Anda di halaman 1dari 25

Tugas Kelompok Iklim dan Lingkungan Hemat Energi

Konsep Pembangunan Berkelanjutan ( Sustainable Development ) Kota Klasik dan Modern


Disusun oleh :

KELOMPOK 2 INDRY ROSFANI ANDI ARDI MANSYUR SITI NADINDA T M MOCH KAFRAWI

JURUSAN TEKNIK ARSITEKTUR PRODI TEKNIK PENGEMBANGAN WILAYAH KOTA UNIVERSITAS HASANUDDIN 2013

Sustainable city adalah kota yang dirancang dengan mempertimbangkan dampak terhadap lingkungan, dihuni oleh penduduk dengan jumlah dan perilaku yang membutuhkan dukungan minimal akan energi, air dan ma- kanan dari luar, serta menghasilkan sedikit CO2, gas me- thane, polusi udara dan air. Terminologi eco city pertama di- kemukakan oleh Richard Register dalam bukunya 'Ecocity Berkeley: building cities for a healthy future'. Tokoh penting lainnya adalah arsitek Paul F Downtown yang mendirikan perusahaan Ecopolis Pty Ltd. Kota berkelanjutan dapat memenuhi kebutuhan makanannya sendiri dengan dukungan minimal dari wilayah sekitarnya dan memperoleh energi dari sumberdaya terbarukan. Cita-cita- nya adalah menciptakan dampak ekologis sekecil mungkin, dan menghasilkan polusi yang seminimal mungkin, efesien dalam penggunaan lahan, mengolah limbahnya sendiri, men- daur ulang atau menghasilkan energi dari sampah, sehingga kota tersebut memberi dampak minimal atas perubahan iklim global yang saat ini sedang terjadi. Skema pembangunan berkelanjutan terletak pada titik temu tiga pilar (sosial, ekonomi dan lingkungan), Deklarasi Universal Keberagaman Budaya (UNESCO, 2001) lebih jauh menggali konsep pembangunan berkelanjutan dengan menyebutkan bahwa keragaman budaya penting bagi manusia sebagaimana pentingnya keragaman hayati bagi alam. Dengan demikian pembangunan tidak hanya dipahami sebagai pembangunan ekonomi, namun juga sebagai alat untuk mencapai kepuasan intelektual, emosional, moral, dan spiritual. dalam pandangan ini, keragaman budaya merupakan kebijakan keempat dari lingkup kebijakan pembangunan berkelanjutan.

Pembangunan berkelanjutan mencakup tiga aspek, yaitu pembangunan ekonomi, pembangunan sosial dan perlindungan lingkungan. Ketiga aspek tersebut tidak bisa dipisahkan satu sama lain, karena ketiganya menimbulkan hubungan sebabakibat. Aspek yang satu akan mengakibatkan aspek yang lainnya terpengaruh. Hubungan antara ekonomi dan sosial diharapkan dapat menciptakan hubungan yang adil (equitable). Hubungan antara ekonomi dan lingkungan diharapkan dapat terus berjalan (viable). Sedangkan hubungan antara sosial dan lingkungan bertujuan agar dapat terus bertahan (bearable). Ketiga aspek yaitu aspek ekonomi, sosial dan lingkungan akan menciptakan kondisi berkelanjutan (sustainable). Atau hubungan ketiganya dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Menurut Wildsmith (2009), green city (kota hijau) juga dapat disebut sustainable city (kota yang berkelanjutan) atau eco-city (kota berbasis ekologi), yaitu kota yang dalam melaksanakan pembangunan didesain dengan mempertimbangkan lingkungan sehingga fungsi dan manfaatnya dapat berkelanjutan. Green city dapat terwujud jika masyarakat yang tinggal di dalamnya melakukan penghematan (minimisasi) pemanfaatan energi dan air. Selain itu juga melakukan minimisasi buangan penyebab panas, serta melakukan pencegahan pencemaran air dan udara. Selain elemen-elemen tersebut Wildsmith (2009) juga menambahkan elemen sosial dan budaya. Sehingga green city merupakan kota yang melakukan pembangunan berkelanjutan secara ekonomi, sosial, dan ekologi sehingga tercipta keseimbangan diantara manusia dan alam. Mori dan Christodoulou (2011), mengartikan kota hijau sebagai kota berkelanjutan. Yang dimaksud dengan kota berkelanjutan adalah sebuah kota yang dalam melakukan pembangunan berasaskan keadilan antara generasi saat ini dengan generasi yang akan datang. Pembangunan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengorbankan kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan generasi yang akan datang. Seperti halnya Wildsmith (2009), Mori dan Christodoulou (2011) juga mensyaratkan keseimbangan biofisik, sosial dan ekonomi yang berkeseimbangan dalam pelaksanaan pembangunan kota berkelanjutan. Roseland (1997) mendefinisikan green city sebagai eco-city, yaitu kota yang berbasis ekologi dengan beberapa upaya yang dapat dilakukan sebagai berikut : 1) merevisi penataan penggunaan lahan agar menjadi lebih memperhatikan kebutuhan akan ruang terbuka hijau dan kenyamanan di pusat-pusat permukiman dan area dekat transportasi, 2) Perlu memperhatikan kebutuhan transportasi ramah lingkungan, 3) Merehabilitasi lingkungan perkotaan yang rusak (sungai, pantai, lahan basah), 4) Mendukung kegiatan penghijauan, pertanian masyarakat lokal, 5) Sosialisasi daur ulang limbah, teknologi inovatif tepat guna, 6) Menciptakan keadilan sosial dengan memberikan kesempatan pada wanita dan orang cacat untuk berperan serta menikmati pembangunan, 7) Mendorong pertumbuhan ekonomi yang berbasis ekologi yaitu dengan menurunkan limbah dan polusi, serta menggunakan bahan baku yang tidak

berbahaya

bagi

lingkungan,

8)

Mensosialisasikan

penghematan

pemanfaatan

sumberdaya alam, 9) Meningkatkan kesadaran terhadap lingkungan melalui kegiatan pendidikan lingkungan. b. Permasalahan dalam Mewujudkan Kota Hijau Permasalahan lingkungan perkotaan yang menghambat terwujudnya kota hijau adalah disebabkan oleh tingginya laju pertumbuhan penduduk serta laju pertambahan luas lahan terbangun, semakin menurunnya ruang terbuka hijau, terjadinya pencemaran air, pencemaran udara, pencemaran tanah, dan terbentuknya pulau bahang kota. Pulau bahang kota telah terjadi di beberapa kota di dunia, salah satunya adalah pulau bahang kota yang terjadi di Guangzhou. Weng dan Yang (2004) menjelaskan bahwa permasalahan lingkungan yang dihadapi Kota Guangzhou adalah terus meningkatnya luas suhu udara tinggi di area perkotaan. Luas suhu udara tinggi yang terus meningkat ini terkait dengan terus meningkatnya populasi penduduk sehingga meningkatkan luas lahan terbangun, industri dan transportasi, serta merubah tata kota dan lingkungan fisik Kota Guangzhou. Emisi CO2 dari berbagai aktivitas di perkotaan serta semakin meningkatnya lahan terbangun dan menurunnya ruang terbuka hijau di Kota Guangzhou, menyebabkan terbentuknya pulau bahang kota. Masalah pulau bahang kota juga disebabkan oleh adanya pengembangan kota yang tidak berdasarkan keberlanjutan ekologi perkotaan. Sektor ekonomi menjadi prioritas utama pembangunan, lingkungan hidup tidak menjadi perhatian penting. Berbagai aktivitas di perkotaan menyebabkan terus meningkatnya emisi CO2 dan peningkatan suhu udara. Berdasarkan penelitian Wang (2009) di China mengenai analisis permasalahan perencanaan urban green space system. Masalah lingkungan di Cina diakibatkan karena kesalahan pada level perencanaan yang tidak mementingkan lingkungan sehingga pelaksanaan pembangunan perkotaan lebih fokus pada sektor ekonomi sehingga menimbulkan berbagai masalah lingkungan hidup termasuk pemanasan di perkotaan. c. Pengelolaan Kota dalam Mewujudkan Kota Hijau

Salah satu cara untuk mewujudkan kota hijau adalah dengan melakukan pembangunan berkelanjutan yang saat ini dikenal dengan pembangunan berbasis green growth. World Wide Fund for Nature dan PricewaterhouseCoopers (2011), mendefinisikan green growth sebagai sebuah konsep pembangunan yang dilaksanakan dengan mengupayakan keseimbangan ekonomi, sosial, budaya serta lingkungan hidup. Konsep pembangunan berbasis green growth menurut World Wide Fund for Nature (WWF) dan PricewaterhouseCoopers (PWC), dilaksanakan berdasar pada lima pilar penting berikut: a. Pertumbuhan ekonomi b. Perbaikan kondisi sosial c. Konservasi keanekaragaman hayati dan jasa lingkungan d. Kemampuan adaptasi terhadap perubahan iklim global e. Penurunan emisi gas rumah kaca. Sektor ekonomi sangat penting dalam menggerakkan pembangunan perkotaan. Ekonomi yang sehat akan meningkatkan kondisi sosial ekonomi dan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di dalamnya. Pertumbuhan ekonomi, sosial dan budaya harus ditingkatkan. Selain sektor ekonomi dan kondisi sosial masyarakat, yang perlu menjadi perhatian adalah perlunya memberikan harga ( value) tinggi pada sumberdaya alam dan jasa lingkungan yang ada. Sumberdaya alam termasuk keanekaragaman hayati dan jasa lingkungan berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem perkotaan. Keanekeragaman hayati vegetasi ruang terbuka hijau mempunyai jasa lingkungan melalui perannya dalam mengabsorbsi dan mengadsorbsi berbagai polutan udara, memperbaiki iklim mikro perkotaan, meningkatkan estetika lingkungan, me-ngurangi kebisingan (Dahlan 2004). Oleh karena itu perlu dilakukan pemberdayaan masyarakat dalam upaya konservasi sumberdaya alam dan jasa lingkungan serta perbaikan habitat di perkotaan. Agar sebuah kota dapat melakukan pembangunan berkelanjutan, maka selain melakukan perbaikan kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan hidup, juga harus

meningkatkan kemampuan adaptasi kota tersebut terhadap perubahan iklim global. Penurunan emisi gas rumah kaca harus dimasukkan dalam perencanaan dan
pelaksanaan pembangunan kota berbasis karbon rendah. Konsep pembangunan berkelanjutan atau pembangunan berbasis green growth tersebut disajikan pada Gambar 2.
Sumber : WWF dan PWC (2011)

Gambar 2 Pembangunan kota hijau berbasis green growth.

Kota Hijau pada prinsipnya adalah sebuah konsep kota yang ramah lingkungan, dalam hal pengefektifan dan pengefisiensian sumber daya alam dan energi, mengurangi limbah, menerapkan sistem transportasi terpadu, menjamin adanya kesehatan lingkungan, dan mampu mensinergikan lingkungan alami dan buatan. Atau dengan kata lain, kota yang berdasarkan pada perencanaan dan perancangan kota yang berpihak pada prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan (lingkungan, sosial, dan ekonomi). Tulang punggung konsep Kota Hijau ini adalah keberadaan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Contoh RTH yang ada di kota Bandar Lampung adalah Taman Hutan Kota Way

Halim tadi. Menurut Nirwono Joga dalam bukunya yang berjudul RTH 30% Resolusi (Kota) Hijau, dalam penataan ruang, RTH diartikan sebagai kawasan yang mempunyai unsur dan struktur alami yang harus diintegrasikan dalam rencana tata ruang kota, tata ruang wilayah, dan rencana tata ruang regional sebagai satu kesatuan sistem. Jadi bukan sekedar kawasan yang dipenuhi vegetasi yang asri dan indah saja, tetapi didalamnya terdapat fungsi sosial, budaya, ekologi, bahkan ekonomi. Di era modern ini, kata kunci dari pendekatan terhadap suatu perencanaan lingkungan binaan yang efektif dan efisien adalah multi-functionality atau kemulti-fungsian. Dengan begitu suatu hasil perencanaan tersebut bias lebih dapat berdaya-guna, diterima dengan baik, dan berkelanjutan secara mandiri. Tidak berbeda dengan RTH ini, fungsi estetika dan ekologi yang ada padanya secara mendasar, harus pula dilengkapi dengan fungsi sosial, budaya, dan ekonomi. Sebagai contoh, sebuah taman yang termasuk dalam RTH, tidak hanya harus indah dan asri, serta penuh dengan vegetasi yang memenuhi suatu kelengkapan ekosistem, tapi juga harus dapat dikunjungi dan dimanfaatkan oleh masyarakat dengan nyaman untuk berbagai kegiatan publik, missal olahraga, pertunjukan seni, dan sebagainya, serta berperan dalam skala tertentu dalam meningkatkan nilai ekonomi lingkungan sekitarnya. Misalnya muncul warung-warung makan, area parkir berbayar, toko-toko cinderamata, dan berbagai fungsi komersial lainnya. Dengan begitu sudah pasti RTH tersebut akan lestari dan bermanfaat secara optimal. Dalam skala kota, tentunya konsep tersebut haruslah diwujudkan secara lebih luas lagi. Keberadaan suatu kota sangat tergantung pada infrastrukturnya. Masih menurut Nirwono Joga, pola jaringan RTH dengan berbagai jenis dan fungsinya merupakan rangkaian hubungan dan kesatuan terpadu yang membentuk infrastruktur hijau ( green infrastructure) atau infrastruktur ekologis (ecological infrastructure). Infrastruktur hijau dengan berbagai jenis dan fungsinya berperan dalam menciptakan keseimbangan ekosistem kota dan alat pengendali pembangunan fisik kota.

Perkembangan kota Bandar Lampung yang demikian pesat saat ini, tentunya berimbas terhadap keberadaan atau ketersediaan lahan RTH. Apabila dalam kenyataannya RTH tidak dianggap sebagai salah satu prioritas utama pembangunan maka yang terjadi adalah kebenaran isu pengalihan fungsi RTH Taman Hutan Kota Bandar Lampung tersebut di atas. Menurut Undang-Undang Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang telah diamanatkan bahwa proporsi luas RTH minimal adalah 30 persen dari luas kota, 20 persen dikelola pemerintah (RTH Publik) dan 10 persen milik pribadi (RTH Privat). Namun riilnya, perkembangan kota Jakarta yang fenomenal itu saja hanya menyisakan kurang lebih 9 persen RTH Publik dan 20 persen RTH Privat. Dan kita semua menjadi saksi betapa carut marutnya Kota Jakarta saat ini. Untuk kota Bandar Lampung, RTH eksisting hanya berkisar belasan persen saja. Apakah kita akan mengikuti jejak Jakarta? Bukan jejaknya sebagai kota metropolitan, akan tetapi kota yang rawan banjir, macet, dan berpolusi. Sebagai alternatif lain, kita bisa melihat perkembangan Kota Solo saat ini misalnya. Visi Kota Solo adalah Solo Eco Cultural City, dimana visi ini mempunyai arti Kota Solo yang berwawasan lingkungan dan budaya. Program utama yang dilakukan yaitu dengan meningkatkan ruang terbuka hijau di Solo dan mengadakan kegiatan budaya yang bersih atau tidak menghasilkan limbah atau emisi. Namun sayang program tersebut masih belum dirasakan atau diapresiasi oleh masyarakat Solo dengan baik. Jika kondisi ini dibiarkan saja maka yang tersisa dari visi tersebut hanyalah jargonnya saja. Oleh karena itu selain dari kekonsistenan dari pemerintah kota sebagai pembuat kebijakan, perlu juga adanya perubahan pola pikir dari masyarakat kota Bandar Lampung. Penerapan konsep Kota Hijau tidak bisa sepenuhnya bergantung pada peningkatan kuantitas luasan RTH tapi harus didukung oleh perubahan menuju perilaku dan kebiasaan masyarakat yang mencerminkan keramahan terhadap lingkungan. Mulai dari inisiatif sederhana seperti penanggulangan sampah, hingga program sosialisasi, edukasi dan diskusi yang meningkatkan wawasan serta kesadaran untuk menjaga lingkungan. Komunitas masyarakat, dari strata terkecil yaitu keluarga, RT, RW dan desa juga harus dilibatkan. Semua unsur masyarakat ini harus bergerak menerapkan gaya hidup hijau dan ramah lingkungan.

RTH 30 persen tidak menjamin tercapainya konsep Kota Hijau apabila masyarakatnya masih juga membuang sampah sembarangan. Dan tidak juga akan tercapai apabila pemerintah tidak membuat suatu sistem manajemen sampah yang terpadu dan berjalan dengan baik. RTH 30 persen juga tidak menjamin tercapainya konsep Kota Hijau apabila masyarakatnya dalam berkomuting masih memilih menggunakan kendaraan pribadi secara tidak bijaksana. Dan tidak juga akan tercapai apabila pemerintah tidak menyediakan suatu fasilitas transportasi massal yang nyaman dan reliable. Sekali lagi, RTH 30 persen tidak menjamin tercapainya konsep Kota Hijau apabila masyarakatnya masih tidak hemat energi, baik listrik maupun BBM (Bahan Bakar Minyak). Dan sudah pasti tidak akan dapat tercapai apabila pemerintah tidak menyediakan dan memasyarakatan alternatif sumber energi lain yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Konsep Kota Hijau sangat baik dan ideal untuk perkembangan suatu kota saat ini dan di masa yang akan datang. Tapi tentunya sangat tergantung dari pemerintah dan masyarakatnya. It is difficult but it is not impossible. Act (green) now!

Kota modern adalah sebuah entitas kosmopolit yang unik, karena di satu sisi terlalu jenuh dan ruwet untuk dihidupi, dan di sisi lain sangat sulit dipungkiri daya tariknya. Dalam perspektif ini, kota modern sesungguhnya sudah berevolusi menjadi sebuah organisasi bisnis, dan oleh karenanya akan lebih baik bila dikelola mengikuti prinsip organisasi bisnis. Penduduk kota modern bukan lagi sekedar kumpulan orang yang tinggal bersama di suatu area geografis. Mereka adalah nafas, atau darah, yang menjadi penggerak kehidupan kota. Kesibukan kota mencerminkan sistem pertukaran informasi yang luar biasa padat (hectic). Oleh sebab itu, salah satu ciri kota modern yang maju adalah terdapatnya information network system yang efektif dan berkapasitas tinggi. Inilah ciri-ciri kota-kota besar dunia yang sering disebut kota-kota cerdas (smart cities). Penduduk kota modern tidak lagi melihat dirinya sebagai kumpulan masyarakat yang menghabiskan waktu bersama. Mereka adalah masyarakat yang senantiasa berevolusi dalam kreasinya dari waktu ke waktu. Mereka hidup dalam proses mengkreasi diri terus-menerus (autopoiesis). Ini dibentuk oleh struktur pembentuk masyarakat yang didominasi banyak pekerja profesional dan pekerja kreatif. Ini bukan berarti kota modern tak punya pekerja fisik dan pekerja teknis. Namun, kota modern memiliki keberagaman talents dalam beragam pekerjaan, yang membuat segalanya menjadi sebuah complex mix yang memutar ekonomi kota. Pada awal abad ke 20, ketika Revolusi Industri bergulir, orang mulai menyadari masalah yang timbul pada kota-kota modern di Eropa. Populasi meningkat dengan cepat karena era mesin menyebabkan pabrik-pabrik yang ada di kota memerlukan buruh dalam jumlah besar. Muncul beberapa teori perencanaan kota dari Arsitek-arsitek terkenal saat itu. Le Corbusier menyodorkan The Radiant City, Ebenezer Howard dengan The Garden City, dan Frank Lloyd Wright dengan Broadacre City-nya. Ketiganya mencoba mengatasi masalah perkotaan yang ada dengan berdasarkan idealisme mereka sendiri. Ide-ide tentang perencanaan kota yang muncul kemudian lebih merupakan perkembangan atau kombinasi dari konsep yang di bawa oleh ketiga arsitek besar tadi.

Eco City
Kota yang secara ekologis dikatakan kota yang sehat. Artinya adanya keseimbangan antara pembangunan dan perkembangan kota dengan kelestarian lingkungan. Pengertian yang lebih luas ialah adanya hubungan timbal balik antara kehidupan kota dengan lingkungannya. Secara mendasar kota bisa dipandang fungsinya seperti suatu ekosistem. Ekosistem kota memiliki keterkaitan sistem yang erat dengan ekosistem alami. Eco-city di beberapa kota diwujudkan dalam bentuk program-program yang bertujuan untuk mencapai kota hijau. Program kota hijau merupakan program yang menyatakan perlunya kualitas hidup yang lebih baik serta kehidupan yang harmonis dengan lingkungannya bagi masyarakat kota. Program-program kota hijau diantaranya tidak hanya terbatas untuk mengupayakan penghijauan saja akan tetapi lebih luas untuk mengupayakan konversi energi yang dapat diperbaharui, membangun transportasi yang berkelanjutan, memperluas proses daur ulang, memberdayakan masyarakat, mendukung usaha kecil dan kerjasama sebagai tanggung jawab sosial, memugar tempat tinggal liar, memperluas partisipasi dalam perencanaan untuk keberlanjutan, menciptakan seni dan perayaan yang bersifat komunal.

KONSEP DAN VISI ECO-CITY Dalam implementasinya eco-cityharus mampu mencerminkan sebagai kota yang berkelanjutan. Eco-city direncanakan seharusnya memiliki tujuan dalam penggunaan sumber daya yang seminimal mungkin serta memberikan dampak yang sekecil mungkin. Kota harus mampu mendaur-ulang sumber-sumber daya tersebut. Dalam konteks ini, eco-city memiliki prinsip yang berbeda dengan kota modern. Perbedaan tersebut terletak pada penggunaan sumber-sumber daya dan dampak yang ditimbulkannya. Pergeseran paradigma ini merupakan konsekuensi logis untuk mencapai tujuan sebagai kota eco-city. Namun hal yang tersulit untuk membentuknya

adalah proses dalam menangani sumber daya tersebut, karena diperlukan upaya mendaur-ulang sumber daya tersebut. Dengan demikian eco-city merupakan kota yang mengurangi beban dan tekanan lingkungan, meningkatkan kondisi tempat tinggal dan membantu mencapai pembangunan berkelanjutan termasuk peningkatan kota yang komprehensif. Eco-city melibatkan perencanaan dan manajemen lahan dan sumberdaya serta implementasi peningkatan lingkungan secara terukur.

ECO-CITY DAN KOTA BERKELANJUTAN Kota berkelanjutan memiliki makna yang luas, namun sering kali pemahamannya dilihat dari segi konteks dan substansi mengarah pada keberadaan kota yang memperhatikan lingkungan. Walaupun konteks dan substansi ini berada dalam lingkup yang meletakkan lingkungan sebagai aspek yang penting, akan tetapi juga memerlukan berbagai pendekatan dengan melibatkan aspek-aspek lain yang komprehensif. Dengan kata lain, bidang-bidang yang terkait tidak hanya berhubungan dengan lingkungan saja, namun secara bersama-sama mengkaitkan pula bidang-bidang yang lain misalnya: perencanaan dan desain, teknologi, ekonomi, sosial dan budaya, serta politik. Kota berkelanjutan mendekati visi tentang kota yang dicita-citakan, dimana ia dihadapkan pada berbagai permasalahan-permasalahan yang tidak mudah untuk menyelesaikannya. Mengenai permasalahan ekonomi dan lingkungan menjadi hal yang perlu diperhatikan, dimana dengan hal tersebut menjadi semakin lebih sulit menggambarkan kota yang memiliki arti yang luas pada kota-kota yang terpencil atau daerah-daerah pedalaman yang kurang meng-kota. Hal ini jauh berbeda dari pemikiran baru tentang kota, dimana karakteristik kota sebagai sistem yang terbuka, yaitu sistemsistem kota menyatu dengan sistem-sistem lingkungan dan ekonomi. Eco-city, harus dibangun oleh masyarakat setempat, bukan oleh perencana tata kota atau pemerintah. Walaupun leadership, khususnya dari pemerintah masih dibutuhkan di semua lini dan tingkatan untuk mewujudkan eco-city ini.

Eco-city 1

Sesuai dengan konsep eco-city yang melibatkan perencanaan dan manajemen lahan dan sumber daya serta implementasi peningkatan lahan secara teratur. Maka bisa dilihat dari gambar diatas bahwa pemakaian ruang dari sebuah eco-city benarbenar direncanakan, lahan kosong disekitar gedung dijadikan lahan hijau. Di sudut lahan dibangun danau/penampungan air untuk fungsi dan estetika. Lahan pinggir sungai ditata sedemikian rupa tanpa kehilangan fungsi utamanya. Lahan kosong sengaja tidak dipenuhi oleh pohon agar tercipta ruang bagi pemukim untuk beraktivitas di lahan kosong tersebut.

KONSEP KOTA KOMPAK

Dalam berbagai diskusi tentang pola-pola ruang dan bentuk kota yang berkelanjutan wacana yang diistilahkan sebagai kota kompak (compact city) tampaknya telah menjadi isu paling penting dewasa ini. Perhatian besar saat ini telah memfokuskan pada hubungan antara bentuk kota dan keberlanjutan, bahwa bentuk dan kepadatan kota-kota dapat berimplikasi pada masa depan mereka. Dari debat itu argument-argumen yang kuat sedang dimunculkan bahwa kota kompak adalah bentuk kota yang dianggap paling berkelanjutan. Inilah yang diungkapkan oleh Mike Jenks, Elizabeth Burton dan Katie Williams (1996) dalam buku mereka yang berjudul Compact City : A Sustainable Urban Form ? buku ini juga sekaligus mengajukan berbagai opini dan riset dari serangkaian disiplin ilmu, dan memberikan suatu pemahaman dari debat teoritis dan tantangan-tantangan praktis yang melingkupi gagasan kota kompak ini. Tidak dipungkiri bahwa gagasan kota kompak didominasi oleh medel dasar dari pembangunan yang padat dari banyak kotakota bersejarah di Eropa. Maka tidak mengherankan jika para penganjur paling kuat bagi kota kompak adalah komunitas Eropa (Commission of the European Cummunities).

Kota kompak ini memang digagas tidak sekedar untuk menghemat konsumsi energi, tetapi juga diyakini lebih menjamin keberlangsungan generasi yang akan datang. Jenks menyebutkan bahwa ada suatu hubungan yang sangat kuat antara bentuk kota dengan pembangunan berkelanjutan, tetapi sebenarnya tidaklah sesderhana itu atau bahkan langsung berbanding lurus. Ini seolah-olah telah dikesankan bahwa kota yang berkelanjutan adalah Mesti terdapat suatu ketepatan dalam bentuk dan skala untuk berjalan kaki, bersepeda, efisien transportasi masal, dan dengan kekompakan dan ketersediaan interaksi social (Elkin et.al., 1991, p.12).

Namun demikian dalam kota kompak ini terdapat gagasan yang kuat pada perencanaan urban containment yakni menyediakan suatu konsentrasi dari penggunaan campuran secara sosial berkelanjutan (socially sustainable mixed use), mengkonsentrasikan pembangunan-pembangunan dan mereduksi kebutuhan jalan hingga mereduksi emisi kendaraan-kendaraan. Oleh karena itu promosi penggunaan Public Transport (transportasi public/masal), kenyamanan berlalu lintas, berjalan kaki dan bersepeda adalah sering dikutip sebagai solusi (Elkin et.al., 1991, Newman, 1994).

Lebih lanjut melalui perencanaan efisiensi penggunaan jalan, yang dikombinasikan dengan skema daya listrik dan pemanasan, dan bangunan hemat energi juga dapat mereduksi emisi-emisi polutan yang beracun. (Nijkamp and Perrels, 1994; owens, 1992). Kepadatan tinggi dapat membantu membuat persediaan amenities (Fasilitasfasilitas) dan yang secara ekonomis viable, serta mempertinggi keberlanjutan social (Houghton and Hunter, 1994).

Menerapkan secara penuh gagasan kota kompak bagi perencanaan kota-kota di Indonesia jelas masih membutuhkan kajian, studi dan riset tersendiri. Bagaimanapun konsep kota kompak bukanlah konsep yang kaku dan sederhana yang menggambarkan sebuah bentuk kota tertentu. Adanya perbedaan masing-masing

karakteristik kota dan hudaya masyarakat yang menghuninya harus dimaknai bahwa kota kompak juga perlu dilihat dalam konteks kekhasan budaya, ekonomi dan identitas fisik kotanya saat ini untuk perubahan kota (urban change) di masa datang yang lebih baik dan efisien. Namun ada hal yang sudah pasti yakni jika kita melihat kota-kota besar di Indonesia saat ini seperti Jakarta dan Surabaya, adalah terjadinya perkembangan kota yang padat dan semakin melebar secara horisontal tanpa batas yang jelas. Pelebaran ini mengakibatkan munculnya kota-kota pinggiran yang menjadi penyangga akibat perkembangan kota Jakarta seperti kota Depok, Bogor, Bekasi, Tangerang dll. Banyak pegawai yang tinggalnya di Jakarta tetapi tinggalnya di kota-kota pinggiran tersebut hal ini sudah dipastikan adany inefisiensi waktu, tenaga, dana, sumber-sumber energy dan lain-lain. Maka membangun kota yang padat dan vertikal sudah menjadi sebuah kemestian bagi perkembangan kota Jakarta dan kota-kota lainnya di masa yang akan datang.

Inefisiensi itu lebih diperparah lagi ketika perkembangan kota-kota besar itu belum diiringi denga penyediaan transportasi masal yang representatif dan memadai. Bagi kota-kota besar di Indonesia, dalam hal ini penyediaan transportasi public misalnya busway, monorail dan berbagai jenis mode transportasi masal jelas sesuatu yang tidak bisa di tawar-tawar lagi. Kemacetan di kota-kota besar akibat meningkatnya volume kendaraan karena bertambahnya pengguna mobil pribadi adalah sesuatu yang mesti segera di akhiri. Pada akhirnya konsumsi energi khususnya minyak BBM yang harganya fluktuatif itu diharapkan juga bisa sangat terkurangi.

TOD ( Transit Oriented Development) Sumber : WUNAS, Shirly. 2011.Sistem Tranportasi Perkotaan. KOTA HUMANIS

TOD mengembangkan pola transportasi permukiman baru dengan menciptakan pusat-pusat pemberhentian angkutan umum bagi warga. Pusat pemberhentian merupakan pusat lingkungan. Dari tempat pemberhentian angkutan dari yang tingkat terendah, seperti pemberhentian bus masyarakat dapat melanjutkan perjalanan menuju ke stasiun keret listrik

TOD adalah konsep pengembangan berbasis transit. Konsep tersebut terintegrasi dengan elemen ruang perkotaan dan wilayah, mencakup transportasi public dan prasarana jalan

Komponen TOD terdiri dari : 1. Jaringan sirkulasi ( jalan-jalan, pejalan kaki, dan trotoar) 2. Bus Rapid Transit dan tempat pemberhentiannya 3. Fasilitas pejalan kaki dan sepeda ( untuk menghemat pergerakan kendaraan bermotor) 4. Fasilitas- dasilitas umum, seperti taman, plaza, fitness center, sekolah, perpustakaan, tempat penitipan anak, kantor pos dan sebagainya

Manfaat konsep TOD 1. Dapat meningkatkan kualitas lingkungan hidup yang lebih baik 2. Mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan kemacetan lalu lintas 3. Mengurangi kecelakaan lalu lintas 4. Mengurangi biaya transportasi rumah tangga 5. Gaya hidup yang lebih sehat dengan berjalan kaki 6. Mengurangi polusi dan kerusakan lingkungan 7. Mengurangi peluang terbentuknya sprawl 8. Membuka peluang pengembangan bentuk compact 9. Lebih murah jika dibandingkan dengan pembangunan jalan

Kriteria dasar dari konsep TOD : 1. Menyediakan stasiun pusat pemberhentian atau transit 2. Menyediakan pusat atau koridor perbelanjaan langsung dekat stasiun 3. Menyediakan jaringan jalan yang saling berhubungan dan bercabang dalam lingkungan 4. Dan menyediakan berbagai tipe rumah termasuk untuk keluarga banyak

Ewing ( 1997) dan Watson ( 2001) mengusulkan 2 konsep dalam sistem TOD 1. Transit Koridor 2. Transit Nodes

Tempat transit (konsep TOD) menyediakan ruang untuk perpindahan moda, tempat parkir dengan sistem parkir permanen atau parkir menurunkan penumpang ( park and ride ), dan tersedia fasilitas pendidikan, perbelanjaan, kesehatan, bank, cafe, restorant, olahraga, dan fasilitas rekreasi lainnya

Mixed use planning Mixed use adalah penggabungan lebih dari satu fungsi kegiatan dalam beberapa kawasan menjadi satu kawasan yang saling berinteraksi internal dan terintegrasi ke dalam satu system kesatuan
-

Konsep fungsi campuran (Mix Use) 2 tipe yaitu Sarana fungsi campuran dalam satu bangunan membentuk (vertical) ataupun dalam beberapa bangunan, tetapi massa bangunan yang sebaiknya ( kompak/ramping

http://www.adelaidecitycouncil.com )

Pentingnya Mixed Use dalam teori perencanaan wilayah suburban :

1. Saat ini wilayah suburban yang terdiri atas monofungsi lahan (perumahan vertical/horizontal) membutuhkan integrasi dari beberapa sarana fungsi campuran, dapat memudahkan akses kegiatan harian dari hunian 2. Efisiensi dalam pembangunan prasarana ( jaringan air bersih, listrik, gas, telpon, drainase) jika pola massa bangunan kompak dengan fungsi campuran 3. Efisiensi penggunaan lahan dan terjangkau dengan berjalan kaki atau bersepeda ke berbagai sarana dalam pola massa bangunan yang kompak.

4. Penggunaan kendaraan pribadi berkurang, kemacetan lalu lintas menurun, dan kualitas lingkungan hidup dapat lebih baik 5. Berbagai sarana dalam pola massa bangunan vertikal, dan kompak harus terintegrasi dengan penghijauan seluas 4 Metode-metode yang digunakan dalam penerapan mixed use dalam tahap perkembangan kota dan wilayah antara lain; Perencanaan kota yang lebih detail Pengembangan kawasan tradisional dan heritage Mengikuti regulasi penzoningan kawasan Mixed use pada dasarnya merupakan gabungan kelompok kegiatan hunian, perkantoran, hiburan, perbelanjaan, dan lainnya dengan dicirikan oleh adanya berbagai fasilitas penunjang secara fisik, antara lain; Jalur yang menghubungkan segala kawasan (cepat dan lambat) Street furniture dan parkiran Tempat perbelanjaan Perumahan Ruang dimensi tiga di semua bangunan Keuntungan-keuntungan yang diperoleh dengan mengaplikasikan mixed use dalam pola pemanfaatan lahan antara lain; Terlihat bersatu dan kompak Adanya efisiensi penggunaan lahan Terbuka dan menarik Berpotensi membuat lapangan kerja baru

Berpotensi untuk kawasan historis nantinya Urban sprawl New Urbanisme

Perth

Perth tadinya merupakan ibu kota dari negara bagian yang paling terisolasi di Australia. Kini, berkat industri pertambangan yang maju pesat, Perth dapat menjadi kota modern. Angkasa Perth dipenuhi oleh menara-menara pencakar langit dari baja dan kaca.

NEW YORK New York adalah kota terpadat di Amerika Serikat, dan pusat wilayah metropolitan New York yang merupakan salah satu wilayah metropolitan terpadat di dunia. Sebuah kota global terdepan, New York memberi pengaruh besar terhadap perdagangan, keuangan, media, budaya, seni, mode, riset, penelitian dan hiburan dunia. Sebagai tempat markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa, kota ini juga merupakan pusat hubungan internasional yang penting. Kota ini sering disebut New York City atau City of New York untuk membedakannya dari negara bagian New York, tempat kota ini berada. Terletak di pelabuhan alami besar di pantai Atlantik Amerika Serikat Timurlaut, kota ini terdiri dari lima borough: The Bronx, Brooklyn, Manhattan, Queens, dan Staten Island. Pada tahun 2009, jumlah penduduk kota ini diperkirakan mencapai 8,4 juta jiwa dan dengan luas daratan 305 mil (790 km), New York City merupakan kota besar paling padat di Amerika Serikat. Jumlah penduduk wilayah metropolitan New York juga merupakan yang terbesar di Amerika Serikat dengan sekitar 19.1 juta jiwa memadati wilayah seluas 6,720 mil (17.400 km). Selain itu, Wilayah Statistik Gabungan yang mencakup wilayah metropolitan New York raya berisi 22.2 juta jiwa pada perhitungan sensus 2009 yang juga merupakan jumlah terbesar di Amerika Serikat.

New York didirikan sebagai sebuah pos dagang komersial oleh Belanda pada tahun 1624. Permukiman ini dinamai Amsterdam Baru hingga 1664 ketika koloni ini berada di bawah kekuasaan Inggris. New York berperan sebagai ibu kota Amerika Serikat pada tahun 1785 hingga 1790.[8] New York telah menjadi kota terbesar di negara ini sejak 1790. Sebanyak 800 bahasa dipertuturkan di New York City sehingga menjadikannya kota dengan bahasa paling beragam di dunia. Banyak distrik dan markah tanah di kota ini yang dikenal di luar negeri. Patung Liberty menyambut jutaan imigran ketika mereka datang ke Amerika Serikat pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Times Square, dijuluki sebagai "The Crossroads of the World" (Perlintasan Dunia), adalah hub distrik teater Broadway penuh cahaya, salah satu perlintasan pejalan kaki tersibuk di dunia, dan sebuah pusat industri hiburan besar dunia. Dilengkapi Wall Street di Lower Manhattan, New York City bersaing dengan London sebagai ibu kota keuangan dunia dan merupakan rumah bagi Bursa Saham New York, bursa saham terbesar di dunia menurut kapitalisasi pasar perusahaan yang terdaftar di sana. Pecinan asli di Manhattan menarik banyak wisatawan ke pinggiran jalan dan pertokoannya yang sibuk. Sekolah dan universitas kelas dunia seperti Universitas Columbia dan Universitas New York juga terdapat di New York City.

Dari kiri atas: Midtown Manhattan, Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa, Patung Liberty, Times Square, Unisphere di Queens, Jembatan Brooklyn, dan Lower Manhattan dengan Staten Island Ferry

Robert Moses mengembangkan New York menjadi tempat yang mudah dicapai. Ia membangun jalan raya di west side, terowongan Brookyln-Battery, jembatan Triborough, dan Cross-Bronx expressway yang memicu unjuk rasa karena dinilai merusak nilai pusaka yang ada di stasiun tersebut. Baginya, jalan raya dan jembatan adalah hal yang sangat penting agar New York mudah diakses, baik dari daerah metropolitannya ke pusat kotanya, maupun sebaliknya. Sayangnya hal positif ini juga memberi efek pada penggunaan mobil yang melunjak pada masa itu, sehingga timbulah kemacetan. Ironisnya, Robert Moses justru menganggap solusi dari kemacetan itu adalah dengan dibangunnya jalanan baru, bukan mencoba mengurangi penggunaan mobil itu sendiri. Cities are created by and for traffic.

Secara keseluruhan, Moses menginginkan suatu perubahan besar pada New York yang secara industrial juga mengalami kemerosotan. Karenanya, Moses juga membuat landmark yang monumental, sehingga dapat meningkatkan intelektualitas, politik, dan kebudayaan di pusat kotanya. Berdirinya beberapa institusi, seperti Lincoln Center, diharapkan dapat mendukung New York untuk menonjolkan kelebihannya. Tidak hanya itu ia juga mengambil andil dalam program pembersihan kawasan kumuh bernama Title I yang dilaksanakan pada tahun 1949 hingga 1960. Peremajaan kota ini dilakukan dengan memindahkan ribuan orang ke rumah susun. Dengan begini, Moses berharap New York menjadi lebih rapi, efektif secara spasial, tidak kumuh, mencerminkan New York sebagai ibu kota dunia, dan tentu saja lebih modern. Ironisnya, biaya rumah susun tersebut sulit untuk dibayar oleh penghuninya. Pada tahun 1960an Robert Moses ditentang begitu banyak orang karena ia dipandang sebagai orang yang membangun jalan raya, jembatan, taman, rumah susun, dan semua hal yang ingin menunjukkan betapa hebatnya New York tanpa melihat apa esensi kehidupan dalam kota itu sendiri. Tanpa disadari, ambisi Moses berubah menjadi obsesi yang melupakan hasrat dasar manusia sebagai makhluk sosial. Bangunan modern yang katanya menampung banyak orang itu ternyata menghilangkan suasana sosialisasi antarwarga yang pernah hadir sebelum Moses merubahnya menjadi begitu modern. Efektif memang dalam menampung, tapi tidak dalam berbudaya. Belum lagi meningkatnya ketergantungan para penduduk kepada mobil yang membuat penduduknya perlahan melupakan pedestrian. Perlahan kota modern yang diciptakan Moses membuat warganya merindukan kembali suasana yang manusiawi.