SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C

PEDOMAN TEKNIS

DEPARTEMEN KESEHATAN RI SEKRETARIAT JENDERAL
PUSAT SARANA, PRASARANA DAN PERALATAN KESEHATAN TAHUN 2007

PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C

DAFTAR GAMBAR
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 32 Gambar 2.1.3 Gambar 2.2.2-a Gambar 2.2.2-b Gambar 2.2.2-c Gambar 2.2.2-d Gambar 3.6.1 Gambar 3.7.2 Gambar 4.11.1-a Gambar 4.11.1-b Gambar 4.11.1-c Gambar 4.11.1-d Gambar 4.11.1-e Gambar 4.11.1-f Gambar 4.11.2-a Gambar 4.11.2-b Gambar 4.11.2-c Gambar 4.11.2-d Gambar 4.11.2-e Gambar 5.1.4 Gambar 5.2.4 Gambar 5.3.4 Gambar 5.4.4 Gambar 5.5.4 Gambar 5.6.4 Gambar 5.7.4 Gambar 5.8.4 Gambar 5.9.4 Gambar 5.10.4 Gambar 5.11.4 Gambar 5.13.4 Gambar 5.14.4 Gambar 5.15.4 Gambar 5.16.4 Zoning rumah sakit berdasarkan pelayanan Contoh rencana lokasi Alur lalu lintas pasien di dalam rumah sakit umum Contoh Model Aliran lalu lintas Dalam RS Contoh Model Perletakan Instalasi-instalasi pada Site Rumah Sakit (Rencana Blok) Pintu kamar mandi pada ruang rawat inap harus terbuka keluar. Ruang gerak dalam Toilet untuk Aksesibel Tipikal ramp Bentuk-bentuk ramp Kemiringan ramp Pegangan rambat pada ramp Kemiringan sisi lebar ramp Pintu di ujung ramp Tipikal tangga Pegangan rambat pada tangga Desain profil tangga Detail pegangan rambat tangga Detail pegangan rambat pada dinding Alur Kegiatan pada Instalasi Rawat Jalan Alur Kegiatan pada Instalasi Gawat Darurat Alur Kegiatan pada Instalasi Rawat Inap Alur Kegiatan pada Instalasi Perawatan Intensif (;ICU) Alur Kegiatan pada Instalasi Kebidanan & Penyakit Kandungan Alur Kegiatan pada Instalasi Bedah Sentral Alur Kegiatan pada Instalasi Farmasi Alur Kegiatan pada Instalasi Radiologi Alur Kegiatan pada Instalasi Sterilisasi Pusat (;CSSD) Alur Kegiatan pada Instalasi Laboratorium Alur Kegiatan pada Instalasi Rehabilitasi Medik Alur Kegiatan pada Instalasi Pemulasaraan Jenazah Alur Kegiatan pada Instalasi Gizi/Dapur Alur Kegiatan pada Instalasi Pencucian Linen/Laundry Alur Kegiatan pada Bengkel Mekanikal dan Elektrikal

Pusat Sarana, Prasarana dan Peralatan Kesehatan, Sekretariat Jenderal, DEPKES-RI

PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C

DAFTAR TABEL
1 2 Tabel 2.1.4 Tabel 4.5.2 Kebutuhan ruang minimal untuk RSU non pendidikan Tabel Standar Suhu, Kelembaban, dan Tekanan Udara Menurut Fungsi Ruang atau Unit. Tabel indeks pencahayaan menurut jenis ruang atau unit Tabel indeks kebisingan menurut jenis ruang atau unit Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas pada Instalasi Rawat Jalan. Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas pada Instalasi Gawat Darurat. Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas pada Instalasi Rawat Inap. Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas pada Instalasi Perawatan Intensif (;ICU) Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas pada Instalasi Kebidanan dan Penyakit Kandungan. Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas pada Instalasi Bedah Sentral. Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas pada Instalasi Farmasi. Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas pada Instalasi Radiologi. Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas pada Instalasi Sterilisasi Pusat (CSSD). Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas pada Instalasi Laboratorium. Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas pada Instalasi Rehabilitasi Medik. Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas pada Bag. Adm. & Kesekretariatan RS. Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas pada Instalasi Pemulasaraan Jenazah. Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas pada Gizi/Dapur. Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas pada Instalasi Pencucian Linen (;Laundry). Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas pada Bengkel Mekanikal dan Elektrikal

3 4 5

Tabel 4.6 Tabel 4.9 Tabel 5.1.2

6

Tabel 5.2.2

7

Tabel 5.3.2

8

Tabel 5.4.2

9

Tabel 5.5.2

10

Tabel 5.6.2

11

Tabel 5.7.2

12

Tabel 5.8.2

13

Tabel 5.9.2

14

Tabel 5.10.2

15

Tabel 5.11.2

16

Tabel 5.12.2

17

Tabel 5.13.2

18

Tabel 5.14.2

19

Tabel 5.15.2

20

Tabel 5.16.2

Pusat Sarana, Prasarana dan Peralatan Kesehatan, Sekretariat Jenderal, DEPKES-RI

3 1.2 3.5 4.HVAC) Sistem Pencahayaan Sistem Fasilitas Sanitasi Sistem Instalasi Gas Medik Sistem Pengendalian Terhadap Kebisingan dan Getaran Sistem Hubungan Horisontal dalam rumah sakit Sistem Hubungan (Transportasi) Vertikal dalam rumah sakit Sarana Evakuasi Aksesibilitas Penyandang Cacat Sarana/Prasarana Umum URAIAN BANGUNAN RUMAH SAKIT Instalasi Rawat Jalan Instalasi Gawat Darurat Instalasi Rawat Inap Halaman i Iii iv 1 1 2 2 2 5 9 13 13 13 14 15 19 20 22 23 32 32 34 35 36 37 39 41 41 47 48 48 49 52 55 Pusat Sarana.III 3.1 5.6 3.14 BAGIAN . Sekretariat Jenderal.3 3.7 4.II 2.1 4.3 4.11 4.V 5.2 BAGIAN .2 5. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. DEPKES-RI i .4 1.5 BAGIAN .1 1.2 1.IV 4.4 3.5 3.6 4.12 4.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Daftar Isi Judul Daftar Isi Kata Pengantar Pendahuluan BAGIAN .1 3.8 4.10 4.2 4.13 4.4 4.9 4.I 1.7 BAGIAN .3 KETENTUAN UMUM Latar Belakang Maksud dan Tujuan Sasaran Kebijakan Pengertian PERSYARATAN UMUM BANGUNAN RUMAH SAKIT Lokasi Rumah Sakit Perencanaan bangunan rumah sakit PERSYARATAN TEKNIS SARANA RUMAH SAKIT Atap Langit-langit Dinding dan Partisi Lantai Struktur Bangunan Pintu Toilet (Kamar Kecil) PERSYARATAN TEKNIS PRASARANA RUMAH SAKIT Sistem Proteksi Kebakaran Sistem Komunikasi Dalam Rumah Sakit Sistem Penangkal Petir Sistem Kelistrikan Sistem Penghawaan (Ventilasi) dan Pengkondisian Udara (.1 2.

14 5.Workshop) PENUTUP KEPUSTAKAAN DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR Lampiran 1 – Gambar 58 60 63 66 68 71 73 75 77 79 80 82 84 86 87 Pusat Sarana.11 5.15 5.ICU) Instalasi Kebidanan dan Penyakit Kandungan (Obstetri dan Ginekologi) Instalasi Bedah Sentral Instalasi Farmasi Instalasi Radiologi Instalasi Sterilisasi Pusat (CSSD) Instalasi Laboratorium Instalasi Rehabilitasi Medik Bagian Administrasi dan Kesekretariatan Rumah Sakit Pemulasaraan Jenazah Rumah Sakit Instalasi Gizi/Dapur Instalasi Pencucian Linen/Londri (.13 5.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 5.6 5.5 5.10 5.16 BAGIAN . DEPKES-RI ii .12 5.VI Instalasi Perawatan Intensif (. Sekretariat Jenderal.8 5.7 5.4 5.Laundry) Bengkel Mekanikal dan Elektrikal (. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.9 5.

sistem proteksi terhadap bahaya kebakaran. Jakarta. Persyaratan teknis prasarana rumah sakit meliputi persyaratan. sistem gas medis. struktur dan konstruksi.dan sebagainya. baik dan benar. DEPKES-RI iii . para pengelola rumah sakit. serta persyaratan teknis lainnya. Keseluruhan persyaratan tersebut harus direncanakan sesuai dengan standard dan kaidah-kaidah yang berlaku. Desember 2007 Kepala Pusat Sarana.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Kata Pengantar Rumah Sakit Kelas C merupakan sarana pelayanan kesehatan umum tingkat kabupaten/ kota yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis 4 (empat) spesialistik dasar dan 4 (empat) spesialistik penunjang. Sekretariat Jenderal. listrik. Persyaratan rumah sakit disarankan memenuhi kriteria pemilihan lokasi rumah sakit dengan mempertimbangkan aspek sosio-ekonomi masyarakat. dinding. langit-langit. sehingga masing-masing pihak dapat mempunyai kesamaan persepsi mengenai sarana prasarana maupun peralatan Medik & Non-Medik rumah sakit. Adapun secara umum yang dimaksud dengan sarana adalah segala sesuatu hal yang menyangkut fisik gedung/ bangunan serta ruangan. Dalam rangka mencapai kualitas dan kemampuan pelayanan medis pada Rumah Sakit Kelas C ini. ventilasi. 140 058 253 Pusat Sarana. drainase. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Badan Usaha maupun Konsultan Perencanaan dan Perancangan) yang akan merencanakan. aksesibilitas dan luas lahan untuk bangunan rumah sakit. Rumah sakit harus memenuhi.Kes NIP. para pengembang rumah sakit (Yayasan. Kami mengucapkan terima kasih kepada tim penyusun dan semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan pedoman ini. sarana transportasi vertikal (ramp dan tangga serta lift). instalasi air limbah dan lain-lain. Sedangkan prasarana adalah segala sesuatu yang membuat sarana tersebut dapat berfungsi seperti pengadaan air bersih.Tugijono. Penyusunan “Pedoman Teknis Sarana dan Prasarana Rumah Sakit Kelas C“ ini diharapkan dapat digunakan sebagai rujukan oleh pengelola fasilitas pelayanan kesehatan setingkat rumah sakit kelas C. persyaratan teknis sarana dan prasarana rumah sakit yang menunjang pelayanan kesehatan secara paripurna. sistem komunikasi. pengolahan limbah. pencahayaan. air bersih. Prasarana dan Peralatan Kesehatan Ir. Persyaratan teknis sarana rumah sakit meliputi persyaratan atap. listrik. pintu dan toilet. sistem tata suara. lantai. M. maka harus didukung dengan sarana dan prasarana rumah sakit yang terencana.

I No. serta prasarana atau infrastruktur jaringan penunjang yang memadai. dimana berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan R. Bab V. Pasal 1. salah satunya adalah “Pedoman Sarana dan Prasarana Rumah Sakit Kelas C ”. Dalam rangka memenuhi suatu standar acuan tersebut diperlukan suatu pedoman perencanaan rumah sakit yang memadai.Kes/Per/II/1988 tentang Rumah Sakit. 23 Tahun 1992 Bab I. Untuk merealisasikan penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang menyeluruh dan terpadu diperlukan sarana kesehatan yang menurut Undang-undang Republik Indonesia No. rawat inap. butir 4.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Pendahuluan Kesehatan merupakan salah satu unsur kesejahteraan umum yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana dimaksudkan dalam pembukaan Undang-undang Dasar 1945 melalui pembangunan nasional yang berkesinambungan. Pusat Sarana. penunjang medik dan non medik. maka suatu pelayanan yang diselenggarakan rumah sakit harus memiliki suatu standar acuan ditinjau dari segi sarana fisik bangunan. bahwa ” setiap rumah sakit harus mempunyai ruangan untuk penyelenggaraan rawat jalan.b/Men. Mengingat hal tersebut diatas. gawat darurat. DEPKES-RI iv . yang berbunyi : ”Sarana kesehatan adalah tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan”. 159. serta harus memenuhi standardisasi bangunan rumah sakit ”. Sekretariat Jenderal. Pasal 19 dinyatakan. Rumah Sakit merupakan salah satu sarana kesehatan. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. agar tercapai satu kesatuan persepsi dalam perancangan bangunan rumah sakit.

Rumah sakit umum (RSU) diklasifikasikan menjadi 4 kelas yang didasari oleh beban kerja dan fungsi rumah sakit tersebut. 159.2 1. yaitu rumah sakit yang memberikan pelayanan utama pada suatu bidang atau satu jenis penyakit tertentu berdasarkan kekhususannya. Rumah Sakit merupakan salah satu sarana kesehatan. Bab V. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. serta harus memenuhi standardisasi bangunan rumah sakit ”. Pusat Sarana. Pengkategorian rumah sakit dibedakan berdasarkan jenis penyelenggaraan pelayanan. rawat inap. Maksud dari diterbitkannya buku “Pedoman Teknis Sarana dan Prasarana Rumah Sakit Kelas C” ini adalah untuk memberikan petunjuk atau arahan bagi pengelola rumah sakit dan pihak-pihak lain yang membutuhkan dalam merancang dan merencanakan bangunan rumah sakit dengan memperhatikan kaidah-kaidah pelayanan kesehatan sehingga bangunan rumah sakit yang dibuat Pusat Sarana. yang terdiri dari rumah sakit umum (RSU). pedoman.I No. Pasal 19 dinyatakan. maka harus didukung dengan upaya peningkatan kualitas sarana kesehatan. RS Kelas B adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis sekurangkurangnya 11 spesialistik dan sub spesialistik terbatas. penunjang medik dan non medik. Dalam rangka menunjang sasaran tersebut. Pedoman ini diharapkan dapat memberikan arahan dalam perencanaan dan pengembangan fasilitas rumah sakit kelas C. bahwa ” setiap rumah sakit harus mempunyai ruangan untuk penyelenggaraan rawat jalan. Prasarana dan Peralatan Kesehatan yang mempunyai tugas menyiapan koordinasi dan pelaksanaan penyusunan standar teknis. Sekretariat Jenderal. RS Kelas C adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis 4 spesialistik dasar.1 Maksud dan Tujuan Maksud.1 Latar Belakang Dalam rangka pembangunan nasional Tahun 2004-2009.2. RS Kelas D adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis dasar dan minimal 2 spesialistik dasar. RS Kelas A adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis spesialistik luas dan sub spesialistik luas. B. gawat darurat. kriteria dan prosedur di bidang sarana. C dan D. yaitu rumah sakit kelas A. dan peralatan kesehatan dalam hal ini akan menyusun “Pedoman Teknis Sarana dan Prasarana Rumah Sakit Kelas C”. peningkatan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan yang berkualitas merupakan salah satu agenda dari upaya mewujudkan Indonesia yang sejahtera.b/Men. yaitu rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan semua bidang dan jenis penyakit dan rumah sakit khusus (RSK).PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C BAGIAN – I KETENTUAN UMUM 1. sehingga dapat melaksanakan pelayanan kesehatan secara efisien dan efektif yang sesuai dengan kebutuhan layanan kesehatan kepada masyarakat serta memenuhi Kaidah dan Standar sebagai Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang baik dan benar. dimana berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan R. norma. DEPKES-RI 1 . prasarana. 1.Kes/Per/II/1988 tentang Rumah Sakit.

PERMENPU No. Badan Usaha maupun Konsultan Perencanaan dan Perancangan) yang akan merencanakan. Rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan semua jenis penyakit dari yang bersifat dasar sampai dengan sub spesialistik. Rumah sakit umum. Per-01/MEN/1980 tentang K3 pada konstruksi bangunan. tentang persyaratan kesehatan lingkungan RS.4 Pusat Sarana.4 Kebijakan (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) UU No. berusaha. UU No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan.1 Pengertian.3 1. PerMenNakertrans No. 1.2. 45/PRT/M/2007 tentang Pedoman Teknis Pembangunan Bangunan Gedung Negara. Rumah sakit umum kelas C.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C dapat menampung kebutuhan-kebutuhan pelayanan dan tidak menimbulkan akibat buruk terhadap pengguna.2 Tujuan. baik untuk tempat tinggal. 1.3 Sasaran Sasaran dari penyusunan pedoman ini adalah pihak manajemen rumah sakit. DEPKES-RI 2 . 1. di atas tanah/perairan. tempat manusia melakukan kegiatannya. 1. Sarana.2 1. menjadi arahan bagi perencana dalam merencanakan pembangunan sarana dan prasarana rumah sakit.5. 1204/KepMenkes/SK/X/2004. PerMenKes RI No. Kepmenkes-RI No. maupun kegiatan sosial dan budaya. 159b/MENKES/PER/II/1988 tentang Rumah Sakit. 28 Tahun 2002 tentang bangunan gedung. Konstruksi bangunan yang diletakkan secara tetap dalam suatu lingkungan. Bangunan gedung. KepMenKes No.5 1.5. menjadi bahan untuk memperkirakan anggaran biaya pembangunan sarana dan prasarana rumah sakit.5. Tujuan dari diterbitkannya buku pedoman ini adalah : (1) (2) (3) perencanaan pembangunan sarana dan prasarana rumah sakit dapat terkendali dengan baik. 1333/MENKES/SK/XII/1999 tentang Standar Pelayanan Rumah Sakit. sehingga masingmasing pihak dapat mempunyai kesamaan persepsi mengenai sarana prasarana maupun peralatan Medik & Non-Medik rumah sakit. Sekretariat Jenderal. para pengembang rumah sakit (Yayasan. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis 4 (empat) spesialistik dasar dan 4 (empat) spesialistik penunjang.5. ataupun di bawah tanah/perairan. 1.

Instalasi Gawat Darurat. Fasilitas untuk merawat pasien yang dalam keadaan sakit berat sesudah operasi berat atau bukan karena operasi berat yang memerlukan secara intensif pemantauan ketat dan tindakan segera. Instalasi bedah. 1.9 1. Sekretariat Jenderal.5. 1. 1. Instalasi Rawat Jalan. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. penyelidikan. Fasilitas untuk melakukan pemeriksaan terhadap pasien dengan menggunakan energi radioaktif dalam diagnosis dan pengobatan penyakit.6 1. Fasilitas yang melayani pasien yang berada dalam keadaan gawat dan terancam nyawanya yang membutuhkan pertolongan secepatnya.8 1.5.5.11 Instalasi Bedah.10 Instalasi Kebidanan dan penyakit kandungan. serta memberikan informasi dan konsultasi perihal obat. Fasilitas untuk penyediaan dan membuat obat racikan.5. dan sebagainya) 1. kimia. 1. Fasilitas kerja khususnya untuk melakukan pemeriksaan dan penyelidikan ilmiah (misalnya fisika. pemeriksaan dan pengobatan pasien oleh dokter ahli di bidang masing-masing yang disediakan untuk pasien yang membutuhkan waktu singkat untuk penyembuhannya atau tidak memerlukan pelayanan perawatan. Instalasi Rawat Inap. Instalasi Perawatan Intensif (Intensive Care Unit = ICU). Fasilitas untuk menghilangkan semua mikroorganisme baik dengan cara fisik maupun kimia. penyediaan obat paten. Benda maupun jaringan / instalasi yang membuat suatu sarana yang ada bisa berfungsi sesuai dengan tujuan yang diharapkan.12 Instalasi Farmasi. Fasilitas yang digunakan merawat pasien yang harus di rawat lebih dari 24 jam (pasien menginap di rumah sakit). Fasilitas menyelenggarakan kegiatan persalinan.CSSD/ Central Supply Sterilization Departement) Instalasi Sterilisasi Pusat (Central Sterile Supply Department = CSSD). higiene.5.15 Instalasi Laboratorium.5.5 Prasarana. adalah suatu unit khusus di rumah sakit yang berfungsi sebagai tempat untuk melakukan tindakan pembedahan secara elektif maupun akut.16 Instalasi Rehabilitasi Medik.5.5.5. nifas dan gangguan kesehatan reproduksi.7 1.13 Instalasi Radiologi. perinatal. 1.5. Fasilitas yang digunakan sebagai tempat konsultasi. DEPKES-RI 3 . 1.5.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Segala sesuatu benda fisik yang dapat tervisualisasi mata maupun teraba oleh panca indra dan dengan mudah dapat dikenali oleh pasien dan (umumnya) merupakan bagian dari suatu gedung ataupun bangunan gedung itu sendiri. yang membutuhkan kondisi steril dan kondisi khusus lainnya.5.14 Instalasi Sterilisasi Pusat (. 1. Pusat Sarana.

riwayat penyakit. 1. Fasilitas melakukan proses penanganan makanan dan minuman meliputi kegiatan.Workshop) Fasilitas untuk melakukan pemeliharaan dan perbaikan ringan terhadap komponen-komponen Sarana. hasil pemeriksaan dan pengobatan pasien yang diterapkan secara terpusat/sentral. 1. persiapan pengiriman dan pengiriman. pengeringan. penyimpanan.18 Pemulasaran jenazah. memandikan jenazah. pengadaan bahan mentah.5. pengolahan.17 Instalasi Administrasi dan Rekam Medis Suatu unit dalam rumah sakit tempat melaksanakan kegiatan administrasi dan pencatatan dan tempat melaksanakan kegiatan merekam dan menyimpan berkasberkas jati diri. DEPKES-RI 4 . dan penyajian makanan-minuman.5.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Fasilitas pelayanan untuk memberikan tingkat pengembalian fungsi tubuh dan mental pasien setinggi mungkin sesudah kehilangan/ berkurangnya fungsi tersebut. penyimpanan.21 Bengkel Mekanikal dan Elektrikal (. 1.20 Instalasi Cuci (Laundry). penerimaan. cuci dan pemisahan. 1.5.5. 1.5. Fasilitas untuk melakukan pencucian linen yang terdiri dari.19 Instalasi Gizi/Dapur. Sekretariat Jenderal. Fasilitas untuk meletakkan/menyimpan sementara jenazah sebelum diambil oleh keluarganya. pemulasaraan dan pelayanan forensik. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. disinfeksi bila perlu. Pusat Sarana. Prasarana dan Peralatan Medik. pemberian kode dan bungkus. seterika. perbaikan.

Data Arsitek Edisi Kedua. 1 Ernst Neufert. yang selanjutnya dilaporkan setiap 6 (enam) bulan (KepmenKLH/08/2006). dan jalur telepon. Pengembang harus membuat utilitas tersebut selalu tersedia. Penerbit Erlangga. hendaknya dibuat dalam bentuk implementasi Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UKL-UPL). Perhitungan kebutuhan lahan parkir pada RS idealnya adalah 1. Lokasi harus mudah dijangkau oleh masyarakat atau dekat ke jalan raya dan tersedia infrastruktur dan fasilitas dengan mudah. (4) Tersedianya utilitas publik.5m2 s/d 50m2 per tempat tidur) 1 atau menyesuaikan dengan kondisi sosial ekonomi daerah setempat. Untuk limbah cair yang mengandung logam berat dan radioaktif disimpan dalam kontainer khusus kemudian dikirim ke tempat pembuangan limbah khusus daerah setempat yang telah mendapatkan izin dari pemerintah. Hospital Waste Water Treatment Plant (HWWTP)). Rumah sakit membutuhkan air bersih.1 2. (3) Fasilitas parkir. Sekretariat Jenderal. Selain itu kontur tanah juga berpengaruh terhadap perencanaan sistem drainase. karena prasarana parkir dan jalan masuk kendaraan akan menyita banyak lahan.  Fasilitas pengelolaan limbah padat infeksius dan non–infeksius (sampah domestik).  Fasilitas pengolahan limbah cair (Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). (5) Pengelolaan Kesehatan Lingkungan Setiap RS harus dilengkapi dengan persyaratan pengendalian dampak lingkungan antara lain :  Studi Kelayakan Dampak Lingkungan yang ditimbulkan oleh RS terhadap lingkungan disekitarnya. kondisi jalan terhadap tapak bangunan dan lain-lain. DEPKES-RI 5 .PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C BAGIAN – II PERSYARATAN UMUM BANGUNAN RUMAH SAKIT 2.5 s/d 2 kendaraan/tempat tidur (37. pembuangan air kotor/limbah. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.1 Lokasi Rumah Sakit. listrik. Perancangan dan perencanaan prasarana parkir di RS sangat penting. Tempat parkir harus dilengkapi dengan rambu parkir. 1995 Pusat Sarana. Sewage Treatment Plan (STP). Aksesibel untuk penyandang cacat (2) Kontur Tanah kontur tanah mempunyai pengaruh penting pada perencanaan struktur. Pemilihan lokasi.1.  Fasilitas Pengelolaan Limbah Cair ataupun Padat dari Instalasi Radiologi. (1) Aksesibilitas untuk jalur transportasi dan komunikasi. dan harus dipilih sebelum perencanaan awal dapat dimulai. misalnya tersedia pedestrian.

Kenyamanan. (3) Memenuhi persyaratan Peraturan Daerah setempat (tata kota yang berlaku).PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C  Fasilitas Pengolahan Air Bersih (. Misalkan Ketentuan KLB suatu daerah adalah maksimum 3 dengan KDB maksimum 60% maka luas total lantai yang dapat dibangun adalah 3 kali luas total area area/tanah dengan luas lantai dasar adalah 60%.  Pemilihan lokasi sebaiknya bebas dari kebisingan yang tidak semestinya dan polusi atmosfer yang datang dari berbagai sumber. (2) Perencanaan RS harus mengikuti Rencana Tata Bangunan & Lingkungan (RTBL). Koefisien Lantai Bangunan (KLB) Ketentuan besarnya KLB mengikuti peraturan daerah setempat. uap dan gangguan lain. (6) Bebas dari kebisingan. b. b. Misalkan Ketentuan KDB suatu daerah adalah maksimum 60% maka area yang dapat didirikan bangunan adalah 60% dari luas total area/ tanah. d. ruang terbuka hijau kabupaten/kota Untuk bangunan gedung yang mempunyai KDB kurang dari 40%. c. (7) 2. Hal ini sebaiknya dipertimbangkan apabila ada rencana pembangunan bangunan baru. Master Plan dan Pengembangannya. asap. c.1. (1) Intensitas antar Bangunan Gedung di RS harus memperhitungkan jarak antara massa bangunan dalam RS dengan mempertimbangkan hal-hal berikut ini : a. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.Water Treatment Plant) yang menjamin keamanan konsumsi air bersih rumah sakit. d. daerah resapan air 2. KLB menentukan luas total lantai bangunan yang boleh dibangun. sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan daerah setempat tentang bangunan gedung.  Pasien dan petugas membutuhkan udara bersih dan lingkungan yang tenang. Koefisien Dasar Bangunan (KDB) Ketentuan besarnya KDB mengikuti peraturan daerah setempat. yaitu : a.2 Massa Bangunan. Review master plan dilaksanakan setiap 5 tahun. disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan kesehatan yang diinginkan RS Pusat Sarana. harus diperhitungkan dengan mempertimbangkan 1. Sekretariat Jenderal. (4) Pengembangan RS pola vertikal dan horizontal Penentuan pola pembangunan RS baik secara vertikal maupun horisontal. Setiap rumah sakit harus menyusun master plan pengembangan kedepan. Keselarasan dan keseimbangan dengan lingkungan. Keselamatan terhadap bahaya kebakaran. harus mempunyai KDH minimum sebesar 15%. Koefisien Daerah Hijau (KDH) Perbandingan antara luas area hijau dengan luas persil bangunan gedung negara. Kesehatan termasuk sirkulasi udara dan pencahayaan. terutama pada daerah yang kesulitan dalam menyediakan air bersih. DEPKES-RI 6 . Garis Sempadan Bangunan (GSB) dan Garis Sepadan Pagar (GSP) Ketentuan besarnya GSB dan GSP harus mengikuti ketentuan yang diatur dalam RTBL atau peraturan daerah setempat.

 Zona Pelayanan Medik dan Perawatan yang terdiri dari : Instalasi Rawat Jalan (IRJ). area semi publik.budget). ruang bersalin. area publik. Pemulasaraan Jenazah. misalkan poliklinik. ruang rawat inap. instalasi bedah. ruang radiodiagnostik. rawat jalan. ruang pertemuan. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.cultures). radiologi. Bagian Pengadaan. Instalasi Perawatan Intensif (ICU/ICCU/PICU/NICU). Instalasi Rehabilitasi Medik (IRM). IGD. Sekretariat Jenderal. (1) Zonasi berdasarkan tingkat risiko terjadinya penularan penyakit terdiri dari :     (2) area dengan risiko rendah. umumnya merupakan area yang menerima beban kerja dari area publik. zonasi berdasarkan privasi dan zonasi berdasarkan pelayanan. yaitu area yang menerima tidak berhubungan langsung dengan lingkungan luar rumah sakit. lahan yang tersedia (.Central Sterilization Supply Dept. Pengkategorian pembagian area atau zonasi rumah sakit adalah zonasi berdasarkan tingkat risiko terjadinya penularan penyakit. misalnya seperti ICU/ICCU. apotek). Instalasi Sterilisasi Pusat (. Sistem Pengawasan Internal (SPI). Dapur Utama. kebudayaan daerah setempat (. umumnya area tertutup. Bagian Sumber Daya Manusia (SDM). rehabilitasi medik. yaitu ruang kesekretariatan dan administrasi. Instalasi Gawat Darurat (IGD). area dengan risiko sedang. Instalasi Rawat Inap (IRNA). Bagian Informasi dan Teknologi (IT). yaitu area yang dibatasi bagi pengunjung rumah sakit. DEPKES-RI 7 . Instalasi Bedah. ruang komputer.climate).3 Zonasi. Laundri. area dengan risiko tinggi. Instalasi Kebidanan dan Penyakit Kandungan Zona Penunjang dan Operasional yang terdiri dari : Instalasi Farmasi. area privat. IGD. yaitu area yang mempunyai akses langsung dengan lingkungan luar rumah sakit. yaitu ruang isolasi. laboratorium. Bagian Rekam Medik.1. ruang arsip/rekam medis. Bagian Perencanaan dan Pengembangan (Renbang).PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C (. ruang ICU/ICCU. Zonasi berdasarkan privasi kegiatan terdiri dari :    (3) Zonasi berdasarkan pelayanan terdiri dari :   Pusat Sarana. area dengan risiko sangat tinggi. pemulasaraan jenazah dan ruang bedah mayat. kondisi alam daerah setempat (. Bagian Logistik/ Gudang. Laboratorium. yaitu ruang rawat inap non-penyakit menular.health needs). instalasi kebidanan dan penyakit kandungan. Instalasi Pemeliharaan Sarana (IPS). misalnya laboratorium. 2./CSSD).sites) dan kondisi keuangan manajemen RS (. Bagian Pendidikan dan Penelitian (Diklit). ruang patolgi. Instalasi Radiodiagnostik. yaitu ruang bedah. Instalasi Sanitasi. Zona Penunjang Umum dan Administrasi yang terdiri dari : Bagian Kesekretariatan dan Akuntansi.

Planning and Management. Hospital.D Kunders. rumah sakit umum (non pendidikan) dengan kapasitas 300 tempat tidur. kebutuhan luas lantainya adalah sebesar 80 (m2/tempat tidur) x 300 tempat tidur = + 24.3 . Design and Development. 2004 Pusat Sarana. Tabel 3.Zoning Rumah Sakit Berdasarkan Pelayanan Pada RS Pola Pembangunan Horisontal 2.1.1. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. DEPKES-RI 8 . rumah sakit pendidikan dengan kapasitas 500 tempat tidur. (3) (4) (5) 2 3 ) W. Facilities. 3) Sebagai contoh. Paul James DipArch FRIBA.1. 2) Sebagai contoh.000 m2 . Kebutuhan luas lantai untuk rumah sakit umum (non pendidikan) saat ini disarankan 80 m2 sampai dengan 110 m2 setiap tempat tidur. Hospitals. Sekretariat Jenderal. The Architectural PressLondon.4 menunjukkan bagian-bagian dari rumah sakit umum (non pendidikan) dan ruangan yang dibutuhkannya. William Tatton ARIBA. Tata McGraw-Hill. (1) (2) Kebutuhan luas lantai untuk rumah sakit pendidikan disarankan + 110 m2 setiap tempat tidur.000 m2 . 1986 ) G.4 Kebutuhan luas lantai.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Gambar 2. kebutuhan luas lantainya adalah sebesar + 110 (m2/tempat tidur) x 500 tempat tidur = + 55.

6 1 ~ 1.4 ~ 0.5 3~4 2.3 5~6 0.5 0.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Tabel 2.5 0.4 0.1.8 ~ 1 1 ~ 1.2 0.4 ~ 0.5 ~ 5 10 ~ 15 25 ~ 35 2 Pusat Sarana.2 ~ 1.5 ~ 0.8 0.5 0.5 ~ 0.5 0.3 ~ 0.8 0.5 3.5 0. Pathologi Kebidanan dan kandungan Diagnostik dan Radiologi Dapur makanan Fasilitas petugas Ruang pertemuan. 3) Daerah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 Administrasi Unit Gawat Darurat Poliklinik Pelayanan social Pendaftaran Laboratorium Klinis.4 ~ 0.5 ~ 1 0.5 ~ 3.5 ~ 3 1. DEPKES-RI 9 .4 ~ 0.3 ~ 0.1 ~ 0.5 ~ 3.5 1 ~ 1.4 ~ 0. Sekretariat Jenderal.2 2.5 0. Rumah tangga/kebersihan Manajemen material Gudang pusat Pembelian Laundri Rekam medis Fasilitas staf medik Teknik dan pemeliharaan Pengobatan nuklir Ruang anak Petugas Farmasi Ruang public Ruang pengobatan kulit Therapi radiasi Therapi fisik Therapi okupasi Ruang bedah Sirkulasi Unit rawat inap Luas (m ) per tempat tidur 3 ~ 3.5 0.2 1 ~ 1. pelatihan Terapi Wicara dan pendengaran. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.5 2.0 0.5 1 ~ 1.1 0.1 0.2 ~ 0.2 0.4 – Kebutuhan ruang minimal untuk rumah sakit umum non pendidikan.

2. mengurangi efisiensi pelayanan pasien dan meninggikan risiko infeksi. (2) (3) Pusat Sarana. pemisahan antara pekerjaan bersih dan pekerjaan kotor. (1) Maksimum pencahayaan dan angin untuk semua bagian bangunan merupakan faktor yang penting. RS minimal mempunyai 3 akses/pintu masuk.2. Prinsip umum.1 Perencanaan bangunan rumah sakit. Tata letak Pos perawat harus mempertimbangkan kemudahan bagi perawat untuk memonitor dan membantu pasien yang sedang berlatih di koridor pasien. (1) Perlindungan terhadap pasien merupakan hal yang harus diprioritaskan. (2) (3) (4) 2.2 2. DEPKES-RI 10 . Jendela sebaiknya dilengkapi dengan kawat kasa untuk mencegah nyamuk dan binatang terbang lainnya yang berada dimana-mana di sekitar rumah sakit. Jiwa pasien sering tergantung padanya. pasien dan petugas rumah sakit lainnya. perbedaan tipe pasien. perawat. Mengontrol aktifitas petugas terhadap pasien serta aktifitas pengunjung RS yang datang. Pemisahan aktivitas yang berbeda. aktivitas tenang dan bising. Merencanakan sependek mungkin jalur lalu lintas. khususnya untuk pasien bedah dimana kondisi bersih sangat penting. Pasien di ruang ICU harus dijaga terhadap infeksi. Terlalu banyak lalu lintas akan menggangu pasien.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 2. Waktu yang terbuang akibat langkah yang tidak perlu membuang biaya disamping kelelahan orang pada akhir hari kerja. Bayi haru dilindungi dari kemungkinan pencurian dan dari kuman penyakit yang dibawa pengunjung dan petugas rumah sakit. pintu masuk ke Unit Gawat Darurat dan Pintu Masuk ke area layanan Servis. Ini khususnya untuk rumah sakit yang tidak menggunakan air conditioning. agar aktifitas pasien dan petugas tidak terganggu.2 Prinsip khusus. terdiri dari pintu masuk utama. dan pengunjung masuk dan ke luar unit. Sekretariat Jenderal. Kondisi ini membantu menjaga kebersihan (aseptic) dan mengamankan langkah setiap orang. Begitu pula pada kamar bedah. (contoh sakit serius dan rawat jalan) dan tipe berbeda dari lalu lintas di dalam dan di luar bangunan. Jaminan perlindungan terhadap infeksi merupakan persyaratan utama yang harus dipenuhi dalam kegiatan pelayanan terhadap pasien. Rumah sakit adalah tempat dimana sesuatunya berjalan cepat. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.

Rumah sakit perlu dirancang agar petugas. harus mengikuti prosedur yang telah ditentukan.40 m dengan tinggi langit-kangit minimal 2. Bordes dan timbangan tersedia di daerah itu. Pintu masuk dan lobi disarankan dibuat cukup menarik.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Gambar 2. Apabila ramp digunakan. dan bila mungkin berdekatan dengan lif service. Alur lalu lintas pasien dan petugas RS harus direncanakan seefisien mungkin. DEPKES-RI 11 . pasien dan pengunjung mudah orientasinya jika berada di dalam bangunan.40 m.Contoh rencana lokasi (4) Pintu masuk untuk service sebaiknya berdekatan dengan dapur dan daerah penyimpanan persediaan (gudang) yang menerima barang-barang dalam bentuk curah. dimaksudkan untuk mengurangi waktu kemacetan. Bahan-bahan. Pusat Sarana. Lebar koridor 2. Sekretariat Jenderal. Akses ke kamar mayat sebaiknya diproteksi terhadap pandangan pasien dan pengunjung untuk alasan psikologis. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. terapi khusus dan ke pelayanan medis lain. tidak melalui daerah pasien rawat inap. radiologi.2-a . Koridor sebaiknya lurus. Sampah padat dan sampah lainnya dibuang dari tempat ini. kemiringannya sebaiknya tidak melebihi 1 : 10 ( membuat sudut maksimal 70) Alur pasien rawat jalan yang ingin ke laboratorium. radiologi dan bagian lain.2. farmasi. material dan pembuangan sampah sebaiknya tidak memotong pergerakan orang. juga benda-benda yang tidak terpakai. Koridor publik dipisah dengan koridor untuk pasien dan petugas medik. sehingga pasien dan pengantar pasien mudah mengenali pintu masuk utama. (5) (6) (7) (8) (9) (10) Alur pasien rawat inap jika ingin ke laboratorium.

2. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Sekretariat Jenderal.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C PASIEN SAKIT MASUK PENDAFTARAN / ADMINISTRASI INSTALASI RAWAT JALAN INSTALASI LABORATORIUM INSTALASI RADIOLOGI INSTALASI GAWAT DARURAT INSTALASI BEDAH INSTALASI KEBIDANAN DAN KANDUNGAN INSTALASI PERAWATAN INTENSIF PULANG SEHAT KELUAR INSTALASI RAWAT INAP INSTALASI RAWAT INAP KEBIDANAN INSTALASI PEMULASARAAN JENAZAH Gambar 2. DEPKES-RI 12 .2-b – Alur sirkulasi pasien di dalam rumah sakit umum Pusat Sarana.

DEPKES-RI 13 . Gambar 2.2-d. Sekretariat Jenderal.2.2-d – Contoh Model Perletakan Instalasi-instalasi pada Site Rumah Sakit (Rencana Blok) Pusat Sarana.2-c – Contoh Model Aliran lalu lintas dalam RS (11) Site Plan atau Tata letak instalasi-instalasi berdasarkan zoning dan peruntukan bangunan yang telah direncanakan. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Gambar 2. Contoh dapat dilihat pada gambar 2.2.2.

70 m. Pusat Sarana. dan mudah dibersihkan. atau genteng beton. harus dari metal yang tidak mudah berkarat. Disamping itu dinding harus tidak mengkilap.2. Umum.2 Persyaratan atap. 3. dan tinggi di selasar (koridor) minimal 2. Langit-langit. (1) Penutup atap.1 Dinding dan Partisi. kedap air. atau di cat dengan cat dasar anti karat. DEPKES-RI 14 .3. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.40 m. harus dari kualitas yang baik dan kering. (1) (2) Umum. Penutup atap bila menggunakan genteng keramik. merupakan pilihan utama. Persyaratan langit-langit. 3. atau genteng tanah liat (plentong). Rangka atap harus kuat memikul beban penutup atap. Langit-langit mungkin harus dari bahan kedap suara. Apabila rangka atap dari bahan metal. 3.1.1. Langit-langit harus kuat. (c) (2) Rangka atap. tahan lama dan tidak menjadi tempat perindukan serangga.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C BAGIAN – III PERSYARATAN TEKNIS SARANA RUMAH SAKIT 3. Umum. 3. minimal 2. tikus. dan mudah dibersihkan. Atap harus kuat. tidak porous.3. Rangka langit-langit harus kuat. Mengingat pemeliharaannya yang sulit khususnya bila terjadi kebocoran. dan binatang pengganggu lainnya. tahan karat. (a) (b) (c) Tinggi langit-langit di ruangan.1. (a) (b) (c) 3. Apabila rangka atap dari bahan kayu. tidak bocor. Sekretariat Jenderal. dan dilapisi dengan cat anti rayap. tahan api. tidak punya sambungan (utuh). berwarna terang.1 Atap. penggunaan genteng metal sebaiknya dihindari. Dinding harus keras. (a) (b) Penutup atap dari bahan beton dilapis dengan lapisan tahan air. pemasangannya harus dengan sudut kemiringan sesuai ketentuan yang berlaku.

mudah dibersihkan dan dipelihara. Permukaan dari semua lantai tidak boleh porous.4.2 Persyaratan lantai pada ruang-ruang khusus. Tahanan dari lantai konduktif diukur tiap bulan. linolium. Pelapis lembar/siku baja tahan karat (stailess steel) pada sudut-sudut tempat benturan membantu mengurangi kerusakan. Semacam plastik keras (vinil). Cat epoksi pada dasarnya mempunyai kecenderungan untuk mengelupas atau membentuk serpihan. memberikan dinding tanpa kampuh ( tanpa sambungan = seamless).2 Persyaratan dinding pada ruang-ruang khusus. kedap air. dan harus memenuhi persyaratan yang berlaku seperti dalam NFPA 56A.4.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 3. tetapi bukan sedemikian konduktifnya sehingga membahayakan petugas dari sengatan listrik. (1) Pelapisan dinding dengan bahan keras seperti formika. Umum. Lantai harus cukup konduktif. dan pemvakuman basah. Untuk mencegah menimbunnya muatan listrik pada tempat dipergunakan gas anestesi mudah terbakar. Sambungan antaranya bisa di “seal” dengan filler plastik. 3.4. Polyester yang dilapisi (laminated polyester) atau plester yang halus dan dicat. (4) (5) (6) (7) (8) (9) Pusat Sarana. 3. Sekretariat Jenderal. Lantai dilokasi anestesi yang tidak mudah terbakar tidak perlu konduktif. warna terang. dan teraso.1 Lantai. Tahanan listrik dari bahanbahan ini bisa berubah dengan umur dan akibat pembersihan. (1) (2) (3) Lantai yang selalu kontak dengan air harus mempunyai kemiringan yang cukup ke arah saluran pembuangan. Dinding yang berlapiskan keramik/porselen. tidak licin. dan mudah dibersihkan. permukaan rata. tetapi cukup keras untuk pembersihan dengan penggelontoran (flooding). sehingga mudah untuk menghilangkan muatan listrik statik dari peralatan dan petugas. dan bahan-bahan yang tanpa sambungan dipergunakan untuk lantai yang non konduktif. Keramik/porselin bisa retak dan patah. Permukaan lantai tersebut harus dapat memberikan jalan bagi peralatan yang mempunyai konduktivitas listrik yang sedang antara peralatan dan petugas yang berhubungan dengan lantai tersebut. lantai yang konduktif harus dipasang. Semen diantara keramik/porselin tidak bisa halus. megumpulkan debu dan mikro organisme diantara sambungannya. ubin aspal. DEPKES-RI 15 . (2) (3) (4) (5) 3. termasuk vinil anti statik. dan kebanyakan sambungan yang diplaster cukup porous sehingga mudah ditinggali mikro organisme meskipun telah dibersihkan.3. Lantai harus terbuat dari bahan yang kuat. Pertemuan lantai dengan dinding harus berbentuk konus/lengkung agar mudah dibersihkan. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Lantai yang konduktif bisa diperoleh dari berbagai jenis bahan.

PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 3. dan stabil dalam memikul beban/kombinasi beban dan memenuhi persyaratan keselamatan (safety). pengaruh korosi. sehingga bangunan rumah sakit selalu memenuhi persyaratan keselamatan struktur. kondisi strukturnya masih dapat memungkinkan pengguna bangunan rumah sakit menyelamatkan diri. Pemeriksaan keandalan bangunan rumah sakit dilaksanakan secara berkala sesuai dengan pedoman teknis atau standar teknis yang berlaku. harus dilakukan pemeriksaan keandalan bangunan secara berkala sesuai dengan Pedoman Teknis atau standar yang berlaku. strukturnya harus direncanakan dan dilaksanakan agar kuat. dan serangga perusak. baik beban muatan tetap maupun beban muatan sementara yang timbul akibat gempa. semua unsur struktur bangunan rumah sakit. Penentuan mengenai jenis. Untuk menentukan tingkat keandalan struktur bangunan.1 Struktur Bangunan. (a) Setiap bangunan rumah sakit. Tata cara perencana an ketahanan gempa untuk rumah dan gedung. lokasi. SNI 03-1727-1989 atau edisi terbaru. beban sementara (angin. termasuk beban tetap. Struktur bangunan rumah sakit harus direncanakan secara detail sehingga pada kondisi pembebanan maksimum yang direncanakan. Tata cara perencanaan pembebanan untuk rumah dan gedung. Perbaikan atau perkuatan struktur bangunan harus segera dilakukan sesuai rekomendasi hasil pemeriksaan keandalan bangunan rumah sakit. (a) (b) Pusat Sarana. kokoh. Kemampuan memikul beban diperhitungkan terhadap pengaruhpengaruh aksi sebagai akibat dari beban-beban yang mungkin bekerja selama umur layanan struktur. Sekretariat Jenderal. harus diperhitungkan memikul pengaruh gempa rencana sesuai dengan zona gempanya. intensitas dan cara bekerjanya beban harus sesuai dengan standar teknis yang berlaku. Analisis struktur harus dilakukan untuk memeriksa respon struktur terhadap beban-beban yang mungkin bekerja selama umur kelayanan struktur. apabila terjadi keruntuhan. gempa) dan beban khusus. Persyaratan pembebanan Bangunan Rumah Sakit. keawetan.5. DEPKES-RI 16 . serta memenuhi persyaratan kelayanan (serviceability) selama umur layanan yang direncanakan dengan mempertimbangkan fungsi bangunan rumah sakit. dan harus dilakukan atau didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. seperti : 1) 2) SNI 03–1726-1989 atau edisi terbaru. baik bagian dari sub struktur maupun struktur gedung. (1) Umum. angin. (b) (c) (d) (e) (f) (g) (2) Persyaratan Teknis. Dalam perencanaan struktur bangunan rumah sakit terhadap pengaruh gempa. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.5. 3. jamur. dan kemungkinan pelaksanaan konstruksinya.

(c) Konstruksi Kayu Perencanaan konstruksi kayu harus memenuhi standar teknis yang berlaku. Tata cara rencana pembuatan campuran beton ringan dengan agregat ringan. SNI 03-1734-1989 atau edisi terbaru. Tata Cara dan/atau pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan konstruksi baja .5. konstruksi kayu atau konstruksi dengan bahan dan teknologi khusus (2) Persyaratan Teknis. (a) Konstruksi beton Perencanaan konstruksi beton harus memenuhi standar teknis yang berlaku. 3) 4) 5) 6) (b) Konstruksi Baja Perencanaan konstruksi baja harus memenuhi standar yang berlaku seperti : 1) 2) 3) 4) SNI 03-1729-1989 atau edisi terbaru. Tata Cara Pembuatan dan Perakitan Konstruksi Kayu SNI 03 – 2407 – 1991 atau edisi terbaru. Tata cara perencanaan bangunan baja untuk gedung. SNI 03–3449-1994 atau edisi terbaru.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 3. DEPKES-RI 17 . Sekretariat Jenderal. Tata cara pembuatan rencana campuran beton normal. Tata cara perencanaan dinding struktur pasangan blok beton berongga bertulang untuk bangunan rumah dan gedung. SNI 03–3430-1994 atau edisi terbaru. SNI 03–3976-1995 atau edisi terbaru. konstruksi baja. seperti : 1) 2) SNI 03–2847-1992 atau edisi terbaru. SNI 03–2834 -1992 atau edisi terbaru. Tata cara/pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan konstruksi kayu. Pusat Sarana. Tata Cara Pemeliharaan Konstruksi Baja Selama Pelaksanaan Konstruksi. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Tata cara pengadukan dan pengecoran beton. Tata Cara Pembuatan atau Perakitan Konstruksi Baja. Tata cara perencanaan beton dan struktur dinding bertulang untuk rumah dan gedung. Konstruksi atas bangunan rumah sakit dapat terbuat dari konstruksi beton.2 Struktur Atas (1) Umum. Tata cara perhitungan struktur beton untuk bangunan gedung. Tata cara pengecatan kayu untuk rumah dan gedung. seperti: 1) 2) 3) 4) Tata Cara Perencanaan Konstruksi Kayu untuk Bangunan Gedung.

Sekretariat Jenderal. antara lain: 1) SNI 03-1735-2000 atau edisi terbaru.3 Struktur Bawah (1) Umum.5. Struktur bawah bangunan rumah sakit dapat berupa pondasi langsung atau pondasi dalam.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C (d) Konstruksi dengan Bahan dan Teknologi Khusus 1) Perencanaan konstruksi dengan bahan dan teknologi khusus harus dilaksanakan oleh ahli struktur yang terkait dalam bidang bahan dan teknologi khusus tersebut. Pusat Sarana. (a) Pondasi Langsung 1) Kedalaman pondasi langsung harus direncanakan sedemikian rupa sehingga dasarnya terletak di atas lapisan tanah yang mantap dengan daya dukung tanah yang cukup kuat dan selama berfungsinya bangunan tidak mengalami penurunan yang melampaui batas. Tata cara perencanaan bangunan dan lingkungan untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan rumah dan gedung. standar teknis lainnya yang terkait dalam perencanaan suatu bangunan yang harus dipenuhi. Perencanaan konstruksi dengan memperhatikan standar teknis padanan untuk spesifikasi teknis. disesuaikan dengan kondisi tanah di lokasi didirikannya rumah sakit. SNI 03–2405-1991 atau edisi terbaru. SNI 03–2394-1991 atau edisi terbaru. Tata cara perencanaan dan perancangan bangunan kedokteran nuklir di rumah sakit. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Tata cara penanggulangan rayap pada bangunan rumah dan gedung dengan termitisida. Tata cara perencanaan struktur bangunan untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan rumah dan gedung. SNI 03–2404-1991 atau edisi terbaru. Tata cara perencanaan dan perancangan bangunan radiologi di rumah sakit. DEPKES-RI 18 . SNI 03-1963-1990 atau edisi terbaru. 2) (e) Pedoman Spesifik Untuk Tiap Jenis Konstruksi Selain pedoman yang spesifik untuk masing-masing jenis konstruksi. Tata cara pencegahan rayap pada pembuatan bangunan rumah dan gedung. (2) Persyaratan Teknis. Tata cara dasar koordinasi modular untuk perancangan bangunan rumah dan gedung. SNI 03–2395-1991 atau edisi terbaru. 2) 3) 4) 5) 6) 7) 3. SNI 03-1736-1989 atau edisi terbaru. tata cara. dan metoda uji bahan dan teknologi khusus tersebut.

PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C

2)

Perhitungan daya dukung dan penurunan pondasi dilakukan sesuai teori mekanika tanah yang baku dan lazim dalam praktek, berdasarkan parameter tanah yang ditemukan dari penyelidikan tanah dengan memperhatikan nilai tipikal dan korelasi tipikal dengan parameter tanah yang lain. Pelaksanaan pondasi langsung tidak boleh menyimpang dari rencana dan spesifikasi teknik yang berlaku atau ditentukan oleh perencana ahli yang memiiki sertifikasi sesuai. Pondasi langsung dapat dibuat dari pasangan batu atau konstruksi beton bertulang.

3)

4) (b)

Pondasi Dalam 1) 2) Dalam hal penggunaan tiang pancang beton bertulang harus mengacu pedoman teknis dan standar yang berlaku. Dalam hal lokasi pemasangan tiang pancang terletak di daerah tepi laut yang dapat mengakibatkan korosif harus memperhatikan pengamanan baja terhadap korosi memenuhi pedoman teknis dan standar yang berlaku. Dalam hal perencanaan atau metode pelaksanaan menggunakan pondasi yang belum diatur dalam SNI dan/atau mempunyai paten dengan metode konstruksi yang belum dikenal, harus mempunyai sertifikat yang dikeluarkan instansi yang berwenang. Dalam hal perhitungan struktur menggunakan perangkat lunak, harus menggunakan perangkat lunak yang diakui oleh asosiasi terkait) Pondasi dalam pada umumnya digunakan dalam hal lapisan tanah dengan daya dukung yang cukup terletak jauh di bawah permukaan tanah, sehingga penggunaan pondasi langsung dapat menyebabkan penurunan yang berlebihan atau ketidakstabilan konstruksi. Perhitungan daya dukung dan penurunan pondasi dilakukan sesuai teori mekanika tanah yang baku dan lazim dalam praktek, berdasarkan parameter tanah yang ditemukan dari penyelidikan tanah dengan memperhatikan nilai tipikal dan korelasi tipikal dengan parameter tanah yang lain. Umumnya daya dukung rencana pondasi dalam harus diverifikasi dengan percobaan pembebanan, kecuali jika jumlah pondasi dalam direncanakan dengan faktor keamanan yang jauh lebih besar dari faktor keamanan yang lazim. Percobaan pembebanan pada pondasi dalam harus dilakukan dengan berdasarkan tata cara yang lazim dan hasilnya harus dievaluasi oleh perencana ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. Jumlah percobaan pembebanan pada pondasi dalam adalah 1% dari jumlah titik pondasi yang akan dilaksanakan dengan penentuan titik secara random, kecuali ditentukan lain oleh perencana ahli serta disetujui oleh instansi yang bersangkutan.

3)

4)

5)

6)

7)

8)

9)

Pusat Sarana, Prasarana dan Peralatan Kesehatan, Sekretariat Jenderal, DEPKES-RI

19

PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C

(c)

Keselamatan Struktur 1) Untuk menentukan tingkat keandalan struktur bangunan, harus dilakukan pemeriksaan keandalan bangunan secara berkala sesuai dengan ketentuan dalam Pedoman Teknis Tata Cara Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung. Perbaikan atau perkuatan struktur bangunan harus segera dilakukan sesuai rekomendasi hasil pemeriksaan keandalan bangunan rumah salikit, sehingga rumah sakit selalu memenuhi persyaratan keselamatan struktur. Pemeriksaan keandalan bangunan rumah sakit dilaksanakan secara berkala sesuai klasifikasi bangunan, dan harus dilakukan atau didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai.

2)

3)

(d)

Keruntuhan Struktur Untuk mencegah terjadinya keruntuhan struktur yang tidak diharapkan, pemeriksaan keandalan bangunan harus dilakukan secara berkala sesuai dengan pedoman/petunjuk teknis yang berlaku.

(e)

Persyaratan Bahan 1) Bahan struktur yang digunakan harus sudah memenuhi semua persyaratan keamanan, termasuk keselamatan terhadap lingkungan dan pengguna bangunan, serta sesuai pedoman teknis atau standar teknis yang berlaku. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum mempunyai SNI, dapat digunakan standar baku dan pedoman teknis yang diberlakukan oleh instansi yang berwenang. Bahan yang dibuat atau dicampurkan di lapangan, harus diproses sesuai dengan standar tata cara yang baku untuk keperluan yang dimaksud. Bahan bangunan prefabrikasi harus dirancang sehingga memiliki sistem hubungan yang baik dan mampu mengembangkan kekuatan bahan-bahan yang dihubungkan, serta mampu bertahan terhadap gaya angkat pada saat pemasangan/pelaksanaan.

2)

3)

4)

3.6.
3.6.1

Pintu.
Umum. Pintu adalah bagian dari suatu tapak, bangunan atau ruang yang merupakan tempat untuk masuk dan ke luar dan pada umumnnya dilengkapi dengan penutup (daun pintu).

3.6.2

Persyaratan. (1) Pintu ke luar/masuk utama memiliki lebar bukaan minimal 120 cm atau dapat dilalui brankar pasien, dan pintu-pintu yang tidak menjadi akses pasien tirah baring memiliki lebar bukaan minimal 90 cm. Di daerah sekitar pintu masuk sedapat mungkin dihindari adanya ramp atau perbedaan ketinggian lantai.

(2)

Pusat Sarana, Prasarana dan Peralatan Kesehatan, Sekretariat Jenderal, DEPKES-RI

20

PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C

(3)

Pintu Darurat    Setiap bangunan RS yang bertingkat lebih dari 3 lantai harus dilengkapi dengan pintu darurat. Lebar pintu darurat minimal 100 cm membuka kearah ruang tangga penyelamatan (darurat) kecuali pada lantai dasar membuka ke arah luar (halaman). Jarak antar pintu darurat dalam satu blok bangunan gedung maksimal 25 m dari segala arah.

(4)

Pintu khusus untuk kamar mandi di rawat inap dan pintu toilet untuk aksesibel, harus terbuka ke luar (lihat gambar 3.9.1), dan lebar daun pintu minimal 85 cm.

Gambar 3.6.1 - Pintu kamar mandi pada ruang rawat inap harus terbuka ke luar

3.7.
3.7.1

Toilet (Kamar kecil).
Umum. Fasilitas sanitasi yang aksesibel untuk semua orang (tanpa terkecuali penyandang cacat, orang tua dan ibu-ibu hamil) pada bangunan atau fasilitas umum lainnya

3.7.2

Persyaratan. (1) Toilet umum. (a) (b) (c) (d) (e) Toilet atau kamar kecil umum harus memiliki ruang gerak yang cukup untuk masuk dan keluar oleh pengguna. Ketinggian tempat duduk kloset harus sesuai dengan ketinggian pengguna ( 36 ~ 38 cm). Bahan dan penyelesaian lantai harus tidak licin. Pintu harus mudah dibuka dan ditutup. Kunci-kunci toilet atau grendel dipilih sedemikian sehingga bisa dibuka dari luar jika terjadi kondisi darurat

Pusat Sarana, Prasarana dan Peralatan Kesehatan, Sekretariat Jenderal, DEPKES-RI

21

Sekretariat Jenderal. Kunci-kunci toilet atau grendel dipilih sedemikian sehingga bisa dibuka dari luar jika terjadi kondisi darurat. Letak kertas tissu. Toilet atau kamar kecil umum harus memiliki ruang gerak yang cukup untuk masuk dan keluar pengguna kursi roda. Pada tempat-tempat yang mudah dicapai.7. seperti pada daerah pintu masuk. (a) Toilet atau kamar kecil umum yang aksesibel harus dilengkapi dengan tampilan rambu/simbol "penyandang cacat" pada bagian luarnya. Pegangan disarankan memiliki bentuk siku-siku mengarah ke atas untuk membantu pergerakan pengguna kursi roda. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. air.2 .Ruang gerak dalam Toilet untuk Aksesibel. dianjurkan untuk menyediakan tombol bunyi darurat (emergency sound button) bila sewaktu-waktu terjadi sesuatu yang tidak diharapkan. (b) (c) (d) (e) (f) (g) (h) (j).PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C (2) Toilet untuk aksesibilitas. Gambar 3. DEPKES-RI 22 . kran air atau pancuran (shower) dan perlengkapan-perlengkapan seperti tempat sabun dan pengering tangan harus dipasang sedemikian hingga mudah digunakan oleh orang yang memiliki keterbatasan keterbatasan fisik dan bisa dijangkau pengguna kursi roda. Ketinggian tempat duduk kloset harus sesuai dengan ketinggian pengguna kursi roda sekitar (45 ~ 50 cm) Toilet atau kamar kecil umum harus dilengkapi dengan pegangan rambat (handrail) yang memiliki posisi dan ketinggian disesuaikan dengan pengguna kursi roda dan penyandang cacat yang lain. Pintu harus mudah dibuka dan ditutup untuk memudahkan pengguna kursi roda. Bahan dan penyelesaian lantai harus tidak licin. Pusat Sarana.

sistem sarana jalan ke luar. jumlah aliran yang dipersyaratkan dan sisa tekanan. serta jarak sambungan selang dari sumber pasokan air. (1) Pipa tegak dan slang Kebakaran Sistem pipa tegak ditentukan oleh ketinggian gedung. (1) (2) Rumah sakit harus mampu secara struktural stabil selama kebakaran.1. perambatan api dan asap.1 Sistem Proteksi Kebakaran Sistem Proteksi Pasif Setiap bangunan rumah sakit harus mempunyai sistem proteksi pasif terhadap bahaya kebakaran yang berbasis pada desain atau pengaturan terhadap komponen arsitektur dan struktur rumah sakit sehingga dapat melindungi penghuni dan benda dari kerusakan fisik saat terjadi kebakaran. (3) Sistem Springkler Otomatis. agar dapat: (a) melindungi penghuni yang berada di suatu bagian bangunan terhadap dampak kebakaran yang terjadi ditempat lain di dalam bangunan. yang digunakan untuk mendeteksi dan memadamkan kebakaran pada bangunan rumah sakit. DEPKES-RI 23 . Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Kompartemenisasi dan konstruksi pemisah untuk membatasi kobaran api yang potensial.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C BAGIAN – IV PERSYARATAN TEKNIS PRASARANA RUMAH SAKIT 4. Pusat Sarana. berbasis air. klasifikasi hunian. luas per lantai. Penerapan sistem proteksi pasif didasarkan pada fungsi/klasifikasi resiko kebakaran. Sekretariat Jenderal.2 Sistem Proteksi Aktif Sistem proteksi aktif adalah peralatan deteksi dan pemadam yang dipasang tetap atau tidak tetap. 4. menyediakan jalan masuk bagi petugas pemadam kebakaran (b) (c) (3) Proteksi Bukaan Seluruh bukaan harus dilindungi. dan/atau jumlah dan kondisi penghuni dalam rumah sakit. bahan bangunan terpasang. (2) Hidran Halaman Hidran halaman diperlukan untuk pemadaman api dari luar bangunan gedung. geometri ruang.1. Sambungan slang ke hidran halaman harus memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh instansi kebakaran setempat.1 4. dan lubang utilitas harus diberi penyetop api (fire stop) untuk mencegah merambatnya api serta menjamin pemisahan dan kompartemenisasi bangunan. bahan kimia atau gas. mengendalikan kobaran api agar tidak menjalar ke bangunan lain yang berdekatan.

