Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG Banyaknya kematian yang terjadi tiap tahun akibat sambaran petir, terutama pada negara- negara tropis. Sambaran petir yang terjadi dari awan ke bumi dapat mengenai bendabenda, hewan ataupun manusia. Petir terjadi karena adanya loncatan arus listrik yang tinggi yang tegangannya dapat mencapai 10 mega Volt dengan kuat arus sekitar 100.000 A ke tanah. Luka-luka karena sambaran petir pada hakekatnya merupakan luka-luka gabungan akibat listrik, panas dan ledakan udara. Luka akibat panas berupa luka bakar dan luka akibat ledakan udara berupa luka-luka yang mirip dengan akibat persentuhan dengan benda tumpul. Dapat terjadi kematian akibat efek arus listrik yang melumpuhkan susunan syaraf pusat, menyebabkan fibrilasi ventrikel. Kematian juga dapat terjadi karena efek ledakan atau efek dari gas panas yang ditimbulkannya. Pada korban mati sering ditemukan adanya arborescent mark (percabangan pembuluh darah terlihat seperti percabangan pohon), metalisasi benda-benda dari logam yang dipakai, magnetisasi benda-benda dari logam yang dipakai. Pakaian korban terbakar atau robek-robek.

1.2 TUJUAN PENULISAN 1.2.1 Tujuan Umum Referat ini untuk menambah wawasan tentang luka sambaran petir, patofisiologi, pada luka sambaran petir .

1.2.2 Tujuan Khusus Memenuhi salah satu syarat mengikuti kepaniteraan klinik di bagian ilmu kedokteran forensik RSUP M. Djamil, Padang.

1.3 METODE PENULISAN Metode penulisan referat ini adalah tinjauan kepustakaan dengan merujuk kepada berbagai literatur.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI Petir merupakan loncatan arus listrik tegangan tinggi antar awan dengan tanah. Tegangan dapat mencapai 10 megaVolt, dengan kuat arus listrik mencapai 100.000 A. Terdapat beberapa definisi dari petir, antara lain: 1. Fenomena alam yang merupakan Pelepasan muatan elektrostatis yang berasal dari badai guntur 2. Pelepasan muatan ini disertai dengan pancaran cahaya dan radiasi elektromagnetik lainnya 3. Arus listrik yang melewati saluran pelepasan muatan tadi dengan cepat memanaskan udara dan berkembang sebagai plasma yang menimbulkan gelombang bunyi yang bergetar ( guntur ) di atmosfir Cedera yang diakibatkan petir terjadi ketika seseorang disambar petir baik secar langsung maupun tidak langsung. Luka-luka karena sambaran petirpada hakekatnya merupakan luka-luka gabungan akibat listrik, panas dan ledakan udara.Luka akibat panas berupa luka bakar dan luka akibat ledakan udara berupa luka-luka yangmirip dengan akibat persentuhan dengan benda tumpulPetir menghasilkan arus listrik yang dapat menjalar melalui tubuh dan menyebabkan kerusakan saraf dan organ lainnya.

2.2 EPIDEMIOLOGI Selama 40 tahun terakhir, petir secara konsisten menjadi penyebab kematian terbesar kedua di Amerika Serikat yang berkaitan dengan badai, dengan 45-50 orang korban meninggal setiap tahunnya. Dari 2000-2006, perkiraan kematian pertahun yang berkaitan dengan serangan petir adalah 0,2 per juta orang. Perekaman dan pencatatan statistik internasional mengenai korban sambaran petir masih merupakan suatu tantangan karena minimnya sistem pelaporan yang baik. Petir jauh lebih umum terjadi di sekitar khatulistiwa. Total tahunan korban meninggal diperkirakan sekitar 24.000, dan korban cedera diperkirakan sekitar 240,000 untuk daerah tropis dan subtropis. Dalam sebuah studi di Amerika Serikat., data dari tahun 1959-1994 menunjukkan bahwa laki-laki 4,6 kali lebih cenderung meninggal dan 5,3 kali lebih mungkin terluka oleh petir daripada wanita. Ini bukan karena perbedaan fisiologis tetapi dianggap sebagai

