Anda di halaman 1dari 23

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Masalah Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis (Undang Undang No 36 tahun 2009). Pembangunan kesehatan sebagai salah satu upaya pembangunan nasional diarahkan guna tercapainya kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Berbagai upaya telah dilakukan, baik oleh pemerintah, tenaga kesehatan maupun masyarakat. Primary Health Care (PHC) diperkenalkan oleh World Health Organization (WHO) dengan tujuan untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas. Di Indonesia, PHC memiliki 3 strategi utama, yaitu kerjasama multisektoral, partisipasi masyarakat, dan penerapan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan dengan pelaksanaan di masyarakat. (Jurnal 1464). Sumber pengobatan di dunia mencakup tiga sektor yang saling terkait, yaitu pengobatan rumah tangga/ pengobatan sendiri menggunakan obat, obat tradisional, atau cara tradisional, pengobatan medis yang dilakukan oleh oleh perawat, dokter, puskesmas, atau rumah sakit, serta pengobat tradisional (Young, 1980). Kriteria yang digunakan untuk memilih sumber pengobatan adalah pengetahuan tentang sakit dan pengobatannya, keyakinan terhadap obat/ pengobatan, keparahan sakit, dan keterjangkauan biaya dan jarak. (POLA PENGGUNAAN
OBAT, OBAT TRADISIONAL, DAN CARA TRADISIONAL DALAM PENGOBATAN SENDIRI DI INDONESIA *
Contributed by DR.SUDIBYO SUPARDI

Sudibyo Supardi, Sarjaini Jamal, Raharni Badan (Litbangkes Depkes RI)

Persentase terbesar masyarakat memilih melakukan pengobatan sendiri untuk menanggulangi keluhannya (POLA PENGGUNAAN OBAT, OBAT TRADISIONAL, DAN
CARA TRADISIONAL DALAM PENGOBATAN SENDIRI DI INDONESIA
SUPARDI Contributed by DR.SUDIBYO

Sudibyo Supardi, Sarjaini Jamal, Raharni Badan (Litbangkes Depkes RI ).

Pengobatan sendiri dikenal

dengan istilah Self medication atau Swamedikasi. Self medication biasanya dilakukan untuk penanggulangan secara cepat dan efektif keluhan yang tidak memerlukan konsultasi medis, mengurangi beban pelayanan kesehatan pada keterbatasan sumber daya dan tenaga, serta meningkatkan keterjangkauan pelayanan kesehatan untuk masyarakat yang jauh dari puskesmas. (jurnal 1464) Banyak faktor yang mendorong dan mempengaruhi perilaku pengobatan sendiri atau swamedikasi oleh masyarakat. Dijelaskan dalam Teori Green bahwa mewujudkan sikap menjadi perbuatan yang nyata diperlukan faktor pendukung atau kondisi yang memungkinkan. Faktor yang mendukung tersebut adalah : faktor predisposisi (pengetahuan, sikap, umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status pekerjaan, pendapatan), faktor pemungkin (pengaruh iklan, ketersediaan sarana kesehatan), dan faktor pendukung (keluarga, lingkungan Salah satunya adalah iklan obat. (1464) Menurut Supardi dan Notosiswoyo pengetahuan pengobatan sendiri umumnya masih rendah dan kesadaran masyarakat untuk membaca label pada kemasan obat juga masih kecil. Sumber informasi utama untuk melakukan pengobatan sendiri umumnya berasal dari media massa. Secara umum, promosi obat yang ditampilkan di media saat ini sudah sangat berlebihan dan tidak objektif lagi (jurnal 1464). Persentase terbesar penduduk Indonesia pada tahun 2001 yang mengeluh sakit dan melakukan pengobatan sendiri (57,7%) lebih rendah daripada tahun-tahun sebelumnya. Demikian juga penduduk yang melakukan pengobatan sendiri sebesar 82,7% menggunakan obat (OB), 31,7% menggunakan obat tradisional (OT), dan 9,8% menggunakan cara

tradisional (CT). Penduduk yang mengeluh sakit dan menggunakan obat, obat tradisional, dan cara tradisional relatif lebih besar pada penduduk dengan tingkat ekonomi kurang mampu. ( jurnal Litbang RI yang di atas). Berdasarkan Riskesdas 2010, penggunaan jamu dan manfaatnya di Indonesia, diperoleh dari penduduk umur 15 tahun keatas. Penduduk kelompok umur 15 tahun ke atas yang dianalisis sebanyak 177.926 responden, dengan rincian laki- laki sebanyak 86.493 responden (48,6%) dan perempuan sebanyak 91.433 responden (51,4%). Di perkotaan sebanyak 91.057 responden (51,2%) dan perdesaan sebanyak 86.869 responden (48,8%). Data yang diperoleh adalah sebagai berikut; 1). sebanyak 59,12 persen penduduk Indonesia pernah mengkonsumsi jamu, yang merupakan gabungan dari data kebiasaan mengkonsumsi jamu setiap hari (4,36%) (a), kadang- kadang (45,03%) (b), dan tidak mengkonsumsi jamu, tapi sebelumnya pernah (9,73%), dan (c). persentase penduduk Indonesia yang tidak pernah mengkonsumsi jamu sebanyak 40,88 persen dan d). provinsi dengan persentase kebiasaan mengkonsumsi jamu tertinggi adalah Kalimantan Selatan (80,71%) dengan data konsumsi jamu setiap hari 5,55 persen, selanjutnya Provinsi Sulawesi Tenggara (23,95%) merupakan provinsi yang mempunyai kebiasaan mengonsumsi jamu terendah dengan data konsumsi jamu setiap hari 1,39 persen. Hasil Survai Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2010 menunjukkan bahwa penduduk Kota Semarang yang mengeluh sakit selama sebulan sebelum survai dilakukan sebesar 27,72%. Pemilihan sumber pengobatan yang dilakukan oleh penduduk Kota Semarang yang mengeluh sakit, persentase terbesar 70,42% adalah pengobatan sendiri, sedangkan berobat jalan 39,28%. Penduduk Kota Semarang yang berobat jalan persentase terbesar memilih praktek dokter/poliklinik 51,44%, puskesmas/pustu 29,78%, praktek nakes 6,45%, rumah sakit pemerintah 5,53%, rumah sakit swasta 5,13%, praktek tradisional 0,78%, dukun bersalin 0,00 % dan lainnya 0,88%.

Beberapa obat tradisional dapat menyebabkan bahaya dikarenakan salah penggunaan bahan, cara penggunaan, dosis dan waktu penggunaan serta penyalahgunaan. Kesalahan ini dapat menjadi pemicu timbulnya kanker jika digunakan dalam waktu lama, penumpukan cairan diperut, gangguan pada jantung dan hati, serta menimbulkan efek berbahaya bagi usus dan lain-lain. (Artikel ilmiah : pemanfaatan obat tradisional dengan pertimbangan manfaat dan keamanannya, 2006, Lusia Oktora Ruma Kumala Sari). Maka dari itu, Bila swamedika tidak diimbangi dengan informasi obat yang benar, maka akan menjerumuskan masyarakat kearah penggunaan obat yang tidak rasional dan dapat menimbulkan bahaya bagi masyarakat. Hal ini secara umum dikarenakan kurang pahamnya masyarakat tentang khasiat, efek samping dan cara penyimpanan obat. (jurnal 1464)

I.2 Rumusan Penelitian Sebagaimana telah dikemukakan, jika swamedika ini tidak diimbangi dengan informasi obat yang benar, maka akan menjerumuskan masyarakat ke arah penggunaan obat yang tidak rasional dan dapat menimbulkan bahaya bagi masyarakat. Hal ini karena kurang pahamnya masyarakat tentang khasiat, efek samping dan cara penyimpanan obat. Sehubungan dengan hal tersebut di atas, rumusan masalah yang dapat dikemukakan adalah Bagaimanakah gambaran rasionalisasi pemanfaatan obat keras, obat bebas/ terbatas, antibiotika, obat tanpa logo, dan obat tradisional di Provinsi Kalimantan Selatan?

I.3 Tujuan Penelitian Tujuan Umum : Mengetahui gambaran rasionalisasi pemanfaatan obat keras, obat bebas/ terbatas, antibiotika, obat tanpa logo, dan obat tradisional. Tujuan Khusus :

Memperoleh informasi tentang nama dan jenis jenis obat yang tersedia (disimpan) di rumah tangga.

Memperoleh informasi tentang pemanfaatan obat yang tersedia (disimpan) di rumah tangga.

Memperoleh informasi tentang sumber obat yang tersedia (disimpan) di rumah tangga. Memperoleh informasi tentang kondisi obat yang tersedia (disimpan) di rumah tangga.

1.4 Manfaat Manfaat dari penelitian ini adalah untuk dijadikan data awal dan acuan dalam membuat suatu kebijakan maupun intervensi yang di berikan kepada masyarakat guna meningkatkan derajat kesehatan. Khusunya di bidang farmasi dalam rasionalisasi pemanfaatannya obat di masyarakat Propinsi Kalimatan Selatan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Defenisi Swamedika Pengobatan sendiri adalah upaya pengobatan sakit menggunakan obat, obat tradisional atau cara tradisional tanpa petunjuk ahlinya (Anderson, 1979). Swamedikasi itu sendiri merupakan pengobatan sendiri tanpa resep dari dokter, yang mana masyarakat dapat membeli obatnya pada apotek, toko obat, maupun warung. Prosentase pengobatan swamedikasi lebih sering disbanding dengan resep dokter karena jatuhnya harga lebih murah di banding melalui konsultasi dokter terlebih dahulu. Karena besarnya swamedikasi dimasyarakat, maka semakin tinggi pula persediaan obat diwarung. (jurnal stop cinta). Swamedikasi boleh dilakukan untuk kondisi penyakit yang ringan, umum dan tidak akut. Setidaknya ada lima komponen informasi yang yang diperlukan untuk swamedikasi yang tepat menggunakan obat modern, yaitu pengetahuan tentang kandungan aktif obat (isinya apa?), indikasi (untuk mengobati apa?), dosage (seberapa banyak? seberapa sering?), efek samping, dan kontra indikasi (siapa/ kondisi apa yang tidak boleh minum obat itu?). Dasar hukum swamedikasi tertera dalam Permekes

No.919/MENKES/PER/X/1993, yaitu; Kriteria obat yang digunakan Sesuai permenkes No.919/MENKES/PER/X/1993, kriteria obat yang dapat diserahkan tanpa resep: 1. Tidak dikontraindikasikan untuk penggunaan pada wanita hamil, anak di bawah usia 2 tahun dan orang tua di atas 65 tahun.

2. Pengobatan sendiri dengan obat dimaksud tidak memberikan risiko pada kelanjutan penyakit. 3. Penggunaannya tidak memerlukan cara atau alat khusus yang harus dilakukan oleh tenaga kesehatan. 4. Penggunaannya tidak memerlukan cara atau alat khusus yang harus dilakukan oleh tenaga kesehatan. 5. Penggunaannya diperlukan untuk penyakit yang prevalensinya tinggi di Indonesia. 6. Obat dimaksud memiliki rasio khasiat keamanan yang dapat dipertanggungjawabkan untuk pengobatan sendiri. (farmasi, swamedikasi) 2.2 Swamedika di Masyarakat 2.2.1 Nama dan Jenis Obat Persediaan obat dalam keluarga memang sangat penting karena diperlukan untuk mengatasi keluhan yang menyertai gejala suatu penyakit. Obat adalah bahan kimia yang sewaktu-waktu dapat mengalami perubahan, baik fisis maupun khemis. Selain itu obat harganya juga tidak murah sehingga penyimpanan yang tepat akan lebih menguntungkan. Dari keempat golongan obat yang beredar di masyarakat, tidak perlu semuanya disediakan di rumah. Dalam penyimpanan obat, yang perlu diingat adalah bahwa persediaan obat harus tetap stabil, tidak berubah sifatnya karena pengaruh luar (sinar, lembab). Beberapa hal yang patut mendapat perhatian adalah (Anief, 1991 : 56) : 1. Obat yang mengandung minyak menguap harus disimpan dalam botol yang tertutup rapat. 2. Obat yang mudah menarik air (obat bersalut gula), sebaiknya disimpan di.tempat kering dan tertutup rapat.

3. Obat yang mudah rusak karena pengaruh cahaya sebaiknya disimpan dalam wadah tertutup yang berwarna gelap. 4. Obat bentuk supositoria yang mudah meleleh serta obat suntik sebaiknya disimpan di tempat sejuk (almari pendingin). 5. Obat untuk kita harus disimpan tersendiri, tidak boleh dicampur dengan penyimpanan makanan atau obat pemberantas hama. 6. Obat luar sebaiknya dipisahkan dari obat dalam. 7. Penyimpanan obat harus di luar jangkauan anak-anak, terutama obat-obat yang mempunyai bentuk dan warna menarik.

Perkembangan dunia pengobatan tidak terlepas dari perkembangan ilmu kimia. Beberapa contoh obat-obatan yang banyak dikenal, antara lain : 1. Adstringen, adalah obat yang dapat menciutkan selaput lendir, misal Tanninum. 2. Adsorben, adalah zat inert secara kimia yang mampu menyerap gas, toksin, dan bakteri, misalnya Norit. 3. Analgetik / Antiperik, adalah obat yang mengurangi atau melenyapkan rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran, misalnya Parasetamol, Aspirin. 4. Anestetik, adalah obat yang menyebabkan hilangnya perasaan/pemati rasa, misalnya Eter, Kloroform, Kloretil. 5. Antasid, adalah obat yang dapat mengurangi asam lambung, misalnya Mg(OH)2. 6. Antibiotik, yaitu obat yang dihasilkan oleh mikroorganisme yang dapat menghambat pertumbuhan atau dapat membunuh mikroorganisme lain, misalnya Tetrasiklin HCl.

7. Antiseptik, adalah obat yang digunakan untuk meniadakan atau mencegah keadaan pembusukan, misalnya Merkurokrom, Asam borat.

Penggunaan obat memang harus hati-hati, meskipun obat yang kita gunakan termasuk obat bebas, karena setiap obat memiliki efek samping yang berbahaya bagi kesehatan. Beberapa jenis obat mempunyai efek samping yang dapat membahayakan penderita tanpa sepengetahuan dirinya sendiri. Sebagai contoh, obat-obat penambah tenaga yang memiliki efek samping mempercepat denyut jantung, sehingga bila tidak disadari oleh pemakai yang memiliki penyakit jantung akan fatal akibatnya. Sangat penting bagi kita untuk membaca aturan pemakaian obat dan kontraindikasi (larangan) yang tercantum pada kemasan obat yang

bersangkutan. Jenis obat yang digunakan 1. Tanpa resep dokter : - obat bebas tak terbatas : tanda lingkaran hitam, dasar hijau - obat bebas terbatas : tanda lingkaran hitam, dasar biru 2. Obat Wajib Apotek (OWA) Merupakan obat keras tanpa resep dokter, tanda: lingkaran hitam, dasar merah 3. suplemen makanan

Menurut perundang-undangan Farmasi yang dikeluarkan oleh Depar-temen Kesehatan RI, berdasarkan tingkat keamanan dan ketepatan penggunaan-nya, obat digolongkan ke dalam empat jenis, yaitu : 1. Obat bebas

Obat-obat yang dalam penggunaannya tidak membahayakan dan masyarakat dapat menggunakan sendiri tanpa pengawasan dari dokter. Golongan obat ini dapat digunakan masyarakat secara bebas tanpa perlu resep dokter dan dapat dibeli di Apotik, toko obat berijin, serta warung-warung kecil Ciri obat golongan ini ditandai dengan tanda lingkaran hijau dengan garis tepi hitam. Sebagai contoh adalah : vitamin B komplek, promag, rivanol, oskadon, bodrexin, becombion, vital, termagon, dan lain-lain. 2. Obat bebas terbatas Golongan obat ini dahulu termasuk obat daftar W, dapat dibeli dengan bebas tetapi diberikan dalam jumlah terbatas. Obat ini disebut terbatas karena pemberiannya dalam dosis atau takaran terbatas / tertentu. Pada kemasannya terdapat tanda lingkaran biru dengan garis tepi hitam & tanda peringatan (P1-6). Sebagai contoh adalah : tablet anti flu, mercurochrome, obat tetes mata, OBH, Vicks, daktarin, neozep, dulcolax, dan lain-lain. (pemakaiannya tidak perlu di bawah pengawasan dokter). Pengertian obat bebas adalah golongan obat yang dalam jumlah tertentu penggunaannya aman, tetapi bila terlalu banyak akan menimbulkan efek kurang enak. Pada kemasannya biasanya disertai tanda peringatan serta cara pemakaiannya. Tanda peringatan tersebut adalah : 1) P. No. 1. Awas ! Obat Keras; Bacalah aturan memakainya. Sebagai contoh : Tablet Anti Flu, seperti Refagan, Neozep, Decolgen. 2) P. No. 2. Awas ! Obat Keras : hanya untuk kumur, jangan ditelan. Sebagai contoh : Obat Kumur, seperti Betadine obat kumur, Enkasari, Gargarisma khan.

3) P. No. 3. Awas ! Obat Keras : hanya untuk bagian luar dari badan. Sebagai contoh : Betadine solution, kalpanax Tincture, Salep-salep, Obat tetes mata. 4) P. No. 4. Awas ! Obat Keras : hanya untuk dibakar. Sebagai contoh : Rokok Anti Ashma. 5) P. No. 5. Awas ! Obat Keras : tidak boleh ditelan. Sebagai contoh : Rivanol kompres untuk kompres luka. 6) P. No. 6. Awas ! Obat Keras : Obat wasir, jangan ditelan. Sebagai contoh : Anusol, Dulcolax Supp. 3. Obat keras Dahulu termasuk dalam obat daftar G, yaitu segolongan obat berbahaya, artinya pemakaiannya harus di bawah pengawasan dokter. Untuk

memperolehnya harus dengan resep dokter, dan hanya dapat diperoleh di Apotik (termasuk di Rumah Sakit), Puskesmas, Balai Pengobatan, atau Poliklinik Kesehatan. Pada kemasan ada tanda lingkaran merah dengan garis tepi hitam dan huruf K yang berwarna hitam. Sebagai contoh : antibiotik, obat suntik, vaksin, fuladic (obat kulit), bioplacenton (obat luka bakar), bactoderm (obat kulit), dan lain-lain. Obat-obat Psikotropika juga merupakan bagian dari golongan obat keras dan akhir-akhir ini banyak disalahgunakan penggunaannya oleh segolongan anggota masyarakat. Sebenarnya obat psikotropika merupakan obat yang digunakan untuk tujuan pengobatan yang menyangkut masalah kejiwaan atau mental. Pengaruh obat ini terutama pada susunan saraf pusat manusia, minimal dapat mengurangi gejala yang timbul pada penyakit mental kejiwaan. Obatobat yang termasuk golongan ini : Neuroleptika, anti depresan, dan obat penenang.

Penggunaan obat psikotropika dapat menyebabkan depresi, stimulasi pada susunan saraf pusat, halusinasi, dan gangguan fungsi motorik / otot, dan efek lainnya. Oleh karena itu penggunaan obat golongan ini harus benar-benar digunakan sesuai dengan tujuannya, yaitu untuk keperluan pengobatan, ilmiah, dan atau tujuan khusus lainnya, seperti untuk keperluan hukum. Hal ini tentunya akan membawa akibat gangguan pada kesehatan si pemakai dan dapat menimbulkan problematik sosial. Contoh obat psikotropika antara lain : tablet valium, artane, mogadon, dumolid, rivoltril. Di kalangan para pemakai obatobat tersebut dikenal dengan sebutan Pil Koplo. 4. Obat narkotika Dahulu dikenal sebagai obat daftar O, jauh lebih berbahaya dibanding obat keras, pemakaiannya diawasi secara khusus dan apotik harus memberikan laporan bulanan rutin kepada Pemerintah. Obat narkotika adalah obat-obatan yang diperlukan dalam bidang ilmu pengetahuan dan bidang pengobatan. Penyalahgunaan obat golongan ini dapat berakibat buruk pada tubuh si

pemakai, juga terhadap keluarga, masyarakat, dan lingkungan. Pemakaian obat ini dapat menjadikan kecanduan dan ketergantungan yang berakibat merusak badan dan mental si pemakai. Untuk mendapatkan obat jenis ini harus dengan resep dokter, dan hanya boleh diulang bila menggunakan resep yang baru. Sebagai contoh obat golongan ini adalah : morphin, heroin, codein, LSD, kokain, ganja (hashish), dan candu. Dengan mengetahui beberapa golongan obat tersebut diharapkan masyarakat akan lebih hati-hati dalam menggunakan obat dan sesuai dengan keinginannya. Pengetahuan tentang jenis obat dan contohnya dapat membantu

masyarakat dalam menggunakan obat secara benar dan tepat untuk mencapai kesehatan badan maupun rohani yang baik. Berdasarkan bentuknya, obat terdiri atas 2 golongan, yaitu sediaan padat dan sediaan cair. Contoh sediaan padat berupa serbuk, tablet, kapsul, pil, sedangkan sediaan cair berupa solution, emulsi, suspensi, eliksir. Pembuatan obat dengan bentuk berbeda-beda itu bukan tanpa tujuan, tetapi disesuaikan dengan keperluannya sehingga efek terapi yang ditimbulkannya bisa maksimum. Obat yang dikonsumsi akan mengalami peristiwa Absorspsi (A), Distribusi (D), Metabolisme (M) dan Ekskresi (E) (Anief, 1990 : 12). Cara pemakaian obat ada 5 macam, yaitu melalui oral (mulut), suntikan (parental), inhalasi (dihirup), selaput lendir (membran mukosa), dan topikal (permukaan kulit). Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemakaian obat adalah tentang dosis atau takaran obat. Dikenal bermacam-macam dosis terapi yang digunakan untuk memberikan efek terapi. Dosis maksimal merupakan dosis yang apabila dilampaui dapat menjadikan hal-hal yang merugikan badan, sedangkan dosis letalitas dapat mematikan penderita. Dalam Penelitian (file), penduduk Indonesia menggunakan obat kimia, obat tradisional (herbal) dan obat tradisional (jamu). Penduduk Indonesia yang menggunakan obat (82,7%) cenderung menurun, tetapi penggunaan obat tradisional (31,7%) dan cara tradisional (9,8%) cenderung meningkat. Penggunaan obat tradisional meningkat mungkin disebabkan adanya intervensi pemerintah melalui promosi pemanfaatan obat asli Indonesia dan penggalakkan TOGA (Taman Obat Keluarga) secara lintas sektor di jajaran Depkes dan tim penggerak PKK. Peningkatan penggunaan obat tradisional mungkin berkaitan juga dengan peningkatan jumlah industri obat tradisional dan industri kecil obat tradisional selama lima tahun terakhir (Depkes, 2001), sehingga meningkatkan promosi obat tradisional melalui media massa. Dalam penelitian (file) persentase penduduk Indonesia yang menggunakan obat dalam pengobatan

sendiri lebih tinggi di kota, dengan keluhan sakit kepala, sakit gigi, batuk, dan pilek, lama sakit tidak lebih dari 3 hari. Menurut Bopeng (1992), 70,7% warung di Kelurahan Wawonasa menjual obat, terutama untuk keluhan panas, batuk, pilek dan sakit kepala. Keluhan yang banyak ditanggulangi dengan pengobatan sendiri adalah batuk, pilek, sakit kepala, dan sakit pinggang. Obat tradisional dan cara tradisional dalam pengobatan sendiri lebih tinggi di desa, dengan keluhan lumpuh, campak, kejang, dan kecelakaan. obat tradisional dan cara tradisional adalah keluhan yang dianggap berat, misalnya kecelakaan, campak, kejang dan lumpuh. Penggunaan obat tradisional umumnya berupa jamu buatan pabrik dan jamu gendong, sementara jamu buatan sendiri sangat sedikit digunakan (BPS, 1995). (jurnal File) 2.2.2 Pemanfaatan Obat Dalam pemanfaatan obat, golongan obat bebas dan bebas terbataslah yang sering dipergunakan oleh masyarakat untuk mengurangi keluhan sakitnya yaitu 1. Obat untuk mengurangi rasa sakit pada anak-anak dan dewasa. 2. Obat untuk mengatasi keracunan (karena obat. makanan, dan bahan lain). 3. Obat untuk mengatasi infeksi akibat kecelakaan, misal betadine, bioplacenton. (jurnal dirimu) Tanaman obat maupun obat tradisional relatif mudah untuk didapatkan karena tidak memerlukan resep dokter, hal ini mendorong terjadinya penyalahgunaan manfaat dari tanaman obat maupun obat tradisional tersebut. Contoh : a. Jamu peluntur untuk terlambat bulan sering disalahgunakan untuk pengguguran kandungan. Resiko yang terjadi adalah bayi lahir cacat, ibu menjadi infertil, terjadi infeksi bahkan kematian. b. Menghisap kecubung sebagai psikotropika. c. Penambahan bahan kimia obat Pada bulan Mei 2003, Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Pekanbaru menarik 9.708 kotak obat tradisional dari peredaran dan

memusnahkannya. Obat yang ditarik dari peredarannya sebagian besar berupa jamu-jamuan yang mengandung bahan-bahan kimia obat (BKO) berbahaya bagi tubuh pemakainya. Bahan-bahan kimia obat yang biasa dicampurkan itu adalah parasetamol, coffein, piroksikam, theophylin, deksabutason, CTM, serta bahan kimia penahan rasa sakit seperti antalgin dan fenilbutazon (Kompas, 31 Mei 2003). Bahan-bahan kimia obat tersebut dapat menimbulkan efek negatif di dalam tubuh pemakainya jika digunakan dalam jumlah banyak. Bahan kimia seperti antalgin misalnya, dapat mengakibatkan kerusakan pada organ pencernaan, berupa penipisan dinding usus hingga menyebabkan pendarahan. Fenilbutazon dapat menyebabkan pemakainya menjadi gemuk pada bagian pipi, namun hanya berisi cairan yang dikenal dengan istilah moonface, dan jika digunakan dalam waktu yang lama dapat menyebabkan osteoporosis. (Artikel ilmiah : pemanfaatan obat tradisional dengan pertimbangan manfaat dan keamanannya, 2006, Lusia Oktora Ruma Kumala Sari). 2.2.3 Sumber Obat Kriteria yang dipakai untuk memilih sumber pengobatan, menurut Kalangee (1984), adalah pengetahuan tentang sakit dan obatnya, biaya yang berkaitan dengan pengobatan, keparahan sakit serta nasehat keluarga. Proses pengambilan keputusan dimulai dengan penerimaan informasi, memproses berbagai informasi dan dampaknya, dan kemudian mengambil keputusan dengan berbagai dampaknya (Suryawati, 1991). Masyarakat memperoleh informasinya dalam pengobatan sendiri berasal dari tenaga kesehatan (55,7%), dari nenek moyang (20,2%), dari iklan TV dan radio (16,4%) serta dari teman atau tetangga (7,7%). Sebagai contoh dalam penelitian yang dilakukan dalam pemilihan obat batuk di masyarakat Godean, dalam memperoleh obat batuk, masyarakat di Godean

mempunyai dasar pemilihan antara lain: membeli sendiri karena pengaruh iklan (46,5%), dari obat yang pernah diresepkan dokter (37,5%), kebetulan ada dirumah (8,6%) dan diperoleh dari teman atau tetangga (7,7%). Dari data tersebut informasi dari iklan ternyata paling tinggi, karena memang sangat gencarnya iklan obat batuk di TV atau radio. Informasi dari iklan yang mungkin tidak dibarengi informasi yang benar, akan memberikan efek yang merugikan bagi masyarakat.

2.2.4 Kondisi Obat

512

BAB III KERANGKA KONSEP Konsep hidup sehat H.L. Blum sampai saat ini masih relevan untuk diterapkan. Kondisi sehat secara holistik bukan saja kondisi sehat secara fisik melainkan juga spiritual dan sosial dalam bermasyarakat. Untuk menciptakan kondisi sehat seperti ini diperlukan suatu keharmonisan dalam menjaga kesehatan tubuh. H.L Blum menjelaskan ada empat faktor utama yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat. Keempat faktor tersebut merupakan faktor determinan timbulnya masalah kesehatan. Menurut H.L Blum, ada 4 faktor yang bersama-sama mempengaruhi tingkat kesehatan masyarakat, yaitu: 1. 2. 3. 4. Kesehatan Lingkungan Perilaku Pelayanan Kesehatan Genetik

(beri beberapa teori dan data kasus tentang ketidak rasionalan penggunaan obat) swamedikasi

Gambar 3.1 Kerangka Konsep yang dikemukakan adalah Bagaimana perilaku dari individu berpengaruh terhadap dengan status derajat kesehatan di Provinsi Kalimantan Selatan.

BAB IV METODE PENELITIAN

IV.1

Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan desain penelitian deskriftif

observational. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional karena variabel-variabel di observasi pada saat yang bersamaan dengan cara wawancara terstruktur menggunakan kuesioner terhadap responden terpilih yang dikunjungi rumahnya. Metode pengambilan sampel yang dipakai adalah cluster sampling yang diadopsi dari Expanded Program on Immunization (EPI) WHO.

IV.2

Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan May-Agustus 2013 di Propinsi Kalimantan

Selatan dengan kabupaten/ kota yang mendapat program bantuan penyedia air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (pamsimas) sebagai lokasi penelitian. Ada 8 kabupaten/ kota yang termasuk dalam program pamsimas yaitu, kabupaten barito koala, kabupaten hulu sungai utara, kabupaten hulu sungai selatan, kabupaten balangan, kabupaten tanah laut, kabupaten kota baru, kabupaten tanah bumbu, kabupaten banjar.

IV.3

Populasi dan Sampel Penelitian

IV.3.1 Populasi Penelitian

Populasi dari penelitian ini adalah seluruh warga Propinsi Kalimntan Selatan, sedangkan populasi dari studi dari penelitian ini yaitu penduduk yang berusia > 17 thn yang bertempat tinggal di kabupaten/kota yang masuk dalam cluster penelitian. IV.3.2 Sampel Pemilihan sampel penelitian dilakukan di 30 cluster dengan langkah-langkah pemilihan cluster sebagai berikut: Menghitung jumlah kabupaten/kota di Propinsi Kalimnantan Selatan yang akan disurvey serta mencatat jumlah penduduk. Memilih angka pertama sebagai starting point dengancara memilih secara acak angka dari 1 sampai dengan angka sampling interval. Di kolom desa yang mana letak angka yang terpilih tersebut, itulah desa pertama yang akan disurvei. Menentukan cluster selanjutnya yang akan disurvei dengan menambah starting point dengan sampling interval. Angka yang didapatkan kemudian ditambahkan lagi dengan sampling interval, dan seterusnya untuk menentukan cluster yang akan disurvei sampai dengan 30 cluster. Besar sampel penelitian dihitung dengan menggunakan rumus (Lemeshow, 1997):

Keterangan : n Z P = jumlah sampel = deviasi normal standart pada = proporsi diasumsikan 0,5

d CI Deff

= presisi relative (10%) = 95% = design effect diasumsikan 2

= (1,96).0,5(1-0,5)x2 (0,10) = 192 Total sampel cluster sebesar 193 sampel. 30 cluster terdiri dari 16 desa. Jadi, 193/30=

7 sampel di setiap cluster. Total sampel 7x30= 210. Jadi total sampel minimal yang dipakai dan dianalisis sebesar 210.

IV.4

Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Data primer yang

digunakan adalah data yang dikumpulkan pada bulan juni 2013 dengan cara wawancara menggunakan instrument penelitian berupa kuesioner yang telah dirancang untuk mengukur variabel-variabel penelitianan. Data sekunder merupakan data-data yang dikumpulkan dari dari berbagai instansi terkait dengan penelitian ini. Pengumpulan data primer dilakukan pada bulan juni 2013 Petugas pengumpul data berjumlah 4 orang dengan latar belakang pendidikan kesehatan. Sebelum melakukan pengumpulan data, petugas pengumpul data dilatih terlebih dahulu dalam hal pengisisan kuesioner dan teknik pengambilan sampel. Adapun teknik pengambilan sampel dengan cara melakukan kunjungan ke rumah responden dengan metode sebagai berikut: Menentukan central point, dapat berupa rumah ibadah atau kantor di kabupaten tersebut.

Menetukan arah survey secara acak dengan melemparkan pena hingga mata pena menunjukan arah tertentu.

Mengikuti arah yang telah ada untuk memilih rumah pertama dan memulai wawancara.

Setelah wawancara di rumah pertama selesai, survei dilanjutkan ke rumah berikutnya dengan metode zig-zag. Rumah yang dipilih berikutnya adalah rumah di sebrang jalan rumah pertama dengan jarak beberapa rumah dari rumah petama dan menjauhi central point. Rumah berikutnya adalah rumah disebrang rumah kedua dengan jarak beberapa rumah dari rumah kedua. Jarak rumah dalam penelitian ini tidak ditentukan, tetapi diusahakan tidak terlalu berdekatan.

Jika dalam pertengahan survey ditemui persimpangan jalan maka ditentukan kembali arah survey dengan melempar pena hingga menunjukan arah survei yang baru dan penelitian dapat dilanjutkan.

Bila tidak ada rumah lagi, pewawancara kembali lagi ke central point dan tentukan arah lagi dengan melempar pena.

Begitu seterusnya sampai didapatkan minimal 7 rumah responden tiap cluster.

Gambar 4.1 Alur Pemgumpulan Data Penelitian IV.5 Pengolahan Data Data yang telah diperoleh diberi kode sehingga memudahkan proses pengumpulan data terutama saat pemasukan data ke computer. Setelah pengkodean data, dilukan penyuntingan data untuk memeriksa adanya kesalahan atau ketidak lengkapan data. Sebelum memasukan data terlebih dahulu dibuat struktur data dan file data dengan menggunakan program SPSS 17. Proses pemasukan data dilakukan dengan menggunakan program SPPSS 17. Data yang sudah dimasukan kemudian di cek ulang dengan menggunakan fasilitas pada program SPSS 17. Untuk menghndari kesalahan dalam pengolahan data.

IV.6

Analisis data Untuk menjawab tujuan penelitian yang ingin dicapai dilkukan analisis data dengan

menggunakan program SPSS 17. Langkah-langkah analisis data dilakukan secara bertahap, yaitu analisis univariat dengan coss tabulation.

DAFTAR PUSTAKA