Anda di halaman 1dari 7

Tugas Kepaniteraan Klinik Universitas Kristen Krida Wacana Jakarta Bagian Kesehatan Anak Rumah Sakit Umum Bhakti

Yudha Depok Pembimbing: Dr. Sonny K. Yuliarso, Sp.A Nama : Selena Christy NIM : 11 2011 067

1. Anak usia 2 tahun dan berat badan 8 kg, datang dengan keluhan demam disertai diare dan batuk. Tentukan WD, DD dan penatalaksanaan. Working Diagnosis: Demam Tifoid dan ISPA Differential Diagnosis: 1) Demam Berdarah Dengue 2) Gastroenteritis 3) Bronchopneumonia 4) Tuberulosis anak 5) Malaria 6) Leptospirosis 7) Hepatitis 8) Morbili Pemeriksaan penunjang: ~ Darah : darah lengkap, enzim hati (SGOT/SGPT), malaria, immunoglobulin dengue (IgG dan IgM Dengue), widal. ~ Urin : urin lengkap, makroskopik dan mikroskopik.

~ Radiologi : foto thorax Penatalaksanaan ~ Rawat di ruangan dengan observasi tanda vital dan kesadaran ~ Terapi cairan IVFD RL 1000ml/hari ~ Nebulizer, Ventolin 1,6ml ~ Parasetamol 3 x 100mg ~ Antibiotik, Ceftriaxon 1 x 400mg ~ Kaolin, 700mg 2. Penatalaksanaan Encephalitis

a. Rawat di ICU atau NICU dengan observasi ketat b. Bedrest c. Berikan Oksigen sesuai kebutuhan d. Terapi antibiotik sesuai hasil kultur a) Ampisilin 200mg/kgBB/24 jam dalam 4 dosis b) Kemicetin 100mg/kgBB/24 jam dalam 4 dosis c) Bila disebabkan oleh HSV, beri Asiklovir (Gansiklovir) secara intravena 30mg/kgBB/hari selama 14 hari e. Mengurangi tekanan intrakranial, manajemen edema otak a) Pertahankan hidrasi, monitor balans cairan dan elektrolit b) Glukosa 20%, 10ml intravena beberapa kali sehari c) Kortikosteroid intramuscular atau intravena, prednison 1-2mg/kgBB/hari f. Mengontrol kejang a) Saat kejang, diazepam 0,5mg per rektal b) Untuk kontrol kejang, Fenitoin (15-20 mg/kgBB/IV maksimal 1 gr) Fenobarbital (10-20 mg/kgBB/IV maksimal 1 gr) Midazolam (0,1-0,2 mg/kgBB/5 menit IV dilanjutkan infus 0,05 mg/kgBB/jam maksimal 0,4 mg/kgBB/jam)

3. Sepsis Neonatorum Sepsis neonatorum adalah suatu bentuk penyakit yang digambarkan dengan adanya infeksi bakteri secara sistemik pada bulan pertama kehidupan yang ditandai hasil kultur darah yang positif. Definisi lainnya adalah sindroma klinis yang ditandai gejala sitemik dan disertai bakteriemia yang terjadi dalam bulan pertama kehidupan. Etiologi terjadinya sepsis pada neonatus adalah dari bakteri.virus, jamur dan protozoa ( jarang ). Penyebab yang paling sering dari sepsis awitan awal adalah Streptokokus grup B dan bakteri enterik yang didapat dari saluran kelamin ibu. Sepsis awitan lanjut dapat disebabkan oleh SGB, virus herpes simplek (HSV), enterovirus dan E.coli. Pada bayi dengan berat badan lahir sangat rendah, Candida dan Stafilokokus koagulase-negatif (CONS), merupakan patogen yang paling umum pada sepsis awitan lanjut. Walaupun jarang terjadi,terhisapnya cairan amnion yang terinfeksi dapat menyebabkan pneumonia dan sepsis dalam rahim, ditandai dengan distres janin atau asfiksia neonatus.

Pemaparan terhadap patogen saat persalinan dan dalam ruang perawatan atau di masyarakat merupakan mekanisme infeksi setelah lahir. Etiologi early onset: Transplasenta (antepartum). Asenderen kuman vagina ( partus lama,ketuban pecah sebelum waktunya). Waktu melewati jalan lahir (kuman dari vagina dan rektum). Etiologi late onset: Akibat tindakan manipulasi (intubasi,kateterisasi,pemasangan infus.dll). Defek kongenital (omfalokel,meningokel,labioskizis,labiopalatoskizis,dll). Koloni kuman beasal dari saluran napas atas,konjungtiva,membran mukosa, umbilikus dan kulit yang menginvasi / menyebar secara sistemik. Faktor - faktor resiko untuk terjadinya sepsis neonatus perlu juga diketahui. Faktor resiko dari sepsis neonatus terdiri faktor pejamu, sosio-ekonomi, riwayat persalinan, perawatan bayi baru lahir, dan kesehatan serta keadaan gizi ibu, merupakan faktor-faktor resiko terpenting pada sepsis neonatal. Gejala early onset. Tanda-tanda klinis muncul semenjak 6 jam kehidupan >50 kasus, mayoritas / kebanyakan muncul pada 72 jam pertama umur kehidupan. Tanda awal biasanya sering tidak spesifik dan tidak diketahui. Hilangnya aktifitas spontan. Poor sucking. Apnea.Bradikardi. Suhu tubuh yang tidak stabil. Distres pernafasan.Kebanyakan neonatus dengan early onset infeksi menunjukkan gejala distres pernafasan yang sulit dibedakan dengan bentuk HMD, pneumonia, atau penyebab lain dari kesulitan bernafas,dengan penampilan seperti sianosis, dispneu, takipneu, apnea, retraksi epigastrium, dan intercostal.Terjadinya gejala distres pernafasan adalah >80 dari neonatus.Pneumonia dan septikemi merupakan bentuk manifestasi yang banyak Gangguan kardiovaskuler. Bradikardi, pallor, penurunan perfusi, hipotensi. Gangguan metabolik. Hipotermia,hipertermia,asidosis metabolik (ph <7,25> Gangguan neurologik. Letargi, hipotonia, penurunan aktifitas, seizures, jittery. Gejala dan tanda-tanda late onset, klinis muncul >7 hari kehidupan. Transmisi secara horisontal dapat dari yang lain (dari neonatus yang terinfeksi atau dari perawat kesehatan) atau secara vertikal (dari ibu yang terlalu sering berdekatan).Tanda-tanda yang sering biasanya demam,lethargi. Irritable, poor feeding, dan takipnea. Distres pernafasan yang tidak begitu jelas. Pemeriksaan darah meliputi gula darah bayi, c-reactie protein (CRP), bilirubin, darah lengkap dan urin lengkap, foto thoraks, serta kultur darah.

Penatalaksanaan dilakukan secara umum, yaitu rawat di NICU dengan pemantauan keat serta ruangan dijaga sesteril mungkin untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder. Pemberian antibiotik dilakukan apabila hasil pemeriksaan penunjang mengindikasikan pemberian antibiotik. Kejang, demam, dan gejala lain harus diatasi sesegera mungkin. 4. Elektrolit imbalans pada anak Tubuh menggunakan 3 mekanisme untuk mengendalikan keseimbangan asam-basa darah: 1. Kelebihan asam akan dibuang oleh ginjal, sebagian besar dalam bentuk amonia. Ginjal memiliki kemampuan untuk mengatur jumlah asam atau basa yang dibuang, yang biasanya berlangsung selama beberapa hari. 2. Tubuh menggunakan penyangga pH (buffer) dalam darah sebagai pelindung terhadap perubahan yang terjadi secara tiba-tiba dalam pH darah. Suatu penyangga ph bekerja secara kimiawi untuk meminimalkan perubahan pH suatu larutan. Penyangga pH yang paling penting dalam darah adalah bikarbonat. Bikarbonat (suatu komponen basa) berada dalam kesetimbangan dengan karbondioksida (suatu komponen asam). Jika lebih banyak asam yang masuk ke dalam aliran darah, maka akan dihasilkan lebih banyak bikarbonat dan lebih sedikit karbondioksida. Jika lebih banyak basa yang masuk ke dalam aliran darah, maka akan dihasilkan lebih banyak karbondioksida dan lebih sedikit bikarbonat. 3. Pembuangan karbondioksida. Karbondioksida adalah hasil tambahan penting dari metabolisme oksigen dan terus menerus yang dihasilkan oleh sel. Darah membawa karbondioksida ke paru-paru dan di paru-paru karbondioksida tersebut dikeluarkan (dihembuskan). Pusat pernafasan di otak mengatur jumlah karbondioksida yang dihembuskan dengan mengendalikan kecepatan dan kedalaman pernafasan. Jika pernafasan meningkat, kadar karbon dioksida darah menurun dan darah menjadi lebih basa. Jika pernafasan menurun, kadar karbondioksida darah meningkat dan darah menjadi lebih asam. Dengan mengatur kecepatan dan kedalaman pernafasan, maka pusat pernafasan dan paru-paru mampu mengatur pH darah menit demi menit. Adanya kelainan pada satu atau lebih mekanisme pengendalian ph tersebut, bisa menyebabkan salah satu dari 2 kelainan utama dalam keseimbangan asam basa, yaitu asidosis atau alkalosis. Asidosis adalah suatu keadaan pada saat darah terlalu banyak mengandung asam (atau terlalu sedikit mengandung basa) dan sering menyebabkan menurunnya pH darah. Alkalosis adalah suatu keadaan pada saat darah terlalu banyak mengandung basa (atau terlalu sedikit mengandung asam) dan kadang menyebabkan meningkatnya pH darah. Asidosis dan alkalosis bukan merupakan suatu penyakit tetapi lebih merupakan suatu akibat dari sejumlah penyakit.

Terjadinya asidosis dan alkalosis merupakan petunjuk penting dari adanya masalah metabolisme yang serius. Asidosis dan alkalosis dikelompokkan menjadi metabolik atau respiratorik, tergantung kepada penyebab utamanya. Asidosis metabolik dan alkalosis metabolik disebabkan oleh ketidakseimbangan dalam pembentukan dan pembuangan asam atau basa oleh ginjal. Asidosis respiratorik atau alkalosis respiratorik terutama disebabkan oleh penyakit paru-paru atau kelainan pernafasan. Asidosis adalah suatu keadaan dimana adanya peningkatan asam didalam darah yang disebabkan oleh berbagai keadaan dan penyakit tertentu yang mana tubuh tidak bisa mengeluarkan asam dalam mengatur keseimbangan asam basa. Hal ini penting untuk menjaga keseimbangan fungsi sistem organ tubuh manusia. Gangguan keseimbangan ini dapat dikelompokkan dalam dua kelompok besar yaitu metabolik dan respiratorik. Ginjal dan paru merupakan dua organ yang berperan penting dalam pengaturan keseimbangan ini. Asidosis Metabolik adalah keasaman darah yang berlebihan, yang ditandai dengan rendahnya kadar bikarbonat dalam darah. Bila peningkatan keasaman melampaui sistem penyangga pH, darah akan benar-benar menjadi asam. Seiring dengan menurunnya pH darah, pernafasan menjadi lebih dalam dan lebih cepat sebagai usaha tubuh untuk menurunkan kelebihan asam dalam darah dengan cara menurunkan jumlah karbon dioksida. Pada akhirnya, ginjal juga berusaha mengkompensasi keadaan tersebut dengan cara mengeluarkan lebih banyak asam dalam air kemih. Tetapi kedua mekanisme tersebut bisa terlampaui jika tubuh terus menerus menghasilkan terlalu banyak asam, sehingga terjadi asidosis berat dan berakhir dengan keadaan koma. Asidosis metabolik dapat disebabkan oleh diabetes, diare, gagal ginjal kronik dan sebagainya. Asidosis metabolik ringan bisa tidak menimbulkan gejala, namun biasanya penderita merasakan mual, muntah dan kelelahan. Pernafasan menjadi lebih dalam atau sedikit lebih cepat, namun kebanyakan penderita tidak memperhatikan hal ini. Sejalan dengan memburuknya asidosis, penderita mulai merasakan kelelahan yang luar biasa, rasa mengantuk, semakin mual dan mengalami kebingungan. Bila asidosis semakin memburuk, tekanan darah dapat turun, menyebabkan syok, koma dan kematian. Bila terjadi asidosis ringan, yang diperlukan hanya cairan intravena dan pengobatan terhadap penyebabnya. Bila terjadi asidosis berat, diberikan bikarbonat mungkin secara intravena; tetapi bikarbonat hanya memberikan kesembuhan sementara dan dapat membahayakan. Koreksi asidosis metabolik dapat dilakukan dengan 2 rumus yaltu: 1. (Ki - Ku) x BB x 0.6 = mEq NaHCO3. Ki = kadar bikarbonat yang ingin dicapai Ku = kadar bikarbonat terukur saat itu. 2. BE x BB x 0,3 = mEq NaHCO3 yang perlu diberikan. Koreksi dapat dilakukan dalam 1 jam

Asidosis Respiratorik adalah keasaman darah yang berlebihan karena penumpukan karbondioksida dalam darah sebagai akibat dari fungsi paru-paru yang buruk atau pernafasan yang lambat. Kecepatan dan kedalaman pernafasan mengendalikan jumlah karbondioksida dalam darah. Dalam keadaan normal, jika terkumpul karbondioksida, pH darah akan turun dan darah menjadi asam. Tingginya kadar karbondioksida dalam darah merangsang otak yang mengatur pernafasan, sehingga pernafasan menjadi lebih cepat dan lebih dalam. Keadaan ini timbul akibat ketidakmampuan paru untuk mengeluarkan CO2 hasil metabolisme (keadaan hipoventilasi). Hal ini menyebabkan peningkatan H2CO3 dan konsentrasi ion hidrogen sehingga menghasilkan asidosis. Asidosis respiratorik biasanya juga disertai asidosis metabolik ringan, karena hipoksia akan menyebabkan terjadinya penimbunan asam laktat dan asam organik lainnya dalam cairan ektraselular. Koreksi cairan perlu disertai pemeriksaan pH dan analisis gas darah. Pengobatan yang tepat adalah memperbaiki ventilasi dengan respirator. Pengobatan dengan natrium bikarbonat kurang tepat, karena tindakan ini malahan akan menyebabkan hiperosmolalitas dan gagal jantung. Pengobatan ditujukan terhadap etiologi, disamping usaha untuk meningkatkan pCO2 dalam darah. Pemberian amonium kiorida tidak dianjurkan. Bernapas dalam sungkup yang dipasang di wajah (rebreathing,) dapat mengurangi gejala dan kehilangan CO2 pada hiperventilasi akut. Pengobatan yang paling baik untuk asidosis adalah mengoreksi keadaan yang telah menyebabkan kelainan, seringkali pengobatan ini menjadi sulit terutama pada penyakit kronis yang menyebabkan gangguan fungsi paru atau gagal ginjal. Untuk menetralkan kelebihan asam sejumlah besar natrium bicarbonat dapat diserap melalui mulut. Natrium bicarbonat diabsorbsi dari traktus gastroinstestinal ke dalam darah dan meningkatkan bagian bicarbonat pada sistem penyangga bicarbonat sehingga meningkatkan pH menuju normal. Natrium bicarbonat dapat juga diberikan secara intravena. Untuk pengobatan asidosis respiratorik dapat diberikan O2 dan juga obat-obatan yang bersifat broncodilator. Alkalosis adalah kondisi di mana cairan tubuh melebihi batas. Ini bertentangan dengan acidosis, di mana tubuh kekurangan cairan. Penyebab limpa dan ginjal mengatur acid tubuh. Karbondiosida berkurang atau bicarbonat meningkat levelnya membuat tubuh juga bersifat alkali, kondisi ini disebut alkalosis. Alkalosis Respiratorik adalah suatu keadaan dimana darah menjadi basa karena pernafasan yang cepat dan dalam, sehingga menyebabkan kadar karbondioksida dalam darah menjadi rendah. Biasanya satu-satunya pengobatan yang dibutuhkan adalah memperlambat pernafasan. Jika penyebabnya adalah kecemasan, memperlambat pernafasan bisa meredakan penyakit ini. Jika penyebabnya adalah rasa nyeri, diberikan obat pereda nyeri.

Menghembuskan nafas dalam kantung kertas (bukan kantung plastik) bisa membantu meningkatkan kadar karbondioksida setelah penderita menghirup kembali karbondioksida yang dihembuskannya. Pilihan lainnya adalah mengajarkan penderita untuk menahan nafasnya selama mungkin, kemudian menarik nafas dangkal dan menahan kembali nafasnya selama mungkin. Hal ini dilakukan berulang dalam satu rangkaian sebanyak 6-10 kali. Jika kadar karbondioksida meningkat, gejala hiperventilasi akan membaik, sehingga mengurangi kecemasan penderita dan menghentikan serangan alkalosis respiratorik. Alkalosis Metabolik adalah suatu keadaan dimana darah dalam keadaan basa karena tingginya kadar bikarbonat. Alkalosis metabolik terjadi jika tubuh kehilangan terlalu banyak asam. Sebagai contoh adalah kehilangan sejumlah asam lambung selama periode muntah yang berkepanjangan atau bila asam lambung disedot dengan selang lambung (seperti yang kadangkadang dilakukan di rumah sakit, terutama setelah pembedahan perut). Pada kasus yang jarang, alkalosis metabolik terjadi pada seseorang yang mengkonsumsi terlalu banyak basa dari bahanbahan seperti soda bikarbonat. Selain itu, alkalosis metabolik dapat terjadi bila kehilangan natrium atau kalium dalam jumlah yang banyak mempengaruhi kemampuan ginjal dalam mengendalikan keseimbangan asam basa darah. Pengobatan alkalosis metabolik adalah dengan pemberian ainonium kiorida dengan dosis dihitung menurut rumus: Amonium kiorida yang diperlukan (mEq) = (Ki - Ku) x BB x fd Keterangan: Ki = konsentrasi bikarbonat natrikus yang diinginkan Ku = konsentrasi bikarbonat natrikus yang diukur BB = berat badan dalam kg Fd = faktor distribusi dalam tubuh, untuk ainonium kiorida adalah 0.2 - 0.3 5. Dosis obat: a. Dobutamin: 2-20g/kgBB/menit b. Dopamin: 1-3g/kgBB/menit c. Aminofusin: 1-1,2gram/kgBB/hari d. Omeprazole: 20-120mg/hari e. Ranitidin: 2-4mg/kgBB/hari