Anda di halaman 1dari 32

Listrik merupakan salah satu bentuk dasar energi yang berhubungan dengan muatan listrik, yaitu sifat suatu

partikel dasar seperti elektron dan proton. Muatan-muatan listrik dapat berupa muatan yang diam atau muatan yang bergerak. Kajian tentang listik yang berhubungan dengan muatan-muatan listrik yang diam disebut listrik statis, sedangkan kajian tentang listik yang berhubungan dengan muatan-muatan listrik yang bergerak disebut listrik dinamis. Dalam bab ini akan mengkaji kembali kajian tentang listrik dinamis secara lebih khusus yang mencakup materi-materi sebagai berikut. 1. Arus Listrik 2. Hukum Ohm dan Hambatan Listrik 3. Rangkaian Listrik Arus Searah 4. Pengukuran Besaran-besaran Listrik 5. Energi Listrik dan Daya Listrik 6. Tegangan AC dan DC

A. Arus Listrik
Arus Listrik adalah aliran muatan-muatan listrik yang melalui penghantar dalam selang waktu. Muatan-muatan listrik dalam suatu arus listrik dibawa oleh partikel-partikel kecil, yaitu elekron-elektron atau ion-ion positif. Zat padat, zat cair dan gas yang dapat menglirkan arus listrik disebut dengan konduktor, bahan-bahan yang tidak dapat mengalirkan arus listrik disebut dengan isolator, sedangkan bahan-bahan diantara konduktor dan isolator disebut semikonduktor. Arus listrik mengalir dari tempat yang mempunyai potensial lebih tinggi ke tempat yang mumpunyai potensial yang lebih rendah . Dalam hal ini perbedaan potensial di antara dua titik (tempat) yang dapat menghasilkan arus listrik disebut oleh gaya gerak listrik(ggl). Gaya gerak listrik dapat diperoleh dari beberapa bahan yang dibebut sumber

tegangan seperti sel Volta, sel Daniel , sel Leclanche, baterai, akumulator dan lain sebagainya. Besaran yang menyatakan ukuran arus listrik disebut dengan kuat arus listrik. Dalam hal ini kuat arus listrik didefinisikan sebagai jumlah muatan listrik yang mengalir melalui penampang sebuah konduktor tiap satuan waktu . Kuat arus listrik yang mengalir melalui sebuah penampang konduktor dapat ditemukan dengan persamaan sebagai berikut.

I=

dengan : I = kuat arus listrik (A) Q = jumlah muatan listrik yang mengalir (C) t = waktu (s) Dalam SI, satuan muatan listrik adalah coulomb (C), sedangkan satuan waktu adalah sekon (s). Jadi, satuan kuat arus listrik dalam SI adalah coulomb / sekon atau C/s. Satuan C/s ini diberi nama khusus, yaitu ampere(A), dimana 1A=1C/s. Kuat arus listrik diukur menggunakan amperemeter atau ammeter.

Kuat arus listrik merupakan besaran skalar, tetapi dalam fisika terdapat sebuah besaran rapat arus (J) yang merupakan besaran vektor. Rapat arus didefinisikan sebagai kuat arus listrik tiap satuan luas penampang konduktor. Rapat arus dapat dinyatakan secara matematis dengan menggunakan persamaan sebagai beikut.

J=

Dengan J= rapat arus (A/m2)

A=luas penampang konduktor(m2)

Arus listrik diperoleh dari sumber arus listrik. Arus listrik dapat dikelompokkan menjadi arus listrik searah (DC) dan arus listrik bolak-balik (AC). Sumber arus listrik searah misalnya batu baterai dan aki, sedangkan sumber arus bolak-balik misalnya listrik dari Perusahaan Listrik Negara dan generator arus searah.

Contoh soal Suatu konduktor dilewati muatan listrik 2,4 C dalam waktu 2 menit Tentukan : a. Kuat arus listrik b. Rapat arus jika luas penampang konduktor 0,2 x 10-6 m2 Penyelesaian a. Kuat arus Listrik Karena Q = 2,4 C, dan t = 2 menit = 120 s, maka

I=

= 20 mA Jadi, kuat arus listriknya adalah 20 mA b. Rapat arus

J=

= 105 A/m2 Jadi, rapat arusnya adalah 105 A/m2

B. Hukum Ohm dan Hambatan Listrik


Hukum Ohm Untuk menghasilkan arus listrik diperlukan tegangan (beda potensial). Hasil eksperimen George Simon Ohm (1787-1854) menunjukkan bahwa arus listrik yang mengalir pada kawat penghantar sebanding dengan beda potensial yang diberikan pada ujung-ujung penghantar itu. Artinya, jika beda potensial diperbesar, arus yang mengalir juga semakin besar. Sebaliknya, jika beda potensial diperkecil arus yang mengalir juga makin kecil. Besar arus listrik pada rangkaian dipengaruh oleh besar hambatan. Untuk nilai tegangan tertentu, semakin besar hambatan, semakin kecil arus yang menglir. Ini berarti kuat arus (I) berbanding terbalik dengan besar hambatan (R). Berdasarkan hasil eksperimennya, Ohm memperoleh kesimpulan penting yang selanjutnya dikenal sebagai Hukum Ohm, yang menyatakan bahwa : Besar arus dalam suatu penghantar sebanding dengan tegangan (beda potensial) dan berbanding terbalik dengan hambatannya. Secara matematis, Hukum Ohm dapat dirumuskan dengan:

I=

Dengan : V = tegangan (volt) I = arus listrik (A) R = hambatan listrik ()

Berdasarkan persamaan diatas, besar hambatan adalah R=

. Jadi, satuan

hambatan juga bisa diturunkan dari satuan tegangan dibagi satuan kuat arus atau volt /ampere. Satuan ini setara dengan satuan SI untuk hambatan, yaitu Ohm (), dimana 1 =1V/A. Pada kenyataannya, tidak semua komponen listrik memenuhi hukum Ohm. Komponen-komponen listrik yang memenuhi hukum Ohm disebut komponen Ohmik sedangkan komponen-komponen listrik yang tidak memenuhi hukum Ohm disebut komponen non-ohmik. Hambatan komponen ohmik mempunyai nilai yang tetap meskipun tegangan berubah, tetapi hambatan komponen non-ohmik mempunyai nilai yang berubah ketika tegangan berubah.

Hambatan Listrik Dari pendenisian besaran R (hambatan) oleh Ohm itu dapat memotivasi para ilmuwan untuk mempelajari sifat-sifat resistif suatu bahan dan hasilnya adalah semua bahan di alam ini memiliki hambatan. Berdasarkan sifat resistivitasnya ini bahan dibagi menjadi tiga yaitu konduktor, isolator dan semikonduktor. Konduktor memiliki hambatan yang kecil sehingga daya hantar listriknya baik. Isolator memiliki hambatan cukup besar sehingga tidak dapat menghantarkan listrik. Sedangkan semikonduktor memiliki sifat diantaranya. Hambatan listrik merupakan sifat suatu benda atau bahan untuk menahan atau bahan untuk menahan atau menentang aliran arus listrik . Besarnya hambatan pada

suatu rangkaian listrik menentukan jumlah aliran arus pada rangkaian untuk setiap tegangan yang diberikan pada rangkaian dan sesuai dengan prinsip hokum Ohm. Pada dasarnya nilai hambatan suatu bahan konduktor dipengaruhi oleh tiga besaran yaitu sebanding dengan panjangnya l, berbanding terbalik dengan luas penampangnya A , dan hambatan jenis bahan tersebut . Secara matematis hambatan suatu bahan konduktor dapat ditentukan dengan persamaan sebagai berikut.

R = hambatan bahan (ohm, disingkat ) = Hambatan jenis bahan ( m) l= panjang bahan (m) A = luas penampang bahan (m2)

Dalam fisika hambatan sering dihubungkan dengan konduktivitas bahan, dimana

dengan = konduktivitas bahan (m)-1 = hambatan jenis bahan (m)

Hambatan jenis dan konduktivitas suatu bahan merupakan sifat khas bahan yang tidak dipengaruhi oleh ukuran dan bentuk bahan, tetapi dipengaruhi oleh

perubahan suhu. Pada batas perubahan suhu tertentu, maka hambatan jenis suatu bahan memenuhi persamaan sebagai berikut .

T = 0 (1 + T) T -0 = T=T-T0
Dengan = hambatan jenis pada suhu T (m) 0 = hambatan jenis pada suhu T0 (m) = koefisien suhu hambatan jenis ( 0C-1) T = perubahan suhu (0C)

Karena hambatan jenis (R) berbanding lurus dengan hambatan jenis (), maka berlaku

RT = R0 (1 + T) RT - R0 = R

Besaran dari persamaan-persamaan di atas disebut dengan koefisien suhu hambatan

jenis, yang bergantung pada jenis bahan. Nilai Hambatan jenis suatu bahan menentukan kemampuan bahan tersebut dalam menghantahar listrik . Bahan konduktor seperti aluminiu, dan tembaga mempunyai hambatan jenis lebih kecil dari bahan isolator seperti karet dan daca, sedangkan bahan semikonduktor seperti germanium, silikon murni tentu mempunyai hambatan jenis diantara hambatan jenis konduktor dan isolator.

Contoh soal Seutas kawat konduktor mempunyai panjang 50 m, diameter 2,5 mm dan hambatan jenis 1,72 10-8 m. Tentukan :
a.

Hambatan kawat ( = 3,14) Arus listrik yang mengalir melalui kawat dihubungkan dengan tegangan 3 volt dan hambatan kawat tetap

b.

c.

Hambatan kawat dari bahan dan panjang yang sama, tetapi diameternya dua kali semula ( = 3,14)

Penyelesaian a. Hambatan kawat

R=

A=

( penampangnya lingkaran)

Karena =1,25

10-8 m, l = 50 m, r = =

= 1,25 mm = 1,25

10-3 m, dan

= 3,14 , maka

R=

= 0,175 Jadi, hambatan kawat tersebut adalah 0,175


b. Arus listrik(untuk V= 3 volt) Berdasarkan hukum Ohm, maka

I=

= 17,14 A Jadi, arus listrik yang mengalir adalah 17,14 A c. Hambatan kawat (R2), jika 1=

2=, l1 = L2=l , dan d2 = d1

=
Karena d2 = 2d1 , maka

R2 =

= 0,04375

Jadi, hambatan kawat tersebut adalah ,04375

C. Rangkaian Listrik Arus Searah


1. Hukum Kirchoff

Gustav Robert Kirchoff (1824-1887) meneliti besar arus pada rangkaian bercabang dan menemukan suatu aturan yang kemudian dikenal sebagai Hukum I Kirchoff tentang titik cabang. Kirchoff juga meneliti besar tegangan (beda potensial) pada rangkaian tertutup dan menemukan suatu aturan yang kemudian dikenal sebagai Hukum II Kirchoff tentang loop. a) Hukum I Kirchoff Hukum I Kirchoff menyatakan bahwa : Jumlah kuat arus yang memasuki suatu titik cabang sama dengan jumlah kuat arus yang keluar dari cabang itu. Hukum I Kirchoff berkaitan dengan arus listrik pada rangkaian bercabang. Dalam bentuk persamaan, Hukum I Kirchoff ditulis :

Imasuk = Ikeluar
Sebagi contoh , perhatikan Gambar .Arus I1, I2, dan I3, menuju titik cabang itu, sedangkan arus I4 keluar atau meninggalkan titik cabang. Berdasarkan Hukum Kirchoff, pada titik A berlaku persamaan :

Imasuk = Ikeluar
I1 + I 2 + I 3 = I 4

b)

Hukum II Kirchoff Hukum II Kirchoff atau loop berkaitan dengan tegangan dan gaya gerak listrik pada rangkaian listrik tertutup.Hukum II Kirchoff menyatakan bahwa :

Jumlah aljabar gaya gerak listrik ( ) dengan penurunan tegangan (IR) yang membentuk suatu rangkaian tertutup sama dengan nol. Dalam bentuk persamaan, hukum II Kirchoff ditulis dengan : + IR = 0 Teorema Simpal digunakan untuk memecahkan masalah-masalah pada rangkaian listrik tertutup. Dalam menggunakan teorema ini kita memperhatikan beberapa hal berikut ini : 1). Perhatikan kutub-kutub pada symbol sumber tegangan searah, garis panjang merupakan kutub positif, sedangkan garis pendek menunjukkan kutub negative. 2). Berilah tanda panah untuk menandai arah arus di setiap percabangan. Arah tanda panah ini dapat dipilih sembarang. 3). Gunakan hukum I Kirchoff pada setiap titik cabang. 4). Jika dalam rangkaian terdapat lebih dari satu loop, hukum loop berlaku masing-masing loop itu. Arah loop dipilih sembarang. 5). Dalam menjumlahkan beda potensial (tegangan) secara aljabar, perhatikan ketentuan pemberian tanda aljabarnya. Untuk tegangan pada resistor : bernilai positif jika arus yang dipilih searah dengan arah loop. (searah = positif) bernilai negatif jika arus listrik yang dipilih berlawanan arah dengan arah loop (berlawanan arah = negative) Untuk tegangan pada baterai Bernilai positif jika loop bertemu baterai dari arah kutub positifnya

Benilai negative jika loop bertemu baterai dari arah kutub negatifnya.

Contoh Suatu rangkaian seperti ditunjukkan pada gambar 5.10, dengan hukum Kirchhoff II hitunglah arus yang mengalir dalam rangkaian tersebut.

Gambar 5.10 Suatu loop tertutup untuk menerapkan hukum II Kirchhoff 1. Dipilih loop abdca, dengan arah dari a - b - d - c - a 2. Dengan menerapkan hukum II Kirchhoff: 6H + 6(IR) = 0 dan memperhatikan aturan yang disepakati tentang tanda-tandanya, sehingga diperoleh:

- 2 + I R1 + I R2 - 1 + I R2 = 0 atau
- 1 - 2 + I(R1 + R2 + R3) =0

I=

Jadi, arus yang mengalir adalah 7,5 A dengan dari a-b-d-c-a


2.

Rangkaian Seri dan Paralel Resistor

Resistor adalah komponen elektronika yang berfungsi sebagai penghambat arus listrik. Kemampuan menghambat arus yang dimiliki sebuah resistor ditunjukkan dengan nilai hambatan atau resistansinya. Pada sebuah rangkaian listrik, resistor dapat dihubungkan secara seri maupun paralel. Hambatan total resistor dari hubungan seri dan paralel menunjukkan karakteristik yang berbeda.

a.

Rangkaian Seri Resistor GAMBAR Berdasarkan gambar di atas, maka pada rangkaian seri resistor, tegangan sumber (V) terbagi menjadi V1 dan V2 sedangkan arus listrik yang mengalir R1 dan R2 adalah sama, sehingga
V = V1 + V2

Berdasarkan Hukum Ohm (V=I.R), maka IR=IR1 + IR2 R = R1 + R2

Dengan V = tegangan sumber (volt) V1 = tegangan pada R1 (volt) V2 = tegangan pada R2 (volt)

R = hambatan total () R1 = hambatan resistor 1 () R2 = hambatan resistor 2 () I = arus listrik (A)

Dari uraian di atas , maka rangakian seri merupakan rangkaian pembagi tegangan dan dapat digunakan untuk memperbesar hambatan rangkaian. Untuk n buah resistor yang di ubungkan secara seri, maka hambatan totalnya dapat di tentukan dengan persamaan sebagi berikut.

Rs = R 1 + R 2 + + R n

Contoh Empat resistor masing-masing sebesar 15 , 24 , 25 , dan 36 disusun secara seri dalam rangkaian. Tentukan besar hambatan sebuah resistor pengganti (Rs) untuk mengganti keempat resistor tadi ! Jawab Rs = R 1 + R 2 + R 3 + R 4 = 15 + 24 + 25 + 36 = 100 b. Rangkaian Paralel Resistor GAMBAR

Berdasrkan gambar di atas, maka rangkaian pararel resistor, tegangan sumber(V) sama dengan V1 dan V2, sedangkan arus listrik I terbagi menjadi I1 dan I 2 , sehingga
I = I1 + I2

Karena I =

, maka

Berdasarkan uraian di atas, maka rangkaian pararel merupakan rangkaian pembagi arus dan dapat digunakan untuk memperkecil hambatan rangkaian. Untuk n buah resistor yaug dihubungkan secara pararel, maka hambatan totalnya dapat ditentukan daengan persamaan sebagai berikut.

Untuk dua buah hambatan R1 dan R2 yang dihubungkan secara pararel, maka.

Rp =

Sedangkan untuk n buah hambatan yang sama besar ( R1 = R1 = ...Rn = R ), maka

Rp =

Contoh Soal .

3. Gaya Gerak Listrik dan Tegangan Jepit


a. Gaya Gerak Listrik Beberapa alat seperti baterai dan generator listrik dapat mempertahankan perbedaan potensial di antara dua buah titk yang merupakan kutub-kutub sumber tegangan. Alat-alat yang demikian dinamakan dengan tempat kedudukan gaya gerak listrik. Gaya listrik didefinisikan sebagai energy yang digunakan untuk memindahkan muatan postif dari total yang mempunyai potensial rndah ke titik yang mempunyai potensial lebih tinggi tiap suatu muatan yang dipindahkan. Simbol biasanya digunakan untuk ggl (jangan kacaukan dengan E untuk medan listrik).

= gaya gerak listrik (volt) Pada dasarnya setiap sumber listrik , seperti baterai mempunyai hambatan dalam (r), yang secara sederhana dapat ditunjukan denagn gambaran berikut ini. GAMBARR Jika tempat kedudukan gaya gerak listrik dihubungkan pada suatu komponen listrik ( misalnya resistor), maka terdapat dua hal penting yang harus kita perhatikan, tapi sebelumnya perhatikan gambar di bawah ini ! GAMBAR

Jika sakelar (S) tidak dihibungkan, maka tidak ada arus listrik yang mengalir melalui rangkaian (I=0), sehingga beda potensial antara A dan B (VAB) sama dengan gaya gerak listrik ( ). Akan tetapi jika sekalar (S) dihubungkan, maka terdapat arus listrik ysng mengalir melalui rangkaian, sehingga beda potensial (). Pada saat sakelar dihubungkan (I0) tersebut, beda potensial antara A dan B disebut dengan tegangan jepit, yang dapat ditentukan dengan VAB = Ir = IR

VAB = tegangan jepit ( volt) = gaya gerak listrik (volt) I = arus listrik (A) r = hambatan dalam () R = hambatan luar ()

Tegangan jepit di antara kutub-kutub sumber tegangan tidak tetap, tetapi bergantung pada milai hambatan rangkaian.

4. Rangkaian Sumber Tegangan


Seperti juga resistor, maka sumber tegangan dapat dirangkai secara pararel atau seri, dan tentu saja akan memberikan karaktristik yang berbeda. GAMBAAARRRRR

Jika beberapa sumber tegangan secara seri, maka gaya gerak listrik totalnya adalah

s = 1 + 2 + + n

Dengan

s = gaya gerak listik total (pengganti) pada rangkaian seri (volt)

sedangkan hambatan dalam total (pengganti) dari rangkaian seri sumber tegangan dapat ditentukan dengan persamaan berikut ini.

rs = r1 + r2 + + rn

Dengan

rs

= hambatan dalam penganti pada rangkaian seri ()

Jika beberapa sumber tegangan dihubungkan secara pararel, maka gaya gerak listrik dari rangkaian tersebut adalah p = 1 = 2 = n sedangkan hambatan dalam total ( pengsnti dari rangkaian pararel sumber tegangan dapat ditentukan dengan persamaan berikut ini .

= Dengan rp = hambatan dalam pengganti pada rangkaian pararel ()

contoh soal

1.

Tiga buah batrai dihubungkan seri dan dipasangnpada lampu pijar 1 . Jika masing- masing baterai mempunyai = 1,5 V dan r = 0,5 hitunglah arus listrik yang mengalir melalui lampu pijar!

Penyelesaian

I= total = r1 + r2 + r3 Karena r1 = r2 = r3 = 1,5 V , maka total = 1,5 V + 1,5 V + 1,5 V= 4,5 V Rtotal = RL + rs = R L + r 1 + r 2 + r3

D. Pengukuran Besaran-besaran Listrik


Alat ukur listrik merupakan alat untuk mengukur dan menunjukan nilai suatu besaran lisrtik seperti arus, muatan, tegangan, dan daya serta sifat-sifat listrik pada rangkaian seperti hambatan kapasitansi dan induktasi. Dalam sub bab ini kita akan mempelajari beberapa pengukuran besaran-besaran listrik, yaitu untuk arus, tegangan dan hambatan. 1. Pengukuran arus Untuk mengukur kuat arus listrik pada suatu rangkaian digunakan alat yang disebut amperemeter. Bagian terpenting amperemeter atau Gambar Galvanometer voltmeter adalah galvanometer, yaitu suatu alat yang dapat mendeteksi arus kecil yang melaluinya.

Galvanometer bekerja dengan prinsip gaya antara medan magnet dan kumparan pembawa arus yang dapat menyimpangkan jarum magnetis yang terdapat dekat kumparan tersebut. Galvanometer dapat digunakan secara langsung untuk mengukur arus DC yang kecil. Contohnya, galvanometer dengan sensitivitas Im 50 mA dapat mengukur arus dari 1 mA sampai dengan 50 mA. Untuk mengukur arus yang lebih besar, sebuah resistor dipasang paralel dengan galvanometer. Amperemeter yang terdiri dari galvanometer yang dipasang paralel dengan resistor disebut resistor shunt (shunt adalah persamaan kata paralel dengan). Dengan memasang resistor shunt dengan cara paralel maka didapatkan pengukuran arus yang lebih akurat sehingga kelebiahan arus listrik akan mengalir ke resistorshunt. Penyusunan resistor shunt tampak seperti pada Gambar 7.17.

Gambar Amperemeter dirangkai paralel dengan resistor (resistor shunt) Sudut penyimpangan jarum magnetis berhubungan dengan kuantitas arus listrik yang mengalir pada kawat, sehingga dengan mengkalibrasi besar sudut penyimpangan

jarum untuk setiap nilai arus lisrtik yang mengalir dengan menggunakan skala tertentu, maka nilai arus lisrik dapat ditentukan DIAGRAM SEBUAH GALVANOMETER SEDERHANA. Jika arus skala penuh pada amperemeter dinyatakan dengan I yang mempunyai nilai n kali besar dari arus skala penuh pada galvanometer (Ig ), maka kelipatan batas ukur makdimum amperemeter dapat ditentukan dengan persamaan sebagai berikut.

n=

atau

I=n

Dengan n : kelipatan batas ukur maksimum I : arus skala pada amperemeter Ig ; arus skala penuh pada galvanometer

Rangkaian amperemeter pada gambar di atas, menunjukkan bahwa Rg dan Rsh dihubungkan secara pararel, sehingga

Ig : Ish =

I = Ig + Ish n Ig = Ig + Ish

Karena rangkaian pararel merupakan rangkaian pembagi arus, maka

Ig =

Ig =

n Ig

Rg + Rsh = n Rsh

Dengan Ish = arus pada hambatan shunt Rsh = hambatan shunt Rg = hambatan galvanometer Dengan penggunaannya untuk arus listrik pada sebuah rangkaian, amperemeter harus dihubungkan secara seri terhadap rangkaian sehingga dalam hal ini hambatan pengganti Rsh dan Rg merupakan hambatan dala amperemeter, yang besarnya adalah

RA =

Dengan RA = hambatan dalam amperemeter

Contoh soal Sebuah galvanometer yang hambatan 30 akan mengalami penyimpangan skala penuh pada 500 mA, hitunglah hambatan resistor shunt agar dapat digunakan untuk mengukur arus 3A!

Penyelesaian

n=

Karena I = 3A dan Ig = 500 mA = 0,5A, maka

n=

=6

Rsh =

= 6

Jadi, hambatan resistor shunt yang harus dipasang adalah 6.

2.

Pengukuran Tegangan Voltmeter adalah alat ukur tegangan listrik. Voltmeter sering dicirikan dengan simbol V pada setiap rangkaian listrik. Voltmeter harus dipasang paralel dengan ujung-ujung hambatan yang akan diukur beda potensialnya. Penggunaan voltmeter untuk mengukur beda potensial listrik ditunjukkan pada Gambar 5.18.

Satuan beda potensial listrik dalam satuan SI adalah volt atau diberi simbol V. Voltmeter sendiri mempunyai hambatan sehingga dengan disisipkannya voltmeter tersebut menyebabkan arus listrik yang melewati hambatan R sedikit
berkurang. Idealnya, suatu voltmeter harus memiliki hambatan yang sangat besar agar berkurangnya arus listrik yang melewati hambatan R juga sangat kecil. Komponen dasar suatu voltmeter adalah galvanometer. Galvanometer mempunyai hambatan yang sering disebut sebagai hambatan dalam galvanometer, R . Susunan suatu voltmeter dengan menggunakan galvanometer

ditunjukkan pada Gambar 5.19.

Susunan suatu voltmeter dengan menggunakan galvanometer G dengan hambatan dalam Rg dan suatu hambatan Rs

Untuk mendapatkan pengukuran tegangan akurat, maka hambatan suatu voltmeter dibuat jauh lebih besar dari hambatan rangkaian. Sehingga untuk meningkatkan kemampuan pengukuran suatu voltmeter, maka harus dipasang resistor seri yang dihubungkan galvonmeter, hal ini akan menyebabkan kelebihan tegangan akan diberikan resistor seri.

Jika tegangan skala penuh pada voltmeter dinyatakan dengan V mempunyai nilai n kali lebih besar dari tegangan skala penuh galvanometer (Vg), maka kelipatan batas ukur maksimum voltmeter dapat ditentukan dengan persamaan sebagai berikut.

n=

atau V=n

Dengan

n = kelipatan batas ukur maksimum V = tegangan skala penuh pada voltmeter Vg = tegangan skala penuh pada galvanometers

Pada rangkaian voltmeter menunjukkan bahwa Rs dan Rg dihubungkan secara seri, sehingga

Vs : Vg = Rs Rg

Karena rangkaian seri merupakan rangkaian pembagi tegangan, maka

Vg =

=V

Vg =

nV

Rs + Rg = nRg

Dengan

Vs = tegangan pada resistor seri Rs = hambatan resistor seri Rg = hambatan galvanometer

Dengan penggunaanya untuk mengukur tegangan pada sebuah rangkaian voltmeter harus dihubungkan pararel terhadap rangkaian, sehingga dalam hal ini hambatan penganti dari Rs dan Rg merupakan hambatan dalam voltmeter, yang besarnya adalah RV = R s + R g

Dengan

Rv =hambatan dalam voltmeter

Contoh soal

Sebuah galvanometer mempunyai hambatan 50 dan mempunyai simpangan maksimal jika dialiri arus 0,01 A. untuk mengukur tegangan hingga 100 V, hitunglah hambatan resistor seri yang harus dipasang!

Penyelesaian Tentukan Vg ! Vg = Ig.Rg = (0,0,1 A) (50) = 0,5 volt

n=

= 200

Rs = ( n 1) Rg

= (200 1) 950 = 9950 Jadi hambatan resistor seri yang harus dipasang adalah 9950 .

3. Pengukuran Hambatan

Untuk mengukur hambatan listrtik kita dapat mengunakaan sebuah alat yang disebut ohmmeter. Pada dasarnya ohmmeter dibuat sari rangkaian amperemeter, dimana arus listrik diukur oleh amperemeter dan ggl () yang diketahui dapat digunakan untuk menentukan nilai suatu hambatan (Rx) dengan kalibrasi tertentu. GAMBAR Biasanya fungsi voltmeter, amperemeter dan ohmmeter digabungkan dalam sebuah alat disebut multimeter. Prinsip voltmeter, ampereremeter dan ohmmeter yang diuraikan diatas merupakan analog dari vrinsip voltmeter, amperemeter dan ohmmeter. Akan tetapi selain itu terdapat voltmeter, amperemeter dan ohmmeter digital yang dapat menampilkan nilai pengukur tegangan, arus dan hambatan dalam brntuk angka.

4.

Rangkaian Jembatan Wheatstone Wheatstone mengukur hambatan dengan membandingkan arus yang mengalir melalui salah satu bagian jembatan dengan sebuah arus yanag diketahui mengalair melalui bagian lainnya. Rangkaian jembatan whewtstone mempunyai empat buah lengan, seperti ditunjukkan pada gambar berikut ini . GAMBAR

hambatan yang diiukur sedangkan

Rs merupakan variable resistor ( biasanya

digunaka potensiometer0 yang nilai hambatannya dapat diatur. R 1, R2, Rs dan Rx dihubungkan seperti gambar 7.18 dan dipasangkan pada sumber ggl () serta digunakan sebuah galvanometer untuk mengetahui keberadaan arus pada rangkaian.

Untuk mengukur hambatan Rx maka hambatan Rs diatur sampai galvometer menunjukkan angka nol ( tidak ada arus rangkaian), dan dalam keadaan ini rangkaian dalam keadaan seimbang. Jika jembatan wheatstone dlam keadaan seimbang, maka berlaku persamaan sebagai persamaan sebagai berikut.

Hambatan Rs pada rangkaian jembatan wheatsone dapat diganti dengan potensiaometer yang menggunakan kawat logam dan kontak geser, seperti pada gambar berikut ini.

Untuk menukur hambatan Rx menggunakan rangkaian jembatan wheatstone ynang menggunakan kontak feser, maka keadaan seimbang rangkaian diatur dengan menggerakkan kontak geser sepanjang kawat logam sampai jarum galvanometer menunjukan angka nol. Pada keadaan seimbang hambatan R 1 dan R2 dapat ditentukan dari

E. Energi Listrik Dan Daya Listrik


1. Energi Listrik

Energi adalah kemampuan untuk melakukan usaha. Maka pengertian energi listrik adalah kemampuan untuk melakukan atau menghasilkan usaha listrik (kemampuan yang diperlukan untuk memindahkan muatan dari satu titik ke titik yang lain). Energi listrik dilambangkan dengan W. Bila pada ujung-ujung suatu kawat penghantar yang hambatannya R terdapat beda potensial V, maka di dalamnya mengalir arus sebesar I = V/R . Untuk mengalirkan arus ini sumber arus mengeluarkan energi. Sebagian dari energi ini berubah menjadi kalor yang menyebabkan kawat penghantar menjadi panas. Hal ini terjadi karena electron-elektron bebas dalam kawat atom-atom kawat yang dilaluinya. Berdasar pada hasil percobaan J.P. Joule, besarnya kalor yang timbul ditentukan oleh factor-faktor : 1. besarnya hambatan kawat yang dilalui arus 2. besarnya arus yang mengalir 3. waktu atau lamanya arus mengalir Besarnya energi yang dikeluarkan oleh sumber arus untuk mengalirkan arus listrik adalah : W = QV Dengan W = Energi listrik (joule) Q = Muatan listrik (Coulumb) V = Beda potensial ( Volt) Karena I = Q/t maka diperoleh perumusan W = (I.t).V W = V.I.t dimana : V dalam Volt

i dalam ampere dan t dalam detik atau sekon Karena V = I R maka W = I2 Rt

Karena I =

Maka W =

Apabila semua energi listrik berubah menjadi kalor, maka banyaknya kalor yang timbul W = 0,24 I2R t kalori dimana : 1 kalori = 4,2 joule 1 joule = 0,24 kalori