SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C

PEDOMAN TEKNIS

DEPARTEMEN KESEHATAN RI SEKRETARIAT JENDERAL
PUSAT SARANA, PRASARANA DAN PERALATAN KESEHATAN TAHUN 2007

PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C

DAFTAR GAMBAR
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 32 Gambar 2.1.3 Gambar 2.2.2-a Gambar 2.2.2-b Gambar 2.2.2-c Gambar 2.2.2-d Gambar 3.6.1 Gambar 3.7.2 Gambar 4.11.1-a Gambar 4.11.1-b Gambar 4.11.1-c Gambar 4.11.1-d Gambar 4.11.1-e Gambar 4.11.1-f Gambar 4.11.2-a Gambar 4.11.2-b Gambar 4.11.2-c Gambar 4.11.2-d Gambar 4.11.2-e Gambar 5.1.4 Gambar 5.2.4 Gambar 5.3.4 Gambar 5.4.4 Gambar 5.5.4 Gambar 5.6.4 Gambar 5.7.4 Gambar 5.8.4 Gambar 5.9.4 Gambar 5.10.4 Gambar 5.11.4 Gambar 5.13.4 Gambar 5.14.4 Gambar 5.15.4 Gambar 5.16.4 Zoning rumah sakit berdasarkan pelayanan Contoh rencana lokasi Alur lalu lintas pasien di dalam rumah sakit umum Contoh Model Aliran lalu lintas Dalam RS Contoh Model Perletakan Instalasi-instalasi pada Site Rumah Sakit (Rencana Blok) Pintu kamar mandi pada ruang rawat inap harus terbuka keluar. Ruang gerak dalam Toilet untuk Aksesibel Tipikal ramp Bentuk-bentuk ramp Kemiringan ramp Pegangan rambat pada ramp Kemiringan sisi lebar ramp Pintu di ujung ramp Tipikal tangga Pegangan rambat pada tangga Desain profil tangga Detail pegangan rambat tangga Detail pegangan rambat pada dinding Alur Kegiatan pada Instalasi Rawat Jalan Alur Kegiatan pada Instalasi Gawat Darurat Alur Kegiatan pada Instalasi Rawat Inap Alur Kegiatan pada Instalasi Perawatan Intensif (;ICU) Alur Kegiatan pada Instalasi Kebidanan & Penyakit Kandungan Alur Kegiatan pada Instalasi Bedah Sentral Alur Kegiatan pada Instalasi Farmasi Alur Kegiatan pada Instalasi Radiologi Alur Kegiatan pada Instalasi Sterilisasi Pusat (;CSSD) Alur Kegiatan pada Instalasi Laboratorium Alur Kegiatan pada Instalasi Rehabilitasi Medik Alur Kegiatan pada Instalasi Pemulasaraan Jenazah Alur Kegiatan pada Instalasi Gizi/Dapur Alur Kegiatan pada Instalasi Pencucian Linen/Laundry Alur Kegiatan pada Bengkel Mekanikal dan Elektrikal

Pusat Sarana, Prasarana dan Peralatan Kesehatan, Sekretariat Jenderal, DEPKES-RI

PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C

DAFTAR TABEL
1 2 Tabel 2.1.4 Tabel 4.5.2 Kebutuhan ruang minimal untuk RSU non pendidikan Tabel Standar Suhu, Kelembaban, dan Tekanan Udara Menurut Fungsi Ruang atau Unit. Tabel indeks pencahayaan menurut jenis ruang atau unit Tabel indeks kebisingan menurut jenis ruang atau unit Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas pada Instalasi Rawat Jalan. Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas pada Instalasi Gawat Darurat. Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas pada Instalasi Rawat Inap. Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas pada Instalasi Perawatan Intensif (;ICU) Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas pada Instalasi Kebidanan dan Penyakit Kandungan. Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas pada Instalasi Bedah Sentral. Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas pada Instalasi Farmasi. Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas pada Instalasi Radiologi. Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas pada Instalasi Sterilisasi Pusat (CSSD). Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas pada Instalasi Laboratorium. Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas pada Instalasi Rehabilitasi Medik. Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas pada Bag. Adm. & Kesekretariatan RS. Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas pada Instalasi Pemulasaraan Jenazah. Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas pada Gizi/Dapur. Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas pada Instalasi Pencucian Linen (;Laundry). Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas pada Bengkel Mekanikal dan Elektrikal

3 4 5

Tabel 4.6 Tabel 4.9 Tabel 5.1.2

6

Tabel 5.2.2

7

Tabel 5.3.2

8

Tabel 5.4.2

9

Tabel 5.5.2

10

Tabel 5.6.2

11

Tabel 5.7.2

12

Tabel 5.8.2

13

Tabel 5.9.2

14

Tabel 5.10.2

15

Tabel 5.11.2

16

Tabel 5.12.2

17

Tabel 5.13.2

18

Tabel 5.14.2

19

Tabel 5.15.2

20

Tabel 5.16.2

Pusat Sarana, Prasarana dan Peralatan Kesehatan, Sekretariat Jenderal, DEPKES-RI

Sekretariat Jenderal.3 4.1 2.6 3.11 4.1 1.5 BAGIAN .V 5.IV 4.2 4.III 3.HVAC) Sistem Pencahayaan Sistem Fasilitas Sanitasi Sistem Instalasi Gas Medik Sistem Pengendalian Terhadap Kebisingan dan Getaran Sistem Hubungan Horisontal dalam rumah sakit Sistem Hubungan (Transportasi) Vertikal dalam rumah sakit Sarana Evakuasi Aksesibilitas Penyandang Cacat Sarana/Prasarana Umum URAIAN BANGUNAN RUMAH SAKIT Instalasi Rawat Jalan Instalasi Gawat Darurat Instalasi Rawat Inap Halaman i Iii iv 1 1 2 2 2 5 9 13 13 13 14 15 19 20 22 23 32 32 34 35 36 37 39 41 41 47 48 48 49 52 55 Pusat Sarana.2 1.4 4.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Daftar Isi Judul Daftar Isi Kata Pengantar Pendahuluan BAGIAN . DEPKES-RI i .5 3.1 5.3 3.4 1.2 5.13 4.3 1.I 1.1 3.12 4.4 3.6 4.7 4.14 BAGIAN .3 KETENTUAN UMUM Latar Belakang Maksud dan Tujuan Sasaran Kebijakan Pengertian PERSYARATAN UMUM BANGUNAN RUMAH SAKIT Lokasi Rumah Sakit Perencanaan bangunan rumah sakit PERSYARATAN TEKNIS SARANA RUMAH SAKIT Atap Langit-langit Dinding dan Partisi Lantai Struktur Bangunan Pintu Toilet (Kamar Kecil) PERSYARATAN TEKNIS PRASARANA RUMAH SAKIT Sistem Proteksi Kebakaran Sistem Komunikasi Dalam Rumah Sakit Sistem Penangkal Petir Sistem Kelistrikan Sistem Penghawaan (Ventilasi) dan Pengkondisian Udara (.10 4.7 BAGIAN .9 4.5 4.8 4.II 2.1 4.2 BAGIAN .2 3. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.

7 5.13 5.Workshop) PENUTUP KEPUSTAKAAN DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR Lampiran 1 – Gambar 58 60 63 66 68 71 73 75 77 79 80 82 84 86 87 Pusat Sarana.VI Instalasi Perawatan Intensif (.4 5.ICU) Instalasi Kebidanan dan Penyakit Kandungan (Obstetri dan Ginekologi) Instalasi Bedah Sentral Instalasi Farmasi Instalasi Radiologi Instalasi Sterilisasi Pusat (CSSD) Instalasi Laboratorium Instalasi Rehabilitasi Medik Bagian Administrasi dan Kesekretariatan Rumah Sakit Pemulasaraan Jenazah Rumah Sakit Instalasi Gizi/Dapur Instalasi Pencucian Linen/Londri (. Sekretariat Jenderal.5 5.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 5.15 5. DEPKES-RI ii .10 5.Laundry) Bengkel Mekanikal dan Elektrikal (. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.6 5.14 5.11 5.8 5.16 BAGIAN .9 5.12 5.

Jakarta. Dalam rangka mencapai kualitas dan kemampuan pelayanan medis pada Rumah Sakit Kelas C ini. sistem proteksi terhadap bahaya kebakaran. instalasi air limbah dan lain-lain. air bersih. aksesibilitas dan luas lahan untuk bangunan rumah sakit. persyaratan teknis sarana dan prasarana rumah sakit yang menunjang pelayanan kesehatan secara paripurna. Persyaratan teknis sarana rumah sakit meliputi persyaratan atap. Keseluruhan persyaratan tersebut harus direncanakan sesuai dengan standard dan kaidah-kaidah yang berlaku. drainase. para pengelola rumah sakit.Kes NIP. Sekretariat Jenderal. Desember 2007 Kepala Pusat Sarana.dan sebagainya. 140 058 253 Pusat Sarana. pencahayaan. dinding. para pengembang rumah sakit (Yayasan. Sedangkan prasarana adalah segala sesuatu yang membuat sarana tersebut dapat berfungsi seperti pengadaan air bersih. baik dan benar. Prasarana dan Peralatan Kesehatan Ir.Tugijono. pintu dan toilet. Persyaratan rumah sakit disarankan memenuhi kriteria pemilihan lokasi rumah sakit dengan mempertimbangkan aspek sosio-ekonomi masyarakat. sehingga masing-masing pihak dapat mempunyai kesamaan persepsi mengenai sarana prasarana maupun peralatan Medik & Non-Medik rumah sakit.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Kata Pengantar Rumah Sakit Kelas C merupakan sarana pelayanan kesehatan umum tingkat kabupaten/ kota yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis 4 (empat) spesialistik dasar dan 4 (empat) spesialistik penunjang. sistem komunikasi. sistem tata suara. listrik. ventilasi. sarana transportasi vertikal (ramp dan tangga serta lift). Persyaratan teknis prasarana rumah sakit meliputi persyaratan. struktur dan konstruksi. lantai. Rumah sakit harus memenuhi. M. listrik. langit-langit. maka harus didukung dengan sarana dan prasarana rumah sakit yang terencana. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. sistem gas medis. Adapun secara umum yang dimaksud dengan sarana adalah segala sesuatu hal yang menyangkut fisik gedung/ bangunan serta ruangan. Kami mengucapkan terima kasih kepada tim penyusun dan semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan pedoman ini. Penyusunan “Pedoman Teknis Sarana dan Prasarana Rumah Sakit Kelas C“ ini diharapkan dapat digunakan sebagai rujukan oleh pengelola fasilitas pelayanan kesehatan setingkat rumah sakit kelas C. Badan Usaha maupun Konsultan Perencanaan dan Perancangan) yang akan merencanakan. pengolahan limbah. serta persyaratan teknis lainnya. DEPKES-RI iii .

Bab V. serta harus memenuhi standardisasi bangunan rumah sakit ”. 23 Tahun 1992 Bab I.b/Men. Pusat Sarana.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Pendahuluan Kesehatan merupakan salah satu unsur kesejahteraan umum yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana dimaksudkan dalam pembukaan Undang-undang Dasar 1945 melalui pembangunan nasional yang berkesinambungan. Sekretariat Jenderal. butir 4. salah satunya adalah “Pedoman Sarana dan Prasarana Rumah Sakit Kelas C ”. Untuk merealisasikan penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang menyeluruh dan terpadu diperlukan sarana kesehatan yang menurut Undang-undang Republik Indonesia No. gawat darurat. dimana berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan R. Pasal 19 dinyatakan.Kes/Per/II/1988 tentang Rumah Sakit. penunjang medik dan non medik. serta prasarana atau infrastruktur jaringan penunjang yang memadai. maka suatu pelayanan yang diselenggarakan rumah sakit harus memiliki suatu standar acuan ditinjau dari segi sarana fisik bangunan. DEPKES-RI iv . rawat inap. Mengingat hal tersebut diatas. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Pasal 1. Rumah Sakit merupakan salah satu sarana kesehatan. agar tercapai satu kesatuan persepsi dalam perancangan bangunan rumah sakit. yang berbunyi : ”Sarana kesehatan adalah tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan”.I No. Dalam rangka memenuhi suatu standar acuan tersebut diperlukan suatu pedoman perencanaan rumah sakit yang memadai. bahwa ” setiap rumah sakit harus mempunyai ruangan untuk penyelenggaraan rawat jalan. 159.

Bab V. 159. RS Kelas B adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis sekurangkurangnya 11 spesialistik dan sub spesialistik terbatas. RS Kelas D adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis dasar dan minimal 2 spesialistik dasar. Maksud dari diterbitkannya buku “Pedoman Teknis Sarana dan Prasarana Rumah Sakit Kelas C” ini adalah untuk memberikan petunjuk atau arahan bagi pengelola rumah sakit dan pihak-pihak lain yang membutuhkan dalam merancang dan merencanakan bangunan rumah sakit dengan memperhatikan kaidah-kaidah pelayanan kesehatan sehingga bangunan rumah sakit yang dibuat Pusat Sarana. kriteria dan prosedur di bidang sarana.1 Latar Belakang Dalam rangka pembangunan nasional Tahun 2004-2009. yaitu rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan semua bidang dan jenis penyakit dan rumah sakit khusus (RSK). Prasarana dan Peralatan Kesehatan. yaitu rumah sakit kelas A. gawat darurat. pedoman.2. RS Kelas C adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis 4 spesialistik dasar. 1. DEPKES-RI 1 . B. Sekretariat Jenderal. dimana berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan R. RS Kelas A adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis spesialistik luas dan sub spesialistik luas.b/Men. norma. dan peralatan kesehatan dalam hal ini akan menyusun “Pedoman Teknis Sarana dan Prasarana Rumah Sakit Kelas C”. prasarana. Rumah Sakit merupakan salah satu sarana kesehatan. serta harus memenuhi standardisasi bangunan rumah sakit ”. Prasarana dan Peralatan Kesehatan yang mempunyai tugas menyiapan koordinasi dan pelaksanaan penyusunan standar teknis.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C BAGIAN – I KETENTUAN UMUM 1. Pusat Sarana. yang terdiri dari rumah sakit umum (RSU). maka harus didukung dengan upaya peningkatan kualitas sarana kesehatan. Pedoman ini diharapkan dapat memberikan arahan dalam perencanaan dan pengembangan fasilitas rumah sakit kelas C. Dalam rangka menunjang sasaran tersebut. Pengkategorian rumah sakit dibedakan berdasarkan jenis penyelenggaraan pelayanan.I No. bahwa ” setiap rumah sakit harus mempunyai ruangan untuk penyelenggaraan rawat jalan. penunjang medik dan non medik. Pasal 19 dinyatakan. sehingga dapat melaksanakan pelayanan kesehatan secara efisien dan efektif yang sesuai dengan kebutuhan layanan kesehatan kepada masyarakat serta memenuhi Kaidah dan Standar sebagai Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang baik dan benar. Rumah sakit umum (RSU) diklasifikasikan menjadi 4 kelas yang didasari oleh beban kerja dan fungsi rumah sakit tersebut. peningkatan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan yang berkualitas merupakan salah satu agenda dari upaya mewujudkan Indonesia yang sejahtera.Kes/Per/II/1988 tentang Rumah Sakit. C dan D.1 Maksud dan Tujuan Maksud.2 1. rawat inap. yaitu rumah sakit yang memberikan pelayanan utama pada suatu bidang atau satu jenis penyakit tertentu berdasarkan kekhususannya.

4 Pusat Sarana. para pengembang rumah sakit (Yayasan.2 Tujuan. Sarana.5. sehingga masingmasing pihak dapat mempunyai kesamaan persepsi mengenai sarana prasarana maupun peralatan Medik & Non-Medik rumah sakit. baik untuk tempat tinggal. 1333/MENKES/SK/XII/1999 tentang Standar Pelayanan Rumah Sakit. 1. 1.5. tentang persyaratan kesehatan lingkungan RS.4 Kebijakan (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) UU No. ataupun di bawah tanah/perairan.3 Sasaran Sasaran dari penyusunan pedoman ini adalah pihak manajemen rumah sakit. Konstruksi bangunan yang diletakkan secara tetap dalam suatu lingkungan. DEPKES-RI 2 . 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. KepMenKes No. 1204/KepMenkes/SK/X/2004.5. 159b/MENKES/PER/II/1988 tentang Rumah Sakit. UU No.2. berusaha. Rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan semua jenis penyakit dari yang bersifat dasar sampai dengan sub spesialistik. PerMenKes RI No. Badan Usaha maupun Konsultan Perencanaan dan Perancangan) yang akan merencanakan.5 1. Rumah sakit umum. PerMenNakertrans No.3 1. Per-01/MEN/1980 tentang K3 pada konstruksi bangunan. menjadi bahan untuk memperkirakan anggaran biaya pembangunan sarana dan prasarana rumah sakit. 1. 1. di atas tanah/perairan. maupun kegiatan sosial dan budaya. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Kepmenkes-RI No. Rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis 4 (empat) spesialistik dasar dan 4 (empat) spesialistik penunjang.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C dapat menampung kebutuhan-kebutuhan pelayanan dan tidak menimbulkan akibat buruk terhadap pengguna. 1. 28 Tahun 2002 tentang bangunan gedung. Sekretariat Jenderal. Bangunan gedung. tempat manusia melakukan kegiatannya.2 1. menjadi arahan bagi perencana dalam merencanakan pembangunan sarana dan prasarana rumah sakit. Rumah sakit umum kelas C. Tujuan dari diterbitkannya buku pedoman ini adalah : (1) (2) (3) perencanaan pembangunan sarana dan prasarana rumah sakit dapat terkendali dengan baik.1 Pengertian.5. 45/PRT/M/2007 tentang Pedoman Teknis Pembangunan Bangunan Gedung Negara. PERMENPU No.

5. Fasilitas kerja khususnya untuk melakukan pemeriksaan dan penyelidikan ilmiah (misalnya fisika. kimia.5.5. 1. Instalasi Gawat Darurat.13 Instalasi Radiologi.5.8 1. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.5. pemeriksaan dan pengobatan pasien oleh dokter ahli di bidang masing-masing yang disediakan untuk pasien yang membutuhkan waktu singkat untuk penyembuhannya atau tidak memerlukan pelayanan perawatan. Fasilitas yang digunakan sebagai tempat konsultasi.12 Instalasi Farmasi.5. 1.5.7 1. Instalasi Rawat Inap. penyelidikan.15 Instalasi Laboratorium.5. dan sebagainya) 1. 1.11 Instalasi Bedah. Fasilitas yang digunakan merawat pasien yang harus di rawat lebih dari 24 jam (pasien menginap di rumah sakit). Fasilitas untuk menghilangkan semua mikroorganisme baik dengan cara fisik maupun kimia. nifas dan gangguan kesehatan reproduksi.5 Prasarana. Fasilitas untuk penyediaan dan membuat obat racikan.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Segala sesuatu benda fisik yang dapat tervisualisasi mata maupun teraba oleh panca indra dan dengan mudah dapat dikenali oleh pasien dan (umumnya) merupakan bagian dari suatu gedung ataupun bangunan gedung itu sendiri.14 Instalasi Sterilisasi Pusat (. Benda maupun jaringan / instalasi yang membuat suatu sarana yang ada bisa berfungsi sesuai dengan tujuan yang diharapkan. 1.CSSD/ Central Supply Sterilization Departement) Instalasi Sterilisasi Pusat (Central Sterile Supply Department = CSSD). higiene.5.5.5. Instalasi Perawatan Intensif (Intensive Care Unit = ICU). DEPKES-RI 3 .5. 1. Sekretariat Jenderal. Fasilitas untuk merawat pasien yang dalam keadaan sakit berat sesudah operasi berat atau bukan karena operasi berat yang memerlukan secara intensif pemantauan ketat dan tindakan segera. Pusat Sarana.16 Instalasi Rehabilitasi Medik.10 Instalasi Kebidanan dan penyakit kandungan. yang membutuhkan kondisi steril dan kondisi khusus lainnya. Fasilitas untuk melakukan pemeriksaan terhadap pasien dengan menggunakan energi radioaktif dalam diagnosis dan pengobatan penyakit. 1. serta memberikan informasi dan konsultasi perihal obat.9 1. 1. penyediaan obat paten. Fasilitas menyelenggarakan kegiatan persalinan. Instalasi Rawat Jalan. adalah suatu unit khusus di rumah sakit yang berfungsi sebagai tempat untuk melakukan tindakan pembedahan secara elektif maupun akut. Fasilitas yang melayani pasien yang berada dalam keadaan gawat dan terancam nyawanya yang membutuhkan pertolongan secepatnya. perinatal. Instalasi bedah.6 1.

1. perbaikan. pemulasaraan dan pelayanan forensik. Prasarana dan Peralatan Medik. cuci dan pemisahan.Workshop) Fasilitas untuk melakukan pemeliharaan dan perbaikan ringan terhadap komponen-komponen Sarana. persiapan pengiriman dan pengiriman. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.5.5. DEPKES-RI 4 . hasil pemeriksaan dan pengobatan pasien yang diterapkan secara terpusat/sentral. Pusat Sarana.19 Instalasi Gizi/Dapur. seterika. Sekretariat Jenderal. riwayat penyakit. 1. 1. memandikan jenazah.5. penyimpanan.20 Instalasi Cuci (Laundry).PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Fasilitas pelayanan untuk memberikan tingkat pengembalian fungsi tubuh dan mental pasien setinggi mungkin sesudah kehilangan/ berkurangnya fungsi tersebut. Fasilitas untuk meletakkan/menyimpan sementara jenazah sebelum diambil oleh keluarganya. pengadaan bahan mentah.21 Bengkel Mekanikal dan Elektrikal (. Fasilitas melakukan proses penanganan makanan dan minuman meliputi kegiatan. 1. disinfeksi bila perlu.5. pengeringan.5.17 Instalasi Administrasi dan Rekam Medis Suatu unit dalam rumah sakit tempat melaksanakan kegiatan administrasi dan pencatatan dan tempat melaksanakan kegiatan merekam dan menyimpan berkasberkas jati diri. pengolahan. Fasilitas untuk melakukan pencucian linen yang terdiri dari. dan penyajian makanan-minuman.18 Pemulasaran jenazah. pemberian kode dan bungkus. penerimaan. penyimpanan. 1.

Data Arsitek Edisi Kedua. yang selanjutnya dilaporkan setiap 6 (enam) bulan (KepmenKLH/08/2006). hendaknya dibuat dalam bentuk implementasi Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UKL-UPL). dan harus dipilih sebelum perencanaan awal dapat dimulai. Selain itu kontur tanah juga berpengaruh terhadap perencanaan sistem drainase. Lokasi harus mudah dijangkau oleh masyarakat atau dekat ke jalan raya dan tersedia infrastruktur dan fasilitas dengan mudah. dan jalur telepon. Hospital Waste Water Treatment Plant (HWWTP)). Sewage Treatment Plan (STP).1 2. Aksesibel untuk penyandang cacat (2) Kontur Tanah kontur tanah mempunyai pengaruh penting pada perencanaan struktur.1. misalnya tersedia pedestrian. Pemilihan lokasi. 1 Ernst Neufert. Rumah sakit membutuhkan air bersih. (5) Pengelolaan Kesehatan Lingkungan Setiap RS harus dilengkapi dengan persyaratan pengendalian dampak lingkungan antara lain :  Studi Kelayakan Dampak Lingkungan yang ditimbulkan oleh RS terhadap lingkungan disekitarnya. kondisi jalan terhadap tapak bangunan dan lain-lain. Tempat parkir harus dilengkapi dengan rambu parkir. (4) Tersedianya utilitas publik. Penerbit Erlangga. Sekretariat Jenderal. listrik. Pengembang harus membuat utilitas tersebut selalu tersedia. Perancangan dan perencanaan prasarana parkir di RS sangat penting.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C BAGIAN – II PERSYARATAN UMUM BANGUNAN RUMAH SAKIT 2. 1995 Pusat Sarana. karena prasarana parkir dan jalan masuk kendaraan akan menyita banyak lahan.  Fasilitas Pengelolaan Limbah Cair ataupun Padat dari Instalasi Radiologi. Perhitungan kebutuhan lahan parkir pada RS idealnya adalah 1. (1) Aksesibilitas untuk jalur transportasi dan komunikasi. Untuk limbah cair yang mengandung logam berat dan radioaktif disimpan dalam kontainer khusus kemudian dikirim ke tempat pembuangan limbah khusus daerah setempat yang telah mendapatkan izin dari pemerintah. pembuangan air kotor/limbah.  Fasilitas pengolahan limbah cair (Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).5 s/d 2 kendaraan/tempat tidur (37.1 Lokasi Rumah Sakit. (3) Fasilitas parkir. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. DEPKES-RI 5 .  Fasilitas pengelolaan limbah padat infeksius dan non–infeksius (sampah domestik).5m2 s/d 50m2 per tempat tidur) 1 atau menyesuaikan dengan kondisi sosial ekonomi daerah setempat.

Koefisien Lantai Bangunan (KLB) Ketentuan besarnya KLB mengikuti peraturan daerah setempat.  Pemilihan lokasi sebaiknya bebas dari kebisingan yang tidak semestinya dan polusi atmosfer yang datang dari berbagai sumber. terutama pada daerah yang kesulitan dalam menyediakan air bersih.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C  Fasilitas Pengolahan Air Bersih (. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.  Pasien dan petugas membutuhkan udara bersih dan lingkungan yang tenang. Keselamatan terhadap bahaya kebakaran. Sekretariat Jenderal.2 Massa Bangunan. (6) Bebas dari kebisingan. Misalkan Ketentuan KLB suatu daerah adalah maksimum 3 dengan KDB maksimum 60% maka luas total lantai yang dapat dibangun adalah 3 kali luas total area area/tanah dengan luas lantai dasar adalah 60%.Water Treatment Plant) yang menjamin keamanan konsumsi air bersih rumah sakit. Setiap rumah sakit harus menyusun master plan pengembangan kedepan. uap dan gangguan lain. d. sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan daerah setempat tentang bangunan gedung. Koefisien Daerah Hijau (KDH) Perbandingan antara luas area hijau dengan luas persil bangunan gedung negara. (2) Perencanaan RS harus mengikuti Rencana Tata Bangunan & Lingkungan (RTBL). (4) Pengembangan RS pola vertikal dan horizontal Penentuan pola pembangunan RS baik secara vertikal maupun horisontal. daerah resapan air 2. d. Garis Sempadan Bangunan (GSB) dan Garis Sepadan Pagar (GSP) Ketentuan besarnya GSB dan GSP harus mengikuti ketentuan yang diatur dalam RTBL atau peraturan daerah setempat. b. DEPKES-RI 6 . harus mempunyai KDH minimum sebesar 15%. asap. (7) 2. ruang terbuka hijau kabupaten/kota Untuk bangunan gedung yang mempunyai KDB kurang dari 40%. c. b. Master Plan dan Pengembangannya. c. harus diperhitungkan dengan mempertimbangkan 1. Hal ini sebaiknya dipertimbangkan apabila ada rencana pembangunan bangunan baru. Kesehatan termasuk sirkulasi udara dan pencahayaan. (3) Memenuhi persyaratan Peraturan Daerah setempat (tata kota yang berlaku). (1) Intensitas antar Bangunan Gedung di RS harus memperhitungkan jarak antara massa bangunan dalam RS dengan mempertimbangkan hal-hal berikut ini : a.1. Koefisien Dasar Bangunan (KDB) Ketentuan besarnya KDB mengikuti peraturan daerah setempat. Keselarasan dan keseimbangan dengan lingkungan. disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan kesehatan yang diinginkan RS Pusat Sarana. Misalkan Ketentuan KDB suatu daerah adalah maksimum 60% maka area yang dapat didirikan bangunan adalah 60% dari luas total area/ tanah. yaitu : a. KLB menentukan luas total lantai bangunan yang boleh dibangun. Review master plan dilaksanakan setiap 5 tahun. Kenyamanan.

sites) dan kondisi keuangan manajemen RS (. ruang komputer. Instalasi Kebidanan dan Penyakit Kandungan Zona Penunjang dan Operasional yang terdiri dari : Instalasi Farmasi./CSSD).budget). Bagian Perencanaan dan Pengembangan (Renbang). area privat. kebudayaan daerah setempat (. Instalasi Gawat Darurat (IGD). pemulasaraan jenazah dan ruang bedah mayat. ruang bersalin. Laundri. misalkan poliklinik. zonasi berdasarkan privasi dan zonasi berdasarkan pelayanan. Instalasi Perawatan Intensif (ICU/ICCU/PICU/NICU). ruang rawat inap. ruang radiodiagnostik. area publik. rehabilitasi medik. yaitu ruang bedah. Bagian Sumber Daya Manusia (SDM). misalnya laboratorium. Instalasi Pemeliharaan Sarana (IPS). yaitu area yang menerima tidak berhubungan langsung dengan lingkungan luar rumah sakit. area dengan risiko sedang. Sistem Pengawasan Internal (SPI). Bagian Informasi dan Teknologi (IT). Instalasi Sterilisasi Pusat (. Laboratorium. area dengan risiko tinggi. Zonasi berdasarkan privasi kegiatan terdiri dari :    (3) Zonasi berdasarkan pelayanan terdiri dari :   Pusat Sarana. kondisi alam daerah setempat (. umumnya merupakan area yang menerima beban kerja dari area publik. laboratorium. umumnya area tertutup. Dapur Utama.1.  Zona Pelayanan Medik dan Perawatan yang terdiri dari : Instalasi Rawat Jalan (IRJ). radiologi. Zona Penunjang Umum dan Administrasi yang terdiri dari : Bagian Kesekretariatan dan Akuntansi. Instalasi Radiodiagnostik. Pemulasaraan Jenazah. apotek). Pengkategorian pembagian area atau zonasi rumah sakit adalah zonasi berdasarkan tingkat risiko terjadinya penularan penyakit. misalnya seperti ICU/ICCU. instalasi kebidanan dan penyakit kandungan. 2. Sekretariat Jenderal. yaitu ruang rawat inap non-penyakit menular. yaitu area yang mempunyai akses langsung dengan lingkungan luar rumah sakit. Instalasi Bedah. instalasi bedah. ruang arsip/rekam medis. yaitu ruang isolasi.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C (. yaitu ruang kesekretariatan dan administrasi. DEPKES-RI 7 . Instalasi Rehabilitasi Medik (IRM). ruang patolgi. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. yaitu area yang dibatasi bagi pengunjung rumah sakit.health needs). Bagian Pendidikan dan Penelitian (Diklit).cultures). (1) Zonasi berdasarkan tingkat risiko terjadinya penularan penyakit terdiri dari :     (2) area dengan risiko rendah. IGD. rawat jalan. ruang pertemuan. area dengan risiko sangat tinggi. lahan yang tersedia (.climate). Instalasi Rawat Inap (IRNA). ruang ICU/ICCU.3 Zonasi.Central Sterilization Supply Dept. Instalasi Sanitasi. Bagian Rekam Medik. Bagian Pengadaan. area semi publik. Bagian Logistik/ Gudang. IGD.

1.000 m2 .1. Planning and Management. Hospitals. 2) Sebagai contoh. rumah sakit umum (non pendidikan) dengan kapasitas 300 tempat tidur. Tabel 3.1. The Architectural PressLondon. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Tata McGraw-Hill. William Tatton ARIBA. (1) (2) Kebutuhan luas lantai untuk rumah sakit pendidikan disarankan + 110 m2 setiap tempat tidur. DEPKES-RI 8 . (3) (4) (5) 2 3 ) W. Facilities. 3) Sebagai contoh.000 m2 . Paul James DipArch FRIBA. Design and Development. rumah sakit pendidikan dengan kapasitas 500 tempat tidur.Zoning Rumah Sakit Berdasarkan Pelayanan Pada RS Pola Pembangunan Horisontal 2. kebutuhan luas lantainya adalah sebesar + 110 (m2/tempat tidur) x 500 tempat tidur = + 55.3 . kebutuhan luas lantainya adalah sebesar 80 (m2/tempat tidur) x 300 tempat tidur = + 24.4 menunjukkan bagian-bagian dari rumah sakit umum (non pendidikan) dan ruangan yang dibutuhkannya. 1986 ) G. Sekretariat Jenderal. 2004 Pusat Sarana.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Gambar 2. Hospital.4 Kebutuhan luas lantai. Kebutuhan luas lantai untuk rumah sakit umum (non pendidikan) saat ini disarankan 80 m2 sampai dengan 110 m2 setiap tempat tidur.D Kunders.

1 0. DEPKES-RI 9 .4 ~ 0.5 3~4 2.5 0.3 5~6 0.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Tabel 2.5 ~ 3.1 ~ 0.3 ~ 0.5 0. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.2 ~ 0.6 1 ~ 1.2 1 ~ 1.5 3.5 ~ 0.5 ~ 3.5 0.5 0.2 2.5 0.2 0. 3) Daerah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 Administrasi Unit Gawat Darurat Poliklinik Pelayanan social Pendaftaran Laboratorium Klinis.4 ~ 0. Rumah tangga/kebersihan Manajemen material Gudang pusat Pembelian Laundri Rekam medis Fasilitas staf medik Teknik dan pemeliharaan Pengobatan nuklir Ruang anak Petugas Farmasi Ruang public Ruang pengobatan kulit Therapi radiasi Therapi fisik Therapi okupasi Ruang bedah Sirkulasi Unit rawat inap Luas (m ) per tempat tidur 3 ~ 3.4 ~ 0.4 ~ 0.5 ~ 0. pelatihan Terapi Wicara dan pendengaran.5 1 ~ 1.8 0.4 0.4 ~ 0.8 ~ 1 1 ~ 1.5 ~ 5 10 ~ 15 25 ~ 35 2 Pusat Sarana.5 1 ~ 1.0 0.1 0.5 ~ 1 0.5 ~ 3 1. Pathologi Kebidanan dan kandungan Diagnostik dan Radiologi Dapur makanan Fasilitas petugas Ruang pertemuan. Sekretariat Jenderal.2 0.5 2.5 0.5 0.2 ~ 1.4 – Kebutuhan ruang minimal untuk rumah sakit umum non pendidikan.8 0.1.3 ~ 0.

Pemisahan aktivitas yang berbeda. Rumah sakit adalah tempat dimana sesuatunya berjalan cepat. Sekretariat Jenderal.2. perbedaan tipe pasien. (1) Perlindungan terhadap pasien merupakan hal yang harus diprioritaskan.2. khususnya untuk pasien bedah dimana kondisi bersih sangat penting. terdiri dari pintu masuk utama. Kondisi ini membantu menjaga kebersihan (aseptic) dan mengamankan langkah setiap orang.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 2. Bayi haru dilindungi dari kemungkinan pencurian dan dari kuman penyakit yang dibawa pengunjung dan petugas rumah sakit. Jaminan perlindungan terhadap infeksi merupakan persyaratan utama yang harus dipenuhi dalam kegiatan pelayanan terhadap pasien. Begitu pula pada kamar bedah. (2) (3) Pusat Sarana. Prinsip umum.2 2. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. (1) Maksimum pencahayaan dan angin untuk semua bagian bangunan merupakan faktor yang penting. pemisahan antara pekerjaan bersih dan pekerjaan kotor. (2) (3) (4) 2. aktivitas tenang dan bising. perawat. Terlalu banyak lalu lintas akan menggangu pasien.2 Prinsip khusus. Jiwa pasien sering tergantung padanya. pintu masuk ke Unit Gawat Darurat dan Pintu Masuk ke area layanan Servis. Ini khususnya untuk rumah sakit yang tidak menggunakan air conditioning.1 Perencanaan bangunan rumah sakit. Jendela sebaiknya dilengkapi dengan kawat kasa untuk mencegah nyamuk dan binatang terbang lainnya yang berada dimana-mana di sekitar rumah sakit. DEPKES-RI 10 . dan pengunjung masuk dan ke luar unit. Merencanakan sependek mungkin jalur lalu lintas. RS minimal mempunyai 3 akses/pintu masuk. Tata letak Pos perawat harus mempertimbangkan kemudahan bagi perawat untuk memonitor dan membantu pasien yang sedang berlatih di koridor pasien. Pasien di ruang ICU harus dijaga terhadap infeksi. pasien dan petugas rumah sakit lainnya. agar aktifitas pasien dan petugas tidak terganggu. mengurangi efisiensi pelayanan pasien dan meninggikan risiko infeksi. Waktu yang terbuang akibat langkah yang tidak perlu membuang biaya disamping kelelahan orang pada akhir hari kerja. Mengontrol aktifitas petugas terhadap pasien serta aktifitas pengunjung RS yang datang. (contoh sakit serius dan rawat jalan) dan tipe berbeda dari lalu lintas di dalam dan di luar bangunan.

Alur lalu lintas pasien dan petugas RS harus direncanakan seefisien mungkin. radiologi.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Gambar 2.40 m dengan tinggi langit-kangit minimal 2. harus mengikuti prosedur yang telah ditentukan. terapi khusus dan ke pelayanan medis lain. farmasi. juga benda-benda yang tidak terpakai. kemiringannya sebaiknya tidak melebihi 1 : 10 ( membuat sudut maksimal 70) Alur pasien rawat jalan yang ingin ke laboratorium. dan bila mungkin berdekatan dengan lif service. sehingga pasien dan pengantar pasien mudah mengenali pintu masuk utama. Apabila ramp digunakan. Pintu masuk dan lobi disarankan dibuat cukup menarik. Pusat Sarana. DEPKES-RI 11 . tidak melalui daerah pasien rawat inap. Bordes dan timbangan tersedia di daerah itu. pasien dan pengunjung mudah orientasinya jika berada di dalam bangunan. (5) (6) (7) (8) (9) (10) Alur pasien rawat inap jika ingin ke laboratorium.2-a . Koridor publik dipisah dengan koridor untuk pasien dan petugas medik. Bahan-bahan. Rumah sakit perlu dirancang agar petugas.2. Sampah padat dan sampah lainnya dibuang dari tempat ini. radiologi dan bagian lain. Koridor sebaiknya lurus. Akses ke kamar mayat sebaiknya diproteksi terhadap pandangan pasien dan pengunjung untuk alasan psikologis. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. dimaksudkan untuk mengurangi waktu kemacetan.40 m. material dan pembuangan sampah sebaiknya tidak memotong pergerakan orang. Sekretariat Jenderal. Lebar koridor 2.Contoh rencana lokasi (4) Pintu masuk untuk service sebaiknya berdekatan dengan dapur dan daerah penyimpanan persediaan (gudang) yang menerima barang-barang dalam bentuk curah.

DEPKES-RI 12 .PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C PASIEN SAKIT MASUK PENDAFTARAN / ADMINISTRASI INSTALASI RAWAT JALAN INSTALASI LABORATORIUM INSTALASI RADIOLOGI INSTALASI GAWAT DARURAT INSTALASI BEDAH INSTALASI KEBIDANAN DAN KANDUNGAN INSTALASI PERAWATAN INTENSIF PULANG SEHAT KELUAR INSTALASI RAWAT INAP INSTALASI RAWAT INAP KEBIDANAN INSTALASI PEMULASARAAN JENAZAH Gambar 2.2. Sekretariat Jenderal.2-b – Alur sirkulasi pasien di dalam rumah sakit umum Pusat Sarana. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.

Contoh dapat dilihat pada gambar 2.2-d. DEPKES-RI 13 .2-d – Contoh Model Perletakan Instalasi-instalasi pada Site Rumah Sakit (Rencana Blok) Pusat Sarana.2. Sekretariat Jenderal.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Gambar 2.2. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.2.2-c – Contoh Model Aliran lalu lintas dalam RS (11) Site Plan atau Tata letak instalasi-instalasi berdasarkan zoning dan peruntukan bangunan yang telah direncanakan. Gambar 2.

Langit-langit. penggunaan genteng metal sebaiknya dihindari. tidak porous. Umum. minimal 2. Langit-langit mungkin harus dari bahan kedap suara. dan dilapisi dengan cat anti rayap. 3. Rangka langit-langit harus kuat. pemasangannya harus dengan sudut kemiringan sesuai ketentuan yang berlaku. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.40 m. (1) (2) Umum. atau genteng tanah liat (plentong). (1) Penutup atap.2. Umum. Disamping itu dinding harus tidak mengkilap.3. 3.1. tidak bocor. tahan lama dan tidak menjadi tempat perindukan serangga. (a) (b) (c) 3. merupakan pilihan utama. Apabila rangka atap dari bahan kayu.2 Persyaratan atap.70 m. dan binatang pengganggu lainnya. Apabila rangka atap dari bahan metal. Rangka atap harus kuat memikul beban penutup atap. dan mudah dibersihkan. Mengingat pemeliharaannya yang sulit khususnya bila terjadi kebocoran.3.1 Dinding dan Partisi.1. (a) (b) (c) Tinggi langit-langit di ruangan. (c) (2) Rangka atap. Penutup atap bila menggunakan genteng keramik. dan tinggi di selasar (koridor) minimal 2. Dinding harus keras. (a) (b) Penutup atap dari bahan beton dilapis dengan lapisan tahan air. 3.1. DEPKES-RI 14 . atau di cat dengan cat dasar anti karat. tahan karat.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C BAGIAN – III PERSYARATAN TEKNIS SARANA RUMAH SAKIT 3. tahan api. tikus. tidak punya sambungan (utuh). Pusat Sarana. Persyaratan langit-langit.1 Atap. berwarna terang. harus dari metal yang tidak mudah berkarat. atau genteng beton. harus dari kualitas yang baik dan kering. Langit-langit harus kuat. kedap air. 3. dan mudah dibersihkan. Sekretariat Jenderal. Atap harus kuat.

PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 3. Lantai dilokasi anestesi yang tidak mudah terbakar tidak perlu konduktif. Polyester yang dilapisi (laminated polyester) atau plester yang halus dan dicat. Umum. Sambungan antaranya bisa di “seal” dengan filler plastik. Semen diantara keramik/porselin tidak bisa halus. Tahanan dari lantai konduktif diukur tiap bulan.3.4. Pelapis lembar/siku baja tahan karat (stailess steel) pada sudut-sudut tempat benturan membantu mengurangi kerusakan. kedap air. Sekretariat Jenderal. sehingga mudah untuk menghilangkan muatan listrik statik dari peralatan dan petugas. dan pemvakuman basah. dan teraso. mudah dibersihkan dan dipelihara. Permukaan dari semua lantai tidak boleh porous.2 Persyaratan dinding pada ruang-ruang khusus. Cat epoksi pada dasarnya mempunyai kecenderungan untuk mengelupas atau membentuk serpihan. Keramik/porselin bisa retak dan patah. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Lantai harus terbuat dari bahan yang kuat. lantai yang konduktif harus dipasang. (1) (2) (3) Lantai yang selalu kontak dengan air harus mempunyai kemiringan yang cukup ke arah saluran pembuangan. dan mudah dibersihkan. dan bahan-bahan yang tanpa sambungan dipergunakan untuk lantai yang non konduktif. tidak licin. Tahanan listrik dari bahanbahan ini bisa berubah dengan umur dan akibat pembersihan.4.1 Lantai. Permukaan lantai tersebut harus dapat memberikan jalan bagi peralatan yang mempunyai konduktivitas listrik yang sedang antara peralatan dan petugas yang berhubungan dengan lantai tersebut. memberikan dinding tanpa kampuh ( tanpa sambungan = seamless). (2) (3) (4) (5) 3.2 Persyaratan lantai pada ruang-ruang khusus. tetapi cukup keras untuk pembersihan dengan penggelontoran (flooding). 3. dan kebanyakan sambungan yang diplaster cukup porous sehingga mudah ditinggali mikro organisme meskipun telah dibersihkan. warna terang. termasuk vinil anti statik. DEPKES-RI 15 . (4) (5) (6) (7) (8) (9) Pusat Sarana. Lantai yang konduktif bisa diperoleh dari berbagai jenis bahan. dan harus memenuhi persyaratan yang berlaku seperti dalam NFPA 56A. megumpulkan debu dan mikro organisme diantara sambungannya. linolium.4. Semacam plastik keras (vinil). 3. permukaan rata. ubin aspal. Untuk mencegah menimbunnya muatan listrik pada tempat dipergunakan gas anestesi mudah terbakar. Lantai harus cukup konduktif. (1) Pelapisan dinding dengan bahan keras seperti formika. Dinding yang berlapiskan keramik/porselen. tetapi bukan sedemikian konduktifnya sehingga membahayakan petugas dari sengatan listrik. Pertemuan lantai dengan dinding harus berbentuk konus/lengkung agar mudah dibersihkan.

Tata cara perencana an ketahanan gempa untuk rumah dan gedung. Untuk menentukan tingkat keandalan struktur bangunan. Penentuan mengenai jenis. harus dilakukan pemeriksaan keandalan bangunan secara berkala sesuai dengan Pedoman Teknis atau standar yang berlaku. DEPKES-RI 16 . beban sementara (angin. strukturnya harus direncanakan dan dilaksanakan agar kuat.5. kondisi strukturnya masih dapat memungkinkan pengguna bangunan rumah sakit menyelamatkan diri. termasuk beban tetap. keawetan. semua unsur struktur bangunan rumah sakit. lokasi. dan serangga perusak. serta memenuhi persyaratan kelayanan (serviceability) selama umur layanan yang direncanakan dengan mempertimbangkan fungsi bangunan rumah sakit. seperti : 1) 2) SNI 03–1726-1989 atau edisi terbaru. (b) (c) (d) (e) (f) (g) (2) Persyaratan Teknis. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Sekretariat Jenderal. dan harus dilakukan atau didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. jamur. SNI 03-1727-1989 atau edisi terbaru. harus diperhitungkan memikul pengaruh gempa rencana sesuai dengan zona gempanya. pengaruh korosi. 3. Persyaratan pembebanan Bangunan Rumah Sakit. gempa) dan beban khusus. (1) Umum. (a) Setiap bangunan rumah sakit. Dalam perencanaan struktur bangunan rumah sakit terhadap pengaruh gempa. baik beban muatan tetap maupun beban muatan sementara yang timbul akibat gempa.5. intensitas dan cara bekerjanya beban harus sesuai dengan standar teknis yang berlaku. (a) (b) Pusat Sarana. Pemeriksaan keandalan bangunan rumah sakit dilaksanakan secara berkala sesuai dengan pedoman teknis atau standar teknis yang berlaku. angin. kokoh. Tata cara perencanaan pembebanan untuk rumah dan gedung. sehingga bangunan rumah sakit selalu memenuhi persyaratan keselamatan struktur. dan stabil dalam memikul beban/kombinasi beban dan memenuhi persyaratan keselamatan (safety). Struktur bangunan rumah sakit harus direncanakan secara detail sehingga pada kondisi pembebanan maksimum yang direncanakan. Analisis struktur harus dilakukan untuk memeriksa respon struktur terhadap beban-beban yang mungkin bekerja selama umur kelayanan struktur.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 3.1 Struktur Bangunan. dan kemungkinan pelaksanaan konstruksinya. Perbaikan atau perkuatan struktur bangunan harus segera dilakukan sesuai rekomendasi hasil pemeriksaan keandalan bangunan rumah sakit. apabila terjadi keruntuhan. baik bagian dari sub struktur maupun struktur gedung. Kemampuan memikul beban diperhitungkan terhadap pengaruhpengaruh aksi sebagai akibat dari beban-beban yang mungkin bekerja selama umur layanan struktur.

(c) Konstruksi Kayu Perencanaan konstruksi kayu harus memenuhi standar teknis yang berlaku. Tata Cara dan/atau pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan konstruksi baja . Sekretariat Jenderal. Tata cara rencana pembuatan campuran beton ringan dengan agregat ringan. Tata cara pengecatan kayu untuk rumah dan gedung. konstruksi baja. Tata Cara Pembuatan atau Perakitan Konstruksi Baja.2 Struktur Atas (1) Umum. SNI 03–3976-1995 atau edisi terbaru. (a) Konstruksi beton Perencanaan konstruksi beton harus memenuhi standar teknis yang berlaku. Tata cara perhitungan struktur beton untuk bangunan gedung. Tata cara pengadukan dan pengecoran beton. SNI 03–2834 -1992 atau edisi terbaru. Pusat Sarana. SNI 03–3449-1994 atau edisi terbaru. Tata cara/pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan konstruksi kayu. seperti: 1) 2) 3) 4) Tata Cara Perencanaan Konstruksi Kayu untuk Bangunan Gedung.5. Tata Cara Pemeliharaan Konstruksi Baja Selama Pelaksanaan Konstruksi. Tata cara perencanaan beton dan struktur dinding bertulang untuk rumah dan gedung. Tata cara perencanaan dinding struktur pasangan blok beton berongga bertulang untuk bangunan rumah dan gedung. DEPKES-RI 17 . 3) 4) 5) 6) (b) Konstruksi Baja Perencanaan konstruksi baja harus memenuhi standar yang berlaku seperti : 1) 2) 3) 4) SNI 03-1729-1989 atau edisi terbaru. seperti : 1) 2) SNI 03–2847-1992 atau edisi terbaru. Tata Cara Pembuatan dan Perakitan Konstruksi Kayu SNI 03 – 2407 – 1991 atau edisi terbaru. SNI 03–3430-1994 atau edisi terbaru. konstruksi kayu atau konstruksi dengan bahan dan teknologi khusus (2) Persyaratan Teknis. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. SNI 03-1734-1989 atau edisi terbaru. Konstruksi atas bangunan rumah sakit dapat terbuat dari konstruksi beton.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 3. Tata cara perencanaan bangunan baja untuk gedung. Tata cara pembuatan rencana campuran beton normal.

Tata cara perencanaan bangunan dan lingkungan untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan rumah dan gedung. dan metoda uji bahan dan teknologi khusus tersebut. Struktur bawah bangunan rumah sakit dapat berupa pondasi langsung atau pondasi dalam. SNI 03–2405-1991 atau edisi terbaru. Tata cara penanggulangan rayap pada bangunan rumah dan gedung dengan termitisida.3 Struktur Bawah (1) Umum. Tata cara perencanaan dan perancangan bangunan kedokteran nuklir di rumah sakit. SNI 03-1736-1989 atau edisi terbaru. SNI 03–2404-1991 atau edisi terbaru. Tata cara dasar koordinasi modular untuk perancangan bangunan rumah dan gedung.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C (d) Konstruksi dengan Bahan dan Teknologi Khusus 1) Perencanaan konstruksi dengan bahan dan teknologi khusus harus dilaksanakan oleh ahli struktur yang terkait dalam bidang bahan dan teknologi khusus tersebut. DEPKES-RI 18 . (a) Pondasi Langsung 1) Kedalaman pondasi langsung harus direncanakan sedemikian rupa sehingga dasarnya terletak di atas lapisan tanah yang mantap dengan daya dukung tanah yang cukup kuat dan selama berfungsinya bangunan tidak mengalami penurunan yang melampaui batas.5. (2) Persyaratan Teknis. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. tata cara. 2) (e) Pedoman Spesifik Untuk Tiap Jenis Konstruksi Selain pedoman yang spesifik untuk masing-masing jenis konstruksi. SNI 03-1963-1990 atau edisi terbaru. Tata cara perencanaan dan perancangan bangunan radiologi di rumah sakit. 2) 3) 4) 5) 6) 7) 3. antara lain: 1) SNI 03-1735-2000 atau edisi terbaru. Sekretariat Jenderal. SNI 03–2395-1991 atau edisi terbaru. Tata cara perencanaan struktur bangunan untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan rumah dan gedung. Perencanaan konstruksi dengan memperhatikan standar teknis padanan untuk spesifikasi teknis. SNI 03–2394-1991 atau edisi terbaru. Pusat Sarana. standar teknis lainnya yang terkait dalam perencanaan suatu bangunan yang harus dipenuhi. Tata cara pencegahan rayap pada pembuatan bangunan rumah dan gedung. disesuaikan dengan kondisi tanah di lokasi didirikannya rumah sakit.

PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C

2)

Perhitungan daya dukung dan penurunan pondasi dilakukan sesuai teori mekanika tanah yang baku dan lazim dalam praktek, berdasarkan parameter tanah yang ditemukan dari penyelidikan tanah dengan memperhatikan nilai tipikal dan korelasi tipikal dengan parameter tanah yang lain. Pelaksanaan pondasi langsung tidak boleh menyimpang dari rencana dan spesifikasi teknik yang berlaku atau ditentukan oleh perencana ahli yang memiiki sertifikasi sesuai. Pondasi langsung dapat dibuat dari pasangan batu atau konstruksi beton bertulang.

3)

4) (b)

Pondasi Dalam 1) 2) Dalam hal penggunaan tiang pancang beton bertulang harus mengacu pedoman teknis dan standar yang berlaku. Dalam hal lokasi pemasangan tiang pancang terletak di daerah tepi laut yang dapat mengakibatkan korosif harus memperhatikan pengamanan baja terhadap korosi memenuhi pedoman teknis dan standar yang berlaku. Dalam hal perencanaan atau metode pelaksanaan menggunakan pondasi yang belum diatur dalam SNI dan/atau mempunyai paten dengan metode konstruksi yang belum dikenal, harus mempunyai sertifikat yang dikeluarkan instansi yang berwenang. Dalam hal perhitungan struktur menggunakan perangkat lunak, harus menggunakan perangkat lunak yang diakui oleh asosiasi terkait) Pondasi dalam pada umumnya digunakan dalam hal lapisan tanah dengan daya dukung yang cukup terletak jauh di bawah permukaan tanah, sehingga penggunaan pondasi langsung dapat menyebabkan penurunan yang berlebihan atau ketidakstabilan konstruksi. Perhitungan daya dukung dan penurunan pondasi dilakukan sesuai teori mekanika tanah yang baku dan lazim dalam praktek, berdasarkan parameter tanah yang ditemukan dari penyelidikan tanah dengan memperhatikan nilai tipikal dan korelasi tipikal dengan parameter tanah yang lain. Umumnya daya dukung rencana pondasi dalam harus diverifikasi dengan percobaan pembebanan, kecuali jika jumlah pondasi dalam direncanakan dengan faktor keamanan yang jauh lebih besar dari faktor keamanan yang lazim. Percobaan pembebanan pada pondasi dalam harus dilakukan dengan berdasarkan tata cara yang lazim dan hasilnya harus dievaluasi oleh perencana ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. Jumlah percobaan pembebanan pada pondasi dalam adalah 1% dari jumlah titik pondasi yang akan dilaksanakan dengan penentuan titik secara random, kecuali ditentukan lain oleh perencana ahli serta disetujui oleh instansi yang bersangkutan.

3)

4)

5)

6)

7)

8)

9)

Pusat Sarana, Prasarana dan Peralatan Kesehatan, Sekretariat Jenderal, DEPKES-RI

19

PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C

(c)

Keselamatan Struktur 1) Untuk menentukan tingkat keandalan struktur bangunan, harus dilakukan pemeriksaan keandalan bangunan secara berkala sesuai dengan ketentuan dalam Pedoman Teknis Tata Cara Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung. Perbaikan atau perkuatan struktur bangunan harus segera dilakukan sesuai rekomendasi hasil pemeriksaan keandalan bangunan rumah salikit, sehingga rumah sakit selalu memenuhi persyaratan keselamatan struktur. Pemeriksaan keandalan bangunan rumah sakit dilaksanakan secara berkala sesuai klasifikasi bangunan, dan harus dilakukan atau didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai.

2)

3)

(d)

Keruntuhan Struktur Untuk mencegah terjadinya keruntuhan struktur yang tidak diharapkan, pemeriksaan keandalan bangunan harus dilakukan secara berkala sesuai dengan pedoman/petunjuk teknis yang berlaku.

(e)

Persyaratan Bahan 1) Bahan struktur yang digunakan harus sudah memenuhi semua persyaratan keamanan, termasuk keselamatan terhadap lingkungan dan pengguna bangunan, serta sesuai pedoman teknis atau standar teknis yang berlaku. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum mempunyai SNI, dapat digunakan standar baku dan pedoman teknis yang diberlakukan oleh instansi yang berwenang. Bahan yang dibuat atau dicampurkan di lapangan, harus diproses sesuai dengan standar tata cara yang baku untuk keperluan yang dimaksud. Bahan bangunan prefabrikasi harus dirancang sehingga memiliki sistem hubungan yang baik dan mampu mengembangkan kekuatan bahan-bahan yang dihubungkan, serta mampu bertahan terhadap gaya angkat pada saat pemasangan/pelaksanaan.

2)

3)

4)

3.6.
3.6.1

Pintu.
Umum. Pintu adalah bagian dari suatu tapak, bangunan atau ruang yang merupakan tempat untuk masuk dan ke luar dan pada umumnnya dilengkapi dengan penutup (daun pintu).

3.6.2

Persyaratan. (1) Pintu ke luar/masuk utama memiliki lebar bukaan minimal 120 cm atau dapat dilalui brankar pasien, dan pintu-pintu yang tidak menjadi akses pasien tirah baring memiliki lebar bukaan minimal 90 cm. Di daerah sekitar pintu masuk sedapat mungkin dihindari adanya ramp atau perbedaan ketinggian lantai.

(2)

Pusat Sarana, Prasarana dan Peralatan Kesehatan, Sekretariat Jenderal, DEPKES-RI

20

PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C

(3)

Pintu Darurat    Setiap bangunan RS yang bertingkat lebih dari 3 lantai harus dilengkapi dengan pintu darurat. Lebar pintu darurat minimal 100 cm membuka kearah ruang tangga penyelamatan (darurat) kecuali pada lantai dasar membuka ke arah luar (halaman). Jarak antar pintu darurat dalam satu blok bangunan gedung maksimal 25 m dari segala arah.

(4)

Pintu khusus untuk kamar mandi di rawat inap dan pintu toilet untuk aksesibel, harus terbuka ke luar (lihat gambar 3.9.1), dan lebar daun pintu minimal 85 cm.

Gambar 3.6.1 - Pintu kamar mandi pada ruang rawat inap harus terbuka ke luar

3.7.
3.7.1

Toilet (Kamar kecil).
Umum. Fasilitas sanitasi yang aksesibel untuk semua orang (tanpa terkecuali penyandang cacat, orang tua dan ibu-ibu hamil) pada bangunan atau fasilitas umum lainnya

3.7.2

Persyaratan. (1) Toilet umum. (a) (b) (c) (d) (e) Toilet atau kamar kecil umum harus memiliki ruang gerak yang cukup untuk masuk dan keluar oleh pengguna. Ketinggian tempat duduk kloset harus sesuai dengan ketinggian pengguna ( 36 ~ 38 cm). Bahan dan penyelesaian lantai harus tidak licin. Pintu harus mudah dibuka dan ditutup. Kunci-kunci toilet atau grendel dipilih sedemikian sehingga bisa dibuka dari luar jika terjadi kondisi darurat

Pusat Sarana, Prasarana dan Peralatan Kesehatan, Sekretariat Jenderal, DEPKES-RI

21

Letak kertas tissu. Pusat Sarana. (b) (c) (d) (e) (f) (g) (h) (j).PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C (2) Toilet untuk aksesibilitas. air. Toilet atau kamar kecil umum harus memiliki ruang gerak yang cukup untuk masuk dan keluar pengguna kursi roda. Kunci-kunci toilet atau grendel dipilih sedemikian sehingga bisa dibuka dari luar jika terjadi kondisi darurat. Pada tempat-tempat yang mudah dicapai. Ketinggian tempat duduk kloset harus sesuai dengan ketinggian pengguna kursi roda sekitar (45 ~ 50 cm) Toilet atau kamar kecil umum harus dilengkapi dengan pegangan rambat (handrail) yang memiliki posisi dan ketinggian disesuaikan dengan pengguna kursi roda dan penyandang cacat yang lain. dianjurkan untuk menyediakan tombol bunyi darurat (emergency sound button) bila sewaktu-waktu terjadi sesuatu yang tidak diharapkan. Pegangan disarankan memiliki bentuk siku-siku mengarah ke atas untuk membantu pergerakan pengguna kursi roda. DEPKES-RI 22 . kran air atau pancuran (shower) dan perlengkapan-perlengkapan seperti tempat sabun dan pengering tangan harus dipasang sedemikian hingga mudah digunakan oleh orang yang memiliki keterbatasan keterbatasan fisik dan bisa dijangkau pengguna kursi roda.Ruang gerak dalam Toilet untuk Aksesibel. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. seperti pada daerah pintu masuk. Gambar 3. Sekretariat Jenderal.7. Pintu harus mudah dibuka dan ditutup untuk memudahkan pengguna kursi roda. (a) Toilet atau kamar kecil umum yang aksesibel harus dilengkapi dengan tampilan rambu/simbol "penyandang cacat" pada bagian luarnya. Bahan dan penyelesaian lantai harus tidak licin.2 .

Kompartemenisasi dan konstruksi pemisah untuk membatasi kobaran api yang potensial. berbasis air.2 Sistem Proteksi Aktif Sistem proteksi aktif adalah peralatan deteksi dan pemadam yang dipasang tetap atau tidak tetap. 4. dan/atau jumlah dan kondisi penghuni dalam rumah sakit. agar dapat: (a) melindungi penghuni yang berada di suatu bagian bangunan terhadap dampak kebakaran yang terjadi ditempat lain di dalam bangunan. luas per lantai. geometri ruang.1.1. Sekretariat Jenderal. klasifikasi hunian. serta jarak sambungan selang dari sumber pasokan air. perambatan api dan asap. jumlah aliran yang dipersyaratkan dan sisa tekanan. sistem sarana jalan ke luar. Pusat Sarana. menyediakan jalan masuk bagi petugas pemadam kebakaran (b) (c) (3) Proteksi Bukaan Seluruh bukaan harus dilindungi. (2) Hidran Halaman Hidran halaman diperlukan untuk pemadaman api dari luar bangunan gedung. dan lubang utilitas harus diberi penyetop api (fire stop) untuk mencegah merambatnya api serta menjamin pemisahan dan kompartemenisasi bangunan. bahan bangunan terpasang. bahan kimia atau gas. (1) (2) Rumah sakit harus mampu secara struktural stabil selama kebakaran. Sambungan slang ke hidran halaman harus memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh instansi kebakaran setempat. mengendalikan kobaran api agar tidak menjalar ke bangunan lain yang berdekatan. (3) Sistem Springkler Otomatis.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C BAGIAN – IV PERSYARATAN TEKNIS PRASARANA RUMAH SAKIT 4. yang digunakan untuk mendeteksi dan memadamkan kebakaran pada bangunan rumah sakit. Penerapan sistem proteksi pasif didasarkan pada fungsi/klasifikasi resiko kebakaran. DEPKES-RI 23 . Prasarana dan Peralatan Kesehatan.1 4. (1) Pipa tegak dan slang Kebakaran Sistem pipa tegak ditentukan oleh ketinggian gedung.1 Sistem Proteksi Kebakaran Sistem Proteksi Pasif Setiap bangunan rumah sakit harus mempunyai sistem proteksi pasif terhadap bahaya kebakaran yang berbasis pada desain atau pengaturan terhadap komponen arsitektur dan struktur rumah sakit sehingga dapat melindungi penghuni dan benda dari kerusakan fisik saat terjadi kebakaran.

dan dipasang di koridor. Penggunaan instalasi tata suara pada waktu keadaan darurat dimungkinkan asal memenuhi pedoman dan standar teknis yang berlaku. Bila suatu eksit tidak dapat terlihat secara langsung dengan jelas oleh pengunjung atau pengguna bangunan. jalan menuju ruang besar (hal). baik secara otomatis maupun manual. maka harus dipasang tanda penunjuk dengan tanda panah menunjukkan arah. Pusat Sarana.2 Sistem Komunikasi Dalam Rumah sakit Persyaratan komunikasi dalam rumah sakit dimaksudkan sebagai penyediaan sistem komunikasi baik untuk keperluan internal bangunan maupun untuk hubungan ke luar. DEPKES-RI 24 . (4) Pemadam Api Ringan (PAR) Alat pemadam api ringan kimia (APAR) harus ditujukan untuk menyediakan sarana bagi pemadaman api pada tahap awal. sistem voice evacuation. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Sistem springkler otomatis harus dirancang untuk memadamkan kebakaran atau sekurang-kurangnya mempu mempertahankan kebakaran untuk tetap. lobi dan semacamnya yang memberikan indikasi penunjukkan arah ke eksit yang disyaratkan. misalnya tidak berfungsinya pencahayaan normal dari PLN atau tidak dapat beroperasinya dengan segera daya siaga dari diesel generator. tidak berkembang. untuk sekurang-kurangnya 30 menit sejak kepada springkler pecah. pada saat terjadi kebakaran dan/atau kondisi darurat lainnya. (8) Tanda Arah. Ini dimaksudkan agar penghuni bangunan memperoleh informasi panduan yang tepat dan jelas. (9) Sistem Peringatan Bahaya Sistem peringatan bahaya dapat juga difungsikan sebagai sistem penguat suara (public address). Sistem pemadaman khusus yang dimaksud adalah sistem pemadaman bukan portable (jinjing) dan beroperasi secara otomatis untuk perlindungan dalam ruang-ruang dan atau penggunaan khusus. diperlukan guna memberikan panduan kepada penghuni dan tamu sebagai tindakan evakuasi atau penyelamatan dalam keadaan darurat. Termasuk antara lain: sistem telepon. Sekretariat Jenderal. (6) Sistem Deteksi & Alarm Kebakaran Sistem deteksi dan alarm kebakaran berfungsi untuk mendeteksi secara dini terjadinya kebakaran. dan sistem panggil perawat. (7) Sistem Pencahayaan Darurat Pencahayaan darurat di dalam rumah sakit diperlukan khususmya pada keadaan darurat. Konstruksi APAR dapat dari jenis portabel (jinjing) atau beroda. (5) Sistem Pemadam Kebakaran Khusus. Sistem pemadam khusus meliputi sistem gas dan sistem busa. sistem tata suara. 4.

Secara berkala dilakukan pengukuran/pengujian terhadap EMC (Electro Magnetic Campatibility). (d) Ruang batere sistem telepon harus bersih. penempatannya harus mudah diamati. serta direncanakan dan dilaksanakan berdasarkan standar. 2) Tidak boleh digunakan cat dinding yang mudah mengelupas. dipelihara. kedap debu. aman dan mudah dikerjakan. Ruang PABX/TRO sistem telepon harus memenuhi persyaratan: 1) Ruang yang bersih. (3) Persyaratan Teknis Instalasi Tata Suara (a) Setiap bangunan rumah sakit dengan ketinggian 4 lantai atau 14 m keatas. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.80 m dan harus diamankan agar tidak menjadi jalan air masuk ke rumah sakit pada saat hujan dll. mempunyai dinding dan lantai tahan asam.50 m x 0. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum mempunyai SNI. (a) Sistem instalasi komunikasi telepon dan sistem tata komukasi gedung. Apabila hasil pengukuran terhadap EMC melampaui ambang batas yang ditentukan. minimal berjarak 0. terang. maka langka penanggulangan dan pengamanan harus dilakukan. mengganggu dan merugikan lingkungan dan bagian bangunan serta sistem instalasi lainnya. normalisasi teknik dan peraturan yang berlaku. 2) Ukuran lubang orang (manhole) yang melayani saluran masuk ke dalam gedung untuk instalasi telepon minimal berukuran 1. (b) (c) Penempatan kabel telepon yang sejajar dengan kabel listrik. dapat digunakan standar baku dan pedoman teknis yang diberlakukan oleh instansi yang berwenang (b) (c) (d) (2) Persyaratan Teknis Instalasi Telepon.10 m atau sesuai ketentuan yang berlaku. DEPKES-RI 25 . Peralatan dan instalasi sistem komunikasi harus tidak memberi dampak. serta memenuhi persyaratan untuk tempat peralatan. tidak ada genangan air. terang. 3) Tersedia ruangan untuk petugas sentral dan operator telepon.1 Sistem Telepon dan Tata Suara. (1) Umum. sirkulasi udara cukup dan udara buangnya harus dibuang ke udara terbuka dan tidak ke ruang publik. harus dipasang sistem tata suara yang dapat digunakan untuk menyampaikan pengumuman dan instruksi apabila terjadi kebakaran atau keadaan darurat lainnya. dan lain-lain. Sekretariat Jenderal.2. dioperasikan. serta tidak boleh kena sinar matahari langsung.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 4. Pusat Sarana. sirkulasi udaranya cukup dan tidak boleh kena sinar matahari langsung. (a) Saluran masuk sistem telepon harus memenuhi persyaratan : 1) Tempat pemberhentian ujung kabel harus terang. tidak membahayakan. 3) Diupayakan dekat dengan kabel catu dari kantor telepon dan dekat dengan jalan besar. dan harus diamankan terhadap gangguan seperti interferensi gelombang elektro magnetik.

(c) (d) (e) 4.2. tentang Telekomunikasi. Pusat Sarana. dan dilindungin terhadap bahaya kebakaran. tentang Telekomunikasi Indonesia. dan memberikan sinyal pada kejadian darurat pasien. Kamar. 3) perlengkapan yang ada pada panel kontrol SPP sebagai berikut : a) mempunyai mikrofon. 32 tahun 1999. Sistem panggil perawat bertujuan menjadi alat komunikasi antara perawat dan pasien dalam bentuk visual dan audible (suara). Panel kontrol SPP harus : 1) jenis audio dan visual. Mengangkat handset akan mematikan mikrofon/speaker. maka sistem telepon darurat tetap dapat bekerja. Panel Kontrol SPP. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. DEPKES-RI 26 . Tempat tidur. b) Tombol penunjuk atau layar sentuh dengan bacaan digital secara visual memberitahu lokasi panggilan dan menempatkannya dalam sistem. meliputi: (i) (ii) (iii) (iv) Nomor ruang. Handset dilengkapi kabel dengan panjang 910 mm (3 ft). 2) penempatannya diatas meja. 52/2000. sehingga apabila sistem tata suara umum rusak. 2) PP No.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C (b) Sistem peralatan komunikasi darurat sebagaimana dimaksud pada butir 1) di atas harus menggunakan sistem khusus.2 Sistem Panggil Perawat (Nurse Call) (1) Umum (1) Peralatan sistem panggil perawat dimaksudkan untuk memberikan pelayanan kepada pasien yang memerlukan bantuan perawat. Kabel instalasi komunikasi darurat harus terpisah dari instalasi lainnya. Harus dilengkapi dengan sumber/pasokan daya listrik untuk kondisi normal maupun pada kondisi daya listrik utama mengalami gangguan. baik dalam kondisi rutin atau darurat. Handset harus mampu menghubungkan dua arah komunikasi antara perawat dan pos pemanggil yang dipilih. Prioritas panggilan. (2) (2) Persyaratan Teknis (1) a) Peralatan Sistem Panggil Perawat (SPP). atau terdiri dari kabel tahan api. Sekretariat Jenderal. dengan kapasitas dan dapat melayani dalam waktu yang cukup sesuai ketentuan yang berlaku. speaker dan handset. Persyaratan sistem komunikasi dalam gedung harus memenuhi: 1) UU No.

Sinyal audible untuk panggilan yang datang dan tidak terjawab harus secara otomatis disambungkan kembali ketika panel kontrol SPP dikembalikan ke modus siaga. atau serupa membolehkan perawat memilih pos panggilan dan melakukan komunikasi suara dua arah. Apabila module mengikuti perawat ditempatkan di bedside ruang rawat inap pasien diaktifkan. g) Fungsi prioritas panggilan yang datang. i) Kemampuan menghasilkan sinyal audible dan visual untuk menandai adanya panggilan yang datang dari pos yang terhubung : (i) dapat menghentikan atau melemahkan sinyal audible melalui rangkaian rangkaian mematikan/melemahkan saat panel kontrol sedang digunakan untuk menjawab atau menempatkan suatu panggilan. Pusat Sarana. (ii) Kemampuan berhubungan minimum 10 pos beside secara serempak. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. semua panggilan yang ditempatkan dalam sistem secara visual atau audible diteruskan ke bedside yang dikunjungi. Sinyal visual atau audible akan menandai adanya suatu panggilan rutin atau darurat dan akan menerus sampai panggilan itu dibatalkan. Sinyal visual ini akan mati dan panggilan yang tersimpan terhapus dari memory ketika panggilan itu dibatalkan di pos setempat. (iv) Tampilan visual untuk menunjukkan lokasi pos panggilan harus muncul pada panel kontrol SPP. Panggilan darurat harus dibatalkan hanya di pos darurat setempat. (ii) Sinyal visual untuk panggilan yang datang harus tetap ditampilkan pada setiap saat sampai panggilan terjawab atau dibatalkan pada pos pemanggilan. DEPKES-RI 27 . Sekretariat Jenderal. e) Modul mengikuti perawat. (iii) Sinyal audible dan sinyal visual untuk panggilan rutin dan darurat harus jelas berbeda. yaitu : (i) Kemampuan memonitor bedside.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C c) Panggilan dari pos darurat yang ditempatkan di dalam toilet atau kamar mandi. f) Berfungsi menjawab secara otomatis atau selektif. Dapat menyimpan sementara suatu panggilan yang ditempatkan dan menghasilkan sinyal visual berupa nyala lampu dome di koridor yang dihubungkan dengan bedside dengan cara mengaktifkan fungsi/sirkit pengingat. Tombol sentuh juga harus memberikan program status prioritas dan kemampuan fungsi lain yang ada. j) Tombol sentuh. d) Mampu menampilkan sedikitnya 4 (empat) panggilan yang datang. h) Fungsi pengingat (memory).

DEPKES-RI 28 . 2) Pusat Sarana. (c) 1) Pos darurat. c) tombol reser d) kotak kontrol untuk cordset. Suatu UPS harus disediakan di lokasi panel kontrol SPP untuk menyediakan daya darurat. m) Sedikitnya ditambahkan 10% untuk mengakomodasi tambahan pasien. Pos darurat ini harus dipasang kurang lebih 50 cm (18 inci) dari kepala pancurannya (shower head) dan/atau 180 cm (72 inci) di atas lantai jadi. Kabel tarikan yang gantung yang terbawah harus dipasang 15 cm ( 6 inci) dari lantai jadi. (iv) Kemampuan untuk menjawab dengan cara : k) Dengan mengangkat handset atau mengaktifkan satu fungsi panggilan untuk menjawab. harus mati jika handset Kabinet Bedside (. n) Panel Kontrol SPP yang menggunakan daya listrik arus bolak balik haruslah disambungkan ke panel daya listrik darurat arus bolak balik.4 kg.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C (iii) Mampu menerima panggilan dari 10 pos panggilan terkait secara serempak. a) microphone/speaker. Pos darurat harus disediakan dengan : a) kabel tarikan yang diuji tarik dengan gaya sebesar 5 kg ( 10 lbs) dan pendant dihubungkan ke gerakan sakelar ON/OFF pada pos darurat. b) lampu pos pemanggil.Beside 1) Setiap bedside harus menyediakan : 3) Panggilan dari bedside harus menghasilkan sinyal panggilan visual rutin pada lampu dome di koridor. dan pos darurat didalam setiap panel kontrol SPP. Sekretariat Jenderal. c) Pada pos darurat dilengkapi fungsi "reset/cancel". Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Setiap pos darurat yang di area pancuran atau toilet harus kedap air. atau l) Dengan memilih jawaban dari setiap pos panggilan yang ditempatkan di dalam urutan. berikutnya akan secara otomatis mengizinkan perawat untuk berkomunikasi dengan pos berikutnya di dalam urutan prioritas panggilan. Pos darurat dengan kabel tarik harus disediakan dalam setiap kloset dan setiap pancuran (shower) kamar mandi. (b) Peralatan Komunikasi pada Communication Equipment). 2) Setiap microphone/speaker disambungkan ke bedside. b) Gaya tarikan untuk mengaktifkan sakelar minimum 0.

(f) Cordset. 2) Cordset dengan aksi tombol tekan. Sekretariat Jenderal. b) berisi tombol tekan untuk panggilan pada ujung cordsetnya. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. b) tidak korosif. DEPKES-RI 29 . c) Sinyal visual untuk panggilan rutin dan panggilan darurat harus dibedakan. Lampu dome harus berisi lampu yang cukup membedakan : a) panggilan rutin dari bedside. e) tidak berubah warna. 2) Pusat Sarana. harus : a) panjangnya 1. ditempel atau ditempatkan secara permanen dengan plat kalimat "Panggilan Darurat Perawat". (e) Armatur Lampu Dome dengan isi dua lampu di Koridor. diberi label pada setiap rel dan disetujui oleh instansi terkait. panggilan darurat harus secara otomatis memberitahukan panel kontrol SPP. (g) Sistem distribusi. jenis kabel fleksibel. Setiap kabel yang digunakan dalam SPP harus asli dan bersertifikat. atau rusak karena penggunaan zat pembersih. d) gaya tarikan untuk mengaktifkan cordset sebesar 0. (d) 1) Armatur Lampu Dome di Koridor. Setiap cordset harus disediakan : a) sambungan ke kotak kontak bedside cordset. 1) Umum. c) apabila cordset dilepas. tidak berubah warna atau berubah bentuk karena panas. atau alat lain disisipkan yang secara teknis dapat mematikan fitur panggilan otomatis. Tutup lampu harus tembus cahaya.5 kg (1 lb). Dua lampu dalam satu armatur lampu dome berisi minimum dua lampu untuk mengidentifikasikan panggilan setempat dalam sistem. dipasang pada ketinggian 2 meter dari lantai jadi. e) Pada pos darurat . Sinyal audible dan visual harus tetap diaktifkan sampai cordset disisipkan kembali.4 meter. b) panggilan darurat dari pos perawat kamar mandi atau toilet.8 meter atau 2. Setiap cordset. Tinggi huruf minimal 4 mm (1/8 inci).PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C d) Lampu darurat merah dengan nyala mati-hidup secara bergantian dengan interval waktu 1 detik ditempatkan pada bagian luar dari kamar mandi atau toilet. Sinyal visual untuk panggilan rutin dan panggilan darurat harus jelas perbedaannya.

UPS) harus dipasang dalam kabinet/lemari terpisah. isolasi. dengan kerugian gesek yang kecil. tali pengikat. klem dan sebaginya yang dibutuhkan untuk melengkapi kerapihan instalasi. (b) Penyimpanan. plat penutup dan perangkat keras lain yang diperlukan untuk melengkapi kerapihan dan keamanan. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. isolasi tinggi dan dengan perlambatan minimum dari sistem poling atau subcarrier frequency. Perlengkapan harus termasuk konduit. satu rak kabel atau jalur yang sama. trap dan pad yang sesuai untuk meminimalkan interferensi dan untuk balansing amplifier dan sitem distribusi. 1) Umum. DEPKES-RI 30 . penggantung. dalam arah yang ditentukan. (3) Label. terlindung terhadap kerusakan. dan memenuhi SNI 04-0225-2000. c) Pasokan daya listrik darurat (contoh : batere. Peralatan SPP harus disimpan dengan benar sebelum dipasang. Item yang digunakan untuk balansing dan meminimalkan interferensi harus mampu menyalurkan bunyi. model peralatan dan nomor erie identifikasi. (2). e) Semua peralatan harus dihubungkan sesuai spesifikasi untuk memastikan terminasi. dan logo standar. Pemasangan peralatan dan instalasi sistem panggil perawat. 1) Kabel. (a) Pengiriman. a) SPP dan sistem alarm kebakaran tidak boleh diletakkan dalam satu konduit. Pusat Sarana. rak kabel. kotak penyambung. duct (saluran) kabel. Kabinet/lemari ini harus disediakan dekat dengan panel kontrol SPP.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C (h) Perlengkapan Instalasi. kontraktor harus meminta izin pada pengawas untuk melakukan pemasangan instalasi SPP. d) Apabila bedside unit buatan pabrik yang digunakan. b) Kontraktor harus menyediakan filter. 2) Konduit. roset. (c) Pemasangan. Kabel harus termasuk semua penyambung. jelas terlabel nama pengirim. tentang Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL 2000). Setiap komponen dari sub sistem harus diberi label. dan impedansinya sesuai dan terpasang dengan benar. sinyal data dan kontrol dalam kecepatan dan frekuensi yang dipilih. Pengiriman bahan-bahan ke lokasi harus dalam kontainer asli tertutup. Sekretariat Jenderal. Pengawas akan meneliti peralatan SPP pada saat itu dan akan menolak terhadap item yang tidak memenuhi syarat.

Jalur kabel harus bebas tersambung antara sambungan konduit dan kotak interface dan lokasi peralatan. Isi konduit harus tidak melebihi 40%. saluran (duct) kabel dan rak kabel. Ukuran diameter minimum konduit 25 mm ( 1 inci) untuk distribusi primer sinyal dan 19 mm ( 3/4 inci) untuk sambungan jauh (contoh lampu dome. selubung. Semua kabel harus dipasang dalam konduit terpisah.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C f) Pemasangan semua peralatan untuk diidentifikasi sesuai dengan gambar. Selubung kabel yang tergores tidak dapat diterima. Rak kabel sepenuhnya harus tertutup. i) Terminasi resistor harus digunakan untuk terminasi semua cabang yang tidak digunakan. tombol darurat. atau rak. Radius bengkokan harus tepat. Sekretariat Jenderal. setiap lokasi g) Semua saluran utama. 2) Saluran (duct) Konduit dan Sinyal. kotak tarikan atau kotak persimpangan harus menggunakan plastik atau bahan nylon grommeting. Tidak diperbolehkan menarik kabel melalui kotak. dan sebaginya). h) Semua jalur vertikal dan horizontal harus diterminasi sehingga memudahkan perluasan sistem. fiting atau selubung jika terjadi perubahan ukuran konduit. Digunakan tutup kotak persimpangan dengan ukuran minimum 15 cm x 15 cm x 10 cm (6 inci x 6 inci x 4 inci) diletakkan pada saluran (duct) sinyal. saluran (duct) kabel dan/atau rak kabel. a) Konduit. Pada sudut-sudut yang tajam harus diberi proteksi. (i) (ii) Harus dapat menggunakan saluran (duct) sinyal. (i) Instalasi harus dipasang dengan cara yang benar. harus biberi partisi. (iii) (iv) (v) (vi) Pusat Sarana. Semua persimpangan kabel harus mudah dijangkau. distribusi dan interkoneksi harus diterminasi pada kondisi dapat memfasilitasi fitur perluasan sistem. Campuran kabel SPP dan kabel alarm kebakaran tidak dibolehkan. (ii) (iii) (iv) b) Saluran (duct) sinyal. Saluran (duct) sinyal dan/atau saluran (duct) kabel harus berukuran minimal 10 cm x 10 cm ( 4 inci x 4 inci) yang dapat dilepas tutup atas atau sampingnya. Ujung tutup kabel yang keluar melalu lubang rangka dari lemari/kabinet. apabila rak kabel juga digunakan untuk sirkit elektronik lainnya. DEPKES-RI 31 . Prasarana dan Peralatan Kesehatan.

b) Jalannya kabel antara peralatan SPP ke lemari/kabinet. a) Kotak outlet. Apabila pintu konsol. saluran (duct) kabel atau rak harus dibentuk rapih. Kabel harus mampu menahan kondisi lingkungan yang merugikan tanpa perubahan bentuk. d) Penggunaan kabel yang dipilin tidak dibolehkan. 4) Kotak outlet. kotak interface. f) Kabel distribusi harus dipasang dan dikencangkan tanpa menyebabkn bengkokan yang tajam dari kabel terhadap ujung yang tajam. Kabel yang menggantung tidak diperkenankan. saluran (duct) sinyal atau rak kabel harus dipasang dengan konduit yang terpasang pada struktur bangunan. kotak distribusi. kabinet/lemari atau rak. dan harus tidak berubah posisinya dalam kelompok. g) Kabel harus diberi label dengan tanda permanen pada terminal dari elektronik dan peralatan pasif dan pada setiap persimpangan dengan huruf pada diagram rekaman. Pemasangan kabel harus lurus. Sekretariat Jenderal. c) Semua kabel harus terinsulasi untuk mencegah induksi sinyal atau arus yang dibawa oleh konduktor dan 100% terlindung. dibuka atau ditutup. saluran (duct) kabel. rak . Kotak sinyal. Kabel harus dikencangkan dengan perangkat keras yang tidak akan mengganggu. kotak daya. kotak persimpangan harus disediakan seperti dipersyaratkan oleh rancangan sistem. a) Kabel harus dipasang dengan cara yang praktis seperti pemasangan kabel untuk proteksi kebakaran atau sistem darurat yang teridentifikasi. disesuaikan dalam hubungan horizontal atau vertikal ke peralatan. diikat pada jarak antara 60 cm sampai 90 cm (24 inci sampai 36 inci). tidak mengganggu pemasangan kabel. Kabel kontrool dan kabel sinyal boleh dijadikan satu kelompok. kotak sambungan. h) Pengujian lengkap kabel setelah semua instalasi dan penggantian kabel yang rusak. Kabel harus dibentuk rapih dan posisinya harus tidak berubah dalam kelompok. Pusat Sarana. e) Kabel harus dikelompokkan sesuai pelayanannya. Kabel yang ditempatkan di saluran (duct) sinyal.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 3) Kabel distribusi sinyal dari sistem. konduit. kotak belakang dan plat muka. Setiap penyambungan kabel harus menggunakan terminator. dibentuk dan dipasang dengan ikatan yang kuat. i) Polaritas input dan output sistem seperti direkomendasi pabrik. komponen atau terminator. DEPKES-RI 32 . Prasarana dan Peralatan Kesehatan. kontrol.

a) Umum. mengikuti ketentuan yang berlaku. Konektor dan jack yang muncul pada plat muka harus jelas dan ditandai permanen. dengan frekuensi 50 Hertz. (ii) Menggunakan konduit.4 Sistem Kelistrikan (1) Sistem tegangan rendah (TR) dalam gedung adalah 3 fase 220/380 Volt. 6) Daya listrik arus bolak balik. digunakan untuk kontrol sistem. Perlu disediakan sambungan pembumian yang terpisah dan terisolasi dari setiap pembumian kabinet/lemari peralatan ke sistem pembumian. 7) Pembumian.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C b) Kotak belakang. atau acuan pembumian. Sistem tegangan menengah (TM) dalam gedung adalah 20 KV atau kurang. Setiap konektor haru dirancang untuk ukuran kabel khusus yang digunakan dan dipasang dengan perkakas yang disetujui manufaktur. Plat muka harus dari jenis standar. 5) Konektor. Jangan mengikat kabel pembumian peralatan bersama-sama. 4. dengan frekuensi 50 Hertz. Sekretariat Jenderal. Suatu instalasi proteksi petir dapat melindungi semua bagian dari bangunan rumah sakit. 4. DEPKES-RI 33 . Semua peralatan yang dipasang harus dibumikan untuk mengurangi bahaya kejutan. b) Kabinet/lemari. salah satu panel daya atau kotak kontak outlet.1 Ohm. Pembumian yang umum menggunakan kabel tembaga solid berukuran #10 AWG harus digunakan pada seluruh kabinet/lemari peralatan dan dihubungkan ke sitem pembumian. Item ini dapat dipakai hanya untuk pelepasan internal statik yang dibangkitkan.3 Sistem Penangkal Petir. c) Plat muka (atau plat penutup). dan instalasi serta peralatan lainnya terhadap bahaya sambaran petir. Total tahanan pembumian maksimal harus 0. Kotak belakan harus disediakan langsung dari manufaktur seperti dipersyaratkan oleh rancangan sistem yang disetujui. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. termasuk manusia yang ada di dalamnya. (i) Jika tidak ada netral arus bolak balik. Kabel daya listrik arus bolak balik harus berjalan terpisah dengan kabel sinyal. saluran (duct) sinyal atau rak kabel sebagai sistem pembumian listrik tidak dibolehkan. Pusat Sarana.

Uninterruptable Power Supply) untuk melayani Kamar Operasi (. Ruang Perawatan Intensif Khusus Jantung (. b. b. (6) (7) Pusat Sarana. Sistem Penerangan Darurat (. (2) Instalasi listrik tegangan menengah tersebut antara lain : a. Genset dilengkapi sistem AMF dan ATS.2 Ohm. Persyaratan : a.Central Operation Theater). DEPKES-RI 34 . Harus tersedia Ruang UPS minimal 2 X 3 m2 (sesuai kebutuhan) terletak di Gedung COT. tersedia pada (3) (4) (5) Harus tersedia sumber listrik cadangan berupa diesel generator (Genset).life support medical equipment).grounding). Sistem kelistrikan RS Kelas C harus dilengkapi dengan transformator isolator dan kelengkapan monitoring sistem IT kelompok 2E minimal berkapasitas 5 KVA untuk titik-titik stop kontak yang mensuplai peralatanperalatan medis penting (.emergency lighting) harus ruang-ruang tertentu. d. Peralatan Transformator (kapasitas sesuai daya terpasang). dengan perhitungan 3 KVA per Tempat Tidur (TT). Harus tersedia peralatan UPS (. Kapasitas UPS setidaknya 30 KVA. Penyediaan bangunan gardu listrik rumah sakit (ukuran sesuai standar gardu PLN).grounding system) harus terpisah antara grounding panel gedung dan panel alat.ICU. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Nilai grounding peralatan tidak boleh kurang dari 0. ICCU dan diberi pendingin ruangan. Sistem Pembumian (.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Untuk Rumah Sakit yang memiliki kapasitas daya listrik tersambung dari PLN minimal 200 KVA disarankan agar sudah memiliki sistem jaringan listrik Tegangan Menengah 20 KV (jaringan listrik TM 20 KV). Peralatan pembantu dan sistem pengamanan (. Peralatan panel TM 20 KV dan aksesorisnya. Intensive Cardiac Care Unit). Sekretariat Jenderal. Ruang Perawatan Intensif (. sesuai pedoman bahwa Rumah Sakit Kelas C mempunyai Kapasitas daya listrik ± 300 KVA s/d 600 KVA.Intensive Care Unit). c. Genset harus disediakan 2 (dua) unit dengan kapasitas minimal 40% dari jumlah daya terpasang pada masing-masing unit.

(2) Persyaratan Teknis (a) Jika ventilasi alami tidak mungkin dilaksanakan.2 – Tabel Standar Suhu.5.5. (b) 2) 4. DEPKES-RI 35 .60 45 – 60 35 . dan Tekanan Udara Menurut Fungsi Ruang atau Unit.2000 atau edisi terbaru. Sistem Pengkondisian Udara (1) Umum. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Tata cara perancangan sistem ventilasi dan pengkondisian udara pada bangunan gedung. Bangunan rumah sakit harus mempunyai bukaan permanen.5. Tabel 4. mengikuti Persyaratan Teknis berikut: 1) SNI 03 – 6572 .60 35 . kisi-kisi pada pintu dan jendela dan/atau bukaan permanen yang dapat dibuka untuk kepentingan ventilasi alami. Ruang atau Unit Operasi Bersalin Pemulihan/perawatan Observasi bayi Perawatan bayi Perawatan premature ICU Jenazah/Otopsi Penginderaan medis Laboratorium Radiologi Sterilisasi Dapur Gawat Darurat Administrasi.60 45 – 60 35 . (a) Untuk kenyamanan termal dalam ruang di dalam bangunan rumah sakit harus mempertimbangkan temperatur dan kelembaban udara.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 4.HVAC) Sistem Penghawaan (Ventilasi) (1) Umum. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16. (a) (b) Setiap bangunan rumah sakit harus mempunyai ventilasi alami dan/atau ventilasi mekanik/buatan sesuai dengan fungsinya.60 35 . No.1 Sistem Penghawaan (Ventilasi) dan Pengkondisian Udara (. Persyaratan teknis sistem ventilasi. kebutuhan ventilasi.2000 atau edisi terbaru. maka diperlukan ventilasi mekanis seperti pada bangunan fasilitas tertentu yang memerlukan perlindungan dari udara luar dan pencemaran.60 Tekanan Positif Positif Seimbang Seimbang Seimbang Positif Positif Negative Seimbang Positif Seimbang Positif Seimbang Positif Seimbang Positif Pusat Sarana.5 4.60 35 . Sekretariat Jenderal.60 45 – 60 35 . SNI 03 – 6390 .2. pertemuan Ruang luka bakar Suhu (0C) 19 – 24 24 – 26 22 – 24 21 – 24 22 – 26 24 – 26 22 – 23 21 – 24 19 – 24 22 – 26 22 – 26 22 – 30 22 – 30 19 – 24 21 – 24 24 – 26 Kelembaban (%) 45 – 60 45 – 60 45 – 60 45 – 60 35 . Kelembaban. Konservasi energi sistem tata udara pada bangunan gedung.

volume ruang. letak geografis. Pencahayaan buatan harus direncanakan berdasarkan tingkat iluminasi yang dipersyaratkan sesuai fungsi ruang dalam rumah sakit dengan mempertimbangkan efisiensi. penghematan energi yang digunakan. pendidikan.saat tidur R. Setiap rumah sakit untuk memenuhi persyaratan sistem pencahayaan harus mempunyai pencahayaan alami dan/atau pencahayaan buatan/ mekanik. dan penggunaan bahan bangunan.000 300 – 500 75 – 100 minimal 60 Minimal 100 Warna cahaya sejuk atau sedang tanpa bayangan Warna cahaya sedang Intensitas Cahaya (lux) Keterangan Pusat Sarana. dan bangunan pelayanan umum harus mempunyai bukaan untuk pencahayaan alami.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C (b) Untuk mendapatkan tingkat temperatur dan kelembaban udara di dalam ruangan dapat dilakukan dengan alat pengkondisian udara yang mempertimbangkan : 1) fungsi bangunan rumah sakit/ruang. Pencahayaan alami harus optimal. DEPKES-RI 36 . (a) Rumah sakit tempat tinggal.6 Sistem Pencahayaan (1) Umum. Sekretariat Jenderal. (2) Persyaratan Teknis. 4. pelayanan kesehatan. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Operasi umum Meja operasi Anastesi. jumlah pengguna.000 – 20.6 – Tabel Indeks Pencahayaan Menurut Jenis Ruang atau Unit No. lab Sinar X Koridor 100 – 200 maks. orientasi bangunan. dan penempatannya tidak menimbulkan efek silau atau pantulan. Tata cara perancangan sistem ventilasi dan pengkondisian udara pada bangunan gedung. Untuk kenyamanan termal pada bangunan gedung harus memenuhi SNI 03-6572-2001 atau edisi terbaru.saat tidak tidur . pemulihan Endoscopy. dan prinsip-prinsip penghematan energi dan ramah lingkungan 2) 3) (2) Persyaratan Teknis. disesuaikan dengan fungsi rumah sakit dan fungsi masing-masing ruang di dalam rumah sakit. Pencahayaan di RS harus memenuhi standar kesehatan dalam melaksanakan pekerjaannya sesuai standar intensitas cahaya sebagai berikut : (b) (c) (d) Tabel 4. 1 2 3 4 5 6 7 Ruang atau Unit Ruang pasien . termasuk pencahayaan darurat sesuai dengan fungsinya. kemudahan pemeliharaan dan perawatan. 50 300 – 500 10. jenis peralatan.

(9) Kualitas air yang digunakan di ruang khusus.2 Pusat Sarana. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. (10) RS yang telah menggunakan air yang sudam diolah seperti dari PDAM.7. seperti ruang operasi. (7) Dalam rangka pengawasan kualitas air maka RS harus melakukan inspeksi terhadap sarana air minum dan air bersih minimal 1 (satu) tahun sekali. tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. penyiapan injeksi dan pengenceran dalam hemodialisis. DEPKES-RI 37 . (2) Tersedia air bersih minimal 500 lt/tempat tidur/hari.reservoir) bawah atau atas. titik sampel yaitu pada penampungan air (. (11) Ruang Farmasi dan Hemodialisis : yaitu terdiri dari air yang dimurnikan untuk penyiapan obat. (5) Distribusi air minum dan air bersih di setipa ruangan/kamar harus menggunakan jaringan perpipaan yang mengalir dengan tekanan positif. (8) Pemeriksaan kimia air minum dan atau air bersih dilakukan minimal 2 (dua) kali setahun (sekali pada musim kemarau dan sekali pada musim hujan). (13) Sistem Plambing air bersih/minum dan air buangan/kotor mengikuti persyaratan teknis sesuai SNI 03-6481-2000 atau edisi terbaru. Sekretariat Jenderal. (3) Air minum dan air bersih tersedia pada setiap tempat kegiatan yang membutuhkan secara berkesinambungan.7 4.reservoir) dan keran terjauh dari reservoir.1 Sistem Fasilitas Sanitasi Persyaratan Sanitasi Persyaratan Sanitasi Rumah Sakit dapat dilihat pada Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1204/MENKES/SK/X/2004. (12) Tersedia air bersih untuk keperluan pemadaman kebakaran dengan mengikuti ketentuan yang berlaku. atau dapat mengadakan pengolahan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Isolasi khusus penyakit Tetanus Ruang luka baker Minimal 100 Minimal 100 Minimal 200 Minimal 200 Minimal 200 Minimal 100 Minimal 100 0. 4.1 – 0.7. (4) Tersedia penampungan air (.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Tangga Administrasi/kantor Ruang alat/gudang Farmasi Dapur Ruang cuci Toilet R. Sistem Plambing 2000.5 100 – 200 Warna cahaya biru Malam hari 4. sumur bor dan sumber lain untuk keperluan operasi dapat melakukan pengolahan tambahan dengan cartridge filter dan dilengkapi dengan desinfeksi menggunakan ultra violet. sistem perpipaan dan kelengkapannya untuk distribusi ke daerah pelayanan. Persyaratan Air Bersih (1) Harus tersedia air bersih yang cukup dan memenuhi syarat kesehatan. (6) Penyediaan Fasilitas air panas dan uap terdiri atas Unit Boiler.

PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C

4.7.3

Sistem Pengolahan dan Pembuangan Limbah Persyaratan Pengolahan dan Pembuangan Limbah Rumah Sakit dalam bentuk padat, cair dan gas, baik limbah medis maupun non-medis dapat dilihat pada Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1204/MENKES/SK/X/2004, tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. Persyaratan Penyaluran Air Hujan (1) Umum Sistem penyaluran air hujan harus direncanakan dan dipasang dengan mempertimbangkan ketinggian permukaan air tanah, permeabilitas tanah, dan ketersediaan jaringan drainase lingkungan/kota. (2) Persyaratan Teknis. (a) (b) Setiap bangunan gedung dan pekarangannya harus dilengkapi dengan sistem penyaluran air hujan. Kecuali untuk daerah tertentu, air hujan harus diresapkan ke dalam tanah pekarangan dan/atau dialirkan ke sumur resapan sebelum dialirkan ke jaringan drainase lingkungan/kota sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pemanfaatan air hujan diperbolehkan dengan mengikuti ketentuan yang berlaku. Bila belum tersedia jaringan drainase kota ataupun sebab lain yang dapat diterima, maka penyaluran air hujan harus dilakukan dengan cara lain yang dibenarkan oleh instansi yang berwenang. Sistem penyaluran air hujan harus dipelihara untuk mencegah terjadinya endapan dan penyumbatan pada saluran. Pengolahan dan penyaluran air hujan mengikuti persyaratan teknis berikut: 1) 2) 3) SNI 03-2453-2002 atau edisi terbaru; Tata cara perencanaan sumur resapan air hujan untuk lahan pekarangan. SNI 03-2459-2002 atau edisi terbaru; Spesifikasi sumur resapan air hujan untuk lahan pekarangan. Tata cara perencanaan, pemasangan, dan pemeliharaan sistem penyaluran air hujan pada bangunan gedung.

4.7.4

(c) (d)

(e) (f)

4.8

Sistem Instalasi Gas Medik (1) Umum. Sistem gas medik dan vakum medik harus direncanakan dan dipasang dengan mempertimbangkan jenis dan tingkat bahayanya. (2) Persyaratan Teknis. (a) Persyaratan ini berlaku wajib untuk fasilitas pelayanan kesehatan di rumah sakit, rumah perawatan, fasilitas hiperbarik, klinik bersalin. dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Bila terdapat istilah gas medik atau vakum, ketentuan tersebut berlaku wajib bagi semua sistem perpipaan untuk oksigen, nitrous oksida, udara tekan medik, karbon dioksida, helium, nitrogen, vakum

(b)

Pusat Sarana, Prasarana dan Peralatan Kesehatan, Sekretariat Jenderal, DEPKES-RI

38

PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C

medik untuk pembedahan, pembuangan sisa gas anestesi, dan campuran dari gas-gas tersebut. Bila terdapat nama layanan gas khusus atau vakum, maka ketentuan tersebut hanya berlaku bagi gas tersebut. (c) Sistem yang sudah ada yang tidak sepenuhnya memenuhi ketentuan ini boleh tetap digunakan sepanjang pihak yang berwenang telah memastikan bahwa penggunaannya tidak membahayakan jiwa. Potensi bahaya kebakaran dan ledakan yang berkaitan dengan sistem perpipaan sentral gas medik dan sistem vakum medik harus dipertimbangkan dalam perancangan, pemasangan, pengujian, pengoperasian dan pemeliharaan sistem ini. Identifikasi dan pelabelan sistem pasokan terpusat harus jelas. Silinder/tabung dan kontainer yang boleh digunakan harus yang telah dibuat, diuji, dan dipelihara sesuai spesifikasi dan ketentuan dari pihak berwenang. Isi silinder/tabung harus diidentifikasi dengan suatu label atau cetakan yang ditempelkan yang menyebutkan isi atau pemberian warna pada silinder/tabung sesuai ketentuan yang berlaku. Sebelum digunakan harus dipastikan isi silinder/tabung atau kontainer dengan memperhatikan warna tabung, keterangan isi tabung yang diemboss pada badan tabung, label (bila ada). Label tidak boleh dirusak, diubah penyambung tidak boleh dimodifikasi. Pengoperasian sistem pasokan sentral. 1) Tidak dibenarkan menggunakan adaptor atau fiting konversi untuk menyesuaikan fiting khusus suatu gas ke fiting gas lainnya. Tidak dibenarkan merubah fiting/soket/adaptor yang telah sesuai dengan spesifikasi gas medik. Tidak dibenarkan penggunaan silinder tanpa warna dan penandaan yang disyaratkan. Hanya silinder gas medik dan perlengkapannya yang boleh disimpan dalam ruangan tempat sistem pasokan sentral atau silinder gas medik. Tidak dibenarkan menyimpan bahan mudah menyala, silinder berisi gas mudah menyala atau yang berisi cairan mudah menyala, di dalam ruang penyimpanan gas medik. Bila silinder terbungkus pada saat diterima, pembungkus tersebut harus dibuang sebelum disimpan. Tutup pelindung katup harus dipasang erat pada tempatnya bila silinder sedang tidak digunakan. atau dilepas, dan fiting

(d)

(e) (f)

(g)

(h)

(i) (j)

2) 3) 4)

5)

6) 7)

Pusat Sarana, Prasarana dan Peralatan Kesehatan, Sekretariat Jenderal, DEPKES-RI

39

PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C

(k)

Perancangan dan pelaksanaan. Lokasi untuk sistem pasokan sentral dan penyimpanan gas-gas medik harus memenuhi persyaratan berikut : 1) 2) 3) 4) Dibangun dengan akses ke luar dan masuk lokasi untuk memindahkan silinder, peralatan, dan sebagainya. Dijaga keamanannya dengan pintu atau gerbang yang dapat dikunci, atau diamankan dengan cara lain. Jika di luar ruangan/bangunan, harus dilindungi dengan dinding atau pagar dari bahan yang tidak dapat terbakar. Jika di dalam ruangan/bangunan, harus dibangun dengan menggunakan bahan interior yang tidak dapat terbakar/ sulit terbakar, sehingga semua dinding, lantai, langit-langit dan pintu sekurang-kurangnya mempunyai tingkat ketahanan api 1 jam. Dilengkapi lampu atau indikator pada bagian luar ruang penyimpanan yang menunjukkan kondisi kapasitas gas medis yang masih tersedia. Dilengkapi dengan rak, rantai, atau pengikat lainnya untuk mengamankan masing-masing silinder, baik yang terhubung maupun tidak terhubung, penuh atau kosong, agar tidak roboh. Dipasok dengan daya listrik yang memenuhi persyaratan sistem kelistrikan esensial. Apabila disediakan rak, lemari, dan penyangga, harus dibuat dari bahan tidak dapat terbakar atau bahan sulit terbakar.

5)

6)

7) 8) (l)

Standar dan pedoman teknis. 1) Untuk sistem gas medik pada bangunan gedung, harus dipenuhi SNI 03-7011-2004, tentang ; Keselamatan pada bangunan fasilitas pelayanan kesehatan, atau edisi terakhir. Dalam hal persyaratan diatas belum ada SNI-nya, dipakai Standar baku dan ketentuan teknis yang berlaku.

2)

4.9

Sistem Pengendalian Terhadap Kebisingan dan Getaran (1) Kenyamanan terhadap Kebisingan (a) Kenyamanan terhadap kebisingan adalah keadaan dengan tingkat kebisingan yang tidak menimbulkan gangguan pendengaran, kesehatan, dan kenyamanan bagi seseorang dalam melakukan kegiatan. Gangguan kebisingan pada bangunan gedung dapat berisiko cacat pendengaran. Untuk memproteksi gangguan tersebut perlu dirancang lingkungan akustik di tempat kegiatan dalam bangunan yang sudah ada dan bangunan baru. Untuk mendapatkan tingkat kenyamanan terhadap kebisingan pada bangunan rumah sakit harus mempertimbangkan jenis kegiatan, penggunaan peralatan, dan/atau sumber bising lainnya baik yang berada pada bangunan gedung maupun di luar bangunan rumah sakit.

(b)

(c)

Pusat Sarana, Prasarana dan Peralatan Kesehatan, Sekretariat Jenderal, DEPKES-RI

40

9 – Tabel Indeks Kebisingan Menurut Jenis Ruang atau Unit 3 (e) (f) No. DEPKES-RI 41 . harus meminimalkan kebisingan yang ditimbulkan sampai dengan tingkat yang diizinkan.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C (d) Setiap bangunan rumah sakit dan/atau kegiatan yang karena fungsinya menimbulkan dampak kebisingan terhadap lingkungannya dan/atau terhadap bangunan rumah sakit yang telah ada. lab Sinar X Koridor Tangga Kantor/Lobi Ruang Alat/ Gudang Farmasi Dapur Ruang Cuci Ruang Isolasi Ruang Poli Gigi (2) Kenyamanan terhadap Getaran Kenyamanan terhadap getaran adalah suatu keadaan dengan tingkat getaran yang tidak menimbulkan gangguan bagi kesehatan dan kenyamanan seseorang dalam melakukan kegiatannya. Untuk kenyamanan terhadap kebisingan pada bangunan rumah sakit harus dipenuhi standar tata cara perencanaan kenyamanan terhadap kebisingan pada bangunan gedung. Operasi umum Anastesi. Persyaratan kebisingan untuk masing-masing ruangan/ unit dalam RS adalah sebagai berikut : Tabel 4. 3 Kepmenkes RI No. Getaran dapat berupa getaran kejut. pemulihan Endoscopy. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Sekretariat Jenderal. Pusat Sarana. 1204/Menkes/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan RS.saat tidak tidur . 1 Ruang atau Unit Ruang pasien .saat tidur Maksimum Kebisingan (Waktu pemaparan 8 jam dan satuan dBA) 45 40 45 45 65 40 40 45 45 45 45 78 78 40 80 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 R. getaran mekanik atau seismik baik yang berasal dari penggunaan peralatan atau sumber getar lainnya baik dari dalam bangunan maupun dari luar bangunan.

ukuran. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 4. (a) Kemudahan hubungan ke. Ukuran koridor sebagai akses horizontal antarruang dipertimbangkan berdasarkan fungsi koridor. (b) (c) Setiap bangunan rumah sakit dengan ketinggian di atas lima lantai harus menyediakan sarana hubungan vertikal berupa lif. ukuran. Bangunan rumah sakit umum yang fungsinya untuk kepentingan publik. Setiap bangunan rumah sakit harus memenuhi persyaratan kemudahan hubungan horizontal berupa tersedianya pintu dan/atau koridor yang memadai untuk terselenggaranya fungsi bangunan rumah sakit tersebut. Persyaratan Teknis. (b) (c) (2) (a) Persyaratan Teknis. lif. (1) Umum. fungsi ruang. dan jenis pintu. tangga berjalan/eskalator. maupun fungsi sosial dan budaya harus menyediakan fasilitas dan kelengkapan sarana hubungan vertikal bagi orang yang berkebutuhan khusus. Setiap bangunan rumah sakit bertingkat harus menyediakan sarana hubungan vertikal antar lantai yang memadai untuk terselenggaranya fungsi bangunan rumah sakit tersebut berupa tersedianya tangga. dan konstruksi sarana hubungan vertikal harus berdasarkan fungsi bangunan rumah sakit.11 Sistem Hubungan (Transportasi) Vertikal dalam Rumah Sakit. (b) (c) (d) 4. termasuk bagi orang yang berkebutuhan khusus. termasuk penyandang cacat. Kelengkapan prasarana disesuaikan dengan fungsi rumah sakit.10 Sistem Hubungan Horisontal dalam rumah sakit. (1) Umum. ram. luas bangunan. dan/atau lantai berjalan/travelator. baik berupa fungsi keagamaan. (2) Pusat Sarana. dan jumlah pengguna ruang. Jumlah. dan jumlah pengguna ruang. akses evakuasi. dari. aman. serta keselamatan pengguna gedung. fungsi ruang. fungsi usaha. (a) Jumlah. DEPKES-RI 42 . termasuk penyandang cacat. Penyediaan fasilitas dan aksesibilitas harus mempertimbangkan tersedianya hubungan horizontal antarruang dalam bangunan rumah sakit. dalam suatu ruangan dipertimbangkan berdasarkan besaran ruang. Arah bukaan daun pintu dalam suatu ruangan dipertimbangkan berdasarkan fungsi ruang dan aspek keselamatan. dan di dalam bangunan rumah sakit meliputi tersedianya fasilitas dan aksesibilitas yang mudah. dan nyaman bagi orang yang berkebutuhan khusus. termasuk penyandang cacat. Sekretariat Jenderal. dan jumlah pengguna.

1 Ramp. (1) Kemiringan suatu ramp di dalam bangunan tidak boleh melebihi 70. (2) Panjang mendatar dari satu ramp (dengan kemiringan 70) tidak boleh lebih dari 900 cm. sebagai alternatif bagi orang yang tidak dapat menggunakan tangga. Sekretariat Jenderal. Lebar minimum dari ramp adalah 120 cm dengan tepi pengaman.11.11. Panjang ramp dengan kemiringan yang lebih rendah dapat lebih panjang. Persyaratan Ramp. (1) Umum. dengan ukuran minimum 160 cm. Ramp adalah jalur sirkulasi yang memiliki bidang dengan kemiringan tertentu. Muka datar (bordes) pada awalan atau akhiran dari suatu ramp harus bebas dan datar sehingga memungkinkan sekurang-kurangnya untuk memutar kursi roda dan stretcher. (2) (3) (4) Gambar 4.a– Tipikal ramp Pusat Sarana. perhitungan kemiringan tersebut tidak termasuk awalan dan akhiran ramp (curb ramps/landing). DEPKES-RI 43 .PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 4.1. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.

Sekretariat Jenderal. Pusat Sarana.1.d – Pegangan rambat pada ramp. DEPKES-RI 44 .b– Bentuk-bentuk ramp Gambar 4.11.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Gambar 4.1. Gambar 4.c – Kemiringan ramp.1.11.11. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.

2 Tangga. Apabila berbatasan langsung dengan lalu lintas jalan umum atau persimpangan. dirancang untuk menghalangi roda dari kursi roda atau stretcher agar tidak terperosok atau ke luar dari jalur ramp. Pencahayaan disediakan pada bagian ramp yang memiliki ketinggian terhadap muka tanah sekitarnya dan bagian-bagian yang membahayakan.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Gambar 4. (7) Ramp harus diterangi dengan pencahayaan yang cukup sehingga membantu penggunaan ramp saat malam hari.1.11.f – Pintu di ujung ramp.e – Kemiringan sisi lebar ramp. Pusat Sarana. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. (8) 4. (5) (6) Permukaan datar awalan atau akhiran suatu ramp harus memiliki tekstur sehingga tidak licin baik diwaktu hujan.11. Sekretariat Jenderal.11. Gambar 4. (1) Umum. Lebar tepi pengaman ramp (low curb) 10 cm. Tangga merupakan fasilitas bagi pergerakan vertikal yang dirancang dengan mempertimbangkan ukuran dan kemiringan pijakan dan tanjakan dengan lebar yang memadai. harus dibuat sedemikian rupa agar tidak mengganggu jalan umum. DEPKES-RI 45 .1. Ramp harus dilengkapi dengan pegangan rambatan (handrail) yang dijamin kekuatannya dengan ketinggian yang sesuai.

untuk mengevakuasi pasien dalam kasus terjadinya kebakaran atau ancaman bom Tidak terdapat tanjakan yang berlubang yang dapat membahayakan pengguna tangga. (3) (4) Gambar 4. Harus dilengkapi dengan pegangan rambat (handrail). DEPKES-RI 46 . (1) (2) (3) Harus memiliki dimensi pijakan dan tanjakan yang berukuran seragam Tinggi masing-masing pijakan/tanjakan adalah 15 – 17 cm.11.2.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C (2) Persyaratan. Harus memiliki kemiringan tangga kurang dari 600.11.b – Pegangan rambat pada tangga Pusat Sarana.2. Sekretariat Jenderal. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Lebar tangga minimal 120 cm untuk membawa usungan dalam keadaan darurat.a – Tipikal tangga Gambar 4.

2. dinding atau tiang. harus dirancang sehingga tidak ada air hujan yang menggenang pada lantainya. Pegangan rambat harus ditambah panjangnya pada bagian ujungujungnya (puncak dan bagian bawah) dengan 30 cm. Pusat Sarana.c – Desain profil tangga.2. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. (6) (7) Gambar 4.d – Detail pegangan rambat tangga Gambar 4. Sekretariat Jenderal.11. bebas dari elemen konstruksi yang mengganggu. DEPKES-RI 47 .e – Detail pegangan rambat pada dinding. dan bagian ujungnya harus bulat atau dibelokkan dengan baik ke arah lantai.2. Gambar 4. Untuk tangga yang terletak di luar bangunan.11.11.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C (5) Pegangan rambat harus mudah dipegang dengan ketinggian 65 cm ~ 80 cm dari lantai.

pintu keluar darurat.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 4. sesuai dengan fungsi dan jumlah pengguna bangunan rumah sakit.20 m untuk memungkinkan lewatnya tempat tidur dan stretcher bersama-sama dengan pengantarnya. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. (2) Persyaratan Teknis. (1) Ukuran lift rumah sakit minimal 1. dan jalur evakuasi yang dapat menjamin pengguna bangunan rumah sakit untuk melakukan evakuasi dari dalam bangunan rumah sakit secara aman apabila terjadi bencana atau keadaan darurat. Setiap bangunan rumah sakit yang menggunakan lif harus tersedia lif kebakaran yang dimulai dari lantai dasar bangunan (ground floor). dapat digunakan standar baku dan pedoman teknis yang diberlakukan oleh instansi yang berwenang. (2) (3) (4) (5) 4. kapasitas. (a) Untuk persyaratan sarana evakuasi pada bangunan rumah sakit harus dipenuhi standar tata cara perencanaan sarana evakuasi pada bangunan gedung. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum mempunyai SNI.12 Sarana Evakuasi (1) Umum. Lif kebakaran dapat berupa lif khusus kebakaran atau lif penumpang biasa atau lif barang yang dapat diatur pengoperasiannya sehingga dalam keadaan darurat dapat digunakan secara khusus oleh petugas kebakaran. (b) Pusat Sarana.30 m dan lebar pintunya tidak kurang dari 1. Lift merupakan fasilitas lalu lintas vertikal baik bagi petugas RS maupun untuk pasien. Jumlah.50 m x 2. dan spesifikasi lif sebagai sarana hubungan vertikal dalam bangunan gedung harus mampu melakukan pelayanan yang optimal untuk sirkulasi vertikal pada bangunan.3 Lift (Elevator) (1) Umum. (2) Persyaratan. Lif penumpang dan lift service dipisah bila dimungkinkan. Sekretariat Jenderal. Oleh karena itu harus direncanakan dapat menampung tempat tidur pasien. DEPKES-RI 48 . Setiap bangunan rumah sakit harus menyediakan sarana evakuasi bagi orang yang berkebutuhan khusus termasuk penyandang cacat yang meliputi : (a) (b) (c) sistem peringatan bahaya bagi pengguna.11.

Pusat Sarana. tempat sampah. Tata cara perencanaan dan pemasangan sarana jalan keluar untuk penyelamatan terhadap bahaya kebakaran pada bangunan gedung. luas.13 Aksesibilitas Penyandang Cacat (1) Umum. dapat digunakan standar baku dan pedoman teknis yang diberlakukan oleh instansi yang berwenang. tangga. Setiap bangunan rumah sakit. Ketentuan teknis Ukuran. dan ketinggian bangunan rumah sakit.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 4. Ketentuan teknis Prasarana dan Sarana pemanfaatan Bangunan rumah sakit dan Kelengkapannya . ram. tempat parkir. (b) 4. setiap bangunan rumah sakit untuk kepentingan umum harus menyediakan kelengkapan prasarana dan sarana pemanfaatan bangunan rumah sakit. Konstruksi. Penyediaan prasarana dan sarana disesuaikan dengan fungsi dan luas bangunan rumah sakit. aman. Jumlah Fasilitas dan (b) (c) (d) (e) (f) (g) Dalam hal persyaratan di atas belum mempunyai SNI. Sekretariat Jenderal. serta fasilitas komunikasi dan informasi. Tata cara perancangan sistem transportasi vertikal dalam gedung (lif). Prasarana dan Peralatan Kesehatan. telepon umum. (1) Umum. (a) Fasilitas dan aksesibilitas meliputi toilet. serta jumlah pengguna bangunan rumah sakit (b) (2) Persyaratan Teknis.14 Prasarana/Sarana Umum. Aksesibilitas bagi Penyandang Cacat. Tata cara perencanaan akses bangunan dan akses lingkungan untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung. DEPKES-RI 49 . tempat parkir. jalur pemandu. SNI 03-6573-2001 atau edisi terbaru. dan lif bagi penyandang cacat dan lanjut usia. (a) Guna memberikan kemudahan bagi pengguna bangunan rumah sakit untuk beraktivitas di dalamnya. pintu. Ketentuan teknis Kelengkapan Prasarana dan Sarana bangunan rumah sakit. toilet. harus menyediakan fasilitas dan aksesibilitas untuk menjamin terwujudnya kemudahan bagi penyandang cacat dan lanjut usia masuk dan keluar ke dan dari bangunan rumah sakit serta beraktivitas dalam bangunan rumah sakit secara mudah. Penyediaan fasilitas dan aksesibilitas disesuaikan dengan fungsi. rambu dan marka. nyaman dan mandiri. Perencanaan sarana dan prasarana dalam bangunan rumah sakit mengikuti: (a) SNI 03-1735-2000 atau edisi terbaru. SNI 03-1746-2000 atau edisi terbaru. (2) Persyaratan Teknis. meliputi: ruang ibadah.

2 No. komputer personal. 5. Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas Nama Ruangan Ruang Tunggu Utama. Meja. lemari arsip. kursi. Poliklinik juga berfungsi sebagai tempat untuk penemuan diagnosa dini. 12 m2) Kebutuhan Fasilitas Kursi. 1 2 3 3~5 m2/ petugas (min. komputer 5 Ruang Tunggu Poli Ruang Periksa & Konsultasi Dokter Spesialis Kursi. Sekretariat Jenderal. Biasanya langsung berhubungan dengan loket pendaftaran. 12 m2) 3~5 m2/ petugas (min. meliputi : 1. Pendataan pasien rawat jalan 2. terdiri dari 4 Klinik Spesialistik dasar. Televisi & AC (bila RS mampu) Kursi Dokter. diagnosis. penyelidikan. safety box 5. Ruang tempat dokter spesialis melakukan pemeriksaan dan konsultasi dengan pasien Kebutuhan Ruang/Luas 1~1.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C BAGIAN – V URAIAN BANGUNAN RUMAH SAKIT 5. 16 m2) 4 Ruang Rekam Medis 12~16 m2/ 1000 kunjungan pasien / hari ( untuk 5 tahun) 1~1. Tempat menyimpan informasi tentang identitas pasien.1 INSTALASI RAWAT JALAN Fungsi Instalasi Rawat Jalan adalah sebagai tempat konsultasi. perjalanan penyakit. 6 Pusat Sarana. lemari berkas/arsip. Televisi & Alat Pengkondisi Udara (AC / Air Condition) Meja & kursi kerja. telepon & intercom. lemari arsip. intercom/telepon. tangga roolstool.4 m2/poli) 12~25 m2/ poli Meja.1. lemari alat periksa & obat.5 m2/ orang (min. Ruang ini digunakan untuk menyelenggarakan kegiatan administrasi. Meja Konsultasi.1 Lingkup Sarana Pelayanan Kebutuhan sarana pelayanan Rumah Sakit Kelas C terdiri dari: 1) Poli Umum. dan kelengkapan lainnya. pemeriksaan dan pengobatan pasien oleh dokter ahli di bidang masing-masing yang disediakan untuk pasien yang membutuhkan waktu singkat untuk penyembuhannya atau tidak memerlukan pelayanan perawatan. 2 (dua) kursi hadap. serta perangkat kerja lainnya.1. antara lain :  Klinik Penyakit Dalam  Klinik Anak  Klinik Bedah  Klinik Kebidanan dan Penyakit Kandungan 2) Klinik tambahan/pelengkap antara lain:  Klinik Mata  Klinik Telinga Hidung dan Tenggorokan (THT)  Klinik Gigi dan Mulut  Klinik Kulit dan Kelamin  Klinik Syaraf  Klinik Jiwa  Klinik Rehabilitasi Medik  Klinik jantung  Klinik Paru  Klinik Bedah Syaraf  Klinik Ortopedi  Klinik Kanker  Klinik Nyeri  Klinik Geriatri Kebutuhan Ruang. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Ruang Pengendali ASKES Ruang Administrasi • Loket Pendaftaran Pasien. Pembayaran biaya pelayanan medik. yaitu tempat pemeriksaan pasien pertama dalam rangka pemeriksaan lebih lanjut di dalam tahap pengobatan penyakit. kursi.5 m2/ orang (min. proses pengobatan dan tindakan medis serta dokumentasi hasil pelayanan. Meja. DEPKES-RI 50 . • Loket Kasir Fungsi Ruang tunggu pasien (dan pengantar pasien) saat melakukan pendaftaran Tempat kegiatan administratif ASKES Rumah Sakit dilaksanakan. Ruang di mana keluarga atau pengantar pasien menunggu panggilan di depan ruang poliklinik. tempat tidur periksa.

kacamata pembesar. senter. kursi periksa. cotton roll holder. opthalmoskop. lensmeter. Stetoskop laenec. penyelidikan. Kampimeter. instrument troly. emergency cart. spatel lidah. glass lonometer lengkap. 12~25 m2/ poli 12 Ruang Tindakan/ Diagnostik Poli Umum Ruang tempat konsultasi. autoklaf. 12~25 m2/ poli 9 Ruang Tindakan/ Diagnostik Poli Mata Ruang tempat konsultasi. alat sinar. gelas objek & cover set. composite resin lengkap khusus fissure sealent. set diagnostic syaraf. set aktivar. audiometer. pemeriksaan. DEPKES-RI 51 . Ophtalmoskop. USG. set orthodonsi piranti lepas. kartu snellen. termometer aksila. penyelidikan.untuk pasien dapat berjalan & maks. meja. Instrumen bedah gigi dan mulut (dental operating instrument). IUD kit & injeksi KB. suction unit. Meja. Ruang tempat konsultasi. stetoskop. tempat tidur periksa. 12~25 m2/ poli 10 Ruang Tindakan/ Diagnostik Poli THT Ruang tempat konsultasi. bak air Pusat Sarana. tangenscreen & bjerrum. spekulum hidung. 12~25 m2/ poli 12 Ruang Tindakan/ Diagnostik Poli Kulit dan Penyakit Kelamin Ruang Tindakan/ Diagnostik Poli Syaraf Ruang tempat konsultasi. kursi & meja dokter. film viewer. headlamp. tensimeter. instrument set tindakan dan operasi kulit dan kelamin. suction pump. dan pengobatan pasien kejiwaan. termometer. tensimeter. dan pengobatan pasien oleh dokter umum. tongspatel. Mikroskop binocular. laringoskop. stetoskop anak. buku ishihara 14 plate. alat punch biopsi. resusitasi set. kursi. termometer rektal. set preparasi mahkota dan jembatan. Dental unit. amalgam set. film viewer. standar infus. untuk pasien berkursi roda) Kloset. tensimeter. reflex hammer. set diagnostik. palu reflek. stetoskop. termometer. dan pengobatan pasien penyakit kulit dan kelamin. scaler set. wastafel. sendok penekan lidah. penyelidikan. reflex hammer. anaskopi. dental row standar. sterilisator basah. 12~25 m2/ poli 11 Ruang Tindakan/ Diagnostik Poli Kebidanan/ Kandungan Ruang tempat melakukan tindakan atau diagnostic kebidanan terhadap pasien. tambalan sewarna gigi dan set bedah mulut dengan sinar laser. lemari alat. stetoskop. standar infus. incubator. timbangan+pengukur tinggi. trakeostomi set. 9 Ruang Laktasi Ruang khusus bagi ibu yang menyusui anaknya. pemeriksaan. Doppler. penyelidikan. set pemeriksaan ginekologi. stand Waskom. set diagnostik. Paediatric trolley. alat tes sensasi. set diagnostik. indirect inlay set Timbangan badan. streak retinoskopi. meja periksa. 12~25 m2/ poli Meja. stetoskop bayi. sendok penekan lidah. licht kaas. flourscein strips. lup. lampu periksa. pemeriksaan. single channel EKG. alat resusitasi. timbangan badan/tinggi badan. tindakan terhadap pasien. kartu jager. hertel exopthalmometer. Set cetak GTS/GTP & mahkota/ jembatan. pemeriksaan. Kursi. Kolposkopi. meja instrumen. meja resusitasi anak dan bayi. lampu senter. pap smear kit. termometer. indirect/binocular opthalmoskop. palu refleks. set resusitasi anak lengkap dg defribilator. lampu operasi. 6~12 m2 10 Ruang Tindakan/ Diagnostik Poli Bedah Ruang tempat konsultasi. stand waskom Slitlamp. spatula kimura. lensa & kacamata coba tes. head light. dental chair. anastesi local set. tonometer schiotz. pengobatan. preparation cavitas set.. meja ginekologi. exodontia set. dan pengobatan pasien penyakit THT. 12~25 m2/ poli 8 Ruang Tindakan / Diagnostik Poli Anak Ruang tempat melakukan tindakan atau diagnostik terhadap pasien anak. korentang. peralatan diagnostic kulit dan kelamin. sigmoidoskopi. Set diagnostik dan stimulator syaraf dan jiwa. set resusitasi bayi. penyelidikan. wastafel/sink Lemari alat. flash light. defibrillator. penyelidikan. ultra sonografi EKG. sphygmomanometer (tensimeter). timbangan badan/tinggi badan. lokal anastesi set. dilator pungtum & jarum anel.Pd. scale/timbangan. tongue spatel. tensimeter. kursi. penyelidikan. palu reflek. meja resusitasi bayi. Poforceps biopsy. 12~25 m2/ poli 13 12~25 m2/ poli 14 Ruang Tindakan/ Diagnostik Poli Jiwa 12~25 m2/ poli 11 Toilet (petugas. sterilisator table model. alat penghisap lendir. implant kit. set insersi GTS/GTP. minor surgery set/ unit diagnostic & treatment. ENT unit. funduskopi. gunting perban. pengunjung) KM/WC @ KM/WC pria/ wanita luas +2 – 3 m2 (min.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 7 Ruang Tindakan Poli Penyakit Dalam Ruang tempat konsultasi. lid retractor. ECG. Sekretariat Jenderal. cold chain. suction pump. pemeriksaan. pemeriksaan. 12~25 m2/ poli 11 Ruang Tindakan/ Diagnostik Poli Gigi dan Mulut Ruang tempat konsultasi. pemeriksaan. tensimeter dg manset untuk bayi. pemeriksaan. tempat tidur periksa. gunting perban. sterilisator. elektrokauter. loupe. lemari obat/alat. dan pengobatan pasien penyakit dalam oleh dokter Sp. ENT diagnostik instrument set. lampu batere. stetoskop linen. pemeriksaan. timbangan ibu. penyelidikan. penyelidikan. stetoskop. senter. set penyemenan. dan pengobatan pasien penyakit syaraf Ruang tempat konsultasi. placido test. tensimeter. oxygen set dan flowmeter. meja periksa. diagnostic set. stetoskop. dan pengobatan pasien penyakit mata. garpu tala. flash light & penggaris. gelas objek dan gelas cover set. laringoskop. anak & dewasa. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. peralatan laboratorium teknik gigi dasar. tensimeter. dan pengobatan pasien penyakit gigi dan mulut. stetoskop. lampu periksa. meja kebidanan.

Periksa Poli umum / spesialis Dokter Perawat Alat Pasien Staf Alat Dirawat di Inst. bagian radiologi dan laboratorium. 8. Alur Kegiatan Alur kegiatan pada instalasi rawat jalan dapat dilihat pada bagan alir berikut :  Pasien Datang tanpa Rujukan  Pasien Datang dengan Rujukan 5. DEPKES-RI 52 . Diusahakan ada pemisahan ruang tunggu pasien untuk penyakit infeksi dan non infeksi. 3.Laboratorium . Poli anak tidak diletakkan berdekatan dengan Poli Paru. Bila konsep Rumah Sakit dengan Sterilisasi Sentral.1. terutama oleh bagian rekam medis.3 Persyaratan Khusus Konsep dasar poliklinik pada prinsipnya ditetapkan sebagai berikut : 1. Pada tiap ruangan harus ada wastafel (air mengalir). Poli-poli yang ramai sebaiknya tidak saling berdekatan. IPAL dan bengkel ME. namun pada beberapa Poliklinik seperti Poli Gigi/THT/Bedah tetap harus ada ruang sterilisasi. 2. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. berhubungan dekat dengan apotek.4 – Alur Kegiatan Pada Instalasi Rawat Jalan Pusat Sarana.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 5. sebaiknya Poli Anak dekat dengan Poli Kebidanan. Letak Poliklinik berdekatan dengan jalan utama. Letak poli jauh dari ruang incenerator. Tunggu Penunjang Medik: . tidak perlu ada ruang sterilisasi. Sekretariat Jenderal. karena alat-alat yang digunakan harus langsung disterilkan untuk digunakan kembali (bila pasien banyak).Fisioterapi.1. harus cukup luas. 4.1.4 Pendaftaran Awal (pasien baru) / Ulang (& rekam medik) R. 7. 6. 9. mudah dicapai dari bagian administrasi.Radiologi . Sistem sirkulasi pasien dilakukan dengan satu pintu (sirkulasi masuk dan keluar pasien pada pintu yang sama). Ruang tunggu di poliklinik. Rawat Inap Pulang Gambar 5. 5. dll Dirujuk ke klinik spesialis lain/ RS lain R. Sirkulasi petugas dan sirkulasi pasien dipisahkan.

Pelayanan Kegawatdaruratan Obgyn 3. Meja.anak). proses pengobatan dan tindakan medis serta dokumentasi hasil pelayanan. wastafel. Pelayanan di Unit Gawat Darurat rumah sakit harus dapat memberikan pelayanan 24 jam secara terus menerus 7 hari dalam seminggu. 5 B. 16 m2) Kursi. lemari berkas/arsip. Cito Darah. Pendataan pasien IGD 2. Pembayaran biaya pelayanan medik. 7. komputer 4 Ruang Triase Min.2 No. 3. Pelayanan Kegawatdaruratan Bedah 2. Pelayanan Kegawatdaruratan Anak 4. Cito Lab. Cito Operation.2. Pelayanan Kegawatdaruratan Penyakit Dalam 5. perjalanan penyakit. kursi. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Pelayanan Kegawatdaruratan pada UGD : 1. 12-20 m2 Pusat Sarana. Circulation) serta memiliki alat transportasi untuk rujukan dan komunikasi yang siaga 24 jam 5. suction. Ruang ini perlu disediakan tempat duduk dengan jumlah yang sesuai aktivitas pelayanan. 1 Ruang Administrasi dan loket pendaftaran 3~5 m2/ petugas (min. Breathing. filing cabinet/lemari arsip. Memiliki dokter spesialis empat besar yang siap panggil (on-call). nasotrakeal. 16 m2) Meja. 3 m2/ pasien bencana 6 R.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 5. Pelayanan Kegawatdaruratan Kardiovaskuler Kebutuhan Ruang. Penandatanganan surat pernyataan dari keluarga pasien IGD.2. orotrakeal. fasilitas air bersih dan drainase Nasoparingeal. Ruang tempat memilah-milah tingkat kegawatdaruratan pasien dalam rangka menentukan tindakan selanjutnya terhadap pasien. dapat berfungsi sekaligus sebagai ruang tindakan. Ruang di mana keluarga/ pengantar pasien menunggu. Sekretariat Jenderal. kanul oksigen. trakeostomi set. B. label Area terbuka dengan/ tanpa penutup. A. intercom/telepon. Fungsi Besaran Ruang / Luas Kebutuhan Fasilitas 5. Cito/ Emergency High Care Unit (HCU). False Emergency (Kegawatan tidak darurat) 2. oksigen mask (dewasa/anak). kit pemeriksaan sederhana. laringoskop set anak. 16 m2 Tt periksa. Biasanya langsung berhubungan dengan loket pendaftaran. Tempat menyimpan informasi tentang identitas pasien. meliputi : 1. kursi. 3. 4. safety box. diagnosis. Cito Radiodiagnostik. laringoskop set dewasa. Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas Nama Ruangan RUANG PENERIMAAN Ruang ini digunakan untuk menyelenggarakan kegiatan administrasi. dan peralatan kantor lainnya. chest tube.1 Lingkup Sarana Pelayanan A. Televisi & Alat Pengkondisi Udara (AC / Air Condition) 3 Ruang Rekam Medis Sesuai kebutuhan Meja. DEPKES-RI 53 . Program Pelayanan pada UGD : True Emergency (Kegawatan darurat) 1. Ruang tempat persiapan penanganan pasien korban bencana massal. bag valve Mask (dewasa. Ruang Persiapan Bencana Massal RUANG TINDAKAN Min. 2 Ruang Tunggu Pengantar Pasien 1~1.5 m2/ orang (min. orofaringeal. 6.2 INSTALASI GAWAT DARURAT Setiap Rumah Sakit wajib memiliki pelayanan gawat darurat yang memiliki kemampuan : • Melakukan pemeriksaan awal kasus – kasus gawat darurat • Melakukan resusitasi dan stabilisasi. 5. dokter umum yang siaga di tempat (on-site) dalam 24 jam yang memiliki kualifikasi pelayanan GELS (General Emergency Life Support) dan atau ATLS + ACLS dan mampu memberikan resusitasi dan stabilisasi ABC (Airway. Cito Depo Farmasi. Resusitasi Ruangan yang dipergunakan untuk melakukan tindakan resusitasi terhadap pasien.

Observasi Ruangan yang dipergunakan untuk melakukan observasi terhadap pasien setelah diberikan tindakan medis. dokumentasi s/d evaluasi pasien. linen. R. metal kauter. kursi. meja ginekologi. meja instrumen. brankar 2. tiang infus. set neurosurgery. NGT. 7. Kegiatan dalam ruang ini yaitu : Ruang untuk melakukan pembedahan pada pasien. Sekretariat Jenderal. 4 m2 Lemari obat Lemari 14 Ruang Alat Medis Min. 4 m2 17 R. film viewer. pulse oximeter. tiang infus. forcep set. 12 13 RUANG PENUNJANG MEDIS Ruang Farmasi/ Obat Ruang Linen Steril Ruang tempat menyimpan obat untuk keperluan pasien gawat darurat. set laparatomi. Min. film viewer Ket : kedua ruangan ini bisa digabung atau dipisah. EKG. sofa. vacuum set. tapi untuk beberapa jenis pemeriksaan tertentu. Ruang Dokter terdiri dari 2 bagian : 1. USG (boleh ada/tidak). termometer. DEPKES-RI 54 . Tempat penyimpanan bahan-bahan linen steril. 16 Laboratorium Standar Min. lemari. set sectiosesaria. 7. (syrine pump. (mobile ECG. R. tiang infus. wastafel. torakosintetis set. nebulizer. tensimeter. bedah. infusion set. oksigen medis. wastafel. set orthopedic. Ruang Persiapan Ruang untuk mempersiapkan pasien sebelum memasuki r. Imobilization set (neck collar. 3 m2 Min. 2. set bedah plastik emergency. Ruang kerja. dan film viewer boleh ada/tidak) Lab rutin. suction. resusitasi set. monitor. poliklinik set. Ruangan tempat penyimpanan peralatan medik yang setiap saat diperlukan. asuhan dan pelayanan keperawatan (pre dan post conference. doppler. wound toilet set. tindakan Min. film viewer Kumbah lambung set. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. tiang infus. syringe pump. kimia darah. set vascular. stetoskop. Film viewer. ventilator transport. 16 m2 8 R. oksigen 3. pengaturan jadwal). (analisa gas darah boleh ada/tidak) Tempat tidur. set nephrotomi. partus set. endoscopy surgery. 6 m2 Oksigen. jarum spinal boleh ada/tidak). RUANG OBSERVASI Ruang perawatan pasien pasca bedah Min. vena section set. Ruang untuk melakukan tindakan medis pada pasien anak. set laparoscopy. infussion pump. termometer D. lampu (mobile /statis). NGT.2 m2/ tempat tidur periksa Tempat tidur periksa. torakosintesis set. Ruang pemeriksaan laboratorium yang bersifat segera/cito.Tindakan Kebidanan 9 Ruang untuk melakukan kebidanan pada pasien. Operasi (R. scoop strechter. gluko stick. monitor. Pusat Sarana. lampu kepala. 12-25 m2 R. mesin anastesi. tiang infus. meja/kursi. laennec. Ruang Pemulihan C. defibrilator. ECG. Tindakan Non Bedah Ruang untuk melakukan tindakan non bedah pada pasien. Persiapan dan kamar Operasi) : Ket : boleh ada/tidak 1. Radiologi Min. Inkubator. dressing set. elektrolit. urine bag. pengorganisasian. long spine board. irigator.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 7 R.2 m2/ tempat tidur 11 R. automatic film processor. Ruang Operasi 10 + 36 m2 Meja operasi. suction. CTG. film viewer R. stetoskop. infusion pump. set bedah dasar. tempat tidur.Pos perawat harus terletak di pusat blok yang dilayani agar perawat dpt mengawasi pasiennya secara efektif. warmer. nebulizer. untuk melakukan perencanaan. Tindakan Anak 12-25 m2 crico/trakeostomi.Nurse Station) Min. apron timbal. Tindakan Bedah Ruang untuk melakukan bedah ringan pada pasien. tindakan 12-25 m2 Kuret set. tempat tidur. 4 m2 Meja. Min. kndrik extrication device. 4 m2 Mobile X-Ray. monitor set. set apendiktomi. Peralatan yang disimpan diruangan ini harus dalam kondisi siap pakai dan dalam kondisi yang sudah disterilisasi. infusion set. suction bayi baru lahir. Dokter 9-16 m2 18 Ruang Pos Perawat (. Tt pasien. Tempat untuk melaksanakan kegiatan diagnostik cito. 6 m2 Lemari instrument 15 R. oksigen medis. Ruang istirahat/kamar jaga. splint. set bedah anak. suction. otoscope set. tempat tidur. Meja periksa. film viewer. vena section. Min. tempat tidur. set urologi emergency.

2. Toilet (petugas. IGD disarankan untuk memiliki Area yang dapat digunakan untuk penanganan korban bencana massal (Mass Disasster Cassualities Preparedness Area). meja/kursi. Area IGD harus terletak pada area depan atau muka dari tapak RS. DEPKES-RI 55 . komputer. lemari. 20 Ruang Kepala IGD 8-16 m2 21 Gudang Kotor (Spoolhoek/Dirty Utility). Untuk bangunan RS yang berbentuk bangunan bertingkat banyak (Super Block Multi Storey Hospital Building) yang memiliki ataupun tidak memiliki lantai bawah tanah (Basement Floor) maka perletakan IGD harus berada pada lantai dasar (Ground Floor) atau area yang memiliki akses langsung. 12. KM/WC Tempat pelaksanaan sterilisasi instrumen dan barang lain yang diperlukanan di Instalasi Gawat Darurat. Tempat parkir troli selama tidak diperlukan Tempat meletakkan tempat tidur pasien selama tidak diperlukan. Brankar Min. Fasilitas untuk membuang kotoran bekas pelayanan pasien khususnya yang berupa cairan.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 19 Ruang Perawat Ruang istirahat perawat Ruang tempat Kepala IGD melakukan manajemen instalasinya. Letak bangunan IGD disarankan berdekatan dengan Unit Kebidanan. Area IGD disarankan untuk memiliki pintu masuk kendaraan yang berbeda dengan pintu masuk kendaraan ke area Instalasi Rawat Jalan/Poliklinik. keran air bersih (Sink) Ket : tinggi bibir kloset + 80-100 m dari permukaan lantai 2 21 @ 2 m – 3m 2 22 R. 3 m2 5. Gas Medis R. 13. wastafel Lemari.3 Persyaratan Khusus 1. 11. Bedah Sentral. Letak bangunan IGD disarankan berdekatan dengan BDRS (Bank Darah Rumah Sakit) atau UTDRS (Unit Transfusi Darah Rumah Sakit) 24 jam. pengunjung) 4-6 m2 Kloset leher angsa. Untuk tapak RS yang berbentuk memanjang mengikuti panjang jalan raya maka pintu masuk kearea IGD harus terletak pada pintu masuk yang pertama kali ditemui oleh pengguna kendaraan untuk masuk kearea RS. Letak bangunan IGD disarankan berdekatan dengan Inst. Area IGD harus mudah dilihat serta mudah dicapai dari luar tapak rumah sakit (jalan raya) dengan tanda-tanda yang sangat jelas dan mudah dimengerti masyarakat umum. Lemari instrumen sebagai penyimpanan instrumen yang belum disterilkan dan berada dalam tromol/pak. 8. Parkir Troli R. Gas Medis Troli Tt pasien 23 24 25 R. Laboratorium. 4. Tempat menyimpan gas medis. R. 9. printer dan peralatan kantor lainnya. 5. sofa. Letak bangunan IGD disarankan berdekatan dengan Instalasi Radiologi. Disarankan pada area untuk menurunkan atau menaikan pasien (Ambulance Drop-In Area) memiliki sistem sirkulasi yang memungkinkan ambulan bergerak 1 arah (One Way Drive / Pass Thru Patient System). 2. 1 sink/ 2 sink lengkap dengan instalasi air bersih & air buangan. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Sekretariat Jenderal. 10. diantaranya pembuatan program kerja dan pembinaan. Instalasi rawat Inap serta Area Zona Servis dari rumah sakit. meja/kursi. 4 m2 Workbench. 6. Sterilisasi Min. 7. Spoolhoek berupa bak atau kloset yang dilengkapi dengan leher angsa (water seal). 2 m2 Min. 9-16 m2 Sofa. Pusat Sarana. Letak bangunan IGD disarankan berdekatan dengan Inst. Letak bangunan IGD disarankan berdekatan dengan Unit Rawat Inap Intensif (ICU (Intensive Care Unit)/ ICCU (Intensive Cardiac Care Unit)/ HCU (High Care Unit)). 3. 3 m2 Min.

rekam medis. DEPKES-RI 56 .4 Alur Kegiatan Alur kegiatan Pada Instalasi Gawat Darurat dapat dilihat pada bagan alir berikut: Area Persiapan Bencana Massal Pasien Infeksius Pasien & Pengantar Pasien Pengantar Pasien Dekontaminasi Pasien Infeksius Pintu Masuk UGD Pasien Loket Pendaftaran TRIASE (dokter umum) Ruang Tunggu Ruang Resusitasi Ruang Tindakan Bedah Ruang Tindakan Non Bedah Ruang Tindakan Anak & Kebidanan  Inst. • Konsultasi Anestesi. Kebidanan & Penyakit Kandungan  Inst. dapur kecil/pantry. Pelayanan kesehatan di Instalasi Rawat Inap mencakup antara lain : 1). • Farmasi (Depo dan Klinik). Pelayanan keperawatan. konsultasi medis). Rawat Inap  Inst.1 INSTALASI RAWAT INAP Lingkup Sarana Pelayanan Lingkup kegiatan di Ruang Rawat Inap rumah sakit meliputi kegiatan asuhan dan pelayanan keperawatan. Sekretariat Jenderal. pelayanan medis. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. • Rehab Medik (Pelayanan Fisioterapi dan Konsultasi).4 – Alur Kegiatan Pada Instalasi Gawat Darurat. 3). gizi. bab.3. administrasi pasien.2.3 5. Bedah  Inst. mandi.2. Pelayanan medik (Pra dan Pasca Tindakan Medik). • Gizi (Diet dan Konsultasi).PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 5. Penunjang Medik  dll Ruang Observasi Pulang Gambar 5. menunggu pasien. 5. • Pengambilan Sample Laboratorium. pelayanan kebutuhan keluarga pasien (berdoa. Pusat Sarana. 2). Pelayanan penunjang medik : • Konsultasi Radiologi.

printer dan peralatan kantor lainnya 6 7 R.2 m2 Min. yaitu berupa registrasi & pendataan pasien.  Konsep Rawat Inap yang disarankan “Rawat Inap Terpadu (Integrated Care)” untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan ruang. Spoolhoek berupa bak/ kloset yang dilengkapi dengan leher angsa (water seal).3.9 m2) Meja. perawatan sebelum dibawa ke r. Ruangan tempat penyimpanan alatalat medis dan bahan-bahan habis pakai yang diperlukan. 4-6 m2 Lemari/rak 16 Ruang Evakuasi Pasien Sesuai kebutuhan Instalasi telepon.Pantry) @ KM/WC pria/wanita luas 2 m2 – 3 m2 Min. 8 m2 (Ket : perhitungan 1 stasi perawat untuk melayani maksimum 25 tempat tidur) 9-16 m2 Kebutuhan Fasilitas Tempat tidur pasien. tangga roolstool. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. lemari obat. lemari arsip. tempat tidur periksa.Laundry). 7. petugas.  Kecepatan bergerak merupakan salah satu kunci keberhasilan perancangan. Lemari 13 14 Gudang Bersih Janitor/ Ruang Petugas Kebersihan Min.Nurse Station) 3 Ruang Konsultasi 4 Ruang Tindakan 12-25 m2 5 R. Ruang untuk menyimpan alat-alat kebersihan/cleaning service. pengunjung) Dapur Kecil (. Ruangan untuk menyimpan bahanbahan linen kotor yang telah digunakan di r. Ruang istirahat perawat Ruang tempat kepala ruangan melakukan manajemen asuhan dan pelayanan keperawatan diantaranya pembuatan program kerja dan pembinaan. meja/kursi. Ruangan untuk evakuasi pasien bila terjadi bencana internal pada ruang perawatan (khususnya pada bangunan bertingkat. bak air Kursi+meja untuk makan. wastafel. kursi. Kursi. sink. lemari. telepon/intercom. sehingga blok unit sebaiknya sirkulasinya dibuat secara linier/lurus (memanjang). meja. (sofa untuk ruang perawatan VIP). cuci (. 4-6 m2 Kloset leher angsa. dokumentasi sampai dengan evaluasi pasien. telepon/intercom Tersedia peralatan keperawatan sesuai dengan kemampuan pelayanan yang ada.Ramp) atau Lift Khusus untuk mencapai ruangan tersebut. keran air bersih (Sink) Ket : tinggi bibir kloset + 80-100 m dari permukaan lantai 12 KM/WC (pasien. Pada ruang ini terdapat area basah. kebutuhan ruang 1 tt min. telepon/ intercom. 9 Ruang Linen Bersih Min. lemari. Ruang kerja. lampu periksa. alat monitoring untuk pemantauan terus menerus fungsi2 vital pasien. nurse call. lemari arsip.3. Tempat penyimpanan bahan-bahan linen steril/ bersih. KM/WC Sebagai tempat untuk menyiapkan makanan dan minuman bagi petugas di Ruang Rawat Inap RS. Kursi. Meja. Kursi. tiang infus dan kelengkapan lainnya. 4 m2 Lemari 10 Ruang Linen Kotor Min. Ruang Dokter terdiri dari 2 bagian : 1. kamera CCTV 5. penandatanganan surat pernyataan keluarga pasien apabila diperlukan tindakan operasi. Dokter Ruang Perawat 9-16 m2 9-16 m2 Tempat tidur. pengorganisasian asuhan dan pelayanan keperawatan (pre dan post-confrence. Kebutuhan Ruang. meja/kursi. Besaran Ruang / Luas Tergantung Kelas & keinginan desain. Administrasi/ Kantor 3~5 m2/ petugas (min.  Apabila Ruang Rawat Inap tidak berada pada lantai dasar. televisi. sofa. maka harus ada tangga landai (. Pusat Sarana. Fasilitas untuk membuang kotoran bekas pelayanan pasien khususnya yang berupa cairan. 1.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 5. Ruang utk melakukan perencanaan. tirai pemisah bila ada. wastafel.3 Persyaratan Khusus  Perletakan ruangannya secara keseluruhan perlu adanya hubungan antar ruang dengan skala prioritas yang diharuskan dekat dan sangat berhubungan/ membutuhkan. Meja. Ruang Perawatan 2 Ruang Stasi Perawat (. printer dan peralatan kantor lainnya. 6 m2 15 Min. sofa. Ruangan untuk melakukan tindakan pada pasien baik berupa tindakan invasive ringan maupun non-invasive Ruang untuk menyelenggarakan kegiatan administrasi khususnya pelayanan pasien di Ruang Rawat Inap. DEPKES-RI 57 . 4 m2 Bak penampungan linen kotor 11 Gudang Kotor (Spoolhoek/Dirty Utility). Sofa. lemari arsip. Ruang istirahat/kamar jaga. 2. peralatan kantor lainnya Lemari alat periksa & obat. meja/kursi. 6 m2 Kloset. komputer. lemari. wastafel.2 No. Ruang untuk melakukan konsultasi oleh profesi kesehatan kepada pasien dan keluarganya. Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas Nama Ruangan Fungsi Ruang untuk pasien yang memerlukan asuhan dan pelayanan keperawatan dan pengobatan secara berkesinambungan lebih dari 24 jam. pengaturan jadwal). komputer. wastafel 8 Ruang kepala instalasi rawat inap 8-16 m2 Lemari. dan perlengkapan dapur lainnya. Sekretariat Jenderal.

maksimum melayani 25 tempat tidur.4 – Alur Kegiatan Pasien. .Pasien yang menderita penyakit menular. ganggrein. Alur Kegiatan Alur kegiatan pada instalasi rawat inap dapat dilihat pada bagan alir berikut : Kamar Mayat Dokter Perawat Laundri Ruang Ganti (Loker) Ruang Linen Bersih Ruang Dokter Ruang Perawat Gudang Bersih Meninggal Dunia Ruang Konsultasi Pos Perawat Ruang Linen Kotor Ruang Rawat Inap Spoolhoek & Gudang Kotor Pasien Pulang Sehat Ruang Tunggu Pengantar Ruang Administrasi & Pendaftaran INSTALASI RAWAT INAP Instalasi Gawat Darurat Pasien+Pengantar Instalasi Bedah Instalasi Rawat Jalan Pasien+Pengantar Instalasi ICU Pasien+Pengantar Pasien+Pengantar Gambar 5.3.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C            5.Pasien yang gaduh gelisah (mengeluarkan suara dalam ruangan) Stasi perawat harus terletak di pusat blok yang dilayani agar perawat dapat mengawasi pesiennya secara efektif. mudah dibersihkan. Plafon harus rapat dan kuat. Tipe R. DEPKES-RI 58 . aman dan nyaman tetapi tetap memiliki kemudahan aksesibilitas dari sarana penunjang rawat inap. Sinar matahari pagi sedapat mungkin masuk ruangan. VIP. dsb). diabetes. Kelas I (2 tempat tidur). Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Masing-masing ruang Rawat Inap 4 spesialis dasar mempunyai ruang isolasi. bahan tidak mudah terbakar. Sekretariat Jenderal.3. .4 Bangunan Ruang Rawat Inap harus terletak pada tempat yang tenang (tidak bising). Lantai harus kuat dan rata tidak berongga.Pasien dengan pengobatan yang menimbulkan bau (seperti penyakit tumor. Petugas dan Alat Pada Instalasi Rawat Inap. Alur petugas dan pengunjung dipisah. Rawat Inap adalah Super VIP. Kelas II (4 tempat tidur) dan Kelas III (6 tempat tidur) Khusus untuk pasien-pasien tertentu harus dipisahkan seperti : . tidak rontok dan tidak menghasilkan debu/kotoran lain. bahan penutup lantai dapat terdiri dari bahan vinyl yang rata atau terasso keramik dengan nat yang rata sehingga abu dari kotoran-kotoran tidak tertumpuk. Pertemuan dinding dengan lantai disarankan berbentuk lengkung agar memudahkan pembersihan dan tidak menjadi tempat sarang debu/kotoran. Ruang Rawat Inap anak disiapkan 1 ruangan neonatus. Pusat Sarana.

Prasarana dan Peralatan Kesehatan. peralatan portable untuk transportasi. kapnografi. elektrokardiografi reader. Ruang penyimpanan alat medik yang setiap saat diperlukan. suction thorax.4 5. Ruang istirahat perawat. 6 Gudang alat medik Ruang untuk melakukan perencanaan. meja/kursi. meja. Ruang kerja. central patient vital sign. dokumentasi s/d evaluasi pasien. alat HD. beberapa ukuran plester/pita perekat medik. 4-16 m2 (dengan memperhatikan sirkulasi tempat tidur pasien didepannya) Kursi. nonrebreathing face mask). sungkup laring dan alat bantu jalan nafas lainnya. alat kateterisasi vena sentral dan manometernya. ECG monitoring system. tempat tidur khusus ICU. Instalasi ICU (Intensive Care Unit (ICU) merupakan unit pelayanan khusus di rumah sakit yang menyediakan pelayanan yang komprehensif dan berkesinambungan selama 24 jam. Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas Nama Ruangan Fungsi Tempat ganti pakaian. simple face mask. Ruang tempat tidur berfungsi untuk merawat pasien lebih dari 24 jam. 2. lampu tindakan. berbagai ukuran orofaring. dinding serta bukaan pintu dan jendela dengan ruangan ICU lainnya. dan lain lain. Sekretariat Jenderal. meja/kursi Tempat tidur. alat/sistem pemberian oksigen (nasal canule. blood pressure monitor. lemari. alat pemantauan untuk tekanan darah non-invasive. gunting. defibrilator bivasik. tournique untuk pemasangan akses vena. haemodialisis unit. oxygen tent. pengorganisasian. 6-16 m2 Respirator/ventilator. asuhan dan pelayanan keperawatan selama 24 jam (pre dan post conference. unit/alat foto rontgen mobile. forsep magill. lemari obat. Ruang istirahat/ kamar jaga. Ruang kerja dan istirahat kepala perawat. heart rate monitor. wastafel. komputer. dilengkapi toilet Peralatan ICU di RS Kelas C terdiri dari : Ventilator sederhana. DEPKES-RI 59 . Min. oksimeter nadi. blood gas analyzer.4. 6-9 m2 Lemari loker 2 3 3 4 Ruang Perawat Ruang Kepala Perawat R. peralatan infus intravena dengan berbagai ukuran kanul intravena dan berbagai macam cairan infus yang sesuai. sofa. sofa. Besaran Ruang / Luas (+) Kebutuhan Fasilitas 5. Mobile XRay. 1 set laringoskop dengan berbagai ukuran bilahnya. bedside monitor. printer. sofa. Pos perawat harus terletak di pusat blok yang dilayani agar perawat dpt mengawasi pasiennya secara efektif. sterilisator. Ruang Dokter terdiri dari 2 bagian : 1. lemari. Dokter Daerah rawat Pasien ICU : (a) Daerah rawat pasien non isolasi 9-16 m2 6-9 m2 9-16 m2 Tempat tidur. 1 Loker (Ruang ganti). 16 m2 /tt 5 Sentral monitoring/nurse station. yang diperuntukan bagi staf medis maupun non medis dan pengunjung. pompa infus dan pompa syringe. meletakkan sepatu/alas kaki sebelum masuk daerah rawat pasien dan sebaliknya setelah keluar dari daerah rawat pasien. central suction. berbagai ukuran pipa endotrakeal dan konektor. respiration monitor.4. central gas. mobile X-Ray unit. syringe untuk mengembangkan balon endotrakeal dan klem. Electrolite analyzer. dalam keadaan yang membutuhkan pemantauan khusus dan terus menerus. suction yang setara dengan ruang operasi. Pusat Sarana. anastesi apparatus. lemari. Kebutuhan Ruang. temperatur. Peralatan ICU di RS Kelas B terdiri dari : Peralatan seperti di RS kelas C ditambah dengan sebagai berikut : Elektrokardiograf monitor. 1 set alat resusitasi.ICU) Lingkup Sarana Pelayanan Merupakan instalasi untuk perawatan pasien yang dalam keadaan sakit berat sesudah operasi berat yang memerlukan secara intensif pemantauan ketat dan tindakan segera. defebrilator monovasik. lemari barang habis pakai. 12 m2 /tt (b) Daerah rawat pasien isolasi Min. pengaturan jadwal). Kamar yang mempunyai kekhususan teknis sebagai ruang perawatan intensif yang memiliki batas fisik modular per pasien.2 No. meja/kursi Tempat tidur.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 5. berbagai ukuran introduser untuk pipa endotrakeal dan bougies. temperatur monitor.1 INSTALASI PERAWATAN INTENSIF (. peralatan drainase thoraks. sphigmomanometer. pipa nasofaring.

Sekretariat Jenderal.4. 7. 2. termasuk untuk barang-barang steril. televisi & Telp umum (bila RS mampu). 11. Disarankan sirkulasi udara yang dikondisikan seluruhnya udara segar (. Ruang ini berada pada bagian depan instalasi ICU dengan dilengkapi loket atau Counter. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. 4-12 m2 Lemari/kabinet alat 4-6 m2 Kloset leher angsa. Terdapat pintu evakuasi yang luas dengan fasilitas ramp apabila letak instalasi ICU tidak pada lantai dasar. 10. laboratorium. Tempat keluarga/ pengantar pasien menunggu.fresh air). Spoolhoek berupa bak atau kloset yang dilengkapi dengan leher angsa (water seal). keran air bersih (Sink) Ket : tinggi bibir kloset + 80-100 m dari permukaan lantai 7 Ruang tunggu keluarga pasien. 3. 8 Ruang Administrasi 6-16 m2 Meja kerja. Min. 13. Tempat menyimpan tabungtabung gas medis cadangan. 8. Tersedia aliran Gas Medis (O2. lemari berkas/arsip dan telepon/interkom. Temperatur ruangan harus terjaga tetap dingin. Penyimpanan Silinder Gas Medik R. 9 Janitor/ Ruang cleaning service 4-6 m2 Lemari/rak 10 Toilet (petugas. 4. DEPKES-RI 60 . Pada ruangan ini terdapat area basah KM/WC R. Pertemuan dinding dengan lantai dan pertemuan dinding dengan dinding tidak boleh berbentuk sudut/ harus melengkung agar memudahkan pembersihan dan tidak menjadi tempat sarang debu dan kotoran. Harus bebas dari gelombang elektromagnetik dan tahan terhadap getaran. Ruang untuk menyelenggarakan kegiatan administrasi khususnya pelayanan pendaftaran dan rekam medik internal pasien di instalasi ICU. Gedung harus terletak pada daerah yang tenang. Peralatan yang disimpan diruangan ini harus dalam kondisi siap pakai dan dalam kondisi yang sudah disterilisasi. Fasilitas untuk membuang kotoran bekas pelayanan pasien khususnya yang berupa cairan. 12 m2 Tempat duduk. Tempat penyimpanan instrumen dan barang habis pakai yang diperlukan untuk kegiatan di ruang ICU. Pusat Sarana. Harus tersedia pengatur kelembaban udara. komputer. Aliran listrik tidak boleh terputus. Pintu kedap asap & tidak mudah terbakar. printer dan perlengkapan kantor lainnya. Parkir Brankar @ KM/WC pria/wanita luas 2 m2 – 3m2 4 – 8 m2 Tabung Gas Medis 11 12 2-6 m2 Brankar (stretcher) 5. Tempat parkir brankar selama tidak ada kegiatan pembedahan atau selama tidak diperlukan.3 Persyaratan Khusus 1. 12.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 5 Gudang bersih (Clean Utility) 6 Gudang Kotor (Spoolhoek/Dirty Utility). 5. pengunjung) R. instalasi radiologi dan instalasi bedah sentral. Perlu disiapkan titik grounding untuk peralatan elektrostatik. Letak bangunan instalasi ICU harus berdekatan dengan instalasi gawat darurat. 9. Ruangan tempat penyimpanan barang-barang dan peralatan untuk kebersihan ruangan. udara bertekanan dan suction). 6. terdapat penyedot asap bila terjadi kebakaran. Ruang ICU/ICCU sebaiknya kedap api (tidak mudah terbakar baik dari dalam/dari luar).

Dalam rangka meningkatkan kesehatan ibu dan anak telah ditetapkan bahwa Sarana Pelayanan Kesehatan Kabupaten/Kota Bahwa 75% RS di Kab/Kota menyelenggarakan PONEK (penambahan ruangan untuk Emergency Ibu & Anak) 5. 3. misalnya ekserpasi polip vagina. meja operasi.1 Pusat Sarana. monitor pasien serta lampu operasi). operasi sectio caesaria. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. operasi myoma uteri. asuhan persalinan kala II (pertolongan persalinan). Pelayanan persalinan. Sekretariat Jenderal. dll. Pelayanan gangguan kesehatan reproduksi penyakit kandungan meliputi pelayanan keguguran. asuhan persalinan kala I. Pelayanan persalinan meliputi : pemeriksaan pasien baru. Sntral Monitoring/Nurse Station Instalasi Rawat Inap 8. DEPKES-RI 61 . Gudang Bersih (CU) 4. penyakit kandungan dan kelainan kehamilan. 2. dan asuhan bayi baru lahir. Ruang Tunggu Pengantar Instalasi Rawat Inap Ruang Jenazah Pulang Sehat Gambar 5. Pelayanan gangguan kesehatan reproduksi/penyakit kandungan.4 Alur kegiatan. Pelayanan tindakan/operasi kebidanan Pelayanan tindakan/operasi kebidanan adalah untuk memberikan tindakan. pre eklampsi/eklampsi). Alur Kegiatan di Instalasi ICU ditunjukkan pada bagan alir berikut : Laundri/ CSSD Perawat 1. 4. infeksi.5.4. Loker Dokter Instalasi Gawat Darurat Instalasi Bedah 2. 5. Gudang Kotor (DU) 9. Gudang Alat Medik 7. Daerah rawat Pasien Instalasi ICU 5. Ruang Perawat 3. Ruang Dokter 6. Pelayanan KB (Keluarga Berencana).5 INSTALASI KEBIDANAN DAN PENYAKIT KANDUNGAN (OBSTETRI DAN GINEKOLOGI) Lingkup Sarana Pelayanan Pelayanan di Fasilitas Kebidanan Rumah Sakit Kelas C meliputi : 1.4 – Alur Kegiatan Pada Instalasi ICU. Kegiatan ini dilakukan pada ruang operasi yang berada di Instalasi Bedah Sentral dan baru dapat dilaksanakan pada Instalasi Kebidanan apabila telah memiliki peralatan operasi yang memadai (misalnya peralatan anaestesi.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 5. 5.4. Pelayanan nifas meliputi : pelayanan nifas normal dan pelayanan nifas bermasalah (post sectio caesaria. Pelayanan nifas.

meja. klem tali pusar). set AVM/kuretase. pengunjung) Janitor @ KM/WC pria/wanita luas 2 m2 – 3 m2 Mi. 9-16 m2 Tempat tidur. USG. wastafel. Ruang untuk istirahat perawat/ petugas lainnya setelah melaksanakan kegiatan pelayanan atau tugas jaga. sofa.5 m2/ orang (min. Sekretariat Jenderal. doek. wastafel. Ruang untuk menyiapkan makanan bagi pasien dan para petugas instalasi kebidanan dan kandungan. set minor surgery. lemari berkas/arsip dan telepon/ interkom. Min. Bahan-bahan lain seperti linen. tensimeter. stand infuse. kebidanan & kandungan. vakum ekstraktor. lampu periksa.5. Ruang ini berada pada bagian depan instalasi/r. bak air 4-6 m2 13 14 KM/WC (petugas. resusitasi set bayi.2 No. KM/WC Ruang tempat penyimpanan peralatan Min. celemek plastik. bak air Kloset. sink mandi bayi Ruang Bersalin/ Kala I-II-III (labour & delivery) 3 (Minimal RS memiliki kapasitas untuk 4 meja berrsalin) Ruang sebagai tempat dimana pasien melahirkan bayinya termasuk kegiatankegiatan untuk tindakan saat persalinan. gunting tali pusar. Spoolhoek berupa bak atau kloset yang dilengkapi dengan leher angsa (water seal). alat resusitasi bayi./ suatu ruangan yang diperuntukkan bagi para pengunjung. sarung tangan. 7. Administrasi dan pendaftaran 3~5 m2/ petugas (min. Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas Nama Ruangan Fungsi Ruang untuk menyelenggarakan kegiatan administrasi khususnya pelayanan pasien di ruang kebidanan dan kandungan. set minor surgery. Meja. infuse set. rak sepatu bersih.  Pembayaran (Kasir). set kebidanan (minimal : forceps. O2 set. keran air bersih (Sink) Ket : tinggi bibir kloset + 80-100 m dari permukaan lantai Kloset. wastafel. stetoskop. suction apparatus. infusion set. emergency light. Fasilitas untuk membuang kotoran bekas pelayanan pasien khususnya yang berupa cairan. tensimeter. staf medis/ non medis untuk berganti pakaian atau alas kaki sebelum masuk ke r. Min. printer dan peralatan kantor lainnya 2 Ruang Tunggu Pengantar Pasien 1~1. doppler. tempat ganti popok bayi. penghangat. DEPKES-RI 62 . lemari arsip. O2 set. klem hemostasis arteri. Kursi. sink Kloset leher angsa. emergency light. meja kerja. cardiotocograph (CTG).2 m2/ tempat tidur 6 Ruang Bayi Ruang tempat bayi setelah dilahirkan Min. resusitasi set dewasa. kursi. wastafel 9-16 m2 Tempat tidur. 6 m2 Lemari instrumen. Kegiatan administrasi meliputi :  Pendataan pasien. wastafel. Tt pasien. tiang infus. lampu periksa. Instumen berada dalam Tromol tertutup dan disimpan di dalam lemari instrument. kasa steril dan kapas yang telah disterilkan juga dapat disimpan di ruangan ini. microwave. 16 m2) Kursi. celemek plastik. 6 m2 Meja. Ruang tempat kerja dan istirahat dokter dilengkapi dengan KM/WC. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. sofa. 12 m2/ tempat tidur 4 Ruang Tindakan Ruang tempat melakukan tindakan kebidanan dan penyakit kandungan Min. Besaran Ruang / Luas Kebutuhan Fasilitas 1 R. resusitasi set dewasa. 3 m2 Pusat Sarana. Tromol @ Min. oksigen Tempat tidur bayi. komputer. Min. timbangan dan pengukur panjang bayi. kasa dan kapas. telepon/intercom. Kebutuhan Ruang. suction apparatus. timbangan bayi. doek. 9 m2 7 Gudang Steril (.Recovery)/ Kala IV Ruang pemulihan pasien pasca melahirkan yang memerlukan perawatan kualitas tinggi dan pemantauan terus menerus. kasa dan kapas. monitor pasien. kebidanan & kandungan dengan dilengkapi loket.dan sebaliknya setelah keluar dari ruang kebidanan dan kandungan. Kamar jaga harus berada di bagian depan sehingga mempermudah semua pihak yang memerlukan pelayanan pasien. inkubator.clean utility) 8 Ruang ganti pakaian/ loker 9 Ruang dokter 10 Ruang perawat/ Petugas 11 Pantri 12 Gudang Kotor (Spoolhoek/Dirty Utility). kulkas. Tempat ganti pakaian. stand infuse. Televisi & Alat Pengkondisi Udara (AC/ Air Condition) Set partus.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 5. sarung tangan. Ruang tempat penyimpanan instrumen yang telah disterilkan. 12 m2/ tempat tidur 5 Ruang Pemulihan (. 6 m2 Loker. blue lamp therapy. tensimeter. meja. Set partus.  Penandatanganan surat pernyataan keluarga pasien (jika diperlukan tindakan operasi). kompor. stetoskop.6 m2) Meja. sepatu/alat kaki sebelum masuk ke. Ruang untuk pengantar pasien menunggu selama pasien menjalani proses persalinan/ tindakah bedah.

Limbah padat medis yang dihasilkan dari kegiatan kebidanan dan penyakit kandungan ditempatkan pada wadah khusus berwarna kuning bertuliskan limbah padat medis infeksius kemudian dimusnahkan di incenerator. 8. ICU dan Instalasi Bedah Sentral.6. Memiliki sistem proteksi dan penanggulangan terhadap bahaya kebakaran. Memiliki sistem sirkulasi udara yang memadai dan tersedia pengatur kelembaban udara untuk kenyamanan termal. 3. 2.3 Persyaratan Khusus 1. Ruang bayi dan ruang pemulihan ibu disarankan berdekatan untuk memudahkan ibu melihat bayinya. apabila tidak memiliki ruang operasi atau ruang tindakan yang memadai. 9. Min. tapi sebaiknya dilakukan dengan sistem rawat gabung. Bidan & Perawat 5. Bagunan harus terletak pada daerah yang tenang/ tidak bising. Letak bangunan instalasi kebidanan dan penyakit kandungan harus mudah dicapai. Alur Kegiatan Pada Instalasi Kebidanan dan Penyakit Kandungan ditunjukkan pada bagan alir berikut : Dokter. 6. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.5. Sekretariat Jenderal. Harus disediakan pintu ke luar tersendiri untuk jenazah dan bahan kotor yang tidak terlihat oleh pasien dan pengunjung. DEPKES-RI 63 .5.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 15 Parkir Brankar kebersihan/cleaning service. disarankan berdekatan dengan instalasi gawat darurat.4 Pasien & Pengantar Pasien Pengantar Pasien Ruang Ganti & Loker Administrasi & Pendaftaran Pasien Ruang Tunggu Ruang Tindakan Ruang Persiapan Ruang Bersalin Ruang Operasi Ruang Pemulihan Ruang Rawat Inap Ruang Bayi Pulang Pusat Sarana. 2 m2 Brankar 5. Tempat untuk parkir brankar selama tidak ada kegiatan pelayanan pasien atau selama tidak diperlukan. Untuk persyaratan ruang operasi kebidanan dapat dilihat pada poin 5. 5. Alur kegiatan. Terdapat pintu evakuasi yang luas dengan fasilitas ramp apabila letak instalasi kebidanan dan penyakit kandungan tidak pada lantai dasar. 7. 4.

Administrasi dan pendaftaran Ruang Tunggu Pasien dan Pengantar Pasien Ruang untuk cuci tangan (scrub station) Meja. Melepas semua perhiasan dan menyerahkan ke keluarga pasien Apabila tidak ada r. respirator. defibrillator.Preparation room) Min.6 5. set operasi mayor. set operasi minor. Membersihkan/mencukur bagian tubuh yg perlu dicukur. instrumen troli tiang infuse. laser coagulator. laparoskopik set. linen. printer dan peralatan kantor lainnya Kursi.6. headlamp. infusion pump. plastik dan rekonstruksi berat. Sekretariat Jenderal. Bedah umum dan bedah sub spesialistik (antara lain: kebidanan. lampu operasi.Induction room) 5 Ket : Bisa digabungkan dengan ruang persiapan Min. Bedah minor (antara lain : bedah insisi abses. • Memberikan kesempatan kepada pasien untuk menenangkan diri. brankar (apabila tidak memiliki ruang induksi. laparotomi set. patient monitor (minimal memiliki fungsi : SpO2 monitor/spirometer. Meja. Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas Nama Ruangan Fungsi Ruang untuk menyelenggarakan kegiatan administrasi khususnya pelayanan bedah. ekstirpasi. serta lemari pendingin dan lemari simpan hangat. maka dilengkapi dengan alat : suction Unit. Kursi. orthopedic. scavenging unit.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Gambar 5. oksigen. onkologi/tumor.anaestesi maka persiapan anaestesi juga dilaksanakan di ruang ini. 36 m2 Set operasi minor.COT/Central Operation Theatre) Lingkup Sarana Pelayanan Instalasi bedah. head lamp unit.2 No. Ruang ini dilengkapi loket pendaftaran. nebulizer. perlengkapan dan mesin Anaestesi (bila diperlukan). 3 m2 4 Ruang persiapan (. scavenging unit. Televisi & Alat Pengkondisi Udara (AC / Air Condition) Wastafel dengan 2 keran. lampu petunjuk operasi. lampu operasi. electro surgery unit. meja operasi. set Pusat Sarana. anak. suction unit. kardiotorasik dan vaskuler) Kebutuhan Ruang. 36 m2 8 Ruang bedah sub Ruang untuk melakukan kegiatan Min. 9 m2 Alat cukur. tumor kecil jinak pada kulit.9 m2) 1~1. sirkumsisi). 5. Pelayanan bedah pada rumah sakit kelas C meliputi : 1. oksigen. peralatan anastesi) Ruang anaestesi (. Kegiatan yang dilakukan di kamar ini adalah sebagai berikut : • Mengukur tekanan darah pasien. Min. ECG 1 channel. oksigen.5. suction pump. meja operasi. lemari arsip. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. DEPKES-RI 64 . Trakeostomi set. adalah suatu unit khusus di rumah sakit yang berfungsi sebagai tempat untuk melakukan tindakan pembedahan secara elektif maupun akut. syringe pump jam operasi. skort plastik/karet. ekstraksi kuku / benda asing. Trakeostomi set. meja operasi. Ruang untuk pengantar pasien menunggu selama pasien menjalani proses bedah. urologi. perlengkapan cuci tangan (sikat kuku.5 m2/ orang (min. • Pemasangan infus. sabun. thermometer. • Memberikan penjelasan kepada pasien mengenai tindakan yang akan dilaksanakan. Ruang yang digunakan untuk mempersiapkan pasien sebelum memasuki kamar bedah. Kegiatan dalam ruang ini yaitu : Penggantian pakaian penderita. set operasi mayor. laringoskopi. Ruang yang digunakan untuk persiapan anaestesi/pembiusan. 12 m2) Kebutuhan Fasilitas 1 R. head lamp unit. 24 m2 7 Ruang bedah umum (minimal 2 ruang) Ruang untuk melakukan kegiatan pembedahan umum/general.6. electro surgery unit. electro surgery unit. dll). jam operasi. defibrillator. 9 m2 Suction Unit Sphygmomanometer Thermometer Trolley Instrument Infusion stand 6 Ruang bedah minor (minimal 1 ruang) Ruang untuk melakukan kegiatan pembedahan minor. Ruang untuk cuci tangan dokter ahli bedah. 2. handuk 2 3 Min. stool fixed height. komputer. sphygmomanometer). sphygmomanometer.4 – Alur Kegiatan Pada Instalasi Kebidanan dan Penyakit Kandungan. 5. Besaran Ruang / Luas 3~5 m2/ petugas (min. telepon/intercom. lampu petunjuk operasi. endotrakeal tube. Min. asisten dan semua petugas yang akan mengikuti kegiatan dalam kamar bedah. yang membutuhkan kondisi steril dan kondisi khusus lainnya.1 INSTALASI BEDAH SENTRAL (.

9 m2 Min. Min. operasi minor. scavenging unit. 4 m2 Loker Min. untuk dilakukan tindakan resusitasi terhadap bayi. infusion set. Instumen berada dalam Tromol tertutup dan disimpan di dalam lemari instrument.Post Anesthetic Care Unit) 11 Gudang Steril (. jam operasi. Ruang untuk istirahat perawat/ petugas lainnya setelah melakukan kegiatan pembedahan atau tugas jaga. 4 m2 Autoklaf. urologi. nebulizer. oksigen Min. sofa. atau dicuci di londri dan disterilkan di CSSD. Model meja strilisasi. endotrakeal tube. 3 m2 9-16 m2 Lemari obat Tempat tidur. laparotomi set I (standar). meja operasi. ECG 1 channel.3 Persyaratan Khusus 1. Ruang pemulihan pasien pasca operasi yang memerlukan perawatan kualitas tinggi dan pemantauan terus menerus.clean utility) 12 Ruang Sterilisasi 13 Ruang loker ganti pakaian/ 14 15 Depo Farmasi Ruang dokter 16 Ruang perawat 17 Ruang Diskusi Medis 18 Gudang Kotor (Dirty Utility). bedah. DEPKES-RI 65 . l electro surgery unit. Fasilitas untuk membuang kotoran bekas pelayanan pasien khususnya yang berupa cairan. stool fixed height.6. wastafel. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. meja. keran air bersih (Sink) Ket : tinggi bibir kloset + 80-100 m dari permukaan lantai 20 KM/WC (petugas. Ruang tempat penyimpanan instrumen yang telah disterilkan. Ruang tempat penyimpanan sementara barang dan bahan setelah digunakan untuk keperluan operasi sebelum dimusnahkan ke insenerator. monitor set. dll 4-6 m2 Container 4-6 m2 Kloset leher angsa. parotidektomi set. head lamp unit. laringoskopi. 19 Spoolhoek Ruangan yang dipergunakan untuk menempatkan bayi baru lahir melalui operasi caesar. orthopedic set. Tromol. wastafel. Ruang untuk ganti pakaian. bak air 21 Brankar/ stetcher 5. 9-16 m2 Meja + kursi diskusi. Ruang tempat istirahat dokter dilengkapi dengan KM/WC. lampu operasi. wastafel. lampu petunjuk operasi. electro surgery unit. 7. KM/WC Tempat parkir brankar selama tidak ada kegiatan pembedahan atau selama tidak diperlukan. suction unit. Ruang/ tempat menyimpan obatobatan untuk keperluan pasien. syringe pump. sofa. kasa steril dan kapas yang telah disterilkan juga dapat disimpan di ruangan ini. lemari instrument @ Min. mastektomi set. alat resusitasi bayi 9 Ruang Resusitasi Neonatus 10 Ruang Pemulihan/ PACU (. bedah kardiotorasik. 1. thyroidektomy set.laparoskopik set. infusion pump. patient monitor (minimal memiliki fungsi : SpO2 monitor/spirometer. 6 m2 Lemari instrumen. incubator perawatan bayi. cough examination. pengunjung) Parkir brankar @ KM/WC pria/wanita luas 2 m2 – 3 m2 2 Kloset. tiang infus. humby knife. Spoolhoek berupa bak/ kloset yang dilengkapi dengan leher angsa (water seal). Di kamar sterilisasi harus terdapat lemari instrumen untuk menyimpan instrumen yang belum disterilkan. Bahan-bahan lain seperti linen. Pada kamar ganti sebaiknya disediakan lemari pakaian/locker dengan kunci dipegang oleh masingmasing petugas. meja.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C spesialistik (minimal 2 ruang) pembedahan sub spesialistik. troli instrumet. Sekretariat Jenderal. meja sink. Ruang untuk diskusi para operator kamar operasi sebelum melakukan tindakan pembedahan.2 m2/ tempat tidur Tt pasien. defibrillator. Ruang jaga harus berada di bagian depan shg mempermudah semua pihak yang memerlukan pelayanan bedah. USG. mobile C-arm. Pembagian daerah sekitar kamar bedah: Pusat Sarana. 9-16 m2 Tempat tidur. Tempat tidur bayi. sphygmomanometer). Tromol Min. sebelum petugas masuk ke area r. Jalan masuk barang-barang steril harus terpisah dari jalan keluar barangbarang & pakaian kotor. laparotomi set II (ditambah alat khusus untuk prosedur tertentu). oksigen. Tempat pelaksanaan sterilisasi instrumen dan barang lain yang diperlukan untuk pembedahan. meja operasi.

yaitu para petugas. dan sudah ada pembatasan tentang jenis pakaian yang dipakai petugas-petugas ini (pakaian khusus atau lepas-sandal/sepatu. dengan demikian akan mencegah terjadinya infeksi ‘airborne’. i. g. 3. f. 5. Daerah ini misalnya : ruang tunggu. Alur Kegiatan Pada Instalasi Bedah Sentral ditunjukkan pada bagan alir berikut : Pusat Sarana. Sistem AC Sentral. Setiap 2 kamar operasi harus dilayani oleh setidaknya 1 ruang scrub up.4 Alur kegiatan. Pintu kamar operasi yang ideal harus selalu tertutup selama operasi. Pintu harus yang mudah dibuka dengan sikut. Kelembaban ruang yang dianjurkan 70% (jika menggunakan bahan anaestesi yang mudah terbakar. artinya daerah ini hanya boleh dimasuki oleh orangorang tertentu saja. Plafon harus rapat dan kuat. Daerah Semi Publik. yaitu dimaksudkan dengan daerah tempat dilakukannya pembedahan dan sekitarnya (lapangan bedah). Pertemuan dinding dengan lantai dan dinding dengan dinding harus melengkung agar mudah dibersihkan dan tidak menjadi tempat sarang abu dan kotoran.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C a. c. Harus ada kaca tembus pandang di dinding ruang operasi yang menghadap pada sisi dinding tempat ahli bedah mencuci tangan. Tekanan udara yang positif di dalam kamar pembedahan. maka kelembaban maksimum 50%). yaitu daerah kamar bedah sendiri. untuk mencegah terjadinya nosokomial. Lantai harus kuat dan rata atau ditutup dengan vinyl yang rata atau teras sehingga debu dari kotoran-kotoran tidak tertumpuk. j. Daerah ASEPTIK. c. Daerah Publik. dan sebagainya). umumnya dianggap daerah yang harus dijaga ke-sucihama-annya. d. selasar kamar bedah. k. Pergantian udara yang dianjurkan sekitar 18-25 kali/jam. suhu kamar operasi yang ideal 26 – 280C yang harus terjaga kestabilannya dan harus menggunakan filter absolut untuk menjaring mikroorganisme. h. Persyaratan ruang operasi : a. Sekretariat Jenderal. mudah dibersihkan.6. Harus disediakan pintu ke luar tersendiri untuk jenazah dan bahan kotor yang tidak terlihat oleh pasien dan pengunjung. 2. yang diletakkan dengan ketinggian diatas 2 m. e. Penerangan alam menggunakan jendela mati. 4. b. artinya daerah yang boleh dimasuki oleh semua orang tanpa syarat khusus. tidak rontok dan tidak menghasilkan debu/kotoran lain. Di daerah ini sering masih ada istilah tambahan: yaitu apa yang disebut daerah ‘HIGH-ASEPTIC’. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. yang hanya boleh dimasuki oleh orang-orang yang langsung ada hubungannya dengan kegiatan pembedahan saat itu. DEPKES-RI 66 . bahan tidak mudah terbakar. b. koridor.

narkotika dan obat psikotropika. Melakukan perencanaan. gas medik sesuai formularium RS.C. Sekretariat Jenderal.6. pengadaan dan penyimpanan obat. peracikan dan pembuatan obat. Mampu mendukung kegiatan pelayanan unit kesehatan lainnya selama 24 jam. lemari. Ruang untuk melaksanakan kegiatan administrasi kefarmasian RS. 6 m2/ apoteker (min. Pendistribusian obat. dan 1 2 3 4 Ruang Peracikan Obat Depo Bahan Baku Obat Depo Obat Jadi Gudang Perbekalan dan Alat Kesehatan Depo Obat Khusus Ruang Administrasi (Penerimaan dan 5 Min.24 m2) Min. 6 m2 Min.4 – Alur Kegiatan Pada Instalasi Bedah Sentral. 10 m2 Kebutuhan Fasilitas Peralatan farmasi untuk persediaan. printer.7 5. Lemari/rak Lemari/rak Lemari/rak Lemari khusus .7.S. Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas Nama Ruangan Fungsi Ruang tempat melaksanakan peracikan obat oleh apoteker. komputer. faksimili. dll Alat tulis kantor. baik steril maupun non steril. 4.2 No. alat kesehatan. 2.S.U RUANG PERSIAPAN RUANG RAWAT BAYI RUANG RAWAT INAP RUANG PENDAFTARAN PASIEN + PENGANTAR MASUK RUANG TUNGGU PENGANTAR Gambar 5. regensia radio farmasi & gas medis. Ruang tempat penyimpanan obat jadi Ruang tempat penyimpanan perbekalan dan alat kesehatan Ruang tempat penyimpanan obat khusus seperti untuk obat yang termolabil. Memberikan pelayanan informasi obat dan melayani konsultasi obat. dan obat berbahaya.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C PARAMEDIS DOKTER LOKER RUANG DOKTER SCRUB STATION RUANG KOTOR RUANG BEDAH C. 5.1 INSTALASI FARMASI (. 10 m2 6 Min. Kebutuhan Ruang. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.7. 5. loket. 6 m2 Pusat Sarana. kontainer khusus untuk limbah sitotoksis. Besaran Ruang / Luas Min.D GUDANG STERIL RUANG INDUKSI RUANG RESUSITASI NEONATUS RUANG PEMULIHAN (PACU) RUANG I. telepon. Melakukan kegiatan peracikan obat sesuai permintaan dokter baik untuk pasien rawat inap maupun pasien rawat jalan 3. Ruang tempat penyimpanan bahan baku obat. meja+kursi.PHARMACY) Lingkup Sarana Pelayanan Unit Farmasi direncanakan mampu untuk melakukan pelayanan : 1. 6 m2 Min. radio farmasi. alat kesehatan reagensia. 5. DEPKES-RI 67 . lemari pendingin dan AC.

• Antara fasilitas untuk penyelenggaraan pelayanan langsung kepada pasien. 8 @ loker 6-9 m2 Lemari loker 9 10 11 Ruang Rapat/Diskusi Ruang Arsip Dokumen & Perpustakaan Ruang Kepala Instalasi Farmasi Ruang Staf Ruang Tunggu 12-30 m2 9-20 m2 6-9 m2 Meja. 25 m2) Min. dan alat perkantoran lainnya. bak air 14 Dapur Kecil (. KM/WC alat perkantoran lainnya. meja. kursi. Alur Petugas Instalasi Farmasi Konter Apotek Pusat Sarana. Ruang kerja dan istirahat staf. sofa. Ruang untuk menyelenggarakan kegiatan penerimaan resep pasien. petugas.3 Persyaratan Khusus • Lokasi instalasi farmasi harus menyatu dengan sistem pelayanan RS. sink. kartu arsip Tempat tidur.Pantry) KM/WC (pasien. Kloset. distribusi obat dan alat kesehatan dan manajemen dipisahkan. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. 1. pasien dan pengunjung. • Gudang penyimpanan tabung gas medis (Oksigen dan Nitrogen) Rumah Sakit diletakkan pada gudang tersendiri (di luar bangunan instalasi farmasi). kursi. Ruang tempat melaksanakan kegiatan pertemuan dan diskusi farmasi. Alur Pasien dan pengunjung Pasien/ Pengunjung Loket Penerimaan Resep Loket Pembayaran 5. wastafel.7. narkotika dan obat psikotropika serta obat/ bahan berbahaya. • Harus disediakan penanganan mengenai pengelolaan limbah khusus sitotoksis dan obat berbahaya untuk menjamin keamanan petugas. penerimaan dan distribusi obat. 7 Konter Apotik (Loket penerimaan resep. sebelum melaksanakan tugas medik yang diperuntukan khusus bagi staf medis. meja/kursi 12 13 9-16 m2 1~1. Sebagai tempat untuk menyiapkan makanan dan minuman bagi petugas di Instalasi Farmasi RS. Ruang menyimpan dokumen resep dan buku-buku kefarmasian. televisi & Telp umum (bila RS mampu). Lemari arsip. DEPKES-RI 68 . penyiapan obat. lemari. sofa. 6 m2 @ KM/WC pria/wanita luas 2 m2 – 3 m2 Tempat tidur. Ruang tempat pasien dan pengantarnya menunggu menerima pelayanan dari konter apotek.4 Pulang Pengambilan Obat Ruang Tunggu 2.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Distribusi Obat) meliputi kegiatan pencatatan keluar masuknya obat. • Tersedia ruang khusus yang memadai dan aman untuk menyimpan dokumen dan arsip resep. peralatan meeting lainnya. meja/kursi Tempat duduk. Ruang kerja dan istirahat kepala Instalasi Farmasi.5 m2/ orang (min. loket pembayaran dan loket pengambilan obat) Ruang Loker Petugas (Pria dan Wanita dipisah) Min.7. Alur kegiatan. Kursi+meja untuk makan. pembayaran. pengunjung) 15 5. Sekretariat Jenderal. 16 m2 Rak/lemari obat. • Harus disediakan tempat penyimpanan untuk obat-obatan khusus seperti Ruang Administrasiuntuk obat yang termolabil. lemari. dan perlengkapan dapur lainnya. dan pengambilan obat Tempat ganti pakaian. printer. komputer.

8. toraks. Mampu mendukung kegiatan unit lainnya selama 24 jam sehari dan 7 hari dalam seminggu.8 INSTALASI RADIOLOGI Radiologi adalah Ilmu kedokteran yang menggunakan teknologi pencitraan/ imejing (.8. colon inloop (barium enema). histero salfingografi.imaging technologies) untuk mendiagnosa dan pengobatan penyakit. DEPKES-RI 69 .2 Pusat Sarana. Penerimaan & Distribusi Obat 3. Dengan Kontras (antara lain foto : IVP. Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas 5. Pemeriksaan USG untuk kelainan-kelainan abdominal.7. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Kebutuhan Ruang. Radiodiagnostik (non invasif) a. Lingkup Sarana Pelayanan Instalasi Radiologi melakukan pelayanan sesuai kebutuhan dan permintaan dari unit-unit kesehatan lain di RSU tersebut.4 – Alur Kegiatan Pada Instalasi Farmasi. kebidanan dan penyakit kandungan. Non Kontras (antara lain foto : tulang-tulang. (Penerimaan Obat & Barang Perbekalan) Gudang Perbekalan dan Alat Medis Depo Obat Khusus R. Unit Radiologi dapat pula melayani permintaan dari luar. cholecistografi.1 5.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Petugas/ staf Loker Ruang Peracikan Ruang Administrasi. ceptografi. Administrasi. jaringan lunak. Merupakan cabang ilmu kedokteran yang berkaitan dengan penggunaan sinar-X (. (Distribusi Obat dan Barang Perbekalan) Gudang Penyimpanan Tabung gas medis Obat / Barang Perbekalan Keluar Gambar 5. 5.X-Ray) yang dipancarkan oleh pesawat sinar-X atau peralatan-peralatan radiasi lainnya dalam rangka memperoleh informasi visual sebagai bagian dari pencitraan/imejing kedokteran (. maag duodenografi.medical imaging). Alur Barang Depo Bahan Baku Depo Obat Jadi Ruang Peracikan Obat / Barang Perbekalan Masuk Konter Apotek Ruang Administrasi. Sekretariat Jenderal. Pelayanan Radiologi pada Rumah Sakit Kelas C adalah memberikan pelayanan radiodiagnostik non invasif dengan dan tanpa kontras. cor anaupe) 2. abdomen) b. yaitu : 1. fistulografi. 3. esofagografi.

Lemari alat monitor radiologi. General 9-16 m2 Ruang tempat melaksanakan kegiatan diagnostik umum Ruang tempat melaksanakan kegiatan diagnostik tomografi (jaringan lunak) Ruang tempat melaksanakan kegiatan diagnostik fluoroskopi Ruang tempat melaksanakan kegiatan diagnostik jaringan lunak menggunakan USG Min. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. printer. 12 m2 c. 9 m2 Ruang-ruang Penunjang (Pada tiap-tiap ruang pemeriksaan diatas kecuali USG) Ruang operator/ panel kontrol Ruang Mesin Ruang ganti pasien KM/WC pasien Kamar gelap (Bila tidak menggunakan AFP (. hanger Kloset. wastafel. telepon. Nama Ruangan Ruangan Tunggu Pasien & Pengantar Pasien Ruang Administrasi dan Rekam Medis. KM/WC Tempat tidur. Kelembaban udara pada ruang radiasi/pemeriksaan/penyinaran ialah antara 45~60%. lemari. meja.3 Persyaratan Khusus  Lokasi ruang radiologi mudah dicapai.Pantry) Min. 8 m2 Meja kontrol. Komputer Transformator/genetaor/CPU tomografi unit Lemari baju bersih. dan alat perkantoran lainnya. 4 m2 Min. 2. 6 m2 Min. 9. Lemari arsip 10.Automatic Film Processor) digital ataupun AFP kering) Ruang Jaga Radiografer Gudang penyimpanan berkas Ruang tempat mengendalikan/ mengkontrol pesawat X-Ray Ruang tempat meletakkan transformator/genetaor/CPU Ruang tempat pasien berganti pakaian dan menyimpan barang milik pribadi. meja+kursi.  Dinding/pintu mengikuti persyaratan khusus sistem labirin proteksi radiasi. Ruang tempat istirahat radiografer cito Ruang tempat penyimpanan berkas hasil pemeriksaan. 16 m2 4. televisi & Telp umum (bila RS mampu). kursi. komputer. 9 m2 Kebutuhan Fasilitas Tempat duduk. kaca.  Ruangan gelap dilengkapi exhauster. meja. KM/WC petugas Kloset. General X-Ray unit (bed dan standing unit dengan bucky) X-Ray Tomografi unit (bed dan/ standing unit dengan bucky) 5. Ruang tempat pasien melakukan pendaftaran. bak air 5. tempat pembayaran dan sebagai tempat mengambil hasil pemeriksaan Ruangan tempat membaca film hasil diagnosa pasien dan tempat pasien konsultasi medis dengan Dokter spesialis radiologi. loket. Fluoroskopi Min. Ruang tempat memproses film. Kursi. dan instalasi bedah sentral. 12 m2 X-Ray Fluoroskopi unit. 1. Ruangan untuk staf melaksanakan tugas administrasi dan personalia dan ruangan untuk penyimpanan sementara berkas film pasien yang sudah dievaluasi. Automatic film processor (AFP). meja. 12 m2 b. kursi. Ruang Konsultasi Dokter 9-16 m2 Meja.  Sirkulasi bagi pasien dan pengantar pasien disarankan terpisah dengan sirkulasi staf. sink & waste liquid container 8. Rak/lemari berkas. Ruangan kerja dan penyimpanan alat ahli fisika medis Besaran Ruang / Luas 1~1. Ruang ahli fisika medis Ruang Pemeriksaan a. 4 m2 @ KM/WC pria/wanita luas 2 m2 – 3 m2 Min. 6 m2 @ KM/WC pria/wanita luas 2 m2 – 3 m2 Perlengkapan dapur 11. Pusat Sarana. ICU. 4 m2 Min. daerah basah dan daerah kering. Dapur Kecil (. d. printer. DEPKES-RI 70 . Sekretariat Jenderal. Loket Pendaftaran. dan alat perkantoran lainnya. Tomografi Min. bed unit dengan bucky General USG unit dengan multi probe sesuai kebutuhan pelayanan RS. pembayaran dan pengambilan hasil Fungsi Ruangan Ruangan pasien & pengantar pasien menunggu diberikannya pelayanan medik. 3.8. film viewer. kursi. komputer. 6 m2 ( untuk AFP manual/Basah) Min.  Ruang konsultasi dilengkapi dengan fasilitas untuk membaca film. Ultra SonoGrafi (USG) 6.5 m2/ orang (min. bak air 7. wastafel.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C No. faksimili. Min. 25 m2) Min. terdiri dari 2 area. Suhu sejuk dan nyaman lingkungan ialah pada 22 ~ 26 OC dengan tekanan seimbang. wastafel. kontainer baju kotor. Min. KM/WC Min.  Persyaratan pengkondisian udara : a. Alat tulis kantor. Sebagai tempat untuk menyiapkan makanan dan minuman bagi mereka yang ada di Ruang Radiologi Rumah Sakit dan sebagai tempat istirahat petugas. b. wastafel. berdekatan dengan instalasi gawat darurat. laboratorium.

Alur Film Processing Film (Kamar Gelap/ AFP) Identifikasi Foto Pengambilan Foto (R. Alur Pasien PASIEN Poliklinik Bagian/Inst. Sekretariat Jenderal. memproses. Pemeriksaan) Hasil Interpretasi (R. 1. Lain Dr. Dekontaminasi merupakan proses mengurangi jumlah Pusat Sarana. Praktek Puskesmas Umum ASKES/ Jamsostek/JPS Loket Pendaftaran Pasien Umum Loket Pembayaran Pasien Umum Loket Pendaftaran Pasien ASKES Loket Pembayaran Pasien ASKES Ruang Tunggu Loket Pengambilan Hasil Ruang Pemeriksaan Gambar 5. Alur kegiatan.9 INSTALASI STERILISASI PUSAT (CSSD/ CENTRAL SUPPLY STERILIZATION DEPARTEMEN) Instalasi Sterilisasi Pusat (CSSD) mempunyai fungsi menerima. DEPKES-RI 71 .9 Tersedia pengelolaan limbah radiologi khusus. Kegiatan utama dalam Instalasi Sterilisasi Pusat (CSSD) adalah dekontaminasi instrumen dan linen baik yang bekas pakai maupun yang baru serta bahan perbekalan baru. Konsultasi Dokter) 5. memproduksi. 2.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C  5.8. mensterilkan menyimpan serta mendistribusikan instrumen medis yang telah disterilkan ke berbagai ruangan di rumah sakit untuk kepentingan perawatan dan pengobatan pasien.4 – Alur Kegiatan Pada Instalasi Radiologi. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.

sterilizer kerosene.9. lemari dan peralatan kantor lainnya. pencucian dan pengeringan instrumen atau linen bekas pakai. 9 m2 Container. 2. Ruang Prosesing / Produksi Min. plasma sterilizer) Lemari/Rak linen. sarung tangan. 2. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. mengemas dan menampung alat-alat yang dipakai untuk sterilisasi. linen dan bahan perbekalan baru.9. 30 m2 3. Proses dekontaminasi meliputi proses perendaman. linen dan bahan perbekalan baru yang telah disterilisasi. 5. Sekretariat Jenderal. Loket Penerimaan & Pencatatan 8-25 m2 Meja.2 No. b. Menerima bahan.1 Lingkup Sarana Pelayanan Kegiatan dalam instalasi CSSD adalah sebagai berikut: 1. Area Cuci 12-25 m2 Autoklaf table. linen dan bahan perbekalan baru sebelum disterilisasi. Mesin pengering slang. Ruang Dekontaminasi Min. 3. alat wrapping. meja setrika. Ruang tempat perendaman. Selain itu di ruang ini jg dilaksanakan kegiatan persiapan bahan seperti kassa. penerimaan. Ruang tempat melaksanakan kegiatan pemeriksaan linen. Besaran Ruang / Luas Kebutuhan Fasilitas 5. Min. mengemas dan menampung alat-alat yang dipakai untuk sterilisasi. Distribusi. dll. Gudang Steril Gudang Barang/Linen/ Bahan Perbekalan Baru Ruang Dekontaminasi Kereta/Troli : a. Barang/linen/bahan perbekalan baru dari instalasi farmasi yang perlu disterilisasi. dilipat dan dikemas untuk persiapan sterilisasi. menghitung dan mencatat volume serta jenis bahan. 16 m2 4. container for sterilizer. Ruang tempat melaksanakan kegiatan sterilisasi instrumen. Instrumen dan linen yang akan digunakan ulang (. penyimpanan dan pemakaian. Barang/ bahan yang didekontaminasi di CSSD seperti Instrumen kedokteran. Lemari sarung tangan. Mensortir. lemari kasa/ kain pembalut. lemari instrumen.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C pencemar mikroorgsanisme atau substansi lain yang berbahaya baik secara fisik atau kimia sehingga aman untuk penanganan lebih lanjut. autoklaf unit (steam sterilizer). dimana merupakan suatu keharusan untuk melindungi pasien dari kejangkitan infeksi. penyortiran barang/bahan/ linen yang akan disterilkan. mesin cuci. alat wrapping. Mesin cuci handschoen.  STERILISASI 4. Container. Automatic washer disinfector. 6 m2 Perlengkapan cuci troli Pusat Sarana. Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas Nama Ruangan Fungsi Ruangan Ruangan tempat melakukan kegiatan Adminstrasi dan pencatatan. barang dan instrumen yang diserahkan oleh ruang/unit Instalasi Rumah Sakit Umum. 4-16 m2 8. Melaksanakan proses Dekontaminasi meliputi :  Perendaman  Pencucian  Pengeringan  Pengemasan Membungkus. Ruang Sterilisasi 9-16 m2 6. pengeringan sampai dengan proses sterilisasi itu sendiri. penyimpanan dan pemakaian. Kebutuhan Ruang. cotton swabs. dll 5. Meja cuci. kursi. 1. pencucian. Ruang Administrasi. printer. horizontal sterilizer.reuse). menyerahkan dan mencatat pengambilan barang steril oleh ruang/unit /Instalasi Rumah Sakit Umum yang membutuhkan. meja bilas. (atau jika memungkinkan ada pulse vacuum sterilizer. Ruang tempat melaksanakan kegiatan membungkus. terdiri dari a. Ruang tempat penyimpanan (depo) sementara Barang. Ruang Pengemasan Alat Min. dan kontainer Rak/Lemari 7. kasa/ pembalut. computer. linen. kapas. Perlengkapan dekontaminasi lainnya (ultrasonic washer dengan volume chamber 40-60 lt. Ruang tempat mendekontaminasi kereta/troli untuk mengangkut barangbarang dari dan ke CSSD. Sistem ini merupakan salah satu upaya atau program pengendalian infeksi di rumah sakit. Ruang tempat penyimpanan Instrumen. DEPKES-RI 72 . kapas. ett. Tujuan pengemasan adalah ménjaga keamanan bahan agar tetap dalam kondisi steril.

maka harus menggunakan jenis yang tahan percikan air dan dipasang pada ketinggian minimal 1.  Area barang kotor dan barang bersih dipisahkan (sebaiknya memiliki akses masuk dan keluar yang berlawanan)  Lantai tidak licin. meja. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Ruang Isolasi.9. wastafel. DEPKES-RI 73 Pengemasan & .  Persyaratan ruang dekontaminasi adalah sebagai berikut : ⇒ Tekanan udara pada ruang dekontaminasi adalah harus negatif supaya udara dalam ruangan tidak mengkotaminasi udara pada ruangan lainnya. dan peralatan kantor lainnya. Ruang tempat pengaturan instrumen dan barang-barang yang sudah steril untuk didistribusikan ke Instalasi Bedah. 13. meja. 6 m2 Min.40 m dari permukaan lantai. Kelembaban udara : 35% -75%.Reuse) Penerimaan Dan Pencatatan Barang/Linen/Bahan perbekalan baru Masuk 5. Ruang pencucian perlengkapan Ruang Distribusi Instrumen dan Barang Steril Ruang Kepala Instalasi CSSD Ruang Ganti Petugas (Loker) Ruang Staf/ Petugas Ruang tempat pencucian perlengkapan penunjang yang tidak perlu disterilkan. rak/lemari. dan apabila terdapat stop kontak dan saklar.5 mikron)  Suhu dan kelembaban ruangan yang direkomendasikan adalah : suhu 180C – 220C. 9-16 m2 14.  Sirkulasi udara/ventilasi pada bangunan instalasi CSSD dibuat sedemikian rupa agar tidak terjadi kontaminasi dari tempat penampungan bahan dan instrumen kotor ke tempat penyimpanan bahan dan instrumen bersih/steril. ICU.Pantry) Min. sink 15. KM/WC Min. Alur kegiatan. Alur kegiatan pada Instalasi Sterilisasi Pusat (CSSD) adalah sebagai berikut: Instrumen dan Linen Bekas Pakai (. 9 m2 Min. Sebagai tempat untuk menyiapkan makanan dan minuman bagi mereka yang ada di Instalasi CSSD dan sebagai tempat istirahat petugas. Kursi. 12. KM/WC petugas Kloset.9.  Pada area pembilasan disarankan untuk menggunakan sink pada meja bilas kedap air dengan ketinggian 0. meja. tidak mudah menyerap kotoran atau debu. sink.00 m dari permukaan lantai. dll Ruang tempat kepala instalasi CSSD bekerja dan melakukan kegiatan perencanaan dan manajemen.4 Penerimaan & Pencatatan Barang Baru Pusat Sarana. printer dan alat perkantoran lainnya. Ruang Isolasi. Kelembaban udara : 35% -75%. computer. ICU. mudah dibersihkan dan tidak mudah menyerap kotoran atau debu. dll Kontainer. Tempat mengganti/mengenakan pakaian instalasi CSSD (dilengkapi toilet) Ruang tempat istirahat staf/ petugas CSSD. bak air 5. kursi. 11.80 – 1. 6 m2 @ KM/WC pria/wanita luas 2 m2 – 3 m2 Perlengkapan dapur. Sekretariat Jenderal.  Persyaratan gudang steril adalah sebagai berikut :  Tekanan udara positif dengan efisiensi filtrasi partikular antara 90% – 95% (untuk partikular berukuran 0. meja.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C b. Dapur Kecil (. 6 m2 9-25 m2 Meja bilas. komputer. Area Pengeringan 9. Loker Kursi. printer. pengantian udara 10 kali per jam (Air Change Hour-ACH : 10 times) ⇒ Suhu dan kelembaban ruangan yang direkomendasikan adalah : suhu 180C – 220C. kursi.3 Persyaratan Khusus  Lokasi Instalasi CSSD memiliki akesibilitas pencapaian langsung dari Instalasi Bedah Sentral.  Permukaan dinding dan lantai ruangan mudah dibersihkan. lemari 10. Min. Laboratorium dan Instalasi Pencucian Linen) dan terpisah dari sirkulasi pasien.  Dinding menggunakan bahan yang tidak berpori.

printer. dan peralatan kantor lainnya. Patologi klinik (Hematologi. loket pembayaran. lemari. pembayaran dan pengambilan hasil serta ruangan untuk penyimpanan sementara berkas film pasien yang sudah dievaluasi.4 – Alur Kegiatan Pada Instalasi Sterilisasi Pusat. 20 m2 Meja. dan loket pengambilan hasil) Fungsi Ruangan Ruangan untuk staf melaksanakan tugas administrasi. Forensik dapat melakukan perawatan mayat dan bedah mayat.9. sitopatologi dan sitologi. 5. melakukan pemeriksaan lengkap untuk histopatologi.10 5.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Sortir (pencatatan volume dan jenis barang) Pengeringan Tidak Sortir (Layak disterilkan/ tidak) Tidak Kembalikan ke unit pengiriman instrument/linen Gambar 5. rawat jalan serta rujukan dari rumah sakit umum lain. Besaran Ruang / Luas Kebutuhan Fasilitas 1. DEPKES-RI 74 . patologi anatomi dan forensik sampai batas tertentu dari pasien rawat inap. 3.2 No.10. Puskesmas atau Dokter Praktek Swasta. pendaftaran. Pemeriksaan laboratorium pada Rumah Sakit Kelas C adalah : 1. Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas Nama Ruangan Ruang Administrasi dan Rekam Medis (Terdapat loket pendaftaran. Mikrobiologi (secara terbatas)). potong beku. lemari arsip. 2. kursi. kimia klinik. computer. Kebutuhan Ruang. Diagnostik patologi. Sekretariat Jenderal. atau setidaknya rak-rak buku 5. analisa urine dan tinja. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Pelayanan laboratorium tersebut dilengkapi pula oleh fasilitas sebagai berikut: • Blood Sampling dan Bank Darah • Administrasi penerimaan spesimen • Gudang regensia & bahan kimia • Fasilitas pembuangan limbah • Perpustakaan. Min. Pusat Sarana. serologi/ immunologi.1 INSTALASI LABORATORIUM Lingkup Sarana Pelayanan Laboratorium direncanakan mampu melayani tiga bidang keahlian yaitu patologi klinik.10.

3. timbangan. 16 m2 8. meja. pipet serologi. sink. refrigerator. lemari Perlengkapan dapur. oven. water destilator. Laboratorium Kimia Klinik Ruang pemeriksaan/ analilsis kimia klinik. Ruang Tunggu Pasien & Pengantar Pasien Ruang Pengambilan Sample Bank Darah Ruangan pasien & pengantar pasien menunggu diberikannya pelayanan lab. rosenthal. Kursi. electrolit analyzer. Meja. inkubator. Ruang tempat pencucian regensia bekas pakai. 6 m2 @ KM/WC pria/wanita luas 2 m2 – 3 m2 @ KM/WC pria/wanita luas 2 m2 – 3 m2 14. lab incubator. wastafel. AC.5 m dari lantai (misalnya dari bahan keramik atau porselen). bak air 5. televisi & Telp umum (bila RS mampu). termometer 0-150 derajat. pipet volumetrik berbagai ukuran. densitometer for protein. kursi. kamar hitung improved. container urin. 16 m2 7. washing instrument. sink 5. KM/WC pasien Kloset. spektropometer. KM/WC dan pengambilan sample urin 6-16 m2 6-9 m2 20-36 m2 Min. gelas ukur. 6 m2 9-16 m2 13.5 m2/ orang (min. dll Kursi. 4. Kursi. analytical balance.10. rak pipet + tips. Rak/Lemari Lemari. sink. Meja lab. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Laboratorium Patologi Klinik Ruang pemeriksaan/ analilsis patologi klinik. Ruang tempat diskusi dan istirahat personil/ petugas lab. Min. neubauer. Alur kegiatan pada Instalasi laboratorium adalah sebagai berikut : 5. sofa. tidak licin dan kedap air setinggi 1. labu. rak tabung reaksi. pipet LED. mikroskop. PH meter. tensimeter. refractometer. pipet otomatik berbagai ukuran. corong. Ruang tempat kepala laboratorium bekerja dan melakukan kegiatan perencanaan dan manajemen. jarum suntik dan pipetnya. Meja. erlenmeyer. 6 m2 Min. Meja lab. kursi. timer. micro hematokrit sentrifus. sterilisator/autoklaf kecil. 11. 12. sentrifus. Sekretariat Jenderal. laboratory refrigerator. precission balance Meja lab. kamar hitung fuchs. DEPKES-RI 75 .3 Persyaratan Khusus  Dinding dilapisi oleh bahan yang mudah dibersihkan. timbangan. fotometer. tabung reaksi berbagai ukuran. 10. sentrifus mikrohematokrit. sink Meja.  Lantai dan meja kerja laboratorium dilapisi bahan yang tahan terhadap bahan kimia dan getaran serta tidak mudah retak. dan peralatan kantor lainnya. Ruang tempat pengambilan sample darah.Pantry) Ruang tempat penyimpanan regensia bersih dan bahan habis pakai. water bath.3 Pusat Sarana. meja. sink. dll Ruang tempat pengambilan dan penyimpanan persediaan darah. fotometer.  Pada tiap-tiang ruang laboratorium dilengkapi sink (wastafel) untuk cuci tangan dan tempat cuci alat  Harus mempunyai instalasi pengolahan limbah khusus. kursi.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 2. micro plate reader. ultrasonic cleaner. HB meter. spektofotometer. haemocitometer. sentrifus. meja. Min. meja. 6 m2 Tempat duduk. rotator shaker. wastafel. Ruang Kepala Laboratorium Ruang Petugas Laboratorium Dapur Kecil (. glukometer. rotator VDRL. water bath. 25 m2) Min. lemari es no frost. tensimeter. pipet pasteur. oven. Laboratorium Hematologi dan Uranalisis Ruang pemeriksaan/ analilsis hematologi dan urin. Min. bunsen burner. Gudang Regensia dan Bahan Habis Pakai Ruang Cuci Ruang Diskusi dan Istirahat Personil. Alur kegiatan. sentrifus hematokrit. 16 m2 6. dan peralatan kantor lainnya. kawat ose. cawan petri. kursi dan alat-alat perkantoran. KM/WC petugas KM/WC Kloset. dry sterilizer. computer.10. 9. 1~1. bak air 15. Ruang tempat istirahat petugas laboratorium. pengumpulan sample urin. water bath. sentrifus.  Akses masuk petugas dengan pasien/pengunjung disarankan terpisah. printer. Min. mikroskop binikuler/monokuler. Sebagai tempat untuk menyiapkan makanan dan minuman bagi mereka yang ada di Instalasi CSSD dan sebagai tempat istirahat petugas. stop watch. lemari.

5 m2/ orang (min.1 5. printer. lemari arsip. televisi & Telp umum (bila RS mampu). kursi. kursi. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. 5. Min. Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas Nama Ruangan No. DEPKES-RI 76 . safety box Tempat duduk. Rehabilitasi Mental 3. Keuangan dan Personalia Ruang Tunggu Pasien & Pengantar Pasien 3~5 m2/ petugas (min.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Pasien dan/ pengantar pasien Loket Pendaftaran Pasien Umum ASKES/ Jaminan Lengkapi Berkas Loket Pembayaran Tim Pengendali Pengambilan Sample/ Pemeriksaan Nota Persetujuan Ruang Tunggu Hasil Gambar 5.11. pendataan awal dan ulang untuk segera mendapat suatu tindakan.11 INSTALASI REHABILITASI MEDIK Pelayanan Rehabilitasi Medik bertujuan memberikan tingkat pengembalian fungsi tubuh semaksimal mungkin kepada penderita sesudah kehilangan/ berkurangnya fungsi dan kemampuan yang meliputi.11. 2. Meja. lemari. intercom/telepon.4 – Alur Kegiatan Pada Instalasi Laboratorium. Loket Pendaftaran dan Pendataan Ruangan tempat pasien melakukan pendaftaran. Rehabilitasi Sosial Kebutuhan Ruang. computer. Lingkup Sarana Pelayanan Lingkup pelayanan Instalasi Rehabilitasi Medik mencakup : 1. Rehabilitasi fisik  Rehabilitasi sistem kardiovaskular  Rehabilitasi sistem pernafasan  Rehabilitasi sistem neuromuskuler dan lokomotor 2.2 1. upaya pencegahan/ penanggulangan. 8 m2 Meja. dan peralatan kantor lainnya. 16 m2) 3. lemari berkas/arsip. 9 m2) 1~1. keuangan dan personalia di unit Pelayanan Rehabilitasi Medik Ruangan pasien & pengantar pasien menunggu diberikannya pelayanan RM Fungsi Ruangan Besaran Ruang / Luas Kebutuhan Fasilitas 5.10. Pusat Sarana. Ruang Administrasi. Ruang kerja para Petugas Instalasi RM yaitu melaksanakan kegiatan administrasi. Sekretariat Jenderal. pengembalian fungsi dan mental pasien.

printer. 2 (dua) kursi hadap. Tempat tidur periksa. dan kelengkapan lainnya. Ruang tempat kepala IRM bekerja dan melakukan kegiatan perencanaan dan manajemen. 16 m2 Perlengkapan hidroterapi @ jenis okupasi 6-30 m2 8. 5. lemari alat. b. alkohol. sink 14. kursi. 2. senam osteoporosis. tirai & sprei) dan juga perbekalan farmasi untuk terapi (misalnya : parafin. Meja Konsultasi. KM/WC 12~25 m2 Kursi Dokter. 6 m2 9-16 m2 Kursi. 4. lemari Perlengkapan dapur. senam pernafasan. 6 m2 @ KM/WC pria/wanita luas 2 m2 – 3 m2 15. Meja Konsultasi. dll Lemari/rak 6-16 m2 Lemari/rak 11. lemari alat periksa & obat. wastafel. dan peralatan kantor lainnya. senam jantung. @ 4-12 m2 6-16 m2 Fasilitas tergantung dari jenis okupasi yang akan diselenggarakan. exercise bicycle. 9. Ruang Hidroterapi (Dilengkapi ruang ganti pakaian. tempat duduk (bench). 10. bak air 5. kapas. dll Loker/ lemari. meja. 20 m2 6. dan peralatan terapi rehab mental/sosial lainnya. Ruang Senam (Gymnasium) Min. misalnya untuk ruang kantor. Kursi Dokter. Petugas & Pasien) Gudang Peralatan RM Gudang Farmasi Linen dan Min. Ruang Fisioterapi Pasif 12~25 m2 Min. Ruang penyimpanan linen bersih (misalnya : handuk. 2 (dua) kursi hadap. disarankan letaknya dekat dengan instalasi rawat jalan/ poliklinik dan rawat inap.3 Persyaratan Khusus Pada dasarnya tata ruang Unit Rehabilitasi Medik ditetapkan atas dasar: 1. Ruang Terapi Okupasi dan Terapi Vokasional Loker/ Ruang Ganti (Pria & Wanita. ultraviolet quartz. dll. ergocycle. 6. Disarankan menggunakan sistem sirkulasi udara/ ventilasi udara alami. Ruang tempat penyimpanan peralatan RM yang belum terpakai atau sedang tidak digunakan. Ruang penyimpanan alat-alat. computer.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 4. pembayaran dan administrasi. dapur. juga perabot RM yang sudah tidak dapat digunakan lagi tetapi belum dapat dihapuskan dengan segera. senam asma. Gudang Kotor 6-16 m2 Lemari/rak 12. senam diabetes. Dapur Kecil (. jelly). alat stimulasi elektrik. Untuk pasien yang menggunakan kursi roda disediakan toilet khusus yang memiliki luasan cukup untuk bergeraknya kursi roda. Ruang tempat istirahat petugas IRM Sebagai tempat untuk menyiapkan makanan dan minuman bagi mereka yang ada di IRM dan sebagai tempat istirahat petugas. micro wave diathermy. Ruang tempat pasien melakukan kegiatan senam (misalnya senam stroke. dan peralatan fisioterapi lainnya 5. dan peralatan senam lainnya. ruang makan. Ruang untuk memberikan pelayanan berupa suatu intervensi radiasi/ gelombang elektromagnet dan traksi. Kursi.Pantry) Min. maka harus diperhatikan penempatan ramp. 36 m2 Treadmill. Ruang Pemeriksaan/ Penilaian Dokter Ruangan tempat Dokter melakukan pemeriksaan (seperti: anamesa.11. Lokasi mudah dicapai oleh pasien. DEPKES-RI 77 . pemeriksaan dan asesmen fisik). Sekretariat Jenderal. meja. unit traksi. KM/WC petugas/pasien Kloset. Ruang tempat terapis okupasi melakukan terapi kepada pasien Ruang ganti pakaian dan menyimpan barang-barang milik pribadi. tissue. Ruang Terapi Rehab Mental/Sosial RUANG FISIOTERAPI 1. tangga roolstool. KM/WC. 13. Disarankan akses masuk untuk pasien terpisah dari akses masuk staf. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. lebar dan arah bukaan pintu dan lebar pintu untuk para pemakai kursi roda serta derajat kemiringan ramp yaitu maksimal 70. tempat tidur periksa. Ruang Kepala IRM Ruang Petugas RM Min. kursi terapi. 2. maupun latihan manipulasi yang diberikan pada pasien yang bersifat individu. Ruang tunggu dapat dicapai dari koridor umum dan dekat pada loket pendaftaran. 3. meja. sofa. parallel bars. diagnosis maupun prognosis terhadap pasiennya dan tempat pasien melakukan konsultasi medis dengan Dokter Ruang tempat melaksanakan kegiatan terapi rehab mental dan sosial bagi pasien. terpisah antara pasien wanita & pria) 7. Apabila ada ramp (tanjakan landai). Ruang Fisioterapi Aktif a. Pusat Sarana. Ruangan yang didalamnya terdapat satu (atau lebih) kolam renang / bak rendam hidroterapi yang dilengkapi dengan fasilitas penghangat air (Water Heater Swimming Pool) dan pemutar arus ( Whirpool System) bila ada.

Pemeriksaan Diagnostik R. Pelayanan Terapi Mental/ Sosial R. 4. printer. 1. Ruang kerja kepala komite medis Besaran Ruang / Luas Min.12. dll Meja. DEPKES-RI 78 . • Dan Satuan Pengawasan Internal (SPI) Kebutuhan Ruang. intercom/telepon Meja rapat.12 5. kursi. 6 m2 Min. Pelayanan Terapi Okupasi & Terapi Vokasional Pasien Pulang Gambar 5. Pasien Masuk Loket Pendaftaran Petugas/Dokter Ruang Tunggu RM Ruang Pemeriksaan dan Penilaian R. Ruang Direksi Ruang Sekretaris Direktur Ruang Rapat dan Diskusi Ruang Kepala Komite Medis Pusat Sarana. Hidroterapi & Gym R.2 No. Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas Nama Ruangan Fungsi Ruangan Ruang kerja direktur RS.4 – Alur Kegiatan Pada Instalasi Rehabilitasi Medik. 5. Meja.12. 2.1 BAGIAN ADMINISTRASI DAN KESEKRETARIATAN RUMAH SAKIT Lingkup Sarana Pelayanan Suatu bagian dari rumah sakit tempat dilaksanakannya manajemen rumah sakit. Setiap pasien hanya akan memiliki 1 nomor. printer. Tempat penyimpanan berkas rekam medik pasien rawat jalan dan rawat inap menjadi satu. 3.4 Alur kegiatan. tempat melaksanakan perencanaan program dan manajemen RS. kursi. Ruang kerja sekretaris direktur. layar. intercom/telepon 5. 16 m2 Min. lemari. lemari arsip. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. printer. Sistem rekam medik yang diterapkan di rumah sakit umum adalah sentralisasi. sehingga : 1. 16 m2 6-16 m2 Kebutuhan Fasilitas Meja. kursi. LCD projector. sofa. lemari berkas/arsip. 2. lemari berkas/arsip.11. Ruang pertemuan/ rapat/ diskusi. komputer. Terdiri dari : • Dewan Direksi RS • Komite Medis • Seksi Keperawatan • Seksi Pelayanan • Seksi Keuangan dan Program • Kesekretariatan dan Rekam Medis Suatu sub-bagian dari Kesekretariatan yang merekam dan menyimpan berkas-berkas jati diri.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 5. riwayat penyakit.11. kursi. computer. dan peralatan kantor lainnya. komputer. hasil pemeriksaan dan pengobatan pasien. Sekretariat Jenderal. Pelayanan Fisioterapi.

komputer. komputer. keuangan dan personalia.2 No. intercom/telepon Meja.5 m2/ orang (min. 6 m2) 1~1. 11. Lemari/rak Perlengkapan dapur. KM/WC 5. intercom/telepon Meja. 1. intercom/telepon Meja. kursi. printer. 3. printer. 8. kursi. komputer. komputer. lemari berkas/arsip. intercom/telepon Meja. lemari berkas/arsip. printer. Ruangan keluarga jenazah menunggu Ruang tempat menyemayamkan jenazah sementara sebelum dibawa Besaran Ruang / Luas 3~5 m2/ petugas (min. lemari berkas/arsip. 5. kursi. intercom/telepon Meja. 30 m2 Kebutuhan Fasilitas 5. printer.3 Persyaratan Khusus Penempatan Administrasi sedapat mungkin mudah dicapai dan dapat berhubungan langsung dengan poliklinik. komputer. 12. Ruang tempat pengunjung/ tamu bagian administrasi dan kesekretariatan menunggu. printer. Sekretariat Jenderal. Tempat mengeringkan jenazah setelah dimandikan 4. printer. Tempat meletakkan/penyimpanan sementara jenazah sebelum diambil keluarganya. kursi. kursi. 16 m2) 3-8 m2 Min. intercom/telepon Lemari berkas/arsip. lemari berkas/arsip. Tempat memandikan/dekontaminasi jenazah. komputer. televisi & Telp umum Kursi Pusat Sarana.5 m2/ orang (min. 10. 20 m2 1~1. meja.13. intercom/telepon. lemari berkas/arsip. dll Tempat duduk. kursi. Ruang duka dan pemulasaraan. Otopsi jenazah. 19. sink Kloset. printer. 16. 18. Ruang tempat penyimpanan alat-alat kebersihan (cleaning service) Sebagai tempat untuk menyiapkan makanan dan minuman. kursi. 2. intercom/telepon Meja. bak air Ruang kerja staf bagian keperawatan Ruang kerja kepala bagian Pelayanan Ruang kerja staf bagian pelayanan Ruang kerja kepala bagian keuangan dan program Ruang kerja staf bagian keuangan dan program Ruang kerja kepala bagian kesekretariatan dan rekam medis Ruang kerja staf bagian Kesekretariatan dan Rekam Medis Ruang kerja Internal Satuan Pengawasan 13. printer. komputer. Ruang Administrasi Ruang Tunggu Keluarga Jenazah Ruang Duka (dilengkapi toilet) Meja. lemari berkas/arsip. wastafel. printer. intercom/telepon Meja. lemari berkas/arsip.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 5. komputer. 2. lemari berkas/arsip.Pantry) KM/WC Ruang kerja staf komite medis Ruang kerja keperawatan kepala bagian 12-30 m2 6-16 m2 12-30 m2 6-16 m2 12-30 m2 6-16 m2 12-30 m2 6-16 m2 Meja. safety box Tempat duduk. 14. intercom/telepon. komputer. kursi.1 PEMULASARAAN JENAZAH RUMAH SAKIT Lingkup Sarana Pelayanan Fungsi Ruang Jenazah adalah : 1.12. kursi. kursi. 12-30 m2 12-30 m2 Min. 17. printer. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. 6 m2 @ KM/WC pria/wanita luas 2 m2 – 3 m2 Ruang tempat penyimpanan Arsip RS.13.13 5. 15. lemari berkas/arsip. safety box Meja. intercom/telepon Meja. 7. kursi. 3. Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas Nama Ruangan Fungsi Ruangan Ruang para Petugas melaksanakan kegiatan administrasi. kursi. DEPKES-RI 79 . 5. komputer. 12 m2) Min. lemari berkas/arsip. Kebutuhan Ruang. 6. 9. komputer. printer. lemari berkas/arsip. Ruang Komite Medis Ruang Kepala Bagian Keperawatan Ruang Bagian Keperawatan Ruang Kepala Bagian Pelayanan Ruang Bagian Pelayanan Ruang Kepala Bagian Keuangan dan Program Ruang Bagian Keuangan dan Program Ruang Kepala Bagian Kesekretariatan dan Rekam Medis Ruang Bagian Kesekretariatan dan Rekam Medis Ruang SPI (Satuan Pengawasan Internal) Ruang Arsip/ file Ruang Tunggu Janitor Dapur Kecil (. televisi & Telp umum (bila RS mampu).

timbangan organ. computer. KM/WC 4. Sekretariat Jenderal. 24 m2 1 lemari pendingin min.4 Alur kegiatan. juga perabot yang diperlukan pada instalasi pemulasaraan jenazah. brankar Toilet. Instalasi Bedah Sentral.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C pulang. 5. 18 m2 Shower dan sink. DEPKES-RI 80 . 4. 7. Min. Ruang Dekontaminasi dan Pemulasaraan Jenazah Min. printer. washtafel. 6 m2 6. Area yang merupakan jalur jenazah disarankan berdinding keramik. 6 m2 12 m2 Min. meja. Memiliki sistem pembuangan limbah khusus. Instalasi Kebidanan dan Penyakit Kandungan. meja periksa organ. 10.13. brankar. lemari barang bukti. Pendingin Jenazah Jenazah Keluar Pusat Sarana. mudah dibersihkan. lantai kedap air. Area tertutup. 6. tidak berpori. Instalasi Rawat Inap. 21 m2 min. Ruang Pendingin Jenazah Ruang Ganti Pakaian APD (dilengkapi dengan toilet) Ruang Kepala Instalasi Pemulasaraan Jenazah Ruang Jemur Alat Gudang KM/WC petugas/ pengunjung 8. Ruang tempat memandikan/ dekontaminasi serta pemulasaraan jenazah (pengkafanan untuk jenazah muslim/ pembalseman & pemulasaraan lainnya untuk jenazah non-muslim) . Ruang jenazah disarankan mempunyai akses langsung dengan beberapa instalasi lain yaitu instalasi gawat darurat. brankar. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. tidak dapat diakses oleh orang yang tidak berkepentingan. Alur kegiatan pada Instalasi Pemulasaraan Jenazah adalah sebagai berikut : Keluarga Pasien Administras i Non-Infeksius Ruang Tunggu Jenazah RS Infeksius Area Dekontaminasi Area Pemulasaraa n Ruang Duka Jenazah yang Dirujuk untuk di Otopsi Laboratorium Otopsi R. bak air 5.13. lemari/rak alat dekontaminasi. 3. wastafel. 2. dll Lemari pendingin jenazah. Rak. Ruang penyimpanan alat-alat. Ruang pengeringan/ jemur alat-alat/ perabot yang telah digunakan. dan Instalasi ICU/ICCU. lemari perlengkapan pemulasaraan dll Lemari alat. Kapasitas ruang jenazah minimal memiliki jumlah lemari pendingin 1% dari jumlah tempat tidur (pada umumnya 1 lemari pendingin dapat menampung ± 4 jenazah) atau tergantung kebutuhan. Ruang tempat dokter forensik melakukan kegiatan otopsi jenazah Ruang Pendingin Jenazah Ruang Ganti pakaian petugas sebelum dan sesudah melakukan kegiatan otopsi. shower dan sink. 9. Kloset. Laboratorium Otopsi Min. Ruang tempat kepala Instalasi bekerja dan melakukan kegiatan perencanaan dan manajemen. 5.3 Persyaratan Khusus 1. Akses masuk-keluar jenazah menggunakan daun pintu ganda/ double. Loker/ lemari pakaian bersih dan kontainer pakaian kotor Kursi. wastafel Lemari/rak 5. dan peralatan kantor lainnya. 9 m2 @ KM/WC pria/wanita luas 2 m2 – 3 m2 11. lemari/rak alat dekontaminasi.

Ruang tempat menyimpan bahan makanan kering.4 Pusat Sarana. timbangan bahan makanan. 4 m2 @ min. memotong-motong. shower & tempat cuci troli gizi. Ruang tempat mempersiapkan bahan makanan. kursi. Tidak dekat dengan tempat pembuangan sampah dan kamar jenazah. lemari berkas/arsip. 3. perlengkapan kebersihan Kloset. dekat dengan Instalasi Rawat Inap sehingga waktu pendistribusian makanan bisa merata untuk semua pasien. tutup kepala. Ruang Kepala Instalasi Gizi Ruang Pertemuan Janitor KM/WC petugas Min. Alur kegiatan pengelolaan makanan pada Instalasi Dapur Utama dan Gizi Klinik RS adalah sebagai berikut : 5. Mudah dicapai. 6 m2) Meja. 9. rak botol susu. rak peniris. Kebutuhan Ruang. 9 m2 Min. 16.14. 8. 2. dll Troli Rak/lemari Loker. Alur kegiatan. DEPKES-RI 81 . Instalasi Gizi/ Dapur mempunyai fungsi untuk mengolah. masker. kursi. 18 m2 5. intercom/telepon. Min. 9 m2 7.14. 14. Ruang tempat kepala lnstalasi bekerja dan melakukan kegiatan perencanaan dan manajemen. lemari simpan plato. Ruang tempat diskusi/pertemuan Ruang penyimpanan kebersihan KM/WC perlengkapan Besaran Ruang / Luas Min. kursi. Ruang Persiapan Min. wastafel. 5.13. meja. 10. mengatur makanan pasien setiap harinya. Ruang menyajikan/ mempersiapkan makanan matang pada plato (piring pasien) yang akan dikirimkan dengan troli gizi Ruang menyajikan/ mempersiapkan susu ke dalam botol susu. dll 6. 3 m2 @ KM/WC pria/wanita luas 2 m2 – 3 m2 5. safety box Rak/lemari. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. serta konsultasi gizi. celemek. 6 m2 Min. Min. Letak dapur diatur sedemikian rupa sehingga kegaduhan (suara) dari dapur tidak mengganggu ruangan disekitarnya. intercom/telepon. Ruang Administrasi 3~5 m2/ petugas (min. Min. Ruang Pengolahan dan Penghangatan Makanan Ruang Pembagian/ Penyajian Makanan Dapur Susu/ Laktasi Bayi Ruang Cuci Ruang Penyimpanan Troli Gizi Ruang Penyimpanan Peralatan Dapur Ruang Ganti Alat Pelindung Diri (APD) Min. area pencucian bahan makanan dapat dilaksanakan pada ruang ini. dll Wastafel. Ruang tempat mengolah bahan makanan.3 Persyaratan Khusus 1. dll) Ruang para Petugas melaksanakan kegiatan teknis medis gizi klinik serta administrasi. sepatu. 18 m2 Meja saji. Ruang tempat menyimpan bahan makanan basah yang harus dimasukkan kedalam lemari pendingin. 9 m2 Min.14. 4.1 INSTALASI GIZI/DAPUR Lingkup Sarana Pelayanan Sistem pelayanan dapur yang diterapkan di rumah sakit adalah sentralisasi kecuali untuk pengolahan formula bayi. safety box Meja. safety box Meja.14 5. kursi. cermin. lemari berkas/arsip. Ruang cuci plato serta perlengkapan makan dan minum lainnya Ruang penyimpanan troli gizi sebelum dibersihkan Ruang penyimpanan perlengkapan dapur bersih Ruang petugas dapur mengenakan APD (Sarung tangan. kursi. 3. 6 m2 Min. 9 m2 4. Meja. 1.14. keuangan dan personalia pada instalasi dapur. misalkan menyiangi. Sekretariat Jenderal. intercom/telepon. 9 m2 Min. rak/palet/lemari 2. dll Freezer/kulkas Lemari beras. 15. Mempunyai jalan dan pintu masuk sendiri. wastafel.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Gambar 5.2 No. lemari berkas/arsip. 11. 6 m2 Min. 4 m2 Kebutuhan Fasilitas 5.4 – Alur Kegiatan Pada Instalasi Pemulasaraan Jenazah. dll Sink cuci plato serta perlengkapan makan dan minum lainnya . wastafel. Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas Nama Ruangan Ruang Penerimaan dan Penimbangan Bahan Makanan Ruang Penyimpanan Bahan Makanan Basah Ruang Penyimpanan Bahan Makanan Kering Fungsi Ruangan Ruang tempat melaksanakan kegiatan penerimaan dan penimbangan bahan makanan. bak air 13. 6 m2 12.

Penyimpanan Perlengkapan Ruang Pencucian Peralatan R. steam boiler). Mencatat linen yang diterima dan telah terpilah antara infeksius dan noninfeksius.15 INSTALASI PENCUCIAN LINEN/ LONDRI (. 5. Penyimpanan Bahan Makanan Kering Area Cuci Bahan Makanan R.LAUNDRY) Laundry RS adalah tempat pencucian linen yang dilengkapi dengan sarana penunjangnya berupa mesin cuci.1 Lingkup Sarana Pelayanan Kegiatan pencucian linen terdiri dari : 1. DEPKES-RI 82 . Sekretariat Jenderal.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Ruang Penerimaan Bahan Makanan R. meja. b. Pencucian a.4 – Alur kegiatan pengolahan. alat dan desinfektan. Penyimpanan Bahan Makanan Basah Ruang Persiapan Ruang Pengolahan dan Penghangatan Bahan Makanan R. Penyajian Makanan Distribusi Makanan. b. Menghitung dan mencatat linen di ruangan. 5.15. Pusat Sarana. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. penyimpanan dan pendistribusian makanan rumah sakit. Menimbang berat linen untuk menyesuaikan dengan kapasitas mesin cuci dan kebutuhan deterjen dan desinfektan. Linen dipilah berdasarkan tingkat kekotorannya. Penerimaan a. Pemilahan antara linen infeksius dan non-infeksius dimulai dari sumber dan memasukkan linen ke dalam kantong plastic sesuai jenisnya serta diberi label. 2. mesin uap (. dan mesin setrika. Dan Minuman Area untuk Wadah Pembuangan Sementara Sampah Dapur Alur Peralatan Alur Limbah Padat Domestik Alur Makanan Gambar 5.14. pengering. 3. Pengumpulan a.

7. alat pengering 1. 2. 9. c. 8. Linen harus dipisahkan sesuai dengan jenisnya. Ruang tempat penyimpanan troli bersih setelah didekontaminasi & dikeringkan. keran. Mencuci dikelompokkan berdasarkan tingkat kekotorannya. 3. setrika dan dilipat. Tersedia saluran air limbah tertutup yang dilengkapi dengan pengolahan awal (. 16 m2 Min. c. Ruang tempat kepala londri bekerja dan melakukan kegiatan perencanaan dan manajemen. Ruang tempat melaksanakan dekontaminasi linen. DEPKES-RI 83 . meja setrika. 8 m2 Min. selang. meja lipat Rak/lemari Keran.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 4. 10.3 Persyaratan Khusus 1. Waktu pengangkutan linen bersih dan kotor tidak boleh dilakukan bersamaan. kursi. Ruang tempat penerimaan linen kotor dari unit-unit di RS kemudian disortir. 5. 8 m2 Min. 8. darah. Ruang tempat melaksanakan dekontaminasi dan pengeringan troli. 8 m2 5. air panas untuk desinfeksi dengan desinfektan yang ramah terhadap lingkungan. 12 m2 Min. 2. Nama Ruangan Fungsi Ruangan Kebutuhan Fasilitas Meja.2 Kebutuhan Ruang. Distribusi dilakukan berdasarkan kartu tanda terima dari petugas penerima. Min. Tersedia keran air bersih dengan kualitas dan tekanan aliran yang memadai. safety box Bak pembilasan awal. Ruang tempat mencuci dan mengeringkan linen Ruang tempat penyetrikaan & melipat linen. 18 m2 Min. bak perendaman dan bak pembilasan akhir. 7.15. rak. lemari berkas/arsip. d. 6 m2 lemari 5. b. meliputi urutan kegiatan pembilasan awal. 5. Suhu air panas mencapai 700C dalam waktu 25 menit (atau 950C dalam waktu 10 menit) untuk pencucian pada mesin cuci. Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas No. kemudian petugas menyerahkan linen bersih kepada petugas ruangan sesuai kartu tanda terima. kursi. Pintu lemari selalu tertutup. perendaman dan pembilasan akhir. Linen baru yang diterima ditempatkan di lemari bagian bawah. Peralatan cuci dipasang permanen dan diletakkan dekat dengan saluran pembuangan air limbah serta tersedia mesin cuci yang dapat mencuci jenisjenis linen yang berbeda. e. Pusat Sarana. intercom/telepon. Membersihkan linen kotor dari tinja. kursi. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.15. Besaran Ruang / Luas 3~5 m2/ petugas (min. Sekretariat Jenderal. c. Pengangkutan a. pengangutannya dari dan ke tempat laundry harus menggunakan mobil khusus. kontainer Meja. 6. 6 m2) Min. Ruang Distribusi dan Pencatatan Ruang Penerimaan dan Sortir Ruang Kepala Londri Ruang Perendaman/ Dekontaminasi Linen Ruang Cuci dan Pengeringan Linen Ruang Setrika & Lipat Linen Ruang Penyimpanan Linen Ruang Dekontaminasi Troli Ruang Penyimpanan Troli Gudang Bahan Kimia Ruang para Petugas melaksanakan kegiatan pencatatan distribusi linen bersih. Kereta dorong harus dicuci dengan desinfektan setelah digunakan mengangkut linen kotor. Menggunakan kereta dorong yang berbeda warna dan tertutup antara linen bersih dan linen kotor. Ruang tempat penyimpanan linen bersih setelah dicuci. 9 m2 Min. urin. RS yang tidak mempunyai laundry tersendiri. 3. 6. intercom/telepon. b. Pengeringan Penyetrikaan Penyimpanan a. b. lemari berkas/arsip. Linen bersih diangkut dengan kereta dorong yang berbeda warna. sink Mesin cuci dan pengering linen Setrika. pre-treatment) khusus laundry sebelum dialirkan ke IPAL RS. Tempat menyimpan bahan-bahan kimia seperti deterjen dll 4. dan muntahan kemudian merendamnya dengan menggunakan desinfektan. Kantong untuk membungkus linen bersih harus dibedakan dengan kantong untuk membungkus linen kotor. 6 m2 Min. safety box Meja.

Kegiatan perbaikan-perbaikan dilaksanakan dengan prosedur sebagai berikut : • Laporan dari setiap unit yang mengalami kerusakan alat • Peralatan diteliti tingkat kerusakannya untuk mengetahui tingkat perbaikan yang diperlukan kepraktisan teknis pelaksanaan perbaikannya (apakah cukup diperbaiki ditempatnya. elektromedik. Pemeliharaan dan perbaikan ringan pada : • Peralatan medik (Optik. Tidak disarankan untuk mempunyai tempat penyimpanan linen kotor. 2.WORKSHOP) Lingkup Sarana Pelayanan Tugas pokok dan fungsi yang harus dirangkum unit workshop adalah.16 6. DEPKES-RI 84 . mekanis dll) • Peralatan penunjang medik • Peralatan rumah tangga dari metal/ logam (termasuk tempat tidur) • Peralatan rumah tangga dari kayu • Saluran dan perpipaan • Listrik dan elektronik.15. 6.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C 4.4 Alur kegiatan. atau harus dibawa ke ruang workshop) Pusat Sarana.Penyimpanan Linen Bersih R. Standar kuman bagi linen bersih setelah keluar dari proses tidak mengandung 6 x 103 spora spesies Bacillus per inci persegi.15. Alur kegiatan pada Instalasi Pencucian Linen/Laundry adalah sebagai berikut : Linen Kotor Troli Kotor Ruang Dekontaminasi Bak Pembilasan Awal Bak Desinfeksi (Perendaman) Bak Pembilasan Akhir Pencucian Linen Pengeringan Linen Penyetrikaan Linen Melipat Linen R. 5.16. Penyimpanan Troli Bersih Distribusi Linen Bersih CSSD (Resterilisasi) Tanpa Sterilisasi Gambar 5. Untuk linen non-infeksius (misalnya dari ruang-ruang administrasi perkantoran) dibuatkan akses ke ruang pencucian tanpa melalui ruang dekontaminasi. 6. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.4 – Alur Kegiatan Pada Instalasi Pencucian Linen/Laundry.1 BENGKEL MEKANIKAL DAN ELEKTRIKAL (. 5. sebagai berikut : 1. Sekretariat Jenderal. Dekontaminasi Troli & Pengeringan R.

2 Kebutuhan Ruang. Ruang tempat pengaturan distribusi listrik RS untuk kegiatan di IPSRS. dan peralatan kantor lainnya. Min. Ruang tempat memperbaiki kerusakan peralatan medik. 16 m2 Min.16. Ruang penyimpanan sarana. prasarana dan peralatan yang terbuat dari metal/ logam. Meja gambar. Ruang tempat memperbaiki kerusakan sarana. Mekanik) Bengkel/ Workshop penunjang medik. prasarana dan peralatan yang sudah tidak terpakai. 12 m2) Min. 9 m2 Min. 5. Ruang Panel Listrik Gudang spare part Gudang Meja. 3. 9 m2 Min. safety box Kursi. Ruang tempat memperbaiki kerusakan sarana. 6. 8 m2 Min. Sekretariat Jenderal. Elektromedik. Perlengkapan kayu bengkel bangunan/ 2. 10. yaitu peralatan optik. Ruang tempat menggam bar dan menyimpan arsip-arsip teknis. 6. lemari berkas/arsip. Min. screen. 9 m2 Perlengkapan bengkel metal/ logam Perlengkapan elektromedik Perlengkapan mekanikal bengkel peralatan 7. komputer dan printer. 9 m2 bengkel peralatan 9. Perlengkapan listrik. meja. kursi. dll. computer. Ruang tempat memperbaiki kerusakan sarana. Alur kegiatan pada Bengkel Mekanikal dan Elektrikal adalah sebagai berikut : Gudang Spare Part Spare Part Ruang Pencatatan Barang Masuk Barang Rusak Gudang Ruang Pencatatan Barang Keluar 5. intercom/telepon. telah diperbaiki (belum diserahkan kembali) atau yang akan diperbaiki. dll Lemari/rak Min. prasarana dan peralatan yang terbuat dari kayu. meja.16. Ruang Kepala IPSRS Ruang Administrasi (pencatatan) dan Ruang Kerja Staf Ruang Rapat/ Pertemuan Teknis Ruang Studio Gambar dan Arsip Teknis Bengkel/ Workshop Bangunan/Kayu Bengkel/ Workshop metal/ logam Bengkel/ Workshop Peralatan Medik (Optik. 9 m2 Lemari/rak 12. Alur kegiatan. lemari arsip. Ruang tempat melaksanakan diskusi/ pertemuan teknis. Min. Ruang penyimpanan suku cadang (sparepart). 11. elektromedik. Ruang tempat pencatatan masuk dan keluar peralatan/ perabot rusak dan ruang tempat staf bekerja.3 Persyaratan Khusus Terletak jauh dari daerah perawatan dan gedung penunjang medik. bak air 5.16. 16 m2 8. 8 m2 3~5 m2/ petugas (min. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. DEPKES-RI Barang Keluar 85 . KM/WC petugas/ pengunjung @ KM/WC pria/wanita luas 2 m2 – 3 m2 Kloset. Kursi. printer. prasarana dan peralatan penunjang medik.4 Bengkel/ Workshop Pusat Sarana. Nama Ruangan Fungsi Ruangan Ruang tempat kepala Instalasi bekerja dan melakukan kegiatan perencanaan dan manajemen. KM/WC Besaran Ruang / Luas Min.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C • • • • • • Analisa kerusakan Proses pengadaan komponen/suku cadang Pelaksanaan perbaikan/pemasangan komponen Perbaikan bangunan ringan Listrik/ Elektronik Telpon / Aiphone / Audio Visual. dan mesin mekanik. 9 m2 Kebutuhan Fasilitas 1. 4. Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas No. sebaiknya diletakan di daerah servis karena banyak menimbulkan kebisingan. wastafel. panel.

PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C Gambar 5. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Pusat Sarana.16.4 – Alur Kegiatan Pada Bengkel Mekanikal dan Elektrikal (.Workshop). Sekretariat Jenderal. DEPKES-RI 86 .

dan instansi yang terkait dengan kegiatan pengaturan dan pengendalian penyelenggaraan pembangunan bangunan fasilitas pelayanan kesehatan.1 Pedoman teknis ini diharapkan dapat digunakan sebagai rujukan oleh pengelola fasilitas pelayanan kesehatan. Persyaratan-persyaratan yang lebih spesifik dan atau yang bersifat alternatip. penyedia jasa konstruksi.3 Pusat Sarana. serta penyesuaian Pedoman Teknis Sarana dan Prasarana Rumah Sakit Kelas C oleh masing-masing daerah disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan kelembagaan daerah. Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Pemerintah Daerah.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C BAGIAN VI PENUTUP 6.2 6. guna menjamin kesehatan penghuni bangunan dan lingkungan terhadap bahaya penyakit. Sebagai pedoman/petunjuk pelengkap. Sekretariat Jenderal. Indonesia (SNI) terkait lainnya. DEPKES-RI 87 . dapat digunakan Standar Nasional 6.

7. Penerbit Erlangga. 3. G. Pusat Sarana. Applications. Refrigerating and Air Conditionign Engineers. Facilities Planning and Management. WHO Indonesia. Dit. Cetakan kelima. Edisi kedua. Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan di Rumah Sakit. Jilid 1. Data Arsitek. 5. 36 Tahun 2005. Ditjen Bina Pelayanan Medik. Daftar Peralatan Esensial Untuk Rumah Sakit Kelas C. Hospitals. 1974 Edition. Departemen Kesehatan RI. 8. 1999 – 2000. Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat. Kunders. 9. 2007. Standar Pelayanan Rumah Sakit. 12. Ditjen Pelayanan Medik. HVAC Design Manual for Hospitals and Clinics. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No : 1197/Menkes/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit. 1999. 2003 edition. tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002. Dit. Departemen Kesehatan RI. Prasarana dan Peralatan Kesehatan.PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS C KEPUSTAKAAN 1. Ernst Neufert (Alih Bahasa : Sjamsu Amril). 6. Ditjen Pengawasan Obat dan Makanan. Rumah Sakit Umum dan Pendidikan. ASHRAE. Saunders. Departemen Kesehatan RI. Fuller. 2003. Edisi kedua. 10. ASHRAE. 1995. 1995. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.D. Joanna R. Gizi Masyarakat. Refrigerating and Air Conditioning Engineers. American Society of Heating. Surgical Technology. 13. Departemen Kesehatan RI. Instalasi Medik. 11. 2004. Tata McGraw-Hill Publishing Company Limited. 2. Departemen Kesehatan RI. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No : 1204/Menkes/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. American Society of Heating. 4. Ditjen Bina Pelayanan Medik. DEPKES-RI 88 . Pedoman Jaringan Instalasi Listrik Rumah Sakit. tentang Bangunan Gedung. Principles and Practice. Dit. Sekretariat Jenderal. Handbook.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful