MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -8

-

Modul 1 1.1. Judul : Gaya ƊGaya dan Keseimbangan Gaya
Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah membaca modul, mahasiswa bisa memahami pengertian tentang gaya. Tujuan Pembelajaran Khusus : Mahasiswa dapat menjelaskan konsep pengertian tentang gaya dan bagaimana bisa melakukan penjumlahannya 1.1.1. Pendahuluan Gaya serta sifat-sifatnya perlu difahami dalam ilmu Mekanika Teknik karena dalam ilmu tersebut, mayoritas membicarakan tentang gaya, sedang Mekanika Teknik adalah merupakan mata kuliah dasar keahlian yang perlu dimengerti oleh semua sarjana Teknik Sipil. Jadi dengan memahami sifat-sifat gaya, mahasiswa akan lebih mudah memahami permasalahan yang terjadi di pelajaran Mekanika Teknik. Misal pada suatu jembatan, kendaraan yang lewat adalah merupakan suatu beban luar yang ditampilkan dalam bentuk gaya. Contoh : * Suatu kendaraan yang terletak diatas jembatan * Beban roda kendaraan pada jembatan tersebut adalah suatu beban atau gaya.

gaya

struktur jembatan

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -9-

1.1.2. Pengertian tentang Gaya dan Garis Kerja gaya Gaya adalah merupakan vektor yang mempunyai besar dan arah.

Penggambarannya biasanya berupa garis dengan panjang sesuai dengan skala yang ditentukan. Jadi panjang garis bisa dikonversikan dengan besarnya gaya. * Contoh 1

Orang berdiri dengan berat 50 kg Panjang gaya 1 cm arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi) ditunjukkan dengan gambar anak panah ke bawah dengan skala 1 cm = 50 kg

Jadi 50 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh orang berdiri tersebut dengan arah gaya kebawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan berat 50 kg. * Contoh 2 Batu diatas meja dengan berat 10 kg
Panjang gaya = 1 cm

Arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi) ditunjukkan dengan gambar anak panah dengan skala 1 cm = 10 kg

Jadi 10 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh batu yang menumpu di atas meja dengan arah gaya ke bawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan gaya 10 kg.

* Contoh 3 15 kg Orang mendorong mobil mogok kemampuan orang mendorong tersebut adalah 15 kg. 1 cm Panjang gaya Arah dorongan kesamping kanan ditunjukkan dengan gambar anak panah arah kesamping dengan skala 1 cm = 15 kg

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -10-

Jadi 15 kg adalah gaya yang diberikan oleh orang untuk mendorong mobil mogok dengan arah kesamping kanan, yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena 1 cm setara dengan 15 kg.

Garis kerja gaya adalah garis lurus yang melewati gaya Seperti contoh di bawah : Contoh * Garis kerja gaya Garis kerja gaya orang yang mempunyai berat 50 kg tersebut adalah vertikal

Orang dengan berat 50 kg garis kerja gaya 15 kg Garis kerja gaya untuk mendorong mobil mogok tersebut adalah horisontal

Titik tangkap gaya adalah titik awal bermulanya gaya tersebut. Contoh: mobil mogok diatas jembatan, roda mobil serta tumpuan tangan orang yang mendorong adalah merupakan titik tangkap gaya.

titik tangkap gaya Titik tangkap gaya

gaya

50 kg

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -11-

1.1.3. Sifat Gaya Gaya dan titik tangkap gaya bisa dipindah-pindahkan asal masih dalam daerah garis kerja gaya Contoh dalam gambar K dan K1 adalah merupakan gaya. Ga Posisi gaya K lama Posisi gaya K baru mb ar garis kerja gaya K1 Posisi gaya K1 lama 1.1 . Ga mb Posisi gaya K1 baru is kerja gaya ar gar

1.1.4. Penjumlahan Gaya Penjumlahan gaya bisa dilakukan secara analitis maupun grafis.

1.1.4.1. Penjumlahan secara grafis Penjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama, jadi gaya-gaya tersebut sebidang, bisa secara langsung dijumlahkan secara grafis.

A K1

C R = K1 + K2 



D K2 Titik tangkap gaya

B 

K1, K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan Urut-urutan penjumlahan Buat urut-urutan penjumlahan garis sejajar dengan K1 dan K2 di ujung gaya, (K1 diujung K2 dan sehingga K2 diujung K1 ) membentuk bentuk jajaran genjang D.A.C.B Salah satu diagonal yang panjang tersebut yaitu R

Salah satu diagonal yang terpanjang (R) adalah merupakan jumlah dari K1 dan K2..Buat garis-garis sejajar gaya K1 dan K2 di ujung-ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang.Gaya K1 dipindah searah garis kerja gaya sampai garis kerja gaya K1 bertemu dengan garis kerja gaya K2.3 Penju mlaha n gaya secara grafis. Penjumlahan gaya secara grafis Penjumlahan 2 gaya yang sebidang. . ar 1.2. yang titik tangkapnya tidak sama Urutan-urutan penjumlahan .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -12- Gambar 1. . pertemuannya di titik 0. OABC . tapi titik tangkapnya tidak sama. 2 gaya tersebut tidak mempunyai titik tangkap yang sama. Gamb R = K1 + K2 A Posisi awal (K2)KK 22 Posisi awal KK 1 1 (K1) 0 K1 C B K1 dan K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan. tapi masih sebidang. Gaya-gaya tersebut bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya.

Urut-urutan penjumlahan. Penjumlahan 3 gaya secara grafis dengan gaya-gaya tersebut (K1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -13- Penjumlahan 3 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal Penjumlahan tersebut bisa dilakukan secara bertahap C R1=K1+K2 R1 A K1 K2 B R2 E R2 R2 = R1 + K3 = K1 + K2 + K3  K1. Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tangkap tunggal   Penjumlahan tersebut dilakukan secara bertahap Titik tangkap gaya bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya. K2 dan K3 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan dengan titik tangkap tunggal. K2) di ujung-ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang 0ACB    Salah satu diagonal terpanjang yaitu R1 adalah merupakan jumlah K1 + K2 Buat garis sejajar K3 dan R1 di ujung gaya-gaya yang berlainan sehingga membentuk jajaran genjang 0CED Salah satu diagonal terpanjang (R2) adalah jumlah dan R1 dan K3 sehingga sama dengan jumlah antara K1. K2 dan K3. . K2 dengan cara membuat garis sejajar Gambar 1.4. 0 K3 D  Jumlahkan dulu K1.

Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tunggal.  Tarik gaya R1 dan K3 sehingga titik tangkapnya bertemu pada titik di 01 .  A K1 K2 0 R2 = R1 + K3 = K1 + K2 + K3 F D B Kerjakan dulu penjumlahan antara K1 dan K2 dengan cara :  Tarik gaya K1 dan K2 sehingga titik tangkapnya bertemu pada satu titik di O.  Buat garis sejajar K1 dan K2 pada yang ujung-ujung berlainan gaya sehingga membentuk jajaran genR1 E K3 01 Gambar 1.5.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -14- (posisi awal) K1 R1 = K1 + K2 C (Posisi awal) K2 Urut-urutan penjumlahan  K1. K2 dan K3 adalah gayagaya yang akan dijumlahkan. secara grafis jang OACB Posisi awal (K3)  Salah satu diagonal yang terpanjang yaitu R1 adalah merupakan jumlah dari K1 dan K2.

K3 . D F E. salah satu diagonal yang terpanjang adalah R2 yang merupakan jumlah antara R1 dan K3 berarti jumlah antara K1 dan K2 dan K3.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -15-  Buat garis sejajar R1 dan K3 melalui ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk jajaran genjang 01.

K3 dan K4 yaitu R. Dari gaya-gaya asal yang akan dijumlahkan ditarik garis sejajar O a ) pada garis tersebut. K2. K2. K3 dan K4 secara berurutan dimana tiap-tiap gaya sejajar dengan gaya aslinya (pada gambar jari-jari polygon). b.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -16- a K1 b1 K1 A B K2 C Oƞ Rƞ K3 D K2 K4 K1 c K3 K4 e d R O titik tangkap Polygon Batang Jari-jari Polygon Gambar 1. dan e. c. Garis-garis tersebut dinamakan .6. K3 dan K4 adalah gaya-gaya yang mau dijumlahkan Untuk pertolongan. Ambil titik 0 sembarang di daerah sekitar R Tarik garis dari 0 ke ujung-ujung gaya sehingga ketemu titik a. yang diwakili oleh garis sepanjang a-e tapi letak titik tangkapnya belum betul.garis tersebut diberi tanda titik satu buah ( ) sampai lima buah ( jari-jari polygon. d.Dari titik garis sejajar Ob ) memotong gaya K2 di titik B ( A dibuat ) memotong gaya K 1 di (titik A. K2. perlu dibuat jari-jari polygon (lihat gambar) dengan cara sebagai berikut : buat rangkaian gaya K1. pangkal gaya K1 dan ujung gaya K4 merupakan jumlah (resultante) gaya K1. Dari titik B dibuat garis sejajar Oc ( ) memotong K3 di . Polygon batang dan jari-jari polygon   Gaya K1. garis .

Penjumlahan secara analitis Dalam penjumlahan secara analitis kita perlu menentukan titik pusat (salib sumbu) koordinat.1. K3 dan K4 dengan titik tangkap yang betul. K2x = K2 cos F K2y = K2 sin F K1x . perpanjangan garis ( ) ) pada polygon batang akan ketemu di titik Oƞ yang merupakan titik tangkap jumlah (resultante) gaya-gaya K1. Contoh : y Pernjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal y K2 y K1 y E K1 K2  O F K2x x  K1 dan K2 adalah gayagaya yang akan dijumlahkan dimana mempunyai titik tangkap tunggal di O .2. yang mana biasanya sering dipakai adalah sumbu oxy. Dari titik Oƞ dibuat garis sejajar R yaitu garis Rƞ. diproyeksikan. . Dari titik C dibuat garis sejajar Od ( Dari titik D dibuat garis sejajar Oe ( dan garis ) ( ) memotong K4 di D. Penjumlahan gaya secara analitis dengan sumbu x dan y K1x = K1 cos E K1y = K1 sin E .4. .7. K2. Jadi Rƞ adalah merupakan jumlah (resultante) dari gaya-gaya K1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -17- titik C. dengan garis kerja melewati 0ƞ 1. Eadalah sudut antara K1 dengan sumbu ox Fadalah sudut antara K2 dengan sumbu ox K1 dan K2 diuraikan searah Gambar 1. Didalam salib sumbu tersebut gaya-gaya yang akan dijumlahkan. K2. K3 dan K4.

K2x = K2 cos F K1y = K1 cos E . Rx = K1x + K2x Ry = K1y + K2y Rx = § Kx Ry = § Ky Jumlah gaya-gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari komponen-komponen tersebut adalah : . K2y = K2 sin F Semua Komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang searah oy.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -18- Semua komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang searah dengan oy. Rx = K1x + K2x Ry = K1y + K2y Rx = § Kx Ry = § Ky Jumlah gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari komponen-komponen tersebut adalah : R= Rx ²  Ry ² Penjumlahan 2 gaya dengan letak titik tangkap berbeda y K1y E K1  K1 dan K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlah-kan dengan letak titik tangkap berbeda. K1 membentuk sudut E dengan sumbu ox K2 membentuk sudut Fdengan sumbu ox.  K1 dan K2 diuraikan searah dengan sumbu x dan y K2 K2y F O K1x K2x x Gambar 1.8. Penjumlahan gaya dengan titik tangkap berbeda. secara analitis K1x = K1 cos E .

6.1. Gaya bisa dipindah-pindah sepanjang garis kerja gaya Penjumlahan gaya-gaya bisa dilakukan secara grafis ataupun analitis. K1 45° K2 Dua gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama seperti seperti pada gambar. K3 dan K4. Latihan 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -19- R= Rx ²  Ry ² 1.5. Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun grafis 2. dengan besar dan arah seperti pada gambar Cari besar dan arah jumlah gaya-gaya tersebut (R) dengan cara polygon batang. Penjumlahan gaya lebih dari 4 buah bisa memakai cara grafis dengan bantuan polygon batang. K2. 5 ton 0 K1 K2 K3 K4 7 ton 9 ton 4 ton Empat gaya K1. . Rangkuman     Gaya adalah suatu besaran vektor yang mempunyai besar dan arah serta diketahui letak titik tangkapnya. K1 = 5 ton dan K2 = 7 ton. 1. 3.1. sudut yang dibentuk antara 2 gaya tersebut adalah 45°. K1 Dua gaya K1 dan K2 tidak mempunyai titik tangkap yang sama K1 = 10 ton dan K2 = 4 ton Garis kerja ke dua gaya tersebut bertemu dan K2 membentuk sudut 60° Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun garfis.

5° dari sumbu x R = 11. secara bertahap.7.1. Soemono. Bab I.5 ton sdt = 30° dari sumbu x R = 12. Senarai Gaya Resultante = mempunyai besar dan arah = jumlah .1 ton sdt = 22.1. Penutup Untuk mengukur prestasi. Samuel E. Bab I 1. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci yang ada.5 ton sdt = 30° dari sumbu x R = 24 ton Skor Nilai 50 50 50 50 3 Grafis Jari-jari polygon Polygon batang 50 50 1. French. 3. No.9. 3 hanya berupa grafis.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -20- 1. skor penilaian ada di tabel bawah untuk mengontrol berapa skor yang didapat. 2. soal Sub Jawaban 1 Analitis Grafis 2 Analitis Grafis Jawaban R = 11. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM bab I. Soal 1 dan 2 ada jawaban secara analitis dan grafis. Suwarno.5° dari sumbu x R = 12.8. Daftar Pustaka 1. sedang soal no. ƏStatika IƐ ITB.1 ton sdt = 22.1. ƏDeterminate StructuresƐ ITP (International Thomson Publishing Company) 1996.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -21- .

kolom. serta bisa menggambar skema struktur dalam mekanika teknik. Pendahuluan Dalam disiplin ilmu teknik sipil dimana mahasiswa akan diajak bicara tentang bangunan gedung. sehingga dalam menerima pelajaran akan lebih mudah menerima. apa itu beban. Contoh : a. Gambar portal gedung bertingkat dalam mekanika teknik .2. gaya dalam dan bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik.9.1. kolom. bentuk gedung bertingkat dalam penggambaran di mekanika teknik kolom Kolom = tiang-tiang vertical Balok = batang-batang horisontal balok perletakan Gambar 1. maka mahasiswa perlu tahu bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik. reaksi dan gaya dalam. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar tentang struktur dalam suatu bidang Teknik Sipil. jembatan dan lainsebagainya.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -22- 1. balok. 1. balok. maka siswa bisa memahami secara jelas apa itu bentuk-bentuk struktur di bidang teknik sipil. mengerti tentang beban. reaksi. JUDUL : PENGGAMBARAN STRUKTUR DALAM MEKANIKA TEKNIK Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini.2.

dan lain sebagainya. beban yang bisa bergerak umumnya disebut beban hidup misal : manusia. Beban terpusat Beban terpusat adalah beban yang terkonsentrasi di suatu tempat.2. Ada beberapa macam beban yaitu beban terpusat dan beban terbagi rata. peralatan dan lainsebagainya. Kendaraan berhenti diatas jembatan P1 P2 P3 Penggambaran dalam mekanika teknik . Gambar jembatan dalam mekanika teknik 1. balok perletaka n Gambar 1.2. kendaraan. Beban yang tidak dapat bergerak disebut beban mati.1. a. bentuk jembatan sederhana dalam penggambarannya di mekanika teknik. misal : meja. manusia yang berdiri diatas jembatan P beban terpusat Penggambaran dalam mekanika teknik a. a.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -23- b. Beban Didalam suatu struktur pasti ada beban.2.10.

kg/cm Newton/mƞ dan lainsebagainya. Gambar beban terpusat dalam mekanika teknik b. Gambar 1.11. Newton. kg. Beban terbagi rata Beban terbagi rata adalah beban yang tersebar secara merata baik kearah memanjang maupun ke arah luas. Gambar 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -24- Notasi beban terpusat = P Satuan beban terpusat = ton. dan lainsebagainya. anak-anak berbaris diatas jembatan q t/mƞ Penggambaran dalam mekanika teknik Notasi beban terbagi rata = q Satuan beban terbagi rata = ton/mƞ. Penggambaran beban terbagi rata dalam mekanika teknik .12.

3. Pendahuluan Dalam bidang teknik sipil kita selalu membicarakan masalah bangunan seperti bangunan gedung.1. konsep pengertian tentang perletakan. 1. serta konsep kedudukan perletakan dalam suatu struktur. sedang yang masuk pada lapisan permukaan bumi disebut dengan bangunan bawah.3. Hubungan antara bangunan atas dan bawah melalui suatu tumpuan yang disebut dengan ƠPerletakanơ. Perletakan y Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah membaca modul bagian ini. maka siswa bisa memahami pengertian tentang perletakan dan bagaimana pemakaian perletakan ini pada suatu struktur. hubungan antara bangunan tersebut dengan lapisan permukaan bumi dikaitkan dengan suatu pondasi. jembatan. Bangunan-bangunan tersebut harus terletak diatas permukaan bumi.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -25- 1. Contoh : a. Hubungan antara bangunan atas jembatan dan bangunan bawah pondasi.2. y Tujuan Pembelajaran Khusus : Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar dan pengertian tentang struktur. Struktur jembatan (bangunan atas) perletakan Pondasi Penggambaran pada mekanika (bangunan struktur .2. dan lainsebagainya. Bangunan yang terletak diatas permukaan bumi disebut bangunan atas.

perletakan Gambar 1. (Gambar 1.15) silinder baja Karena struktur harus stabil maka perletakan rol tersebut tidak boleh turun jika kena beban Rv Perletakan rol bila dilihat dari gambar struktur. . bisa berputar tersebut harus mempunyai reaksi jika Gambar 1. Skema perletakan rol diberi beban momen jadi tidak mempunyai reaksi momen.13. maka oleh rol tersebut dari atas. Gambar perletakan jembatan dalam mekanika teknik b.2. Pada perletakan Rol Rv Penggambaran perletakan rol dalam bidang mekanika teknik.15. jadi tidak bisa mempunyai reaksi horizontal. a.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -26- Gambar 1. ada reaksi vertikal.3. jepit dan perodel.2. karena bias itu bergeser rol ke arah horizontal.14. Rol Strukt Bentuk perletakan rol. pada suatu struktur jembatan yang bertugas untuk menyangga sebagian dari jembatan. Gambar perletakan gedung (tumpuan)dalam mekanika teknik Macam-Macam Perletakan Dalam mekanika teknik perletakan berfungsi untuk menjaga struktur supaya kondisinya stabil. Hubungan antara bangunan gedung dan pondasi Bangunan gedung (bangunan atas) muka tanah Perletakan (tumpuan) Pondasi (bangunan bawah) Penggambaran pada mekanika teknik 1. sendi. Ada 4 macam perletakan dalam mekanika teknik yaitu : rol.

Aplikasinya perletakan sendi di dalam mekanika teknik Bentuk perletakan jepit dari suatu . Jadi sendi tidak mekanika teknik. Skema perletakan Sendi Pada perletakan karena itu mempunyai sendi tersebut harus reaksi vertikal (Rv). oleh Rv Gambar 1.17). Jepit Rv balok jembatan Gambar 1. Sendi Bentuk perletakan sendi pada suatu struktur jembatan.16. yang bertugas untuk menyangga sebagian dari jembatan (Gambar 1.18. Aplikasinya perletakan rol dalam mekanika teknik Rv b. RH sendi tersebut bisa berputar jika Penggambaran perletakan sendi dalam diberi beban momen.17. ada reaksi vertikal dan horisontal punya reaksi momen. Karena struktur harus stabil. Rv RH c. maka perletakan sendi tidak boleh turun jika kena beban dari atas. Strukt RH silinder baja Selain itu perletakan sendi tidak boleh bergeser horizontal. Oleh karena itu perletakan sendi harus mempunyai reaksi horizontal (RH).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -27- Balok jembatan Gambar 1.

hanya searah dengan sumbu pendel tersebut. ada reaksi searah pendel. ada reaksi vertikal. Aplikasi perletakan jepit di dalam mekanika teknik Bentuk perletakan jepit dari suatu struktur. dan momen Gambar 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -28- RH RM RV RH RM R d. Penggambaran perletakan pendel dalam mekanika teknik. jadi hanya mempunyai satu reaksi yang searah dengan sumbu pendel.21. Skema perletakan pendel pada suatu struktur baja RR R . horizontal.) Pendel tersebut hanya bisa menyangga sebagian jembatan.20.21. Pendel V Penggambaran perletakan jepit dalam mekanika teknik. bertugas untuk menyangga sebagian dari struktur baja (Gambar 1. balok baja pendel Gambar 1.

22. Aplikasi di perletakan dalam pendel pende l mekanika teknik .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -29- balok baja Gambar 1.

Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat memahami pengertian keseimbangan dalam suatu struktur dan syarat-syarat apa yang diperlukan. yang berarti kotak tersebut tidak bisa turun. Keseimbangan vertikal .3. Bangunanƛbangunan tersebut supaya tetap berdiri. 1. suatu kotak yang dilem diatas meja 1. mahasiswa perlu mengetahuinya. dan bagaimana cara menyelesaikannya. maka struktur-strukturnya harus dalam keadaan seimbang. Contoh : benda dalam keadaan seimbang (tidak bisa bergerak) kotak lem meja Gambar 1. maka kotak tersebut dalam keadaan seimbang. a. Apa saja syaratsyaratnya supaya suatu bangunan tetap seimbang. Pendahuluan Dalam bidang teknik sipil mahasiswa selalu diajak berbicara tentang bangunan gedung. Pengertian tentang keseimbangan Sebuah kotak yang dilem diatas meja.1. JUDUL : KESEIMBANGAN BENDA Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan bisa mengerti apa yang disebut keseimbangan pada suatu benda. hal itu merupakan syarat utama.2.3.23.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -30- 1.3. jembatan dan lain sebagainya. serta manfaatnya dalam struktur tersebut. tidak bisa bergeser horisontal dan tidak bisa berguling.

yang meja berarti lem yang merekat antara kotak dan meja tersebut . maka kotak tersebut tidak bisa bergeser secara horisontal. maka kotak tersebut tidak bisa turun.25. Kotak Gambar 1. Keseimbangan vertikal Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas lumpur Kalau kotak tersebut dibebani Lumpur secara vertikal (Pv). Keseimbangan horisontal PH Kotak Lem RH Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH). perlawanan Meja vertikal tersebut (Rv) disebut reaksi vertikal. (Gambar 1.25) Gambar 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -31- Pv kalau kotak tersebut dibebani Kotak Lem secara vertikal (Pv). maka kotak tersebut langsung tenggelam. Kotak tenggelam dalam lumpur b. yang berarti meja tersebut mampu memberi perlawanan vertikal (Rv). yang berarti Kotak tenggelam lumpur tersebut tidak mampu memberi perlawanan secara Pv Rv vertikal (Rv).24.

Kotak yang bergeser Karena beban horizontal c. sehingga bisa menahan kotak untuk tidak bergeser. perlawanan momen tersebut (RM) disebut dengan reaksi momen. maka kotak tersebut tidak bisa berputar (tidak bisa terangkat). Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem Kalau kotak tersebut dibebani secara PH kotak yang bergeser horisontal (PH).27.27) Gambar 1.26. maka kotak tersebut langsung bergeser. Keseimbangan horizontal memberi perlawanan horisontal (RH). Perlawanan horisontal tersebut (RH) disebut reaksi horisontal. PM Kotak Lem Meja . Keseimbangan Momen Kalau kotak tersebut dibebani momen (PM). yang berarti lem perekat antara kotak dan meja tersebut mampu memberikan perlawanan momen (RM).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -32- mampu Gambar 1. yang berarti meja tersebut tidak mampu memberi perlawanan horisontal (RH) (Gambar 1. karena tidak ada yang menghambat.

Gambar 1. dan tidak bisa terangkat. meja mampu yang tersebut berarti tidak memberikan perlawanan momen (RM).30. PM Kotak yang terangkat Kalau dibebani kotak tersebut (PM). Keseimbangan statis .29.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -33- Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem. momen maka kotak tersebut bisa terangkat. RV Meja tidak bisa bergeser horisontal. Kotak yang terangkat karena beban momen d Keseimbangan Statis PV PH PM Kotak Lem  Kalau kotak tersebut di lem diatas meja. benda tersebut harus tidak bisa turun. yang RH berarti harus stabil. RM Gambar 1. Meja karena tidak ada lem yang mengikat antara kotak dan meja tersebut.

tumpuannya mampu memberi perlawanan secara vertikal pula. atau RV .  Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH ). maka pada tumpuannya mampu memberi perlawanan secara horisontal (RH ). 1. Agar kotak tersebut tidak bisa terpuntir (terangkat). Latihan 1.PV = 0 atau 7V = 0 (jumah gayagaya vertikal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol). maka harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : 7V = 0 (jumlah gaya-gaya vertikal antara aksi (beban) dan reaksi harus sama dengan nol) 7H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara aksi (beban) dan reaksi sama dengan nol) 7M = 0 (jumlah gaya-gaya momen antara aksi (beban) dan reaksi harus sama dengan nol). dapat dikatakan bahwa suatu benda yang stabil atau dalam keadaan seimbang.3.  Dari variasi tersebut diatas.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -34-  Kalau kotak tersebut dibebani secara vertikal (PV). maka pada tumpuannya mampu memberi perlawanan secara momen (RM ). maka syarat minimum RM = PM atau RM . Agar kotak tersebut tidak bisa bergeser secara horisontal maka syarat minimum RH = PH atau RH ƛ PH = 0 atau 7H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol)  Kalau kotak tersebut dibebani secara momen (PM ). Suatu benda diatas meja dengan berat sendiri = 5 kg Pv = 5 kg .PM = 0 atau 7M = 0 (jumlah gaya-gaya momen beban dan reaksi harus sama dengan nol).4. agar kotak tersebut tidak bisa turun syarat minimum RV = PV.

Rol punya 1 reaksi . q. PV = 5 kg PH = 2 kg PM = 5 kgm Cari reaksi-reaksi yang terjadi supaya konsol tersebut tak roboh. satuan kg/mƞ atau ton/mƞ atau Newton / mƞ o Macam Perletakan .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -35- Berapa reaksi vertikal yang terjadi supaya balok tersebut tidak turun ?. Rangkuman o Macam-Macam Beban .Jepit punya 3 reaksi .6. kg atau ton atau Newton . 1.5.Pendel punya 1 reaksi Rv Rv dan RH Rv. notasi.3. Rv = ? 2. P.3. Penutup .Beban terpusat. Suatu kantilever (konsol) dengan beban seperti pada gambar. satuan. notasi.Sendi punya 2 reaksi . RH dan RM sejajar dengan batang pendel o Syarat Keseimbangan Ada 3 syarat keseimbangan yaitu : 7v = 0 7H = 0 7M = 0 1.Beban terbagi rata.

2. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci yang ada.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -36- Untuk mengukur prestasi.7. Soemono ƏStatika IƐITB Bab I 1. Daftar Pustaka 1.3. Nomor Soal 1 2 Reaksi yang ada Rv Rv RH RM Besar Reaksi 5 kg 5 kg 2 kg 5 kg m Arah o o p 1 1.8. Suwarno.3. Senarai Beban = aksi Reaksi = perlawanan aksi . ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM Bab I.

1. JUDUL : KONSTRUKSI STATIS TERTENTU Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis tertentu. mulai dari yang sederhana sampai dengan yang kompleks. jembatan dan lain sebagainya. seperti gedung-gedung. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa selain dapat mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis tertentu. Contoh : contoh struktur sederhana yaitu balok jembatan diatas 2 tumpuan. Balok jembatan diatas 2 Balok jembatan B A rol sendi perletakan A dan B Perletakan A adalah rol Perletakan B adalah sendi . 2. Mahasiswa diwajibkan memahami struktur yang paling sederhana sebelum melangkah ke yang lebih kompleks. ada beberapa macam sistem struktur. mengetahui syarat-syarat apa yang diperlukan dan bagaimana cara pemanfaatannya.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -37- MODUL 2 : ARTI KONSTRUKSI STATIS TERTENTU DAN CARA PENYELESAIANNYA 2. Pendahuluan Dalam bangunan teknik sipil. sistim yang paling sederhana tersebut disebut dengan konstruksi statis tertentu.1.1.

Definisi Statis Tertentu Suatu konstruksi disebut statis tertentu jika bisa diselesaikan dengan syaratsyarat keseimbangan. Ada beberapa syarat-syarat keseimbangan Sesuai dengan materi yang sebelumnya ada 3 (tiga) syarat keseimbangan yaitu : § V ! 0 ( jumlah gaya  gaya vertikal sama dengan nol) § H ! 0 ( jumlah gaya  gaya horisontal sama dengan nol) § M ! 0 ( jumlah momen sama dengan nol) Kalau dalam syarat keseimbangan ada 3 persamaan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -38- Gambar 2.2. Gambar konstruksi jembatan dalam Mekanika Teknik 2. B= rol dengan reaksi tidak diketahui (RBV = reaksi vertikal di B) . Balok diatas dua perletakan dengan P beban P seperti pada gambar. jumlah bilangan yang tidak diketahui dalam persamaan tersebut maximum adalah 3 buah.3. Jika dalam menyelesaikan suatu konstruksi tahap awal yang harus dicari adalah reaksi perletakan. maka jumlah reaksi yang tidak diketahui maksimum adalah 3. Contoh a). A = sendi dengan 2 reaksi tidak RAH A B diketahui (RAV dan RAH adalah reaksi-reaksi vertikal dan horizontal RAV RBV di A).1.maka pada konstruksi statis tertentu yang harus bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan.1.1. 2.

maka konstruksi tersebut adalah statis tertentu. Konstruksi statis tidak tertentu . Konstruksi statis tertentu c) P Balok diatas 2 perletakan A = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RAV dan RAH (reaksi vertikal dan reaksi horisontal di A). Konstruksi statis tertentu Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 3 buah. Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 4 buah. maka konstruksi tersebut adalah konstruksi statis tertentu. b). sedang persamaan syarat keseimbangan hanya ada 3. RAH = reaksi horizontal di A RM = momen di A. A B Gambar 2.4.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -39- Gambar 2. maka konstruksi tersebut statis tak tertentu. Jumlah reaksi yang tidak diketahui ada 3 buah. B = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RBV dan RBH (reaksi vertical dan reaksi horizontal di B). A = jepit dengan 3 reaksi yang tidak diketahui. RAV = reaksi vertical di A RM RAH A RAV Gambar 2.2.3. P Suatu konstruksi kolom yang berkonsol dengan perletakan di A adalah jepit.

Perletakan A adalah sendi dan di B adalah rol. Rangkuman Konstruksi disebut statis A tertentu.1. Penutup Untuk mengukur prestasi.1. b). P B C dua seperti pada adalah tersebut suatu balok ABC terletak diatas perletakan dengan beban P gambar.6. Latihan a).5.4. Perletakan A dan C sendi. Persamaan syarat-syarat keseimbangan adalah 3 buah 7V = 0 7H = 0 dan 71 = 0 2. 2. Tunjukkan apakah konstruksi tersebut statis tertentu atau bukan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -40- 2. P C A B suatu balok ABC berkantilever terletak diatas dua perletakan dengan beban P seperti pada gambar.1.mahasiswa bisa melihat kunci dari soal-soal yang ada sebagai berikut : Jawaban Soal P C A B titik A B Macam Perletakan Sendi sendi Total reaksi Jumlah reaksi 2 buah 1 buah 3 buah . Tunjukkan apakah konstruksi statis tertentu atau bukan. jika bisa diselesaikan dengan persamaan syarat-syarat keseimbangan.

2.1. Suwarno ƠMekanika Teknik Statis Tertentuơ UGM bab I 2. Daftar Pustaka 1. Dalam pembuatan struktur-struktur tersebut perlu diketahui ukruan atau yang lazim disebut dengan demensi dari tiap-tiap elemen . kayu.8.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -41- Bisa diselesaikan dengan persamaan syarat keseimbangan. Senarai Konstruksi statis tertentu = konstruksi yang bisa diselesaikan syarat-syarat keseimbangan dengan Itik A B 2. baja dan lain-lain. Pendahuluan Bangunan teknik sipil pada umumnya terbuat dari struktur beton. Jadi diatas adalah statis tertentu.2. Jadi konstruksi statis tidak tertentu. b) P B C konstruksi A Macam Perletakan Jumlah reaksi Sendi 2 buah sendi 2 buah Total reaksi 4 buah Persamaan tidak bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan. 2. Suwarno ƠStatika Iơ ITB bab I 2.1.7. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat menggunakan teori yang telah diberikan untuk menghitung gaya dalam suatu struktur serta bisa menggambarkan gaya-gaya dalam tersebut secara rinci pada struktur statis tertentu. JUDUL : GAYA DALAM Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa bisa mengetahui apa yang disebut dengan gaya dalam dan bisa mengetahui bagaimana cara mencarinya.1.2.

maka demensi dari struktur (a) akan berbeda pula dengan struktur (b). beban Beban maksimum yang dipikul oleh orang A akan lebih kecil dari pada beban maksimum yang bisa dipikul oleh orang B karena diameter lengan orang A lebih kecil dari diameter lengan orang B. Balok diatas 2 perletakan dan menerima beban P (sehingga melendut) P B beban RB Suatu balok terletak pada 2 perletakan dengan beban seperti pada gambar.6. yang satu lagi besar.2.3. dansebagainya). pendek (A). Orang membawa membawa beban tersebut. Contoh (a) P2 B o Gaya dalam yang diterima pada struktur (a) berbeda pula dengan gaya dalam yang diterima oleh struktur (b).2. tinggi (B). memerlukan gaya dalam. Kalau beban P tersebut dinaikkan secara bertahap. kolom. Gambar 2. satu kecil. 2. Pengertian tentang Gaya Dalam A L2 B Ada 2 (dua) orang yang mempunyai bentuk tubuh yang berbeda. pelat.5. P1 A L1 Gambar 2.8. Namun hal ini tidak terjadi pada B karena orangnya besar. o Dua buah struktur seperti pada gambar (a) dan (b) dengan beban (P) dan bentang (l) berbeda. tinggi.kecil dalam membawa beban P tersebut urat-urat yang ada pada tangannya tertegang dan menonjol keluar sehingga kita bisa melihat alur uratP = 5 kg P = 5 kg uratnya.7. Untuk menentukan demensi-demensi dari elemen struktur tersebut. maka kedua tangan orang A dan B tersebut tertegang. Yang menjadikan urat-urat tangan orang (A) tersebut menonjol sehingga tampak dari luar A B adalah karena adanya gaya dalam pada tangan tersebut akibat beban P = 5 kg.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -42strukturnya (balok. Contoh (b) 2.2. demikian juga untuk orang B. sampai suatu saat tangan A tidak mampu Gambar 2. Contoh : a). Macam-macam Gaya dalam P1 P reaksi A RA l Gambar 2. dalam yang menyebabkan pelenturan balok tersebut disebut momen yang . maka balok tersebut akan menderita beberapa gaya dalam yaitu : y Balok menderita beban lentur yang menyebabkan balok bentuk tersebut berubah Gaya melentur. P P Untuk A orangnya pendek. Jika kedua-duanya membawa barang beban P = 5 kg.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -43- .

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -44- o Balok tersebut menderita gaya tekan karena adanya beban P dari kiri dan kanan. x ƛ q. Balok yang terletak antara tumpuan A dan B menderita (menerima) momen.2. ½ x 1) gaya jarak gaya jarak . Mx = RA . Balok tersebut akan menerima beban lentur sehingga balok akan melendut. 2. Pengertian Momen (M) c A c x RA l (m) RB P (kg) q kg/mƞ B Suatu balok yang terletak diatas 2 tumpuan dengan beban seperti pada gambar. balok tersebut menerima gaya dalam yang disebut gaya lintang dan diberi notasi D. (atau menerima gaya dalam momen) Gambar 2. akibat adanya reaksi perletakan atau gaya-gaya yang tegak lurus ( B ) sumbu batang. Balok yang menerima beban terpusat dan terbagi rata Definisi Momen adalah perkalian antara gaya x jarak. o Balok tersebut menderita gaya lintang. Balok yang menerima gaya yang searah dengan sumbu batang. ada beban terbagi rata q (kg/mƞ) dan beban terpusat P (kg).(pers. maka akan menerima beban gaya dalam yang disebut Normal yang diberi notasi N. Gaya Dalam Momen a).9.x.4. yang berarti balok tersebut menerima beban lentur atau momen. Momen untuk daerah balok antara perletakan A ke perletakan B dengan variable x bisa ditulis sebagai berikut : I (1) II (dihitung dari kiri ke potongan c-c) Ʀ.

2) Kalau diambil di potongan c-c RB (reaksi di B) merupakan gaya I (l-x) = jarak dari RB ke potongan c-c Q (l-x) = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh (l-x) q (l-x) = Q2 ½ (l-x) = adalah jarak dari titik berat beban terbagi . Gambar potongan struktur bagian kiri Kalau dihitung dari sebelah kanan ke (c-c) I II Mx = RB (l-x) ƛ q (l ƛ x) . ½ (l -x) (dihitung dari kanan) ƦƦƦ. (pers.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -45- Misal kita ambil potongan c-c yang terletak sejarak x dari A RA (reaksi di A) merupakan gaya x = adalah jarak dari RA ke potongan c-c sejauh x qx = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh x yang diberi notasi (Q1 = qx) ½x= adalah jarak dari titik berat beban terbagi rata sepanjang x ke potongan c-c I II q (kg/mƞ) titik berat qx c ½x Q1= qx x c Gambar 2.10.

Demikian juga sebaliknya. balok yang terletak diatas 2 (dua) perletakan A dan B. maka tertekankanan perlu memberi tanda terhadap momen tersebut. q dan RB gaya-gaya tersebut yang Gambar 2. GayaRA RB gaya tersebut adalah RA .12. menerima gaya-gaya yang c arahnya B (tegak lurus) terhadap sumbu balok. Gambar potongan struktur bagian momen yang mempunyai arah berbeda.5. ½ (l-x) c Q2 = q (lx) l -x y Tanda Gaya Dalam Momen Untuk memberi perbedaan antara momentertekan Gambar 2. Gambar balok menerima beban memberi gaya lintang terhadap .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -46- II c c q (kg/mƞ) titik berat dari q (l-x) (2) Kalau menghitung besarnya momen di cboleh dari kiri potongan seperti pada persamaan (1) ataupun menghitung dari kanan potongan seperti pada persamaan dan hasilnya pasti sama.13. Tanda momen 2. Tanda momen (-) * Gambar 2. Gaya Lintang (D) c P (kg) q (kg/mƞ) Kalau dilihat.11.2. Jika momen tersebut mampu melentur suatu tertarik tertarik balok sehingga serat atas tertekan dan serat Tanda momen (+) * Tanda momen (+) * bawah tertarik maka momen tersebut diberi tanda (+) = positif.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -47- Definisi : Gaya lintang adalah gaya-gaya yang B dengan sumbu batang. Potongan balok bagian kiri y (2) Kalau dihitung dari titik c ke kanan potongan. maka D1 = RB ƛ q (l-x) ƛ P = RB ƛ Q2 ƛ P kanan potongan) P c q (kg/mƞ) (gaya lintang di c yang dihitung dari c Q2 = q (lx)x) (l ƛ RB Gambar 2.15. maka (1) Dc = RA ƛ q x = RA ƛ Q1 (gaya lintang di c yang dihitung dari kiri x q (kg/mƞ) c potongan) c Q1=q x RA Gambar 2. maka coba gaya-gaya apa saja yang arahnya B (tegak lurus) terhadap sumbu AB. Potongan balok bagian kanan . Kalau kita ambil salah satu potongan antara perletakan A-B yaitu c-c. y kalau dilihat dari C ke kiri potongan.14.

P Jika dilihat dari kanan potongan c. maka P > RB sehingga jumlah antara P dan RB arah ( q ) kebawah. Skema gaya lintang dengan tanda positif (+) Coba dilihat pada Gambar 1 dari kalau kita mau menghitung besarnya gaya lintang di c (Dc). C RA Dilihat dari kiri potongan C. Karena RB adalah merupakan reaksi.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -48- y Tanda Gaya Lintang P C A RB C C RA B Untuk membedakan gaya lintang. . maka perlu memberi tanda (+) dan (-). jadi jumlah gaya-gayanya yang B sumbu hanya RA dengan arah o (keatas) jadi tanda gaya lintang adalah positip. gaya yang C ada B terhadap sumbu adalah RB ( o ) keatas dan RB P (q ) kebawah. gaya yang ada hanya RA. jumlah gaya arahnya ke Gambar 2. Definisi : * Gaya lintang diberi tanda positif jika dilihat di kiri potongan titik yang ditinjau. atau kalau dilihat di kanan RB potongan.16. jumlah gaya arahnya ke atas.

D maka gaya lintangnya tandanya negatif. gaya-gaya yang B RA sumbu hanya RA dan P.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -49- * P D B Definisi : * Gaya lintang diberi tanda negatif. A Dilihat dari kiri potongan D. Gambar 2. Gambar Skema gaya lintang 2 dengan tanda negatif (-) Coba dilihat pada Gambar 2. Jika dilihat di sebelah kanan potongan gayagaya yang B sumbu hanya RB dengan arah ke RB atas ( o ). jika dilihat di kiri titik potongan P A D B D yang ditinjau arahnya kebawah ( q ) dan bila ditinjau di kanan titik potongan yang ditinjau arahnya ke atas.17 bagaimana kalau kita mau menghitung besarnya gaya P D lintang di D (DD). Jadi RA < P. maka resultante gaya-gaya antara RA dan P arahnya adalah kebawah ( q ). Jadi gaya lintangnya tandanya adalah . karena RA adalah reaksi.17.

18. Balok menerima beban gaya normal RA (sejajar) sumbu batang yaitu P. * Tanda Gaya Normal . 2. * Jadi kalau kita lihat balok yang seperti pada Gambar 2. P P Kalau dilihat pada Gambar 3. baik dihitung dari kiri ataupun kanan hasilnya harus sama.2.6.Jika gaya yang ada arahnya menekan balok. .18 yang RA Gambar 3 Gambar 2.19) menerima gaya normal (N) sebesar P. Balok tanpa beban normal RB mana tidak ada gaya-gaya yang sejajar sumbu batang.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -50- Jadi untuk menghitung gaya lintang. Pengertian Tentang Gaya Normal (N) P A B Definisi : Gaya normal adalah gaya-gaya yang arahnya sejajar (//) terhadap sumbu beban balok. maka tanda gaya normalnya P adalah negatif (-) { € €p P n €€ }. berarti balok tersebut tidak mempunyai gaya normal (N).19.19 dimana ada gaya-gaya yang // Gambar 4 RB Gambar 2. maka pada batang AB (Gambar 3.

2. Ringkasan Tanda Gaya Dalam M tekan M tanda momen positif (+) tarik tarik tekan M M tanda momen negatif () tanda gaya lintang positif (+) tanda gaya lintang negatif (-) tanda gaya normal negatif (-) . 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -51- .7. maka tanda gaya normalnya P €€ adalah positif (+) { n P € €p }.Jika gaya yang ada arahnya menarik balok.

q1 = 2 t/mƞ. Contoh : Penyelesaian Soal 1 Sebuah balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban seperti pada gambar. q2 = 1 t/mƞ P1 = 2 2 t q1 = 2t/mƞ P2 = 6 ton q2 = 1 t/mƞ P4 = 3 ton P1v = 2 t 45 ° C P1H = 2 t A D P = 2t 3 E B RBV RBH 6m RAV 2m 10 m 2m .20. Ringkasan tanda gaya dalam 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -52- tanda gaya normal positif (+) Gambar 2.8. P1 = 2 2 t (º).2. P2 = 6t (¶). P3 = 2t (´) P4 = 3t .

2 .6 + P2 + q2.21.1 = 13 ton (µ)Karena tanda + berarti arah sama dengan permisalan (+) 10 RAV = Pemberian tanda pada persamaan berdasarkan atas arah momen.6.1  6.6 ƛ q1.2) ƛ (RAR + RBR) = 0 (2 + 2.12 ƛ q1.6.7 ƛ P2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -53- Gambar 2. dan D) Jawab : Mencari reaksi vertical RA (µ) keatas dan arah reaksi vertical di B Dimisalkan arah reaksi vertical di A RB (µ) juga keatas.12  2. sedang yang berlawanan arah diberi tanda berlawanan.2 = 9 ton (µ) 10 RBV = Karena tanda RBV adalah positif berarti arah reaksi RBV sama dengan permisalan yaitu (µ) keatas.4 + 2. N.10 ƛ q2.1 = 0 2.4  2.3 + P1R. yang searah diberi tanda sama.2 = 0 1. (Bidang M.3  2.q2.2) ƛ (13 + 9) = 0 Beban vertikal Reaksi vertikal .7  6.q1 ƛ P2. RBV 71%! RBV.6. gaya lintang dan bidang normal. maka perlu memakai kontrol yaitu § V = 0 (P1R + q1. Balok diatas 2 perletakan dan pembebanannya Diminta : Gambar bidang momen.6. Mencari RAV dengan 7MB = 0 (jumlah momen-momen terhadap titik B = 0) RAV. Untuk mengetahui apakah reaksi di A (RA) dan reaksi di B (RB) adalah benar.1.6 + 6 + 1.10 ƛ P1R.6  2.

D Beban P1 = 2 2 (45°) bisa diuraikan menjadi P1V = 2t (¶) dan P1H = 2t ( ) P2 = 6 q1 = 2 ton 2t t/mƞ P3 = 2 ton C D 6m RA = 13 t X A . di kiri potongan arah gaya lintang kebawah (¶) DA kn (gaya lintang (D) di kanan titik A) DA kn = .2 ton (gaya lintang (D) di kiri titik A.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -54- Mencari Raksi Horizontal Karena perletakan A = rol tidak ada RAH.P1R + RAR = -2 + 13 = 11 ton (di kiri potongan arah gaya lintang ke atas). Perletakan B = sendi ada RBH. Untuk mencari RBH dengan memakai syarat keseimbangan ( § H = 0) §H = 0 RBH = P1H + P3 + P4 = 2 + 2 + 3 = 7 ton (³) Menghitung dan Menggambar Gaya Lintang (D) Dihitung secara bertahap Daerah C A lihat dari kiri Gaya lintang dari C ke A bagian kiri adalah konstan DA kr = P1R = .

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -55- Variabel x berjalan dari A ke D (sebelah kiri titik P2). DE = 0 Dx2 = q2 . Dx = -2 + 13 ƛ q1 x = (-P1V + RA ƛ q1x) Persamaan (Linier) didapat Untuk x = 0 DAkn = -2 + 13 = + 11 ton (di kiri potongan arah gaya DD kr= -2 + 13 ƛ 12 = . Daerah B-E 2m q2 = 1 t/mƞ x. x2 = + x2 (persamaan liniear) . DD kn : -2 + 13 ƛ 12 ƛ 6 = .6 didapat Untuk x = 6 m DD kn : sedikit di kanan titik D.7 ton (dikiri potongan arah gaya lintang ke bawah) Dari titik D s/d B tidak ada beban. sedang beban yang dihitung dimulai dari titik C. Variabel x2 berjalan dari E ke B. jadi Bidang D sama senilai DD kn (konstan dari D sampai B). melampaui beban P2.2 RBV = 9 ton B E P4 = 3 ton Lebih mudah kalau dihitung dari kanan dari E menuju B.1ton lintang ke bawah) 2.

P1H = . batang dari D ke B nilai gaya normal konstan).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -56- DB kn kanan perletakan B (x2 = 2 m) arah ke DB kn = + 2 ton (kanan potongan kebawah) DB kr (kiri titik B) DB kr = + 2 ƛ 9 = . P2 tidak termasuk dari C ke D nilai gaya normal konstan. ND kn = (-2 ƛ 2) ton = . Dari kiri DBkn = (-4 + 7) t = + 3 ton (gaya normal menarik batang) MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG MOMEN (M) Daerah C A C P1H = 2t 2m x P1V = 2t A .4 ton (gaya normal menekan batang) NB kr = NDkn = . dari E ke B nilai gaya normal konstan. ND kr = .7 ton (kanan potongan arah ke atas) Melewati perletakan B MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG NORMAL (N) Daerah CD dihitung dari kiri sampai D.2 ton (gaya normal menekan batang) Daerah DB dihitung dari kiri (beban yang dihitung mulai dari titik C. NB kn = + 3 ton (gaya normal menarik batang) Kalau dihitung dari kiri.4 ton Daerah BE dihitung dari kanan. dimana gaya normal dihitung dari titik C.

x = .P1v . x mengakibatkan serat atas tertarik (-) ).4 tm.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -57- Variabel x berjalan dari C ke A Mx = . Daerah A D .2.2 = . sehingga tanda negatif (momen P1v .2 x (linier) Untuk x = 0 x=2 Mc = 0 MA = .

x1 ƛ ½ q1 x1² Mx1 = -2 (2 + x1) + 13 x1 ƛ ½ q1 x12 (persamaan parabola) = . lihat pada Gambar .5 m Mmax = .m Letak dimana harga Mmax = Letak dimana harga (D = 0) 2.5 ƛ 4 = 26. x1 = 5.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -58- Gaya-gaya yang dihitung mulai dari titik C q1 = 2 t/mƞ P1V = 2t C P1H = 2t A D x.5.5.22.½ .2 (5.5)² + 11.1 RAV = 13t 2 m Variabel x1 berjalan dari A ke D Mx1 = -P1V (2 + x1) + RA.25 tm.½ q1 x12 + 11 x1 ƛ 4 6 m MENCARI MOMEN MAXIMUM D Mx 1 !0 d x1 d Mx1 !  q1 x1  11 ! 0 d x1 p x1 ! 5.

½ .62 m (tidak mungkin) Untuk x1 = 6 MD = -36 + 66 ƛ 4 = + 26 tm Daerah E-B (dihitung dari kanan.q1.3756 m (yang dipakai) x1ƞ = 10.½ q2 x22 Untuk x2 = 0 didapat ME = 0 MB = .x12 + 11 x1 ƛ 4 = 0 = x12 ƛ 11 x1 + 4 = 0 x1 = 0.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -59- Mencari titik dimana M = 0 Mx1 = . titik E ke titik B) variabel x2 berjalan dari E ke B q2 = 1 t/mƞ P4 = 3 t B 2m x2 E Dihitung dari kanan Parabola Mx2 = . 1.4 = -2 tm didapat Untuk x2 = 2 .½ .

D balok diatas 2 tumpuan .5 m linier - 4 tm + - 2 tm parabola 0.3756 parabola BIDANG M linier Gambar 2.22. N. Gambar bidang M.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -60- P1V = 2 t C =2t A q1 = 2t/mƞ P2 = 6 ton D P3 = 2 ton B RBV ton q2 = 1t/mƞ E P4 = 3 ton = P1H RAV = 13 t RBH 7t =9 11 2 - + 6 t BIDANG D 1 t - 2 t + 7 t 2 t 2 t 4t + 3 t BIDANG N 5.286 0.

5 32.1 = 8 t (o) Untuk menggambar gaya dalam kita bisa dari kiri atau kanan. Contoh 2 Diketahui: KONSOL (CANTILEVER) P2 D 1t C 1m RD 2m B = q=1 t/mƞ P1 2t A Suatu konstruksi konsol (cantilever) dengan perletkan di D = jepit dengan beban P1 = 2t = (¶).23. P2 = 1t (¶) dan beban terbagi rata q = 1 t/mƞ Ditanya : Gambar bidang M. x2 Untuk x2 = 3 DB kr = 2 + 1 + 1.9.5 parabola Dx2 = 2 + 1 + q .3 = 5 ton (dari kanan potongan arah gaya ke bawah tanda positif (+) ).3 = 6 ton Untuk x2 = 5 DC = 2 + 1 + 5 = 8 ton Daerah A B Bidang M (dari kanan) MA = 0 linierGambar 2. 5 8 BIDANG D + 1t Bidang D (dari kanan) DA kr = + 2 ton Daerah A B BIDANG M x1 merupakan variabel yang bergerak dari A ke B Dx1 = 2 + q.5 = 0 RD = 2 + 1 + 5. Bidang M. N. D 3m x1 x2 Jawab : Mencari reaksi di D dengan syarat keseimbangan RD = ? 7v = 0 RD ƛ P2 ƛ P1 ƛ q. D Balok cantilever . parabola x2 merupakan variabel yang bergerak dari A ke C Daerah B C 10.5 24.2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -61- 2. pilih yang lebih mudah dalam hal ini pilih yang dari kanan. x1 Untuk x = 3 DB kn = 2 + 1. N.

1. Soal 1 P1 = 4t P2 = 4 2t HA A B VA 2m 3m 3m RB Balok AB dengan beban seperti tergambar A = sendi B = rol P1 = 4 ton P2 = 4 2 ton Ditanyakan.5 ƛ 1. a) reaksi perletakan b) bidang N.6 ƛ P2.10.2.24.5² = .5 + 1) = -12 ƛ 3 ƛ 5.5 t ( ) 2.P1. Latihan Balok diatas 2 tumpuan.2 ƛ ½ .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -62- 2 Daerah B .C : Mx2 = -P1 x2 ƛ P2 (x2 ƛ3) ƛ ½ q x2 : MC = -2. a) reaksi perletakan b) bidang N.5 = 32. D dan M 45 ° Soal 2 P! t P3 = 32 2t HA A VA 2m 4m q = 1 t/m' 45° D B RB 2m C .3 ƛ 5.1 (2. D dan M Balok ADCB dengan beban seperti tergambar A = sendi B = rol P1 = 3 2 ton q = 1 ton/m· Ditanyakan.5 tm ( ) MD : .3.

bidang N. Ditanyakan. reaksi perletakan b). a).5 ton /m· . D dan M q = 1. P1 = 2 ton P2 = 2 2 ton .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -63- Soal 3 q   . t/m' HA A VA 6m ¡¢ ¤2   2 2t ° £ P1   2t 2m B RB 2m C Balok ADCB dengan beban seperti tergambar : A = sendi B = rol .

tekan + + + + Momen = M . Rangkuman Dalam suatu konstruksi ada gaya dalam sebagai berikut : M (momen) dengan tanda + D (gaya lintang) dengan tanda + N (gaya normal) dengan tanda + - 2. Penutup Untuk mengukur prestasi. mahasiswa bisa melihat kunci dari soal -soal yang ada sebagai berikut : Jawaban Soal No.2.5 ton 3.5 ton 0. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D D²B A²C C²D D²B A C D B Nilai 4.12.5 ton 3.5 ton 0 9 tm 10.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -1- 2.5 ton 4 ton 4 ton 0 4.11.2.5 tm 0 Tanda/arah o o p .

08 m D B C Nilai 4.375 ton 2.625 ton 4.375 ton 2 ton 0 0 7.375 ton 2 ton 2 ton 4.13 tm 0.08 m kanan A A X = 3.75 tm 4.tekan + + Momen = M + + Jawaban Soal No.tekan + + Momen = M + + - .625 ton 4.0 tm 0 Tanda/arah o o p . 3 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D²B²C A D kiri D kanan ² B kiri B kanan ² C X = 3. 2 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D D²B A ² D kiri D kanan B kiri B kanan C A D B C 2 m kanan D Nilai 3 ton 6 ton 3 ton 3 ton 0 3 ton 0 4 ton 2 ton 0 0 6 tm 2 tm 0 4 tm Tanda/arah o o p .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -2- Jawaban Soal No.

. Hubungan Antara Momen (M) .dx² } 0 karena dx = cukup kecil dan dx² bertambah kecil sehingga bisa diabaikan.3.0 d Mx = Dx . dx = berat beban terbagi rata Sepanjang dx Dx + dDx = gaya lintang di potongan II (¶) dDx = selisih gaya lintang antara Potongan I dan II. Dengan beban sepanjang dx tersebut kita akan mencari hubungan antara beban. Gaya Lintang D dan q (Muatan) Pada gambar terdapat potongan sepanjang dx batang yang diberi beban terbagi rata (qx).dx Mx Dx M x + dMx D x + dDx batang I dx II Gambar 2.24. potongan tersebut antara I dan II sepanjang dx.dx . dx o Kiri ada Mx . ½ dx dan kanan ada Mx + dMx o ½ qx. dx² . distribusi gaya dalam pada balok sepanjang dx Keseimbangan gaya ƛ gaya vertikal 7 V = 0 di potongan II Dx ƛ qx dx ƛ (Dx + d Dx) = 0 (kiri ada Dx ( o) dan qx dx ( q) dan kanan ada Dx + d Dx ( q) dDx = .qx dx d Dx !  qx dx (turunan pertama dari gaya lintang adalah beban) Keseimbangan momen 7 M = 0 di potongan II Mx + Dx dx ƛ qx . Mx + dMx = momen di potongan II ( ) dMx = selisih momen antara I dan II qx ½ dx beban qx.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -3- 2. qx = beban terbagi rata Mx = momen di potongan I ( ) Dx = gaya lintang di potongan I ( o) qx .dx. Dx dx dan qx. gaya lintang dan momen. ½ dx ƛ (Mx + d Mx) = 0 ½ q.

misal : tangga.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -4- d Mx ! Dx dx * turunan pertama dari momen adalah gaya lintang 2. Dasar Penyelesaian Dalam penyelesaian struktur. Namun disini perlu lebih berhati-hati karena dalam baloknya menghitung (b) Gambar 2. Pengertian Dasar Balok miring adalah suatu balok yang berperan sebagai pemikul struktur yang posisinya membentuk sudut dengan bidang datar. terutama untuk menghitung dan menggambar gaya dalam adalah (a) sama dengan balok biasa (horizontal). Balok Miring Pada pelaksanaan sehari -hari sering kita menjumpai balok yang posisinya miring seperti : tangga. 2. Pada kenyataan sehari -hari balok-balok tersebut bisa berdiri sendiri atau digabungkan dengan balok vertikal atau horisontal.1.4. dalam hal ini kita harus tahu bagaimana menyelesaikannya.4.25. Seperti pada gambar. balok atap dan lain sebagainya. Skema balok miring .

perletakan B = rol duduk pada bidang miring // dengan sumbu batang.4. perletakan A = sendi duduk di bidang horizontal. Ditanya : Gambar bidang M. dan beban terbagi rata q = 1 t/mƞ dari D ke B dengan arah vertikal. Beban P 1 = 4 t vertikal di C dan beban P2 = 4t vertikal di D. N. 2. D Jawab : q = 1 t/mƞ B rol P 1=4 C P2=4 t D A R AH ­ E 1m 1m 1m RB Dim B = rol jadi reaksinya hanya 3 satu B sumbu batang 5 3 E send RAV 4m 1m 2m 1m 4 di B = rol jadi reaksinya hanya satu B sumbu batang . Contoh soal Diketahui Suatu balok miring di atas 2 tumpuan.2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -5- Dalam hal ini mahasiswa bisa lebih mendalam dalam pengetrapan pengertian gaya -gaya dalam pada semua kondisi balok.

3 ƛ P2.1 = 0 18 ! 3.2 ƛ q.3 ƛ P2.5 ƛ 1.16 ton 5 Mencari R AV dengan 7 M B = 0 RAV 7 MB = 0 RAV.2 ƛ P1.1 = 0 RAV.3.4 ƛ 2.5 ƛ q. Pembebanan pada balok miring Untuk mencari reaksi kita lebih cepat kalau yang dicari reaksi di B dulu.3 ƛ P 1.1 = 0 RB = 5 Untuk mencari R AV dicari dulu R AH dengan syarat keseimbangan horizontal.2. RAH 7 H = 0 RAH ƛ RB sin2 = 0 3 RAH = .2 ƛ 4.4 ƛ RAH.3 ƛ 4.a.3 ƛ 4.6 ton (arah R B B sumbu batang) RB.1.16.3 ƛ 4.2. Reaksi di B RB B bidang sentuh RB dicari dengan 7 MA = 0 RB.2.12 ton .26.1 = 0 RAV = 7.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -6- Gambar 2.6 ton = 2.2 ƛ 2.

2 ton Dc kr = .2 ton (dari kanan) ND kr = .6 + (2 + 4 + 4) cos.b.(4 + 2) sin E = -6 .6 + q.3. cos E= .26.2 ton DD kr = -3.3/5 = . sin E = -2 . 3/5 = -1.6 + 2.3.// sumbu batang . Distribusi beban pada balok miring Gaya yang // sebagai bata ng Gaya yang B sebagai batang menjadi gaya normal (N) a ! q sin E ¾ ® ¯ ¿ b ! q cos E À ° menjadi gaya lintang (D) ND kn = -2q .3.6 ton MEN GHITUN G GAYA LINTAN G (D) (dari kanan) DB kr = .4 ton 4/5 .2 .B sumbu batang 1 m a E q q E b Gambar 2.6 ton NC kr = .x . 4/5 = .3.6 + q.(4 + 4 + 2) sin E = -10.E! 4.6 ton Dari B ke D Dx = .3.1. 3/5 = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -7- MEN GHITUN G BIDAN G NORMAL (N ) Beban P dan q diuraikan menjadi : . cos E DD kn = .6 + (2 + 4) 4/5 = 1.3.RB = .

D 1 t/mƞ 4t B .1 = + 5.q.6 . N. 3 .x ² cos E 2 x cos E E x Mc = RB .1 cos E = 3.q.  . 2 1  .5 tm Gambar bidang M.2 ƛ 4.6 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -8- 1 t/mƞ B 4t 4t D A 1m C 1m 2m x 3m 1 t/mƞ MEN GHITUN G BIDAN G MOMEN (M) Dihitung dari kanan B ke D 4 t C A Untuk x = 0 Untuk x = 2 MB = 0 M D = 3. 3.75 ƛ 2.2 ƛ P.1.2.4 !  7 tm 4/5 2 4 t D x B RB x 1 Mx = RB .

Gambar 2. Bidang gaya dalam pada balok miring .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -9- Seperti teori sebelumnya kita bisa menghitung gaya -gaya dalam dari dan hasilnya harus sama.27. Seperti contoh dibawah ini.

2 ton Gaya lintang di D kanan ada pengaruh P = 4t DD kn = (7. Cos E) RAH = 2. 3/5 = .(7. DB = -2 ƛ 2. 3/5 = 0 ton Gaya lintang DA kn = R AV cos E . 4/5] = . 4/5 ƛ 2. sin E NB = .2 ton.2 ton Gaya normal dari D ke B linier { NB = .6 ton Gaya normal di D kanan ada pengaruh P = 4 ton. NC kn = .1. sin E (gaya B sumbu batang) RAH.5.(RAV . 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -10- PERHITUN GAN DARI KIRI RAV diuraikan menjadi : RAV.16 .12 ƛ 4).12 .2 .12 .6 ton 2.12 NA kn = .1. beban tekanan tanah dan lain sebagainya. 3/5 + 2. cos E RAH diuraikan menjadi : RAH. 4/5 = . sin E E RAV .2 + q. Gaya lintang dari D ke B adalah linier karena ada beban terbagi rata.16 . 4/5) t = .1.16 t D = + RAV . Pengertian Dasar Beban segitiga seiring terjadi pada kenyataan di lapangan seperti beban tekanan air dan tekanan tanah.5. NDkn = . namun ada yang berbentuk segitiga seperti beban tekanan .4 ton Gaya lintang di C kanan ada pengaruh P = 4 ton Gaya lintang dari C kanan ke D kiri adalah konstan Dc kn = (7.12 ƛ 4 ƛ 4) 4/5 ƛ 2.3. Beban Segitiga Pada kenyataan di lapangan beban tak hanya terpusat a tau terbagi rata.6 ton Gaya normal di C kanan ke D kiri adalah konstan Di Nc kanan ada pengaruh beban P = 4 ton. 4/5] = .[(7.12 ƛ 4) 4/5 ƛ 2.12 ƛ 4 ƛ 4) 3/5 + 2.16 .R AH sin E Gaya lintang dari A kn ke C kiri adalah konstan. DA kn = 7.16 . cos E . 3/5 = 4. cos E (gaya // sumbu batang) RAV. 3/5 = 1. Sin E (gaya // sumbu batang) RAH  RAV = 7.3.2 + 2.RAH .1.16 . sin% E  E RAV R AH sin E A E RAH cos E N = .1 . 3/5 + 2.16 . sin E + RAH .1 . Contoh dinding dinding tangki tangki Sin E = 3/5 Cos E = 4/5 air .[(7. Cos E (gaya B sumbu batang) RAV .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-11-

2.5.2.

Gambar 2.28.a. Diagram beban segitiga

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-12-

Dasar Penyelesaian Prinsip dasar penyelesaiannya adalah sama dengan yang lain -lain namun kita harus lebih hati -hati karena bebannya membentuk persamaan.

Persamaan a x = x .a l ax A Px a.l 6 B

a t/mƞ

RA =

2/3x 1/3x

RB = P=

a .l ton 2 Gx ambar 2.28.b. Beban segitiga pada struktur

a .l 3

l Mencari Reaksi Perletakan Titik berat beban P : 2/3 l dari A atau 1/3 l dari B l 0 p R ! 1/ 3 l  P 1/3 l § M B ! 0 p R A .l  P .12/3 / 3l ! A l 1 / 3 l a.l a.l ton RA ! x ! 2 6 l 2/3 l § M A ! 0 p R B .l  P . 2 / 3 l ! 0 p R B ! P l 2 / 3 l a.l a.l x ! R ! ton l 2 3

Menghitung Bidang D (dari kiri) X = variable bergerak dari A ke B x Di potongan x ax = . a l Beban segitiga sepanjang x Px = ½ x. ax ax ² x Beban Px = ½ x . . a ! 2l l Persamaan gaya lintang : a.l ax ² Dx = RA ƛ Px = (parabola)  6 2l Persamaan pangkat 2 Mencari tempat dimana gaya lintang = 0

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-13-

D=0

RA ƛ Px = 0 a.l ax ² l² ! p x² ! 6 2. l 3 XD ! 0 ! l² 1 ! l 3 3 3

MEN GHITUN G BIDAN G M x Mx = RA . x ƛ Px . 3 a.l ax ² x = .x  . 6 2 .l 3 a a .l = (persamaan pangkat 3 / parabola) x  . x³ 6l 6

M max terletak di daerah untuk D = 0 1 x= l 3 3 3 a.l ¨ 1 ¸ ¸ a ¨1 M max = l 3  l l 3 ¹ © ¹ © 6 ª3 º º 6 ª3 a.l² a .l² 3 3 = 54 18

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-14-

Contoh Perhitungan ax = x
2/3 x 1/3 x

x .3 6 Jawab : h=3 ton/mƞ TOTAL BEBAN B P=½lxh RB P= 7 MB 0 RA = 7 MA 2 .9 = 3 ton 6 RB . l ƛ P.2/3 l = 0 RB .6-9.4 = 3.6 = 9 ton 2 RA.l ƛ P l/3 = 0 RA . 6-9.2 =

A Px RA 2 l/3 l=6 m P l/3

3,464 m 3t + D=0 BIDAN G D 6t

0 RB = 4 .9 = 6 ton 6

Menghitung Bidang D x = variable bergerak dari A ke B ax ! x x .3 ! 2 6

Gambar 2.29. Bidang gaya dalam pada beban segitiga x = 0 DA = + 3 ton x = 6 DB = - 6 ton + Menghitung Bidang M x Mx = RA . x ƛ Px . 3 x² x x³ = 3x . ! 3x  BIDA N G 4 3 12 Mmax M D=0 M max (x = 3,464 m) M
max

Px = ½ x . ax Px ! x x x² . ! 4 2 4 Dx = R A ƛ Px

Persamaan gaya lintang Dx = 3 x² 4

Tempat dimana gaya lintang = 0

x² D=0 !3 3 4 ¨ 3,464 ¸ 3.3,464 - © ¹ ! 10,392  3,464 ! 6,928 tm ª 12 º

2.5.3. LATIHAN Soal 1 : Balok Miring

D dan M Portal ACB dengan perletakan A = sendi . seperti tergambar Beban q = 1 t/m· . P = 3 ton Ditanyakan. seperti tergambar. P = 3 ton Ditanyakan. B = rol. q ¦ t/m' X RHA A VA L Balok AB dengan beban segitiga seperti tergambar A = sendi. a) reaksi perletakan b) bidang N. B = rol Ditanyakan. a) reaksi perletakan b) bidang N. D dan M Soal 4 3m RB . D dan M 30° Soal 2 q = 1. Beban q = 1 t/m· .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -15- P q ¥ 1 t/m' C B ¥3t HA A VA 6m 1m Balok miring ABC ditumpu di A = sendi. a) reaksi perletakan c) bidang N. B = rol. .5 t/m' P=4t B HA A E 3m RB VA 4m Soal 3 : Balok dengan beban segitiga.

Ditanyakan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -16- q § 3 t/m' RHA A B RAV 4m RB 2m C Balok ABC dengan beban segi tiga q = 3 t/m ditumpu pada A = sendi .50 t 2.88 t 3 ton 9.16 t t 2.88 m Nilai 4. seperti tergambar. Rangkuman - Balok miring adalah balok yang seiring dipergunakan dalam struktur tangga.tekan .12 ton 5.5. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi miring Titik A : VA B : RB Atau : H B VB A : HA A B kiri B kanan ² C A B kiri B kanan ² C X = 2.815 t 4. Penutup Untuk mengukur prestasi. a) reaksi perletakan b) bidang N.4.63 t 2.11 tm Tanda/arah o n o p .5.76 ton 1. Beban segitiga (() adalah beban yang terjadi akibat tekanan air dan tekanan tanah. besarnya merupakan fungsi x. 2. B = rol.tekan . mahasiswa bisa melihat kunci soal -soal yang ada sebagai berikut : Soal no.50 t 1.88m jarak miring dr A A B C X = 2.6 t 0 0 3 tm 0 3.tekan + + Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Momen = M + .5. ketelitian perhitungan perlu. D dan M 2.

3 Keterangan Reaksi vertikal Titik A : RAV B : RB Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D A : RAH A-B A «««.l 3 0 0 0 0.5774 L dari A A B C X= Nilai q.2 ton 0 4 ton 0 12 tm(max) 9 tm 0 Tanda/arah o o p .l 6 q. 4 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -17- Jawaban soal no. Jawaban soal no..l 6 q. 2 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Data pendukung Gaya normal = N Titik A : VA B : RB A : HA Sin E Cos E A C bawah C kanan ² B A C kiri C kanan ² B A C X = 2 m horisontal dari A B Nilai 6 ton 4 ton 0 3/5 4/5 3.tekan Gaya lintang = D + + + Momen = M Jawaban soal no. X= Momen = M L 3 = 0.6 ton 0 0 5.06415 x q x l2 (max) + Tanda/arah o o + - L 3 ««««..l 3 0 0 q. B «««.

UGM. 2.24m Nilai 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -18- Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : RAH A²B-C A B kiri B kanan C X = 2. Bab I.5 ton 1 ton 0 0 0 0. Daftar Pustaka - Suwarno.5 ton 4.7.6.5. ƏStatika IƐ. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ.5 ton 3.24m dari B A B X = 2.5. ITB. Senarai Balok miring = balok yang membentuk sudut Beban segitiga = besarnya merupakan fungsi x . Bab I Soemono.67 tm 3.5 ton 0 0 4.73 tm Tanda/arah o o p + + Momen = M + 2.

l ton Resultante Beban : P = 2 Persamaan garis ax = Diketahui : .2.a l a . x Di ujung titik A RAV dan RAH diuraikan menjadi gaya -gaya yang B (tegak lurus) dan // (sejajar) dengan sumbu x = jarak R B ke sepanjang batang cos E BD x .2 2 = panjang beban terbagi rata 2 = jarak titik berat q ke titik D.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -19- 4/5 RB RB 3/5 R B catatan : q.

l 6 B a t/mƞ RA = 2/3x 1/3x x l 2/3 l RB = P= a . seperti bebab Tekanan tanah dan beban air pada tandon air. Tahap penyelesaiannya adalah sebagai berikut : Persamaan a x = x . dengan beban segitiga diatasnya. Balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban U (segitiga) seperti pada gambar.l 3 1/3 l .a l ax A Px a. Ditanya : Selesaikan dan gambar bidang gaya dalamnya Pada pelaksanaan sehari -hari sering dijumpai beban yang berbentuk linier segitiga.l ton 2 a. bagaimana penyelesaiannya bisa lihat dalam contoh soal.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -20- Balok di atas 2 perletakan A dan B. tinggi beban di atas perletakan B adalah 3 ton/mƞ= h.

Jembatan dengan gelagar langsung Jembatan yang roda kendaraannya bisa diterima langsung oleh plat lantai kendaraan yang terbuat dari beton disebut dengan gelagar langsung. gelagar memanjang dan plat lantai dasar (lihat Gambar 2. bambu. Untuk jembatan dimana yang roda kendaraan tidak bisa langsung diterima oleh struktur utama disebut dengan gelagar tidak langsung atau beban tidak langsung yang mana da lam penggambaran seperti pada Gambar 2. . bambu atau baja tersebut. dan profil baja. Pengertian Dasar Ada beberapa macam model jembatan yang ada di lapangan yaitu jembatan yang terbuat dari beton dan jembatan yang terbuat dari kayu. Gelagar Tidak Langsung 2.6. Plat lantai kendaraan yang terbuat dari beton Gambar 2. maka roda kendaraan tidak bisa secara langsung diterima oleh struktur kayu.31. melainkan harus lewat suatu perantara yang disebut dengan gelagar melintang. bambu.30. Kalau jembatan yang terbuat dari beton karena bentuknya bisa dibuat sesuai dengan yang diinginkan.31). maka dalam hal ini roda kendaraan bisa diterima langsung oleh plat lantai yang terbuat dari beton tersebut.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -21- 2.6. Untuk jembatan yang terbuat dari kayu.1. baja.

memanjang Potongan Melintang Gambar 2.31.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -22- arah muatan aspa l Gel. melintang Potongan melintang Gelagar induk Gel. Skema gelagar tidak langsung dari suatu jembatan .

2. melintang P gelagar induk / utama beban terbagi rata tersebut akan ditransfer ke gelagar induk melewati gelagar melintang jadi yang sebenarnya beban merata. untuk gel. melainkan lewat perantara gelagar melintang. gel. memanjang P P P . melintang gel. memanjang gel.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -23- 2. tida k langsung Gambar 2.32. Penyederhanaan akhir. gel.6. induk / G ambar 2.3.33.6. Skema Penggambaran MuatanTidak Langsung dalam Mekanika Teknik Untuk mempercepat perhitungan maka struktur dengan muatan tak langsung harus mengalami penyederha naan. mas uk ke gelagar induk (utama) menjadi beban P beban terbagi rata diatas gel. induk). maka beban yang diterima oleh gelagar induk tidak selalu sama dengan beban yang berada diatas jembatan. Penyederhanaan awal. tidak 2. Cara distribusi beban Karena roda kendaraan tidak langsung diterima oleh gelagar utama (gel. q kg/mƞ beban terbagi rata gel.

P/2 . melintang. 2P .35. dimana P Q1 Q2 Q2 = b a Q dan Q1 ! x x A Gambar 2. 2P . melintang Potongan II-II = ditengah-tengah gel. memanjang genap. melintang Menghitung momen di potongan I -I P P/2 M I (untuk potongan I -I) M I = RA . P = 6q P² .P.qP² .q P² = 4 q P² (muatan tidak langsung) II P/2 P I P gelagar induk 6P P P 3 q P II I 3qP . II I q t/mƞ Potongan I ƛ I = tepat diatas gel. Distribusi beban terpusat pada gelagar tidak langsung BEBAN TAK LANGSUNG Contoh : Suatu gelagar yang tidak langsung mendapat beban q t/m¶ dengan jumlah bentang gel.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -24- a Q b Jika beban terpusat Q berada diantara gel. maka Q tersebut didistribusi menjadi beban Q 1 dan Q 2.

Melintang) boleh dihitung sebagai beban langsung.5 P² .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -25- Kalau dicek memakai muatan langsung adalah : M I = beban langsung M I = 3. Penyelesaian : P=qP RA = RB = 3q P Beban diantara perletakan P = q P Beban di atas perletakan P/2 = q P/2 Perhitungan Momen Pada Potongan II q t/mƞ II Dengan memakai beban langsung MII II P 3q P ½ qP qP II Jika dihitung dengan beban tidak langsung P 3qP P/2 q t/mƞ II M II = 3q P . 1. ½ P = 3.½ q (1.½ q P .½ q (2P)² = 6q P² .5 P .5 P)² = 4.125 q P²) q t/mƞ Perbedaan tersebut adalah dari : P 0.125 q P² = 3.125 q P² Momen lantai = kendaraa 1 q P ² ! 0.25 q P² Perbedaan momen (0.375 q P² .q P . 2P .5P . 1.125 q P ² 8 P/2 = 3 qP .2 q P² = 4 q P² Catatan : Besar M (momen) pada titik balok penghubung (gel.q P .1.5 P . 1.

125 q P² = 3. maka gambar bidang D (bidang gaya lintang).0.37.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -26- Catatan : Momen tidak langsung (diantara gelagar) MII = M langsung ƛ M. lantai = 3. tapi kalau gelagarnya tidak langsung.25 q P² jadi dalam hal ini ada perbedaan nilai perhitungan momen pada gelagar tak langsung untuk potongan dibawah gelagar melintang dan potongan diantara gelagar melintang. 2½ P Gambar 2. namun s eperti gaya lintang beban terpusat. garisnya 3P P 2½ P P + P P P Bidang D 3P bukan linier. Perhitungan gaya lintang (D) ½ P P P P P P ½ P Walaupun beban terbagi rata. Bidang gaya l intang (D) dari gelagar tidak langsung .375 q P² .

H A.6. RB b). Gaya reaksi V A. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci kunci yang ada.6.5 t/mƞ sepanjang bentang. Ditanyakan : a).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -27- 2.5. 3t P 2 = 1t P1 = P = 3m P P Ditanyakan : a). D. M 1 2 3 HA VA P P P = 2m Soal 2 : P1=3t 1m 2 3 A 4 P 5 B R B P2=1t 4 5 B P RB C 6 1 HA P VA Balok ABC mendapat beban tak langsung seperti tergambar.5 t/mƞ Balok AB mendapat beban tak langsung seperti tergambar.4. 2. Bidang N. RB b). .6. Gaya reaksi V A. Rangkuman - Gelagar tidak langsung biasanya terdapat pada jembatan kayu atau baja - Apapun bentuk beban yang terdapat diatas jembatan. Bidang N. q = 1.6. M. H A . D. Penutup Untuk mengukur prestasi. transfernya ke gelagar utama selalu berbentuk beban terpusat. 2. Latihan Soal 1: q = 1.

5 t 1.25 t 1.25 tm 4.5 tm 0.25 t 0 0 2t 1t 0 0 1t 0 1.0 t 1.75 t 0.5 t 0 9 tm 12 tm 9 tm 0 Arah / Tanda o o q q q q q         Soal N o.0 t 3.5 t 3.5 t 1.25 t 1.00 t 0 5. 2 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Beban Pada Titik Titik A : VA B : RB A : HA 1 2 3 4 5 6 1-2-3-4-5-6 1-2 2-3 3-4 4-5 5-6 A=1 2 3 4 N ilai 1.5 t 0 4.75 tm Arah / Tanda o q q q         Gaya Normal = N Gaya Lintang = D Momen = M .75 t 2.25 t 1.5 t 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -28- Soal no 1 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Beban Pada Titik Gaya Normal = N Gaya Lintang = D Momen = M Titik A : VA B : RB A : HA 1 2 3 4 5 1-2-3-4-5 1-2 2-3 3-4 4-5 A=1 2 3 4 5=B N ilai 6t 6t 0 1.0 t 3.

.6.6. 2. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ .8. Senarai Muatan tak langsung = beban tak langsung = beban yang tak langsung terletak di balok induk. Daftar Pustaka - Soemono.73 tm  + + Momen = M + 2.7. UGM Bab I.0 tm 0 0 4.5 ton 1 ton 0 0 0 0.24 m 3.67 tm 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -29- Gaya Normal = N Gaya Lintang = D 5=B 6=C AƛBƛC A B kiri B Kanan C X = 2.24 m dari B A B X = 2. ƏStatika IƐ.5 ton 3. ITB-Bab I Suwarno.

atau gaya dalam M (Momen). gaya momen. Di sisi lain kalau kita meng analisa struktur maka yang dicari dari struktur tersebut adalah. Pendahuluan Kalau kita meninjau atau melihat suatu jembatan. dan gaya no rmal.1. gaya lintang. gaya lintang (D) atau gaya normal (N) di suatu tempat pada gelagar tersebut. atau D (Lintang) disuatu titik akibat pengaruh dari muatan sebesar 1 ton berjalan. maka kaitannya adalah : Berapa besarnya nilai maksimum dari gaya -gaya dalam di suatu tempat di struktur tersebut.2.7. Definisi Garis pengaruh : adalah garis yang menunjukkan besarnya R (Reaksi). Garis Pengaruh 2. Jika dua hal tersebut dipadukan. tersebut berjalan suatu muatan.7. maka didalam suatu garis pengaruh. Pengertian Dasar Untuk mempermudah suatu penyelesaian.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -30- 2. Untuk menjawab hal tersebut diperlukan suatu garis pengaruh. jika di atas struktur jembatan 2. Garis pengaruh ini sebagai alat bantu untuk mencari nilai reaksi.7. muatan yang dipakai sebagai standard adalah beban P sebesar satu satuan (ton atau kg atau Newto n) yang berjalan diatas struktur suatu jembatan tersebut. atau N (Normal). jika ada muatan yang berjalan di atasnya ?. maka struktur tersebut selalu dilewati oleh suatu muatan yang berjalan. gaya momen. . gaya lintang dan gaya normal. Sedang bentuk garis pengaruh tersebut adalah suatu garis yang menunjukkan nilai dari apa yang akan dicari tersebut misal : Reaksi (R) atau gaya momen (M) atau. reaksi-reaksi kemudian gaya -gaya dalamnya yaitu.

Gambar garis pengaruh R A dan RB .P.P. l ƛ P (l-x) = 0 P(l .R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) 7 MB = 0 RA = G. R B + G. R A RA .38.P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -31- Contoh 1 : Mencari garis pengaruh Reaksi (R A dan R B) x P=1 ton A RA l x = variabel sesuai letak (posisi) P yang bergerak dari titik A ke titik B B RB Muatan P = 1 ton berjalan dari A ke B G.x) l  x ! ton (linier ) l l x=0 x=l RA = 1 ton RA = 0 ton Untuk P di A Untuk P di B + 1 ton G.x = 0 P.x x RB = ton (linier) ! l l 1 ton Untuk P di A Untuk P di B x=0 x=l RB = 0 RB = 1 ton Gambar 2.RB (Garis Pengaruh Reaksi di B) 7 M A = 0 R B.l ƛ P.P.

R A + P=1 GP. jadi y3 = l l d c RA = ton dan R B = ton B l l Gambar 2. dimana d c ton dan y 4 = ton.R B Gambar 2. Kegunaan digaris pengaruh untuk beban di titik D GP.40 P= 4 ton A a + y1 C b 1t GP.R B t A C a + y1 y2 GP.R B (Garis Pengaruh Reaksi di B) Garis ini menunjukkan besarnya n ilai R B sesuai B dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar P=1 t B 1t 1t GP.39.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) Garis ini menunjukkan besarnya nilai R A sesuai dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar Ini adalah GP.41. maka besarnya reaksi di A RA = y1 dan besarnya reaksi di B R B = y2.40. Kegunaan dari garis pengaruh untuk beban di titik c * Jika beban P = 1 ton berada di atas titik D sejauh c dari perletakan A dan sejauh d dari perletakan B.RB Gambar 2. dimana 1t b a y1 = ton dan y 2 = ton.7. Kegunaan garis pengaruh untuk tidak 4 b 4 a dengan 1 ton RA = dan RB ! l l .R A y2 GP. y2 atau Gambar 2.beban y1 dan RB =sama 4 . Kegunaan dari suatu Garis Pengaruh X A RA + GP.39 A c 1t + y3 GP.RA + P=1 t D d * Jika beban P = 1 ton berada di titik C sejauh a dari perletakan A dan sejauh b dari perletakan B.3. maka besarnya reaksi di A R A = y3 dan besarnya reaksi di B 1t RB = y4. jadi l l b a ton dan R B = ton RA = l l B Gambar 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -32- 2.RA + y4 + b 1t l RB Ini adalah GP.R B + 1t Bagaimana kalau P tidak sama dengan 1 ton Jika P = 4 ton terletak di titik c Maka RA = 4 .

Kegunaan garis pengaruh untuk beban P 1 = 4 ton dan P 2 = 6 ton Beberapa Contoh 1. sejarak b dari titik B.R A y4 P2= 6 ton D b c y1 + y2 GP.P.R B + y3 GP. y3 dan R B = 6 y4 atau RA = c 6d ton dan R B ! 6 ton l l Gambar 2.RA 1t d B + + D d B Jika P = 6 ton terletak ti titik D Maka RA = 6 .42. maka 1t RA = 4y1 + 6y3 = 4 .RB P= 4 ton A a C 1t Bagaimana kalau ada beberapa muatan : y Jika di atas gelagar ada muatan P1 = 4t di c.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -33- P=6 t A c 1t + y3 GP. Mencari Garis Pengaruh Gaya Lintang (G. sejarak dari titik A. dan P 2 = 6t sejarak c dari titik A. sejarak d dari titik B.D) P = 1 ton berjalan dari A ke B X = variabel yang bergerak sesuai dengan posisi P dari A ke B C = suatu titik terletak antara A ƛ B . Kegunaan garis pengaruh untuk beban P = 6t GP.43. RB = 4 y2 + 6 y4 = 4 y4 b d ton  6 ton l l c a ton  6 ton l l Gambar 2.

l ƛ P.P. Gambar garis pengaruh gaya lintang .x = 0 P berjalan dari A ke C A RA a l RB RB = b Px x ! ton l l Dc dihitung dari kanan Dc = -RB =  P = 1t x Untuk P di C kr x = a A C a l x ton (linier) l x=0 Dc = 0 Dc = - Untuk P di A a ton l B P berjalan dari C ke B P (l  x ) l  x RA = ! ton l l Dc dihitung dari kiri + Dc = RA = G.P.P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -34- P = 1t x G. Dc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C) B C 7 MA = 0 RB . R A l x ton (linier ) l x=a G. D c Untuk P di C kn Dc = l a b ! ton l l ll ! 0 ton l Gambar 2.P.44. R B - b/l G.

Gambar garis pengaruh momen di c (GP Mc) .M) P = 1 ton berjalan dari A ke B x = variabel yang bergerak dari A ke B sesuai posisi P. M c ¨l a¸ b © ¹ ! .b a.45.P.P. a . b tm (linier ) l Mc = 0 Mc = + a .b tm l x=0 x=a P = 1t x A C B Untuk P di C P berjalan dari C ke B RA = P (l  x ) l x ton ! ton l l Mc dihitung dari kiri + GP RB.P.a x=a Mc = G. Mc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C) B C RA a l b RB P berjalan dari A ke C RB = Px x ! ton l l A Mc dihitung dari kanan Mc = + RB . tm ª l º = 0 tm Gambar 2. b =  Untuk P di A x . a tm ª l º Untuk P di C GP R A. P = 1t x G.b tm l ¨l x ¸ Mc = + RA . tm ª l º l Untuk P di B x=l ¨l l ¸ Mc = © ¹ a .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -35- Mencari Garis Pengaruh Momen (G. a tm = © ¹ .

MD lihat kanan bagian x M D = RB .R B : 7 .4 GP.M D + GP. t !  tm 3 63 P antara A-D 4 tm 3 GP.2 ! MD = 3 l 6 Untuk P di B x = 8 m 2 68 MD = .DD - 1 t 3 GP.R A : 7 MB = 0 - l 1= 2 m RA = lx ton l 1t 1/3 t Untuk P di A x = 0 RA = 1 ton Untuk P di B x = l RA = 0 Untuk P di C x = 8 1 l 8 68 2 RA = ! !  ton ! ton 3 l 6 6 GP.2 - GP.2 l Untuk P di D x = 2m 4 l 2 62 .R A. 2 = . 4 = .R B + 1t 4 3 Untuk P di A Untuk P di B Untuk P di C 8 8 ! ! RB = l 6 x=0 x=l x=8 4 ton 3 2/3 ton GP. M A = 0 RB = x ton lt RB = 0 RB = 1 ton GP. RB.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -36- 3. 4 tm l Untuk P di A x = 0 MD = 0 Untuk P di D x = 2 m 2.2 ! tm .R B.4 4 MD = ! tm 6 3 P antara D-C lihat bagian l x M D = RA .RA + P B C Diketahui : Balok ABC diatas 2 perletakan A dan B Ditanya : Gambar Garis Pengaruh R A. Contoh lain x D A 2 m l=6 m GP.R B 1 t 3 2 3 + GP.R A . M D. DD. DBkn Jawab : GP.

DD P antara A-D D D = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -37- GP.D Bkn 1t + P antara B ƛ C DBkn = P = 1 ton lihat kanan bagian lihat kanan bagian GP.MB 2 tm GP. Gambar knmacam-macam garis x=0 x = 2m MB = 0 M B = -2 tm lihat kanan bagian lihat kanan bagian .46.DBkr 1t GP.M B P antara A ƛ B MB = 0 x P antara B ƛ C M B = -x tm P di B P di C Gambar 2.RB lihat kanan bagian Bkr A B GP.R A 1/3 t P antara B-C DBkr = + RA lihat kiri bagian GP.RB = P di A P di D lihat kanan bagian x ton l x = 0 DD = 0 x = 2 DD = -2/6 ton = -1/3 ton lihat kiri bagian P antara D-C D D = RA = P di D P di B P di C l x ton l DD = x=2 x=6m x=8m 62 2 ! ton 6 3 DD = 0 DD = 68 1 !  ton 6 3 Bkn GP.R B GP.DBkr C P antara A-Bkr DBkr = .DBkn P antara A ƛ B DBkn = 0 GP.

RB max. ditanyakan GP R A. GP D I. . GP RB. MI max. max.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -38- 2. GPRB. GP MI a) Bila beban Ditanya. Soal 2 A 3m berjalan. ditanyakan GPR A. P2 = 2t berjalan P = 1 t ©   I RA 4m 5m B RB 3m C Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC. GPMI b) Bila beban P1 = Ditanya. GPD I.4. M max. 3m berjalan.7. 4t DI (+) max. MI max. DI (-) max. LATIHAN Soal 1 berjalan P ¨ 1 t bejana A B I RA 3m 5m RB a) Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC.

Max. = + 3.3 ton MI max.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -39- 2. 2. Penutup o Untuk mengukur prestasi. = + 5. = + 9 tm Mmax.1875 tm .7. Rangkuman o Garis pengaruh adalah : garis yang menunjukkan besarn ya reaksi atau gaya-gaya dalam disuatu titik.5.6.5 ton D I (+) max. o Beban yang dipakai untuk garis pengaruh adalah satu satuan muatan (ton atau kg atau Newton). = + 9.7. akibat muatan berjalan sebesar 1 ton. mahasiswa bisa melihat hasil jawaban sebagai berikut : Jawaban soal no. 1 Keterangan RA RB DI P = 1 ton di titik A B A B A I kiri I kanan MI A B I Nilai 1 ton 0 0 1 ton 0 3 t 8 5 8 0 0 15 tm 8 Tanda/arah + o + + o + RA max.

Senarai .7. - Suwarno.3 ton 0 0 2.7. UGM Bab I.3 ton 0 1 ton 1.8.4 ton 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -40- Jawaban soal no.18 tm Nilai 1 ton 0 0. 2. 2 Keterangan RA P = 1 ton di titik A B C A B C A I kiri I kanan B C A B I C A B C = + 5. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ .3 ton 0 0.4 tm 1. Daftar Pustaka .7. ITB.Garis pengaruh - Beban berjalan . ƏStatika IƐ. 2.Soemono.2 tm 0 0 3 TM Tanda/arah + + + + o o o o RB DI MI + - MB - RB max. MI max.175 ton = + 9.6 ton 0 0. Bab I.

syarat -syarat yang diperlukan untuk menyelesaikan dan mahasiswa bisa menggambarkan bidang -bidang gaya dalam balok tersebut. 3. Untuk mengatasi penyeberangan sungai penampang cukup besar (>100m) ( ) maka dibuatlah suatu jembatan yang berbentang lebih dari satu. yaitu 3 buah dimana A = sendi.1. Pendahuluan Didalam kenyataan se -hari-hari jarang dijumpai jembatan y ang berbentang Satu.1.1. A B Jembatan berbentang satu Kalau dilihat pada gambar b. Judul : BALOK GERBER Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca materi ini diharapkan mahasiswa mengerti apa arti balok gerber serta mengetahui bagaimana cara menyelesaikan struktur tersebut. ( yang mempunyai lebar > 100 m ). sehingga mempunyai perletakan > 2 buah. perletakan di B terdapat 1 reaksi (karena B = rol) yaitu R BV.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -41- MODUL : 3 : ARTI BALOK GERBER DAN CARA PENYELESAINNYA 3. perletakan di C ada 1 reaksi (karena C = rol) yaitu R . Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa diharapkan bisa mengerti dengan seksama tentang pengertian balok gerber. B = rol dan C = rol. a). Kalau di perletakan A terdapat 2 reaksi (karena A = sendi) yaitu R AH dan R AV. maka jumlah . perletakan dari jembatan tersebut > 2 buah.

2. Definisi Balok Gerber Dengan uraian seperti dalam pendahuluan. Kalau 1 (satu) persamaan baru tadi bisa disediakan maka syarat syarat keseimbangan masih bisa dipakai untuk menyelesaikan konstruksi jembatan (b) tersebut (4 buah bilangan yang dicari yaitu R AV. Macam-macam bentang jembatan Jika dalam persamaan keseimbangan hanya punya 3 buah ( 7V = 0. RAH.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -42- b).1. RCV bisa didapat sedang untuk konstruksi statis tertentu persamaan yang tersedia hanya 3 buah yiatu 7 V = 0. 7H = 0. 7M = 0 dan 1 (satu) persamaan baru). 7H = 0. karena masih bisa diselesaikan dengan statis syarat -syarat keseimbangan dan konstruksinya dinamakan dengan konstruksi balok gerber. 7M = 0. A B C Jembatan berbentang lebih dari satu Gambar 3. Skema balok gerber 3. dalam keadaan tersebut konstruksi jembatan (b) disebut dengan kontruksi statis tidak tertentu . Jika 1 (satu) persamaan baru tersebut dengan memberikan 1 buah perletakan baru di D yang berbentuk sendi. Dalam kondisi tersebut konstruksi masih tertentu.1. RAH.2. supaya bilangan yang tidak diketahui yaitu RAV. maka bisa didefinisikan bahwa : . maka persamaan baru tersebut adalah 7 M D = 0 Sedang titik D tersebut disebu t dengan sendi gerber A B D C Sendi gerber Gambar 3. RBV. RBV. 7 M = 0) berarti untuk bisa menyelesaikan struktur jembatan (b) masih memerlukan 1 buah persamaan baru lagi. 7H = 0. RCV dengan 4 buah persamaan yaitu 7V = 0.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -43- Konstruksi balok gerber : adalah suatu konstruksi balok jembatan yang mempunyai jumlah reaksi perletakan > 3 buah. . namun masih bisa diselesaikan dengan syarat syarat keseimbangan.

7M = 0 dan 7M D = 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -44- Contoh : Sendi gerber RAH A RAV B RBV D C RCV Suatu konstruksi balok gerber ABC dengan perletakan : A = sendi. Kondisi kontruksi tersebut adalah : Jumlah bilangan yang tidak diketahui = jumlah persamaan yang ada ( 7V = 0. B = rol. . 7 H = 0. disebut dengan konstruksi balok ge rber. 7M = 0 dan 7MD = 0) = jumlah persamaan (yaitu R AV. yang masih statis tertentu. R . C = rol. 7H = 0 dan 7M = 0 1 (satu) buah persamaan baru yaitu 7 M D = 0 Jadi jumlah persamaan ada 4 (empat) buah yaitu 7V = 0. R dan Persamaan yang tersedia adalah : 3 (tiga) buah persamaan syarat keseimbangan yaitu 7V = 0. RAH. 7 H = 0. RBV dan R CV) = jumlah bilangan yang dicari Maka konstruksi tersebut. dimana ada 1 reaksi yaitu R CV Jadi jumlah reaksi adalah 4 buah yaitu. dimana ada 2 reaksi yaitu R AV dan R AH. R . dimana ada 1 reaksi yaitu R BV.

Detail sendi gerber . maka bentuk konstruksi gerber tersebut seperti pada gambar.3. Sendi gerber D A RAH B C R AV RB RC Detail perletakan D (sendi gerber) Gambar 3.3.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -45- 3. Bentuk Sendi Gerber Kalau balok gerber tersebut adalah dibuat dari balok beton.

3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -46- A RAH RAV B D C RBV RCV A RAH RAV B D C RCV RBV atau D RDH RDV C R CV A RAH RAV B RDV D RDH R BV Gambar 3. Skema pemisahan balo k gerber Catatan : Reaksi di balok DC menjadi (beban) pada balok AB. dimana balok DC tertumpu di balok AB.1.4.4. Jadi kalau diuraikan balok gerber ABC tersebut merupakan gabungan dari 2 balok statis tertentu DC dan ABD. Menentukan letak sendi gerber beban = q kg/mƞ C B A .

6. untuk mahasiswa semester I belum bisa mengerjakan. jadi untuk sementara diterima saja. dan jika diberi beban terbagi rata sebesar q kg/mƞ. sendi gerber belum ada.1. sehingga struktur bisa diselesaikan. Balok statis tak tentu dan skema bidang momennya Jika dalam balok ABC.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -47- Gambar 3. maka kita cukup memilih salah sa tu dari 2 (dua) alternatif tersebut sendi gerber diatas. maka alangkah tepatnya jika untuk menentukan posisi di titik D dicari tempat-tempat yang momennya Dalam hal seperti tersebut diatas. maka gambar bidang momennya (bidang M) seperti gambar dibawahnya. alternatif tempat dimana momennya sama dengan nol adalah titik 1 dan 2 yang posisinya di kiri dan kanan perletakan B. balok tersebut jika disederhanakan Gambar a 2. Karena kita hanya membutuhkan 1 (satu) buah persamaan baru. Kalau dilihat dari sub bab 3. jika kita a1 A 1 memilih titik (1) sebagai sendi gerber. dimana di titik D dibuat sendi gerber dengan persamaan baru 7M D = 0. Bagaimana cara mencari bidang momen (bidang M) tersebut. Penentuan sendi gerber yang tak mungkin C D B C Gambar a 1 dimana balok AD terletak di atas balok DBC. maka gambarnya adalah seperti pada 1 A a2 D A a3 B TIDAK MUN GKIN Gambar 3. akan dan seperti jika pada diuraikan strukturnya akan seperti pada gambar a 3.2. D B C Cara memilih : alternatif (1). maka konstruksinya masih statis tak tertentu.5. Apakah mungkin ? Perhatikan .

sehingga jumlah reaksi ada 4 (empat) buah. Perhatikan balok DC yag terletak diatas balok ABD. maka struktur balok DBC tidak stabil sendi gerber adalah tidak Alternatif 2 mungkin . Perletakan D = Gambar 3. Jumlah total reaksi adalah 3 (tiga) buah. . mempunyai 1 (satu) reaksi yaitu RBV. RAH) perletakan D = sendi dengan 2 reaksi (R DV. mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu R AH dan R AV. Perhatikan balok DBC. jadi konstruksi balok ABD masih statis tertentu. RDH). balok tersebut jika akan gambarnya disederhanakan seperti pada gambar (b 2). Balok gerber dan cara pemisahannya sendi mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu R DV dan R DH. perletakan B = rol dengan 1 buah reaksi (R BV). perletak B = rol. D b1 2 A B A RDH D RDV b3 A B D RDH C B C b2 sendiC gerber Jika yang sebagai dipilih adalah titik (2) sendi gerber. perletakan C = rol dengan 1(satu) buah reaksi (R CV).7. y Jadi pemilihan titik (2) sebagai sen di gerber adalah mungkin . perletakan A = sendi. sedang Jumlah letak reaksi adalah 3 (tiga).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -48- Lihat balok AD. dan jika diuraikan strukturnya ak an menjadi seperti pada gambar (b 3) apakah mungkin ?. sehingga jumlah reaksi hanya ada 2 (dua) buah. sehingga strukturnya adalah statis tidak tertentu. maka konstruksi balok DC adalah statis tertentu y Perhatikan balok ABD. perletakan A = sendi dengan 2 reaksi (R AV. karena kedua perletakan B dan C adalah rol. maka gambarnya adalah seperti gambar (b1) dimana balok DC terletak diatas balok ABD.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -49- .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -50- 3. Skema penyelesaian balok gerber Tinjauan gambar b 1 dan b2 . b2 Jika konstruksinya (a).8. Mekanisme Penyelesaian Balok Gerber A B D C Jika D ada suatu konstruksi balok a gerber seperti pada gambar a. gambar (b) terdiri dari gambar (b 1) dan (b 2). maka b1 1 A B D A B RD RD yang perlu dikerjakan pertama adalah memisahkan balok tersebut C menjadi beberapa konstruksi balok statis tertentu. seperti kita pada bisa gambar maka konstruksi memisahkan C menjadi tersebut b1 dan b 2 C1 A B tidak D C konstruksi tersebut konstruksi beberapa seperti dimana beberapa menjadi statis tertentu pada gambar (b) atau (c). demikian juga gambar (c) D RD C2 A B C1 dan C2 mungkin RD C Gambar 3.1.5.

sehingga reaksi R D dari balok ABD akan menjadi beban (aksi) pada titik D balok DC. dan jika dijabarkan (diuraikan) strukturnya akan menjadi seperti gambar (b2). sehingga reaksi RD dari balok DC akan menjadi beban (aksi) pada titik D balok ABD. perletakan A = sendi (ada 2 reaksi). Tinjauan gambar (c1) dan (2) Titik D dari balok DC (gambar (C1) menumpu pada titik D balok ABD. Jadi balok DC adalah balok statis tertentu Perhatikan struktur balok ABD (gambar (C2)). perletakan B = rol (ada 1 reaksi) jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah. jadi balok ABD merupakan balok statis tidak tertentu. dimana titik D pada balok ABD menumpu pada titik D balok DC. Perhatikan struktur balok ABD (gambar b2). perletakan B = rol (ada 1 reaksi). Perhatikan struktur balok DC gambar (C2). jadi tidak ada reaksi. perletakan D = sendi (ada 2 reaksi). perletakan. Perhatikan balok DC (gambar b2). Jadi balok ABD adalah balok statis tertentu juga. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -51- Titik D dari balok ABD (gambar (b1) menumpu pada titik D pada balok DC. titik D = be bas (tak mempunyai tumpuan). perletakan D = sendi. c = rol (ada 1 reaksi). jadi jumlah total reaksi hanya ada 1 buah yaitu R CV di C. Jadi alternatif (C) adalah mungkin. (ada 2 reaksi). dimana titik D dari balok DC menumpu pada titik D balok ABD. Jadi total perletakan balok ABD ada 5 (lima) buah. dan jika diuraikan strukturnya akan menjadi seperti pada gambar (C2). Sehingga alternatif (b) adalah tidak mungkin . Dalam kondisi seperti tersebut diatas balok DC merupakan balok yang tidak stabil atau labil. perletakan C = rol (ada 1 reaksi) total jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah. per letakan A = sendi (ada 2 reaksi).

