P. 1
03. Analisis Tingkat Kesejahteraan Rumah Tangga Petani Yang Menerapkan Agroekologi

03. Analisis Tingkat Kesejahteraan Rumah Tangga Petani Yang Menerapkan Agroekologi

|Views: 84|Likes:
Dipublikasikan oleh Sangkala Peace
ewfer
ewfer

More info:

Published by: Sangkala Peace on Apr 21, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/07/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1.1 Latar Belakang
  • 1.4 Manfaat Penelitian
  • BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
  • 4.1 Letak dan Lokasi
  • 4.3 Tanah dan Geologi
  • 4.7.1 Umur
  • 4.7.2 Pendidikan
  • 4.7.3 Pengalaman Bertani
  • BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
  • 5.1 Penerapan Agroekologi di Cidokom
  • 5.1.1 Perawatan Tanah
  • 5.1.2 Penangkaran benih
  • 5.1.3 Pengendalian Hama
  • 5.1.4 Pengaturan Air
  • 5.1.5 Keberlanjutan Agroekologi di desa Cidokom
  • 5.2.1 Pendapatan Rumah Tangga Petani
  • 5.2.3 Keadaan Tempat Tinggal
  • Tabel 11. Keadaan Tempat Tinggal Petani di desa Cidokom, 2011
  • 5.2.4 Fasilitas Tempat Tinggal
  • Tabel 12. Fasilitas Tempat Tinggal di desa Cidokom, 2011
  • 5.2.5 Kesehatan Anggota Keluarga
  • Tabel 13. Kesehatan Anggota Keluarga Petani di desa Cidokom, 2011
  • 5.2.6 Kemudahan Mendapatkan Pelayanan Kesehatan
  • 5.2.8 Kemudahan Mendapatkan Fasilitas Transportasi
  • 5.3 Hasil Uji Kualitas Data
  • 5.3.1 Uji Validitas
  • 5.3.2 Uji Reliabilitas
  • 5.4 Hasil Uji Asumsi Klasik
  • 5.4.1 Hasil Uji Normalitas
  • 5.4.2 Hasil Uji Multikolinearitas
  • 5.5 Hasil Uji Hipotesis
  • 5.5.1 Uji Koefisien Determinasi
  • Tabel 21. Hasil Uji Koefisien Determinasi
  • 5.6 Hasil Uji Elastisitas
  • BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
  • 6.1 Kesimpulan
  • 6.2 Saran

ANALI SI S TI NGKAT KESEJ AHTERAAN RUMAH TANGGA PETANI

YANG MENERAPKAN AGROEKOLOGI DI DESA CI DOKOM,
KECAMATAN RUMPI N, KABUPATEN BOGOR, J AWA BARAT



Febinanto Satrio Anggoro















PROGRAM STUDI AGRI BI SNI S
FAKULTAS SAI NS DAN TEKNOLOGI
UNI VERSI TAS I SLAM NEGERI
SYARI F HI DAYATULLAH
J AKARTA
2011 M / 1432 H
ANALI SI S TI NGKAT KESEJ AHTERAAN RUMAH TANGGA
PETANI YANG MENERAPKAN AGROEKOLOGI DI DESA CI DOKOM,
KECAMATAN RUMPI N, KABUPATEN BOGOR, J AWA BARAT



Febinanto Satrio Anggoro
105092002944







Skripsi


Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada
Program Studi Agribisnis

















PROGRAM STUDI AGRIBI SNI S
FAKULTAS SAUNS DAN TEKNOLOGI
UNI VERSI TAS ISLAM NEGERI
SYARI F HI DAYATULLAH
J AKARTA
2011 M/ 1432 H
PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR-
BENAR HASIL KARYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIAJUKAN
SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA PADA PERGURUAN TINGGI ATAU
LEMBAGA LAIN.



FEBINANTO SATRIO ANGGORO
PENGESAHAN UJ IAN
Skripsi yang berjudul “Analisis Tingkat Kesejahteraan Rumah Tangga Petani
yang Menerapkan Agroekologi di Desa Cidokom, Kecamatan Rumpin,
Kabupaten Bogor, J awa barat”, yang ditulis oleh Febinanto Satrio Anggoro
NIM 105092002944 telah diuji dan dinyatakan lulus dalam Sidang Munaqosyah
Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta pada hari Kamis Tanggal 28 Juli 2011. Skripsi ini telah diterima sebagai
salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Program Studi
Agribisnis.

Menyetujui,

Penguji I Penguji II




Dr. Ujang Maman, MSi Drs. Acep Muhib, MMA



Pembimbing I Pembimbing II




Dr. Edmon Daris, MS I r. Siti Rochaeni, M.Si


Mengetahui,

Ketua
Program Studi Agribisnis




Drs. Acep Muhib, MMA
NIP. 19690605 200112 1 001



DAFTAR RI WAYAT HI DUP

Data Personal

Nama : Febinanto Satrio Anggoro
J enis kelamin : Laki-laki
Tempat/tanggal lahir : Temanggung, 17 Februari 1987
Kewarganegaraan : Indonesia
Agama : Islam
Alamat : Kampung Lio RT 06/19 no.80 kelurahan Depok, kecamatan
Pancoran Mas, kota Depok, J awa barat 16431
Nomor kontak : 0856 97 0856 17 / (021) 91262748
Email : temsatrioqu@yahoo.co.id / efsanggoro@ymail.com
Hobi : Membaca, Petualangan Alam Bebas, Organisasi,
Olahraga

Latar Belakang Pendidikan

1993 – 1999 : SD Negeri Anyelir 2 Depok
1999 – 2002 : SLTP Negeri 5 Depok
2002 – 2005 : SMA Sejahtera 1 Depok
2005 – 2011 : Program Studi Agribisnis, Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian,
Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah, Jakarta


Pengalaman Organisasi

- Staf Bidang Advokasi Kebijakan Publik, Ikatan Senat Mahasiswa Pertanian Indonesia periode
2006-2009
- Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan Agribisnis Fakultas Sains dan Teknologi, UIN
J akarta periode 2007-2008.
- Ketua Umum Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kelompok Mahasiswa Pecinta Lingkungan
Hidup dan Kemanusiaan RANITA UIN JAKARTA periode 2009-2010.
- Staf bidang Advokasi & Analisa Kebijakan Publik Dewan Pengurus Pusat Pemuda Tani
Indonesia periode 2010-2014

Kepanitian yang pernah diikuti :
- Ketua Panitia Training Organization Platform BEM J urusan Agribisnis UIN J akarta, 2006.
- Ketua Panitia Orasi Lingkungan “Selamatkan Indonesia!” bersama Prof. Dr. Amien Rais,
Kelompok Mahasiswa Pecinta Lingkungan Hidup dan Kemanusiaan RANITA UIN
J AKARTA, 2008
- Koordinator Bazar dan Pameran Konsolidasi Nasional WALHI tahun 2010
- Relawan Sahabat Merah Putih pada Bencana Alam gunung Merapi di Yogyakarta dan
Boyolali tahun 2010
- Program “Pemanfaatan Biogas sebagai Bahan Bakar Kompor” pada Kuliah Kerja Nyata di
kecamatan Ciwidey Bandung tahun 2008


Pelatihan yang pernah diikuti

- Magang pada Pusat Pendidikan dan Pelatihan Serikat Petani Indonesia, Bogor tahun 2008.
- Pelatihan Desa Mitra Nasional “Dari Desa Membangun Bangsa” di Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah, J akarta tahun 2009.
- Pelatihan Advokasi Lingkungan Hidup Mahasiswa Pecinta Alam se-J awa, WALHI 2010.
- Pelatihan Manajemen Bencana Ikatan Dokter Indonesia di Bontang Kalimantan timur, 2008
- Training ESQ di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2008
- Workshop Wirausaha Muda Mandiri, Bank Mandiri tahun 2009
- Pelatihan Konservasi Sumber Daya Alam Gladian Nasional Pecinta Alam Indonesia, Mataram
tahun 2009.



Febinanto Satrio Anggoro

iv

RI NGKASAN
Febinanto Satrio Anggoro, Penerapan Agroekologi dalam Mensejahterakan
Rumah Tangga Petani (Studi Kasus: Desa Cidokom, Kecamatan Rumpin,
Kabupaten Bogor, Jawa barat) (Di bawah bimbingan Edmon Daris dan Siti
Rochaeni)
Agroekologi merupakan penerapan konsep dan prinsip ekologi dalam
mendesain dan mengelola agroekosistem yang berkelanjutan. Gagasan tentang
agroekologi adalah melampaui penggunaan praktik alternatif dan untuk
mengembangkan agroekosistem dengan ketergantungan minimal pada input
agrokimia yang tinggi dan energi, yang menekankan sistem pertanian yang
kompleks dimana interaksi ekologi dan kesinergisan antara komponen biologis
menyediakan mekanisme untuk sistem kesuburan tanah, produktifitas dan
perlindungan tanaman. Penerapan konsep agroekologi di Indonesia sebenarnya
telah dikenal secara turun-temurun sebagai warisan dari nenek moyang petani
dahulu. Namun seiring perkembangan jaman maka budaya pertanian alamiah
tersebut semakin terpinggirkan oleh sistem yang dijalankan pada era
pembangunan pertanian tahun 1970-1980. Sekarang pola budaya organik atau
agroekologi mulai dikembangkan oleh kelompok-kelompok petani, seperti pada
kelompok tani di desa Cidokom kecamatan Rumpin kabupaten Bogor. Kelompok
tani di desa Cidokom ini mengembangkan pertanian yang ramah dengan
lingkungan yaitu sistem agroekologi. Penelitian tentang pertanian agroekologi di
desa Cidokom ini dipilih karena agroekologi yang dikembangkan adalah berbasis
keluarga petani yang memproduksi tanaman pangan dengan memanfaatkan
sumber daya lokal. Model pertanian berbasis keluarga ini merupakan konsep
ekonomi rumah tangga yang dapat diukur tingkat kesejahteraannya.
Tujuan penelitian ini adalah: (1) Mengetahui bagaimana penerapan
pertanian berbasis agroekologi di desa Cidokom (2) Mengetahui tingkat
kesejahteraan rumah tangga petani di desa Cidokom kecamatan Rumpin
kabupaten Bogor (3) Mengetahui seberapa besar pengaruh agroekologi terhadap
tingkat kesejahteraan rumah tangga petani.
Penelitian ini dilaksanakan di desa Cidokom, kecamatan Rumpin,
kabupaten Bogor, data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer
dan sekunder. Untuk mengetahui tingkat kesejahteraan rumah tangga petani
digunakan indikator kesejahteraan menurut kriteria BPS dalam SUSENAS 2005,
sedangkan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh Pendapatan petani,
Pengeluaran petani, Keadaan Tempat Tinggal petani, Fasilitas Tempat Tinggal
petani, Kesehatan Keluarga petani, Kemudahan Petani Mendapat Pelayanan
Kesehatan, Kemudahan Petani Menyekolahkan Anak, dan Kemudahan Petani
Mendapatkan Fasilitas Transportasi terhadap Kesejahteraan Rumah Tangga
digunakan uji Regresi Linear Berganda. Untuk mengetahui derajat kepekaan
variabel dependen terhadap perubahan variabel independen digunakan Elastisitas.
Berdasarkan pengamatan dan wawancara dengan responden, kegiatan usahatani
yang dilakukan oleh petani di desa Cidokom menggunakan model agroekologi,
yaitu penerapan pertanian selaras dengan alam yang mengarah pada organik
dengan mengintegrasikan sumber daya dan pengetahuan lokal untuk mendapatkan
v

hasil yang usahatani yang baik secara sosial, ekonomi dan lingkungan.
Berdasarkan delapan indikator BPS 2005, rumah tangga petani yang termasuk
kategori kesejahteraan tinggi sebanyak 22 rumah tangga (73,33%) dan sisanya
sebanyak 8 rumah tangga (26,67%) termasuk kategori kesejahteraan sedang.
Berdasarkan kriteria garis kemiskinan Sajogyo, sebagian besar rumah tangga
petani (66,67%) termasuk kategori tidak miskin. Sedangkan berdasarkan kriteria
garis kemiskinan dari Direktorat Tata Guna Tanah, sebagian besar rumah tangga
petani (66,67%) termasuk kategori tidak miskin. Berdasarkan dari hasil
perhitungan Regresi berganda didapat nilai Y =-6.870 +1.568(X1) + 0.536(X2)
+0.316(X3) +0.095(X4) +1.336(X5) +0.164(X6) +0.808(X7) +0.219(X8),
sedangkan hasil uji t terlihat bahwa bila ada kenaikan pendapatan sebesar 1 satuan
maka akan mempengaruhi kenaikan kesejahteraan rumah tangga sebesar 1,568
satuan dan bila ada kenaikan kesehatan keluarga sebesar 1 satuan maka akan
mempengaruhi kenaikan tingkat kesejahteraan rumah tangga sebesar 1,336 satuan.
Selain itu, keenam variabel bebas lainnya bila ada kenaikan 1 satuan berpengaruh
terhadap tingkat kesejahteraan rumah tangga dibawah 1 satuan. Untuk pengujian
secara simultan (uji F) diperoleh nilai F hitung adalah 9.687 dengan tingkat
probabilitas (0,000) jauh lebih kecil dari 0,01 dan F tabel (3,51) dengan derajat
kebebasan 21, maka dapat disimpulkan bahwa F hitung >F tabel ini berarti
signifikan. Hal ini berarti Ho ditolak dan Ha diterima, sehingga dapat disimpulkan
bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara pendapatan petani, pengeluaran
petani, keadaan tempat tinggal, fasilitas tempat tinggal, kesehatan anggota
keluarga, kemudahan pelayanan kesehatan, kemudahan menyekolahkan anak dan
kemudahan mendapat fasilitas transportasi secara bersamaan terhadap tingkat
kesejahteraan rumah tangga petani. Hasil penghitungan elastisitas, variabel (X)
yaitu pendapatan, pengeluaran, keadaan tempat tinggal, fasilitas tempat tinggal,
kesehatan anggota keluarga, pelayanan kesehatan, pelayanan pendidikan , dan
transportasi dinyatakan bersifat inelastis (<1). Dengan demikian semua kebijakan
terhadap variabel bebas tersebut tidak responsif dalam meningkatkan
kesejahteraan (Y).
Sebaiknya petani di desa Cidokom tetap mempertahankan kegiatan
usahatani dengan model agroekologi yang dilakukan, sehingga dapat memberikan
hasil yang maksimal bagi kegiatan usahatani dan keseimbangan alam di desa
Cidokom. Perlu adanya peningkatan sumberdaya manusia bagi anggota rumah
tangga petani melalui pendidikan formal maupun informal untuk menguasai
pengetahuan usahatani secara agroekologi. Pemerintah sebaiknya memfasilitasi
sarana parameter kesejahteraan secara bersama dalam usaha meningkatkan
kesejahteraan rumah tangga petani di desa Cidokom.



vi

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan hidayah-Nya yang telah memberikan kemudahan
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik dalam rangka
memenuhi salah satu syarat untuk meraih gelar sarjana pada Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada program studi Agribisnis fakultas Sains
dan Teknologi.
Dalam penyusunan skripsi ini penulis banyak menemukan kesulitan,
namun dengan bantuan dari berbagai pihak, kesulitan tersebut dapat diatasi
sehingga skripsi ini dapat diselesaikan walaupun masih jauh dari kesempurnaan.
Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terimakasih yang
setulus-tulusnya kepada semua pihak yang telah dalam proses penyusunan skripsi
ini dan juga telah membimbing penulis selama menempuh pendidikan di
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Sains dan
Teknologi, terutama kepada :
1. Bapak Cipto R. Budi Utomo, SH dan Ibu Nuruniah selaku orang tua
penulis yang selalu berusaha memberikan kehidupan yang terbaik bagi
anak-anaknya, terima kasih atas doa, cinta, kasih sayang, pengertiannya,
dukungannya, dan kesabarannya selama saya menyelesaikan kuliah dan
skripsi ini. Tanpa kalian saya tidak akan bias apa-apa. Semoga Allah SWT
memberikan balasan yang lebih baik lagi dan memberikan kesehatan
jasmani dan rohani untuk tetap istiqomah dijalan-Nya.
vii

2. Bapak Dr. Syopiansyah Jaya Putra, M. Sis, selaku Dekan Fakultas Sains
dan Teknologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
3. Bapak Dr. Edmon Daris, MS selaku dosen pembimbing I dan Ibu Ir. Siti
Rochaeni, M.Si selaku dosen pembimbing II, terimakasih yang sebesar-
besarnya atas bimbingan, pengarahan dan dorongannya yang penuh
kesabaran serta keikhlasannya memberikan ilmu yang sangat berharga dan
pengalaman yang tidak terlupakan dihati penulis.
4. Bapak Dr. Ujang Maman selaku dosen penguji 1 dan Drs. Acep Muhib
selaku dosen penguji II yang selalu member arahan dan masukan kepada
penulis dalam menyelesaikan skripsi.
5. Bapak Daman selaku ketua kelompok tani di Cidokom beserta anggota
yang telah membantu mengarahkan penelitian di lapangan.
6. Mas Titis selaku ketua Pusdiklat SPI Bogor, Mas Tejo Pramono selaku
pengurus La Via Campessina, dan Ayu IPB atas diskusi dan motivasinya
sehingga penulis lebih yakin mengangkat tema agroekologi.
7. Buat kakak-kakak dan saudara-saudaraku yang tidak henti-hentinya
memberikan support baik moril maupun materil kepada penulis, terima
kasih buat Mbak Nia, Mas Supri, Mas Dedi, Mbak Pipin, Pak de Santoso,
Bude Tur, dan Adik Galang. Semoga Allah selalu memberikan nikmat dan
kasih sayangnya untuk kalian semua.
8. Untuk seluruh keluarga besar KMPLHK RANITA UIN J AKARTA dari
perintis, senioren, pengurus, dan anggota muda. Terima kasih atas
pendidikan, pandangan hidup, persaudaraan, pengabdian dan semangat
viii

hidup yang diajarkan. Ranita telah mengubah hidup saya menjadi lebih
bermakna…Ranita Inspirasiku…Jaya RANITA !!!
9. Terima kasih untuk para pengurus BEMJ Agribisnis UIN Jakarta dan
Ikatan Senat Mahasiswa Pertanian Indonesia (ISMPI) atas pengalaman
yang diberikan, dukungan dan doanya kepada penulis (kapan2 kita aksi
bareng lagi..Hidup Mahasiswa, Hidup Petani !)
10. Buat kakak-kakak dan adik-adik kelas di Agribisnis, Fadlika, kak Dewi,
Bang Ano, Mughni, Nia, Ajeng, Gina, Heru, Angger, Ulfa, Fahmi, Kiki,
Tatag dan semua yang belum disebut, makasih ya..tetap semangat !
11. Buat semua teman-teman Agribisnis 2005 (Tama, agung, icen, ipong,
risky, buyung, imen, bojes, uin, dimas, yarfi, yudha, hasyim, rafki, doni,
aris, yanto, jeje, mita, ayu, alief, ipeh, dita, mega, pury, restu, fikoh, eci,
eby, rusman, ari), makasih buat kebersamaan menuntut ilmu dikala kuliah.
Momen-momen kuliah gak akan terlupakan sampai kapanpun, sukses
untuk kita semua.
12. Buat kawan-kawan jaringan di WALHI Nasional, Greenpeace Indonesia,
Serikat Petani Indonesia (SPI), JATAM, Pemuda Tani dan La Via
Campessina, terima kasih atas kesempatan pengalaman untuk belajar dan
berjuang bersama demi keadilan petani, lingkungan hidup dan
kemanusiaan.
13. Buat kawan-kawan MAPALA dan Relawan se-Indonesia, terima kasih
atas pengalaman berpetualang di alam bebas dan turun di lokasi bencana
ix

bersama. Semoga tetap memegang teguh komitmen untuk melestarikan
alam dan lingkungan.
14. Buat penghuni WISMA RANITA (Lowa, Labing, Kecir, Sokri, Gopung,
Balat, Manglu, Jantuk, Geon, Goling, Kempleng, Cipuy dan Buntel),
makasih atas kebersamaan saat suka maupun duka, kenyang maupun lapar
selama ini. Di tempat inilah inspirasi dan mimpi terus terbangun.
Akhirnya penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari sempurna. Oleh
karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun
untuk pencapaian yang lebih baik lagi.


Ciputat, Agustus 2011


Febinanto Satrio Anggoro

x

DAFTAR I SI

DAFTAR I SI ................................................................................................................. x
DAFTAR TABEL ......................................................................................................... xiii
DAFTAR GAMBAR .................................................................................................... xiv
DAFTAR LAMPI RAN ................................................................................................ xv
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang .................................................................................. 1
1.2 Permasalahan Penelitian .................................................................... 6
1.3 Tujuan Penelitian ............................................................................... 6
1.4 Manfaat Penelitian ............................................................................. 7
1.5 Ruang Lingkup .................................................................................. 7
BAB I I TI NJ AUAN PUSTAKA ................................................................................ 9
2.1 Landasan Teori .................................................................................. 9
2.1.1 Pengertian dan Penerapan Agroekologi ................................... 9
2.1.2 Kebijakan Revolusi Hijau........................................................ 12
2.1.3 Prinsip-Prinsip Dasar Agroekologi .......................................... 13
2.1.4 Perbandingan Agroekologi dengan Pertanian Konvensional .... 14
2.1.5 Tingkat Kesejahteraan ............................................................ 16
2.1.6 Penentuan Indikator Kesejahteraan ......................................... 18
2.1.7 Karakteristik Rumah Tangga Petani ........................................ 20
2.1.8 Konsep Usahatani Keluarga .................................................... 21
2.1.9 Definisi dan Faktor-faktor Penyebab kemiskinan .................... 22
2.1.10 Analisis Regresi Linear Berganda ........................................... 23
2.1.11 Elastisitas ................................................................................ 24
2.2 Hasil Penelitian Terdahulu ................................................................. 24
2.3 Kerangka Pemikiran .......................................................................... 25
2.4 Batasan dan Definisi Operasional ...................................................... 27

xi

BAB I I I METODE PENELITI AN ............................................................................ 31
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian.............................................................. 31
3.2 Data dan Sumber Data ....................................................................... 31
3.3 Metode Pengumpulan Data ................................................................ 32
3.3.1 Pengambilan Sampel ................................................................. 32
3.3.2 Bentuk Penelitian ...................................................................... 33

3.4 Metode Pengolahan dan Analisis Data ............................................... 33
3.4.1 Analisis Tingkat Kesejahteraan ................................................. 34
3.4.2 Analisis Pendapatan Rumah Tangga.......................................... 35
3.4.3 Analisis Pengeluaran Rumah Tangga ........................................ 35
3.4.4 Uji Kualitas Data ...................................................................... 36
3.4.5 Uji Asumsi Klasik ..................................................................... 37
3.4.6 Uji Hipotesis ............................................................................. 38
3.4.7 Uji Elastisitas ............................................................................ 42

BAB I V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELI TI AN ...................................... 44
4.1 Letak dan Lokasi ............................................................................... 44
4.2 Iklim dan Hidrologi ........................................................................... 44
4.3 Tanah dan Geologi ............................................................................ 45
4.4 Topografi........................................................................................... 45
4.5 J umlah Penduduk dan Tingkat Pendidikan ......................................... 45
4.6 Sarana dan Prasarana ......................................................................... 46
4.7 Karakteristik Responden .................................................................... 47
4.7.1 Umur ........................................................................................ 47
4.7.2 Pendidikan ................................................................................ 48
4.7.3 Pengalaman Bertani .................................................................. 49
4.7.4 Status Kepemilikan Lahan ......................................................... 50
4.7.5 Rentang Luas Lahan.................................................................. 51

BAB V HASI L DAN PEMBAHASAN……………………………………………52
5.1 Penerapan Agroekologi di Cidokom......................................................52
5.1.1 Perawatan Tanah………………………………………………...53
5.1.2 Penangkaran Benih…………………………………………........54
xii

5.1.3 Pengendalian Hama……………………………………………...55
5.1.4 Pengaturan air…………………………………………………....56
5.1.5 Keberlanjutan Agroekologi di desa Cidokom…………………...56
5.2 Tingkat Kesejahteraan Rumah Tangga Menurut BPS 2005 ................ 57
5.2.1 Pendapatan Rumah Tangga Petani............................................. 57
5.2.2 Pengeluaran Rumah Tangga Petani ........................................... 61
5.2.3 Keadaan Tempat Tinggal .......................................................... 63
5.2.4 Fasilitas Tempat Tinggal ........................................................... 65
5.2.5 Kesehatan Anggota Keluarga .................................................... 68
5.2.6 Kemudahan Mendapat Pelayanan Kesehatan ............................. 69
5.2.7 Kemudahan Menyekolahkan Anak ............................................ 71
5.2.8 Kemudahan Mendapat Fasilitas Transportasi ............................ 73
5.2.9 Tingkat Kesejahteraan Menurut BPS 2005 ................................ 75
5.3 Hasil Uji Kualitas Data ....................................................................... 76
5.3.1 Uji Validitas .............................................................................. 76
5.3.2 Uji Reliabilitas .......................................................................... 77
5.4 Hasil Uji Asumsi Klasik ..................................................................... 78
5.4.1 Hasil Uji Normalitas ................................................................. 78
5.4.2 Hasil Uji Multikolinearitas ........................................................ 79
5.4.3 Hasil Uji Hesteroskedastisitas ................................................... 80
5.5 Hasil Uji Hipotesis ............................................................................. 81
5.5.1 Uji Koefisien Determinasi ......................................................... 81
5.5.2 Uji Statistik t ............................................................................. 82
5.5.3 Uji Statistik F ............................................................................ 92
5.6 Hasil Uji Elastisitas ............................................................................ 93

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN .................................................................... 95
6.1 Kesimpulan ....................................................................................... 95
6.2 Saran ................................................................................................. 96

DAFTAR PUSTAKA
LAMPI RAN


xiii

DAFTAR TABEL
1. Jumlah dan Presentase Penduduk Miskin Menurut Daerah ................................ 4
2. Karakteristik Pertanian Konvensional dengan Agroekologi .............................. 15
3. J umlah dan Persentase Responden Berdasarkan Umur ..................................... 48
4. J umlah dan Persentase Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan .............. 49
5. J umlah dan Persentase responden Berdasarkan Pengalaman Bertani ................. 49
6. Status Kepemilikan lahan ................................................................................. 50
7. Luas Lahan yang dimiliki Responden ............................................................... 51
8. Nilai Sembilan Bahan Pokok di Desa Cidokom ................................................ 58
9. Tingkat Pendapatan Rumah Tangga Petani ....................................................... 60
10. Tingkat Pengeluaran Rumah Tangga Petani ..................................................... 62
11. Keadaan Tempat Tinggal Petani di desa Cidokom ............................................ 64
12. Fasilitas Tempat Tinggal di desa Cidokom ...................................................... 67
13. Kesehatan Anggota Keluarga Petani di desa Cidokom ...................................... 69
14. Kemudahan Mendapatkan Pelayanan Kesehatan .............................................. 71
15. Kemudahan Menyekolahkan Anak ................................................................... 73
16. Kemudahan Mendapatkan Fasilitas Transportasi .............................................. 74
17. Tingkat Kesejahteraan Rumah Tangga Petani ................................................... 76
18. Hasil Uji Validitas ............................................................................................ 77
19. Hasil Uji Reliabilitas ........................................................................................ 78
20. Hasil Uji Multikolinearitas ............................................................................... 80
21. Hasil Uji Koefisien Determinasi ....................................................................... 81
22. Hasil Uji Statistik t ........................................................................................... 83
23. Hasil Uji Statistik F .......................................................................................... 93
24. Hasil Uji Elastisitas .......................................................................................... 94


xiv

DAFTAR GAMBAR

1. Alur Pelaksanaan Penelitian ............................................................................... 27
2. Hasil Uji Normalitas .......................................................................................... 79
3. Grafik Scatterplot ............................................................................................... 81























xv

DAFTAR LAMPI RAN

1. Kuesioner Penelitian ...................................................................................... 99
2. Tingkat Pendapatan Rumah Tangga Petani ..................................................... 104
3. Tingkat Pengeluaran Rumah Tangga Petani ................................................... 105
4. Skor Keadaan Tempat Tinggal Rumah Tangga Petani .................................... 106
5. Skor Fasilitas Tempat Tinggal Rumah Tangga Petani ..................................... 107
6. Skor Kemudahan Rumah tangga mendapatkan Pelayanan Kesehatan ............. 108
7. Skor Kemudahan Rumah tangga Memasukkan anak ke Jenjang Pendidikan ... 109
8. Skor Kemudahan Rumah tangga Petani Mendapatkan Fasilitas Transportasi .. 110
9. Indikator Tingkat Kesejahteraan Rumah tangga Petani ................................... 111
10. Tabel Data Hasil Skoring ............................................................................... 112
11. Perhitungan Elastisitas ................................................................................... 113
12. Hasil Perhitungan SPSS ................................................................................. 114




BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Setelah dunia pertanian internasional mencanangkan revolusi hijau sebagai
solusi alternatif peningkatan produksi pertanian dan teknologi pertanian, maka
hampir semua sistem pertanian di berbagai negara mengadopsi revolusi hijau
sebagai alternatif untuk upaya mensejahterakan petani dan peningkatan produksi
pertaniannya. Revolusi hijau yang merupakan sistem pertanian menggunakan
input berupa pestisida, pupuk, dan obat-obatan berbahan pelindung kimia menjadi
pilihan utama pemegang kebijakan negara untuk meninggalkan pertanian organik
dengan alasan percepatan produktifitas di sektor pertanian.
Selintas revolusi hijau memang memajukan pertanian. Namun jika diteliti
lebih jauh justru membuat petani semakin terdesak ke pojok marjinal, sehingga
“diperbudak” oleh berbagai rekayasa teknologi negara-negara maju yang mahal
harganya. Maka tidak sedikit negara-negara berkembang yang semakin terpuruk
(Noertjahjo, 2005:23).
Namun seiring kemajuan yang diperlihatkan oleh pertanian konvensional
telah tampak dampak-dampak negatif yang ditimbulkan akibat penerapan
pertanian konvensional dengan input berbahan kimia yang tinggi. Sehingga
menyebabkan diantaranya penurunan unsur hara di dalam tanah, pencemaran air,
bahaya saluran pernapasan bagi petani dan kandungan residu kimia yang
dikonsumsi oleh konsumen. Berbagai permasalahan kesehatan dan degradasi
lingkungan menyebabkan citra pertanian konvensional menurun, sehingga
masyarakat dunia mulai sadar akan konsep pertanian alternatif yaitu yang


2
berwawasan lingkungan dan kesehatan. Konsep tersebut dikenal dengan
agroekologi atau pertanian organik.
Gliessman dalam Shrestha (2004:3) mendefinisikan agroekologi sebagai
penerapan konsep dan prinsip ekologi dalam mendesain dan mengelola
agroekosistem yang berkelanjutan. Gagasan tentang agroekologi adalah
melampaui penggunaan praktik alternatif dan untuk mengembangkan
agroekosistem dengan ketergantungan minimal pada input agrokimia yang tinggi
dan energi, yang menekankan sistem pertanian yang kompleks dimana interaksi
ekologi dan kesinergisan antara komponen biologis menyediakan mekanisme
untuk sistem kesuburan tanah, produktifitas dan perlindungan tanaman.
Pembangunan pertanian di Indonesia akan diarahkan pada pertanian
organik seperti yang dicanangkan pemerintah dalam go organic 2010. Gerakan-
gerakan pertanian berkelanjutan atau dengan istilah lainnya seperti pertanian
terpadu, agroekologi, dan lainnya telah mulai digerakkan oleh kelompok-
kolompok tani di daerah.
Pembangunan pertanian berkelanjutan pada dasarnya merupakan salah
satu penjabaran yang lebih spesifik dari konsep pembangunan berkelanjutan.
Wilayah Indonesia yang bercirikan kepulauan dengan iklim muson tropis secara
mendasar memberikan kekayaan alam biomassa yang luar biasa, karena
melimpahnya jumlah hujan dan radiasi matahari menjadi sumber energi untuk
proses pembentukan tanah yang subur, dan tumbuhnya berbagai macam
keanekaragaman biologis, baik flora dan fauna, serta perikanan darat dan laut.
Dalam konteks inilah maka pembangunan pertanian berkelanjutan yang berbasis


3
agroekologi perlu menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan ekonomi-
politik (Sahid, 2006:418).
Di Indonesia, usaha pertanian sangat didominasi oleh usahatani rumah
tangga. Boleh dikatakan, seluruh bahan pangan domestik dihasilkan oleh
usahatani rumah tangga. Andil perusahaan pertanian korporasi yang cukup
signifikan hanyalah untuk beberapa komoditas perkebunan dan peternakan seperti
kelapa sawit, teh dan ayam ras. Oleh karena itu, kinerja sektor pertanian secara
umum dan khususnya keberhasilan pembangunan pertanian dalam mewujudkan
tujuan mantapnya sistem ketahanan pangan nasional dan meningkatnya
pendapatan petani sangat ditentukan oleh kinerja usahatani rumah tangga.
Rumah tangga petani masih berada pada tingkat kemiskinan, menurut
angka kemiskinan dari total penduduk miskin 36 juta jiwa pada tahun 2004,
diantaranya sekitar 21 juta jiwa bekerja di sektor pertanian dan pedesaan
(Sugiarto, 2008:1). Hal ini menjadi pernyataan bahwa petani belum mencapai
tingkat kesejahteraan. Sulit sebenarnya mendefinisikan dengan tepat apa itu yang
dimaksud kesejahteraan sosial. Konsep ini memiliki aspek subyektif juga
obyektif, ia juga dapat didefinisikan baik dengan istilah kualitatif deskriptif atau
menggunakan ukuran-ukuran empiris (Midgley, 2005:19).
Badan Pusat Statistik (BPS, 2011) menyebutkan, jumlah penduduk miskin
di Indonesia pada Maret 2011 sebesar 30,02 juta orang atau 12,49%.
Dibandingkan dengan jumlah penduduk miskin pada Maret 2010 yang berjumlah
31,02 juta orang (13,33%) jumlah penduduk miskin berkurang 1,00 juta orang.
Jumlah penduduk miskin di daerah perdesaan turun lebih banyak dibanding


4
penurunan penduduk miskin di daerah perkotaan. Selama periode Maret 2010-
Maret 2011, penduduk miskin di daerah perdesaan berkurang 0.95 juta orang,
sementara di perkotaan berkurang sekitar 0,05 juta orang. Berdasarkan ukuran
kemiskinan itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah orang miskin di
Indonesia berdasarkan data dari Bank Dunia dengan ukuran kemiskinan
pengeluaran US$ 2 per hari, jumlah orang miskin di Indonesia mencapai 59
persen atau setengah dari penduduk Indonesia.
Tabel 1. J umlah dan Presentase Penduduk Miskin I ndonesia Menurut
Daerah, Maret 2010-Maret 2011
Daerah/Tahun J umlah
Penduduk
Miskin (J uta
Orang)
Persentase
Penduduk
Miskin
Perkotaan
Maret 2010 11,10 9,87
Maret 2011 11,05 9,23
Perdesaan
Maret 2010 19,93 16,56
Maret 2011 18,97 15,72
Kota+Desa
Maret 2010 31,02 13,33
Maret 2011 30,02 12,49
Sumber: Diolah dari data Susenas Mare t 2010 dan Maret 2011
Semakin menurunnya jumlah penduduk miskin tidak berarti berpengaruh
secara signifikan pada sektor pertanian, pasalnya petani masih menjadi mayoritas
penduduk miskin di Indonesia. Permasalahan yang kompleks tentang petani di
pedesaan masih seputar lahan, permodalan, pemasaran dan ketergantungan
masukan dari luar seperti pupuk, bibit dan obat, disamping permasalahan iklim
dan teknologi. Hal ini diperlukan pengkajian lebih mendalam tentang fenomena
klasik yang terjadi. Mayoritas petani dalam sistem pertaniannya masih


5
menggunakan pertanian konvensional yang mengadopsi teknologi revolusi hijau.
Dimana ketergantungan petani akan input kimia sangat tinggi. Selain berdampak
pada perekonomian, sistem tersebut akan menggerus kualitas lingkungan tanah,
air dan udara.
Pendekatan sistem pertanian berbasis agroekologi mencoba menjadi salah
satu solusi dari beberapa solusi tentang permasalahan kemiskinan petani. Konsep
pertanian yang mengintegrasikan aspek sosial, lingkungan, budaya dan ekonomi
ini menawarkan terjadinya perubahan budaya pertanian kembali ke pertanian yang
selaras dengan alam. Dengan pengembangan agroekologi sebagai pendekatannya,
peningkatan produktifitas petani secara kualitas maupun kuantitas semakin
mendekati tingkat kesejahteraan rumah tangga petani.
Model pertanian agroekologi di dunia kini berkembang dengan pesat,
meski nyaris tanpa dukungan dari pemerintah. Humberto Rios seorang intelektual
asal Kuba dapat dijadikan sebagai spirit kebangkitan petani kecil dengan
agroekologinya. Rios sebagai peraih Hadiah Lingkungan Goldman telah
membuktikan bahwa pertanian ekologis mampu meningkatkan produksi panen
mulai dua kali hingga tiga kali lipat (Sjaf, 2011:2). Artinya bila produktivitas
panen meningkat maka akan berpengaruh pula pada kesejahteraan petaninya
karena hasil yang didapat petani bertambah. Kesejahteraan petani dapat dilihat
dari berbagai aspek seperti seberapa besar pendapatan yang diperoleh dari hasil
pertaniannya dan pengeluaran yang dikeluarkan oleh petani. Kaitan antara
penerapan agroekologi dengan kesejahteraan terletak pada jumlah input yang


6
dikeluarkan dan hasil yang diperoleh dari pertanian agroekologi lebih
menguntungkan secara ekonomi daripada pertanian konvensional.
Penerapan konsep agroekologi di Indonesia sebenarnya telah dikenal
secara turun-temurun sebagai warisan dari nenek moyang petani dahulu. Namun
seiring perkembangan jaman maka budaya pertanian alamiah tersebut semakin
terpinggirkan oleh sistem yang dijalankan pada era pembangunan pertanian tahun
1970-1980. Sekarang pola budaya pertanian berkelanjutan atau agroekologi mulai
dikembangkan oleh kelompok-kelompok petani, seperti pada kelompok tani di
desa Cidokom kecamatan Rumpin kabupaten Bogor yang didampingi oleh Serikat
Petani Indonesia. Kelompok tani di desa Cidokom ini mengembangkan pertanian
yang ramah dengan lingkungan yaitu sistem agroekologi. Penelitian tentang
pertanian agroekologi di desa Cidokom ini dipilih karena agroekologi yang
dikembangkan adalah berbasis keluarga petani yang memproduksi tanaman
pangan dengan memanfaatkan sumber daya lokal. Sistem pertanian berbasis
keluarga ini merupakan konsep ekonomi rumah tangga yang dapat diukur tingkat
kesejahteraannya.
Permasalahan yang ingin dilihat adalah bahwa petani yang
mengembangkan konsep agroekologi dan dikelola dengan skala rumah tangga
tersebut, seberapa besar tingkat kesejahteraan rumah tangga mereka. Maka
penelitian ini mengangkat judul :
“ Analisis Tingkat Kesejahteraan Rumah Tangga Petani yang
Menerapkan Agroekologi di Desa Cidokom, Kecamatan Rumpin, Kabupaten
Bogor, J awa Barat.”



7
1.2 Permasalahan Penelitian
Berdasarkan uraian diatas, maka dalam penelitian ini akan memfokuskan pada
pertanyaan penelitian sebagai berikut :
1. Bagaimana penerapan agroekologi pada petani di desa Cidokom kecamatan
Rumpin kabupaten Bogor?
2. Bagaimana tingkat kesejahteraan rumah tangga petani yang menerapkan
agroekologi di desa Cidokom kecamatan Rumpin kabupaten Bogor?
3. Seberapa besar tiap-tiap indikator kesejahteraan BPS 2005 mempengaruhi
tingkat kesejahteraan rumah tangga petani?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Mengetahui bagaimana penerapan pertanian berbasis agroekologi di desa
Cidokom.
2. Mengetahui tingkat kesejahteraan rumah tangga petani di desa Cidokom
kecamatan Rumpin kabupaten Bogor.
3. Mengetahui seberapa besar tiap-tiap indikator kesejahteraan BPS 2005 dalam
mempengaruhi tingkat kesejahteraan rumah tangga petani.
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi ilmiah dan tambahan
bukti empiris dalam bidang pertanian alternatif yang dapat mensejahterakan petani
terutama yang berkaitan dengan konsep pertanian agroekologi.




8
1.5 Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian tentang agroekologi lebih difokuskan kearah sosial ekonomi
petani. Petani yang diteliti di desa Cidokom merupakan kumpulan petani yang
menerapkan agroekologi atau melakukan teknik bertani yang memanfaatkan
sumber daya lokal yang ada dan tergabung menjadi basis petani yang dibina oleh
Serikat Petani Indonesia. Penelitian dilakukan dengan menganalisis ekonomi dari
aspek kondisi rumah tangga petani. Pendapatan rumah tangga, pengeluaran rumah
tangga, kesehatan keluarga dan pendidikan dikorelasikan dengan kesejahteraan
keluarga petani. Tingkat kesejahteraan suatu rumah tangga dapat dilihat dengan
jelas melalui besarnya pendapatan yang diterima oleh rumah tangga yang
bersangkutan dan besar pengeluarannya. Pengeluaran rata-rata per kapita per
tahun adalah rata-rata biaya yang dikeluarkan rumah tangga selama setahun untuk
konsumsi semua anggota keluarga dibagi dengan banyaknya anggota rumah
tangga. Determinan utama dari tingkat kesejahteraan ekonomi penduduk adalah
daya beli. Apabila daya beli menurun maka kemampuan untuk memenuhi
berbagai kebutuhan hidup menurun sehingga tingkat kesejahteraan juga akan
menurun.
Sebagai tolok ukur tingkat kesejahteraan rumah tangga petani dihitung
dengan konsep kriteria BPS 2005 dalam SUSENAS yang telah dimodifikasi.
Perhitungan tingkat kesejahteraan berdasarkan delapan indikator yaitu
pendapatan, pengeluaran, keadaan tempat tinggal, fasilitas tempat tinggal,
kesehatan anggota keluarga, kemudahan menyekolahkan anak ke jenjang
pendidikan, kemudahan mendapatkan pelayanan kesehatan dari tenaga medis dan


9
kemudahan mendapatkan fasilitas transportasi. Setelah diketahui tingkat
kesejahteraan petani, maka akan dianalisis tentang seberapa besar delapan
indikator tersebut mempengaruhi tingkat kesejahteraan petani dengan
menggunakan alat analisis regresi linear berganda.

































10
BAB II
TI NJ AUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori
2.1.1 Pengertian dan Penerapan Agroekologi
Pertanian selaras dengan alam dan berkelanjutan saat ini sedang menjadi
kajian yang menarik bahkan telah diterapkan oleh para petani. Pasalnya, pertanian
konvensional yang menggunakan input eksternal kimia telah dirasa memberatkan
petani dari segi ekonomi maupun lingkungan. Pertanian konvensional
memunculkan isu pencemaran lingkungan yang dipengaruhi oleh usaha
peningkatan produksi pertanian secara intensif. Selain itu, kebiasaan petani
menggunakan pupuk dan pestisida kimia yang dikeluarkan oleh pabrik membuat
petani semakin ketergantungan kepada produk tersebut. Pertanian yang
berkelanjutan tersebut biasa diistilahkan dengan pertanian agroekologi.
Menurut Gliessman dalam Shrestha (2004:3) mendefinisikan
agroekologi sebagai penerapan konsep dan prinsip ekologi dalam mendesain dan
mengelola agroekosistem yang berkelanjutan. Agroekologi telah muncul sebagai
disiplin yang menyediakan prinsip-prinsip ekologi dasar untuk bagaimana belajar,
desain dan mengelola agroekosistem yang baik produktif dan konservasi sumber
daya alam, dan juga berkebudayaan, berkeadilan sosial dan ekonomis (Altieri,
1995:4). Tujuan utama dari desain agroekologi adalah untuk mengintegrasikan
komponen sehingga efisiensi biologi keseluruhan meningkat, mempertahankan
keanekaragaman hayati, produktivitas agroekosistem dan keberlanjutannya terus
terjaga.


11
Sedangkan menurut Reijntjes (1999:19) menyatakan bahwa agroekologi
merupakan studi agroekosistem yang holistik, termasuk semua elemen lingkungan
dan manusia. Fokusnya adalah pada bentuk, dinamika dan fungsi hubungan timbal
balik antar unsur-unsur tersebut serta proses dimana mereka terlibat.
Agroekosistem menurutnya merupakan kesatuan komunitas tumbuhan dan hewan
serta lingkungan kimia dan fisiknya yang telah dimodifikasi oleh manusia untuk
menghasilkan makanan, serat, bahan bakar, dan produk lainnya bagi konsumsi
dan pengolahan umat manusia.
J iwo (2009:1) mendefinisikan bahwa agroekologi merupakan gabungan
tiga kata, yaitu Agro (pertanian), Eko/Eco (lingkungan), dan Logi/logos (ilmu).
Secara sederhana, agroekologi dimaknai sebagai ilmu lingkungan pertanian.
Secara lebih luas, agroekologi dimaknai ilmu yang mempelajari hubungan anasir
(faktor) biotik dan abiotik di bidang pertanian. Pengertian faktor biotik dan abiotik
di bidang pertanian sedikit berbeda dengan pemahaman terdahulu, terutama
anggapan bahwa tanah, air dan udara yang dulu dianggap benda mati, sekarang
dipandang sebagai faktor yang ‘hidup’ karena di dalam tanah, air dan udara
berlangsung sistem kehidupan yang saling mempengaruhi. Hal ini dapat
dibuktikan dengan sifat dinamis tanah, air dan udara.
Agroekologi adalah bagian dari pertanian berkelanjutan yang
menggambarkan hubungan alam, ilmu sosial, ekologi, masyarakat, ekonomi dan
lingkungan yang sehat. Agroekologi diterapkan berdasarkan pada pengetahuan
lokal dan pengalaman dalam pemenuhan kebutuhan pangan lokal. Agroekologi
sebagai pertanian berkelanjutan mempunyai empat konsep sebagai kunci


12
keberlangsungan pertanian yaitu: produktivitas, ketahanan, keberlanjutan, dan
keadilan (PANNA, 2009:1).
Sistem pertanian agroekologi merupakan pertanian masa depan karena
dapat menjadi solusi alternatif dalam mengatasi krisis pangan. Penerapan
pertanian agroekologi masih banyak tantangan ke depan, sehingga masih banyak
petani yang menerapkan model pertanian konvensional yang hanya berorientasi
profit. Terkait hal ini, ada yang membenarkan pendapat masyarakat untuk
melakukan pertanian konvensional. Gliessman (2007:18) menyatakan bahwa
meski pertanian agroekologi dapat memberikan model dan praktik pembangunan
pertanian berkelanjutan, tapi agroekologi belum mampu memenuhi pangan global
karena awal perkembangan agroekologi hanya difokuskan pada pertanian skala
kecil. Sistem agroekologi ini sudah sesuai dan sejalan dengan kriteria
pengembangan teknologi bagi petani kecil. Kriteria tersebut adalah berbasiskan
pengetahuan lokal dan rasional; layak secara ekonomi dan dapat diakses dengan
menggunakan sumber-sumber lokal; sensitif pada lingkungan, nilai sosial dan
kebudayaan; mengurangi resiko dan bisa diadaptasi oleh petani; serta
meningkatkan secara keseluruhan produktivitas dan stabilitas pertanian (Serikat
Petani Indonesia, 2010: 2).
Penerapan pertanian secara agroekologi didapatkan dari pengetahuan
lokal yang dilakukan dengan mengintegrasikan beragam fungsi pemanfaatan
lahan (misalnya memproduksi bahan pangan, kayu dan sebagainya; mengkonversi
tanah dan air; melindungi tanaman; mempertahankan kesuburan tanah) serta
pemanfaatan bologis (ternak besar dan ternak kecil, tanaman pangan, hijauan


13
makanan ternak, padang alami, pohon, rempah-rempah, pupuk hijau dan
sebagainya), stabilitas dan produktifitas sistem usaha tani sebagai suatu
keseluruhan bisa ditingkatkan dan basis sumber daya alam bisa dikonversikan
(Reijntjes, 1999:20). Beberapa negara telah menerapkan sistem pertanian
agroekologi, diantaranya: petani kecil di Meksiko, Guonduras, Nikaragua, Afrika,
Amerika Serikat, serta Indonesia (PANNA, 2009:2). Di Indonesia, penerapan
agroekogi lebih cenderung kepada pertanian tradisional. Pertanian tradisional
adalah pertanian yang bersumber dari tradisi pertanian keluarga yang menghargai,
menjamin, dan melindungi keberlanjutan alam untuk mewujudkan kembali
budaya pertanian (Serikat Petani Indonesia, 2010: 2).
2.1.2 Kebijakan Revolusi Hijau
Susetiawan (2007) dalam Salam (2008:167) menjelaskan revolusi hijau
(green revolution) merupakan istilah populer dalam pembangunan pertanian untuk
mengangkat harkat dan derajat bangsa Indonesia keluar dari kemiskinan akibat
penguasaan pemerintah kolonial dan stagnasi ekonomi yang dialami oleh
pemerintahan orde lama. Dalam perencanaan pembangunan yang dimulai pada
tahun 1970-an itu, pembangunan pertanian menjadi primadona untuk menuju
tahapan pembangunan selanjutnya dengan alasan bahwa posisi pertanian yang
tangguh akan menjadi tulang punggung perkembangan industri di masa depan.
Revolusi hijau telah merombak seluruh cara berproduksi petani mulai dari
cara merubah bibit tradisional menjadi bibit baru, pupuk yang anorganik,
pemberantasan hama yang menggunakan pestisida, intensitas pengolahan tanah
yang pada akhirnya berhasil merubah seluruh tekstualisasi kebudayaan bercocok


14
tanam petani terutama pada petani Jawa yang berbasis tanaman padi. Meskipun
jumlah produksi meningkat, akan tetapi promosi kemakmuran dan kesejahteraan
mereka hanya tinggal angan-angan sebab harga gabah tetap murah dan diatur
dengan tataniaga pemerintah, petani yang semula diharap bias menanam 3 kali
dalam setahun kenyataan banyak yang dua kali bahkan sekali dalam setahun.
Banyak alasan teknis untuk itu yakni banyaknya hama akibat dari siklus tanaman
yang tidak terputus, jumlah persediaan air sangat jauh berkurang dibanding masa
lalu sebab hutan sebagai daerah tangkapan air kondisinya semakin kritis akibat
penebangan hutan yang tidak mempedulikan lingkungan (Salam, 2008:168).
2.1.3 Prinsip-Prinsip Dasar Agroekologi
Pertanian agroekologi memiliki prinsip dasar yang dijadikan acuan dalam
praktik penerapannya. Prinsip-prinsip ekologi dasar bisa dikelompokkan sebagai
berikut : (Reijntjes, 1999: 66)
1. Menjamin kondisi tanah yang mendukung bagi pertumbuhan tanaman,
khususnya dengan mengelola bahan-bahan organik dan meningkatkan
kehidupan dalam tanah.
2. Mengoptimalkan ketersediaan unsur hara dan menyeimbangkan arus unsur
hara, khususnya melalui pengikatan nitrogen, pemompaan unsur hara, daur
ulang dan pemanfaatan pupuk luar sebagai pelengkap.
3. Meminimalkan kerugian sebagai akibat radiasi matahari, udara, dan air
dengan cara pengelolaan iklim mikro, pengelolaan air, dan pengendalian
erosi.


15
4. Meminimalkan serangan hama dan penyakit terhadap tanaman dan hewan
melalui pencegahan yang aman.
5. Saling melengkapi dan sinergi dalam penggunaan sumber daya genetik
yang mencakup penggabungan dalam sistem pertanian terpadu dengan
tingkat keanekaragaman fungsional yang tinggi.
Prinsip-prinsip ini bisa diterapkan dengan berbagai macam teknik dan
strategi. Tiap-tiap strategi dan teknik memiliki pengaruh yang berbeda dalam
produktifitas, jaminan, kontinuitas, dan identitas di dalam sistem pertanian.
Menurut Sahid (2006:418), ada empat pilar yang menjadi acuan dalam
menerapkan pertanian berkelanjutan berkelanjutan berbasis agroekologi, keempat
pilar itu ialah secara ekonomi fisibel (economically feasible) untuk membentuk
suatu sistem produksi jangka panjang, penggunaan teknologi sepadan, secara
lingkungan tidak merusak dan berkelanjutan, dan secara sosial dan budaya dapat
diterima.
2.1.4 Perbandingan Agroekologi dengan Pertanian Konvensional
Pertanian agroekologi identik dengan pertanian organik. Hal ini
disebabkan karena agar suatu pertanian dapat berjalan secara kontinyu, unsur alam
dan lingkungan harus dijaga agar sumber daya alami seperti tanah, air, dan
sumberdaya hayati lainnya tidak rusak atau tercemar. Sehingga daya dukung bagi
pertumbuhan tanaman dapat terus terjaga. Berbeda dengan pertanian konvensional
yang kurang memperhatikan dampak bagi lingkungan. Ada beberapa penelitian
yang mengkaji tentang perbandingan agroekologi dengan sistem konvensional
yang dilakukan oleh Altieri (1997) yang dikutip oleh SPI. Berikut tabel


16
perbandingan antara pertanian konvensional dengan agroekologi dilihat dari
beberapa aspek.
Tabel 2. Karakteristik Pertanian Konvensional dengan Agroekologi
Karakteristik Pertanian Konvesional Pertanian Agroekologi
Ketergantungan pada
BBM
Tinggi Rendah
Kebutuhan tenaga kerja rendah, diupah Tinggi, keluarga dan komunitas
Intensitas pengelolaan Rendah Lebih kompleks
Intensitas pengolahan
tanah
Tinggi Rendah, konservasi
Keanekaragaman
tanaman
Rendah Tinggi
Varietas tanaman Tahunan, hibrida Tahunan dan perenial, lokal
Sumber benih Seluruhnya dibeli Sebagian dihasilkan oleh petani
sendiri
Integrasi tanaman dan
ternak
Tidak ada Terdapat integrasi yang tinggi
Serangan hama Sangat tak terduga Lebih stabil
Pengendalian hama Kimiawi Kultural dan biologis
Pengendalian gulma Kimiawi Secara kompetisi dan rotasi
tanaman
Pengendalian penyakit Kimiawi, daya tahan vertikal Rotasi, tanaman sela, polikultur
Peran dekomposisi dan
siklus nutrisi
Rendah Tinggi
Pengendalian air Konvesional dengan irigasi
skala besar
Irigasi kecil yang terbatas untuk
komunitas, tadah hujan, atau
dengan kolam-kolam
penampung air
Sistem respon terhadap
gangguan
Buruk, berisiko tinggi Daya tahan tinggi, resiko lebih
rendah
Teknologi Dari atas ke bawah, biasanya
merupakan tekhnologi impor
Dikembangkan oleh petani
bersama-sama sesuai dengan
situasi lokal
Kebutuhan modal Tinggi Rendah
Produktivitas tanah Rendah ke sedang Tinggi
Produktivitas tenaga
kerja
Sangat tinggi Rendah ke sedang
Keuntungan bersih Tinggi ke rendah Bervariasi
Resiko kesehatan Tinggi Rendah
Kerusakan lingkungan Tinggi Rendah
Sumber: SPI (2008) diolah dari Rossett, Altieri dan Miguel, 1997


17
Terlihat pada tabel 1 diatas bahwa perbandingan pertanian agroekologi
dengan pertanian konvensional lebih merekomendasikan pertanian agroekologi
sebagai sistem pertanian yang tangguh menghadapi isu perubahan iklim dan
produktifitas yang sedang terjadi saat ini. Keterjangkauan ekonomi petani untuk
menerapkan agroekologi juga menjadi alasan bagi petani untuk beralih dari sistem
konvensional ke sistem agroekologi. Tabel diatas juga menunjukkan bahwa
agroekologi mempunyai keuntungan dalam beberapa hal salah satunya dari sisi
kebutuhan modal. Kebutuhan modal pada pertanian konvensional relatif lebih
tinggi dibandingkan modal pada agroekologi.
2.1.5 Agroekologi untuk Kesejahteraan Petani
Bertani dengan konsep agroekologi bukanlah sekedar inisiatif menyangkut
hal-hal yang sifatnya teknis, namun desakan munculnya model pertanian baru
sebagai kritik atas model pertanian saat ini yang pro korporasi. Suatu model
pertanian yang mampu menjawab kesejahteraan ekonomi petani kecil,
menyediakan pangan yang menyehatkan bagi keluarga dan kebutuhan lokal,
memulihkan kembali ekologi yang rusak, termasuk mengembalikan kelembagaan
petani sesuai dengan cita-cita kaum tani. Agroekologi adalah model pertanian
baru yang mengarusutamakan kekuatan petani kecil beserta kultur bertani yang
melekat di dalamnya (Sjaf, 2011:2).
Penelitian Internasional Assesment on Agricultural Knowledge and
Science and Technology for Development (IASSTD) tahun 2008 menyebutkan
pertanian konvensional (pro korporasi) tidak lagi bisa diharapkan untuk
menyelesaikan kesejahteraan petani, problem kelaparan dunia dan juga krisis


18
ekologis. IASSTD dalam kesimpulannya secara tegas menaruh harapan pada
pertanian ekologis atau agroekologi. Harapan dari pertanian agroekologi adalah
terwujudnya kedaulatan dan kemandirian pangan. Ketika petani sudah tidak
bergantung masukan dari luar seperti bibit, pupuk dan pestisida maka
pengeluaran untuk sarana produksi pertanian dapat diminimalisir sehingga akan
berpengaruh terhadap pendapatan petani serta kesejahteraan rumah tangganya.
2.1.6 Tingkat Kesejahteraan
Tingkat kesejahteraan (Welfare) merupakan konsep yang digunakan untuk
menyatakan kualitas hidup suatu masyarakat atau individu di suatu wilayah pada
kurun waktu tertentu. Menurut Yosep dalam Maharani (2006), kesejahteraan itu
bersifat luas yang dapat diterapkan pada skala sosial besar dan kecil misalnya
keluarga dan individu. Konsep kesejahteraan atau rasa sejahtera yang dimiliki
bersifat relatif, tergantung bagaimana penilaian masing-masing individu terhadap
kesejahteraan itu sendiri. Sejahtera bagi seseorang dengan tingkat pendapatan
tertentu belum tentu dapat juga dikatakan sejahtera bagi orang lain.
Menurut Sawidak (1985) dalam Munir (2008:30), kesejahteraan
merupakan sejumlah kepuasan yang diperoleh dari seseorang dari hasil
mengkonsumsi pendapatan yang diterima, namun tingkatan dari kesejahteraan itu
sendiri merupakan sesuatu yang bersifat relatif karena tergantung dari besarnya
kepuasan yang diperoleh dari hasil mengkonsumsi pendapatan tersebut. Konsumsi
sendiri pada hakekatnya bukan hanya sesuatu yang mengeluarkan biaya, karena
dalam beberapa hal konsumsi pun dapat dilakukan tanpa menimbulkan biaya bagi
konsumennya.


19
Rahmadona dalam Irmayani (2007:34) menjelaskan bahwa kesejahteraan
identik dengan terpenuhinya kebutuhan individu (yang beragam), dimana makna
“terpenuhinya kebutuhan” antara satu individu lain berbeda dan bersifat sangat
relatif. Oleh karena itu, untuk mengetahui kesejahteraan individu/keluarga/rumah
tangga bukanlah pekerjaan yang mudah, sehingga diperlukan beberapa kriteria
dan indikator.
2.1.7 Penentuan I ndikator Kesejahteraan
Penghitungan kesejahteraan rumah tangga memiliki subyektivitas yang
berbeda-beda sesuai dengan indikator yang dipakai dalam penghitungan.
Beberapa kriteria kesejahteraan yang dipakai seperti BPS, BKKBN, Bank Dunia,
maupun kesejahteraan menurut masyarakat setempat mempunyai karakter yang
berbeda dalam menilai tingkat kesejahteraan. Badan Koordinasi Keluarga
Berencana Nasional (BKKBN) pada tahun 1999 dengan melakukan pendataan
keluarga secara lengkap. Pendataan keluarga tersebut menggunakan konsep
pendekatan kesejahteraan keluarga. BKKBN membagi kriteria keluarga ke dalam
lima tahapan, yaitu Keluarga Pra Sejahtera (Pra-KS), Keluarga Sejahtera I (KS-I),
Keluarga Sejahtera II (KS-II), Keluarga sejahtera III (KS-III), dan Keluarga
Sejahtera III Plus (KS III Plus).
Berdasarkan data dari Departemen Sosial tahun 2011, jika mengacu pada
kriteria Bank Dunia, dari 231 juta total populasi Indonesia, sekitar 117 juta jiwa
atau 50,6 persen di antaranya dikategorikan sebagai penduduk yang sangat
miskin. Kemiskinan merupakan salah satu masalah kesejahteraan sosial yang
dihadapi oleh negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Sesuai ukuran Bank


20
Dunia, mereka yang berpenghasilan di bawah 2 US Dollar per hari dianggap
miskin.
Pemilihan penghitungan kesejahteraan menggunakan kriteria BPS 2005
adalah karena BPS merupakan lembaga yang kredibel dan dipercaya pemerintah
dalam melakukan penghitungan data-data baik yang bersifat kependudukan,
ekonomi, sosial dan data lainnya. Sehingga data-data yang dihasilkan dari BPS
menjadi acuan para pengambil kebijakan, peneliti maupun masyarakat sebagai
sumber data yang terpercaya. Oleh karena itu dalam penelitian ini menggunakan
kriteria BPS 2005 sebagai alat penghitungan tingkat kesejahteraan rumah tangga.
2.1.8 Hubungan Antara I ndikator Kesejahteraan BPS 2005 Terhadap
Tingkat Kesejahteraan

Menurut BPS (2005) kesejahteraan bersifat subjektif, sehingga ukuran
kesejahteraan bagi setiap individu atau keluarga berbeda satu sama lain. Tingkat
kesejahteraan ini berkaitan erat dengan kebutuhan dasar. Apabila kebutuhan dasar
bagi individu atau keluarga dapat dipenuhi, maka dikatakan bahwa tingkat
kesejahteraan dari individu atau keluarga tersebut sudah tercapai, kebutuhan dasar
erat kaitannya dengan kemiskinan, apabila kebutuhan dasar belum terpenuhi oleh
individu atau keluarga, maka dikatakan bahwa individu atau keluarga tersebut
berada dibawah garis kemiskinan.
Indikator kesejahteraan menurut BPS 2005 dalam penelitian ini yaitu
meliputi pendapatan rumah tangga, pengeluaran rumah tangga, keadaan tempat
tinggal, fasilitas tempat tinggal, kesehatan anggota keluarga, kemudahan
mendapatkan fasilitas kesehatan, kemudahan memasukkan anak ke jenjang
pendidikan, dan kemudahan mendapatkan fasilitas transportasi. Seluruh indikator


21
yang berjumlah delapan ini berhubungan erat terhadap tingkat kesejahteraan
rumah tangga petani baik secara langsung maupun tidak langsung.
Penghitungan tingkat kesejahteraan rumah tangga dengan menggunakan
kriteria BPS 2005 merupakan cara yang umum untuk digunakan dalam
mengetahui/menghitung tingkat kesejahteraan berbagai kondisi rumah tangga,
baik petani, nelayan, buruh maupun kondisi rumah tangga lainnya. Penelitian
tentang tingkat kesejahteraan rumah tangga petani yang menerapkan agroekologi
ini juga menggunakan alat penghitungan kesejahteraan dari kriteria BPS 2005.
Hal ini karena akan mengetahui/menghitung tingkat kesejahteraan rumah tangga
petani, hanya saja pengklasifikasian petaninya adalah petani agroekologi yang
diteliti.
2.1.9 Karakteristik Rumah Tangga Petani
Usaha pertanian di Indonesia masih didominasi oleh usahatani rumah
tangga atau pertanian rakyat. Produksi bahan pangan domestik dihasilkan oleh
usahatani rumah tangga. Pertanian diartikan sebagai pertanian rakyat yaitu usaha
pertanian keluarga dimana produksi bahan makanan utama seperti beras, palawija
(jagung, kacang-kacangan, dan ubi-ubian) dan tanaman-tanaman hortikultura
yaitu sayur-sayuran dan buah-buahan. Pertanian rakyat diusahakan di tanah-tanah
sawah, ladang dan pekarangan. Walaupun tujuan penggunaan hasil-hasil tanaman
ini tidak merupakan kriteria, namun pada umumnya sebagian besar hasil-hasil
pertanian rakyat adalah untuk keperluan konsumsi keluarga (Mubyarto,1986:15).
Menurut Shanin (1971) seperti yang dikutip Munir (2008:27), terdapat
empat karakteristik utama petani. Pertama, petani adalah pelaku ekonomi yang


22
berpusat pada usaha milik keluarga. Kedua, selaku petani mereka
menggantungkan hidup mereka kepada lahan. Bagi petani, lahan pertanian adalah
segalanya yakni sebagai sumber yang diandalkan untuk menghasilkan bahan
pangan keluarga, harta benda yang bernilai tinggi, dan ukuran terpenting bagi
status sosial. Ketiga, petani memiliki budaya yang spesifik yang menekankan
pemeliharaan tradisi dan konformitas serta solidaritas sosial mereka kental.
Keempat, cenderung sebagai pihak selalu kalah (tertindas) namun tidak mudah
ditaklukkan oleh kekuatan ekonomi, budaya dan politik eksternal yang
mendominasi mereka.
2.1.10 Konsep Usahatani Keluarga
Ilmu usahatani adalah ilmu yang mempelajari bagaimana seorang
mengusahakan dan mengkoordinir faktor-faktor produksi berupa lahan dan alam
sekitarnya sebagai modal sehingga memberikan manfaat yang sebaik-baiknya
(Suratiyah, 2006:9). Secara garis besar ada dua bentuk usahatani yang telah
dikenal yaitu usahatani keluarga (family farming) dan perusahaan pertanian
(plantation, estate, enterprise). Pada umumnya yang dimaksud dengan usahatani
adalah usahatani keluarga sedangkan yang lain adalah perusahaan pertanian.
Jenis usahatani keluarga masih mendominasi sistem pertanian di
Indonesia. Redfield (1982) dalam Munir (2008:26) menjelaskan petani peasant
tidaklah melakukan usahatani dalam arti ekonomi, sebab yang mereka kelola
adalah sebuah rumah tangga, bukan sebuah perusahaan bisnis. Tujuan kegiatan
produksi hanya untuk pemenuhan kebutuhan pangan keluarga (subsisten),
sedangkan surplus produksi dipergunakan untuk dana pengganti, dana seremonial,


23
dan dana untuk sewa lahan. Dalam kehidupan masyarakat petani, pasar dan
struktur atas desa secara relatif telah menjadi bagian yang mempengaruhi tingkah
laku sosial dan ekonomi mereka.
2.1.11 Definisi dan Faktor-Faktor Penyebab Kemiskinan
Kondisi sosial ekonomi masyarakat tani tidak terlepas dari kemiskinan.
Kemiskinan merupakan salah satu indikator yang dapat dilihat untuk mengetahui
kondisi masyarakat sejahtera atau tidak. Menurut Suyanto (1995) dalam
Sudantoko dan Hamdani (2009:47) mendefinisikan kemiskinan adalah suatu
ketidak-berdayaan. Keberdayaan itu sesungguhnya merupakan fungsi
kebudayaan. Artinya, berdaya tidak dalam kehidupan bermasyarakatnya itu dalam
kenyataan akan banyak ditentukan dan dipengaruhi oleh determinan-determinan
sosial budayanya (seperti misalnya posisi, status dan wawasan yang dipunyainya).
Seseorang dikatakan miskin jika pendapatan per kapitanya dibawah garis
kemiskinan. Garis kemiskinan adalah besarnya nilai pengeluaran (dalam rupiah)
untuk memenuhi kebutuhan dasar minuman makanan (batas kecukupan pangan)
dan bukan makanan (batas kecukupan non pangan). Nilai garis kemiskinan yang
digunakan mengacu pada kebutuhan minimum bukan makanan. Kebutuhan
minimum non pangan merupakan kebutuhan dasar untuk papan, sandang, sekolah,
transportasi serta kebutuhan rumah tangga individu yang mendasar lainnya.
Dengan kata lain, seseorang dikatakan miskin apabila tidak mampu memenuhi
kebutuhan dasar minimumnya (BPS, 2005).
Konsep garis kemiskinan menurut Sajogyo (1977) dalam Arsyad (1992:7)
berdasarkan konsumsi beras setempat sebagai indikator kemiskinan. Untuk daerah


24
pedesaan, penduduk dengan konsumsi beras kurang dari 240 kg per kapita per
tahun dapat digolongkan miskin. Tingkatan kemiskinan untuk daerah pedesaan
secara rinci adalah sebagai berikut:
1. Miskin, yaitu apabila pengeluaran per kapita per tahun setara dengan 240
kg beras sampai 320 kg beras.
2. Miskin sekali, yaitu apabila pengeluaran per kapita per tahun setara
dengan 180 kg beras sampai 239 kg beras.
3. Paling miskin, yaitu apabila pengeluaran per kapita per tahun lebih rendah
dari nilai tukar 180 kg beras.
Direktorat Jendral Tata Guna Tanah (Direktorat Jenderal Agraria)
mengklasifikasikan tingkat kemiskinan berdasarkan nilai konsumsi total Sembilan
bahan pokok dalam setahun yang dinilai dengan harga setempat. Kebutuhan hidup
minimum yang dipergunakan sebagai tolak ukur yaitu beras 100 kg, 15 kg ikan
asin, 6 kg gula pasir, 6 kg minyak goreng, 9 kg garam, 60 liter minyak tanah, 20
batang sabun, 4 meter tekstil kasar dan 2 meter batik kasar. Besarnya standar
kebutuhan hidup minimum per kapita per tahun dijadikan sebagai batas garis
kemiskinan. Tingkat kemiskinan tersebut dibagi dalam beberapa kategori sebagai
berikut: (Direktorat Jenderal Tata Guna Tanah dalam Irmayani, 2007:32)
1. Miskin sekali, apabila pendapatan per kapita per tahun dibawah 75 persen
dari nilai total Sembilan bahan pokok.
2. Miskin, apabila pendapatan per kapita per tahun antara 75 persen sampai
125 persen dari total Sembilan bahan pokok.


25
3. Hampir miskin, apabila pendapatan per kapita per tahun antara 125 persen
sampai 200 persen dari nilai total Sembilan bahan pokok.
4. Tidak miskin, apabila pendapatan per kapita per tahun lebih dari 200
persen dari nilai total Sembilan bahan pokok.
2.1.12 Analisis Regresi Linear Berganda
Uji statistik yang digunakan analisis regresi linier berganda dengan
pengertiannya adalah regresi dimana variabel terikatnya (Y)
dihubungkan/dijelaskan lebih dari satu variabel, mungkin dua, tiga, dan
seterusnya variabel bebas (X
1
,X
2
,X
3
,…X
n
) namun masih menunjukkan diagram
hubungan linear (Hasan, 2008).
2.1.13 Elastisitas
Elastisitas merupakan suatu indeks (bilangan) yang menggambarkan
hubungan kuantitatif antara variabel dependen dengan variabel independen,
misalnya antara jumlah barang yang diminta dengan harga barang tersebut.
Dengan demikian elastisitas dapat didefinisikan sebagai persentase perubahan
variabel dependen sebagai akibat perubahan variabel independen sebesar satu
persen. Dapat dikatakan bahwa elastisitas adalah bilangan (indeks) yang
menggambarkan hubungan sebab akibat antara variabel independen dengan
variabel dependen (Suprayitno, 2008:131).
2.2 Hasil Penelitian Terdahulu
Pertanian agroekologi merupakan pertanian yang berdasar pada prinsip
berkelanjutan dan sistem agroekologi hampir sama dengan pertanian organik.
Penelitian terdahulu Herdiansyah (2005) tentang analisis aspek ekonomi usahatani


26
padi organik yang dilakukan dengan melihat beberapa analisis salah satunya
dengan menggunakan analisis manfaat biaya (benefit-cost ratio). Penelitiannya
menunjukkan bahwa usahatani padi organik menguntungkan dengan B/C rasionya
lebih besar dari satu. Manfaat yang diperoleh petani dalam hal ini merupakan
manfaat langsung maupun tidak langsung. Manfaat langsung berupa hasil yang
bisa menghasilkan nilai berupa pendapatan petani yang langsung dirasakan petani.
Sedangkan manfaat tidak langsung yaitu manfaat pada lingkungan dan
peningkatan kesehatan masyarakat dari hasil pertanian itu.
2.3 Kerangka Pemikiran
Kondisi rumah tangga petani yang menerapkan agroekologi dalam
penelitian ini dipengaruhi oleh kondisi ekonomi (pendapatan dan pengeluaran)
dan kondisi sosial ekonomi (kesehatan, pendidikan, sarana kesehatan, tempat
tinggal, fasilitas tempat tinggal, dan sarana transportasi). Penerapan agroekologi
yang dilakukan oleh petani adalah berbasis rumah tangga, sehingga dalam
penelitian ini dapat dilihat pendapatan dan pengeluaran rumah tangga sebagai
indikator untuk pengukuran kemiskinan.
Pendapatan rumah tangga dilihat dari dua sumber yaitu pendapatan dari
usahatani dan pendapatan dari usaha non pertanian. Untuk mengetahui pendapatan
dari usahatani, dilakukan pengkajian terhadap penerimaan dan biaya yang
dikeluarkan untuk usahatani. Selisih antara penerimaan usahatani dengan total
biaya merupakan pendapatan usahatani. Penjumlahan antara pendapatan usaha
pertanian dengan pendapatan usaha non pertanian merupakan total pendapatan
rumah tangga tani.


27
Pengeluaran rumah tangga secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua
yaitu pengeluaran untuk kebutuhan makanan (pangan) dan bukan makanan (non
pangan). Kedua pengeluaran tersebut merupakan total pengeluaran rumah tangga.
Setelah besarnya pendapatan rumah tangga petani diketahui, maka dapat dihitung
besarnya pendapatan per kapita per tahun dan pengeluaran per kapita per tahun
dengan cara membagi pendapatan dan pengeluaran rumah tangga petani dengan
jumlah anggota rumah tangga petani tersebut.
Kriteria kemiskinan dari Sajogyo dan kriteria kemiskinan dari Direktorat
Tata Guna Tanah digunakan untuk melihat tingkat pendapatan dan pengeluaran
rumah tangga petani di desa Cidokom. Besarnya pendapatan dan pengeluaran
perkapita per tahun ditambah dengan indikator sosial ekonomi dijadikan dasar
untuk mengukur tingkat kesejahteraan rumah tangga petani di desa Cidokom
berdasarkan kriteria Badan Pusat Statistik pada SUSENAS 2005.
Analisis regresi linear berganda digunakan untuk melihat seberapa besar
kedelapan indikator (pendapatan, pengeluaran, keadaan tempat tinggal, fasilitas
tempat tinggal, kesehatan keluarga, pelayanan kesehatan, kemudahan pendidikan
dan kemudahan fasilitas transportasi) mempengaruhi tingkat kesejahteraan rumah
tangga petani. Sehingga dapat terlihat kedelapan variabel tersebut yang paling
berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan rumah tangga petani di desa
Cidokom.
Elastisitas digunakan untuk mengetahui sejauh mana kepekaan variabel
dependen (kesejahteraan rumah tangga) akibat dari perubahan variabel
independen (pendapatan, pengeluaran, keadaan tempat tinggal, fasilitas tempat


28
tinggal, kesehatan keluarga, pelayanan kesehatan, kemudahan pendidikan dan
kemudahan fasilitas transportasi) sebesar satu satuan.
Secara skematik kerangka pemikiran operasional dalam penelitian ini
dapat digambarkan pada gambar 1 berikut :


















Gambar 1. Kerangka Pemikiran


Kondisi Sosial Ekonomi :
1. Kesehatan
2. Pendidikan
3. Tempat Tinggal
4. Sarana Transportasi
5. Fasilitas Tempat Tinggal
6. Sarana Kesehatan

Indikator Kesejahteraan Berdasarkan BPS 2005

Kriteria Kemiskinan
menurut Direktorat
Tata Guna Tanah
Rumah Tangga Petani Agroekologi
Kondisi Ekonomi

- Analisis Regresi
- Uji t
- Uji F
-Elastisitas
Pendapatan
Rumah Tangga
Pengeluaran
Rumah Tangga
Kriteria Kemiskinan
menurut Sajogyo
Tingkat Kesejahteraan Rumah Tangga Petani
Indikator BPS 2005 yang Paling Mempengaruhi Tingkat Kesejahteraan


29
2.4 Batasan dan Definisi Operasional
1. Agroekologi merupakan penerapan konsep dan prinsip ekologi dalam
mendesain dan mengelola agroekosistem yang berkelanjutan.
Agroekologi bagian dari pertanian organik yang memanfaatkan potensi
lokal dengan menyelaraskan alam.
2. Rumah tangga menurut Badan Pusat Statistik (2005) adalah sekelompok
orang yang mendiami sebagian atau keseluruhan bangunan dimana
biasanya anggota keluarga tinggal di rumah tersebut dan makan dari satu
dapur.
3. Tingkat kesejahteraan menurut Badan Pusat Statistik (BPS) dihitung
berdasarkan SUSENAS 2005 yang diukur menjadi 8 indikator
(pendapatan, pengeluaran, keadaan tempat tinggal, fasilitas tempat
tinggal, kesehatan keluarga, pelayanan kesehatan, kemudahan
pendidikan dan kemudahan fasilitas transportasi). Masing-masing
indikator tersebut diberi skor yang kemudian dibagi menjadi tiga
klasifikasi. Klasifikasi ditentukan dengan cara mengurangkan nilai
tertinggi dengan nilai terendah. Klasifikasi tersebut dibedakan menjadi
tiga, yaitu kesejahteraan tinggi (20-26), kesejahteraan sedang (14-19)
dan kesejahteraan rendah (8-13).
- Pendapatan rumah tangga petani adalah pendapatan yang diterima
oleh rumah tangga petani yang berasal dari usaha pertanian
agroekologi yaitu padi dan non padi maupun usaha non pertanian
selama satu tahun yang dinyatakan dalam rupiah per tahun.


30
- Pengeluaran rumah tangga yang dimaksud adalah biaya yang
dikeluarkan untuk kebutuhan hidup dalam jangka waktu satu tahun
yang terdiri dari pengeluaran untuk pangan dan pengeluaran untuk
bukan pangan yang dinyatakan dalam rupiah per tahun. Pengeluaran
rumah tangga ini didapat dari penghasilan menerapkan pertanian
agroekologi.
- Keadaan tempat tinggal merupakan kondisi tempat tinggal yang
digunakan petani dan anggota rumah tangganya. Penggolongan
didapat dengan cara mengurangkan jumlah nilai tertinggi dengan
jumlah nilai terendah keadaan tempat tinggal responden, kemudian
dibagi dengan kelas (tiga kelas), yaitu permanen, semi permanen,
dan non permanen. Keadaan tempat tinggal ini dimiliki oleh petani
yang menerapkan agroekologi.
- Fasilitas tempat tinggal merupakan kelengkapan peralatan rumah
tangga yang dimiliki petani. Penggolongan didapat dengan cara
mengurangkan jumlah nilai tertinggi fasilitas tempat tinggal dengan
jumlah nilai terendah responden petani, kemudian dibagi dengan
jumlah kelas (tiga kelas), yaitu lengkap, sedang, dan kurang lengkap.
Fasilitas tempat tinggal ini merupakan fasilitas yang dimiliki petani
yang menerapkan agroekologi.
- Kesehatan anggota rumah tangga adalah kondisi kesehatan anggota
rumah tangga petani selama satu tahun dengan kategori baik (<25
persen sering sakit) nilai skor 3, cukup (25-50) nilai skor 2 dan


31
kurang (>50 persen sering sakit) nilai skor 1. Petani dan keluarga
yang menerapkan agroekologi akan dilihat tingkat kesehatannya,
apakah sering sakit atau tidak.
- Kemudahan mendapatkan pelayanan kesehatan adalah petani
mendapat kemudahan dalam memperoleh pelayanan dan fasilitas
kesehatan yang disediakan oleh desa. Indikator ini akan melihat
sejauh mana petani agroekologi dapat mengakses pelayanan
kesehatan yang ada di wilayah tersebut.
- Kemudahan memasukkan anak ke jenjang pendidikan adalah orang
tua mendapatkan kemudahan ketika memasukkan anaknya ke
sekolah. Penggolongan didapat dengan cara mengurangkan nilai
tertinggi kemudahan memasukkan anak ke jenjang pendidikan
dengan jumlah nilai terendah, kemudian dibagi dengan jumlah kelas
(3 kelas), yaitu mudah, sedang dan sulit. Indikator ini akan melihat
sejauh mana kemudahan petani agroekologi dalam memasukkan
anaknya ke jenjang pendidikan di sekolah.
- Kemudahan mendapatkan fasilitas transportasi adalah menyangkut
kemudahan petani dalam memanfaatkan fasilitas transportasi yang
ada di desa. Penggolongan didapat dengan cara mengurangkan nilai
tertinggi kemudahan mendapatkan fasilitas transportasi dengan
jumlah terendah, kemudian dibagi dengan jumlah kelas (3 kelas),
yaitu mudah, sedang, dan sulit. Indikator ini melihat apakah petani
agroekologi mudah memanfaatkan fasilitas transportasi atau tidak.


32
BAB II I
METODE PENELITI AN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive), yaitu di
desa Cidokom, kecamatan Rumpin, kabupaten Bogor, provinsi Jawa Barat. Desa
Cidokom dipilih sebagai lokasi penelitian karena kebanyakan masyarakatnya
bekerja pada lahan pertanian. Sebagian masyarakat yang tergabung dalam satu
kelompok tani di desa Cidokom, mengusahakan pertaniannya dengan
menggunakan sistem pertanian agroekologi. Berdasarkan kenyataan tersebut,
maka lokasi ini relevan dipilih sebagai tempat penelitian berdasarkan tujuan
penelitian yang telah direncanakan.
Pengumpulan data dilakukan selama dua bulan, yaitu pada bulan J anuari
2011 sampai dengan bulan Maret 2011. Pengolahan data dan penulisan hasil
laporan selanjutnya dilakukan selama satu bulan, yaitu pada bulan Maret 2011
sampai dengan bulan April 2011.
3.2 J enis dan Sumber Data
Data yang dikumpulkan dan dipergunakan dalam penelitian ini adalah data
primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara kepada responden
(petani). Adapun yang termasuk data primer dalam penelitian ini adalah data
mengenai penerapan agroekologi, tingkat kesejahteraan rumah tangga petani dan
pengaruh penerapan agroekologi terhadap tingkat kesejahteraan rumah tangga
petani. Sedangkan data sekunder adalah data yang menyangkut kondisi umum
Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, yang menyangkut keadaan lingkungan


33
baik fisik, sosial ekonomi masyarakat, dan data lain yang berhubungan dengan
objek penelitian yang diperoleh dari instansi-instansi terkait. Data sekunder
diperoleh melalui literatur-literatur penunjang seperti buku, artikel, jurnal dari
intenet, serta makalah yang berkaitan dengan topik penelitian.
3.3 Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini melalui:
1. Observasi: dilakukan dengan pengamatan secara langsung terhadap objek
yang diteliti.
2. Wawancara dan Penyebaran Kuesioner: dilakukan langsung melalui
wawancara dan penyebaran kuesioner kepada petani yang menerapkan
agroekologi sebagai responden terpilih untuk memperoleh informasi.
3. Studi pustaka: untuk memperoleh landasan teoritis dan data penunjang
yang berkaitan dengan materi pengkajian atau penelitian.
3.3.1 Pengambilan Sampel
Populasi dari penelitian ini adalah petani di Desa Cidokom, Kecamatan
Rumpin, Kabupaten Bogor. Penentuan sampel dilakukan dengan teknik purposive
sampling yaitu teknik pengambilan sampel yang dilakukan dengan terlebih dahulu
merumuskan kriteria-kriteria yang digunakan sebagai acuan penarikan sampel.
Kriteria responden yang dipilih adalah 1) bersedia diwawancarai dengan dipandu
kuesioner yang disediakan dan 2) petani yang menjadi responden adalah petani
yang menerapkan agroekologi. Sampel dilakukan pada kelompok tani karena
petani di desa Cidokom yang menerapkan konsep agroekologi tergabung dalam
satu kelompok tani. Sampel dalam penelitian ini adalah petani yang menerapkan


34
agroekologi yang dipilih sebanyak 30 orang. Angka sampel 30 diambil dari
jumlah seluruh anggota kelompok tani yang menerapkan sistem agroekologi
dalam satu kelompok tani.
3.3.2 Bentuk Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian survei.
Metode penelitian survei adalah penelitian yang mengambil sampel dari satu
populasi dan menggunakan kuisioner sebagai alat pengumpulan data yang pokok
(Singarimbun,1989) dalam Munir (2008:45). Penelitian ini menggunakan
penelitian bentuk korelasional. Tujuan dari penelitian koresional adalah untuk
mendeteksi sejauh mana variasi-variasi pada suatu faktor berkaitan dengan
variasi-variasi pada satu atau lebih faktor lain berdasarkan pada koefisien korelasi
(Rianse dan Abdi, 2009:34).
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif yang
didukung oleh data kualitatif. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan hasil yang
akurat. Data kuantitatif diperoleh melalui hasil kuesioner berskala ordinal sebagai
instrumen utama. Data kualitatif diperoleh dengan melakukan wawancara
mendalam dan observasi langsung di lapangan. Wawancara mendalam dilakukan
untuk menggali informasi yang lebih mendalam dari para informan. Informan
tersebut didapatkan dari para responden yang hasil kuesionernya mendekati tujuan
penelitian.
3.4 Metode Pengolahan dan Analisis Data
Data yang diperoleh dalam penelitian ini terdiri dari data kualitatif dan
kuantitatif, kemudian diolah dengan menggunakan tabulasi, program komputer


35
Microsoft Excel dan SPSS 17.0, sebagai uji statistik. Uji statistik yang digunakan
adalah uji statistik regresi linear berganda. Hal ini untuk melihat adanya hubungan
antara variabel-variabel dengan skala ordinal.
3.4.1 Analisis Tingkat Kesejahteraan
Pengukuran tingkat kesejahteraan rumah tangga menggunakan indikator
Badan Pusat Statistik dalam SUSENAS berdasarkan sebelas indikator yaitu
pendapatan, pengeluaran, keadaan tempat tinggal, fasilitas tempat tinggal,
kesehatan anggota rumah tangga, kemudahan mendapatkan pelayanan kesehatan,
kemudahan memasukkan anak ke suatu jenjang pendidikan, kemudahan
mendapatkan fasilitas transportasi, kehidupan beragama, rasa aman dari tindak
kejahatan dan kemudahan dalam melakukan olah raga. Tingkat kesejahteraan
secara umum merupakan kombinasi dari 11 indikator. Namun, Penelitian tentang
kesejahteraan petani di desa Cidokom dimodifikasi kembali dengan
menspesifikasikan faktor-faktor agroekologi yang berkaitan dengan ekonomi dan
menyesuaikan indikator kesejahteraan dengan karakteristik desa di tempat
penelitian. Sesuai dengan kondisi tempat penelitian diperoleh 8 indikator dengan
mengurangkan 3 indikator terakhir yakni kehidupan beragama, rasa aman dari
gangguan keamanan dan kemudahan dalam melakukan olahraga.
Skor tingkat klasifikasi pada 8 indikator kesejahteraan tersebut
(pendapatan, pengeluaran, keadaan tempat tinggal, fasilitas tempat tinggal,
kesehatan anggota rumah tangga, kemudahan mendapatkan pelayanan kesehatan,
kemudahan memasukkan anak ke suatu jenjang pendidikan, kemudahan
mendapatkan fasilitas transportasi) ditentukan berdasarkan pedoman penentuan


36
skor dari Badan Pusat Statistik yang telah dimodifikasi sesuai kondisi tempat
penelitian. Pengukuran tingkat kesejahteraan dari Badan Pusat Statistik (2005)
diklasifikasikan dengan cara mengurangkan jumlah skor tertinggi dengan jumlah
skor terendah, kemudian hasilnya dibagi dengan jumlah klasifikasi tingkat
kesejahteraan sebanyak tiga klasifikasi. Jumlah skor tertinggi dari delapan
indikator kesejahteraan adalah 26 dikurangi 8 dibagi 3 sama dengan 6 sehingga
dapat diperoleh hasil kelompok tingkat kesejahteraan sebagai berikut :
1. Tingkat kesejahteraan tinggi, jika mencapai skor =20 - 26
2. Tingkat kesejahteraan sedang, jika mencapai skor =14 - 19
3. Tingkat kesejahteraan rendah, jika mencapai skor =8 – 13
3.4.2 Analisis Pendapatan Rumah Tangga
Pendapatan rumah tangga petani adalah pendapatan yang diterima oleh
rumah tangga petani yang berasal dari usaha pertanian yaitu usahatani padi dan
non padi serta usaha non pertanian selama satu tahun yang dinyatakan dalam
rupiah per tahun (BPS, 2005). Pendapatan rumah tangga dirumuskan sebagai
berikut :
Rt =R
p
+R
np

Dimana : R
t
=Total pendapatan rumah tangga petani (rupiah per tahun)
R
p
=Pendapatan dari usaha pertanian (rupiah per tahun)
R
np
=Pendapatan dari usaha non pertanian (rupiah per tahun)
3.4.3 Analisis Pengeluaran Rumah Tangga
Pengeluaran rumah tangga petani yang dimaksud adalah biaya yang
dikeluarkan untuk kebutuhan hidup dalam jangka waktu satu tahun yang terdiri


37
dari pengeluaran untuk pangan dan pengeluaran untuk non pangan yang
dinyatakan dalam rupiah per tahun (BPS, 2005). Total pengeluaran rumah tangga
dapat dirumuskan sebagai berikut :
Ct =C1 +C2
Dimana :
Ct =Total pengeluaran rumah tangga (rupiah per tahun)
C1 =Pengeluaran untuk makanan (rupiah per tahun)
C2 =Pengeluaran untuk non makanan (rupiah per tahun)
3.4.4 Uji Kualitas Data
Uji kualitas data dengan uji validitas yang digunakan untuk mengetahui
seberapa baik ketepatan dan kecermatan suatu instrument untuk mengukur konsep
yang seharusnya diukur. Uji validitas digunakan untuk mengukur valid tidaknya
suatu kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan atau pernyataan
pada kuesioner mampu mengungkapkan sesuatu yang akan diukur pada kuesioner
tersebut. Uji validitas dilakukan dengan menggunakan pearson correlation,
dinyatakan valid jika nilai signifikansi yang dihasilkan lebih kecil dari 0,05
(Riduwan, 2007:353).
Sedangkan uji reliabilitas digunakan untuk mengukur suatu kuesioner
yang merupakan indikator dari variabel, uji reliabilitas menunjuk pada suatu
pengertian bahwa sesuatu instrument dapat dipercaya untuk digunakan sebagai
alat pengumpul data karena instrument tersebut sudah dianggap baik. Instrument
yang baik tidak akan bersifat tendensius mengarahkan responden untuk memilih


38
jawaban-jawaban tertentu. Reliebel artinya dapat dipercaya juga dapat diandalkan.
Sehingga beberapa kali diulang pun hasilnya akan tetap sama (konsisten).
Untuk melakukan pengujian terhadap butir-butir pertanyaan dapat
dikatakan reliebel maka penulis menggunakan one shot method, dengan uji
statistik Cronbach Alpha. Menurut Ridwan (2007:353) suatu konstruk atau
variabel dikatakan reliabilitas jika memberikan nilai Cronbach Alpha lebih besar
dari 0,60. Rumus reliabilitas ini dapat diselesaikan dengan menggunakan software
SPSS 17.0.
3.4.5 Uji Asumsi Klasik
Uji normalitas dilakukan untuk melihat penyebaran data yang normal atau
tidak, pengujian normalitas dalam penelitian ini dilakukan dengan uji normal
probability plot (p-plot) dimana data dikatakan normal jika nilai sebaran data
berada di sekitar garis lurus diagonal. Sedangkan uji multikolinieritas bertujuan
untuk menguji apakah pada model regresi ditemukan adanya korelasi antar
variabel independen. J ika terjadi maka terdapat problem multikolinieritas. Model
regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen.
Untuk mendeteksi adanya problem salah satunya dilakukan dengan melihat nilai
tolerance (TOL) dan variance inflation factor (VIF). Model regresi yang bebas
multikolinieritas adalah yang mempunyai nilai VIF kurang dari 10 dan
mempunyai nilai tolerance lebih dari 0,10 (Riduwan, 2007:218).
Uji Hesteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam sebuah model
regresi terjadi varians dari suatu pengamatan ke pengamatan lain. J ika varians dari
suatu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homoskedastisitas.


39
Sebaliknya, jika varians berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang
baik tidak terjadi heteroskedastisitas.
Salah satu cara untuk mendeteksi ada atau tidaknya heteroskedastisitas
yaitu dengan melihat grafik plot antar nilai prediksi variabel terikat (ZPRED)
dengan residualnya (SRESID). Deteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dapat
dilakukan dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot antara
SRESID dan ZPRED dimana sumbu Y adalah Y yang telah diprediksi, dan sumbu
X adalah residual (Y prediksi-Y sesungguhnya) yang telah studentized sehingga
jika ada pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit),
maka terjadi heteroskedastisitas, sebaliknya jika tidak ada pola yang jelas, serta
titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 (nol) pada sumbu Y, maka tidak
terjadi heterokedastisitas (Ridwan, 2007:219)
3.4.6 Uji Hipotesis
Uji statistik yang digunakan analisis regresi linier berganda dengan
pengertiannya adalah regresi dimana variabel terikatnya (Y)
dihubungkan/dijelaskan lebih dari satu variabel, mungkin dua, tiga, dan
seterusnya variabel bebas (X
1
,X
2
,X
3
,…X
n
) namun masih menunjukkan diagram
hubungan linear (Hasan, 2008:263).
Analisis regresi berganda dilakukan untuk menguji hipotesa pertama,
kedua, ketiga dan seterusnya, yaitu untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh
variabel-variabel pendapatan rumah tangga (X1), pengeluaran rumah tangga (X2),
keadaan tempat tinggal (X3), fasilitas tempat tinggal (X4), kesehatan anggota
keluarga (X5), kemudahan mendapatkan pelayanan kesehatan dari tenaga medis


40
(X6), kemudahan mendapatkan fasilitas transportasi (X7), kemudahan
memasukkan anak ke jenjang pendidikan (X8) terhadap kesejahteraan rumah
tangga (Y).
Variabel-variabel independen yang berjumlah delapan ini didapat dari
indikator kesejahteraan menurut BPS 2005 yang akan dilihat seberapa besar tiap
variabel independen tersebut dapat mempengaruhi variabel dependen
(kesejahteraan rumah tangga).
Persamaan regresi linear berganda pada penelitian ini adalah:
Y =a+b
1
X
1
+b
2
X
2
+b
3
X
3
+b
4
X
4
+b
5
X
5
+b
6
X
6
+b
7
X
7
+b
8
X
8
+e
Dimana :
Y =Tingkat kesejahteraan rumah tangga
a =nilai Y, apabila X
1
=X
2
=0
X
1
=Pendapatan rumah tangga petani
X
2
=Pengeluaran rumah tangga petani
X
3
=Keadaan tempat tinggal petani
X
4
=Fasilitas tempat tinggal petani
X
5
=Kesehatan anggota keluarga petani
X
6
=Kemudahan mendapatkan pelayanan kesehatan keluarga petani
X
7
=Kemudahan memasukkan anak ke jenjang pendidikan
X
8
=Kemudahan mendapatkan fasilitas transportasi
b = Besarnya kenaikan/penurunan Y dalam satuan, jika X
naik/turunsatu satuan dari X konstan

e =Kesalahan pengganggu
Pengujian hipotesis dilakukan melalui :


41
a. Koefisien Determinasi
Koefisien determinasi menunjukkan suatu proporsi dari varian yang dapat
diterangkan oleh persamaan regresi terhadap varian total. Koefisien
determinasi (R
2
) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model
dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi
adalah antara 0 (nol) dan 1 (satu). Nilai koefisien determinasi lebih besar
dari 0,5 menunjukkan variabel bebas dapat menjelaskan variabel terikat
dengan baik atau kuat, sama dengan 0,5 dikatakan sedang dan kurang dari
0,5 relatif kurang baik (Suharyadi dan Purwanto, 2008:217)
b. Uji Statistik F
Uji F untuk mengetahui apakah regresi berganda berikut perhitungan
koefisien regresinya menunjukkan ada pengaruh signifikansi atau tidak.
Maka terlebih dahulu perlu dilakukan pengujian dengan menggunakan
analisis F
hitung
(Ridwan, 2007:132), pengujian ini dilakukan untuk
mengetahui pengaruh variabel bebas (X) secara bersamaan (simultan)
terhadap variabel terikat (Y) dimana analisis dengan menggunakan uji
Fhitung
tersebut melakukan pengujian parameter secara serentak. Menurut
Ridwan (2007: 132) pengujian ini adalah:
Rumus Uji F :
JKK × k (n - i)
F =
JKG × k – 1
Nilai F hitung yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan nilai F tabel
dengan rumus :


42
r
2
(n – m – 1)
F hitung =
m. (1 – r
2
)
Keterangan :
n : Jumlah responden
m : jumlah variabel bebas
Kaidah pengujian signifikansi :
J ika F hitung >F tabel, maka Ho ditolak artinya signifikansi dan
J ika F hitung <F tabel, maka Ho diterima artinya tidak signifikan
c. Uji Statistik t
Uji statistik t dilakukan dengan memperbandingkan t
hitung
dengan t
tabel

guna mengetahui seberapa jauh masing-masing variabel bebas
mempengaruhi tingkat kesejahteraan rumah tangga petani di Cidokom.
(Riduwan, 2007:133)
Rumus perhitungan Uji t adalah :
a - µ ∩
t hitung =
S
√n
Keterangan :
t hitung : Nilai yang dihitung dan menunjukkan standar deviasi dari
distribusi t (table t)
n : Rata-rata nilai yang diperoleh dari hasil pengumpulan data
po : Nilai yang dihipotesiskan
n : Jumlah sampel penelitian
Nilai t hitung yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan nilai t tabel.
Pengambilan keputusan untuk uji t adalah :


43
t hitung ≤ t tabel maka Ho diterima, artinya variabel X tidak berpengaruh
nyata terhadap variabel Y
t hitung ≥ t tabel maka Ho ditolak, artinya variabel X berpengaruh nyata
terhadap variabel Y.
3.4.7 Uji Elastisitas
Elastisitas adalah derajat kepekaan suatu variabel sebagai akibat dari
perubahan variabel lain. Elastisitas dapat digunakan untuk mengetahui derajat
kepekaan variabel dependen terhadap perubahan variabel independen (Suprayitno,
2008:132). Penghitungan elastisitas yang dimaksud untuk menggambarkan tingkat
kepekaan variabel kesejahteraan (Y) terhadap variabel (X). Adapun rumus dari
elastisitas dapat dituliskan sebagai berikut:
E =bX
Ay
Ax

Keterangan :
E =Nilai elastisitas kesejahteraan
b =Koefisien Regresi
Δy =Nilai rata-rata Y
Δx =Nilai rata-rata X
Kriteria :
In elastis sempurna jika E =0
In elastis jika E <1
Elastis uniter jika E =1
Elastis jika E >1
Elastis sempurna jika E =~





44
BAB IV
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITI AN



4.1 Letak dan Lokasi
Kecamatan Rumpin terletak pada koordinat geografis antara 6
o
36” - 6
o
55”
Lintang Selatan dan 106
o
60 – 106
o
69” Bujur Timur, berdasarkan administratif
pemerintahan kabupaten Bogor, propinsi Jawa barat dengan luas 2.564.416
hektare. Kecamatan Rumpin dibatasi oleh beberapa wilayah, yaitu:
Sebelah Utara : Propinsi Banten
Sebelah Selatan : Kecamatan Jabangbulang dan Kecamatan Leuwiliang
Sebelah Timur : Kecamatan Gunung Sindur dan Kecamatan Parung
Sebelah Barat : Kecamatan Parung panjang dan Cigudeg
Secara administratif kecamatan Rumpin meliputi 13 desa yaitu desa
Leuwibatu, Cidokom, Gobang, Cibodas, Rabak, Kampung Sawah, Rumpin,
Cipinang, Sukasari, Tamansari, Sukamulya, Kertajaya dan Mekarjaya. Kecamatan
Rumpin yang terdiri dari beberapa desa ini mempunyai satu kesatuan yang kuat
dan sistem kekeluargaan yang tinggi. Sedangkan wilayah desa Cidokom dibatasi
oleh :
Sebelah Utara : Desa Cibodas Kecamatan Rumpin
Sebelah Selatan : Desa Ciaruteun Ilir Kecamatan Cibungbulang
Sebelah Timur : Desa Mekarsari Kecamatan Rancabungur
Sebelah Barat : Desa Gobang Kecamatan Rumpin




45
4.2 I klim dan Hidrologi
Menurut klasifikasi iklim Schmidt dan Ferguson, kecamatan Rumpin
termasuk dalam iklim A yaitu daerah yang sangat basah dengan vegetasi
hutan hujan tropik dengan rata-rata jumlah bulan kering adalah dua dan
jumlah bulan basah adalah Rumpin memiliki suhu minimum 28
o
C dan suhu
maksimum 33
o
C. Adapun curah hujan terbanyak sebanyak 51 hari, dengan curah
hujan 944 mm/t. sedangkan desa Cidokom memiliki curah hujan 3762 Mm/t.
4.3 Tanah dan Geologi
Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil laporan Topografi Kecamatan
Rumpin, terdapat beberapa jenis tanah. J enis tanah yang memiliki luasan terbesar
yaitu asosiasi latosol merah dan latosol coklat kemerahan (51,36%) dan kompleks
latosol merah kekuningan, latosol coklat dan litosol (21,06%). Tanah di Rumpin
juga mempunyai variasi yaitu datar sampai berombak (75%), berombak sampai
berbukit (10%), dan berbukit sampai bergunung (15%). Tanah yang ada di
Rumpin juga ada bermacam sesuai dengan penggunaannya, diantaranya tanah
sawah, tanah kering, tanah hutan, tanah perkebunan, tanah keperluan fasilitas
umum dan tanah makam. Secara geologis sebagian besar lahan kecamatan
Rumpin tersusun dari batuan endapan permukaan (52,43%), gunung api muda
berupa endapan bereaksi, lahar, lava, tufa (36,60%), batuan gamping (6,14%) dan
batuan tersier (4,83%). Sedangkan tanah di desa Cidokom warna tanah sebagian
besar merah, kuning, hitam, dan abu-abu dengan tekstur tanahnya lempungan,
pasiran dan debuan.



46
4.4 Topografi
Desa Cidokom mempunyai ketinggian yang bervariasi yaitu antara 125-
150 mdpl. Karakteristik topografi desa Cidokomsecara umum berada pada daerah
dengan kemiringan lereng beragam. Wilayah dataran rendah seluas 638 ha/m
2
,
berbukit-bukit 326 ha/m
2
, aliran sungai 20 ha/m
2
dan bantaran sungai 0,5 ha/m
2

4.5 J umlah Penduduk dan Tingkat Pendidikan
Keadaan sosial ekonomi masyarakat Cidokomdapat digambarkan melalui
pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan. Jumlah penduduk desa Cidokom adalah
11.460 jiwa, yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai
petani yaitu 618 keluarga dan sisanya adalah sebagai pegawai negeri sipil,
pegawai swasta, wiraswasta/berdagang, pensiunan, dan buruh bangunan.
Selanjutnya, digambarkan juga dari tingkat pendidikan, bahwa sebagian besar
penduduk berpendidikan hanya sampai tingkat Sekolah Dasar (SD) yaitu 5.431
jiwa, tamatan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) yaitu 523 jiwa, tamatan
Sekolah Menengah Atas (SMA) yaitu 142, dan tamatan perguruan tinggi 19 jiwa,
selebihnya tidak tamat sekolah.
4.6 Karakteristik Responden
Responden dalam penelitian yang dilakukan di desa Cidokom adalah
petani agroekologi yang berjumlah 30 orang. Berjumlah 30 orang karena
kelompok tani yang menerapkan agroekologi beranggotakan 30 orang. Petani di
desa Cidokom menerapkan agroekologi karena telah mengikuti kebiasaan
masyarakat sebelumnya dan kondisi tanah yang subur serta ketersediaan input
(pupuk kandang) mendukung untuk menerapkan agroekologi.


47
Pemilihan responden secara purposive berdasarkan beberapa kriteria yaitu
(1) petani bersedia diwawancarai dengan dipandu kuesioner dan (2) petani adalah
yang menerapkan agroekologi. Kuesioner yang disebarkan kepada 30 responden
menjelaskan berbagai karakteristik responden. Karakteristik responden yang
didapat diolah secara deskriptif dengan membagi karakteristik sesuai dengan
umur, pendidikan, pengalaman bertani, status kepemilikan tanah dan luas lahan
yang digarap.
4.7.1 Umur
Umur petani akan mempengaruhi kemampuan fisik bekerja dan cara
berfikir petani. Kemampuan kerja petani akan bertambah pada satu tingkat umur
tertentu, kemudian akan menurun. Petani responden yang menerapkan
agroekologi di desa Cidokom berusia antara 28 – 78 tahun. J ika dilihat dari
sebaran umur responden, sebagian besar responden adalah petani yang usianya
antara 46 -55 tahun.
Tabel 3. J umlah dan Persentase Responden Berdasarkan Umur di desa
Cidokom, 2011

Tingkat Umur
(tahun)
J umlah (orang) Persentase (%)
25 – 35 5 16,67
36 – 45 5 16,67
46 – 55 7 23,33
56 – 65 6 20,00
66 – 75 5 16,67
76 – 85 2 6,67
Total 30 100,00
Sumber : Hasil Penelitian Diolah
Berdasarkan tabel 3 diatas memperlihatkan tingkat umur responden, yang
menunjukkan bahwa petani yang berusia antara 46 – 55 tahun menempati urutan


48
tertinggi dengan persentase sebesar 23,33 persen. Hal ini menunjukkan bahwa
sebagian besar petani responden masih berada pada usia yang produktif. Petani
dengan Usia 46 – 55 masih mempunyai fisik yang baik untuk melakukan kegiatan
usahatani dan relatif lebih terbuka menerima adopsi teknologi dalam usahatani.
4.7.2 Pendidikan
Pendidikan dapat menjadi salah satu faktor pembentukan pola pikir
seseorang dalam menyikapi perubahan. Semakin tinggi pendidikan yang ditempuh
maka petani tersebut akan selalu meningkatkan kesejahteraannya. Pendidikan
dapat diperoleh melalui pendidikan formal dan informal. Hasil wawancara dengan
responden menunjukkan bahwa pendidikan formal yang dicapai pada umumnya
masih relatif rendah yaitu tidak tamat Sekolah Dasar (SD). Sebanyak 14 orang
responden (46,67 %) tidak tamat SD, sedangkan petani responden yang tamat SD
sebanyak 12 orang (40 %) dan yang tidak sekolah sebanyak 4 orang (13,33 %).
Tabel 4. J umlah dan Persentase Responden Berdasarkan Tingkat
Pendidikan di desa Cidokom, 2011

Tingkat Pendidikan

J umlah
(orang)
Persentase
(%)
Tidak sekolah 4 13,33
Tidak tamat SD 14 46,67
Tamat SD 12 40
Total 30 100,00
Sumber : Hasil Penelitian Diolah
Berdasarkan tabel 4 dari status pendidikan yang terlihat, sebagian besar
responden memiliki pendidikan yang rendah dan mungkin mempengaruhi
kemampuan petani untuk menyerap atau menerima pengetahuan yang baru dalam
hal pembangunan atau perkembangan pertanian termasuk juga dalam penerapan


49
agroekologi yang sebenarnya dapat membantu petani meningkatkan hasil
produksi pertanian mereka.
4.7.3 Pengalaman Bertani
Mayoritas masyarakat desa Cidokom memiliki mata pencaharian sebagai
petani. Tabel 5 menunjukkan bahwa pengalaman kerja responden paling banyak
berada pada kisaran 16-30 tahun yaitu sebanyak 16 orang (53,33 %).
Tabel 5. J umlah dan Persentase Responden Berdasarkan Pengalaman
Bertani di desa Cidokom, 2011

Tingkat Pengalaman
(tahun)
J umlah
(tahun)
Persentase
(%)
1 – 15 9 30
16 – 30 16 53,33
31 – 45 5 16,67
46 – 60 0 -
Total 30 100,00
Sumber : Hasil Penelitian Diolah
Pengalaman bertani itu diperoleh dengan cara turun-temurun dari orang
tua mereka maupun dari teman sesama petani, sehingga teknik bertani yang
dilakukan relatif sama. Pengalaman kerja petani di desa Cidokom rata-rata 20
tahun. Sebagian responden mengaku mulai bertani sejak usia muda. Hal ini
disebabkan karena mereka awalnya membantu mengurus sawah garapan
orangtuanya.
4.7.4 Status Kepemilikan Lahan
Petani di desa Cidokom sebagian melakukan usahatani dari tanah keluarga
yang dimiliki dan sebagian mengusahakan tanah orang lain dan tanah desa.
Sebanyak 24 orang (80%) melakukan kegiatan usahatani diatas tanah pribadi yang


50
dibeli sendiri atau diwariskan orang tua mereka. Sebanyak 6 orang (20%)
melakukan usahatani di tanah milik orang lain.
Tabel 6. Status Kepemilikan Lahan di desa Cidokom, 2011
Status Kepemilikan
Lahan
J umlah
(orang)
Presentase
(%)
Pribadi 24 80
Orang lain 6 20
Total 30 100
Sumber : Hasil Penelitian Diolah

Pendapatan petani yang menggarap lahan milik sendiri akan memiliki
pendapatan yang lebih besar daripada pendapatan petani yang menggarap lahan
milik orang lain. Hal ini karena petani yang menggarap lahan milik orang lain
akan membagi hasil yang diperoleh dengan pemilik lahan. Proporsi pembagian
hasil yang biasa dilakukan petani adalah 1 : 4 yaitu empat bagian dari hasil untik
pemilik lahan dan satu bagian dari hasil untuk penggarap.
4.7.5 Luas Lahan
Luas lahan yang dimiliki petani di lokasi penelitian masih dikatakan
sangat kecil dan hasil yang diperoleh dari hasil bertani pun lebih untuk kebutuhan
makan sehari-hari. Pada umumnya responden memiliki luas lahan kurang dari 1
hektar.
Tabel 7. Luas Lahan yang Usaha Tani Responden di desa Cidokom, 2011
No. Rentang Luas
(ha)
J umlah
(orang)
Presentase
(%)
1. 0,25 – 0,5 15 50
2. 0,60 – 1,0 9 30
3. 1,10 – 1,5 2 6,67
4. 1,60 – 2,0 4 13,33
Total 30 100,00
Sumber : Hasil Penelitian Diolah


51

Tabel 7 menunjukkan bahwa sebagian besar petani di desa Cidokom
memiliki luas lahan 0,25 – 0,5 ha sebanyak 15 orang (50%), 0,60 – 1,0 ha
sebanyak 9 orang (30%), 1,10 – 1,5 ha sebanyak 2 orang (6,67 %) dan 1,60 – 2,0
ha sebanyak 4 orang (13,33 %). Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata petani di
desa Cidokom tergolong petani kecil.



















52
BAB V
HASI L DAN PEMBAHASAN

5.1 Penerapan Agroekologi di Cidokom
Sektor pertanian di Indonesia mengalami berbagai masalah salah satunya
adalah dalam hal ketidakberdayaan petani kecil yang mempunyai keterbatasan
sumberdaya untuk menyerap teknologi. Sehingga, petani sering tidak mengikuti
perkembangan teknologi dalam hal meningkatkan hasil produksi yang berkaitan
dengan peningkatan kesejahteraan rumah tangga. Kondisi tersebut sama halnya
seperti yang terjadi pada penerapan agroekologi di desa Cidokom kecamatan
Rumpin kabupaten Bogor.
Model pertanian agroekologi yang diterapkan di kabupaten Bogor tidak
mudah dilakukan oleh masyarakat atau petani, karena sifat ketergantungan petani
pada pupuk kimia. Kondisi petani yang berlatar pendidikan yang relatif rendah
menyebabkan petani sulit untuk menyerap suatu model pertanian yang baru. Hal
ini karena petani lebih cenderung belajar dari pengalaman, pengetahuan warisan
orang tua dulu dan lebih berorientasi pada hasil produksi yang tinggi tanpa peduli
dengan keadaan lingkungan dan kesuburan tanah yang berkelanjutan. Kesuburan
tanah yang semakin menurun menyebabkan produktivitas lahan semakin
menurun, yang berimplikasi pada produktivitas pangan secara global terutama di
Indonesia sendiri.
Produktivitas pangan yang semakin menurun memberikan rangsangan
kepada pemerintah dan pihak pemerhati pertanian lainnya untuk melakukan
inovasi-inovasi baru agar dapat meningkatkan produktivitas pangan nasional dan


53
menyelamatkan keseimbangan lingkungan atau ekologi dari kerusakan akibat
aktivitas pertanian. Penyeimbangan lingkungan dan peningkatan produksi
pertanian dimulai dengan mengurangi penggunaan input eksternal.
Penggunaan input eksternal yang rendah dapat menjaga stabilitas ekologi
dan kondisi lingkungan, terutama kesuburan tanah yang sangat berpengaruh pada
hasil produksi. Penerapan penggunaan input eksternal yang rendah telah
dilakukan di beberapa daerah yang ada di Indonesia, salah satunya di kabupaten
Bogor. Penerapan Low External Input (LEI) di kabupaten Bogor merupakan
percontohan bagi daerah-daerah lain. Penerapan agroekologi di kabupaten Bogor
(desa Cidokom) sebenarnya telah dilakukan dari dahulu oleh petani berdasarkan
pengetahuan lokal. Namun petani belum mengetahui bahwa kegiatan yang telah
mereka lakukan merupakan kegiatan agroekologi. Adapun kegiatan penereapan
agroekologi yang telah dilakukan oleh petani adalah sebagai berikut:
5.1.1 Perawatan Tanah
Sebagian besar petani di desa Cidokom merawat tanah untuk menjaga
kesuburan tanah masih dilakukan dengan menggunakan pupuk kimia dan
pestisida. Namun, penggunaan pupuk kimia ini sudah berkurang dari sebelum
mereka menerapkan pertanian agroekologi. Pengurangan penggunaan pupuk
kimia sekitar 170 kg/ha per tahun. Penggunaan pupuk di desa Cidokom dilakukan
dengan mengurangi dosis pemakaian pupuk kimia dan menggantinya dengan
pupuk kandang yang tersedia karena lebih banyak terjangkau oleh petani. Selain
pupuk kimia dan pupuk kandang, petani juga menggunakan pupuk alami serta
daun bambu yang dibakar untuk dijadikan pupuk, kotoran kerbau, dan kotoran


54
kambing yang dijadikan pupuk kandang, penggunaan pupuk dari jerami yang
dilapisi dengan kotoran ayam, dan penggunaan abu dari kayu bakar.
Pengolahan tanah yang dilakukan oleh petani untuk menjaga kesuburan
tanah masih menggunakan cara tradisional yaitu menggunakan kerbau dalam
proses pembajakan. Penggunaan kerbau ini menggambarkan pengurangan
pemakaian energi (bahan bakar) dibandingkan dengan penggunaan traktor yang
biasa dilakukan petani sekarang. Selain itu petani juga melakukan pergantian
tanaman antara lain tanaman kacang-kacangan dan jagung yang dapat mengikat
nitrogen sehingga dapat mempertahankan unsur hara tanah.
5.1.2 Penangkaran benih
Penangkaran benih yang dilakukan petani di desa Cidokom pada
umumnya dilakukan sendiri oleh petani, hal ini dilakukan karena memperkecil
biaya yang harus dikeluarkan petani per musimnya. Benih pada awalnya diperoleh
petani dengan cara membeli, lalu untuk musim tanam berikutnya petani memilih
hasil panen yang dianggap baik untuk dijadikan benih. Namun, benih yang
diambil dari hasil panen hanya dapat digunakan untuk tiga musim tanam,
selanjutnya petani membeli benih lagi atau melakukan pertukaran pada petani lain
yang hasil panennya masih baik untuk dijadikan benih.
Proses penangkaran benih ini selain menjadi tradisi para petani, juga
disosialisasikan oleh Serikat Petani Indonesia (SPI) sebagai bagian dari kampanye
kemandirian benih tanpa menggantungkan pada benih pada produk pabrik. Petani
yang tergabung dalam anggota basis SPI, selain menangkar benih sendiri juga
biasanya membeli benih hasil tangkaran dari Bank Benih SPI di Dramaga, Bogor.


55
5.1.3 Pengendalian Hama
Pertanian yang ekologis mengendalikan hama dengan menggunakan
pestisida alami. Penggunaan pestisida alami pada petani di desa Cidokom
dilakukan sesuai dengan hama yang menyerang. Hama yang menyerang sesuai
dengan jenis tanamannya. Tanaman padi biasanya diserang hama wereng, hama
ini merupakan hama yang paling sulit untuk dimusnahkan dan belum ditemukan
juga bahan alami yang dapat memusnahkan hama tersebut, sehingga petani masih
menggunakan pestisida kimia untuk membasmi hama tersebut. Jenis pestisida
kimia yang sering digunakan petani adalah Akodan dan Purudan. Padi juga
diserang oleh hama tikus, hama ini dapat dikendalikan dengan menggunakan
pestisida alami yaitu dengan menggunakan daun pandan, dengan cara daun
pandan yang telah diiris kemudian disebar ke sawah.
Hama walang sangit juga menjadi ancaman petani padi karena
mengganggu produktivitas padi. Hama ini biasa dikendalikan dengan
menggunakan daun sirsak yang ditumbuk dan dicampur dengan air. Petani di
lokasi penelitian juga menggunakan pengetahuan lokal dalam mengendalikan
hama. Pengetahuan lokal yang dimanfaatkan petani misalnya informasi tentang
waktu tanam yaitu menggunakan bulan jawa (setiap tanggal 18 bulan jawa)
dengan perhitungan ini diharapkan dapat mengurangi serangan hama dan
meningkatkan hasil. Pengenalian hama yang dilakukan di desa Cidokom belum
sepenuhnya lepas dari input eksternal atau penggunaan pestisida. Hal ini terjadi
karena adanya keterbatasan pengetahuan dan informasi tentang pestisida alami
yang dapat digunakan oleh petani.


56
5.1.4 Pengaturan Air
Air merupakan sumber daya yang vital bagi tanaman. Ketersediaan air
sangat berpengaruh pada produksi tanaman, sehingga diperlukan sistem pengairan
yang baik untuk melestarikan air yang tersedia dan mengatur air yang berlebihan
dari sawah. Sistem pengairan di lokasi penelitian tidak menggunakan sistem
irigasi, melainkan memanfaatkan air yang bersumber dari gunung, air hujan dan
air sungai. Pemanfaatan air merupakan “common resources” dilakukan dengan
baik oleh masyarakat yaitu dengan cara membuat parit secara bersama-sama
sebagai tempat aliran air dan kemudian air dialirkan ke setiap sawah. Air bukan
merupakan sumberdaya yang sulit diperoleh oleh petani, karena lokasi ini berada
di kawasan gunung kapur yang menyediakan aliran air yang cukup untuk
pertanian.
5.1.5 Keberlanjutan Agroekologi di desa Cidokom
Penerapan agroekologi pada awalnya dinilai oleh sebagian besar petani
sebagai model yang dianggap merugikan karena dengan menggunakan pupuk
kandang dan pengurangan pupuk kimia menyebabkan hasil produksi berkurang.
Berkurangnya hasil produksi yang dirasakan oleh petani hanya merupakan awal
perubahan yang dirasakan petani dari yang biasa menggunakan pupuk kimia
dengan tanpa penggunaan pupuk kimia. Sehingga sangat diperlukan penyuluhan
atau pendidikan non formal untuk petani agar mereka dapat lebih mengerti dan
memahami keuntungan dari penerapan agroekologi.
Penyuluhan dan pendidikan non formal di lokasi penelitian diawali dengan
pembentukan kelompok tani seperti Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) oleh


57
Serikat Petani Indonesia cabang Bogor. Melalui proses penyuluhan dijelaskan
kepada petani keuntungan dari segi lingkungan dan ekonomi, dengan melakukan
penerapan penggunaan input eksternal yang rendah. Penyuluhan ini juga
dilakukan dengan memberi pengetahuan dan pendidikan mengenai cara
menghargai lingkungan agar tetap berkelanjutan dan yang pastinya akan tetap
memberikan manfaat bagi petani.
Manfaat yang disampaikan kepada petani bukan hanya manfaat ekonomi
dalam bentuk nominal rupiah namun manfaat ekologis sistem lain, kesehatan serta
keberlanjutan dari sistem tersebut. Penerapan agroekologi di desa Cidokom yang
didampingi oleh SPI baru dilakukan dalam waktu lebih kurang satu tahun terakhir
ini. Penerapan ini dilakukan oleh SPI dengan bertahap di kabupaten Bogor, yaitu
di desa Cidokom dan Pasir Honje. Pengorganisasian kelompok tani ini bermaksud
juga untuk menguatkan basis petani di pedesaan melalui pendidikan politik petani
dan perjuangan atas hak-hak petani atas tanah dan benih. Pengorganisasian ini
mengalami perkembangan yang semakin maju karena petani semakin memahami
dan dengan mudah menerapkan pola agroekologi.
5.2 Tingkat Kesejahteraan Rumah Tangga Menurut Badan Pusat Statistik
tahun 2005

5.2.1 Pendapatan Rumah Tangga Petani
Tingkat pendapatan rumah tangga petani dapat diukur dengan
menggunakan kriteria Direktorat Tata Guna Tanah. Kriteria Tata Guna Tanah
dalam mengukur tingkat kesejahteraan keluarga menggunakan pendekatan
pendapatan keluarga dalam membeli Sembilan bahan pokok yang disetarakan


58
dengan pendapatan per kapita per tahun dari masing-masing keluarga
(Irmayani,2007:89).
Sembilan bahan pokok yang telah ditetapkan oleh Direktorat Tata Guna
Tanah antara lain 100 kg beras, 15 kg ikan asin, 6 kg minyak goring, 60 liter
minyak tanah, 6 kg gula pasir, 9 kg garam, 20 batang sabun, 4 meter kain kasar 4
meter batik kasar. Harga yang ditetapkan merupakan harga yang berlaku pada saat
dilakukan penelitian (tabel 8).
Tabel 8. Nilai Sembilan Bahan Pokok Sebagai Dasar Menentukan Kriteria
Kemiskinan di Desa Cidokom, 2011

No. Bahan Harga satuan
(Rp)
J umlah Nilai*
(Rp)
1. Beras (kg) 5.000,00 100 500.000,00
2. Ikan asin (kg) 12.500,00 15 187.500,00
3. Minyak Goreng (kg) 6.600,00 6 39.600,00
4. Minyak tanah (liter) 2.800,00 60 168.000,00
5. Gula Pasir (kg) 6.600,00 6 39.600,00
6. Garam (kg) 2.500,00 9 22.500,00
7. Sabun (batang) 2.000,00 20 40.000,00
8. Kain kasar (m) 15.000,00 4 60.000,00
9. Batik kasar (m) 20.000,00 4 80.000,00
Total 1.137.200,00
*saat dilakukan penelitian
Klasifikasi tingkat kesejahteraan menurut Direktorat Tata Guna Tanah
berdasarkan pada kebutuhan Sembilan pokok antara lain :
(1) Tidak Miskin, jika pendapatan per kapita per tahun bernilai lebih dari Rp.
2.274.400,00 (diatas 200 persen dari pengeluaran total harga Sembilan
bahan pokok).
(2) Miskin, jika pendapatan per kapita per tahun bernilai antara Rp.
1.421.000,00 – Rp. 2.274.400,00 (125 – 200 persen dari pengeluaran total
harga Sembilan bahan pokok)


59
(3) Miskin sekali, jika pendapatan per kapita per tahun bernilai antara Rp.
852.900,00 – Rp. 1.421.000,00 (75 – 125 persen dari pengeluaran total
harga Sembilan bahan pokok).
(4) Paling miskin, jika pendapatan per kapita per tahun bernilai kurang dari
Rp. 852.900,00 (dibawah 75 persen dari pengeluaran total harga Sembilan
bahan pokok).
Rata-rata pendapatan per kapita per tahun rumah tangga petani di desa
Cidokom dikategorikan tidak miskin karena nilai rata-rata pendapatan per kapita
per tahun sebesar Rp. 2.477.140,00. Berdasarkan kriteria kemiskinan Direktorat
Tata Guna Tanah, maka sebanyak 20 rumah tangga petani (66,67%) tergolong
tidak miskin sedangkan sisanya sebanyak 7 rumah tangga (23,33%) tergolong
miskin dan 3 rumah tangga (10%) tergolong miskin sekali.
Nilai pendapatan per kapita per tahun yang besar disebabkan karena
penerimaan dari usaha pertanian yang besar. Responden yang memiliki
pendapatan per kapita per tahun terbesar memiliki penerimaan sebesar Rp.
14.800.000,00 dan memiliki empat orang anggota rumah tangga. Pendapatan per
kapita per tahun yang terkecil dimiliki oleh responden yang memiliki jumlah
anggota rumah tangga sebanyak lima orang dengan penerimaan sebesar
Rp.4.800.000,00 per tahun.





60
Tabel 9. Tingkat Pendapatan Rumah Tangga Petani di desa Cidokom
Berdasarkan Kriteria Tata Guna Tanah, 2011
Sumber : Hasil Penelitian Diolah


Nomor
Respon
-den
Pendapatan (Rp/tahun) Total
Penda-
patan
(Rp/tahun)
J umlah
Anggo-
ta RT
(orang)
Pendapatan
Per Kapita
Per tahun
Kriteria
Padi Non Padi Non
Pertanian
1 10.000.000 1.800.000 6.200.000 18.000.000 6 3.000.000 Tidak Miskin
2 16.000.000 1.000.000 6.750.000 23.750.000 7 3.392.857 Tidak Miskin
3 5.100.000 1.350.000 8.350.000 14.800.000 4 3.700.000 Tidak Miskin
4 6.400.000 1.800.000 1.600.000 9.800.000 3 3.266.667 Tidak Miskin
5 5.300.000 400.000 - 5.700.000 3 1.900.000 Miskin
6 4.250.000 3.950.000 6.150.000 14.350.000 5 2.870.000 Tidak Miskin
7 4.800.000 - 3.320.000 8.120.000 4 2.030.000 Miskin
8 18.000.000 2.750.000 3.250.000 24.000.000 8 3.000.000 Tidak Miskin
9 14.400.000 550.000 - 14.950.000 6 2.491.667 Tidak Miskin
10 6.400.000 600.000 - 7.000.000 4 1.750.000 Miskin
11 12.000.000 1.200.000 - 14.700.000 5 2.940.000 Tidak Miskin
12 1.200.000 4.150.000 - 5.350.000 4 1.337.500 MiskinSekali
13 4.000.000 3.500.000 6.500.000 14.000.000 5 2.800.000 Tidak Miskin
14 6.000.000 2.000.000 - 8.000.000 3 2.666.667 Tidak Miskin
15 6.000.000 - 8.400.000 14.400.000 5 2.880.000 Tidak Miskin
16 2.500.000 3.000.000 6.500.000 12.000.000 5 2.400.000 Tidak Miskin
17 2.200.000 2.400.000 4.100.000 8.700.000 6 1.450.000 Miskin
18 4.000.000 800.000 - 4.800.000 5 960.000 MiskinSekali
19 3.200.000 400.000 3.150.000 6.750.000 4 1.687.500 Miskin
20 4.000.000 450.000 2.750.000 7.200.000 6 1.200.000 MiskinSekali
21 2.600.000 600.000 3.300.000 6.500.000 2 3.250.000 Tidak Miskin
22 16.750.000 3.000.000 3.250.000 23.000.000 9 2.555.556 Tidak miskin
23 3.600.000 800.000 8.000.000 12.400.000 4 3.100.000 Tidak Miskin
24 6.000.000 250.000 2.000.000 8.250.000 5 1.650.000 Miskin
25 4.800.000 3.950.000 - 8.750.000 3 2.916.667 Tidak Miskin
26 6.800.000 1.010.000 5.000.000 12.810.000 5 2.562.000 Tidak Miskin
27 4.250.000 1.550.000 - 5.800.000 4 1.450.000 Miskin
28 9.000.000 1.350.000 11.000.000 20.350.000 7 2.907.142 Tidak Miskin
29 3.200.000 200.000 3.000.000 6.400.000 2 3.200.000 Tidak Miskin
30 3.400.000 1.700.000 6.900.000 12.000.000 4 3.000.000 Tidak Miskin
J umlah 196.150.000 61.810.000 109.470.000 352.630.000 143 74.314.223
Rata-
rata
6.538.334 2.060.334 3.649.000 11.754.333 4 2.477.140 Tidak Miskin


61
5.2.2 I ndikator Pengeluaran Rumah Tangga Petani
Tingkat pengeluaran rumah tangga petani di desa Cidokom dapat diukur
dengan menggunakan konsep kemiskinan menurut Sajogyo yang menggunakan
beras sebagai dasar penggolongan tingkat kemiskinan. Konsep ini menyetarakan
pengeluaran per kapita per tahun dengan konsumsi beras setempat
(Irmayani,2007:91).
Rata-rata harga beras pada saat dilakukan penelitian adalah Rp.5000,00
per kilogram. Harga beras tersebut dikalikan sejumlah beras yang dikonsumsi
masyarakat pedesaan dengan pendapatan per kapita berdasarkan konsep Sajogyo
dan disetarakan pengeluaran per kapita per tahun rumah tangga petani.
Konsep kemiskinan Sajogyo mempunyai empat kriteria yaitu :
(1) Tidak miskin, apabila pengeluaran per kapita per tahun lebih besar dari
Rp. 1.600.000,00 (konsumsi diatas 320 kilogram beras)
(2) Miskin, apabila pengeluaran per kapita per tahun lebih kecil dari Rp.
1.600.000,00 (konsumsi dibawah 320 kilogram beras)
(3) Miskin sekali, apabila pengeluaran per kapita per tahun lebih kecil dari
Rp.1.200.000,00 (konsumsi dibawah 240 kilogram beras)
(4) Paling miskin, apabila pengeluaran per kapita per tahun lebih kecil dari
Rp.900.000,00 (konsumsi dibawah 180 kilogram beras)





62
Tabel 10. Tingkat Pengeluaran Rumah Tangga Petani Berdasarkan Kriteria
Sajogyo di desa Cidokom, 2011
Sumber : Hasil Penelitian Diolah
Nama
Responden
Pengeluaran (Rp/tahun) Total
Pengeluaran
(Rp/tahun)
J umlah
Anggota
RT
(orang)
Pendapatan
Per Kapita
Per tahun
Kriteria
Pangan Non Pangan
1 6.379.000 2.560.000 8.939.000 6 1.489.830 Miskin
2 7.920.000 8.180.000 16.100.000 7 2.300.000 Tidak Miskin
3 2.370.000 2.580.000 4.950.000 4 1.237.500 Miskin
4 3.644.000 2.344.000 5.988.000 3 1.996.000 Tidak Miskin
5 3.870.000 1.880.000 5.758.000 3 1.919.300 Tidak Miskin
6 7.180.000 3.300.000 10.480.000 5 2.096.000 Tidak Miskin
7 5.637.000 1.678.000 7.315.000 4 1.828.750 Tidak Miskin
8 10.774.000 6.580.000 17.354.000 8 2.169.250 Tidak Miskin
9 7.368.000 2.670.000 10.038.000 6 1.673.000 Tidak Miskin
10 3.990.000 2.230.000 6.220.000 4 1.555.000 Miskin
11 5.200.000 4.020.000 9.220.000 5 1.844.000 Tidak Miskin
12 3.545.000 1.400.000 4.945.000 4 1.236.250 Miskin
13 5.175.000 5.550.000 10.725.000 5 2.145.000 Tidak Miskin
14 3.829.000 2.030.000 5.859.000 3 1.953.000 Tidak Miskin
15 6.080.000 4.650.000 10.730.000 5 2.146.000 Tidak Miskin
16 5.070.000 3.110.000 8.180.000 5 1.636.000 Tidak Miskin
17 4.982.000 2.950.000 7.932.000 6 1.322.000 Miskin
18 4.800.000 2.000.000 6.800.000 5 1.360.000 Miskin
19 3.600.000 3.500.000 7.100.000 4 1.775.000 Tidak Miskin
20 4.832.000 2.630.000 7.462.000 6 1.243.660 Miskin
21 2.161.000 1.080.000 3.241.000 2 1.620.500 Tidak Miskin
22 10.890.000 11.000.000 21.890.000 9 2.432.200 Tidak Miskin
23 7.600.000 3.900.000 11.500.000 4 2.875.000 Tidak Miskin
24 5.120.000 2.500.000 7.620.000 5 1.524.000 Miskin
25 3.700.000 2.810.000 6.510.000 5 1.302.000 Miskin
26 7.400.000 3.600.000 11.000.000 5 2.200.000 Tidak Miskin
27 3.800.000 1.500.000 5.300.000 4 1.325.000 Miskin
28 11.300.000 8.120.000 19.420.000 7 2.774.500 Tidak Miskin
29 2.800.000 1.600.000 4.400.000 2 2.200.000 Tidak Miskin
30 4.694.000 4.624.000 9.318.000 4 2.329.500 Tidak Miskin
J umlah 165.710.000 106.576.000 272.294.000 145 53.588.940
Rata-rata 5.523.667 3.552.533 9.076.467 4 1.786.298 Tidak miskin


63
Dari hasil penelitian, rumah tangga petani yang tergolong miskin sebanyak
10 responden (33,33%), dan 20 responden (66,67%) tergolong tidak miskin.
Pengeluaran per kapita per tahun yang terkecil sebesar Rp. 1.236.250,00 atau
setara dengan 247,25 kilogram beras. Rata-rata pengeluaran per kapita per tahun
sebesar Rp. 1.850.274,00 atau setara dengan 370,05 kilogram beras. Jumlah
pengeluaran (untuk makanan atau untuk non makanan) sangat dipengaruhi oleh
besarnya pendapatan yang dimiliki.
5.2.3 Keadaan Tempat Tinggal
Kondisi dan keadaan rumah atau tempat tinggal yang ditempati dapat
dijadikan salah satu indikator untuk menunjukkan keadaan sosial ekonomi rumah
tangga seseorang. Keadaan tempat tinggal dapat memberikan gambaran mengenai
tingkat kesejahteraan rumah tangga, karena tempat tinggal merupakan salah satu
kebutuhan pokok disamping kebutuhan pangan, sandang, pendidikan dan
kesehatan. Penilaian tempat tinggal dibagi menjadi tiga kategori yaitu
permanen (skor 3), semi permanen (skor 2) dan non permanen (skor 1). Kriteria
penilaian didasarkan pada penilaian secara visual antara lain penilaian terhadap
atap, bilik, status kepemilikan, lantai dan luas lantai, dimana masing-masing
kriteria ini memiliki skor.
Tabel 11 menggambarkan keadaan tempat tinggal petani, dimana seluruh
petani padi yang menjadi responden sudah menggunakan atap dari genteng (100
persen). Bilik tempat tinggal petani yang menggunakan tembok sebanyak 18
keluarga (60 persen), 7 keluarga menggunakan bilik setengah tembok (23,33


64
persen), 1 keluarga (3,33 persen) menggunakan bilik kayu dan 4 keluarga (13,33
persen) menggunakan bilik bambu kayu.
Tabel 11. Keadaan Tempat Tinggal Petani di desa Cidokom, 2011
No. Keadaan Tempat Tinggal Skor J umlah RT
Petani
Presentase
(%)
1. Atap
a) Genteng 5 30 100,00
b) Asbes 4 -
c) Seng 3 -
d) Sirap 2 -
e) Daun 1 -
J umlah 30 100,00
2. Bilik
a) Tembok 5 18 60,00
b) Setengah Tembok 4 7 23,33
c) Kayu 3 1 3,33
d) Bambu Kayu 2 4 13,33
e) Bambu 1 - -
J umlah 100,00
3. Status
a) Milik Sendiri 3 27 90,00
b) Sewa 2 3 10,00
c) Numpang 1 - -
J umlah 100,00
4. Lantai
a) Porselin 5 1 3,33
b) Ubin 4 17 56,67
c) Plester 3 7 23,33
d) Papan 2 5 16,67
e) Tanah 1 - -
J umlah 100,00
5. Luas Lantai
a) ≥ 100 m
2
3 6 20,00
b) 50 – 100 m
2
2 21 70,00
c) <100 m
2
1 3 10,00
J umlah 100,00
Kriteria
Permanen (total skor 15 – 21) 3 23 76,67
Semi Permanen (total skor 10 -
14)
2 7 23,33
Non Permanen (total skor 5 -9) 1 - -
Total 100,00
Sumber : Hasil Penelitian Diolah


65
Status kepemilikan rumah berdasarkan tabel 11 yaitu sebanyak 27
keluarga (90 persen) merupakan milik sendiri dan 3 keluarga (10 persen)
berstatus menyewa dengan orang lain. Lantai rumah tangga sebanyak 1 keluarga
(3,33 persen) porselin, 17 keluarga (56,67 persen) menggunakan ubin, 7 keluarga
(23,33 persen) menggunakan plester dan 5 keluarga (16,67 persen) menggunakan
papan. Luas lantai yang dimiliki petani bervariasi, yaitu sebanyak 6 keluarga (20
persen) memiliki luas lantai ≥ 100m
2
, 21 keluarga (70 persen) memiliki luas
lantai antara 50-100 m
2
dan sisanya sebanyak 3 keluarga (10 persen) memiliki
luas lantai <100m
2
.
Berdasarkan tabel 11 terlihat bahwa sebagian besar petani sudah memiliki
tempat tinggal permanen (skor 15-21) yaitu sebanyak 23 keluarga (76,67 persen),
sedangkan sisanya sebanyak 7 keluarga (23,33 persen) memiliki tempat tinggal
semi permanen (skor 10-14). Hasil yang didapat menggambarkan bahwa perhatian
rumah tangga petani terhadap keadaan tempat tinggal cukup besar.
5.2.4 Fasilitas Tempat Tinggal
Kondisi dan kualitas keadaan rumah yang ditempati keluarga juga
merupakan salah satu indikator yang dapat menunjukkan keadaan sosial ekonomi
keluarga. Kriteria penilaian fasilitas tempat tinggal antara lain luas pekarangan,
sarana hiburan dan alat pendingin, penerangan, bahan bakar, sumber air dan
ketersediaan MCK.
Berdasarkan tabel 12, terlihat bahwa pekarangan rumah yang dimiliki oleh
rumah tangga petani sebagian besar tergolong cukup luas (50-100 m
2
) yaitu
sebanyak 18 orang (60,00 persen), 4 rumah tangga (13,33 persen) memiliki


66
pekarangan yang luas ( >100 m
2
), dan sisanya sebanyak 8 rumah tangga (26,67
persen) memiliki pekarangan sempit ( <50 m
2
).
Alat hiburan yang dimiliki oleh rumah tangga petani sebagian besar yaitu
berupa televisi. Rumah tangga petani yang memiliki alat hiburan berupa video
sebanyak 3 keluarga (10,00 persen), televisi sebanyak 16 keluarga (53,33 persen),
tape recorder sebanyak 5 keluarga (16,67 persen) dan sisanya sebanyak 6 keluarga
(20 persen) mempunyai hiburan radio. Hal ini menunjukkan bahwa penduduk
desa Cidokom sudah banyak yang mampu dalam menyediakan sarana hiburan di
rumah.
Fasilitas pendingin yang umum digunakan oleh rumah tangga petani
adalah alam yaitu sebanyak 20 rumah tangga (66,67 persen), 7 rumah tangga
(23,33 persen) menggunakan kipas angin, dan sisanya 3 rumah tangga (10 persen)
menggunakan lemari es sebagai fasilitas pendingin. Sumber penerangan yang
digunakan oleh rumah tangga petani di desa Cidokom sebanyak 28 rumah tangga
(93,33 persen) menggunakan listrik dan sisanya sebanyak 2 rumah tangga (6,67
persen) masih menggunakan petromaks.
Bahan bakar yang paling banyak digunakan oleh rumah tangga petani
adalah gas yaitu sebanyak 17 rumah tangga (56,67 persen), minyak tanah 3 rumah
tangga (10 persen) dan sisanya sebanyak 10 rumah tangga (33,33 persen) masih
menggunakan kayu arang sebagai bahan bakar. Bahan bakar gas banyak dipakai
karena mudah didapat di warung dan adanya kompor gas subsidi dari pemerintah.
Namun ada juga yang memakai kayu karena cukup mudah mendapatkan kayu
bakar.


67
Tabel 12. Fasilitas Tempat Tinggal di desa Cidokom, 2011
No. Fasilitas Tempat Tinggal Skor J umlah RT Presentase %
1. Pekarangan
a) Luas 3 4 13,33
b) Cukup 2 18 60,00
c) Sempit 1 8 26,67
J umlah 30 100,00
2. Hiburan
a) Video 4 3 10,00
b) TV 3 16 53,33
c) Tape recorder 2 5 16,67
d) Radio 1 6 20,00
J umlah 30 100,00
3. Pendingin
a) AC 4 - -
b) Lemari es 3 3 10,00
c) Kipas angina 2 7 23,33
d) Alam 1 20 66,67
J umlah 30 100,00
4. Sumber Penerangan
a) Listrik 3 28 93,33
b) Petromak 2 2 6,67
c) Lampu temple 1 - -
J umlah 30 100,00
5. Bahan bakar
a) Gas 3 17 56,67
b) Minyak Tanah 2 3 10,00
c) Kayu arang 1 10 33,33
J umlah 30 100,00
6. Sumber air
a) PAM 6
b) Sumur bor 5
c) Sumur 4 29 96,67
d) Mata air 3
e) Air hujan 2
f) Sungai 1 1 3,33
J umlah 30 100,00
7. MCK
a) Kamar mandi sendiri 4 13 43,33
b) Kamar mandi umum 3 1 3,33
c) Sungai 2 16 53,33
d) Kebun 1 - -
J umlah 30 100,00
Lengkap (skor 21 – 27) 5 16,67
Cukup ( total skor 14 – 20) 23 76,67
Kurang (total skor 7 – 13) 2 6,67
J umlah 30 100,00


68
Sumber air yang dimanfaatkan oleh sebagian besar rumah tangga petani
adalah sumur yaitu 29 rumah tangga (96,67 persen) dan sisanya sebanyak 1 rumah
tangga (3,33 persen) menggunakan sungai. Rumah tangga petani di desa Cidokom
yang mempunyai MCK sendiri sebanyak 13 rumah tangga (43,33 persen), 16
rumah tangga (53,33 persen) masih menggunakan MCK sungai dan 1 rumah
tangga (3,33 persen) menggunakan kamar mandi umum.
Berdasarkan tabel 12 terlihat bahwa rumah tangga petani yang fasilitas
tempat tinggalnya termasuk dalam kategori cukup (14 – 20 ) sebanyak 23 rumah
tangga (76,67 persen), lengkap (21 – 27) sebanyak 5 rumah tangga (16,67 persen)
dan sisanya sebanyak 2 rumah tangga (6,67 persen) kategori kurang (7 – 13).
Fasilitas tempat tinggal yang sedang atau cukup, disebabkan karena pendapatan
yang diperoleh petani sebagian besar masih digunakan untuk pengeluaran
makanan dan pendidikan. Fasilitas pokok yang terpenting adalah tersedianya
sarana penerangan listrik, air, dan kamar mandi.
5.2.5 Kesehatan Anggota Keluarga
Kesehatan anggota rumah tangga dapat dilihat dari beberapa kriteria, yaitu
bagus (skor 3) jika dari seluruh anggota rumah tangga dalam satu bulan kurang
dari 25 persen sering sakit, cukup bagus (skor 2) jika dari seluruh anggota rumah
tangga dalam satu bulan antara 25 persen sampai 50 persen sering sakit dan
kurang bagus (skor 1) jika dari seluruh anggota rumah tangga dalam satu bulan
lebih dari 50 persen sering sakit. Berdasarkan tabel 10 terlihat bahwa sebanyak 14
rumah tangga petani (46,67 persen) kesehatan anggota rumah tangga tergolong


69
bagus, dan 16 rumah tangga petani (53,33 persen) kesehatan anggota rumah
tangga tergolong cukup.
Tabel 13. Kesehatan Anggota Keluarga Petani di desa Cidokom, 2011
Kesehatan Anggota
Keluarga
Skor Akhir J umlah RT Petani Presentase
(%)
Bagus (< 25 % anggota
keluarga sering sakit)
3 14 46,67
Cukup (25 – 50 % anggota
keluarga sering sakit)
2 16 53,33
Kurang (> 50 % anggota
keluarga sering sakit)
1 - -
Total 30 100,00
Sumber : Hasil Penelitian diolah
5.2.6 Kemudahan Mendapatkan Pelayanan Kesehatan
Kesehatan merupakan salah satu faktor penunjang keberhasilan suatu
pembangunan. Peran pemerintah dalam meningkatkan pelayanan kesehatan
adalah dengan melakukan upaya pembangunan sarana dan prasarana yang
dibutuhkan masyarakat. Berdasarkan tabel 14 terlihat bahwa kemudahan
mendapatkan pelayanan kesehatan dari tenaga medis/paramedis dapat diukur
dengan indikator jarak ke rumah sakit terdekat, jarak ke tempat pelayanan
kesehatan terdekat, biaya berobat, penanganan berobat, alat kontrasepsi dan
konsultasi KB. Skor untuk indikator ini adalah mudah (14 - 18), cukup (10 – 13)
dan sulit (6 – 9).
Pada tabel 14 terlihat bahwa menurut rumah tangga petani yang berjarak
0,01-3 km sebanyak 26 (86,67 persen) dan sisanya sebanyak 4 keluarga berada
pada jarak lebih dari 3 km dari rumah sakit terdekat yaitu di kota Bogor.
Masyarakat di desa Cidokom lebih memilih ke Puskesmas untuk melakukan
pelayanan kesehatan. Sebanyak 26 rumah tangga (86,67 persen) menyatakan jarak


70
ke tempat poliklinik 0,01 – 3 km dan sebanyak 4 rumah tangga (13,33 persen)
menyatakan jaraknya lebih dari 3 km. Ini berarti bahwa ketersediaan tempat
berobat di desa Cidokom masih cukup terjangkau oleh masyarakat.
Sebagian besar rumah tangga petani yaitu 18 rumah tangga (60,00 persen)
menyatakan bahwa biaya yang dikeluarkan untuk pelayanan kesehatan cukup
terjangkau, 4 rumah tangga (13,33 persen) terjangkau dan sisanya 8 rumah tangga
(26,67 persen) sulit terjangkau. Sedangkan penanganan berobat yang dirasakan
oleh rumah tangga petani di desa Cidokom yaitu sebanyak 4 rumah tangga (13,33
persen) menyatakan baik, dan 26 rumah tangga (86,67 persen) menyatakan cukup.
Masalah Keluarga Berencana (KB) rumah tangga petani baik mengenai
cara mendapatkan alat kontrasepsi yaitu sebanyak 15 rumah tangga (50,00 persen)
menyatakan cukup dan sisanya 15 rumah tangga (50,00 persen) menyatakan sulit.
Lain halnya dengan konsultasi KB, bahwa sebanyak 3 rumah tangga (10,00
persen) menyatakan mudah, 13 rumah tangga (43,33 persen) menyatakan cukup
dan 14 rumah tangga (43,67 persen) menyatakan sulit. Alat KB dapat diperoleh di
tempat-tempat pelayanan kesehatan terdekat karena tempat tersebut sudah
dilengkapi dengan alat-alat KB yang diperlukan.
Pada tabel 14 menunjukkan bahwa rumah tangga petani yang menyatakan
cukup mudah mendapatkan pelayanan kesehatan adalah 18 rumah tangga (60,00
persen) dan yang menyatakan sulit sebanyak 12 rumah tangga (40,00 persen).





71
Tabel 14. Kemudahan Mendapatkan Pelayanan Kesehatan di desa Cidokom,
2011
No. Pelayanan Kesehatan Skor J umlah RT Presentase %
1. J arak Rumah Sakit
a) 0 km 4 - -
b) 0,01 – 3 km 3 26 86,67
c) >3 km 2 4 13,33
d) Tidak terdapat 1 - -
J umlah 30 100,00
2. J arak ke Poliklinik
a) 0 km 4 - -
b) 0,01 – 3 km 3 26 86,67
c) >3 km 2 4 13,33
d) Tidak terdapat 1 - -
J umlah 30 100,00
3. Biaya berobat
a) Terjangkau 3 4 13,33
b) Cukup terjangkau 2 18 60,00
c) Sulit terjangkau 1 8 26,67
J umlah 30 100,00
4. Penanganan berobat
a) Baik 3 4 13,33
b) Cukup 2 26 86,67
c) Kurang 1 - -
J umlah 30 100,00
5. Alat kontrasepsi
a) Mudah 3 - -
b) Cukup 2 15 50,00
c) Sulit 1 15 50,00
J umlah 30 100,00
6. Konsultasi KB
a) Mudah 3 3 10,00
b) Cukup 2 13 43,33
c) Sulit 1 14 46,67
Kriteria Skor
Akhir
J umlah RT Petani Presentase (%)
Mudah (total skor 18 – 24) 3 -
Cukup (total skor 13 – 17) 2 18 60,00
Sulit (total skor 8 – 12) 1 12 40,00
Total 30 100,00
Sumber : Hasil Penelitian Diolah
5.2.7 Kemudahan Menyekolahkan Anak ke J enjang Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu faktor penting dalam pembangunan
negara karena dapat meningkatkan kualitas sumberdaya manusia sebagai


72
penggerak pembangunan. Tingkat kesejahteraan rumah tangga dalam bidang
pendidikan dapat dianalisis dengan indikator kemudahan memasukkan anak ke
jenjang pendidikan yang dapat dilihat dari tiga faktor yaitu biaya sekolah, jarak ke
sekolah dari rumah masing-masing rumah tangga dan prosedur penerimaan. Skor
akhir yang diberikan adalah tiga untuk kriteria mudah (skor 7 – 10), dua untuk
kriteria cukup ( skor 5 – 6), dan satu untuk kriteria sulit (skor 3 – 4).
Petani di desa Cidokom sebagian besar masih memiliki tanggungan
keluarga yang masih sekolah. Berdasarkan tabel 14 terlihat bahwa sebanyak 4
rumah tangga (13,33 persen) menyatakan biaya pendidikan terjangkau, 24 rumah
tangga (80,00 persen) menyatakan cukup terjangkau dan 2 rumah tangga (6,67
persen) menyatakan sulit terjangkau. Secara keseluruhan rumah tangga (100
persen) jarak antara sekolah dengan rumah 0,01 – 3 km. Letak sekolah berada di
sekitar desa sehingga dapat ditempuh dengan satu kali naik angkutan umum.
Sebanyak 12 rumah tangga (40,00 persen) menyatakan bahwa prosedur
penerimaan murid baru tergolong mudah dan 18 rumah tangga (60,00 persen)
menyatakan cukup mudah.
Dari tabel 15 terlihat bahwa sebanyak 12 rumah tangga (40,00 persen)
menyatakan mudah memasukkan anak ke jenjang pendidikan, sedangkan 18
rumah tangga (60,00 persen) menyatakan cukup mudah memasukkan anak ke
jenjang pendidikan. Kemudahan dalam bidang pendidikan memiliki keterkaitan
dengan tingkat pendapatan, dimana semakin tinggi tingkat pendapatan petani
maka semakin mudah membayar biaya pendidikan serta kemudahan mencapai
jenjang pendidikan yang lebih tinggi.


73
Tabel 15. Kemudahan Menyekolahkan Anak ke J enjang Pendidikan di desa
Cidokom, 2011
No. Kemudahan Pendidikan Skor J umlah RT
Petani
Presentase
(%)
1. Biaya Sekolah
a) Terjangkau 3 4 13,33
b) Cukup Terjangkau 2 24 80,00
c) Sulit Terjangkau 1 2 6,67
J umlah 30 100,00
2. J arak ke Sekolah
a) 0 km 3 - -
b) 0,01 – 3 km 2 30 100,00
c) >3 km 1 - -
J umlah 30 100,00
3. Prosedur Penerimaan
a) Mudah 3 12 40,00
b) Cukup 2 18 60,00
c) Sulit 1 - -
J umlah 30 100,00
Kriteria Skor-
Akhir
J umlah RT Petani Presentase (%)
Mudah (total skor 8 – 10) 3 12 40,00
Cukup (total skor 6 – 7) 2 18 60,00
Sulit ( Total skor 4 – 5) 1 - -
Total 30 100,00
Sumber : Hasil Penelitian Diolah
5.2.8 Kemudahan Mendapatkan Fasilitas Transportasi
Tersedianya sarana transportasi di desa sangat penting untuk menunjang
kegiatan masyarakat sehari-hari, khususnya kegiatan yang berhubungan dengan
perekonomian. Kemudahan mendapatkan sarana transportasi menjadi salah satu
kriteria dalam menganalisis tingkat kesejateraan masyarakat. Indikator
kemudahan mendapatkan fasilitas transportasi dan kepemilikan kendaraan.
Pada tabel 16 terlihat bahwa sebanyak 10 rumah tangga (33,33 persen)
menyatakan ongkos/biaya yang dikeluarkan untuk fasilitas transportasi dapat
dapat terjangkau, 17 rumah tangga (56,67 persen) menyatakan cukup terjangkau
dan 3 rumah tangga (10,00 persen) menyatakan sulit terjangkau. Mahal dan


74
murahnya ongkos transportasi bersifat subyektif dan biasanya tergantung
jauh/dekatnya jarak yang ditempuh.
Tabel 16. Kemudahan Mendapatkan Fasilitas Transportasi di desa Cidokom,
2011
No. Kemudahan Fasilitas
Transportasi
Skor J umlah RT
Petani
Presentase
(%)
1. Ongkos dan Biaya
a) Terjangkau 3 10 33,33
b) Cukup terjangkau 2 17 56,67
c) Sulit terjangkau 1 3 10,00
J umlah 30 100,00
2. Fasilitas Kendaraan
a) Tersedia 3 15 50,00
b) Cukup tersedia 2 9 30,00
c) Sulit tersedia 1 6 20,00
J umlah 30 100,00
3. Kepemilikan
a) Milik sendiri 3 13 43,33
b) Sewa 2 6 20,00
c) Ongkos 1 11 36,67
Kriteria Skor total J umlah RT Petani Presentase
(%)
Mudah (total skor 6 – 7) 3 17 56,67
Cukup (total skor 4 -5) 2 8 26,67
Sulit (total skor 2 -3) 1 5 16,67
Total 30 100,00
Sumber : Hasil Penelitian Diolah
Fasilitas kendaraan yang ada di desa Cidokom menurut sebagian besar
rumah tangga petani yaitu 15 rumah tangga (50,00 persen) mempunyai kendaraan
sendiri, baik sepeda motor maupun mobil sedangkan 9 rumah tangga (30,00
persen) cukup tersedia dan 6 rumah tangga (20,00 persen) belum mempunyai
kendaraan sendiri. Kepemilikan fasilitas transportasi di desa Cidokom bervariasi,
yaitu sebanyak 13 rumah tangga (43,33 persen) milik sendiri, 6 rumah tangga
(20,00 persen) sewa dan 11 rumah tangga (36,67 persen) ongkos. Kendaraan
pribadi yang banyak dimiliki penduduk desa Cidokom adalah sepeda motor yang


75
juga sering dimanfaatkan untuk melakukan pekerjaan sampingan yaitu menjadi
tukang ojek.
Dalam kemudahan mendapatkan fasilitas transportasi, sebanyak 17 rumah
tangga (56,67 persen) menyatakan mudah dalam mendapatkan fasilitas
transportasi, 8 rumah tangga (26,67 persen) cukup mudah dan 5 rumah tangga
(16,67 persen) sulit. Fasilitas transportasi yang sering digunakan masyarakat desa
Cidokom adalah angkutan umum dan ojek.
5.2.9 Tingkat Kesejahteraan Menurut BPS Hasil SUSENAS 2005
Tingkat kesejahteraan rumah tangga petani di desa Cidokom diukur
dengan menggunakan indikator kesejahteraan menurut Badan Pusat Statistik yang
dimodifikasi berdasarkan nilai skor yang dihasilkan dari jumlah total skor delapan
indikator kesejahteraan.
Berdasarkan tabel 17, terlihat bahwa sebanyak 22 rumah tangga petani
(73,33 persen) berada pada tingkat kesejahteraan tinggi, sedangkan sissanya
sebanyak 8 rumah tangga (26,67 persen) berada pada tingkat kesejahteraan
sedang. Tingkat kesejahteraan tertinggi terdapat pada rumah tangga petani yang
memiliki skor 26 yaitu sebanyak satu rumah tangga (3,33 persen) dengan
pendapatan per kapita per tahun sebesar Rp. 2.907.142,00, sedangkan pengeluaran
per kapita per tahunnya adalah Rp. 2.774.500,00.






76
Tabel 17. Tingkat Kesejahteraan Rumah Tangga Petani di desa Cidokom
Berdasarkan I ndikator SUSENAS 2005, tahun 2011

Tingkat Kesejahteraan J umlah RT
Petani
Presentase (%)
Tingkat Kesejahteraan Tinggi 22 73,33
Tingkat Kesejahteraan Sedang 8 26,67
Tingkat Kesejahteraan Rendah - -
Total 30 100,00
Sumber : Hasil Penelitian Diolah
5.3 Hasil Uji Kualitas Data
5.3.1 Uji Validitas
Uji validitas digunakan untuk mengetahui apakah pertanyaan-pertanyaan
dalam kuesioner dapat mengukur suatu konstruk atau tidak. Pengujian ini
dilakukan dengan menggunakan Pearson Corelation, pedoman suatu model
dikatakan valid jika tingkat signifikansinya dibawah 0,05 maka butir pertanyaan
tersebut dapat dikatakan valid.
Berdasarkan hasil uji validitas pada tabel 18 diperoleh data yang
menyatakan terdapat 5 pertanyaan yang tidak valid, karena nilai signifikansinya
diatas 0,05, sedangkan 23 pertanyaan lainnya dinyatakan valid karena nilai
signifikansinya lebih kecil dari 0,05. Dari jumlah pertanyaan yang valid lebih
besar dari yang tidak valid maka dengan demikian dapat disimpulkan kuesioner
ini valid dan mampu mengungkapkan sesuatu yang diukur pada kuesioner
tersebut.




77
Tabel 18. Hasil Data Penelitian Uji Validitas di desa Cidokom, 2011

Pertanyaan Pearson
Corelation
Sig
(2-Tailed)
Keterangan
Pertanyaan 1
Pertanyaan 2
Pertanyaan 3
Pertanyaan 4
Pertanyaan 5
Pertanyaan 6
Pertanyaan 7
Pertanyaan 8
Pertanyaan 9
Pertanyaan 10
Pertanyaan 11
Pertanyaan 12
Pertanyaan 13
Pertanyaan 14
Pertanyaan 15
Pertanyaan 16
Pertanyaan 17
Pertanyaan 18
Pertanyaan 19
Pertanyaan 20
Pertanyaan 21
Pertanyaan 22
Pertanyaan 23
Pertanyaan 24
Pertanyaan 25
Pertanyaan 26
Pertanyaan 27
Pertanyaan 28
1,000**
1,000**
-0,297
0,960**
0,249
0,936**
0,591**
0,628**
0,722**
0,618**
-,009
0,464**
0,503**
0,617**
1,000**
0,305
0,409*
0,680**
0,429*
0,807**
0,735**
0,598**
-0,139
0,664**
0,603**
0,875**
0,945**
1,000**
0,000
0,000
0,517
0,000
0,184
0,000
0,001
0,000
0,000
0,000
0,962
0,010
0,005
0,000
0,000
0,101
0,025
0,000
0,018
0,000
0,000
0,000
0,463
0,000
0,000
0,000
0,000
0,000
Valid
Valid
Tidak Valid
Valid
Tidak Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Tidak Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Tidak Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Tidak Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Sumber : Data primer diolah
5.3.2 Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas dilakukan untuk menilai konsistensi dari instrumen
penelitian. Suatu konstruk atau variabel dapat dikatakan reliabel jika nilai
Cronbach Alpha berada diatas 0,6. Tabel 19 menunjukkan hasil uji reliabilitas
untuk sembilan variabel penelitian yang digunakan dalam penelitian ini.



78
Tabel 19. Hasil Uji Reliabilitas di desa Cidokom, 2011
Variabel Cronbach’s Alpha Keterangan
Pendapatan 1,000 Reliabel
Pengeluaran 1,000 Reliabel
Keadaan tempat tinggal 0,650 Reliabel
Fasilitas tempat tinggal 0,585 Tidak reliable
Kesehatan keluarga 1,000 Reliabel
Pelayanan kesehatan 0,605 Reliabel
Kemudahan Pendidikan -1,121 Tidak reliable
Kemudahan transportasi 0,754 Reliabel
Kesejahteraan keluarga 1,000 Reliabel
Sumber : Data primer diolah
Tabel 19 menunjukkan nilai cronbach’s alpha atas variabel pendapatan
sebesar 1,000, pengeluaran sebesar 1,000, keadaan tempat tinggal sebesar 0,650,
fasilitas tempat tinggal sebesar 0,585, kesehatan keluarga sebesar 1,000,
pelayanan kesehatan sebesar 0,605, kemudahan pendidikan -1,121, kemudahan
transportasi 0,754, dan kesejahteraan keluarga sebesar 1,000. Dengan demikian
dapat disimpulkan tujuh variabel dalam kuesioner ini reliabel karena mempunyai
nilai cronbach’s alpha sebesar 0,6 dan dua variabel tidak reliabel. Hal ini
menunjukkan bahwa tidak semua item pertanyaan yang digunakan akan mampu
memperoleh data yang konsisten bila pernyantaan itu diajukan kembali akan
diperoleh jawaban yang relatif tidak sama dengan jawaban sebelumnya.
5.4 Hasil Uji Asumsi Klasik
5.4.1 Hasil Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan dengan tujuan mengetahui distribusi data
variabel yang akan digunakan dalam penelitian. Dalam penelitian ini, normalitas
data ditentukan dengan normal P-Plot. Hasil uji normalitas data menggunakan
program SPSS.17 dapat dilihat pada gambar 2.


79
Gambar 2. Hasil Uji Normalitas di desa Cidokom, 2011

Hasil dari output SPSS normal P-Plot pada gambar 2 memperlihatkan
bahwa distribusi dari titik-titik data variabel penelitian (pendapatan, pengeluaran,
keadaan tempat tinggal, fasilitas tempat tinggal, kesehatan keluarga, pelayanan
kesehatan, kemudahan pendidikan, kemudahan transportasi, kesejahteraan
keluarga) menyebar disekitar garis diagonal dan penyebaran titik-titik data searah
mengikuti garis diagonal. Jadi data pada keseluruhan variabel dapat dikatakan
berdistribusi normal.
5.4.2 Hasil Uji Multikolinearitas
Berdasarkan tabel 20 yang terlihat bahwa nilai toleransi tidak kurang dari
0,1 dan nilai Varian Inflation Factor (VIF) tidak lebih dari 10. Maka dapat
disimpulkan hasil tersebut mengindikasikan tidak terdapat gejala multikolinieritas
(tidak terjadi hubungan sesama variabel independen X) terhadap variabel
penelitian sehingga model regresi berganda dapat digunakan dalam penelitian.




80
Tabel 20. Hasil Uji Multikolinearitas di desa Cidokom, 2011
Variabel Unstandardized
Coefficients
T Sig. Collinearity
Statistics
B Std.
Error
Toler
ance
VIF
1 (Constant)
Pendapatan
Pengeluaran
Keadaan Tempat Tinggal
Fasilitas Tempat Tinggal
Kesehatan Keluarga
Pelayanan Kesehatan
Kemudahan Pendidikan
Kemudahan Transportasi
-6.870
1.568
.536
.316
.095
1.336
.164
.808
.219
4.764
.643
.485
.153
.142
.797
.230
.557
.178

-1.442
2.438
1.107
2.073
.672
1.676
.711
1.451
1.225
.164
.024
.281
.051
.509
.109
.485
.161
.234

.705
.652
.499
.381
.425
.344
.670
.594


1.418
1.534
2.003
2.626
2.356
2.908
1.493
1.684
Sumber: Data primer diolah
5.4.3 Uji Heteroskedastisitas
Ada tidaknya heteroskedastisitas dilakukan dengan melihat ada tidaknya
pola tertentu pada grafik scatterplot antara SRESID dan ZPRED yang terlihat
pada gambar 3. Berdasarkan gambar 3, grafik scatterplot menunjukkan bahwa
data tersebar diatas dan dibawah angka 0 (nol) pada sumbu Y dan tidak terdapat
suatu pola yang jelas pada penyebaran data tersebut. Hal ini berarti tidak terjadi
heteroskedastisitas pada model persamaan regresi, sehingga model regresi layak
digunakan untuk memprediksi pengaruh variabel independen (pendapatan,
pengeluaran, keadaan tempat tinggal, fasilitas tempat tinggal, kesehatan keluarga,
pelayanan kesehatan, kemudahan pendidikan, dan kemudahan transportasi)
terhadap variabel dependen (Kesejahteraan Keluarga).



81
Gambar 3. Grafik Scatterplot

Sumber: Data primer yang diolah
5.5 Hasil Uji Hipotesis
5.5.1 Uji Koefisien Determinasi
Pada tabel 21 berikut disajikan hasil uji koefisien determinasi.
Tabel 21. Hasil Uji Koefisien Determinasi
Model Summary
b

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate
1 .887
a
.787 .706 1.39421
a. Predictors: (Constant), transportasi, pengeluaran, Pendidikan, Kesehatan keluarga,
Pendapatan, Keadaan Tempat tinggal, Fasilitas tempat tinggal, Pelayanan kesehatan
b. Dependent Variable: kesejahteraan




82
Tabel 21 menunjukkan nilai R sebesar 0,887 atau 88,7%. Hal ini berarti
bahwa hubungan atau korelasi antara variabel independen yaitu pendapatan,
pengeluaran, keadaan tempat tinggal, fasilitas tempat tinggal, kesehatan keluarga,
pelayanan kesehatan, kemudahan pendidikan, dan kemudahan transportasi dengan
variabel dependen yaitu kesejahteraan rumah tangga adalah kuat karena nilai
korelasinya mendekati angka 1 (Suharyadi dan Purwanto, 2009:152). Nilai Adjust
R Square sebesar 0,706 atau 70,6%, ini menunjukkan bahwa variabel
kesejahteraan rumah tangga yang dapat dijelaskan oleh variabel pendapatan,
pengeluaran, keadaan tempat tinggal, fasilitas tempat tinggal, kesehatan keluarga,
pelayanan kesehatan, kemudahan pendidikan, dan kemudahan transportasi adalah
70,6%, sedangkan sisanya sebesar 0,294 atau 2,94% (1-0,294) dijelaskan oleh
faktor-faktor lain yang tidak disertakan dalam model penelitian ini.
5.5.2 Hasil Uji Statistik t
Uji statistik t digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh
masing-masing variabel independen secara individual terhadap variabel dependen
yang diuji pada beberapa tingkat signifikansi (0,05, 0,10, 0,20, 0,50). Dalam hal
ini sengaja tidak mengacu pada satu tingkat signifikansi karena setiap variabel
independen mempunyai taraf kepercayaan yang berbeda-beda dalam
mempengaruhi variabel dependen. Berdasarkan tabel 21, diperoleh persamaan
sebagai berikut
Y=-6.870 +1.568(X1) +0.536(X2) +0.316(X3) +0.095(X4) +1.336(X5) +
0.164(X6) +0.808(X7) +0.219(X8) Dimana :



83
Y : Kesejahteraan rumah tangga petani
X1 : Pendapatan rumah tangga petani
X2 : Pengeluaran rumah tangga petani
X3 : Keadaan tempat tinggal petani
X4 : Fasilitas tempat tinggal petani
X5 : Kesehatan keluarga petani
X6 : Kemudahan petani mendapatkan pelayanan kesehatan
X7 : Kemudahan petani menyekolahkan anak ke jenjang pendidikan
X8 : Kemudahan petani mendapatkan fasilitas transportasi

Dari persamaan tersebut dapat diartikan bahwa nilai -6.870 menyatakan
bahwa jika tidak ada faktor yaitu pendapatan, pengeluaran, keadaan tempat
tinggal, fasilitas tempat tinggal, kesehatan keluarga, pelayanan kesehatan,
kemudahan pendidikan, dan kemudahan transportasi maka nilai kesejahteraan
sebesar -6.870.
Tabel 22. Hasil Uji Persamaan Statistik t pada Tingkat Kesejahteraan di
desa Cidokom

Konstanta / Variabel Unstandardized
Coefficients
T Sig.
B Std.
Error
1 (Constant)
Pendapatan
Pengeluaran
Keadaan Tempat Tinggal
Fasilitas Tempat Tinggal
Kesehatan Keluarga
Pelayanan Kesehatan
Kemudahan Pendidikan
Kemudahan Transportasi
-6.870
1.568
.536
.316
.095
1.336
.164
.808
.219
4.764
.643
.485
.153
.142
.797
.230
.557
.178

-1.442 **
2.438 ****
1.107 *
2.073 ***
.672 *
1.676 **
.711 *
1.451 **
1.225 *
.164
.024
.281
.051
.509
.109
.485
.161
.234
Sumber: Data primer diolah

Keterangan: * signifikan pada tingkat kesalahan >50%
** signifikan pada tingkat kesalahan 20%
*** signifikan pada tingkat kesalahan 10%
**** signifikan pada tingkat kesalahan 5%



84
Hasil uji pengaruh pendapatan rumah tangga terhadap kesejahteraan
menunjukkan koefisien regresi pada variabel pendapatan rumah tangga (X1)
sebesar 1.568 terhadap tingkat kesejahteraan rumah tangga dapat diasumsikan,
bila ada kenaikan pendapatan sebesar 1 satuan maka akan menambah dan
mempengaruhi kenaikan kesejahteraan rumah tangga sebesar 1.568 satuan.
Berdasarkan pada koefisien diatas dapat disimpulkan uji signifikansi untuk
variabel (X1) pendapatan pada tingkat kesalahan 5 persen, dengan nilai t hitung
2,438 ternyata nilai t hitung >t tabel, atau 2,438 >2,080 maka Ho ditolak dan Ha
diterima, artinya signifikan. Jadi, pendapatan berpengaruh terhadap tingkat
kesejahteraan rumah tangga pada tingkat kesalahan 5 persen dan tidak
berpengaruh nyata jika tingkat kesalahan kurang dari 5 persen. Kemudian hasil uji
hipotesis menunjukkan bahwa tingkat signifikansi untuk variabel pendapatan
rumah tangga 0,024 <0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa pendapatan rumah
tangga petani berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan
rumah tangga. Dengan demikian, jika pendapatan rumah tangga petani meningkat
atau tinggi maka kecenderungan tingkat kesejahteraan rumah tangga akan
meningkat. Menurut analisis penulis berdasarkan penelitian di lapangan,
dibandingkan dengan variabel-variabel yang lain pendapatan rumah tangga
menjadi tolak ukur utama dalam mengetahui tingkat kesejahteraan suatu rumah
tangga. Hal ini karena pendapatan berkaitan erat dengan pemasukan
perekonomian keluarga yang didapatkan dari penghasilan pertanian dan non
pertanian.



85
Hasil uji pengaruh pengeluaran rumah tangga terhadap kesejahteraan
menunjukkan koefisien regresi pada variabel pengeluaran rumah tangga (X2)
sebesar 0,536 terhadap tingkat kesejahteraan rumah tangga dapat diasumsikan,
bila ada kenaikan pengeluaran sebesar 1 satuan maka akan menambah dan
mempengaruhi kenaikan tingkat kesejahteraan rumah tangga sebesar 0,536 satuan.
Berdasarkan pada koefisien diatas dapat disimpulkan uji signifikansi untuk
variabel (X2) pengeluaran pada tingkat kesalahan 50 persen, dengan nilai t hitung
1,107 ternyata nilai t hitung >t tabel, atau 1,107 >0,686, maka Ho ditolak dan Ha
diterima, artinya signifikan. Jadi, pengeluaran berpengaruh terhadap tingkat
kesejahteraan rumah tangga pada tingkat kesalahan 50 persen. J ika tingkat
kesalahan bernilai dibawah 50 persen maka tidak berpengaruh secara signifikan.
Kemudian hasil uji statistik t pada tabel 19, memperlihatkan bahwa variabel
pengeluaran rumah tangga mempunyai tingkat signifikansi sebesar 0,281 lebih
kecil dari alpa 0,50 (0,281 <0,50) yang berarti Ho ditolak dan Ha diterima.
Artinya pengeluaran berpengaruh signifikan terhadap kesejahteraan. Namun, bila
nilai probabilitas dibawah 0,50 maka tidak berpengaruh secara signifikan. Dalam
penelitian ini pengeluaran rumah tangga berpengaruh signifikan pada tingkat
kesalahan 50 persen terhadap tingkat kesejahteraan rumah tangga. Peneliti
menganalisis bahwa pengeluaran rumah tangga pada responden masih didominasi
pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan pangan. Sama halnya seperti penelitian
Purwantini dan Ariani (2008) yang menyebutkan bahwa semakin tinggi pangsa
pengeluaran pangan berarti semakin kurang sejahtera rumah tangga yang


86
bersangkutan. Sebaliknya, semakin kecil pangsa pengeluaran pangan, maka rumah
tangga tersebut semakin sejahtera.
Hasil Uji pengaruh keadaan tempat tinggal terhadap kesejahteraan
menunjukkan bahwa koefisien regresi pada variabel keadaan tempat tinggal (X3)
sebesar 0,316 terhadap tingkat kesejahteraan rumah tangga dapat diasumsikan,
bila ada kenaikan keadaan tempat tinggal sebesar 1 satuan maka menambah dan
mempengaruhi kenaikan tingkat kesejahteraan rumah tangga sebesar 0,316 satuan.
Berdasarkan pada koefisien diatas dapat disimpulkan uji signifikansi untuk
variabel (X3) keadaan tempat tinggal pada tingkat kesalahan 10 persen, dengan
nilai t hitung 2,073 ternyata nilai t hitung >t tabel, atau 2,073 >1,721, maka Ho
ditolak dan Ha diterima, artinya signifikan. Jadi, keadaan tempat tinggal
berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan rumah tangga pada tingkat kesalahan
10 persen, jika tingkat kesalahan dibawah 10 persen maka tidak berpengaruh
secara signifikan. Kemudian berdasarkan uji statistik t pada tabel 19,
memperlihatkan bahwa variabel keadaan tempat tinggal mempunyai tingkat
signifikansi sebesar 0,051 lebih kecil dari nilai alpa atau 0,051 <0,10 maka Ho
ditolak dan Ha diterima, artinya variabel (X3) keadaan tempat tinggal
berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat kesejahteraan rumah tangga.
Dalam hal ini peneliti belum menemukan penelitian terdahulu mengenai pengaruh
keadaan tempat tinggal terhadap tingkat kesejahteraan rumah tangga. Menurut
analisis peneliti bahwa keadaan tempat tinggal mempunyai pengaruh terhadap
tingkat kesejahteraan rumah tangga karena tempat tinggal menjadi kebutuhan


87
primer bagi masyarakat Cidokom, sehingga dapat dikatakan semakin baik kondisi
tempat tinggalnya maka semakin tinggi tingkat kesejahteraan rumah tangganya.
Hasil Uji pengaruh fasilitas tempat tinggal terhadap kesejahteraan
menunjukkan bahwa koefisien regresi pada variabel fasilitas tempat tinggal (X4)
sebesar 0,095 terhadap tingkat kesejahteraan rumah tangga dapat diasumsikan,
bila ada kenaikan fasilitas tempat tinggal sebesar 1 satuan maka akan menambah
dan mempengaruhi kenaikan tingkat kesejahteraan rumah tangga sebesar 0,095
satuan. Berdasarkan pada koefisien diatas dapat disimpulkan uji signifikansi untuk
variabel (X4) fasilitas tempat tinggal pada tingkat kesalahan 50 persen, nilai t
hitung <t tabel atau 0,672 <0,686, maka Ho diterima dan Ha ditolak, sehingga
fasilitas tempat tinggal tidak berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat
kesejahteraan rumah tangga pada batas minimal tingkat kesalahan 50 persen. J ika
pada tingkat kesalahan diatas 50 persen maka akan terjadi pengaruh secara
signifikan, tetapi nilai kepercayaannya sangat kecil. Kemudian hasil uji statistik t
pada tabel 19, memperlihatkan bahwa variabel fasilitas tempat tinggal mempunyai
tingkat signifikansi sebesar 0,509 lebih besar dari nilai alpa 0,50 (0,509 >0,50).
Hal ini berarti menolak Ha sehingga dapat dikatakan bahwa fasilitas tempat
tinggal tidak berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat kesejahteraan rumah
tangga petani. Menurut analisis Peneliti, fasilitas tempat tinggal tidak berpengaruh
signifikan terhadap kesejahteraan rumah tangga karena fasilitas yang dimiliki
responden sebagian besar relatif sama, yaitu hampir mayoritas tidak memiliki
fasilitas tempat tinggal yang mewah seperti kulkas, AC, dan barang mewah
lainnya. Fasilitas tempat tinggal hanya sesuai kebutuhan rumah tangga sekedarnya


88
artinya bila ada responden yang mempunyai fasilitas tempat tinggal lebih baik
belum tentu mempengaruhi kesejahteraan rumah tangganya karena hampir
fasililas rumah tangga yang dipunyainya relatif sama.
Hasil uji pengaruh kesehatan anggota keluarga terhadap tingkat
kesejahteraan menunjukkan bahwa koefisien regresi pada variabel kesehatan
anggota keluarga (X5) sebesar 1,336 terhadap tingkat kesejahteraan rumah tangga
dapat diasumsikan, bila ada kenaikan kesehatan anggota keluarga sebesar 1 satuan
maka akan menambah dan mempengaruhi kenaikan tingkat kesejahteraan rumah
tangga sebesar 1,336 satuan. Berdasarkan pada koefisien diatas dapat disimpulkan
uji signifikansi untuk variabel (X5) kesehatan anggota keluarga pada tingkat
kesalahan 20 persen, dengan nilai t hitung 1,676 ternyata nilai t hitung >t tabel
atau 1,676 >1,323, maka Ho ditolak dan Ha diterima, artinya signifikan. Jadi,
pada tingkat kesalahan 20 persen kesehatan anggota keluarga berpengaruh
terhadap tingkat kesejahteraan rumah tangga. Namun, jika tingkat kesalahan
dibawah 20 persen maka tidak terjadi pengaruh secara signifikan. Kemudian hasil
uji statistik t pada tabel 19, memperlihatkan bahwa variabel kesehatan anggota
keluarga mempunyai tingkat signifikansi sebesar 0,109, bila nilai probabilitasnya
0,20 signifikansi lebih kecil dari alpa atau 0,109 <0,20, maka Ho ditolak dan Ha
diterima. Artinya kesehatan anggota keluarga berpengaruh terhadap kesejahteraan
pada nilai probabilitas 0,20 dan tidak terjadi pengaruh signifikan jika nilai
probabilitasnya dibawah 0,20. Tingkat pengaruh kesehatan anggota keluarga
terhadap kesejahteraan berada pada taraf kepercayaan 80 persen, artinya
kesehatan masih menjadi faktor yang diperhitungkan dalam meningkatkan


89
kesejahteraan rumah tangga. Hal ini karena jika salah satu anggota keluarga ada
yang sakit maka akan ada pengeluaran tambahan untuk biaya berobat dan
mempengaruhi pendapatan yang mereka terima. Selain itu bila ada yang sakit di
dalam keluarga akan menghambat keluarga tersebut untuk bekerja.
Hasil uji pengaruh kemudahan pelayanan kesehatan terhadap tingkat
kesejahteraan menunjukkan bahwa koefisien regresi pada variabel Kemudahan
pelayanan kesehatan (X6) sebesar 0,164 terhadap tingkat kesejahteraan rumah
tangga dapat diasumsikan, bila ada kenaikan Kemudahan pelayanan kesehatan
sebesar 1 satuan maka akan menambah dan mempengaruhi kenaikan tingkat
kesejahteraan rumah tangga sebesar 0,164 satuan. Berdasarkan pada koefisien
diatas dapat disimpulkan uji signifikansi untuk variabel (X6) kemudahan
pelayanan kesehatan pada tingkat kesalahan 50 persen, dengan nilai t hitung 0,711
ternyata nilai t hitung >t tabel atau 0,711 >0,686, maka Ho ditolak dan Ha
diterima, artinya kemudahan pelayanan kesehatan berpengaruh terhadap tingkat
kesejahteraan rumah tangga pada tingkat kesalahan 50 persen. J ika tingkat
kesalahan bernilai dibawah 50 persen maka tidak terjadi pengaruh yang
signifikan. Kemudian hasil uji statistik t pada tabel 19, memperlihatkan bahwa
variabel kemudahan pelayanan kesehatan mempunyai tingkat signifikansi sebesar
0,485 lebih besar dari nilai alpa 0,50 atau 0,485 <0,50 maka Ho ditolak dan Ha
diterima, artinya kemudahan pelayanan kesehatan berpengaruh secara signifikan
terhadap kesejahteraan rumah tangga pada nilai probabilitas 0,50. J ika nilai
probabilitasnya dibawah 0,50 maka tidak terjadi pengaruh signifikan. Pelayanan
kesehatan yang ada di desa Cidokom cukup baik, namun responden tidak


90
memanfaatkan kemudahan pelayanan kesehatan tersebut dengan maksimal. Hal
ini terjadi karena jika ada anggota keluarga yang sakit maka mereka berobat
sendiri di rumah dengan menggunakan obat yang dibeli di warung dan
menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan hanya waktu tertentu saja, ketika sakit
parah dan melahirkan saja. Dengan demikian akses kemudahan pelayanan
kesehatan tidak terlalu menjamin tingkat kesejahteraan yang tinggi di masyarakat.
Hasil uji pengaruh kemudahan menyekolahkan anak terhadap tingkat
kesejahteraan menunjukkan bahwa koefisien regresi pada variabel kemudahan
menyekolahkan anak (X7) sebesar 0,808 terhadap tingkat kesejahteraan rumah
tangga dapat diasumsikan, bila ada kenaikan kemudahan menyekolahkan anak
sebesar 1 satuan maka akan menambah dan mempengaruhi kenaikan tingkat
kesejahteraan rumah tangga sebesar 0,808 satuan. Berdasarkan koefisien diatas
dapat disimpulkan uji signifikansi untuk variabel (X7) kemudahan
menyekolahkan anak pada tingkat kesalahan 20 persen, dengan nilai t hitung
1,451 ternyata nilai t hitung >t tabel atau 1,451 >1,323, maka Ho ditolak dan Ha
diterima. Artinya pada tingkat kesalahan 20 persen, kemudahan menyekolahkan
anak berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan rumah tangga dan tidak
berpengaruh jika nilai tingkat kesalahan dibawah 20 persen. Kemudian hasil uji
statistik t pada tabel 19, memperlihatkan bahwa variabel kemudahan
menyekolahkan anak mempunyai tingkat signifikansi sebesar 0,161 lebih besar
dari nilai alpa 0,20 maka signifikansi lebih kecil dari alpa atau 0,161 <0,20 dan
dikatakan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima. Artinya kemudahan menyekolahkan
anak berpengaruh secara signifikan terhadap variabel kesejahteraan rumah tangga.


91
Kemudahan menyekolahkan anak ke jenjang pendidikan dapat menjadi ukuran
kemampuan responden dalam membiayai anak-anaknya sekolah dan dapat terlihat
sejauh mana tingkat kesejahteraannya. Hal ini karena biaya sekolah dan prosedur
memasukkan anak ke jenjang pendidikan masih relatif mahal. Meskipun ada
program dari pemerintah untuk biaya sekolah namun tetap saja ada biaya-biaya
lain yang wajib dibayar oleh orang tua. Dapat dikatakan bahwa rumah tangga
yang dengan mudah menyekolahkan anaknya ke jenjang pendidikan maka dapat
dikategorikan tingkat kesejahteraannya cukup tinggi.
Hasil Uji pengaruh kemudahan fasilitas transportasi terhadap
kesejahteraan menunjukkan bahwa koefisien regresi pada variabel kemudahan
fasilitas transportasi (X8) sebesar 0,219 terhadap tingkat kesejahteraan rumah
tangga dapat diasumsikan, bila ada kenaikan kemudahan fasilitas transportasi
sebesar 1 satuan maka akan menambah dan mempengaruhi kenaikan tingkat
kesejahteraan rumah tangga sebesar 0,219 satuan. Berdasarkan koefisien diatas
dapat disimpulkan uji signifikansi untuk variabel (X8) kemudahan fasilitas
transportasi pada tingkat kesalahan 50 persen, dengan nilai t hitung 1,225 ternyata
nilai t hitung >t tabel, atau 1,225 <0,686, maka Ho diterima dan Ha ditolak,
artinya signifikan. Jadi, kemudahan fasilitas transportasi berpengaruh terhadap
tingkat kesejahteraan rumah tangga pada tingkat kesalahan 50 persen. Namun
pada tingkat kesalahan kurang dari 50 persen, maka Ho diterima dan Ha ditolak,
artinya kemudahan fasilitas transportasi tidakk berpengaruh terhadap tingkat
kesejahteraan rumah tangga. Kemudian hasil uji statistik t pada tabel 19,
memperlihatkan bahwa variabel kemudahan fasilitas transportasi mempunyai


92
tingkat signifikansi sebesar 0,234 lebih kecil dari nilai alpa 0,50 atau 0,234 <0,50
maka dapat dikatakan Ho ditolak dan Ha diterima. Artinya variabel kemudahan
fasilitas transportasi berpengaruh secara signifikan terhadap variabel tingkat
kesejahteraan rumah tangga pada nilai probabilitas 0,50. Kemudahan transportasi
merupakan hal yang penting bagi masyarakat dalam menjangkau jarak dan
memudahkan aksibilitas sehari-hari. Terjangkaunya fasilitas transportasi seperti
angkutan umum, ojek maupun kendaraan pribadi (motor/mobil) oleh masyarakat
menjadikan akses antar desa semakin mudah. Oleh karena itu tidak ada pengaruh
yang nyata antara fasilitas transportasi dengan tingkat kesejahteraan, berarti tidak
ada batasan antara responden yang memiliki kendaraan pribadi maupun yang
menggunakan sarana umum (angkutan dan ojek) dalam meningkatkan
kesejahteraan rumah tangganya.
5.5.3 Hasil Uji Statistik F (ANOVA)
Uji statistik F digunakan untuk mengetahui pengaruh semua variabel
independen yang dimasukkan dalam model regresi secara bersama-sama terhadap
variabel dependen yang diuji pada tingkat signifikan 0,01.
Berdasarkan tabel 23 terlihat nilai Fhitung adalah 9.687 dengan tingkat
signifikansi (0,000) jauh lebih kecil dari 0,01 (0,000 <0,01) dan nilai f tabel
(3,51) dengan derajat kebebasan 21, maka dapat disimpulkan bahwa f hitung >f
tabel (9,687 > 3,51) ini berarti signifikan, yang artinya Ho ditolak dan Ha
diterima. Kesimpulannya dapat dikatakan bahwa pendapatan, pengeluaran,
keadaan tempat tinggal, fasilitas tempat tinggal, kesehatan anggota keluarga,
pelayanan kesehatan, kemudahan pendidikan, dan kemudahan transportasi


93
berpengaruh secara simultan dan signifikan terhadap tingkat kesejahteraan rumah
tangga.
Tabel 23. Hasil Uji Persamaan Statistik F di desa Cidokom
ANOVA
b

Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.
1 Regression 150.646 8 18.831 9.687 .000
a

Residual 40.821 21 1.944

Total 191.467 29

a. Predictors: (Constant), transportasi, pengeluaran, Pendidikan, Kesehatan keluarga, Pendapatan, Keadaan
Tempat tinggal, Fasilitas tempat tinggal, Pelayanan kesehatan
b. Dependent Variable: kesejahteraan
5.6 Hasil Uji Elastisitas
Berdasarkan tabel 24, memperlihatkan bahwa semua variabel (X) inelastis
yang berarti tidak peka atau tidak sensitif terhadap perubahan pada variabel (Y).
Dalam hal ini, secara individual variabel pendapatan (0,28<1), pengeluaran
(0,075<1), keadaan tempat tinggal (0,269<1), fasilitas tempat tinggal (0,083<1),
kesehatan anggota keluarga (0,156<1), kemudahan pelayanan kesehatan
(0,103<1), kemudahan pendidikan (0,293<1), dan kemudahan transportasi
(0,072<1) tidak peka atau tidak sensitif terhadap perubahan pada tingkat
kesejahteraan rumah tangga.




94
Tabel 24. Hasil Perhitungan Elastisitas kesejahteraan di desa Cidokom, 2011
No. Variabel Koefisien
Regresi
Rata-rata Elastisitas I nterpretasi
1.

2.
3.
4.

5.

6.

7.

8.

9.
Kesejahteraan
(Constant)

Pendapatan
Pengeluaran
Keadaan tempat
tinggal

Fasilitas tempat
tinggal

Kesehatan anggota
keluarga

Pelayanan
kesehatan

Pelayanan
pendidikan

Kemudahan
transportasi
-6,870

1,569
0,536
0,316

0,095

1,336

0,164

0,808

0,219
20,467

3,667
2,900
17,433

17,900

2,400

12,967

7,433

6,800



0,28
0,075
0,269

0,083

0,156

0,103

0,293

0,072


Inelastis
Inelastis
Inelastis

Inelastis

Inelastis

Inelastis

Inelastis

Inelastis















95
BAB VI
KESI MPULAN DAN SARAN


6.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan sebagai
berikut:
1. Kegiatan usahatani yang dilakukan oleh petani di desa Cidokom
menggunakan model agroekologi, yaitu penerapan pertanian selaras dengan alam
yang mengarah pada organik dengan mengintegrasikan sumber daya dan
pengetahuan lokal untuk mendapatkan hasil yang usahatani yang baik secara
sosial, ekonomi dan lingkungan.
2. Berdasarkan delapan indikator BPS 2005, rumah tangga petani yang
termasuk kategori kesejahteraan tinggi sebanyak 22 rumah tangga (73,33%) dan
sisanya sebanyak 8 rumah tangga (26,67%) termasuk kategori kesejahteraan
sedang. Berdasarkan kriteria garis kemiskinan Sajogyo, sebagian besar rumah
tangga petani (66,67%) termasuk kategori tidak miskin. Sedangkan berdasarkan
kriteria garis kemiskinan dari Direktorat Tata Guna Tanah, sebagian besar rumah
tangga petani (66,67%) termasuk kategori tidak miskin.
3. Berdasarkan dari hasil perhitungan Regresi berganda dengan
menggunakan program SPSS 17, terlihat bahwa bila ada kenaikan pendapatan
sebesar 1 satuan maka akan mempengaruhi kenaikan kesejahteraan rumah tangga
sebesar 1,568 satuan dan bila ada kenaikan kesehatan keluarga sebesar 1 satuan
maka akan mempengaruhi kenaikan tingkat kesejahteraan rumah tangga sebesar


96
1,336 satuan. Selain itu, keenam variabel bebas lainnya bila ada kenaikan 1 satuan
berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan rumah tangga dibawah 1 satuan.
4. Hasil penghitungan elastisitas, variabel (X) yaitu pendapatan, pengeluaran,
keadaan tempat tinggal, fasilitas tempat tinggal, kesehatan anggota keluarga,
pelayanan kesehatan, pelayanan pendidikan , dan transportasi dinyatakan bersifat
inelastis (<1). Dengan demikian semua kebijakan terhadap variabel bebas tersebut
tidak responsif dalam meningkatkan kesejahteraan (Y).
6.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas, maka dapat dikemukakan beberapa saran
yang sekiranya bermanfaat bagi petani di desa Cidokom yaitu:
1. Sebaiknya petani di desa Cidokom tetap mempertahankan kegiatan
usahatani dengan model agroekologi yang dilakukan, sehingga dapat memberikan
hasil yang maksimal bagi kegiatan usahatani dan keseimbangan alam di desa
Cidokom.
2. Perlu adanya peningkatan sumberdaya manusia bagi anggota rumah
tangga petani melalui pendidikan formal maupun informal untuk menguasai
pengetahuan usahatani secara agroekologi.
3. Pemerintah sebaiknya memfasilitasi sarana kegiatan yang mengarah
kepada peningkatan pendapatan dalam usaha meningkatkan kesejahteraan rumah
tangga petani di desa Cidokom.





97
DAFTAR PUSTAKA

Altieri, Miguel. Agroekologi: prinsip-prinsip dan strategi untuk merancang sistem
pertanian berkelanjutan. Diunduh dari www.cnr.berkeley.edu pada 26
juni 2010-06-26 22.12
Badan Pusat Statistik.2010. Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi.
http:/www.bps.go.id/. diunduh pada tanggal 7 September 2010 pukul
15.30 WIB
2005. Statistik Kesejahteraan Rumah Tangga 2005. BPS.
Jakarta
Departemen Sosial.2011. Evalusi Program Pengentasan Kemiskinan.
www.depsos.go.id/ diunduh pada tanggal 4 Juli 2011 pukul 16.00 WIB
Gliessman, S.R. Agroecology: The Ecology of Sustainable Food Systems
(University of California: Santa Cruz,2007)
Hasan, Iqbal, Pokok-Pokok Materi Statistik 1 ( Jakarta: Bumi Aksara, 2008)
Irmayani, Andi. Analisis Tingkat Kesejahteraan Rumah Tangga Petani di Desa
Purwasari, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, J awa Barat.
(Program Studi Manajemen Agribisnis Fakultas Pertanian IPB, 2007)

Jumin, Hasan Basri. Agroekologi: Suatu Pendekatan Fisiologi (Jakarta: Raja
Grafindo Persada,2002)

Maharani. Analisis Pendapatan dan Tingkat Kesejahteraan Transmigrasi di Unit
Permukiman Transmigrasi Propinsi Lampung. (Program Studi
Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya Alam Fakultas Pertanian IPB,
2006)

Midgley, James. Pembangunan Sosial: Perspektif Pembangunan dalam
Mensejahterakan Sosial (Jakarta: Ditperta Islam Depag RI, 2005)

Mubyarto. Pengantar Ekonomi Pertanian. (Jakarta, LP3ES,1986)

Munir, Misbahul. Pengaruh Konversi Lahan Pertanian Terhadap Tingkat
Kesejahteraan Rumah Tangga Petani. Program Studi Komunikasi dan
Pengembangan Masyarakat, Fakultas Pertanian IPB.2008
Noertjahjo, JA. Dari Ladang Sampai Kabinet, Menggugat Nasib Petani. (Jakarta:
Kompas, 2005)


98
Purwantini, Tri Bastuti dan Ariani, Mewa. Pola Pengeluaran dan Konsumsi
Pangan pada Rumah Tangga Petani Padi. ( Jakarta: Pusat Analisis
Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Departemen Pertanian. 2008)
Reijntjes, Coen. Pertanian Masa Depan: Pengantar untuk Pertanian
Berkelanjutan dengan Input Luar Rendah (Yogyakarta: Kanisius, 1999)
Rianse, Usman dan Abdi. Metodologi Penelitian Sosial dan Ekonomi : Teori dan
Aplikasinya. ( Bandung: Alfabeta.2009).
Riduwan, Pengantar Statistika Untuk Penelitian Bisnis.(Jakarta, Alfabeta, 2007)
Salam, Syamsir dan Fadhilah Amir. Sosiologi Pedesaan.( Jakarta: Lembaga
Penelitian UIN Syarif Hidayatullah.2008)
Shrestha, Anil. New Dimensions in Agroecology (New York: The Haworth Press,
2004)
Singarimbun, Masri. Metode Penelitian Survei (Jakarta: LP3ES, 1989)
SPI. Agroekologi ala La Via Campesina kontra korporatisasi agribisnis TNC’s.
diunduh dari www.spi.or.id pada 10 April 2010
, Prinsip-Prinsip Pemahaman Pertanian Berkelanjutan. (SPI: Jakarta,
2008)
Sudantoko, Djoko dan Hamdani. Dasar-dasar Pengantar Ekonomi Pembangunan
(Jakarta: PP. Mardi Mulyo, 2009)
Sugiarto, Seminar Nasional : Dinamika Pembangunan Pertanian dan Perdesaan:
Tantangan dan Peluang Bagi Peningkatan Kesejahteraan Petani,
(Departemen Pertanian, 2008)
Suharyadi dan Purwanto.2009. Statistika: untuk Ekonomi dan Keuangan Modern.
(Salemba Empat, Jakarta)
Suprayitno, Eko.2008. Ekonomi Mikro Perspektif Islam.(UIN Malang Press,
Malang)
Suratiyah, Ken. Ilmu Usahatani (Jakarta: Penebar Swadaya, 2006)
Susanto, Sahid. Revitalisasi Pertanian dan Dialog Peradaban : Agroekologi
sebagai Basis dalamPembangunan Pertanian Berkelanjutan. (Jakarta:
Kompas, 2006)





99
Lampiran 1
Kuesioner Penerapan Agroekologi Dalam Mensejahterakan Rumah Tangga
Petani (studi kasus Desa Cidokom, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor,
J awa Barat), Tahun 2011
Kuesioner ini digunakan sebagai bahan penyusunan skripsi
“Penerapan Agroekologi Dalam Mensejahterakan Rumah
Tangga Petani (Studi Kasus: Desa Cidokom, Kecamatan
Rumpin, Kabupaten Bogor, J awa Barat)” oleh Febinanto
Satrio Anggoro (105092002944), mahasiswa Program Studi
Agribisnis, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas I slam
Negeri Syarif Hidayatullah J akarta.

KUESIONER
A. Karakteristik Responden
1. Nama : ………………………
2. Jenis Kelamin: …………….L/P
3. Umur: ………………………tahun
4. Pendidikan Formal Terakhir :
a) Tidak sekolah c) SLTP e) Perguruan Tinggi :
……….
b) SD d) SMU
5. Pendidikan non formal (sebutkan nama dan lamanya)
a. ……………………………………. Lamanya: …………. Tahun
6. Status Pernikahan: 1. Menikah 2. Belum Menikah
7. Jumlah tanggungan keluarga
Status Bekerja
dalam
usaha tani
(orang)
Bekerja luar
usaha tani
(orang )
Tidak bekerja
(orang)
Penghasilan
(Rp/ bulan)
Istri
Anak (1-15
tahun)

Dewasa (>15
tahun)

Total


100
8. Lama pengalaman berusahatani:……………………… tahun
9. Lama pengalaman berusahatani agroekologi……………………….tahun
10. Status kepemilikkan lahan : a. Milik sendiri b. Milik Orang lain
11. Luas lahan yang dimiliki: ………………………… hektare
B. Penerapan Agroekologi
1. Bagaimana cara saudara dalammelakukan perawatan tanah (cara mencangkul,
pemupukan)?
J awaban:
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
….………………………………………………………………………………………
2. Bagaimana Penangkaran benih yang saudara lakukan?
J awaban:
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
Bagaimana cara anda untuk melakukan pengendalian hama?
J awaban:
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
3. Bagaimana sistempengaturan air?
J awaban:
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
5. Bagaimana cerita lokal tentang agroekologi yang anda ketahui?
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………






101
C. Pendapatan Rumah Tangga
Sumber Pendapatan J umlah (Rp)
I . Pendapatan Pertanian
1. Padi
2. Non Padi
Total pendapatan pertanian
I I . Pendapatan non pertanian
1. ………………………….
2. ………………………….
3. ………………………….

Total pendapatan

D. Pengeluaran Rumah Tangga
J enis Pengeluaran J umlah (Rp)
I . Pengeluaran pangan
1. Beras
2. Ikan
3. Daging
4. Telur dan susu
5. Sayur-sayuran, tahu dan tempe
6. Minyak goring
7. Buah-buahan
8. Tembakau
9. Konsumsi lainnya
Total pengeluaran pangan
I I . Pengeluaran bukan pangan
1. Perumahan, bahan bakar,
penerangan & komunikasi

2. Pakaian dan alas kaki
3. Aneka barang dan jasa
4. Kesehatan
5. Pendidikan
6. Barang tahan lama
7. Rekreasi dan keperluan sosial
Total pengeluaran bukan pangan
Total pengeluaran





102
I ndikator Tingkat Kesejahteraan menurut BPS hasil SUSENAS 2005 yang
dimodifikasi disertai variabel dan skornya
No Variabel Kesejahteraan Kriteria Skor
1. Pendapatan Keluarga
Tolak ukur yang digunakan adalah kriteria konsep
Kemiskinan menurut Direktorat Tata Guna Tanah, yang
didasarkan pada kebutuhan 9 bahan pokok per kapita per
tahun.
- Tidak miskin (>200%)
- Hampir miskin (125%-200%)
- Miskin (75%-125%)
- Miskin sekali (<75%)
4
3
2
1
2. Pengeluaran keluarga
Tolak ukur yang digunakan adalah konsep garis kemiskinan
menurut Sajogyo yang menyetarakan pendapatan per kapita
per tahun dengan konsumsi beras per kapita per tahun.
- Tidak miskin
(>320 kg beras)
- Miskin
(240-230 kg beras)
- Miskin sekali
(180-240 kg beras)
- Paling miskin
(<180 kg beras)
4

3

2

1
3. Keadaan Tempat Tinggal
1. Atap : Genteng (5)/ asbes (4)/ seng (3)/ sirap (2)/ daun (1)
2. Bilik : Tembok (5)/ setengah tembok (4)/ kayu (3)/
Bambu kayu (2)/ bamboo (1)
3. Status : Milik sendiri (3)/ sewa (2)/ numpang (1)
4. Lantai : Porselin (5)/ ubin (4)/ plester (3)/ papan (2)/ tanah
(1)
5. Luas lantai : >100 m
2
(3)/ 50-100 m
2
(2)/ <50 m
2
(1)
- Permanen
(skor 15-21)
- Semi permanen
(skor 10-14)
- Non permanen
(skor 5-9)
3

2

1
4. Fasilitas Tempat Tinggal
1. Pekarangan : Luas (>100 m2) (3)/ cukup (50-100 m2) (2)/
sempit (<50 m2) (1)
2. Hiburan : Video (4)/ TV (3)/ tape recorder (2)/ radio (1)
3. Pendingin : AC (4)/ lemari es (3)/ kipas angin (2)/ alam
(1)
4. Sumber penerangan : listrik (3)/ petromak (2)/ lampu
temple (1)
5. Bahan bakar : gas (3)/ Minyak tanah (2)/ kayu arang (1)
6. Sumber air : PAM (6)/ sumur bor (5)/ sumur (4)/ mata air
(3)/ air hujan (2)/ sungai (1)
7. MCK : Kamar mandi sendiri (4)/ kamar mandi umum(3)/
sungai (2)/ kebun (1)
- Lengkap
(skor 21-27)
- Cukup
(skor 14-20)
- Kurang
(skor 7-13)


















3

2

1














103
5. Kesehatan Anggota Keluarga
Tolak ukur dalam penelitian kesehatan anggota keluarga
berdasarkan persentase anggota keluarga mengalami sakit
dalamsebulan
- Baik
(<25% anggota keluarga sering
sakit)
- Cukup
(25-50% anggota keluarga sering
sakit)
- Kurang
(>50% anggota keluarga sering
sakit)
3


2


1
6. Kemudahan Mendapatkan Pelayanan kesehatan dari
Tenaga Medis/Paramedis
(termasuk di dalamnya kemudahan pelayanan keluarga
berencana dan obat-obatan)
1. J arak RS terdekat : (0 km) (4)/ (0,01-3 km) (3)/ (>3
km) (2)/ missing (1)
2. J arak ke poliklinik : (0) (4)/ (0,01-2 km) (3)/ (>2 km)
(2)/ missing (1)
3. Biaya berobat : Terjangkau (3)/ cukup terjangkau (2)/
sulit terjangkau (1)
4. Penanganan berobat : Baik (3)/ cukup (2)/ jelek (1)
5. Alat kontrasepsi : Mudah didapat (3)/ cukup mudah
(2)/ sulit (1)
6. Konsultasi KB : Mudah didapat (3)/ cukup mudah
(2)/ sulit (1)
- Mudah
(skor 8-10)
- Cukup
(skor 13-17)
- Sulit
(Skor 8-12)
3

2

1
7. Kemudahan Menyekolahkan Anak ke Suatu J enjang
Pendidikan
1. Biaya sekolah : Terjangkau (3)/ cukup terjangkau (2)/
sulit terjangkau (1)
2. J arak ke Sekolah : (0 km) (4)/ (0,01-3 km) (3)/ (>3
km) (2)
3. Prosedur penerimaan : Mudah (3)/ cukup (2)/ sulit (1)
- Mudah
(skor 8-10)
- Cukup
(skor 6-7)
- Sulit
(skor 4-5)



3

2

1
8. Kemudahan mendapatkan Fasilitas Transportasi
(pengangkutan)
1. Ongkos dan biaya : Terjangkau (3)/ cukup terjangkau
(2)/ Sulit terjangkau (1)
2. Fasilitas kendaraan : Tersedia (3)/ cukup tersedia (2)/
sulit tersedia (1)
3. Kepemilikan : sendiri (3)/ sewa (2)/ ongkos (1)
- Mudah
(skor 7-9)
- Cukup
(skor 5-6)
- Sulit
(skor 3-4)
3

2

1
-










-


104
Lampiran 2. Tingkat pendapatan Rumah Tangga Petani di desa Cidokom Tahun 2011
Keterangan:
Tidak miskin : pendapatan >Rp. 2.274.400,00
Miskin : pendapatan Rp.1.421.000,00-Rp. 2.274.400,00
Miskin sekali : pendapatan Rp. 852.900,00-Rp. 1.421.000,00
Paling miskin : pendapatan <Rp. 852.900,00
Nomor
Respon
den
Pendapatan (Rp/tahun) Total
Pendapatan
(Rp/tahun)
Jumlah
Anggota
RT
(orang)
Pendapatan
Per Kapita
Per tahun
Kriteria
Padi Non Padi Non
Pertanian
1 10.000.000 1.800.000 6.200.000 18.000.000 6 3.000.000 Tidak Miskin
2 16.000.000 1.000.000 6.750.000 23.750.000 7 3.392.857 Tidak Miskin
3 5.100.000 1.350.000 8.350.000 14.800.000 4 3.700.000 Tidak Miskin
4 6.400.000 1.800.000 1.600.000 9.800.000 3 3.266.667 Tidak Miskin
5 5.300.000 400.000 - 5.700.000 3 1.900.000 Miskin
6 4.250.000 3.950.000 6.150.000 14.350.000 5 2.870.000 Tidak Miskin
7 4.800.000 - 3.320.000 8.120.000 4 2.030.000 Miskin
8 18.000.000 2.750.000 3.250.000 24.000.000 8 3.000.000 Tidak Miskin
9 14.400.000 550.000 - 14.950.000 6 2.491.667 Tidak Miskin
10 6.400.000 600.000 - 7.000.000 4 1.750.000 Miskin
11 12.000.000 1.200.000 - 14.700.000 5 2.940.000 Tidak Miskin
12 1.200.000 4.150.000 - 5.350.000 4 1.337.500 Miskin Sekali
13 4.000.000 3.500.000 6.500.000 14.000.000 5 2.800.000 Tidak Miskin
14 6.000.000 2.000.000 - 8.000.000 3 2.666.667 Tidak Miskin
15 6.000.000 - 8.400.000 14.400.000 5 2.880.000 Tidak Miskin
16 2.500.000 3.000.000 6.500.000 12.000.000 5 2.400.000 Tidak Miskin
17 2.200.000 2.400.000 4.100.000 8.700.000 6 1.450.000 Miskin
18 4.000.000 800.000 - 4.800.000 5 960.000 Miskin Sekali
19 3.200.000 400.000 3.150.000 6.750.000 4 1.687.500 Miskin
20 4.000.000 450.000 2.750.000 7.200.000 6 1.200.000 Miskin Sekali
21 2.600.000 600.000 3.300.000 6.500.000 2 3.250.000 Tidak Miskin
22 16.750.000 3.000.000 3.250.000 23.000.000 9 2.555.556 Tidak miskin
23 3.600.000 800.000 8.000.000 12.400.000 4 3.100.000 Tidak Miskin
24 6.000.000 250.000 2.000.000 8.250.000 5 1.650.000 Miskin
25 4.800.000 3.950.000 - 8.750.000 3 2.916.667 Tidak Miskin
26 6.800.000 1.010.000 5.000.000 12.810.000 5 2.562.000 Tidak Miskin
27 4.250.000 1.550.000 - 5.800.000 4 1.450.000 Miskin
28 9.000.000 1.350.000 11.000.000 20.350.000 7 2.907.142 Tidak Miskin
29 3.200.000 200.000 3.000.000 6.400.000 2 3.200.000 Tidak Miskin
30 3.400.000 1.700.000 6.900.000 12.000.000 4 3.000.000 Tidak Miskin
J umlah 196.150.000 61.810.000 109.470.000 352.630.000 143 74.314.223
Rata-
rata
6.538.334 2.060.334 3.649.000 11.754.333 4 2.477.140 Tidak Miskin


105
Lampiran 3 Tingkat Pengeluaran Rumah Tangga Petani di desa Cidokom 2011

Keterangan :
Tidak miskin : pengeluaran >Rp.1.600.000/tahun
Miskin : pengeluaran <Rp.1.600.000/tahun
Miskin sekali : pengeluaran <Rp.1.200.000/tahun
Paling miskin : pengeluaran <Rp.900.000/ tahun
Nama
Responden
Pengeluaran (Rp/tahun) Total
Pengeluaran
(Rp/tahun)
Jumlah
Anggota
RT (orang)
Pendapatan
Per Kapita
Per tahun
Kriteria
Pangan Non Pangan
1 6.379.000 2.560.000 8.939.000 6 1.489.830 Miskin
2 7.920.000 8.180.000 16.100.000 7 2.300.000 Tidak Miskin
3 2.370.000 2.580.000 4.950.000 4 1.237.500 Miskin
4 3.644.000 2.344.000 5.988.000 3 1.996.000 Tidak Miskin
5 3.870.000 1.880.000 5.758.000 3 1.919.300 Tidak Miskin
6 7.180.000 3.300.000 10.480.000 5 2.096.000 Tidak Miskin
7 5.637.000 1.678.000 7.315.000 4 1.828.750 Tidak Miskin
8 10.774.000 6.580.000 17.354.000 8 2.169.250 Tidak Miskin
9 7.368.000 2.670.000 10.038.000 6 1.673.000 Tidak Miskin
10 3.990.000 2.230.000 6.220.000 4 1.555.000 Miskin
11 5.200.000 4.020.000 9.220.000 5 1.844.000 Tidak Miskin
12 3.545.000 1.400.000 4.945.000 4 1.236.250 Miskin
13 5.175.000 5.550.000 10.725.000 5 2.145.000 Tidak Miskin
14 3.829.000 2.030.000 5.859.000 3 1.953.000 Tidak Miskin
15 6.080.000 4.650.000 10.730.000 5 2.146.000 Tidak Miskin
16 5.070.000 3.110.000 8.180.000 5 1.636.000 Tidak Miskin
17 4.982.000 2.950.000 7.932.000 6 1.322.000 Miskin
18 4.800.000 2.000.000 6.800.000 5 1.360.000 Miskin
19 3.600.000 3.500.000 7.100.000 4 1.775.000 Tidak Miskin
20 4.832.000 2.630.000 7.462.000 6 1.243.660 Miskin
21 2.161.000 1.080.000 3.241.000 2 1.620.500 Tidak Miskin
22 10.890.000 11.000.000 21.890.000 9 2.432.200 Tidak Miskin
23 7.600.000 3.900.000 11.500.000 4 2.875.000 Tidak Miskin
24 5.120.000 2.500.000 7.620.000 5 1.524.000 Miskin
25 3.700.000 2.810.000 6.510.000 5 1.302.000 Miskin
26 7.400.000 3.600.000 11.000.000 5 2.200.000 Tidak Miskin
27 3.800.000 1.500.000 5.300.000 4 1.325.000 Miskin
28 11.300.000 8.120.000 19.420.000 7 2.774.500 Tidak Miskin
29 2.800.000 1.600.000 4.400.000 2 2.200.000 Tidak Miskin
30 4.694.000 4.624.000 9.318.000 4 2.329.500 Tidak Miskin
J umlah 165.710.000 106.576.000 272.294.000 145 53.588.940
Rata-rata 5.523.667 3.552.533 9.076.467 4 1.786.298 Tidak miskin


106
Lampiran 3 Skor Keadaan Tempat Tinggal Rumah tangga Petani di desa Cidokom
Tahun 2011
Nomor
Responden
Atap Bilik Status Lantai Luas
Lantai
Jumlah Skor
1 5 5 3 4 2 19 3/P
2 5 5 3 4 2 19 3/P
3 5 5 3 4 3 20 3/P
4 5 4 3 4 2 18 3/P
5 5 5 3 4 2 19 3/P
6 5 2 3 2 2 14 2/SP
7 5 2 3 2 2 14 2/SP
8 5 4 2 4 2 17 3/P
9 5 5 3 4 2 19 3/P
10 5 4 3 3 2 17 3/P
11 5 4 3 3 2 17 3/P
12 5 5 3 4 2 19 3/P
13 5 5 3 3 2 18 3/P
14 5 5 3 4 2 19 3/P
15 5 5 2 4 2 18 3/P
16 5 2 3 2 2 14 2/SP
17 5 4 3 3 2 17 3/P
18 5 5 3 4 3 20 3/P
19 5 5 3 4 3 20 3/P
20 5 2 2 2 1 12 2/SP
21 5 3 3 2 2 15 3/P
22 5 5 3 4 3 20 3/P
23 5 2 3 2 2 14 2/SP
24 5 5 3 4 2 19 3/P
25 5 5 3 4 1 18 3/P
26 4 5 3 4 3 20 3/P
27 5 2 3 2 2 14 2/SP
28 5 5 3 4 3 20 3/P
29 5 2 3 2 2 14 2/SP
30 5 5 3 4 3 20 3/P

Keterangan: Permanen : skor 15-21
P =Permanen Semi permanen : skor 10-14
SP=Semi Permanen non permanen : skor 5-9




107
Lampiran 4 Skor Fasilitas Tempat Tinggal Rumah Tangga`Petani di desa
Cidokom Tahun 2011
Nomor
Responden
A B C D E F G Jumlah Skor
1 2 3 1 3 1 4 2 16 2/C
2 2 3 2 3 3 4 4 21 3/L
3 1 1 1 3 3 4 4 17 2/C
4 1 3 1 3 1 4 4 17 2/C
5 2 2 1 3 3 4 2 17 2/C
6 1 1 1 3 1 1 2 10 1/K
7 2 2 1 3 1 4 2 15 2/C
8 1 3 1 3 3 4 2 17 2/C
9 2 1 1 3 3 4 4 18 2/C
10 2 2 1 3 1 4 2 15 2/C
11 1 1 1 3 1 4 2 13 1/K
12 1 4 1 3 3 4 4 20 2/C
13 2 3 1 3 3 4 2 18 2/C
14 2 3 1 3 3 4 2 18 2/C
15 2 3 1 3 3 4 4 20 2/C
16 2 1 1 3 1 4 2 14 2/C
17 2 3 1 3 1 4 2 16 2/C
18 2 3 3 2 1 4 4 19 2/C
19 2 3 3 3 1 4 4 20 2/C
20 1 1 1 3 1 4 4 15 2/C
21 1 3 1 3 2 4 3 16 2/C
22 3 4 3 3 3 4 4 24 3/L
23 2 3 3 3 1 4 4 20 2/C
24 3 3 3 3 1 4 4 21 3/L
25 3 3 1 3 3 4 2 19 2/C
26 2 3 3 3 1 4 3 19 2/C
27 2 3 3 2 1 4 2 17 2/C
28 3 3 3 3 3 4 3 22 3/L
29 3 3 2 3 3 4 4 22 3/L
30 2 3 3 3 1 4 4 20 2/C

Keterangan :
A : Pekarangan L =Lengkap : skor 21-27
B : Hiburan C =Cukup : skor 14-20
C : Pendinginan K =Kurang : skor 7-13
D : Penerangan
E : Bahan Bakar
F : Sumber Air
G : MCK


108
Lampiran 5 Skor Kemudahan Rumah Tangga Petani Mendapatkan Pelayanan
Kesehatan di desa Cidokom

Nomor
Responden
A B C D E F Jumlah Skor
1 3 3 3 2 2 2 15 2/C
2 3 3 2 2 2 3 15 2/C
3 3 3 1 2 1 1 11 1/S
4 3 3 1 2 2 2 13 2/C
5 3 3 2 2 1 1 12 2/C
6 3 3 2 2 2 1 13 2/C
7 3 3 2 2 1 2 13 2/C
8 3 3 1 2 1 1 11 1/S
9 3 3 1 2 1 1 11 1/S
10 3 3 1 2 1 1 11 1/S
11 3 3 1 2 1 1 11 1/S
12 3 3 1 2 1 1 11 1/S
13 3 3 2 2 1 1 12 1/S
14 3 3 2 2 1 1 12 1/S
15 3 3 2 2 2 1 13 2/C
16 3 3 2 2 1 1 12 1/S
17 3 3 2 2 1 1 12 1/S
18 3 3 2 2 2 2 14 2/C
19 3 3 1 2 2 2 13 2/C
20 3 3 1 2 2 2 13 2/C
21 3 3 2 2 2 2 14 2/C
22 3 3 2 2 3 3 16 2/C
23 3 3 2 2 3 3 16 2/C
24 3 3 2 2 3 3 16 2/C
25 3 3 2 2 1 1 12 1/S
26 3 3 2 2 2 2 14 2/C
27 3 3 2 3 3 2 16 2/C
28 3 3 2 3 3 2 16 2/C
29 3 3 2 2 3 3 16 2/C
30 3 3 2 2 2 2 14 2/C
Keterangan :
A : Jarak ke RS Terdekat
B : Jarak ke pelayanan kesehatan terdekat
C : Biaya berobat
D : Penanganan berobat
E : Alat kontrasepsi
F : Konsultasi KB
M =Mudah : skor 18-21
C =Cukup : skor 13-17
S =Sulit : skor 8-12


109
Lampiran 6 Skor Kemudahan Rumah tangga Petani Memasukkan Anak ke
Jenjang Pendidikan

Nomor
Responden
Biaya
sekolah
Jarak ke
Sekolah
Prosedur dan
Penerimaan
Jumlah Skor
1 3 3 3 9 3/M
2 2 3 3 8 3/M
3 2 3 2 7 2/C
4 2 3 3 8 3/M
5 2 3 3 8 3/M
6 2 3 2 7 2/C
7 2 3 3 8 3/M
8 1 3 3 7 2/C
9 2 3 2 7 2/C
10 2 3 2 7 2/C
11 2 3 2 7 2/C
12 2 3 2 7 2/C
13 2 3 2 7 2/C
14 2 3 2 7 2/C
15 2 3 2 7 2/C
16 2 3 2 7 2/C
17 2 3 2 7 2/C
18 2 3 2 7 2/C
19 3 3 2 8 3/M
20 2 3 3 8 3/M
21 2 3 2 8 3/M
22 3 2 3 8 3/M
23 2 3 2 7 2/C
24 3 2 3 8 3/M
25 2 3 2 7 2/C
26 3 3 2 8 3/M
27 3 3 2 8 3/M
28 3 3 2 8 3/M
29 3 2 2 7 2/C
30 2 3 2 7 2/C

Keterangan :
M : Mudah =skor 7-9
C : Cukup =skor 5-6
S : Sulit =skor 3-4







110
Lampiran 7 Skor Kemudahan Rumah tangga Petani Mendapatkan Fasilitas
Transportasi
Nomor
Responden
A B C Jumlah Skor
1 3 3 3 9 3/M
2 3 3 3 9 3/M
3 2 3 3 8 3/M
4 2 2 1 5 2/C
5 2 1 1 4 1/S
6 2 2 1 5 2/C
7 2 3 3 8 3/M
8 2 2 3 7 3/M
9 2 3 3 8 3/M
10 1 2 1 4 1/S
11 2 3 3 8 3/M
12 2 3 3 8 3/M
13 2 2 1 5 2/C
14 2 3 3 8 3/M
15 2 3 3 8 3/M
16 2 2 1 5 2/C
17 2 1 1 4 1/S
18 3 3 3 9 3/M
19 3 3 3 9 3/M
20 2 1 1 4 1/S
21 3 1 1 5 2/C
22 3 3 3 9 3/M
23 2 1 1 4 1/S
24 2 2 2 6 2/C
25 2 2 1 5 2/C
26 3 3 2 8 3/M
27 3 2 3 8 3/M
28 3 2 3 8 3/M
29 3 2 2 7 3/M
30 3 3 3 9 3/M
Keterangan :
A : Ongkos/ biaya
B : Fasilitas kendaraan
C : Kepemilikan

M =Mudah =skor 7-9
C =Cukup =skor 5-6
S =Sulit =skor 3-4




111
Lampiran 8 Indikator Tingkat Kesejahteraan Rumah tangga Petani di desa
Cidokom 2011

Nomor
Responden
Indikator Tingkat Kesejahteraan Jumlah Kriteria
1 2 3 4 5 6 7 8
1 4 3 3 2 2 2 3 3 22 KT
2 4 4 3 3 3 2 3 3 25 KT
3 4 3 3 2 2 1 2 3 20 KT
4 4 4 3 2 2 2 3 2 22 KT
5 3 4 3 2 2 1 3 1 19 KS
6 4 4 2 1 2 2 2 2 19 KS
7 3 4 2 2 2 2 3 3 21 KT
8 4 4 3 2 2 1 2 3 21 KT
9 4 4 3 2 2 1 2 3 21 KT
10 3 3 3 2 2 1 2 1 17 KS
11 4 4 3 1 2 1 2 3 20 KT
12 2 3 3 2 2 1 2 3 18 KS
13 4 4 3 2 2 1 2 2 20 KT
14 4 4 3 2 3 1 2 3 22 KT
15 4 4 3 2 2 2 2 3 22 KT
16 4 4 2 2 2 1 2 2 19 KS
17 3 3 3 2 2 1 2 1 17 KS
18 2 3 3 2 3 2 2 3 20 KT
19 3 4 3 2 3 2 3 3 23 KT
20 2 3 2 2 2 2 3 1 17 KS
21 4 4 3 2 3 2 2 2 22 KT
22 4 4 3 3 3 2 3 3 25 KT
23 4 4 2 2 3 2 2 1 20 KT
24 3 3 3 3 3 2 3 2 22 KT
25 4 3 3 2 2 1 2 2 19 KS
26 4 4 3 2 3 2 3 3 24 KT
27 3 3 2 2 3 2 3 3 21 KT
28 4 4 3 3 3 3 3 3 26 KT
29 4 4 2 3 3 2 2 3 23 KT
30 4 4 3 2 2 2 2 3 22 KT
Jumlah 107 110 83 63 72 49 72 73
Rata-rata 3,67 2,9 2,76 2,1 2,4 1,63 2,4 2,43 20,3 KT

Keterangan :
KT =Kesejahteraan Tinggi, jika mencapai skor =20 - 26
KS =Kesejahteraan Sedang, jika mencapai skor =14 - 19
KR =Kesejahteraan Rendah, jika mencapai skor =8 - 13





112
Lampiran 9 Tabel Data Hasil Skoring
Nomor
Responden
Variabel X Variabel Y
X1 X2 X3 X4 X5 X6 X7 X8 Y
1 4 3 3 2 2 2 3 3 22
2 4 4 3 3 3 2 3 3 25
3 4 3 3 2 2 1 2 3 20
4 4 4 3 2 2 2 3 2 22
5 3 4 3 2 2 1 3 1 19
6 4 4 2 1 2 2 2 2 19
7 3 4 2 2 2 2 3 3 21
8 4 4 3 2 2 1 2 3 21
9 4 4 3 2 2 1 2 3 21
10 3 3 3 2 2 1 2 1 17
11 4 4 3 1 2 1 2 3 20
12 2 3 3 2 2 1 2 3 18
13 4 4 3 2 2 1 2 2 20
14 4 4 3 2 3 1 2 3 22
15 4 4 3 2 2 2 2 3 22
16 4 4 2 2 2 1 2 2 19
17 3 3 3 2 2 1 2 1 17
18 2 3 3 2 3 2 2 3 20
19 3 4 3 2 3 2 3 3 23
20 2 3 2 2 2 2 3 1 17
21 4 4 3 2 3 2 2 2 22
22 4 4 3 3 3 2 3 3 25
23 4 4 2 2 3 2 2 1 20
24 3 3 3 3 3 2 3 2 22
25 4 3 3 2 2 1 2 2 19
26 4 4 3 2 3 2 3 3 24
27 3 3 2 2 3 2 3 3 21
28 4 4 3 3 3 3 3 3 26
29 4 4 2 3 3 2 2 3 23
30 4 4 3 2 2 2 2 3 22
J umlah 107 110 83 63 72 49 72 73


Keterangan:
X1 =Variabel Pendapatan rumah tangga petani
X2 =variabel pengeluaran rumah tangga petani
X3 =variabel keadaan tempat tinggal petani
X4 =variabel fasilitas tempat tinggal petani
X5 =variabel kesehatan anggota keluarga petani
X6 =variabel kemudahan petani mendapatkan pelayanan kesehatan
X7 =variabel kemudahan petani memasukkan anak ke jenjang pendidikan
X8 =variabel kemudahan petani mendapatkan transportasi
Y =variabel kesejahteraan rumah tangga petani












113
Lampiran 10, Perhitungan elastisitas

Elastisitas kesejahteraan :

E =bX
Ay
Ax

Keterangan :
E =Nilai elastisitas kesejahteraan
b =Koefisien Regresi
Δy =Nilai rata-rata Y
Δx =Nilai rata-rata X

1). Pendapatan : 1,568 3,667 =0,28 <1 (inelastis)
20,467

2). Pengeluaran : 0,536 2,900 =0,075 <1 (inelastis)
20,467

3). Keadaan tempat tinggal : 0,316 17,433 =0,269 <1 (inelastis)
20,467

4). Fasilitas tempat tinggal : 0,095 17,900 =0,083 <1 (inelastis)
20,467

5). Kesehatan keluarga : 1,336 2,400 =0,156 <1 (inelastis)
20,467

6). Pelayanan kesehatan : 0,164 12,967 =0,103 <1 (inelastis)
20,467

7). Pelayanan pendidikan : 0,808 7,433 =0,293 <1 (inelastis)
20,467

8). Transportasi : 0,219 6,800 =0,072 <1 (inelastis)
20,467








114
Lampiran 11, Hasil perhitungan SPSS

Model Summaryb
Adjusted R
Square
Std. Error of
the Estimate
Durbin-
Watson
.706 1.39421 2.111
a. Predictors: (Constant), transportasi, pengeluaran, Pendidikan, Kesehatan
keluarga, Pendapatan, Keadaan Tempat tinggal, Fasilitas tempat tinggal,
Pelayanan kesehatan
b. Dependent Variable: kesejahteraan
ANOVAb
Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
150.646 8 18.831 9.687 .000
a

40.821 21 1.944

191.467 29

a. Predictors: (Constant), transportasi, pengeluaran, Pendidikan, Kesehatan
keluarga, Pendapatan, Keadaan Tempat tinggal, Fasilitas tempat tinggal,
Pelayanan kesehatan


115




b. Dependent Variable: kesejahteraan






116
Unstandardized
Coefficients
Stand
ardiz
ed
Coeffi
cients
T Sig.
B Std.
Error
Beta
1 (Constant)
Pendapatan
Pengeluaran
Keadaan Tempat Tinggal
Fasilitas Tempat Tinggal
Kesehatan Keluarga
Pelayanan Kesehatan
Kemudahan Pendidikan
Kemudahan Transportasi
-6.870
1.568
.536
.316
.095
1.336
.164
.808
.219
4.764
.643
.485
.153
.142
.797
.230
.557
.178

-1.442
2.438
1.107
2.073
.672
1.676
.711
1.451
1.225
.164
.024
.281
.051
.509
.109
.485
.161
.234




You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->