Anda di halaman 1dari 6

STERILISASI PENGERTIAN Sterilisasi adalah sebuah metode kontrasepsi sekali untuk selamanya.

Sterilisasi dalam keluarga berencana adalah setiap tindakan pada kedua saluran tuba atau saluran telur wanita atau saluran bibit pria yang mengakibatkan pasangan yang bersangkutan tidak akan memperoleh keturunan lagi. KONTAP(Kontrasepsi Mantap) Adalah salah satu cara kontrasepsi untuk mengakhiri kelahiran. I. Kontap Wanita (MOW=Medis Operatif Wanita) MOW adalah tindakan penutupan terhadapkedua saluran telur kanan dan kiri yang menyebabkan sel telur tidak dapat melewati saluran telur, dengan demikian sel telur tidak dapat bertemu dengan sperma laki-laki sehingga tidak terjadi kehamilan. Syarat-syarat yang harus di penuhi, yaitu : a. Sukarela Setiap calon peserta kontap harus secara ukarela menerima pelayanan kontap; artinya secara sadar dan dengan kemauan sendiri memilih kontap. b. Bahagia Dimana syarat bahagia, artinya: - Calon peserta tersebut dalam perkawinan yang sah dan harmonis dan telah di anugrahi sekurang-kurangnya 2 orang anak yang sehat. - Bila hanya mempunyai 2 orang anak, maka anak yang paling kecil sedikitnya umur sekitar 2 tahun - Umur istri paling muda 25 tahun c. Kesehatan Setiap calon peserta kontap harus memenuhi persyaratan kesehatan artinya tidak ditemukan adanya hambatan/ kontraindikasiuntuk menjalani kontap. Dan melakukan pemeriksaan laboratorium: pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan urine, pap smear. d. Setiap calon pesert kontap harus mengikuti konseling (bimbingan tatap muka) e. Menandatangani formulir persetujuan tindakan medik(informed consent) Waktu pelaksanaan MOW : a. Setiap waktu slama siklus menstruasi apabila di yakni secara rasional klien tersebut tidak hamil b. Hari ke 6 hingga ke 13 siklus menstrusi c. Pasca persalinan - Minilaparatomy : di dalam waktu 2 hari atau setelah 6 minggu atau 122 minggu - Laparoskopi : tidak tepat untuk klien-klien pasca persalinan d. Pasca keguguran - Triwulan pertama : dalam waktu 7 hari sepanjang tidak ada bukti infeksi pelvik(minilaparotomy atau laparoskopi) - Triwulan kedua : dalam waktu 7 hari sepanjang tidak ada bukti infeksi pelvik(minilaparotomy) Anastesi untuk kontap wanita : 1. Anastesi umum 2. Anastesi spinal 3. Anastesi lokal+sedasi ringan(Neuroplent-analgesia yang sangat dianjurkan, karena lebuh aman, murah,dll) Penyinaran Sinar laser Laser adalah Light Amplication by Stimulated Emission of Radiation atau penguatan cahaya dengan pemanasan radiasi hasil rangsangan. 1. Sinar laser sekarang mulai banyak dipakai dalam idang kedkteran misalnya: mata,dll Sinar laser akan membedah jaringan tubuh seraya menutup kembali pembuluh darah seketika dalam perjaalannya. 2. Halbrecht(Israel) meneliti pemakaian sinar laser CO2 untuk menimbulakn panas yang terpusat pada suatu titik dimana tuba falopii sehingga timbul kerusakan dari tuba falopii. 3. Masih harus dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai lamanya waktu penyinaran sinar laser, efekivitas dan reversibilitas dari metode.

Keuntungan sinar laser : a. Kerusakan tuba falopii terbatas b. Morbilitas rendah c. Dapat dikerjakan dengan laparoskopi, histeroskopi Kerugian sinar laser : a. Memerlukan alatalat yang mahal b. Memerlukan latihan khusus c. Potensi referbilitas belum diketahui Operatif Dikenal 2 tipe yang sering digunakan dalam pelayanan tubektomi yaitu: 1. Minilaparotomy 2. Laparoskopi Keduanya menggunakan anastesi lokal. Minilaparotomy Interval Persiapan Prabedah 1. Periksa kelengkpan peralatan bedah dan obat anastesi 2. Pasang tensimeter, periksa dan catat tensi, nadi, pernapasan 15 menit 3. Pasang wing needle 4. Jika klien memerlukan tambahan sedasai setelah mendapatkan diazepam per oral, berikan pethidin 1mg/kg BB intra muskuler dan tunggu 30-45 menit. Asepsis dan Antisepsis 1. Pakai pakaian kamar operasi topi dan masker 2. Cuci dan sikat tangan dengan larutan antiseptik selama 3 menit 3. Pakai sarung tangan steril dan disinfeksi Tingkat Tinggi (DTT) Pemeriksaan Pelvik dan Fiksasi Uterus 1. Usap genetalia eksterna dan perineum dengan kasa berantiseptik dan lakukan kateterisasi 2. Lakukan pemeriksaan Pelvik secara bimanual. Nilai posiis dan besar uterus serta kelainan dalam pelvik 3. Pasang spekulum dan nilai serviks dan vagina kemudian lakukantindakan asepsis pada portio dan vagina 4. Pasang tenakulum pada jam 12 dan lakukan sondase 5. Pasang elevator uteus 6. Ikat gagang elevator pada gagang tenakulum untuk mempertahankan posisi uterus 7. Lepaskan sarung tangan. Pakai gun operasi dan sarung tangan steril. Persiapan Lapangan Operasi dan Penentuan Tempat Insisi 1. Instruksikan kepada perawat untuk : menyuntik diazepam 0,1 mg/kg BB intra vena dan tunggu 3 menit. Kemudian suntikkan ketalar 0,5 mg/kg BB intra vena dan tunggu 3 menit. 2. Tentukan tempat insisi kepada dinding perut dengan jalan menggerakkan elevator uterus ke bawah sehingga fundus uteri menyentuh dinding perut 2-3 cm di atas simfisis pubis 3. Lakukan tindakan asepsis(betadin atau jodium alkohol. Pada tempat insisi dengan gerakan melingkar dari tengah ke arah luar, tuutp dengan kain streil berlubang di tengah Membuka dinding Abdomen 1. Suntikkan secara infiltrasi 3-4 cc anastesi local(lignokain 2%)dibawah kulit. Pada tempat insisi (aspirasi sebelumnya), tunggu 2 menit dan nilai efek anastesi dengan menjepit kulit pakai pinset sirurgis 2. Lakukan insisi melintang pada kulit dan jaringan subkutan sepanjang 3 cm pada empat yang telah di tentukan (gunakan perut pisau/ posisi pisau horizontal) 3. Pisahkan jaringan subkutan secara tumpul(dengan retraktor) sampai terlihat fasia. 4. Suntikka jarum ke fasia dan lakukan infiltrasi lokal 3 cc sambil menarik jarum 5. Jepit fasia (dengan kooher) pada 2 tempat dalam arah vertical dengan jarak 2 cm, lakukan insisi dalam arah

horizontal. Pelebar ke kiri dan ke kanan. 6. Pisahkan jaringan otot secara tumpul pada garis tengah dengan jari telunjuk atau klem arteri sehingga tampak peritoneum dan lakukan infilrasi anastesi lokal 3 cc sambil menarik jarum. 7. Jepit peritoneum dengan 2 klem, transiluminasi untuk identifikasi, sisihkan omentum dan usus dari peritoneum dengan menggunkan sisi luar gunting 8. Gunting Peritoneum arah vertical 2 cm ke atas dan 1 cm ke bawah 9. Masukkan 2 buah bak(retraktur). Pada tempat insisi peritoneum dan regangkan untuk menampakkan uterus pada lapasigan operasi. 10. Bila omentum atau usus menghalangi lapang pandang, gunakan kasa gulung, jepit ujung kasa dengan klem. Mencapai Tuba 1. Gerakkan elevator uterus sampai fundus uteritampak pada lapangan operasi 2. Tampakkan salah satu kornu uteri dan ligamen rotundum pada lapangan operasi dengan menggerakkan elevator danidentifikasi tuba 3. Jepit tuba dengan pinset atau klem babcock dan tarik pelan-pelan keluar mlakui lubang insisi sampai terlihat fibria. Memotong Tuba 1. Jepit pada 1/3 proksimal dengan klem babcock, angkat sampai tuba melengkung, tentukan daerah mesosalping tanpa pembuluh darah. 2. Tusukkan jarum bulat dngan benng catgut nomor 0 pada jarak 2 cm dari puncak lengkungan dan ikat salah satu pangkal lengkungan tba. 3. Ikat kedua pangkal lengkungan tuba scra bersama-sama dengan menggunakan benang yang sama. 4. Potong tuba tepat di atas ikatan benang 5. Periksa perdarahan pada tunggu tuba dan periksa lumen tuba untuk meyakinkan tuba telah terpotong 6. Potong benang catgut 1 cm dan tuba dan masukkan kembali tuba ke dalam rongga abdomen 7. Lakukan tindakan yang sama pada tuba sisi yang lain. Menutup Dinding Abdomen 1. Periksa rongga abdomen (kemungkinan perdarahan atau laserasi usus) dan keluarkan kasa gulung 2. Lakukan penjahitan fasia dengan jahitan simpul atau anga 8 memakai benang chromic catgut nomor 1 3. Jahit sub kutis dengan jahitan simpul memakai benang plain catgut nomor 0 4. Jahit kulit dengan jahitan simpul memakai benang sutera nomor 0 Tindakan Pascah Bedah 1. Bersihkan luka insisi dan dinding abdomen sekitarnya dengan alkohol atau betadin, tutup luka dengan kain steril dan plester 2. Lepaskan tenakulum dab elevator uterus 3. Periksa tekanan darah, nadi dan pernapasan 4. Tanyakan pada klien tentang keluhan subjektif 5. Pindahkan klien dari meja operasi ke ruang pulih untuk pengamatan selama 1 jam 6. Instruksikan kepada perwatan untuk memeriksa dan mengamati tensi, nadi, pernapasan dan perdarahan melalui luka operasi dan vagina Konseling dan Instruksi Pasca bedah - Tanyakan paad klien bila masih ada hal-hal yang ingin diketahuinya untuk tentang tubektomi - Jelaskan pada klien untuk menjaga agar daerah luka untuk menjaga agar daerah luka operasi tetap kering - Jelaskan pada klien untuk tidak bersenggama selama 1 minggu - Jelaskan pada klien bahwa bila ada keluhan (rasa sakit atau terjadi perdarahan dari luka operasi atau kemaluan) segera kembali ke klinik untuk mendapat pertolongan - Beritahu klien bila tidak ada keluhan, periksa ulang 1 minggu lagi - Klien dipulangkan bila keadaan stabil setelah 4-6 jam

Penyumbatan Tuba Mekanis ndan Tuba Kimiawi

A. Oklusi Tuba Falopii secara Kimiawi Zat-zat Kimia Banyak zat-zat kimia saat ini dalam penelitian eksperimental untuk oklusi tuba falopii, terutama dilakukan pada hewan percobaan sedangkan pada manusia, baru beberapa zat kimia saja yang telah diteliti. Cara Kerja zat-zat kimia : a. Tissue adhesiva Zat kimia akan menjadi padat sehingga terbentuk sumbat di dalam tuba falopii. b. Sclerosing agent Zat kimia akan merusak saluran tuba falopii dan menimbulkan fibrosis. Zat-zat kimia dalam bentuk cairan, pasta atau padat dimasukkan melalui serviks ke dalam utero-tubal junction, dapat dengan visualisasi secara langsung yaitu dengan histeroskop, atau tanpa visualisasi langsung (blind delivery) dengan kateter, kanula atau tabung suntik. Atau dapat dikerjakan juga melalui ujung fimbriae, dengan melihat secara langsung melalui jalan trans-abdominal atau trans-vaginal. Keuntungan zat-zat kimia : 1. Mengerjakannya lebih mudah 2. Dapat dikerjakan secara rawat jalan

Kerugian zat-zat kimia : 1. Kebanyakan zat-zat kimia kurang efektif setelah satu kali pemberian sehingga aseptor harus datang kembali untuk pembereian berikutnya(sampai 3 x pemberian) dengan interval 1 minggu atau 1 bulan 2. Ada beberapa zat kimia yang sangat toksis, sehingga dapat menyebabkan kerusakan jaringan sekitarnya 3. Beberapa zat kimia memerlukan alat-alt yang khusus untuk aplikasinya. 4. Ireversible 5. Dosis zat kimia yang telah diteliti untuk kontap wanita adalah : a. Phenol(carbolid acid)compounds b. Quinacrine c. Methyl-cyanoacarylate(MCA) B. Oklusi Tuba Falopii secara Mekanis Ligasi tuba falopii Ligasi atau pengikaan tuba falopii untuk mencegah perjalanan dan pertemuan spermatozoa dan ovum merupakan salah satu cara oklusi tuba falopii yang paling tua. Tehnik ligasi : 1. Ligasi biasa 2. Ligasi+penjepitan tuba falopii 3. Ligasi+pembelahan / pembagian (division)+penanaman 4. Ligasi+reseksi tuba falopii 5. Ligasi+ reseksi+penanaman Ligasi+pembelahan / pembagian (division)+penanaman Dapat dilakukan dengan teknik : 1. Teknik Irving - Tuba falopii di ikat pada dua tempat dengan benang yang dapat diresap kemudian dibagi antara kedua ikatan - Ujung atau puntung proksimal ditanamkan ke dalam myometrium uterus - Ujung atau puntung distal ditanamkan ke dalam meso salpinx 2. Teknik Wood

- Pars ampularis tuba falopii dibedah/ di bagi (division) - Kedua ujung/ puntung yang di bedah/di ikat dengan benang yang dapat di serap - Ujung atau puntung medial ditanamkan ke dalam kantong yang dibuat dalam meso salpinx 3. Teknik Cooke Suatu segmen tuba falopii di jepit dan dan dirusak, kemudian ujung proksimal ditanamkan ke dalam ligamentum rotundum.

Ligasi+reseksi tuba falopii Ligasi atau reseksi(pemotongan atau pembuahan)suatu segman tuba falopii lebih mudah dikerjakan, karena itu lebih sering digunakan dibandingkan cara-cara dimana ujung/puntung tuba falopii ditanamkan ke strukur jaringan di sekitarnya.

II. Kontap Pria (MOP= Medis Operatif Pria) MOP adalah tindakan pengikatan dan pemotongan saluaran benih agar sperma tidak keluar dari buah zakar. Waktu pelaksanaan MOP: Tidak ada batasan usia, dapat dilaksanakan bila di inginkan yang penting sudah memenuhi syarat sukarela, bahagia dan kesehatan. Dasar dari kontap Pria : Oklusi vas deferens, sehingga menghambat perjalanan spermatozoa dan tidak di dapatkan spermatozoa di dalam semen atau ejakulasi (tidak ada penghantran spermatozoa dari testis ke penis) Keuntungan Kontap Pria : 1. Efektif 2. Aman, morbiditas rendah dan hampir tidak ada mortalitas 3. Sederhana 4. Cepat, hanya memerlukan waktu 5-10 menit 5. Menyenangkan bagi akseptor karena memerlukan anastesi lokal saja. 6. Diare rendah 7. Secara kultural sangat dianjurkan di negara-negara dimana wanita merasa malu untuk ditangani oleh dokter pria atau kurang tersedia dokter wanita. Kerugian Kontap Pria : 1. Diperlukan suatu tindakan yang operatif 2. Kadang-kadang menyebabkan komplikasi seperti perdarahan atau infeksi. 3. Kontap-pria belum memberikan perlindugan total sampai semua spermatozoa, yang sudah ada di dalam sistem reproduki distal dari tempat oklusi vas deferens, dikeluarkan. 4. Problem psikologis yang berhubungan dengan perilaku seksual, mungkin bertambah parah setelah tindakan opertif yang menyangkut sistem reproduksi Prosedur Kontap Pria Prosedur Kontap-Pria meliputi langkah tindakan : 1. Identifikasi dan Isolasi vas defevas deferens a. Kedua vas deferens merupakan struktur paling padat di daerah mid-scrotum, tidak berpulsasi(berbeda dengan pembuluh darah) b. Kesukaran kadang-kadang terjadi dalam identifikasi dan isolasi vas deferens seperti pada keadaan-keadaan : - Kulit skrotum tebal - Vas deferens yang sanagt tipis - Spermatik cord yang tebal

- Testis yaang tidak turun - Otot cremaster berkontraksi dan menarik testis ke atas c. Kedua vas deferens harus di identifikasi sebelum meneruskan prosedur kontapnya. d. Dilakukan immobilisasi vas deferens diantara ibu jari dan jari telunjuk atau dengan memakai klem (doek-klem atau klem lainnya) e. Dilakukan penyuntikan anastesi lokal 2. Insisi skrotum a. Vas deferens yang telah di immobilisasi di depan skrotum hanya di tuutpi oleh otot dartos dan kulit skrotum b. Insisi, horizontal atau vertikal, dapat dilakukan secara: - Tunggal di garis tengah (scrotal raphe) - Dua insisi, satu insisi di atas masing-masing vas deferens 3. Memisahkan lapisan-lapisan superfisial dari jaringan-jaringan sehingga vas deferens dapat di isolasi 4. Oklusi vas deferens a. Umumnya dilakukan pemotongan/ reseksi suatu segmen dari kedua vas deferens (1-3 cm), yang harus dilakukan jauh dari epididymis. b. Ujung-ujung vas deferens setelah di potong dapat di tutup dengan : - Ligasi o Dapat dilakukan dengan chromik catgut (ini yang paling sering dilakukan) o Dapat pula dengan benang yang tidak diserap (silk), tetapi kadang-kadang dapat menyebabkan iritasi jaringan atau granuloma o Ligasi dilakukan terlalu kuat sampai memotong vas deferens, karena dapat menyebabkan spermatozoa merembes di sekitarnya dan terjadi granuloma o Untuk mencegah kedua ujung vas deferens agar tidak menyambung kembali (rekanalisasi), ujung vas deferens dapat dilipat ke belakang lalu di ikatkan/ dijahitkan pada dirinya sendiri atau fasia dari vas deferens dapat ditutupkan di atas satu ujung sehingga tedapat suatu barier dari jaringan fasia, atau ujung vas deferens ditanamkan ke dalam jaringan fasia. - Elektro-koagulasi/ thermo-koagulasi - Clips o Masih dalam fase eksperimental o Keuntungan clips : 1. Lebih cepat dibandingkan ligasi 2. Lebih mudah memperhitungkan tekanan yang diperlukan untuk aplikasi clips, tidak di serap dan biologist inert 3. Potensi reversibiletas besar o Umumnya di pasang 2-3 clips pada masing-masing vas deferens 5. Penutupan luka insisi a. Dilakukan dengan catgut yang kelak akan diserap b. Pada insisi 1 cm atau kurang, tidak diperlukan penjahitan catgut, cukup ditutup dengan plester saja. Perawatan Post-operatif Kontap- Pria Perawatan Post-operatif Kontap- Pria juga minim saja : 1. Istirahat 1-2 jam di klinik 2. Menghindari pekerjaan berat slam 2-3 hari 3. Kompres dingin/es pada scrotum 4. Analgetik 5. Memakai penunjang skrotum (skrotal-support) selam 7-8 hari 6. Luka operasi jangan kena air selama 24 jam 7. Senggama dpat dilakukan secepatnya saat pria sudah menghendaki dan tidak meras mengganggu lagi.