Anda di halaman 1dari 17

TINGKAT KEJADIAN DEPRESI PADA PENDERITA STROKE DI RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

Vega Hapsari*, Muhammad Ardiansyah Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Jl. Lingkar Barat, Tamantirto, kasihan, Bantul, Yogyakarta. 55183 INTI SARI Stroke merupakan salah satu sumber penyebab gangguan otak pada usia masa puncak produktif dan menempati urutan kedua penyebab kematian pada sebagian besar negara di dunia, sedangkan di negara barat yang telah maju, stroke menempati urutan ketiga sebagai penyebab kematian. Pada beberapa kasus stroke berlanjut dengan depresi. Para penderita sadar, kondisi yang sudah berbeda untuk melakukan aktivitas sehari-hari secara rutin, seperti makan harus disuapi, jalan jadi lambat, dan mandi harus dibantu. Karena faktor mental tersebut, mereka jadi depresi. Depresi merupakan suatu sindrom yang ditandai dengan sejumlah gejala klinik yang manifestasinya biasanya berbeda tiap individu. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar tingkat kejadian depresi pada penderita stroke yang dirawat inap di RS. PKU Muhammadiyah, Yogyakarta. Metode penelitian ini adalah observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Subyek penelitian sebanyak 21 pasien stroke yang dirawat inap di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, subyek penelitian ini akan di analitik menurut jenis kelamin, usia, status pernikahan serta status pekerjaan. Pengukuran dilakukan dengan skor BDI ( Beck Depression Inventory ), skor ini akan memperlihatkan ada tidaknya depresi serta tingkat depresi ( berat, sedang, ringan ). Data hasil penelitian ini dianalisis dengan uji Mann Whitney. Berdasarkan pengukuran dengan skor BDI penderita stroke yang mengalami depresi menurut: jenis kelamin depresi berat lebih banyak pada pria 2 pasien ( 9,51 %) dan depresi ringan lebih banyak pada perempuan 8 pasien ( 38,13 %), berdasarkan uji Mann- Whitney hubungan ini signifikan ( p= 0,034 ), menurut usia ( produktif atau non produktif ) didapatkan depresi berat dan ringan terbanyak pada usia non produktif ( 2 pasien.9,52 % dan 8 pasien.38,1 % ), uji statistik menunjukan p ( p=0,965 )tidak signifikan. Depresi berat dan ringan pada status pernikahan lebih banyak pada status menikah dengan 2 pasien ( 9,52 %) dan 7 pasien ( 33,3 % ), uji statistik menunjukan hasil tidak siginifikan p=0,495. Hasil tidak signifikan juga terdapat pada tingkat depresi menurut status pekerjaan dengan nilai p=0,971, depresi berat ( 2 pasien. 9,51%) dan depresi ringan ( 5 pasien. 23,78 % ) lebih banyak pada pasien stroke yang sebelumnya bekerja. Hasil penelitian didapatkan bahwa tingkat kejadian depresi pada penderita stroke menurut jenis kelamin menunjukan hasil signifikan, akan tetapi menurut usia, status pernikahan dan status pekerjaan menunjukan hasil yang tidak signifikan, ini bearti perbedaan yang ada tidak begitu bearti. Kata kunci : Depresi, Pasien stroke, Skor BDI

LEVEL OCCURRENCE OF DEPRESSION PATIENT STROKE IN RS. PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA


Vega Hapsari*, Muhammad Ardiansyah Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Jl. Lingkar Barat, Tamantirto, kasihan, Bantul, Yogyakarta. 55183 ABSTRACT Stroke is one of the causes of brain disorders at the age of peak earning period and the second leading cause of death in most countries in the world, whereas in western countries that have been advanced, stroke ranks third as a cause of death. In some cases of stroke continues with depression. The conscious patient, which has different conditions to perform activities of daily routine, such as food must be fed, the road is slow, and the bath had to be helped. Because of these mental factors, they become depressed. Depression is a syndrome characterized by clinical manifestations of symptoms is usually different for each individual. So this research aims to identify whether the incidence rate of depression in stroke patients who are hospitalized in the hospital. PKU Muhammadiyah, Yogyakarta. Methods This was an observational analytic study using a cross sectional study. Study subjects were 21 stroke patients who are hospitalized in RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, the subject of this research will be analytical by sex, age, marital status and employment status. Measurements conducted with BDI scores (Beck Depression Inventory), this score will show whether there is depression and the level of depression (severe, moderate, mild). This survey data was analyzed by Mann Whitney test. Based on measurements with a BDI score of stroke patients who were depressed according to: sex more severe depression in men two patients (9.51%) and more mild depression in women eight patients (38.13%), based on MannWhitney test relationships This significant (p = 0.034), according to age (productive or non productive) got the most severe depression and mild nonproductive age (2 pasien.9, 52% and 8 pasien.38, 1%), the statistical test showed p (p = 0.965) was not significant. Mild depression and marital status more on the status of married with two patients (9.52%) and seven patients (33.3%), statistical test showed no significant results p = .495. There was also no significant results at the level of depression according to their employment status with p = 0.971, major depression (two patients. 9.51%) and mild depression (5 patients. 23.78%) than in stroke patients who previously worked. The results showed that the incidence rates of depression in stroke patients according to sex showed a significant result, but according to age, marital status and employment status shows that the results are not significant, this shows that there is no such difference mean. Key words: Depression, Stroke patients, BDI Scores

NASKAH PUBLIKASI

TINGKAT KEJADIAN DEPRESI PADA PENDERITA STROKE DI RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA


Vega Hapsari*, Muhammad Ardiansyah Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Jl. Lingkar Barat, Tamantirto, kasihan, Bantul, Yogyakarta. 55183 ABTRACT Latar belakang : Stroke merupakan salah satu sumber penyebab gangguan otak pada usia masa puncak produktif dan menempati urutan kedua penyebab kematian pada sebagian besar negara di dunia, sedangkan di negara barat yang telah maju, stroke menempati urutan ketiga sebagai penyebab kematian. Pada beberapa kasus stroke berlanjut dengan depresi. Para penderita sadar, kondisi yang sudah berbeda untuk melakukan aktivitas sehari-hari secara rutin, seperti makan harus disuapi, jalan jadi lambat, dan mandi harus dibantu. Karena faktor mental tersebut, mereka jadi depresi. Depresi merupakan suatu sindrom yang ditandai dengan sejumlah gejala klinik yang manifestasinya biasanya berbeda tiap individu. Tujuan : Mengetahui besar tingkat kejadian depresi pada penderita stroke yang dirawat inap di RS. PKU Muhammadiyah, Yogyakarta Metode : Metode penelitian ini adalah observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Subyek penelitian sebanyak 21 pasien stroke yang dirawat inap di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, subyek penelitian ini akan di analitik menurut jenis kelamin, usia, status pernikahan serta status pekerjaan. Pengukuran dilakukan dengan skor BDI ( Beck Depression Inventory ), skor ini akan memperlihatkan ada tidaknya depresi serta tingkat depresi ( berat, sedang, ringan ). Data hasil penelitian ini dianalisis dengan uji Mann Whitney. Hasil : Berdasarkan pengukuran dengan skor BDI penderita stroke yang mengalami depresi menurut: jenis kelamin depresi berat lebih banyak pada pria 2 pasien ( 9,51 %) dan depresi ringan lebih banyak pada perempuan 8 pasien ( 38,13 %), berdasarkan uji Mann- Whitney hubungan ini signifikan ( p= 0,034 ), menurut usia ( produktif atau non produktif ) didapatkan depresi berat dan ringan terbanyak pada usia non produktif ( 2 pasien.9,52 % dan 8 pasien.38,1 % ), uji statistik menunjukan p ( p=0,965 )tidak signifikan. Depresi berat dan ringan pada status pernikahan lebih banyak pada status menikah dengan 2 pasien ( 9,52 %) dan 7 pasien ( 33,3 % ), uji statistik menunjukan hasil tidak siginifikan p=0,495. Hasil tidak signifikan juga terdapat pada tingkat depresi menurut status pekerjaan dengan nilai p=0,971, depresi berat ( 2 pasien. 9,51%) dan depresi ringan ( 5 pasien. 23,78 % ) lebih banyak pada pasien stroke yang sebelumnya bekerja. Kesimpulan :

Tingkat kejadian depresi pada penderita stroke menurut jenis kelamin menunjukan hasil signifikan, akan tetapi menurut usia, status pernikahan dan status pekerjaan menunjukan hasil yang tidak signifikan. ini menunjukan perbedaan yang ada tidak begitu bearti. Kata kunci : Depresi, Pasien stroke, Skor BDI

LEVEL OCCURRENCE OF DEPRESSION PATIENT STROKE IN RS. PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA


Vega Hapsari*, Muhammad Ardiansyah Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Jl. Lingkar Barat, Tamantirto, kasihan, Bantul, Yogyakarta. 55183 ABSTRACT Background: Stroke is one of the causes of brain disorders at the age of peak earning period and the second leading cause of death in most countries in the world, whereas in western countries that have been advanced, stroke ranks third as a cause of death. In some cases of stroke continues with depression. The conscious patient, which has different conditions to perform activities of daily routine, such as food must be fed, the road is slow, and the bath had to be helped. Because of these mental factors, they become depressed. Depression is a syndrome characterized by clinical manifestations of symptoms is usually different for each individual. Destination: Aware of the incidence rates of depression in stroke patients who are hospitalized in thehospital.PKUMuhammadiyah,Yogyakarta Methods: Methods This was an observational analytic study using a cross sectional study. Study subjects were 21 stroke patients who are hospitalized in RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, the subject of this research will be analytical by sex, age, marital status and employment status. Measurements conducted with BDI scores (Beck Depression Inventory), this score will show whether there is depression and the level of depression (severe, moderate, mild). This survey data was analyzed by Mann Whitneytest. Results: Based on measurements with a BDI score of stroke patients who were depressed according to: sex more severe depression in men two patients (9.51%) and more mild depression in women eight patients (38.13%), based on Mann-Whitney test relationships This significant (p = 0.034), according to age (productive or non productive) got the most severe depression and mild non-productive age (2 pasien.9, 52% and 8 pasien.38, 1%), the statistical test showed p (p = 0.965) was not significant. Mild depression and marital status more on the status of married with two patients (9.52%) and seven patients (33.3%), statistical test showed no significant results p = .495. There was also no significant results at the level of depression according to their employment status with p = 0.971, major depression (two patients. 9.51%) and mild depression (5 patients. 23.78%) than in stroke patients who previously worked. Conclusion:

The incidence rate of depression in stroke patients according to sex showed significant results, but according to age, marital status and employment status did not show significant results, this shows that there is no such difference mean. Key words: Depression, Stroke patients, BDI Scores

PENDAHULUAN Stroke adalah suatu tanda klinis yang berkembang cepat akibat gangguan otak fokal (atau global) dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih dan dapat menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vaskuler. Stroke dibagi menjadi dua,antara lain: stroke hemoragik dan stroke non hemoragik (iskemik). Stroke hemoragik disebabkan oleh pecahnya cabang pembuluh darah di otak, berdasarkan letak perdarahannya di bagi menjadi dua, perdarahan intra serebal (PIS) dan perdarahan sub arachnoid (PSA). Sedangkan stroke non hemoragik (iskemik) disebabkan oleh sumbatan setempat pada suatu pembuluh darah tertentu di otak, stroke iskemik dibagi kembali menjadi tiga antara lain: trombosis serebri (TS), emboli serebri (ES), serta serangan otak iskemik atau transient ischemic attack (SOS/TIA). Manifestasi klinik stroke pada umumnya adalah kelumpuhan badan, gangguan perasaan, gangguan bicara, gangguan keseimbangan, gangguan penglihatan sampai kesadaran menurun. Pada beberapa kasus stroke berlanjut dengan depresi.Depresi merupakan suatu sindrom yang ditandai dengan sejumlah gejala klinik yang manifestasinya biasanya berbeda tiap individu. Berdasarkan DSM-IV (Goldman, 1995) dan PPDGJ III (Depkes RI, 1992) terdapat dua kategori gejala yaitu gejala utama dan gejala lainnya. Gejala gejala ini nantinya akan di sesuaikan dengan pedoman diagnosis berdasarkan derajat episode depresinya, ringan, sedang, dan berat, stroke dapat menyebabkan depresi dikarenakan beberapa faktor resiko yaitu umur, jenis kelamin, status ekonomi social, riwayat psikologi penderita, riwayat gangguan psikis keluarga, tipe kepribadian, tipe stroke, beratnya stroke, letak lesi stroke, serta beratnya letak lesi stroke. Tingkat kejadian depresi post stroke tahun 2001 di RSUP Dr.Sardjito dan RS.Bethesda, Yogyakarta. Yang dilakukan pada 30 probandus dan di klasifikasikan berdasarkan usia, jenis kelamin, status perkawinan, tingkat pendidikan, dan status pekerjaan. Didapatkan pada usia produktif lebih banyak depresi derajat sedang (23,3%), sedangkan pada usia non produktif lebih banyak terjadi depresi ringan (40%). Jika dilihat dari jenis kelamin prevalensi pria (60%) lebih tinggi untuk mengalami depresi post stroke daripada wanita (40%), akan tetapi derajat depresi yang sering terjadi lebih berat pada wanita, wanita lebih banyak mengalami depresi post stroke derajat sedang (16,7%), pria lebih banyak depresi ringan (40%). Dari status perkawinan baik status menikah dan yang hidup sendiri, persentase derajat depresi yang terjadi sama banyak pada depresi derajat ringan (6,7%). Berdasarkan tingkatan pendidikannya, derajat depresi yang terjadi pada tingkat pendidikan SD sampai SMA lebih sering mengalami depresi derajat sedang sampai berat (6,7 16,7%). Dan berdasarkan status pekerjaan, insidensi terjadinya depresi post stroke lebih tinggi orang yang bekerja dibanding yang tidak

bekerja, derajat depresi sedang pada orang yang bekerja lebih tinggi (26,6%) dari orang yang tidak bekerja, hanya saja orang yang tidak bekerja lebih banyak mengalami (16,7%) depresi derajat ringan. Penelitian ini bertujuan untuk Mengetahui besar tingkat kejadian depresi pada penderita stroke yang dirawat inap di RS. PKU Muhamadiyah, Yogyakarta. Manfaat yang diharapkan sebagai pedoman intervensi kedokteran mengenai penyakit stroke yang dapat menyebabkan depresi. METODE PENELITIAN Observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kejadian depresi pada penderita stroke menurut jenis kelamin, usia, status pernikahan, dan status pekerjaan. Data penelitian berupa skor depresi dari semua pasien stroke yang mendapat perlakuan Subyek penelitian adalah pasien stroke tanpa riwayat ulangan baik perdarahan maupun non perdarahan yang sedang di rawat inap di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.Peneliti mengambil data dari pasien pada 4 bangsal, yaitu Bangsal Arofah, Bangsal Marwah, Bangsal Mutazzam, Bangsal Raudah. Pengambilan data ini dilakukan pada pasien stroke yang telah dirawat inap minimal 7 hari dan data diambil mulai dari bulan Agustus s.d Januari.Variabel dalam penelitian ini meliputi 2 macam : variabel bebas adalah pasien stroke yang dirawat inap minimal 7 hari; variabel tergantung adalah skor depresi ( tidak ada depresi, depresi berat, depresi sedang, depresi ringan ). Penelitian ini menggunakan instrumen berupa kuesioner dengan skala Beck Depression Inventory (BDI). skala Beck Depression Inventory (BDI) menggambarkan adanya sikap, kebiasaan dan gejala yang spesifik yang mengarah pada pasien depresi. Skala BDI terdiri dari 21 pertanyaan yang mewakili 21 gejala depresi, yang menggambarkan emosi, kebiasaan dan gejala somatik.4 Pada beberapa kategori terdapat dua pertanyaan yang ekuivalen tersebut mempunyai bobot yang sama dan diberi tanda a & b, misalnya 2a dan 2b. Dalam menjawab inventory ini seseorang bisa memilih lebih dari satu pertanyaan pada masingmasing kategori. Nilai total skor dihitung dengan cara menjumlahkan seluruh nilai yang diperoleh untuk masing-masing kategori, sehingga total ini akan tersusun dari 21 kategori. Dengan demikian nilai total akan bergerak dari 0-63.4 Masing-masing pertanyaan berisi skor 0-3 dengan ketentuan : 0 berarti tidak ada gejala depresi 1 berarti gejala depresi ringan 2 berarti gejala depresi sedang 3 berarti gejala depresi berat Kemudian dengan mengetahui skor total skala ini ditentukan dengan tingkatan depresi yaitu : 0-9 tidak ada gejala depresi 10-15 gejala depresi ringan 16-23 gejala depresi sedang 24-63 gejala depresi berat

Test Validitas BDI pada beberapa studi. Ditemukan sensitivitas 83 % dan spesifikasi 89 % dengan cut of point 7/8 dengan CI 95 % ( nilia alpha 0,78 sampai 0,86 ) dan nilai reabilitas BDI ( Back Depresion Inventory ) yang peneliti gunakan adalah antara 0,86 sampai 0,96. Suatu kuisoner dikatakan reliabel bila mempunyai koefisien keterandalan lebih dari 0,6. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Tabel 1. Distribusi Total Subyek Penelitian Penderita Stroke Karakteristik Sampel Jenis Kelamin Pria Wanita Umur Usia produktif ( 15-55 ) Usia non Produktif ( >55) 9 12 4 17 42,8 % 57,2 % 19 % 81 % Jumlah ( n ) Presentase ( % )

Status Pernikahan Menikah Hidup Sendiri Status Pekerjaan Bekerja Tidak bekerja

16 5

76,19 % 23,81 %

14 7

66,6 % 33,4 %

Tabel 1 di atas menunjukan bahwa dari keseluruhan subyek penelitian yang berjumlah 21 orang. Tabel di atas karakteristik sampel dilihat dari 4, yaitu : berdasarkan jenis kelamin, umur, status perkawinan, status pekerjaan. Berdasarkan jenis kelamin didapatkan pasien yang mengalami stroke sebanyak 42,8 % pada pria sedangkan wanita 57,2 %. Berdasarkan umur, dimana peneliti mengklasifikasikan menjadi dua, produktif dan non produktif ternyata depresi post stroke pada nonproduktif lebih banyak 62 % dari pasien produktif yang hanya berjumlah 19 %. Dilihat dari status pernikahan didapatkan stroke pada orang yang sudah menikah 76,19 % sedangkan yang hidup sendiri 23,81 %. Sedangkan jika dilihat dari status pekerjaan orang yang bekerja mengalami stroke 66,6 % disbanding orang yang tidak bekerja yang hanya berjumlah 33,4 %.

Tabel 2 Distribusi Tingkat Depresi Pada Penderita Stroke Menurut Jenis Kelamin Tingkat Depresi Jumlah Tidak Depresi Depresi Ringan Depresi Sedang Depresi Berat Total
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)]

Pria % 4,75 % 9,51 % 19,02 % 9,51 % 42,8 % 0,34 Jumlah 1 8 3 0 12

Wanita % 4,76 % 38,13 % 14,1 % 0% 57,2 %

1 2 4 2 9

Sama seperti tabel sebelumnya, pada tabel 2 dimana distribusi tingkat depresi menurut jenis kelamin didapatkan jenis kelamin wanita 12 orang ( 57,2% ) melebihi jenis kelamin pria 9 orang ( 42,8% ). Adapun jenis kelamin pria yang tidak depresi sebanyak 1 orang ( 4,75% ), depresi ringan dan depresi berat mempunyai jumlah yang sama sebanyak 2 orang ( 9,51% ) dan depresi sedang berjumlah 4 orang (19,02% ). Pada wanita yang tidak mengalami depresi sebanyak 1 orang ( 4,76% ), depresi ringan 8 orang ( 38,13% ), depresi sedang ( 14,1% ), sedangkan untuk depresi berat peneliti tidak menemukannya.Berdasarkan uji statistik Mann-whitney bahwa hubungan tingkat depresi dengan pasien stroke berdasarkan jenis kelamin adalah signifikan dengan nilai p 0,034, dikatakan signifikan p < 0,05 Tabel 3 Distribusi Tingkat Depresi Pada Penderita Stroke Menurut Usia Tingkat Depresi Usia Produktif ( 15 55 thn ) Jumlah Tidak Depresi Depresi Ringan Depresi Sedang 1 1 1 % 4,75 % 4, 75 % 4,75 % Jumlah 1 8 6 Usia Non Produktif ( >55 thn ) % 4,76 % 38,1 % 28,5 %

Depresi Berat Total

1 4

4,75 % 19 %

2 17 0, 965

9,52 % 81 %

Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)]

Tabel diatas menunjukan jumlah usia produktif sebanyak 4 orang dari total subyek 19%, sedangkan usia non produktif sebanyak 17 orang ( 81% ). Pada usia produktif yang tidak mengalami depresi 1 orang ( 4,75% ), depresi ringan 1 orang (4,75%), depresi sedang sebanyak 1 orang ( 4,75% ), dan depresi berat sebanyak 1 orang ( 4,75% ). Usia non produktif didapatkan data bahwa yang tidak mengalami depresi sebanyak 1 orang ( 4,76% ), depresi ringan sebanyak 8 orang ( 38,1% ), depresi sedang 6 orang ( 28,5% ), dan depresi berat sebanyak 2 orang ( 9,52% ).Hasil uji statistik hubungan tingkat depresi dengan pasien stroke menurut usia ( produktif dan non produktif ) menunjukan hasil yang tidak signifikan p 0,965 ini lebih dari p> 0,05. Tabel 4 Distribusi Depresi Pada Penderita Stroke Menurut Status Pernikahan Tingkat Depresi Menikah Jumlah Tidak Depresi Depresi Ringan Depresi Sedang Depresi Berat Total
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)]

Hidup Sendiri % Jumlah 0 2 2 1 5 0, 495 % 0% 9,52 % 9,52 % 4,76 % 23,81 %

2 7 5 2 16

9,52 % 33,3 % 23,80 % 9,52 % 76,19 %

Pada tabel diatas didapatkan subyek penelitian yang mempunyai status menikah sebanyak 16 orang ( 76,19% ), dan yang hidup sendiri sebanyak 5 orang (23,81%). Subyek yang berstatus menikah dibedakan : tidak mengalami depresi post stroke 2 orang ( 9,52% ), hal ini sama dengan jumlah depresi sedang, depresi ringan 7 orang ( 33,3% ) dan depresi berat sebanyak 5 orang( 23,8%). Sedangkan yang hidup sendiri didapatkan : yang tidak mengalami depresi sebanyak 0%, depresi ringan dan depresi sedang sama jumlahnya yaitu masing masing 2 orang ( 9,52% ), Pada tabel diatas didapatkan subyek penelitian yang mempunyai status menikah sebanyak 16 orang ( 76,19% ), dan yang hidup sendiri sebanyak 5 orang

(23,81%). Subyek yang berstatus menikah dibedakan : tidak mengalami depresi post stroke 2 orang ( 9,52% ), hal ini sama dengan jumlah depresi sedang, depresi ringan 7 orang ( 33,3% ) dan depresi berat sebanyak 5 orang( 23,8%). Sedangkan yang hidup sendiri didapatkan : yang tidak mengalami depresi sebanyak 0%, depresi ringan dan depresi sedang sama jumlahnya yaitu masing masing 2 orang ( 9,52% ),dan 1 orang yang mengalami depresi berat ( 4,77 % ).Uji statistik hubungan tingkat depresi dengan pasien stroke menurut status pernikahan menunjukan hasil tidak signifikan p 0,495. Tabel 5 Distribusi Depresi Pada Penderita Stroke Menurut Status Pekerjaan Tingkat Depresi Bekerja Jumlah Tidak Depresi Depresi Ringan Depresi Sedang Depresi Berat Total
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)]

Tidak Bekerja % 9,51 % Jumlah 0 4 2 1 7 % 0 19,08 % 9,54 % 4,77 % 33,4 %

2 5 5 2 14

23,78 % 23,78 % 9,51 % 66,6 % 0, 971

Tabel diatas menunjukan bahwa dari 21 subyek penelitian terdapat 14 orang bekerja ( 66,6 % ) dan 7 orang tidak bekerja ( 33,4 % ). Subyek yang berstatus bekerja dibedakan menjadi : yang tidak mengalami depresi sebanyak 2 orang (9,51%), depresi ringan 5 orang ( 23,78 % ), depresi sedang 5 orang ( 23,78% ) dan 2 orang depresi berat ( 9,51% ). Sedangkan yang tidak bekerja peneliti mendapatkan kejadian tidak depresi 0%, depresi ringan 4 orang ( 19,08% ), depresi sedang 2 orang ( 9,54% ) dan depresi berat 1 orang ( 4,77% ). Hubungan tingkat depresi dengan pasien stroke menurut status pekerjaan menunjukan hasil yang tidak signifikan p 0,971.

2. Pembahasan Peneliti menyajikan hasil penelitian dalam 5 tabel antara lain : table distrisbusi total subyek penelitian penderita stroke, table distribusi depresi menurut jenis kelamin, usia, status pernikahan, status pekerjaan. Dalam table distribusi depresi subyek penelitian penderita stroke didapatkan penderita stroke lebih banyak terjadi pada jenis kelamin wanita daripada pria dengan usia non produktif (

> 55 thn). Menurut 5, tidak ada perbedaan seksual dalam penyebab stroke walaupun resiko stroke pria 1.25 lebih tinggi daripada wanita, tetapi stroke pada pria terjadi diusia lebih muda ( mulai 45 thn ) sehingga tingkat kelangsungan hidup lebih tinggi sedangkan wanita ( mulai 55 thn ) umumnya terserang pada usia lebih tua, sehingga kemungkinan meninggal lebih besar. Sampel penelitian menurut status pernikahan dan status pekerjaan, kejadian stroke lebih banyak pada orang yang sudah menikah, hal ini berkaitan dengan terjadinya stroke yang kebanyakan dialami masyarakat usia lebih dari 65 tahun.5 Pada usia tersebut kebanyakan pasien sudah menikah. Stroke lebih banyak terjadi pada pasien pekerja ( 57,2% ) disbanding yang tidak bekerja ( 42,8% ) dikarenakan pada orang yang bekerja mempunyai beban pikiran, fungsi social dan kebiasaan kesehatan tidak baik.6 Penyebab depresi post stroke belum pasti diketahui, dugaan depresi post stroke dibagi menjadi 2, faktor yang pertama adalah pada penderita stroke terjadi sumbatan atau pecahnya pembuluh darah di otak yang menyebabkan jalur komunikasi ke daerah otak tersebut menjadi terhambat. Otak terdiri dari beberapa bagian yang mempunyai fungsi masing-masing. Bagian otak yang sering terkena pada pasien stroke adalah bagian otak yang mengatur fungsi perasaan dan gerakan pasien sehingga yang terlihat pada diri penderita stroke adalah kesulitan dalam melakukan gerakan akibat lumpuhnya tubuh sebagian, gangguan suasana perasaan serta tingkah laku. Selain dari bagian otak yang mengatur pusat perasaan terkena, depresi pada pasien stroke juga disebabkan karena adanya ketidakmampuan pasien dalam melakukan sesuatu yang biasanya dikerjakan sebelum terkena stroke. Hal ini terkadang menyebabkan pasien menjadi merasa dirinya tidak berguna lagi karena banyaknya keterbatasan yang ada dalam diri pasien akibat penyakitnya itu.7 Penelitian ini berdasarkan statistik, hubungan tingkat depresi dengan pasien stroke menurut jenis kelamin menunjukan hasil yang signifikan dengan p 0,034. Nilai p dikatakan signifikan jika p < 0,05. Dari hasil signifikan tersebut memberi arti bahwa pada penderita stroke tingkat tinggi rendahnya depresi dipengaruhi oleh jenis kelamin ( pria atau wanita ). Menurut data, pria mempunyai kecendrungan persentase lebih tinggi pada tingkat depresi sedang 19,02 % dan 9,51% pada depresi berat disbanding dengan wanita depresi sedang 14,1 % dan depresi berat 0 %. Hasil ini berbeda dengan penelitian yang pernah dilakukan oleh Trimulyani (2002) yang menunjukan bahwa pada jenis kelamin wanita 10 % lebih tinggi menderita depresi berat dibandingkan dengan jenis kelamin pria 3,3 %. Hal ini dikarenakan pria kurang mengakui perasaan membenci diri sendiri dan keputusasaan. sebaliknya, mereka cenderung mengeluh tentang kelelahan, lekas marah, masalah tidur, dan kehilangan minat dalam pekerjaan. sehingga gejala depresi tidak dapat terdeteksi dari awal.8 Meskipun tingkat depresi pada wanita adalah dua kali lebih tinggi pada pria, namun pria mempunyai resiko bunuh diri yang lebih tinggi. Wanita ketika menghadapi masalah memilih berkonsultasi dengan psikolog ataupun bantuan orang lain ( Sarason, 1993 ). Pendapat ini mendukung hasil data peneliti bahwa wanita menunjukan hasil lebih tinggi pada depresi ringan dengan presentase 38,13% sedangkan pria hanya 9,51%.

Usia yang mengalami depresi post stroke ternyata lebih tinggi pada usia non produktif ( 9,52 % ) pada semau tingkat depresi ; depresi ringan 38,1 %, depresi sedang 28,5 % dan depresi berat 9,52 % dibanding pada usia produktif 4,75 % pada semua tingkat depresi.Hal ini sesuai dengan penelitian terdahulu yang dilakukan Nugraheni ( 2002 ) bahwa orang stroke yang tidak bekerja cenderung lebih tinggi terkena depresi 73,3 % daripada yang bekerja 26,7 %. Kemungkinan hal ini ada kaitannya dengan peran dan tanggung mereka dalam menghasilkan finansial untuk memenuhi kebutuhan menjadi kurang dengan terganggunya fungsi tubuh mereka akibat serangan stroke. Namun menurut statistik hubungan tingkat depresi pada pasien stroke menurut usia (produktif dan non produktif ) tidak signifikan p 0,965 ( p > 0,05 ), hal ini menunjukan perbedaan usia pada penderita stroke tidak menunjukan tingkat depresi yang berbeda secara signifikan, walaupun dalam data usia non produktif kecendrungannya lebih tinggi pada semua tingkat depresi. Pada semua tingkat depresi : berat 9,52 %, sedang 23,8 % dan ringan 33,3% pada pasien status menikah lebih tinggi daripada pada pasien status hidup sendiri dengan depresi ringan dan sedang 9,25 %, serta depresi berat 4,76 %.Menurut 9 yang menyebutkan seseorang yang sudah menikah akan memilliki kecendrungan lebih besar dibandingkan dengan seseorang yang hidup sendiri, hal ini berkaitan dengan peran serta atau fungsi penderita stroke yang menikah dalam keluarga dan masyarakat menjadi terganggu tidak seperti semula sebelum sakit. Hasil penelitian ini sama dengan penelitian yang pernah dilakukan 10 bahwa status pernikahan menentukan adanya kecendrungan depresi, yaitu subyek stroke dengan status menikah sebanyak 37,5 %menderita depresi dan hidup sendiri sebanyak 25 % yang menderita depresi. Berdasarkan analisis statistik, hubungan tingkat depresi pada penderita stroke menurut status pernikahan didapatkan p 0,495 ( p> 0,05 ). Nilai p value ini tidak signifikan, ini bearti perbedaan tingkat depresi pada penderita stroke menurut status pernikahan tidak menunjukan perbedaan yang sangat berarti. Proporsi yang didapatkan peneliti untuk karakteristik status pekerjaan, pasien stroke yang awalnya masih bekerja cenderung mempunyai resiko lebih tinggi dalm segala tingkat depresi baik depresi ringan 23,78 %, depresi sedang 23,78% dan depresi berat 9,51 % dibanding dengan pasien yang sebelum mengalami stroke sudah tidak bekerja lagi dengan tingkat depresi yang lebih rendah : depresi ringan 19,08 %, depresi sedang 9,54 %, dan depresi berat 4,77 %.Menurut 11 bahwa seseorang yang bekerja namun harus berhenti karena adanya suatu keadaan misalnya sakit atau kecelakaan akan mempunyai stres lebih tinggi, hal ini karena penderita merasa tidak mampu lagi berperan aktif dalam pekerjaan sehingga merasa tidak berguna, putus asa dan sering berakhir dengan depresi. Penelitian ini didukung oleh penelitian terdahulu, menurut 10 peran dalam sumber ekonomi juga menentukan kecendrungan penderita post stroke mengalami depresi, hal ini dibuktikan bahwa sebanyak 18,2 % penderita stroke yang tidak bekerja mengalami depresi sedangkan sebanyak 55,6 % penderita stroke bekerja yang mengalami depresi. Dan penelitian oleh Timuryani ( 2002 ) juga menunjukan orang yang bekerja mempunyai kecendrungan lebih tinggi dengan depresi sedang 23,3 %, depresi berat 33,3 % dibanding yang tidak bekerja lagi sebanyak 2 orang (

6,7 %) yang mengalami depresi sedang, dan tidak ada yang mengalami depresi berat. Berdasarkan analisis statistik dengan didapatakan nilai p value ( 0,971 ) yang tidak signifikan, hal ini menunjukan perbedaan tingkat depresi antara penderita stroke yang bekerja dengan penderita stroke yang tidak bekerja tidak begitu bearti atau tidak begitu signifikan. KESIMPULAN Berdasarkan data penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat hubungan tingkat depresi pada penderita stroke menurut : jenis kelamin pria mempunyai kecendrungan lebih tinggi pada tingkat depresi sedang 19,02 % dan berat 9,51 %, sedangkan depresi ringan lebih banyak pada wanita 38,13 %. Menurut usia, pada usia non produktif ( > 55 th ) lebih tinggi pada semua tingkat depresi baik ringan38,1%, sedang 28,5 % dan berat 9,52 % dibanding 4,75 % pada semua tingkat depresi di usia produktif. Menurut status pernikahan dan status pekerjaan semua tingkat depresi lebih tinggi pada pasien stroke yang sudah menikah dan bekerja. Berdasarkan analitik statistik dengan menggunakan Mann-whitney U, terdapat hubungan tingkat depresi pada penderita stroke menurut jenis kelamin dengan nilai p value 0,034 ( signifikan jika p <0,05 ), akan tetapi menurut usia, status pernikahan dan status perkerjaan didapatkan nilai yang tidak signifikan ; 0,965 , 0,495 , 0,971. Ini menandakan perbedaan usia, status pernikahan dan status pekerjaan tidak menunjukan perbedaan tingkat depresi yang signifikan atau berarti.

SARAN Sebaiknya ketrampilan komunikasi memberi motivasi dan konseling ditingkatkan pada petugas kesehatan ( perawat, dokter ), selain hanya didukung dari edukasi religi. Sebaiknya ada penelitian lebih lanjut dengan range waktu pengambilan data lebih lama dan dengan variabel variabel lain yang lebih luas. Sebaiknya jumlah sampel lebih banyak dan lebih kausatif

DAFTAR PUSTAKA 1. Margono, dr., Sp.S ( K ), et al. ( 2007 ). Stroke perdarahan dan non perdarahan. Diakses 5 Maret 2009. http://klikharry.wordpress.com/2007/04/22/stroke. 2. Eriksson, M., Asplund, K., Glader, E. L., Norrving, B., Stegmayr, B., Terent, A., et al. (2004). Self-reported depression and use of antidepressants after stroke: A national survey. Stroke. 35 : 936941.

3.

Nugraheni, Trimulyani. (2002). Karya Tulis Ilmiah Tingkat DEPRESI Pada Penderita Pasca Stroke Di RSUP.Dr. sardjito dan RS. Bethesda yogyakarta. F akultas keperawatan. UGM. Yogyakarta

4. Aaron T, Beck. 1978. Measuring Health Second Edition : page 242 248 5. Sources U.S centers for disease control and prevention and the heart disease and stroke statistic 2009 uptodate, published by the AHA 6. Taylor, S.E. 1995. Health Psycology 3 ed. Mc-Graw Hill Inc.Amerika 7. Cermin Dunia Kedokteran No. 149, 2005 8. Jessica L. Johnson, et al. (2006). Poststroke Depression Incidence and Risk Factors. Journal of Neuroscience Nursing. 38 (4): 316-327. Retrieved 4 April,2009. http://www.aann.org/pdf 9. Ibrahim, A.S. (2001). Stroke. Medika (Feb) Vol XXVII No.2 : 80-82 10. Hartono et.al. 1999. Gangguan Depresi pada Penderita Pasca Stroke 3 minggu- 3 bulan, Hubungannya dengan Faktor Demografi dan Status Fungsi Aktivitas Sehari-hari. Jurnal Psikologi Vol XXXII No.2 :117-123 11. Cattalano. 1996. Health Psichology. Mc. Graw Hill. New York. USA

NAMA

: VEGA HAPSARI

NO. MAHASISWA : 2006.031. 0122 JUDUL KTI : TINGKAT KEJADIAN DEPRESI PADA PENDERITA STROKE DI RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

KESIMPULAN : Berdasarkan data penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat hubungan tingkat depresi pada penderita stroke menurut : jenis kelamin pria mempunyai kecendrungan lebih tinggi pada tingkat depresi sedang 19,02 % dan berat 9,51 %, sedangkan depresi ringan lebih banyak pada wanita 38,13 %. Menurut usia, pada usia non produktif ( > 55 th ) lebih tinggi pada semua tingkat depresi baik ringan38,1%, sedang 28,5 % dan berat 9,52 % dibanding 4,75 % pada semua tingkat depresi di usia produktif. Menurut status pernikahan dan status pekerjaan semua tingkat depresi lebih tinggi pada pasien stroke yang sudah menikah dan bekerja. Berdasarkan analitik statistik dengan menggunakan Mann-whitney U, terdapat hubungan tingkat depresi pada penderita stroke menurut jenis kelamin dengan nilai p value 0,034 ( signifikan jika p <0,05 ), akan tetapi menurut usia, status pernikahan dan status perkerjaan didapatkan nilai yang tidak signifikan ; 0,965 , 0,495 , 0,971. Ini menandakan perbedaan usia, status pernikahan dan status pekerjaan tidak menunjukan perbedaan tingkat depresi yang signifikan atau berarti.