MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -8

-

Modul 1 1.1. Judul : Gaya ƊGaya dan Keseimbangan Gaya
Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah membaca modul, mahasiswa bisa memahami pengertian tentang gaya. Tujuan Pembelajaran Khusus : Mahasiswa dapat menjelaskan konsep pengertian tentang gaya dan bagaimana bisa melakukan penjumlahannya 1.1.1. Pendahuluan Gaya serta sifat-sifatnya perlu difahami dalam ilmu Mekanika Teknik karena dalam ilmu tersebut, mayoritas membicarakan tentang gaya, sedang Mekanika Teknik adalah merupakan mata kuliah dasar keahlian yang perlu dimengerti oleh semua sarjana Teknik Sipil. Jadi dengan memahami sifat-sifat gaya, mahasiswa akan lebih mudah memahami permasalahan yang terjadi di pelajaran Mekanika Teknik. Misal pada suatu jembatan, kendaraan yang lewat adalah merupakan suatu beban luar yang ditampilkan dalam bentuk gaya. Contoh : * Suatu kendaraan yang terletak diatas jembatan * Beban roda kendaraan pada jembatan tersebut adalah suatu beban atau gaya.

gaya

struktur jembatan

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -9-

1.1.2. Pengertian tentang Gaya dan Garis Kerja gaya Gaya adalah merupakan vektor yang mempunyai besar dan arah.

Penggambarannya biasanya berupa garis dengan panjang sesuai dengan skala yang ditentukan. Jadi panjang garis bisa dikonversikan dengan besarnya gaya. * Contoh 1

Orang berdiri dengan berat 50 kg Panjang gaya 1 cm arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi) ditunjukkan dengan gambar anak panah ke bawah dengan skala 1 cm = 50 kg

Jadi 50 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh orang berdiri tersebut dengan arah gaya kebawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan berat 50 kg. * Contoh 2 Batu diatas meja dengan berat 10 kg
Panjang gaya = 1 cm

Arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi) ditunjukkan dengan gambar anak panah dengan skala 1 cm = 10 kg

Jadi 10 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh batu yang menumpu di atas meja dengan arah gaya ke bawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan gaya 10 kg.

* Contoh 3 15 kg Orang mendorong mobil mogok kemampuan orang mendorong tersebut adalah 15 kg. 1 cm Panjang gaya Arah dorongan kesamping kanan ditunjukkan dengan gambar anak panah arah kesamping dengan skala 1 cm = 15 kg

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -10-

Jadi 15 kg adalah gaya yang diberikan oleh orang untuk mendorong mobil mogok dengan arah kesamping kanan, yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena 1 cm setara dengan 15 kg.

Garis kerja gaya adalah garis lurus yang melewati gaya Seperti contoh di bawah : Contoh * Garis kerja gaya Garis kerja gaya orang yang mempunyai berat 50 kg tersebut adalah vertikal

Orang dengan berat 50 kg garis kerja gaya 15 kg Garis kerja gaya untuk mendorong mobil mogok tersebut adalah horisontal

Titik tangkap gaya adalah titik awal bermulanya gaya tersebut. Contoh: mobil mogok diatas jembatan, roda mobil serta tumpuan tangan orang yang mendorong adalah merupakan titik tangkap gaya.

titik tangkap gaya Titik tangkap gaya

gaya

50 kg

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -11-

1.1.3. Sifat Gaya Gaya dan titik tangkap gaya bisa dipindah-pindahkan asal masih dalam daerah garis kerja gaya Contoh dalam gambar K dan K1 adalah merupakan gaya. Ga Posisi gaya K lama Posisi gaya K baru mb ar garis kerja gaya K1 Posisi gaya K1 lama 1.1 . Ga mb Posisi gaya K1 baru is kerja gaya ar gar

1.1.4. Penjumlahan Gaya Penjumlahan gaya bisa dilakukan secara analitis maupun grafis.

1.1.4.1. Penjumlahan secara grafis Penjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama, jadi gaya-gaya tersebut sebidang, bisa secara langsung dijumlahkan secara grafis.

A K1

C R = K1 + K2 



D K2 Titik tangkap gaya

B 

K1, K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan Urut-urutan penjumlahan Buat urut-urutan penjumlahan garis sejajar dengan K1 dan K2 di ujung gaya, (K1 diujung K2 dan sehingga K2 diujung K1 ) membentuk bentuk jajaran genjang D.A.C.B Salah satu diagonal yang panjang tersebut yaitu R

Buat garis-garis sejajar gaya K1 dan K2 di ujung-ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang. Gaya-gaya tersebut bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya.3 Penju mlaha n gaya secara grafis. . ar 1. pertemuannya di titik 0. tapi titik tangkapnya tidak sama.Salah satu diagonal yang terpanjang (R) adalah merupakan jumlah dari K1 dan K2.2. Gamb R = K1 + K2 A Posisi awal (K2)KK 22 Posisi awal KK 1 1 (K1) 0 K1 C B K1 dan K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan.. 2 gaya tersebut tidak mempunyai titik tangkap yang sama. yang titik tangkapnya tidak sama Urutan-urutan penjumlahan . tapi masih sebidang. OABC .Gaya K1 dipindah searah garis kerja gaya sampai garis kerja gaya K1 bertemu dengan garis kerja gaya K2. . Penjumlahan gaya secara grafis Penjumlahan 2 gaya yang sebidang.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -12- Gambar 1.

K2 dan K3 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan dengan titik tangkap tunggal. K2) di ujung-ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang 0ACB    Salah satu diagonal terpanjang yaitu R1 adalah merupakan jumlah K1 + K2 Buat garis sejajar K3 dan R1 di ujung gaya-gaya yang berlainan sehingga membentuk jajaran genjang 0CED Salah satu diagonal terpanjang (R2) adalah jumlah dan R1 dan K3 sehingga sama dengan jumlah antara K1. K2 dengan cara membuat garis sejajar Gambar 1. .4. 0 K3 D  Jumlahkan dulu K1. Penjumlahan 3 gaya secara grafis dengan gaya-gaya tersebut (K1. Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tangkap tunggal   Penjumlahan tersebut dilakukan secara bertahap Titik tangkap gaya bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya. K2 dan K3.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -13- Penjumlahan 3 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal Penjumlahan tersebut bisa dilakukan secara bertahap C R1=K1+K2 R1 A K1 K2 B R2 E R2 R2 = R1 + K3 = K1 + K2 + K3  K1. Urut-urutan penjumlahan.

5. Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tunggal. secara grafis jang OACB Posisi awal (K3)  Salah satu diagonal yang terpanjang yaitu R1 adalah merupakan jumlah dari K1 dan K2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -14- (posisi awal) K1 R1 = K1 + K2 C (Posisi awal) K2 Urut-urutan penjumlahan  K1. K2 dan K3 adalah gayagaya yang akan dijumlahkan.  A K1 K2 0 R2 = R1 + K3 = K1 + K2 + K3 F D B Kerjakan dulu penjumlahan antara K1 dan K2 dengan cara :  Tarik gaya K1 dan K2 sehingga titik tangkapnya bertemu pada satu titik di O.  Tarik gaya R1 dan K3 sehingga titik tangkapnya bertemu pada titik di 01 .  Buat garis sejajar K1 dan K2 pada yang ujung-ujung berlainan gaya sehingga membentuk jajaran genR1 E K3 01 Gambar 1.

salah satu diagonal yang terpanjang adalah R2 yang merupakan jumlah antara R1 dan K3 berarti jumlah antara K1 dan K2 dan K3. D F E.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -15-  Buat garis sejajar R1 dan K3 melalui ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk jajaran genjang 01. K3 .

perlu dibuat jari-jari polygon (lihat gambar) dengan cara sebagai berikut : buat rangkaian gaya K1. garis . Dari gaya-gaya asal yang akan dijumlahkan ditarik garis sejajar O a ) pada garis tersebut. K2. pangkal gaya K1 dan ujung gaya K4 merupakan jumlah (resultante) gaya K1. c.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -16- a K1 b1 K1 A B K2 C Oƞ Rƞ K3 D K2 K4 K1 c K3 K4 e d R O titik tangkap Polygon Batang Jari-jari Polygon Gambar 1. dan e. Garis-garis tersebut dinamakan . K3 dan K4 adalah gaya-gaya yang mau dijumlahkan Untuk pertolongan. Dari titik B dibuat garis sejajar Oc ( ) memotong K3 di . d. K2. b.Dari titik garis sejajar Ob ) memotong gaya K2 di titik B ( A dibuat ) memotong gaya K 1 di (titik A. Ambil titik 0 sembarang di daerah sekitar R Tarik garis dari 0 ke ujung-ujung gaya sehingga ketemu titik a.garis tersebut diberi tanda titik satu buah ( ) sampai lima buah ( jari-jari polygon.6. Polygon batang dan jari-jari polygon   Gaya K1. yang diwakili oleh garis sepanjang a-e tapi letak titik tangkapnya belum betul. K2. K3 dan K4 yaitu R. K3 dan K4 secara berurutan dimana tiap-tiap gaya sejajar dengan gaya aslinya (pada gambar jari-jari polygon).

K2. Didalam salib sumbu tersebut gaya-gaya yang akan dijumlahkan. . Penjumlahan secara analitis Dalam penjumlahan secara analitis kita perlu menentukan titik pusat (salib sumbu) koordinat. Dari titik Oƞ dibuat garis sejajar R yaitu garis Rƞ. K2x = K2 cos F K2y = K2 sin F K1x .4.1. Penjumlahan gaya secara analitis dengan sumbu x dan y K1x = K1 cos E K1y = K1 sin E . Dari titik C dibuat garis sejajar Od ( Dari titik D dibuat garis sejajar Oe ( dan garis ) ( ) memotong K4 di D. yang mana biasanya sering dipakai adalah sumbu oxy.2. Contoh : y Pernjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal y K2 y K1 y E K1 K2  O F K2x x  K1 dan K2 adalah gayagaya yang akan dijumlahkan dimana mempunyai titik tangkap tunggal di O .7. K3 dan K4. diproyeksikan. . K3 dan K4 dengan titik tangkap yang betul. dengan garis kerja melewati 0ƞ 1. K2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -17- titik C. Eadalah sudut antara K1 dengan sumbu ox Fadalah sudut antara K2 dengan sumbu ox K1 dan K2 diuraikan searah Gambar 1. perpanjangan garis ( ) ) pada polygon batang akan ketemu di titik Oƞ yang merupakan titik tangkap jumlah (resultante) gaya-gaya K1. Jadi Rƞ adalah merupakan jumlah (resultante) dari gaya-gaya K1.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -18- Semua komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang searah dengan oy. secara analitis K1x = K1 cos E . K1 membentuk sudut E dengan sumbu ox K2 membentuk sudut Fdengan sumbu ox. Rx = K1x + K2x Ry = K1y + K2y Rx = § Kx Ry = § Ky Jumlah gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari komponen-komponen tersebut adalah : R= Rx ²  Ry ² Penjumlahan 2 gaya dengan letak titik tangkap berbeda y K1y E K1  K1 dan K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlah-kan dengan letak titik tangkap berbeda. Rx = K1x + K2x Ry = K1y + K2y Rx = § Kx Ry = § Ky Jumlah gaya-gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari komponen-komponen tersebut adalah : . Penjumlahan gaya dengan titik tangkap berbeda. K2x = K2 cos F K1y = K1 cos E . K2y = K2 sin F Semua Komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang searah oy.  K1 dan K2 diuraikan searah dengan sumbu x dan y K2 K2y F O K1x K2x x Gambar 1.8.

. Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun grafis 2. K1 45° K2 Dua gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama seperti seperti pada gambar. K1 Dua gaya K1 dan K2 tidak mempunyai titik tangkap yang sama K1 = 10 ton dan K2 = 4 ton Garis kerja ke dua gaya tersebut bertemu dan K2 membentuk sudut 60° Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun garfis. sudut yang dibentuk antara 2 gaya tersebut adalah 45°.5. K2. Latihan 1.6. dengan besar dan arah seperti pada gambar Cari besar dan arah jumlah gaya-gaya tersebut (R) dengan cara polygon batang. Gaya bisa dipindah-pindah sepanjang garis kerja gaya Penjumlahan gaya-gaya bisa dilakukan secara grafis ataupun analitis. 1.1. K3 dan K4.1. K1 = 5 ton dan K2 = 7 ton. 3.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -19- R= Rx ²  Ry ² 1. 5 ton 0 K1 K2 K3 K4 7 ton 9 ton 4 ton Empat gaya K1. Rangkuman     Gaya adalah suatu besaran vektor yang mempunyai besar dan arah serta diketahui letak titik tangkapnya. Penjumlahan gaya lebih dari 4 buah bisa memakai cara grafis dengan bantuan polygon batang.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -20- 1.5° dari sumbu x R = 12.9.1.1 ton sdt = 22.5 ton sdt = 30° dari sumbu x R = 24 ton Skor Nilai 50 50 50 50 3 Grafis Jari-jari polygon Polygon batang 50 50 1.1. sedang soal no. Bab I 1. Senarai Gaya Resultante = mempunyai besar dan arah = jumlah . mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci yang ada.1 ton sdt = 22. secara bertahap. skor penilaian ada di tabel bawah untuk mengontrol berapa skor yang didapat. French.5° dari sumbu x R = 11. 3. soal Sub Jawaban 1 Analitis Grafis 2 Analitis Grafis Jawaban R = 11. ƏStatika IƐ ITB. ƏDeterminate StructuresƐ ITP (International Thomson Publishing Company) 1996. Suwarno. Daftar Pustaka 1. Penutup Untuk mengukur prestasi.5 ton sdt = 30° dari sumbu x R = 12. No. 3 hanya berupa grafis. Samuel E. 2. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM bab I.7.8.1. Soemono. Bab I. Soal 1 dan 2 ada jawaban secara analitis dan grafis.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -21- .

maka mahasiswa perlu tahu bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik. jembatan dan lainsebagainya. apa itu beban. Gambar portal gedung bertingkat dalam mekanika teknik . kolom. Pendahuluan Dalam disiplin ilmu teknik sipil dimana mahasiswa akan diajak bicara tentang bangunan gedung.2. Contoh : a.9. kolom. balok.1. balok. maka siswa bisa memahami secara jelas apa itu bentuk-bentuk struktur di bidang teknik sipil. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar tentang struktur dalam suatu bidang Teknik Sipil. reaksi dan gaya dalam.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -22- 1. mengerti tentang beban. 1. JUDUL : PENGGAMBARAN STRUKTUR DALAM MEKANIKA TEKNIK Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini. sehingga dalam menerima pelajaran akan lebih mudah menerima.2. serta bisa menggambar skema struktur dalam mekanika teknik. bentuk gedung bertingkat dalam penggambaran di mekanika teknik kolom Kolom = tiang-tiang vertical Balok = batang-batang horisontal balok perletakan Gambar 1. gaya dalam dan bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik. reaksi.

a. Ada beberapa macam beban yaitu beban terpusat dan beban terbagi rata.2. misal : meja. Kendaraan berhenti diatas jembatan P1 P2 P3 Penggambaran dalam mekanika teknik .10. Beban terpusat Beban terpusat adalah beban yang terkonsentrasi di suatu tempat. Beban Didalam suatu struktur pasti ada beban. Gambar jembatan dalam mekanika teknik 1.2. dan lain sebagainya. a. bentuk jembatan sederhana dalam penggambarannya di mekanika teknik. balok perletaka n Gambar 1.1. kendaraan. manusia yang berdiri diatas jembatan P beban terpusat Penggambaran dalam mekanika teknik a. peralatan dan lainsebagainya.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -23- b. Beban yang tidak dapat bergerak disebut beban mati.2. beban yang bisa bergerak umumnya disebut beban hidup misal : manusia.

Newton.11.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -24- Notasi beban terpusat = P Satuan beban terpusat = ton. anak-anak berbaris diatas jembatan q t/mƞ Penggambaran dalam mekanika teknik Notasi beban terbagi rata = q Satuan beban terbagi rata = ton/mƞ. Penggambaran beban terbagi rata dalam mekanika teknik . dan lainsebagainya. kg. Gambar beban terpusat dalam mekanika teknik b. Gambar 1. Gambar 1.12. Beban terbagi rata Beban terbagi rata adalah beban yang tersebar secara merata baik kearah memanjang maupun ke arah luas. kg/cm Newton/mƞ dan lainsebagainya.

jembatan. hubungan antara bangunan tersebut dengan lapisan permukaan bumi dikaitkan dengan suatu pondasi.2. Struktur jembatan (bangunan atas) perletakan Pondasi Penggambaran pada mekanika (bangunan struktur . maka siswa bisa memahami pengertian tentang perletakan dan bagaimana pemakaian perletakan ini pada suatu struktur.1. Hubungan antara bangunan atas jembatan dan bangunan bawah pondasi. Perletakan y Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah membaca modul bagian ini. Bangunan yang terletak diatas permukaan bumi disebut bangunan atas. 1. Pendahuluan Dalam bidang teknik sipil kita selalu membicarakan masalah bangunan seperti bangunan gedung. serta konsep kedudukan perletakan dalam suatu struktur. Hubungan antara bangunan atas dan bawah melalui suatu tumpuan yang disebut dengan ƠPerletakanơ.3. sedang yang masuk pada lapisan permukaan bumi disebut dengan bangunan bawah.3. Bangunan-bangunan tersebut harus terletak diatas permukaan bumi. dan lainsebagainya.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -25- 1.2. Contoh : a. y Tujuan Pembelajaran Khusus : Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar dan pengertian tentang struktur. konsep pengertian tentang perletakan.

Gambar perletakan gedung (tumpuan)dalam mekanika teknik Macam-Macam Perletakan Dalam mekanika teknik perletakan berfungsi untuk menjaga struktur supaya kondisinya stabil. karena bias itu bergeser rol ke arah horizontal. jepit dan perodel. Rol Strukt Bentuk perletakan rol.13.2. perletakan Gambar 1. sendi. Gambar perletakan jembatan dalam mekanika teknik b. (Gambar 1. Hubungan antara bangunan gedung dan pondasi Bangunan gedung (bangunan atas) muka tanah Perletakan (tumpuan) Pondasi (bangunan bawah) Penggambaran pada mekanika teknik 1. Skema perletakan rol diberi beban momen jadi tidak mempunyai reaksi momen.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -26- Gambar 1. maka oleh rol tersebut dari atas. . pada suatu struktur jembatan yang bertugas untuk menyangga sebagian dari jembatan. Pada perletakan Rol Rv Penggambaran perletakan rol dalam bidang mekanika teknik.14.3.2.15) silinder baja Karena struktur harus stabil maka perletakan rol tersebut tidak boleh turun jika kena beban Rv Perletakan rol bila dilihat dari gambar struktur. bisa berputar tersebut harus mempunyai reaksi jika Gambar 1. jadi tidak bisa mempunyai reaksi horizontal. a. ada reaksi vertikal. Ada 4 macam perletakan dalam mekanika teknik yaitu : rol.15.

Strukt RH silinder baja Selain itu perletakan sendi tidak boleh bergeser horizontal. Jepit Rv balok jembatan Gambar 1. oleh Rv Gambar 1. Oleh karena itu perletakan sendi harus mempunyai reaksi horizontal (RH). maka perletakan sendi tidak boleh turun jika kena beban dari atas.18.17.17). Karena struktur harus stabil.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -27- Balok jembatan Gambar 1. yang bertugas untuk menyangga sebagian dari jembatan (Gambar 1. Jadi sendi tidak mekanika teknik. Sendi Bentuk perletakan sendi pada suatu struktur jembatan. Skema perletakan Sendi Pada perletakan karena itu mempunyai sendi tersebut harus reaksi vertikal (Rv).16. RH sendi tersebut bisa berputar jika Penggambaran perletakan sendi dalam diberi beban momen. Aplikasinya perletakan rol dalam mekanika teknik Rv b. Aplikasinya perletakan sendi di dalam mekanika teknik Bentuk perletakan jepit dari suatu . ada reaksi vertikal dan horisontal punya reaksi momen. Rv RH c.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -28- RH RM RV RH RM R d. Skema perletakan pendel pada suatu struktur baja RR R . ada reaksi searah pendel. horizontal.) Pendel tersebut hanya bisa menyangga sebagian jembatan. ada reaksi vertikal. balok baja pendel Gambar 1. hanya searah dengan sumbu pendel tersebut.21.20.21. jadi hanya mempunyai satu reaksi yang searah dengan sumbu pendel. bertugas untuk menyangga sebagian dari struktur baja (Gambar 1. Penggambaran perletakan pendel dalam mekanika teknik. Pendel V Penggambaran perletakan jepit dalam mekanika teknik. Aplikasi perletakan jepit di dalam mekanika teknik Bentuk perletakan jepit dari suatu struktur. dan momen Gambar 1.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -29- balok baja Gambar 1.22. Aplikasi di perletakan dalam pendel pende l mekanika teknik .

23. maka struktur-strukturnya harus dalam keadaan seimbang.2. Apa saja syaratsyaratnya supaya suatu bangunan tetap seimbang. yang berarti kotak tersebut tidak bisa turun. Pengertian tentang keseimbangan Sebuah kotak yang dilem diatas meja. mahasiswa perlu mengetahuinya.3.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -30- 1. 1. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat memahami pengertian keseimbangan dalam suatu struktur dan syarat-syarat apa yang diperlukan. tidak bisa bergeser horisontal dan tidak bisa berguling. Contoh : benda dalam keadaan seimbang (tidak bisa bergerak) kotak lem meja Gambar 1. maka kotak tersebut dalam keadaan seimbang. Keseimbangan vertikal . JUDUL : KESEIMBANGAN BENDA Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan bisa mengerti apa yang disebut keseimbangan pada suatu benda.1.3.3. a. Pendahuluan Dalam bidang teknik sipil mahasiswa selalu diajak berbicara tentang bangunan gedung. hal itu merupakan syarat utama. jembatan dan lain sebagainya. Bangunanƛbangunan tersebut supaya tetap berdiri. serta manfaatnya dalam struktur tersebut. dan bagaimana cara menyelesaikannya. suatu kotak yang dilem diatas meja 1.

25) Gambar 1.25. maka kotak tersebut tidak bisa bergeser secara horisontal. yang berarti Kotak tenggelam lumpur tersebut tidak mampu memberi perlawanan secara Pv Rv vertikal (Rv). maka kotak tersebut tidak bisa turun. maka kotak tersebut langsung tenggelam.24. yang berarti meja tersebut mampu memberi perlawanan vertikal (Rv). yang meja berarti lem yang merekat antara kotak dan meja tersebut . (Gambar 1. Kotak tenggelam dalam lumpur b. Keseimbangan horisontal PH Kotak Lem RH Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH). Keseimbangan vertikal Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas lumpur Kalau kotak tersebut dibebani Lumpur secara vertikal (Pv). Kotak Gambar 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -31- Pv kalau kotak tersebut dibebani Kotak Lem secara vertikal (Pv). perlawanan Meja vertikal tersebut (Rv) disebut reaksi vertikal.

perlawanan momen tersebut (RM) disebut dengan reaksi momen. karena tidak ada yang menghambat. maka kotak tersebut langsung bergeser. PM Kotak Lem Meja . Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem Kalau kotak tersebut dibebani secara PH kotak yang bergeser horisontal (PH). Kotak yang bergeser Karena beban horizontal c. Perlawanan horisontal tersebut (RH) disebut reaksi horisontal. Keseimbangan horizontal memberi perlawanan horisontal (RH). sehingga bisa menahan kotak untuk tidak bergeser. maka kotak tersebut tidak bisa berputar (tidak bisa terangkat). Keseimbangan Momen Kalau kotak tersebut dibebani momen (PM). yang berarti lem perekat antara kotak dan meja tersebut mampu memberikan perlawanan momen (RM).27) Gambar 1.27.26. yang berarti meja tersebut tidak mampu memberi perlawanan horisontal (RH) (Gambar 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -32- mampu Gambar 1.

Meja karena tidak ada lem yang mengikat antara kotak dan meja tersebut. meja mampu yang tersebut berarti tidak memberikan perlawanan momen (RM). RM Gambar 1. Keseimbangan statis . Gambar 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -33- Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem. Kotak yang terangkat karena beban momen d Keseimbangan Statis PV PH PM Kotak Lem  Kalau kotak tersebut di lem diatas meja. RV Meja tidak bisa bergeser horisontal. momen maka kotak tersebut bisa terangkat. PM Kotak yang terangkat Kalau dibebani kotak tersebut (PM). yang RH berarti harus stabil.29. benda tersebut harus tidak bisa turun. dan tidak bisa terangkat.30.

PM = 0 atau 7M = 0 (jumlah gaya-gaya momen beban dan reaksi harus sama dengan nol). Latihan 1. agar kotak tersebut tidak bisa turun syarat minimum RV = PV. maka pada tumpuannya mampu memberi perlawanan secara horisontal (RH ).  Dari variasi tersebut diatas. maka pada tumpuannya mampu memberi perlawanan secara momen (RM ). dapat dikatakan bahwa suatu benda yang stabil atau dalam keadaan seimbang. maka syarat minimum RM = PM atau RM .4. 1. Agar kotak tersebut tidak bisa bergeser secara horisontal maka syarat minimum RH = PH atau RH ƛ PH = 0 atau 7H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol)  Kalau kotak tersebut dibebani secara momen (PM ).PV = 0 atau 7V = 0 (jumah gayagaya vertikal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol).3.  Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH ). maka harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : 7V = 0 (jumlah gaya-gaya vertikal antara aksi (beban) dan reaksi harus sama dengan nol) 7H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara aksi (beban) dan reaksi sama dengan nol) 7M = 0 (jumlah gaya-gaya momen antara aksi (beban) dan reaksi harus sama dengan nol). atau RV . tumpuannya mampu memberi perlawanan secara vertikal pula. Suatu benda diatas meja dengan berat sendiri = 5 kg Pv = 5 kg .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -34-  Kalau kotak tersebut dibebani secara vertikal (PV). Agar kotak tersebut tidak bisa terpuntir (terangkat).

notasi. P. PV = 5 kg PH = 2 kg PM = 5 kgm Cari reaksi-reaksi yang terjadi supaya konsol tersebut tak roboh. satuan kg/mƞ atau ton/mƞ atau Newton / mƞ o Macam Perletakan .Jepit punya 3 reaksi . notasi.Beban terbagi rata. satuan.Sendi punya 2 reaksi . Penutup .3. RH dan RM sejajar dengan batang pendel o Syarat Keseimbangan Ada 3 syarat keseimbangan yaitu : 7v = 0 7H = 0 7M = 0 1. q. Rangkuman o Macam-Macam Beban .Rol punya 1 reaksi .Beban terpusat. Rv = ? 2. kg atau ton atau Newton .5.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -35- Berapa reaksi vertikal yang terjadi supaya balok tersebut tidak turun ?. Suatu kantilever (konsol) dengan beban seperti pada gambar.3.6. 1.Pendel punya 1 reaksi Rv Rv dan RH Rv.

Daftar Pustaka 1. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci yang ada.7. Nomor Soal 1 2 Reaksi yang ada Rv Rv RH RM Besar Reaksi 5 kg 5 kg 2 kg 5 kg m Arah o o p 1 1.8. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM Bab I.3. Senarai Beban = aksi Reaksi = perlawanan aksi . Soemono ƏStatika IƐITB Bab I 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -36- Untuk mengukur prestasi. 2.3. Suwarno.

Balok jembatan diatas 2 Balok jembatan B A rol sendi perletakan A dan B Perletakan A adalah rol Perletakan B adalah sendi . Contoh : contoh struktur sederhana yaitu balok jembatan diatas 2 tumpuan. mulai dari yang sederhana sampai dengan yang kompleks. JUDUL : KONSTRUKSI STATIS TERTENTU Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis tertentu. sistim yang paling sederhana tersebut disebut dengan konstruksi statis tertentu. seperti gedung-gedung.1. 2. ada beberapa macam sistem struktur. mengetahui syarat-syarat apa yang diperlukan dan bagaimana cara pemanfaatannya.1. Pendahuluan Dalam bangunan teknik sipil. Mahasiswa diwajibkan memahami struktur yang paling sederhana sebelum melangkah ke yang lebih kompleks. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa selain dapat mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis tertentu. jembatan dan lain sebagainya.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -37- MODUL 2 : ARTI KONSTRUKSI STATIS TERTENTU DAN CARA PENYELESAIANNYA 2.1.

2. Gambar konstruksi jembatan dalam Mekanika Teknik 2.1.3.1. maka jumlah reaksi yang tidak diketahui maksimum adalah 3. jumlah bilangan yang tidak diketahui dalam persamaan tersebut maximum adalah 3 buah. A = sendi dengan 2 reaksi tidak RAH A B diketahui (RAV dan RAH adalah reaksi-reaksi vertikal dan horizontal RAV RBV di A). Ada beberapa syarat-syarat keseimbangan Sesuai dengan materi yang sebelumnya ada 3 (tiga) syarat keseimbangan yaitu : § V ! 0 ( jumlah gaya  gaya vertikal sama dengan nol) § H ! 0 ( jumlah gaya  gaya horisontal sama dengan nol) § M ! 0 ( jumlah momen sama dengan nol) Kalau dalam syarat keseimbangan ada 3 persamaan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -38- Gambar 2. Balok diatas dua perletakan dengan P beban P seperti pada gambar. Definisi Statis Tertentu Suatu konstruksi disebut statis tertentu jika bisa diselesaikan dengan syaratsyarat keseimbangan.1.maka pada konstruksi statis tertentu yang harus bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan. 2. B= rol dengan reaksi tidak diketahui (RBV = reaksi vertikal di B) . Jika dalam menyelesaikan suatu konstruksi tahap awal yang harus dicari adalah reaksi perletakan. Contoh a).

maka konstruksi tersebut statis tak tertentu. maka konstruksi tersebut adalah statis tertentu. maka konstruksi tersebut adalah konstruksi statis tertentu. Konstruksi statis tertentu c) P Balok diatas 2 perletakan A = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RAV dan RAH (reaksi vertikal dan reaksi horisontal di A).3.4. B = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RBV dan RBH (reaksi vertical dan reaksi horizontal di B). P Suatu konstruksi kolom yang berkonsol dengan perletakan di A adalah jepit. RAH = reaksi horizontal di A RM = momen di A. Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 4 buah. Jumlah reaksi yang tidak diketahui ada 3 buah. A = jepit dengan 3 reaksi yang tidak diketahui.2. sedang persamaan syarat keseimbangan hanya ada 3. RAV = reaksi vertical di A RM RAH A RAV Gambar 2. Konstruksi statis tertentu Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 3 buah. A B Gambar 2. Konstruksi statis tidak tertentu .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -39- Gambar 2. b).

jika bisa diselesaikan dengan persamaan syarat-syarat keseimbangan.1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -40- 2. Perletakan A dan C sendi. b).4. Tunjukkan apakah konstruksi tersebut statis tertentu atau bukan. Persamaan syarat-syarat keseimbangan adalah 3 buah 7V = 0 7H = 0 dan 71 = 0 2.1.mahasiswa bisa melihat kunci dari soal-soal yang ada sebagai berikut : Jawaban Soal P C A B titik A B Macam Perletakan Sendi sendi Total reaksi Jumlah reaksi 2 buah 1 buah 3 buah . Latihan a).5. P B C dua seperti pada adalah tersebut suatu balok ABC terletak diatas perletakan dengan beban P gambar.1. Perletakan A adalah sendi dan di B adalah rol. Penutup Untuk mengukur prestasi. P C A B suatu balok ABC berkantilever terletak diatas dua perletakan dengan beban P seperti pada gambar. Tunjukkan apakah konstruksi statis tertentu atau bukan. 2.6. Rangkuman Konstruksi disebut statis A tertentu.

kayu.7. baja dan lain-lain. 2. Jadi konstruksi statis tidak tertentu.1. b) P B C konstruksi A Macam Perletakan Jumlah reaksi Sendi 2 buah sendi 2 buah Total reaksi 4 buah Persamaan tidak bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan. Jadi diatas adalah statis tertentu. Daftar Pustaka 1. Senarai Konstruksi statis tertentu = konstruksi yang bisa diselesaikan syarat-syarat keseimbangan dengan Itik A B 2.2. Suwarno ƠStatika Iơ ITB bab I 2.1.1.8. 2. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat menggunakan teori yang telah diberikan untuk menghitung gaya dalam suatu struktur serta bisa menggambarkan gaya-gaya dalam tersebut secara rinci pada struktur statis tertentu. Dalam pembuatan struktur-struktur tersebut perlu diketahui ukruan atau yang lazim disebut dengan demensi dari tiap-tiap elemen .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -41- Bisa diselesaikan dengan persamaan syarat keseimbangan. Pendahuluan Bangunan teknik sipil pada umumnya terbuat dari struktur beton.2. JUDUL : GAYA DALAM Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa bisa mengetahui apa yang disebut dengan gaya dalam dan bisa mengetahui bagaimana cara mencarinya. Suwarno ƠMekanika Teknik Statis Tertentuơ UGM bab I 2.

P P Untuk A orangnya pendek.2. Pengertian tentang Gaya Dalam A L2 B Ada 2 (dua) orang yang mempunyai bentuk tubuh yang berbeda. Macam-macam Gaya dalam P1 P reaksi A RA l Gambar 2. Contoh (a) P2 B o Gaya dalam yang diterima pada struktur (a) berbeda pula dengan gaya dalam yang diterima oleh struktur (b). dalam yang menyebabkan pelenturan balok tersebut disebut momen yang . Contoh (b) 2. yang satu lagi besar.5. maka balok tersebut akan menderita beberapa gaya dalam yaitu : y Balok menderita beban lentur yang menyebabkan balok bentuk tersebut berubah Gaya melentur. P1 A L1 Gambar 2. Orang membawa membawa beban tersebut. sampai suatu saat tangan A tidak mampu Gambar 2.2. satu kecil. maka kedua tangan orang A dan B tersebut tertegang. Jika kedua-duanya membawa barang beban P = 5 kg. tinggi (B). Balok diatas 2 perletakan dan menerima beban P (sehingga melendut) P B beban RB Suatu balok terletak pada 2 perletakan dengan beban seperti pada gambar. Untuk menentukan demensi-demensi dari elemen struktur tersebut.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -42strukturnya (balok. pendek (A). kolom. Gambar 2. o Dua buah struktur seperti pada gambar (a) dan (b) dengan beban (P) dan bentang (l) berbeda.6. demikian juga untuk orang B. Namun hal ini tidak terjadi pada B karena orangnya besar. tinggi.2. memerlukan gaya dalam. Contoh : a). Kalau beban P tersebut dinaikkan secara bertahap. Yang menjadikan urat-urat tangan orang (A) tersebut menonjol sehingga tampak dari luar A B adalah karena adanya gaya dalam pada tangan tersebut akibat beban P = 5 kg.3. dansebagainya). 2.8. maka demensi dari struktur (a) akan berbeda pula dengan struktur (b).kecil dalam membawa beban P tersebut urat-urat yang ada pada tangannya tertegang dan menonjol keluar sehingga kita bisa melihat alur uratP = 5 kg P = 5 kg uratnya. beban Beban maksimum yang dipikul oleh orang A akan lebih kecil dari pada beban maksimum yang bisa dipikul oleh orang B karena diameter lengan orang A lebih kecil dari diameter lengan orang B.7. pelat.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -43- .

Gaya Dalam Momen a). x ƛ q. ada beban terbagi rata q (kg/mƞ) dan beban terpusat P (kg). ½ x 1) gaya jarak gaya jarak . Momen untuk daerah balok antara perletakan A ke perletakan B dengan variable x bisa ditulis sebagai berikut : I (1) II (dihitung dari kiri ke potongan c-c) Ʀ.9. akibat adanya reaksi perletakan atau gaya-gaya yang tegak lurus ( B ) sumbu batang. maka akan menerima beban gaya dalam yang disebut Normal yang diberi notasi N. Balok yang terletak antara tumpuan A dan B menderita (menerima) momen. yang berarti balok tersebut menerima beban lentur atau momen. Balok tersebut akan menerima beban lentur sehingga balok akan melendut.x.4. balok tersebut menerima gaya dalam yang disebut gaya lintang dan diberi notasi D. Mx = RA .2. Balok yang menerima gaya yang searah dengan sumbu batang. Balok yang menerima beban terpusat dan terbagi rata Definisi Momen adalah perkalian antara gaya x jarak.(pers. Pengertian Momen (M) c A c x RA l (m) RB P (kg) q kg/mƞ B Suatu balok yang terletak diatas 2 tumpuan dengan beban seperti pada gambar.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -44- o Balok tersebut menderita gaya tekan karena adanya beban P dari kiri dan kanan. o Balok tersebut menderita gaya lintang. (atau menerima gaya dalam momen) Gambar 2. 2.

Gambar potongan struktur bagian kiri Kalau dihitung dari sebelah kanan ke (c-c) I II Mx = RB (l-x) ƛ q (l ƛ x) . (pers. ½ (l -x) (dihitung dari kanan) ƦƦƦ.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -45- Misal kita ambil potongan c-c yang terletak sejarak x dari A RA (reaksi di A) merupakan gaya x = adalah jarak dari RA ke potongan c-c sejauh x qx = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh x yang diberi notasi (Q1 = qx) ½x= adalah jarak dari titik berat beban terbagi rata sepanjang x ke potongan c-c I II q (kg/mƞ) titik berat qx c ½x Q1= qx x c Gambar 2. 2) Kalau diambil di potongan c-c RB (reaksi di B) merupakan gaya I (l-x) = jarak dari RB ke potongan c-c Q (l-x) = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh (l-x) q (l-x) = Q2 ½ (l-x) = adalah jarak dari titik berat beban terbagi .10.

13. maka tertekankanan perlu memberi tanda terhadap momen tersebut. Gambar balok menerima beban memberi gaya lintang terhadap .2. GayaRA RB gaya tersebut adalah RA . Demikian juga sebaliknya.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -46- II c c q (kg/mƞ) titik berat dari q (l-x) (2) Kalau menghitung besarnya momen di cboleh dari kiri potongan seperti pada persamaan (1) ataupun menghitung dari kanan potongan seperti pada persamaan dan hasilnya pasti sama. menerima gaya-gaya yang c arahnya B (tegak lurus) terhadap sumbu balok. Tanda momen 2. q dan RB gaya-gaya tersebut yang Gambar 2. balok yang terletak diatas 2 (dua) perletakan A dan B. Tanda momen (-) * Gambar 2. Jika momen tersebut mampu melentur suatu tertarik tertarik balok sehingga serat atas tertekan dan serat Tanda momen (+) * Tanda momen (+) * bawah tertarik maka momen tersebut diberi tanda (+) = positif.5.12.11. Gambar potongan struktur bagian momen yang mempunyai arah berbeda. ½ (l-x) c Q2 = q (lx) l -x y Tanda Gaya Dalam Momen Untuk memberi perbedaan antara momentertekan Gambar 2. Gaya Lintang (D) c P (kg) q (kg/mƞ) Kalau dilihat.

maka D1 = RB ƛ q (l-x) ƛ P = RB ƛ Q2 ƛ P kanan potongan) P c q (kg/mƞ) (gaya lintang di c yang dihitung dari c Q2 = q (lx)x) (l ƛ RB Gambar 2. Potongan balok bagian kanan . y kalau dilihat dari C ke kiri potongan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -47- Definisi : Gaya lintang adalah gaya-gaya yang B dengan sumbu batang.15. maka coba gaya-gaya apa saja yang arahnya B (tegak lurus) terhadap sumbu AB. Potongan balok bagian kiri y (2) Kalau dihitung dari titik c ke kanan potongan. maka (1) Dc = RA ƛ q x = RA ƛ Q1 (gaya lintang di c yang dihitung dari kiri x q (kg/mƞ) c potongan) c Q1=q x RA Gambar 2.14. Kalau kita ambil salah satu potongan antara perletakan A-B yaitu c-c.

jumlah gaya arahnya ke Gambar 2. P Jika dilihat dari kanan potongan c.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -48- y Tanda Gaya Lintang P C A RB C C RA B Untuk membedakan gaya lintang.16. Skema gaya lintang dengan tanda positif (+) Coba dilihat pada Gambar 1 dari kalau kita mau menghitung besarnya gaya lintang di c (Dc). gaya yang ada hanya RA. gaya yang C ada B terhadap sumbu adalah RB ( o ) keatas dan RB P (q ) kebawah. Karena RB adalah merupakan reaksi. maka perlu memberi tanda (+) dan (-). maka P > RB sehingga jumlah antara P dan RB arah ( q ) kebawah. jumlah gaya arahnya ke atas. jadi jumlah gaya-gayanya yang B sumbu hanya RA dengan arah o (keatas) jadi tanda gaya lintang adalah positip. Definisi : * Gaya lintang diberi tanda positif jika dilihat di kiri potongan titik yang ditinjau. . atau kalau dilihat di kanan RB potongan. C RA Dilihat dari kiri potongan C.

karena RA adalah reaksi. maka resultante gaya-gaya antara RA dan P arahnya adalah kebawah ( q ). gaya-gaya yang B RA sumbu hanya RA dan P. Jadi gaya lintangnya tandanya adalah .17 bagaimana kalau kita mau menghitung besarnya gaya P D lintang di D (DD). D maka gaya lintangnya tandanya negatif. jika dilihat di kiri titik potongan P A D B D yang ditinjau arahnya kebawah ( q ) dan bila ditinjau di kanan titik potongan yang ditinjau arahnya ke atas.17. A Dilihat dari kiri potongan D. Gambar Skema gaya lintang 2 dengan tanda negatif (-) Coba dilihat pada Gambar 2. Jadi RA < P. Gambar 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -49- * P D B Definisi : * Gaya lintang diberi tanda negatif. Jika dilihat di sebelah kanan potongan gayagaya yang B sumbu hanya RB dengan arah ke RB atas ( o ).

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -50- Jadi untuk menghitung gaya lintang.6. Balok tanpa beban normal RB mana tidak ada gaya-gaya yang sejajar sumbu batang. * Jadi kalau kita lihat balok yang seperti pada Gambar 2.19.19) menerima gaya normal (N) sebesar P. . berarti balok tersebut tidak mempunyai gaya normal (N). maka tanda gaya normalnya P adalah negatif (-) { € €p P n €€ }. P P Kalau dilihat pada Gambar 3. Pengertian Tentang Gaya Normal (N) P A B Definisi : Gaya normal adalah gaya-gaya yang arahnya sejajar (//) terhadap sumbu beban balok.Jika gaya yang ada arahnya menekan balok.18 yang RA Gambar 3 Gambar 2. Balok menerima beban gaya normal RA (sejajar) sumbu batang yaitu P. 2.2. baik dihitung dari kiri ataupun kanan hasilnya harus sama. * Tanda Gaya Normal . maka pada batang AB (Gambar 3.18.19 dimana ada gaya-gaya yang // Gambar 4 RB Gambar 2.

2. maka tanda gaya normalnya P €€ adalah positif (+) { n P € €p }. Ringkasan Tanda Gaya Dalam M tekan M tanda momen positif (+) tarik tarik tekan M M tanda momen negatif () tanda gaya lintang positif (+) tanda gaya lintang negatif (-) tanda gaya normal negatif (-) .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -51- . 2.7.Jika gaya yang ada arahnya menarik balok.

Contoh : Penyelesaian Soal 1 Sebuah balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban seperti pada gambar.2.20. P3 = 2t (´) P4 = 3t .8. q2 = 1 t/mƞ P1 = 2 2 t q1 = 2t/mƞ P2 = 6 ton q2 = 1 t/mƞ P4 = 3 ton P1v = 2 t 45 ° C P1H = 2 t A D P = 2t 3 E B RBV RBH 6m RAV 2m 10 m 2m . P2 = 6t (¶). Ringkasan tanda gaya dalam 2. q1 = 2 t/mƞ.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -52- tanda gaya normal positif (+) Gambar 2. P1 = 2 2 t (º).

7  6.q1 ƛ P2.1. Balok diatas 2 perletakan dan pembebanannya Diminta : Gambar bidang momen.10 ƛ q2.6  2.21. maka perlu memakai kontrol yaitu § V = 0 (P1R + q1.3  2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -53- Gambar 2.2 . N.1 = 0 2.6 + P2 + q2.6.6.6 ƛ q1.2 = 9 ton (µ) 10 RBV = Karena tanda RBV adalah positif berarti arah reaksi RBV sama dengan permisalan yaitu (µ) keatas.q2.2) ƛ (13 + 9) = 0 Beban vertikal Reaksi vertikal .4  2. RBV 71%! RBV. dan D) Jawab : Mencari reaksi vertical RA (µ) keatas dan arah reaksi vertical di B Dimisalkan arah reaksi vertical di A RB (µ) juga keatas.12 ƛ q1.2 = 0 1.3 + P1R.7 ƛ P2. Mencari RAV dengan 7MB = 0 (jumlah momen-momen terhadap titik B = 0) RAV.6. sedang yang berlawanan arah diberi tanda berlawanan.2) ƛ (RAR + RBR) = 0 (2 + 2.4 + 2. yang searah diberi tanda sama.10 ƛ P1R. gaya lintang dan bidang normal.1 = 13 ton (µ)Karena tanda + berarti arah sama dengan permisalan (+) 10 RAV = Pemberian tanda pada persamaan berdasarkan atas arah momen.1  6.6 + 6 + 1.12  2. Untuk mengetahui apakah reaksi di A (RA) dan reaksi di B (RB) adalah benar. (Bidang M.6.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -54- Mencari Raksi Horizontal Karena perletakan A = rol tidak ada RAH.2 ton (gaya lintang (D) di kiri titik A. Perletakan B = sendi ada RBH. D Beban P1 = 2 2 (45°) bisa diuraikan menjadi P1V = 2t (¶) dan P1H = 2t ( ) P2 = 6 q1 = 2 ton 2t t/mƞ P3 = 2 ton C D 6m RA = 13 t X A . di kiri potongan arah gaya lintang kebawah (¶) DA kn (gaya lintang (D) di kanan titik A) DA kn = .P1R + RAR = -2 + 13 = 11 ton (di kiri potongan arah gaya lintang ke atas). Untuk mencari RBH dengan memakai syarat keseimbangan ( § H = 0) §H = 0 RBH = P1H + P3 + P4 = 2 + 2 + 3 = 7 ton (³) Menghitung dan Menggambar Gaya Lintang (D) Dihitung secara bertahap Daerah C A lihat dari kiri Gaya lintang dari C ke A bagian kiri adalah konstan DA kr = P1R = .

Dx = -2 + 13 ƛ q1 x = (-P1V + RA ƛ q1x) Persamaan (Linier) didapat Untuk x = 0 DAkn = -2 + 13 = + 11 ton (di kiri potongan arah gaya DD kr= -2 + 13 ƛ 12 = . melampaui beban P2.1ton lintang ke bawah) 2.6 didapat Untuk x = 6 m DD kn : sedikit di kanan titik D. jadi Bidang D sama senilai DD kn (konstan dari D sampai B).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -55- Variabel x berjalan dari A ke D (sebelah kiri titik P2).7 ton (dikiri potongan arah gaya lintang ke bawah) Dari titik D s/d B tidak ada beban. DE = 0 Dx2 = q2 . x2 = + x2 (persamaan liniear) . Daerah B-E 2m q2 = 1 t/mƞ x. DD kn : -2 + 13 ƛ 12 ƛ 6 = .2 RBV = 9 ton B E P4 = 3 ton Lebih mudah kalau dihitung dari kanan dari E menuju B. sedang beban yang dihitung dimulai dari titik C. Variabel x2 berjalan dari E ke B.

ND kn = (-2 ƛ 2) ton = . batang dari D ke B nilai gaya normal konstan).2 ton (gaya normal menekan batang) Daerah DB dihitung dari kiri (beban yang dihitung mulai dari titik C.4 ton (gaya normal menekan batang) NB kr = NDkn = .4 ton Daerah BE dihitung dari kanan. Dari kiri DBkn = (-4 + 7) t = + 3 ton (gaya normal menarik batang) MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG MOMEN (M) Daerah C A C P1H = 2t 2m x P1V = 2t A . dimana gaya normal dihitung dari titik C. NB kn = + 3 ton (gaya normal menarik batang) Kalau dihitung dari kiri.P1H = .7 ton (kanan potongan arah ke atas) Melewati perletakan B MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG NORMAL (N) Daerah CD dihitung dari kiri sampai D. dari E ke B nilai gaya normal konstan. P2 tidak termasuk dari C ke D nilai gaya normal konstan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -56- DB kn kanan perletakan B (x2 = 2 m) arah ke DB kn = + 2 ton (kanan potongan kebawah) DB kr (kiri titik B) DB kr = + 2 ƛ 9 = . ND kr = .

x mengakibatkan serat atas tertarik (-) ). x = .2 = . Daerah A D .P1v .2 x (linier) Untuk x = 0 x=2 Mc = 0 MA = .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -57- Variabel x berjalan dari C ke A Mx = .4 tm.2. sehingga tanda negatif (momen P1v .

5.5)² + 11. lihat pada Gambar .x1 ƛ ½ q1 x1² Mx1 = -2 (2 + x1) + 13 x1 ƛ ½ q1 x12 (persamaan parabola) = .22.½ . x1 = 5.½ q1 x12 + 11 x1 ƛ 4 6 m MENCARI MOMEN MAXIMUM D Mx 1 !0 d x1 d Mx1 !  q1 x1  11 ! 0 d x1 p x1 ! 5.5 ƛ 4 = 26.m Letak dimana harga Mmax = Letak dimana harga (D = 0) 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -58- Gaya-gaya yang dihitung mulai dari titik C q1 = 2 t/mƞ P1V = 2t C P1H = 2t A D x.1 RAV = 13t 2 m Variabel x1 berjalan dari A ke D Mx1 = -P1V (2 + x1) + RA.25 tm.2 (5.5.5 m Mmax = .

3756 m (yang dipakai) x1ƞ = 10.62 m (tidak mungkin) Untuk x1 = 6 MD = -36 + 66 ƛ 4 = + 26 tm Daerah E-B (dihitung dari kanan.½ .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -59- Mencari titik dimana M = 0 Mx1 = .q1.x12 + 11 x1 ƛ 4 = 0 = x12 ƛ 11 x1 + 4 = 0 x1 = 0. titik E ke titik B) variabel x2 berjalan dari E ke B q2 = 1 t/mƞ P4 = 3 t B 2m x2 E Dihitung dari kanan Parabola Mx2 = .½ q2 x22 Untuk x2 = 0 didapat ME = 0 MB = .½ .4 = -2 tm didapat Untuk x2 = 2 . 1.

5 m linier - 4 tm + - 2 tm parabola 0.286 0.3756 parabola BIDANG M linier Gambar 2.22. D balok diatas 2 tumpuan . Gambar bidang M. N.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -60- P1V = 2 t C =2t A q1 = 2t/mƞ P2 = 6 ton D P3 = 2 ton B RBV ton q2 = 1t/mƞ E P4 = 3 ton = P1H RAV = 13 t RBH 7t =9 11 2 - + 6 t BIDANG D 1 t - 2 t + 7 t 2 t 2 t 4t + 3 t BIDANG N 5.

parabola x2 merupakan variabel yang bergerak dari A ke C Daerah B C 10. x1 Untuk x = 3 DB kn = 2 + 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -61- 2. 5 8 BIDANG D + 1t Bidang D (dari kanan) DA kr = + 2 ton Daerah A B BIDANG M x1 merupakan variabel yang bergerak dari A ke B Dx1 = 2 + q.1 = 8 t (o) Untuk menggambar gaya dalam kita bisa dari kiri atau kanan. x2 Untuk x2 = 3 DB kr = 2 + 1 + 1. N. D 3m x1 x2 Jawab : Mencari reaksi di D dengan syarat keseimbangan RD = ? 7v = 0 RD ƛ P2 ƛ P1 ƛ q.3 = 6 ton Untuk x2 = 5 DC = 2 + 1 + 5 = 8 ton Daerah A B Bidang M (dari kanan) MA = 0 linierGambar 2. N.5 = 0 RD = 2 + 1 + 5.5 parabola Dx2 = 2 + 1 + q .5 24.9. Contoh 2 Diketahui: KONSOL (CANTILEVER) P2 D 1t C 1m RD 2m B = q=1 t/mƞ P1 2t A Suatu konstruksi konsol (cantilever) dengan perletkan di D = jepit dengan beban P1 = 2t = (¶). P2 = 1t (¶) dan beban terbagi rata q = 1 t/mƞ Ditanya : Gambar bidang M.5 32. pilih yang lebih mudah dalam hal ini pilih yang dari kanan.23.3 = 5 ton (dari kanan potongan arah gaya ke bawah tanda positif (+) ). Bidang M. D Balok cantilever .2.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -62- 2 Daerah B .5 tm ( ) MD : .C : Mx2 = -P1 x2 ƛ P2 (x2 ƛ3) ƛ ½ q x2 : MC = -2.24. a) reaksi perletakan b) bidang N.5 = 32.3 ƛ 5.2 ƛ ½ . a) reaksi perletakan b) bidang N. Latihan Balok diatas 2 tumpuan.1.5² = .3.5 + 1) = -12 ƛ 3 ƛ 5.1 (2.10.6 ƛ P2.5 t ( ) 2.5 ƛ 1. D dan M 45 ° Soal 2 P! t P3 = 32 2t HA A VA 2m 4m q = 1 t/m' 45° D B RB 2m C . Soal 1 P1 = 4t P2 = 4 2t HA A B VA 2m 3m 3m RB Balok AB dengan beban seperti tergambar A = sendi B = rol P1 = 4 ton P2 = 4 2 ton Ditanyakan. D dan M Balok ADCB dengan beban seperti tergambar A = sendi B = rol P1 = 3 2 ton q = 1 ton/m· Ditanyakan.P1.2.

5 ton /m· . bidang N. D dan M q = 1. a). t/m' HA A VA 6m ¡¢ ¤2   2 2t ° £ P1   2t 2m B RB 2m C Balok ADCB dengan beban seperti tergambar : A = sendi B = rol . reaksi perletakan b). Ditanyakan. P1 = 2 ton P2 = 2 2 ton .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -63- Soal 3 q   .

2.5 ton 0. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D D²B A²C C²D D²B A C D B Nilai 4. Penutup Untuk mengukur prestasi.tekan + + + + Momen = M . mahasiswa bisa melihat kunci dari soal -soal yang ada sebagai berikut : Jawaban Soal No.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -1- 2.11. Rangkuman Dalam suatu konstruksi ada gaya dalam sebagai berikut : M (momen) dengan tanda + D (gaya lintang) dengan tanda + N (gaya normal) dengan tanda + - 2.5 ton 3.5 ton 4 ton 4 ton 0 4.2.5 tm 0 Tanda/arah o o p .5 ton 3.12.5 ton 0 9 tm 10.

0 tm 0 Tanda/arah o o p .625 ton 4.08 m kanan A A X = 3.tekan + + Momen = M + + Jawaban Soal No. 3 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D²B²C A D kiri D kanan ² B kiri B kanan ² C X = 3.13 tm 0.75 tm 4.375 ton 2 ton 0 0 7.tekan + + Momen = M + + - .375 ton 2.375 ton 2 ton 2 ton 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -2- Jawaban Soal No.625 ton 4.08 m D B C Nilai 4. 2 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D D²B A ² D kiri D kanan B kiri B kanan C A D B C 2 m kanan D Nilai 3 ton 6 ton 3 ton 3 ton 0 3 ton 0 4 ton 2 ton 0 0 6 tm 2 tm 0 4 tm Tanda/arah o o p .

Dengan beban sepanjang dx tersebut kita akan mencari hubungan antara beban.qx dx d Dx !  qx dx (turunan pertama dari gaya lintang adalah beban) Keseimbangan momen 7 M = 0 di potongan II Mx + Dx dx ƛ qx . Mx + dMx = momen di potongan II ( ) dMx = selisih momen antara I dan II qx ½ dx beban qx. gaya lintang dan momen. Dx dx dan qx.dx² } 0 karena dx = cukup kecil dan dx² bertambah kecil sehingga bisa diabaikan. qx = beban terbagi rata Mx = momen di potongan I ( ) Dx = gaya lintang di potongan I ( o) qx . distribusi gaya dalam pada balok sepanjang dx Keseimbangan gaya ƛ gaya vertikal 7 V = 0 di potongan II Dx ƛ qx dx ƛ (Dx + d Dx) = 0 (kiri ada Dx ( o) dan qx dx ( q) dan kanan ada Dx + d Dx ( q) dDx = .3. potongan tersebut antara I dan II sepanjang dx. dx = berat beban terbagi rata Sepanjang dx Dx + dDx = gaya lintang di potongan II (¶) dDx = selisih gaya lintang antara Potongan I dan II.24.0 d Mx = Dx . dx² . ½ dx ƛ (Mx + d Mx) = 0 ½ q. dx o Kiri ada Mx . . Gaya Lintang D dan q (Muatan) Pada gambar terdapat potongan sepanjang dx batang yang diberi beban terbagi rata (qx).dx . Hubungan Antara Momen (M) . ½ dx dan kanan ada Mx + dMx o ½ qx.dx.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -3- 2.dx Mx Dx M x + dMx D x + dDx batang I dx II Gambar 2.

Balok Miring Pada pelaksanaan sehari -hari sering kita menjumpai balok yang posisinya miring seperti : tangga. terutama untuk menghitung dan menggambar gaya dalam adalah (a) sama dengan balok biasa (horizontal). Seperti pada gambar. balok atap dan lain sebagainya.4. Namun disini perlu lebih berhati-hati karena dalam baloknya menghitung (b) Gambar 2.1. misal : tangga.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -4- d Mx ! Dx dx * turunan pertama dari momen adalah gaya lintang 2. dalam hal ini kita harus tahu bagaimana menyelesaikannya.4. Dasar Penyelesaian Dalam penyelesaian struktur.25. Pada kenyataan sehari -hari balok-balok tersebut bisa berdiri sendiri atau digabungkan dengan balok vertikal atau horisontal. 2. Pengertian Dasar Balok miring adalah suatu balok yang berperan sebagai pemikul struktur yang posisinya membentuk sudut dengan bidang datar. Skema balok miring .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -5- Dalam hal ini mahasiswa bisa lebih mendalam dalam pengetrapan pengertian gaya -gaya dalam pada semua kondisi balok. Contoh soal Diketahui Suatu balok miring di atas 2 tumpuan. 2. perletakan B = rol duduk pada bidang miring // dengan sumbu batang.2. N.4. D Jawab : q = 1 t/mƞ B rol P 1=4 C P2=4 t D A R AH ­ E 1m 1m 1m RB Dim B = rol jadi reaksinya hanya 3 satu B sumbu batang 5 3 E send RAV 4m 1m 2m 1m 4 di B = rol jadi reaksinya hanya satu B sumbu batang . dan beban terbagi rata q = 1 t/mƞ dari D ke B dengan arah vertikal. Beban P 1 = 4 t vertikal di C dan beban P2 = 4t vertikal di D. perletakan A = sendi duduk di bidang horizontal. Ditanya : Gambar bidang M.

1 = 0 RAV = 7.2.6 ton = 2.3 ƛ P2.1 = 0 RB = 5 Untuk mencari R AV dicari dulu R AH dengan syarat keseimbangan horizontal.2 ƛ 2.26.3 ƛ 4.1 = 0 RAV.1 = 0 18 ! 3.2. Pembebanan pada balok miring Untuk mencari reaksi kita lebih cepat kalau yang dicari reaksi di B dulu.3 ƛ 4.2 ƛ 4.4 ƛ 2.12 ton .a.2 ƛ P1.16 ton 5 Mencari R AV dengan 7 M B = 0 RAV 7 MB = 0 RAV.16.3 ƛ P2.6 ton (arah R B B sumbu batang) RB.3 ƛ 4. RAH 7 H = 0 RAH ƛ RB sin2 = 0 3 RAH = .2 ƛ q.2.3.4 ƛ RAH. Reaksi di B RB B bidang sentuh RB dicari dengan 7 MA = 0 RB.1.3 ƛ P 1.5 ƛ q.5 ƛ 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -6- Gambar 2.

3.1.6 ton MEN GHITUN G GAYA LINTAN G (D) (dari kanan) DB kr = .E! 4.6 + (2 + 4 + 4) cos.(4 + 2) sin E = -6 .6 ton NC kr = .2 .b.6 + q.6 + (2 + 4) 4/5 = 1.3/5 = .3. 3/5 = -1.2 ton Dc kr = .26.2 ton DD kr = -3.x .3.3. 4/5 = .RB = .6 + q.6 + 2.6 ton Dari B ke D Dx = .4 ton 4/5 .2 ton (dari kanan) ND kr = . cos E= . sin E = -2 . 3/5 = .B sumbu batang 1 m a E q q E b Gambar 2.// sumbu batang . Distribusi beban pada balok miring Gaya yang // sebagai bata ng Gaya yang B sebagai batang menjadi gaya normal (N) a ! q sin E ¾ ® ¯ ¿ b ! q cos E À ° menjadi gaya lintang (D) ND kn = -2q . cos E DD kn = .3.3.(4 + 4 + 2) sin E = -10.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -7- MEN GHITUN G BIDAN G NORMAL (N ) Beban P dan q diuraikan menjadi : .

D 1 t/mƞ 4t B .x ² cos E 2 x cos E E x Mc = RB . 2 1  .q.1 = + 5.1.6 .2 ƛ P.1 cos E = 3.q.5 tm Gambar bidang M. N. 3. 3 .4 !  7 tm 4/5 2 4 t D x B RB x 1 Mx = RB .6 .2 ƛ 4.2.75 ƛ 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -8- 1 t/mƞ B 4t 4t D A 1m C 1m 2m x 3m 1 t/mƞ MEN GHITUN G BIDAN G MOMEN (M) Dihitung dari kanan B ke D 4 t C A Untuk x = 0 Untuk x = 2 MB = 0 M D = 3.  .

Gambar 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -9- Seperti teori sebelumnya kita bisa menghitung gaya -gaya dalam dari dan hasilnya harus sama. Seperti contoh dibawah ini. Bidang gaya dalam pada balok miring .27.

1. Contoh dinding dinding tangki tangki Sin E = 3/5 Cos E = 4/5 air . Pengertian Dasar Beban segitiga seiring terjadi pada kenyataan di lapangan seperti beban tekanan air dan tekanan tanah. 3/5 + 2.16 . beban tekanan tanah dan lain sebagainya.1 .2 ton Gaya lintang di D kanan ada pengaruh P = 4t DD kn = (7.12 ƛ 4). cos E .[(7.16 .5.4 ton Gaya lintang di C kanan ada pengaruh P = 4 ton Gaya lintang dari C kanan ke D kiri adalah konstan Dc kn = (7. DB = -2 ƛ 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -10- PERHITUN GAN DARI KIRI RAV diuraikan menjadi : RAV. 4/5) t = .12 . sin E (gaya B sumbu batang) RAH.(RAV .6 ton 2. DA kn = 7.6 ton Gaya normal di C kanan ke D kiri adalah konstan Di Nc kanan ada pengaruh beban P = 4 ton. NDkn = . sin E E RAV .16 .3. 3/5 = 4. Cos E (gaya B sumbu batang) RAV . cos E RAH diuraikan menjadi : RAH.R AH sin E Gaya lintang dari A kn ke C kiri adalah konstan. 3/5 = 0 ton Gaya lintang DA kn = R AV cos E .2 ton. 3/5 = 1.(7. 2.16 t D = + RAV .16 .12 ƛ 4 ƛ 4) 4/5 ƛ 2.12 NA kn = . 4/5] = .2 + 2. sin E + RAH .1.12 . cos E (gaya // sumbu batang) RAV. 4/5 ƛ 2. 3/5 + 2. 4/5 = . NC kn = .[(7.5.RAH .1 .1.2 .12 ƛ 4) 4/5 ƛ 2. Cos E) RAH = 2.16 .1. namun ada yang berbentuk segitiga seperti beban tekanan .12 ƛ 4 ƛ 4) 3/5 + 2. 3/5 = .2 + q. 4/5] = .3.2 ton Gaya normal dari D ke B linier { NB = . Beban Segitiga Pada kenyataan di lapangan beban tak hanya terpusat a tau terbagi rata. sin% E  E RAV R AH sin E A E RAH cos E N = .16 . Gaya lintang dari D ke B adalah linier karena ada beban terbagi rata. Sin E (gaya // sumbu batang) RAH  RAV = 7.6 ton Gaya normal di D kanan ada pengaruh P = 4 ton. sin E NB = .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-11-

2.5.2.

Gambar 2.28.a. Diagram beban segitiga

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-12-

Dasar Penyelesaian Prinsip dasar penyelesaiannya adalah sama dengan yang lain -lain namun kita harus lebih hati -hati karena bebannya membentuk persamaan.

Persamaan a x = x .a l ax A Px a.l 6 B

a t/mƞ

RA =

2/3x 1/3x

RB = P=

a .l ton 2 Gx ambar 2.28.b. Beban segitiga pada struktur

a .l 3

l Mencari Reaksi Perletakan Titik berat beban P : 2/3 l dari A atau 1/3 l dari B l 0 p R ! 1/ 3 l  P 1/3 l § M B ! 0 p R A .l  P .12/3 / 3l ! A l 1 / 3 l a.l a.l ton RA ! x ! 2 6 l 2/3 l § M A ! 0 p R B .l  P . 2 / 3 l ! 0 p R B ! P l 2 / 3 l a.l a.l x ! R ! ton l 2 3

Menghitung Bidang D (dari kiri) X = variable bergerak dari A ke B x Di potongan x ax = . a l Beban segitiga sepanjang x Px = ½ x. ax ax ² x Beban Px = ½ x . . a ! 2l l Persamaan gaya lintang : a.l ax ² Dx = RA ƛ Px = (parabola)  6 2l Persamaan pangkat 2 Mencari tempat dimana gaya lintang = 0

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-13-

D=0

RA ƛ Px = 0 a.l ax ² l² ! p x² ! 6 2. l 3 XD ! 0 ! l² 1 ! l 3 3 3

MEN GHITUN G BIDAN G M x Mx = RA . x ƛ Px . 3 a.l ax ² x = .x  . 6 2 .l 3 a a .l = (persamaan pangkat 3 / parabola) x  . x³ 6l 6

M max terletak di daerah untuk D = 0 1 x= l 3 3 3 a.l ¨ 1 ¸ ¸ a ¨1 M max = l 3  l l 3 ¹ © ¹ © 6 ª3 º º 6 ª3 a.l² a .l² 3 3 = 54 18

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-14-

Contoh Perhitungan ax = x
2/3 x 1/3 x

x .3 6 Jawab : h=3 ton/mƞ TOTAL BEBAN B P=½lxh RB P= 7 MB 0 RA = 7 MA 2 .9 = 3 ton 6 RB . l ƛ P.2/3 l = 0 RB .6-9.4 = 3.6 = 9 ton 2 RA.l ƛ P l/3 = 0 RA . 6-9.2 =

A Px RA 2 l/3 l=6 m P l/3

3,464 m 3t + D=0 BIDAN G D 6t

0 RB = 4 .9 = 6 ton 6

Menghitung Bidang D x = variable bergerak dari A ke B ax ! x x .3 ! 2 6

Gambar 2.29. Bidang gaya dalam pada beban segitiga x = 0 DA = + 3 ton x = 6 DB = - 6 ton + Menghitung Bidang M x Mx = RA . x ƛ Px . 3 x² x x³ = 3x . ! 3x  BIDA N G 4 3 12 Mmax M D=0 M max (x = 3,464 m) M
max

Px = ½ x . ax Px ! x x x² . ! 4 2 4 Dx = R A ƛ Px

Persamaan gaya lintang Dx = 3 x² 4

Tempat dimana gaya lintang = 0

x² D=0 !3 3 4 ¨ 3,464 ¸ 3.3,464 - © ¹ ! 10,392  3,464 ! 6,928 tm ª 12 º

2.5.3. LATIHAN Soal 1 : Balok Miring

Beban q = 1 t/m· . B = rol Ditanyakan. D dan M 30° Soal 2 q = 1. seperti tergambar Beban q = 1 t/m· .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -15- P q ¥ 1 t/m' C B ¥3t HA A VA 6m 1m Balok miring ABC ditumpu di A = sendi.5 t/m' P=4t B HA A E 3m RB VA 4m Soal 3 : Balok dengan beban segitiga. seperti tergambar. P = 3 ton Ditanyakan. . a) reaksi perletakan b) bidang N. a) reaksi perletakan b) bidang N. D dan M Portal ACB dengan perletakan A = sendi . P = 3 ton Ditanyakan. a) reaksi perletakan c) bidang N. D dan M Soal 4 3m RB . q ¦ t/m' X RHA A VA L Balok AB dengan beban segitiga seperti tergambar A = sendi. B = rol. B = rol.

88 t 3 ton 9. a) reaksi perletakan b) bidang N. D dan M 2.11 tm Tanda/arah o n o p . besarnya merupakan fungsi x.16 t t 2. 2.5. Rangkuman - Balok miring adalah balok yang seiring dipergunakan dalam struktur tangga.88 m Nilai 4.815 t 4.50 t 2.4. mahasiswa bisa melihat kunci soal -soal yang ada sebagai berikut : Soal no.50 t 1.5.5.6 t 0 0 3 tm 0 3.12 ton 5. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi miring Titik A : VA B : RB Atau : H B VB A : HA A B kiri B kanan ² C A B kiri B kanan ² C X = 2. Ditanyakan.tekan . seperti tergambar.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -16- q § 3 t/m' RHA A B RAV 4m RB 2m C Balok ABC dengan beban segi tiga q = 3 t/m ditumpu pada A = sendi .tekan .tekan + + Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Momen = M + .88m jarak miring dr A A B C X = 2. Penutup Untuk mengukur prestasi.63 t 2. B = rol. ketelitian perhitungan perlu. Beban segitiga (() adalah beban yang terjadi akibat tekanan air dan tekanan tanah.76 ton 1.

l 3 0 0 0 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -17- Jawaban soal no. 3 Keterangan Reaksi vertikal Titik A : RAV B : RB Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D A : RAH A-B A «««.tekan Gaya lintang = D + + + Momen = M Jawaban soal no. Jawaban soal no. B «««.. 2 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Data pendukung Gaya normal = N Titik A : VA B : RB A : HA Sin E Cos E A C bawah C kanan ² B A C kiri C kanan ² B A C X = 2 m horisontal dari A B Nilai 6 ton 4 ton 0 3/5 4/5 3.06415 x q x l2 (max) + Tanda/arah o o + - L 3 ««««.l 6 q.6 ton 0 0 5. X= Momen = M L 3 = 0.5774 L dari A A B C X= Nilai q..2 ton 0 4 ton 0 12 tm(max) 9 tm 0 Tanda/arah o o p . 4 .l 6 q.l 3 0 0 q.

5. Senarai Balok miring = balok yang membentuk sudut Beban segitiga = besarnya merupakan fungsi x . UGM.67 tm 3. Bab I.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -18- Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : RAH A²B-C A B kiri B kanan C X = 2. ƏStatika IƐ. 2. ITB.24m Nilai 4.73 tm Tanda/arah o o p + + Momen = M + 2. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ.5 ton 3.6.5 ton 1 ton 0 0 0 0.5.5 ton 0 0 4.5 ton 4. Daftar Pustaka - Suwarno. Bab I Soemono.24m dari B A B X = 2.7.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -19- 4/5 RB RB 3/5 R B catatan : q.a l a . x Di ujung titik A RAV dan RAH diuraikan menjadi gaya -gaya yang B (tegak lurus) dan // (sejajar) dengan sumbu x = jarak R B ke sepanjang batang cos E BD x .l ton Resultante Beban : P = 2 Persamaan garis ax = Diketahui : .2 2 = panjang beban terbagi rata 2 = jarak titik berat q ke titik D.2.

Tahap penyelesaiannya adalah sebagai berikut : Persamaan a x = x . tinggi beban di atas perletakan B adalah 3 ton/mƞ= h. dengan beban segitiga diatasnya.a l ax A Px a.l 3 1/3 l . Ditanya : Selesaikan dan gambar bidang gaya dalamnya Pada pelaksanaan sehari -hari sering dijumpai beban yang berbentuk linier segitiga. bagaimana penyelesaiannya bisa lihat dalam contoh soal. Balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban U (segitiga) seperti pada gambar. seperti bebab Tekanan tanah dan beban air pada tandon air.l ton 2 a.l 6 B a t/mƞ RA = 2/3x 1/3x x l 2/3 l RB = P= a .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -20- Balok di atas 2 perletakan A dan B.

Jembatan dengan gelagar langsung Jembatan yang roda kendaraannya bisa diterima langsung oleh plat lantai kendaraan yang terbuat dari beton disebut dengan gelagar langsung. dan profil baja. Pengertian Dasar Ada beberapa macam model jembatan yang ada di lapangan yaitu jembatan yang terbuat dari beton dan jembatan yang terbuat dari kayu. Plat lantai kendaraan yang terbuat dari beton Gambar 2. Untuk jembatan yang terbuat dari kayu. maka dalam hal ini roda kendaraan bisa diterima langsung oleh plat lantai yang terbuat dari beton tersebut. bambu. Untuk jembatan dimana yang roda kendaraan tidak bisa langsung diterima oleh struktur utama disebut dengan gelagar tidak langsung atau beban tidak langsung yang mana da lam penggambaran seperti pada Gambar 2. melainkan harus lewat suatu perantara yang disebut dengan gelagar melintang. maka roda kendaraan tidak bisa secara langsung diterima oleh struktur kayu.30. Kalau jembatan yang terbuat dari beton karena bentuknya bisa dibuat sesuai dengan yang diinginkan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -21- 2. baja.31.1. . Gelagar Tidak Langsung 2. gelagar memanjang dan plat lantai dasar (lihat Gambar 2. bambu atau baja tersebut.6. bambu.31).6.

Skema gelagar tidak langsung dari suatu jembatan .31. memanjang Potongan Melintang Gambar 2. melintang Potongan melintang Gelagar induk Gel.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -22- arah muatan aspa l Gel.

mas uk ke gelagar induk (utama) menjadi beban P beban terbagi rata diatas gel. Skema Penggambaran MuatanTidak Langsung dalam Mekanika Teknik Untuk mempercepat perhitungan maka struktur dengan muatan tak langsung harus mengalami penyederha naan. Penyederhanaan akhir. tidak 2. tida k langsung Gambar 2. untuk gel. gel. Penyederhanaan awal. maka beban yang diterima oleh gelagar induk tidak selalu sama dengan beban yang berada diatas jembatan.32. induk).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -23- 2. gel.2.6. memanjang P P P .6. q kg/mƞ beban terbagi rata gel.3. Cara distribusi beban Karena roda kendaraan tidak langsung diterima oleh gelagar utama (gel. melainkan lewat perantara gelagar melintang. melintang P gelagar induk / utama beban terbagi rata tersebut akan ditransfer ke gelagar induk melewati gelagar melintang jadi yang sebenarnya beban merata. melintang gel. induk / G ambar 2.33. memanjang gel.

melintang. II I q t/mƞ Potongan I ƛ I = tepat diatas gel. P = 6q P² . melintang Potongan II-II = ditengah-tengah gel. memanjang genap. melintang Menghitung momen di potongan I -I P P/2 M I (untuk potongan I -I) M I = RA .P/2 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -24- a Q b Jika beban terpusat Q berada diantara gel. 2P .qP² .q P² = 4 q P² (muatan tidak langsung) II P/2 P I P gelagar induk 6P P P 3 q P II I 3qP .35. maka Q tersebut didistribusi menjadi beban Q 1 dan Q 2. Distribusi beban terpusat pada gelagar tidak langsung BEBAN TAK LANGSUNG Contoh : Suatu gelagar yang tidak langsung mendapat beban q t/m¶ dengan jumlah bentang gel.P. 2P . dimana P Q1 Q2 Q2 = b a Q dan Q1 ! x x A Gambar 2.

1.½ q (1.5 P² .q P .125 q P² = 3.½ q P . 2P .q P .5 P .5P .2 q P² = 4 q P² Catatan : Besar M (momen) pada titik balok penghubung (gel.125 q P²) q t/mƞ Perbedaan tersebut adalah dari : P 0. 1.5 P)² = 4.5 P . Melintang) boleh dihitung sebagai beban langsung. 1.375 q P² .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -25- Kalau dicek memakai muatan langsung adalah : M I = beban langsung M I = 3.125 q P ² 8 P/2 = 3 qP . ½ P = 3.25 q P² Perbedaan momen (0. Penyelesaian : P=qP RA = RB = 3q P Beban diantara perletakan P = q P Beban di atas perletakan P/2 = q P/2 Perhitungan Momen Pada Potongan II q t/mƞ II Dengan memakai beban langsung MII II P 3q P ½ qP qP II Jika dihitung dengan beban tidak langsung P 3qP P/2 q t/mƞ II M II = 3q P .1.½ q (2P)² = 6q P² .125 q P² Momen lantai = kendaraa 1 q P ² ! 0.

namun s eperti gaya lintang beban terpusat. lantai = 3. garisnya 3P P 2½ P P + P P P Bidang D 3P bukan linier.125 q P² = 3.375 q P² .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -26- Catatan : Momen tidak langsung (diantara gelagar) MII = M langsung ƛ M. 2½ P Gambar 2.0. maka gambar bidang D (bidang gaya lintang).25 q P² jadi dalam hal ini ada perbedaan nilai perhitungan momen pada gelagar tak langsung untuk potongan dibawah gelagar melintang dan potongan diantara gelagar melintang.37. tapi kalau gelagarnya tidak langsung. Bidang gaya l intang (D) dari gelagar tidak langsung . Perhitungan gaya lintang (D) ½ P P P P P P ½ P Walaupun beban terbagi rata.

D. H A . RB b). 2. Gaya reaksi V A.6.5 t/mƞ sepanjang bentang. 3t P 2 = 1t P1 = P = 3m P P Ditanyakan : a).4. M 1 2 3 HA VA P P P = 2m Soal 2 : P1=3t 1m 2 3 A 4 P 5 B R B P2=1t 4 5 B P RB C 6 1 HA P VA Balok ABC mendapat beban tak langsung seperti tergambar. q = 1. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci kunci yang ada.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -27- 2. H A. transfernya ke gelagar utama selalu berbentuk beban terpusat. 2. Ditanyakan : a). Rangkuman - Gelagar tidak langsung biasanya terdapat pada jembatan kayu atau baja - Apapun bentuk beban yang terdapat diatas jembatan. Bidang N.6. Latihan Soal 1: q = 1. .6. Bidang N. M. D.5.6.5 t/mƞ Balok AB mendapat beban tak langsung seperti tergambar. RB b). Penutup Untuk mengukur prestasi. Gaya reaksi V A.

5 t 4.25 t 0 0 2t 1t 0 0 1t 0 1.75 t 2.25 tm 4.0 t 1.5 t 1.5 t 0 9 tm 12 tm 9 tm 0 Arah / Tanda o o q q q q q         Soal N o.5 t 0 4.5 t 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -28- Soal no 1 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Beban Pada Titik Gaya Normal = N Gaya Lintang = D Momen = M Titik A : VA B : RB A : HA 1 2 3 4 5 1-2-3-4-5 1-2 2-3 3-4 4-5 A=1 2 3 4 5=B N ilai 6t 6t 0 1.0 t 3.0 t 3.75 t 0.5 t 3.25 t 1.25 t 1.00 t 0 5.25 t 1. 2 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Beban Pada Titik Titik A : VA B : RB A : HA 1 2 3 4 5 6 1-2-3-4-5-6 1-2 2-3 3-4 4-5 5-6 A=1 2 3 4 N ilai 1.75 tm Arah / Tanda o q q q         Gaya Normal = N Gaya Lintang = D Momen = M .5 tm 0.

0 tm 0 0 4.6. Senarai Muatan tak langsung = beban tak langsung = beban yang tak langsung terletak di balok induk. 2. UGM Bab I. ITB-Bab I Suwarno. Daftar Pustaka - Soemono.24 m dari B A B X = 2.5 ton 1 ton 0 0 0 0.67 tm 3. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ .8.24 m 3. .73 tm  + + Momen = M + 2.6. ƏStatika IƐ.5 ton 3.7.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -29- Gaya Normal = N Gaya Lintang = D 5=B 6=C AƛBƛC A B kiri B Kanan C X = 2.

atau gaya dalam M (Momen). gaya lintang dan gaya normal. maka kaitannya adalah : Berapa besarnya nilai maksimum dari gaya -gaya dalam di suatu tempat di struktur tersebut. jika di atas struktur jembatan 2. dan gaya no rmal. Pengertian Dasar Untuk mempermudah suatu penyelesaian. Garis Pengaruh 2. gaya lintang. maka didalam suatu garis pengaruh. gaya momen.1.7. . muatan yang dipakai sebagai standard adalah beban P sebesar satu satuan (ton atau kg atau Newto n) yang berjalan diatas struktur suatu jembatan tersebut. Untuk menjawab hal tersebut diperlukan suatu garis pengaruh. maka struktur tersebut selalu dilewati oleh suatu muatan yang berjalan. atau D (Lintang) disuatu titik akibat pengaruh dari muatan sebesar 1 ton berjalan. atau N (Normal). reaksi-reaksi kemudian gaya -gaya dalamnya yaitu. Di sisi lain kalau kita meng analisa struktur maka yang dicari dari struktur tersebut adalah. jika ada muatan yang berjalan di atasnya ?.2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -30- 2. gaya momen. Sedang bentuk garis pengaruh tersebut adalah suatu garis yang menunjukkan nilai dari apa yang akan dicari tersebut misal : Reaksi (R) atau gaya momen (M) atau. Jika dua hal tersebut dipadukan.7. gaya lintang (D) atau gaya normal (N) di suatu tempat pada gelagar tersebut. Definisi Garis pengaruh : adalah garis yang menunjukkan besarnya R (Reaksi). tersebut berjalan suatu muatan. Pendahuluan Kalau kita meninjau atau melihat suatu jembatan.7. Garis pengaruh ini sebagai alat bantu untuk mencari nilai reaksi.

l ƛ P (l-x) = 0 P(l .RB (Garis Pengaruh Reaksi di B) 7 M A = 0 R B.P. Gambar garis pengaruh R A dan RB .x x RB = ton (linier) ! l l 1 ton Untuk P di A Untuk P di B x=0 x=l RB = 0 RB = 1 ton Gambar 2.x) l  x ! ton (linier ) l l x=0 x=l RA = 1 ton RA = 0 ton Untuk P di A Untuk P di B + 1 ton G.x = 0 P.P.38.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) 7 MB = 0 RA = G. R A RA .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -31- Contoh 1 : Mencari garis pengaruh Reaksi (R A dan R B) x P=1 ton A RA l x = variabel sesuai letak (posisi) P yang bergerak dari titik A ke titik B B RB Muatan P = 1 ton berjalan dari A ke B G.l ƛ P.P.P. R B + G.

7. Kegunaan dari garis pengaruh untuk beban di titik c * Jika beban P = 1 ton berada di atas titik D sejauh c dari perletakan A dan sejauh d dari perletakan B.R B + 1t Bagaimana kalau P tidak sama dengan 1 ton Jika P = 4 ton terletak di titik c Maka RA = 4 . jadi l l b a ton dan R B = ton RA = l l B Gambar 2.40.RA + P=1 t D d * Jika beban P = 1 ton berada di titik C sejauh a dari perletakan A dan sejauh b dari perletakan B.R A + P=1 GP.RB Gambar 2.R B Gambar 2.RA + y4 + b 1t l RB Ini adalah GP. jadi y3 = l l d c RA = ton dan R B = ton B l l Gambar 2. maka besarnya reaksi di A RA = y1 dan besarnya reaksi di B R B = y2. dimana d c ton dan y 4 = ton. y2 atau Gambar 2. Kegunaan garis pengaruh untuk tidak 4 b 4 a dengan 1 ton RA = dan RB ! l l .R B (Garis Pengaruh Reaksi di B) Garis ini menunjukkan besarnya n ilai R B sesuai B dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar P=1 t B 1t 1t GP.39.39 A c 1t + y3 GP. Kegunaan digaris pengaruh untuk beban di titik D GP.41.40 P= 4 ton A a + y1 C b 1t GP.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) Garis ini menunjukkan besarnya nilai R A sesuai dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar Ini adalah GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -32- 2. maka besarnya reaksi di A R A = y3 dan besarnya reaksi di B 1t RB = y4. dimana 1t b a y1 = ton dan y 2 = ton.R A y2 GP. Kegunaan dari suatu Garis Pengaruh X A RA + GP.R B t A C a + y1 y2 GP.beban y1 dan RB =sama 4 .3.

maka 1t RA = 4y1 + 6y3 = 4 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -33- P=6 t A c 1t + y3 GP.R A y4 P2= 6 ton D b c y1 + y2 GP.42.P.D) P = 1 ton berjalan dari A ke B X = variabel yang bergerak sesuai dengan posisi P dari A ke B C = suatu titik terletak antara A ƛ B . Kegunaan garis pengaruh untuk beban P 1 = 4 ton dan P 2 = 6 ton Beberapa Contoh 1.RA 1t d B + + D d B Jika P = 6 ton terletak ti titik D Maka RA = 6 .43.R B + y3 GP. Mencari Garis Pengaruh Gaya Lintang (G. Kegunaan garis pengaruh untuk beban P = 6t GP. sejarak d dari titik B. sejarak dari titik A. RB = 4 y2 + 6 y4 = 4 y4 b d ton  6 ton l l c a ton  6 ton l l Gambar 2. y3 dan R B = 6 y4 atau RA = c 6d ton dan R B ! 6 ton l l Gambar 2. sejarak b dari titik B.RB P= 4 ton A a C 1t Bagaimana kalau ada beberapa muatan : y Jika di atas gelagar ada muatan P1 = 4t di c. dan P 2 = 6t sejarak c dari titik A.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -34- P = 1t x G.P. R A l x ton (linier ) l x=a G. Gambar garis pengaruh gaya lintang . l ƛ P.P. R B - b/l G.x = 0 P berjalan dari A ke C A RA a l RB RB = b Px x ! ton l l Dc dihitung dari kanan Dc = -RB =  P = 1t x Untuk P di C kr x = a A C a l x ton (linier) l x=0 Dc = 0 Dc = - Untuk P di A a ton l B P berjalan dari C ke B P (l  x ) l  x RA = ! ton l l Dc dihitung dari kiri + Dc = RA = G. D c Untuk P di C kn Dc = l a b ! ton l l ll ! 0 ton l Gambar 2.P.44. Dc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C) B C 7 MA = 0 RB .P.

Gambar garis pengaruh momen di c (GP Mc) .b tm l ¨l x ¸ Mc = + RA . Mc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C) B C RA a l b RB P berjalan dari A ke C RB = Px x ! ton l l A Mc dihitung dari kanan Mc = + RB . b =  Untuk P di A x .b tm l x=0 x=a P = 1t x A C B Untuk P di C P berjalan dari C ke B RA = P (l  x ) l x ton ! ton l l Mc dihitung dari kiri + GP RB. P = 1t x G. b tm (linier ) l Mc = 0 Mc = + a . M c ¨l a¸ b © ¹ ! .45.b a. a tm = © ¹ .P.a x=a Mc = G.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -35- Mencari Garis Pengaruh Momen (G. a .P. tm ª l º l Untuk P di B x=l ¨l l ¸ Mc = © ¹ a . tm ª l º = 0 tm Gambar 2. a tm ª l º Untuk P di C GP R A.M) P = 1 ton berjalan dari A ke B x = variabel yang bergerak dari A ke B sesuai posisi P.P.

t !  tm 3 63 P antara A-D 4 tm 3 GP. DBkn Jawab : GP.4 GP. 2 = .R B 1 t 3 2 3 + GP.R A.R A .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -36- 3.RA + P B C Diketahui : Balok ABC diatas 2 perletakan A dan B Ditanya : Gambar Garis Pengaruh R A. 4 tm l Untuk P di A x = 0 MD = 0 Untuk P di D x = 2 m 2. Contoh lain x D A 2 m l=6 m GP. RB.M D + GP. DD.R B + 1t 4 3 Untuk P di A Untuk P di B Untuk P di C 8 8 ! ! RB = l 6 x=0 x=l x=8 4 ton 3 2/3 ton GP.R A : 7 MB = 0 - l 1= 2 m RA = lx ton l 1t 1/3 t Untuk P di A x = 0 RA = 1 ton Untuk P di B x = l RA = 0 Untuk P di C x = 8 1 l 8 68 2 RA = ! !  ton ! ton 3 l 6 6 GP.R B.DD - 1 t 3 GP. M A = 0 RB = x ton lt RB = 0 RB = 1 ton GP.2 l Untuk P di D x = 2m 4 l 2 62 . MD lihat kanan bagian x M D = RB . M D.R B : 7 . 4 = .2 ! tm .4 4 MD = ! tm 6 3 P antara D-C lihat bagian l x M D = RA .2 - GP.2 ! MD = 3 l 6 Untuk P di B x = 8 m 2 68 MD = .

46.RB = P di A P di D lihat kanan bagian x ton l x = 0 DD = 0 x = 2 DD = -2/6 ton = -1/3 ton lihat kiri bagian P antara D-C D D = RA = P di D P di B P di C l x ton l DD = x=2 x=6m x=8m 62 2 ! ton 6 3 DD = 0 DD = 68 1 !  ton 6 3 Bkn GP.DBkn P antara A ƛ B DBkn = 0 GP. Gambar knmacam-macam garis x=0 x = 2m MB = 0 M B = -2 tm lihat kanan bagian lihat kanan bagian .R B GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -37- GP.DD P antara A-D D D = .MB 2 tm GP.D Bkn 1t + P antara B ƛ C DBkn = P = 1 ton lihat kanan bagian lihat kanan bagian GP.M B P antara A ƛ B MB = 0 x P antara B ƛ C M B = -x tm P di B P di C Gambar 2.DBkr C P antara A-Bkr DBkr = .R A 1/3 t P antara B-C DBkr = + RA lihat kiri bagian GP.RB lihat kanan bagian Bkr A B GP.DBkr 1t GP.

GPD I. 4t DI (+) max. max. 3m berjalan.4. Soal 2 A 3m berjalan. GPRB. LATIHAN Soal 1 berjalan P ¨ 1 t bejana A B I RA 3m 5m RB a) Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC. M max. P2 = 2t berjalan P = 1 t ©   I RA 4m 5m B RB 3m C Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC. . DI (-) max. MI max. ditanyakan GP R A.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -38- 2. GP D I. MI max.7. ditanyakan GPR A. GP MI a) Bila beban Ditanya. GPMI b) Bila beban P1 = Ditanya. GP RB. RB max.

o Beban yang dipakai untuk garis pengaruh adalah satu satuan muatan (ton atau kg atau Newton). Rangkuman o Garis pengaruh adalah : garis yang menunjukkan besarn ya reaksi atau gaya-gaya dalam disuatu titik. Max.5.3 ton MI max.7. akibat muatan berjalan sebesar 1 ton. 2. = + 5.5 ton D I (+) max.7. mahasiswa bisa melihat hasil jawaban sebagai berikut : Jawaban soal no.6.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -39- 2. = + 9 tm Mmax. = + 3. Penutup o Untuk mengukur prestasi.1875 tm . = + 9. 1 Keterangan RA RB DI P = 1 ton di titik A B A B A I kiri I kanan MI A B I Nilai 1 ton 0 0 1 ton 0 3 t 8 5 8 0 0 15 tm 8 Tanda/arah + o + + o + RA max.

MI max. 2. ƏStatika IƐ. Bab I.4 tm 1.18 tm Nilai 1 ton 0 0.3 ton 0 0. ITB.3 ton 0 1 ton 1.7.7. - Suwarno. UGM Bab I.175 ton = + 9.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -40- Jawaban soal no.Garis pengaruh - Beban berjalan . Daftar Pustaka .3 ton 0 0 2.Soemono.8. Senarai . 2 Keterangan RA P = 1 ton di titik A B C A B C A I kiri I kanan B C A B I C A B C = + 5. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ .2 tm 0 0 3 TM Tanda/arah + + + + o o o o RB DI MI + - MB - RB max.4 ton 0. 2.6 ton 0 0.7.

Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa diharapkan bisa mengerti dengan seksama tentang pengertian balok gerber.1. ( yang mempunyai lebar > 100 m ). perletakan di C ada 1 reaksi (karena C = rol) yaitu R . sehingga mempunyai perletakan > 2 buah. B = rol dan C = rol. Untuk mengatasi penyeberangan sungai penampang cukup besar (>100m) ( ) maka dibuatlah suatu jembatan yang berbentang lebih dari satu. 3. syarat -syarat yang diperlukan untuk menyelesaikan dan mahasiswa bisa menggambarkan bidang -bidang gaya dalam balok tersebut. Kalau di perletakan A terdapat 2 reaksi (karena A = sendi) yaitu R AH dan R AV. Pendahuluan Didalam kenyataan se -hari-hari jarang dijumpai jembatan y ang berbentang Satu.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -41- MODUL : 3 : ARTI BALOK GERBER DAN CARA PENYELESAINNYA 3. a).1. yaitu 3 buah dimana A = sendi. A B Jembatan berbentang satu Kalau dilihat pada gambar b. perletakan di B terdapat 1 reaksi (karena B = rol) yaitu R BV. Judul : BALOK GERBER Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca materi ini diharapkan mahasiswa mengerti apa arti balok gerber serta mengetahui bagaimana cara menyelesaikan struktur tersebut. maka jumlah . perletakan dari jembatan tersebut > 2 buah.

7H = 0. 7M = 0. RAH. Skema balok gerber 3.1. 7 M = 0) berarti untuk bisa menyelesaikan struktur jembatan (b) masih memerlukan 1 buah persamaan baru lagi. RBV. 7H = 0.2. Definisi Balok Gerber Dengan uraian seperti dalam pendahuluan. RBV. maka bisa didefinisikan bahwa : .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -42- b). A B C Jembatan berbentang lebih dari satu Gambar 3. RCV dengan 4 buah persamaan yaitu 7V = 0.2. supaya bilangan yang tidak diketahui yaitu RAV. Dalam kondisi tersebut konstruksi masih tertentu.1. Kalau 1 (satu) persamaan baru tadi bisa disediakan maka syarat syarat keseimbangan masih bisa dipakai untuk menyelesaikan konstruksi jembatan (b) tersebut (4 buah bilangan yang dicari yaitu R AV. 7H = 0. Jika 1 (satu) persamaan baru tersebut dengan memberikan 1 buah perletakan baru di D yang berbentuk sendi. karena masih bisa diselesaikan dengan statis syarat -syarat keseimbangan dan konstruksinya dinamakan dengan konstruksi balok gerber. Macam-macam bentang jembatan Jika dalam persamaan keseimbangan hanya punya 3 buah ( 7V = 0. maka persamaan baru tersebut adalah 7 M D = 0 Sedang titik D tersebut disebu t dengan sendi gerber A B D C Sendi gerber Gambar 3. RCV bisa didapat sedang untuk konstruksi statis tertentu persamaan yang tersedia hanya 3 buah yiatu 7 V = 0. dalam keadaan tersebut konstruksi jembatan (b) disebut dengan kontruksi statis tidak tertentu . RAH. 7M = 0 dan 1 (satu) persamaan baru).

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -43- Konstruksi balok gerber : adalah suatu konstruksi balok jembatan yang mempunyai jumlah reaksi perletakan > 3 buah. namun masih bisa diselesaikan dengan syarat syarat keseimbangan. .

dimana ada 2 reaksi yaitu R AV dan R AH. 7M = 0 dan 7MD = 0) = jumlah persamaan (yaitu R AV. 7 H = 0. 7H = 0 dan 7M = 0 1 (satu) buah persamaan baru yaitu 7 M D = 0 Jadi jumlah persamaan ada 4 (empat) buah yaitu 7V = 0. disebut dengan konstruksi balok ge rber. RAH. 7 H = 0. 7M = 0 dan 7M D = 0. Kondisi kontruksi tersebut adalah : Jumlah bilangan yang tidak diketahui = jumlah persamaan yang ada ( 7V = 0. RBV dan R CV) = jumlah bilangan yang dicari Maka konstruksi tersebut. R . C = rol. yang masih statis tertentu. R . . dimana ada 1 reaksi yaitu R BV.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -44- Contoh : Sendi gerber RAH A RAV B RBV D C RCV Suatu konstruksi balok gerber ABC dengan perletakan : A = sendi. R dan Persamaan yang tersedia adalah : 3 (tiga) buah persamaan syarat keseimbangan yaitu 7V = 0. dimana ada 1 reaksi yaitu R CV Jadi jumlah reaksi adalah 4 buah yaitu. B = rol.

Sendi gerber D A RAH B C R AV RB RC Detail perletakan D (sendi gerber) Gambar 3.3. Bentuk Sendi Gerber Kalau balok gerber tersebut adalah dibuat dari balok beton. Detail sendi gerber .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -45- 3. maka bentuk konstruksi gerber tersebut seperti pada gambar.1.3.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -46- A RAH RAV B D C RBV RCV A RAH RAV B D C RCV RBV atau D RDH RDV C R CV A RAH RAV B RDV D RDH R BV Gambar 3.4. Skema pemisahan balo k gerber Catatan : Reaksi di balok DC menjadi (beban) pada balok AB. 3. Jadi kalau diuraikan balok gerber ABC tersebut merupakan gabungan dari 2 balok statis tertentu DC dan ABD.4.1. Menentukan letak sendi gerber beban = q kg/mƞ C B A . dimana balok DC tertumpu di balok AB.

1. dimana di titik D dibuat sendi gerber dengan persamaan baru 7M D = 0. Balok statis tak tentu dan skema bidang momennya Jika dalam balok ABC. Penentuan sendi gerber yang tak mungkin C D B C Gambar a 1 dimana balok AD terletak di atas balok DBC. Apakah mungkin ? Perhatikan . sendi gerber belum ada. maka alangkah tepatnya jika untuk menentukan posisi di titik D dicari tempat-tempat yang momennya Dalam hal seperti tersebut diatas. maka gambarnya adalah seperti pada 1 A a2 D A a3 B TIDAK MUN GKIN Gambar 3. maka konstruksinya masih statis tak tertentu. sehingga struktur bisa diselesaikan.2. Bagaimana cara mencari bidang momen (bidang M) tersebut.5. D B C Cara memilih : alternatif (1). jadi untuk sementara diterima saja. Kalau dilihat dari sub bab 3. balok tersebut jika disederhanakan Gambar a 2. dan jika diberi beban terbagi rata sebesar q kg/mƞ.6.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -47- Gambar 3. alternatif tempat dimana momennya sama dengan nol adalah titik 1 dan 2 yang posisinya di kiri dan kanan perletakan B. maka kita cukup memilih salah sa tu dari 2 (dua) alternatif tersebut sendi gerber diatas. Karena kita hanya membutuhkan 1 (satu) buah persamaan baru. maka gambar bidang momennya (bidang M) seperti gambar dibawahnya. untuk mahasiswa semester I belum bisa mengerjakan. jika kita a1 A 1 memilih titik (1) sebagai sendi gerber. akan dan seperti jika pada diuraikan strukturnya akan seperti pada gambar a 3.

perletakan A = sendi. sedang Jumlah letak reaksi adalah 3 (tiga). RDH). perletakan C = rol dengan 1(satu) buah reaksi (R CV).7. perletakan A = sendi dengan 2 reaksi (R AV. perletakan B = rol dengan 1 buah reaksi (R BV). Perletakan D = Gambar 3. sehingga strukturnya adalah statis tidak tertentu. balok tersebut jika akan gambarnya disederhanakan seperti pada gambar (b 2). Balok gerber dan cara pemisahannya sendi mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu R DV dan R DH.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -48- Lihat balok AD. mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu R AH dan R AV. . jadi konstruksi balok ABD masih statis tertentu. D b1 2 A B A RDH D RDV b3 A B D RDH C B C b2 sendiC gerber Jika yang sebagai dipilih adalah titik (2) sendi gerber. maka struktur balok DBC tidak stabil sendi gerber adalah tidak Alternatif 2 mungkin . Perhatikan balok DC yag terletak diatas balok ABD. y Jadi pemilihan titik (2) sebagai sen di gerber adalah mungkin . sehingga jumlah reaksi hanya ada 2 (dua) buah. Perhatikan balok DBC. maka konstruksi balok DC adalah statis tertentu y Perhatikan balok ABD. maka gambarnya adalah seperti gambar (b1) dimana balok DC terletak diatas balok ABD. sehingga jumlah reaksi ada 4 (empat) buah. RAH) perletakan D = sendi dengan 2 reaksi (R DV. dan jika diuraikan strukturnya ak an menjadi seperti pada gambar (b 3) apakah mungkin ?. Jumlah total reaksi adalah 3 (tiga) buah. karena kedua perletakan B dan C adalah rol. mempunyai 1 (satu) reaksi yaitu RBV. perletak B = rol.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -49- .

5. b2 Jika konstruksinya (a). Skema penyelesaian balok gerber Tinjauan gambar b 1 dan b2 . gambar (b) terdiri dari gambar (b 1) dan (b 2). maka b1 1 A B D A B RD RD yang perlu dikerjakan pertama adalah memisahkan balok tersebut C menjadi beberapa konstruksi balok statis tertentu. Mekanisme Penyelesaian Balok Gerber A B D C Jika D ada suatu konstruksi balok a gerber seperti pada gambar a.8. demikian juga gambar (c) D RD C2 A B C1 dan C2 mungkin RD C Gambar 3.1. seperti kita pada bisa gambar maka konstruksi memisahkan C menjadi tersebut b1 dan b 2 C1 A B tidak D C konstruksi tersebut konstruksi beberapa seperti dimana beberapa menjadi statis tertentu pada gambar (b) atau (c).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -50- 3.

sehingga reaksi R D dari balok ABD akan menjadi beban (aksi) pada titik D balok DC. Jadi alternatif (C) adalah mungkin. (ada 2 reaksi). perletakan C = rol (ada 1 reaksi) total jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah. Perhatikan struktur balok ABD (gambar b2). dan jika diuraikan strukturnya akan menjadi seperti pada gambar (C2). Perhatikan struktur balok DC gambar (C2). sehingga reaksi RD dari balok DC akan menjadi beban (aksi) pada titik D balok ABD. dimana titik D dari balok DC menumpu pada titik D balok ABD. per letakan A = sendi (ada 2 reaksi). perletakan. perletakan B = rol (ada 1 reaksi). . Jadi total perletakan balok ABD ada 5 (lima) buah. Jadi balok ABD adalah balok statis tertentu juga.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -51- Titik D dari balok ABD (gambar (b1) menumpu pada titik D pada balok DC. jadi tidak ada reaksi. titik D = be bas (tak mempunyai tumpuan). Dalam kondisi seperti tersebut diatas balok DC merupakan balok yang tidak stabil atau labil. Perhatikan balok DC (gambar b2). Tinjauan gambar (c1) dan (2) Titik D dari balok DC (gambar (C1) menumpu pada titik D balok ABD. perletakan A = sendi (ada 2 reaksi). Sehingga alternatif (b) adalah tidak mungkin . perletakan D = sendi (ada 2 reaksi). jadi balok ABD merupakan balok statis tidak tertentu. perletakan B = rol (ada 1 reaksi) jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah. dimana titik D pada balok ABD menumpu pada titik D balok DC. Jadi balok DC adalah balok statis tertentu Perhatikan struktur balok ABD (gambar (C2)). dan jika dijabarkan (diuraikan) strukturnya akan menjadi seperti gambar (b2). jadi jumlah total reaksi hanya ada 1 buah yaitu R CV di C. c = rol (ada 1 reaksi). perletakan D = sendi.

maka balok AB bisa diselesaikan. Penggambaran bidang M.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -52- Tahapan Penyelesaian q D a A B Sendi gerber P Kalau kita mempunyai balok gerber ABC seperti pada gambar (a).9. maka tahapan pengerjaannya adalah sebagai berikut : y Balok DC dikerjakan dulu sehingga menemukan R D dan R C. D balok gerber merupakan penggabungan dari bidang M. N. Dengan beban yang ada (q) dan beban R D. N. Bidang-bidang gaya dalam (M. yang kemudian diuraikan seperti pada gambar (b). Skema pemisahan balok gerber . N. D) bisa diselesaikan sendiri-sendiri pada balok DC dan AB. D dari masing-masing C P D C y q b RD RD D A B y RC y y Gambar 3. Reaksi R D dari balok DC akan menjadi beban di titik D dan balok ABD.

D + - Balok S B C (mencari RB dan R C) 7 MC = 0 RB.667 m 7 MA = 0 RS.6. Contoh Soal P=4t (a) A S 1m B q = 2t /mƞ C Suatu struktur balok gerber ABC dengan beban seperti pada gambar. M 2.6 ƛ RS. D.6.6. B = sendi S = sendi gerber Beban P = 4 ton.0287 tm + 2 Balok A-S (mencari RA dan RS) t 3 7 MS = 0 RA. N. 4 ƛ P. Gambar-gambar gaya Bidang Momen (M) dalam balok gerber 34 ! 5 2 / 3t 6 .6.33t 3t + 1t BID.8 ƛ 2.3 = 0 RC.6.2 ƛ 2.6 + RS.8 ƛ q. 4 ƛ P.3 = 0 RC.1 ! ! 1t 4 4 Reaksi Rs = 1t akan menjadi beban di titik S pada balok S B C (gambar (b)) 6.1 = 0 RS = P.1 4.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -53- 3. N Gambar 3. .3 4. x (b) A P=4t S Rs = x1 Rs S B 3 tm + R B = 7 1/3 t 2 tm RC = 5 Jawab: Struktur balok gerber seperti pada gambar (a) kalau diuraikan akan menjadi struktur seperti pada gambar 2 t/mƞ x2 C (b).6 ƛ 1.10.2 ƛ q. dan beban terbagi rata q = 2 4m 2m 6m t/mƞ dari B ke C.6 + 1.3 = 0 RA. Ditanya : Gambar bidang M. Balok AS harus diselesaikan lebih dahulu.3 ! ! 3t 4 4 BID. baru selanjutnya reaksi Rs dari balok As menjadi beban / aksi ke balok SBC RA = 3t (c) - 8.3 = 0 2 5 t 1 44 3 RB = t!7 t 3 6 7 MB = 0 RB. dengan jarak 1 m dari A.833 m 5.3 = 0 BID.= P. A = rol C = rol .

667 x 2 . 2.x-P (x-1) = 3.x1 = .667 x 2 ƛ x22 = 0 X2 (5.02589 = 8.x = 3.2.x ƛ 4 (x-1) x=1 x=4 MP = 3 tm MS = 0 Balok SBC Daerah S B (dari kiri) Mx1 = .833 m (lokasi dimana terletak M max M x2 max =5.x (linear) x=0 x=1 MA = 0 MP = 3 tm (momen dibawah P) S Daerah P Mx = RA.q x2² (parabola) 2 1 .x1 (linear) = -x1 x1 = 0 x2 = 2 Ms = 0 MB = -2 tm B (dari kanan) 1 .833)² = 16.Rs.833 ƛ (2.667 m ( Letak dimana momen = 0 ) Bidang D ( GAYA LINTAN G ) .x2² 2 Daerah C Mx2 = Rc.0546 ƛ 8. Mencari titik dimana momen = 0 M x =5.1.0287 tm.x2 - Mx2 = 5.667.667.667-x2 ) = 0 x2 =5.x2² Mencari M max dMx 2 =0 dx 2 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -54- Balok A-S Daerah A P (P = letak beban P = 4t) Mx = RA.667 ƛ 2 x2 = 0 = x2 = 2.x 2 - = 5.

5.Rc + q .667 + 2.667 + 2 .6.1.667 + 2X 2 = 0 X2 = 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -55- Balok A-S Daerah A P ( dari Kiri ) D2 = + Ra = + 3 + ( Konstan ) Daerah P S ( Dari kiri ) Dx = + R a .Rs = -1 t (Konstan) Daerah C B (Dari Kanan) Dx2 = . Latihan .833 m M max ) (Letak D = 0 sama dengan letak Bidang N ( Normal ) Bidang N tidak ada 3.5.333 t Mencari titik dimana D = 0 -5.6 = + 6.667 t Dbkn = -5. x 2 2 = .P = 3 ƛ 4 = -1 t (Konstan ) Balok S Ɗ B C Daerah S B ( Dari Kiri ) Dx = . x (Linieair) X2 = 0 X2 = 6 Dc = .

Gambar : bidang-bidang gaya dalamnya (Bidang M. o Tahap awal penyelesaiannya adalah : balok tersebu t harus diuraikan lebih dahulu.8.Suatu balok yang mempunyai jumlah reaksi lebih besar dari 3 buah. B = rol C = rol. dan di sendi gerber ditentukan daerah bagian balok tertumpu . Gambar : bidang. Atau .bidang 3.1. S = sendi gerber Beban : P = 5t. B = rol S = sendi gerber Beban P = 5 2 t dengan sudut 45° terletak di tengah bentang SB. D) Suatu balok gerber dengan 1). A 2 m 5m 2 m 4m 2). S A 2m 3m P=5 2t 45° B 3m beban dan struktur seperti pada gambar dengan perletakan : A = jepit. P = 5t S B q = 2t/mƞ C Suatu balok gerber dengan beban dan struktur seperti gambar. Rangkuman o Balok gerber adalah : . maka perlu diadakan (diberi) suatu latihan . dengan perletakan A = sendi.Rangkaian dari beberapa balok statis tertentu. tapi masih bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -56- Dalam mempraktekan teori ƛ teori yang ada di depan ( bagian sebelumnya ). 2m dari A q = 2t/mƞ sepanjang bentang SC. N.

o Gambar bidang gaya dalamnya adalah merupakan gabungan dari masing-masing balok tersebut.4 ton 3. o Balok yang salah satu perletakannya tertumpu (menumpang) diselesaikan terlebih dahulu. Penutup Untuk mengukur prestasi.6 ton 4 ton 4 ton - Tanda (-) (+) (-) (+) (-) - .4 ton 7. Soal No. mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban dari soal-soal tersebut diatas sebagai kontrol.6 ton 4 ton 4 ton Arah o o o o Reaksi B S C Keterangan Momen (M) Gaya Lintang (D) Gaya Normal (N) Titik A B S C A B kiri B kanan C - Harga 0 8 tm 0 0 1. 1 Keterangan Titik A Harga 1. 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -57- mana yang terletak diatas (tertumpu) dan mana yang menumpu ( ) o Penyelesaiannya dilakukan secara bertahap dari masing -masing balok tersebut.1.9.

Soemono ƏStatika IƐ ITB bab V 2. Daftar Pustaka 1.5 tm 0 2.1. Senarai : Sendi Gerber : tempat penggabu ngan balok satu dengan balok lainnya. 3. Suwarno. Garis Pengaruh Balok Gerber .1.5 ton 5 ton 5 ton 5 ton (+) (-) (-) (-) (-) (+) (-) Tanda 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -58- Soal 2 Keterangan Titik AV Reaksi AH MA S B A Momen (M) S di P B Gaya Lintang (D) A B A Gaya Normal (N) S P kiri Harga 2.5 ton 5 ton 5 tm 2.5 ton 5 tm 0 7.5 ton 2.10. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM bab V-4 3.5 ton 2.2.11.

reaksi di S (Rs) dan reaksi di C (Rc) semuanya ada (Gambar c). o Kalau ada muatan berjalan diatas ABS maka reaksi di S (R S) dan reaksi di C (Rc) tidak ada (Gambar d). jika ada muatan yang berjalan diatas balok gerber tersebut. Reaksi perletakan pada balok gerber dengan muatan berjalan diatas . reaksi ada di B (R B).1. Pengertian dasar dan definisinya sama dengan garis pengaruh balok diatas 2 perletakan. Pendahuluan Seperti halnya balok diatas 2 perletakan. Standart beban yang dipakai juga sama yaitu muatan berjalan dengan beban P = 1 t on atau satu satuan beban.11.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -59- 3. o Dalam gambar sebelah o Balok SC yang disangga RS RS (b ) A RA B P RB RS RS (c ) RA ada P (d ) RA ada tidak ada reaksi RB ada tidak ada reaksi R B ada RC o Balok ABS yang menyangga. 3. atau gaya momen (M) atau gaya lintang (D) atau gaya normal (N).2. RC ada o Namun jika ada muatan berjalan diatas balok S-C maka reaksi di A (R A). maka untuk balok gerber inipun kita harus mencari besarnya reaksi.2.2. Gambar 3. Prinsip Dasar Yang perlu diperhatikan dalam membuat garis pengaruh balok gerber adalah : (a ) A B S C o Harus bisa memisahkan balok yang mana yang disangga dan yang mana yang menyangga.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-60-

Contoh
Balok gerber seperti pada gambar Cari garis pengaruh reaksi -reaksinya P=1 x1 x P=1t t A l
1

GP.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) P berjalan dari A ke S x = variable bergerak sesuai posisi P dari A ke C 7 Ms = 0 P (l1  x ) l1  x RA = ton ! l1 l1 Untuk P di A x = 0 RA = 1 ton Untuk P di S x = l1 RA = 0 P dari S ke C RA tidak ada pengaruh terhadap

S

B l
2

C

a

A

S

RS RS B C

GP.R S (Garis Pengaruh Reaksi di S) GP.R A 1t + P dari A Rs = ke S

Px x ! l1 l1

GP.R S +

P di A x = 0 Rs = 0 P di S x = l1 RS = 1t P dari S ke C tidak ada pengaruh untuk reaksi di S (Rs)

GP.R B (Garis Pengaruh Reaksi di B) x1 variabel bergerak dari C ke A sesuai

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-61-

1t

GP.R B

1t

P= 1t x1

+

¨ l2  a ¸ © ¹ © l ¹ ª 2 º A S B C GP.Rc (Garis Pengaruh Reaksi di C) P berjalan dari C ke S l  x1 Rc = 2 t l2 P di C x1 = 0 x1 + a/l
2

GP. Rc

P = 1t

Rc = 1t Rc = 0

P di B P di S

x 1 = l2 Rc =

1t

Rs . a a karena ! l2 l2

(Rs = 1t) P di A Rs = 0 Rc = 0

Gambar 3.12. Garis pengaruh reaksi (RA; Rs; RB dan Rc) Jika potongan I -I antara : A3 Jika potongan II-II antara : BC b x A P I I l1 A Rs B S a B II II l2 C c d

cari garis pengaruh D I-I dan M I-I cari garis pengaruh D II-II dan M II-II e GARIS PEN GARUH D DAN M G.P.DI-I (Garis Pengaruh Gaya Lintang di potongan I -I) P berjalan di kiri potongan I -I (perhitungan dari kanan potongan) DI = - Rs (dari kanan)

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-62-

Gambar 3.13. Garis pengaruh D I-I dan M I-I

G.P.MI-I (Garis Pengaruh Momen di Potongan I-I) P berjalan di kiri potongan I -I (perhitungan dari kanan) M I = Rs . c = Untuk P di A Untuk P di I-I x Px .c .c ! l t1 l t1 x=0 x=b MI = 0 MI = b.c l1

P berjalan di kanan potongan (perhitungan dari kiri) l x M I = RA . b = 1 .b l1 Untuk P di I-I x=b

l b c.b MI = 1 .b ! l1 l1

Jika P berjalan dari S ke C tidak ada M I x A l1 P S B d II II a l2 e C G.P. D II-II (Garis Pengaruh Gaya Lintang di potongan II -II) P berjalan dari A ke P otongan II (perhitungan kanan potongan II) DII = - Rc (sama dengan g.p. Rc)

A

S

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-63-

Sama dengan g.p. Rc

Sama dengan g.p. RB G.P. M II-II (Garis Pengaruh Momen di potongan II-II) P berjalan dari A ke II (perhitungan dari kanan potongan) MII = Rc . e (sama dengan GP.Rc x e) Untuk P di S Rs = 1t Rc = a l2

a/l2. b + d/ l2 . e

g.p. Rc.e

g.p. R B.d M II = -

a l2

.e

Gambar 3.14. Garis pengaruh D II-II dan M II-II P berjalan dari II ke C (perhitungan dari kiri) M II = RB . d Untuk P di II RB = M II =
e l2
e l2 dtm e l2 d

Untuk P di II

Rc =

d l2 M II = -

d .e l2

q dx Mc = ´ y.a.Dc y1ƞ y2ƞ + y3ƞ y4ƞ Dc = -P1ƞ y1ƞ + P 2ƞ y2ƞ + P 3ƞ y3ƞ + P4ƞ y4ƞ Dc = q F Beban terbagi rata Dc = q F . MEN CARI HARGA MOMEN DAN GAYA LIN TAN G DEN GAN GARIS PEN GARUH Jika ada suatu rangkaian muatan atau muatan terbagi rata berjalan diatas gelagar berapa momen maximum di titik C dan berapa gaya lintang maximum di titik C.qdx ! q ´ y dx Mc = 7 P.y GP.3.b l y3 y 1 y4 ƞ y2 y3 B Untuk muatan terbagi rata = q t/mƞ q t/mƞ d Mc = y.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -64- 3.Mc + ´ y dx ! luas bagian yang diarsir ! F Mc = q F Luas = F y P 1ƞ P2 ƞ P 3ƞ P 4ƞ q dx = muatan q sejarak dx.2.Mc y2 C dx P. A C B Mencari harga Mc a b l Kondisi muatan seperti pada 1) Mc = P1 y1 + P 2 y2 + P3 y3 * P P2 P3 1 Kondisi muatan seperti pada 2) 1) Mc = P1ƞ y1ƞ + P2ƞ y2ƞ + P3ƞ y3ƞ + P4ƞ * y4 ƞ P4ƞ 2) P 1ƞ P2ƞ P3ƞ y1 ƞ A GP. dimana dx 0 (mendekati 0) y = ordinat dibawah dx Mencari harga Dc Untuk beban titik GP.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -65- q t/mƞ Luas = F + - GP.15.Dc Gambar 3. Mencari gaya lintang (D) dan momen (M) dengan garis pengaruh .

Pendahuluan Pada kenyataannya. . Dalam kondisi tersebut kita tetap harus mencari berapa nilai momen maximum di suatu tempat pada gelagar tersebut. Misal : Suatu gelagar muatan P1 P2 A C a l b P3 P4 P5 P6 B Suatu gelagar Jembatan Gambar 3. Mencari Momen Maximum di Suatu Titik Pada Gelagar 3. ada yang lewat sendirian atau merupakan suatu rangkaian muatan.4. muatan yang melewati suatu jembatan adalah tidak menentu. Muatan berjalan diatas gelagar Berapa momen maximum yang terjadi di titik C jika ada suatu rangkaian muatan seperti pada gambar tersebut melewati jembatan seperti pada gambar. 3.1. Prinsip dasar perhitungan .2.Untuk mencari nilai maximum tersebut perlu memakai ga ris pengaruh dari gaya dalam yang dicari sebagai perantaranya.Untuk mencari nilai momen maximum di suatu untuk didalam gelagar maka kita perlu mencari posisi dimana muatan tersebut berada yang menyebabkan momen di titik tersebut maximum.2.4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -66- 3.4. .16.2.2.

Mc y4 y5 Pada posisi awal.c) Mencari Mc max untuk rangkaian muatan berjalan (dari kiri k e kanan) Jarak rangkaian muatan constant (tetap) = posisi awal . Contoh Mencari Momen Maximum Pada Gelagar Ada suatu balok terletak diatas 2 perletakan seperti pada Gambar. jika ada rangkaian muatan yang berjalan diatasnya berapa Mc maximum yang terjadi.17.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -67- . ordinat garis pengaruh dinyatakan dengan y 1 s/d yS. (x P1 P 1ƞ P P 2ƞ P3 P3ƞ P4 P4ƞ P5 P5ƞ 2 Jawab : A (c) l l (x y 1ƞ y1 y2 y3 C1 yƞ yƞ yơ y4 + P5 y 5 Gambar 3.Kemudian nilai maximum tersebut didapat dengan cara mengalikan antara beban yang terletak diatas gelagar dengan ordinat dari garis pengaruh yang dipakai. atau Mc = 7 Py = P 1 y1 + P 2 y 2 + P 3 y 3 + P 4 y2 ƞ y 3ƞ y4 ƞ y5 ƞ = posisi kedua r B C (l. Perpindahan ordinat untuk muatan berjalan yơ GP.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -68- Muatan bergerak ke kanan sejauh (x.c1 ? l c À °c ql qr ql = jumlah beban rata -rata di sebelah kiri titik C qr = jumlah beban rata -rata di sebelah kanan titik C Jika q l > qr ( M positif ql = Jika muatan bergeser terus ke kanan sehingga P2 melampaui C P1 C . c1 c (x .bagian kiri titik C dan . c1 ( l  c) Perbedaan nilai momen ( (M) dari perpindahan posisi beban adalah sebagai berikut : ( Mc = P1 yƞ + P2 yƞ ƛ P3 yơ ƛ P4 yơ ƛ P5 yơ = (P1 + P2) yƞ .c1 ¹  § Pr © .c1 ¯  ql  qr A ¿ ! (x.(P3 + P4 + P5) yơ + P5) = 7 Pr jika (P1 + P2) = 7 Pl dan (P3 + P4 ¨ (x ¸ ¨ (x ¸ = 7 Pl © .c1 ¹ c l c  ª º ª º § Pl § Pr ¾ ® ( x.bagian kanan titik C Di kiri titik C ordinat bertambah yƞ dan Di kanan titik C ordinat berkurang yơ yƞ = yơ = (x . dimana ordinat garis pengaruh dinyatakan dengan y 1ƞ s/d y5ƞ dan Mc = 7 Pyƞ (dalam hal ini y berubah menjadi yƞ) Jika ditinjau 2 bagian : .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -69- ql menjadi kecil sehingga q l < qr ( M negatif (pergerakan P2 dari kiri C ke kanan C menjadikan tanda ( M dari positif ke negatif) Jadi Mmax terjadi jika P2 diatas C. 12. 23.18. 23. dan 01 (dengan skala) .di ujung bagian kanan (Bƞ) buat muatan tumpukan beban dari 45. maka bisa diperkirakan secara grafik sebagai berikut : Gelagar diatas 2 perletakan A -B.12. Posisi beban terbagi rata untuk Mencari M maximum kiri kana n Mmax terjadi jika psosisi beb an tota l q l = qr = q s Mencari perkiraan posisi beban dalam mencari momen max supaya beban di kiri dan di kanan potongan seimbang. .34 dan 45 Cara : buat garis AB dibawah gelagar.Tarik dari titik 0 (ujung dari beban 01) ke ujung garis bagian kiri (Aƞ) sehingga membentuk sudut ( E) . 34. digunakan rangkaian muatan berjalan dengan nomor urut 01. M max terjadi jika salah satu muatan di atas potongan sehingga § Pl Pr !§ atau C l c ql = qr Mmax di suatu titik untuk muatan terbagi rata a b Untuk muatan terbagi rata Mc max terjadi jika : q l = qr B a b ab ! ! c (l  c) l A C c (l ƛ c) ql qr qs Gambar 3.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -70- . . * Bagaimana posisi beban untuk mendapatkan momen di potongan II maximum.Dengan cara yang sama. . sampai memotong garis Aƞ -Bƞ di Iƞ.Jadi M I akan maximum jika beban 01 terletak di atas potongan I. °1 12 23 34 45 Mmax terjadi jika q l = qr = qs = tg E B tg E! 01  12  23  34  45  l A I II l III IV 0 1 2 3 4 E Aƞ 5 .Kalau kita mau mencari dimana letak beban yang mengakibatkan momen di potongan I maksimum. tarik garis dari potongan II ke bawah sampai pada garis Aƞ-Bƞ dan memotong di potongan IIƞ. . . yaitu dengan menarik garis dari potongan I kebawah.Jadi M II akan maximum jika beban 12 terletak diatas potongan II. .Dari titik IIƞ ditarik garis // (sejajar) dengan Aƞ ƛ O dan memotong tumpukan muatan di beban 12.Tarik dari titik Iƞ sejajar (//) dengan garis Aƞ0 dan garis tersebut akan memotong tumpukan muatan di beban 01.

Pendahuluan Mencari momen maximum maximorum ini berbeda dengan mencari momen maximum di suatu titik pada gelagar. . Mencari Momen Maximum Maximorum di Suat u Gelagar 3. serta posisi beban yang menyebabkan terjadinya momen maximum harus dicari. Jadi dalam hal ini-: dicari !!. Mencari posisi muatan untuk mendapatkan Mmax dengan cara grafis M I max terjadi jika muatan OI terletak diatas potongan I -I. M IV max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan atau mutan 45 terletak diatas potongan IV -IV dan diambil yang besar.5. . Jadi dalam hal ini titik letak dimana momen maximum terjadi. M II max terjadi jika muatan 12 terletak diatas potongan II -II.5.Letak posisi beban yang menyebabkan momen maximum.Letak posisi titik dimana momen maximum terjadi. . mencari momen maximum-maximorum di suatu gelagar ini posisi titiknya tidak tertentu.1. M III max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan III -III. 3.19.2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -71- Iƞ IIƞ IIIƞ IVƞ Bƞ Gambar 3.2.

b 7 MA = 0 1 _P3 . r P1 P2 P 4 P5 P3 (b ) RA R1 a x l Rt Rt b R2 7M di P 3 = 0 RB Rt.2. . a ƛ R2 .x  R1 ( x  a )  R 2 ( x  ba lt Momen dibawah P 3 dengan jarak x dari titik A RB = . Prinsip Dasar Perhitungan . P 3. P4.5.2. Jawab : R1 = resultante dari P 1 dan P 2 R2 = resultante dari P 3 dan P 4 Rt = resultante dari R 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -72- 3. Berapa dan dimana momen maximum-maximorumnnya ?. P5 r = jarak antara Rt dan P 3 a = jarak antara R 1 dan P 3 b = jarak antara R 2 dan P 3 b P1 P2 P3 P4 P5 R1 r R2 Rt a Rangkaian muatan terl etak diatas gelagar dan dimisalkan momen maximum terletak dibawah beban P 3 dengan jarak x dari perletakan A.Untuk mencari momen maximum -maximorum di suatu gelagar ini tidak bisa memakai garis pengaruh karena titik letak momen maximum terjadi harus dicari. Contoh 1 P1 (a ) A P2 P3 P4 P 5 B Suatu gelagar diatas 2 perletakan A ƛ B. R2 dan P3 atau resultante P 1. dan suatu rangkaian muatan dari P 1 s/d P5.r = R1 .Dalam mencari momen maximum -maximorum ini harus memakai persamaan. P2.

4. P1 (e A ) r ½ r½ r Mmax terjadi dibawah beban B P 1 M 1 max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 1.3.5). Rt .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -73- Rt M max terdapat dibawah P 4 = M4max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 4 Mextrem = Mmax ƛ maximorum adalah tengah-tengah momen yang terbesar diantara bentang Mmax (1.2.

1m 1m Cari besarnya momen maximum A B maximum maximorum.20. r ½ r Rt x=½l+½r M max terdapat dibawah P 2 = M 2 max P 1 P2 (g A ) r tengah bentang ½ r ½ r P 3 P4 P 5 B Mmax terjadi dibawah beban P5 M 5 max Dalam hal ini : r = jarak antara Rt dengan P 5 Rt x=½l+½r M max terdapat di bawah P 5 = M 5 Gambar 3. l = 10 Jawab : kondisi beban seperti pada gambar .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -74- ½r x ½ l M max terdapat dibawah P1 = M 1 max P1 (f) A tengahtengah B P2 P3 P4 P5 Mmax terjadi dibawah beban P2 M 2 max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 2. Posisi beban untuk kondisi Mmax 1 s/d M Suatu gelagar dengan bentang l = 10 max5 Contoh 2 m dan ada suatu rangkaian muatan P1=8 P2=6 P 3=6 berjalan dengan lebar seperti pada gambar.

45 r =1. Latihan : Garis pengaruh pada balok menerus dengan sendi-sendi gerber Soal 1 : P=1t berjalan 2m S A I B C Balok ABC dengan sendi gerber S seperti tergambar.2.1 + P3.2 = 20 .1 4. Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok. GP R C . GP R B.1 4. x x= B tengahtengah bentang P2 P3 B 4.x 6. ditanyakan : GP R A .1 + 6.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -75- Kondisi 1 Dimana M max dibawah P 1 tengah P1 A 5m x=½l+ r = 5½ + 0.2 = Rt.95 Rt Kondisi 3 Dimana M max dibawah P 3 P1 tengah-tengah bentang P1 P2 P3 P2 P3 B l-x Rt 4.45 Rt Gambar 3.55 8t 1m x 4t 1m 6t Rt Rt = P 1 + P2 + P 3= 20 ton Statis momen terhadap P 1 P 2.21.6.45 ½ Kondisi 2 Dimana M max dibawah P 2 P1 P2 P3 A 0. Posisi beban untuk mencari momen maximum maximorum 3.

3. GP DB kanan 2 2 b). P1=4 P2=4 P 3=2 t t t maximorum pada balok tersebut. Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok. ditanyakan : MI max . Rangkuman . RA 8m 2m a). ditanyakan. GP M B. Akibat rangkaian beban M max berjalan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -76- Soal 2 : 4m S1 A I B P = 1 t berjalan S2 C RB RC 6m 2m 6m D RD Balok ABCD dengan sendi gerber S 1 dan S 2 seperti tergambar. GP D I. GP R B. GP R A .2. GP R D GP M I. GP R C .7.

Penutup Untuk melihat prestasi mahasiswa dalam mengerjakan latihan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -77- . 1 Keterangan RA P =1t Titik A B S C A B S C A B S C N ilai 1t 0 1/3 t 0 0 1t 4/3 t 0 0 0 0 1t Tanda / Arah  o  q RB   o o RC  o . 3. maka bisa melihat jawaban soal sebagai berikut : Jawaban : Soal No.Sebelum mengerjakan garis pengaruh gaya -gaya dalam. karena dari garis pengaruh reaksi tersebut garis pengaruh gaya dalam mudah dikerjakan. harus tahu dulu bagaimana memisahkan balok terse but menjadi bagian bagian yang tertumpu dari bagian yang menumpu.8.2. perlu dibuat dulu garis pengaruh reaksi. .Untuk mengerjakan garis pengaruh balok gerber.

2 a).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -78- Lanjutan Jawaban Soal 1 Keterangan MI DI MB P =1t Titik A I B S C A I kiri I kanan B S C A B S C N ilai 0 1.667 tm 0 0 1/3 t 2/3 t 0 1/3 t 0 0 0 2 tm 0 Tanda / Arah       Soal N o.25 t 0 0 0 0 1t 1.333 t 1t 0 Tanda / Arah  o  q RB   o o RC   o o .333 tm 0 0. Keterangan RA P = 1 dititik A B S1 S2 C D A B S1 S2 C D A B S1 S2 C D Nilai 1t 0 0.25 t 0 0 0 0 0 0 1.

MI max = + 14 tm.333 t 0 1t 0 2 tm 0 1 tm 0 0 0 Tanda / Arah     q o Lanjutan Jawaban Soal 2 Keterangan DI MB DB kanan P =1t Titik A I kiri I kanan B S1 S2 C D A C S1 S2 C D A I kiri I kanan B S1 S2 C D N ilai 0 0.5 t 0 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -79- Keterangan RD MI P = 1 dititik A B S1 S2 C D A I B S1 S2 C D Nilai 0 0 0 0.5 t 0. pada saat P 2 terletak pada titik I .25 t 0 0 0 0 0 2 tm 0 0 0 0 0 1t 1t 0 0 0 Tanda / Arah      b).

10.9.Soemono.2. ITB.Suwarno.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -80- MI max maximum = + 14. Senarai Balok gerber = balok yang bisa dipisah -pisah menjadi beberapa konstruksi statis tertentu Sendi gerber = sendi yang dipakai sebagai penghubung antara balok satu dengan balok yang lain. . bab V . Daftar Pustaka . terjadi pada titik dibawah P 2 3. ƏStatika IƐ. UGM. bab V-4 3.2.05 tm. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -81- .

seperti pada gambar (b) yaitu jembatan balok dengan 2 bentang (perletakan di tengah Tapi bagaimana kalau kit a mendapatkan sungai dengan lebar yang cukup berarti dan dasar sungai juga cukup dalam. dan dasar sungainya tidak terlampau + 30 (b).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -82- MODUL 4 : PELENGKUNG DAN PORTAL 3 SENDI SERTA CARA PENYELESAIANNYA 4. dalam. sehingga sulit untuk membuat pilar di tengah -tengah jembatan ?. pada umumnya dipakai jembatan balok diatas 2 perletakan bias a seperti pada Gambar Untuk sungai yang mempunyai lebar cukup berarti misal : + 100 m. N. tapi dengan kondisi yang bagaimana ?. (a). a. (c).1.1.1. maka + 100 m Pilar dibuatlah jjembatan balok dengan beberapa bentang. serta bisa menggambarkan bidang gaya dalamnya (Bidang M. D) 4. . Pendahuluan Konstruksi pelengkung 3 sendi biasanya dipergunakan pada konstruksi jembatan. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah membaca materi ini mahasiswa salain mengerti apa arti struktur pelengkung 3 sendi. dan dasar sungainya tidak terlampau dalam. mengerti juga kapan struktur itu digunakan dan tahu cara menyelesaikan struktur tersebut. Judul : PELEN GKUN G 3 SEN DI Tujuan Pembelajaran Umum Dengan membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui apa itu arti struktur pelengkung 3 sendi dan tahu bagaimana menyelesaikan struktur tersebut. Untuk sungai yang lebarnya tidak besar missal : + 30.

struktur pelengkung tersebut. A VA HA HB VA B Gambar (a) Gambar 4. S = sendi yang terletak pada pelengkung tersebut sehingga struktur tersebut dinamakan struktur pelengkung 3 sendi atau struktur pelengkung yang mempunyai 3 buah sendi.2. Bermacam-macam bentuk jembatan 4. Penempatan Titik s (sendi) . Skema pelengkung 3 Jadi agar struktur tersebut bisa sendi diselesaikan secara statis tertentu.1. Perletakan A = sendi (ada 2 reaksi V A dan H A).2. S Pengertian Dasar Untuk menjaga kestabilan dari perletakan. Pengertian tentang Pelengkung 3 Sendi 4. 7 V = 0 dan 7 M = 0.1. tempat dimana kendaraan lewat bisa tertumpu pada tiang-tiang penyangga yang terletak pada pelengkung tersebut. Pelengkung sungai Gambar 4.1. kedua perletakan dibuat sendi. maka perlu tambahan 1 (satu) persamaan lagi yaitu 7 Ms = 0 (jumlah momen pada sendi = 0). Jadi total reaksi ada 4 (empat) buah.2. sedang persamaan dari syarat keseimbangan hanya 3 (tiga) buah yaitu : 7 H = 0.2. Dengan konstruksi pelengkung terse but.2. B = sendi (ada 2 reaksi V B dan H B).1. 4.1. gelagar memanjang.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -83- Tiang penyangga Maka jawabannya adalah konstruksi utama dibuat pelengkung sehingga tidak memerlukan pilar di tengah -tengah sungai (Gambar c).

S Letak sendi tersebut bisa ditengah-tengah busur pelengkung atau tidak. Contoh posisi sendi pelengkung 3 sendi . Hal ini tergantung dari kondisi lapangan : seperti pada gambar (b).3. dimana letak sendi s tidak di tengah-tengah busur pelengkung B A (b) Gambar 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -84- Sendi s yang dipakai untuk melengkapi persamaan pelengkung 3 s endi terletak di busur pelengkung antara perletakan A dan B.

x .3.q x² diatasnya. kalau kita R B mempunyai balok statis tertentu diatas 2 l + parabola Bidang M (dua) perletakan A dan B dengan beban terbagi rata q kg/mƞ.q x12 ƛ 2 B HA. 2 q kg/mƞ (c) Gambar 4. h1 f I = VA .h1 B Nilai I = V A .x1.4.h1 I II VB Nilai M E-E dibagi menjadi 2 bagian. maka M E-E = VA. Pemilihan Bentuk Pelengkung q kg/mƞ A RA B Kita kembali ke belakang. x1 l persamaan momen gambar (c) yaitu 2 (dua) VA x1 VB perletakan dan dengan gambar bidang momen 1 q x1 2 2 A 1 q x12 sama dengan 2 . maka bidang momennya berbentuk parabola dengan tanda bidang M adalah positif (+) dengan nilai maximum di tengah -tengah bentang = dengan persamaan momen Sekarang kalau ditin jau struktur pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata 1 Mx = RA.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -85- 4.1. Bidang M struktur 1 statis tertentu M= q l² dengan beban terbagi 8 rata 1 q l² (coba dihitung lagi sendiri) 8 S Struktur pelengkung dengan bentang = l dan tinggi = f di A ada 2 reaksi VA dan H A di B ada 2 reaksi VB dan H B f HA S E l HB A Kalau kita mau mencari besarnya momen di 1 potongan E ƛE.2. x 1 HA HB II = HA.

3. Cara Penyelesaian 4.1. Gambar nilai I = V A.x1 ƛ ½ q x1² + Bidang M + Gambar nilai II = H A. Pendekatan 1 : Jika HA dan V A atau H B dan V B dicari bersamaan.l ƛ HA.3. 4.6.1.5.h1 Gambar 4. Skema Nilainya bidang M pada pelengkung mengecil Harga momen total adalah sebagai berikut : Nilai I dan nilai II = nilai tota l M E-E = nilai total M E-E + + = nilai kecil (saling menghapus) Dari uraian tersebut diatas terlihat bahwa bentuk pelengkung itu akan memperkecil nilai momen. (hA-hB) ƛ P1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -86- Bidang M. P1 S1 hB HB a1 A HA b1 B VB hA Mencari Reaksi Perletakan S Ada 2 (dua) cara pendekatan penyelesaian untuk mencari reaksi.1. Skema gaya dan jarak pada pelengkung (pendekatan 1) Pendekatan 1VA HA dan V Al dicari dengan persamaan 7 MB = 0 dan 7M S = 0 (bagian kiri) (2 persamaan dengan 2 bilangan tak diketahui) Gambar (a) 7M B = 0 V A.b1 = 0 (1) . Pendekatan 2 : Jika V A dan V B dicari dulu baru H A dan H B kemudian a b Gambar 4.

hA ƛ P1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -87- 7M S = 0 V A.a ƛ HA.S 1 = 0 (bagian kiri) (2) .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -88- Dari 2 persamaan tersebut diatas yaitu (1) dan (2) maka V A dan H A bisa dicari.l . HB dan V B dicari dengan persamaan 7M A = 0 dan 7M S = 0 (bagian kanan) 2 persamaan dengan 2 bidang tidak diketahui (3). Pendekatan 2 P1 S S1 f a Ba Reaksi horizontal H A dan HB ditiadakan kemudian arahnya diganti. masing -masing menuju ke arah perletakan yang lainnya menjadi Ab ¸ dan ¹ Ba B Dengan arah Ab yang menuju perletakan B dan . (4).H B .a1 = 0 7 M S = 0 V B . h B ) = 0 (bagian kanan) Dari persamaan (3) dan (4) maka V B dan H B bisa dicari. 7M A = 0 VB.l + HB (hA ƛ hB) ƛ P1.

b Ba = dengan memasukkan nilai Bv dari f Lihat posisi Ba dan Ab dan Ab ( ¸) merupakan reaksi yang arahnya miring Ba ( ¹) Ba cos E Ba E Ab sin E Ba sin E Ab . f = 0 Bv .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -89- y Mencari reaksi Av 7 MB = 0 Av. Bv. b1 = 0 Pb Av = 1 1 l (1) y Mencari reaksi Bv 7 MA = 0 Bv. maka nilai Ab bisa dicari.l ƛ P1. a1 = 0 Pa Bv = 1 1 l (2) y Mencari reaksi Ab 7 MS = 0 (bagian kiri) Av. f = 0 Av .b ƛ Ba . y Mencari reaksi Ba 7 MS = 0 (bagian kanan) persamaan (2) maka nilai Ba bisa dicari.a ƛ P 1. a  P1S1 dengan memasukkan nilai A v dari Ab = f persamaan (1).l ƛ P1.S1 ƛ Ab .

( ´) Ba cos E = HB pada cara pendekatan 2 yaitu merupakan reaksi horizontal di B. Ba juga diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu : Ba cos E (³) merupakan uraian horizontal dan Ba cos E (¶) merupakan uraian vertikal. y Bagaimana dengan komponen -komponen itu selanjutnya ? Ternyata : Ab cos E = HA pada cara pendekatan 1 yaitu merupakan reaksi horizontal di A. (³) dan : VA (µ) = Av ( µ) + Ab sin E (µ) pendekatan 2 gambar (b) dan Pendekatan 1 gambar (a) VB (µ) = Bv (µ) + Ba sin E (¶) pendekatan 2 gambar (b) Pendekatan 1 gambar (a) .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -90- Kedua reaksi ini harus gaya dan diuraikan gaya menjadi vertical yang horizontal Ab diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu : Ab cos E( ) merupakan uraian horizontal dan Ab sin E(µ) merupakan uraian vertical sedang.

Mencari Gaya-gaya Dalam Seperti telah diketahui sebelumnya.8). merupakan nilai konstan Dx = R A (x A a RA l Bidang + b P.9 Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata HB B VB .8.1. gaya-gaya dalam yang ada pada suatu balok adalah gaya dalam momen (M). x. x P Untuk balok yang lurus. (x dari 0 ke a) linear dan bidang D dari 0 ke a). seperti pada gambar (4. dimana suatu pelengkung 3 sendi dibebani beban terbagi rata q kg/mƞ. maka dengan mudah B kita menggambarkan bidang momennya (Bidang M) dan bidang gaya lintangnya (Bidang D). gaya lintang (D) dan gaya normal (N).3.b l RA + Bidang D RB Gambar 4.9 disamping. y HA = konstan nilainya y = jarak titik dasar ke pelengkung S y A HA VA Gambar 4.HA . II II = HA . Jika x adalah titik yang ditinjau bergerak dari A s/d B.2.2. x ƛ ½ q x² .1. y I = VA . x ƛ ½ q x² gambarnya adalah parabola seperti pada I sub bab 4.3 Gambar (c). bukan pelengkung. maka Mx = V A . x q kg/mƞ Lihat pada gambar 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -91- 4. Gaya dalam untuk balok diatas 2 perletakan Bagaimana dengan bidang gaya dalam pada pelengkung ?.a. RA Karena bidang M merupakan fungsi x Mx = RA .

x (jumlah gaya -gaya vertikal di x kalau di hitung dari bagian kiri) Hx = H A HA VA HB VB Gambar 4.10.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -92- y adalah merupakan persamaan parabola dari pelengkung. maka Vx dan Hx harus diuraikan ke E . Vx = V A ƛ q . dimana pada umumnya persamaannya adalah : y = II = HA.y gambarnya juga parabola 4 fx ( l  x ) l² Jadi Mx = I ƛ II merupakan penggabungan 2 parabola yaitu parabola I dan II yang tidak mudah penggambarannya !. Gaya vertical dan horizontal disuatu titik pa da pelengkung 3 sendi Bagaimana nilai Dx dan Nx ? gaya-gaya tersebut Vc dan Hx harus diuraikan ke gaya -gaya yang B (tegak lurus) dan // (sejajar sumbu) Dimana posisi sumbu batang?. Posisi sumbu batang adalah merupakan garis singgung dimana titik x berada. * Bagaimana dengan bidang D (bidang gaya lintang) Kita lihat titik dimana x berada di situ ada x Hx S Vx Vx dan Hx. Garis singgung tersebut membentuk Garis singgung di x sudut E dengan garis horizontal.

Vx sin E. Uraian Vx dan Hx pada sumbu batang Dx = jumlah komponen yang B garis singgung Nx = jumlah komponen yang // garis singgung.11. x cos E = . maka Dx = Vx cos E Hx sin E Jumlah gaya dari kiri bagian arah ke atas tanda (+) Jumlah gaya dari kiri bagian dengan arah ke bawah tanda (-) Nx = . Karena setiap letak x berubah garis singgung akan berubah sudutnya dan nilai E akan berubah lihat gambar bawah.( Vx sin E Hx cos E   Kedua gaya ini menekan batang tanda (-) Dari uraian tersebut diatas kalau kita mau menggambar bidang D (gaya lintang) atau bidang N (gaya normal) akan mendapat kesulitan . Garis singgung Garis singgung E x di sebelah kanan titik puncak .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -93- Hx sin E Vx sin E E Vx cos E Vx Hx E Hx cos E * Uraian Vx ke garis singgung singgung * Uraian Hx ke garis Gambar 4.

bidang gaya lintang (Bid. N). dan nilai gaya normal di salah satu titik di daerah pelengkung tersebut. nilai gaya lintang.5 m xc VA 5m VB 5m Gambar 4. Mc. VB. Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata Dintanya : Nilai VA. Perubahan arah garis singgung Biasanya yang ditanyakan dalam struktur pelengkung bukanlah bid ang momen (Bid. M).5 m dari titik A. D) ataupun bidang normal (Bid.13. Contoh Penyelesaian Contoh 1 3 t/mƞ Diketahui : Pelengkung 3 sendi dengan persamaan 4fx(lt  x ) parabola y = l² y = jarak pelengkung dari garis horizontal dasar x = aksis yang bergerak secara horizontal dari A ke B l = bentang pelengkung f = tinggi pelengkung H B Pelengkung tersebut dibebani secara terbagi rata q = 3 t/mƞ. . Dc dan Nc Dimana c terletak sejarak x c = 2. S Ec C yc f=3 m A H 2.12. H.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -94- Gambar 4. Namun biasanya yang ditanyakan adalah besarnya nilai momen.

25 ƛ ½ .yc ƛ ½ . 3 .5 .3. yang berarti reaksi horizontal di A HA = HB kenapa ? dengan mengacu bahwa 7H = 0 maka H A = HB = H dimana beban luar secara horizontal tidak ada Mencari V A dan VB 7 MB = 0 7 MA = 0 mencari H 7 Ms = 0 (kiri bagian dari S) VA .5 ƛ 12.14. (5)² = 0 H= V .Xc² = 15 . 25 ! ! 12. di A ada V A dan H dan di B ada V B dan H Reaksi horizontal di A ditulis H buk anlah H A demikian juga. ½ l = 0 VA = ½ . 2. l ƛ q.l. 3 ƛ ½ q .5  1 / 2 .H . 2. ½ l = 0 VB .2. reaksi horizontal di B ditulis H bukanlah H B (HA) dan di B (H B) adalah sama.Xc ƛ H. l. l ƛ q.5 (10  2.q.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -95- Jawab : Lihat notasi reaksi yang ada di perletakan A dan B.q (5)² 15.5 m yc = 4.5² = 0 (nilai momen = 0) y Mencari gaya normal dan gaya Hc Vc A 2.5 ton 3 3 VA . Sudut Ec B Menentukan nilai Ec y= Ec lintang Untuk mencari gaya lintang maupun gaya normal pada potongan x. maka 4 f x (l  x ) 4 f (l  2 x   y' ! l² l² . 5. 3 .3.5m Gambar 4.10 = 15 ton ( o) VB = 15 ton (o) y Mencari ordinat titik c guna mencari Mc dengan persamaan parabola y = 4 fx ( l  x ) l² untuk x = 2.25 m 10² y Mencari Mc (momen di titik c) dihitung dari kiri c Mc = VA .5  1 / 2.5) ! 2. 2.

hanya beban luar yang berbeda yaitu P = 6 ton ( ) horizontal .5 .(Vc. 0.4312 ƛ 6. 0. 0.(7.5145 + 12.8575 ƛ 12. 0.5 .2.15.5 . Uraian gaya Vc dan Hc Nc = .4312 = 0 Hc sin Ec Ec Vc sin Ec Ec Vc cos E c Vc Hc Hc cos Ec Gambar 4.sin Ec + Hc cos Ec) = .5774 ton. Vc = VA ƛ q.8575) = . Dc = 0.14.5 ton ( ) Dc = Vc cos Ec ƛ Hc sin Ec = 7.5 = 7.5145 = 6.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -96- kita perlu mencari sudut Ec yaitu sudut yang terbentuk antara garis singgung di titik c dan garis horizontal.5 ton ( o) Hc = H = 12.5774 ton Dari Mc hasil = nilai gaya dalam tersebut tampak bahwa nilai 0.x = 15 ƛ 3. Contoh 2 xc=2. Nc = -14.5 . jadi ini jelas bahwa struktur pelengkung ditekankan menerima gaya tekan.5m xp=2m C P=6t yp HA yc f=3 m HB Diketahui : S Pelengkung 3 sendi dengan persamaan 4fx(l  x ) bentang l = 10 m parabola l² dan tinggi f = 3 m persis seperti pada contoh 1.

16.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -97- Gambar 4. Gambar pelengkung 3 sendi pada contoh soal .

92 m Yp = 10² 7 MB = 0 VA .92 = 0 (cocok) .1. 5 ƛ HA . f ƛ P ( f ƛ yp ) = 0 . 1. 3 ƛ 6 . ½ l ƛ H B . 3 ƛ 6 (3 ƛ 1.08 ton (n) 3 Kontrol 7H = 0 P + HA + HB = 0 6 ƛ 4.152 . 10 .2 (10  2) ! 1.yp = 0 VA .152 .48 ! 4.6 .76  6.P.152 ton ( q) 7 MA = 0 VB = + 1.5.92 ton ( n)  5.yp = 0 VB . ½ l ƛ HA . 10 + 6 . 1. 5 ƛ HB . 3 = 0 HB = 1.08 ƛ 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -98- Jawab : Karena ada beban horizontal maka H A { HB Mencari V A dan V B Untuk mencari VA dan VB perlu tahu tinggi yp untuk Xp = 2 m 4. l . 1.92 = 0 VA + VB = 0 cocok VA = -1. f = 0 1.76 ƛ HA . l + P.3.152 ton ( o) 7v=0 Mencari H A dan HB 7 M S = 0 (kiri) 7 MS = 0 VA .92) = 0 .08 = 0 HA = 7 M S = 0 (kanan) 7 MS = 0 VB .92 = 0 VB .

8575 Mc = .96° sin Ec = 0. Dc dan Nc Seperti pada contoh 1 yc = 2.25 ƛ = . yc ƛ P (yc ƛ yp) C P=6 t yc HA VA Ec Mc 1.2.92 ( ) 0. 25 ƛ 6 (2.92) = -1.Xc + HA .152 ton ( q) Hc = 6 ƛ 4.98 HB = 4. cos E = 0.Vc cos Ec ƛ Hc sin Ec = -1.08 .V A .5 + 4.152 .9757 ton Nc = + Vc sin Ec ƛ Hc cos Ec . 2.08 = 1. Distribusi Vc dan Hc Vc Vc cos E Ec Hc sin Ec Ec Hc cos Ec Vc = 1. = -1.5145.5145 Dc = . 2. 0.17.88 + 9.8575 ƛ 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -99- Mencari M.32 tm VB Hc C Hc Vc P Vc sin E HA VA Gambar 4.152 .18 ƛ 1.25 m Ec = 30.92 .

maka perlu diadakan suatu lat ihan sebagai berikut : 1).1. VB. c P = 4t A HA HB B Persamaan parabola : y = VB 4 f x (l  x ) l² Xp=2 m VA Xc=3 m 5m 5m . 4 f x (l  x ) l² q=3 Suatu pelengkung terbagi rata q setengah bentang terletak di sejarak 2 S Ditanyakan : VA.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 100- - = 1. 0. Mc.8575 = . 0.4. q=2 P = 6t c S Suatu pelengkung 3 sendi ABS dengan beban terbagi rata q = 2 t/mƞ sepanjang setengah bentang. HA. Mc.0537 ton 4. 2m HB 2m VA 4m 4m VB Ditanyakan : VA.152 .5145 ƛ 1.92 . Dc f=4 m sendi ABS dengan beban = 3 t/mƞ sepanjang dan P = 4 ton horizontal m dari A. Nc. Nc. dan P = 6t vertical terletak sejarak 2 m horizontal dari B. VB. HB. Latihan Untuk mempraktekan teori -teori yang ada diuraian depan. HA.1. HB. Dc f=3 m A HA B Persamaan Parabola : y= 2).

Soal No. gaya lintang dan gaya normal di salah satu titik.1.25 m 0.75 0.5 ton 6.1. Rangkuman o Pelengkung 3 sendi adalah struktur jembatan yang dipergunakan untuk penampang sungai yang mempunyai dasar cukup dalam. o Struktur tersebut masih merupakan struktur statis tertentu yang bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan.667 ton 2.667 ton 4.5 ton 4. Sedang bidang momen. o Yang biasanya dicari dalam struktur pelengkung adalah nilai momen.5.6.8 o o p n . mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban darsoal -soal tersebut diatas sebagai kontrol.6 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 101- - 4. 1 Keterangan Titik N ilai Arah / Tanda Reaksi Vertikal A B Reaksi Horizontal A B Data Pendukung yc yƞ Sin E Cos E 7. Penutup Untuk mengukur prestasi. 4. bidang ga ya lintang dan bidang normal tidak dihitung karena penggambarannya cukup kompleks.

1.8336 ton (-) (-) Soal No.36 m 0. UGM.9675 ton 5. . bab 4.774 ton 1. Daftar Pustaka 1.1. Suwarno ƠMekanika Teknik Statis Tertentuơ.3672 tm 2.539 0.7.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 102- - Momen Gaya Lintang Normal C C C 0.8.64 0.9675 ton 3.6854 (+) (-) (-) o o p n 4.842 7. Senarai Pelengkung sendi : struktur pelengkung di suatu jembatan dimana salah satu sendinya (selain perletakan).184 ton 5.226 ton 4.5625 tm ~0 5. 2 Keterangan Titik N ilai Arah / Tanda Reaksi Vertikal A B Reaksi Horizontal A B Data Pendukung yc yƞ Sin E Cos E Momen Gaya Lintang Normal C C C 10. berfungsi supaya pelengkung tersebut menjadi statis tertentu. Soemono ƠStatika Iơ ITB. bab 2.

s truktur pelengkung 3 sendi difungsikan sebagai jembatan yang mana diatasnya selalu ada muatan yang berjalan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 103- - 4. Untuk mencari besarnya gaya dalam (momen. Pendahuluan Seperti pada balok diatas dua perletakan.2. f = 0.2. a. yaitu besarnya reaksi atau gaya -gaya dalam disuatu tempat yang diakibatkan muatan berjalan sebesar satu satuan muatan. x = 0 Untuk P di B . x = l VB = 0 V B = 1 ton 6 MB = 0 VA = P (l x) ton (linier) l V A = 1 ton VA = 0 (+ G.2.P. V A dan V B (garis pengaruh reaksi di A dan B) P berjalan dari A ke B. Garis Pengaruh Pelengkung 3 Sendi 4. 6 MA = 0 VA H l a G.P V B VB = Px l f H b VB VB Untuk P di A . V B dan H Px ) l . x = 0 1t Untuk P di B . b l . 4.2. ton (di persamaan atas V B = l f Gambar 4. VB . Garis Pengaruh Reaksi x P S G. b f VA .P. Pengertian Dasar Pengertian tentang garis pengaruh pada pelengkung 3 sendi sama dengan pengertian garis pengaruh pada balok menerus.3 Prinsip penyelesaian. Garis pengaruh V A. H P.f Untuk P di A . b = f V B . b ƛ H .18.P. 4. x = l G. gaya lintang) pada suatu titik dipelengkung tersebut perlu adanya garis pengaruh.H (Garis Pengaruh reaksi horizontal) HA = HB (karena beban hanya vertikal) Jika P berjalan dari A ke S (li hat bagian kanan S) 6 MS = 0 H= VB .2. a . a f Px b .P VA (+) 1t G.1.

a .C = G. Jika P berjalan di kanan Potongan C (dari C ke B).b c l .P.P.f G.b ton H= l .P. a. B H b MC = VB . a . a - P ( l  x ) a ton f l dipusatkan VA = P (l  x ) l Untuk P di B . M C = VA .b ton l.H .P. f ton H= 6 MS = 0 VA . c I II (dibagi menjadi dua bagian I dan II) Bagian I VA . M C (Garis Pengaruh Momen dititik C). maka lihat kiri potongan (kiri C). v .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 104- - Untuk P di A . bagian I (+) P . x = 0 p H = 0 Untuk P di S .H . c I II (dibagi menjadi dua bagian I dan II) u VA c A H a f VB P dikiri potongan C (dari A ke C) lih at kanan potongan. u .f v G. x = l Untuk P di S . u .P.f Jika P berjalan dari S ke B (lihat bagian kiri S): H. bagian II (-) Untuk P di C maka M C = P .f = 0 a H = VA . u dan V B .P. M C pada balok di atas dua perletakan l G. v sama dengan G.v l G. R l C u VA VB Bagian II H. x = a H=0 P. M C Garis Pengaruh Total (M C) sama dengan jumlah dari garis pengaruh bagian I dan bagian II (+ (-) . H x C v P. u . x = a p H = P.

P.P. V A Sin D D GP NC Bagian II () P. HC = H H cos H D diuraikan E menjadi gayaD gaya yang Sin sejajar ( // ) H sin dan tegak lurus VA yaitu H cos D dan H sin D.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 105- - Gambar 4. Garis Pengaruh Gaya Lintang (D) dan N ormal (N) u VA S C VA D H f V C = VA HC = H VA sin D VA diuraikan VB menjadi gaya VA cos D D yang sejajar C ( // ) dan ( ^ ) garis B singgung di C. NC bagian I Q sin E l (+) ( .f . VA sin D dan V A cos D.) v sin E H b l GP VB sin GP.P. Gaya Lintang balok diatas 2 perletakan untuk G.19.Mc C. Gaya normal perlu dikalikan sin D dan untuk G. a .P Gaya Lintang perlu dikalikan cos D v G. sehingga: NC = .(VA sin D + H cos D ) I II DC = VA cos D .P.H sin D I II I -> identik dengan G. Gambar GP. N dan D Jika P berada dikanan C (lihat dari A ke C) H a l G. b cos E l .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 106- - v sin E l GP NC Total ( I dan II ) II (-) a .b cos E l . Garis pengaruh gaya lintang (D) dan gaya normal (N) .f identik dengan garis pengaruh gaya horizontal (H).P. Gaya lintang G.DC bagian II  y= yƞ = 4fx (lt  x ) l² 4f ( lt  2 x ) l² - Pab sin E lf u cos E l GP DC Total (I + II) Mencari nilai E Persamaan parabola 4 fx ( l  x ) y= l² 4f ( l  2 x ) l² Untuk nilai x tertentu E bisa dicari y' = (-) v cos E l. G. untuk GP. Gaya normal perlu dikalikan cos E dan untuk GP. NC v cos E l perlu dikalikan cos sin E (-) (+) VB cos E v cos E l Mencari N ilai E Persamaan parabola VA cos E GP.20.P. D C a b sin E l. f Gambar 4.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 107-

-

1. Contoh Soal x C P S EC

Diketahui : suatu pelengkungan 3 sendi seperti pada gambar dengan persamaan parabola:

4 fx ( l  x ) l² Ditanyakan : G.P reaksi dan G.P. Nc dan Dc Y= f =3 m Jawab : H B VB GP V A § MB = 0 P (l  x) lx ton = ton VA = l l Untuk P di A x=0 VA = 1 ton Untuk P di B x=l VA = 0 G.P. V B § MA = 0 Px x VB = ton ! ton l l 1tUntuk P di A Untuk P di B x=0 x= l VB = 0 VB = 1 ton

A VA 2.5 m

H 5m l G.P. VA 5m

1t

(+) G.P. V B t (+) G.P. H (+) 5/6

G.P. H P berjalan antara A - S (lihat kanan S) § MA = 0 § MS = 0 VB = VB
Px x ! l l

Gambar 4.21. GP VA; VB dan H dari pelengkung 3 sendi

1 l - H.f = 0 2 VB . 5 - H. 3 = 0 H= VA . 5 3 ( l  x ) 5 (10  x ) 5 H= . ! t l 3 10 3 Untuk P di B x = 10 H=0t Untuk P di S x=5 H= 105 5 5 5 5 ! t . ! 10 3 10 3 6  .a.b 1.5.5 5 Atau H = ! ! t l. f 10.3 6

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 108-

-

C

S i VA cos E

VA VA sin E EC VC = VA HC = H

A G.P. NC Bagian I (+ 0.3858 0.1286 t (-) G.P. NC Bagian (-)
0.714 t

B H cos E EC H sin E NC = - (VA sin E + H cos E) I = VA cos E - H sin E I II II

DC G.P NC 0.5144 t ( -) 0.9712 (-) 0,2143 Bag.I (+) G.P.D C

Mencari nilai EC 4 f .x (l  x ) 4.3 (10  x ) ! Y= l² 10² 4 f ( l  x ) 4 . 3 x (10  2 x ) ! l² 10² 4.3 (10  5) 60 3 Untuk x = m y' = ! ! 100 100 5 y' =3/5 = arc tg EC EC = 30.96º sin E = 0.5145 cos E = 0.8575 .G.P. NC NC = - (VA sin E + N cos E) Y' = I I untuk P di C II x = 2.5 m VA = ¾ t VB = ¼

0.643 1 G.P. DC bag. II (-) 0.42875

(-)

G.P. D C 0.4286

I

t VA sin E = ¾ . 0,5145 = 0,3858 VB sin E = ¼ . 0,5145 = 0,1286 II H cos E Untuk P di S H cos E = 5/6 . 0,8575 = 0,714 G.P. D C DC = V A cos E - H sin E Untuk P di C x = 2,5

0,428 8 Gambar 4.22. GP Nc dan Dc pada pelengkung 3 sendi

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 109-

-

4.3.

Muatan tak langsung untuk pelengkung 3 sendi

4.3.1. Pendahuluan Seperti pada balok menerus, pada pelengkung 3 sendi ini pun terdapat muatan yang tak langsung. Pada kenyataannya tidak pernah ada muatan yang langsung berjalan diatas gelagar pelengkung 3 sendi, yang melewati diatas pelengkung 3 sendi harus melalui gelagar perantara. Gelagar perantara Kolom perantara Pelengkungan

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 110-

-

S

Gambar 4.23. Gelagar perantara pada pelengkung 3 sendi

4.3.2. Prinsip dasar Prinsip dasar penyelesaiannya sama dengan muatan tak langsung pada balok. Muatan akan ditransfer ke struktur utama, dalam hal ini pelengkung 3 sendi, melewati gelagar perantara dan kemudian ke kolom perantara.

q = kg/mƞ

a

P

b

q kg/mƞ P

R1 R1

R2 R2

R3 R3

R4 R4

R5 R5

R6 R6

S

P

P

P L =5P

P

P

(a). .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 111- - . P = qP = ½ qP + (L/P )P R3 = q . . . P R4 = a P P R5 = R6 = 0 Gambar 4. Kondisi pembebanan kolom (b).24. . ½ P = ½ q P R2 = q . Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi 1t 1t q = 1 t/mƞ 2 3 S 4 a a5 6 . transfer beban lewat perantara P q = kg/mƞ R1 P R2 P R3 R4 a P b R5 P P R6 (c) Perhitungan nilai R (beban yang ditransfer) R1 = q . ½ P + (b/P ). .

5 ton a R1 R2 C R3 S e . sin E + Hcos E) Dc = Vc.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 112- - Contoh. . Prinsip penyelesaian sama dengan muatan tak langsung pada balok sederhana diatas 2(dua) perletakan.Yc Nc = -(Vc .qton R5 R6 Vc = Av ƛ R1 R4 = 0. Beban dipindahkan ke pelengkungan melalui gelagar. .1.Xc-R2. .5 ton R5 = 1.e-HA.Hc sin E Vc Vc cos E Vc sin E Ec C Hc cos E C Hc Hc sin E G ambar 4. . Garis pengaruh gelagar tak langsung pada pelengkung 3 sendi 4. . R4 dan R5) b R2 = R3 = ½ P. Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi 4.Yc Vc = VA. Menjadi (R1. Cos E .4. R3.Xc-R2. .25.e-HA. R2. Pada Suatu konstruksi pelengkung 3 sendi dengan muatan tak langsung seperti pada gambar.4. Pendahuluan . R4 Yc HA VA HB VB Hc = H Mc = VA. . Muatan Tak Langsung Pelengkung 3 Sendi.

Jika letak . atau 1 kg atau Newton) . dengan ordinat 1.5P .Y2). untuk itu garis pengaruh selalu diperlukan untuk mencari reaksi atau gaya-gaya dalam (M.D) disuatu ttitik pada gelagar tersebut.33 P 54. A C I D E ½ ½ P P + 1.5 P .5 P 15 ! P P 8 GP M I untuk gelagar langsung Gambar 4.N. (1 ton.33 P 54.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 113- - Seperti biasanya pada sutau jembatan tentu selalu dilewati muatan yang berjalan diatasnya. 4.2.33 A C I D E B y1 y y2 + C P1 I D P2 GP M I gel. Seperti garis pengaruh pada gelagar tak langsung diatas-atas 2 tumpuan. P . P . P . maka kalau diperhatikan beban tak pernah lewat diatas potongan I. P . Prinsip Dasar Sama seperti pada balok diatas gelagar tak langsung 2 tumpuan.25P 15 ! P puncak adalah 4P 8  Kalua gelagarnya tak langsung. Kalau muatan berada diatas gelagar C ƛ D beban tak penuh melewati tepat pada potongan I P P 54.33  Gambar b adalah gambar garis pengaruh mome n dipotong I (GP M I) untuk gelagar langsung dengan puncak dibawah potongan I. Beban standart yang dipakai adalah muatan berjalan sebesar satu satuan. Garis pengaruh momen di potongan I untuk gelagar langsung P 54. transfer beban hanya disalurkan lewat kolom perantara. 2.Y1 + P2. karena potongan I tersebut terletak diantara gelagar lintang C dan D. Jadi ordinat yang bawah titik I adalah (P1. langsung y1 y2 Beban tersebut selalu ditransfer ke gelagar lewat titik C dan D dengan C D I nilai P1 dan P2.4. B Bagaimana garis pengaruh momen dipotongan I pada gambar dengan gelagar tak langsung (gambar a).26.

Contoh Suatu struktur pelengkug 3 sendi dengan gelagar tak langsung seperti pada gambar. Pemaparan pada gelagar disebelah kiri dan kanan dimana titik berada seperti pada gambar d.27. Gambarkan Garis pengaruh Mc . M I gel. Garis pengaruh m omen di potongan I untuk gelagar tak langsung potongan I ditengah -tengah C-D maka ordinat dibawah potongan I adalah ½ y 1 + ½ y2 C I D y1 y2 ½ y1 + ½ y Jadi garis pengaruh untuk gelagar tak langsung sama dengan garis pengaruh pada gelagar langsung dengan pemotongan puncak dipap ar dimana titik tersebut berada. Dc dan Nc . tak langsung ½ y1 + ½ y Gambar 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 114- - GP.

P.P. 28.5. C yc . . Pendahuluan . 4. GP Mc = V .x  H.(Av sin E + H cos E ) pemaparan Sin E pemaparan P. Pen yelesaiann ya sama dengan beban langsung.yc A  ] II I .Q. S . Cuma dipapar pada bagian gelagar yang bersangkutan.Dc = Av cos E .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 115- - Penyelesaian.a . Mc total (bag I + bag II) - II + P. a .Y l P. Judul : Portal 3 sendi 4.P.b yc l.b cos E lf pemaparanG.b sin E lf pemaparan Gambar 4.Nc = .Y l I + pemaparan GPMc bagian II pemaparan P. Untuk garis pengaruh gelagar tak langsung. f H R VB H VA Q .Q.a .H sin E Cos E P.f G.f G.1.5.a.a . b GPMc bagian I P.b yc l.

Bentuk portal 3 sendi Portal 3 sendi adalah suatu penyederhanaan sederhana dari pelengkung 3 sendi supaya penyelesaiannya lebih sederhana dan tidak perlu memakai gelagar yang tak langsung. Prinsip Dasar Prinsip dasar penyelesaian nya sama dengan pelengkung 3 sendi yaitu memakai 2 pendekatan Pendekatan I . maka bentuk lain dari struktur tersebut adalah portal 3 sendi sepeti tergambar dibawah ini S A B Gambar 4. pelengkung 3 sendi dan gelagar lainnya.29. 4.5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 116- - Bentuk dengan suatu struktur adalah bermacam-macam. balok gerder. Kalau dibagian sebelumnya ada struktur pelengkung 3 sendi.2. bisa berupa balok menerus.

a + HA.l + HA. Arah reaksi -reaksi dari portal 3 sendi untuk penyelesaian dengan cara pendekatan I Prinsip penyelesaiannya sama den gan pada pelengkung 3 sendi yaitu memakai 2 pendekatan. a1 = 0 VB.l + HB. b2 = 0 VA.hƞ ƛ P2 . (h ƛ hƞ) ƛ P2 . a2 ƛ P1 . S 2 = 0 VB dan H B dapat ditentukan (dari kanan) 7 MB = 0 7 MS = 0 (dari kiri) VA.30.hƞ ƛ P 1 .h ƛ P 1 . b1 ƛ P2 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 117P1 S a1 a2 - S2 P1 P2 b1 b2 B VB h' HB h h A VA HA a L b Gambar 4. S1 = 0 VA dan H A dapat ditentukan Pendekatan II .l + HB. 7 MA = 0 7 MS = 0 VB. Pendekatan I 2 cara seperti pada pelengkung 3 sendi.

Arah reaksi portal 3 sendi dengan cara pendekatan II .31.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 118P1 P1 P 2 S - S1 a1 a2 S S2 b1 b2 B BV h' BA h h A AV AB a b L P1 S P1 fƞ ff ƞ B BA BV A AV AB a b L Av ƞ A AB HA HB BA B Bv Ɲ Gambar 4.

a 1  P2 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 119- - Cara 2 7 MB = 0 Av. S 2 f Nilai BA . a1 ƛ P2 . f = 0 .b 2 l 7 MA = 0 Bv. S1 AB = Av f 7 MS = 0 (kanan) HB . f Ɲ 7 MS = 0 (kiri) HA . b  P2 . a2 = 0 Bv = P1.b ƛ P2 .l ƛ P1 . b 2 = 0 Av = P1. f = HB .l ƛ P1 .a 2 l Nilai A B .a ƛ P1 . f = HA . S 2 ƛ BA .b1  P2 .a  P1 . S 1 ƛ AB . b 1 ƛ P2 . f = 0 BA = Bv . f Ɲ AB dan B A diuraikan HA = AB cos E HB = BA cos E Av Ɲ = A B sin E Bv Ɲ = B A sin E Maka : VA = Av + Av Ɲ VB = Bv ƛ Bv Ɲ HA = AB cos E HB = BA cos E Contoh . f ƞ Bv. f ƞ Av.

3 ton Avƞ = H A .3 .l ± P.5ƛ HA.1 = 0 BA 2m HA Av HB 3m 3m Av = 27  4 ! 5 1 / 6 ton 6 B 7 MA = 0 Av. tg E Avƞ = 1.5 ± 2.5 ± 4.l ± q .32. 4. Skema reaksi yang terjadi dalam portal 3 sendi HA = 1.5 = 0 Bv Av. selesaikanlah struktur tersebut. 1. 4. m P1 q  2t/m' S 4t Memakai pendekatan 2 D C 7 MB = 0 4m 5m (fƞ) AB B Av.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 120- - Suatu struktur portal 3 sendi seperti pada gambar .5 = 0 Bv = HA E AB Av Ɲ BA E HB Gambar 4. 3 .3 .5 . 38 ! 1.4333 ( q) Bvƞ = 0.3 .3 ton .1 = 0 Av.q .5 = 0 Bv Ɲ HB = 4 5/6 .6 ± 4. 3ƛ2. 1.6 ± 2.3. 2/6 = 0.5 - P. P =1 Penyelesaian. 3 .4333 ( o) q  2t/m' S C 20  9 ! 4 5 / 6 ton 6 MS = (dari kiri) Av . 1.

2666 4t P1 D H =0 H A ( ) = H B (n ) A A Pusat 1.4333 m = 4 5/6 + 0.4333 = 4.3t 4.2666 t Kontrol : 7 Kontrol : 7 V =0 6 + 4 = 4.4333 = 5.7334t 1.3t B B 5.2666 t .7334 + 5.7334 t VB = Bv + 0.n 5 VA = Av ƛ Avƞ = 5 1/6 ƛ 0.

40127 tm (M max) MD = -HB .3667 Mx = -HA . 6 = .7334 .6 = 5.3 .3.2666. 2 (2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 121Bidang M (momen) - 5. 2.3 t 1.3 .1 H B.3 ton Daerah B-D 5.3667 m (daerah cs) x = 2.7334 t + 4 + BIDANG D BIDANG M B 1.60127 5.3 t = .5. D portal 3 sendi Bidang N (gaya N ormal) Daerah A-C = -4. 4 + 4.20254 ƛ 5. Bidang M.2 tm - S D 7.3t Dx = VA ƛ qx 1.2666 t Mx = -1.2 + 11. 4 + VA .7334 ƛ 6 = -1. 4 = -1.1 ƛ 7.C A x 4.8 1.2666 tm Daerah B-D D = -HB = -1.8 tm - Mc = -HA .3 t 1.3667 ƛ ½ .3667 ƛ ½ .3 t Gambar 4.2. N.2666 t = 0.4 = .7.2666 t x=3m Ds = 4.7334 ton Daerah C-D = -1.3667)² = -5.2 tm Mmax teletak di D = 0 x = 2.7334 t BIDANG N - Di S 5.2666 tm N = -V B = N = -HA = -HB N = -VA .32. 6 = -1.5334 tm Bidang D (gaya lintang) Daerah A-C Daerah C-D D = -HA = -1. 2.3 t 4. q (x²) .8 tm Momen dibawah beban P MP=VB.

S S1 C (a) S = sendi dari portal 3 sendi S1 = sendi gerber A B RS1 C Rc Gambar 4. .6. dimana kedua-duanya harus merupakan S konstruksi statis tertentu. Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi beban pada struktur menumpu. - Harus pula diketahui mana struktur yang ditumpu dan mana pula struktur yang menumpu. 4. - Struktur yang ditumpu diselesaikan dulu dan reaksinya merupakan yang Gambar 4. Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi menjadi 2 bagian S RS1 (b ) - Prinsip penyelesaian dasar seperti pada Balok gerber biasa.33. Pendahuluan Seperti pada balok menerus diatas 2 perletakan. maka untuk memperpanjang bentang. dibuat balok gerber dari portal 3 sendi dengan skema struktur seperti pada Gambar (a).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 122- - 4.6.2.6.34.1. Prinsip Penyelesaian Dasar S1 C R S1 R S1 - Dipisahkan dulu struktur gerber tersebut menjadi 2 ba gian. JUDUL : BALOK GERBER PADA PORTAL 3 SENDI 4.

Contoh Penyelesaian P1 S S1 C GERBER PADA PORTAL 3 SEN DI q t/mƞ S = sendi portal S1 = sendi gerber A B Penyelesaian dengan prinsip balok gerber P1 sama pada Balok S 1-C merupakan struktur yang ditumpu dari portal 3 sendi RS1 q t/mƞ S RS1 A B S.6. Pemisahan struktur gerber portal 3 sendi Penyelesaian kedua struktur tersebut. termasuk penyelesaian gaya -gaya dalamnya.3.35.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 123- - 4. RC HA A HB B VA VB Reaksi R S1 pada struktur S1-C merupakan beban pada struktur portal sendi A B S 1. . baik S 1-C maupun A B S 1 diselesaikan seperti biasanya. merupakan struktur yang menumpu. Baik struktur S 1-C ataupun struktur A B S 1 kedua-duanya merupakan struktur sta tis tertentu Gambar 4.

bahwa jembatan gerber pelengkung 3 sendi selalu dimuati oleh suatu kendaraan yang berjalan.C adalah yang ditumpu sedang struktur ABS 1 adalah struktur yang menumpu Kalau A B muatan berada diatas struktur ABS1. Jadi untuk menghitung besarnya reaksi.7. S (b) B GA ambar 4. Prinsip Dasar Untuk menghitung garis pengaruh tersebut perlu diketahui mana struktur yang ditumpu dan mana yang menumpu. besarnya momen serta gaya lintang disuatu titik memerlukan suatu garis pengaruh.36. 4. maka RS 1 dan Rc di struktur S 1C tidak ada.3.7.1. namun S1 C sebaliknya jjika muatan berada diats S1C maka reaksi-reaksi di struktur ABS 1 ada. Pendahuluan Seperti biasanya.7.7.2. Garis Pengaruh Gerber Pada Portal 3 Sendi 4. Contoh Penyelesaian .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 124- - 4. (a) S S1 C Seperti pada gambar (a) dan (b) struktur S. Pemisahan struktur pada gerber portal 3 sendi 4.

f GP.DD Q l GP.f ! l.ND=G P.d l.v l a.M D cb l Gambar 4.f - + + GP.b l . Garis pengaruh pada gerber portal 3 sendi GP.b .f GP.RA .c l .RB b.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 125- - GARIS PENGARUH GERBER PORTAL 3 SENDI x u E Aƞ D S P v Bƞ S1 C f A c H a l b H B d e d l - l c l GP.R B + c l + + d l a.RA a.H u.R A + 1t C l V l 1t l d l GP.b a. f l d.a l cb l GP.37.

p.f = 0 H = RB . ~ g. R B f P di E RB = c c l c. b ƛ H.p nilai H. b .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 126- - RA = P di E P di A P di B l x ton l x=-c x=0 x=l RA = RA = l c ton l l ! 1 ton l R A = 0 ton RA = d ton l P di S 1 x=l+d GP. P berada antara E lihat kanan S RB = x l 7 Ms = 0 (lihat kanan s) RB .b p H ! x p ND !  l l f lf . N D Garis pengaruh N D sama dengan g.RB RB = P di E P di A P di B P di S 1 x ton l x=-c x=0 x=l RB = c ton l RB = 0 ton R B = 1 ton RA = l d ton l x=l+d GP. DD P berada antara E P berada antara D D C lihat kanan potongan lihat kiri potongan DD = -RB D D = RA GP.

a f P di S b a ab RA = b p H ! . Q .MD P berada antara D C M D = RA .f = 0 H= R A . f = Garis pengaruh H x f.V l II = H .H . p N D !  l l f l f P di S 1 GP. 4.b a a b p H ! x p ND !  l l f lf lihat kiri S RA = l x t l P berada antara DC 7 Ms = 0 (lihat kiri s) RA . Latihan : Garis pengaruh pada Pelengkung dan Portal tiga sendi .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 127- - P di S RB = a.8. a ƛ H. p N D !  l l f lf ab b a RA = b p H ! . f I II I = RA Q = Garis pengaruh M D diatas 2 perletakan P di D MD = Q.

ditanyakan : G. G. ditanyakanL G. C S D Portal 3 sendi ABCD seperti tergambar Akibat beban P = 1t berjalan diatas portal. G.P NC kanan. G.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 128- - Untuk memacu mahasiswa belajar maka perlu diberi latihan Soal 1. G.P.P. G. G. VA . N C .PH. 4m C yc A H S P = 1 t berjalan Pelengkung 3 sendi seperti tergambar. . G. G.P.P D C bawah. dimana dalam penyelesaiannya merupakan gabungan dari penyelesaian masing -masing struktur statis tertentu tersebut.P N C bawah . M C f= 4 H H B H 8m 8m VB VA Soal 2.P.P.P VA . H.D C . Pelengkung mengikuti persamaan parabola: y = 4fx (l . G.P D C kanan A B H f=3m EE 4m 4m 4m VA H 4m VB Portal 3 sendi adalah suatu portal yang kondisinya masih statis tertentu. Gerber portal 3 sendi adalah suatu rangkaian antara portal 3 sendi dan balok statis tertentu.x) / l² Akibat beban P = 1t berjalan diatas pelengkung.

447 0. perlu melihat jawaban soal-soal tersebut seperti dibawah ini.10.1175t 0 0 0.782t 1.9.335t 0.447t 0.447t 0 0 0 1. Keterangan VA P = 1t dititik A B A S B Yc Y' = tng E Sin E Sin E Nilai 1t 0 0 1t 0 3m 0.894 Tanda / Arah + o Di A = H + p Data pendukung Keterangan NC P = 1t di titik A C kiri C kanan S B A C kiri C kanan S B Nilai 0 0. Penutup Untuk mengetahui kemampuan mahasiswa.5t m 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 129- - 4. Rangkuman 4.5 0.0t m 0 Tanda / Arah - DC + MC A C S B + - .

333t 0 0 0.60t 0.336t 0 0 0.333t 0 0 0.20t 0.384t 0.25t 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 130- - Soal No.40t 0 0 1. Daftar Pustaka Suwarno. 2 Keterangan VA P = 1t di titik A B A S B A C bawah C kanan S B A C bawah C kanan S B NC kanan A S B A C bawah C kanan B A C S B Nilai 1t 0 0 1. UGM Bab VI dan VII .11. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ.75t 0 0 1t m 2t m 0 Tanda/ Arah + o Di A = H + p NC bawah - DC bawah - - DC kanan + MC + - 4.084t 1.

MODUL 5 : ARTI KONSTRUKSI RANGKA BATANG DAN CARA PENYELESAIANNYA 5.1.) .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 131- - 4. Senarai Pelengkung 3 sendi : struktur pelengkung yang masih statis tertentu Portal 3 sendi = struktur portal yang masih statis tertentu Gerber pelengkung 3 sendi = gabungan antara pelengkung 3 sendi dan balok. JUDUL : KO NSTRUKSI RAN GKA BATAN G (K.12.R.B. Gerber portal 3 sendi = gabungan antara portal 3 sendi dan balok.

Bentuk-bentuk dari suatu konstruksi Bentuk Rangkaian Konstruksi rangka batang tersebut merupakan rangkaian dari be ntuk segitiga.2. Rangkaian dari material bambu.1. ba mbu atau baja. Jika materialnya dari beton.3. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca materi ini mahasiswa diharapkan bisa mengerti arti serta cara menyelesaikan struktur konstruksi rangka batang. Kenapa bentuk ( tersebut dipilih !. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui bentuk -bentuk KRB serta bisa menyelesaikan struktur tersebut dengan beberapa cara pendekatan yang telah dijalankan diajarkan serta tahu persyaratan-persyaratan yang diperlukan. Pendahuluan Dalam membuat suatu struktur bangunan maka kita harus menyesuaikan dengan material yang ada terutama dengan nilai harga yang paling murah. maka struktur bisa dibuat sesuai dengan keinginan perencana.4. . maka kita harus merangkai material tersebut. 5.1.1. Missal : Rangka batang dari suatu jembatan Rangka batang dari suatu kuda kuda Gambar 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 132- - 5. kayu atau baja tersebut disebut dengan konstruksi rangka batang. 5.1. tapi kalau materialnya dari kayu.

Bagaimana jika tersebut segiempat ( ) segiempat ( ) tersebut tidak stabil.1.5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 133- - Bentuk bentuk bentuk bentuk segitiga ( () tersebut dipilih karena segitiga tersebut adalah suatu yang mantap (stabil) tidak mudah berubah.1. paku keling atau las. Untuk menyambung titik sudut digunakan plat buhul / simpul. . Bentuk Konstruksi Rangka Batang 5. 5. pasak atau paku.5. Pada konstruksi baja sambungan -sambungan pada plat buhul digunakan baut.1. P segiempat mudah berubah menjadi jajaran genjang. Bentuk K. Pada konstruksi kayu memakai baut. = Suatu konstruksi yang terdiri dari batang -batang yang berbentuk segitiga Segitiga (bentuk teta p).B.R.

2. tapi dalam perhitungan titik buhul ini dianggap SENDI. Bentuk Konst ruksi Rangka Batang + + + + + + + + Batang Plat buhul Titik buhul Paku keling / baut Gambar 5.R.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 134- - titik buhul K.B = segitiga yang dihubungkan melalui plat buhul pada titik buhulnya I titik buhul Gambar 5. .3. salah satu sambungan Titik buhul sebagai sambungan tetap / stabil. Detail I.

Bentuk konstruksi rangka batang pada jembatan 5.B.R.B.2. Ruang bisa dipisahkan menjadi K. Pada Jembatan K.B. Perletakan : 1 sendi dan 1 lagi merupakan rol karena konstruksi statis tertentu Sendi Rol 2 Reaksi 1 Reaksi .B. bawah (ikatan angin bawah) K.R. atas (ikatan angin atas) 1 K.R. Gambar 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 135- - K. sisi 1 K.5.R.R. Bidang.1.4.B. Ruang terdiri dari 2 K.R.R.B.B.

5.R.B. Dalam hal ini gaya -gaya batang tersebut beberapa gaya tarik atau tekan.R. Konstruksi rangka batang bidang . (Konstruksi Rangka Batang) Konstruksi statis tertentu adalah suatu konstruksi yang masih bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan .B. Jumlah bilangan yang tidak 2 4 4 8 6 diketahui : Reaksi 1 3 1 RH 2 3 6 5 10 7 RV 5 7 9 11 13 Jumlah batang 12 8 Bilangan yang tidak diketahui = 3 + 13 = 16 =3 Jumlah = 13 RV Gambar 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 136- - Perletakan sendi RH ada 2 reaksi R V = Reaksi vertikal R H = Reaksi horizontal RV Perletakan rol RV ada 1 reaksi R V = Reaksi vertikal 5. 7H = 0 7V = 0 7M = 0 3 persamaan keseimbangan Jadi maximum harus ada 3 reaksi yang tidak diketahui (3 bilangan yang tidak diketahui) Pendekatan Penyelesaian Konstruksi Rangka Batang K. Pada konstruksi dibawah ini (Gambar 5).5.1. merupakan kumpulan dari batang -batang yang mana gaya -gaya batang tersebut harus diketahui. Konstruksi Statis Tertentu Pada K.3.

R. maka pada konstruksi rangka batangpun ada balok gerber 2 1 1 A Sendi 2 3 3 4 5 6 5 B rol 4 7 8 9 10 7 6 12 11 13 14 S 9 8 15 10 16 17 11 19 18 20 21 13 12 23 22 14 24 25 26 15 rol C C Rol (Sendi Gerber) .R.15.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 137- - Titik simpul : dianggap sendi Jadi tiap-tiap titik simpul ada 2 persamaan Yaitu : 7V = 0 atau 7H = 0 7Kx = 0 7Ky = 0 Pada gambar (5.1.B.B. r = jumlah reaksi perletakan 5.6.5) ad a 8 titik simpul jadi ada 2 x 8 persamaan = 16 persamaan Dari keseluruhan konstruksi : Ada 16 bilangan yang tidak diketahui 3 reaksi 13 gaya batang Ada 16 persamaan (karena masih bisa Konstruksi statis tertentu diselesaikan dengan syarat -syarat persamaan keseimbangan) 5. 7k=b+r k = banyaknya titik simpul (titik buhul) b = jumlah batang pada K. Rangka Batang Gerber Seperti pada balok menerus. Rumus Umum Untuk K.4.

R.Ky = 0 b.7. Keseimbangan titik buhul a. Ada 30 bilangan yang tidak diketahui dan tersedia 30 persamaan Konstruksi statis tertentu Konstruksi statis tertentu 5. 1. Rangka batang gerber A = sendi B = rol S = sendi gerber C = rol Jumlah reaksi perletakan = 4 1 sendi + 2 rol 2 2 Jumlah batang = 26 Jumlah bilangan yang tidak diketahui = 30 Jumlah titik simpul = 15 Persamaan yang tersedia = 2 x 15 = 30 persamaan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 138- - Gambar 5.Kx = 0 dan 7 . Cara grafis dengan metode Cremona . Cara analitis dengan menggu nakan 7 . Prinsip Penyelesaian Ada beberapa cara penyelesaian K.B.6.1.

b.8.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 139- - 2. y 7H=0 7. Cara Grafis Metode Cullman 3.1. Metode Potongan : a. Penyelesaian secara analitis Cara menyelesaikannya dengan keseimbangan titik simpul. jadi kalau ada beban terbagi rata atau beban titik yang terletak di tengah-tengah antara 2 titik simpul (gelagar lintang) harus diuraikan menjadi beban titik pad simpul -simpul terdekat. Distribusi Beban Konstruksi rangka batang merupakan gelagar tidak langsung.Kx =0 7.V = 0 ata 7. Metode Penukaran batang 5. Keseimbangan Titik Simpul Dalam bagian ini hanya membahas teori tentang keseimbangan titik simpul saja. Cara Analitis Metode Ritter b. a. P1 = distribusi akibat beban terbagi rata Akibat beban P P2 = distribusi akibat beban terbagi rata dan P P3 = distribusi akibat beban P Akibat P P1 P2 P3 .Ky = 0 x semua gaya yang searah x dijumlahkan demikian juga yang searah y dan resultantenya harus sama dengan rol.

8. Beban terbagi rata didistribusikan menjadi beban titik . Contoh distribusi beban pada konstruksi Rangka batang q = 1 t/mƞ (muatan terbagi rata) 4m A B 4m 4m 4m 4m Muatan terbagi rata tersebut dijadikan mua tan terpusat pada titik -titik simpulnya.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 140- - c. 2t 2t A B 4t 4t 4t Gambar 5.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 141- - 5. V2 dan V 1ƞ. 3 P = 0 RA = 3t Pemberian notasi Untuk mempermudah penyelesaian.9.4 . B2ƞ Untuk batang diagonal diberi notasi D 1. selesaikan struktur tersebut. Contoh Soal 1 Suatu konstruksi Rangka Batang dengan beban sebesar P = 4 ton seperti pada gambar !.9. P A 4t RA = B P P P P RB = Gambar 5. D2ƞ Untuk batang vertikal diberi notasi V 1. V 2ƞ serta V 3 Tiap-tiap titik simpul diberi nomor urut dari I s/d X.1. D2 dan D 1ƞ. A 2ƞ Untuk batang bawah diberi notasi B 1.4 . . 4 P . Konstruksi rangka batang dengan beban P = 4t Mencari reaksi perletakan 7 M A = 0 RB . tiap -tiap batang perlu diberi notasi. 4 P . B2 dan B1ƞ. Untuk batang atas diberi notasi A 1. A2 dan A 1ƞ. P = 0 RB = 1t 7 MB = 0 RA .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 142- - II V1 I A1 D1 IV V2 III 4t A2 D2 VI A2 ƞ D 2ƞ VIII V2 VII A1 ƞ D 1ƞ IX V3 V V1ƞ X P B1 3t B2 Bƞ2 Bƞ1 P P P P 1 Gambar 5. y sebelum mengerjakan perlu perjanjian tanda terhadap gaya -gaya batangnyua y (Anggapan) / perjanjian pada K.R. Jika hasil positif berarti anggapan kita betul batang betul-betul tertarik. Catatan Mulailah bekerja pada titik simpul yang mempunyai 2 batang yang tidak diketahui.B. titik simpul Batang tertekan dengan tanda ( -) (gaya menuju titik simpul) Batang tertarik dengan tanda (+) (gaya menjauhi titik simpul) Penyelesaian Mulai dari titik simpul yang mempunyai 2 batang tak diketahui Titik I V1 B1 Anggap dulu semua batang yang tidak diketahui adalah batang tarik.10. Pemberian notasi pada gaya -gaya batang Penyelesaian keseimbangan titik simpul diselesaikan dengan memakai syarat-syarat keseimbangan pada titik simpul yaitu 7 Kx = 0 dan 7 Ky = 0 Jadi keseimbangan pada tiap -tiap titik tersebut bisa diselesaikan jika terdapat maximum 2 batang yang tidak diketahui. karena hanya menyediakan 2 persamaan yaitu 7 Kx = 0 dan 7 Ky = 0. . Dalam penjumlahan. Jika hasil negatif berarti anggapan kita salah batang tertekan. gaya yang searah diberi tanda sama.

2 7V=0 .3 ton (tekan) Titik III V2 3 2 3t 3t B2 B1 = 0 P = 4t 7H=0 Batang V 2 dan B2 dianggap tarik Batang D1 = 3 2 (tarik) diuraikan menjadi batang vertikal = 3 t dan horizontal = 3t 7V=0 4 t ƛ 3 t ƛ V2 = 0 V2 = 1 t (tarik) B2 ƛ 3 t = 0 B2 = 3 t (tarik) .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 143- - 3t 7V=0 3 t + V1 = 0 V1 = -3 ton (berarti batang tekan) 7H=0 B1 + 0 = 0 B1 = 0 (batang nol) V1 B1 = 0 Batang A1 dan D1 dianggap tarik dan batang D1 diuraikan menjadi gaya batang horizontal dan vertikal. 2 A1 = .½ . 3 2 .½ D 1 A1 = . V1 = .3 t + ½ D1 ½ D1 2=0 2= 3 D1 = 3 2 t (tarik) 7H=0 A 1 + ½ D1 2= 0 2= .3 t (menuju titik simpul) ½ 3t V1 ½ D1 2 A1 Batang D 1 diuraikan menjadi arah vertikal ½ D1 Titik II 2 dan arah horizontal ½ D1 2.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 144- - Batang A 2 dan D2 dianggap tarik.1t (tekan) .2 t (tekan) 2t Batang D 2ƞ dan B 2ƞ dianggap tarik Titik V Batang D 2ƞ diuraikan horizontal dan vertikal 0t ½Dƞ 2 1t 1t 2 2 Dƞ2 7V=0 ½ D 2ƞ 2 + 0 ƛ 1 t = 0 D 2ƞ = 2 t (tarik) 7H=0 ½ D 2ƞ B2ƞ + 1t ƛ3 t + 1t = 0 B2ƞ = 1 ton (tarik) 3t 2 B2ƞ Titik VIII Batang A 1ƞ dan V 2ƞdianggap tarik 7H=0 A1 ƞ V2ƞ 2 t + A1 ƞ ƛ 1 t = 0 A1ƞ = .2 ton (tekan) Titik VI Batang A 2ƞ dan V 3 dianggap tarik A2 ƞ 7V=0 7H=0 V3 = 0 V3 = 0 ton A2 ƞ + 2 t = 0 A2ƞ = . Titik IV 3t ½ D2 2 ½ D2 2 1t D2 7H=0 A2 Batang D 2 diuraikan menjadi gaya horizontal dan vertikal ½ D 2 2 7V=0 ½ D2 2 + 1 t = 0 D2 = .1 t (tekan) 2t 2t 7V=0 1 + V2ƞ = 0 V2ƞ = .2 t (tekan) 3 + A 2 + ½ D2 2 = 0 3 + A 2 ƛ 1 ton = 0 A 2 = .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 145- - .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 146-

-

Titik VII

½ D 1ƞ 1t 1t

2

D 1ƞ

Batang D 1ƞ dan B 1ƞdianggap tarik Batang D 1ƞ diuraikan menjadi ½ D 1ƞ 2

½ D 1ƞ

2

B1ƞ

7V=0

½ D 1ƞ 2 ƛ 1 t = 0 D 1ƞ =

2 t (tarik)

7H=0

B1ƞ- ½ D1ƞ 2 - 1t = 0 Bƞ + 1 ƛ 1 = 0 B ƞ = 0t

Titik X

V1ƞ

7V=0

1t + V1ƞ = 0 V 1ƞ = - 1t (tekan)

B1ƞ = 0 RB = 1t

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 147-

-

Kontrol ke Titik IX

7V=0 V1ƞ ƛ ½ D1ƞ 1t ƛ ½ .

A1 ƞ = 1 t (tekan) D1ƞ = 2 (tarik) V 1ƞ = 1 t

2 =0
2 . 2 !0

(cocok) 7H=0 A1ƞ ƛ ½ D1ƞ 2 = 0 1ƛ½ .

2.

2 = 0 (cocok)

DAFTAR

BATAN G A1 A2 A2 ƞ A1 ƞ B1 B2 B2ƞ B1ƞ V1 V2 V3 V2ƞ V1ƞ D1 D2 D 2ƞ D 1ƞ

GAYA BATAN G -3t -2t -2t -1t 0 3t 1t 0 -3t 1t 0 -1t -1 t 3 2t - 2t 2t 2t

Batang B 1 dan B1ƞ = 0, menurut teoritis batang -batang tersebut tidak ada, tapi mengingat K.R.B. terbentuk dari rangkaian bentuk ( maka batang ini diperlukan. Batang atas pada umumnya batang tekan Batang bawah pada umumnya batang tarik.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 148-

-

Contoh Soal 2 Suatu konstruksi Rangka Batang, dengan notasi seperti pada ga mbar, beban sebesar 3 ton terletak di titik simpul III Jumlah batang = 9 = b Jumlah reaksi = 3 = r 12 D3 B3 IV P P 1t VI B Jumlahg titik simpul = 6 = k 2k=b+r 2x6=9+3 konstruksi .r.b. statis tertentu Mencari Reaksi 7 MB = 2 RA = 3 7 MA = 1 RB = 3
Titik Simpul I

II P A I D1 B1 III 2t P 3t V1

A D2 B2

V

V2

0 x3t=2t 0 x3t=1t

Batang D 1 dan B1 dianggap tarik Batang D 1 diuraikan ke arah vertikal dan horizontal sebesar ½ D 1

2

½ D1

2

D1

½ D1

2
B1

7 Ky = 0 ½ D1 2 + 2t = 0 2 D1 = . 2 = - 2 2 t . (tekan) 2 7 Kx = 0 B1 - ½ D1 2 = 0 B1 = 2 ton (tarik)

2 t (reaksi)

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 149-

-

Titik III

V1

Gaya batang V1 dan B2 dianggap tarik 7 Ky = 0 V1 = 3 ton (tarik) B2 = 2 ton (tarik)

2t

3t

B2

7 Kx = 0

Titik II
½ D2 ½ D1

2

Gaya batang A dan D2 dianggap tarik 7 Kx = 0 ½ D1 2 - 3t ƛ ½ D2 2 = 0 ½ D2 2 = -3 t + ½ . 2 2 . 2 = -3 + 2 = -1 (tekan) D2 = - 2 t (tekan)

2

A

D1 = 2 2 3t ½ D2 ½ D1 D2

2

7 Ky = 0 A + ½ D1 2 + ½ D2 2 = 0 A + ½ . 2 2. 2 - ½ . 2. 2 = 0 A = 1 ƛ2 = -1t (tekan)

2

Titik IV

Gaya batang V2 dan B3 dianggap tarik 7 Ky = 0 V2

D2 =

2t

½ D 2 2 - V2 = 0 V2= ½ . 2 . 2 = 1 t (tarik) B3 7 Kx = 0 B3 ƛ B2 + ½ D2 2 = 0 B3 = 2 - ½ . 2 . 2 = 1 t (tarik)

B2 = 2t

Titik VI

Gaya batang D3 dianggap tarik 7 Ky = 0 D3 ½ D3 2 + 1t = 0 D3 = - 2 . 1t D3 = - 2 t (tekan) 7 Kx = ½ D 3 2 + B3 = 0 - ½ . 2 . 2 + B3 = 0

B3 = 1t

2 = 0 Latihan : Konstruksi Rangka Batang Untuk mendorong mahasiwa belajar maka perlu dibuatkan suatu latihan sebagai berikut : Soal 1 A1 D1 RAH A E B1 RAV P1=6 t D2 E B2 D3 D4 A2 D6 3 m Konstruksi Rangka Batang seperti tergambar P1 = 6t . P2 = 3t Ditanyakan : RB P a). D3 1t ƛ ½ . 2. Gaya reaksi b).gaya batang RB . Beban . Gaya-gaya batang D5 B3 P P P2=3 t P= 4m P2 = 600 kg Soal 2 P1 = 600 kg 8 9 5 6 R AH A RAV 45° 1 3m 2 3m 3 3m 7 11 13 12 45° 4 3m 10 P3 = 400 kg Kuda-kuda konstruksi Rangka Batang seperti tergambar. Gaya. Gaya ƛ Reaksi B b). P 1 = 600 kg P2 = 600 kg P3 = 400 kg Ditanyakan : a).1. 2 =0 (cocok) D3 V2 = 1t 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 150- - B3 = 1t 1t Kontrol Titik V A = 1t 7 Kx = 0 A ƛ ½ .10.

Penutup Agar mahasiswa bisa mengontrol pekerjaan latihan.00 t 6. maka mahasiswa bisa melihat jawaban dibawah ini : Jawaban : Soal No.808 t 4.555 6.11. bisa berupa gaya tarik. o o Tiap-tiap titik simpulnya dianggap sendi.12.835 0. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi Horizontal Data Pendukung Gaya Batang Titik / Gaya A : RAV B : RB A : RAH Sin E Cos E A1 A2 B1 B2 B3 D1 D2 D3 D4 D5 D6 N ilai 5t 4t 0 0.00 t 1. 5. 667 t 6.20 t 4. hanya bisa diselesaikan jika jumlah gaya batang yang tidak diketahui max hanya 2.000 t 2. Pencarian gaya-gaya batang.808 t Arah / Tanda o o Gaya Batang Tekan Tekan Tarik + Tarik + Tarik + Tekan Tarik + Tarik + Tekan Tekan Tarik + . atau gaya tekan.20 t 1.667 t 5. o o Rangkuman KRB merupakan rangkaian dari bentuk ( (segitiga) Dalam KRB yang dicari adalah gaya -gaya batangnya.1.333 t 6.333 t 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 151- - 5.1.

1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 152- - Soal No. UGM Bab Soemono.14. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ . . ƏStatika IƐ.13. - Daftar Pustaka Suwarno. bab 5. - - Senarai Konstruksi Rangka Batang : Suatu rangkaian batang -batang yang berbentuk ( (segitiga) Titik simpul : dianggap sendi. 2 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Gaya Batang Titik / Gaya A : RAV B : RB A : RAH  2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 N ilai 850 kg 750 kg 0 850 kg 850 kg 750 kg 750 kg 1202 kg 0 424 kg 778 kg 500 kg 778 kg 283 kg 0 1061 kg Arah / Tanda o o Tarik + Tarik + Tarik + Tarik + Tekan Tekan Tekan Tarik + Tekan Tekan Tekan - 5.1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful