Anda di halaman 1dari 24

BAB II SISTEM MEDIS TRADISIONAL

2.1 Sistem Medis Tradisional

Sekalipun pelayanan kesehatan moderen telah berkembang di Indonesia,

namun jumlah

masyarakat yang memanfaatkan pengobatan tradisional tetap

tinggi. Menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional, 2001 ditemukan sekitar 57,7%

penduduk Indonesia melakukan pengobatan sendiri, sekitar 31,7% menggunakan

obat tradisional serta sekitar 9,8% menggunakan cara pengobatan. Adapun yang

dimaksud dengan pengobatan tradisional disini adalah cara pengobatan atau

perawatan yang diselenggarakan dengan cara lain diluar ilmu kedokteran atau

ilmu keperawatan yang lazim dikenal, mengacu kepada pengetahuan, pengalaman

dan keterampilan yang diperoleh secara turun temurun, atau berguru melalui

pendidikan, baik asli maupun yang berasal dari luar Indonesia, dan diterapkan

sesuai norma yang berlaku dalam masyarakat (UU No 23 Tahun 1992 tentang

Kesehatan).

Banyak faktor yang berperan, kenapa pemanfatan pengobatan tradisional

masih tinggi di Indonesia. Beberapa diantaranya yang dipandang penting adalah:

1. Pengobatan tradisional merupakan bagian dari sosial budaya masyarakat.

2. Tingkat pendidikan, keadaan sosial ekonomi dan latar belakang budaya

masyarakat menguntungkan pengobatan tradisional.

3. Terbatasnya akses dan keterjangkauan pelayanan kesehatan moderen.

33

4. Keterbatasan

dan

kegagalan

pengobatan

beberapa penyakit tertentu.

modern

dalam

mengatasi

5. Meningkatnya

minat

masyarakat

terhadap

pemanfaatan

bahan-bahan

(obat) yang berasal dari alam (back to nature).

 

6. Meningkatnya

minat

profesi

kesehatan

mempelajari

pengobatan

tradisional.

7. Meningkatnya modernisasi pengobatan tradisional.

8. Meningkatnya publikasi dan promosi pengobatan tradisional.

9. Meningkatnya globalisasi pelayanan kesehatan tradisional.

10. Meningkatnya minat mendirikan sarana dan menyelenggarakan pelayanan

kesehatan tradisional.

Pengobatan

alternatif

diselenggarakan

dengan

cara

adalah

lain

di

cara

luar

pengobatan

atau

ilmu

kedokteran

perawatan

dan

atau

yang

ilmu

keperawatan yang lazim dikenal, mengacu kepada pengetahuan, pengalaman, dan

keterampilan

yang

diperoleh

secara

turun-temurun

atau

berguru

melalui

pendidikan, baik asli maupun dari luar Indonesia. Pengobatan alternatif bisa

dilakukan dengan menggunakan obat-obat tradisional, yaitu bahan atau ramuan

bahan yang berasal dari tumbuhan, hewan, mineral, sediaan sarian (galenik), atau

campuran dari bahan-bahan tersebut yang turun-temurun telah digunakan untuk

pengobatan berdasarkan pengalaman. Pengobatan alternatif merupakan bentuk

pelayanan pengobatan yang menggunakan cara, alat atau bahan yang tidak

termasuk dalam standar pengobatan kedokteran moderen (pelayanan kedoteran

34

standar) dan digunakan sebagai alternatif atau pelengkap pengobatan kedokteran

moderen tersebut.

Berbagai istilah telah digunakan untuk cara pengobatan yang berkembang

di tengah masyarakat. WHO (1974) menyebut sebagai “traditional medicine” atau

pengobatan tradisional. Para ilmuwan lebih menyukai “traditional healding”.

Adapula yang menyebutkan “alternatif medicine”. Ada juga yang menyebutkan

dengan folk medicine, ethno medicine, indigenous medicine (Agoes, 1992;59).

Dalam sehari-hari kita menyebutnya “pengobatan dukun”.

Untuk memudahkan penyebutan maka dalam hal ini lebih baik digunakan

istilah pengobatan alternatif, karena dengan istilah ini apat ditarik garis tegas

perbedaan antara pengobatan moderen dengan pengobatan di luarnya dan juga

dapat merangkum sistem-sistem pengobatan oriental (timur) seperti pengobatan

tradisional atau sistem penyembuhan yang berakar dari budaya turun temurun

yang khas satu etnis (etno medicine). Pengobatan alternatif

sendiri mencakup

seluruh pengobatan tradisional dan pengobatan alternatif adalah pengobatan

tradisional yang telah diakui oleh pemerintah.

Pengobatan yang banyak dijumpai adalah pengobatan alternatif yang

berlatar belakang akar budaya tradisi suku bangsa maupun agama. Pengobat

(curer) ataupun penyembuh (healer) dari jasa pengobatan maupun penyembuhan

tersebut sering disebut tabib atau dukun. Pengobatan maupun diagnosa yang

dilakukan tabib atau dukun tersebut selalu identik dengan campur tangan kekuatan

gaib ataupun yang memadukan antara kekuata rasio dan batin. Salah satu ciri

pengobatan alternatif adalah penggunaan doa ataupun bacaan-bacaan. Doa atau

35

bacaan dapat menjadi unsure penyembuh utama ketika dijadikan terapi tunggal

dalam penyembuhan.Selain doa ada juga ciri yang lain yaitu adanya pantangan-

pantangan. Pantangan berarti suatu aturan-aturan yang harus dijalankan oleh

pasien. Pantangan-pantangan tersebut harus dipatuhi demi kelancaran proses

pengobatan, agar penyembuhan dapat selesai dengan cepat. Dimana pantangan-

pantangan tersebut sesuai dengan penyakit yang diderita pasien. Seperti misalnya

penyakit patah tulang maupun terkilir, biasanya dilarang unutk mengkonsumsi

minum es dan kacang-kacangan. Makanan-makanan tersebut menurutnya dapat

mengganggu aliran syaraf-syaraf yang akan disembuhkan.

2.1.1 Sejarah Sistem Medis Tradisional di Indonesia

Pengobatan secara harafiah dapat diartikan sebagai satu proses untuk

mengobati seseorang dari suatu jenis penyakit. Dimana pengobatan disini dibagi

dua jenis yaitu pengobatan moderen dan pengobatan tradisional. Pengobatan

tradisional sangatlah berbeda dengan pengobatan moderen. Pengobatan moderen

merupakan pengobatan yang berbasiskan pada penggunaan teknologi dalam usaha

pengobatan, contohnya penggunaan cahaya sinar laser, benda-benda tumpul.

Pengobatan tradisional dalam konteks penggunaan di Indonesia tumbuh

dan berkembang sejak munculnya kehidupan sosial ditengah-tengah masyarakat,

hal ini dibuktikan dengan tersebarnya pengetahuan akan pengobatan tradisional

dalam kehidupan masyarakat pada saat ini, penggunaan pengobatan tradisional

dapat

juga

disebut

sebagai

suatu

proses

pengobatan

alternatif.

Pengobatan

tradisional sebagai suatu proses pengobatan dengan dasar budaya yang dianut

36

suatu masyarakat pada umumnya menggunakaan pola-pola kebudayannya dalam

upaya

pengobatan

secara

tradisional,

sehingga

penggunaan

bahan-bahan

pengobatan seperti daun-daunan, akar-akaran dan lain sebagainya tergantung pada

sistem pengetahuan yang ada dan berkembang dalam kebudayaan tersebut.

Sejarah tanaman obat atau herbal di Indonesia berdasarkan fakta sejarah

adalah obat asli Indonesia. Catatan sejarah menunjukkan bahwa di wilayah

nusantara dari abad ke V sampai dengan abad ke IXX, tanaman obat merupakan

sarana paling utama bagi masyarakat tradisional kita untuk pengobatan penyakit

dan pemeliharan kesehatan. Kerajaan di wilayah nusantara seperti Sriwijaya,

Mojopahit dan Mataram mencapai beberapa puncak kejayaan dan menyisakan

banyak peninggalan yang dikagumi dunia, adalah produk masyarakat tradisional

yang mengandalkan pemeliharaan terhadap kesehatannya mulai dari tanaman-

tanaman

obat

penggunaan-herbal).

(http://www.roemahobatalami.com/jus-dan-herbal/sejarah-

Pengobatan tradisional merupakan bentuk pelayanan pengobatan yang

menggunakan

cara,

alat

atau

bahan

yang

tidak

termasuk

dalam

standar

pengobatan

kedokteran

modern

dan

dipergunakan

sebagai

alternatif

atau

pelengkap

modern

tersebut.

Manfaat

khasiat

serta

mekanisme

pengobatan

alternatif biasanya dalam taraf diperdebatkan. Berbagai istilah telah dugunakan

untuk cara pengobatan yang berkembang di tengah masyarakat banyak. Menurut

WHO

(1974)

menyebutkan

sebagai

traditional

medicine”.

Adapula

yang

menyebutnya “alternative medicine”. Dalam bahasa sehari-hari kita menyebutnya

dengan istilah “pengobatan tradisional atau alternatif”.

37

2.1.2

Pengelompokan Sistem Medis Tradisional

Sistem

medis

tradisional

merupakan

metode

pengobatan

yang

menggunakan pendekatan diluar medis, yang tidak termasuk dalam standar

pengobatan kedokteran modern. Dalam pengobatan tradisional, segala metode

dimungkinkan,

dari

penggunaan

obat-obat

tradiosional

seperti

jamu-jamuan,

rempah, yang sudah dikenal seperti jahe, kunyit dan sebagainya. Pendekatan lain

seperti

menggunakan

energi

tertentu

yang

mampu

mempercepat

proses

penyembuhan. Pada mulanya kalangan kedokteran bersikap sangat sinis dan

menganggap pengobatan tradisional tidak bisa dipertanggungjawabkan karena

tidak didukung riset medis yang memadai. Tetapi semakin banyaknya fakta-fakta

keberhasilan membuat mereka tergoda untuk melakukan riset. Dan pada akhirnya

semakin lama semakin banyak teknik pengobatan tradisional yang diakui, bahkan

digunakan para dokter sebagai terapi komplementer untuk mendapatkan tingkat

kesembuhan yang lebih baik.

Menurut Agoes (1992:61) pengobatan tradisional dikelompokkan menjadi

4 (empat) jenis yaitu :

1.

Pengobatan tradisional dengan ramuan obat, yaitu pengobatan tradisional

dengan

menggunakan

ramuan

asli

Indonesia,

pengobatan

tradisional

dengan ramuan obat Cina, pengobatan dengan ramuan obat India.

 

2.

Pengobatan

tradisional

spiritual/kebatinan,

yaitu

pengobatan

yang

dilakukan

atas

dasar

kepercayaan

agama,

dan

dengan

dasar

getaran

magnetis yaitu orang itu bisa memakai pengaruh dari luar dunia manusia

untuk membantu orang sakit.

38

3.

Pengobatan

tradisional dengan

memakai peralatan/perangsangan yaitu

seperti akupuntur, pengobatan atas dasar ilmu pengobatan tradisional Cina

yang

menggunakan penusukan jarum dan penghangatan moxa (daun

arthamesia vulgaris yang dikeringkan) termasuk juga pengobatan urut

pijat, pengobatan patah tulang, pengobatan patah tulang, pengobatan

dengan peralatan (tajam/keras), dan benda tumpul.

 

4.

Pengobatan

tradisional

yang

telah

mendapatkan

pengarahan

dan

pengaturan

pemerintah

yaitu,

seperti

dukun

beranak,

tukang

gigi

tradisional.

2.2 Situasi dan Kondisi Sistem Medis Tradisional di Indonesia

Jumlah dan ragam pengobat tradisional (battra) yang tercatat di Indonesia

sangat banyak. Data Departemen Kesehatan RI tahun 1997 mencatat jumlah

pengobat tradisional sebanyak 280.000, yang dibedakan atas 4 katagori dan 30

jenis keahlian atau spesialisasi. Adapun keempat kategori pengobat tradisional

yang ditemukan di Indonesia, yakni yang menunjuk pada metoda pengobatan

utama yang dipergunakan pada waktu menyelenggarakan praktik pengobatan

tradisional, masing-masing adalah pertama, battra keterampilan, kedua, battra

ramuan obat, ketiga, battra tenaga dalam serta keempat, battra supra natural atau

ajaran agama.

Sedangkan keahlian atau spesiliasi pengobat tradisional yang ditemukan di

Indonesia, jika dirinci menurut kategori serta asal pengobatan tradisional tersebut,

secara sederhana sebagai berikut :

39

Tabel 1

BATTRA RAMUAN OBAT

ASLI

ASING

Battra dengan ramuan Indonesia

Homoeopati

Aromaterapis

Tabib dengan ramuan Indonesia

Spa terapis

Tabib

Sinse dengan ramuan Indonesia

Sinshe

Sumber : http://www.pro-sehatalami.com

Tabel 2

BATTRA KETERAMPILAN

ASLI

ASING

Pijat Spesifik Daerah/Etnik : Jawa, Madura, Bali, Dayak dsb

Pijat Refleksi

Akupreturis

Pijat Shiatsu/Tuina

Pijat Qigong

Pijat Tuna Netra

Pijat Ala Thai

Patah Tulang

Touch For Health

Sunat

Akupunkturis

Dukun Bayi

Kiropraktor

Tukang Gigi

Alexander Teknik

Osteopatis

Hidroterapist

Spa Terapis

Sumber : http://www.pro-sehatalami.com

40

Tabel 3

BATTRA TENAGA DALAM

ASLI

ASING

Satria nusantara

Meditasi-prana

Kalimasada

Pranic- Healing

Merpati putih

Yoga (India)

Nampon trirasa

Reiky Master (Tibet/

Sinar putih

Jepang )

Prana-sakti

Touch Healing

Sumber : http://www.pro-sehatalami.com

Tabel 4

BATTRA SUPRANATURAL ATAU AJARAN AGAMA

ASLI

ASING

Parewangan

Ayat/simbol agama Islam

Petungan

Primbon

Ayat/simbol agama Katolik

Makhluk halus

Kebatinan

Ayat/simbol agama Protestan

Jampi

Doa

Ayat/simbol agama Budha

Ayat/simbol agama Hindu

Sumber : http://www.pro-sehatalami.com

Dari berbagai kategori pengobat dan pengobatan tradisional yang dikenal

di Indonesia, tampak pengobatan tradisional yang mempergunakan ramuan obat

mengalami perkembangan yang cukup pesat. Mudah dipahami karena alam

Indonesia

kaya

dengan

pelbagai

tamanan

yang

dinilai

mempunyai

khasiat

pengobatan, dan karena itu dipergunakan sebagai bagian dalam racikan ramuan

41

obat. Dari data yang ada diperkirakan di Indonesia ditemukan sekitar 30.000 jenis

tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku obat. Sekitar 940 jenis

tanaman obat telah diketahui khasiatnya, dan sekitar 180 jenis tanaman obat telah

digunakan oleh industri obat. Tercatat jumlah perusahaan industri obat yang

memproduksi obat tradisional di Indonesia sebanyak 1012 industri, terdiri dari

105 merupakan industri besar, sedangkan sisanya sebanyak 907 merupakan

industri menengah atau kecil. Sedangkan jumlah obat tradisional (jamu) yang

telah diproduksi di Indonesia ditemukan sebanyak 9.737 merek, terdiri dari 8.698

merek

jamu

merupakan

produksi

dalam

negeri,

serta

merupakan produksi luar negeri (import).

