Anda di halaman 1dari 4

AKHIR CINTA DISTY 12 April 2010 Sudut sepi kembali menyergap, menyergap kapan saja dan dimana saja,

bahkan ketika sesuatu yang penting tak pernah aku sadari sebelumnya. Dingin membeku dan hampir merontokkan cintaku yang kini telah meleleh. adiit teriakku untuk kesekian kalinya. Tetap saja ia tak pernah menghiraukanku atau bahkan tak sedikitpun, mendengar ucapanku. Ia tetap meneruskan jalannya yang 2* lebih cepat dariku. Sakit rasanya. *** 26 April 2010 2 minggu aku terus menunggu pesan dari Adit, aku berharap ia dapat mengerti. Dan akhirnya (ku kan setia menjagamu bersama dirimuu, dirimuu) nada itu mengalun, dan penantianku selama ini akhirnya pupus setelah adit berpesan Semuanya telah berakhir dis, Entah kapan kita bisa bertemu lagi Besok aku akan pergi ke Bangkok menyusul ayah dan kak Rey. Terima kasih untuk semuanya Dis, Setelah membaca itu aku benar-benar terpukul, Karena semua yang aku harapkan, yaitu bisa selalu bergelayut mesra di lenganmu raib sudah. Entah kapan aku akan sanggup menghapus jejakmu 2 Mei 2010 Hujan turun disertai hentakkan keras sang kilat mega hingga menginjakkan kakinya di bumi. Disty, masih saja melihat tetesan hujan sambil melihat wajahnya di pantulan jendela kamarnya. Warna tumbuhan yang hijau ia rasakan begitu damai. andai saja Adit disini jawab Disty, ucapannya begitu pelan dan disertai nada panjang, membuat jendela sedikit beruap. Disty menulis di uap itu, Adit & Disty dan membiarkannya menghilang. Pagi yang indah, tapi tak seindah ketika aku bersama Adit, aku memang tak kenal lama dengan Adit, meskipun dia kekasih Dina sahabatku, tapi hati ini tak bisa berbohong dan mencoba menghilang dengan mudah bagai membalikkan telapak tangan. aku tau, lo marah ama gw dit, ini memang gila seruku sambil duduk di sofa sebelah tempat tidurku seraya memeluk dua kakiku yang terlipat. Terdengar suara yang muncul semakin dekat dis, ada Dina tuh. Teriak mama dari luar kamar, sambil membuka pintu oh iya !!! jawabku sambil keluar dan menemui Dina. Dina maafkan aku, mungkin ini gila dan cukup tragis, aku tahu kamu sayang sama Adit, aku juga tahu itu tapi memang ini jalan terakhir, aku akan mencoba lupakan adit.. eh, dina . . sapaku sambil ambil posisi disebelahnya. jalan yuk, ke kafe biasa, temenin gw yah !! pinta dina sambil sedikit berbisik. iya, bentar ya. Ganti baju dulu jawabku sambil sedikit berjalan ke tangga. iya akhir dina. Suara lagu klasik setia menemani keberadaan dua sahabat yang dari SMP berteman ini. Disty yang punya sifat ceria, pintar, dan cantik. Sedangkan Dina yang punya sifat pendiam, baik hati, dan manis. Mereka berdua juga berurutan dalam absen dan selalu Dina baru Disty, banyak hal yang telah mereka lalui. Sekarang mereka pun SMA di tempat yang sama yaitu SMA Bhakti Bulan, gak jauh dari rumah dina. gw heran sama sikap Adit, yang tambah perhatian wah bagus dong ! jawabku meskipun perih dan ternyata Adit memang tak pernah menghiraukanku. iya, nih liat video aku pas ulang tahun dia. Romantis kan ? sambil memperlihatkan video yang benar-benar membuat hati sakit dan terpukul.

Selama Disty suka sama Adit, kemesraan yang diperlihatkan Adit semakin gencar, jelas ! penolakan secara tak langsung membuat hati perih dan Disty harus pintar-pintar menutupi perasaannya, dan sebagai sahabat karib ia harus ikut senang juga melihat sahabatnya itu. Ukh, akhirnya selesai Ya tuhan, kenapa aku suka sama Adit ? pacar sahabatku sendiri ? Ya tuhan, aku ini bersalah Doaku secara tak langsung ketika pertemuan itu selesai, Aku kembali duduk di Sofa kembali memeluk kakiku yang terlipat Sejenak aku diam dan menutup jendela karena malam telah semakin surut. 3 mei 2010 Pagi menjelang, matahari telah muncul dan duduk manis di langit yang biru dan udara yang cukup bersahabat. Untuk udara sekelas kota Bandung yang dinginnya bisa menusuk tulang, apalagi aku tinggal di hampir lereng gunung. Aku mencoba mengingat, Kenapa Adit lagi Adit lagi ? selalu ada bayangan adit yang benar nyata terlintas difikiranku, Tadi pagi aku sarapan, dan aku terbayang ketika Adit bilang makan yang banyak yah Terus baru saja aku mengulas wajahku dengan bedak, aku terfikir kala Adit bilang udah cantik ko !! akkkkkkkkkkkhhhhhhhhhhhh teriakku dalam hati sambil mengusutkan rambutku. Aku baru sadar, besok ulang tahun Dina yang ke 17, wah sweet seventeen pasti adit datang. Disty inget, Adit hanya punya Dina, sahabat lo !!! seruku sambil pergi sekolah. *** Bel berbunyi, namun Disty masih saja duduk di kelas sambil melihat Kartu undangan yang diberi Dina tadi saat istirahat. Waktu menunjukkan pukul 14.52 , tapi Disty tetap tak bergeming dari tempat duduk yang memang paling sudut depan meja guru. Ketika ia sadar waktu telah menelannya jauh lebih dalam ke dalam lamunan kosong, ia lihat jam dinding di belakangnya. hah udah jam 3 sore !! seru Disty, Tiba-tiba muncul kembali bayangan Adit yang duduk bersilangan dengannya tepat di sudut paling belakang sebelah kanannya ketika ia menoleh tadi. mau terus duduk disitu, bukannya kamu pernah bilang kelas kamu angker ya, apalagi tempat yang aku dudukin sekarang ? sambil tersenyum Adit, menatapku. Tapi saat aku mengedip, bayangannya hilang. Aku segera lari meninggalkan kelas, dan lari di koridor yang terasa tak ada ujungnya. 4 mei 2010 Hari ini hari yang special buat sahabatku, karena di umur yang sudah 17 ini umur yang menjadi pintu segalanya, bisa punya KTP dan SIM jadi kalo Dina antar aku ke Toko Buku kita gak usah menghindar dari kejaran Pak Toto, Polisi lalu lintas yang selalu nge.gap aku dan Dina karena gak punya SIM dan KTP. Umur 17 yang kata orangtua baru boleh pacaran, dan bisa nonton film dewasa yang terbatas umur di umur 17, Disty telah takut melalui hari ini, ingin sekali Disty meminta pada tuhan untuk loncat ke tanggal 5. Tapi mau gak mau Disty harus siap dengan segalanya dan ketemu dengan Adit. Disty datang lebih awal dari undangan yang meminta para tamu undangan datang pukul 10.00. Sedangkan Disty datang 1 jam sebelumnya. Dengan dibalut baju dress panjang selutut, highheels berpita berwarna jeruk, rambut yang di gelung dengan tusuk konde setengah dari rambutnya, dan lipgloss pink membuat Disty cantik, lain dari biasanya yang apa adanya. Meskipun selalu paling cantik, tetap saja selalu Dina yang mendapatkan

segalanya. Semua cowok yang Disty suka, selalu lebih suka ke Dina. eh, dis, kok kamu dateng jam segini ? tanya Dina, dengan baju tidur yang baru akan dirias. aku ada urusan, jadi harus datang lebih awal. Happy birthday ya My Bestfriend sulit sekali Disty mengucapkan Bestfriend, dalam fikirannya apakah dia masih layak dipanggil sahabat ? oh, iya. Ngga makan dulu ? tanya Dina, sambil menuntun Disty duduk di meja yang dipenuhi minuman, dan kue. aku ke Florist dulu ya, katanya ada pembukaan cabang lagi pinta Disty. dasar mama kamu, pinter banget kalo soal bunga akhir Dina. Waktu menunjukkan pukul 10.30, Aku kembali datang dengan sepuket bunga Lili kuning kesukaan Dina. Aku mempercepat langkah, tapi tertahan dari balik pintu dan mencoba melihat hal ini untuk kesekian kalinya. Satu tetes air mataku tumpah ketika hati ini benar-benar sakit, beberapa tetes lagi air mataku tumpah lebih banyak, aku mencoba menahan, tapi terlalu sering aku menahannya. Menahan ketika Adit, kirim sms AKU HANYA CINTA KAMU ke ponsel Dina, tepat ketika aku menyatakan cinta ke Adit. Menahan ketika Adit mencium kening Dina dihadapanku. Puket itu jatuh seketika, aku segera meninggalkan halaman rumah Dina dan mengundurkan niat untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Aku pergi ke tempat yang paling indah, diatas gedung ayah. Disana aku bisa nangis, dan teriak tanpa terusik siapa pun. Tuhan jelaskan kenapa aku terlalu cinta sama pacar sahabatku sendiri, ini jelas salah dan terlalu ganjil. Aku gak bisa lihat Adit untuk kesekian kalinya mencium kening Dina seperti tadi. Aku rela 1000 cowok yang aku suka lebih suka sama Dina, tapi tolong lepaskan Adit untuk aku sebenarnya aku cape selalu jadi tokoh dibalik layar Dina, Dina selalu dapat pujian dari para lelaki yang aku suka, banyak yang bilang Dina lebih manis daripada aku. Tapi gak apa-apa aku rela, aku turut senang kalo sahabat aku senang. Sudah cukup pengorbanan aku ? tanyaku dengan menatap ke bawah gedung. Tak lama ketika Disty berkata seperti itu, Adit dan Dina datang. Mereka melihat Disty jauh lebih nekat, entah kenapa dia berani duduk dipinggir gedung. Dina menganggap Disty mau bunuh diri, namun ketika Adit mengulurkan tangannya Disty terpeleset dan kalian pasti dapat menyimpulkan sendiri. Disty jatuh dari gedung setinggi 102 m. Entah takdir atau memang Disty dapat duga, ia sempat merekam suara terakhirnya yang bicara hai Adit, hai Dina !!, sahabat baikku dari dulu. Maafkan aku ya Dina, aku sebenarnya mencintai Adit. Tapi aku harus melupakan Adit, karena aku tahu Adit gak akan pernah jadi milik aku. Aku juga bingung kenapa dari sekian banyak lelaki Adit lah yang aku suka, tapi aku akan coba lupakan rasa ini meski perih banget. Kamu akan selalu jadi sahabat aku, kapanpun din, sampai mati din, dan Adit, jagain sahabat aku ya saat aku gak ada disisinya. Meskipun cinta aku sama kamu dalem banget tapi aku akan simpan itu sebagai kenangan indah meski berakhir sulit. Dah 3 bulan setelah kepergian disty, Dina menjadi pendiam dan stress berat, sampai harus di rawat di RSJ. Adit pun masih terus

dihantui rasa bersalah. Dan sekarang Disty telah damai di tempat yang gak akan membuatnya menangis lagi.