Sekretariat Jenderal. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. 4. (6) Sistem Deteksi & Alarm Kebakaran Sistem deteksi dan alarm kebakaran berfungsi untuk mendeteksi secara dini terjadinya kebakaran. diperlukan guna memberikan panduan kepada penghuni dan tamu sebagai tindakan evakuasi atau penyelamatan dalam keadaan darurat. Ini dimaksudkan agar penghuni bangunan memperoleh informasi panduan yang tepat dan jelas. DEPKES-RI 24 . lobi dan semacamnya yang memberikan indikasi penunjukkan arah ke eksit yang disyaratkan. Konstruksi APAR dapat dari jenis portabel (jinjing) atau beroda. Penggunaan instalasi tata suara pada waktu keadaan darurat dimungkinkan asal memenuhi pedoman dan standar teknis yang berlaku. dan sistem panggil perawat. maka harus dipasang tanda penunjuk dengan tanda panah menunjukkan arah. (9) Sistem Peringatan Bahaya Sistem peringatan bahaya dapat juga difungsikan sebagai sistem penguat suara (public address). pada saat terjadi kebakaran dan/atau kondisi darurat lainnya.2 Sistem Komunikasi Dalam Rumah sakit Persyaratan komunikasi dalam rumah sakit dimaksudkan sebagai penyediaan sistem komunikasi baik untuk keperluan internal bangunan maupun untuk hubungan ke luar. Termasuk antara lain: sistem telepon. dan dipasang di koridor.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Sistem springkler otomatis harus dirancang untuk memadamkan kebakaran atau sekurang-kurangnya mempu mempertahankan kebakaran untuk tetap. Bila suatu eksit tidak dapat terlihat secara langsung dengan jelas oleh pengunjung atau pengguna bangunan. baik secara otomatis maupun manual. sistem voice evacuation. sistem tata suara. (5) Sistem Pemadam Kebakaran Khusus. jalan menuju ruang besar (hal). (8) Tanda Arah. tidak berkembang. misalnya tidak berfungsinya pencahayaan normal dari PLN atau tidak dapat beroperasinya dengan segera daya siaga dari diesel generator. (7) Sistem Pencahayaan Darurat Pencahayaan darurat di dalam rumah sakit diperlukan khususmya pada keadaan darurat. Pusat Sarana. Sistem pemadaman khusus yang dimaksud adalah sistem pemadaman bukan portable (jinjing) dan beroperasi secara otomatis untuk perlindungan dalam ruang-ruang dan atau penggunaan khusus. (4) Pemadam Api Ringan (PAR) Alat pemadam api ringan kimia (APAR) harus ditujukan untuk menyediakan sarana bagi pemadaman api pada tahap awal. Sistem pemadam khusus meliputi sistem gas dan sistem busa. untuk sekurang-kurangnya 30 menit sejak kepada springkler pecah.

dan lain-lain. Secara berkala dilakukan pengukuran/pengujian terhadap EMC (Electro Magnetic Campatibility).PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 4. dioperasikan. maka langka penanggulangan dan pengamanan harus dilakukan. (a) Sistem instalasi komunikasi telepon dan sistem tata komukasi gedung. 3) Diupayakan dekat dengan kabel catu dari kantor telepon dan dekat dengan jalan besar. (3) Persyaratan Teknis Instalasi Tata Suara (a) Setiap bangunan rumah sakit dengan ketinggian 4 lantai atau 14 m keatas. Peralatan dan instalasi sistem komunikasi harus tidak memberi dampak. aman dan mudah dikerjakan. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. terang. (b) (c) Penempatan kabel telepon yang sejajar dengan kabel listrik. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum mempunyai SNI. serta direncanakan dan dilaksanakan berdasarkan standar. dipelihara.80 m dan harus diamankan agar tidak menjadi jalan air masuk ke rumah sakit pada saat hujan dll. (a) Saluran masuk sistem telepon harus memenuhi persyaratan : 1) Tempat pemberhentian ujung kabel harus terang. 3) Tersedia ruangan untuk petugas sentral dan operator telepon. (1) Umum. penempatannya harus mudah diamati.2. mengganggu dan merugikan lingkungan dan bagian bangunan serta sistem instalasi lainnya. Sekretariat Jenderal. sirkulasi udaranya cukup dan tidak boleh kena sinar matahari langsung. dapat digunakan standar baku dan pedoman teknis yang diberlakukan oleh instansi yang berwenang (b) (c) (d) (2) Persyaratan Teknis Instalasi Telepon. normalisasi teknik dan peraturan yang berlaku.50 m x 0. tidak membahayakan. mempunyai dinding dan lantai tahan asam. minimal berjarak 0. dan harus diamankan terhadap gangguan seperti interferensi gelombang elektro magnetik.10 m atau sesuai ketentuan yang berlaku. sirkulasi udara cukup dan udara buangnya harus dibuang ke udara terbuka dan tidak ke ruang publik. kedap debu. 2) Ukuran lubang orang (manhole) yang melayani saluran masuk ke dalam gedung untuk instalasi telepon minimal berukuran 1. DEPKES-RI 25 . serta memenuhi persyaratan untuk tempat peralatan. Apabila hasil pengukuran terhadap EMC melampaui ambang batas yang ditentukan. 2) Tidak boleh digunakan cat dinding yang mudah mengelupas.1 Sistem Telepon dan Tata Suara. harus dipasang sistem tata suara yang dapat digunakan untuk menyampaikan pengumuman dan instruksi apabila terjadi kebakaran atau keadaan darurat lainnya. serta tidak boleh kena sinar matahari langsung. Pusat Sarana. tidak ada genangan air. Ruang PABX/TRO sistem telepon harus memenuhi persyaratan: 1) Ruang yang bersih. terang. (d) Ruang batere sistem telepon harus bersih.

meliputi: (i) (ii) (iii) (iv) Nomor ruang. dan memberikan sinyal pada kejadian darurat pasien. dan dilindungin terhadap bahaya kebakaran. Sistem panggil perawat bertujuan menjadi alat komunikasi antara perawat dan pasien dalam bentuk visual dan audible (suara). 52/2000. Panel Kontrol SPP. tentang Telekomunikasi. 2) penempatannya diatas meja. Sekretariat Jenderal. 3) perlengkapan yang ada pada panel kontrol SPP sebagai berikut : a) mempunyai mikrofon. Pusat Sarana.2. Handset harus mampu menghubungkan dua arah komunikasi antara perawat dan pos pemanggil yang dipilih. Kamar. Harus dilengkapi dengan sumber/pasokan daya listrik untuk kondisi normal maupun pada kondisi daya listrik utama mengalami gangguan. Tempat tidur. (c) (d) (e) 4.2 Sistem Panggil Perawat (Nurse Call) (1) Umum (1) Peralatan sistem panggil perawat dimaksudkan untuk memberikan pelayanan kepada pasien yang memerlukan bantuan perawat. Persyaratan sistem komunikasi dalam gedung harus memenuhi: 1) UU No. Kabel instalasi komunikasi darurat harus terpisah dari instalasi lainnya. dengan kapasitas dan dapat melayani dalam waktu yang cukup sesuai ketentuan yang berlaku. atau terdiri dari kabel tahan api. DEPKES-RI 26 . Prasarana dan Peralatan Kesehatan. 2) PP No. Prioritas panggilan. Mengangkat handset akan mematikan mikrofon/speaker. Panel kontrol SPP harus : 1) jenis audio dan visual. (2) (2) Persyaratan Teknis (1) a) Peralatan Sistem Panggil Perawat (SPP). Handset dilengkapi kabel dengan panjang 910 mm (3 ft).PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C (b) Sistem peralatan komunikasi darurat sebagaimana dimaksud pada butir 1) di atas harus menggunakan sistem khusus. 32 tahun 1999. baik dalam kondisi rutin atau darurat. b) Tombol penunjuk atau layar sentuh dengan bacaan digital secara visual memberitahu lokasi panggilan dan menempatkannya dalam sistem. tentang Telekomunikasi Indonesia. maka sistem telepon darurat tetap dapat bekerja. speaker dan handset. sehingga apabila sistem tata suara umum rusak.

(ii) Kemampuan berhubungan minimum 10 pos beside secara serempak. yaitu : (i) Kemampuan memonitor bedside. Sekretariat Jenderal. semua panggilan yang ditempatkan dalam sistem secara visual atau audible diteruskan ke bedside yang dikunjungi. Panggilan darurat harus dibatalkan hanya di pos darurat setempat. j) Tombol sentuh. DEPKES-RI 27 . (iv) Tampilan visual untuk menunjukkan lokasi pos panggilan harus muncul pada panel kontrol SPP. Tombol sentuh juga harus memberikan program status prioritas dan kemampuan fungsi lain yang ada. g) Fungsi prioritas panggilan yang datang. Sinyal visual ini akan mati dan panggilan yang tersimpan terhapus dari memory ketika panggilan itu dibatalkan di pos setempat. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Dapat menyimpan sementara suatu panggilan yang ditempatkan dan menghasilkan sinyal visual berupa nyala lampu dome di koridor yang dihubungkan dengan bedside dengan cara mengaktifkan fungsi/sirkit pengingat. e) Modul mengikuti perawat. d) Mampu menampilkan sedikitnya 4 (empat) panggilan yang datang. Pusat Sarana.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C c) Panggilan dari pos darurat yang ditempatkan di dalam toilet atau kamar mandi. (ii) Sinyal visual untuk panggilan yang datang harus tetap ditampilkan pada setiap saat sampai panggilan terjawab atau dibatalkan pada pos pemanggilan. atau serupa membolehkan perawat memilih pos panggilan dan melakukan komunikasi suara dua arah. h) Fungsi pengingat (memory). Sinyal audible untuk panggilan yang datang dan tidak terjawab harus secara otomatis disambungkan kembali ketika panel kontrol SPP dikembalikan ke modus siaga. (iii) Sinyal audible dan sinyal visual untuk panggilan rutin dan darurat harus jelas berbeda. Sinyal visual atau audible akan menandai adanya suatu panggilan rutin atau darurat dan akan menerus sampai panggilan itu dibatalkan. f) Berfungsi menjawab secara otomatis atau selektif. i) Kemampuan menghasilkan sinyal audible dan visual untuk menandai adanya panggilan yang datang dari pos yang terhubung : (i) dapat menghentikan atau melemahkan sinyal audible melalui rangkaian rangkaian mematikan/melemahkan saat panel kontrol sedang digunakan untuk menjawab atau menempatkan suatu panggilan. Apabila module mengikuti perawat ditempatkan di bedside ruang rawat inap pasien diaktifkan.

dan pos darurat didalam setiap panel kontrol SPP. atau l) Dengan memilih jawaban dari setiap pos panggilan yang ditempatkan di dalam urutan. Pos darurat dengan kabel tarik harus disediakan dalam setiap kloset dan setiap pancuran (shower) kamar mandi. DEPKES-RI 28 . n) Panel Kontrol SPP yang menggunakan daya listrik arus bolak balik haruslah disambungkan ke panel daya listrik darurat arus bolak balik.4 kg. berikutnya akan secara otomatis mengizinkan perawat untuk berkomunikasi dengan pos berikutnya di dalam urutan prioritas panggilan. 2) Pusat Sarana. 2) Setiap microphone/speaker disambungkan ke bedside. c) Pada pos darurat dilengkapi fungsi "reset/cancel". Setiap pos darurat yang di area pancuran atau toilet harus kedap air. (iv) Kemampuan untuk menjawab dengan cara : k) Dengan mengangkat handset atau mengaktifkan satu fungsi panggilan untuk menjawab. b) Gaya tarikan untuk mengaktifkan sakelar minimum 0. c) tombol reser d) kotak kontrol untuk cordset.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C (iii) Mampu menerima panggilan dari 10 pos panggilan terkait secara serempak. b) lampu pos pemanggil. Pos darurat ini harus dipasang kurang lebih 50 cm (18 inci) dari kepala pancurannya (shower head) dan/atau 180 cm (72 inci) di atas lantai jadi. harus mati jika handset Kabinet Bedside (. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. (c) 1) Pos darurat. (b) Peralatan Komunikasi pada Communication Equipment). Pos darurat harus disediakan dengan : a) kabel tarikan yang diuji tarik dengan gaya sebesar 5 kg ( 10 lbs) dan pendant dihubungkan ke gerakan sakelar ON/OFF pada pos darurat. Sekretariat Jenderal.Beside 1) Setiap bedside harus menyediakan : 3) Panggilan dari bedside harus menghasilkan sinyal panggilan visual rutin pada lampu dome di koridor. Suatu UPS harus disediakan di lokasi panel kontrol SPP untuk menyediakan daya darurat. Kabel tarikan yang gantung yang terbawah harus dipasang 15 cm ( 6 inci) dari lantai jadi. m) Sedikitnya ditambahkan 10% untuk mengakomodasi tambahan pasien. a) microphone/speaker.

Sinyal visual untuk panggilan rutin dan panggilan darurat harus jelas perbedaannya. b) tidak korosif. (f) Cordset. Sekretariat Jenderal. harus : a) panjangnya 1. Sinyal audible dan visual harus tetap diaktifkan sampai cordset disisipkan kembali. dipasang pada ketinggian 2 meter dari lantai jadi. (g) Sistem distribusi. e) tidak berubah warna.5 kg (1 lb). Prasarana dan Peralatan Kesehatan. diberi label pada setiap rel dan disetujui oleh instansi terkait. 1) Umum. Setiap cordset harus disediakan : a) sambungan ke kotak kontak bedside cordset. 2) Cordset dengan aksi tombol tekan. Setiap kabel yang digunakan dalam SPP harus asli dan bersertifikat. (e) Armatur Lampu Dome dengan isi dua lampu di Koridor. c) apabila cordset dilepas. DEPKES-RI 29 . panggilan darurat harus secara otomatis memberitahukan panel kontrol SPP. Tutup lampu harus tembus cahaya. b) panggilan darurat dari pos perawat kamar mandi atau toilet. ditempel atau ditempatkan secara permanen dengan plat kalimat "Panggilan Darurat Perawat". Lampu dome harus berisi lampu yang cukup membedakan : a) panggilan rutin dari bedside.8 meter atau 2. Tinggi huruf minimal 4 mm (1/8 inci). Setiap cordset. c) Sinyal visual untuk panggilan rutin dan panggilan darurat harus dibedakan. (d) 1) Armatur Lampu Dome di Koridor. jenis kabel fleksibel. b) berisi tombol tekan untuk panggilan pada ujung cordsetnya. d) gaya tarikan untuk mengaktifkan cordset sebesar 0.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C d) Lampu darurat merah dengan nyala mati-hidup secara bergantian dengan interval waktu 1 detik ditempatkan pada bagian luar dari kamar mandi atau toilet. e) Pada pos darurat .4 meter. 2) Pusat Sarana. atau alat lain disisipkan yang secara teknis dapat mematikan fitur panggilan otomatis. tidak berubah warna atau berubah bentuk karena panas. Dua lampu dalam satu armatur lampu dome berisi minimum dua lampu untuk mengidentifikasikan panggilan setempat dalam sistem. atau rusak karena penggunaan zat pembersih.

sinyal data dan kontrol dalam kecepatan dan frekuensi yang dipilih. plat penutup dan perangkat keras lain yang diperlukan untuk melengkapi kerapihan dan keamanan. (3) Label. tali pengikat. Kabel harus termasuk semua penyambung. 1) Umum. b) Kontraktor harus menyediakan filter. roset. Pengiriman bahan-bahan ke lokasi harus dalam kontainer asli tertutup. e) Semua peralatan harus dihubungkan sesuai spesifikasi untuk memastikan terminasi. isolasi. dalam arah yang ditentukan. c) Pasokan daya listrik darurat (contoh : batere. jelas terlabel nama pengirim. dan memenuhi SNI 04-0225-2000. duct (saluran) kabel. isolasi tinggi dan dengan perlambatan minimum dari sistem poling atau subcarrier frequency. a) SPP dan sistem alarm kebakaran tidak boleh diletakkan dalam satu konduit. Perlengkapan harus termasuk konduit. Item yang digunakan untuk balansing dan meminimalkan interferensi harus mampu menyalurkan bunyi. rak kabel. 1) Kabel. klem dan sebaginya yang dibutuhkan untuk melengkapi kerapihan instalasi. (c) Pemasangan. DEPKES-RI 30 . kotak penyambung. Setiap komponen dari sub sistem harus diberi label.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C (h) Perlengkapan Instalasi. Sekretariat Jenderal. (b) Penyimpanan. Pengawas akan meneliti peralatan SPP pada saat itu dan akan menolak terhadap item yang tidak memenuhi syarat. satu rak kabel atau jalur yang sama. model peralatan dan nomor erie identifikasi. (2). 2) Konduit. d) Apabila bedside unit buatan pabrik yang digunakan. (a) Pengiriman. terlindung terhadap kerusakan. Peralatan SPP harus disimpan dengan benar sebelum dipasang. kontraktor harus meminta izin pada pengawas untuk melakukan pemasangan instalasi SPP. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. tentang Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL 2000). Pemasangan peralatan dan instalasi sistem panggil perawat. dengan kerugian gesek yang kecil. dan logo standar. Kabinet/lemari ini harus disediakan dekat dengan panel kontrol SPP. penggantung. UPS) harus dipasang dalam kabinet/lemari terpisah. trap dan pad yang sesuai untuk meminimalkan interferensi dan untuk balansing amplifier dan sitem distribusi. Pusat Sarana. dan impedansinya sesuai dan terpasang dengan benar.

distribusi dan interkoneksi harus diterminasi pada kondisi dapat memfasilitasi fitur perluasan sistem. Campuran kabel SPP dan kabel alarm kebakaran tidak dibolehkan. 2) Saluran (duct) Konduit dan Sinyal. (ii) (iii) (iv) b) Saluran (duct) sinyal. atau rak. Digunakan tutup kotak persimpangan dengan ukuran minimum 15 cm x 15 cm x 10 cm (6 inci x 6 inci x 4 inci) diletakkan pada saluran (duct) sinyal. i) Terminasi resistor harus digunakan untuk terminasi semua cabang yang tidak digunakan. Tidak diperbolehkan menarik kabel melalui kotak. selubung. Saluran (duct) sinyal dan/atau saluran (duct) kabel harus berukuran minimal 10 cm x 10 cm ( 4 inci x 4 inci) yang dapat dilepas tutup atas atau sampingnya. h) Semua jalur vertikal dan horizontal harus diterminasi sehingga memudahkan perluasan sistem. saluran (duct) kabel dan rak kabel. (iii) (iv) (v) (vi) Pusat Sarana. fiting atau selubung jika terjadi perubahan ukuran konduit. a) Konduit. Selubung kabel yang tergores tidak dapat diterima. Sekretariat Jenderal. Semua persimpangan kabel harus mudah dijangkau. Rak kabel sepenuhnya harus tertutup.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C f) Pemasangan semua peralatan untuk diidentifikasi sesuai dengan gambar. tombol darurat. Ukuran diameter minimum konduit 25 mm ( 1 inci) untuk distribusi primer sinyal dan 19 mm ( 3/4 inci) untuk sambungan jauh (contoh lampu dome. Ujung tutup kabel yang keluar melalu lubang rangka dari lemari/kabinet. kotak tarikan atau kotak persimpangan harus menggunakan plastik atau bahan nylon grommeting. apabila rak kabel juga digunakan untuk sirkit elektronik lainnya. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. harus biberi partisi. dan sebaginya). DEPKES-RI 31 . setiap lokasi g) Semua saluran utama. saluran (duct) kabel dan/atau rak kabel. Semua kabel harus dipasang dalam konduit terpisah. Isi konduit harus tidak melebihi 40%. (i) Instalasi harus dipasang dengan cara yang benar. Pada sudut-sudut yang tajam harus diberi proteksi. Jalur kabel harus bebas tersambung antara sambungan konduit dan kotak interface dan lokasi peralatan. (i) (ii) Harus dapat menggunakan saluran (duct) sinyal. Radius bengkokan harus tepat.

Pusat Sarana. a) Kabel harus dipasang dengan cara yang praktis seperti pemasangan kabel untuk proteksi kebakaran atau sistem darurat yang teridentifikasi. f) Kabel distribusi harus dipasang dan dikencangkan tanpa menyebabkn bengkokan yang tajam dari kabel terhadap ujung yang tajam. Pemasangan kabel harus lurus. c) Semua kabel harus terinsulasi untuk mencegah induksi sinyal atau arus yang dibawa oleh konduktor dan 100% terlindung. b) Jalannya kabel antara peralatan SPP ke lemari/kabinet. kotak belakang dan plat muka. kotak distribusi. konduit. Sekretariat Jenderal. dibuka atau ditutup. komponen atau terminator. DEPKES-RI 32 .PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 3) Kabel distribusi sinyal dari sistem. kabinet/lemari atau rak. Kabel kontrool dan kabel sinyal boleh dijadikan satu kelompok. saluran (duct) kabel. Kabel harus dibentuk rapih dan posisinya harus tidak berubah dalam kelompok. dan harus tidak berubah posisinya dalam kelompok. tidak mengganggu pemasangan kabel. kotak sambungan. kotak persimpangan harus disediakan seperti dipersyaratkan oleh rancangan sistem. 4) Kotak outlet. a) Kotak outlet. kontrol. d) Penggunaan kabel yang dipilin tidak dibolehkan. Kabel harus dikencangkan dengan perangkat keras yang tidak akan mengganggu. diikat pada jarak antara 60 cm sampai 90 cm (24 inci sampai 36 inci). saluran (duct) kabel atau rak harus dibentuk rapih. e) Kabel harus dikelompokkan sesuai pelayanannya. dibentuk dan dipasang dengan ikatan yang kuat. i) Polaritas input dan output sistem seperti direkomendasi pabrik. Setiap penyambungan kabel harus menggunakan terminator. saluran (duct) sinyal atau rak kabel harus dipasang dengan konduit yang terpasang pada struktur bangunan. Kotak sinyal. kotak interface. kotak daya. rak . Apabila pintu konsol. Kabel yang ditempatkan di saluran (duct) sinyal. disesuaikan dalam hubungan horizontal atau vertikal ke peralatan. Kabel harus mampu menahan kondisi lingkungan yang merugikan tanpa perubahan bentuk. h) Pengujian lengkap kabel setelah semua instalasi dan penggantian kabel yang rusak. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Kabel yang menggantung tidak diperkenankan. g) Kabel harus diberi label dengan tanda permanen pada terminal dari elektronik dan peralatan pasif dan pada setiap persimpangan dengan huruf pada diagram rekaman.

dengan frekuensi 50 Hertz. Pembumian yang umum menggunakan kabel tembaga solid berukuran #10 AWG harus digunakan pada seluruh kabinet/lemari peralatan dan dihubungkan ke sitem pembumian. Setiap konektor haru dirancang untuk ukuran kabel khusus yang digunakan dan dipasang dengan perkakas yang disetujui manufaktur. Semua peralatan yang dipasang harus dibumikan untuk mengurangi bahaya kejutan. c) Plat muka (atau plat penutup). dan instalasi serta peralatan lainnya terhadap bahaya sambaran petir. Jangan mengikat kabel pembumian peralatan bersama-sama. Sistem tegangan menengah (TM) dalam gedung adalah 20 KV atau kurang. termasuk manusia yang ada di dalamnya. b) Kabinet/lemari. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.3 Sistem Penangkal Petir. (i) Jika tidak ada netral arus bolak balik. salah satu panel daya atau kotak kontak outlet. a) Umum.4 Sistem Kelistrikan (1) Sistem tegangan rendah (TR) dalam gedung adalah 3 fase 220/380 Volt. 5) Konektor. atau acuan pembumian. mengikuti ketentuan yang berlaku. Item ini dapat dipakai hanya untuk pelepasan internal statik yang dibangkitkan.1 Ohm. DEPKES-RI 33 . 7) Pembumian. Pusat Sarana. Perlu disediakan sambungan pembumian yang terpisah dan terisolasi dari setiap pembumian kabinet/lemari peralatan ke sistem pembumian. 4. Sekretariat Jenderal. dengan frekuensi 50 Hertz. (ii) Menggunakan konduit. Kabel daya listrik arus bolak balik harus berjalan terpisah dengan kabel sinyal. Total tahanan pembumian maksimal harus 0. Konektor dan jack yang muncul pada plat muka harus jelas dan ditandai permanen. Suatu instalasi proteksi petir dapat melindungi semua bagian dari bangunan rumah sakit. saluran (duct) sinyal atau rak kabel sebagai sistem pembumian listrik tidak dibolehkan.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C b) Kotak belakang. Plat muka harus dari jenis standar. 4. Kotak belakan harus disediakan langsung dari manufaktur seperti dipersyaratkan oleh rancangan sistem yang disetujui. digunakan untuk kontrol sistem. 6) Daya listrik arus bolak balik.

sesuai pedoman bahwa Rumah Sakit Kelas C mempunyai Kapasitas daya listrik ± 300 KVA s/d 600 KVA.life support medical equipment). c. Sistem Penerangan Darurat (. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Peralatan Transformator (kapasitas sesuai daya terpasang).grounding system) harus terpisah antara grounding panel gedung dan panel alat. ICCU dan diberi pendingin ruangan. Sistem kelistrikan RS Kelas C harus dilengkapi dengan transformator isolator dan kelengkapan monitoring sistem IT kelompok 2E minimal berkapasitas 5 KVA untuk titik-titik stop kontak yang mensuplai peralatanperalatan medis penting (.2 Ohm. Harus tersedia Ruang UPS minimal 2 X 3 m2 (sesuai kebutuhan) terletak di Gedung COT. Sistem Pembumian (.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Untuk Rumah Sakit yang memiliki kapasitas daya listrik tersambung dari PLN minimal 200 KVA disarankan agar sudah memiliki sistem jaringan listrik Tegangan Menengah 20 KV (jaringan listrik TM 20 KV). Intensive Cardiac Care Unit). Genset dilengkapi sistem AMF dan ATS.ICU. DEPKES-RI 34 . Genset harus disediakan 2 (dua) unit dengan kapasitas minimal 40% dari jumlah daya terpasang pada masing-masing unit. Harus tersedia peralatan UPS (.emergency lighting) harus ruang-ruang tertentu. Peralatan panel TM 20 KV dan aksesorisnya. b. Ruang Perawatan Intensif (.grounding). Kapasitas UPS setidaknya 30 KVA. d. Ruang Perawatan Intensif Khusus Jantung (.Uninterruptable Power Supply) untuk melayani Kamar Operasi (. Nilai grounding peralatan tidak boleh kurang dari 0.Intensive Care Unit). tersedia pada (3) (4) (5) Harus tersedia sumber listrik cadangan berupa diesel generator (Genset). Sekretariat Jenderal. (2) Instalasi listrik tegangan menengah tersebut antara lain : a. dengan perhitungan 3 KVA per Tempat Tidur (TT). Peralatan pembantu dan sistem pengamanan (. (6) (7) Pusat Sarana. b.Central Operation Theater). Persyaratan : a. Penyediaan bangunan gardu listrik rumah sakit (ukuran sesuai standar gardu PLN).

(a) (b) Setiap bangunan rumah sakit harus mempunyai ventilasi alami dan/atau ventilasi mekanik/buatan sesuai dengan fungsinya.2000 atau edisi terbaru.2 – Tabel Standar Suhu. No. dan Tekanan Udara Menurut Fungsi Ruang atau Unit. kebutuhan ventilasi. (b) 2) 4.5. DEPKES-RI 35 .5 4. Sistem Pengkondisian Udara (1) Umum.1 Sistem Penghawaan (Ventilasi) dan Pengkondisian Udara (. Kelembaban. mengikuti Persyaratan Teknis berikut: 1) SNI 03 – 6572 . maka diperlukan ventilasi mekanis seperti pada bangunan fasilitas tertentu yang memerlukan perlindungan dari udara luar dan pencemaran.60 35 . Ruang atau Unit Operasi Bersalin Pemulihan/perawatan Observasi bayi Perawatan bayi Perawatan premature ICU Jenazah/Otopsi Penginderaan medis Laboratorium Radiologi Sterilisasi Dapur Gawat Darurat Administrasi. kisi-kisi pada pintu dan jendela dan/atau bukaan permanen yang dapat dibuka untuk kepentingan ventilasi alami.2000 atau edisi terbaru. (a) Untuk kenyamanan termal dalam ruang di dalam bangunan rumah sakit harus mempertimbangkan temperatur dan kelembaban udara. Sekretariat Jenderal.60 45 – 60 35 . Konservasi energi sistem tata udara pada bangunan gedung.60 45 – 60 35 .60 45 – 60 35 .PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 4.2. (2) Persyaratan Teknis (a) Jika ventilasi alami tidak mungkin dilaksanakan. Tabel 4. Persyaratan teknis sistem ventilasi.60 Tekanan Positif Positif Seimbang Seimbang Seimbang Positif Positif Negative Seimbang Positif Seimbang Positif Seimbang Positif Seimbang Positif Pusat Sarana.60 35 .5. pertemuan Ruang luka bakar Suhu (0C) 19 – 24 24 – 26 22 – 24 21 – 24 22 – 26 24 – 26 22 – 23 21 – 24 19 – 24 22 – 26 22 – 26 22 – 30 22 – 30 19 – 24 21 – 24 24 – 26 Kelembaban (%) 45 – 60 45 – 60 45 – 60 45 – 60 35 . SNI 03 – 6390 .HVAC) Sistem Penghawaan (Ventilasi) (1) Umum. Bangunan rumah sakit harus mempunyai bukaan permanen. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.60 35 . 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16.5. Tata cara perancangan sistem ventilasi dan pengkondisian udara pada bangunan gedung.

Prasarana dan Peralatan Kesehatan. orientasi bangunan. DEPKES-RI 36 . dan bangunan pelayanan umum harus mempunyai bukaan untuk pencahayaan alami. Untuk kenyamanan termal pada bangunan gedung harus memenuhi SNI 03-6572-2001 atau edisi terbaru. pemulihan Endoscopy. dan prinsip-prinsip penghematan energi dan ramah lingkungan 2) 3) (2) Persyaratan Teknis. Tata cara perancangan sistem ventilasi dan pengkondisian udara pada bangunan gedung. jenis peralatan. (a) Rumah sakit tempat tinggal. pelayanan kesehatan. Sekretariat Jenderal.000 – 20. 4. letak geografis. disesuaikan dengan fungsi rumah sakit dan fungsi masing-masing ruang di dalam rumah sakit. volume ruang. Pencahayaan alami harus optimal. (2) Persyaratan Teknis.saat tidak tidur . Pencahayaan buatan harus direncanakan berdasarkan tingkat iluminasi yang dipersyaratkan sesuai fungsi ruang dalam rumah sakit dengan mempertimbangkan efisiensi.000 300 – 500 75 – 100 minimal 60 Minimal 100 Warna cahaya sejuk atau sedang tanpa bayangan Warna cahaya sedang Intensitas Cahaya (lux) Keterangan Pusat Sarana. dan penggunaan bahan bangunan.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C (b) Untuk mendapatkan tingkat temperatur dan kelembaban udara di dalam ruangan dapat dilakukan dengan alat pengkondisian udara yang mempertimbangkan : 1) fungsi bangunan rumah sakit/ruang. penghematan energi yang digunakan. termasuk pencahayaan darurat sesuai dengan fungsinya. Setiap rumah sakit untuk memenuhi persyaratan sistem pencahayaan harus mempunyai pencahayaan alami dan/atau pencahayaan buatan/ mekanik. Pencahayaan di RS harus memenuhi standar kesehatan dalam melaksanakan pekerjaannya sesuai standar intensitas cahaya sebagai berikut : (b) (c) (d) Tabel 4. jumlah pengguna.6 – Tabel Indeks Pencahayaan Menurut Jenis Ruang atau Unit No. Operasi umum Meja operasi Anastesi. 1 2 3 4 5 6 7 Ruang atau Unit Ruang pasien .saat tidur R. dan penempatannya tidak menimbulkan efek silau atau pantulan. kemudahan pemeliharaan dan perawatan.6 Sistem Pencahayaan (1) Umum. pendidikan. 50 300 – 500 10. lab Sinar X Koridor 100 – 200 maks.

seperti ruang operasi. (12) Tersedia air bersih untuk keperluan pemadaman kebakaran dengan mengikuti ketentuan yang berlaku. (5) Distribusi air minum dan air bersih di setipa ruangan/kamar harus menggunakan jaringan perpipaan yang mengalir dengan tekanan positif. Sistem Plambing 2000. (3) Air minum dan air bersih tersedia pada setiap tempat kegiatan yang membutuhkan secara berkesinambungan. atau dapat mengadakan pengolahan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. (10) RS yang telah menggunakan air yang sudam diolah seperti dari PDAM.reservoir) bawah atau atas.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Tangga Administrasi/kantor Ruang alat/gudang Farmasi Dapur Ruang cuci Toilet R. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. (7) Dalam rangka pengawasan kualitas air maka RS harus melakukan inspeksi terhadap sarana air minum dan air bersih minimal 1 (satu) tahun sekali. Sekretariat Jenderal.7.1 – 0. 4. (4) Tersedia penampungan air (.1 Sistem Fasilitas Sanitasi Persyaratan Sanitasi Persyaratan Sanitasi Rumah Sakit dapat dilihat pada Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1204/MENKES/SK/X/2004. (2) Tersedia air bersih minimal 500 lt/tempat tidur/hari. titik sampel yaitu pada penampungan air (. (6) Penyediaan Fasilitas air panas dan uap terdiri atas Unit Boiler.7. (8) Pemeriksaan kimia air minum dan atau air bersih dilakukan minimal 2 (dua) kali setahun (sekali pada musim kemarau dan sekali pada musim hujan).5 100 – 200 Warna cahaya biru Malam hari 4. (11) Ruang Farmasi dan Hemodialisis : yaitu terdiri dari air yang dimurnikan untuk penyiapan obat.2 Pusat Sarana. tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. DEPKES-RI 37 . sumur bor dan sumber lain untuk keperluan operasi dapat melakukan pengolahan tambahan dengan cartridge filter dan dilengkapi dengan desinfeksi menggunakan ultra violet. penyiapan injeksi dan pengenceran dalam hemodialisis.7 4. Persyaratan Air Bersih (1) Harus tersedia air bersih yang cukup dan memenuhi syarat kesehatan. (13) Sistem Plambing air bersih/minum dan air buangan/kotor mengikuti persyaratan teknis sesuai SNI 03-6481-2000 atau edisi terbaru. (9) Kualitas air yang digunakan di ruang khusus. sistem perpipaan dan kelengkapannya untuk distribusi ke daerah pelayanan. Isolasi khusus penyakit Tetanus Ruang luka baker Minimal 100 Minimal 100 Minimal 200 Minimal 200 Minimal 200 Minimal 100 Minimal 100 0.reservoir) dan keran terjauh dari reservoir.

PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C

4.7.3

Sistem Pengolahan dan Pembuangan Limbah Persyaratan Pengolahan dan Pembuangan Limbah Rumah Sakit dalam bentuk padat, cair dan gas, baik limbah medis maupun non-medis dapat dilihat pada Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1204/MENKES/SK/X/2004, tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. Persyaratan Penyaluran Air Hujan (1) Umum Sistem penyaluran air hujan harus direncanakan dan dipasang dengan mempertimbangkan ketinggian permukaan air tanah, permeabilitas tanah, dan ketersediaan jaringan drainase lingkungan/kota. (2) Persyaratan Teknis. (a) (b) Setiap bangunan gedung dan pekarangannya harus dilengkapi dengan sistem penyaluran air hujan. Kecuali untuk daerah tertentu, air hujan harus diresapkan ke dalam tanah pekarangan dan/atau dialirkan ke sumur resapan sebelum dialirkan ke jaringan drainase lingkungan/kota sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pemanfaatan air hujan diperbolehkan dengan mengikuti ketentuan yang berlaku. Bila belum tersedia jaringan drainase kota ataupun sebab lain yang dapat diterima, maka penyaluran air hujan harus dilakukan dengan cara lain yang dibenarkan oleh instansi yang berwenang. Sistem penyaluran air hujan harus dipelihara untuk mencegah terjadinya endapan dan penyumbatan pada saluran. Pengolahan dan penyaluran air hujan mengikuti persyaratan teknis berikut: 1) 2) 3) SNI 03-2453-2002 atau edisi terbaru; Tata cara perencanaan sumur resapan air hujan untuk lahan pekarangan. SNI 03-2459-2002 atau edisi terbaru; Spesifikasi sumur resapan air hujan untuk lahan pekarangan. Tata cara perencanaan, pemasangan, dan pemeliharaan sistem penyaluran air hujan pada bangunan gedung.

4.7.4

(c) (d)

(e) (f)

4.8

Sistem Instalasi Gas Medik (1) Umum. Sistem gas medik dan vakum medik harus direncanakan dan dipasang dengan mempertimbangkan jenis dan tingkat bahayanya. (2) Persyaratan Teknis. (a) Persyaratan ini berlaku wajib untuk fasilitas pelayanan kesehatan di rumah sakit, rumah perawatan, fasilitas hiperbarik, klinik bersalin. dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Bila terdapat istilah gas medik atau vakum, ketentuan tersebut berlaku wajib bagi semua sistem perpipaan untuk oksigen, nitrous oksida, udara tekan medik, karbon dioksida, helium, nitrogen, vakum

(b)

Pusat Sarana, Prasarana dan Peralatan Kesehatan, Sekretariat Jenderal, DEPKES-RI

38

PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C

medik untuk pembedahan, pembuangan sisa gas anestesi, dan campuran dari gas-gas tersebut. Bila terdapat nama layanan gas khusus atau vakum, maka ketentuan tersebut hanya berlaku bagi gas tersebut. (c) Sistem yang sudah ada yang tidak sepenuhnya memenuhi ketentuan ini boleh tetap digunakan sepanjang pihak yang berwenang telah memastikan bahwa penggunaannya tidak membahayakan jiwa. Potensi bahaya kebakaran dan ledakan yang berkaitan dengan sistem perpipaan sentral gas medik dan sistem vakum medik harus dipertimbangkan dalam perancangan, pemasangan, pengujian, pengoperasian dan pemeliharaan sistem ini. Identifikasi dan pelabelan sistem pasokan terpusat harus jelas. Silinder/tabung dan kontainer yang boleh digunakan harus yang telah dibuat, diuji, dan dipelihara sesuai spesifikasi dan ketentuan dari pihak berwenang. Isi silinder/tabung harus diidentifikasi dengan suatu label atau cetakan yang ditempelkan yang menyebutkan isi atau pemberian warna pada silinder/tabung sesuai ketentuan yang berlaku. Sebelum digunakan harus dipastikan isi silinder/tabung atau kontainer dengan memperhatikan warna tabung, keterangan isi tabung yang diemboss pada badan tabung, label (bila ada). Label tidak boleh dirusak, diubah penyambung tidak boleh dimodifikasi. Pengoperasian sistem pasokan sentral. 1) Tidak dibenarkan menggunakan adaptor atau fiting konversi untuk menyesuaikan fiting khusus suatu gas ke fiting gas lainnya. Tidak dibenarkan merubah fiting/soket/adaptor yang telah sesuai dengan spesifikasi gas medik. Tidak dibenarkan penggunaan silinder tanpa warna dan penandaan yang disyaratkan. Hanya silinder gas medik dan perlengkapannya yang boleh disimpan dalam ruangan tempat sistem pasokan sentral atau silinder gas medik. Tidak dibenarkan menyimpan bahan mudah menyala, silinder berisi gas mudah menyala atau yang berisi cairan mudah menyala, di dalam ruang penyimpanan gas medik. Bila silinder terbungkus pada saat diterima, pembungkus tersebut harus dibuang sebelum disimpan. Tutup pelindung katup harus dipasang erat pada tempatnya bila silinder sedang tidak digunakan. atau dilepas, dan fiting

(d)

(e) (f)

(g)

(h)

(i) (j)

2) 3) 4)

5)

6) 7)

Pusat Sarana, Prasarana dan Peralatan Kesehatan, Sekretariat Jenderal, DEPKES-RI

39

PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C

(k)

Perancangan dan pelaksanaan. Lokasi untuk sistem pasokan sentral dan penyimpanan gas-gas medik harus memenuhi persyaratan berikut : 1) 2) 3) 4) Dibangun dengan akses ke luar dan masuk lokasi untuk memindahkan silinder, peralatan, dan sebagainya. Dijaga keamanannya dengan pintu atau gerbang yang dapat dikunci, atau diamankan dengan cara lain. Jika di luar ruangan/bangunan, harus dilindungi dengan dinding atau pagar dari bahan yang tidak dapat terbakar. Jika di dalam ruangan/bangunan, harus dibangun dengan menggunakan bahan interior yang tidak dapat terbakar/ sulit terbakar, sehingga semua dinding, lantai, langit-langit dan pintu sekurang-kurangnya mempunyai tingkat ketahanan api 1 jam. Dilengkapi lampu atau indikator pada bagian luar ruang penyimpanan yang menunjukkan kondisi kapasitas gas medis yang masih tersedia. Dilengkapi dengan rak, rantai, atau pengikat lainnya untuk mengamankan masing-masing silinder, baik yang terhubung maupun tidak terhubung, penuh atau kosong, agar tidak roboh. Dipasok dengan daya listrik yang memenuhi persyaratan sistem kelistrikan esensial. Apabila disediakan rak, lemari, dan penyangga, harus dibuat dari bahan tidak dapat terbakar atau bahan sulit terbakar.

5)

6)

7) 8) (l)

Standar dan pedoman teknis. 1) Untuk sistem gas medik pada bangunan gedung, harus dipenuhi SNI 03-7011-2004, tentang ; Keselamatan pada bangunan fasilitas pelayanan kesehatan, atau edisi terakhir. Dalam hal persyaratan diatas belum ada SNI-nya, dipakai Standar baku dan ketentuan teknis yang berlaku.

2)

4.9

Sistem Pengendalian Terhadap Kebisingan dan Getaran (1) Kenyamanan terhadap Kebisingan (a) Kenyamanan terhadap kebisingan adalah keadaan dengan tingkat kebisingan yang tidak menimbulkan gangguan pendengaran, kesehatan, dan kenyamanan bagi seseorang dalam melakukan kegiatan. Gangguan kebisingan pada bangunan gedung dapat berisiko cacat pendengaran. Untuk memproteksi gangguan tersebut perlu dirancang lingkungan akustik di tempat kegiatan dalam bangunan yang sudah ada dan bangunan baru. Untuk mendapatkan tingkat kenyamanan terhadap kebisingan pada bangunan rumah sakit harus mempertimbangkan jenis kegiatan, penggunaan peralatan, dan/atau sumber bising lainnya baik yang berada pada bangunan gedung maupun di luar bangunan rumah sakit.

(b)

(c)

Pusat Sarana, Prasarana dan Peralatan Kesehatan, Sekretariat Jenderal, DEPKES-RI

40

Sekretariat Jenderal. pemulihan Endoscopy. 1 Ruang atau Unit Ruang pasien . DEPKES-RI 41 . harus meminimalkan kebisingan yang ditimbulkan sampai dengan tingkat yang diizinkan. getaran mekanik atau seismik baik yang berasal dari penggunaan peralatan atau sumber getar lainnya baik dari dalam bangunan maupun dari luar bangunan. 1204/Menkes/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan RS. Pusat Sarana. 3 Kepmenkes RI No. Getaran dapat berupa getaran kejut. Persyaratan kebisingan untuk masing-masing ruangan/ unit dalam RS adalah sebagai berikut : Tabel 4. lab Sinar X Koridor Tangga Kantor/Lobi Ruang Alat/ Gudang Farmasi Dapur Ruang Cuci Ruang Isolasi Ruang Poli Gigi (2) Kenyamanan terhadap Getaran Kenyamanan terhadap getaran adalah suatu keadaan dengan tingkat getaran yang tidak menimbulkan gangguan bagi kesehatan dan kenyamanan seseorang dalam melakukan kegiatannya.saat tidak tidur .PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C (d) Setiap bangunan rumah sakit dan/atau kegiatan yang karena fungsinya menimbulkan dampak kebisingan terhadap lingkungannya dan/atau terhadap bangunan rumah sakit yang telah ada. Operasi umum Anastesi.saat tidur Maksimum Kebisingan (Waktu pemaparan 8 jam dan satuan dBA) 45 40 45 45 65 40 40 45 45 45 45 78 78 40 80 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 R. Untuk kenyamanan terhadap kebisingan pada bangunan rumah sakit harus dipenuhi standar tata cara perencanaan kenyamanan terhadap kebisingan pada bangunan gedung. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.9 – Tabel Indeks Kebisingan Menurut Jenis Ruang atau Unit 3 (e) (f) No.

dan/atau lantai berjalan/travelator. Penyediaan fasilitas dan aksesibilitas harus mempertimbangkan tersedianya hubungan horizontal antarruang dalam bangunan rumah sakit.10 Sistem Hubungan Horisontal dalam rumah sakit. dan jenis pintu. dan di dalam bangunan rumah sakit meliputi tersedianya fasilitas dan aksesibilitas yang mudah. ram. (a) Jumlah. dan jumlah pengguna ruang. termasuk bagi orang yang berkebutuhan khusus. baik berupa fungsi keagamaan. dan konstruksi sarana hubungan vertikal harus berdasarkan fungsi bangunan rumah sakit. aman. Arah bukaan daun pintu dalam suatu ruangan dipertimbangkan berdasarkan fungsi ruang dan aspek keselamatan. serta keselamatan pengguna gedung. (a) Kemudahan hubungan ke. fungsi ruang. DEPKES-RI 42 . (2) Pusat Sarana. maupun fungsi sosial dan budaya harus menyediakan fasilitas dan kelengkapan sarana hubungan vertikal bagi orang yang berkebutuhan khusus. Jumlah. Persyaratan Teknis. dan jumlah pengguna ruang. dalam suatu ruangan dipertimbangkan berdasarkan besaran ruang. Sekretariat Jenderal. (b) (c) (2) (a) Persyaratan Teknis. (1) Umum. ukuran. (b) (c) (d) 4. lif. tangga berjalan/eskalator. luas bangunan. Kelengkapan prasarana disesuaikan dengan fungsi rumah sakit.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 4. (1) Umum. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. termasuk penyandang cacat. termasuk penyandang cacat. fungsi ruang. Setiap bangunan rumah sakit harus memenuhi persyaratan kemudahan hubungan horizontal berupa tersedianya pintu dan/atau koridor yang memadai untuk terselenggaranya fungsi bangunan rumah sakit tersebut. ukuran. dan nyaman bagi orang yang berkebutuhan khusus. fungsi usaha. termasuk penyandang cacat. (b) (c) Setiap bangunan rumah sakit dengan ketinggian di atas lima lantai harus menyediakan sarana hubungan vertikal berupa lif. dari. Ukuran koridor sebagai akses horizontal antarruang dipertimbangkan berdasarkan fungsi koridor. akses evakuasi. dan jumlah pengguna.11 Sistem Hubungan (Transportasi) Vertikal dalam Rumah Sakit. Setiap bangunan rumah sakit bertingkat harus menyediakan sarana hubungan vertikal antar lantai yang memadai untuk terselenggaranya fungsi bangunan rumah sakit tersebut berupa tersedianya tangga. Bangunan rumah sakit umum yang fungsinya untuk kepentingan publik.

a– Tipikal ramp Pusat Sarana.11. Muka datar (bordes) pada awalan atau akhiran dari suatu ramp harus bebas dan datar sehingga memungkinkan sekurang-kurangnya untuk memutar kursi roda dan stretcher. (2) Panjang mendatar dari satu ramp (dengan kemiringan 70) tidak boleh lebih dari 900 cm. Panjang ramp dengan kemiringan yang lebih rendah dapat lebih panjang.11. Persyaratan Ramp. perhitungan kemiringan tersebut tidak termasuk awalan dan akhiran ramp (curb ramps/landing). DEPKES-RI 43 . Ramp adalah jalur sirkulasi yang memiliki bidang dengan kemiringan tertentu.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 4. (2) (3) (4) Gambar 4.1. Lebar minimum dari ramp adalah 120 cm dengan tepi pengaman. Sekretariat Jenderal.1 Ramp. (1) Kemiringan suatu ramp di dalam bangunan tidak boleh melebihi 70. dengan ukuran minimum 160 cm. (1) Umum. sebagai alternatif bagi orang yang tidak dapat menggunakan tangga. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.

11. Sekretariat Jenderal. Gambar 4.b– Bentuk-bentuk ramp Gambar 4.1.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Gambar 4. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.d – Pegangan rambat pada ramp.11.11.1. DEPKES-RI 44 .1.c – Kemiringan ramp. Pusat Sarana.

Gambar 4. (5) (6) Permukaan datar awalan atau akhiran suatu ramp harus memiliki tekstur sehingga tidak licin baik diwaktu hujan. (8) 4.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Gambar 4. Ramp harus dilengkapi dengan pegangan rambatan (handrail) yang dijamin kekuatannya dengan ketinggian yang sesuai. DEPKES-RI 45 . Lebar tepi pengaman ramp (low curb) 10 cm.f – Pintu di ujung ramp. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.11. (1) Umum. Tangga merupakan fasilitas bagi pergerakan vertikal yang dirancang dengan mempertimbangkan ukuran dan kemiringan pijakan dan tanjakan dengan lebar yang memadai. Apabila berbatasan langsung dengan lalu lintas jalan umum atau persimpangan.e – Kemiringan sisi lebar ramp. dirancang untuk menghalangi roda dari kursi roda atau stretcher agar tidak terperosok atau ke luar dari jalur ramp. Sekretariat Jenderal.1.11. (7) Ramp harus diterangi dengan pencahayaan yang cukup sehingga membantu penggunaan ramp saat malam hari. Pencahayaan disediakan pada bagian ramp yang memiliki ketinggian terhadap muka tanah sekitarnya dan bagian-bagian yang membahayakan. harus dibuat sedemikian rupa agar tidak mengganggu jalan umum.1. Pusat Sarana.11.2 Tangga.

Sekretariat Jenderal. (3) (4) Gambar 4. Harus dilengkapi dengan pegangan rambat (handrail). DEPKES-RI 46 .PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C (2) Persyaratan. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. (1) (2) (3) Harus memiliki dimensi pijakan dan tanjakan yang berukuran seragam Tinggi masing-masing pijakan/tanjakan adalah 15 – 17 cm.a – Tipikal tangga Gambar 4. Lebar tangga minimal 120 cm untuk membawa usungan dalam keadaan darurat.11. Harus memiliki kemiringan tangga kurang dari 600.2.11. untuk mengevakuasi pasien dalam kasus terjadinya kebakaran atau ancaman bom Tidak terdapat tanjakan yang berlubang yang dapat membahayakan pengguna tangga.2.b – Pegangan rambat pada tangga Pusat Sarana.

PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C (5) Pegangan rambat harus mudah dipegang dengan ketinggian 65 cm ~ 80 cm dari lantai. bebas dari elemen konstruksi yang mengganggu. harus dirancang sehingga tidak ada air hujan yang menggenang pada lantainya.c – Desain profil tangga. Gambar 4.2.e – Detail pegangan rambat pada dinding. dinding atau tiang. Sekretariat Jenderal.11. DEPKES-RI 47 .11. Pegangan rambat harus ditambah panjangnya pada bagian ujungujungnya (puncak dan bagian bawah) dengan 30 cm. Pusat Sarana.2. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. (6) (7) Gambar 4. Untuk tangga yang terletak di luar bangunan. dan bagian ujungnya harus bulat atau dibelokkan dengan baik ke arah lantai.2.d – Detail pegangan rambat tangga Gambar 4.11.

PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 4.30 m dan lebar pintunya tidak kurang dari 1. Lif penumpang dan lift service dipisah bila dimungkinkan. (2) Persyaratan Teknis. (b) Pusat Sarana. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Setiap bangunan rumah sakit yang menggunakan lif harus tersedia lif kebakaran yang dimulai dari lantai dasar bangunan (ground floor).50 m x 2. DEPKES-RI 48 . (2) Persyaratan. Oleh karena itu harus direncanakan dapat menampung tempat tidur pasien. Sekretariat Jenderal. Jumlah.3 Lift (Elevator) (1) Umum. sesuai dengan fungsi dan jumlah pengguna bangunan rumah sakit.12 Sarana Evakuasi (1) Umum. Lif kebakaran dapat berupa lif khusus kebakaran atau lif penumpang biasa atau lif barang yang dapat diatur pengoperasiannya sehingga dalam keadaan darurat dapat digunakan secara khusus oleh petugas kebakaran. Lift merupakan fasilitas lalu lintas vertikal baik bagi petugas RS maupun untuk pasien. (2) (3) (4) (5) 4. dan spesifikasi lif sebagai sarana hubungan vertikal dalam bangunan gedung harus mampu melakukan pelayanan yang optimal untuk sirkulasi vertikal pada bangunan. pintu keluar darurat. Setiap bangunan rumah sakit harus menyediakan sarana evakuasi bagi orang yang berkebutuhan khusus termasuk penyandang cacat yang meliputi : (a) (b) (c) sistem peringatan bahaya bagi pengguna. dan jalur evakuasi yang dapat menjamin pengguna bangunan rumah sakit untuk melakukan evakuasi dari dalam bangunan rumah sakit secara aman apabila terjadi bencana atau keadaan darurat.11. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum mempunyai SNI.20 m untuk memungkinkan lewatnya tempat tidur dan stretcher bersama-sama dengan pengantarnya. (1) Ukuran lift rumah sakit minimal 1. (a) Untuk persyaratan sarana evakuasi pada bangunan rumah sakit harus dipenuhi standar tata cara perencanaan sarana evakuasi pada bangunan gedung. dapat digunakan standar baku dan pedoman teknis yang diberlakukan oleh instansi yang berwenang. kapasitas.

14 Prasarana/Sarana Umum. tangga. (b) 4. Setiap bangunan rumah sakit. Tata cara perancangan sistem transportasi vertikal dalam gedung (lif). SNI 03-6573-2001 atau edisi terbaru. dan lif bagi penyandang cacat dan lanjut usia. serta fasilitas komunikasi dan informasi. Ketentuan teknis Ukuran. pintu. tempat parkir. rambu dan marka. (a) Guna memberikan kemudahan bagi pengguna bangunan rumah sakit untuk beraktivitas di dalamnya. telepon umum.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 4. (a) Fasilitas dan aksesibilitas meliputi toilet. (1) Umum. (2) Persyaratan Teknis. Penyediaan fasilitas dan aksesibilitas disesuaikan dengan fungsi. dan ketinggian bangunan rumah sakit.13 Aksesibilitas Penyandang Cacat (1) Umum. Ketentuan teknis Kelengkapan Prasarana dan Sarana bangunan rumah sakit. Aksesibilitas bagi Penyandang Cacat. meliputi: ruang ibadah. Penyediaan prasarana dan sarana disesuaikan dengan fungsi dan luas bangunan rumah sakit. setiap bangunan rumah sakit untuk kepentingan umum harus menyediakan kelengkapan prasarana dan sarana pemanfaatan bangunan rumah sakit. ram. jalur pemandu. toilet. Jumlah Fasilitas dan (b) (c) (d) (e) (f) (g) Dalam hal persyaratan di atas belum mempunyai SNI. tempat parkir. luas. Pusat Sarana. aman. Tata cara perencanaan akses bangunan dan akses lingkungan untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung. Perencanaan sarana dan prasarana dalam bangunan rumah sakit mengikuti: (a) SNI 03-1735-2000 atau edisi terbaru. Sekretariat Jenderal. nyaman dan mandiri. SNI 03-1746-2000 atau edisi terbaru. harus menyediakan fasilitas dan aksesibilitas untuk menjamin terwujudnya kemudahan bagi penyandang cacat dan lanjut usia masuk dan keluar ke dan dari bangunan rumah sakit serta beraktivitas dalam bangunan rumah sakit secara mudah. Ketentuan teknis Prasarana dan Sarana pemanfaatan Bangunan rumah sakit dan Kelengkapannya . DEPKES-RI 49 . Konstruksi. tempat sampah. dapat digunakan standar baku dan pedoman teknis yang diberlakukan oleh instansi yang berwenang. Tata cara perencanaan dan pemasangan sarana jalan keluar untuk penyelamatan terhadap bahaya kebakaran pada bangunan gedung. serta jumlah pengguna bangunan rumah sakit (b) (2) Persyaratan Teknis. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.

lemari alat periksa & obat. komputer personal. Meja. • Loket Kasir Fungsi Ruang tunggu pasien (dan pengantar pasien) saat melakukan pendaftaran Tempat kegiatan administratif ASKES Rumah Sakit dilaksanakan. terdiri dari 4 Klinik Spesialistik dasar. Televisi & AC (bila RS mampu) Kursi Dokter. telepon & intercom. komputer 5 Ruang Tunggu Poli Ruang Periksa & Konsultasi Dokter Spesialis Kursi. 16 m2) 4 Ruang Rekam Medis 12~16 m2/ 1000 kunjungan pasien / hari ( untuk 5 tahun) 1~1. pemeriksaan dan pengobatan pasien oleh dokter ahli di bidang masing-masing yang disediakan untuk pasien yang membutuhkan waktu singkat untuk penyembuhannya atau tidak memerlukan pelayanan perawatan. Pembayaran biaya pelayanan medik. 5. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. intercom/telepon.4 m2/poli) 12~25 m2/ poli Meja. penyelidikan.1.2 No. kursi. dan kelengkapan lainnya. Meja. diagnosis. Ruang di mana keluarga atau pengantar pasien menunggu panggilan di depan ruang poliklinik. tangga roolstool. Pendataan pasien rawat jalan 2. yaitu tempat pemeriksaan pasien pertama dalam rangka pemeriksaan lebih lanjut di dalam tahap pengobatan penyakit.1 Lingkup Sarana Pelayanan Kebutuhan sarana pelayanan Rumah Sakit Kelas C terdiri dari: 1) Poli Umum. proses pengobatan dan tindakan medis serta dokumentasi hasil pelayanan. lemari arsip. Tempat menyimpan informasi tentang identitas pasien. Ruang ini digunakan untuk menyelenggarakan kegiatan administrasi. 2 (dua) kursi hadap. antara lain :  Klinik Penyakit Dalam  Klinik Anak  Klinik Bedah  Klinik Kebidanan dan Penyakit Kandungan 2) Klinik tambahan/pelengkap antara lain:  Klinik Mata  Klinik Telinga Hidung dan Tenggorokan (THT)  Klinik Gigi dan Mulut  Klinik Kulit dan Kelamin  Klinik Syaraf  Klinik Jiwa  Klinik Rehabilitasi Medik  Klinik jantung  Klinik Paru  Klinik Bedah Syaraf  Klinik Ortopedi  Klinik Kanker  Klinik Nyeri  Klinik Geriatri Kebutuhan Ruang. perjalanan penyakit.1 INSTALASI RAWAT JALAN Fungsi Instalasi Rawat Jalan adalah sebagai tempat konsultasi. kursi. Biasanya langsung berhubungan dengan loket pendaftaran. Ruang tempat dokter spesialis melakukan pemeriksaan dan konsultasi dengan pasien Kebutuhan Ruang/Luas 1~1. lemari berkas/arsip. serta perangkat kerja lainnya. Sekretariat Jenderal. meliputi : 1. safety box 5.1. DEPKES-RI 50 . 1 2 3 3~5 m2/ petugas (min. 12 m2) Kebutuhan Fasilitas Kursi.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C BAGIAN – V URAIAN BANGUNAN RUMAH SAKIT 5. 12 m2) 3~5 m2/ petugas (min. tempat tidur periksa. Poliklinik juga berfungsi sebagai tempat untuk penemuan diagnosa dini.5 m2/ orang (min. Televisi & Alat Pengkondisi Udara (AC / Air Condition) Meja & kursi kerja. Meja Konsultasi.5 m2/ orang (min. Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas Nama Ruangan Ruang Tunggu Utama. 6 Pusat Sarana. lemari arsip. Ruang Pengendali ASKES Ruang Administrasi • Loket Pendaftaran Pasien.

penyelidikan. tensimeter. kartu jager. gunting perban. meja kebidanan. Set diagnostik dan stimulator syaraf dan jiwa. Paediatric trolley. 6~12 m2 10 Ruang Tindakan/ Diagnostik Poli Bedah Ruang tempat konsultasi. dental chair. 12~25 m2/ poli 10 Ruang Tindakan/ Diagnostik Poli THT Ruang tempat konsultasi. licht kaas. gunting perban. lensmeter. anak & dewasa. lampu periksa. senter. 12~25 m2/ poli 12 Ruang Tindakan/ Diagnostik Poli Umum Ruang tempat konsultasi. Poforceps biopsy. IUD kit & injeksi KB. peralatan diagnostic kulit dan kelamin. implant kit. meja periksa. set pemeriksaan ginekologi. amalgam set. standar infus. set diagnostik. lemari obat/alat. tambalan sewarna gigi dan set bedah mulut dengan sinar laser. penyelidikan. peralatan laboratorium teknik gigi dasar. termometer aksila. stetoskop. Instrumen bedah gigi dan mulut (dental operating instrument). tempat tidur periksa. stand Waskom. meja resusitasi anak dan bayi. USG. kacamata pembesar. senter. autoklaf. oxygen set dan flowmeter. stetoskop. preparation cavitas set. meja resusitasi bayi. meja ginekologi. garpu tala. pemeriksaan. DEPKES-RI 51 . laringoskop. stetoskop bayi. set aktivar. Kolposkopi. Kampimeter. termometer. reflex hammer. Meja. dan pengobatan pasien penyakit syaraf Ruang tempat konsultasi. set penyemenan. pemeriksaan. gelas objek & cover set. tensimeter dg manset untuk bayi. spatula kimura. lampu periksa. audiometer. Sekretariat Jenderal. scaler set. alat punch biopsi. hertel exopthalmometer. meja periksa. penyelidikan. korentang. film viewer. penyelidikan. stand waskom Slitlamp. alat resusitasi. dental row standar. penyelidikan. set insersi GTS/GTP.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 7 Ruang Tindakan Poli Penyakit Dalam Ruang tempat konsultasi. dan pengobatan pasien oleh dokter umum. flash light. incubator. dilator pungtum & jarum anel. defibrillator. glass lonometer lengkap. stetoskop. gelas objek dan gelas cover set. lid retractor. bak air Pusat Sarana.untuk pasien dapat berjalan & maks. film viewer. tensimeter. dan pengobatan pasien penyakit THT.Pd. stetoskop. 12~25 m2/ poli Meja. set diagnostik. dan pengobatan pasien penyakit dalam oleh dokter Sp. buku ishihara 14 plate. lup. timbangan+pengukur tinggi. tensimeter. flash light & penggaris. sphygmomanometer (tensimeter). alat penghisap lendir. Mikroskop binocular. dan pengobatan pasien kejiwaan. meja instrumen. palu reflek. suction unit. set preparasi mahkota dan jembatan. lensa & kacamata coba tes. kursi. ENT diagnostik instrument set. timbangan badan/tinggi badan. resusitasi set. elektrokauter. alat sinar. wastafel. ENT unit. kursi & meja dokter. funduskopi. Dental unit. kartu snellen. set diagnostik. single channel EKG. set diagnostic syaraf. anastesi local set. penyelidikan. set resusitasi bayi. palu reflek. sendok penekan lidah. 9 Ruang Laktasi Ruang khusus bagi ibu yang menyusui anaknya.. stetoskop. set resusitasi anak lengkap dg defribilator. indirect/binocular opthalmoskop. emergency cart. tensimeter. standar infus. tongue spatel. pengunjung) KM/WC @ KM/WC pria/ wanita luas +2 – 3 m2 (min. pengobatan. ultra sonografi EKG. pemeriksaan. 12~25 m2/ poli 12 Ruang Tindakan/ Diagnostik Poli Kulit dan Penyakit Kelamin Ruang Tindakan/ Diagnostik Poli Syaraf Ruang tempat konsultasi. lampu batere. 12~25 m2/ poli 8 Ruang Tindakan / Diagnostik Poli Anak Ruang tempat melakukan tindakan atau diagnostik terhadap pasien anak. dan pengobatan pasien penyakit mata. termometer. sigmoidoskopi. diagnostic set. sendok penekan lidah. sterilisator. pemeriksaan. opthalmoskop. 12~25 m2/ poli 11 Ruang Tindakan/ Diagnostik Poli Gigi dan Mulut Ruang tempat konsultasi. stetoskop. head light. indirect inlay set Timbangan badan. tensimeter. Ophtalmoskop. kursi periksa. Kursi. wastafel/sink Lemari alat. tongspatel. anaskopi. 12~25 m2/ poli 11 Ruang Tindakan/ Diagnostik Poli Kebidanan/ Kandungan Ruang tempat melakukan tindakan atau diagnostic kebidanan terhadap pasien. tangenscreen & bjerrum. cold chain. cotton roll holder. penyelidikan. timbangan ibu. stetoskop anak. instrument troly. stetoskop linen. ECG. tindakan terhadap pasien. dan pengobatan pasien penyakit gigi dan mulut. instrument set tindakan dan operasi kulit dan kelamin. alat tes sensasi. suction pump. pemeriksaan. tonometer schiotz. set orthodonsi piranti lepas. loupe. flourscein strips. spatel lidah. lampu senter. untuk pasien berkursi roda) Kloset. headlamp. minor surgery set/ unit diagnostic & treatment. spekulum hidung. sterilisator table model. penyelidikan. palu refleks. sterilisator basah. Stetoskop laenec. tensimeter. pemeriksaan. reflex hammer. lokal anastesi set. tempat tidur periksa. Ruang tempat konsultasi. Set cetak GTS/GTP & mahkota/ jembatan. pap smear kit. streak retinoskopi. termometer rektal. suction pump. trakeostomi set. lampu operasi. pemeriksaan. penyelidikan. dan pengobatan pasien penyakit kulit dan kelamin. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. 12~25 m2/ poli 9 Ruang Tindakan/ Diagnostik Poli Mata Ruang tempat konsultasi. kursi. laringoskop. pemeriksaan. termometer. composite resin lengkap khusus fissure sealent. meja. exodontia set. timbangan badan/tinggi badan. placido test. 12~25 m2/ poli 13 12~25 m2/ poli 14 Ruang Tindakan/ Diagnostik Poli Jiwa 12~25 m2/ poli 11 Toilet (petugas. pemeriksaan. Doppler. scale/timbangan. lemari alat.

Pada tiap ruangan harus ada wastafel (air mengalir).PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 5. 7. Tunggu Penunjang Medik: . 3. Letak Poliklinik berdekatan dengan jalan utama. 9. 5. bagian radiologi dan laboratorium.1. Poli anak tidak diletakkan berdekatan dengan Poli Paru.Radiologi . DEPKES-RI 52 . Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Sistem sirkulasi pasien dilakukan dengan satu pintu (sirkulasi masuk dan keluar pasien pada pintu yang sama). Diusahakan ada pemisahan ruang tunggu pasien untuk penyakit infeksi dan non infeksi. Bila konsep Rumah Sakit dengan Sterilisasi Sentral.4 Pendaftaran Awal (pasien baru) / Ulang (& rekam medik) R. dll Dirujuk ke klinik spesialis lain/ RS lain R. Poli-poli yang ramai sebaiknya tidak saling berdekatan. 4. 6. Alur Kegiatan Alur kegiatan pada instalasi rawat jalan dapat dilihat pada bagan alir berikut :  Pasien Datang tanpa Rujukan  Pasien Datang dengan Rujukan 5. tidak perlu ada ruang sterilisasi. Periksa Poli umum / spesialis Dokter Perawat Alat Pasien Staf Alat Dirawat di Inst. mudah dicapai dari bagian administrasi. Letak poli jauh dari ruang incenerator.1. IPAL dan bengkel ME. Rawat Inap Pulang Gambar 5. sebaiknya Poli Anak dekat dengan Poli Kebidanan.3 Persyaratan Khusus Konsep dasar poliklinik pada prinsipnya ditetapkan sebagai berikut : 1.Laboratorium . Sirkulasi petugas dan sirkulasi pasien dipisahkan. harus cukup luas. 8. terutama oleh bagian rekam medis. berhubungan dekat dengan apotek. namun pada beberapa Poliklinik seperti Poli Gigi/THT/Bedah tetap harus ada ruang sterilisasi. 2. karena alat-alat yang digunakan harus langsung disterilkan untuk digunakan kembali (bila pasien banyak). Ruang tunggu di poliklinik.4 – Alur Kegiatan Pada Instalasi Rawat Jalan Pusat Sarana.1.Fisioterapi. Sekretariat Jenderal.

2 No. Fungsi Besaran Ruang / Luas Kebutuhan Fasilitas 5. Televisi & Alat Pengkondisi Udara (AC / Air Condition) 3 Ruang Rekam Medis Sesuai kebutuhan Meja. perjalanan penyakit. 5. Sekretariat Jenderal. Cito Darah. B. diagnosis. Tempat menyimpan informasi tentang identitas pasien. trakeostomi set. Breathing. A. Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas Nama Ruangan RUANG PENERIMAAN Ruang ini digunakan untuk menyelenggarakan kegiatan administrasi. 6. kursi. Resusitasi Ruangan yang dipergunakan untuk melakukan tindakan resusitasi terhadap pasien. Pelayanan Kegawatdaruratan pada UGD : 1. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. 3. nasotrakeal. Cito/ Emergency High Care Unit (HCU). suction. dokter umum yang siaga di tempat (on-site) dalam 24 jam yang memiliki kualifikasi pelayanan GELS (General Emergency Life Support) dan atau ATLS + ACLS dan mampu memberikan resusitasi dan stabilisasi ABC (Airway. Cito Radiodiagnostik. orofaringeal. kanul oksigen. Ruang ini perlu disediakan tempat duduk dengan jumlah yang sesuai aktivitas pelayanan. label Area terbuka dengan/ tanpa penutup. 5 B. Pelayanan Kegawatdaruratan Penyakit Dalam 5. 12-20 m2 Pusat Sarana. Program Pelayanan pada UGD : True Emergency (Kegawatan darurat) 1. orotrakeal. Pelayanan di Unit Gawat Darurat rumah sakit harus dapat memberikan pelayanan 24 jam secara terus menerus 7 hari dalam seminggu. Pendataan pasien IGD 2. komputer 4 Ruang Triase Min. Ruang Persiapan Bencana Massal RUANG TINDAKAN Min. 16 m2) Meja.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 5. Meja. Pelayanan Kegawatdaruratan Bedah 2. Ruang tempat persiapan penanganan pasien korban bencana massal. Pelayanan Kegawatdaruratan Kardiovaskuler Kebutuhan Ruang. lemari berkas/arsip. proses pengobatan dan tindakan medis serta dokumentasi hasil pelayanan.2.anak). 16 m2) Kursi. Biasanya langsung berhubungan dengan loket pendaftaran. False Emergency (Kegawatan tidak darurat) 2. 1 Ruang Administrasi dan loket pendaftaran 3~5 m2/ petugas (min. laringoskop set dewasa. laringoskop set anak. kursi. 2 Ruang Tunggu Pengantar Pasien 1~1. 3. DEPKES-RI 53 . Cito Lab. Ruang tempat memilah-milah tingkat kegawatdaruratan pasien dalam rangka menentukan tindakan selanjutnya terhadap pasien. Cito Operation. Pembayaran biaya pelayanan medik.2 INSTALASI GAWAT DARURAT Setiap Rumah Sakit wajib memiliki pelayanan gawat darurat yang memiliki kemampuan : • Melakukan pemeriksaan awal kasus – kasus gawat darurat • Melakukan resusitasi dan stabilisasi.1 Lingkup Sarana Pelayanan A.2. 7. Pelayanan Kegawatdaruratan Anak 4. 16 m2 Tt periksa. Cito Depo Farmasi. Circulation) serta memiliki alat transportasi untuk rujukan dan komunikasi yang siaga 24 jam 5. chest tube. intercom/telepon. bag valve Mask (dewasa. meliputi : 1. fasilitas air bersih dan drainase Nasoparingeal. 3 m2/ pasien bencana 6 R. safety box. Memiliki dokter spesialis empat besar yang siap panggil (on-call). kit pemeriksaan sederhana. wastafel. oksigen mask (dewasa/anak). dapat berfungsi sekaligus sebagai ruang tindakan. filing cabinet/lemari arsip. Penandatanganan surat pernyataan dari keluarga pasien IGD. dan peralatan kantor lainnya. Ruang di mana keluarga/ pengantar pasien menunggu. 4.5 m2/ orang (min. Pelayanan Kegawatdaruratan Obgyn 3.

Min. monitor set. Tempat untuk melaksanakan kegiatan diagnostik cito. 6 m2 Oksigen. Imobilization set (neck collar. tempat tidur. set bedah plastik emergency. vena section set. set neurosurgery. 2. Pusat Sarana. wastafel. 7. endoscopy surgery. meja ginekologi. splint. tempat tidur. pengaturan jadwal).Nurse Station) Min. pengorganisasian. doppler. oksigen 3. metal kauter. vena section. oksigen medis. 12 13 RUANG PENUNJANG MEDIS Ruang Farmasi/ Obat Ruang Linen Steril Ruang tempat menyimpan obat untuk keperluan pasien gawat darurat. Ruang Dokter terdiri dari 2 bagian : 1. partus set. kimia darah. set vascular. Observasi Ruangan yang dipergunakan untuk melakukan observasi terhadap pasien setelah diberikan tindakan medis. brankar 2. film viewer R. monitor. (analisa gas darah boleh ada/tidak) Tempat tidur. Tindakan Bedah Ruang untuk melakukan bedah ringan pada pasien. 12-25 m2 R. EKG. film viewer. Ruang kerja. resusitasi set. set bedah dasar. vacuum set. urine bag. oksigen medis. set apendiktomi. defibrilator. R. meja/kursi. torakosintesis set. sofa. forcep set. suction.Pos perawat harus terletak di pusat blok yang dilayani agar perawat dpt mengawasi pasiennya secara efektif. pulse oximeter. Tempat penyimpanan bahan-bahan linen steril. lampu (mobile /statis). 16 m2 8 R. tiang infus. tiang infus. scoop strechter. Ruang Persiapan Ruang untuk mempersiapkan pasien sebelum memasuki r. infusion set.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 7 R. film viewer. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. infusion set. Inkubator. nebulizer. untuk melakukan perencanaan. tempat tidur. suction. Ruang pemeriksaan laboratorium yang bersifat segera/cito. Kegiatan dalam ruang ini yaitu : Ruang untuk melakukan pembedahan pada pasien. set laparoscopy. 4 m2 17 R. long spine board. tempat tidur. film viewer Ket : kedua ruangan ini bisa digabung atau dipisah. Tindakan Non Bedah Ruang untuk melakukan tindakan non bedah pada pasien. poliklinik set. set laparatomi. dan film viewer boleh ada/tidak) Lab rutin. set sectiosesaria. kursi. USG (boleh ada/tidak). tiang infus. jarum spinal boleh ada/tidak). automatic film processor. CTG. ventilator transport. 3 m2 Min. set nephrotomi. tindakan 12-25 m2 Kuret set. NGT. Ruangan tempat penyimpanan peralatan medik yang setiap saat diperlukan. Min. tindakan Min. DEPKES-RI 54 . dressing set. (syrine pump. Ruang istirahat/kamar jaga. syringe pump. tapi untuk beberapa jenis pemeriksaan tertentu. warmer. tiang infus. gluko stick. wound toilet set. lampu kepala. apron timbal.2 m2/ tempat tidur periksa Tempat tidur periksa. termometer D. Film viewer. asuhan dan pelayanan keperawatan (pre dan post conference. R. stetoskop. set urologi emergency. monitor. ECG. Peralatan yang disimpan diruangan ini harus dalam kondisi siap pakai dan dalam kondisi yang sudah disterilisasi. Meja periksa. NGT. 7.Tindakan Kebidanan 9 Ruang untuk melakukan kebidanan pada pasien. meja instrumen. termometer. set orthopedic. tiang infus. 6 m2 Lemari instrument 15 R. mesin anastesi. suction bayi baru lahir. Ruang Operasi 10 + 36 m2 Meja operasi. torakosintetis set. elektrolit. nebulizer. kndrik extrication device. tensimeter. irigator. otoscope set. suction. 4 m2 Mobile X-Ray. RUANG OBSERVASI Ruang perawatan pasien pasca bedah Min. stetoskop. set bedah anak. bedah.2 m2/ tempat tidur 11 R. linen. 4 m2 Meja. film viewer Kumbah lambung set. Persiapan dan kamar Operasi) : Ket : boleh ada/tidak 1. Dokter 9-16 m2 18 Ruang Pos Perawat (. Min. (mobile ECG. dokumentasi s/d evaluasi pasien. infussion pump. 16 Laboratorium Standar Min. Tt pasien. laennec. Ruang untuk melakukan tindakan medis pada pasien anak. 4 m2 Lemari obat Lemari 14 Ruang Alat Medis Min. Tindakan Anak 12-25 m2 crico/trakeostomi. Radiologi Min. Operasi (R. infusion pump. lemari. Ruang Pemulihan C. wastafel. Sekretariat Jenderal.

3 Persyaratan Khusus 1. 13. Brankar Min. Parkir Troli R.2. KM/WC Tempat pelaksanaan sterilisasi instrumen dan barang lain yang diperlukanan di Instalasi Gawat Darurat. 4. printer dan peralatan kantor lainnya. Letak bangunan IGD disarankan berdekatan dengan Inst. Gas Medis Troli Tt pasien 23 24 25 R. wastafel Lemari. 3. diantaranya pembuatan program kerja dan pembinaan. Spoolhoek berupa bak atau kloset yang dilengkapi dengan leher angsa (water seal). Untuk tapak RS yang berbentuk memanjang mengikuti panjang jalan raya maka pintu masuk kearea IGD harus terletak pada pintu masuk yang pertama kali ditemui oleh pengguna kendaraan untuk masuk kearea RS. 5. sofa. keran air bersih (Sink) Ket : tinggi bibir kloset + 80-100 m dari permukaan lantai 2 21 @ 2 m – 3m 2 22 R. Disarankan pada area untuk menurunkan atau menaikan pasien (Ambulance Drop-In Area) memiliki sistem sirkulasi yang memungkinkan ambulan bergerak 1 arah (One Way Drive / Pass Thru Patient System). Area IGD harus mudah dilihat serta mudah dicapai dari luar tapak rumah sakit (jalan raya) dengan tanda-tanda yang sangat jelas dan mudah dimengerti masyarakat umum. Tempat parkir troli selama tidak diperlukan Tempat meletakkan tempat tidur pasien selama tidak diperlukan. Untuk bangunan RS yang berbentuk bangunan bertingkat banyak (Super Block Multi Storey Hospital Building) yang memiliki ataupun tidak memiliki lantai bawah tanah (Basement Floor) maka perletakan IGD harus berada pada lantai dasar (Ground Floor) atau area yang memiliki akses langsung. lemari. Area IGD disarankan untuk memiliki pintu masuk kendaraan yang berbeda dengan pintu masuk kendaraan ke area Instalasi Rawat Jalan/Poliklinik. 10. 12. Letak bangunan IGD disarankan berdekatan dengan Instalasi Radiologi. 11. Letak bangunan IGD disarankan berdekatan dengan BDRS (Bank Darah Rumah Sakit) atau UTDRS (Unit Transfusi Darah Rumah Sakit) 24 jam. Gas Medis R. 1 sink/ 2 sink lengkap dengan instalasi air bersih & air buangan. 9. 4 m2 Workbench. R. 6. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. meja/kursi. 7. 9-16 m2 Sofa. 2 m2 Min. 3 m2 Min. Fasilitas untuk membuang kotoran bekas pelayanan pasien khususnya yang berupa cairan. Sterilisasi Min. Tempat menyimpan gas medis. Letak bangunan IGD disarankan berdekatan dengan Unit Rawat Inap Intensif (ICU (Intensive Care Unit)/ ICCU (Intensive Cardiac Care Unit)/ HCU (High Care Unit)). pengunjung) 4-6 m2 Kloset leher angsa. 20 Ruang Kepala IGD 8-16 m2 21 Gudang Kotor (Spoolhoek/Dirty Utility). Instalasi rawat Inap serta Area Zona Servis dari rumah sakit. Bedah Sentral. 3 m2 5. Area IGD harus terletak pada area depan atau muka dari tapak RS.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 19 Ruang Perawat Ruang istirahat perawat Ruang tempat Kepala IGD melakukan manajemen instalasinya. Letak bangunan IGD disarankan berdekatan dengan Inst. 2. Laboratorium. Sekretariat Jenderal. Letak bangunan IGD disarankan berdekatan dengan Unit Kebidanan. Lemari instrumen sebagai penyimpanan instrumen yang belum disterilkan dan berada dalam tromol/pak. komputer. meja/kursi. 8. IGD disarankan untuk memiliki Area yang dapat digunakan untuk penanganan korban bencana massal (Mass Disasster Cassualities Preparedness Area). DEPKES-RI 55 . Pusat Sarana. Toilet (petugas.

dapur kecil/pantry. • Konsultasi Anestesi. Pelayanan medik (Pra dan Pasca Tindakan Medik).2.4 Alur Kegiatan Alur kegiatan Pada Instalasi Gawat Darurat dapat dilihat pada bagan alir berikut: Area Persiapan Bencana Massal Pasien Infeksius Pasien & Pengantar Pasien Pengantar Pasien Dekontaminasi Pasien Infeksius Pintu Masuk UGD Pasien Loket Pendaftaran TRIASE (dokter umum) Ruang Tunggu Ruang Resusitasi Ruang Tindakan Bedah Ruang Tindakan Non Bedah Ruang Tindakan Anak & Kebidanan  Inst.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 5. administrasi pasien.4 – Alur Kegiatan Pada Instalasi Gawat Darurat. Kebidanan & Penyakit Kandungan  Inst. 5. rekam medis.3 5. • Gizi (Diet dan Konsultasi). Pusat Sarana. Pelayanan kesehatan di Instalasi Rawat Inap mencakup antara lain : 1). Penunjang Medik  dll Ruang Observasi Pulang Gambar 5. • Rehab Medik (Pelayanan Fisioterapi dan Konsultasi). gizi. pelayanan medis. konsultasi medis). pelayanan kebutuhan keluarga pasien (berdoa. Pelayanan penunjang medik : • Konsultasi Radiologi. • Pengambilan Sample Laboratorium. mandi. Rawat Inap  Inst.3. Bedah  Inst.2. • Farmasi (Depo dan Klinik).1 INSTALASI RAWAT INAP Lingkup Sarana Pelayanan Lingkup kegiatan di Ruang Rawat Inap rumah sakit meliputi kegiatan asuhan dan pelayanan keperawatan. bab. menunggu pasien. DEPKES-RI 56 . Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Pelayanan keperawatan. 3). Sekretariat Jenderal. 2).

Ruangan untuk melakukan tindakan pada pasien baik berupa tindakan invasive ringan maupun non-invasive Ruang untuk menyelenggarakan kegiatan administrasi khususnya pelayanan pasien di Ruang Rawat Inap.3. Ruang untuk menyimpan alat-alat kebersihan/cleaning service. Ruang istirahat perawat Ruang tempat kepala ruangan melakukan manajemen asuhan dan pelayanan keperawatan diantaranya pembuatan program kerja dan pembinaan. meja/kursi. pengaturan jadwal). 9 Ruang Linen Bersih Min.3 Persyaratan Khusus  Perletakan ruangannya secara keseluruhan perlu adanya hubungan antar ruang dengan skala prioritas yang diharuskan dekat dan sangat berhubungan/ membutuhkan. petugas. maka harus ada tangga landai (. Ruang Perawatan 2 Ruang Stasi Perawat (. lemari arsip. penandatanganan surat pernyataan keluarga pasien apabila diperlukan tindakan operasi. Spoolhoek berupa bak/ kloset yang dilengkapi dengan leher angsa (water seal). bak air Kursi+meja untuk makan. lampu periksa. 2.Pantry) @ KM/WC pria/wanita luas 2 m2 – 3 m2 Min. printer dan peralatan kantor lainnya 6 7 R. Ruang istirahat/kamar jaga. meja. Sofa. 6 m2 15 Min. sink. televisi. alat monitoring untuk pemantauan terus menerus fungsi2 vital pasien. (sofa untuk ruang perawatan VIP). pengorganisasian asuhan dan pelayanan keperawatan (pre dan post-confrence. Meja. Ruangan untuk evakuasi pasien bila terjadi bencana internal pada ruang perawatan (khususnya pada bangunan bertingkat. nurse call. 4 m2 Lemari 10 Ruang Linen Kotor Min. telepon/intercom Tersedia peralatan keperawatan sesuai dengan kemampuan pelayanan yang ada. meja/kursi. sofa. Ruangan untuk menyimpan bahanbahan linen kotor yang telah digunakan di r. Dokter Ruang Perawat 9-16 m2 9-16 m2 Tempat tidur. printer dan peralatan kantor lainnya.  Kecepatan bergerak merupakan salah satu kunci keberhasilan perancangan. telepon/ intercom. peralatan kantor lainnya Lemari alat periksa & obat.2 No. sofa. 8 m2 (Ket : perhitungan 1 stasi perawat untuk melayani maksimum 25 tempat tidur) 9-16 m2 Kebutuhan Fasilitas Tempat tidur pasien. lemari arsip. Tempat penyimpanan bahan-bahan linen steril/ bersih. sehingga blok unit sebaiknya sirkulasinya dibuat secara linier/lurus (memanjang). Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas Nama Ruangan Fungsi Ruang untuk pasien yang memerlukan asuhan dan pelayanan keperawatan dan pengobatan secara berkesinambungan lebih dari 24 jam. perawatan sebelum dibawa ke r. Fasilitas untuk membuang kotoran bekas pelayanan pasien khususnya yang berupa cairan. Pusat Sarana. 7. wastafel. Kebutuhan Ruang. 4-6 m2 Lemari/rak 16 Ruang Evakuasi Pasien Sesuai kebutuhan Instalasi telepon. tiang infus dan kelengkapan lainnya. Meja. Ruang kerja. tirai pemisah bila ada. 4-6 m2 Kloset leher angsa. wastafel. meja/kursi. kursi.Ramp) atau Lift Khusus untuk mencapai ruangan tersebut. tangga roolstool.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 5. lemari obat.3. lemari. lemari arsip. tempat tidur periksa. Ruang Dokter terdiri dari 2 bagian : 1. telepon/intercom. Kursi. Ruangan tempat penyimpanan alatalat medis dan bahan-bahan habis pakai yang diperlukan. 6 m2 Kloset. DEPKES-RI 57 . Kursi. dan perlengkapan dapur lainnya. wastafel 8 Ruang kepala instalasi rawat inap 8-16 m2 Lemari.Laundry). Kursi. dokumentasi sampai dengan evaluasi pasien. keran air bersih (Sink) Ket : tinggi bibir kloset + 80-100 m dari permukaan lantai 12 KM/WC (pasien. lemari. pengunjung) Dapur Kecil (. yaitu berupa registrasi & pendataan pasien. Administrasi/ Kantor 3~5 m2/ petugas (min. wastafel.  Konsep Rawat Inap yang disarankan “Rawat Inap Terpadu (Integrated Care)” untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan ruang. lemari. Ruang utk melakukan perencanaan. Pada ruang ini terdapat area basah. Sekretariat Jenderal.9 m2) Meja. kamera CCTV 5. Ruang untuk melakukan konsultasi oleh profesi kesehatan kepada pasien dan keluarganya. 4 m2 Bak penampungan linen kotor 11 Gudang Kotor (Spoolhoek/Dirty Utility).2 m2 Min. KM/WC Sebagai tempat untuk menyiapkan makanan dan minuman bagi petugas di Ruang Rawat Inap RS. komputer. cuci (.Nurse Station) 3 Ruang Konsultasi 4 Ruang Tindakan 12-25 m2 5 R.  Apabila Ruang Rawat Inap tidak berada pada lantai dasar. kebutuhan ruang 1 tt min. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Lemari 13 14 Gudang Bersih Janitor/ Ruang Petugas Kebersihan Min. 1. komputer. Besaran Ruang / Luas Tergantung Kelas & keinginan desain.

.Pasien dengan pengobatan yang menimbulkan bau (seperti penyakit tumor. Lantai harus kuat dan rata tidak berongga. mudah dibersihkan. maksimum melayani 25 tempat tidur. ganggrein. bahan penutup lantai dapat terdiri dari bahan vinyl yang rata atau terasso keramik dengan nat yang rata sehingga abu dari kotoran-kotoran tidak tertumpuk.Pasien yang menderita penyakit menular. Petugas dan Alat Pada Instalasi Rawat Inap. Rawat Inap adalah Super VIP. Sekretariat Jenderal. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. diabetes.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C            5. Pertemuan dinding dengan lantai disarankan berbentuk lengkung agar memudahkan pembersihan dan tidak menjadi tempat sarang debu/kotoran. VIP. Masing-masing ruang Rawat Inap 4 spesialis dasar mempunyai ruang isolasi. DEPKES-RI 58 .3. . tidak rontok dan tidak menghasilkan debu/kotoran lain. aman dan nyaman tetapi tetap memiliki kemudahan aksesibilitas dari sarana penunjang rawat inap. Sinar matahari pagi sedapat mungkin masuk ruangan.3.Pasien yang gaduh gelisah (mengeluarkan suara dalam ruangan) Stasi perawat harus terletak di pusat blok yang dilayani agar perawat dapat mengawasi pesiennya secara efektif.4 Bangunan Ruang Rawat Inap harus terletak pada tempat yang tenang (tidak bising).4 – Alur Kegiatan Pasien. dsb). Kelas II (4 tempat tidur) dan Kelas III (6 tempat tidur) Khusus untuk pasien-pasien tertentu harus dipisahkan seperti : . Pusat Sarana. bahan tidak mudah terbakar. Alur petugas dan pengunjung dipisah. Plafon harus rapat dan kuat. Tipe R. Ruang Rawat Inap anak disiapkan 1 ruangan neonatus. Kelas I (2 tempat tidur). Alur Kegiatan Alur kegiatan pada instalasi rawat inap dapat dilihat pada bagan alir berikut : Kamar Mayat Dokter Perawat Laundri Ruang Ganti (Loker) Ruang Linen Bersih Ruang Dokter Ruang Perawat Gudang Bersih Meninggal Dunia Ruang Konsultasi Pos Perawat Ruang Linen Kotor Ruang Rawat Inap Spoolhoek & Gudang Kotor Pasien Pulang Sehat Ruang Tunggu Pengantar Ruang Administrasi & Pendaftaran INSTALASI RAWAT INAP Instalasi Gawat Darurat Pasien+Pengantar Instalasi Bedah Instalasi Rawat Jalan Pasien+Pengantar Instalasi ICU Pasien+Pengantar Pasien+Pengantar Gambar 5.

meletakkan sepatu/alas kaki sebelum masuk daerah rawat pasien dan sebaliknya setelah keluar dari daerah rawat pasien. sterilisator. dinding serta bukaan pintu dan jendela dengan ruangan ICU lainnya. suction yang setara dengan ruang operasi. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. 4-16 m2 (dengan memperhatikan sirkulasi tempat tidur pasien didepannya) Kursi. Ruang tempat tidur berfungsi untuk merawat pasien lebih dari 24 jam.4 5. alat kateterisasi vena sentral dan manometernya. 12 m2 /tt (b) Daerah rawat pasien isolasi Min. alat HD. Sekretariat Jenderal. pompa infus dan pompa syringe. gunting. 1 set alat resusitasi. defebrilator monovasik. peralatan infus intravena dengan berbagai ukuran kanul intravena dan berbagai macam cairan infus yang sesuai. Ruang kerja dan istirahat kepala perawat. tournique untuk pemasangan akses vena. Mobile XRay. Ruang penyimpanan alat medik yang setiap saat diperlukan. sofa. Pusat Sarana. Dokter Daerah rawat Pasien ICU : (a) Daerah rawat pasien non isolasi 9-16 m2 6-9 m2 9-16 m2 Tempat tidur. Ruang istirahat perawat. lemari. lemari barang habis pakai. anastesi apparatus. printer. dan lain lain. 6-9 m2 Lemari loker 2 3 3 4 Ruang Perawat Ruang Kepala Perawat R. Min. Kebutuhan Ruang. Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas Nama Ruangan Fungsi Tempat ganti pakaian. kapnografi. haemodialisis unit. 6 Gudang alat medik Ruang untuk melakukan perencanaan. syringe untuk mengembangkan balon endotrakeal dan klem. central patient vital sign. suction thorax. elektrokardiografi reader.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 5. oxygen tent. central suction. central gas. sungkup laring dan alat bantu jalan nafas lainnya. pengorganisasian. yang diperuntukan bagi staf medis maupun non medis dan pengunjung. berbagai ukuran pipa endotrakeal dan konektor. Ruang istirahat/ kamar jaga. sofa. 16 m2 /tt 5 Sentral monitoring/nurse station. asuhan dan pelayanan keperawatan selama 24 jam (pre dan post conference. 1 Loker (Ruang ganti). unit/alat foto rontgen mobile. tempat tidur khusus ICU. 6-16 m2 Respirator/ventilator. alat pemantauan untuk tekanan darah non-invasive. wastafel. forsep magill. nonrebreathing face mask). peralatan portable untuk transportasi. DEPKES-RI 59 . mobile X-Ray unit. pengaturan jadwal).1 INSTALASI PERAWATAN INTENSIF (. lemari. blood gas analyzer. defibrilator bivasik. sphigmomanometer. Electrolite analyzer. lemari. heart rate monitor. meja. meja/kursi Tempat tidur. alat/sistem pemberian oksigen (nasal canule. Kamar yang mempunyai kekhususan teknis sebagai ruang perawatan intensif yang memiliki batas fisik modular per pasien. oksimeter nadi. bedside monitor. pipa nasofaring. simple face mask. beberapa ukuran plester/pita perekat medik. blood pressure monitor.2 No. dalam keadaan yang membutuhkan pemantauan khusus dan terus menerus. lemari obat. sofa. Ruang Dokter terdiri dari 2 bagian : 1.ICU) Lingkup Sarana Pelayanan Merupakan instalasi untuk perawatan pasien yang dalam keadaan sakit berat sesudah operasi berat yang memerlukan secara intensif pemantauan ketat dan tindakan segera. lampu tindakan. berbagai ukuran introduser untuk pipa endotrakeal dan bougies. temperatur. berbagai ukuran orofaring. ECG monitoring system. Instalasi ICU (Intensive Care Unit (ICU) merupakan unit pelayanan khusus di rumah sakit yang menyediakan pelayanan yang komprehensif dan berkesinambungan selama 24 jam. meja/kursi.4. Besaran Ruang / Luas (+) Kebutuhan Fasilitas 5. Ruang kerja.4. komputer. peralatan drainase thoraks. temperatur monitor. dilengkapi toilet Peralatan ICU di RS Kelas C terdiri dari : Ventilator sederhana. 1 set laringoskop dengan berbagai ukuran bilahnya. Pos perawat harus terletak di pusat blok yang dilayani agar perawat dpt mengawasi pasiennya secara efektif. meja/kursi Tempat tidur. 2. respiration monitor. Peralatan ICU di RS Kelas B terdiri dari : Peralatan seperti di RS kelas C ditambah dengan sebagai berikut : Elektrokardiograf monitor. dokumentasi s/d evaluasi pasien.

Ruang ICU/ICCU sebaiknya kedap api (tidak mudah terbakar baik dari dalam/dari luar). Perlu disiapkan titik grounding untuk peralatan elektrostatik. Pusat Sarana. Ruang ini berada pada bagian depan instalasi ICU dengan dilengkapi loket atau Counter. 8. 2. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Gedung harus terletak pada daerah yang tenang. 11. 5.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 5 Gudang bersih (Clean Utility) 6 Gudang Kotor (Spoolhoek/Dirty Utility). DEPKES-RI 60 . lemari berkas/arsip dan telepon/interkom. 8 Ruang Administrasi 6-16 m2 Meja kerja. pengunjung) R. Aliran listrik tidak boleh terputus. 12 m2 Tempat duduk. Disarankan sirkulasi udara yang dikondisikan seluruhnya udara segar (. Sekretariat Jenderal. terdapat penyedot asap bila terjadi kebakaran. Parkir Brankar @ KM/WC pria/wanita luas 2 m2 – 3m2 4 – 8 m2 Tabung Gas Medis 11 12 2-6 m2 Brankar (stretcher) 5. Penyimpanan Silinder Gas Medik R. udara bertekanan dan suction). 9 Janitor/ Ruang cleaning service 4-6 m2 Lemari/rak 10 Toilet (petugas. 6. Ruangan tempat penyimpanan barang-barang dan peralatan untuk kebersihan ruangan. Spoolhoek berupa bak atau kloset yang dilengkapi dengan leher angsa (water seal). Pertemuan dinding dengan lantai dan pertemuan dinding dengan dinding tidak boleh berbentuk sudut/ harus melengkung agar memudahkan pembersihan dan tidak menjadi tempat sarang debu dan kotoran. termasuk untuk barang-barang steril. Pada ruangan ini terdapat area basah KM/WC R. Harus bebas dari gelombang elektromagnetik dan tahan terhadap getaran.4. Tempat parkir brankar selama tidak ada kegiatan pembedahan atau selama tidak diperlukan. Tempat menyimpan tabungtabung gas medis cadangan.fresh air). Temperatur ruangan harus terjaga tetap dingin. Tempat penyimpanan instrumen dan barang habis pakai yang diperlukan untuk kegiatan di ruang ICU. Tersedia aliran Gas Medis (O2. 9. printer dan perlengkapan kantor lainnya. televisi & Telp umum (bila RS mampu). Tempat keluarga/ pengantar pasien menunggu. 4-12 m2 Lemari/kabinet alat 4-6 m2 Kloset leher angsa. komputer. 3.3 Persyaratan Khusus 1. Peralatan yang disimpan diruangan ini harus dalam kondisi siap pakai dan dalam kondisi yang sudah disterilisasi. Letak bangunan instalasi ICU harus berdekatan dengan instalasi gawat darurat. 4. Terdapat pintu evakuasi yang luas dengan fasilitas ramp apabila letak instalasi ICU tidak pada lantai dasar. Pintu kedap asap & tidak mudah terbakar. Ruang untuk menyelenggarakan kegiatan administrasi khususnya pelayanan pendaftaran dan rekam medik internal pasien di instalasi ICU. 10. instalasi radiologi dan instalasi bedah sentral. Min. Fasilitas untuk membuang kotoran bekas pelayanan pasien khususnya yang berupa cairan. Harus tersedia pengatur kelembaban udara. keran air bersih (Sink) Ket : tinggi bibir kloset + 80-100 m dari permukaan lantai 7 Ruang tunggu keluarga pasien. 13. 12. 7. laboratorium.

operasi sectio caesaria. misalnya ekserpasi polip vagina. monitor pasien serta lampu operasi). DEPKES-RI 61 .1 Pusat Sarana.4. Ruang Dokter 6. Pelayanan KB (Keluarga Berencana). Dalam rangka meningkatkan kesehatan ibu dan anak telah ditetapkan bahwa Sarana Pelayanan Kesehatan Kabupaten/Kota Bahwa 75% RS di Kab/Kota menyelenggarakan PONEK (penambahan ruangan untuk Emergency Ibu & Anak) 5. dll. Pelayanan persalinan meliputi : pemeriksaan pasien baru.5 INSTALASI KEBIDANAN DAN PENYAKIT KANDUNGAN (OBSTETRI DAN GINEKOLOGI) Lingkup Sarana Pelayanan Pelayanan di Fasilitas Kebidanan Rumah Sakit Kelas C meliputi : 1. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. operasi myoma uteri. Gudang Kotor (DU) 9. Pelayanan gangguan kesehatan reproduksi/penyakit kandungan.4. pre eklampsi/eklampsi). penyakit kandungan dan kelainan kehamilan. Alur Kegiatan di Instalasi ICU ditunjukkan pada bagan alir berikut : Laundri/ CSSD Perawat 1.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 5. Pelayanan nifas meliputi : pelayanan nifas normal dan pelayanan nifas bermasalah (post sectio caesaria. 2. 4. Loker Dokter Instalasi Gawat Darurat Instalasi Bedah 2. 5. Ruang Tunggu Pengantar Instalasi Rawat Inap Ruang Jenazah Pulang Sehat Gambar 5. 5. Pelayanan tindakan/operasi kebidanan Pelayanan tindakan/operasi kebidanan adalah untuk memberikan tindakan. Kegiatan ini dilakukan pada ruang operasi yang berada di Instalasi Bedah Sentral dan baru dapat dilaksanakan pada Instalasi Kebidanan apabila telah memiliki peralatan operasi yang memadai (misalnya peralatan anaestesi. Daerah rawat Pasien Instalasi ICU 5. dan asuhan bayi baru lahir. asuhan persalinan kala II (pertolongan persalinan). Gudang Bersih (CU) 4. asuhan persalinan kala I. Pelayanan gangguan kesehatan reproduksi penyakit kandungan meliputi pelayanan keguguran. Gudang Alat Medik 7. Sntral Monitoring/Nurse Station Instalasi Rawat Inap 8. 3. Sekretariat Jenderal. infeksi. meja operasi. Pelayanan persalinan.4 – Alur Kegiatan Pada Instalasi ICU. Pelayanan nifas.4 Alur kegiatan. Ruang Perawat 3.5.

Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas Nama Ruangan Fungsi Ruang untuk menyelenggarakan kegiatan administrasi khususnya pelayanan pasien di ruang kebidanan dan kandungan. doppler. sink mandi bayi Ruang Bersalin/ Kala I-II-III (labour & delivery) 3 (Minimal RS memiliki kapasitas untuk 4 meja berrsalin) Ruang sebagai tempat dimana pasien melahirkan bayinya termasuk kegiatankegiatan untuk tindakan saat persalinan. timbangan bayi. celemek plastik. Ruang ini berada pada bagian depan instalasi/r. sink Kloset leher angsa.6 m2) Meja. sepatu/alat kaki sebelum masuk ke. pengunjung) Janitor @ KM/WC pria/wanita luas 2 m2 – 3 m2 Mi. rak sepatu bersih. Kebutuhan Ruang. kasa steril dan kapas yang telah disterilkan juga dapat disimpan di ruangan ini. wastafel. klem hemostasis arteri. Ruang tempat penyimpanan instrumen yang telah disterilkan.2 No. emergency light. suction apparatus. Min. kursi. 6 m2 Lemari instrumen. kulkas. Set partus. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Tt pasien. Spoolhoek berupa bak atau kloset yang dilengkapi dengan leher angsa (water seal). meja. Min. microwave.2 m2/ tempat tidur 6 Ruang Bayi Ruang tempat bayi setelah dilahirkan Min. wastafel. monitor pasien. 12 m2/ tempat tidur 5 Ruang Pemulihan (. infuse set. stetoskop. resusitasi set dewasa. tensimeter. sofa. emergency light. Kursi. lemari arsip.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 5. doek. tempat ganti popok bayi. keran air bersih (Sink) Ket : tinggi bibir kloset + 80-100 m dari permukaan lantai Kloset.5. 6 m2 Loker. Kegiatan administrasi meliputi :  Pendataan pasien. USG. set minor surgery. O2 set. wastafel. KM/WC Ruang tempat penyimpanan peralatan Min. Bahan-bahan lain seperti linen. Ruang untuk istirahat perawat/ petugas lainnya setelah melaksanakan kegiatan pelayanan atau tugas jaga. Instumen berada dalam Tromol tertutup dan disimpan di dalam lemari instrument.5 m2/ orang (min. printer dan peralatan kantor lainnya 2 Ruang Tunggu Pengantar Pasien 1~1. suction apparatus. blue lamp therapy. oksigen Tempat tidur bayi. 7. Kamar jaga harus berada di bagian depan sehingga mempermudah semua pihak yang memerlukan pelayanan pasien. stetoskop. Ruang tempat kerja dan istirahat dokter dilengkapi dengan KM/WC.  Penandatanganan surat pernyataan keluarga pasien (jika diperlukan tindakan operasi). lampu periksa. Fasilitas untuk membuang kotoran bekas pelayanan pasien khususnya yang berupa cairan. kasa dan kapas. kebidanan & kandungan dengan dilengkapi loket. sarung tangan. stand infuse. meja kerja. doek. staf medis/ non medis untuk berganti pakaian atau alas kaki sebelum masuk ke r. Ruang untuk pengantar pasien menunggu selama pasien menjalani proses persalinan/ tindakah bedah. bak air Kloset. Min. 6 m2 Meja. Televisi & Alat Pengkondisi Udara (AC/ Air Condition) Set partus. meja. Tromol @ Min. O2 set. inkubator. Besaran Ruang / Luas Kebutuhan Fasilitas 1 R. Tempat ganti pakaian. kompor. cardiotocograph (CTG). set kebidanan (minimal : forceps. tiang infus./ suatu ruangan yang diperuntukkan bagi para pengunjung. klem tali pusar). 9 m2 7 Gudang Steril (.dan sebaliknya setelah keluar dari ruang kebidanan dan kandungan. 9-16 m2 Tempat tidur. vakum ekstraktor. sarung tangan. penghangat. kasa dan kapas. resusitasi set dewasa. resusitasi set bayi. Meja. celemek plastik. telepon/intercom. 12 m2/ tempat tidur 4 Ruang Tindakan Ruang tempat melakukan tindakan kebidanan dan penyakit kandungan Min. DEPKES-RI 62 . gunting tali pusar. Sekretariat Jenderal.  Pembayaran (Kasir). stand infuse. lemari berkas/arsip dan telepon/ interkom. alat resusitasi bayi. timbangan dan pengukur panjang bayi. kebidanan & kandungan. set AVM/kuretase. Administrasi dan pendaftaran 3~5 m2/ petugas (min. lampu periksa. Ruang untuk menyiapkan makanan bagi pasien dan para petugas instalasi kebidanan dan kandungan.Recovery)/ Kala IV Ruang pemulihan pasien pasca melahirkan yang memerlukan perawatan kualitas tinggi dan pemantauan terus menerus. tensimeter. komputer. 3 m2 Pusat Sarana. bak air 4-6 m2 13 14 KM/WC (petugas. set minor surgery. infusion set. sofa.clean utility) 8 Ruang ganti pakaian/ loker 9 Ruang dokter 10 Ruang perawat/ Petugas 11 Pantri 12 Gudang Kotor (Spoolhoek/Dirty Utility). wastafel 9-16 m2 Tempat tidur. tensimeter. wastafel. 16 m2) Kursi.

Limbah padat medis yang dihasilkan dari kegiatan kebidanan dan penyakit kandungan ditempatkan pada wadah khusus berwarna kuning bertuliskan limbah padat medis infeksius kemudian dimusnahkan di incenerator. tapi sebaiknya dilakukan dengan sistem rawat gabung. Tempat untuk parkir brankar selama tidak ada kegiatan pelayanan pasien atau selama tidak diperlukan. apabila tidak memiliki ruang operasi atau ruang tindakan yang memadai.4 Pasien & Pengantar Pasien Pengantar Pasien Ruang Ganti & Loker Administrasi & Pendaftaran Pasien Ruang Tunggu Ruang Tindakan Ruang Persiapan Ruang Bersalin Ruang Operasi Ruang Pemulihan Ruang Rawat Inap Ruang Bayi Pulang Pusat Sarana. 8. 9. 6. Min. ICU dan Instalasi Bedah Sentral. Untuk persyaratan ruang operasi kebidanan dapat dilihat pada poin 5. 7. Harus disediakan pintu ke luar tersendiri untuk jenazah dan bahan kotor yang tidak terlihat oleh pasien dan pengunjung. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Terdapat pintu evakuasi yang luas dengan fasilitas ramp apabila letak instalasi kebidanan dan penyakit kandungan tidak pada lantai dasar. Memiliki sistem sirkulasi udara yang memadai dan tersedia pengatur kelembaban udara untuk kenyamanan termal.5. Letak bangunan instalasi kebidanan dan penyakit kandungan harus mudah dicapai. Bagunan harus terletak pada daerah yang tenang/ tidak bising. Alur kegiatan. Sekretariat Jenderal. 5.6. 3. Alur Kegiatan Pada Instalasi Kebidanan dan Penyakit Kandungan ditunjukkan pada bagan alir berikut : Dokter.5. DEPKES-RI 63 . 2.3 Persyaratan Khusus 1. Ruang bayi dan ruang pemulihan ibu disarankan berdekatan untuk memudahkan ibu melihat bayinya. 2 m2 Brankar 5. Bidan & Perawat 5.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 15 Parkir Brankar kebersihan/cleaning service. Memiliki sistem proteksi dan penanggulangan terhadap bahaya kebakaran. 4. disarankan berdekatan dengan instalasi gawat darurat.

nebulizer. Ruang yang digunakan untuk persiapan anaestesi/pembiusan. Membersihkan/mencukur bagian tubuh yg perlu dicukur. Ruang untuk pengantar pasien menunggu selama pasien menjalani proses bedah. oksigen. urologi. ECG 1 channel. lampu operasi. • Memberikan penjelasan kepada pasien mengenai tindakan yang akan dilaksanakan. sabun. DEPKES-RI 64 . • Pemasangan infus. oksigen. printer dan peralatan kantor lainnya Kursi. handuk 2 3 Min. Melepas semua perhiasan dan menyerahkan ke keluarga pasien Apabila tidak ada r.2 No. 24 m2 7 Ruang bedah umum (minimal 2 ruang) Ruang untuk melakukan kegiatan pembedahan umum/general. plastik dan rekonstruksi berat. meja operasi. sphygmomanometer. patient monitor (minimal memiliki fungsi : SpO2 monitor/spirometer. Meja. Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas Nama Ruangan Fungsi Ruang untuk menyelenggarakan kegiatan administrasi khususnya pelayanan bedah. respirator. suction unit. infusion pump. 9 m2 Alat cukur. suction pump. Pelayanan bedah pada rumah sakit kelas C meliputi : 1. defibrillator. onkologi/tumor.6. • Memberikan kesempatan kepada pasien untuk menenangkan diri. 2. electro surgery unit. scavenging unit. Administrasi dan pendaftaran Ruang Tunggu Pasien dan Pengantar Pasien Ruang untuk cuci tangan (scrub station) Meja. head lamp unit. Bedah umum dan bedah sub spesialistik (antara lain: kebidanan. set operasi mayor. 3 m2 4 Ruang persiapan (. lampu operasi. laser coagulator.9 m2) 1~1. meja operasi. Min. adalah suatu unit khusus di rumah sakit yang berfungsi sebagai tempat untuk melakukan tindakan pembedahan secara elektif maupun akut. Kursi. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. skort plastik/karet. asisten dan semua petugas yang akan mengikuti kegiatan dalam kamar bedah. Trakeostomi set. Televisi & Alat Pengkondisi Udara (AC / Air Condition) Wastafel dengan 2 keran. serta lemari pendingin dan lemari simpan hangat. stool fixed height. Trakeostomi set. kardiotorasik dan vaskuler) Kebutuhan Ruang. 9 m2 Suction Unit Sphygmomanometer Thermometer Trolley Instrument Infusion stand 6 Ruang bedah minor (minimal 1 ruang) Ruang untuk melakukan kegiatan pembedahan minor. tumor kecil jinak pada kulit. komputer.anaestesi maka persiapan anaestesi juga dilaksanakan di ruang ini. laringoskopi. head lamp unit. laparoskopik set. 36 m2 Set operasi minor. oksigen.Induction room) 5 Ket : Bisa digabungkan dengan ruang persiapan Min. Min. meja operasi. jam operasi. instrumen troli tiang infuse. Ruang untuk cuci tangan dokter ahli bedah. orthopedic. lemari arsip.6 5.1 INSTALASI BEDAH SENTRAL (. sirkumsisi).PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Gambar 5. Sekretariat Jenderal. ekstirpasi. anak. maka dilengkapi dengan alat : suction Unit. electro surgery unit. linen. lampu petunjuk operasi. set operasi mayor. sphygmomanometer). Kegiatan dalam ruang ini yaitu : Penggantian pakaian penderita.5 m2/ orang (min. peralatan anastesi) Ruang anaestesi (. Besaran Ruang / Luas 3~5 m2/ petugas (min. set Pusat Sarana.Preparation room) Min. endotrakeal tube. headlamp. 36 m2 8 Ruang bedah sub Ruang untuk melakukan kegiatan Min. syringe pump jam operasi. perlengkapan dan mesin Anaestesi (bila diperlukan). 12 m2) Kebutuhan Fasilitas 1 R. telepon/intercom.6. Ruang ini dilengkapi loket pendaftaran.5. set operasi minor. 5. dll). 5. perlengkapan cuci tangan (sikat kuku. brankar (apabila tidak memiliki ruang induksi. laparotomi set. Bedah minor (antara lain : bedah insisi abses. ekstraksi kuku / benda asing. Ruang yang digunakan untuk mempersiapkan pasien sebelum memasuki kamar bedah. lampu petunjuk operasi. defibrillator.4 – Alur Kegiatan Pada Instalasi Kebidanan dan Penyakit Kandungan. electro surgery unit. yang membutuhkan kondisi steril dan kondisi khusus lainnya.COT/Central Operation Theatre) Lingkup Sarana Pelayanan Instalasi bedah. thermometer. Kegiatan yang dilakukan di kamar ini adalah sebagai berikut : • Mengukur tekanan darah pasien. scavenging unit.

lemari instrument @ Min. head lamp unit. infusion pump. Tempat tidur bayi. Tromol Min. Ruang untuk ganti pakaian. 4 m2 Autoklaf. meja sink. Tromol. sebelum petugas masuk ke area r. Min. wastafel. operasi minor. atau dicuci di londri dan disterilkan di CSSD. 19 Spoolhoek Ruangan yang dipergunakan untuk menempatkan bayi baru lahir melalui operasi caesar. 6 m2 Lemari instrumen. Tempat pelaksanaan sterilisasi instrumen dan barang lain yang diperlukan untuk pembedahan. alat resusitasi bayi 9 Ruang Resusitasi Neonatus 10 Ruang Pemulihan/ PACU (. defibrillator. bedah kardiotorasik. scavenging unit. lampu petunjuk operasi. urologi.clean utility) 12 Ruang Sterilisasi 13 Ruang loker ganti pakaian/ 14 15 Depo Farmasi Ruang dokter 16 Ruang perawat 17 Ruang Diskusi Medis 18 Gudang Kotor (Dirty Utility). Jalan masuk barang-barang steril harus terpisah dari jalan keluar barangbarang & pakaian kotor. meja. Ruang pemulihan pasien pasca operasi yang memerlukan perawatan kualitas tinggi dan pemantauan terus menerus. Instumen berada dalam Tromol tertutup dan disimpan di dalam lemari instrument. 3 m2 9-16 m2 Lemari obat Tempat tidur. Pada kamar ganti sebaiknya disediakan lemari pakaian/locker dengan kunci dipegang oleh masingmasing petugas. Ruang tempat penyimpanan sementara barang dan bahan setelah digunakan untuk keperluan operasi sebelum dimusnahkan ke insenerator. monitor set. lampu operasi. incubator perawatan bayi. sofa. oksigen. meja operasi. dll 4-6 m2 Container 4-6 m2 Kloset leher angsa. cough examination. Sekretariat Jenderal. syringe pump. mastektomi set. Ruang/ tempat menyimpan obatobatan untuk keperluan pasien. humby knife. ECG 1 channel.6. Ruang tempat penyimpanan instrumen yang telah disterilkan. troli instrumet. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. 9-16 m2 Meja + kursi diskusi. laringoskopi. sphygmomanometer). Di kamar sterilisasi harus terdapat lemari instrumen untuk menyimpan instrumen yang belum disterilkan. wastafel. USG. Spoolhoek berupa bak/ kloset yang dilengkapi dengan leher angsa (water seal). laparotomi set I (standar). orthopedic set. kasa steril dan kapas yang telah disterilkan juga dapat disimpan di ruangan ini. meja operasi.2 m2/ tempat tidur Tt pasien. nebulizer. keran air bersih (Sink) Ket : tinggi bibir kloset + 80-100 m dari permukaan lantai 20 KM/WC (petugas. tiang infus. patient monitor (minimal memiliki fungsi : SpO2 monitor/spirometer. infusion set. Ruang jaga harus berada di bagian depan shg mempermudah semua pihak yang memerlukan pelayanan bedah. oksigen Min. stool fixed height. thyroidektomy set. untuk dilakukan tindakan resusitasi terhadap bayi. wastafel. 4 m2 Loker Min. parotidektomi set. DEPKES-RI 65 . electro surgery unit. Pembagian daerah sekitar kamar bedah: Pusat Sarana. Bahan-bahan lain seperti linen.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C spesialistik (minimal 2 ruang) pembedahan sub spesialistik. Ruang untuk diskusi para operator kamar operasi sebelum melakukan tindakan pembedahan. Model meja strilisasi. l electro surgery unit.3 Persyaratan Khusus 1. laparotomi set II (ditambah alat khusus untuk prosedur tertentu). jam operasi. 7. meja. bak air 21 Brankar/ stetcher 5. pengunjung) Parkir brankar @ KM/WC pria/wanita luas 2 m2 – 3 m2 2 Kloset. Fasilitas untuk membuang kotoran bekas pelayanan pasien khususnya yang berupa cairan. endotrakeal tube. sofa. bedah. KM/WC Tempat parkir brankar selama tidak ada kegiatan pembedahan atau selama tidak diperlukan. Ruang untuk istirahat perawat/ petugas lainnya setelah melakukan kegiatan pembedahan atau tugas jaga. 1. 9-16 m2 Tempat tidur.Post Anesthetic Care Unit) 11 Gudang Steril (.laparoskopik set. suction unit. Ruang tempat istirahat dokter dilengkapi dengan KM/WC. 9 m2 Min. mobile C-arm.

Sistem AC Sentral. 5.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C a. c. b. Di daerah ini sering masih ada istilah tambahan: yaitu apa yang disebut daerah ‘HIGH-ASEPTIC’. dengan demikian akan mencegah terjadinya infeksi ‘airborne’. yang hanya boleh dimasuki oleh orang-orang yang langsung ada hubungannya dengan kegiatan pembedahan saat itu. bahan tidak mudah terbakar. 4. artinya daerah ini hanya boleh dimasuki oleh orangorang tertentu saja. Harus disediakan pintu ke luar tersendiri untuk jenazah dan bahan kotor yang tidak terlihat oleh pasien dan pengunjung. Penerangan alam menggunakan jendela mati. Plafon harus rapat dan kuat. tidak rontok dan tidak menghasilkan debu/kotoran lain. mudah dibersihkan. h.6. DEPKES-RI 66 . Pintu harus yang mudah dibuka dengan sikut. umumnya dianggap daerah yang harus dijaga ke-sucihama-annya. yaitu para petugas. Daerah Semi Publik. Sekretariat Jenderal. Pintu kamar operasi yang ideal harus selalu tertutup selama operasi. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Persyaratan ruang operasi : a. Harus ada kaca tembus pandang di dinding ruang operasi yang menghadap pada sisi dinding tempat ahli bedah mencuci tangan. Daerah ini misalnya : ruang tunggu. Tekanan udara yang positif di dalam kamar pembedahan. f. Kelembaban ruang yang dianjurkan 70% (jika menggunakan bahan anaestesi yang mudah terbakar. Pertemuan dinding dengan lantai dan dinding dengan dinding harus melengkung agar mudah dibersihkan dan tidak menjadi tempat sarang abu dan kotoran. koridor. dan sebagainya). yaitu daerah kamar bedah sendiri. k. i. maka kelembaban maksimum 50%).4 Alur kegiatan. Setiap 2 kamar operasi harus dilayani oleh setidaknya 1 ruang scrub up. c. 2. selasar kamar bedah. dan sudah ada pembatasan tentang jenis pakaian yang dipakai petugas-petugas ini (pakaian khusus atau lepas-sandal/sepatu. b. e. Pergantian udara yang dianjurkan sekitar 18-25 kali/jam. d. suhu kamar operasi yang ideal 26 – 280C yang harus terjaga kestabilannya dan harus menggunakan filter absolut untuk menjaring mikroorganisme. Lantai harus kuat dan rata atau ditutup dengan vinyl yang rata atau teras sehingga debu dari kotoran-kotoran tidak tertumpuk. g. j. untuk mencegah terjadinya nosokomial. 3. yang diletakkan dengan ketinggian diatas 2 m. Alur Kegiatan Pada Instalasi Bedah Sentral ditunjukkan pada bagan alir berikut : Pusat Sarana. artinya daerah yang boleh dimasuki oleh semua orang tanpa syarat khusus. Daerah ASEPTIK. yaitu dimaksudkan dengan daerah tempat dilakukannya pembedahan dan sekitarnya (lapangan bedah). Daerah Publik.

telepon. 5. radio farmasi.D GUDANG STERIL RUANG INDUKSI RUANG RESUSITASI NEONATUS RUANG PEMULIHAN (PACU) RUANG I. Mampu mendukung kegiatan pelayanan unit kesehatan lainnya selama 24 jam. dll Alat tulis kantor. 10 m2 Kebutuhan Fasilitas Peralatan farmasi untuk persediaan. 5. baik steril maupun non steril. pengadaan dan penyimpanan obat. 10 m2 6 Min.PHARMACY) Lingkup Sarana Pelayanan Unit Farmasi direncanakan mampu untuk melakukan pelayanan : 1. Ruang tempat penyimpanan bahan baku obat. Kebutuhan Ruang.1 INSTALASI FARMASI (. faksimili.S.24 m2) Min. 6 m2 Min. komputer. 4. 5. lemari. Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas Nama Ruangan Fungsi Ruang tempat melaksanakan peracikan obat oleh apoteker. Memberikan pelayanan informasi obat dan melayani konsultasi obat. DEPKES-RI 67 . Ruang tempat penyimpanan obat jadi Ruang tempat penyimpanan perbekalan dan alat kesehatan Ruang tempat penyimpanan obat khusus seperti untuk obat yang termolabil. 6 m2 Min. kontainer khusus untuk limbah sitotoksis. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.7.C. Melakukan kegiatan peracikan obat sesuai permintaan dokter baik untuk pasien rawat inap maupun pasien rawat jalan 3. gas medik sesuai formularium RS. regensia radio farmasi & gas medis.7. peracikan dan pembuatan obat. Lemari/rak Lemari/rak Lemari/rak Lemari khusus .7 5. alat kesehatan reagensia. loket. 6 m2 Pusat Sarana.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C PARAMEDIS DOKTER LOKER RUANG DOKTER SCRUB STATION RUANG KOTOR RUANG BEDAH C. Ruang untuk melaksanakan kegiatan administrasi kefarmasian RS. Sekretariat Jenderal. dan 1 2 3 4 Ruang Peracikan Obat Depo Bahan Baku Obat Depo Obat Jadi Gudang Perbekalan dan Alat Kesehatan Depo Obat Khusus Ruang Administrasi (Penerimaan dan 5 Min. Pendistribusian obat. 2. dan obat berbahaya.2 No.6.S. 6 m2/ apoteker (min.4 – Alur Kegiatan Pada Instalasi Bedah Sentral. lemari pendingin dan AC. printer.U RUANG PERSIAPAN RUANG RAWAT BAYI RUANG RAWAT INAP RUANG PENDAFTARAN PASIEN + PENGANTAR MASUK RUANG TUNGGU PENGANTAR Gambar 5. alat kesehatan. Besaran Ruang / Luas Min. meja+kursi. Melakukan perencanaan. narkotika dan obat psikotropika.

sink. Sekretariat Jenderal. 8 @ loker 6-9 m2 Lemari loker 9 10 11 Ruang Rapat/Diskusi Ruang Arsip Dokumen & Perpustakaan Ruang Kepala Instalasi Farmasi Ruang Staf Ruang Tunggu 12-30 m2 9-20 m2 6-9 m2 Meja.7. 25 m2) Min. Ruang tempat pasien dan pengantarnya menunggu menerima pelayanan dari konter apotek. meja/kursi 12 13 9-16 m2 1~1. televisi & Telp umum (bila RS mampu). komputer. Ruang untuk menyelenggarakan kegiatan penerimaan resep pasien. pengunjung) 15 5. penerimaan dan distribusi obat. dan pengambilan obat Tempat ganti pakaian. narkotika dan obat psikotropika serta obat/ bahan berbahaya.5 m2/ orang (min. 1.Pantry) KM/WC (pasien. pasien dan pengunjung. 6 m2 @ KM/WC pria/wanita luas 2 m2 – 3 m2 Tempat tidur. kursi. sofa. dan perlengkapan dapur lainnya. 16 m2 Rak/lemari obat. Alur Petugas Instalasi Farmasi Konter Apotek Pusat Sarana. dan alat perkantoran lainnya. Lemari arsip.7. • Harus disediakan tempat penyimpanan untuk obat-obatan khusus seperti Ruang Administrasiuntuk obat yang termolabil. • Gudang penyimpanan tabung gas medis (Oksigen dan Nitrogen) Rumah Sakit diletakkan pada gudang tersendiri (di luar bangunan instalasi farmasi). Ruang menyimpan dokumen resep dan buku-buku kefarmasian. distribusi obat dan alat kesehatan dan manajemen dipisahkan. Kloset. • Harus disediakan penanganan mengenai pengelolaan limbah khusus sitotoksis dan obat berbahaya untuk menjamin keamanan petugas. KM/WC alat perkantoran lainnya. kursi. petugas. • Tersedia ruang khusus yang memadai dan aman untuk menyimpan dokumen dan arsip resep. pembayaran. DEPKES-RI 68 . meja/kursi Tempat duduk. Ruang kerja dan istirahat kepala Instalasi Farmasi. lemari. sofa. Alur Pasien dan pengunjung Pasien/ Pengunjung Loket Penerimaan Resep Loket Pembayaran 5. lemari. printer. loket pembayaran dan loket pengambilan obat) Ruang Loker Petugas (Pria dan Wanita dipisah) Min. peralatan meeting lainnya. Ruang tempat melaksanakan kegiatan pertemuan dan diskusi farmasi. bak air 14 Dapur Kecil (.4 Pulang Pengambilan Obat Ruang Tunggu 2. Sebagai tempat untuk menyiapkan makanan dan minuman bagi petugas di Instalasi Farmasi RS. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. wastafel. sebelum melaksanakan tugas medik yang diperuntukan khusus bagi staf medis.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Distribusi Obat) meliputi kegiatan pencatatan keluar masuknya obat. Ruang kerja dan istirahat staf.3 Persyaratan Khusus • Lokasi instalasi farmasi harus menyatu dengan sistem pelayanan RS. 7 Konter Apotik (Loket penerimaan resep. Alur kegiatan. meja. • Antara fasilitas untuk penyelenggaraan pelayanan langsung kepada pasien. kartu arsip Tempat tidur. penyiapan obat. Kursi+meja untuk makan.

Pelayanan Radiologi pada Rumah Sakit Kelas C adalah memberikan pelayanan radiodiagnostik non invasif dengan dan tanpa kontras. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.X-Ray) yang dipancarkan oleh pesawat sinar-X atau peralatan-peralatan radiasi lainnya dalam rangka memperoleh informasi visual sebagai bagian dari pencitraan/imejing kedokteran (. Pemeriksaan USG untuk kelainan-kelainan abdominal. Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas 5.1 5.7. kebidanan dan penyakit kandungan. histero salfingografi. esofagografi. toraks. cholecistografi. cor anaupe) 2. colon inloop (barium enema). 5. Mampu mendukung kegiatan unit lainnya selama 24 jam sehari dan 7 hari dalam seminggu. DEPKES-RI 69 . Non Kontras (antara lain foto : tulang-tulang. Dengan Kontras (antara lain foto : IVP.8. Penerimaan & Distribusi Obat 3.medical imaging). yaitu : 1. Merupakan cabang ilmu kedokteran yang berkaitan dengan penggunaan sinar-X (. jaringan lunak. fistulografi. 3. Administrasi. Unit Radiologi dapat pula melayani permintaan dari luar. Sekretariat Jenderal.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Petugas/ staf Loker Ruang Peracikan Ruang Administrasi. Lingkup Sarana Pelayanan Instalasi Radiologi melakukan pelayanan sesuai kebutuhan dan permintaan dari unit-unit kesehatan lain di RSU tersebut.2 Pusat Sarana.4 – Alur Kegiatan Pada Instalasi Farmasi.imaging technologies) untuk mendiagnosa dan pengobatan penyakit. Kebutuhan Ruang. Radiodiagnostik (non invasif) a. Alur Barang Depo Bahan Baku Depo Obat Jadi Ruang Peracikan Obat / Barang Perbekalan Masuk Konter Apotek Ruang Administrasi. abdomen) b. (Distribusi Obat dan Barang Perbekalan) Gudang Penyimpanan Tabung gas medis Obat / Barang Perbekalan Keluar Gambar 5. (Penerimaan Obat & Barang Perbekalan) Gudang Perbekalan dan Alat Medis Depo Obat Khusus R. maag duodenografi. ceptografi.8 INSTALASI RADIOLOGI Radiologi adalah Ilmu kedokteran yang menggunakan teknologi pencitraan/ imejing (.8.

6 m2 ( untuk AFP manual/Basah) Min. 12 m2 c. telepon. meja. Ruang Konsultasi Dokter 9-16 m2 Meja. Loket Pendaftaran. DEPKES-RI 70 .  Dinding/pintu mengikuti persyaratan khusus sistem labirin proteksi radiasi. KM/WC Min. Tomografi Min. Min. bed unit dengan bucky General USG unit dengan multi probe sesuai kebutuhan pelayanan RS. meja. 12 m2 X-Ray Fluoroskopi unit.  Persyaratan pengkondisian udara : a. kursi. Kursi. meja+kursi. ICU. Fluoroskopi Min. Komputer Transformator/genetaor/CPU tomografi unit Lemari baju bersih. meja. 16 m2 4. d. berdekatan dengan instalasi gawat darurat. 8 m2 Meja kontrol. loket. Sebagai tempat untuk menyiapkan makanan dan minuman bagi mereka yang ada di Ruang Radiologi Rumah Sakit dan sebagai tempat istirahat petugas. dan alat perkantoran lainnya.Automatic Film Processor) digital ataupun AFP kering) Ruang Jaga Radiografer Gudang penyimpanan berkas Ruang tempat mengendalikan/ mengkontrol pesawat X-Ray Ruang tempat meletakkan transformator/genetaor/CPU Ruang tempat pasien berganti pakaian dan menyimpan barang milik pribadi. dan alat perkantoran lainnya.3 Persyaratan Khusus  Lokasi ruang radiologi mudah dicapai. 1. Ruangan untuk staf melaksanakan tugas administrasi dan personalia dan ruangan untuk penyimpanan sementara berkas film pasien yang sudah dievaluasi. wastafel. lemari.  Ruangan gelap dilengkapi exhauster. kursi. kaca.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C No. Ruangan kerja dan penyimpanan alat ahli fisika medis Besaran Ruang / Luas 1~1. Nama Ruangan Ruangan Tunggu Pasien & Pengantar Pasien Ruang Administrasi dan Rekam Medis. hanger Kloset. General 9-16 m2 Ruang tempat melaksanakan kegiatan diagnostik umum Ruang tempat melaksanakan kegiatan diagnostik tomografi (jaringan lunak) Ruang tempat melaksanakan kegiatan diagnostik fluoroskopi Ruang tempat melaksanakan kegiatan diagnostik jaringan lunak menggunakan USG Min. Ruang tempat istirahat radiografer cito Ruang tempat penyimpanan berkas hasil pemeriksaan.5 m2/ orang (min. Automatic film processor (AFP). Lemari arsip 10. 9 m2 Ruang-ruang Penunjang (Pada tiap-tiap ruang pemeriksaan diatas kecuali USG) Ruang operator/ panel kontrol Ruang Mesin Ruang ganti pasien KM/WC pasien Kamar gelap (Bila tidak menggunakan AFP (. faksimili. KM/WC petugas Kloset. Dapur Kecil (. Ruang ahli fisika medis Ruang Pemeriksaan a.  Ruang konsultasi dilengkapi dengan fasilitas untuk membaca film. komputer. Lemari alat monitor radiologi. televisi & Telp umum (bila RS mampu). 3. 2. laboratorium. Rak/lemari berkas. terdiri dari 2 area. tempat pembayaran dan sebagai tempat mengambil hasil pemeriksaan Ruangan tempat membaca film hasil diagnosa pasien dan tempat pasien konsultasi medis dengan Dokter spesialis radiologi. 6 m2 Min. wastafel. 6 m2 @ KM/WC pria/wanita luas 2 m2 – 3 m2 Perlengkapan dapur 11. Pusat Sarana. wastafel. 9 m2 Kebutuhan Fasilitas Tempat duduk. Min. Kelembaban udara pada ruang radiasi/pemeriksaan/penyinaran ialah antara 45~60%. printer. Alat tulis kantor. KM/WC Tempat tidur. sink & waste liquid container 8. 12 m2 b. General X-Ray unit (bed dan standing unit dengan bucky) X-Ray Tomografi unit (bed dan/ standing unit dengan bucky) 5. daerah basah dan daerah kering.8. printer. 25 m2) Min. Ruang tempat memproses film. Ultra SonoGrafi (USG) 6. 9. Ruang tempat pasien melakukan pendaftaran. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Sekretariat Jenderal. pembayaran dan pengambilan hasil Fungsi Ruangan Ruangan pasien & pengantar pasien menunggu diberikannya pelayanan medik. 4 m2 @ KM/WC pria/wanita luas 2 m2 – 3 m2 Min. komputer.Pantry) Min. bak air 5. 4 m2 Min. bak air 7. b. 4 m2 Min.  Sirkulasi bagi pasien dan pengantar pasien disarankan terpisah dengan sirkulasi staf. kursi. wastafel. kontainer baju kotor. film viewer. Suhu sejuk dan nyaman lingkungan ialah pada 22 ~ 26 OC dengan tekanan seimbang. dan instalasi bedah sentral.

Pemeriksaan) Hasil Interpretasi (R. 2. memproduksi.9 INSTALASI STERILISASI PUSAT (CSSD/ CENTRAL SUPPLY STERILIZATION DEPARTEMEN) Instalasi Sterilisasi Pusat (CSSD) mempunyai fungsi menerima. 1. Sekretariat Jenderal. Lain Dr. Kegiatan utama dalam Instalasi Sterilisasi Pusat (CSSD) adalah dekontaminasi instrumen dan linen baik yang bekas pakai maupun yang baru serta bahan perbekalan baru.8. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. DEPKES-RI 71 . Praktek Puskesmas Umum ASKES/ Jamsostek/JPS Loket Pendaftaran Pasien Umum Loket Pembayaran Pasien Umum Loket Pendaftaran Pasien ASKES Loket Pembayaran Pasien ASKES Ruang Tunggu Loket Pengambilan Hasil Ruang Pemeriksaan Gambar 5. Alur Film Processing Film (Kamar Gelap/ AFP) Identifikasi Foto Pengambilan Foto (R. Alur Pasien PASIEN Poliklinik Bagian/Inst. mensterilkan menyimpan serta mendistribusikan instrumen medis yang telah disterilkan ke berbagai ruangan di rumah sakit untuk kepentingan perawatan dan pengobatan pasien. Dekontaminasi merupakan proses mengurangi jumlah Pusat Sarana.4 – Alur Kegiatan Pada Instalasi Radiologi.9 Tersedia pengelolaan limbah radiologi khusus. Konsultasi Dokter) 5. Alur kegiatan.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C  5. memproses.

mengemas dan menampung alat-alat yang dipakai untuk sterilisasi. ett. mesin cuci. Besaran Ruang / Luas Kebutuhan Fasilitas 5. dan kontainer Rak/Lemari 7. dilipat dan dikemas untuk persiapan sterilisasi. 16 m2 4. meja bilas. Ruang tempat penyimpanan (depo) sementara Barang. penyimpanan dan pemakaian. cotton swabs. linen dan bahan perbekalan baru sebelum disterilisasi. b. pencucian. Melaksanakan proses Dekontaminasi meliputi :  Perendaman  Pencucian  Pengeringan  Pengemasan Membungkus. lemari instrumen. 5. container for sterilizer. penerimaan. menyerahkan dan mencatat pengambilan barang steril oleh ruang/unit /Instalasi Rumah Sakit Umum yang membutuhkan. Barang/linen/bahan perbekalan baru dari instalasi farmasi yang perlu disterilisasi. DEPKES-RI 72 . Automatic washer disinfector. Ruang Prosesing / Produksi Min.1 Lingkup Sarana Pelayanan Kegiatan dalam instalasi CSSD adalah sebagai berikut: 1. 3. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. kapas. lemari dan peralatan kantor lainnya. Ruang Pengemasan Alat Min. Loket Penerimaan & Pencatatan 8-25 m2 Meja. Lemari sarung tangan. Ruang tempat melaksanakan kegiatan sterilisasi instrumen. plasma sterilizer) Lemari/Rak linen. linen dan bahan perbekalan baru yang telah disterilisasi. sterilizer kerosene. alat wrapping. kasa/ pembalut. (atau jika memungkinkan ada pulse vacuum sterilizer. penyortiran barang/bahan/ linen yang akan disterilkan. Instrumen dan linen yang akan digunakan ulang (. barang dan instrumen yang diserahkan oleh ruang/unit Instalasi Rumah Sakit Umum. printer. Container. 9 m2 Container. pengeringan sampai dengan proses sterilisasi itu sendiri. 4-16 m2 8. 1.9. linen dan bahan perbekalan baru. computer. Kebutuhan Ruang. Ruang tempat mendekontaminasi kereta/troli untuk mengangkut barangbarang dari dan ke CSSD.9. Menerima bahan. menghitung dan mencatat volume serta jenis bahan. 2. Ruang tempat melaksanakan kegiatan membungkus. Ruang Dekontaminasi Min. penyimpanan dan pemakaian. Mesin cuci handschoen.2 No. dll. 30 m2 3. Barang/ bahan yang didekontaminasi di CSSD seperti Instrumen kedokteran. Proses dekontaminasi meliputi proses perendaman. sarung tangan. Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas Nama Ruangan Fungsi Ruangan Ruangan tempat melakukan kegiatan Adminstrasi dan pencatatan. Tujuan pengemasan adalah ménjaga keamanan bahan agar tetap dalam kondisi steril.  STERILISASI 4. Perlengkapan dekontaminasi lainnya (ultrasonic washer dengan volume chamber 40-60 lt. Ruang tempat melaksanakan kegiatan pemeriksaan linen. Mensortir. Sistem ini merupakan salah satu upaya atau program pengendalian infeksi di rumah sakit. kapas.reuse). dimana merupakan suatu keharusan untuk melindungi pasien dari kejangkitan infeksi. alat wrapping. linen. Gudang Steril Gudang Barang/Linen/ Bahan Perbekalan Baru Ruang Dekontaminasi Kereta/Troli : a. autoklaf unit (steam sterilizer). Ruang tempat perendaman. Mesin pengering slang. Distribusi. kursi. Sekretariat Jenderal. Selain itu di ruang ini jg dilaksanakan kegiatan persiapan bahan seperti kassa. meja setrika. horizontal sterilizer. Ruang Administrasi. lemari kasa/ kain pembalut. terdiri dari a. Ruang Sterilisasi 9-16 m2 6. 6 m2 Perlengkapan cuci troli Pusat Sarana. 2. dll 5.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C pencemar mikroorgsanisme atau substansi lain yang berbahaya baik secara fisik atau kimia sehingga aman untuk penanganan lebih lanjut. pencucian dan pengeringan instrumen atau linen bekas pakai. Ruang tempat penyimpanan Instrumen. Meja cuci. mengemas dan menampung alat-alat yang dipakai untuk sterilisasi. Area Cuci 12-25 m2 Autoklaf table. Min.

pengantian udara 10 kali per jam (Air Change Hour-ACH : 10 times) ⇒ Suhu dan kelembaban ruangan yang direkomendasikan adalah : suhu 180C – 220C.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C b. Tempat mengganti/mengenakan pakaian instalasi CSSD (dilengkapi toilet) Ruang tempat istirahat staf/ petugas CSSD.5 mikron)  Suhu dan kelembaban ruangan yang direkomendasikan adalah : suhu 180C – 220C. Alur kegiatan pada Instalasi Sterilisasi Pusat (CSSD) adalah sebagai berikut: Instrumen dan Linen Bekas Pakai (.40 m dari permukaan lantai. Sekretariat Jenderal. 11.  Pada area pembilasan disarankan untuk menggunakan sink pada meja bilas kedap air dengan ketinggian 0.9. KM/WC petugas Kloset.  Area barang kotor dan barang bersih dipisahkan (sebaiknya memiliki akses masuk dan keluar yang berlawanan)  Lantai tidak licin. kursi.80 – 1. ICU. meja. Ruang tempat pengaturan instrumen dan barang-barang yang sudah steril untuk didistribusikan ke Instalasi Bedah. Ruang pencucian perlengkapan Ruang Distribusi Instrumen dan Barang Steril Ruang Kepala Instalasi CSSD Ruang Ganti Petugas (Loker) Ruang Staf/ Petugas Ruang tempat pencucian perlengkapan penunjang yang tidak perlu disterilkan. kursi.  Persyaratan ruang dekontaminasi adalah sebagai berikut : ⇒ Tekanan udara pada ruang dekontaminasi adalah harus negatif supaya udara dalam ruangan tidak mengkotaminasi udara pada ruangan lainnya. meja. 6 m2 Min. Sebagai tempat untuk menyiapkan makanan dan minuman bagi mereka yang ada di Instalasi CSSD dan sebagai tempat istirahat petugas. 9 m2 Min. DEPKES-RI 73 Pengemasan & . komputer. Area Pengeringan 9.00 m dari permukaan lantai. maka harus menggunakan jenis yang tahan percikan air dan dipasang pada ketinggian minimal 1.Pantry) Min. Ruang Isolasi. 12. 9-16 m2 14. 6 m2 @ KM/WC pria/wanita luas 2 m2 – 3 m2 Perlengkapan dapur. meja. dll Kontainer. Laboratorium dan Instalasi Pencucian Linen) dan terpisah dari sirkulasi pasien. rak/lemari. printer. tidak mudah menyerap kotoran atau debu. Kursi. lemari 10. Kelembaban udara : 35% -75%. dan apabila terdapat stop kontak dan saklar.9. sink. 13. Dapur Kecil (. sink 15. bak air 5.4 Penerimaan & Pencatatan Barang Baru Pusat Sarana. mudah dibersihkan dan tidak mudah menyerap kotoran atau debu.  Permukaan dinding dan lantai ruangan mudah dibersihkan. Kelembaban udara : 35% -75%.Reuse) Penerimaan Dan Pencatatan Barang/Linen/Bahan perbekalan baru Masuk 5. printer dan alat perkantoran lainnya.  Dinding menggunakan bahan yang tidak berpori. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. 6 m2 9-25 m2 Meja bilas. ICU. Loker Kursi. Ruang Isolasi. Min.  Persyaratan gudang steril adalah sebagai berikut :  Tekanan udara positif dengan efisiensi filtrasi partikular antara 90% – 95% (untuk partikular berukuran 0. computer. wastafel. KM/WC Min.3 Persyaratan Khusus  Lokasi Instalasi CSSD memiliki akesibilitas pencapaian langsung dari Instalasi Bedah Sentral. dan peralatan kantor lainnya. Alur kegiatan.  Sirkulasi udara/ventilasi pada bangunan instalasi CSSD dibuat sedemikian rupa agar tidak terjadi kontaminasi dari tempat penampungan bahan dan instrumen kotor ke tempat penyimpanan bahan dan instrumen bersih/steril. dll Ruang tempat kepala instalasi CSSD bekerja dan melakukan kegiatan perencanaan dan manajemen. meja.

lemari. sitopatologi dan sitologi. Pelayanan laboratorium tersebut dilengkapi pula oleh fasilitas sebagai berikut: • Blood Sampling dan Bank Darah • Administrasi penerimaan spesimen • Gudang regensia & bahan kimia • Fasilitas pembuangan limbah • Perpustakaan. loket pembayaran. Sekretariat Jenderal. dan loket pengambilan hasil) Fungsi Ruangan Ruangan untuk staf melaksanakan tugas administrasi. DEPKES-RI 74 . computer. 5. Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas Nama Ruangan Ruang Administrasi dan Rekam Medis (Terdapat loket pendaftaran. Min. Pusat Sarana. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. dan peralatan kantor lainnya. lemari arsip. kimia klinik. potong beku. Besaran Ruang / Luas Kebutuhan Fasilitas 1. Kebutuhan Ruang. kursi. Puskesmas atau Dokter Praktek Swasta. printer. Mikrobiologi (secara terbatas)). 2.4 – Alur Kegiatan Pada Instalasi Sterilisasi Pusat.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Sortir (pencatatan volume dan jenis barang) Pengeringan Tidak Sortir (Layak disterilkan/ tidak) Tidak Kembalikan ke unit pengiriman instrument/linen Gambar 5. atau setidaknya rak-rak buku 5.1 INSTALASI LABORATORIUM Lingkup Sarana Pelayanan Laboratorium direncanakan mampu melayani tiga bidang keahlian yaitu patologi klinik. 3.10 5. melakukan pemeriksaan lengkap untuk histopatologi.10. Pemeriksaan laboratorium pada Rumah Sakit Kelas C adalah : 1. 20 m2 Meja. Forensik dapat melakukan perawatan mayat dan bedah mayat. rawat jalan serta rujukan dari rumah sakit umum lain. pembayaran dan pengambilan hasil serta ruangan untuk penyimpanan sementara berkas film pasien yang sudah dievaluasi. analisa urine dan tinja. patologi anatomi dan forensik sampai batas tertentu dari pasien rawat inap.2 No.10. pendaftaran.9. serologi/ immunologi. Patologi klinik (Hematologi. Diagnostik patologi.

sink 5. spektropometer. sink Meja. pipet pasteur. 11. meja. sentrifus hematokrit. kamar hitung improved. Min. gelas ukur. precission balance Meja lab.3 Pusat Sarana. kursi dan alat-alat perkantoran. dan peralatan kantor lainnya. sink. Alur kegiatan. pipet LED. PH meter. 16 m2 8. rotator shaker. oven. termometer 0-150 derajat. 25 m2) Min. tabung reaksi berbagai ukuran. 6 m2 Min. HB meter. neubauer. Alur kegiatan pada Instalasi laboratorium adalah sebagai berikut : 5.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 2. water destilator. Min. electrolit analyzer. lemari es no frost. 16 m2 7. pengumpulan sample urin. meja. container urin. cawan petri. water bath. ultrasonic cleaner. Sebagai tempat untuk menyiapkan makanan dan minuman bagi mereka yang ada di Instalasi CSSD dan sebagai tempat istirahat petugas. 4.Pantry) Ruang tempat penyimpanan regensia bersih dan bahan habis pakai. sentrifus. 12. kursi. bak air 15. Laboratorium Patologi Klinik Ruang pemeriksaan/ analilsis patologi klinik. Meja lab.10. sink. televisi & Telp umum (bila RS mampu). 6 m2 9-16 m2 13. densitometer for protein. timer. fotometer. refrigerator. pipet serologi. Ruang tempat kepala laboratorium bekerja dan melakukan kegiatan perencanaan dan manajemen. bak air 5. pipet otomatik berbagai ukuran. 1~1. lemari Perlengkapan dapur. 9.  Pada tiap-tiang ruang laboratorium dilengkapi sink (wastafel) untuk cuci tangan dan tempat cuci alat  Harus mempunyai instalasi pengolahan limbah khusus. kursi. sentrifus. KM/WC petugas KM/WC Kloset. AC. Laboratorium Kimia Klinik Ruang pemeriksaan/ analilsis kimia klinik. Kursi. timbangan. haemocitometer. analytical balance. meja. erlenmeyer. lemari. kawat ose. Meja lab. oven. dan peralatan kantor lainnya. DEPKES-RI 75 . spektofotometer. fotometer. washing instrument. tensimeter. Gudang Regensia dan Bahan Habis Pakai Ruang Cuci Ruang Diskusi dan Istirahat Personil. 10. bunsen burner. micro plate reader. computer. tidak licin dan kedap air setinggi 1. Min. Ruang tempat pencucian regensia bekas pakai. 16 m2 6. Min. water bath. dll Kursi. 6 m2 @ KM/WC pria/wanita luas 2 m2 – 3 m2 @ KM/WC pria/wanita luas 2 m2 – 3 m2 14. glukometer. kursi.  Akses masuk petugas dengan pasien/pengunjung disarankan terpisah. dry sterilizer.5 m dari lantai (misalnya dari bahan keramik atau porselen). labu. timbangan. rak tabung reaksi. rosenthal. KM/WC pasien Kloset. Ruang tempat istirahat petugas laboratorium. jarum suntik dan pipetnya. micro hematokrit sentrifus. 3. stop watch. Ruang Kepala Laboratorium Ruang Petugas Laboratorium Dapur Kecil (. water bath. sterilisator/autoklaf kecil. sink.  Lantai dan meja kerja laboratorium dilapisi bahan yang tahan terhadap bahan kimia dan getaran serta tidak mudah retak. Meja.3 Persyaratan Khusus  Dinding dilapisi oleh bahan yang mudah dibersihkan. pipet volumetrik berbagai ukuran. rak pipet + tips. meja. Ruang Tunggu Pasien & Pengantar Pasien Ruang Pengambilan Sample Bank Darah Ruangan pasien & pengantar pasien menunggu diberikannya pelayanan lab. Laboratorium Hematologi dan Uranalisis Ruang pemeriksaan/ analilsis hematologi dan urin. Rak/Lemari Lemari. lab incubator. corong. Kursi. printer. tensimeter. sentrifus. rotator VDRL. mikroskop binikuler/monokuler. refractometer. Meja. sofa. inkubator. wastafel. sentrifus mikrohematokrit. kamar hitung fuchs. laboratory refrigerator. 6 m2 Tempat duduk.10. dll Ruang tempat pengambilan dan penyimpanan persediaan darah. Sekretariat Jenderal. mikroskop. KM/WC dan pengambilan sample urin 6-16 m2 6-9 m2 20-36 m2 Min. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Ruang tempat pengambilan sample darah. wastafel.5 m2/ orang (min. Ruang tempat diskusi dan istirahat personil/ petugas lab.

11 INSTALASI REHABILITASI MEDIK Pelayanan Rehabilitasi Medik bertujuan memberikan tingkat pengembalian fungsi tubuh semaksimal mungkin kepada penderita sesudah kehilangan/ berkurangnya fungsi dan kemampuan yang meliputi. lemari. lemari arsip. Min. televisi & Telp umum (bila RS mampu). Keuangan dan Personalia Ruang Tunggu Pasien & Pengantar Pasien 3~5 m2/ petugas (min.11.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Pasien dan/ pengantar pasien Loket Pendaftaran Pasien Umum ASKES/ Jaminan Lengkapi Berkas Loket Pembayaran Tim Pengendali Pengambilan Sample/ Pemeriksaan Nota Persetujuan Ruang Tunggu Hasil Gambar 5. Sekretariat Jenderal. DEPKES-RI 76 . Pusat Sarana. safety box Tempat duduk.1 5. 5. lemari berkas/arsip. pendataan awal dan ulang untuk segera mendapat suatu tindakan. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. upaya pencegahan/ penanggulangan. computer.5 m2/ orang (min.11. Rehabilitasi fisik  Rehabilitasi sistem kardiovaskular  Rehabilitasi sistem pernafasan  Rehabilitasi sistem neuromuskuler dan lokomotor 2. printer. dan peralatan kantor lainnya. 2. Loket Pendaftaran dan Pendataan Ruangan tempat pasien melakukan pendaftaran. 9 m2) 1~1. 8 m2 Meja. kursi. Meja. Lingkup Sarana Pelayanan Lingkup pelayanan Instalasi Rehabilitasi Medik mencakup : 1. intercom/telepon. keuangan dan personalia di unit Pelayanan Rehabilitasi Medik Ruangan pasien & pengantar pasien menunggu diberikannya pelayanan RM Fungsi Ruangan Besaran Ruang / Luas Kebutuhan Fasilitas 5. Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas Nama Ruangan No. Ruang kerja para Petugas Instalasi RM yaitu melaksanakan kegiatan administrasi.4 – Alur Kegiatan Pada Instalasi Laboratorium. 16 m2) 3. kursi. Rehabilitasi Sosial Kebutuhan Ruang.10.2 1. pengembalian fungsi dan mental pasien. Ruang Administrasi. Rehabilitasi Mental 3.

ergocycle. lebar dan arah bukaan pintu dan lebar pintu untuk para pemakai kursi roda serta derajat kemiringan ramp yaitu maksimal 70. Kursi Dokter. Disarankan akses masuk untuk pasien terpisah dari akses masuk staf. Ruang penyimpanan linen bersih (misalnya : handuk. 6. 5. Ruang tempat terapis okupasi melakukan terapi kepada pasien Ruang ganti pakaian dan menyimpan barang-barang milik pribadi. Lokasi mudah dicapai oleh pasien. Petugas & Pasien) Gudang Peralatan RM Gudang Farmasi Linen dan Min. 16 m2 Perlengkapan hidroterapi @ jenis okupasi 6-30 m2 8. dll Lemari/rak 6-16 m2 Lemari/rak 11. Pusat Sarana. Ruang Hidroterapi (Dilengkapi ruang ganti pakaian. printer. Ruang Pemeriksaan/ Penilaian Dokter Ruangan tempat Dokter melakukan pemeriksaan (seperti: anamesa.3 Persyaratan Khusus Pada dasarnya tata ruang Unit Rehabilitasi Medik ditetapkan atas dasar: 1. wastafel. Ruang tempat istirahat petugas IRM Sebagai tempat untuk menyiapkan makanan dan minuman bagi mereka yang ada di IRM dan sebagai tempat istirahat petugas. 6 m2 @ KM/WC pria/wanita luas 2 m2 – 3 m2 15. Ruang Senam (Gymnasium) Min. Ruang tunggu dapat dicapai dari koridor umum dan dekat pada loket pendaftaran. kursi terapi. Kursi. micro wave diathermy. 20 m2 6. Sekretariat Jenderal. meja. 36 m2 Treadmill. unit traksi. meja. Apabila ada ramp (tanjakan landai). bak air 5. tangga roolstool. 2 (dua) kursi hadap. Meja Konsultasi. KM/WC petugas/pasien Kloset. tissue. pembayaran dan administrasi. Dapur Kecil (. Ruang Fisioterapi Pasif 12~25 m2 Min. dan peralatan terapi rehab mental/sosial lainnya. KM/WC. meja. Meja Konsultasi. alkohol. Ruang Kepala IRM Ruang Petugas RM Min. 2. Ruang Terapi Okupasi dan Terapi Vokasional Loker/ Ruang Ganti (Pria & Wanita. Untuk pasien yang menggunakan kursi roda disediakan toilet khusus yang memiliki luasan cukup untuk bergeraknya kursi roda. DEPKES-RI 77 . misalnya untuk ruang kantor. KM/WC 12~25 m2 Kursi Dokter. maka harus diperhatikan penempatan ramp. 10. Ruang tempat penyimpanan peralatan RM yang belum terpakai atau sedang tidak digunakan. dan peralatan kantor lainnya. lemari Perlengkapan dapur. Ruangan yang didalamnya terdapat satu (atau lebih) kolam renang / bak rendam hidroterapi yang dilengkapi dengan fasilitas penghangat air (Water Heater Swimming Pool) dan pemutar arus ( Whirpool System) bila ada. dan kelengkapan lainnya. Ruang tempat kepala IRM bekerja dan melakukan kegiatan perencanaan dan manajemen.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 4. 9. Ruang untuk memberikan pelayanan berupa suatu intervensi radiasi/ gelombang elektromagnet dan traksi. sofa. senam jantung.11. 13. dll.Pantry) Min. Ruang tempat pasien melakukan kegiatan senam (misalnya senam stroke. terpisah antara pasien wanita & pria) 7. Tempat tidur periksa. sink 14. lemari alat periksa & obat. dll Loker/ lemari. lemari alat. disarankan letaknya dekat dengan instalasi rawat jalan/ poliklinik dan rawat inap. @ 4-12 m2 6-16 m2 Fasilitas tergantung dari jenis okupasi yang akan diselenggarakan. senam asma. Ruang penyimpanan alat-alat. tempat tidur periksa. jelly). 3. juga perabot RM yang sudah tidak dapat digunakan lagi tetapi belum dapat dihapuskan dengan segera. senam osteoporosis. pemeriksaan dan asesmen fisik). Gudang Kotor 6-16 m2 Lemari/rak 12. parallel bars. 4. senam pernafasan. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. kapas. b. Disarankan menggunakan sistem sirkulasi udara/ ventilasi udara alami. ultraviolet quartz. dan peralatan fisioterapi lainnya 5. dan peralatan senam lainnya. tempat duduk (bench). kursi. maupun latihan manipulasi yang diberikan pada pasien yang bersifat individu. dapur. 2 (dua) kursi hadap. tirai & sprei) dan juga perbekalan farmasi untuk terapi (misalnya : parafin. Ruang Fisioterapi Aktif a. ruang makan. 6 m2 9-16 m2 Kursi. 2. senam diabetes. Ruang Terapi Rehab Mental/Sosial RUANG FISIOTERAPI 1. exercise bicycle. diagnosis maupun prognosis terhadap pasiennya dan tempat pasien melakukan konsultasi medis dengan Dokter Ruang tempat melaksanakan kegiatan terapi rehab mental dan sosial bagi pasien. computer. alat stimulasi elektrik.

16 m2 6-16 m2 Kebutuhan Fasilitas Meja. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. dan peralatan kantor lainnya. Hidroterapi & Gym R.12. Pelayanan Fisioterapi. printer. lemari. 4. komputer. Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas Nama Ruangan Fungsi Ruangan Ruang kerja direktur RS. 1. Ruang pertemuan/ rapat/ diskusi. layar.12. kursi.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 5.4 Alur kegiatan. Pemeriksaan Diagnostik R. dll Meja.1 BAGIAN ADMINISTRASI DAN KESEKRETARIATAN RUMAH SAKIT Lingkup Sarana Pelayanan Suatu bagian dari rumah sakit tempat dilaksanakannya manajemen rumah sakit. 3. Meja. Setiap pasien hanya akan memiliki 1 nomor. lemari arsip. Pasien Masuk Loket Pendaftaran Petugas/Dokter Ruang Tunggu RM Ruang Pemeriksaan dan Penilaian R. 2. computer. kursi. Terdiri dari : • Dewan Direksi RS • Komite Medis • Seksi Keperawatan • Seksi Pelayanan • Seksi Keuangan dan Program • Kesekretariatan dan Rekam Medis Suatu sub-bagian dari Kesekretariatan yang merekam dan menyimpan berkas-berkas jati diri. Sistem rekam medik yang diterapkan di rumah sakit umum adalah sentralisasi. riwayat penyakit. sofa.2 No. LCD projector. kursi. Pelayanan Terapi Mental/ Sosial R. lemari berkas/arsip. lemari berkas/arsip.12 5. printer. hasil pemeriksaan dan pengobatan pasien. 6 m2 Min.4 – Alur Kegiatan Pada Instalasi Rehabilitasi Medik. Ruang Direksi Ruang Sekretaris Direktur Ruang Rapat dan Diskusi Ruang Kepala Komite Medis Pusat Sarana. tempat melaksanakan perencanaan program dan manajemen RS. 5. sehingga : 1. intercom/telepon 5. intercom/telepon Meja rapat. • Dan Satuan Pengawasan Internal (SPI) Kebutuhan Ruang. 16 m2 Min. Ruang kerja kepala komite medis Besaran Ruang / Luas Min. Pelayanan Terapi Okupasi & Terapi Vokasional Pasien Pulang Gambar 5. kursi.11. 2.11. Sekretariat Jenderal. DEPKES-RI 78 . printer. Ruang kerja sekretaris direktur. Tempat penyimpanan berkas rekam medik pasien rawat jalan dan rawat inap menjadi satu. komputer.

Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas Nama Ruangan Fungsi Ruangan Ruang para Petugas melaksanakan kegiatan administrasi. printer.5 m2/ orang (min. komputer. 7. lemari berkas/arsip. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. lemari berkas/arsip. kursi. printer. printer. kursi. printer. Tempat mengeringkan jenazah setelah dimandikan 4. Kebutuhan Ruang. intercom/telepon Meja. kursi. 3. safety box Tempat duduk.3 Persyaratan Khusus Penempatan Administrasi sedapat mungkin mudah dicapai dan dapat berhubungan langsung dengan poliklinik. komputer. 16. 11.Pantry) KM/WC Ruang kerja staf komite medis Ruang kerja keperawatan kepala bagian 12-30 m2 6-16 m2 12-30 m2 6-16 m2 12-30 m2 6-16 m2 12-30 m2 6-16 m2 Meja. printer. 14. kursi. kursi. komputer. lemari berkas/arsip. komputer.12. 15. lemari berkas/arsip. 1. lemari berkas/arsip. bak air Ruang kerja staf bagian keperawatan Ruang kerja kepala bagian Pelayanan Ruang kerja staf bagian pelayanan Ruang kerja kepala bagian keuangan dan program Ruang kerja staf bagian keuangan dan program Ruang kerja kepala bagian kesekretariatan dan rekam medis Ruang kerja staf bagian Kesekretariatan dan Rekam Medis Ruang kerja Internal Satuan Pengawasan 13. komputer. 3. kursi. 10.2 No. komputer. printer. 17. intercom/telepon Meja. intercom/telepon. lemari berkas/arsip.13. Ruang duka dan pemulasaraan. televisi & Telp umum Kursi Pusat Sarana.5 m2/ orang (min. kursi. intercom/telepon Lemari berkas/arsip. 9. kursi. Ruang tempat penyimpanan alat-alat kebersihan (cleaning service) Sebagai tempat untuk menyiapkan makanan dan minuman. printer. printer. 6 m2) 1~1. KM/WC 5. 20 m2 1~1. Tempat meletakkan/penyimpanan sementara jenazah sebelum diambil keluarganya. lemari berkas/arsip. komputer. 19. kursi. lemari berkas/arsip. 12. lemari berkas/arsip. sink Kloset. 6 m2 @ KM/WC pria/wanita luas 2 m2 – 3 m2 Ruang tempat penyimpanan Arsip RS. intercom/telepon Meja. Ruang tempat pengunjung/ tamu bagian administrasi dan kesekretariatan menunggu. komputer. lemari berkas/arsip.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 5. intercom/telepon Meja. intercom/telepon Meja. printer. 12 m2) Min. meja. 2. Otopsi jenazah. 12-30 m2 12-30 m2 Min. kursi. intercom/telepon Meja. lemari berkas/arsip. komputer. intercom/telepon. Ruang Komite Medis Ruang Kepala Bagian Keperawatan Ruang Bagian Keperawatan Ruang Kepala Bagian Pelayanan Ruang Bagian Pelayanan Ruang Kepala Bagian Keuangan dan Program Ruang Bagian Keuangan dan Program Ruang Kepala Bagian Kesekretariatan dan Rekam Medis Ruang Bagian Kesekretariatan dan Rekam Medis Ruang SPI (Satuan Pengawasan Internal) Ruang Arsip/ file Ruang Tunggu Janitor Dapur Kecil (. intercom/telepon Meja. 5. dll Tempat duduk. televisi & Telp umum (bila RS mampu). 5. 16 m2) 3-8 m2 Min. 30 m2 Kebutuhan Fasilitas 5. Sekretariat Jenderal. 2. safety box Meja. 18. DEPKES-RI 79 . Ruang Administrasi Ruang Tunggu Keluarga Jenazah Ruang Duka (dilengkapi toilet) Meja. komputer. Ruangan keluarga jenazah menunggu Ruang tempat menyemayamkan jenazah sementara sebelum dibawa Besaran Ruang / Luas 3~5 m2/ petugas (min.13 5. 8. Tempat memandikan/dekontaminasi jenazah. printer.13. 6.1 PEMULASARAAN JENAZAH RUMAH SAKIT Lingkup Sarana Pelayanan Fungsi Ruang Jenazah adalah : 1. kursi. printer. intercom/telepon Meja. Lemari/rak Perlengkapan dapur. komputer. kursi. keuangan dan personalia. wastafel.

9 m2 @ KM/WC pria/wanita luas 2 m2 – 3 m2 11. juga perabot yang diperlukan pada instalasi pemulasaraan jenazah. mudah dibersihkan. 10. Ruang Pendingin Jenazah Ruang Ganti Pakaian APD (dilengkapi dengan toilet) Ruang Kepala Instalasi Pemulasaraan Jenazah Ruang Jemur Alat Gudang KM/WC petugas/ pengunjung 8.4 Alur kegiatan. 5. Pendingin Jenazah Jenazah Keluar Pusat Sarana. 9. shower dan sink. Ruang Dekontaminasi dan Pemulasaraan Jenazah Min. Instalasi Rawat Inap. tidak berpori. 5. Kapasitas ruang jenazah minimal memiliki jumlah lemari pendingin 1% dari jumlah tempat tidur (pada umumnya 1 lemari pendingin dapat menampung ± 4 jenazah) atau tergantung kebutuhan. 7. Loker/ lemari pakaian bersih dan kontainer pakaian kotor Kursi. Ruang penyimpanan alat-alat. KM/WC 4. lemari/rak alat dekontaminasi. DEPKES-RI 80 . brankar. computer. washtafel. dan peralatan kantor lainnya. Ruang tempat kepala Instalasi bekerja dan melakukan kegiatan perencanaan dan manajemen. wastafel Lemari/rak 5. 6 m2 6. wastafel. Kloset. Alur kegiatan pada Instalasi Pemulasaraan Jenazah adalah sebagai berikut : Keluarga Pasien Administras i Non-Infeksius Ruang Tunggu Jenazah RS Infeksius Area Dekontaminasi Area Pemulasaraa n Ruang Duka Jenazah yang Dirujuk untuk di Otopsi Laboratorium Otopsi R. Ruang tempat dokter forensik melakukan kegiatan otopsi jenazah Ruang Pendingin Jenazah Ruang Ganti pakaian petugas sebelum dan sesudah melakukan kegiatan otopsi. timbangan organ. 24 m2 1 lemari pendingin min. brankar. Akses masuk-keluar jenazah menggunakan daun pintu ganda/ double. dll Lemari pendingin jenazah. 4.3 Persyaratan Khusus 1. Sekretariat Jenderal. lemari barang bukti. bak air 5. tidak dapat diakses oleh orang yang tidak berkepentingan.13. Instalasi Bedah Sentral. Min. Rak. Laboratorium Otopsi Min. lemari/rak alat dekontaminasi. 18 m2 Shower dan sink. 3. dan Instalasi ICU/ICCU. Ruang jenazah disarankan mempunyai akses langsung dengan beberapa instalasi lain yaitu instalasi gawat darurat. 2. Ruang pengeringan/ jemur alat-alat/ perabot yang telah digunakan. 6. Area tertutup.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C pulang. Ruang tempat memandikan/ dekontaminasi serta pemulasaraan jenazah (pengkafanan untuk jenazah muslim/ pembalseman & pemulasaraan lainnya untuk jenazah non-muslim) . printer. Memiliki sistem pembuangan limbah khusus. lemari perlengkapan pemulasaraan dll Lemari alat. 6 m2 12 m2 Min. brankar Toilet. meja. meja periksa organ. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. 21 m2 min. Instalasi Kebidanan dan Penyakit Kandungan. Area yang merupakan jalur jenazah disarankan berdinding keramik.13. lantai kedap air.

dll 6. Ruang Kepala Instalasi Gizi Ruang Pertemuan Janitor KM/WC petugas Min. kursi. Kebutuhan Ruang. intercom/telepon.4 – Alur Kegiatan Pada Instalasi Pemulasaraan Jenazah. 4 m2 Kebutuhan Fasilitas 5.3 Persyaratan Khusus 1. 3 m2 @ KM/WC pria/wanita luas 2 m2 – 3 m2 5.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Gambar 5. 15. 3. dll) Ruang para Petugas melaksanakan kegiatan teknis medis gizi klinik serta administrasi. meja. wastafel. Meja. safety box Rak/lemari. mengatur makanan pasien setiap harinya.2 No.14. tutup kepala. intercom/telepon. dll Troli Rak/lemari Loker. 6 m2) Meja. Tidak dekat dengan tempat pembuangan sampah dan kamar jenazah. Min. serta konsultasi gizi. bak air 13. 3. 2. rak/palet/lemari 2. DEPKES-RI 81 . rak botol susu. 5. 18 m2 5. cermin. 9 m2 7.14. Ruang cuci plato serta perlengkapan makan dan minum lainnya Ruang penyimpanan troli gizi sebelum dibersihkan Ruang penyimpanan perlengkapan dapur bersih Ruang petugas dapur mengenakan APD (Sarung tangan. dll Freezer/kulkas Lemari beras. Min. 4 m2 @ min. kursi. masker. Mempunyai jalan dan pintu masuk sendiri. 6 m2 12. kursi. 8. Sekretariat Jenderal. 6 m2 Min. Ruang menyajikan/ mempersiapkan makanan matang pada plato (piring pasien) yang akan dikirimkan dengan troli gizi Ruang menyajikan/ mempersiapkan susu ke dalam botol susu. 9 m2 Min. kursi. Ruang Pengolahan dan Penghangatan Makanan Ruang Pembagian/ Penyajian Makanan Dapur Susu/ Laktasi Bayi Ruang Cuci Ruang Penyimpanan Troli Gizi Ruang Penyimpanan Peralatan Dapur Ruang Ganti Alat Pelindung Diri (APD) Min. intercom/telepon. lemari berkas/arsip. lemari berkas/arsip. celemek. dll Sink cuci plato serta perlengkapan makan dan minum lainnya . shower & tempat cuci troli gizi. Alur kegiatan. sepatu. 9 m2 Min. Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas Nama Ruangan Ruang Penerimaan dan Penimbangan Bahan Makanan Ruang Penyimpanan Bahan Makanan Basah Ruang Penyimpanan Bahan Makanan Kering Fungsi Ruangan Ruang tempat melaksanakan kegiatan penerimaan dan penimbangan bahan makanan. misalkan menyiangi. Ruang tempat diskusi/pertemuan Ruang penyimpanan kebersihan KM/WC perlengkapan Besaran Ruang / Luas Min. wastafel. Mudah dicapai. Min. Ruang tempat mengolah bahan makanan. Ruang tempat mempersiapkan bahan makanan. wastafel. timbangan bahan makanan. Ruang tempat menyimpan bahan makanan basah yang harus dimasukkan kedalam lemari pendingin. 6 m2 Min. dll Wastafel.14 5. kursi. 4. perlengkapan kebersihan Kloset. lemari simpan plato. Ruang tempat menyimpan bahan makanan kering. lemari berkas/arsip. Letak dapur diatur sedemikian rupa sehingga kegaduhan (suara) dari dapur tidak mengganggu ruangan disekitarnya. safety box Meja. area pencucian bahan makanan dapat dilaksanakan pada ruang ini. 9 m2 4. Instalasi Gizi/ Dapur mempunyai fungsi untuk mengolah. 11. 16. 14.1 INSTALASI GIZI/DAPUR Lingkup Sarana Pelayanan Sistem pelayanan dapur yang diterapkan di rumah sakit adalah sentralisasi kecuali untuk pengolahan formula bayi. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Ruang tempat kepala lnstalasi bekerja dan melakukan kegiatan perencanaan dan manajemen. 9 m2 Min.14. Ruang Administrasi 3~5 m2/ petugas (min. Alur kegiatan pengelolaan makanan pada Instalasi Dapur Utama dan Gizi Klinik RS adalah sebagai berikut : 5.13. 10. 1. keuangan dan personalia pada instalasi dapur.4 Pusat Sarana. 6 m2 Min. 18 m2 Meja saji. Ruang Persiapan Min. dekat dengan Instalasi Rawat Inap sehingga waktu pendistribusian makanan bisa merata untuk semua pasien. 9. safety box Meja. rak peniris. memotong-motong.14.

alat dan desinfektan. Penerimaan a.14. Pengumpulan a. Pemilahan antara linen infeksius dan non-infeksius dimulai dari sumber dan memasukkan linen ke dalam kantong plastic sesuai jenisnya serta diberi label. meja. steam boiler). Pusat Sarana. b. 5.LAUNDRY) Laundry RS adalah tempat pencucian linen yang dilengkapi dengan sarana penunjangnya berupa mesin cuci.4 – Alur kegiatan pengolahan. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. 3.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Ruang Penerimaan Bahan Makanan R. Penyimpanan Perlengkapan Ruang Pencucian Peralatan R. b.1 Lingkup Sarana Pelayanan Kegiatan pencucian linen terdiri dari : 1. DEPKES-RI 82 . 2.15. mesin uap (.15 INSTALASI PENCUCIAN LINEN/ LONDRI (. Sekretariat Jenderal. Menghitung dan mencatat linen di ruangan. Penyimpanan Bahan Makanan Kering Area Cuci Bahan Makanan R. penyimpanan dan pendistribusian makanan rumah sakit. Linen dipilah berdasarkan tingkat kekotorannya. Penyajian Makanan Distribusi Makanan. 5. dan mesin setrika. Penyimpanan Bahan Makanan Basah Ruang Persiapan Ruang Pengolahan dan Penghangatan Bahan Makanan R. Mencatat linen yang diterima dan telah terpilah antara infeksius dan noninfeksius. Menimbang berat linen untuk menyesuaikan dengan kapasitas mesin cuci dan kebutuhan deterjen dan desinfektan. Dan Minuman Area untuk Wadah Pembuangan Sementara Sampah Dapur Alur Peralatan Alur Limbah Padat Domestik Alur Makanan Gambar 5. pengering. Pencucian a.

Pusat Sarana. 7. perendaman dan pembilasan akhir. 9 m2 Min. Ruang tempat penerimaan linen kotor dari unit-unit di RS kemudian disortir. b. 6 m2 lemari 5. Mencuci dikelompokkan berdasarkan tingkat kekotorannya. Kantong untuk membungkus linen bersih harus dibedakan dengan kantong untuk membungkus linen kotor. 5. lemari berkas/arsip. meja lipat Rak/lemari Keran. selang. c. safety box Bak pembilasan awal. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. 8 m2 5. Peralatan cuci dipasang permanen dan diletakkan dekat dengan saluran pembuangan air limbah serta tersedia mesin cuci yang dapat mencuci jenisjenis linen yang berbeda. e. pre-treatment) khusus laundry sebelum dialirkan ke IPAL RS. c. 5. safety box Meja. alat pengering 1. b. Kereta dorong harus dicuci dengan desinfektan setelah digunakan mengangkut linen kotor. darah. Nama Ruangan Fungsi Ruangan Kebutuhan Fasilitas Meja. Min. intercom/telepon. Tersedia keran air bersih dengan kualitas dan tekanan aliran yang memadai.15. 18 m2 Min. air panas untuk desinfeksi dengan desinfektan yang ramah terhadap lingkungan.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 4. b. Linen baru yang diterima ditempatkan di lemari bagian bawah. 12 m2 Min. setrika dan dilipat.2 Kebutuhan Ruang. Pengangkutan a. pengangutannya dari dan ke tempat laundry harus menggunakan mobil khusus. kursi. 9. Membersihkan linen kotor dari tinja. rak. meliputi urutan kegiatan pembilasan awal. Ruang tempat mencuci dan mengeringkan linen Ruang tempat penyetrikaan & melipat linen. c. Pintu lemari selalu tertutup. 8. d. 2. Pengeringan Penyetrikaan Penyimpanan a. 6. 10. kemudian petugas menyerahkan linen bersih kepada petugas ruangan sesuai kartu tanda terima. 7. Ruang tempat melaksanakan dekontaminasi linen. sink Mesin cuci dan pengering linen Setrika. Ruang tempat penyimpanan troli bersih setelah didekontaminasi & dikeringkan. Menggunakan kereta dorong yang berbeda warna dan tertutup antara linen bersih dan linen kotor. Waktu pengangkutan linen bersih dan kotor tidak boleh dilakukan bersamaan. kursi. Sekretariat Jenderal. 6 m2 Min. 2. Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas No. 6. 16 m2 Min. 3. meja setrika. RS yang tidak mempunyai laundry tersendiri. Distribusi dilakukan berdasarkan kartu tanda terima dari petugas penerima. Suhu air panas mencapai 700C dalam waktu 25 menit (atau 950C dalam waktu 10 menit) untuk pencucian pada mesin cuci. dan muntahan kemudian merendamnya dengan menggunakan desinfektan. Ruang tempat penyimpanan linen bersih setelah dicuci. lemari berkas/arsip. DEPKES-RI 83 . 6 m2) Min. Tempat menyimpan bahan-bahan kimia seperti deterjen dll 4. bak perendaman dan bak pembilasan akhir. intercom/telepon. urin. Ruang Distribusi dan Pencatatan Ruang Penerimaan dan Sortir Ruang Kepala Londri Ruang Perendaman/ Dekontaminasi Linen Ruang Cuci dan Pengeringan Linen Ruang Setrika & Lipat Linen Ruang Penyimpanan Linen Ruang Dekontaminasi Troli Ruang Penyimpanan Troli Gudang Bahan Kimia Ruang para Petugas melaksanakan kegiatan pencatatan distribusi linen bersih. kursi. keran. Linen bersih diangkut dengan kereta dorong yang berbeda warna. Linen harus dipisahkan sesuai dengan jenisnya. Besaran Ruang / Luas 3~5 m2/ petugas (min. kontainer Meja.3 Persyaratan Khusus 1.15. 8 m2 Min. Ruang tempat melaksanakan dekontaminasi dan pengeringan troli. 8 m2 Min. 8. 3. Tersedia saluran air limbah tertutup yang dilengkapi dengan pengolahan awal (. Ruang tempat kepala londri bekerja dan melakukan kegiatan perencanaan dan manajemen.

Untuk linen non-infeksius (misalnya dari ruang-ruang administrasi perkantoran) dibuatkan akses ke ruang pencucian tanpa melalui ruang dekontaminasi.WORKSHOP) Lingkup Sarana Pelayanan Tugas pokok dan fungsi yang harus dirangkum unit workshop adalah. Standar kuman bagi linen bersih setelah keluar dari proses tidak mengandung 6 x 103 spora spesies Bacillus per inci persegi. 6. 6.16 6. mekanis dll) • Peralatan penunjang medik • Peralatan rumah tangga dari metal/ logam (termasuk tempat tidur) • Peralatan rumah tangga dari kayu • Saluran dan perpipaan • Listrik dan elektronik.1 BENGKEL MEKANIKAL DAN ELEKTRIKAL (. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. elektromedik.15.16. Pemeliharaan dan perbaikan ringan pada : • Peralatan medik (Optik. 2. Dekontaminasi Troli & Pengeringan R. 5. DEPKES-RI 84 . Penyimpanan Troli Bersih Distribusi Linen Bersih CSSD (Resterilisasi) Tanpa Sterilisasi Gambar 5. Kegiatan perbaikan-perbaikan dilaksanakan dengan prosedur sebagai berikut : • Laporan dari setiap unit yang mengalami kerusakan alat • Peralatan diteliti tingkat kerusakannya untuk mengetahui tingkat perbaikan yang diperlukan kepraktisan teknis pelaksanaan perbaikannya (apakah cukup diperbaiki ditempatnya.Penyimpanan Linen Bersih R. 5. Sekretariat Jenderal. sebagai berikut : 1.4 Alur kegiatan. atau harus dibawa ke ruang workshop) Pusat Sarana.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 4.4 – Alur Kegiatan Pada Instalasi Pencucian Linen/Laundry.15. Tidak disarankan untuk mempunyai tempat penyimpanan linen kotor. Alur kegiatan pada Instalasi Pencucian Linen/Laundry adalah sebagai berikut : Linen Kotor Troli Kotor Ruang Dekontaminasi Bak Pembilasan Awal Bak Desinfeksi (Perendaman) Bak Pembilasan Akhir Pencucian Linen Pengeringan Linen Penyetrikaan Linen Melipat Linen R.

9 m2 Lemari/rak 12. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Ruang penyimpanan suku cadang (sparepart). Ruang Panel Listrik Gudang spare part Gudang Meja. dll. 16 m2 8. sebaiknya diletakan di daerah servis karena banyak menimbulkan kebisingan. 5. yaitu peralatan optik. computer. meja. KM/WC petugas/ pengunjung @ KM/WC pria/wanita luas 2 m2 – 3 m2 Kloset. Alur kegiatan pada Bengkel Mekanikal dan Elektrikal adalah sebagai berikut : Gudang Spare Part Spare Part Ruang Pencatatan Barang Masuk Barang Rusak Gudang Ruang Pencatatan Barang Keluar 5. 12 m2) Min. prasarana dan peralatan yang terbuat dari metal/ logam. Ruang tempat menggam bar dan menyimpan arsip-arsip teknis. wastafel.16. Kursi. 16 m2 Min. screen. 9 m2 Perlengkapan bengkel metal/ logam Perlengkapan elektromedik Perlengkapan mekanikal bengkel peralatan 7. meja. bak air 5. Meja gambar. dll Lemari/rak Min. 8 m2 Min. KM/WC Besaran Ruang / Luas Min. safety box Kursi. Ruang tempat memperbaiki kerusakan sarana. 9 m2 Kebutuhan Fasilitas 1. 10. prasarana dan peralatan penunjang medik. 6. 9 m2 Min. Ruang tempat memperbaiki kerusakan sarana. kursi. DEPKES-RI Barang Keluar 85 . Ruang tempat melaksanakan diskusi/ pertemuan teknis. Elektromedik. lemari arsip. Ruang tempat pencatatan masuk dan keluar peralatan/ perabot rusak dan ruang tempat staf bekerja. 9 m2 Min. Min. dan mesin mekanik. 11. dan peralatan kantor lainnya. Perlengkapan listrik.3 Persyaratan Khusus Terletak jauh dari daerah perawatan dan gedung penunjang medik. 9 m2 bengkel peralatan 9. Ruang tempat pengaturan distribusi listrik RS untuk kegiatan di IPSRS. Min. 8 m2 3~5 m2/ petugas (min. Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas No. prasarana dan peralatan yang sudah tidak terpakai. elektromedik. 3. komputer dan printer.2 Kebutuhan Ruang. Nama Ruangan Fungsi Ruangan Ruang tempat kepala Instalasi bekerja dan melakukan kegiatan perencanaan dan manajemen. Ruang penyimpanan sarana. Ruang tempat memperbaiki kerusakan sarana. panel. 4. telah diperbaiki (belum diserahkan kembali) atau yang akan diperbaiki.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C • • • • • • Analisa kerusakan Proses pengadaan komponen/suku cadang Pelaksanaan perbaikan/pemasangan komponen Perbaikan bangunan ringan Listrik/ Elektronik Telpon / Aiphone / Audio Visual. printer. prasarana dan peralatan yang terbuat dari kayu. intercom/telepon. Mekanik) Bengkel/ Workshop penunjang medik.16. Ruang tempat memperbaiki kerusakan peralatan medik. Perlengkapan kayu bengkel bangunan/ 2.4 Bengkel/ Workshop Pusat Sarana. 6. Sekretariat Jenderal.16. Ruang Kepala IPSRS Ruang Administrasi (pencatatan) dan Ruang Kerja Staf Ruang Rapat/ Pertemuan Teknis Ruang Studio Gambar dan Arsip Teknis Bengkel/ Workshop Bangunan/Kayu Bengkel/ Workshop metal/ logam Bengkel/ Workshop Peralatan Medik (Optik. Alur kegiatan. lemari berkas/arsip. Min.

Sekretariat Jenderal. DEPKES-RI 86 .Workshop).16.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Gambar 5. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.4 – Alur Kegiatan Pada Bengkel Mekanikal dan Elektrikal (. Pusat Sarana.

2 6. Pemerintah Daerah. Sekretariat Jenderal. dapat digunakan Standar Nasional 6. penyedia jasa konstruksi. dan instansi yang terkait dengan kegiatan pengaturan dan pengendalian penyelenggaraan pembangunan bangunan fasilitas pelayanan kesehatan. DEPKES-RI 87 .1 Pedoman teknis ini diharapkan dapat digunakan sebagai rujukan oleh pengelola fasilitas pelayanan kesehatan. serta penyesuaian Pedoman Teknis Sarana dan Prasarana Rumah Sakit Kelas C oleh masing-masing daerah disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan kelembagaan daerah. Sebagai pedoman/petunjuk pelengkap.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C BAGIAN VI PENUTUP 6. Indonesia (SNI) terkait lainnya. guna menjamin kesehatan penghuni bangunan dan lingkungan terhadap bahaya penyakit. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Persyaratan-persyaratan yang lebih spesifik dan atau yang bersifat alternatip.3 Pusat Sarana.

Dit. ASHRAE. 11. 1974 Edition. Data Arsitek. Edisi kedua. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Standar Pelayanan Rumah Sakit. Penerbit Erlangga. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 10. Ditjen Bina Pelayanan Medik. Instalasi Medik. 1999. Surgical Technology. Cetakan kelima. Sekretariat Jenderal. Edisi kedua. Tata McGraw-Hill Publishing Company Limited. Rumah Sakit Umum dan Pendidikan. ASHRAE. Facilities Planning and Management. DEPKES-RI 88 .D. Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat. Dit. Departemen Kesehatan RI. HVAC Design Manual for Hospitals and Clinics. 2003. 2007. WHO Indonesia. 2003 edition. Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan di Rumah Sakit. Pedoman Jaringan Instalasi Listrik Rumah Sakit. 13. Applications. Handbook. tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002. tentang Bangunan Gedung. Ditjen Bina Pelayanan Medik. 36 Tahun 2005. 8. American Society of Heating. 12. G. Ditjen Pengawasan Obat dan Makanan. Departemen Kesehatan RI. Departemen Kesehatan RI. 9. Joanna R. Kunders. 1999 – 2000. 2. Fuller. 2004. Pusat Sarana. Refrigerating and Air Conditionign Engineers. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No : 1197/Menkes/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit. Ditjen Pelayanan Medik. 5. Ernst Neufert (Alih Bahasa : Sjamsu Amril). Daftar Peralatan Esensial Untuk Rumah Sakit Kelas C. Gizi Masyarakat. Departemen Kesehatan RI. 3. Refrigerating and Air Conditioning Engineers. Jilid 1. Principles and Practice. 6. American Society of Heating. 1995. Saunders.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C KEPUSTAKAAN 1. Hospitals. 4. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No : 1204/Menkes/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. Dit. 7. Departemen Kesehatan RI. 1995.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful