Anda di halaman 1dari 14

PERKEMBANGAN KULTUR SEL HEWAN

1.1 RIWAYAT Tahun Pekerja Penemuan 1950an Penemuan

Penekanan diberikan pada pengembangan vaksin virus, penggunaan Labu-T Kaca dan botol Rol (bagi kultur sel normal) Penekanan diberikan pada pengembangan pembawa mikro bagi pemanfaatan kultur sel dari bioreaktor tanki yang diaduk. Penekanan diberikan pada pengembangan bioreaktor fiber berongga, imobilisasi kultur suspensi dan pengembangan teknik enkapsulasi dari kultur suspensi, pemanfaatan bioreaktor Air-Lift, pengembangan media bebas serum, pengembangan barang plastik, pemanfaatan antibiotik dalam media kultur sel, perbaikan sistem bagi peningkatan penekanan pada produksi MAB, pengembangan beberapa produk kultur sel seperti TPA (Aktivator Plasminogen Jaringan), Hormon Pertumbuhan Manusia, dan Interferon.

1960an

1970an

1878

Claude Bernard

Menetapkan fakta bahwa sistem fisiologis dari sebuah organisme dapat dipertahankan dalam sebuah sistem kehidupan bahkan setelah kematian dari organisme.

1885

Roux

Penetapan fakta bahwa proses pengembangan tertentu timbul secara bebas dari bagian embrio lain dengan mempertahankan bagian dari embrio ayam dalam tabung dalam larutan fisiologis yang hangat. Memulai kultur sel binatang dan mengolah saraf tulang belakang amfibi dalam sebuah gumpalan getah bening, makanya memperlihatkan bahwa akson dihasilkan oleh perluasan dari sel saraf tunggal. Dia mempertahankan fragmen puncak saraf katak embrionik dalam kultur selama beberapa minggu dan mengamati pertumbuhan dari jaringan saraf dalam tabung. Mereka memanfaatkan setetes getah bening katak koagulasi sebagai medium bagi

1907

Harrison

pertumbuhan. Dia mengambil katak sebagai sumber jaringan karena merupakan binatang yang berdarah dingin dan inkubasi tidak diperlukan. Belakangan, mereka dianggap sebagai induk dari kultur sel binatang.

1910

Rous

Menginduksi sel tumor dengan menggunakan ekstrak filter dari sel tumor ayam. Percobaan pertama pengolahan berhasil jangka panjang dari sel embrio ayam dalam gumpalan plasma dan juga digmbarkan pertama, observasi detail dari mitosis.

1910

Burrows

1911

Lewis & Lewis

Mengamati pertumbuhan monolayer terbatas dalam media yang merupakan media cair pertama yang terdiri dari air laut, serum, ekstrak embrio, garam dan pepton. Membuktikan bahwa sel dapat tumbuh selama periode yang lebih panjang jika pertumbuhan dibawah kondisi bebas hama. Penggunaan pertama dari enzim proteolitik, trypsin untuk menunda sel yang melekat dalam kultur. Pengembangan teknik T-Flask bagi kultur sel, dan bagi peningkatan mereka, dan penilaian mikroskopik dari sel dalam kultur. Produksi vaksin virus pertama vaksinia terhadap cacar ayam. Perkembangan teknik tabung gulung bagi kultur sel. Perkembangan medium yang ditetapkan secara kimia yang disebut sebagai CMRL 1066, masih digunakan dalam studi virologi dan sitologi. Isolasi lini sel terpisah dari klone sel dalam kultur jaringan. Perkembangan kadar logam dari wabah agi virus binatang menggunakan lapisan mono yang berhimpit dari sel kultur. Penetapan sel berkelanjutan dari servik karsinoma manusia (He Lacell).

1913

Carrel

1916

Rous & Jone

1923-31

Carrel & Baker

1927

Carrel & Rivera

1933 1948

Gey Fischer

1948 1952

Earle Dulbecco

1952

Gey

1954

Abercrombie

Mengamati halangan kontak dalam kultur monolayer (kultur berhenti ketika kontak dibuat dengan sel berdekatan); motilitas dari sel diploid dalam monolayer Levi Montalcini Membuktikan bahwa NGF (faktor pertumbuhan saraf) & Associates merangsang pertumbuhan akson dalam kultur jaringan. Perkembangan penyelidikan sistematik pertama dari persyaratan penting sel dalam kultur dan ditemukan bahwa sel binatang dapat menyebar dalam media yang ditetapkan dalam bagian kecil dari serum protein. Media yang mereka rumuskan disebut media Eagle. Eagle Mengamati bahwa sel mutant yang dipilih telah merubah persyaratan pertumbuhan bagi nutrisi, contohnya sel He La Memperkenalkan media HAT (Hipoksathin Aminopterin dan Thymidin) bagi pertumbuhan selektif dari sel somatik yang tergabung selama perkembangan antibodi monoklonal dari yang tidak tergabung. & Memperkenalkan media bebas serum yang ditetapkan yang mampu mendukung pertumbuhan dari sel mamalia tertentu. Media itu belakangan disebut sebagai media HAM. Menghasilkan Heterokaryon sel mamalia pertama dengan fusi yang diinduksi virus dari sel tikus dan manusia yang disebut sebagai Hybridoma. Mempersiapkan monoklonal antibodi dengan fusi sel-B manusia dengan sel kanker.

1955

1956

Puck Associate

1956

Little Field

1965

HAM

1965

Harris & Watkins Faktor pertumbuhan fibroblast adalah totipotansi yang ditemukan dari embrional stem sel. Media bebas serum Hayashi & Sato Kohler Milstein dan Publikasi serangkaian paper pertama memperlihatkan bahwa lini sel berbeda memerlukan campuran hormon berbeda dan faktor pertumbuhan untuk tumbuh dalam medium bebas serum. Gospodarowicz

1973

1975

1976

Illmensee Mintz Sato Associates

& Hayasi sato serum bebas media dan

1977

Nelson Rees & Konfirmasi Kontaminas Sel He La

1978

Flandermeyer 3T3 feeder layer dan kultur kulit Rheinwald & Perkembangan metode yang efisien memperkenalkan gen Green mamalia copy tunggal di dalam sel kultur, mengadaptasikan Wigler, Axel metode awal yang dikembangkan oleh Graham dan Van Der Eb. Ham & MC Media bebas serum selektif MCDB Keehan Gospodarowicz Interaksi matriks Darnell Weinberg Hassell E Al Peehl & Ham Peraturan ekspresi gen Onkogen, keganasan dan transformasi ditemukan. Matriks dari EHS sarkoma (Matrigel) Banyak lini sel khusus Insulin manusia menjadi protein rekombinan pertama diberi lisensi sebagai sebuah agent therapi. Evan Huschtscha Holliday Bell Collen Peraturan siklus sel & Mengekalkan SV40

1980

1980-1987 1982

1983

1984 1985

Kultur sel kulit yang dilarutkan Rekombinan TPA (Plasminogen Aktivator Jaringan0 pada hormon pertumbuhan manusia sel mamalia yang dihasilkan dari rekombinan bakteri diterima bagi penggunaan therapi Isolasi dan kultur dari pluripotent embrionik stem sel. Lymphoblastoid IFN yang dilisensi. Aktivator plasminogen jenis jaringan (tPA) dari rekombinan sel binantang menjadi tersedia secara komersial. Erithropoletin rekombinan dalm percobaan Produk-produk rekombinan dalam percobaan klinis (HbsAG, faktor VIII, HIVgp 120, CD4, GM-CSF, EGF, mAbs, II-2).

