Anda di halaman 1dari 117

PERENCANAAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU KAYU GELONDONGAN DENGAN METODE SILVER MEAL (Studi kasus PT.

Katingan Timber Celebes Makassar)

OLEH:

FUAD ATH HARY D 221 06 026

SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat ujian Guna memperoleh gelar Sarjana Teknik Pada Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin

PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2011

ii

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Tugas Akhir : PERENCANAAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU KAYU GELONDONGAN DENGAN METODE SILVER MEAL (Studi Kasus PT. Katingan Timber Celebes Makassar) Disusun oleh : FUAD ATH HARY D 221 06 026 Tugas akhir ini diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam menyelesaikan studi guna memperoleh gelar Sarjana Teknik pada Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin. Makassar, Agustus 2011 Menyetujui Dosen pembimbing Pembimbing I Pembimbing II

Amrin Rapi, ST, MT NIP.196910111994121001

Irwan Setiawan, ST, MT NIP.197606022005011002

Mengetahui : Ketua Jurusan Teknik Mesin,

Amrin Rapi, ST, MT NIP.196910111994121001

iii

ABSTRAK Fuad Ath Hary (D221 06 026). Perencanaan Persediaan Bahan Baku Kayu Gelondongan dengan Metode Silver Meal (2011). Dibimbing oleh Amrin Rapi, ST, MT dan Irwan Setiawan, ST, MT. Seiring dengan perkembangan dan kemajuan teknologi, kondisi persaingan yang ada di dunia usaha saat ini semakin ketat. Hal ini disebabkan tuntutan konsumen terhadap suatu produk tidak terbatas pada harga dan kualitas saja tetapi juga pada pelayanan yang diberikan. Pelayanan yang dimaksud tersebut dapat berupa ketersediaan produk yang diinginkan konsumen pada lokasi yang kuantitas dan kualitasnya sesuai dengan kebutuhan. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi safety stock, biaya pemesanan, lot size, serta reorder point bahan baku untuk kemudian melakukan perencanaan persediaan bahan baku pada PT. Katingan Timber Celebes. Data-data yang ada pada perusahaan memiliki karakteristik tingkat permintaan yang bervariasi sehingga data-data tersebut diolah dengan model silver meal. Dari hasil penelitian dan analisa diketahui bahwa safety stock ketiga jenis bahan baku yaitu kelompok jenis kayu Meranti, Rimba Campuran, dan kayu Indah sebanyak 1.332,5 , 755,47 dan 15,37 dengan total biaya pemesanan bahan baku per tahun yaitu Rp 1.542.414.060. Sedangkan lot size Untuk jenis Meranti 11 kali pemesanan, untuk jenis kayu Rimba Campuran 6 kali pemesanan, dan untuk jenis Kayu Indah 1 kali pemesanan serta waktu pemesanan kembali bahan baku (reorder point) untuk jenis kayu Meranti, Rimba Campuran, dan kayu Indah sebanyak 3.511,8 , 1.741,85 , dan 50 . Kemudian dilakukan perencanaan persediaan yang menghasilkan biaya persediaan total Rp 2.259.845.527,19 atau menghasilkan efisiensi biaya sebesar 12,09 % dibandingkan kebijakan perusahaan yaitu sebesar Rp 2.570.690.100,00 Kata Kunci : silver meal, persediaan, lot size.

iv

KATA PENGANTAR

Assalamu alaikum Wr. Wb, Puji syukur kami panjatkan kehadirat ALLAH SWT karena dengan segala limpahan rahmat, kesehatan dan kekuatannya sehingga tugas akhir ini dapat kami selesaikan. Tugas akhir ini merupakan salah satu syarat menyelesaikan studi di Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin yang dimana

penelitiannya kami laksanakan pada PT Katingan Timber Celebes (PT KTC) Makassar. Tak lupa kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dan memberikan motivasi dalam menyelesaikan tugas akhir ini. Terutama kepada : 1. Bapak Dr. Ing. Ir. Wahyu H. Piarah, MSME, Dekan Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin. 2. Bapak Amrin Rapi, ST. MT, selaku Ketua Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin sekaligus sebagai dosen pembimbing kami. 3. Ibu Retnari Dian Mudiastuti, ST., Msi selaku Ketua Program Studi Teknik Industri Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin. 4. Bapak Irwan Setiawan, ST, MT selaku Dosen Pembimbing kami.

5. Bapak Muh. Noor Umar, selaku Kepala Perpustakaan Jurusan Teknik Mesin Universitas Hasanuddin. 6. Bapak dan Ibu dosen serta staf Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin. 7. Bapak Ir. Saiful selaku kepala bagian Log supply, dan Ibu Dewi di bagian personalia, serta seluruh staf PT. Katingan Timber Celebes (PT KTC). Terima kasih atas segala bantuan dan bimbingannya. 8. Keluarga besar kami khususnya orang tua yang telah memberikan dukungan dan doa sehingga semuanya berjalan dengan lancar dan tugas akhir ini dapat selesai dengan baik. 9. Teman-teman Industrial Engineering Study Club 2006 dan teman-teman Generator 06 yang namanya tidak bisa kami sebutkan satu persatu, terima kasih atas segala bantuan dan persaudaraannya selama ini. 10. Teman-teman seperjuangan kami di lantai 2, senior maupun junior kami yang namanya tidak bisa kami sebutkan satu persatu, terima kasih atas segala bantuan dan kerja samanya. Demikianlah tugas akhir ini kami buat. Kami menyadari bahwa laporan ini masih memiliki banyak kekurangan didalamnya, olehnya itu saran dan kritik yang sifatnya membangun dari pembaca sangat kami harapkan untuk kesempurnaan ke depannya. Makassar, Agustus 2011

Penulis

vi

DAFTAR ISI halaman Halaman Judul .................................................................................................... Lembar Pengesahan............................................................................................. i ii

Abstrak................................................................................................................. iii Kata Pengantar..................................................................................................... iv Daftar Isi ............................................................................................................. vi Daftar Rumus ...................................................................................................... viii Daftar Tabel ........................................................................................................ ix Daftar Diagram.................................................................................................... x

Daftar Gambar .................................................................................................. ... xi Daftar Lampiran.................................................................................................... xii I. PENDAHULUAN ........... A. Latar Belakang B. Rumusan Masalah ... C. Tujuan ..... D. Batasan Masalah . II. TINJAUAN PUSTAKA .... A. Persediaan (Inventory) ....... 1. Jenis-jenis Persediaan . 2. Fungsi-fungsi Persediaan 1 1 3 3 3

E. Manfaat Penelitian ... 4 6 6 6 7

3. Biaya-biaya Persediaan. 8 B. Peramalan (Forecasting)........................................................................... 11 1. Macam-macam Teknik Peramalan . 12 2. Ukuran Akurasi Hasil Peramalan ... 18 C. Penentuan Ukuran Pemesanan (Lot Sizing)..... 18 D. Persediaan Pengaman (Safety Stock) 23 E. Reorder Point (ROP) 25 F. Manajemen Supplier. 27 1. Kriteria Pemilihan Supplier.. 27

vii

2. Merancang Hubungan dengan Supplier 28 III. METODOLOGI PENELITIAN... 32 A. Tempat dan Waktu Penelitian...... 32 B. Metode Pengumpulan Data........ . 32 C. Pengolahan Data dan Analisis... 33 D. Kerangka Pemecahan Masalah (Flow Chart).. 35 E. Kerangka Pikir (Framework) ... 36 IV. PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA.... 37 V. ANALISA DAN PEMBAHASAN. 60 A. Peramalan Kebutuhan Bahan Baku. 60 B. Persediaan Pengaman (Safety Stock) Bahan Baku.. 61 C. Ukuran Pemesanan (Lot Sizing) Bahan Baku. 61 D. Waktu Pemesanan Kembali (Reorder Point) Bahan Baku. 63 E. Perencanaan Persediaan Bahan Baku Kayu Gelondongan.. 65 VI. PENUTUP. 68 A. Kesimpulan.. 68 B. Saran.... 69 DAFTAR PUSTAKA 71 LAMPIRAN

viii

DAFTAR RUMUS

(1) Peramalan Metode Exponential Smoothing.. 16 (2) Peramalan Metode Moving Average.. 16 (3) Peramalan Metode Weighted Moving Average.. 17 (4) Rata- rata Deviasi Mutlak (MAD).. 18 (5) Rata- rata Kesalahan Peramalan (MFE) 19 (6) Metode Silver Meal. 23 (7) Safety Stock.. 24 (8) Reorder Point... 25

ix

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Tabel 2 Tabel 3 Tabel 4 Tabel 5 Tabel 6 Tabel 7 Tabel 8 Tabel 9 Tabel 10 Tabel 11 Tabel 12 Tabel 13 Tabel 14 Tabel 15 Tabel 16 Tabel 17 Tabel 18

Kriteria Pemilihan/Evaluasi Supplier.... .. 27 Data Permintaan Bahan Baku Kayu Gelondongan (2009-2010).. Biaya Tiap Pemesanan Biaya Pembelian Bahan Baku. Biaya Penyimpanan Bahan Baku 38 40 40 41

Perbandingan MAD dan MFE.. ............... 42 Hasil Peramalan Permintaan bahan baku (Jan-Des 2011).. Hasil Perhitungan Safety Stock untuk tiap Bahan Baku.. 43 45

Hasil Perhitungan Lot Size Meranti dengan Silver-Meal.. ... 48 Hasil Perhitungan Lot Size Rimba Campuran dgn Silver-Meal 49

Hasil Perhitungan Lot Size Kayu Indah dengan Silver-Meal... 50 Hasil Perhitungan Reorder Point 53 Perencanaan Persediaan Kelompok Kayu Meranti. .. 54 Perencanaan Persediaan Kelompok Kayu Rimba Campuran .. 56 Perencanaan Persediaan Kelompok Kayu Indah. 57

Biaya Pemesanan Bahan Baku periode 2011.. . 62 Total Biaya Persediaan Bahan Baku Kayu Gelondongan . 66 Perbandingan Total Biaya Persediaan .... 66

DAFTAR DIAGRAM

Diagram 1. Laju Permintaan bahan baku tahun 2009-2010.. 39 Diagram 2. Laju Permintaan bahan baku tahun 2009-2010.. 60 Diagram 3. Pola Persediaan Meranti ... 64 Diagram 4. Pola Persediaan Rimba Campuran 65 Diagram 5. Pola Persediaan Kayu Indah... 66

xi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3 Gambar 4 Gambar 5 Gambar 6 Gambar 7

Pola Tren/Kecenderungan. 13 Pola Musiman.... 14 Pola Siklus. 14 Pola Acak (Random) . 15 Pola Persediaan.. 26 Commodity Portfolio Matrix 29 Fokus Manajemen Untuk Tiap Kelompok 31

xii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran A 1. Grafik Laju Permintaan Bahan Baku Meranti 2. Grafik Laju Permintaan Bahan Baku Rimba Campuran 3. Grafik Laju Permintaan Bahan Baku Kayu Indah

Lampiran B 1. Tabel Hasil Peramalan Weighted Moving Average Meranti 2. Tabel Hasil Peramalan Weighted Moving Average Rimba Campuran 3. Tabel Hasil Peramalan Weighted Moving Average Kayu Indah 4. Tabel Hasil Peramalan Exponential Smoothing Meranti 5. Tabel Hasil Peramalan Exponential Smoothing Rimba Campuran 6. Tabel Hasil Peramalan Exponential Smoothing Kayu Indah 7. Tabel Hasil Peramalan Meranti 8. Tabel Hasil Peramalan Rimba Campuran 9. Tabel Hasil Peramalan Kayu Indah

Lampiran C Tabel Lot Size

Lampiran D 1. Tabel Perencanaan Persediaan Meranti 2. Tabel Perencanaan Persediaan Rimba Campuran 3. Tabel Perencanaan Persediaan Kayu Indah

xiii

Lampiran E 1. Perhitungan Silver Meal Kelompok Jenis Kayu Meranti 2. Perhitungan Silver Meal Kelompok Jenis Kayu Rimba Campuran 3. Perhitungan Silver Meal Kelompok Jenis Kayu Kayu Indah

Lampiran F Tabel z

Lampiran G Bagan Alir Produksi PT Katingan Timber Celebes

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Seiring dengan perkembangan dan kemajuan teknologi, kondisi persaingan yang ada di dunia usaha saat ini semakin ketat. Hal ini disebabkan tuntutan konsumen terhadap suatu produk tidak terbatas pada harga dan kualitas saja tetapi juga pada pelayanan yang diberikan. Pelayanan yang dimaksud dapat berupa ketersediaan produk yang diinginkan konsumen dengan kuantitas dan kualitas sesuai dengan kebutuhan. Kondisi tersebut menuntut perusahaan berusaha agar produk mereka tersedia sesuai kebutuhan konsumen. Namun, dalam usaha tersebut terkadang kebutuhan konsumen akan produk tidak dapat dipenuhi oleh perusahaan karena sistem produksi yang tidak berjalan dengan baik, salah satu penyebabnya adalah tidak tersedianya bahan baku untuk kebutuhan produksi. Akibatnya perusahaan dihadapkan pada resiko bahwa perusahaan pada suatu waktu tidak dapat memenuhi keinginan konsumen, yang berimbas pada kerugian perusahaan yang berasal dari biaya kehilangan kesempatan memperoleh keuntungan yang seharusnya diperoleh, maupun kerugian dikarenakan beralihnya konsumen ke produk lain. Berdasarkan kondisi tersebut, perusahaan memberlakukan sistem persediaan guna menjamin ketersediaan bahan baku. Namun terkadang perusahaan tidak memperhatikan persoalan efisiensi lot size inventory. Akibatnya perusahaan

cenderung mengadakan pembelian besar-besaran tanpa memperhatikan biaya yang ditimbulkan. Dalam perhitungan lot sizing, tersedia berbagai teknik yang terbagi dalam dua kelompok besar yaitu model lot sizing statis dan model lot sizing dinamis. Untuk tingkat permintaan dengan jumlah yang naik turun (random) digunakan metode lot sizing dinamis, salah satu metodenya adalah dengan metode Silver Meal. Metode Silver Meal merupakan metode yang belum banyak digunakan, namun dapat menghasilkan solusi yang mendekati optimal. Pada penelitian ini akan dibahas tentang persediaan bahan baku kayu gelondongan pada PT. Katingan Timber Celebes (PT. KTC) dimana produk yang dihasilkan adalah kayu lapis. Pengadaan bahan baku didasarkan pada perkiraan kebutuhan yang ditentukan oleh pihak PT. Katingan Timber Celebes. PT. Katingan Timber Celebes sering kali dihadapkan pada masalah persediaan bahan baku. Permasalahan yang terjadi yaitu proses produksi yang seringkali tidak didukung oleh persediaan bahan baku yang mencukupi sehingga dapat mengakibatkan terhentinya proses produksi. Permasalahan lain adalah pemesanan bahan baku yang tidak terencana dengan baik sehingga dapat mengakibatkan biaya persediaan meningkat. Dengan melihat permasalahan tersebut, maka penulis terdorong untuk mengangkat masalah sistem perencanaan persediaan pada PT. Katingan Timber Celebes sebagai tugas akhir dengan judul : Perencanaan Persediaan Bahan Baku Kayu Gelondongan dengan Metode Silver Meal (Studi Kasus PT. Katingan Timber Celebes Makassar).

B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana merencanakan kebutuhan bahan baku kayu gelondongan yang dapat mengurangi biaya persediaan dengan menggunakan metode Silver Meal ?

C. Tujuan Penelitian Adapun tujuan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Mengetahui Safety Stock dan total biaya pemesanan bahan baku per tahun. 2. Mengetahui berapa banyak bahan baku yang harus dipesan perperiode untuk memenuhi kebutuhan produksi (lot size) dan menentukan saat atau waktu perusahaan harus mengadakan pemesanan kembali bahan baku (reorder point). 3. Merencanakan persediaan bahan baku kayu gelondongan tahun 2011.

D. Batasan Masalah Adapun batasan-batasan masalah yang akan dibahas dalam tugas akhir ini agar pembahasan lebih terfokus yaitu sebagai berikut: 1. Penelitian hanya dilakukan pada sistem persediaan dari perusahaan. 2. Penelitian hanya dilakukan pada bahan baku kayu gelondongan.

3. Penelitian ini tidak membahas secara mendalam tentang hal-hal yang bersifat teknis operasional produksi melainkan menitikberatkan pada sistem persediaan saja. 4. Penelitian ini tidak mempertimbangkan jumlah supplier bahan baku tetapi hanya terbatas pada jumlah kebutuhan bahan baku perusahaan saja. 5. Diasumsikan bahwa supplier selalu dapat memenuhi pemesanan bahan baku dari perusahaan.

E. Manfaat Penelitian Adapun manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Bagi penulis, diharapkan dapat: a. Memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan studi pada Universitas Hasanuddin Fakultas Teknik Jurusan Mesin Program Studi Teknik Industri. b. Meningkatkan pengetahuan mengenai sistem persediaan. 2. Bagi akademik, diharapkan dapat mengetahui prinsip dasar persediaan yang meliputi alur kegiatan, mulai dari perencanaan, proses pengadaan dan pengawasan atau pengendalian proses pemesanan serta ketepatan waktu penerimaan. 3. Bagi perusahaan, diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat:

a. Sebagai masukan perusahaan terkait dengan peningkatan kinerja perusahaan. b. Menjadi bahan pertimbangan yang bagi perusahaan dalam hal

pengambilan persediaan.

keputusan

berhubungan

dengan

proses

II.

TINJAUAN PUSTAKA

A. Persediaan (Inventory) Persediaan adalah sumber daya menganggur (idle resources) yang menunggu proses selanjutnya, yang dimaksud dengan proses yang lebih lanjut tersebut adalah berupa kegiatan produksi pada sistem manufaktur, kegiatan pemasaran pada sistem distribusi ataupun kegiatan konsumsi pangan pada sistem rumah tangga. 1. Jenis-jenis persediaan. Berdasarkan bentuk fisiknya. Persediaan dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, yakni: a. Persediaan bahan mentah (raw material) yaitu persediaan barang berwujud, seperti besi, kayu, serta komponen-komponen lain yang digunakan dalam proses produksi; b. Persediaan komponen-komponen rakitan (purchased parts/ componen), yaitu persediaan barang-barang yang terdiri dari komponen-komponen yang diperoleh dari perusahaan lain secara langsung dapat dirakit menjadi suatu produk; c. Persediaan bahan pembantu atau penolong (supplies), yaitu persediaan barang-barang yang diperlukan dalam proses produksi, tetapi bukan merupakan bagian atau komponen barang jadi; d. Persediaan dalam proses (work in process), yaitu persediaan barang-barang yang merupakan keluaran dari tiap-tiap bagian

dalam proses produksi atau telah diolah menjadi suatu bentuk, tetapi masih perlu diproses lebih lanjut menjadi barang jadi; e. Persediaan barang jadi (finished goods), yaitu persediaan barangbarang yang telah selesai diproses atau diolah dalam pabrik dan siap dijual atau dikirim kepada pelanggan. Persediaan dapat pula diklasifikasikan berdasarkan fungsinya, yaitu: a. Batch stock/ lot size inventory, yaitu persediaan yang diadakan karena kita membeli atau membuat bahan-bahan atau barangbarang dalam jumlah yang lebih besar daripada jumlah yang dibutuhkan. b. Fluctuation stock, yaitu persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan konsumen yang tidak dapat diramalkan. c. Anticipation stock, yaitu persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan yang dapat diramalkan,

berdasarkan pola musiman yang terdapat dalam satu tahun dan menghadapi penggunaan, penjualan, atau permintaan yang meningkat.

2. Fungsi-fungsi Persediaan Fungsi-fungsi persediaan penting artinya dalam upaya

meningkatkan operasi perusahaan, baik yang berupa operasi internal

maupun operasi eksternal sehingga perusahaan seolah-olah dalam posisi bebas. Fungsi persediaan pada dasarnya terdiri dari tiga fungsi yaitu: a. Fungsi Decoupling Adalah persediaan yang memungkinkan perusahaan dapat memenuhi kebutuhan permintaan pelanggan tanpa tergantung pada supplier. b. Fungsi economic lot sizing Persediaan lot size ini perlu mempertimbangkan penghematan atau potongan pembelian, biaya pengangkutan per unit menjadi lebih murah dan sebagainya c. Fungsi antisipasi Fungsi ini berguna untuk menghadapi fluktuasi permintaan yang dapat diperkirakan dan diramalkan berdasarkan pengalaman atau datadata masa lalu, yaitu permintaan musiman. Dalam hal ini perusahaan dapat mengadakan persediaan musiman (seasional inventories)

3. Biaya-biaya persediaan Adapun biaya-biaya yang harus dipertimbangkan besarnya jumlah persediaan, yaitu: a. Biaya penyimpanan (holding cost atau carrying costs), yaitu terdiri atas biaya-biaya yang bervariasi secara langsung dengan kuantitas persediaan. Yang termasuk biaya penyimpanan, yaitu:

1) Biaya fasilitas (termasuk biaya penerangan, pendingin ruangan, dan sebagainya); 2) Biaya modal (opportunity cost of capital), yaitu alternatif pendapatan atas dana yang diinvestasikan dalam persediaan; 3) Biaya keusangan; 4) Biaya penghitungan fisik; 5) Biaya asuransi persediaan; 6) Biaya pajak persedian; 7) Biaya pencurian, pengrusakan, atau perampokan; 8) Biaya penanganan persediaan dan sebagainya.

b. Biaya pemesanan atau pembelian (ordering costs atau procurement costs). Biaya-biaya ini meliputi: 1) Pemrosesan pesanan dan ekspedisi; 2) Upah; 3) Biaya telepon; 4) Pengeluaran surat menyurat; 5) Biaya pengepakan dan penimbangan; 6) Biaya pemeriksaan penerimaan; 7) Biaya pengiriman kegudang; 8) Biaya utang lancar dan sebagainya;

10

c.

Biaya penyiapan (manufacturing) atau setup cost. Hal ini terjadi apabila bahan-bahan tidak dibeli, tetapi diproduksi sendiri dalam pabrik perusahaan, perusahaan menghadapi biaya penyiapan (setup cost) untuk memproduksi komponen tertentu. Biaya-biaya ini terdiri dari: 1) Biaya mesin-mesin menganggur; 2) Biaya penyiapan tenaga kerja langsung; 3) Biaya penjadwalan; 4) Biaya ekspedisi dan sebagainya.

d.

Biaya kehabisan atau kekurangan bahan (shortage costs) adalah biaya yang timbul apabila persediaan tidak mencukupi adanya permintaan bahan. Biaya-biaya yang termasuk biaya kekurangan bahan adalah sebagai berikut: 1) Kehilangan penjualan; 2) Kehilangan pelanggan; 3) Biaya pemesanan khusus; 4) Biaya ekspedisi; 5) Selisih harga; 6) Terganggunya operasi; 7) Tambahan pengeluaran kegiatan manajerial dan sebagainya.

11

Biaya kekurangan bahan sulit diukur dalam praktik, terutama karena kenyataannya biaya ini sering merupakan Opportunity Cost yang sulit diperkirakan secara objektif

Total biaya pada suatu periode merupakan jumlah dari biaya pembelian, biaya pemesanan dan biaya penyimpanan selama periode tertentu.

Total Biaya = Biaya Pembelian + Biaya Pemesanan + Biaya Simpan

B. Peramalan (Forecasting) Langkah awal dalam suatu perusahaan produksi dan persediaan adalah mengetahui besar permintaan di masa mendatang. Peramalan (forecasting) merupakan suatu tindakan untuk mengetahui besar permintaan di masa mendatang atau secara umum kejadian di masa mendatang. Dengan adanya informasi tentang besarnya permintaan di masa mendatang yang di dapat dari hasil peramalan, maka dapat ditentukan strategi yang tepat untuk perencanaan yang lebih lanjut. Adapun kegunaan peramalan sebagai berikut: 1. Berguna untuk dapat memperkirakan secara sistematis dan pragmatis atas dasar data relevan pada masa lalu, dengan demikian metode peramalan yang diharapkan dapat memberikan obyektivitas yang lebih besar. 2. Membantu dalam mengadakan pendekatan analisa terhadap pola dari data yang lalu, sehingga dapat memberikan cara pemikiran, pengerjaan

12

dan pemecahan yang sistematis dan pragmatis, serta memberikan tingkat keyakinan yang lebih besar atas ketetapan hasil peramalan yang dibuat atau yang disusun.

a.

Macam-Macam Teknik Peramalan 1. Metode Kuantitatif Dalam Teknik Kuantitatif, data masa lalu dianalisa secara statistik setelah itu dicari pola atau rumusan yang sesuai untuk meramalkan keadaan pada masa yang akan datang. Suatu dimensi tembahan untuk mengklasifikasikan metode peramalan kuantitatif adalah dengan memperhatikan model yang mendasarinya. Ada dua jenis peramalan yang utama yaitu: a) Model Deret berkala (Time Series) Metode time series adalah metode yang dipergunakan untuk menganalisis serangkaian data yang merupakan fungsi dari waktu. Metode ini mengasumsikan beberapa pola atau kombinasi pola selalu berulang sepanjang waktu, dan pola dasarnya dapat diidentifikasi semata-mata atas dasar data historis dari serial itu. Dengan analisis deret waktu dapat ditunjukkan bagaimana permintaan terhadap suatu produk tertentu bervariasi terhadap waktu. Sifat dari perubahan permintaan dari tahun ke tahun dirumuskan untuk meramalkan penjualan pada masa yang akan datang.

13

Untuk memilih suatu metode berkala yang tepat adalah dengan mempertimbangkan jenis pola data, sehingga metode yang paling tepat tersebut dapat diuji. Pola data dapat dibagi menjadi 4 jenis yaitu: 1) Pola Trend/ kecenderungan Pola data ini terjadi bila data memiliki kecenderungan untuk naik atau turun secara terus menerus. Pola ini dapat digambarkan di bawah ini:

Gambar 1. Pola Tren Sumber : Nasution (2006)

2) Pola Musiman Pola data ini terjadi bila nilai data sangat dipengaruhi oleh musim yang menggambarkan pola penjualan yang berulang setiap periode. Pola data musim dapat digambarkan di bawah ini:

14

Gambar 2. Pola Musiman Sumber : Nasution (2006) 3) Pola Siklus (Cycle) Pola ini dapat terjadi bila penjualan produk dapat memiliki siklus yang berulang secara periodik, biasanya lebih dari satu tahun. Pola ini dapat digambarkan di bawah ini:

Gambar 3. Pola Cycle Sumber : Nasution (2006) 4) Pola Acak (Random) Pola data ini terjadi apabila nilai data berfluktuasi di sekitar nilai rata-rata. Pola ini dapat digambarkan pada gambar di bawah ini:

15

Gambar 4. Pola Random (Acak) Sumber : Nasution (2006)

Metode peramalan dengan pendekatan statistik digunakan untuk peramalan yang berdasarkan pada pola data, dan termasuk ke dalam model peramalan deret berkala (time series) antara lain adalah:

a) Metode Exponential Smoothing Pemulusan eksponensial (exponential smoothing) adalah suatu prosedur yang mengulang perhitungan secara terus menerus dengan menggunakan data terbaru. Metode ini didasarkan pada perhitungan rata-rata (pemulusan) data-data masa lalu secara eksponensial. Setiap data diberi bobot, dimana data yang lebih baru diberi bobot yang lebih besar. Bobot yang digunakan adalah untuk data yang paling baru, (1- ) digunakan untuk data yang agak lama, lebih lama lagi, dan seterusnya. untuk data yang

16

Rumus matematisnya adalah: = , + (1 ) ......(1)

(Sumber: Nasution dan Prasetyawan, 2008)


Dimana = = = = Permintaan pada periode t Faktor/konstanta pemulusan Nilai ramalan periode sebelumnya Hasil peramalan untuk periode t+1

b) Metode Moving Average Model rata-rata bergerak menggunakan sejumlah data aktual permintaan yang baru untuk membangkitkan nilai ramalan untuk permintaan di masa yang akan datang. Secara matematis, rumus fungsi peramalan metode ini adalah: = ..(2)

(Sumber: Nasution dan Prasetyawan, 2008)


Dimana: = Permintaan pada periode t = Permintaan pada periode t-1 = Permintaan pada periode t-N+1 N = Jumlah deret waktu yang digunakan = Hasil peramalan untuk periode t+1

17

c) Metode Weighted Moving Average Metode Weighted Moving Average (WMA) dapat mengatasi kelemahan dari metode Moving average (MA) yang menganggap setiap data memiliki bobot yang sama, padahal lebih masuk akal bila data yang lebih baru mempunyai bobot yang lebih tinggi karena data tersebut mempresentasikan kondisi yang terakhir terjadi. Secara matematis, WMA dapat dinyatakan sebagai berikut: WMA =
Dimana: = Bobot Permintaan Aktual pada periode -t = Permintaan Aktual pada periode t

...(3)

b) Metode Kausal Metode peramalan kausal mengembangkan suatu model sebab akibat antara permintaan yang diramalkan dengan variabelvariabel lain yang dianggap berpengaruh. Sebagai contoh, permintaan akan baju baru mungkin berhubungan dengan banyaknya populasi pendapatan masyarakat, jenis kelamin, budaya daerah, dan bulan-bulan khusus (hari raya, natal dan tahun baru).

18

2. Metode Kualitatif Data yang diperoleh pada data ini tidak sama dengan data pada metode kuantitatif. Input yang dibutuhkan tergantung pada metode tertentu dan biasanya merupakan hasil dari pemakaian intuitif, perkiraan dan mengetahui apa yang telah didapat. b. Ukuran Akurasi Hasil Peramalan Ukuran akurasi hasil peramalan yang merupakan ukuran kesalahan merupakan ukuran tentang tingkat perbedaan antara hasil peramalan dengan permintaan yang sebenarnya terjadi. Ukuran hasil peramalan yang biasanya digunakan, yaitu: 1) Rata-rata Deviasi Mutlak (Mean Absolute Deviation = MAD) MAD merupakan rata-rata kesalahan mutlak selama periode tertentu tanpa memperhatikan apakah hasil peramalan lebih besar atau lebih kecil dibandingkan kenyataannya. Secara matematis MAD dirumuskan sebagai berikut: MAD = ....(4)

(Sumber: Nasution dan Prasetyawan, 2008)


Dimana: = = n = permintaan aktual pada periode t peramalan permintaan pada periode t Jumlah periode peramalan yang terlihat

19

2) Rata-rata kesalahan peramalan (Mean Forecast Error = MFE) MFE sangat efektif untuk mengetahui apakah suatu hasil peramalan selama periode tertentu terlalu tinggi atau terlalu rendah. MFE dihitung dengan menjumlahkan semua kesalahan peramalan selama periode peramalan dan membaginya dengan jumlah periode peramalan. Secara matematis, MFE dinyatakan sebagai berikut: (5)

MFE =

(Sumber: Nasution dan Prasetyawan, 2008)


Dimana: = = n = Permintaan aktual pada periode t Peramalan permintaan pada periode t Jumlah periode peramalan yang terlihat

C. Penentuan Ukuran Pemesanan (Lot Sizing) Teknik lot sizing merupakan teknik untuk meminimalkan jumlah barang yang akan dipesan dan meminimalkan biaya persediaan. Objek dari manajemen persediaan adalah untuk menghitung tingkat persediaan yang optimum yang sesuai dengan permintaan pasar dan kapasitas perusahaan. Teknik penentuan ukuran lot mana yang paling baik dan tepat bagi suatu perusahaan adalah persoalan yang sangat sulit, karena sangat tergantung pada halhal sebagai berikut: Variasi dari kebutuhan, baik dari segi jumlah maupun periodenya Lamanya horison perencanaan

20

Ukuran periodenya (mingguan, bulanan, dan sebagainya) Perbandingan biaya pesan dan biaya unit.

Hal-hal itulah yang mempengaruhi keefektifan dan keefisienan suatu metode dibandingkan metode lainnya. Dalam perhitungan Lot Sizing, tersedia berbagai teknik yang terbagi dalam dua kelompok besar yaitu model Lot Sizing Statis dan model Lot Sizing Dinamis. Penggunaan dari masing-masing model ini adalah tergantung kepada kondisi dari permintaan/ pengorderan (Planned Order Release hasil MRP) yang dihadapi. Apabila permintaan bersifat konstan atau kontinyu, maka model Lot Sizing Statis lebih tepat dipergunakan. Sedangkan apabila permintaan bersifat lumpy/dinamis, maka model Lot Sizing Dinamis yang lebih tepat dipergunakan. Beberapa teknik penerapan ukuran lot untuk satu tingkat dengan asumsi kapasitas tak terbatas yang banyak dipakai secara meluas pada industri mekanis dan elektronis secara berturut-turut, adalah: Economic Order Quantity (EOQ) Economic Production Quantity (EPQ) Least Unit Cost (LUC) Silver Meal

Metode EOQ dan EPQ digolongkan sebagai model Lot sizing Statis, sedangkan LUC dan Silver Meal digolongkan sebagai model Lot sizing Dinamis

21

1). Economic Order Quantity (EOQ) Penetapan ukuran lot dengan teknik ini hampir tidak pernah dilupakan dalam lingkungan MRP karena teknik ini sangat populer sekali dalam sistem persediaan tradisional. Dalam teknik inipun besarnya ukuran lot adalah tetap. Namun perhitungannya sudah mencakup biaya-biaya pesan serta biaya-biaya simpan.

2).Economic Production Quantity (EPQ) EPQ (Economic Production Quantity), dimana pemakaiannya terjadi pada perusahaan yang pengadaan bahan baku atau komponennya dibuat sendiri oleh perusahaan. Karena pengadaannya dibuat sendiri maka instaneously seperti model EOQ tidak berlaku. Dalam hal ini tingkat produksi perusahaan untuk membuat bahan baku (komponen)

diasumsikan lebih besar daripada tingkat pemakaiannya (P>D). Karena tingkat produksi (P) bersifat tetap dan konstan, maka model EPQ juga disebut model dengan jumlah produksi tetap (FPQ). Tujuan dari model EPQ ini adalah menentukan berapa jumlah bahan baku (komponen) yang harus diproduksi, sehingga meminimasi biaya persediaan yang terdiri dari biaya set-up produksi dan biaya penyimpanan.

22

3). Least Unit Cost (LUC) Least Unit Cost (LUC) adalah metode dengan pendekatan try and error, penentuan jumlah pesanan dengan pertimbangan apakah pesanan dibuat sama dengan kebutuhan bersih periode pertama atau dengan menambah untuk menutupi kebutuhan kebutuhan periode-periode selanjutnya dan lain sebagainya. Biaya periode unitnya dihitung untuk masing-masing tahap dengan cara membagi total biaya pesan dan biaya penyimpanan dengan jumlah lot kumulatif pada setiap tahapnya. Keputusan akhir dari metode ini didasarkan pada biaya periode unit terendah.

4) Metode Silver Meal Salah satu dari metode heuristik adalah Silver Meal, yang merupakan metode dengan pendekatan yang mudah digunakan, dan dari

pengulangan pengerjaan akan didapat hasil yang baik apabila dibandingkan dengan heuristik lainnya. Pengerjaan metode Silver Meal ini mempunyai persamaan dengan perhitungan Economic Order Quantity (EOQ), yaitu digunakan sebagai permintaan sebagai dasar untuk pengulangan variabel pada periode-periode selanjutnya, kemudian total permintaan diatas batas perencanaan. Metode ini mencoba mencari biaya rata-rata minimal pada tiap periode untuk sejumlah periode yang telah direncanakan. Rumusan umum yang dapat digunakan adalah sebagai berikut :

23

K(m) = ( A + h

+ 2h

+ ....+ (m-1)h

.....(6)

(Sumber: Syahrul, 2007) Hitung K(m), m = 1,2,3,,m, dan hentikan hitungan jika K(m+1) > K(m)
Keterangan : Dm K(m) m A h = Permintaan pada periode ke- m (D1, D2, D3,, Dm) = Rata- rata biaya persediaan per unit waktu = Periode = Biaya order = Biaya simpan tiap unit /periode

Metode Silver-Meal ini dipakai untuk masalah dimana variasi permintaan dari suatu periode waktu ke periode waktu berikutnya cukup tinggi. Metode ini dirancang oleh E.A. Silver dan R. Meal.

D. Persediaan Pengaman (Safety Stock) Persediaan pengaman adalah persediaan tambahan yang diadakan untuk melindungi atau menjaga kemungkinan terjadinya kekurangan bahan (stock out). Ada beberapa faktor yang menentukan besarnya persediaan pengaman yaitu: 1) Penggunaan bahan baku rata-rata; 2) Faktor waktu; 3) Biaya-biaya yang digunakan.

24

Standar kuantitas 1) Persediaan minimum 2) Besarnya pesanan standar 3) Persediaan maksimum 4) Tingkat pemesanan pembeli 5) Administrasi persediaan. Catatan penting dalam Sistem Pengawasan Persediaan 1) Permintaan untuk dibeli 2) Laporan penerimaan 3) Catatan persediaan 4) Daftar permintaan bahan 5) Perkiraan pengawasan

Rumus umum Persediaan Pengaman (Safety Stock) untuk tingkat permintaan variabel dan lead time yang konstan yaitu: SS = z (d)(7)

(Sumber: Rangkuti, 2007)


Dimana : SS Z d LT : Safety Stock : Service Level : Standar Deviasi dari tingkat kebutuhan : Waktu Tenggang (Lead Time)

25

E. Reorder Point (ROP) Reorder point (ROP) menjawab pernyataan kapan mulai mengadakan pemesanan. ROP model terjadi apabila jumlah persediaan yang terdapat di dalam stok berkurang terus. Dengan demikian kita harus menentukan berapa banyak batas minimal tingkat persediaan yang harus dipertimbangkan sehingga tidak terjadi kekurangan persediaan. Jumlah yang diharapkan tersebut dihitung selama masa tenggang. Mungkin dapat juga ditambahkan dengan safety stock yang biasanya mengacu kepada probabilitas atau kemungkinan terjadinya kekurangan stock selama masa tenggang. ROP atau biasa disebut dengan batas/titik jumlah pemesanan kembali termasuk permintaan yang diinginkan atau dibutuhkan selama masa tenggang, misalnya suatu tambahan /ekstra stok. Model-model reorder point: 1. Jumlah permintaan maupun masa tenggang adalah konstan 2. Jumlah permintaan adalah variabel, sedangkan masa tenggang adalah konstan 3. Jumlah permintaan konstan, sedangkan masa tenggang adalah variabel

4. Jumlah permintaan maupun masa tenggang adalah variabel

Rumus umum Reorder Point (ROP) untuk tingkat permintaan variabel dan lead time yang konstan yaitu: ROP = LT + SS.....(8) (Sumber: Rangkuti, 2007)

26

Dimana: : LT SS : : Rata-rata tingkat permintaan masa tenggang (lead time) konstan Safety Stock

Gambar 5. Pola Persediaan Sumber: Yamit (2003)


Q = jumlah pemesanan

ab, cd, ef = tenggang waktu (lead time) ac, ce, B = interval pemesanan = reorder point

27

F. Manajemen Supplier Dalam Perusahaan manufaktur, manajemen supplier merupakan hal yang sangat penting karena bahan baku yang digunakan dalam produksi, sangat ditentukan oleh bagaimana perusahaan memilih dan mengelola hubungan dengan supplier.

1. Kriteria Pemilihan Supplier Memilih supplier merupakan kegiatan strategis, terutama apabila supplier tersebut akan memasok item yang kritis dan/atau akan digunakan dalam jangka panjang sebagai supplier penting. Kriteria pemilihan adalah salah satu hal penting dalam pemilihan supplier. Kriteria yang digunakan tentunya harus mencerminkan strategi supply chain maupun karakteristik dari item yang akan dipasok. Secara umum banyak perusahaan yang menggunakan kriteria-kriteria dasar seperti kualitas barang yang ditawarkan, harga, dan ketepatan waktu pengiriman. Namun sering kali pemilihan supplier membutuhkan berbagai kriteria lain yang dianggap penting bagi perusahaan. Penelitian yang dilakukan Dickson menunjukkan bahwa kriteria pemilihan supplier bisa sangat beragam. Tabel 1 menujukkan 22 kriteria yang diidentifikasikan oleh Dickson.Angka pada kolom kedua menunjukkan tingkat kepentingan dari masing-masing kriteria berdasarkan kumpulan jawaban dari survey yang direspon oleh 170 manajer pembelian di Amerika Serikat. Responden diminta memilih angka 0 4 pada skala likert dimana 4

28

berarti sangat penting.Jadi tabel tersebut menunjukkan bahwa rata-rata responden melihat kualitas sebagai aspek terpenting dalam memilih supplier.Harga ternyata hanya menenmpati urutan nomor 5 dan memiliki skor yang sangat signifikan lebih rendah dari kualitas dan aspek pengiriman (delivery).
Tabel 1. Kriteria Pemilihan/Evaluasi Supplier (Dickson, 1966)
Kriteria Kualitas Delivery Performance History Warranties and claim policies Price Technical capability Financial Position Procedural Compliance Communication system Reputation and position in industry Desire for business Management and organization Operating controls Repair Service Attitudes Impression Packaging ability Labor relations records Geographical location Amount of pass business Training aids Reciprocal arrangements Skor 3.5 3.4 3 2.8 2.8 2.8 2.5 2.5 2.5 2.4 2.4 2.3 2.2 2.2 2.1 2.1 2 2 1.9 1.6 1.5 0.6

2. Merancang Hubungan dengan Supplier Ada dua faktor yang bisa digunakan dalam merancang hubungan dengan supplier. Yang pertama adalah tingkat kepentingan strategis item

yang dibeli bagiperusahaan. Logikanya, semakin strategis posisi suatu item dalam perusahaan, makin perlu untuk menciptakan hubungan yang dekat dan berorientasi jangka panjang dengan supplier dari item tersebut.

Strategis tidaknya suatu item dipengaruhi oleh beberapa hal seperti:

29

- Kontribusi item tersebut terhadap kegiatan/kompetensi inti perusahaan. - Nilai pembelian dalam setahun. - Image/brand name dari supplier. - Risiko ketidaktersediaan item yang bersangkutan. Faktor yang kedua adalah tingkat kesulitan mengelola pembelian item tersebut.Semakin tinggi kesulitannya, semakin banyak diperlukan intervensi dari manajemen. Secara umum tingkat kesulitan pembelian suatu item ditentukan oleh beberapa hal seperti: - Kompleksitas dan keunikan item. - Kemampuan supplier dalam memenuhi permintaan. - Ketidakpastian (ketersediaan, kualitas, harga, waktu pengiriman). - Dengan menggunakan dua faktor tersebut, kita bisa mendapatkan empat klasifikasi supplier, seperti ditunjukkan oleh Gambar 6.

Tinggi Bottleneck Suppliers - Sulit mencari subtitusi - Pasar monopoli - Supplier baru sulit masuk Tingkat Kesulitan Critical strategic suppliers - Penting/strategis - Subtitusi sulit

Rendah

Non Critical Suppliers - Ketersediaan cukup - Item-item cukup standar - Subtitusi dimungkinkan - Nlainya relatif rendah

Leverage Suppliers - Ketersediaan cukup - Subtitusi dimungkinkan - Spesifikasi standar - Nilainya relatif tinggi

Rendah Tingkat kepentingan

Tinggi

Gambar 6.Commodity Portfolio Matrix(Handfield et al., 2000)

30

Supplier yang tingkat kepentingannya rendah dan relatif mudah untuk ditangani diklasifikasikan sebagai non-critical suppliers. Supplier dari barang-barang yang relatif standar, ketersediaanya cukup, mudah dicari substitusinya, dan nilainya relatif rendah masuk dalam klasifikasi ini.Sebaliknya, critical strategic supplier adalah mereka yang memasok barang atau jasa dengan nilai yang besar dan barang atau jasa tersebut kritis bagi perusahaan. Ketersediaannya bisa mengakibatkan masalah serius bagi keberlangsungan perusahaan. Pada bagian kiri atas adalah bottleneck supplier. Mereka adalah pemasok item-item yang sebenarnya tidak terlalu penting bagi perusahaan dan nilai transaksinya juga relatif rendah, namun barang atau jasa tersebut tidak mudah diperoleh. Ini mungkin disebabkan karena supplier barangatau jasa tersebut relatif sedikit sedangkan yang membutuhkannya banyak. Klasifikasi terakhir, yang berkebalikan dengan bottleneck suppliers, adalah leverage suppliers. Yang masuk dalam kelompok ini adalah supplier-supplier yang memasok item yang tingkat kepentingannya tinggi bagi perusahaan namun item-item tersebut relatif mudah diperoleh karena mungkin spesifikasinya standar dan banyak supplier yang bisa memasoknya.

31

Langkah-langkah yang harus diambil dalam membedakan perlakuan atau model hubungan terhadap masing-masing klasifikasi supplier yang berbeda tersebut ditunjukkan pada Gambar 7.

Bottleneck Suppliers Penyederhanaan/ standardisasi item Tingkat Kesulitan

Critical strategic suppliers Strategic partnership. Fokus keunggulan strategis Leverage Suppliers - Pelihara bargaining power terhadap supplier

Non Critical Suppliers Simplifikasi Proses, Fokus ke harga per Unit Rendah

Rendah Tingkat kepentingan

Tinggi

Gambar 7. Fokus Manajemen untuk Tiap Kelompok

32

III.

METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini telah dilakukan di PT. Katingan Timber Celebes (PT KTC) Jl. Ir. Sutami Makassar pada bulan Maret-April 2011

B. Metode Pengumpulan Data Adapun metode penelitian yang digunakan untuk memperoleh data dalam penulisan tugas akhir ini adalah : 1. Penelitian lapangan (Field Research) yakni suatu bentuk penelitian yang dilakukan dengan cara observasi, wawancara untuk mendapatkan data yang lebih tepat dan bisa dipercaya sesuai kebutuhan yang diperlukan untuk mendukung penulisan tugas akhir ini. Data tersebut berupa data primer dan data sekunder. a. Data primer, yaitu data yang diperoleh secara langsung di lapangan. Dalam penelitian ini, data primer didapatkan dengan metode wawancara dengan kepala bagian log supply. b. Data sekunder, yaitu data yang telah diolah sebelumnya, penulis hanya mengutip dari data yang telah ada berdasarkan dokumentasi perusahaan. Dalam penelitian ini data sekunder yang dibutuhkan adalah : 1. Data yang digunakan untuk peramalan permintaan adalah data permintaan bahan baku (log supply) tahun 2009 - 2010.

33

2. Biaya penyimpanan bahan baku (holding cost). 3. Biaya pemesanan bahan baku (ordering cost) 4. Lead time (waktu tenggang) pemesanan 2. Penelitian kepustakaan (Library Research) yaitu studi literatur yang erat kaitannya dengan masalah yang akan dibahas yang mencakup perencanaan dan pengendalian persediaan bahan baku, peramalan, penentuan ukuran pemesanan, penentuan persediaan pengaman (safety stock), dan waktu pemesanan kembali (reorder point).

C. Pengolahan Data dan Analisis Dalam pengolahan data-data yang telah ada akan menggunakan tahaptahap, yaitu : 1. Metode peramalan Menghitung ramalan permintaan bahan baku untuk 1 tahun ke depan dengan membandingkan 2 metode peramalan yaitu : a. Metode Single Exponential Smoothing untuk = 0,1, = 0,5, = 0,9. dimana merupakan suatu nilai (0<<1) yang ditentukan secara subjektif. b. Metode Weighted Moving Average untuk periode 2 bulan memakai bobot (c) = c1 = 0,4 ; c2 = 0,6, untuk periode 3 bulan menggunakan c1 = 0,2 ; c2 = 0,3 ; c3 = 0,5 dan untuk periode 5 bulan menggunakan c1 = 0,1

34

; c2 = 0,1 ; c3 = 0,2 ; c4 = 0,2 ; c5 = 0,4. Dimana penentuan jumlah periode dan bobot yang digunakan ditentukan secara subjektif. 2. Menetapkan metode peramalan yang digunakan dengan memilih peramalan dengan deviasi terkecil. 3. Menghitung safety stock. 4. Menghitung ukuran pemesanan (ukuran lot),

Dalam penelitian ini, untuk menentukan ukuran lot digunakan metode Silver Meal. Rumusan umum yang dapat digunakan adalah sebagai berikut:

K(m) = ( A + h

+ 2h

+ ....+ (m-1)h

(Sumber: Syahrul, 2007) Hitung K(m), m = 1,2,3,,m, dan hentikan hitungan jika K(m+1) > K(m)
Keterangan : Dm K(m) m A h = Permintaan pada periode ke- m (D1, D2, D3,, Dm) = Rata- rata biaya persediaan per unit waktu = Periode = Biaya order = Biaya simpan tiap unit /periode

5. Menghitung waktu pemesanan kembali (reorder point) 6. Merencanakan persediaan bahan baku periode 2011

35

D. Kerangka Pemecahan Masalah (Flow Chart). Mulai

IdentifikasiMasalah

Penentuan Kebutuhan data

Pengumpulan Data (Demand dan Biaya Persediaan) Tidak Data Cukup Ya Melakukan Peramalan

Perhitungan Safety stock Menentukan Ukuran Lot Menggunakan Teknik Lot Sizing Silver Meal

Menentukan Reorder Point Analisis dan Pembahasan Kesimpulan dan Saran Selesai
Gambar 8. Kerangka Pemecahan Masalah

36

E. Kerangka Pikir (Framework Penelitian)


PT KTC

Dir. Operasional

Dir. Pemasaran

Biro Produksi

Biro Umum

Bag. Production Planning and Inventory Control (PPIC)

Bag. Produksi

Bag. Engineering

Kualitas

Bahan Baku

Persediaan Kayu Gelondongan

Penentuan Safety Stock

Penentuan Ukuran Lot

Penentuan ROP

Lot For lot

Wagner Within

Silver Meal

Mudah digunakan dan cocok untuk permintaan yang berfluktuasi

Perencanaan Persediaan Bahan Baku

Gambar 9. Kerangka Pikir

37

IV. PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

A. Pengumpulan Data Data-data yang diperoleh dengan wawancara dan hasil pencatatan berdasarkan dokumentasi PT Katingan Timber Celebes (PT KTC) Jl. Ir. Sutami Makassar sebagai pihak yang terkait dengan masalah persediaan bahan baku kayu gelondongan adalah sebagai berikut:

1. Data Permintaan Bahan Baku Kayu Gelondongan (Log Supply) Periode 2009-2010 Data ini digunakan sebagai dasar dalam melakukan proses peramalan permintaan untuk periode Januari 2011- Desember 2011. Datadata tersebut berasal dari laporan pemakaian bahan baku bagian log supply PT KTC. Dalam data permintaan bahan baku kayu gelondongan ini, dikelompokkan menjadi 3 macam bahan baku yaitu kelompok jenis kayu Meranti, yaitu kelompok jenis kayu yang digunakan sebagai bahan baku face dan back veneer plywood. Kelompok jenis kayu Rimba Campuran, yang digunakan sebagai core veneer plywood dan kelompok Kayu Indah, yang digunakan sebagai back veneer plywood.

38

Tabel 2. Data Permintaan Bahan Baku Kayu Gelondongan (2009-2010)

Bulan Januari '09 Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Januari '10 Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember TOTAL

Meranti ( 9.629,86 8.726,44 14.002,17 9.032,47 6.001,82 5.149,24 8.111,28 10.002,37 10.352,15 11.521,00 8.351,17 6.710,04 5.292,51 10.588,75 10.658,86 12.793,29 7.694,56 7.660,39 6.680,19 9.558,54 10.201,49 5.587,30 8.664,19 10.382,25 213.352,33

Rimba Kayu Campuran Indah Total ( ( 3.588,43 100,24 13.318,53 3.024,21 80,21 11.830,86 6.058,60 160,00 20.220,77 3.047,77 80,23 12.160,47 2.027,86 60,00 8.089,68 1.960,64 55,00 7.164,88 3.008,58 80,17 11.200,03 3.936,93 110,00 14.049,30 4.014,22 110,00 14.476,37 5.018,89 130,23 16.670,12 3.547,70 95,18 11.994,05 2.556,98 80,00 9.347,02 2.181,43 75,00 7.548,94 5.050,10 125,20 15.764,05 4.912,24 120,14 15.691,24 6.082,89 150,00 19.026,18 4.081,36 110,75 11.886,67 3.962,09 105,41 11.727,89 2.836,20 80,23 9.596,62 4.054,36 119,78 13.732,68 4.523,00 130,17 14.854,66 2.164,61 60,79 7.812,70 3.844,10 100,42 12.608,71 4.308,13 110,17 14.800,55 89.791,32 2.429,32 305.572,97

Sumber: Data Bag. Log Supply Katingan Timber Celebes Makassar

39

25000.00 20000.00 Permintaan m3 15000.00 10000.00 5000.00 0.00 2009 2010

Periode (Bulan)

Sumber: Data Bag. Log Supply PT. Katingan Timber Celebes Makassar Diagram 1. Laju Permintaan bahan baku tahun 2009-2010

2. Biaya Pemesanan dan Biaya Pembelian Bahan Baku Biaya Pemesanan merupakan seluruh biaya yang terjadi mulai dari pemesanan barang sampai tersedianya barang di gudang. Biaya pemesanan yang terjadi pada PT KTC yaitu biaya administrasi pemesanan dan biaya transportasi (sewa kapal). Data-data ini diolah dari jumlah biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan per sekali pesan yang merupakan rata-rata biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan. Rincian biaya tiap kali pemesanan untuk semua jenis bahan baku adalah sebagai berikut:

40

Tabel 3. Biaya Tiap Pemesanan

Keterangan Administrasi Sewa Kapal TOTAL

Biaya ($) Biaya (Rp) 537,86 5.109.670 8.482,11 80.580.000 9.019,97 85.689.670

Sumber: Data Bag. Log Supply Katingan Timber Celebes Makassar

Adapun biaya pembelian untuk masing-masing bahan baku adalah sebagai berikut:

Tabel 4. Biaya Pembelian bahan baku

Jenis Kayu Meranti R. Campuran Kayu Indah

Harga / 110 90 130

($)

Harga / (Rp= Kurs 9500) 1.045.000 855.000 1.235.000

Sumber: Data Bag. Log Supply Katingan Timber Celebes Makassar

3. Biaya Penyimpanan Bahan Baku (Holding Cost) Biaya penyimpanan merupakan besarnya biaya yang dikeluarkan untuk menangani penyimpanan bahan baku kayu gelondongan. Dalam menangani penyimpanan bahan baku, PT KTC menanggung biaya penghitungan fisik, asuransi, dan pajak. Besarnya biaya Penyimpanan per untuk semua jenis bahan baku adalah sebagai berikut:

41

Tabel 5.Biaya Penyimpanan bahan baku /

Keterangan Biaya Penanganan Persediaan Biaya Penghitungan Fisik Asuransi Persediaan Pajak Persediaan TOTAL

Biaya (Rp) 3.404,26 414,12 1.168,17 6.594,72 11.581,26

Sumber: Data Bag. Log Supply Katingan Timber Celebes Makassar

4. Lead Time (Waktu Tenggang) Pemesanan Bahan baku Lead Time merupakan selisih atau perbedaan waktu antara saat pemesanan sampai dengan barang diterima. Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa Lead time untuk semua jenis bahan baku kayu gelondongan adalah 7 hari.

B. Pengolahan Data 1. Peramalan Kebutuhan Bahan Baku Berdasarkan data permintaan bahan baku periode 2009-2010, terlihat bahwa terjadi fluktuasi permintaan bahan baku setiap bulan. Sehingga dalam penelitian ini menggunakan dua metode peramalan, yaitu metode Weighted Moving Average dan metode Exponential smoothing. Sedangkan untuk memilih metode peramalan terbaik dari kedua metode peramalan tersebut dapat diukur kesalahan antara permintaan aktual 20092010 dengan hasil peramalannya dengan menggunakan Mean Absolute Deviation (MAD) dan Mean Forecast Error (MFE). Metode perhitungan tersebut dibandingkan pada masing-masing metode peramalan dan dicari

42

yang nilai MAD atau MFE-nya paling kecil (paling mendekati nol) dengan menggunakan Microsoft Excel maka dapat dilihat perbandingan nilai MAD dan MFE pada masing-masing metode peramalan yang digunakan. Seperti dilihat pada tabel 6.

Tabel 6. Perbandingan MAD dan MFE

JENIS KAYU Meranti Rimba Campuran Indah

WEIGHTED MOVING AVERAGE 2 BULAN 3 BULAN 5 BULAN MAD MFE MAD MFE MAD MFE 2721,13 57,71 2704,09 -212,36 6112,98 2621,74 1309,78 63,01 1269,67 -77,39 2574,02 1217,79 30,57 1,37 29,03 -2,27 75,11 27,45

JENIS KAYU Meranti Rimba Campuran Indah

EXPONENTIAL SMOOTHING = 0,1 = 0,5 = 0,9 MAD MFE MAD MFE MAD MFE 2138,45 -304,39 2601,21 4,71 2495,28 69,06 1007,07 125,80 1241,34 54,58 1225,57 58,92 24,09 2,22 28,84 1,13 29,06 1,35

Dari tabel dapat dilihat bahwa metode peramalan yang terpilih yaitu Exponential Smoothing karena memberikan nilai yang lebih kecil dibandingkan metode Weighted Moving Average, dan bila kita melihat nilai MFE yang terkecil maka akan diketahui peramalan dengan deviasi terkecil yaitu Exponential Smoothing dengan = 0,5 karena memberikan nilai MFE yang paling kecil (nilainya paling mendekati nol).

43

Maka data permintaan bahan baku untuk 12 periode atau satu tahun ke depan dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 7. Hasil Peramalan Permintaan bahan baku (Januari 2011-Desember 2011)

NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

PERIODE

Meranti 9.229,99 6.683,34 8.636,05 9.647,72 11.219,88 9.457,22 8.558,68 7.619,79 8.589,24 9.394,80 7.491,43 8.078,02 104.606,16 8.717,18 1.143,79

Jenis Kayu Rimba Campuran 3.906,73 2.717,02 3.883,54 4.398,03 5.240,22 4.660,77 4.311,29 3.573,90 3.814,19 4.168,30 3.166,66 3.505,44 47.346,11 3.945,51 648,47

Indah 102,69 83,86 104,53 112,34 131,16 120,96 113,18 96,71 108,25 119,20 90,00 95,21 1.278,08 106,51 13,19

Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember TOTAL RATA-RATA s (standar deviasi)

2. Perhitungan Safety Stock.

Perhitungan Safety Stock dilakukan dengan rumus sebagai berikut: SS = z (d).(7)

Perusahaan juga menetapkan risiko kehabisan persediaan untuk seluruh jenis bahan baku tidak lebih dari 1% Lead Time (LT) Service Level (z) = 7 hari = ( bulan) = 0,25 = 100% - risiko = 99%

44

= z, untuk 99% = 2,33 (lihat tabel z terlampir )

=z

(d).(7)

Standar deviasi permintaan (d) = 1.143,79

/ bulan

= 2,33

(1.143,79)

= 1.332,5

=z

(d) ..(7) / bulan

Standar deviasi permintaan (d) = 648,47

= 2,33 = 755,47

(648,47)

=z

(d) .(7)

Standar deviasi permintaan (d) = 13,19

/ bulan

= 2,33

(13,19)

= 15,37

45

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 8. Hasil Perhitungan Safety Stock periode 2011

No 1 2 3

Jenis Kayu Meranti Rimba Campuran Indah

Safety Stock( 1.332,5 755,47 15,37

3. Perhitungan Ukuran Pemesanan (Lot Size). Berdasarkan data permintaan yang telah diperoleh dari perusahaan, diketahui bahwa tingkat permintaan bahan baku bersifat turun naik (random) serta mengalami variasi permintaan cukup tinggi. Karena itu, untuk menentukan ukuran lot digunakan metode Silver Meal. Metode ini merupakan salah satu metode heuristik, dimana ini merupakan suatu metode untuk menyelesaikan suatu permasalahan untuk mendekati penyelesaian terbaik (optimal). Penggunaan metode ini bertujuan untuk meminimalkan rata-rata biaya tiap periode.

Penggunaan metode Silver Meal ini nantinya diharapkan agar dapat menentukan jumlah pemesanan bahan baku yang optimal sehingga perusahaan tidak menanggung biaya penyimpanan yang cukup mahal dengan proses produksi yang lancar tidak ada masalah keterlambatan bahan baku yang mengakibatkan terhentinya proses produksi.

46

Rumusan umum Silver Mea lyang dapat digunakan adalah sebagai berikut:

K(m) = ( A + h

+ 2h

+ ....+ (m-1)h

........(6)

Hitung K(m), m = 1,2,3,,m, dan hentikan hitungan jika K(m+1) > K(m) Sebagai contoh diambil perhitungan Silver Meal untuk pemesanan 1 dan 2 kelompok jenis kayu Meranti.

Pemesanan 1: Biaya Pemesanan/pesan Biaya Penyimpanan/ m=1 A (biaya pesan) h (biaya simpan) = Rp 85.689.670 = Rp 11.581,26 = 85.689.670 =0

Jadi biaya rata-rata per bulan = x (85.689.670+ 0) = Rp 85.689.670

m = 2 A (biaya pesan) (permintaan periode-2)

= Rp 85.689.670 = 6.683,34

h (biaya simpan) = (11.581,26)6.683,34 = 50.125.050 Jadi biaya rata-rata per bulan = x (85.689.670+(11.581,26)6.683,34) = Rp 81.545.577,78

47

m = 3 A (biaya pesan) (permintaan periode- 3) h = 2(11.581,26)(8.636,05)

= Rp 85.689.670 = 8.636,05 = 129.540.750

Jadi biaya rata-rata per bulan = x (85.689.670+(11.581,26) 6.683,34 + 2(11.581,26)( 8.636,05)) = Rp 121.041.310,29

Karena biaya untuk m = 3 > biaya untuk m = 2 atau Rp 121.041.310,29>Rp 81.545.577,78 maka diambil m = 2 Jumlah bahan baku yang diorder Pertama adalah : 9.229,99 + 6.683,34 = 15.913,33 Pemesanan 2 : m = 1 A (biaya pesan) h (biaya simpan) = Rp 85.689.670 =0

Jadi biaya rata-rata per bulan = x 85.689.670 = Rp 85.689.670

m = 2 A (biaya pesan) (permintaan periode-4)

= Rp 85.689.670 = 9.647,72

h (biaya simpan) = (11.581,26) 9.647,72 Jadi biaya rata-rata per bulan = x (85.689.670+ (11.581,26) 9.647,72) = Rp 98.711.204,48

48

Karena biaya untuk m = 2 > biaya untuk m = 1 atau Rp 98.711.204,48>Rp 85.689.670 maka diambil m = 1 Jumlah bahan baku yang diorder Kedua adalah 8.636,05 Dan selanjutnya perhitungan sampai akhir periode 2011 terlampir.
Tabel 9.Hasil Perhitungan Lot size Meranti dengan Silver Meal A h

Meranti Gab. Periode Trial Periode 1 Periode 1, 2* Periode 1, 2, 3 Periode 3* Periode 3, 4 periode 4* periode 4, 5 Periode 5* Periode 5, 6 Periode 6* Periode 6, 7 Periode 7* Periode 7, 8 Periode 8* Periode 8, 9 Periode 9* Periode 9, 10 Periode 10* Periode 10, 11 Periode 11* Periode 11, 12 Periode 12* Order Pertama Order Kedua

Rp 85.689.670,00 Rp 11.581,26 Total Demand TC TC/t 9.229,99 85.689.670,00 85.689.670,00 15.913,33 163.091.155,55 81.545.577,78 24.549,38 363.123.930,87 121.041.310,29 8.636,05 85.689.670,00 85.689.670,00 18.283,77 197.422.408,96 98.711.204,48 9.647,72 85.689.670,00 85.689.670,00 20.867,60 215.630.053,28 107.815.026,64 11.219,88 85.689.670,00 85.689.670,00 20.677,10 195.216.172,30 97.608.086,13 9.457,22 85.689.670,00 85.689.670,00 18.015,90 184.810.028,12 92.405.014,06 8.558,68 85.689.670,00 85.689.670,00 16.178,47 173.936.435,65 86.968.217,83 7.619,79 85.689.670,00 85.689.670,00 16.209,03 185.163.941,61 92.581.970,81 8.589,24 85.689.670,00 85.689.670,00 17.984,05 194.493.346,93 97.246.673,46 9.394,80 85.689.670,00 85.689.670,00 16.886,23 172.449.852,91 86.224.926,46 7.491,43 85.689.670,00 85.689.670,00 15.569,45 179.243.319,55 89.621.659,77 8.078,02 85.689.670,00 85.689.670,00 :9.229,99 + 6.683,34 = 15.913,33 : 8.636,05

Keterangan : * = Optimal

49

Order Ketiga Order Keempat Order Kelima Order Keenam Order Ketujuh Order Kedelapan Order Kesembilan Order Kesepuluh Order Kesebelas

: 9.647,72 :11.219,88 :9.457,22 :8.558,68 : 7.619,79 : 8.589,24 : 9.394,8 : 7.491,43 : 8.078,02

Tabel 10.Hasil Perhitungan Lot size Rimba Campuran dengan Silver Meal A h

Rimba Campuran Gab. Periode Trial Periode 1 Periode 1, 2* Periode 1, 2, 3 Periode 3 Periode 3, 4* Periode 3, 4, 5 Periode 5 Periode 5, 6* Periode 5, 6, 7 Periode 7 Periode 7, 8* Periode 7, 8, 9 Periode 9 Periode 9, 10* Periode 9, 10, 11 Periode 11 Periode 11, 12*

Rp 85.109.670,00 Rp 11.581,26 Total Demand TC TC/t 3.906,73 85.109.670,00 85.109.670,00 6.623,75 116.576.190,60 58.288.095,30 10.507,30 206.528.854,20 68.842.951,40 3.883,54 85.109.670,00 85.109.670,00 8.281,58 136.044.461,31 68.022.230,66 13.521,80 257.421.136,82 85.807.045,61 5.240,22 85.109.670,00 85.109.670,00 9.900,99 139.087.320,63 69.543.660,31 14.212,29 238.947.790,74 79.649.263,58 4.311,29 85.109.670,00 85.109.670,00 7.885,19 126.499.898,20 63.249.949,10 11.699,38 214.846.058,52 71.615.352,84 3.814,19 85.109.670,00 85.109.670,00 7.982,49 133.383.899,90 66.691.949,95 11.149,15 206.731.795,90 68.910.598,63 3.166,66 85.109.670,00 85.109.670,00 6.672,10 125.707.065,43 62.853.532,71

Keterangan : * = Optimal

50

Order Pertama Order Kedua Order Ketiga Order Keempat Order Kelima Order Keenam

: 3.906,73 + 2.717,02 = 6.623,75 : 3.883,54 + 4.398,03 = 8.281,58 : 5.240,22 + 4.660,77 = 9.900,99 : 4.311,29 + 3.573,9 =7.885,19 : 3.814,19 + 4.164,3 =7.982,49 : 3.166,66 + 3.505,44 = 6.672,1

Tabel 11.Hasil Perhitungan Lot size Kayu Indah dengan Silver Meal

Kayu Indah Gab. Periode Trial Periode 1 Periode 1, 2 Periode 1, 2, 3 Periode 1, 2, 3, 4 Periode 1, 2, 3, 4, 5 Periode 1, 2, 3, 4, 5, 6 Periode 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 Periode 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8 Periode 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9 Periode 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10 Periode 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7,8, 9, 10, 11 Periode 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7,8, 9, 10, 11, 12*
Keterangan : * = Optimal

Rp 85.689.670,00 Rp 11.581,26 Total Demand TC TC/t 102,69 85.689.670,00 85.689.670,00 186,55 86.660.840,64 43.330.420,32 291,07 89.081.971,02 29.693.990,34 403,41 92.985.004,75 23.246.251,19 534,58 99.061.183,94 19.812.236,79 655,53 106.065.320,18 17.677.553,36 768,71 113.929.930,87 16.275.704,41 865,42 121.770.088,29 15.221.261,04 973,67 131.799.110,19 14.644.345,58 1.092,87 144.223.450,17 14.422.345,02 1.182,87 154.646.546,35 14.058.776,94 1.278,08 166.775.847,90 13.897.987,32

Jumlah yang diorder = 102,69 + 83,86 + 104,53 + 112,34 + 131,16 + 120,96 + 113,18 + 96,71 + 108,25 + 119,2 + 90 + 95,21 = 1.278,08

51

4. Perhitungan Waktu Pemesanan Kembali (Reorder Point) Dalam penelitian ini digunakan model Reorder Point dimana tingkat permintaan bersifat variabel dan Lead Time bersifat konstan. Lead time untuk semua jenis bahan baku adalah 7 hari. Untuk Kelompok Kayu Meranti: Safety Stock Rata-rata tingkat permintaan ) = 1.332,5 = 8.717,18 / bulan / bulan

LT

= 8.717,18 ( ) = 2.179,3

ROP = LT + SS..(8)

ROP Meranti = 8.717,18 ( ) + 1.332,5

= 2.179,3 +1.332,5 = 3.511,8 Dengan demikian perusahaan harus memesan kembali minimal apabila stok meranti tinggal 3.511,8 Untuk Kelompok Kayu Rimba Campuran: Safety Stock Rata-rata tingkat permintaan ) = 755,47 = 3.945,51 / bulan / bulan

52

LT

= 3.945,51 ( )= 986,38

ROP = LT + SS..(8)

ROP Rimba Campuran = 3.945,51 ( ) + 755,47

= 986,38 + 755,47 = 1.741,85 Dengan demikian perusahaan harus memesan kembali minimal apabila stok Rimba Campuran tinggal 1.741,85 Untuk Kelompok Kayu Indah: Safety Stock Rata-rata tingkat permintaan ) = 15,37 = 106,51 / bulan / bulan

LT

= 106,51 ( ) = 26,63

ROP = LT + SS..(8)

ROP Kayu Indah = 106,51 ( ) + 15,37

= 26,63 + 15,37 = 50 Dengan demikian perusahaan harus memesan kembali minimal apabila stok Kayu Indah tinggal 50

53

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut berikut:


Tabel 12. Hasil Perhitungan Reorder Point

No 1 2 3

Jenis Kayu Meranti Rimba Campuran Indah

Reorder Point ( 3.511,8 1.741,85 50

5. Perencanaan Persediaan Bahan Baku Maka perencanaan persediaan bahan baku kayu gelondongan pada PT KTC tahun 2011 dapat disajikan dalam tabel MRP berikut:

54

Tabel 13. Perencanaan Persediaan Kelompok Kayu Meranti

Safety stock = 1.332,5 Lead time = 7 hari = 0,25 bulan 1 9.229,99 9.229,99 15.913,33 15.913,33 2 6.683,34 6.683,34 0 3 8.636,05 0 8.636,05 8.636,05 8.636,05 4 9.647,72 0 9.647,72 9.647,72 9.647,72 5 11.219,88 0 11.219,88 11.219,88 11.219,88 6 9.457,22 0 9.457,22 9.457,22 9.457,22 7 8.558,68 0 8.558,68 8.558,68 8.558,68 8 7.619,79 0 7.619,79 7.619,79 7.619,79 9 8.589,24 0 8.589,24 8.589,24 8.589,24 10 9.394,80 0 9.394,80 9.394,80 9.394,80 11 7.491,43 0 7.491,43 7.491,43 7.491,43 12 8.078,02 0 8.078,02 8.078,02 8.078,02

GR OH NR POR PORE

Biaya Pemesanan Meranti / tahun

= 11 x Rp 85.689.670 = Rp 942.586.370

Biaya Simpan Meranti / tahun

= biaya simpan OH + biaya simpan SS = (11.581,26 x 6.683,34) + (11.581,26 x 1.332,5 x 12) = 77.401.485,55 + 185.184.384,6 = Rp 262.585.870,19

55

Biaya Pembelian Meranti / tahun

= (15.913,33 + 8.636,05 + 9.647,72 + 11.219,88 + 9.457,22 + 8.558,68 + 7.619,79 + 8.589,24 + 9.394,8 + 7.491,43 + 8.078,02) x 1.045.000 = Rp 109.313.437.000

Biaya Persediaan = Biaya Pemesanan + Biaya Simpan = Rp 942.586.370 + Rp 262.585.870,19 = Rp 1.205.172.240,19 Total Biaya = Biaya Pembelian + Biaya Persediaan = Rp 109.313.437.000 + Rp 1.205.172.240,19 = Rp 110.518.609.240,19

56

Tabel 14. Perencanaan Persediaan Kelompok Kayu Rimba Campuran

Safety stock = 755,47 Lead time = 7 hari = 0,25 bulan 1 3.906,73 3.906,73 6.623,75 6.623,75 2 2.717,02 2.717,02 0 3 3.883,54 0 3.883,54 8.281,58 8.281,58 4 4.398,03 4.398,03 0 5 5.240,22 0 5.240,22 9.900,99 9.900,99 6 4.660,77 4.660,77 0 7 4.311,29 0 4.311,29 7.885,19 7.885,19 8 3.573,90 3.573,90 0 9 3.814,19 0 3.814,19 7.982,49 7.982,49 10 4.168,30 4.168,30 0 11 3.166,66 0 3.166,66 6.672,10 6.672,10 12 3.505,44 3.505,44 0

GR OH NR POR PORE

Biaya Pemesanan Rimba Campuran / tahun

= 6 x Rp 85.689.670 = Rp 514.138.020

Biaya Simpan Rimba Campuran / tahun = biaya simpan OH + biaya simpan SS = [11.581,26 x (2.717,02 + 4.398,03 + 4.660,77 + 3.573,9 + 4.163,3 + 3.505,44) ] + (11.581,26 x 755,47 x 12) = Rp 371.632.371,10 Biaya Pembelian Rimba Campuran / tahun = (6.623,75 + 8.281,58 + 9.900,99 + 7.885,19 + 7.982,49 + 6.672,10) x Rp 855.000

57

= Rp 40.480.920.405 Biaya Persediaan = Biaya Pemesanan + Biaya Simpan = Rp 514.138.020 + Rp 371.632.371,10 = Rp 885.761.391,1 Total Biaya = Biaya Pembelian + Biaya Persediaan = Rp 40.480.920.405 + Rp 885.761.391,1 = Rp 41.366.681.896,1

Tabel 15. Perencanaan Persediaan Kelompok Kayu Indah

Safety stock = 15,37 Lead time = 7 hari = 0,25 bulan 2 3 4 5 83,86 104,53 112,34 131,16 1.175,39 1.091,53 987,00 874,67 102,69 0 0 0 0 1.278,08 1.278,08 1 102,69 6 120,96 743,50 0 7 113,18 622,55 0 8 96,71 509,37 0 9 10 108,25 119,20 412,66 304,41 0 0 11 90,00 185,21 0 12 95,21 95,21 0

GR OH NR POR PORE

58

Biaya Pemesanan Kayu Indah / tahun = 1 x Rp 85.689.670 = Rp 85.689.670 Biaya Simpan Kayu Indah / tahun = biaya simpan OH + biaya simpan SS = [(11.581,26 x 1175,39) + (11.581,26 x 1091,53) + (11.581,26 x 987,00) + (11.581,26 x 874,67) + (11.581,26 x 743,50) + (11.581,26 x 622.55) + (11.581,26 x 509.37) + (11.581,26 x 412.66) + (11.581,26 x 304.41) + (11.581,26 x 185.21) + (11.581,26 x 95.21)] + (11.581,26 x 15,37 x 12) = Rp 81.086.177,90 + Rp 2.136.048,02 = Rp 83.222.225,92

Biaya Pembelian Kayu Indah / tahun = (1278,08) x Rp 1.235.000 = Rp 1.578.427.605,44 Biaya Persediaan = Biaya Pemesanan + Biaya Simpan = Rp 85.689.670 + Rp 83.222.225,92

59

= Rp 168.911.895,9 Total Biaya = Biaya Pembelian + Biaya Persediaan = Rp 1.578.427.605,44 + Rp 168.911.895,9 = Rp 1.916.251.397

GR

Gross

Require

60

V. ANALISA DAN PEMBAHASAN

A. Peramalan Kebutuhan Bahan Baku Berdasarkan data yang diperoleh dari PT KTC, maka dapat dilihat komponen data bersifat acak (random) dan tidak ada pengaruh trend, siklus, maupun pola musiman.

25000.00 20000.00 Permintaan m3 15000.00 10000.00 5000.00 0.00 2009 2010

Periode (Bulan)

Sumber: Data Bag. Log Supply PT. Katingan Timber Celebes Makassar Diagram 2. Laju Permintaan bahan baku tahun 2009-2010

Setelah diketahui pola dari data hasil penelitian kemudian dilakukan peramalan permintaan. Peramalan yang digunakan adalah peramalan dengan analisa deret waktu, yaitu weighted moving average dan exponential smoothing karena pola data yang bersifat stasioner. Suatu data deret waktu yang bersifat stasioner, merupakan suatu serial data yang nilai rata-ratanya tidak banyak berubah sepanjang waktu. Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa pola

61

permintaan di masa lalunya cukup konsisten dalam periode waktu yang lama, sehingga diharapkan pola tersebut masih akan tetap berlanjut. Dari hasil perhitungan peramalan permintaan menggunakan kriteria pemilihan metode berdasarkan nilai MAD dan MFE, maka peramalan terbaik untuk ketiga jenis bahan baku ini adalah dengan metode Exponential Smoothing karena memiliki nilai MFE yang paling mendekati nol.

B. Persediaan Pengaman (Safety Stock) Bahan Baku Fungsi dari safety stock yaitu untuk mengurangi risiko kehabisan persediaan. Semakin besar tingkat safety stock-nya maka kemungkinan kehabisan persediaan semakin kecil. Berdasarkan hasil perhitungan, untuk ketiga jenis bahan baku didapatkan safety stock-nya yaitu untuk kelompok jenis kayu meranti sebanyak 1.332,5 ,

hal ini berarti bahwa perusahaan harus memiliki persediaan Meranti minimal 1.332,5 untuk mengantisipasi terjadinya kekurangan barang dalam kebutuhan

produksi. Demikian pula halnya dengan Kelompok Jenis Rimba Campuran dengan safety stock sebanyak 755,47 sebanyak 15,37 dan Kelompok Jenis Kayu Indah

C. Ukuran Pemesanan (Lot Sizing) Bahan Baku Teknik lot sizing merupakan teknik untuk menentukan jumlah pemesanan yang optimal serta menentukan kapan waktu yang tepat untuk melakukan pemesanan.

62

Berdasarkan plot data yang diperoleh maka diambil kesimpulan bahwa metode yang cocok untuk melakukan lot sizing adalah metode Silver Meal, karena metode ini memberikan solusi optimum dan menghasilkan biaya persediaan yang rendah. Dengan menggunakan metode Silver Meal dihitung ukuran pemesanan untuk periode 2011 untuk kelompok jenis kayu meranti yaitu sebanyak 11 kali pemesanan yaitu pada periode Januari, Maret, April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, November, dan Desember dengan biaya pemesanan yaitu sebesar 11 x Rp 85.689.670 = Rp 942.586.370 sedangkan untuk kelompok jenis kayu rimba campuran dengan 6 kali pemesanan yaitu pada periode Januari,

Maret, Mei, Juli, September, dan November dengan biaya pemesanan yaitu sebesar 6 x Rp 85.689.670 = Rp 514.138.020 adapun untuk kelompok jenis kayu indah yaitu sebanyak 1 kali pemesanan yaitu periode Januari dengan biaya pemesanan sebesar Rp 85.689.670. Untuk lebih jelasnya biaya pemesanan periode 2011 untuk tiap bahan baku dapat dilihat pada tabel 16.

Tabel 16. Biaya Pemesanan Bahan Baku Periode 2011

Jenis Kayu Meranti Rimba Campuran Indah TOTAL

Rp Rp Rp Rp

Biaya Pemesanan 942.586.370 514.138.020 85.689.670 1.542.414.060

63

D.

Waktu Pemesanan Kembali (Reorder Point) Bahan Baku Fungsi menentukan reorder point (ROP) yaitu untuk mengetahui berapa

banyak batas minimal tingkat persediaan yang harus dipertimbangkan sehingga tidak terjadi kekurangan persediaan. Jumlah yang diharapkan tersebut dihitung selama masa tenggang. Dalam penelitian ini, ROP ditambahkan dengan safety stock yang mengacu kepada probabilitas atau kemungkinan terjadinya kekurangan stock selama masa tenggang. Berdasarkan keadaan yang dialami perusahaan maka diketahui bahwa waktu tenggang pemesanan bahan baku untuk setiap jenis bahan baku yaitu 7 hari. Sedangkan rata-rata permintaan untuk jenis bahan baku Meranti 8.717,18 jenis kayu Rimba Campuran 3.945,51 , jenis kayu Indah 106,51 ,

. Dengan

demikian dengan diketahuinya lead time dan permintaan rata-rata maka digunakan model pencarian reorder point untuk jumlah lead time konstan dan permintaan besifat variabel. Berdasarkan hasil wawancara, diketahui bahwa perusahaan menetapkan risiko kehabisan persediaan untuk seluruh jenis bahan baku tidak lebih dari 1%. Setelah dilakukan perhitungan diperoleh hasil reorder point untuk jenis Meranti sebanyak 3.511,8 , Rimba Campuran, 1.741,85 , kayu Indah 50 .

Hal ini berarti bahwa perusahaan harus mengadakan pemesanan kembali bahan baku apabila minimal stok Meranti sebanyak 3.511,8 1.741,85 , dan kayu Indah 50 . , Rimba Campuran

64

Diagram 3 Pola Persediaan Meranti

Diagram 4. Pola Persediaan Rimba Campuran

65

Diagram 5. Pola Persediaan Kayu Indah

E.

Perencanaan Persediaan Bahan Baku Kayu Gelondongan Berdasarkan semua perhitungan yang telah dilakukan maka akan dilakukan

perencanaan persediaan bahan baku kayu gelondongan periode tahun 2011. Perencanaan ini dimaksudkan agar pemesanan bahan baku dapat lebih terjadwal sehingga akan mengurangi resiko tidak tersedianya bahan baku untuk kebutuhan produksi. Perencanaan yang dilakukan ini disusun dalam tabel MRP. Misalnya untuk kelompok jenis kayu Meranti yang dapat dibahasakan sebagai berikut: Pada bulan Januari perusahaan melakukan pemesanan bahan baku untuk 2 bulan ke depan sebanyak 15.913,33 dari supplier dengan lead time 7

hari. Kemudian untuk kebutuhan produksi, perusahaan memakai bahan baku tersebut hingga stoknya terus berkurang hingga pada akhir bulan Februari

66

bahan baku telah mencapai titik reorder point yaitu 3.511,8

. Maka jika

persediaan tersebut sudah mencapai titik ini maka perusahaan harus melakukan pemesanan berikutnya yaitu sebanyak 8.636,05 . Sama

halnya pemesanan terdahulu, perusahaan juga harus menunggu selama 7 hari hingga bahan baku tiba dan siap digunakan untuk kebutuhan produksi. Hal tersebut berlaku pula untuk bahan baku jenis Rimba Campuran dan kayu Indah, dengan rincian terlampir. Berdasarkan hasil perhitungan maka diperoleh total biaya persediaan bahan baku sebagai berikut:
Tabel 17. Total Biaya Persediaan Bahan Baku Kayu Gelondongan

Jenis Kayu Meranti Rimba Campuran Indah TOTAL

Rp Rp Rp Rp

Biaya Persediaan 1.205.172.240,19 885.761.391,10 168.911.895,90 2.259.845.527,19

Dari hasil tersebut maka akan dibandingkan dengan kebijakan yang dilakukan oleh perusahaan dengan jumlah pengiriman per tahun sebanyak 30 kali.
Tabel 18. Perbandingan Total Biaya Persediaan

Kebijakan Perusahaan Lot Sizing Silver Meal 30 kali Pemesanan 17 Kali Pemesanan Rp 2.570.690.100,00 Rp 2.259.845.527,19

67

Berdasarkan perbandingan, perusahaan dapat menghemat biaya sebesar Rp 2.570.690.100 Rp 2.259.845.527,19 = Rp 310.844.572,8 ini menunjukkan bahwa terjadi efisiensi sebesar 12,09 % dengan menggunakan teknik lot sizing Silver Meal.

