Anda di halaman 1dari 17

2. Abses Ruang Leher ANATOMI RUANG LEHER Fascia servikal dalam terpisah dari leher masuk ke rongga potensial.

Sebenarnya secara klinik rongga ini penting karena ruang ini berhubungan satu dengan yang lain. Selain itu penyebaran infeksi mengikuti jalan resistensi yang dapat diperkirakan pola penyebarannya. Ruang potensial dari leher diklasifikasikan berdasarkan hubungannya dengan tulang hyoid. RUANG-RUANG SEPANJANG LEHER : 1. Ruang Retrofaringeal (Retroviseral, Retroesofageal,Space viscera dalam) Space ini merupakan space potensial diantara bagian viscera dari fascia cervikalis dalam lapis media yang mengelilingi faring dan esophagus dianterior dan pada bagian posterior mulai dari alar lapis dalam fascia servikalis dalam. Dibatasi oleh : : Basis cranii : mediastinum superior, percabangan trakea (V.Th4), lapisan tengah yang bersatu dengan lapisan alar fascia servikalis dalam. Anterior : faring dan esophagus Posterior : alar fascia Lateral : Selubung carotid. Kelenjar getah bening retrofaringeal berisi rongga dan terpisah dalam 2 simpul lateral pada garis medial raphe. Superior Inferior

2. Danger space Adalah ruang potensial antara daerah alar dan prevertebra lapis dalam dari fascia servikalis dalam. Terletak di posterior space retrofaringeal dan dianterior dari space prevertebra. Dibatasi oleh : Superior : basis kepala

Inferior : diafragma Anterior : Fascia alaris Posterior : Fascia prevertebra Lateral : prosesus transversa vertebra Danger space berisi jaringan longgar areolar. 3. Space prevertebra adalah ruang potensial yang padat dan terletak posterior dari Danger space. Dibatasi : Superior : basis kepala Inferior : coccyx Anterior : Fascia prevertebra Posterior : Corpus vertebral Lateral : Prosesus transversa vertebra Berisi jaringan areolar padat. 4. Space vascular dalam adalah space potensial didalam carotid sheath. Berisi : - Arteri carotis - Vena jugularis interna - N. Vagus Dibatasi : - Anterior : m. Sternocleidomastoideus - Posterior : rongga prevertebra - Medial - Lateral : rongga visceral : m. Sternocleidomastoideus

Ruang ini terdiri dari jaringan connective , sehingga infeksi relatif terlokalisasi. Jaringan limfatik disini merupakan drainase limfatik dari head and neck. Oleh karena fascia servikalis profunda mel;iputi carotid sheath maka Mosher menyebutnya Lincoln highway of the neck. RUANG TERBATAS DIATAS OS HYOID PHARYNGOMAXILLARY SPACE ( pharyngeal perypharyngeal). Batas-batasnya adalah : o o o o Superior Inferior Anterior Posterior : : : : basis kepala os hyoid raphe pterygomandibular fascia prevertebra lateralis, parapharyngeal atau

o Medial o Lateral

: Dinding lateral faring : fascia servikalis profunda lapisan superficial pterygomandibular, kel. Parotis dan mandibula.

dari

m.

SUBMANDIBULAR SPACE Space ini dipisahkan oleh m. Mylohyoid menjadi ruang Sublingual di superior dan ruang submaksilaris di inferior. Seluruh kompartemen terletak antara dasar mukosa mulut dan fascia servikalis profunda lapis superficial. Adapun batas-batasnya adalah : o Superior : mukosa mulut o Inferior : m. Digastricus, Fascia servikalis profunda lapis superficial o Anterior : m. Mylohyoid dan digastricus belly anterior o Posterior : m. digastricus belly posterior dan ligamentum stylomandibular o Medial : m. Hyoglosus dan m. mylohyoid o Lateral : kulit, platysma dan mandibular Ruang Submandibular dibagi 2 oleh m. Mylohyoid menjadi: a. Ruang sublingual (superior) berisi kelenjar sublingual. b. Ruang submaksila (inferior) berisi kel. submandibular dan kel. getah bening. Rongga sublingual, berisikan kelenjar sublingual, N. Hypoglossus serta Whartons duct. Rongga submaxillary berisi kelenjar submandibular yang berjalan dari space submaxillary diseputar batas posterior m. mylohyoid masuk ke space sublingual. PAROTIS SPACE Fascia servikalis profunda lapis superficial terpecah diseputar kelenjar parotis dan bergabung dengan kelenjar limph untuk membentuk ruang parotis. Fascia ini tidak tertutup komplit dibagian atas dalam permukaan kelenjar yang berhubungan langsung dengan space pharyngomaxillary. Space ini berisi : o o o o A. Carotis eksterna V. Fasialis posterior N. Fasialis transverses Kelenjar parotis

MASTICATOR SPACE Ruang ini berisi : o M. Masseter o M. Pterygoid internal dan eksternal o Ramus dan corpus mandibula o Tendo m. Temporalis o N. Alveolaris inferior o A.Maxilaris interna Ruang ini terletak di anterior dan lateral dari pharyngomaxillary space dan di inferior dari Temporal space. Lapis superfisial dari fascia servikalis dalam terpecah untuk mengelilingi mandibula sehingga membentuk ruang potensial ini dan menutupi otot mastikator. PERITONSILLAR SPACE Batas-

batasnya : Medial Lateral Berisi : Tonsila palatina : M. Konstriktor faringeus superior : jaringan lunak

TEMPORAL SPACE Ruang ini terletak diantara fascia temporalis di lateral dan dimedial dengan periosteum os. Temporal. Rongga ini berisi : A. Maksilaris inretna Pembuluh darah mandibula N. Mandibularis.

RUANG TERBATAS DIBAWAH TULANG HYOID Anterior Visceral Space Sering disebut juga sebagai pretracheal space, terletak dianterior leher berjalan dari kartilago tiroid kemudian turun ke mediastinum superior setinggi Vert.Th 4 dekat dengan arkus aorta. Ruang ini ditutupi oleh fascia servikalis profunda lapis media. Ruang ini dimulai dari strap muscles anterior kemudian mengelilingi trakea dan kemudian mencapai dinding anterior esophagus.

Batas: Superior Inferior Anterior Posterior Lateral : os.Hyoid : mediastinum : Lapis superfisial dari fascia cervicalis dalam : ruang retrofaring, ruang prevertebra : ruang parafaring, fascia carotis

INFEKSI RUANG LEHER 1. Infeksi ruang Retrofararing Sumber infeksi : Paling sering adalah proses infeksi di daerah hidung, adenoid, nasofaring,dan sinus paranasalis yang mengalir ke kelenjar getah bening retrofaringeal. Karena kelenjar getah bening retrofaring ini mengalami regresi pada usia 4-5 tahun dan pada usia yang lebih besar hanya mempunyai beberapa kelenjar getah bening, sehingga kebanyakan abses retrofaring diderita oleh anak-anak. Sedang pada anak yang lebih besar atau lebih tua biasanya abses disebabkan keadaan sekunder dari penyebaran abses parafaring atau gangguan traumatik dari batas dinding faring posterior oleh trauma yang berasal dari benda asing atau selama penggunaan alat intubasi. Gejala klinik : Demam Pembengkakan leher dengan disertai nyeri Bulging dinding posterior faring unilateral ( sesuai dengan lokasi KGB) Odinofagia dan disfagia Rigiditas nuchal , adenopati cervikal dengan leher miring pada posisi sehat Snoring Noisy breathing, Hot potato voice Drolling Dyspnea Radiologi dengan menggunakan lateral soft tissue memperlihatkan : Penebalan jaringan lunak prevertebra Hilangnya lengkung vertebra cervicalis Udara dalam jaringan lunak prevertebra Erosi corpus vertebra yang berhubungan dengan abses Terapi :

Jika keadaan emergensi, dapat dilakukan traheostomi, karena tindakan intubasi dapat meningkatkan resiko perforasi pada abses dan terjadi aspirasi. Pada abses retrofaring dilakukan insisi dan drainase serta pemberian antibiotika. Abses yang kecil dan terlokalisir dapat diinsisi dengan menggunakan approach perioral untuk mencegah terbentuknya scar dan mencegah terjadinya kontaminasi jaringan leher. Jalan nafas dilindungi dari bahaya aspirasi dengan cara menempatkan pasien pada posisi Rose dengan leher dalam posisi ekstensi. Kepala direndahkan sehingga pengeluaran pus tidak akan diaspirasi, dan dengan menggunakan skalpel tajam yang kecil dilakukan insisi vertikal yang pendek pada titik di mana pembengkakan paling besar.

Gambar : Insisi dan drainase abses retrofaring (approach perioral) Jika pus tidak keluar, dimasukkan hemostat tertutup yang kecil pada luka, kemudian dengan lembut didorong ke arah yang lebih dalam dan meluas. Pada abses retrofaring yang lebih lanjut dilakukan drainase dengan external approach. Sebuah insisi dibuat di sepanjang tepi anterior m stemocleidomasoideus antara level oshoyd dan clavikula. Cara insisi yang lain dan sesuai dengan segi kosmetika adalah dengan membuat insisi horizontal setinggi cricoid. Gambar : Pembedahan pada abses retrofaringeal (external approach). Tarikan pada

bagian posterior m. stemocleidomastoideus dan carotid sheath memperlihatkan daerah antara faring dan vertebra, dengan menjaga N. hypoglossus dan superior laringeal neurovascular bundle. Komplikasi :

Ruptur abses. Rongga di sekitar retrofaringeal space yang mudah terkena penyebaran infeksi dari rongga retrofaring ini adalah pharyngomaxillary space dan danger space. Mediastinitis. Penyebaran infeksi ke mediastinum ditandai dengan sesak yang hebat, nyeri dada, demam yang persisten dan pada rontgen dada terlihat pelebaran mediastinum. Obstruksi saluran napas Sepsis

2. Infeksi ruang danger Sumber Infeksi : Infeksi rongga retrofaringeal Infeksi rongga prevertebral Infeksi rongga pharyngomaxillary Penyebaran secara limfatic dari hidung dan tenggorokan (jarang) Gejala Klinis :

Sama dengan infeksi pada rongga primern serta sepsis berat (pada keadaan lanjut) Terapi :

Dilakukan drainase dan pemberian antibiotik intravena. Komplikasi : Infeksi dapat menyebar dengan cepat melalui jaringan ikat longgar yang terdapat didalam rongga ini ke mediastinum posterior dan toraks.

3. Infeksi ruang Prevertebra Infeksi pada ruang ini jarang terjadi. Sumber Infeksi : Infeksi pada corpus vertebra oleh kuman pyogenic atau tubercolusa Luka penetrasi (iatrogenic) Penyebaran :

Langsung dari corpus vertebra atau rongga yang berbatasan Tubercolusis vertebral (cervical Potts absess) Klinis :

Abses terletak di tengah (dibedakan dengan abses retrofaringeal yang letaknya umumnya unilateral). Abses dingin posterior dari pharing yang berasal dari tubercolusis vertebral Terapi :

Antibiotik. Stabilisasi tulang belakang Drainase bedah dengan external approach Komplikasi :

Keadaan vertebra yang tidak stabil.

4. Infeksi ruang Vaskular dalam (carotid sheath) Sumber : Rongga pharingomaxillary (paling sering) Rongga Submandibular Rongga visceral Trauma atau instrumentasi Penyebaran : Invasi lokal dari rongga yang berbatasan

Gejala Klinis : Pitting udem di atas musculus sternocleidomastoid Torticollis Terapi :


Antibiotika i.v. Antikaogulan Eksplorasi dan ligasi dapat dilakukan bila dalam 72 jam setelah pemberian terapi medikamentosa tidak ada perbaikan. Insisi sepanjang pinggir depan m. sternocleidomastoid Komplikasi :

Trombosis vena jugularis interna Penyebaran langsung ke jaringan sekitarnya Septik emboli

5. Infeksi ruang Pharyngomaxilla Ruang parafaring berhubungan dengan setiap rongga yang ada pada leher sehingga menempati posisi kunci pada leher. Ruang parafaring ini ke inferior berhubungan dengan ruang mandibular melalui celah terbuka antara m. contrictor superior, medius dan m. mylohyoid. Ke posterior ruang parafaring ini berhubungan dengan ruang retrofaring, sedangkan ke lateral ruang parafaring berhubungan dengan ruang mastikator dan parotis. Sumber Infeksi : Paling sering infeksi dari tonsil (60%), gigi, molar 3 bawah (30%) faring dan adenoid. Kelenjar parotis lobus sebelah dalam (abses parotis) Infeksi telinga tengah dengan destruksi tip mastoid dapat mengalami ekstensi ke dalam rongga ini (abses bezold) dan petrositis. Kelenjar getah bening (drainase dari hidung dan faring). Sesudah tonsilektomi dengan lokal anestesi (melalui jarum suntik). Penyebaran :

Direk yaitu hubungan langsung dengan rongga parotis, submandibula retrofaringeal, mastikator dan carotid sheath.

Dari peritonsilar abses melalui dinding faring, limfatik, perivaskuler atau septik trombosis. Gejala Klinik :

Bervariasi, tergantung pada sumber infeksi dan lokasinya apakah anterior atau posterior terhadap parafaringeal space. Pada umumnya infeksi di rongga parafaring memberikan gejala : Demam Edema Sakit tenggorokan Odynophagia Kaku pada leher Pembengkakan dan indurasi sepanjang angulus mandibula. Pembengkakan daerah parotis. Infeksi pada bagian anterior (prestyloid) :

Pergeseran dinding lateral faring ke daerah tonsil (Prolaps tonsil dan fossa tonsilaris). Trismus Pembengkakan daerah parotis Infeksi bagian anterior ini dapet meluas sepanjang m. stioglosus sehingga dapat menimbulkan abses di dasar mulut yang dikenal sebagai abses Brunner.

Infeksi pada bagian (posterior) poststyloid : Pembengkakan daerah pilar posterior Trismus yang minimal Bila mengenai bagian posterior dari ruang ini Infeksi dapat meluas ke atas sepanjang selubung karotis, dapat menyebabkan infeksi intrakranial atau erori a.katoris interna Radiologi, terlihat adanya pergeseran trakhea

Terapi : A. Antibiotika : Antibiotika diberikan sampai 10 hari dan seharusnya diberikan berdasarkan pada pemeriksaan kultur dan resistensi kuman.

First choise : Clindamcyn: Dewasa 300-900 mg /iv /im tiap 8 jam Anak-anak : 25-40 mg / kgBB / hari i.v tiap 8 jam. Penisilin Ceftadizime Cephalosporin seperti cefoxitim : 1-2 mg tiap 4-8 jam iv Dosis anak: 50-150 mg / kgBB/ hari

B. Insisi dan drainase Insisi abses pada daerah ini ada 3 cara: a. Intra oral, bilang penonjolan yang timbul ke arah faring yaitu dilateral dinding faring b. Ekstra oral, dimana insisi dari sebelah luar, di bawah angulus mandibula dan diseksi secara tumpul sepanjang batas medial dari m ptreigoid internus menuju prosesus stiloideus c. Melalui fossa subamaksila secara MOSHER, cara dipergunakan bila lokasi pus tidak jelas dan terdapat tanda-tanda sepsis Teknis mosher yaitu dengen teknis insisi bentuk huruf T yang cukup lebar. Garis horizontal dari huruf T sejajar pinggir bawah mandibula dan garis vertikal dibuat di sepanjang tepi anterior.m. sternocleidomastoideus sehingga kelenjar submaksilaris terbuka, v. fasialis diikat dan dipotong, kemudian pinggir bawah kelenjar disisihkan secara tumpul terus ke arah belakang dan ke atas sampai lig. Stilomandibula di bawah mandibula, jari diteruskan ke atas sampai teraba prosessus stiloideus, kemudian diseksi diteruskan secara tumpul sampai basis kranium fossa faringomaksilaris. Penrose drain dipasang sampai tanda-tanda sepsis tidak ada. Bila infeksi primer dari mastoiditis, maka masteidektomi radikal harus dilakukan dan v. jugularis interna diligasi. Komplikasi :

Septik trombosis vena jugularis interna Erupsi (ruptur) arteri carotis Neurologic sqquele: Horner sydrome (Cervical Symphatetic) Mediastinitis: penyebaran sepanjang carotid sheath.

6. Infeksi ruang Submandibular Sumber Infeksi : Infeksi Gigi (>80%) PM 1 M 1 : sublingual M 1 - 2 - 3 : submandibular Infeksi kelenjar salivary Infeksi basis lidah Infeksi faring dan tonsil Infeksi sinus Penyebaran : secara langsung dan limfatik

Prevalensi : Biasanya mengenai umur antara 20 dan 50 tahun (karena caries dan pyorrhea)

Gejala Klinik : Disfagi dan odinofagi Dasar mulut bengkak dan sakit Lidah terdorong ke atas dan ke belakang Trismus Dyspnea Segitiga submental bengkak Terapi :

Antibiotica Trakheostomi bila terjadi obstruksi Insisi dan drainase, pada ruang sublingual dengan intraoral aproach dan ruang submandibular dengan insisi transversal dibawah corpus mandibula. Cara insisi dan drainase pada abses tergantung lokasi dan penyebaran dari infeksinya yaitu : Bila abses masih terlokalisir maka dapat dilakukan insisi dan drainase, penyembuhan dapat terjadi sempurna.

Bila abses meluas dan menembus m. milohyoid maka infeksi dapat menjalar ke ruang sub maksilaris sehingga leher akan terkena, kalau mengenai leher secara bilateral disebut ANGINA LUDWIG, proses ini biasanya akan berlangsung dengan cepat, kira-kira 3-10 jam, sehingga perlu pengobatan yang segera. Ditandai oleh penyebaran selulitis gangrenosa yang cepat dari daerah kelenjar submaksilaris, berbau busuk dengan sedikit atau tidak jelas adanya pus, dan terjadi pembengkakak seperti papan yang nyeri di daerah submandibula dan dasar mulut, gusi serta lidah dan dapat jauh ke bawah.sampai ke daerah klavikula. Juga biasanya disertai adanya ederma laring sehingga timbul sesak nafas, suara serak, lidah sakit bila digerakkan dan imobilisasi rahang oleh karena adanya regangan dan indurasi dari struktur di arkus mandibula. Tindakan insisi horizontal dilakukan submental, yaitu 1 cm di atas tulang hyoid dari sudut mandibula yang satu ke sudut mandibula yang lain kemudian fascia leher profunda dan mylohyoid diinsisi secara vertikal dari simphisis mandibula ke tulang hyoid. Drain ditempatkan di sebelah dalam m. mylohyoid yaitu di dalam rongga sublingual. Bila abses mengenai ruang submandibula yang unilateral, insisi dilakukan sejajar dengan bagian inferior mandibula 2 cm dibawahnya dan dilakukan dari angulus mandibula ke simfisis. Komplikasi :

Obstruksi saluran nafas bagian atas Penjalaran infeksi ke medistinum superior Penjalaran infeksi ke ruang faringomaksilaris Osteomielitis

7. Infeksi ruang Parotis Sumber Infeksi : Sumbatan kelenjar parotis akibat calculi, sekresi yang kental, neoplasia atau parotitis kronik akibat exaserbasi akut. Stomatitis, infeksi sistematik seperti tifoid, scalet fever dan smallpox. Otitis eksterna yang berat, hal ini dapat terjadi karena infeksi meluas ke daerah ruang parotis melalui celah Santorini di antara tulang-tulang rawan kanalis akustikus eksterna. Keracunan merkuri, tembaca dan iodine. Gejala Klinis :

Keluar pus atau cairan kental dari duktus Stensen ke rongga mulut Bengkak dan sakit di daerah kelenjar parotis tanpa adanya fluktuasi. Terapi :

Antibiotika parenteral utk S. aureus. Rehidrasi Stimulasi pengeluaran air liur Pemeliharaan kebersihan mulut Surgical therapy Bila dalam waktu 24 jam setelah terapi medikamentosa tidak ada perbaikan, maka segera lakukan insisi drainase. Untuk abses yang kecil dan terbatas dapat dilakukan dengan membuat insisi pada bagian yang berfluktuasi dimana insisi dibuat paralel dengan cabang nervus fascialis. Kemudian jari atau hemostat dimasukkan untuk menghilangkan batas kompartemen abses dan setelah itu dipasan drain.

Untuk proses parotis yang unilokuler dapat diterapi dengan menggunakan needle aspiration. Kebanyakan abses parotis merupakan akses yang multilokuler dan untuk drainasenya memerlukan ekspos yang lebih luas dengan menggunakan parotidectomy type incision, dimana setelah kulit dibuka, kemudian dengan memakai hemostat, daerah yang mencurigakan tersebut dibuka secara tumpul dengan arah horizontal dan sejajar dengan serabut n. fascialis. Komplikasi :

Abses parafaring oleh karena fasia paroti bagian medial lemah dehicens Mediastinitis secra tak langsung.

8. Infeksi ruang Masticator Sumber Infeksi : Infeksi gigi molar 2 dan 3 Gejala Klinis :

Sukar menelan Sakit hebat dan bengkak pada ramus mandibula Trismus: iritasi dan spasme otot-otot mastikator Lidah tidak mungkin ditekan karena pembengkakan dan edema dasar mulut Terapi :

Pelihara jalan nafas Antibiotika parerental Insisi drainase Insisi dilakukan di bawah dan di belakang dari angulus mandibula dan diikuti pembukaan secara tumpul ke dalam abses. Bila abses menonjol ke arah lidah, maka dilakukan insisi vertikal intra oral sepanjang anterior ramus mandibula dengan diseksi secara tumpul ke arah medial atau lateral dari ramus mandibula.

Komplikasi :

Penjalaran infeksi ke arah ruang businator dan ruang temporal Infeksi ke ruang parafaring Osteomielitis mandibula

9. Infeksi ruang Peritonsillar Sumber Infeksi : Peradangan tonsil Peritonsilitis akibat infeksi kripta pada fossa supratonsiler yang meluas Etiologi dan patogenesa :

Bakteri penyebab sama dengan bakteri pada tonsilitis lakunaris, yaitu : Strepsilococcus hemolyticus Strepsilococcus aureus Strepsilococcus pneumonia Merupakan penyebab terbanyak dari infeksi ruang leher (deep neck space). Kemungkinan besar disebabkan karena infeksi kripta pada bagian superior yang menembus kapsul tonsil dan meluas ke ruang jaringan ikat di antara kapsul dan dinding posterior fossa tonsilaris. Peradangan dapat terlokalisir di sini atau menembus m. konstriktor superior, atau melalui vena sehingga terjadi abses parafaring bahkan dapat meluas sampai diastinum. Banyak ditemukan pada adolescent dan dewasa muda, sedangkan selulitis peritonsiler lebih banyak ditemukan pada anak-anak.

Gejala Klinik :

Nyeri tenggorokan yang makin hebat dan biasanya satu sisi Nyeri dan sukar menelan Panas badan Sekresi ludah berlebihan (Drooling)

Trismus karena peradangan m, mastikator dan m. pterigoid Sukar bicara, kadang bicara seperti hot potato voice Nafas berbau Tonsil bergeser ke tengah, keatas dan kebawah Uvula bergeser ke sisi kontralateral

Pada pemeriksaan klinis : didapatkan jaringan unilateral mengalami radang berat tanpa edema dan hiperemis disertai pembengkakan pilar tonsil dan posterolateral palatum molle, uvula terdorong ke sisi yang sehat. Pada pemeriksaan digital : menunjukkan adanya fluktuasi sedangkan tonsil sendiri dapat tertutup oleh edema jaringan sekitarnya.. Terapi : Terapi abses peritonsiler masih diperdebatkan, beberapa prosedur yang disarankan Tonsilektomi segera (Quinsy tonsillectomy) Asporasi dengan menggunakan jarum Antibiotika parenteral Rehidrasi Perbaikan hygiene mulut dengan obat kumur Insisi dan drainase bila terdapat fluktuasi Teknik insisi dan drainase :

Sebaiknya menggunakan anestesi topikal yaitu lidokain 5% intranasal pada ganglion sfenopalatina ipsilateral, disini dapat mengurangi nyeri sehingga dapat mengurangi trismus. Insisi dilakukan pada daerah fluktuasi, biasanya pada daerah supratonsiler sehingga pillar anterior terhindar dari pembentukan jaringan parut. Pada abses peritonsiler dini atau selulitis peritonsiler tidak akan terjadi drainase pus, maka dilakukan punksi dulu dengan jarum no 12. Untuk mencegah kekambuhan, tonsilektomi dilakukan 5 minggu setelah peradangan teratasi.

Gambar : Daerah untuk melakukan insisi pada abses peritonsiler. Insisi dilakukan pada pertengahan garis yang menghubungkan molar terakhir dan uvula. Komplikasi :

Perluasan infeksi ke bawah, sehingga terjadi edema supraglotik dan obstruksi saluran pernafasan bawah. Thrombophlebitus vena besar dan ulserasi arteri besar di daerah submaksiler. Abses parafaring dengan atau tanpa mediasitinitis Peritonsilitis kronis dengan pengeluaran pus secara intermiten Terjadinya kista abses dalam tonsil Necrotizing fascitis, merupakan komplikasi yang berpotensi mematikan, biasanya pada pasien dengan immunosupresan. Penyebabnya adalah bakteri yang membentuk gas. Terapi untuk keadaan ini adalah dengan drainase abses dan antibiotika intravena serta debridement luka.

10. Infeksi ruang Temporal Gejala Klinik : Nyeri di daerah m temporalis Trismus Deviasi rahang kesisi yang terkena Terapi :

Insisi 3 cm dari canthus lateralis dan drainase Antibiotik oral setelah dilakukan insisi

11. Infeksi Ruang Visceral anterior Sumber infeksi : Kebanyakan infeksi ruang pretrakhea disebabkan oleh perforasi dinding anterior esofagus oleh instrumentasi, benda asing atau trauma eksterna. Infeksi kadang-kadang menyebar dari kelenjar tiroid atau rongga leher yang lainnya. Penyebaran : Terjadi secara langsung dari rongga parafaringeal dan prevertebral, faring, esofagus, laring dan tiroid. Gejala Klinis :

Dysphagia Odynophagia Serak Dyspnea Obstruksi jalan nafas

Emphysema Pemeriksaan fisik :

Laryngoscopy: Pembengkakan danm eritema dinding hipofaring Palpasi leher: krepitasi dari emfisema jaringan subkutan Pengobatan :

Penderita harus dikelola secara agresif dan dilakukan observasi ketat, karena abses di daerah ini mempunyai resiko tinggi untuk terjadinya gangguan jalan nafas dan mediastinitis. Pengelolaan terdiri dari : Puasa Rehidrasi intravena Antibiotika intravena Nasogastricsuction Tracheostomi Insisi dan drainase dari luar Komplikasi :

Infeksi mediastinum anterior-posterior Edema laringeal Emphisema mediastinal Bronhpneumonia