi 1 3 1 RH 2 3 6 5 10 7 RV 5 7 9 11 13 Jumlah batang 12 8 Bilangan yang tidak diketahui = 3 + 13 = 16 =3 Jumlah = 13 RV Gambar 5.R.

7k=b+r k = banyaknya titik simpul (titik buhul) b = jumlah batang pada K. r = jumlah reaksi perletakan 5. Rumus Umum Untuk K.B. maka pada konstruksi rangka batangpun ada balok gerber 2 1 1 A Sendi 2 3 3 4 5 6 5 B rol 4 7 8 9 10 7 6 12 11 13 14 S 9 8 15 10 16 17 11 19 18 20 21 13 12 23 22 14 24 25 26 15 rol C C Rol (Sendi Gerber) .R.R.B. Rangka Batang Gerber Seperti pada balok menerus.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 137- - Titik simpul : dianggap sendi Jadi tiap-tiap titik simpul ada 2 persamaan Yaitu : 7V = 0 atau 7H = 0 7Kx = 0 7Ky = 0 Pada gambar (5.4.1.15.5) ad a 8 titik simpul jadi ada 2 x 8 persamaan = 16 persamaan Dari keseluruhan konstruksi : Ada 16 bilangan yang tidak diketahui 3 reaksi 13 gaya batang Ada 16 persamaan (karena masih bisa Konstruksi statis tertentu diselesaikan dengan syarat -syarat persamaan keseimbangan) 5.6.

Ky = 0 b.7. Rangka batang gerber A = sendi B = rol S = sendi gerber C = rol Jumlah reaksi perletakan = 4 1 sendi + 2 rol 2 2 Jumlah batang = 26 Jumlah bilangan yang tidak diketahui = 30 Jumlah titik simpul = 15 Persamaan yang tersedia = 2 x 15 = 30 persamaan. Prinsip Penyelesaian Ada beberapa cara penyelesaian K. Cara grafis dengan metode Cremona .Kx = 0 dan 7 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 138- - Gambar 5. Keseimbangan titik buhul a.B.R. 1. Cara analitis dengan menggu nakan 7 .6.1. Ada 30 bilangan yang tidak diketahui dan tersedia 30 persamaan Konstruksi statis tertentu Konstruksi statis tertentu 5.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 139- - 2. Penyelesaian secara analitis Cara menyelesaikannya dengan keseimbangan titik simpul. P1 = distribusi akibat beban terbagi rata Akibat beban P P2 = distribusi akibat beban terbagi rata dan P P3 = distribusi akibat beban P Akibat P P1 P2 P3 . y 7H=0 7.Kx =0 7.1. b. Keseimbangan Titik Simpul Dalam bagian ini hanya membahas teori tentang keseimbangan titik simpul saja. Distribusi Beban Konstruksi rangka batang merupakan gelagar tidak langsung.Ky = 0 x semua gaya yang searah x dijumlahkan demikian juga yang searah y dan resultantenya harus sama dengan rol. a.V = 0 ata 7. Metode Potongan : a. Metode Penukaran batang 5. Cara Analitis Metode Ritter b.8. jadi kalau ada beban terbagi rata atau beban titik yang terletak di tengah-tengah antara 2 titik simpul (gelagar lintang) harus diuraikan menjadi beban titik pad simpul -simpul terdekat. Cara Grafis Metode Cullman 3.

8. Beban terbagi rata didistribusikan menjadi beban titik . 2t 2t A B 4t 4t 4t Gambar 5. Contoh distribusi beban pada konstruksi Rangka batang q = 1 t/mƞ (muatan terbagi rata) 4m A B 4m 4m 4m 4m Muatan terbagi rata tersebut dijadikan mua tan terpusat pada titik -titik simpulnya.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 140- - c.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 141- - 5. V2 dan V 1ƞ.4 .9.9. 3 P = 0 RA = 3t Pemberian notasi Untuk mempermudah penyelesaian. Untuk batang atas diberi notasi A 1. Konstruksi rangka batang dengan beban P = 4t Mencari reaksi perletakan 7 M A = 0 RB .1. B2ƞ Untuk batang diagonal diberi notasi D 1. Contoh Soal 1 Suatu konstruksi Rangka Batang dengan beban sebesar P = 4 ton seperti pada gambar !. . A2 dan A 1ƞ.4 . selesaikan struktur tersebut. D2ƞ Untuk batang vertikal diberi notasi V 1. 4 P . 4 P . A 2ƞ Untuk batang bawah diberi notasi B 1. B2 dan B1ƞ. D2 dan D 1ƞ. P = 0 RB = 1t 7 MB = 0 RA . tiap -tiap batang perlu diberi notasi. V 2ƞ serta V 3 Tiap-tiap titik simpul diberi nomor urut dari I s/d X. P A 4t RA = B P P P P RB = Gambar 5.

titik simpul Batang tertekan dengan tanda ( -) (gaya menuju titik simpul) Batang tertarik dengan tanda (+) (gaya menjauhi titik simpul) Penyelesaian Mulai dari titik simpul yang mempunyai 2 batang tak diketahui Titik I V1 B1 Anggap dulu semua batang yang tidak diketahui adalah batang tarik.10. Jika hasil positif berarti anggapan kita betul batang betul-betul tertarik. Jika hasil negatif berarti anggapan kita salah batang tertekan.R. y sebelum mengerjakan perlu perjanjian tanda terhadap gaya -gaya batangnyua y (Anggapan) / perjanjian pada K. Catatan Mulailah bekerja pada titik simpul yang mempunyai 2 batang yang tidak diketahui. Dalam penjumlahan. . Pemberian notasi pada gaya -gaya batang Penyelesaian keseimbangan titik simpul diselesaikan dengan memakai syarat-syarat keseimbangan pada titik simpul yaitu 7 Kx = 0 dan 7 Ky = 0 Jadi keseimbangan pada tiap -tiap titik tersebut bisa diselesaikan jika terdapat maximum 2 batang yang tidak diketahui. gaya yang searah diberi tanda sama.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 142- - II V1 I A1 D1 IV V2 III 4t A2 D2 VI A2 ƞ D 2ƞ VIII V2 VII A1 ƞ D 1ƞ IX V3 V V1ƞ X P B1 3t B2 Bƞ2 Bƞ1 P P P P 1 Gambar 5. karena hanya menyediakan 2 persamaan yaitu 7 Kx = 0 dan 7 Ky = 0.B.

2 7V=0 .3 ton (tekan) Titik III V2 3 2 3t 3t B2 B1 = 0 P = 4t 7H=0 Batang V 2 dan B2 dianggap tarik Batang D1 = 3 2 (tarik) diuraikan menjadi batang vertikal = 3 t dan horizontal = 3t 7V=0 4 t ƛ 3 t ƛ V2 = 0 V2 = 1 t (tarik) B2 ƛ 3 t = 0 B2 = 3 t (tarik) .3 t + ½ D1 ½ D1 2=0 2= 3 D1 = 3 2 t (tarik) 7H=0 A 1 + ½ D1 2= 0 2= .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 143- - 3t 7V=0 3 t + V1 = 0 V1 = -3 ton (berarti batang tekan) 7H=0 B1 + 0 = 0 B1 = 0 (batang nol) V1 B1 = 0 Batang A1 dan D1 dianggap tarik dan batang D1 diuraikan menjadi gaya batang horizontal dan vertikal. V1 = . 3 2 .½ .½ D 1 A1 = .3 t (menuju titik simpul) ½ 3t V1 ½ D1 2 A1 Batang D 1 diuraikan menjadi arah vertikal ½ D1 Titik II 2 dan arah horizontal ½ D1 2. 2 A1 = .

2 ton (tekan) Titik VI Batang A 2ƞ dan V 3 dianggap tarik A2 ƞ 7V=0 7H=0 V3 = 0 V3 = 0 ton A2 ƞ + 2 t = 0 A2ƞ = .1 t (tekan) 2t 2t 7V=0 1 + V2ƞ = 0 V2ƞ = .1t (tekan) .2 t (tekan) 2t Batang D 2ƞ dan B 2ƞ dianggap tarik Titik V Batang D 2ƞ diuraikan horizontal dan vertikal 0t ½Dƞ 2 1t 1t 2 2 Dƞ2 7V=0 ½ D 2ƞ 2 + 0 ƛ 1 t = 0 D 2ƞ = 2 t (tarik) 7H=0 ½ D 2ƞ B2ƞ + 1t ƛ3 t + 1t = 0 B2ƞ = 1 ton (tarik) 3t 2 B2ƞ Titik VIII Batang A 1ƞ dan V 2ƞdianggap tarik 7H=0 A1 ƞ V2ƞ 2 t + A1 ƞ ƛ 1 t = 0 A1ƞ = .2 t (tekan) 3 + A 2 + ½ D2 2 = 0 3 + A 2 ƛ 1 ton = 0 A 2 = . Titik IV 3t ½ D2 2 ½ D2 2 1t D2 7H=0 A2 Batang D 2 diuraikan menjadi gaya horizontal dan vertikal ½ D 2 2 7V=0 ½ D2 2 + 1 t = 0 D2 = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 144- - Batang A 2 dan D2 dianggap tarik.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 145- - .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 146-

-

Titik VII

½ D 1ƞ 1t 1t

2

D 1ƞ

Batang D 1ƞ dan B 1ƞdianggap tarik Batang D 1ƞ diuraikan menjadi ½ D 1ƞ 2

½ D 1ƞ

2

B1ƞ

7V=0

½ D 1ƞ 2 ƛ 1 t = 0 D 1ƞ =

2 t (tarik)

7H=0

B1ƞ- ½ D1ƞ 2 - 1t = 0 Bƞ + 1 ƛ 1 = 0 B ƞ = 0t

Titik X

V1ƞ

7V=0

1t + V1ƞ = 0 V 1ƞ = - 1t (tekan)

B1ƞ = 0 RB = 1t

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 147-

-

Kontrol ke Titik IX

7V=0 V1ƞ ƛ ½ D1ƞ 1t ƛ ½ .

A1 ƞ = 1 t (tekan) D1ƞ = 2 (tarik) V 1ƞ = 1 t

2 =0
2 . 2 !0

(cocok) 7H=0 A1ƞ ƛ ½ D1ƞ 2 = 0 1ƛ½ .

2.

2 = 0 (cocok)

DAFTAR

BATAN G A1 A2 A2 ƞ A1 ƞ B1 B2 B2ƞ B1ƞ V1 V2 V3 V2ƞ V1ƞ D1 D2 D 2ƞ D 1ƞ

GAYA BATAN G -3t -2t -2t -1t 0 3t 1t 0 -3t 1t 0 -1t -1 t 3 2t - 2t 2t 2t

Batang B 1 dan B1ƞ = 0, menurut teoritis batang -batang tersebut tidak ada, tapi mengingat K.R.B. terbentuk dari rangkaian bentuk ( maka batang ini diperlukan. Batang atas pada umumnya batang tekan Batang bawah pada umumnya batang tarik.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 148-

-

Contoh Soal 2 Suatu konstruksi Rangka Batang, dengan notasi seperti pada ga mbar, beban sebesar 3 ton terletak di titik simpul III Jumlah batang = 9 = b Jumlah reaksi = 3 = r 12 D3 B3 IV P P 1t VI B Jumlahg titik simpul = 6 = k 2k=b+r 2x6=9+3 konstruksi .r.b. statis tertentu Mencari Reaksi 7 MB = 2 RA = 3 7 MA = 1 RB = 3
Titik Simpul I

II P A I D1 B1 III 2t P 3t V1

A D2 B2

V

V2

0 x3t=2t 0 x3t=1t

Batang D 1 dan B1 dianggap tarik Batang D 1 diuraikan ke arah vertikal dan horizontal sebesar ½ D 1

2

½ D1

2

D1

½ D1

2
B1

7 Ky = 0 ½ D1 2 + 2t = 0 2 D1 = . 2 = - 2 2 t . (tekan) 2 7 Kx = 0 B1 - ½ D1 2 = 0 B1 = 2 ton (tarik)

2 t (reaksi)

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 149-

-

Titik III

V1

Gaya batang V1 dan B2 dianggap tarik 7 Ky = 0 V1 = 3 ton (tarik) B2 = 2 ton (tarik)

2t

3t

B2

7 Kx = 0

Titik II
½ D2 ½ D1

2

Gaya batang A dan D2 dianggap tarik 7 Kx = 0 ½ D1 2 - 3t ƛ ½ D2 2 = 0 ½ D2 2 = -3 t + ½ . 2 2 . 2 = -3 + 2 = -1 (tekan) D2 = - 2 t (tekan)

2

A

D1 = 2 2 3t ½ D2 ½ D1 D2

2

7 Ky = 0 A + ½ D1 2 + ½ D2 2 = 0 A + ½ . 2 2. 2 - ½ . 2. 2 = 0 A = 1 ƛ2 = -1t (tekan)

2

Titik IV

Gaya batang V2 dan B3 dianggap tarik 7 Ky = 0 V2

D2 =

2t

½ D 2 2 - V2 = 0 V2= ½ . 2 . 2 = 1 t (tarik) B3 7 Kx = 0 B3 ƛ B2 + ½ D2 2 = 0 B3 = 2 - ½ . 2 . 2 = 1 t (tarik)

B2 = 2t

Titik VI

Gaya batang D3 dianggap tarik 7 Ky = 0 D3 ½ D3 2 + 1t = 0 D3 = - 2 . 1t D3 = - 2 t (tekan) 7 Kx = ½ D 3 2 + B3 = 0 - ½ . 2 . 2 + B3 = 0

B3 = 1t

10. Gaya. P2 = 3t Ditanyakan : RB P a).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 150- - B3 = 1t 1t Kontrol Titik V A = 1t 7 Kx = 0 A ƛ ½ . 2 =0 (cocok) D3 V2 = 1t 5. Gaya reaksi b). Gaya ƛ Reaksi B b).1. 2 = 0 Latihan : Konstruksi Rangka Batang Untuk mendorong mahasiwa belajar maka perlu dibuatkan suatu latihan sebagai berikut : Soal 1 A1 D1 RAH A E B1 RAV P1=6 t D2 E B2 D3 D4 A2 D6 3 m Konstruksi Rangka Batang seperti tergambar P1 = 6t . Beban . D3 1t ƛ ½ . 2. P 1 = 600 kg P2 = 600 kg P3 = 400 kg Ditanyakan : a).gaya batang RB . Gaya-gaya batang D5 B3 P P P2=3 t P= 4m P2 = 600 kg Soal 2 P1 = 600 kg 8 9 5 6 R AH A RAV 45° 1 3m 2 3m 3 3m 7 11 13 12 45° 4 3m 10 P3 = 400 kg Kuda-kuda konstruksi Rangka Batang seperti tergambar.

00 t 1.12.835 0.555 6. maka mahasiswa bisa melihat jawaban dibawah ini : Jawaban : Soal No.333 t 3. bisa berupa gaya tarik. Pencarian gaya-gaya batang.20 t 1.808 t 4.000 t 2. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi Horizontal Data Pendukung Gaya Batang Titik / Gaya A : RAV B : RB A : RAH Sin E Cos E A1 A2 B1 B2 B3 D1 D2 D3 D4 D5 D6 N ilai 5t 4t 0 0.11.00 t 6. 5. hanya bisa diselesaikan jika jumlah gaya batang yang tidak diketahui max hanya 2.1. atau gaya tekan. 667 t 6.667 t 5. o o Tiap-tiap titik simpulnya dianggap sendi.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 151- - 5.1. Penutup Agar mahasiswa bisa mengontrol pekerjaan latihan.333 t 6. o o Rangkuman KRB merupakan rangkaian dari bentuk ( (segitiga) Dalam KRB yang dicari adalah gaya -gaya batangnya.20 t 4.808 t Arah / Tanda o o Gaya Batang Tekan Tekan Tarik + Tarik + Tarik + Tekan Tarik + Tarik + Tekan Tekan Tarik + .

UGM Bab Soemono. ƏStatika IƐ. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ . .1. - Daftar Pustaka Suwarno.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 152- - Soal No. 2 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Gaya Batang Titik / Gaya A : RAV B : RB A : RAH  2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 N ilai 850 kg 750 kg 0 850 kg 850 kg 750 kg 750 kg 1202 kg 0 424 kg 778 kg 500 kg 778 kg 283 kg 0 1061 kg Arah / Tanda o o Tarik + Tarik + Tarik + Tarik + Tekan Tekan Tekan Tarik + Tekan Tekan Tekan - 5.13.14. - - Senarai Konstruksi Rangka Batang : Suatu rangkaian batang -batang yang berbentuk ( (segitiga) Titik simpul : dianggap sendi. bab 5.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful