Anda di halaman 1dari 22

Analisa Komparatif Biaya Akses Jembatan Suramadu 1

Menggunakan Metode Perkerasan Lentur dan Perkerasan Kaku


Analisa Komparatif Biaya Jalan Akses Jembatan Suramadu Menggunakan
Metode Perkerasan Lentur dan Perkerasan Kaku
Adhi Muhtadi, ST., SE., MSi.
ABSTRAK
Sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Propinsi Jawa Timur hingga Tahun 2012
direncanakan untuk menghubungkan Pulau Madura dan Pulau Jawa dengan
menggunakan Jembatan Suramadu yang diintegrasikan dengan rencana Jalan Lingkar
Luar Timur Surabaya (Surabaya Eastern Ring Road) dan rencana Jalan Tol Aloha-
Wonokromo-Tanjung Perak. Dimana salah satu hal terpenting yang perlu dipersiapkan
secara baik adalah rencana pembangunan jalan akses Jembatan Suramadu sisi Surabaya.
Pada rencana jalan akses Jembatan Suramadu Sisi Surabaya dilakukan analisa
komparatif dengan menggunakan metode perkerasan lentur dan perkerasan kaku didapat
bahwa pekerjaan perkerasan lentur jauh lebih murah daripada perkerasan kaku. Biaya
pekerjaan perkerasan lentur sebesar Rp. 2.069.585,23/m dan biaya pekerjaan
perkerasan kaku sebesar Rp. 7.728.609,57/m.
Kata kunci: Biaya, Perkerasan Lentur, Perkerasan kaku, Suramadu.
PENDAHULUAN
Latar Belakang: Saat ini terdapat kesenjangan perkembangan antara pulau
Madura dengan wilayah lain di propinsi Jawa Timur, dimana tingkat perkembangan
wilayah pulau Madura relatif lebih rendah yang disebabkan tidak memadainya
aksesibilitas dari dan ke pulau Madura.
Untuk memantapkan laju pertumbuhan ekonomi tersebut maka dalam Rencana
Tata Ruang Wilayah (RTRW) Propinsi Jawa Timur tahun 1997/1998-2011/2012
direncanakan untuk menghubungkan Pulau Madura dan Pulau Jawa dengan
menggunakan prasarana jembatan yang dikenal dengan nama Jembatan Suramadu.
Untuk itu, dalam hal ini perlu pengkajian ulang mengenai analisa lalu lintas
untuk menghitung volume kendaraan yang akan terjadi dari tahun ke tahunnya,
sehingga nantinya akan di peroleh desain dan biaya perkerasan yang optimal pada Jalan
Akses Jembatan Suramadu Sisi Surabaya.
Sebagai prasarana transportasi, jalan raya merupakan fasilitas yang penting
sehingga perlu adanya pemecahan dari permasalahan yang timbul pada rencana
pembangunan jalan akses Jembatan Suramadu Sisi Surabaya, yaitu :
1. Bagaimana mendesain tebal perkerasan lentur dan perkerasan kaku jalan akses
Jembatan Suramadu sisi Surabaya ?
2. Bagaimana analisa komparatifi biaya pekerjaan perkerasan lentur dan perkerasan
kaku pada jalan akses Jembatan Suramadu sisi Surabaya?
TINJAUAN PUSTAKA:
Bangkitan Perjalanan Dan Tarikan Perjalanan
(Trip Generation and Trip Attraction)
Secara teoritis bangkitan dan tarikan perjalanan dapat dijelaskan pada Gambar 1 dan
Gambar 2 di bawah ini :
2 NEUTRON, VOL.8, NO.1, FEBRUARI 2008 : 1-22
Gambar 1. Skema Bangkitan Perjalanan
Sumber: Bina Marga (1997)
Gambar 2. Skema Tarikan Perjalanan
Sumber: Bina Marga (1997)
Dimana :
Tij dan Tji : Trip Tahap Awal
Tij* dan Tji*: Trip Tahap Pengembangan
: Tahap Awal
: Tahap Pengembangan
Distribusi Perjalanan (Trip Distribution)
Trip distribution yang digunakan adalah dengan berdasarkan pada faktor
pertumbuhan (Growth Factor Model) seperti yang ditunjukan pada uraian di bawah ini :
Zona 1
Zona 2
Zona j
T1i*
T2i*
Tji*
Tji
T2i
T1i
Zona,i
Zona 1
Zona 2
Zona j
Ti1*
Ti2*
Tij*
Tij
Ti2
Ti1
Zona, i
Analisa Komparatif Biaya Akses Jembatan Suramadu 3
Menggunakan Metode Perkerasan Lentur dan Perkerasan Kaku
Tahap Awal :
Tahap Pengembangan :
Dimana :
Tij : Trip Tahap Awal
Tij* : Trip Tahap Pengembangan
Gambar 3. Tahap Awal dan Tahap Pengembangan Distribusi Perjalanan
Sumber: Bina Marga (1997)
Model distribusi yang digunakan adalah Furness Model dengan rumusan sbb :
T
id
= t
id
. E
i
Pada metode ini, pergerakan awal (masa sekarang) pertama kali dikalikan
dengan tingkat pertumbuhan zona asal. Hasilnya kemudian dikalikan dengan tingkat
pertumbuhan zona asal secara bergantian (modifikasi harus dilakukan setelah setiap
perkalian) sampai total set MAT untuk setiap arah (baris atau kolom) kira-kira sana
dengan total set MAT yang diinginkan.
GF1=? GF4=?
GF4=? GF3=?
4 NEUTRON, VOL.8, NO.1, FEBRUARI 2008 : 1-22
Kapasitas Jalan Perkotaan
Kapasitas didefinisikan sebagai arus maksimum yang melalui suatu titik di jalan yang
dapat dipertahankan per satuan jam dalam kondisi tertentu. Kapasitas ini dianalisa
dengan menggunakan formula sebagai berikut:
C = C0xFCwxFCspxFCsfxFCcs
Sumber: Bina Marga (1997)
dimana:
C : Kapasitas sesungguhnya (smp/jam)
C
0
: Kapasitas Dasar untuk kondisi tertentu (ideal) (smp/jam)
FC
W
: Faktor penyesuaian lebar jalan
FC
S
p : Faktor penyesuaian pemisahan arah
FC
SF
: Faktor penyesuaian hambatan samping
FC
CS
: Faktor penyesuaian ukuran kota
Derajat Kejenuhan (Degree of Saturation, DS)
Derajat kejenuhan merupakan rasio arus terhadap kapasitas, digunakan sebagai faktor
utama dalam penentuan tingkat kinerja ruas jalan. Harga DS dapat dihitung dengan
formula:
DS=Q/C
Sumber: Bina Marga (1997)
dimana:
DS : Derajat Kejenuhan
Q : Arus lalu lintas (SMP/jam)
C : Kapasitas (SMP/jam)
Tebal Perkerasan
Perkerasan lentur (flexible pavement) ialah perkerasan yang umumnya menggunakan
bahan campuran beraspal sebagai lapis permukaan serta bahan berbutir sebagai lapisan
di bawahnya. Bagian perkerasan jalan umumnya meliputi:
Lapis Pondasi Bawah (Sub Base Course)
Lapis Pondasi (Base Course)
Lapis Permukaan (Surface Course)
Menggunakan Metoda Bina Marga
Langkah-langkah perhitungan dalam menentukan tebal perkerasan jalan:
a.Menentukan Lalu lintas Harian Rata-rata (LHR) pada akhir umur rencana.
Dalam menghitung LHR ini dihitung dari tiap-tiap jenis kendaraan
menggunakan rumus :
LHR
akhir umur renc
= LHR
awal umur renc
x ( 1 + i )
n

Dimana : I = Tingkat perkembangan lalu lintas pertahun
N = Umur rencana jalan
b.Menentukan angka ekivalen (E) untuk masing-masing jenis kendaraan
Angka ekivalen (E) masing-masing golongan beban sumbu (setiap kendaraan)
ditentukan menurut rumus daftar dibawah ini :
- E
Sumbu Tunggal
=
4
8160
) ( 1
|
.
|

\
| kg tunggal sumbu beban
Analisa Komparatif Biaya Akses Jembatan Suramadu 5
Menggunakan Metode Perkerasan Lentur dan Perkerasan Kaku
- E
Sumbu Ganda
= 0,086
4
8160
) ( 1
|
.
|

\
| kg tunggal sumbu beban
Sumber: MKJI, Bina Marga (1997)
c.Menentukan Lintas Ekivalen Permulaan (LEP)
Dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
j j
n
j
j
E C LHR LEP =

=1
Dimana : j = Jenis kendaraan
E
j
= Angka Ekivalen tiap jenis kendaraan
C
j
= Coefisien Distribusi Kendaraan
d.Menentukan Lintas Ekivalen Akhir
( )
j j
UR
n
j
j
E C i LHR LEA + =

=
1
1

Dimana : i = Perkembangan lalu lintas pertahun
j = Jenis kendaraan
E
j
= Angka Ekivalen tiap jenis kendaraan
C
j
= Coefisien Distribusi Kendaraan
e.Menentukan Lintas Ekivalen Tengah (LET)
2
LEA LEP
LET
+
=
f. Menentukan Lintas Ekivalen Rencana (LER)
FP LET LER =
Dimana : FP = Faktor Penyesuaian
10
rencana Umur
FP =
g.Menentukan Indeks Tebal Perkerasan (ITP)
Dalam menentukan ITP ini kita harus mengetahui dahulu : CBR tanah dasar dan
daya dukung tanah dasar (DDT)
- Indeks Permukaan (IP)
IP = 0,0 Permukaan jalan rusak berat, mengganggu lalu lintas kendaraan.
IP = 1,5 Tingkat pelayanan terendah yang masih memungkinkan.
IP = 2,0 Tingkat pelayanan terendah yang masih mantap.
IP = 2,5 Permukaan jalan masih stabil dan cukup baik.
- Faktor Regional
Faktor regional adalah faktor setempat tentang keadaan lapangan dan iklim,
menurut Bina Marga dalam penentuan tebal perkerasan.
- Indeks Permukaan Pada Awal Umur Rencana (Ipo)
Dalam menentukan indeks permukaan umur rencana (Ipo) perlu diperhatikan
jenis lapis permukaan jalan (kerataan/kehalusan serta kekokohan) pada awal
umur rencana.
h. Menentukan Tebal Perkerasan
ITP = a
1
.D
1
+ a
2
.D
2
+ a
3
.D
3
6 NEUTRON, VOL.8, NO.1, FEBRUARI 2008 : 1-22
Dimana : a
1,2,3
= Koef. kekuatan relatif permukaan, lapis pondasi
dan pondasi bawah
D
1,2,3
= Tebal tiap-tiap lapisan
Menggunakan Metoda AASHTO
Menghitung beban kendaraan = UE 18 KSAL x Jumlah kendaraan/hari
n
N x LEP
LER =
LER pada jalur rencana =
2
LER
W
t18
= LER x 365 x n
|
.
|

\
|
=
+ +
+
+
+ + =
1,5 - 4,2
Pt - 4,2
log Gt
3) - 0,372(Si
R
1
log
1) (SN
1094
0,4
Gt
0,2 - 1) (SN log 9,36 W Log
5,19
t18
Menghitung tebal lapisan diatas lapisan base : a
1
. D
1
= SN
1
Menghitung tebal lapisan diatas lapisan subbase : a
1
. D
1
+ a
2
. D
2
= SN
2
Menghitung tebal lapisan diatas lapisan subgrade : a
1
. D
1
+ a
2
. D
2
+ a
3
. D
3
= SN
3
dimana :
UE 18 KSAL = Unit ekuivalen 8,160 ton beban As tunggal
LER = Lintas ekuivalen rencana
W
t18
= Total ekuivalen axle load (EAL)
R = Faktor regional (faktor iklim yang tergantung dari banyak curah
hujan, kemungkinan tanah membeku, tanah kering).
Si = Harga soil support, didapat dari korelasi harga CBR (tabel C.3-1)
=
1,20
DDT
Pt = Final serviceability performance dari pada akhir umur rencana
SN = Harga structural number dari perkerasan
=
54 , 2
ITP
a
i
= Koefisien struktural untuk lapisan perkerasan
D
i
= Tebal lapisan perkerasan (inchi)
Perkerasan Kaku
Pedoman perencanaan tebal perkerasan menggunakan metode AASHTO yang
memperhitungkan akumulasi jumlah beban sumbu (dalam rencana lajur selama umur
rencana) untuk masing-masing jenis kelompok sumbu, termasuk distribusi beban.
Tahapan perhitungan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
Analisa Komparatif Biaya Akses Jembatan Suramadu 7
Menggunakan Metode Perkerasan Lentur dan Perkerasan Kaku
Karakteristik Kendaraan
a. Jenis kendaraan yang diperhitungkan hanya kendaraan niaga dengan
berat total minimum 5 ton.
b. Konfigurasi sumbu yang diperhitungkan ada 3 macam, yaitu:
- Sumbu tunggal roda tunggal (STRT)
- Sumbu tunggal roda ganda (STRG)
- Sumbu tandem/ganda roda ganda (SGRG)
Tata cara Perhitungan Lalu Lintas Rencana
a. Hitung volume lalu lintas (LHR) yang diperkirakan pada akhir umur
rencana, sesuaikan dengan kapasitas jalan.
b. Untuk masing-masing jenis kelompok sumbu kendaraan niaga, diestimasi angka
LHR awal dari kelompok sumbu dengan beban masing-masing ketipatan 0,5 ton (5-
5,5 ton), (5,5-6 ton), (6-6,5 ton) dst.
c. Mengubah beban trisumbu ke beban sumbu tandem didasarkan bahwa
trisumbu setara dengan dua sumbu tandem.
d. Hitung jumlah sumbu kendaraan niaga (JSKN) selama usia rencana.
JSKN = 365 x JSKNH x R
Sumber: AASHTO (2006)
Dimana:
JSKN = jumlah sumbu kendaraan niaga
JSKNH= jumlah sumbu kendaraan niaga harian pada saat tahun ke 0
R = faktor pertumbuhan lalu lintas berdasarkan pertumbuhan lalu lintas tahunan (i)
dan umur rencana (n)
Untuk i 0
Untuk i 0 , jika setelah m tahun pertumbuhan lalu
lintas tidak terjadi lagi
Untuk i 0 , jika setelah n tahun
pertumbuhan lalu lintas berbeda dengan sebelumnya (i/tahun)
e. Menghitung persentase masing-masing kombinasi konfigurasi beban
sumbu terhadap jumlah sumbu kendaraan niaga harian.
f. Hitung jumlah repetisi kumulatif tiap kombinasi konfigurasi beban sumbu pada lajur
rencana dengan perumusan:
JSKN x %kombinasi terhadap JSKNH x Cd
Dimana: Cd = koefisien distribusi (lihat Tabel 2.11).
Tata cara Perencanaan Ketebalan
Kebutuhan tabal perkerasan ditentukan dari jumlah kendaraan niaga selama umur
rencana. Perencanaan tabal pelat didasarkan pada total fatigue mendekati atau sama
dengan 100%.
Tahapan Perencanaan adalah sebagai berikut :
8 NEUTRON, VOL.8, NO.1, FEBRUARI 2008 : 1-22
- Pilih tebal pelat tertentu.
- Kombinasi konfigurasi dan beban sumbu serta harga k tertentu.
- Prosentase fatigue untuk tiap kombinasi ditentukan dengan membagi jumlah
pengulangan beban rencana dengan jumlah pengulangan beban ijin.
- Cari total fatigue dengan menjumlahkan prosentase fatigue dari seluruh kombinasi
konfigurasi/beban sumbu.
- Mengulangi langkah-langkah diatas sampai didapat tabal plat terkecil dengan total
fatigue lebih kecil atau sama dengan 100%.
Data Dan Metode
Uraian Kegiatan :
Uraian kegiatan penyelesaian masalah terbagi beberapa tahap dalam pengerjaannya
seperti yang dijabarkan sebagai berikut:
1. Pengumpulan Data
Data Primer : - Akan diambil dilapangan sesuai schedule pelaksanaan dan dengan
melibatkan personil dan yang dihitung adalah LHR dan CBR.
Data Sekunder: - Data dari Instansi Dinas Pehubungan Jawa Timur dan Dinas
Bina Marga Propoinsi Jawa Timur
2. Analisa Perkerasan Kaku dan Perkerasan Lentur
Pada analisa ini akan dihitung tebal perkerasan lentur dan perkerasan kaku pada
jalan akses untuk melayani lalu lintas rencana yang akan melintas di atasnya.
3. Analisa Komparatif Biaya Perkerasan
Analisa tebal perkerasan akan dihitung biaya pekerjaan tebal perkerasan lentur dan
tebal perkerasan kaku, sehingga akan didapat perbandingan nilai harga untuk
pekerjaan perkerasan.
ANALISA PERENCANAAN
Faktor Pertumbuhan PDRB per Kapita
Faktor pertumbuhan PDRB/kapita digunakan dalam Furness Model untuk
meramal sebaran perjalanan sepeda motor dan mobil pribadi. Faktor pertumbuhan dapat
diperoleh dari besarnya PDRB/kapita pada tahun peramalan dibagi dengan besarnya
PDRB/kapita saat ini. Untuk faktor pertumbuhan masing-masing daerah dapat dilihat
pada tabel di bawah ini.
Trip Distribution
Untuk peramalan sebaran perjalanan disini digunakan perhitungan dengan
kondisi moderat. Dalam meramal sebaran perjalanan penumpang ferry ini, peneliti
membagi kendaraan bermotor pengguna ferry ini menjadi empat kelompok yakni
sepeda motor, mobil pribadi, bus dan truk. Sedang faktor pertumbuhan dari masing-
masing kelompok kendaraan bermotor kami mengambil asumsi untuk sepeda motor dan
mobil pribadi digunakan faktor pertumbuhan PDRB/Kapita masing-masing zone, bus
menggunakan faktor pertumbuhan penduduk masing-masing zone dan untuk truk
menggunakan faktor pertumbuhan PDRB masing-masing zone. Metode yang dipakai
dalam meramalkan sebaran perjalanan ini adalah menggunakan Furness Model (Model
Furness).
Analisa Komparatif Biaya Akses Jembatan Suramadu 9
Menggunakan Metode Perkerasan Lentur dan Perkerasan Kaku
Zona Wilayah Faktor Per tumbuhan Penduduk
2009 2014 2019 2024 2029
1 Kabupaten Bangkalan 1.72 2.15 2.69 3.37 4.21
2 Kabupaten Sampang 1.34 1.52 1.71 1.93 2.18
3 Kabupaten Pamekasan 1.33 1.54 1.77 2.04 2.34
4 Kabupaten Sumenep 1.28 1.37 1.44 1.51 1.57
5 Kota Surabaya 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00
6 Kabupaten Gr esik 1.19 1.34 1.48 1.62 1.77
7 Kabupaten Sidoarjo 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00
8 Kabupaten Tuban 1.26 1.46 1.67 1.88 2.10
Kabupaten Lamongan
Kabupaten Bojonegoro
9 Kabupaten Jombang 1.09 1.16 1.23 1.30 1.37
Kabupaten Mojokerto
Kota Mojokerto
10 Kabupaten Nganjuk 1.17 1.30 1.43 1.56 1.69
Kabupaten Blitar
Kota Blitar
Kabupaten Trenggalek
Kabupaten Tulungagung
Kabupaten Madiun
Kota Madiun
Kabupaten Magetan
Kabupaten Pacitan
Kabupaten Ponorogo
Kabupaten Ngawi
11 Kabupaten Probolinggo 1.05 1.08 1.12 1.16 1.20
Kota Probolinggo
Kabupaten Pasuruan
Kota Pasur uan
Kabupaten Lumajang
12 Kabupaten Situbondo 1.10 1.17 1.24 1.31 1.38
Kabupaten Banyuwangi
Kabupaten Bondowoso
Kabupaten Jember
13 Kabupaten Kediri 0.98 0.98 0.98 0.97 0.99
Kota Kedir i
Kabupaten Malang
Kota Malang
14 Propinsi Jawa Tengah 1.18 1.31 1.44 1.57 1.70
15 Propinsi D.I. Jogjakarta 1.12 1.21 1.29 1.38 1.46
16 Propinsi Jawa Barat 1.09 1.16 1.22 1.29 1.35
17 Propinsi DKI. Jakarta 1.09 1.15 1.21 1.28 1.34
Tabel 1: Faktor Pertumbuhan PDRB per Kapita
Sumber: Review Studi Kelayakan Jembatan Suramadu 2002 (diolah)
Trip Assignment
Metode trip assignment yang digunakan adalah dengan Metode Diversion
Curvers, dimana pada metode ini faktor selisih jarak dan selisih waktu tempuh menjadi
faktor yang sangat menentukan.
Formula Diversion Curves yang digunakan adalah sebagai berikut :
Dimana :
P : Prosentase Penggunaan Jalan Tol/Jembatan
d : Selisih Jarak yang dihemat jika melalui Jalan Tol/Jembatan (mil)
t : Selisih Waktu yang dihemat jika melalui Jalan Tol/Jembatan (menit)
10 NEUTRON, VOL.8, NO.1, FEBRUARI 2008 : 1-22
Penentuan selisih jarak dan selisih waktu secara skematis jaringan transportasi di
sekitar Jembatan Surabaya-Madura adalah sebagaimana ditunjukan pada gambar 4
berikut ini.
Gambar 4: Skematis Jaringan Transportasi di Sekitar Jembatan Suramadu
Hasil trip assignment kendaraan yang memanfaatkan Jembatan Suramadu untuk
sampai umur rencana ditunjukkan pada tabel di bawah ini.
Tabel 2: Proporsi kendaraan yang memanfaatkan Jembatan Suramadu
No. Kondisi Titik Referensi Tahun
2009 2014 2019 2024 2029
1 Kendaraan yang Berasal dan Menuju Kec.
Kamal, Socah, dan Bangkalan
Kamal 70.14% 72.26% 73.67% 75.15% 76.55%
2 Kendaraan yang tidak Berasal dan tidak
Menuju Kec. Kamal, Socah, dan Bangkalan
Persimpangan
Burneh
94.01% 94.30% 94.56% 94.81% 95.03%
Sumber: Hasil Analisa
Dengan jumlah proporsi seperti yang ditunjukkan pada tabel 6di atas, maka
dapat diketahui besarnya volume lalu lintas yang akan melewati jembatan Surabaya-
Madura tersebut seperti yang ditunjukkan pada tabel 7 di bawah ini.
Analisa Komparatif Biaya Akses Jembatan Suramadu 11
Menggunakan Metode Perkerasan Lentur dan Perkerasan Kaku
Tabel 3: Volume Kendaraan yang Melewati Jembatan Suramadu,
rata-rata per arah per hari
No. Jenis Kendaraan Tahun
2009 2014 2019 2024 2029
1 Mobil penumpang 1817 2258 2794 3458 4277
2 Sepeda motor 3572 3840 4154 4538 4989
3 Truk kecil 535 563 613 772 1124
4 Truk besar 168 176 192 241 351
5 Bus 139 149 160 170 180
Sumber: Hasil Analisa
Kinerja Jalan
Analisa kinerja jalan akses dihitung berdasarkan MKJI 1997 untuk jalan
perkotaan (urban road). Potongan melintang jalan akses sisi Surabaya dapat dilihat pada
Gambar 5.
Gambar 5: Tipikal Potongan Melintang Jalan Akses
Jembatan Suramadu sisi Surabaya
Gambar 5: Tipikal Potongan Melintang
Jalan Akses Jembatan Suramadu sisi Surabaya
Volume lalu lintas yang melintas pada Jembatan Surabaya-Madura untuk analisa
motor way dapat dibedakan menjadi 4 jenis kendaraan yaitu Light Vehicle (LV),
Medium Heavy Vehicle (MHV), Large Bus (LB) dan Large Truck (LT). Volume lalu
lintas tersebut adalah pada saat peak hour (lihat tabel berikut). Sedangkan untuk analisa
urban road jenis kendaraan yang diperhitungkan hanya sepeda motor cycle (MC).
Tabel 4: Volume Kendaraan yang Melewati Jembatan Suramadu,
rata-rata per arah saat jam puncak
No. Jenis Kendaraan Tahun
2009 2014 2019 2024 2029
1 Mobil penumpang 200 248 307 380 471
2 Sepeda motor 393 422 457 499 549
3 Truk kecil 59 62 67 85 124
4 Truk besar 18 19 21 27 39
5 Bus 15 16 18 19 20
Sumber: Hasil Analisa
Berdasarkan data lalu lintas dan geometrik jembatan Surabaya-Madura tersebut
kemudian dilakukan analisa kinerja ruas jalan jembatan Surabaya-Madura mulai tahun
2009 (awal operasi) kemudian 2014, 2019, 2024 dan 2029. kinerja ruas jalan tersebut
dapat dilihat pada tabel 5 s/d tabel 7 di bawah ini.
12 NEUTRON, VOL.8, NO.1, FEBRUARI 2008 : 1-22
Tabel 5: Faktor EMP
No. Tipe Kendaraan EMP
1 LV 1
2 HV 1.2
3 MC 0.25
Sumber: Hasil Analisa
Tabel 6: Kapasitas jalan akses per lajur (smp/jam)
No. Jenis Kendaraan Lebar Jalan (m)
2.5 3 3.5 3.5
1 Co 1650 1650 1650 1650
2 FCw 0.84 0.92 1 1
3 FCsp 1 1 1 1
4 FCsf 0.86 0.95 0.96 0.96
5 FCcs 1 1 1 1
6 C 1192 1442 1584 1584
Total kapasitas jalan = 5802 smp/jam
Sumber: Hasil Analisa
Tabel 7: Derajat jenuh jalan akses Jembatan Suramadu Sisi Surabaya
No. Tahun Q C DS = Q/C
(smp/jam) (smp/jam)
1 2009 409 5802 0.07
2 2014 471 5802 0.08
3 2019 549 5802 0.09
4 2024 661 5802 0.11
5 2029 826 5802 0.14
Sumber: Hasil Analisa
Desain Perkerasan Lentur
Seperti dasar teori yang sudah dibahas pada bab II, maka berikut ini merupakan
perhitungan tebal lapisan perkerasan lentur pada jalan rencana :
1. Data umum :
Klasifikasi jalan : Arteri
Tipe jalan : 4/2 D
Umur rencana : 20 tahun
2. Angka Ekivalen :
Besarnya angka ekivalen masing-masing jenis kendaraan pada tabel 4.41
dihitung dengan perumusan seperti yang pada bab II, berikut contoh perhitungan angka
ekivalen (E) untuk kendaraan jenis mobil penumpang (PC) :
E
MP
= E
sumbu depan
+ E
sumbu belakang
=
4
16 , 8
2 50 , 0
(


+
4
16 , 8
2 50 , 0
(


= 0,000451
3. Koefisien Distribusi Kendaraan :
Nilai Koefisien Distribusi Kendaraan (C) untuk perhitungan LEP dan LEA dari
tabel 2.14, yaitu untuk jalan dua lajur dua arah untuk kendaraan ringan (berat < 5
ton) dan kendaraan berat (berat > 5 ton)

C = 0,5
Analisa Komparatif Biaya Akses Jembatan Suramadu 13
Menggunakan Metode Perkerasan Lentur dan Perkerasan Kaku
4. Lintas Ekivalen Permulaan :
Tabel 8: Perhitungan Lintas Ekivalen Permulaan
No. Kendaraan C E LHR Th.2009 LEP
a b c d e=b*c*d
1. Mobil penumpang 0.5 0.0005 1817 0.41
2. Truk kecil 0.5 0.0005 535 0.12
3. Truk besar 0.5 0.2174 168 18.22
4. Bus 0.5 0.3006 139 20.95
2659 39.70 Total :
Sumber: Hasil Analisa
5. Lintas Ekivalen Akhir :
Tabel 9: Perhitungan Lintas Ekivalen Akhir
No. Kendaraan C E LHR Th.2029 LEA
a b c d e=b*c*d
1. Mobil penumpang 0.5 0.0005 4277 0.96
2. Truk kecil 0.5 0.0005 1124 0.25
3. Truk besar 0.5 0.2174 351 38.17
4. Bus 0.5 0.3006 180 27.03
5932 66.42 Total :
Sumber: Hasil Analisa
6. Lintas Ekivalen Tengah :
LET = =
+
=
+
2
42 , 66 70 , 39
2
LEA LEP
56,03
7. Lintas Ekivalen Rencana :
LER = LET

10
UR
= 56,03

10
20
= 106,12
8. CBR tanah dasar :
Direncanakan menggunakan selected material dengan CBR 10%.
9. Indeks Permukaan :
LER > 1000 IPt = 2,5
Jenis lapis perkerasan Laston IPo > 4
10. Faktor Regional :
% Kendaraan Berat > 30%
Kelandaian < 6% ; masuk kategori Kelandaian I
Curah hujan < 900 mm/tahun ; masuk kategori Iklim I
Dari tabel 2.17

FR = 1,0
11. Koefisien kekuatan relatif (a) :
Jenis tiap lapis perkerasan direncanakan :
Lapis permukaan : Laston
Lapis pondasi atas : Batu pecah kelas A (CBR 100%)
Lapis pondasi bawah : Sirtu kelas B (CBR 50%)
Koefisien kekuatan relatif tiap lapis perkerasan, dari tabel 2.18 didapat :
14 NEUTRON, VOL.8, NO.1, FEBRUARI 2008 : 1-22
Lapis permukaan; (a
1
) = 0,40
Lapis pondasi atas; (a
2
) = 0,14
Lapis pondasi bawah; (a
3
) = 0,12
12. Daya dukung tanah dasar (DDT) :
Tanah dasar (sub grade): CBR = 10%

3 . 2 Gambar
DDT = 6
Lapis pondasi bawah (sub base course): CBR = 50%

3 . 2 Gambar
DDT = 9,2
Lapis pondasi atas (base course): CBR = 100%

3 . 2 Gambar
DDT = 10,3
13. Tebal perkerasan tiap lapis (Metode AASHTO) :
= |
.
|

\
|

=
5 , 1 IPo
IPt IPo
log Gt = |
.
|

\
|

5 , 1 0 , 4
5 , 2 0 , 4
log -0,22185
Wt18 = AE18KSAL = 365.LER.n = 365106,1220 = 774659,709
log Wt18 = log AE18KSAL = log 774659,709 = 5,889
|
.
|

\
|
+ +
|
.
|

\
|
+
+
+ |
.
|

\
|
+ = 3
2 , 1
. 372 , 0 log
1
54 , 2
1094
4 , 0
2 , 0 1
54 , 2
log . 36 , 9 18 log
19 , 5
DDT
FR
ITP
Gt ITP
Wt
Indeks tebal perkerasan (ITP) setiap ruas jalan dicari dengan cara coba-coba (trial
and error) seperti ditampilkan pada tabel 4.44.
|
.
|

\
|
+ = 1
54 , 2
ITP
log . 36 , 9 X ;
19 , 5
1
54 , 2
1094
4 , 0
2 , 0
|
.
|

\
|
+
+
+ =
ITP
Gt
Y
|
.
|

\
|
+ = 3
2 , 1
. 372 , 0 log
DDT
FR Z
Tabel 10: Perhitungan ITP
ITP X Y Z X+Y+Z Ket.
Surface (ITP1)
4.000 3.8446 -0.226 2.077 5.695 Not OK!
4.300 4.0269 -0.233 2.077 5.871 Not OK!
4.325 4.0420 -0.233 2.077 5.886 OK!
Base (ITP2)
4.000 3.8446 -0.226 1.736 5.354 Not OK!
4.900 4.3687 -0.249 1.736 5.856 Not OK!
4.972 4.4078 -0.251 1.736 5.893 OK!
Sub Base (ITP3)
7.000 5.3793 -0.344 0.744 5.779 Not OK!
7.300 5.5052 -0.362 0.744 5.887 Not OK!
7.314 5.5108 -0.363 0.744 5.892 OK!
Sumber: Hasil Analisa
Analisa Komparatif Biaya Akses Jembatan Suramadu 15
Menggunakan Metode Perkerasan Lentur dan Perkerasan Kaku
Tebal lapisan surface:
= =
1
1
1
a
ITP
d =
40 , 0
325 , 4
10 cm > t
min
= 7,5 cm
d
1
= 10 cm
Tebal lapisan base:
=

=
2
1 1
2
) . ( 2
a
d a ITP
d =

14 , 0
) 11 . 40 , 0 ( 972 , 4
4,08 cm < t
min
= 15 cm
d
2
= 15 cm
Tebal lapisan sub base :
=
+
=
3
2 2 1 1
3
) . . ( 3
a
d a d a ITP
d =
+
12 , 0
) 15 . 14 , 0 11 . 40 , 0 ( 314 , 7
6,78 cm < t
min
= 20 cm
d
3
= 20 cm
Desain Perkerasan Kaku
Direncanakan tebal perkerasan kaku untuk jalan akses dengan ketentuan sebagai
berikut:
Klasifikasi jalan : Arteri
Tipe jalan : 4/2 D
Umur rencana : 20 tahun
CBR sub grade : 10% (selected material)
Tabel 11 menampilkan perhitungan Design ESAL (Equivalent Single Axle Load) yang
merupakan perkalian antara design traffic akhir tahun rencana dengan Faktor ESAL.
Tabel 11: Perhitungan Design ESAL
Design Traffic
2029
Faktor ESAL Design ESAL
Mobil penumpang 4,277 0.0010 2
Truk kecil 1,124 0.2060 93
Truk besar 351 4.4526 625
Bus 180 4.4526 320
Total: 1,040
Kendaraan
Sumber: Hasil Analisa
Laston Aggregate
Sirtu/Urugan Pilihan
d1 = 10cm
d2 = 15cm
d1 = 20cm
16 NEUTRON, VOL.8, NO.1, FEBRUARI 2008 : 1-22
Tabel 12: Parameter Tebal Perkerasan Kaku
Modulus Reaksi Tanah Dasar (k) 4.4 kg/cm
3
160 Pci
Modulus Elastisitas Beton (Ec) 300,000 kg/cm
2
4,200,000 Psi
Flexural Strength Beton ( Sc' ) 45 kg/cm
2
640 Psi
Load Transfer Coefficient (J) 3.2
Drainage Coefficient (Cd) 1.2
Serviceability :
- Terminal Serviceability (Pt) 2.5
- Initial Serviceability (Po) 4.5
- Serviceability Loss (?PSI) 2.0
Reliability, R (%) 90.0
Standard Normal Deviation (Zr) (1.282)
Standard Deviation (So) 0.30
Tebal perkerasan kaku dicari dengan cara coba-coba (trial and error) dengan
perumusan sebagai berikut:
log
10
W
18
= Z
R
S
o
+ 7,35 log
10
( D+1 ) - 0.06 + log
10
[ PSI/4.5-1.5] + (4.22 - 0.32p
t
)
x
1+(1.624 x 10
7
)/(D+1)
8.46
215.63 x J x [ D
0.75
- 18.42/(E
c
: k)
0.25
]
x log
10
S'
c
C
d
x [D
0.75
- 1.132]
Didapat tebal plat beton = 25 cm
Direncanakan dipasang dowel setiap meter sepanjang jalan.
PERBANDINGAN BIAYA PEKERJAAN PERKERASAN
Perhitungan volume pekerjaan perkerasan lentur dan kaku per meter panjang
dengan lebar jalan 28 m (2 arah dan sudah termasuk bahu jalan) diperlihatkan masing-
masing pada tabel berikut.
Tabel 13: Volume Pekerjaan Perkerasan Lentur (per meter panjang)
Lapis Permukaan (ACWC) m3 28 1 0.13 3.64
Lapis Resap Pengikat (Prime Coat) ltr 28 1 0.13 12.5 45.5
Lapis Perekat (Tack Coat) ltr 28 1 0.13 6.25 22.75
Lapis Pondasi Atas m3 28 1 0.15 4.2
Lapis Pondasi Bawah m3 28 1 0.2 5.6
Item Pekerjaan Satuan
Volume
Pekerjaan
Lebar
(m)
Panjang
(m)
Tebal
(m)
Volume
(ltr/m3)
5
1
2
3
4
Sumber: Hasil Analisa
Analisa Komparatif Biaya Akses Jembatan Suramadu 17
Menggunakan Metode Perkerasan Lentur dan Perkerasan Kaku
Tabel 14: Rincian Volume Pekerjaan Perkerasan Lentur untuk
Pekerjaan Lapisan Permukaan (ACWC)
Lapisan Permukaan (ACWC)
Tenaga Kerja
- Mandor jam 13.60
- Pekerja jam 129.20
Bahan-Bahan
- Aggregate Kasar m3 2,016.00
- Aggregate Halus kg 1,614.00
- Filler kg 21,780.00
- Aspal kg 34,650.00
Peralatan + Bahan
- Wheel Loader jam 262.20
- AMP jam 12,199.20
- Genset jam 646.00
- Dump Truck 8-10m3 jam 2,896.80
- Asphalt Finisher jam 231.20
- Tandem Roller jam 98.00
- P. Tyre Roller jam 318.60
- Alat Bantu LS 500.00
77,354.80
Item Pekerjaan Satuan
Jumlah
(Rp.)
Kuantitas Harga Satuan (Rp.)
0.0034
0.0340
0.0336
0.0269
4.8400
6.9300
0.0023
0.0034
0.0034
0.0204
0.0034
0.0014
0.0027
1.0000
60,000.00
60,000.00
4,500.00
5,000.00
4,000.00
3,800.00
114,000.00
3,588,000.00
190,000.00
142,000.00
68,000.00
70,000.00
118,000.00
500.00
TOTAL
Sumber: Hasil Analisa
Tabel 15: RincianVolume Pekerjaan Perkerasan Lentur untuk
Pekerjaan Lapisan Resap (Prime Coat) dan Lapis Perekat (Tack Coat)
Lapisan Resap Pengikat (Prime Coat) dan Lapis Perekat (Tack Coat)
Tenaga Kerja
- Mandor jam 24.80
- Pekerja jam 90.16
Bahan-Bahan
- Aspal kg 4,331.50
- Kerosene ltr 1,237.50
Peralatan + Bahan
- Asphalt Sprayer jam 96.10
- Compressor jam 598.50
- Dump Truck jam 263.50
6,642.06
0.8663 5,000.00
Item Pekerjaan Satuan Kuantitas Harga Satuan (Rp.)
Jumlah
(Rp.)
0.0247
0.0062
3,650.00
4,000.00
0.2750 4,500.00
0.0031 31,000.00
0.0063 95,000.00
0.0031 85,000.00
TOTAL
Sumber: Hasil Analisa
18 NEUTRON, VOL.8, NO.1, FEBRUARI 2008 : 1-22
Tabel 16: Rincian Volume Pekerjaan Perkerasan Lentur untuk
Pekerjaan Lapis Pondasi Atas (Sub Base) Batu Pecah Kelas A
Lapis Pondasi Atas (Sub Base) Batu Pecah Kelas A
Tenaga Kerja
- Mandor jam 264.10
- Pekerja jam 1,464.48
Bahan-Bahan
- Aggregate Kasar m3 53,724.00
- Aggregate Halus m3 31,700.00
Peralatan + Bahan
- Wheel Loader jam 10,207.80
- Dump Truck jam 22,550.00
- Motor Grader jam 2,353.00
- Vibratory Roller jam 4,482.60
- P. Tyre Roller jam 1,131.20
- Water Tanker jam 7,832.00
- Alat Bantu Ls 500.00
136,209.18
107,000.00 0.0954
0.6340 50,000.00
0.8954 60,000.00
0.4068 3,600.00
1.0000 500.00
0.0482 93,000.00
0.0101 112,000.00
Kuantitas Harga Satuan (Rp.)
0.0890 88,000.00
0.2750 82,000.00
0.0181 130,000.00
0.0695 3,800.00
Jumlah
(Rp.)
TOTAL
Item Pekerjaan Satuan
Sumber: Hasil Analisa
Tabel 17: RincianVolume Pekerjaan Perkerasan Lentur untuk
Pekerjaan Lapis Pondasi Bawah (Base) Sirtu Kelas B
Lapis Pondasi Bawah (Base) Sirtu Kelas B
Tenaga Kerja
- Mandor jam 264.10
- Pekerja jam 1,464.48
Bahan-Bahan
- Aggregate Kasar m3 53,784.00
- Aggregate Halus m3 31,700.00
Peralatan + Bahan
- Wheel Loader jam 10,207.80
- Dump Truck jam 22,550.00
- Motor Grader jam 2,353.00
- Vibratory Roller jam 4,482.60
- P. Tyre Roller jam 1,131.20
- Water Tanker jam 7,744.00
- Alat Bantu Ls 500.00
136,181.18
Jumlah
(Rp.)
Item Pekerjaan Satuan Kuantitas Harga Satuan (Rp.)
0.0695 3,800.00
0.4068 3,600.00
0.8964 60,000.00
0.6340 50,000.00
0.0954 107,000.00
0.2750 82,000.00
0.0181 130,000.00
0.0482 93,000.00
0.0101 112,000.00
0.0880 88,000.00
1.0000 500.00
TOTAL
Sumber: Hasil Analisa
Analisa Komparatif Biaya Akses Jembatan Suramadu 19
Menggunakan Metode Perkerasan Lentur dan Perkerasan Kaku
Tabel 18: Volume Pekerjaan Perkerasan Kaku (per meter panjang)
Beton Struktural K-350 28 1 0.3
Beton Tak Bertulang K-175 28 1 0.1
Timbunan Pilihan 28 1 0.15
8.4
2.8
4.2
Item Pekerjaan
Lebar
(m)
Panjang
(m)
Tebal
(m)
Vol. Pekerjaan
(m3)
Baja Tulangan U-39 Ulir 28 1 16.6
Baja Tulangan U-32 Polos 28 1 30.24
Item Pekerjaan
Lebar
(m)
Panjang
(m)
Berat
Tulangan
(kg/m2)
Vol. Pekerjaan
(m3)
464.8
846.72
Sumber: Hasil Analisa
Tabel 19: Rincian Volume Pekerjaan Perkerasan Kaku untuk
Pekerjaan Beton Struktural K-350
Beton Struktural K-350
Tenaga Kerj a
- Mandor j am 2, 409.60
- Tukang j am 2, 289.12
- Pekerj a j am 6, 796.30
Bahan-Bahan
- Semen kg 233, 583. 32
- Pasi r Bet on m3 17, 808. 00
- Aggregat e Kasar m3 45, 928. 15
- Kayu Beki st i ng m3 34, 275. 00
- Paku kg 7, 580.00
Peral atan + Bahan
- Concret e Mi x er j am 8, 282.10
- W ater Tanker j am 6, 256.00
- Concret e Vi brat or j am 4, 211.92
- Al at Bant u Ls 500.00
369, 919. 51 T OT AL
92, 000. 00
16, 300. 00
500. 00
4, 000. 00
3, 800. 00
780. 00
60, 000. 00
60, 000. 00
750, 000. 00
19, 000. 00 0. 4359
0. 0680
0. 2584
1. 0000
0. 2968
0. 7655
0. 0457
0. 6024
299.4658
Juml ah
(Rp.)
Kuanti t as Harga Sat uan (Rp. )
0. 6024
I tem Pekerj aan Satuan
1. 8620 3, 650. 00
0. 7580 10, 000. 00
Sumber: Hasil Analisa
Tabel 20: Rincian Volume Pekerjaan Perkerasan Kaku untuk
Pekerjaan Beton Tak Bertulang K-175
Beton Tak Bertulang K-175
Tenaga Kerja
- Mandor jam 2,409.60
- Tukang jam 2,198.76
- Pekerja jam 7,075.60
Bahan-Bahan
- Semen kg 157,206.19
- Pasir Beton m3 22,068.00
- Aggregate Beton m3 39,392.40
- Kayu Bekisting m3 18,750.00
- Paku kg 5,000.00
Peralatan + Bahan
- Concrete Mixer jam 4,959.00
- Water Tanker jam 4,480.40
- Concrete Vibrator jam 3,574.59
- Alat Bantu Ls 500.00
267,614.54
Jumlah
(Rp.)
Item Pekerjaan Satuan Kuantitas Harga Satuan (Rp.)
TOTAL
0.2193 16,300.00
0.2610 19,000.00
0.0487 92,000.00
0.3678 60,000.00
0.6024
500.00
10,000.00
3,800.00
4,000.00
1.8620
0.5000
1.0000
0.6565
0.0250
60,000.00
750,000.00
201.5464 780.00
0.6024 3,650.00
Sumber: Hasil Analisa
20 NEUTRON, VOL.8, NO.1, FEBRUARI 2008 : 1-22
Tabel 21: Rincian Volume Pekerjaan Perkerasan Kaku untuk
Pekerjaan Baja Tulangan U-39 Ulir
Baja Tulangan U-39 Ulir
Tenaga Kerja
- Mandor jam 118.80
- Tukang jam 207.69
- Pekerja jam 76.00
Tenaga Kerja
- Besi Beton kg 2,438.80
- Bendrat kg 93.10
Tenaga Kerja
- Alat Bantu Ls 500.00
3,434.39
Item Pekerjaan Satuan Kuantitas Harga Satuan (Rp.)
Jumlah
(Rp.)
1.0000 500.00
0.0098 9,500.00
0.2680 9,100.00
0.0200 3,800.00
0.0569 3,650.00
0.0297 4,000.00
TOTAL
Sumber: Hasil Analisa
Tabel 20: RincianVolume Pekerjaan Perkerasan Kaku untuk
Pekerjaan Baja Tulangan U-32 Polos
Baja Tulangan U-32 Polos
Tenaga Kerja
- Mandor jam 78.80
- Pekerja jam 123.37
- Pekerja jam 45.60
Bahan-Bahan
- Besi Beton kg 1,773.45
- Bendrat kg 52.08
Peralatan + Bahan
- Alat Bantu Ls 500.00
2,573.30 TOTAL
Item Pekerjaan Satuan Kuantitas Harga Satuan (Rp.)
0.0197 4,000.00
Jumlah
(Rp.)
0.0120 3,800.00
0.2027 8,750.00
0.0338 3,650.00
1.0000
0.0056 9,300.00
500.00
Sumber: Hasil Analisa
Tabel 21: Rincian Volume Pekerjaan Perkerasan Kaku untuk
Pekerjaan Timbunan Pilihan
T i mbu nan Pil ih an
Tenaga Kerj a
- Mandor j am 42. 00
- Pekerj a j am 53. 89
Bahan-Bahan
- Tanah Pi l i han m 3 12, 801. 00
Peral atan + Bahan
- W heel Loader j am 1, 296.96
- Dum p Truck 3-4m 3 j am 5, 081.30
- Motor Grader j am 1, 740.15
- Vi bro Rol l er j am 1, 292.42
- W ater Tanker j am 238.92
- Al at Bant u Ls 500.00
23, 046. 65
Jum l ah
(Rp.)
I tem Pekerj aan Satuan Kuanti t as Harga Sat uan (Rp. )
T OT AL
1. 0000 500. 00
0. 0139 93, 000. 00
0. 0026 92, 000. 00
112, 000. 00
0. 0598 85, 000. 00
0. 0129 135, 000. 00
0. 0116
0. 4267 30, 000. 00
0. 0150 3, 600. 00
0. 0105 4, 000. 00
Sumber: Hasil Analisa
Analisa Komparatif Biaya Akses Jembatan Suramadu 21
Menggunakan Metode Perkerasan Lentur dan Perkerasan Kaku
Tabel 22: Biaya Pekerjaan Perkerasan Lentur (per meter panjang)
Lapis Permukaan (ACWC) m3 3.64 77,354.80 281,571.47
Lapis Resap Pengikat (Prime Coat) ltr 45.5 6,642.06 302,213.73
Lapis Perekat (Tack Coat) ltr 22.75 6,642.06 151,106.87
Lapis Pondasi Atas m3 4.2 136,209.18 572,078.56
Lapis Pondasi Bawah m3 5.6 136,181.18 762,614.61
Total 2,069,585.23
Harga (Rp.)
1
2
3
Item Pekerjaan Satuan Volume Harga Satuan
4
5
Sumber: Hasil Analisa
Tabel 23: Biaya Pekerjaan Perkerasan Kaku (per meter panjang)
Beton Struktural K-350 m3 8.4 369,919.51 3,107,323.88
Beton Tak Bertulang K-175 m3 2.8 267,614.54 749,320.71
Baja Tulangan U-39 Ulir kg 464.8 3,434.39 1,596,304.47
Baja Tulangan U-32 Polos kg 846.72 2,573.30 2,178,864.58
Timbunan Pilihan m3 4.2 23,046.65 96,795.93
Total 7,728,609.57
Item Pekerjaan Satuan Volume Harga Satuan Harga (Rp.)
1
2
3
4
5
Sumber: Hasil Analisa
Perhitungan biaya pekerjaan perkerasan lentur dan kaku per meter panjang
dengan lebar jalan 28 m (2 arah dan sudah termasuk bahu jalan) diperlihatkan masing-
masing pada tabel 13 s/d tabel 23. Dari hasil perhitungan perbandingan biaya pekerjaan
perkerasan lentur dan perkerasan kaku didapat bahwa pekerjaan perkerasan lentur jauh
lebih murah dari pada perkerasan kaku. Biaya pekerjaan perkerasan lentur sebesar Rp.
2.069.585,23/m dan biaya pekerjaan perkerasan kaku sebesar Rp. 7.728.609,57/m.
Kesimpulan Dan Saran
Kesimpulan :
Kesimpulan yang dapat diambil adalah sebagai berikut :
1. Jumlah kendaraan per arah per hari yang akan melintas pada rencana jalan akses
Jembatan Suramadu Sisi Surabaya pada akhir umur rencana adalah 4277 mobil
penumpang, 4989 sepeda motor, 1124 truk kecil, 351 truk besar, dan 180 bus.
2. Kinerja jalan akses selama umur rencana menunjukkan nilai derajat jenuh yang
kecil, dimana pada akhir umur rencana didapat derajat jenuh sebesar 0,14. Sehingga
kinerja jalan akses selama umur rencana sangat baik.
3. Tebal perkerasan lentur jalan akses untuk setiap bagian didapat tebal lapis
permukaan 11 cm, tebal lapis pondasi atas 15 cm, dan tebal lapis pondasi bawah 20
cm. Sedangkan untuk tebal plat beton pada perkerasan kaku jalan akses didapat
setebal 25 cm.
4. Dari hasil perhitungan perbandingan biaya pekerjaan perkerasan lentur dan
perkerasan kaku didapat bahwa pekerjaan perkerasan lentur jauh lebih murah
daripada perkerasan kaku. Biaya pekerjaan perkerasan lentur sebesar Rp. 2.069.
585,23 dan biaya pekerjaan perkerasan kaku sebesar Rp. 7.728.609,57.
22 NEUTRON, VOL.8, NO.1, FEBRUARI 2008 : 1-22
Saran :
Saran untuk studi perbandingan perkerasan jalan berikutnya, perlu
mempertimbangkan nilai real dari siklus jalan selama umur rencana. Dengan
mempertimbangkan biaya pemeliharaan, biaya peningkatan, biaya perbaikan, serta
unsur teknis lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pekerjaan Umum (1987), Petunjuk Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur
Jalan Raya Dengan Metode Analisa Komponen SKBI 2.3.26. 1987 UDC :
625.73 (02), Jakarta: Yayasan Badan Penerbit PU.
Departemen Pekerjaan Umum, Direktorat Jendral Bina Marga, (1997), Manual
Kapasitas Jalan Indonesian (MKJI) No.036/T/BM/1997, Jakarta: Yayasan Badan
Penerbit PU
Drapper, N and Smith, H. (1992), Analisis Regresi Terapan, edisi kedua, Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama.
Grant, E.L. ; Ireson, W.G. and Leavenworth, R.S. (1976), Principles of Engineering
Economy, 3
rd
edition. New York.
Morlok, Edward K. (1978), Introduction to Transportation Engineering and Planning.
Mc, Graw Hill.
Oglesby, Clarkson H. and Hicks, R. Gary. (1997), Highway Engineering, 4
th
edition.
California: Stanford University.
Rulter, E.R. (1968), ICES-TRANSNET Procedures Manual. Cambridge: Civil
Engineering Department.
Tamin, Ofyar Z. (2000), Perencanaan dan Pemodelan Transportasi, Bandung: Institut
Teknologi Bandung.
Saodang, Hamirhan. (2005), Perancangan Perkerasan Jalan Raya, Jakarta.
Department of Transportation Pavement Management Office. (2006), Rigid Pavement
Design Manual. Florida USA