Anda di halaman 1dari 2

PENATALAKSANAAN STROKE HEMORAGIK DENGAN HEMIPARESE DEXTRA DAN HIPERTENSI GRADE II PADA LAKILAKI USIA 65 TAHUN

Dibuat oleh: Wenita Permatasari,Modifikasi terakhir pada Sun 22 of Jul, 2012 [14:49 UTC] ABSTRAK Stroke adalah menifestasi klinik dari gangguan fungsi serebral, baik fokal maupun menyeluruh (global), yang berlangsung dengan cepat, selama lebih dari 24 jam atau berakhir dengan maut, tanpa ditemukannya penyebab lain selain gangguan vaskuler. Istilah kuno apopleksia serebri sama maknanya dengan Cerebrovascular Accidents/Attacks (CVA) dan Stroke. Pasien datang ke RSUD Salatiga dengan keluhan tangan dan kaki kanan pasien mendadak terasa lemas dan tidak bias digerakkan sejak 4 jam sebelum masuk ke rumah sakit. Keluhan timbul secara mendadak ketika pasien jalanjalan pagi. Pasien mengaku sering sakit kepala. Namun sebelum tangan dan kaki kanan tidak bisa digerakkan pasien mengalami sakit kepala hebat yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Setelah serangan, pasien sempat mengalami penurunan kesadaran. Berdasarkan CT Scan pasien didiagnosis stroke hemoragik dan kemudian mendapatkan terapi berupa Infus manitol 6 x 100 cc, Inj piracetam 2 x 12 gram, Kalnex 6x500 gram. Keyword: stroke, stroke hemoragik, hipertensi KASUS Pasien laki-laki usia 65 tahun datang ke RSUD Salatiga dengan keluhan tangan dan kaki kanan pasien mendadak terasa lemas dan tidak bias digerakkan sejak 4 jam sebelum masuk ke rumah sakit. Keluhan timbul secara mendadak ketika pasien jalan-jalan pagi. Pasien mengaku sering sakit kepala. Namun sebelum tangan dan kaki kanan tidak bisa digerakkan pasien mengalami sakit kepala hebat yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Setelah serangan, pasien sempat mengalami penurunan kesadaran, namun menurut keluarganya hal tersebut hanya terjadi selama beberapa menit saja. Pasien juga mengaku sempat muntah 1 kali. Pasien mengaku memiliki riwayat darah tinggi yang tidak terkontrol yang diketahui sejak 7 tahun yang lalu. Pasien sebelumnya pernah mengalami kejadian seperti ini, kira-kira 1 tahun yang lalu, dimana terdapat kelemahan pada ekstremitas kanan. DIAGNOSIS Hemiparese dextra et causa stroke hemoragik dengan hipertensi grade II TERAPI Pasien diberikan terapi Kalnex 6x500 gram, Captopril 2x25 mg, Infus manitol 6 x 100 cc, Injeksi piracetam 2 x 12 gram PEMBAHASAN Menurut definisi WHO, stroke adalah menifestasi klinik dari gangguan fungsi serebral, baik fokal maupun menyeluruh (global), yang berlangsung dengan cepat, selama lebih dari 24 jam atau berakhir dengan maut, tanpa ditemukannya penyebab lain selain gangguan vaskuler. Istilah kuno apopleksia serebri sama maknanya dengan Cerebrovascular Accidents/Attacks (CVA) dan Stroke. Penyebab stroke antara lain aterosklerosis ( trombosis), embolisme, hipertensi yang menimbulkan perdarahan intraserebral dan rupture aneurisma . Stroke biasanya disertai satu atau beberapa penyakit lainnya yang menjadi faktor resiko seperti hipertensi,

penyakit jantung, peningkatan lemak dalam darah, diabetes mellitus, atau penyakit vaskuler perifer. Berbagai faktor resiko berperan bagi terjadinya stroke antara lain, kelainan pembuluh darah otak, Hipertensi, Penyakit jantung, Diabetes mellitus. Stroke dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis stroke hemoragik dan stroke non hemoragik. Pada stroke hemoragik, Gejala neurologi yang timbul tergantung berat ringannya gangguan pembuluh darah dan lokasinya. Gejala klinis yang muncul pada sistem karotis: gangguan penglihatan (amaurosis fugaks / buta mendadak) gangguan bicara (afasia atau disfasia) gangguan motorik (hemiparese / hemiplegi kontralateral) gangguan sensorik pada tungkai yang lumpuh. Sistem vertebrobasiler gangguan penglihatan (hemianopsia / pandangan kabur), gangguan nervi kraniales, gangguan motorik, gangguan sensorik, koordinasi dan gangguan kesadaran. Diagnosis stroke ditegakkan berdasarkan gambaran CT-Scan, namun dari anamnesis stroke harus dipertimbangkan pada setiap pasien yang mengalami defisit neurologi akut (baik fokal maupun global) atau penurunan tingkat kesadaran. Tidak terdapat tanda atau gejala yang dapat membedakan stroke hemoragik dan non hemoragik meskipun gejalah seperti mual muntah, sakit kepala dan perubahan tingkat kesadaran lebih sering terjadi pada stroke hemoragik. Pada pemeriksaan fisik dapat dinilai tes sensibilitas, kekuatan otot, dan reflex fisiologis dan Breath : Oksigenasi,patologis. Manajemen stroke dengan Dengan 5 B pemberian oksigen dari luar Blood : Usahakan aliran darah ke otak semaksimal mungkin dan pengontrolan tekanan darah pasien Brain : Menurunkan tekanan intra kranial dan menurunkan udema serebri Bladder : Dengan pemasangan DC Bowel : Saluran pencernaan dan pembuangan Pada stroke hemoragik diberikan obat untuk menurunkan tekanan intra cranial dan diberikan pula neuroprotektan. KESIMPULAN Stroke adalah menifestasi klinik dari gangguan fungsi serebral, baik fokal maupun menyeluruh (global), yang berlangsung dengan cepat, selama lebih dari 24 jam atau berakhir dengan maut, tanpa ditemukannya penyebab lain selain gangguan vaskuler. Istilah kuno apopleksia serebri sama maknanya dengan Cerebrovascular Accidents/Attacks (CVA) dan Stroke. Pada pasien, diagnosis stroke hemoragik ditegakkan berdasarkan gejala, pemeriksaan fisik dan hasil CT-Scan yang mengindikasikan perdarahan intra serebral. REFERENSI 1. Lombardo MC. Penyakit Serebrovaskular dan Nyeri Kepala Dalam: Price SA eds. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Prose Penyakit. 4th ed. Jakarta: EGC; 1995. p. 961-79 2. Feigin V. Pendaluhuan. Stroke Panduan Bergambar Tentang Pencegahan dan Pemulihan Stroke. Jakarta: Penerbit PT Bhuana Ilmu Populer; 2006. p. xx-ii 3. Mardjono M, Sidharta P. Mekanisme Gangguan Vaskular Susunan Saraf Pusat Dalam Mardjono M, Sidharta P eds. Neurologi Klinis Dasar. Edisi 9. Jakarta: PT Dian Rakyat; 2003. hal. 26992 4. 5. Jauch CE. Acute Stroke Management [Online]. 2007 Apr 9 [cited 2007 June 8]; Available from: URL:hhtp://emedicine.com/neuro-vascular/topic334.htm PENULIS Wenita Permanasari, Stase Ilmu Penyakit Saraf, RSUD Salatiga