Dengan beban yang ada (q) dan beban R D. D balok gerber merupakan penggabungan dari bidang M. N. maka tahapan pengerjaannya adalah sebagai berikut : y Balok DC dikerjakan dulu sehingga menemukan R D dan R C. D dari masing-masing C P D C y q b RD RD D A B y RC y y Gambar 3. Bidang-bidang gaya dalam (M. maka balok AB bisa diselesaikan. Reaksi R D dari balok DC akan menjadi beban di titik D dan balok ABD. Penggambaran bidang M. N. Skema pemisahan balok gerber .9.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -52- Tahapan Penyelesaian q D a A B Sendi gerber P Kalau kita mempunyai balok gerber ABC seperti pada gambar (a). D) bisa diselesaikan sendiri-sendiri pada balok DC dan AB. N. yang kemudian diuraikan seperti pada gambar (b).

D.6.8 ƛ q.6.6. Ditanya : Gambar bidang M.= P.2 ƛ q.33t 3t + 1t BID.3 ! ! 3t 4 4 BID. M 2. dengan jarak 1 m dari A.6 + RS.3 = 0 RA. N.6 + 1.3 4. B = sendi S = sendi gerber Beban P = 4 ton. 4 ƛ P.3 = 0 RC.8 ƛ 2.10.6 ƛ 1. baru selanjutnya reaksi Rs dari balok As menjadi beban / aksi ke balok SBC RA = 3t (c) - 8. 4 ƛ P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -53- 3. Gambar-gambar gaya Bidang Momen (M) dalam balok gerber 34 ! 5 2 / 3t 6 .1 4. N Gambar 3.2 ƛ 2.1 ! ! 1t 4 4 Reaksi Rs = 1t akan menjadi beban di titik S pada balok S B C (gambar (b)) 6.6.0287 tm + 2 Balok A-S (mencari RA dan RS) t 3 7 MS = 0 RA.6.3 = 0 2 5 t 1 44 3 RB = t!7 t 3 6 7 MB = 0 RB. D + - Balok S B C (mencari RB dan R C) 7 MC = 0 RB.6 ƛ RS.3 = 0 RC. Contoh Soal P=4t (a) A S 1m B q = 2t /mƞ C Suatu struktur balok gerber ABC dengan beban seperti pada gambar.3 = 0 BID.833 m 5. dan beban terbagi rata q = 2 4m 2m 6m t/mƞ dari B ke C.1. . A = rol C = rol . Balok AS harus diselesaikan lebih dahulu.1 = 0 RS = P.667 m 7 MA = 0 RS. x (b) A P=4t S Rs = x1 Rs S B 3 tm + R B = 7 1/3 t 2 tm RC = 5 Jawab: Struktur balok gerber seperti pada gambar (a) kalau diuraikan akan menjadi struktur seperti pada gambar 2 t/mƞ x2 C (b).

667 ƛ 2 x2 = 0 = x2 = 2.667-x2 ) = 0 x2 =5.667 m ( Letak dimana momen = 0 ) Bidang D ( GAYA LINTAN G ) .833 ƛ (2.Rs.833)² = 16.667.833 m (lokasi dimana terletak M max M x2 max =5.q x2² (parabola) 2 1 .x (linear) x=0 x=1 MA = 0 MP = 3 tm (momen dibawah P) S Daerah P Mx = RA. Mencari titik dimana momen = 0 M x =5.667.x1 = .667 x 2 ƛ x22 = 0 X2 (5.02589 = 8.x = 3.0546 ƛ 8.x2 - Mx2 = 5.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -54- Balok A-S Daerah A P (P = letak beban P = 4t) Mx = RA.2. 2.667 x 2 .x-P (x-1) = 3.0287 tm.x2² 2 Daerah C Mx2 = Rc.x 2 - = 5.x1 (linear) = -x1 x1 = 0 x2 = 2 Ms = 0 MB = -2 tm B (dari kanan) 1 .x ƛ 4 (x-1) x=1 x=4 MP = 3 tm MS = 0 Balok SBC Daerah S B (dari kiri) Mx1 = .x2² Mencari M max dMx 2 =0 dx 2 5.

6.667 + 2 .5. x (Linieair) X2 = 0 X2 = 6 Dc = .667 + 2.333 t Mencari titik dimana D = 0 -5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -55- Balok A-S Daerah A P ( dari Kiri ) D2 = + Ra = + 3 + ( Konstan ) Daerah P S ( Dari kiri ) Dx = + R a .6 = + 6.833 m M max ) (Letak D = 0 sama dengan letak Bidang N ( Normal ) Bidang N tidak ada 3.1.P = 3 ƛ 4 = -1 t (Konstan ) Balok S Ɗ B C Daerah S B ( Dari Kiri ) Dx = . x 2 2 = . Latihan .667 t Dbkn = -5.Rs = -1 t (Konstan) Daerah C B (Dari Kanan) Dx2 = .667 + 2X 2 = 0 X2 = 2.5.Rc + q .

dengan perletakan A = sendi. D) Suatu balok gerber dengan 1). dan di sendi gerber ditentukan daerah bagian balok tertumpu . tapi masih bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan. B = rol S = sendi gerber Beban P = 5 2 t dengan sudut 45° terletak di tengah bentang SB. S = sendi gerber Beban : P = 5t. o Tahap awal penyelesaiannya adalah : balok tersebu t harus diuraikan lebih dahulu. maka perlu diadakan (diberi) suatu latihan . N. P = 5t S B q = 2t/mƞ C Suatu balok gerber dengan beban dan struktur seperti gambar. 2m dari A q = 2t/mƞ sepanjang bentang SC.Suatu balok yang mempunyai jumlah reaksi lebih besar dari 3 buah. Gambar : bidang-bidang gaya dalamnya (Bidang M. S A 2m 3m P=5 2t 45° B 3m beban dan struktur seperti pada gambar dengan perletakan : A = jepit. Gambar : bidang.1.bidang 3. A 2 m 5m 2 m 4m 2). Rangkuman o Balok gerber adalah : .Rangkaian dari beberapa balok statis tertentu. B = rol C = rol.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -56- Dalam mempraktekan teori ƛ teori yang ada di depan ( bagian sebelumnya ).8. Atau .

1. 3. Soal No.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -57- mana yang terletak diatas (tertumpu) dan mana yang menumpu ( ) o Penyelesaiannya dilakukan secara bertahap dari masing -masing balok tersebut. o Gambar bidang gaya dalamnya adalah merupakan gabungan dari masing-masing balok tersebut.4 ton 3.9. o Balok yang salah satu perletakannya tertumpu (menumpang) diselesaikan terlebih dahulu. Penutup Untuk mengukur prestasi.6 ton 4 ton 4 ton Arah o o o o Reaksi B S C Keterangan Momen (M) Gaya Lintang (D) Gaya Normal (N) Titik A B S C A B kiri B kanan C - Harga 0 8 tm 0 0 1.4 ton 7.6 ton 4 ton 4 ton - Tanda (-) (+) (-) (+) (-) - . mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban dari soal-soal tersebut diatas sebagai kontrol. 1 Keterangan Titik A Harga 1.

Suwarno.2.5 ton 5 ton 5 ton 5 ton (+) (-) (-) (-) (-) (+) (-) Tanda 3.5 tm 0 2. Senarai : Sendi Gerber : tempat penggabu ngan balok satu dengan balok lainnya. Daftar Pustaka 1.11. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM bab V-4 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -58- Soal 2 Keterangan Titik AV Reaksi AH MA S B A Momen (M) S di P B Gaya Lintang (D) A B A Gaya Normal (N) S P kiri Harga 2.1.5 ton 5 ton 5 tm 2.5 ton 5 tm 0 7. 3. Soemono ƏStatika IƐ ITB bab V 2.5 ton 2. Garis Pengaruh Balok Gerber .5 ton 2.10.1.

o Kalau ada muatan berjalan diatas ABS maka reaksi di S (R S) dan reaksi di C (Rc) tidak ada (Gambar d). atau gaya momen (M) atau gaya lintang (D) atau gaya normal (N).1.2. jika ada muatan yang berjalan diatas balok gerber tersebut. o Dalam gambar sebelah o Balok SC yang disangga RS RS (b ) A RA B P RB RS RS (c ) RA ada P (d ) RA ada tidak ada reaksi RB ada tidak ada reaksi R B ada RC o Balok ABS yang menyangga.2. Reaksi perletakan pada balok gerber dengan muatan berjalan diatas . Pengertian dasar dan definisinya sama dengan garis pengaruh balok diatas 2 perletakan. reaksi di S (Rs) dan reaksi di C (Rc) semuanya ada (Gambar c). 3. Standart beban yang dipakai juga sama yaitu muatan berjalan dengan beban P = 1 t on atau satu satuan beban. Pendahuluan Seperti halnya balok diatas 2 perletakan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -59- 3. maka untuk balok gerber inipun kita harus mencari besarnya reaksi.2. Prinsip Dasar Yang perlu diperhatikan dalam membuat garis pengaruh balok gerber adalah : (a ) A B S C o Harus bisa memisahkan balok yang mana yang disangga dan yang mana yang menyangga.11. Gambar 3. RC ada o Namun jika ada muatan berjalan diatas balok S-C maka reaksi di A (R A). reaksi ada di B (R B).

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-60-

Contoh
Balok gerber seperti pada gambar Cari garis pengaruh reaksi -reaksinya P=1 x1 x P=1t t A l
1

GP.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) P berjalan dari A ke S x = variable bergerak sesuai posisi P dari A ke C 7 Ms = 0 P (l1  x ) l1  x RA = ton ! l1 l1 Untuk P di A x = 0 RA = 1 ton Untuk P di S x = l1 RA = 0 P dari S ke C RA tidak ada pengaruh terhadap

S

B l
2

C

a

A

S

RS RS B C

GP.R S (Garis Pengaruh Reaksi di S) GP.R A 1t + P dari A Rs = ke S

Px x ! l1 l1

GP.R S +

P di A x = 0 Rs = 0 P di S x = l1 RS = 1t P dari S ke C tidak ada pengaruh untuk reaksi di S (Rs)

GP.R B (Garis Pengaruh Reaksi di B) x1 variabel bergerak dari C ke A sesuai

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-61-

1t

GP.R B

1t

P= 1t x1

+

¨ l2  a ¸ © ¹ © l ¹ ª 2 º A S B C GP.Rc (Garis Pengaruh Reaksi di C) P berjalan dari C ke S l  x1 Rc = 2 t l2 P di C x1 = 0 x1 + a/l
2

GP. Rc

P = 1t

Rc = 1t Rc = 0

P di B P di S

x 1 = l2 Rc =

1t

Rs . a a karena ! l2 l2

(Rs = 1t) P di A Rs = 0 Rc = 0

Gambar 3.12. Garis pengaruh reaksi (RA; Rs; RB dan Rc) Jika potongan I -I antara : A3 Jika potongan II-II antara : BC b x A P I I l1 A Rs B S a B II II l2 C c d

cari garis pengaruh D I-I dan M I-I cari garis pengaruh D II-II dan M II-II e GARIS PEN GARUH D DAN M G.P.DI-I (Garis Pengaruh Gaya Lintang di potongan I -I) P berjalan di kiri potongan I -I (perhitungan dari kanan potongan) DI = - Rs (dari kanan)

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-62-

Gambar 3.13. Garis pengaruh D I-I dan M I-I

G.P.MI-I (Garis Pengaruh Momen di Potongan I-I) P berjalan di kiri potongan I -I (perhitungan dari kanan) M I = Rs . c = Untuk P di A Untuk P di I-I x Px .c .c ! l t1 l t1 x=0 x=b MI = 0 MI = b.c l1

P berjalan di kanan potongan (perhitungan dari kiri) l x M I = RA . b = 1 .b l1 Untuk P di I-I x=b

l b c.b MI = 1 .b ! l1 l1

Jika P berjalan dari S ke C tidak ada M I x A l1 P S B d II II a l2 e C G.P. D II-II (Garis Pengaruh Gaya Lintang di potongan II -II) P berjalan dari A ke P otongan II (perhitungan kanan potongan II) DII = - Rc (sama dengan g.p. Rc)

A

S

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-63-

Sama dengan g.p. Rc

Sama dengan g.p. RB G.P. M II-II (Garis Pengaruh Momen di potongan II-II) P berjalan dari A ke II (perhitungan dari kanan potongan) MII = Rc . e (sama dengan GP.Rc x e) Untuk P di S Rs = 1t Rc = a l2

a/l2. b + d/ l2 . e

g.p. Rc.e

g.p. R B.d M II = -

a l2

.e

Gambar 3.14. Garis pengaruh D II-II dan M II-II P berjalan dari II ke C (perhitungan dari kiri) M II = RB . d Untuk P di II RB = M II =
e l2
e l2 dtm e l2 d

Untuk P di II

Rc =

d l2 M II = -

d .e l2

q dx Mc = ´ y.qdx ! q ´ y dx Mc = 7 P.Mc + ´ y dx ! luas bagian yang diarsir ! F Mc = q F Luas = F y P 1ƞ P2 ƞ P 3ƞ P 4ƞ q dx = muatan q sejarak dx.Dc y1ƞ y2ƞ + y3ƞ y4ƞ Dc = -P1ƞ y1ƞ + P 2ƞ y2ƞ + P 3ƞ y3ƞ + P4ƞ y4ƞ Dc = q F Beban terbagi rata Dc = q F .a.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -64- 3.Mc y2 C dx P.y GP. MEN CARI HARGA MOMEN DAN GAYA LIN TAN G DEN GAN GARIS PEN GARUH Jika ada suatu rangkaian muatan atau muatan terbagi rata berjalan diatas gelagar berapa momen maximum di titik C dan berapa gaya lintang maximum di titik C.2. dimana dx 0 (mendekati 0) y = ordinat dibawah dx Mencari harga Dc Untuk beban titik GP. A C B Mencari harga Mc a b l Kondisi muatan seperti pada 1) Mc = P1 y1 + P 2 y2 + P3 y3 * P P2 P3 1 Kondisi muatan seperti pada 2) 1) Mc = P1ƞ y1ƞ + P2ƞ y2ƞ + P3ƞ y3ƞ + P4ƞ * y4 ƞ P4ƞ 2) P 1ƞ P2ƞ P3ƞ y1 ƞ A GP.b l y3 y 1 y4 ƞ y2 y3 B Untuk muatan terbagi rata = q t/mƞ q t/mƞ d Mc = y.3.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -65- q t/mƞ Luas = F + - GP.15.Dc Gambar 3. Mencari gaya lintang (D) dan momen (M) dengan garis pengaruh .

2. 3. Mencari Momen Maximum di Suatu Titik Pada Gelagar 3.2. muatan yang melewati suatu jembatan adalah tidak menentu. Muatan berjalan diatas gelagar Berapa momen maximum yang terjadi di titik C jika ada suatu rangkaian muatan seperti pada gambar tersebut melewati jembatan seperti pada gambar.4.Untuk mencari nilai momen maximum di suatu untuk didalam gelagar maka kita perlu mencari posisi dimana muatan tersebut berada yang menyebabkan momen di titik tersebut maximum. Pendahuluan Pada kenyataannya.16. ada yang lewat sendirian atau merupakan suatu rangkaian muatan. Prinsip dasar perhitungan . Misal : Suatu gelagar muatan P1 P2 A C a l b P3 P4 P5 P6 B Suatu gelagar Jembatan Gambar 3.2.1. Dalam kondisi tersebut kita tetap harus mencari berapa nilai momen maximum di suatu tempat pada gelagar tersebut.2. .4. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -66- 3.Untuk mencari nilai maximum tersebut perlu memakai ga ris pengaruh dari gaya dalam yang dicari sebagai perantaranya.4.

ordinat garis pengaruh dinyatakan dengan y 1 s/d yS. Perpindahan ordinat untuk muatan berjalan yơ GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -67- .17.Kemudian nilai maximum tersebut didapat dengan cara mengalikan antara beban yang terletak diatas gelagar dengan ordinat dari garis pengaruh yang dipakai.c) Mencari Mc max untuk rangkaian muatan berjalan (dari kiri k e kanan) Jarak rangkaian muatan constant (tetap) = posisi awal . (x P1 P 1ƞ P P 2ƞ P3 P3ƞ P4 P4ƞ P5 P5ƞ 2 Jawab : A (c) l l (x y 1ƞ y1 y2 y3 C1 yƞ yƞ yơ y4 + P5 y 5 Gambar 3. atau Mc = 7 Py = P 1 y1 + P 2 y 2 + P 3 y 3 + P 4 y2 ƞ y 3ƞ y4 ƞ y5 ƞ = posisi kedua r B C (l. jika ada rangkaian muatan yang berjalan diatasnya berapa Mc maximum yang terjadi. Contoh Mencari Momen Maximum Pada Gelagar Ada suatu balok terletak diatas 2 perletakan seperti pada Gambar.Mc y4 y5 Pada posisi awal.

bagian kanan titik C Di kiri titik C ordinat bertambah yƞ dan Di kanan titik C ordinat berkurang yơ yƞ = yơ = (x .c1 ? l c À °c ql qr ql = jumlah beban rata -rata di sebelah kiri titik C qr = jumlah beban rata -rata di sebelah kanan titik C Jika q l > qr ( M positif ql = Jika muatan bergeser terus ke kanan sehingga P2 melampaui C P1 C . c1 c (x .c1 ¯  ql  qr A ¿ ! (x.c1 ¹ c l c  ª º ª º § Pl § Pr ¾ ® ( x.c1 ¹  § Pr © .bagian kiri titik C dan .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -68- Muatan bergerak ke kanan sejauh (x. c1 ( l  c) Perbedaan nilai momen ( (M) dari perpindahan posisi beban adalah sebagai berikut : ( Mc = P1 yƞ + P2 yƞ ƛ P3 yơ ƛ P4 yơ ƛ P5 yơ = (P1 + P2) yƞ .(P3 + P4 + P5) yơ + P5) = 7 Pr jika (P1 + P2) = 7 Pl dan (P3 + P4 ¨ (x ¸ ¨ (x ¸ = 7 Pl © . dimana ordinat garis pengaruh dinyatakan dengan y 1ƞ s/d y5ƞ dan Mc = 7 Pyƞ (dalam hal ini y berubah menjadi yƞ) Jika ditinjau 2 bagian : .

Posisi beban terbagi rata untuk Mencari M maximum kiri kana n Mmax terjadi jika psosisi beb an tota l q l = qr = q s Mencari perkiraan posisi beban dalam mencari momen max supaya beban di kiri dan di kanan potongan seimbang. . dan 01 (dengan skala) . M max terjadi jika salah satu muatan di atas potongan sehingga § Pl Pr !§ atau C l c ql = qr Mmax di suatu titik untuk muatan terbagi rata a b Untuk muatan terbagi rata Mc max terjadi jika : q l = qr B a b ab ! ! c (l  c) l A C c (l ƛ c) ql qr qs Gambar 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -69- ql menjadi kecil sehingga q l < qr ( M negatif (pergerakan P2 dari kiri C ke kanan C menjadikan tanda ( M dari positif ke negatif) Jadi Mmax terjadi jika P2 diatas C.Tarik dari titik 0 (ujung dari beban 01) ke ujung garis bagian kiri (Aƞ) sehingga membentuk sudut ( E) .di ujung bagian kanan (Bƞ) buat muatan tumpukan beban dari 45. maka bisa diperkirakan secara grafik sebagai berikut : Gelagar diatas 2 perletakan A -B. 12.12.34 dan 45 Cara : buat garis AB dibawah gelagar.18. 34. 23. digunakan rangkaian muatan berjalan dengan nomor urut 01. 23.

sampai memotong garis Aƞ -Bƞ di Iƞ. * Bagaimana posisi beban untuk mendapatkan momen di potongan II maximum. . .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -70- . . °1 12 23 34 45 Mmax terjadi jika q l = qr = qs = tg E B tg E! 01  12  23  34  45  l A I II l III IV 0 1 2 3 4 E Aƞ 5 .Tarik dari titik Iƞ sejajar (//) dengan garis Aƞ0 dan garis tersebut akan memotong tumpukan muatan di beban 01. tarik garis dari potongan II ke bawah sampai pada garis Aƞ-Bƞ dan memotong di potongan IIƞ.Kalau kita mau mencari dimana letak beban yang mengakibatkan momen di potongan I maksimum. yaitu dengan menarik garis dari potongan I kebawah.Dari titik IIƞ ditarik garis // (sejajar) dengan Aƞ ƛ O dan memotong tumpukan muatan di beban 12. . .Jadi M I akan maximum jika beban 01 terletak di atas potongan I.Dengan cara yang sama.Jadi M II akan maximum jika beban 12 terletak diatas potongan II.

.2. M III max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan III -III. M II max terjadi jika muatan 12 terletak diatas potongan II -II. Mencari Momen Maximum Maximorum di Suat u Gelagar 3.19. M IV max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan atau mutan 45 terletak diatas potongan IV -IV dan diambil yang besar. serta posisi beban yang menyebabkan terjadinya momen maximum harus dicari. .2. Jadi dalam hal ini-: dicari !!. mencari momen maximum-maximorum di suatu gelagar ini posisi titiknya tidak tertentu.Letak posisi titik dimana momen maximum terjadi. 3. Pendahuluan Mencari momen maximum maximorum ini berbeda dengan mencari momen maximum di suatu titik pada gelagar.5.Letak posisi beban yang menyebabkan momen maximum.1.5. . Mencari posisi muatan untuk mendapatkan Mmax dengan cara grafis M I max terjadi jika muatan OI terletak diatas potongan I -I.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -71- Iƞ IIƞ IIIƞ IVƞ Bƞ Gambar 3. Jadi dalam hal ini titik letak dimana momen maximum terjadi.

. dan suatu rangkaian muatan dari P 1 s/d P5. Contoh 1 P1 (a ) A P2 P3 P4 P 5 B Suatu gelagar diatas 2 perletakan A ƛ B.Dalam mencari momen maximum -maximorum ini harus memakai persamaan. P2.r = R1 .Untuk mencari momen maximum -maximorum di suatu gelagar ini tidak bisa memakai garis pengaruh karena titik letak momen maximum terjadi harus dicari. P4.5.2.2. r P1 P2 P 4 P5 P3 (b ) RA R1 a x l Rt Rt b R2 7M di P 3 = 0 RB Rt. R2 dan P3 atau resultante P 1. Berapa dan dimana momen maximum-maximorumnnya ?.x  R1 ( x  a )  R 2 ( x  ba lt Momen dibawah P 3 dengan jarak x dari titik A RB = . a ƛ R2 . P5 r = jarak antara Rt dan P 3 a = jarak antara R 1 dan P 3 b = jarak antara R 2 dan P 3 b P1 P2 P3 P4 P5 R1 r R2 Rt a Rangkaian muatan terl etak diatas gelagar dan dimisalkan momen maximum terletak dibawah beban P 3 dengan jarak x dari perletakan A. Prinsip Dasar Perhitungan . Jawab : R1 = resultante dari P 1 dan P 2 R2 = resultante dari P 3 dan P 4 Rt = resultante dari R 1. b 7 MA = 0 1 _P3 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -72- 3. P 3.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -73- Rt M max terdapat dibawah P 4 = M4max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 4 Mextrem = Mmax ƛ maximorum adalah tengah-tengah momen yang terbesar diantara bentang Mmax (1. Rt .2. P1 (e A ) r ½ r½ r Mmax terjadi dibawah beban B P 1 M 1 max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 1.5).3.4.

20. 1m 1m Cari besarnya momen maximum A B maximum maximorum. r ½ r Rt x=½l+½r M max terdapat dibawah P 2 = M 2 max P 1 P2 (g A ) r tengah bentang ½ r ½ r P 3 P4 P 5 B Mmax terjadi dibawah beban P5 M 5 max Dalam hal ini : r = jarak antara Rt dengan P 5 Rt x=½l+½r M max terdapat di bawah P 5 = M 5 Gambar 3. l = 10 Jawab : kondisi beban seperti pada gambar . Posisi beban untuk kondisi Mmax 1 s/d M Suatu gelagar dengan bentang l = 10 max5 Contoh 2 m dan ada suatu rangkaian muatan P1=8 P2=6 P 3=6 berjalan dengan lebar seperti pada gambar.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -74- ½r x ½ l M max terdapat dibawah P1 = M 1 max P1 (f) A tengahtengah B P2 P3 P4 P5 Mmax terjadi dibawah beban P2 M 2 max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 2.

Latihan : Garis pengaruh pada balok menerus dengan sendi-sendi gerber Soal 1 : P=1t berjalan 2m S A I B C Balok ABC dengan sendi gerber S seperti tergambar. Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok.1 + P3.45 ½ Kondisi 2 Dimana M max dibawah P 2 P1 P2 P3 A 0.21.2 = 20 . x x= B tengahtengah bentang P2 P3 B 4.x 6.1 + 6.2 = Rt.1 4. Posisi beban untuk mencari momen maximum maximorum 3. GP R B.1 4.55 8t 1m x 4t 1m 6t Rt Rt = P 1 + P2 + P 3= 20 ton Statis momen terhadap P 1 P 2.6. GP R C .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -75- Kondisi 1 Dimana M max dibawah P 1 tengah P1 A 5m x=½l+ r = 5½ + 0.45 r =1.2.45 Rt Gambar 3. ditanyakan : GP R A .95 Rt Kondisi 3 Dimana M max dibawah P 3 P1 tengah-tengah bentang P1 P2 P3 P2 P3 B l-x Rt 4.

ditanyakan. GP DB kanan 2 2 b). GP R D GP M I. GP M B. GP R A . P1=4 P2=4 P 3=2 t t t maximorum pada balok tersebut. RA 8m 2m a). Akibat rangkaian beban M max berjalan. Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok. GP R C .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -76- Soal 2 : 4m S1 A I B P = 1 t berjalan S2 C RB RC 6m 2m 6m D RD Balok ABCD dengan sendi gerber S 1 dan S 2 seperti tergambar. Rangkuman . GP D I.7.2. 3. ditanyakan : MI max . GP R B.

3. maka bisa melihat jawaban soal sebagai berikut : Jawaban : Soal No. .2. 1 Keterangan RA P =1t Titik A B S C A B S C A B S C N ilai 1t 0 1/3 t 0 0 1t 4/3 t 0 0 0 0 1t Tanda / Arah  o  q RB   o o RC  o . karena dari garis pengaruh reaksi tersebut garis pengaruh gaya dalam mudah dikerjakan.Sebelum mengerjakan garis pengaruh gaya -gaya dalam.8. harus tahu dulu bagaimana memisahkan balok terse but menjadi bagian bagian yang tertumpu dari bagian yang menumpu.Untuk mengerjakan garis pengaruh balok gerber. perlu dibuat dulu garis pengaruh reaksi.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -77- . Penutup Untuk melihat prestasi mahasiswa dalam mengerjakan latihan.

25 t 0 0 0 0 1t 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -78- Lanjutan Jawaban Soal 1 Keterangan MI DI MB P =1t Titik A I B S C A I kiri I kanan B S C A B S C N ilai 0 1.333 tm 0 0. 2 a).25 t 0 0 0 0 0 0 1.333 t 1t 0 Tanda / Arah  o  q RB   o o RC   o o .667 tm 0 0 1/3 t 2/3 t 0 1/3 t 0 0 0 2 tm 0 Tanda / Arah       Soal N o. Keterangan RA P = 1 dititik A B S1 S2 C D A B S1 S2 C D A B S1 S2 C D Nilai 1t 0 0.

5 t 0 0. pada saat P 2 terletak pada titik I .5 t 0. MI max = + 14 tm.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -79- Keterangan RD MI P = 1 dititik A B S1 S2 C D A I B S1 S2 C D Nilai 0 0 0 0.333 t 0 1t 0 2 tm 0 1 tm 0 0 0 Tanda / Arah     q o Lanjutan Jawaban Soal 2 Keterangan DI MB DB kanan P =1t Titik A I kiri I kanan B S1 S2 C D A C S1 S2 C D A I kiri I kanan B S1 S2 C D N ilai 0 0.25 t 0 0 0 0 0 2 tm 0 0 0 0 0 1t 1t 0 0 0 Tanda / Arah      b).

bab V-4 3.2. terjadi pada titik dibawah P 2 3.2. bab V . ƏStatika IƐ. UGM.Suwarno.10.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -80- MI max maximum = + 14. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ . Daftar Pustaka . ITB. . Senarai Balok gerber = balok yang bisa dipisah -pisah menjadi beberapa konstruksi statis tertentu Sendi gerber = sendi yang dipakai sebagai penghubung antara balok satu dengan balok yang lain.9.Soemono.05 tm.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -81- .

dan dasar sungainya tidak terlampau + 30 (b). sehingga sulit untuk membuat pilar di tengah -tengah jembatan ?. pada umumnya dipakai jembatan balok diatas 2 perletakan bias a seperti pada Gambar Untuk sungai yang mempunyai lebar cukup berarti misal : + 100 m. Judul : PELEN GKUN G 3 SEN DI Tujuan Pembelajaran Umum Dengan membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui apa itu arti struktur pelengkung 3 sendi dan tahu bagaimana menyelesaikan struktur tersebut. Pendahuluan Konstruksi pelengkung 3 sendi biasanya dipergunakan pada konstruksi jembatan.1. (c). Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah membaca materi ini mahasiswa salain mengerti apa arti struktur pelengkung 3 sendi. a. D) 4. (a). tapi dengan kondisi yang bagaimana ?. . dalam. mengerti juga kapan struktur itu digunakan dan tahu cara menyelesaikan struktur tersebut. Untuk sungai yang lebarnya tidak besar missal : + 30. seperti pada gambar (b) yaitu jembatan balok dengan 2 bentang (perletakan di tengah Tapi bagaimana kalau kit a mendapatkan sungai dengan lebar yang cukup berarti dan dasar sungai juga cukup dalam. maka + 100 m Pilar dibuatlah jjembatan balok dengan beberapa bentang. N. dan dasar sungainya tidak terlampau dalam. serta bisa menggambarkan bidang gaya dalamnya (Bidang M.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -82- MODUL 4 : PELENGKUNG DAN PORTAL 3 SENDI SERTA CARA PENYELESAIANNYA 4.1.

Pelengkung sungai Gambar 4. Bermacam-macam bentuk jembatan 4. maka perlu tambahan 1 (satu) persamaan lagi yaitu 7 Ms = 0 (jumlah momen pada sendi = 0). B = sendi (ada 2 reaksi V B dan H B). Perletakan A = sendi (ada 2 reaksi V A dan H A). A VA HA HB VA B Gambar (a) Gambar 4. 4. tempat dimana kendaraan lewat bisa tertumpu pada tiang-tiang penyangga yang terletak pada pelengkung tersebut.1. gelagar memanjang. Penempatan Titik s (sendi) . struktur pelengkung tersebut.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -83- Tiang penyangga Maka jawabannya adalah konstruksi utama dibuat pelengkung sehingga tidak memerlukan pilar di tengah -tengah sungai (Gambar c).1.1. Pengertian tentang Pelengkung 3 Sendi 4. Skema pelengkung 3 Jadi agar struktur tersebut bisa sendi diselesaikan secara statis tertentu.2. S Pengertian Dasar Untuk menjaga kestabilan dari perletakan.1.2. Dengan konstruksi pelengkung terse but. Jadi total reaksi ada 4 (empat) buah. kedua perletakan dibuat sendi. 7 V = 0 dan 7 M = 0. S = sendi yang terletak pada pelengkung tersebut sehingga struktur tersebut dinamakan struktur pelengkung 3 sendi atau struktur pelengkung yang mempunyai 3 buah sendi.2.1.2.2. sedang persamaan dari syarat keseimbangan hanya 3 (tiga) buah yaitu : 7 H = 0.

dimana letak sendi s tidak di tengah-tengah busur pelengkung B A (b) Gambar 4. Contoh posisi sendi pelengkung 3 sendi .3. S Letak sendi tersebut bisa ditengah-tengah busur pelengkung atau tidak.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -84- Sendi s yang dipakai untuk melengkapi persamaan pelengkung 3 s endi terletak di busur pelengkung antara perletakan A dan B. Hal ini tergantung dari kondisi lapangan : seperti pada gambar (b).

h1 B Nilai I = V A . 2 q kg/mƞ (c) Gambar 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -85- 4. x1 l persamaan momen gambar (c) yaitu 2 (dua) VA x1 VB perletakan dan dengan gambar bidang momen 1 q x1 2 2 A 1 q x12 sama dengan 2 . kalau kita R B mempunyai balok statis tertentu diatas 2 l + parabola Bidang M (dua) perletakan A dan B dengan beban terbagi rata q kg/mƞ.1. maka bidang momennya berbentuk parabola dengan tanda bidang M adalah positif (+) dengan nilai maximum di tengah -tengah bentang = dengan persamaan momen Sekarang kalau ditin jau struktur pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata 1 Mx = RA. h1 f I = VA .h1 I II VB Nilai M E-E dibagi menjadi 2 bagian.q x² diatasnya. Bidang M struktur 1 statis tertentu M= q l² dengan beban terbagi 8 rata 1 q l² (coba dihitung lagi sendiri) 8 S Struktur pelengkung dengan bentang = l dan tinggi = f di A ada 2 reaksi VA dan H A di B ada 2 reaksi VB dan H B f HA S E l HB A Kalau kita mau mencari besarnya momen di 1 potongan E ƛE.4.q x12 ƛ 2 B HA. maka M E-E = VA.x .x1. x 1 HA HB II = HA.2. Pemilihan Bentuk Pelengkung q kg/mƞ A RA B Kita kembali ke belakang.3.

1. (hA-hB) ƛ P1.l ƛ HA. Cara Penyelesaian 4.x1 ƛ ½ q x1² + Bidang M + Gambar nilai II = H A. Skema Nilainya bidang M pada pelengkung mengecil Harga momen total adalah sebagai berikut : Nilai I dan nilai II = nilai tota l M E-E = nilai total M E-E + + = nilai kecil (saling menghapus) Dari uraian tersebut diatas terlihat bahwa bentuk pelengkung itu akan memperkecil nilai momen. 4.3.h1 Gambar 4. Pendekatan 2 : Jika V A dan V B dicari dulu baru H A dan H B kemudian a b Gambar 4.b1 = 0 (1) .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -86- Bidang M.3. P1 S1 hB HB a1 A HA b1 B VB hA Mencari Reaksi Perletakan S Ada 2 (dua) cara pendekatan penyelesaian untuk mencari reaksi. Skema gaya dan jarak pada pelengkung (pendekatan 1) Pendekatan 1VA HA dan V Al dicari dengan persamaan 7 MB = 0 dan 7M S = 0 (bagian kiri) (2 persamaan dengan 2 bilangan tak diketahui) Gambar (a) 7M B = 0 V A.5. Pendekatan 1 : Jika HA dan V A atau H B dan V B dicari bersamaan.6.1.1. Gambar nilai I = V A.

hA ƛ P1.a ƛ HA.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -87- 7M S = 0 V A.S 1 = 0 (bagian kiri) (2) .

(4).a1 = 0 7 M S = 0 V B . Pendekatan 2 P1 S S1 f a Ba Reaksi horizontal H A dan HB ditiadakan kemudian arahnya diganti.l + HB (hA ƛ hB) ƛ P1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -88- Dari 2 persamaan tersebut diatas yaitu (1) dan (2) maka V A dan H A bisa dicari.H B . 7M A = 0 VB. masing -masing menuju ke arah perletakan yang lainnya menjadi Ab ¸ dan ¹ Ba B Dengan arah Ab yang menuju perletakan B dan . HB dan V B dicari dengan persamaan 7M A = 0 dan 7M S = 0 (bagian kanan) 2 persamaan dengan 2 bidang tidak diketahui (3).l . h B ) = 0 (bagian kanan) Dari persamaan (3) dan (4) maka V B dan H B bisa dicari.

l ƛ P1. y Mencari reaksi Ba 7 MS = 0 (bagian kanan) persamaan (2) maka nilai Ba bisa dicari. b Ba = dengan memasukkan nilai Bv dari f Lihat posisi Ba dan Ab dan Ab ( ¸) merupakan reaksi yang arahnya miring Ba ( ¹) Ba cos E Ba E Ab sin E Ba sin E Ab .b ƛ Ba . a  P1S1 dengan memasukkan nilai A v dari Ab = f persamaan (1).a ƛ P 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -89- y Mencari reaksi Av 7 MB = 0 Av. Bv. b1 = 0 Pb Av = 1 1 l (1) y Mencari reaksi Bv 7 MA = 0 Bv. f = 0 Bv .l ƛ P1.S1 ƛ Ab . maka nilai Ab bisa dicari. a1 = 0 Pa Bv = 1 1 l (2) y Mencari reaksi Ab 7 MS = 0 (bagian kiri) Av. f = 0 Av .

Ba juga diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu : Ba cos E (³) merupakan uraian horizontal dan Ba cos E (¶) merupakan uraian vertikal. y Bagaimana dengan komponen -komponen itu selanjutnya ? Ternyata : Ab cos E = HA pada cara pendekatan 1 yaitu merupakan reaksi horizontal di A.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -90- Kedua reaksi ini harus gaya dan diuraikan gaya menjadi vertical yang horizontal Ab diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu : Ab cos E( ) merupakan uraian horizontal dan Ab sin E(µ) merupakan uraian vertical sedang. ( ´) Ba cos E = HB pada cara pendekatan 2 yaitu merupakan reaksi horizontal di B. (³) dan : VA (µ) = Av ( µ) + Ab sin E (µ) pendekatan 2 gambar (b) dan Pendekatan 1 gambar (a) VB (µ) = Bv (µ) + Ba sin E (¶) pendekatan 2 gambar (b) Pendekatan 1 gambar (a) .

2.HA .b l RA + Bidang D RB Gambar 4. x ƛ ½ q x² gambarnya adalah parabola seperti pada I sub bab 4. maka Mx = V A .a.1. Jika x adalah titik yang ditinjau bergerak dari A s/d B. x P Untuk balok yang lurus. merupakan nilai konstan Dx = R A (x A a RA l Bidang + b P. II II = HA . y HA = konstan nilainya y = jarak titik dasar ke pelengkung S y A HA VA Gambar 4. seperti pada gambar (4. x. gaya lintang (D) dan gaya normal (N).8). Mencari Gaya-gaya Dalam Seperti telah diketahui sebelumnya. RA Karena bidang M merupakan fungsi x Mx = RA . maka dengan mudah B kita menggambarkan bidang momennya (Bidang M) dan bidang gaya lintangnya (Bidang D). dimana suatu pelengkung 3 sendi dibebani beban terbagi rata q kg/mƞ.9 Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata HB B VB .2.9 disamping.3. x q kg/mƞ Lihat pada gambar 4. y I = VA . bukan pelengkung. x ƛ ½ q x² . gaya-gaya dalam yang ada pada suatu balok adalah gaya dalam momen (M). (x dari 0 ke a) linear dan bidang D dari 0 ke a).8.3 Gambar (c).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -91- 4.1. Gaya dalam untuk balok diatas 2 perletakan Bagaimana dengan bidang gaya dalam pada pelengkung ?.

x (jumlah gaya -gaya vertikal di x kalau di hitung dari bagian kiri) Hx = H A HA VA HB VB Gambar 4. Gaya vertical dan horizontal disuatu titik pa da pelengkung 3 sendi Bagaimana nilai Dx dan Nx ? gaya-gaya tersebut Vc dan Hx harus diuraikan ke gaya -gaya yang B (tegak lurus) dan // (sejajar sumbu) Dimana posisi sumbu batang?. Posisi sumbu batang adalah merupakan garis singgung dimana titik x berada. Garis singgung tersebut membentuk Garis singgung di x sudut E dengan garis horizontal.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -92- y adalah merupakan persamaan parabola dari pelengkung. dimana pada umumnya persamaannya adalah : y = II = HA.y gambarnya juga parabola 4 fx ( l  x ) l² Jadi Mx = I ƛ II merupakan penggabungan 2 parabola yaitu parabola I dan II yang tidak mudah penggambarannya !. maka Vx dan Hx harus diuraikan ke E . Vx = V A ƛ q .10. * Bagaimana dengan bidang D (bidang gaya lintang) Kita lihat titik dimana x berada di situ ada x Hx S Vx Vx dan Hx.

Vx sin E.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -93- Hx sin E Vx sin E E Vx cos E Vx Hx E Hx cos E * Uraian Vx ke garis singgung singgung * Uraian Hx ke garis Gambar 4. x cos E = .( Vx sin E Hx cos E   Kedua gaya ini menekan batang tanda (-) Dari uraian tersebut diatas kalau kita mau menggambar bidang D (gaya lintang) atau bidang N (gaya normal) akan mendapat kesulitan . maka Dx = Vx cos E Hx sin E Jumlah gaya dari kiri bagian arah ke atas tanda (+) Jumlah gaya dari kiri bagian dengan arah ke bawah tanda (-) Nx = . Karena setiap letak x berubah garis singgung akan berubah sudutnya dan nilai E akan berubah lihat gambar bawah. Uraian Vx dan Hx pada sumbu batang Dx = jumlah komponen yang B garis singgung Nx = jumlah komponen yang // garis singgung.11. Garis singgung Garis singgung E x di sebelah kanan titik puncak .

5 m dari titik A. Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata Dintanya : Nilai VA. D) ataupun bidang normal (Bid. bidang gaya lintang (Bid. VB. Mc. dan nilai gaya normal di salah satu titik di daerah pelengkung tersebut. nilai gaya lintang. N). S Ec C yc f=3 m A H 2.13. Perubahan arah garis singgung Biasanya yang ditanyakan dalam struktur pelengkung bukanlah bid ang momen (Bid.12. Contoh Penyelesaian Contoh 1 3 t/mƞ Diketahui : Pelengkung 3 sendi dengan persamaan 4fx(lt  x ) parabola y = l² y = jarak pelengkung dari garis horizontal dasar x = aksis yang bergerak secara horizontal dari A ke B l = bentang pelengkung f = tinggi pelengkung H B Pelengkung tersebut dibebani secara terbagi rata q = 3 t/mƞ. Dc dan Nc Dimana c terletak sejarak x c = 2. . Namun biasanya yang ditanyakan adalah besarnya nilai momen. M). H.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -94- Gambar 4.5 m xc VA 5m VB 5m Gambar 4.

l. 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -95- Jawab : Lihat notasi reaksi yang ada di perletakan A dan B.q (5)² 15. maka 4 f x (l  x ) 4 f (l  2 x   y' ! l² l² . ½ l = 0 VA = ½ .5  1 / 2 . l ƛ q.5  1 / 2.2.5) ! 2.3.Xc² = 15 . Sudut Ec B Menentukan nilai Ec y= Ec lintang Untuk mencari gaya lintang maupun gaya normal pada potongan x. yang berarti reaksi horizontal di A HA = HB kenapa ? dengan mengacu bahwa 7H = 0 maka H A = HB = H dimana beban luar secara horizontal tidak ada Mencari V A dan VB 7 MB = 0 7 MA = 0 mencari H 7 Ms = 0 (kiri bagian dari S) VA . 25 ! ! 12.10 = 15 ton ( o) VB = 15 ton (o) y Mencari ordinat titik c guna mencari Mc dengan persamaan parabola y = 4 fx ( l  x ) l² untuk x = 2.5 ƛ 12.H .5² = 0 (nilai momen = 0) y Mencari gaya normal dan gaya Hc Vc A 2. di A ada V A dan H dan di B ada V B dan H Reaksi horizontal di A ditulis H buk anlah H A demikian juga. reaksi horizontal di B ditulis H bukanlah H B (HA) dan di B (H B) adalah sama. 3 .14.5 m yc = 4. 2. 2.5 .5 (10  2.25 m 10² y Mencari Mc (momen di titik c) dihitung dari kiri c Mc = VA .25 ƛ ½ .l.Xc ƛ H.yc ƛ ½ .5 ton 3 3 VA . 2.3. (5)² = 0 H= V .q. 3 ƛ ½ q . ½ l = 0 VB .5m Gambar 4. 3 . l ƛ q.

Uraian gaya Vc dan Hc Nc = . hanya beban luar yang berbeda yaitu P = 6 ton ( ) horizontal .x = 15 ƛ 3.8575) = . Dc = 0.5774 ton. jadi ini jelas bahwa struktur pelengkung ditekankan menerima gaya tekan.5 ton ( o) Hc = H = 12.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -96- kita perlu mencari sudut Ec yaitu sudut yang terbentuk antara garis singgung di titik c dan garis horizontal. 0.5 .5 ton ( ) Dc = Vc cos Ec ƛ Hc sin Ec = 7.5 .5 .5 = 7.5774 ton Dari Mc hasil = nilai gaya dalam tersebut tampak bahwa nilai 0. 0.sin Ec + Hc cos Ec) = .2.8575 ƛ 12.5m xp=2m C P=6t yp HA yc f=3 m HB Diketahui : S Pelengkung 3 sendi dengan persamaan 4fx(l  x ) bentang l = 10 m parabola l² dan tinggi f = 3 m persis seperti pada contoh 1.5145 + 12.(Vc. Contoh 2 xc=2.(7. Nc = -14. 0.15. Vc = VA ƛ q.14.5 .4312 ƛ 6. 0.4312 = 0 Hc sin Ec Ec Vc sin Ec Ec Vc cos E c Vc Hc Hc cos Ec Gambar 4.5145 = 6.

Gambar pelengkung 3 sendi pada contoh soal .16.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -97- Gambar 4.

08 = 0 HA = 7 M S = 0 (kanan) 7 MS = 0 VB . 1. 1.92 m Yp = 10² 7 MB = 0 VA .92 = 0 VA + VB = 0 cocok VA = -1.92) = 0 . 3 = 0 HB = 1.08 ƛ 1.152 ton ( o) 7v=0 Mencari H A dan HB 7 M S = 0 (kiri) 7 MS = 0 VA .yp = 0 VA . ½ l ƛ HA . f = 0 1. 10 . f ƛ P ( f ƛ yp ) = 0 .92 = 0 (cocok) .152 ton ( q) 7 MA = 0 VB = + 1.5. 3 ƛ 6 . 1. 3 ƛ 6 (3 ƛ 1.152 . ½ l ƛ H B . l + P.76 ƛ HA . 5 ƛ HA .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -98- Jawab : Karena ada beban horizontal maka H A { HB Mencari V A dan V B Untuk mencari VA dan VB perlu tahu tinggi yp untuk Xp = 2 m 4.92 ton ( n)  5.6 .P. 5 ƛ HB .2 (10  2) ! 1.yp = 0 VB .152 .3.48 ! 4.08 ton (n) 3 Kontrol 7H = 0 P + HA + HB = 0 6 ƛ 4.76  6. 10 + 6 .1.92 = 0 VB . l .

V A .32 tm VB Hc C Hc Vc P Vc sin E HA VA Gambar 4.152 .5 + 4.88 + 9. 2.2.5145.8575 Mc = . yc ƛ P (yc ƛ yp) C P=6 t yc HA VA Ec Mc 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -99- Mencari M.08 .08 = 1.Vc cos Ec ƛ Hc sin Ec = -1.98 HB = 4.25 ƛ = .5145 Dc = .17.152 ton ( q) Hc = 6 ƛ 4. 0.96° sin Ec = 0.8575 ƛ 1.92) = -1. cos E = 0.92 ( ) 0.25 m Ec = 30.152 . Distribusi Vc dan Hc Vc Vc cos E Ec Hc sin Ec Ec Hc cos Ec Vc = 1. 2. Dc dan Nc Seperti pada contoh 1 yc = 2. = -1.92 . 25 ƛ 6 (2.18 ƛ 1.9757 ton Nc = + Vc sin Ec ƛ Hc cos Ec .Xc + HA .

8575 = . HA. 0.92 . Nc. 2m HB 2m VA 4m 4m VB Ditanyakan : VA. VB.1. HB. Dc f=3 m A HA B Persamaan Parabola : y= 2). 4 f x (l  x ) l² q=3 Suatu pelengkung terbagi rata q setengah bentang terletak di sejarak 2 S Ditanyakan : VA.4. Mc. HB. c P = 4t A HA HB B Persamaan parabola : y = VB 4 f x (l  x ) l² Xp=2 m VA Xc=3 m 5m 5m .0537 ton 4. Latihan Untuk mempraktekan teori -teori yang ada diuraian depan.1. maka perlu diadakan suatu lat ihan sebagai berikut : 1). dan P = 6t vertical terletak sejarak 2 m horizontal dari B. Nc. Mc. 0.152 .5145 ƛ 1. q=2 P = 6t c S Suatu pelengkung 3 sendi ABS dengan beban terbagi rata q = 2 t/mƞ sepanjang setengah bentang.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 100- - = 1. Dc f=4 m sendi ABS dengan beban = 3 t/mƞ sepanjang dan P = 4 ton horizontal m dari A. HA. VB.

o Yang biasanya dicari dalam struktur pelengkung adalah nilai momen.5 ton 6.5. Rangkuman o Pelengkung 3 sendi adalah struktur jembatan yang dipergunakan untuk penampang sungai yang mempunyai dasar cukup dalam. gaya lintang dan gaya normal di salah satu titik.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 101- - 4. o Struktur tersebut masih merupakan struktur statis tertentu yang bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan.667 ton 4.6. Sedang bidang momen. 4.6 0.667 ton 2.1.5 ton 4.75 0.8 o o p n . mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban darsoal -soal tersebut diatas sebagai kontrol.1. Soal No. 1 Keterangan Titik N ilai Arah / Tanda Reaksi Vertikal A B Reaksi Horizontal A B Data Pendukung yc yƞ Sin E Cos E 7. bidang ga ya lintang dan bidang normal tidak dihitung karena penggambarannya cukup kompleks.25 m 0. Penutup Untuk mengukur prestasi.

64 0.1. Suwarno ƠMekanika Teknik Statis Tertentuơ.36 m 0. bab 2. UGM.7.9675 ton 3.774 ton 1. Daftar Pustaka 1. .8336 ton (-) (-) Soal No.5625 tm ~0 5. Soemono ƠStatika Iơ ITB. berfungsi supaya pelengkung tersebut menjadi statis tertentu. Senarai Pelengkung sendi : struktur pelengkung di suatu jembatan dimana salah satu sendinya (selain perletakan). 2 Keterangan Titik N ilai Arah / Tanda Reaksi Vertikal A B Reaksi Horizontal A B Data Pendukung yc yƞ Sin E Cos E Momen Gaya Lintang Normal C C C 10.226 ton 4.842 7.3672 tm 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 102- - Momen Gaya Lintang Normal C C C 0. bab 4.6854 (+) (-) (-) o o p n 4.539 0.9675 ton 5.1.8.184 ton 5.

gaya lintang) pada suatu titik dipelengkung tersebut perlu adanya garis pengaruh.P. a . H P.f Untuk P di A .2. x = 0 1t Untuk P di B . 4.18. b = f V B .P. yaitu besarnya reaksi atau gaya -gaya dalam disuatu tempat yang diakibatkan muatan berjalan sebesar satu satuan muatan.P.2. a f Px b . VB . b l . Garis Pengaruh Pelengkung 3 Sendi 4. x = l G. a. f = 0.2. Garis Pengaruh Reaksi x P S G. s truktur pelengkung 3 sendi difungsikan sebagai jembatan yang mana diatasnya selalu ada muatan yang berjalan.H (Garis Pengaruh reaksi horizontal) HA = HB (karena beban hanya vertikal) Jika P berjalan dari A ke S (li hat bagian kanan S) 6 MS = 0 H= VB . Pengertian Dasar Pengertian tentang garis pengaruh pada pelengkung 3 sendi sama dengan pengertian garis pengaruh pada balok menerus. x = 0 Untuk P di B .2. b ƛ H . Untuk mencari besarnya gaya dalam (momen. b f VA .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 103- - 4. V A dan V B (garis pengaruh reaksi di A dan B) P berjalan dari A ke B.3 Prinsip penyelesaian. Pendahuluan Seperti pada balok diatas dua perletakan. V B dan H Px ) l .2. x = l VB = 0 V B = 1 ton 6 MB = 0 VA = P (l x) ton (linier) l V A = 1 ton VA = 0 (+ G. 6 MA = 0 VA H l a G.P V B VB = Px l f H b VB VB Untuk P di A . ton (di persamaan atas V B = l f Gambar 4. 4. Garis pengaruh V A.1.P VA (+) 1t G.

f G.f Jika P berjalan dari S ke B (lihat bagian kiri S): H. M C (Garis Pengaruh Momen dititik C). u dan V B .f v G.P. v sama dengan G. bagian I (+) P . bagian II (-) Untuk P di C maka M C = P .b c l . u .P.b ton H= l . c I II (dibagi menjadi dua bagian I dan II) u VA c A H a f VB P dikiri potongan C (dari A ke C) lih at kanan potongan.P. B H b MC = VB . H x C v P.C = G. M C = VA . u .H . Jika P berjalan di kanan Potongan C (dari C ke B). x = a p H = P.b ton l. f ton H= 6 MS = 0 VA .P. a .f = 0 a H = VA . x = a H=0 P. u .H . v . x = 0 p H = 0 Untuk P di S .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 104- - Untuk P di A .v l G. a - P ( l  x ) a ton f l dipusatkan VA = P (l  x ) l Untuk P di B . R l C u VA VB Bagian II H. a . M C pada balok di atas dua perletakan l G.P. c I II (dibagi menjadi dua bagian I dan II) Bagian I VA . x = l Untuk P di S . a.P. maka lihat kiri potongan (kiri C). M C Garis Pengaruh Total (M C) sama dengan jumlah dari garis pengaruh bagian I dan bagian II (+ (-) .

b cos E l . a . sehingga: NC = .) v sin E H b l GP VB sin GP.P Gaya Lintang perlu dikalikan cos D v G. HC = H H cos H D diuraikan E menjadi gayaD gaya yang Sin sejajar ( // ) H sin dan tegak lurus VA yaitu H cos D dan H sin D.P.19. NC bagian I Q sin E l (+) ( .P. VA sin D dan V A cos D.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 105- - Gambar 4. N dan D Jika P berada dikanan C (lihat dari A ke C) H a l G.P. Gambar GP. Garis Pengaruh Gaya Lintang (D) dan N ormal (N) u VA S C VA D H f V C = VA HC = H VA sin D VA diuraikan VB menjadi gaya VA cos D D yang sejajar C ( // ) dan ( ^ ) garis B singgung di C.(VA sin D + H cos D ) I II DC = VA cos D .H sin D I II I -> identik dengan G.f . V A Sin D D GP NC Bagian II () P. Gaya Lintang balok diatas 2 perletakan untuk G. Gaya normal perlu dikalikan sin D dan untuk G.P.Mc C.

Gaya normal perlu dikalikan cos E dan untuk GP.DC bagian II  y= yƞ = 4fx (lt  x ) l² 4f ( lt  2 x ) l² - Pab sin E lf u cos E l GP DC Total (I + II) Mencari nilai E Persamaan parabola 4 fx ( l  x ) y= l² 4f ( l  2 x ) l² Untuk nilai x tertentu E bisa dicari y' = (-) v cos E l. Garis pengaruh gaya lintang (D) dan gaya normal (N) .b cos E l .P.P. NC v cos E l perlu dikalikan cos sin E (-) (+) VB cos E v cos E l Mencari N ilai E Persamaan parabola VA cos E GP. untuk GP.f identik dengan garis pengaruh gaya horizontal (H). D C a b sin E l. G.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 106- - v sin E l GP NC Total ( I dan II ) II (-) a .20. f Gambar 4. Gaya lintang G.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 107-

-

1. Contoh Soal x C P S EC

Diketahui : suatu pelengkungan 3 sendi seperti pada gambar dengan persamaan parabola:

4 fx ( l  x ) l² Ditanyakan : G.P reaksi dan G.P. Nc dan Dc Y= f =3 m Jawab : H B VB GP V A § MB = 0 P (l  x) lx ton = ton VA = l l Untuk P di A x=0 VA = 1 ton Untuk P di B x=l VA = 0 G.P. V B § MA = 0 Px x VB = ton ! ton l l 1tUntuk P di A Untuk P di B x=0 x= l VB = 0 VB = 1 ton

A VA 2.5 m

H 5m l G.P. VA 5m

1t

(+) G.P. V B t (+) G.P. H (+) 5/6

G.P. H P berjalan antara A - S (lihat kanan S) § MA = 0 § MS = 0 VB = VB
Px x ! l l

Gambar 4.21. GP VA; VB dan H dari pelengkung 3 sendi

1 l - H.f = 0 2 VB . 5 - H. 3 = 0 H= VA . 5 3 ( l  x ) 5 (10  x ) 5 H= . ! t l 3 10 3 Untuk P di B x = 10 H=0t Untuk P di S x=5 H= 105 5 5 5 5 ! t . ! 10 3 10 3 6  .a.b 1.5.5 5 Atau H = ! ! t l. f 10.3 6

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 108-

-

C

S i VA cos E

VA VA sin E EC VC = VA HC = H

A G.P. NC Bagian I (+ 0.3858 0.1286 t (-) G.P. NC Bagian (-)
0.714 t

B H cos E EC H sin E NC = - (VA sin E + H cos E) I = VA cos E - H sin E I II II

DC G.P NC 0.5144 t ( -) 0.9712 (-) 0,2143 Bag.I (+) G.P.D C

Mencari nilai EC 4 f .x (l  x ) 4.3 (10  x ) ! Y= l² 10² 4 f ( l  x ) 4 . 3 x (10  2 x ) ! l² 10² 4.3 (10  5) 60 3 Untuk x = m y' = ! ! 100 100 5 y' =3/5 = arc tg EC EC = 30.96º sin E = 0.5145 cos E = 0.8575 .G.P. NC NC = - (VA sin E + N cos E) Y' = I I untuk P di C II x = 2.5 m VA = ¾ t VB = ¼

0.643 1 G.P. DC bag. II (-) 0.42875

(-)

G.P. D C 0.4286

I

t VA sin E = ¾ . 0,5145 = 0,3858 VB sin E = ¼ . 0,5145 = 0,1286 II H cos E Untuk P di S H cos E = 5/6 . 0,8575 = 0,714 G.P. D C DC = V A cos E - H sin E Untuk P di C x = 2,5

0,428 8 Gambar 4.22. GP Nc dan Dc pada pelengkung 3 sendi

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 109-

-

4.3.

Muatan tak langsung untuk pelengkung 3 sendi

4.3.1. Pendahuluan Seperti pada balok menerus, pada pelengkung 3 sendi ini pun terdapat muatan yang tak langsung. Pada kenyataannya tidak pernah ada muatan yang langsung berjalan diatas gelagar pelengkung 3 sendi, yang melewati diatas pelengkung 3 sendi harus melalui gelagar perantara. Gelagar perantara Kolom perantara Pelengkungan

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 110-

-

S

Gambar 4.23. Gelagar perantara pada pelengkung 3 sendi

4.3.2. Prinsip dasar Prinsip dasar penyelesaiannya sama dengan muatan tak langsung pada balok. Muatan akan ditransfer ke struktur utama, dalam hal ini pelengkung 3 sendi, melewati gelagar perantara dan kemudian ke kolom perantara.

q = kg/mƞ

a

P

b

q kg/mƞ P

R1 R1

R2 R2

R3 R3

R4 R4

R5 R5

R6 R6

S

P

P

P L =5P

P

P

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 111- - . (a). . Kondisi pembebanan kolom (b). . ½ P + (b/P ). transfer beban lewat perantara P q = kg/mƞ R1 P R2 P R3 R4 a P b R5 P P R6 (c) Perhitungan nilai R (beban yang ditransfer) R1 = q . . P = qP = ½ qP + (L/P )P R3 = q . . P R4 = a P P R5 = R6 = 0 Gambar 4. . Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi 1t 1t q = 1 t/mƞ 2 3 S 4 a a5 6 . ½ P = ½ q P R2 = q .24.

Pada Suatu konstruksi pelengkung 3 sendi dengan muatan tak langsung seperti pada gambar.5 ton a R1 R2 C R3 S e . Muatan Tak Langsung Pelengkung 3 Sendi. Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi 4.Hc sin E Vc Vc cos E Vc sin E Ec C Hc cos E C Hc Hc sin E G ambar 4. R3. R4 Yc HA VA HB VB Hc = H Mc = VA.qton R5 R6 Vc = Av ƛ R1 R4 = 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 112- - Contoh.e-HA. . .5 ton R5 = 1.4. sin E + Hcos E) Dc = Vc. .Yc Vc = VA. .25.1. Prinsip penyelesaian sama dengan muatan tak langsung pada balok sederhana diatas 2(dua) perletakan.Yc Nc = -(Vc . .Xc-R2. R4 dan R5) b R2 = R3 = ½ P.4. Garis pengaruh gelagar tak langsung pada pelengkung 3 sendi 4. Beban dipindahkan ke pelengkungan melalui gelagar. . Pendahuluan . Cos E . R2. Menjadi (R1.Xc-R2.e-HA. .

Y1 + P2.D) disuatu ttitik pada gelagar tersebut. karena potongan I tersebut terletak diantara gelagar lintang C dan D. P .5 P 15 ! P P 8 GP M I untuk gelagar langsung Gambar 4.33 A C I D E B y1 y y2 + C P1 I D P2 GP M I gel. Jika letak . Jadi ordinat yang bawah titik I adalah (P1. langsung y1 y2 Beban tersebut selalu ditransfer ke gelagar lewat titik C dan D dengan C D I nilai P1 dan P2. Kalau muatan berada diatas gelagar C ƛ D beban tak penuh melewati tepat pada potongan I P P 54. A C I D E ½ ½ P P + 1. atau 1 kg atau Newton) . P . P . (1 ton. P .4. transfer beban hanya disalurkan lewat kolom perantara. maka kalau diperhatikan beban tak pernah lewat diatas potongan I. Prinsip Dasar Sama seperti pada balok diatas gelagar tak langsung 2 tumpuan.2.5 P . dengan ordinat 1. 2.N. untuk itu garis pengaruh selalu diperlukan untuk mencari reaksi atau gaya-gaya dalam (M.33 P 54. Seperti garis pengaruh pada gelagar tak langsung diatas-atas 2 tumpuan.5P .Y2). 4.25P 15 ! P puncak adalah 4P 8  Kalua gelagarnya tak langsung.33 P 54.33  Gambar b adalah gambar garis pengaruh mome n dipotong I (GP M I) untuk gelagar langsung dengan puncak dibawah potongan I.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 113- - Seperti biasanya pada sutau jembatan tentu selalu dilewati muatan yang berjalan diatasnya. Garis pengaruh momen di potongan I untuk gelagar langsung P 54.26. B Bagaimana garis pengaruh momen dipotongan I pada gambar dengan gelagar tak langsung (gambar a). Beban standart yang dipakai adalah muatan berjalan sebesar satu satuan.

27. Contoh Suatu struktur pelengkug 3 sendi dengan gelagar tak langsung seperti pada gambar. Dc dan Nc . tak langsung ½ y1 + ½ y Gambar 4. Gambarkan Garis pengaruh Mc . M I gel. Pemaparan pada gelagar disebelah kiri dan kanan dimana titik berada seperti pada gambar d. Garis pengaruh m omen di potongan I untuk gelagar tak langsung potongan I ditengah -tengah C-D maka ordinat dibawah potongan I adalah ½ y 1 + ½ y2 C I D y1 y2 ½ y1 + ½ y Jadi garis pengaruh untuk gelagar tak langsung sama dengan garis pengaruh pada gelagar langsung dengan pemotongan puncak dipap ar dimana titik tersebut berada.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 114- - GP.

4.a.f G. GP Mc = V . Judul : Portal 3 sendi 4.P. C yc . b GPMc bagian I P. .b yc l.Y l I + pemaparan GPMc bagian II pemaparan P.f G.5. 28.yc A  ] II I . Mc total (bag I + bag II) - II + P. a .Q.b cos E lf pemaparanG.1.a . Pendahuluan .H sin E Cos E P.b yc l.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 115- - Penyelesaian.a .5. f H R VB H VA Q .a .P. Untuk garis pengaruh gelagar tak langsung.Y l P. S .b sin E lf pemaparan Gambar 4.x  H.P.Nc = .(Av sin E + H cos E ) pemaparan Sin E pemaparan P.Dc = Av cos E . Pen yelesaiann ya sama dengan beban langsung.Q. Cuma dipapar pada bagian gelagar yang bersangkutan.

4. bisa berupa balok menerus. balok gerder. Bentuk portal 3 sendi Portal 3 sendi adalah suatu penyederhanaan sederhana dari pelengkung 3 sendi supaya penyelesaiannya lebih sederhana dan tidak perlu memakai gelagar yang tak langsung. maka bentuk lain dari struktur tersebut adalah portal 3 sendi sepeti tergambar dibawah ini S A B Gambar 4. pelengkung 3 sendi dan gelagar lainnya.29.5. Prinsip Dasar Prinsip dasar penyelesaian nya sama dengan pelengkung 3 sendi yaitu memakai 2 pendekatan Pendekatan I .2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 116- - Bentuk dengan suatu struktur adalah bermacam-macam. Kalau dibagian sebelumnya ada struktur pelengkung 3 sendi.

hƞ ƛ P2 .30.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 117P1 S a1 a2 - S2 P1 P2 b1 b2 B VB h' HB h h A VA HA a L b Gambar 4.l + HA. Pendekatan I 2 cara seperti pada pelengkung 3 sendi. S1 = 0 VA dan H A dapat ditentukan Pendekatan II .l + HB. a1 = 0 VB.l + HB. (h ƛ hƞ) ƛ P2 .a + HA. S 2 = 0 VB dan H B dapat ditentukan (dari kanan) 7 MB = 0 7 MS = 0 (dari kiri) VA.hƞ ƛ P 1 . b2 = 0 VA. b1 ƛ P2 . a2 ƛ P1 . Arah reaksi -reaksi dari portal 3 sendi untuk penyelesaian dengan cara pendekatan I Prinsip penyelesaiannya sama den gan pada pelengkung 3 sendi yaitu memakai 2 pendekatan.h ƛ P 1 . 7 MA = 0 7 MS = 0 VB.

Arah reaksi portal 3 sendi dengan cara pendekatan II .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 118P1 P1 P 2 S - S1 a1 a2 S S2 b1 b2 B BV h' BA h h A AV AB a b L P1 S P1 fƞ ff ƞ B BA BV A AV AB a b L Av ƞ A AB HA HB BA B Bv Ɲ Gambar 4.31.

f ƞ Av. f ƞ Bv. S 2 ƛ BA .a 1  P2 . a1 ƛ P2 .a ƛ P1 .b 2 l 7 MA = 0 Bv. b 1 ƛ P2 . b 2 = 0 Av = P1. f = HA . b  P2 . S 2 f Nilai BA .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 119- - Cara 2 7 MB = 0 Av.b ƛ P2 .l ƛ P1 . f = 0 . S 1 ƛ AB .b1  P2 . f = HB .a 2 l Nilai A B . f Ɲ 7 MS = 0 (kiri) HA .l ƛ P1 . a2 = 0 Bv = P1.a  P1 . f Ɲ AB dan B A diuraikan HA = AB cos E HB = BA cos E Av Ɲ = A B sin E Bv Ɲ = B A sin E Maka : VA = Av + Av Ɲ VB = Bv ƛ Bv Ɲ HA = AB cos E HB = BA cos E Contoh . S1 AB = Av f 7 MS = 0 (kanan) HB . f = 0 BA = Bv .

selesaikanlah struktur tersebut.5 = 0 Bv = HA E AB Av Ɲ BA E HB Gambar 4. 2/6 = 0. 4. 3ƛ2.3 ton Avƞ = H A .3 . 3 . 1.1 = 0 BA 2m HA Av HB 3m 3m Av = 27  4 ! 5 1 / 6 ton 6 B 7 MA = 0 Av.3 . 1.l ± P.5 ± 4.l ± q .5ƛ HA.6 ± 2.3. m P1 q  2t/m' S 4t Memakai pendekatan 2 D C 7 MB = 0 4m 5m (fƞ) AB B Av. 38 ! 1. 3 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 120- - Suatu struktur portal 3 sendi seperti pada gambar .q .5 ± 2. Skema reaksi yang terjadi dalam portal 3 sendi HA = 1.1 = 0 Av.6 ± 4.5 - P. 1.3 .32.4333 ( q) Bvƞ = 0.5 = 0 Bv Ɲ HB = 4 5/6 .5 = 0 Bv Av.3 ton .5 . 4. P =1 Penyelesaian. tg E Avƞ = 1.4333 ( o) q  2t/m' S C 20  9 ! 4 5 / 6 ton 6 MS = (dari kiri) Av .

7334 + 5.4333 = 5.2666 t Kontrol : 7 Kontrol : 7 V =0 6 + 4 = 4.7334t 1.7334 t VB = Bv + 0.2666 t .n 5 VA = Av ƛ Avƞ = 5 1/6 ƛ 0.4333 = 4.3t 4.3t B B 5.4333 m = 4 5/6 + 0.2666 4t P1 D H =0 H A ( ) = H B (n ) A A Pusat 1.

8 1.8 tm - Mc = -HA .7334 ton Daerah C-D = -1. q (x²) .C A x 4. D portal 3 sendi Bidang N (gaya N ormal) Daerah A-C = -4.2666 t x=3m Ds = 4.2 tm - S D 7.32.3667 ƛ ½ . 4 = -1.2666 t = 0.7334 t BIDANG N - Di S 5.1 ƛ 7. N. 2 (2. 2.5334 tm Bidang D (gaya lintang) Daerah A-C Daerah C-D D = -HA = -1. Bidang M.6 = 5.2666 tm N = -V B = N = -HA = -HB N = -VA .20254 ƛ 5.3 t 1.3667 Mx = -HA .2 + 11.2666 t Mx = -1.3 ton Daerah B-D 5.5.60127 5.40127 tm (M max) MD = -HB .3 .7334 ƛ 6 = -1.2 tm Mmax teletak di D = 0 x = 2.1 H B. 6 = . 4 + 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 121Bidang M (momen) - 5.7.3667 ƛ ½ .3 .3.3 t 1.4 = .2666 tm Daerah B-D D = -HB = -1.3667 m (daerah cs) x = 2.3 t = . 6 = -1.7334 . 4 + VA . 2.3t Dx = VA ƛ qx 1.7334 t + 4 + BIDANG D BIDANG M B 1.2.2666.3 t 4.8 tm Momen dibawah beban P MP=VB.3 t Gambar 4.3667)² = -5.

34.6.6.2. JUDUL : BALOK GERBER PADA PORTAL 3 SENDI 4.6.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 122- - 4. - Struktur yang ditumpu diselesaikan dulu dan reaksinya merupakan yang Gambar 4. Pendahuluan Seperti pada balok menerus diatas 2 perletakan. Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi beban pada struktur menumpu. Prinsip Penyelesaian Dasar S1 C R S1 R S1 - Dipisahkan dulu struktur gerber tersebut menjadi 2 ba gian. Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi menjadi 2 bagian S RS1 (b ) - Prinsip penyelesaian dasar seperti pada Balok gerber biasa. - Harus pula diketahui mana struktur yang ditumpu dan mana pula struktur yang menumpu. maka untuk memperpanjang bentang. dimana kedua-duanya harus merupakan S konstruksi statis tertentu. dibuat balok gerber dari portal 3 sendi dengan skema struktur seperti pada Gambar (a). S S1 C (a) S = sendi dari portal 3 sendi S1 = sendi gerber A B RS1 C Rc Gambar 4. .1.33. 4.

. Pemisahan struktur gerber portal 3 sendi Penyelesaian kedua struktur tersebut.35. Baik struktur S 1-C ataupun struktur A B S 1 kedua-duanya merupakan struktur sta tis tertentu Gambar 4. Contoh Penyelesaian P1 S S1 C GERBER PADA PORTAL 3 SEN DI q t/mƞ S = sendi portal S1 = sendi gerber A B Penyelesaian dengan prinsip balok gerber P1 sama pada Balok S 1-C merupakan struktur yang ditumpu dari portal 3 sendi RS1 q t/mƞ S RS1 A B S.3.6. baik S 1-C maupun A B S 1 diselesaikan seperti biasanya. RC HA A HB B VA VB Reaksi R S1 pada struktur S1-C merupakan beban pada struktur portal sendi A B S 1. termasuk penyelesaian gaya -gaya dalamnya. merupakan struktur yang menumpu.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 123- - 4.

Prinsip Dasar Untuk menghitung garis pengaruh tersebut perlu diketahui mana struktur yang ditumpu dan mana yang menumpu. Garis Pengaruh Gerber Pada Portal 3 Sendi 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 124- - 4. bahwa jembatan gerber pelengkung 3 sendi selalu dimuati oleh suatu kendaraan yang berjalan.3. Pemisahan struktur pada gerber portal 3 sendi 4.C adalah yang ditumpu sedang struktur ABS 1 adalah struktur yang menumpu Kalau A B muatan berada diatas struktur ABS1. Contoh Penyelesaian .36.2.7. (a) S S1 C Seperti pada gambar (a) dan (b) struktur S.7. S (b) B GA ambar 4. namun S1 C sebaliknya jjika muatan berada diats S1C maka reaksi-reaksi di struktur ABS 1 ada.7. besarnya momen serta gaya lintang disuatu titik memerlukan suatu garis pengaruh. maka RS 1 dan Rc di struktur S 1C tidak ada.7. Pendahuluan Seperti biasanya.1. 4. Jadi untuk menghitung besarnya reaksi.

M D cb l Gambar 4.RB b. Garis pengaruh pada gerber portal 3 sendi GP.RA a.R A + 1t C l V l 1t l d l GP.RA .f GP.d l.DD Q l GP.b .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 125- - GARIS PENGARUH GERBER PORTAL 3 SENDI x u E Aƞ D S P v Bƞ S1 C f A c H a l b H B d e d l - l c l GP.f GP.b l .R B + c l + + d l a.c l .b a.f - + + GP.v l a.ND=G P.a l cb l GP.f ! l.37. f l d.H u.

P berada antara E lihat kanan S RB = x l 7 Ms = 0 (lihat kanan s) RB .b p H ! x p ND !  l l f lf .f = 0 H = RB . b ƛ H.RB RB = P di E P di A P di B P di S 1 x ton l x=-c x=0 x=l RB = c ton l RB = 0 ton R B = 1 ton RA = l d ton l x=l+d GP.p nilai H. DD P berada antara E P berada antara D D C lihat kanan potongan lihat kiri potongan DD = -RB D D = RA GP. N D Garis pengaruh N D sama dengan g. b .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 126- - RA = P di E P di A P di B l x ton l x=-c x=0 x=l RA = RA = l c ton l l ! 1 ton l R A = 0 ton RA = d ton l P di S 1 x=l+d GP. ~ g. R B f P di E RB = c c l c.p.

Q .8. f I II I = RA Q = Garis pengaruh M D diatas 2 perletakan P di D MD = Q. f = Garis pengaruh H x f.a f P di S b a ab RA = b p H ! . 4.f = 0 H= R A .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 127- - P di S RB = a. p N D !  l l f l f P di S 1 GP.H . Latihan : Garis pengaruh pada Pelengkung dan Portal tiga sendi .MD P berada antara D C M D = RA .b a a b p H ! x p ND !  l l f lf lihat kiri S RA = l x t l P berada antara DC 7 Ms = 0 (lihat kiri s) RA .V l II = H . p N D !  l l f lf ab b a RA = b p H ! . a ƛ H.

H.PH. G. ditanyakanL G. G. dimana dalam penyelesaiannya merupakan gabungan dari penyelesaian masing -masing struktur statis tertentu tersebut. ditanyakan : G. G. G.P. 4m C yc A H S P = 1 t berjalan Pelengkung 3 sendi seperti tergambar. G.P N C bawah . Pelengkung mengikuti persamaan parabola: y = 4fx (l .P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 128- - Untuk memacu mahasiswa belajar maka perlu diberi latihan Soal 1.P.P NC kanan. VA . G. N C .P VA .D C .P D C bawah.P D C kanan A B H f=3m EE 4m 4m 4m VA H 4m VB Portal 3 sendi adalah suatu portal yang kondisinya masih statis tertentu. G.P.x) / l² Akibat beban P = 1t berjalan diatas pelengkung. . Gerber portal 3 sendi adalah suatu rangkaian antara portal 3 sendi dan balok statis tertentu. C S D Portal 3 sendi ABCD seperti tergambar Akibat beban P = 1t berjalan diatas portal.P. G. G. M C f= 4 H H B H 8m 8m VB VA Soal 2.

Rangkuman 4.10.447 0.335t 0.1175t 0 0 0. Penutup Untuk mengetahui kemampuan mahasiswa.9.894 Tanda / Arah + o Di A = H + p Data pendukung Keterangan NC P = 1t di titik A C kiri C kanan S B A C kiri C kanan S B Nilai 0 0.447t 0.782t 1.5t m 1.447t 0 0 0 1. perlu melihat jawaban soal-soal tersebut seperti dibawah ini.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 129- - 4.5 0.0t m 0 Tanda / Arah - DC + MC A C S B + - . Keterangan VA P = 1t dititik A B A S B Yc Y' = tng E Sin E Sin E Nilai 1t 0 0 1t 0 3m 0.

333t 0 0 0.384t 0.20t 0.336t 0 0 0. UGM Bab VI dan VII .084t 1.60t 0.25t 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 130- - Soal No. Daftar Pustaka Suwarno.11.40t 0 0 1. 2 Keterangan VA P = 1t di titik A B A S B A C bawah C kanan S B A C bawah C kanan S B NC kanan A S B A C bawah C kanan B A C S B Nilai 1t 0 0 1.75t 0 0 1t m 2t m 0 Tanda/ Arah + o Di A = H + p NC bawah - DC bawah - - DC kanan + MC + - 4. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ.333t 0 0 0.

JUDUL : KO NSTRUKSI RAN GKA BATAN G (K.12.R.B. Gerber portal 3 sendi = gabungan antara portal 3 sendi dan balok. MODUL 5 : ARTI KONSTRUKSI RANGKA BATANG DAN CARA PENYELESAIANNYA 5.1. Senarai Pelengkung 3 sendi : struktur pelengkung yang masih statis tertentu Portal 3 sendi = struktur portal yang masih statis tertentu Gerber pelengkung 3 sendi = gabungan antara pelengkung 3 sendi dan balok.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 131- - 4.) .

5. kayu atau baja tersebut disebut dengan konstruksi rangka batang.2. Missal : Rangka batang dari suatu jembatan Rangka batang dari suatu kuda kuda Gambar 5. . tapi kalau materialnya dari kayu.3. ba mbu atau baja. Jika materialnya dari beton. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui bentuk -bentuk KRB serta bisa menyelesaikan struktur tersebut dengan beberapa cara pendekatan yang telah dijalankan diajarkan serta tahu persyaratan-persyaratan yang diperlukan.1. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca materi ini mahasiswa diharapkan bisa mengerti arti serta cara menyelesaikan struktur konstruksi rangka batang. Pendahuluan Dalam membuat suatu struktur bangunan maka kita harus menyesuaikan dengan material yang ada terutama dengan nilai harga yang paling murah. Kenapa bentuk ( tersebut dipilih !. maka kita harus merangkai material tersebut.1.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 132- - 5. 5.1. Rangkaian dari material bambu. Bentuk-bentuk dari suatu konstruksi Bentuk Rangkaian Konstruksi rangka batang tersebut merupakan rangkaian dari be ntuk segitiga.4. maka struktur bisa dibuat sesuai dengan keinginan perencana.

Untuk menyambung titik sudut digunakan plat buhul / simpul. 5. P segiempat mudah berubah menjadi jajaran genjang.1.R. Pada konstruksi baja sambungan -sambungan pada plat buhul digunakan baut.1. Bentuk Konstruksi Rangka Batang 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 133- - Bentuk bentuk bentuk bentuk segitiga ( () tersebut dipilih karena segitiga tersebut adalah suatu yang mantap (stabil) tidak mudah berubah.1.B. pasak atau paku.5. Bentuk K. .5. paku keling atau las. Bagaimana jika tersebut segiempat ( ) segiempat ( ) tersebut tidak stabil. = Suatu konstruksi yang terdiri dari batang -batang yang berbentuk segitiga Segitiga (bentuk teta p). Pada konstruksi kayu memakai baut.

tapi dalam perhitungan titik buhul ini dianggap SENDI.R. salah satu sambungan Titik buhul sebagai sambungan tetap / stabil. .3.B = segitiga yang dihubungkan melalui plat buhul pada titik buhulnya I titik buhul Gambar 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 134- - titik buhul K. Bentuk Konst ruksi Rangka Batang + + + + + + + + Batang Plat buhul Titik buhul Paku keling / baut Gambar 5.2. Detail I.

sisi 1 K. atas (ikatan angin atas) 1 K.R.R.B.2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 135- - K. Bentuk konstruksi rangka batang pada jembatan 5.B.5.R. Pada Jembatan K.R. Ruang terdiri dari 2 K. Ruang bisa dipisahkan menjadi K.R.R. Gambar 5.1.B. Bidang.4.R.B.B.B.B. Perletakan : 1 sendi dan 1 lagi merupakan rol karena konstruksi statis tertentu Sendi Rol 2 Reaksi 1 Reaksi . bawah (ikatan angin bawah) K.

(Konstruksi Rangka Batang) Konstruksi statis tertentu adalah suatu konstruksi yang masih bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan .5.3. 7H = 0 7V = 0 7M = 0 3 persamaan keseimbangan Jadi maximum harus ada 3 reaksi yang tidak diketahui (3 bilangan yang tidak diketahui) Pendekatan Penyelesaian Konstruksi Rangka Batang K.R. Pada konstruksi dibawah ini (Gambar 5). merupakan kumpulan dari batang -batang yang mana gaya -gaya batang tersebut harus diketahui. Konstruksi rangka batang bidang .R.5.1. Konstruksi Statis Tertentu Pada K. Dalam hal ini gaya -gaya batang tersebut beberapa gaya tarik atau tekan.B.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 136- - Perletakan sendi RH ada 2 reaksi R V = Reaksi vertikal R H = Reaksi horizontal RV Perletakan rol RV ada 1 reaksi R V = Reaksi vertikal 5.B. Jumlah bilangan yang tidak 2 4 4 8 6 diketahui : Reaksi 1 3 1 RH 2 3 6 5 10 7 RV 5 7 9 11 13 Jumlah batang 12 8 Bilangan yang tidak diketahui = 3 + 13 = 16 =3 Jumlah = 13 RV Gambar 5.

R. r = jumlah reaksi perletakan 5.1.6.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 137- - Titik simpul : dianggap sendi Jadi tiap-tiap titik simpul ada 2 persamaan Yaitu : 7V = 0 atau 7H = 0 7Kx = 0 7Ky = 0 Pada gambar (5. 7k=b+r k = banyaknya titik simpul (titik buhul) b = jumlah batang pada K.5) ad a 8 titik simpul jadi ada 2 x 8 persamaan = 16 persamaan Dari keseluruhan konstruksi : Ada 16 bilangan yang tidak diketahui 3 reaksi 13 gaya batang Ada 16 persamaan (karena masih bisa Konstruksi statis tertentu diselesaikan dengan syarat -syarat persamaan keseimbangan) 5. Rumus Umum Untuk K.B. Rangka Batang Gerber Seperti pada balok menerus.15.R.4. maka pada konstruksi rangka batangpun ada balok gerber 2 1 1 A Sendi 2 3 3 4 5 6 5 B rol 4 7 8 9 10 7 6 12 11 13 14 S 9 8 15 10 16 17 11 19 18 20 21 13 12 23 22 14 24 25 26 15 rol C C Rol (Sendi Gerber) .B.

Keseimbangan titik buhul a.Kx = 0 dan 7 . Cara analitis dengan menggu nakan 7 . 1. Cara grafis dengan metode Cremona . Prinsip Penyelesaian Ada beberapa cara penyelesaian K.7.R.B. Ada 30 bilangan yang tidak diketahui dan tersedia 30 persamaan Konstruksi statis tertentu Konstruksi statis tertentu 5. Rangka batang gerber A = sendi B = rol S = sendi gerber C = rol Jumlah reaksi perletakan = 4 1 sendi + 2 rol 2 2 Jumlah batang = 26 Jumlah bilangan yang tidak diketahui = 30 Jumlah titik simpul = 15 Persamaan yang tersedia = 2 x 15 = 30 persamaan.6.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 138- - Gambar 5.Ky = 0 b.

Metode Penukaran batang 5. y 7H=0 7. Penyelesaian secara analitis Cara menyelesaikannya dengan keseimbangan titik simpul.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 139- - 2.1. Metode Potongan : a. b. P1 = distribusi akibat beban terbagi rata Akibat beban P P2 = distribusi akibat beban terbagi rata dan P P3 = distribusi akibat beban P Akibat P P1 P2 P3 . Cara Analitis Metode Ritter b. Keseimbangan Titik Simpul Dalam bagian ini hanya membahas teori tentang keseimbangan titik simpul saja. Cara Grafis Metode Cullman 3. a.Ky = 0 x semua gaya yang searah x dijumlahkan demikian juga yang searah y dan resultantenya harus sama dengan rol.Kx =0 7. jadi kalau ada beban terbagi rata atau beban titik yang terletak di tengah-tengah antara 2 titik simpul (gelagar lintang) harus diuraikan menjadi beban titik pad simpul -simpul terdekat.8. Distribusi Beban Konstruksi rangka batang merupakan gelagar tidak langsung.V = 0 ata 7.

8. Beban terbagi rata didistribusikan menjadi beban titik . Contoh distribusi beban pada konstruksi Rangka batang q = 1 t/mƞ (muatan terbagi rata) 4m A B 4m 4m 4m 4m Muatan terbagi rata tersebut dijadikan mua tan terpusat pada titik -titik simpulnya.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 140- - c. 2t 2t A B 4t 4t 4t Gambar 5.

A2 dan A 1ƞ. B2 dan B1ƞ. tiap -tiap batang perlu diberi notasi. A 2ƞ Untuk batang bawah diberi notasi B 1. D2ƞ Untuk batang vertikal diberi notasi V 1. V 2ƞ serta V 3 Tiap-tiap titik simpul diberi nomor urut dari I s/d X. 4 P .9. P = 0 RB = 1t 7 MB = 0 RA . Contoh Soal 1 Suatu konstruksi Rangka Batang dengan beban sebesar P = 4 ton seperti pada gambar !.1. Untuk batang atas diberi notasi A 1.4 . D2 dan D 1ƞ. selesaikan struktur tersebut. B2ƞ Untuk batang diagonal diberi notasi D 1.4 . V2 dan V 1ƞ. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 141- - 5. 3 P = 0 RA = 3t Pemberian notasi Untuk mempermudah penyelesaian.9. Konstruksi rangka batang dengan beban P = 4t Mencari reaksi perletakan 7 M A = 0 RB . P A 4t RA = B P P P P RB = Gambar 5. 4 P .

titik simpul Batang tertekan dengan tanda ( -) (gaya menuju titik simpul) Batang tertarik dengan tanda (+) (gaya menjauhi titik simpul) Penyelesaian Mulai dari titik simpul yang mempunyai 2 batang tak diketahui Titik I V1 B1 Anggap dulu semua batang yang tidak diketahui adalah batang tarik. Jika hasil positif berarti anggapan kita betul batang betul-betul tertarik.B.10.R. Dalam penjumlahan. gaya yang searah diberi tanda sama. Catatan Mulailah bekerja pada titik simpul yang mempunyai 2 batang yang tidak diketahui. karena hanya menyediakan 2 persamaan yaitu 7 Kx = 0 dan 7 Ky = 0. y sebelum mengerjakan perlu perjanjian tanda terhadap gaya -gaya batangnyua y (Anggapan) / perjanjian pada K. . Jika hasil negatif berarti anggapan kita salah batang tertekan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 142- - II V1 I A1 D1 IV V2 III 4t A2 D2 VI A2 ƞ D 2ƞ VIII V2 VII A1 ƞ D 1ƞ IX V3 V V1ƞ X P B1 3t B2 Bƞ2 Bƞ1 P P P P 1 Gambar 5. Pemberian notasi pada gaya -gaya batang Penyelesaian keseimbangan titik simpul diselesaikan dengan memakai syarat-syarat keseimbangan pada titik simpul yaitu 7 Kx = 0 dan 7 Ky = 0 Jadi keseimbangan pada tiap -tiap titik tersebut bisa diselesaikan jika terdapat maximum 2 batang yang tidak diketahui.

½ . V1 = .3 t (menuju titik simpul) ½ 3t V1 ½ D1 2 A1 Batang D 1 diuraikan menjadi arah vertikal ½ D1 Titik II 2 dan arah horizontal ½ D1 2.½ D 1 A1 = .3 t + ½ D1 ½ D1 2=0 2= 3 D1 = 3 2 t (tarik) 7H=0 A 1 + ½ D1 2= 0 2= .3 ton (tekan) Titik III V2 3 2 3t 3t B2 B1 = 0 P = 4t 7H=0 Batang V 2 dan B2 dianggap tarik Batang D1 = 3 2 (tarik) diuraikan menjadi batang vertikal = 3 t dan horizontal = 3t 7V=0 4 t ƛ 3 t ƛ V2 = 0 V2 = 1 t (tarik) B2 ƛ 3 t = 0 B2 = 3 t (tarik) . 3 2 . 2 7V=0 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 143- - 3t 7V=0 3 t + V1 = 0 V1 = -3 ton (berarti batang tekan) 7H=0 B1 + 0 = 0 B1 = 0 (batang nol) V1 B1 = 0 Batang A1 dan D1 dianggap tarik dan batang D1 diuraikan menjadi gaya batang horizontal dan vertikal. 2 A1 = .

2 t (tekan) 2t Batang D 2ƞ dan B 2ƞ dianggap tarik Titik V Batang D 2ƞ diuraikan horizontal dan vertikal 0t ½Dƞ 2 1t 1t 2 2 Dƞ2 7V=0 ½ D 2ƞ 2 + 0 ƛ 1 t = 0 D 2ƞ = 2 t (tarik) 7H=0 ½ D 2ƞ B2ƞ + 1t ƛ3 t + 1t = 0 B2ƞ = 1 ton (tarik) 3t 2 B2ƞ Titik VIII Batang A 1ƞ dan V 2ƞdianggap tarik 7H=0 A1 ƞ V2ƞ 2 t + A1 ƞ ƛ 1 t = 0 A1ƞ = .2 ton (tekan) Titik VI Batang A 2ƞ dan V 3 dianggap tarik A2 ƞ 7V=0 7H=0 V3 = 0 V3 = 0 ton A2 ƞ + 2 t = 0 A2ƞ = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 144- - Batang A 2 dan D2 dianggap tarik. Titik IV 3t ½ D2 2 ½ D2 2 1t D2 7H=0 A2 Batang D 2 diuraikan menjadi gaya horizontal dan vertikal ½ D 2 2 7V=0 ½ D2 2 + 1 t = 0 D2 = .1 t (tekan) 2t 2t 7V=0 1 + V2ƞ = 0 V2ƞ = .1t (tekan) .2 t (tekan) 3 + A 2 + ½ D2 2 = 0 3 + A 2 ƛ 1 ton = 0 A 2 = .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 145- - .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 146-

-

Titik VII

½ D 1ƞ 1t 1t

2

D 1ƞ

Batang D 1ƞ dan B 1ƞdianggap tarik Batang D 1ƞ diuraikan menjadi ½ D 1ƞ 2

½ D 1ƞ

2

B1ƞ

7V=0

½ D 1ƞ 2 ƛ 1 t = 0 D 1ƞ =

2 t (tarik)

7H=0

B1ƞ- ½ D1ƞ 2 - 1t = 0 Bƞ + 1 ƛ 1 = 0 B ƞ = 0t

Titik X

V1ƞ

7V=0

1t + V1ƞ = 0 V 1ƞ = - 1t (tekan)

B1ƞ = 0 RB = 1t

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 147-

-

Kontrol ke Titik IX

7V=0 V1ƞ ƛ ½ D1ƞ 1t ƛ ½ .

A1 ƞ = 1 t (tekan) D1ƞ = 2 (tarik) V 1ƞ = 1 t

2 =0
2 . 2 !0

(cocok) 7H=0 A1ƞ ƛ ½ D1ƞ 2 = 0 1ƛ½ .

2.

2 = 0 (cocok)

DAFTAR

BATAN G A1 A2 A2 ƞ A1 ƞ B1 B2 B2ƞ B1ƞ V1 V2 V3 V2ƞ V1ƞ D1 D2 D 2ƞ D 1ƞ

GAYA BATAN G -3t -2t -2t -1t 0 3t 1t 0 -3t 1t 0 -1t -1 t 3 2t - 2t 2t 2t

Batang B 1 dan B1ƞ = 0, menurut teoritis batang -batang tersebut tidak ada, tapi mengingat K.R.B. terbentuk dari rangkaian bentuk ( maka batang ini diperlukan. Batang atas pada umumnya batang tekan Batang bawah pada umumnya batang tarik.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 148-

-

Contoh Soal 2 Suatu konstruksi Rangka Batang, dengan notasi seperti pada ga mbar, beban sebesar 3 ton terletak di titik simpul III Jumlah batang = 9 = b Jumlah reaksi = 3 = r 12 D3 B3 IV P P 1t VI B Jumlahg titik simpul = 6 = k 2k=b+r 2x6=9+3 konstruksi .r.b. statis tertentu Mencari Reaksi 7 MB = 2 RA = 3 7 MA = 1 RB = 3
Titik Simpul I

II P A I D1 B1 III 2t P 3t V1

A D2 B2

V

V2

0 x3t=2t 0 x3t=1t

Batang D 1 dan B1 dianggap tarik Batang D 1 diuraikan ke arah vertikal dan horizontal sebesar ½ D 1

2

½ D1

2

D1

½ D1

2
B1

7 Ky = 0 ½ D1 2 + 2t = 0 2 D1 = . 2 = - 2 2 t . (tekan) 2 7 Kx = 0 B1 - ½ D1 2 = 0 B1 = 2 ton (tarik)

2 t (reaksi)

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 149-

-

Titik III

V1

Gaya batang V1 dan B2 dianggap tarik 7 Ky = 0 V1 = 3 ton (tarik) B2 = 2 ton (tarik)

2t

3t

B2

7 Kx = 0

Titik II
½ D2 ½ D1

2

Gaya batang A dan D2 dianggap tarik 7 Kx = 0 ½ D1 2 - 3t ƛ ½ D2 2 = 0 ½ D2 2 = -3 t + ½ . 2 2 . 2 = -3 + 2 = -1 (tekan) D2 = - 2 t (tekan)

2

A

D1 = 2 2 3t ½ D2 ½ D1 D2

2

7 Ky = 0 A + ½ D1 2 + ½ D2 2 = 0 A + ½ . 2 2. 2 - ½ . 2. 2 = 0 A = 1 ƛ2 = -1t (tekan)

2

Titik IV

Gaya batang V2 dan B3 dianggap tarik 7 Ky = 0 V2

D2 =

2t

½ D 2 2 - V2 = 0 V2= ½ . 2 . 2 = 1 t (tarik) B3 7 Kx = 0 B3 ƛ B2 + ½ D2 2 = 0 B3 = 2 - ½ . 2 . 2 = 1 t (tarik)

B2 = 2t

Titik VI

Gaya batang D3 dianggap tarik 7 Ky = 0 D3 ½ D3 2 + 1t = 0 D3 = - 2 . 1t D3 = - 2 t (tekan) 7 Kx = ½ D 3 2 + B3 = 0 - ½ . 2 . 2 + B3 = 0

B3 = 1t

2 =0 (cocok) D3 V2 = 1t 5. 2 = 0 Latihan : Konstruksi Rangka Batang Untuk mendorong mahasiwa belajar maka perlu dibuatkan suatu latihan sebagai berikut : Soal 1 A1 D1 RAH A E B1 RAV P1=6 t D2 E B2 D3 D4 A2 D6 3 m Konstruksi Rangka Batang seperti tergambar P1 = 6t .10. Gaya.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 150- - B3 = 1t 1t Kontrol Titik V A = 1t 7 Kx = 0 A ƛ ½ . Beban . 2. P 1 = 600 kg P2 = 600 kg P3 = 400 kg Ditanyakan : a). P2 = 3t Ditanyakan : RB P a). Gaya ƛ Reaksi B b). D3 1t ƛ ½ .1. Gaya-gaya batang D5 B3 P P P2=3 t P= 4m P2 = 600 kg Soal 2 P1 = 600 kg 8 9 5 6 R AH A RAV 45° 1 3m 2 3m 3 3m 7 11 13 12 45° 4 3m 10 P3 = 400 kg Kuda-kuda konstruksi Rangka Batang seperti tergambar. Gaya reaksi b).gaya batang RB .

667 t 6.11.808 t 4.00 t 1.12.333 t 3.808 t Arah / Tanda o o Gaya Batang Tekan Tekan Tarik + Tarik + Tarik + Tekan Tarik + Tarik + Tekan Tekan Tarik + . 5. o o Rangkuman KRB merupakan rangkaian dari bentuk ( (segitiga) Dalam KRB yang dicari adalah gaya -gaya batangnya.555 6.000 t 2. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi Horizontal Data Pendukung Gaya Batang Titik / Gaya A : RAV B : RB A : RAH Sin E Cos E A1 A2 B1 B2 B3 D1 D2 D3 D4 D5 D6 N ilai 5t 4t 0 0.1.00 t 6.1. o o Tiap-tiap titik simpulnya dianggap sendi.20 t 1. atau gaya tekan. maka mahasiswa bisa melihat jawaban dibawah ini : Jawaban : Soal No.835 0. hanya bisa diselesaikan jika jumlah gaya batang yang tidak diketahui max hanya 2. Pencarian gaya-gaya batang.667 t 5. Penutup Agar mahasiswa bisa mengontrol pekerjaan latihan.333 t 6. bisa berupa gaya tarik.20 t 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 151- - 5.

UGM Bab Soemono. bab 5. - Daftar Pustaka Suwarno.14.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 152- - Soal No.1.13. ƏStatika IƐ. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ . 2 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Gaya Batang Titik / Gaya A : RAV B : RB A : RAH  2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 N ilai 850 kg 750 kg 0 850 kg 850 kg 750 kg 750 kg 1202 kg 0 424 kg 778 kg 500 kg 778 kg 283 kg 0 1061 kg Arah / Tanda o o Tarik + Tarik + Tarik + Tarik + Tekan Tekan Tekan Tarik + Tekan Tekan Tekan - 5. - - Senarai Konstruksi Rangka Batang : Suatu rangkaian batang -batang yang berbentuk ( (segitiga) Titik simpul : dianggap sendi. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful