Anda di halaman 1dari 24

1.

Pengertian Baja
Baja adalah logam aloy yang komponen utamanya adalah besi, dengan karbon sebagai material pengaloy utama. Baja mengandung elemen utama Fe dan C. Baja karbon merupakan salah satu jenis logam paduan besi karbon terpenting dengan prosentase berat karbon hingga 2,11%. Baja karbon memiliki kadar C hingga 1.2% dengan Mn 0.30%-0.95%. Elemen-elemen prosentase maksimum selain bajanya sebagai berikut: 0.60% Silicon, 0.60% Copper. Karbon adalah unsur kimia dengan nomor atom 6, tingkat oksidasi 4.2 dan Mangan adalah unsur kimia dengan nomor atom 25, tingkat oksidasi 7.6423. Karbon dan Manganese adalah bahan pokok untuk meninggikan tegangan (strength) dari baja murni. Karbon (C) adalah komponen kimia pokok yang menentukan sifat baja. Semakin tinggi kadar karbon di dalam baja, semakin tinggi kuat tarik serta tegangan leleh, tetapi koefisien muai bahan turun, dan baja semaikn getas. Karbon mempunyai pengaruh yang paling dominan terhadap sifat mampu las. Semakin tinggi kadar karbon menjadikan sifat mampu las turun. Fasa-fasa padat yang ada didalam baja : a. Ferit (alpha) : merupakan sel satuan (susunan atom-atom yang paling kecil dan teratur) berupa Body Centered Cubic (BCC=kubus pusat badan), Ferit ini mempunyai sifat : magnetis, agak ulet, agak kuat, dll. b. Autenit : merupakan sel satuan yang berupa Face Centered Cubic (FCC =kubus pusat muka), Austenit ini mempunyai sifat : Non magnetis, ulet, dll. c. Sementid (besi karbida) : merupakan sel satuan yang berupa orthorombik, Semented ini mempunyai sifat : keras dan getas. d. Perlit : merupakan campuran fasa ferit dan sementid sehingga mempunyai sifat Kuat. e. Delta : merupakan sel satuan yang berupa Body Centered Cubic (BCC=kubus pusat badan).

2. Strukur mikro baja karbon


Baja karbon rendah atau sangat rendah, banyak digunakan untuk proses pembentukan logam lembaran, misalnya untuk badan dan rangka kendaraan serta komponen-komponen otomotif lainnya. Baja jenis ini dibuat dan diaplikasikan dengan mengeksploitasi sifat-sifat ferrite. Ferrite adalah salah satu fasa penting di dalam baja yang bersifat lunak dan ulet. Baja karbon rendah umumnya memiliki kadar karbon di bawah komposisi eutectoid dan memiliki struktur mikro hampir seluruhnya ferrite. Pada lembaran baja kadar karbon sangat rendah atau ultra rendah, jumlah atom karbon-nya bahkan masih berada dalam batas kelarutannya pada larutan padat sehingga struktur mikronya adalah ferrite seluruhnya.

Struktur Mikro Baja Karbon Ultra Rendah Seluruhnya Ferrite. Pada kadar karbon lebih dari 0,05% akan terbentuk endapan karbon dalam bentuk hard intermetallic stoichiometric compound (Fe3C) yang dikenal sebagai cementite atau carbide. Selain larutan padat alpha-ferrite yang dalam kesetimbangan dapat ditemukan pada temperatur ruang terdapat fase-fase penting lainnya, yaitu delta-ferrite dan gamma-austenite. Logam Fe bersifat polymorphism yaitu memiliki struktur kristal berbeda pada temperatur berbeda. Pada Fe murni, misalnya, alpha-ferrite akan berubah menjadi gamma-austenite saat dipanaskan melewati temperature 910oC. Pada temperatur yang lebih tinggi, mendekati 1400oC gamma-austenite akan kembali berubah menjadi delta-ferrite. (Alpha dan Delta) Ferrite dalam hal ini memiliki struktur kristal BCC sedangkan (Gamma) Austenite memiliki struktur kristal FCC.
2

Pada kadar karbon lebih tinggi akan mulai terbentuk endapan cementite atau fase pearlite pada batas butirnya

Struktur Mikro Baja Karbon Rendah Sifat cementite atau carbide yang keras dan getas berperan penting di dalam meningkatkan sifat-sifat mekanik baja. Salah satu parameter penting yang menunjukkan hal tersebut, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya adalah a mean ferrite path. A mean ferrite path menunjukkan jarak antar cementite, baik pada pearlite maupun sphreodite. Jarak antar carbide di dalam pearlite secara khusus dikenal sebagai interlamellar spacing atau spasi antar lamel atau lembaran.

3. Sifat - sifat Baja


Sifat -sifat baja yang paling utama untuk dikatahui adalah : Sifat kekuatan/keteguhan, elastisitas, kekerasan dan sifat untuk kemungkinan dapat ditempa . Sifat kekuatan ; artinya mempunyai sifat kekuatan tinggi untuk menahan tarik, tekan, lenturan dan geseran Sifat elastis ; artinya sampai batas tertentu bahan baja mengalami pembebanan dan akibat pembebanan tsb. Akan mengalami perubahan bentuk, tetapi setelah pembebanan dihentikan maka bahan baja akan kembali pada bentuk semula

Sifat kekerasan ; artinya tidak mudah mengalami cacat kalau kena benturan. Jadi bahan baja ini cukup keras tetapi elastis

Sifat dapat ditempa ; artinya pada keadaan pijar / lembek karena dipanasi mudah ditempa sehingga dapat dirubah bentuknya. Tetapi pada keadaan dingin/selesai dipanasi kekuatannya tidak berubah

Selain sifat yang disebutkan diatas, baja juga memiliki beberapa sifat lainnya, antara lain: Mengkilap Dapat dibentuk/ditempa menjadi lembaran, batangan dan sebagainya Sangat kuat Dengan campuran elemen tertentu, dapat dihasilkan kelebihan-kelebihan yang dibutuhkan Menghantarkan panas dan listrik Mudah diubah bentuknya Tahan lama

Selain itu baja juga memiliki sifat mekanis berdasarkan SNI-2002 pasal 5.1.3 ditentukan sebagai berikut: Modulus elastisitas : E = 200 Gpa Modulus Geser : G = 80.000 Mpa Nisbah Poisoson : = 0,3 Koefisien pemuaian : = 12x10-6/o

Dengan sifat-sifat tersebut, baja adalah salah satu bahan baku pembuat berbagai benda dan alat sesuai kebutuhan manusia.Tentunya, perbedaan sifat-nya jika dibandingkan dengan bahan lainnya, seperti kayu atau plastik, memerlukan perlakuan yang berbeda pula di dalam pengolahannya. Sebagai bahan bangunan, baja dapat difungsikan sebagai beberapa elemen bangunan pada umumnya. Baik sebagai elemen struktural, penutup/pelapis permukaan, maupun sebagai elemen estetika

4. Cara pembuatan baja


Baja diproduksi didalam dapur pengolahan baja dari besi kasar baik padat maupun cair, besi bekas ( Skrap ) dan beberapa paduan logam. Ada beberapa proses pembuatan baja antara lain : 4.1 Proses Konvertor Terdiri dari satu tabung yang berbentuk bulat lonjong dengan menghadap kesamping. Sistem kerja : Dipanaskan dengan kokas sampai 1500 0C, Dimiringkan untuk memasukkan bahan baku baja. ( 1/8 dari volume konvertor) Kembali ditegakkan. Udara dengan tekanan 1,5 2 atm dihembuskan dari kompresor. Setelah 20-25 menit konvertor dijungkirkan untuk mengelaurkan hasilnya.

Proses konverter terdiri dari: Proses Bassemer (asam) Lapisan bagian dalam terbuat dari batu tahan api yang mengandung kwarsa asam atau aksid asam (SiO 2), Bahan yang diolah besi kasar kelabu cair, CaO tidak ditambahkan sebab dapat bereaksi dengan SiO2,
5

SiO2 + CaO

CaSiO3

Proses Thomas (basa) Lapisan dinding bagian dalam terbuat dari batu tahan api bisa atau dolomit [kalsium karbonat dan magnesium (CaCO3 + MgCO3)], besi yang diolah besi kasar putih yang mengandung P antara 1,7 2 %, Mn 1 2 % dan Si 0,6-0,8 %. Setelah unsur Mn dan Si terbakar, P membentuk oksida phospor (P2O5), untuk mengeluarkan besi cair ditambahkan zat kapur (CaO), 3 CaO + P2O5 Ca3(PO4)2 (terak cair)

4.2 Proses Siemens Martin Menggunakan sistem regenerator ( 3000 0C.). Fungsi dari regenerator adalah: memanaskan gas dan udara atau menambah temperatur dapur sebagai Fundamen/ landasan dapur menghemat pemakaian tempat bisa digunakan baik besi kelabu maupun putih, besi kelabu dinding dalamnya dilapisi batu silika (SiO2), besi putih dilapisi dengan batu dolomit (40 % MgCO3 + 60 % CaCO3) 4.3 Proses Basic Oxygen Furnace logam cair dimasukkan ke ruang baker (dimiringkan lalu ditegakkan) Oksigen ( 1000) ditiupkan lewat Oxygen Lance ke ruang bakar dengan kecepatan tinggi. (55 m3 (99,5 %O2) tiap satu ton muatan) dengan tekanan 1400 kN/m2. ditambahkan bubuk kapur (CaO) untuk menurunkan kadar P dan S.

Keuntungan dari BOF adalah: BOF menggunakan O2 murni tanpa Nitrogen


6

Proses hanya lebih-kurang 50 menit. Tidak perlu tuyer di bagian bawah Phosphor dan Sulfur dapat terusir dulu daripada karbon Biaya operasi murah

4.4 Proses dapur listrik Temperatur tinggi dengan menggunkan busur cahaya electrode dan induksi listrik. Keuntungan : Mudah mencapai temperatur tinggi dalam waktu singkat Temperatur dapat diatur Efisiensi termis dapur tinggi Cairan besi terlindungi dari kotoran dan pengaruh lingkungan sehingga kualitasnya baik Kerugian akibat penguapan sangat kecil

4.5 Proses dapur kopel mengolah besi kasar kelabu dan besi bekas menjadi baja atau besi tuang. Proses : pemanasan pendahuluan agar bebas dari uap cair. Bahan bakar(arang kayu dan kokas) dinyalakan selama 15 jam. kokas dan udara dihembuskan dengan kecepatan rendah hingga kokas mencapai 700 800 mm dari dasar tungku. besi kasar dan baja bekas kira-kira 10 15 % ton/jam dimasukkan. 15 menit baja cair dikeluarkan dari lubang pengeluaran.

Untuk membentuk terak dan menurunkan kadar P dan S ditambahkan batu kapur (CaCO3) dan akan terurai menjadi: CaCO3 CaO + CO2
7

CO2 akan bereaksi dengan karbon: CO2 + C 2CO Gas CO yang dikeluarkan melalui cerobong, panasnya dapat dimanfaatkan untuk pembangkit mesin-mesin lain. 4.6 Proses dapur Cawan proses kerja dapur cawan dimulai dengan memasukkan baja bekas dan besi kasar dalam cawan, kemudian dapur ditutup rapat. kemudian dimasukkan gas-gas panas yang memanaskan sekeliling cawan dan muatan dalam cawan akan mencair. baja cair tersebut siap dituang untuk dijadikan baja-baja istimewa dengan menambahkan unsur-unsur paduan yang diperlukan.

Bagan proses pembuatan baja

Proses pembuatan baja dimulai dengan proses ekstraksi bijih besi. Proses reduksi umumnya terjadi di dalam tanur tiup (blast furnace) di mana di dalamnya bijih besi (iron ore) dan batu gamping (limestone) yang telah mengalami pemanggangan (sintering) diproses bersama-sama dengan kokas (cokes) yang berasal dari batubara. Serangkaian reaksi terjadi di dalam tanur pada waktu dan lokasi yang berbeda-beda, tetapi reaksi penting yang mereduksi bijih besi menjadi logam besi adalah sebagai berikut: Fe2O3 + 3CO 2Fe + 3CO2 Luaran utama dari proses ini adalah lelehan besi mentah (molten pig iron) dengan kandungan karbon yang cukup tinggi (4%C) beserta pengotor-pengotor lain seperti silkon, mangan, sulfur, dan fosfor . Besi mentah ini belum dapat dimanfaatkan secara langsung untuk aplikasi rekayasa karena sifat-sifat (mekanis)-nya belum sesuai dengan yang dibutuhkan karena pengotorpengotor tersebut. Besi mentah berupa lelehan atau coran selanjutnya dikirim menuju converter yang akan mengkonversinya menjadi baja. Proses pembuatan baja umumnya berlangsung di tungku oksigen-basa (basic-oxygen furnace). Di dalam tungku ini besi mentah cair dicampur dengan hingga 30% besi tua (scrap) yang terlebih dahulu dimasukkan ke dalam tanur. Selanjutnya, oksigen murni ditiupkan dari bagian atas ke dalam leburan, bereaksi dengan Fe membentuk oksida besi FeO. Beberapa saat sebelum reaksi dengan oksigen mulai berlangsung, fluks pembentuk slag dimasukkan dalam jumlah tertentu. Oksida besi atau FeO selanjutnya akan bereaksi dengan karbon di dalam besi mentah sehingga diperoleh Fe dengan kadar karbon lebih rendah dan gas karbon monoksida. Reaksi penting yang terjadi di dalam tungku adalah sebagai berikut: FeO + C Fe + CO

Selama proses berlangsung (sekitar 22 menit), terjadi penurunan kadar karbon dan unsur-unsur pengotor lain seperti P, S, Mn, dalam jumlah yang signifikan.

5. Klasifikasi baja
5.1 Menurut komposisi kimianya: A. Baja karbon (carbon steel), dibagi menjadi tiga yaitu; Baja karbon rendah (low carbon steel) machine, machinery dan mild steel - 0,05 % - 0,30% C. Sifatnya mudah ditempa dan mudah di mesin. Penggunaannya: - 0,05 % - 0,20 % C : automobile bodies, buildings, pipes, chains, rivets, screws, nails. - 0,20 % - 0,30 % C : gears, shafts, bolts, forgings, bridges, buildings. Baja karbon menengah (medium carbon steel) - Kekuatan lebih tinggi daripada baja karbon rendah. - Sifatnya sulit untuk dibengkokkan, dilas, dipotong. Penggunaan: - 0,30 % - 0,40 % C : connecting rods, crank pins, axles. - 0,40 % - 0,50 % C : car axles, crankshafts, rails, boilers, auger bits, screwdrivers. - 0,50 % - 0,60 % C : hammers dan sledges. Baja karbon tinggi (high carbon steel) tool steel - Sifatnya sulit dibengkokkan, dilas dan dipotong. Kandungan 0,60 % 1,50 % C Penggunaan :

10

- screw drivers, blacksmiths hummers, tables knives, screws, hammers, vise jaws, knives, drills. tools for turning brass and wood, reamers, tools for turning hard metals, saws for cutting steel, wire drawing dies, fine cutters.

p = kekuatan patah, u = kekuatan tarik maksimum, y = kekuatan luluh, ef = regangan sebelum patah, x = titik patah, YP = titik luluh standarisasi dan pengkodean dari baja karbon Standardisasi adalah proses merumuskan, merevisi, menetapkan, dan menerapkan standar, dilaksanakan secara tertib dan kerjasama dengan semua pihak. Standar Nasional Indonesia adalah standar yang ditetapkan oleh instansi teknis setelah mendapat persetujuan dari Dewan Standardisasi Nasional, dan berlaku secara nasional di Indonesia. Struktur penomoran SNI terdiri atas serangkaian kode dengan arti tertentu yaitu berupa kode SNI, nomor unik, nomor bagian dan nomor seksi, serta tahun penetapan. Kode SNI menyatakan bahwa dokumen tersebut adalah Standar Nasional Indonesia. Sedangkan nomor unik adalah identifikasi dari suatu standar tertentu yang jumlah digitnya sesuai kebutuhan, minimal 4 digit dan diawali dengan angka 0. Nomor bagian merupakan identifikasi yang menunjukan nomor urutbagian dari suatu standar
11

yang mempunyai bagian. Nomor seksi merupakan identifikasi yang menunjukan nomor urut seksi dari suatu standar bagian tertentu. Selain standarisasi nasional ada pula standarisasi dari Jepang yang biasa di singkat dengan JIS( Japan Industrial Standart ) dan dari Amerika seperti ASTM ( American Society for Testing Materials ), AISI (Americal Iron and Steel Institute) dan dari berbagai Negara lain. Ada beberapa tipe standarisasi yang umumnya digunakan pada baja, termasuk baja karbon, diantaranya adalah : AISI (American Iron Steel Institute). SAE (Society for Automotive Engineering). JIS (Japanese Industrial Standard). SNI (Standar Nasional Indonesia).

A. AISI-SAE Standarisasi dengan sistem AISI dan juga SAE merupakan tipe standarisasi dengan berdasarkan pada susunan atau komposisi kimia yang ada dalam suatu baja. Ada beberapa ketentuan dalam Standarisasi baja berdasarkan AISI atau SAE, yaitu : Dinyatakan dengan 4 atau 5 angka: 1. 2. Angka pertama menunjukkan jenis baja. Angka kedua menunjukkan: a. Kadar unsur paduan untuk baja paduan sederhana. b. Modifikasi jenis baja paduan untuk baja paduan yang kompleks. 3. 4. Dua angka atau tiga angka terakhir menunjukkan kadar karbon perseratus persen. Bila terdapat huruf di depan angka maka huruf tersebut menunjukkan proses pembuatan bajanya. Contoh standarisasi Baja karbon dengan AISI-SAE : SAE 1045, berarti : Angka 1 : Baja Karbon
12

Angka 0 : Persentase bahan alloy (tidak ada) Angka 45 : Kadar karbon (0.45% Karbon) B. JIS (Japanese Industrial Standard) Standarisasi dengan sistem JIS merupakan salah satu tipe standarisasi atas dasar aplikasi produksi dan grade (kualifikasi untuk aplikasi tertentu). JIS standard dikembangkan oleh Japanese Industrial Standards Comitee yang merupakan bagian dari Kementrian Industri dan Perdagangan Internasional di Tokyo. Sama halnya dengan standarisasi AISI-SAE, standarisasi JIS juga mempunyai beberapa ketentuan, diantaranya : 1. 2. 3. Diawali dengan SS atau G dan diikuti dengan bilangan yang menunjukkan kekuatan tarik minimum dalam kg/mm2 Diawali dengan S dan diikuti dengan bilangan yang menunjukkan komposisi kimianya. Untuk golongan Stainless Steel biasanya menggunakan grade dari ASTM dengan menggunakan kode huruf SUS diikuti dengan kode angka sesuai dengan AISI atau SAE. *) Contoh standarisasi baja karbon dengan JIS : JIS G 5101 (Baja karbon cor). JIS G 3201 (Baja karbon tempa). JIS G 3102 (Baja karbon untuk konstruksi mesin). JIS G 3101 (Baja karbon untuk konstruksi biasa). C. SNI (Standar Nasional Indonesia) Standarisasi SNI ini merupakan tipe standarisasi yang sama dengan JIS, yaitu berdasarkan aplikasi produksi. Ada beberapa contoh standarisasi SNI pada baja karbon yang umumnya terdapat di pasaran, diantaranya : SNI 07-0040-2006 (Kawat baja karbon rendah). SNI 07-0053-2006 (Batang kawat baja karbon rendah). SNI 07-2052-2002 (Baja karbon untuk tulang beton).

13

SNI 07-0601-2006 (baja karbon dalam bentuk plat). B. Baja paduan (alloy steel) Tujuan dilakukan penambahan unsur yaitu: 1. Untuk menaikkan sifat mekanik baja (kekerasan, keliatan, kekuatan tarik dan sebagainya) 2. Untuk menaikkan sifat mekanik pada temperatur rendah 3. Untuk meningkatkan daya tahan terhadap reaksi kimia (oksidasi dan reduksi) Untuk membuat sifat-sifat spesial Baja paduan yang diklasifikasikan menurut kadar karbonnya dibagi menjadi: 1. Low alloy steel, jika elemen paduannya 2,5 % 2. Medium alloy steel, jika elemen paduannya 2,5 10 % 3. High alloy steel, jika elemen paduannya > 10 % Selain itu baja paduan dibagi menjadi dua golongan yaitu baja campuran khusus (special alloy steel) dan high speed steel.

Baja Paduan Khusus (special alloy steel) Baja jenis ini mengandung satu atau lebih logam-logam seperti nikel, manganese, molybdenum, tungsten dan vanadium. Dengan

chromium,

menambahkan logam tersebut ke dalam baja maka baja paduan tersebut akan merubah sifat-sifat mekanik dan kimianya seperti menjadi lebih keras, kuat dan ulet bila dibandingkan terhadap baja karbon (carbon steel). High Speed Steel (HSS) Self Hardening Steel Kandungan karbon : 0,70 % - 1,50 %. Penggunaan membuat alat-alat potong seperti drills, reamers, countersinks, lathe tool bits dan milling cutters. Disebut High Speed Steel karena alat potong yang dibuat dengan material tersebut dapat dioperasikan dua kali lebih cepat dibanding dengan carbon steel. Sedangkan harga dari HSS besarnya dua sampai empat kali daripada carbon steel.
14

Baja Paduan dengan Sifat Khusus 1. Baja Tahan Karat (Stainless Steel) Sifatnya antara lain: Memiliki daya tahan yang baik terhadap panas, karat dan goresan/gesekan Tahan temperature rendah maupun tinggi Memiliki kekuatan besar dengan massa yang kecil Keras, liat, densitasnya besar dan permukaannya tahan aus Tahan terhadap oksidasi Kuat dan dapat ditempa Mudah dibersihkan Mengkilat dan tampak menarik

2. High Strength Low Alloy Steel (HSLS) Sifat dari HSLA adalah memiliki tensile strength yang tinggi, anti bocor, tahan terhadap abrasi, mudah dibentuk, tahan terhadap korosi, ulet, sifat mampu mesin yang baik dan sifat mampu las yang tinggi (weldability). Untuk mendapatkan sifat-sifat di atas maka baja ini diproses secara khusus dengan menambahkan unsur-unsur seperti: tembaga (Cu), nikel (Ni), Chromium (Cr), Molybdenum (Mo), Vanadium (Va) dan Columbium. 3. Baja Perkakas (Tool Steel) Sifat-sifat yang harus dimiliki oleh baja perkakas adalah tahan pakai, tajam atau mudah diasah, tahan panas, kuat dan ulet. Kelompok dari tool steel berdasarkan unsur paduan dan proses pengerjaan panas yang diberikan antara lain: a. Later hardening atau carbon tool steel (ditandai dengan tipe W oleh AISI), Shock resisting (Tipe S), memiliki sifat kuat dan ulet dan tahan terhadap beban kejut dan repeat loading. Banyak dipakai untuk pahat, palu dan pisau.

15

b. Cool work tool steel, diperoleh dengan proses hardening dengan pendinginan yang berbeda-beda. Tipe O dijelaskan dengan mendinginkan pada minyak sedangkan tipe A dan D didinginkan di udara. c. Hot Work Steel (tipe H), mula-mula dipanaskan hingga (300 500) C dan didinginkan perlahan-lahan, karena baja ini banyak mengandung tungsten dan molybdenum sehingga sifatnya keras. d. High speed steel (tipe T dan M), merupakan hasil paduan baja dengan tungsten dan molybdenum tanpa dilunakkan. Dengan sifatnya yang tidak mudah tumpul dan tahan panas tetapi tidak tahan kejut. e. Campuran carbon-tungsten (tipe F), sifatnya adalah keras tapi tidak tahan aus dan tidak cocok untuk beban dinamis serta untuk pemakaian pada temperatur tinggi.

Klasifikasi lain antara lain : a. Menurut penggunaannya: Baja konstruksi (structural steel), mengandung karbon kurang dari 0,7 % C. Baja perkakas (tool steel), mengandung karbon lebih dari 0,7 % C.

b. Baja dengan sifat fisik dan kimia khusus: Baja tahan garam (acid-resisting steel) Baja tahan panas (heat resistant steel) Baja tanpa sisik (non scaling steel) Electric steel Magnetic steel Non magnetic steel Baja tahan pakai (wear resisting steel) Baja tahan karat/korosi

16

Dengan mengkombinasikan dua klasifikasi baja menurut kegunaan dan komposisi kimia maka diperoleh lima kelompok baja yaitu: 1. Baja karbon konstruksi (carbon structural steel) 2. Baja karbon perkakas (carbon tool steel) 3. Baja paduan konstruksi (Alloyed structural steel) 4. Baja paduan perkakas (Alloyed tool steel) 5. Baja konstruksi paduan tinggi (Highly alloy structural steel)

Selain itu baja juga diklasifisikan menurut kualitas: 1. Baja kualitas biasa 2. Baja kualitas baik
3. Baja kualitas tinggi

6. Korosi dan Cara Pencegahannya


Teori tentang terjadinya korosi dapat diuraikan sebagai berikut. Dalam proses pembuatan baja, oksigen dipisahkan dari bijih besi secara paksa. Oleh karena itu secara alami, ada suatu kecenderungan baja berusaha kembali mencapai bentuk yang lebih stabil yaitu oksida besi (karat). Perubahan bentuk dari logam menjadi oksida dalam lingkungan yang induktif dinamakan korosi. Jika pada permukaan bajagilas terdapat air yang mengandung oksigen, maka akan terjadi reaksi yang mengubah bijih besi yang mempunyai potensi korosi (karat). rendah menjadi ferro hidroksida yang larut dalam air. Larutan ini seiring dengan perkembangan korosi. Keadaan bercampur dengan oksigen yang ada didalam air menghasilkan ferri hidroksida Reaksi ini terulang lingkungan dengan kombinasi air dan oksigen yang berubah-ubah, mempengaruhi kecepatan dan perkembangan korosi. Jika tidak terdapat oksigen dan air, maka proses korosi tidak akan berjalan. Mengingat korosi dapat menimbulkan kerugian yang besar, maka upaya harus dilakukan untuk mencegah proses korosi pada elemen-elemen
17

struktur. Banyak riset telah dilakukan untuk hal tersebut, beberapa metoda pencegahan korosi telah dikembangkan untuk mengengatasi permasalahan korosi. Sebagai contoh dapat disebutkan beberapa metode berikut ini: 6.1. Metoda pencegahan korosi primair Biasanya metoda ini cukup mahal, yaitu dengan cara menambahkan elemen logam tertentu untuk meningkatkan ketahanan terhadap korosi, sebagai contoh stainless steel dan weathering steel.

6.2. Metoda pencegahan korosi sekunder Pencegahan korosi sekunder dapat dilakukan dengan cara: (1) Coating, dilakukan untuk mengisolasi permukaan baja terhadap air yang mengandung oksigen. Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa cara. Perlindungan sementara dapat dilakukan dengan minyak atau paslin. Cara lain adalah dengan pengecatan yang perlu dilakukan secara periodik. Perlindungan yang lebih permanen dapat dilakukan dengan lapisan logam lain, seperti zink, timah, atau tembaga, dengan cara disepuh Perlindungan terhadap korosi ini juga dapat dilakukan dengan cara lining dengan karet, plastik, atau porselin. (2) Electric protection , dilakukan jika pencegahan korosi sangat diperlukan mengingat elemen struktur itu tidak dapat direparasi, sebagai contoh adalah tiang pancang. Dalam hal ini pencegahan dapat dilakukan dengan perlindungan katodik (cathodic protection). Dua pertiga wilayah Indonesia terdiri atas lautan, mempunyai iklim tropis dengan kelembaban yang relatif tinggi, sehingga lingkungan ini sangat korosif. Lingkungan yang sangat korosif ini akan semakin agresif jika terdapat senyawa-senyawa polutan yang berasal dari industri seperti belerang dioksida, chlorida, sulfat, debu, dan lain sebagainya. Senyawa- Senyawa tersebut akan mempercepat laju korosi logam di udara, termasuk laju korosi komponen
18

bangunan yang terbuat dari baja atau metal. Berikut ini akan diuraikan beberapa faktor yang ikut berperan pada proses korosi. 6.3. Pengaruh Suhu Udara Perbedaan suhu udara antara siang dan malam di beriklim tropis cukup besar, berkisar antara 515 cukup tinggi Indonesia yang

C. Suhu pada siang hari

sekitar 30 o C, tetapi pada malam hari suhu udara turun menjadi terkondensasi melekat tinggi akan pada

sekitar 20 o C, sehingga uap air di udara akan bertindak sebagai elektrolit. Suhu laju korosi yang cukup udara yang

permukaan bahan penutup atap dan dinding baja, membentuk lapisan air yang meningkatkan berarti. Diperkirakan kenaikan suhu 10 o C akan

meningkatkan laju korosi dua kali lipat. 6.4. Pengaruh Kelembaban Relatif Udara Pada siang hari, saat suhu udara tinggi, derajat kelembaban relatif udara rendah. Pada malam hari, saat suhu udara rendah, derajat kelembaban relatif udara tinggi. Dengan demikian terlihat bahwa derajat kelembaban relatif udara sangat dipengaruhi oleh suhu udara. Pada derajat kelembaban relatif udara rendah molekul-molekul air yang teradsorbsi tidak cukup untuk membentuk lapisan air yang dapat bertindak sebagai elektrolit, pada keadaan ini bahan penutup atap dan dinding baja tidak terkorosi. Pada derajat kelembaban udara relatif di atas harga kritis (70%) kebasahan udara akan berpengaruh terhadap laju korosi bahan penutup atap dan dinding baja. Sedang pada derajat kelembaban relatif udara bernilai 80% baja akan mulai terkorosi. Dengan kata lain baja mempunyai derajat kelembaban relatif kritis sebesar 80%. Polutan agresif di udara akan menurunkan derajat kelembaban kritis baja. Misalnya kandungan polutan 0,01% gas SO 2 di udara menjadikan derajat kelembaban kritis baja turun menjadi 60%. Di atas nilai ini laju korosi baja akan naik secara menyolok.
19

6.5. Pengaruh Arah Kecepatan Angin Di daerah pantai dan daerah industri, angin membawa polutan-polutan agresif yang berasal dari percikan garam yang berasal dari laut dan hasil buangan industri. Polutan- polutan tersebut yang terbawa oleh angin akan kontak dengan permukaan bahan penutup atap dan dinding baja. Oleh karena itu arah dan kecepatan angin di daerah pantai dan daerah industri digunakan pada bangunan-bangunan di daerah tersebut. 6.6. Pengaruh Curah Hujan Air hujan melarutkan oksigen dan polutan-polutan yang berbentuk padat maupun gas, sehingga karak-teristik air hujan tergantung dari jenis polutan yang terlarut. Ada air hujan yang jatuh pada permukaan atap atau dinding baja yang akan membentuk suatu lapisan elektrolit. Daya hantar lapisan elektrolit akan naik karena polutan-polutan agresif yang terlarut dalam air hujan tersebut, sehingga laju korosi bahan penutup atap dan dinding baja akan naik, terutama pada daerah-daerah genangan air, tempat garam terlarut akan terakumulasi. 6.7. Derajat Polusi Udara Udara yang tercemar oleh beberapa senyawa dari hasil pembakaran atau buangan industri akan mempercepat laju korosi bahan penutup atap dan dinding dari baja, yang digunakan pada bangunan di daerah tersebut. Beberapa materi pencemar seperti asap, pasir, gas SO 2, H 2S, dan NH 3 akan berperan banyak pada proses korosi bahan penutup atap dan dinding dari baja yang dilapisi oleh partikel-partikel padat yang mengandung lapisan elektrolit yang aktif dan sangat agresif.
20

akan

mempengaruhi laju korosi pada bahan penutup atap dan dinding baja yang

sulfat

atau chlorida pada kelembaban tinggi atau adanya air hujan akan membentuk

Polutan lain yang mempercepat korosi bahan penutup atap dan dinding baja adalah CO 2. Di daerah industri atau daerah padat kendaraan bermotor, gas ini merupakan hasil pembakaran bahan bakar yang mengandung belerang. 6.8. Percikan Air Garam Yang Berasal Dari Laut Air garam yang berasal dari laut mengandung ion chlorida yang sangat agresif terhadap korosi logam di lingkungan udara. Percikan air garam yang berasal dari ombak laut berbentuk partikel halus yang terbawa angin akan melekat pada permukaan penutup atap dan dinding baja. 6.9. Pipa Penyaluran Air Terpendam Pengaliran air, minyak, dan gas seringkali memakai pipa baja yang ditanam di dalam tanah. Korosi pada pipa-pipa pengaliran ini dapat disebabkan oleh beberapa hal berikut ini. a. Korosi sel makro terjadi jika sel makro terbentuk sebagai akibat perbedaan potensial lokal, misalnya pipa panjang melewati beberapa Korosi sel lingkungan yang berbeda, atau bahan pipa bermacam-macam.

makro akibat perbedaan lingkungan terutama disebabkan oleh perbedaan kandungan oksigen di dalam tanah. Sebagai contoh, pipa tertanam melewati pasir dan lempung (Gambar 1.21). Kandungan udara pada lempung rendah sehingga kadar oksigen juga rendah, sedang pada pasir terjadi kebalikannya. Perbedaan kadar oksigen ini dapat mengakibatkan perbedaan potensi sampai 150 mV, dengan anoda pada daerah lempung. Korosi paling parah terjadi pada perbatasan. Menurut Okimoto, jika pipa tidak diisolasi erhadap lingkungan, laju korosi dapat mencapai 0,4 mm per tahun. Korosi sel makro dapat juga terjadi pada pipa yang sebagian berada di atas muka air tanah, sedang sebagian lagi berada di bawah muka air tanah (Gambar 1.22). Pada kasus ini konsentrasi oksigen di bawah muka air tanah rendah, sehingga bagian ini menjadi anoda. Perbedaan potensial dapat mencapai 170
21

mV. Korosi terjadi sekitar muka air tanah, dengan laju kortosi sekitar 0,47 mm per tahun.

6.10. Korosi Pada Tangki Minyak Tangki minyak berhubungan langsung dengan tiga macam lingkungan yang korosif, yaitu tanah dasar tangki, udara, serta air yang memisah dari minyak dan mengumpul di dasar tangki. Korosi dapat menimbulkan lubang-lubang pada tangki dan mengakibatkan kebocoran. Lubang-lubang itu selain menimbulkan kerugian minyak juga memacu bahaya kebakaran. Selain itu lubang-lubang juga memperlemah struktur, sehingga dapat menga- kibatkan keruntuhan pada saat terjadi gempa bumi. Korosi pelat dasar tangki dapat dipercepat oleh arde yang terbuat dari tembaga. Tembaga termasuk logam yang lebih mulia daripada baja dan mengakibatkan korosi bimetalik pada baja. Kadang-kadang terjadi sel makro galvanis antara beberapa tangki yang dihubungkan dengan pipa. Dalam kasus tertentu pelat dasar tangki menjadi anoda dari komponen yang lain dan korosi terjadi lebih cepat. Sisi luar tangki yang langsung berhubungan dengan udara biasanya dicat dan bebas dari korosi sepanjang lapis cat cukup rapat. Udara sekitar tangki umumnya sangat korosif, karena tangki biasanya berada di daerah industri yang udaranya banyak mengandung sulfur dioksida, dan seringkali berdekatan pantai dengan udara mengandung chlorida cukup tinggi. Korosi mudah terjadi pada bagian yang memungkinkan air hujan mengumpul dan tertahan dalam waktu lama. Korosi pada sisi pelat dalam tangki minyak terjadi di dasar dan menyerang pelat tempat terkumpulnya air yang memisah dari minyak. Drainasi memang dapat dilakukan dengan pipa secara periodik, tetapi permukaan pelat tetap berhubungan dengan air dalam waktu yang lama, sehingga proses korosi tetap berlangsung Korosi tangki minyak yang tidak dicat juga terjadi pada pengujian tekanan hidrostatis pada saat pembuatan. Pengisian dan pengososngan tangki yang besar dapat memakan waktu sampai satu bulan. Korosi ini akan semakin parah jika pengujian tekanan memakai air laut.
22

Tangki minyak terjadi kontak dengan tanah pada sisi luar pelat bagian bawah. Korosi terjadi secara lokal, dengan kecepatan 0,1 - 0,5 mm/th, lebih rendah dari laju korosi pada pipa pelayanan gas atau air yang kontak langsung dengan tulangan beton. Air hujan biasanya hanya berpengaruh sekitar seperlima radius tangki dari sisi luar, akibat kurang sempurnanya sealing Potonganpotongan kayu yang tertinggal di bawah tangki dan kontak dengan pelat dasar, mempunyai kontribusi dalam proses korosi, karena kayu itu meresap air hujan. Setelah diuraikan berbagai masalah yang ada pada tangki minyak dari baja, berikut ini akan diuraikan beberapa cara pencegahan korosi.Pelat-pelat dasar tangki minyak disambung setelah ditempatkan pada posisi yang direncanakan. Jika ada lapisan cat, maka lapisan cat ini akan terbakar sepanjang sambungan las, sehingga cat tidak efektif lagi. Pemakaian cat setelah pengelasan tidak praktis, bahkan dapat dikatakan tidak mungkin. Oleh karena itu cat biasanya tidak dipakai untuk hal tersebut. Korosi pengaruh tanah dapat dikurangi dengan memberi lapisan yang sangat tahan dan kedap air seperti aspal di atas tanah dasar tangki. Usaha lain yang cukup efektif dapat dilakukan dengan perlindungan katodik, memakai arus listrik atau dengan mengorbankan logam lain sebagai anoda. Untuk mencegah peresapan air hujan dari daerah sekeliling, maka dipakai penutup berm dari bahan yang kedap air, fleksibel, dan anti retak.

7. Keuntungan dan Kerugian Baja


Keuntungan: Mempunyai ketahanan terhadap tarik yang tinggi Disamping mempunyai ketahanan gaya tarik, juga tahan terhadap gaya desak Berat Struktur secara keseluruhan lebih ringan dibandingkan beton Pondasi bangunan lebih ringan Dimensi lebih ramping
23

Mudah didaur ulang

Kerugian: Mudah karatan Membutuhkan biaya perawatan yang mahan dan menerus selama umur struktur Tidak tahan terhadap panas tinggi (kebakaran) Bentuk tampang terbatas (sesuai pabrik) Penyambungan membutuhkan alat sambung dan peralatan

DAFTAR PUSTAKA

http://magenta45ipb.files.wordpress.com/2010/01/isi-makalah.doc diakses pada tanggal 25 maret 2013 http://www.scribd.com/doc/18040588/STRUKTUR-BAJA-11 di akses pada tanggal 25 Maret 2013

24