Anda di halaman 1dari 20

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Berat badan merupakan salah satu indicator kesehatan bayi baru lahir.

Rerata berat bayi normal adalah 3200 gram. Secara umum, bayi berat lahir rendah dan berat berlebih, lebih besar risikonya untuk mengalami masalah. Masa gestasi juga merupakan indikasi kesejahteraan bayi baru lahir karena semakin cukup masa gestasi semakin cukup pula kesejahteraan bayi. Konsep bayi berat lahir rendah tidak sinonim dengan prematuritas telah diterima secara luas pada akhir 1960. Tidak semua BBL memiliki berat lahir kurang dari 2500 gram (Kosim, 2012). Dalam beberapa dasawarsa ini perhatian terhadap janin yang mengalami gangguan pertumbuhan dalam kandungan sangat meningkat. Hal ini masih disebabkan tingginya angka kematian perinatal dan neonatal karena masih banyak bayi yang dilahirkan dengan berat badan lahir yang rendah. Kalaupun bayi menjadi dewasa ia akan mengalami gangguan pertumbuhan baik fisik maupun mental (Mochtar, 1998). Di negara maju angka kejadian kelahiran bayi prematur ialah sekitar 6 - 7%. Di negara berkembang angka kematian ini lebih kurang 3 kali lipat. Di Indonesia keadian bayi prematur belum dapat dikemukakan disini, tetapi angka kematian di RSCU jakarta sekitar antara 22-24% dari semua bayi yang dilahirkan pada 1 tahun. Berikut akan dilaporkan sebuah kasus pasien BBLR di ruang Perinatologi RSUD Kanjuruhan Kepanjen.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Definisi Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram tanpa memandang masa gestasi. Berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 (satu) jam setelah lahir (Kosim, 2012). Klasifikasi BBLR dapat digolongkan sebagai berikut : a. Prematuritas murni Adalah masa gestasinya kurang dari 37 minggu dan berat badannya sesuai dengan berat badan untuk masa gestasi itu atau biasa disebut neonatus kurang bulan sesuai untuk masa kehamilan. Kelompok BBLR ini sering mendapatkan penyulit dan komplikasi akibat kurang matangnya organ karena masa gestasi yang kurang. b. Dismaturitas Adalah bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa gestasi itu. Berarti bayi mengalami retardasi pertumbuhan intrauterin dan merupakan bayi yang kecil untuk masa kehamilannya. Hal ini disebabkan oleh terganggunya sirkulasi dan efisiensi plasenta, kurang baiknya keadaan umum ibu atau gizi ibu, atau hambatan pertumbuhan dari bayinya sendiri. Epidemiologi Prevalensi bayi berat lahir rendah (BBLR) diperkirakan 15% dari seluruh kelahiran di dunia dengan batasan 3,3%-38% dan lebih sering terjadi di negara-negara berkembang atau sosio-ekonomi rendah. Secara statistik menunjukkan 90% kejadian BBLR didapatkan di negara berkembang dan angka kematiannya 35 kali lebih tinggi dibanding pada bayi dengan berat lahir lebih dari 2500 gram. BBLR termasuk faktor

utama dalam peningkatan mortalitas, morbiditas dan disabilitas neonatus, bayi dan anak serta memberikan dampak jangka panjang terhadap kehidupannya dimasa depan. Angka kejadian di Indonesia sangat bervariasi antara satu daerah dengan daerah lain, yaitu berkisar antara 9%-30%, hasil studi di 7 daerah multicenter diperoleh angka BBLR dengan rentang 2.1%-17,2 %. Secara nasional berdasarkan analisa lanjut SDKI, angka BBLR sekitar 7,5 %. Angka ini lebih besar dari target BBLR yang ditetapkan pada sasaran program perbaikan gizi menuju Indonesia Sehat 2010 yakni maksimal 7% (Setyowati, 1996. Kosim, 2012). Etiologi Faktor fakor yang dapat menyebabkan terjadinya persalinan preterm (prematur) atau berat badan lahir rendah adalah: 1. Faktor ibu Gizi saat hamil yang kurang Umur kurang dari 20 tahun atau diatas 35 tahun Jarak hamil dan bersalin terlalu dekat Penyakit menahun ibu: Hipertensi, jantung Faktor pekerja yang terlalu berat

2. Faktor kehamilan Hamil dengan hidramnion Hamil ganda Pendarahan antepartun Komplikasi: hamil: pre-eklamsia / eklamsia, KPD

3. Faktor janin Cacat bawaan Infeksi dalam rahim (Manuaba, 1998)

4.Faktor yang masih belum diketahui

Komplikasi Komplikasi langsung yang dapat terjadi pada bayi berat lahir rendah antara lain (Subramanian, 2006) : o Hipotermia o Hipoglikemia o Gangguan cairan dan elektrolit o Hiperbilirubinemia o Sindroma gawat nafas o Paten duktus arteriosus o Infeksi o Perdarahan intraventrikuler o Apnea of Prematurity o Anemia Masalah jangka panjang yang mungkin timbul pada bayi-bayi dengan berat lahir rendah (BBLR) antara lain : o Gangguan perkembangan o Gangguan pertumbuhan o Gangguan penglihatan (Retinopati) o Gangguan pendengaran o Penyakit paru kronis o Kenaikan angka kesakitan dan sering masuk rumah sakit o Kenaikan frekuensi kelainan bawaan Diagnosis Menegakkan diagnosis BBLR adalah dengan mengukur berat lahir bayi dalam jangka waktu kurang lebih dapat diketahui dengan dilakukan anamesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang (Subramanian, 2006). 1). Anamnesis

Riwayat yang perlu ditanyakan pada ibu dalam anamesis untuk menegakkan mencari etiologi dan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya BBLR : o Umur ibu o Riwayat hari pertama haid terakir o Riwayat persalinan sebelumnya o Paritas, jarak kelahiran sebelumnya o Kenaikan berat badan selama hamil o Aktivitas o Penyakit yang diderita selama hamil o Obat-obatan yang diminum selama hamil 2). Pemeriksaan Fisik Yang dapat dijumpai saat pemeriksaan fisik pada bayi BBLR antara lain : o o Berat badan Tanda-tanda prematuritas (pada bayi kurang bulan) o Tulang rawan telinga belum terbentuk. Masih terdapat lanugo. Refleks masih lemah. Alat kelamin luar; perempuan: labium mayus belum menutup labium minus; laki-laki: belum terjadi penurunan testis & kulit testis rata. Tanda bayi cukup bulan atau lebih bulan (bila bayi kecil untuk masa kehamilan). Tidak dijumpai tanda prematuritas. Kulit keriput. Kuku lebih panjang

3). Pemeriksaan penunjang o Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain o Pemeriksaan skor ballard o Tes kocok (shake test), dianjur untuk bayi kurang bulan

o Darah rutin, glukosa darah, kalau perlu dan tersedia fasilitas diperiksa kadar elektrolit dan analisa gas darah. o Foto dada ataupun babygram diperlukan pada bayi baru lahir dengan umur kehamilan kurang bulan dimulai pada umur 8 jam atau didapat/diperkirakan akan terjadi sindrom gawat nafas. o USG kepala terutama pada bayi dengan umur kehamilan kurang lebih

Penatalaksanaan/ terapi 1 Medikamentosa Pemberian vitamin K1 : o Injeksi 1 mg IM sekali pemberian, atau o Per oral 2 mg sekali pemberian atau 1 mg 3 kali pemberian (saat lahir, umur 310 hari, dan umur 4-6 minggu) (Kosim, 2012. ) 2 Diatetik Bayi prematur atau BBLR mempunyai masalah menyusui karena refleks menghisapnya masih lemah. Untuk bayi demikian sebaiknya ASI dikeluarkan dengan pompa atau diperas dan diberikan pada bayi dengan pipa lambung atau pipet. Dengan memegang kepala dan menahan bawah dagu, bayi dapat dilatih untuk menghisap sementara ASI yang telah dikeluarkan yang diberikan dengan pipet atau selang kecil yang menempel pada puting. ASI merupakan pilihan utama : o Apabila bayi mendapat ASI, pastikan bayi menerima jumlah yang cukup dengan cara apapun, perhatikan cara pemberian ASI dan nilai kemampuan bayi menghisap paling kurang sehari sekali. o Apabila bayi sudah tidak mendapatkan cairan IV dan beratnya naik 20 g/hari selama 3 hari berturut-turut, timbang bayi 2 kali seminggu. Pemberian minum bayi berat lahir rendah (BBLR) menurut berat badan lahir dan keadaan bayi adalah sebagai berikut : a. Berat lahir 1750 2500 gram Bayi Sehat

Biarkan bayi menyusu pada ibu semau bayi. Ingat bahwa bayi kecil lebih mudah merasa letih dan malas minum, anjurkan bayi menyusu lebih sering (contoh; setiap 2 jam) bila perlu.

Pantau pemberian minum dan kenaikan berat badan untuk menilai efektifitas menyusui. Apabila bayi kurang dapat menghisap, tambahkan ASI peras dengan menggunakan salah satu alternatif cara pemberian minum.

Bayi Sakit o o Apabila bayi dapat minum per oral dan tidak memerlukan cairan IV, berikan minum seperti pada bayi sehat. Apabila bayi memerlukan cairan intravena: Berikan cairan intravena hanya selama 24 jam pertama Mulai berikan minum per oral pada hari ke-2 atau segera setelah bayi stabil. Anjurkan pemberian ASI apabila ibu ada dan bayi menunjukkan tanda-tanda siap untuk menyusu. Apabila masalah sakitnya menghalangi proses menyusui (contoh; gangguan nafas, kejang), berikan ASI peras melalui pipa lambung : Berikan cairan IV dan ASI menurut umur Berikan minum 8 kali dalam 24 jam (contoh; 3 jam sekali). Apabila bayi telah mendapat minum 160 ml/kgBB per hari tetapi masih tampak lapar berikan tambahan ASI setiap kali minum. Biarkan bayi menyusu apabila keadaan bayi sudah stabil dan bayi menunjukkan keinginan untuk menyusu dan dapat menyusu tanpa terbatuk atau tersedak. b. Berat lahir 1500-1749 gram Bayi Sehat o Berikan ASI peras dengan cangkir/sendok. Bila jumlah yang dibutuhkan tidak dapat diberikan menggunakan cangkir/sendok atau ada resiko terjadi

aspirasi ke dalam paru (batuk atau tersedak), berikan minum dengan pipa lambung. Lanjutkan dengan pemberian menggunakan cangkir/ sendok apabila bayi dapat menelan tanpa batuk atau tersedak (ini dapat berlangsung setela 1-2 hari namun ada kalanya memakan waktu lebih dari 1 minggu) o Berikan minum 8 kali dalam 24 jam (misal setiap 3 jam). Apabila bayi telah mendapatkan minum 160/kgBB per hari tetapi masih tampak lapar, beri tambahan ASI setiap kali minum. o Apabila bayi telah mendapatkan minum baik menggunakan cangkir/ sendok, coba untuk menyusui langsung. Bayi Sakit o o o Berikan cairan intravena hanya selama 24 jam pertama Beri ASI peras dengan pipa lambung mulai hari ke-2 dan kurangi jumlah cairan IV secara perlahan. Berikan minum 8 kali dalam 24 jam (contoh; tiap 3 jam). Apabila bayi telah mendapatkan minum 160/kgBB per hari tetapi masih tampak lapar, beri tambahan ASI setiap kali minum. o Lanjutkan pemberian minum menggunakan cangkir/ sendok apabila kondisi bayi sudah stabil dan bayi dapat menelan tanpa batuk atau tersedak o Apabila bayi telah mendapatkan minum baik menggunakan cangkir/ sendok, coba untuk menyusui langsung. c. Berat lahir 1250-1499 gram Bayi Sehat o Beri ASI peras melalui pipa lambung o Beri minum 8 kali dalam 24 jam (contoh; setiap 3 jam). Apabila bayi telah mendapatkan minum 160 ml/kgBB per hari tetapi masih tampak lapar, beri tambahan ASI setiap kali minum o Lanjutkan pemberian minum menggunakan cangkir/ sendok. o Apabila bayi telah mendapatkan minum baik menggunakan cangkir/ sendok, coba untuk menyusui langsung.

Bayi Sakit o o o Beri cairan intravena hanya selama 24 jam pertama. Beri ASI peras melalui pipa lambung mulai hari ke-2 dan kurangi jumlah cairan intravena secara perlahan. Beri minum 8 kali dalam 24 jam (setiap 3 jam). Apabila bayi telah mendapatkan minum 160 ml/kgBB per hari tetapi masih tampak lapar, beri tambahan ASI setiap kali minum o o Lanjutkan pemberian minum menggunakan cangkir/ sendok. Apabila bayi telah mendapatkan minum baik menggunakan cangkir/ sendok, coba untuk menyusui langsung. d. Berat lahir < 1250 gram (tidak tergantung kondisi) o Berikan cairan intravena hanya selama 48 jam pertama o Berikan ASI melalui pipa lambung mulai pada hari ke-3 dan kurangi pemberian cairan intravena secara perlahan. o Berikan minum 12 kali dalam 24 jam (setiap 2 jam). Apabila bayi telah mendapatkan minum 160 ml/kgBB per hari tetapi masih tampak lapar, beri tambahan ASI setiap kali minum o Lanjutkan pemberian minum menggunakan cangkir/ sendok. o Apabila bayi telah mendapatkan minum baik menggunakan cangkir/ sendok, coba untuk menyusui langsung. Tanda kecukupan pemberian ASI: o BAK minimal 6 kali/ 24 jam. o Bayi tidur lelap setelah pemberian ASI. o BB naik pd 7 hari pertama sbyk 20 gram/ hari o Cek saat menyusui, apabila satu payudara dihisap ASI akan menetes dari payudara yg lain. (Suradi, 2006)

Suportif Hal utama yang perlu dilakukan adalah mempertahankan suhu tubuh normal: o Gunakan salah satu cara menghangatkan dan mempertahankan suhu tubuh bayi, seperti kontak kulit ke kulit, kangaroo mother care, pemancar panas, inkubator atau ruangan hangat yang tersedia di tempat fasilitas kesehatan setempat sesuai petunjuk. o Jangan memandikan atau menyentuh bayi dengan tangan dingin o Ukur suhu tubuh dengan berkala o Yang juga harus diperhatikan untuk penatalaksanaan suportif ini adalah : o Jaga dan pantau patensi jalan nafas o Pantau kecukupan nutrisi, cairan dan elektrolit o Bila terjadi penyulit, harus dikoreksi dengan segera (contoh; hipotermia, kejang, gangguan nafas, hiperbilirubinemia) o Berikan dukungan emosional pada ibu dan anggota keluarga lainnya o Anjurkan ibu untuk tetap bersama bayi. Bila tidak memungkinkan, biarkan ibu berkunjung setiap saat dan siapkan kamar untuk menyusui. Pemantauan (Monitoring) 1). Pemantauan saat dirawat a. Terapi o Bila diperlukan terapi untuk penyulit tetap diberikan o Preparat besi sebagai suplemen mulai diberikan pada usia 2 minggu b. Tumbuh kembang o Pantau berat badan bayi secara periodik o Bayi akan kehilangan berat badan selama 7-10 hari pertama (sampai 10% untuk bayi dengan berat lahir 1500 gram dan 15% untuk bayi dengan berat lahir <1500> o Bila bayi sudah mendapatkan ASI secara penuh (pada semua kategori berat lahir) dan telah berusia lebih dari 7 hari : Tingkatkan jumlah ASI denga 20 ml/kg/hari sampai tercapai jumlah 180 ml/kg/hari

10

Tingkatkan jumlah ASI sesuai dengan peningkatan berat badan bayi agar jumlah pemberian ASI tetap 180 ml/kg/hari Apabila kenaikan berat badan tidak adekuat, tingkatkan jumlah pemberian ASI hingga 200 ml/kg/hari Ukur berat badan setiap hari, panjang badan dan lingkar kepala setiap minggu.

Indikasi bayi BBLR pulang: o Suhu bayi stabil. o Toleransi minum oral baik terutama ASI. o Ibu sanggup merawat BBLR di rumah

2). Pemantauan setelah pulang Diperlukan pemantauan setelah pulang untuk mengetahui perkembangan bayi dan mencegah/ mengurangi kemungkinan untuk terjadinya komplikasi setelah pulang sebagai berikut : o Sesudah pulang hari ke-2, ke-10, ke-20, ke-30, dilanjutkan setiap bulan. o Hitung umur koreksi. o Pertumbuhan; berat badan, panjang badan dan lingkar kepala. o Tes perkembangan, Denver development screening test (DDST). o Awasi adanya kelainan bawaan. Prognosis BBLR Kematian perinatal pada bayi BBLR 8 kali lebih besar dari bayi normal. Prognosis akan lebih buruk bila BB makin rendah, angka kematian sering disebabkan karena komplikasi neonatal seperti asfiksia, aspirasi, pneumonia, perdarahan intrakranial, hipoglikemia. Bila hidup akan dijumpai kerusakan saraf, gangguan bicara, IQ rendah (Behrman, 2004).

11

Pencegahan Pada kasus bayi berat lahir rendah (BBLR) pencegahan/ preventif adalah langkah yang penting. Hal-hal yang dapat dilakukan (Mochtar, 1998; Prawirohardjo, 2002): o Meningkatkan pemeriksaan kehamilan secara berkala minimal 4 kali selama kurun kehamilan dan dimulai sejak umur kehamilan muda. Ibu hamil yang diduga berisiko, terutama faktor risiko yang mengarah melahirkan bayi BBLR harus cepat dilaporkan, dipantau dan dirujuk pada institusi pelayanan kesehatan yang lebih mampu o Penyuluhan kesehatan tentang pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim, tanda tanda bahaya selama kehamilan dan perawatan diri selama kehamilan agar mereka dapat menjaga kesehatannya dan janin yang dikandung dengan baik o Hendaknya ibu dapat merencanakan persalinannya pada kurun umur reproduksi sehat (20-34 tahun) o Perlu dukungan sektor lain yang terkait untuk turut berperan dalam meningkatkan pendidikan ibu dan status ekonomi keluarga agar mereka dapat meningkatkan akses terhadap pemanfaatan pelayanan antenatal dan status gizi ibu selama hamil.

12

BAB III STATUS PASIEN I. Identitas Pasien Nama Jenis Kelamin Umur BBL AS Tanggal Lahir II. Keluhan Utama : Lahir dengan sesak nafas. III. Riwayat Penyakit Sekarang : Bayi lahir di bidan dengan keluhan lahir tanpa menangis dan belum cukup bulan, kemudian bayi di rujuk ke RSUD Kanjuruhan. Bayi masuk UGD menggunakan O2 dengan tangis merintih, napas tidak adekuat, tampak retraksi dinding dada, terlihat : Bayi A : laki-laki : 1 hari : 1450 gram : 2-5-7 : 17 Februari 2013

13

biru pada bibir, ekstremitas tampak memar. Setelah di suction, terdapat cairan ketuban yang keluar. Bayi dilahirkan spontan dengan letak sungsang. Sebelum 12 jam setelah ketuban pecah, timbul kontraksi adekuat hingga timbulnya persalinan. IV. Riwayat Kehamilan Ibu : Ibu bayi mengaku ini adalah kehamilannya yang pertama. Ibu bayi biasa ANC di puskesmas yang diperiksa oleh bidan 5 kali. Ibu bayi mengaku usia kehamilannya 7 bulan. sebelum melahirkan, ibu mengalami riwayat keluar air merembes, keruh, dan tidak bau, disertai dengan perut yang mules. Selama hamil, ibu bayi tidak pernah sakit atau pun minum obat-obatan. Riwayat oyok 2 kali.

V. Riwayat Persalinan : Bayi lahir spontan letak sungsang dengan indikasi ketuban pecah dini, BBL 1450 gram. Apgar skor 2 - 5 - 7. tangis (-), sianosis (+). VI. Pemeriksaan Fisik Keadaan Umum Ballard score : lemah : 15 (30 minggu)

1. Tanda Tanda Vital : Suhu HR Respirasi : 36,4 oC : 150 x/menit : 58 x/menit

Tekanan Darah : Tidak dievaluasi

2. Menilai Pertumbuhan : Berat Badan Panjang Badan Lingkar Kepala : 1450 gram : 39 cm : 28 cm

3. Penilaian Umum : Aktivitas : menurun

14

Warna Kulit

: kemerahan

Cacat Bawaan Yang Tampak : (-) : simetris, lonjong, anemis (-), Ikterik (-), caput sucendaneum (-), dan cephal hematom (-), Reflek Hisap (-), pembesaran kel. Tiroid (-), leher pendek (-).

4. Kepala Bentuk kepala

5. Thoraks Inspeksi Palpasi Perkusi : dinding dada simetris, retraksi dinding dada (+) subcostal. : gerakan dinding dada simetris : sonor dikedua lapang paru

Auskultasi : vesikuler +/+, rh -/-, wh -/Penilaian pernapasan : napas teratur (+), tachypnea (-), stridor (-), tarikan dinding dada (+/+) subcostal, sianosis (+). 6. Jantung S1S2 tunggal regular, mur mur (-), gallop (-). 7. Abdomen Inspeksi Palpasi Perkusi 8. umbilicus Umbilikus bersih, warna kuning kehijauan (-), edema (-), kemerahan (-) pada pangkal umbilicus. 9. Genitalia Normal. Hipospadia (-), epispadia (-), hidrokel (-), rugae testis (+) halus. 10. Anus dan rektum Anus (+), mekoninum (-) 24 jam pertama. 11. Ekstremitas Normal. Syndactyli (-), polidactyli (-), talipes equinovarus (-/-), hematom (+/+) : distensi (-), organomegali (-), kelainan congenital (-) : massa (-), supel (+), hepar-lien tidak teraba. : timpani (+) diseluruh lapang abdomen Auskultasi : bising usus Normal

15

VIII. Diagnosis Kerja BBLKB/BBLR/SMK Sepsis Neonatal IX. Planning Diagnosa DL, Diff. Count , GDA, Serum elektrolit X. Rencana Terapi IVFD D10% Ampicillin inj Vit K 6 tts/menit (mikro) 2 x 75 mg 1x1 mg

Gentamicin eye drop ODS Puasa Rawat umbilikus Termoregulasi

XI. Planning Monitoring Vital sign Intake (puasa) BAK/BAB BB/hari

FOLLOW UP Hari/ tgl I 17/2/2013 S O A Minum (-) RR: 52 BBLR/BBLKB/SMK x/m Sesak (+) + sepsis neonatal 140 BAB (+) N: x/m meko S : 36,4 Retraksi (+) subcostal. P O2 2 l/m. D10% 6 tts/m Ampicilin Sulb 2x75mg. Vit K 1x1mg Gentamycine

16

II 18/2/2013

III 19/2/2013

IV 20/2/2013

V 21/2/1013

ED ODS Sianosis PUASA (-) BB: 1450 g RR: 58 x/m BBLKB/BBLR/SMK O2 CPAP Minum (-) N: 140 x/m + sepsis neonatal + Sesak (+) D10% 6 S : 34,8 HMD tts/m. BAB (+) Retraksi (+) Ampicilin meko subcostal Sulb BB: 1400 g 2x75mg Aminofilin 8mg PUASA Naikkan suhu 1 Minum (-) RR: 52 x/m. BBLKB/BBLR/SMK O2 CPAP N: 140 x/m. + sepsis neonatal + Aktifitas D10% 6 Retraksi (+) HMD (+) kurang tts/m. BB: 1400 g. Menangis Ampicilin (+) tidak Sulb keras 2x75mg BAB (+) Aminofilin meko + 3X3mg kuning PUASA Minum (-) RR: 52 x/m. BBLKB/BBLR/SMK O2 CPAP BAB (+) N: 150 x/m. + sepsis neonatal + CN10% 6 Retraksi (+) meko + tts/m. BB: 1400 g HMD kuning Ampicilin Sulb 2x75mg Aminofilin 3X3mg ASI/BBLR 8x1cc Minum (+) RR: 52 x/m. BBLKB/BBLR/SMK O2 CPAP Muntah (-) N: 160 x/m. + sepsis neonatal + CN10% 6 Retraksi (+) tts/m. BAB (+) BB: 1400 g HMD Ampicilin kuning Sulb 2x75mg Aminofilin 3X3mg ASI/BBLR 8x2cc

17

VI 22/2/2013

Minum (+) Muntah (-) BAB (+) kuning

RR: 56 x/m. N: 150 x/m. Bising jantung (+) Retraksi (+) BB: 1400 g

BBLKB/BBLR/SMK O2 CPAP + sepsis neonatal + CN10% 8 tts/m. HMD Ampicilin Sulb 2x75mg Genta 1x8 mg/16jam Aminofilin 3X3mg ASI/BBLR 8x2cc

BAB IV PENUTUP

Kesimpulan Dapat disimpulkan bahwa asuhan bayi baru lahir hendakya langsung dilakukan pemeriksaan fisik yang meliputi kesehatan bayi, pernafasan, warna kulit dan tangisan bayi juga dilakukan pemeriksaan berat badan, panjang badan dan antropometri baru setelah bayi diketahui dalam keadaan abnormal atau bayi dengan berat badan lahir rendah bayi langsung ditempatkan pada inkubator tindakan ini dilakukan untuk mencegah supaya bayi tidak terjadi hipertermi sehingga suhu bayi stabil. Mengingat banyaknya komplikasi yang diakibatkan BBLR maka perlu kesigapan dalam penanganan tindakan dan observasi yang cermat. Pengetahuan tentang menjaga pola hidup selama masa kehamilan bagi ibu sangatlah penting untuk menghindari terjadinya persalinan yang tidak diinginkan.

18

DAFTAR PUSTAKA Azis, Abdul Latief. 2006. Pedoman Diagnosis dan Terapi Bagian/SMF Kesehatan Anak, edisi III. RSU Dokter Sutomo. Surabaya Behrman, RE, Kliegman RM. The Fetus and the Neonatal Infant, In : Nelson Textbook of pediatrics; 17 th ed. California: Saunders. 2004; 550-8. Kosim, Sholeh. 2012. Buku Ajar Neonatologi, edisi pertama. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta Manuaba ,IBG. 1998. Ilmu Kebid anan,Penyakit kandungan,dan KB untuk pendidikan Bidan ,Jakarta ,EGC Mochtar ,rustam.1998.Sinopsis Obstetri.Jakarta .EGC Poesponegoro, Hardiono, dr. Sp.A(K). 2005. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta. Prawiroharjo, sarwono. 2002. Buku Acuan Nasional .Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Jakarta ,Balai Pustaka Sarwono Prawiroharjo

19

Setyowati T. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Bayi Lahir dengan Berat Badan Rendah (Analisa data SDKI 1994). Badan Litbang Kesehatan, 1996. Avaliable from : http://www.digilib.litbang.depkes.go.id [diakses tanggal 15 Maret 2013] Subramanian KS. Low Birth Weight Infant. Avaliable from : http://www.eMedicine.com. Last Update : September 25, 2006. [diakses pada tanggal Maret 2013] Suradi R. Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Melihat situasi dan kondisi bayi. Avaliable from : http://www.IDAI.or.id. Last Update : 2006. [diakses pada tanggal 16 Maret 2013]

20