68

VI. PENUTUP

A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka diperoleh kesimpulan:

1. Safety Stock ketiga jenis bahan baku yaitu kelompok jenis kayu Meranti sebanyak 1.332,5 sebanyak 755,47 kelompok jenis Rimba Campuran

dan kelompok jenis kayu Indah sebanyak 15,37

. Sedangkan total biaya pemesanan bahan baku per tahununtuk kelompok jenis kayu Meranti yaitu sebanyak Rp 942.586.370 untuk kelompok jenis kayu Rimba Campuran Rp 514.138.020 adapun untuk kelompok jenis kayu Indah dengan biaya pemesanan sebesar Rp 85.689.670.

2. Ukuran pemesanan (Lot size) bahan baku: Untuk jenis Meranti 11 kali pemesanan, untuk jenis kayu Rimba Campuran 6 kali pemesanan, dan untuk jenis Kayu Indah 1 kali pemesanan. Sedangkan waktu pemesanan kembali bahan baku (Reorder Point) untuk jenis meranti sebanyak 3.511,8 campuran 1.741,85 kayu indah 50 . rimba

69

3. Rencana persediaan bahan baku kayu gelondongan tahun 2011: Berdasarkan hasil perhitungan yang telah dibuat maka dapat diambil kesimpulan bahwa Untuk kelompok jenis kayu Meranti: a. b. Januari pemesanan sebanyak 15.913,33 Maret pemesanan sebanyak 8.636,05 Selanjutnya pemesanan sampai akhir periode terlampir Untuk kelompok jenis Rimba Campuran: a. b. Januari pemesanan sebanyak 6.623,75 Maret pemesanan sebanyak 8.281,58 Selanjutnya pemesanan sampai akhir periode terlampir Untuk kelompok jenis Kayu Indah, pemesanan dilakukan pada bulan Januari sebanyak 1.278,08

B. Saran 1. Bagi akademik a. Hendaknya perencanaan dan pengendalian persediaan bahan baku semakin diutamakan pada mahasiswa dalam lingkup perkuliahan karena perencanaan dan pengendalian persediaan bahan baku merupakan hal mendasar untuk menjalankan proses produksi.

70

b. Studi ini dapat dilanjutkan pada penelitian baru mengenai analisis penghematan biaya persediaan Celebes. pada PT. Katingan Timber

2. Bagi perusahaan PT. Katingan Timber Celebes sebaiknya melakukan upaya perbaikan dalam mengelola sistem persediaan bahan baku kayu gelondongan karena hal ini sangat berpotensi dalam penghematan biaya pada perusahaan.

71

DAFTAR PUSTAKA

1. Arsyad, Lincolin. 2009. Peramalan Bisnis. BPFE, Yogyakarta 2. Gaspersz, Vincent. 1998. Production Planning and Inventory Control: Berdasarkan Pendekatan Sistem Terintegrasi MRP II dan JIT menuju Manufakturing 21. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 3. http://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:DETuTFBxsGYJ:digilib.petra.ac .id/jiunkpe/s1/tmi/2007/jiunkpe-ns-s1-2007-25403079-5543-data_miningchapter2.pdf. (diakses tanggal 30 desember 2010). 4. Nahmias, Steven. 2001. Production and Operations Analysis-Fourth Edition. McGraw Hill/Irwin Series, Singapore 5. Nasution, Arman Hakim. 2006. Manajemen Industri. Andi, Yogyakarta 6. Nasution, Arman Hakim & Prasetyawan, Yudha. 2008. Perencanaan & Pengendalian Produksi. Graha Ilmu, Yogyakarta. 7. Rangkuti, Freddy. 2004. Manajemen Persediaan: Aplikasi di bidang bisnis. Rajawali Pers, Jakarta. 8. Syahrul, Andrikonofa.2007. Analisa Persediaan Bahan Baku dengan Metode Material Requirement Planning pada Industri Proses. (http://rac.uii.ac.id/server/document/.pdf, (diakses tanggal 30 desember 2010).

72

73 Lampiran A Grafik Laju Permintaan Bahan Baku Kayu Gelondongan 1. Kelompok Jenis Kayu Meranti

Meranti
16000.00 14000.00 12000.00 10000.00

Permintaan 8000.00 (m 3)
6000.00 4000.00 2000.00 0.00

Periode (bulan)

74

2. Kelompok Jenis Kayu Rimba Campuran

Rimba Campuran
7000.00

6000.00
5000.00 4000.00 3000.00 2000.00 1000.00 0.00

Permintaan (m 3)

Periode (Bulan)

75

3. Kelompok Jenis Kayu Indah

Kel. Kayu Indah


180.00 160.00 140.00 120.00 Permintaan (m 3) 100.00 80.00 60.00 40.00 20.00 0.00

Periode (Bulan)

76 Lampiran B. Tabel Hasil Peramalan 1. Tabel Hasil Peramalan Weighted Moving Average (WMA) a. Kelompok Jenis Kayu Meranti PERMINTAAN WMA BULAN AKTUAL 2 3 5 9629,86 JAN '09 8726,44 FEB 14002,17 MAR 9087,81 9032,47 APR 11891,88 11544,99 6001,82 MAY 11020,35 10462,17 5149,24 JUN 7214,08 8511,09 8843,29 8111,28 JUL 5490,27 6181,66 7339,42 10002,37 AUG 6926,46 6800,78 7778,19 10352,15 SEP 9245,93 8464,42 8156,48 11521,00 OCT 10212,24 9799,04 8878,70 8351,17 NOV 11053,46 10866,62 10005,36 6710,04 DEC 9619,10 9702,32 9526,46 5292,51 JAN '10 7366,49 8164,57 8693,90 10588,75 FEB 5859,52 6329,50 7316,56 10658,86 MAR 8470,25 8224,14 8623,23 12793,29 APR 10630,82 9564,56 8945,92 7694,56 MAY 11939,52 11712,05 10567,09 7660,39 JUN 9734,05 9817,04 9356,38 6680,19 JUL 7674,06 8697,22 9286,49 9558,54 AUG 7072,27 7177,12 8088,28 10201,49 SEP 8407,20 8315,41 8740,32 5587,30 OCT 9944,31 9304,35 8863,84 8664,19 NOV 7432,98 7765,81 7620,98 10382,25 DEC 7433,43 8048,58 8247,31
TOTAL
HASIL AKHIR

MAD 3

MFE 3

4914,36 2859,41 5018,53 2064,84 2621,01 3075,91 1106,22 1308,76 2702,29 2909,06 2073,98 4729,23 2188,61 2162,47 4244,96 2073,66 993,87 2486,27 1794,29 4357,01 1231,21 2948,82 59864,76 2721,13

2512,52 4460,35 3361,85 1929,62 3201,59 1887,73 1721,96 2515,45 2992,28 2872,06 4259,25 2434,72 3228,73 4017,49 2156,65 2017,03 2381,42 1886,09 3717,05 898,39 2333,67 56785,89 2704,09

1787,40 6181,66 6800,78 8464,42 9799,04 5835,72 3717,77 2420,45 6329,50 8224,14 9564,56 3677,07 5503,74 4663,16 7177,12 8315,41 1870,26 7765,81 8048,58 116146,56 6112,98

4914,36 -2859,41 -5018,53 -2064,84 2621,01 3075,91 1106,22 1308,76 -2702,29 -2909,06 -2073,98 4729,23 2188,61 2162,47 -4244,96 -2073,66 -993,87 2486,27 1794,29 -4357,01 1231,21 2948,82 1269,54 57,71

-2512,52 -4460,35 -3361,85 1929,62 3201,59 1887,73 1721,96 -2515,45 -2992,28 -2872,06 4259,25 2434,72 3228,73 -4017,49 -2156,65 -2017,03 2381,42 1886,09 -3717,05 898,39 2333,67 -4459,56 -212,36

3361,85 1929,62 3201,59 1887,73 1721,96 2515,45 2992,28 2872,06 4259,25 2434,72 3228,73 4017,49 2156,65 2017,03 2381,42 1886,09 3717,05 898,39 2333,67 49813,01 2621,74

77 b. Kelompok Jenis Kayu Rimba Campuran


BULAN JAN '09 FEB MAR APR MAY JUN JUL AUG SEP OCT NOV DEC JAN '10 FEB MAR APR MAY JUN JUL AUG SEP OCT NOV DEC TOTAL
HASIL AKHIR

PERMINTAAN AKTUAL

WMA 3

MAD 3

MFE 3

3588,43 3024,21 6058,60 3047,77 2027,86 1960,64 3008,58 3936,93 4014,22 5018,89 3547,70 2556,98 2181,43 5050,10 4912,24 6082,89 4081,36 3962,09 2836,20 4054,36 4523,00 2164,61 3844,10 4308,13

3249,90 4844,84 4252,10 2435,82 1987,53 2589,40 3565,59 3983,30 4617,02 4136,18 2953,27 2331,65 3902,63 4967,38 5614,63 4881,97 4009,80 3286,56 3567,10 4335,54 3107,97 3172,30

4654,25 3946,31 3139,98 2198,23 2498,05 3263,17 3789,91 4501,10 4082,36 3346,58 2567,35 3690,88 4407,44 5525,14 4848,00 4422,03 3423,00 3670,46 4045,05 3250,08 3476,03

3293,68 2707,66 2911,77 3076,18 3393,64 4094,71 3920,25 3531,23 2996,82 3824,38 4021,67 4899,47 4554,72 4613,92 3842,68 3997,83 3991,66 3261,15 3564,22

2808,70 1797,07 1606,48 2224,24 1918,45 475,18 1179,34 1021,05 810,35 1347,53 1438,88 448,63 751,05 1035,59 1228,99 1069,32 953,40 1579,20 1525,38 771,84 1165,15 2718,45 2482,75 1009,61 1221,37 1115,51 1675,45 1533,27 1443,78 919,88 885,91 1173,60 1585,83 767,80 631,36 955,90 852,54 2170,93 1880,44 736,13 594,02 1135,83 832,10 28815,27 26663,00 1309,78 1269,67

781,30 2198,23 2498,05 3263,17 3789,91 2594,30 1031,60 1016,28 2567,35 3690,88 4407,44 2637,58 3076,19 1250,37 3423,00 3670,46 284,17 3250,08 3476,03 48906,38 2574,02

2808,70 -1797,07 -2224,24 -475,18 1021,05 1347,53 448,63 1035,59 -1069,32 -1579,20 -771,84 2718,45 1009,61 1115,51 -1533,27 -919,88 -1173,60 767,80 955,90 -2170,93 736,13 1135,83 1386,19 63,01

-1606,48 -1918,45 -1179,34 810,35 1438,88 751,05 1228,99 -953,40 -1525,38 -1165,15 2482,75 1221,37 1675,45 -1443,78 -885,91 -1585,83 631,36 852,54 -1880,44 594,02 832,10 -1625,29 -77,39

1179,34 810,35 1438,88 751,05 1228,99 953,40 1525,38 1165,15 2482,75 1221,37 1675,45 1443,78 885,91 1585,83 631,36 852,54 1880,44 594,02 832,10 23138,07 1217,79

78 c. Kelompok Jenis Kayu Indah


BULAN JAN '09 FEB MAR APR MAY JUN JUL AUG SEP OCT NOV DEC JAN '10 FEB MAR APR MAY JUN JUL AUG SEP OCT NOV DEC TOTAL
HASIL AKHIR

PERMINTAAN AKTUAL

WMA 3

MAD 3

MFE 3

100,24 80,21 160,00 80,23 60,00 55,00 80,17 110,00 110,00 130,23 95,18 80,00 75,00 125,20 120,14 150,00 110,75 105,41 80,23 119,78 130,17 60,79 100,42 110,17

88,22 128,08 112,14 68,09 57,00 70,10 98,07 110,00 122,14 109,20 86,07 77,00 105,12 122,16 138,06 126,45 107,55 90,30 103,96 126,01 88,54 84,57

124,11 104,16 86,07 61,55 68,59 90,05 104,03 120,12 108,66 94,60 80,54 101,10 112,63 136,08 124,40 115,93 93,89 105,04 117,07 93,40 94,48

90,09 74,07 79,09 85,06 93,53 109,61 105,14 99,08 89,06 103,62 105,61 124,57 118,35 118,85 102,34 111,12 113,69 92,87 98,36

71,78 47,85 52,14 13,09 23,17 39,90 11,93 20,23 26,96 29,20 11,07 48,20 15,02 27,84 27,31 21,04 27,32 29,48 26,21 65,22 11,88 25,60 672,43 30,57

43,88 44,16 31,07 18,62 41,42 19,95 26,20 24,94 28,66 19,60 44,66 19,04 37,37 25,33 18,99 35,70 25,89 25,13 56,28 7,02 15,69 609,59 29,03

23,93 61,55 68,59 90,05 104,03 70,25 51,34 55,40 80,54 101,10 112,63 85,42 86,42 44,53 93,89 105,04 4,52 93,40 94,48 1427,09 75,11

71,78 -47,85 -52,14 -13,09 23,17 39,90 11,93 20,23 -26,96 -29,20 -11,07 48,20 15,02 27,84 -27,31 -21,04 -27,32 29,48 26,21 -65,22 11,88 25,60 30,03 1,37

-43,88 -44,16 -31,07 18,62 41,42 19,95 26,20 -24,94 -28,66 -19,60 44,66 19,04 37,37 -25,33 -18,99 -35,70 25,89 25,13 -56,28 7,02 15,69 -47,62 -2,27

31,07 18,62 41,42 19,95 26,20 24,94 28,66 19,60 44,66 19,04 37,37 25,33 18,99 35,70 25,89 25,13 56,28 7,02 15,69 521,55 27,45

79 2. Tabel Hasil Peramalan Exponential Smoothing (ES) a. Kelompok Jenis Kayu Meranti Exponential Smoothing PERMINTAAN BULAN AKTUAL = 0,1 = 0,5 = 0,9 9629,86 JAN '09 8726,44 FEB 9629,86 9629,86 9629,86 14002,17 MAR 9539,52 9178,15 8816,78 9032,47 APR 9985,78 11590,16 13483,63 6001,82 MAY 9890,45 10311,32 9477,59 5149,24 JUN 9501,59 8156,57 6349,40 8111,28 JUL 9066,35 6652,90 5269,26 10002,37 AUG 8970,85 7382,09 7827,08 10352,15 SEP 9074,00 8692,23 9784,84 11521,00 OCT 9201,81 9522,19 10295,42 8351,17 NOV 9433,73 10521,60 11398,44 6710,04 DEC 9325,48 9436,38 8655,90 5292,51 JAN '10 9063,93 8073,21 6904,63 10588,75 FEB 8686,79 6682,86 5453,72 10658,86 MAR 8876,99 8635,81 10075,25 12793,29 APR 9055,17 9647,33 10600,50 7694,56 MAY 9428,99 11220,31 12574,01 7660,39 JUN 9255,54 9457,44 8182,51 6680,19 JUL 9096,03 8558,91 7712,60 9558,54 AUG 8854,44 7619,55 6783,43 10201,49 SEP 8924,85 8589,05 9281,03 5587,30 OCT 9052,52 9395,27 10109,44 8664,19 NOV 8706,00 7491,28 6039,51 10382,25 DEC 8701,81 8077,74 8401,72
TOTAL
HASIL AKHIR

= 0,1

MAD = 0,5

= 0,9

= 0,1

MFE = 0,5

= 0,9

4462,65 953,31 3888,63 4352,35 955,07 1031,52 1278,15 2319,19 1082,56 2615,44 3771,42 1901,96 1781,87 3738,12 1734,43 1595,15 2415,84 704,10 1276,64 3465,22 41,81 1680,44 47045,86 2138,45

4824,02 2557,69 4309,50 3007,33 1458,38 2620,28 1659,92 1998,81 2170,43 2726,34 2780,70 3905,89 2023,05 3145,96 3525,75 1797,05 1878,72 1938,99 1612,44 3807,97 1172,91 2304,51 57226,63 2601,21

5185,39 4451,16 3475,77 1200,16 2842,02 2175,29 567,31 1225,58 3047,27 1945,86 1612,12 5135,03 583,61 2192,79 4879,45 522,12 1032,41 2775,11 920,46 4522,14 2624,68 1980,53 54896,25 2495,28