1986

Martin, Evans

1987

1989 1990

1991 1998 1996

Caplan Dennis Wilmut

Kultur dari mesenchymal stem sel dewasa manusia. Kultur dari stem sel embrionik manusia dan Dengan berhasil menghasilkan domba transgenik yang

Rekan Pekerja

dinamakan Dolly melalui teknik transfer nuklir. Setelah itu banyak binatang demikian (seperti domba, kambing, babi, ikan, burung, dst) dihasilkan. Tahun 2002, Clonaid, sebuah masyarakat genome manusia Perancis mengklaim menghasilkan bayi manusia kloning bermana EVE. Isolasi embrionik stem sel manusia. Genomik, proteomik, kekurangan genetik dan kesalahan ekspresi. Spermatid dikulturkan dari pengujian banteng baru lahir dan kultur bersama dengan sel Sertoli

1998 2000 2001

Thomson dan Gearhart Proyek Genome Manusia Lee dkk

2002-04

Atala & Lanza, Eksploitasi rekayasa jaringan bagi generasi aringan setara Vunjaknovakovic dengan organotipik totipotent stem sell seperti & Freshney mesenchymal stem sell (MSC); penggunaan transfer gen, ilmu pengetahuan material, bioreaktor, dan teknologi transplantasi bagi implan neuron janin normal di dalam pasien dengan penyakit Parkinson telah diperlihatkan; Teknik fertilisasi in vitro (IVF) dikembangkan dari percobaan awal dalam kultur embrio.

1.2 JENIS KULTUR SEL 1. Kultur Sel Kultur eksplant jaringan dalam tabung disebut kultur sel. Jaringan ini disebarkan dalam medium, sebagian besar dengan menggunakan enzim, di dalam sebuah suspensi sel yang mungkin kemudian diolah sebagai sebuah monolayer atau kultur suspensi.

2. Kultur Jaringan Bagian dari jaringan yang dijalankan, jika ditempatkan dalam medium kultur segar, maka fungsi normalnya mungkin dipertahankan tetapi organisasi awal dari jaringan hilang. Kultur jaringan adalah lebih baik dibandingkan kultur organ.

3. Kultur Organ Pemeliharaan atau pertumbuhan primordia organ atau seluruh bagian dari organ secara in vitro dengan cara yang memungkinkan diferensiasi dan pelestarian fungsi organ disebut kultur organ. Dalam kultur jaringan organ seluruh jaringan dibawa keluar dari tubuh untuk sementara untuk kultur sementara di dalam kultur utama sebuah fragmen jaringan diletakkan

di atas satu gelas (atau plastik) dalam permukaan cair, di mana, lampiran berikut, migrasi dipromosikan dalam bidang padat substrat yang bisa mendapatkan fungsi fisiologis normal dan sel-sel tetap sepenuhnya didiferensiasi.

4. Kultur Organotipik/Histotipik Kultur histotypic menyerupai morfologi jaringan seperti in vivo, biasanya, kultur tiga dimensi ini kembali diciptakan dari kultur sel yang mencoba untuk mendapatkan kembali struktur jaringan dengan cara proliferasi sel. Kultur organ tidak dapat diperbanyak, sedangkan kultur hystotypic dapat diperbanyak. Kultur hystotypic melibatkan lebih dari satu jenis sel.

5. Sub Kultur Transfer sel setelah satu generasi disebut dengan subkultur. Biasanya, keadaan ini mempromosikan subdivisi dari proliferasi populasi sel, yang menyebabkan propagasi dari sel.

6. Bentuk Sel Bentuk sel timbul dari kultur primer setelah sedikit subkultur disebut bentuk sel finite.

7. Bentuk Sel Bersambung Sebuah bentuk sel yang telah bertransformasi dan sehingga mereka terbagi untuk beberapa periode waktu oleh karena itu mereka disebut infinite.

8. Split Ratio Pembagi rasio pengenceran dari kultur sel selama subkultur.

9. Nomor Passage Adalah angka yang menunjukkan waktu bahwa kultur telah di rekultur.

10. Nomor Generasi Mengacu pada berapa kali populasi sel telah mengalami penggandaan.

11. Kultur Primer Sel yang terisolasi, dari jaringan atau organ yang diambil secara langsung dari hewan, saat tumbuh di media pertama kali disebut kultur primer.

12. Explant Sebuah potongan fragmen dari organ yang biasanya mempertahankan beberapa derajat arsitektur jaringan.

13. Monolayer Sebuah lapisan tunggal tempat sel tumbuh pada permukaan disebut monolayer.

1.3. KULTUR SEL DAN RUANG LINGKUPNYA Kultur sel adalah tehnik dimana sel dapat tumbuh di luar tubuh (in vivo) yaitu di dalam inkubator. Sel-sel mempresentasikan fungsi tubuh bagian dalam secara terkoordinasi dimana interaksi antar sel, interaksi antar jaringan, interaksi antar organ, interaksi antar sistem terihat di dalamnya, tetapi dilingkungan luar tubuh keadaan tersebut berbeda karena sel adalah sebuah unit individu dan bersifat seperti mikroba atau organisme selular lainya. Dengan demikian, kultur sel hewan lebih sulit dibandingkan dengan kultur mikroba karena mereka kurang dapat beradaptasi dengan kondisi in vitro (diluar tubuh). Secara histori kultur sel yang paling awal melibatkan pertumbuhan sel-sel dari potongan jaringan yang tertanam dalm gumpalan plasma, tetapi itu tidak sesuai untuk percobaan yang bersifat analisis. Awl tahun 1940, kemajuan utama adalah ditemukanya bentuk sel yang tumbuh dari sel terisolasi yang melekat di permukaan cawan kultur. Sel kanker manusia yang secara luas digunakan yang disebut dengan sel He La di temukan pada tahun 1952 dimana sel tersebut tumbuh di medium yang mengandung plasma ayam, ekstrak embryo bovine, dan serum plasenta manusia. Penggunaan media sekomplek dan tidak tergambarkan itu membuat tidak dapat dilakukanya analisi dari kebutuhan pertumbuhan spesifik sel-sel hewan. Harry Eagle adalah orang pertama yang dapat mengatasi masalah ini, dengan menggunakan analisis tersistematis dari nutrisi yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan sel hewan di kultur. Eagle mempelajari pertumbuhan dari 2 bentuk sel yang ditemukan, yaitu sel He La dan sebuah sel fibroblas tikus yang disebut sel L. Eagel dapat

menumbuhkan sel ini pada medium yang mengandung campuran garam, karbohidrat, asam amino, dan vitamin yang diberi suplemen serum protein. Dengan komponen medium yang bervariasi Eagle dapat menemukan nutrisi tertentu yang dibutuhkan untuk pertumbuhan sel. Disamping garam dan glukosa, nutrisi ini mencakup 13 asam amino dan beberapa vitamin. Sejumlah kecil serum proteinjuga dibutuhkan. Medium yang dikembangkan oleh Eagle merupakan medium dasar yang digunakan pada kultur sel hewan. Penggunaanya telah memungkinkan para ilmuwan menumbuhkan berbagai variasi sel dibawah kondisi percobaan yag ditetapkan, dimana hal tersebut sangat penting dalam mempelajari pertumbuhan dan membedakan jenis sel, termasuk juga untuk mengidentifikasi faktor faktor pertumbuhan yang ada di serum. Saat ini dikarenakan adanya peningkatan populasi. Terdapat tekanan untuk memanfaatkan potensi dari bioteknologi untuk meningkatkan produktivitas peternakan hewan. Teknologi rekombinasi DNA saat ini memungkinkan kita untuk mempertemukan gen asing ke dalam sebuah organisme untuk mengekspresikan sifat baru yang spesifik. Hewan juga dapat direkayasa untuk berbagai tujuan, misalnya digunakan sebagai model penyakit manusia yang dikenalkan dengan sifatsifat tertentu yang diinginkan ke dalam hewan-hewan yang penting secara argonomi. Unggas yang direkayasa secara genetik, babi, domba, lembu dan ternak lainya, saat ini benyak digunakan sebagai bahan bahan formasi dan produk lain dn sumber potensial sebagai organ pengganti organ manusia. Teknologi untuk menghasilkan protein asing pada susu dengan mengekspresikan gen novel kelenjar mammae hewan ternak telah mulai digunakan pada produk uji klinis terkini. Hewan transgenik tidak hanya menyediakan alat alat penelitian yang berharga untuk mempelajari regulasi gen dan penyakit, tetapi mereka secara genetik dapat dimodifikasi sebagai produk farmasi, vaksin dan bahan kimia lainya bahkan sebagai produk makanan. Saat ini bioreaktor hewan telah dikembangkan untuk produksi bahan farmasi yang langka dan campuran obat lainya. Hewan ternak yang telah direkayasa genetik telah menghasilkan produk penting di susu atau darah untuk mengobati berbagai penyakit manusia dan sebagai kebutuhan kesehatan lainya. Bioteknologi hewan disebut juga dengan teknologi rDNA dan juga disebut sebagi seni memotong seperti kultur sel, antibodi monoklonal, perancangan bioprosesor dan manipulasi reproduksi. Sehingga bioteknologi hewan tidak hanya memanipulasi genome dari hewan

target, tetapi juga memanipulasi proses yang berlansung dalam organik tetapi berada di luar jangkauan manipulasi. Bioteknologi hewan menawarkan suplementasi biakan selektif, yang membantu memberikan efek perubahan pada organisme dengan memanipulasi sel dan gen dalam organisme. Kultur sel hewan biasa digunakan untuk memproduksi vaksin virus, begitupun juga pada penggunaan biokimia seperti enzim, hormon, biokimia selular seperti interferon dan campuran imunobiologi seperti antibodi mononklonal. Sel hewan juga dapat sebagai wadah yang baik untuk mengekspresikan molekul DBA rekombinan dan beberapa produk komersial yang sedang berkembang. Awalnya vaksin virus adalah produk komersial paling banyak dihasilkan oleh kultur sel. Tetapi pada saat ini kegiatan komersial utama adalah produksi antibodi monoklonal. Diperkirakan di masa mendatang protein rekombinan akan menjadi produk primer dari kultur sel. Jaringan dan organ yang dapat ditransplantasi adalah produk berharga lainya dari kultur sel.

1.4. PROPERTI SEL HEWAN Sel hewan berukuran 10 100 micron. Sel hewan berbentuk spheris dalam media suspensi. Sel hewan tanpa disertai adanya dinding sel, isalnya hanya membran plasma tipis, rapuh dan sensitif, dan memiliki muatan negatif di permukaan. Oleh karena itu mereka dapat tumbu di permukaan yang bermuatan positif.

1.5. KEUNTUNGAN 1. Sel karakterisasi. Sampel sel spesifik dapat dideteksi dengan adanya marker. Misalnya reseptor spesifik sekresi beberapa molekul, kariotipe mereka seperti sel He La dan sel dendrit. 2. Untuk menghasilkan kultur heterogen atau homogen. Kultur heterogen mengandung campuran beberapa tipe sel yang disebut sebagai sel primer sedang kultur homogen hanya memiliki atu jenis tipe sel yang disebut sel sekunder. Karena mereka ditemukan setelah penyelesaian dari sebuah sel yang terdapat pada populasi. Kultur heterogen dapat disebut juga sebagai klon, apabila sel megandung sel gen yang identik dengan sel parental (tehnik kloning). Kultur homogen biasa di gunakan untuk mempelajari asal dan biologi sel.

3. Menaikkan dan mekanisasi. Mikro kultur dapat dipersiapkan pada 96 wadah kultur dimana dibutuhkan sel, media dan agent dalam jumlah sedikit. Mekanisme dapat diselesaikan oleh kontrol robot pada instrumen untuk menaikkan produk kultur sel. 4. Model In Vitro pada kondisi In-Vivo, Kultur organotypic atau Hystotipic dapat dilaksanakan dengan meniru masing-masing organ atau jaringan. Hal ini sangat membantu produksi jaringan tiruan (ex. Kulit), dimana dengan hal ini dapat mengurangi jumlah korban hewan untuk kebutuhan jaringan. 5. Mempelajari efek lingkungan. Efek dari fisiokimia pada sel pada tiap keadaan yang berbeda-beda misalnya berbeda pH, Suhu, Konsentrasi O2/CO2, tekanan osmotik dan fisiologi (hormon, sitokin, dan nutrisi) dapat dipelajari.

1.6. BATASAN 1. Dibutuhkan peralatan mahal dan keahlian. Untuk kultur sel tipe spesifik, dibutuhkan peralatan lab yang baik dimana kegiatan kultur harus dilaksanakan dalam kondisi steril. Oleh karena itu dibutuhkan pengamanan level tertinggi untuk menghindari problem kontaminasi bahan kimia, kontaminasi mikroba dan kontaminasi silang. 2. Keluaran yang mahal. Batasan terbesar dari kultur sl adalah besarnya usaha dibanding dengan hasil produksi yang kecil dari kultur sel sedang secara in vivo hal tersebut di produksi secara masal. Diharapkan bahwa protein rekombinan dapat menghasilkan produk unggulan dari kultur sel di waktu dekat. Jaringan dan organ yang dapat di transplantasi adalah produk lain yang dapat di ambil dari kultur sel. 3. Sel mengalami diferensiasi dan tidak stabil. Diferensiasi menyebabkan hilangnya sifat pembeda jaringan, misalnya sel hybridoma berdiferensiasi menjadi sel fibroblas dimana sel tersebut beda dari sel asli. 4. Kultur sel menghasilkan produk yang sedikit. Sel hwan memiliki produktivitas yang rendah(produksi yang baik menghasilkan hingga 100 g/ml/hari, produksi sedang menghasilkan 20-100 g/ml/hari, produksi yang buruk menghasilkan <20g/ml/hari). Karena pertumbuhan sel yang lambat, kebanyakan laboratorium kecil dapat memproduksi 1-10 g sel. Dengan sedikit tambahan usaha (fasilitas laboratorium yang lebih besar), 10-100 g produk dapat di produksi tetapi bila ingin hasil produksi di atas 100 g dibutuhkan perencanaan yang matang. Kultur sel hewan umunya menghasilkan

kepadatan sel yang lebih rendah, biasanya sekitar 5 x 106 ml. ini adalah hasil dari produktivitas volumetrik yang rendah dan produktifitas spesifik. Masalah ini sedang diatasi dengan meningkatkan kondisi fermentasi yang memmungkinkan penggunaan kultur padat untuk meningkatkan hasil dari 108 ke 109 sel/ml. 5. Sel hewan biasanya menunjukkan laju pertumbuhan da tingkat metabolisme lebih lambat dibandingkan dngan sel mikroba. Waktu penggandaan sel hewan adalah di urutan 20 sampai 100 jam dengan rata rata berkisar 18 24 jam dibandingkan dengan bakteria yang hanya 0,5 2 jam. 6. Sel-sel hewan paling rentan terhadap kontaminasi oleh sel mikroba, terutama Mycoplasma yang sulit untuk dideteksi dan sangat menular. 7. Kebanyakan sel hewan yang di kultur membutuhkan penanganan yang lebih hati-hati untuk menghindari kerusakan sel. masalah ini sedang ditangani dengan memilih dan menggunakan bentuk sel yang lebih kokoh. Oleh karena ituah mengapa, sebagian besar sel-sel hewan dapat tumbuh pada kaca datar atau permukaan plastik sebagai monolayers.

1.7. PENTINGNYA KULTUR SEL HEWAN 1. dalam memahami fisiologi dan biokimia dari jenis sel tertentu. kultur sel dapat digunakan untuk menelusuri jalur metabolisme menggunakan isotop C14 untuk menelusuri berbagai produk dari siklus Krebs. kultur sel juga dapat digunakan untuk mempelajari metabolisme, sekresi,organisasi jaringan dan berbagai interaksi antara sel-sel (sel ke sel dan sel untuk matriks). 2. Dalam memahami aksi molekul (agen) pada sel. aksi bahan kimia bio yang berbeda seperti hormon dan sitokin pada berbagai jenis sel, atau toksisitas dari agen farmakologis (obat) dapat dipelajari dengan teknik kultur sel karena jumlah yang sangat sedikit dari agen dan sel-sel yang diperlukan. 3. Pada produksi sel dalam jumlah besar untuk berbagai aplikasi. produksi kulit buatan (dari sel epidermis) dan transplantasi berbagai jaringan lain yang mungkin dapat digunakan pada aplikasi teknik jaringan. 4. pada produksi berbagai produk sellular. kultur sel digunakan untuk produksi berbagai produk seluler misalnya glikoprotein (hormon, sitokin), vaksin dari kultur virus, dan

antibodi monoklonal dari sel hibridoma, dll.

1.8. APLIKASI 1. sel sebagai sistem model. sel dapat digunakan sebagai model untuk penelitian biologi sel dasar, biokimia, efek obat pada sel, dan penuaan sel. System memberikan ide kondisi in-vivo tanpa membunuh hewan. 2. Dalam studi toksisitas. efek toksik dari agen pada sel-sel dapat dipelajari, dengan menggunakan jumlah yang sangat sedikit dari zat beracun. toksisitas dapat secara individual diperiksa dengan menerapkan berbagai parameter seperti kelangsungan hidup sel, apoptosis, proliferasi, dan kapasitas fungsional dll. ginjal dan hati telah digunakan untuk studi toksisitas tersebut. 3. dalam penelitian kanker. sel normal dan sel yang berubah dapat dipelajari pada waktu yang sama dengan adanya zat karsinogen. sehingga obat dapat dirancang berdasarkan perbedaan metabolic. 4. dalam virologi. kultur sel hewan yang digunakan saat ini dapat memproduksi protein virus untuk produksi vaksin. kultur sel juga membantu dalam deteksi dan isolasi berbagai virus dari sampel biopsi dan untuk memahami dasar infeksi, dan mekanisme yang digunakan misalnya virus dilemahkan digunakan dalam produksi vaksin yang berguna untuk polio, rabies, influenza, cacar air, hepatitis b, campak , gondok, rubella, vaksin HIV. 5. Produksi hormone dalam skala besar. Sel-sel genetika rekayasa memiliki aplikasi komersial atau aplikasi pengobatan pada produksi vaksin hormon misalnya insulin, hormon, antibodi monoklonal (dapat diproduksi pada skala besar dengan menerapkan kultur sel dalam bio reaktor). 6. produksi skala besar dari jaringan dan organ. jaringan dan berbagai organ seperti kulit buatan dan tulang rawan, dapat diperoleh dalam skala besar misalnya kulit seluruh tubuh dapat diproduksi ulang dalam waktu 3 minggu dari 2 x 2 cm kulit tubuh. Sel kondrosit dapat digunakan untuk menghasilkan tulang rawan untuk perbaikan sendi lutut. saat ini, perkembangan organ buatan seperti pankreas, ginjal dan hati masih berada dalam penelitian. model ini

7. Dalam konseling genetik. amniosentesis adalah bagian dari konseling genetik yang dapat dilakukan dengan mengambil sel-sel dari janin dan mengkultur mereka untuk memeriksa kelainan kromosom. ini dapat membantu dalam memeriksa penyakit terkait kromosom pada anak-anak sebelum kelahiran mereka. 8. dalam rekayasa genetika. sel yang berubah dan diprogram kembali dapat dihasilkan oleh pengenalan DNA asing dan karena itu efek selular gen baru dapat diperkenalkan. sel rekayasa genetika telah digunakan untuk menghasilkan sejumlah besar protein yang diinginkan misalnya sel serangga telah digunakan sebagai pabrik sel miniatur setelah infeksi dengan baculovirus. 9. Dalam terapi gen. Terapi gen melibatkan dua jenis sel: a. sel somatik: pasien memiliki gen cacat untuk protein tertentu yang dapat diganti atau diperbaiki oleh pengenalan protein yang hilang dalam sel dengan menggunakan vektor virus (vaccinia vektor). b. sel germinal: sel induk embrionik yang dimodifikasi dengan memperkenalkan gen pilihan ke dalam sel yang dipilih dan mentransfer mereka ke blastocyst) dengan demikian, keturunan mewarisi gen tertentu untuk menyembuhkan penyakit genetic. 10. dalam pengujian sitotoksik. skrining senyawa potensial sebagai obat masa depan dapat dilakukan dengan penerapan kultur 11. dalam penciptaan hewan transgenik. hewan transgenik dapat diproduksi dengan mengumpulkan telur yang telah dibuahi dalam tahap yang tepat dan kemudian dibiakan dalam medium yang sesuai dan akhirnya dilakukan mikroinjeksi DNA yang diinginkan untuk memperkenalkan karakter baru. sel ini dapat ditempatkan di dalam rahim untuk mengembangkan hewan utuh yang disebut sebagai hewan transgenik. 12. dalam produksi massal antibodi monoklonal. antibodi monoklonal diproduksi secara massal untuk digunakan dalam pemurnian protein, diagnosis penyakit dan pengobatan, (karena mereka memiliki afinitas tunggal untuk protein yang dapat digunakan) dalam pengobatan kanker dan untuk membuat immunotoxins. antibodi monoklonal dapat ditandai dengan racun spesifik untuk antigen tumor dan dengan demikian immunotoksin diproduksi. pada radioimmuno-diagnosis. dalam radioterapi kanker, isotop telah digunakan dimana isotope memiliki energi yang sangat tinggi, daya tembus yang sangat rendah, waktu paruh yang sangat singkat, dan produk pembusukan inert. IN111, Y Technetium digunakan untuk antibodi penandaan, yang menghasilkan

radiasi energi yang sangat rendah, dan memiliki waktu paruh yang sangat pendek terhadap sel-sel kanker.

1.9. IN VITRO DAN IN VIVO KULTUR Berikut adalah perbedaan kultur in vitro dibandingkan dengan kultur in vivo 1. Interaksi sel berkurang pada in vitro 2. Interaksi sel matrik berkurang pada in vitro 3. Lingkungan nutrisi berubah pada in vitro 4. Penyebaran meningkat pada in vitro 5. Migrasi meningkat pada in vitro 6. Proliferasi meningkat pada in vitro

BRAIN QUEST 1. tuliskan fitur dari sel hewan yang membuatnya sulit untuk di kultur dibandingkan dengan bakteri atau mikroorganisme lainnya 2. Tuliskan keuntungan dari kultur sel hewan 3. Tuliskan Batasan kultur sel hewan 4. berikan gambaran singkat tentang penerapan kultur sel hewan di bidang kesehatan 5. bagaimana sebuah sel hewan dapat dimodifikasi untuk mendapatkan produk yang lebih untuk memenuhi permintaan di sektor kesehatan 6. Siapakah bapak dari kultur sel hewan? 7. Siapakah pengembang antibody monoclonal ? 8. Siapakah penemu Abyzme?