Anda di halaman 1dari 3

JURNAL NASILONAL Si Lokomotif Uap

Jakarta | Minggu, 11 Dec 2011 Suci Dian Hayati Pada masa kejayaannya lokomotif uap terlihat begitu gagah dengan warna hitam legamnya dan warna merah menyala di bagian depan loko. USIANYA lebih dari dua abad. Namun, masih sanggup berjalan bila dipaksa. Meski baretan karat berwarna kekuningan hampir menggerogoti seluruh permukaan tubuhnya, sisa-sisa kejayaan masih terpancar kuat. Sabtu (3/12) lalu, Jurnal Nasional berkesempatan ikut kegiatan perawatan lokomotif-lokomotif uap di Museum Transportasi Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Kegiatan perawatan ini dilaksanakan oleh rekan-rekan dari Indonesian Steam Locomotive Community (ISLC), yakni organisasi pencinta lokomotif uap di Indonesia. Setidaknya ada 25 lokomotif uap mengantre untuk dicat ulang atau sekadar disemprotkan solar agar permukaannya tidak termakan karat. Teman-teman ISLC menyebutnya "Aksi pengecatan boopher (cow-catcher)" atau disebut juga bemper. Informasi pihak museum mengatakan, pengecatan ulang terakhir kali dilakukan awal tahun 2000 lalu. Jadi, wajar saja jika sekarang banyak lokomotif yang kembali tampak "antik" dengan balutan karat berwarna kekuningan. Menurut Deddy Herlambang, koordinator ISLC untuk kawasan Jakarta, minimnya perawatan menyebabkan lokomotif-lokomotif yang bernilai sejarah tinggi itu terlihat kusam dan mengenaskan. Padahal, pada masa kejayaannya lokomotif uap terlihat begitu gagah dengan warna hitam legamnya dan warna merah menyala di bagian depan loko. "Masyarakat kita dan pemerintah memang belum sepenuhnya memahami tingginya nilai sejarah dari lokomotif-lokomotif uap ini, sehingga akhirnya mereka ditelantarkan," ujar Deddy di selasela kegiatan perawatan. Hal itu sangat kontras dengan perhatian negara-negara yang memproduksi lokomotif-lokomotif tersebut seperti Jerman, Inggris, Belanda, dan Amerika Serikat. Seperti yang diutarakan Deddy, tidak sedikit lokomotif uap koleksi Museum Transportasi ataupun di museum kereta api lainnya yang ditawar untuk dibeli kembali dengan harga yang sangat tinggi. Terakhir, Jerman berniat membeli hampir semua lokomotif buatan Jerman yang ada di Indonesia. Setidaknya 40 persen dari lokomotif yang ada di Indonesia produksi Jerman. Niat yang sama juga disampaikan Belanda. Tetapi, untungnya penjualan tersebut tidak dilakukan. "Nilai dari lokomotif itu sangat tidak ternilai, jangan dilihat dari berat kiloannya, tapi catatan sejarah yang ditorehkan bersama lokomotif-lokomotif itu," kata Deddy. Lokomotif uap pertama kali hadir di Indonesia tahun 1867, berdasarkan permintaan Raja Willem I untuk keperluan militer di Semarang, sekaligus mengangkut hasil panen pertanian ke Gudang Semarang. Uniknya, dalam catatan sejarah, Indonesia adalah negara kedua di Asia yang

memiliki kereta uap pertama kali setelah India. Bahkan, di antara koleksi lokomotif uap di Indonesia ada yang termasuk edisi terbatas. Mumifikasi Kondisi lokomotif-lokomotif yang "dipajang" di Museum Transportasi, semua dalam kondisi mati. Menurut Deddy, lokomotif-lokomotif tersebut sengaja didatangkan dari Medan, Madiun, Ciganjur, Lumajang, dan Jakarta, pada tahun 1984. Tujuannya adalah, "mematikan secara paksa" atau mumifikasi. Disebut mumifikasi karena seluruh loko yang dikirim sesungguhnya masih dalam kondisi baik dan bisa beroperasi. Adanya peralihan dari lokomotif uap ke lokomotif diesel, mau tidak mau memaksa pemerintah untuk merumahkan lokomotif uap. Tetapi, belakangan pemerintah Belanda melalui duta besarnya berencana untuk menghidupkan kembali salah satu lokomotif uap produksi Belanda yang ada di Museum Transportasi TMII. Dibutuhkan dana yang cukup besar untuk proses tersebut, setidaknya diperkirakan mencapai Rp5 milliar. Dana tersebut hanya digunakan untuk memperbaiki ketel pemanas air yang menjadi inti penghasil bahan bakar gas penggerak lokomotif uap. Belum termasuk dana perawatan fisik lokomotif lainnya, penyediaan depo khusus yang dilengkapi dengan sarana air sendiri, penyediaan kayu bakar atau batu bara, dan gaji masinis yang akan mengoperasikan lokomotif tersebut. Sahabat Thomas Selain untuk menjaga aset sejarah yang tidak ternilai agar tetap terawat. ISLC juga memiliki program pendidikan untuk pelajar seluruh tingkatan di Jakarta dan Indonesia. Tujuan utamanya, selain membuka wawasan pelajar dengan mengenalkan jenis-jenis lokomotif uap yang pernah ada di Indonesia. Juga untuk menumbuhkan kembali rasa peduli dan cinta pada lokomotiflokomotif uap berusia tua yang pernah menjadi tulang punggung transportasi massal di Indonesia. "143 tahun kereta uap menjadi penggerak ekonomi di Tanah Air. Sayang kini sedikit yang memerhatikan dan mengenang jasa mereka. Inilah yang ingin kita ubah dimulai dengan menumbuhkan rasa cinta di hati anak-anak Indonesia akan kereta," kata Deddy. Beruntung saat ini beredar kartun serial "Thomas and Friends" yang bercerita tentang sepak terjang lokomotif-lokomotif uap di sebuah stasiun pusat di Inggris. Sehingga, sangat memudahkan pendekatan anggota ISLC dalam mendidik anak-anak. Apalagi salah satu koleksi museum ternyata termasuk lokomotif tipe "Thomas". Dalam kegiatan perawatan sebelumnya, banyak pengunjung anak di Museum Transportasi yang bersedia ikut mengecat badan lokomotif-lokomotif tua tersebut. Meski tangan dan pakaian mereka belepotan dengan cat, wajah mereka menunjukkan antusias yang tinggi.

"They two, they four, they six, they eight. They are really usefull crew," dendang Thomas dan teman-temannya. Lagu Thomas itu kini mungkin lebih akrab di telinga anak-anak Indonesia ketimbang lagu lokal mereka sendiri, "Naik kereta api tut tut tuuut...." Wah, siapa salah ya? ***
http://www.jurnas.com/halaman/24/2011-12-11/191748