Anda di halaman 1dari 4

PEMBAHASAN

Golongan darah dapat diketahui melalui tes golongan darah. Terdapat beberapa tes yang dapat dilakukan dalam penentuan golongan darah, antara lain dengan menggunakan teknik slide test yang menggunakan slide atau blood grouping plate dan menggunakan teknik tube test yang menggunakan tabung reaksi. Dalam praktikum ini, penentuan golongan darah dilakukan dengan menggunakan metode tube test. Sama seperti pada slide test, penentuan golongan darah dengan tube test juga menggunakan prinsip reaksi antara aglutinogen (antigen) pada permukaan eritrosit dengan agglutinin yang terdapat dalam serum/plasma yang membentuk aglutinasi atau penggumpalan untuk menentukan golongan darah seseorang. Secara pengerjaanya, metode ini juga memiliki kesamaan dengan slide test, namun pada tube test menggunakan beberapa tabung reaksi dan dilihat aglitinasinya setelah centrifugasi. Penentuan golongan darah system ABO dengan metode tube test juga menggunakan cara langsung (Cell Blood Grouping) dan metode secara tidak langsung (Serum Blood Grouping). Metode secara langsung dilakukan untuk menentukan antigen dengan menggunakan antisera yang telah diketahui (Anti A, anti-B, anti AB). Berbeda dengan penentuan golongan darah pada metode slide, metode tube test menggunakan sampel suspense sel darah merah 5%,

suspense ini adalah suspense dengan konsentrasi sel darah merah yang akan memberikan reaksi optimal antara antigen dan antibody sehingga terbentuk aglutinasi. Cara langsung ini dilakukan dengan meneteskan dua tetes antisera pada tabung reaksi yang telah diberi label yang sesuai dan ditambahkan setetes sel darah merah 5%, kemudian dihomogenkan dengan dengan cara mengoyangkan tabung. Secara kasar memang dilihat aglutinasinya, namun untuk lebih memastikan maka selanjutnya dicentrifugasi. Centrifugasi dilakukan untuk melihat sel darah merah lisis atau mengalami angglutinasi. Sampel sel darah yang lisis dapat dilihat, dari hasil setelah aglutinasi, sampel darah yang lisis akan berwarna merah terang dan tidak terdapat endapan suspense sel karena se-selnya telah lisis dan larut. Sedangkan aglutinasi diperoleh apabila setelah centrifugasi, endapan yang terbentuk ternyata tidak larut kembali dalam filtratnya setelah dihomogenkan. Baik hasil aglutinasi dan lisis sama-sama menginterpretasikan hasil yang positif. Hasil yang positif aglutinasi pada antisera yang digunakan menunjukan antigen yang

terdapat pada sampel tersebut. Antigen ini merupakan factor yang menentukan golongan darah.

Berdasarkan hasil praktikum penentuan golongan darah dengan metode tube test secara langsung, sampel yang diuji menunjukan hasil yang positif anglutinasi pada antisera anti-A dan anti-B. Berbeda dengan penggolongan darah secara langsung, penggolongan darah secara tidak langsung ini dilakukan untuk menentukan antibody dengan menggunakan suspense sel yang telah diketahui (sel A, sel B dan sel O) sehingga sampel yang digunakan adalah menggunakan sampel serum/plasma. Seseorang dengan golongan darah tertentu selain memiliki antigen pada permukaan sel darah merahnya, menghasilkan juga antibodi terhadap antigen yang berlawanan dalam serum darahnya, Sehingga dalam serum grouping test ini, akan memberikan aglutinasi positif terhadap sespensi selnya . Penggolongan darah dengan cara tidak langsung ini dilakukan dengan meneteskan suspense sel yang telah diketahui sebanyak 1 tetes pada plate dan ditambahkan serum/plasma sebanyak 2 tetes untuk selanjutnya dihomogenkan dengan cara mengoyangkanya dan diamati aglutinasinya. Dalam penentuan golongan darah ABO dengan cara tidak langsung, yang penting untuk diperhatikan adalah adanya autocontrol. Autocontrol ini dibuat untuk memeriksa Antibodi dalam serum dengan cara mereaksikannya dengan SDM sendiri. Autocontrol harus memberikan hasil yang negative karena apabila serum direaksikan dengan SDM sendiri maka tidak akan menghasilkan reaksi aglutinasi dan apabila autocontrol memberikan hasil yang positif terjadi aglutinasi maka pemeriksaan harus diulang. Karena kemungkinan terjadi kesalahan pada saat dilakukan pemeriksaan. Berdasarkan hasil praktikum penentuan golongan darah pada sampel yang diuji dapat dilihat dalam tabel berikut : Penggolongan Darah ABO Sampel Cell Grouping Anti Anti A B + + Rhesus Serum Grouping Sel A Sel B Sel O Auto control Interpretasi BA 22% Anti D + Golongan darah AB, Rh+

Dari tabel diatas dapat dilihat golongan darah pada masing-masing sampel. Pada sampel yang di uji memberikan hasil yang positif aglutinasi terhadap anti A dan anti B, serta hasil

negative pada semua suspense sel, sehingga golongan darahnya dalam system ABO adalah AB. Hal ini karena seseorang dengan golongan darah AB memiliki sel darah merah dengan antigen A dan B serta tidak menghasilkan antibodi terhadap antigen A maupun B. Selain pemeriksaan golongan darah berdasarkan system ABO dalam praktikum ini dilakukan juga penggolongan darah berdasarkan system Rhesus. Seseorang yang tidak memiliki faktor Rh di permukaan sel darah merahnya memiliki golongan darah Rh-. Mereka yang memiliki faktor Rh pada permukaan sel darah merahnya disebut memiliki golongan darah Rh+. Kecocokan faktor Rhesus amat penting karena ketidakcocokan golongan, Misalnya donor dengan Rh+ sedangkan resipiennya Rh-) dapat menyebabkan produksi antibodi terhadap antigen Rh(D) yang mengakibatkan hemolisis. Jenis penggolongan ini seringkali digabungkan dengan penggolongan ABO. Pada penggolongan darah Rhesus ini memiliki pengerjaan yang sama dengan penggolongan yang dilakukan secara langsung, namun antisera yang digunakan adalah anti D dan dibuat juga autocontrolnya. Dua tetes antisera D dihomogenkan dengan setetes sel darah merah 5%. Apabila terjadi aglutinasi maka menunjukan golongan darah Rhesus+ (Rh+). Namun diperhatikan juga autocontol yang dibuat dengan mereaksikan sampel sel darah merah 5% dengan Bovine Albumin dengan konsentrasi 22% atau 6%. Autocontrol ini harus menunjukan hasil yang negative, jika tidak maka pemeriksaan harus diulang kembali. Pada pemeriksaan golongan darah system Rhesus yang dilakukan, sampel yang diuji menunjukan hasil yang positif dimana terjadi aglutinasi. Hal ini menunjukan golongan darah pada semua sampel berdasarkan system rhesus adalah Rhesus + (Rh +). Dalam melakukan penggolongan darah ABO dengan teknik tube test baik secara langsung, tidak langsung maupun penggolongan darah Rhesus, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain : Sampel dan reagen yang digunakan, sebelum dilakukan pemeriksaan harus

disuhuruangkan terlebih dahulu dan dikocok untuk menhomogenkan. Diperhatikan juga batas kedaluarsa dari reagen yang digunakan. Reagen yang telah kedaluarsa tentu dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan sehingga hasilnya tidak valid. Penetesan sampel dan reagen harus dilakukan secara hati-hati dan saat penetesan anti serum, ujung pipet tidak boleh ditempelkan ke sampel darah, begitu juga sebalikanya. Ini dilakukan untuk menghindarkan kontaminasi.

SIMPULAN Berdasarkan pembahasan di atas, terdapat beberapa hal yang dapat disimpulkan antara lain 1. Sampel darah yang diuji memiliki golongan darah AB Rh + 2. Dalam pemeriksaan golongan darah, harus diperhatikan hal-hal yang dapat

mempengaruhi hasil pemeriksaan.