konsekuensi dari peningkatan paparan terhadap keadaan yang berpotensi untuk tersambaran petir. Kematian dan cedera, 85% terjadi pada usia10-59 tahun, sedangkan mereka yang berusia lebih dari 60 tahun lebih sedikit mengalami cidera yang diakibatkan oleh sambaran petir. Hal ini berkaitan dengan kemungkinan aktifitas di alam terbuka yang lebih rendah.

2.3 TIPE MEKANISME DARI SAMBARAN PETIR Tipe dari mekanisme sambaran petir yang menyerang manusia : a. Serangan langsung ( sekitar 3-5% dari cedera) b. Percikan dari objek lain yang tersambar petir ( sekitar 30% dari cedera) c. Kontak tegangan karena menyentuh objek yang tersambar ( sekitar 1-2% dari cedera) d. Efek penyebaran energi sambaran petir melalui permukaan bumi (tanah) , dimana jarak antara korban dengan sumber petirnya jauh ( sekitar 40-50% dari cedera) e. Energi petir dari langit yang tidak berhasil terhubung dengan energy petir yang berasal dari permukaan bumi untuk melengkapi sebuah saluran petir ( sekitar 20-25% dari cedera) f. Trauma tumpul jika seseorang terlempar dan barotrauma bila korban berada cukup dekat dari petir Serangan petir secara langsung biasanya terjadi kepada korban yang berada di luar. Meskipun tidak selalu fatal, serangan langsung berhubungan dengan morbiditas tinggi karena mereka sering melibatkan kepala. Suatu penelitian yang telah dilakukan terhadap domba menyimpulkan bahwa sambaran petir didaerah sekitar kepala akan masuk melalui orifisium seperti mata, telinga, dan mulut dan mengalir secara internal yang dapat menyebabkan beberapa masalah. Penyebab umumnya , korban terkena lucutan sambaran dari obyek yang tersambar pertama kali. Jenis serangan ini terjadi, misalnya, ketika seseorang mencari tempat berlindung di bawah pohon, tenda piknik, atau benda lain yang disambar petir. Sebagian dari petir dapat melompat dari objek yang tersambar ke korban. Sambaran juga terjadi dari orang ke orang ketika beberapa orang berdiri dekat bersama-sama. Cedera kontak terjadi ketika seseorang menyentuh sebuah objek baik secara langsung tersambar oleh petir, seperti pipa ledeng dalam ruangan atau memanfaatkan kabel telepon, pagar besi. Petir juga dapat mengakibatkan arus tanah yang menyebabkan korban massal di ladang atau daerah terbuka lainnya. Hal ini dikarenakan terdapatnya perbedaan potensial listrik antara kaki manusia dengan permukaan tanah yang dapatmenyebabkan aliran listrik secara radial dari permukaan tanah. Manusia merupakan konduktor yang jauh lebih baik

dibandingkan permukaan tanah. Sehingga sesorang yang lebih dekat dengan sumber aliran petir akan memiliki perbedaan potensial antara kaki dan tanah yang menyebabkan aliran listrik lebih banyak ke kaki korban dan badannya dari pada menjalar melalui tanah. Sehingga tingkat keparahan cedera karena arus tanah tersebut semakin menurun dengan jauhnya daerah tersebut dari titik serangan petir. Trauma tumpul yang diakibatkan dari sambaran petir dapat terjadi salah satunya karena korban terlempar hingga jarak yang cukup jauh secara tiba-tiba, yang disebabkan oleh kontraksi hebat akibat adanya aliran arus yang mengaliri tubuh.

2.4 PATOFISIOLOGI Elektron mengalir secara abnormal melalui tubuh menghasilkan cedera dengan atau kematian melalui depolarisasi otot dan saraf, inisiasi abnormal irama elektrik pada jantung dan otak, atau menghasilkan luka bakar elektrik internal maupuneksternal melalui panas dan pembentukan pori di membran sel. Arus yang melalui otak, baik voltase rendah maupun tinggi mengakibatkan penurunan kesadaran segera karena depolarisasi saraf otak. Arus AC dapatmenghasilkan fibrilasi ventrikel jika jalurnya melalui dada. Aliran listrik yang lamamembuat kerusakan iskemik otak terutama yang diikuti gangguan nafas. Seluruhaliran dapat mengakibatkan mionekrosis, mioglobinemia, dan mioglobinuria dan berbagai komplikasi. Selain itu dapat juga mengakibatkan luka bakar.

Faktor-faktor yang mempengaruhi efek listrik terhadap tubuh: a.Jenis / macam aliran listrik Arus searah (DC) dan arus bolak-balik (AC). Banyak kematian akibat sengatan arus listrik AC dengan tegangan 220 volt. Suatu arus AC dengan intensitas 70-80mA dapat menimbulkan kematian, sedangkan arus DC dengan intensitas 250 mA masih dapat ditolerir tanpa menimbulkan kerusakan.

b.Tegangan / voltage Hanya penting untuk sifat-sifat fisik saja, sedangkan pada implikasi biologis kurang berarti. Tegangan yang paling rendah yang sudah dapat menimbulkan kematian manusia adalah 50 volt. Makin tinggi tegangan akan menghasilkan efek yang lebih berat pada manusia baik efek lokal maupun general.

+60% kematian akibat listrik arus listrik dengan tegangan 115 volt. Kematian akibat aliran listrik tegangan rendah terutama oleh karena terjadinya fibrilasi ventrikel, sementara itu pada tegangan tinggi disebabkan oleh karena trauma elektrotermis.

c.Tahanan / resistance Tahanan tubuh bervariasi pada masing-masing jaringan, ditentukan

perbedaankandungan air pada jaringan tersebut. Tahanan yang terbesar terdapat pada kulittubuh, akan menurun besarnya pada tulang, lemak, urat saraf, otot, darah dancairan tubuh. Tahanan kulit rata-rata 500-10.000 ohm. Di dalam lapisan kulit itu sendiri bervariasi derajat resistensinya, hal ini bergantung pada ketebalan kulit dan jumlah relatif dari folikel rambut, kelenjar keringat dan lemak. Kulit yang berkeringat lebih jelek daripada kulit yang kering. Menurut hitungan Cardieu, bahwa berkeringat dapat menurunkan tahanan sebesar 3000-2500 ohm. Pada kulit yang lembab karena air atau saline, maka tahanannya turun lebih rendah lagi antara 1200-1500 ohm. Tahanan tubuh terhadap aliranlistrik juga akan menurun pada keadaan demam atau adanya pengaruh obat-obatan yang mengakibatkan produksi keringat meningkat. Pertimbangkan tentang transitional resistance, yaitu suatu tahanan yang menyertai akibat adanya bahan-bahan yang berada di antara konduktor dengan tubuh atau antara tubuh dengan bumi, misalnya baju, sarung tangan karet, sepatukaret, dan lain-lain.

d.Kuat arus / intensitas /amperage Adalah kekuatan arus (intensitas arus) yang dapat mendeposit berat tertentu perak dari larutan perak nitrat perdetik. Satuannya : ampere. Arus yang di atas 60mA dan berlangsung lebih dari 1 detik dapat menimbulkan fibrilasi ventrikel. Berikut ini disajikan sebuah tabel mengenai efek aliran listrik terhadap tubuh: mA 1,0 1,5 2,0 4,0 15,0 40,0 Efek Sensasi, ambang arus Rasa yang jelas, persepsi arus Tangan mati rasa Parestesia lengan bawah Kontraksi otot-otot fleksor mencegah terlepas dari aliran listrik Kehilangan kesadaran

75-100 Fibrilasi ventrikel

Dikatakan bahwa kuat arus sebesar 30 mA adalah batas ketahanan seseorang, pada 40 mA dapat menimbulkan hilangnya kesadaran dan kematian akan terjadi pada kuat arus 100 mA atau lebih.

e.Adanya hubungan dengan bumi / earthing Sehubungan dengan faktor tahanan, maka orang yang berdiri pada tanah yang basah tanpa alas kaki, akan lebih berbahaya daripada orang yang berdiri dengan mengggunakan alas sepatu yang kering, karena pada keadaan pertama tahanannya rendah.

f.Lamanya waktu kontak dengan konduktor Makin lama korban kontak dengan konduktor maka makin banyak jumlah arus yang melalui tubuh sehingga kerusakan tubuh akan bertambah besar & luas. Dengan tegangan yang rendah akan terjadi spasme otot-otot sehingga korban malah menggenggam konduktor. Akibatnya arus listrik akan mengalir lebih lama sehingga korban jatuh dalam keadaan syok yang mematikan Sedangkan pada tegangan tinggi, korban segera terlempar atau melepaskan konduktor atau sumber listrik yang tersentuh, karena akibat arus listrik dengan tegangan tinggi tersebut dapat menyebabkan timbulnya kontraksi otot, termasuk otot yang tersentuh aliran listrik tersebut.

g.Aliran arus listrik (path of current) Adalah tempat-tempat pada tubuh yang dilalui oleh arus listrik sejak masuk sampai meninggalkan tubuh. Letak titik masuk arus listrik (point of entry) & letak titik keluar bervariasi sehingga efek dari arus listrik tersebut bervariasi dari ringan sampai berat. Arus listrik masuk dari sebelah kiri bagian tubuh lebih berbahaya daripada jika masuk dari sebelah kanan. Bahaya terbesar bisa timbul jika jantung atau otak berada dalam posisi aliran listrik tersebut. Bumi dianggap sebagai kutub negatif. Orang yang tanpa alas kaki lebih berbahaya kalau terkena aliran listrik,alas kaki dapat berfungsi sebagai isolator, terutama yang terbuat dari karet.

2.5 MANIFESTASI KLINIK 2.5.1 Luka akibat petir Petir / lightning adalah muatan listrik statis dalam awan dengan voltase sampai 10 mega volt dan kekuatan arus listrik sampai seratus ribu ampere yang dalam waktu 1/1000 1

detik dilepaskan ke bumi. Seseorang yang disambar petir pada tubuhnya terdapat kelainan yang disebabkan oleh faktor arus listrik, faktor panas dan faktor ledakan

Efek listrik akibat sambaran petir ada 3: 1. Current mark / electrik mark / electrik burn Efek ini termasuk salah satu tanda utama luka listrik (elektrical burn) 2. Aborescent markings Tanda ini berupa gambaran seperti pohon gundul tanpa daun akibat terjadinya vasodilatasi vena pada kulit korban sebagai reaksi dari persentuhan antara kulit dengan petir. Tanda ini akan hilang sendiri setelah beberapa jam.

Gambar

3. Magnetisasi Logam yang terkena sambaran petir akan berubah menjadi magnet. Efek ini juga termasuk salah satu tanda luka listrik(electrical burn)

Efek panas akibat sambaran petir ada 2: 1. Luka bakar sampai hangus. Rambut, pakaianm sepatu, bahkan seluruh tubuh korban dapat terbakar atau hangus. 2. Metalisasi. Logam yang dikenakan korban akan meleleh seperti perhiasan dan komponen arloji. Arloji korban akan berhenti dimana tanda ini dapat kita gunakan untuk menentukan saat kematian korban. Efek ini juga termasuk salah satu tanda luka listrik (electrical burn).

Gambar : Efek metalisasi

Efek ledakan: Efek ledakan akibat sambaran petir terjadi akibat perpindahan volume udara yang

cepat dan ekstrim. Setelah kilat menyambar, udara setempat menjadi vakum lalu terisi oleh udara kembali sehingga menimbulkan suara menggelegar / ledakan. Akibat pemindahan udara ini, pakaian korban koyak, korban terlontar sehingga terdapat luka akibat persentuhan dengan benda tumpul, misalnya abrasi, kontusi, patah tulang tengkorak, epidural / subdural bleeding.

2.5.2 Indikasi cedera akibat petir dicatat pada pemeriksaan fisik meliputi: a. Dingin, pulseless ekstremitas - tanda ketidakstabilan vasomotor b. Kebingungan, amnesia, kelumpuhan, dan kehilangan kesadaran c. Gangguan pendengaran sementara atau pecah membran timpani - Disebabkan oleh gelombang kejut concussive d. Hipotensi - Biasanya dari ketidakstabilan vasomotor dan spasme pembuluh darah e. Paresis lama atau kelumpuhan ekstremitas Mengindikasikan kemungkinan cedera tulang belakang f. Dilatasi pupil - Biasanya akibat dari gangguan otonom sementara, cedera kepala yang tidak serius.

2.5.3 Manifestasi klinik akibat sambaran petir : a. Gejala kardiorespirasi Henti jantung dan henti nafas adalah penyebab langsung kematian. Petir dapat mengakibatkan jantung ke periode asistole, yang mana jantung sering pulih

spontan pada keadaan ini. Pengontrolan sistem saraf otonom dari irama jantung telah terbukti dapat dipengaruhi oleh petir. Dalam beberapa kasus, henti napas dapat

bertahan lebih lama daripada henti jantung dan serangan jantung sekunder karena hipoksia. Masalah pada jantung akibat sambaran petir dapat disebabkan oleh syok elektrik, ataupun karena spasme vaskular. Selain itu, cedera otak juga dapat memperpanjang keadaan henti nafas. Banyak perubahan dapat diamati pada elektrokardiogram (EKG), tetapi yang paling sering dilaporkan adalah perpanjangan QT, yang umumnya sembuh selama beberapa bulan dan tidak memerlukan pengobatan umum.

b. Gejala neurologis Efek langsung dari arus listrik dari sambaran petir pada SSP adalah tingkat kesadaran yang berubah yang bervariasi dari disorientasi dengan amnesia retrograde hingga hilangnya kesadaran. Dalam kasus yang paling parah, kelumpuhan pusat pernafasan mungkin terjadi dan menyebabkan kematian mendadak.Pasien yang sadar biasanya mampu melakukan percakapan. Namun, mereka dapat mengembangkan menonaktifkan defisit neurokognitif serupa dengan orang dengan cedera kepala tumpul, yang mungkin tidak terlihat sampai selamat berusaha untuk kembali ke pekerjaan mereka sebelumnya dan tidak dapat memproses informasi baru, mengatur kegiatan mereka. Nyeri akut dan mati rasa dapat terjadi. Sindrom nyeri kronis akibat sambaran petir mungkin terjadi karena cedera saraf, cedera sistem saraf simpatik, cedera tulang belakang. Cedera sistem saraf simpatik akut dapat menyebabkan spasme pembuluh darah, kelumpuhan sementara.

c. Gejala pada Kulit Keraunopati merupakan gambaran umumnya cedera yang berhubungan dengan petir, dan juga istilah ini bersinonim dengan ferning, suatu pola perubahan warna kulit terlihat di beberapa badan setelah sambaran petir. Temuan dapat ditemukan baik pada korban hidup maupun korban meninggal. Temuan ini jarang didapatkan namun merupakan suatu tanda yang patognomonik untuk korban sambaran petir.

.
Gambar

Karena petir biasanya memiliki kontak yang sangat singkat dengan kulit, luka bakar yang dalam jarang terjadi. Jika luka bakar terjadi, memperlakukan mereka seperti cedera tegangan tinggi. Berikut jenis luka bakar yang disebabkan oleh petir: linear Punctate Thermal Luka ini diakibatkan karena petir mengenai pakaian dan kemudian terbakar. Contact - Terjadi ketika logam, seperti perhiasan, ritsleting, atau gesper ikat pinggang, berkontak dengan kulit selama sambaran petir, dapat membentuk "tato" logam, seperti kalung, ke dalam kulit Flash - membakar Superficial yang mengakibatkan perubahan warna coklat dari kulit Manifestasi kulit cedera petir biasanya terdiri dari garis-garis eritematosa yang tidak pucat pada diaskopi. Eritema mulai memudar dalam 4-6 jam dengan tidak ada perubahan kulit residual. Manifestasi kulit seperti ini mungkin berkaitan dengan fenomena flashover, dari transmisi listrik statis sepanjang pembuluh darah superfisial. Luka bakar linear terjadi pada area yang lembab pada tubuh, seperti di bawah payudara dan di linea midaxillaris. Luka-luka bakar derajat pertama dan kedua hadir beberapa menit hingga jam setelah sambaran petir dan hasil dari penguapan keringat menjadi uap pada tubuh pasien.

Gambar : Luka bakar jenis liniar

Luka bakar punctuate biasanya multiple, seperti gambaran puntung rokok kecil (small cigarette-like), diskret, melingkar karena petir mengenai kulit yang kering dan seringnya bagian tengah lebih berat seperti gambaran rosset. Diameter mulai dari beberapa millimeter hingga sentimeter.

Gambar : Luka bakar jenis punctate

Gambar : manifestasi kutaneus dari luka sambaran dengan gangren bilateral di bawah siku

d. Gejala Muskuloskeletal Sambaran petir dapat menyebabkan cedera sistem muskuloskeletal baik oleh trauma mekanis atau oleh bagian dari arus listrik. Ketika seseorang tersambar petir, dapat saja tubuhnya terlempar dan mungkin menyebabkan patah tulang atau

dislokasi ekstremitas. Fraktur tengkorak, tulang rusuk, kaki, dan tulang belakang sering terjadi. Saat arus listrik melewati jaringan, energi listrik diubah menjadi panas yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan otot. Meskipun sangat jarang terjadi,

sambaran petir dapat menyebabkan nekrosis otot yang berpotensi parah lokal (kompartemen sindrom) dan sistemik (gagal ginjal dan rhabdomiolisis).

e. Gejala mata dan adneksa Petir dapat melukai mata dan adneksa nya. Hampir setiap jenis cedera mata telah dilaporkan dengan cedera petir, termasuk katarak, lubang makula, pemisahan retina, dan iritis Katarak mungkin. Gangguan sistem saraf otonom menyebabkan pupil melebar dan non-reaktif. Ini reaksi terhadap sambaran petir biasanya jangka pendek dan tidak boleh digunakan sebagai indikator kematian otak pada pasien yang telah terluka oleh petir.

f. Gejala pada telinga Meskipun cedera pada telinga relatif jarang terjadi di listrik-saat kecelakaan, hal itu terjadi di lebih dari satu setengah dari pasien dengan cedera petir. Petir dapat melukai telinga melalui 2 mekanisme yaitu Efek langsung dan ledakan. Pengaruh langsung dari hasil kilat dari bagian dari arus listrik. kerusakan teinga akibat sambaran petir dapat seperti gangguan pendengaran yang umum, seperti tinnitus dan gejala syaraf lainnya termasuk pusing. Perforasi membran timpani terjadi pada lebih dari separuh pasien terluka oleh petir. Cedera ini disebabkan oleh efek ledakan, patah tulang tengkorak basilar, atau kerusakan membakar langsung dari petir. Membran timpani pecah dari petir beregenerasi dengan baik tanpa intervensi bedah.

g. Gejala pada ekstremitas Sambaran petir dapat menyebabkan vasospasme sementara hingga berat yang menyebabkan ekstremitas korban menjadi dingin, membiru, berbintik-bintik, nadi

teraba melemah. Keadaan ini biasanya membaik dengan sendirinya dalam beberapa jam, dan jarang sekali membutuhkan pemeriksaan pencitraan pembuluh darah ataupun tindakan bedah.

h. Gejala pada organ visera lainnya Keadaan kontusio pulmonal dan perdarahan dilaporkan pada kasus sambaran petir. Trauma tumpul abdomen jarang didapatkan. Tidak ada satupun kelainan abdomen lain yang biasanya didapatkan pada trauma listrik tegangan tinggi seperti nekrosis kandung kemih, ataupun thrombosis mesentrika didapatkan pada korban sambaran petir.

2.5.2 Sebab Kematian Kebanyakan oleh energi listrik itu sendiri. Sering trauma listrik disertai trauma mekanis. Ada kasus karena listrik yang menyebabkan korban jatuh dari ketinggian,dalam hal ini sukar untuk mencari sebab kematian yang segera. Sebab kematian karena arus listrik yaitu: a..Fibrilasi ventrikel Bergantung pada ukuran badan dan jantung. Dalziel (1961) memperkirakan pada manusia arus yang mengalir sedikitnya 70 mA dalam waktu 5 detik dari lengan ke tungkai akan menyebabkan fibrilasi. Yang paling berbahaya adalah jika arus listrik masuk ke tubuh melalui tangan kiri dan keluar melalui kaki yang berlawanan/kanan. Kalau arus listrik masuk ke tubuh melalui tangan yang satu dan keluar melalui tangan yang lain maka 60% yang meninggal dunia.

b. Paralisis respiratorik Akibat spasme dari otot-otot pernafasan, sehingga korban meninggal karena asfiksia, sehubungan dengan spasme otot-otot karena jantung masih tetap berdenyut sampai timbul kematian. Terjadi bila arus listrik yang memasuki tubuh korban di atas nilai ambang yang membahayakan, tetapi masih di batas bawah yang dapat menimbulkan fibrilasi ventrikel. MenurutKoeppen, spasme otot-otot pernafasan terjadi pada arus 25-80 mA, sedangkan ventrikel fibrilasi terjadi pada arus 75-100 mA.

c.Paralisis pusat nafas Jika arus listrik masuk melalui pusat di batang otak, disebabkan juga oleh trauma pada pusat-pusat vital di otak yang terjadi koagulasi dan akibat efek hipertermias. Bila aliran listrik diputus, paralisis pusat pernafasan tetap ada, jantung pun masih berdenyut, oleh karena itu dengan bantuan pernafasan buatan korban masih dapat ditolong. Hal tersebut bisa terjadi jika kepala merupakan jalur arus listrik.

2.6 PEMERIKSAAN KORBAN 2.6.3 Pemeriksaan Luar Pemeriksaan luar yang ditemukan adalah: a. Electrical Mark Terbentuk di daerah tempat masuk aliran listrik. Berbentuk bundar atau oval dengan bagian yang datar dan rendah di tengah, dikeliilingi oleh kulit yang menimbul. Bagian tersebut biasanya pucat dan kulit diluar electrical mark akan menunjukkan hiperemis. Bentuk dan ukurannya tergantung dari benda yang berarus lisrtrik yang mengenai tubuh.

Gambar b. Joule Burn/ Endogenous Burn Ini terjadi bilamana kontak antara tubuh dengan benda yang mengandung arus listrik cukup lama. Pada bagian tengah yang dangkal dan pucat pada electric mark dapat menjadi hitam hangus terbakar.

Gambar

c. Exogenous Burn Ini terjadi bila tubuh manusia terkena benda yang berarus listrik dengan tegangan tinggi, yang sudah mengandung panas, misalnya: tegangan di atas 330 volt. Pada exogenous burn tubuh korban hangus terbakar dengan kerusakan yang sangat berat, yang tidak jarang disertai patahnya tulang-tulang.

Gambar

2.6.4 Pemeriksaan Dalam Pada pemeriksaan dalam atau autopsi akan didapati hasil sebagai berikut: No Bagian 1 Ventrikel III-IV Paru 2 Perubahan yang Ditemui Perdarahan kecil Edema Kongesti Pada tegangan tinggi puncak lobus paru bisa terbakar dan ditemukan pneumotorak

3 4 5 6 7 8 9

Organ visera Gastro intestinal Hati Skeletal

Kongesti Perdarahan mukosa Lesi yang tidak khas Terbentuk butiran-butiran kalsium fosfat yang

menyerupai mutiara (pearl like bodies) Otot Perikar, konjungtiva Vaskuler Nekrosis Putus karena ada perubahan hialin pleura, Bintik-bintik perdarahan

2.6.5 Pemeriksaan Tambahan Pemeriksaan tambahan yang dapat kita lakukan adalah: a. Patologi Anatomi Pada pemeriksaan ini dilakukan dengan cara: Sel diwarnai dengan mettoxyl lineosin. Sel dilihat di bawah mikroskop.

Hasil yang terlihat adalah: Sel yang terkena trauma listrik akan berwarna lebih gelap dan lebih memipih. Sel pada stratum korneum akan menggelembung dan vakum. Ada juga sel yang berbentuk karbonasi. Sel dan inti dari stratum basalis akan lebih gelap dan akan berbentuk palisade. Folikel rambut dan kelenjar keringat akan memanjang dan memutar ke bagian yang terkena dari aliran listrik.

Gambar

BAB III PENUTUP

Luka akibat sambaran petir menjadi salah satu penyebab kematian terbesar yang berkaitan dengan badai. Fenomena ini terjadi karena ada pelepasan electrostatik yang berasal dari fenomena alam tersebut. Cedera yang diakibatkan oleh sambaran petir ini dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Gambaran lukanya dapat berupa gabungan dari luka akibat listrik, panas dan luka ledakan. Mekanisme tersering yang dapat menyebabkan cedera akibat sambaran petir adalah efek penyebaran energi sambaran petir melalui permukaan bumi atau tanah, yang jarak korban dengan sumbernya jauh, dengan angka kejadian sekitar 40-50%. Elektron yang dihasilkan oleh petir akan mengalir secara abnormal melalui tubuh sehingga akan menyebabkan cedera atau kematian melalui mekanisme depolarisasi otot dan saraf, abnormalitas irama jantung dan otak, luka bakar, dan pembentukan pori membrane sel. Gejala yang ditimbulkan oleh sambaran petir ini dapat mengenai berbagai organ seperti kardiorespirasi, saraf pusat, kulit, musculoskeletal, mata dan adneksanya, telinga, ektramitas dan organ visceral lainnya. Untuk sebab kematian pada korban yang terkena sambaran petir, dapat terjadi karena fibrilasi ventrikel, paralisis respiratorik, dan paralisis pusat nafas. Pemeriksaan pada korban terdiri dari pemeriksaan korban ditempat kejadian perkara (TKP) dan pemeriksaan jenazah. Untuk pemeriksaan pada jenazah dapat berupa pemeriksaan luar, dalam dan tambahan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Idries, Abdul Mun'im. 1997. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Binarupa Aksara: Jakarta 1997. Hal 85-129 2. Buku Ilmu Kedokteran Forensik FK UI hal : 51 3. (http://www.bmkg.go.id/RBMKG_Wilayah_10/Geofisika/petir.bmkg) 4. http://emedicine.medscape.com/article/770642-overview 5. www.uic.edu/.../lightninginjury/Electr&Ltn.p. 6. http://ml.scribd.com/doc/51960143/luka-listrik-forensik