Anda di halaman 1dari 14

REFERAT

TORSIO TESTIS
Diajukan untuk memenuhi sebagai tugas tambahan ujian akhir Program Pendidikan Profesi di bagian Ilmu Bedah

Disusun

oleh : JEMMY HERU MURTOPO 94310108

Diajukan kepada : Dr. H. YAZID ACHARI, Sp.BO

SMF ILMU BEDAH PENDIDIKAN PROFESI DOKTER RUMAH SAKIT Prof. Dr. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO JAWA TENGAH 2003

BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang


Torsio testis lebih sering terjadi pada anak-anak, biasanya terjadi pada kelompok umur mudah atau bayi. Kegagalan turunnya testis secara normal merupakan predisposisi terjadinya torsio dan biasanya terjadi sebelum umur pubertas.2,6 Diagnosis sering terlambat, dalam torsio testis penyakit pria prapubertas dan pubertas, ada lipatan tak lengkap tunika vaginalis pada testis dan epididimis. Deformitas ini memungkinkan testis berotasi di dalam tunika vaginalis dan menyebabkan strangulasi suplai darah. Testis akan mengalami kerusakan permanen. Keadaan ini memerlukan penanganan pembedahan segera karena iskhemia dan nekrosis.1,5 Dokter umum sering sulit membedakan antara torsio dengan orchitis, sebab terlazim orkitis bakteri adalah epididimitis. Prostatitis atau infeksi traktus urinarius. Orkitis dapat timbul dengan sejumlah penyakit mikrotin atau virus tetapi gondongan merupakan sebab terlazim penyakit radang testis. Suatu torsio khorda spermatika ini harus dibedakan dari epididimitis akut. Nyeri pada yang terakhir ini kurang bila kita menyokong testis, rasa sakit pada yang pertama tidak berkurang dengan tindakan ini.5,7

B. Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum Tujuan umum dari penulisan referat ini adalah sebagai salah satu syarat tugas tambahan ujian kepaniteraan klinik di bagian ilmu bedah. 2. Tujuan Khusus Tujuan khusus dari penulisan referat ini adalah supaya dapat memberikan gambaran dan penanganannya serta akibat yang ditimbulkan bila ada keterlambatan dalam penanganan. 2

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN II.1. Definisi Torsio testis adalah testis yang berputar dalam kantong skrotum (torsio) akibat perkembangan abnormal dari tunika vaginalis dan funikulus spermatikus dalam masa perkembangan janin. Torsio testis pada anak dengan insersi tunika vaginalis tinggi di funikulus spermatikus sehingga funikulus dengan testis dapat terpuntir di dalam tunika vaginalis.1,3 II.2. Anatomi Kedua testis dalam scrotum digantung oleh tangkai fibrovaskular, funiculus spermaticus, yang meninggalkan canalis inguinalis melalui anulus inguinalis profundus. Testis kiri sering tergantung lebih rendah daripada yang kanan. Scrotum berfungsi mengatur temperatur testis. Scrotum berasal dari 2 genital ridge yang ditunjukkan oleh adanya lapisan tengah, raphe scroti, testis motor bentuknya kira-kira seperti buah plum, panjangnya 4-5 cm. Konsistensi kenyal dan biasanya dalam scrotum posisi permukaan luas menghadap ke belakang dan yang sempit menghadap ke depan. Pada tepi posterior, mediastinum testis, pembuluh-pembuluh darah, saraf dan ductus deferens masuk dan meninggalkan epididimis bersama funiculus spermaticus. Epididimy melekat pada testis seperti ekor. Testis dewasa berbentuk bulat dengan volume rata-rata 18,6 4,8 ml, lebar rata-rata 2,5 cm (2,1-3,2 cm). Kapsula testis terdiri dari tiga lapisan yaitu tunika vaginalis, tunika albuginea dan tunika vaskulosa terdiri dari kapsul testikular. Septa-septa jaringan ikat (septa testis) menyebar dari kapsul menuju mediastinum testis dan membagi jaringan testis menjadi 200-300 lobulus (lobuli testis). Tiap lobulus mengandung beberapa tubulus seminiferous yang berkelok-kelok tiap tubulus pada testis matur (secara seksual). Tubulus masuk rate testis di mediastinum. Rate terdiri atas saluran-saluran seperti celah saling berhubungan dari mana ductus efferens menyalurkan sperma (spermatozoa) menuju ductus epididymitis. Selanjutnya ductus melanjutkan diri sebagai ductus deferens paradidymis, ductus abervans. Tubuli semiferi contorti dalam 3

testis matur dipisahkan dari jaringan ikat sekitarnya oleh membrana basalis, dan mempunyai dinding berlapis-lapis. Spermatozoa diproduksi dari sel-sel dalam dinding tubulus ini lalu berjalan dalam lumen, tetapi sel-sel yang memproduksi hormon terletak di jaringan ikat diantara tubuli.4

Gambar 65-5. Torsio testis A. Insersi tunika vaginalis normal, B. Torsio ekstravaginalis, C. Torsio intravaginalis dengan insersi vaginal abnormal yang tinggi. II.3. Patofisiologi Torsio testis terjadi pada anak dengan insersio tunika vaginalis tinggi di funikilus spermatikus sehingga funikulus dengan testis dapat terpuntir di dalam tunika vaginalis. Jenis torsio ini disebut sebagai torsio funikulus spermatikus intravaginalis. Gejala-gejala adalah awitan yang mendadak dari nyeri skrotum, mual dan muntah, nyeri perut selalu ada. Sebab berdasarkan perdarahan dan persyarafannya, testis tetap merupakan organ perut. Pada permulaan testis teraba agak bengkak dengan nyeri tekan dan terletak agak tinggi di skrotum dengan funikulus yang bengkak. Torsio dari funikulus spermatikus dan testis juga dapat terjadi pada masa janin/neonatus di dalam rahim atau sewaktu persalinan. Perputaran terjadi pada funikulus bagian inguinalis di atas insersi tunika vaginalis dan dikenal sebagai torsi funikulus spermatikus ekstravaginalis. Torsio ekstravaginalis hanya terjadi pada neonatus.1,3 II.4. Diagnosis

Untuk menegakkan diagnosis, dapat dengan anamnesis, pemeriksaan fisik. II.4.1. Anamnesis Pada kelompok umur muda dan bayi, timbul nyeri hebat secara mendadak pada lipat pada dan abdomen bawah. Kadang-kadang terdapat muntah. Gejalanya biasanya bervariasi sesuai dengan derajat torsi. Mula-mula terdapat nyeri samar-samar pada hipokondrium, kemudian nyeri akut. Kadang-kadang nyeri terletak pada regio anulus inguinalis internus. Sehingga sulit dibedakan dengan hernia inguinalis strangulata. Setelah beberapa waktu terdapat kenaikan suhu tubuh, malaise dan kulit scrotum menjadi merah. Pada bayi umumnya asimtomatik dan seringkali ditemukan swaktu pemeriksaan fisik awal pada bayi baru lahir.1,6 II.4.2. Pemeriksaan Fisik Penemuan fisik pada pemeriksaan adalah edema skrotalis, eritema, nyeri tekan, demam, hidrokel yang baru terbentuk, dan hilangnya refleks kremosterika. Testis pada sisi yang terkena sering lebih tinggi dibandingkan lainnya dan bisa mempunyai posisi transversa. Testis umumnya sangat nyeri tekan dan elevasi tidak menghilangkan nyeri seperti yang sering terjadi pada epididimis. Pada pria muda dengan torsio testis khas dibangunkan dari tidur dengan nyeri skrotum dan bisa tampil dengan mual, muntah dan edema skrotum. Pada neonatus ditemukan sewaktu pemeriksaan fisik awal pada bayi baru lahir, dimana terdapat massa skrotum yang padat disertai daerah berwarna biru pada kulit skrotum yang menutupi massa tersebut (blue dot sign). Seringkali testis telah menjadi nekrotik seluruhnya. Orkhidektomi dilakukan pada testis kontralateral. 1,5,6

II.5. Diagnosis Banding

II.5.1. Orkhitis akut 5 Infeksi akut bisa mencapai testis melalui jalur hematogen, melalui saluran limfe atau turun melalui duktus deferen. Sebab terlazim orkhitis bakteri adalah epididimitis, prostatitis atau infeksi traktus urinarius. Terpai tergantung pada luas, tempat testis terlibat dan dalam kebanyakan kasus terapi antibiotika spesifik mencukupi. Jarang testis supuratif pada perluasan, sehingga orkiektomi merupakan satu-satunya alternatif. II.5.2. Epididimitis akut Epididimitis bisa disebabkan oleh sejumlah organisme epididimitis bisa timbul spontan atau bisa mengikuti tindakan bedah seperti prostatektomi. Dalam stadium akut epididimitis mungkin ada nyeri, pembengkakan dan demam ringan. Sistitis dan prostatitis lazim ditemukan dan pasien bisa tampil dengan sekret urethra yang ringan, leukositosis atau infeksi traktus uriarius. Pada pemeriksaan fisik, skrotum membesar, bisa terdapat funikulus spermatikus yang nyeri tekan dan palpasi menunjukkan epididimitis yang nyeri tekan dan menebal. Dapat sulit membedakan epididimitis dan torsio testis. II.5.3. Torsio indatid morgagni 3 Gejala dan tanda torsio hidatid morgagni tidak begitu hebat dan dominan dibandingkan torsio testis. Untuk menegakkan diagnosis kadang dibutuhkan operasi, walaupun torsio morgagni sebenarnya tidak perlu dibedah. II.5.4. Hernia inkarserata Bila isi hernia terjepit oleh cincin hernia disebut hernia inkarserata atau hernia strangulasi. Hernia inkarserata berarti isi kantong terperangkap tidak dapat kembali ke dalam rongga perut disertai akibatnya yang berupa gangguan passase atau vaskularisasi atau 7

vaskularisasi. Pada keadaan sebenarnya gangguan vaskularisasi telah terjadi pada saat terjepit dimulai, dengan berbagai tingkat gangguan mulai dari bendungan sampai nekrosis. Operasi darurat untuk hernia inkarserata merupakan operasi terbanyak nomor dua setelah operasi darurat untuk apendisitis. II.6. Prognosis Prognosis pasien dengan torsio testis berdasarkan waktu penanganan : 1,2 a. 100% b. 70% c. 50% dalam waktu 3 4 jam dalam waktu 6 12 jam dalam waktu 12 jam

II.7. Penatalaksanaan Setelah keputusan untuk operasi dibuat, maka tindakan ini harus dilakukan secepat mungkin, karena lebih lama waktu yang terlewatkan antara mulainya gejala dan perbaikan bedah, maka lebih besar kesempatan kehilangan testis. Buat insisi skrotum untuk memaparkan testis dan lanjutkan melalui tunika vaginalis. Apabila testis sudah dipastikan, lepaskan puntiran testis dan tunggu paling sedikit 5 menit untuk melihat apakah sirkulasi puntirannya dilepaskan dan tetap hitam bahkan setelah waktu 5 menit berlalu, maka khorda spermatikus diikat dua kali dan testis diangkat. Apabila testis berwarna keabuabuan (plum coloured), namun tidak jelas gangrenosa, atau apabila testis tidak jelas viabel, maka tunika albuginea difiksasi pada septum skrotum dengan 2 jahitan dan melalui insisi terpisah, testis yang lain difiksasi dengan cara yang sama. Skrotum ditutup dalam 2 lapis dengan catgut halus dan diberi balutan tekan untuk mengangkatnya ke atas.8

Gambar 23.2. Penanganan torsio testis membuat insisi pertama (A); tempat insisi pada tunika vaginalis, B Torsio dari testis, yang harus dilepaskan puntirannya searah dengan akan panah (C); Menginsisi testis gangrenosa (hitam) dan korda spermatikus diikat 2 kali (D); Memfiksasi tunika albuginea dari testis yang tidak gangrenosa pada septum skrotum (E); dan menutup luka dalam 2 lapis (F).

BAB III KESIMPULAN Torsio testis merupakan kasus gawat darurat sehingga harus mendapat penanganan dan intravensi yang tepat dan akurat. Penyelamatan testis dapat dilakukan bilamana segera mendapat penanganan dalam waktu kurang dari 5-12 jam. Dalam hal ini dituntut kemampuan seorang dokter untuk mendiagnosis torsio testis dan segera untuk melakukan tindakan bedah secepatnya (manipulatif yang selanjutnya diikuti dengan tindakan definitif). Hal ini supaya tidak meluas dan fungsi testis/organ sekitarnya dapat dipertahankan.

10

DAFTAR PUSTAKA

1. Anderson, Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Pathophysiology Clinical Concepts of Disease Processes, Edisi 4, EGC, Jakarta, 1995, hal. 1153. 2. Bailey H, Dudley HAF, Gawat Darurat Genito/Uriner Penis, Testis dan Skrotum dalam Ilmu Bedah Gawat Darurat, Edisi II, London, 1992. 3. De jong, Sjamsuhidajat, Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi revisi, EGC, Jakarta, 1998, hal. 1083-1084. 4. Leonhardt, Atlas dan Buku Teks Anatomi Manusia , Bagian 2, EGC, Jakarta, 1988, hal. 258-260. 5. Sabiston DC, Jr. M.D., Sistem Urogenitas dalam Sabiston, Buku Ajar Bedah , Bagian II, EGC, Jakarta, 1998, hal. 491-491. 6. Sachdeva R.K. Catatan Ilmu Bedah, Edisi 5, Hipocrates, Jakarta, 1996, hal. 260261. 7. Theodore, R. Schrock MD, Handbook of Surgery, edisi 7, EGC, Jakarta, 1983, hal 341. 8. Wasunna, A.E.O, Sankaran B, Cook, J., Penatalaksanaan Bedah Umum di Rumah Sakit : General Surgery at the district hospital ; WHO, EGC, Jakarta, 1998, hal 190-191.

11

HALAMAN PENGESAHAN Telah dipresentasikan dan disetujui Referat dengan judul :

TORSIO TESTIS
Diajukan untuk memenuhi sebagai tugas tambahan ujian akhir Program Pendidikan Profesi di Bagian Ilmu Bedah

Hari/Tanggal :

Februari 2003

Tempat : RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto

Menyetujui :

Dr. H. Yazid Achari, Sp.BO

ii 12

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas hidayah, rahmat dan anugerah-Nya sehingga penulis telah menyelesaikan tugas dalam pembuatan referat untuk memenuhi sebagai tugas tambahan ujian akhir program pendidikan di Bagian Ilmu Bedah, dengan judul :

TORSIO TESTIS
Penulisan referat ini dapat terwujud atas bantuan berbagai pihak, maka pada kesempatan ini ingin mengucapkan terima kasih kepada : 1. Dr. Yazid Achari, Sp.BO selaku dosen pembimbing materi. 2. Ditryas Arnindiani 3. Semua pihak yang tidak mungkin disebutkan satu persatu yang telah memberikan bantuannya. Akhir kata penulis juga menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan referat ini mengharapkan kritik dan saran, serta harapan penulis semoga referat ini dapat menambah pengetahuan. Amien. Purwokerto, Februari 2003 Penulis

13ii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.....................................................................................................i HALAMAN PENGESAHAN......................................................................................ii KATA PENGANTAR.................................................................................................iii DAFTAR ISI...............................................................................................................iv BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1 I.1. Latar Belakang......................................................................................1 I.2. Tujuan Penulisan...................................................................................1 BAB II TINJUAN KEPUSTAKAAN.......................................................................2 II.1. Definisi .................................................................................................2 II.2. Anatomi.................................................................................................2 II.3. Patofisiologi..........................................................................................4 II.4. Diagnosis...............................................................................................5 II.4.1. Anamnesis.................................................................................5 II.4.2. Pemeriksaan Fisik......................................................................5 II.5. Diagnosis Banding................................................................................6 II.6. Prognosis...............................................................................................7 II.7. Penatalaksanaan....................................................................................7 BAB III KESIMPULAN............................................................................................9 DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................10

iv 14

Anda mungkin juga menyukai