Anda di halaman 1dari 5

JUDUL: PELUANG PROVINSI BALI UNTUK MENDAPATKAN OTONOMI KHUSUS DALAM KERANGKA NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA (Daniel

Roring 105010101121001)

Dalam UUD NRI Tahun 1945 Pasal 18B ayat (1) disebutkan bahwa Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintah daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dengan undang-undang. Tidak sedikit pandangan yang menyatakan bahwa ketentuan Pasal 18B ayat (1) UUD NRI Tahun 1945 tersebut bertentangan dengan konsep negara kesatuan yang dianut Indonesia. Salah satunya adalah Eko Prasodjo seperti yang dikutip Edi Toet Hendratno menyatakan bahwa Pasal 18B ayat (1) dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang menyebutkan negara mengakui keistimewaan dan kekhususan suatu daerah dan keanekaragaman daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan kesamaan dengan konsep diversity in unity (keragaman dalam kesatuan) dalam sistem federal1. Hal ini tentu bertentangan dengan pasal 1 ayat (1) UUDRI 1945. Konsep pemberian otonomi khusus ini memang banyak kemiripan dengan konsep negara federal. Hal itu didukung dengan fakta bahwa sebuah daerah otonomi khusus mempunyai hak untuk mengeksploitasi budaya dan segala keunikannya untuk diadopsi dalam sistem daerah pemerintahannya. Misalnya diberikannya hak bagi masyarakat Aceh untuk membentuk partai politik lokal, maupun disyaratkan bahwa hanya orang asli papua yang dapat mencalaonkan diri sebagai calon gubernur Papua dan sebagainya. Meskipun banyak menuai kritik namun pada dasarnya bila kita meninjau dari konsep atau teori hukum tata negara yang dapat dijadikan landasan argumentasi untuk menyatakan bahwa status otonomi khusus atau istimewa bagi daerah-daerah tertentu tetaplah merupakan bagian dari model bentuk susunan negara kesatuan yang dianut Indonesia. Konsekuensi dari pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia adalah adanya pembagian kewenangan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Hampir seluruh kewenangan pemerintah pusat diserahkan pada daerah, kecuali bidang; politik luar negeri, pertahanan keamanan, yustisi, moneter dan fiskal nasional dan agama.
1

Edie Toet Hendratno, Negara Kesatuan, Desentralisasi, dan Federalisme (Jakarta:Graha Ilmu dan Universitas Pancasila Press, 2009), hlm.238

Konsep otonomi khusus ini menawarkan kewenangan khusus yang diberikan kepada daerah tertentu untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri tetapi sesuai dengan hak dan aspirasi masyarakat di daerah tersebut. Kewenangan ini diberikan agar daerah tersebut dapat menata daerah dan bagian dari daerah

tersebut agar lebih baik lagi di bidang tertentu sesuai dengan aspirasi daerahnya. Disebut khusus karena suatu daerah mendapatkan wewenang atau kekuasaan yang berbeda dengan daerah lain, yang dianggap sebagai solusi penyelesaian permasalahan hubungan antara pusat negara dan daerah yang bersangkutan. Beberapa daerah di Indonesia telah diberi otonomi khusus ini yaitu Jakarta, Aceh, provinsi Papua dan provinsi Papua Barat. Ada berbagai faktor yang membuat pemerintah memberikan otonomi khusus kepada daerah-daerah di atas, hal tersebut dapat kita lihat dari gambar di bawah ini. Keistimewaan yang dirasakan daerah-daerah di atas membuat daerah lain meninginkannya pula, salah satunya adalah Provinsi Bali. Bali dengan berbagai keunikannya menginginkan pula agar daerahnya dapat dibangun sesuai dengan prakarsa dan aspirasi rakyat di pulau Bali. Masyarakat Bali pun menginginkan agar daerahnya mendapatkan otonomi khusus, pada tahun 2006 sejumlah media massa telah melakukan survei untuk menyerap aspirasi masyarakat Bali terkait permintaan otonomi khusus. Hasilnya, 80 persen masyarakat menyatakan setuju dilaksanakannya otonomi khusus. Survei serupa diulangi lagi

pada 2007. Dan hasilnya tak jauh beda. Masyarakat Bali menginginkan adanya otonomi khusus. Seperti daerah-daerah yang telah menerima otonomi khusus diatas, Bali juga memiliki berbagai macam keunikan. Sebut saja sistem pemerintahan lokal atau Desa Pakraman, sistem organisasi subak, Lembaga Perkreditan Desa (LPD) yang tak termaktub dalam sistem perundang-undangan perbankan, sistem religi yang menganut falsafah Tri Hita Karana, sampai Hari Raya Nyepi. Tidak banyak yang tahu bahwa masyarakat Bali telah melakukan perjuangan dari tahun 2004 untuk mendapatkan otonomi khusus tersebut. Perjuangan tersebut dapat dilihat dari tabel berikut ini

Bila kita cermati esensi Otonomi Khusus Bali tersebut didasari beberapa pemikiran, yaitu: 1. Bali secara geografis relatif kecil, sehingga Otonomi Daerah yang ditempatkan di Kabupaten/Kota akan memecah-belah keutuhan Bali sebagai satu-kesatuan geografis. 2. Masyarakat Bali sebagai satu-kesatuan komunitas yang memiliki latar belakang budaya, agama, dan tradiri relatif sama menjadi modal dasar dalam membangun Bali secara utuh dalam satu-kesatuan komunitas. 3. Dilihat dari sudut pandang budaya, Bali memiliki bahasa dan huruf sama, serta memiliki kemiripan karakter sosial sehingga tidak ada alasan untuk mengotakkotakkan Bali dalam tata pemerintahannya. 4. Potensi pariwisata yang menjadi andalan PAD Kabupaten/Kota tidak merata, sehingga hal ini sering menjadi alat pemicu konflik antar-Kabupaten/Kota. Timbul kecemburuan karena pajak yang diperoleh dari sektor ini tidak dinikmati secara adil dan merata oleh masyarakat Kabupaten/Kota di Bali. Padahal Bali sebagai pulau

utama dalam berwisata memberikan tak kurang dari Rp. 45 trilyun untuk devisa Indonesia pada 2011. Peluang bagi masyarakat bali untuk mendapatkan otonomi khusus bila dilihat dari segi normatif sangatlah terbuka. Dasar konsttitusional masyarakat bali untuk mendapatkan otonomi khusus adalah UUD NRI Tahun 1945 Pasal 18B ayat (1) disebutkan bahwa Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintah daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dengan undang-undang. Philipus M. Hadjon mengemukakan bahwa terdapat 4 prinsip yang mendasari ketentuan Pasal 18 UUD 1945, yaitu2: 1. Prinsip pembagian daerah yang bersifat hirarkis pada Ayat (1); 2. Prinsip otonomi dan tugas pembantuan pada Ayat (2); 3. Prinsip demokrasi pada Ayat (3) dan Ayat (4); dan 4. Prinsip otonomi seluas-luasnaya pada Ayat (5). Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dalam terbitan resminya mengenai Panduan dalam memasyarakatkan UUD NRI Tahun 1945 menyatakan bahwa ada 7 prinsip yang menjadi paradigma dan arah politik yang mendasari Pasal 18, 18A dan Pasal 18B UUD 1945, yaitu3: 1. Prinsip daerah mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan { Pasal 18 ayat (2) } 2. Prinsip menjalankan otonomi seluas-luasnya { Pasal 18 ayat (5) } 3. Prinsip kekhususan dan keragaman daerah { Pasal 18A ayat (1) } 4. Prinsip mengakui dan menghormati kesatuan masyarakat hukum adat beserta hakhak tradisionalnya { Pasal 18B ayat (2) } 5. Prinsip mengakui dan menghormati Pemerintahan Daerah yang bersifat khsusus dan istimewa { Pasal 18 B ayat (1) } 6. Prinsip badan perwakilan dipilih langsung dalam suatu pemilihan umum { Pasal 18 ayat (3) } 7. Prinsip hubungan pusat dan daerah dilaksanakan secara selaras dan adil { Pasal 18A ayat (2) }.

Philipus M. Hadjon, Kedudukan Undang-Undang Pemerintahan Daerah Dalam Sistem Pemerintahan, Makalah dalam seminar Sistem Pemerintahan Indoensia Pasca Amandemen UUD 1945, diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional, Departemen Kehakiman dan HAM RI 3 Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia, Panduan dalam Memasyarakatkan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, (Jakarta: Sekretariat Jenderal MPR RI, 2003), hlm.102-103

Peluang Bali untuk menjadi daerah otonomi khusus dapat di dasarkan pada prinsip mengakui dan menghormati kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya. Perlindungan terhadap budaya bali yang khas seperti peringatan hari raya nyepi yang diterapkan dalam satu pulau dan pengakuan terhadap Subak sebagai bagian dari world heritage merupakan sebuah peluang besar bagi Bali untuk mendapatkan sebuah kekhususan untuk mengembangkan adat istiadatnya. Sehingga otonomi khusus Bali dapat dimaksudkan untuk mengatasi masalah-masalah khusus yang dihadapi Bali dalam rangka menjaga dinamika perubahan sosial budaya, politik dan ekonomi Bali agar tetap selaras dengan nilai-nilai budaya, adat dan kebiasaan masyarakat Bali yang tumbuh dari akar nilai-nilai spiritualitas masyarakat Bali. Karena negara mempunyai kewajiban untuk menjaga dan melestarikan kebudayaan asli suatu daerah sehingga dapat dilihat bahwa otonomi khusus Bali bukan hanya kepentingan masyarakat Bali saja tetapi bangsa secara keseluruhan Pengaturan otonomi khusus Bali perlu diletakkan dalam kosep ekologi Bali sebagai sebuah daerah kepulauan yang terintegrasi. Dengan demikian Kabupaten dan Kota yang ada di Bali bisa saling menopang Pemerintah Provinsi. Dengan demikian akan terwujud one island one management yang mampu mendistribusi kemakmuran bagi seluruh kabupaten/kota yang ada di Bali. Selain itu diperlukan sebuah undang-undang khusus untuk mengatur kekhususan dari provinsi Bali sehingga akan terdapat kepastian hukum seperti yang diamanatkan dalam pasal 225 Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 yang menyatakan, Daerah-daerah yang memiliki status istimewa dan diberikan otonomi khusus selain diatur dengan Undang-Undang ini diberlakukan pula ketentuan khusus yang diatur dalam undangundang lain.