Anda di halaman 1dari 25

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Kajian dalam bidang fisika tidak pernah terlepas dari bidang ilmu matematika terutama dalam menyelesaikan masalah-masalah atau soal-soal yang bersifat kuantitatif. Salah satunya yakni kalkulus variasi. Kalkulus variasi adalah salah satu cabang matematika klasik, yang di dalamnya terdapat masalah-masalah penting, seperti masalah geometris optik, masalah untuk studi tubuh bergerak dalam cairan atau masalah

brachistochrone yang dirumuskan oleh Galileo. Masalah terakhir ini sangat kuat pengaruhnya terhadap perkembangan kalkulus variasi. Euler dan Lagrange juga menemukan cara yang sistematis dalam menangani masalahmasalah dalam kalkulus variasi dengan memperkenalkan apa yang sekarang dikenal sebagai persamaan Euler-Lagrange, kemudian diperluas dalam berbagai cara. Kunci dari kalkulus variasi adalah persamaan Euler-Lagrange. Ini berhubungan dengan syarat stasioner sebuah fungsional. Sebagaimana mencari maksima dan minima sebuah fungsi, analisis perubahan kecil yang terjadi yang mendekati solusi yang diduga, haruslah memenuhi sebuah syarat yakni turunan pertamanya bernilai nol. Syarat perlu itu belumlah syarat cukup. Pengujian dilakukan dengan melihat apakah turunan keduanya lebih besar atau lebih kecil dari nol. Dengan melihat besarnya penggunaan kalkulus variasi ini dalam menyelesaikan masalah-masalah atau persoalan dalam bidang fisika, penulis ingin menguraikan sedikit tentang kalkulus variasi serta bagaimana aplikasinya dalam menyelesaikan permasalahan atau soal-soal fisika, yang penulis kutip dari berbagai sumber, dengan harapan dapat membantu mahasiswa dalam menyelesaikan permasalahan fisika. B. Rumusan Masalah. Adapun rumusan masalah dalam makalah ini antara lain: 1. Apakah yang dimaksud dengan kalkulus variasi?

Kalkulus Variasi

2. Bagaimanakah bentuk persamaan Euler? 3. Bagaimana penggunaan persamaan Euler? 4. Bagaimana bentuk integral pertama persamaan Euler? 5. Bagaimana menyelesaikan masalah brachistochrone? 6. Bagaimana bentuk persamaan Lagrange? 7. Bagaimana bentuk variasional notasi? C. Tujuan Adapun tujuan dari penulisan makalah ini antara lain: 1. Mengetahui tentang kalkulus variasi. 2. Mengetahui bentuk persamaan Euler. 3. Mengetahui penggunaan persamaan Euler. 4. Mengetahui bentuk integral pertama persamaan Euler. 5. Dapat menyelesaikan masalah brachistochrone. 6. Mengetahui bentuk persamaan Lagrange. 7. Mengetahui bentuk variasi notasi. D. Manfaat Manfaat yang diharapkan dari penulisan makalah ini yaitu agar para pembaca lebih memahami tentang kalkulus variasi, terutama bagi mahasiswa fisika, sehingga dapat diaplikasikan untuk menyelesaikan berbagai

permasalahan atau persoalan fisika.

Kalkulus Variasi

BAB II PEMBAHASAN A. Kalkulus Variasi Kalkulus merupakan cabang pusat dari matematika, yang

dikembangkan dari aljabar dan geometri dan dibangun dari dua buah ide tambahan utama. Salah satu konsepnya adalah kalkulus diferensial. Kalkulus diferensial mempelajari besarnya perubahan, yang biasanya digambarkan dengan kemiringan kurva. Konsep yang lain adalah kalkulus integral. Kalkulus integral mempelajari akumulasi jumlah seperti luas area di bawah kurva, jarak linear yang ditempuh dan volume. Kalkulus variasi adalah cabang matematika yang berhubungan dengan fungsi dari fungsi-fungsi, yang berlawanan dengan kalkulus biasa, yakni berhubungan dengan fungsi-fungsi dari bilangan-bilangan. Fungsional yang demikian misalnya dapat dibentuk sebagai integral yang melibatkan sebuah fungsi sembarang dan turunannya. Yang ingin dicapai di sini adalah fungsifungsi ekstremal yakni yang membuat fungsional tersebut mencapai nilai maksimum atau minimum. Kunci dari kalkulus variasi adalah persamaan Euler-Lagrange. Ini berhubungan dengan syarat stasioner sebuah fungsional. Sebagaimana mencari nilai maksimum dan minimum sebuah fungsi, analisis perubahan kecil yang terjadi yang mendekati solusi yang diduga, haruslah memenuhi sebuah syarat yakni turunan pertamanya bernilai nol. Syarat perlu itu belumlah syarat cukup. Pengujian dilakukan dengan melihat apakah turunan keduanya lebih besar atau lebih kecil dari nol. Kalkulus variasi adalah generalisasi dari permasalahan maksimum dan minimum pada kalkulus biasa. Hal ini diperlukan untuk menentukan sebuah fungsi y = y(x) yang mengekstrimkan (nilai maksimum/ nilai minimum) sebuah integral yang terdefenisi sebagai ( ) ( )

Kalkulus Variasi

Dimana integral tersebut terdiri atas y dan turunannya. Pada mekanika struktur hal ini untuk menemukan perubahan bentuk suatu sistem yang akan menyebabkan energi potensial total sistem tersebut memiliki nilai yang tetap. Perubahan bentuk yang memenuhi kriteria ini berhubungan dengan bentuk kesetimbangan dari sistem tersebut. Walaupun kalkulus variasi memiliki kesamaan dengan permasalahan maksimum dan minimum pada kalkulus biasa, kedua metode tersebut berbeda pada satu aspek yang penting. Pada kalkulus biasa kita bisa menemukan nilai pasti dari suatu variabel pada tempat dimana fungsi yang diberikan mencapai titik ekstrimnya. Namun pada kalkulus variasi kita tidak dapat menemukan fungsi yang dapat memberikan nilai ekstrim pada integral, kita hanya bisa menemukan persamaan differensial yang harus dipenuhi oleh fungsi tersebut. Kalkulus variasi hanyalah alat untuk menemukan persamaan yang menentukan dari suatu permasalahan. Misalkan pada sebuah bidang terdapat 2 buah titik, A dan B, seperti yang ditunjukkan pada gambar di bawah ini.
Bidang

Gambar 2.1: 2 titik yang terletak pada sebuah bidang Bentuk kurva apakah yang menunjukkan jarak terpendek yang menghubungkan titik A dan titik B dalam bidang datar di atas? Jawabannya mudah sekali, yaitu kurva C yang berbentuk garis lurus-lah yang menghubungkan langsung titik A dan B, seperti yang terlihat pada gambar 2.2 di bawah ini.

Kalkulus Variasi

Bidang

C B

Gambar 2.2: Kurva C yang menghubungkan titik A dan B. Persoalan kurva yang menandai jarak terpendek yang menghubungkan dua titik dalam bidang yang dikenal sebagai Geodesic tercakup dalam persoalan nilai maksimum atau minimum suatu fungsi, atau lebih umum disebut sebagai persoalan nilai Stasioner. Menurut kalkulus dasar, syarat perlu suatu fungsi f(x) bernilai stasioner adalah : ( Dalam Fisika, persoalan nilai stasioner (maksimum/minimum) suatu fungsi banyak dijumpai, dan analisis sifat stasioner suatu kuantitas fisika banyak menghasilkan hukum dan prinsip. Contohnya: Sinar datang dari titik A menuju cermin datar dan dipantulkan ke titik B, seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini. A B )

Cermin datar Gambar 2.3: Sinar datang dari titik A, dan dipantulkan menuju titik B.

Kalkulus Variasi

Dari sekian banyak lintasan yang dapat dilalui sinar, hanya satu lintasan yang sesungguhnya akan dilalui sinar, lintasan yang manakah itu? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu mengingat kembali tentang prinsip fermat. Menurut prinsip fermat: Sinar datang dari titik A menuju cermin dan dipantulkan ke titik B akan menempuh satu lintasan tertentu yang memiliki jarak terpendek atau memerlukan waktu tempuh yang tersingkat. Dari prinsip ini lahirlah hukum Snelius tentang pemantulan cahaya yakni: Sudut Datang = Sudut Pantul

Dalam Kalkulus Variasi, kuantitas atau fungsi yang dibuat stasioner dinyatakan dalam notasi integral (I) sebagai berikut : ( ) ( )

Pada persoalan awal yaitu kurva yang menandai jarak terpendek yang menghubungkan dua titik dalam bidang, seperti yang digambarkan pada kurva di bawah ini: y

dS dy dx x Gambar 2.4: Kurva yang menghubungkan 2 titik Bentuk integral dari kurva tersebut dapat ditulis:

Kalkulus Variasi

Sehingga: ( ) ....(2.4)

Penanganan persoalan ini dilakukan dengan Prinsip Variasi sehingga teknik ini disebut Kalkulus Variasi. Dalam persoalan ini ingin diketahui kurva y = y(x) yang menandai jarak terpendek atau kuantitas berikut bernilai paling kecil : ( )

Dengan prinsip Variasi, kurva y(x) divariasikan nilainya di atas maupun di bawah nilai sesungguhnya. Variasi ini diwakili oleh suatu fungsi sembarang (x) seperti pada gambar berikut.

Y(x) (x2,y2) (x1,y1) y(x)

(x)

x1

x2 Gambar 2.4: Kurva Y(x) dan (x)

Kalkulus Variasi

Fungsi Y(x) dapat dituliskan sebagai: ( ) ( ) ( ) ( ) Dimana adalah suatu parameter. (x) adalah suatu fungsi sembarang yang berkelakuan baik diantara x1 dan x2, nilainya nol di x = x1 dan di x = x2. Dengan variasi ini, maka sekarang kita menginginkan kuantitas berikut bernilai minimum ( )

Dan I sekarang menjadi fungsi parameter ; jika = 0 maka Y = y(x). Persoalan sekarang adalah membuat I() memiliki nilai minimum ketika = 0, dengan kata lain : ( Jika kita lakukan diferensiasi I terhadap , didapat : ( ) ( ) )

Dan jika kita lakukan diferensiasi persamaan Y(x) terhadap x, didapat : ( ) didapat: ( ) ( ) ( ) ( ) ( )

Jika hasil terakhir ini disubstitusi ke persamaan dI/d dan mengambil dI/d = 0 ketika = 0, maka didapat: ( ) ( ) ( ) ( )

Kita dapat mengintegrasi secara parsial terhadap integral ini, sebagai berikut : ( ) ( ) ( ) ( )

Kalkulus Variasi

( ( ( ) dan | ( )| Didapat =0 | ( )| Sehingga ( ( atau: ) 0 ) ( (

( )

) )

( ) ( )

( ) ( )

( ( ( ) ) )

Kalkulus Variasi

Dapat dilihat, persamaan ini merupakan persamaan garis lurus linier seperti yang diramalkan diawal. Contoh soal: Turunkan hukum pemantulan, dan buktikan bahwa ! Petunjuk: seberkas

cahaya merambat dari titik A yang memiliki koordinat (x1, y1) menuju titik B dengan koordinat (x2,y2) melalui titik sembarang P yang memiliki koordinat (x,0) pada sebuah kaca sepanjang sumbu x. Ambil adalah jarak APB. Penyelesaian: Misalkan posisi titik A, B, dan P digambarkan seperti gambar di bawah ini: ( ) , dimana D

y A(x1, y1) B(x2,y2)

x P(x,0) Jarak dati A ke P adalah: ( Jarak dari P ke B adalah: ( ) )

Maka jarak APB=D adalah:

( ) ( ) (( ) ( ) )

Untuk mencari nilai stationer, maka turunan pertama t harus sama dengan 0 (nol). Sehingga dapat ditulis: ( ( ( ) ) ( ( )( )
10

Kalkulus Variasi

( ( ( ( ( ) ) )

( ( ( )

) )

Dari gambar diagram di atas dapat dilihat: ( dan ( Jadi: ) )

atau:

B. Persamaan Euler Perhatikan kembali kuantitas ( )

Dari persamaan Y(x) pada pembahasan sebelumnya telah diketahui ( ) sehingga ( ) ( ) ( ) ( )

Jika I diutrunkan terhadap , didapat: ( atau ) ( )

Kalkulus Variasi

11

( )

( ))

Untuk = 0 maka dI/d = 0. jika dituliskan kembali persamaan diatas menjadi: ( ) ( ( ) ( )) ( )

Jika kita lakukan proses integrasi untuk suku kedua didapat: =0 maka ( atau ( Persamaan inilah yang disebut sebagai persamaan Euler. Dalam persoalan kurva yang menandai jarak minimum yang menghubungkan dua buah titik dalam bidang, yakni : maka ( dan Sehingga persamaan Eulernya: ( ) ) ( ) ( ) ) ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( )| ( ) ( ) ( )

Kalkulus Variasi

12

( ( )

Ini sama seperti persamaan yang sebelumnya. C. Penggunaan Persamaan Euler 1. Variable lain dalam persamaan Euler Variable r dan ( ( ) ) ( ( ) )

Variable s dan p: ( ( ) ) ( ( ) )

Variable t dan x: ( ( dan lain-lain. Contoh soal: Tentukan lintasan yang akan dilalui sinar cahaya jika indeks bias (dalam koordinat polar) sebanding dengan r-2 ! Jawab: Persamaan Euler: ( ) ( ) ) ) ( ( ) )

Kalkulus Variasi

13

( (

))

karena F bukan fungsi . ( ( ( ( ) ) ) )

2.

Integral pertama persamaan Euler

Persamaan Euler untuk F(x,y,y) adalah ( Jika F bukan fungsi y, yakni F(x,y), maka: )

Kalkulus Variasi

14

( Sehingga persamaan Eulernya menjadi: ( atau ( Keadaan ini disebut integral pertama dari persamaan Euler.

Jika suatu persoalan dapat diarahkan ke bentuk integral pertama persamaan Euler, maka pengerjaannya akan lebih mudah dan lebih sederhana. Cara yang dapat ditempuh agar suatu persoalan mengarah ke integral pertama persamaan Euler adalah melakukan pertukaran variabel, yaitu pertukaran variabel bebas dengan variabel terikat seperti berikut : ( dan ( Contoh soal: Tentukan dan selesaikan persamaan euler agar kuantitas berikut stationer! Penyelesaian: Dari soal dapat ditentukan F sebagai berikut: ( Sehingga: ( )

Kalkulus Variasi

15

Dengan demikian persamaan Eulernya menjadi: ( atau

Persamaan ini tidak terlihat sederhana, dan untuk mencari solusinya tidak cukup mudah. Untuk mencari solusi dengan jalan yang lebih mudah, lakukan pertukaran antar variable bebas dan variable terikat, seperti berikut ini:

Sekarang kuantitas yang dibuat stasioner menjadi:

Sehingga F-nya sekarang berubah menjadi: ( )

Dengan demikian persamaan Eulernya menjadi: ( atau ( ) )

Ini kelihatan lebih mudah diselesaikan dari sebelum melakukan pertukaran variable. D. Menyelesaikan Persoalan Brachistochrone ;Sikloid Brachistochrone adalah menentukan waktu terpendek. Jadi dalam brachistochrone ini yang akan diminimumkan adalah Masalah

brachistochrone sering kita temui dalam masalah fisika, misalnya dalam

Kalkulus Variasi

16

menentukan waktu terpendek yang diperoleh pada manik-manik yang meluncur tanpa gesekan antara 2 titik pada sebuah kawat, seperti yang ditunjukkan pada gambar di bawah ini. x

x1 x2 y1 y2

Gambar 2.5: Manik-manik yang meluncur pada kawat Misalkan manik-manik meluncur pada kawat tanpa gesekan diantara (x1,y1) dan (x2,y2) dalam waktu terpendek dengan sumbu y ke bawah bertanda positif. Masalah yang akan kita tentukan adalah kurva y(x) antara kedua titik sehingga didapat: ( ) ( ( Sehingga: ( Karena Substitusikan maka didapat: ( ) dan yang akan dimimumkan adalah maka, ( dengan ke dalam persamaan (2.48), ) ( ) ) ) ) Jika v0 = 0 dan y = 0 maka pada setiap titik x, y

Integral ini merupakan persoalan variasi kalkulus dengan fungsionalnya adalah

Kalkulus Variasi

17

Dengan menggunakan persamaan Euler, maka didapat: ) Hasil integral ini dapat dilihat pada tabel kalkulus, yaitu: ( ) ( ) ( )

Persamaan yang mengandung bentuk trigonometri seperti ini dinamakan persamaan sikloid. Untuk menjelaskan tentang persamaan sebuah sikloid, kita tinjau gerak sebuah lingkaran dengan jari-jari a yang berputar dengan sudut putar (radian) dimulai dari titik (0,0) seperti ditunjukkan pada gambar di bawah ini: y

C a P P B B

x O A

Gambar 2.6: Lingkaran yang berputar

Kalkulus Variasi

18

Dari gerak putaran lingkaran ini, kita dapat menyatakan sehingga x,y dapat dinyatakan dalam bentuk: ( ( Persamaan dengan parameter seperti ini dinamakan sikloid. Dari persamaan yang diperoleh, dimisalkan: ( ( ) ) ( ( ) ) ) ) ( ( ) )

Persamaan (2.56) ini disubstitusikan ke dalam persamaan: ( ) ( ( ) )

( atau ( dan ( ) ( ) (

Dapat dilihat kedua persamaan yang didapat dalam bentuk cycloid. E. Beberapa Variable Terikat; Persamaan Lagrange Dalam persoalan nilai stasioner ini sesungguhnya tidak perlu terbatas pada sebuah variabel terikat, melainkan bisa terdiri atas beberapa variabel terikat. Ingat kembali pada kalkulus dasar, bahwa jika y = f(x), maka syarat perlu agar f(x) bernilai stasioner adalah :

Dan jika suatu z = f(x,y) maka untuk kondisi ini, syarat stasioner adalah :
Kalkulus Variasi 19

dan

Analog dengan itu terjadi pula dalam kalkulus variasi. Misalkan kita diberikan sebuah F yang merupakan fungsi dari :

Dan kita ingin mencari 2 kurva y=y(x) dan z=z(x) yang membuat: ( )

bernilai stasioner. Maka nilai integral I bergantung pada y(x) dan z(x). Untuk kasus ini terdapat dua persamaan Euler, satu untuk y dan satu lagi untuk z, seperti berikut: ( )

dan ( )

1. Prinsip Hamiltonian dalam mekanika Dalam Fisika Dasar, hukum II Newton merupakan persamaan fundamental dalam membahas gerak benda. Hukum II Newton dapat dituliskan dalam bentuk persamaan : ( )

Dalam mekanika lanjut, persoalan gerak benda dianalisis dari sudut pandang yang berbeda, yang disebut prinsip Hamiltonian. Prinsip ini menyatakan bahwa suatu partikel atau sistem partikel selalu bergerak pada suatu lintasan sedemikian rupa sehingga : ( )

Kalkulus Variasi

20

bernilai stasioner, dengan: ( )

L disebut Lagrangiang, T sebagai energi kinetic partikel, dan V sebagai energi potensial partikel. 2. Persamaan Lagrange. Untuk persoalan ini terdapat persamaan Euler, yang lebih dikenal sebagai persamaan Euler-Lagrange atau persamaan Lagrange, yang jumlahnya bergantung pada jumlah variabel terikat. Untuk 3 Dimansi maka persamaan Lagrange-nya dalam sistem kartesian adalah :

( )
( ( Contoh soal: Sebuah benda dijatuhkan secara bebas dari ketinggian tertentu dekat permukaan bumi, seperti yang terlihat pada gambardi bawah ini. Tentukan persamaan gerak benda yang jatuh bebas tersebut !
m

) )

h w g

Gambar 2.6: Benda jatuh bebas Penyelesaian: Dengan hukum II newton:

Resultan gaya yang bekerja pada benda yakni:

Kalkulus Variasi

21

sehingga:

Kecepatan benda sebagai fungsi waktu: Posisi benda sebagai fungsi waktu: Dengan prinsip Hamiltonian: ( )

dengan dan sehingga: Persamaan Lagrange: ( )

( ( )

Persamaan terakhir ini sama seperti yang didapatkan dengan menggunakan hukum II Newton.

Kalkulus Variasi

22

F. Variasi Notasi Pengguanaan symbol variasional yang mempunyai fungsi yang secara analogi sama dengan diverensial d pada kalkulus akan lebih mudah. Misalkan diberikan sebuah fungsi F(x,y,y) dimana kita tetapkan x bernilai tetap, dapat kita nyatakan : ( ( ) ( ) ( ) ( ) ( ( ) ( )) ( )

Dengan menggunakan deret taylor ( Persamaan ) ( ) ( )

dapat ditulis kembali menjadi ( )

Jumlah dari bentuk kedua pertama pada bagian kanan pada persamaan diatas didenotasikan oleh F dan disebut variasi dari F, misalnya: ( )

Jika dalam hal tertentu F=y atau F=y, maka persamaan diatas akan diperoleh :

Sehingga persamaan

dapat ditullis menjadi ( )

Dari persamaan di atas dapat dilihat bahwa: ( ) ( ) ( ) adalah komutatif. ( )

Dari sini dapat dilihat bahwa operator

Simbol variasional dan fungsi yang dimilikinya menyediakan pendekatan-pendekatan alternatif untuk hal-hal yang melibatkan dan (x) yang berkaitan dengan mencari extremal dari integral-integral. Kemudian kita dapat menyatakan bahwa sebuah syarat perlu agar integral adalah ( )

Kalkulus Variasi

23

yang pada akhirnya akan menuju persamaan Euler.

Kalkulus Variasi

24

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Dari materi dan dari beberapa contoh yang telah di uraikan pada bab sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan: Langkah-langkah untuk menyelesaikan kalkulus variasi antara lain: 1. Tentukan fungsional ( ) dari integral ( ) yang

kuantitasnya akan diminimumkan (stasioner). 2. Substitusikan ke dalam persamaan Euler. 3. Tentukan penyelesaian PDB, hingga diperoleh fungsi y(x). B. Saran Setiap permasalahan kalkulus variasi dapat diselesaikan dengan proses penyelesaian pada sub bab sebelumnya. Tetapi akan lebih mudah jika dibuat proses penyelesaian yang lebih umum dan sederhana.

Kalkulus Variasi

25