1.039

merek

jamu

Nilai penjualan obat tradisional ternyata juga cukup menjanjikan. Pada

tingkat global, nilai penjualan obat modern sekitar US $ 310 M, sedangkan nilai

penjualan

obat

tradisional

sebesar

US

$

50

M.

Keadaan

yang

sama

juga

ditemukan di Indonesia. Nilai penjualan obat modern sebesar Rp 17 trilyun,

sedangkan nilai penjualan obat tradisional sebesar Rp. 2 trilyun. Peningkatan

penjualanan juga cukup menggembirakan. Sementara peningkatan penjualanan

obat modern hanya 12% per tahun, peningkatan penjualanan obat tradisional

sebesar 20% per tahun, dengan market share pada tahun 2002 untuk obat modern

sebesar 89,5% berbanding dengan 10,5% untuk obat tradisional. Diperkirakan

pada tahun 2010 ini, market share penjualanan obat tradisional akan meningkat

menjadi

sekitar

16%

berbanding

dengan

84%

untuk

obat

moderen

(http://www.pro-sehatalami.com/topik/39-azrul-azwar--perlu-regulasi-kebijakan-

pengobatan-tradisional).

42

2.2.1

Perkembangan Sistem Medis Tradisional di Kota Medan

Sistem

medis

tradisional

pada

saat

sekarang

ini

merupakan

sistem

pengobatan atau penyembuhan yang banyak digunakan dan dimanfaatkan oleh

masyarakat

Indonesia,

salah

satunya

di

Kota

Medan.

Pemanfaatan

jasa

pengobatan alternatif pada masyarakat Kota Medan bukan sekedar fenomena

temporal dan kondisional, akan tetapi sudah menjadi fakta sosial yang tersebar

luas dan diterapkan secara universal diberbagai lapisan masyarakat.

Masyarakat di Kota Medan terdiri dari berbagai macam kelompok etnis

dan beragam lapisan dalam tingkat pendidikan, kemampuan ekonomi, adat-

istiadat dan lain sebagainya. Medan sebagai ibukota Provinsi Sumatera Utara

adalah salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki keadaan masyarakat seperti

yang ada di atas, disamping kota-kota lainnya di Indonesia sebagai dampak

urbanisasi.

Secara

umum

dapat

pula

dikemukakan

bahwa

sebagian

besar

dari

masyarakat Kota Medan masih mempunya pendidikan dan tingkat ekonomi yang

rendah. Sekalipun pengaruh modernisasi secara fisik telah berkembang luas dalam

masyarakat, terutama masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan, namun cara

berpikir tetap sulit dilepaskan dari cara berfikir yang alternatif. Dalam maslah

pelayanan kesehatan, diakui bahwa yang dikembangkan di Kota Medan adalah

pelayanan kesehatan moderen, yang juga sudah dikembangkan ke pelosok desa

melalui Puskesmas. Tetapi tidak semua masyarakat menggunakan pengobatan

moderen

tersebut

karena

sebagian

besar

masyarakat

masih

menggunakan

pelayanan kesehatan alternatif.

 

43

Pelayanan kesehatan sistem medis tradisional secara empirik memberikan

jasa perawatan dan penyembuhan dan bahkan mampu menyembuhkan berbagai

macam penyakit berat atau penyakit secara medis tidak dapat disembuhkan lagi.

Begitu juga di Kota Medan banyak penyakit yang tidak dapat ditangani oleh

pengobatan

moderen,

sehingga

masyarakat

beralih

kepada

sistem

medis

tradisional.

Banyaknya

pemanfaatan

jasa

diluar

medis

moderen

yang

ilmiah

merupakan suatu bukti bahwasannya sistem kesehatan masyarakat telah mengarah

kepada revitalisasi 5 sistem medis tradisional dan yang sejenisnya yang sebagian

besar lahir dari tradisi pengobatan yang didasari oleh akar budaya manapun nilai

agama masyarakat. Dengan kata lain sistem medis tradisional yang kemudian

disebut sebagai pengobatan alternatif kembali penting dalam sistem kesehatan

nasional.

Hal

yang

mendukung

tentang

semakin

banyaknya

pemanfaatan

pengobatan

alternatif

dikarenakan

semakin

banyaknya

praktek-praktek

pengobatan alternatif di kota Medan dan semakin banyak pula masyarakat yang

mau dan tertarik untuk datang kepada penyembuh tradisional untuk mengobati

sakitnya. Sehingga semakin lama sistem medis tradisional ini pun semakin

berkembang. Bukan berarti sistem pengobatan moderen tidak digunakan lagi oleh

masyarakat. Sistem pengobatan moderen dan sistem medis tradisional sama-sama

pentingnya dalam masyarakat, karena sama-sama berusaha untuk mengobati

pasien dalam mendapatkan kesehatan yang diinginkan.

5 Revitalisasi berarti mementingkan kembali atau suatu proses pengutamaan, pemunculan satu hal yang pernah ada pada saat masa lalu.

44

Sistem medis tradisional di Kota Medan sangat beragam jenisnya. Ada

yang bersifat tradisional sampai kepada penyembuhan alternatif moderen yang

merupakan sistem pengobatan yang diasopsin dari tradisi penyembuhan di luar

Indonesia. Sejauh engamatan yang dilakukan ternyata begitu banyak tersebar

berbagai macam pengobatan tradisional di Kota Medan. Di setiap pelosok pun

terdapat

pengobatan-pengobatan

tradisional.

Beberapa

pengobatan

tradisional

memiliki papan sebagai tanda pengenal ataupun sebagai media publikasi kepada

masyarakat dan ada juga yang tidak menggunakan papan sebagai tanda pengenal.

Pengobatan

yang

tidak

menggunakan

tanda

pengenal

biasanya

hanya

mengandalkan informasi yang bersifat primitif, yaitu dari

mulut

ke

mulut.

Pengobatan ini kadang tidak hanya bekerja sebagai penyembuh tetapi mempunyai

salah satu pekerjaan lain artinya pekerjaan sebagai penyembuh bukanlah sebagai

pekerjaan yang utama. Keahlian penyembuh hanya sebagai sampingan atas dasar

kemanusiaan dan tuntunan keperayaan yang mereka miliki.

Namun, berbeda dengan pengobatan tradisional malumta karena guru

malumta ini menekuni pekerjaan sebagai pengobat sebagai pekerjaan yang utama,

ia

melakukan

praktek

terbuka

bagi

semua

kalangan

masyarakat.

Publikasi

merupakan

faktor

yang

paling

penting

dalam

mengembangkan

usaha

dan

memperlancar praktek. Salah satu contohnya adalah dengan cara membuat papan

yang bertuliskan merek pengobatan dan melayani jenis penyakit yang seperti apa.

45

2.1.2

Malumta Paramedis Tradisional Karo

Berdirinya malumta ini diawali dengan seseorang Bapak yang lahir di

Pakpak akan tetapi besar di Kota Medan, yang biasa dipanggil Bapak Angkat.

Pada tahun 1985 s/d 1990 Bapak Angkat pergi belajar ke Tanah Karo lebih

tepatnya di Tigalingga. Tujuannya untuk mendapatkan dan mengetahui cara-cara

pengobatan patah tulang yang baik, benar dan sungguh-sungguh. Setelah beberapa

tahun dia belajar dan menimba ilmu tersebut sampai dia benar-benar mahir.

Sehingga dia berniat untuk membuat pengobatan tradisional patah tulang miliknya

sendiri.

Pada

tahun

1990,

setelah

lulus

dari

proses

belajar

dan

mempunyai

sertifikat untuk membuat usaha pengobatan Bapak Angkat memutuskan untuk

membuka

usaha

sendiri

di

Kota

Medan,

tepatnya

di

Kelurahan

Pangkalan

Masyhur,

Kecamatan

Medan

Johor.

Nama

atau

merek

dari

pengobatannya

tersebut adalah malumta. Dimana kata malumta ini diambil dari bahasa Batak

Toba yang mempunyai arti sebagai berikut malum (sembuh), ta (tanggung jawab)

jadi

arti

keseluruhannya

tanggung

jawab

sampai

sembuh.

Jadi

pengobatan

malumta ini akan mengobati setiap pasien yang datang berobat sampai sembuh.

46

Gambar 1 Pamplet Malumta

Gambar 1 Pamplet Malumta Dikatakan seperti itu karena dukun pa tah tersebut akan bertanggung jawab atas

Dikatakan seperti itu karena dukun patah tersebut akan bertanggung jawab

atas pasien sampai dengan sembuh, bila mana ada keluhan lagi pasien dapat

kembali ketempat dukun patah tersebut untuk diobati kembali. Jika tidak sembuh

juga maka biaya yang dikeluarkan selama proses pengobatan akan dikembalikan

seutuhnya kepada pasien tanpa ada potongan apapun. Malumta ini sendiri sudah

berdiri kurang lebih dari 20 tahun yang lalu. Seiring dengan berjalannya waktu

maka usaha tersebut semakin banyak diminati oleh masyarakat dan banyak juga

yang

mempercayai pengobatan dukun patah malumta tersebut. Dengan adanya

pengobatan tersebut masyarakat dapat memilih untuk datang ketempat malumta

tersebut.

47

2.3

Sistem Medis Tradisional Patah Tulang.

Dukun patah tulang adalah

dukun yang cara pengobtannya dengan cara

mengurut untuk mereposisi tulang atau otot yang mengalami patah atau terkilir,

memfiksasi, reposisi dengan splak/bidai 6 atau kayu dan membearai kompres

dengan ramuan-ramuan atau akar-akaran. Pengobatan tradisional patah tulang

merupakan upaya mengembalikan fungsi anggota gerak akibat patah tulang.

Pengobatan

dilakukan

oleh

dukun

khusus

patah

tulang.

Penderita

meminta

bantuan kepada dukun tersebut pada tahap awal kejadian atau setelah pernah

berobat kepada pengobatan moderen (medis).

Patah tulang (fraktur) adalah retak tulang, biasanya disertai dengan cidera

di jaringan-jaringan sekitarnya. Menurut Rudy, 2009 ada beberapa jenis-jenis

patah tulang sebagai berikut :

1. Patah tulang tertutup (patah tulang simplek) yaitu tulang yang patah tidak

Nampak dari luar.

2. Patah tulang terbuka (patah tulang majemuk) yaitu tulang yang patah

tampak dari luar karena tulang menembus kulit mengalami robekan. Patah

tulang terbuka lebih mudah terinfeksi.

3. Patah tulang kompresi (patah tulang karena penekanan) yaitu akibat dari

tenaga yang menggerakkan sebuah tulang melawan tulang lainnya atau

tenaga yang menekan melawan panjangnya tulang. Sering terjadi pada

6 Splak/bidai adalah kayu atau papan yang digunakan untuk menyangga tulang yang patah. Dimana bidai tersebut memiliki berbagai macam jenis ukuran karena setiap patah tulang yang dialami pasien berbeda-beda.

48

wanita

lanjut

usia

osteoporosis.

yang

tulang

belakangnya

menjadi

rapuh

karena

4. Patah tulang karena tergilas yaitu tenaga yang sangat hebat menyebabkan

beberapa retakan sehingga terjadi beberapa pecahan tulang. Jika aliran

darah

kebagian

tulang

yang

terkena

mengalami

penyembuhannya akan berjalan sangat lambat.

gangguan,

.

maka

5. Patah tulang avulse yaitu disebabkan oleh kontraksi otot yang kuat,

sehingga menarik bagian tulang tempat tendon otot tersebut melekat.

Paling sering terjadi pada bahu dan lutut, tetapi bias juga terjadi pada

tungkai dan tumit.

6. Patah tulang patologis yaitu jika sebuah tumor (biasanya kanker) telah

tumbuh kedalam tulang dan menyebabkan tulang menjadi rapuh. Tulang

yang rapuh bisa mengalami patah tulang meskipun dengan cidera ringan

atau tanpa cidera.

Pengertian fraktur atau patah tulang adalah keadaan dimana hubungan atau

kesatuan jaringan tulang terputus. Tulang mempunyai daya lentur (elstisitas)

dengan kekuatan yang memadai. Apabila trauma melebihi daya lentur tersebut

maka akan terjadi fraktur (patah tulang).

49

2.4

Beberapa Konsep dalam Kesehatan

2.4.1 Konsep Sehat dan Sakit.

Masalah kesehatan

merupakan

masalah

kompleks

resultant

dari

berbagai

masalah

lingkungan

yang

bersifat

yang

merupakan

alamiah

maupun

masalah buatan manusia, sosial budaya, perilaku, populasi penduduk, genetika,

dan sebagainya. Derajat kesehatan masyarakat yang disebut sebagai psycho

socio somatic health well being , merupakan resultant dari 4 faktor yaitu:

1. Environment atau lingkungan

2. Behavior atau perilaku

3. Heredity atau keturunan

4. Health

care

service

atau

berupa

program

kesehatan

yang

bersifat

preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif.

Dari empat faktor tersebut di atas, lingkungan dan perilaku merupakan

faktor yang paling besar pengaruhnya (dominan) terhadap tinggi rendahnya

derajat kesehatan masyarakat.

Disamping itu ada beberapa konsep sehat dan sakit yang ditemukan para

ahli, seperti yang banyak dianut oleh sebagian besar masyarakat kita yang

dimaksud sakit adalah dimana seseorang telah mengalami disfungsi organ tubuh

sehingga dia tidak dapat atau terganggu kegiantannya atau peran sosialnya. Ini

adalah defenisi sakit yang di dalam antropologi kesehatan disebut sakit menurut

budaya. Kemudian ada lagi yang menyatakan sakit adalah apabila telah terjadi

proses penyerang pada organ tubuh maka seseorang itu dikatakan sudah menderita

penyakit. Dari dua konsep sakit ini, konsep sakit yang pertama atau penyakit

50

dipandang dari konsep budaya lebih dominan digunakan oleh masyarakat. Hal ini

sangat membantu untuk menjawab mengapa dalam sistem kesehatan prefentif

sangat sulit diterapkan. Contohnya, orang yang merokok tidak menghiraukan

kesehatannya apabila belum terserang salah satu penyakit yang disebabkan oleh

aktivitas

merokonya,

karena

belum

terjadi

disfungsi

atau

gangguan

organ

tubuhnya. Sedangkan berdasarkan konsep sakit yang kedua atau penyakit telah

terjadi proses penyerang organ tubuh.

Paradigma

sehat

adalah

cara pandang

atau

pola

pikir

pembangunan

kesehatan yang bersifat holistik, proaktif antisipatif, dengan melihat masalah

kesehatan sebagai masalah yang dipengaruhi oleh banyak faktor secara dinamis

dan lintas sektoral, dalam suatu wilayah yang berorientasi kepada peningkatan

pemeliharaan dan perlindungan terhadap penduduk agar tetap sehat dan bukan

hanya

penyembuhan

penduduk

yang

sakit.

Pada

intinya

paradigma

sehat

memberikan perhatian utama terhadap kebijakan yang bersifat pencegahan dan

promosi

kesehatan,

memberikan

dukungan

dan

alokasi

sumber

daya

untuk

menjaga agar yang sehat tetap sehat namun tetap mengupayakan yang sakit segera

sehat. Pada prinsipnya kebijakan tersebut menekankan pada masyarakat untuk

mengutamakan

kegiatan

kesehatan

daripada

mengobati

penyakit

(http://datastudi.wordpress.com/2009/10/26/konsep-sehat-sakit-dan

penyakit-

dalam-konteks-sosial-budaya/).

 

Telah

dikembangkan

pengertian

tentang

penyakit

yang

mempunyai

konotasi biomedik dan sosio kultural. Dalam bahasa Inggris dikenal kata disease

dan illness sedangkan dalam bahasa Indonesia, kedua pengertian itu dinamakan

51

penyakit. Dilihat dari segi sosio kultural terdapat perbedaan besar antara kedua

pengertian tersebut. Dengan disease dimaksudkan gangguan fungsi atau adaptasi

dari proses-proses biologik dan psikofisiologik pada seorang individu, dengan

illness dimaksud reaksi personal, interpersonal, dan kultural terhadap penyakit

atau perasaan kurang nyaman.

Para

dokter

mendiagnosis

dan

mengobati

disease,

sedangkan

pasien

mengalami illness yang dapat disebabkan oleh disease illness tidak selalu disertai

kelainan organik maupun fungsional tubuh. Dalam konteks kultural, apa yang

disebut sehat dalam suatu kebudayaan belum tentu disebut sehat pula d alam

kebudayaan lain. Di sini tidak dapat diabaikan adanya faktor penilaian atau faktor

yang erat hubungannya dengan sistem nilai.

Istilah

sehat

jug

mengandung

banyak

muatan

kultural,

social

dan

pengertian profesional yang beragam. Dulu dari sudut pandangan kedokteran,

sehat sangat erat kaitannya dengan kesakitan dan penyakit. Gangguan kesehatan

merupakan

konsekuensi

perilaku

yang

berwujud

tindakan

yang

disadari

(diketahui)

atau

tidak

disadari

(tidak

diketahui)

merugikan

kesehatan

atau

menurunkan derajat kesehatan si pelaku sendiri, atau orang-orang lain, atau suatu

kelompok. Gangguan kesehatan yang dimaksudkan disini tidak hanya terbatas

pada kategori penyakit fisik dan mental secara individu dan kelompok tatapi juga

kategori kesejahteraan sosial. Dalam kenyataannya tidaklah sesederhana itu, sehat

harus dilihat dari berbagai aspek. WHO melihat sehat dari berbagai aspek.

Definisi sehat menurut WHO (1981) :

52

Health is a state of complete physical, mental and social well being, and not merely the absence of disease or infirmity”.

Artinya sehat sebagai suatu keadaan sempurna baik jasmani, rohani,

maupun kesejahteraan sosial seseorang. Sedangkan sehat menurut masyarakat

adalah sebagai suatu kemampuan fungsional dalam menjalankan peran-peran

sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Konsep sehat sakit yang dianut pengobat tradisional (Battra) sama dengan

yang dianut masyarakat setempat, yakni suatu keadaan yang berhubungan dengan

keadaan badan atau kondisi tubuh kelainan-kelainan serta gejala yang dirasakan.

Sehat bagi seseorang berarti suatu keadaan yang normal, wajar, nyaman, dan

dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan gairah. Sedangkan sakit dianggap

sebagai suatu keadaan badan yang kurang menyenangkan, bahkan dirasakan

sebagai

siksaan

sehingga

menyebabkan

seseorang

tidak

dapat

menjalankan

aktivitas sehari-hari seperti halnya orang yang sehat.

Menurut

Sudarti

(1987),

menggambarkan

secara

deskriptif

persepsi

masyarakat

beberapa

daerah

di

Indonesia

mengenai

sakit

dan

penyakit,

masyarakat

menganggap

bahwa

sakit

adalah

keadaan

individu

mengalami

serangkaian gangguan fisik yang menimbulkan rasa tidak nyaman. Anak yang

sakit ditandai dengan tingkah laku rewel, sering menangis dan tidak nafsu makan.

Orang dewasa dianggap sakit jika lesu, tidak dapat bekerja, kehilangan nafsu

makan, atau “kantong kering” (tidak punya uang)”.

Selanjutnya Sudarti juga mengatakan bahwa masyarakat menggolongkan

penyebab sakit ke dalam 3 bagian yaitu :

53

1.

Karena pengaruh gejala alam (panas, dingin) terhadap tubuh manusia

2. Makanan yang diklasifikasikan ke dalam makanan panas dan dingin.

3. Supranatural (roh, guna-guna, setan dan lain-lain).

Untuk mengobati sakit pada poin pertama dan kedua, dapat digunakan

obat-obatan, ramu-ramuan, pijat, kerok dan bantuan tenaga kesehatan. Upaya

pengobatan penyakit pada poin yang ketiga harus meminta bantuan kepada dukun,

kyai dan lain-lain. Dengan demikian penanggulangan penyakit tergantung kepada

sistem kepercayaan masyarakat.

2.4.2. Tingkahlaku Sakit, Peranan Sakit, dan Peranan Pasien.

Penelitian-penelitian dan

teori-teori

yang

dikembangkan

oleh

para

antropolog

seperti

perilaku

sehat

(health

behavior),

perilaku

sakit

(illness

behavior)

perbedaan

antara

illness

dan

disease,

model

penjelasan

penyakit

(explanatory model ), peran dan karir seorang yang sakit (sick role), interaksi

dokter-perawat, dokter-pasien, perawat-pasien, penyakit dilihat dari sudut pasien,

membuka mata para dokter bahwa kebenaran ilmu kedokteran moderen tidak lagi

dapat dianggap kebenaran absolut dalam proses penyembuhan.

Perilaku sakit diartikan sebagai segala bentuk tindakan yang dilakukan

oleh

individu

yang

sedang

sakit

agar

memperoleh

kesembuhan,

sedangkan

perilaku sehat adalah tindakan yang dilakukan individu untuk memelihara dan

meningkatkan

kesehatannya,

termasuk

pencegahan

penyakit,

perawatan

kebersihan diri, penjagaan kebugaran melalui olah raga dan makanan bergizi.

Perilaku sehat diperlihatkan oleh individu yang merasa dirinya sehat meskipun

54

secara medis belum tentu mereka betul-betul sehat. Sesuai dengan persepsi

tentang sakit dan penyakit maka perilaku sakit dan perilaku sehatpun subyektif

sifatnya. Persepsi masyarakat tentang sehat-sakit ini sangatlah dipengaruhi oleh

unsur pengalaman masa lalu di samping unsur sosial budaya. Sebaliknya petugas

kesehatan berusaha sedapat mungkin menerapkan kriteria medis yang objektif

berdasarkan gejala yang tampak guna mendiagnosis kondisi fisik individu.

Pengertian sakit menurut etiologi naturalistik dapat dijelaskan dari segi

impersonal dan sistematik, yaitu bahwa sakit merupakan satu keadaan atau satu

hal yang disebabkan oleh gangguan terhadap sistem tubuh manusia. Pernyataan

tentang pengetahuan ini dalam tradisi klasik Yunani, India, Cina, menunjukkan

model

keseimbangan

(equilibrium

model)

seseorang

dianggap

sehat

apabila

unsur-unsur utama yaitu panas dingin dalam tubuhnya berada dalam keadaan yang

seimbang.

Dalam mempelajari mempelajari tingkahlaku sakit, penting bagi kita untuk

mengingat bahwa studi yang benar mengenai makhluk manusia yang sakit

berpendapat

bahwa

setiap

individu

hidup

dengan

gejala-gejala

maupun

konsekuensi penyakit, dalam aspek fisik, mental, aspek medikal dan aspek

sosialnya. Dalam usahanya untuk meringankan penyakitnya, si sakit si sakit

terlibat dalam serangkaian proses pemecahan masalah yang bersifat internal

maupun eksternal baik yang spesifik maupun yang nonspesifik (Von Mering

dalam Foster dan Anderson, 1986:172)

Tingkahlaku

adalah

cara-cara

dimana

gejala-gejala

yang

ditanggapi,

dievaluasi dan diperankan oleh seorang individu yang sedang mengalami sakit,

55

kurang nyaman, atau tanda-tanda lain dari fungsi tubuh yang kurang baik.

Tingkahlaku sakit dapat terjadi tanpa adanya peranan sakit dan peranan pasien.

Sebagai cintoh seorang dewasa yang bangun dari tidurnya dengan leher sakit

menjalankan peranan sakit, dia harus memutuskan apakah dia akan meminum

obat sakit kepala atau memanggil dokter. Namun hal ini bukanlah tingkahlaku

sakit, dikatakan tingkahlaku sakit apabila penyakit itu telah didefenisikan secara

serius sehingga menyebabkan seseorang tidak dapat melakukan sebagian atau

seluruh peranan normalnya. Yang berarti mengurangi dan memberikan tuntutan

tambahan atas tingkahlaku peranan orang-orang disekelilingnya, maka barulah

seseorang itu melakukan peranan sakit. Konsep peranan pasien lebih terbatas

daripada peranan sakit. Peranan padien terjadi jika seseorang mengalami sakit,

orang tersebut berharap salah seorang dari anggota keluarganya datang kepadanya

untuk membawa makanan untuknya. Dengan demikian peranan pasien adalah

merupakan kasus khusus (suatu perpanjangan) dari peranan sakit.

Tingkah laku sakit, peranan sakit dan peranan pasien sangat dipengaruhi

oleh faktor -faktor seperti kelas sosial, perbedaan suku bangsa dan budaya. Maka

ancaman kesehatan yang sama (yang ditentukan secara klinis), bergantung dari

variabel-variabel tersebut dapat menimbulkan reaksi yang berbeda di kalangan

pasien (Foster dan Anderson, 1986:173).

56