P. 1
Angka Kematian Ibu

Angka Kematian Ibu

|Views: 172|Likes:
Dipublikasikan oleh Chompz MuMu Phantars

More info:

Published by: Chompz MuMu Phantars on Apr 23, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/30/2013

pdf

text

original

Maternal Mortality Rate pada Ibu Hamil di Indonesia

Aprianus Musa Dopong(102011156) Kelompok F2 Email: chompz99@gmail.com Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jl. Terusan Arjuna no. 6, Jakarta 11510

Pendahuluan Data menyebutkan, Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia sebesar 228/100.000 kelahiran hidup, sedangkan Angka Kematian Bayi (AKB) sebesar 34/1000 kelahiran hidup. Di Provinsi NTT menunjukkan AKI dan AKB yang lebih tinggi dari angka nasional yakni AKI sebesar 306/100.000 kelahiran hidup dan AKB sebesar 57/1000 kelahiran hidup. Beberapa faktor ditengarai menjadi aspek penyebab dari masih tingginya angka kematian ibu saat melahirkan. Mulai dari kelahiran berisiko, yakni kelahiran di usia yang masih relatif muda, terlalu tua, terlalu sering melahirkan, hingga akses layanan kesehatan terhadap ibu-ibu hamil. Dalam kasus di NTT, misalnya, Angka Kematian Bayi (AKB) turun dari 62/1000 pada 2004 menjadi 57/1000 pada 2002. Angka Kematian Ibu (AKI) 554/100.000 pada 2004 menurun menjadi 306/100.000 pada 2007. Sedangkan untuk Usia Harapan Hidup (UHH) 65,05 pada 2004 naik menjadi 65,1 pada 2007. Kesertaan Program Keluarga Berencana 42,2% pada 2007 (SDKI) naik menjadi 55,7% pada 2010. Sedangkan angka kemiskinan di NTT telah menurun dari 27,58% pada tahun 2008, menjadi 21,23% pada tahun 2011 ini. Untuk mengentaskan kemiskinan ini Program Keluarga Berencana (KB) yang berjalan di Nusa Tenggara Timur dapat menjadi pintu masuk.

2 Usia 35 tahun keatas. Ibu hamil pada usia lebih dari 35 tahun lebuh beresiko tinggi untuk hamil dibandingkan bila hamil pada usia normal. kehamilan resiko tinggi bayi meninggal atau cacat atau bahkan ibu meninggal saat persalinan terjadi. Banyak faktor resiko ibu hamil dan salah faktor penting adalah usia.1 Kesiapan seorang wanita untuk hamil dan melahirkan (mempunyai anak) ditentukan dengan tiga hal yaitu kesiapan fisik. mental (emosi dan psikologi). Dapat memahami cara penanggulangan terhadap tingginya Maternal Mortality Rate Isi Maternal Mortality Rate (MMR) atau Angka Kematian Ibu adalah jumlah kematin ibu akibat komplikasi kehamilan.2. Resiko paling besar dihadapi oleh ibu yang berusia di bawah tujuh belas tahun karena pada tahap itu wanita muda itu masih mengalami pertumbuhan. Sehingga usai 20 tahun bisa dijadikan pedoman kesiapan fisik. tetapi kondisi sosial ibu dan kehamilannya ini memang sedemikin rupa sehingga kunjungan pada perawatan prenatal seringkali dilupakan. Usia ibu Kehamilan pada usia remaja sering disertai resiko tinggi mengalami persalinan macet. yaitu sekitar usia 20 tahun.1. Jumlah anak . dan masa nifas yang dicatat selama satu tahun per 1000 kehamilan hidup pada tahun yang sama. dan berat badan lahir rendah (BBLR) (World Health Organization. Memahami penyebab-penyebab tingginya Maternal Mortality Rate 2. persalinan. terlambat. kelompok kami menyimpulkan Angka Kematian Ibu dipengaruhi oleh: 1. Kehamilan resiko tinggi adalah kehamilan yang dapat menyebabkan ibu dan bayi menjadi sakit atau bahkan meninggal. Secara umum seorang wanita dikatakan siap secara fisik jika menyelesaikan pertumbuhan tubuhnya. yang biasanya terjadi sekitar 21-30 tahun.Tujuan Tujuan penulisan makalah ini adalah: 1. 1989). atau dilakukan dengan tidak teratur.3 1. Menurut hasil diskusi kelompok. tekanan darah tinggi pada ibu hamil. dan sosioekonomi. Akibatnya yang terjadi dari adanya komplikasi-komplikasi ini dapat dikurangi dengan memberikan perawatan prenatal yang baik. anemia kekurangan zat besi. sebelum persalinan berlangsung. Host 1.

Wajah.3 Kadar Hb dalam darah merupakan cara mengetahui anemia atau tidaknya seseorang.4 2. Zat besi merupakan bahan baku pembuat sel darah merah. Saat konsumsi zat besi dari makanan tidak cukup. serta proses persalinan yang aman berpengaruh terhadap peningkatan anggka kematian ibu. Gejalah lainnya. lemaslemas. Lambat laun hal itu dapat mempengaruhi kadar Hb dalam darah. jaringan di dalam tubuh kekurangan oksigen. 7 orang menderita anemia. kurangnya perawatan kehamilan (ante natal care). cepat lelah. Akibatnya penderita sering berdebar-debar dan jangtung cepat lelah. misalkan karena mual dan muntah atau kurang asupan zat besi.3 Anemia adalah kurangnya kadar Hb (hemoglobin) dalam darah. Artinya dari 10 ibu hamil. Bila terjadi anemia kerja jantung akan dipacu lebih cepat agar memenuhi kebutuhan oksigen kesemua organ tubuh. Selain untuk keperluaan dirinya. cepat letih. Oksigen diperlukan tubuh sebagai bahan bakar proses metabolisme. . Agent 2. jumlah Hb pun banyak dan begitu pula sebaliknya. Di dalam ubuh sebagian zat besi dalm bentuk ferritin di hati. Jika Hb kurang. Sayangnya daya serap zat besi dari makanan sangat rendah. Jika jumlah sel darah merah banyak. Zat besi pada pangan hewani lebi tinggi penyerapannya. Status gizi Ibu hamil memerlukan makanan yang banyak dari biasanya. Ketidakcukupan asupan makanan. Hb adalah komponen di dalam sel darah merah (eritrosit) yang berfungsi menyalurkan oksigen ke seluruh tubuh. Karena itu ibu hamil lebih banyak memerlukan zat besi dibanding ibu yang tidak hamil.3 Ibu hamil mempunyai tingkat metabolisme tinggi. Masalah yang berkaitan dengan peningkatan angka kematian ibu pada usia reproduksi (masa subur) 21-35 tahun pada wanita seperti kurangnya pengaturan fertilisasi (kontrasepsi).1. ibu hamil juga makan untuk dikandungnya. Dikatakan anemia jika kadar Hb dalam darah kurang dari 12 mg%. Awalnya tejadi penurunan simpanan cadangan zat besi. ferritin inilah yang diambil. misalnya untuk membuat jaringan tubuh janin membentuknya menjadi organ. yaitu 20-30% sedangkan dari sumber nabati hanya 1-6%. Salah satu kondisi berbahaya yang sering dialami ibu hamil adalah anemia. mata sering berkunang-kunang. dan sering mengantuk. dan juga untuk memproduksi energi agar ibu hamil tetap beraktivitas normal sehari-hari. Total penderita anemia pada ibu hamil di Indonesia adalah 70%.3 Proses kekurangan zat besi sampai menjadi anemia memalui beberapa tahap.Jumlah anak berpengaruh terhadap tingginya angka kematian ibu.

Diantaranya suhu tubuh > 380C.3 2. dan kuku tampak pucat. bila kadar Hb >10 mg%  Anemia sedang.5 Infeksi ini terjadi setelah persalinan. Anemia sangat berat dapat mengakibatkan penderita sesak napas.3 Faktor utama penyebab anemia gizi adalah kurang kurang cukupnya zat besi di dalam makanan sehari-hari. dan otak Klaisifikasi anemia yaitu:  Anemia ringan. rasa nyeri di perut bawah. bila kadar Hb < 5 mg%  Normal.5 . Proses persalinan Infeksi yang terjadi setelah persalinan jangan dianggap sepele. seperti alat-alat yang tidak steril digunakan pada saat proses persalinan. bibir. bila kadar Hb 5-8 mg%  Anemia berat. rasa nyeri dan panas ketika buang air. ginjal. tetapi setelah berlangsung 1-2 minggu baru terlihat. Kehamilan berulang atau jarak antar kehamilan yang terlalu dekat juga menyebabkan anemia. Diantranya saat ketuban pecah sebelum maupun saat persalinan berlangsung sehingga menjadi jembatan masuknya kuman dalam tubuh lewat rahim. dan jumlah sel darah putih (leukosit) meningkat.3 Wanita hamil sering terkena anemia pada trisemestes ke tiga. bahkan lemah jantung.5 Awalnya infeksi tidak memberikan gejalah.2.3 Akibat anemia pada ibu hamil yaitu:  Perdarahan saat persalinan karena luka akibat persalinan sulit menutup  Meninggal saat persalinan  Meningkatkan resiko persalinan prematur  Berat bayi lahir rendah (BBLR)  Gangguan jantung.selaput lendir kelopak mata. terkadang disertai menggil. kuman-kuman dalam tubuh saat berlangsungnya persalinan. Gejalah adanya infeksi pascapersalinan beragam. Karena kehamilan kembali dalam jarak yang dekat akan mengambil cadangan zat besi dalam tubuh ibu yang jumlahnya belum kembali ke kadar normal. Karena pada saat ini janin menimbun cadangan zat besi untuk dirinya sendiri sebagai persediaan bulan pertama sesudah lahir. bila kadar Hb 12-14 mg%. Jalan masuk lainnya adalah dari penolong persalinan sendiri. Hal ini dikarenakan lukaluka yang terjadi selama proses persalinan dapat menjadi sumber masukan kuman-kuman penyakit ke dalam tubuh.

Selain itu. bila terjadi hambatan  Menimbulkan:  Persalinan terlantar  Komplikasi berat:  Ruptura uteri  Perdarahan pascapartus  Asfiksia sampai kematian janin  Tidak mengetahui terdapat kelainan letak Di Indonesia persalinan dukun sekitar 70-75%.Infeksi yang terjadi di oragan reproduksi menyebabkan gangguan kesehatan. mengakibatkan abses pada organ tersebut.5 Persalinan yang dilakukan oleh dukun dimana dukun kurang mengetahui mekanisme persalinan. infeksi dapat menyebar lewat pembuluh darah balik ke berbagai organ penting seperti jantung. ginjal.6 3. sehingga muncul gagasan menempatkan bidan di desa dengan rencana mengganti dukun. paru-paru. Lingkungan dan pengaruhnya Tingginya angka kematian ibu dan kematian perinatal tidak dapat dipisahkan dari profil perempuan di Indonesia yang tergolong “sangat buruk”. dan otak. memberikan pertolongan dengan jalan:6  Mekanisme alami yang bersifat keturuna  Menggunakan kekuatan. Berikut adalah profil perempuan di Indonesia:7  Status kesehatan perempuan  Derajat kesehatan perempuan masih rendah  Angka kesakitan dan kematian bersalin masih tinggi  Pendidikan perempuan masih tergolong rendah  Diperlukan bantuan peningkatan pendapatan keluarga saat ibu sedang hamil tua  Kemiskinan dan rendahnya pendidikan yang menyebabkan masyarakat berorientasi pada pengobatan tradisional  Status biologis perempuan  Perkawinan usia muda (< 20 tahun) masih tinggi  Jarak waktu hamil dan bersalin pendek  Kehamilan pada usia < 35 tahun masih banyak  Jumlah anak banyak (grandemultipara) masih tinggi  Status pelayanan kesehatan .

3 64.240 880 190 960 3.210 23.000  Trias klasik (perdarahan.3%  Diberbagai pusat pelayanan kesehatan. yakni 350/100.1 2.4 3.000 kelahiran hidup atau 50100 kali lebih tinggi dari negara maju  Angka kematian perinatal 56/10.0 71.9 3.6 67. angka kematian maternal dan perinatal sudah dapat diturunkan  Kejadian kematian maternal dan perinatal masih mempunyai peluang untuk dihindari  Bentuk pelayanan kesehatan yang dicanangkan  Belum mampu memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu dan menyeluruh  Masuh sulit dijangkau oleh masyarakat yang berpenghasilan rendah  Masih belum terjangkau karena jarak yang jauh  Masih belum mampu memenuhi kebutuhan dari segi penyediaan  Belum mendapatkan partisipasi aktif dari masyarakat Tabel 1.9 3.7 60 450 120 100 59 50 10 Harapan hidup Fertilitas AKI/100000 Dari uraian Tabel 1 di atas dapat disimpulkan bahwa:7  Ada hubungan erat antara pendapatan perkapita dengan umur harapan hidup dan angka kematian maternal sebagai tolak ukur kemampuan negara dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan masyarakat.360 76.3 68.8 77.9 3. .520 2. dan gastosia) masih menjadi 95% kematian langsung  Persalinan oleh dukun masih 75-80%  Cakupan bumil memeriksakan diri sekitar 48. infeksi. Data hasil pelayana kesehatan  Angka kematian maternal tinggi.6 2.1 1. UNICEF 1994 tentang beberapa negara Negara Pendapatan per kapita Brunei Indonesia Vietnam Filipina Malasia Thailand Singapura 14.3 73.

masih dijumpai angka kematian ibu yang cukup tinggi. gizi rendah dan lingkungan yang memberikan dampak yang mempersulit kesehatan. 4. Sekalipun pendapatan perkapita di Indonesia lebih tinggi dari Vietnam. Sangat ironi bila negara yang sangat subur dan makmur. Dengan demikian pemerintah dapat menurunkan pemerintah seharusnya menempatkan peningkatan kesejaterahan dan pendidikan menjadi prioritas utama. . ikan di air laut dan air tawar berlimpah. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yang diantaranya:7  Terlambat mengenal keadaan darurat dan melakukan rujukan pada pelayanan primer sehingga diterima di tempat rujukan dalam keadaan terminal. Situasi demikian dapat terjadi karena:  Vietnam merupakan negara dalam satu daratan dan bukan merupakan negara kepulauan seperti Indonesia  Indonesian negara kepulauan dengan sekitar 13. Fasilitas Di tingkat pusat rujukan. manusia Indonesia menghadapi kekurangan air bersih. Hubungan pelayanan kesehatan dengan Maternal Mortality Rate 4.1.  Letak pusat rujukan beganti-ganti sehingga pertolong terlambat dilakukan.000 pulau besar dan kecil:  Rujukan kesehatan tidak mudah dilakukan dengan baik  Distribusi penduduk tidak rata  Keberadaan dokter ahli terkosentrasi di perkotaan yang menjanjikan pendapatan  Jumlah tenaga ahli obstetri dan ginekologi jauh dari mencukupi  Seratus perempuan Indonesia masih “very poor”  Gerakan KB Nasional baru mulai tahun 1970 dan belum menjadi kebutuhan keluarga  Bahwa upaya peningkatan status perempuan dan peningkatan perkapita merupakan conditio sine qua non. sehingga AKI dan AKP dapat diturunkan.  Sifat komunal bangsa yang masyarakatnya selalu perlu mengadakan musyawarah lebih dahulu sebelum mengambil keputusan sehingga pertolongan terlambat. angka kematian maternal lebih tinggi dari Vietnam.  Fasilitas di tempat rujukan kurang memadai dan memprihatikan sehingga pertolongan adekuat sulit dilakukan.  Masalah over populasi dan lingkungan untuk hidup merupakan tantangan yang sangat berat.

jumlah kelahiran yang sama.2. 60. Walaupun semua keadaan telah ditingkatkan. 1. dan kurangnya supervisi medis di antara wanita kulit hitam.1. Kunjungan antenatal/ perawatan prenatal Tidak terdapat satupun pertanyaan bahwa faktor penting dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi adalah supervisis medis yang dimulai pada saat awal kehamilan. yaitu:6 5.9 ibu dan 140 bayi mati.8 ibu dan 999 bayi di bawah 1 tahun mati. Pada tahun 1915. tidak semua kelompok memiliki keadaan seimbang. Penanggulangan Maternal Mortality Rate Untuk dapat menurunkan AKI dapat dicanangkan pokok upaya. nutrisi rendah.000 bayi lahir hidup. Angka kematian maternal pada wanita kulit hitam 47% lebih tinggi dari wanita berkulit putih. Hal ini dipenuhi denang tuntutan sebagai berikut:8  Tentukan bahwa wanita itu benar-benar hamil  Evaluasi dan tangani keadaan medis lain yang mungkin ada  Diagnosa dan obati penyulit kehamilan yang terjadi  Berikan dukungan akan kebutuhan psikologis pada wanita untuk menurunkan stres yang berhubungan dengan penyulit  Jelaskan diet nutrisi  Siapkan wanita untuk persalinan dan perawatan anak dengan pendidikan dan bantuan  Jelaskan dan kemudian dan berikan perawatan post-partum dan supervisi medis bagi neonatus. 5.4. Penelitian menunjukan hal ini akan lebih luas karena lebihbanyak stres. Pada tahun 1987. 10.8 Tujuan semua perawatan prenatal adalah untuk memberikan kesehatan maksimal bagi calon ibu dan bayinya. Meningkatkan pelaksanaan antenatal care Dengan melakukan antenatal care dapat diupayakan:6  4 kali ANC sudah dianggap cukup yaitu sekali setiap semester dan dua kali semester ketiga  Tujuan:  Mempersiapkan kehamilan sehat optimal  Mempersiapkan persalinan aman dan bersih  Menentukan kehamilan dengan resiko  Mempersiapkan kesehatan pasca partus dan laktasi  Memberikan KIE-motivasi keluarga berencana  Memberikan vaksinasi tetanus toksoid .

4.6 5.3. dalam mengorbitkan anak sesuai dengan kemampuan menghadapi abad ilmu pengetahuan. Meningkatkan status wanita Indonesia  Mempersiapkan perkawinan dan hamil saat reproduksi sehat optimal  Melakukan pemeriksaan sebelum hamil dan perkawinan  Meningkatkan gizi saat hamil. teknologi. sebagai generasi pengganti  Meningkatkan poleksosbudhankam keluarga  Konsep NKKBS terlaksana. dan informasi  Poleksosbudhankam keluarg mantab sebagai unit terkecil kehidupan bangsa berkelanjutan menjadi poleksosbudhankamnas.6 5. khususnya perhatian terhadap anak sehingga mengurangi pengaruh “peer gruop”  Mempersiapkan keluarga menghadapi masa tua bahagia dan sejaterah. konsultasi ke rumah sakit  Hamil resiko tinggi. rujuk ke rumah sakit 5. dapat setempat  Hamil resiko meragukan. Mengarahkan persalinan aman dan bersih  Hamil resiko rendah. Meningkatkan sistem rujukan  Kelambatan sistem rujukan merupakan salah satu kendala tingginya AKI . sebagai persiapan sebagai mata rantai penerus generasi. laktasi dengan orientasi empat sehat lima sempurna  Mengupayakan agar cukup istirahat terutama hamil tua sehingga mantap menghadapi persalinan  Mempersamakan status wanita dan pria sejak kanak-kanak sehingga pertumbuhannya seimbang.2. Melaksanakan gerakan keluarga berencana  Memprsiapkan gerakan keluarga berencana  Mempersiapkan hamil sehat optimal umur di atas 20 tahun dan di bawah 35 tahun  Menyiapkan jarak kehamilan di atas 2 tahun  Mempersiapkan kemungkinan APM pada kasus tertentu  Mempergunakan metode KB elektif  Mengurangi hamil dengan resiko tinggi  Komplikasi hamil menurun  Morbiditas dan mortalitas menurun  Meningkatkan hubungan antarkeluarga lebih harmonis  Konsep catur warga sebagai.

5.6 5. Mendekatkan pelayanan di tengah masyarakat  Di desa dipersiapkan bidan  Pengganti dukun beranak  „pertolongan persalinan legeartis dengan polindes  Mempercepat proses rujukan dengan kehamilan resiko tinggi  Melaksanakan posyandu/bulan  Memberikan KIE-motivasi  Gerakan KB  Gizi sehat  Imunisasi  Puskesmas: setiap kecamatan telah memiliki Puskesmas sebagai realisasi mendekatkan pelayanan medis modern di tengah masyarakat. Memprcepat keputusan rujukan dapat mengurangi AKI karena diterima di pusat pertolongan dalam keadaan adekuat  Peningkatan sistem rujukan yang tepat merupakan kendala karena keadaan geografis Indonesia luas dan berpulau  Pemerintah harus siap membantu sistem rujukan karena memerlukan tenaga dan biaya yang tidak sedikit.  Memberikan pelayanan POED (Pelayanan Obstetri Esensial Darurat) dan PONED (Pelayanan Obstetri Neonatus Esensial Darurat):  Memberikan oksitosin  Plasenta manuil  Mempersiapkan rujukan ibu  Membantu pelaksanaan “posyandu” di desa terdekat  Melakukan pertolongan persalinan dengan resiko rendah  Memberikan pendidikan dan kerja sama dengan “dukun”  Menerima rujukan dari bidan di desa  Mengkoordinasi audit AKI  Rumah sakit kabupaten  Secara medis dan ilmu pengetahuan mampu berperan optimal  Membina Puskesmas di tingkat kabupaten  Tangan kanan pelayanan kesehatan tingkat kabupaten  Melaksanakan: Rumah Sakit Sayang Ibu .

dan spesialis obstetri dan ginekologi  Menyiapkan POEK (Pelayanan Obstetri Esensial Komperhensif) dan PONEK (Pelayanan Obstetri Neonatus Esensial Komperhensif)  POED dan PONED  Dapat melakukan bedah seksio sesarea darurat atau berencana dan histerektomi  Memberikan obat intravenous  Kasus resiko tinggi di rujuk ke RS propinsi serta menerima kembali perawatan lanjut  Koordinasi audit AKI  Rumah sakit propinsi  Secara medis dan ilmu pengetahuan sebagai top rujukan propinsi  Membina RS kabupaten  Mampu melakukan semau tindakan medis spesialistis  Koordinasi audit AKI  Melaksanakan: Rumah Sakit Sayang Ibu  Tangan koordinasi pelayanan kesehatan melalui kewilayahan kesehatan tingkat propinsi. Keterlambatan ini dapat terjadi:  Keterlambatan memutuskan rujukan yang disebabkan:  Kemiskinan dan pengetahuan yang rendah  Faktor kultur keluarga dan masyarakat  Kekurangan sarana penunjang  Terlambat dalam perjalanan  Dapat dipikirkan bahwa Indonesia memiliki daerah luas dan kepulauan  Distribusi penduduk yang merata  Pusat pelayanan kesehatan tidak merata  Terlambat dalam memberikan pertolongan di pusat kesehatan  Kekurangan sarana penunjang  Kesiapan memberikan pertolongan belum memadai  Terlambat mengambil keputusan tindakan . Dengan empat spesialis pokok: spesialis bedah. spesialis anak. Faktor keterlambatan upaya Keterlambatan dalam pertolongan dapat merupakan kunci utama penyebab tingginya AKI.6 5. spesialis penyakit dalam.6.

Edisi ke-2. Manuaba Ida Bagus Gde Fajar. . Perawatan ibu & bayi: pedoman praktis. EGC. 2008. Sinsin Iis. Terlambat diterima di pusat pelayanan kesehatan  Keadaan umum penderita yang tidak memungkinkan untuk melakukan tindakan segera  Diterima dalam keadaan agonal  Obat-obatan “life saving” tidak tersedia. 2009. Edisi ke-6. 6. Manuaba Ida Bagus Gde. Manuaba Ida Bagus Gde. 2009. Dasar-dasar keperawatan maternitas. 2005. Pengantar kuliah obstetri. 2007. Keperawatan kesehatan komunitas: teori dan praktik dalam keperawatan. Solusi problem persalinan. 5. Seri kesehatan ibu dan anak masa kehamilan dan persalinan. Manuaba Ida Ayu Chandranita. Manuaba Ida Bagus Gde. Memahami kesehatan reproduksi wanita. Kasdu Dini. Jakarta: EGC. 2001. 4. Hamilton PM. 3. 8. Manuaba Ida Ayu Chandranita. Efendi F. Jakarta: EGC. Jakarta: Alex Media Komputindo. Jakarta: Puspa Swara. 7. Jartata: Salemba Medika.6 Kesimpulan Daftar pustaka 1. Jakarta: EGC. World Healt Organization. 2. Manuaba Ida Bagus Gde Fajar. 2001. 2000. Jakarta: EGC. Kapita selekta penatalaksanaan rutin obstetri ginekologi dan KB. Makhfudli.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->