Anda di halaman 1dari 17

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

UNIT PENYAKIT DALAM


Nama : Tn S Jenis kelamin : laki-laki

NO.RM : --

ANAMNESIS

Umur : 38 tahun Bangsal : Edelweis

IDENTITAS Nama Umur Jenis Kelamin Alamat Agama MRS Tanggal

: Tn. S : 38 tahun : laki-laki : Purworejo : Islam : 7 Desember 2010

ANAMNESA (Auto Anamnesa) Penderita dirawat di bagian penyakit dalam RSSH karena sukar membuka mulut disertai kaku badan, leher dan kejang-kejang seluruh tubuh yang terjadi secara perlahan-lahan. 7 hari sebelum masuk rumah sakit penderita mengeluh sulit membuka mulut, (hanya bisa masuk 1 jari tangan), selain itu disertai kaku pada leher dan perut serta punggung keras seperti papan. Penderita mengeluh demam, sakit kepala tidak ada. Penderita mengeluh mengalami kejang di seluruh tubuh bila mendengar suara gaduh, terutama yang mengejutkan. Penderita juga mengaku bagian tubuh yang kaku terasa pegal. Penderita sebelumnya tidak pernah digigit oleh anjing, kucing atau kera. Riwayat luka (+) seminggu sebelum masuk rumah sakit. Sela antara jari kelingking dan jari manis kaki kiri penderita tertusuk kayu sedalam 1,5 cm, penderita kemudian mengobati luka tersebut dengan memberinya betadine dan luka tidak ditutup. Riwayat hipertensi (-), riwayat kencing manis (-). Penyakit seperti ini diderita untuk pertama kalinya.

PEMERIKSAAN FISIK STATUS PRAESENS Status Internus Kesadaran : GCS = 13 (E4M6V5) Gizi : cukup Suhu Badan : 38,5 C Tekanan Darah : 160/100 mmHg Nadi : 104 x/m Pernapasan : 36 x/m Berat Badan : tidak diukur Tinggi Badan : tidak diukur

RM.01.

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

UNIT PENYAKIT DALAM


Jantung : HR : 104 x/m,Murmur (-),gallop(-) Paru-paru: vesikuler(+/+) n, ronkhi(-/-),wheezing (-/-) Hepar : tidak teraba Lien : tidak teraba Status Lokalis Muka : risus sardonikus (+) Mulut : trismus (+) Abdomen : perut tegang seperti papan (+) Status Neurologikus KEPALA Bentuk Ukuran Simetris Hematom Tumor

NO.RM : --

: brakhiocephalus : normal : simetris ::-

Deformitas Fraktur Nyeri fraktur Pembuluh darah Pulsasi

:::: tak ada kelainan :-

LEHER Sikap Torticolis Kaku kuduk Fungsi motorik Gerakan Kekuatan Tonus Klonus Refleks fisiologis Refleks Patologis Lka

: kaku : (-) : (+) Lki Tka

Deformitas Tumor Pembuluh darah Tki

:::-

Sulit Digerakkan Sulit Digerakkan -

LABORATORIUM ( 7 Desember 2010) DARAH Hb Eritrosit Leukosit Diff Count Trombosit Hematokrit BSS Natrium Kalium

: 14,8 g/dl : 4.890.000 g/dl : 16.500 /mm3 : 0/0/0/78/14/8 : 235.000 /mm3 : 41 % : 127 mg/ dl : 142 mmol /L : 3,2 mmol /L RM.02.

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

UNIT PENYAKIT DALAM


URINE Warna Kejernihan Protein Reduksi : Tidak Diperiksa : : : :

NO.RM : --

Sedimen : - Eritrosit - Leukosit

: :

LIQUOR CEREBROSPINALIS : Tidak Diperiksa Warna Kejernihan Tekanan Sel Nonne Pandy : : : : : : Protein Glukosa NaCl Queckensted Celloidal Culture : : : : : :

PEMERIKSAAN KHUSUS Rontgen foto cranium Rontgen foto thoraks Rontgen foto columna vertebralis Electroencephalografi Electroneuromyografi Electrocardiografi Arteriografi Pneumografi CT-Scan Lain-lain ::::::::::-

RM.03.

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

UNIT PENYAKIT DALAM

NO.RM : --

RINGKASAN Identifikasi: Tn. S/ laki-laki/38 tahun/ dalam kota/ MRS 7 Desember 2010 ANAMNESA Penderita dirawat di bagian penyakit dalam RSSH karena sukar membuka mulut disertai kaku badan, leher dan kejang-kejang seluruh tubuh yang terjadi secara perlahan-lahan. 7 hari sebelum masuk rumah sakit penderita mengeluh sulit membuka mulut, (hanya bisa masuk 1 jari tangan), selain itu disertai kaku pada leher dan perut serta punggung keras seperti papan. Penderita mengalami penurunan kesadaran. Penderita tidak mengeluh demam atau sakit kepala. Penderita mengeluh mengalami kejang di seluruh tubuh bila mendengar suara gaduh, terutama yang mengejutkan. Penderita juga mengaku bagian tubuh yang kram terasa pegal. Penderita sebelumnya tidak mengalami demam, muntah, dan sakit kepala hebat. Penderita sebelumnya tidak pernah digigit oleh anjing, kucing atau kera. Riwayat luka (+) seminggu sebelum masuk rumah sakit. Luka terdapat di sela antara jari kelingking dan jari manis kaki kiri penderita tertusuk kayu sedalam 1,5 cm, penderita kemudian mengobati luka tersebut dengan memberinya betadine dan luka tidak ditutup. Penyakit seperti ini diderita untuk pertama kalinya. PEMERIKSAAN Kesadaran Suhu Badan Nadi Pernapasan Tekanan Darah Status Lokalis: Muka: risus sardonicus Mulut: trismus (+) Leher: kaku kuduk (+) Abdomen: perut tegang seperti papan (+) Status Neurologis: Nn. Craniales: tak ada kelainan : kompos mentis : 39,8 C : 104 x/m : 36 x/m : 160/ 100 mmHg fungsi sensorik: tak ada kelainan fungsi vegetatif: tak ada kelainan fungsi luhur: tak ada kelainan GRM: kaku kuduk (+) Lasseque (+) Kernig (+) gerakan abnormal: tidak ada

RM.04.

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

UNIT PENYAKIT DALAM


Fungsi motorik Gerakan Kekuatan Tonus Klonus Refleks fisiologis Refleks Patologis Lka Lki Tka

NO.RM : --

Tki

Sulit Digerakkan Sulit Digerakkan -

DIAGNOSA Tetanus

PENGOBATAN

Non Farmakologi: Penderita ditempatkan di ruang isolasi Diet cair Debridement Luka

Farmakologi: 1. IVFD RL gtt xx/menit 2. ATS 100.000 IU i.v (Skin Test) (1 ampul = 20.000 IU) - Hari I : 40.000 IU - Hari II - Hari III : 40.000 IU : 20.000 IU

3. Diazepam 100-200 mg/hari i.m/i.v 4. Metronidazol 500 mg/6 jam i.v atau 1 gr/12 jam i.v 5. Paracetamol 3 x 500 mg tab

PROGNOSA : - quo ad vitam - quo ada fungtionam : bonam : bonam

RM.05.

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

UNIT PENYAKIT DALAM


DISKUSI

NO.RM : --

Diagnosa Banding Etiologik: 1. Meningitis: Gejalanya: 1. Gejala umum, berupa: suhu tubuh meningkat (subfebris sampai hiperpireksia) sakit kepala kaku kuduk dapat sampai muntah dan kejang-kejang Pada penderita: - risus sardonikus - trismus (+) - kaku leher - perut tegang seperti papan - kejang-kejang

2. Gejala Rangsang Meningial (+) 3. Perubahan Liquor Serebrospinalis

2. Rabies Gejalanya : riwayat digigit kucing, anjing atau kera gejala prodromal: demam-lesu-mual-tidak nafsu makan, rasa sakit/ sakit tenggorokan, rasa kesemutan/ panas (terbakar), seperti ditusuk-tusuk, gatal, berdenyut-denyut pada tempat bekas gigitan. Gejala Eksitasi: agitasi/ gelisah, hipersensitif, kejang stimulus sensitive myoclonus, hipersalivasi, hiperhidrosis, hiperlakrimasi dan pupil dilatasi. Hidrofobi, erofobi, fotofobi, penurunan kesadaran. Stadium paralitik: kelumpuhan flaksid.

Pada pasien ini, diagnosis banding rabies bisa disingkirkan.

3. keracunan strychnine (antagonis reseptor glisin). Pada keadaan ini gejala klinis mirip dengan tetanus tetapi, tidak dijumpai trismus, dan ketegangan perut tidak terlalu nyata. Untuk membedakannya perlu dilakukan analisa biokimia stychine serum dan urin. Pada pasien ini, diagnosis banding keracunan strychnine bisa disingkirkan.

RM.06.

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

UNIT PENYAKIT DALAM

NO.RM : --

4. Tetanus : riwayat luka, trismus, risus sardonikus, kaku kuduk, perut tegang seperti papan, opistotonus, kejang-kejang terutama bila ada rangsangan.

Jadi diagnosa etiologik tetanus pada penderita ini belum dapat disingkirkan.

RM.07.

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

UNIT PENYAKIT DALAM


TINJAUAN PUSTAKA

NO.RM : --

Pendahuluan Tetanus merupakan penyakit yang sering ditemukan, dimana masih terjadi di masyarakat terutama masyarakat kelas menengah ke bawah. Di RSU Dr. Soetomo sebagian besar pasien tetanus berusia > 3 tahun dan < 1 minggu (1). Angka kejadian tetanus tinggi di negara-negara berkembang, terutama disebabkan kontaminasi tali pusat, infeksi telinga kronik, luka tusuk pada anak usia sekolah, sirkumsisi pada laki-laki, kehamilan dengan abortus. Penyakit ini dapat dicegah dengan imunisasi, akan tetapi angka kejadiannya masih tetap tinggi dengan angka kematian yang tinggi pula
(2)

. Di negara maju, kasus

tetanus jarang ditemui. Karena penyakit ini terkait erat dengan masalah sanitasi dan kebersihan selama proses kelahiran. Kasus tetanus memang banyak dijumpai di sejumlah negara tropis dan negara yang masih memiliki kondisi kesehatan rendah (4).

Batasan Tetanus adalah suatu penyakit toksemik akut yang disebabkan oleh Clostridium tetani, dengan tanda utama kekakuan otot (spasme), tanpa disertai gangguan kesadaran dihasilkan kuman (1).
(3)

. Gejala ini

bukan disebabkan oleh kuman clostridium tetani, tetapi akibat toksin (tetanospasmin) yang

Etiologi Clostridium tetani termasuk kuman yang hidup tanpa oksigen (anaerob), dan membentuk spora. Spora ini mampu bertahan hidup terhadap lingkungan panas, antiseptic, dan jaringan tubuh, sampai berbulan-bulan. Kuman yang berbentuk batang ini sering terdapat dalam kotoran hewan dan manusia, dan bisa menyebar lewat debu atau tanah yang kotor, dan mengenai luka O2 labil (6).
(5)

. Clostridium

tetani merupakan kuman gram positif, menghasilkan eksotoksin yang neurotoksik, dapat larut dan

Epidemiologi Penyakit ini tersebar di seluruh dunia, terutama pada daerah resiko tinggi dengan cakupan imunisasi DPT yang rendah. Reservoir utama kuman ini adalah tanah yang mengandung kotoran

RM.08.

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

UNIT PENYAKIT DALAM

NO.RM : --

ternak sehingga resiko penyakit ini di daerah peternakan sangat tinggi. Spora kuman Clostridium tetani yang tahan kering dapat bertebaran di mana-mana. Port of entry tak selalu dapat diketahui dengan pasti, namun dapat diduga melalui : 1. Luka tusuk, gigitan binatang, luka bakar. 2. Luka operasi yang tidak dirawat dan dibersihkan dengan baik. 3. OMP, caries gigi. 4. Pemotongan tali pusat yang tidak steril. 5. Penjahitan luka robek yang tidak steril (1).

Patogenesis Spora kuman tetanus yang ada di lingkungan dapat berubah menjadi bentuk vegetatif bila ada dalam lingkungan anaerob, dengan tekanan oksigen jaringan yang rendah. Kuman ini dapat membentuk metalo-exotosin tetanus, yang terpenting untuk manusia adalah tetanospasmin. Gejala klinis timbul sebagai dampak eksotoksin pada sinaps ganglion spinal dan neuromuscular junction serta syaraf otonom. Toksin dari tempat luka menyebar ke motor endplate dan setelah masuk lewat ganglioside dijalarkan secara intraaxonal kedalam sel saraf tepi, kemudian ke kornu anterior sumsum tulang belakang, akhirnya menyebar ke SSP. Manifestasi klinis terutama disebabkan oleh pengaruh eksotoksin terhadap susunan saraf tepi dan pusat. Pengaruh tersebut berupa gangguan terhadap inhibisi presinaptik sehingga mencegah keluarnya neurotransmiter inhibisi yaitu GABA dan glisin, sehingga terjadi eksitasi terus-menerus dan spasme. Kekakuan dimulai pada tempat masuk kuman atau pada otot masseter (trismus), pada saat toxin masuk ke sungsum belakang terjadi kekakuan yang makin berat, pada extremitas, otot-otot bergaris pada dada, perut dan mulia timbul kejang. Bilamana toksin mencapai korteks cerebri, penderita akan mulai mengalami kejang umum yang spontan. Tetanospasmin pada sistem saraf otonom juga berpengaruh, sehingga terjadi gangguan pada pernafasan, metabolisme, hemodinamika, hormonal, saluran cerna, saluran kemih, dan neuromuskular. Spame larynx, hipertensi, gangguan irama jantung, hiperpirexi, hyperhydrosis merupakan penyulit akibat gangguan saraf otonom, yang dulu jarang dilaporkan karena penderita sudah meninggal sebelum gejala timbul. Dengan penggunaan diazepam dosis tinggi dan pernafasan mekanik, kejang dapat diatasi namun gangguan saraf otonom harus dikenali dan dikelola dengan teliti (3).

RM.09.

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

UNIT PENYAKIT DALAM


Gejala Klinis

NO.RM : --

Masa inkubasi tetanus umumnya antara 3-12 hari, namun dapat singkat 1-2 hari dan kadang lebih satu bulan; makin pendek masa inkubasi makin buruk prognosis. Terdapat hubungan antara jarak tempat masuk kuman Clostridium tetani dengan susunan saraf pusat, dengan interval antara terjadinya luka dengan permulaan penyakit; makin jauh tempat invasi, masa inkubasi makin panjang (2). Tetanus tak segera dapat terdeteksi karena masa inkubasi penyakit ini berlangsung hingga 21 hari setelah masuknya kuman tetanus ke dalam tubuh. Pada masa inkubasi inilah baru timbul gejala awalnya. Gejala penyakit tetanus bisa dibagi dalam tiga tahap, yaitu : -Tahap awal Rasa nyeri punggung dan perasaan tidak nyaman di seluruh tubuh merupakan gejala awal penyakit ini. Satu hari kemudian baru terjadi kekakuan otot. Beberapa penderita juga mengalami kesulitan menelan. Gangguan terus dialami penderita selama infeksi tetanus masih berlangsung. -Tahap kedua Gejala awal berlanjut dengan kejang yang disertai nyeri otot pengunyah (Trismus). Gejala tahap kedua ini disertai sedikit rasa kaku di rahang, yang meningkat sampai gigi mengatup dengan ketat, dan mulut tidak bisa dibuka sama sekali. Kekakuan ini bisa menjalar ke otot-otot wajah, sehingga wajah penderita akan terlihat menyeringai (Risus Sardonisus), karena tarikan dari otot-otot di sudut mulut. Selain itu, otot-otot perut pun menjadi kaku tanpa disertai rasa nyeri. Kekakuan tersebut akan semakin meningkat hingga kepala penderita akan tertarik ke belakang. (Ophistotonus). Keadaan ini dapat terjadi 48 jam setelah mengalami luka. Pada tahap ini, gejala lain yang sering timbul yaitu penderita menjadi lambat dan sulit bergerak, termasuk bernafas dan menelan makanan. Penderita mengalami tekanan di daerah dada, suara berubah karena berbicara melalui mulut atau gigi yang terkatub erat, dan gerakan dari langitlangit mulut menjadi terbatas. -Tahap ketiga Daya rangsang dari sel-sel saraf otot semakin meningkat, maka terjadilah kejang refleks. Biasanya hal ini terjasi beberapa jam setelah adanya kekakuan otot. Kejang otot ini bisa terjadi spontan tanpa rangsangan dari luar, bisa pula karena adanya rangsangan dari luar. Misalnya cahaya, sentuhan, bunyi-bunyian dan sebagainya. Pada awalnya, kejang ini hanya berlangsung singkat, tapi

RM.010.

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

UNIT PENYAKIT DALAM

NO.RM : --

semakin lama akan berlangsung lebih lama dan dengan frekuensi yang lebih sering. Selain dapat menyebabkan radang otot jantung (mycarditis), tetanus dapat menyebabkan sulit buang air kecil dan sembelit. Pelukaan lidah, bahkan patah tulang belakang dapat terjadi akibat adanya kejang otot hebat. Pernafasan pun juga dapat terhenti karena kejang otot ini, sehingga beresiko kematian. Hal ini disebabkan karena sumbatan saluran nafas, akibat kolapsnya saluran nafas, sehingga refleks batuk tidak memadai, dan penderita tidak dapat menelan (5). Secara klinis, tetanus dibedakan atas : 1) Tetanus lokal Ditandai dengan rasa nyeri dan spasmus otot di bagian proksimal luka; gejala ini dapat terjadi selama beberapa minggu dan menghilang tanpa gejala sisa. Bentuk ini dapat berkembang menjadi bentuk umum; kasus fatal kira-kira 1%. 2) Tetanus umum Merupakan bentuk tetanus yang paling banyak dijumpai, dapat timbul mendadak, trismus merupakan gejala awal yang paling sering dijumpai. Spasmus otot maseter dapat terjadi bersamaan dengan kekakuan otot leher dan kesukaran menelan, biasanya disertai kegelisahan dan iritabilitas. Trismus yang menetap menyebabkan ekspresi wajah yang karakteristik berupa risus sardonicus. Kontraksi otot meluas, pada otot-otot perut menyebabkan perut papan dan kontraksi otot punggung yang menetap menyebabkan opistotonus; dapat timbul kejang tetani bermacam grup otot, menimbulkan aduksi lengan dan ekstensi ekstremitas bawah. Selama periode ini penderita berada dalam kesadaran penuh. 3) Tetanus sefalik Jenis ini jarang dijumpai; masa inkubasi 1-2 hari, biasanya setelah luka di kepala, wajah atau otitis media; banyak kasus berkembang menjadi tipe umum. Tetanus tipe ini mempunyai prognosis buruk (2). Komplikasi 1. Laserasi otot 2. Fraktur 3. Eksitasi syaraf simpatis 4. Infeksi sekunder oleh kuman lain 5. Dehidrasi 6. Aspirasi (6).

RM.011.

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

UNIT PENYAKIT DALAM


Langkah Diagnostik Anamnesis

NO.RM : --

Riwayat mendapat trauma (terutama luka tusuk), pemotongan dan perawatan tali pusat yang tidak steril, riwayat menderita otitis media supurativa kronik (OMSK), atau gangren gigi.

Riwayat anak tidak diimunisasi/ tidak lengkap imunisasi tetanus/ BUMIL/ WUS.

Pemeriksaan fisik Adanya kekakuan lokal atau trismus. Adanya kaku kuduk, risus sardonicus, opisthotonus, perut papan. Kekakuan extremitas yang khas : flexi tangan, extensi kaki dan adanya penyulit (3).

Diagnosis Banding 1. Infeksi : meningoensefalitis, polio, rabies, lesi orofaring, peritonitis. 2. Gangguan metabolik : tetani, keracunan strichnin, reaksi fenotiasin. 3. Penyakit SSP : status epileptikus, perdarahan atau tumor. 4. Gangguan psikiatri : histeria (6).

RM.012.

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

UNIT PENYAKIT DALAM


Web of Caution (Hubungan Sebab Akibat)

NO.RM : --

Terpapar kuman Clostridium tetani Eksotoksin Pengangkutan toksin melewati saraf motorik

Ganglion Sumsum Tulang Belakang

Otak

Saraf Otonom

Tonus otot

Menempel pada Cerebral Gangliosides Kekakuan dan kejang khas pada tetanus

Mengenai Saraf Simpatis

Menjadi kaku

Hilangnya keseimbangan tonus otot otot Kekakuan otot

-Keringat berlebihan -Hipertermi -Hipotermi -Aritmia -Takikardi Hipoksia berat O2 di otak

Sistem Pencernaan

Sistem Pernafasan

Kesadaran -PK. Hipoksemia -Ggn. Perfusi Jaringan -Ggn. Pertukaran Gas -Kurangnya pengetahuan Ortu

-Ggn. Eliminasi -Ggn. Nutrisi (< dr. kebut)

-Ketidakefektifan jalan jalan nafas -Gangguan Komunikasi Verbal

-Dx,Prognosa, Perawatan

(Sumber: Asuhan Keperawatan dengan Tetanus.)

RM.013.

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

UNIT PENYAKIT DALAM


Tatalaksana Terapi dasar tetanus : Antibiotik diberikan selama 10 hari, 2 minggu bila ada komplikasi

NO.RM : --

Penisillin prokain 50.000 IU/kg BB/kali i.m, tiap 12 jam, atau Metronidazol loading dose 15 mg/kg BB/jam, selanjutnya 7,5 mg/kg BB tiap 6 jam

Catatan : Bila ada sepsis/pneumonia dapat ditambahkan antibiotika yang sesuai. Imunisasi aktif-pasif Anti tetanus serum (ATS) 5.000-10.000 IU, diberikan intramuskular. Untuk neonatus bisa diberikan iv; apabila tersedia dapat diberikan Human tetanus immunoglobulin (HTIG) 30006000 IU i.m. Dilakukan imunisasi DT/TT/DTP pada sisi yang lain, pada saat bersamaan.

Anti konvulsi Pada dasarnya kejang diatasi dengan diazepam, dosis disesuaikan dengan respon klinik (titrasi) : Bila datang dengan kejang diberi diazepam : neonatus bolus 5 mg iv anak bolus 10 mg iv

Dosis rumatan maximal : anak 240 mg/hari neonatus 120 mg/hari

Bila dengan dosis 240 mg/hari masih kejang (tetanus sangat berat), harus dilanjutkan dengan bantuan ventilasi mekanik, dosis diazepam dapat ditingkatkan sampai 480 mg/hari, dengan atau tanpa kurarisasi.

Diazepam sebaiknya diberikan dengan syringe pump, jangan dicampur dalam botol cairan infus. Bilamana tidak ada syringe pump, diberikan bolus tiap 2 jam (12 x/hari)

Dapat dipertimbangkan penggunaan anti konvulsan lain, seperti magnesium sulfat, bilamana ada gangguan saraf otonom.

Perawatan luka atau port dentree yang dicurigai, dilakukan sekaligus dengan pembuangan jaringan yang diduga mengandung kuman dan spora (debridemant), sebaiknya dilakukan setelah diberi antitoksin dan anti-konvulsi.

RM.014.

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

UNIT PENYAKIT DALAM


Terapi suportif Bebaskan jalan nafas

NO.RM : --

Hindarkan aspirasi dengan menghisap lendir perlahan-lahan & memindah-mindahkan posisi pasien)

Pemberian oksigen Perawatan dengan stimulasi minimal Pemberian cairan dan nutrisi adekuat, bila perlu dapat dipasang sonde nasogastrik, asal tidak memperkuat kejang

Bantuan nafas pada tetanus berat atau tetanus neonatorum Pemantauan/monitoring kejang dan tanda penyulit

Tetanus ringan dan sedang Diberikan pengobatan tetanus dasar Tetanus sedang Terapi dasar tetanus Perhatian khusus pada keadaan jalan nafas (akibat kejang dan aspirasi) Pemberian cairan parenteral, bila perlu nutrisi secara parenteral.

Tetanus berat/sangat berat Terapi dasar seperti di atas Perawatan dilakukan di ICU, diperlukan intubasi atau tracheostomi Balans cairan dimonitor secara ketat. Apabila spasme sangat hebat (tetanus berat), perlu ventilasi mekanik dengan pankuronium bromida 0,02 mg/kg bb intravena, diikuti 0,05 mg/kg bb/kali, diberikan tiap 2-3 jam. Apabila terjadi aktifitas simpatis yang berlebihan, berikan b-blocker seperti propanolol/a dan b- blocker labetalol (3).

Pencegahan 1. Perawatan luka harus dicegah timbulnya jaringan anaerob pada pasien termasuk adanya jaringan mati dan nanah. 2. Pemberian ATS profilaksis. 3. Imunisasi aktif. 4. Khusus untuk mencegah tetanus neonatorum perlu diperhatikan kebersihan pada waktu persalinan terutama alas tempat tidur, alat pemotong tali pusat, dan cara perawatan tali pusat. RM.015.

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

UNIT PENYAKIT DALAM

NO.RM : --

5. Pendidikan atau penjelasan kepada orang tua mengenai kebersihan individu dan lingkungan serta cara pemeriksaan dan perawatan di RS dan perlunya pemeriksaan lanjutan (1).

I. Imunisasi aktif a. Imunisasi dasar DPT diberikan tiga kali sejak usia 2 bulan dengan interval 4-6 minggu, ulangan pada umur 18 bulan dan 5 tahun (lihat Bab Jadwal Imunisasi). b. Eliminasi tetanus neonatorum dilakukan dengan imunisasi TT pada ibu hamil, wanita usia subur, minimal 5 x suntikan toksoid. (untuk mencapai tingkat TT lifelong-card). II. Pencegahan pada luka

Luka dibersihkan, jaringan nekrotik dan benda asing dibuang Luka ringan dan bersih Imunisasi lengkap : tidak perlu ATS atau tetanus imunoglobulin Imunisasi tidak lengkap : imunisasi aktif DPT/DT.

Luka sedang/berat dan kotor Imunisasi (-)/tidak jelas : ATS 3000-5000 U, atau tetanus imunoglobulin 250-500 U. Toksoid tetanus pada sisi lain. Imunisasi (+), lamanya sudah > 5 tahun : ulangan toksoid, ATS 3000-5000 U, tetanus imunoglobulin 250-500 U (3).

Monitoring I. Sekuele

Spasme berkurang setelah 2-3 minggu, namun kekakuan dapat terus berlangsung lebih lama. Kekakuan dapat tetap berlangsung sampai 6-8 minggu pada kasus yang berat. Gangguan otonom biasanya dimulai beberapa hari setelah kejang dan berlangsung selama 12 minggu.

II. Tumbuh Kembang

Infeksi tetanus pada anak merupakan infeksi yang akut sehingga relatif tidak mengganggu tumbuh kembang anak.

Sedangkan pada tetanus neonatorum, dapat terjadi gangguan tumbuh kembang oleh karena hipoksia yang berat (3).

RM.016.

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

UNIT PENYAKIT DALAM


DAFTAR PUSTAKA

NO.RM : --

1. Ningsih, S., and Witarti, N., 2007. Asuhan Keperawatan Dengan Tetanus. Available from : www.pediatrik.com/perawat_pediatrik/061031-joiq163.doc. Accested : Oct 16, 2007. 2. Lubis, U. N., 2004. Tetanus Lokal pada Anak. Available from :

www.kalbe.co.id/files/cdk/files/15. Accested : Oct 16, 2007. 3. Ismoedijanto, and Darmowandowo, W., 2006. Tetanus. Available from : www.pediatrik.com. Accested : Oct 16, 2007. 4. Silalahi, L., 2004. Tetanus. Available from : www.tempointeraktif.com. Accested : Oct 16, 2007. 5. Tami, 2005. Tetanus, Infeksi yang Mematikan. Available from :

www.jilbab.or.id/content/view/456/36/. Accested : Oct 16, 2007. 6. Suraatmaja, S., and Soetjiningsih, 2000. Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak RSUP Sanglah. Fakultas Kedokteran Udayana. Denpasar.

RM.017.