Anda di halaman 1dari 21

Disfagia (kesulitan Menelan)

PENDAHULUAN Disfagia berasal dari bahasa Yunani yang berarti gangguan makan. Disfagia biasanya merujuk kepada gangguan dalam makan sebagai gangguan dari proses menelan. Disfagia dapat mejadi ancaman yang serius terhadap kesehatan seseorang karena adanya resiko pneumonia aspirasi, malnutrisi, dehidrasi, penurunan berat badan, dan sumbatan jalan napas. Beberapa penyebab telah di telah ditujukan terhadap disfagia pada populasi dengan kondisi neurologis dan non neurologis. Gangguan yang menyebabkan disfagia dapat mempengaruhi fase oral, faringeal, atau esofageal dari fase menelan. Anamnesa yang lengkap dan pemeriksaan fisik yang seksama adalah penting dalam diagnosis dan pengobatan dari disfagia. Pemeriksaan fisik di tempat tidur harus menyertakan pemeriksaan leher, mulut, orofaring, dan laring. Pemeriksaan neurologis juga harus dilakukan. Beberapa pemeriksaan menelan juga telah diajukan, namun pemeriksaan menelan dengan videofluoroscopic diterima sebagai pemeriksaan standart untuk mendeteksi dan menilai kelainan menelan. Metode ini bukan saja mampu memperkirakan resiko aspirasi dan komplikasi respirasi namun juga membantu dalam menentukan strategi diet dan komplikasi. Pemeriksaan endoskopi serat optik mungkin diperlukan. Gangguan menelan oral dan faringeal biasanya mampu untuk rehabilitasi, termasuk modifikasi diet dan pelatihan tehnik dan manuver menelan. Pembedahan jarang diindikasikan untuk pasien dengan gangguan menelan. Pada pasien dengan gangguan yang parah, memintas rongga mulut dan faring didalam keseluruhannya dan memberikan nutrisi enteral mungkin diperlukan. Pilihan yang tersedia antara lain percutaneous endoscopic gastrostomy dan kateterisasi oroesophageal intermiten.

EPIDEMIOLOGI Disfagia telah dilaporkan dalam beberapa jenis gangguan, dan dapat digolongkan sebagai neurologis dan non neurologis. meskipun disfagia mencakup banyak variabel, juga sangat berpengaruh terhadap hasil pengobatan. Gangguan menelan neurologis ditemui lebih sering pada unit rehabilitasi medis daripada spesialisasi kedokteran lainnya. Stroke adalah penyebab utama dari disfagia neurologis. Sekitar 51-73% pasien dengan stroke mengalami disfagia, yang merupakan faktor resiko bermakna berkembangnya pneumonia, hal ini dapat juga menunda pemulihan fungsional pasien. Pneumonia terjadi pada sekitar 34% dari seluruh kematian terkait stroke dan merupakan penyebab kematian ketiga terbanyak pada bulan pertama setelah mengalami stroke, meskipun tidak seluruh kasus pneumonia berkaitan dengan aspirasi makanan.

Oleh karenanya, deteksi dini dan pengobatan disfagia pada pasien yang telah mengalami stroke adalah sangat penting. FISIOLOGI MENELAN Selama proses menelan, otot-otot diaktifkan secara berurutan dan secara teratur dipicu dengan dorongan kortikal atau input sensoris perifer. Begitu proses menelan dimulai, jalur aktivasi otot beruntun tidak berubah dari otot-otot perioral menuju kebawah. Jaringan saraf, yang bertanggung jawab untuk menelan otomatis ini, disebut dengan pola generator pusat. Batang otak, termasuk nucleus tractus solitarius dan nucleus ambigus dengan formatio retikularis berhubungan dengan kumpulan motoneuron kranial, diduga sebagai pola generator pusat. Tiga Fase Menelan Deglutition adalah tindakan menelan, dimana bolus makanan atau cairan dialirkan dari mulut menuju faring dan esofagus ke dalam lambung. Deglutition normal adalah suatu proses halus terkoordinasi yang melibatkan suatu rangkaian rumit kontraksi neuromuskuler valunter dan involunter dan dan dibagi menjadi bagian yang berbeda: (1) oral, (2) faringeal, dan (3) esophageal. Masing-masing fase memiliki fungsi yang spesifik, dan, jika tahapan ini terganggu oleh kondisi patologis, gejala spesifik dapat terjadi. Fase Oral Fase persiapan oral merujuk kepada pemrosesan bolus sehingga dimungkinkan untuk ditelan, dan fase propulsif oral berarti pendorongan makanan dari rongga mulut ke dalam orofaring. Prosesnya dimulai dengan kontraksi lidah dan otot-otot rangka mastikasi. Otot bekerja dengan cara yang berkoordinasi untuk mencampur bolus makanan dengan saliva dan dan mendorong bolus makanan dari rongga mulut di bagian anterior ke dalam orofaring, dimana reflek menelan involunter dimulai. Cerebellum mengendalikan output untuk nuklei motoris nervus kranialis V (trigeminal), VII (facial), dan XII (hypoglossal). Dengan menelan suatu cairan, keseluruhan urutannya akan selesai dalam 1 detik. Untuk menelan makanan padat, suatu penundaaan selama 5-10 detik mungkin terjadi ketika bolus berkumpul di orofaring. Fase Faringeal Fase faringeal adalah sangat penting karena, tanpa mekanisme perlindungan faringeal yang utuh, aspirasi paling sering terjadi pada fase ini. Fase ini melibatkan rentetan yang cepat dari beberapa kejadian yang saling tumpang tindih. Palatum mole terangkat. Tulang hyoid dan laring bergerak keatas dan kedepan. Pita suara bergerak ke tengah, dan epiglottis melipat ke belakang untuk menutupi jalan napas. Lidah mendorong kebelakang dan kebawah menuju faring untuk meluncurkan bolus kebawah. lidah dubantu oleh dinding faringeal, yang melakukan gerakan untuk mendorong makanan kebawah.

Sphincter esophageal atas relaksasi selama fase faringeal untuk menelan dan dan membuka oleh karena pergerakan os hyoid dan laring kedepan. Sphincter akan menutup setelah makanan lewat, dan struktur faringeal akan kembali ke posisi awal. Fase faringeal pada proses menelan adalah involunter dan kesemuanya adalah reflek, jadi tidak ada aktivitas faringeal yang terjadi sampai reflek menelan dipicu. Reflek ini melibatkan traktus sensoris dan motoris dari nervus kranialis IX (glossofaringeal) dan X (vagus). Fase Esophageal Pada fase esophageal, bolus didorong kebawah oleh gerakan peristaltik. Sphincter esophageal bawah relaksasi pada saat mulai menelan, relaksasi ini terjadi sampai bolus makanan mecapai lambung. Tidak seperti shincter esophageal bagian atas, sphincter bagian bawah membuka bukan karena pengaruh otot-otot ekstrinsik. Medulla mengendalikan reflek menelan involunter ini, meskipun menelan volunter mungkin dimulai oleh korteks serebri. Suatu interval selama 8-20 detik mungkin diperlukan untuk kontraksi dalam menodorong bolus ke dalam lambung. PATOFISIOLOGI Gangguan pada proses menelan dapat digolongkan tergantung dari fase menelan yang dipengaruhinya. Fase Oral Gagguan pada fase Oral mempengaruhi persiapan dalam mulut dan fase pendorongan oral biasanya disebabkan oleh gangguan pengendalian lidah. Pasien mungkin memiliki kesulitan dalam mengunyah makanan padat dan permulaan menelan. Ketika meminum cairan, psien mungki kesulitan dalam menampung cairan dalam rongga mulut sebelum menelan. Sebagai akibatnya, cairan tumpah terlalu cepat kadalam faring yang belum siap, seringkali menyebabkan aspirasi. Logemann's Manual for the Videofluorographic Study of Swallowing mencantumkan tanda dan gejala gangguan menelan fase oral sebagai berikut: Tidak mampu menampung makanan di bagian depan mulut karena tidak rapatnya pengatupan bibir. Tidak dapat mengumpulkan bolus atau residu di bagian dasar mulut karena berkurangnya pergerakan atau koordinasi lidah. Tidak dapat menampung bolus karena berkurangnya pembentukan oleh lidah dan koordinasinya.

Tidak mampu mengatupkan gigi untukmengurangi pergerakan madibula. Bahan makanan jatuh ke sulcus anterior atau terkumpul pada sulcus anterior karena berkurangnya tonus otot bibir. Posisi penampungan abnormal atau material jatuh ke dasar mulut karena dorongan lidah atau pengurangan pengendalian lidah. Penundaan onset oral untuk menelan oleh karena apraxia menelan atau berkurangnya sensibilitas mulut. Pencarian gerakan atau ketidakmampuan unutk mengatur gerakan lidah karena apraxia untuk menelan. Lidah bergerak kedepan untuk mulai menelan karena lidah kaku. Sisa-sisa makanan pada lidah karena berkurangnya gerakan dan kekuatan lidah. Gangguan kontraksi (peristalsis) lidah karena diskoordinasi lidah. Kontak lidah-palatum yang tidaksempurna karena berkurangnya pengangkatan lidah. Tidak mampu meremas material karena berkurangnya pergerakan lidah keatas. Melekatnya makanan pada palatum durum karena berkurangnya elevasi dan kekuatan lidah Bergulirnya lidah berulang pada Parkinson disease.

erapi Terkini Pada Gangguan Menelan Paska Stroke

Stroke, penyakit ini sangat menghantui dan ditakuti. Betapa tidak, mereka yang dinyatakan kondisi fisiknya sehat oleh dokter, secara mendadak dapat terserang stroke tanpa pandang bulu, baik pria maupun wanita, tua atau muda. Serangan stroke dapat terjadi jika pembuluh darah yang membawa darah ke otak pecah atau tersumbat atau karena terjadinya gangguan sirkulasi pembuluh darah yang menyediakan darah ke otak. Serangan stroke dapat menyerang siapa saja terutama penderita penyakit-penyakit kronis. Akan tetapi, pada umumnya stroke rentan terjadi pada penderita tekanan darah tinggi. Untuk itu penderita penyakit kronis haruslah mewaspadai dan mengantisipasi terjadinya serangan stroke. Gejala stroke tidak selalu muncul pada kondisi yang berat. Serangan stroke ringan dapat diatasi dan kondisi pasien dapat pulih kembali sepenuhnya, bahkan dapat beraktivitas dan produktif seperti semula apabila serangan stroke ditangani dengan cepat dan tepat. Sedangkan penanganan yang terlambat akan mengantarkan pada kondisi yang parah seperti kelumpuhan total, atau bahkan mengantar penderita pada kematian. Salah satu gangguan yang diakibatkan oleh stroke adalah gangguan menelan atau yang biasa disebut dengan disfagia. Dr. Djamal Tahitoe, Sp.RM, dokter full time RS Telogorejo Semarang spesialis Rehabilitasi Medik, menerangkan bahwa disfagia adalah gangguan menelan yang menyebabkan kesulitan dalam menelan dari mulut ke kerongkongan yang mengarah ke perut. Hal ini disebabkan karena kritik dan penyempitan kerongkongan yang membuat sulit menelan. Ini menjadi masalah yang menyakitkan terutama jika penderita mencoba untuk menelan daging atau produk makanan lainnya. Penderita dapat merasakan makanan yang menempel di kerongkongan di tengah dada, yang bisa sangat tidak menyenangkan. Disfagia bisa begitu parah sehingga menelan cairan bisa menjadi sulit,terangnya. Menurut dr. Djamal, berdasarkan penyebabnya disfagia dibagi menjadi 3 bagian, yaitu disfagia mekanik yaitu

sumbatan rongga esophagus oleh massa, peradangan, penyempitan, atau penekanan dari luar. Yang kedua adalah disfagia motorik yaitu adanya kelainan pada sistem syaraf yang berperan dalam proses menalan dan yang terakhir adalah disfagia karena gangguan emosi. Sedangkan tanda-tanda umum ataupun gejala untuk mengenali gangguan pada menelan misalnya saja biasanya tidak mampu menampung makanan dibagian de pan mulut ditandai dengan bibir tidak terkatup rapat. Gejala-gejala lainnya salah satunya adalah bahan makanan jatuh didasar mulut akibat pengendalian lidah kurang. Makanan yang sudah diolah dimulut tidak dapat diletakkan pada sisi lidah belakang. Lidah menjulur kedepan pada saat menelan dikarenakan lidah kaku dan penundaan onset menelan akibat sensibilitas mulut berkurang,terangnya. Namun, kini para penderita gangguan menelan paska stroke dapat berharap untuk bisa menikmati kembali makanan melalui tenggorokannya lagi. Saat ini RS Telogorejo telah memiliki alat Vital Stim yang merupakan salah satu alat hasil inovasi teknologi terkini dalam pelayanan Speech Therapy (terapi wicara) yang sudah berstandat FDA (Food and Drug Administration) yang menggunakan arus AC yaitu berupa gelombang berbentuk rectangular symetrical biphasic dengan frekwensi 80 Hz. Alat terapi yang dikenal dengan Vital Stim ini menggunakan stimulasi elektrik yang akan membantu otot -otot tenggorokan untuk bisa berkontraksi dan relaksasi secara normal lagi. Keberhasilan alat tersebut benar-benar membantu penderita stroke yang tidak bisa menelan. Rasanya tidak sakit sama sekali, hanya seperti ada yang menggelitik saja di tenggorokan,terangnya. Selain gangguan menelan paska stroke, tanda dan gejala yang juga memerlukan penggunaan alat Vital Spim adalah kelemahan otot pharingeal akibat kemoterapi, sering tersedak saat makan atau minum, adanya rasa nyeri saat menelan dan memiliki riwayat operasi daerah leher. Bagi anda penderita gangguan menelan yang ingin melakukan terapi Vital Stim ada dapat datang ke Graha Rawat Jalan Lantai 4 Rehabilitasi Medik RS Telogorejo, Jalan KH. Achmad Dahlan Semarang, telp. (024) 8448448 ext. 6421 / 6426. Dengan motto Special Care for Special People tentunya Rehab ilitasi Medik RS Telogorejo dapat memberikan pelayanan yang berbeda bagi setiap pasien meskipun memiliki keluhan yang sama. Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi Hotline Service 24 Jam RS Telogorejo 081 6666 340. (Dela)

GANGGUAN MENELAN (Disphalgia) Apakah Gangguan Menelan Itu ? Gangguan menelan adalah gejala terjadinya gangguan/kegagalan untuk mentransfer makanan dari rongga mulut ke arah lambung. Gejalanya bisa ringan sehingga tidak begitu disadari oleh penderita, sampai gejala berat, sehingga makanan sama sekali tidak dapat masuk ke lambung. Oleh karena itu gangguan tersebut diatas, intake makanan akan berkurang sehinbgga penderita makin kurus. Tidak jarang gangguan menelan dapat menimbulkan gejala tersedak, karena makanan masuk ke dalam jalan nafas (aspirasi paru). Lebih lanjut akan menimbulkan infeksi paru (pneumonia aspirasi) yang dapat berakibat fatal. Gangguan menelan dapat terjadi pada anak-anak, orang dewasa atau usia lanjut. Apa Penyebab Gangguan Menelan ? Penyebab gangguan menelan dapat bermacam-macam, yaitu adanya gangguan pada susunan syaraf pusat (stroke, tumor otak, dll). Gangguan sistem neuromuskuler yang berperan dalam proses menelan (akibat kencing manis, penyakit syaraf, dll), adanya gangguan sumbatan mekanik di rongga mulut, faring, laryng dan esophagus (pada anak amandel yang besar, radang atau tumor pada lidah, tenggorokan atau jalan makanan). Bagaimana Pengobatannya ? Penderita gangguan menelan ini sering melibatkan beberapa disiplin ahli, yaitu : ahli THT, Saraf, Gizi, dan Gigi Mulut. Saat ini RS Khusus THT-Bedah Proklamasi sudah mengembangkan Klinik Gangguan Menelan dengan metode mutakhir terpadu. Diagnosis ditegakkan dengan menggunakan alat modern endoscopic fiber optic nasofaringoscope, melakukan pemeriksaan FEES.

FEES (Flexible Endoscopy Evaluation of Swallowing). Pemeriksaan FEES adalah prosedir pemeriksaan yang bertujuan menilai proses gangguan menelan, dilanjutkan dengan tindakan atau maneuver (mengatur posisi), terapi untuk mengatur pola makan berdasarkan hasil pemeriksaan awal. Pemeriksaan FEES ini dilakukan dengan makan makanan berbagai konsistensi. Didampingi oleh dokter Rehabilitasi Medik dan ahli Gizi sehingga dapat dilakukan pengobatan dan dilatih maneuver (posisi) yang diperlukan supaya penderita menelan dengan aman, sehingga resiko aspirasi ke paru dapat dihindari. Siapa yang perlu dilakukan FEES ? 1. Penderita stroke, atau pasca stroke dan kelainan saraf lain yang menimbulkan gangguan menelan. 2. Penderita usia lanjut dengan gangguan menelan. 3. Penderita kanker kepala leher sesudah menjalani operasi, radiasi atau kemoterapi dengan gangguan menelan. 4. Penderita tumor di daerah kepala leher sehingga terjadi gangguan menelan. 5. Penderita yang sering mengalami tersedak makanan sehingga mengalami radang paru (Pneumonia Aspiration) Penyebab Gangguan Menelan
Penyebab Gangguan Menelan PERNAHKAH Anda merasakan tiba-tiba sulit menelan? Gangguan sulit menelan ini dalam istilah medis disebut disfagia. Terkadang orang sulit mengingat apa penyebabnya. American Academy of Family Physicians lewat Healthday News menguraikan beberapa penyebab yang mungkin menimbulkan disfagia. Sering menelan makanan terlalu cepat, atau akibat sering makan dengan porsi suap yang terlalu besar. Kurang minum air saat makan. Sering makan sembari berbaring. Mengalami gangguan atau cidera yang memengaruhi otot atau syaraf, seperti pernah mengalami stroke atau penyakit Parkinson. Bisa jadi ada kerusakan pada esofagus alias kerongkongan, seperti jaringan yang terluka akibat asam dari lambung. Mengalami gangguan kesehatan yang menyebabkan tekanan pada kerongkongan, seperti pembengkakan hati dan tiroid. Disfagia adalah gangguan Menelan yang menyebabkan Kesulitan dalam menelan dari mulut ke kerongkongan yang mengarah ke perut. Hal ini disebabkan karena striktur dan penyempitan pada kerongkongan yang membuat sulit menelan. Ini menjadi masalah yang menyakitkan terutama jika Anda mencoba untuk menelan daging atau produk makanan lainnya. Anda dapat merasakan makanan yang menempel di kerongkongan di tengah dada, yang bisa sangat tidak menyenangkan. Disfagia bisa mendapatkan begitu parah sehingga menelan cairan dapat menjadi repot. Makan menjadi tugas dengan kondisi ini. Tanda-tanda umum dan gejala Disfagia yang - Kesulitan dalam menelan makanan - Serangan batuk selama atau setelah makan

- Berulang serangan pneumonia - Kehilangan Berat badan tanpa alasan apapun - Perubahan kualitas suara setelah makan Disfagia bisa menghilangkan tubuh makanan yang tepat pada akhirnya mengarah pada penurunan berat badan dan kelemahan. Sulit bagi pasien disfagia untuk menghapus makanan, terjebak di tenggorokan, oleh batuk atau kliring tenggorokan. Oleh karena itu makanan memasuki paru-paru yang dapat menyebabkan infeksi serius yang berakibat pada pneumonia. Menelan masalah juga dapat disebabkan oleh pertumbuhan dari saku luar esofagus, terbentuk ketika dinding esofagus lemah. Saat Anda sedang tidur atau berbaring makanan yang terjebak dalam saku masuk kedalam faring. Dalam kondisi kerongkongan terlalu sempit, sehingga makanan yang terjebak mencegah bahan makanan lainnya dari memasuki perut. Disfagia dapat disebabkan karena otot dan saraf yang rusak digunakan untuk menelan. Orang yang menderita penyakit Parkinson mungkin memiliki masalah saat menelan. Cedera stroke atau kepala juga dapat mempengaruhi otot yang dapat menghambat gerakan mulut dan tenggorokan. Infeksi atau iritasi yang bisa mempersempit kerongkongan. Beberapa orang memiliki masalah menelan yang benar makanan dari lahir untuk misalnya lubang di atap mulut yang mengarah pada ketidakmampuan untuk mengisap. Home remedies untuk Disfagia Licorice (Glycyrrhiza glabra) membantu dalam mengurangi kejang dan pembengkakan. Ini mengurangi rasa sakit yang mempengaruhi saluran pencernaan. Hindari mengambil itu untuk waktu yang lebih lama jika menderita tekanan darah. Dosis dari 380 untuk 1.140 mg per hari dianjurkan. Slippery elm (Ulmus fulva) melindungi jaringan kesal dan mempromosikan penyembuhan. Dosis dari 60 sampai 320 mg per hari dianjurkan. Campurkan 1 sdt. bubuk slippery elm dengan air dan memilikinya tiga sampai empat kali sehari. Anda juga dapat menggunakan herbal Valerian (Valeriana officinalis), ubi Liar (Dioscorea villosa), St John wort (Hypericum perforatum), topi kepala (Scutellaria lateriflora) dan bunga Linden (Tilia cordata) dalam bentuk larutan atau teh. Untuk teh, gunakan 1 sdt masing-masing herbal untuk 1 cangkir air akan direndam selama 10 menit. Minum tiga kali sehari. Dalam bentuk tingtur menggunakan bagian yang sama dari ramuan ini 30 sampai 60 tetes tiga kali sehari. Peringatan: pembaca artikel ini harus melaksanakan semua tindakan pencegahan tetap mengikuti petunjuk pada pengobatan rumah dari artikel ini. Hindari menggunakan produk ini jika Anda alergi untuk itu. Tanggung jawab terletak dengan pembaca dan bukan dengan situs atau penulis.

Kelenjar tiroid, yang terletak di leher bagian depan, menghasilkan kumpulan hormon penting yang disebut hormon tiroid. Saat mengalami masalah, kelenjar tiroid bisa membesar dan menyebabkan kesulitan menelan. Ada beberapa penyakit yang menyerang tiroid, yang utama adalah hipertiroidisme, hipotiroidisme, Penyakit Graves, Penyakit Hashimoto, peradangan, atau kanker tiroid. 1. Hipertiroidisme (Hyperthyroidism) Ketika seseorang mengalami hipertiroidisme, kelenjar tiroid menghasilkan terlalu banyak hormon. Gejala hipertiroidisme bisa memicu masalah kecemasan.

Gejala-gejala kecemasan ini meliputi kegugupan, keringat berlebih, tangan gemetar, dan denyut jantung tidak teratur. Penderita pria mungkin mengalami disfungsi ereksi, sedangkan wanita berpontesi mengalami gangguan siklus menstruasi. Gejala umum lainnya termasuk penurunan berat badan yang tak dapat dijelaskan dan diare. Hipertiroidisme paling sering mempengaruhi wanita berusia antara 20 hingga 40 tahun. 2. Hipotiroidisme (Hypothyroidism) Hipotiroidisme terjadi ketika kelenjar tiroid tidak memproduksi hormon tiroid yang cukup. Sebagian besar gejala hipotiroidisme merupakan kebalikan dari gejala hipertiroidisme, meskipun tidak selalu demikian. Misalnya, seseorang dengan hipotiroidisme menemukan detak jantungnya melambat, alih-alih meningkat. Pasien mungkin juga merasa sangat lesu, kedinginan, mengalami peningkatan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, dan sembelit. Pasien pria mungkin mengalami disfungsi ereksi, dan wanita mengalami gangguan pada siklus menstruasi. 3. Penyakit Graves Penyakit Graves terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang kelenjar tiroid. Penyakit Graves lebih sering terjadi pada wanita antara usia 20 hingga 40 tahun. Beberapa gejala penyakit Graves mirip dengan hipertiroidisme seperti kecemasan dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan. Penyakit Graves sering disebut pula sebagai gondok karena kelenjar tiroid membesar dan berpotensi menimbulkan kesulitan bernapas. Gejala lain penyakit Graves meliputi mata bengkak atau gatal, keringat berlebihan, sensitivitas panas, dan kelemahan otot. 4. Penyakit Hashimoto Hashimoto merupakan penyakit dimana sistem kekebalan tubuh menyerang kelenjar tiroid, seperti penyakit Graves. Perbedaannya, pada penyakit Hashimoto produksi hormon tiroid menjadi turun, bukan meningkat. Beberapa gejala penyakit Hashimoto meliputi intoleransi terhadap cuaca dingin, gondok, kesulitan menelan, penambahan berat badan, dan kelelahan. Tanda-tanda lain akan termasuk sembelit, rambut beruban, ketidakteraturan menstruasi pada wanita, dan kesulitan berkonsentrasi.

5. Penyakit Tiroid Lain Sekitar 5 persen wanita mengalami bengkak kelenjar tiroid selama beberapa bulan setelah melahirkan. Kebanyakan wanita pada awalnya mengalami gejala seperti hipertiroidisme, dan kemudian berubah mengalami gejala mirip hipotiroidisme. Penyakit tiroid lain adalah kanker tiroid. Karena gejala kanker tiroid umumnya hanya berupa pembengkakan tiroid yang tidak spesifik, penting memeriksakan kelenjar tiroid secara teratur untuk mendeteksi adanya gangguan atau ketidaknormalan.[]

MENELAN (DEGLUTASI) DAN GANGGUAN MENELAN


Diposkan oleh Taufik Abidin oleh: Lalu W.J. Hardi

PENDAHULUAN Menurut kamus deglutasi atau deglutition diterjemahkan sebagai proses memasukkan makanan kedalam tubuh melaluimulut the process of taking food into the body through the mouth. Proses menelan merupakan suatu proses yang kompleks, yang memerlukan setiap organ yang berperan harus bekerja secara terintegrasi dan berkesinambungan. Dalam proses menelan ini diperlukan kerjasama yang baik dari 6 syaraf cranial, 4 syaraf servikal dan lebih dari 30 pasang otot menelan. Pada proses menelan terjadi pemindahan bolus makanan dari rongga mulut ke dalam lambung. Secara klinis terjadinya gangguan pada deglutasi disebut disfagia yaitu terjadi kegagalan memindahkan bolus makanan dari rongga mulut sampai ke lambung.

NEUROFISIOLOGI MENELAN Dalam proses menelan akan terjadi hal-hal seperti berikut : (1) pembentukan bolus makanan dengan bentuk dan konsistensi yang baik, (2) usaha sfingter mencegah terhamburnya bolus ini dalam fase-fase menelan, (3) kerja sama yang baik dari otot-otot di rongga mulut untuk mendorong bolus makanan ke arah lambung, (4) mencegah masuknya bolus makanan dan minuman ke dalam nasofaring dan laring, (5) mempercepat masuknya bolus makanan ke dalam faring pada saat respirasi, (6) usaha untuk membersihkan kembali esofagus. Proses menelan dapat dibagi dalam tiga fase yaitu : Proses menelan dapat dibagi menjadi 3 fase yaitu fase oral, fase faringeal dan fase esophageal. 1. FASE ORAL Pada fase oral ini akan terjadi proses pembentukan bolus makanan yang dilaksanakan oleh gigi geligi, lidah, palatum mole, otot-otot pipi dan saliva untuk menggiling dan membentuk bolus dengan konsistensi dan ukuran yang siap untuk ditelan. Proses ini berlangsung secara disadari.

Peranan saraf kranial pada pembentukan bolus fase oral. ORGAN Mandibula Bibir AFFEREN (sensorik) n. V.2 (maksilaris) n. V.2 (maksilaris) EFFEREN (motorik) n.V : m. Temporalis, m. maseter, m. pterigoid n.VII : m.orbikularis oris, m. zigomatikum, m.levator labius oris, m.depresor labius oris, m. levator anguli oris, m. depressor anguli oris n.VII: m. mentalis, m. risorius, m.businator n.XII : m. hioglosus, m. mioglosus

Mulut & pipi Lidah

n.V.2 (maksilaris) n.V.3 (lingualis)

Pada fase oral ini perpindahan bolus dari ronggal mulut ke faring segera terjadi, setelah otot-otot bibir dan pipi berkontraksi meletekkan bolus diatas lidah. Otot intrinsik lidah berkontraksi menyebabkan lidah terangkat mulai dari bagian anterior ke posterior. Bagian anterior lidah menekan palatum durum sehingga bolus terdorong ke faring. Bolus menyentuh bagian arkus faring anterior, uvula dan dinding posterior faring sehingga menimbulkan refleks faring. Arkus faring terangkat ke atas akibat kontraksi m. palato faringeus (n. IX, n.X dan n.XII). Peranan saraf kranial fase oral ORGAN Bibir AFFEREN (sensorik) (lingualis) EFFEREN (motorik) labius oris, m. depressor labius, m.mentalis n.VII: m.zigomatikus,levator anguli oris, m.depressor anguli oris, m.risorius. m.businator Lidah Uvula n.V.3 (lingualis) n.V.2 (mandibularis) n.IX,X,XI : m.palatoglosus n.IX,X,XI : m.uvulae,m.palatofaring n. V.2 (mandibularis), n.V.3 n. VII : m.orbikularis oris, m.levator

Mulut & pipi

n. V.2 (mandibularis)

Jadi pada fase oral ini secara garis besar bekerja saraf karanial n.V2 dan nV.3 sebagai serabut afferen (sensorik) dan n.V, nVII, n.IX, n.X, n.XI, n.XII sebagai serabut efferen (motorik).

2. FASE FARINGEAL Fase ini dimulai ketika bolus makanan menyentuh arkus faring anterior (arkus palatoglosus) dan refleks menelan segera timbul. Pada fase faringeal ini terjadi : 1. m. Tensor veli palatini (n.V) dan m. Levator veli palatini (n.IX, n.X dan n.XI) berkontraksi menyebabkan palatum mole terangkat, kemudian uvula tertarik keatas dan ke posterior sehingga menutup daerah nasofaring. 2. m.genioglosus (n.XII, servikal 1), m ariepiglotika (n.IX,nX) m.krikoaritenoid lateralis (n.IX,n.X) berkontraksi menyebabkan aduksi pita suara sehingga laring tertutup.

3. Laring dan tulang hioid terangkat keatas ke arah dasar lidah karena kontraksi m.stilohioid, (n.VII), m. Geniohioid, m.tirohioid (n.XII dan n.servikal I). 4. Kontraksi m.konstriktor faring superior (n.IX, n.X, n.XI), m. Konstriktor faring inermedius (n.IX, n.X, n.XI) dan m.konstriktor faring inferior (n.X, n.XI) menyebabkan faring tertekan kebawah yang diikuti oleh relaksasi m. Kriko faring (n.X) 5. Pergerakan laring ke atas dan ke depan, relaksasi dari introitus esofagus dan dorongan otot-otot faring ke inferior menyebabkan bolus makanan turun ke bawah dan masuk ke dalam servikal esofagus. Proses ini hanya berlangsung sekitar satu detik untuk menelan cairan dan lebih lama bila menelan makanan padat. Peranan saraf kranial pada fase faringeal Organ Lidah n.V.3 Afferen Efferen n.V :m.milohyoid, m.digastrikus n.VII : m.stilohyoid n.XII,nC1 :m.geniohyoid, m.tirohyoid n.XII :m.stiloglosus n.IX, n.X, n.XI :m.levator veli palatini n.V :m.tensor veli palatini Hyoid n.Laringeus superior cab internus (n.X) n.V : m.milohyoid, m. Digastrikus n.VII : m. Stilohioid n.XII, n.C.1 :m.geniohioid, m.tirohioid n.IX, n.X, n.XI : n.salfingofaringeus n.IX, n.X, n.XI : m. Palatofaring, m.konstriktor faring sup, m.konstriktor ffaring med. n.X,n.XI : m.konstriktor faring inf. n.IX :m.stilofaring n.X : m.krikofaring

Palatum

n.V.2, n.V.3

Nasofaring Faring

n.X n.X

Laring Esofagus

n.rekuren (n.X) n.X

Pada fase faringeal ini saraf yang bekerja saraf karanial n.V.2, n.V.3 dan n.X sebagai serabut afferen dan n.V, n.VII, n.IX, n.X, n.XI dan n.XII sebagai serabut efferen. Bolus dengan viskositas yang tinggi akan memperlambat fase faringeal, meningkatkan waktu gelombang peristaltik dan memperpanjang waktu pembukaan sfingter esofagus bagian atas. Bertambahnya volume bolus menyebabkan lebih cepatnya waktu pergerakan pangkal lidah, pergerakan palatum mole dan pergerakan laring serta pembukaan sfingter esofagus bagian atas. Waktu Pharyngeal transit juga bertambah sesuai dengan umur.

Kecepatan gelombang peristaltik faring rata-rata 12 cm/detik. Mc.Connel dalam penelitiannya melihat adanya 2 sistem pompa yang bekerja yaitu :

1. Oropharyngeal propulsion pomp (OOP) adalah tekanan yang ditimbulkan tenaga lidah 2/3 depan yang mendorong bolus ke orofaring yang disertai tenaga kontraksi dari m.konstriktor faring. 2. Hypopharyngeal suction pomp (HSP) adalah merupakan tekanan negatif akibat terangkatnya laring ke atas menjauhi dinding posterior faring, sehingga bolus

terisap ke arah sfingter esofagus bagian atas. Sfingter esofagus bagian atas dibentuk oleh m.konstriktor faring inferior, m.krikofaring dan serabut otot longitudinal esofagus bagian superior.

gambar fase oral dan faringeal

3. FASE ESOFAGEAL Pada fase esofageal proses menelan berlangsung tanpa disadari. Bolus makanan turun lebih lambat dari fase faringeal yaitu 3-4 cm/ detik. Fase ini terdiri dari beberapa tahapan : 1. Dimulai dengan terjadinya relaksasi m.kriko faring. Gelombang peristaltik primer terjadi akibat kontraksi otot longitudinal dan otot sirkuler dinding esofagus bagian proksimal. Gelombang peristaltik pertama ini akan diikuti oleh gelombang peristaltik kedua yang merupakan respons akibat regangan dinding esofagus. 2. Gerakan peristaltik tengah esofagus dipengaruhi oleh serabut saraf pleksus mienterikus yang terletak diantara otot longitudinal dan otot sirkuler dinding esofagus dan gelombang ini bergerak seterusnya secara teratur menuju ke distal esofagus. Cairan biasanya turun akibat gaya berat dan makanan padat turun karena gerak peristaltik dan berlangsung selama 8-20 detik.Esophagal transit time bertambah pada lansia akibat dari berkurangnya tonus otot-otot rongga mulut untuk merangsang gelombang peristaltik primer.

PERANAN SISTEM SARAF DALAM PROSES MENELAN Proses menelan diatur oleh sistem saraf yang dibagi dalam 3 tahap : 1. Tahap afferen/sensoris dimana begitu ada makanan masuk ke dalam orofaring langsung akan berespons dan menyampaikan perintah. 2. Perintah diterima oleh pusat penelanan di Medula oblongata/batang otak (kedua sisi) pada trunkus solitarius di bagian dorsal (berfungsi utuk mengatur fungsi motorik

proses menelan) dan nukleus ambigius yang berfungsi mengatur distribusi impuls motorik ke motor neuron otot yang berhubungan dgn proses menelan. 3. Tahap efferen/motorik yang menjalankan perintah.

GANGGUAN DEGLUTASI/MENELAN Secara medis gangguan pada peristiwa deglutasi disebut disfagia atau sulit menelan, yang merupakan masalah yang sering dikeluhkan baik oleh pasien dewasa, lansia ataupun anak-anak. Menurut catatan rata-rata manusia dalam sehari menelan sebanyak kurang lebih 2000 kali, sehingga masalah disfagia merupakan masalah yang sangat menggangu kualitas hidup seseorang. Disfagia merupakan gejala kegagalan memindahkan bolus makanan dari rongga mulut sampai ke lambung. Kegagalan dapat terjadi pada kelainan neuromuskular, sumbatan mekanik sepanjang saluran mulai dari rongga mulut sampai lambung serta gangguan emosi. Disfagia dapat disertai dengan rasa nyeri yang disebut odinofagia. Berdasarkan definisi menurut para pakar (Mettew, Scott Brown dan Boeis) disfagia dibagi berdasarkan letak kelainannya yaitu di rongga mulut, orofaring, esofagus atau berdasarkan mekanismenya yaitu dapat menelan tetapi enggan, memang dapat menelan atau tidak dapat menelan sama sekali, atau baru dapat menelan jika minum segelas air, atau kelainannya hanya dilihat dari gangguan di esofagusnya.

EVALUASI KLINIK DISFAGIA. Perlu diingat bahwa masalah disfagia dapat timbul karena : A. Berdasarkan proses mekanisme deglutasinya dapat dibagi : 1. Sumbatan mekanik/Disfagia mekanik baik intraluminal

atau

ekstraluminal

(penekanan dari luar lumen esofagus). 2. Kelainan Neurologi/Disfagia neurogenik/disfagia motorik mulai dari kelainan korteks serebri, pusat menelan di batang otak sampai neurosensori-muskular. 3. Kelainan emosi berat/ Disfagia psikogenik. B. Berdasarkan proses mekanisme deglutasi diatas dibagi lagi menjadi : 1. Transfer dysphagia bila kelainannya akibat kelainan neuromotor di fase oral dan faringeal. 2. Transit dysphagia bila disfagia disebabkan gangguan peristaltik baik

primer/sekunder dan kurangnya relaksasi sfingter esofagus bagian bawah. 3. Obstructive dysphagia bila disebabkan penyempitan atau stenosis di faring dan esofagus. C. Berdasarkan letak organ anatomi dapat dibagi menjadi : 1. Disfagia gangguan fase oral 2. Disfagia gangguan fase faringeal 3. Disfagia gangguan fase esofageal

D. Berdasarkan penyebab/etiologi dapat dibagi menjadi : 1. Kelainan kongenital (K) 2. Inflamasi/radang (R) 3. Trauma (T) 4. Benda asing (B) 5. Neoplasma (N) 6. Psikis (P) 7. Kelainan endokrin (E) 8. Kelainan kardio vaskuler (KV) 9. Kelainan neurologi/saraf (S) 10. Penyakit degeneratif (D) 11. Iatrogenik seperti akibat operasi, kemoterapi dan radiasi (I)

ANAMNESIS PENTING. 1. Batasan keluhan disfagia (rongga mulut, orofaring, esofagus). 2. Lama dan progresifitas keluhan disfagia. 3. Saat timbulnya keluhan disfagia dalam proses menelan (makan padat, cair, stress psikis dan fisik). 4. keluhan penyerta : odinofagi, BB turun cepat, demam, sesak nafas, batuk, perasaan mengganjal/menyumbat di tenggorokan. 5. Penyakit penyerta : eksplorasi neurologik degeneratif, autoimun, kardiovaskuler dll. 6. Penggunaan obat-obat yang mengganggu proses menelan (anastesi, muskulorelaksan pusat). 7. Evaluasi pola hidup, usia, hygiene mulut, pola makanan. 8. Riwayat operasi kepala dan leher sebelumnya.

PEMERIKSAAN FISIK PENTING 1. Keadaan umum pasien. 2. Pemeriksaan rongga mulut, evaluasi gerakan dan kekuatan otot mulut dan otot lidah. 3. Pemeriksaan orofaring, pergerakan palatum mole, sensibilitas orofaring dgn sentuhan spatel lidah, cari refleks muntah, refleks menelan, dan evaluasi suara (keterlibatan laring) 4. Pemeriksaan faring-laring : gerakan pangkal lidah, gerakan arkus faring, uvula, epiglotis, pita suara, plika ventrikularis dan sinus piriformis. 5. Pemeriksaan neurologi fungsi motorik dan sensorik saraf kranial. 6. Periksa posisi dan kelenturan leher/tulang servikal, evaluasi massa leher, pembesaran KGB leher dan trauma.

PEMERIKSAAN PENUNJANG PENTING Pemeriksaan spesifik utk menilai adanya kelainan anatomi atau sumbatan mekanik : Penunjang Barium Swallow(Esofagogram) Kegunaan Menilai anatomi dan fungsi otot faring/esofagus, deteksi sumbatan o/k tumor, striktur, web, akalasia, divertikulum CT Scan MRI Kelainan anatomi di kepala, leher dan dada Deteksi tumor, kalainan vaskuler/stroke, degeneratif proses diotak Menilai keadaan dan pergerakan otot laring Menilai lumen esofagus, biopsi Menilai lesi submukosa

Laringoskopi direk Esofagoskopi Endoskopi ultrasound

Pemeriksaan penunjang untuk menilai fungsi menelan : Penunjang 1. Modified barium swallow 2. Leksible fiber optic faringoskop 3. Video floroscopy recording 4. Scintigraphy Menilai keadaan Kegunaan kedua sfingter esofagus, menganalisa transfer dysphagia Menilai pergerakan faring dan laring Menilai pergerakan faring dan laring Menilai gangguan orofaring, esofagus, pengosongan lambung dan GERD (Gastroesophageal refluks disease)

5. EMG 6. Manometri 7. pHmetri 24 jam

Menilai defisiensi fungsi saraf kranial Menilai gangguan motilitas peristaltik Pemeriksaan fefluks esofagitis

Disfagia No Penyakit Mekanik O 1 2 3 Atresia Fistula trakeoesofagus Stenosis/web F E v/s v/s v/s Neurogenik O F E Psikogenik O F E K K K Etiologi

4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Divertikulum zenker Korpal Disfagia lusoria Akalasia Spasme difus esophagus Striktur Esofagitis Karsinoma/tumor Globus histerikus Serebral palsy GERD v v

v v v v/t v/a v/s v v v v v v v v/s v v v

K B K u/k P T/R R N P S P

DIET MODIFIKASI PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN MENELAN Teknik modifikasi diet pada pasien dengan gangguan menelan meliputi merubah bentuk dan suhu makanan berdasarkan pada hasil evaluasi makanan yang ditelan. Liquid dapat dikentalkan dengan produk komersial atau makanan lain. Penggunaan makanan lain seperti cereal bayi, tak berasa gelatin, atau tapioca bisa dirubah secara konsisten dengan pasien dysphagia yang diperlukan pasien sesuai kebutuhan untuk memenuhi nutrisi dan hidrasi mereka. Bila prinsip dasar penatalaksanaan gagal untuk menghasilkan kemajuan dalam dua sampai tiga minggu atau jika pasien mengalami kemunduran setelah pengembangan dibuat, pertimbangan harus diberikan untuk mengevaluasi kembali dan menyerahkan selanjutnya untuk intervensi medik.

DAFTAR PUSTAKA Alper MC, Myers EN, Eibling DE. 2001. Dysphagia. Decision making in ENT Disorders.;52:136-37 Bailey, J Byron. 1998. Esophageal disorders. Head and neck surgery-

Otolaringology.Vol.1.2.;56:781-801 Punagi, Abdul Qadar. 2006. Evaluasi Menelan Dengan Menggunakan Endoskop Fleksibel ( FEES ) dalam J Med Nus Vol. 27. Makassar : Bagian THT-KL FKUH, RS. BLU. Dr. Wahidin Sudirohusodo. Paik, NJ. Dysphagia. Available at http://www.emedicine.com. Accessed on February 15th 2006.

Soepardi, A Efianty. 2002. Penatalaksanaan disfagia secara komprehensif. Acara ilmiah penglepasan purna: tugas Prof Dr. Bambang. Thaller SR, Granick MS, Myers EN. 1993. Disfagia. Diagram diagnostik penyakit THT.EGC;13:105-11

Akalasia : Sulit menelan???


Akalasia (Kardiospasme, Esophageal aperistaltis, Megaesofagus) adalah suatu kelainan yang berhubungan dengan saraf, yang tidak diketahui penyebabnya.

Kelainan ini bisa mengenai dua proses, yaitu kontraksi dari gelombang yang berirama, yang mendorong makanan ke bawah (gerakan peristaltik) dan pembukaan katup kerongkongan bagian bawah.

Akalasia bisa terjadi pada umur berapapun, tetapi biasanya dimulai pada usia antara 2040 tahun dan kemudian berkembang secara bertahap selama beberapa bulan atau beberapa tahun.

PENYEBAB

Akalasia mungkin disebabkan oleh kegagalan fungsi (malfungsi) dari saraf-saraf yang mengelilingi kerongkongan dan mempersarafi otot-ototnya.

GEJALA

Gejala utamanya adalah kesulitan dalam menelan makanan, baik makanan cair maupun padat. Penyempitan melebar. katup kerongkongan bawah menyebabkan kerongkongan diatasnya

Gejala

lainnya

bisa

berupa

nyeri

dada, dan saat

pemuntahan batuk atau

kembali pada tanpa

(regurgitasi) malam alasan

isi

kerongkongan Nyeri dada

yang dapat terjadi

melebar pada

hari. tertentu.

menelan

Sekitar 1/3 penderita memuntahkan kembali makanan yang belum dicerna ketika tidur. Pada saat ini makanan bisa terhirup ke dalam paru-paru, dan dapat menyebabkan abses paru, bronkiektasis (pelebaran dan infeksi saluran nafas) atau pneumonia aspirasi.

Akalasia juga merupakan faktor resiko untuk terjadinya kanker kerongkongan, walaupun mungkin hanya kurang dari 5% dari kasus.

DIAGNOSA

Pemeriksaan rontgen kerongkongan yang diambil ketika penderita menelan barium akan menunjukan hilangnya gerakan peristaltik.

Kerongkongan melebar, seringkali terdapat dalam ukuran yang tidak normal, tetapi bagian bawahnya menyermpit.

Pengukuran tekanan di dalam kerongkongan (manometri), menunjukan berkurangnya kontraksi, meningkatnya tekanan menutup dari katup bagian bawah dan pembukaan katup yang tidak lengkap pada saat penderita menelan.

Esofagoskopi

menunjukkan

pelebaran

kerongkongan

tanpa

penyumbatan.

Dengan menggunakan esofagoskopi bisa diambil contoh jaringan untuk biopsi, untuk meyakinkan bahwa gejalanya tidak disebabkan oleh kanker pada ujung bawah kerongkongan.

Penyebab akalasia sering tidak berbahaya dan tidak menyebabkan sakit berat. Bila isi lambung terhirup ke dalam paru-paru, maka ramalan penyakitnya (prognosis) buruk, karena menyebabkan komplikasi paru-paru yang sulit diobati.

PENGOBATAN

Tujuan pengobatan adalah untuk mempermudah pembukaan katup kerongkongan bagian bawah.

Pendekatan pertama adalah melebarkan katup secara mekanik, contohnya dengan menggelembungkan sebuah balon di dalam kerongkongan. 40% hasil dari prosedur ini memuaskan, tetapi mungkin perlu dilakukan secara berulang.

Dengan pemberian nitrat (contohnya nitroglycerin) yang ditempatkan di bawah lidah sebelum makan atau penghambat saluran kalsium (contohnya nifedipine), maka tindakan untuk melebarkan kerongkongan dapat ditangguhkan.

Pada kurang dari 1% kasus, kerongkongan dapat pecah selama prosedur pelebaran, menyebabkan peradangan pada jaringan di sekitarnya (mediastinitis).

Perlu dilakukan tindakan pembedahan segera untuk menutup dinding kerongkongan yang pecah.

Pilihan pengobatan lainnya adalah dengan menyuntikkan racun botulinum pada katup kerongkongan bagian bawah.

Pengobatan ini sama efektifnya dengan dilatasi (pelebaran) mekanik tetapi efek jangka panjangnya belum diketahui.

Jika pelebaran atau terapi racun botulinum tidak berhasil, biasanya perlu dilakukan pembedahan untuk memotong serat otot pada katup kerongkongan bagian bawah. 85% kasus bisa diatasi dengan pembedahan, tetapi 15% diantaranya mengalami refluks asam setelah pembedahan.(medicastore) Disfagia (kesulitan menelan) Karena Kelainan Tenggorokan Definisi
Disfagia adalah kesulitan menelan. Seseorang dapat mengalami kesulitan menggerakan makanan dari bagian atas tenggorokan ke dalam kerongkongan karena adanya kelainan di tenggorokan. Masalah ini paling sering terjadi pada orang yang memiliki kelainan pada otot volunter (otot kerangka) atau persarafannya, yaitu penderita : - dermatomiositis - miastenia gravis - distrofi otot - polio - kelumpuhan pseudobulbar - kelainan otak dan sumsum tulang belakang seperti penyakit Parkinson dan sklerosis lateral amiotropik (penyakit Lou Gehrig) - orang yang meminum fenotiazin (obat antipsikosa) juga bisa memiliki kesulitan menelan karena obatnya mempengaruhi otot tenggorokan. Bila salah satu dari kelainan tersebut menyebabkan kesulitan menelan, penderita sering memuntahkan kembali makanannya melalui hidung atau menghirupnya ke dalam trakea (pipa udara) dan akan terbatuk. Pada inkoordinasi krikofaringeal, katup kerongkongan sebelah atas (otot krikofaringeal) tetap menutup atau membuka dengan cara yang tidak terkoordinasi. Katup yang berfungsi abnormal ini memungkinkan makanan berulang-ulang masuk ke trakea dan paru-paru, yang menyebabkan penyakit paru-paru menahun. Ahli bedah dapat mengoreksi keadaan ini dengan memotong katup sehingga selalu dalam keadaan relaksasi. Bila tidak diobati, keadaan ini bisa menyebabkan terbentuknya divertikulum, suatu kantung yang terbentuk jika lapisan kerongkongan terdorong keluar dan ke belakang melakui otot krikofaringeal.

Proses menelan dilakukan oleh kumpulan nervus kranialis yang saling bekerja sama. Gangguan menelan dapat terjadi karena kerusakan dari tingkat korteks sampai daerah nukleus di bulber, atau di bulbernya sendiri, atau bisa terjadi juga di saraf tepi, dan di sambungan saraf ototnya. Mekanisme menelan penting untuk dimengerti sebagai landasan diagnosa dari kelainan disfagia. Gangguan menelan ringan biasanya disebabkan oleh paresis nervus fasialis atau oleh nervus hipoglossus sedangkan gangguan menelan yang berat biasanya terjadi karena kerusakan nervus glossopharingeus dan vagus. Gangguan menelan dapat terjadi pada berbagai tingkatan lesi. Penyakit neurologik yang sering menyebabkan gangguan menelan adalah penyakit stroke. Stroke dapat menyebabkan gangguan menelan pada tingkat lesi dari jars korteks, nervus kranialis (Jaras kortikobulber) dan kerusakan ditingkat nukleus di batang otak. Tipe stroke yang sering menyebabkan gangguan menelan adalah stroke sistem vertebrobasila karena di daerah ini terdapat jaras-jaras yang mengurus proses menelan.