Anda di halaman 1dari 7

4.

Prosedur Percobaan 1. Ekstraksi Cair-Cair - Corong pisah ukuran 250 ml dalam keadaan bersih disiapkan. Sebelum digunakan dibilas terlebih dahulu menggunakan etanol teknis, dikeringkan - Sebanyak 2 g ekstrak kental ditimbang, dilarutkan dalam 100 ml air - Dimasukkan ke dalam corong pisah (pastikan keran bagian bawah corong pisah dalam keadaan tertutup) - Ditambahkan 100 ml pelarut lain yang tidak bercampur dengan air (misalnya nheksana) - Penutup corong pisah dipasangkan, penutup ditekan dengan telunjuk tangan kanan, jari lain menggenggam badan corong pisah - Corong pisah dikocok dengan kuat - Keran dibuka untuk mengurangi tekanan uap yang terjadi di dalam corong pisah - Setelah beberapa kali pengocokan, corong pisah disimpan dengan tegak pada klem, dibiarkan hingga kedua lapisan terpisah dengan jelas - Lapisan bawah ditampung pada wadah bersih untuk diuapkan - Prosedur no 3-9 dilakukan dengan menggunakan pelarut dengan kepolaran yang berbeda (misalnya: etil asetat) 2. Kromatografi Kolom - Kolom kromatografi disiapkan, dibilas dengan etanol teknis lalu dikeringkan - Dipasang sumbat kapas/glasswool pada bagian bawah kolom - Dipasangkan kolom pada klem secara tegak - Dimasukkan sebagian pelarut ke dalam tabung (hingga kurang lebih 1/3 bagian tabung)

- Dibuat lumpuran penjerap dengan menambahkan sebagian lain pelarut ke dalam penjerap yang akan digunakan (misalnya: silica gel) - Lumpuran penjerap dituangkan ke dalam tabung, sambil dimampatkan (dengan cara diketuk-ketuk di seluruh bagian tabung) - Sebagian pelarut dibuang, dengan membuka keran bagian bawah, hingga batas atas pelarut berada tepat di bagian atas penjerap 3. Pembuatan Eluen - Dibuat seri campuran pelarut seperti berikut, masing-masing sebanyak 20 ml n-heksana 10 6 4 0 0 0 0 Etilasetat 0 4 6 10 6 4 0 Etanol 0 0 0 0 4 6 10

4. Pengembangan (elusi) Kromatogram - Dimasukkan satu persatu isi wadah pelarut tersebut ke dalam kolom secara berkesinambungan. Keran bagian bawah kolom dibuka - Eluat yang keluar ditampung menggunakan botol vial 5 ml, biarkan menguap hingga kering - sambil menunggu pelarut dalam eluat menguap, dipantau kandungan dalam eluat dengan menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) - Fraksi eluat yang mengandung senyawa yang sama, digabungkan dengan pelarutnya diuapkan

5.

Data Pengamatan Hasil Pengamatan 1. Ekstraksi Cair-Cair Terbentuk 2 fasa yaitu n-heksan pada bagian atas dan air pada bagian bawah corong pisah.

2.

Kromatografi Kolom

3.

Pengembangan (Elusi) Kromatogram Pemantauan KLT fraksi 1,4,7,10,13 dengan nilai Rf

Pemantauan KLT fraksi 8 dan 9 dengan nilai Rf

6.

Pembahasan Ekstraksi cair-cair (corong pisah) merupakan pemisahan komponen kimia di antara 2 fase

pelarut yang tidak saling bercampur di mana sebagian komponen larut pada fase pertama dan sebagian larut pada fase kedua, lalu kedua fase yang mengandung zat terdispersi dikocok, lalu didiamkan sampai terjadi pemisahan sempurna dan terbentuk dua lapisan fase cair, dan komponen kimia akan terpisah ke dalam kedua fase tersebut sesuai dengan tingkat kepolarannya dengan perbandingan konsentrasi yang tetap. Pada praktikum ekstraksi cair-cair pemisahan antara n-heksan dan air dengan cara dikocok menggunakan corong pisah. Hasil setelah dipisahkan dengan corong pisah terbentuk 2 fase, menunjukkan air berada pada bagian bawah sedangkan n-heksan berada pada bagian atas corong pisah. Cairan tersebut tidak bercampur dikarenakan sifatnya yaitu like dissolve like, senyawa polar akan larut dengan senyawa polar. Air bersifat polar sedangkan n-heksan bersifat non polar sehingga tidak dapat bercampur. Pada praktikum kromatografi kolom dengan cara basah yang dilakukan menggunakan eluen campuran toluene : etil asetat dengan perbandingan 7 : 3. Tujuan mengkombinasikan pelarut adalah untuk mengisolasi senyawa-senyawa aktif yang terdapat dalam ekstrak kental, baik yang bersifat polar maupun non polar. Adsorben yang digunakan adalah silica gel yang bersifat polar, karena kolom dibuat dengan cara basah maka silica gel dilarutkan terlebih dahulu dengan eluennya hingga menjadi bubur adsorben. Selanjutnya, kolom diisi dengan eluen secukupnya untuk memudahkan dalam memasukkan glasswool ke dasar kolom. Glasswool berfungsi untuk menopang absorben. Silica gel dimasukkan ke dalam kolom secara hati-hati melalui dinding kolom sehingga adsorben jatuh perlahan. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya gelembung udara, karena adanya gelembung udara dapat merusak kolom yang akan mempengaruhi hasil pemisahan. Semakin panjang kolom, maka efisiensi pemisahan akan semakin besar. Ini berarti, kemampuan untuk memisahkan komponen komponen dalam suatu campuran akan lebih baik. Permukaan silika gel terdiri atas gugus Si-O-Si dan silanol (Si-OH). Gugus silanol bersifat sedikit asam dan polar karena mampu membentuk ikatan hidrogen dengan solut-solut yang agak polar sampai sangat polar (Gandjar dkk, 2007). Kolom didiamkan selama 1 hari untuk mendapatkan kolom yang kompak dan dapat menghasilkan pemisahan yang baik. Dilakukan penambahan eluen yang cukup agar kolom tidak kering. Setelah diamati hasil pengamatan dari

kromatografi kolom tidak terbentuk cincin, hal ini dapat dipengaruhi karena adanya rongga udara dalam kolom tersebut, maka cincin tidak akan terbentuk karena terhalang oleh udara yang ada dalam kolom. Pada praktikum pengembangan (elusi) kromatogram didapatkan 13 fraksi pada vial, yang selanjutnya dilakukan pemantauan KLT pada fraksi-fraksi tersebut. Dari hasil pemantauan KLT didapatkan senyawa yang terbentuk bercak yang sesuai dengan senyawa pembanding yaitu fraksi 6 dan 7.

7. -

Kesimpulan Hasil ekstraksi cair-cair dengan corong pisah terbentuk 2 fasa, warna bening dan coklat menunjukkan air berada pada bagian bawah sedangkan n-heksan berada pada bagian atas corong pisah.

Pada praktikum kromatografi kolom dengan cara basah yang dilakukan menggunakan eluen campuran toluene : etil asetat dengan perbandingan 7 : 3 tidak terbentuk cincin, dikarenakan adanya rongga udara dalam kolom tersebut.

Hasil dari pengembangan (elusi) kromatogram didapatkan hasil bercak yang sesuai dengan senyawa pembanding pada pemantauan KLT yaitu fraksi 6 dan 7.

DAFTAR PUSTAKA

Gandjar, I.G. dan A. Rohman. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Pustaka Pelajar : Yogyakarta.