SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C

PEDOMAN TEKNIS

DEPARTEMEN KESEHATAN RI SEKRETARIAT JENDERAL
PUSAT SARANA, PRASARANA DAN PERALATAN KESEHATAN TAHUN 2007

PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C

DAFTAR GAMBAR
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 32 Gambar 2.1.3 Gambar 2.2.2-a Gambar 2.2.2-b Gambar 2.2.2-c Gambar 2.2.2-d Gambar 3.6.1 Gambar 3.7.2 Gambar 4.11.1-a Gambar 4.11.1-b Gambar 4.11.1-c Gambar 4.11.1-d Gambar 4.11.1-e Gambar 4.11.1-f Gambar 4.11.2-a Gambar 4.11.2-b Gambar 4.11.2-c Gambar 4.11.2-d Gambar 4.11.2-e Gambar 5.1.4 Gambar 5.2.4 Gambar 5.3.4 Gambar 5.4.4 Gambar 5.5.4 Gambar 5.6.4 Gambar 5.7.4 Gambar 5.8.4 Gambar 5.9.4 Gambar 5.10.4 Gambar 5.11.4 Gambar 5.13.4 Gambar 5.14.4 Gambar 5.15.4 Gambar 5.16.4 Zoning rumah sakit berdasarkan pelayanan Contoh rencana lokasi Alur lalu lintas pasien di dalam rumah sakit umum Contoh Model Aliran lalu lintas Dalam RS Contoh Model Perletakan Instalasi-instalasi pada Site Rumah Sakit (Rencana Blok) Pintu kamar mandi pada ruang rawat inap harus terbuka keluar. Ruang gerak dalam Toilet untuk Aksesibel Tipikal ramp Bentuk-bentuk ramp Kemiringan ramp Pegangan rambat pada ramp Kemiringan sisi lebar ramp Pintu di ujung ramp Tipikal tangga Pegangan rambat pada tangga Desain profil tangga Detail pegangan rambat tangga Detail pegangan rambat pada dinding Alur Kegiatan pada Instalasi Rawat Jalan Alur Kegiatan pada Instalasi Gawat Darurat Alur Kegiatan pada Instalasi Rawat Inap Alur Kegiatan pada Instalasi Perawatan Intensif (;ICU) Alur Kegiatan pada Instalasi Kebidanan & Penyakit Kandungan Alur Kegiatan pada Instalasi Bedah Sentral Alur Kegiatan pada Instalasi Farmasi Alur Kegiatan pada Instalasi Radiologi Alur Kegiatan pada Instalasi Sterilisasi Pusat (;CSSD) Alur Kegiatan pada Instalasi Laboratorium Alur Kegiatan pada Instalasi Rehabilitasi Medik Alur Kegiatan pada Instalasi Pemulasaraan Jenazah Alur Kegiatan pada Instalasi Gizi/Dapur Alur Kegiatan pada Instalasi Pencucian Linen/Laundry Alur Kegiatan pada Bengkel Mekanikal dan Elektrikal

Pusat Sarana, Prasarana dan Peralatan Kesehatan, Sekretariat Jenderal, DEPKES-RI

PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C

DAFTAR TABEL
1 2 Tabel 2.1.4 Tabel 4.5.2 Kebutuhan ruang minimal untuk RSU non pendidikan Tabel Standar Suhu, Kelembaban, dan Tekanan Udara Menurut Fungsi Ruang atau Unit. Tabel indeks pencahayaan menurut jenis ruang atau unit Tabel indeks kebisingan menurut jenis ruang atau unit Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas pada Instalasi Rawat Jalan. Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas pada Instalasi Gawat Darurat. Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas pada Instalasi Rawat Inap. Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas pada Instalasi Perawatan Intensif (;ICU) Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas pada Instalasi Kebidanan dan Penyakit Kandungan. Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas pada Instalasi Bedah Sentral. Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas pada Instalasi Farmasi. Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas pada Instalasi Radiologi. Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas pada Instalasi Sterilisasi Pusat (CSSD). Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas pada Instalasi Laboratorium. Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas pada Instalasi Rehabilitasi Medik. Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas pada Bag. Adm. & Kesekretariatan RS. Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas pada Instalasi Pemulasaraan Jenazah. Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas pada Gizi/Dapur. Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas pada Instalasi Pencucian Linen (;Laundry). Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas pada Bengkel Mekanikal dan Elektrikal

3 4 5

Tabel 4.6 Tabel 4.9 Tabel 5.1.2

6

Tabel 5.2.2

7

Tabel 5.3.2

8

Tabel 5.4.2

9

Tabel 5.5.2

10

Tabel 5.6.2

11

Tabel 5.7.2

12

Tabel 5.8.2

13

Tabel 5.9.2

14

Tabel 5.10.2

15

Tabel 5.11.2

16

Tabel 5.12.2

17

Tabel 5.13.2

18

Tabel 5.14.2

19

Tabel 5.15.2

20

Tabel 5.16.2

Pusat Sarana, Prasarana dan Peralatan Kesehatan, Sekretariat Jenderal, DEPKES-RI

13 4.1 3.5 3.8 4.4 3.6 4.2 1.IV 4.3 4.7 BAGIAN . DEPKES-RI i .10 4.2 4.4 4.V 5.2 BAGIAN .PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Daftar Isi Judul Daftar Isi Kata Pengantar Pendahuluan BAGIAN .6 3. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.12 4.1 4.1 2.5 BAGIAN .2 3.3 1.14 BAGIAN .I 1.2 5.HVAC) Sistem Pencahayaan Sistem Fasilitas Sanitasi Sistem Instalasi Gas Medik Sistem Pengendalian Terhadap Kebisingan dan Getaran Sistem Hubungan Horisontal dalam rumah sakit Sistem Hubungan (Transportasi) Vertikal dalam rumah sakit Sarana Evakuasi Aksesibilitas Penyandang Cacat Sarana/Prasarana Umum URAIAN BANGUNAN RUMAH SAKIT Instalasi Rawat Jalan Instalasi Gawat Darurat Instalasi Rawat Inap Halaman i Iii iv 1 1 2 2 2 5 9 13 13 13 14 15 19 20 22 23 32 32 34 35 36 37 39 41 41 47 48 48 49 52 55 Pusat Sarana.II 2.11 4.1 5. Sekretariat Jenderal.3 KETENTUAN UMUM Latar Belakang Maksud dan Tujuan Sasaran Kebijakan Pengertian PERSYARATAN UMUM BANGUNAN RUMAH SAKIT Lokasi Rumah Sakit Perencanaan bangunan rumah sakit PERSYARATAN TEKNIS SARANA RUMAH SAKIT Atap Langit-langit Dinding dan Partisi Lantai Struktur Bangunan Pintu Toilet (Kamar Kecil) PERSYARATAN TEKNIS PRASARANA RUMAH SAKIT Sistem Proteksi Kebakaran Sistem Komunikasi Dalam Rumah Sakit Sistem Penangkal Petir Sistem Kelistrikan Sistem Penghawaan (Ventilasi) dan Pengkondisian Udara (.3 3.4 1.III 3.7 4.5 4.9 4.1 1.

ICU) Instalasi Kebidanan dan Penyakit Kandungan (Obstetri dan Ginekologi) Instalasi Bedah Sentral Instalasi Farmasi Instalasi Radiologi Instalasi Sterilisasi Pusat (CSSD) Instalasi Laboratorium Instalasi Rehabilitasi Medik Bagian Administrasi dan Kesekretariatan Rumah Sakit Pemulasaraan Jenazah Rumah Sakit Instalasi Gizi/Dapur Instalasi Pencucian Linen/Londri (.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 5.12 5.15 5. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.4 5.10 5.8 5.VI Instalasi Perawatan Intensif (.6 5.9 5.Laundry) Bengkel Mekanikal dan Elektrikal (.11 5.13 5.14 5.16 BAGIAN . DEPKES-RI ii .5 5.7 5. Sekretariat Jenderal.Workshop) PENUTUP KEPUSTAKAAN DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR Lampiran 1 – Gambar 58 60 63 66 68 71 73 75 77 79 80 82 84 86 87 Pusat Sarana.

DEPKES-RI iii . instalasi air limbah dan lain-lain. sistem tata suara. aksesibilitas dan luas lahan untuk bangunan rumah sakit. Badan Usaha maupun Konsultan Perencanaan dan Perancangan) yang akan merencanakan. pintu dan toilet. persyaratan teknis sarana dan prasarana rumah sakit yang menunjang pelayanan kesehatan secara paripurna. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. sistem komunikasi. sistem gas medis. Desember 2007 Kepala Pusat Sarana. dinding. drainase. Keseluruhan persyaratan tersebut harus direncanakan sesuai dengan standard dan kaidah-kaidah yang berlaku. para pengelola rumah sakit. Persyaratan teknis sarana rumah sakit meliputi persyaratan atap. serta persyaratan teknis lainnya. baik dan benar. Persyaratan rumah sakit disarankan memenuhi kriteria pemilihan lokasi rumah sakit dengan mempertimbangkan aspek sosio-ekonomi masyarakat. Persyaratan teknis prasarana rumah sakit meliputi persyaratan. sistem proteksi terhadap bahaya kebakaran. lantai.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Kata Pengantar Rumah Sakit Kelas C merupakan sarana pelayanan kesehatan umum tingkat kabupaten/ kota yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis 4 (empat) spesialistik dasar dan 4 (empat) spesialistik penunjang. pencahayaan. M. sarana transportasi vertikal (ramp dan tangga serta lift). para pengembang rumah sakit (Yayasan. Prasarana dan Peralatan Kesehatan Ir. struktur dan konstruksi. ventilasi. Sedangkan prasarana adalah segala sesuatu yang membuat sarana tersebut dapat berfungsi seperti pengadaan air bersih. Kami mengucapkan terima kasih kepada tim penyusun dan semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan pedoman ini. Adapun secara umum yang dimaksud dengan sarana adalah segala sesuatu hal yang menyangkut fisik gedung/ bangunan serta ruangan. langit-langit. Rumah sakit harus memenuhi. air bersih. maka harus didukung dengan sarana dan prasarana rumah sakit yang terencana. Dalam rangka mencapai kualitas dan kemampuan pelayanan medis pada Rumah Sakit Kelas C ini. listrik. sehingga masing-masing pihak dapat mempunyai kesamaan persepsi mengenai sarana prasarana maupun peralatan Medik & Non-Medik rumah sakit.Tugijono. Sekretariat Jenderal. Penyusunan “Pedoman Teknis Sarana dan Prasarana Rumah Sakit Kelas C“ ini diharapkan dapat digunakan sebagai rujukan oleh pengelola fasilitas pelayanan kesehatan setingkat rumah sakit kelas C.dan sebagainya.Kes NIP. listrik. pengolahan limbah. 140 058 253 Pusat Sarana. Jakarta.

Mengingat hal tersebut diatas. Pusat Sarana. 23 Tahun 1992 Bab I. salah satunya adalah “Pedoman Sarana dan Prasarana Rumah Sakit Kelas C ”. butir 4. DEPKES-RI iv .Kes/Per/II/1988 tentang Rumah Sakit. Bab V. Untuk merealisasikan penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang menyeluruh dan terpadu diperlukan sarana kesehatan yang menurut Undang-undang Republik Indonesia No. serta prasarana atau infrastruktur jaringan penunjang yang memadai.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Pendahuluan Kesehatan merupakan salah satu unsur kesejahteraan umum yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana dimaksudkan dalam pembukaan Undang-undang Dasar 1945 melalui pembangunan nasional yang berkesinambungan.I No. agar tercapai satu kesatuan persepsi dalam perancangan bangunan rumah sakit. yang berbunyi : ”Sarana kesehatan adalah tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan”. bahwa ” setiap rumah sakit harus mempunyai ruangan untuk penyelenggaraan rawat jalan. Pasal 1. gawat darurat. Pasal 19 dinyatakan. maka suatu pelayanan yang diselenggarakan rumah sakit harus memiliki suatu standar acuan ditinjau dari segi sarana fisik bangunan. Dalam rangka memenuhi suatu standar acuan tersebut diperlukan suatu pedoman perencanaan rumah sakit yang memadai. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. serta harus memenuhi standardisasi bangunan rumah sakit ”. rawat inap. Sekretariat Jenderal. 159. penunjang medik dan non medik.b/Men. dimana berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan R. Rumah Sakit merupakan salah satu sarana kesehatan.

serta harus memenuhi standardisasi bangunan rumah sakit ”. Dalam rangka menunjang sasaran tersebut.2. pedoman. Maksud dari diterbitkannya buku “Pedoman Teknis Sarana dan Prasarana Rumah Sakit Kelas C” ini adalah untuk memberikan petunjuk atau arahan bagi pengelola rumah sakit dan pihak-pihak lain yang membutuhkan dalam merancang dan merencanakan bangunan rumah sakit dengan memperhatikan kaidah-kaidah pelayanan kesehatan sehingga bangunan rumah sakit yang dibuat Pusat Sarana. Pengkategorian rumah sakit dibedakan berdasarkan jenis penyelenggaraan pelayanan. RS Kelas D adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis dasar dan minimal 2 spesialistik dasar. norma.b/Men. yang terdiri dari rumah sakit umum (RSU). yaitu rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan semua bidang dan jenis penyakit dan rumah sakit khusus (RSK). RS Kelas C adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis 4 spesialistik dasar. RS Kelas A adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis spesialistik luas dan sub spesialistik luas. bahwa ” setiap rumah sakit harus mempunyai ruangan untuk penyelenggaraan rawat jalan. dan peralatan kesehatan dalam hal ini akan menyusun “Pedoman Teknis Sarana dan Prasarana Rumah Sakit Kelas C”.1 Maksud dan Tujuan Maksud. kriteria dan prosedur di bidang sarana. peningkatan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan yang berkualitas merupakan salah satu agenda dari upaya mewujudkan Indonesia yang sejahtera. Pasal 19 dinyatakan.2 1. dimana berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan R. C dan D. rawat inap. penunjang medik dan non medik.Kes/Per/II/1988 tentang Rumah Sakit. Pusat Sarana. 1. RS Kelas B adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis sekurangkurangnya 11 spesialistik dan sub spesialistik terbatas. Prasarana dan Peralatan Kesehatan yang mempunyai tugas menyiapan koordinasi dan pelaksanaan penyusunan standar teknis. Bab V. gawat darurat.1 Latar Belakang Dalam rangka pembangunan nasional Tahun 2004-2009. sehingga dapat melaksanakan pelayanan kesehatan secara efisien dan efektif yang sesuai dengan kebutuhan layanan kesehatan kepada masyarakat serta memenuhi Kaidah dan Standar sebagai Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang baik dan benar. yaitu rumah sakit yang memberikan pelayanan utama pada suatu bidang atau satu jenis penyakit tertentu berdasarkan kekhususannya. prasarana. Sekretariat Jenderal. DEPKES-RI 1 . maka harus didukung dengan upaya peningkatan kualitas sarana kesehatan. yaitu rumah sakit kelas A. B. 159. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.I No. Pedoman ini diharapkan dapat memberikan arahan dalam perencanaan dan pengembangan fasilitas rumah sakit kelas C. Rumah Sakit merupakan salah satu sarana kesehatan. Rumah sakit umum (RSU) diklasifikasikan menjadi 4 kelas yang didasari oleh beban kerja dan fungsi rumah sakit tersebut.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C BAGIAN – I KETENTUAN UMUM 1.

Konstruksi bangunan yang diletakkan secara tetap dalam suatu lingkungan. maupun kegiatan sosial dan budaya.3 1. Tujuan dari diterbitkannya buku pedoman ini adalah : (1) (2) (3) perencanaan pembangunan sarana dan prasarana rumah sakit dapat terkendali dengan baik. PerMenKes RI No.4 Pusat Sarana. ataupun di bawah tanah/perairan. menjadi arahan bagi perencana dalam merencanakan pembangunan sarana dan prasarana rumah sakit.5.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C dapat menampung kebutuhan-kebutuhan pelayanan dan tidak menimbulkan akibat buruk terhadap pengguna. para pengembang rumah sakit (Yayasan. Rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan semua jenis penyakit dari yang bersifat dasar sampai dengan sub spesialistik.2 Tujuan. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. 1333/MENKES/SK/XII/1999 tentang Standar Pelayanan Rumah Sakit.2 1. 1. menjadi bahan untuk memperkirakan anggaran biaya pembangunan sarana dan prasarana rumah sakit. 45/PRT/M/2007 tentang Pedoman Teknis Pembangunan Bangunan Gedung Negara. baik untuk tempat tinggal. DEPKES-RI 2 .1 Pengertian. Sekretariat Jenderal. UU No. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.5. sehingga masingmasing pihak dapat mempunyai kesamaan persepsi mengenai sarana prasarana maupun peralatan Medik & Non-Medik rumah sakit. di atas tanah/perairan. berusaha. PERMENPU No.3 Sasaran Sasaran dari penyusunan pedoman ini adalah pihak manajemen rumah sakit. KepMenKes No. Rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis 4 (empat) spesialistik dasar dan 4 (empat) spesialistik penunjang. tentang persyaratan kesehatan lingkungan RS. 28 Tahun 2002 tentang bangunan gedung. 159b/MENKES/PER/II/1988 tentang Rumah Sakit. tempat manusia melakukan kegiatannya. PerMenNakertrans No.5.4 Kebijakan (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) UU No. Kepmenkes-RI No. 1. Per-01/MEN/1980 tentang K3 pada konstruksi bangunan. Sarana.5 1. 1.5. Badan Usaha maupun Konsultan Perencanaan dan Perancangan) yang akan merencanakan. Rumah sakit umum. 1. Rumah sakit umum kelas C.2. 1204/KepMenkes/SK/X/2004. Bangunan gedung. 1.

PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Segala sesuatu benda fisik yang dapat tervisualisasi mata maupun teraba oleh panca indra dan dengan mudah dapat dikenali oleh pasien dan (umumnya) merupakan bagian dari suatu gedung ataupun bangunan gedung itu sendiri. 1.5 Prasarana. Instalasi Gawat Darurat.7 1. Fasilitas yang digunakan sebagai tempat konsultasi. perinatal.16 Instalasi Rehabilitasi Medik. nifas dan gangguan kesehatan reproduksi. kimia. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Fasilitas menyelenggarakan kegiatan persalinan.5.10 Instalasi Kebidanan dan penyakit kandungan.8 1.5. adalah suatu unit khusus di rumah sakit yang berfungsi sebagai tempat untuk melakukan tindakan pembedahan secara elektif maupun akut. Fasilitas untuk melakukan pemeriksaan terhadap pasien dengan menggunakan energi radioaktif dalam diagnosis dan pengobatan penyakit. yang membutuhkan kondisi steril dan kondisi khusus lainnya.5. Benda maupun jaringan / instalasi yang membuat suatu sarana yang ada bisa berfungsi sesuai dengan tujuan yang diharapkan. 1. Fasilitas kerja khususnya untuk melakukan pemeriksaan dan penyelidikan ilmiah (misalnya fisika. Instalasi Rawat Inap.5. Sekretariat Jenderal.13 Instalasi Radiologi. 1. dan sebagainya) 1. 1. pemeriksaan dan pengobatan pasien oleh dokter ahli di bidang masing-masing yang disediakan untuk pasien yang membutuhkan waktu singkat untuk penyembuhannya atau tidak memerlukan pelayanan perawatan.5.5.9 1.14 Instalasi Sterilisasi Pusat (. Fasilitas untuk merawat pasien yang dalam keadaan sakit berat sesudah operasi berat atau bukan karena operasi berat yang memerlukan secara intensif pemantauan ketat dan tindakan segera.6 1. DEPKES-RI 3 . Fasilitas untuk menghilangkan semua mikroorganisme baik dengan cara fisik maupun kimia.15 Instalasi Laboratorium.5. Instalasi Rawat Jalan. Fasilitas yang digunakan merawat pasien yang harus di rawat lebih dari 24 jam (pasien menginap di rumah sakit). Fasilitas yang melayani pasien yang berada dalam keadaan gawat dan terancam nyawanya yang membutuhkan pertolongan secepatnya. higiene.5. penyediaan obat paten. Fasilitas untuk penyediaan dan membuat obat racikan.5.5.CSSD/ Central Supply Sterilization Departement) Instalasi Sterilisasi Pusat (Central Sterile Supply Department = CSSD). 1. 1.5. 1.5.12 Instalasi Farmasi. Pusat Sarana.11 Instalasi Bedah. penyelidikan. serta memberikan informasi dan konsultasi perihal obat. Instalasi bedah. Instalasi Perawatan Intensif (Intensive Care Unit = ICU).

20 Instalasi Cuci (Laundry). disinfeksi bila perlu.19 Instalasi Gizi/Dapur. 1. Fasilitas melakukan proses penanganan makanan dan minuman meliputi kegiatan. riwayat penyakit. pemulasaraan dan pelayanan forensik. pengadaan bahan mentah. Prasarana dan Peralatan Medik. persiapan pengiriman dan pengiriman. seterika.5. pengolahan. penyimpanan. 1.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Fasilitas pelayanan untuk memberikan tingkat pengembalian fungsi tubuh dan mental pasien setinggi mungkin sesudah kehilangan/ berkurangnya fungsi tersebut.17 Instalasi Administrasi dan Rekam Medis Suatu unit dalam rumah sakit tempat melaksanakan kegiatan administrasi dan pencatatan dan tempat melaksanakan kegiatan merekam dan menyimpan berkasberkas jati diri. Fasilitas untuk melakukan pencucian linen yang terdiri dari. dan penyajian makanan-minuman. DEPKES-RI 4 . 1. pemberian kode dan bungkus.5. 1.5. penerimaan. Fasilitas untuk meletakkan/menyimpan sementara jenazah sebelum diambil oleh keluarganya. Sekretariat Jenderal. perbaikan.Workshop) Fasilitas untuk melakukan pemeliharaan dan perbaikan ringan terhadap komponen-komponen Sarana. hasil pemeriksaan dan pengobatan pasien yang diterapkan secara terpusat/sentral.18 Pemulasaran jenazah. 1. Pusat Sarana.5. cuci dan pemisahan. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. pengeringan.21 Bengkel Mekanikal dan Elektrikal (.5. memandikan jenazah. penyimpanan.

5m2 s/d 50m2 per tempat tidur) 1 atau menyesuaikan dengan kondisi sosial ekonomi daerah setempat. Sewage Treatment Plan (STP). dan harus dipilih sebelum perencanaan awal dapat dimulai. pembuangan air kotor/limbah.5 s/d 2 kendaraan/tempat tidur (37. Rumah sakit membutuhkan air bersih. Sekretariat Jenderal.  Fasilitas pengelolaan limbah padat infeksius dan non–infeksius (sampah domestik).1. yang selanjutnya dilaporkan setiap 6 (enam) bulan (KepmenKLH/08/2006). 1 Ernst Neufert. DEPKES-RI 5 . (4) Tersedianya utilitas publik. Pemilihan lokasi. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Untuk limbah cair yang mengandung logam berat dan radioaktif disimpan dalam kontainer khusus kemudian dikirim ke tempat pembuangan limbah khusus daerah setempat yang telah mendapatkan izin dari pemerintah. Tempat parkir harus dilengkapi dengan rambu parkir.1 2.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C BAGIAN – II PERSYARATAN UMUM BANGUNAN RUMAH SAKIT 2. Pengembang harus membuat utilitas tersebut selalu tersedia. Penerbit Erlangga. dan jalur telepon. Lokasi harus mudah dijangkau oleh masyarakat atau dekat ke jalan raya dan tersedia infrastruktur dan fasilitas dengan mudah. Aksesibel untuk penyandang cacat (2) Kontur Tanah kontur tanah mempunyai pengaruh penting pada perencanaan struktur. karena prasarana parkir dan jalan masuk kendaraan akan menyita banyak lahan. misalnya tersedia pedestrian. hendaknya dibuat dalam bentuk implementasi Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UKL-UPL).  Fasilitas pengolahan limbah cair (Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). (5) Pengelolaan Kesehatan Lingkungan Setiap RS harus dilengkapi dengan persyaratan pengendalian dampak lingkungan antara lain :  Studi Kelayakan Dampak Lingkungan yang ditimbulkan oleh RS terhadap lingkungan disekitarnya. 1995 Pusat Sarana. listrik. kondisi jalan terhadap tapak bangunan dan lain-lain. (1) Aksesibilitas untuk jalur transportasi dan komunikasi. Perancangan dan perencanaan prasarana parkir di RS sangat penting.  Fasilitas Pengelolaan Limbah Cair ataupun Padat dari Instalasi Radiologi. Data Arsitek Edisi Kedua. Perhitungan kebutuhan lahan parkir pada RS idealnya adalah 1. Hospital Waste Water Treatment Plant (HWWTP)). Selain itu kontur tanah juga berpengaruh terhadap perencanaan sistem drainase. (3) Fasilitas parkir.1 Lokasi Rumah Sakit.

(6) Bebas dari kebisingan. Garis Sempadan Bangunan (GSB) dan Garis Sepadan Pagar (GSP) Ketentuan besarnya GSB dan GSP harus mengikuti ketentuan yang diatur dalam RTBL atau peraturan daerah setempat. Sekretariat Jenderal. disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan kesehatan yang diinginkan RS Pusat Sarana. Kesehatan termasuk sirkulasi udara dan pencahayaan. Misalkan Ketentuan KLB suatu daerah adalah maksimum 3 dengan KDB maksimum 60% maka luas total lantai yang dapat dibangun adalah 3 kali luas total area area/tanah dengan luas lantai dasar adalah 60%. c. (1) Intensitas antar Bangunan Gedung di RS harus memperhitungkan jarak antara massa bangunan dalam RS dengan mempertimbangkan hal-hal berikut ini : a. daerah resapan air 2. d. d. c. Kenyamanan. Keselamatan terhadap bahaya kebakaran.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C  Fasilitas Pengolahan Air Bersih (. (3) Memenuhi persyaratan Peraturan Daerah setempat (tata kota yang berlaku). (7) 2. ruang terbuka hijau kabupaten/kota Untuk bangunan gedung yang mempunyai KDB kurang dari 40%. Koefisien Dasar Bangunan (KDB) Ketentuan besarnya KDB mengikuti peraturan daerah setempat. Keselarasan dan keseimbangan dengan lingkungan. harus diperhitungkan dengan mempertimbangkan 1. terutama pada daerah yang kesulitan dalam menyediakan air bersih. KLB menentukan luas total lantai bangunan yang boleh dibangun. yaitu : a. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. b.Water Treatment Plant) yang menjamin keamanan konsumsi air bersih rumah sakit. b. DEPKES-RI 6 . sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan daerah setempat tentang bangunan gedung. Hal ini sebaiknya dipertimbangkan apabila ada rencana pembangunan bangunan baru. Review master plan dilaksanakan setiap 5 tahun. asap. (4) Pengembangan RS pola vertikal dan horizontal Penentuan pola pembangunan RS baik secara vertikal maupun horisontal.2 Massa Bangunan. uap dan gangguan lain. harus mempunyai KDH minimum sebesar 15%. Setiap rumah sakit harus menyusun master plan pengembangan kedepan. Master Plan dan Pengembangannya. Koefisien Lantai Bangunan (KLB) Ketentuan besarnya KLB mengikuti peraturan daerah setempat. (2) Perencanaan RS harus mengikuti Rencana Tata Bangunan & Lingkungan (RTBL).1. Misalkan Ketentuan KDB suatu daerah adalah maksimum 60% maka area yang dapat didirikan bangunan adalah 60% dari luas total area/ tanah.  Pemilihan lokasi sebaiknya bebas dari kebisingan yang tidak semestinya dan polusi atmosfer yang datang dari berbagai sumber.  Pasien dan petugas membutuhkan udara bersih dan lingkungan yang tenang. Koefisien Daerah Hijau (KDH) Perbandingan antara luas area hijau dengan luas persil bangunan gedung negara.

yaitu ruang bedah. ruang rawat inap. area dengan risiko sangat tinggi.3 Zonasi. Zona Penunjang Umum dan Administrasi yang terdiri dari : Bagian Kesekretariatan dan Akuntansi. Pengkategorian pembagian area atau zonasi rumah sakit adalah zonasi berdasarkan tingkat risiko terjadinya penularan penyakit. Instalasi Perawatan Intensif (ICU/ICCU/PICU/NICU). area dengan risiko sedang. umumnya area tertutup. misalnya seperti ICU/ICCU.budget). ruang radiodiagnostik. Instalasi Sterilisasi Pusat (. Zonasi berdasarkan privasi kegiatan terdiri dari :    (3) Zonasi berdasarkan pelayanan terdiri dari :   Pusat Sarana. area semi publik. pemulasaraan jenazah dan ruang bedah mayat. Instalasi Gawat Darurat (IGD). 2.health needs). apotek). Bagian Perencanaan dan Pengembangan (Renbang). yaitu area yang mempunyai akses langsung dengan lingkungan luar rumah sakit. Laboratorium.1. yaitu ruang rawat inap non-penyakit menular. Instalasi Rawat Inap (IRNA). kondisi alam daerah setempat (. Instalasi Pemeliharaan Sarana (IPS). Bagian Pengadaan./CSSD). area publik. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Instalasi Rehabilitasi Medik (IRM). Laundri. rawat jalan. yaitu area yang dibatasi bagi pengunjung rumah sakit. (1) Zonasi berdasarkan tingkat risiko terjadinya penularan penyakit terdiri dari :     (2) area dengan risiko rendah. umumnya merupakan area yang menerima beban kerja dari area publik. radiologi.climate).Central Sterilization Supply Dept. yaitu ruang kesekretariatan dan administrasi. Sistem Pengawasan Internal (SPI). instalasi kebidanan dan penyakit kandungan. area dengan risiko tinggi. misalnya laboratorium. lahan yang tersedia (.sites) dan kondisi keuangan manajemen RS (. DEPKES-RI 7 . zonasi berdasarkan privasi dan zonasi berdasarkan pelayanan. ruang bersalin. Dapur Utama. kebudayaan daerah setempat (. laboratorium. Pemulasaraan Jenazah.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C (.cultures). ruang komputer. IGD. yaitu area yang menerima tidak berhubungan langsung dengan lingkungan luar rumah sakit. Bagian Rekam Medik. Sekretariat Jenderal. instalasi bedah. rehabilitasi medik.  Zona Pelayanan Medik dan Perawatan yang terdiri dari : Instalasi Rawat Jalan (IRJ). Bagian Logistik/ Gudang. Instalasi Kebidanan dan Penyakit Kandungan Zona Penunjang dan Operasional yang terdiri dari : Instalasi Farmasi. misalkan poliklinik. Bagian Pendidikan dan Penelitian (Diklit). Instalasi Sanitasi. Bagian Informasi dan Teknologi (IT). Instalasi Radiodiagnostik. area privat. Instalasi Bedah. IGD. ruang ICU/ICCU. ruang patolgi. Bagian Sumber Daya Manusia (SDM). ruang arsip/rekam medis. ruang pertemuan. yaitu ruang isolasi.

