Anda di halaman 1dari 4

Pendidikan Mengejar Pasar

Setiap musim penerimaan peserta didik baru, para orangtua sibuk menentukan sekolah mana yang tepat bagi masa depan anak-anak mereka. Sekolah-sekolah unggulan dengan citra baik di pasaran menjadi primadona para orangtua dan peserta didik. Jurusan-jurusan yang memiliki peluang kerja yang besar menjadi pilihan utama studi perkuliahan. Diharapkan, seselesai masa studi peserta didik bisa lebih cepat mendapat pekerjaan yang bergengsi dengan penghasilan yang tinggi. Alhasil, terjadilah kompetisi jual gengsi jurusan. Banyak institusi pendidikan berlomba-lomba membuka jurusan baru yang laku di pasaran. Sementara jurusan yang kurang popular atau kurang memiliki daya serap pasar mulai ditinggalkan. Jurusan-jurusan yang laku di pasaran ini akan dianggap bergengsi dan menjadi favorit peserta didik. Di sinilah pelacuran pendidikan terjadi. Makna pendidikan memanusiakan manusia telah dilacurkan menjadi hanya untuk pemenuhan pasar tenaga kerja; hanya diorientasikan kepada kepentingan pragmatis. Pendidikan dijadikan sebagai alat untuk mendapatkan pekerjaan. Akibatnya, produkproduk pendidikan yang dihasilkan tidak memiliki kepekaan sosial yang tinggi terhadap realitas sekitarnya, karena yang dikejar dalam dunia pendidikan adalah mendapat pekerjaan dan uang untuk keberlangsungan hidupnya masing-masing. Logika Pasar Pendidikan Menurut teori ekonomi, pasar yang diistilahkan pasar bebas sebenarnya merupakan derivasi dari paham kapitalisme Adam Smith, yakni bagaimana pasar memiliki peran yang sangat besar dalam mengelola barang yang sedang dijajakan kepada konsumen untuk dibeli. Kinerja sistem pasar ini tidak hanya terbatas pada lapangan ekonomi, tetapi juga meluas dan merasuk ke berbagai lapangan kehidupan. Akibatnya, sebagaimana perkataan Henry Priyono yang dikutip dari bukuMenggugat Ujian Nasional karya Irsyad Rido dkk., bahwa seluruh kebudayaan manusia akan beroperasi dan dipahami dengan logika pasar. Perluasan ini dikenal dengan istilah komodifikasi. Menurut Shumar, komodifikasi adalah proses berubahnya kebudayaan menjadi komoditas sehingga segala praktik kebudayaan hanya dinilai berdasarkan kemampuannya untuk menjadi uang atau modal. Dalam konteks Indonesia, gejala komodifikasi dapat dikatakan telah berlangsung sejak masa Orde Baru. Ketika tujuan pendidikan nasional diarahkan untuk mendukung pembangunan nasional. Sementara pola pembangunan yang dilakukan mengikuti pola pembangunan Barat, yang mengidentikkan pembangunan dengan perkembangan ekonomi dan sektor industri. Maka, pemerintah melalui GBHN dan Repelita VI secara tegas menggariskan sektor industri dijadikan penggerak utama bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Perkembangan era industrialisasi memengaruhi pola pikir pendidikan, yang berpengaruh pada kesadaran dan cara hidup masyarakat. Praktik pendidikan menjadi tidak bebas atau otonom. Kurikulum, praktik mengajar, materi pelajaran, dan sarana pengajaran, semuanya harus disesuaikan dengan persyaratan teknis dari dunia industri. Lembaga pendidikan harus diselaraskan dengan tujuan sistem kapitalisme. Sehingga, sebagaimana dinyatakan Kartono Kartini dalam bukunyaTinjauan Politik Mengenai Sistem Pendidikan Nasional, Beberapa Kritik dan Sugesti , sekolah-sekolah dijadikan bentuk industri budaya intelektual dan industri kesadaran di tengah masyarakat industri modern, sedangkan manusianya dijadikan robot-robot ekonomi yang setengah sadar.

Akibatnya, pendidikan di era industrialisasi harus disesuaikan dengan rasionalitas sistem kapitalistik. Pendidikan pun membuat peserta didik tidak menyadari jati dirinya dan tidak peka dengan permasalahan yang ada pada masyarakat. Pendidikan dijadikan alat untuk mendepolitisasi massa orang muda agar mereka tetap naif dan suka menggunakan nilai-nilai material dan budaya konsumtif. Ivan Illich, dalam bukunya Bebas dari Sekolah, mengatakan, misi lembaga pendidikan modern sebenarnya mengabdi pada kepentingan para pemilik modal. Pendidikan terjebak pada tarikan kepentingan pemodal yang sudah memiliki hubungan erat dan kuat dengan pihak pemerintah maupun penyelenggara pendidikan. Pendidikan tidak berada dalam posisi netral, independen, dan steril dari segala kepentingan, tetapi semakin ditelikung oleh sebuah kekuasaan mahabesar yang menjadikan pendidikan sebagai alat para penguasa. Inilah yang dimaksud oleh Hasyim Wahid bahwa pendidikan kita berada dalam telikungan kapitalisme global. Pendidikan Kejuruan dan Problematikanya Contoh dari telikungan kapitalisme global adalah keberadaan pendidikan kejuruan di negara kita. Pendidikan kejuruan ini pada dasarnya merupakan jenis pendidikan yang memiliki karakteristik khusus, yakni bertujuan untuk memberikan bekal berupa keterampilan pada peserta didik untuk bekerja. Keberadaan pendidikan kejuruan ini tidak akan lepas dari keterkaitannya terhadap dunia kerja. Pendidikan kejuruan dibangun dan dikembangkan dengan memerhatikan kebutuhan dan situasi dunia kerja untuk dapat memenuhi tuntutan pasar yang berkembang. Keterkaitan antara dunia pendidikan dan dunia kerja sebenarnya telah terakomodasi pada saat pembangunan jangka panjang pertama, semenjak Orde Baru menetapkan pembangunan nasional. Dalihnya, pembangunan tidak hanya membutuhkan modal dan sarana-sarana, tetapi juga membutuhkan tenaga-tenaga terampil untuk melaksanakan pembangunan tersebut. Keterkaitan antara dunia pendidikan dan dunia kerja dipertegas oleh kebijakan link and match dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wardiman Djojonegoro, pada awal tahun 90-an. Gagasan link and match merupakan keterkaitan antara kebutuhan masa depan masyarakat Indonesia dan programprogram yang sesuai dengan kebutuhan tersebut. Tujuan dari kebijakan link and match adalah adanya relevansi dari dunia pendidikan dan dunia kerja sehingga output dari sistem pendidikan nasional dapat siap pakai pada dunia kerja. Karena dalam pembangunan nasional yang dibutuhkan adalah tenaga-tenaga terampil yang dapat mendukung pembangunan, maka pendidikan kejuruan menjadi prioritas pemerintah. Hal ini terlihat dari upaya pemerintah saat ini untuk meningkatkan perbandingan antara Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Targetnya, pada 2009 rasio perbandingannya adalah 50:50, dan pada 2014 ditargetkan dalam Road Map Direktur Pembinaan SMK menjadi 33:67. Peningkatan rasio perbandingan SMK ini disebabkan lulusan SMK dianggap lebih siap memasuki dunia kerja melalui keterampilan yang dapat diaplikasikan. Harapan manisnya, lulusan SMK dapat mengurangi angka pengangguran terdidik yang semakin besar di Indonesia. Namun kenyataan berbeda, dari angka pengangguran 8,96 juta jiwa menurut data Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada Agustus 2009, sekitar 17,26 % berasal dari lulusan SMK, 14,31 % lulusan SMA, 12,59% lulusan perguruan tinggi yang bertitel Sarjana, dan 1,21% lulusan Diploma. Berdasarkan data di atas, maka lulusan SMK menempati angka pengangguran yang lebih tinggi dibanding lulusan pendidikan lain. Ternyata, pemberian keterampilan saja tidaklah cukup untuk mendukung pembangunan nasional dan mengurangi angka pengangguran di Indonesia. Selain itu, pengembangan pendidikan kejuruan ini sangat berorientasi pada kebutuhan pasar kerja

dan pertumbuhan industri kapitalisme. Pengembangan jurusan yang dibuka oleh SMK kurang memerhatikan potensi lokal yang terdapat pada bangsa Indonesia. Hal ini tampak dari data persentase jurusan yang dibuka SMK pada tahun ajaran 2007/2008, yaitu ketika SMK berbasis teknologi dan industri sebesar 53,4%, SMK berbasis pertanian 1,5 %, dan SMK berbasis peternakan dan perikanan masing-masing 0,4%. Hal ini menggambarkan bahwa SMK hanya dijadikan instrumen produksi kapitalisme dan belum mampu mengakomodasi potensi lokal yang ada di Indonesia. Peningkatan jumlah SMK yang terus diupayakan pemerintah pun, tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas dan kuantitas referensi buku dan guru sebagai faktor utama proses pembelajaran. Pada tahun 2009, dari 144 bidang keahlian yang ada di SMK, kekurangan guru sekitar 34.000 orang. Akibatnya, kualitas lulusan peserta didik SMK pun menjadi menurun, hingga berujung pada bengkaknya jumlah pengangguran lulusan SMK. Mengutamakan Pendidikan Etos Kerja Peningkatan keterampilan bangsa Indonesia memang diperlukan untuk mendukung roda pembangunan bangsa Indonesia. Namun, pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dengan segala potensi yang dimilikinya jauh lebih penting. Menurut ekonom asal Amerika David McClelland, dalam bukunya The Achieving Society, bahwa yang dibutuhkan sebuah negara untuk maju ialah motivasi individu untuk mendapatkan kejayaan. Motivasi untuk mengembangkan segala potensi yang dimiliki haruslah lahir dari masing-masing individu. Dalam istilah lainnya bisa disebut etos kerja. Sikap etos kerja yang profesional menjadi faktor pendukung utama kebangkitan suatu bangsa. Menurut Toto Tasmara dalam bukunya Etos Kerja Pribadi Muslim, etos kerja adalah bersungguh-sungguh mengerakkan seluruh potensi diri untuk mencapai sesuatu. Seseorang yang memiliki etos kerja yang tinggi, maka ia akan mengembangkan segala potensi yang dimilikinya. Bila kita berkaca pada negara-negara maju, etos kerja para penduduknya memberikan dampak positif bagi kemajuan negaranya. Kita lihat Jepang dengan etos kerja Bushido-nya, mampu mengubah Jepang yang luluh lantak akibat Perang Dunia kedua menjadi raksasa ekonomi Asia, kemudian bangsa Jerman yang menurut Max Weber memiliki etos kerja: rasional, disiplin tinggi, kerja keras, berorientasi pada kesuksesan, hemat, dan bersahaja, tidak mengumbar kesenangan, suka menabung dan investasi. Inspirasi negara maju ini menjadi bukti bahwa keberhasilan di berbagai wilayah kehidupan ditentukan oleh sikap, perilaku, dan nilai-nilai yang diadopsi individuindividu manusia di dalam komunitas atau konteks sosialnya. Pemahaman akan etos kerja bangsa Indonesia dapat digali dari nilai-nilai luhur bangsa Indonesia dan dapat mengadopsi nilai-nilai dari bangsa lain yang memiliki etos kerja yang unggul tetapi tetap menyesuaiakan dengan falsafah Pancasila. Penanaman nilai-nilai etos kerja melalui pendidikan menjadi kunci kemajuan bangsa Indonesia. Melalui pembentukan etos kerja pada masyarakat Indonesia, maka dengan sendirinya masyarakat Indonesia akan meningkatkan segala potensi yang dimilikinya untuk mencapai sesuatu yang lebih baik tanpa paksaan ataupun bantuan dari orang lain. Pendidikan tanpa menanamkan etos kerja pada peserta didiknya, hanya akan menghasilkan jiwa budak pada generasi bangsa kita. Artinya, jika hanya keterampilan praktik lapangan pasar dunia kerja yang dikembangkan tanpa pengembangan etos kerja, maka generasi bangsa kita akan tetap menjadi alat pelestarian napas industri kapitalisme. Pengembangan etos kerja ini tentunya berorientasi pada kemandirian bangsa melalui penggalian potensi fisik dan budaya yang dimiliki. Upaya penggalian ini dilakukan dalam proses pendidikan. Dengan demikian, pendidikan bukanlah

untuk mengejar pasar, melainkan pada pembentukan etos kerja yang mandiri dalam pembangunan bangsa.

http://komunitaspendidikan.com/index.php/opini/pendidikan-mengejar-pasar/47