MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -8

-

Modul 1 1.1. Judul : Gaya ƊGaya dan Keseimbangan Gaya
Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah membaca modul, mahasiswa bisa memahami pengertian tentang gaya. Tujuan Pembelajaran Khusus : Mahasiswa dapat menjelaskan konsep pengertian tentang gaya dan bagaimana bisa melakukan penjumlahannya 1.1.1. Pendahuluan Gaya serta sifat-sifatnya perlu difahami dalam ilmu Mekanika Teknik karena dalam ilmu tersebut, mayoritas membicarakan tentang gaya, sedang Mekanika Teknik adalah merupakan mata kuliah dasar keahlian yang perlu dimengerti oleh semua sarjana Teknik Sipil. Jadi dengan memahami sifat-sifat gaya, mahasiswa akan lebih mudah memahami permasalahan yang terjadi di pelajaran Mekanika Teknik. Misal pada suatu jembatan, kendaraan yang lewat adalah merupakan suatu beban luar yang ditampilkan dalam bentuk gaya. Contoh : * Suatu kendaraan yang terletak diatas jembatan * Beban roda kendaraan pada jembatan tersebut adalah suatu beban atau gaya.

gaya

struktur jembatan

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -9-

1.1.2. Pengertian tentang Gaya dan Garis Kerja gaya Gaya adalah merupakan vektor yang mempunyai besar dan arah.

Penggambarannya biasanya berupa garis dengan panjang sesuai dengan skala yang ditentukan. Jadi panjang garis bisa dikonversikan dengan besarnya gaya. * Contoh 1

Orang berdiri dengan berat 50 kg Panjang gaya 1 cm arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi) ditunjukkan dengan gambar anak panah ke bawah dengan skala 1 cm = 50 kg

Jadi 50 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh orang berdiri tersebut dengan arah gaya kebawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan berat 50 kg. * Contoh 2 Batu diatas meja dengan berat 10 kg
Panjang gaya = 1 cm

Arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi) ditunjukkan dengan gambar anak panah dengan skala 1 cm = 10 kg

Jadi 10 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh batu yang menumpu di atas meja dengan arah gaya ke bawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan gaya 10 kg.

* Contoh 3 15 kg Orang mendorong mobil mogok kemampuan orang mendorong tersebut adalah 15 kg. 1 cm Panjang gaya Arah dorongan kesamping kanan ditunjukkan dengan gambar anak panah arah kesamping dengan skala 1 cm = 15 kg

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -10-

Jadi 15 kg adalah gaya yang diberikan oleh orang untuk mendorong mobil mogok dengan arah kesamping kanan, yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena 1 cm setara dengan 15 kg.

Garis kerja gaya adalah garis lurus yang melewati gaya Seperti contoh di bawah : Contoh * Garis kerja gaya Garis kerja gaya orang yang mempunyai berat 50 kg tersebut adalah vertikal

Orang dengan berat 50 kg garis kerja gaya 15 kg Garis kerja gaya untuk mendorong mobil mogok tersebut adalah horisontal

Titik tangkap gaya adalah titik awal bermulanya gaya tersebut. Contoh: mobil mogok diatas jembatan, roda mobil serta tumpuan tangan orang yang mendorong adalah merupakan titik tangkap gaya.

titik tangkap gaya Titik tangkap gaya

gaya

50 kg

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -11-

1.1.3. Sifat Gaya Gaya dan titik tangkap gaya bisa dipindah-pindahkan asal masih dalam daerah garis kerja gaya Contoh dalam gambar K dan K1 adalah merupakan gaya. Ga Posisi gaya K lama Posisi gaya K baru mb ar garis kerja gaya K1 Posisi gaya K1 lama 1.1 . Ga mb Posisi gaya K1 baru is kerja gaya ar gar

1.1.4. Penjumlahan Gaya Penjumlahan gaya bisa dilakukan secara analitis maupun grafis.

1.1.4.1. Penjumlahan secara grafis Penjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama, jadi gaya-gaya tersebut sebidang, bisa secara langsung dijumlahkan secara grafis.

A K1

C R = K1 + K2 



D K2 Titik tangkap gaya

B 

K1, K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan Urut-urutan penjumlahan Buat urut-urutan penjumlahan garis sejajar dengan K1 dan K2 di ujung gaya, (K1 diujung K2 dan sehingga K2 diujung K1 ) membentuk bentuk jajaran genjang D.A.C.B Salah satu diagonal yang panjang tersebut yaitu R

. tapi titik tangkapnya tidak sama. ar 1.Gaya K1 dipindah searah garis kerja gaya sampai garis kerja gaya K1 bertemu dengan garis kerja gaya K2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -12- Gambar 1. 2 gaya tersebut tidak mempunyai titik tangkap yang sama. . OABC .3 Penju mlaha n gaya secara grafis. Penjumlahan gaya secara grafis Penjumlahan 2 gaya yang sebidang.2. .Salah satu diagonal yang terpanjang (R) adalah merupakan jumlah dari K1 dan K2. Gaya-gaya tersebut bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya. pertemuannya di titik 0. Gamb R = K1 + K2 A Posisi awal (K2)KK 22 Posisi awal KK 1 1 (K1) 0 K1 C B K1 dan K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan. yang titik tangkapnya tidak sama Urutan-urutan penjumlahan .Buat garis-garis sejajar gaya K1 dan K2 di ujung-ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang. tapi masih sebidang.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -13- Penjumlahan 3 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal Penjumlahan tersebut bisa dilakukan secara bertahap C R1=K1+K2 R1 A K1 K2 B R2 E R2 R2 = R1 + K3 = K1 + K2 + K3  K1.4. Urut-urutan penjumlahan. 0 K3 D  Jumlahkan dulu K1. K2 dengan cara membuat garis sejajar Gambar 1. Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tangkap tunggal   Penjumlahan tersebut dilakukan secara bertahap Titik tangkap gaya bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya. . K2 dan K3. K2) di ujung-ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang 0ACB    Salah satu diagonal terpanjang yaitu R1 adalah merupakan jumlah K1 + K2 Buat garis sejajar K3 dan R1 di ujung gaya-gaya yang berlainan sehingga membentuk jajaran genjang 0CED Salah satu diagonal terpanjang (R2) adalah jumlah dan R1 dan K3 sehingga sama dengan jumlah antara K1. K2 dan K3 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan dengan titik tangkap tunggal. Penjumlahan 3 gaya secara grafis dengan gaya-gaya tersebut (K1.

 Buat garis sejajar K1 dan K2 pada yang ujung-ujung berlainan gaya sehingga membentuk jajaran genR1 E K3 01 Gambar 1.  A K1 K2 0 R2 = R1 + K3 = K1 + K2 + K3 F D B Kerjakan dulu penjumlahan antara K1 dan K2 dengan cara :  Tarik gaya K1 dan K2 sehingga titik tangkapnya bertemu pada satu titik di O.5.  Tarik gaya R1 dan K3 sehingga titik tangkapnya bertemu pada titik di 01 .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -14- (posisi awal) K1 R1 = K1 + K2 C (Posisi awal) K2 Urut-urutan penjumlahan  K1. Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tunggal. secara grafis jang OACB Posisi awal (K3)  Salah satu diagonal yang terpanjang yaitu R1 adalah merupakan jumlah dari K1 dan K2. K2 dan K3 adalah gayagaya yang akan dijumlahkan.

salah satu diagonal yang terpanjang adalah R2 yang merupakan jumlah antara R1 dan K3 berarti jumlah antara K1 dan K2 dan K3. D F E. K3 .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -15-  Buat garis sejajar R1 dan K3 melalui ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk jajaran genjang 01.

dan e. d. perlu dibuat jari-jari polygon (lihat gambar) dengan cara sebagai berikut : buat rangkaian gaya K1. c. b. K3 dan K4 yaitu R. Ambil titik 0 sembarang di daerah sekitar R Tarik garis dari 0 ke ujung-ujung gaya sehingga ketemu titik a. K2. K2. Dari titik B dibuat garis sejajar Oc ( ) memotong K3 di .garis tersebut diberi tanda titik satu buah ( ) sampai lima buah ( jari-jari polygon. yang diwakili oleh garis sepanjang a-e tapi letak titik tangkapnya belum betul. K3 dan K4 secara berurutan dimana tiap-tiap gaya sejajar dengan gaya aslinya (pada gambar jari-jari polygon).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -16- a K1 b1 K1 A B K2 C Oƞ Rƞ K3 D K2 K4 K1 c K3 K4 e d R O titik tangkap Polygon Batang Jari-jari Polygon Gambar 1. Dari gaya-gaya asal yang akan dijumlahkan ditarik garis sejajar O a ) pada garis tersebut. Garis-garis tersebut dinamakan .6. K3 dan K4 adalah gaya-gaya yang mau dijumlahkan Untuk pertolongan. pangkal gaya K1 dan ujung gaya K4 merupakan jumlah (resultante) gaya K1.Dari titik garis sejajar Ob ) memotong gaya K2 di titik B ( A dibuat ) memotong gaya K 1 di (titik A. K2. garis . Polygon batang dan jari-jari polygon   Gaya K1.

1. Didalam salib sumbu tersebut gaya-gaya yang akan dijumlahkan. perpanjangan garis ( ) ) pada polygon batang akan ketemu di titik Oƞ yang merupakan titik tangkap jumlah (resultante) gaya-gaya K1. K2. diproyeksikan. .4. Dari titik Oƞ dibuat garis sejajar R yaitu garis Rƞ. Contoh : y Pernjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal y K2 y K1 y E K1 K2  O F K2x x  K1 dan K2 adalah gayagaya yang akan dijumlahkan dimana mempunyai titik tangkap tunggal di O . K2.7. K3 dan K4 dengan titik tangkap yang betul. Penjumlahan secara analitis Dalam penjumlahan secara analitis kita perlu menentukan titik pusat (salib sumbu) koordinat. Penjumlahan gaya secara analitis dengan sumbu x dan y K1x = K1 cos E K1y = K1 sin E . Dari titik C dibuat garis sejajar Od ( Dari titik D dibuat garis sejajar Oe ( dan garis ) ( ) memotong K4 di D. K2x = K2 cos F K2y = K2 sin F K1x . . yang mana biasanya sering dipakai adalah sumbu oxy. dengan garis kerja melewati 0ƞ 1. Jadi Rƞ adalah merupakan jumlah (resultante) dari gaya-gaya K1. Eadalah sudut antara K1 dengan sumbu ox Fadalah sudut antara K2 dengan sumbu ox K1 dan K2 diuraikan searah Gambar 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -17- titik C.2. K3 dan K4.

Rx = K1x + K2x Ry = K1y + K2y Rx = § Kx Ry = § Ky Jumlah gaya-gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari komponen-komponen tersebut adalah : . Penjumlahan gaya dengan titik tangkap berbeda.  K1 dan K2 diuraikan searah dengan sumbu x dan y K2 K2y F O K1x K2x x Gambar 1. K2y = K2 sin F Semua Komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang searah oy. secara analitis K1x = K1 cos E .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -18- Semua komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang searah dengan oy. K2x = K2 cos F K1y = K1 cos E .8. K1 membentuk sudut E dengan sumbu ox K2 membentuk sudut Fdengan sumbu ox. Rx = K1x + K2x Ry = K1y + K2y Rx = § Kx Ry = § Ky Jumlah gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari komponen-komponen tersebut adalah : R= Rx ²  Ry ² Penjumlahan 2 gaya dengan letak titik tangkap berbeda y K1y E K1  K1 dan K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlah-kan dengan letak titik tangkap berbeda.

6. Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun grafis 2. K1 45° K2 Dua gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama seperti seperti pada gambar. Latihan 1. Gaya bisa dipindah-pindah sepanjang garis kerja gaya Penjumlahan gaya-gaya bisa dilakukan secara grafis ataupun analitis. . Rangkuman     Gaya adalah suatu besaran vektor yang mempunyai besar dan arah serta diketahui letak titik tangkapnya.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -19- R= Rx ²  Ry ² 1. dengan besar dan arah seperti pada gambar Cari besar dan arah jumlah gaya-gaya tersebut (R) dengan cara polygon batang. 3.5. Penjumlahan gaya lebih dari 4 buah bisa memakai cara grafis dengan bantuan polygon batang. sudut yang dibentuk antara 2 gaya tersebut adalah 45°. K1 = 5 ton dan K2 = 7 ton. K2. 1.1. K1 Dua gaya K1 dan K2 tidak mempunyai titik tangkap yang sama K1 = 10 ton dan K2 = 4 ton Garis kerja ke dua gaya tersebut bertemu dan K2 membentuk sudut 60° Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun garfis. 5 ton 0 K1 K2 K3 K4 7 ton 9 ton 4 ton Empat gaya K1. K3 dan K4.1.

Senarai Gaya Resultante = mempunyai besar dan arah = jumlah . Daftar Pustaka 1. Soal 1 dan 2 ada jawaban secara analitis dan grafis.1. Samuel E. 2. soal Sub Jawaban 1 Analitis Grafis 2 Analitis Grafis Jawaban R = 11.7. sedang soal no.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -20- 1.8. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci yang ada.5 ton sdt = 30° dari sumbu x R = 24 ton Skor Nilai 50 50 50 50 3 Grafis Jari-jari polygon Polygon batang 50 50 1.5 ton sdt = 30° dari sumbu x R = 12. Penutup Untuk mengukur prestasi. Suwarno. 3 hanya berupa grafis. ƏStatika IƐ ITB. ƏDeterminate StructuresƐ ITP (International Thomson Publishing Company) 1996. No. Soemono. Bab I. secara bertahap. French.1. 3. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM bab I. skor penilaian ada di tabel bawah untuk mengontrol berapa skor yang didapat.5° dari sumbu x R = 11.5° dari sumbu x R = 12.1 ton sdt = 22. Bab I 1.1.1 ton sdt = 22.9.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -21- .

gaya dalam dan bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik.9. maka mahasiswa perlu tahu bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik. Pendahuluan Dalam disiplin ilmu teknik sipil dimana mahasiswa akan diajak bicara tentang bangunan gedung. Gambar portal gedung bertingkat dalam mekanika teknik . mengerti tentang beban. reaksi. Contoh : a. 1. reaksi dan gaya dalam. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar tentang struktur dalam suatu bidang Teknik Sipil. apa itu beban. jembatan dan lainsebagainya.1. sehingga dalam menerima pelajaran akan lebih mudah menerima. kolom. balok.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -22- 1. maka siswa bisa memahami secara jelas apa itu bentuk-bentuk struktur di bidang teknik sipil. bentuk gedung bertingkat dalam penggambaran di mekanika teknik kolom Kolom = tiang-tiang vertical Balok = batang-batang horisontal balok perletakan Gambar 1.2. JUDUL : PENGGAMBARAN STRUKTUR DALAM MEKANIKA TEKNIK Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini. balok. serta bisa menggambar skema struktur dalam mekanika teknik.2. kolom.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -23- b. bentuk jembatan sederhana dalam penggambarannya di mekanika teknik. Beban Didalam suatu struktur pasti ada beban. Ada beberapa macam beban yaitu beban terpusat dan beban terbagi rata.1. dan lain sebagainya.10. Gambar jembatan dalam mekanika teknik 1. peralatan dan lainsebagainya.2. Beban terpusat Beban terpusat adalah beban yang terkonsentrasi di suatu tempat. Beban yang tidak dapat bergerak disebut beban mati. balok perletaka n Gambar 1. beban yang bisa bergerak umumnya disebut beban hidup misal : manusia.2. kendaraan. a. Kendaraan berhenti diatas jembatan P1 P2 P3 Penggambaran dalam mekanika teknik . manusia yang berdiri diatas jembatan P beban terpusat Penggambaran dalam mekanika teknik a. a.2. misal : meja.

Gambar 1. Newton. kg.12. dan lainsebagainya. anak-anak berbaris diatas jembatan q t/mƞ Penggambaran dalam mekanika teknik Notasi beban terbagi rata = q Satuan beban terbagi rata = ton/mƞ. Penggambaran beban terbagi rata dalam mekanika teknik . kg/cm Newton/mƞ dan lainsebagainya. Beban terbagi rata Beban terbagi rata adalah beban yang tersebar secara merata baik kearah memanjang maupun ke arah luas.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -24- Notasi beban terpusat = P Satuan beban terpusat = ton. Gambar 1. Gambar beban terpusat dalam mekanika teknik b.11.

2. serta konsep kedudukan perletakan dalam suatu struktur. hubungan antara bangunan tersebut dengan lapisan permukaan bumi dikaitkan dengan suatu pondasi. Hubungan antara bangunan atas jembatan dan bangunan bawah pondasi. dan lainsebagainya. jembatan.3. sedang yang masuk pada lapisan permukaan bumi disebut dengan bangunan bawah. maka siswa bisa memahami pengertian tentang perletakan dan bagaimana pemakaian perletakan ini pada suatu struktur. Hubungan antara bangunan atas dan bawah melalui suatu tumpuan yang disebut dengan ƠPerletakanơ. 1. Contoh : a.3. Struktur jembatan (bangunan atas) perletakan Pondasi Penggambaran pada mekanika (bangunan struktur . Bangunan-bangunan tersebut harus terletak diatas permukaan bumi. y Tujuan Pembelajaran Khusus : Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar dan pengertian tentang struktur. konsep pengertian tentang perletakan. Pendahuluan Dalam bidang teknik sipil kita selalu membicarakan masalah bangunan seperti bangunan gedung. Perletakan y Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah membaca modul bagian ini.1. Bangunan yang terletak diatas permukaan bumi disebut bangunan atas.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -25- 1.2.

jepit dan perodel.15. maka oleh rol tersebut dari atas. Skema perletakan rol diberi beban momen jadi tidak mempunyai reaksi momen.14.15) silinder baja Karena struktur harus stabil maka perletakan rol tersebut tidak boleh turun jika kena beban Rv Perletakan rol bila dilihat dari gambar struktur. Pada perletakan Rol Rv Penggambaran perletakan rol dalam bidang mekanika teknik. perletakan Gambar 1. (Gambar 1.2. karena bias itu bergeser rol ke arah horizontal. bisa berputar tersebut harus mempunyai reaksi jika Gambar 1. Gambar perletakan gedung (tumpuan)dalam mekanika teknik Macam-Macam Perletakan Dalam mekanika teknik perletakan berfungsi untuk menjaga struktur supaya kondisinya stabil. Rol Strukt Bentuk perletakan rol. sendi. Gambar perletakan jembatan dalam mekanika teknik b. pada suatu struktur jembatan yang bertugas untuk menyangga sebagian dari jembatan. Hubungan antara bangunan gedung dan pondasi Bangunan gedung (bangunan atas) muka tanah Perletakan (tumpuan) Pondasi (bangunan bawah) Penggambaran pada mekanika teknik 1. Ada 4 macam perletakan dalam mekanika teknik yaitu : rol.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -26- Gambar 1. a.13. .2. ada reaksi vertikal. jadi tidak bisa mempunyai reaksi horizontal.3.

maka perletakan sendi tidak boleh turun jika kena beban dari atas. ada reaksi vertikal dan horisontal punya reaksi momen. Jepit Rv balok jembatan Gambar 1. Oleh karena itu perletakan sendi harus mempunyai reaksi horizontal (RH). Rv RH c.16. yang bertugas untuk menyangga sebagian dari jembatan (Gambar 1. oleh Rv Gambar 1. Aplikasinya perletakan sendi di dalam mekanika teknik Bentuk perletakan jepit dari suatu .18. Skema perletakan Sendi Pada perletakan karena itu mempunyai sendi tersebut harus reaksi vertikal (Rv).17). Karena struktur harus stabil. Aplikasinya perletakan rol dalam mekanika teknik Rv b.17.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -27- Balok jembatan Gambar 1. Jadi sendi tidak mekanika teknik. Sendi Bentuk perletakan sendi pada suatu struktur jembatan. Strukt RH silinder baja Selain itu perletakan sendi tidak boleh bergeser horizontal. RH sendi tersebut bisa berputar jika Penggambaran perletakan sendi dalam diberi beban momen.

ada reaksi vertikal. Skema perletakan pendel pada suatu struktur baja RR R .20. jadi hanya mempunyai satu reaksi yang searah dengan sumbu pendel.21. bertugas untuk menyangga sebagian dari struktur baja (Gambar 1. Pendel V Penggambaran perletakan jepit dalam mekanika teknik.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -28- RH RM RV RH RM R d. Aplikasi perletakan jepit di dalam mekanika teknik Bentuk perletakan jepit dari suatu struktur. Penggambaran perletakan pendel dalam mekanika teknik.) Pendel tersebut hanya bisa menyangga sebagian jembatan. horizontal. hanya searah dengan sumbu pendel tersebut. dan momen Gambar 1. ada reaksi searah pendel. balok baja pendel Gambar 1.21.

22. Aplikasi di perletakan dalam pendel pende l mekanika teknik .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -29- balok baja Gambar 1.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -30- 1. Contoh : benda dalam keadaan seimbang (tidak bisa bergerak) kotak lem meja Gambar 1. a. Keseimbangan vertikal .3. maka struktur-strukturnya harus dalam keadaan seimbang.3. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat memahami pengertian keseimbangan dalam suatu struktur dan syarat-syarat apa yang diperlukan. Bangunanƛbangunan tersebut supaya tetap berdiri. Apa saja syaratsyaratnya supaya suatu bangunan tetap seimbang.3. Pengertian tentang keseimbangan Sebuah kotak yang dilem diatas meja. dan bagaimana cara menyelesaikannya.2. hal itu merupakan syarat utama. suatu kotak yang dilem diatas meja 1. Pendahuluan Dalam bidang teknik sipil mahasiswa selalu diajak berbicara tentang bangunan gedung. maka kotak tersebut dalam keadaan seimbang. serta manfaatnya dalam struktur tersebut. jembatan dan lain sebagainya. yang berarti kotak tersebut tidak bisa turun.1. mahasiswa perlu mengetahuinya. tidak bisa bergeser horisontal dan tidak bisa berguling. 1.23. JUDUL : KESEIMBANGAN BENDA Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan bisa mengerti apa yang disebut keseimbangan pada suatu benda.

25) Gambar 1. Kotak Gambar 1. maka kotak tersebut tidak bisa turun. yang berarti Kotak tenggelam lumpur tersebut tidak mampu memberi perlawanan secara Pv Rv vertikal (Rv). Keseimbangan vertikal Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas lumpur Kalau kotak tersebut dibebani Lumpur secara vertikal (Pv).24. perlawanan Meja vertikal tersebut (Rv) disebut reaksi vertikal. maka kotak tersebut langsung tenggelam. yang meja berarti lem yang merekat antara kotak dan meja tersebut .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -31- Pv kalau kotak tersebut dibebani Kotak Lem secara vertikal (Pv).25. maka kotak tersebut tidak bisa bergeser secara horisontal. yang berarti meja tersebut mampu memberi perlawanan vertikal (Rv). Kotak tenggelam dalam lumpur b. Keseimbangan horisontal PH Kotak Lem RH Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH). (Gambar 1.

27) Gambar 1. perlawanan momen tersebut (RM) disebut dengan reaksi momen. maka kotak tersebut tidak bisa berputar (tidak bisa terangkat).26. karena tidak ada yang menghambat. maka kotak tersebut langsung bergeser. Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem Kalau kotak tersebut dibebani secara PH kotak yang bergeser horisontal (PH). yang berarti lem perekat antara kotak dan meja tersebut mampu memberikan perlawanan momen (RM).27. Perlawanan horisontal tersebut (RH) disebut reaksi horisontal.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -32- mampu Gambar 1. sehingga bisa menahan kotak untuk tidak bergeser. yang berarti meja tersebut tidak mampu memberi perlawanan horisontal (RH) (Gambar 1. Keseimbangan horizontal memberi perlawanan horisontal (RH). Kotak yang bergeser Karena beban horizontal c. Keseimbangan Momen Kalau kotak tersebut dibebani momen (PM). PM Kotak Lem Meja .

momen maka kotak tersebut bisa terangkat. Gambar 1. RV Meja tidak bisa bergeser horisontal. dan tidak bisa terangkat. yang RH berarti harus stabil.29.30. benda tersebut harus tidak bisa turun. PM Kotak yang terangkat Kalau dibebani kotak tersebut (PM). Kotak yang terangkat karena beban momen d Keseimbangan Statis PV PH PM Kotak Lem  Kalau kotak tersebut di lem diatas meja. Keseimbangan statis . Meja karena tidak ada lem yang mengikat antara kotak dan meja tersebut. RM Gambar 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -33- Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem. meja mampu yang tersebut berarti tidak memberikan perlawanan momen (RM).

maka pada tumpuannya mampu memberi perlawanan secara horisontal (RH ).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -34-  Kalau kotak tersebut dibebani secara vertikal (PV). atau RV . maka harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : 7V = 0 (jumlah gaya-gaya vertikal antara aksi (beban) dan reaksi harus sama dengan nol) 7H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara aksi (beban) dan reaksi sama dengan nol) 7M = 0 (jumlah gaya-gaya momen antara aksi (beban) dan reaksi harus sama dengan nol).  Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH ).3.4. Suatu benda diatas meja dengan berat sendiri = 5 kg Pv = 5 kg . agar kotak tersebut tidak bisa turun syarat minimum RV = PV. 1. maka pada tumpuannya mampu memberi perlawanan secara momen (RM ). maka syarat minimum RM = PM atau RM . tumpuannya mampu memberi perlawanan secara vertikal pula. dapat dikatakan bahwa suatu benda yang stabil atau dalam keadaan seimbang. Latihan 1.PV = 0 atau 7V = 0 (jumah gayagaya vertikal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol). Agar kotak tersebut tidak bisa bergeser secara horisontal maka syarat minimum RH = PH atau RH ƛ PH = 0 atau 7H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol)  Kalau kotak tersebut dibebani secara momen (PM ).  Dari variasi tersebut diatas. Agar kotak tersebut tidak bisa terpuntir (terangkat).PM = 0 atau 7M = 0 (jumlah gaya-gaya momen beban dan reaksi harus sama dengan nol).

Sendi punya 2 reaksi . notasi. Suatu kantilever (konsol) dengan beban seperti pada gambar.3.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -35- Berapa reaksi vertikal yang terjadi supaya balok tersebut tidak turun ?.Jepit punya 3 reaksi . RH dan RM sejajar dengan batang pendel o Syarat Keseimbangan Ada 3 syarat keseimbangan yaitu : 7v = 0 7H = 0 7M = 0 1.6. satuan.3. notasi. PV = 5 kg PH = 2 kg PM = 5 kgm Cari reaksi-reaksi yang terjadi supaya konsol tersebut tak roboh. 1.5. kg atau ton atau Newton . Penutup .Pendel punya 1 reaksi Rv Rv dan RH Rv. Rv = ? 2. satuan kg/mƞ atau ton/mƞ atau Newton / mƞ o Macam Perletakan .Rol punya 1 reaksi . Rangkuman o Macam-Macam Beban . q. P.Beban terbagi rata.Beban terpusat.

ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM Bab I. Soemono ƏStatika IƐITB Bab I 1. Suwarno. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci yang ada.7. Nomor Soal 1 2 Reaksi yang ada Rv Rv RH RM Besar Reaksi 5 kg 5 kg 2 kg 5 kg m Arah o o p 1 1. Senarai Beban = aksi Reaksi = perlawanan aksi .3. Daftar Pustaka 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -36- Untuk mengukur prestasi. 2.8.3.

1. 2. Balok jembatan diatas 2 Balok jembatan B A rol sendi perletakan A dan B Perletakan A adalah rol Perletakan B adalah sendi . jembatan dan lain sebagainya. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa selain dapat mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis tertentu. Pendahuluan Dalam bangunan teknik sipil. mengetahui syarat-syarat apa yang diperlukan dan bagaimana cara pemanfaatannya.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -37- MODUL 2 : ARTI KONSTRUKSI STATIS TERTENTU DAN CARA PENYELESAIANNYA 2. Mahasiswa diwajibkan memahami struktur yang paling sederhana sebelum melangkah ke yang lebih kompleks. seperti gedung-gedung.1.1. mulai dari yang sederhana sampai dengan yang kompleks. sistim yang paling sederhana tersebut disebut dengan konstruksi statis tertentu. JUDUL : KONSTRUKSI STATIS TERTENTU Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis tertentu. ada beberapa macam sistem struktur. Contoh : contoh struktur sederhana yaitu balok jembatan diatas 2 tumpuan.

1. jumlah bilangan yang tidak diketahui dalam persamaan tersebut maximum adalah 3 buah. 2. A = sendi dengan 2 reaksi tidak RAH A B diketahui (RAV dan RAH adalah reaksi-reaksi vertikal dan horizontal RAV RBV di A). Jika dalam menyelesaikan suatu konstruksi tahap awal yang harus dicari adalah reaksi perletakan.1. Definisi Statis Tertentu Suatu konstruksi disebut statis tertentu jika bisa diselesaikan dengan syaratsyarat keseimbangan. maka jumlah reaksi yang tidak diketahui maksimum adalah 3.maka pada konstruksi statis tertentu yang harus bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan.2. B= rol dengan reaksi tidak diketahui (RBV = reaksi vertikal di B) . Gambar konstruksi jembatan dalam Mekanika Teknik 2.1. Contoh a).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -38- Gambar 2. Ada beberapa syarat-syarat keseimbangan Sesuai dengan materi yang sebelumnya ada 3 (tiga) syarat keseimbangan yaitu : § V ! 0 ( jumlah gaya  gaya vertikal sama dengan nol) § H ! 0 ( jumlah gaya  gaya horisontal sama dengan nol) § M ! 0 ( jumlah momen sama dengan nol) Kalau dalam syarat keseimbangan ada 3 persamaan. Balok diatas dua perletakan dengan P beban P seperti pada gambar.3.

2. P Suatu konstruksi kolom yang berkonsol dengan perletakan di A adalah jepit. A = jepit dengan 3 reaksi yang tidak diketahui. Konstruksi statis tertentu c) P Balok diatas 2 perletakan A = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RAV dan RAH (reaksi vertikal dan reaksi horisontal di A). Konstruksi statis tidak tertentu .4. Konstruksi statis tertentu Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 3 buah. Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 4 buah.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -39- Gambar 2. b). RAV = reaksi vertical di A RM RAH A RAV Gambar 2. Jumlah reaksi yang tidak diketahui ada 3 buah. RAH = reaksi horizontal di A RM = momen di A. B = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RBV dan RBH (reaksi vertical dan reaksi horizontal di B). maka konstruksi tersebut adalah konstruksi statis tertentu.3. sedang persamaan syarat keseimbangan hanya ada 3. maka konstruksi tersebut statis tak tertentu. maka konstruksi tersebut adalah statis tertentu. A B Gambar 2.

Perletakan A adalah sendi dan di B adalah rol. 2. Penutup Untuk mengukur prestasi.1. jika bisa diselesaikan dengan persamaan syarat-syarat keseimbangan. P C A B suatu balok ABC berkantilever terletak diatas dua perletakan dengan beban P seperti pada gambar.mahasiswa bisa melihat kunci dari soal-soal yang ada sebagai berikut : Jawaban Soal P C A B titik A B Macam Perletakan Sendi sendi Total reaksi Jumlah reaksi 2 buah 1 buah 3 buah .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -40- 2.6. Rangkuman Konstruksi disebut statis A tertentu. Tunjukkan apakah konstruksi tersebut statis tertentu atau bukan. Latihan a).4. b). Tunjukkan apakah konstruksi statis tertentu atau bukan. P B C dua seperti pada adalah tersebut suatu balok ABC terletak diatas perletakan dengan beban P gambar.1. Perletakan A dan C sendi.5. Persamaan syarat-syarat keseimbangan adalah 3 buah 7V = 0 7H = 0 dan 71 = 0 2.1.

kayu. Senarai Konstruksi statis tertentu = konstruksi yang bisa diselesaikan syarat-syarat keseimbangan dengan Itik A B 2.2. Jadi konstruksi statis tidak tertentu.1. 2. Pendahuluan Bangunan teknik sipil pada umumnya terbuat dari struktur beton. Dalam pembuatan struktur-struktur tersebut perlu diketahui ukruan atau yang lazim disebut dengan demensi dari tiap-tiap elemen . JUDUL : GAYA DALAM Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa bisa mengetahui apa yang disebut dengan gaya dalam dan bisa mengetahui bagaimana cara mencarinya.2. Suwarno ƠMekanika Teknik Statis Tertentuơ UGM bab I 2. 2. Daftar Pustaka 1. b) P B C konstruksi A Macam Perletakan Jumlah reaksi Sendi 2 buah sendi 2 buah Total reaksi 4 buah Persamaan tidak bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan. Jadi diatas adalah statis tertentu. baja dan lain-lain.1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -41- Bisa diselesaikan dengan persamaan syarat keseimbangan. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat menggunakan teori yang telah diberikan untuk menghitung gaya dalam suatu struktur serta bisa menggambarkan gaya-gaya dalam tersebut secara rinci pada struktur statis tertentu.7.1.8. Suwarno ƠStatika Iơ ITB bab I 2.

o Dua buah struktur seperti pada gambar (a) dan (b) dengan beban (P) dan bentang (l) berbeda.kecil dalam membawa beban P tersebut urat-urat yang ada pada tangannya tertegang dan menonjol keluar sehingga kita bisa melihat alur uratP = 5 kg P = 5 kg uratnya. maka balok tersebut akan menderita beberapa gaya dalam yaitu : y Balok menderita beban lentur yang menyebabkan balok bentuk tersebut berubah Gaya melentur. Contoh : a).2. memerlukan gaya dalam.3. Macam-macam Gaya dalam P1 P reaksi A RA l Gambar 2. maka kedua tangan orang A dan B tersebut tertegang. Kalau beban P tersebut dinaikkan secara bertahap. yang satu lagi besar. sampai suatu saat tangan A tidak mampu Gambar 2. Orang membawa membawa beban tersebut. 2.6. kolom.2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -42strukturnya (balok. Contoh (a) P2 B o Gaya dalam yang diterima pada struktur (a) berbeda pula dengan gaya dalam yang diterima oleh struktur (b). pendek (A).8. satu kecil. Untuk menentukan demensi-demensi dari elemen struktur tersebut. Contoh (b) 2. tinggi (B). pelat. dansebagainya). Pengertian tentang Gaya Dalam A L2 B Ada 2 (dua) orang yang mempunyai bentuk tubuh yang berbeda. Namun hal ini tidak terjadi pada B karena orangnya besar.5. P1 A L1 Gambar 2.7. dalam yang menyebabkan pelenturan balok tersebut disebut momen yang . beban Beban maksimum yang dipikul oleh orang A akan lebih kecil dari pada beban maksimum yang bisa dipikul oleh orang B karena diameter lengan orang A lebih kecil dari diameter lengan orang B. maka demensi dari struktur (a) akan berbeda pula dengan struktur (b). Yang menjadikan urat-urat tangan orang (A) tersebut menonjol sehingga tampak dari luar A B adalah karena adanya gaya dalam pada tangan tersebut akibat beban P = 5 kg. Balok diatas 2 perletakan dan menerima beban P (sehingga melendut) P B beban RB Suatu balok terletak pada 2 perletakan dengan beban seperti pada gambar. demikian juga untuk orang B. tinggi. Gambar 2. Jika kedua-duanya membawa barang beban P = 5 kg. P P Untuk A orangnya pendek.2.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -43- .

½ x 1) gaya jarak gaya jarak .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -44- o Balok tersebut menderita gaya tekan karena adanya beban P dari kiri dan kanan. Balok yang menerima beban terpusat dan terbagi rata Definisi Momen adalah perkalian antara gaya x jarak. ada beban terbagi rata q (kg/mƞ) dan beban terpusat P (kg). x ƛ q. Balok yang terletak antara tumpuan A dan B menderita (menerima) momen. Mx = RA . Balok tersebut akan menerima beban lentur sehingga balok akan melendut.2. (atau menerima gaya dalam momen) Gambar 2.x. yang berarti balok tersebut menerima beban lentur atau momen.4.9.(pers. Gaya Dalam Momen a). balok tersebut menerima gaya dalam yang disebut gaya lintang dan diberi notasi D. o Balok tersebut menderita gaya lintang. 2. akibat adanya reaksi perletakan atau gaya-gaya yang tegak lurus ( B ) sumbu batang. Balok yang menerima gaya yang searah dengan sumbu batang. maka akan menerima beban gaya dalam yang disebut Normal yang diberi notasi N. Pengertian Momen (M) c A c x RA l (m) RB P (kg) q kg/mƞ B Suatu balok yang terletak diatas 2 tumpuan dengan beban seperti pada gambar. Momen untuk daerah balok antara perletakan A ke perletakan B dengan variable x bisa ditulis sebagai berikut : I (1) II (dihitung dari kiri ke potongan c-c) Ʀ.

Gambar potongan struktur bagian kiri Kalau dihitung dari sebelah kanan ke (c-c) I II Mx = RB (l-x) ƛ q (l ƛ x) .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -45- Misal kita ambil potongan c-c yang terletak sejarak x dari A RA (reaksi di A) merupakan gaya x = adalah jarak dari RA ke potongan c-c sejauh x qx = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh x yang diberi notasi (Q1 = qx) ½x= adalah jarak dari titik berat beban terbagi rata sepanjang x ke potongan c-c I II q (kg/mƞ) titik berat qx c ½x Q1= qx x c Gambar 2. 2) Kalau diambil di potongan c-c RB (reaksi di B) merupakan gaya I (l-x) = jarak dari RB ke potongan c-c Q (l-x) = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh (l-x) q (l-x) = Q2 ½ (l-x) = adalah jarak dari titik berat beban terbagi . (pers. ½ (l -x) (dihitung dari kanan) ƦƦƦ.10.

GayaRA RB gaya tersebut adalah RA . Gambar balok menerima beban memberi gaya lintang terhadap . menerima gaya-gaya yang c arahnya B (tegak lurus) terhadap sumbu balok. Gaya Lintang (D) c P (kg) q (kg/mƞ) Kalau dilihat. Jika momen tersebut mampu melentur suatu tertarik tertarik balok sehingga serat atas tertekan dan serat Tanda momen (+) * Tanda momen (+) * bawah tertarik maka momen tersebut diberi tanda (+) = positif. ½ (l-x) c Q2 = q (lx) l -x y Tanda Gaya Dalam Momen Untuk memberi perbedaan antara momentertekan Gambar 2. Tanda momen 2.12. q dan RB gaya-gaya tersebut yang Gambar 2. Gambar potongan struktur bagian momen yang mempunyai arah berbeda. balok yang terletak diatas 2 (dua) perletakan A dan B. Demikian juga sebaliknya. Tanda momen (-) * Gambar 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -46- II c c q (kg/mƞ) titik berat dari q (l-x) (2) Kalau menghitung besarnya momen di cboleh dari kiri potongan seperti pada persamaan (1) ataupun menghitung dari kanan potongan seperti pada persamaan dan hasilnya pasti sama.5.11.13. maka tertekankanan perlu memberi tanda terhadap momen tersebut.2.

Kalau kita ambil salah satu potongan antara perletakan A-B yaitu c-c.15.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -47- Definisi : Gaya lintang adalah gaya-gaya yang B dengan sumbu batang. maka (1) Dc = RA ƛ q x = RA ƛ Q1 (gaya lintang di c yang dihitung dari kiri x q (kg/mƞ) c potongan) c Q1=q x RA Gambar 2. Potongan balok bagian kanan . y kalau dilihat dari C ke kiri potongan. Potongan balok bagian kiri y (2) Kalau dihitung dari titik c ke kanan potongan. maka coba gaya-gaya apa saja yang arahnya B (tegak lurus) terhadap sumbu AB. maka D1 = RB ƛ q (l-x) ƛ P = RB ƛ Q2 ƛ P kanan potongan) P c q (kg/mƞ) (gaya lintang di c yang dihitung dari c Q2 = q (lx)x) (l ƛ RB Gambar 2.14.

P Jika dilihat dari kanan potongan c. jumlah gaya arahnya ke atas. maka perlu memberi tanda (+) dan (-). jadi jumlah gaya-gayanya yang B sumbu hanya RA dengan arah o (keatas) jadi tanda gaya lintang adalah positip. maka P > RB sehingga jumlah antara P dan RB arah ( q ) kebawah. Karena RB adalah merupakan reaksi. jumlah gaya arahnya ke Gambar 2. gaya yang ada hanya RA. atau kalau dilihat di kanan RB potongan. C RA Dilihat dari kiri potongan C. . Definisi : * Gaya lintang diberi tanda positif jika dilihat di kiri potongan titik yang ditinjau. Skema gaya lintang dengan tanda positif (+) Coba dilihat pada Gambar 1 dari kalau kita mau menghitung besarnya gaya lintang di c (Dc). gaya yang C ada B terhadap sumbu adalah RB ( o ) keatas dan RB P (q ) kebawah.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -48- y Tanda Gaya Lintang P C A RB C C RA B Untuk membedakan gaya lintang.16.

17 bagaimana kalau kita mau menghitung besarnya gaya P D lintang di D (DD). maka resultante gaya-gaya antara RA dan P arahnya adalah kebawah ( q ). gaya-gaya yang B RA sumbu hanya RA dan P. A Dilihat dari kiri potongan D. Jadi RA < P. Jika dilihat di sebelah kanan potongan gayagaya yang B sumbu hanya RB dengan arah ke RB atas ( o ).17. jika dilihat di kiri titik potongan P A D B D yang ditinjau arahnya kebawah ( q ) dan bila ditinjau di kanan titik potongan yang ditinjau arahnya ke atas. D maka gaya lintangnya tandanya negatif.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -49- * P D B Definisi : * Gaya lintang diberi tanda negatif. karena RA adalah reaksi. Gambar 2. Gambar Skema gaya lintang 2 dengan tanda negatif (-) Coba dilihat pada Gambar 2. Jadi gaya lintangnya tandanya adalah .

19 dimana ada gaya-gaya yang // Gambar 4 RB Gambar 2. berarti balok tersebut tidak mempunyai gaya normal (N). P P Kalau dilihat pada Gambar 3. * Tanda Gaya Normal . Pengertian Tentang Gaya Normal (N) P A B Definisi : Gaya normal adalah gaya-gaya yang arahnya sejajar (//) terhadap sumbu beban balok.18. 2. maka pada batang AB (Gambar 3.19) menerima gaya normal (N) sebesar P.Jika gaya yang ada arahnya menekan balok. .19.18 yang RA Gambar 3 Gambar 2. * Jadi kalau kita lihat balok yang seperti pada Gambar 2. Balok menerima beban gaya normal RA (sejajar) sumbu batang yaitu P. Balok tanpa beban normal RB mana tidak ada gaya-gaya yang sejajar sumbu batang. maka tanda gaya normalnya P adalah negatif (-) { € €p P n €€ }.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -50- Jadi untuk menghitung gaya lintang.2.6. baik dihitung dari kiri ataupun kanan hasilnya harus sama.

2.7.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -51- .Jika gaya yang ada arahnya menarik balok. 2. Ringkasan Tanda Gaya Dalam M tekan M tanda momen positif (+) tarik tarik tekan M M tanda momen negatif () tanda gaya lintang positif (+) tanda gaya lintang negatif (-) tanda gaya normal negatif (-) . maka tanda gaya normalnya P €€ adalah positif (+) { n P € €p }.

Ringkasan tanda gaya dalam 2. Contoh : Penyelesaian Soal 1 Sebuah balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban seperti pada gambar.8. P3 = 2t (´) P4 = 3t . P1 = 2 2 t (º).20. q2 = 1 t/mƞ P1 = 2 2 t q1 = 2t/mƞ P2 = 6 ton q2 = 1 t/mƞ P4 = 3 ton P1v = 2 t 45 ° C P1H = 2 t A D P = 2t 3 E B RBV RBH 6m RAV 2m 10 m 2m . P2 = 6t (¶).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -52- tanda gaya normal positif (+) Gambar 2.2. q1 = 2 t/mƞ.

N. Mencari RAV dengan 7MB = 0 (jumlah momen-momen terhadap titik B = 0) RAV.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -53- Gambar 2. yang searah diberi tanda sama. sedang yang berlawanan arah diberi tanda berlawanan.6.6 + P2 + q2.3 + P1R.12  2.10 ƛ P1R.7 ƛ P2.q1 ƛ P2. maka perlu memakai kontrol yaitu § V = 0 (P1R + q1.2) ƛ (RAR + RBR) = 0 (2 + 2.1 = 0 2.7  6.2 . (Bidang M.1  6.4 + 2.4  2.6.6 + 6 + 1.6.6. Untuk mengetahui apakah reaksi di A (RA) dan reaksi di B (RB) adalah benar.1.1 = 13 ton (µ)Karena tanda + berarti arah sama dengan permisalan (+) 10 RAV = Pemberian tanda pada persamaan berdasarkan atas arah momen.12 ƛ q1. RBV 71%! RBV.6 ƛ q1.2 = 9 ton (µ) 10 RBV = Karena tanda RBV adalah positif berarti arah reaksi RBV sama dengan permisalan yaitu (µ) keatas. dan D) Jawab : Mencari reaksi vertical RA (µ) keatas dan arah reaksi vertical di B Dimisalkan arah reaksi vertical di A RB (µ) juga keatas.3  2.21.2) ƛ (13 + 9) = 0 Beban vertikal Reaksi vertikal .10 ƛ q2.q2. gaya lintang dan bidang normal.6  2. Balok diatas 2 perletakan dan pembebanannya Diminta : Gambar bidang momen.2 = 0 1.

P1R + RAR = -2 + 13 = 11 ton (di kiri potongan arah gaya lintang ke atas). di kiri potongan arah gaya lintang kebawah (¶) DA kn (gaya lintang (D) di kanan titik A) DA kn = . D Beban P1 = 2 2 (45°) bisa diuraikan menjadi P1V = 2t (¶) dan P1H = 2t ( ) P2 = 6 q1 = 2 ton 2t t/mƞ P3 = 2 ton C D 6m RA = 13 t X A .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -54- Mencari Raksi Horizontal Karena perletakan A = rol tidak ada RAH. Untuk mencari RBH dengan memakai syarat keseimbangan ( § H = 0) §H = 0 RBH = P1H + P3 + P4 = 2 + 2 + 3 = 7 ton (³) Menghitung dan Menggambar Gaya Lintang (D) Dihitung secara bertahap Daerah C A lihat dari kiri Gaya lintang dari C ke A bagian kiri adalah konstan DA kr = P1R = . Perletakan B = sendi ada RBH.2 ton (gaya lintang (D) di kiri titik A.

jadi Bidang D sama senilai DD kn (konstan dari D sampai B).6 didapat Untuk x = 6 m DD kn : sedikit di kanan titik D. melampaui beban P2. Dx = -2 + 13 ƛ q1 x = (-P1V + RA ƛ q1x) Persamaan (Linier) didapat Untuk x = 0 DAkn = -2 + 13 = + 11 ton (di kiri potongan arah gaya DD kr= -2 + 13 ƛ 12 = .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -55- Variabel x berjalan dari A ke D (sebelah kiri titik P2). Daerah B-E 2m q2 = 1 t/mƞ x. DE = 0 Dx2 = q2 . DD kn : -2 + 13 ƛ 12 ƛ 6 = . Variabel x2 berjalan dari E ke B.1ton lintang ke bawah) 2.7 ton (dikiri potongan arah gaya lintang ke bawah) Dari titik D s/d B tidak ada beban. x2 = + x2 (persamaan liniear) . sedang beban yang dihitung dimulai dari titik C.2 RBV = 9 ton B E P4 = 3 ton Lebih mudah kalau dihitung dari kanan dari E menuju B.

7 ton (kanan potongan arah ke atas) Melewati perletakan B MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG NORMAL (N) Daerah CD dihitung dari kiri sampai D.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -56- DB kn kanan perletakan B (x2 = 2 m) arah ke DB kn = + 2 ton (kanan potongan kebawah) DB kr (kiri titik B) DB kr = + 2 ƛ 9 = .4 ton (gaya normal menekan batang) NB kr = NDkn = . ND kn = (-2 ƛ 2) ton = .2 ton (gaya normal menekan batang) Daerah DB dihitung dari kiri (beban yang dihitung mulai dari titik C. dimana gaya normal dihitung dari titik C. ND kr = . Dari kiri DBkn = (-4 + 7) t = + 3 ton (gaya normal menarik batang) MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG MOMEN (M) Daerah C A C P1H = 2t 2m x P1V = 2t A . NB kn = + 3 ton (gaya normal menarik batang) Kalau dihitung dari kiri.4 ton Daerah BE dihitung dari kanan.P1H = . dari E ke B nilai gaya normal konstan. P2 tidak termasuk dari C ke D nilai gaya normal konstan. batang dari D ke B nilai gaya normal konstan).

4 tm.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -57- Variabel x berjalan dari C ke A Mx = .2 x (linier) Untuk x = 0 x=2 Mc = 0 MA = .2. sehingga tanda negatif (momen P1v . x mengakibatkan serat atas tertarik (-) ).2 = .P1v . Daerah A D . x = .

x1 = 5.2 (5.5 ƛ 4 = 26.5 m Mmax = .1 RAV = 13t 2 m Variabel x1 berjalan dari A ke D Mx1 = -P1V (2 + x1) + RA.½ q1 x12 + 11 x1 ƛ 4 6 m MENCARI MOMEN MAXIMUM D Mx 1 !0 d x1 d Mx1 !  q1 x1  11 ! 0 d x1 p x1 ! 5. lihat pada Gambar .m Letak dimana harga Mmax = Letak dimana harga (D = 0) 2.22.5.25 tm.5.½ .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -58- Gaya-gaya yang dihitung mulai dari titik C q1 = 2 t/mƞ P1V = 2t C P1H = 2t A D x.5)² + 11.x1 ƛ ½ q1 x1² Mx1 = -2 (2 + x1) + 13 x1 ƛ ½ q1 x12 (persamaan parabola) = .

½ .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -59- Mencari titik dimana M = 0 Mx1 = .4 = -2 tm didapat Untuk x2 = 2 .q1.62 m (tidak mungkin) Untuk x1 = 6 MD = -36 + 66 ƛ 4 = + 26 tm Daerah E-B (dihitung dari kanan.½ . 1.x12 + 11 x1 ƛ 4 = 0 = x12 ƛ 11 x1 + 4 = 0 x1 = 0.½ q2 x22 Untuk x2 = 0 didapat ME = 0 MB = . titik E ke titik B) variabel x2 berjalan dari E ke B q2 = 1 t/mƞ P4 = 3 t B 2m x2 E Dihitung dari kanan Parabola Mx2 = .3756 m (yang dipakai) x1ƞ = 10.

5 m linier - 4 tm + - 2 tm parabola 0. N.22.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -60- P1V = 2 t C =2t A q1 = 2t/mƞ P2 = 6 ton D P3 = 2 ton B RBV ton q2 = 1t/mƞ E P4 = 3 ton = P1H RAV = 13 t RBH 7t =9 11 2 - + 6 t BIDANG D 1 t - 2 t + 7 t 2 t 2 t 4t + 3 t BIDANG N 5. Gambar bidang M. D balok diatas 2 tumpuan .286 0.3756 parabola BIDANG M linier Gambar 2.

pilih yang lebih mudah dalam hal ini pilih yang dari kanan. N.5 parabola Dx2 = 2 + 1 + q .5 = 0 RD = 2 + 1 + 5. N. x2 Untuk x2 = 3 DB kr = 2 + 1 + 1. D Balok cantilever .1 = 8 t (o) Untuk menggambar gaya dalam kita bisa dari kiri atau kanan. P2 = 1t (¶) dan beban terbagi rata q = 1 t/mƞ Ditanya : Gambar bidang M.23. D 3m x1 x2 Jawab : Mencari reaksi di D dengan syarat keseimbangan RD = ? 7v = 0 RD ƛ P2 ƛ P1 ƛ q. Bidang M.5 32. x1 Untuk x = 3 DB kn = 2 + 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -61- 2.3 = 6 ton Untuk x2 = 5 DC = 2 + 1 + 5 = 8 ton Daerah A B Bidang M (dari kanan) MA = 0 linierGambar 2.3 = 5 ton (dari kanan potongan arah gaya ke bawah tanda positif (+) ). 5 8 BIDANG D + 1t Bidang D (dari kanan) DA kr = + 2 ton Daerah A B BIDANG M x1 merupakan variabel yang bergerak dari A ke B Dx1 = 2 + q.5 24. parabola x2 merupakan variabel yang bergerak dari A ke C Daerah B C 10. Contoh 2 Diketahui: KONSOL (CANTILEVER) P2 D 1t C 1m RD 2m B = q=1 t/mƞ P1 2t A Suatu konstruksi konsol (cantilever) dengan perletkan di D = jepit dengan beban P1 = 2t = (¶).9.2.

P1.24.5 tm ( ) MD : .5 = 32.1 (2.3.1.5² = . a) reaksi perletakan b) bidang N. Latihan Balok diatas 2 tumpuan. a) reaksi perletakan b) bidang N. D dan M Balok ADCB dengan beban seperti tergambar A = sendi B = rol P1 = 3 2 ton q = 1 ton/m· Ditanyakan.5 + 1) = -12 ƛ 3 ƛ 5.10. D dan M 45 ° Soal 2 P! t P3 = 32 2t HA A VA 2m 4m q = 1 t/m' 45° D B RB 2m C .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -62- 2 Daerah B .2 ƛ ½ .2.3 ƛ 5.C : Mx2 = -P1 x2 ƛ P2 (x2 ƛ3) ƛ ½ q x2 : MC = -2.5 t ( ) 2.5 ƛ 1.6 ƛ P2. Soal 1 P1 = 4t P2 = 4 2t HA A B VA 2m 3m 3m RB Balok AB dengan beban seperti tergambar A = sendi B = rol P1 = 4 ton P2 = 4 2 ton Ditanyakan.

t/m' HA A VA 6m ¡¢ ¤2   2 2t ° £ P1   2t 2m B RB 2m C Balok ADCB dengan beban seperti tergambar : A = sendi B = rol . reaksi perletakan b). bidang N. Ditanyakan. P1 = 2 ton P2 = 2 2 ton .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -63- Soal 3 q   . a). D dan M q = 1.5 ton /m· .

12. Penutup Untuk mengukur prestasi.2.11.5 ton 0. mahasiswa bisa melihat kunci dari soal -soal yang ada sebagai berikut : Jawaban Soal No.5 ton 3. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D D²B A²C C²D D²B A C D B Nilai 4.5 tm 0 Tanda/arah o o p .tekan + + + + Momen = M .5 ton 3.5 ton 0 9 tm 10. Rangkuman Dalam suatu konstruksi ada gaya dalam sebagai berikut : M (momen) dengan tanda + D (gaya lintang) dengan tanda + N (gaya normal) dengan tanda + - 2.2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -1- 2.5 ton 4 ton 4 ton 0 4.

3 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D²B²C A D kiri D kanan ² B kiri B kanan ² C X = 3.75 tm 4.tekan + + Momen = M + + Jawaban Soal No.13 tm 0.08 m kanan A A X = 3.375 ton 2.08 m D B C Nilai 4.0 tm 0 Tanda/arah o o p .375 ton 2 ton 0 0 7.625 ton 4.tekan + + Momen = M + + - . 2 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D D²B A ² D kiri D kanan B kiri B kanan C A D B C 2 m kanan D Nilai 3 ton 6 ton 3 ton 3 ton 0 3 ton 0 4 ton 2 ton 0 0 6 tm 2 tm 0 4 tm Tanda/arah o o p .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -2- Jawaban Soal No.625 ton 4.375 ton 2 ton 2 ton 4.

dx² } 0 karena dx = cukup kecil dan dx² bertambah kecil sehingga bisa diabaikan.qx dx d Dx !  qx dx (turunan pertama dari gaya lintang adalah beban) Keseimbangan momen 7 M = 0 di potongan II Mx + Dx dx ƛ qx . Dx dx dan qx.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -3- 2.dx. Hubungan Antara Momen (M) .dx . qx = beban terbagi rata Mx = momen di potongan I ( ) Dx = gaya lintang di potongan I ( o) qx . distribusi gaya dalam pada balok sepanjang dx Keseimbangan gaya ƛ gaya vertikal 7 V = 0 di potongan II Dx ƛ qx dx ƛ (Dx + d Dx) = 0 (kiri ada Dx ( o) dan qx dx ( q) dan kanan ada Dx + d Dx ( q) dDx = .24. Dengan beban sepanjang dx tersebut kita akan mencari hubungan antara beban. Gaya Lintang D dan q (Muatan) Pada gambar terdapat potongan sepanjang dx batang yang diberi beban terbagi rata (qx). dx o Kiri ada Mx . Mx + dMx = momen di potongan II ( ) dMx = selisih momen antara I dan II qx ½ dx beban qx. ½ dx ƛ (Mx + d Mx) = 0 ½ q. potongan tersebut antara I dan II sepanjang dx. dx = berat beban terbagi rata Sepanjang dx Dx + dDx = gaya lintang di potongan II (¶) dDx = selisih gaya lintang antara Potongan I dan II.3.0 d Mx = Dx . dx² . gaya lintang dan momen. ½ dx dan kanan ada Mx + dMx o ½ qx. .dx Mx Dx M x + dMx D x + dDx batang I dx II Gambar 2.

terutama untuk menghitung dan menggambar gaya dalam adalah (a) sama dengan balok biasa (horizontal). Namun disini perlu lebih berhati-hati karena dalam baloknya menghitung (b) Gambar 2. Dasar Penyelesaian Dalam penyelesaian struktur. Seperti pada gambar. Pengertian Dasar Balok miring adalah suatu balok yang berperan sebagai pemikul struktur yang posisinya membentuk sudut dengan bidang datar. Skema balok miring .25.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -4- d Mx ! Dx dx * turunan pertama dari momen adalah gaya lintang 2. Balok Miring Pada pelaksanaan sehari -hari sering kita menjumpai balok yang posisinya miring seperti : tangga.1. misal : tangga.4. dalam hal ini kita harus tahu bagaimana menyelesaikannya.4. balok atap dan lain sebagainya. Pada kenyataan sehari -hari balok-balok tersebut bisa berdiri sendiri atau digabungkan dengan balok vertikal atau horisontal. 2.

dan beban terbagi rata q = 1 t/mƞ dari D ke B dengan arah vertikal. Contoh soal Diketahui Suatu balok miring di atas 2 tumpuan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -5- Dalam hal ini mahasiswa bisa lebih mendalam dalam pengetrapan pengertian gaya -gaya dalam pada semua kondisi balok. 2.4. N. D Jawab : q = 1 t/mƞ B rol P 1=4 C P2=4 t D A R AH ­ E 1m 1m 1m RB Dim B = rol jadi reaksinya hanya 3 satu B sumbu batang 5 3 E send RAV 4m 1m 2m 1m 4 di B = rol jadi reaksinya hanya satu B sumbu batang . perletakan A = sendi duduk di bidang horizontal.2. Ditanya : Gambar bidang M. Beban P 1 = 4 t vertikal di C dan beban P2 = 4t vertikal di D. perletakan B = rol duduk pada bidang miring // dengan sumbu batang.

5 ƛ q.16.2.3 ƛ P 1.4 ƛ RAH.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -6- Gambar 2. Reaksi di B RB B bidang sentuh RB dicari dengan 7 MA = 0 RB.1 = 0 RAV = 7.2 ƛ 2.3 ƛ P2.16 ton 5 Mencari R AV dengan 7 M B = 0 RAV 7 MB = 0 RAV.2.a.3 ƛ 4.3 ƛ 4.3.5 ƛ 1.3 ƛ P2.26. RAH 7 H = 0 RAH ƛ RB sin2 = 0 3 RAH = .2.1 = 0 RB = 5 Untuk mencari R AV dicari dulu R AH dengan syarat keseimbangan horizontal.1 = 0 18 ! 3.1.12 ton .3 ƛ 4. Pembebanan pada balok miring Untuk mencari reaksi kita lebih cepat kalau yang dicari reaksi di B dulu.2 ƛ 4.2 ƛ q.6 ton = 2.2 ƛ P1.4 ƛ 2.6 ton (arah R B B sumbu batang) RB.1 = 0 RAV.

3.2 ton Dc kr = .(4 + 4 + 2) sin E = -10.3. 4/5 = .6 + q.// sumbu batang .6 + q.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -7- MEN GHITUN G BIDAN G NORMAL (N ) Beban P dan q diuraikan menjadi : .3.6 + (2 + 4) 4/5 = 1.B sumbu batang 1 m a E q q E b Gambar 2.1.3.6 ton MEN GHITUN G GAYA LINTAN G (D) (dari kanan) DB kr = .x .6 ton NC kr = .6 + (2 + 4 + 4) cos. sin E = -2 .2 .6 + 2. cos E DD kn = .3.6 ton Dari B ke D Dx = . 3/5 = .2 ton DD kr = -3.4 ton 4/5 .26.E! 4.RB = .b.(4 + 2) sin E = -6 .3.2 ton (dari kanan) ND kr = . Distribusi beban pada balok miring Gaya yang // sebagai bata ng Gaya yang B sebagai batang menjadi gaya normal (N) a ! q sin E ¾ ® ¯ ¿ b ! q cos E À ° menjadi gaya lintang (D) ND kn = -2q . cos E= .3/5 = . 3/5 = -1.

q.6 .1 cos E = 3.6 . N.75 ƛ 2. 3. 2 1  .2 ƛ P. 3 .5 tm Gambar bidang M.  .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -8- 1 t/mƞ B 4t 4t D A 1m C 1m 2m x 3m 1 t/mƞ MEN GHITUN G BIDAN G MOMEN (M) Dihitung dari kanan B ke D 4 t C A Untuk x = 0 Untuk x = 2 MB = 0 M D = 3.2.4 !  7 tm 4/5 2 4 t D x B RB x 1 Mx = RB .2 ƛ 4.1 = + 5. D 1 t/mƞ 4t B .1.q.x ² cos E 2 x cos E E x Mc = RB .

Gambar 2.27. Bidang gaya dalam pada balok miring .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -9- Seperti teori sebelumnya kita bisa menghitung gaya -gaya dalam dari dan hasilnya harus sama. Seperti contoh dibawah ini.

16 .1 . sin E NB = . beban tekanan tanah dan lain sebagainya. 4/5] = . DB = -2 ƛ 2.5.(7.5. Gaya lintang dari D ke B adalah linier karena ada beban terbagi rata. Sin E (gaya // sumbu batang) RAH  RAV = 7. Cos E) RAH = 2. Contoh dinding dinding tangki tangki Sin E = 3/5 Cos E = 4/5 air . 3/5 = .[(7.16 . DA kn = 7. sin E (gaya B sumbu batang) RAH.3.16 .2 ton. 4/5 ƛ 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -10- PERHITUN GAN DARI KIRI RAV diuraikan menjadi : RAV. sin E + RAH .1. 4/5 = . NC kn = .6 ton Gaya normal di D kanan ada pengaruh P = 4 ton.R AH sin E Gaya lintang dari A kn ke C kiri adalah konstan. sin% E  E RAV R AH sin E A E RAH cos E N = .16 . 4/5) t = . 4/5] = . 2. Beban Segitiga Pada kenyataan di lapangan beban tak hanya terpusat a tau terbagi rata.12 ƛ 4). 3/5 = 1. 3/5 + 2.3.12 ƛ 4 ƛ 4) 4/5 ƛ 2.2 + q.1.12 ƛ 4) 4/5 ƛ 2. namun ada yang berbentuk segitiga seperti beban tekanan .1 .1.16 t D = + RAV . 3/5 = 0 ton Gaya lintang DA kn = R AV cos E .2 ton Gaya lintang di D kanan ada pengaruh P = 4t DD kn = (7. Pengertian Dasar Beban segitiga seiring terjadi pada kenyataan di lapangan seperti beban tekanan air dan tekanan tanah.2 ton Gaya normal dari D ke B linier { NB = . sin E E RAV .16 .6 ton Gaya normal di C kanan ke D kiri adalah konstan Di Nc kanan ada pengaruh beban P = 4 ton. cos E (gaya // sumbu batang) RAV.12 .6 ton 2.16 .4 ton Gaya lintang di C kanan ada pengaruh P = 4 ton Gaya lintang dari C kanan ke D kiri adalah konstan Dc kn = (7.[(7.RAH .2 + 2. cos E .12 NA kn = . 3/5 = 4.1. cos E RAH diuraikan menjadi : RAH.12 ƛ 4 ƛ 4) 3/5 + 2. NDkn = .12 .2 . 3/5 + 2.(RAV . Cos E (gaya B sumbu batang) RAV .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-11-

2.5.2.

Gambar 2.28.a. Diagram beban segitiga

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-12-

Dasar Penyelesaian Prinsip dasar penyelesaiannya adalah sama dengan yang lain -lain namun kita harus lebih hati -hati karena bebannya membentuk persamaan.

Persamaan a x = x .a l ax A Px a.l 6 B

a t/mƞ

RA =

2/3x 1/3x

RB = P=

a .l ton 2 Gx ambar 2.28.b. Beban segitiga pada struktur

a .l 3

l Mencari Reaksi Perletakan Titik berat beban P : 2/3 l dari A atau 1/3 l dari B l 0 p R ! 1/ 3 l  P 1/3 l § M B ! 0 p R A .l  P .12/3 / 3l ! A l 1 / 3 l a.l a.l ton RA ! x ! 2 6 l 2/3 l § M A ! 0 p R B .l  P . 2 / 3 l ! 0 p R B ! P l 2 / 3 l a.l a.l x ! R ! ton l 2 3

Menghitung Bidang D (dari kiri) X = variable bergerak dari A ke B x Di potongan x ax = . a l Beban segitiga sepanjang x Px = ½ x. ax ax ² x Beban Px = ½ x . . a ! 2l l Persamaan gaya lintang : a.l ax ² Dx = RA ƛ Px = (parabola)  6 2l Persamaan pangkat 2 Mencari tempat dimana gaya lintang = 0

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-13-

D=0

RA ƛ Px = 0 a.l ax ² l² ! p x² ! 6 2. l 3 XD ! 0 ! l² 1 ! l 3 3 3

MEN GHITUN G BIDAN G M x Mx = RA . x ƛ Px . 3 a.l ax ² x = .x  . 6 2 .l 3 a a .l = (persamaan pangkat 3 / parabola) x  . x³ 6l 6

M max terletak di daerah untuk D = 0 1 x= l 3 3 3 a.l ¨ 1 ¸ ¸ a ¨1 M max = l 3  l l 3 ¹ © ¹ © 6 ª3 º º 6 ª3 a.l² a .l² 3 3 = 54 18

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-14-

Contoh Perhitungan ax = x
2/3 x 1/3 x

x .3 6 Jawab : h=3 ton/mƞ TOTAL BEBAN B P=½lxh RB P= 7 MB 0 RA = 7 MA 2 .9 = 3 ton 6 RB . l ƛ P.2/3 l = 0 RB .6-9.4 = 3.6 = 9 ton 2 RA.l ƛ P l/3 = 0 RA . 6-9.2 =

A Px RA 2 l/3 l=6 m P l/3

3,464 m 3t + D=0 BIDAN G D 6t

0 RB = 4 .9 = 6 ton 6

Menghitung Bidang D x = variable bergerak dari A ke B ax ! x x .3 ! 2 6

Gambar 2.29. Bidang gaya dalam pada beban segitiga x = 0 DA = + 3 ton x = 6 DB = - 6 ton + Menghitung Bidang M x Mx = RA . x ƛ Px . 3 x² x x³ = 3x . ! 3x  BIDA N G 4 3 12 Mmax M D=0 M max (x = 3,464 m) M
max

Px = ½ x . ax Px ! x x x² . ! 4 2 4 Dx = R A ƛ Px

Persamaan gaya lintang Dx = 3 x² 4

Tempat dimana gaya lintang = 0

x² D=0 !3 3 4 ¨ 3,464 ¸ 3.3,464 - © ¹ ! 10,392  3,464 ! 6,928 tm ª 12 º

2.5.3. LATIHAN Soal 1 : Balok Miring

D dan M Portal ACB dengan perletakan A = sendi .5 t/m' P=4t B HA A E 3m RB VA 4m Soal 3 : Balok dengan beban segitiga. D dan M Soal 4 3m RB . seperti tergambar Beban q = 1 t/m· . a) reaksi perletakan b) bidang N. q ¦ t/m' X RHA A VA L Balok AB dengan beban segitiga seperti tergambar A = sendi. . Beban q = 1 t/m· . P = 3 ton Ditanyakan. a) reaksi perletakan b) bidang N. B = rol Ditanyakan. P = 3 ton Ditanyakan. B = rol. D dan M 30° Soal 2 q = 1. B = rol.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -15- P q ¥ 1 t/m' C B ¥3t HA A VA 6m 1m Balok miring ABC ditumpu di A = sendi. a) reaksi perletakan c) bidang N. seperti tergambar.

88m jarak miring dr A A B C X = 2.tekan .815 t 4.16 t t 2.5.12 ton 5.tekan + + Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Momen = M + .6 t 0 0 3 tm 0 3.88 t 3 ton 9.63 t 2. mahasiswa bisa melihat kunci soal -soal yang ada sebagai berikut : Soal no.11 tm Tanda/arah o n o p .tekan .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -16- q § 3 t/m' RHA A B RAV 4m RB 2m C Balok ABC dengan beban segi tiga q = 3 t/m ditumpu pada A = sendi . besarnya merupakan fungsi x. 2. a) reaksi perletakan b) bidang N. Rangkuman - Balok miring adalah balok yang seiring dipergunakan dalam struktur tangga. Penutup Untuk mengukur prestasi.4. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi miring Titik A : VA B : RB Atau : H B VB A : HA A B kiri B kanan ² C A B kiri B kanan ² C X = 2.5. Ditanyakan.5. D dan M 2.50 t 2.76 ton 1.88 m Nilai 4. ketelitian perhitungan perlu. B = rol. Beban segitiga (() adalah beban yang terjadi akibat tekanan air dan tekanan tanah. seperti tergambar.50 t 1.

tekan Gaya lintang = D + + + Momen = M Jawaban soal no.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -17- Jawaban soal no.l 6 q.l 6 q..6 ton 0 0 5. Jawaban soal no.06415 x q x l2 (max) + Tanda/arah o o + - L 3 ««««. 4 . X= Momen = M L 3 = 0. 3 Keterangan Reaksi vertikal Titik A : RAV B : RB Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D A : RAH A-B A «««..l 3 0 0 q.2 ton 0 4 ton 0 12 tm(max) 9 tm 0 Tanda/arah o o p .5774 L dari A A B C X= Nilai q. 2 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Data pendukung Gaya normal = N Titik A : VA B : RB A : HA Sin E Cos E A C bawah C kanan ² B A C kiri C kanan ² B A C X = 2 m horisontal dari A B Nilai 6 ton 4 ton 0 3/5 4/5 3. B «««.l 3 0 0 0 0.

24m dari B A B X = 2. UGM. Senarai Balok miring = balok yang membentuk sudut Beban segitiga = besarnya merupakan fungsi x . Bab I.24m Nilai 4. Bab I Soemono. ƏStatika IƐ. 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -18- Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : RAH A²B-C A B kiri B kanan C X = 2.5. Daftar Pustaka - Suwarno.73 tm Tanda/arah o o p + + Momen = M + 2.7. ITB.5 ton 0 0 4.5 ton 1 ton 0 0 0 0.6. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ.5.5 ton 4.5 ton 3.67 tm 3.

x Di ujung titik A RAV dan RAH diuraikan menjadi gaya -gaya yang B (tegak lurus) dan // (sejajar) dengan sumbu x = jarak R B ke sepanjang batang cos E BD x .a l a .2 2 = panjang beban terbagi rata 2 = jarak titik berat q ke titik D.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -19- 4/5 RB RB 3/5 R B catatan : q.l ton Resultante Beban : P = 2 Persamaan garis ax = Diketahui : .2.

Balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban U (segitiga) seperti pada gambar. bagaimana penyelesaiannya bisa lihat dalam contoh soal.l 3 1/3 l .l ton 2 a. dengan beban segitiga diatasnya. tinggi beban di atas perletakan B adalah 3 ton/mƞ= h. seperti bebab Tekanan tanah dan beban air pada tandon air.a l ax A Px a.l 6 B a t/mƞ RA = 2/3x 1/3x x l 2/3 l RB = P= a . Ditanya : Selesaikan dan gambar bidang gaya dalamnya Pada pelaksanaan sehari -hari sering dijumpai beban yang berbentuk linier segitiga.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -20- Balok di atas 2 perletakan A dan B. Tahap penyelesaiannya adalah sebagai berikut : Persamaan a x = x .

6. Pengertian Dasar Ada beberapa macam model jembatan yang ada di lapangan yaitu jembatan yang terbuat dari beton dan jembatan yang terbuat dari kayu.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -21- 2. baja. Jembatan dengan gelagar langsung Jembatan yang roda kendaraannya bisa diterima langsung oleh plat lantai kendaraan yang terbuat dari beton disebut dengan gelagar langsung.31).1. bambu. dan profil baja. maka roda kendaraan tidak bisa secara langsung diterima oleh struktur kayu. . bambu. gelagar memanjang dan plat lantai dasar (lihat Gambar 2.31.30.6. Gelagar Tidak Langsung 2. melainkan harus lewat suatu perantara yang disebut dengan gelagar melintang. Plat lantai kendaraan yang terbuat dari beton Gambar 2. Untuk jembatan yang terbuat dari kayu. Kalau jembatan yang terbuat dari beton karena bentuknya bisa dibuat sesuai dengan yang diinginkan. bambu atau baja tersebut. Untuk jembatan dimana yang roda kendaraan tidak bisa langsung diterima oleh struktur utama disebut dengan gelagar tidak langsung atau beban tidak langsung yang mana da lam penggambaran seperti pada Gambar 2. maka dalam hal ini roda kendaraan bisa diterima langsung oleh plat lantai yang terbuat dari beton tersebut.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -22- arah muatan aspa l Gel. Skema gelagar tidak langsung dari suatu jembatan . melintang Potongan melintang Gelagar induk Gel. memanjang Potongan Melintang Gambar 2.31.

Penyederhanaan awal. tidak 2. memanjang P P P . induk).33.32.3. gel. q kg/mƞ beban terbagi rata gel. melintang P gelagar induk / utama beban terbagi rata tersebut akan ditransfer ke gelagar induk melewati gelagar melintang jadi yang sebenarnya beban merata. melintang gel. induk / G ambar 2. gel. melainkan lewat perantara gelagar melintang. Penyederhanaan akhir.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -23- 2. maka beban yang diterima oleh gelagar induk tidak selalu sama dengan beban yang berada diatas jembatan. Skema Penggambaran MuatanTidak Langsung dalam Mekanika Teknik Untuk mempercepat perhitungan maka struktur dengan muatan tak langsung harus mengalami penyederha naan. memanjang gel.6. mas uk ke gelagar induk (utama) menjadi beban P beban terbagi rata diatas gel. tida k langsung Gambar 2.6. Cara distribusi beban Karena roda kendaraan tidak langsung diterima oleh gelagar utama (gel.2. untuk gel.

qP² . Distribusi beban terpusat pada gelagar tidak langsung BEBAN TAK LANGSUNG Contoh : Suatu gelagar yang tidak langsung mendapat beban q t/m¶ dengan jumlah bentang gel.P. melintang Potongan II-II = ditengah-tengah gel. melintang. II I q t/mƞ Potongan I ƛ I = tepat diatas gel. maka Q tersebut didistribusi menjadi beban Q 1 dan Q 2. dimana P Q1 Q2 Q2 = b a Q dan Q1 ! x x A Gambar 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -24- a Q b Jika beban terpusat Q berada diantara gel. 2P .q P² = 4 q P² (muatan tidak langsung) II P/2 P I P gelagar induk 6P P P 3 q P II I 3qP .P/2 .35. melintang Menghitung momen di potongan I -I P P/2 M I (untuk potongan I -I) M I = RA . 2P . P = 6q P² . memanjang genap.

5 P)² = 4.125 q P²) q t/mƞ Perbedaan tersebut adalah dari : P 0.125 q P² Momen lantai = kendaraa 1 q P ² ! 0. 1. 2P . ½ P = 3.125 q P² = 3.5 P² .375 q P² . 1.5 P .1. Penyelesaian : P=qP RA = RB = 3q P Beban diantara perletakan P = q P Beban di atas perletakan P/2 = q P/2 Perhitungan Momen Pada Potongan II q t/mƞ II Dengan memakai beban langsung MII II P 3q P ½ qP qP II Jika dihitung dengan beban tidak langsung P 3qP P/2 q t/mƞ II M II = 3q P .q P .½ q (2P)² = 6q P² .5P . Melintang) boleh dihitung sebagai beban langsung. 1.q P .2 q P² = 4 q P² Catatan : Besar M (momen) pada titik balok penghubung (gel.5 P .½ q P .½ q (1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -25- Kalau dicek memakai muatan langsung adalah : M I = beban langsung M I = 3.125 q P ² 8 P/2 = 3 qP .25 q P² Perbedaan momen (0.

0. Perhitungan gaya lintang (D) ½ P P P P P P ½ P Walaupun beban terbagi rata. tapi kalau gelagarnya tidak langsung. maka gambar bidang D (bidang gaya lintang). lantai = 3. garisnya 3P P 2½ P P + P P P Bidang D 3P bukan linier. namun s eperti gaya lintang beban terpusat.375 q P² . Bidang gaya l intang (D) dari gelagar tidak langsung .37.125 q P² = 3.25 q P² jadi dalam hal ini ada perbedaan nilai perhitungan momen pada gelagar tak langsung untuk potongan dibawah gelagar melintang dan potongan diantara gelagar melintang.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -26- Catatan : Momen tidak langsung (diantara gelagar) MII = M langsung ƛ M. 2½ P Gambar 2.

Latihan Soal 1: q = 1. RB b). Gaya reaksi V A. M.5. Penutup Untuk mengukur prestasi.6. q = 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -27- 2. Rangkuman - Gelagar tidak langsung biasanya terdapat pada jembatan kayu atau baja - Apapun bentuk beban yang terdapat diatas jembatan. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci kunci yang ada. Bidang N.5 t/mƞ sepanjang bentang. H A. . D.5 t/mƞ Balok AB mendapat beban tak langsung seperti tergambar.6.4. Ditanyakan : a). M 1 2 3 HA VA P P P = 2m Soal 2 : P1=3t 1m 2 3 A 4 P 5 B R B P2=1t 4 5 B P RB C 6 1 HA P VA Balok ABC mendapat beban tak langsung seperti tergambar. Bidang N. 2.6. D. transfernya ke gelagar utama selalu berbentuk beban terpusat. 3t P 2 = 1t P1 = P = 3m P P Ditanyakan : a).6. RB b). H A . Gaya reaksi V A. 2.

0 t 3.75 tm Arah / Tanda o q q q         Gaya Normal = N Gaya Lintang = D Momen = M .25 t 1.5 t 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -28- Soal no 1 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Beban Pada Titik Gaya Normal = N Gaya Lintang = D Momen = M Titik A : VA B : RB A : HA 1 2 3 4 5 1-2-3-4-5 1-2 2-3 3-4 4-5 A=1 2 3 4 5=B N ilai 6t 6t 0 1.25 t 0 0 2t 1t 0 0 1t 0 1.25 tm 4.5 t 0 9 tm 12 tm 9 tm 0 Arah / Tanda o o q q q q q         Soal N o.5 t 1.0 t 1.75 t 0. 2 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Beban Pada Titik Titik A : VA B : RB A : HA 1 2 3 4 5 6 1-2-3-4-5-6 1-2 2-3 3-4 4-5 5-6 A=1 2 3 4 N ilai 1.5 t 1.00 t 0 5.5 tm 0.5 t 3.25 t 1.25 t 1.0 t 3.75 t 2.5 t 0 4.

0 tm 0 0 4.7.24 m 3.67 tm 3.5 ton 1 ton 0 0 0 0. ITB-Bab I Suwarno. 2.5 ton 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -29- Gaya Normal = N Gaya Lintang = D 5=B 6=C AƛBƛC A B kiri B Kanan C X = 2.6. Daftar Pustaka - Soemono.8. .24 m dari B A B X = 2. UGM Bab I. Senarai Muatan tak langsung = beban tak langsung = beban yang tak langsung terletak di balok induk.6. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ .73 tm  + + Momen = M + 2. ƏStatika IƐ.

. atau gaya dalam M (Momen). Pengertian Dasar Untuk mempermudah suatu penyelesaian. gaya momen. reaksi-reaksi kemudian gaya -gaya dalamnya yaitu.2.1. Pendahuluan Kalau kita meninjau atau melihat suatu jembatan. jika di atas struktur jembatan 2. Jika dua hal tersebut dipadukan. Di sisi lain kalau kita meng analisa struktur maka yang dicari dari struktur tersebut adalah. Definisi Garis pengaruh : adalah garis yang menunjukkan besarnya R (Reaksi).7.7. maka struktur tersebut selalu dilewati oleh suatu muatan yang berjalan. jika ada muatan yang berjalan di atasnya ?. maka kaitannya adalah : Berapa besarnya nilai maksimum dari gaya -gaya dalam di suatu tempat di struktur tersebut. tersebut berjalan suatu muatan. gaya momen. Untuk menjawab hal tersebut diperlukan suatu garis pengaruh. gaya lintang (D) atau gaya normal (N) di suatu tempat pada gelagar tersebut. atau D (Lintang) disuatu titik akibat pengaruh dari muatan sebesar 1 ton berjalan. gaya lintang. dan gaya no rmal. Garis Pengaruh 2. gaya lintang dan gaya normal.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -30- 2. Sedang bentuk garis pengaruh tersebut adalah suatu garis yang menunjukkan nilai dari apa yang akan dicari tersebut misal : Reaksi (R) atau gaya momen (M) atau. maka didalam suatu garis pengaruh. muatan yang dipakai sebagai standard adalah beban P sebesar satu satuan (ton atau kg atau Newto n) yang berjalan diatas struktur suatu jembatan tersebut. atau N (Normal). Garis pengaruh ini sebagai alat bantu untuk mencari nilai reaksi.7.

x) l  x ! ton (linier ) l l x=0 x=l RA = 1 ton RA = 0 ton Untuk P di A Untuk P di B + 1 ton G.RB (Garis Pengaruh Reaksi di B) 7 M A = 0 R B.l ƛ P.x = 0 P.P.x x RB = ton (linier) ! l l 1 ton Untuk P di A Untuk P di B x=0 x=l RB = 0 RB = 1 ton Gambar 2. R B + G.38.P.P. R A RA .P.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) 7 MB = 0 RA = G.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -31- Contoh 1 : Mencari garis pengaruh Reaksi (R A dan R B) x P=1 ton A RA l x = variabel sesuai letak (posisi) P yang bergerak dari titik A ke titik B B RB Muatan P = 1 ton berjalan dari A ke B G. l ƛ P (l-x) = 0 P(l . Gambar garis pengaruh R A dan RB .

39 A c 1t + y3 GP.RA + P=1 t D d * Jika beban P = 1 ton berada di titik C sejauh a dari perletakan A dan sejauh b dari perletakan B.7. maka besarnya reaksi di A R A = y3 dan besarnya reaksi di B 1t RB = y4. jadi y3 = l l d c RA = ton dan R B = ton B l l Gambar 2.R A + P=1 GP. Kegunaan garis pengaruh untuk tidak 4 b 4 a dengan 1 ton RA = dan RB ! l l .RB Gambar 2.39. Kegunaan digaris pengaruh untuk beban di titik D GP. dimana d c ton dan y 4 = ton.40. jadi l l b a ton dan R B = ton RA = l l B Gambar 2.40 P= 4 ton A a + y1 C b 1t GP.R B + 1t Bagaimana kalau P tidak sama dengan 1 ton Jika P = 4 ton terletak di titik c Maka RA = 4 .3. Kegunaan dari suatu Garis Pengaruh X A RA + GP.R A y2 GP.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) Garis ini menunjukkan besarnya nilai R A sesuai dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar Ini adalah GP. dimana 1t b a y1 = ton dan y 2 = ton.beban y1 dan RB =sama 4 . Kegunaan dari garis pengaruh untuk beban di titik c * Jika beban P = 1 ton berada di atas titik D sejauh c dari perletakan A dan sejauh d dari perletakan B.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -32- 2. y2 atau Gambar 2.R B Gambar 2.41.R B (Garis Pengaruh Reaksi di B) Garis ini menunjukkan besarnya n ilai R B sesuai B dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar P=1 t B 1t 1t GP.R B t A C a + y1 y2 GP.RA + y4 + b 1t l RB Ini adalah GP. maka besarnya reaksi di A RA = y1 dan besarnya reaksi di B R B = y2.

RB P= 4 ton A a C 1t Bagaimana kalau ada beberapa muatan : y Jika di atas gelagar ada muatan P1 = 4t di c.R B + y3 GP.R A y4 P2= 6 ton D b c y1 + y2 GP.RA 1t d B + + D d B Jika P = 6 ton terletak ti titik D Maka RA = 6 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -33- P=6 t A c 1t + y3 GP. Kegunaan garis pengaruh untuk beban P 1 = 4 ton dan P 2 = 6 ton Beberapa Contoh 1.P.43. Mencari Garis Pengaruh Gaya Lintang (G.D) P = 1 ton berjalan dari A ke B X = variabel yang bergerak sesuai dengan posisi P dari A ke B C = suatu titik terletak antara A ƛ B . Kegunaan garis pengaruh untuk beban P = 6t GP. dan P 2 = 6t sejarak c dari titik A. y3 dan R B = 6 y4 atau RA = c 6d ton dan R B ! 6 ton l l Gambar 2. sejarak b dari titik B. sejarak dari titik A. maka 1t RA = 4y1 + 6y3 = 4 . sejarak d dari titik B. RB = 4 y2 + 6 y4 = 4 y4 b d ton  6 ton l l c a ton  6 ton l l Gambar 2.42.

44.x = 0 P berjalan dari A ke C A RA a l RB RB = b Px x ! ton l l Dc dihitung dari kanan Dc = -RB =  P = 1t x Untuk P di C kr x = a A C a l x ton (linier) l x=0 Dc = 0 Dc = - Untuk P di A a ton l B P berjalan dari C ke B P (l  x ) l  x RA = ! ton l l Dc dihitung dari kiri + Dc = RA = G.P.P. R B - b/l G. D c Untuk P di C kn Dc = l a b ! ton l l ll ! 0 ton l Gambar 2.P.P. Gambar garis pengaruh gaya lintang . R A l x ton (linier ) l x=a G.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -34- P = 1t x G. Dc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C) B C 7 MA = 0 RB . l ƛ P.

b tm l x=0 x=a P = 1t x A C B Untuk P di C P berjalan dari C ke B RA = P (l  x ) l x ton ! ton l l Mc dihitung dari kiri + GP RB. P = 1t x G.M) P = 1 ton berjalan dari A ke B x = variabel yang bergerak dari A ke B sesuai posisi P. M c ¨l a¸ b © ¹ ! . tm ª l º l Untuk P di B x=l ¨l l ¸ Mc = © ¹ a .b tm l ¨l x ¸ Mc = + RA .P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -35- Mencari Garis Pengaruh Momen (G.P. b tm (linier ) l Mc = 0 Mc = + a .P.45.a x=a Mc = G. b =  Untuk P di A x . tm ª l º = 0 tm Gambar 2.b a. a tm = © ¹ . a tm ª l º Untuk P di C GP R A. a . Mc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C) B C RA a l b RB P berjalan dari A ke C RB = Px x ! ton l l A Mc dihitung dari kanan Mc = + RB . Gambar garis pengaruh momen di c (GP Mc) .

R B 1 t 3 2 3 + GP.RA + P B C Diketahui : Balok ABC diatas 2 perletakan A dan B Ditanya : Gambar Garis Pengaruh R A.M D + GP. RB. M D.2 l Untuk P di D x = 2m 4 l 2 62 . t !  tm 3 63 P antara A-D 4 tm 3 GP.2 - GP.2 ! tm . MD lihat kanan bagian x M D = RB .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -36- 3. 2 = . DD. 4 = .R B + 1t 4 3 Untuk P di A Untuk P di B Untuk P di C 8 8 ! ! RB = l 6 x=0 x=l x=8 4 ton 3 2/3 ton GP.2 ! MD = 3 l 6 Untuk P di B x = 8 m 2 68 MD = .R B.R B : 7 .R A : 7 MB = 0 - l 1= 2 m RA = lx ton l 1t 1/3 t Untuk P di A x = 0 RA = 1 ton Untuk P di B x = l RA = 0 Untuk P di C x = 8 1 l 8 68 2 RA = ! !  ton ! ton 3 l 6 6 GP. DBkn Jawab : GP.DD - 1 t 3 GP. Contoh lain x D A 2 m l=6 m GP.4 GP. 4 tm l Untuk P di A x = 0 MD = 0 Untuk P di D x = 2 m 2.R A . M A = 0 RB = x ton lt RB = 0 RB = 1 ton GP.R A.4 4 MD = ! tm 6 3 P antara D-C lihat bagian l x M D = RA .

DD P antara A-D D D = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -37- GP.DBkr C P antara A-Bkr DBkr = .46.MB 2 tm GP.DBkn P antara A ƛ B DBkn = 0 GP.DBkr 1t GP.RB = P di A P di D lihat kanan bagian x ton l x = 0 DD = 0 x = 2 DD = -2/6 ton = -1/3 ton lihat kiri bagian P antara D-C D D = RA = P di D P di B P di C l x ton l DD = x=2 x=6m x=8m 62 2 ! ton 6 3 DD = 0 DD = 68 1 !  ton 6 3 Bkn GP.RB lihat kanan bagian Bkr A B GP.M B P antara A ƛ B MB = 0 x P antara B ƛ C M B = -x tm P di B P di C Gambar 2.D Bkn 1t + P antara B ƛ C DBkn = P = 1 ton lihat kanan bagian lihat kanan bagian GP.R A 1/3 t P antara B-C DBkr = + RA lihat kiri bagian GP. Gambar knmacam-macam garis x=0 x = 2m MB = 0 M B = -2 tm lihat kanan bagian lihat kanan bagian .R B GP.

P2 = 2t berjalan P = 1 t ©   I RA 4m 5m B RB 3m C Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC. MI max. LATIHAN Soal 1 berjalan P ¨ 1 t bejana A B I RA 3m 5m RB a) Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC. 3m berjalan. MI max. GP RB.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -38- 2. GPRB. RB max. 4t DI (+) max. GP MI a) Bila beban Ditanya.7. .4. DI (-) max. GPD I. Soal 2 A 3m berjalan. ditanyakan GP R A. ditanyakan GPR A. M max. GPMI b) Bila beban P1 = Ditanya. max. GP D I.

o Beban yang dipakai untuk garis pengaruh adalah satu satuan muatan (ton atau kg atau Newton). 1 Keterangan RA RB DI P = 1 ton di titik A B A B A I kiri I kanan MI A B I Nilai 1 ton 0 0 1 ton 0 3 t 8 5 8 0 0 15 tm 8 Tanda/arah + o + + o + RA max. 2. Penutup o Untuk mengukur prestasi. = + 3.7.1875 tm .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -39- 2.5 ton D I (+) max.5. akibat muatan berjalan sebesar 1 ton. = + 9.3 ton MI max. Rangkuman o Garis pengaruh adalah : garis yang menunjukkan besarn ya reaksi atau gaya-gaya dalam disuatu titik.7. = + 9 tm Mmax. mahasiswa bisa melihat hasil jawaban sebagai berikut : Jawaban soal no. = + 5.6. Max.

UGM Bab I. Daftar Pustaka . 2. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ . 2. - Suwarno.7.7.4 tm 1.175 ton = + 9.18 tm Nilai 1 ton 0 0.7. Senarai . 2 Keterangan RA P = 1 ton di titik A B C A B C A I kiri I kanan B C A B I C A B C = + 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -40- Jawaban soal no.8.Soemono.3 ton 0 0 2.2 tm 0 0 3 TM Tanda/arah + + + + o o o o RB DI MI + - MB - RB max.4 ton 0. ITB. MI max.6 ton 0 0. ƏStatika IƐ. Bab I.Garis pengaruh - Beban berjalan .3 ton 0 0.3 ton 0 1 ton 1.

Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa diharapkan bisa mengerti dengan seksama tentang pengertian balok gerber. Kalau di perletakan A terdapat 2 reaksi (karena A = sendi) yaitu R AH dan R AV.1. 3. A B Jembatan berbentang satu Kalau dilihat pada gambar b. Pendahuluan Didalam kenyataan se -hari-hari jarang dijumpai jembatan y ang berbentang Satu.1. maka jumlah . sehingga mempunyai perletakan > 2 buah. syarat -syarat yang diperlukan untuk menyelesaikan dan mahasiswa bisa menggambarkan bidang -bidang gaya dalam balok tersebut. ( yang mempunyai lebar > 100 m ). B = rol dan C = rol. perletakan dari jembatan tersebut > 2 buah. Judul : BALOK GERBER Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca materi ini diharapkan mahasiswa mengerti apa arti balok gerber serta mengetahui bagaimana cara menyelesaikan struktur tersebut.1. perletakan di C ada 1 reaksi (karena C = rol) yaitu R . perletakan di B terdapat 1 reaksi (karena B = rol) yaitu R BV. a). yaitu 3 buah dimana A = sendi.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -41- MODUL : 3 : ARTI BALOK GERBER DAN CARA PENYELESAINNYA 3. Untuk mengatasi penyeberangan sungai penampang cukup besar (>100m) ( ) maka dibuatlah suatu jembatan yang berbentang lebih dari satu.

Definisi Balok Gerber Dengan uraian seperti dalam pendahuluan.2. 7H = 0. Macam-macam bentang jembatan Jika dalam persamaan keseimbangan hanya punya 3 buah ( 7V = 0. RCV bisa didapat sedang untuk konstruksi statis tertentu persamaan yang tersedia hanya 3 buah yiatu 7 V = 0. maka bisa didefinisikan bahwa : . RCV dengan 4 buah persamaan yaitu 7V = 0. RAH. 7H = 0. supaya bilangan yang tidak diketahui yaitu RAV. Jika 1 (satu) persamaan baru tersebut dengan memberikan 1 buah perletakan baru di D yang berbentuk sendi. Skema balok gerber 3. 7M = 0. dalam keadaan tersebut konstruksi jembatan (b) disebut dengan kontruksi statis tidak tertentu . karena masih bisa diselesaikan dengan statis syarat -syarat keseimbangan dan konstruksinya dinamakan dengan konstruksi balok gerber. Kalau 1 (satu) persamaan baru tadi bisa disediakan maka syarat syarat keseimbangan masih bisa dipakai untuk menyelesaikan konstruksi jembatan (b) tersebut (4 buah bilangan yang dicari yaitu R AV. 7H = 0. 7M = 0 dan 1 (satu) persamaan baru).1. RBV.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -42- b). RBV.1. 7 M = 0) berarti untuk bisa menyelesaikan struktur jembatan (b) masih memerlukan 1 buah persamaan baru lagi. maka persamaan baru tersebut adalah 7 M D = 0 Sedang titik D tersebut disebu t dengan sendi gerber A B D C Sendi gerber Gambar 3.2. Dalam kondisi tersebut konstruksi masih tertentu. RAH. A B C Jembatan berbentang lebih dari satu Gambar 3.

.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -43- Konstruksi balok gerber : adalah suatu konstruksi balok jembatan yang mempunyai jumlah reaksi perletakan > 3 buah. namun masih bisa diselesaikan dengan syarat syarat keseimbangan.

7H = 0 dan 7M = 0 1 (satu) buah persamaan baru yaitu 7 M D = 0 Jadi jumlah persamaan ada 4 (empat) buah yaitu 7V = 0. RAH. R .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -44- Contoh : Sendi gerber RAH A RAV B RBV D C RCV Suatu konstruksi balok gerber ABC dengan perletakan : A = sendi. RBV dan R CV) = jumlah bilangan yang dicari Maka konstruksi tersebut. yang masih statis tertentu. 7M = 0 dan 7MD = 0) = jumlah persamaan (yaitu R AV. . R . 7M = 0 dan 7M D = 0. B = rol. 7 H = 0. Kondisi kontruksi tersebut adalah : Jumlah bilangan yang tidak diketahui = jumlah persamaan yang ada ( 7V = 0. dimana ada 1 reaksi yaitu R BV. 7 H = 0. dimana ada 2 reaksi yaitu R AV dan R AH. dimana ada 1 reaksi yaitu R CV Jadi jumlah reaksi adalah 4 buah yaitu. R dan Persamaan yang tersedia adalah : 3 (tiga) buah persamaan syarat keseimbangan yaitu 7V = 0. C = rol. disebut dengan konstruksi balok ge rber.

3. Sendi gerber D A RAH B C R AV RB RC Detail perletakan D (sendi gerber) Gambar 3. maka bentuk konstruksi gerber tersebut seperti pada gambar. Detail sendi gerber .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -45- 3.1.3. Bentuk Sendi Gerber Kalau balok gerber tersebut adalah dibuat dari balok beton.

4.4. dimana balok DC tertumpu di balok AB.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -46- A RAH RAV B D C RBV RCV A RAH RAV B D C RCV RBV atau D RDH RDV C R CV A RAH RAV B RDV D RDH R BV Gambar 3. Jadi kalau diuraikan balok gerber ABC tersebut merupakan gabungan dari 2 balok statis tertentu DC dan ABD.1. Menentukan letak sendi gerber beban = q kg/mƞ C B A . 3. Skema pemisahan balo k gerber Catatan : Reaksi di balok DC menjadi (beban) pada balok AB.

maka gambar bidang momennya (bidang M) seperti gambar dibawahnya. Apakah mungkin ? Perhatikan . Balok statis tak tentu dan skema bidang momennya Jika dalam balok ABC. maka kita cukup memilih salah sa tu dari 2 (dua) alternatif tersebut sendi gerber diatas. balok tersebut jika disederhanakan Gambar a 2. maka alangkah tepatnya jika untuk menentukan posisi di titik D dicari tempat-tempat yang momennya Dalam hal seperti tersebut diatas. dan jika diberi beban terbagi rata sebesar q kg/mƞ. D B C Cara memilih : alternatif (1). sendi gerber belum ada. jadi untuk sementara diterima saja.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -47- Gambar 3. maka konstruksinya masih statis tak tertentu. Penentuan sendi gerber yang tak mungkin C D B C Gambar a 1 dimana balok AD terletak di atas balok DBC. sehingga struktur bisa diselesaikan. maka gambarnya adalah seperti pada 1 A a2 D A a3 B TIDAK MUN GKIN Gambar 3. Karena kita hanya membutuhkan 1 (satu) buah persamaan baru. Kalau dilihat dari sub bab 3. untuk mahasiswa semester I belum bisa mengerjakan.1. Bagaimana cara mencari bidang momen (bidang M) tersebut. jika kita a1 A 1 memilih titik (1) sebagai sendi gerber.6. alternatif tempat dimana momennya sama dengan nol adalah titik 1 dan 2 yang posisinya di kiri dan kanan perletakan B. akan dan seperti jika pada diuraikan strukturnya akan seperti pada gambar a 3.2.5. dimana di titik D dibuat sendi gerber dengan persamaan baru 7M D = 0.

RAH) perletakan D = sendi dengan 2 reaksi (R DV. Perletakan D = Gambar 3. perletakan A = sendi. sehingga strukturnya adalah statis tidak tertentu. y Jadi pemilihan titik (2) sebagai sen di gerber adalah mungkin . perletakan A = sendi dengan 2 reaksi (R AV. Jumlah total reaksi adalah 3 (tiga) buah. maka struktur balok DBC tidak stabil sendi gerber adalah tidak Alternatif 2 mungkin . jadi konstruksi balok ABD masih statis tertentu. mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu R AH dan R AV. Perhatikan balok DC yag terletak diatas balok ABD. mempunyai 1 (satu) reaksi yaitu RBV. perletakan C = rol dengan 1(satu) buah reaksi (R CV). Balok gerber dan cara pemisahannya sendi mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu R DV dan R DH. . dan jika diuraikan strukturnya ak an menjadi seperti pada gambar (b 3) apakah mungkin ?. perletakan B = rol dengan 1 buah reaksi (R BV). maka konstruksi balok DC adalah statis tertentu y Perhatikan balok ABD.7. sehingga jumlah reaksi ada 4 (empat) buah. balok tersebut jika akan gambarnya disederhanakan seperti pada gambar (b 2). karena kedua perletakan B dan C adalah rol. RDH). D b1 2 A B A RDH D RDV b3 A B D RDH C B C b2 sendiC gerber Jika yang sebagai dipilih adalah titik (2) sendi gerber. sedang Jumlah letak reaksi adalah 3 (tiga). perletak B = rol. Perhatikan balok DBC.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -48- Lihat balok AD. sehingga jumlah reaksi hanya ada 2 (dua) buah. maka gambarnya adalah seperti gambar (b1) dimana balok DC terletak diatas balok ABD.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -49- .

8. gambar (b) terdiri dari gambar (b 1) dan (b 2).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -50- 3. maka b1 1 A B D A B RD RD yang perlu dikerjakan pertama adalah memisahkan balok tersebut C menjadi beberapa konstruksi balok statis tertentu. Mekanisme Penyelesaian Balok Gerber A B D C Jika D ada suatu konstruksi balok a gerber seperti pada gambar a. Skema penyelesaian balok gerber Tinjauan gambar b 1 dan b2 . b2 Jika konstruksinya (a). demikian juga gambar (c) D RD C2 A B C1 dan C2 mungkin RD C Gambar 3.5. seperti kita pada bisa gambar maka konstruksi memisahkan C menjadi tersebut b1 dan b 2 C1 A B tidak D C konstruksi tersebut konstruksi beberapa seperti dimana beberapa menjadi statis tertentu pada gambar (b) atau (c).1.

jadi tidak ada reaksi. dan jika dijabarkan (diuraikan) strukturnya akan menjadi seperti gambar (b2). jadi jumlah total reaksi hanya ada 1 buah yaitu R CV di C. Jadi alternatif (C) adalah mungkin. Jadi total perletakan balok ABD ada 5 (lima) buah. (ada 2 reaksi). Perhatikan balok DC (gambar b2). jadi balok ABD merupakan balok statis tidak tertentu. perletakan D = sendi (ada 2 reaksi). perletakan D = sendi. Perhatikan struktur balok ABD (gambar b2). dan jika diuraikan strukturnya akan menjadi seperti pada gambar (C2). Jadi balok ABD adalah balok statis tertentu juga. . Perhatikan struktur balok DC gambar (C2). per letakan A = sendi (ada 2 reaksi). perletakan C = rol (ada 1 reaksi) total jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah. Dalam kondisi seperti tersebut diatas balok DC merupakan balok yang tidak stabil atau labil. perletakan B = rol (ada 1 reaksi) jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah. dimana titik D dari balok DC menumpu pada titik D balok ABD. sehingga reaksi R D dari balok ABD akan menjadi beban (aksi) pada titik D balok DC. titik D = be bas (tak mempunyai tumpuan). Jadi balok DC adalah balok statis tertentu Perhatikan struktur balok ABD (gambar (C2)). dimana titik D pada balok ABD menumpu pada titik D balok DC. Tinjauan gambar (c1) dan (2) Titik D dari balok DC (gambar (C1) menumpu pada titik D balok ABD. perletakan. perletakan A = sendi (ada 2 reaksi). c = rol (ada 1 reaksi). perletakan B = rol (ada 1 reaksi).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -51- Titik D dari balok ABD (gambar (b1) menumpu pada titik D pada balok DC. sehingga reaksi RD dari balok DC akan menjadi beban (aksi) pada titik D balok ABD. Sehingga alternatif (b) adalah tidak mungkin .

N. Skema pemisahan balok gerber . Dengan beban yang ada (q) dan beban R D. Reaksi R D dari balok DC akan menjadi beban di titik D dan balok ABD. maka balok AB bisa diselesaikan. D dari masing-masing C P D C y q b RD RD D A B y RC y y Gambar 3. D balok gerber merupakan penggabungan dari bidang M.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -52- Tahapan Penyelesaian q D a A B Sendi gerber P Kalau kita mempunyai balok gerber ABC seperti pada gambar (a). maka tahapan pengerjaannya adalah sebagai berikut : y Balok DC dikerjakan dulu sehingga menemukan R D dan R C.9. N. N. Bidang-bidang gaya dalam (M. D) bisa diselesaikan sendiri-sendiri pada balok DC dan AB. Penggambaran bidang M. yang kemudian diuraikan seperti pada gambar (b).

x (b) A P=4t S Rs = x1 Rs S B 3 tm + R B = 7 1/3 t 2 tm RC = 5 Jawab: Struktur balok gerber seperti pada gambar (a) kalau diuraikan akan menjadi struktur seperti pada gambar 2 t/mƞ x2 C (b).10. Ditanya : Gambar bidang M.1. D + - Balok S B C (mencari RB dan R C) 7 MC = 0 RB. D. Gambar-gambar gaya Bidang Momen (M) dalam balok gerber 34 ! 5 2 / 3t 6 . .= P. N Gambar 3.3 = 0 RC.833 m 5. B = sendi S = sendi gerber Beban P = 4 ton.6 ƛ 1.1 ! ! 1t 4 4 Reaksi Rs = 1t akan menjadi beban di titik S pada balok S B C (gambar (b)) 6. dengan jarak 1 m dari A.3 = 0 2 5 t 1 44 3 RB = t!7 t 3 6 7 MB = 0 RB.8 ƛ 2.667 m 7 MA = 0 RS.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -53- 3.2 ƛ q.3 4. baru selanjutnya reaksi Rs dari balok As menjadi beban / aksi ke balok SBC RA = 3t (c) - 8.0287 tm + 2 Balok A-S (mencari RA dan RS) t 3 7 MS = 0 RA.6 ƛ RS. dan beban terbagi rata q = 2 4m 2m 6m t/mƞ dari B ke C. Contoh Soal P=4t (a) A S 1m B q = 2t /mƞ C Suatu struktur balok gerber ABC dengan beban seperti pada gambar.8 ƛ q.6 + 1.6.3 = 0 RC. 4 ƛ P.6.3 = 0 RA.6.6.1 = 0 RS = P. Balok AS harus diselesaikan lebih dahulu. A = rol C = rol .3 ! ! 3t 4 4 BID.6 + RS.6.33t 3t + 1t BID.3 = 0 BID. 4 ƛ P.2 ƛ 2. M 2.1 4. N.

667 x 2 .667.833 m (lokasi dimana terletak M max M x2 max =5.2.x2² Mencari M max dMx 2 =0 dx 2 5.667 ƛ 2 x2 = 0 = x2 = 2.0546 ƛ 8.x1 (linear) = -x1 x1 = 0 x2 = 2 Ms = 0 MB = -2 tm B (dari kanan) 1 .x2² 2 Daerah C Mx2 = Rc.q x2² (parabola) 2 1 .667.667 x 2 ƛ x22 = 0 X2 (5.x 2 - = 5. Mencari titik dimana momen = 0 M x =5.0287 tm.667 m ( Letak dimana momen = 0 ) Bidang D ( GAYA LINTAN G ) .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -54- Balok A-S Daerah A P (P = letak beban P = 4t) Mx = RA.x2 - Mx2 = 5.02589 = 8. 2.x-P (x-1) = 3.x1 = .x (linear) x=0 x=1 MA = 0 MP = 3 tm (momen dibawah P) S Daerah P Mx = RA.667-x2 ) = 0 x2 =5.Rs.x ƛ 4 (x-1) x=1 x=4 MP = 3 tm MS = 0 Balok SBC Daerah S B (dari kiri) Mx1 = .833 ƛ (2.1.833)² = 16.x = 3.

6.5.667 + 2X 2 = 0 X2 = 2.6 = + 6. x 2 2 = . Latihan .1.Rc + q .833 m M max ) (Letak D = 0 sama dengan letak Bidang N ( Normal ) Bidang N tidak ada 3.667 + 2.667 t Dbkn = -5.5.667 + 2 .333 t Mencari titik dimana D = 0 -5. x (Linieair) X2 = 0 X2 = 6 Dc = .Rs = -1 t (Konstan) Daerah C B (Dari Kanan) Dx2 = .P = 3 ƛ 4 = -1 t (Konstan ) Balok S Ɗ B C Daerah S B ( Dari Kiri ) Dx = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -55- Balok A-S Daerah A P ( dari Kiri ) D2 = + Ra = + 3 + ( Konstan ) Daerah P S ( Dari kiri ) Dx = + R a .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -56- Dalam mempraktekan teori ƛ teori yang ada di depan ( bagian sebelumnya ). dengan perletakan A = sendi. B = rol S = sendi gerber Beban P = 5 2 t dengan sudut 45° terletak di tengah bentang SB. S = sendi gerber Beban : P = 5t. S A 2m 3m P=5 2t 45° B 3m beban dan struktur seperti pada gambar dengan perletakan : A = jepit.Rangkaian dari beberapa balok statis tertentu. D) Suatu balok gerber dengan 1). P = 5t S B q = 2t/mƞ C Suatu balok gerber dengan beban dan struktur seperti gambar. N. A 2 m 5m 2 m 4m 2).8. o Tahap awal penyelesaiannya adalah : balok tersebu t harus diuraikan lebih dahulu. Gambar : bidang-bidang gaya dalamnya (Bidang M.1. Rangkuman o Balok gerber adalah : . 2m dari A q = 2t/mƞ sepanjang bentang SC.Suatu balok yang mempunyai jumlah reaksi lebih besar dari 3 buah. tapi masih bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan. Atau . B = rol C = rol. maka perlu diadakan (diberi) suatu latihan . dan di sendi gerber ditentukan daerah bagian balok tertumpu .bidang 3. Gambar : bidang.

9.6 ton 4 ton 4 ton Arah o o o o Reaksi B S C Keterangan Momen (M) Gaya Lintang (D) Gaya Normal (N) Titik A B S C A B kiri B kanan C - Harga 0 8 tm 0 0 1. 1 Keterangan Titik A Harga 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -57- mana yang terletak diatas (tertumpu) dan mana yang menumpu ( ) o Penyelesaiannya dilakukan secara bertahap dari masing -masing balok tersebut.6 ton 4 ton 4 ton - Tanda (-) (+) (-) (+) (-) - . o Balok yang salah satu perletakannya tertumpu (menumpang) diselesaikan terlebih dahulu.1. mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban dari soal-soal tersebut diatas sebagai kontrol. o Gambar bidang gaya dalamnya adalah merupakan gabungan dari masing-masing balok tersebut.4 ton 3. Soal No. 3. Penutup Untuk mengukur prestasi.4 ton 7.

Garis Pengaruh Balok Gerber .5 ton 5 ton 5 ton 5 ton (+) (-) (-) (-) (-) (+) (-) Tanda 3. Soemono ƏStatika IƐ ITB bab V 2.2.5 ton 5 ton 5 tm 2.1.1.10. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM bab V-4 3.5 ton 2.5 ton 2. 3.5 ton 5 tm 0 7.5 tm 0 2. Daftar Pustaka 1.11.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -58- Soal 2 Keterangan Titik AV Reaksi AH MA S B A Momen (M) S di P B Gaya Lintang (D) A B A Gaya Normal (N) S P kiri Harga 2. Suwarno. Senarai : Sendi Gerber : tempat penggabu ngan balok satu dengan balok lainnya.

Reaksi perletakan pada balok gerber dengan muatan berjalan diatas .11.1. 3.2. o Dalam gambar sebelah o Balok SC yang disangga RS RS (b ) A RA B P RB RS RS (c ) RA ada P (d ) RA ada tidak ada reaksi RB ada tidak ada reaksi R B ada RC o Balok ABS yang menyangga. o Kalau ada muatan berjalan diatas ABS maka reaksi di S (R S) dan reaksi di C (Rc) tidak ada (Gambar d). Standart beban yang dipakai juga sama yaitu muatan berjalan dengan beban P = 1 t on atau satu satuan beban. reaksi ada di B (R B). Pendahuluan Seperti halnya balok diatas 2 perletakan.2. atau gaya momen (M) atau gaya lintang (D) atau gaya normal (N). Gambar 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -59- 3. Pengertian dasar dan definisinya sama dengan garis pengaruh balok diatas 2 perletakan. reaksi di S (Rs) dan reaksi di C (Rc) semuanya ada (Gambar c).2. jika ada muatan yang berjalan diatas balok gerber tersebut. RC ada o Namun jika ada muatan berjalan diatas balok S-C maka reaksi di A (R A). maka untuk balok gerber inipun kita harus mencari besarnya reaksi. Prinsip Dasar Yang perlu diperhatikan dalam membuat garis pengaruh balok gerber adalah : (a ) A B S C o Harus bisa memisahkan balok yang mana yang disangga dan yang mana yang menyangga.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-60-

Contoh
Balok gerber seperti pada gambar Cari garis pengaruh reaksi -reaksinya P=1 x1 x P=1t t A l
1

GP.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) P berjalan dari A ke S x = variable bergerak sesuai posisi P dari A ke C 7 Ms = 0 P (l1  x ) l1  x RA = ton ! l1 l1 Untuk P di A x = 0 RA = 1 ton Untuk P di S x = l1 RA = 0 P dari S ke C RA tidak ada pengaruh terhadap

S

B l
2

C

a

A

S

RS RS B C

GP.R S (Garis Pengaruh Reaksi di S) GP.R A 1t + P dari A Rs = ke S

Px x ! l1 l1

GP.R S +

P di A x = 0 Rs = 0 P di S x = l1 RS = 1t P dari S ke C tidak ada pengaruh untuk reaksi di S (Rs)

GP.R B (Garis Pengaruh Reaksi di B) x1 variabel bergerak dari C ke A sesuai

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-61-

1t

GP.R B

1t

P= 1t x1

+

¨ l2  a ¸ © ¹ © l ¹ ª 2 º A S B C GP.Rc (Garis Pengaruh Reaksi di C) P berjalan dari C ke S l  x1 Rc = 2 t l2 P di C x1 = 0 x1 + a/l
2

GP. Rc

P = 1t

Rc = 1t Rc = 0

P di B P di S

x 1 = l2 Rc =

1t

Rs . a a karena ! l2 l2

(Rs = 1t) P di A Rs = 0 Rc = 0

Gambar 3.12. Garis pengaruh reaksi (RA; Rs; RB dan Rc) Jika potongan I -I antara : A3 Jika potongan II-II antara : BC b x A P I I l1 A Rs B S a B II II l2 C c d

cari garis pengaruh D I-I dan M I-I cari garis pengaruh D II-II dan M II-II e GARIS PEN GARUH D DAN M G.P.DI-I (Garis Pengaruh Gaya Lintang di potongan I -I) P berjalan di kiri potongan I -I (perhitungan dari kanan potongan) DI = - Rs (dari kanan)

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-62-

Gambar 3.13. Garis pengaruh D I-I dan M I-I

G.P.MI-I (Garis Pengaruh Momen di Potongan I-I) P berjalan di kiri potongan I -I (perhitungan dari kanan) M I = Rs . c = Untuk P di A Untuk P di I-I x Px .c .c ! l t1 l t1 x=0 x=b MI = 0 MI = b.c l1

P berjalan di kanan potongan (perhitungan dari kiri) l x M I = RA . b = 1 .b l1 Untuk P di I-I x=b

l b c.b MI = 1 .b ! l1 l1

Jika P berjalan dari S ke C tidak ada M I x A l1 P S B d II II a l2 e C G.P. D II-II (Garis Pengaruh Gaya Lintang di potongan II -II) P berjalan dari A ke P otongan II (perhitungan kanan potongan II) DII = - Rc (sama dengan g.p. Rc)

A

S

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-63-

Sama dengan g.p. Rc

Sama dengan g.p. RB G.P. M II-II (Garis Pengaruh Momen di potongan II-II) P berjalan dari A ke II (perhitungan dari kanan potongan) MII = Rc . e (sama dengan GP.Rc x e) Untuk P di S Rs = 1t Rc = a l2

a/l2. b + d/ l2 . e

g.p. Rc.e

g.p. R B.d M II = -

a l2

.e

Gambar 3.14. Garis pengaruh D II-II dan M II-II P berjalan dari II ke C (perhitungan dari kiri) M II = RB . d Untuk P di II RB = M II =
e l2
e l2 dtm e l2 d

Untuk P di II

Rc =

d l2 M II = -

d .e l2

Mc y2 C dx P. MEN CARI HARGA MOMEN DAN GAYA LIN TAN G DEN GAN GARIS PEN GARUH Jika ada suatu rangkaian muatan atau muatan terbagi rata berjalan diatas gelagar berapa momen maximum di titik C dan berapa gaya lintang maximum di titik C.b l y3 y 1 y4 ƞ y2 y3 B Untuk muatan terbagi rata = q t/mƞ q t/mƞ d Mc = y. A C B Mencari harga Mc a b l Kondisi muatan seperti pada 1) Mc = P1 y1 + P 2 y2 + P3 y3 * P P2 P3 1 Kondisi muatan seperti pada 2) 1) Mc = P1ƞ y1ƞ + P2ƞ y2ƞ + P3ƞ y3ƞ + P4ƞ * y4 ƞ P4ƞ 2) P 1ƞ P2ƞ P3ƞ y1 ƞ A GP.q dx Mc = ´ y.y GP.a.Dc y1ƞ y2ƞ + y3ƞ y4ƞ Dc = -P1ƞ y1ƞ + P 2ƞ y2ƞ + P 3ƞ y3ƞ + P4ƞ y4ƞ Dc = q F Beban terbagi rata Dc = q F . dimana dx 0 (mendekati 0) y = ordinat dibawah dx Mencari harga Dc Untuk beban titik GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -64- 3.3.Mc + ´ y dx ! luas bagian yang diarsir ! F Mc = q F Luas = F y P 1ƞ P2 ƞ P 3ƞ P 4ƞ q dx = muatan q sejarak dx.2.qdx ! q ´ y dx Mc = 7 P.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -65- q t/mƞ Luas = F + - GP.Dc Gambar 3. Mencari gaya lintang (D) dan momen (M) dengan garis pengaruh .15.

Mencari Momen Maximum di Suatu Titik Pada Gelagar 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -66- 3.2. Muatan berjalan diatas gelagar Berapa momen maximum yang terjadi di titik C jika ada suatu rangkaian muatan seperti pada gambar tersebut melewati jembatan seperti pada gambar. muatan yang melewati suatu jembatan adalah tidak menentu. . Prinsip dasar perhitungan . 3.Untuk mencari nilai momen maximum di suatu untuk didalam gelagar maka kita perlu mencari posisi dimana muatan tersebut berada yang menyebabkan momen di titik tersebut maximum. Misal : Suatu gelagar muatan P1 P2 A C a l b P3 P4 P5 P6 B Suatu gelagar Jembatan Gambar 3.16.4.Untuk mencari nilai maximum tersebut perlu memakai ga ris pengaruh dari gaya dalam yang dicari sebagai perantaranya. Pendahuluan Pada kenyataannya.2.2.1.2. Dalam kondisi tersebut kita tetap harus mencari berapa nilai momen maximum di suatu tempat pada gelagar tersebut. . ada yang lewat sendirian atau merupakan suatu rangkaian muatan.4.4.

(x P1 P 1ƞ P P 2ƞ P3 P3ƞ P4 P4ƞ P5 P5ƞ 2 Jawab : A (c) l l (x y 1ƞ y1 y2 y3 C1 yƞ yƞ yơ y4 + P5 y 5 Gambar 3.Mc y4 y5 Pada posisi awal. ordinat garis pengaruh dinyatakan dengan y 1 s/d yS.17.c) Mencari Mc max untuk rangkaian muatan berjalan (dari kiri k e kanan) Jarak rangkaian muatan constant (tetap) = posisi awal . Contoh Mencari Momen Maximum Pada Gelagar Ada suatu balok terletak diatas 2 perletakan seperti pada Gambar.Kemudian nilai maximum tersebut didapat dengan cara mengalikan antara beban yang terletak diatas gelagar dengan ordinat dari garis pengaruh yang dipakai. jika ada rangkaian muatan yang berjalan diatasnya berapa Mc maximum yang terjadi.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -67- . Perpindahan ordinat untuk muatan berjalan yơ GP. atau Mc = 7 Py = P 1 y1 + P 2 y 2 + P 3 y 3 + P 4 y2 ƞ y 3ƞ y4 ƞ y5 ƞ = posisi kedua r B C (l.

dimana ordinat garis pengaruh dinyatakan dengan y 1ƞ s/d y5ƞ dan Mc = 7 Pyƞ (dalam hal ini y berubah menjadi yƞ) Jika ditinjau 2 bagian : .bagian kanan titik C Di kiri titik C ordinat bertambah yƞ dan Di kanan titik C ordinat berkurang yơ yƞ = yơ = (x .c1 ¹  § Pr © .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -68- Muatan bergerak ke kanan sejauh (x.c1 ¯  ql  qr A ¿ ! (x.bagian kiri titik C dan . c1 ( l  c) Perbedaan nilai momen ( (M) dari perpindahan posisi beban adalah sebagai berikut : ( Mc = P1 yƞ + P2 yƞ ƛ P3 yơ ƛ P4 yơ ƛ P5 yơ = (P1 + P2) yƞ .c1 ? l c À °c ql qr ql = jumlah beban rata -rata di sebelah kiri titik C qr = jumlah beban rata -rata di sebelah kanan titik C Jika q l > qr ( M positif ql = Jika muatan bergeser terus ke kanan sehingga P2 melampaui C P1 C .(P3 + P4 + P5) yơ + P5) = 7 Pr jika (P1 + P2) = 7 Pl dan (P3 + P4 ¨ (x ¸ ¨ (x ¸ = 7 Pl © .c1 ¹ c l c  ª º ª º § Pl § Pr ¾ ® ( x. c1 c (x .

23.Tarik dari titik 0 (ujung dari beban 01) ke ujung garis bagian kiri (Aƞ) sehingga membentuk sudut ( E) .34 dan 45 Cara : buat garis AB dibawah gelagar. 23. Posisi beban terbagi rata untuk Mencari M maximum kiri kana n Mmax terjadi jika psosisi beb an tota l q l = qr = q s Mencari perkiraan posisi beban dalam mencari momen max supaya beban di kiri dan di kanan potongan seimbang. 12. .di ujung bagian kanan (Bƞ) buat muatan tumpukan beban dari 45.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -69- ql menjadi kecil sehingga q l < qr ( M negatif (pergerakan P2 dari kiri C ke kanan C menjadikan tanda ( M dari positif ke negatif) Jadi Mmax terjadi jika P2 diatas C. M max terjadi jika salah satu muatan di atas potongan sehingga § Pl Pr !§ atau C l c ql = qr Mmax di suatu titik untuk muatan terbagi rata a b Untuk muatan terbagi rata Mc max terjadi jika : q l = qr B a b ab ! ! c (l  c) l A C c (l ƛ c) ql qr qs Gambar 3. maka bisa diperkirakan secara grafik sebagai berikut : Gelagar diatas 2 perletakan A -B.12. 34.18. digunakan rangkaian muatan berjalan dengan nomor urut 01. dan 01 (dengan skala) .

°1 12 23 34 45 Mmax terjadi jika q l = qr = qs = tg E B tg E! 01  12  23  34  45  l A I II l III IV 0 1 2 3 4 E Aƞ 5 . * Bagaimana posisi beban untuk mendapatkan momen di potongan II maximum. yaitu dengan menarik garis dari potongan I kebawah. . .Kalau kita mau mencari dimana letak beban yang mengakibatkan momen di potongan I maksimum. .Dengan cara yang sama. . sampai memotong garis Aƞ -Bƞ di Iƞ. tarik garis dari potongan II ke bawah sampai pada garis Aƞ-Bƞ dan memotong di potongan IIƞ. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -70- .Jadi M I akan maximum jika beban 01 terletak di atas potongan I.Tarik dari titik Iƞ sejajar (//) dengan garis Aƞ0 dan garis tersebut akan memotong tumpukan muatan di beban 01.Dari titik IIƞ ditarik garis // (sejajar) dengan Aƞ ƛ O dan memotong tumpukan muatan di beban 12.Jadi M II akan maximum jika beban 12 terletak diatas potongan II.

2. . mencari momen maximum-maximorum di suatu gelagar ini posisi titiknya tidak tertentu. Pendahuluan Mencari momen maximum maximorum ini berbeda dengan mencari momen maximum di suatu titik pada gelagar.19. Jadi dalam hal ini-: dicari !!. Jadi dalam hal ini titik letak dimana momen maximum terjadi.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -71- Iƞ IIƞ IIIƞ IVƞ Bƞ Gambar 3.2.Letak posisi titik dimana momen maximum terjadi. M II max terjadi jika muatan 12 terletak diatas potongan II -II. M III max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan III -III. . 3.Letak posisi beban yang menyebabkan momen maximum.5. M IV max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan atau mutan 45 terletak diatas potongan IV -IV dan diambil yang besar. . serta posisi beban yang menyebabkan terjadinya momen maximum harus dicari. Mencari posisi muatan untuk mendapatkan Mmax dengan cara grafis M I max terjadi jika muatan OI terletak diatas potongan I -I. Mencari Momen Maximum Maximorum di Suat u Gelagar 3.1.5.

. R2 dan P3 atau resultante P 1. b 7 MA = 0 1 _P3 . Contoh 1 P1 (a ) A P2 P3 P4 P 5 B Suatu gelagar diatas 2 perletakan A ƛ B. a ƛ R2 . P 3. dan suatu rangkaian muatan dari P 1 s/d P5. P2.2. P4. P5 r = jarak antara Rt dan P 3 a = jarak antara R 1 dan P 3 b = jarak antara R 2 dan P 3 b P1 P2 P3 P4 P5 R1 r R2 Rt a Rangkaian muatan terl etak diatas gelagar dan dimisalkan momen maximum terletak dibawah beban P 3 dengan jarak x dari perletakan A. r P1 P2 P 4 P5 P3 (b ) RA R1 a x l Rt Rt b R2 7M di P 3 = 0 RB Rt. Berapa dan dimana momen maximum-maximorumnnya ?.2.Dalam mencari momen maximum -maximorum ini harus memakai persamaan. Prinsip Dasar Perhitungan .r = R1 . Jawab : R1 = resultante dari P 1 dan P 2 R2 = resultante dari P 3 dan P 4 Rt = resultante dari R 1.Untuk mencari momen maximum -maximorum di suatu gelagar ini tidak bisa memakai garis pengaruh karena titik letak momen maximum terjadi harus dicari.5.x  R1 ( x  a )  R 2 ( x  ba lt Momen dibawah P 3 dengan jarak x dari titik A RB = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -72- 3.

Rt . P1 (e A ) r ½ r½ r Mmax terjadi dibawah beban B P 1 M 1 max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -73- Rt M max terdapat dibawah P 4 = M4max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 4 Mextrem = Mmax ƛ maximorum adalah tengah-tengah momen yang terbesar diantara bentang Mmax (1.5).2.4.3.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -74- ½r x ½ l M max terdapat dibawah P1 = M 1 max P1 (f) A tengahtengah B P2 P3 P4 P5 Mmax terjadi dibawah beban P2 M 2 max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 2. r ½ r Rt x=½l+½r M max terdapat dibawah P 2 = M 2 max P 1 P2 (g A ) r tengah bentang ½ r ½ r P 3 P4 P 5 B Mmax terjadi dibawah beban P5 M 5 max Dalam hal ini : r = jarak antara Rt dengan P 5 Rt x=½l+½r M max terdapat di bawah P 5 = M 5 Gambar 3. Posisi beban untuk kondisi Mmax 1 s/d M Suatu gelagar dengan bentang l = 10 max5 Contoh 2 m dan ada suatu rangkaian muatan P1=8 P2=6 P 3=6 berjalan dengan lebar seperti pada gambar. l = 10 Jawab : kondisi beban seperti pada gambar .20. 1m 1m Cari besarnya momen maximum A B maximum maximorum.

45 ½ Kondisi 2 Dimana M max dibawah P 2 P1 P2 P3 A 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -75- Kondisi 1 Dimana M max dibawah P 1 tengah P1 A 5m x=½l+ r = 5½ + 0.55 8t 1m x 4t 1m 6t Rt Rt = P 1 + P2 + P 3= 20 ton Statis momen terhadap P 1 P 2.45 r =1.1 + 6. GP R C .45 Rt Gambar 3.21.1 + P3.6. Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok. ditanyakan : GP R A .1 4.1 4.95 Rt Kondisi 3 Dimana M max dibawah P 3 P1 tengah-tengah bentang P1 P2 P3 P2 P3 B l-x Rt 4. Posisi beban untuk mencari momen maximum maximorum 3. GP R B.x 6.2 = Rt. x x= B tengahtengah bentang P2 P3 B 4.2. Latihan : Garis pengaruh pada balok menerus dengan sendi-sendi gerber Soal 1 : P=1t berjalan 2m S A I B C Balok ABC dengan sendi gerber S seperti tergambar.2 = 20 .

P1=4 P2=4 P 3=2 t t t maximorum pada balok tersebut. GP R D GP M I. ditanyakan : MI max . GP R A . Rangkuman . Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok. GP DB kanan 2 2 b). 3. ditanyakan. RA 8m 2m a). Akibat rangkaian beban M max berjalan. GP D I.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -76- Soal 2 : 4m S1 A I B P = 1 t berjalan S2 C RB RC 6m 2m 6m D RD Balok ABCD dengan sendi gerber S 1 dan S 2 seperti tergambar. GP R B. GP R C . GP M B.2.7.

2. Penutup Untuk melihat prestasi mahasiswa dalam mengerjakan latihan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -77- .Sebelum mengerjakan garis pengaruh gaya -gaya dalam. . karena dari garis pengaruh reaksi tersebut garis pengaruh gaya dalam mudah dikerjakan. 1 Keterangan RA P =1t Titik A B S C A B S C A B S C N ilai 1t 0 1/3 t 0 0 1t 4/3 t 0 0 0 0 1t Tanda / Arah  o  q RB   o o RC  o .8. perlu dibuat dulu garis pengaruh reaksi. maka bisa melihat jawaban soal sebagai berikut : Jawaban : Soal No.Untuk mengerjakan garis pengaruh balok gerber. harus tahu dulu bagaimana memisahkan balok terse but menjadi bagian bagian yang tertumpu dari bagian yang menumpu. 3.

Keterangan RA P = 1 dititik A B S1 S2 C D A B S1 S2 C D A B S1 S2 C D Nilai 1t 0 0.667 tm 0 0 1/3 t 2/3 t 0 1/3 t 0 0 0 2 tm 0 Tanda / Arah       Soal N o.25 t 0 0 0 0 1t 1. 2 a).333 t 1t 0 Tanda / Arah  o  q RB   o o RC   o o .25 t 0 0 0 0 0 0 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -78- Lanjutan Jawaban Soal 1 Keterangan MI DI MB P =1t Titik A I B S C A I kiri I kanan B S C A B S C N ilai 0 1.333 tm 0 0.

5 t 0 0.25 t 0 0 0 0 0 2 tm 0 0 0 0 0 1t 1t 0 0 0 Tanda / Arah      b). MI max = + 14 tm.333 t 0 1t 0 2 tm 0 1 tm 0 0 0 Tanda / Arah     q o Lanjutan Jawaban Soal 2 Keterangan DI MB DB kanan P =1t Titik A I kiri I kanan B S1 S2 C D A C S1 S2 C D A I kiri I kanan B S1 S2 C D N ilai 0 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -79- Keterangan RD MI P = 1 dititik A B S1 S2 C D A I B S1 S2 C D Nilai 0 0 0 0.5 t 0. pada saat P 2 terletak pada titik I .

05 tm. bab V . ƏStatika IƐ.Soemono. ITB. UGM. Senarai Balok gerber = balok yang bisa dipisah -pisah menjadi beberapa konstruksi statis tertentu Sendi gerber = sendi yang dipakai sebagai penghubung antara balok satu dengan balok yang lain.2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -80- MI max maximum = + 14. Daftar Pustaka . terjadi pada titik dibawah P 2 3. bab V-4 3.2.Suwarno.9. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ . .10.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -81- .

N.1. dan dasar sungainya tidak terlampau dalam. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah membaca materi ini mahasiswa salain mengerti apa arti struktur pelengkung 3 sendi. Untuk sungai yang lebarnya tidak besar missal : + 30. seperti pada gambar (b) yaitu jembatan balok dengan 2 bentang (perletakan di tengah Tapi bagaimana kalau kit a mendapatkan sungai dengan lebar yang cukup berarti dan dasar sungai juga cukup dalam. sehingga sulit untuk membuat pilar di tengah -tengah jembatan ?. pada umumnya dipakai jembatan balok diatas 2 perletakan bias a seperti pada Gambar Untuk sungai yang mempunyai lebar cukup berarti misal : + 100 m.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -82- MODUL 4 : PELENGKUNG DAN PORTAL 3 SENDI SERTA CARA PENYELESAIANNYA 4. serta bisa menggambarkan bidang gaya dalamnya (Bidang M. dalam. dan dasar sungainya tidak terlampau + 30 (b). maka + 100 m Pilar dibuatlah jjembatan balok dengan beberapa bentang. . Pendahuluan Konstruksi pelengkung 3 sendi biasanya dipergunakan pada konstruksi jembatan.1. (a). (c). a. tapi dengan kondisi yang bagaimana ?.1. Judul : PELEN GKUN G 3 SEN DI Tujuan Pembelajaran Umum Dengan membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui apa itu arti struktur pelengkung 3 sendi dan tahu bagaimana menyelesaikan struktur tersebut. D) 4. mengerti juga kapan struktur itu digunakan dan tahu cara menyelesaikan struktur tersebut.

1. 7 V = 0 dan 7 M = 0. Jadi total reaksi ada 4 (empat) buah.1.1. maka perlu tambahan 1 (satu) persamaan lagi yaitu 7 Ms = 0 (jumlah momen pada sendi = 0). Perletakan A = sendi (ada 2 reaksi V A dan H A). struktur pelengkung tersebut. A VA HA HB VA B Gambar (a) Gambar 4. B = sendi (ada 2 reaksi V B dan H B).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -83- Tiang penyangga Maka jawabannya adalah konstruksi utama dibuat pelengkung sehingga tidak memerlukan pilar di tengah -tengah sungai (Gambar c). S = sendi yang terletak pada pelengkung tersebut sehingga struktur tersebut dinamakan struktur pelengkung 3 sendi atau struktur pelengkung yang mempunyai 3 buah sendi. Dengan konstruksi pelengkung terse but. Skema pelengkung 3 Jadi agar struktur tersebut bisa sendi diselesaikan secara statis tertentu.2. Pengertian tentang Pelengkung 3 Sendi 4. Pelengkung sungai Gambar 4. tempat dimana kendaraan lewat bisa tertumpu pada tiang-tiang penyangga yang terletak pada pelengkung tersebut. Penempatan Titik s (sendi) . Bermacam-macam bentuk jembatan 4.2.2. kedua perletakan dibuat sendi. gelagar memanjang. S Pengertian Dasar Untuk menjaga kestabilan dari perletakan. sedang persamaan dari syarat keseimbangan hanya 3 (tiga) buah yaitu : 7 H = 0.2.2.1. 4.1.

S Letak sendi tersebut bisa ditengah-tengah busur pelengkung atau tidak. dimana letak sendi s tidak di tengah-tengah busur pelengkung B A (b) Gambar 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -84- Sendi s yang dipakai untuk melengkapi persamaan pelengkung 3 s endi terletak di busur pelengkung antara perletakan A dan B. Hal ini tergantung dari kondisi lapangan : seperti pada gambar (b). Contoh posisi sendi pelengkung 3 sendi .3.

q x12 ƛ 2 B HA.3. Pemilihan Bentuk Pelengkung q kg/mƞ A RA B Kita kembali ke belakang. Bidang M struktur 1 statis tertentu M= q l² dengan beban terbagi 8 rata 1 q l² (coba dihitung lagi sendiri) 8 S Struktur pelengkung dengan bentang = l dan tinggi = f di A ada 2 reaksi VA dan H A di B ada 2 reaksi VB dan H B f HA S E l HB A Kalau kita mau mencari besarnya momen di 1 potongan E ƛE. h1 f I = VA .q x² diatasnya. maka bidang momennya berbentuk parabola dengan tanda bidang M adalah positif (+) dengan nilai maximum di tengah -tengah bentang = dengan persamaan momen Sekarang kalau ditin jau struktur pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata 1 Mx = RA. maka M E-E = VA.1. x1 l persamaan momen gambar (c) yaitu 2 (dua) VA x1 VB perletakan dan dengan gambar bidang momen 1 q x1 2 2 A 1 q x12 sama dengan 2 .x .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -85- 4. 2 q kg/mƞ (c) Gambar 4. x 1 HA HB II = HA.x1.h1 B Nilai I = V A .2.h1 I II VB Nilai M E-E dibagi menjadi 2 bagian. kalau kita R B mempunyai balok statis tertentu diatas 2 l + parabola Bidang M (dua) perletakan A dan B dengan beban terbagi rata q kg/mƞ.4.

(hA-hB) ƛ P1. Gambar nilai I = V A. Cara Penyelesaian 4.3.6.x1 ƛ ½ q x1² + Bidang M + Gambar nilai II = H A. Pendekatan 2 : Jika V A dan V B dicari dulu baru H A dan H B kemudian a b Gambar 4. 4.h1 Gambar 4.1.1. Skema Nilainya bidang M pada pelengkung mengecil Harga momen total adalah sebagai berikut : Nilai I dan nilai II = nilai tota l M E-E = nilai total M E-E + + = nilai kecil (saling menghapus) Dari uraian tersebut diatas terlihat bahwa bentuk pelengkung itu akan memperkecil nilai momen. P1 S1 hB HB a1 A HA b1 B VB hA Mencari Reaksi Perletakan S Ada 2 (dua) cara pendekatan penyelesaian untuk mencari reaksi.1. Pendekatan 1 : Jika HA dan V A atau H B dan V B dicari bersamaan.l ƛ HA.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -86- Bidang M.5.b1 = 0 (1) .3. Skema gaya dan jarak pada pelengkung (pendekatan 1) Pendekatan 1VA HA dan V Al dicari dengan persamaan 7 MB = 0 dan 7M S = 0 (bagian kiri) (2 persamaan dengan 2 bilangan tak diketahui) Gambar (a) 7M B = 0 V A.

a ƛ HA.S 1 = 0 (bagian kiri) (2) .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -87- 7M S = 0 V A.hA ƛ P1.

a1 = 0 7 M S = 0 V B . Pendekatan 2 P1 S S1 f a Ba Reaksi horizontal H A dan HB ditiadakan kemudian arahnya diganti. h B ) = 0 (bagian kanan) Dari persamaan (3) dan (4) maka V B dan H B bisa dicari. (4). 7M A = 0 VB. masing -masing menuju ke arah perletakan yang lainnya menjadi Ab ¸ dan ¹ Ba B Dengan arah Ab yang menuju perletakan B dan .H B . HB dan V B dicari dengan persamaan 7M A = 0 dan 7M S = 0 (bagian kanan) 2 persamaan dengan 2 bidang tidak diketahui (3).l + HB (hA ƛ hB) ƛ P1.l .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -88- Dari 2 persamaan tersebut diatas yaitu (1) dan (2) maka V A dan H A bisa dicari.

y Mencari reaksi Ba 7 MS = 0 (bagian kanan) persamaan (2) maka nilai Ba bisa dicari.S1 ƛ Ab . b1 = 0 Pb Av = 1 1 l (1) y Mencari reaksi Bv 7 MA = 0 Bv.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -89- y Mencari reaksi Av 7 MB = 0 Av. f = 0 Bv . Bv. a  P1S1 dengan memasukkan nilai A v dari Ab = f persamaan (1). b Ba = dengan memasukkan nilai Bv dari f Lihat posisi Ba dan Ab dan Ab ( ¸) merupakan reaksi yang arahnya miring Ba ( ¹) Ba cos E Ba E Ab sin E Ba sin E Ab .l ƛ P1.a ƛ P 1.b ƛ Ba . a1 = 0 Pa Bv = 1 1 l (2) y Mencari reaksi Ab 7 MS = 0 (bagian kiri) Av. f = 0 Av .l ƛ P1. maka nilai Ab bisa dicari.

Ba juga diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu : Ba cos E (³) merupakan uraian horizontal dan Ba cos E (¶) merupakan uraian vertikal. (³) dan : VA (µ) = Av ( µ) + Ab sin E (µ) pendekatan 2 gambar (b) dan Pendekatan 1 gambar (a) VB (µ) = Bv (µ) + Ba sin E (¶) pendekatan 2 gambar (b) Pendekatan 1 gambar (a) .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -90- Kedua reaksi ini harus gaya dan diuraikan gaya menjadi vertical yang horizontal Ab diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu : Ab cos E( ) merupakan uraian horizontal dan Ab sin E(µ) merupakan uraian vertical sedang. y Bagaimana dengan komponen -komponen itu selanjutnya ? Ternyata : Ab cos E = HA pada cara pendekatan 1 yaitu merupakan reaksi horizontal di A. ( ´) Ba cos E = HB pada cara pendekatan 2 yaitu merupakan reaksi horizontal di B.

a. seperti pada gambar (4. (x dari 0 ke a) linear dan bidang D dari 0 ke a).HA .9 disamping. maka Mx = V A .8.2. x q kg/mƞ Lihat pada gambar 4. x. gaya lintang (D) dan gaya normal (N). x ƛ ½ q x² gambarnya adalah parabola seperti pada I sub bab 4.2.9 Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata HB B VB . merupakan nilai konstan Dx = R A (x A a RA l Bidang + b P. y I = VA . Jika x adalah titik yang ditinjau bergerak dari A s/d B.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -91- 4. bukan pelengkung.1. Mencari Gaya-gaya Dalam Seperti telah diketahui sebelumnya. RA Karena bidang M merupakan fungsi x Mx = RA . maka dengan mudah B kita menggambarkan bidang momennya (Bidang M) dan bidang gaya lintangnya (Bidang D). x ƛ ½ q x² . II II = HA . gaya-gaya dalam yang ada pada suatu balok adalah gaya dalam momen (M).8). y HA = konstan nilainya y = jarak titik dasar ke pelengkung S y A HA VA Gambar 4.b l RA + Bidang D RB Gambar 4. x P Untuk balok yang lurus.3. dimana suatu pelengkung 3 sendi dibebani beban terbagi rata q kg/mƞ. Gaya dalam untuk balok diatas 2 perletakan Bagaimana dengan bidang gaya dalam pada pelengkung ?.1.3 Gambar (c).

y gambarnya juga parabola 4 fx ( l  x ) l² Jadi Mx = I ƛ II merupakan penggabungan 2 parabola yaitu parabola I dan II yang tidak mudah penggambarannya !. * Bagaimana dengan bidang D (bidang gaya lintang) Kita lihat titik dimana x berada di situ ada x Hx S Vx Vx dan Hx.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -92- y adalah merupakan persamaan parabola dari pelengkung. Gaya vertical dan horizontal disuatu titik pa da pelengkung 3 sendi Bagaimana nilai Dx dan Nx ? gaya-gaya tersebut Vc dan Hx harus diuraikan ke gaya -gaya yang B (tegak lurus) dan // (sejajar sumbu) Dimana posisi sumbu batang?. Vx = V A ƛ q . Posisi sumbu batang adalah merupakan garis singgung dimana titik x berada.10. x (jumlah gaya -gaya vertikal di x kalau di hitung dari bagian kiri) Hx = H A HA VA HB VB Gambar 4. maka Vx dan Hx harus diuraikan ke E . Garis singgung tersebut membentuk Garis singgung di x sudut E dengan garis horizontal. dimana pada umumnya persamaannya adalah : y = II = HA.

Garis singgung Garis singgung E x di sebelah kanan titik puncak . maka Dx = Vx cos E Hx sin E Jumlah gaya dari kiri bagian arah ke atas tanda (+) Jumlah gaya dari kiri bagian dengan arah ke bawah tanda (-) Nx = .( Vx sin E Hx cos E   Kedua gaya ini menekan batang tanda (-) Dari uraian tersebut diatas kalau kita mau menggambar bidang D (gaya lintang) atau bidang N (gaya normal) akan mendapat kesulitan .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -93- Hx sin E Vx sin E E Vx cos E Vx Hx E Hx cos E * Uraian Vx ke garis singgung singgung * Uraian Hx ke garis Gambar 4. x cos E = . Karena setiap letak x berubah garis singgung akan berubah sudutnya dan nilai E akan berubah lihat gambar bawah. Uraian Vx dan Hx pada sumbu batang Dx = jumlah komponen yang B garis singgung Nx = jumlah komponen yang // garis singgung.Vx sin E.11.

bidang gaya lintang (Bid.13. Contoh Penyelesaian Contoh 1 3 t/mƞ Diketahui : Pelengkung 3 sendi dengan persamaan 4fx(lt  x ) parabola y = l² y = jarak pelengkung dari garis horizontal dasar x = aksis yang bergerak secara horizontal dari A ke B l = bentang pelengkung f = tinggi pelengkung H B Pelengkung tersebut dibebani secara terbagi rata q = 3 t/mƞ. S Ec C yc f=3 m A H 2. .5 m dari titik A. D) ataupun bidang normal (Bid.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -94- Gambar 4.12. M). N). Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata Dintanya : Nilai VA. dan nilai gaya normal di salah satu titik di daerah pelengkung tersebut.5 m xc VA 5m VB 5m Gambar 4. Dc dan Nc Dimana c terletak sejarak x c = 2. Perubahan arah garis singgung Biasanya yang ditanyakan dalam struktur pelengkung bukanlah bid ang momen (Bid. Mc. Namun biasanya yang ditanyakan adalah besarnya nilai momen. nilai gaya lintang. VB. H.

5 .Xc² = 15 . 2. l.5 m yc = 4.25 m 10² y Mencari Mc (momen di titik c) dihitung dari kiri c Mc = VA .14.q.25 ƛ ½ . 3 ƛ ½ q .5 (10  2. l ƛ q.5 ton 3 3 VA .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -95- Jawab : Lihat notasi reaksi yang ada di perletakan A dan B.10 = 15 ton ( o) VB = 15 ton (o) y Mencari ordinat titik c guna mencari Mc dengan persamaan parabola y = 4 fx ( l  x ) l² untuk x = 2.5 ƛ 12. ½ l = 0 VB . maka 4 f x (l  x ) 4 f (l  2 x   y' ! l² l² . Sudut Ec B Menentukan nilai Ec y= Ec lintang Untuk mencari gaya lintang maupun gaya normal pada potongan x. 3 .3. 5. ½ l = 0 VA = ½ .5  1 / 2.yc ƛ ½ .H . (5)² = 0 H= V . 2. l ƛ q. 3 .5  1 / 2 .5) ! 2.5² = 0 (nilai momen = 0) y Mencari gaya normal dan gaya Hc Vc A 2.l. di A ada V A dan H dan di B ada V B dan H Reaksi horizontal di A ditulis H buk anlah H A demikian juga.5m Gambar 4.3. 2. 25 ! ! 12. reaksi horizontal di B ditulis H bukanlah H B (HA) dan di B (H B) adalah sama.2. yang berarti reaksi horizontal di A HA = HB kenapa ? dengan mengacu bahwa 7H = 0 maka H A = HB = H dimana beban luar secara horizontal tidak ada Mencari V A dan VB 7 MB = 0 7 MA = 0 mencari H 7 Ms = 0 (kiri bagian dari S) VA .Xc ƛ H.q (5)² 15.

0. Vc = VA ƛ q.5774 ton Dari Mc hasil = nilai gaya dalam tersebut tampak bahwa nilai 0.5 = 7.sin Ec + Hc cos Ec) = . 0. hanya beban luar yang berbeda yaitu P = 6 ton ( ) horizontal .5 .4312 = 0 Hc sin Ec Ec Vc sin Ec Ec Vc cos E c Vc Hc Hc cos Ec Gambar 4. jadi ini jelas bahwa struktur pelengkung ditekankan menerima gaya tekan.5145 = 6.15.5 . 0.5774 ton. 0.5145 + 12. Nc = -14.5 .8575) = .5 ton ( o) Hc = H = 12.(Vc.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -96- kita perlu mencari sudut Ec yaitu sudut yang terbentuk antara garis singgung di titik c dan garis horizontal.2.4312 ƛ 6.5m xp=2m C P=6t yp HA yc f=3 m HB Diketahui : S Pelengkung 3 sendi dengan persamaan 4fx(l  x ) bentang l = 10 m parabola l² dan tinggi f = 3 m persis seperti pada contoh 1.8575 ƛ 12.x = 15 ƛ 3. Uraian gaya Vc dan Hc Nc = .(7. Contoh 2 xc=2.14. Dc = 0.5 .5 ton ( ) Dc = Vc cos Ec ƛ Hc sin Ec = 7.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -97- Gambar 4. Gambar pelengkung 3 sendi pada contoh soal .16.

yp = 0 VA . 3 ƛ 6 .92 ton ( n)  5.48 ! 4.152 . l + P.92 m Yp = 10² 7 MB = 0 VA . 1. 5 ƛ HA .92 = 0 VB .08 ƛ 1. f = 0 1.76  6.92 = 0 (cocok) .yp = 0 VB .152 ton ( o) 7v=0 Mencari H A dan HB 7 M S = 0 (kiri) 7 MS = 0 VA .152 . 1. f ƛ P ( f ƛ yp ) = 0 .76 ƛ HA .92 = 0 VA + VB = 0 cocok VA = -1. 5 ƛ HB . ½ l ƛ HA .6 .2 (10  2) ! 1.P.152 ton ( q) 7 MA = 0 VB = + 1. l .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -98- Jawab : Karena ada beban horizontal maka H A { HB Mencari V A dan V B Untuk mencari VA dan VB perlu tahu tinggi yp untuk Xp = 2 m 4.5. 3 ƛ 6 (3 ƛ 1. 1.1.3. 10 .08 = 0 HA = 7 M S = 0 (kanan) 7 MS = 0 VB .08 ton (n) 3 Kontrol 7H = 0 P + HA + HB = 0 6 ƛ 4. ½ l ƛ H B .92) = 0 . 10 + 6 . 3 = 0 HB = 1.

17.152 . yc ƛ P (yc ƛ yp) C P=6 t yc HA VA Ec Mc 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -99- Mencari M. cos E = 0.152 ton ( q) Hc = 6 ƛ 4.18 ƛ 1.92) = -1.V A .Xc + HA .88 + 9. = -1.5145 Dc = .92 .2.96° sin Ec = 0.32 tm VB Hc C Hc Vc P Vc sin E HA VA Gambar 4. 0.5 + 4.25 m Ec = 30.152 .Vc cos Ec ƛ Hc sin Ec = -1. Distribusi Vc dan Hc Vc Vc cos E Ec Hc sin Ec Ec Hc cos Ec Vc = 1. 25 ƛ 6 (2. 2.5145.08 . 2.8575 Mc = .92 ( ) 0.98 HB = 4. Dc dan Nc Seperti pada contoh 1 yc = 2.8575 ƛ 1.08 = 1.25 ƛ = .9757 ton Nc = + Vc sin Ec ƛ Hc cos Ec .

maka perlu diadakan suatu lat ihan sebagai berikut : 1). HB. q=2 P = 6t c S Suatu pelengkung 3 sendi ABS dengan beban terbagi rata q = 2 t/mƞ sepanjang setengah bentang.92 . Mc. 0. HA. Nc.0537 ton 4. HA. c P = 4t A HA HB B Persamaan parabola : y = VB 4 f x (l  x ) l² Xp=2 m VA Xc=3 m 5m 5m . 4 f x (l  x ) l² q=3 Suatu pelengkung terbagi rata q setengah bentang terletak di sejarak 2 S Ditanyakan : VA. Nc.152 .5145 ƛ 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 100- - = 1. Dc f=4 m sendi ABS dengan beban = 3 t/mƞ sepanjang dan P = 4 ton horizontal m dari A.4. VB.1. Dc f=3 m A HA B Persamaan Parabola : y= 2). Mc. Latihan Untuk mempraktekan teori -teori yang ada diuraian depan.8575 = . 2m HB 2m VA 4m 4m VB Ditanyakan : VA.1. HB. 0. dan P = 6t vertical terletak sejarak 2 m horizontal dari B. VB.

6 0. Soal No.667 ton 2.25 m 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 101- - 4. Sedang bidang momen.5. Rangkuman o Pelengkung 3 sendi adalah struktur jembatan yang dipergunakan untuk penampang sungai yang mempunyai dasar cukup dalam. 4. o Struktur tersebut masih merupakan struktur statis tertentu yang bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan.8 o o p n .1. mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban darsoal -soal tersebut diatas sebagai kontrol.6. gaya lintang dan gaya normal di salah satu titik.5 ton 6. 1 Keterangan Titik N ilai Arah / Tanda Reaksi Vertikal A B Reaksi Horizontal A B Data Pendukung yc yƞ Sin E Cos E 7. bidang ga ya lintang dan bidang normal tidak dihitung karena penggambarannya cukup kompleks.75 0.5 ton 4. Penutup Untuk mengukur prestasi.1.667 ton 4. o Yang biasanya dicari dalam struktur pelengkung adalah nilai momen.

5625 tm ~0 5.7.8336 ton (-) (-) Soal No.842 7.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 102- - Momen Gaya Lintang Normal C C C 0.774 ton 1. Suwarno ƠMekanika Teknik Statis Tertentuơ. Soemono ƠStatika Iơ ITB.64 0.1.9675 ton 5.8. bab 2.1.184 ton 5. Daftar Pustaka 1.36 m 0.6854 (+) (-) (-) o o p n 4. berfungsi supaya pelengkung tersebut menjadi statis tertentu. .3672 tm 2.539 0. UGM.226 ton 4. Senarai Pelengkung sendi : struktur pelengkung di suatu jembatan dimana salah satu sendinya (selain perletakan).9675 ton 3. bab 4. 2 Keterangan Titik N ilai Arah / Tanda Reaksi Vertikal A B Reaksi Horizontal A B Data Pendukung yc yƞ Sin E Cos E Momen Gaya Lintang Normal C C C 10.

3 Prinsip penyelesaian. ton (di persamaan atas V B = l f Gambar 4. Garis Pengaruh Reaksi x P S G. VB . x = 0 Untuk P di B . V A dan V B (garis pengaruh reaksi di A dan B) P berjalan dari A ke B. a . f = 0.f Untuk P di A . Pengertian Dasar Pengertian tentang garis pengaruh pada pelengkung 3 sendi sama dengan pengertian garis pengaruh pada balok menerus.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 103- - 4. 6 MA = 0 VA H l a G. b f VA . a.2. x = l VB = 0 V B = 1 ton 6 MB = 0 VA = P (l x) ton (linier) l V A = 1 ton VA = 0 (+ G. x = l G. gaya lintang) pada suatu titik dipelengkung tersebut perlu adanya garis pengaruh. s truktur pelengkung 3 sendi difungsikan sebagai jembatan yang mana diatasnya selalu ada muatan yang berjalan.P. 4. 4. Garis Pengaruh Pelengkung 3 Sendi 4. a f Px b . V B dan H Px ) l .P. x = 0 1t Untuk P di B . Garis pengaruh V A. b ƛ H . yaitu besarnya reaksi atau gaya -gaya dalam disuatu tempat yang diakibatkan muatan berjalan sebesar satu satuan muatan.2.2.P VA (+) 1t G.H (Garis Pengaruh reaksi horizontal) HA = HB (karena beban hanya vertikal) Jika P berjalan dari A ke S (li hat bagian kanan S) 6 MS = 0 H= VB .2. Untuk mencari besarnya gaya dalam (momen. Pendahuluan Seperti pada balok diatas dua perletakan. b l .P.1.2. b = f V B .P V B VB = Px l f H b VB VB Untuk P di A . H P.18.

M C Garis Pengaruh Total (M C) sama dengan jumlah dari garis pengaruh bagian I dan bagian II (+ (-) . bagian I (+) P . c I II (dibagi menjadi dua bagian I dan II) Bagian I VA . a . v sama dengan G. M C (Garis Pengaruh Momen dititik C). u .b c l . B H b MC = VB . x = a H=0 P. bagian II (-) Untuk P di C maka M C = P . u . u dan V B .P. x = 0 p H = 0 Untuk P di S .P. u .f Jika P berjalan dari S ke B (lihat bagian kiri S): H.f = 0 a H = VA . M C = VA . c I II (dibagi menjadi dua bagian I dan II) u VA c A H a f VB P dikiri potongan C (dari A ke C) lih at kanan potongan. x = l Untuk P di S .P. a . R l C u VA VB Bagian II H. x = a p H = P.f v G. f ton H= 6 MS = 0 VA .P. v .H . Jika P berjalan di kanan Potongan C (dari C ke B).v l G. M C pada balok di atas dua perletakan l G. a - P ( l  x ) a ton f l dipusatkan VA = P (l  x ) l Untuk P di B .C = G. a. maka lihat kiri potongan (kiri C).f G.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 104- - Untuk P di A .b ton H= l .P. H x C v P.H .P.b ton l.

a . N dan D Jika P berada dikanan C (lihat dari A ke C) H a l G.19. Gaya normal perlu dikalikan sin D dan untuk G.(VA sin D + H cos D ) I II DC = VA cos D .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 105- - Gambar 4.P.P Gaya Lintang perlu dikalikan cos D v G. Gaya Lintang balok diatas 2 perletakan untuk G.P.) v sin E H b l GP VB sin GP.Mc C.f . NC bagian I Q sin E l (+) ( .P. Gambar GP. V A Sin D D GP NC Bagian II () P.P. HC = H H cos H D diuraikan E menjadi gayaD gaya yang Sin sejajar ( // ) H sin dan tegak lurus VA yaitu H cos D dan H sin D. b cos E l . sehingga: NC = . Garis Pengaruh Gaya Lintang (D) dan N ormal (N) u VA S C VA D H f V C = VA HC = H VA sin D VA diuraikan VB menjadi gaya VA cos D D yang sejajar C ( // ) dan ( ^ ) garis B singgung di C. VA sin D dan V A cos D.H sin D I II I -> identik dengan G.

Gaya normal perlu dikalikan cos E dan untuk GP. G.DC bagian II  y= yƞ = 4fx (lt  x ) l² 4f ( lt  2 x ) l² - Pab sin E lf u cos E l GP DC Total (I + II) Mencari nilai E Persamaan parabola 4 fx ( l  x ) y= l² 4f ( l  2 x ) l² Untuk nilai x tertentu E bisa dicari y' = (-) v cos E l.b cos E l .20.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 106- - v sin E l GP NC Total ( I dan II ) II (-) a . f Gambar 4. D C a b sin E l. untuk GP. Gaya lintang G.P. NC v cos E l perlu dikalikan cos sin E (-) (+) VB cos E v cos E l Mencari N ilai E Persamaan parabola VA cos E GP.f identik dengan garis pengaruh gaya horizontal (H).P. Garis pengaruh gaya lintang (D) dan gaya normal (N) .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 107-

-

1. Contoh Soal x C P S EC

Diketahui : suatu pelengkungan 3 sendi seperti pada gambar dengan persamaan parabola:

4 fx ( l  x ) l² Ditanyakan : G.P reaksi dan G.P. Nc dan Dc Y= f =3 m Jawab : H B VB GP V A § MB = 0 P (l  x) lx ton = ton VA = l l Untuk P di A x=0 VA = 1 ton Untuk P di B x=l VA = 0 G.P. V B § MA = 0 Px x VB = ton ! ton l l 1tUntuk P di A Untuk P di B x=0 x= l VB = 0 VB = 1 ton

A VA 2.5 m

H 5m l G.P. VA 5m

1t

(+) G.P. V B t (+) G.P. H (+) 5/6

G.P. H P berjalan antara A - S (lihat kanan S) § MA = 0 § MS = 0 VB = VB
Px x ! l l

Gambar 4.21. GP VA; VB dan H dari pelengkung 3 sendi

1 l - H.f = 0 2 VB . 5 - H. 3 = 0 H= VA . 5 3 ( l  x ) 5 (10  x ) 5 H= . ! t l 3 10 3 Untuk P di B x = 10 H=0t Untuk P di S x=5 H= 105 5 5 5 5 ! t . ! 10 3 10 3 6  .a.b 1.5.5 5 Atau H = ! ! t l. f 10.3 6

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 108-

-

C

S i VA cos E

VA VA sin E EC VC = VA HC = H

A G.P. NC Bagian I (+ 0.3858 0.1286 t (-) G.P. NC Bagian (-)
0.714 t

B H cos E EC H sin E NC = - (VA sin E + H cos E) I = VA cos E - H sin E I II II

DC G.P NC 0.5144 t ( -) 0.9712 (-) 0,2143 Bag.I (+) G.P.D C

Mencari nilai EC 4 f .x (l  x ) 4.3 (10  x ) ! Y= l² 10² 4 f ( l  x ) 4 . 3 x (10  2 x ) ! l² 10² 4.3 (10  5) 60 3 Untuk x = m y' = ! ! 100 100 5 y' =3/5 = arc tg EC EC = 30.96º sin E = 0.5145 cos E = 0.8575 .G.P. NC NC = - (VA sin E + N cos E) Y' = I I untuk P di C II x = 2.5 m VA = ¾ t VB = ¼

0.643 1 G.P. DC bag. II (-) 0.42875

(-)

G.P. D C 0.4286

I

t VA sin E = ¾ . 0,5145 = 0,3858 VB sin E = ¼ . 0,5145 = 0,1286 II H cos E Untuk P di S H cos E = 5/6 . 0,8575 = 0,714 G.P. D C DC = V A cos E - H sin E Untuk P di C x = 2,5

0,428 8 Gambar 4.22. GP Nc dan Dc pada pelengkung 3 sendi

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 109-

-

4.3.

Muatan tak langsung untuk pelengkung 3 sendi

4.3.1. Pendahuluan Seperti pada balok menerus, pada pelengkung 3 sendi ini pun terdapat muatan yang tak langsung. Pada kenyataannya tidak pernah ada muatan yang langsung berjalan diatas gelagar pelengkung 3 sendi, yang melewati diatas pelengkung 3 sendi harus melalui gelagar perantara. Gelagar perantara Kolom perantara Pelengkungan

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 110-

-

S

Gambar 4.23. Gelagar perantara pada pelengkung 3 sendi

4.3.2. Prinsip dasar Prinsip dasar penyelesaiannya sama dengan muatan tak langsung pada balok. Muatan akan ditransfer ke struktur utama, dalam hal ini pelengkung 3 sendi, melewati gelagar perantara dan kemudian ke kolom perantara.

q = kg/mƞ

a

P

b

q kg/mƞ P

R1 R1

R2 R2

R3 R3

R4 R4

R5 R5

R6 R6

S

P

P

P L =5P

P

P

.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 111- - . . . (a). Kondisi pembebanan kolom (b). transfer beban lewat perantara P q = kg/mƞ R1 P R2 P R3 R4 a P b R5 P P R6 (c) Perhitungan nilai R (beban yang ditransfer) R1 = q .24. . Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi 1t 1t q = 1 t/mƞ 2 3 S 4 a a5 6 . ½ P + (b/P ). ½ P = ½ q P R2 = q . P R4 = a P P R5 = R6 = 0 Gambar 4. . P = qP = ½ qP + (L/P )P R3 = q .

Muatan Tak Langsung Pelengkung 3 Sendi. Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi 4.qton R5 R6 Vc = Av ƛ R1 R4 = 0. Menjadi (R1. .4.e-HA. R2. . sin E + Hcos E) Dc = Vc.Xc-R2.Xc-R2. .25. . Beban dipindahkan ke pelengkungan melalui gelagar.5 ton R5 = 1.4.5 ton a R1 R2 C R3 S e .Yc Vc = VA.e-HA. R4 Yc HA VA HB VB Hc = H Mc = VA.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 112- - Contoh.Yc Nc = -(Vc .1. R4 dan R5) b R2 = R3 = ½ P.Hc sin E Vc Vc cos E Vc sin E Ec C Hc cos E C Hc Hc sin E G ambar 4. . Prinsip penyelesaian sama dengan muatan tak langsung pada balok sederhana diatas 2(dua) perletakan. Pendahuluan . Cos E . Pada Suatu konstruksi pelengkung 3 sendi dengan muatan tak langsung seperti pada gambar. R3. . Garis pengaruh gelagar tak langsung pada pelengkung 3 sendi 4. .

4. B Bagaimana garis pengaruh momen dipotongan I pada gambar dengan gelagar tak langsung (gambar a). dengan ordinat 1.5P .Y1 + P2. Garis pengaruh momen di potongan I untuk gelagar langsung P 54. A C I D E ½ ½ P P + 1.D) disuatu ttitik pada gelagar tersebut.5 P 15 ! P P 8 GP M I untuk gelagar langsung Gambar 4.2. 2. P . Prinsip Dasar Sama seperti pada balok diatas gelagar tak langsung 2 tumpuan. transfer beban hanya disalurkan lewat kolom perantara.33 P 54. P .Y2). Jadi ordinat yang bawah titik I adalah (P1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 113- - Seperti biasanya pada sutau jembatan tentu selalu dilewati muatan yang berjalan diatasnya.26. Kalau muatan berada diatas gelagar C ƛ D beban tak penuh melewati tepat pada potongan I P P 54. (1 ton.33 P 54. untuk itu garis pengaruh selalu diperlukan untuk mencari reaksi atau gaya-gaya dalam (M.4.5 P .33 A C I D E B y1 y y2 + C P1 I D P2 GP M I gel. Beban standart yang dipakai adalah muatan berjalan sebesar satu satuan. karena potongan I tersebut terletak diantara gelagar lintang C dan D.25P 15 ! P puncak adalah 4P 8  Kalua gelagarnya tak langsung. P . langsung y1 y2 Beban tersebut selalu ditransfer ke gelagar lewat titik C dan D dengan C D I nilai P1 dan P2.N. maka kalau diperhatikan beban tak pernah lewat diatas potongan I.33  Gambar b adalah gambar garis pengaruh mome n dipotong I (GP M I) untuk gelagar langsung dengan puncak dibawah potongan I. Seperti garis pengaruh pada gelagar tak langsung diatas-atas 2 tumpuan. Jika letak . atau 1 kg atau Newton) . P .

Pemaparan pada gelagar disebelah kiri dan kanan dimana titik berada seperti pada gambar d. Dc dan Nc . M I gel. Garis pengaruh m omen di potongan I untuk gelagar tak langsung potongan I ditengah -tengah C-D maka ordinat dibawah potongan I adalah ½ y 1 + ½ y2 C I D y1 y2 ½ y1 + ½ y Jadi garis pengaruh untuk gelagar tak langsung sama dengan garis pengaruh pada gelagar langsung dengan pemotongan puncak dipap ar dimana titik tersebut berada. tak langsung ½ y1 + ½ y Gambar 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 114- - GP. Gambarkan Garis pengaruh Mc . Contoh Suatu struktur pelengkug 3 sendi dengan gelagar tak langsung seperti pada gambar.27.

H sin E Cos E P.yc A  ] II I . Pendahuluan .P.a . S . Cuma dipapar pada bagian gelagar yang bersangkutan.Nc = .a .b yc l.b cos E lf pemaparanG.Dc = Av cos E .f G.a . Judul : Portal 3 sendi 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 115- - Penyelesaian. f H R VB H VA Q . C yc . Mc total (bag I + bag II) - II + P.P. 28.a.Y l I + pemaparan GPMc bagian II pemaparan P. Pen yelesaiann ya sama dengan beban langsung.f G. a .Y l P.b yc l.b sin E lf pemaparan Gambar 4. GP Mc = V .1.5. Untuk garis pengaruh gelagar tak langsung.Q. b GPMc bagian I P.P.Q.(Av sin E + H cos E ) pemaparan Sin E pemaparan P.x  H. 4. .5.

bisa berupa balok menerus.5. 4.29. maka bentuk lain dari struktur tersebut adalah portal 3 sendi sepeti tergambar dibawah ini S A B Gambar 4. Kalau dibagian sebelumnya ada struktur pelengkung 3 sendi. balok gerder.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 116- - Bentuk dengan suatu struktur adalah bermacam-macam.2. Prinsip Dasar Prinsip dasar penyelesaian nya sama dengan pelengkung 3 sendi yaitu memakai 2 pendekatan Pendekatan I . pelengkung 3 sendi dan gelagar lainnya. Bentuk portal 3 sendi Portal 3 sendi adalah suatu penyederhanaan sederhana dari pelengkung 3 sendi supaya penyelesaiannya lebih sederhana dan tidak perlu memakai gelagar yang tak langsung.

Pendekatan I 2 cara seperti pada pelengkung 3 sendi. b1 ƛ P2 .l + HB.l + HA.hƞ ƛ P2 . S1 = 0 VA dan H A dapat ditentukan Pendekatan II .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 117P1 S a1 a2 - S2 P1 P2 b1 b2 B VB h' HB h h A VA HA a L b Gambar 4. a1 = 0 VB.hƞ ƛ P 1 .l + HB. S 2 = 0 VB dan H B dapat ditentukan (dari kanan) 7 MB = 0 7 MS = 0 (dari kiri) VA. b2 = 0 VA.30. 7 MA = 0 7 MS = 0 VB. a2 ƛ P1 .h ƛ P 1 .a + HA. Arah reaksi -reaksi dari portal 3 sendi untuk penyelesaian dengan cara pendekatan I Prinsip penyelesaiannya sama den gan pada pelengkung 3 sendi yaitu memakai 2 pendekatan. (h ƛ hƞ) ƛ P2 .

Arah reaksi portal 3 sendi dengan cara pendekatan II .31.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 118P1 P1 P 2 S - S1 a1 a2 S S2 b1 b2 B BV h' BA h h A AV AB a b L P1 S P1 fƞ ff ƞ B BA BV A AV AB a b L Av ƞ A AB HA HB BA B Bv Ɲ Gambar 4.

f Ɲ AB dan B A diuraikan HA = AB cos E HB = BA cos E Av Ɲ = A B sin E Bv Ɲ = B A sin E Maka : VA = Av + Av Ɲ VB = Bv ƛ Bv Ɲ HA = AB cos E HB = BA cos E Contoh . S 2 ƛ BA .b1  P2 . f Ɲ 7 MS = 0 (kiri) HA . b  P2 . f ƞ Bv. f = HB . S 2 f Nilai BA .a  P1 . f = HA .a 2 l Nilai A B . a2 = 0 Bv = P1. a1 ƛ P2 . S 1 ƛ AB .a 1  P2 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 119- - Cara 2 7 MB = 0 Av.b 2 l 7 MA = 0 Bv. f ƞ Av. f = 0 BA = Bv .l ƛ P1 . S1 AB = Av f 7 MS = 0 (kanan) HB . b 2 = 0 Av = P1.b ƛ P2 .l ƛ P1 . f = 0 . b 1 ƛ P2 .a ƛ P1 .

4.5 = 0 Bv Ɲ HB = 4 5/6 .3 ton Avƞ = H A . Skema reaksi yang terjadi dalam portal 3 sendi HA = 1. 1.3 . 3 .5 - P. m P1 q  2t/m' S 4t Memakai pendekatan 2 D C 7 MB = 0 4m 5m (fƞ) AB B Av.4333 ( o) q  2t/m' S C 20  9 ! 4 5 / 6 ton 6 MS = (dari kiri) Av . 4. tg E Avƞ = 1.5ƛ HA.l ± q . 38 ! 1.l ± P.5 ± 4. 3 .5 = 0 Bv Av.1 = 0 Av. 3ƛ2.6 ± 2.1 = 0 BA 2m HA Av HB 3m 3m Av = 27  4 ! 5 1 / 6 ton 6 B 7 MA = 0 Av. 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 120- - Suatu struktur portal 3 sendi seperti pada gambar .3.5 ± 2.3 . 1.4333 ( q) Bvƞ = 0.5 .6 ± 4.3 ton .32. 2/6 = 0.5 = 0 Bv = HA E AB Av Ɲ BA E HB Gambar 4. P =1 Penyelesaian.3 .q . selesaikanlah struktur tersebut.

7334 + 5.4333 = 4.2666 t Kontrol : 7 Kontrol : 7 V =0 6 + 4 = 4.7334 t VB = Bv + 0.4333 m = 4 5/6 + 0.2666 4t P1 D H =0 H A ( ) = H B (n ) A A Pusat 1.n 5 VA = Av ƛ Avƞ = 5 1/6 ƛ 0.7334t 1.2666 t .3t 4.4333 = 5.3t B B 5.

3. 2. 4 + 4.2666 t Mx = -1. Bidang M. N. 4 + VA .2666 t x=3m Ds = 4.32.6 = 5.3t Dx = VA ƛ qx 1.3 . 2.1 H B.2 tm - S D 7.60127 5.5.20254 ƛ 5.2666 tm Daerah B-D D = -HB = -1.4 = .1 ƛ 7.2666 t = 0.7334 ton Daerah C-D = -1.2 + 11.7334 t + 4 + BIDANG D BIDANG M B 1.40127 tm (M max) MD = -HB .3 t 1.8 tm Momen dibawah beban P MP=VB. q (x²) .3 t 4.7334 .3667 m (daerah cs) x = 2.3667)² = -5. 6 = .2 tm Mmax teletak di D = 0 x = 2.8 tm - Mc = -HA .7334 ƛ 6 = -1.8 1.3667 ƛ ½ .3 t 1.2666.5334 tm Bidang D (gaya lintang) Daerah A-C Daerah C-D D = -HA = -1.7.C A x 4.3 ton Daerah B-D 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 121Bidang M (momen) - 5.3 . 4 = -1.2666 tm N = -V B = N = -HA = -HB N = -VA .3 t Gambar 4. 6 = -1. 2 (2. D portal 3 sendi Bidang N (gaya N ormal) Daerah A-C = -4.2.3667 Mx = -HA .3667 ƛ ½ .7334 t BIDANG N - Di S 5.3 t = .

Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi menjadi 2 bagian S RS1 (b ) - Prinsip penyelesaian dasar seperti pada Balok gerber biasa. . maka untuk memperpanjang bentang. dimana kedua-duanya harus merupakan S konstruksi statis tertentu. JUDUL : BALOK GERBER PADA PORTAL 3 SENDI 4.1. - Harus pula diketahui mana struktur yang ditumpu dan mana pula struktur yang menumpu.6.2.6. 4. Pendahuluan Seperti pada balok menerus diatas 2 perletakan.34.33. dibuat balok gerber dari portal 3 sendi dengan skema struktur seperti pada Gambar (a). S S1 C (a) S = sendi dari portal 3 sendi S1 = sendi gerber A B RS1 C Rc Gambar 4. Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi beban pada struktur menumpu. - Struktur yang ditumpu diselesaikan dulu dan reaksinya merupakan yang Gambar 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 122- - 4.6. Prinsip Penyelesaian Dasar S1 C R S1 R S1 - Dipisahkan dulu struktur gerber tersebut menjadi 2 ba gian.

Baik struktur S 1-C ataupun struktur A B S 1 kedua-duanya merupakan struktur sta tis tertentu Gambar 4. Contoh Penyelesaian P1 S S1 C GERBER PADA PORTAL 3 SEN DI q t/mƞ S = sendi portal S1 = sendi gerber A B Penyelesaian dengan prinsip balok gerber P1 sama pada Balok S 1-C merupakan struktur yang ditumpu dari portal 3 sendi RS1 q t/mƞ S RS1 A B S.35. baik S 1-C maupun A B S 1 diselesaikan seperti biasanya. Pemisahan struktur gerber portal 3 sendi Penyelesaian kedua struktur tersebut. termasuk penyelesaian gaya -gaya dalamnya.3.6. merupakan struktur yang menumpu.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 123- - 4. RC HA A HB B VA VB Reaksi R S1 pada struktur S1-C merupakan beban pada struktur portal sendi A B S 1. .

besarnya momen serta gaya lintang disuatu titik memerlukan suatu garis pengaruh. 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 124- - 4. Garis Pengaruh Gerber Pada Portal 3 Sendi 4. bahwa jembatan gerber pelengkung 3 sendi selalu dimuati oleh suatu kendaraan yang berjalan.7. maka RS 1 dan Rc di struktur S 1C tidak ada.1.C adalah yang ditumpu sedang struktur ABS 1 adalah struktur yang menumpu Kalau A B muatan berada diatas struktur ABS1. Pendahuluan Seperti biasanya.2.3. namun S1 C sebaliknya jjika muatan berada diats S1C maka reaksi-reaksi di struktur ABS 1 ada.7. (a) S S1 C Seperti pada gambar (a) dan (b) struktur S. Pemisahan struktur pada gerber portal 3 sendi 4.36.7. Contoh Penyelesaian . Jadi untuk menghitung besarnya reaksi. Prinsip Dasar Untuk menghitung garis pengaruh tersebut perlu diketahui mana struktur yang ditumpu dan mana yang menumpu.7. S (b) B GA ambar 4.

RA .RA a.c l .f GP.H u.f GP.b .f - + + GP.d l.R B + c l + + d l a.M D cb l Gambar 4.R A + 1t C l V l 1t l d l GP.RB b.b l .v l a. Garis pengaruh pada gerber portal 3 sendi GP.37. f l d.DD Q l GP.a l cb l GP.b a.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 125- - GARIS PENGARUH GERBER PORTAL 3 SENDI x u E Aƞ D S P v Bƞ S1 C f A c H a l b H B d e d l - l c l GP.f ! l.ND=G P.

P berada antara E lihat kanan S RB = x l 7 Ms = 0 (lihat kanan s) RB .f = 0 H = RB . b . b ƛ H.RB RB = P di E P di A P di B P di S 1 x ton l x=-c x=0 x=l RB = c ton l RB = 0 ton R B = 1 ton RA = l d ton l x=l+d GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 126- - RA = P di E P di A P di B l x ton l x=-c x=0 x=l RA = RA = l c ton l l ! 1 ton l R A = 0 ton RA = d ton l P di S 1 x=l+d GP. N D Garis pengaruh N D sama dengan g.b p H ! x p ND !  l l f lf . R B f P di E RB = c c l c. ~ g.p nilai H. DD P berada antara E P berada antara D D C lihat kanan potongan lihat kiri potongan DD = -RB D D = RA GP.p.

4. a ƛ H.f = 0 H= R A . f I II I = RA Q = Garis pengaruh M D diatas 2 perletakan P di D MD = Q.8. p N D !  l l f l f P di S 1 GP.V l II = H . Q .MD P berada antara D C M D = RA . Latihan : Garis pengaruh pada Pelengkung dan Portal tiga sendi . f = Garis pengaruh H x f. p N D !  l l f lf ab b a RA = b p H ! .H .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 127- - P di S RB = a.a f P di S b a ab RA = b p H ! .b a a b p H ! x p ND !  l l f lf lihat kiri S RA = l x t l P berada antara DC 7 Ms = 0 (lihat kiri s) RA .

Pelengkung mengikuti persamaan parabola: y = 4fx (l .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 128- - Untuk memacu mahasiswa belajar maka perlu diberi latihan Soal 1. H. VA .P.D C . G. Gerber portal 3 sendi adalah suatu rangkaian antara portal 3 sendi dan balok statis tertentu.P.P. ditanyakan : G. G. G.x) / l² Akibat beban P = 1t berjalan diatas pelengkung. dimana dalam penyelesaiannya merupakan gabungan dari penyelesaian masing -masing struktur statis tertentu tersebut. C S D Portal 3 sendi ABCD seperti tergambar Akibat beban P = 1t berjalan diatas portal.P VA . G.P D C bawah.PH. G. G.P D C kanan A B H f=3m EE 4m 4m 4m VA H 4m VB Portal 3 sendi adalah suatu portal yang kondisinya masih statis tertentu. N C . ditanyakanL G. G. G.P N C bawah . G.P.P NC kanan.P. M C f= 4 H H B H 8m 8m VB VA Soal 2. . 4m C yc A H S P = 1 t berjalan Pelengkung 3 sendi seperti tergambar.

5t m 1.9.894 Tanda / Arah + o Di A = H + p Data pendukung Keterangan NC P = 1t di titik A C kiri C kanan S B A C kiri C kanan S B Nilai 0 0.335t 0.447 0. Penutup Untuk mengetahui kemampuan mahasiswa. Rangkuman 4.782t 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 129- - 4. perlu melihat jawaban soal-soal tersebut seperti dibawah ini. Keterangan VA P = 1t dititik A B A S B Yc Y' = tng E Sin E Sin E Nilai 1t 0 0 1t 0 3m 0.1175t 0 0 0.10.447t 0.5 0.447t 0 0 0 1.0t m 0 Tanda / Arah - DC + MC A C S B + - .

333t 0 0 0.20t 0. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ. UGM Bab VI dan VII .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 130- - Soal No.084t 1.40t 0 0 1.333t 0 0 0.25t 0. Daftar Pustaka Suwarno. 2 Keterangan VA P = 1t di titik A B A S B A C bawah C kanan S B A C bawah C kanan S B NC kanan A S B A C bawah C kanan B A C S B Nilai 1t 0 0 1.75t 0 0 1t m 2t m 0 Tanda/ Arah + o Di A = H + p NC bawah - DC bawah - - DC kanan + MC + - 4.60t 0.11.336t 0 0 0.384t 0.

R.) . Gerber portal 3 sendi = gabungan antara portal 3 sendi dan balok.B.12. Senarai Pelengkung 3 sendi : struktur pelengkung yang masih statis tertentu Portal 3 sendi = struktur portal yang masih statis tertentu Gerber pelengkung 3 sendi = gabungan antara pelengkung 3 sendi dan balok.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 131- - 4.1. JUDUL : KO NSTRUKSI RAN GKA BATAN G (K. MODUL 5 : ARTI KONSTRUKSI RANGKA BATANG DAN CARA PENYELESAIANNYA 5.

5.1.1.4. 5. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca materi ini mahasiswa diharapkan bisa mengerti arti serta cara menyelesaikan struktur konstruksi rangka batang.1. tapi kalau materialnya dari kayu. . Jika materialnya dari beton.1. kayu atau baja tersebut disebut dengan konstruksi rangka batang. maka struktur bisa dibuat sesuai dengan keinginan perencana. Bentuk-bentuk dari suatu konstruksi Bentuk Rangkaian Konstruksi rangka batang tersebut merupakan rangkaian dari be ntuk segitiga. Missal : Rangka batang dari suatu jembatan Rangka batang dari suatu kuda kuda Gambar 5.2. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui bentuk -bentuk KRB serta bisa menyelesaikan struktur tersebut dengan beberapa cara pendekatan yang telah dijalankan diajarkan serta tahu persyaratan-persyaratan yang diperlukan. Pendahuluan Dalam membuat suatu struktur bangunan maka kita harus menyesuaikan dengan material yang ada terutama dengan nilai harga yang paling murah. ba mbu atau baja. maka kita harus merangkai material tersebut.3. Kenapa bentuk ( tersebut dipilih !.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 132- - 5. Rangkaian dari material bambu.

1. = Suatu konstruksi yang terdiri dari batang -batang yang berbentuk segitiga Segitiga (bentuk teta p). Bagaimana jika tersebut segiempat ( ) segiempat ( ) tersebut tidak stabil. Untuk menyambung titik sudut digunakan plat buhul / simpul. Bentuk Konstruksi Rangka Batang 5.1. pasak atau paku. P segiempat mudah berubah menjadi jajaran genjang.5.R. Pada konstruksi baja sambungan -sambungan pada plat buhul digunakan baut. Bentuk K.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 133- - Bentuk bentuk bentuk bentuk segitiga ( () tersebut dipilih karena segitiga tersebut adalah suatu yang mantap (stabil) tidak mudah berubah. . 5.5. paku keling atau las.1. Pada konstruksi kayu memakai baut.B.

R. Bentuk Konst ruksi Rangka Batang + + + + + + + + Batang Plat buhul Titik buhul Paku keling / baut Gambar 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 134- - titik buhul K. salah satu sambungan Titik buhul sebagai sambungan tetap / stabil. tapi dalam perhitungan titik buhul ini dianggap SENDI. .B = segitiga yang dihubungkan melalui plat buhul pada titik buhulnya I titik buhul Gambar 5. Detail I.3.2.

R.5. Ruang terdiri dari 2 K.B.R. Gambar 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 135- - K. bawah (ikatan angin bawah) K. Ruang bisa dipisahkan menjadi K.B.B.R.2. Bidang.B.B.R. sisi 1 K.4.B. Bentuk konstruksi rangka batang pada jembatan 5.R. atas (ikatan angin atas) 1 K.R. Perletakan : 1 sendi dan 1 lagi merupakan rol karena konstruksi statis tertentu Sendi Rol 2 Reaksi 1 Reaksi .B.R. Pada Jembatan K.1.

Jumlah bilangan yang tidak 2 4 4 8 6 diketahui : Reaksi 1 3 1 RH 2 3 6 5 10 7 RV 5 7 9 11 13 Jumlah batang 12 8 Bilangan yang tidak diketahui = 3 + 13 = 16 =3 Jumlah = 13 RV Gambar 5. Konstruksi Statis Tertentu Pada K. Dalam hal ini gaya -gaya batang tersebut beberapa gaya tarik atau tekan. (Konstruksi Rangka Batang) Konstruksi statis tertentu adalah suatu konstruksi yang masih bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan .R.3. 7H = 0 7V = 0 7M = 0 3 persamaan keseimbangan Jadi maximum harus ada 3 reaksi yang tidak diketahui (3 bilangan yang tidak diketahui) Pendekatan Penyelesaian Konstruksi Rangka Batang K.R.1. Konstruksi rangka batang bidang .B.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 136- - Perletakan sendi RH ada 2 reaksi R V = Reaksi vertikal R H = Reaksi horizontal RV Perletakan rol RV ada 1 reaksi R V = Reaksi vertikal 5. Pada konstruksi dibawah ini (Gambar 5).B. merupakan kumpulan dari batang -batang yang mana gaya -gaya batang tersebut harus diketahui.5.5.

4. 7k=b+r k = banyaknya titik simpul (titik buhul) b = jumlah batang pada K. r = jumlah reaksi perletakan 5.R. Rumus Umum Untuk K. Rangka Batang Gerber Seperti pada balok menerus.B.B.1. maka pada konstruksi rangka batangpun ada balok gerber 2 1 1 A Sendi 2 3 3 4 5 6 5 B rol 4 7 8 9 10 7 6 12 11 13 14 S 9 8 15 10 16 17 11 19 18 20 21 13 12 23 22 14 24 25 26 15 rol C C Rol (Sendi Gerber) .5) ad a 8 titik simpul jadi ada 2 x 8 persamaan = 16 persamaan Dari keseluruhan konstruksi : Ada 16 bilangan yang tidak diketahui 3 reaksi 13 gaya batang Ada 16 persamaan (karena masih bisa Konstruksi statis tertentu diselesaikan dengan syarat -syarat persamaan keseimbangan) 5.R.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 137- - Titik simpul : dianggap sendi Jadi tiap-tiap titik simpul ada 2 persamaan Yaitu : 7V = 0 atau 7H = 0 7Kx = 0 7Ky = 0 Pada gambar (5.6.15.

Ada 30 bilangan yang tidak diketahui dan tersedia 30 persamaan Konstruksi statis tertentu Konstruksi statis tertentu 5. Cara analitis dengan menggu nakan 7 .Ky = 0 b. 1. Rangka batang gerber A = sendi B = rol S = sendi gerber C = rol Jumlah reaksi perletakan = 4 1 sendi + 2 rol 2 2 Jumlah batang = 26 Jumlah bilangan yang tidak diketahui = 30 Jumlah titik simpul = 15 Persamaan yang tersedia = 2 x 15 = 30 persamaan.1.R.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 138- - Gambar 5.6. Prinsip Penyelesaian Ada beberapa cara penyelesaian K.7.Kx = 0 dan 7 . Cara grafis dengan metode Cremona . Keseimbangan titik buhul a.B.

Ky = 0 x semua gaya yang searah x dijumlahkan demikian juga yang searah y dan resultantenya harus sama dengan rol.8.Kx =0 7. P1 = distribusi akibat beban terbagi rata Akibat beban P P2 = distribusi akibat beban terbagi rata dan P P3 = distribusi akibat beban P Akibat P P1 P2 P3 .1. a. b.V = 0 ata 7. Keseimbangan Titik Simpul Dalam bagian ini hanya membahas teori tentang keseimbangan titik simpul saja. Cara Analitis Metode Ritter b. y 7H=0 7.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 139- - 2. Penyelesaian secara analitis Cara menyelesaikannya dengan keseimbangan titik simpul. Metode Potongan : a. Distribusi Beban Konstruksi rangka batang merupakan gelagar tidak langsung. Metode Penukaran batang 5. jadi kalau ada beban terbagi rata atau beban titik yang terletak di tengah-tengah antara 2 titik simpul (gelagar lintang) harus diuraikan menjadi beban titik pad simpul -simpul terdekat. Cara Grafis Metode Cullman 3.

2t 2t A B 4t 4t 4t Gambar 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 140- - c. Beban terbagi rata didistribusikan menjadi beban titik .8. Contoh distribusi beban pada konstruksi Rangka batang q = 1 t/mƞ (muatan terbagi rata) 4m A B 4m 4m 4m 4m Muatan terbagi rata tersebut dijadikan mua tan terpusat pada titik -titik simpulnya.

9. A 2ƞ Untuk batang bawah diberi notasi B 1. V 2ƞ serta V 3 Tiap-tiap titik simpul diberi nomor urut dari I s/d X. B2 dan B1ƞ.9. Konstruksi rangka batang dengan beban P = 4t Mencari reaksi perletakan 7 M A = 0 RB .4 . D2 dan D 1ƞ. Untuk batang atas diberi notasi A 1.4 . P A 4t RA = B P P P P RB = Gambar 5. 4 P . P = 0 RB = 1t 7 MB = 0 RA . B2ƞ Untuk batang diagonal diberi notasi D 1. 4 P . tiap -tiap batang perlu diberi notasi. V2 dan V 1ƞ. D2ƞ Untuk batang vertikal diberi notasi V 1.1. selesaikan struktur tersebut. Contoh Soal 1 Suatu konstruksi Rangka Batang dengan beban sebesar P = 4 ton seperti pada gambar !. 3 P = 0 RA = 3t Pemberian notasi Untuk mempermudah penyelesaian. . A2 dan A 1ƞ.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 141- - 5.

10. karena hanya menyediakan 2 persamaan yaitu 7 Kx = 0 dan 7 Ky = 0.B. titik simpul Batang tertekan dengan tanda ( -) (gaya menuju titik simpul) Batang tertarik dengan tanda (+) (gaya menjauhi titik simpul) Penyelesaian Mulai dari titik simpul yang mempunyai 2 batang tak diketahui Titik I V1 B1 Anggap dulu semua batang yang tidak diketahui adalah batang tarik. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 142- - II V1 I A1 D1 IV V2 III 4t A2 D2 VI A2 ƞ D 2ƞ VIII V2 VII A1 ƞ D 1ƞ IX V3 V V1ƞ X P B1 3t B2 Bƞ2 Bƞ1 P P P P 1 Gambar 5. Jika hasil negatif berarti anggapan kita salah batang tertekan. Pemberian notasi pada gaya -gaya batang Penyelesaian keseimbangan titik simpul diselesaikan dengan memakai syarat-syarat keseimbangan pada titik simpul yaitu 7 Kx = 0 dan 7 Ky = 0 Jadi keseimbangan pada tiap -tiap titik tersebut bisa diselesaikan jika terdapat maximum 2 batang yang tidak diketahui.R. Dalam penjumlahan. Catatan Mulailah bekerja pada titik simpul yang mempunyai 2 batang yang tidak diketahui. Jika hasil positif berarti anggapan kita betul batang betul-betul tertarik. y sebelum mengerjakan perlu perjanjian tanda terhadap gaya -gaya batangnyua y (Anggapan) / perjanjian pada K. gaya yang searah diberi tanda sama.

3 ton (tekan) Titik III V2 3 2 3t 3t B2 B1 = 0 P = 4t 7H=0 Batang V 2 dan B2 dianggap tarik Batang D1 = 3 2 (tarik) diuraikan menjadi batang vertikal = 3 t dan horizontal = 3t 7V=0 4 t ƛ 3 t ƛ V2 = 0 V2 = 1 t (tarik) B2 ƛ 3 t = 0 B2 = 3 t (tarik) . 3 2 .½ . V1 = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 143- - 3t 7V=0 3 t + V1 = 0 V1 = -3 ton (berarti batang tekan) 7H=0 B1 + 0 = 0 B1 = 0 (batang nol) V1 B1 = 0 Batang A1 dan D1 dianggap tarik dan batang D1 diuraikan menjadi gaya batang horizontal dan vertikal.3 t + ½ D1 ½ D1 2=0 2= 3 D1 = 3 2 t (tarik) 7H=0 A 1 + ½ D1 2= 0 2= . 2 7V=0 .½ D 1 A1 = . 2 A1 = .3 t (menuju titik simpul) ½ 3t V1 ½ D1 2 A1 Batang D 1 diuraikan menjadi arah vertikal ½ D1 Titik II 2 dan arah horizontal ½ D1 2.

2 t (tekan) 2t Batang D 2ƞ dan B 2ƞ dianggap tarik Titik V Batang D 2ƞ diuraikan horizontal dan vertikal 0t ½Dƞ 2 1t 1t 2 2 Dƞ2 7V=0 ½ D 2ƞ 2 + 0 ƛ 1 t = 0 D 2ƞ = 2 t (tarik) 7H=0 ½ D 2ƞ B2ƞ + 1t ƛ3 t + 1t = 0 B2ƞ = 1 ton (tarik) 3t 2 B2ƞ Titik VIII Batang A 1ƞ dan V 2ƞdianggap tarik 7H=0 A1 ƞ V2ƞ 2 t + A1 ƞ ƛ 1 t = 0 A1ƞ = .1 t (tekan) 2t 2t 7V=0 1 + V2ƞ = 0 V2ƞ = .2 ton (tekan) Titik VI Batang A 2ƞ dan V 3 dianggap tarik A2 ƞ 7V=0 7H=0 V3 = 0 V3 = 0 ton A2 ƞ + 2 t = 0 A2ƞ = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 144- - Batang A 2 dan D2 dianggap tarik.1t (tekan) . Titik IV 3t ½ D2 2 ½ D2 2 1t D2 7H=0 A2 Batang D 2 diuraikan menjadi gaya horizontal dan vertikal ½ D 2 2 7V=0 ½ D2 2 + 1 t = 0 D2 = .2 t (tekan) 3 + A 2 + ½ D2 2 = 0 3 + A 2 ƛ 1 ton = 0 A 2 = .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 145- - .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 146-

-

Titik VII

½ D 1ƞ 1t 1t

2

D 1ƞ

Batang D 1ƞ dan B 1ƞdianggap tarik Batang D 1ƞ diuraikan menjadi ½ D 1ƞ 2

½ D 1ƞ

2

B1ƞ

7V=0

½ D 1ƞ 2 ƛ 1 t = 0 D 1ƞ =

2 t (tarik)

7H=0

B1ƞ- ½ D1ƞ 2 - 1t = 0 Bƞ + 1 ƛ 1 = 0 B ƞ = 0t

Titik X

V1ƞ

7V=0

1t + V1ƞ = 0 V 1ƞ = - 1t (tekan)

B1ƞ = 0 RB = 1t

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 147-

-

Kontrol ke Titik IX

7V=0 V1ƞ ƛ ½ D1ƞ 1t ƛ ½ .

A1 ƞ = 1 t (tekan) D1ƞ = 2 (tarik) V 1ƞ = 1 t

2 =0
2 . 2 !0

(cocok) 7H=0 A1ƞ ƛ ½ D1ƞ 2 = 0 1ƛ½ .

2.

2 = 0 (cocok)

DAFTAR

BATAN G A1 A2 A2 ƞ A1 ƞ B1 B2 B2ƞ B1ƞ V1 V2 V3 V2ƞ V1ƞ D1 D2 D 2ƞ D 1ƞ

GAYA BATAN G -3t -2t -2t -1t 0 3t 1t 0 -3t 1t 0 -1t -1 t 3 2t - 2t 2t 2t

Batang B 1 dan B1ƞ = 0, menurut teoritis batang -batang tersebut tidak ada, tapi mengingat K.R.B. terbentuk dari rangkaian bentuk ( maka batang ini diperlukan. Batang atas pada umumnya batang tekan Batang bawah pada umumnya batang tarik.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 148-

-

Contoh Soal 2 Suatu konstruksi Rangka Batang, dengan notasi seperti pada ga mbar, beban sebesar 3 ton terletak di titik simpul III Jumlah batang = 9 = b Jumlah reaksi = 3 = r 12 D3 B3 IV P P 1t VI B Jumlahg titik simpul = 6 = k 2k=b+r 2x6=9+3 konstruksi .r.b. statis tertentu Mencari Reaksi 7 MB = 2 RA = 3 7 MA = 1 RB = 3
Titik Simpul I

II P A I D1 B1 III 2t P 3t V1

A D2 B2

V

V2

0 x3t=2t 0 x3t=1t

Batang D 1 dan B1 dianggap tarik Batang D 1 diuraikan ke arah vertikal dan horizontal sebesar ½ D 1

2

½ D1

2

D1

½ D1

2
B1

7 Ky = 0 ½ D1 2 + 2t = 0 2 D1 = . 2 = - 2 2 t . (tekan) 2 7 Kx = 0 B1 - ½ D1 2 = 0 B1 = 2 ton (tarik)

2 t (reaksi)

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 149-

-

Titik III

V1

Gaya batang V1 dan B2 dianggap tarik 7 Ky = 0 V1 = 3 ton (tarik) B2 = 2 ton (tarik)

2t

3t

B2

7 Kx = 0

Titik II
½ D2 ½ D1

2

Gaya batang A dan D2 dianggap tarik 7 Kx = 0 ½ D1 2 - 3t ƛ ½ D2 2 = 0 ½ D2 2 = -3 t + ½ . 2 2 . 2 = -3 + 2 = -1 (tekan) D2 = - 2 t (tekan)

2

A

D1 = 2 2 3t ½ D2 ½ D1 D2

2

7 Ky = 0 A + ½ D1 2 + ½ D2 2 = 0 A + ½ . 2 2. 2 - ½ . 2. 2 = 0 A = 1 ƛ2 = -1t (tekan)

2

Titik IV

Gaya batang V2 dan B3 dianggap tarik 7 Ky = 0 V2

D2 =

2t

½ D 2 2 - V2 = 0 V2= ½ . 2 . 2 = 1 t (tarik) B3 7 Kx = 0 B3 ƛ B2 + ½ D2 2 = 0 B3 = 2 - ½ . 2 . 2 = 1 t (tarik)

B2 = 2t

Titik VI

Gaya batang D3 dianggap tarik 7 Ky = 0 D3 ½ D3 2 + 1t = 0 D3 = - 2 . 1t D3 = - 2 t (tekan) 7 Kx = ½ D 3 2 + B3 = 0 - ½ . 2 . 2 + B3 = 0

B3 = 1t

2 = 0 Latihan : Konstruksi Rangka Batang Untuk mendorong mahasiwa belajar maka perlu dibuatkan suatu latihan sebagai berikut : Soal 1 A1 D1 RAH A E B1 RAV P1=6 t D2 E B2 D3 D4 A2 D6 3 m Konstruksi Rangka Batang seperti tergambar P1 = 6t .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 150- - B3 = 1t 1t Kontrol Titik V A = 1t 7 Kx = 0 A ƛ ½ . Gaya reaksi b).1.gaya batang RB . P 1 = 600 kg P2 = 600 kg P3 = 400 kg Ditanyakan : a). D3 1t ƛ ½ . Gaya. P2 = 3t Ditanyakan : RB P a). Gaya ƛ Reaksi B b). 2. Beban . Gaya-gaya batang D5 B3 P P P2=3 t P= 4m P2 = 600 kg Soal 2 P1 = 600 kg 8 9 5 6 R AH A RAV 45° 1 3m 2 3m 3 3m 7 11 13 12 45° 4 3m 10 P3 = 400 kg Kuda-kuda konstruksi Rangka Batang seperti tergambar.10. 2 =0 (cocok) D3 V2 = 1t 5.

000 t 2. 5. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi Horizontal Data Pendukung Gaya Batang Titik / Gaya A : RAV B : RB A : RAH Sin E Cos E A1 A2 B1 B2 B3 D1 D2 D3 D4 D5 D6 N ilai 5t 4t 0 0. hanya bisa diselesaikan jika jumlah gaya batang yang tidak diketahui max hanya 2.333 t 6.808 t 4.555 6.1. o o Tiap-tiap titik simpulnya dianggap sendi.333 t 3. Pencarian gaya-gaya batang.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 151- - 5. bisa berupa gaya tarik.12.00 t 6.835 0.11. 667 t 6.667 t 5. atau gaya tekan. o o Rangkuman KRB merupakan rangkaian dari bentuk ( (segitiga) Dalam KRB yang dicari adalah gaya -gaya batangnya.00 t 1.1.20 t 1. maka mahasiswa bisa melihat jawaban dibawah ini : Jawaban : Soal No.20 t 4.808 t Arah / Tanda o o Gaya Batang Tekan Tekan Tarik + Tarik + Tarik + Tekan Tarik + Tarik + Tekan Tekan Tarik + . Penutup Agar mahasiswa bisa mengontrol pekerjaan latihan.

ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ . 2 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Gaya Batang Titik / Gaya A : RAV B : RB A : RAH  2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 N ilai 850 kg 750 kg 0 850 kg 850 kg 750 kg 750 kg 1202 kg 0 424 kg 778 kg 500 kg 778 kg 283 kg 0 1061 kg Arah / Tanda o o Tarik + Tarik + Tarik + Tarik + Tekan Tekan Tekan Tarik + Tekan Tekan Tekan - 5.14.1. UGM Bab Soemono. bab 5. - Daftar Pustaka Suwarno. ƏStatika IƐ. - - Senarai Konstruksi Rangka Batang : Suatu rangkaian batang -batang yang berbentuk ( (segitiga) Titik simpul : dianggap sendi.1. .13.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 152- - Soal No.