Anda di halaman 1dari 6

Halaman 127

Pandangan ini pada tahap selanjutnya akan terbagi dua yaitu: i. Pandangan yang menganggap Undang-undang/Perpres yang mengesahkan suatu perjanjian hanya sekedar jubah persetujuan DPR/Presiden kepada pemerintah RI untuk mengikatkan diri pada tataran Internasional (ratifikasi Internasional) dan belum mengikat pada tataran hukum nasional. Untuk itu masih dibutuhkan legislasi nasional tersendiri untuk mengonversikan materi perjanjian nasonal materi hukum nasional. Pandangan ini misalnya tercermin dalam praktik Indonesia menyikapi Konvensi PBB tentang Hukum Laut 1982 yang diratifikasi dengan UU no.17 tahun 1985. UU ini hanya bersifat prosedural sehingga masih dibutuhkan suatu UU lain yang mentransformasikan Konvensi PBB tentang hukum laut 1982 ke dalam hukum nasional yaitu UU no.6 tahun 1996 tentang Perairan. ii. Kedua, pandangan yang menganggap UU/Perpres yang mengesahkan suatu perjanjian adalah menginkorporasikan perjanjian tersebut ke dalam sistem hukum nasional. Dengan inkorporasi ini maka perjanjian internasional dalam karakternya sebagai norma hukum internasional telah memiliki efek normatif dan mengikat di dalam hukum nasional. Pandangan ini tercermin dalam praktik administrasi negara, misalnya dalam penerapan Konvensi Wina 1961/1963 tentang Hubungan Diplomatik/Konsuler yang diratifikasi dengan UU No.1 tahun 1982. 2. Kedua, Pandangan yang menilai UU/Perpres yang mengesahkan suatu perjanjian adalah produk hukum nasional yang mentransformasikan materi perjanjian ke produk hukum nasional sehingga status perjanjian berubah menjadi hukum nasional. UU/Perpres ini telah memiliki efek normatif. Norma yang diaplikasikan ke dalam hukum nasional adalah dalam karekternya dan formatnya sebagai materi UU/Perpres dan bukan dalam karakternya sebagai norma perjanjian. Kelompok ini menilai tidak perlu lagi ada legislasi baru untuk memberlakukan norma perjanjian ke dalam hukum nasional (dualisme).

BERBAGAI PRESEPSI DI INDONESIA TENTANG ARTI UNDANGUNDANG PENGESAHAN/RATIFIKASI

Aliran I A (Dualisme)
Fungsi Arti Ratifikasi adalah: Authorize To Bind State at International SPHERE

ALIRAN I B (MONISME)
Fungsi/Arti Ratifikasi adalah: To Incorporate PI and International Law

UU

UUD

PI
PP
PERPRES

UU/PERPRES

ALIRAN 2 (DUALISME)

UU TRANSFORMA

UU (PI) PP

SI PI
TRANSFORMA

SI

PERPES (PI)

Dalam

perkembangannya

pandangan-pandangan

tersebut

tampaknya tidak selalu kaku dan terdapat ruang untuk adanya variasi yang menggabungkannya elemen masing-masing pendekatan. Dapat disimpulkan bahwa presepsi di indonesia tentang arti makna undangundang yang meratifikasi perjanjian terdiri dari: 1. Pemikiran dualisme yang dapat dilihat dalam dua versi yaitu I A dan II 2. Pemikiran Monisme yaitu I B Pada saat Indonesia meratifikasi Konvensi PBB tentang hukum laut 1982 melalui undang-undang no.17 tahun 1985, UU Perpu No,4 tahun 1960 tentang Perairan masih berlaku sehingga menimbulkan pertanyaan tentang hakikat UU No.17 tahun1985 yang meratifikasi Konvensi tersebut. Terhadap pertanyaan ini UU No.24/2000 tentang perjanjian

internasional tidak tegas dalam memberi jawaban. Alur pemikiran pembuat UU ini didominasi oleh pemikiran monisme. Akibatnya UU ini hanya menyentuh konsep ratifikasidari dimensi hukum internasional sehingga tidak memberikan rumusan apa pun tentang konsep inidalam hukum nasional Praktik konstitusional indonesia yang dirumuskan dalam UU no.24 tahun 2000 tentang perjanjian internasional telah menekankan bahwa UU yang meratifikasi perjanjian hanya merupakan bentuk persetujuan DPR seperti yang disyaratkan oleh pasal 11 UUD 1945. UU ini hanya merupakan jubah bagi persetujuan DPR dan tidak memuat aturan substantif sebagaimana layaknya suatu UU. Namun dalam perkembangannya, UU ini dianggap sebagai UU substantif yang bersifat mengatur dan diartikan sebagai UU yang mentransformasikan perjanjian itu kedalam format hukum nasional. Asumsi perumus UU No.24/2000 pada waktu itu, menganggap bahwa pengesahan dalam format UU dan Perpres diartikan sebagai inkorporasi perjanjian internasional ke dalam wadah hukum nasional, sehingga dalam karakternya sebagai norma perjanjian internasional, sudah berlaku dalam hukum nasional. Jika UU ini adalah produk legislasi,

mengapa Perpu dan PP tidak dijadikan salah satu format untuk meratifikasi suatu perjanjian. Pertanyaan lainnya adalah bahwa UU dan Perpres dapat dilakukan judicial review. Jika UU ini dibatalkan akibat Judicial Review maka keterikatan Indonesia dengan perjanjian juga harus batal, suatu situasi yang menurut penulis melanggar hukum internasional.