4462,65 -953,31 -3888,63 -4352,35 -955,07 1031,52 1278,15 2319,19 -1082,56 -2615,44 -3771,42 1901,96 1781,87 3738,12 -1734,43 -1595,15 -2415,84 704,10 1276,64 -3465,22 -41,81 1680,44 -6696,60 -304,39

4824,02 -2557,69 -4309,50 -3007,33 1458,38 2620,28 1659,92 1998,81 -2170,43 -2726,34 -2780,70 3905,89 2023,05 3145,96 -3525,75 -1797,05 -1878,72 1938,99 1612,44 -3807,97 1172,91 2304,51 103,69 4,71

5185,39 -4451,16 -3475,77 -1200,16 2842,02 2175,29 567,31 1225,58 -3047,27 -1945,86 -1612,12 5135,03 583,61 2192,79 -4879,45 -522,12 -1032,41 2775,11 920,46 -4522,14 2624,68 1980,53 1519,35 69,06

80 b. Kelompok Jenis Kayu Rimba Campuran


BULAN JAN '09 FEB MAR APR MAY JUN JUL AUG SEP OCT NOV DEC JAN '10 FEB MAR APR MAY JUN JUL AUG SEP OCT NOV DEC TOTAL
HASIL AKHIR

PERMINTAAN AKTUAL

Exponential Smoothing = 0,1 = 0,5 = 0,9 3588,43 3532,01 3784,67 3710,98 3542,67 3384,46 3346,87 3405,88 3466,71 3621,93 3614,51 3508,76 3376,02 3543,43 3680,31 3920,57 3936,65 3939,19 3828,89 3851,44 3918,60 3743,20 3753,29 3588,43 3306,32 4682,46 3865,12 2946,49 2453,56 2731,07 3334,00 3674,11 4346,50 3947,10 3252,04 2716,74 3883,42 4397,83 5240,36 4660,86 4311,47 3573,84 3814,10 4168,55 3166,58 3505,34 3588,43 3080,63 5760,80 3319,07 2156,98 1980,27 2905,75 3833,81 3996,18 4916,62 3684,59 2669,74 2230,26 4768,12 4897,83 5964,38 4269,66 3992,85 2951,86 3944,11 4465,11 2394,66 3699,16

= 0,1

MAD = 0,5

= 0,9

= 0,1

MFE = 0,5

= 0,9

3588,43 3024,21 6058,60 3047,77 2027,86 1960,64 3008,58 3936,93 4014,22 5018,89 3547,70 2556,98 2181,43 5050,10 4912,24 6082,89 4081,36 3962,09 2836,20 4054,36 4523,00 2164,61 3844,10 4308,13 2526,59 736,90 1683,12 1582,03 375,88 590,06 608,34 1552,18 74,23 1057,53 1327,33 1674,08 1368,81 2402,58 160,79 25,44 1102,99 225,47 671,56 1753,99 100,90 554,84 22155,62 1007,07 2752,28 1634,69 1837,26 985,85 555,02 1205,86 680,22 1344,78 798,80 1390,12 1070,61 2333,36 1028,82 1685,06 1159,00 698,77 1475,27 480,52 708,90 2003,94 677,52 802,79 27309,44 1241,34 2977,97 2713,03 1291,21 196,34 1028,31 1031,18 180,41 1022,71 1368,92 1127,61 488,31 2819,84 144,12 1185,06 1883,02 307,57 1156,65 1102,50 578,89 2300,50 1449,44 608,97 26962,57 1225,57 2526,59 -736,90 -1683,12 -1582,03 -375,88 590,06 608,34 1552,18 -74,23 -1057,53 -1327,33 1674,08 1368,81 2402,58 160,79 25,44 -1102,99 225,47 671,56 -1753,99 100,90 554,84 2767,64 125,80 2752,28 -1634,69 -1837,26 -985,85 555,02 1205,86 680,22 1344,78 -798,80 -1390,12 -1070,61 2333,36 1028,82 1685,06 -1159,00 -698,77 -1475,27 480,52 708,90 -2003,94 677,52 802,79 1200,83 54,58 2977,97 -2713,03 -1291,21 -196,34 1028,31 1031,18 180,41 1022,71 -1368,92 -1127,61 -488,31 2819,84 144,12 1185,06 -1883,02 -307,57 -1156,65 1102,50 578,89 -2300,50 1449,44 608,97 1296,22 58,92

81 c. Kelompok Jenis Kayu Indah


BULAN JAN '09 FEB MAR APR MAY JUN JUL AUG SEP OCT NOV DEC JAN '10 FEB MAR APR MAY JUN JUL AUG SEP OCT NOV DEC TOTAL
HASIL AKHIR

PERMINTAAN AKTUAL

Exponential Smoothing = 0,1 = 0,5 = 0,9 100,24 98,24 104,41 101,99 97,80 93,52 92,18 93,96 95,57 99,03 98,65 96,78 94,60 97,66 99,91 104,92 105,50 105,49 102,97 104,65 107,20 102,56 102,35 100,24 90,23 125,11 102,67 81,34 68,17 74,17 92,08 101,04 115,64 105,41 92,70 83,85 104,53 112,33 131,17 120,96 113,18 96,71 108,24 119,21 90,00 95,21 100,24 82,21 152,22 87,43 62,74 55,77 77,73 106,77 109,68 128,17 98,48 81,85 75,68 120,25 120,15 147,02 114,38 106,31 82,84 116,09 128,76 67,59 97,14

= 0,1

MAD = 0,5

= 0,9

= 0,1

MFE = 0,5

= 0,9

100,24 80,21 160,00 80,23 60,00 55,00 80,17 110,00 110,00 130,23 95,18 80,00 75,00 125,20 120,14 150,00 110,75 105,41 80,23 119,78 130,17 60,79 100,42 110,17

61,76 24,18 41,99 42,80 13,35 17,82 16,04 34,66 3,85 18,65 21,78 30,60 22,48 50,09 5,83 0,09 25,26 16,81 25,52 46,41 2,14 7,82 529,94 24,09

69,78 44,88 42,67 26,34 12,00 35,83 17,92 29,19 20,46 25,41 17,70 41,35 15,61 37,67 20,42 15,55 32,95 23,07 21,93 58,42 10,42 14,96 634,52 28,84

77,79 71,99 27,43 7,74 24,40 32,27 3,23 20,55 32,99 18,48 6,85 49,52 0,11 29,85 36,27 8,97 26,08 36,94 14,08 67,97 32,83 13,03 639,36 29,06

61,76 -24,18 -41,99 -42,80 -13,35 17,82 16,04 34,66 -3,85 -18,65 -21,78 30,60 22,48 50,09 5,83 -0,09 -25,26 16,81 25,52 -46,41 -2,14 7,82 48,91 2,22

69,78 -44,88 -42,67 -26,34 12,00 35,83 17,92 29,19 -20,46 -25,41 -17,70 41,35 15,61 37,67 -20,42 -15,55 -32,95 23,07 21,93 -58,42 10,42 14,96 24,93 1,13

77,79 -71,99 -27,43 -7,74 24,40 32,27 3,23 20,55 -32,99 -18,48 -6,85 49,52 -0,11 29,85 -36,27 -8,97 -26,08 36,94 14,08 -67,97 32,83 13,03 29,62 1,35

82 3. Tabel Hasil Peramalan


a. Kelompok Jenis Kayu Meranti NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 BULAN JANUARI'09 FEBRUARI MARET APRIL MEI JUNI JULI AGUSTUS SEPTEMBER OKTOBER NOVEMBER DESEMBER JANUARI'10 FEBRUARI MARET APRIL MEI JUNI JULI AGUSTUS SEPTEMBER OKTOBER NOVEMBER DESEMBER PERMINTAAN AKTUAL Nilai Eks. Smoothing = 0,5

9629,86 8726,44 14002,17 9032,47 6001,82 5149,24 8111,28 10002,37 10352,15 11521,00 8351,17 6710,04 5292,51 10588,75 10658,86 12793,29 7694,56 7660,39 6680,19 9558,54 10201,49 5587,30 8664,19 10382,25

TOTAL

9629,86 9178,15 11590,16 10311,32 8156,57 6652,90 7382,09 8692,23 9522,19 10521,60 9436,38 8073,21 6682,86 8635,81 9647,33 11220,31 9457,44 8558,91 7619,55 8589,05 9395,27 7491,28 8077,74 9229,99 6683,34 8636,05 9647,72 11219,88 9457,22 8558,68 7619,79 8589,24 9394,80 7491,43 8078,02 309128,36

83
b. Kelompok Rimba Campuran NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 BULAN JANUARI'09 FEBRUARI MARET APRIL MEI JUNI JULI AGUSTUS SEPTEMBER OKTOBER NOVEMBER DESEMBER JANUARI'10 FEBRUARI MARET APRIL MEI JUNI JULI AGUSTUS SEPTEMBER OKTOBER NOVEMBER DESEMBER PERMINTAAN AKTUAL Nilai Eks. Smoothing = 0,5

3588,43 3024,21 6058,60 3047,77 2027,86 1960,64 3008,58 3936,93 4014,22 5018,89 3547,70 2556,98 2181,43 5050,10 4912,24 6082,89 4081,36 3962,09 2836,20 4054,36 4523,00 2164,61 3844,10 4308,13 3588,43 3306,32 4682,46 3865,12 2946,49 2453,56 2731,07 3334,00 3674,11 4346,50 3947,10 3252,04 2716,74 3883,42 4397,83 5240,36 4660,86 4311,47 3573,84 3814,10 4168,55 3166,58 3505,34 3906,73 2717,02 3883,54 4398,03 5240,22 4660,77 4311,29 3573,90 3814,19 4168,30 3166,66 3505,44 132912,39

TOTAL

84

c. Kelompok Kayu Indah NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 BULAN JANUARI'09 FEBRUARI MARET APRIL MEI JUNI JULI AGUSTUS SEPTEMBER OKTOBER NOVEMBER DESEMBER JANUARI'10 FEBRUARI MARET APRIL MEI JUNI JULI AGUSTUS SEPTEMBER OKTOBER NOVEMBER DESEMBER PERMINTAAN AKTUAL Nilai Eks. Smoothing = 0,5

100,24 80,21 160,00 80,23 60,00 55,00 80,17 110,00 110,00 130,23 95,18 80,00 75,00 125,20 120,14 150,00 110,75 105,41 80,23 119,78 130,17 60,79 100,42 110,17

TOTAL

100,24 90,23 125,11 102,67 81,34 68,17 74,17 92,08 101,04 115,64 105,41 92,70 83,85 104,53 112,33 131,17 120,96 113,18 96,71 108,24 119,21 90,00 95,21 102,69 83,86 104,53 112,34 131,16 120,96 113,18 96,71 108,25 119,20 90,00 95,21 3602,26

85 C. Tabel Lot Size

No 1 2 3

Jenis Bahan Baku Meranti Rimba Campuran Kayu Indah

Januari 15913,33 6623,75 1278,08

Februari Maret 8636,05 8281,58

April 9647,72

Mei

Juni

Juli 8558,68 7885,19

Agustus September Oktober 7620 8589 7982,49 9394,80

November Desember 7491,427 6672,10 8078,018

11219,88 9457,22 9900,99

86
D. Tabel Perencanaan Persediaan 1. Perencanaan Persediaan Kelompok Kayu Meranti

1 2 GR 9229,99 6683,34 OH 6683,34 NR 9229,99 0 PORec 15913,33 PORel 15913,33

3 8636,05 0 8636,05 8636,05 8636,05

4 9647,72 0 9647,72 9647,72 9647,72

5 6 7 8 11219,88 9457,22 8558,68 7619,79 0 0 0 0 11219,88 9457,216 8558,68 7619,79 11219,88 9457,216 8558,68 7619,79 11219,88 9457,216 8558,68 7619,79

9 8589,24 0 8589,24 8589,24 8589,24

10 9394,80 0 9394,80 9394,80 9394,80

11 7491,43 0 7491,43 7491,43 7491,43

12 8078,02 0 8078,02 8078,02 8078,02

2. Perencanaan Persediaan Kelompok Kayu Rimba Campuran

GR OH NR 3906,73 PORec 6623,75 PORel 6623,75

1 3906,73

2 2717,02 2717,02 0

3 3883,54 0 3883,54 8281,58 8281,58

4 5 6 7 4398,03 5240,22 4660,77 4311,29 4398,03 0 4660,77 0 0 5240,22 0 4311,29 9900,99 7885,19 9900,99 7885,19

8 3573,90 3573,90 0

9 10 3814,19 4168,30 0 4168,30 3814,19 0 7982,49 7982,49

11 3166,66 0 3166,66 6672,10 6672,10

12 3505,44 3505,44 0

3. Perencanaan Persediaan Kelompok Kayu Indah

GR OH NR PORec PORel

2 83,86 1175,39 102,69 0 1278,08 1278,08

1 102,69

3 104,53 1091,53 0

4 112,34 987,00 0

5 131,16 874,67 0

6 120,96 743,50 0

7 113,18 622,55 0

8 96,71 509,37 0

9 108,25 412,66 0

10 119,20 304,41 0

11 90,00 185,21 0

12 95,21 95,21 0

87

E. Perhitungan Silver Meal 1. Untuk jenis kayu Meranti Pemesanan 1: Biaya Pemesanan/pesan Biaya Penyimpanan/ m=1 A (biaya pesan) h (biaya simpan) = Rp 85689670 = Rp 11581,26 = 85689670 =0

Jadi biaya rata-rata per bulan = x (85689670+ 0) = Rp 85.689.670

m = 2 A (biaya pesan) (permintaan periode-2)

= Rp 85689670 = 6683,34

h (biaya simpan) = (11581,26) 6683,34 = 50125050 Jadi biaya rata-rata per bulan = x (85689670+(11581,26) 6683,34) = Rp 81.545.577,78

m = 3 A (biaya pesan) (permintaan periode- 3)

= Rp 85689670 = 8636,05

h = 2(11581,26)(8636,05) = 129540750 Jadi biaya rata-rata per bulan = x (85689670+(11581,26) 6683,34 + 2(11581,26)( 8636,05)) = Rp 121.041.310,29 Karena biaya untuk m = 3 > biaya untuk m = 2 atau Rp 121.041.310,29 > Rp 81.545.577,78 maka diambil m = 2

88

Jumlah bahan baku yang diorder Pertama adalah : 9229,99 + 6683,34 = 15913,33 Pemesanan 2 : m = 1 A (biaya pesan) h (biaya simpan) = Rp 85689670 =0

Jadi biaya rata-rata per bulan = x 85689670 = Rp 85.689.670

m = 2 A (biaya pesan) (permintaan periode-4)

= Rp 85689670 = 9647,72

h (biaya simpan) = (11581,26) 9647,72 = Jadi biaya rata-rata per bulan = x (85689670+ (11581,26) 9647,72) = Rp 98.711.204,48 Karena biaya untuk m = 2 > biaya untuk m = 1 atau Rp 98.711.204,48 > Rp 85.689.670 maka diambil m = 1 Jumlah bahan baku yang diorder Kedua adalah 8636,05

Pemesanan 3 : m = 1 A (biaya pesan) h (biaya simpan) = Rp 85.689.670 =0

Jadi biaya rata-rata per bulan = x 85.689.670 = Rp 85.689.670

m = 2 A (biaya pesan)

= Rp 85.689.670

(permintaan periode-5) = 11.219,88

89

h (biaya simpan) = (11.581,26) 11.219,88= Rp 129.940.347,4 Jadi biaya rata-rata per bulan = x (85.689.670+ (11.581,26) 11.219,88) = Rp 107.815.026,64 Karena biaya untuk m = 2 > biaya untuk m = 1 atau Rp 107.815.026,64 > Rp 85.689.670 maka diambil m = 1 Jumlah bahan baku yang diorder Ketiga adalah 9647,72

Pemesanan 4 : m = 1 A (biaya pesan) h (biaya simpan) = Rp 85.689.670 =0

Jadi biaya rata-rata per bulan = x 85.689.670 = Rp 85.689.670

m = 2 A (biaya pesan)

= Rp 85.689.670

(permintaan periode-6) = 9.457,22 h (biaya simpan) = (11.581,26) 9.457,22 = Rp 109.526.523,7 Jadi biaya rata-rata per bulan = x (85.689.670+ (11.581,26) 9.457,22) = Rp 97.608.086,13 Karena biaya untuk m = 2 > biaya untuk m = 1 atau Rp 97.608.086,13 > Rp 85.689.670 maka diambil m = 1 Jumlah bahan baku yang diorder Keempat adalah 11219,88

Pemesanan 5 : m = 1 A (biaya pesan) = Rp 85.689.670

90

h (biaya simpan)

=0

Jadi biaya rata-rata per bulan = x 85.689.670 = Rp 85.689.670

m = 2 A (biaya pesan)

= Rp 85.689.670

(permintaan periode-7) = 8.558,24 h (biaya simpan) = (11.581,26) 8.558,24 = Rp 99.115.202,58 Jadi biaya rata-rata per bulan = x (85.689.670+ (11.581,26) 8.558,24) = Rp 92.405.014,06 Karena biaya untuk m = 2 > biaya untuk m = 1 atau Rp 92.405.014,06 > Rp 85.689.670 maka diambil m = 1 Jumlah bahan baku yang diorder Kelima adalah 9457,22

Pemesanan 6 : m = 1 A (biaya pesan) h (biaya simpan) = Rp 85.689.670 =0

Jadi biaya rata-rata per bulan = x 85.689.670 = Rp 85.689.670

m = 2 A (biaya pesan)

= Rp 85.689.670

(permintaan periode-8) = 7619,79 h (biaya simpan) = (11.581,26) 7619,79 = Rp 88.246.769,14 Jadi biaya rata-rata per bulan = x (85.689.670+ (11.581,26) 7619,79) = Rp 86.968.217,83

91

Karena biaya untuk m = 2 > biaya untuk m = 1 atau Rp 86.968.217,83 > Rp 85.689.670 maka diambil m = 1 Jumlah bahan baku yang diorder Keenam adalah 8558,68

Pemesanan 7 : m = 1 A (biaya pesan) h (biaya simpan) = Rp 85.689.670 =0

Jadi biaya rata-rata per bulan = x 85.689.670 = Rp 85.689.670

m = 2 A (biaya pesan)

= Rp 85.689.670

(permintaan periode- 9) = 8.589, 24 h (biaya simpan) = (11.581,26) 8.589, 24 = Rp 99.474.221,64 Jadi biaya rata-rata per bulan = x (85.689.670+ (11.581,26) 8.589, 24) = Rp 92.581.970,81 Karena biaya untuk m = 2 > biaya untuk m = 1 atau Rp 92.581.970,81 > Rp 85.689.670 maka diambil m = 1 Jumlah bahan baku yang diorder Ketujuh adalah 7619,79

Pemesanan 8 : m = 1 A (biaya pesan) h (biaya simpan) = Rp 85.689.670 =0

92

Jadi biaya rata-rata per bulan = x 85.689.670 = Rp 85.689.670

m = 2 A (biaya pesan)

= Rp 85.689.670

(permintaan periode- 10) = 9.394,8 h (biaya simpan) = (11.581,26) 9.394,8 = Rp 108.803.621,4 Jadi biaya rata-rata per bulan = x (85.689.670+ (11.581,26) 9.394,8) = Rp 97.246.673,46 Karena biaya untuk m = 2 > biaya untuk m = 1 atau Rp 97.246.673,46 > Rp 85.689.670 maka diambil m = 1 Jumlah bahan baku yang diorder Kedua adalah 8589,24

Pemesanan 9 : m = 1 A (biaya pesan) h (biaya simpan) = Rp 85.689.670 =0

Jadi biaya rata-rata per bulan = x 85.689.670 = Rp 85.689.670

m = 2 A (biaya pesan)

= Rp 85.689.670

(permintaan periode- 11) = 7.491,43 h (biaya simpan) = (11.581,26) 7.491,43 = Rp 86.760.198,6 Jadi biaya rata-rata per bulan = x (85.689.670+ (11.581,26) 7.491,43) = Rp 86.224.926,46

93

Karena biaya untuk m = 2 > biaya untuk m = 1 atau Rp 86.224.926,46 > Rp 85.689.670 maka diambil m = 1 Jumlah bahan baku yang diorder Kesembilan adalah 9394,8

Pemesanan 10 : m = 1 A (biaya pesan) h (biaya simpan) = Rp 85.689.670 =0

Jadi biaya rata-rata per bulan = x 85.689.670 = Rp 85.689.670

m = 2 A (biaya pesan)

= Rp 85.689.670

(permintaan periode- 12) = 8078,02 h (biaya simpan) = (11.581,26) 8078,02 = Rp 93.553.649,91 Jadi biaya rata-rata per bulan = x (85.689.670+ (11.581,26) 8078,02) = Rp 89.621.659,77 Karena biaya untuk m = 2 > biaya untuk m = 1 atau Rp 89.621.659,77 > Rp 85.689.670 maka diambil m = 1 Jumlah bahan baku yang diorder Kesepuluh adalah 7491,43

Pemesanan 11: Untuk order kesebelas dipesan sendiri sebanyak 8078,02

2. Untuk Kelompok Jenis Rimba Campuran Pemesanan 1: Biaya Pemesanan/pesan = Rp 85.689.670

94

Biaya Penyimpanan/bulan = Rp 11.581,26 m=1 A (biaya pesan) h (biaya simpan) = Rp 85.689.670 =0

Jadi biaya rata-rata per bulan = x (85.689.670+ 0) = Rp 85.689.670

m = 2 A (biaya pesan) (permintaan periode-2)

= Rp 85.689.670 = 2717,02

h (biaya simpan) = (11.581,26) 2717,02 = Rp 31.466.515,05 Jadi biaya rata-rata per bulan = x (85.689.670+(11.581,26) 2717,02) = Rp 58.288.095,3 m = 3 A (biaya pesan) (permintaan periode- 3) = Rp 85.689.670 = 3883,54

h = 2(11.581,26)( 3883,54) = Rp 108101,476 Jadi biaya rata-rata per bulan = x (85.689.670+(11.581,26) 2717,02 + 2(11.581,26)( 3883,54)) = Rp 68.842.951,4 Karena biaya untuk m = 3 > biaya untuk m = 2 atau Rp 68.842.951,4 > Rp 58.288.095,3 maka diambil m = 2 Jumlah bahan baku yang diorder Pertama adalah : 3906,73 + 2717,02 = 6623,75 Pemesanan 2: Biaya Pemesanan/pesan = Rp 85.689.670

Biaya Penyimpanan/bulan = Rp 11.581,26

95

m=1

A (biaya pesan) h (biaya simpan)

= Rp 85.689.670 =0

Jadi biaya rata-rata per bulan = x (85.689.670+ 0) = Rp 85.689.670

m = 2 A (biaya pesan) (permintaan periode-4)

= Rp 85.689.670 = 4398,03

h (biaya simpan) = (11.581,26) 4398,03 = Rp 50.934.728,92 Jadi biaya rata-rata per bulan = x (85.689.670+(11.581,26) 4398,03) = Rp 68.022.230,66 m = 3 A (biaya pesan) (permintaan periode- 5) = Rp 85.689.670 = 5240,22

h = 2(11.581,26)( 3781,3) = Rp 87.584.436,88 Jadi biaya rata-rata per bulan = x (85.689.670+(11.581,26) 4398,03 + 2(11.581,26)( 5240,22)) = Rp 85.807.045,61 Karena biaya untuk m = 3 > biaya untuk m = 2 atau Rp 85.807.045,61 > Rp 68.022.230,66 maka diambil m = 2 Jumlah bahan baku yang diorder Kedua adalah : 3883,54 + 4398,03 = 8281,58 Pemesanan 3: Biaya Pemesanan/pesan = Rp 85.689.670

Biaya Penyimpanan/bulan = Rp 11.581,26 m=1 A (biaya pesan) = Rp 85.689.670

96

h (biaya simpan)

=0

Jadi biaya rata-rata per bulan = x (85.689.670+ 0) = Rp 85.689.670

m = 2 A (biaya pesan) (permintaan periode-6)

= Rp 85.689.670 = 4660,77

h (biaya simpan) = (11.581,26) 4660,77 = Rp 53.977.589,17 Jadi biaya rata-rata per bulan = x (85.689.670+(11.581,26) 4660,77) = Rp 69.543.660,31 m = 3 A (biaya pesan) (permintaan periode- 7) h = 2(11.581,26)( 4311,29) = Rp 85.689.670 = 4311,29 = Rp 99.860.340,85

Jadi biaya rata-rata per bulan = x (85.689.670 + (11.581,26) (4660,77) + 2(11.581,26)( 4311,29)) = Rp 79.649.263,58 Karena biaya untuk m = 3 > biaya untuk m = 2 atau Rp 79.649.263,58 > Rp 69.543.660,31 maka diambil m = 2 Jumlah bahan baku yang diorder Ketiga adalah : 5240,22 + 4660,77 = 9900,99

Pemesanan 4: Biaya Pemesanan/pesan = Rp 85.689.670

Biaya Penyimpanan/bulan = Rp 11.581,26 m=1 A (biaya pesan) = Rp 85.689.670

97

h (biaya simpan)

=0

Jadi biaya rata-rata per bulan = x (85.689.670+ 0) = Rp 85.689.670

m = 2 A (biaya pesan) (permintaan periode-8)

= Rp 85.689.670 = 3573,9

h (biaya simpan) = (11.581,26) 3573,9 = Rp 41.390.265,11 Jadi biaya rata-rata per bulan = x (85.689.670+(11.581,26) 3573,9) = Rp 63.249.949,1 m = 3 A (biaya pesan) (permintaan periode- 9) h = 2(11.581,26)( 3814,19) = Rp 85.689.670 = 3814,19 = Rp 88.346.252,16

Jadi biaya rata-rata per bulan = x (85.689.670 + (11.581,26) (3573,9) + 2(11.581,26)( 3814,19)) = Rp 71.615.352,84 Karena biaya untuk m = 3 > biaya untuk m = 2 atau Rp 71.615.352,84 > Rp 63.249.949,1 maka diambil m = 2 Jumlah bahan baku yang diorder Keempat adalah : 4311,29 + 3573,9 = 7885,19 Pemesanan 5: Biaya Pemesanan/pesan = Rp 85.689.670

Biaya Penyimpanan/bulan = Rp 11.581,26 m=1 A (biaya pesan) = Rp 85.689.670

98

h (biaya simpan)

=0

Jadi biaya rata-rata per b*ulan = x (85.689.670+ 0) = Rp 85.689.670

m = 2 A (biaya pesan)

= Rp 85.689.670

(permintaan periode-10) = 4168,3 h (biaya simpan) = (11.581,26) 4168,3 = Rp 48.274.166,06 Jadi biaya rata-rata per bulan = x (85.689.670+(11.581,26) 4168,3) = Rp 66.691.949,95 m = 3 A (biaya pesan) = Rp 85.689.670

(permintaan periode- 11) = 3166,66 h = 2(11.581,26)( 3166,66) = Rp 73.347.825,58

Jadi biaya rata-rata per bulan = x (85.689.670 + (11.581,26) (4168,3) + 2(11.581,26)( 3166,66)) = Rp 68.910.598,63 Karena biaya untuk m = 3 > biaya untuk m = 2 atau Rp 68.910.598,63 > Rp 66.691.949,95 maka diambil m = 2 Jumlah bahan baku yang diorder Kelima adalah : 3814,19 + 4164,3 = 7982,49 Untuk order keenam dipesan sendiri sebanyak 3166,66 + 3505,44 = 6672,1

3. Untuk Kelompok Kayu Indah Pemesanan 1: Biaya Pemesanan/pesan = Rp 102, 69

99

Biaya Penyimpanan/bulan = Rp 11.581,26 m=1 A (biaya pesan) h (biaya simpan) = Rp 85.689.670 =0

Jadi biaya rata-rata per bulan = x (85.689.670+ 0) = Rp 85.689.670 m = 2 A (biaya pesan) (permintaan periode-2) = Rp 85.689.670 = 83,86

h (biaya simpan) = (11.581,26) 83,86 = Rp 971.204,46 Jadi biaya rata-rata per bulan = x (85.689.670+(11.581,26) 83,86) = Rp 43.330.420,32 m = 3 A (biaya pesan) (permintaan periode- 3) h = 2(11.581,26)( 104,53) Jadi biaya rata-rata per bulan = x (85.689.670+(11.581,26) 83,86 + 2(11.581,26)( 104,53)) = Rp 29.693.990,34 m = 4 A (biaya pesan) (permintaan periode- 4) h = 3(11.581,26)( 112,34) Jadi biaya rata-rata per bulan = x (85.689.670+(11.581,26) 83,86 + 2(11.581,26)( 104,53)) + 3(11.581,26)( 112,34) = Rp 23.246.251,19 = Rp 85.689.670 = 112,34 = Rp 85.689.670 = 104,53

100

m = 5 A (biaya pesan) (permintaan periode- 5) h = 4 (11.581,26)( 131,16)

= Rp 85.689.670 = 131,16

Jadi biaya rata-rata per bulan = x (85.689.670+(11.581,26) 83,86 + 2(11.581,26)( 104,53)) + 3(11.581,26)( 112,34) + 4 (11.581,26)( 131,16) = Rp 19.812.236,79

m = 6 A (biaya pesan) (permintaan periode- 6) h = 5 (11.581,26)( 120,96)

= Rp 85.689.670 = 120,96

Jadi biaya rata-rata per bulan = x (85.689.670 + (11.581,26) 83,86 + 2(11.581,26)( 104,53)) + 3(11.581,26)(112,34) + 4 (11.581,26)( 131,16) + 5 (11.581,26)( 120,96) = Rp 17.677.553,36 m = 7 A (biaya pesan) (permintaan periode- 7) h = 6 (11.581,26)( 113,18) Jadi biaya rata-rata per bulan = x (85.689.670 + (11.581,26) 83,86 + 2(11.581,26)( 104,53)) + 3(11.581,26)(112,34) = Rp 85.689.670 = 113,18

101

+ 4 (11.581,26)( 131,16) + 5 (11.581,26)( 120,96) + 6 (11.581,26)( 113,18) = Rp 16.275.704,41 m = 8 A (biaya pesan) (permintaan periode- 8) h = 7 (11.581,26)( 96,71) Jadi biaya rata-rata per bulan = x (85.689.670 + (11.581,26) 83,86 + 2(11.581,26)( 104,53)) + 3(11.581,26)(112,34) + 4 (11.581,26)( 131,16) + 5 (11.581,26)( 120,96) + 6 (11.581,26)( 113,18)+ 7 (11.581,26)( 96,71) = Rp 15.221.261,04 m = 9 A (biaya pesan) (permintaan periode- 9) h = 8 (11.581,26)( 108,25) Jadi biaya rata-rata per bulan = x (85.689.670 + (11.581,26) 83,86 + 2(11.581,26)( 104,53)) + 3(11.581,26)(112,34) + 4 (11.581,26)( 131,16) + 5 (11.581,26)( 120,96) + 6 (11.581,26)( 113,18)+ 7 (11.581,26)( 96,71) +8 (11.581,26)( 108,25) = Rp 14.644.345,58 m = 10 A (biaya pesan) = Rp 85.689.670 = Rp 85.689.670 = 108,25 = Rp 85.689.670 = 96,71

(permintaan periode- 10) = 119,2 h = 9 (11.581,26)( 119,2)

102

Jadi biaya rata-rata per bulan =

x (85.689.670 + (11.581,26) 83,86

+ 2(11.581,26)( 104,53)) + 3(11.581,26)(112,34) + 4 (11.581,26)( 131,16) + 5 (11.581,26)( 120,96) + 6 (11.581,26)( 113,18)+ 7 (11.581,26)( 96,71) +8 (11.581,26)( 108,25)+ 9 (11.581,26)( 119,2) = Rp 14.422.345,02

m = 11 A (biaya pesan)

= Rp 85.689.670

(permintaan periode- 11) = 90 h = 10 (11.581,26)( 90) Jadi biaya rata-rata per bulan = x (85.689.670 + (11.581,26) 83,86

+ 2(11.581,26)( 104,53)) + 3(11.581,26)(112,34) + 4 (11.581,26)( 131,16) + 5 (11.581,26)( 120,96) + 6 (11.581,26)( 113,18)+ 7 (11.581,26)( 96,71) +8 (11.581,26)( 108,25)+ 9 (11.581,26)( 119,2) +10 (11.581,26)( 90) = Rp 14.058.776,94

m = 12 A (biaya pesan)

= Rp 85.689.670

(permintaan periode- 12) = 95,21 h = 11 (11.581,26)( 95,21) Jadi biaya rata-rata per bulan = x (85.689.670 + (11.581,26) 83,86

103

+ 2(11.581,26)( 104,53)) + 3(11.581,26)(112,34) + 4 (11.581,26)( 131,16) + 5 (11.581,26)( 120,96) + 6 (11.581,26)( 113,18)+ 7 (11.581,26)( 96,71) +8 (11.581,26)( 108,25)+ 9 (11.581,26)( 119,2) +10 (11.581,26)( 90)+ 11 (11.581,26)( 95,21) = Rp 13.897.987,32 Karena biaya untuk m = 12 < biaya untuk m = 11 atau Rp 13.897.987,32 < Rp 14.058.776,94 maka diambil m = 12, maka jumlah pemesanan hanya satu kali Jumlah yang diorder = 102,69 + 83,86 + 104,53 + 112,34 + 131,16 + 120,96 + 113,18 + 96,71 + 108,25 + 119,2 + 90 + 95,21 = 1278,08

104

Lampiran G Bagan Alir Produksi PT Katingan Timber Celebes