Anda di halaman 1dari 7

Runi Imanush Shofi (4266)

MEDIA STRUCTURE AND PERFORMANCE: PRINCIPLE AND ACCOUNTABILITY1

Bab ini menjelaskan standard dan kriteria dalam kualitas operasional media massa. Termasuk di dalamnya system sosial di lingkungan luar media dan public interest. Mc.Quaill membedakan menjadi 3 tahap, yaitu structure, conduct dan performance. Structure merujuk pada semua hal yang berkaitan dengan system media, termasuk keorganisasian-keuangan, kepemilikan, regulasi, infrasruktur, distribusi fasilitas, dll. Conduct merujuk pada cara pengoperasian pada level organisasi, termasuk metode pemilihan dan produksi pesan, keputusan editorial, kebijakan pasar, hubungan dengan agensi lain, prosedur akuntabilitas, dll. Performance merujuk pada isi pesan yang disampaikan pada audiens.

Selanjutnya pembahasan pada bab ini lebih mengarah kepada Structure dan Performance media. Di dalamnya akan dibahas perihal freedom, equality, diversity, truth and information quality, and Social order and solidarity. MEDIA FREEDOM AS A PRINCIPLE Kebebasan berekspresi tidak lah sama dengan kebebasan pers. Kebebasan berekspresi lebih mengarah kepada substansi atau isi komunikasi (opini, ide, informasi, seni, dll). Sedangkan kebebasan pers lebih kepada struktur yang membangun publikasi pers, dalam regulasi yang dilindungi hukum. Berikut adalah kuentungan yang didapat public dari kebebasan pers 1. Pengawasan public yang independent dan sistematis (watchdog) 2. Stimulasi terhadap system demokrasi dan kehidupan sosial. 3. Kesempatan untuk mengekspresikan ide 4. Perubahan sosial 5. Meningkatkan variasi pilihan kebebasan
1

Mc.Quail, Dennis. Mass Communication Theory.

FREEDOM at the Level of STRUCTURE Kebebasan komunikasi mempunyai dualitas aspek, yaitu: penawaran terhadap keterbukaan suara dan respon atas keterbukaan tersebut. Berikut adalah kondisi struktural untuk kebebasan media yang efektif: Sensor Hak untuk berbicara yang sama rata Independen dari control, interfensi pemilik dan kepentingan ekonomi-politik Sistem yang kompetitif, kepemilikan silang yang dibatasi Kebebasan media baru dalam mendapatkan informasi dari sumber relevan

Namun, kebebasan media pada level struktur tak lepas dari problem. Problem-problem tersebut adalah: 1. Kebebasan publik dikontrol oleh pemangku kepentingan tertinggi di kehidupan sosial 2. Terdapat potensi konflik antara pemilik media dengan pengakses media yang tidak punya kekuasaan 3. Pemangku kebijakan pada level Negara dikuasai oleh pemilik media 4. Tidak ada keseimbangan antara pesan komunikator dan yang audiens ingin dengar. 5. Keberadaan penyiaran public diperlukan sebagai penyeimbang FREEDOM at the level of PERFORMANCE Sistem media yang bebas mempunyai karakteristik inovatif dan independen. Berikut bagan yang dapat menjelaskan kebebasan media pada level struktur dan performa. FREEDOM PRINCIPLE Structural condition: INDEPENDENCE OF ACCESS TO CHANNELS CHANNELS Leading to performance values of: RELIABILITY; CRITICAL STANCE; ORIGINALITY DIVERSITY OF CONTENS CHOICE; RELEVANCE CHANGE;

MEDIA EQUALITY AS A PRINCIPLE Equality at the level of structure Kesamarataan pada level struktur merujuk pada kebijakan menyeluruh tentang penyiaran dan telekomunikasi. Kebijakan pasar yang harus bebas, adil, dan transparan. Equality at the level of performance Kesamarataan pada level performa merujuk pada tidak adanya bias atau diskriminasi akses kepada pengirim dan penerima pesan. Berikut gambar yang menunjukkan relasi ekualitas struktur dan performa.
Equality

Access

Diversity

Objectivity

Open/equal

Proporsional Change

Reach

Fairness Truth

Neutrality

MEDIA DIVERSITY AS A PRINCIPLE Keberagaman dalam hal ini media masa, harus menyajikan isi pesan yang beragam kepada audiens. Berikut adalah harapan public terkait keberagaman isi pesan media Membuka akses terhadap kehidupan dan perubahan sosial Mengontrol isu kebebasan pers Melindungi minoritas Mengurangi konflik sosial dengan pemberitaan dua arah Memperkaya khasanah kehidupan sosial Free marketplace of idea

DIVERSITY at the level of structure Media harus menyajikan pesan yang beragam dan merefleksikan keragaman geografis (nasional, regional, lokal) dan struktur sosial (bahasa, etnis, identitas budaya, kebijakan, agama). DIVERSITY at the level of performance Keberagaman isi media meliputi: genre, taste, gaya atau format budaya dan entertainment, news dan liputan informatif, pandangan politik, dll.

TRUTH AND INFORMATION QUALITY Kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran isi dan topik media. Termasuk di dalamnya adalah mendapatkan informasi dari sumber yang dapat dipercaya. The objectivity concept Konsep objektivitas merujuk kepada keadilan dan tidak adanya diskriminasi perilaku terhadap sumber dan objek pemberitaan. Salah satu penelitian yang kerap dijadikan rujukan adalah sistem penyiaran di Swedia (Westerstahl; 1983). Objektivitas berkaitan dengan value pemberitaan. Meliputi factuality (truth and relevance) dan impartiality (balance and neutrality). Berikut bagan yang dapat menjelaskan keduanya.
Objectivity

Factuality

Impartiality

Truth

Relevance

Balance

Neutrality

Informativeness

Limits of Objectivity Batasan objektivitas sulit untuk diukur. Mengingat sulitnya membedakan antara fakta dan opini serta verifikasi dan interpretasi.

SOCIAL ORDER AND SOLIDARITY Kriteria normative media massa erat kaitannya dengan integrasi dan harmony lingkungan, dilihat dari perspektif yang berlawanan. Tatanan sosial pada struktur media massa diaplikasikan secara elastis. Meliputi cultural system seperti agama, seni dan adat istiadat. Berikut bagan yang dapat menjelaskan. Perspective From above Social Domain Cultural Control/ Complianes Conformity/ hierarchy From below Solidarity/ Attachment Autonomy/ identity

Expectation and norms relating to order Media massa selayaknya menyediakan akses yang relevan bagi kelompok minoritas yang marginal.

CULTURAL ORDER Domain cultural tidak bisa dipisahkan dengan domain social. Teori normative media berkaitan dengan kualitas konten media dan otentitas penghargaan terhadap real-life experience. Media masa juga harus menempatkan kultur dominan dan kultur alternative seperti subkultur pada tempat yang sama. Cultural quality norms Berikut adalah prinsip yang dianut oleh media masa: Konten media harus merefleksikan bahasa dan budaya serta way of life pada level nasional, regional maupun local Mengedepankan peran edukatif

Media harus mendorong originalitas dan kreatifitas produksi dan budaya, dengan syarat diversitas, merefleksikan permintaan audiens, termasuk popular culture dan hiburan.

THE MEANING OF ACCOUNTABILITY Isu akuntabilitas media masa selalu dipertukarkan dengan isu pertanggungjawaban media. Akuntabilitas media menjadi sulit diterjemahkan manakala ia berhadapan dengan aspek demokratisasi, hak publik, peraturan hukum yang berlaku di suatu negara, kode etik profesional, serta kepentingan pasar. Kepada siapa media masa harus bertanggungjawab? Model alternative Akuntabilitas: 1. Lines and Relation of Accountability Akuntabilitas media menunjukkan relasi antara media dengan aspek internal maupun eksternal media massa. Berikut gambar yang dapat menjelaskan. Public Opinion Owners Clients Social Institution

Source
MEDIA

Audiens

Regulators Pressure and interest group Referents 2. Frame of Accountability

Frame of law and regulation


Keberadaan perusahaan media diatur oleh produk hukum yang berlaku di suatu negara. Adanya kepastian hukum inilah yang menjadikan media bisa menjalankan fungsinya dengan baik dan memudahkan media ketika menghadapi gugatan dari pihak-pihak tertentu yang merasa tidak puas atau dirugikan oleh pemberitaan media bersangkutan.

The market frame


Pendekatan dengan kerangka pasar secara tegas menjelaskan bahwa media bekerja atas dasar hukum permintaan dan persediaan. Apa yang diminta oleh pasar atau publik, maka itulah yang sebaiknya disajikan oleh media.

The frame of public responsibility


Upaya mengukur akuntabilitas media dengan kerangka pertanggungjawaban publik bisa dimulai dari pemahaman apa fungsi media terhadap publik. Sabagai intitusi sosial, media harus mampu menjaga hubungan langsung dengan publik.

The frame of professional responsibility


Dalam kerangka tanggung jawab profesional, media berkewajiban melaksanakan tugasnya sesuai standards of good performance dan code of conducts serta code of ethics. Standar kinerja, standar prilaku dan standar etika ini biasanya ditetapkan oleh mereka sendiri, di dalam isntitusinya masing-masing, dan bisa pula berasal dari pihakpihak lain seperti peraturan perundang-undangan, pemerintah dan institusi publik lain.