P. 1
33275901 Modul Mekanika Teknik 1

33275901 Modul Mekanika Teknik 1

|Views: 3|Likes:
Dipublikasikan oleh Cici Amelia Hilman

More info:

Published by: Cici Amelia Hilman on Apr 21, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/11/2014

pdf

text

original

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -8

-

Modul 1 1.1. Judul : Gaya ƊGaya dan Keseimbangan Gaya
Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah membaca modul, mahasiswa bisa memahami pengertian tentang gaya. Tujuan Pembelajaran Khusus : Mahasiswa dapat menjelaskan konsep pengertian tentang gaya dan bagaimana bisa melakukan penjumlahannya 1.1.1. Pendahuluan Gaya serta sifat-sifatnya perlu difahami dalam ilmu Mekanika Teknik karena dalam ilmu tersebut, mayoritas membicarakan tentang gaya, sedang Mekanika Teknik adalah merupakan mata kuliah dasar keahlian yang perlu dimengerti oleh semua sarjana Teknik Sipil. Jadi dengan memahami sifat-sifat gaya, mahasiswa akan lebih mudah memahami permasalahan yang terjadi di pelajaran Mekanika Teknik. Misal pada suatu jembatan, kendaraan yang lewat adalah merupakan suatu beban luar yang ditampilkan dalam bentuk gaya. Contoh : * Suatu kendaraan yang terletak diatas jembatan * Beban roda kendaraan pada jembatan tersebut adalah suatu beban atau gaya.

gaya

struktur jembatan

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -9-

1.1.2. Pengertian tentang Gaya dan Garis Kerja gaya Gaya adalah merupakan vektor yang mempunyai besar dan arah.

Penggambarannya biasanya berupa garis dengan panjang sesuai dengan skala yang ditentukan. Jadi panjang garis bisa dikonversikan dengan besarnya gaya. * Contoh 1

Orang berdiri dengan berat 50 kg Panjang gaya 1 cm arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi) ditunjukkan dengan gambar anak panah ke bawah dengan skala 1 cm = 50 kg

Jadi 50 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh orang berdiri tersebut dengan arah gaya kebawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan berat 50 kg. * Contoh 2 Batu diatas meja dengan berat 10 kg
Panjang gaya = 1 cm

Arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi) ditunjukkan dengan gambar anak panah dengan skala 1 cm = 10 kg

Jadi 10 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh batu yang menumpu di atas meja dengan arah gaya ke bawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan gaya 10 kg.

* Contoh 3 15 kg Orang mendorong mobil mogok kemampuan orang mendorong tersebut adalah 15 kg. 1 cm Panjang gaya Arah dorongan kesamping kanan ditunjukkan dengan gambar anak panah arah kesamping dengan skala 1 cm = 15 kg

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -10-

Jadi 15 kg adalah gaya yang diberikan oleh orang untuk mendorong mobil mogok dengan arah kesamping kanan, yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena 1 cm setara dengan 15 kg.

Garis kerja gaya adalah garis lurus yang melewati gaya Seperti contoh di bawah : Contoh * Garis kerja gaya Garis kerja gaya orang yang mempunyai berat 50 kg tersebut adalah vertikal

Orang dengan berat 50 kg garis kerja gaya 15 kg Garis kerja gaya untuk mendorong mobil mogok tersebut adalah horisontal

Titik tangkap gaya adalah titik awal bermulanya gaya tersebut. Contoh: mobil mogok diatas jembatan, roda mobil serta tumpuan tangan orang yang mendorong adalah merupakan titik tangkap gaya.

titik tangkap gaya Titik tangkap gaya

gaya

50 kg

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -11-

1.1.3. Sifat Gaya Gaya dan titik tangkap gaya bisa dipindah-pindahkan asal masih dalam daerah garis kerja gaya Contoh dalam gambar K dan K1 adalah merupakan gaya. Ga Posisi gaya K lama Posisi gaya K baru mb ar garis kerja gaya K1 Posisi gaya K1 lama 1.1 . Ga mb Posisi gaya K1 baru is kerja gaya ar gar

1.1.4. Penjumlahan Gaya Penjumlahan gaya bisa dilakukan secara analitis maupun grafis.

1.1.4.1. Penjumlahan secara grafis Penjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama, jadi gaya-gaya tersebut sebidang, bisa secara langsung dijumlahkan secara grafis.

A K1

C R = K1 + K2 



D K2 Titik tangkap gaya

B 

K1, K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan Urut-urutan penjumlahan Buat urut-urutan penjumlahan garis sejajar dengan K1 dan K2 di ujung gaya, (K1 diujung K2 dan sehingga K2 diujung K1 ) membentuk bentuk jajaran genjang D.A.C.B Salah satu diagonal yang panjang tersebut yaitu R

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -12- Gambar 1.3 Penju mlaha n gaya secara grafis.Buat garis-garis sejajar gaya K1 dan K2 di ujung-ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang. tapi masih sebidang. yang titik tangkapnya tidak sama Urutan-urutan penjumlahan . ar 1. Gamb R = K1 + K2 A Posisi awal (K2)KK 22 Posisi awal KK 1 1 (K1) 0 K1 C B K1 dan K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan. .2.Salah satu diagonal yang terpanjang (R) adalah merupakan jumlah dari K1 dan K2.. . Gaya-gaya tersebut bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya. Penjumlahan gaya secara grafis Penjumlahan 2 gaya yang sebidang. 2 gaya tersebut tidak mempunyai titik tangkap yang sama. pertemuannya di titik 0.Gaya K1 dipindah searah garis kerja gaya sampai garis kerja gaya K1 bertemu dengan garis kerja gaya K2. OABC . tapi titik tangkapnya tidak sama.

K2 dengan cara membuat garis sejajar Gambar 1.4. K2 dan K3 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan dengan titik tangkap tunggal.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -13- Penjumlahan 3 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal Penjumlahan tersebut bisa dilakukan secara bertahap C R1=K1+K2 R1 A K1 K2 B R2 E R2 R2 = R1 + K3 = K1 + K2 + K3  K1. Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tangkap tunggal   Penjumlahan tersebut dilakukan secara bertahap Titik tangkap gaya bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya. Urut-urutan penjumlahan. 0 K3 D  Jumlahkan dulu K1. . K2 dan K3. Penjumlahan 3 gaya secara grafis dengan gaya-gaya tersebut (K1. K2) di ujung-ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang 0ACB    Salah satu diagonal terpanjang yaitu R1 adalah merupakan jumlah K1 + K2 Buat garis sejajar K3 dan R1 di ujung gaya-gaya yang berlainan sehingga membentuk jajaran genjang 0CED Salah satu diagonal terpanjang (R2) adalah jumlah dan R1 dan K3 sehingga sama dengan jumlah antara K1.

K2 dan K3 adalah gayagaya yang akan dijumlahkan.5.  A K1 K2 0 R2 = R1 + K3 = K1 + K2 + K3 F D B Kerjakan dulu penjumlahan antara K1 dan K2 dengan cara :  Tarik gaya K1 dan K2 sehingga titik tangkapnya bertemu pada satu titik di O.  Buat garis sejajar K1 dan K2 pada yang ujung-ujung berlainan gaya sehingga membentuk jajaran genR1 E K3 01 Gambar 1.  Tarik gaya R1 dan K3 sehingga titik tangkapnya bertemu pada titik di 01 . secara grafis jang OACB Posisi awal (K3)  Salah satu diagonal yang terpanjang yaitu R1 adalah merupakan jumlah dari K1 dan K2. Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tunggal.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -14- (posisi awal) K1 R1 = K1 + K2 C (Posisi awal) K2 Urut-urutan penjumlahan  K1.

salah satu diagonal yang terpanjang adalah R2 yang merupakan jumlah antara R1 dan K3 berarti jumlah antara K1 dan K2 dan K3. D F E.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -15-  Buat garis sejajar R1 dan K3 melalui ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk jajaran genjang 01. K3 .

K2. Dari titik B dibuat garis sejajar Oc ( ) memotong K3 di . garis .garis tersebut diberi tanda titik satu buah ( ) sampai lima buah ( jari-jari polygon.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -16- a K1 b1 K1 A B K2 C Oƞ Rƞ K3 D K2 K4 K1 c K3 K4 e d R O titik tangkap Polygon Batang Jari-jari Polygon Gambar 1. Dari gaya-gaya asal yang akan dijumlahkan ditarik garis sejajar O a ) pada garis tersebut. perlu dibuat jari-jari polygon (lihat gambar) dengan cara sebagai berikut : buat rangkaian gaya K1. K3 dan K4 adalah gaya-gaya yang mau dijumlahkan Untuk pertolongan. d. K3 dan K4 yaitu R. Polygon batang dan jari-jari polygon   Gaya K1. c. K3 dan K4 secara berurutan dimana tiap-tiap gaya sejajar dengan gaya aslinya (pada gambar jari-jari polygon). Ambil titik 0 sembarang di daerah sekitar R Tarik garis dari 0 ke ujung-ujung gaya sehingga ketemu titik a.6. pangkal gaya K1 dan ujung gaya K4 merupakan jumlah (resultante) gaya K1. K2.Dari titik garis sejajar Ob ) memotong gaya K2 di titik B ( A dibuat ) memotong gaya K 1 di (titik A. dan e. b. yang diwakili oleh garis sepanjang a-e tapi letak titik tangkapnya belum betul. K2. Garis-garis tersebut dinamakan .

Dari titik Oƞ dibuat garis sejajar R yaitu garis Rƞ. yang mana biasanya sering dipakai adalah sumbu oxy.2.1. K2x = K2 cos F K2y = K2 sin F K1x . Jadi Rƞ adalah merupakan jumlah (resultante) dari gaya-gaya K1. . K2. Contoh : y Pernjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal y K2 y K1 y E K1 K2  O F K2x x  K1 dan K2 adalah gayagaya yang akan dijumlahkan dimana mempunyai titik tangkap tunggal di O . perpanjangan garis ( ) ) pada polygon batang akan ketemu di titik Oƞ yang merupakan titik tangkap jumlah (resultante) gaya-gaya K1. Didalam salib sumbu tersebut gaya-gaya yang akan dijumlahkan. diproyeksikan. K3 dan K4. Eadalah sudut antara K1 dengan sumbu ox Fadalah sudut antara K2 dengan sumbu ox K1 dan K2 diuraikan searah Gambar 1.4.7. . Penjumlahan secara analitis Dalam penjumlahan secara analitis kita perlu menentukan titik pusat (salib sumbu) koordinat. K3 dan K4 dengan titik tangkap yang betul. dengan garis kerja melewati 0ƞ 1. K2. Penjumlahan gaya secara analitis dengan sumbu x dan y K1x = K1 cos E K1y = K1 sin E . Dari titik C dibuat garis sejajar Od ( Dari titik D dibuat garis sejajar Oe ( dan garis ) ( ) memotong K4 di D.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -17- titik C.

secara analitis K1x = K1 cos E .  K1 dan K2 diuraikan searah dengan sumbu x dan y K2 K2y F O K1x K2x x Gambar 1.8. K1 membentuk sudut E dengan sumbu ox K2 membentuk sudut Fdengan sumbu ox. Rx = K1x + K2x Ry = K1y + K2y Rx = § Kx Ry = § Ky Jumlah gaya-gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari komponen-komponen tersebut adalah : . Rx = K1x + K2x Ry = K1y + K2y Rx = § Kx Ry = § Ky Jumlah gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari komponen-komponen tersebut adalah : R= Rx ²  Ry ² Penjumlahan 2 gaya dengan letak titik tangkap berbeda y K1y E K1  K1 dan K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlah-kan dengan letak titik tangkap berbeda. Penjumlahan gaya dengan titik tangkap berbeda. K2x = K2 cos F K1y = K1 cos E . K2y = K2 sin F Semua Komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang searah oy.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -18- Semua komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang searah dengan oy.

5. .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -19- R= Rx ²  Ry ² 1. K1 Dua gaya K1 dan K2 tidak mempunyai titik tangkap yang sama K1 = 10 ton dan K2 = 4 ton Garis kerja ke dua gaya tersebut bertemu dan K2 membentuk sudut 60° Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun garfis. Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun grafis 2. Rangkuman     Gaya adalah suatu besaran vektor yang mempunyai besar dan arah serta diketahui letak titik tangkapnya. sudut yang dibentuk antara 2 gaya tersebut adalah 45°.1. 1. K1 = 5 ton dan K2 = 7 ton. Latihan 1. K3 dan K4. Gaya bisa dipindah-pindah sepanjang garis kerja gaya Penjumlahan gaya-gaya bisa dilakukan secara grafis ataupun analitis.1. Penjumlahan gaya lebih dari 4 buah bisa memakai cara grafis dengan bantuan polygon batang. dengan besar dan arah seperti pada gambar Cari besar dan arah jumlah gaya-gaya tersebut (R) dengan cara polygon batang. 5 ton 0 K1 K2 K3 K4 7 ton 9 ton 4 ton Empat gaya K1.6. K1 45° K2 Dua gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama seperti seperti pada gambar. K2. 3.

1. sedang soal no. soal Sub Jawaban 1 Analitis Grafis 2 Analitis Grafis Jawaban R = 11. Samuel E.8. Soal 1 dan 2 ada jawaban secara analitis dan grafis. skor penilaian ada di tabel bawah untuk mengontrol berapa skor yang didapat.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -20- 1. 3 hanya berupa grafis. Bab I. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci yang ada. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM bab I. 3. secara bertahap.5 ton sdt = 30° dari sumbu x R = 12.7.9.1.5 ton sdt = 30° dari sumbu x R = 24 ton Skor Nilai 50 50 50 50 3 Grafis Jari-jari polygon Polygon batang 50 50 1. Soemono. Bab I 1. Penutup Untuk mengukur prestasi.1.5° dari sumbu x R = 11. French.5° dari sumbu x R = 12. Suwarno. 2.1 ton sdt = 22. Senarai Gaya Resultante = mempunyai besar dan arah = jumlah . Daftar Pustaka 1. No. ƏDeterminate StructuresƐ ITP (International Thomson Publishing Company) 1996. ƏStatika IƐ ITB.1 ton sdt = 22.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -21- .

mengerti tentang beban. maka siswa bisa memahami secara jelas apa itu bentuk-bentuk struktur di bidang teknik sipil. balok. 1. JUDUL : PENGGAMBARAN STRUKTUR DALAM MEKANIKA TEKNIK Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar tentang struktur dalam suatu bidang Teknik Sipil.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -22- 1. jembatan dan lainsebagainya. reaksi. maka mahasiswa perlu tahu bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik. reaksi dan gaya dalam. Contoh : a. bentuk gedung bertingkat dalam penggambaran di mekanika teknik kolom Kolom = tiang-tiang vertical Balok = batang-batang horisontal balok perletakan Gambar 1.2. gaya dalam dan bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik. Gambar portal gedung bertingkat dalam mekanika teknik . balok. apa itu beban. Pendahuluan Dalam disiplin ilmu teknik sipil dimana mahasiswa akan diajak bicara tentang bangunan gedung. kolom. serta bisa menggambar skema struktur dalam mekanika teknik. sehingga dalam menerima pelajaran akan lebih mudah menerima.2.9.1. kolom.

beban yang bisa bergerak umumnya disebut beban hidup misal : manusia.10. Gambar jembatan dalam mekanika teknik 1. Beban yang tidak dapat bergerak disebut beban mati. balok perletaka n Gambar 1. bentuk jembatan sederhana dalam penggambarannya di mekanika teknik.2. peralatan dan lainsebagainya. a. Beban terpusat Beban terpusat adalah beban yang terkonsentrasi di suatu tempat. Ada beberapa macam beban yaitu beban terpusat dan beban terbagi rata.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -23- b. misal : meja. Kendaraan berhenti diatas jembatan P1 P2 P3 Penggambaran dalam mekanika teknik . manusia yang berdiri diatas jembatan P beban terpusat Penggambaran dalam mekanika teknik a. Beban Didalam suatu struktur pasti ada beban.2. dan lain sebagainya. kendaraan. a.1.2.

Gambar beban terpusat dalam mekanika teknik b. Gambar 1. anak-anak berbaris diatas jembatan q t/mƞ Penggambaran dalam mekanika teknik Notasi beban terbagi rata = q Satuan beban terbagi rata = ton/mƞ.11. Penggambaran beban terbagi rata dalam mekanika teknik . dan lainsebagainya. kg. Newton.12. Gambar 1. kg/cm Newton/mƞ dan lainsebagainya. Beban terbagi rata Beban terbagi rata adalah beban yang tersebar secara merata baik kearah memanjang maupun ke arah luas.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -24- Notasi beban terpusat = P Satuan beban terpusat = ton.

Bangunan yang terletak diatas permukaan bumi disebut bangunan atas. serta konsep kedudukan perletakan dalam suatu struktur. hubungan antara bangunan tersebut dengan lapisan permukaan bumi dikaitkan dengan suatu pondasi.2. Contoh : a. 1.2. y Tujuan Pembelajaran Khusus : Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar dan pengertian tentang struktur. Pendahuluan Dalam bidang teknik sipil kita selalu membicarakan masalah bangunan seperti bangunan gedung.1.3. sedang yang masuk pada lapisan permukaan bumi disebut dengan bangunan bawah. dan lainsebagainya. Hubungan antara bangunan atas dan bawah melalui suatu tumpuan yang disebut dengan ƠPerletakanơ. Hubungan antara bangunan atas jembatan dan bangunan bawah pondasi. Struktur jembatan (bangunan atas) perletakan Pondasi Penggambaran pada mekanika (bangunan struktur .3. maka siswa bisa memahami pengertian tentang perletakan dan bagaimana pemakaian perletakan ini pada suatu struktur. Perletakan y Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah membaca modul bagian ini.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -25- 1. konsep pengertian tentang perletakan. jembatan. Bangunan-bangunan tersebut harus terletak diatas permukaan bumi.

pada suatu struktur jembatan yang bertugas untuk menyangga sebagian dari jembatan. jepit dan perodel. Gambar perletakan gedung (tumpuan)dalam mekanika teknik Macam-Macam Perletakan Dalam mekanika teknik perletakan berfungsi untuk menjaga struktur supaya kondisinya stabil. Gambar perletakan jembatan dalam mekanika teknik b.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -26- Gambar 1. bisa berputar tersebut harus mempunyai reaksi jika Gambar 1.2.15.2. Hubungan antara bangunan gedung dan pondasi Bangunan gedung (bangunan atas) muka tanah Perletakan (tumpuan) Pondasi (bangunan bawah) Penggambaran pada mekanika teknik 1.14. karena bias itu bergeser rol ke arah horizontal.3. Skema perletakan rol diberi beban momen jadi tidak mempunyai reaksi momen. jadi tidak bisa mempunyai reaksi horizontal. Pada perletakan Rol Rv Penggambaran perletakan rol dalam bidang mekanika teknik. sendi.15) silinder baja Karena struktur harus stabil maka perletakan rol tersebut tidak boleh turun jika kena beban Rv Perletakan rol bila dilihat dari gambar struktur. (Gambar 1. a. Rol Strukt Bentuk perletakan rol.13. ada reaksi vertikal. maka oleh rol tersebut dari atas. . perletakan Gambar 1. Ada 4 macam perletakan dalam mekanika teknik yaitu : rol.

RH sendi tersebut bisa berputar jika Penggambaran perletakan sendi dalam diberi beban momen. Aplikasinya perletakan rol dalam mekanika teknik Rv b.16. Skema perletakan Sendi Pada perletakan karena itu mempunyai sendi tersebut harus reaksi vertikal (Rv). maka perletakan sendi tidak boleh turun jika kena beban dari atas. Aplikasinya perletakan sendi di dalam mekanika teknik Bentuk perletakan jepit dari suatu . Strukt RH silinder baja Selain itu perletakan sendi tidak boleh bergeser horizontal.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -27- Balok jembatan Gambar 1. Karena struktur harus stabil. yang bertugas untuk menyangga sebagian dari jembatan (Gambar 1. oleh Rv Gambar 1.17). Jadi sendi tidak mekanika teknik. Rv RH c.18. Sendi Bentuk perletakan sendi pada suatu struktur jembatan.17. Oleh karena itu perletakan sendi harus mempunyai reaksi horizontal (RH). Jepit Rv balok jembatan Gambar 1. ada reaksi vertikal dan horisontal punya reaksi momen.

21. Pendel V Penggambaran perletakan jepit dalam mekanika teknik.) Pendel tersebut hanya bisa menyangga sebagian jembatan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -28- RH RM RV RH RM R d. Aplikasi perletakan jepit di dalam mekanika teknik Bentuk perletakan jepit dari suatu struktur. jadi hanya mempunyai satu reaksi yang searah dengan sumbu pendel.20. Skema perletakan pendel pada suatu struktur baja RR R .21. bertugas untuk menyangga sebagian dari struktur baja (Gambar 1. Penggambaran perletakan pendel dalam mekanika teknik. balok baja pendel Gambar 1. hanya searah dengan sumbu pendel tersebut. horizontal. ada reaksi vertikal. ada reaksi searah pendel. dan momen Gambar 1.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -29- balok baja Gambar 1.22. Aplikasi di perletakan dalam pendel pende l mekanika teknik .

maka kotak tersebut dalam keadaan seimbang. a.3.1. Contoh : benda dalam keadaan seimbang (tidak bisa bergerak) kotak lem meja Gambar 1. serta manfaatnya dalam struktur tersebut. mahasiswa perlu mengetahuinya. jembatan dan lain sebagainya. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat memahami pengertian keseimbangan dalam suatu struktur dan syarat-syarat apa yang diperlukan. 1. tidak bisa bergeser horisontal dan tidak bisa berguling. Pengertian tentang keseimbangan Sebuah kotak yang dilem diatas meja. yang berarti kotak tersebut tidak bisa turun. JUDUL : KESEIMBANGAN BENDA Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan bisa mengerti apa yang disebut keseimbangan pada suatu benda. Bangunanƛbangunan tersebut supaya tetap berdiri. Keseimbangan vertikal .23. Apa saja syaratsyaratnya supaya suatu bangunan tetap seimbang.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -30- 1. hal itu merupakan syarat utama. dan bagaimana cara menyelesaikannya.2.3. suatu kotak yang dilem diatas meja 1.3. Pendahuluan Dalam bidang teknik sipil mahasiswa selalu diajak berbicara tentang bangunan gedung. maka struktur-strukturnya harus dalam keadaan seimbang.

maka kotak tersebut tidak bisa bergeser secara horisontal. Keseimbangan vertikal Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas lumpur Kalau kotak tersebut dibebani Lumpur secara vertikal (Pv). Kotak Gambar 1. Kotak tenggelam dalam lumpur b. (Gambar 1.24. perlawanan Meja vertikal tersebut (Rv) disebut reaksi vertikal. yang meja berarti lem yang merekat antara kotak dan meja tersebut . yang berarti Kotak tenggelam lumpur tersebut tidak mampu memberi perlawanan secara Pv Rv vertikal (Rv).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -31- Pv kalau kotak tersebut dibebani Kotak Lem secara vertikal (Pv). maka kotak tersebut langsung tenggelam. Keseimbangan horisontal PH Kotak Lem RH Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH). maka kotak tersebut tidak bisa turun.25.25) Gambar 1. yang berarti meja tersebut mampu memberi perlawanan vertikal (Rv).

yang berarti lem perekat antara kotak dan meja tersebut mampu memberikan perlawanan momen (RM). Keseimbangan Momen Kalau kotak tersebut dibebani momen (PM).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -32- mampu Gambar 1. yang berarti meja tersebut tidak mampu memberi perlawanan horisontal (RH) (Gambar 1.27. Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem Kalau kotak tersebut dibebani secara PH kotak yang bergeser horisontal (PH). maka kotak tersebut langsung bergeser. sehingga bisa menahan kotak untuk tidak bergeser. karena tidak ada yang menghambat. Perlawanan horisontal tersebut (RH) disebut reaksi horisontal.27) Gambar 1.26. PM Kotak Lem Meja . Keseimbangan horizontal memberi perlawanan horisontal (RH). maka kotak tersebut tidak bisa berputar (tidak bisa terangkat). perlawanan momen tersebut (RM) disebut dengan reaksi momen. Kotak yang bergeser Karena beban horizontal c.

Keseimbangan statis .29. PM Kotak yang terangkat Kalau dibebani kotak tersebut (PM). RM Gambar 1. dan tidak bisa terangkat. momen maka kotak tersebut bisa terangkat.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -33- Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem. Gambar 1. Meja karena tidak ada lem yang mengikat antara kotak dan meja tersebut. Kotak yang terangkat karena beban momen d Keseimbangan Statis PV PH PM Kotak Lem  Kalau kotak tersebut di lem diatas meja.30. meja mampu yang tersebut berarti tidak memberikan perlawanan momen (RM). RV Meja tidak bisa bergeser horisontal. yang RH berarti harus stabil. benda tersebut harus tidak bisa turun.

Agar kotak tersebut tidak bisa terpuntir (terangkat). maka pada tumpuannya mampu memberi perlawanan secara momen (RM ). maka harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : 7V = 0 (jumlah gaya-gaya vertikal antara aksi (beban) dan reaksi harus sama dengan nol) 7H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara aksi (beban) dan reaksi sama dengan nol) 7M = 0 (jumlah gaya-gaya momen antara aksi (beban) dan reaksi harus sama dengan nol).3.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -34-  Kalau kotak tersebut dibebani secara vertikal (PV).PV = 0 atau 7V = 0 (jumah gayagaya vertikal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol). 1. dapat dikatakan bahwa suatu benda yang stabil atau dalam keadaan seimbang.  Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH ). tumpuannya mampu memberi perlawanan secara vertikal pula.  Dari variasi tersebut diatas. agar kotak tersebut tidak bisa turun syarat minimum RV = PV. maka syarat minimum RM = PM atau RM .PM = 0 atau 7M = 0 (jumlah gaya-gaya momen beban dan reaksi harus sama dengan nol). Agar kotak tersebut tidak bisa bergeser secara horisontal maka syarat minimum RH = PH atau RH ƛ PH = 0 atau 7H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol)  Kalau kotak tersebut dibebani secara momen (PM ). maka pada tumpuannya mampu memberi perlawanan secara horisontal (RH ).4. Latihan 1. atau RV . Suatu benda diatas meja dengan berat sendiri = 5 kg Pv = 5 kg .

5. Rangkuman o Macam-Macam Beban .6.Pendel punya 1 reaksi Rv Rv dan RH Rv. PV = 5 kg PH = 2 kg PM = 5 kgm Cari reaksi-reaksi yang terjadi supaya konsol tersebut tak roboh. satuan. notasi. RH dan RM sejajar dengan batang pendel o Syarat Keseimbangan Ada 3 syarat keseimbangan yaitu : 7v = 0 7H = 0 7M = 0 1. Suatu kantilever (konsol) dengan beban seperti pada gambar.3.Beban terbagi rata.Rol punya 1 reaksi . Penutup . 1.Jepit punya 3 reaksi . q. satuan kg/mƞ atau ton/mƞ atau Newton / mƞ o Macam Perletakan .3. Rv = ? 2.Beban terpusat. kg atau ton atau Newton .Sendi punya 2 reaksi . notasi. P.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -35- Berapa reaksi vertikal yang terjadi supaya balok tersebut tidak turun ?.

Senarai Beban = aksi Reaksi = perlawanan aksi .8. 2. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci yang ada. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM Bab I.7. Daftar Pustaka 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -36- Untuk mengukur prestasi.3. Suwarno. Nomor Soal 1 2 Reaksi yang ada Rv Rv RH RM Besar Reaksi 5 kg 5 kg 2 kg 5 kg m Arah o o p 1 1. Soemono ƏStatika IƐITB Bab I 1.3.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -37- MODUL 2 : ARTI KONSTRUKSI STATIS TERTENTU DAN CARA PENYELESAIANNYA 2.1. Balok jembatan diatas 2 Balok jembatan B A rol sendi perletakan A dan B Perletakan A adalah rol Perletakan B adalah sendi .1. jembatan dan lain sebagainya. mulai dari yang sederhana sampai dengan yang kompleks. JUDUL : KONSTRUKSI STATIS TERTENTU Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis tertentu. Pendahuluan Dalam bangunan teknik sipil. 2. Contoh : contoh struktur sederhana yaitu balok jembatan diatas 2 tumpuan. sistim yang paling sederhana tersebut disebut dengan konstruksi statis tertentu. seperti gedung-gedung.1. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa selain dapat mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis tertentu. ada beberapa macam sistem struktur. mengetahui syarat-syarat apa yang diperlukan dan bagaimana cara pemanfaatannya. Mahasiswa diwajibkan memahami struktur yang paling sederhana sebelum melangkah ke yang lebih kompleks.

Contoh a).2.1. Ada beberapa syarat-syarat keseimbangan Sesuai dengan materi yang sebelumnya ada 3 (tiga) syarat keseimbangan yaitu : § V ! 0 ( jumlah gaya  gaya vertikal sama dengan nol) § H ! 0 ( jumlah gaya  gaya horisontal sama dengan nol) § M ! 0 ( jumlah momen sama dengan nol) Kalau dalam syarat keseimbangan ada 3 persamaan. Gambar konstruksi jembatan dalam Mekanika Teknik 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -38- Gambar 2. B= rol dengan reaksi tidak diketahui (RBV = reaksi vertikal di B) . maka jumlah reaksi yang tidak diketahui maksimum adalah 3. Balok diatas dua perletakan dengan P beban P seperti pada gambar. 2. Jika dalam menyelesaikan suatu konstruksi tahap awal yang harus dicari adalah reaksi perletakan. A = sendi dengan 2 reaksi tidak RAH A B diketahui (RAV dan RAH adalah reaksi-reaksi vertikal dan horizontal RAV RBV di A).3.1. Definisi Statis Tertentu Suatu konstruksi disebut statis tertentu jika bisa diselesaikan dengan syaratsyarat keseimbangan. jumlah bilangan yang tidak diketahui dalam persamaan tersebut maximum adalah 3 buah.maka pada konstruksi statis tertentu yang harus bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan.1.

maka konstruksi tersebut adalah konstruksi statis tertentu.3. maka konstruksi tersebut statis tak tertentu. Konstruksi statis tidak tertentu . sedang persamaan syarat keseimbangan hanya ada 3. Jumlah reaksi yang tidak diketahui ada 3 buah. Konstruksi statis tertentu c) P Balok diatas 2 perletakan A = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RAV dan RAH (reaksi vertikal dan reaksi horisontal di A). P Suatu konstruksi kolom yang berkonsol dengan perletakan di A adalah jepit. A B Gambar 2. RAH = reaksi horizontal di A RM = momen di A. b).4. maka konstruksi tersebut adalah statis tertentu.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -39- Gambar 2.2. Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 4 buah. A = jepit dengan 3 reaksi yang tidak diketahui. B = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RBV dan RBH (reaksi vertical dan reaksi horizontal di B). Konstruksi statis tertentu Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 3 buah. RAV = reaksi vertical di A RM RAH A RAV Gambar 2.

jika bisa diselesaikan dengan persamaan syarat-syarat keseimbangan.1. Tunjukkan apakah konstruksi statis tertentu atau bukan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -40- 2. Tunjukkan apakah konstruksi tersebut statis tertentu atau bukan.5.1.6. 2. Latihan a). Persamaan syarat-syarat keseimbangan adalah 3 buah 7V = 0 7H = 0 dan 71 = 0 2.mahasiswa bisa melihat kunci dari soal-soal yang ada sebagai berikut : Jawaban Soal P C A B titik A B Macam Perletakan Sendi sendi Total reaksi Jumlah reaksi 2 buah 1 buah 3 buah .1. Perletakan A adalah sendi dan di B adalah rol.4. Rangkuman Konstruksi disebut statis A tertentu. Penutup Untuk mengukur prestasi. P C A B suatu balok ABC berkantilever terletak diatas dua perletakan dengan beban P seperti pada gambar. Perletakan A dan C sendi. P B C dua seperti pada adalah tersebut suatu balok ABC terletak diatas perletakan dengan beban P gambar. b).

2.8. Pendahuluan Bangunan teknik sipil pada umumnya terbuat dari struktur beton.1.2. Suwarno ƠStatika Iơ ITB bab I 2. baja dan lain-lain. Daftar Pustaka 1. Senarai Konstruksi statis tertentu = konstruksi yang bisa diselesaikan syarat-syarat keseimbangan dengan Itik A B 2.1. 2.7.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -41- Bisa diselesaikan dengan persamaan syarat keseimbangan.1. Jadi konstruksi statis tidak tertentu. kayu. 2. JUDUL : GAYA DALAM Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa bisa mengetahui apa yang disebut dengan gaya dalam dan bisa mengetahui bagaimana cara mencarinya. b) P B C konstruksi A Macam Perletakan Jumlah reaksi Sendi 2 buah sendi 2 buah Total reaksi 4 buah Persamaan tidak bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan. Dalam pembuatan struktur-struktur tersebut perlu diketahui ukruan atau yang lazim disebut dengan demensi dari tiap-tiap elemen . Jadi diatas adalah statis tertentu. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat menggunakan teori yang telah diberikan untuk menghitung gaya dalam suatu struktur serta bisa menggambarkan gaya-gaya dalam tersebut secara rinci pada struktur statis tertentu. Suwarno ƠMekanika Teknik Statis Tertentuơ UGM bab I 2.

beban Beban maksimum yang dipikul oleh orang A akan lebih kecil dari pada beban maksimum yang bisa dipikul oleh orang B karena diameter lengan orang A lebih kecil dari diameter lengan orang B. P P Untuk A orangnya pendek. Contoh (a) P2 B o Gaya dalam yang diterima pada struktur (a) berbeda pula dengan gaya dalam yang diterima oleh struktur (b). Contoh (b) 2. maka demensi dari struktur (a) akan berbeda pula dengan struktur (b). satu kecil. Balok diatas 2 perletakan dan menerima beban P (sehingga melendut) P B beban RB Suatu balok terletak pada 2 perletakan dengan beban seperti pada gambar. kolom. sampai suatu saat tangan A tidak mampu Gambar 2.8. maka balok tersebut akan menderita beberapa gaya dalam yaitu : y Balok menderita beban lentur yang menyebabkan balok bentuk tersebut berubah Gaya melentur.2.5. Kalau beban P tersebut dinaikkan secara bertahap. memerlukan gaya dalam. Macam-macam Gaya dalam P1 P reaksi A RA l Gambar 2. Jika kedua-duanya membawa barang beban P = 5 kg. Untuk menentukan demensi-demensi dari elemen struktur tersebut. o Dua buah struktur seperti pada gambar (a) dan (b) dengan beban (P) dan bentang (l) berbeda. pelat.3. Gambar 2. 2.2. pendek (A). tinggi. Namun hal ini tidak terjadi pada B karena orangnya besar. tinggi (B).7.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -42strukturnya (balok. Yang menjadikan urat-urat tangan orang (A) tersebut menonjol sehingga tampak dari luar A B adalah karena adanya gaya dalam pada tangan tersebut akibat beban P = 5 kg. dalam yang menyebabkan pelenturan balok tersebut disebut momen yang . P1 A L1 Gambar 2. Contoh : a). yang satu lagi besar.6. dansebagainya).kecil dalam membawa beban P tersebut urat-urat yang ada pada tangannya tertegang dan menonjol keluar sehingga kita bisa melihat alur uratP = 5 kg P = 5 kg uratnya. Pengertian tentang Gaya Dalam A L2 B Ada 2 (dua) orang yang mempunyai bentuk tubuh yang berbeda. maka kedua tangan orang A dan B tersebut tertegang. demikian juga untuk orang B. Orang membawa membawa beban tersebut.2.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -43- .

9. Balok yang menerima beban terpusat dan terbagi rata Definisi Momen adalah perkalian antara gaya x jarak. 2. Balok yang menerima gaya yang searah dengan sumbu batang. ½ x 1) gaya jarak gaya jarak . (atau menerima gaya dalam momen) Gambar 2. Gaya Dalam Momen a). Momen untuk daerah balok antara perletakan A ke perletakan B dengan variable x bisa ditulis sebagai berikut : I (1) II (dihitung dari kiri ke potongan c-c) Ʀ.x. Balok yang terletak antara tumpuan A dan B menderita (menerima) momen. akibat adanya reaksi perletakan atau gaya-gaya yang tegak lurus ( B ) sumbu batang. maka akan menerima beban gaya dalam yang disebut Normal yang diberi notasi N. balok tersebut menerima gaya dalam yang disebut gaya lintang dan diberi notasi D. yang berarti balok tersebut menerima beban lentur atau momen.(pers. Balok tersebut akan menerima beban lentur sehingga balok akan melendut. o Balok tersebut menderita gaya lintang. Pengertian Momen (M) c A c x RA l (m) RB P (kg) q kg/mƞ B Suatu balok yang terletak diatas 2 tumpuan dengan beban seperti pada gambar.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -44- o Balok tersebut menderita gaya tekan karena adanya beban P dari kiri dan kanan.4. ada beban terbagi rata q (kg/mƞ) dan beban terpusat P (kg). Mx = RA . x ƛ q.2.

2) Kalau diambil di potongan c-c RB (reaksi di B) merupakan gaya I (l-x) = jarak dari RB ke potongan c-c Q (l-x) = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh (l-x) q (l-x) = Q2 ½ (l-x) = adalah jarak dari titik berat beban terbagi .10. ½ (l -x) (dihitung dari kanan) ƦƦƦ. Gambar potongan struktur bagian kiri Kalau dihitung dari sebelah kanan ke (c-c) I II Mx = RB (l-x) ƛ q (l ƛ x) .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -45- Misal kita ambil potongan c-c yang terletak sejarak x dari A RA (reaksi di A) merupakan gaya x = adalah jarak dari RA ke potongan c-c sejauh x qx = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh x yang diberi notasi (Q1 = qx) ½x= adalah jarak dari titik berat beban terbagi rata sepanjang x ke potongan c-c I II q (kg/mƞ) titik berat qx c ½x Q1= qx x c Gambar 2. (pers.

13. ½ (l-x) c Q2 = q (lx) l -x y Tanda Gaya Dalam Momen Untuk memberi perbedaan antara momentertekan Gambar 2. Demikian juga sebaliknya. GayaRA RB gaya tersebut adalah RA .11. Gambar potongan struktur bagian momen yang mempunyai arah berbeda. Gambar balok menerima beban memberi gaya lintang terhadap .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -46- II c c q (kg/mƞ) titik berat dari q (l-x) (2) Kalau menghitung besarnya momen di cboleh dari kiri potongan seperti pada persamaan (1) ataupun menghitung dari kanan potongan seperti pada persamaan dan hasilnya pasti sama. Jika momen tersebut mampu melentur suatu tertarik tertarik balok sehingga serat atas tertekan dan serat Tanda momen (+) * Tanda momen (+) * bawah tertarik maka momen tersebut diberi tanda (+) = positif. Tanda momen 2. q dan RB gaya-gaya tersebut yang Gambar 2.12.2. balok yang terletak diatas 2 (dua) perletakan A dan B.5. Gaya Lintang (D) c P (kg) q (kg/mƞ) Kalau dilihat. menerima gaya-gaya yang c arahnya B (tegak lurus) terhadap sumbu balok. maka tertekankanan perlu memberi tanda terhadap momen tersebut. Tanda momen (-) * Gambar 2.

Potongan balok bagian kiri y (2) Kalau dihitung dari titik c ke kanan potongan. maka D1 = RB ƛ q (l-x) ƛ P = RB ƛ Q2 ƛ P kanan potongan) P c q (kg/mƞ) (gaya lintang di c yang dihitung dari c Q2 = q (lx)x) (l ƛ RB Gambar 2. Kalau kita ambil salah satu potongan antara perletakan A-B yaitu c-c.14. y kalau dilihat dari C ke kiri potongan. maka (1) Dc = RA ƛ q x = RA ƛ Q1 (gaya lintang di c yang dihitung dari kiri x q (kg/mƞ) c potongan) c Q1=q x RA Gambar 2. Potongan balok bagian kanan .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -47- Definisi : Gaya lintang adalah gaya-gaya yang B dengan sumbu batang.15. maka coba gaya-gaya apa saja yang arahnya B (tegak lurus) terhadap sumbu AB.

Skema gaya lintang dengan tanda positif (+) Coba dilihat pada Gambar 1 dari kalau kita mau menghitung besarnya gaya lintang di c (Dc). atau kalau dilihat di kanan RB potongan. jadi jumlah gaya-gayanya yang B sumbu hanya RA dengan arah o (keatas) jadi tanda gaya lintang adalah positip. maka P > RB sehingga jumlah antara P dan RB arah ( q ) kebawah.16. . jumlah gaya arahnya ke Gambar 2. gaya yang ada hanya RA. gaya yang C ada B terhadap sumbu adalah RB ( o ) keatas dan RB P (q ) kebawah. jumlah gaya arahnya ke atas. maka perlu memberi tanda (+) dan (-). Definisi : * Gaya lintang diberi tanda positif jika dilihat di kiri potongan titik yang ditinjau. P Jika dilihat dari kanan potongan c.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -48- y Tanda Gaya Lintang P C A RB C C RA B Untuk membedakan gaya lintang. C RA Dilihat dari kiri potongan C. Karena RB adalah merupakan reaksi.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -49- * P D B Definisi : * Gaya lintang diberi tanda negatif. D maka gaya lintangnya tandanya negatif. Gambar Skema gaya lintang 2 dengan tanda negatif (-) Coba dilihat pada Gambar 2. jika dilihat di kiri titik potongan P A D B D yang ditinjau arahnya kebawah ( q ) dan bila ditinjau di kanan titik potongan yang ditinjau arahnya ke atas. Jadi gaya lintangnya tandanya adalah .17. gaya-gaya yang B RA sumbu hanya RA dan P. Jadi RA < P.17 bagaimana kalau kita mau menghitung besarnya gaya P D lintang di D (DD). A Dilihat dari kiri potongan D. Jika dilihat di sebelah kanan potongan gayagaya yang B sumbu hanya RB dengan arah ke RB atas ( o ). karena RA adalah reaksi. maka resultante gaya-gaya antara RA dan P arahnya adalah kebawah ( q ). Gambar 2.

maka pada batang AB (Gambar 3.18 yang RA Gambar 3 Gambar 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -50- Jadi untuk menghitung gaya lintang. baik dihitung dari kiri ataupun kanan hasilnya harus sama. berarti balok tersebut tidak mempunyai gaya normal (N). * Tanda Gaya Normal . Balok tanpa beban normal RB mana tidak ada gaya-gaya yang sejajar sumbu batang.6.Jika gaya yang ada arahnya menekan balok. P P Kalau dilihat pada Gambar 3.19 dimana ada gaya-gaya yang // Gambar 4 RB Gambar 2. Pengertian Tentang Gaya Normal (N) P A B Definisi : Gaya normal adalah gaya-gaya yang arahnya sejajar (//) terhadap sumbu beban balok. Balok menerima beban gaya normal RA (sejajar) sumbu batang yaitu P. 2.18.2. maka tanda gaya normalnya P adalah negatif (-) { € €p P n €€ }. .19. * Jadi kalau kita lihat balok yang seperti pada Gambar 2.19) menerima gaya normal (N) sebesar P.

Ringkasan Tanda Gaya Dalam M tekan M tanda momen positif (+) tarik tarik tekan M M tanda momen negatif () tanda gaya lintang positif (+) tanda gaya lintang negatif (-) tanda gaya normal negatif (-) .2. maka tanda gaya normalnya P €€ adalah positif (+) { n P € €p }.Jika gaya yang ada arahnya menarik balok.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -51- . 2.7.

P3 = 2t (´) P4 = 3t . Contoh : Penyelesaian Soal 1 Sebuah balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban seperti pada gambar. q2 = 1 t/mƞ P1 = 2 2 t q1 = 2t/mƞ P2 = 6 ton q2 = 1 t/mƞ P4 = 3 ton P1v = 2 t 45 ° C P1H = 2 t A D P = 2t 3 E B RBV RBH 6m RAV 2m 10 m 2m . P2 = 6t (¶).2.20. P1 = 2 2 t (º).8. q1 = 2 t/mƞ.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -52- tanda gaya normal positif (+) Gambar 2. Ringkasan tanda gaya dalam 2.

sedang yang berlawanan arah diberi tanda berlawanan.2 .7  6.q1 ƛ P2.6 + P2 + q2.4 + 2.1 = 0 2. Untuk mengetahui apakah reaksi di A (RA) dan reaksi di B (RB) adalah benar. gaya lintang dan bidang normal. dan D) Jawab : Mencari reaksi vertical RA (µ) keatas dan arah reaksi vertical di B Dimisalkan arah reaksi vertical di A RB (µ) juga keatas. RBV 71%! RBV.12 ƛ q1.1.6 + 6 + 1.6  2.12  2.6.10 ƛ q2.2 = 9 ton (µ) 10 RBV = Karena tanda RBV adalah positif berarti arah reaksi RBV sama dengan permisalan yaitu (µ) keatas.7 ƛ P2.6. (Bidang M.2) ƛ (13 + 9) = 0 Beban vertikal Reaksi vertikal . maka perlu memakai kontrol yaitu § V = 0 (P1R + q1.3  2. yang searah diberi tanda sama. Balok diatas 2 perletakan dan pembebanannya Diminta : Gambar bidang momen. N.10 ƛ P1R.21.2) ƛ (RAR + RBR) = 0 (2 + 2.4  2.2 = 0 1.q2.6 ƛ q1.6.6.1  6.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -53- Gambar 2.1 = 13 ton (µ)Karena tanda + berarti arah sama dengan permisalan (+) 10 RAV = Pemberian tanda pada persamaan berdasarkan atas arah momen.3 + P1R. Mencari RAV dengan 7MB = 0 (jumlah momen-momen terhadap titik B = 0) RAV.

D Beban P1 = 2 2 (45°) bisa diuraikan menjadi P1V = 2t (¶) dan P1H = 2t ( ) P2 = 6 q1 = 2 ton 2t t/mƞ P3 = 2 ton C D 6m RA = 13 t X A . Perletakan B = sendi ada RBH.P1R + RAR = -2 + 13 = 11 ton (di kiri potongan arah gaya lintang ke atas). Untuk mencari RBH dengan memakai syarat keseimbangan ( § H = 0) §H = 0 RBH = P1H + P3 + P4 = 2 + 2 + 3 = 7 ton (³) Menghitung dan Menggambar Gaya Lintang (D) Dihitung secara bertahap Daerah C A lihat dari kiri Gaya lintang dari C ke A bagian kiri adalah konstan DA kr = P1R = .2 ton (gaya lintang (D) di kiri titik A. di kiri potongan arah gaya lintang kebawah (¶) DA kn (gaya lintang (D) di kanan titik A) DA kn = .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -54- Mencari Raksi Horizontal Karena perletakan A = rol tidak ada RAH.

Dx = -2 + 13 ƛ q1 x = (-P1V + RA ƛ q1x) Persamaan (Linier) didapat Untuk x = 0 DAkn = -2 + 13 = + 11 ton (di kiri potongan arah gaya DD kr= -2 + 13 ƛ 12 = .1ton lintang ke bawah) 2. DD kn : -2 + 13 ƛ 12 ƛ 6 = .2 RBV = 9 ton B E P4 = 3 ton Lebih mudah kalau dihitung dari kanan dari E menuju B. jadi Bidang D sama senilai DD kn (konstan dari D sampai B). Variabel x2 berjalan dari E ke B. sedang beban yang dihitung dimulai dari titik C.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -55- Variabel x berjalan dari A ke D (sebelah kiri titik P2). melampaui beban P2.7 ton (dikiri potongan arah gaya lintang ke bawah) Dari titik D s/d B tidak ada beban.6 didapat Untuk x = 6 m DD kn : sedikit di kanan titik D. x2 = + x2 (persamaan liniear) . Daerah B-E 2m q2 = 1 t/mƞ x. DE = 0 Dx2 = q2 .

4 ton Daerah BE dihitung dari kanan. ND kr = . NB kn = + 3 ton (gaya normal menarik batang) Kalau dihitung dari kiri. ND kn = (-2 ƛ 2) ton = . dari E ke B nilai gaya normal konstan. P2 tidak termasuk dari C ke D nilai gaya normal konstan. batang dari D ke B nilai gaya normal konstan).7 ton (kanan potongan arah ke atas) Melewati perletakan B MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG NORMAL (N) Daerah CD dihitung dari kiri sampai D.2 ton (gaya normal menekan batang) Daerah DB dihitung dari kiri (beban yang dihitung mulai dari titik C. Dari kiri DBkn = (-4 + 7) t = + 3 ton (gaya normal menarik batang) MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG MOMEN (M) Daerah C A C P1H = 2t 2m x P1V = 2t A . dimana gaya normal dihitung dari titik C.4 ton (gaya normal menekan batang) NB kr = NDkn = .P1H = .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -56- DB kn kanan perletakan B (x2 = 2 m) arah ke DB kn = + 2 ton (kanan potongan kebawah) DB kr (kiri titik B) DB kr = + 2 ƛ 9 = .

4 tm.2 = .2. sehingga tanda negatif (momen P1v .2 x (linier) Untuk x = 0 x=2 Mc = 0 MA = .P1v . Daerah A D . x mengakibatkan serat atas tertarik (-) ).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -57- Variabel x berjalan dari C ke A Mx = . x = .

½ q1 x12 + 11 x1 ƛ 4 6 m MENCARI MOMEN MAXIMUM D Mx 1 !0 d x1 d Mx1 !  q1 x1  11 ! 0 d x1 p x1 ! 5.1 RAV = 13t 2 m Variabel x1 berjalan dari A ke D Mx1 = -P1V (2 + x1) + RA.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -58- Gaya-gaya yang dihitung mulai dari titik C q1 = 2 t/mƞ P1V = 2t C P1H = 2t A D x.x1 ƛ ½ q1 x1² Mx1 = -2 (2 + x1) + 13 x1 ƛ ½ q1 x12 (persamaan parabola) = .25 tm.5.22.5.5 ƛ 4 = 26. lihat pada Gambar .5 m Mmax = .2 (5.m Letak dimana harga Mmax = Letak dimana harga (D = 0) 2.½ . x1 = 5.5)² + 11.

titik E ke titik B) variabel x2 berjalan dari E ke B q2 = 1 t/mƞ P4 = 3 t B 2m x2 E Dihitung dari kanan Parabola Mx2 = .62 m (tidak mungkin) Untuk x1 = 6 MD = -36 + 66 ƛ 4 = + 26 tm Daerah E-B (dihitung dari kanan.½ q2 x22 Untuk x2 = 0 didapat ME = 0 MB = .4 = -2 tm didapat Untuk x2 = 2 .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -59- Mencari titik dimana M = 0 Mx1 = .½ . 1.x12 + 11 x1 ƛ 4 = 0 = x12 ƛ 11 x1 + 4 = 0 x1 = 0.q1.3756 m (yang dipakai) x1ƞ = 10.½ .

22.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -60- P1V = 2 t C =2t A q1 = 2t/mƞ P2 = 6 ton D P3 = 2 ton B RBV ton q2 = 1t/mƞ E P4 = 3 ton = P1H RAV = 13 t RBH 7t =9 11 2 - + 6 t BIDANG D 1 t - 2 t + 7 t 2 t 2 t 4t + 3 t BIDANG N 5. Gambar bidang M.286 0. D balok diatas 2 tumpuan .5 m linier - 4 tm + - 2 tm parabola 0. N.3756 parabola BIDANG M linier Gambar 2.

x2 Untuk x2 = 3 DB kr = 2 + 1 + 1.5 parabola Dx2 = 2 + 1 + q . P2 = 1t (¶) dan beban terbagi rata q = 1 t/mƞ Ditanya : Gambar bidang M.3 = 5 ton (dari kanan potongan arah gaya ke bawah tanda positif (+) ).5 32.1 = 8 t (o) Untuk menggambar gaya dalam kita bisa dari kiri atau kanan.5 = 0 RD = 2 + 1 + 5. N.3 = 6 ton Untuk x2 = 5 DC = 2 + 1 + 5 = 8 ton Daerah A B Bidang M (dari kanan) MA = 0 linierGambar 2. N. pilih yang lebih mudah dalam hal ini pilih yang dari kanan.23. parabola x2 merupakan variabel yang bergerak dari A ke C Daerah B C 10.9.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -61- 2. x1 Untuk x = 3 DB kn = 2 + 1. Bidang M. Contoh 2 Diketahui: KONSOL (CANTILEVER) P2 D 1t C 1m RD 2m B = q=1 t/mƞ P1 2t A Suatu konstruksi konsol (cantilever) dengan perletkan di D = jepit dengan beban P1 = 2t = (¶). D Balok cantilever . D 3m x1 x2 Jawab : Mencari reaksi di D dengan syarat keseimbangan RD = ? 7v = 0 RD ƛ P2 ƛ P1 ƛ q.5 24.2. 5 8 BIDANG D + 1t Bidang D (dari kanan) DA kr = + 2 ton Daerah A B BIDANG M x1 merupakan variabel yang bergerak dari A ke B Dx1 = 2 + q.

5 tm ( ) MD : . a) reaksi perletakan b) bidang N.1 (2.6 ƛ P2. Soal 1 P1 = 4t P2 = 4 2t HA A B VA 2m 3m 3m RB Balok AB dengan beban seperti tergambar A = sendi B = rol P1 = 4 ton P2 = 4 2 ton Ditanyakan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -62- 2 Daerah B .10.5² = .P1.24.3 ƛ 5.2 ƛ ½ . a) reaksi perletakan b) bidang N.3.5 = 32.5 + 1) = -12 ƛ 3 ƛ 5.5 t ( ) 2. D dan M 45 ° Soal 2 P! t P3 = 32 2t HA A VA 2m 4m q = 1 t/m' 45° D B RB 2m C .2. Latihan Balok diatas 2 tumpuan.C : Mx2 = -P1 x2 ƛ P2 (x2 ƛ3) ƛ ½ q x2 : MC = -2.5 ƛ 1.1. D dan M Balok ADCB dengan beban seperti tergambar A = sendi B = rol P1 = 3 2 ton q = 1 ton/m· Ditanyakan.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -63- Soal 3 q   . reaksi perletakan b). a). D dan M q = 1. Ditanyakan. bidang N. t/m' HA A VA 6m ¡¢ ¤2   2 2t ° £ P1   2t 2m B RB 2m C Balok ADCB dengan beban seperti tergambar : A = sendi B = rol . P1 = 2 ton P2 = 2 2 ton .5 ton /m· .

5 ton 3.12.2.5 tm 0 Tanda/arah o o p .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -1- 2.5 ton 3.5 ton 0.tekan + + + + Momen = M . Penutup Untuk mengukur prestasi.5 ton 4 ton 4 ton 0 4.2.11.5 ton 0 9 tm 10. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D D²B A²C C²D D²B A C D B Nilai 4. mahasiswa bisa melihat kunci dari soal -soal yang ada sebagai berikut : Jawaban Soal No. Rangkuman Dalam suatu konstruksi ada gaya dalam sebagai berikut : M (momen) dengan tanda + D (gaya lintang) dengan tanda + N (gaya normal) dengan tanda + - 2.

08 m kanan A A X = 3.375 ton 2 ton 2 ton 4.tekan + + Momen = M + + Jawaban Soal No.0 tm 0 Tanda/arah o o p .375 ton 2 ton 0 0 7.375 ton 2.75 tm 4.tekan + + Momen = M + + - .625 ton 4. 2 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D D²B A ² D kiri D kanan B kiri B kanan C A D B C 2 m kanan D Nilai 3 ton 6 ton 3 ton 3 ton 0 3 ton 0 4 ton 2 ton 0 0 6 tm 2 tm 0 4 tm Tanda/arah o o p .625 ton 4.08 m D B C Nilai 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -2- Jawaban Soal No.13 tm 0. 3 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D²B²C A D kiri D kanan ² B kiri B kanan ² C X = 3.

dx² . Mx + dMx = momen di potongan II ( ) dMx = selisih momen antara I dan II qx ½ dx beban qx.dx² } 0 karena dx = cukup kecil dan dx² bertambah kecil sehingga bisa diabaikan. dx = berat beban terbagi rata Sepanjang dx Dx + dDx = gaya lintang di potongan II (¶) dDx = selisih gaya lintang antara Potongan I dan II. qx = beban terbagi rata Mx = momen di potongan I ( ) Dx = gaya lintang di potongan I ( o) qx . dx o Kiri ada Mx .dx Mx Dx M x + dMx D x + dDx batang I dx II Gambar 2.dx . . ½ dx dan kanan ada Mx + dMx o ½ qx.24.qx dx d Dx !  qx dx (turunan pertama dari gaya lintang adalah beban) Keseimbangan momen 7 M = 0 di potongan II Mx + Dx dx ƛ qx . gaya lintang dan momen. potongan tersebut antara I dan II sepanjang dx. Dengan beban sepanjang dx tersebut kita akan mencari hubungan antara beban. Hubungan Antara Momen (M) .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -3- 2.0 d Mx = Dx . distribusi gaya dalam pada balok sepanjang dx Keseimbangan gaya ƛ gaya vertikal 7 V = 0 di potongan II Dx ƛ qx dx ƛ (Dx + d Dx) = 0 (kiri ada Dx ( o) dan qx dx ( q) dan kanan ada Dx + d Dx ( q) dDx = . Gaya Lintang D dan q (Muatan) Pada gambar terdapat potongan sepanjang dx batang yang diberi beban terbagi rata (qx).dx. Dx dx dan qx.3. ½ dx ƛ (Mx + d Mx) = 0 ½ q.

Pada kenyataan sehari -hari balok-balok tersebut bisa berdiri sendiri atau digabungkan dengan balok vertikal atau horisontal. balok atap dan lain sebagainya. Namun disini perlu lebih berhati-hati karena dalam baloknya menghitung (b) Gambar 2.25. terutama untuk menghitung dan menggambar gaya dalam adalah (a) sama dengan balok biasa (horizontal). misal : tangga. Seperti pada gambar.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -4- d Mx ! Dx dx * turunan pertama dari momen adalah gaya lintang 2.4. 2. Dasar Penyelesaian Dalam penyelesaian struktur. Pengertian Dasar Balok miring adalah suatu balok yang berperan sebagai pemikul struktur yang posisinya membentuk sudut dengan bidang datar. Balok Miring Pada pelaksanaan sehari -hari sering kita menjumpai balok yang posisinya miring seperti : tangga. dalam hal ini kita harus tahu bagaimana menyelesaikannya.4.1. Skema balok miring .

dan beban terbagi rata q = 1 t/mƞ dari D ke B dengan arah vertikal. Ditanya : Gambar bidang M. Beban P 1 = 4 t vertikal di C dan beban P2 = 4t vertikal di D.4. D Jawab : q = 1 t/mƞ B rol P 1=4 C P2=4 t D A R AH ­ E 1m 1m 1m RB Dim B = rol jadi reaksinya hanya 3 satu B sumbu batang 5 3 E send RAV 4m 1m 2m 1m 4 di B = rol jadi reaksinya hanya satu B sumbu batang .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -5- Dalam hal ini mahasiswa bisa lebih mendalam dalam pengetrapan pengertian gaya -gaya dalam pada semua kondisi balok. Contoh soal Diketahui Suatu balok miring di atas 2 tumpuan. N.2. 2. perletakan A = sendi duduk di bidang horizontal. perletakan B = rol duduk pada bidang miring // dengan sumbu batang.

6 ton = 2.26.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -6- Gambar 2.3 ƛ 4. RAH 7 H = 0 RAH ƛ RB sin2 = 0 3 RAH = .1 = 0 RAV.4 ƛ 2.1.1 = 0 RB = 5 Untuk mencari R AV dicari dulu R AH dengan syarat keseimbangan horizontal.3 ƛ P 1. Pembebanan pada balok miring Untuk mencari reaksi kita lebih cepat kalau yang dicari reaksi di B dulu.2.2 ƛ q.a.2.16.2 ƛ 2. Reaksi di B RB B bidang sentuh RB dicari dengan 7 MA = 0 RB.3 ƛ P2.2.3 ƛ 4.6 ton (arah R B B sumbu batang) RB.1 = 0 RAV = 7.3 ƛ 4.16 ton 5 Mencari R AV dengan 7 M B = 0 RAV 7 MB = 0 RAV.12 ton .3 ƛ P2.5 ƛ q.5 ƛ 1.1 = 0 18 ! 3.4 ƛ RAH.3.2 ƛ P1.2 ƛ 4.

2 ton DD kr = -3. 4/5 = . 3/5 = .// sumbu batang . cos E DD kn = .3.6 + q.E! 4.3. sin E = -2 .6 + 2.3/5 = .6 + q.RB = .6 + (2 + 4 + 4) cos. 3/5 = -1.2 .(4 + 2) sin E = -6 .6 ton MEN GHITUN G GAYA LINTAN G (D) (dari kanan) DB kr = .1.x .3.b.6 + (2 + 4) 4/5 = 1.26.6 ton NC kr = .2 ton (dari kanan) ND kr = . Distribusi beban pada balok miring Gaya yang // sebagai bata ng Gaya yang B sebagai batang menjadi gaya normal (N) a ! q sin E ¾ ® ¯ ¿ b ! q cos E À ° menjadi gaya lintang (D) ND kn = -2q .3.4 ton 4/5 .(4 + 4 + 2) sin E = -10.3.B sumbu batang 1 m a E q q E b Gambar 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -7- MEN GHITUN G BIDAN G NORMAL (N ) Beban P dan q diuraikan menjadi : .2 ton Dc kr = .6 ton Dari B ke D Dx = . cos E= .3.

3 .x ² cos E 2 x cos E E x Mc = RB .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -8- 1 t/mƞ B 4t 4t D A 1m C 1m 2m x 3m 1 t/mƞ MEN GHITUN G BIDAN G MOMEN (M) Dihitung dari kanan B ke D 4 t C A Untuk x = 0 Untuk x = 2 MB = 0 M D = 3.q. D 1 t/mƞ 4t B .5 tm Gambar bidang M. 3.1 cos E = 3.2 ƛ 4.1 = + 5.  .4 !  7 tm 4/5 2 4 t D x B RB x 1 Mx = RB .6 .75 ƛ 2. N.2.1.q.6 . 2 1  .2 ƛ P.

Seperti contoh dibawah ini.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -9- Seperti teori sebelumnya kita bisa menghitung gaya -gaya dalam dari dan hasilnya harus sama. Gambar 2. Bidang gaya dalam pada balok miring .27.

16 .5. sin E NB = .6 ton Gaya normal di C kanan ke D kiri adalah konstan Di Nc kanan ada pengaruh beban P = 4 ton.(RAV .1 .1.RAH . 4/5 ƛ 2. Cos E (gaya B sumbu batang) RAV .2 ton.16 .16 .2 ton Gaya lintang di D kanan ada pengaruh P = 4t DD kn = (7. NDkn = . sin% E  E RAV R AH sin E A E RAH cos E N = .12 NA kn = .1. Gaya lintang dari D ke B adalah linier karena ada beban terbagi rata.4 ton Gaya lintang di C kanan ada pengaruh P = 4 ton Gaya lintang dari C kanan ke D kiri adalah konstan Dc kn = (7.2 .12 ƛ 4 ƛ 4) 3/5 + 2. cos E (gaya // sumbu batang) RAV. Contoh dinding dinding tangki tangki Sin E = 3/5 Cos E = 4/5 air .[(7. DA kn = 7. cos E .2 ton Gaya normal dari D ke B linier { NB = . 3/5 = . 4/5 = .1. 3/5 = 0 ton Gaya lintang DA kn = R AV cos E . 3/5 + 2.6 ton 2. sin E + RAH .16 t D = + RAV . DB = -2 ƛ 2. 3/5 = 1.(7. 4/5) t = .1 . beban tekanan tanah dan lain sebagainya. 3/5 = 4.16 .2 + q.[(7.2 + 2. 3/5 + 2. cos E RAH diuraikan menjadi : RAH.5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -10- PERHITUN GAN DARI KIRI RAV diuraikan menjadi : RAV. sin E E RAV .12 .1.6 ton Gaya normal di D kanan ada pengaruh P = 4 ton. Beban Segitiga Pada kenyataan di lapangan beban tak hanya terpusat a tau terbagi rata.12 ƛ 4) 4/5 ƛ 2.R AH sin E Gaya lintang dari A kn ke C kiri adalah konstan. Cos E) RAH = 2. namun ada yang berbentuk segitiga seperti beban tekanan . NC kn = . 2.12 .3.12 ƛ 4 ƛ 4) 4/5 ƛ 2. sin E (gaya B sumbu batang) RAH.12 ƛ 4).3. 4/5] = .16 . Pengertian Dasar Beban segitiga seiring terjadi pada kenyataan di lapangan seperti beban tekanan air dan tekanan tanah. Sin E (gaya // sumbu batang) RAH  RAV = 7.16 . 4/5] = .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-11-

2.5.2.

Gambar 2.28.a. Diagram beban segitiga

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-12-

Dasar Penyelesaian Prinsip dasar penyelesaiannya adalah sama dengan yang lain -lain namun kita harus lebih hati -hati karena bebannya membentuk persamaan.

Persamaan a x = x .a l ax A Px a.l 6 B

a t/mƞ

RA =

2/3x 1/3x

RB = P=

a .l ton 2 Gx ambar 2.28.b. Beban segitiga pada struktur

a .l 3

l Mencari Reaksi Perletakan Titik berat beban P : 2/3 l dari A atau 1/3 l dari B l 0 p R ! 1/ 3 l  P 1/3 l § M B ! 0 p R A .l  P .12/3 / 3l ! A l 1 / 3 l a.l a.l ton RA ! x ! 2 6 l 2/3 l § M A ! 0 p R B .l  P . 2 / 3 l ! 0 p R B ! P l 2 / 3 l a.l a.l x ! R ! ton l 2 3

Menghitung Bidang D (dari kiri) X = variable bergerak dari A ke B x Di potongan x ax = . a l Beban segitiga sepanjang x Px = ½ x. ax ax ² x Beban Px = ½ x . . a ! 2l l Persamaan gaya lintang : a.l ax ² Dx = RA ƛ Px = (parabola)  6 2l Persamaan pangkat 2 Mencari tempat dimana gaya lintang = 0

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-13-

D=0

RA ƛ Px = 0 a.l ax ² l² ! p x² ! 6 2. l 3 XD ! 0 ! l² 1 ! l 3 3 3

MEN GHITUN G BIDAN G M x Mx = RA . x ƛ Px . 3 a.l ax ² x = .x  . 6 2 .l 3 a a .l = (persamaan pangkat 3 / parabola) x  . x³ 6l 6

M max terletak di daerah untuk D = 0 1 x= l 3 3 3 a.l ¨ 1 ¸ ¸ a ¨1 M max = l 3  l l 3 ¹ © ¹ © 6 ª3 º º 6 ª3 a.l² a .l² 3 3 = 54 18

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-14-

Contoh Perhitungan ax = x
2/3 x 1/3 x

x .3 6 Jawab : h=3 ton/mƞ TOTAL BEBAN B P=½lxh RB P= 7 MB 0 RA = 7 MA 2 .9 = 3 ton 6 RB . l ƛ P.2/3 l = 0 RB .6-9.4 = 3.6 = 9 ton 2 RA.l ƛ P l/3 = 0 RA . 6-9.2 =

A Px RA 2 l/3 l=6 m P l/3

3,464 m 3t + D=0 BIDAN G D 6t

0 RB = 4 .9 = 6 ton 6

Menghitung Bidang D x = variable bergerak dari A ke B ax ! x x .3 ! 2 6

Gambar 2.29. Bidang gaya dalam pada beban segitiga x = 0 DA = + 3 ton x = 6 DB = - 6 ton + Menghitung Bidang M x Mx = RA . x ƛ Px . 3 x² x x³ = 3x . ! 3x  BIDA N G 4 3 12 Mmax M D=0 M max (x = 3,464 m) M
max

Px = ½ x . ax Px ! x x x² . ! 4 2 4 Dx = R A ƛ Px

Persamaan gaya lintang Dx = 3 x² 4

Tempat dimana gaya lintang = 0

x² D=0 !3 3 4 ¨ 3,464 ¸ 3.3,464 - © ¹ ! 10,392  3,464 ! 6,928 tm ª 12 º

2.5.3. LATIHAN Soal 1 : Balok Miring

P = 3 ton Ditanyakan. B = rol Ditanyakan. B = rol. D dan M 30° Soal 2 q = 1. D dan M Soal 4 3m RB . a) reaksi perletakan b) bidang N. B = rol. a) reaksi perletakan b) bidang N. seperti tergambar Beban q = 1 t/m· . seperti tergambar. D dan M Portal ACB dengan perletakan A = sendi . q ¦ t/m' X RHA A VA L Balok AB dengan beban segitiga seperti tergambar A = sendi. Beban q = 1 t/m· . P = 3 ton Ditanyakan.5 t/m' P=4t B HA A E 3m RB VA 4m Soal 3 : Balok dengan beban segitiga. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -15- P q ¥ 1 t/m' C B ¥3t HA A VA 6m 1m Balok miring ABC ditumpu di A = sendi. a) reaksi perletakan c) bidang N.

4.12 ton 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -16- q § 3 t/m' RHA A B RAV 4m RB 2m C Balok ABC dengan beban segi tiga q = 3 t/m ditumpu pada A = sendi .88m jarak miring dr A A B C X = 2. Ditanyakan.50 t 2.16 t t 2.88 m Nilai 4. Beban segitiga (() adalah beban yang terjadi akibat tekanan air dan tekanan tanah.11 tm Tanda/arah o n o p . besarnya merupakan fungsi x. Rangkuman - Balok miring adalah balok yang seiring dipergunakan dalam struktur tangga. Penutup Untuk mengukur prestasi.5.tekan + + Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Momen = M + .tekan .815 t 4. 2. mahasiswa bisa melihat kunci soal -soal yang ada sebagai berikut : Soal no.tekan .88 t 3 ton 9.76 ton 1.63 t 2. D dan M 2. seperti tergambar.5. B = rol. a) reaksi perletakan b) bidang N. ketelitian perhitungan perlu.50 t 1.5.6 t 0 0 3 tm 0 3. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi miring Titik A : VA B : RB Atau : H B VB A : HA A B kiri B kanan ² C A B kiri B kanan ² C X = 2.

l 6 q. X= Momen = M L 3 = 0. 3 Keterangan Reaksi vertikal Titik A : RAV B : RB Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D A : RAH A-B A «««.06415 x q x l2 (max) + Tanda/arah o o + - L 3 ««««.l 3 0 0 0 0. Jawaban soal no.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -17- Jawaban soal no.2 ton 0 4 ton 0 12 tm(max) 9 tm 0 Tanda/arah o o p ...l 6 q. 2 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Data pendukung Gaya normal = N Titik A : VA B : RB A : HA Sin E Cos E A C bawah C kanan ² B A C kiri C kanan ² B A C X = 2 m horisontal dari A B Nilai 6 ton 4 ton 0 3/5 4/5 3. B «««.6 ton 0 0 5.l 3 0 0 q. 4 .5774 L dari A A B C X= Nilai q.tekan Gaya lintang = D + + + Momen = M Jawaban soal no.

Senarai Balok miring = balok yang membentuk sudut Beban segitiga = besarnya merupakan fungsi x . Daftar Pustaka - Suwarno. Bab I. Bab I Soemono.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -18- Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : RAH A²B-C A B kiri B kanan C X = 2. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ.73 tm Tanda/arah o o p + + Momen = M + 2. 2.6.24m Nilai 4. ITB.5.5 ton 0 0 4.5 ton 1 ton 0 0 0 0. ƏStatika IƐ.24m dari B A B X = 2.67 tm 3.5.5 ton 3.7. UGM.5 ton 4.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -19- 4/5 RB RB 3/5 R B catatan : q. x Di ujung titik A RAV dan RAH diuraikan menjadi gaya -gaya yang B (tegak lurus) dan // (sejajar) dengan sumbu x = jarak R B ke sepanjang batang cos E BD x .2 2 = panjang beban terbagi rata 2 = jarak titik berat q ke titik D.a l a .2.l ton Resultante Beban : P = 2 Persamaan garis ax = Diketahui : .

bagaimana penyelesaiannya bisa lihat dalam contoh soal. Balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban U (segitiga) seperti pada gambar.l ton 2 a.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -20- Balok di atas 2 perletakan A dan B. Tahap penyelesaiannya adalah sebagai berikut : Persamaan a x = x .l 3 1/3 l . tinggi beban di atas perletakan B adalah 3 ton/mƞ= h. dengan beban segitiga diatasnya. Ditanya : Selesaikan dan gambar bidang gaya dalamnya Pada pelaksanaan sehari -hari sering dijumpai beban yang berbentuk linier segitiga. seperti bebab Tekanan tanah dan beban air pada tandon air.a l ax A Px a.l 6 B a t/mƞ RA = 2/3x 1/3x x l 2/3 l RB = P= a .

6.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -21- 2. maka dalam hal ini roda kendaraan bisa diterima langsung oleh plat lantai yang terbuat dari beton tersebut. Kalau jembatan yang terbuat dari beton karena bentuknya bisa dibuat sesuai dengan yang diinginkan.30. melainkan harus lewat suatu perantara yang disebut dengan gelagar melintang.1. Gelagar Tidak Langsung 2.31. gelagar memanjang dan plat lantai dasar (lihat Gambar 2. Untuk jembatan dimana yang roda kendaraan tidak bisa langsung diterima oleh struktur utama disebut dengan gelagar tidak langsung atau beban tidak langsung yang mana da lam penggambaran seperti pada Gambar 2. Jembatan dengan gelagar langsung Jembatan yang roda kendaraannya bisa diterima langsung oleh plat lantai kendaraan yang terbuat dari beton disebut dengan gelagar langsung. bambu. bambu atau baja tersebut. baja. dan profil baja. Untuk jembatan yang terbuat dari kayu.6. . Plat lantai kendaraan yang terbuat dari beton Gambar 2.31). maka roda kendaraan tidak bisa secara langsung diterima oleh struktur kayu. Pengertian Dasar Ada beberapa macam model jembatan yang ada di lapangan yaitu jembatan yang terbuat dari beton dan jembatan yang terbuat dari kayu. bambu.

Skema gelagar tidak langsung dari suatu jembatan . melintang Potongan melintang Gelagar induk Gel.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -22- arah muatan aspa l Gel. memanjang Potongan Melintang Gambar 2.31.

induk). gel. untuk gel.3. Cara distribusi beban Karena roda kendaraan tidak langsung diterima oleh gelagar utama (gel. mas uk ke gelagar induk (utama) menjadi beban P beban terbagi rata diatas gel. tida k langsung Gambar 2.32. melintang P gelagar induk / utama beban terbagi rata tersebut akan ditransfer ke gelagar induk melewati gelagar melintang jadi yang sebenarnya beban merata. memanjang gel.2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -23- 2. maka beban yang diterima oleh gelagar induk tidak selalu sama dengan beban yang berada diatas jembatan. gel. Penyederhanaan akhir. melintang gel.6.33. memanjang P P P . induk / G ambar 2. melainkan lewat perantara gelagar melintang. q kg/mƞ beban terbagi rata gel. Skema Penggambaran MuatanTidak Langsung dalam Mekanika Teknik Untuk mempercepat perhitungan maka struktur dengan muatan tak langsung harus mengalami penyederha naan.6. Penyederhanaan awal. tidak 2.

Distribusi beban terpusat pada gelagar tidak langsung BEBAN TAK LANGSUNG Contoh : Suatu gelagar yang tidak langsung mendapat beban q t/m¶ dengan jumlah bentang gel. dimana P Q1 Q2 Q2 = b a Q dan Q1 ! x x A Gambar 2. melintang Menghitung momen di potongan I -I P P/2 M I (untuk potongan I -I) M I = RA .P/2 . 2P . melintang Potongan II-II = ditengah-tengah gel. memanjang genap.q P² = 4 q P² (muatan tidak langsung) II P/2 P I P gelagar induk 6P P P 3 q P II I 3qP . 2P .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -24- a Q b Jika beban terpusat Q berada diantara gel.P. II I q t/mƞ Potongan I ƛ I = tepat diatas gel. P = 6q P² .qP² . melintang.35. maka Q tersebut didistribusi menjadi beban Q 1 dan Q 2.

125 q P²) q t/mƞ Perbedaan tersebut adalah dari : P 0. 2P .125 q P² Momen lantai = kendaraa 1 q P ² ! 0.½ q (1.25 q P² Perbedaan momen (0.q P . Penyelesaian : P=qP RA = RB = 3q P Beban diantara perletakan P = q P Beban di atas perletakan P/2 = q P/2 Perhitungan Momen Pada Potongan II q t/mƞ II Dengan memakai beban langsung MII II P 3q P ½ qP qP II Jika dihitung dengan beban tidak langsung P 3qP P/2 q t/mƞ II M II = 3q P .1. 1.½ q P .5 P .5P .375 q P² .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -25- Kalau dicek memakai muatan langsung adalah : M I = beban langsung M I = 3.5 P² .5 P)² = 4. ½ P = 3.5 P .125 q P² = 3. Melintang) boleh dihitung sebagai beban langsung.125 q P ² 8 P/2 = 3 qP .q P . 1.½ q (2P)² = 6q P² . 1.2 q P² = 4 q P² Catatan : Besar M (momen) pada titik balok penghubung (gel.

0.125 q P² = 3. tapi kalau gelagarnya tidak langsung. lantai = 3. Perhitungan gaya lintang (D) ½ P P P P P P ½ P Walaupun beban terbagi rata.25 q P² jadi dalam hal ini ada perbedaan nilai perhitungan momen pada gelagar tak langsung untuk potongan dibawah gelagar melintang dan potongan diantara gelagar melintang. garisnya 3P P 2½ P P + P P P Bidang D 3P bukan linier.37.375 q P² . Bidang gaya l intang (D) dari gelagar tidak langsung . 2½ P Gambar 2. maka gambar bidang D (bidang gaya lintang). namun s eperti gaya lintang beban terpusat.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -26- Catatan : Momen tidak langsung (diantara gelagar) MII = M langsung ƛ M.

Gaya reaksi V A. 3t P 2 = 1t P1 = P = 3m P P Ditanyakan : a). H A.6.5. D. 2. Latihan Soal 1: q = 1. RB b). transfernya ke gelagar utama selalu berbentuk beban terpusat. H A . Penutup Untuk mengukur prestasi. Rangkuman - Gelagar tidak langsung biasanya terdapat pada jembatan kayu atau baja - Apapun bentuk beban yang terdapat diatas jembatan. 2. q = 1. RB b). Bidang N. M 1 2 3 HA VA P P P = 2m Soal 2 : P1=3t 1m 2 3 A 4 P 5 B R B P2=1t 4 5 B P RB C 6 1 HA P VA Balok ABC mendapat beban tak langsung seperti tergambar.5 t/mƞ Balok AB mendapat beban tak langsung seperti tergambar.4. M. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci kunci yang ada.5 t/mƞ sepanjang bentang.6.6. Ditanyakan : a).6. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -27- 2. D. Gaya reaksi V A. Bidang N.

25 t 1.5 t 0 9 tm 12 tm 9 tm 0 Arah / Tanda o o q q q q q         Soal N o.0 t 3.75 t 2.5 t 1.25 tm 4.5 t 3.25 t 0 0 2t 1t 0 0 1t 0 1.25 t 1.5 t 4.00 t 0 5.25 t 1. 2 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Beban Pada Titik Titik A : VA B : RB A : HA 1 2 3 4 5 6 1-2-3-4-5-6 1-2 2-3 3-4 4-5 5-6 A=1 2 3 4 N ilai 1.75 tm Arah / Tanda o q q q         Gaya Normal = N Gaya Lintang = D Momen = M .0 t 3.75 t 0.5 tm 0.5 t 0 4.5 t 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -28- Soal no 1 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Beban Pada Titik Gaya Normal = N Gaya Lintang = D Momen = M Titik A : VA B : RB A : HA 1 2 3 4 5 1-2-3-4-5 1-2 2-3 3-4 4-5 A=1 2 3 4 5=B N ilai 6t 6t 0 1.0 t 1.

8.24 m dari B A B X = 2. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -29- Gaya Normal = N Gaya Lintang = D 5=B 6=C AƛBƛC A B kiri B Kanan C X = 2. Senarai Muatan tak langsung = beban tak langsung = beban yang tak langsung terletak di balok induk. ƏStatika IƐ.5 ton 1 ton 0 0 0 0.67 tm 3. 2.73 tm  + + Momen = M + 2. ITB-Bab I Suwarno.0 tm 0 0 4. Daftar Pustaka - Soemono.6.5 ton 3.6. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ .24 m 3. UGM Bab I.7.

jika ada muatan yang berjalan di atasnya ?. Pengertian Dasar Untuk mempermudah suatu penyelesaian. reaksi-reaksi kemudian gaya -gaya dalamnya yaitu. jika di atas struktur jembatan 2. atau gaya dalam M (Momen). Untuk menjawab hal tersebut diperlukan suatu garis pengaruh. dan gaya no rmal. gaya lintang.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -30- 2. Pendahuluan Kalau kita meninjau atau melihat suatu jembatan. Di sisi lain kalau kita meng analisa struktur maka yang dicari dari struktur tersebut adalah. tersebut berjalan suatu muatan. Definisi Garis pengaruh : adalah garis yang menunjukkan besarnya R (Reaksi). Garis pengaruh ini sebagai alat bantu untuk mencari nilai reaksi. gaya momen.2.7. gaya lintang (D) atau gaya normal (N) di suatu tempat pada gelagar tersebut.7. atau N (Normal). maka kaitannya adalah : Berapa besarnya nilai maksimum dari gaya -gaya dalam di suatu tempat di struktur tersebut. maka didalam suatu garis pengaruh. gaya lintang dan gaya normal. muatan yang dipakai sebagai standard adalah beban P sebesar satu satuan (ton atau kg atau Newto n) yang berjalan diatas struktur suatu jembatan tersebut. maka struktur tersebut selalu dilewati oleh suatu muatan yang berjalan. Jika dua hal tersebut dipadukan. gaya momen.1. . Garis Pengaruh 2. atau D (Lintang) disuatu titik akibat pengaruh dari muatan sebesar 1 ton berjalan.7. Sedang bentuk garis pengaruh tersebut adalah suatu garis yang menunjukkan nilai dari apa yang akan dicari tersebut misal : Reaksi (R) atau gaya momen (M) atau.

P.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) 7 MB = 0 RA = G. R A RA .P.38. R B + G.x x RB = ton (linier) ! l l 1 ton Untuk P di A Untuk P di B x=0 x=l RB = 0 RB = 1 ton Gambar 2.RB (Garis Pengaruh Reaksi di B) 7 M A = 0 R B. l ƛ P (l-x) = 0 P(l .x) l  x ! ton (linier ) l l x=0 x=l RA = 1 ton RA = 0 ton Untuk P di A Untuk P di B + 1 ton G.P.x = 0 P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -31- Contoh 1 : Mencari garis pengaruh Reaksi (R A dan R B) x P=1 ton A RA l x = variabel sesuai letak (posisi) P yang bergerak dari titik A ke titik B B RB Muatan P = 1 ton berjalan dari A ke B G.P. Gambar garis pengaruh R A dan RB .l ƛ P.

41. dimana 1t b a y1 = ton dan y 2 = ton. Kegunaan digaris pengaruh untuk beban di titik D GP.40.R B t A C a + y1 y2 GP. dimana d c ton dan y 4 = ton.R B Gambar 2.39. Kegunaan dari suatu Garis Pengaruh X A RA + GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -32- 2.RA + P=1 t D d * Jika beban P = 1 ton berada di titik C sejauh a dari perletakan A dan sejauh b dari perletakan B.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) Garis ini menunjukkan besarnya nilai R A sesuai dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar Ini adalah GP.39 A c 1t + y3 GP. maka besarnya reaksi di A R A = y3 dan besarnya reaksi di B 1t RB = y4. Kegunaan dari garis pengaruh untuk beban di titik c * Jika beban P = 1 ton berada di atas titik D sejauh c dari perletakan A dan sejauh d dari perletakan B.40 P= 4 ton A a + y1 C b 1t GP. maka besarnya reaksi di A RA = y1 dan besarnya reaksi di B R B = y2.R A y2 GP.R B + 1t Bagaimana kalau P tidak sama dengan 1 ton Jika P = 4 ton terletak di titik c Maka RA = 4 .R A + P=1 GP. jadi y3 = l l d c RA = ton dan R B = ton B l l Gambar 2. jadi l l b a ton dan R B = ton RA = l l B Gambar 2.beban y1 dan RB =sama 4 .7.RB Gambar 2.RA + y4 + b 1t l RB Ini adalah GP.3. y2 atau Gambar 2. Kegunaan garis pengaruh untuk tidak 4 b 4 a dengan 1 ton RA = dan RB ! l l .R B (Garis Pengaruh Reaksi di B) Garis ini menunjukkan besarnya n ilai R B sesuai B dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar P=1 t B 1t 1t GP.

Mencari Garis Pengaruh Gaya Lintang (G.43. maka 1t RA = 4y1 + 6y3 = 4 . sejarak dari titik A. Kegunaan garis pengaruh untuk beban P 1 = 4 ton dan P 2 = 6 ton Beberapa Contoh 1.42. Kegunaan garis pengaruh untuk beban P = 6t GP.P.RB P= 4 ton A a C 1t Bagaimana kalau ada beberapa muatan : y Jika di atas gelagar ada muatan P1 = 4t di c.D) P = 1 ton berjalan dari A ke B X = variabel yang bergerak sesuai dengan posisi P dari A ke B C = suatu titik terletak antara A ƛ B . dan P 2 = 6t sejarak c dari titik A. RB = 4 y2 + 6 y4 = 4 y4 b d ton  6 ton l l c a ton  6 ton l l Gambar 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -33- P=6 t A c 1t + y3 GP.R B + y3 GP.R A y4 P2= 6 ton D b c y1 + y2 GP.RA 1t d B + + D d B Jika P = 6 ton terletak ti titik D Maka RA = 6 . y3 dan R B = 6 y4 atau RA = c 6d ton dan R B ! 6 ton l l Gambar 2. sejarak d dari titik B. sejarak b dari titik B.

Gambar garis pengaruh gaya lintang . l ƛ P.x = 0 P berjalan dari A ke C A RA a l RB RB = b Px x ! ton l l Dc dihitung dari kanan Dc = -RB =  P = 1t x Untuk P di C kr x = a A C a l x ton (linier) l x=0 Dc = 0 Dc = - Untuk P di A a ton l B P berjalan dari C ke B P (l  x ) l  x RA = ! ton l l Dc dihitung dari kiri + Dc = RA = G.44. Dc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C) B C 7 MA = 0 RB .P. D c Untuk P di C kn Dc = l a b ! ton l l ll ! 0 ton l Gambar 2.P.P.P. R A l x ton (linier ) l x=a G. R B - b/l G.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -34- P = 1t x G.

b tm l x=0 x=a P = 1t x A C B Untuk P di C P berjalan dari C ke B RA = P (l  x ) l x ton ! ton l l Mc dihitung dari kiri + GP RB.P. a tm ª l º Untuk P di C GP R A.a x=a Mc = G.P. P = 1t x G. tm ª l º = 0 tm Gambar 2. tm ª l º l Untuk P di B x=l ¨l l ¸ Mc = © ¹ a .45. b tm (linier ) l Mc = 0 Mc = + a . a . b =  Untuk P di A x . Mc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C) B C RA a l b RB P berjalan dari A ke C RB = Px x ! ton l l A Mc dihitung dari kanan Mc = + RB .b tm l ¨l x ¸ Mc = + RA . a tm = © ¹ .M) P = 1 ton berjalan dari A ke B x = variabel yang bergerak dari A ke B sesuai posisi P. M c ¨l a¸ b © ¹ ! .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -35- Mencari Garis Pengaruh Momen (G.b a.P. Gambar garis pengaruh momen di c (GP Mc) .

4 4 MD = ! tm 6 3 P antara D-C lihat bagian l x M D = RA . 2 = .R B : 7 . 4 = .4 GP.2 ! tm .R A : 7 MB = 0 - l 1= 2 m RA = lx ton l 1t 1/3 t Untuk P di A x = 0 RA = 1 ton Untuk P di B x = l RA = 0 Untuk P di C x = 8 1 l 8 68 2 RA = ! !  ton ! ton 3 l 6 6 GP.R A.R B 1 t 3 2 3 + GP.DD - 1 t 3 GP. Contoh lain x D A 2 m l=6 m GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -36- 3. DD.2 - GP.M D + GP.2 ! MD = 3 l 6 Untuk P di B x = 8 m 2 68 MD = .R A . 4 tm l Untuk P di A x = 0 MD = 0 Untuk P di D x = 2 m 2. RB.R B.R B + 1t 4 3 Untuk P di A Untuk P di B Untuk P di C 8 8 ! ! RB = l 6 x=0 x=l x=8 4 ton 3 2/3 ton GP. MD lihat kanan bagian x M D = RB . M A = 0 RB = x ton lt RB = 0 RB = 1 ton GP. M D.2 l Untuk P di D x = 2m 4 l 2 62 . DBkn Jawab : GP.RA + P B C Diketahui : Balok ABC diatas 2 perletakan A dan B Ditanya : Gambar Garis Pengaruh R A. t !  tm 3 63 P antara A-D 4 tm 3 GP.

DBkn P antara A ƛ B DBkn = 0 GP.MB 2 tm GP.DBkr 1t GP.DBkr C P antara A-Bkr DBkr = .D Bkn 1t + P antara B ƛ C DBkn = P = 1 ton lihat kanan bagian lihat kanan bagian GP.M B P antara A ƛ B MB = 0 x P antara B ƛ C M B = -x tm P di B P di C Gambar 2.RB = P di A P di D lihat kanan bagian x ton l x = 0 DD = 0 x = 2 DD = -2/6 ton = -1/3 ton lihat kiri bagian P antara D-C D D = RA = P di D P di B P di C l x ton l DD = x=2 x=6m x=8m 62 2 ! ton 6 3 DD = 0 DD = 68 1 !  ton 6 3 Bkn GP.46. Gambar knmacam-macam garis x=0 x = 2m MB = 0 M B = -2 tm lihat kanan bagian lihat kanan bagian .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -37- GP.RB lihat kanan bagian Bkr A B GP.DD P antara A-D D D = .R A 1/3 t P antara B-C DBkr = + RA lihat kiri bagian GP.R B GP.

GP RB.7. GP MI a) Bila beban Ditanya. GP D I.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -38- 2. GPD I. ditanyakan GPR A. 4t DI (+) max. M max. Soal 2 A 3m berjalan. 3m berjalan. . max. LATIHAN Soal 1 berjalan P ¨ 1 t bejana A B I RA 3m 5m RB a) Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC. MI max. MI max.4. GPMI b) Bila beban P1 = Ditanya. RB max. DI (-) max. ditanyakan GP R A. P2 = 2t berjalan P = 1 t ©   I RA 4m 5m B RB 3m C Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC. GPRB.

Rangkuman o Garis pengaruh adalah : garis yang menunjukkan besarn ya reaksi atau gaya-gaya dalam disuatu titik.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -39- 2. = + 9 tm Mmax. Max. = + 9.5 ton D I (+) max.7.3 ton MI max. = + 5. = + 3. 1 Keterangan RA RB DI P = 1 ton di titik A B A B A I kiri I kanan MI A B I Nilai 1 ton 0 0 1 ton 0 3 t 8 5 8 0 0 15 tm 8 Tanda/arah + o + + o + RA max.6.7. akibat muatan berjalan sebesar 1 ton.5. 2. mahasiswa bisa melihat hasil jawaban sebagai berikut : Jawaban soal no. o Beban yang dipakai untuk garis pengaruh adalah satu satuan muatan (ton atau kg atau Newton). Penutup o Untuk mengukur prestasi.1875 tm .

3 ton 0 0.3 ton 0 1 ton 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -40- Jawaban soal no.2 tm 0 0 3 TM Tanda/arah + + + + o o o o RB DI MI + - MB - RB max.7. 2.Garis pengaruh - Beban berjalan .6 ton 0 0.7. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ .7. 2. Senarai .3 ton 0 0 2. ITB. Daftar Pustaka . UGM Bab I. 2 Keterangan RA P = 1 ton di titik A B C A B C A I kiri I kanan B C A B I C A B C = + 5.8.4 ton 0.Soemono. - Suwarno. ƏStatika IƐ. MI max. Bab I.18 tm Nilai 1 ton 0 0.175 ton = + 9.4 tm 1.

Kalau di perletakan A terdapat 2 reaksi (karena A = sendi) yaitu R AH dan R AV. A B Jembatan berbentang satu Kalau dilihat pada gambar b. perletakan di B terdapat 1 reaksi (karena B = rol) yaitu R BV. Judul : BALOK GERBER Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca materi ini diharapkan mahasiswa mengerti apa arti balok gerber serta mengetahui bagaimana cara menyelesaikan struktur tersebut.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -41- MODUL : 3 : ARTI BALOK GERBER DAN CARA PENYELESAINNYA 3. maka jumlah . Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa diharapkan bisa mengerti dengan seksama tentang pengertian balok gerber. ( yang mempunyai lebar > 100 m ). sehingga mempunyai perletakan > 2 buah.1. B = rol dan C = rol.1. yaitu 3 buah dimana A = sendi. a). perletakan di C ada 1 reaksi (karena C = rol) yaitu R . 3. syarat -syarat yang diperlukan untuk menyelesaikan dan mahasiswa bisa menggambarkan bidang -bidang gaya dalam balok tersebut. Pendahuluan Didalam kenyataan se -hari-hari jarang dijumpai jembatan y ang berbentang Satu.1. Untuk mengatasi penyeberangan sungai penampang cukup besar (>100m) ( ) maka dibuatlah suatu jembatan yang berbentang lebih dari satu. perletakan dari jembatan tersebut > 2 buah.

Dalam kondisi tersebut konstruksi masih tertentu. RBV. A B C Jembatan berbentang lebih dari satu Gambar 3. dalam keadaan tersebut konstruksi jembatan (b) disebut dengan kontruksi statis tidak tertentu . 7H = 0. RBV. 7H = 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -42- b). maka bisa didefinisikan bahwa : . RCV bisa didapat sedang untuk konstruksi statis tertentu persamaan yang tersedia hanya 3 buah yiatu 7 V = 0.2. 7M = 0 dan 1 (satu) persamaan baru). 7M = 0. RCV dengan 4 buah persamaan yaitu 7V = 0. Definisi Balok Gerber Dengan uraian seperti dalam pendahuluan. supaya bilangan yang tidak diketahui yaitu RAV. maka persamaan baru tersebut adalah 7 M D = 0 Sedang titik D tersebut disebu t dengan sendi gerber A B D C Sendi gerber Gambar 3. Macam-macam bentang jembatan Jika dalam persamaan keseimbangan hanya punya 3 buah ( 7V = 0. Jika 1 (satu) persamaan baru tersebut dengan memberikan 1 buah perletakan baru di D yang berbentuk sendi. RAH. 7H = 0.2. karena masih bisa diselesaikan dengan statis syarat -syarat keseimbangan dan konstruksinya dinamakan dengan konstruksi balok gerber. Skema balok gerber 3.1. Kalau 1 (satu) persamaan baru tadi bisa disediakan maka syarat syarat keseimbangan masih bisa dipakai untuk menyelesaikan konstruksi jembatan (b) tersebut (4 buah bilangan yang dicari yaitu R AV.1. 7 M = 0) berarti untuk bisa menyelesaikan struktur jembatan (b) masih memerlukan 1 buah persamaan baru lagi. RAH.

.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -43- Konstruksi balok gerber : adalah suatu konstruksi balok jembatan yang mempunyai jumlah reaksi perletakan > 3 buah. namun masih bisa diselesaikan dengan syarat syarat keseimbangan.

dimana ada 2 reaksi yaitu R AV dan R AH. R . 7 H = 0. B = rol. dimana ada 1 reaksi yaitu R CV Jadi jumlah reaksi adalah 4 buah yaitu. C = rol. disebut dengan konstruksi balok ge rber. Kondisi kontruksi tersebut adalah : Jumlah bilangan yang tidak diketahui = jumlah persamaan yang ada ( 7V = 0. yang masih statis tertentu. RBV dan R CV) = jumlah bilangan yang dicari Maka konstruksi tersebut. 7M = 0 dan 7M D = 0. . RAH. 7 H = 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -44- Contoh : Sendi gerber RAH A RAV B RBV D C RCV Suatu konstruksi balok gerber ABC dengan perletakan : A = sendi. 7H = 0 dan 7M = 0 1 (satu) buah persamaan baru yaitu 7 M D = 0 Jadi jumlah persamaan ada 4 (empat) buah yaitu 7V = 0. R . R dan Persamaan yang tersedia adalah : 3 (tiga) buah persamaan syarat keseimbangan yaitu 7V = 0. 7M = 0 dan 7MD = 0) = jumlah persamaan (yaitu R AV. dimana ada 1 reaksi yaitu R BV.

3.3. Sendi gerber D A RAH B C R AV RB RC Detail perletakan D (sendi gerber) Gambar 3. maka bentuk konstruksi gerber tersebut seperti pada gambar. Bentuk Sendi Gerber Kalau balok gerber tersebut adalah dibuat dari balok beton.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -45- 3. Detail sendi gerber .

3. Menentukan letak sendi gerber beban = q kg/mƞ C B A .1. Skema pemisahan balo k gerber Catatan : Reaksi di balok DC menjadi (beban) pada balok AB. Jadi kalau diuraikan balok gerber ABC tersebut merupakan gabungan dari 2 balok statis tertentu DC dan ABD. dimana balok DC tertumpu di balok AB.4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -46- A RAH RAV B D C RBV RCV A RAH RAV B D C RCV RBV atau D RDH RDV C R CV A RAH RAV B RDV D RDH R BV Gambar 3.4.

dan jika diberi beban terbagi rata sebesar q kg/mƞ. Karena kita hanya membutuhkan 1 (satu) buah persamaan baru.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -47- Gambar 3. sehingga struktur bisa diselesaikan. maka gambarnya adalah seperti pada 1 A a2 D A a3 B TIDAK MUN GKIN Gambar 3.1. dimana di titik D dibuat sendi gerber dengan persamaan baru 7M D = 0. Penentuan sendi gerber yang tak mungkin C D B C Gambar a 1 dimana balok AD terletak di atas balok DBC. Kalau dilihat dari sub bab 3.5. jadi untuk sementara diterima saja. maka konstruksinya masih statis tak tertentu. D B C Cara memilih : alternatif (1). untuk mahasiswa semester I belum bisa mengerjakan. balok tersebut jika disederhanakan Gambar a 2. Bagaimana cara mencari bidang momen (bidang M) tersebut. akan dan seperti jika pada diuraikan strukturnya akan seperti pada gambar a 3. maka alangkah tepatnya jika untuk menentukan posisi di titik D dicari tempat-tempat yang momennya Dalam hal seperti tersebut diatas. maka kita cukup memilih salah sa tu dari 2 (dua) alternatif tersebut sendi gerber diatas.2. Apakah mungkin ? Perhatikan . jika kita a1 A 1 memilih titik (1) sebagai sendi gerber.6. alternatif tempat dimana momennya sama dengan nol adalah titik 1 dan 2 yang posisinya di kiri dan kanan perletakan B. Balok statis tak tentu dan skema bidang momennya Jika dalam balok ABC. sendi gerber belum ada. maka gambar bidang momennya (bidang M) seperti gambar dibawahnya.

perletak B = rol. y Jadi pemilihan titik (2) sebagai sen di gerber adalah mungkin . RDH). Perletakan D = Gambar 3. perletakan B = rol dengan 1 buah reaksi (R BV). . sehingga jumlah reaksi ada 4 (empat) buah. dan jika diuraikan strukturnya ak an menjadi seperti pada gambar (b 3) apakah mungkin ?. D b1 2 A B A RDH D RDV b3 A B D RDH C B C b2 sendiC gerber Jika yang sebagai dipilih adalah titik (2) sendi gerber. Perhatikan balok DBC. perletakan A = sendi dengan 2 reaksi (R AV. perletakan C = rol dengan 1(satu) buah reaksi (R CV). sedang Jumlah letak reaksi adalah 3 (tiga). mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu R AH dan R AV. maka struktur balok DBC tidak stabil sendi gerber adalah tidak Alternatif 2 mungkin . Jumlah total reaksi adalah 3 (tiga) buah. RAH) perletakan D = sendi dengan 2 reaksi (R DV. Perhatikan balok DC yag terletak diatas balok ABD. balok tersebut jika akan gambarnya disederhanakan seperti pada gambar (b 2). Balok gerber dan cara pemisahannya sendi mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu R DV dan R DH. sehingga jumlah reaksi hanya ada 2 (dua) buah. karena kedua perletakan B dan C adalah rol. jadi konstruksi balok ABD masih statis tertentu. mempunyai 1 (satu) reaksi yaitu RBV. maka gambarnya adalah seperti gambar (b1) dimana balok DC terletak diatas balok ABD.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -48- Lihat balok AD. maka konstruksi balok DC adalah statis tertentu y Perhatikan balok ABD. sehingga strukturnya adalah statis tidak tertentu.7. perletakan A = sendi.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -49- .

Mekanisme Penyelesaian Balok Gerber A B D C Jika D ada suatu konstruksi balok a gerber seperti pada gambar a.5. Skema penyelesaian balok gerber Tinjauan gambar b 1 dan b2 . seperti kita pada bisa gambar maka konstruksi memisahkan C menjadi tersebut b1 dan b 2 C1 A B tidak D C konstruksi tersebut konstruksi beberapa seperti dimana beberapa menjadi statis tertentu pada gambar (b) atau (c).1.8.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -50- 3. gambar (b) terdiri dari gambar (b 1) dan (b 2). maka b1 1 A B D A B RD RD yang perlu dikerjakan pertama adalah memisahkan balok tersebut C menjadi beberapa konstruksi balok statis tertentu. b2 Jika konstruksinya (a). demikian juga gambar (c) D RD C2 A B C1 dan C2 mungkin RD C Gambar 3.

dan jika diuraikan strukturnya akan menjadi seperti pada gambar (C2). perletakan C = rol (ada 1 reaksi) total jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah. Jadi balok ABD adalah balok statis tertentu juga. dan jika dijabarkan (diuraikan) strukturnya akan menjadi seperti gambar (b2). . perletakan D = sendi. Sehingga alternatif (b) adalah tidak mungkin . sehingga reaksi RD dari balok DC akan menjadi beban (aksi) pada titik D balok ABD. Jadi total perletakan balok ABD ada 5 (lima) buah. Perhatikan balok DC (gambar b2). perletakan. Jadi balok DC adalah balok statis tertentu Perhatikan struktur balok ABD (gambar (C2)). perletakan B = rol (ada 1 reaksi) jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -51- Titik D dari balok ABD (gambar (b1) menumpu pada titik D pada balok DC. perletakan A = sendi (ada 2 reaksi). dimana titik D pada balok ABD menumpu pada titik D balok DC. Tinjauan gambar (c1) dan (2) Titik D dari balok DC (gambar (C1) menumpu pada titik D balok ABD. dimana titik D dari balok DC menumpu pada titik D balok ABD. perletakan D = sendi (ada 2 reaksi). Perhatikan struktur balok DC gambar (C2). jadi tidak ada reaksi. jadi balok ABD merupakan balok statis tidak tertentu. sehingga reaksi R D dari balok ABD akan menjadi beban (aksi) pada titik D balok DC. (ada 2 reaksi). c = rol (ada 1 reaksi). perletakan B = rol (ada 1 reaksi). jadi jumlah total reaksi hanya ada 1 buah yaitu R CV di C. Jadi alternatif (C) adalah mungkin. titik D = be bas (tak mempunyai tumpuan). Perhatikan struktur balok ABD (gambar b2). per letakan A = sendi (ada 2 reaksi). Dalam kondisi seperti tersebut diatas balok DC merupakan balok yang tidak stabil atau labil.

D balok gerber merupakan penggabungan dari bidang M. D dari masing-masing C P D C y q b RD RD D A B y RC y y Gambar 3. maka tahapan pengerjaannya adalah sebagai berikut : y Balok DC dikerjakan dulu sehingga menemukan R D dan R C. maka balok AB bisa diselesaikan. N. Dengan beban yang ada (q) dan beban R D. Reaksi R D dari balok DC akan menjadi beban di titik D dan balok ABD. Penggambaran bidang M.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -52- Tahapan Penyelesaian q D a A B Sendi gerber P Kalau kita mempunyai balok gerber ABC seperti pada gambar (a). Bidang-bidang gaya dalam (M. N. N. Skema pemisahan balok gerber . yang kemudian diuraikan seperti pada gambar (b).9. D) bisa diselesaikan sendiri-sendiri pada balok DC dan AB.

2 ƛ 2.6.3 ! ! 3t 4 4 BID.8 ƛ q.10.8 ƛ 2. baru selanjutnya reaksi Rs dari balok As menjadi beban / aksi ke balok SBC RA = 3t (c) - 8.1. 4 ƛ P. Contoh Soal P=4t (a) A S 1m B q = 2t /mƞ C Suatu struktur balok gerber ABC dengan beban seperti pada gambar.3 = 0 2 5 t 1 44 3 RB = t!7 t 3 6 7 MB = 0 RB.6.3 = 0 BID. x (b) A P=4t S Rs = x1 Rs S B 3 tm + R B = 7 1/3 t 2 tm RC = 5 Jawab: Struktur balok gerber seperti pada gambar (a) kalau diuraikan akan menjadi struktur seperti pada gambar 2 t/mƞ x2 C (b).0287 tm + 2 Balok A-S (mencari RA dan RS) t 3 7 MS = 0 RA.3 = 0 RC.3 = 0 RC.6 + 1.6 + RS.6 ƛ RS.2 ƛ q. dengan jarak 1 m dari A.6.1 4. Balok AS harus diselesaikan lebih dahulu.6. D + - Balok S B C (mencari RB dan R C) 7 MC = 0 RB.6.3 = 0 RA.1 ! ! 1t 4 4 Reaksi Rs = 1t akan menjadi beban di titik S pada balok S B C (gambar (b)) 6.1 = 0 RS = P. dan beban terbagi rata q = 2 4m 2m 6m t/mƞ dari B ke C. . Gambar-gambar gaya Bidang Momen (M) dalam balok gerber 34 ! 5 2 / 3t 6 . 4 ƛ P.833 m 5. B = sendi S = sendi gerber Beban P = 4 ton. Ditanya : Gambar bidang M.667 m 7 MA = 0 RS.33t 3t + 1t BID.6 ƛ 1. M 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -53- 3. D.= P. N.3 4. N Gambar 3. A = rol C = rol .

833 m (lokasi dimana terletak M max M x2 max =5. Mencari titik dimana momen = 0 M x =5.667 x 2 .0546 ƛ 8.02589 = 8.Rs.1.q x2² (parabola) 2 1 .667 x 2 ƛ x22 = 0 X2 (5.x2² 2 Daerah C Mx2 = Rc.x-P (x-1) = 3.667 ƛ 2 x2 = 0 = x2 = 2.x2² Mencari M max dMx 2 =0 dx 2 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -54- Balok A-S Daerah A P (P = letak beban P = 4t) Mx = RA.x1 (linear) = -x1 x1 = 0 x2 = 2 Ms = 0 MB = -2 tm B (dari kanan) 1 .x (linear) x=0 x=1 MA = 0 MP = 3 tm (momen dibawah P) S Daerah P Mx = RA.x2 - Mx2 = 5.667-x2 ) = 0 x2 =5.667 m ( Letak dimana momen = 0 ) Bidang D ( GAYA LINTAN G ) .x = 3.x ƛ 4 (x-1) x=1 x=4 MP = 3 tm MS = 0 Balok SBC Daerah S B (dari kiri) Mx1 = .x 2 - = 5. 2.833)² = 16.667.0287 tm.833 ƛ (2.667.x1 = .2.

x (Linieair) X2 = 0 X2 = 6 Dc = .6 = + 6.Rc + q .667 + 2X 2 = 0 X2 = 2.333 t Mencari titik dimana D = 0 -5.833 m M max ) (Letak D = 0 sama dengan letak Bidang N ( Normal ) Bidang N tidak ada 3.667 + 2 .Rs = -1 t (Konstan) Daerah C B (Dari Kanan) Dx2 = .6.5.667 t Dbkn = -5. x 2 2 = .1.P = 3 ƛ 4 = -1 t (Konstan ) Balok S Ɗ B C Daerah S B ( Dari Kiri ) Dx = . Latihan .5.667 + 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -55- Balok A-S Daerah A P ( dari Kiri ) D2 = + Ra = + 3 + ( Konstan ) Daerah P S ( Dari kiri ) Dx = + R a .

dan di sendi gerber ditentukan daerah bagian balok tertumpu . tapi masih bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan. Atau . P = 5t S B q = 2t/mƞ C Suatu balok gerber dengan beban dan struktur seperti gambar. o Tahap awal penyelesaiannya adalah : balok tersebu t harus diuraikan lebih dahulu. maka perlu diadakan (diberi) suatu latihan . N. dengan perletakan A = sendi. D) Suatu balok gerber dengan 1).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -56- Dalam mempraktekan teori ƛ teori yang ada di depan ( bagian sebelumnya ).Rangkaian dari beberapa balok statis tertentu. 2m dari A q = 2t/mƞ sepanjang bentang SC. S = sendi gerber Beban : P = 5t. B = rol C = rol.Suatu balok yang mempunyai jumlah reaksi lebih besar dari 3 buah. Gambar : bidang. A 2 m 5m 2 m 4m 2). S A 2m 3m P=5 2t 45° B 3m beban dan struktur seperti pada gambar dengan perletakan : A = jepit. Rangkuman o Balok gerber adalah : . B = rol S = sendi gerber Beban P = 5 2 t dengan sudut 45° terletak di tengah bentang SB.bidang 3.1.8. Gambar : bidang-bidang gaya dalamnya (Bidang M.

mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban dari soal-soal tersebut diatas sebagai kontrol.1. o Gambar bidang gaya dalamnya adalah merupakan gabungan dari masing-masing balok tersebut. 3. o Balok yang salah satu perletakannya tertumpu (menumpang) diselesaikan terlebih dahulu. Penutup Untuk mengukur prestasi.6 ton 4 ton 4 ton - Tanda (-) (+) (-) (+) (-) - .6 ton 4 ton 4 ton Arah o o o o Reaksi B S C Keterangan Momen (M) Gaya Lintang (D) Gaya Normal (N) Titik A B S C A B kiri B kanan C - Harga 0 8 tm 0 0 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -57- mana yang terletak diatas (tertumpu) dan mana yang menumpu ( ) o Penyelesaiannya dilakukan secara bertahap dari masing -masing balok tersebut.9. Soal No. 1 Keterangan Titik A Harga 1.4 ton 3.4 ton 7.

5 ton 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -58- Soal 2 Keterangan Titik AV Reaksi AH MA S B A Momen (M) S di P B Gaya Lintang (D) A B A Gaya Normal (N) S P kiri Harga 2.5 ton 5 ton 5 ton 5 ton (+) (-) (-) (-) (-) (+) (-) Tanda 3.11.5 ton 5 tm 0 7.1. Suwarno.5 tm 0 2. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM bab V-4 3.10.1. Garis Pengaruh Balok Gerber .5 ton 2.5 ton 5 ton 5 tm 2. Senarai : Sendi Gerber : tempat penggabu ngan balok satu dengan balok lainnya. Daftar Pustaka 1. 3.2. Soemono ƏStatika IƐ ITB bab V 2.

Pendahuluan Seperti halnya balok diatas 2 perletakan. jika ada muatan yang berjalan diatas balok gerber tersebut. o Kalau ada muatan berjalan diatas ABS maka reaksi di S (R S) dan reaksi di C (Rc) tidak ada (Gambar d). reaksi di S (Rs) dan reaksi di C (Rc) semuanya ada (Gambar c). reaksi ada di B (R B).1. atau gaya momen (M) atau gaya lintang (D) atau gaya normal (N). Standart beban yang dipakai juga sama yaitu muatan berjalan dengan beban P = 1 t on atau satu satuan beban. maka untuk balok gerber inipun kita harus mencari besarnya reaksi.2. Prinsip Dasar Yang perlu diperhatikan dalam membuat garis pengaruh balok gerber adalah : (a ) A B S C o Harus bisa memisahkan balok yang mana yang disangga dan yang mana yang menyangga. Reaksi perletakan pada balok gerber dengan muatan berjalan diatas .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -59- 3.2. Pengertian dasar dan definisinya sama dengan garis pengaruh balok diatas 2 perletakan.11. Gambar 3. o Dalam gambar sebelah o Balok SC yang disangga RS RS (b ) A RA B P RB RS RS (c ) RA ada P (d ) RA ada tidak ada reaksi RB ada tidak ada reaksi R B ada RC o Balok ABS yang menyangga. RC ada o Namun jika ada muatan berjalan diatas balok S-C maka reaksi di A (R A).2. 3.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-60-

Contoh
Balok gerber seperti pada gambar Cari garis pengaruh reaksi -reaksinya P=1 x1 x P=1t t A l
1

GP.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) P berjalan dari A ke S x = variable bergerak sesuai posisi P dari A ke C 7 Ms = 0 P (l1  x ) l1  x RA = ton ! l1 l1 Untuk P di A x = 0 RA = 1 ton Untuk P di S x = l1 RA = 0 P dari S ke C RA tidak ada pengaruh terhadap

S

B l
2

C

a

A

S

RS RS B C

GP.R S (Garis Pengaruh Reaksi di S) GP.R A 1t + P dari A Rs = ke S

Px x ! l1 l1

GP.R S +

P di A x = 0 Rs = 0 P di S x = l1 RS = 1t P dari S ke C tidak ada pengaruh untuk reaksi di S (Rs)

GP.R B (Garis Pengaruh Reaksi di B) x1 variabel bergerak dari C ke A sesuai

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-61-

1t

GP.R B

1t

P= 1t x1

+

¨ l2  a ¸ © ¹ © l ¹ ª 2 º A S B C GP.Rc (Garis Pengaruh Reaksi di C) P berjalan dari C ke S l  x1 Rc = 2 t l2 P di C x1 = 0 x1 + a/l
2

GP. Rc

P = 1t

Rc = 1t Rc = 0

P di B P di S

x 1 = l2 Rc =

1t

Rs . a a karena ! l2 l2

(Rs = 1t) P di A Rs = 0 Rc = 0

Gambar 3.12. Garis pengaruh reaksi (RA; Rs; RB dan Rc) Jika potongan I -I antara : A3 Jika potongan II-II antara : BC b x A P I I l1 A Rs B S a B II II l2 C c d

cari garis pengaruh D I-I dan M I-I cari garis pengaruh D II-II dan M II-II e GARIS PEN GARUH D DAN M G.P.DI-I (Garis Pengaruh Gaya Lintang di potongan I -I) P berjalan di kiri potongan I -I (perhitungan dari kanan potongan) DI = - Rs (dari kanan)

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-62-

Gambar 3.13. Garis pengaruh D I-I dan M I-I

G.P.MI-I (Garis Pengaruh Momen di Potongan I-I) P berjalan di kiri potongan I -I (perhitungan dari kanan) M I = Rs . c = Untuk P di A Untuk P di I-I x Px .c .c ! l t1 l t1 x=0 x=b MI = 0 MI = b.c l1

P berjalan di kanan potongan (perhitungan dari kiri) l x M I = RA . b = 1 .b l1 Untuk P di I-I x=b

l b c.b MI = 1 .b ! l1 l1

Jika P berjalan dari S ke C tidak ada M I x A l1 P S B d II II a l2 e C G.P. D II-II (Garis Pengaruh Gaya Lintang di potongan II -II) P berjalan dari A ke P otongan II (perhitungan kanan potongan II) DII = - Rc (sama dengan g.p. Rc)

A

S

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-63-

Sama dengan g.p. Rc

Sama dengan g.p. RB G.P. M II-II (Garis Pengaruh Momen di potongan II-II) P berjalan dari A ke II (perhitungan dari kanan potongan) MII = Rc . e (sama dengan GP.Rc x e) Untuk P di S Rs = 1t Rc = a l2

a/l2. b + d/ l2 . e

g.p. Rc.e

g.p. R B.d M II = -

a l2

.e

Gambar 3.14. Garis pengaruh D II-II dan M II-II P berjalan dari II ke C (perhitungan dari kiri) M II = RB . d Untuk P di II RB = M II =
e l2
e l2 dtm e l2 d

Untuk P di II

Rc =

d l2 M II = -

d .e l2

2.y GP.Dc y1ƞ y2ƞ + y3ƞ y4ƞ Dc = -P1ƞ y1ƞ + P 2ƞ y2ƞ + P 3ƞ y3ƞ + P4ƞ y4ƞ Dc = q F Beban terbagi rata Dc = q F .a. dimana dx 0 (mendekati 0) y = ordinat dibawah dx Mencari harga Dc Untuk beban titik GP.Mc y2 C dx P.3. MEN CARI HARGA MOMEN DAN GAYA LIN TAN G DEN GAN GARIS PEN GARUH Jika ada suatu rangkaian muatan atau muatan terbagi rata berjalan diatas gelagar berapa momen maximum di titik C dan berapa gaya lintang maximum di titik C.q dx Mc = ´ y.qdx ! q ´ y dx Mc = 7 P. A C B Mencari harga Mc a b l Kondisi muatan seperti pada 1) Mc = P1 y1 + P 2 y2 + P3 y3 * P P2 P3 1 Kondisi muatan seperti pada 2) 1) Mc = P1ƞ y1ƞ + P2ƞ y2ƞ + P3ƞ y3ƞ + P4ƞ * y4 ƞ P4ƞ 2) P 1ƞ P2ƞ P3ƞ y1 ƞ A GP.Mc + ´ y dx ! luas bagian yang diarsir ! F Mc = q F Luas = F y P 1ƞ P2 ƞ P 3ƞ P 4ƞ q dx = muatan q sejarak dx.b l y3 y 1 y4 ƞ y2 y3 B Untuk muatan terbagi rata = q t/mƞ q t/mƞ d Mc = y.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -64- 3.

Mencari gaya lintang (D) dan momen (M) dengan garis pengaruh .Dc Gambar 3.15.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -65- q t/mƞ Luas = F + - GP.

Untuk mencari nilai maximum tersebut perlu memakai ga ris pengaruh dari gaya dalam yang dicari sebagai perantaranya.16. 3. Mencari Momen Maximum di Suatu Titik Pada Gelagar 3. Prinsip dasar perhitungan . Pendahuluan Pada kenyataannya. .2. ada yang lewat sendirian atau merupakan suatu rangkaian muatan.4.Untuk mencari nilai momen maximum di suatu untuk didalam gelagar maka kita perlu mencari posisi dimana muatan tersebut berada yang menyebabkan momen di titik tersebut maximum. Muatan berjalan diatas gelagar Berapa momen maximum yang terjadi di titik C jika ada suatu rangkaian muatan seperti pada gambar tersebut melewati jembatan seperti pada gambar.4. Dalam kondisi tersebut kita tetap harus mencari berapa nilai momen maximum di suatu tempat pada gelagar tersebut. .2.2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -66- 3.1. Misal : Suatu gelagar muatan P1 P2 A C a l b P3 P4 P5 P6 B Suatu gelagar Jembatan Gambar 3. muatan yang melewati suatu jembatan adalah tidak menentu.2.4.

Kemudian nilai maximum tersebut didapat dengan cara mengalikan antara beban yang terletak diatas gelagar dengan ordinat dari garis pengaruh yang dipakai. Perpindahan ordinat untuk muatan berjalan yơ GP.17. atau Mc = 7 Py = P 1 y1 + P 2 y 2 + P 3 y 3 + P 4 y2 ƞ y 3ƞ y4 ƞ y5 ƞ = posisi kedua r B C (l. ordinat garis pengaruh dinyatakan dengan y 1 s/d yS.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -67- . jika ada rangkaian muatan yang berjalan diatasnya berapa Mc maximum yang terjadi.c) Mencari Mc max untuk rangkaian muatan berjalan (dari kiri k e kanan) Jarak rangkaian muatan constant (tetap) = posisi awal .Mc y4 y5 Pada posisi awal. (x P1 P 1ƞ P P 2ƞ P3 P3ƞ P4 P4ƞ P5 P5ƞ 2 Jawab : A (c) l l (x y 1ƞ y1 y2 y3 C1 yƞ yƞ yơ y4 + P5 y 5 Gambar 3. Contoh Mencari Momen Maximum Pada Gelagar Ada suatu balok terletak diatas 2 perletakan seperti pada Gambar.

dimana ordinat garis pengaruh dinyatakan dengan y 1ƞ s/d y5ƞ dan Mc = 7 Pyƞ (dalam hal ini y berubah menjadi yƞ) Jika ditinjau 2 bagian : .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -68- Muatan bergerak ke kanan sejauh (x.bagian kiri titik C dan . c1 ( l  c) Perbedaan nilai momen ( (M) dari perpindahan posisi beban adalah sebagai berikut : ( Mc = P1 yƞ + P2 yƞ ƛ P3 yơ ƛ P4 yơ ƛ P5 yơ = (P1 + P2) yƞ .bagian kanan titik C Di kiri titik C ordinat bertambah yƞ dan Di kanan titik C ordinat berkurang yơ yƞ = yơ = (x . c1 c (x .c1 ¯  ql  qr A ¿ ! (x.c1 ¹ c l c  ª º ª º § Pl § Pr ¾ ® ( x.(P3 + P4 + P5) yơ + P5) = 7 Pr jika (P1 + P2) = 7 Pl dan (P3 + P4 ¨ (x ¸ ¨ (x ¸ = 7 Pl © .c1 ? l c À °c ql qr ql = jumlah beban rata -rata di sebelah kiri titik C qr = jumlah beban rata -rata di sebelah kanan titik C Jika q l > qr ( M positif ql = Jika muatan bergeser terus ke kanan sehingga P2 melampaui C P1 C .c1 ¹  § Pr © .

maka bisa diperkirakan secara grafik sebagai berikut : Gelagar diatas 2 perletakan A -B. dan 01 (dengan skala) . 23.di ujung bagian kanan (Bƞ) buat muatan tumpukan beban dari 45. M max terjadi jika salah satu muatan di atas potongan sehingga § Pl Pr !§ atau C l c ql = qr Mmax di suatu titik untuk muatan terbagi rata a b Untuk muatan terbagi rata Mc max terjadi jika : q l = qr B a b ab ! ! c (l  c) l A C c (l ƛ c) ql qr qs Gambar 3.34 dan 45 Cara : buat garis AB dibawah gelagar. Posisi beban terbagi rata untuk Mencari M maximum kiri kana n Mmax terjadi jika psosisi beb an tota l q l = qr = q s Mencari perkiraan posisi beban dalam mencari momen max supaya beban di kiri dan di kanan potongan seimbang.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -69- ql menjadi kecil sehingga q l < qr ( M negatif (pergerakan P2 dari kiri C ke kanan C menjadikan tanda ( M dari positif ke negatif) Jadi Mmax terjadi jika P2 diatas C. 23. 34.12.Tarik dari titik 0 (ujung dari beban 01) ke ujung garis bagian kiri (Aƞ) sehingga membentuk sudut ( E) . . digunakan rangkaian muatan berjalan dengan nomor urut 01. 12.18.

. sampai memotong garis Aƞ -Bƞ di Iƞ. °1 12 23 34 45 Mmax terjadi jika q l = qr = qs = tg E B tg E! 01  12  23  34  45  l A I II l III IV 0 1 2 3 4 E Aƞ 5 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -70- . * Bagaimana posisi beban untuk mendapatkan momen di potongan II maximum. .Dengan cara yang sama.Dari titik IIƞ ditarik garis // (sejajar) dengan Aƞ ƛ O dan memotong tumpukan muatan di beban 12. tarik garis dari potongan II ke bawah sampai pada garis Aƞ-Bƞ dan memotong di potongan IIƞ. yaitu dengan menarik garis dari potongan I kebawah.Kalau kita mau mencari dimana letak beban yang mengakibatkan momen di potongan I maksimum. . .Jadi M I akan maximum jika beban 01 terletak di atas potongan I. .Tarik dari titik Iƞ sejajar (//) dengan garis Aƞ0 dan garis tersebut akan memotong tumpukan muatan di beban 01.Jadi M II akan maximum jika beban 12 terletak diatas potongan II.

mencari momen maximum-maximorum di suatu gelagar ini posisi titiknya tidak tertentu. .5.1.2.19.Letak posisi titik dimana momen maximum terjadi. M II max terjadi jika muatan 12 terletak diatas potongan II -II. Jadi dalam hal ini titik letak dimana momen maximum terjadi. M III max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan III -III.Letak posisi beban yang menyebabkan momen maximum. Mencari Momen Maximum Maximorum di Suat u Gelagar 3. . Pendahuluan Mencari momen maximum maximorum ini berbeda dengan mencari momen maximum di suatu titik pada gelagar. 3.2. serta posisi beban yang menyebabkan terjadinya momen maximum harus dicari.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -71- Iƞ IIƞ IIIƞ IVƞ Bƞ Gambar 3. Jadi dalam hal ini-: dicari !!. Mencari posisi muatan untuk mendapatkan Mmax dengan cara grafis M I max terjadi jika muatan OI terletak diatas potongan I -I. . M IV max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan atau mutan 45 terletak diatas potongan IV -IV dan diambil yang besar.5.

Contoh 1 P1 (a ) A P2 P3 P4 P 5 B Suatu gelagar diatas 2 perletakan A ƛ B. .2. R2 dan P3 atau resultante P 1.r = R1 . dan suatu rangkaian muatan dari P 1 s/d P5. Jawab : R1 = resultante dari P 1 dan P 2 R2 = resultante dari P 3 dan P 4 Rt = resultante dari R 1.2. P4. P5 r = jarak antara Rt dan P 3 a = jarak antara R 1 dan P 3 b = jarak antara R 2 dan P 3 b P1 P2 P3 P4 P5 R1 r R2 Rt a Rangkaian muatan terl etak diatas gelagar dan dimisalkan momen maximum terletak dibawah beban P 3 dengan jarak x dari perletakan A. r P1 P2 P 4 P5 P3 (b ) RA R1 a x l Rt Rt b R2 7M di P 3 = 0 RB Rt.x  R1 ( x  a )  R 2 ( x  ba lt Momen dibawah P 3 dengan jarak x dari titik A RB = .Untuk mencari momen maximum -maximorum di suatu gelagar ini tidak bisa memakai garis pengaruh karena titik letak momen maximum terjadi harus dicari. Berapa dan dimana momen maximum-maximorumnnya ?.Dalam mencari momen maximum -maximorum ini harus memakai persamaan.5. P 3. P2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -72- 3. Prinsip Dasar Perhitungan . a ƛ R2 . b 7 MA = 0 1 _P3 .

4.2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -73- Rt M max terdapat dibawah P 4 = M4max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 4 Mextrem = Mmax ƛ maximorum adalah tengah-tengah momen yang terbesar diantara bentang Mmax (1. Rt .5).3. P1 (e A ) r ½ r½ r Mmax terjadi dibawah beban B P 1 M 1 max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 1.

Posisi beban untuk kondisi Mmax 1 s/d M Suatu gelagar dengan bentang l = 10 max5 Contoh 2 m dan ada suatu rangkaian muatan P1=8 P2=6 P 3=6 berjalan dengan lebar seperti pada gambar.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -74- ½r x ½ l M max terdapat dibawah P1 = M 1 max P1 (f) A tengahtengah B P2 P3 P4 P5 Mmax terjadi dibawah beban P2 M 2 max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 2. l = 10 Jawab : kondisi beban seperti pada gambar .20. r ½ r Rt x=½l+½r M max terdapat dibawah P 2 = M 2 max P 1 P2 (g A ) r tengah bentang ½ r ½ r P 3 P4 P 5 B Mmax terjadi dibawah beban P5 M 5 max Dalam hal ini : r = jarak antara Rt dengan P 5 Rt x=½l+½r M max terdapat di bawah P 5 = M 5 Gambar 3. 1m 1m Cari besarnya momen maximum A B maximum maximorum.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -75- Kondisi 1 Dimana M max dibawah P 1 tengah P1 A 5m x=½l+ r = 5½ + 0.1 + 6.45 r =1. GP R B.2 = 20 .21. Posisi beban untuk mencari momen maximum maximorum 3.1 4.6.45 ½ Kondisi 2 Dimana M max dibawah P 2 P1 P2 P3 A 0. ditanyakan : GP R A . Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok. GP R C .x 6.95 Rt Kondisi 3 Dimana M max dibawah P 3 P1 tengah-tengah bentang P1 P2 P3 P2 P3 B l-x Rt 4.1 + P3.2 = Rt. x x= B tengahtengah bentang P2 P3 B 4.1 4.45 Rt Gambar 3. Latihan : Garis pengaruh pada balok menerus dengan sendi-sendi gerber Soal 1 : P=1t berjalan 2m S A I B C Balok ABC dengan sendi gerber S seperti tergambar.55 8t 1m x 4t 1m 6t Rt Rt = P 1 + P2 + P 3= 20 ton Statis momen terhadap P 1 P 2.2.

Akibat rangkaian beban M max berjalan. GP M B. ditanyakan : MI max . P1=4 P2=4 P 3=2 t t t maximorum pada balok tersebut. GP R A . RA 8m 2m a). ditanyakan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -76- Soal 2 : 4m S1 A I B P = 1 t berjalan S2 C RB RC 6m 2m 6m D RD Balok ABCD dengan sendi gerber S 1 dan S 2 seperti tergambar. GP R D GP M I. GP D I. Rangkuman . GP R B.7. GP R C . GP DB kanan 2 2 b).2. Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok. 3.

harus tahu dulu bagaimana memisahkan balok terse but menjadi bagian bagian yang tertumpu dari bagian yang menumpu. . perlu dibuat dulu garis pengaruh reaksi. 1 Keterangan RA P =1t Titik A B S C A B S C A B S C N ilai 1t 0 1/3 t 0 0 1t 4/3 t 0 0 0 0 1t Tanda / Arah  o  q RB   o o RC  o . 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -77- . karena dari garis pengaruh reaksi tersebut garis pengaruh gaya dalam mudah dikerjakan.8. Penutup Untuk melihat prestasi mahasiswa dalam mengerjakan latihan.Untuk mengerjakan garis pengaruh balok gerber.Sebelum mengerjakan garis pengaruh gaya -gaya dalam. maka bisa melihat jawaban soal sebagai berikut : Jawaban : Soal No.2.

333 tm 0 0. Keterangan RA P = 1 dititik A B S1 S2 C D A B S1 S2 C D A B S1 S2 C D Nilai 1t 0 0.25 t 0 0 0 0 0 0 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -78- Lanjutan Jawaban Soal 1 Keterangan MI DI MB P =1t Titik A I B S C A I kiri I kanan B S C A B S C N ilai 0 1.333 t 1t 0 Tanda / Arah  o  q RB   o o RC   o o .667 tm 0 0 1/3 t 2/3 t 0 1/3 t 0 0 0 2 tm 0 Tanda / Arah       Soal N o.25 t 0 0 0 0 1t 1. 2 a).

333 t 0 1t 0 2 tm 0 1 tm 0 0 0 Tanda / Arah     q o Lanjutan Jawaban Soal 2 Keterangan DI MB DB kanan P =1t Titik A I kiri I kanan B S1 S2 C D A C S1 S2 C D A I kiri I kanan B S1 S2 C D N ilai 0 0.5 t 0 0.5 t 0. MI max = + 14 tm.25 t 0 0 0 0 0 2 tm 0 0 0 0 0 1t 1t 0 0 0 Tanda / Arah      b). pada saat P 2 terletak pada titik I .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -79- Keterangan RD MI P = 1 dititik A B S1 S2 C D A I B S1 S2 C D Nilai 0 0 0 0.

ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ .Suwarno. ƏStatika IƐ.10. Senarai Balok gerber = balok yang bisa dipisah -pisah menjadi beberapa konstruksi statis tertentu Sendi gerber = sendi yang dipakai sebagai penghubung antara balok satu dengan balok yang lain.Soemono.9. bab V .05 tm. . terjadi pada titik dibawah P 2 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -80- MI max maximum = + 14.2. UGM. ITB. Daftar Pustaka .2. bab V-4 3.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -81- .

Untuk sungai yang lebarnya tidak besar missal : + 30. dan dasar sungainya tidak terlampau dalam. (a). mengerti juga kapan struktur itu digunakan dan tahu cara menyelesaikan struktur tersebut. a. tapi dengan kondisi yang bagaimana ?. dalam.1. dan dasar sungainya tidak terlampau + 30 (b). Pendahuluan Konstruksi pelengkung 3 sendi biasanya dipergunakan pada konstruksi jembatan. Judul : PELEN GKUN G 3 SEN DI Tujuan Pembelajaran Umum Dengan membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui apa itu arti struktur pelengkung 3 sendi dan tahu bagaimana menyelesaikan struktur tersebut. N. D) 4. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah membaca materi ini mahasiswa salain mengerti apa arti struktur pelengkung 3 sendi. seperti pada gambar (b) yaitu jembatan balok dengan 2 bentang (perletakan di tengah Tapi bagaimana kalau kit a mendapatkan sungai dengan lebar yang cukup berarti dan dasar sungai juga cukup dalam. maka + 100 m Pilar dibuatlah jjembatan balok dengan beberapa bentang. sehingga sulit untuk membuat pilar di tengah -tengah jembatan ?.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -82- MODUL 4 : PELENGKUNG DAN PORTAL 3 SENDI SERTA CARA PENYELESAIANNYA 4. pada umumnya dipakai jembatan balok diatas 2 perletakan bias a seperti pada Gambar Untuk sungai yang mempunyai lebar cukup berarti misal : + 100 m. serta bisa menggambarkan bidang gaya dalamnya (Bidang M. .1.1. (c).

2. Skema pelengkung 3 Jadi agar struktur tersebut bisa sendi diselesaikan secara statis tertentu. Dengan konstruksi pelengkung terse but.2. Pelengkung sungai Gambar 4. A VA HA HB VA B Gambar (a) Gambar 4. 7 V = 0 dan 7 M = 0.1. Penempatan Titik s (sendi) . maka perlu tambahan 1 (satu) persamaan lagi yaitu 7 Ms = 0 (jumlah momen pada sendi = 0). S Pengertian Dasar Untuk menjaga kestabilan dari perletakan.1. struktur pelengkung tersebut.2.2. B = sendi (ada 2 reaksi V B dan H B). Perletakan A = sendi (ada 2 reaksi V A dan H A). Jadi total reaksi ada 4 (empat) buah.1. kedua perletakan dibuat sendi.1. S = sendi yang terletak pada pelengkung tersebut sehingga struktur tersebut dinamakan struktur pelengkung 3 sendi atau struktur pelengkung yang mempunyai 3 buah sendi. tempat dimana kendaraan lewat bisa tertumpu pada tiang-tiang penyangga yang terletak pada pelengkung tersebut. 4. Pengertian tentang Pelengkung 3 Sendi 4. gelagar memanjang.1. Bermacam-macam bentuk jembatan 4.2. sedang persamaan dari syarat keseimbangan hanya 3 (tiga) buah yaitu : 7 H = 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -83- Tiang penyangga Maka jawabannya adalah konstruksi utama dibuat pelengkung sehingga tidak memerlukan pilar di tengah -tengah sungai (Gambar c).

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -84- Sendi s yang dipakai untuk melengkapi persamaan pelengkung 3 s endi terletak di busur pelengkung antara perletakan A dan B. Contoh posisi sendi pelengkung 3 sendi . S Letak sendi tersebut bisa ditengah-tengah busur pelengkung atau tidak.3. dimana letak sendi s tidak di tengah-tengah busur pelengkung B A (b) Gambar 4. Hal ini tergantung dari kondisi lapangan : seperti pada gambar (b).

maka bidang momennya berbentuk parabola dengan tanda bidang M adalah positif (+) dengan nilai maximum di tengah -tengah bentang = dengan persamaan momen Sekarang kalau ditin jau struktur pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata 1 Mx = RA. kalau kita R B mempunyai balok statis tertentu diatas 2 l + parabola Bidang M (dua) perletakan A dan B dengan beban terbagi rata q kg/mƞ. h1 f I = VA . Pemilihan Bentuk Pelengkung q kg/mƞ A RA B Kita kembali ke belakang.q x12 ƛ 2 B HA. x1 l persamaan momen gambar (c) yaitu 2 (dua) VA x1 VB perletakan dan dengan gambar bidang momen 1 q x1 2 2 A 1 q x12 sama dengan 2 . maka M E-E = VA. 2 q kg/mƞ (c) Gambar 4. Bidang M struktur 1 statis tertentu M= q l² dengan beban terbagi 8 rata 1 q l² (coba dihitung lagi sendiri) 8 S Struktur pelengkung dengan bentang = l dan tinggi = f di A ada 2 reaksi VA dan H A di B ada 2 reaksi VB dan H B f HA S E l HB A Kalau kita mau mencari besarnya momen di 1 potongan E ƛE.x .x1.h1 I II VB Nilai M E-E dibagi menjadi 2 bagian.q x² diatasnya.h1 B Nilai I = V A .4.3.1.2. x 1 HA HB II = HA.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -85- 4.

l ƛ HA. Cara Penyelesaian 4. Pendekatan 1 : Jika HA dan V A atau H B dan V B dicari bersamaan. Skema Nilainya bidang M pada pelengkung mengecil Harga momen total adalah sebagai berikut : Nilai I dan nilai II = nilai tota l M E-E = nilai total M E-E + + = nilai kecil (saling menghapus) Dari uraian tersebut diatas terlihat bahwa bentuk pelengkung itu akan memperkecil nilai momen.1.h1 Gambar 4.6. 4.5.b1 = 0 (1) .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -86- Bidang M. Gambar nilai I = V A.1. P1 S1 hB HB a1 A HA b1 B VB hA Mencari Reaksi Perletakan S Ada 2 (dua) cara pendekatan penyelesaian untuk mencari reaksi. Pendekatan 2 : Jika V A dan V B dicari dulu baru H A dan H B kemudian a b Gambar 4.3. (hA-hB) ƛ P1.x1 ƛ ½ q x1² + Bidang M + Gambar nilai II = H A.1.3. Skema gaya dan jarak pada pelengkung (pendekatan 1) Pendekatan 1VA HA dan V Al dicari dengan persamaan 7 MB = 0 dan 7M S = 0 (bagian kiri) (2 persamaan dengan 2 bilangan tak diketahui) Gambar (a) 7M B = 0 V A.

hA ƛ P1.a ƛ HA.S 1 = 0 (bagian kiri) (2) .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -87- 7M S = 0 V A.

masing -masing menuju ke arah perletakan yang lainnya menjadi Ab ¸ dan ¹ Ba B Dengan arah Ab yang menuju perletakan B dan . HB dan V B dicari dengan persamaan 7M A = 0 dan 7M S = 0 (bagian kanan) 2 persamaan dengan 2 bidang tidak diketahui (3). h B ) = 0 (bagian kanan) Dari persamaan (3) dan (4) maka V B dan H B bisa dicari.a1 = 0 7 M S = 0 V B . Pendekatan 2 P1 S S1 f a Ba Reaksi horizontal H A dan HB ditiadakan kemudian arahnya diganti.H B .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -88- Dari 2 persamaan tersebut diatas yaitu (1) dan (2) maka V A dan H A bisa dicari.l + HB (hA ƛ hB) ƛ P1.l . (4). 7M A = 0 VB.

b1 = 0 Pb Av = 1 1 l (1) y Mencari reaksi Bv 7 MA = 0 Bv. b Ba = dengan memasukkan nilai Bv dari f Lihat posisi Ba dan Ab dan Ab ( ¸) merupakan reaksi yang arahnya miring Ba ( ¹) Ba cos E Ba E Ab sin E Ba sin E Ab .b ƛ Ba .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -89- y Mencari reaksi Av 7 MB = 0 Av.S1 ƛ Ab . a  P1S1 dengan memasukkan nilai A v dari Ab = f persamaan (1).l ƛ P1. f = 0 Bv .a ƛ P 1.l ƛ P1. Bv. a1 = 0 Pa Bv = 1 1 l (2) y Mencari reaksi Ab 7 MS = 0 (bagian kiri) Av. maka nilai Ab bisa dicari. f = 0 Av . y Mencari reaksi Ba 7 MS = 0 (bagian kanan) persamaan (2) maka nilai Ba bisa dicari.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -90- Kedua reaksi ini harus gaya dan diuraikan gaya menjadi vertical yang horizontal Ab diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu : Ab cos E( ) merupakan uraian horizontal dan Ab sin E(µ) merupakan uraian vertical sedang. ( ´) Ba cos E = HB pada cara pendekatan 2 yaitu merupakan reaksi horizontal di B. (³) dan : VA (µ) = Av ( µ) + Ab sin E (µ) pendekatan 2 gambar (b) dan Pendekatan 1 gambar (a) VB (µ) = Bv (µ) + Ba sin E (¶) pendekatan 2 gambar (b) Pendekatan 1 gambar (a) . Ba juga diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu : Ba cos E (³) merupakan uraian horizontal dan Ba cos E (¶) merupakan uraian vertikal. y Bagaimana dengan komponen -komponen itu selanjutnya ? Ternyata : Ab cos E = HA pada cara pendekatan 1 yaitu merupakan reaksi horizontal di A.

seperti pada gambar (4.9 disamping.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -91- 4. Gaya dalam untuk balok diatas 2 perletakan Bagaimana dengan bidang gaya dalam pada pelengkung ?.8). x ƛ ½ q x² . gaya-gaya dalam yang ada pada suatu balok adalah gaya dalam momen (M). y HA = konstan nilainya y = jarak titik dasar ke pelengkung S y A HA VA Gambar 4. x. II II = HA . x q kg/mƞ Lihat pada gambar 4.b l RA + Bidang D RB Gambar 4. merupakan nilai konstan Dx = R A (x A a RA l Bidang + b P.9 Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata HB B VB .2. Mencari Gaya-gaya Dalam Seperti telah diketahui sebelumnya. (x dari 0 ke a) linear dan bidang D dari 0 ke a).a.3 Gambar (c). x P Untuk balok yang lurus. maka Mx = V A .1. bukan pelengkung. Jika x adalah titik yang ditinjau bergerak dari A s/d B.1. x ƛ ½ q x² gambarnya adalah parabola seperti pada I sub bab 4.8. y I = VA .2. maka dengan mudah B kita menggambarkan bidang momennya (Bidang M) dan bidang gaya lintangnya (Bidang D).3. RA Karena bidang M merupakan fungsi x Mx = RA . dimana suatu pelengkung 3 sendi dibebani beban terbagi rata q kg/mƞ.HA . gaya lintang (D) dan gaya normal (N).

10.y gambarnya juga parabola 4 fx ( l  x ) l² Jadi Mx = I ƛ II merupakan penggabungan 2 parabola yaitu parabola I dan II yang tidak mudah penggambarannya !. Posisi sumbu batang adalah merupakan garis singgung dimana titik x berada. Gaya vertical dan horizontal disuatu titik pa da pelengkung 3 sendi Bagaimana nilai Dx dan Nx ? gaya-gaya tersebut Vc dan Hx harus diuraikan ke gaya -gaya yang B (tegak lurus) dan // (sejajar sumbu) Dimana posisi sumbu batang?.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -92- y adalah merupakan persamaan parabola dari pelengkung. x (jumlah gaya -gaya vertikal di x kalau di hitung dari bagian kiri) Hx = H A HA VA HB VB Gambar 4. Garis singgung tersebut membentuk Garis singgung di x sudut E dengan garis horizontal. * Bagaimana dengan bidang D (bidang gaya lintang) Kita lihat titik dimana x berada di situ ada x Hx S Vx Vx dan Hx. Vx = V A ƛ q . dimana pada umumnya persamaannya adalah : y = II = HA. maka Vx dan Hx harus diuraikan ke E .

( Vx sin E Hx cos E   Kedua gaya ini menekan batang tanda (-) Dari uraian tersebut diatas kalau kita mau menggambar bidang D (gaya lintang) atau bidang N (gaya normal) akan mendapat kesulitan .11. Karena setiap letak x berubah garis singgung akan berubah sudutnya dan nilai E akan berubah lihat gambar bawah. maka Dx = Vx cos E Hx sin E Jumlah gaya dari kiri bagian arah ke atas tanda (+) Jumlah gaya dari kiri bagian dengan arah ke bawah tanda (-) Nx = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -93- Hx sin E Vx sin E E Vx cos E Vx Hx E Hx cos E * Uraian Vx ke garis singgung singgung * Uraian Hx ke garis Gambar 4. x cos E = . Uraian Vx dan Hx pada sumbu batang Dx = jumlah komponen yang B garis singgung Nx = jumlah komponen yang // garis singgung. Garis singgung Garis singgung E x di sebelah kanan titik puncak .Vx sin E.

D) ataupun bidang normal (Bid. nilai gaya lintang. .12. Namun biasanya yang ditanyakan adalah besarnya nilai momen.13. bidang gaya lintang (Bid. Mc. dan nilai gaya normal di salah satu titik di daerah pelengkung tersebut. S Ec C yc f=3 m A H 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -94- Gambar 4. Dc dan Nc Dimana c terletak sejarak x c = 2. Contoh Penyelesaian Contoh 1 3 t/mƞ Diketahui : Pelengkung 3 sendi dengan persamaan 4fx(lt  x ) parabola y = l² y = jarak pelengkung dari garis horizontal dasar x = aksis yang bergerak secara horizontal dari A ke B l = bentang pelengkung f = tinggi pelengkung H B Pelengkung tersebut dibebani secara terbagi rata q = 3 t/mƞ. Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata Dintanya : Nilai VA. M).5 m dari titik A. Perubahan arah garis singgung Biasanya yang ditanyakan dalam struktur pelengkung bukanlah bid ang momen (Bid. N).5 m xc VA 5m VB 5m Gambar 4. H. VB.

di A ada V A dan H dan di B ada V B dan H Reaksi horizontal di A ditulis H buk anlah H A demikian juga. (5)² = 0 H= V .Xc² = 15 . 3 ƛ ½ q . Sudut Ec B Menentukan nilai Ec y= Ec lintang Untuk mencari gaya lintang maupun gaya normal pada potongan x. 5.H .10 = 15 ton ( o) VB = 15 ton (o) y Mencari ordinat titik c guna mencari Mc dengan persamaan parabola y = 4 fx ( l  x ) l² untuk x = 2.q (5)² 15.yc ƛ ½ . 2.25 m 10² y Mencari Mc (momen di titik c) dihitung dari kiri c Mc = VA .3.3. l ƛ q. 2.q. 3 . ½ l = 0 VA = ½ .5 ton 3 3 VA .5m Gambar 4. reaksi horizontal di B ditulis H bukanlah H B (HA) dan di B (H B) adalah sama.5  1 / 2 . ½ l = 0 VB .5 ƛ 12. 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -95- Jawab : Lihat notasi reaksi yang ada di perletakan A dan B. l ƛ q.14.25 ƛ ½ .5² = 0 (nilai momen = 0) y Mencari gaya normal dan gaya Hc Vc A 2.5 .Xc ƛ H.5 m yc = 4. 3 . 25 ! ! 12.2.l.5) ! 2. maka 4 f x (l  x ) 4 f (l  2 x   y' ! l² l² . yang berarti reaksi horizontal di A HA = HB kenapa ? dengan mengacu bahwa 7H = 0 maka H A = HB = H dimana beban luar secara horizontal tidak ada Mencari V A dan VB 7 MB = 0 7 MA = 0 mencari H 7 Ms = 0 (kiri bagian dari S) VA . l.5  1 / 2.5 (10  2.

5m xp=2m C P=6t yp HA yc f=3 m HB Diketahui : S Pelengkung 3 sendi dengan persamaan 4fx(l  x ) bentang l = 10 m parabola l² dan tinggi f = 3 m persis seperti pada contoh 1.(Vc. hanya beban luar yang berbeda yaitu P = 6 ton ( ) horizontal . Dc = 0.5145 + 12.5 ton ( o) Hc = H = 12.4312 ƛ 6.(7.5 .5774 ton Dari Mc hasil = nilai gaya dalam tersebut tampak bahwa nilai 0.5 .15.x = 15 ƛ 3.5145 = 6.2.5 = 7. 0.8575) = . Vc = VA ƛ q. 0. Uraian gaya Vc dan Hc Nc = . Contoh 2 xc=2.14.5 .5 ton ( ) Dc = Vc cos Ec ƛ Hc sin Ec = 7.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -96- kita perlu mencari sudut Ec yaitu sudut yang terbentuk antara garis singgung di titik c dan garis horizontal.5 . Nc = -14. 0.8575 ƛ 12.sin Ec + Hc cos Ec) = .4312 = 0 Hc sin Ec Ec Vc sin Ec Ec Vc cos E c Vc Hc Hc cos Ec Gambar 4. 0.5774 ton. jadi ini jelas bahwa struktur pelengkung ditekankan menerima gaya tekan.

Gambar pelengkung 3 sendi pada contoh soal .16.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -97- Gambar 4.

92 = 0 VB .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -98- Jawab : Karena ada beban horizontal maka H A { HB Mencari V A dan V B Untuk mencari VA dan VB perlu tahu tinggi yp untuk Xp = 2 m 4.76 ƛ HA .6 . ½ l ƛ H B .P. 1.76  6. l .yp = 0 VA . 1.5.152 .92 = 0 (cocok) .08 ƛ 1.2 (10  2) ! 1.1. 10 .92 ton ( n)  5.yp = 0 VB .92 m Yp = 10² 7 MB = 0 VA . 1. 5 ƛ HA . 5 ƛ HB .48 ! 4.08 = 0 HA = 7 M S = 0 (kanan) 7 MS = 0 VB .92 = 0 VA + VB = 0 cocok VA = -1. l + P. 10 + 6 . 3 = 0 HB = 1. 3 ƛ 6 (3 ƛ 1. f = 0 1.152 .152 ton ( q) 7 MA = 0 VB = + 1.152 ton ( o) 7v=0 Mencari H A dan HB 7 M S = 0 (kiri) 7 MS = 0 VA . 3 ƛ 6 . f ƛ P ( f ƛ yp ) = 0 . ½ l ƛ HA .3.92) = 0 .08 ton (n) 3 Kontrol 7H = 0 P + HA + HB = 0 6 ƛ 4.

2.08 = 1. cos E = 0.152 .8575 ƛ 1. Dc dan Nc Seperti pada contoh 1 yc = 2. 2.8575 Mc = .92 ( ) 0. Distribusi Vc dan Hc Vc Vc cos E Ec Hc sin Ec Ec Hc cos Ec Vc = 1.152 .92) = -1.17.5145.V A .Xc + HA .18 ƛ 1. yc ƛ P (yc ƛ yp) C P=6 t yc HA VA Ec Mc 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -99- Mencari M.25 ƛ = .Vc cos Ec ƛ Hc sin Ec = -1.32 tm VB Hc C Hc Vc P Vc sin E HA VA Gambar 4.5 + 4.92 .152 ton ( q) Hc = 6 ƛ 4.2. 25 ƛ 6 (2.98 HB = 4. = -1.5145 Dc = .25 m Ec = 30.96° sin Ec = 0.9757 ton Nc = + Vc sin Ec ƛ Hc cos Ec .88 + 9. 0.08 .

92 . Dc f=4 m sendi ABS dengan beban = 3 t/mƞ sepanjang dan P = 4 ton horizontal m dari A. 0.5145 ƛ 1. Dc f=3 m A HA B Persamaan Parabola : y= 2). HB. 0. 2m HB 2m VA 4m 4m VB Ditanyakan : VA. Nc. VB.4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 100- - = 1. HA. 4 f x (l  x ) l² q=3 Suatu pelengkung terbagi rata q setengah bentang terletak di sejarak 2 S Ditanyakan : VA. Mc. Mc. VB. c P = 4t A HA HB B Persamaan parabola : y = VB 4 f x (l  x ) l² Xp=2 m VA Xc=3 m 5m 5m .8575 = .1. q=2 P = 6t c S Suatu pelengkung 3 sendi ABS dengan beban terbagi rata q = 2 t/mƞ sepanjang setengah bentang. Nc. Latihan Untuk mempraktekan teori -teori yang ada diuraian depan. maka perlu diadakan suatu lat ihan sebagai berikut : 1). HA.0537 ton 4.1. dan P = 6t vertical terletak sejarak 2 m horizontal dari B.152 . HB.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 101- - 4. Penutup Untuk mengukur prestasi. mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban darsoal -soal tersebut diatas sebagai kontrol.8 o o p n .5 ton 6. 4. o Struktur tersebut masih merupakan struktur statis tertentu yang bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan.5.667 ton 2.25 m 0. 1 Keterangan Titik N ilai Arah / Tanda Reaksi Vertikal A B Reaksi Horizontal A B Data Pendukung yc yƞ Sin E Cos E 7. o Yang biasanya dicari dalam struktur pelengkung adalah nilai momen.6.6 0. gaya lintang dan gaya normal di salah satu titik.1.5 ton 4. bidang ga ya lintang dan bidang normal tidak dihitung karena penggambarannya cukup kompleks.667 ton 4. Rangkuman o Pelengkung 3 sendi adalah struktur jembatan yang dipergunakan untuk penampang sungai yang mempunyai dasar cukup dalam. Soal No.75 0.1. Sedang bidang momen.

64 0.5625 tm ~0 5. Soemono ƠStatika Iơ ITB. bab 4.9675 ton 5. 2 Keterangan Titik N ilai Arah / Tanda Reaksi Vertikal A B Reaksi Horizontal A B Data Pendukung yc yƞ Sin E Cos E Momen Gaya Lintang Normal C C C 10.8336 ton (-) (-) Soal No. Senarai Pelengkung sendi : struktur pelengkung di suatu jembatan dimana salah satu sendinya (selain perletakan). Suwarno ƠMekanika Teknik Statis Tertentuơ.36 m 0.8. UGM.226 ton 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 102- - Momen Gaya Lintang Normal C C C 0. berfungsi supaya pelengkung tersebut menjadi statis tertentu. Daftar Pustaka 1.842 7.3672 tm 2. .1.6854 (+) (-) (-) o o p n 4.539 0.1.774 ton 1.9675 ton 3.184 ton 5.7. bab 2.

Garis Pengaruh Reaksi x P S G.2. b ƛ H . V A dan V B (garis pengaruh reaksi di A dan B) P berjalan dari A ke B. gaya lintang) pada suatu titik dipelengkung tersebut perlu adanya garis pengaruh.3 Prinsip penyelesaian.2. 6 MA = 0 VA H l a G.2.P V B VB = Px l f H b VB VB Untuk P di A .2. Garis pengaruh V A. Garis Pengaruh Pelengkung 3 Sendi 4. ton (di persamaan atas V B = l f Gambar 4. x = 0 1t Untuk P di B .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 103- - 4. b l . 4. Pengertian Dasar Pengertian tentang garis pengaruh pada pelengkung 3 sendi sama dengan pengertian garis pengaruh pada balok menerus. x = 0 Untuk P di B . 4. x = l VB = 0 V B = 1 ton 6 MB = 0 VA = P (l x) ton (linier) l V A = 1 ton VA = 0 (+ G.2. b f VA . a . x = l G.f Untuk P di A . Untuk mencari besarnya gaya dalam (momen.P. f = 0.18.P. H P. VB .1.P VA (+) 1t G.H (Garis Pengaruh reaksi horizontal) HA = HB (karena beban hanya vertikal) Jika P berjalan dari A ke S (li hat bagian kanan S) 6 MS = 0 H= VB . a. yaitu besarnya reaksi atau gaya -gaya dalam disuatu tempat yang diakibatkan muatan berjalan sebesar satu satuan muatan. V B dan H Px ) l . a f Px b . b = f V B .P. Pendahuluan Seperti pada balok diatas dua perletakan. s truktur pelengkung 3 sendi difungsikan sebagai jembatan yang mana diatasnya selalu ada muatan yang berjalan.

maka lihat kiri potongan (kiri C). u dan V B . a .f = 0 a H = VA .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 104- - Untuk P di A . x = l Untuk P di S .b ton H= l . M C (Garis Pengaruh Momen dititik C). f ton H= 6 MS = 0 VA .P.H .P.P. bagian I (+) P . M C = VA . a .f G.f Jika P berjalan dari S ke B (lihat bagian kiri S): H. c I II (dibagi menjadi dua bagian I dan II) u VA c A H a f VB P dikiri potongan C (dari A ke C) lih at kanan potongan.f v G. x = a p H = P.b c l . a - P ( l  x ) a ton f l dipusatkan VA = P (l  x ) l Untuk P di B . B H b MC = VB . x = 0 p H = 0 Untuk P di S .P. R l C u VA VB Bagian II H.C = G.b ton l. M C pada balok di atas dua perletakan l G. v . M C Garis Pengaruh Total (M C) sama dengan jumlah dari garis pengaruh bagian I dan bagian II (+ (-) . v sama dengan G. c I II (dibagi menjadi dua bagian I dan II) Bagian I VA . bagian II (-) Untuk P di C maka M C = P . H x C v P.H . u .v l G. Jika P berjalan di kanan Potongan C (dari C ke B). u . x = a H=0 P.P. a.P. u .

sehingga: NC = . Gambar GP. N dan D Jika P berada dikanan C (lihat dari A ke C) H a l G.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 105- - Gambar 4.P.19. HC = H H cos H D diuraikan E menjadi gayaD gaya yang Sin sejajar ( // ) H sin dan tegak lurus VA yaitu H cos D dan H sin D.) v sin E H b l GP VB sin GP.Mc C.P.P. Garis Pengaruh Gaya Lintang (D) dan N ormal (N) u VA S C VA D H f V C = VA HC = H VA sin D VA diuraikan VB menjadi gaya VA cos D D yang sejajar C ( // ) dan ( ^ ) garis B singgung di C.(VA sin D + H cos D ) I II DC = VA cos D . Gaya normal perlu dikalikan sin D dan untuk G. V A Sin D D GP NC Bagian II () P. VA sin D dan V A cos D.f . b cos E l . a .H sin D I II I -> identik dengan G.P. NC bagian I Q sin E l (+) ( .P Gaya Lintang perlu dikalikan cos D v G. Gaya Lintang balok diatas 2 perletakan untuk G.

P. Gaya lintang G. D C a b sin E l. Gaya normal perlu dikalikan cos E dan untuk GP.b cos E l . NC v cos E l perlu dikalikan cos sin E (-) (+) VB cos E v cos E l Mencari N ilai E Persamaan parabola VA cos E GP. f Gambar 4. G.f identik dengan garis pengaruh gaya horizontal (H).DC bagian II  y= yƞ = 4fx (lt  x ) l² 4f ( lt  2 x ) l² - Pab sin E lf u cos E l GP DC Total (I + II) Mencari nilai E Persamaan parabola 4 fx ( l  x ) y= l² 4f ( l  2 x ) l² Untuk nilai x tertentu E bisa dicari y' = (-) v cos E l.P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 106- - v sin E l GP NC Total ( I dan II ) II (-) a . Garis pengaruh gaya lintang (D) dan gaya normal (N) . untuk GP.20.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 107-

-

1. Contoh Soal x C P S EC

Diketahui : suatu pelengkungan 3 sendi seperti pada gambar dengan persamaan parabola:

4 fx ( l  x ) l² Ditanyakan : G.P reaksi dan G.P. Nc dan Dc Y= f =3 m Jawab : H B VB GP V A § MB = 0 P (l  x) lx ton = ton VA = l l Untuk P di A x=0 VA = 1 ton Untuk P di B x=l VA = 0 G.P. V B § MA = 0 Px x VB = ton ! ton l l 1tUntuk P di A Untuk P di B x=0 x= l VB = 0 VB = 1 ton

A VA 2.5 m

H 5m l G.P. VA 5m

1t

(+) G.P. V B t (+) G.P. H (+) 5/6

G.P. H P berjalan antara A - S (lihat kanan S) § MA = 0 § MS = 0 VB = VB
Px x ! l l

Gambar 4.21. GP VA; VB dan H dari pelengkung 3 sendi

1 l - H.f = 0 2 VB . 5 - H. 3 = 0 H= VA . 5 3 ( l  x ) 5 (10  x ) 5 H= . ! t l 3 10 3 Untuk P di B x = 10 H=0t Untuk P di S x=5 H= 105 5 5 5 5 ! t . ! 10 3 10 3 6  .a.b 1.5.5 5 Atau H = ! ! t l. f 10.3 6

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 108-

-

C

S i VA cos E

VA VA sin E EC VC = VA HC = H

A G.P. NC Bagian I (+ 0.3858 0.1286 t (-) G.P. NC Bagian (-)
0.714 t

B H cos E EC H sin E NC = - (VA sin E + H cos E) I = VA cos E - H sin E I II II

DC G.P NC 0.5144 t ( -) 0.9712 (-) 0,2143 Bag.I (+) G.P.D C

Mencari nilai EC 4 f .x (l  x ) 4.3 (10  x ) ! Y= l² 10² 4 f ( l  x ) 4 . 3 x (10  2 x ) ! l² 10² 4.3 (10  5) 60 3 Untuk x = m y' = ! ! 100 100 5 y' =3/5 = arc tg EC EC = 30.96º sin E = 0.5145 cos E = 0.8575 .G.P. NC NC = - (VA sin E + N cos E) Y' = I I untuk P di C II x = 2.5 m VA = ¾ t VB = ¼

0.643 1 G.P. DC bag. II (-) 0.42875

(-)

G.P. D C 0.4286

I

t VA sin E = ¾ . 0,5145 = 0,3858 VB sin E = ¼ . 0,5145 = 0,1286 II H cos E Untuk P di S H cos E = 5/6 . 0,8575 = 0,714 G.P. D C DC = V A cos E - H sin E Untuk P di C x = 2,5

0,428 8 Gambar 4.22. GP Nc dan Dc pada pelengkung 3 sendi

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 109-

-

4.3.

Muatan tak langsung untuk pelengkung 3 sendi

4.3.1. Pendahuluan Seperti pada balok menerus, pada pelengkung 3 sendi ini pun terdapat muatan yang tak langsung. Pada kenyataannya tidak pernah ada muatan yang langsung berjalan diatas gelagar pelengkung 3 sendi, yang melewati diatas pelengkung 3 sendi harus melalui gelagar perantara. Gelagar perantara Kolom perantara Pelengkungan

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 110-

-

S

Gambar 4.23. Gelagar perantara pada pelengkung 3 sendi

4.3.2. Prinsip dasar Prinsip dasar penyelesaiannya sama dengan muatan tak langsung pada balok. Muatan akan ditransfer ke struktur utama, dalam hal ini pelengkung 3 sendi, melewati gelagar perantara dan kemudian ke kolom perantara.

q = kg/mƞ

a

P

b

q kg/mƞ P

R1 R1

R2 R2

R3 R3

R4 R4

R5 R5

R6 R6

S

P

P

P L =5P

P

P

. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 111- - . ½ P + (b/P ). . . (a). Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi 1t 1t q = 1 t/mƞ 2 3 S 4 a a5 6 . P R4 = a P P R5 = R6 = 0 Gambar 4. transfer beban lewat perantara P q = kg/mƞ R1 P R2 P R3 R4 a P b R5 P P R6 (c) Perhitungan nilai R (beban yang ditransfer) R1 = q . .24. ½ P = ½ q P R2 = q . P = qP = ½ qP + (L/P )P R3 = q . Kondisi pembebanan kolom (b).

Pada Suatu konstruksi pelengkung 3 sendi dengan muatan tak langsung seperti pada gambar.Xc-R2. Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi 4. R3. .e-HA. sin E + Hcos E) Dc = Vc.4.Hc sin E Vc Vc cos E Vc sin E Ec C Hc cos E C Hc Hc sin E G ambar 4.Yc Nc = -(Vc . Beban dipindahkan ke pelengkungan melalui gelagar. Menjadi (R1.e-HA.5 ton R5 = 1.5 ton a R1 R2 C R3 S e . . Garis pengaruh gelagar tak langsung pada pelengkung 3 sendi 4. . .4. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 112- - Contoh. Muatan Tak Langsung Pelengkung 3 Sendi.qton R5 R6 Vc = Av ƛ R1 R4 = 0.25. . R4 Yc HA VA HB VB Hc = H Mc = VA. R4 dan R5) b R2 = R3 = ½ P.Xc-R2. Cos E . Pendahuluan .Yc Vc = VA. Prinsip penyelesaian sama dengan muatan tak langsung pada balok sederhana diatas 2(dua) perletakan. .1. R2.

4.5P . Jika letak . langsung y1 y2 Beban tersebut selalu ditransfer ke gelagar lewat titik C dan D dengan C D I nilai P1 dan P2. 2.2. P .25P 15 ! P puncak adalah 4P 8  Kalua gelagarnya tak langsung.33  Gambar b adalah gambar garis pengaruh mome n dipotong I (GP M I) untuk gelagar langsung dengan puncak dibawah potongan I.33 A C I D E B y1 y y2 + C P1 I D P2 GP M I gel. Garis pengaruh momen di potongan I untuk gelagar langsung P 54. Seperti garis pengaruh pada gelagar tak langsung diatas-atas 2 tumpuan.33 P 54.N. transfer beban hanya disalurkan lewat kolom perantara. P . P .5 P .Y2). (1 ton. Kalau muatan berada diatas gelagar C ƛ D beban tak penuh melewati tepat pada potongan I P P 54. Jadi ordinat yang bawah titik I adalah (P1. atau 1 kg atau Newton) . karena potongan I tersebut terletak diantara gelagar lintang C dan D.33 P 54.Y1 + P2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 113- - Seperti biasanya pada sutau jembatan tentu selalu dilewati muatan yang berjalan diatasnya. Beban standart yang dipakai adalah muatan berjalan sebesar satu satuan. A C I D E ½ ½ P P + 1.4. P . dengan ordinat 1. untuk itu garis pengaruh selalu diperlukan untuk mencari reaksi atau gaya-gaya dalam (M. Prinsip Dasar Sama seperti pada balok diatas gelagar tak langsung 2 tumpuan.5 P 15 ! P P 8 GP M I untuk gelagar langsung Gambar 4. B Bagaimana garis pengaruh momen dipotongan I pada gambar dengan gelagar tak langsung (gambar a). maka kalau diperhatikan beban tak pernah lewat diatas potongan I.D) disuatu ttitik pada gelagar tersebut.26.

Garis pengaruh m omen di potongan I untuk gelagar tak langsung potongan I ditengah -tengah C-D maka ordinat dibawah potongan I adalah ½ y 1 + ½ y2 C I D y1 y2 ½ y1 + ½ y Jadi garis pengaruh untuk gelagar tak langsung sama dengan garis pengaruh pada gelagar langsung dengan pemotongan puncak dipap ar dimana titik tersebut berada. Gambarkan Garis pengaruh Mc . Contoh Suatu struktur pelengkug 3 sendi dengan gelagar tak langsung seperti pada gambar.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 114- - GP. Pemaparan pada gelagar disebelah kiri dan kanan dimana titik berada seperti pada gambar d. M I gel. tak langsung ½ y1 + ½ y Gambar 4. Dc dan Nc .27.

H sin E Cos E P.Y l I + pemaparan GPMc bagian II pemaparan P.a .f G. Untuk garis pengaruh gelagar tak langsung.5.Nc = . Cuma dipapar pada bagian gelagar yang bersangkutan.b yc l.b sin E lf pemaparan Gambar 4. GP Mc = V .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 115- - Penyelesaian.Dc = Av cos E .a . .P. Judul : Portal 3 sendi 4.a .b cos E lf pemaparanG.yc A  ] II I .Q.(Av sin E + H cos E ) pemaparan Sin E pemaparan P.x  H. S .a. b GPMc bagian I P.Q. f H R VB H VA Q . Pendahuluan .P. Mc total (bag I + bag II) - II + P.b yc l. C yc . Pen yelesaiann ya sama dengan beban langsung.P.f G. a . 4.5.Y l P. 28.1.

29.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 116- - Bentuk dengan suatu struktur adalah bermacam-macam. Kalau dibagian sebelumnya ada struktur pelengkung 3 sendi.5. maka bentuk lain dari struktur tersebut adalah portal 3 sendi sepeti tergambar dibawah ini S A B Gambar 4. bisa berupa balok menerus.2. Prinsip Dasar Prinsip dasar penyelesaian nya sama dengan pelengkung 3 sendi yaitu memakai 2 pendekatan Pendekatan I . balok gerder. pelengkung 3 sendi dan gelagar lainnya. 4. Bentuk portal 3 sendi Portal 3 sendi adalah suatu penyederhanaan sederhana dari pelengkung 3 sendi supaya penyelesaiannya lebih sederhana dan tidak perlu memakai gelagar yang tak langsung.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 117P1 S a1 a2 - S2 P1 P2 b1 b2 B VB h' HB h h A VA HA a L b Gambar 4. Arah reaksi -reaksi dari portal 3 sendi untuk penyelesaian dengan cara pendekatan I Prinsip penyelesaiannya sama den gan pada pelengkung 3 sendi yaitu memakai 2 pendekatan. b1 ƛ P2 .hƞ ƛ P2 .l + HA. S 2 = 0 VB dan H B dapat ditentukan (dari kanan) 7 MB = 0 7 MS = 0 (dari kiri) VA.l + HB.l + HB. Pendekatan I 2 cara seperti pada pelengkung 3 sendi.hƞ ƛ P 1 . 7 MA = 0 7 MS = 0 VB. (h ƛ hƞ) ƛ P2 .h ƛ P 1 . a1 = 0 VB. b2 = 0 VA.30. S1 = 0 VA dan H A dapat ditentukan Pendekatan II .a + HA. a2 ƛ P1 .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 118P1 P1 P 2 S - S1 a1 a2 S S2 b1 b2 B BV h' BA h h A AV AB a b L P1 S P1 fƞ ff ƞ B BA BV A AV AB a b L Av ƞ A AB HA HB BA B Bv Ɲ Gambar 4. Arah reaksi portal 3 sendi dengan cara pendekatan II .31.

f ƞ Bv. b 2 = 0 Av = P1. S 2 ƛ BA .l ƛ P1 .a 1  P2 . f Ɲ AB dan B A diuraikan HA = AB cos E HB = BA cos E Av Ɲ = A B sin E Bv Ɲ = B A sin E Maka : VA = Av + Av Ɲ VB = Bv ƛ Bv Ɲ HA = AB cos E HB = BA cos E Contoh . S 2 f Nilai BA . b 1 ƛ P2 . b  P2 . f = HB . S1 AB = Av f 7 MS = 0 (kanan) HB .b1  P2 . a2 = 0 Bv = P1.b ƛ P2 .a ƛ P1 .a  P1 . f = HA . f ƞ Av.b 2 l 7 MA = 0 Bv. f = 0 . a1 ƛ P2 .l ƛ P1 . S 1 ƛ AB . f = 0 BA = Bv .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 119- - Cara 2 7 MB = 0 Av.a 2 l Nilai A B . f Ɲ 7 MS = 0 (kiri) HA .

1 = 0 Av.q .3 . P =1 Penyelesaian. 2/6 = 0.5 ± 4.4333 ( o) q  2t/m' S C 20  9 ! 4 5 / 6 ton 6 MS = (dari kiri) Av .1 = 0 BA 2m HA Av HB 3m 3m Av = 27  4 ! 5 1 / 6 ton 6 B 7 MA = 0 Av.4333 ( q) Bvƞ = 0. 1. 4. 1.5 = 0 Bv Av.3 . 3 . 38 ! 1.5 - P.5 . 3 . 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 120- - Suatu struktur portal 3 sendi seperti pada gambar . Skema reaksi yang terjadi dalam portal 3 sendi HA = 1. m P1 q  2t/m' S 4t Memakai pendekatan 2 D C 7 MB = 0 4m 5m (fƞ) AB B Av.5 ± 2.l ± P.3 ton .l ± q .32.6 ± 2.5 = 0 Bv Ɲ HB = 4 5/6 .3 .5 = 0 Bv = HA E AB Av Ɲ BA E HB Gambar 4.6 ± 4. 4. tg E Avƞ = 1.5ƛ HA. 3ƛ2. selesaikanlah struktur tersebut.3.3 ton Avƞ = H A .

3t 4.2666 t .7334 + 5.4333 m = 4 5/6 + 0.2666 t Kontrol : 7 Kontrol : 7 V =0 6 + 4 = 4.4333 = 4.7334 t VB = Bv + 0.7334t 1.n 5 VA = Av ƛ Avƞ = 5 1/6 ƛ 0.3t B B 5.2666 4t P1 D H =0 H A ( ) = H B (n ) A A Pusat 1.4333 = 5.

3667 ƛ ½ .1 H B. 4 + 4.2 tm Mmax teletak di D = 0 x = 2. q (x²) .2 + 11.3 t Gambar 4.32.3 t 1.60127 5.5334 tm Bidang D (gaya lintang) Daerah A-C Daerah C-D D = -HA = -1. 6 = -1.3.7334 ƛ 6 = -1.3 .2666 tm N = -V B = N = -HA = -HB N = -VA .7334 .40127 tm (M max) MD = -HB .3 t = .C A x 4.6 = 5.2666.2666 tm Daerah B-D D = -HB = -1. N.3 t 1.7334 t + 4 + BIDANG D BIDANG M B 1.5.7334 t BIDANG N - Di S 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 121Bidang M (momen) - 5.2666 t = 0.1 ƛ 7.8 1. D portal 3 sendi Bidang N (gaya N ormal) Daerah A-C = -4.2. 2 (2.2666 t Mx = -1.3t Dx = VA ƛ qx 1.8 tm - Mc = -HA .3667 ƛ ½ .3667 m (daerah cs) x = 2. 2.3 ton Daerah B-D 5.3 .8 tm Momen dibawah beban P MP=VB.2 tm - S D 7.7334 ton Daerah C-D = -1.3667)² = -5.7.4 = . Bidang M.3667 Mx = -HA .3 t 4. 4 + VA . 2. 6 = .2666 t x=3m Ds = 4. 4 = -1.20254 ƛ 5.

Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi menjadi 2 bagian S RS1 (b ) - Prinsip penyelesaian dasar seperti pada Balok gerber biasa. maka untuk memperpanjang bentang.1. . Prinsip Penyelesaian Dasar S1 C R S1 R S1 - Dipisahkan dulu struktur gerber tersebut menjadi 2 ba gian.6.6. dibuat balok gerber dari portal 3 sendi dengan skema struktur seperti pada Gambar (a).2. 4. Pendahuluan Seperti pada balok menerus diatas 2 perletakan. - Harus pula diketahui mana struktur yang ditumpu dan mana pula struktur yang menumpu. - Struktur yang ditumpu diselesaikan dulu dan reaksinya merupakan yang Gambar 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 122- - 4. JUDUL : BALOK GERBER PADA PORTAL 3 SENDI 4. S S1 C (a) S = sendi dari portal 3 sendi S1 = sendi gerber A B RS1 C Rc Gambar 4.34.6. dimana kedua-duanya harus merupakan S konstruksi statis tertentu. Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi beban pada struktur menumpu.33.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 123- - 4. Contoh Penyelesaian P1 S S1 C GERBER PADA PORTAL 3 SEN DI q t/mƞ S = sendi portal S1 = sendi gerber A B Penyelesaian dengan prinsip balok gerber P1 sama pada Balok S 1-C merupakan struktur yang ditumpu dari portal 3 sendi RS1 q t/mƞ S RS1 A B S. Pemisahan struktur gerber portal 3 sendi Penyelesaian kedua struktur tersebut. . merupakan struktur yang menumpu.35. baik S 1-C maupun A B S 1 diselesaikan seperti biasanya. RC HA A HB B VA VB Reaksi R S1 pada struktur S1-C merupakan beban pada struktur portal sendi A B S 1.3. Baik struktur S 1-C ataupun struktur A B S 1 kedua-duanya merupakan struktur sta tis tertentu Gambar 4. termasuk penyelesaian gaya -gaya dalamnya.6.

bahwa jembatan gerber pelengkung 3 sendi selalu dimuati oleh suatu kendaraan yang berjalan. Jadi untuk menghitung besarnya reaksi.7. maka RS 1 dan Rc di struktur S 1C tidak ada. (a) S S1 C Seperti pada gambar (a) dan (b) struktur S. namun S1 C sebaliknya jjika muatan berada diats S1C maka reaksi-reaksi di struktur ABS 1 ada. Garis Pengaruh Gerber Pada Portal 3 Sendi 4. besarnya momen serta gaya lintang disuatu titik memerlukan suatu garis pengaruh. Contoh Penyelesaian .1.C adalah yang ditumpu sedang struktur ABS 1 adalah struktur yang menumpu Kalau A B muatan berada diatas struktur ABS1. Prinsip Dasar Untuk menghitung garis pengaruh tersebut perlu diketahui mana struktur yang ditumpu dan mana yang menumpu. Pendahuluan Seperti biasanya. 4.3.7.7. Pemisahan struktur pada gerber portal 3 sendi 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 124- - 4. S (b) B GA ambar 4.2.7.36.

Garis pengaruh pada gerber portal 3 sendi GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 125- - GARIS PENGARUH GERBER PORTAL 3 SENDI x u E Aƞ D S P v Bƞ S1 C f A c H a l b H B d e d l - l c l GP.b a.RB b.a l cb l GP.R A + 1t C l V l 1t l d l GP.H u.DD Q l GP.f - + + GP.b l .f GP.v l a.c l .RA a.d l.f GP.R B + c l + + d l a. f l d.ND=G P.f ! l.M D cb l Gambar 4.RA .37.b .

~ g.b p H ! x p ND !  l l f lf . b .f = 0 H = RB .p. P berada antara E lihat kanan S RB = x l 7 Ms = 0 (lihat kanan s) RB .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 126- - RA = P di E P di A P di B l x ton l x=-c x=0 x=l RA = RA = l c ton l l ! 1 ton l R A = 0 ton RA = d ton l P di S 1 x=l+d GP. R B f P di E RB = c c l c. DD P berada antara E P berada antara D D C lihat kanan potongan lihat kiri potongan DD = -RB D D = RA GP.p nilai H. N D Garis pengaruh N D sama dengan g. b ƛ H.RB RB = P di E P di A P di B P di S 1 x ton l x=-c x=0 x=l RB = c ton l RB = 0 ton R B = 1 ton RA = l d ton l x=l+d GP.

f I II I = RA Q = Garis pengaruh M D diatas 2 perletakan P di D MD = Q.MD P berada antara D C M D = RA . Latihan : Garis pengaruh pada Pelengkung dan Portal tiga sendi . f = Garis pengaruh H x f. a ƛ H. p N D !  l l f lf ab b a RA = b p H ! .8.f = 0 H= R A .b a a b p H ! x p ND !  l l f lf lihat kiri S RA = l x t l P berada antara DC 7 Ms = 0 (lihat kiri s) RA .a f P di S b a ab RA = b p H ! .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 127- - P di S RB = a. 4.V l II = H .H . p N D !  l l f l f P di S 1 GP. Q .

P VA .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 128- - Untuk memacu mahasiswa belajar maka perlu diberi latihan Soal 1.P.P. ditanyakanL G. G. G.P N C bawah . G. N C . Gerber portal 3 sendi adalah suatu rangkaian antara portal 3 sendi dan balok statis tertentu. G.P D C kanan A B H f=3m EE 4m 4m 4m VA H 4m VB Portal 3 sendi adalah suatu portal yang kondisinya masih statis tertentu.P. G. M C f= 4 H H B H 8m 8m VB VA Soal 2. 4m C yc A H S P = 1 t berjalan Pelengkung 3 sendi seperti tergambar. VA . dimana dalam penyelesaiannya merupakan gabungan dari penyelesaian masing -masing struktur statis tertentu tersebut.P. C S D Portal 3 sendi ABCD seperti tergambar Akibat beban P = 1t berjalan diatas portal.P NC kanan. G. G.D C .P. H. G. Pelengkung mengikuti persamaan parabola: y = 4fx (l .P D C bawah.x) / l² Akibat beban P = 1t berjalan diatas pelengkung. G. ditanyakan : G. .PH.

894 Tanda / Arah + o Di A = H + p Data pendukung Keterangan NC P = 1t di titik A C kiri C kanan S B A C kiri C kanan S B Nilai 0 0.1175t 0 0 0.5 0.782t 1.10.447 0.5t m 1.447t 0 0 0 1.0t m 0 Tanda / Arah - DC + MC A C S B + - .9. Keterangan VA P = 1t dititik A B A S B Yc Y' = tng E Sin E Sin E Nilai 1t 0 0 1t 0 3m 0.447t 0.335t 0. Penutup Untuk mengetahui kemampuan mahasiswa. Rangkuman 4. perlu melihat jawaban soal-soal tersebut seperti dibawah ini.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 129- - 4.

ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ.11.75t 0 0 1t m 2t m 0 Tanda/ Arah + o Di A = H + p NC bawah - DC bawah - - DC kanan + MC + - 4. Daftar Pustaka Suwarno. UGM Bab VI dan VII .336t 0 0 0.60t 0. 2 Keterangan VA P = 1t di titik A B A S B A C bawah C kanan S B A C bawah C kanan S B NC kanan A S B A C bawah C kanan B A C S B Nilai 1t 0 0 1.084t 1.333t 0 0 0.333t 0 0 0.384t 0.25t 0.20t 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 130- - Soal No.40t 0 0 1.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 131- - 4. JUDUL : KO NSTRUKSI RAN GKA BATAN G (K.12.1. Senarai Pelengkung 3 sendi : struktur pelengkung yang masih statis tertentu Portal 3 sendi = struktur portal yang masih statis tertentu Gerber pelengkung 3 sendi = gabungan antara pelengkung 3 sendi dan balok.B. Gerber portal 3 sendi = gabungan antara portal 3 sendi dan balok. MODUL 5 : ARTI KONSTRUKSI RANGKA BATANG DAN CARA PENYELESAIANNYA 5.R.) .

Missal : Rangka batang dari suatu jembatan Rangka batang dari suatu kuda kuda Gambar 5. 5.2. Pendahuluan Dalam membuat suatu struktur bangunan maka kita harus menyesuaikan dengan material yang ada terutama dengan nilai harga yang paling murah. . ba mbu atau baja. Bentuk-bentuk dari suatu konstruksi Bentuk Rangkaian Konstruksi rangka batang tersebut merupakan rangkaian dari be ntuk segitiga.1.3. Rangkaian dari material bambu. maka struktur bisa dibuat sesuai dengan keinginan perencana. tapi kalau materialnya dari kayu. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca materi ini mahasiswa diharapkan bisa mengerti arti serta cara menyelesaikan struktur konstruksi rangka batang.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 132- - 5.1. Jika materialnya dari beton.1.1.4. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui bentuk -bentuk KRB serta bisa menyelesaikan struktur tersebut dengan beberapa cara pendekatan yang telah dijalankan diajarkan serta tahu persyaratan-persyaratan yang diperlukan. maka kita harus merangkai material tersebut. kayu atau baja tersebut disebut dengan konstruksi rangka batang. 5. Kenapa bentuk ( tersebut dipilih !.

. Pada konstruksi kayu memakai baut. Bagaimana jika tersebut segiempat ( ) segiempat ( ) tersebut tidak stabil. Bentuk K. Pada konstruksi baja sambungan -sambungan pada plat buhul digunakan baut. Untuk menyambung titik sudut digunakan plat buhul / simpul. Bentuk Konstruksi Rangka Batang 5.1.5.5.B. P segiempat mudah berubah menjadi jajaran genjang. 5. paku keling atau las.R. pasak atau paku. = Suatu konstruksi yang terdiri dari batang -batang yang berbentuk segitiga Segitiga (bentuk teta p).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 133- - Bentuk bentuk bentuk bentuk segitiga ( () tersebut dipilih karena segitiga tersebut adalah suatu yang mantap (stabil) tidak mudah berubah.1.1.

. salah satu sambungan Titik buhul sebagai sambungan tetap / stabil.B = segitiga yang dihubungkan melalui plat buhul pada titik buhulnya I titik buhul Gambar 5.2.R.3. Bentuk Konst ruksi Rangka Batang + + + + + + + + Batang Plat buhul Titik buhul Paku keling / baut Gambar 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 134- - titik buhul K. Detail I. tapi dalam perhitungan titik buhul ini dianggap SENDI.

B.B. Bentuk konstruksi rangka batang pada jembatan 5. atas (ikatan angin atas) 1 K.B. Ruang terdiri dari 2 K.2. Pada Jembatan K.B.B.R. Ruang bisa dipisahkan menjadi K. Bidang.R.R.R. Gambar 5.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 135- - K.5.4. Perletakan : 1 sendi dan 1 lagi merupakan rol karena konstruksi statis tertentu Sendi Rol 2 Reaksi 1 Reaksi .B. bawah (ikatan angin bawah) K.R. sisi 1 K.R.R.B.

R.R.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 136- - Perletakan sendi RH ada 2 reaksi R V = Reaksi vertikal R H = Reaksi horizontal RV Perletakan rol RV ada 1 reaksi R V = Reaksi vertikal 5. Dalam hal ini gaya -gaya batang tersebut beberapa gaya tarik atau tekan.5. Pada konstruksi dibawah ini (Gambar 5). Konstruksi Statis Tertentu Pada K.3. merupakan kumpulan dari batang -batang yang mana gaya -gaya batang tersebut harus diketahui. (Konstruksi Rangka Batang) Konstruksi statis tertentu adalah suatu konstruksi yang masih bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan . Jumlah bilangan yang tidak 2 4 4 8 6 diketahui : Reaksi 1 3 1 RH 2 3 6 5 10 7 RV 5 7 9 11 13 Jumlah batang 12 8 Bilangan yang tidak diketahui = 3 + 13 = 16 =3 Jumlah = 13 RV Gambar 5.B.1. Konstruksi rangka batang bidang .5. 7H = 0 7V = 0 7M = 0 3 persamaan keseimbangan Jadi maximum harus ada 3 reaksi yang tidak diketahui (3 bilangan yang tidak diketahui) Pendekatan Penyelesaian Konstruksi Rangka Batang K.B.

R. maka pada konstruksi rangka batangpun ada balok gerber 2 1 1 A Sendi 2 3 3 4 5 6 5 B rol 4 7 8 9 10 7 6 12 11 13 14 S 9 8 15 10 16 17 11 19 18 20 21 13 12 23 22 14 24 25 26 15 rol C C Rol (Sendi Gerber) .R.4.6. Rumus Umum Untuk K.5) ad a 8 titik simpul jadi ada 2 x 8 persamaan = 16 persamaan Dari keseluruhan konstruksi : Ada 16 bilangan yang tidak diketahui 3 reaksi 13 gaya batang Ada 16 persamaan (karena masih bisa Konstruksi statis tertentu diselesaikan dengan syarat -syarat persamaan keseimbangan) 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 137- - Titik simpul : dianggap sendi Jadi tiap-tiap titik simpul ada 2 persamaan Yaitu : 7V = 0 atau 7H = 0 7Kx = 0 7Ky = 0 Pada gambar (5.15.B. Rangka Batang Gerber Seperti pada balok menerus.B.1. 7k=b+r k = banyaknya titik simpul (titik buhul) b = jumlah batang pada K. r = jumlah reaksi perletakan 5.

Ky = 0 b. Cara grafis dengan metode Cremona . Rangka batang gerber A = sendi B = rol S = sendi gerber C = rol Jumlah reaksi perletakan = 4 1 sendi + 2 rol 2 2 Jumlah batang = 26 Jumlah bilangan yang tidak diketahui = 30 Jumlah titik simpul = 15 Persamaan yang tersedia = 2 x 15 = 30 persamaan.Kx = 0 dan 7 . Ada 30 bilangan yang tidak diketahui dan tersedia 30 persamaan Konstruksi statis tertentu Konstruksi statis tertentu 5. 1.B.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 138- - Gambar 5. Cara analitis dengan menggu nakan 7 .7. Prinsip Penyelesaian Ada beberapa cara penyelesaian K.R.6.1. Keseimbangan titik buhul a.

Metode Penukaran batang 5.Ky = 0 x semua gaya yang searah x dijumlahkan demikian juga yang searah y dan resultantenya harus sama dengan rol.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 139- - 2.8. b.V = 0 ata 7. Distribusi Beban Konstruksi rangka batang merupakan gelagar tidak langsung. P1 = distribusi akibat beban terbagi rata Akibat beban P P2 = distribusi akibat beban terbagi rata dan P P3 = distribusi akibat beban P Akibat P P1 P2 P3 . Penyelesaian secara analitis Cara menyelesaikannya dengan keseimbangan titik simpul. jadi kalau ada beban terbagi rata atau beban titik yang terletak di tengah-tengah antara 2 titik simpul (gelagar lintang) harus diuraikan menjadi beban titik pad simpul -simpul terdekat. a. Cara Analitis Metode Ritter b. Metode Potongan : a. Cara Grafis Metode Cullman 3. y 7H=0 7. Keseimbangan Titik Simpul Dalam bagian ini hanya membahas teori tentang keseimbangan titik simpul saja.1.Kx =0 7.

Contoh distribusi beban pada konstruksi Rangka batang q = 1 t/mƞ (muatan terbagi rata) 4m A B 4m 4m 4m 4m Muatan terbagi rata tersebut dijadikan mua tan terpusat pada titik -titik simpulnya. Beban terbagi rata didistribusikan menjadi beban titik .8.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 140- - c. 2t 2t A B 4t 4t 4t Gambar 5.

D2 dan D 1ƞ. D2ƞ Untuk batang vertikal diberi notasi V 1. B2 dan B1ƞ. Konstruksi rangka batang dengan beban P = 4t Mencari reaksi perletakan 7 M A = 0 RB . V2 dan V 1ƞ.4 . tiap -tiap batang perlu diberi notasi.9. V 2ƞ serta V 3 Tiap-tiap titik simpul diberi nomor urut dari I s/d X. 4 P .4 .9. A2 dan A 1ƞ. P A 4t RA = B P P P P RB = Gambar 5. B2ƞ Untuk batang diagonal diberi notasi D 1. P = 0 RB = 1t 7 MB = 0 RA . . 3 P = 0 RA = 3t Pemberian notasi Untuk mempermudah penyelesaian. 4 P . A 2ƞ Untuk batang bawah diberi notasi B 1. Untuk batang atas diberi notasi A 1. Contoh Soal 1 Suatu konstruksi Rangka Batang dengan beban sebesar P = 4 ton seperti pada gambar !.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 141- - 5. selesaikan struktur tersebut.1.

titik simpul Batang tertekan dengan tanda ( -) (gaya menuju titik simpul) Batang tertarik dengan tanda (+) (gaya menjauhi titik simpul) Penyelesaian Mulai dari titik simpul yang mempunyai 2 batang tak diketahui Titik I V1 B1 Anggap dulu semua batang yang tidak diketahui adalah batang tarik.R. y sebelum mengerjakan perlu perjanjian tanda terhadap gaya -gaya batangnyua y (Anggapan) / perjanjian pada K. Dalam penjumlahan.10. Catatan Mulailah bekerja pada titik simpul yang mempunyai 2 batang yang tidak diketahui. gaya yang searah diberi tanda sama.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 142- - II V1 I A1 D1 IV V2 III 4t A2 D2 VI A2 ƞ D 2ƞ VIII V2 VII A1 ƞ D 1ƞ IX V3 V V1ƞ X P B1 3t B2 Bƞ2 Bƞ1 P P P P 1 Gambar 5. Jika hasil positif berarti anggapan kita betul batang betul-betul tertarik. . Jika hasil negatif berarti anggapan kita salah batang tertekan. karena hanya menyediakan 2 persamaan yaitu 7 Kx = 0 dan 7 Ky = 0. Pemberian notasi pada gaya -gaya batang Penyelesaian keseimbangan titik simpul diselesaikan dengan memakai syarat-syarat keseimbangan pada titik simpul yaitu 7 Kx = 0 dan 7 Ky = 0 Jadi keseimbangan pada tiap -tiap titik tersebut bisa diselesaikan jika terdapat maximum 2 batang yang tidak diketahui.B.

2 7V=0 .3 t (menuju titik simpul) ½ 3t V1 ½ D1 2 A1 Batang D 1 diuraikan menjadi arah vertikal ½ D1 Titik II 2 dan arah horizontal ½ D1 2. 3 2 . 2 A1 = .½ .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 143- - 3t 7V=0 3 t + V1 = 0 V1 = -3 ton (berarti batang tekan) 7H=0 B1 + 0 = 0 B1 = 0 (batang nol) V1 B1 = 0 Batang A1 dan D1 dianggap tarik dan batang D1 diuraikan menjadi gaya batang horizontal dan vertikal.3 ton (tekan) Titik III V2 3 2 3t 3t B2 B1 = 0 P = 4t 7H=0 Batang V 2 dan B2 dianggap tarik Batang D1 = 3 2 (tarik) diuraikan menjadi batang vertikal = 3 t dan horizontal = 3t 7V=0 4 t ƛ 3 t ƛ V2 = 0 V2 = 1 t (tarik) B2 ƛ 3 t = 0 B2 = 3 t (tarik) . V1 = .½ D 1 A1 = .3 t + ½ D1 ½ D1 2=0 2= 3 D1 = 3 2 t (tarik) 7H=0 A 1 + ½ D1 2= 0 2= .

Titik IV 3t ½ D2 2 ½ D2 2 1t D2 7H=0 A2 Batang D 2 diuraikan menjadi gaya horizontal dan vertikal ½ D 2 2 7V=0 ½ D2 2 + 1 t = 0 D2 = .2 t (tekan) 3 + A 2 + ½ D2 2 = 0 3 + A 2 ƛ 1 ton = 0 A 2 = .1 t (tekan) 2t 2t 7V=0 1 + V2ƞ = 0 V2ƞ = .2 ton (tekan) Titik VI Batang A 2ƞ dan V 3 dianggap tarik A2 ƞ 7V=0 7H=0 V3 = 0 V3 = 0 ton A2 ƞ + 2 t = 0 A2ƞ = .2 t (tekan) 2t Batang D 2ƞ dan B 2ƞ dianggap tarik Titik V Batang D 2ƞ diuraikan horizontal dan vertikal 0t ½Dƞ 2 1t 1t 2 2 Dƞ2 7V=0 ½ D 2ƞ 2 + 0 ƛ 1 t = 0 D 2ƞ = 2 t (tarik) 7H=0 ½ D 2ƞ B2ƞ + 1t ƛ3 t + 1t = 0 B2ƞ = 1 ton (tarik) 3t 2 B2ƞ Titik VIII Batang A 1ƞ dan V 2ƞdianggap tarik 7H=0 A1 ƞ V2ƞ 2 t + A1 ƞ ƛ 1 t = 0 A1ƞ = .1t (tekan) .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 144- - Batang A 2 dan D2 dianggap tarik.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 145- - .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 146-

-

Titik VII

½ D 1ƞ 1t 1t

2

D 1ƞ

Batang D 1ƞ dan B 1ƞdianggap tarik Batang D 1ƞ diuraikan menjadi ½ D 1ƞ 2

½ D 1ƞ

2

B1ƞ

7V=0

½ D 1ƞ 2 ƛ 1 t = 0 D 1ƞ =

2 t (tarik)

7H=0

B1ƞ- ½ D1ƞ 2 - 1t = 0 Bƞ + 1 ƛ 1 = 0 B ƞ = 0t

Titik X

V1ƞ

7V=0

1t + V1ƞ = 0 V 1ƞ = - 1t (tekan)

B1ƞ = 0 RB = 1t

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 147-

-

Kontrol ke Titik IX

7V=0 V1ƞ ƛ ½ D1ƞ 1t ƛ ½ .

A1 ƞ = 1 t (tekan) D1ƞ = 2 (tarik) V 1ƞ = 1 t

2 =0
2 . 2 !0

(cocok) 7H=0 A1ƞ ƛ ½ D1ƞ 2 = 0 1ƛ½ .

2.

2 = 0 (cocok)

DAFTAR

BATAN G A1 A2 A2 ƞ A1 ƞ B1 B2 B2ƞ B1ƞ V1 V2 V3 V2ƞ V1ƞ D1 D2 D 2ƞ D 1ƞ

GAYA BATAN G -3t -2t -2t -1t 0 3t 1t 0 -3t 1t 0 -1t -1 t 3 2t - 2t 2t 2t

Batang B 1 dan B1ƞ = 0, menurut teoritis batang -batang tersebut tidak ada, tapi mengingat K.R.B. terbentuk dari rangkaian bentuk ( maka batang ini diperlukan. Batang atas pada umumnya batang tekan Batang bawah pada umumnya batang tarik.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 148-

-

Contoh Soal 2 Suatu konstruksi Rangka Batang, dengan notasi seperti pada ga mbar, beban sebesar 3 ton terletak di titik simpul III Jumlah batang = 9 = b Jumlah reaksi = 3 = r 12 D3 B3 IV P P 1t VI B Jumlahg titik simpul = 6 = k 2k=b+r 2x6=9+3 konstruksi .r.b. statis tertentu Mencari Reaksi 7 MB = 2 RA = 3 7 MA = 1 RB = 3
Titik Simpul I

II P A I D1 B1 III 2t P 3t V1

A D2 B2

V

V2

0 x3t=2t 0 x3t=1t

Batang D 1 dan B1 dianggap tarik Batang D 1 diuraikan ke arah vertikal dan horizontal sebesar ½ D 1

2

½ D1

2

D1

½ D1

2
B1

7 Ky = 0 ½ D1 2 + 2t = 0 2 D1 = . 2 = - 2 2 t . (tekan) 2 7 Kx = 0 B1 - ½ D1 2 = 0 B1 = 2 ton (tarik)

2 t (reaksi)

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 149-

-

Titik III

V1

Gaya batang V1 dan B2 dianggap tarik 7 Ky = 0 V1 = 3 ton (tarik) B2 = 2 ton (tarik)

2t

3t

B2

7 Kx = 0

Titik II
½ D2 ½ D1

2

Gaya batang A dan D2 dianggap tarik 7 Kx = 0 ½ D1 2 - 3t ƛ ½ D2 2 = 0 ½ D2 2 = -3 t + ½ . 2 2 . 2 = -3 + 2 = -1 (tekan) D2 = - 2 t (tekan)

2

A

D1 = 2 2 3t ½ D2 ½ D1 D2

2

7 Ky = 0 A + ½ D1 2 + ½ D2 2 = 0 A + ½ . 2 2. 2 - ½ . 2. 2 = 0 A = 1 ƛ2 = -1t (tekan)

2

Titik IV

Gaya batang V2 dan B3 dianggap tarik 7 Ky = 0 V2

D2 =

2t

½ D 2 2 - V2 = 0 V2= ½ . 2 . 2 = 1 t (tarik) B3 7 Kx = 0 B3 ƛ B2 + ½ D2 2 = 0 B3 = 2 - ½ . 2 . 2 = 1 t (tarik)

B2 = 2t

Titik VI

Gaya batang D3 dianggap tarik 7 Ky = 0 D3 ½ D3 2 + 1t = 0 D3 = - 2 . 1t D3 = - 2 t (tekan) 7 Kx = ½ D 3 2 + B3 = 0 - ½ . 2 . 2 + B3 = 0

B3 = 1t

10. P 1 = 600 kg P2 = 600 kg P3 = 400 kg Ditanyakan : a). Gaya-gaya batang D5 B3 P P P2=3 t P= 4m P2 = 600 kg Soal 2 P1 = 600 kg 8 9 5 6 R AH A RAV 45° 1 3m 2 3m 3 3m 7 11 13 12 45° 4 3m 10 P3 = 400 kg Kuda-kuda konstruksi Rangka Batang seperti tergambar.gaya batang RB . D3 1t ƛ ½ . Gaya reaksi b). P2 = 3t Ditanyakan : RB P a). Gaya ƛ Reaksi B b). Beban . 2. Gaya. 2 =0 (cocok) D3 V2 = 1t 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 150- - B3 = 1t 1t Kontrol Titik V A = 1t 7 Kx = 0 A ƛ ½ . 2 = 0 Latihan : Konstruksi Rangka Batang Untuk mendorong mahasiwa belajar maka perlu dibuatkan suatu latihan sebagai berikut : Soal 1 A1 D1 RAH A E B1 RAV P1=6 t D2 E B2 D3 D4 A2 D6 3 m Konstruksi Rangka Batang seperti tergambar P1 = 6t .1.

5.00 t 6. bisa berupa gaya tarik.808 t 4.00 t 1. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi Horizontal Data Pendukung Gaya Batang Titik / Gaya A : RAV B : RB A : RAH Sin E Cos E A1 A2 B1 B2 B3 D1 D2 D3 D4 D5 D6 N ilai 5t 4t 0 0. maka mahasiswa bisa melihat jawaban dibawah ini : Jawaban : Soal No.1.11.12. atau gaya tekan.555 6. hanya bisa diselesaikan jika jumlah gaya batang yang tidak diketahui max hanya 2. Penutup Agar mahasiswa bisa mengontrol pekerjaan latihan.667 t 5. o o Rangkuman KRB merupakan rangkaian dari bentuk ( (segitiga) Dalam KRB yang dicari adalah gaya -gaya batangnya.333 t 3.000 t 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 151- - 5. Pencarian gaya-gaya batang.333 t 6. o o Tiap-tiap titik simpulnya dianggap sendi.835 0.20 t 1.1.20 t 4.808 t Arah / Tanda o o Gaya Batang Tekan Tekan Tarik + Tarik + Tarik + Tekan Tarik + Tarik + Tekan Tekan Tarik + . 667 t 6.

UGM Bab Soemono.14. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ . 2 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Gaya Batang Titik / Gaya A : RAV B : RB A : RAH  2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 N ilai 850 kg 750 kg 0 850 kg 850 kg 750 kg 750 kg 1202 kg 0 424 kg 778 kg 500 kg 778 kg 283 kg 0 1061 kg Arah / Tanda o o Tarik + Tarik + Tarik + Tarik + Tekan Tekan Tekan Tarik + Tekan Tekan Tekan - 5.1. ƏStatika IƐ. - - Senarai Konstruksi Rangka Batang : Suatu rangkaian batang -batang yang berbentuk ( (segitiga) Titik simpul : dianggap sendi. - Daftar Pustaka Suwarno. .13.1. bab 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 152- - Soal No.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->