Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH INDIVIDU KIMIA ANALISIS LINGKUNGAN LAUT

PENENTUAN KADAR SULFIDA DALAM AIR LAUT

NAMA NIM KELOMPOK

: ARNIATI LABANNI : H31110006 : 2 (DUA)

JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2013

BAB I PENDAHULUAN

Negara Indonesia merupakan megara maritim yang terdiri dari ribuan pulau. 70% dari seluruh wilayah Indonesia merupakan lautan. Laut ini memiliki sifat-sifat meliputi kedalaman, salinitas, kandungan kimia, arus, aktifitas biologis, dan lain sebagainya. Salah satu hal yang paling penting dari laut adalah kandungan senyawa kimianya. 96,5 % dari air laut merupakan air murni serta 3,5% merupakan zat lain. Zat lain tersebut bisa berupa zat tersuspensi dan zat terlarut, dimana zat terlarut bisa berupa logam-logam berat, mineral, garam-garam anorganik, senyawa organik, gas terlarut, dan lain sebagainya. Gas-gas terlarut ini meliputi O2, CO2, N2, dan H2S. Dalam makalah ini, yang akan saya bahas yakni mengenai kandungan gas hidrogen sulfida (H2S) di dalam air laut terutama bagaimana cara penentuan kadarnya. Hidrogen sulfida, dengan rumus kimia H2S, merupakan suatu senyawa kimia yang berbentuk gas. Dalam air laut, gas H2S bersifat toksik dan dapat mengganggu keberlangsungan hidup organisme laut. Untuk lebih memahami tentang penentuan kadar sulfida dalam air, maka saya mengambil salah satu contoh jurnal yang berkaitan dengan penentuan kadar sulfida dalam air laut yang berjudul Direct Ultraviolet Spectrophotometric Determination of Total Sulfide and Iodide in Natural Waters atau Penentuan kadar total sulfida dan iodida dalam air dengan menggunakan metode spektrofotometri ultraviolet. Jurnal ini diterbitkan tahun 2001 dan dan didasarkan pada penelitian yang telah dilakukan.

BAB II ISI

Sulfida merupakan salah satu gas terlarut di dalam air laut. Di dalam air, sulfida berada dalam kesetimbangan dalam 3 bentuk senyawa yakni H2S, HS-, dan S2-. Sulfida berasal dari oksidasi zat organik oleh bakteri Desulfovifrio desulfuricant. Dalam menguraikan/mengoksidasi senyawa organik dibutuhkan oksigen bebas (O2), namun oksigen bebas ini bersifat langkah sehingga digunakan oksigen yang terikat pada senyawa sulfat SO42-, sehingga terjadi reduksi ion SO42- menjadi S2-. Dari reaksi reduksi ini kemudian dihasilkan sulfida, dalam hal ini hidrogen sulfida (H2S). 2 CH2O + H2SO4 2 CO2 + 2 H2O + H2S Selain itu, sulfida juga bisa berasal dari zat-zat organik yang masuk ke dalam laut, contohnya hidrokarbon. Pembakaran bahan bakar hidrokarbon menghasilkan sulfida. Hal ini yang menyebabkan kadar sulfida di derah tropis lebih tinggi dibandingkan dengan daerah nontropis karena adanya aktifitas pembakaran hidrokarbon untuk menghasilkan minyak bumi. Selain itu, H2S juga berasal dari limbah-limbah industri dan aktifitas perkotaan. H2S merupakan asam lemah. Keberadaan senyawa ini sangat tergantung pada pH, dimana air laut bersifat basa dengan pH > 7 sehingga sulfida dalam air laut umumnya berbentuk HS-. H2S bersifat racun bagi organisme perairan. Di dalam air laut, H2S bersifat lebih beracun dibandingkan dengan H2S di dalam air tawar dengan pH lebih kecil dari 7. H2S bisa dijadikan sebagai indikator tercemarnya suatu perairan, dimana semakin besar kadar H2Snya artinya semakin banyak pencemar,

limbah, dan zat-zat organik yang ada di dalam perairan, sehingga semakin banyak kandungan H2Snya, dan tentunya akan semakin mengganggu ekosistem karena bersifat toksik terhadap organisme laut. Konsentrasi atau kadar sulfida di dalam air laut bisa ditentukan dengan metode spektrofotometri.metode ini didasarkan pada pengukuran panjang gelombang sampel berdasarkan pembentukan warna biru, dalam hal ini disebut metode metilen biru yang diperkenalkan oleh Fisher pada tahun 1883.

NH2 H2N + HCl (CH3)2N N(CH3)2

FeCl3 (CH3)2N

N ClN(CH3)2

H2S (CH3)2N

N ClS N(CH3)2

Pada metode ini, mula-mula senyawa metilen biru dibentuk melalui reaksi antara N,N-dimetil-p-fenilen diamin dengan HCl dengan bantuan FeCl3 sebagai katalis, sehingga terbentuk kompleks metilen biru. Kemudian bereaksi dengan H2S pada sampel air laut sehingga terbentuk kompleks yang berwarna biru. Intensitas warna biru dengan panjang gelombang tertentu sebanding dengan kadar gas hidrogen sulfida di dalam sampel air laut. Dengan menggunakan spektrofotometer uv-vis kemudian diukur absorbansi dari sampel pada panjang gelombang maksimum. Kemudian dibuatkan grafik antara absorbansi dan konsentrasi, lalu ditentukan persamaan garis regresinya.

y = ax + b dengan y adalah absorbansi, a adalah slope, b adalah intersep, dan x adalah konsentrasi. Dari persamaan garis tersebut kemudian bisa ditentukan konsentrasi dari hidrogen sulfida di dalam sampel berdasarkan nilai absorbansinya. Salah satu contoh jurnal yang membahas tentang penentuan kadar sulfida di dalam air laut adalah jurnal terbitan tahun 2001 yang berjudul Direct Ultraviolet Spectrophotometric Determination of Total Sulfide and Iodide in Natural Waters atau Penentuan kadar total sulfida dan iodida dalam air dengan menggunakan metode spektrofotometri ultraviolet. Menurut jurnal ini, teknik atau metode penentuan kadar sulfida di dalam air laut bisa dilakukan dengan beberapa cara yakni metode kolorimetri dengan metilen biru, nitroprusida, dan nitrilotriasetat dan besi. Beberapa jenis metode elektrokimia dengan menggunakan potensiometri, voltametri, dan emperometri telah dilakukan untuk menentukan spesi sulfida. Sedangkan jurnal ini menggunakan deteksi spektrofotometri ultraviolet dari ion bisulfida di dalam sampel air untuk menentukan konsentrasi total dari bisulfida. Metode ini didasarkan pada teori bahwa hidrogen sulfida dapat menyerap cahaya ultraviolet. Konsentrasi dari bisulfida ini ditentukan melalui pengukuran absorbsi pada panjang gelombang 214 hingga 300 nm.

1. Metodologi penelitian a. Reagen Standar bisulfida disiapkan dengan 250 mL air di dalam botol aspirator gelas 500 mLyang dioksigenasi dengan gas N2 selama satu jam. Na2S. 9H2O dibilas

dengan DW untuk menghilangkan sodium sulfit kemudian kristal diseka/dilap dengan untuk menghilangkan airnya, kemudian ditimbang sebanyak 6 gram, yang kemudian ditambahkan ke dalam air yang sudah dioksigenasi untuk mendapatkan 100 mL larutan. Aspirator gelas kemudian disegel untuk menghindari kontak dengan oksigen. Kemudia distandarisasi dengan titrasi iodometri. Reagen yang digunakan untuk pengukuran dengan metode metilen biru adalah N,N-dimethyl-p-phenylenediamine dihydrochloride

((CH3)2NC6H4NH22HCl, Aldrich, 0.48 gram dalam 100 mL HCl 6 M. kedua reagen ditempatkan dalam botol polietilen coklat. Reagen ini harus dihaja dari cahaya dan dimasukkan dalam refrigerator agar tetap tahan selama berbulan-bulan. b. Sampling dan preparasi sampel Sampel diambil dari perairan Seaside, Monterey County, CA, dalam botol polietilen yang diisi hingga penuh dan ditutup. Sampel tidak perlu disaring atau diencerkan karena akan dianalisis dengan UV. pH sampel sekitar 7,7 8,0. Sulfida total juga diukur degan metode metilen biru, sedangkan nitratnya ditentukan dengan pengukuran kolorimetri setelah direduksi menjadi nitrat. Selain menganalisis air dari perairan, pada jurnal ini juga dilakukan analisis terhadap cairan hasil aktifitas vulkanik yang diambil pada kedalaman 1500 m dengan menggunakan alat tertentu, kemudian disaring untuk menghilangkan partike-partikel tersuspensi. Kemudian ditambahkan dengan amonium

hidroksida (NH4OH) 0,44 M, dengan pH<7 menjadi sekitar 8,0, yang kemudian diencerkan, yang nantinya juga akan dianalisis dengan metode metilen biru.

Selain kedua jenis sampel air tersebut, juga diambil sampel sedimen air tanah dari Elkhorn Slough National Estuarine Research Reserve, Monterey Bay. Diperoleh 3 sampel dari tempat yang berbeda-beda yang diisi dengan gas N2. Tabung sentrifugasi kemudian diisi dengan sampel tadi yang masih berupa lumpur. Tabung yang disegel tersebut kemudian disentrifugasi selama ~30 menit dengan kecepatan 2500 rpm untuk memisahkan air tanahnya. Kemudian disaring dengan kertas saring 0,45 m. Sampel kemudian dianaliss dengan metode metilen biru dan dengan UV. c. Peralatan Untuk mendapatkan data absorbansi dari 200 nm hingga 400 nm, digunakan alat Hewlett-Packard HP 8452A diode array spektrofotometer dengan resolusi 2nm. Sampel air perairan dan air tanah diukur absorbansinya dengan kuvet kuarsa. Sampel vent (yang berasal dari aktifitas vulkanik diukur dengan kuvet alir Hellma 1cm dengan windows Suprasil I. Semua data absorbansi disimpan dengan estimasi generalisasi komputer dari konsentrasi bisulfida di dalam sampel. Perkin-Elmer Elan 6000 IC MS digunakan untuk menentukan total iodine dalam sampel. Sampel diencerkan hingga 250 kali dengan HNO3 1% supermurni sebelum dianalisis dengan ICPMS.

2. Hasil dan Pembahasan Spektrum dari larutan dengan konsentrasi sulfide total 50 M pada pH 8 menunjukkan puncak pada daerah 230 nm (figure 1b). Absorbansi 230 nm pada larutan yang mengandung total sulfide 115 M ditunjukkan pada pH tertentu

(figure 1b). Nilai absorbansi sangat dipengaruhi oleh pH. Persentasi dari sulfide total sebagai HS- pada masing-masing sampel yang dihitung dengan nilai pK1 sebesar 6,60 pada air laut pada suhu 250C juga ditunjukkan pada grafik. Kesamaan antara dua garis tersebut menggambarkan bahwa ion bisulfida merupakan spesi primer yang sangat mempengarhi absorbsi UV pada H2S. spektrum yang lebih lemah dapat dilihat pada larutan asam karena adanya H2S yang terdisosiasi (figure 1a). dominansi HS- pada absorpsi UV menunjukkan kisaran pH optimum untuk pengukuran konsentrasi sulfida total dengan UV adalah pada pH 8,0 sampai 9,0, dimana HS- > 95% dari semua total sulfida. Spektrum ini akan lebih rumit di atas pH 9 dengan adanya absorbansi polisulfida yang juga manyerap pada daerah UV.

Spektra absorbansi UV untuk beberapa senyawa lain juga ditunjukkan pada grafik 1a seperti bromide, nitrat, nitrit, dan iodide yang memunjukkan puncak pada panjang gelombang 204, 202, 210, dan 226 nm. Namun hal ini tidak akan kita bahas pada makalah ini karena kita hanya fokus pada penentuan kadar sulfida. Puncak pada spektrum larutan bisulfida bisa diselesaikan dari spektra ion lain selain I-. konsentrasi total dari iodin adalah <1 M dalam air laut, dimana hal ini tidak cocok untuk digunakan dalam penentuan kadar bisulfida dalam jumlah yang mikro. Penelitian terdahulu telah melakukan studi dan menemukan bahwa spektrum dari material organik yang terlarut di dalam air laut dapat dimodelkan sebagai sebagai suatu fungsi eksponensial. Absorbansi dari suatu sampel merupakan jumlah absorbansi dari komponenkomponennya

Dimana adalah absortivitas molar dari spesies yang tersubskripsi pada panjang gelombang , dan L adalah lebar medium. Penjumlahan dari komponen (j) mewakili semua kombinasi yang mungkin dari ion anorganikselain HS- yang mungkin ada di dalam sampel. Intersep (b) dan slope (b) mewakili absorbsi dari zat-zat organik dalam sampel air laut. Kemudian c mungkin ditambahkan untuk memenuhi offset spektral untuk dimasukkan dalam proses. Persamaan 1, pada prinsipnya dapat digunakan untuk menentukan HS-, NO3-, Br-, I-, dan komponen lainnya.

Sulfida dalam sampel air Sampel air mewakili sampel alam yang paling sederhana yang diuji. Sampel ini mengandung sedikit ion halida. Absorbansi dari semua sampel kurang dari 1,0 pada panjang gelombang 214 nm. Grafik 2 menunjukkan spektrum absorbansi dari sampel dan spektrum kompenen yang telah ditentukan dengan regresi dari persamaan 1 pada kisaran panjang gelombang 220 sampai 300 nm. Batasan deteksi (3 x standar deviasi) untuk 15 analisis bisulfida dari sampel perairan adalah 0,6 m. Meskipun penentuan kadar hidrogen sulfida ditemukan dalam setiap sampel, konsentrasi total sulfida di atas ditemukan bahwa batas deteksi hanya ditemukan di salah satu sampel, baik itu dengan metode ultraviolet (1,7 m) maupun metode metilen biru (1,3 m) (grafik 2).

Sulfida, Nitrat, dan Bromide dalam Dampel Air Hidrotermal Spektrum dari sampel fluida hidrotermal lebih kompleks daripada sampel air biasa dari suatu perairan. Tingginya konsentrasi bromide dalam air laut (~850 M) dan konsentrasi total dari sulfida yang tinggi ditunjukkan oleh absorbansi yang lebih besar daripada 1,0. Sampel air hidrotermal dibagi menjadi 2 kelompok, dimana salah satunya mengandung total sulfida yang rendah ( A<1,0 pada =230 nm dan pH 8) dan yang lain dengan konsentrasi total sulfida yang tinggi (A 1,0 pada 230 nm dan pH 8). Persamaan 1 dapat langsung digunakan pada sampel dengan kadar bisulfida yang rendah. Sedangkan untuk konsentrasi bisulfida yang rendah digunakan model bisulfida DOC sebagai satusatunya konstituen. Diagram 3a menunjukkan spektrum absorbansi dari sulfida dengan konsentrasi yang rendah yang telah ditentukan dengan regresi multipel dari sampel dari 214 sampai 300 nm. Sedangkan spektrum absorbansi dengan konsentrasi sulfia yang tinggi yang ditentukan dengan regresi nonlinear yaitu pada panjang gelombang 246 sampai 300 nm ditunjukkan pada diagram 3b.

Konsentrasi bisulfida pada air hidrotermal ditentukan dengan metode ultraviolet dan kemudian dibandingkan dengan penentuan dengan metode metilen biru pada diagram 4. Konsentrasi yang tinggi dari suatu sampel dapat dianalisis dengan metode ultraviolet tanpa pengenceran. Pengenceran tidaklah mungkin untuk diakukan pada metode metilen biru. Standar deviasi dari pengukuran bisulfida adalah 0,26 M, yang memberikan deteksi limit (3 SD) pada 0,8 M.

Selain itu juga ditentukan kadar sulfide pada sampel air tanah dengan metode ultraviolet dan diperoleh diagram spectrum berikut:

Diagram tersebut menunjukkan adanya peak di dekat 260 nm pada sampel dengan konsentrasi total sulfide sebesar 20,8 M. Selain itu, juga ditentukan kadar senyawa lain di dalam sampel melalui analisis dengan ultravolet seperti I- dengan diagram spektru seperti di bawah ini:

Diagram spectrum di atas merupaka spectrum ultraviolet untuk analisis kandungan I- pada sampel. Namun dalam makalah ini hanya membahas mengenai penentuan kadar sulfide sehingga tidak akan dibahas mengenai kandungan I- dalam sampel. Jurnal tersebut di atas telah membahas mengenai penentuan kadar sulfida dan beberapa senyawa lain dalam sutu perairan. Jurnal tersebut didasarkan pada penelitian yang telah dilakukan, dimana dilakukan analisis terhadap tiga jenis contoh yaitu air biasa di perairan, air tanah, dan air hidrotermal sebagai akibat dari aktifitas vulkanis. Analisis tersebut dilakukan dengan dua metode yakni metode metilen biru dan metode ultraviolet sehingga diperoleh kadar total sulfida pada masing-masing jenis sampel. Jika dirangkumkan, maka proses analisis sulfida contoh air dapat dilakukan dengan prosedur berikut: 1. Masukkan water sampler secara vertikal dan pelan2 ke dalam air laut. Setelah semua water sampler berada di dalam air, tutup water sampler 2. Isi botol BOD dengan contoh air melalui selang plastik. 3. Tutup botol BOD pelan-pelan. 4. Buka tutup botol. 5. Tambahkan pelan-pelan 0,50 mL N,N-dimetil-p-fenilen diamin dan 0,50 mL FeCl3. Ujung piprt harus sampai ke dasar botol. 6. Tutup kembali botol BOD dengan pelan-pelan. Hindari adanya gelembung udara. 7. Kocok dengan cara membolak-balik botol BOD sebanyak 15 kali.

8. Biarkan selama 60 menit alam tempat gelap. 9. Ukur absorbansinya pada panjang gelombang 670 nm. Penentuan kadar sulfida dalam suatu perairan tidaklah semudah yang dibayangkan. Penentuan kadar sulfida di dalam air laut bukan hanya melalui proses yang biasa-biasa saja mulai dari pengambilan sampel air, pengawetan, pengangkutan ke laboratorium, hingga mencampurnya dengan reagen dan menggunakan alat spektrofotometri untuk menentukan kadarnya. Ternyata ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan kadar sulfida dalam air laut. Dalam analisis, sangat dibutuhkan ketelitian serta kehati-hatian karena ada beberapa hal yang mungkin dianggap sepeleh namun ternyata sangat mempengaruhi hasil akhir analisis. Kesalahan ini bisa menyebabkan lost (kadar sulfida > kadar sebenarnya) atau contamination (kadar sulfida > kadar sebenarnya). Kesalahan-kesalahan tersebut bisa berasal dari beberapa aspek, secara natural dari alam, maupun karena perlakuanperlakuan yang diberikan, mulai dari pengambilan sampel, hingga pada pengukuran absorbansi. Namun ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghindari kesalahan tersebut sehingga tidak ada pengaruh terhadap hasil akhir analisis. Berikut diuraikan beberapa sumber kesalahan dalam penentuan kadar sulfida serta cara mengatasinya. 1. Penggunaan tempat contoh air, dimana botol dengan model tutup diputar tidak dapat diisi penuh dengan air. Masuknya udara ke dalam botol akan mendorong proses penguapan H2S, sehingga kadar sulfida > kadar sebenarnya (lost).

Maka untuk menghindari kesalahan tersebut, digunakan botol BOD atau botol yang dirancang khusus untuk analisis sulfida, dengan penutup botol yang tidak diputar tapi langsung ditutup. 2. Kadar H2S dalam udara di daerah tropis tinggi sebagai hasil dari pembakaran bahan bakar hidrokarbon sehingga udara bisa menjadi sumber kontaminasi yang potensil. Kesalahan bisa terjadi saat pengambilan contoh air, dimana jika dilakukan pengambilan contoh dengan cara penyidukan maka akan aa udara yang terperangkap di dalam botol sehingga menyebabkan kadar sulfida > nilai yang sebenarnya (contaminated). Maka untuk menghindari hal ini, pengambilan contoh dilakukan dengan menggunakan water sampler khusus, dimana water sampler dimasukkan ke dalam air secara vertikal dan perlahan-lahan hingga semua bagian water sampler masuk ke dalam air dan terisi penuh, kemudian segera ditutup. 3. Penggunaan water sampler yang terbuat dari logam akan bereaksi dengan sulfida sehingga akan mengurangi kandungan sulfia di dalam sampel dan kadar yang diperoleh < kadar yang sebenarnya.Untuk menghindari hal ini, maka digunakan digunakan water sampler yang terbuat dari bahan organik atau dari bahan gelas yang tidak akan bereaksi dengan sulfida sehingga tidak akan mempengaruhi hasil analisis. 4. Suhu udara di atas kapal lebih tinggi daripada suhu air laut shingga suhu contoh akan naik sewaktu tiba di atas kapal dan menyebabkan H2S keluar dari contoh. Hal ini kemudian menyebabkan hasil analisis < hasil yang sebenarnya.

Untuk menghindari hal ini, maka saat contoh air tiba di atas kapal, segera pindahkan ke dalam botol BOD. Namun penunangannya tidaka bisa dilakukan dengan cara biasa karena dapat menyebabkan H2S menguap. Oleh sebab itu harus menggunakan selang khusus dari water sampler ke dalam botol BOS. 5. H2S bersifat gas. Kenaikan suhu atau goncangan yang terjadi selama transportasi menyebabkan sebagian H2S menguap atau keluar dari contoh air sehingga akan mempengaruhi hasil akhir dimana hasil analisis < kadar yang sebenarnya dalam contoh air. Oleh sebab itu, sampel air yang diisikan ke dalam botol BOD harus benar-benar sampai penuh sehingga tidak ada ruang bagi gas H2S untuk keluar dari contoh air. 6. Air laut umumnya mengandung zat padat tersuspensi yang tentunya akan memantulkan cahaya sehingga akan ikut terukur pada saat pengukuran absorbansi. Hal ini menyebabkan nilai absorbansi sampel > nilai absorbansi yang sebenarnya sehingga kadar sulfida hasil analisis > kadar sebenarnya. Maka untuk menghindari hal ini, contoh air harus disaring terlebih dahulu dengan menggunakan kertas saring 0,45 m 7. H2S bersifat gas. Kenaikan suhu atau goncangan selama transportasi akan menyebabkan H2S menguap atau keluar dari air contoh. Untuk menghindari hal ini maka contoh harus segera dimasukkan ke dalam ice box, lalu didinginkan dengan es batu. 8. Adanya aktivitas mikroorganisme yang mengubah senyawa sulfat (kadarnya sangat tinggi di dalam air laut yaitu sekitar 2000 ppm) menjadi H2S atau S2sehingga menyebabkan kadar sulfida di dalam contoh meningkat dan terjadi

kontaminasi. Untuk menghindari hal tersebut, maka contoh air harus ditaruh di tempat yang gelap. Bila analisis contoh tidak dapat dilakukan 1 jam setelah pengambilan maka sampel air harus ditambahkan dengan 1 mL Zn asetat (2N) / 50 mL air contoh.

BAB III KESIMPULAN

Dari semua paparan dan penjelasan dalam makalah ini dapat disimpulkan bahwa: 1. Sulfida di dalam air laut berasal dari reduksi ion sulfat oleh bakteri Desulfovifrio desulfuricant) dan penguraian senyawa organik oleh

mikroorganisme. 2. Sulfida dapat dijadikan sebagai indikator tercemarnya suatu perairan 3. Kadar sulfida dalam satu perairan dapat diukur dengan metode

spektrofotometri yakni biru metilen dan dengan metode ultraviolet. 4. Telah dilakukan banyak penelitian salah satunya untuk menentukan kadar sulfida di dalam air laut, air hidrotermal hasil aktivitas vulkanik, dan air tanah yang diterbitkan dalam suatu jurnal berjudul Direct Ultraviolet

Spectrophotometric Determination of Total Sulfide and Iodide in Natural Water 5. Dalam menentukan kadar sulfida dalam suatu perairan, harus diperhatikan sumber-sumber kesalahan yang dapat mempengaruhi hasi akhir dan menghindari kesalahan tersebut dengan caranya masing-masing, sehingga diperoleh hasil kadar sulfida yang sesuai dengan kadar sebenarnya.