1.3 . 3) Sebagai contoh. Tata McGraw-Hill. 2004 Pusat Sarana. Hospitals.4 menunjukkan bagian-bagian dari rumah sakit umum (non pendidikan) dan ruangan yang dibutuhkannya.000 m2 . Facilities.4 Kebutuhan luas lantai. The Architectural PressLondon. Tabel 3. DEPKES-RI 8 . (1) (2) Kebutuhan luas lantai untuk rumah sakit pendidikan disarankan + 110 m2 setiap tempat tidur. Planning and Management.Zoning Rumah Sakit Berdasarkan Pelayanan Pada RS Pola Pembangunan Horisontal 2. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. kebutuhan luas lantainya adalah sebesar + 110 (m2/tempat tidur) x 500 tempat tidur = + 55.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Gambar 2. (3) (4) (5) 2 3 ) W. Sekretariat Jenderal. rumah sakit umum (non pendidikan) dengan kapasitas 300 tempat tidur.1. William Tatton ARIBA.D Kunders. 1986 ) G. rumah sakit pendidikan dengan kapasitas 500 tempat tidur. Kebutuhan luas lantai untuk rumah sakit umum (non pendidikan) saat ini disarankan 80 m2 sampai dengan 110 m2 setiap tempat tidur.1. 2) Sebagai contoh. Paul James DipArch FRIBA. Hospital. kebutuhan luas lantainya adalah sebesar 80 (m2/tempat tidur) x 300 tempat tidur = + 24.000 m2 . Design and Development.

5 0.5 3~4 2.0 0.5 0.5 ~ 1 0.5 ~ 5 10 ~ 15 25 ~ 35 2 Pusat Sarana.8 ~ 1 1 ~ 1.8 0.1 0.1 ~ 0.5 ~ 3.4 ~ 0. Sekretariat Jenderal.4 ~ 0.5 ~ 0.5 2. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.4 – Kebutuhan ruang minimal untuk rumah sakit umum non pendidikan.5 3.5 ~ 3. pelatihan Terapi Wicara dan pendengaran.2 2.4 0.5 0.1 0.5 ~ 0. 3) Daerah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 Administrasi Unit Gawat Darurat Poliklinik Pelayanan social Pendaftaran Laboratorium Klinis.6 1 ~ 1.2 0.5 1 ~ 1.2 0.4 ~ 0.5 0.3 ~ 0.8 0.4 ~ 0.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Tabel 2. Pathologi Kebidanan dan kandungan Diagnostik dan Radiologi Dapur makanan Fasilitas petugas Ruang pertemuan. DEPKES-RI 9 .2 ~ 0.4 ~ 0.5 1 ~ 1.3 ~ 0.5 0.1.5 0.5 0.2 1 ~ 1. Rumah tangga/kebersihan Manajemen material Gudang pusat Pembelian Laundri Rekam medis Fasilitas staf medik Teknik dan pemeliharaan Pengobatan nuklir Ruang anak Petugas Farmasi Ruang public Ruang pengobatan kulit Therapi radiasi Therapi fisik Therapi okupasi Ruang bedah Sirkulasi Unit rawat inap Luas (m ) per tempat tidur 3 ~ 3.3 5~6 0.2 ~ 1.5 ~ 3 1.

Pemisahan aktivitas yang berbeda. pemisahan antara pekerjaan bersih dan pekerjaan kotor. aktivitas tenang dan bising. Jaminan perlindungan terhadap infeksi merupakan persyaratan utama yang harus dipenuhi dalam kegiatan pelayanan terhadap pasien. Waktu yang terbuang akibat langkah yang tidak perlu membuang biaya disamping kelelahan orang pada akhir hari kerja. perbedaan tipe pasien. agar aktifitas pasien dan petugas tidak terganggu. pasien dan petugas rumah sakit lainnya.2 2. RS minimal mempunyai 3 akses/pintu masuk.2 Prinsip khusus.2. perawat. Prinsip umum. Kondisi ini membantu menjaga kebersihan (aseptic) dan mengamankan langkah setiap orang. Rumah sakit adalah tempat dimana sesuatunya berjalan cepat. (contoh sakit serius dan rawat jalan) dan tipe berbeda dari lalu lintas di dalam dan di luar bangunan. DEPKES-RI 10 . (1) Perlindungan terhadap pasien merupakan hal yang harus diprioritaskan. Tata letak Pos perawat harus mempertimbangkan kemudahan bagi perawat untuk memonitor dan membantu pasien yang sedang berlatih di koridor pasien. Ini khususnya untuk rumah sakit yang tidak menggunakan air conditioning. Begitu pula pada kamar bedah. Terlalu banyak lalu lintas akan menggangu pasien. Sekretariat Jenderal. Merencanakan sependek mungkin jalur lalu lintas. Bayi haru dilindungi dari kemungkinan pencurian dan dari kuman penyakit yang dibawa pengunjung dan petugas rumah sakit. (2) (3) (4) 2. terdiri dari pintu masuk utama. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. pintu masuk ke Unit Gawat Darurat dan Pintu Masuk ke area layanan Servis. Jendela sebaiknya dilengkapi dengan kawat kasa untuk mencegah nyamuk dan binatang terbang lainnya yang berada dimana-mana di sekitar rumah sakit. (2) (3) Pusat Sarana.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 2. Mengontrol aktifitas petugas terhadap pasien serta aktifitas pengunjung RS yang datang. khususnya untuk pasien bedah dimana kondisi bersih sangat penting. Pasien di ruang ICU harus dijaga terhadap infeksi. dan pengunjung masuk dan ke luar unit. Jiwa pasien sering tergantung padanya. mengurangi efisiensi pelayanan pasien dan meninggikan risiko infeksi.1 Perencanaan bangunan rumah sakit.2. (1) Maksimum pencahayaan dan angin untuk semua bagian bangunan merupakan faktor yang penting.

40 m. juga benda-benda yang tidak terpakai.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Gambar 2. (5) (6) (7) (8) (9) (10) Alur pasien rawat inap jika ingin ke laboratorium. radiologi dan bagian lain. Pusat Sarana. Bahan-bahan. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.2-a . Apabila ramp digunakan. Akses ke kamar mayat sebaiknya diproteksi terhadap pandangan pasien dan pengunjung untuk alasan psikologis. Sampah padat dan sampah lainnya dibuang dari tempat ini. material dan pembuangan sampah sebaiknya tidak memotong pergerakan orang. sehingga pasien dan pengantar pasien mudah mengenali pintu masuk utama. Sekretariat Jenderal. Bordes dan timbangan tersedia di daerah itu. radiologi. Alur lalu lintas pasien dan petugas RS harus direncanakan seefisien mungkin. Koridor sebaiknya lurus.Contoh rencana lokasi (4) Pintu masuk untuk service sebaiknya berdekatan dengan dapur dan daerah penyimpanan persediaan (gudang) yang menerima barang-barang dalam bentuk curah. Lebar koridor 2. Pintu masuk dan lobi disarankan dibuat cukup menarik. farmasi. tidak melalui daerah pasien rawat inap. dimaksudkan untuk mengurangi waktu kemacetan. Rumah sakit perlu dirancang agar petugas. Koridor publik dipisah dengan koridor untuk pasien dan petugas medik. harus mengikuti prosedur yang telah ditentukan.2. DEPKES-RI 11 .40 m dengan tinggi langit-kangit minimal 2. pasien dan pengunjung mudah orientasinya jika berada di dalam bangunan. kemiringannya sebaiknya tidak melebihi 1 : 10 ( membuat sudut maksimal 70) Alur pasien rawat jalan yang ingin ke laboratorium. dan bila mungkin berdekatan dengan lif service. terapi khusus dan ke pelayanan medis lain.

2-b – Alur sirkulasi pasien di dalam rumah sakit umum Pusat Sarana. Sekretariat Jenderal. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C PASIEN SAKIT MASUK PENDAFTARAN / ADMINISTRASI INSTALASI RAWAT JALAN INSTALASI LABORATORIUM INSTALASI RADIOLOGI INSTALASI GAWAT DARURAT INSTALASI BEDAH INSTALASI KEBIDANAN DAN KANDUNGAN INSTALASI PERAWATAN INTENSIF PULANG SEHAT KELUAR INSTALASI RAWAT INAP INSTALASI RAWAT INAP KEBIDANAN INSTALASI PEMULASARAAN JENAZAH Gambar 2.2. DEPKES-RI 12 .

2.2. Sekretariat Jenderal.2-d.2.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Gambar 2. Contoh dapat dilihat pada gambar 2.2-d – Contoh Model Perletakan Instalasi-instalasi pada Site Rumah Sakit (Rencana Blok) Pusat Sarana. Gambar 2. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. DEPKES-RI 13 .2-c – Contoh Model Aliran lalu lintas dalam RS (11) Site Plan atau Tata letak instalasi-instalasi berdasarkan zoning dan peruntukan bangunan yang telah direncanakan.

atau genteng tanah liat (plentong). minimal 2.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C BAGIAN – III PERSYARATAN TEKNIS SARANA RUMAH SAKIT 3. dan dilapisi dengan cat anti rayap. 3. Sekretariat Jenderal. Rangka langit-langit harus kuat. tahan lama dan tidak menjadi tempat perindukan serangga. penggunaan genteng metal sebaiknya dihindari. dan tinggi di selasar (koridor) minimal 2. kedap air.2.1 Dinding dan Partisi. tidak porous.70 m.1. (a) (b) (c) 3. Penutup atap bila menggunakan genteng keramik.1. Langit-langit harus kuat. Langit-langit mungkin harus dari bahan kedap suara. Atap harus kuat. dan mudah dibersihkan. tahan karat. 3. Umum. Apabila rangka atap dari bahan kayu. (a) (b) (c) Tinggi langit-langit di ruangan. (1) Penutup atap.2 Persyaratan atap. Disamping itu dinding harus tidak mengkilap. dan binatang pengganggu lainnya. (a) (b) Penutup atap dari bahan beton dilapis dengan lapisan tahan air. dan mudah dibersihkan. harus dari kualitas yang baik dan kering. harus dari metal yang tidak mudah berkarat. atau di cat dengan cat dasar anti karat. tikus. (c) (2) Rangka atap. tahan api. 3.1. atau genteng beton. berwarna terang. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Dinding harus keras. Apabila rangka atap dari bahan metal. DEPKES-RI 14 . pemasangannya harus dengan sudut kemiringan sesuai ketentuan yang berlaku.3.1 Atap. Rangka atap harus kuat memikul beban penutup atap. tidak punya sambungan (utuh).3. Mengingat pemeliharaannya yang sulit khususnya bila terjadi kebocoran. Umum. (1) (2) Umum. Pusat Sarana.40 m. merupakan pilihan utama. tidak bocor. Langit-langit. Persyaratan langit-langit. 3.

Dinding yang berlapiskan keramik/porselen. Polyester yang dilapisi (laminated polyester) atau plester yang halus dan dicat. Sambungan antaranya bisa di “seal” dengan filler plastik. Permukaan lantai tersebut harus dapat memberikan jalan bagi peralatan yang mempunyai konduktivitas listrik yang sedang antara peralatan dan petugas yang berhubungan dengan lantai tersebut. Lantai yang konduktif bisa diperoleh dari berbagai jenis bahan. ubin aspal. kedap air. lantai yang konduktif harus dipasang. tetapi bukan sedemikian konduktifnya sehingga membahayakan petugas dari sengatan listrik. DEPKES-RI 15 . Lantai harus terbuat dari bahan yang kuat.3.2 Persyaratan lantai pada ruang-ruang khusus. (1) Pelapisan dinding dengan bahan keras seperti formika. Sekretariat Jenderal. memberikan dinding tanpa kampuh ( tanpa sambungan = seamless). Semen diantara keramik/porselin tidak bisa halus. dan bahan-bahan yang tanpa sambungan dipergunakan untuk lantai yang non konduktif. dan pemvakuman basah. Umum. 3. termasuk vinil anti statik. Tahanan listrik dari bahanbahan ini bisa berubah dengan umur dan akibat pembersihan. dan mudah dibersihkan.1 Lantai. Untuk mencegah menimbunnya muatan listrik pada tempat dipergunakan gas anestesi mudah terbakar. mudah dibersihkan dan dipelihara. dan kebanyakan sambungan yang diplaster cukup porous sehingga mudah ditinggali mikro organisme meskipun telah dibersihkan.4. Keramik/porselin bisa retak dan patah.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 3. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Pertemuan lantai dengan dinding harus berbentuk konus/lengkung agar mudah dibersihkan. Lantai dilokasi anestesi yang tidak mudah terbakar tidak perlu konduktif.4. linolium. Tahanan dari lantai konduktif diukur tiap bulan. Pelapis lembar/siku baja tahan karat (stailess steel) pada sudut-sudut tempat benturan membantu mengurangi kerusakan. warna terang. dan teraso. permukaan rata. Permukaan dari semua lantai tidak boleh porous.4. Cat epoksi pada dasarnya mempunyai kecenderungan untuk mengelupas atau membentuk serpihan. Semacam plastik keras (vinil). tidak licin. megumpulkan debu dan mikro organisme diantara sambungannya. (4) (5) (6) (7) (8) (9) Pusat Sarana. 3. (1) (2) (3) Lantai yang selalu kontak dengan air harus mempunyai kemiringan yang cukup ke arah saluran pembuangan. tetapi cukup keras untuk pembersihan dengan penggelontoran (flooding). (2) (3) (4) (5) 3. dan harus memenuhi persyaratan yang berlaku seperti dalam NFPA 56A.2 Persyaratan dinding pada ruang-ruang khusus. Lantai harus cukup konduktif. sehingga mudah untuk menghilangkan muatan listrik statik dari peralatan dan petugas.

Dalam perencanaan struktur bangunan rumah sakit terhadap pengaruh gempa. Penentuan mengenai jenis. Persyaratan pembebanan Bangunan Rumah Sakit. Tata cara perencanaan pembebanan untuk rumah dan gedung. angin. DEPKES-RI 16 . serta memenuhi persyaratan kelayanan (serviceability) selama umur layanan yang direncanakan dengan mempertimbangkan fungsi bangunan rumah sakit. pengaruh korosi. baik bagian dari sub struktur maupun struktur gedung. seperti : 1) 2) SNI 03–1726-1989 atau edisi terbaru.5.1 Struktur Bangunan. (a) Setiap bangunan rumah sakit. SNI 03-1727-1989 atau edisi terbaru. dan harus dilakukan atau didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. lokasi. termasuk beban tetap. harus dilakukan pemeriksaan keandalan bangunan secara berkala sesuai dengan Pedoman Teknis atau standar yang berlaku. beban sementara (angin. baik beban muatan tetap maupun beban muatan sementara yang timbul akibat gempa. strukturnya harus direncanakan dan dilaksanakan agar kuat. semua unsur struktur bangunan rumah sakit. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. (a) (b) Pusat Sarana. keawetan. gempa) dan beban khusus. Analisis struktur harus dilakukan untuk memeriksa respon struktur terhadap beban-beban yang mungkin bekerja selama umur kelayanan struktur. Pemeriksaan keandalan bangunan rumah sakit dilaksanakan secara berkala sesuai dengan pedoman teknis atau standar teknis yang berlaku. kondisi strukturnya masih dapat memungkinkan pengguna bangunan rumah sakit menyelamatkan diri. Kemampuan memikul beban diperhitungkan terhadap pengaruhpengaruh aksi sebagai akibat dari beban-beban yang mungkin bekerja selama umur layanan struktur. jamur. Sekretariat Jenderal. dan serangga perusak. Untuk menentukan tingkat keandalan struktur bangunan. kokoh. Perbaikan atau perkuatan struktur bangunan harus segera dilakukan sesuai rekomendasi hasil pemeriksaan keandalan bangunan rumah sakit. sehingga bangunan rumah sakit selalu memenuhi persyaratan keselamatan struktur. intensitas dan cara bekerjanya beban harus sesuai dengan standar teknis yang berlaku. dan kemungkinan pelaksanaan konstruksinya. (1) Umum. Tata cara perencana an ketahanan gempa untuk rumah dan gedung. Struktur bangunan rumah sakit harus direncanakan secara detail sehingga pada kondisi pembebanan maksimum yang direncanakan. (b) (c) (d) (e) (f) (g) (2) Persyaratan Teknis. apabila terjadi keruntuhan.5. dan stabil dalam memikul beban/kombinasi beban dan memenuhi persyaratan keselamatan (safety).PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 3. 3. harus diperhitungkan memikul pengaruh gempa rencana sesuai dengan zona gempanya.

Tata cara perhitungan struktur beton untuk bangunan gedung. seperti : 1) 2) SNI 03–2847-1992 atau edisi terbaru. 3) 4) 5) 6) (b) Konstruksi Baja Perencanaan konstruksi baja harus memenuhi standar yang berlaku seperti : 1) 2) 3) 4) SNI 03-1729-1989 atau edisi terbaru. Tata cara/pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan konstruksi kayu. Tata cara pengecatan kayu untuk rumah dan gedung. Tata cara rencana pembuatan campuran beton ringan dengan agregat ringan. SNI 03–3430-1994 atau edisi terbaru.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 3. SNI 03–3449-1994 atau edisi terbaru. Sekretariat Jenderal. SNI 03–2834 -1992 atau edisi terbaru. Tata Cara dan/atau pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan konstruksi baja . Pusat Sarana. DEPKES-RI 17 . Tata cara perencanaan bangunan baja untuk gedung. konstruksi kayu atau konstruksi dengan bahan dan teknologi khusus (2) Persyaratan Teknis. Tata cara perencanaan dinding struktur pasangan blok beton berongga bertulang untuk bangunan rumah dan gedung. (a) Konstruksi beton Perencanaan konstruksi beton harus memenuhi standar teknis yang berlaku. (c) Konstruksi Kayu Perencanaan konstruksi kayu harus memenuhi standar teknis yang berlaku.5. Tata Cara Pembuatan atau Perakitan Konstruksi Baja. SNI 03–3976-1995 atau edisi terbaru. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. konstruksi baja. seperti: 1) 2) 3) 4) Tata Cara Perencanaan Konstruksi Kayu untuk Bangunan Gedung. SNI 03-1734-1989 atau edisi terbaru. Tata cara pembuatan rencana campuran beton normal. Tata cara pengadukan dan pengecoran beton.2 Struktur Atas (1) Umum. Tata Cara Pemeliharaan Konstruksi Baja Selama Pelaksanaan Konstruksi. Tata Cara Pembuatan dan Perakitan Konstruksi Kayu SNI 03 – 2407 – 1991 atau edisi terbaru. Konstruksi atas bangunan rumah sakit dapat terbuat dari konstruksi beton. Tata cara perencanaan beton dan struktur dinding bertulang untuk rumah dan gedung.

Tata cara perencanaan bangunan dan lingkungan untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan rumah dan gedung. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. SNI 03–2404-1991 atau edisi terbaru. SNI 03–2394-1991 atau edisi terbaru. disesuaikan dengan kondisi tanah di lokasi didirikannya rumah sakit. Sekretariat Jenderal. Tata cara perencanaan struktur bangunan untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan rumah dan gedung. (2) Persyaratan Teknis. Tata cara perencanaan dan perancangan bangunan radiologi di rumah sakit. Tata cara pencegahan rayap pada pembuatan bangunan rumah dan gedung. Pusat Sarana. standar teknis lainnya yang terkait dalam perencanaan suatu bangunan yang harus dipenuhi.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C (d) Konstruksi dengan Bahan dan Teknologi Khusus 1) Perencanaan konstruksi dengan bahan dan teknologi khusus harus dilaksanakan oleh ahli struktur yang terkait dalam bidang bahan dan teknologi khusus tersebut. 2) (e) Pedoman Spesifik Untuk Tiap Jenis Konstruksi Selain pedoman yang spesifik untuk masing-masing jenis konstruksi. Tata cara perencanaan dan perancangan bangunan kedokteran nuklir di rumah sakit. SNI 03–2405-1991 atau edisi terbaru. SNI 03–2395-1991 atau edisi terbaru.3 Struktur Bawah (1) Umum. 2) 3) 4) 5) 6) 7) 3. Struktur bawah bangunan rumah sakit dapat berupa pondasi langsung atau pondasi dalam. Perencanaan konstruksi dengan memperhatikan standar teknis padanan untuk spesifikasi teknis. tata cara. Tata cara dasar koordinasi modular untuk perancangan bangunan rumah dan gedung. antara lain: 1) SNI 03-1735-2000 atau edisi terbaru. DEPKES-RI 18 . (a) Pondasi Langsung 1) Kedalaman pondasi langsung harus direncanakan sedemikian rupa sehingga dasarnya terletak di atas lapisan tanah yang mantap dengan daya dukung tanah yang cukup kuat dan selama berfungsinya bangunan tidak mengalami penurunan yang melampaui batas. dan metoda uji bahan dan teknologi khusus tersebut. SNI 03-1736-1989 atau edisi terbaru. Tata cara penanggulangan rayap pada bangunan rumah dan gedung dengan termitisida.5. SNI 03-1963-1990 atau edisi terbaru.

PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C

2)

Perhitungan daya dukung dan penurunan pondasi dilakukan sesuai teori mekanika tanah yang baku dan lazim dalam praktek, berdasarkan parameter tanah yang ditemukan dari penyelidikan tanah dengan memperhatikan nilai tipikal dan korelasi tipikal dengan parameter tanah yang lain. Pelaksanaan pondasi langsung tidak boleh menyimpang dari rencana dan spesifikasi teknik yang berlaku atau ditentukan oleh perencana ahli yang memiiki sertifikasi sesuai. Pondasi langsung dapat dibuat dari pasangan batu atau konstruksi beton bertulang.

3)

4) (b)

Pondasi Dalam 1) 2) Dalam hal penggunaan tiang pancang beton bertulang harus mengacu pedoman teknis dan standar yang berlaku. Dalam hal lokasi pemasangan tiang pancang terletak di daerah tepi laut yang dapat mengakibatkan korosif harus memperhatikan pengamanan baja terhadap korosi memenuhi pedoman teknis dan standar yang berlaku. Dalam hal perencanaan atau metode pelaksanaan menggunakan pondasi yang belum diatur dalam SNI dan/atau mempunyai paten dengan metode konstruksi yang belum dikenal, harus mempunyai sertifikat yang dikeluarkan instansi yang berwenang. Dalam hal perhitungan struktur menggunakan perangkat lunak, harus menggunakan perangkat lunak yang diakui oleh asosiasi terkait) Pondasi dalam pada umumnya digunakan dalam hal lapisan tanah dengan daya dukung yang cukup terletak jauh di bawah permukaan tanah, sehingga penggunaan pondasi langsung dapat menyebabkan penurunan yang berlebihan atau ketidakstabilan konstruksi. Perhitungan daya dukung dan penurunan pondasi dilakukan sesuai teori mekanika tanah yang baku dan lazim dalam praktek, berdasarkan parameter tanah yang ditemukan dari penyelidikan tanah dengan memperhatikan nilai tipikal dan korelasi tipikal dengan parameter tanah yang lain. Umumnya daya dukung rencana pondasi dalam harus diverifikasi dengan percobaan pembebanan, kecuali jika jumlah pondasi dalam direncanakan dengan faktor keamanan yang jauh lebih besar dari faktor keamanan yang lazim. Percobaan pembebanan pada pondasi dalam harus dilakukan dengan berdasarkan tata cara yang lazim dan hasilnya harus dievaluasi oleh perencana ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. Jumlah percobaan pembebanan pada pondasi dalam adalah 1% dari jumlah titik pondasi yang akan dilaksanakan dengan penentuan titik secara random, kecuali ditentukan lain oleh perencana ahli serta disetujui oleh instansi yang bersangkutan.

3)

4)

5)

6)

7)

8)

9)

Pusat Sarana, Prasarana dan Peralatan Kesehatan, Sekretariat Jenderal, DEPKES-RI

19

PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C

(c)

Keselamatan Struktur 1) Untuk menentukan tingkat keandalan struktur bangunan, harus dilakukan pemeriksaan keandalan bangunan secara berkala sesuai dengan ketentuan dalam Pedoman Teknis Tata Cara Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung. Perbaikan atau perkuatan struktur bangunan harus segera dilakukan sesuai rekomendasi hasil pemeriksaan keandalan bangunan rumah salikit, sehingga rumah sakit selalu memenuhi persyaratan keselamatan struktur. Pemeriksaan keandalan bangunan rumah sakit dilaksanakan secara berkala sesuai klasifikasi bangunan, dan harus dilakukan atau didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai.

2)

3)

(d)

Keruntuhan Struktur Untuk mencegah terjadinya keruntuhan struktur yang tidak diharapkan, pemeriksaan keandalan bangunan harus dilakukan secara berkala sesuai dengan pedoman/petunjuk teknis yang berlaku.

(e)

Persyaratan Bahan 1) Bahan struktur yang digunakan harus sudah memenuhi semua persyaratan keamanan, termasuk keselamatan terhadap lingkungan dan pengguna bangunan, serta sesuai pedoman teknis atau standar teknis yang berlaku. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum mempunyai SNI, dapat digunakan standar baku dan pedoman teknis yang diberlakukan oleh instansi yang berwenang. Bahan yang dibuat atau dicampurkan di lapangan, harus diproses sesuai dengan standar tata cara yang baku untuk keperluan yang dimaksud. Bahan bangunan prefabrikasi harus dirancang sehingga memiliki sistem hubungan yang baik dan mampu mengembangkan kekuatan bahan-bahan yang dihubungkan, serta mampu bertahan terhadap gaya angkat pada saat pemasangan/pelaksanaan.

2)

3)

4)

3.6.
3.6.1

Pintu.
Umum. Pintu adalah bagian dari suatu tapak, bangunan atau ruang yang merupakan tempat untuk masuk dan ke luar dan pada umumnnya dilengkapi dengan penutup (daun pintu).

3.6.2

Persyaratan. (1) Pintu ke luar/masuk utama memiliki lebar bukaan minimal 120 cm atau dapat dilalui brankar pasien, dan pintu-pintu yang tidak menjadi akses pasien tirah baring memiliki lebar bukaan minimal 90 cm. Di daerah sekitar pintu masuk sedapat mungkin dihindari adanya ramp atau perbedaan ketinggian lantai.

(2)

Pusat Sarana, Prasarana dan Peralatan Kesehatan, Sekretariat Jenderal, DEPKES-RI

20

PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C

(3)

Pintu Darurat    Setiap bangunan RS yang bertingkat lebih dari 3 lantai harus dilengkapi dengan pintu darurat. Lebar pintu darurat minimal 100 cm membuka kearah ruang tangga penyelamatan (darurat) kecuali pada lantai dasar membuka ke arah luar (halaman). Jarak antar pintu darurat dalam satu blok bangunan gedung maksimal 25 m dari segala arah.

(4)

Pintu khusus untuk kamar mandi di rawat inap dan pintu toilet untuk aksesibel, harus terbuka ke luar (lihat gambar 3.9.1), dan lebar daun pintu minimal 85 cm.

Gambar 3.6.1 - Pintu kamar mandi pada ruang rawat inap harus terbuka ke luar

3.7.
3.7.1

Toilet (Kamar kecil).
Umum. Fasilitas sanitasi yang aksesibel untuk semua orang (tanpa terkecuali penyandang cacat, orang tua dan ibu-ibu hamil) pada bangunan atau fasilitas umum lainnya

3.7.2

Persyaratan. (1) Toilet umum. (a) (b) (c) (d) (e) Toilet atau kamar kecil umum harus memiliki ruang gerak yang cukup untuk masuk dan keluar oleh pengguna. Ketinggian tempat duduk kloset harus sesuai dengan ketinggian pengguna ( 36 ~ 38 cm). Bahan dan penyelesaian lantai harus tidak licin. Pintu harus mudah dibuka dan ditutup. Kunci-kunci toilet atau grendel dipilih sedemikian sehingga bisa dibuka dari luar jika terjadi kondisi darurat

Pusat Sarana, Prasarana dan Peralatan Kesehatan, Sekretariat Jenderal, DEPKES-RI

21

Pintu harus mudah dibuka dan ditutup untuk memudahkan pengguna kursi roda. (a) Toilet atau kamar kecil umum yang aksesibel harus dilengkapi dengan tampilan rambu/simbol "penyandang cacat" pada bagian luarnya.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C (2) Toilet untuk aksesibilitas. seperti pada daerah pintu masuk. Kunci-kunci toilet atau grendel dipilih sedemikian sehingga bisa dibuka dari luar jika terjadi kondisi darurat. air.2 .Ruang gerak dalam Toilet untuk Aksesibel.7. DEPKES-RI 22 . Toilet atau kamar kecil umum harus memiliki ruang gerak yang cukup untuk masuk dan keluar pengguna kursi roda. Bahan dan penyelesaian lantai harus tidak licin. Gambar 3. (b) (c) (d) (e) (f) (g) (h) (j). Ketinggian tempat duduk kloset harus sesuai dengan ketinggian pengguna kursi roda sekitar (45 ~ 50 cm) Toilet atau kamar kecil umum harus dilengkapi dengan pegangan rambat (handrail) yang memiliki posisi dan ketinggian disesuaikan dengan pengguna kursi roda dan penyandang cacat yang lain. Letak kertas tissu. dianjurkan untuk menyediakan tombol bunyi darurat (emergency sound button) bila sewaktu-waktu terjadi sesuatu yang tidak diharapkan. kran air atau pancuran (shower) dan perlengkapan-perlengkapan seperti tempat sabun dan pengering tangan harus dipasang sedemikian hingga mudah digunakan oleh orang yang memiliki keterbatasan keterbatasan fisik dan bisa dijangkau pengguna kursi roda. Sekretariat Jenderal. Pada tempat-tempat yang mudah dicapai. Pusat Sarana. Pegangan disarankan memiliki bentuk siku-siku mengarah ke atas untuk membantu pergerakan pengguna kursi roda. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.

bahan kimia atau gas. dan/atau jumlah dan kondisi penghuni dalam rumah sakit. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. luas per lantai. mengendalikan kobaran api agar tidak menjalar ke bangunan lain yang berdekatan. perambatan api dan asap. Kompartemenisasi dan konstruksi pemisah untuk membatasi kobaran api yang potensial. dan lubang utilitas harus diberi penyetop api (fire stop) untuk mencegah merambatnya api serta menjamin pemisahan dan kompartemenisasi bangunan.1.1 4. 4.1 Sistem Proteksi Kebakaran Sistem Proteksi Pasif Setiap bangunan rumah sakit harus mempunyai sistem proteksi pasif terhadap bahaya kebakaran yang berbasis pada desain atau pengaturan terhadap komponen arsitektur dan struktur rumah sakit sehingga dapat melindungi penghuni dan benda dari kerusakan fisik saat terjadi kebakaran.1. Pusat Sarana.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C BAGIAN – IV PERSYARATAN TEKNIS PRASARANA RUMAH SAKIT 4. agar dapat: (a) melindungi penghuni yang berada di suatu bagian bangunan terhadap dampak kebakaran yang terjadi ditempat lain di dalam bangunan. (1) Pipa tegak dan slang Kebakaran Sistem pipa tegak ditentukan oleh ketinggian gedung. bahan bangunan terpasang. (2) Hidran Halaman Hidran halaman diperlukan untuk pemadaman api dari luar bangunan gedung. geometri ruang.2 Sistem Proteksi Aktif Sistem proteksi aktif adalah peralatan deteksi dan pemadam yang dipasang tetap atau tidak tetap. yang digunakan untuk mendeteksi dan memadamkan kebakaran pada bangunan rumah sakit. sistem sarana jalan ke luar. Sekretariat Jenderal. serta jarak sambungan selang dari sumber pasokan air. Sambungan slang ke hidran halaman harus memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh instansi kebakaran setempat. (3) Sistem Springkler Otomatis. menyediakan jalan masuk bagi petugas pemadam kebakaran (b) (c) (3) Proteksi Bukaan Seluruh bukaan harus dilindungi. berbasis air. DEPKES-RI 23 . klasifikasi hunian. Penerapan sistem proteksi pasif didasarkan pada fungsi/klasifikasi resiko kebakaran. jumlah aliran yang dipersyaratkan dan sisa tekanan. (1) (2) Rumah sakit harus mampu secara struktural stabil selama kebakaran.

untuk sekurang-kurangnya 30 menit sejak kepada springkler pecah. sistem voice evacuation. sistem tata suara. Sistem pemadam khusus meliputi sistem gas dan sistem busa. DEPKES-RI 24 . pada saat terjadi kebakaran dan/atau kondisi darurat lainnya. (6) Sistem Deteksi & Alarm Kebakaran Sistem deteksi dan alarm kebakaran berfungsi untuk mendeteksi secara dini terjadinya kebakaran. misalnya tidak berfungsinya pencahayaan normal dari PLN atau tidak dapat beroperasinya dengan segera daya siaga dari diesel generator. Sekretariat Jenderal. dan sistem panggil perawat. (4) Pemadam Api Ringan (PAR) Alat pemadam api ringan kimia (APAR) harus ditujukan untuk menyediakan sarana bagi pemadaman api pada tahap awal. Ini dimaksudkan agar penghuni bangunan memperoleh informasi panduan yang tepat dan jelas. (7) Sistem Pencahayaan Darurat Pencahayaan darurat di dalam rumah sakit diperlukan khususmya pada keadaan darurat. maka harus dipasang tanda penunjuk dengan tanda panah menunjukkan arah. Penggunaan instalasi tata suara pada waktu keadaan darurat dimungkinkan asal memenuhi pedoman dan standar teknis yang berlaku. (9) Sistem Peringatan Bahaya Sistem peringatan bahaya dapat juga difungsikan sebagai sistem penguat suara (public address). lobi dan semacamnya yang memberikan indikasi penunjukkan arah ke eksit yang disyaratkan. baik secara otomatis maupun manual. 4. Bila suatu eksit tidak dapat terlihat secara langsung dengan jelas oleh pengunjung atau pengguna bangunan.2 Sistem Komunikasi Dalam Rumah sakit Persyaratan komunikasi dalam rumah sakit dimaksudkan sebagai penyediaan sistem komunikasi baik untuk keperluan internal bangunan maupun untuk hubungan ke luar. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. (8) Tanda Arah. (5) Sistem Pemadam Kebakaran Khusus. Termasuk antara lain: sistem telepon.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Sistem springkler otomatis harus dirancang untuk memadamkan kebakaran atau sekurang-kurangnya mempu mempertahankan kebakaran untuk tetap. diperlukan guna memberikan panduan kepada penghuni dan tamu sebagai tindakan evakuasi atau penyelamatan dalam keadaan darurat. Konstruksi APAR dapat dari jenis portabel (jinjing) atau beroda. Pusat Sarana. tidak berkembang. Sistem pemadaman khusus yang dimaksud adalah sistem pemadaman bukan portable (jinjing) dan beroperasi secara otomatis untuk perlindungan dalam ruang-ruang dan atau penggunaan khusus. jalan menuju ruang besar (hal). dan dipasang di koridor.

2) Tidak boleh digunakan cat dinding yang mudah mengelupas. Secara berkala dilakukan pengukuran/pengujian terhadap EMC (Electro Magnetic Campatibility). serta direncanakan dan dilaksanakan berdasarkan standar. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum mempunyai SNI. dioperasikan. serta tidak boleh kena sinar matahari langsung.10 m atau sesuai ketentuan yang berlaku. kedap debu. Apabila hasil pengukuran terhadap EMC melampaui ambang batas yang ditentukan. Sekretariat Jenderal. penempatannya harus mudah diamati. mempunyai dinding dan lantai tahan asam. 3) Tersedia ruangan untuk petugas sentral dan operator telepon. sirkulasi udara cukup dan udara buangnya harus dibuang ke udara terbuka dan tidak ke ruang publik. Ruang PABX/TRO sistem telepon harus memenuhi persyaratan: 1) Ruang yang bersih.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 4.1 Sistem Telepon dan Tata Suara. dan harus diamankan terhadap gangguan seperti interferensi gelombang elektro magnetik. tidak membahayakan. minimal berjarak 0. mengganggu dan merugikan lingkungan dan bagian bangunan serta sistem instalasi lainnya. terang.50 m x 0. (3) Persyaratan Teknis Instalasi Tata Suara (a) Setiap bangunan rumah sakit dengan ketinggian 4 lantai atau 14 m keatas. 2) Ukuran lubang orang (manhole) yang melayani saluran masuk ke dalam gedung untuk instalasi telepon minimal berukuran 1. terang. (1) Umum. DEPKES-RI 25 . maka langka penanggulangan dan pengamanan harus dilakukan. (a) Sistem instalasi komunikasi telepon dan sistem tata komukasi gedung. serta memenuhi persyaratan untuk tempat peralatan. normalisasi teknik dan peraturan yang berlaku. dan lain-lain.2. sirkulasi udaranya cukup dan tidak boleh kena sinar matahari langsung.80 m dan harus diamankan agar tidak menjadi jalan air masuk ke rumah sakit pada saat hujan dll. Pusat Sarana. 3) Diupayakan dekat dengan kabel catu dari kantor telepon dan dekat dengan jalan besar. dapat digunakan standar baku dan pedoman teknis yang diberlakukan oleh instansi yang berwenang (b) (c) (d) (2) Persyaratan Teknis Instalasi Telepon. tidak ada genangan air. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. (d) Ruang batere sistem telepon harus bersih. (a) Saluran masuk sistem telepon harus memenuhi persyaratan : 1) Tempat pemberhentian ujung kabel harus terang. (b) (c) Penempatan kabel telepon yang sejajar dengan kabel listrik. Peralatan dan instalasi sistem komunikasi harus tidak memberi dampak. harus dipasang sistem tata suara yang dapat digunakan untuk menyampaikan pengumuman dan instruksi apabila terjadi kebakaran atau keadaan darurat lainnya. dipelihara. aman dan mudah dikerjakan.

Mengangkat handset akan mematikan mikrofon/speaker. baik dalam kondisi rutin atau darurat. Kabel instalasi komunikasi darurat harus terpisah dari instalasi lainnya.2 Sistem Panggil Perawat (Nurse Call) (1) Umum (1) Peralatan sistem panggil perawat dimaksudkan untuk memberikan pelayanan kepada pasien yang memerlukan bantuan perawat. Harus dilengkapi dengan sumber/pasokan daya listrik untuk kondisi normal maupun pada kondisi daya listrik utama mengalami gangguan. 3) perlengkapan yang ada pada panel kontrol SPP sebagai berikut : a) mempunyai mikrofon. sehingga apabila sistem tata suara umum rusak. dan memberikan sinyal pada kejadian darurat pasien.2. 2) penempatannya diatas meja. 2) PP No. Sistem panggil perawat bertujuan menjadi alat komunikasi antara perawat dan pasien dalam bentuk visual dan audible (suara). Pusat Sarana. Prioritas panggilan. 32 tahun 1999. Tempat tidur. dan dilindungin terhadap bahaya kebakaran. Handset harus mampu menghubungkan dua arah komunikasi antara perawat dan pos pemanggil yang dipilih. (2) (2) Persyaratan Teknis (1) a) Peralatan Sistem Panggil Perawat (SPP). 52/2000. Kamar. b) Tombol penunjuk atau layar sentuh dengan bacaan digital secara visual memberitahu lokasi panggilan dan menempatkannya dalam sistem. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. maka sistem telepon darurat tetap dapat bekerja. atau terdiri dari kabel tahan api. (c) (d) (e) 4. Persyaratan sistem komunikasi dalam gedung harus memenuhi: 1) UU No. DEPKES-RI 26 . Sekretariat Jenderal. dengan kapasitas dan dapat melayani dalam waktu yang cukup sesuai ketentuan yang berlaku. Handset dilengkapi kabel dengan panjang 910 mm (3 ft). meliputi: (i) (ii) (iii) (iv) Nomor ruang. speaker dan handset.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C (b) Sistem peralatan komunikasi darurat sebagaimana dimaksud pada butir 1) di atas harus menggunakan sistem khusus. Panel Kontrol SPP. tentang Telekomunikasi Indonesia. tentang Telekomunikasi. Panel kontrol SPP harus : 1) jenis audio dan visual.

atau serupa membolehkan perawat memilih pos panggilan dan melakukan komunikasi suara dua arah.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C c) Panggilan dari pos darurat yang ditempatkan di dalam toilet atau kamar mandi. semua panggilan yang ditempatkan dalam sistem secara visual atau audible diteruskan ke bedside yang dikunjungi. yaitu : (i) Kemampuan memonitor bedside. d) Mampu menampilkan sedikitnya 4 (empat) panggilan yang datang. Pusat Sarana. Tombol sentuh juga harus memberikan program status prioritas dan kemampuan fungsi lain yang ada. e) Modul mengikuti perawat. Sinyal visual atau audible akan menandai adanya suatu panggilan rutin atau darurat dan akan menerus sampai panggilan itu dibatalkan. i) Kemampuan menghasilkan sinyal audible dan visual untuk menandai adanya panggilan yang datang dari pos yang terhubung : (i) dapat menghentikan atau melemahkan sinyal audible melalui rangkaian rangkaian mematikan/melemahkan saat panel kontrol sedang digunakan untuk menjawab atau menempatkan suatu panggilan. f) Berfungsi menjawab secara otomatis atau selektif. g) Fungsi prioritas panggilan yang datang. Panggilan darurat harus dibatalkan hanya di pos darurat setempat. (ii) Sinyal visual untuk panggilan yang datang harus tetap ditampilkan pada setiap saat sampai panggilan terjawab atau dibatalkan pada pos pemanggilan. (iii) Sinyal audible dan sinyal visual untuk panggilan rutin dan darurat harus jelas berbeda. DEPKES-RI 27 . j) Tombol sentuh. h) Fungsi pengingat (memory). Dapat menyimpan sementara suatu panggilan yang ditempatkan dan menghasilkan sinyal visual berupa nyala lampu dome di koridor yang dihubungkan dengan bedside dengan cara mengaktifkan fungsi/sirkit pengingat. Sekretariat Jenderal. Sinyal visual ini akan mati dan panggilan yang tersimpan terhapus dari memory ketika panggilan itu dibatalkan di pos setempat. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Sinyal audible untuk panggilan yang datang dan tidak terjawab harus secara otomatis disambungkan kembali ketika panel kontrol SPP dikembalikan ke modus siaga. (iv) Tampilan visual untuk menunjukkan lokasi pos panggilan harus muncul pada panel kontrol SPP. Apabila module mengikuti perawat ditempatkan di bedside ruang rawat inap pasien diaktifkan. (ii) Kemampuan berhubungan minimum 10 pos beside secara serempak.

dan pos darurat didalam setiap panel kontrol SPP. atau l) Dengan memilih jawaban dari setiap pos panggilan yang ditempatkan di dalam urutan. c) tombol reser d) kotak kontrol untuk cordset. (c) 1) Pos darurat. m) Sedikitnya ditambahkan 10% untuk mengakomodasi tambahan pasien. Pos darurat harus disediakan dengan : a) kabel tarikan yang diuji tarik dengan gaya sebesar 5 kg ( 10 lbs) dan pendant dihubungkan ke gerakan sakelar ON/OFF pada pos darurat. b) lampu pos pemanggil. 2) Setiap microphone/speaker disambungkan ke bedside.4 kg. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Pos darurat ini harus dipasang kurang lebih 50 cm (18 inci) dari kepala pancurannya (shower head) dan/atau 180 cm (72 inci) di atas lantai jadi. b) Gaya tarikan untuk mengaktifkan sakelar minimum 0.Beside 1) Setiap bedside harus menyediakan : 3) Panggilan dari bedside harus menghasilkan sinyal panggilan visual rutin pada lampu dome di koridor. Sekretariat Jenderal. 2) Pusat Sarana. (b) Peralatan Komunikasi pada Communication Equipment). Setiap pos darurat yang di area pancuran atau toilet harus kedap air. Pos darurat dengan kabel tarik harus disediakan dalam setiap kloset dan setiap pancuran (shower) kamar mandi. Kabel tarikan yang gantung yang terbawah harus dipasang 15 cm ( 6 inci) dari lantai jadi. n) Panel Kontrol SPP yang menggunakan daya listrik arus bolak balik haruslah disambungkan ke panel daya listrik darurat arus bolak balik. berikutnya akan secara otomatis mengizinkan perawat untuk berkomunikasi dengan pos berikutnya di dalam urutan prioritas panggilan. harus mati jika handset Kabinet Bedside (. Suatu UPS harus disediakan di lokasi panel kontrol SPP untuk menyediakan daya darurat. DEPKES-RI 28 .PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C (iii) Mampu menerima panggilan dari 10 pos panggilan terkait secara serempak. c) Pada pos darurat dilengkapi fungsi "reset/cancel". a) microphone/speaker. (iv) Kemampuan untuk menjawab dengan cara : k) Dengan mengangkat handset atau mengaktifkan satu fungsi panggilan untuk menjawab.

atau alat lain disisipkan yang secara teknis dapat mematikan fitur panggilan otomatis. e) Pada pos darurat . Prasarana dan Peralatan Kesehatan. atau rusak karena penggunaan zat pembersih. Dua lampu dalam satu armatur lampu dome berisi minimum dua lampu untuk mengidentifikasikan panggilan setempat dalam sistem. Sinyal visual untuk panggilan rutin dan panggilan darurat harus jelas perbedaannya. Setiap cordset harus disediakan : a) sambungan ke kotak kontak bedside cordset. ditempel atau ditempatkan secara permanen dengan plat kalimat "Panggilan Darurat Perawat". diberi label pada setiap rel dan disetujui oleh instansi terkait. b) tidak korosif. e) tidak berubah warna. (g) Sistem distribusi. 2) Pusat Sarana. (e) Armatur Lampu Dome dengan isi dua lampu di Koridor. d) gaya tarikan untuk mengaktifkan cordset sebesar 0. Tinggi huruf minimal 4 mm (1/8 inci). c) apabila cordset dilepas. Setiap cordset. dipasang pada ketinggian 2 meter dari lantai jadi. c) Sinyal visual untuk panggilan rutin dan panggilan darurat harus dibedakan. (d) 1) Armatur Lampu Dome di Koridor. b) berisi tombol tekan untuk panggilan pada ujung cordsetnya.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C d) Lampu darurat merah dengan nyala mati-hidup secara bergantian dengan interval waktu 1 detik ditempatkan pada bagian luar dari kamar mandi atau toilet. Sinyal audible dan visual harus tetap diaktifkan sampai cordset disisipkan kembali. DEPKES-RI 29 . b) panggilan darurat dari pos perawat kamar mandi atau toilet. 1) Umum.4 meter. (f) Cordset. jenis kabel fleksibel. Sekretariat Jenderal. 2) Cordset dengan aksi tombol tekan. Tutup lampu harus tembus cahaya. Lampu dome harus berisi lampu yang cukup membedakan : a) panggilan rutin dari bedside. panggilan darurat harus secara otomatis memberitahukan panel kontrol SPP.5 kg (1 lb).8 meter atau 2. harus : a) panjangnya 1. Setiap kabel yang digunakan dalam SPP harus asli dan bersertifikat. tidak berubah warna atau berubah bentuk karena panas.

plat penutup dan perangkat keras lain yang diperlukan untuk melengkapi kerapihan dan keamanan. DEPKES-RI 30 . c) Pasokan daya listrik darurat (contoh : batere. Setiap komponen dari sub sistem harus diberi label. (c) Pemasangan. Peralatan SPP harus disimpan dengan benar sebelum dipasang. Perlengkapan harus termasuk konduit. Kabel harus termasuk semua penyambung. duct (saluran) kabel. dan impedansinya sesuai dan terpasang dengan benar. isolasi. jelas terlabel nama pengirim. Pengiriman bahan-bahan ke lokasi harus dalam kontainer asli tertutup. roset. model peralatan dan nomor erie identifikasi. Item yang digunakan untuk balansing dan meminimalkan interferensi harus mampu menyalurkan bunyi. UPS) harus dipasang dalam kabinet/lemari terpisah. d) Apabila bedside unit buatan pabrik yang digunakan. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. satu rak kabel atau jalur yang sama. Sekretariat Jenderal. terlindung terhadap kerusakan. Kabinet/lemari ini harus disediakan dekat dengan panel kontrol SPP. (a) Pengiriman. sinyal data dan kontrol dalam kecepatan dan frekuensi yang dipilih. rak kabel. dan memenuhi SNI 04-0225-2000. 2) Konduit. dan logo standar. e) Semua peralatan harus dihubungkan sesuai spesifikasi untuk memastikan terminasi. (b) Penyimpanan.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C (h) Perlengkapan Instalasi. kontraktor harus meminta izin pada pengawas untuk melakukan pemasangan instalasi SPP. tali pengikat. klem dan sebaginya yang dibutuhkan untuk melengkapi kerapihan instalasi. dengan kerugian gesek yang kecil. 1) Kabel. tentang Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL 2000). isolasi tinggi dan dengan perlambatan minimum dari sistem poling atau subcarrier frequency. trap dan pad yang sesuai untuk meminimalkan interferensi dan untuk balansing amplifier dan sitem distribusi. Pemasangan peralatan dan instalasi sistem panggil perawat. Pusat Sarana. 1) Umum. dalam arah yang ditentukan. a) SPP dan sistem alarm kebakaran tidak boleh diletakkan dalam satu konduit. (3) Label. (2). kotak penyambung. penggantung. b) Kontraktor harus menyediakan filter. Pengawas akan meneliti peralatan SPP pada saat itu dan akan menolak terhadap item yang tidak memenuhi syarat.

Radius bengkokan harus tepat. tombol darurat. Jalur kabel harus bebas tersambung antara sambungan konduit dan kotak interface dan lokasi peralatan. apabila rak kabel juga digunakan untuk sirkit elektronik lainnya. Pada sudut-sudut yang tajam harus diberi proteksi. Campuran kabel SPP dan kabel alarm kebakaran tidak dibolehkan. dan sebaginya). kotak tarikan atau kotak persimpangan harus menggunakan plastik atau bahan nylon grommeting. i) Terminasi resistor harus digunakan untuk terminasi semua cabang yang tidak digunakan. (iii) (iv) (v) (vi) Pusat Sarana. Ujung tutup kabel yang keluar melalu lubang rangka dari lemari/kabinet. Tidak diperbolehkan menarik kabel melalui kotak. saluran (duct) kabel dan rak kabel. saluran (duct) kabel dan/atau rak kabel. Digunakan tutup kotak persimpangan dengan ukuran minimum 15 cm x 15 cm x 10 cm (6 inci x 6 inci x 4 inci) diletakkan pada saluran (duct) sinyal. 2) Saluran (duct) Konduit dan Sinyal. h) Semua jalur vertikal dan horizontal harus diterminasi sehingga memudahkan perluasan sistem. (i) Instalasi harus dipasang dengan cara yang benar. Semua kabel harus dipasang dalam konduit terpisah. selubung. Saluran (duct) sinyal dan/atau saluran (duct) kabel harus berukuran minimal 10 cm x 10 cm ( 4 inci x 4 inci) yang dapat dilepas tutup atas atau sampingnya. Sekretariat Jenderal. Isi konduit harus tidak melebihi 40%. DEPKES-RI 31 . Semua persimpangan kabel harus mudah dijangkau. Ukuran diameter minimum konduit 25 mm ( 1 inci) untuk distribusi primer sinyal dan 19 mm ( 3/4 inci) untuk sambungan jauh (contoh lampu dome. harus biberi partisi. Selubung kabel yang tergores tidak dapat diterima. Rak kabel sepenuhnya harus tertutup.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C f) Pemasangan semua peralatan untuk diidentifikasi sesuai dengan gambar. distribusi dan interkoneksi harus diterminasi pada kondisi dapat memfasilitasi fitur perluasan sistem. atau rak. fiting atau selubung jika terjadi perubahan ukuran konduit. a) Konduit. (i) (ii) Harus dapat menggunakan saluran (duct) sinyal. setiap lokasi g) Semua saluran utama. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. (ii) (iii) (iv) b) Saluran (duct) sinyal.

h) Pengujian lengkap kabel setelah semua instalasi dan penggantian kabel yang rusak. g) Kabel harus diberi label dengan tanda permanen pada terminal dari elektronik dan peralatan pasif dan pada setiap persimpangan dengan huruf pada diagram rekaman. Kotak sinyal. dibentuk dan dipasang dengan ikatan yang kuat. kotak sambungan. diikat pada jarak antara 60 cm sampai 90 cm (24 inci sampai 36 inci). kotak belakang dan plat muka. rak . Kabel yang menggantung tidak diperkenankan. Kabel kontrool dan kabel sinyal boleh dijadikan satu kelompok. dibuka atau ditutup. tidak mengganggu pemasangan kabel. konduit. Apabila pintu konsol. Kabel harus dikencangkan dengan perangkat keras yang tidak akan mengganggu. Kabel yang ditempatkan di saluran (duct) sinyal. f) Kabel distribusi harus dipasang dan dikencangkan tanpa menyebabkn bengkokan yang tajam dari kabel terhadap ujung yang tajam. DEPKES-RI 32 . Pusat Sarana. dan harus tidak berubah posisinya dalam kelompok. a) Kabel harus dipasang dengan cara yang praktis seperti pemasangan kabel untuk proteksi kebakaran atau sistem darurat yang teridentifikasi. Kabel harus mampu menahan kondisi lingkungan yang merugikan tanpa perubahan bentuk. kotak persimpangan harus disediakan seperti dipersyaratkan oleh rancangan sistem. Setiap penyambungan kabel harus menggunakan terminator. b) Jalannya kabel antara peralatan SPP ke lemari/kabinet. kotak daya. kabinet/lemari atau rak. kotak distribusi. Sekretariat Jenderal. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. d) Penggunaan kabel yang dipilin tidak dibolehkan.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 3) Kabel distribusi sinyal dari sistem. kontrol. a) Kotak outlet. Pemasangan kabel harus lurus. c) Semua kabel harus terinsulasi untuk mencegah induksi sinyal atau arus yang dibawa oleh konduktor dan 100% terlindung. saluran (duct) kabel. saluran (duct) sinyal atau rak kabel harus dipasang dengan konduit yang terpasang pada struktur bangunan. e) Kabel harus dikelompokkan sesuai pelayanannya. saluran (duct) kabel atau rak harus dibentuk rapih. disesuaikan dalam hubungan horizontal atau vertikal ke peralatan. komponen atau terminator. Kabel harus dibentuk rapih dan posisinya harus tidak berubah dalam kelompok. i) Polaritas input dan output sistem seperti direkomendasi pabrik. kotak interface. 4) Kotak outlet.

saluran (duct) sinyal atau rak kabel sebagai sistem pembumian listrik tidak dibolehkan. Kotak belakan harus disediakan langsung dari manufaktur seperti dipersyaratkan oleh rancangan sistem yang disetujui. dengan frekuensi 50 Hertz. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. 7) Pembumian. 4. Pembumian yang umum menggunakan kabel tembaga solid berukuran #10 AWG harus digunakan pada seluruh kabinet/lemari peralatan dan dihubungkan ke sitem pembumian. Konektor dan jack yang muncul pada plat muka harus jelas dan ditandai permanen. Kabel daya listrik arus bolak balik harus berjalan terpisah dengan kabel sinyal.1 Ohm. a) Umum. Pusat Sarana. dengan frekuensi 50 Hertz. 4. digunakan untuk kontrol sistem. DEPKES-RI 33 . Semua peralatan yang dipasang harus dibumikan untuk mengurangi bahaya kejutan. Suatu instalasi proteksi petir dapat melindungi semua bagian dari bangunan rumah sakit. salah satu panel daya atau kotak kontak outlet. (ii) Menggunakan konduit. termasuk manusia yang ada di dalamnya. Jangan mengikat kabel pembumian peralatan bersama-sama.4 Sistem Kelistrikan (1) Sistem tegangan rendah (TR) dalam gedung adalah 3 fase 220/380 Volt. (i) Jika tidak ada netral arus bolak balik. c) Plat muka (atau plat penutup). dan instalasi serta peralatan lainnya terhadap bahaya sambaran petir. Item ini dapat dipakai hanya untuk pelepasan internal statik yang dibangkitkan.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C b) Kotak belakang. mengikuti ketentuan yang berlaku. Sistem tegangan menengah (TM) dalam gedung adalah 20 KV atau kurang. Perlu disediakan sambungan pembumian yang terpisah dan terisolasi dari setiap pembumian kabinet/lemari peralatan ke sistem pembumian. 6) Daya listrik arus bolak balik. Setiap konektor haru dirancang untuk ukuran kabel khusus yang digunakan dan dipasang dengan perkakas yang disetujui manufaktur. Plat muka harus dari jenis standar. Total tahanan pembumian maksimal harus 0. b) Kabinet/lemari. 5) Konektor. atau acuan pembumian. Sekretariat Jenderal.3 Sistem Penangkal Petir.

b.Intensive Care Unit).Central Operation Theater). Ruang Perawatan Intensif (. DEPKES-RI 34 . Sistem Pembumian (. Intensive Cardiac Care Unit). Sistem kelistrikan RS Kelas C harus dilengkapi dengan transformator isolator dan kelengkapan monitoring sistem IT kelompok 2E minimal berkapasitas 5 KVA untuk titik-titik stop kontak yang mensuplai peralatanperalatan medis penting (. Harus tersedia Ruang UPS minimal 2 X 3 m2 (sesuai kebutuhan) terletak di Gedung COT. ICCU dan diberi pendingin ruangan.grounding). Peralatan panel TM 20 KV dan aksesorisnya. Harus tersedia peralatan UPS (. Persyaratan : a. Kapasitas UPS setidaknya 30 KVA. b. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Peralatan Transformator (kapasitas sesuai daya terpasang). dengan perhitungan 3 KVA per Tempat Tidur (TT).life support medical equipment). Sistem Penerangan Darurat (. Nilai grounding peralatan tidak boleh kurang dari 0. c. d. (6) (7) Pusat Sarana.emergency lighting) harus ruang-ruang tertentu. Genset dilengkapi sistem AMF dan ATS. Peralatan pembantu dan sistem pengamanan (.ICU. Sekretariat Jenderal.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Untuk Rumah Sakit yang memiliki kapasitas daya listrik tersambung dari PLN minimal 200 KVA disarankan agar sudah memiliki sistem jaringan listrik Tegangan Menengah 20 KV (jaringan listrik TM 20 KV). Genset harus disediakan 2 (dua) unit dengan kapasitas minimal 40% dari jumlah daya terpasang pada masing-masing unit.2 Ohm.grounding system) harus terpisah antara grounding panel gedung dan panel alat. Ruang Perawatan Intensif Khusus Jantung (. Penyediaan bangunan gardu listrik rumah sakit (ukuran sesuai standar gardu PLN).Uninterruptable Power Supply) untuk melayani Kamar Operasi (. (2) Instalasi listrik tegangan menengah tersebut antara lain : a. tersedia pada (3) (4) (5) Harus tersedia sumber listrik cadangan berupa diesel generator (Genset). sesuai pedoman bahwa Rumah Sakit Kelas C mempunyai Kapasitas daya listrik ± 300 KVA s/d 600 KVA.

(a) (b) Setiap bangunan rumah sakit harus mempunyai ventilasi alami dan/atau ventilasi mekanik/buatan sesuai dengan fungsinya.60 45 – 60 35 .PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 4.5.HVAC) Sistem Penghawaan (Ventilasi) (1) Umum. Konservasi energi sistem tata udara pada bangunan gedung. kisi-kisi pada pintu dan jendela dan/atau bukaan permanen yang dapat dibuka untuk kepentingan ventilasi alami. pertemuan Ruang luka bakar Suhu (0C) 19 – 24 24 – 26 22 – 24 21 – 24 22 – 26 24 – 26 22 – 23 21 – 24 19 – 24 22 – 26 22 – 26 22 – 30 22 – 30 19 – 24 21 – 24 24 – 26 Kelembaban (%) 45 – 60 45 – 60 45 – 60 45 – 60 35 . (2) Persyaratan Teknis (a) Jika ventilasi alami tidak mungkin dilaksanakan.60 Tekanan Positif Positif Seimbang Seimbang Seimbang Positif Positif Negative Seimbang Positif Seimbang Positif Seimbang Positif Seimbang Positif Pusat Sarana.2000 atau edisi terbaru. mengikuti Persyaratan Teknis berikut: 1) SNI 03 – 6572 . Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Bangunan rumah sakit harus mempunyai bukaan permanen. dan Tekanan Udara Menurut Fungsi Ruang atau Unit.60 45 – 60 35 .60 35 .5 4. (b) 2) 4.2000 atau edisi terbaru. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16. Tata cara perancangan sistem ventilasi dan pengkondisian udara pada bangunan gedung. kebutuhan ventilasi. Sekretariat Jenderal.60 45 – 60 35 .5. No. (a) Untuk kenyamanan termal dalam ruang di dalam bangunan rumah sakit harus mempertimbangkan temperatur dan kelembaban udara. Tabel 4.2. DEPKES-RI 35 .1 Sistem Penghawaan (Ventilasi) dan Pengkondisian Udara (. Ruang atau Unit Operasi Bersalin Pemulihan/perawatan Observasi bayi Perawatan bayi Perawatan premature ICU Jenazah/Otopsi Penginderaan medis Laboratorium Radiologi Sterilisasi Dapur Gawat Darurat Administrasi.60 35 . Kelembaban. maka diperlukan ventilasi mekanis seperti pada bangunan fasilitas tertentu yang memerlukan perlindungan dari udara luar dan pencemaran. Persyaratan teknis sistem ventilasi.5.60 35 .2 – Tabel Standar Suhu. SNI 03 – 6390 . Sistem Pengkondisian Udara (1) Umum.

saat tidak tidur . (a) Rumah sakit tempat tinggal. Sekretariat Jenderal.6 – Tabel Indeks Pencahayaan Menurut Jenis Ruang atau Unit No. disesuaikan dengan fungsi rumah sakit dan fungsi masing-masing ruang di dalam rumah sakit. lab Sinar X Koridor 100 – 200 maks. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Pencahayaan buatan harus direncanakan berdasarkan tingkat iluminasi yang dipersyaratkan sesuai fungsi ruang dalam rumah sakit dengan mempertimbangkan efisiensi.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C (b) Untuk mendapatkan tingkat temperatur dan kelembaban udara di dalam ruangan dapat dilakukan dengan alat pengkondisian udara yang mempertimbangkan : 1) fungsi bangunan rumah sakit/ruang. kemudahan pemeliharaan dan perawatan. DEPKES-RI 36 . 4. Pencahayaan alami harus optimal. penghematan energi yang digunakan. dan prinsip-prinsip penghematan energi dan ramah lingkungan 2) 3) (2) Persyaratan Teknis. 50 300 – 500 10. pendidikan. dan penempatannya tidak menimbulkan efek silau atau pantulan. Setiap rumah sakit untuk memenuhi persyaratan sistem pencahayaan harus mempunyai pencahayaan alami dan/atau pencahayaan buatan/ mekanik. Pencahayaan di RS harus memenuhi standar kesehatan dalam melaksanakan pekerjaannya sesuai standar intensitas cahaya sebagai berikut : (b) (c) (d) Tabel 4. termasuk pencahayaan darurat sesuai dengan fungsinya. Operasi umum Meja operasi Anastesi. dan penggunaan bahan bangunan. dan bangunan pelayanan umum harus mempunyai bukaan untuk pencahayaan alami. orientasi bangunan. volume ruang. letak geografis.000 300 – 500 75 – 100 minimal 60 Minimal 100 Warna cahaya sejuk atau sedang tanpa bayangan Warna cahaya sedang Intensitas Cahaya (lux) Keterangan Pusat Sarana. jenis peralatan.6 Sistem Pencahayaan (1) Umum. 1 2 3 4 5 6 7 Ruang atau Unit Ruang pasien . jumlah pengguna. (2) Persyaratan Teknis. Untuk kenyamanan termal pada bangunan gedung harus memenuhi SNI 03-6572-2001 atau edisi terbaru. pemulihan Endoscopy. pelayanan kesehatan.saat tidur R. Tata cara perancangan sistem ventilasi dan pengkondisian udara pada bangunan gedung.000 – 20.

titik sampel yaitu pada penampungan air (.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Tangga Administrasi/kantor Ruang alat/gudang Farmasi Dapur Ruang cuci Toilet R. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.5 100 – 200 Warna cahaya biru Malam hari 4. Sistem Plambing 2000. Isolasi khusus penyakit Tetanus Ruang luka baker Minimal 100 Minimal 100 Minimal 200 Minimal 200 Minimal 200 Minimal 100 Minimal 100 0. DEPKES-RI 37 . (8) Pemeriksaan kimia air minum dan atau air bersih dilakukan minimal 2 (dua) kali setahun (sekali pada musim kemarau dan sekali pada musim hujan).1 Sistem Fasilitas Sanitasi Persyaratan Sanitasi Persyaratan Sanitasi Rumah Sakit dapat dilihat pada Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1204/MENKES/SK/X/2004.reservoir) bawah atau atas.7 4.7. (5) Distribusi air minum dan air bersih di setipa ruangan/kamar harus menggunakan jaringan perpipaan yang mengalir dengan tekanan positif. (4) Tersedia penampungan air (. (12) Tersedia air bersih untuk keperluan pemadaman kebakaran dengan mengikuti ketentuan yang berlaku. (9) Kualitas air yang digunakan di ruang khusus. Persyaratan Air Bersih (1) Harus tersedia air bersih yang cukup dan memenuhi syarat kesehatan. (6) Penyediaan Fasilitas air panas dan uap terdiri atas Unit Boiler.reservoir) dan keran terjauh dari reservoir.1 – 0. sistem perpipaan dan kelengkapannya untuk distribusi ke daerah pelayanan. atau dapat mengadakan pengolahan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. (2) Tersedia air bersih minimal 500 lt/tempat tidur/hari. tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. (3) Air minum dan air bersih tersedia pada setiap tempat kegiatan yang membutuhkan secara berkesinambungan. penyiapan injeksi dan pengenceran dalam hemodialisis. 4. (7) Dalam rangka pengawasan kualitas air maka RS harus melakukan inspeksi terhadap sarana air minum dan air bersih minimal 1 (satu) tahun sekali. (13) Sistem Plambing air bersih/minum dan air buangan/kotor mengikuti persyaratan teknis sesuai SNI 03-6481-2000 atau edisi terbaru. Sekretariat Jenderal.7.2 Pusat Sarana. sumur bor dan sumber lain untuk keperluan operasi dapat melakukan pengolahan tambahan dengan cartridge filter dan dilengkapi dengan desinfeksi menggunakan ultra violet. (10) RS yang telah menggunakan air yang sudam diolah seperti dari PDAM. seperti ruang operasi. (11) Ruang Farmasi dan Hemodialisis : yaitu terdiri dari air yang dimurnikan untuk penyiapan obat.

PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C

4.7.3

Sistem Pengolahan dan Pembuangan Limbah Persyaratan Pengolahan dan Pembuangan Limbah Rumah Sakit dalam bentuk padat, cair dan gas, baik limbah medis maupun non-medis dapat dilihat pada Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1204/MENKES/SK/X/2004, tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. Persyaratan Penyaluran Air Hujan (1) Umum Sistem penyaluran air hujan harus direncanakan dan dipasang dengan mempertimbangkan ketinggian permukaan air tanah, permeabilitas tanah, dan ketersediaan jaringan drainase lingkungan/kota. (2) Persyaratan Teknis. (a) (b) Setiap bangunan gedung dan pekarangannya harus dilengkapi dengan sistem penyaluran air hujan. Kecuali untuk daerah tertentu, air hujan harus diresapkan ke dalam tanah pekarangan dan/atau dialirkan ke sumur resapan sebelum dialirkan ke jaringan drainase lingkungan/kota sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pemanfaatan air hujan diperbolehkan dengan mengikuti ketentuan yang berlaku. Bila belum tersedia jaringan drainase kota ataupun sebab lain yang dapat diterima, maka penyaluran air hujan harus dilakukan dengan cara lain yang dibenarkan oleh instansi yang berwenang. Sistem penyaluran air hujan harus dipelihara untuk mencegah terjadinya endapan dan penyumbatan pada saluran. Pengolahan dan penyaluran air hujan mengikuti persyaratan teknis berikut: 1) 2) 3) SNI 03-2453-2002 atau edisi terbaru; Tata cara perencanaan sumur resapan air hujan untuk lahan pekarangan. SNI 03-2459-2002 atau edisi terbaru; Spesifikasi sumur resapan air hujan untuk lahan pekarangan. Tata cara perencanaan, pemasangan, dan pemeliharaan sistem penyaluran air hujan pada bangunan gedung.

4.7.4

(c) (d)

(e) (f)

4.8

Sistem Instalasi Gas Medik (1) Umum. Sistem gas medik dan vakum medik harus direncanakan dan dipasang dengan mempertimbangkan jenis dan tingkat bahayanya. (2) Persyaratan Teknis. (a) Persyaratan ini berlaku wajib untuk fasilitas pelayanan kesehatan di rumah sakit, rumah perawatan, fasilitas hiperbarik, klinik bersalin. dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Bila terdapat istilah gas medik atau vakum, ketentuan tersebut berlaku wajib bagi semua sistem perpipaan untuk oksigen, nitrous oksida, udara tekan medik, karbon dioksida, helium, nitrogen, vakum

(b)

Pusat Sarana, Prasarana dan Peralatan Kesehatan, Sekretariat Jenderal, DEPKES-RI

38

PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C

medik untuk pembedahan, pembuangan sisa gas anestesi, dan campuran dari gas-gas tersebut. Bila terdapat nama layanan gas khusus atau vakum, maka ketentuan tersebut hanya berlaku bagi gas tersebut. (c) Sistem yang sudah ada yang tidak sepenuhnya memenuhi ketentuan ini boleh tetap digunakan sepanjang pihak yang berwenang telah memastikan bahwa penggunaannya tidak membahayakan jiwa. Potensi bahaya kebakaran dan ledakan yang berkaitan dengan sistem perpipaan sentral gas medik dan sistem vakum medik harus dipertimbangkan dalam perancangan, pemasangan, pengujian, pengoperasian dan pemeliharaan sistem ini. Identifikasi dan pelabelan sistem pasokan terpusat harus jelas. Silinder/tabung dan kontainer yang boleh digunakan harus yang telah dibuat, diuji, dan dipelihara sesuai spesifikasi dan ketentuan dari pihak berwenang. Isi silinder/tabung harus diidentifikasi dengan suatu label atau cetakan yang ditempelkan yang menyebutkan isi atau pemberian warna pada silinder/tabung sesuai ketentuan yang berlaku. Sebelum digunakan harus dipastikan isi silinder/tabung atau kontainer dengan memperhatikan warna tabung, keterangan isi tabung yang diemboss pada badan tabung, label (bila ada). Label tidak boleh dirusak, diubah penyambung tidak boleh dimodifikasi. Pengoperasian sistem pasokan sentral. 1) Tidak dibenarkan menggunakan adaptor atau fiting konversi untuk menyesuaikan fiting khusus suatu gas ke fiting gas lainnya. Tidak dibenarkan merubah fiting/soket/adaptor yang telah sesuai dengan spesifikasi gas medik. Tidak dibenarkan penggunaan silinder tanpa warna dan penandaan yang disyaratkan. Hanya silinder gas medik dan perlengkapannya yang boleh disimpan dalam ruangan tempat sistem pasokan sentral atau silinder gas medik. Tidak dibenarkan menyimpan bahan mudah menyala, silinder berisi gas mudah menyala atau yang berisi cairan mudah menyala, di dalam ruang penyimpanan gas medik. Bila silinder terbungkus pada saat diterima, pembungkus tersebut harus dibuang sebelum disimpan. Tutup pelindung katup harus dipasang erat pada tempatnya bila silinder sedang tidak digunakan. atau dilepas, dan fiting

(d)

(e) (f)

(g)

(h)

(i) (j)

2) 3) 4)

5)

6) 7)

Pusat Sarana, Prasarana dan Peralatan Kesehatan, Sekretariat Jenderal, DEPKES-RI

39

PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C

(k)

Perancangan dan pelaksanaan. Lokasi untuk sistem pasokan sentral dan penyimpanan gas-gas medik harus memenuhi persyaratan berikut : 1) 2) 3) 4) Dibangun dengan akses ke luar dan masuk lokasi untuk memindahkan silinder, peralatan, dan sebagainya. Dijaga keamanannya dengan pintu atau gerbang yang dapat dikunci, atau diamankan dengan cara lain. Jika di luar ruangan/bangunan, harus dilindungi dengan dinding atau pagar dari bahan yang tidak dapat terbakar. Jika di dalam ruangan/bangunan, harus dibangun dengan menggunakan bahan interior yang tidak dapat terbakar/ sulit terbakar, sehingga semua dinding, lantai, langit-langit dan pintu sekurang-kurangnya mempunyai tingkat ketahanan api 1 jam. Dilengkapi lampu atau indikator pada bagian luar ruang penyimpanan yang menunjukkan kondisi kapasitas gas medis yang masih tersedia. Dilengkapi dengan rak, rantai, atau pengikat lainnya untuk mengamankan masing-masing silinder, baik yang terhubung maupun tidak terhubung, penuh atau kosong, agar tidak roboh. Dipasok dengan daya listrik yang memenuhi persyaratan sistem kelistrikan esensial. Apabila disediakan rak, lemari, dan penyangga, harus dibuat dari bahan tidak dapat terbakar atau bahan sulit terbakar.

5)

6)

7) 8) (l)

Standar dan pedoman teknis. 1) Untuk sistem gas medik pada bangunan gedung, harus dipenuhi SNI 03-7011-2004, tentang ; Keselamatan pada bangunan fasilitas pelayanan kesehatan, atau edisi terakhir. Dalam hal persyaratan diatas belum ada SNI-nya, dipakai Standar baku dan ketentuan teknis yang berlaku.

2)

4.9

Sistem Pengendalian Terhadap Kebisingan dan Getaran (1) Kenyamanan terhadap Kebisingan (a) Kenyamanan terhadap kebisingan adalah keadaan dengan tingkat kebisingan yang tidak menimbulkan gangguan pendengaran, kesehatan, dan kenyamanan bagi seseorang dalam melakukan kegiatan. Gangguan kebisingan pada bangunan gedung dapat berisiko cacat pendengaran. Untuk memproteksi gangguan tersebut perlu dirancang lingkungan akustik di tempat kegiatan dalam bangunan yang sudah ada dan bangunan baru. Untuk mendapatkan tingkat kenyamanan terhadap kebisingan pada bangunan rumah sakit harus mempertimbangkan jenis kegiatan, penggunaan peralatan, dan/atau sumber bising lainnya baik yang berada pada bangunan gedung maupun di luar bangunan rumah sakit.

(b)

(c)

Pusat Sarana, Prasarana dan Peralatan Kesehatan, Sekretariat Jenderal, DEPKES-RI

40

PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C (d) Setiap bangunan rumah sakit dan/atau kegiatan yang karena fungsinya menimbulkan dampak kebisingan terhadap lingkungannya dan/atau terhadap bangunan rumah sakit yang telah ada.saat tidur Maksimum Kebisingan (Waktu pemaparan 8 jam dan satuan dBA) 45 40 45 45 65 40 40 45 45 45 45 78 78 40 80 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 R. Persyaratan kebisingan untuk masing-masing ruangan/ unit dalam RS adalah sebagai berikut : Tabel 4. Sekretariat Jenderal. pemulihan Endoscopy.saat tidak tidur . DEPKES-RI 41 . 1204/Menkes/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan RS. Operasi umum Anastesi. Pusat Sarana.9 – Tabel Indeks Kebisingan Menurut Jenis Ruang atau Unit 3 (e) (f) No. 3 Kepmenkes RI No. 1 Ruang atau Unit Ruang pasien . lab Sinar X Koridor Tangga Kantor/Lobi Ruang Alat/ Gudang Farmasi Dapur Ruang Cuci Ruang Isolasi Ruang Poli Gigi (2) Kenyamanan terhadap Getaran Kenyamanan terhadap getaran adalah suatu keadaan dengan tingkat getaran yang tidak menimbulkan gangguan bagi kesehatan dan kenyamanan seseorang dalam melakukan kegiatannya. Untuk kenyamanan terhadap kebisingan pada bangunan rumah sakit harus dipenuhi standar tata cara perencanaan kenyamanan terhadap kebisingan pada bangunan gedung. getaran mekanik atau seismik baik yang berasal dari penggunaan peralatan atau sumber getar lainnya baik dari dalam bangunan maupun dari luar bangunan. Getaran dapat berupa getaran kejut. harus meminimalkan kebisingan yang ditimbulkan sampai dengan tingkat yang diizinkan. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.

termasuk penyandang cacat. Setiap bangunan rumah sakit harus memenuhi persyaratan kemudahan hubungan horizontal berupa tersedianya pintu dan/atau koridor yang memadai untuk terselenggaranya fungsi bangunan rumah sakit tersebut. (b) (c) (d) 4. Jumlah.10 Sistem Hubungan Horisontal dalam rumah sakit. Penyediaan fasilitas dan aksesibilitas harus mempertimbangkan tersedianya hubungan horizontal antarruang dalam bangunan rumah sakit. Persyaratan Teknis. aman. dan nyaman bagi orang yang berkebutuhan khusus. dan jumlah pengguna. akses evakuasi. tangga berjalan/eskalator. fungsi usaha. (1) Umum. ram. ukuran. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Kelengkapan prasarana disesuaikan dengan fungsi rumah sakit. ukuran. (b) (c) Setiap bangunan rumah sakit dengan ketinggian di atas lima lantai harus menyediakan sarana hubungan vertikal berupa lif. fungsi ruang. dalam suatu ruangan dipertimbangkan berdasarkan besaran ruang. Arah bukaan daun pintu dalam suatu ruangan dipertimbangkan berdasarkan fungsi ruang dan aspek keselamatan. dan konstruksi sarana hubungan vertikal harus berdasarkan fungsi bangunan rumah sakit. serta keselamatan pengguna gedung. fungsi ruang. (a) Kemudahan hubungan ke. DEPKES-RI 42 . Bangunan rumah sakit umum yang fungsinya untuk kepentingan publik. dari. dan di dalam bangunan rumah sakit meliputi tersedianya fasilitas dan aksesibilitas yang mudah. (2) Pusat Sarana. termasuk penyandang cacat. Sekretariat Jenderal. baik berupa fungsi keagamaan. termasuk penyandang cacat. dan jumlah pengguna ruang.11 Sistem Hubungan (Transportasi) Vertikal dalam Rumah Sakit. Setiap bangunan rumah sakit bertingkat harus menyediakan sarana hubungan vertikal antar lantai yang memadai untuk terselenggaranya fungsi bangunan rumah sakit tersebut berupa tersedianya tangga. luas bangunan. dan jumlah pengguna ruang. lif. Ukuran koridor sebagai akses horizontal antarruang dipertimbangkan berdasarkan fungsi koridor. (b) (c) (2) (a) Persyaratan Teknis. termasuk bagi orang yang berkebutuhan khusus. maupun fungsi sosial dan budaya harus menyediakan fasilitas dan kelengkapan sarana hubungan vertikal bagi orang yang berkebutuhan khusus. (1) Umum. (a) Jumlah.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 4. dan jenis pintu. dan/atau lantai berjalan/travelator.

Persyaratan Ramp.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 4. dengan ukuran minimum 160 cm.1 Ramp. (2) Panjang mendatar dari satu ramp (dengan kemiringan 70) tidak boleh lebih dari 900 cm. sebagai alternatif bagi orang yang tidak dapat menggunakan tangga. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Muka datar (bordes) pada awalan atau akhiran dari suatu ramp harus bebas dan datar sehingga memungkinkan sekurang-kurangnya untuk memutar kursi roda dan stretcher.11. DEPKES-RI 43 .a– Tipikal ramp Pusat Sarana. (2) (3) (4) Gambar 4. Lebar minimum dari ramp adalah 120 cm dengan tepi pengaman.11. (1) Umum.1. Ramp adalah jalur sirkulasi yang memiliki bidang dengan kemiringan tertentu. Panjang ramp dengan kemiringan yang lebih rendah dapat lebih panjang. (1) Kemiringan suatu ramp di dalam bangunan tidak boleh melebihi 70. Sekretariat Jenderal. perhitungan kemiringan tersebut tidak termasuk awalan dan akhiran ramp (curb ramps/landing).

PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Gambar 4. Sekretariat Jenderal.11. Gambar 4. DEPKES-RI 44 .d – Pegangan rambat pada ramp.c – Kemiringan ramp. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Pusat Sarana.1.1.1.b– Bentuk-bentuk ramp Gambar 4.11.11.

Sekretariat Jenderal. Lebar tepi pengaman ramp (low curb) 10 cm.f – Pintu di ujung ramp.11. dirancang untuk menghalangi roda dari kursi roda atau stretcher agar tidak terperosok atau ke luar dari jalur ramp.11.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Gambar 4. (1) Umum. Pencahayaan disediakan pada bagian ramp yang memiliki ketinggian terhadap muka tanah sekitarnya dan bagian-bagian yang membahayakan. harus dibuat sedemikian rupa agar tidak mengganggu jalan umum. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Apabila berbatasan langsung dengan lalu lintas jalan umum atau persimpangan.e – Kemiringan sisi lebar ramp.2 Tangga. Gambar 4.11. (7) Ramp harus diterangi dengan pencahayaan yang cukup sehingga membantu penggunaan ramp saat malam hari. Pusat Sarana.1. Ramp harus dilengkapi dengan pegangan rambatan (handrail) yang dijamin kekuatannya dengan ketinggian yang sesuai. Tangga merupakan fasilitas bagi pergerakan vertikal yang dirancang dengan mempertimbangkan ukuran dan kemiringan pijakan dan tanjakan dengan lebar yang memadai. (8) 4. DEPKES-RI 45 .1. (5) (6) Permukaan datar awalan atau akhiran suatu ramp harus memiliki tekstur sehingga tidak licin baik diwaktu hujan.

a – Tipikal tangga Gambar 4. DEPKES-RI 46 . (3) (4) Gambar 4.11. Harus dilengkapi dengan pegangan rambat (handrail). Lebar tangga minimal 120 cm untuk membawa usungan dalam keadaan darurat. Sekretariat Jenderal.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C (2) Persyaratan. (1) (2) (3) Harus memiliki dimensi pijakan dan tanjakan yang berukuran seragam Tinggi masing-masing pijakan/tanjakan adalah 15 – 17 cm.11.2. untuk mengevakuasi pasien dalam kasus terjadinya kebakaran atau ancaman bom Tidak terdapat tanjakan yang berlubang yang dapat membahayakan pengguna tangga.2.b – Pegangan rambat pada tangga Pusat Sarana. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Harus memiliki kemiringan tangga kurang dari 600.

Gambar 4. dinding atau tiang.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C (5) Pegangan rambat harus mudah dipegang dengan ketinggian 65 cm ~ 80 cm dari lantai. Pusat Sarana. harus dirancang sehingga tidak ada air hujan yang menggenang pada lantainya. (6) (7) Gambar 4. DEPKES-RI 47 .11.c – Desain profil tangga.2.d – Detail pegangan rambat tangga Gambar 4.2. bebas dari elemen konstruksi yang mengganggu. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.11.e – Detail pegangan rambat pada dinding.11.2. Sekretariat Jenderal. Pegangan rambat harus ditambah panjangnya pada bagian ujungujungnya (puncak dan bagian bawah) dengan 30 cm. dan bagian ujungnya harus bulat atau dibelokkan dengan baik ke arah lantai. Untuk tangga yang terletak di luar bangunan.

sesuai dengan fungsi dan jumlah pengguna bangunan rumah sakit. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Lif kebakaran dapat berupa lif khusus kebakaran atau lif penumpang biasa atau lif barang yang dapat diatur pengoperasiannya sehingga dalam keadaan darurat dapat digunakan secara khusus oleh petugas kebakaran. dan jalur evakuasi yang dapat menjamin pengguna bangunan rumah sakit untuk melakukan evakuasi dari dalam bangunan rumah sakit secara aman apabila terjadi bencana atau keadaan darurat. (a) Untuk persyaratan sarana evakuasi pada bangunan rumah sakit harus dipenuhi standar tata cara perencanaan sarana evakuasi pada bangunan gedung.3 Lift (Elevator) (1) Umum. (2) (3) (4) (5) 4. Lif penumpang dan lift service dipisah bila dimungkinkan. (2) Persyaratan. DEPKES-RI 48 . (b) Pusat Sarana.11.30 m dan lebar pintunya tidak kurang dari 1. Jumlah. (1) Ukuran lift rumah sakit minimal 1. Setiap bangunan rumah sakit yang menggunakan lif harus tersedia lif kebakaran yang dimulai dari lantai dasar bangunan (ground floor). Sekretariat Jenderal. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum mempunyai SNI. Setiap bangunan rumah sakit harus menyediakan sarana evakuasi bagi orang yang berkebutuhan khusus termasuk penyandang cacat yang meliputi : (a) (b) (c) sistem peringatan bahaya bagi pengguna. dan spesifikasi lif sebagai sarana hubungan vertikal dalam bangunan gedung harus mampu melakukan pelayanan yang optimal untuk sirkulasi vertikal pada bangunan.20 m untuk memungkinkan lewatnya tempat tidur dan stretcher bersama-sama dengan pengantarnya.50 m x 2. (2) Persyaratan Teknis.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 4. kapasitas. Oleh karena itu harus direncanakan dapat menampung tempat tidur pasien. Lift merupakan fasilitas lalu lintas vertikal baik bagi petugas RS maupun untuk pasien.12 Sarana Evakuasi (1) Umum. dapat digunakan standar baku dan pedoman teknis yang diberlakukan oleh instansi yang berwenang. pintu keluar darurat.

(a) Fasilitas dan aksesibilitas meliputi toilet. Konstruksi. serta jumlah pengguna bangunan rumah sakit (b) (2) Persyaratan Teknis. ram. Sekretariat Jenderal. tangga. Tata cara perencanaan akses bangunan dan akses lingkungan untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung. SNI 03-1746-2000 atau edisi terbaru. tempat parkir. DEPKES-RI 49 . (b) 4. dapat digunakan standar baku dan pedoman teknis yang diberlakukan oleh instansi yang berwenang. aman. Ketentuan teknis Ukuran. Aksesibilitas bagi Penyandang Cacat. (a) Guna memberikan kemudahan bagi pengguna bangunan rumah sakit untuk beraktivitas di dalamnya. jalur pemandu. tempat parkir. Ketentuan teknis Kelengkapan Prasarana dan Sarana bangunan rumah sakit. luas. Tata cara perancangan sistem transportasi vertikal dalam gedung (lif). serta fasilitas komunikasi dan informasi. Penyediaan fasilitas dan aksesibilitas disesuaikan dengan fungsi. Pusat Sarana. pintu.13 Aksesibilitas Penyandang Cacat (1) Umum. toilet. Perencanaan sarana dan prasarana dalam bangunan rumah sakit mengikuti: (a) SNI 03-1735-2000 atau edisi terbaru. SNI 03-6573-2001 atau edisi terbaru. Penyediaan prasarana dan sarana disesuaikan dengan fungsi dan luas bangunan rumah sakit. (2) Persyaratan Teknis. Jumlah Fasilitas dan (b) (c) (d) (e) (f) (g) Dalam hal persyaratan di atas belum mempunyai SNI. setiap bangunan rumah sakit untuk kepentingan umum harus menyediakan kelengkapan prasarana dan sarana pemanfaatan bangunan rumah sakit. Ketentuan teknis Prasarana dan Sarana pemanfaatan Bangunan rumah sakit dan Kelengkapannya . Setiap bangunan rumah sakit. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. nyaman dan mandiri. dan ketinggian bangunan rumah sakit. harus menyediakan fasilitas dan aksesibilitas untuk menjamin terwujudnya kemudahan bagi penyandang cacat dan lanjut usia masuk dan keluar ke dan dari bangunan rumah sakit serta beraktivitas dalam bangunan rumah sakit secara mudah.14 Prasarana/Sarana Umum.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 4. (1) Umum. telepon umum. dan lif bagi penyandang cacat dan lanjut usia. meliputi: ruang ibadah. Tata cara perencanaan dan pemasangan sarana jalan keluar untuk penyelamatan terhadap bahaya kebakaran pada bangunan gedung. tempat sampah. rambu dan marka.

kursi. lemari berkas/arsip. yaitu tempat pemeriksaan pasien pertama dalam rangka pemeriksaan lebih lanjut di dalam tahap pengobatan penyakit. lemari alat periksa & obat. Ruang di mana keluarga atau pengantar pasien menunggu panggilan di depan ruang poliklinik. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.1. serta perangkat kerja lainnya. Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas Nama Ruangan Ruang Tunggu Utama.1. Meja. antara lain :  Klinik Penyakit Dalam  Klinik Anak  Klinik Bedah  Klinik Kebidanan dan Penyakit Kandungan 2) Klinik tambahan/pelengkap antara lain:  Klinik Mata  Klinik Telinga Hidung dan Tenggorokan (THT)  Klinik Gigi dan Mulut  Klinik Kulit dan Kelamin  Klinik Syaraf  Klinik Jiwa  Klinik Rehabilitasi Medik  Klinik jantung  Klinik Paru  Klinik Bedah Syaraf  Klinik Ortopedi  Klinik Kanker  Klinik Nyeri  Klinik Geriatri Kebutuhan Ruang. perjalanan penyakit. penyelidikan. Televisi & AC (bila RS mampu) Kursi Dokter. Pembayaran biaya pelayanan medik.4 m2/poli) 12~25 m2/ poli Meja. Ruang tempat dokter spesialis melakukan pemeriksaan dan konsultasi dengan pasien Kebutuhan Ruang/Luas 1~1. Meja. Televisi & Alat Pengkondisi Udara (AC / Air Condition) Meja & kursi kerja. telepon & intercom. tempat tidur periksa. Ruang ini digunakan untuk menyelenggarakan kegiatan administrasi. Meja Konsultasi. 12 m2) 3~5 m2/ petugas (min. meliputi : 1. dan kelengkapan lainnya. 16 m2) 4 Ruang Rekam Medis 12~16 m2/ 1000 kunjungan pasien / hari ( untuk 5 tahun) 1~1. safety box 5.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C BAGIAN – V URAIAN BANGUNAN RUMAH SAKIT 5. diagnosis. pemeriksaan dan pengobatan pasien oleh dokter ahli di bidang masing-masing yang disediakan untuk pasien yang membutuhkan waktu singkat untuk penyembuhannya atau tidak memerlukan pelayanan perawatan. lemari arsip.1 INSTALASI RAWAT JALAN Fungsi Instalasi Rawat Jalan adalah sebagai tempat konsultasi.5 m2/ orang (min. Pendataan pasien rawat jalan 2.2 No. 2 (dua) kursi hadap. kursi. komputer 5 Ruang Tunggu Poli Ruang Periksa & Konsultasi Dokter Spesialis Kursi. Poliklinik juga berfungsi sebagai tempat untuk penemuan diagnosa dini. DEPKES-RI 50 . Biasanya langsung berhubungan dengan loket pendaftaran. 1 2 3 3~5 m2/ petugas (min. proses pengobatan dan tindakan medis serta dokumentasi hasil pelayanan. terdiri dari 4 Klinik Spesialistik dasar. komputer personal. 12 m2) Kebutuhan Fasilitas Kursi. 6 Pusat Sarana. Sekretariat Jenderal. Tempat menyimpan informasi tentang identitas pasien. lemari arsip.1 Lingkup Sarana Pelayanan Kebutuhan sarana pelayanan Rumah Sakit Kelas C terdiri dari: 1) Poli Umum. 5.5 m2/ orang (min. • Loket Kasir Fungsi Ruang tunggu pasien (dan pengantar pasien) saat melakukan pendaftaran Tempat kegiatan administratif ASKES Rumah Sakit dilaksanakan. Ruang Pengendali ASKES Ruang Administrasi • Loket Pendaftaran Pasien. intercom/telepon. tangga roolstool.

autoklaf. dental chair. senter. tongspatel. termometer rektal. defibrillator. dan pengobatan pasien penyakit dalam oleh dokter Sp. penyelidikan. lensa & kacamata coba tes. penyelidikan. anastesi local set. tambalan sewarna gigi dan set bedah mulut dengan sinar laser. set orthodonsi piranti lepas. meja resusitasi anak dan bayi.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 7 Ruang Tindakan Poli Penyakit Dalam Ruang tempat konsultasi. standar infus. wastafel/sink Lemari alat. 12~25 m2/ poli Meja. stetoskop. sendok penekan lidah. stetoskop. dilator pungtum & jarum anel. garpu tala. tongue spatel. 12~25 m2/ poli 12 Ruang Tindakan/ Diagnostik Poli Umum Ruang tempat konsultasi. ENT diagnostik instrument set. alat penghisap lendir. pemeriksaan. set preparasi mahkota dan jembatan. dan pengobatan pasien penyakit syaraf Ruang tempat konsultasi. pengobatan. single channel EKG. ENT unit. flash light. sigmoidoskopi. stand Waskom. sphygmomanometer (tensimeter). peralatan diagnostic kulit dan kelamin. lemari obat/alat. head light. tensimeter. pap smear kit. sterilisator basah. penyelidikan. pemeriksaan. DEPKES-RI 51 . Stetoskop laenec. tensimeter. pemeriksaan. set penyemenan. Mikroskop binocular. tangenscreen & bjerrum. indirect inlay set Timbangan badan. suction unit. meja kebidanan. meja. lampu operasi. 12~25 m2/ poli 10 Ruang Tindakan/ Diagnostik Poli THT Ruang tempat konsultasi. Set cetak GTS/GTP & mahkota/ jembatan. oxygen set dan flowmeter. funduskopi. spatel lidah. stetoskop bayi. Meja. penyelidikan. timbangan badan/tinggi badan. sendok penekan lidah. amalgam set. instrument troly. standar infus. Ruang tempat konsultasi. alat resusitasi. 12~25 m2/ poli 8 Ruang Tindakan / Diagnostik Poli Anak Ruang tempat melakukan tindakan atau diagnostik terhadap pasien anak. meja instrumen. suction pump. termometer aksila. set diagnostik. 12~25 m2/ poli 12 Ruang Tindakan/ Diagnostik Poli Kulit dan Penyakit Kelamin Ruang Tindakan/ Diagnostik Poli Syaraf Ruang tempat konsultasi. set resusitasi bayi. minor surgery set/ unit diagnostic & treatment. palu refleks. pemeriksaan. ultra sonografi EKG. buku ishihara 14 plate.untuk pasien dapat berjalan & maks. set aktivar. gelas objek dan gelas cover set. trakeostomi set. resusitasi set. preparation cavitas set. pemeriksaan. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.. tempat tidur periksa. anak & dewasa. placido test. alat punch biopsi. stetoskop. streak retinoskopi. 6~12 m2 10 Ruang Tindakan/ Diagnostik Poli Bedah Ruang tempat konsultasi. licht kaas. exodontia set. set resusitasi anak lengkap dg defribilator. gelas objek & cover set. kartu jager. 12~25 m2/ poli 13 12~25 m2/ poli 14 Ruang Tindakan/ Diagnostik Poli Jiwa 12~25 m2/ poli 11 Toilet (petugas. stetoskop. timbangan+pengukur tinggi. sterilisator. palu reflek. tempat tidur periksa. headlamp. set diagnostik. gunting perban. diagnostic set. alat sinar. pemeriksaan. hertel exopthalmometer. spekulum hidung. dan pengobatan pasien oleh dokter umum. suction pump. pemeriksaan. dan pengobatan pasien penyakit THT. implant kit. lid retractor. Kampimeter. audiometer. termometer. 12~25 m2/ poli 11 Ruang Tindakan/ Diagnostik Poli Gigi dan Mulut Ruang tempat konsultasi. glass lonometer lengkap. Instrumen bedah gigi dan mulut (dental operating instrument). untuk pasien berkursi roda) Kloset. Dental unit. scaler set. IUD kit & injeksi KB. lampu periksa. 12~25 m2/ poli 9 Ruang Tindakan/ Diagnostik Poli Mata Ruang tempat konsultasi. stand waskom Slitlamp. Doppler. wastafel. Ophtalmoskop. timbangan ibu. meja ginekologi. 12~25 m2/ poli 11 Ruang Tindakan/ Diagnostik Poli Kebidanan/ Kandungan Ruang tempat melakukan tindakan atau diagnostic kebidanan terhadap pasien. reflex hammer. Kursi. Poforceps biopsy. meja periksa. stetoskop anak. penyelidikan. set diagnostic syaraf. Kolposkopi. penyelidikan. instrument set tindakan dan operasi kulit dan kelamin. kursi & meja dokter. lampu batere.Pd. anaskopi. stetoskop. alat tes sensasi. kursi. meja periksa. dan pengobatan pasien kejiwaan. penyelidikan. tensimeter. sterilisator table model. lemari alat. penyelidikan. flourscein strips. lokal anastesi set. set insersi GTS/GTP. reflex hammer. lup. tensimeter. meja resusitasi bayi. set pemeriksaan ginekologi. kacamata pembesar. pengunjung) KM/WC @ KM/WC pria/ wanita luas +2 – 3 m2 (min. tindakan terhadap pasien. elektrokauter. Sekretariat Jenderal. stetoskop linen. cotton roll holder. dental row standar. film viewer. film viewer. kursi periksa. opthalmoskop. termometer. peralatan laboratorium teknik gigi dasar. pemeriksaan. tensimeter. composite resin lengkap khusus fissure sealent. laringoskop. dan pengobatan pasien penyakit gigi dan mulut. lensmeter. lampu periksa. USG. gunting perban. termometer. pemeriksaan. Paediatric trolley. korentang. spatula kimura. tonometer schiotz. kartu snellen. tensimeter dg manset untuk bayi. scale/timbangan. indirect/binocular opthalmoskop. kursi. lampu senter. 9 Ruang Laktasi Ruang khusus bagi ibu yang menyusui anaknya. incubator. stetoskop. ECG. emergency cart. cold chain. set diagnostik. dan pengobatan pasien penyakit kulit dan kelamin. flash light & penggaris. laringoskop. Set diagnostik dan stimulator syaraf dan jiwa. timbangan badan/tinggi badan. penyelidikan. loupe. palu reflek. bak air Pusat Sarana. tensimeter. senter. dan pengobatan pasien penyakit mata.

tidak perlu ada ruang sterilisasi.Radiologi . Sekretariat Jenderal. harus cukup luas. 3.1. 7. 5. dll Dirujuk ke klinik spesialis lain/ RS lain R. 2. Pada tiap ruangan harus ada wastafel (air mengalir). Diusahakan ada pemisahan ruang tunggu pasien untuk penyakit infeksi dan non infeksi.1.Laboratorium . namun pada beberapa Poliklinik seperti Poli Gigi/THT/Bedah tetap harus ada ruang sterilisasi.4 – Alur Kegiatan Pada Instalasi Rawat Jalan Pusat Sarana. Poli-poli yang ramai sebaiknya tidak saling berdekatan. Rawat Inap Pulang Gambar 5.3 Persyaratan Khusus Konsep dasar poliklinik pada prinsipnya ditetapkan sebagai berikut : 1. Alur Kegiatan Alur kegiatan pada instalasi rawat jalan dapat dilihat pada bagan alir berikut :  Pasien Datang tanpa Rujukan  Pasien Datang dengan Rujukan 5. Bila konsep Rumah Sakit dengan Sterilisasi Sentral.1. Sirkulasi petugas dan sirkulasi pasien dipisahkan. Periksa Poli umum / spesialis Dokter Perawat Alat Pasien Staf Alat Dirawat di Inst. 8. Tunggu Penunjang Medik: . Prasarana dan Peralatan Kesehatan.Fisioterapi. mudah dicapai dari bagian administrasi. karena alat-alat yang digunakan harus langsung disterilkan untuk digunakan kembali (bila pasien banyak). Ruang tunggu di poliklinik. Letak Poliklinik berdekatan dengan jalan utama.4 Pendaftaran Awal (pasien baru) / Ulang (& rekam medik) R. Sistem sirkulasi pasien dilakukan dengan satu pintu (sirkulasi masuk dan keluar pasien pada pintu yang sama). 4. 9. Poli anak tidak diletakkan berdekatan dengan Poli Paru. Letak poli jauh dari ruang incenerator. 6.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 5. sebaiknya Poli Anak dekat dengan Poli Kebidanan. DEPKES-RI 52 . IPAL dan bengkel ME. bagian radiologi dan laboratorium. berhubungan dekat dengan apotek. terutama oleh bagian rekam medis.

safety box. Memiliki dokter spesialis empat besar yang siap panggil (on-call).anak). Pelayanan Kegawatdaruratan Anak 4.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 5. bag valve Mask (dewasa. Cito Depo Farmasi. B. Cito Operation. 1 Ruang Administrasi dan loket pendaftaran 3~5 m2/ petugas (min. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.2. DEPKES-RI 53 . label Area terbuka dengan/ tanpa penutup. Breathing. chest tube. Tempat menyimpan informasi tentang identitas pasien. Cito Lab. kanul oksigen. Fungsi Besaran Ruang / Luas Kebutuhan Fasilitas 5. Pelayanan Kegawatdaruratan Kardiovaskuler Kebutuhan Ruang. 5. 12-20 m2 Pusat Sarana.2 INSTALASI GAWAT DARURAT Setiap Rumah Sakit wajib memiliki pelayanan gawat darurat yang memiliki kemampuan : • Melakukan pemeriksaan awal kasus – kasus gawat darurat • Melakukan resusitasi dan stabilisasi. kursi. Pembayaran biaya pelayanan medik. Resusitasi Ruangan yang dipergunakan untuk melakukan tindakan resusitasi terhadap pasien. kursi. Ruang tempat memilah-milah tingkat kegawatdaruratan pasien dalam rangka menentukan tindakan selanjutnya terhadap pasien. 3 m2/ pasien bencana 6 R. dan peralatan kantor lainnya. orofaringeal. Meja. False Emergency (Kegawatan tidak darurat) 2. Pelayanan Kegawatdaruratan Bedah 2. 16 m2) Kursi. Ruang ini perlu disediakan tempat duduk dengan jumlah yang sesuai aktivitas pelayanan. 16 m2 Tt periksa. oksigen mask (dewasa/anak). Pelayanan Kegawatdaruratan pada UGD : 1. Cito Radiodiagnostik. Cito/ Emergency High Care Unit (HCU). Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas Nama Ruangan RUANG PENERIMAAN Ruang ini digunakan untuk menyelenggarakan kegiatan administrasi. dapat berfungsi sekaligus sebagai ruang tindakan. 3. Penandatanganan surat pernyataan dari keluarga pasien IGD. Pendataan pasien IGD 2. 3. proses pengobatan dan tindakan medis serta dokumentasi hasil pelayanan. laringoskop set anak. Pelayanan di Unit Gawat Darurat rumah sakit harus dapat memberikan pelayanan 24 jam secara terus menerus 7 hari dalam seminggu. nasotrakeal. 16 m2) Meja. Biasanya langsung berhubungan dengan loket pendaftaran. laringoskop set dewasa. 7. meliputi : 1. filing cabinet/lemari arsip. Sekretariat Jenderal.2. komputer 4 Ruang Triase Min. trakeostomi set. perjalanan penyakit.1 Lingkup Sarana Pelayanan A. Pelayanan Kegawatdaruratan Penyakit Dalam 5. A. fasilitas air bersih dan drainase Nasoparingeal. 6. 2 Ruang Tunggu Pengantar Pasien 1~1. diagnosis. Circulation) serta memiliki alat transportasi untuk rujukan dan komunikasi yang siaga 24 jam 5. Ruang Persiapan Bencana Massal RUANG TINDAKAN Min. Ruang di mana keluarga/ pengantar pasien menunggu. Ruang tempat persiapan penanganan pasien korban bencana massal. wastafel. orotrakeal. lemari berkas/arsip. Pelayanan Kegawatdaruratan Obgyn 3. Televisi & Alat Pengkondisi Udara (AC / Air Condition) 3 Ruang Rekam Medis Sesuai kebutuhan Meja. 4. 5 B. intercom/telepon. Program Pelayanan pada UGD : True Emergency (Kegawatan darurat) 1. suction.5 m2/ orang (min. kit pemeriksaan sederhana. Cito Darah. dokter umum yang siaga di tempat (on-site) dalam 24 jam yang memiliki kualifikasi pelayanan GELS (General Emergency Life Support) dan atau ATLS + ACLS dan mampu memberikan resusitasi dan stabilisasi ABC (Airway.2 No.

Dokter 9-16 m2 18 Ruang Pos Perawat (. set laparoscopy. (mobile ECG. vena section set. film viewer Ket : kedua ruangan ini bisa digabung atau dipisah. USG (boleh ada/tidak). 4 m2 Meja. Ruangan tempat penyimpanan peralatan medik yang setiap saat diperlukan. suction. asuhan dan pelayanan keperawatan (pre dan post conference. Film viewer. Min. 12 13 RUANG PENUNJANG MEDIS Ruang Farmasi/ Obat Ruang Linen Steril Ruang tempat menyimpan obat untuk keperluan pasien gawat darurat. lampu kepala. set vascular. Kegiatan dalam ruang ini yaitu : Ruang untuk melakukan pembedahan pada pasien. Imobilization set (neck collar. tiang infus. Min. resusitasi set. set bedah dasar. defibrilator. 16 m2 8 R. lemari. Observasi Ruangan yang dipergunakan untuk melakukan observasi terhadap pasien setelah diberikan tindakan medis. set sectiosesaria. film viewer. Min. infusion set. wastafel. torakosintesis set. set nephrotomi. Persiapan dan kamar Operasi) : Ket : boleh ada/tidak 1.2 m2/ tempat tidur 11 R. set orthopedic. vacuum set. tempat tidur. Inkubator. 12-25 m2 R. 6 m2 Oksigen. 16 Laboratorium Standar Min. Ruang untuk melakukan tindakan medis pada pasien anak. untuk melakukan perencanaan. 4 m2 Lemari obat Lemari 14 Ruang Alat Medis Min. Peralatan yang disimpan diruangan ini harus dalam kondisi siap pakai dan dalam kondisi yang sudah disterilisasi. set bedah plastik emergency. meja instrumen. tindakan Min. oksigen medis. film viewer Kumbah lambung set. tiang infus. 6 m2 Lemari instrument 15 R. DEPKES-RI 54 . Tempat untuk melaksanakan kegiatan diagnostik cito. EKG. infusion set. otoscope set. vena section. stetoskop. NGT. Ruang pemeriksaan laboratorium yang bersifat segera/cito. set bedah anak. Meja periksa. 7. termometer D. brankar 2. nebulizer. monitor. torakosintetis set. meja/kursi. tapi untuk beberapa jenis pemeriksaan tertentu. Radiologi Min. Ruang Pemulihan C. gluko stick. tempat tidur. set urologi emergency. tempat tidur. forcep set. tiang infus. irigator. tiang infus. lampu (mobile /statis). nebulizer. partus set. suction. endoscopy surgery. jarum spinal boleh ada/tidak). dressing set. 2. set neurosurgery. long spine board. Ruang Dokter terdiri dari 2 bagian : 1.Nurse Station) Min. dokumentasi s/d evaluasi pasien. automatic film processor. Ruang Operasi 10 + 36 m2 Meja operasi. oksigen medis.2 m2/ tempat tidur periksa Tempat tidur periksa. dan film viewer boleh ada/tidak) Lab rutin. infussion pump. film viewer R. 4 m2 Mobile X-Ray. R. kimia darah. RUANG OBSERVASI Ruang perawatan pasien pasca bedah Min. warmer. monitor. Tindakan Bedah Ruang untuk melakukan bedah ringan pada pasien. set laparatomi.Pos perawat harus terletak di pusat blok yang dilayani agar perawat dpt mengawasi pasiennya secara efektif. Operasi (R. metal kauter. pulse oximeter. wastafel. infusion pump. ECG. linen. wound toilet set.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 7 R. oksigen 3. monitor set. tempat tidur. pengorganisasian. film viewer. Ruang kerja. doppler. pengaturan jadwal). kndrik extrication device. scoop strechter. syringe pump. tindakan 12-25 m2 Kuret set. Tempat penyimpanan bahan-bahan linen steril. Tindakan Anak 12-25 m2 crico/trakeostomi. suction bayi baru lahir. apron timbal. Pusat Sarana. suction.Tindakan Kebidanan 9 Ruang untuk melakukan kebidanan pada pasien. Ruang Persiapan Ruang untuk mempersiapkan pasien sebelum memasuki r. termometer. Tt pasien. splint. Tindakan Non Bedah Ruang untuk melakukan tindakan non bedah pada pasien. Ruang istirahat/kamar jaga. NGT. stetoskop. sofa. Sekretariat Jenderal. CTG. bedah. urine bag. mesin anastesi. 3 m2 Min. R. kursi. elektrolit. tensimeter. poliklinik set. laennec. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. 7. (analisa gas darah boleh ada/tidak) Tempat tidur. 4 m2 17 R. tiang infus. set apendiktomi. (syrine pump. ventilator transport. meja ginekologi.

9.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 19 Ruang Perawat Ruang istirahat perawat Ruang tempat Kepala IGD melakukan manajemen instalasinya. meja/kursi. Bedah Sentral. 11. Untuk bangunan RS yang berbentuk bangunan bertingkat banyak (Super Block Multi Storey Hospital Building) yang memiliki ataupun tidak memiliki lantai bawah tanah (Basement Floor) maka perletakan IGD harus berada pada lantai dasar (Ground Floor) atau area yang memiliki akses langsung. Area IGD harus terletak pada area depan atau muka dari tapak RS. Pusat Sarana. diantaranya pembuatan program kerja dan pembinaan. Letak bangunan IGD disarankan berdekatan dengan BDRS (Bank Darah Rumah Sakit) atau UTDRS (Unit Transfusi Darah Rumah Sakit) 24 jam. 12. wastafel Lemari. 7. 3 m2 5. Brankar Min.3 Persyaratan Khusus 1. KM/WC Tempat pelaksanaan sterilisasi instrumen dan barang lain yang diperlukanan di Instalasi Gawat Darurat. Area IGD disarankan untuk memiliki pintu masuk kendaraan yang berbeda dengan pintu masuk kendaraan ke area Instalasi Rawat Jalan/Poliklinik. 13. 2 m2 Min. 4. 6. Fasilitas untuk membuang kotoran bekas pelayanan pasien khususnya yang berupa cairan. R. komputer. printer dan peralatan kantor lainnya. 9-16 m2 Sofa. Letak bangunan IGD disarankan berdekatan dengan Inst. 3. 5. Gas Medis Troli Tt pasien 23 24 25 R. 4 m2 Workbench. Sekretariat Jenderal. pengunjung) 4-6 m2 Kloset leher angsa. Toilet (petugas. IGD disarankan untuk memiliki Area yang dapat digunakan untuk penanganan korban bencana massal (Mass Disasster Cassualities Preparedness Area). keran air bersih (Sink) Ket : tinggi bibir kloset + 80-100 m dari permukaan lantai 2 21 @ 2 m – 3m 2 22 R.2. 8. Gas Medis R. Instalasi rawat Inap serta Area Zona Servis dari rumah sakit. Laboratorium. Area IGD harus mudah dilihat serta mudah dicapai dari luar tapak rumah sakit (jalan raya) dengan tanda-tanda yang sangat jelas dan mudah dimengerti masyarakat umum. Tempat menyimpan gas medis. DEPKES-RI 55 . 3 m2 Min. 1 sink/ 2 sink lengkap dengan instalasi air bersih & air buangan. Letak bangunan IGD disarankan berdekatan dengan Inst. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Sterilisasi Min. meja/kursi. Lemari instrumen sebagai penyimpanan instrumen yang belum disterilkan dan berada dalam tromol/pak. Parkir Troli R. Tempat parkir troli selama tidak diperlukan Tempat meletakkan tempat tidur pasien selama tidak diperlukan. 2. Letak bangunan IGD disarankan berdekatan dengan Unit Rawat Inap Intensif (ICU (Intensive Care Unit)/ ICCU (Intensive Cardiac Care Unit)/ HCU (High Care Unit)). Disarankan pada area untuk menurunkan atau menaikan pasien (Ambulance Drop-In Area) memiliki sistem sirkulasi yang memungkinkan ambulan bergerak 1 arah (One Way Drive / Pass Thru Patient System). lemari. 20 Ruang Kepala IGD 8-16 m2 21 Gudang Kotor (Spoolhoek/Dirty Utility). Letak bangunan IGD disarankan berdekatan dengan Unit Kebidanan. Letak bangunan IGD disarankan berdekatan dengan Instalasi Radiologi. Spoolhoek berupa bak atau kloset yang dilengkapi dengan leher angsa (water seal). 10. Untuk tapak RS yang berbentuk memanjang mengikuti panjang jalan raya maka pintu masuk kearea IGD harus terletak pada pintu masuk yang pertama kali ditemui oleh pengguna kendaraan untuk masuk kearea RS. sofa.

Pusat Sarana. dapur kecil/pantry.2. pelayanan medis.2.3. Rawat Inap  Inst.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 5. • Rehab Medik (Pelayanan Fisioterapi dan Konsultasi). Bedah  Inst. bab. mandi. gizi. Kebidanan & Penyakit Kandungan  Inst. • Konsultasi Anestesi. Pelayanan penunjang medik : • Konsultasi Radiologi. pelayanan kebutuhan keluarga pasien (berdoa. 2). DEPKES-RI 56 . Sekretariat Jenderal. 3). 5. • Pengambilan Sample Laboratorium. Pelayanan medik (Pra dan Pasca Tindakan Medik). konsultasi medis). • Gizi (Diet dan Konsultasi). Penunjang Medik  dll Ruang Observasi Pulang Gambar 5. Pelayanan keperawatan.3 5.1 INSTALASI RAWAT INAP Lingkup Sarana Pelayanan Lingkup kegiatan di Ruang Rawat Inap rumah sakit meliputi kegiatan asuhan dan pelayanan keperawatan. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. menunggu pasien.4 Alur Kegiatan Alur kegiatan Pada Instalasi Gawat Darurat dapat dilihat pada bagan alir berikut: Area Persiapan Bencana Massal Pasien Infeksius Pasien & Pengantar Pasien Pengantar Pasien Dekontaminasi Pasien Infeksius Pintu Masuk UGD Pasien Loket Pendaftaran TRIASE (dokter umum) Ruang Tunggu Ruang Resusitasi Ruang Tindakan Bedah Ruang Tindakan Non Bedah Ruang Tindakan Anak & Kebidanan  Inst. • Farmasi (Depo dan Klinik). Pelayanan kesehatan di Instalasi Rawat Inap mencakup antara lain : 1).4 – Alur Kegiatan Pada Instalasi Gawat Darurat. administrasi pasien. rekam medis.

 Apabila Ruang Rawat Inap tidak berada pada lantai dasar. Dokter Ruang Perawat 9-16 m2 9-16 m2 Tempat tidur. KM/WC Sebagai tempat untuk menyiapkan makanan dan minuman bagi petugas di Ruang Rawat Inap RS. komputer. pengorganisasian asuhan dan pelayanan keperawatan (pre dan post-confrence. sofa. Ruangan untuk melakukan tindakan pada pasien baik berupa tindakan invasive ringan maupun non-invasive Ruang untuk menyelenggarakan kegiatan administrasi khususnya pelayanan pasien di Ruang Rawat Inap. yaitu berupa registrasi & pendataan pasien. lemari. lemari. wastafel 8 Ruang kepala instalasi rawat inap 8-16 m2 Lemari. sink.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 5. pengaturan jadwal). kursi. Kursi. cuci (. pengunjung) Dapur Kecil (. (sofa untuk ruang perawatan VIP). meja/kursi. 9 Ruang Linen Bersih Min. Pada ruang ini terdapat area basah. nurse call. printer dan peralatan kantor lainnya. kamera CCTV 5. wastafel. peralatan kantor lainnya Lemari alat periksa & obat.2 No.Ramp) atau Lift Khusus untuk mencapai ruangan tersebut. 4-6 m2 Kloset leher angsa. maka harus ada tangga landai (. Pusat Sarana. Kursi. Ruang utk melakukan perencanaan. Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas Nama Ruangan Fungsi Ruang untuk pasien yang memerlukan asuhan dan pelayanan keperawatan dan pengobatan secara berkesinambungan lebih dari 24 jam.3. Administrasi/ Kantor 3~5 m2/ petugas (min.3 Persyaratan Khusus  Perletakan ruangannya secara keseluruhan perlu adanya hubungan antar ruang dengan skala prioritas yang diharuskan dekat dan sangat berhubungan/ membutuhkan. Ruang istirahat perawat Ruang tempat kepala ruangan melakukan manajemen asuhan dan pelayanan keperawatan diantaranya pembuatan program kerja dan pembinaan. sehingga blok unit sebaiknya sirkulasinya dibuat secara linier/lurus (memanjang). Ruang untuk menyimpan alat-alat kebersihan/cleaning service. 4 m2 Lemari 10 Ruang Linen Kotor Min. 1. telepon/intercom Tersedia peralatan keperawatan sesuai dengan kemampuan pelayanan yang ada. Spoolhoek berupa bak/ kloset yang dilengkapi dengan leher angsa (water seal).  Kecepatan bergerak merupakan salah satu kunci keberhasilan perancangan. 2. dan perlengkapan dapur lainnya.Laundry). wastafel.3. Ruang untuk melakukan konsultasi oleh profesi kesehatan kepada pasien dan keluarganya. Sekretariat Jenderal. 4-6 m2 Lemari/rak 16 Ruang Evakuasi Pasien Sesuai kebutuhan Instalasi telepon.  Konsep Rawat Inap yang disarankan “Rawat Inap Terpadu (Integrated Care)” untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan ruang. keran air bersih (Sink) Ket : tinggi bibir kloset + 80-100 m dari permukaan lantai 12 KM/WC (pasien. Fasilitas untuk membuang kotoran bekas pelayanan pasien khususnya yang berupa cairan. lemari obat. printer dan peralatan kantor lainnya 6 7 R. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. lemari arsip. Lemari 13 14 Gudang Bersih Janitor/ Ruang Petugas Kebersihan Min. Ruang Perawatan 2 Ruang Stasi Perawat (. perawatan sebelum dibawa ke r. Meja. meja. komputer. televisi. Kursi. 6 m2 Kloset. meja/kursi. lampu periksa.2 m2 Min. tirai pemisah bila ada. bak air Kursi+meja untuk makan. Tempat penyimpanan bahan-bahan linen steril/ bersih. tempat tidur periksa. telepon/intercom. 6 m2 15 Min. Ruang Dokter terdiri dari 2 bagian : 1. lemari arsip. 7. telepon/ intercom. Ruangan tempat penyimpanan alatalat medis dan bahan-bahan habis pakai yang diperlukan. Besaran Ruang / Luas Tergantung Kelas & keinginan desain.Pantry) @ KM/WC pria/wanita luas 2 m2 – 3 m2 Min. Meja. Ruangan untuk evakuasi pasien bila terjadi bencana internal pada ruang perawatan (khususnya pada bangunan bertingkat. meja/kursi.9 m2) Meja. Sofa. lemari. tiang infus dan kelengkapan lainnya. wastafel. tangga roolstool. petugas. kebutuhan ruang 1 tt min.Nurse Station) 3 Ruang Konsultasi 4 Ruang Tindakan 12-25 m2 5 R. 8 m2 (Ket : perhitungan 1 stasi perawat untuk melayani maksimum 25 tempat tidur) 9-16 m2 Kebutuhan Fasilitas Tempat tidur pasien. Ruangan untuk menyimpan bahanbahan linen kotor yang telah digunakan di r. dokumentasi sampai dengan evaluasi pasien. Kebutuhan Ruang. 4 m2 Bak penampungan linen kotor 11 Gudang Kotor (Spoolhoek/Dirty Utility). Ruang istirahat/kamar jaga. sofa. penandatanganan surat pernyataan keluarga pasien apabila diperlukan tindakan operasi. Ruang kerja. lemari arsip. DEPKES-RI 57 . alat monitoring untuk pemantauan terus menerus fungsi2 vital pasien.

ganggrein. tidak rontok dan tidak menghasilkan debu/kotoran lain. Alur petugas dan pengunjung dipisah. Tipe R.3.Pasien yang gaduh gelisah (mengeluarkan suara dalam ruangan) Stasi perawat harus terletak di pusat blok yang dilayani agar perawat dapat mengawasi pesiennya secara efektif. Sinar matahari pagi sedapat mungkin masuk ruangan. Rawat Inap adalah Super VIP. dsb). mudah dibersihkan. diabetes. Ruang Rawat Inap anak disiapkan 1 ruangan neonatus. aman dan nyaman tetapi tetap memiliki kemudahan aksesibilitas dari sarana penunjang rawat inap.3. Kelas II (4 tempat tidur) dan Kelas III (6 tempat tidur) Khusus untuk pasien-pasien tertentu harus dipisahkan seperti : . Plafon harus rapat dan kuat. Sekretariat Jenderal. Lantai harus kuat dan rata tidak berongga.4 Bangunan Ruang Rawat Inap harus terletak pada tempat yang tenang (tidak bising).4 – Alur Kegiatan Pasien. bahan tidak mudah terbakar. DEPKES-RI 58 . maksimum melayani 25 tempat tidur.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C            5. VIP. . Alur Kegiatan Alur kegiatan pada instalasi rawat inap dapat dilihat pada bagan alir berikut : Kamar Mayat Dokter Perawat Laundri Ruang Ganti (Loker) Ruang Linen Bersih Ruang Dokter Ruang Perawat Gudang Bersih Meninggal Dunia Ruang Konsultasi Pos Perawat Ruang Linen Kotor Ruang Rawat Inap Spoolhoek & Gudang Kotor Pasien Pulang Sehat Ruang Tunggu Pengantar Ruang Administrasi & Pendaftaran INSTALASI RAWAT INAP Instalasi Gawat Darurat Pasien+Pengantar Instalasi Bedah Instalasi Rawat Jalan Pasien+Pengantar Instalasi ICU Pasien+Pengantar Pasien+Pengantar Gambar 5.Pasien yang menderita penyakit menular. Masing-masing ruang Rawat Inap 4 spesialis dasar mempunyai ruang isolasi. Petugas dan Alat Pada Instalasi Rawat Inap. .Pasien dengan pengobatan yang menimbulkan bau (seperti penyakit tumor. Pertemuan dinding dengan lantai disarankan berbentuk lengkung agar memudahkan pembersihan dan tidak menjadi tempat sarang debu/kotoran. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Pusat Sarana. Kelas I (2 tempat tidur). bahan penutup lantai dapat terdiri dari bahan vinyl yang rata atau terasso keramik dengan nat yang rata sehingga abu dari kotoran-kotoran tidak tertumpuk.

Kebutuhan Ruang. meja/kursi Tempat tidur. Pusat Sarana. alat kateterisasi vena sentral dan manometernya. wastafel. lampu tindakan. lemari. suction thorax.1 INSTALASI PERAWATAN INTENSIF (. tournique untuk pemasangan akses vena. Sekretariat Jenderal. central gas. Electrolite analyzer. dalam keadaan yang membutuhkan pemantauan khusus dan terus menerus.4. lemari. simple face mask. 4-16 m2 (dengan memperhatikan sirkulasi tempat tidur pasien didepannya) Kursi. suction yang setara dengan ruang operasi. oxygen tent. anastesi apparatus. sungkup laring dan alat bantu jalan nafas lainnya. ECG monitoring system. alat/sistem pemberian oksigen (nasal canule. beberapa ukuran plester/pita perekat medik. Dokter Daerah rawat Pasien ICU : (a) Daerah rawat pasien non isolasi 9-16 m2 6-9 m2 9-16 m2 Tempat tidur. meletakkan sepatu/alas kaki sebelum masuk daerah rawat pasien dan sebaliknya setelah keluar dari daerah rawat pasien. dan lain lain. sofa. central suction. asuhan dan pelayanan keperawatan selama 24 jam (pre dan post conference. bedside monitor. heart rate monitor. pipa nasofaring. Kamar yang mempunyai kekhususan teknis sebagai ruang perawatan intensif yang memiliki batas fisik modular per pasien. dinding serta bukaan pintu dan jendela dengan ruangan ICU lainnya. Ruang istirahat/ kamar jaga. meja. 1 set alat resusitasi. blood gas analyzer. berbagai ukuran pipa endotrakeal dan konektor. kapnografi. meja/kursi Tempat tidur. Instalasi ICU (Intensive Care Unit (ICU) merupakan unit pelayanan khusus di rumah sakit yang menyediakan pelayanan yang komprehensif dan berkesinambungan selama 24 jam. lemari obat. temperatur monitor. Ruang tempat tidur berfungsi untuk merawat pasien lebih dari 24 jam. Ruang Dokter terdiri dari 2 bagian : 1. 6-9 m2 Lemari loker 2 3 3 4 Ruang Perawat Ruang Kepala Perawat R. peralatan portable untuk transportasi. peralatan infus intravena dengan berbagai ukuran kanul intravena dan berbagai macam cairan infus yang sesuai. 1 Loker (Ruang ganti). Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas Nama Ruangan Fungsi Tempat ganti pakaian. defebrilator monovasik. dokumentasi s/d evaluasi pasien. unit/alat foto rontgen mobile.4. lemari barang habis pakai. 16 m2 /tt 5 Sentral monitoring/nurse station. nonrebreathing face mask). sterilisator. elektrokardiografi reader. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. alat pemantauan untuk tekanan darah non-invasive. sofa. lemari. 12 m2 /tt (b) Daerah rawat pasien isolasi Min. blood pressure monitor. syringe untuk mengembangkan balon endotrakeal dan klem.2 No.ICU) Lingkup Sarana Pelayanan Merupakan instalasi untuk perawatan pasien yang dalam keadaan sakit berat sesudah operasi berat yang memerlukan secara intensif pemantauan ketat dan tindakan segera. 1 set laringoskop dengan berbagai ukuran bilahnya. forsep magill. Mobile XRay. Ruang kerja. defibrilator bivasik. dilengkapi toilet Peralatan ICU di RS Kelas C terdiri dari : Ventilator sederhana. komputer. Pos perawat harus terletak di pusat blok yang dilayani agar perawat dpt mengawasi pasiennya secara efektif. central patient vital sign. Ruang istirahat perawat. tempat tidur khusus ICU. yang diperuntukan bagi staf medis maupun non medis dan pengunjung. haemodialisis unit. sphigmomanometer. berbagai ukuran orofaring. gunting.4 5. sofa. DEPKES-RI 59 .PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 5. pengaturan jadwal). 2. 6 Gudang alat medik Ruang untuk melakukan perencanaan. temperatur. Ruang kerja dan istirahat kepala perawat. Min. meja/kursi. respiration monitor. pompa infus dan pompa syringe. 6-16 m2 Respirator/ventilator. peralatan drainase thoraks. berbagai ukuran introduser untuk pipa endotrakeal dan bougies. pengorganisasian. alat HD. printer. Peralatan ICU di RS Kelas B terdiri dari : Peralatan seperti di RS kelas C ditambah dengan sebagai berikut : Elektrokardiograf monitor. Besaran Ruang / Luas (+) Kebutuhan Fasilitas 5. oksimeter nadi. mobile X-Ray unit. Ruang penyimpanan alat medik yang setiap saat diperlukan.

11. Harus tersedia pengatur kelembaban udara. 2. Disarankan sirkulasi udara yang dikondisikan seluruhnya udara segar (. instalasi radiologi dan instalasi bedah sentral. DEPKES-RI 60 . 10. 8 Ruang Administrasi 6-16 m2 Meja kerja. Min. keran air bersih (Sink) Ket : tinggi bibir kloset + 80-100 m dari permukaan lantai 7 Ruang tunggu keluarga pasien. lemari berkas/arsip dan telepon/interkom. Penyimpanan Silinder Gas Medik R. Ruang ini berada pada bagian depan instalasi ICU dengan dilengkapi loket atau Counter. 3. 13. laboratorium.fresh air). 9. Perlu disiapkan titik grounding untuk peralatan elektrostatik. termasuk untuk barang-barang steril. Ruang untuk menyelenggarakan kegiatan administrasi khususnya pelayanan pendaftaran dan rekam medik internal pasien di instalasi ICU. udara bertekanan dan suction). Tersedia aliran Gas Medis (O2. televisi & Telp umum (bila RS mampu). Parkir Brankar @ KM/WC pria/wanita luas 2 m2 – 3m2 4 – 8 m2 Tabung Gas Medis 11 12 2-6 m2 Brankar (stretcher) 5. Ruangan tempat penyimpanan barang-barang dan peralatan untuk kebersihan ruangan. komputer. 4-12 m2 Lemari/kabinet alat 4-6 m2 Kloset leher angsa. 12 m2 Tempat duduk. terdapat penyedot asap bila terjadi kebakaran. 8. Temperatur ruangan harus terjaga tetap dingin. 9 Janitor/ Ruang cleaning service 4-6 m2 Lemari/rak 10 Toilet (petugas. Peralatan yang disimpan diruangan ini harus dalam kondisi siap pakai dan dalam kondisi yang sudah disterilisasi. Tempat parkir brankar selama tidak ada kegiatan pembedahan atau selama tidak diperlukan. Fasilitas untuk membuang kotoran bekas pelayanan pasien khususnya yang berupa cairan. Terdapat pintu evakuasi yang luas dengan fasilitas ramp apabila letak instalasi ICU tidak pada lantai dasar. 4. Spoolhoek berupa bak atau kloset yang dilengkapi dengan leher angsa (water seal). Gedung harus terletak pada daerah yang tenang. Pintu kedap asap & tidak mudah terbakar.4. Aliran listrik tidak boleh terputus. Pada ruangan ini terdapat area basah KM/WC R. Tempat menyimpan tabungtabung gas medis cadangan. Tempat penyimpanan instrumen dan barang habis pakai yang diperlukan untuk kegiatan di ruang ICU. Letak bangunan instalasi ICU harus berdekatan dengan instalasi gawat darurat. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. 12. Harus bebas dari gelombang elektromagnetik dan tahan terhadap getaran. pengunjung) R. 5. 6. 7. Pusat Sarana.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 5 Gudang bersih (Clean Utility) 6 Gudang Kotor (Spoolhoek/Dirty Utility). printer dan perlengkapan kantor lainnya. Tempat keluarga/ pengantar pasien menunggu. Ruang ICU/ICCU sebaiknya kedap api (tidak mudah terbakar baik dari dalam/dari luar).3 Persyaratan Khusus 1. Pertemuan dinding dengan lantai dan pertemuan dinding dengan dinding tidak boleh berbentuk sudut/ harus melengkung agar memudahkan pembersihan dan tidak menjadi tempat sarang debu dan kotoran. Sekretariat Jenderal.

4 – Alur Kegiatan Pada Instalasi ICU.4.4 Alur kegiatan. Daerah rawat Pasien Instalasi ICU 5. DEPKES-RI 61 . penyakit kandungan dan kelainan kehamilan. Dalam rangka meningkatkan kesehatan ibu dan anak telah ditetapkan bahwa Sarana Pelayanan Kesehatan Kabupaten/Kota Bahwa 75% RS di Kab/Kota menyelenggarakan PONEK (penambahan ruangan untuk Emergency Ibu & Anak) 5. Ruang Tunggu Pengantar Instalasi Rawat Inap Ruang Jenazah Pulang Sehat Gambar 5. Gudang Kotor (DU) 9. Pelayanan persalinan meliputi : pemeriksaan pasien baru. asuhan persalinan kala II (pertolongan persalinan).1 Pusat Sarana. operasi myoma uteri.4. Pelayanan gangguan kesehatan reproduksi/penyakit kandungan.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 5. 5. monitor pasien serta lampu operasi). Pelayanan KB (Keluarga Berencana). 3. Alur Kegiatan di Instalasi ICU ditunjukkan pada bagan alir berikut : Laundri/ CSSD Perawat 1. Ruang Dokter 6. 4. Pelayanan tindakan/operasi kebidanan Pelayanan tindakan/operasi kebidanan adalah untuk memberikan tindakan. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. 5. operasi sectio caesaria.5 INSTALASI KEBIDANAN DAN PENYAKIT KANDUNGAN (OBSTETRI DAN GINEKOLOGI) Lingkup Sarana Pelayanan Pelayanan di Fasilitas Kebidanan Rumah Sakit Kelas C meliputi : 1. infeksi. Pelayanan persalinan. Loker Dokter Instalasi Gawat Darurat Instalasi Bedah 2. pre eklampsi/eklampsi). Gudang Alat Medik 7. Gudang Bersih (CU) 4. meja operasi. dll. dan asuhan bayi baru lahir. Sntral Monitoring/Nurse Station Instalasi Rawat Inap 8. Pelayanan nifas. Pelayanan gangguan kesehatan reproduksi penyakit kandungan meliputi pelayanan keguguran. asuhan persalinan kala I. misalnya ekserpasi polip vagina. Ruang Perawat 3. Kegiatan ini dilakukan pada ruang operasi yang berada di Instalasi Bedah Sentral dan baru dapat dilaksanakan pada Instalasi Kebidanan apabila telah memiliki peralatan operasi yang memadai (misalnya peralatan anaestesi.5. Sekretariat Jenderal. 2. Pelayanan nifas meliputi : pelayanan nifas normal dan pelayanan nifas bermasalah (post sectio caesaria.

alat resusitasi bayi. Tempat ganti pakaian. timbangan dan pengukur panjang bayi. meja kerja. 6 m2 Lemari instrumen. Televisi & Alat Pengkondisi Udara (AC/ Air Condition) Set partus. set AVM/kuretase. Tt pasien. kasa dan kapas. Ruang untuk istirahat perawat/ petugas lainnya setelah melaksanakan kegiatan pelayanan atau tugas jaga. Min. Kegiatan administrasi meliputi :  Pendataan pasien.6 m2) Meja. resusitasi set bayi. 16 m2) Kursi. emergency light. blue lamp therapy. Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas Nama Ruangan Fungsi Ruang untuk menyelenggarakan kegiatan administrasi khususnya pelayanan pasien di ruang kebidanan dan kandungan. lemari arsip. klem tali pusar). KM/WC Ruang tempat penyimpanan peralatan Min. doppler. 9 m2 7 Gudang Steril (. Administrasi dan pendaftaran 3~5 m2/ petugas (min. Sekretariat Jenderal. DEPKES-RI 62 . inkubator. infusion set.5 m2/ orang (min. tempat ganti popok bayi. Ruang untuk pengantar pasien menunggu selama pasien menjalani proses persalinan/ tindakah bedah. Instumen berada dalam Tromol tertutup dan disimpan di dalam lemari instrument. meja. keran air bersih (Sink) Ket : tinggi bibir kloset + 80-100 m dari permukaan lantai Kloset. Ruang untuk menyiapkan makanan bagi pasien dan para petugas instalasi kebidanan dan kandungan. bak air 4-6 m2 13 14 KM/WC (petugas. Spoolhoek berupa bak atau kloset yang dilengkapi dengan leher angsa (water seal). sink mandi bayi Ruang Bersalin/ Kala I-II-III (labour & delivery) 3 (Minimal RS memiliki kapasitas untuk 4 meja berrsalin) Ruang sebagai tempat dimana pasien melahirkan bayinya termasuk kegiatankegiatan untuk tindakan saat persalinan. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. kasa steril dan kapas yang telah disterilkan juga dapat disimpan di ruangan ini. Kursi. Besaran Ruang / Luas Kebutuhan Fasilitas 1 R. penghangat. lemari berkas/arsip dan telepon/ interkom. kasa dan kapas. tensimeter. Kebutuhan Ruang.Recovery)/ Kala IV Ruang pemulihan pasien pasca melahirkan yang memerlukan perawatan kualitas tinggi dan pemantauan terus menerus. microwave. staf medis/ non medis untuk berganti pakaian atau alas kaki sebelum masuk ke r. wastafel. cardiotocograph (CTG). USG. doek. kompor. telepon/intercom. rak sepatu bersih. Ruang tempat kerja dan istirahat dokter dilengkapi dengan KM/WC.dan sebaliknya setelah keluar dari ruang kebidanan dan kandungan.2 No. O2 set. wastafel. 6 m2 Meja.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 5. infuse set.  Pembayaran (Kasir). 9-16 m2 Tempat tidur. Ruang ini berada pada bagian depan instalasi/r. meja.  Penandatanganan surat pernyataan keluarga pasien (jika diperlukan tindakan operasi). 12 m2/ tempat tidur 4 Ruang Tindakan Ruang tempat melakukan tindakan kebidanan dan penyakit kandungan Min. Meja. sink Kloset leher angsa. 12 m2/ tempat tidur 5 Ruang Pemulihan (. sofa. celemek plastik. celemek plastik. stetoskop. kursi. suction apparatus. wastafel. Set partus. tensimeter. bak air Kloset. sarung tangan. set minor surgery. sarung tangan.clean utility) 8 Ruang ganti pakaian/ loker 9 Ruang dokter 10 Ruang perawat/ Petugas 11 Pantri 12 Gudang Kotor (Spoolhoek/Dirty Utility).2 m2/ tempat tidur 6 Ruang Bayi Ruang tempat bayi setelah dilahirkan Min. oksigen Tempat tidur bayi. stand infuse. sepatu/alat kaki sebelum masuk ke. kulkas. set kebidanan (minimal : forceps. Bahan-bahan lain seperti linen. emergency light. doek. 7. lampu periksa. sofa. kebidanan & kandungan. 6 m2 Loker. stand infuse. Min. Tromol @ Min. O2 set./ suatu ruangan yang diperuntukkan bagi para pengunjung. Min. resusitasi set dewasa. printer dan peralatan kantor lainnya 2 Ruang Tunggu Pengantar Pasien 1~1. timbangan bayi. vakum ekstraktor. tiang infus. wastafel. set minor surgery. lampu periksa. klem hemostasis arteri. komputer. 3 m2 Pusat Sarana. pengunjung) Janitor @ KM/WC pria/wanita luas 2 m2 – 3 m2 Mi. Kamar jaga harus berada di bagian depan sehingga mempermudah semua pihak yang memerlukan pelayanan pasien. kebidanan & kandungan dengan dilengkapi loket. Ruang tempat penyimpanan instrumen yang telah disterilkan. wastafel 9-16 m2 Tempat tidur. monitor pasien. resusitasi set dewasa. suction apparatus. gunting tali pusar. tensimeter. stetoskop. Fasilitas untuk membuang kotoran bekas pelayanan pasien khususnya yang berupa cairan.5.

2. tapi sebaiknya dilakukan dengan sistem rawat gabung. 7.6. Tempat untuk parkir brankar selama tidak ada kegiatan pelayanan pasien atau selama tidak diperlukan. Terdapat pintu evakuasi yang luas dengan fasilitas ramp apabila letak instalasi kebidanan dan penyakit kandungan tidak pada lantai dasar. 6. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Ruang bayi dan ruang pemulihan ibu disarankan berdekatan untuk memudahkan ibu melihat bayinya. Bidan & Perawat 5. Letak bangunan instalasi kebidanan dan penyakit kandungan harus mudah dicapai. Limbah padat medis yang dihasilkan dari kegiatan kebidanan dan penyakit kandungan ditempatkan pada wadah khusus berwarna kuning bertuliskan limbah padat medis infeksius kemudian dimusnahkan di incenerator.3 Persyaratan Khusus 1. DEPKES-RI 63 . 3. Harus disediakan pintu ke luar tersendiri untuk jenazah dan bahan kotor yang tidak terlihat oleh pasien dan pengunjung. Sekretariat Jenderal.4 Pasien & Pengantar Pasien Pengantar Pasien Ruang Ganti & Loker Administrasi & Pendaftaran Pasien Ruang Tunggu Ruang Tindakan Ruang Persiapan Ruang Bersalin Ruang Operasi Ruang Pemulihan Ruang Rawat Inap Ruang Bayi Pulang Pusat Sarana. Alur Kegiatan Pada Instalasi Kebidanan dan Penyakit Kandungan ditunjukkan pada bagan alir berikut : Dokter. ICU dan Instalasi Bedah Sentral.5. Min. Untuk persyaratan ruang operasi kebidanan dapat dilihat pada poin 5. 9. Memiliki sistem sirkulasi udara yang memadai dan tersedia pengatur kelembaban udara untuk kenyamanan termal. disarankan berdekatan dengan instalasi gawat darurat. 5.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 15 Parkir Brankar kebersihan/cleaning service.5. 8. Alur kegiatan. 2 m2 Brankar 5. 4. Bagunan harus terletak pada daerah yang tenang/ tidak bising. Memiliki sistem proteksi dan penanggulangan terhadap bahaya kebakaran. apabila tidak memiliki ruang operasi atau ruang tindakan yang memadai.

brankar (apabila tidak memiliki ruang induksi. meja operasi. Ruang untuk pengantar pasien menunggu selama pasien menjalani proses bedah. lampu operasi. peralatan anastesi) Ruang anaestesi (. Televisi & Alat Pengkondisi Udara (AC / Air Condition) Wastafel dengan 2 keran. DEPKES-RI 64 . Membersihkan/mencukur bagian tubuh yg perlu dicukur. 36 m2 Set operasi minor. perlengkapan cuci tangan (sikat kuku. set operasi mayor. nebulizer. plastik dan rekonstruksi berat. electro surgery unit. Kegiatan dalam ruang ini yaitu : Penggantian pakaian penderita. asisten dan semua petugas yang akan mengikuti kegiatan dalam kamar bedah.5 m2/ orang (min. Ruang yang digunakan untuk persiapan anaestesi/pembiusan. laringoskopi. Ruang yang digunakan untuk mempersiapkan pasien sebelum memasuki kamar bedah. 24 m2 7 Ruang bedah umum (minimal 2 ruang) Ruang untuk melakukan kegiatan pembedahan umum/general. stool fixed height. Pelayanan bedah pada rumah sakit kelas C meliputi : 1.anaestesi maka persiapan anaestesi juga dilaksanakan di ruang ini.6 5. 12 m2) Kebutuhan Fasilitas 1 R. instrumen troli tiang infuse. jam operasi.COT/Central Operation Theatre) Lingkup Sarana Pelayanan Instalasi bedah. endotrakeal tube.6.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Gambar 5. electro surgery unit. electro surgery unit. Bedah minor (antara lain : bedah insisi abses. defibrillator. urologi. lampu operasi. 5. Sekretariat Jenderal. lampu petunjuk operasi. • Pemasangan infus. head lamp unit. set Pusat Sarana. linen. lampu petunjuk operasi. head lamp unit.2 No.6. handuk 2 3 Min. orthopedic.1 INSTALASI BEDAH SENTRAL (. sphygmomanometer. headlamp. printer dan peralatan kantor lainnya Kursi. sphygmomanometer). Meja. oksigen. Trakeostomi set. scavenging unit. Ruang ini dilengkapi loket pendaftaran. serta lemari pendingin dan lemari simpan hangat. suction pump.4 – Alur Kegiatan Pada Instalasi Kebidanan dan Penyakit Kandungan. Trakeostomi set. komputer. 36 m2 8 Ruang bedah sub Ruang untuk melakukan kegiatan Min. Bedah umum dan bedah sub spesialistik (antara lain: kebidanan. telepon/intercom. infusion pump. 2. Min. meja operasi. Melepas semua perhiasan dan menyerahkan ke keluarga pasien Apabila tidak ada r. onkologi/tumor. Min. dll). syringe pump jam operasi. • Memberikan kesempatan kepada pasien untuk menenangkan diri. defibrillator.Induction room) 5 Ket : Bisa digabungkan dengan ruang persiapan Min. kardiotorasik dan vaskuler) Kebutuhan Ruang. Administrasi dan pendaftaran Ruang Tunggu Pasien dan Pengantar Pasien Ruang untuk cuci tangan (scrub station) Meja. sabun. set operasi minor. yang membutuhkan kondisi steril dan kondisi khusus lainnya. laparotomi set. suction unit. oksigen. oksigen. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. ekstirpasi. adalah suatu unit khusus di rumah sakit yang berfungsi sebagai tempat untuk melakukan tindakan pembedahan secara elektif maupun akut. 5. patient monitor (minimal memiliki fungsi : SpO2 monitor/spirometer. ekstraksi kuku / benda asing. • Memberikan penjelasan kepada pasien mengenai tindakan yang akan dilaksanakan. Besaran Ruang / Luas 3~5 m2/ petugas (min. set operasi mayor. 3 m2 4 Ruang persiapan (. Ruang untuk cuci tangan dokter ahli bedah. Kegiatan yang dilakukan di kamar ini adalah sebagai berikut : • Mengukur tekanan darah pasien. laparoskopik set.9 m2) 1~1.Preparation room) Min. 9 m2 Suction Unit Sphygmomanometer Thermometer Trolley Instrument Infusion stand 6 Ruang bedah minor (minimal 1 ruang) Ruang untuk melakukan kegiatan pembedahan minor. ECG 1 channel. perlengkapan dan mesin Anaestesi (bila diperlukan). maka dilengkapi dengan alat : suction Unit. anak. Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas Nama Ruangan Fungsi Ruang untuk menyelenggarakan kegiatan administrasi khususnya pelayanan bedah. skort plastik/karet. meja operasi. tumor kecil jinak pada kulit. sirkumsisi). Kursi. 9 m2 Alat cukur. thermometer.5. laser coagulator. lemari arsip. scavenging unit. respirator.

alat resusitasi bayi 9 Ruang Resusitasi Neonatus 10 Ruang Pemulihan/ PACU (. urologi. Jalan masuk barang-barang steril harus terpisah dari jalan keluar barangbarang & pakaian kotor. infusion pump.laparoskopik set. mastektomi set. Ruang jaga harus berada di bagian depan shg mempermudah semua pihak yang memerlukan pelayanan bedah. Pada kamar ganti sebaiknya disediakan lemari pakaian/locker dengan kunci dipegang oleh masingmasing petugas. KM/WC Tempat parkir brankar selama tidak ada kegiatan pembedahan atau selama tidak diperlukan. Tromol. Sekretariat Jenderal. bedah kardiotorasik. 9-16 m2 Tempat tidur. USG. sofa. Model meja strilisasi. dll 4-6 m2 Container 4-6 m2 Kloset leher angsa. electro surgery unit. bedah. 6 m2 Lemari instrumen. Tempat pelaksanaan sterilisasi instrumen dan barang lain yang diperlukan untuk pembedahan. cough examination. incubator perawatan bayi. lemari instrument @ Min. orthopedic set. meja operasi. 9-16 m2 Meja + kursi diskusi. stool fixed height. ECG 1 channel. sphygmomanometer). Min. pengunjung) Parkir brankar @ KM/WC pria/wanita luas 2 m2 – 3 m2 2 Kloset. Di kamar sterilisasi harus terdapat lemari instrumen untuk menyimpan instrumen yang belum disterilkan.clean utility) 12 Ruang Sterilisasi 13 Ruang loker ganti pakaian/ 14 15 Depo Farmasi Ruang dokter 16 Ruang perawat 17 Ruang Diskusi Medis 18 Gudang Kotor (Dirty Utility). nebulizer. 4 m2 Autoklaf. untuk dilakukan tindakan resusitasi terhadap bayi. bak air 21 Brankar/ stetcher 5. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. atau dicuci di londri dan disterilkan di CSSD. laparotomi set I (standar). meja operasi. Ruang pemulihan pasien pasca operasi yang memerlukan perawatan kualitas tinggi dan pemantauan terus menerus. laparotomi set II (ditambah alat khusus untuk prosedur tertentu). laringoskopi. Tempat tidur bayi.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C spesialistik (minimal 2 ruang) pembedahan sub spesialistik. humby knife. sebelum petugas masuk ke area r. wastafel. mobile C-arm. Ruang/ tempat menyimpan obatobatan untuk keperluan pasien. Ruang tempat penyimpanan instrumen yang telah disterilkan. 9 m2 Min. keran air bersih (Sink) Ket : tinggi bibir kloset + 80-100 m dari permukaan lantai 20 KM/WC (petugas. meja. troli instrumet. tiang infus. jam operasi.6. Ruang tempat istirahat dokter dilengkapi dengan KM/WC. Spoolhoek berupa bak/ kloset yang dilengkapi dengan leher angsa (water seal). patient monitor (minimal memiliki fungsi : SpO2 monitor/spirometer. operasi minor. meja. kasa steril dan kapas yang telah disterilkan juga dapat disimpan di ruangan ini. Ruang untuk diskusi para operator kamar operasi sebelum melakukan tindakan pembedahan. infusion set. lampu petunjuk operasi. l electro surgery unit. Ruang untuk istirahat perawat/ petugas lainnya setelah melakukan kegiatan pembedahan atau tugas jaga. Tromol Min. wastafel. syringe pump. 7.3 Persyaratan Khusus 1. endotrakeal tube. Bahan-bahan lain seperti linen.Post Anesthetic Care Unit) 11 Gudang Steril (. parotidektomi set. lampu operasi. wastafel. head lamp unit. sofa. Pembagian daerah sekitar kamar bedah: Pusat Sarana. 19 Spoolhoek Ruangan yang dipergunakan untuk menempatkan bayi baru lahir melalui operasi caesar. Fasilitas untuk membuang kotoran bekas pelayanan pasien khususnya yang berupa cairan.2 m2/ tempat tidur Tt pasien. monitor set. scavenging unit. oksigen Min. Ruang tempat penyimpanan sementara barang dan bahan setelah digunakan untuk keperluan operasi sebelum dimusnahkan ke insenerator. Ruang untuk ganti pakaian. DEPKES-RI 65 . suction unit. Instumen berada dalam Tromol tertutup dan disimpan di dalam lemari instrument. 4 m2 Loker Min. 3 m2 9-16 m2 Lemari obat Tempat tidur. meja sink. 1. defibrillator. oksigen. thyroidektomy set.

Pergantian udara yang dianjurkan sekitar 18-25 kali/jam. koridor. Sistem AC Sentral. tidak rontok dan tidak menghasilkan debu/kotoran lain. bahan tidak mudah terbakar. untuk mencegah terjadinya nosokomial. artinya daerah yang boleh dimasuki oleh semua orang tanpa syarat khusus. f. dan sudah ada pembatasan tentang jenis pakaian yang dipakai petugas-petugas ini (pakaian khusus atau lepas-sandal/sepatu. e. Plafon harus rapat dan kuat. mudah dibersihkan. 5. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. maka kelembaban maksimum 50%). h. Daerah ASEPTIK. 4. dan sebagainya). artinya daerah ini hanya boleh dimasuki oleh orangorang tertentu saja. Pertemuan dinding dengan lantai dan dinding dengan dinding harus melengkung agar mudah dibersihkan dan tidak menjadi tempat sarang abu dan kotoran. Tekanan udara yang positif di dalam kamar pembedahan. k. b. umumnya dianggap daerah yang harus dijaga ke-sucihama-annya. yaitu dimaksudkan dengan daerah tempat dilakukannya pembedahan dan sekitarnya (lapangan bedah). d. j. 2. Kelembaban ruang yang dianjurkan 70% (jika menggunakan bahan anaestesi yang mudah terbakar. yang hanya boleh dimasuki oleh orang-orang yang langsung ada hubungannya dengan kegiatan pembedahan saat itu. i. c. b. yang diletakkan dengan ketinggian diatas 2 m. Lantai harus kuat dan rata atau ditutup dengan vinyl yang rata atau teras sehingga debu dari kotoran-kotoran tidak tertumpuk. g.6. suhu kamar operasi yang ideal 26 – 280C yang harus terjaga kestabilannya dan harus menggunakan filter absolut untuk menjaring mikroorganisme. yaitu daerah kamar bedah sendiri. c. Daerah ini misalnya : ruang tunggu. Sekretariat Jenderal. selasar kamar bedah. Setiap 2 kamar operasi harus dilayani oleh setidaknya 1 ruang scrub up.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C a. Daerah Semi Publik. Harus ada kaca tembus pandang di dinding ruang operasi yang menghadap pada sisi dinding tempat ahli bedah mencuci tangan. Harus disediakan pintu ke luar tersendiri untuk jenazah dan bahan kotor yang tidak terlihat oleh pasien dan pengunjung.4 Alur kegiatan. Penerangan alam menggunakan jendela mati. 3. Alur Kegiatan Pada Instalasi Bedah Sentral ditunjukkan pada bagan alir berikut : Pusat Sarana. Di daerah ini sering masih ada istilah tambahan: yaitu apa yang disebut daerah ‘HIGH-ASEPTIC’. dengan demikian akan mencegah terjadinya infeksi ‘airborne’. yaitu para petugas. Pintu kamar operasi yang ideal harus selalu tertutup selama operasi. Pintu harus yang mudah dibuka dengan sikut. Persyaratan ruang operasi : a. DEPKES-RI 66 . Daerah Publik.

Ruang tempat penyimpanan obat jadi Ruang tempat penyimpanan perbekalan dan alat kesehatan Ruang tempat penyimpanan obat khusus seperti untuk obat yang termolabil. 10 m2 6 Min.2 No. Memberikan pelayanan informasi obat dan melayani konsultasi obat.7. dll Alat tulis kantor. DEPKES-RI 67 . 6 m2 Pusat Sarana. peracikan dan pembuatan obat. Besaran Ruang / Luas Min. pengadaan dan penyimpanan obat.S.S. Mampu mendukung kegiatan pelayanan unit kesehatan lainnya selama 24 jam. 10 m2 Kebutuhan Fasilitas Peralatan farmasi untuk persediaan. dan 1 2 3 4 Ruang Peracikan Obat Depo Bahan Baku Obat Depo Obat Jadi Gudang Perbekalan dan Alat Kesehatan Depo Obat Khusus Ruang Administrasi (Penerimaan dan 5 Min.7 5. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Sekretariat Jenderal. Kebutuhan Ruang. baik steril maupun non steril. Pendistribusian obat.U RUANG PERSIAPAN RUANG RAWAT BAYI RUANG RAWAT INAP RUANG PENDAFTARAN PASIEN + PENGANTAR MASUK RUANG TUNGGU PENGANTAR Gambar 5. 6 m2 Min.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C PARAMEDIS DOKTER LOKER RUANG DOKTER SCRUB STATION RUANG KOTOR RUANG BEDAH C. dan obat berbahaya. radio farmasi.4 – Alur Kegiatan Pada Instalasi Bedah Sentral.6. alat kesehatan reagensia.PHARMACY) Lingkup Sarana Pelayanan Unit Farmasi direncanakan mampu untuk melakukan pelayanan : 1. 5. meja+kursi. 5. lemari pendingin dan AC. gas medik sesuai formularium RS. komputer. narkotika dan obat psikotropika. printer. Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas Nama Ruangan Fungsi Ruang tempat melaksanakan peracikan obat oleh apoteker. telepon. loket. Ruang untuk melaksanakan kegiatan administrasi kefarmasian RS. Lemari/rak Lemari/rak Lemari/rak Lemari khusus .C. Ruang tempat penyimpanan bahan baku obat. 6 m2 Min. Melakukan kegiatan peracikan obat sesuai permintaan dokter baik untuk pasien rawat inap maupun pasien rawat jalan 3. Melakukan perencanaan.D GUDANG STERIL RUANG INDUKSI RUANG RESUSITASI NEONATUS RUANG PEMULIHAN (PACU) RUANG I.7.24 m2) Min. 5. faksimili. regensia radio farmasi & gas medis. alat kesehatan. lemari. 2. 6 m2/ apoteker (min.1 INSTALASI FARMASI (. kontainer khusus untuk limbah sitotoksis. 4.

dan perlengkapan dapur lainnya. printer. narkotika dan obat psikotropika serta obat/ bahan berbahaya.5 m2/ orang (min. 1. • Tersedia ruang khusus yang memadai dan aman untuk menyimpan dokumen dan arsip resep. Sekretariat Jenderal. 8 @ loker 6-9 m2 Lemari loker 9 10 11 Ruang Rapat/Diskusi Ruang Arsip Dokumen & Perpustakaan Ruang Kepala Instalasi Farmasi Ruang Staf Ruang Tunggu 12-30 m2 9-20 m2 6-9 m2 Meja. Ruang tempat melaksanakan kegiatan pertemuan dan diskusi farmasi. Ruang tempat pasien dan pengantarnya menunggu menerima pelayanan dari konter apotek. loket pembayaran dan loket pengambilan obat) Ruang Loker Petugas (Pria dan Wanita dipisah) Min. 16 m2 Rak/lemari obat.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Distribusi Obat) meliputi kegiatan pencatatan keluar masuknya obat. peralatan meeting lainnya. • Gudang penyimpanan tabung gas medis (Oksigen dan Nitrogen) Rumah Sakit diletakkan pada gudang tersendiri (di luar bangunan instalasi farmasi). meja/kursi Tempat duduk. Ruang kerja dan istirahat kepala Instalasi Farmasi. sebelum melaksanakan tugas medik yang diperuntukan khusus bagi staf medis. 7 Konter Apotik (Loket penerimaan resep.7. Ruang untuk menyelenggarakan kegiatan penerimaan resep pasien.3 Persyaratan Khusus • Lokasi instalasi farmasi harus menyatu dengan sistem pelayanan RS. kursi. Ruang menyimpan dokumen resep dan buku-buku kefarmasian. KM/WC alat perkantoran lainnya. Alur Petugas Instalasi Farmasi Konter Apotek Pusat Sarana. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Ruang kerja dan istirahat staf. • Antara fasilitas untuk penyelenggaraan pelayanan langsung kepada pasien. • Harus disediakan penanganan mengenai pengelolaan limbah khusus sitotoksis dan obat berbahaya untuk menjamin keamanan petugas.4 Pulang Pengambilan Obat Ruang Tunggu 2. petugas. • Harus disediakan tempat penyimpanan untuk obat-obatan khusus seperti Ruang Administrasiuntuk obat yang termolabil. distribusi obat dan alat kesehatan dan manajemen dipisahkan. kursi. dan alat perkantoran lainnya. meja/kursi 12 13 9-16 m2 1~1. Lemari arsip. penerimaan dan distribusi obat. wastafel. Kloset. pembayaran. penyiapan obat. komputer. meja. sink. lemari. Kursi+meja untuk makan. bak air 14 Dapur Kecil (.Pantry) KM/WC (pasien. sofa. lemari. 25 m2) Min.7. 6 m2 @ KM/WC pria/wanita luas 2 m2 – 3 m2 Tempat tidur. televisi & Telp umum (bila RS mampu). pasien dan pengunjung. DEPKES-RI 68 . kartu arsip Tempat tidur. dan pengambilan obat Tempat ganti pakaian. pengunjung) 15 5. Alur Pasien dan pengunjung Pasien/ Pengunjung Loket Penerimaan Resep Loket Pembayaran 5. Sebagai tempat untuk menyiapkan makanan dan minuman bagi petugas di Instalasi Farmasi RS. Alur kegiatan. sofa.

Pelayanan Radiologi pada Rumah Sakit Kelas C adalah memberikan pelayanan radiodiagnostik non invasif dengan dan tanpa kontras. Sekretariat Jenderal. (Penerimaan Obat & Barang Perbekalan) Gudang Perbekalan dan Alat Medis Depo Obat Khusus R. Kebutuhan Ruang. yaitu : 1.8. histero salfingografi.8. kebidanan dan penyakit kandungan.X-Ray) yang dipancarkan oleh pesawat sinar-X atau peralatan-peralatan radiasi lainnya dalam rangka memperoleh informasi visual sebagai bagian dari pencitraan/imejing kedokteran (. cor anaupe) 2.7. cholecistografi. ceptografi.1 5. abdomen) b. toraks. DEPKES-RI 69 . Administrasi.8 INSTALASI RADIOLOGI Radiologi adalah Ilmu kedokteran yang menggunakan teknologi pencitraan/ imejing (. fistulografi.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Petugas/ staf Loker Ruang Peracikan Ruang Administrasi.2 Pusat Sarana. Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas 5. maag duodenografi. Penerimaan & Distribusi Obat 3. colon inloop (barium enema).medical imaging). esofagografi. Alur Barang Depo Bahan Baku Depo Obat Jadi Ruang Peracikan Obat / Barang Perbekalan Masuk Konter Apotek Ruang Administrasi. Pemeriksaan USG untuk kelainan-kelainan abdominal. Non Kontras (antara lain foto : tulang-tulang. Merupakan cabang ilmu kedokteran yang berkaitan dengan penggunaan sinar-X (. (Distribusi Obat dan Barang Perbekalan) Gudang Penyimpanan Tabung gas medis Obat / Barang Perbekalan Keluar Gambar 5. Unit Radiologi dapat pula melayani permintaan dari luar. Mampu mendukung kegiatan unit lainnya selama 24 jam sehari dan 7 hari dalam seminggu. Dengan Kontras (antara lain foto : IVP. 5.4 – Alur Kegiatan Pada Instalasi Farmasi. jaringan lunak. Radiodiagnostik (non invasif) a.imaging technologies) untuk mendiagnosa dan pengobatan penyakit. 3. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Lingkup Sarana Pelayanan Instalasi Radiologi melakukan pelayanan sesuai kebutuhan dan permintaan dari unit-unit kesehatan lain di RSU tersebut.

kursi. General X-Ray unit (bed dan standing unit dengan bucky) X-Ray Tomografi unit (bed dan/ standing unit dengan bucky) 5. daerah basah dan daerah kering.  Dinding/pintu mengikuti persyaratan khusus sistem labirin proteksi radiasi. Dapur Kecil (.  Ruangan gelap dilengkapi exhauster. meja. General 9-16 m2 Ruang tempat melaksanakan kegiatan diagnostik umum Ruang tempat melaksanakan kegiatan diagnostik tomografi (jaringan lunak) Ruang tempat melaksanakan kegiatan diagnostik fluoroskopi Ruang tempat melaksanakan kegiatan diagnostik jaringan lunak menggunakan USG Min.3 Persyaratan Khusus  Lokasi ruang radiologi mudah dicapai. wastafel. KM/WC petugas Kloset. Ruang ahli fisika medis Ruang Pemeriksaan a. b. Komputer Transformator/genetaor/CPU tomografi unit Lemari baju bersih. berdekatan dengan instalasi gawat darurat. faksimili. 3. film viewer. Sebagai tempat untuk menyiapkan makanan dan minuman bagi mereka yang ada di Ruang Radiologi Rumah Sakit dan sebagai tempat istirahat petugas. 9 m2 Kebutuhan Fasilitas Tempat duduk. Kursi. dan instalasi bedah sentral.Automatic Film Processor) digital ataupun AFP kering) Ruang Jaga Radiografer Gudang penyimpanan berkas Ruang tempat mengendalikan/ mengkontrol pesawat X-Ray Ruang tempat meletakkan transformator/genetaor/CPU Ruang tempat pasien berganti pakaian dan menyimpan barang milik pribadi. Nama Ruangan Ruangan Tunggu Pasien & Pengantar Pasien Ruang Administrasi dan Rekam Medis. ICU. Rak/lemari berkas.5 m2/ orang (min. Ruang tempat istirahat radiografer cito Ruang tempat penyimpanan berkas hasil pemeriksaan. Loket Pendaftaran. 6 m2 Min. pembayaran dan pengambilan hasil Fungsi Ruangan Ruangan pasien & pengantar pasien menunggu diberikannya pelayanan medik. kursi. Ultra SonoGrafi (USG) 6. loket. meja+kursi. d. Fluoroskopi Min. 9 m2 Ruang-ruang Penunjang (Pada tiap-tiap ruang pemeriksaan diatas kecuali USG) Ruang operator/ panel kontrol Ruang Mesin Ruang ganti pasien KM/WC pasien Kamar gelap (Bila tidak menggunakan AFP (. dan alat perkantoran lainnya. tempat pembayaran dan sebagai tempat mengambil hasil pemeriksaan Ruangan tempat membaca film hasil diagnosa pasien dan tempat pasien konsultasi medis dengan Dokter spesialis radiologi. 12 m2 b. bed unit dengan bucky General USG unit dengan multi probe sesuai kebutuhan pelayanan RS. wastafel. lemari. bak air 7. 8 m2 Meja kontrol.  Ruang konsultasi dilengkapi dengan fasilitas untuk membaca film. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. telepon. Suhu sejuk dan nyaman lingkungan ialah pada 22 ~ 26 OC dengan tekanan seimbang. KM/WC Min. Alat tulis kantor. Kelembaban udara pada ruang radiasi/pemeriksaan/penyinaran ialah antara 45~60%. Ruang tempat memproses film.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C No. wastafel.  Persyaratan pengkondisian udara : a.Pantry) Min. 6 m2 @ KM/WC pria/wanita luas 2 m2 – 3 m2 Perlengkapan dapur 11. bak air 5.8. Ruang Konsultasi Dokter 9-16 m2 Meja. televisi & Telp umum (bila RS mampu). Tomografi Min. wastafel. 6 m2 ( untuk AFP manual/Basah) Min. Sekretariat Jenderal. kaca. kursi. meja. printer. kontainer baju kotor. dan alat perkantoran lainnya. 25 m2) Min. Automatic film processor (AFP). Min. 4 m2 Min. Pusat Sarana. 1. laboratorium. KM/WC Tempat tidur. komputer. DEPKES-RI 70 . Lemari arsip 10. Ruang tempat pasien melakukan pendaftaran. 9. 4 m2 @ KM/WC pria/wanita luas 2 m2 – 3 m2 Min. Lemari alat monitor radiologi. 4 m2 Min. meja. Ruangan untuk staf melaksanakan tugas administrasi dan personalia dan ruangan untuk penyimpanan sementara berkas film pasien yang sudah dievaluasi. sink & waste liquid container 8. 2. 16 m2 4. Ruangan kerja dan penyimpanan alat ahli fisika medis Besaran Ruang / Luas 1~1. Min.  Sirkulasi bagi pasien dan pengantar pasien disarankan terpisah dengan sirkulasi staf. 12 m2 c. printer. komputer. hanger Kloset. 12 m2 X-Ray Fluoroskopi unit. terdiri dari 2 area.

mensterilkan menyimpan serta mendistribusikan instrumen medis yang telah disterilkan ke berbagai ruangan di rumah sakit untuk kepentingan perawatan dan pengobatan pasien. Alur Pasien PASIEN Poliklinik Bagian/Inst.8. DEPKES-RI 71 .9 Tersedia pengelolaan limbah radiologi khusus. Alur kegiatan.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C  5. memproses. 1.4 – Alur Kegiatan Pada Instalasi Radiologi. Konsultasi Dokter) 5. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Dekontaminasi merupakan proses mengurangi jumlah Pusat Sarana. Praktek Puskesmas Umum ASKES/ Jamsostek/JPS Loket Pendaftaran Pasien Umum Loket Pembayaran Pasien Umum Loket Pendaftaran Pasien ASKES Loket Pembayaran Pasien ASKES Ruang Tunggu Loket Pengambilan Hasil Ruang Pemeriksaan Gambar 5.9 INSTALASI STERILISASI PUSAT (CSSD/ CENTRAL SUPPLY STERILIZATION DEPARTEMEN) Instalasi Sterilisasi Pusat (CSSD) mempunyai fungsi menerima. Lain Dr. Alur Film Processing Film (Kamar Gelap/ AFP) Identifikasi Foto Pengambilan Foto (R. Pemeriksaan) Hasil Interpretasi (R. 2. memproduksi. Kegiatan utama dalam Instalasi Sterilisasi Pusat (CSSD) adalah dekontaminasi instrumen dan linen baik yang bekas pakai maupun yang baru serta bahan perbekalan baru. Sekretariat Jenderal.

30 m2 3. pencucian. Ruang Prosesing / Produksi Min. 3. menghitung dan mencatat volume serta jenis bahan. lemari instrumen. sterilizer kerosene. Ruang tempat penyimpanan (depo) sementara Barang. dan kontainer Rak/Lemari 7. Perlengkapan dekontaminasi lainnya (ultrasonic washer dengan volume chamber 40-60 lt. DEPKES-RI 72 . 2. Distribusi. Mesin pengering slang. container for sterilizer. linen dan bahan perbekalan baru sebelum disterilisasi. 5. 4-16 m2 8. alat wrapping. linen dan bahan perbekalan baru yang telah disterilisasi. Ruang tempat melaksanakan kegiatan sterilisasi instrumen. Melaksanakan proses Dekontaminasi meliputi :  Perendaman  Pencucian  Pengeringan  Pengemasan Membungkus. kapas. terdiri dari a. mesin cuci.9. Instrumen dan linen yang akan digunakan ulang (. horizontal sterilizer. linen dan bahan perbekalan baru. cotton swabs.2 No. Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas Nama Ruangan Fungsi Ruangan Ruangan tempat melakukan kegiatan Adminstrasi dan pencatatan. Ruang tempat mendekontaminasi kereta/troli untuk mengangkut barangbarang dari dan ke CSSD. pencucian dan pengeringan instrumen atau linen bekas pakai.9. Ruang tempat melaksanakan kegiatan pemeriksaan linen. Gudang Steril Gudang Barang/Linen/ Bahan Perbekalan Baru Ruang Dekontaminasi Kereta/Troli : a. 16 m2 4.reuse). meja setrika. Ruang Sterilisasi 9-16 m2 6. Lemari sarung tangan. Barang/linen/bahan perbekalan baru dari instalasi farmasi yang perlu disterilisasi. barang dan instrumen yang diserahkan oleh ruang/unit Instalasi Rumah Sakit Umum. Ruang tempat perendaman. Ruang tempat melaksanakan kegiatan membungkus. linen. Sistem ini merupakan salah satu upaya atau program pengendalian infeksi di rumah sakit. Loket Penerimaan & Pencatatan 8-25 m2 Meja.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C pencemar mikroorgsanisme atau substansi lain yang berbahaya baik secara fisik atau kimia sehingga aman untuk penanganan lebih lanjut. dll 5. Kebutuhan Ruang. kursi. Ruang tempat penyimpanan Instrumen. Sekretariat Jenderal. pengeringan sampai dengan proses sterilisasi itu sendiri. penyortiran barang/bahan/ linen yang akan disterilkan. lemari dan peralatan kantor lainnya. Min. 2. penyimpanan dan pemakaian. Mesin cuci handschoen. dimana merupakan suatu keharusan untuk melindungi pasien dari kejangkitan infeksi. dll. mengemas dan menampung alat-alat yang dipakai untuk sterilisasi. Mensortir. autoklaf unit (steam sterilizer). kapas. Automatic washer disinfector. dilipat dan dikemas untuk persiapan sterilisasi. 9 m2 Container. Meja cuci. lemari kasa/ kain pembalut. Selain itu di ruang ini jg dilaksanakan kegiatan persiapan bahan seperti kassa. meja bilas. (atau jika memungkinkan ada pulse vacuum sterilizer. Proses dekontaminasi meliputi proses perendaman.  STERILISASI 4. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. menyerahkan dan mencatat pengambilan barang steril oleh ruang/unit /Instalasi Rumah Sakit Umum yang membutuhkan. alat wrapping. computer.1 Lingkup Sarana Pelayanan Kegiatan dalam instalasi CSSD adalah sebagai berikut: 1. mengemas dan menampung alat-alat yang dipakai untuk sterilisasi. Barang/ bahan yang didekontaminasi di CSSD seperti Instrumen kedokteran. Menerima bahan. sarung tangan. Ruang Pengemasan Alat Min. Besaran Ruang / Luas Kebutuhan Fasilitas 5. plasma sterilizer) Lemari/Rak linen. b. penerimaan. Ruang Dekontaminasi Min. Ruang Administrasi. Area Cuci 12-25 m2 Autoklaf table. printer. Container. 6 m2 Perlengkapan cuci troli Pusat Sarana. Tujuan pengemasan adalah ménjaga keamanan bahan agar tetap dalam kondisi steril. penyimpanan dan pemakaian. ett. 1. kasa/ pembalut.

meja.  Area barang kotor dan barang bersih dipisahkan (sebaiknya memiliki akses masuk dan keluar yang berlawanan)  Lantai tidak licin.Reuse) Penerimaan Dan Pencatatan Barang/Linen/Bahan perbekalan baru Masuk 5.  Persyaratan ruang dekontaminasi adalah sebagai berikut : ⇒ Tekanan udara pada ruang dekontaminasi adalah harus negatif supaya udara dalam ruangan tidak mengkotaminasi udara pada ruangan lainnya. sink. maka harus menggunakan jenis yang tahan percikan air dan dipasang pada ketinggian minimal 1. komputer.00 m dari permukaan lantai. kursi. Dapur Kecil (. Ruang tempat pengaturan instrumen dan barang-barang yang sudah steril untuk didistribusikan ke Instalasi Bedah. meja. 6 m2 @ KM/WC pria/wanita luas 2 m2 – 3 m2 Perlengkapan dapur.9. mudah dibersihkan dan tidak mudah menyerap kotoran atau debu. sink 15. ICU. Ruang Isolasi. 6 m2 Min. Ruang pencucian perlengkapan Ruang Distribusi Instrumen dan Barang Steril Ruang Kepala Instalasi CSSD Ruang Ganti Petugas (Loker) Ruang Staf/ Petugas Ruang tempat pencucian perlengkapan penunjang yang tidak perlu disterilkan. dan peralatan kantor lainnya.80 – 1. Alur kegiatan pada Instalasi Sterilisasi Pusat (CSSD) adalah sebagai berikut: Instrumen dan Linen Bekas Pakai (. wastafel. computer. kursi. printer dan alat perkantoran lainnya. lemari 10. tidak mudah menyerap kotoran atau debu.Pantry) Min. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Kelembaban udara : 35% -75%. ICU. bak air 5. Alur kegiatan. 11.9. Kursi. dll Kontainer. 9 m2 Min.4 Penerimaan & Pencatatan Barang Baru Pusat Sarana. 13. rak/lemari. 12. Sebagai tempat untuk menyiapkan makanan dan minuman bagi mereka yang ada di Instalasi CSSD dan sebagai tempat istirahat petugas. meja. dll Ruang tempat kepala instalasi CSSD bekerja dan melakukan kegiatan perencanaan dan manajemen. dan apabila terdapat stop kontak dan saklar. Tempat mengganti/mengenakan pakaian instalasi CSSD (dilengkapi toilet) Ruang tempat istirahat staf/ petugas CSSD. 6 m2 9-25 m2 Meja bilas. Ruang Isolasi. KM/WC Min.  Permukaan dinding dan lantai ruangan mudah dibersihkan.  Dinding menggunakan bahan yang tidak berpori. pengantian udara 10 kali per jam (Air Change Hour-ACH : 10 times) ⇒ Suhu dan kelembaban ruangan yang direkomendasikan adalah : suhu 180C – 220C. KM/WC petugas Kloset.5 mikron)  Suhu dan kelembaban ruangan yang direkomendasikan adalah : suhu 180C – 220C. printer.3 Persyaratan Khusus  Lokasi Instalasi CSSD memiliki akesibilitas pencapaian langsung dari Instalasi Bedah Sentral. Kelembaban udara : 35% -75%. 9-16 m2 14.  Pada area pembilasan disarankan untuk menggunakan sink pada meja bilas kedap air dengan ketinggian 0. Min. Laboratorium dan Instalasi Pencucian Linen) dan terpisah dari sirkulasi pasien.40 m dari permukaan lantai.  Persyaratan gudang steril adalah sebagai berikut :  Tekanan udara positif dengan efisiensi filtrasi partikular antara 90% – 95% (untuk partikular berukuran 0.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C b. meja.  Sirkulasi udara/ventilasi pada bangunan instalasi CSSD dibuat sedemikian rupa agar tidak terjadi kontaminasi dari tempat penampungan bahan dan instrumen kotor ke tempat penyimpanan bahan dan instrumen bersih/steril. DEPKES-RI 73 Pengemasan & . Loker Kursi. Area Pengeringan 9. Sekretariat Jenderal.

pembayaran dan pengambilan hasil serta ruangan untuk penyimpanan sementara berkas film pasien yang sudah dievaluasi.1 INSTALASI LABORATORIUM Lingkup Sarana Pelayanan Laboratorium direncanakan mampu melayani tiga bidang keahlian yaitu patologi klinik. rawat jalan serta rujukan dari rumah sakit umum lain. atau setidaknya rak-rak buku 5. DEPKES-RI 74 . kursi.4 – Alur Kegiatan Pada Instalasi Sterilisasi Pusat. Pusat Sarana.10. Patologi klinik (Hematologi. lemari arsip. kimia klinik. Kebutuhan Ruang. melakukan pemeriksaan lengkap untuk histopatologi. Puskesmas atau Dokter Praktek Swasta. dan peralatan kantor lainnya. 2. Diagnostik patologi. printer. serologi/ immunologi. pendaftaran.10. Sekretariat Jenderal. potong beku. 3. Besaran Ruang / Luas Kebutuhan Fasilitas 1. computer. Mikrobiologi (secara terbatas)).9. Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas Nama Ruangan Ruang Administrasi dan Rekam Medis (Terdapat loket pendaftaran. patologi anatomi dan forensik sampai batas tertentu dari pasien rawat inap. lemari. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. analisa urine dan tinja. Min. Forensik dapat melakukan perawatan mayat dan bedah mayat. dan loket pengambilan hasil) Fungsi Ruangan Ruangan untuk staf melaksanakan tugas administrasi. Pemeriksaan laboratorium pada Rumah Sakit Kelas C adalah : 1. 5. sitopatologi dan sitologi.10 5.2 No. Pelayanan laboratorium tersebut dilengkapi pula oleh fasilitas sebagai berikut: • Blood Sampling dan Bank Darah • Administrasi penerimaan spesimen • Gudang regensia & bahan kimia • Fasilitas pembuangan limbah • Perpustakaan. 20 m2 Meja. loket pembayaran.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Sortir (pencatatan volume dan jenis barang) Pengeringan Tidak Sortir (Layak disterilkan/ tidak) Tidak Kembalikan ke unit pengiriman instrument/linen Gambar 5.

3. water bath. laboratory refrigerator. 16 m2 7. sentrifus mikrohematokrit. water bath. kamar hitung improved. Laboratorium Hematologi dan Uranalisis Ruang pemeriksaan/ analilsis hematologi dan urin. timer.3 Persyaratan Khusus  Dinding dilapisi oleh bahan yang mudah dibersihkan. neubauer. kawat ose. pipet LED. Ruang Tunggu Pasien & Pengantar Pasien Ruang Pengambilan Sample Bank Darah Ruangan pasien & pengantar pasien menunggu diberikannya pelayanan lab. 11.5 m2/ orang (min. tabung reaksi berbagai ukuran. Ruang Kepala Laboratorium Ruang Petugas Laboratorium Dapur Kecil (. Ruang tempat kepala laboratorium bekerja dan melakukan kegiatan perencanaan dan manajemen. lemari es no frost. kursi. mikroskop. fotometer. Meja lab. Ruang tempat istirahat petugas laboratorium. oven. HB meter. 6 m2 @ KM/WC pria/wanita luas 2 m2 – 3 m2 @ KM/WC pria/wanita luas 2 m2 – 3 m2 14. Rak/Lemari Lemari. sentrifus hematokrit.  Pada tiap-tiang ruang laboratorium dilengkapi sink (wastafel) untuk cuci tangan dan tempat cuci alat  Harus mempunyai instalasi pengolahan limbah khusus. kursi. kamar hitung fuchs. lemari Perlengkapan dapur. dll Kursi. kursi dan alat-alat perkantoran. computer. Sebagai tempat untuk menyiapkan makanan dan minuman bagi mereka yang ada di Instalasi CSSD dan sebagai tempat istirahat petugas. bunsen burner. rak tabung reaksi. 6 m2 Min. water bath. fotometer. pipet serologi. Alur kegiatan. 10. KM/WC petugas KM/WC Kloset. oven. gelas ukur. KM/WC dan pengambilan sample urin 6-16 m2 6-9 m2 20-36 m2 Min.  Akses masuk petugas dengan pasien/pengunjung disarankan terpisah. 16 m2 6. pengumpulan sample urin. sink. 1~1. Gudang Regensia dan Bahan Habis Pakai Ruang Cuci Ruang Diskusi dan Istirahat Personil. sentrifus. Min. Kursi. Sekretariat Jenderal. 6 m2 9-16 m2 13. DEPKES-RI 75 . 4. termometer 0-150 derajat. corong. PH meter. spektofotometer. micro plate reader. bak air 5. lemari.3 Pusat Sarana. sentrifus.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 2.10. Meja. spektropometer. pipet volumetrik berbagai ukuran. Min. water destilator. haemocitometer. Alur kegiatan pada Instalasi laboratorium adalah sebagai berikut : 5. rosenthal. pipet pasteur. sink. dan peralatan kantor lainnya. sink 5. container urin. rotator VDRL. densitometer for protein. meja. meja. printer. sink. 12. meja. Laboratorium Patologi Klinik Ruang pemeriksaan/ analilsis patologi klinik. cawan petri.5 m dari lantai (misalnya dari bahan keramik atau porselen). wastafel. pipet otomatik berbagai ukuran. ultrasonic cleaner. jarum suntik dan pipetnya. 16 m2 8. Laboratorium Kimia Klinik Ruang pemeriksaan/ analilsis kimia klinik. mikroskop binikuler/monokuler. tidak licin dan kedap air setinggi 1. bak air 15. 6 m2 Tempat duduk. AC. televisi & Telp umum (bila RS mampu). refrigerator. timbangan. KM/WC pasien Kloset.Pantry) Ruang tempat penyimpanan regensia bersih dan bahan habis pakai. timbangan. sink Meja. sofa. analytical balance. Min. wastafel. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Ruang tempat pengambilan sample darah. electrolit analyzer. Meja lab. erlenmeyer. tensimeter. Meja. refractometer. micro hematokrit sentrifus. Kursi. stop watch. 25 m2) Min. glukometer. rak pipet + tips.  Lantai dan meja kerja laboratorium dilapisi bahan yang tahan terhadap bahan kimia dan getaran serta tidak mudah retak. tensimeter. lab incubator. Min. kursi. 9. dan peralatan kantor lainnya. inkubator. rotator shaker. washing instrument. Ruang tempat pencucian regensia bekas pakai. precission balance Meja lab. Ruang tempat diskusi dan istirahat personil/ petugas lab. meja. dry sterilizer. sterilisator/autoklaf kecil. labu. dll Ruang tempat pengambilan dan penyimpanan persediaan darah.10. sentrifus.

kursi. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. 8 m2 Meja. Keuangan dan Personalia Ruang Tunggu Pasien & Pengantar Pasien 3~5 m2/ petugas (min. computer. Meja. Ruang Administrasi. Lingkup Sarana Pelayanan Lingkup pelayanan Instalasi Rehabilitasi Medik mencakup : 1.5 m2/ orang (min.4 – Alur Kegiatan Pada Instalasi Laboratorium. televisi & Telp umum (bila RS mampu). kursi. Pusat Sarana. Rehabilitasi Mental 3.11. pengembalian fungsi dan mental pasien. printer. Loket Pendaftaran dan Pendataan Ruangan tempat pasien melakukan pendaftaran. intercom/telepon.11.11 INSTALASI REHABILITASI MEDIK Pelayanan Rehabilitasi Medik bertujuan memberikan tingkat pengembalian fungsi tubuh semaksimal mungkin kepada penderita sesudah kehilangan/ berkurangnya fungsi dan kemampuan yang meliputi.1 5.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Pasien dan/ pengantar pasien Loket Pendaftaran Pasien Umum ASKES/ Jaminan Lengkapi Berkas Loket Pembayaran Tim Pengendali Pengambilan Sample/ Pemeriksaan Nota Persetujuan Ruang Tunggu Hasil Gambar 5. DEPKES-RI 76 . 9 m2) 1~1. Min. keuangan dan personalia di unit Pelayanan Rehabilitasi Medik Ruangan pasien & pengantar pasien menunggu diberikannya pelayanan RM Fungsi Ruangan Besaran Ruang / Luas Kebutuhan Fasilitas 5. lemari berkas/arsip.10. safety box Tempat duduk. lemari arsip. 16 m2) 3. 5. 2. dan peralatan kantor lainnya. lemari. Ruang kerja para Petugas Instalasi RM yaitu melaksanakan kegiatan administrasi.2 1. Rehabilitasi Sosial Kebutuhan Ruang. pendataan awal dan ulang untuk segera mendapat suatu tindakan. Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas Nama Ruangan No. Rehabilitasi fisik  Rehabilitasi sistem kardiovaskular  Rehabilitasi sistem pernafasan  Rehabilitasi sistem neuromuskuler dan lokomotor 2. Sekretariat Jenderal. upaya pencegahan/ penanggulangan.

terpisah antara pasien wanita & pria) 7. Gudang Kotor 6-16 m2 Lemari/rak 12. 2 (dua) kursi hadap. lemari alat periksa & obat. micro wave diathermy. Ruang untuk memberikan pelayanan berupa suatu intervensi radiasi/ gelombang elektromagnet dan traksi. Ruang Pemeriksaan/ Penilaian Dokter Ruangan tempat Dokter melakukan pemeriksaan (seperti: anamesa. Untuk pasien yang menggunakan kursi roda disediakan toilet khusus yang memiliki luasan cukup untuk bergeraknya kursi roda. Meja Konsultasi. kapas. dan peralatan terapi rehab mental/sosial lainnya. misalnya untuk ruang kantor. Ruang Terapi Okupasi dan Terapi Vokasional Loker/ Ruang Ganti (Pria & Wanita. sink 14. Tempat tidur periksa. 5.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 4. 2 (dua) kursi hadap. Meja Konsultasi. Ruang Kepala IRM Ruang Petugas RM Min. computer. @ 4-12 m2 6-16 m2 Fasilitas tergantung dari jenis okupasi yang akan diselenggarakan. dan kelengkapan lainnya. Ruang tempat pasien melakukan kegiatan senam (misalnya senam stroke. senam jantung. pemeriksaan dan asesmen fisik). lemari Perlengkapan dapur. dll Lemari/rak 6-16 m2 Lemari/rak 11. meja. meja. meja. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. senam asma. Sekretariat Jenderal. 2. pembayaran dan administrasi. b. 6 m2 9-16 m2 Kursi. disarankan letaknya dekat dengan instalasi rawat jalan/ poliklinik dan rawat inap. Ruang tempat kepala IRM bekerja dan melakukan kegiatan perencanaan dan manajemen. senam osteoporosis. tirai & sprei) dan juga perbekalan farmasi untuk terapi (misalnya : parafin. Disarankan menggunakan sistem sirkulasi udara/ ventilasi udara alami. 6. 2.11. dapur. Ruang tempat terapis okupasi melakukan terapi kepada pasien Ruang ganti pakaian dan menyimpan barang-barang milik pribadi. Ruangan yang didalamnya terdapat satu (atau lebih) kolam renang / bak rendam hidroterapi yang dilengkapi dengan fasilitas penghangat air (Water Heater Swimming Pool) dan pemutar arus ( Whirpool System) bila ada. wastafel. ruang makan. diagnosis maupun prognosis terhadap pasiennya dan tempat pasien melakukan konsultasi medis dengan Dokter Ruang tempat melaksanakan kegiatan terapi rehab mental dan sosial bagi pasien. Ruang tunggu dapat dicapai dari koridor umum dan dekat pada loket pendaftaran. tempat tidur periksa. kursi terapi.Pantry) Min. tissue. dan peralatan senam lainnya. Ruang tempat penyimpanan peralatan RM yang belum terpakai atau sedang tidak digunakan. 9. Ruang Fisioterapi Aktif a. maupun latihan manipulasi yang diberikan pada pasien yang bersifat individu. 6 m2 @ KM/WC pria/wanita luas 2 m2 – 3 m2 15. lebar dan arah bukaan pintu dan lebar pintu untuk para pemakai kursi roda serta derajat kemiringan ramp yaitu maksimal 70.3 Persyaratan Khusus Pada dasarnya tata ruang Unit Rehabilitasi Medik ditetapkan atas dasar: 1. KM/WC 12~25 m2 Kursi Dokter. 4. Dapur Kecil (. unit traksi. senam pernafasan. Apabila ada ramp (tanjakan landai). dan peralatan fisioterapi lainnya 5. 10. 13. dan peralatan kantor lainnya. DEPKES-RI 77 . sofa. alkohol. 36 m2 Treadmill. KM/WC. bak air 5. senam diabetes. 3. lemari alat. ultraviolet quartz. printer. Ruang Terapi Rehab Mental/Sosial RUANG FISIOTERAPI 1. kursi. Petugas & Pasien) Gudang Peralatan RM Gudang Farmasi Linen dan Min. ergocycle. exercise bicycle. dll. Ruang Fisioterapi Pasif 12~25 m2 Min. alat stimulasi elektrik. Ruang penyimpanan linen bersih (misalnya : handuk. Kursi Dokter. Ruang Senam (Gymnasium) Min. tempat duduk (bench). Pusat Sarana. KM/WC petugas/pasien Kloset. Ruang tempat istirahat petugas IRM Sebagai tempat untuk menyiapkan makanan dan minuman bagi mereka yang ada di IRM dan sebagai tempat istirahat petugas. parallel bars. Lokasi mudah dicapai oleh pasien. maka harus diperhatikan penempatan ramp. Ruang penyimpanan alat-alat. juga perabot RM yang sudah tidak dapat digunakan lagi tetapi belum dapat dihapuskan dengan segera. Disarankan akses masuk untuk pasien terpisah dari akses masuk staf. tangga roolstool. Kursi. dll Loker/ lemari. 16 m2 Perlengkapan hidroterapi @ jenis okupasi 6-30 m2 8. 20 m2 6. jelly). Ruang Hidroterapi (Dilengkapi ruang ganti pakaian.

4 Alur kegiatan. 1. Ruang Direksi Ruang Sekretaris Direktur Ruang Rapat dan Diskusi Ruang Kepala Komite Medis Pusat Sarana. Sekretariat Jenderal.11.4 – Alur Kegiatan Pada Instalasi Rehabilitasi Medik. Pelayanan Fisioterapi. lemari. 3. komputer. dll Meja. printer. lemari berkas/arsip. Tempat penyimpanan berkas rekam medik pasien rawat jalan dan rawat inap menjadi satu. Pasien Masuk Loket Pendaftaran Petugas/Dokter Ruang Tunggu RM Ruang Pemeriksaan dan Penilaian R. Pemeriksaan Diagnostik R. 2. computer. hasil pemeriksaan dan pengobatan pasien. kursi. Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas Nama Ruangan Fungsi Ruangan Ruang kerja direktur RS. Ruang pertemuan/ rapat/ diskusi. Pelayanan Terapi Mental/ Sosial R. komputer. Ruang kerja kepala komite medis Besaran Ruang / Luas Min.2 No. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Meja. intercom/telepon 5.12 5. Ruang kerja sekretaris direktur.12. 16 m2 6-16 m2 Kebutuhan Fasilitas Meja. Pelayanan Terapi Okupasi & Terapi Vokasional Pasien Pulang Gambar 5. 6 m2 Min. LCD projector. 2.11. tempat melaksanakan perencanaan program dan manajemen RS. layar. sehingga : 1. sofa. 16 m2 Min. kursi. Setiap pasien hanya akan memiliki 1 nomor. printer. printer. kursi. dan peralatan kantor lainnya. Hidroterapi & Gym R. kursi. Terdiri dari : • Dewan Direksi RS • Komite Medis • Seksi Keperawatan • Seksi Pelayanan • Seksi Keuangan dan Program • Kesekretariatan dan Rekam Medis Suatu sub-bagian dari Kesekretariatan yang merekam dan menyimpan berkas-berkas jati diri.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 5. lemari arsip. lemari berkas/arsip.1 BAGIAN ADMINISTRASI DAN KESEKRETARIATAN RUMAH SAKIT Lingkup Sarana Pelayanan Suatu bagian dari rumah sakit tempat dilaksanakannya manajemen rumah sakit. Sistem rekam medik yang diterapkan di rumah sakit umum adalah sentralisasi.12. DEPKES-RI 78 . • Dan Satuan Pengawasan Internal (SPI) Kebutuhan Ruang. riwayat penyakit. 4. 5. intercom/telepon Meja rapat.

3. 19. kursi. kursi. Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas Nama Ruangan Fungsi Ruangan Ruang para Petugas melaksanakan kegiatan administrasi. 12 m2) Min. komputer. lemari berkas/arsip.5 m2/ orang (min. kursi.2 No. komputer. 6. lemari berkas/arsip. intercom/telepon. lemari berkas/arsip. printer. kursi. intercom/telepon Meja. printer. safety box Tempat duduk. komputer.1 PEMULASARAAN JENAZAH RUMAH SAKIT Lingkup Sarana Pelayanan Fungsi Ruang Jenazah adalah : 1. kursi. kursi. Ruang Administrasi Ruang Tunggu Keluarga Jenazah Ruang Duka (dilengkapi toilet) Meja. safety box Meja. intercom/telepon Meja. kursi. printer. printer. Ruangan keluarga jenazah menunggu Ruang tempat menyemayamkan jenazah sementara sebelum dibawa Besaran Ruang / Luas 3~5 m2/ petugas (min. DEPKES-RI 79 .13. komputer. Ruang tempat pengunjung/ tamu bagian administrasi dan kesekretariatan menunggu.5 m2/ orang (min. kursi. lemari berkas/arsip. komputer.13 5. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. komputer.Pantry) KM/WC Ruang kerja staf komite medis Ruang kerja keperawatan kepala bagian 12-30 m2 6-16 m2 12-30 m2 6-16 m2 12-30 m2 6-16 m2 12-30 m2 6-16 m2 Meja. meja. intercom/telepon. Ruang duka dan pemulasaraan. televisi & Telp umum (bila RS mampu). keuangan dan personalia. Tempat meletakkan/penyimpanan sementara jenazah sebelum diambil keluarganya. komputer. 20 m2 1~1.12.3 Persyaratan Khusus Penempatan Administrasi sedapat mungkin mudah dicapai dan dapat berhubungan langsung dengan poliklinik. intercom/telepon Meja. printer. 8. kursi. Otopsi jenazah. 18. 2. Lemari/rak Perlengkapan dapur. 11. 5. 6 m2) 1~1. intercom/telepon Meja. 10. 14. lemari berkas/arsip. 3. Kebutuhan Ruang. Tempat mengeringkan jenazah setelah dimandikan 4. lemari berkas/arsip. 1. 16. lemari berkas/arsip. intercom/telepon Meja. 30 m2 Kebutuhan Fasilitas 5. 16 m2) 3-8 m2 Min. intercom/telepon Meja. 12. intercom/telepon Meja. komputer. dll Tempat duduk. 7. televisi & Telp umum Kursi Pusat Sarana. kursi. lemari berkas/arsip. sink Kloset. lemari berkas/arsip. printer. Tempat memandikan/dekontaminasi jenazah.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 5. printer. Sekretariat Jenderal. 5. printer. bak air Ruang kerja staf bagian keperawatan Ruang kerja kepala bagian Pelayanan Ruang kerja staf bagian pelayanan Ruang kerja kepala bagian keuangan dan program Ruang kerja staf bagian keuangan dan program Ruang kerja kepala bagian kesekretariatan dan rekam medis Ruang kerja staf bagian Kesekretariatan dan Rekam Medis Ruang kerja Internal Satuan Pengawasan 13. Ruang tempat penyimpanan alat-alat kebersihan (cleaning service) Sebagai tempat untuk menyiapkan makanan dan minuman. lemari berkas/arsip. 17. printer. 6 m2 @ KM/WC pria/wanita luas 2 m2 – 3 m2 Ruang tempat penyimpanan Arsip RS.13. kursi. kursi. 12-30 m2 12-30 m2 Min. 15. komputer. intercom/telepon Meja. lemari berkas/arsip. intercom/telepon Lemari berkas/arsip. printer. 9. printer. komputer. wastafel. KM/WC 5. Ruang Komite Medis Ruang Kepala Bagian Keperawatan Ruang Bagian Keperawatan Ruang Kepala Bagian Pelayanan Ruang Bagian Pelayanan Ruang Kepala Bagian Keuangan dan Program Ruang Bagian Keuangan dan Program Ruang Kepala Bagian Kesekretariatan dan Rekam Medis Ruang Bagian Kesekretariatan dan Rekam Medis Ruang SPI (Satuan Pengawasan Internal) Ruang Arsip/ file Ruang Tunggu Janitor Dapur Kecil (. 2. komputer.

lemari/rak alat dekontaminasi. Ruang Pendingin Jenazah Ruang Ganti Pakaian APD (dilengkapi dengan toilet) Ruang Kepala Instalasi Pemulasaraan Jenazah Ruang Jemur Alat Gudang KM/WC petugas/ pengunjung 8. Instalasi Bedah Sentral. Rak. lantai kedap air. 21 m2 min. Ruang Dekontaminasi dan Pemulasaraan Jenazah Min. Instalasi Rawat Inap. Area tertutup. Ruang tempat dokter forensik melakukan kegiatan otopsi jenazah Ruang Pendingin Jenazah Ruang Ganti pakaian petugas sebelum dan sesudah melakukan kegiatan otopsi. Loker/ lemari pakaian bersih dan kontainer pakaian kotor Kursi. Kapasitas ruang jenazah minimal memiliki jumlah lemari pendingin 1% dari jumlah tempat tidur (pada umumnya 1 lemari pendingin dapat menampung ± 4 jenazah) atau tergantung kebutuhan. dan peralatan kantor lainnya. 9 m2 @ KM/WC pria/wanita luas 2 m2 – 3 m2 11. Area yang merupakan jalur jenazah disarankan berdinding keramik. Instalasi Kebidanan dan Penyakit Kandungan. meja periksa organ. lemari/rak alat dekontaminasi. wastafel Lemari/rak 5. 9. bak air 5. 3.4 Alur kegiatan. Kloset. 6 m2 6. Alur kegiatan pada Instalasi Pemulasaraan Jenazah adalah sebagai berikut : Keluarga Pasien Administras i Non-Infeksius Ruang Tunggu Jenazah RS Infeksius Area Dekontaminasi Area Pemulasaraa n Ruang Duka Jenazah yang Dirujuk untuk di Otopsi Laboratorium Otopsi R. tidak dapat diakses oleh orang yang tidak berkepentingan. meja. Ruang pengeringan/ jemur alat-alat/ perabot yang telah digunakan. dan Instalasi ICU/ICCU. washtafel. lemari perlengkapan pemulasaraan dll Lemari alat. lemari barang bukti. brankar. 6 m2 12 m2 Min.13. brankar. computer. 24 m2 1 lemari pendingin min. KM/WC 4. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. 5.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C pulang. timbangan organ.3 Persyaratan Khusus 1. shower dan sink. Ruang tempat kepala Instalasi bekerja dan melakukan kegiatan perencanaan dan manajemen. Pendingin Jenazah Jenazah Keluar Pusat Sarana. Sekretariat Jenderal. juga perabot yang diperlukan pada instalasi pemulasaraan jenazah. 4. Min. Ruang jenazah disarankan mempunyai akses langsung dengan beberapa instalasi lain yaitu instalasi gawat darurat. wastafel. Ruang penyimpanan alat-alat. Memiliki sistem pembuangan limbah khusus. mudah dibersihkan.13. 10. 7. Laboratorium Otopsi Min. tidak berpori. brankar Toilet. Akses masuk-keluar jenazah menggunakan daun pintu ganda/ double. dll Lemari pendingin jenazah. 18 m2 Shower dan sink. 2. 6. 5. DEPKES-RI 80 . printer. Ruang tempat memandikan/ dekontaminasi serta pemulasaraan jenazah (pengkafanan untuk jenazah muslim/ pembalseman & pemulasaraan lainnya untuk jenazah non-muslim) .

Tidak dekat dengan tempat pembuangan sampah dan kamar jenazah. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. bak air 13. Letak dapur diatur sedemikian rupa sehingga kegaduhan (suara) dari dapur tidak mengganggu ruangan disekitarnya. lemari berkas/arsip. wastafel. 10.1 INSTALASI GIZI/DAPUR Lingkup Sarana Pelayanan Sistem pelayanan dapur yang diterapkan di rumah sakit adalah sentralisasi kecuali untuk pengolahan formula bayi. Min. lemari berkas/arsip. perlengkapan kebersihan Kloset. rak botol susu.14. Ruang Pengolahan dan Penghangatan Makanan Ruang Pembagian/ Penyajian Makanan Dapur Susu/ Laktasi Bayi Ruang Cuci Ruang Penyimpanan Troli Gizi Ruang Penyimpanan Peralatan Dapur Ruang Ganti Alat Pelindung Diri (APD) Min. Ruang tempat mengolah bahan makanan. wastafel. 9 m2 Min. misalkan menyiangi. Ruang tempat diskusi/pertemuan Ruang penyimpanan kebersihan KM/WC perlengkapan Besaran Ruang / Luas Min. Min. kursi. Ruang tempat menyimpan bahan makanan basah yang harus dimasukkan kedalam lemari pendingin.4 – Alur Kegiatan Pada Instalasi Pemulasaraan Jenazah. 3 m2 @ KM/WC pria/wanita luas 2 m2 – 3 m2 5. 18 m2 5. Ruang Kepala Instalasi Gizi Ruang Pertemuan Janitor KM/WC petugas Min. lemari berkas/arsip. dll Wastafel. Ruang tempat menyimpan bahan makanan kering. safety box Meja. shower & tempat cuci troli gizi. safety box Meja. Mempunyai jalan dan pintu masuk sendiri. dll Freezer/kulkas Lemari beras.4 Pusat Sarana. cermin. 9. Ruang Persiapan Min. kursi. dll) Ruang para Petugas melaksanakan kegiatan teknis medis gizi klinik serta administrasi. Ruang tempat kepala lnstalasi bekerja dan melakukan kegiatan perencanaan dan manajemen. 4 m2 Kebutuhan Fasilitas 5. dll 6. tutup kepala. Mudah dicapai.13.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Gambar 5. 2. 15. intercom/telepon. timbangan bahan makanan. 9 m2 7.14. keuangan dan personalia pada instalasi dapur. 8. dll Sink cuci plato serta perlengkapan makan dan minum lainnya . lemari simpan plato. sepatu. kursi. 6 m2 Min. kursi.2 No. 1. 9 m2 4. rak/palet/lemari 2. 18 m2 Meja saji. intercom/telepon. Alur kegiatan. 5. 6 m2 Min. safety box Rak/lemari. Instalasi Gizi/ Dapur mempunyai fungsi untuk mengolah. 4 m2 @ min. 6 m2 Min. Ruang cuci plato serta perlengkapan makan dan minum lainnya Ruang penyimpanan troli gizi sebelum dibersihkan Ruang penyimpanan perlengkapan dapur bersih Ruang petugas dapur mengenakan APD (Sarung tangan.3 Persyaratan Khusus 1. 3. meja. Ruang tempat mempersiapkan bahan makanan. dekat dengan Instalasi Rawat Inap sehingga waktu pendistribusian makanan bisa merata untuk semua pasien. 9 m2 Min. wastafel. Meja. memotong-motong. 11. area pencucian bahan makanan dapat dilaksanakan pada ruang ini. Alur kegiatan pengelolaan makanan pada Instalasi Dapur Utama dan Gizi Klinik RS adalah sebagai berikut : 5. mengatur makanan pasien setiap harinya. kursi. Kebutuhan Ruang. 14. intercom/telepon. 9 m2 Min. 6 m2) Meja. Sekretariat Jenderal. DEPKES-RI 81 . Ruang menyajikan/ mempersiapkan makanan matang pada plato (piring pasien) yang akan dikirimkan dengan troli gizi Ruang menyajikan/ mempersiapkan susu ke dalam botol susu. 3.14. 16. masker. 6 m2 12. rak peniris. Min. dll Troli Rak/lemari Loker.14. 4. celemek.14 5. Ruang Administrasi 3~5 m2/ petugas (min. serta konsultasi gizi. Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas Nama Ruangan Ruang Penerimaan dan Penimbangan Bahan Makanan Ruang Penyimpanan Bahan Makanan Basah Ruang Penyimpanan Bahan Makanan Kering Fungsi Ruangan Ruang tempat melaksanakan kegiatan penerimaan dan penimbangan bahan makanan.

3.15 INSTALASI PENCUCIAN LINEN/ LONDRI (. b. Penerimaan a. Penyimpanan Perlengkapan Ruang Pencucian Peralatan R. Menimbang berat linen untuk menyesuaikan dengan kapasitas mesin cuci dan kebutuhan deterjen dan desinfektan. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.4 – Alur kegiatan pengolahan. pengering.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Ruang Penerimaan Bahan Makanan R. meja. 5. penyimpanan dan pendistribusian makanan rumah sakit. Pemilahan antara linen infeksius dan non-infeksius dimulai dari sumber dan memasukkan linen ke dalam kantong plastic sesuai jenisnya serta diberi label. 2. Penyimpanan Bahan Makanan Kering Area Cuci Bahan Makanan R. 5. Penyajian Makanan Distribusi Makanan. Linen dipilah berdasarkan tingkat kekotorannya. Pengumpulan a. Pusat Sarana. Menghitung dan mencatat linen di ruangan. alat dan desinfektan.15. Sekretariat Jenderal.1 Lingkup Sarana Pelayanan Kegiatan pencucian linen terdiri dari : 1.14. mesin uap (. Pencucian a. DEPKES-RI 82 . dan mesin setrika.LAUNDRY) Laundry RS adalah tempat pencucian linen yang dilengkapi dengan sarana penunjangnya berupa mesin cuci. b. steam boiler). Mencatat linen yang diterima dan telah terpilah antara infeksius dan noninfeksius. Dan Minuman Area untuk Wadah Pembuangan Sementara Sampah Dapur Alur Peralatan Alur Limbah Padat Domestik Alur Makanan Gambar 5. Penyimpanan Bahan Makanan Basah Ruang Persiapan Ruang Pengolahan dan Penghangatan Bahan Makanan R.

PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 4. 8 m2 Min. c. c. 5. 6. Linen baru yang diterima ditempatkan di lemari bagian bawah. Mencuci dikelompokkan berdasarkan tingkat kekotorannya. pengangutannya dari dan ke tempat laundry harus menggunakan mobil khusus. Kereta dorong harus dicuci dengan desinfektan setelah digunakan mengangkut linen kotor. sink Mesin cuci dan pengering linen Setrika. 2. 3. b. Distribusi dilakukan berdasarkan kartu tanda terima dari petugas penerima. Pintu lemari selalu tertutup. Pusat Sarana. b. 5.15. Ruang tempat mencuci dan mengeringkan linen Ruang tempat penyetrikaan & melipat linen. Kantong untuk membungkus linen bersih harus dibedakan dengan kantong untuk membungkus linen kotor. Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas No. 10. Ruang tempat penyimpanan troli bersih setelah didekontaminasi & dikeringkan.2 Kebutuhan Ruang. perendaman dan pembilasan akhir. lemari berkas/arsip. Besaran Ruang / Luas 3~5 m2/ petugas (min. Ruang tempat melaksanakan dekontaminasi linen. 8 m2 Min. air panas untuk desinfeksi dengan desinfektan yang ramah terhadap lingkungan. 7. kursi. Sekretariat Jenderal. 6. Ruang tempat penerimaan linen kotor dari unit-unit di RS kemudian disortir. meja setrika. Ruang tempat kepala londri bekerja dan melakukan kegiatan perencanaan dan manajemen. 6 m2 lemari 5. Suhu air panas mencapai 700C dalam waktu 25 menit (atau 950C dalam waktu 10 menit) untuk pencucian pada mesin cuci. Nama Ruangan Fungsi Ruangan Kebutuhan Fasilitas Meja. 18 m2 Min. selang. meliputi urutan kegiatan pembilasan awal. 9. Peralatan cuci dipasang permanen dan diletakkan dekat dengan saluran pembuangan air limbah serta tersedia mesin cuci yang dapat mencuci jenisjenis linen yang berbeda. Linen bersih diangkut dengan kereta dorong yang berbeda warna. b. 6 m2 Min. 16 m2 Min. setrika dan dilipat. meja lipat Rak/lemari Keran. d. 2. DEPKES-RI 83 . 3. intercom/telepon. RS yang tidak mempunyai laundry tersendiri. 12 m2 Min. alat pengering 1. Linen harus dipisahkan sesuai dengan jenisnya. Menggunakan kereta dorong yang berbeda warna dan tertutup antara linen bersih dan linen kotor. dan muntahan kemudian merendamnya dengan menggunakan desinfektan. Ruang tempat melaksanakan dekontaminasi dan pengeringan troli. intercom/telepon. keran. rak. 8. Waktu pengangkutan linen bersih dan kotor tidak boleh dilakukan bersamaan. darah. Tersedia saluran air limbah tertutup yang dilengkapi dengan pengolahan awal (. safety box Bak pembilasan awal. Ruang Distribusi dan Pencatatan Ruang Penerimaan dan Sortir Ruang Kepala Londri Ruang Perendaman/ Dekontaminasi Linen Ruang Cuci dan Pengeringan Linen Ruang Setrika & Lipat Linen Ruang Penyimpanan Linen Ruang Dekontaminasi Troli Ruang Penyimpanan Troli Gudang Bahan Kimia Ruang para Petugas melaksanakan kegiatan pencatatan distribusi linen bersih. 9 m2 Min. 8 m2 5. pre-treatment) khusus laundry sebelum dialirkan ke IPAL RS.15. urin. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Membersihkan linen kotor dari tinja. kemudian petugas menyerahkan linen bersih kepada petugas ruangan sesuai kartu tanda terima. Min. Ruang tempat penyimpanan linen bersih setelah dicuci. Pengeringan Penyetrikaan Penyimpanan a. lemari berkas/arsip. e. safety box Meja. Tempat menyimpan bahan-bahan kimia seperti deterjen dll 4. kursi. c.3 Persyaratan Khusus 1. Pengangkutan a. kontainer Meja. Tersedia keran air bersih dengan kualitas dan tekanan aliran yang memadai. 6 m2) Min. 7. bak perendaman dan bak pembilasan akhir. 8. kursi.

Penyimpanan Linen Bersih R. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. 6.16 6. 5. 6. Kegiatan perbaikan-perbaikan dilaksanakan dengan prosedur sebagai berikut : • Laporan dari setiap unit yang mengalami kerusakan alat • Peralatan diteliti tingkat kerusakannya untuk mengetahui tingkat perbaikan yang diperlukan kepraktisan teknis pelaksanaan perbaikannya (apakah cukup diperbaiki ditempatnya. atau harus dibawa ke ruang workshop) Pusat Sarana.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 4.15. 5.16. Untuk linen non-infeksius (misalnya dari ruang-ruang administrasi perkantoran) dibuatkan akses ke ruang pencucian tanpa melalui ruang dekontaminasi. 2.4 – Alur Kegiatan Pada Instalasi Pencucian Linen/Laundry. Penyimpanan Troli Bersih Distribusi Linen Bersih CSSD (Resterilisasi) Tanpa Sterilisasi Gambar 5. Tidak disarankan untuk mempunyai tempat penyimpanan linen kotor. Alur kegiatan pada Instalasi Pencucian Linen/Laundry adalah sebagai berikut : Linen Kotor Troli Kotor Ruang Dekontaminasi Bak Pembilasan Awal Bak Desinfeksi (Perendaman) Bak Pembilasan Akhir Pencucian Linen Pengeringan Linen Penyetrikaan Linen Melipat Linen R. mekanis dll) • Peralatan penunjang medik • Peralatan rumah tangga dari metal/ logam (termasuk tempat tidur) • Peralatan rumah tangga dari kayu • Saluran dan perpipaan • Listrik dan elektronik. sebagai berikut : 1. DEPKES-RI 84 .15.1 BENGKEL MEKANIKAL DAN ELEKTRIKAL (. Standar kuman bagi linen bersih setelah keluar dari proses tidak mengandung 6 x 103 spora spesies Bacillus per inci persegi. Pemeliharaan dan perbaikan ringan pada : • Peralatan medik (Optik.WORKSHOP) Lingkup Sarana Pelayanan Tugas pokok dan fungsi yang harus dirangkum unit workshop adalah. elektromedik. Dekontaminasi Troli & Pengeringan R.4 Alur kegiatan. Sekretariat Jenderal.

16. 4. Ruang tempat memperbaiki kerusakan peralatan medik. prasarana dan peralatan yang sudah tidak terpakai. 12 m2) Min. bak air 5. Ruang tempat memperbaiki kerusakan sarana. meja. lemari arsip. telah diperbaiki (belum diserahkan kembali) atau yang akan diperbaiki. screen. meja. 6. yaitu peralatan optik. Nama Ruangan Fungsi Ruangan Ruang tempat kepala Instalasi bekerja dan melakukan kegiatan perencanaan dan manajemen. 9 m2 Min. DEPKES-RI Barang Keluar 85 . komputer dan printer. 16 m2 Min. 8 m2 3~5 m2/ petugas (min. Ruang tempat memperbaiki kerusakan sarana. Ruang penyimpanan sarana. Meja gambar. safety box Kursi. dll. computer. Ruang Panel Listrik Gudang spare part Gudang Meja. Min. Kursi. Min. KM/WC petugas/ pengunjung @ KM/WC pria/wanita luas 2 m2 – 3 m2 Kloset.2 Kebutuhan Ruang. panel.4 Bengkel/ Workshop Pusat Sarana. 9 m2 Lemari/rak 12. Ruang penyimpanan suku cadang (sparepart).3 Persyaratan Khusus Terletak jauh dari daerah perawatan dan gedung penunjang medik. printer. Sekretariat Jenderal. 10. Perlengkapan listrik. Ruang tempat pencatatan masuk dan keluar peralatan/ perabot rusak dan ruang tempat staf bekerja. 16 m2 8. wastafel. Alur kegiatan pada Bengkel Mekanikal dan Elektrikal adalah sebagai berikut : Gudang Spare Part Spare Part Ruang Pencatatan Barang Masuk Barang Rusak Gudang Ruang Pencatatan Barang Keluar 5. 9 m2 Kebutuhan Fasilitas 1. 11. Mekanik) Bengkel/ Workshop penunjang medik. prasarana dan peralatan yang terbuat dari metal/ logam. dll Lemari/rak Min.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C • • • • • • Analisa kerusakan Proses pengadaan komponen/suku cadang Pelaksanaan perbaikan/pemasangan komponen Perbaikan bangunan ringan Listrik/ Elektronik Telpon / Aiphone / Audio Visual. 9 m2 Perlengkapan bengkel metal/ logam Perlengkapan elektromedik Perlengkapan mekanikal bengkel peralatan 7. 5.16. dan mesin mekanik. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. prasarana dan peralatan yang terbuat dari kayu. Ruang tempat menggam bar dan menyimpan arsip-arsip teknis. lemari berkas/arsip. 3. Ruang Kepala IPSRS Ruang Administrasi (pencatatan) dan Ruang Kerja Staf Ruang Rapat/ Pertemuan Teknis Ruang Studio Gambar dan Arsip Teknis Bengkel/ Workshop Bangunan/Kayu Bengkel/ Workshop metal/ logam Bengkel/ Workshop Peralatan Medik (Optik. prasarana dan peralatan penunjang medik. 8 m2 Min. 9 m2 bengkel peralatan 9.16. Ruang tempat pengaturan distribusi listrik RS untuk kegiatan di IPSRS. intercom/telepon. 9 m2 Min. Perlengkapan kayu bengkel bangunan/ 2. Ruang tempat memperbaiki kerusakan sarana. elektromedik. Ruang tempat melaksanakan diskusi/ pertemuan teknis. sebaiknya diletakan di daerah servis karena banyak menimbulkan kebisingan. Alur kegiatan. dan peralatan kantor lainnya. KM/WC Besaran Ruang / Luas Min. Min. Elektromedik. Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas No. 6. kursi.

4 – Alur Kegiatan Pada Bengkel Mekanikal dan Elektrikal (.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Gambar 5. Sekretariat Jenderal. DEPKES-RI 86 . Pusat Sarana. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.Workshop).16.

Persyaratan-persyaratan yang lebih spesifik dan atau yang bersifat alternatip.1 Pedoman teknis ini diharapkan dapat digunakan sebagai rujukan oleh pengelola fasilitas pelayanan kesehatan. guna menjamin kesehatan penghuni bangunan dan lingkungan terhadap bahaya penyakit. Sekretariat Jenderal. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Pemerintah Daerah. serta penyesuaian Pedoman Teknis Sarana dan Prasarana Rumah Sakit Kelas C oleh masing-masing daerah disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan kelembagaan daerah.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C BAGIAN VI PENUTUP 6.3 Pusat Sarana. Sebagai pedoman/petunjuk pelengkap.2 6. penyedia jasa konstruksi. DEPKES-RI 87 . dapat digunakan Standar Nasional 6. Indonesia (SNI) terkait lainnya. dan instansi yang terkait dengan kegiatan pengaturan dan pengendalian penyelenggaraan pembangunan bangunan fasilitas pelayanan kesehatan.

Standar Pelayanan Rumah Sakit. Daftar Peralatan Esensial Untuk Rumah Sakit Kelas C. American Society of Heating. tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No : 1197/Menkes/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit. Departemen Kesehatan RI. Ditjen Pengawasan Obat dan Makanan. 36 Tahun 2005. Departemen Kesehatan RI. HVAC Design Manual for Hospitals and Clinics. ASHRAE. 2007. 2003. 1974 Edition. Ernst Neufert (Alih Bahasa : Sjamsu Amril). Data Arsitek. 1999 – 2000. 11. G. 4. Ditjen Bina Pelayanan Medik. Refrigerating and Air Conditionign Engineers.D. Pusat Sarana. Joanna R. Sekretariat Jenderal. Dit. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 13. Edisi kedua. Gizi Masyarakat. Principles and Practice. Handbook. Rumah Sakit Umum dan Pendidikan. Kunders. 2. 5. Cetakan kelima. Hospitals. 2003 edition. Instalasi Medik. 8. Departemen Kesehatan RI. Jilid 1. Surgical Technology. Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat. Ditjen Bina Pelayanan Medik. Tata McGraw-Hill Publishing Company Limited. 3. 9. Departemen Kesehatan RI. Facilities Planning and Management. DEPKES-RI 88 . Saunders. Departemen Kesehatan RI. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Applications. 2004. Ditjen Pelayanan Medik. Penerbit Erlangga. 1999. tentang Bangunan Gedung. ASHRAE. 10.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C KEPUSTAKAAN 1. Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan di Rumah Sakit. Dit. 1995. Edisi kedua. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No : 1204/Menkes/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. Fuller. 12. Refrigerating and Air Conditioning Engineers. 7. American Society of Heating. Dit. 1995. WHO Indonesia. Pedoman Jaringan Instalasi Listrik Rumah Sakit. 6.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful