Perda RTRWP Jawa Tengah 21 Tahun 2003

2

PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA TENGAH NOMOR 21 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA TENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TENGAH Menimbang: a. bahwa dalam rangka perencanaan Tata Ruang Wilayah Propinsi Jawa Tengah sebagai pedoman bagi semua kegiatan pemanfaatan ruang secara optimal, serasi, seimbang, terpadu, tertib, lestari dan berkelanjutan, telah dikeluarkan Peraturan Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Tengah Nomor 8 Tahun 1992 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Tengah; bahwa dengan adanya perkembangan keadaan dewasa ini khususnya di bidang penataan ruang, maka Peraturan Daerah tersebut huruf a sudah tidak sesuai lagi oleh karena itu perlu dicabut dan menetapkan kembali Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Jawa Tengah dengan Peraturan Daerah. Undang-undang Nomor 10 Tahun 1950 tentang Pembentukan Propinsi Jawa Tengah; Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2043); Undang-undang Nomor 6 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 10, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2824); Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan 7. 6. 5. (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2831); Undang-undang Nomor 1 Tahun 1973 tentang Landas Kontinen (Lembaran Negara Tahun 1973 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2994); Undang-undang Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 65, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3046); Undang-undang Nomor 13 Tahun 1980 tentang Jalan (Lembaran Negara Tahun 1980 Nomor 83, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3186); Undang-undang Nomor 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif (Lembaran Negara Tahun 1983 No-mor 44, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3260); Undang-undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran Negara Tahun 1984 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3274); Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 46, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3299); Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3419); Undang-undang Nomor 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3427); Undang-undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan Dan Permukiman (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3469);

8.

9.

b.

10.

Mengingat

:

1. 2.

11.

12.

3.

13.

4.

Perda RTRWP Jawa Tengah 2003-2018

3
14. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 27, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3470); Undang-undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 46, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3478); Undang-undang Nomor 13 Tahun 1992 tentang Perkeretaapian (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3479); Undang-undang Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3480) Undang-undang Nomor 21 Tahun 1992 tentang Pelayaran (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 98, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3493); Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 115, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3501); Undang-undang Nomor 5 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1996 Nomor 43, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3633); Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699) Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tent ang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839); Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat Dan Daerah (Lembaran Negara Tahun
Perda RTRWP Jawa Tengah 2003-2018

4
1999 Nomor 72, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3848); 24. Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 167, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3888); Undang-undang Nomor 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (PROPENAS) Tahun 2000-2004 (Le mbaran Negara Nomor 26); Undang-undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Republik Indonesia (Lembaran Negara Tahun 2002 Nomor 2, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4168); Undang-undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara (Lembaran Negara Tahun 2002 Nomor 3, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4169); Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1969 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan (Lembaran Negara Tahun 1969 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2916) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 75 Tahun 2001 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1969 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 141, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4154); Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1982 tentang Tata Pengaturan Air (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 37, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3225); Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 1985 tentang Jalan (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 37, Tambah an Lembaran Negara Nomor 3293);
Perda RTRWP Jawa Tengah 2003-2018

15.

25.

16.

26.

17.

27.

18.

28.

19.

20.

21.

22.

29.

30.

23.

Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1985 tentang Perlindungan Hutan (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 39. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3294). Perda RTRWP Jawa Tengah 2003-2018 32. Perda RTRWP Jawa Tengah 2003-2018 . 46. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4145). Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2001 tentang Pelaksanaan Tugas Pembantuan (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 77. Peraturan Pemerintah Nomor 77 Tahun 2001 tentang Irigasi (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 143. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 59. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Dekonsentrasi (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 62. 44. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 2001 tentang Kepelabuhanan (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 127. 34. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4106). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3445). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3934). 45. 37. Serta Bentuk Dan Tata Cara Peran Serta Masyarakat Dalam Penataan Ruang (Lembaran Negara Tahun 1996 Nomor 104. 42. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah Dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 54. 6 Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam Dan Kawasan Pelestarian Alam (Lembaran Negara Tahun 1998 Nomor 132. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2000 tentang Ketelitian Peta untuk Penataan Ruang Wilayah (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 20. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1990 tentang Jalan Tol (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 12. 47. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3816). Tambahan Lembaran Negara Nomor 4095). 41. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4146). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3441). Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan Laut (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 32. 36. Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1991 tentang Sungai (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 44. 35. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3721). 48. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838). 33. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1995 tentang Perlindungan Tanaman (Lembaran Negara Tahun 1995 Nomor 12). Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 1986 tentang Penyediaan Dan Penggunaan Tanah Serta Ruang Udara Disekitar Bandar Udara (Lembaran Negara Tahun 1986 Nomor 75. Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 96. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3660). Tambahan Lembaran Negara Nomor 4156). Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1996 tentang Pelaksanaan Hak Dan Kewajiban. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3776). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952). 38. 43. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1991 tentang Rawa (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 35. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3343). 39. Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2001 tentang Kebandarudaraan (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 128.5 31. 40. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3405).

Keputusan Presiden Nomor 53 Tahun 1989 tentang Kawasan Industri. Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air Dan Pengendalian Pencemaran Air (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 153. Pemerintah Kabupaten/Kota adalah Pemerintah Kabupaten/Kota di Propinsi Jawa Tengah. Keputusan Presiden Nomor 44 Tahun 1999 tentang Teknik Penyusunan Peraturan Perundang-undangan Dan Bentuk Rancangan Undang-undang. pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang. 10. Gubernur adalah Gubernur Jawa Tengah. 8. 2. 53. Peraturan Daerah Propinsi Jawa Tengah Nomor 28 Tahun 1988 tentang Pokok-pokok Pengaturan Pola Tanam di Propinsi Jawa Daerah Tingkat I Tengah (Lembaran Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Tengah Tahun 1991 Nomor 38 Seri D Nomor 36). Menetapkan: 8 Dengan persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROPINSI JAWA TENGAH MEMUTUSKAN PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA TENGAH TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA TENGAH BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan: 1. dan ruang udara sebagai satu kesatuan wilayah tempat manusia dan makhluk lainnya hidup dan melakukan kegiatan serta memelihara kelangsungan hidupnya. Kabupaten/Kota adalah Kabupaten/Kota di Propinsi Jawa Tengah. Tata Ruang adalah wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang baik direncanakan maupun tidak. 3. Penataan Ruang adalah proses perencanaan tata ruang. Daerah adalah Propinsi Jawa Tengah. Peraturan Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Tengah Nomor 1 Tahun 1988 tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Tengah (Lembaran Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Tengah Tahun 1988 Nomor 9 Seri D Nomor 9). 5.7 49. 55. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4161). 6. Perda RTRWP Jawa Tengah 2003-2018 . Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 1990 tentang Penggunaan Tanah Bagi Pembangunan Kawasan Industri. Bupati/Walikota adalah Bupati/Walikota di Propinsi Jawa Tengah. 4. 9. 7. 56. ruang lautan. 51. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Propinsi Jawa Tengah. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang daratan. 54. Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Jawa Tengah yang selanjutnya disingkat RTRW Propinsi Jawa Tengah adalah arahan kebijaksanaan dan strategi pemanfaatan ruang wilayah Daerah yang menjadi pedoman bagi Perda RTRWP Jawa Tengah 2003-2018 50. Peraturan Daerah Propinsi Jawa Tengah Nomor 1 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup di Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Tengah (Lembaran Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Tengah Tahun 1991 Nomor 9 Seri D Nomor 9). 52. Rancangan Peraturan Pemerintah Dan Rancangan Keputusan Presiden (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 70).

21. 17. dan kawasan yang perlu diprioritaskan. Kawasan Strategis adalah kawasan yang mempunyai lingkup pengaruh yang berdampak Nasional. tata Perda RTRWP Jawa Tengah 2003-2018 15. 22. azas manfaat. serta dapat mewujudkan pemerataan pemanfaatan ruang wilayah Nasional. tata guna air. pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi. 23. 10 Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam Undang-undang untuk mencari serta pengumpulan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana yang terjadi guna menemukan tersangkanya. 14. serta mempunyai daya tarik investasi. Memberikan arahan pengelolaan Kawasan Lindung dan Budidaya. Perda RTRWP Jawa Tengah 2003-2018 . dan azas berkelanjutan. tata guna pesisir. BAB II AZAS. MAKSUD. sistem pusatpusat permukiman. 13. SASARAN DAN FUNGSI Pasal 2 RTRW Propinsi Jawa Tengah didasarkan atas azas tanggung jawab Negara. 11. b. penguasaan dan pengembangan lahan relatif besar. 20. terarah. 12. Kawasan adalah wilayah dengan fungsi utama Lindung atau Budidaya. Kawasan Perkotaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan. Memberikan arahan pengembangan Kawasan Budidaya. c. 16. Pasal 5 Sasaran RTRW Propinsi Jawa Tengah adalah untuk: a. Kawasan Budidaya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam. tata guna udara. TUJUAN. Kawasan Andalan adalah kawasan budidaya yang dapat berperan mendorong pertumbuhan ekonomi bagi kawasan sendiri dan kawasan disekitarnya. Penyidik adalah Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia atau Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh Undang-undang untuk melakukan penyidikan. Kawasan Lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan. Memberikan arahan kebijaksanaan yang menyangkut tata guna tanah. Pemerintah Daerah. termasuk masyarakat hukum adat dan badan hukum. Masyarakat adalah orang perorangan. terpadu dan berkesinambungan sesuai dengan kebijaksanaan pembangunan Nasional dan Daerah yang berkelanjutan. Kawasan Prioritas adalah kawasan yang dianggap perlu diprioritaskan penanganannya serta memerlukan dukungan penataan ruang segera dalam kurun waktu perencanaan. 19. Pasal 3 RTRW Propinsi Jawa Tengah dimaksudkan sebagai pedoman bagi Pemerintah. kelompok orang. pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan.9 penataan ruang wilayah Propinsi yang merupakan dasar dalam penyusunan program pembangunan. pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi. Pemerintah Kabupaten/Kota dan Masyarakat dalam pemanfaatan ruang daerah secara berencana. dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan. tata guna laut. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan atau aspek fungsional. 18. pelayanan jasa pemerintahan. Kawasan Tertentu adalah kawasan yang ditetapkan secara Nasional mempunyai nilai strategis yang penataan ruangnya diprioritaskan. sumber daya manusia dan sumber daya buatan. Pasal 4 Tujuan RTRW Propinsi Jawa Tengah adalah untuk terwujudnya pemanfaatan ruang daerah yang serasi dan optimal sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan daya dukung lingkungan serta sesuai dengan kebijaksanaan pembangunan Nasional dan Daerah yang berkelanjutan. sistem sarana dan prasarana wilayah. Kawasan Perdesaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama pertanian termasuk pengelolaan sumber daya alam. mempunyai prospek ekonomi yang relatif baik.

11 guna hutan dan tata guna sumber daya alam lainnya kebijaksanaan penunjang penataan ruang yang direncanakan. Pengawasan atas pelaksanaan Tata Ruang Kabupaten/Kota. (1) BAB IV HAK. Setiap orang berkewajiban untuk mentaati RTRW Propinsi Jawa Tengah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Menjamin kepentingan generasi masa kini dan generasi yang akan datang. 4. Pasal 7 Kedudukan RTRW Propinsi Jawa Tengah adalah: a. Sebagai acuan bagi Pemerintah Kabupaten/Kota untuk menyusun Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota. pengawasan dan pengendalian RTRW Propinsi Jawa Tengah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. pengikat dan penyelaras dalam rangka keterpaduan penataan ruang antara Daerah dengan Kabupaten/Kota. BAB III RUANG LINGKUP Pasal 8 Kewenangan Daerah dalam RTRW Propinsi Jawa Tengah terdiri dari: a. 3. b. c. kriteria dan standar Kawasan Lindung. Kebijakan Lintas Ekologis. Perda RTRWP Jawa Tengah 2003-2018 (2) (3) Perda RTRWP Jawa Tengah 2003-2018 . Penetapan dan arahan Pengelolaan Kawasan Prioritas. Merupakan penjabaran dari Strategi Nasional Pengembangan Pola Tata Ruang dan merupakan matra ruang dari Program Pembangunan Daerah. Pasal 9 Wilayah Perencanaan dalam RTRW Propinsi Jawa Tengah adalah Daerah dalam pengertian wilayah administrasi. kawasan dan sektor. Penetapan RTRW Propinsi Jawa Tengah berdasarkan kesepakatan Daerah dengan Kabupaten/Kota. serta b. 5. Pasal 13 Masyarakat berhak memperoleh informasi mengenai RTRW Propinsi Jawa Tengah secara cepat. tepat dan mudah. tata cara dan pembinaan peran serta masyarakat dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Arahan pengendalian kawasan pengendalian Budidaya Strategis. d. 6. Merupakan dasar kebijaksanaan pokok pemanfaatan ruang Daerah sesuai dengan kondisi wilayah dan berazaskan pembangunan yang berkelanjutan . 12 Kewenangan Daerah sebagai wakil Pemerintah Pusat meliputi: 1. Penyeimbang dan penyerasi keterpaduan antar wilayah. Sistem Jaringan. 2. Bentuk. dan Sistem Kota-kota. Merupakan acuan. pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang dalam lingkup Daerah. 4. Kewenangan Daerah sebagai Daerah Otonom meliputi: 1. 5. Pasal 12 RTRW Propinsi Jawa Tengah bersifat terbuka untuk umum dan ditempatkan di Kantor Pemerintah Daerah dan tempat-tempat yang mudah dilihat oleh masyarakat. Sebagai pedoman bagi pelaksanaan perencanaan. 2. Pembinaan Tata Ruang kepada Kabupaten/Kota. Pasal 6 Fungsi RTRW Propinsi Jawa Tengah adalah: a. pelaksanaan. 3. Pengawasan atas pelaksanaan Tata Ruang Daerah. Norma. KEWAJIBAN DAN PERAN SERTA MASYARAKAT Pasal 11 Setiap orang mempunyai hak yang sama untuk berperan serta dalam penyusunan. Fasilitasi kerjasama penataan ruang lintas Kabupaten/Kota. Pasal 10 Jangka waktu RTRW Propinsi Jawa Tengah adalah 15 (lima belas) tahun. Perencanaan Tata Ruang Daerah. b.

Delanggu. Kawasan yang Memberikan Perlindungan Kawasan Bawahannya. b. Tayu. (3) Kawasan Suaka Alam. Batang. b. Kawasan Lindung di luar kawasan hutan yang mempunyai kriteria fisiografi seperti hutan lindung. kota Magelang. Banjarnegara. c. Rembang. kota Salatiga. Muntilan. Pengembangan Sistem Sarana dan Prasarana Wilayah. Kawasan Suaka Alam. Pelestarian Alam dan Cagar Budaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 huruf c meliputi: a. Kawasan Cagar Alam. dan Kota Semarang. Kaliwungu. Weleri. c. Kawasan Budidaya. Gubug. c. Kawasan Rawan Bencana Alam. kota Surakarta. (3) Pengembangan Sistem Kota-kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) adalah: a. Pengembangan Pusat Kegiatan Lokal meliputi Majenang. Kawasan Suaka Margasatwa. Purwantoro. kota Jepara. b. Gombong. b. kota Tegal. Lasem. Pengembangan Pusat Kegiatan Nasional meliputi kota Cilacap. kota Pekalongan. Sempadan Pantai. Kawasan Sekitar Danau/Waduk/Rawa. e. Secang. Pengembangan Kawasan Strategis dan Kawasan Prioritas. Jaten. Godong. Sukorejo. Blora. d. Pusat Kegiatan Nasional. Sragen. Bagian Ketiga Kawasan Lindung Pasal 16 Kawasan Lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf b meliputi: a. Prambanan. Kawasan Bergambut. kota Klaten. Pecangaan. Boyolali. d. Wirosari. Kawasan Sekitar Mata Air. Comal. Borobudur. Ajibarang. kota Purwokerto.13 BAB V PEMANFAATAN RUANG Bagian Pertama Pola Dan Struktur Ruang Pasal 14 Pola dan struktur RTRW Propinsi Jawa Tengah dikelompokkan dalam 5 (lima) rencana sebagai berikut: a. Sempadan Jalan. kota Kudus. Wiradesa. Kawasan Perlindungan Setempat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 huruf b meliputi: a. Banyumas. Pemalang. Pelestarian Alam dan Cagar Budaya. Purworejo Perda RTRWP Jawa Tengah 2003-2018 14 Klampok. b. b. dan Brebes. kota Wonogiri. c. Purbalingga. d. kota Kartasura. Tawangmangu. Kawasan Perlindungan Setempat . Kawasan Lindung. Kajen. Sokaraja. Karanganyar. Boja. kota Wonosobo. Randudongkal. Slawi-Adiwerna. Pusat Kegiatan Wilayah. Kawasan Resapan Air. Sempadan Sungai. fungsi kota-kota dan hierarki fungsional kota-kota yang terkait dengan pola transportasi dan prasarana wilayah lainnya dalam ruang wilayah Daerah. Karanganyar Kebumen. Pengembangan Pusat Kegiatan Wilayah meliputi kota Kroya. Pasal 17 (1) Kawasan yang Memberikan Perlindungan Kawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 huruf a meliputi: a. Kendal. Sistem Kota-kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: a. Sistem Kota-kota. Bumiayu. Bobotsari. Mertoyudan. Ketanggungan-Kersana. Parakan. d. e. kota Cepu. Purwodadi. . Pusat Kegiatan Lokal. (2) Bawahannya (2) Kawasan Hutan Lindung. Wangon. Demak. b. Bagian Kedua Sistem Kota-kota Pasal 15 (1) Sistem Kota-kota adalah suatu sistem yang menggambarkan sebaran kota. Mungkid. c. Kedungwuni. dan kota Ungaran-BawenAmbarawa. Temanggung. Sukoharjo. Perda RTRWP Jawa Tengah 2003-2018 c. kota Kebumen. kota Juwana-Pati. kota Kutoarjo-Purworejo.

19. 6. Kabupaten Sukoharjo. 7. g. 22. Kabupaten Kendal. b. 4. Kabupaten Klaten. Kabupaten Brebes. Kabupaten Wonogiri. Kabupaten Sukoharjo. d. Kabupaten Wonosobo. Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan. 2. 23. j. k. Kabupaten Sragen. Kabupaten Cilacap. (4) Kawasan Cagar Alam Laut. Kabupaten Jepara. Kabupaten Jepara. Kabupaten Banyumas. 24. 15. 18. 12. 5. Daerah Perlindungan Plasma Nutfah Perairan. Kabupaten Magelang. Daerah Perlindungan Plasma Nutfah. o. m. 5. bencana letusan gunung berapi. 16. Kabupaten Boyolali. Kabupaten Magelang. 4. b 16 Kabupaten Semarang. Kabupaten Temanggung. meliputi: a. 10. bencana gerakan tanah/tanah longsor. berada di beberapa Kabupaten dan Kota. Kabupaten Kudus. Kabupaten Karanganyar. Kota Semarang. Kabupaten Boyolali. tidak terdapat di wilayah Daerah. 11. Kabupaten Batang.15 c. 12. 20. Kabupaten Kendal. 17. f. Kabupaten Tegal. Perda RTRWP Jawa Tengah 2003-2018 . 2. 21. Kabupaten Temanggung. Kabupaten Banjarnegara. Kabupaten Banyumas. Kota Semarang. 13. i. sebagai berikut: 1. 19. 14. 7. Kabupaten Purworejo. d. Kawasan Taman Buru. Kawasan Taman Wisata Laut . (1) Lokasi Kawasan yang memberikan Perlindungan Kawasan Bawahannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) adalah sebagai berikut: a. 18. 21. 17. 13. Kabupaten Semarang. Kawasan Taman Hutan Raya. 22. 3. Kawasan Rawan Bencana Alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 huruf d. 6. 16. Kawasan Hutan Lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) huruf a. 10. Kabupaten Pati. d. Kabupaten Cilacap. Perda RTRWP Jawa Tengah 2003-2018 c. 15. l. sebagai berikut: 1. Kawasan Taman Wisata Alam. 8. Kabupaten Wonogiri. Kabupaten Pati. Kabupaten Klaten. 2. n. 14. Kawasan Suaka Alam Laut dan Perairan lainnya. 20. Kawasan Pantai Berhutan Bakau. Kabupaten Batang. 25. Kabupaten Purbalingga. Kabupaten Karanganyar. Kabupaten Pemalang. e. Kabupaten Brebes. 9. 9. Kabupaten Purworejo. berada di beberapa Kabupaten dan Kota. c. Kabupaten Cilacap. Kawasan Bergambut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) huruf c. Kabupaten Kebumen. Kabupaten Wonosobo. Daerah Pengungsian Satwa. 8. Kawasan Resapan Air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) huruf d. Kabupaten Blora. Kabupaten Pekalongan. bencana lain. Kabupaten Banjarnegara. Kawasan Taman Nasional. 3. Kabupaten Rembang. Pasal 18 Kawasan Lindung di Luar Kawasan Hutan yang mempunyai kriteria fisiografi seperti Hutan Lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) huruf b terdapat di Kabupaten/Kota sebagai berikut: 1. Kabupaten Tegal. 11. Kawasan Kawasan Kawasan Kawasan rawan rawan rawan rawan bencana banjir. h. Kawasan Taman Nasional Laut.

Kabupaten Tegal. 14. 2. Perda RTRWP Jawa Tengah 2003-2018 Lokasi Kawasan Perlindungan Setempat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) adalah sebagai berikut : a. 18 Kabupaten Pemalang. Cagar Alam Keling I a. Kawasan Sekitar Mata Air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) huruf d. 22.17 3. 7. Kabupaten Wonosobo. Kabupaten Brebes. berada di semua Kabupaten dan Kota yang memiliki danau/waduk/rawa. Kabupaten Batang. Kabupaten Jepara. c di Kabupaten Jepara. Cagar Alam Nusakambangan Barat di Kabupaten Cilacap. 25. 23. sebagai berikut: 1. Sempadan Jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) huruf e terdapat di semua Kabupaten dan Kota sepanjang ruas jalan Nasional dan Daerah. berada di semua Kabupaten dan Kota yang memiliki sungai. 8. Kabupaten Demak. Cagar Alam Keling II. sebagai berikut: 1. Kota Semarang. Cagar Alam Kembang di Kabupaten Jepara. Kabupaten Rembang. berada di beberapa Kabupaten dan Kota. 7. Cagar Alam Wijaya Kusuma di Kabupaten Cilacap. Kabupaten Jepara. 18. (2) Kabupaten Purbalingga. 8. 10. Kabupaten Pati. Kota Semarang. 9. Kabupaten Grobogan. 16. 5. Kabupaten Kendal. Kabupaten Purworejo. b. 15. Kabupaten Pati. 24. Kabupaten Boyolali. Kabupaten Sragen. Sempadan Pantai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) huruf a. 4. 29. berada di semua Kabupaten dan Kota yang memiliki mata air. Kabupaten Temanggung. 13. Kabupaten Kendal. 9. Cagar Alam Gunung Butak di Kabupaten Rembang. Cagar Alam Telogo Dringo di Kabupaten Banjarnegara. Cagar Alam Pringombo I/II di Kabupaten Banjarnegara. Kabupaten Magelang. c. Cagar Alam Nusakambangan Timur di Kabupaten Cilacap. e. 6. 6. 2. 20. Kabupaten Karanganyar. 4. 5. 6. Kabupaten Pekalongan. 17. 27. Perda RTRWP Jawa Tengah 2003-2018 . Kabupaten Rembang. 12. Kabupaten Blora. Kabupaten Batang. 5. Cagar Alam Telogo Sumurup di Kabupaten Wonosobo. 11. 12. 10. Kabupaten Kudus. Kabupaten Brebes. Cagar Alam Gunung Celering di Kabupaten Jepara. Cagar Alam Bekutuk di Kabupaten Blora. Kota Pekalongan. Cagar Alam Donoloyo di Kabupaten Wonogiri. d. Kabupaten Kebumen. Kabupaten Wonogiri. Cagar Alam Getas di Kabupaten Semarang. 15. Kawasan Sekitar Danau/Waduk/Rawa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) huruf c. Kawasan Cagar Alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (3) huruf a. III di Kabupaten Jepara. Cagar Alam Pantodomas di Kabupaten Wonosobo. 13. 14. 14. Kabupaten Banjarnegara. Kabupaten Pekalongan. Kabupaten Demak. 26. Sempadan Sungai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) huruf b. 21. 15. 7. 16. 19. b. 13. 11. Kabupaten Tegal. 11. Kabupaten Cilacap. Kabupaten Wonogiri. 3. Kabupaten Purworejo. Cagar Alam Cabak I/II di Kabupaten Blora. Kabupaten Pemalang. Kabupaten Kebumen. 17. Pelestarian Alam dan Cagar Budaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (3) adalah sebagai berikut: a. 30. Kota Salatiga. 17. 4. 16. 9. Kabupaten Klaten. 12. Kota Tegal. 8. Cagar Alam Karangbolong di Kabupaten Cilacap. berada di beberapa Kabupaten. (3) Lokasi Kawasan Suaka Alam. 10. 3. Kabupaten Semarang. 28.

berada di Gunung Tunggangan Kabupaten Sragen. Kawasan Taman Hutan Raya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (3) huruf h. berada di Kepulauan Karimunjawa Kabupaten Jepara. Kabupaten Rembang. 5. Cagar Alam Moga di Kabupaten Pemalang. 2. l. 3. 23. h. Cagar Alam Curug Bengkawah di Kabupaten Pemalang. 26. Kabupaten Tegal. 5. Kabupaten Kebumen. 27. g. Perda RTRWP Jawa Tengah 2003-2018 Kawasan Taman Wisata Laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (3) huruf j. Kawasan Taman Nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (3) huruf f. Kabupaten Purbalingga. f. 8. Kabupaten Banjarnegara. 2. 19. Kabupaten Cilacap. Perda RTRWP Jawa Tengah 2003-2018 k. Kawasan Cagar Alam Laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (3) huruf c. e. Kabupaten Cilacap. Taman Wisata Alam Gunung Selok di Kabupaten Cilacap. 2. Kabupaten Pemalang. 20. Cagar Alam Sub Vak 18c. Kabupaten Cilacap. Kabupaten Pati. Cagar Alam Pagerwunung Darupono di Kabupaten Kendal. Kawasan Suaka Margasatwa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (3) huruf b. 2. Kabupaten Brebes. 22. Kabupaten Tegal. Kawasan Pantai Berhutan Bakau sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (3) huruf e. berada di Berjo-Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar. 24. . berada di beberapa Kabupaten sebagai berikut: 1. Kabupaten Jepara. 4. 11. 12. berada di beberapa Kabupaten dan Kota sebagai berikut : 1. berada di Karimunjawa dan Pulau Panjang Kabupaten Jepara. 4. Cagar Alam Guci di Kabupaten Tegal. 8. Kabupaten Kendal. Cagar Alam Person Subah I/II di Kabupaten Batang. c. 28. Cagar Alam Vak 53 Comal di Kabupaten Pemalang. b. 2. berada di beberapa Kabupaten sebagai berikut: 1. Daerah Perlindungan Plasma Nutfah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (3) huruf l. 3. Taman Wisata Alam Sumber Semen di Kabupaten Rembang . Kabupaten Demak. 20 Kabupaten Pemalang.Merbabu di Kabupaten Magelang. tidak terdapat di wilayah Daerah. 3. Kabupaten Banyumas. 19b Jatinegara di Kabupaten Tegal. Kabupaten Pati. berada di Karimunjawa Kabupaten Jepara. d. 4. 7. Kawasan Taman Nasional Laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (3) huruf g. Taman Nasional Gunung Merapi . Kabupaten Batang. 9. Kota Tegal. 3. i. Cagar Alam Sepakung di Kabupaten Semarang. Cagar Alam Kecubung Ulolanang di Kabupaten Batang. Taman Wisata Alam Grojogan Sewu di Kabupaten Karanganyar. 7. 21. 29. 6.19 18. Kabupaten Pekalongan. 4. 10. Cagar Alam Bantarbolang di Kabupaten Pemalang. Cagar Alam Telogo Ranjeng di Kabupaten Brebes. 6. 25. Kawasan Taman Wisata Alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (3) huruf i. Kawasan Taman Buru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (3) huruf k. Kota Semarang. Taman Nasional Karimunjawa di Kabupaten Jepara. Kabupaten Rembang. Cagar Alam Gebugan di Kabupaten Semarang. Kabupaten Jepara. terdapat di beberapa Kabupaten dan Kota sebagai berikut: 1. Taman Wisata Alam Tuksongo di Kabupaten Semarang. Taman Wisata Alam Tlogo Warno/Pengilon di Kabupaten Wonosobo. j. terdapat di beberapa Kabupaten dan Kota sebagai berikut: 1. Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Klaten. 5. Kawasan Suaka Alam Laut dan Perairan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (3) huruf d.

12. 11. 7. 28. Kabupaten Kendal. 4. 25. 5. Kabupaten Kebumen. 19. 2. 3. Kota Magelang. Kawasan Rawan Bencana Alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (4) meliputi. 26. Kabupaten Pemalang. 2. 31. Kabupaten Karanganyar. 22. 27. Kabupaten Jepara. Kabupaten Banjarnegara. Kabupaten Kebumen. 10. 27. Kabupaten Rembang. Kabupaten Tegal 29. 29. Perda RTRWP Jawa Tengah 2003-2018 (4). 6. Kabupaten Klaten. Kota Tegal. 26. Kabupaten Klaten. Kabupaten Kudus. 12. Kabupaten Pati. terdapat di beberapa Kabupaten dan Kota sebagai berikut: 1. 8. 22. 15. 13. Kabupaten Temanggung. Kabupaten Sukoharjo. Kabupaten Wonosobo. 10. 24. Kabupaten Purworejo. Kabupaten Brebes. 31. 8. Kabupaten Pemalang. Kabupaten Cilacap. Kabupaten Semarang. Kabupaten Kudus. 7. Kota Surakarta. 12. Kabupaten Sragen. berada di beberapa Kabupaten dan Kota sebagai berikut: 1. 13. Kabupaten Banyumas. 25. 6. Kabupaten Cilacap. 18. 24. Kota Pekalongan. Kabupaten Magelang. Kota Semarang. Kabupaten Banyumas. 3. Kabupaten Purworejo. Kabupaten Pekalongan. 9. o. 4. Kawasan Rawan Bencana Banjir. Kabupaten Brebes. a. Kabupaten Demak. Kabupaten Kendal. Kabupaten Wonogiri. m. 19. Kabupaten Blora. 30. Kabupaten Pati. Kabupaten Sukoharjo. 7. Kabupaten Brebes. Daerah Perlindungan Plasma Nutfah Perairan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (3) huruf m. 16. 10. Kabupaten Temanggung. Kabupaten Karanganyar. 17. Kabupaten Kebumen. Kabupaten Semarang. Kabupaten Jepara. . 2. 23. Kota Pekalongan. 21. 16. 5. Kabupaten Cilacap. Kota Semarang. 14. Kabupaten Batang. 23. Kabupaten Magelang. Kabupaten Jepara. Kabupaten Wonosobo. Kabupaten Boyolali. Kabupaten Blora. Kabupaten Sragen. 20. 15. Kabupaten Kendal. Kabupaten Wonogiri. 9.21 5. 11. 21. Kabupaten Rembang. Kota Semarang. Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (3) huruf o. 17. Kabupaten Tegal. Kabupaten Batang. Kabupaten Tegal. 6. Perda RTRWP Jawa Tengah 2003-2018 22 n. 11. 14. 9. Kabupaten Rembang. berada di Srondol Kota Semarang. 20. 28. Kabupaten Demak. Kabupaten Boyolali. terdapat di beberapa Kabupaten dan Kota sebagai berikut: 1. 18. Kabupaten Pemalang. Kabupaten Grobogan. Daerah Pengungsian Satwa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (3) huruf n. 32. Kota Salatiga. 13. 30. Kabupaten Grobogan. Kabupaten Demak. Kabupaten Pekalongan. Kabupaten Batang. 8. Kabupaten Pati. 14.

c 24 Kabupaten Grobogan. 3. Perbukitan Serayu Selatan. Kabupaten Karanganyar. di lereng Gunung Slamet dan Perbukitan perbatasan dengan Kabupaten Purbalingga. Kabupaten Demak. di Ngawen. 6. 22. Karangrayung. Loano. Kabupaten Banyumas. 7. Bruno. Kabupaten Cilacap. terdapat di d e f Perda RTRWP Jawa Tengah 2003-2018 Perda RTRWP Jawa Tengah 2003-2018 . Kabupaten Purbalingga bagian utara. di lereng selatan Perbukitan Pembarisan dan daerah Perbukitan Selatan Majenang – Wangon. 17. Grobogan dan Wirosari. 12. bagian lereng barat laut Gunung Slamet. Kawasan Rawan Bencana Letusan Gunung Berapi terdapat di beberapa Kabupaten dan Kota: 1. Kabupaten Batang. Kabupaten Pati. disekitar Gunung Ungaran. 9. Kabupaten Grobogan. 22. sekitar Gunung Gajahmungkur/ Gunung Ungaran dan Perbukitan memanjang di selatan Kaliwungu. Gunung Trangkil. terutama dibagian utara. 19. Kaligesing. 20. Begelen. lereng selatan Gunung Slamet. Kawasan Rawan Bencana Gempa Bumi terdapat di beberapa Kabupaten: 1. Gunung Gilipetung. 3. Timur Banyumanik. di lereng timur Gunung Merbabu dan lereng timur Gunung Merapi. 4. lereng selatan Gunung Lawu. Kabupaten Klaten. Kabupaten Tegal. 13. Kawasan Rawan Bencana Gas Beracun terdapat di Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Kabupaten Kudus. 15. Kabupaten Pemalang. 5. di Pituruh. 10. Kompleks Pepino Hill Perbukitan Gamping Gombong. Kota Semarang. b Kabupaten Purbalingga. di lereng Perbukitan Serayu Selatan. 2. 24. 10. Kota Tegal . di perbukitan sekitar perbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. 4. Gunung Legarang dan Gunung Telomoyo. 14. barat daya dan selatan. 23. Kabupaten Kendal. Kabupaten Boyolali. 20. Kabupaten Kendal. Kota Pekalongan. Kabupaten Pekalongan. 5. di lereng utara Pembarisan. Kabupaten Kudus. Kabupaten Pemalang. 12. perbukitan selatan dan timur Sungai Keduwang. di Perbukitan Barat Ajibarang. Kabupaten Tegal. Kabupaten Boyolali. Kabupaten Jepara. di lereng barat Gunung Merbabu. 16. 2. 11. 7. Kawasan Rawan Bencana Gerakan Tanah/Tanah Longsor terdapat di beberapa Kabupaten dan Kota sebagai berikut: 1. Kabupaten Purworejo. 8. 3. Kabupaten Blora. Kabupaten Pekalongan. 21. 6. di sekitar Gunung Rogojembangan. Kabupaten Wonogiri. Kabupaten Kebumen. 16. Kabupaten Purbalingga. Kabupaten Sragen. 8. 4. di Sangiran dan Gemolong (Gunung Bulak Manyar). Kabupaten Rembang. Kabupaten Banyumas. disekitar Gunung Blawong yaitu Perbukitan utara Parakan dan lereng utara Gunung Sumbing. Kota Magelang. di lereng barat Gunung Lawu. Kabupaten Brebes. Kabupaten Magelang. Bener. 2. Kabupaten Kebumen. Kabupaten Purworejo. Kabupaten Sragen. 15. Kabupaten Magelang. Pati dan Jepara di Gunung Muria terutama bagian lereng timur-selatan. 17. di bagian selatan dan barat daya. 6. Kabupaten Blora. Kabupaten Pemalang. Kawasan Rawan Bencana Gelombang Pasang beberapa Kabupaten: 1. Gombel. Kabupaten Rembang terutama di bagian selatan dan timur. Kabupaten Klaten. Kabupaten Wonosobo bagian barat dan selatan. di Pulokulon. Gebang dan Kemiri.23 3. Kabupaten Brebes. 5. Kabupaten Cilacap. Todanan. 11. Kabupaten Temanggung. Kabupaten Semarang dan Kota Semarang. 18. Gunung Sumbing dan Gunung Gianti. 9. 13. dan Jepon. Kabupaten Banjarnegara. 14. 18. 7. Kabupaten Magelang. 2. di sebelah selatan Weleri. 8. Kabupaten Batang. Kabupaten Boyolali. 19. 21. Kabupaten Tegal. Kabupaten Pati.

17. Kabupaten Magelang. Kota Semarang. 15. 13. Kabupaten Tegal. 10. 2. 25. kecuali kawasan lindung dengan status hutan lindung dan suaka alam. Kabupaten Kebumen. i. e. 6. 26. 18. ayat (3) dan ayat (4) tercantum dalam Lampiran Peta yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini. Kabupaten Blora. f. Kabupaten Boyolali. Kabupaten Demak. ayat (2). 20. 14. h. Kabupaten Kudus. Kabupaten Brebes. Kabupaten Sukoharjo. 23. Perda RTRWP Jawa Tengah 2003-2018 Kawasan Hutan Produksi Tetap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 huruf b terdapat di beberapa Kabupaten dan Kota: 1. 9. Lokasi Kawasan Lindung sebagaimana dimaksud pada ayat (1). c. Kabupaten Grobogan. Kabupaten Temanggung. Kawasan Pertambangan dan Wilayah Cekungan Air Bawah Tanah. Kawasan Hutan Lain. 5. Bagian Keempat Kawasan Budidaya Pasal 20 Kawasan Budidaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf c meliputi: a. 17. Kabupaten Cilacap. 7. Kawasan Permukiman.25 3. Kabupaten Cilacap. Kabupaten Purworejo. Kabupaten Jepara. (5). 15. d. Kabupaten Pati. Kabupaten Wonosobo. Kabupaten Pekalongan. Kabupaten Purbalingga. 4. Kabupaten Boyolali. Kabupaten Demak. 9. 16. Kabupaten Jepara. 27. b. 22. g. 4. Kabupaten Wonogiri. Pasal 19 Kawasan Lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17. 8. 23. 22. 11. Kabupaten Pekalongan. 7. Kabupaten Banjarnegara. Kabupaten Blora. 4. Kabupaten Sragen. 11. Kabupaten Klaten. Kabupaten Temanggung. 13. 12. Kabupaten Batang. 3. Kawasan Pertanian. Kawasan Hutan Produksi Tetap. 18. Kabupaten Karanganyar. 3. 28. dapat dibudidayakan sepanjang memenuhi persyaratan sebagaimana tercantum dalam Lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini. Kawasan Hutan Produksi Terbatas. 19. Kabupaten Kudus. 5. Kabupaten Kendal. 20. 29. Kabupaten Rembang. Kabupaten Purbalingga. 12. 21. Pasal 21 (1) Kawasan Hutan Produksi Terbatas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 huruf a terdapat di beberapa Kabupaten dan Kota: 1. 30. 14. 24. 5. Kabupaten Banyumas. Kabupaten Semarang. Kabupaten Kendal. 2. Perda RTRWP Jawa Tengah 2003-2018 . Kabupaten Sukoharjo. 16. Kabupaten Pati. 6. Kabupaten Kebumen. Kabupaten Sragen. Kabupaten Banjarnegara. Kawasan Pariwisata. Kabupaten Wonosobo. Kabupaten Semarang. 21. Kabupaten Grobogan. (2) 26 Kabupaten Klaten. Kabupaten Pemalang. 10. Kabupaten Purworejo. Kawasan Peruntukan Industri. 19. 8. Kabupaten Banyumas. Kabupaten Pemalang. Kabupaten Rembang. Kabupaten Karanganyar. Kawasan Hutan Produksi yang dapat dikonversi. Kabupaten Magelang. Kabupaten Wonogiri.

29. Kabupaten Pati. 30. Kabupaten Pekalongan. Kabupaten Purworejo. Kabupaten Banyumas. Kabupaten Sukoharjo. Kabupaten Purworejo. Kabupaten Wonosobo. Kabupaten Grobogan. 13. 20. 31. 4. Kabupaten Purbalingga.27 24. 28. 30. 32. 12. 4. Kabupaten Wonosobo. 17. Kabupaten Pemalang. Perda RTRWP Jawa Tengah 2003-2018 Kabupaten Cilacap. Kabupaten Jepara. Kota Semarang. 24. 20. terdapat di beberapa Kawasan Hutan Produksi yang dapat dikonversi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 huruf c tidak terdapat di Daerah. Kabupaten Boyolali. Kabupaten Kudus. 14. 26. Kabupaten Rembang. 26. 14. Kabupaten Brebes. Kawasan Hutan Rakyat. Kabupaten Banjarnegara. Kawasan Pertanian Lahan Basah. Kabupaten Blora. Kabupaten Demak. 21. Kawasan Pertanian Lahan Kabupaten dan Kota: 1. Kota Tegal. 2. Kabupaten Klaten. Kawasan Hutan Kota. 8. 27. Kabupaten Demak. 15. 10. Kabupaten Tegal. 3. b. Kawasan Hutan Lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 huruf d adalah sebagai berikut: a. Kota Pekalongan. 28 Kabupaten Batang. Kabupaten Temanggung. terdapat di beberapa Kabupaten dan Kota: 1. 7. Kabupaten Grobogan. 18. 30. 17. Kabupaten Cilacap. Kabupaten Magelang. 22. Kabupaten Purbalingga. c. Kabupaten Pekalongan. 11. 10. Kabupaten Kudus. Kabupaten Banjarnegara. 7. Kabupaten Batang. Kota Semarang. Kabupaten Tegal. 6. Kabupaten Karanganyar. 23. Kabupaten Pemalang. Kota Salatiga. 23. Kabupaten Brebes. terdapat di semua Kabupaten . Kabupaten Kebumen. Kabupaten Kendal. 2. Kabupaten Kendal. 8. Kabupaten Sragen. Kabupaten Pati. Kabupaten Magelang. Kabupaten Rembang. Kering. Kabupaten Semarang. Kabupaten Kebumen. Kabupaten Sragen. Kabupaten Brebes. (5) Kawasan Pertanian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 huruf e sebagai berikut: a. Kabupaten Blora. Kabupaten Karanganyar. 12. 5. 31. 21. Kabupaten Jepara. Kabupaten Semarang. 9. 18. Kabupaten Batang. Kawasan Perkebunan terdapat di semua Kabupaten dan Kota . 22. 25. 28. 27. 26. 11. Kabupaten Pemalang. Kabupaten Wonogiri. Perda RTRWP Jawa Tengah 2003-2018 . 27. 15. Kabupaten Temanggung. b. 19. Kabupaten Wonogiri. 16. 28. 13. Kabupaten Sukoharjo. Kota Semarang. Kabupaten Klaten. 29. Kabupaten Boyolali. 5. Kabupaten Tegal. 6. 16. 25. (3) (4) Kabupaten Kendal. 3. 24. Kabupaten Pekalongan. Kabupaten Banyumas. terdapat di semua Kabupaten dan Kota. 29. 19. 9. 25.

3. Kabupaten Semarang. Kabupaten Banyumas. 8. 7. e. 22. Kabupaten Purbalingga. Kabupaten Demak. Kabupaten Pemalang. 4. Kabupaten Purworejo. 8. Kabupaten Purbalingga. Kabupaten Pati. 16. Kabupaten Magelang. 30 Kabupaten Wonogiri. 6. Kabupaten Purworejo. Kabupaten Rembang. 24. 3. Kabupaten Kendal. Kabupaten Batang. Kabupaten Wonosobo. Kabupaten Sukoharjo. Kabupaten Brebes. Kabupaten Boyolali. 22. 12. Kabupaten Kebumen. Kabupaten Purworejo. Kabupaten Pemalang Kabupaten Tegal. 13. Kabupaten Boyolali. 13. 19. 20. Kabupaten Klaten. 18. 28. Kabupaten Jepara. 4. Kabupaten Kendal. Kabupaten Sukoharjo. 11. Kabupaten Batang. 5. Kabupaten Jepara. 30. 21. 15. Kabupaten Blora. Kabupaten Wonogiri. Kabupaten Banjarnegara. Kabupaten Semarang. Kabupaten Klaten. Kabupaten Semarang. Kabupaten Brebes. Kabupaten Temanggung. Kawasan Budidaya Ternak Besar terdapat di beberapa Kabupaten: 1. 18. 26. 6. 27. Kabupaten Wonogiri. Kabupaten Rembang. Kabupaten Temanggung. Kabupaten Kebumen. Perda RTRWP Jawa Tengah 2003-2018 . 19. 2.29 d. 24. 9. Unggas terdapat di beberapa 12. Kota Tegal. Kabupaten Grobogan. 15. 26. 21. 2. 10. 3. Kabupaten Banyumas. Kabupaten Batang. 23. 15. 28. Kabupaten Kudus. Kabupaten Karanganyar. Kabupaten Pekalongan. Kabupaten Tegal. 31. Kabupaten Karanganyar. Kabupaten Sragen. 21. 14. 22. 5. 29. Kabupaten Banjarnegara. Kabupaten Boyolali. Kabupaten Rembang. 9. 14. Kabupaten Klaten. 29. 27. Kabupaten Grobogan. f. 16. 23. 25. 12. Kabupaten Sukoharjo. 25. Kabupaten Banyumas. Kabupaten Sragen. 5. Kabupaten Temanggung. Kabupaten Banjarnegara. 20. Kabupaten Karanganyar. Kabupaten Kebumen. Kabupaten Blora. Kabupaten Kendal. 30. Kabupaten Cilacap. 13. Kabupaten Cilacap. 4. Kota Semarang. 7. 23. 2. Kabupaten Wonosobo. Kabupaten Kudus. Kabupaten Cilacap. Kabupaten Blora. 18. 17. Kabupaten Pati. Kabupaten Pati. Kabupaten Demak. Kabupaten Wonosobo. 11. 16. 11. 17. Kabupaten Brebes. Kawasan Budidaya Ternak Kabupaten dan Kota: 1. Kabupaten Jepara. Perda RTRWP Jawa Tengah 2003-2018 Kawasan Budidaya Ternak Kecil. 10. 10. 14. 8. Kabupaten Pemalang. Kabupaten Sragen. 20. Kota Semarang. Kabupaten Grobogan. terdapat di beberapa Kabupaten dan Kota: 1. 6. 9. 7. 24. Kabupaten Magelang. 17. 19. Kabupaten Pekalongan. Kabupaten Magelang.

i. Kawasan Kendeng. Cekungan Karanganyar . j.Boyolali. Kabupaten Kebumen. Kawasan Perikanan Budidaya Air Tawar terdapat di semua Kabupaten dan Kota. 2. g. 26. terdapat Kabupaten: 1. Kabupaten Batang. Cekungan Subah. Cekungan Randublatung. h. Cekungan Nusa Kambangan Cekungan Cilacap. Cekungan Pati . Kawasan Bantarkawung – Majenang. Kabupaten Demak. Cekungan Kudus. 2. Cekungan Kebumen . Kabupaten Kendal. 5. 27. Cekungan Karang Kobar. Kawasan Gunung Slamet. Kawasan Perikanan Tangkap. Kabupaten Pemalang. 24. Kota Tegal.Rembang. Cekungan Watuputih. 15. di beberapa Wilayah Cekungan Air Bawah Tanah terdapat di: 1. terdapat di semua Kabupaten dan Kota. Cekungan Wonosobo. 29. terdapat di beberapa Kabupaten dan Kota: 1. 8. Perda RTRWP Jawa Tengah 2003-2018 . Cekungan Kendal. 22. 14. 13. Kawasan Muria. Cekungan Jepara. 4. 9. Cekungan Lebaksiu. 25. b. Kabupaten Pekalongan. 10. terdapat di semua Kabupaten dan Kota yang mempunyai wilayah pantai dengan batas pengelolaan sejauh sepertiga dari batas laut Daerah. 4. 6. Kabupaten Rembang. 6. 31. 14. Cekungan Lasem. Kota Salatiga. 18. Kawasan Pertambangan terdapat di: 1. 11. Kabupaten Purworejo. Kawasan Serayu – Pantai Selatan. meliputi : a. 10. 9. 4. 12. 21. Kabupaten Cilacap. 8. 19. Kabupaten Kebumen. Cekungan Belimbing. Cekungan Kroya. Cekungan Sidareja. 20. 12. (6) Kawasan Pertambangan dan Wilayah Cekungan Air Bawah Tanah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 huruf f. Kabupaten Jepara. Kabupaten Cilacap.Purworejo. Kabupaten Jepara. 17. 8. 5. Cekungan Semarang . 23. Kawasan Lawu. 5.Purbalingga. Perda RTRWP Jawa Tengah 2003-2018 (7) Kawasan Peruntukan Industri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 huruf g. 28. Kawasan Karanggede – Sangiran. 9. 15. 7. Kawasan Pantura Barat. Kawasan Pegunungan Selatan. Cekungan Eromoko. 16. Kota Semarang. 2. Cekungan Giritontro. Cekungan Purwokerto . Kota Pekalongan. Kawasan Perikanan Budidaya Laut. 3. Cekungan Sidomulyo. Cekungan Rawapening. Cekungan Pekalongan – Pemalang.Demak. Cekungan Majenang. 3. Kabupaten Wonogiri. Cekungan Tegal – Brebes. Cekungan Banyu Mudal. Cekungan Ungaran. 11. 30. 6. Kawasan Perikanan Budidaya Air Payau . 7. 13. Kabupaten Purworejo. Kabupaten Pati. 11. Kawasan Sumbing – Sindoro – Dieng. adalah sebagai berikut: a Kawasan Perindustrian. Kabupaten Rembang. 2. 32 Kawasan Merapi – Merbabu – Ungaran. 6. 4. 5. Kabupaten Brebes. 3. Kabupaten Tegal. 10. 16. 3. 7. Cekungan Magelang – Temanggung. Kota Semarang. 26. Cekungan Salatiga.31 25.

Kabupaten Kendal. Perda RTRWP Jawa Tengah 2003-2018 Perda RTRWP Jawa Tengah 2003-2018 . Prupuk – Ajibarang. ayat (2). Banjarnegara – Wanayasa. 34 Pasal 22 Pengembangan lebih lanjut Kawasan Budidaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf c harus memenuhi persyaratan sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini. Kabupaten Demak. Kabupaten Klaten. ayat (4). Weleri – Parakan. terdapat di semua Kabupaten dan Kota dengan wilayah pengembangan: a Wilayah Pengembangan Pariwisata A meliputi koridor BorobudurPrambanan-Surakarta dan koridor Borobudur-MagelangPurworejo dengan pusat pengembangan di Kota Surakarta. Wilayah Pengembangan Pariwisata D meliputi koridor CilacapBanyumas-Purbalingga-Banjarnegara dan koridor CilacapKebumen dengan pusat pengembangan di Cilacap. Purbalingga . Kawasan Pariwisata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 huruf h. Pengembangan Sistem Sarana dan Prasarana Wilayah. Kalibening – Wanayasa. Jati – Purwodadi. Kabupaten Sukoharjo. Pengembangan Transportasi Jalan terdiri dari: a) Peningkatan kualitas ruas jalan kolektor primer 1 ke jalan arteri untuk ruas jalan: Tegal – Slawi. Purwokerto – Sokaraja. Pengembangan Sistem Sarana dan Prasarana Perkotaan. Ajibarang – Purwokerto. ayat (6).Bobotsari. Kabupaten Sragen.33 b Kawasan Industri. dikembangkan di sekitar Pelabuhan Tanjung Emas Semarang dan Tanjung Intan Cilacap. Purbalingga – Klampok. Wanayasa – Batur. Slawi – Prupuk. ayat (8) dan ayat (9) tercantum dalam Lampiran Peta yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini. Kabupaten Boyolali. Ajibarang – Wangon. b c d b) (9) (10) Kawasan Permukiman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 huruf i. Wiradesa – Kalibening. Pengembangan Sistem Sarana dan Prasarana Perdesaan. Wilayah Pengembangan Pariwisata C meliputi koridor BatangPekalongan-Tegal-Brebes dengan pusat pengembangan di Tegal. Sukoharjo – Wonogiri dan Wonogiri – Blimbing. Batur – Wonosobo. terdapat di beberapa Kabupaten dan Kota: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 c (8) Kabupaten Cilacap. ayat (7). Wilayah Pengembangan Pariwisata B meliputi koridor SemarangDemak-Kudus-Jepara dan koridor Semarang-AmbarawaWonosobo dengan pusat pengembangan di Semarang. Pengembangan Transportasi Darat meliputi: 1. Surakarta – Purwodadi. ayat (5). Purwodadi – Godong. ayat (3). Bagian Kelima Pengembangan Sistem Sarana dan Prasarana Wilayah Pasal 23 Pengembangan Sistem Sarana dan Prasarana dari RTRW Propinsi Jawa Tengah meliputi: a. Pasal 24 (1) Pengembangan Sistem Sarana dan Prasarana Wilayah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 huruf a meliputi: a. Kawasan Berikat. Kota Semarang. Lokasi Kawasan Budidaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Surakarta – Sukoharjo. Sokaraja – Purbalinga. Prembun – Selokromo. Randu Dongkal – Bobotsari. c. terdapat di semua Kabupaten dan Kota. Peningkatan kualitas ruas jalan kolektor primer 2 ke kolektor primer 1 untuk ruas jalan: Pejagan – Ketanggungan. Kabupaten Semarang. Ketanggungan – Prupuk. Kota Surakarta. Randu Dongkal – Moga. Kabupaten Karanganyar. b.

Pengembangan penyeberangan Kalipucang-Majingklak. Pembangunan jalan lingkar Brebes – Tegal. 2.35 c) Pembangunan jalan tol untuk jalur: Semarang – Surakarta. Pengembangan Transportasi Laut terdiri dari: 1. Peningkatan kualitas ruas jalan untuk lintasan: Semarang – Kudus. Kalipucang – Sidareja – Cilacap.Karimunjawa dan Cilacap Kalipucang.Yogyakarta – Surabaya. 5. Pembangunan prasarana jalan yang menghubungkan Kecamatan Klepu – Kabupaten Boyolali. Cirebon . Karimunjawa dan Brebes. b) 36 Pembuatan jalur ganda untuk rute Cirebon . Pengembangan Transportasi Jalan Rel terdiri dari : a) Pembukaan jaringan baru dan penambahan frekuensi untuk lintas: Semarang – Bandung. Batang. Kedungombo dan Gajahmungkur. h) i) b. Peningkatan fungsi Pelabuhan Juwana dan Pelabuhan Tegal sebagai pelabuhan Nasional merupakan pelabuhan utama tersier. Jalur lingkar Muntilan – Magelang dan Peningkatan jalan Ambarawa – Magelang. 4. Peningkatan kualitas ruas jalan jalur alternatif Salatiga – Sidoharjo dan jalur alternatif Bumiayu. lintas Lomanis- b) g) c) d) Pengembangan angkutan Danau untuk tujuan wisata di Waduk Malahayu. Pengembangan prasarana pelabuhan penyeberangan lintas Propinsi di Kabupaten Kendal dan Kabupaten Cilacap. Peningkatan kualitas ruas jalan Cepu-Blora-PurwodadiSemarang.Semarang Surabaya. Pengembangan Pelabuhan Regional merupakan Pengumpan Primer di Jepara. Peningkatan kualitas ruas jalan untuk meningkatkan daya hubung Semarang – Cilacap melalui Banjarnegara – Wonosobo – Temanggung. Semarang . Pengembangan Pelabuhan Lokal merupakan Sekunder di Lasem. Pembukaan kembali jalur tengah Purwokert o-Magelang. Jalan lingkar kota Ungaran dan jalan lingkar kota Ambarawa. Peningkatan kualitas ruas jalan lintas perbatasan Bandungsari . Rembang. Pengumpan j) 2. Semarang – Kudus dan Semarang – Batang. Surakarta – Yogyakarta. Tawangmangu .Jakarta. Tegal . Peningkatan fungsi Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap sebagai pelabuhan Internasional merupakan pelabuhan utama sekunder. Penyeberangan terdiri dari: a) f) Peningkatan kualitas prasarana pelabuhan dan moda angkutan untuk pelabuhan penyeberangan lintas Semarang . Pemalang – Batang dan Solo – Selo – Borobudur. d) e) Pengembangan Transportasi.Magetan serta Wonogiri – Pacitan dan Wonogiri – Gunung Kidul. Pembukaan kembali jalur Kereta Api untuk pariwisata Ambarawa-Tuntang-Kedungjati. Semarang – Yogyakarta. Wiradesa dan Pemalang.Yogyakarta lewat Solo dan Semarang – Surabaya. Danau dan c) d) 3. Perda RTRWP Jawa Tengah 2003-2018 Perda RTRWP Jawa Tengah 2003-2018 .Penanggapan – Kuningan. k) 3.Jepara . Sungai. Peningkatan sarana dan prasarana penunjang Pelabuhan Tanjung Emas Semarang sebagai pelabuhan Internasional Hub merupakan pelabuhan utama primer. Pemalang – Pekalongan. Peningkatan kualitas ruas jalan untuk Jalur selatanselatan Jawa Tengah.

Kota Pekalongan dan Kota Tegal. Pengembangan Sarana dan Prasarana Wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran Peta yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini. Peningkatan Sarana dan Prasarana Transportasi. (1) 4. Banyumas. Pengembangan Angkutan Peti Kemas Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap dengan jaringan strategis yaitu Benoa-CilacapLampung–Singapura. Pengembangan Transportasi Udara terdiri dari: Pengembangan Bandar Udara untuk peningkatan kegiatan ekonomi kawasan dan kegiatan pariwisata. Pengembangan Pelabuhan di Wonorejo Kabupaten Kendal dan Keburuhan di Kabupaten Purworejo menjadi Pelabuhan Pengumpan Primer. d. 7. Pemantapan fungsi terminal jalur pantai utara di Lasem-Rembang. 3. Wonosobo. Drainase. Pasal 25 3. Peningkatan fungsi Bandara Tunggul Wulung Cilacap dan Bandara Dewandaru Karimunjawa sebagai bandar udara bukan Pusat Penyebaran yang Ruang Udara disekitarnya dikendalikan. Peningkatan Sarana dan Prasarana Penunjang Pengolahan Minyak dan Gas Bumi di Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Blora. Transportasi. Air Bersih. (2) b. Wonosobo. Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Semarang. (2) g. Listrik. Pengembangan Sarana dan Prasarana Perkotaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2) yang menjadi kewenangan Kabupaten/Kota terdiri dari: a. Sanitasi. 2. Pengembangan Sarana dan Prasarana Perkotaan lsebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2) untuk lintas Kabupaten/Kota terdiri dari: a. Kawasan Pantai Selatan. kota Semarang. Kawasan Pantai Utara. dan Lapangan Terbang Wirasaba Purbalingga sebagai Bandar Udara bukan Penyebaran yang Ruang Udara disekitarnya tidak dikendalikan. Daerah Aliran Sungai Citandui. Kota Surakarta. e. 4. Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo. 2. 8. embarkasi haji dan wisatawan. Kebumen. Telekomunikasi lintas Kabupaten dan Kota. Pengembangan Lapangan Terbang Ngloram Cepu. f. Lapangan Terbang Martoloyo-Tegal. Purworejo. 2. kota Pekalongan dan kota Tegal. Kota Salatiga. Peningkatan fungsi Bandara Adisumarmo Solo sebagai Bandar Udara Pusat Penyebaran rute penerbangan luar negeri dan dalam negeri. c. Magelang dan Brebes. untuk mengantisipasi peningkatan volume barang. Peningkatkan fungsi Bandara Ahmad Yani Semarang sebagai Bandar Udara Pusat Penyebaran untuk melayani rute penerbangan luar negeri dan dalam negeri. Peningkatan Sarana dan Prasarana Penunjang Eksploitasi Minyak dan Gas Bumi terdapat di Kabupaten Blora. kota Magelang dan kota Surakarta. serta Kota Magelang. Pemantapan fungsi terminal jalur tengah dan selatan di kota Purwokerto. 3. Peningkatan kapasitas terpasang listrik di Kabupaten Cilacap. 38 Peningkatan Sarana dan Prasarana Penunjang Eksploitasi Panas Bumi terdapat di Kabupaten Wonosobo. Kebumen. kota Kudus. Pengembangan Energi meliputi: 1. c. 4. Pengembangan Sarana dan Prasarana Pengairan terdapat di: 1. Banjarnegara. Perda RTRWP Jawa Tengah 2003-2018 Perda RTRWP Jawa Tengah 2003-2018 . Persampahan. Peningkatan peran terminal Peti Kemas Jebres-Surakarta. Peningkatan Sarana dan Prasarana Penunjang Telekomunikasi terdapat di semua Kabupaten dan Kota. Peningkatan Sarana dan Prasarana Penunjang Pemanfaatan Air Bersih dan Persampahan terdapat di semua Kabupaten dan Kota . meliputi: 1.37 6. Kota Semarang.

Purwokerto. Pengairan. 4. Air Bersih. Kudus. 3. Jepara. Cilacap. d. Pengembangan Kawasan Strategis Pertumbuhan Pemerataan dan Keseimbangan terdiri dari: 1. Daerah Aliran Sungai (DAS) Kaligarang. WANARAKUTI (Juwana. 6. d. 7. Semarang. f. Tegal dan Slawi). g. Telekomunikasi. Kawasan Konservasi Segara Anakan. Grobogan. e. 40 Pengembangan Kawasan Strategis Pertumbuhan yang berpotensi untuk pengembangan pelayanan Nasional terdiri dari: 1. b. Tegal. 2. Demak. Salatiga. 5. Listrik Perdesaan. Pengembangan Kawasan Priorit as Konservasi dan Perlindungan terhadap Bencana Alam terdiri dari: 1. Bagian Keenam Pengembangan Kawasan Strategis dan Kawasan Prioritas Pasal 27 Pengembangan Kawasan Prioritas yang bersifat strategis ditetapkan dengan skala pandang Nasional dan D aerah sesuai dengan prioritas kebutuhan dan kegunaannya. c. Ungaran-Bawen-Ambarawa. Kawasan Dataran Tinggi Dieng. Kartasura. Cepat. c. Boyolali. KEDUNGSAPUR (Kendal. Sragen dan Klaten). Borobudur dan sekitarnya. 3. 6. Pekalongan. b. d.39 b. Ungaran. Kawasan Prioritas Konservasi a) b) c) d) 2. Sanitasi. Energi. Telekomunikasi. Pengembangan Kawasan Andalan terdapat di: 1. Cilacap dan sekitarnya. Klaten. Listrik. b) Kawasan Penanganan Banjir Jawa Tengah Bagian Utara (Kawasan Pantai Utara). Kawasan Sindoro-Sumbing. Kawasan Prioritas Perlindungan terhadap Bencana Alam terdiri dari: a) Kawasan Penanganan Banjir dan Tanah Longsor Jawa Tengah Bagian Selatan (Kawasan Pantai Selatan). c. Sukoharjo. Semarang dan Purwodadi). Kudus dan Pati). Kawasan Pemerataan dan Keseimbangan: a) b) Banjarnegara. Pasal 28 (1) Pengembangan Kawasan Prioritas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 meliputi: a. 2. Perda RTRWP Jawa Tengah 2003-2018 Perda RTRWP Jawa Tengah 2003-2018 . 5. e. 4. Juwana-Pati. Pasal 26 Pengembangan Sarana dan Prasarana Perdesaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (3) merupakan kewenangan Kabupaten/Kota terdiri dari: a. Transportasi. 2. Kawasan Pertumbuhan Cepat : a) b) c) d) e) f) g) Magelang. Kawasan Borobudur-Prambanan. Karanganyar. Surakarta. Wonogiri. Persampahan. Drainase. Kebumen dan sekitarnya. SUBOSUKAWONOSRATEN (Surakarta. BREGAS(Brebes.

Banyumas. Kawasan Cilacap dan sekitarnya. Kawasan Kerjasama Strategis Intra-Kabupaten/Kota: a) b) c) d) e) f) g) h) i) j) k) Kawasan Majenang dan sekitarnya. Kawasan Gunung Sindoro. Pemalang dan Kajen). d). Kawasan Kerjasama Antar-Kawasan a) b) c) Kawasan Sentra Produksi Rawapening.Jawa Timur. h). Kawasan Bahari Terpadu Rembang dan BonangBinangun-Sluke. Sukoharjo. Wonosobo.Jawa Barat. Boyolali. c). Kawasan KEDUNGSAPUR (Kendal. Kawasan Selatan-selatan.Jawa Barat. Tuban. Pengembangan Kawasan dalam Rangka Pangkal Perlawanan a). Purbalingga. Kawasan BREGAS (Brebes. Kabupaten Kebumen . Kawasan yang digunakan oleh Institusi Pertahanan Negara (Komando Daerah Militer IV/Diponegoro) dan keamanan (Kepolisian Daerah dan Institusi Keamanan Jawa Tengah) terdiri dari: 1. Cilacap dan Banyumas) antara Jawa Tengah . Kawasan Gunung Lawu. Pengembangan Kawasan Kerjasama Strategis dalam Daerah terdiri dari: 1. a) Pantai Utara 1) 2) 3) 4) b) Kabupaten Kabupaten Kabupaten Kabupaten Kendal. PANCIMAS (Pangandaran. Kawasan yang Mempunyai Nilai Strategis dan Kawasan Latihan. PURWOKULON (Purworejo dan Kulonprogo) antara Jawa Tengah-DI Yogyakarta. Kudus dan Pati). Pengembangan Kawasan Kerja Sama Perbatasan Antar-Daerah terdiri dari: 1 2 3 4 5 6 7 JOGLOSEMAR (Yogyakarta. h. PAWONSARI (Pacitan. Kawasan Gunung Ungaran. Salatiga. Cilacap dan Kebumen). Perda RTRWP Jawa Tengah 2003-2018 . Magelang dan Temanggung). Demak. Kawasan Bahari Terpadu Purworejo. Pengembangan Kawasan Khusus Pertahanan dan Keamanan. GELANGMANTEN (Magelang. Kawasan Purwokerto dan sekitarnya. dan Klaten). Kawasan Gunung Slamet. g). Kawasan Gunung Merapi. Jepara. Semarang dan Purwodadi). Blora. Kawasan TANGKALLANGKA (Batang. e) f) g) h) 2. CIBENING (Cirebon. Kawasan Purwantoro dan sekitarnya. Kawasan Kutoarjo-Purworejo dan sekitarnya. Kawasan PURWOMANGGUNG (Purworejo. Tegal dan Slawi). Kawasan SSB (Solo-Selo-Borobudur). Muntilan dan Borobudur). Brebes dan Kuningan) antara Jawa Tengah . Kawasan Kepulauan Karimunjawa. Rembang dan Bojonegoro) antara Jawa Tengah. Kawasan Kebumen dan sekitarnya. 3.41 e. Salam. Kawasan Gunung Merbabu. Kawasan SUBOSUKAWONOSRATEN (Surakarta. Wonogiri dan Wonosari) antara Jawa Tengah-DI Yogyakarta-Jawa Timur. Pengembangan Kawasan Tertinggal terdapat di semua Kabupaten dan Kota. Kawasan BANGLOR (Rembang dan Blora). b). Kawasan Kerjasama Antar-Daerah Kabupaten/Kota a) b) c) d) Kawasan BARLINGMASCAKEB (Banjarnegara. Rembang. RATUBANGNEGORO (Blora. f. 42 Kawasan WANARAKUTI (Juwana. Jepara. Pekalongan. Perda RTRWP Jawa Tengah 2003-2018 g. Solo dan Semarang) antara Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Ungaran. f). Kawasan Bumiayu dan sekitarnya. e). Sragen. Kawasan MASATANDUR (Magelang. Pantai Selatan 1) 2) Kabupaten Cilacap. Sleman dan Klaten) antara Jawa Tengah-DI Yogyakarta. 2. Kawasan Gunung Muria. Wonogiri. Kawasan Gunung Sumbing. Karanganyar.

Masalah-masalah yang akan dihadapi dan perlu diantisipasi. Sukoharjo dan Wonosari) antara Jawa Tengah dan DI Yogyakarta 44 Pasal 31 Koordinasi Pengendalian Pemanfaatan Ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 dilakukan oleh Gubernur bersama-sama dengan Bupati/Walikota dengan memperhatikan aspek keikutsertaan masyarakat. pemberian ijin Pemanfaatan Ruang dan kebijakan yang berkaitan dengan Pemanfaatan Ruang. Laporan perkembangan Pemanfaatan Ruang dilaksanakan melalui sistem pelaporan secara periodik setiap 6 (enam) bulan kepada Gubernur dengan tembusan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Propinsi Jawa Tengah. b. Pemerintah Kabupaten/Kota. pemantauan dan evaluasi secara rutin oleh Tim yang dibentuk dengan Keputusan Gubernur. Perkembangan perubahan fungsi dan Pemanfaatan Ruang serta Izin Pemanfaatan Ruang. c. Swasta dan Masyarakat. Sragen. Kawasan yang memiliki permasalahan ruang yang harus segera ditangani. Wonogiri. kegiatan pembangunan. Perda RTRWP Jawa Tengah 2003-2018 Perda RTRWP Jawa Tengah 2003-2018 . 2. memiliki kriteria sebagai berikut: a. 3. Sistem Pelaporan dan materi laporan perkembangan struktur dan pola Pemanfaatan Ruang adalah sebagai berikut: a. KESUKOSARI (Klaten. Laporan sebagaimana dimaksud huruf a dilengkapi dengan materi laporan sebagai berikut: 1. Pengembangan Kawasan Prioritas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercant um dalam Lampiran Peta yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini. Ngawi dan Ponorogo) antara Jawa Tengah-Jawa Timur.43 8 9 (2) KARISMAWIROGO (Karanganyar. b. Magetan. Grobogan. Pengembangan Kawasan Prioritas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27. Tim sebagaimana dimaksud pada ayat (1) melakukan pengawasan Pemanfaatan Ruang yang berhubungan dengan program. (3) (3) BAB VI PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG Bagian Pertama Pedoman Pengaturan Pasal 29 Peraturan Daerah ini menjadi pedoman bagi pengaturan lebih lanjut Rencana Tata Ruang yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah. Perkembangan Pemanfaatan Ruang. Kawasan yang mempunyai kontribusi terhadap pencapaian sasaran secara Nasional. Kawasan yang tidak masuk dalam deliniasi kawasan tertentu dan andalan tetapi dari dimensi Daerah memiliki peranan untuk pertumbuhan dan pemerataan yang besar. melalui kegiatan (1) Paragraf 2 Penertiban Pasal 33 Penertiban terhadap Pemanfaatan Ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 dilakukan berdasarkan laporan perkembangan Pemanfaatan Ruang hasil pengawasan. (2) (1) Paragraf 1 Pengawasan Pasal 32 Pengawasan terhadap Pemanfaatan Ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 diselenggarakan dengan kegiatan pelaporan. Bagian Kedua Pengendalian Pasal 30 Pengendalian Pemanfaatan Ruang diselenggarakan pengawasan dan penertiban terhadap Pemanfaatan Ruang.

Apabila pelanggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan pencemaran dan perusakan lingkungan hidup dikenakan pidana yang diatur dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 atau peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pengendalian Pemanfaatan Meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan untuk tindak pidana di bidang Pengendalian Pemanfaatan Ruang. b. d. Sanksi Pidana. Melakukan pemeriksaan atau pembuktian. maka ancaman pidananya dikenakan terhadap pengurusnya. Perda RTRWP Jawa Tengah 2003-2018 . catatan dan dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana di bidang Pengendalian Pemanfaatan Ruang.000.000. Pasal 27 dan Pasal 28 Peraturan Daerah ini diancam pidana kurungan selama-lamanya 6 (enam) bulan atau dengan denda sebanyak-banyaknya Rp 5. Pasal 35 (1) Barang siapa melanggar Pemanfaatan Ruang yang ditetapkan dalam Pasal 14. dapat dilakukan melalui pencabutan ijin Pemanfaatan Ruang yang telah diberikan. Pasal 16. Pasal 18. Pasal 26. Sanksi Administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Pasal 24. Apabila pelanggaran tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh suatu Badan Hukum. Melakukan pemeriksaan terhadap orang atau badan hukum yang diduga melakukan tindak pidana di bidang Pengendalian Pemanfaatan Ruang. Pasal 15. 46 perkara tindak pidana di bidang Ruang. (3) c. (4) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan dimulainya Penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada Penuntut Umum melalui Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-undang Hukum Acara Pidana yang berlaku. Pasal 25. Sanksi Administratif. Pasal 22. (3) f. Bentuk penertiban sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah pemberian sanksi yang terdiri dari: a. Pasal 21. catatan dan dokumen lain serta melakukan penyitaan terhadap hasil pelanggaran yang dapat dijadikan bukti dalam Perda RTRWP Jawa Tengah 2003-2018 (2) b. Meminta keterangan dan barang bukti dari orang atau badan hukum sehubungan dengan peristiwa tindak pidana di bidang Pengendalian Pemanfaatan Ruang. Melakukan pemeriksaan di tempat yang diduga terhadap barang bukti. Pasal 20. BAB VII KETENTUAN PENYIDIKAN BAB VIII KETENTUAN PIDANA Pasal 34 (1) Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Pemerintah Daerah diberi wewenang khusus sebagai Penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang Pengendalian Pemanfaatan Ruang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. e. (2) Wewenang Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah: a. dengan tidak merampas barang tertentu untuk Negara. Pasal 17. Pasal 23.(Lima Juta Rupiah). Melakukan pemeriksaan atas kebenaran atau keterangan berkenaan dengan tindak pidana di bidang Pengendalian Pemanfaatan Ruang. kecuali ditentukan lain dalam peraturan perundang-undangan. Pasal 19.45 (2) (3) Penertiban terhadap Pemanfaatan Ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Gubernur.

Pasal 37 Ketentuan mengenai arahan Pemanfaatan Ruang Lautan dan Ruang Udara akan diatur lebih lanjut sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. harus segera dicegah perkembangannya dan secara bertahap dikembalikan pada fungsi lindung. Pada saat berlakunya Peraturan Daerah ini semua peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan Rencana Tata Ruang yang telah ada tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan dan belum diganti berdasarkan Peraturan Daerah ini.47 BAB IX KETENTUAN PERALIHAN (3) 48 RTRW Propinsi Jawa Tengah yang telah ditetapkan dapat diubah unt uk disesuaikan dengan perkembangan keadaan berdasarkan hasil peninjauan dan penetapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Daerah. Dalam hal kegiatan Budidaya yang telah ada dan dinilai mengganggu fungsi lindung dan atau terpaksa mengkonversi kawasan yang berfungsi lindung. Ditetapkan di Semarang pada tanggal 28 Oktober 2003 GUBERNUR JAWA TENGAH Pasal 36 Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini. Kegiatan Budidaya yang sudah ada di Kawasan Lindung dan dinilai mengganggu fungsi lindungnya. c. memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Propinsi Jawa Tengah. diatur sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan atau peraturan perundang-undangan yang berlaku. maka: a. d. Pasal 40 Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Pasal 17. Kegiatan Budidaya yang telah ditetapkan dan berada di kawasan lindung dapat diteruskan sejauh tidak mengganggu fungsi lindung dan memenuhi ketentuan yang diatur dalam Pasal 16. Pasal 39 Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini sepanjang mengenai pelaksanaannya diatur lebih lanjut dengan Keputusan Gubernur. Pasal 18 dan Pasal 19. MARDIYANTO Diundangkan di Semarang pada tanggal SEKRETARIS DAERAH PROPINSI JAWA TENGAH MARDJIJONO == LEMBARAN DAERAH PROPINSI JAWA TENGAH TAHUN 2003 NOMOR 133 == Perda RTRWP Jawa Tengah 2003-2018 . Agar setiap orang mengetahuinya. Perda RTRWP Jawa Tengah 2003-2018 (4) b. BAB X KETENTUAN PENUTUP Pasal 38 (1) (2) RTRW Propinsi Jawa Tengah yang telah ditetapkan apabila dianggap perlu dapat ditinjau kembali untuk diubah sesuai dengan perkembangan. maka Peraturan Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Tengah Nomor 8 Tahun 1992 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Tengah dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi. Peninjauan kembali sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan paling tidak sekali dalam lima tahun. Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful