Anda di halaman 1dari 7

SENGKETA BISNIS PADA KASUS DUGAAN PAILIT PT.

CITRA TELEVISI INDONESIA (TPI) PEMBAHASAN sejak tahun 1998, kepailitan diatur dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang Nomor 1 Tahun 1998 tentang Kepailitan, kemudian ditetapkan dengan undang undang Nomor 4 Tahun 1998, lalu diperbaharui lagi dengan Undang Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Langkah Langkah yang Ada dalam Kepailitan 1. Permohonan pailit, syarat permohonan pailit telah diatur dalam UU No. 4 Tahun 1998, seperti apa yang telah ditulis di atas. 2. Keputusan pailit berkekuatan tetap, jangka waktu permohonan pailit sampai keputusan pailit berkekuatan tetap adalah 90 hari. 3. Rapat verifikasi, adalah rapat pendaftaran utang piutang, pada langkah ini dilakukan pendataan berupa jumlah utang dan piutang yang dimiliki oleh debitur. Verifikasi utang merupakan tahap yang paling penting dalam kepailitan karena akan ditentukan urutan pertimbangan hak dari masing masing kreditur. Rapat verifikasi dipimpin oleh hakim pengawas dan dihadiri oleh : (a) Panitera sebagai pencatat, (b) Debitur ( tidak boleh diwakilkan karena nanti debitur harus menjelaskan kalau terjadi perbedaan pendapat tentang jumlah tagihan), (c) Kreditur atau kuasanya (jika berhalangan hadir tidak apa apa, nantinya mengikuti hasil rapat), (d) Kurator (harus hadir karena merupakan pengelola asset). 4. Perdamaian, jika perdamaian diterima maka proses kepailitan berakhir, jika tidak maka akan dilanjutkan ke proses sebelumnya. Proses perdamaian selalu diupayakan dan diagendakan. Ada beberapa perbedaan antara perdamaian yang terjadi dalam proses kepailitan dengan perdamaian yang biasa. Perdamaian dalam proses kepailitan meliputi : (a) mengikat semua kreditur kecuali kreditur separatis, karena kreditur separatis telah dijamin tersendiri dengan benda jaminan yang terpisah dengan harga pailit sebelumnya, (b) terikat formalitas, (c) ratifikasi dalam sidang homologasi, (d) jika pengadilan niaga menolak adanya hukum kasasi, (e) adanya kekuatan eksekutorial, apa yang tertera dalam perdamaian, pelaksanaannya dapat dilakukan secara paksa. Tahap tahap dalam proses perdamaian antara lain : (a) pengajuan usul perdamaian, (b) pengumuman usulan perdamaian, (c) rapat pengambilan keputusan, (d) sidang homologasi, (e) upaya hukum kasasi, (f) rehabilitasi. 5. Homologasi akur, yaitu permintaan pengesahan oleh Pengadilan Niaga, jika proses perdamaian diterima. 6. Insolvensi, yaitu suatu keadaan dimana debitur dinyatakan benar benar tidak mampu membayar, atau dengan kata lain harta debitur lebih sedikit jumlah dengan hutangnya. Hal tentang insolvensi ini sangat menentukan nasib debitur, apakah ada eksekusi atau terjadi restrukturisasi hutang dengan damai. Saat terjadinya insolvensi (pasal 178 UUK) yaitu : (a) saat verifikasi tidak ditawarkan perdamaian, (b) penawaran perdamaian ditolak, (c) pengesahan perdamaian ditolak oleh hakim. Dengan adanya insolvensi maka harta pailit segera dieksekusi dan dibagi kepada para kreditur. 7. Pemberesan / likuidasi, yaitu penjualan harta kekayaan debitur pailit, yang dibagikan kepada kreditur konkuren, setelah dikurangi biaya biaya. 8. Rehabilitasi, yaitu suatu usaha pemulihan nama baik kreditur, akan tetapi dengan catatan jika proses perdamaian diterima, karena jika perdamaian ditolak maka rehabilitasi tidak ada. Syarat rehabilitasi adalah : telah terjadi perdamaian, telah terjadi pembayaran utang secara penuh. 9. Kepailitan berakhir. DATA Kasus Dugaan Pailit PT. Citra Pendidikan Indonesia (TPI) TPI pertama kali mengudara pada 1 Januari 1991 selama 2 jam dari pukul 19.00-21.00 WIB. TPI diresmikan Presiden Soeharto pada 23 Januari 1991 di Studio 12 TVRI Senayan, Jakarta. Secara bertahap, TPI mulai memanjangkan durasitayangnya. Pada akhir 1991, TPI sudah mengudara selama 8 jam sehari.

TPI didirikan oleh putri sulung Presiden Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana alias Mbak Tutut dan sebagian besar sahamnya dimiliki oleh PT Cipta Lamtoro Gung Persada. Stasiun televisi yang akrab dengan masyarakat segmen menengah bawah ini harus diakui tidak memiliki kinerja keuangan yang baik, terutama ketika TPI kemudian memutuskan keluar dari naungan TVRI dan beralih menjadi stasiun musik dangdut pada pertengahan1990-an. Secara berangsur-angsur kinerja keuangan memburuk, utang-utang pun kian menumpuk. Pada tahun 2002, posisi utang TPI sudah mencapai Rp 1,634 triliun, jumlah yang sangat besar untuk periode tahun itu. Mbak Tutut pun yang saat itu juga terbelit utang maha besar kelimpungan. Di satu sisi dirinya menghadapi ancaman pailit, di sisi lain utang TPI juga terancam tak terbayar. Di tengah kondisi tersebut, Mbak Tutut meminta bantuan kepada Henry Tanoe untuk membayar sebagian utang-utang pribadinya. Sebagai catatan, Hary Tanoe saat itu menjabat sebagai Direktur Utama PT Bimantara Citra Tbk (BMTR) yang sekarang berubah nama menjadi PT Global Mediacom Tbk (BMTR). Bimantara Citra merupakan perusahaan kongsi antara Bambang Trihatmojo, adik Mbak Tutut dengan Hary Tanoe dan kawan-kawan. Akhirnya BMTR sepakat untuk membayar sebagian utang mbak Tutut sebesar US$ 55 juta dengan kompensasi akan mendapat 75% saham TPI. Oleh sebab itu, kedua belah pihak yakni pihak Mbak Tutut dengan pihak Hary Tanoe melalui PT Berkah Karya Bersama (BKB) menandatangani investment agreement pada 23 Agustus 2002 dan ditandatanganinya adendum surat kuasa pengalihan 75% saham TPI kepada BKB pada Februari 2003. Crown Capital Global Limited (CCGL) memberikan tuduhan pailit kepada TPI. Tuduhan pailit oleh perusahaan Crown Capital Global Limited (CCGL) terhadap PT. Cipta Televisi Pendidikan Indonesia dikabulkan oleh Pengadilan Niaga di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada tanggal 14 Oktober 2009. Putusan tersebut menuai banyak protes oleh para ahli hukum, DPR, Komisi Penyiaran Indonesia, pekerja TPI, dansemua konsumen siaran TPI di Indonesia. Hal ini disinyalir adanya campur tangan Markus (Makelar Kasus), sehingga kasus ini aneh sekali jika dikabulkan dengan mudahnya oleh Pengadilan Niaga. Menurut Sang Nyoman, Direktur Utama TPI, keberadaan makelar kasus dalam perkara ini disinyalir sangat kuat mengingat sejumlah fakta hukum yang diajukan ke perseidangan tidak menjadi pertimbangan majelis hakim saat memutus perkara ini. Ketika didesak siapa makelar kasus yang dimaksud, Nyoman mengatakan bahwa ada pihak yang disebut sebut mendapat tugas pemberesan sengketa ini dan mengakui sebagai pengusaha batu bara berinisial RB. Inisial ini pernah terungkap ketika diadakan rapat pertemuan antara hakim pengawas, tim kurator, dan direksi TPI di Jakarta Pusat pada Rabu tanggal 4 November 2009. Hal tersebut dirasa aneh oleh pihak TPI sendiri karena pihak TPI tidak merasa memiliki utang yang belum terbayar kepada CCGL. Menurut Pengadilan Niaga, tuduhan kepailitan dikabulkan dengan alasan didasarkan pada asumsi majelis hakim bahwa TPI tidak bisa memenuhi kewajiban membayar utang obligasi jangka panjang (sub ordinated bond) senilai USD $ 53 juta kepada Crown Capital Global Limited (CCGL). Sementara dalam kenyataannya yang terjadi adalah : 1. Pada 1996, TPI yang masih dipegang Presiden Direktur Siti Hardiyanti Rukmana alias Mbak Tutut mengeluarkan sub ordinated bond (Sub Bond) sebesar USD $ 53 juta. Utang dalam bentuk sub ordinated bond tersebut dibuat sebagai rekayasa untuk mengelabuhi publik atas pinjaman dari BIA. Marx menjelaskan rekayasa terjadi karena ditemukan fakta bahwa uang dari Peregrine Fixed Income Ltd masuk ke rekening TPI pada 26 Desember 1996. Namun, selang sehari tepatnya 27 Desember 1996, uang tersebut langsung ditransfer kembali ke rekening Peregrine Fixed Income Ltd. Setelah utang utang itu dilunasi oleh manajemen baru TPI, dokumen dokumen asli Sub Bond masih disimpan pemilik lama yang kemudian diambil secara tidak sah oleh Shadik Wahono (yang saat ini menjabat sebagai Direktur Utama PT. Cipta Marga Nusaphala Persada). 2. Terjadi transaksi Sub Bond antara Filago Ltd dengan CCGL dengan menggunakan promissory note (surat perjanjian utang) sehingga tidak ada proses pembayaran. Semua transaksi pengalihan Sub Bond berada di luar kendali TPI setelah Sub Bond berpindah tangan, sehingga apabila CCGL menagih hutang dari Sub Bond jelas jelas ilegal. Hal ini juga sulit diterima oleh Komisi Penyiaran Indonesia karena penanganan kasus yang melibatkan media massa tidak bisa semua kalangan mampu dan sanggup menggunakannya, sehingga

penanganannya pun harus dikecualikan. Dalam putusan pailit ini, kerugian tidak hanya dialami perusahaan tersebut tetapi masyarakat luas juga turut dirugikan. Pihak kuasa hukum PT. TPI mencoba memberi klarifikasi yang sejujurnya disertai dengan bukti bukti otentik melalui segala macam transaksi yang tercatat di buku ATM Bank BNI 46 yang menjadi ATM basis bagi perusahaan TPI. Dikatakan Marx Andriyan, bahwa pada tahun 1993 telah ditandatangani Perjanjian piutang antara TPI dengan Brunei Investment Agency (BIA) sebesar USD $50 juta. Atas instruksi pemilik lama, dana dari BIA tidak ditransfer ke rekening TPI tapi ke rekening pribadi pemilik lama. Dalam laporan keuangan TPI juga tidak pernah tercatat utang TPI dalam bentuk Sub Bond senilai USD 53 juta. Berdasarkan hasil audit laporan keuangan TPI yang dilakukan di kantor akuntan publik dipastikan bahwa di dalam neraca TPI 2007 dan 2008 juga tidak tercatat adanya kreditur maupun tagihan dari CCGL. Seharusnya utang utang obligasi jangka panjang tercatat di dalam pembukuan. Bahkan, MNC sebagai pemilik saham 75% di TPI mencatatkan diri sebagai perusahaan terbuka (PT.MNC Tbk). Menghadapi kejanggalan proses hukum ini, PT. TPI mengajukan kasus ini ke kasasi. Mereka berharap untuk bisa menyelesaikan masalah tuduhan ini dengan secepatnya. Karena setelah mendengar kata pailit, pekerja TPI mulai gelisah, takut di-PHK, dan hak hak Serikat Pekerja tidak terurus dengan baik. Sidang putusan kasasi kasus pailit TPI ini dipimpin Ketua Majelis Hakim Abdul Kadir Moppong dengan hakim anggota Zaharuddin Utama dan M. Hatta Ali. Sungguh kabar yang membawa angin segar bagi TPI dan seluruh pihak yang telah mendukung TPI dalam usaha penolakan kasus pailit karena pada hari Selasa, 15 Desember 2009 Mahkamah Agung telah mengabulkan permohonan kasasi TPI yang diajukan oleh karyawan PT. Cipta Televisi Pendidikan Indonesia (TPI). Alhasil, putusan pailit atas TPI pun batal. Pihak Mahkamah Agung memutuskan untuk mengabulkan permintaan TPI untuk mencabut kasus tuduhan pailit CCGL karena ikut serta dalam proses pengadilan kasasi salah satu hakim anggota yang majelis hakim mengabulkan permohonan dengan alasan permohonan pailit yang sudah diputus Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tidak sederhana. Karena sesuai UU Kepailitan, pembuktiannya harus sederhana. Sedangkan TPI perkaranya rumit dan ruwet, misalnya pembuktian laporan tahunan dan juga bukti - bukti lain yang sifatnya tidak sederhana. Jadi kesimpulannya, TPI tidak jadi dipailitkan karena laporan dugaan oleh CCGL tidak terbukti benar, bukti bukti belum jelas, dan karena pembukuan laporan tahunan yang tersedia sangat jauh dari kata sederhana, sementara peraturan tentang kepailitan jelas mengungkapkan bahwa transaksi yang dapat diajukan pailit adalah transaksi yang sederhana. Akibat berita baik ini, keluarga besar PT. TPI yang sahamnya 75% dimiliki oleh PT. Media Nusantara Citra yang dimiliki oleh Henry Tanoe melakukan syukuran dan memantapkan hati dan langkah untuk mengibarkan sayapnya di udara. MNC merupakan perusahaan media yang terbesar dan satu-satunya yang terintegrasi di Indonesia yang beroperasi pada stasiun penyiaran televisi, media cetak, jaringan radio, Value Added Services, media on-line, rumah produksi, agen periklanan, manajemen artis, produksi konten dan distribusi konten. ANALISIS Pemohon kasus : Crown Capital Global Limited (CCGL) menyampaikan tuduhan kepailitan terhadap Tertuduh : PT Citra Televisi Pendidikan Indonesia (PT TPI) kepada Pengadilan Niaga di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Tuduhan tersebut diterima oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan TPI dijatuhi kasus kepailitan pada tanggal 14 Oktober. Dasar penerimaan kasus ini oleh Pengadilan Negeri didasarkan pada asumsi majelis hakim bahwa TPI tidak bisa memenuhi kewajiban membayar hutang obligasi jangka panjang (sub ordinated bond) senilai USD 53 juta kepada Crown Capital Global Limited (CCGL). Padahal, pengacara PT. TPI, bukti bukti yang diajukan penggugat untuk mempailitkan TPI tidak berdasar dan penuh rekayasa. Sementara di lain pihak, CCGL menduga ada rekayasa laporan keuangan PT. TPI mengenai hak tagih USD 53 juta, dimana uang sebesar itu adalah milik Santoro Corporation yang terafiliasi dengan PT Media Nusantara Citra (MNC). Akibat putusan Pengadilan Negeri untuk mempailitkan PT. TPI yang bekerja di bidang penyiaran, timbullah pro dan kontra tersendiri dari sisi :

1. PT. TPI itu sendiri. Mereka merasa dan memiliki bukti otentik bahwa hutang USD 53 juta itu hanyalah rekayasa CCGL yang ingin merugikan TPI. Dikatakan bahwa surat berharga dalam rupa obligasi diterbitkan pada 24Desember 1996 dan jatuh tempo pada 24 Desember 2006. Tapi hingga tanggal jatuh tempo, TPI tak kunjung melunasi utang tersebut sehingga Crown pun mengajukan gugatan pailit. Sementara dalam laporan keuangan TPI, obligasi itu tidak tercatat karena obligasi sudah pindah tangan. 2. Komisi Penyiaran Indonesia. Menurut komisi ini, seharusnya ada perbedaan perlakuan hukum antara perusahaan media dengan perusahaan bisnis pada umumnya. Karena apapun yang berkaitan dengan media, selalu ada hubungannya dengan masyarakat luas yang menjadi pemirsa atau konsumen itu sendiri. Jangan sampai karena sengketa bisnis, kepentingan pemirsa terabaikan. 3. DPR. Menurut mereka, masalah intern TPI jangan dibiarkan berlarut larut. DPR sangat memberi dukungan kepada TPI yang menjadi saluran informasi, pendidikan, dan hiburan untuk masyarakat luas. Kepailitan TPI akan berdampak sistemik karena berkaitan dengan tenaga kerja, saham, dan hilangnya akses informasi. Merasa tidak bersalah, PT. TPI kemudian meminta peninjauan ulang atas masalah ini. Sesuai prosedur, TPI membawa masalah ini ke tingkat Mahkamah Agung (MA). Setelah melakukan tahap verifikasi (Pencocokan Piutang), ditemukan banyak kekeliruan yang dilakukan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, yaitu Maryana selaku ketua majelis hakim dengan dua anggotanya, Sugeng Riyono dan Syarifuddin. Beberapa kekeliruan yang dilakukan oleh Majelis Hakim terdahulu : 1. Ketentuan yang mengharuskan jumlah kreditur yang mengajukan pailit haruslah lebih dari dua. Tapi dalam masalah ini, hanya ada satu kreditur, PT. Crown Capital Global Limited (CCGL). Sementara kreditur lain yang disebutkan yakni Asian Venture Finance Limited, dinilai perusahaan buatan atau fiktif, yang tidak bisa dimasukkan dalam kategori kreditur. Intinya, perusahaan yang mengajukan pailit Cuma ada satu. 2. Menjelaskan jika transaksi yang dilakukan atas obligasi jangka panjang (sub ordinated bond) senilai USD 53 juta tersebut bukanlah transaksi yang sederhana. Sedangkan dalam peraturan tentang kepailitan jelas diungkapkan bahwa transaksi yang dapat diajukan pailit adalah transaksi yang sederhana. Dengan meninjau kekeliruan kekeliruan tersebut, akhirnya Mahkamah Agung memutus kasus tersebut dan menyatakan TPI tidak pailit. Karena dalam hukum nasional, kedudukan Mahkamah Agung adalah kedudukan tertinggi, maka keputusan ini tidak dapat diganggu gugat dan PT. TPI resmi tidak pailit. KESIMPULAN Beberapa hal yang bisa diambil dari kesimpulannya mengenai proses hukum kepailitan di Indonesia dan inti sari dari hasil penyelesaian kasus kepailitan PT. Citra Televisi Indonesia, antara lain : 1. Kasus palitnya TPI gagal, karena mempunyai dua atau lebih kreditor dan tidak membayar lunas segala hutang hutangnya, sedikitnya satu hutang yang telah jauh waktu dan dapat ditagih, baik atas permintaannya sendiri maupun atas permohonan satu atau lebih kreditornya. Dalam putusan pernyataan pailit harus diangkat kurator dan seorang hakim pengawas debitor dan kreditor yang ditunjuk dari hakim pengadilan. 2. Sistem peradilan berjalan dengan lancar dan prosedural. Namun, sempat terjadi perseteruan di samping tentang penagih utang piutang. Hal ini disebabkan karena CCGL tidak sepakat apabila tiga kurator yang diajukan PT. TPI menggantikan kurator lama yang sudah disediakan Pengadilan. Peninjauan kembali kasus pailit dilakukan oleh Mahkamah Agung dalam tingkat kasasi. Keputusan MA tidak dapat diganggu gugat. DAFTAR PUSTAKA Sari Ela Kartika dan Advendi Simangunsong, SH, MM. 2008, Hukum dalam Ekonomi, Jakarta, Grasindo . http://www.scribd.com/doc/30056518/ARTIKEL-KEPAILITAN http://bisnistrategi.blogspot.com/2010/07/kronologi-sengketa-saham-tpi.html

KASUS HUKUM: Pemegang Saham Hamparan Pasir Besi Ajukan Gugatan Baru Erwin Tambunan Jum'at, 24 Agustus 2012 | 05:00 WIB

JAKARTA (Bisnis.com):Kuasa hukum pemegang saham perusahaan tambang pasir besi PT Hamparan Pasir Besi, Roosenani dan Jani resmi mengajukan gugatan baru dengan meminta sita harta berupa rumah tinggal dan kantor tergugat dalam sengketa jual beli saham perusahaan perusahaan tersebut. Dalam gugatan yang baru. Kita meminta majelis hakim untuk melakukan sita atas tempat tinggal maupun kantor milik tergugat dalam perkara ini,ungkap pengacara Jerry F. Monintja sebagai kuasa hukum para penggugat Roosenani dan Jani yang memiliki saham perusahaan tambang pasir besi PT Hamparan Pasir Besi di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, hari ini. Dalam gugatan barunya itu, kuasa hukum para penggugat mengajukan permohonan sita atas tempat tinggal tergugat Jati Manangka selaku Direktur Utama PT Pacivic Mineral Resources. Adapun tempat tinggal tergugat yang dimohonkan sita itu berupa tanah dan bangunan di Perumahan Green garden Blok N 7/9, Rt.005/010, Kelurahan Kedoya Selatan, Kecamatan Kebon Jeruk dan perumahan di Jl.Mediteranian Bulevard No.61, Pantai Indah Kapuk, Pluit, Jakarta Utara. Sementara itu, para penggugat juga memohon sita jaminan terhadap kantor tergugat Jati Manangka di Wisma Kadin Lt.30/Room 5, Jl.Kuningan, Jakarta Selatan. Meskipun para penggugat mengubah gugatan dengan mengajukan permohonan sita jaminan terhadap tempat tinggal maupun kantor tergugat dalam perkara tersebut. Namun, substansi gugatannya tetap meminta majelis hakim agar membatalkan kedua AJB saham PT Hamparan Pasir besi yang sampai perkara ini didaftarkan belum dilakukan pembayaran. Saham PT Hamparan Pasir Besi sebanyak 225 saham dijual kepada tergugat Jati Manangka dalam kapasitasnya sebagai Dirut PT Pacivic Mineral Resources dengan nilai Rp225 juta, sedangkan penggugat II menjual saham di perusahaan yang sama dengan nilai Rp25 juta kepada tergugat Jati Manangka Nilai keseluruhan saham di PT Hamparan Pasir Besi yang dijual kedua penggugat kepada tergugat bernilai Rp250 juta. Namun, lanjut kuasa penggugat, meskipun turut tergugat, Arnasya Pattinama dalam kapasitasnya sebagai Notaris telah membuat akta jual beli saham pada 14 April 2010. Tergugat tidak pernah melakukan pembayaran akta jual beli tersebut kepada kedua penggugat, sehingga dengan tidak dilakukannya pembayaran atas jual beli saham tersebut, maka akta jual beli yang dibuat turut tergugat tidak sah dan tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat. Kuasa hukum tergugat Jati Manangka, Venny Damanik dari Kantor Hukum Otto Hasibuan and Partners, mengatakan akan menyampaikan jawaban atas gugatan baru yang diajukan para penggugat. Kita akan menanggapinya dalam jawaban setelah gugatan resmi diajukan di hadapan majelis hakim hari ini.(api)

Kesuksesan IPO Facebook Dibarengi Tuntutan Hukum Baru Sebesar $15 Miliar 21 May 2012 http://gpgo.in/lLK

Facebook telah sukses menjadi sebuah perusahaan publik pada hari Jumat lalu dengan nilai transaksi IPO sebesar $16 miliar dan per lembar sahamnya dihargai $38. Namun perayaan di perusahaan tersebut mungkin tidak akan bertahan terlalu lama, karena perusahaan social networking terbesar di dunia tersebut juga baru saja mendapatkan sebuah gugatan class action baru yang diajukan oleh Stewarts Law and Bartimus, Frickleton, Robertson & Gorny. Dasar dari gugatan yang diajukan di San Jose, California tersebut adalah Undang-Undang Penyadapan Federal AS, dan menuduh bahwa Facebook masih meneruskan kegiatan melacak aktivitas web browsing dari para penggunanya, bahkan setelah mereka log out dari akun Facebook masing-masing. Gugatan tersebut juga meminta ganti rugi sebesar $15 miliar, atau sekitar lebih dari 90 persen dana yang telah sukses dihasilkan oleh Facebook pada IPO mereka akhir minggu lalu. Tuntutan bukan saja berpusat tentang masalah ganti rugi semata, tapi lebih pada sebuah terobosan tentang kasus hak privasi digital yang mampu memiliki implikasi luas terhadap posisi hukum serta aktivitas bisnis, kata David Straite, rekanan dari Stewarts Law. Bagaimana tanggapan Anda terhadap kasus ini? Apakah gugatan tersebut tampak seperti memang telah disiapkan untuk mengantisipasi kesuksesan IPO Facebook sebagai IPO yang terbesar yang pernah diraih oleh sebuah perusahaan teknologi sepanjang sejarah?

Apple VS Samsung:keduanya dilarang beredar di Korsel. Berita ini dipost pada 28 August 2012, jam 04:08. http://www.jakarta-media.com/apple-vs-samsungkeduanya-dilarang-beredar-di-korsel.html

Korsel sebagai negara asal Samsung dan juga konsumen kedua merek, justru melarang beberapa jenis produk dari keduanya beredar di sana.|Jakarta Media News

Setelah kekalahan Samsung di sidang pengadilan AS yang dipimpin oleh Hakim Lucy Koh tersebut dalam kasus sengketa hak paten melawan Apple Pihak pengadilan telah memutuskan bahwa Samsung telah melanggar hak paten milik Apple. Dan, merekapun diminta untuk membayar uang sejumlah mencapai 1.05 miliar USD. Namun, Samsung nampaknya enggan dicap sebagai pihak yang bersalah. Dalam pernyataan resminya, Samsung mengungkapkan bahwa mereka sangat menyayangkan keputusan yang diambil oleh pihak pengadilan. Mereka menganggap bahwa keputusan tersebut merupakan suatu bentuk manipulasi hukum paten yang memberikan hak monopoli kepada sebuah perusahaan, dalam kasus ini adalah Apple. Menurut pihak pengadilan Samsung telah terbukti melanggar beberapa hak paten. Di antaranya adalah desainbagian depan iPhone, desain bagian belakang iPhone, gesture touchscreen, desain ikon dan lain-lain. Komplain yang diajukan Apple termasuk 10 pelanggaran paten, dua pelanggaran hak cipta dan praktik bisnisyang tidak fair. Apple mengajukan Samsung Electronics, Samsung America, dan Samsung Telecommunications America sebagai pihak yang bertanggungjawab. Tetapi dengan alasan bahwa beberapa perangkat atau produk samsung melanggar hak paten dari segi desain, utilitas, dan kemasan dagang maka Apple meminta 8 produk Samsung dilarang beredar di Amerika Serikat.Dikutip dari Techradar, Selasa (28/8), 8 produk itu adalah Galaxy S 4G, Galaxy S2 (AT&T), Galaxy S2 (Skyrocket), Galaxy S2 (T-Mobile), Galaxy S2 Epic 4G, Galaxy S Showcase, Droid Charge, dan Galaxy Prevail. Meski pemenangnya sudah ditentukan, Korsel sebagai negara asal Samsung dan juga konsumen kedua merek, justru melarang beberapa jenis produk dari keduanya beredar di sana. Pengadilan Korsel menyatakan Apple melanggar dua paten milik Samsung, yaitu transfer data dan transmisi. Sedangkan Samsung melanggar satu paten milik Apple, yaitu visual bounce back. Produk Apple yang dilarang beredar di Korsel adalah lain iPhone 3GS, iPhone 4, iPad, dan iPad 2. Meski diantara mereka kini berseteru masalah hukum namun perusahaan yang dimiliki oleh Steve Jobs ini akan tetap menjaga hubungan baik dengan Samsung dalam suatu hubungan relasi yang kuat. Chief Operating Officer Apple Tim Cook mengungkapkan Kami adalah pelanggan terbesar Samsung (untuk liquid crystal display dan semikonduktor) dan Samsung adalah suplier komponen yang sangat berharga bagi kami,maka apapun yang terjadi kami tetap ingin hubungan ini berjalan dengan baik seperti sebelum adanya kasuspun. (Flo/Red) Posts related to Apple VS Samsung:keduanya dilarang beredar di Korsel.