P. 1
Dosis Obat

Dosis Obat

|Views: 103|Likes:
Dipublikasikan oleh Arif Rahman Dm
oke
oke

More info:

Categories:Types, Reviews
Published by: Arif Rahman Dm on Apr 23, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/01/2013

pdf

text

original

Dosis obat

EM Sutrisna

DOSIS YANG DIBERIKAN (RESEP) - Kepatuhan penderita - Kesalahan medikasi DOSIS YANG DIMINUM
Faktor-faktor farmakokinetik - Absorpsi (jumlah dan kecepatan) - Distribusi (ukuran dan komposisi tubuh, distribusi dalam cairan-cairan tubuh, ikatan dengan protein plasma dan jaringan) - Biotransformasi Eliminasi (kecepatan) - Ekskresi

KADAR DI TEMPAT KERJA OBAT

• • • • •

Kondisi fisiologik Kondisi patologik Faktor genetik Interaksi obat Toleransi
Sensitivitas reseptor/ jaringan

Faktor-faktor farmakodinamik - Interaksi obat-reseptor - Keadaan fungsional jaringan - Mekanisme homeostatik

INTENSITAS EFEK FARMAKOLOGIK (RESPONS PENDERITA)

Variasi dalam berbagai faktor “farmakokinetik” dan “farmakodinamik” ini

berasal dari perbedaan individual dalam :
• Kondisi fisiologik  anak, usia lanjut • kondisi patologik  GIT,CVD,Hati,Ginjal

• faktor genetik,
• faktor lain  interaksi obat, toleransi, efek plasebo, pengaruh lingkungan, dll

Penggunaan Obat pada Anak Dipengaruhi oleh
– – – – – Fungsi biotransformasi hati Fungsi ekskresi ginjal Kapasitas pengikatan protein Sawar darah-otak, sawar kulit Sensitivitas reseptor obat

Variasi dalam berbagai faktor “farmakokinetik” dan “farmakodinamik” ini

berasal dari perbedaan individual dalam :
• Kondisi fisiologik  anak, usia lanjut • kondisi patologik  GIT,CVD,Hati,Ginjal

• faktor genetik,
• faktor lain  interaksi obat, toleransi, efek plasebo, pengaruh lingkungan, dll

KONDISI FISIOLOGIK 1. ANAK

Usia, berat badan, luas permukaan tubuh atau kombinasi faktor-faktor ini dapat digunakan untuk menghitung dosis anak dari dosis dewasa. Untuk perhitungan dosis, “usia anak” dibagi dalam beberapa “kelompok usia”, sbb : • sampai 1 bulan (neonatus), • sampai 1 tahun (bayi), • anak 1-5 tahun, dan

• anak 6-12 tahun

Berat badan  digunakan untuk menghitung dosis
yang dinyatakan dalam mg/kg. Akan tetapi, perhitungan dosis anak dari dosis dewasa “berdasarkan berat badan saja”, seringkali menghasilkan dosis anak yang “terlalu kecil” ok : anak mempunyai laju metabolisme yang lebih tinggi

sehingga per kg berat badannya seringkali
membutuhkan dosis yang lebih tinggi daripada orang dewasa (kecuali pada neonatus)

Luas permukaan tubuh  lebih tepat untuk
menghitung dosis anak karena banyak fenomen fisik lebih erat hubungannya dengan luas permukaan tubuh. Berdasarkan luas permukaan tubuh ini, besarnya dosis anak sebagai persentase dari dosis dewasa dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini :

Tabel 1. USIA, BERAT BADAN, DAN DOSIS ANAK
Usia Neonatus ** 1 bulan ** 3 bulan 6 bulan 1 tahun 3 tahun 5 tahun 7 tahun 12 tahun Berat badan (kg) 3.4 4.2 5.6 7.7 10 14 18 23 37 Dosis anak * (% dosis dewasa) < 12.5 < 14.5 18 22 25 33 40 50 75

* Dihitung berdasarkan luas permukaan tubuh

** Untuk neonatus sampai usia 1 bulan, gunakan dosis yang lebih
kecil dari dosis yang dihitung berdasarkan luas permukaan tubuh, Untuk bayi premature, gunakan dosis yang lebih rendah lagi, sesuai dengan kondisi klinik penderita.

NEONATUS DAN BAYI PREMATUR
Pada usia ekstrim ini terdapat perbedaan respons, terutama disebabkan oleh belum sempurnanya berbagai fungsi farmakokinetik tubuh, yakni :

(1) fungsi biotransformasi hati (terutama glukuronidasi,
dan juga hidroksilasi) yang kurang; (2) fungsi ekskresi ginjal (filtrasi glomerulus dan sekresi tubuli) yang hanya 60-70 % dari fungsi ginjal dewasa; (3) kapasitas ikatan protein plasma (terutama albumin) yang rendah; dan (4) sawar darah-otak serta sawar kulit yang belum

sempurna.

Dengan demikian diperoleh kadar obat yang tinggi dalam darah dan jaringan. Disamping itu terdapat peningkatan sensitivitas reseptor terhadap beberapa obat. Akibatnya terjadi respons yang berlebihan atau efek toksik pada dosis yang biasa diberikan berdasarkan perhitungan luas permukaan tubuh. Contoh obat dengan respons yang berlainan pada neonatus dan bayi premature dapat dilihat pada Tabel 2.

Prinsip umum penggunaan obat pada neonatus dan bayi premature adalah :
(1) Hindarkan penggunaan sulfonamide, aspirin, morfin, barbiturat IV. (2) Untuk obat-obat lain: gunakan dosis yang lebih rendah dari dosis yang dihitung berdasarkan luas permukaan tubuh (lihat Tabel 2). Tidak ada pedoman umum untuk menghitung

berapa besar dosis harus diturunkan 
gunakan educated guess atau ikuti petunjuk dari pabrik obat yang bersangkutan. Kemudian monitor respons klinik penderita, dan bila perlu monitor
kadar obat dalam plasma, untuk menjadi dasar penyesuaian dosis pada masing-masing penderita.

Tabel.

PERUBAHAN RESPONS UMUR-UMUR EKSTRIM
Respons Neurotoksisitas

TERHADAP

OBAT

PADA

Obat

Mekanisme utama Sawar kulit belum sempurna

NEONATUS/PREMATUR
* Heksaklorofen topical

* Sulfonamid, salisilat

Kernikterus(bilirubin masuk otak)

Obat mendesak bilirubin dari ikatan protein plasma, kapasitas ikatan protein plasma turun, glukuronidasi bilirubin oleh hepar turun, dan sawar darah-otak belum sempurna.
Glukuronidasi obat oleh hepar turun, dan filtrasi obat utuh oleh glomerulus ginjal turun  kadar obat dalam plasma dan jaringan naik Filtrasi glomerulus turun Sawar darah-otak belum sempurna Tidak diketahui

* Kloramfenikol

Sindrom bayi abu-abu

* Aminoglikosida (misalnya gentamisin) * Morfin, barbiturat IV * Oksigen

Intoksikasi Depresi pernapasan Retrolental fibroplasia

• Dosis anak berdasarkan usia, BB, LPT
– Usia: Rumus Young dan Rumus Dilling – BB: Rumus Clark – LPT: Rumus Crawford-Terry Rourke

• Rumus Young: n Da = x Dd n + 12

• Rumus Dilling: n Da = x Dd 20 Da = dosis anak (mg) Dd = dosis dewasa (mg) n = usia anak (tahun)

Rumus Cowling
n+1 Da = x Dd

24

Rumus Fried(1)

(1/12)n

Da =
150

x Dd

Rumus Fried(2)
m Da = x Dd

150 M: umur anak (bulan)

Rumus Ausberger
4n+20 Da = x Dd

100 N: umur anak(tahun)

• Rumus Clark: BBa Da = 70

x Dd

Rumus Crawford-Terry Rourke:
LPTa Da = x Dd 1,73 Da = dosis anak Dd = dosis dewasa Bba = berat badan anak LPTa = luas permukaan tubuh anak

• Rumus LPT: tinggi (cm) x berat (kg) LPT = 360

Penggunaan Obat pada Lansia
• Dipengaruhi oleh:
– – – – – – – – – Kemampuan metabolisme hati – Fungsi ginjal – Protein plasma – BB, lemak, dan cairan tubuh – Sensitivitas reseptor – Penurunan produksi asam lambung – Penurunan motilitas usus – Multidrug therapy

KONDISI FISIOLOGIK USIA LANJUT Perubahan respons penderita usia lanjut disebabkan oleh banyak faktor, yakni :

(1) Penurunan fungsi ginjal (filtrasi glomerulus dan sekresi tubuli)
merupakan perubahan faktor farmakokinetik yang terpenting. Penurunan filtrasi glomerulus sekitar 30 % pada usia 65 tahun. Perubahan farmakokinetik lainnya adalah : • • penurunan kapasitas metabolisme beberapa obat, meningkat berkurangnya kadar albumin plasma  kadar obat bebas

pengurangan berat badan dan cairan tubuh serta penambahan
lemak tubuh  dapat mengubah Distribusi obat, dan
• berkurangnya absorpsi aktif. Resultante dari semua perubahan ini adalah :

kadar obat yg lebih tinggi dan bertahan lebih lama dlm darah/jaringan
Waktu paruh obat dapat meningkat sampai 50%.

(2) Perubahan faktor-faktor farmakodinamik, yakni : • peningkatan sensitivitas reseptor, terutama reseptor di otak (terhadap obat-obat yang bekerja sentral), dan

penurunan mekanisme homeostatik, misalnya :

homeostatic kardiovaskular (terhadap obat-obat antihipertensi). (3) Adanya berbagai penyakit (lihat uraian di bawah) (4) Penggunaan banyak obat sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya interaksi obat.

Akibatnya, seringkali terjadi : respons yang berlebihan atau efek toksik serta berbagai efek samping bila mereka mendapat dosis yang biasa diberikan kepada penderita dewasa muda.

Untuk contoh obatnya, lihat Tabel 2 berikut ini.

USIA LANJUT
* Digoksin Intoksikasi Berat badan turun, filtrasi glomerulus turun, adanya gangguan elektrolit, dan penyakit kardiovaskular yang lanjut

* Antihipertensi (terutama penghambat saraf adrenergic) * Diuretik tiazid, furosemid

Sinkope akiat hipotensi postural, insufisiensi koroner Hipotensi, hipokalemia, hipovolemia, hiperglikemia, hiperurikemia

Mekanisme homeostatic kardiovaskular turun Berat badan turun, fungsi ginjal turun, dan mekanisme homeostatic kardiovaskular turun

* Antikoagulan
* Antikoagulan oral

Perdarahan
Perdarahan

Respons hemostatik vascular turun
Respons hemostatik vascular turun, sensitivitas reseptor di hati naik, dan ikatan protein plasma turun Sensitivitas otak naik, metabolisme hepar turun

* Barbiturat

Bervariasi dari gelisah sampai psikosis (terutama kebingungan mental)

* Diazepam, nitrazepam flurazepam
* Fenotiazin (mis. Klorpromazin) * Triheksifenidil * Streptomisin, asam etakrinat * Isoniazid * Klorpropamid

Depresi SSP naik
Hipotensi postural, hipotermia, reaksi koreiform Kebingungan mental, halusinasi, konstipasi, retensi urin Ototoksisitas Hepatotoksisitas Hipoglikemia

Sensitivitas otak naik, metabolisme hepar turun
Sensitivitas otak naik, metabolisme hepar turun Sensitivitas otak naik, eliminasi turun Fungsi ginjal turun Metabolisme hepar turun Berat badan turun, filtrasi glomerulus turun

Prinsip Penggunaan Obat pada Lansia
• Hindari terapi obat yang tidak diperlukan • Mengobati penyebab • Pilih obat dengan memikirkan rasio manfaat-risiko • Rejimen dosis yang sederhana • Riwayat pengobatan • Titrasi obat • Pemilihan bentuk sediaan yang tepat

Penggunaan Obat pada Bumil
• Dipengaruhi oleh:
– – – – – – Kemampuan obat menembus sawar uri – Saat paparan – Jumlah obat – Penyakit yang diderita – Kerentanan genetik

Kiat Penggunaan Obat pada Bumil
Pertimbangkan perawatan tanpa menggunakan obat. • Pertimbangkan rasio manfaat (pada ibu) dan risiko (trutama pada janin). • Hindari pemakaian obat selama trimester pertama kehamilan. • Bila perlu, berikan obat yang aman. • Dosis efektif terkecil dalam jangka waktu sesingkat mungkin.

Penggunaan Obat pada Busu
Memperhitungkan Efek langsung pada janin, serta efek pada volume ASI • Dipengaruhi oleh:
– – – – – – Cara pemberian obat – Dosis dan frekuensi pemberian obat – Karakteristik obat – Frekuensi dan volume ASI – Usia & tingkat maturitas bayi

Prinsip Penggunaan Obat pada Busu
Hindari obat yang tidak perlu • Pertimbangkan rasio manfaat-resiko • Obat yang diberi izin untuk digunakan pada bayi umumnya tidak membahayakan. • Neonatus & prematur berisiko lebih besar • Dipilih rute pemberian yang menghasilkan jumlah kadar obat terkecil yang sampai pada bayi. • Hindari atau hentikan sementara menyusui jika:
– – Obat diketahui memiliki efek yang membahayakan bayi yang masih

menyusu
– – Obat sangat poten – – Ibu mengalami gangguan fungsi ginjal atau tertimbun penyakit hati yang

berat • Bayi harus dipantau secara cermat terhadap efek samping. • Hindari obat baru yang hanya memiliki sedikit data.

PENGGUNAAN OBAT PD PENYAKIT GINJAL
Penyakit ini mengurangi ekskresi obat aktif maupun metabolitnya yang aktif melalui ginjal sehingga meningkatkan

kadarnya dalam darah dan jaringan,
dan menimbulkan respons yang berlebihan atau efek toksik. Di samping itu penyakit ginjal dapat mengurangi kadar protein plasma (sindrom nefrotik) atau mengurangi ikatan protein plasma

(oleh adanya peningkatan kadar ureum dan
asam lemak bebas dalam darah) sehingga meningkatkan : kadar obat bebas dalam darah, mengubahkeseimbangan elektrolit dan asam-basa, meningkatkan sensitivitas atau respons jaringan terhadap beberapa obat, dan mengurangi atau menghilangkan efektivitas beberapa obat (lihat Tabel).

Prinsip umum penggunaan obat pada gagal ginjal : (1) Sedapat mungkin dipilih obat yang eliminasinya terutama melalui

metabolisme hati, untuk obatnya sendiri maupun untuk metabolit
aktifnya. (2) Hindarkan penggunaan : golongan tetrasiklin untuk semua derajat gangguan ginjal (kecuali doksisiklin dan minosiklin yang dapat

diberikan asal fungsi ginjal tetap dimonitor), diuretic merkuri,
diuretic hemat K, diuretic tiazid, antidiabetik oral, dan aspirin (parasetamol mungkin merupakan analgesic yang paling aman pada penyakit ginjal). (3) Gunakan dosis yang lebih rendah dari normal, terutama untuk obat-obat yang eliminasi utamanya melalui ekskresi ginjal.

Penyakit

Obat

Respons

Mekanisme utama

Penyakit ginjal
Gagal ginjal Gagal ginjal kronik Penisilin dosis besar Aminoglikosid Ensefalopati, anemia hemolitik Ototoksisitas, nefrotoksisits, blok neuromuscular Kerusakan ginjal naik (azotemia naik) Toksisitas naik Toksisitas naik Nekrosis tubular akut Hiperkalemia Ekskresi turun Ekskresi turun

Gangguan ginjal

Tetrasiklin

Ekskresi turun  efek antianabolik naik Ekskresi turun Ekskresi turun Ekskresi turun Ekskresi turun

Gagal ginjal Gagal ginjal Gagal ginjal kronik Gagal ginjal

Digoksin Prokainamid Diuretik merkuri Spironolakton, triamteren, amilorid

Gagal ginjal lanjut

Tiazid

Respons turun, hiperurikemia, hiperkalsemia, hiperglikemia Ototoksisitas naik Hipoglikemia Perdarahan lambung Respons naik

Ekskresi turun

Gagal ginjal Gagal ginjal kronik Uremia Uremia

Furosemid, asam etakrinat Klorpropamid, asetoheksamid Aspirin Tiopental

Ekskresi turun Ekskresi turun Ikatan protein plasma turun Sensitivitas otak naik, ikatan protein plasma turun Ekskresi turun

Gagal ginjal, usia lanjut yang sakit parah

Simetidin

Kebingungan mental konvulsi

Penggunaan Obat pada Gangg. Ginjal
Memperhitungkan
– Penurunan ekskresi obat aktif dan metabolit aktifnya melalui ginjal – • Penurunan kadar protein plasma – • Penurunan ikatan protein plasma – • Peningkatan sentivitas jaringan terhadap

beberapa obat
– • Penurunan efektivitas beberapa obat

Prinsip Penggunaan Obat pada Gangg. Ginjal
Gunakan obat hanya jika secara jelas diindikasikan bagi penderita tersebut • Pilih obat yang eliminasinya terutama melalui metabolisme hati, baik untuk obat aktifnya maupun metabolit aktifnya. • Pilih obat dengan efek nefrotoksik minimal dan hindari obat yang berpotensi nefrotoksik. • Waspada terhadap peningkatan kepekaan terhadap efek obat tertentu. • Cek kesesuaian pengaturan dosis. • Hindari pemakaian jangka panjang obat yang memiliki potensi
toksik

Penggunaan Obat pada Gangg. Hati
Gangguan hati berat:
– – Penurunan metabolisme obat di hati – – Penurunan sintesis protein plasma – – Peningkatan sensitivitas reseptor di otak terhadap obat depresan SSP dan diuretik – – Penurunan faktor pembekuan darah

3. PENYAKIT HATI
Penyakit ini mengurangi metabolisme obat di hati dan sintesis protein plasma sehingga meningkatkan kadar obat, terutama kadar bebasnya, dalam darah dan jaringan. Akibatnya terjadi respons yang berlebihan atau efek toksik. Tetapi perubahan respons ini baru terjadi pada penyakit hati yang parah, dan tidak terlihat pada penyakit hati yang ringan karena hati mempunyai kapasitas cadangan yang besar.

Pada penyakit hati yang parah juga terdapat peningkatan sensitivitas reseptor di otak terhadap obat-obat

yang mendepresi SSP (sedative-hipnotik, analgesic narkotik),
diuretic yang menimbulkan hipokalemi, dan obat yang menyebabkan konstipasi, sehingga pemberian obatobat ini dapat mencetuskan ensefalopati hepatic. Berkurangnya sintesis faktor-faktor pembekuan darah pada penyakit hati meningkatkan respons penderita terhadap antikoagulan oral.

Udem dan asites pada penyakit hati kronik dapat diperburuk oleh obat-obat yang menyebabkan retensi cairan,

misalnya : antiinflamasi nonsteroid,
kortikosteroid dan kortikotropin. Di samping itu, ada obat-obat yang hepatotoksik. Hepatotoksisitas yang berhubungan dengan besarnya dosis terjadi pada dosis yang lebih rendah, dan hepatotoksisitas yang idiosinkratik terjadi lebih sering pada penderita dengan penyakit hati.

Contoh obat dengan perubahan atau peningkatan respons
pada penyakit hati dapat dilihat pada Tabel.

Prinsip umum penggunaan obat pada penyakit hati yang berat :
(1) Sedapat mungkin dipilih obat yang eliminasinya terutama melalui ekskresi ginjal. (2) Hindarkan penggunaan : obat-2 yang mendepresi SSP (tu: morfin), diuretic tiazid dan diuretic kuat, obat-obat yang menyebabkan konstipasi, antikoagulan oral, kontrasepsi oral, dan obat-obat hepatotoksik. Sedative yang paling aman adalah : oksazepam dan lorazepam. (3) Gunakan dosis yang lebih rendah dari normal, terutama untuk obatobat yang eliminasi utamanya melalui metabolisme hati. Tidak ada pedoman umum untuk menghitung besarnya penurunan dosis, maka gunakan ecucated guess. Mulailah dengan dosis kecil, kemudian dosis disesuaikan berdasarkan respons klinik penderita, dan bila perlu dengan pengukuran kadar obat dalam plasma, serta uji fungsi hati pada penderita dengan fungsi hati yang berfluktuasi.

Penyakit hati
* Koma/prekoma hepatikum * Sirosis dengan udem atau asites * Hepatitis, sirosis hepatic * Ikterus obstruktif * Penyakit hati / empedu kolestatik

Obat

Respon

Mekanisme utama

Morfin, barbiturat Diuretik tiazid, diuretic kuat Antikoagulan oral Idem Kontrasepsi oral

Ensefalopati Ensefalopati

Sensitivitas otak naik, depresi pernapasan Kehilangan banyak K

Perdarahan Idem Kolestasis, toksisitas estrogen naik

Sintesis faktor-faktor pembekuan darah turun Absorpsi vitamin K turun Metabolisme estrogen turun

Penyakit11

Obat
Sedatifhipnotik, analgesicnarkotik, antipsikotik, antihistamin Antidiabetik oral

Respons
Koma

Mekanisme utama
Sensitivitas otak naik

* Penyakit hati berat

Hipoglikemi, ikterus (sulfonylurea), asidosis laktat (biguanid) Toksisitas naik Hepatotoksisitas naik

Metabolisme turun, kadar obat bebas naik

Teofilin Rifampisin Isoniazid, pirazinamid, eritromisin estolat, metildopa, klofibrat, bezafibrat, klorpromazin, penghambat MAO, natrium valproat, preparat emas, parasetamol dosis besar, ketokonazol Lidokain

Metabolisme turun Metabolisme turun

Toksisitas SSP naik

Metabolisme turun

Suksinilkolin
Aspirin Fenilbutazon

Respons naik
Perdarahan lambung Perdarahan lambung, retensi cairan Toksisitas naik Toksisitas naik Kebingunanmenta l Depresi sumsum tulang Koma

Pseudokolinesterase plasma turun
Metabolisme turun, kadar obat bebas naik Metabolisme turun, kadar obat bebas naik Metabolisme turun Metabolisme turun Metabolisme turun Metabolisme turun Konstipasi

Androgen, steroid anabolic Klomifen Simetidin Metotreksat Antasid garam Ca, difenoksilat

* Sirosis
* Penyakit hati berat, terutama dengan disfungsi ginjal * Hepatitis viral akut, ikterus akibat obat

Kloramfenikol Niridazol Fenitoin

Depresi sumsum tulang Toksisitas SSP naik Toksisitas SSP naik

Metabolisme turun Metabolisme turun Metabolisme turun, kadar obat bebas naik

Ergotamin

Toksisitas naik

Metabolisme turun

Prinsip Penggunaan Obat pada Gangg. Hati
Usahakan memilih obat yang eliminasinya melalui ekskresi ginjal. • Hindari penggunaan obat depresan SSP,diuretik, obat yang menyebabkan konstipasi, antikoagulan oral, kontrasepsi oral, dan obat hepatotoksik. • Gunakan dosis yang lebih rendah dari biasanya

DOSIS PD PENYAKIT SALURAN CERNA
Penyakit ini dapat mengurangi kecepatan dan/atau jumlah obat yang diabsorpsi pada pemberian oral melalui perlambatan pengosongan lambung,

percepatan waktu transit dalam saluran cerna,
malabsorpsi, dan/atau metabolisme dalam saluran cerna (lihat contoh pada Tabel)

Prinsip umum pemberian obat pada
penyakit saluran cerna adalah :
(1) Hindarkan obat iritan (misalnya KCl, aspirin, anti-inflamasi
nonsteroid lainnya) pada keadaanstasis/hipomotilitas saluran cerna. (2) Hindarkan sediaan lepas lambat dan sediaan salut enterik pada keadaan hiper-maupun hipomotilitas saluran cerna. (3) Berikan levodopa dalam kombinasi dengan karbidopa. (4) Untuk obat-obat lain : dosis harus disesuaikan berdasarkan respons klinik penderita dan/atau bila perlu melalui pengukuran

kadar obat dalam plasma.

Tabel. PERUBAHAN RESPONS TERHADAP OBAT PADA BERBAGAI KEADAAN PATOLOGIK
Penyakit Obat Respons Mekanisme utama

Penyakit saluran cerna
* Diare/gastroenteritis Digoksin, kontrasepsi oral, fenitoin, sediaan salut enteric, sediaan lepas lambat Parasetamol, aspirin Respons turun Waktu transit dalam saluran cerna turun  waktu untuk obat melarut dan diabsorpsi turun  jumlah obat yang diabsorpsi turun Kecepatan pengosongan lambung turun  kecepatan absorpsi turun Waktu pengosongan lambung naik, waktu transit dalam saluran cerna naik  metabolisme di dinding lambung dan usus naik  jumlah obat yang mencapai sirkulasi sistemik turun. Obat tertahan lama di suatu tempat di saluran cerna  penglepasan obat iritan di tempat tersebut naik Obat iritan dilepaskan secara mendadak dalam jumlah besar di usus halus yang sedang stasis Kapasitas absorpsi turun

* Stenosis pilorus

Respons turun

* Stenosis pilorus, konstipasi

Levodopa

Respons turun

* Stenosis esophagus, pilorus atau duodenum

KCI, aspirin, obat iritan lain

Ulserasi local

* Stenosis esophagus, pyiorus atau duodenum

KCI, aspirin atau obat iritan lain dalam sediaan lepas lambat atau sediaan salut enteric Digoksin, penisilin V

Ulserasi di usus halus (di samping ulserasi local) Respons turun

* malabsorpsi

Sindrom

DOSIS PD
PENYAKIT KARDIOVASKULAR
Penyakit ini mengurangi distribusi obat dan alir darah ke hepar dan ginjal untuk eliminasi obat sehingga kadar obat tinggi dalam darah dan menimbulkan efek yang berlebihan atau efek toksik (contoh obat pada Tabel) Prinsip umum pemberian obat pada keadaan ini : (1)Turunkan dosis awal (DL) maupun dosis penunjang (DM) ;

(2) Sesuaikan dosis berdasarkan respons klinik penderita dan/atau
bila perlu melalui pengukuran kadar obat dalam plasma.

Penyakit kardiovaskular
* Infark miokard, terutama dengan syok atau gagal jantung

Obat

Respon

Mekanisme utama

Lidokain

Intoksikasi

Volume distribusi turun, alir darah hepar untuk eliminasi turun  kadar obat naik

* Idem

Prokainamid, kuinidin

Intoksikasi

Volume distribusi turun, alir darah ginjal untuk eliminasi turun  kadar obat naik

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->