Anda di halaman 1dari 13

Membangun Komunitas Dialogal

Adanya macam-macam agama dan iman kepercayaan di dunia kita adalah suatu kenyataan. Berhadapan dengan kenyataan tersebut, setiap orang dan umat beriman disapa untuk mengambil sikap. Dewasa ini semakin jelas arus pemahaman dan sikap yang menegaskan bahwa agama mempunyai makna dalam kehidupan bermasyarakat. Sekularisme tanpa agama ditolak. Begitu pula hrs ditolak mental ghetto, komunalisme, primordialisme maupun fundalisme agresif.

Perjumpaan antar Umat Beriman dalam kenyataan pluralisme religius

Paradigma Pluralis Dialogal Pendekatan yang dipilih adalah paradigma pluralis dialogal, bukan apriori-konseptual, bukan pula komparatif-evaluatif. Pendekatan dialogal mengakui pluralisme sekaligus menganggap dialog sebagai suatu penting, bahkan suatu keharusan. Pendekatan ini menghargai dan menempatkan yang lain dari perspektif saya, dan menempatkan saya dalam kehadiran yang lain. Mendekati hubungan antar umat beriman dan umat beragama secara dialogal berarti mendekati dari bawah, yakni dari agama sebagai gejala sosial, sebagai umat beragama.

Empat Macam Paradigma

Untuk memperjelas paradigma dialogal yang dipilih di sini baiklah dikemukakan tiga macam paradigmata lainnya (bdk. Amaladoss 1989; DCosta 1986; Knitter 1985; Race 1983).

1. Paradigma Eksklusif(is)

Menurut kerangka berpikir ini orang tidak akan diselamatkan kecuali kalau mengakui iman yang saya akui, kecuali memeluk agama yang saya peluk. Agama-agama lain barangkali mempunyai banyak hal baik, tetapi agama-agama lain tidak menjadi mediasi keselamatan. Hanyalah agama saya yang menjadi mediasi keselamatan. Kalau paradigma ini dikenakan dalam agama Kristen, maka hanyalah dalam agama Kristen, hanyalah dalam Gereja ada keselamatan, di luar Gereja tidak ada keselamatan.

Evaluasi Kritis

Paradigma eksklusifis ini tidak dapat diterima, karena bersikap negatif terhadap atau bahkan merendahkan agama-agama lain yang tidak saya peluk. Kecuali itu, paradigma ekslusifis tidak melihat kenyataan, bahwa umat beragama bagaimanapun juga adalah kenyataan manusiawi dan karena itu terbatas. Paradigma ini secara jelas ditolak oleh Vatikan II.

2. Paradigma Inklusif(is)

Paradigma inklusifis menerima kemungkinan adanya pewahyuan dalam agama-agama lain, yang juga menjadi mediasi keselamatan bagi mereka yang memeluknya. Namun akhirnya keselamatan yang mereka terima entah bagaimana juga melalui unsur yang menentukan dalam agama saya. Kalau paradigma inklusifis ini dikenakan dalam agama Kristen, maka berarti bahwa orang-orang beragama lain juga akan diselamatkan, yakni melalui Yesus Kristus, juga kalau mereka tidak menyadari atau tidak mengakui hal itu.

Evaluasi Kritis

Pandangan inklusifis ini barangkali merupakan pandangan yang agak umum dan menampakkan sikap simpatik merangkul yang lain. Namun jawaban yang diberikan bersifat apriorinormatif. Jawaban demikian ini meskipun menaruh simpati terhadap agama-agama lain toh kurang menempatkan agama lain sebagaimana dialami dan dipeluk oleh bersangkutan dengan kategori-kategori yang ada dalam agama tersebut. Maka sebagai paradigma hubungan antar umat beragama yang kurang operasional, kurang tegas membuka kemungkinan bahwa melalui pertemuan antar umat beriman, yang satu dapat diperkaya oleh yang lain.

3. Paradigma Pluralis Indiferen

Semua agama dengan cara masing-masing menempuh jalan keselamatan menuju Yang Mutlak, the ultimate, menuju Allah. Demikianlah Yesus Kristus adalah jalan keselamatan bagi orang-orang Kristen, Al-Quran bagi para pemeluk agama Islam, Budha bagi para pemeluk agama Budha, Krisna atau Rama bagi para pemeluk agama Hindu dan sebagainya. Paradigma ini dapat dikatakan merupakan suatu pengakuan yang bersifat theosentris, dalam arti bahwa bagaimanapun juga agama-agama itu melalui jalannya masing-masing toh sedang menuju kepada Yang Mutlak, menuju Allah yang sama.

Evaluasi Kritis

Paradigma ini tampak sangat terbuka, namun sekaligus tidak cukup serius terhadap agama. Orang bersikap indiferen dan mengatakan bahwa semua agama sebenarnya sama saja. Perbedaan-perbedaan, bahkan barangkali pertentangan visi dan orientasi antara agama-agama yang satu dengan yang lain tidak dperlakukan sewajarnya. Pluralisme agama hanyalah dipandang semacam varian dari banyak ekspresi yang berbeda mengenai kenyataan atau pengalaman yang sama.

4. Paradigma Pluralis Dialogal.


Paradigma ini mengakui kenyataan pluralisme iman dan agama. Paradigma ini jelas menolak paradigma ekslusifis, dan dapat dikatakan berada di antara paradigma inklusifis dan plluralis indeferen. Memang paradigma pluralis, tetapi tidak indiferen. Saya meyakini bahwa agama dan iman saya sekarang ini adalah yang paling dapat saya pertanggungjawabkan dan karena itu saya anut dengan sepenuh hati. Kekhasan masing-masing agama dan iman diakui, sekaligus masing-masing melalui dialog dapat menyumbangkan kekayaannya.

Berhadapan dengan umat beragama dan beriman lain

Berhadapan dengan umat beragama dan beriman lain kita mendengarkan, membiarkan diri disapa oleh iman dan kehidupan mereka. Kita berusaha mengerti dan memahami dan bersedia diperkaya oleh mereka. Kita sanggup secara jujur terbuka dan berbagi kekayaan agama dan iman kita, kita bersedia memperkaya agama dan iman lain. Dalam dialog kita tidak membuat perbandingan dan evaluasi mana yang benar, mana yang salah. Kita menempatkan umat beragama dan beriman lain dari perspektif agama dan iman kita. Kita menghormati jatidiri mereka tanpa mereduksi mereka pada agama dan iman kita, tanpa melebur satu sama lain.

Evaluasi Kritis

Paradigma ini mengambil serius baik agama dan iman saya maupun agama dan iman lain, dan dengan demikian terbukalah kemungkinan optimal untuk dialog dan saling memperkaya. Di tengah-tengah pluralisme religius yang berhubungan satu sama lain secara dialogal dan sikap serta jatidiri masing-masing dapat diungkapkan dan diperkembangkan.

Yang Perlu Diperhatikan

Paradigma ini tidak hanya baik demi kerukunan antar umat beriman dan beragama dalam mengatur kehidupan bersama dan menjalankan aksi bersama. Juga baik demi keseluruhan penghayatan agama dan iman yang lebih mendalam dan bertanggungjawab. Melalui paradigma pluralis dialogal dapat diusahakan perjumpaan visi dan orientasi yang hidup di antara umat beragama dan umat beriman, dapat ditemukan daratan-daratan dialog dan transformasi yang mungkin diperkembangkan. Keuntungan dari pendekatan ini semoga menjadi semakin jelas dalam pembicaraan selanjutnya.