Anda di halaman 1dari 17

fBAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Kegiatan Kegiatan peninjauan temuan di Situs Kayen di Dusun Miyono, Desa Kayen, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati, Jawa Tengah didasarkan pada: Laporan Saudara Nur Rohmat (Ketua Pengurus Makam Ki Gede Miyono) bahwa pada saat pembangunan Mushola Makam Ki Gede Miyono telah ditemukan beberapa bata kuna di lokasi pembangunan mushola. Pembangunan mushola ini bertujuan untuk beribadah para peziarah makam Ki Gede Miyono. Saat ini pembangunan mushala telah menyelesaikan bagian pondasi dan bagian kaki. Menurut keterangan pengurus pembangunan mushala, Sdr. Nur Rohmat, pada awalnya, rencana pendirian mushala adalah di tengah lahan. Tapi karena pada waktu penggalian pondasi ditemukan struktur batu bata, maka pendirian bangunan digeser 5 m ke arah utara. Selanjutnya keberadaan struktur yang berada di tengah lahan diselamatkan pengurus dengan diletakkan di area makam dengan ditumpuk dan direkatkan dengan semen. Surat Tugas Kepala Balai Arkeologi Yogyakarta No. 423/KP.108/Balar/KKP/V/2011 untuk melakukan peninjauan peninggalan temuan benda-benda arkeologi di Situs makam Ki Gede Miyono di Dusun Mbuloh, Desa Kayen, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati Provinsi Jawa Tengah pada tanggal 4 5 Mei 2011. Penemuan ini sudah pernah dilaporkan dan ditindaklanjuti oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah pada bulan Agustus 2010. Berdasarkan peninjauan BP3 Jawa Tengah diperoleh hasil yaitu bahwa di Situs Kayen mengandung tinggalan Benda Cagar Budaya (BCB) yang bernilai arkeologis dan historis yaitu berupa Struktur bata yang masih intact. Pada saat dilakukan peninjauan, keadaan temuan sebagian masih berada di bawah permukaan tanah, dan sebagian sudah diangkat. Walau belum seluruh temuan terpendam dapat ditampakkan, luas area temuan diperkirakan mencapai 30 x 40 m. Temuan serta. Temuan lain yang dilaporkan berasal dari area temuan struktur batu bata adalah Arca Durga, Peripih, Keramik, dan artefak berbahan logam. Mencermati laporan Nur Rohmad dan BP3 Jawa Tengah selanjutnya Balai Arkeologi Yogyakarta membentuk Tim untuk melaksanakan kegiatan peninjauan temuan di Situs Kayen di Desa Kayen, ,Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. B. Tujuan dan Strategi Kegiatan

Secara umum, tujuan kegiatan peninjauan ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang nilai potensi keilmuan (akademik). Potensi keilmuan didasarkan pada kerangka karakter situs (bentuk, kronologis) serta konteks budaya situs. Berdasarkan tujuan kegiatan, maka metode peninjauan Situs Kayen dilakukan secara eksploratif melalui survey muka tanah dan wawancara dengan beberapa narasumber. Peninjauan dilakukan dengan mengunjungi lokasi situs, mengamatai temuan lepas yang telag ditemukan penduduk, serta mengamati lingkungan disekitar situs. Metode peninjauan ini kemudian dijabarkan dalam strategi kegiatan yang disusun meliputi beberapa hal, yaitu: pendokumentasian, deskripsi, dan analisis temuan yang dilaporkan melaksanakan survei dan wawancara di sekitar lokasi penemuan untuk mendapatkan gambaran konteks data arkeologi maupun konteks lingkungan alami analisis atas data arkeologi hasil survei beserta lingkungan alami di sekitarnya studi pustaka berkenaan dengan hasil penelitian arkeologi di wilayah Kabupaten Pati dan sekitarnya. kompilasi hasil analisis dengan hasil studi pustaka menyusun sintesa berdasarkan hasil kompilasi untuk mendapatkan gambaran tentang karakter situs beserta konteks budayanya. C. Pelaksana dan Waktu Pelaksanaan Kegiatan Tim pelaksana peninjauan terdiri atas Dra. TM. Rita Istari sebagai ketua dan beranggotakan Hery Priswanto, SS., Agni Sesaria Mochtar, SS, dan Ferry Bagus Jaka Permana. Waktu pelaksanaan kegiatan peninjauan adalah dari tanggal 4 5 Mei 2011.

BAB II PELAKSANAAN KEGIATAN Pelaksanaan kegiatan peninjauan temuan di Situs Kayen pada tanggal 4 5 Mei 2011 difokuskan pada dua hal, yaitu Koordinasi dengan stake holder setempat seperti Kepala Desa Kayen dan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olah Raga Kabupaten Pati. Orientasi dan observasi di lokasi temuan o Survei lingkungan di sekitar situs o Survei dan wawancara beberapa narasumber di sekitar lokasi penemuan untuk mendapatkan gambaran kondisi situs beserta lingkungannya dan kemungkinan ditemukannya artefak sebagai konteks data arkeologi. o Pendokumentasian dan deskripsi temuan yang dilaporkan A. Koordinasi Kegiatan koordinasi dilakukan dengan stake holder setempat bertujuan untuk memperlancar kegiatan yang dilakukan dan memperoleh informasi yang komprehensif mengenai kondisi dan situasi Situs Kayen. Kegiatan koordinasi pertama kali dilakukan dengan bertemu dengan Kepala Desa Kayen yang didampingi dengan beberapa pengurus Makam Ki Gede Miyono. Informasi yang diperoleh dari Kepala Desa Kayen adalah adanya usaha dari pemerintah desa untuk mengembangkan lokasi ziarah makam Ki Gede Miyono dengan membangun mushola dan sarana pendukung seperti jalan menuju lokasi yang memadai. Makam Ki Gede Miyono merupakan salah satu makam di Kabupaten Pati yang sering dikunjungi para peziarah dari berbagai kota selain makam Ki Jangkung, yang juga berada di kecamatan kayen. Kegiatan koordinasi selanjutnya dilakukan dengan Dinbuparpora Kabupaten Pati dalam rangka memperoleh informasi mengenai tinggalan-tinggalan arkeologi yang berada di kabupaten Pati serta rencana tindak lanjut kegiatan penelitian Situs Kayen. B. Orientasi dan Observasi 1. Survei Lingkungan di Sekitar Situs Situs Kayen secara administratie berada di Dusun Miyono (Mbuloh), Desa Kayen, Kecamatan Kayen, Kabupetan Pati Jawa Tengah. Secara astronomis Situs Kayen terletak pada 111 0 00 17,0 BT 06 0 54 31.8 LS. Situs Kayen berada di dataran alluvial yang cukup datar dan luas. Hal ini dengan ditandai pemanfaatan lokasi ini sebagai lokasi permukiman dan persawahan. Kondisi lingkungan Situs Kayen cukup subur dengan didukung keberadaan Sungai Sombron yang berhulu di Pegunungan Kendeng dan bermuara di Sungai Tanjang Pati.

Lokasi Situs Kayen

Untuk menuju ke Situs Kayen diperlukan usaha yang tidak mudah, dikarenakan jalan menuju ke lokasi hanya bisa dilalui oleh sepeda motor dan berjarak 1, 5 Km dari permukiman penduduk terdekat. Situs Kayen merupakan lokasi pembangunan mushola yang dijumpai temuan struktur bata kuna yang masih intact. Lokasi Situs Kayen ini berada di sebelah barat makam Ki Gede Miyono yang berjarak 200 meter. Pada saat peninjauan, di lokasi situs Kayen sudah berdiri bangunan mushola bagian pondasi dan beberapa tumpukan bata kuna serta singkapan struktur bata yang masih intact. Kondisi Situs Kayen dikelilingi persawahan yang aktif dan produktif. 2. Hasil Survei Hasil survey yang diperoleh berdasarkan informasi dari narasumber setempat (Pengurus makam Ki gede Miyono) memberikan akses yang mudah kepada tim BALAR Yogyakarta untuk melakukan eksplorasi dan dokumentasi temuan. Berikut deskripsi hasil peninjauan yang telah dilakukan: A. Makam Ki Gede Miyono Makam ini terletak pada koordinat astronomis 11100019.7 BT dan 0605434,1 LS, pada ketinggian 51 mdpl. Makam ini telah direnovasi pada tahun 2010 dengan membangun (pelataran?) mengelilingi makam. Bahan yang digunakan adalah bata dari struktur yang diperkirakan sebagai bangunan candi, yang terletak 200 m dari lokasi makam. Selain itu juga terdapat umpak dan kemuncak bangunan yang disemen di sudut-sudut pelataran. Di sisi timur laut juga diletakkan beberapa bata yang diduga sebagai bagian dari bangunan candi

A.1. Bata persegi panjang Bata persegi panjang merupakan komponen utama bangunan candi yang digunakan sebagai bahan pembuatan pelataran makam. Bata persegi panjang ini rata-rata memiliki dimensi panjang 35-39 cm, lebar 23-25 cm, dan tebal 9-11 cm. Saat ini bata-bata persegi panjang ini telah disusun dengan menggunakan perekat semen.

A.2. Umpak Sebuah umpak berbahan batu putih diletakkan di sudut tenggara pelataran dan sudah disemen secara permanen. Kondisi umpak sudah tidak utuh, dengan bagian dasar berbentuk persegi yang masing-masing sisinya berukuran 33 cm. Tinggi umpak yang masih dapat diukur adalah 24 cm. Menurut keterangan pengurus makam, umpak tersebut merupakan lapik dari arca wanita yang menggendong bayi. Arca tersebut saat ini sudah tidak dapat dilacak keberadaannya.

A.3. Kemuncak 1 Sebuah kemuncak berbahan batu putih diletakkan di sudut barat daya pelataran dan sudah disemen secara permanen. Kondisi umpak sudah tidak utuh dan sudah diberi lapisan (pernis?). Bagian dasar kemuncak ini berbentuk persegi yang

masing-masing sisinya berukuran 19 cm, dan tinggi bagian yang masih dapat diukur adalah 22 cm.

A.4. Kemuncak 2 Kemuncak ini berbahan bata, dan berukuran lebih kecil dari kemuncak yang berbahan batu putih. Kondisinya sudah tidak utuh. Bagian dasarnya berbentuk persegi dengan masingmasing sisi berukuran 17 cm. Pada bagian atas terdapat bentuk persegi yang lebih kecil dengan masing-masing sisi berukuran 10 cm. Tinggi kemuncak yang masih bisa diukur adalah 12 cm.

A.5. Kemuncak 3 Bata ini diperkirakan sebagai bagian dari kemuncak. Berbentuk persegi dengan masing-masing sisi berukuran 15 cm, bagian atas berbentuk persegi yang lebih kecil dengan masing-masing sisi berukuran 13 cm, dengan tebal 8 cm.

A.6. Antefik Sebuah bata yang diperkirakan sebagai bagian antefik candi diletakkan di sudut timur laut pelataran bersama dengan beberapa bata lain. Antefik ini berbentuk segitiga dengan panjang sisi kaki masing-masing 18 cm, sisi alas 24 cm, dan tebal 10 cm.

A.7. Bata segidelapan Bata ini berbentuk limas segidelapan, yang masing-masing sisinya berukuran 6 dan 7 cm, secara bergantian. Tebal bata adalah 11 cm. Bata ini belum dapat diidentifikasi fungsi dan keletakannya pada sebuah bangunan candi.

A.8. Bata bertulis Di antara bata-bata yang telah disusun menjadi pelataran makam, terdapat dua buah bata yang bertulisan. Bata pertama terletak di sebelah timur makam, berukuran panjang 35 cm dan lebar 24 cm. Di salah satu sudut bata terdapat aksara Jawa Kuna, yang dibaca (sa). Bata kedua terletak di sebelah barat makam, berukuran panjang 35 cm dan lebar 24 cm. Di salah satu sudut bata terdapat aksara Jawa Kuna, yang dibaca (ya).

B. Struktur Bata Temuan struktur bata terletak pada area sebuah area persawahan. Sebenarnya petak sawah tersebut merupakan tanah merdeka, tetapi karena terjadi kesalahan informasi tanah tersebut disertifikasi menjadi milik kakek dari Bapak Nur Rohmad (pengurus makam). Kemudian, tanah tersebut diwakafkan untuk pembangunan mushola di kompleks makam Ki Gede Miyono. Secara astronomis, situs ini terletak pada koordinat 11100017,0 BT dan 0605431,8 LS pada ketinggian 35 mdpl. Masyarakat menyebut situs ini sebagai situs Tohyaning, yang berasal dari bahasa jawa toyane bening (airnya jernih).

Struktur bata yang masih intact terlihat pada permukaan tanah, berupa 8 buah bata yang tersusun arah utara-selatan. Bata-bata tersebut masing-masing memiliki dimensi panjang 39-40 cm, lebar 23-24 cm, dan tebal 8 cm. Kecuali bata pertama yang memiliki dimensi panjang 23 cm, lebar 15 cm, dan tebal 8 cm, serta bata keempat yang memiliki dimensi panjang 39 cm, lebar 14 cm, dan tebal 8 cm.

C. Temuan Lepas C.1. Rumah Bapak Abdul Wachid Bapak Abdul Wachid adalah cucu dari juru kunci ke-2 Makam Ki Gede Miyono. Rumahnya terletak pada koordinat 11005947,2 BT dan 0605402,3 LS. Benda-benda arkeologi yang disimpan di rumah tersebut pertama kali ditemukan sekitar tahun 1980-an. C.1.1 Buli-buli Keramik (earthenware)

Bahan :

Warna: Celadon Ukuran : Bibir : Luar = 3 cm = 4 cm

Dalam Badan : Dasar : Tinggi : 9 cm 4 cm 7 cm

C.1.2.

Mangkok

Bahan: Keramik (earthenware) Warna : Ukuran : Celadon Bibir : 16 cm : Luar Dalam = 5 cm = 3,5 cm

Dasar

C.1.3.

Piring

Bahan: Keramik (earthenware) Warna : Ukuran : Celadon Bibir : Luar = 18 cm 22 cm

Dalam = Tebal Dasar : Kaki = 1 cm 13 cm

: 9 cm

Tinggi : 4 cm

C.1.4.

Fragmen Guci

Bahan: Keramik (earthenware) Warna : Jumlah : Ket badan Kecoklatan 4

: 1 fragmen bibir, 1 fragmen dasar, 2 fragmen

C.1.4.

Darpana (cermin)

Bahan: Logam (Perunggu/Kuningan?) Kondisi : Ukuran : 11 cm Terkorosi Dasar kaca : Luar =

Dalam = 9 cm Tangkai : Panjang = 7 cm

10

Lebar Ket

6 cm

: Terdapat (hiasan/tulisan?) pada tangkai.

C.1.5.

Lampu minyak

Bahan: Logam (Perunggu/Kuningan?) Kondisi : Ukuran : Terkorosi Dasar Lebar Tebal Tangkai : : Panjang = = 8 cm 1,5 cm 11 cm = 15 cm

Lebar = 11 cm

Tinggi =

C.1.7.

Piring

11

Bahan: Logam (Perunggu/Kuningan?) Kondisi : Ukuran : Terkorosi Bibir : 31 cm

Dasar : 22 cm Ket : Pecah menjadi 3 fragmen

C.2. Rumah Bapak Soewadi Benda-benda arkeologi yang disimpan di rumah Bapak Soewadi terdiri dari benda-benda yang ditemukan di Situs Tohyaning, yaitu arca Siwa Mahakala yang ditemukan sekitar tahun 1960-an, dan peripih, serta benda-benda yang ditemukan sekitar 50 m dari makam Ki Gede Miyono (sebelah tenggara situs), yaitu bejana kecil, pisau belati, dan lempeng logam(?) C.2.1. Arca Siwa Mahakala

Bahan: Batu putih Atribut : Tangan kanan memegang senjata yang diperkirakan sebagai Trisula(?), namun bagian ujung senjata patah. - Posisi berdiri tribhangga Ukuran : Tinggi : Lebar Tebal Ket : 28cm : 12 cm 65cm

: Arca mengalami kerusakan di bagian kepala, dan sudah pernah ditambal dengan campuran pecahan bata dan semen. Selain itu seluruh

12

bagian arca sudah pernah dilepa, sehingga sulit untuk mengidentifikasi atributnya.

C.2.2.

Peripih

Bahan: Keramik (earthenware) Warna : Biru putih Ukuran : Tutup : Bibir : 6,5 cm

Dasar :

4 cm 6,5 cm 6 cm

Wadah : Bibir : Luar = Dalam = Dasar : Ket

4 cm

: Wadah keramik ini ditemukan dalam sebuah bata yang memiliki cekungan di tengahnya. Menurut keterangan narasumber, ketika ditemukan di dalam wadah ini terdapat abu yang ditutup lembaran emas.

13

14

BAB III PEMBAHASAN

15

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Beberapa kesimpulan yang dirasa penting untuk dicermati pada kegiatan peninjauan Situs Kayen ini adalah: Temuan struktur bata yang tersingkap dalam kondisi yang masih intact diduga merupakan sebuah bangunan candi berbahan bata. Namun untuk belum diketahui lebih lanjut mengenai luasan bangunan candi maupun kronologinya Beberapa temuan lepas (artefaktual) yang berada di sekitar Situs Kayen diduga mempunyai kaitan erat dengan keberadaan bangunan candi Situs Kayen berada di dalam area lokasi makam Ki Gede Miyono yang pengelolaannya ditangani secara swakelola penduduk setempat. Bagi warga setempat keberadaan makam Ki Gede Miyono mempunyai arti penting secara spiritual maupun ekonomi. B. Rekomendasi Beberapa rekomendasi yang dapat disampaikan dalam kesempatan ini adalah: Perlu dilakukan kegiatan research excavation untuk mengetahui dan menjawab mengenai keberadaan temuan struktur bata tersebut sehingga akan diketahui mengenai luasan candi maupun kronologinya bangunan. Kegiatan research excavation ini perlu dukungan dari berbagai pihak antara lain BP3 Jawa Tengah, Dinbudparpora Kabupaten Pati, Pemerintah dan warga local, serta media massa. Masingmasing pihak mempunyai peranan dan porsi tersendiri dalam rangka mendukung kegiatan ini.

16

ACUAN Website

17