Anda di halaman 1dari 13

Tedy Tarudin (1000684) PEMBAHASAN Pada praktikum kali ini, dilakukan pengamatan terhadap kemasan plastik.

Tujuan dari praktikum ini yaitu dapat mengenali berbagai jenis kemasan plastik yang sering digunakan sebagai pelindung makanan atau produk pangan dan produk-produk pasca panen, mengetahui karakteristik masing-masing jenis kemasan plastik dan mampu mengidentifikasi jenis kemasan plastik berdasarkan karakteristik tersebut. Plastik merupakan senyawa polimer tinggi yang dicetak dalam lembaranlembaran yang mempunyai ketebalan-ketebalan yang berbeda-beda. Plastik banyak digunakan untuk mengemas bahan pangan karena kemudahan dibentuk, mempunyai daya adaptasi yang tinggi terhadap produk, tidak korosif, dan mudah dalam penanganannya (Herudiyanto,M.S. 2008). Komponen utama plastik sebelum membentuk polimer adalah monomer, yaitu rantai yang paling pendek. Polimer merupakan gabungan dari beberapa monomer yang akan membentuk rantai yang sangat panjang. Bila rantai tersebut dikelompokkan bersama-sama dalam suatu pola acak, menyerupai tumpukan jerami maka disebut amorp, jika teratur hampir sejajar disebut kristalin dengan sifat yang lebih keras dan tegar (Syarief, et al., 1988). Cara pembuatan plastik secara umum adalah dengan menggunakan resin yang alami maupun sintetik. Resin alami seperti oleoresin, terpentin, damar sedangkan resin sintetis seperti polietilen, polipropilen, polivinil klorida, dll. Untuk memperbaiki sifat plastik yang diperoleh, ditambahkan bahan lain seperti filler, plastikizer, lubricant, antioksidan, zat warna dan lain sebagainya. Kelemahan bahan kemasan plastik ini adalah adanya zat-zat monomer dan molekul kecil lain yang terkandung dalam plastik yang dapat melakukan migrasi ke dalam bahan makanan yang dikemas. Berbagai jenis bahan kemasan lemas seperti misalnya polietilen, polipropilen, nilon poliester dan film vinil dapat

digunakan secara tunggal untuk membungkus makanan atau dalam bentuk lapisan dengan bahan lain yang direkatkan bersama. Kombinasi ini disebut laminasi. Sifat-sifat yang dihasilkan oleh kemasan laminasi dari dua atau lebih film dapat memiliki sifat yang unik.(Winarno, 1994). Menurut Eden dalam Davidson (1970), klasifikasi plastik menurut struktur kimianya terbagi atas dua macam yaitu: 1. Linear, bila monomer membentuk rantai polimer yang lurus (linear) maka akan terbentuk plastik thermoplastik yang mempunyai sifat meleleh pada suhu tertentu, melekat mengikuti perubahan suhu dan sifatnya dapat balik (reversible) kepada sifatnya yakni kembali mengeras bila didinginkan. 2. Jaringan tiga dimensi, bila monomer berbentuk tiga dimensi akibat polimerisasi berantai, akan terbentuk plastik thermosetting dengan sifat tidak dapat mengikuti perubahan suhu (irreversible). Bila sekali pengerasan telah terjadi maka bahan tidak dapat dilunakkan kembali. Sifat terpenting bahan kemasan yang digunakan meliputi permeabilitas gas dan uap air, bentuk dan permukaannya. Permeabilitas uap air dan gas, serta luas permukaan kemasan mempengaruhi jumlah gas yang baik dan luas permukaan yang kecil menyebabkan masa simpan produk lebih lama. Syarief et al., (1989) membagi plastik menjadi dua berdasarkan sifatsifatnya terhadap perubahan suhu, yaitu: 1. Termoplastik: meleleh pada suhu tertentu, melekat mengikuti perubahan suhu dan mempunyai sifat dapat balik (reversibel) kepada sifat aslinya, yaitu kembali mengeras bila didinginkan. 2. Termoset: tidak dapat mengikuti perubahan suhu (irreversibel). Bila sekali pengerasan telah terjadi maka bahan tidak dapat dilunakkan kembali. Pemanasan yang tinggi tidak akan melunakkan termoset melainkan akan dan terurai karena sifatnya yang demikian sering membentuk arang

digunakan sebagai tutup ketel, seperti jenis-jenis melamin.

Penggunaan plastik sebagai bahan pengemas mempunyai keunggulan dibanding bahan pengemas lain karena sifatnya yang ringan, transparan, kuat, termoplatis dan selektif dalam permeabilitasnya terhadap uap air, O 2, CO2. Sifat permeabilitas plastik terhadap uap air dan udara menyebabkan plastik mampu berperan memodifikasi ruang kemas selama penyimpanan (Winarno, 1987). Pengukuran nilai densitas pada plastik sangat penting, karena densitas dapat menunjukkan struktur plastik secara umum. Aplikasi dari hal tersebut yaitu dapat dilihat kemampuan plastik dalam melindungi produk dari beberapa zat seperti air, O2 dan CO2. Birley, et al. (1988), mengemukakan bahwa plastik dengan densitas yang rendah menandakan bahwa plastik tersebut memiliki struktur yang terbuka, artinya mudah atau dapat ditembusi fluida seperti air, oksigen atau CO2. Penggunaan plastik sebagai bahan pengemas mempunyai keunggulan dibanding bahan kemasan lain karena sifatnya yang ringan, transparan, kuat, termoplastis dan seelktif dalampermeabilitasnya terhadap uap air, O2, CO2. Kegiatan yang dilakukan pada praktikum ini yaitu mendeskripsikan berbagai jenis kemasan plastik, mengukur ketebalannya, mengukur beratnya, menghitung massa jenisnya,mengidentifikasi jenis plastik dengan uji nyala (burning test) dan Mengetahui Permeabilitas Uap Air Dari Plastik. Sampel yang digunakan adalah plastik dengan kode A, B, C, D, E, F. Semua jenis plastik tersebut dibandingkan dengan literatur baik berupa ketebalan, identifikasi, massa jenis, berat dari plastik, Uji nyala dan Permeabilitas Uap Air Dari Plastik. A. Deskripsi berbagai jenis plastik Tabel deskripsi beberapa jenis sampel plastik No Jenis plastik 1 A 2 B 3 C 4 D 5 E 6 F Deskripsi Kaku, kuat, tebl, transparan, fleksible, elastis Tidak terlalu kaku, suram, kuat, agak tebal Lentur, suram, kurang kuat, sangat tipis Kuat, kaku, tidsk elastis, sudah berbentuk wadah, transparan, tebal Kuat, agak transparan, kaku, tipis Lentur, sangat transparan, tidak kuat, sangat tebal

No. 1 2 3 4 5 6

Jenis Plastik A B C D E F

kekakuan +++++ +++ ++ ++++++ ++++ +

Perbedaan secara viaual transparan kekuatan ++++ +++++ + +++ ++ ++ ++++++ ++++++ +++ ++++ +++++ +

ketebalan +++++ +++ + ++++++ ++ ++++

Plastik merupakan senyawa polimer tinggi yang dicetak dalam lembaranlembaran dan mempunyai ketebalan yang berbeda-beda. Plastik dibuat dari resin baik alami atau sintetik yang tersusun dari banyak monomer, yaitu rantai paling pendek, sehingga terbentuk suatu polimer. Plastik dapat diklasifikasikan menjadi 2 jenis berdasarkan struktur kimianya, yaitu liniar bila monomer membentuk rantai polimer yang lurus, dan jaringan tiga dimensi bila monomer berbentuk 3 dimensi akibat polimerisasi berantai. Pada praktikum kali ini jenis plastik yang di amati adalah

dengan kode A, B, C, D, E, F. Deskripsi yang dilakukan adalah kekakuan, tansparan, kekuatan dan ketebalan. Pada deskripsi Kekakuan, transparan, Kekuatan dan Ketebalan jenis plastik D memiliki tingkat Kekakuan yang paling tinggi dibandingkan jenis plastik yang lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa jenis plastik dengan kode D memiliki sifat-sifatnya adalah permukaan transparan sampai keruh, permeabilitas terhadap gas dan air rendah sehingga baik untuk produk yang peka O 2, tahan minyak dan lemak, berwarna kuning bila terkena panas, tidak mudah sobek, dan tahan terhadap asam dan alkali kecuali asam pengoksida. Perbedaan karakteristik dari setiap jenis plastik ini dapat menyebabkan perbedaan jenis bahan pangan yang dapat dikemas. Sifat bahan pangan yang akan dikemas harus cocok dengan karakteristik kemasan plastik yang akan digunakan.

Misalnya karena PVC plastik yang tebal, maka cocok untuk mengemas bahan yang mudah menguap karena permeabilitasnya rendah. B. Mengukur Ketebalan plastik Pengukuran Ketebalan dengan Mikrometer sekrup dan Jangka sorong (dalam mm). Jenis Kertas :A Pengukuran Mikrometer Jangka Sorong 1 2 3 4 5 rata-rata Max Min 0,065 0,07 0,07 0,01 0,02 0,01 0,01 0,014 0,02 0,01 1 2 3 4 5 rata-rata max min Pengukuran Mikrometer 0,05 0,045 0,045 Jenis Plastik : B Jangka Sorong 0,01 0,01 0,01 0,005 0,01 9.10-3 0,01 0,005

0,068 0,07 0,065

0,046 0,05 0,045

Jenis Plastik : C Pengukuran Jangka Sorong 1 0,03 0,005 2 0,025 0,005 3 0,025 0,005 4 0,005 5 0,005 rata-rata 0,026 0,005 max 0,03 0,005 min 0,025 0,005 Jenis Plastik : E Pengukuran Jangka Mikrometer Sorong 1 0,12 0,005 2 0,07 0,01 3 0,05 0,01 4 0,005 5 0,005 rata-rata 0,08 7.10-3 max 0,12 0,1 min 0,05 0,005 Mikrometer Pengukuran

Jenis Plastik : D Jangka Sorong 1 0,14 0,02 2 0,145 0,03 3 0,11 0,02 4 0,01 5 0,03 rata-rata 0,131 0,022 max 0,14 0,03 min 0,11 0,1 Jenis Plastik : F Pengukuran Jangka Mikrometer Sorong 1 0,02 0,01 2 0,015 0,01 3 0,02 0,02 4 0,01 5 0,005 rata-rata 0,0183 0,011 max 0,02 0,02 min 0,015 0,005 Mikrometer

Ketebalan merupakan karakteristik dan sifat yang penting bagi kemasan plastik. Semakin tebal suatu plastik, maka akan semakin rendah permeabilitasnya, artinya semakin sulit untuk terjadi perpindahan gas dan uap air. Pada percobaan ini, dilakukan pengukuran terhadap setiap sampel masingmasing 3 kali untuk mendapat hasil yang lebih akurat. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan mikrometer sekrup dan jangka sorong. Dari hasil pengukuran didapat bahwa pengukuran dengan mikrometer sekrup ternyata lebih teliti dibandingkan dengan pengukuran dengan jangka sorong. Hal ini terlihat dari lebih konstannya angka pada pengukuran dengan mikrometer sekrup. Dari hasil pengukuran, baik dengan menggunakan jangka sorong ataupun mikrometer sekrup, jenis plastik paling tebal adalah jenis plastik dengan kode D diikuti kode E, A, B, C dan F. Dari hasil pengamatan yang didapat, dapat disimpulkan bahwa jenis plastik dengan Kode D memiliki tingkat permeabilitas yang paling rendah, sedangkan kode E memiliki tingkat permeabilitas yang paling tinggi. Ketebalan plastik dipengaruhi oleh dipengaruhi tekanan yang diberikan pada bahan plastik pada saat pembuatan plastik tersebut. C. Pengukuran Massa Jenis Plastik Tabel Berat Plastik/Satuan Luas Jenis Plastik : A Pengukuran 1 2 3 rata-rata Pengukuran 1 2 3 g/cm2 0,005253 0,005252 0,005251 0,005252 g/m2 5,253x10-7 5,252x10-7 5,251x10-7 5,252x10-7 Pengukuran 1 2 3 rata-rata Pengukuran 1 2 3 g/cm2 0,003152 0,003182 0,003182 0,003172 g/m2 3,152x10-7 3,182x10-7 3,182x10-7 3,172x10-7 Jenis Plastik : B

Jenis Plastik : C g/cm2 g/m2 0,001596 1,596x10-7 0,001582 1,582x10-7 0,001582 1,582x10-7

Jenis Kertas : D g/cm2 g/m2 0,044306 4,4306x10-6 0,044309 4,4309x10-6 0,044301 4,4301x10-6

rata-rata Pengukuran 1 2 3 rata-rata

0,001586

1,586x10-7

rata-rata Pengukuran 1 2 3 rata-rata

0,044304

4,4304x10-6

Jenis Plastik : E g/cm2 g/m2 0,004775 4,775x10-7 0,004662 4,662x10-7 0,004776 4,776x10-7 0,004737 4,737x10-7

Jenis Plastik : F g/cm2 g/m2 0,001452 1,452x10-7 0,001455 1,455x10-7 0,001453 1,453x10-7 0,001453 1,453x10-7

Tabel Massa Jenis Masing-Masing Sampel No. 1 2 3 4 5 6 Jenis Plastik A B C D E F ketebalan (cm) 0,014 9.10-3 0,005 0,022 7.10-3 0,011 volume (tebal x 100cm) 1,4 0,9 0,5 2,2 0,7 1,1 Berat (g) 0,5252 0,3172 0,1586 4,4304 0,4737 0,1453 Densitas (g/cm3) 0,375 0,352 0,317 2,013 0,676 0,132

Pada percobaan ini, dilakukan pengukuran terhadap berat per satuan luas dari tiap-tiap plastik. Penimbangan dilakukan sebanyak 3 kali untuk setiap sampel plastik agar didapatk etelitian dalam pengukuran. Setelah dilakukan penimbangan dan pengukuran berat per satuan ternyata diketahui bahwa plastik paling berat terbesar adalah sampel dengan kode D diikuti kode A, E, C, B, dan F. Sedangkan dari pengukuran massa jenis masing-masing sampel diketahui bahwa plastik paling terbesar densitasnya adalah sampel dengan kode D diikuti kode E, A, B, C, dan F. Nilai massa jenis ini menunjukkan seberapa rapat molekul yang menyusun plastik ini. Semakin rapat susunan molekulnya (monomernya), maka semakin besar nilai density/massa jenisnya. Semakin besar density plastik maka akan semakin rendah pula permeabilitasnya. Menurut Suyitno (1990) PVC mempunyai sifat keras, kaku, jernih dan mengkilap, sangat sukar ditembus air dan permeabilitas gasnya rendah sehingga sesuai untuk mengemas makanan yangbanyak mengandung air.

Pengukuran nilai densitas pada plastik sangat penting, karena densitas dapat menunjukkan struktur plastik secara umum dan dapat dilihat kemampuan plastik dalam melindungi produk dari beberapa zat seperti air , O2 dan CO2. Birley, et al. (1988), mengemukakan bahwa plastik dengan densitas yang rendah menandakan bahwa plastik tersebut memiliki struktur yang terbuka, artinya mudah atau dapat ditembusi fluida seperti air , oksigen atau CO2. Densitas plastik sangat penting dalam menentukan sifat-sifat plastik yang berhubungan dengan pemakaiannya. Berdasarkan sifat permeabilitasnya yang rendah serta sifat-sifat mekaniknya yang baik, polietilen banyak digunakan sebagai pengemas makanan, karena sifatnya yang thermoplastik, polietilen mudah dibuat kantung dengan derajat kerapatan yang baik (Sacharow dan Griffin, 1970). Menurut Buckle et al. (1987) permeabilitas gas PVC (seperti CO2, O2, N2) lebih rendah dibandingkan dengan HDPE, LDPE, PP, sehingga PVC cocok untuk mengemas produk yang banyak mengandung senyawa volatil (senyawa yang mudah menguap, Hal ini sesuai dengan hasil pengamatan dimana permeabilitas PVC yang paling rendah karena nilai densitasnya sangat tinggi, terbukti PVC sangat cocok untuk mengemas makanan. D. Identifikasi Jenis Plastik dengan Uji Nyala (Burning Test) Tabel Pengamatan Uji Nyala Sifat-Sifat Plastik dalam Uji Nyala No. 1 2 3 4 5 6 Jenis Plastik A B C D E F Kemudahan menyala 10.40 7.34 11.77 2.00 2.00 2.00 Padam sendiri Bau + ++ + +++ ++ ++ Warna Nyala Api Orange, biru Biru (++) Biru (+) Orange (+++) Putih/bening Putih/bening Jenis polymer

Apabila suatu plastik tidak diketahui polimernya, maka digunakan pengujian dengan menggunakan nyala api atau burning test. Burning test adalah suatu bentuk pengujian yang dapat digunakan untuk

mengidentifikasi suatu polimer dari plastik dengan membakar plastik tersebut pada nyala api. Yang termasuk dalam uji nyala adalah kemudahan nyala, waktu padam sendiri, bau atau aroma, warna nyala api, kelakuan bahan dan kemudian ditentukan jenis polimer dengan melihat tabel standar tentang pengujian nyala api. Kelemahan uji bakar jika plastik dibakar hanya mungkin dibandingkan antara warna api, dan lelehannya serta mudah atau tidaknya terbakar karena sifat lainnya seperti bau sangat bersifat subjektif. Berdasarkan tabel pengamatan di dapat Sifat pembakaran pada sampel kode E dan F memiliki kemiripan dari kemudahan menyala, bau dan warna nyala api. Pada sampel dengan kode B dan C memiliki kemiripan dari bau dan warna nyala api. Sedangkan pada sampel dengan kode A dan D memiliki kemiripan pada warna nyala api. Dari keseuruhan didapat bahwa Kemudahan nyala dan kemudahan padam sesuai dengan literature dan semua cocok dengan tabel cirri-ciri identifikasi kemasan plastik. E. Permebilias uap dari plastik
Waktu 1 2 3 4 5 Plastik A silika di silika di plastik gelas 12,8 gr 70,2 gr 12,9 gr 70,3 gr 12,9 gr 70,3 gr 12,9 gr 70,3 gr 13,0 gr 70,3 gr Plastik B silika di silika di plastik gelas Plastik C silika di silika di plastik gelas

Kontrol 61,9 gr 61,9 gr 61,9 gr 61,9 gr 61,9 gr

Kontrol

Kontrol

Waktu 1 2 3 4 5

Plastik D silika di silika di Kontrol plastik gelas

Kontrol

Plastik E silika di plastik

silika di gelas

Kontrol

Plastik F silika di plastik

silika di gelas

Pada paraktikum kali ini digunakan silika gel sebagai indikator transfer massa uap air dimana silika gel tersebut dimasukan ke dalam beker glass dan kedalam plastik. Selain itu digunakan pula Plastik jenis PP dengan sampel Kode A. Silika gel bersifat menyerap uap air yang disebut absorpsi yang diawali oleh perluasan pergerakan sistem dari konsentrassi keseimbangan. Kemudian beker glass ditutup dengan plastik PP dan plastik PP yang telah diisi silika gel di sealer. Lalu beker glass yang telah ditutup oleh plastik dan plastik yang telah diisi silika gel dan di sealer diinkubasi selama 5 hari dan ditimbang massanya Kemampuan bahan pengemas untuk melindungi produk yang dikemas adalah satu persyaratan penting untuk bahan pengemas. Untuk menjaga agar produk tetap renyah, maka bahan pengemas harus dapat melindungi produk dari uap air. Kemampuan bahan pengemas untuk melindungi produk yang dikemas dinyatakan dengan permeabilitas. Permeabilitas bahan pengemas adalah massa dari gas atau uap yang dapat di transfer per unit waktu, area, dan laju transfer massa uap air yang melewati kemasan dengan luas permukaan tertentu per hari untuk tebal dan suhu serta kelembaban relatif tertentu dan dinyatakan dalam gram H2O/m 2hari mmHg. Massa silika gel yang diperoleh dari beker glass yang yang ditutup menggunakan plastik jenis PP mulai hari ke-1 sampai hari ke-5 berturut-turut adalah 70,2 gr, 70,3 gr, 70,3 gr, 70,3 gr, dan 70,3 gr. Sedangkan Massa silika gel yang
diperoleh yang dikemas dalam PP mulai hari ke-1 sampai hari ke-5 berturut-turut

adalah 12,8 gr, 12,9 gr, 12,9 gr, 12,9 gr, dan 13,0 gr. Dan pada kontrol mulai hari ke-1 sampai hari ke-5 berturut-turut adalah 61,9 gr, 61,9 gr, 61,9 gr, 61,9 gr, dan 61,9 gr. Selama waktu inkubasi dari hari hari ke-1 sampai hari ke-5 pada silika gel dalam beker glass yang ditutup dengan jenis plastik PP maupun pada plastik PP yang diisi dengan silika gel mengalami peningkatan. Hal ini terjadi karena adanya transfer massa uap air dari lingkungan ke silika gel. Prosesnya adalah udara dalam wadah plastik PP yang tertutuprapat terserap oleh silika gel sehingga tekanan udara lebih rendah daripada lingkungan. Berdasarkan beda tekanan tersebut, maka

massa dari silika gel terus bertambah akibat masuknya uap air dari lingkungan ke silika gel. Perhitungan permeabilitas: Tebal Kemasan = 0,08 mm Diameter Kemasan = 24,3 mm Luas Permukaan =
1 x x D2 4 1 x 3,14 (24,3)2 4

= 463,53465 Persamaan linear: y = bx + a X Hari 1 2 3 4 5 Y Berat 70,2 gr 70,3 gr 70,3 gr 70,3 gr 70,3 gr

Slope = 0,0684 gr H2O / harix Permeabilitas = atm KESIMPULAN


Slope Tebal x = 1,180494274 x 10-5 mm/hari mm2 A(mm) 1atm

Plastik adalah suatu polimer tinggi yang dicetak dalam lembaranlembaran yang mempunyaiketebalan berbeda-beda. Plastik atom mengikat satu sama lain. adalah polimer; rantai-panjang Rantai ini,membentuk

banyak unitmolekul berulang, atau"monomer". PVC lebih tebal dan lebih berat dibandingkan dengan jenis plastik lain. Urutan plastik dari yang paling tebal sampai yang paling tipis yaitu PET (Polyethylene Terephthalate), PVC (Polyvinyl Chloride), PP (Polypropylene) 0,3, HDPE (High Density Polyethylene), LDPE (Low Density Polyethylene), dan PP (Polypropylene) 0,1. Semakin tebal berat plastik makaakan semakin berat. Plastik PET memiliki tebal, berat, dan densitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis plastik yang lain. Kelemahan bahan kemasan plastik ini adalah adanya zat-zat monomer dan molekul kecil lain yang terkandung dalam plastik yang dapat melakukan migrasi ke dalam bahan makanan yang dikemas. Penggunaan plastik sebagai bahan pengemas mempunyai keunggulan dibanding bahan pengemas lain karena sifatnya yang ringan, transparan, kuat, termoplatis dan selektif dalam permeabilitasnya terhadap uap air, O2, CO2. PVC cocok untuk mengemas produk yang banyak mengandung senyawa volatil (senyawa yang mudah menguap).

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.

2010. Transfer Massa Uap Air Melewati Film Kemasan PE dan PP._________

Buckle, K.A., dkk. 1987. Ilmu Pangan. UI-Press . Jakarta. Mimi, Nurminah. 2002. Penelitian Sifat Berbagai Bahan Kemasan Plastik dan Kertas Serta Pengaruhnya terhadap Bahan yang dikemas. Avaibleat http://www .iptek.net.id/ind/?ch=jsti&id=173 (diakses tanggal 11 April 2013) Syarief.R., S. Santausa dan Isyana. 1989. Teknologi Pengemasan Pangan PAU Pangan dan Gizi IPB, Bogor.