Anda di halaman 1dari 6

BAB I Anamnesis

Informasi yang perlu diperoleh: 1. Data Statistik - Nama - Jenis kelamin - Umur - Alamat - Status perkawinan - Pekerjaan - Agama - Suku bangsa 2. Keluhan Utama: - Waktu/lamanya - Perlangsungannya - Lokalisasi dan penyebarannya - Sifat dan hebatnya - Hubungan dengan waktu tertentu - Keluhan yang menyertai - Hal yang memperburuk/memperingan - Pernah minum obat sebelumnya - Perkembangan 3. Riwayat Penyakit Terdahulu: Terutama yg mungkin ada hubungannya dengan keadaan sekarang. 4. Riwayat Penyakit dalam Keluarga 5. Riwayat Sosial (mis: pergaulan, pekerjaan) 6. Kebiasaan/Gizi (ex. kebiasaan makan berlemak, rokok, alkohol, dll)

BAB II Kesadaran
Tingkat kesadaran (kualitatif) terbagi atas: - Normal (compos mentis) - Delirium Penurunan kesadaran disertai peningkatan yg abnormal dari aktivitas psikomotor dan siklus tidur-bangun yang terganggu. Tampak pasien gaduh gelisah, kacau, disorientasi, berteriak-teriak, meronta-ronta. Penyebabnya: gangguan metabolic toksik, penghentian minum alcohol/obat-obatan, dsb. - Somnolen Keadaan mengantuk, kesadaran dapat pulih penuh bila dirangsang, mampu mem-beri jawaban verbal, dan menangkis rangsang nyeri. Somnolen disebut juga sbg letargi, obtundasi. - Sopor (Stupor) Kantuk yang dalam. Penderita masih dapat dibangunkan dengan rangsang yang kuat, namun kesadarannya segera menurun lagi. Masih dapat mengikuti perintah singkat, masih ada gerakan spontan, dengan rangsang nyeri tidak dapat dibangunkan sempurna, gerak motorik untuk menangkis rangsang nyeri masih baik. - Koma-Ringan (Semi Koma) Tidak ada respon terhadap rangsang verbal. Refleks kornea dan pupil masih baik. Gerakan terutama timbul sebagai respon terhadap rangsang nyeri. - Koma-Dalam (Komplit) Tidak ada gerakan spontan, tidak ada jawaban sama sekali terhadap rangsang nyeri. Tingkat Kesadaran (Kuantitas) dinilai dgn GCS Terdiri atas respon: 1. Membuka Mata / Eye (E); nilai normal = 4 2. Bicara / Verbal (V); nilai normal = 5 3. Gerakan / Motorik (M); nilai normal = 6

Glasgow Coma Scale (GCS) RESPON Respon Membuka Mata / Eye (E) Spontan Terhadap perintah Dgn rngsng nyeri (tekan kuku/supra orbita) Tdk ada reaksi (biar dirangsang nyeri) Respon Bicara / Verbal (V) Baik dan tidak ada disorientasi Kacau (confused) dapat bicara kalimat namun disorientasi waktu dan tempat Tidak tepat mengucapkan kata-kata dan tidak beraturan Mengerang Tidak ada jawaban Respon Gerakan / Motorik (M) Menurut perintah (ex.suruh angkat tangan) Mengetahui lokasi nyeri Reaksi menghindar Reaksi fleksi (dekortikasi) Reaksi ekstensi Tidak ada reaksi sama sekali (pastikan dengan rangsangan yang adekuat) 1. 2. 3. 4. 5. Interpretasi GCS = E4M6V5 (15) : compos mentis GCS 7 : koma GCS = E1M1V1 (3) : koma dalam GCS = E4M6V- : Afasia motorik GCS = E4M1V1 : coma vigil

NILAI 4 3 2 1 5 4 3 2 1 6 5 4 3 2 1

BAB III Rangsang Selaput Otak


Rangsang meningeal positif (+) bila terdapat radang selaput otak (ex. meningitis), benda asing di rongga subarachnoid (ex. darah, seperti pada perdarahan subarachnoid) Terdiri atas 1. Kaku kuduk 2. Tanda lasegue / tes lasegue 3. Kernig sign 4. Brudzinski (I, II, III, IV) Berikut akan dibahas secara ringkas mengenai teknik pemeriksaan rangsang selaput otak. 1. Kaku Kuduk - Caranya: Tangan pemeriksa ditempatkan di bawah kepala pasien yang sedang baring. Kepala ditekuk (fleksi), usahakan agar dagu menyentuh dada. - Interpretasi: kaku kuduk (+) bila terasa ada tahanan dan dagu tidak dapat mencapai dada. - Kaku Kuduk (+) dijumpai pada meningitis, miositis otot kuduk, abses retrofaringeal, arthritis di servikal. 2. Tes Lasegue - Caranya: Pasien yang sedang baring diluruskan (ekstensi) kedua tungkainya. Kemudian satu tungkai diangkat lurus. Tungkai satunya lagi dalam keadaan lurus (tidak bergerak)

Tes Lasegue

- Interpretasi: Tanda lasegue (+) bila sakit / tahanan timbul pada sudut < 70 (dewasa) dan < 60 (lansia) - Tanda Lasegue (+) dijumpai pada meningitis, isialgia, iritasi pleksus lumbosakral (ex.HNP lumbosakralis) 3. Tanda Kernig/Kernig Sign - Caranya: Penderita baring, salah satu pahanya difleksikan sampai membuat sudut 90. Lalu tungkai bawah diekstensikan pada persendian lutut. Biasanya ekstensi dilakukan sampai membentuk sudut 135

Tes Kernig - Interpretasi: Tanda Kernig Sign (KS) (+) bila terdapat tahanan dan rasa nyeri sebelum mencaai sudut 135 - Kernig Sign (+) dijumpai pada penyakit penyakit seperti yang terdapat pada tanda lasegue (+) 4. Brudzinski (I, II, III, IV) Brudzinski I (Brudzinskis Neck Sign) - Caranya: Tangan ditempatkan di bawah kepala yang sedang baring. Kita tekuk kepala (fleksi) sampai dagu mencapai dada. Tangan yang satu lagi sebaiknya ditempatkan di dada pasien untuk mencegah diangkatnya badan.

Tes Brudzinski I - Interpretasi: Tanda brudzinski I (+) bila terdapat fleksi pada kedua tungkai

Brudzinski II (Brudzinskis Contra-Lateral Leg Sign) - Caranya: Pada pasien yang sedang baring, satu tungkai di fleksikan pada persendian panggul, sedang tungkai yang satunya lagi berada dalam keadaan ekstensi (lurus).

Tes Brudzinski II - Interpretasi: Tanda Brudzinski II (+) bila tungkai yang satunya ikut pula terfleksi. Brudzinski III - Caranya: Tekan os zigomaticum - Interpretasi: Tanda Brudzinski III (+) bila terjadi fleksi involunter ekstremitas superior (lengan tangan fleksi) Brudzinski IV - Caranya: Tekan simfisis ossis pubis (SOP) - Interpretasi: Tanda Brudzinski IV (+) bila terjadi fleksi involunter ekstremitas inferior (kaki) Catatan: Untuk pembahasan Bab IV sampai Bab VIII, silahkan lanjutkan pada "Pemeriksaan Klinis Neurologi 2" , "Pemeriksaan Klinis Neurologi 3", "Pemeriksaan Klinis Neurologi 4", dan "Pemeriksaan Klinis Neurologi 5"