Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI DARAH

Oleh KELOMPOK 7 Melasari Muh. Aqhsar Marsani Aldy Derianto Amir Anna Angriana Sri Rahayu Andi Muh. Isra Nur Rahmat (O 111 10 270) (O 111 10 132) (O 111 10 285) (O 111 10 113) (O 111 10 262) (O 111 10 275)

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN HEWAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2012
1|Page

BAB I PEDAHULUAN

1. Tujuan Adapun tujuan dari praktikum ini akan diuraikan sebagai berikut: a. Praktikum 1 : Morfologi Sel Darah (Sediaan apus darah tepi (SADT)) Untuk mempelajari, mengamati, mengetahui, dan memahami cara membuat sediaan apus darah, dan mengamati bentuk-bentuk sel darah merah dan sel-sel darah putih yang terdapat dalam preparat ulas darah perifer.

b. Praktikum 2 : Penentuan Jumlah Eritrosit dan Leukosit (Dengan Hemocytometer) Untuk mempelajari dan memahami prinsip kerja bilik hitung improved Neubauer yang digunakan dalam penghitungan jumlah eritrosit / leukosit.

c. Praktikum 3 : Pemeriksaan Kadar Hemoglobin (Hb) Dengan Metode Sahli Untuk mengetahui kadar hemoglobin dalam darah dengan metode Sahli.

2|Page

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Darah Darah adalah cairan yang terdapat pada semua makhluk hidup (kecuali tumbuhan) tingkat tinggi yang berfungsi mengirimkan zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh mengangkut bahan-bahan kimia hasil metabolisme dan juga sebagai pertahanan tubuh terhadap virus dan bakteri. Selain itu, darah juga dapt diartikan sebagai suatu suspensi sel dan fragmen sitoplasma di dalam cairan yang disebut Plasma. Secara keseluruhan darah dapat dianggap sebagai jaringan pengikat dalam arti luas, karena pada dasarnya terdiri atas unsur-unsur sel dan substansi interseluler yang berbentuk plasma. Fungsi utama dari darah adalah mengangkut oksigen yang diperlukan oleh sel-sel di seluruh tubuh. Darah juga menyuplai jaringan tubuh dengan nutrisi, mengangkut zat-zat sisa metabolisme, dan mengandung berbagai bahan penyusun sistem imun yang bertujuan mempertahankan tubuh dari berbagai penyakit. Darah berwarna merah, antara merah terang apabila kaya oksigen sampai merah tua apabila kekurangan oksigen. Warna merah pada darah disebabkan oleh hemoglobin, protein pernapasan (respiratory protein), yang terdapat dalam eritrosit dan mengandung besi dalam bentuk heme, yang merupakan tempat terikatnya molekulmolekul oksigen. Darah juga mengangkut bahan bahan sisa metabolisme, obat-obatan dan bahan kimia asing ke hati untuk diuraikan dan ke ginjal untuk dibuang sebagai air seni. Khusus pada manusia umumnya memiliki volume darah sebanyak kurang lebih 5 liter dengan unsur-unsur pembentuknya yaitu sel-sel darah, platelet, dan plasma. Sel darah terdiri dari eritrosit dan leukosit, platelet yang merupakan trombosit atau keping darah, sedangkan plasma darah pada dasarnya adalah larutan air yang mengandung : Air (90%) Zat terlarut (10%) yang terdiri dari :

3|Page

- Protein plasma (albumin, globulin, fibrinogen) 7% - Senyawa Organik (As. Amino, glukosa, vitamin, lemak) 2.1% - Garam organik (sodium, pottasium, calcium) 0.9%

Jenis Sel Darah Berikut adalah gambar-gambar dari jenis sel darah. 1. Eritrosit 2. Leukosit 3. Trombosit

1. Eritrosit

Eritrosit merupakan bagian utama dari sel-sel darah. Dalam setiap 1 mm3 darah terdapat sekitar 5 juta eritrosit atau sekitar 99%, oleh karena itu setiap pada sediaan darah yang paling banyak menonjol adalah sel-sel tersebut. Dalam keadaan normal, eritrosit
4|Page

manusia berbentuk bikonkaf dengan diameter sekitar 7 -8 m, tebal 2.6 m dan tebal tengah 0.8 m dan tanpa memiliki inti. Eritrosit dibentuk dalam sumsum merah tulang pipih, misalnya di tulang dada, tulang selangka, dan di dalam ruas-ruas tulang belakang. Pembentukannya terjadi selama tujuh hari. Pada awalnya eritrosit mempunyai inti, kemudian inti lenyap dan hemoglobin terbentuk. Setelah hemoglobin terbentuk, eritrosit dilepas dari tempat pembentukannya dan masuk ke dalam sirkulasi darah. Komposisi molekuler eritrosit menunjukan bahwa lebih dari separuhnya terdiri dari air (60%) dan sisanya berbentuk substansi padat. Secara keseluruhan isi eritrosit merupakan substansi koloidal yang homogen, sehingga sel ini bersifat elastis dan lunak. Eritrosit mengandung protein yang sangat penting bagi fungsinya yaitu globin yang dikonjugasikan dengan pigmen hem membentuk hemoglobin untuk mengikat oksigen yang akan diedarkan keseluruh bagian tubuh. Seperti halnya selsel yang lain, eritrositpun dibatasi oleh membran plasma yang bersifat semipermeable dan berfungsi untuk mencegah agar koloid yang dikandungnya tetap didalam. Eritrosit yang berukuran kurang dari normalnya dinamakan mikrosit dan yang berukuran lebih dari normalnya dinamakan makrosit. Warna eritrosit tidak merata seluruh bagian, melainkan bagian tengah yang lebih pucat, karena bagian tengah lebih tipis daripada bagian pinggirnya. Pada keadaan normal bagian tengah tidak melebihi 1/3 dari diameternya sehingga selnya dinamakan eritrosit normokhromatik. Apabila bagian tengah yang pucat melebar disertai bagian pinggir yang kurang terwarna maka eritrosit tersebut dinamakan eritrosit hipokromatik. Sebaliknya apabila bagian tengah yang memucat menyempit selnya dimanakan eritrosit hiperkhromatik.

Burung

Mamalia

Amfibi

Gambar 1. Eritrosit Burung, Mammalia dan amfibi

5|Page

2. Leukosit

Leukosit adalah sel darah yang mengendung inti, disebut juga sel darah putih. Leukosit mempunyai inti Leukosit dan tidak mengandung Hb. Leukosit mempunyai peranan dalam pertahanan seluler dan humoral organisme terhadap zat-zat asingan. Didalam darah manusia, normal didapati jumlah leukosit rata-rata 6000-10000 sel/mm3, bila jumlahnya lebih dari 12000, keadaan ini disebut leukositosis, bilakurang dari 5000 disebut leukopenia. Sebenarnya leukosit merupakan kelompok sel dari beberapa jenis. Untuk klasifikasinya didasarkan pada morfologi inti adanya struktur khusus dalam sitoplasmanya. Dilihat dalam mikroskop cahaya maka sel darah putih dapat dibedakan yaitu : 1. Granulosit Yang mempunyai granula spesifik, yang dalam keadaan hidup berupa tetesan setengah cair, dalam sitoplasmanya dan mempunyai bentuk inti yang bervariasi. Terdapat tiga jenis leukosit granuler : a. Neutrofil b. Basofil, dan c. Asidofil (atau eusinofil) Yang dapat dibedakan dengan afinitas granula terhadap zat warna netral, basa dan asam.

6|Page

a. Netrofil

Di antara granulosit, netrofil merupakan merupakan jenis sel yang terbanyak yaitu sebanyak 60 70% dari jumlah seluruh leukosit atau 3000-6000 per mm3 darah normal. Pada perkembangan sel netrofil dalam sumsum tulang, terjadi perubahan bentuk intinya, sehingga dalam darah perifer selalu terdapat bentuk-bentuk yang masih dalam perkembangan. Dalam keadaan normal perbandingan tahap-tahap mempunyai harga tertentu sehingga perubahan perbandingan tersebut dapat mencerminkan kelainan. Sel netrofil matang berbentuk bulat dengan diameter 10-12 m. Intinya berbentuk tidak bulat melainkan berlobus berjumlah 2-5 lobi bahkan dapat lebih. Makin muda jumlah lobi akan berkurang. Yang dimaksudkan dengan lobus yaitu bahan inti yang terpisah-pisah oleh bahan inti berbentuk benang. Inti terisi penuh oleh butir-butir khromatin padat sehingga sangat mengikat zat warna basa menjadi biru atau ungu. Oleh karena padatnya inti, maka sukar untuk untuk memastikan adanya nukleolus. Dalam netrofil terdapat adanya bangunan pemukul genderang pada inti netrofil yang tidal lain sesuai dengan Barr Bodies yang terdapat pada inti sel wanita. Barr Bodies dalam inti netrofil tidak seperti sel biasa melainkan menyendiri sebagai benjolan kecil. Hal ini dapat digunakan untuk menentukan apakah jenis kelamin seseorang wanita. Dalam sitoplasma terdapat 2 jenis butir-butir ata granul yang berbeda dalam penampilannya dengan ukuran antara (0.3-0.8m).

7|Page

Granul pada neutrofil tersebut yaitu : - Azurofilik yang mengandung enzym lisozom dan peroksidase, dimana sudah mulai tampak sejak masih dalam sumsum tulang yang makin dewasa makin berkurang jumlahnya. Ukurannya lebih besar dari pada jenis butir yang kedua dan kebanyakan telah kehilangan kemampuan mengikat warna. Dengan pewarnaan Romanovsky butiran ini tampak ungu kemerah-merahan. - Granul spesifik lebih kecil mengandung fosfatase alkali dan zat-zat bakterisidal (protein Kationik) yang dinamakan fagositin. Dinamakan butir spesifik karena hanya terdapat pada sel netrofil dengan ukran lebih halus. Butiran ini baru tampak dalam tahap mielosit, berwarna ungu merah muda dan pada sel dewasa akan tampak lebih banyak daripada butir azurofil. Neutrofil jarang mengandung retikulum endoplasma granuler, sedikit mitokonria, apparatus Golgi rudimenter dan sedikit granula glikogen. Neutrofil merupakan garis depan pertahanan seluler terhadap invasi jasad renik, menfagosit partikel kecil dengan aktif. Dengan adanya asam amino D oksidase dalam granula azurofilik penting dalam pengenceran dinding sel bakteri yang mengandung asam amino D. Selama proses fagositosis dibentuk peroksidase. Mielo peroksidase yang terdapat dalam neutrofil berikatan dengan peroksida dan halida bekerja pada molekul tirosin dinding sel bakteri dan menghancurkannya. Dibawah pengaruh zat toksik tertentu seperti streptolisin toksin streptokokus membran granula-granula neutrofil pecah, mengakibatkan proses pembengkakan diikuti oleh aglutulasi organel - organel dan destruksi neutrofil. Neotrofil mempunyai metabolisme yang sangat aktif dan mampu melakukan glikolisis baik secara aerob maupun anaerob. Kemampuan nautrofil untuk hidup dalam lingkungan anaerob sangat menguntungkan, karena mereka dapat membunuh bakteri dan membantu membersihkan debris pada jaringan nekrotik.

8|Page

b. Eusinofil

Jumlah sel eosinofil sebesar 1-3% dari seluruh lekosit atau 150-450 buah per mm3 darah. Ukurannya berdiameter 10-15 m, sedikit lebih besar dari netrofil. Intinya biasanya hanya terdiri atas 2 lobi yang dipisahkan oleh bahan inti yang sebagai benang. Butir-butir khromatinnya tidak begitu padat kalau dibandingkan dengan inti netrofil. Eosinofil berkaitan erat dengan peristiwa alergi, karena sel-sel ini ditemukan dalam jaringan yaang mengalami reaksi alergi. Eosinofil mempunyai kemampuan melakukan fagositosis, lebih lambat tapi lebih selektif dibanding neutrofil. Eosinofil memfagositosis komplek antigen dan antibodi, ini merupakan fungsi eosinofil untuk melakukan fagositosis selektif terhadap komplek antigen dan antibodi. Eosinofil mengandung profibrinolisin, diduga berperan mempertahankan darah dari pembekuan, khususnya bila keadaan cairnya diubah oleh proses-proses Patologi. c. Basofil

9|Page

Ukuran basofil sekitar 10-12 m sama besar dengan netrofil. Kurang lebih separuh dari sel dipenuhi oleh inti yang bersegmen-segmen ata kadang-kadang tidak teratur. Inti satu, besar bentuk pilihan irreguler, umumnya bentuk huruf S, sitoplasma basofil terisi granul yang lebih besar, dan seringkali granul menutupi inti, sehingga tidak mudah untuk mempelajari intinya. Granul spesifik bentuknya ireguler berwarna biru tua dan kasar tampak memenuhi sitoplasma. Granula basofil mensekresi histamin yang berperan dalam dalam proses alergi basofil merupakan sel utama pada tempat peradangan ini dinamakan hypersesitivitas kulit basofil. 2. Agranulosit Yang tidak mempunyai granula spesifik, sitoplasmanya homogen dengan inti bentuk bulat atau bentuk ginjal. Terdapat dua jenis leukosit agranuler yaitu : a. Limfosit (sel kecil, sitoplasma sedikit) dan b. Monosit (sel agak besar mengandung sitoplasma lebih banyak). a. Limfosit

Jumlah limfosit menduduki nomer 2 setelah netrofil yaitu sekitar 10003000 per mm3 darah atau 20-30% dari seluruh leukosit. Di antara 3 jenis limfosit, limfosit kecil terdapat paling banyak. Limfosit kecil ini mempunyai inti bulat yang

10 | P a g e

kadang-kadang bertakik sedikit. Intinya gelap karena khromatinnya berkelompok dan tidak nampak nukleolus. Sitoplasmanya yang sedikit tampak mengelilingi inti sebagai cincin berwarna biru muda. Kadang-kadang sitoplasmanya tidak jelas mungkin karena butir-butir azurofil yang berwarna ungu. Limfosit kecil kira-kira berjumlah 92% dari seluruh limfosit dalam darah. Limfosit mempunyai kedudukan yang penting dalam sistem imunitas tubuh, sehingga sel-sel tersebut tidak saja terdapat dalam darah, melainkan dalam jaringan khusus yang dinamakan jaringan limfoid. Berbeda dengan sel-sel leukosit yang lain, limfosit setelah dilepaskan dari sumsum tulang belum dapat berfungsi secara penuh oleh karena hars mengalami differensiasi lebih lanjut. Apabila sudah masak sehingga mampu berperan dalam respon immunologik, maka sel-sel tersebut dinamakan sebagai sel imunokompeten. Sel limfosit imunokompeten dibedakan menjadi limfosit B dan limfosit T. Limfosit T sebelumnya mengalami diferensiasi di dalam kelenjar thymus, sedangkan limfosit B dalam jaringan yang dinamakan Bursa ekivalen yang diduga keras jaringan sumsum tulang sendiri. Kedua jenis limfosit ini berbeda dalam fngsi immunologiknya. Sel-sel limfosit T bertanggung jawab terhadap reaksi immune seluler dan mempunyai reseptor permukaan yang spesifik untuk mengenal antigen asing. Sel limfosit B bertugas untuk memproduksi antibody humoral antibody response yang beredar dalam peredaran darah dan mengikat secara khusus dengan antigen asing yang menyebabkan antigen asing tersalut antibody, kompleks ini mempertinggi fagositosis, lisis sel dan sel pembunuh (killer sel atau sel K) dari organisme yang menyerang. Sel T dan sel B secara marfologis hanya dapat dibedakan ketika diaktifkan oleh antigen.

11 | P a g e

b. Monosit

Jenis sel agranulosit ini berjumlah sekitar 3-8% dari seluruh leukosit. Sel ini merupakan sel yang terbesar diantara sel leukosit karena diameternya sekitar 1215 m. Bentuk inti dapat berbentuk oval, sebagai tapal kuda atau tampak seakan akan terlipat-lipat. Butir-butir khromatinnya lebih halus dan tersebar rata dari pada butir khromatin limfosit. Sitoplasma monosit terdapat relatif lebih banyak tampak berwarna biru abu-abu. Berbeda dengan limfosit, sitoplasma monosit mengandung butir-butir yang mengandung perioksidase seperti yang diketemukan dalam netrofil. Monosit mampu mengadakan gerakan dengan jalan membentuk

pseudopodia sehingga dapat bermigrasi menembus kapiler untuk masuk ke dalam jaringan pengikat. Dalam jaringan pengikat monosit berbah menjadi sel makrofag atau sel-sel lain yang diklasifikasikan sebagai sel fagositik. Didalam jaringan mereka masih mempunyai membelah diri. Selain berfungsi fagositosis makrofag dapat berperan menyampaikan antigen kepada limfosit untuk bekerjasama dalam sistem imun.

12 | P a g e

3. Trombosit (Keping Darah)

Trombosit adalah sel anuclear (tidak mempunyai nukleus pada DNA_nya) dengan bentuk tak beraturan dengan ukuran diameter 2-3 mikrometer yang merupakan fragmentasi dari megakariosit pendahulunya. Walaupun namanya menunjukan bahwa merupakan sebuah sel, namun sebenarnya tidak memenuhi syarat sebagai sebuah sel yang utuh karena tidak memiliki inti. Oleh karena itu dinamakan keping darah. Berbentuk sebagai keping-keping sitoplasma berukuran 2-5 m lengkap dengan membran plasma yang mengelilinginya. Trombosit ini khusus terdapat dalam darah mamalia. Untuk menentkan jumlahnya, tidak begit mudah karena trombosit mempunyai kecenderungan untuk bergumpal. Diperkirakan jumlahnya sekitar 150-300ribu setiap l, sedang umurnya sekitar 8 hari. Setiap keping tampak bagian tepi yang berwarna biru muda yang dinamakan Hialomer dan bagian tengah yang berbutir-butir berwarna ungu dinamakan granulomer atau khromomer. Hialomer mempunyai tonjolan-tonjolan sehingga bentuknya tidak teratur.

2.2 Pemeriksaan Darah Rutin Pemeriksaan laboratorium yang paling sering dilakukan adalah pemeriksaan darah rutin, tujuannya adalah untuk menghitung jumlah sel-sel dalam darah. Pemeriksaan darah rutin meliputi 6 jenis pemeriksaan; yaitu Hemoglobin / Haemoglobin
13 | P a g e

(Hb), Hematokrit (Ht), Leukosit: hitung leukosit (leukocyte count) dan hitung jenis (differential count), Hitung trombosit / platelet count, Laju endap darah (LED) / erythrocyte sedimentation rate (ESR) dan Hitung eritrosit. Hemoglobin Hemoglobin adalah molekul protein pada sel darah merah yang berfungsi sebagai media transport oksigen dari paru paru ke seluruh jaringan tubuh dan membawa karbondioksida dari jaringan tubuh ke paru paru. Kandungan zat besi yang terdapat dalam hemoglobin membuat darah berwarna merah. Kadar Hemoglobin biasanya ditentukan sebagai jumlah hemoglobin dalam gram (gm) bagi setiap dekaliter (100 mililiter). Kadar hemoglobin normal bergantung kepada usia, nutrisi, jenis kelamin, factor kesehatan, biografi dan genetic. Kadar hemoglobin dapat ditetapkan dengan berbagai cara, antara lain metode Sahli, oksihemoglobin atau sianmethhemoglobin. Dasar Penetapan a. Penetapan kadar Hb metode oksihemoglobin didasarkan atas pembentukan oksihemoglobin setelah sampel darah ditambah larutan Natrium karbonat 0.1% atau Ammonium hidroksida. Kadar Hb ditentukan dengan mengukur intensitas warna yang terbentuk secara spektrofotometri pada panjang gelombang 540 nm. Metode ini tidak dipengaruhi oleh kadar bilirubin tetapi standar oksihemoglobin tidak stabil. b. Metode sianmethemoglin didasarkan pada pembentukan sianmethemoglobin yang intensitas warnanya diukur secara fotometri. Reagen yang digunakan adalah larutan Drabkin yang mengandung Kalium ferisianida (K3Fe[CN]6) dan kalium sianida (KCN). Ferisianida mengubah besi pada hemoglobin dari bentuk ferro ke bentuk ferri menjadi methemoglobin yang kemudian bereaksi dengan KCN membentuk pigmen yang stabil yaitu sianmethemoglobin. Intensitas warna yang terbentuk diukur secara fotometri pada panjang gelombang 540 nm.

14 | P a g e

c. Penetapan Hb metode Sahli didasarkan atas pembentukan hematin asam setelah darah ditambah dengan larutan HCl 0.1N kemudian diencerkan dengan aquadest. Pengukuran secara visual dengan mencocokkan warna larutan sampel dengan warna batang gelas standar. Metode ini memiliki kesalahan sebesar 10-15%, sehingga tidak dapat untuk menghitung indeks eritrosit. Berikut gambar dari alat pemeriksaan Hb dengan metode Sahli,

Adapun alat yang digunakan untuk menghitung sel darah adalah Hemositometer atau haemocytometer.

Gambar Skema bilik hitung (hemositometer)

Hemositometer atau haemocytometer adalah suatu alat yang dapat digunakan untuk melakukan perhitungan sel secara cepat dan dapat digunakan untuk konsentrasi sel yang rendah. Hemasitometer pada mulanya diperuntukkan untuk menghitung sel darah,
15 | P a g e

yang ditemukan oleh Louis-Charles Malassez. Bentuknya terdiri dari 2counting chamber dan tiap chamber-nya memiliki garis-garis mikroskopis pada permukaan kaca. Luastotal dari chamber adalah 9 mm2. Chamber tersebut nantinya akan ditutup dengan coverslip denganketinggian 0.1 mm di atas chamber floor. Penghitungan konsentrasi sel pada hemasitometer ini bergantung pada volume dibawah coverslip. Pada chamber terdapat 9 kotak besar berukuran 1 mm2dan kotak-kotak kecil, di mana satu kotak besar sama dengan 25 kotak kecil sehingga satu kotak besartersebut memiliki volume sebesar 0.0001 ml. Adapaun kotak yang paling kecil berfungsi untuk mempermudah perhitungan sel.

16 | P a g e

BAB III MATERI DAN METODE

3.1 Morfologi Sel Darah (Sediaan apus darah tepi (SADT)) 3.1.1 Alat dan Bahan a. Darah kucing dan Aves dan antikoagulan b. NaCl fisiologis 0,9% c. Zat warna giemsa d. Zat warna wright e. Xylol f. Metil Alkohol/methanol g. Buffer fosfat Ph 6,4-6,7 h. Emersi oil i. Objek glass j. Cover glass k. Mikroskop l. Pipet tetes m. Bak pewarna n. Bunsen 3.1.2 Metode / Cara Kerja 1) Teknis Pembuatan Sediaan Apus Darah a. Siapkan 2 buah object glass yang bersih b. Satu tetes darah diletakkan kira-kira 2 cm dari tepi kanan object glass pertama c. Dengan tangan kanan, letakkan object glass kedua di kiri tetesan darah, lalu gerakkan ke kanan sampai menyentuh darah d. Biarkan darahtersebut menyebar/merembes sepanjang garis pertemuan kedua object glass tersebut

17 | P a g e

e. Geser object glass kedua dengan sudut 30-45o dan doronglah object glass kedua untuk menghasilkan apusan darah tipis f. Keringkan di udara 2) Teknik Pewarnaan Giemsa a. Preparat apus darah difiksasi dengan metal alcohol selama 3-5 menit b. Preparat diambil dan dibiarkan kering di udara c. Setelah kering preparat direndam dengan pewarna Giemsa yang baru selama 30 menit d. Buanglah sisa cairan Giemsa pada preparat tadi dan cuci dengan air mengalir lalu biarkan mengering di udara e. Amati di bawah mikroskop dengan perbesaran 1000x (tetesi dengan emersi oil) 3.2 Penentuan Jumlah Eritrosit dan Leukosit (Dengan Hemocytometer) 3.2.1 Alat dan bahan a. Darah kapiler / intra cardiac b. Larutan Hayem (mengandung HgCl2=0,25g; NaCl=0,5g; Na2SO4=2,5g; akuades = 100 ml) c. Larutan Turk (mengandung asam asetat glacial = 3 ml; Gention violet 1%=1 ml; akuades = 100 ml) larutan turk dapat digantikan dengan asam asetat 3% d. Alkohol 70% dan kapas e. Jarum, disposable syringe ukuran 1 ml dan 2,5 ml f. Hemocytometer untuk menghitung eritrosit, leukosit dan trombosit. Alat ini terdiri atas: - Kamar hitung Kamar hitung yang banyak digunakan adalah Improved Neubauer - Kaca penutup Kaca penutup dibuat benar-benar datar, agak lebih tebal dari kaca obyek - Pipet Pipet yang digunakan adalah pipet Thoma untuk mengencerkan eritrosit, terdiri atas pipa kapiler yang bergaris bagi dan membesar pada salah satu
18 | P a g e

ujung membentuk bola. Di dalam bola terdapat sebutir kaca merah. Pipet Thoma untuk mengencerkan leukosit sama dengan pipet eritrosit, namun di dalam bola terdapat sebutir kaca putih. g. Hemoglobinometer (hemometer) h. Pipet pencampur 1-101(pengenceran100 kali, untuk eritrosit) i. Pipet pencampur 1-11 (pengenceran 10kali, untuk leukosit) j. Mikroskop k. Objek glass dan cover glass l. Hand counter m. Kertas saring 3.2.2 Metode / Cara Kerja 1) Penghitungan eritrosit Untuk menghitung eritrosit, darah diencerkan dalam pipa eritrosit lalu dimasukkan ke dalam kamar hitung. Pengencer yang digunakan adalah larutan hayem. Langkah-langkah pemeriksaan yang diterapkan adalah : a. Hisap darah kapiler, darah EDTA atau darah oksalat sampai tanda 0,5 b. Hapus kelebihan darah di ujung pipet c. Masukkan ujung pipet ke dalam larutan hayem dengan sudut 45o, tahan agar tetap di tanda 0,5. Isap larutan Hayem hingga mencapai tanda 101. Jangan sampai ada gelembung udara d. Tutup ujung pipet dengan ujung jari lalu lepaskan karet penghisap e. Kocok selama 15-30 detik f. Letakkan kamar hitung dengan penutup terpasang secara horizontal di atas meja g. Kocok pipet selama 3 menit, jaga agar cairan tak terbuang dari pipet h. Buang semua cairan di batang kapiler (3-4 tetes) dan cepat sentuhkan ujung pipet ke kamar hitung dengan menyinggung pinggir kaca penutup dengan sudut 30o. biarkan kamar hitung terisi cairan dengan daya kapilaritas i. Biarkan 2-3 menit supaya eritrosit mengendap j. Gunakan lensa obyektif mikroskop dengan pembesaran 40 kali, focus diarahkan ke garis-garis bagi dalam bidang besar yang tengah
19 | P a g e

k. Hitunglah eritrosit di 5 bidang sedang yang masing-masing tersusun atas 16 bidang kecil, dari kiri atas ke kanan, ke bawah lalu ke kiri, dan seterusnya. Untuk sel-sel pada garis, yang dihitung adalah pada garis kiri dan atas. l. Jumlah leukosit per L darah adalah: jumlah sel x 1000 2) Penghitungan Leukosit Untuk menghitung leukosit, darah diencerkan dalam pipa leukosit lalu dimasukkan ke dalam kamar hitung. Pengencer yang digunakan adalah larutan turk. a. Hisap darah kapiler , darah EDTA atau darah oksalat sampai tanda 0,5 b. Hapus kelebihan darah di ujung pipet c. Masukkan ujung pipet ke dalam larutan Turk dengan sudut 45o, tahan agar tetap di tanda 0,5. Isap larutan Turk hingga mencapai tanda 11. Jangan sampai ada gelembung udara d. Tutup ujung pipet dengan ujung jari lalu lepaskan karet penghisap e. Kocok selama 15-30 detik f. Letakkan kamar hitung dengan penutup terpasang secara horizontal di atas meja g. Kocok pipet selama 3 menit, jaga agr cairan tak terbuang dari pipet h. Buang semua cairan di batang kapiler (3-4 tetes) dan cepat sentuhkan ujung pipet ke kamar hitung dengan menyinggung pinggir kaca penutup dengan sudut 30o. biarkan kamar hitung terisi cairan dengan daya kapilaritas i. Biarkan 2-3 menit supaya leukosit mengendap j. Gunakan lensa obyektif mikroskop dengan pembesaran 10 kali, focus diarahkan ke garis-garis bagi k. Hitunglah leuosit di empat bidang besar dari kiri atas ke kanan, ke bawah lalu ke kiri, ke bawah lalu ke kiri dan seterusnya. Untuk sel-sel pada garis, yang dihitung adalah pada garis kiri dan atas l. Jumlah leukosit per L darah adalah: jumlah sel x 50

20 | P a g e

3.3 Pemeriksaan Kadar Hemoglobin (Hb) Dengan Metode Sahli 3.3.1 Alat dan Bahan Reagensia: 1) HCl 0,1 N 2) Aquadest Alat / sarana 1) Pipet hemoglobin 2) Alat sahli a. Sepasang cylinder glass berisi larutan standar warna atau disebut juga pembanding warna b. Tabung pengukur (tabung pengencer) yang mempunyai garis-garis skala yang menunjukkan kadar Hb. Skala yang terendah adalah angka 2 c. Pipet darah kapiler (pipet hemoglobin) seukuran yang mempunyai volume 20 mm3 pada garis batasnya. 3) Pipet Pasteur 4) Pengaduk 3.3.2 Metode / Cara Kerja Cara kolorimetrik visual (Metode Sahli) Prinsip : hemoglobin diubah menjadi hematin clorida yang berwarna cokelat tua. Kemudian warna ini dibandingkan dengan warna standar secara visual. Langkah-langkah pemeriksaan dengan cara sahli yaitu : a. Masukkan HCl 0,1 N ke dalam tabung sahli sampai angka 2 b. Bersihkan ujung jari yang akan diambil darahnya dengan larutan disenfektan (alcohol 70% betadin dan sebagainya), kemudian tusuk dengan lacet atau alat lain c. Isap dengan pipet hemoglobin sampai melewati batas, bersihkan ujung pipet, kemudian teteskan darah sampai ke tanda batas dengan cara menggeserkan ujung pipet ke kertas saring/kertas tisu

21 | P a g e

d. Masukkan pipet yang berisi darah ke dalam tabung hemoglobin, sampai ujung pipet menempel pada dasar tabung, kemudian tiap pelan-pelan. Usahakan agar tidak timbul gelembung udara e. Campur sampai rata dan diamkan selama kurang lebih 10 menit f. Masukkan ke dalam alat pembanding, encerkan dengan aquadest tetes demi tetes sampai warna larutan ( setelah diaduk sampai homogeny ) sama dengan warna gelas dan alat pembanding. Bila sudah sam, baca kadar hemoglobin pada skala tabung.

22 | P a g e

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Morfologi Sel Darah (Sediaan apus darah tepi (SADT)) Pada praktikum ini menggunakan dua darah yaitu darah aves dari burung merpati dan darah mamalia yang diperoleh dari kucing. Prinsip pengerjaan praktikum ini adalah dengan membuat apusan darah setipis mungkin yang kemudian diwarnai sehingga dapat diamati dibawah mikroskop. Namun karena peralatan tidak memadai maka praktikum ini hanya

menggunakan pewarnaan giemsa. Pada praktikum yang telah dikerjakan apusan darah tersebut kemudian difiksasi dan dengan metil alkohol dan dikeringkan, selanjutnya direndam dengan pewarna giemsa selama 30 menit. Yang natinya akan dicuci dan dibiarkan mongering di udara. Namun karena situasi dan kondisi saat praktikum tidak memngkinkan untuk melihat hasil pewarnan dibawah mikroskop, maka praktikum hanya sampai pada teknik perwarnaan tanpa melihat morfologinya di mikroskop. Namun pada dasarnya bentuk eritrosit (sel darah merah) pada orang normal dengan pewarnaan giemsa adalah seperti gambar dibawah ini.

23 | P a g e

Adapun gambar mikroskopis sel leukosit eusinofil yaitu,

Gambar eusinofil di atas ditandai dengan granula kemerahan, inti berlekuk/ bersegmen, dan memiliki bentuk yang menyerupai neutrofil. Adapun untuk menentukan atau mengidentifikasi jenis sel darah putih yaitu; a. Agranuosit = sel lebih besar dari pada granulosit, meliputi - Limfosit : inti bulat, biru tua, di tengah, sitoplasma sedikit - Monosit : inti melekuk, biru tua, sitoplasma banyak b. Granulosit = sel lebih kecil dari pada agranulosit, meliputi - Neutrofil: granula netral, inti berlekuk / bersegmen (tua), seperti batang (muda) - Basofil : granula biru tua, inti berlekuk / bersegmen - Eosinofil: granula kemerahan, inti berlekuk / bersegmen

4.2 Penentuan Jumlah Eritrosit dan Leukosit Dalam praktikum ini untuk dapat menghitung eritrosit dalam darah yang sangat kecil dibutuhkan alat yang dinamakan Haemocytometer dengan bantuan mikroskop. Pada Hemocytometer terdapat Sembilan (9) kotak yang terdiri dari lima (5) kotak untuk menghitung eritrosit dan empat (4) kotak untuk menghitung leukosit.

24 | P a g e

4.2.1 Menghitung jumlah eritrosit Dalam proses penghitungan sel-sel darah merah dibutuhkan juga ketelitian dan konsisten dalam cara menghitung. Penghitungan sel-sel darah merah dihitung di dalam kamar hitung yang berskala atau berukuran kecil dengan 5 x 16 bidang kamar kecil = 80 kamar atau bidang kecil dan atau kotak kecil. Kotak yang dihitung adalah kotak pada kanan atas dan bawah, kotak di kiri atas dan bawah, dan kotak yang berada ditengah. Seperti pada gambar yang dilingkari berikut,

Namun pada saat dilakukan perobaan, terjadi kesalahan dimana hanya ada empat kotak kecil yang di hitung sehingga data yang di peroleh juga hanya ada empat, yaitu sebagai berikut :

Kotak I II III IV

Jumlah Eritrosit 96 98 142 105

25 | P a g e

Sehingga hasil praktikum yang telah dilakukan tidak dapat dihitung dan dibandingkan dengan jumlah eritrosit normal. Selain itu adanya kendala berupa alat yang kurang baik, juga penglihatan yang kurang akurat. Adapun cara menghitung jumlah eritrosit yaitu Jumlah eritrosit dalam 80 kotak x 106 atau dengan kata lain Kotak I + Kotak II + Kotak III + Kotak IV + Kotak V x 106 . Sehingga didapat jumlah eritrosit per cc. Pada mamalia khususnya kucing, dalam kisaran normal memiliki jumlah eritrosit dalam darah 7,3 juta per mm3 dan berkisar antara 5 sampai 10 juta per mm3 . Sedangkan jumlah eritrosit normal pada aves yaitu 4 juta per mm3 . Jumlah eritrosit dalam darah beragam dari satu spesies ke spesies lain. Hal ini dipengaruhi karena jumlah eritrosit dipengaruhi genetik ( spesies, jenis kelamin, umur, ras, individual ) dan kondisi lingkungan (habitat, iklim, penyakit, umur, makanan yang dimakan, dan managerial ) 4.2.2 Menghitung jumlah leukosit Menghitung jumlah leukosit pada prinsipnya sama saja dengan cara menghitung jumlah sel darah merah (eritrosit), hanya saja jika pada eritrosit menggunakan pipet eritrosit dan larutan hayem sebagai pengencernya, maka dalam menghitung jumlah leukosit menggunakan pipet leukosit dan larutan turk sebagai pengencer. Adapun kamar hitung yang digunakan adalah kamar hitung yang berukuran besar dengan jumlah kamar 4 x 16 = 64 kamar. Seperti gambar yang telah diberi tanda A, B, C, dan D berikut,

26 | P a g e

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan diperoleh data sebagai berikut :

Kotak I II III IV Jumlah (64 kotak) Jumlah leukosit / cc

Jumlah Leukosit 43 69 62 59 233 Jumalah Leukosit dalam 64 kotak x 50 = 233 x 50 = 11650 / cc

Menurut Lagler et al (1977) dan Moyle (2000) jumlah leukosit pada aves berkisar antara 20.000 150.000 sel /mm3. Sedangkan jumlah leukosit normal pada kucing antara lain berkisar antara 15,5 juta per mm3 sampai 19,5 juta per mm3. Jika dibandingkan dengan data yang diperoleh dari praktikum terdapat perbedaan, dimana hasil praktikum menunjukkan data yang lebih rendah dari kisaran normal. Hal ini bias jadi disebabkan kesalahan dalam menghitung jumlah leukosit, mengingat situasi dan kondisi baik dari alat maupun keterampilan dari praktikan. Jumlah leukosit dipengaruhi oleh faktor patologis yang terjadi di dalam tubuh dan akan meningkat bila terjadi infeksi yaitu pada saat sel leukosit diperlukan untuk memfagositosis benda-benda yangmasuk ke dalam tubuh. Leukosit melindungi tubuh dengan menimbulkan peradangan di tempat yang terkena infeksi, memfagositosis mikroba, merusak toksin, dan memproduksi antibodi (Mitchell, 1956).

27 | P a g e

4.3 Hb Sahli Penetapan Hb metode Sahli didasarkan atas pembentukan hematin asam setelah darah ditambah dengan larutan HCl 0.1N kemudian diencerkan dengan aquadest. Pengukuran secara visual dengan mencocokkan warna larutan sampel dengan warna batang gelas standar. Pada praktikum yang telah dilakukan, perubahan warna dari tabung hemoglobin sehingga menjadi sama dengan warna tabung standar, membutuhkan aquadest sebanyak 39 tetes. Dan kadar hb sekitar 13 gr/dl.

Hasil pemeriksaan kadar Hb Adapun kadar hemoglobin normal pada kucing yaitu rata-rata 12 dan memiliki kisaran hb antara 8-15. Hal ini tik jauh berbeda dengan hasil praktikum, sehingga kadar hb dapat dikatakan normal.

28 | P a g e

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan a. Untuk melihat morfologi sel darah darah dapat dilakukan dengan membuat sediaan apus darah yang kemudian diwarnai dengan zar pewarna tertentu yang selanjutnya dapat diamati di bawah mikroskop. b. Dalam penghitungan eritrosit dan leukosit membutuhkan kompetensi dasar yang baik dan peralatan yang bagus, karena cukup sulit untk menghitung jumlah eritrosit dan leukosit dengan benar dan tepat. c. Jumlah eritrosit dan leukosit dari setiap spesies hewan berbeda-beda dan jumlahnya dipengaruhi oleh banyak factor diantaranya factor genetic seperti spesies, kondisi tubuh, , jenis kelamin, ras. Dan factor lingkungan seperti habitat, iklim, makanan, penyakit, dan lain-lain. d. Untuk Pemeriksaan darah atau mengetahui kadar hemoglobin dalam darah dapat menggunakan metode sahli, yang merupakan cara yang cukup mudah. Hal ini penting untuk mengetahui apakah kondisi atau keadaan darah dalam tubuh normal atau mengalami defisiensi atau sebaliknya. Seperti halnya jumlah eritrosit dan leukosit, kadar hemoglobin dalam darah juga dipengaruhi oleh beberapa factor seperti nutrisi, umur,jenis kelamin, factor kesehatan dan lain-lain.

29 | P a g e

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah. Darah adalah Cairan yang Terdapat pada Semua Makhluk Hidup. http://ml.scribd.com/doc/89466695/Darah-Adalah-Cairan-Yang-Terdapat-Pada-SemuaMakhluk-Hidup. Diakses tanggal 4 Juni 2012. Agung, Rahmat. 2011. Trombosit Adalah. Analisis Dunia kesehatan. http://analisisduniakesehatan.blogspot.com/2011/04/trombosit-adalah.html. Diakses tanggal 4 Juni 2012. Anjar. 2011. Laporan Praktikum Hb Darah. http://anjar-rhesye.blogspot.com/2011/06/laporan-praktikum-hb-darah.html. Diakses tanggal 4 Juni 2012. Anonim. 2010. Laporan Praktikum Jumlah eritrosit dan Leukosit pada Mencit. http://pongeponge.blogspot.com/2010/12/laporan-praktikum-pengaturan-kecepatan.html. Diakses tanggal 4 Juni 2012. Anonim. 2012. Leukosit. About Laboratorium Kesehatan. http://aboutlabkes.wordpress.com/2012/01/30/leukosit/. Diakses tanggal 4 Juni 2012. Anonim. 2012. Eritrosit. About Laboratorium Kesehatan. http://aboutlabkes.wordpress.com/2012/01/30/eritrosit/. Diakses tanggal 4 Juni 2012. Burhanuddin. 2001. Kajian Biologi Darah dan Morfologi pada Beberapa Subspesies Beo (Gracula spp.) dan Beo Irian (Muno Dumotii). Skripsi. http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/13151/E01BUR.pdf?sequence=1. Diakses tanggal 4 Juni 2012. Endi, Adauchi. Praktikum Kadar Hemoglobin. http://ml.scribd.com/doc/46845030/Praktikum-KadarHemoglobin. Diakses tanggal 4 Juni 2012. Shalehah. 2011. Menghitung Jumlah Eritrosit dan Leukosit. http://katahatimutiara.wordpress.com/2011/05/23/menghitung-jumlah-eritrosit-dan-leukosit/. Diakses tanggal 4 Juni 2012. Triastuty, Fina Noer. 2006. Gambaran Darah Kucing Kampung (felis domestica) di Daerah Bogor. Skripsi. http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/45841/B06tfn.pdf?sequence=1. Diakses tanggal 4 Juni 2012. 30 | P a g e

LAMPIRAN 1. Jumlah Eritrosit dan Leukosit normal pada aves a. Jumlah eritrosit burung sebesar 4.000.000 sel/mm3. Moyle (2000) b. Jumlah leukosit burung berkisar antara 20.000 150.000 sel/mm3. Lagler et al (1977) dan Moyle (2000). Dan pada sumber lain ditemukan :

2. Jumlah Eritrosit dan Leukosit normal pada kucing

31 | P a g e