P. 1
inidonesia_hrhplan_2011_2025

inidonesia_hrhplan_2011_2025

|Views: 11|Likes:
Dipublikasikan oleh Dwi Suranto

More info:

Published by: Dwi Suranto on Apr 24, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/03/2014

pdf

text

original

Rancangan 5 September 2011

RENCANA PENGEMBANGAN TENAGA KESEHATAN TAHUN 2011 – 2025

JAKARTA, 2011

DAFTAR ISI
Sambutan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat .....………………... Sambutan Menteri Dalam Negeri ............................................................................... Sambutan Menteri Kesehatan .................................................................................... DAFTAR ISI …………………………………………………………………………….......... BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................... A. LATAR BELAKANG ……………………………………………………. B MAKSUD DAN TUJUAN .................………...................................... C. RUANG LINGKUP DAN BATASAN ………………………………..... D. DASAR HUKUM .............................................................................. PERKEMBANGAN DAN MASALAH ...................................................... A. PERKEMBANGAN DAN MASALAH PEMBANGUNAN KESEHATAN ……………................................................................. B. PERKEMBANGAN DAN MASALAH PENGEMBANGAN TENAGA KESEHATAN ................................................................................... C. ISU STRATEGIS PENGEMBANGAN TENAGA KESEHATAN ....... VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN STRATEGIS DAN STRATEGI ........... A. VISI .................................................................................................. B. MISI ................................................................................................. C. TUJUAN .......................................................................................... D. SASARAN STRATEGIS .................................................................. E. STRATEGI ....................................................................................... RENCANA KEBUTUHAN TENAGA KESEHATAN ............................... A. KEBUTUHAN TENAGA KESEHATAN BERDASARKAN TARGET UMUR HARAPAN HIDUP................................................................ B. KEBUTUHAN TENAGA KESEHATAN BERDASARKAN STANDAR TENAGA KESEHATAN DI FASILITAS KESEHATAN ... C. PERMINTAAN TENAGA KESEHATAN DARI LUAR NEGERI ........ RENCANA PENGADAAN/PRODUKSI TENAGA KESEHATAN ............ PENDAYAGUNAAN TENAGA KESEHATAN ......................................... A. PENDAYAGUNAAN TENAGA KESEHATAN DI DALAM NEGERI B. PENDAYAGUNAAN TENAGA KESEHATAN DILUAR NEGERI ..... PEMBINAAN DAN PENGAWASAN MUTU TENAGA KESEHATAN .... A. PEMBINAAN TENAGA KESEHATAN B. PENGAWASAN MUTU TENAGA KESEHATAN ............................. PENYELENGGARAAN PENGEMBANGAN TENAGA KESEHATAN ... A. PROSES PENYELENGGARAAN RENCANA PENGEMBANGAN TENAGA KESEHATAN ................................................................... i ii iii iv 1 1 2 3 3 5 5 6 17 20 20 20 20 21 21 24 24 25 28 30

BAB II

BAB III

BAB IV

BAB V BAB VI

BAB VII

BAB VIII

B. C. D. BAB IX

PENYELENGGARAAN RENCANA PENGEMBANGAN TENAGA KESEHATAN ................................................................................... KERJASAMA INTERNASIONAL ..................................................... SUMBER DAYA PENGEMBANGAN TENAGA KESEHATAN ........

KEBUTUHAN PEMBIAYAAN .................................................................. A. PEMBIAYAAN UNTUK PEMENUHAN KEBUTUHAN TENAGA KESEHATAN ................................................................................... B. PEMBIAYAAN UNTUK PENGADAAN/PRODUKSI TENAGA KESEHATAN ................................................................................... PENUTUP.................................................................................................

BAB X

KEPUSTAKAAN ……………………………………………………………………..............

DAFTAR TABEL
TABEL II-1 TABEL II-2 TABEL II-3 TABEL II-4 TABEL II-5 TABEL II-6 TABEL IV-1 TABEL IV-2 TABEL IV-3 TABEL IV-4 TABEL IV-5 TABEL IV-6 TABEL IV-7 TABEL IV-8 TABEL V-1 TABEL V-2 : : : : : : : : : : : : : : : : Distribusi Institusi Pendidikan Tenaga Kesehatan Berdasarkan Jenjang Pendidikan Tahun 2004 – 2008 .......................................... Gambaran Bidang Dan Jenjang Pendidikan Kesehatan Tahun 2010 Jumlah Institusi Pendidikan (Program Studi) Tenaga Kesehatan Yang Telah Terakreditasi .................................................................. Pengangkatan PNS Pusat Untuk Pengisian Kebutuhan Tenaga Kesehatan Milik Kementerian Kesehatan Tahun 2005 – 2009 ......... Pengangkatan Tenaga Kesehatan Melalui PTT Tahun 2005 – 2010 Penugasan Khusus Tenaga Kesehatan Di DTPK Tahun 2006 – 2010 .................................................................................................. Kebutuhan Tenaga Kesehatan di Indonesia Tahun 2014, 2019 dan 2025 .................................................................................................. Perkiraan Peningkatan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tahun 2019 Dan 2025 ........................................................................................... Kebutuhan Tenaga Kesehatan Di Rumah Sakit Milik Kementerian Kesehatan Dan Pemerintah Daerah Tahun 2014, 2019 Dan 2025 .. Kebutuhan Tenaga Kesehatan Di Puskesmas Tahun 2014, 2019 Dan 2025 ........................................................................................... Rumah Sakit Milik TNI/Polri Menurut Kelas Tahun 2014, 2019 dan 2025 .................................................................................................. Kebutuhan Tenaga Kesehatan Di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Milik TNI/Polri Tahun 2014, 2019 dan 2025 ...................................... Perkiraan Permintaan Tenaga Kesehatan Indonesia Dari Luar Negeri Tahun 2014, 2019 Dan 2025 ................................................. Target Hubungan Kerjasama Penempatan Tebaga Kesehatan Indonesia Ke Luar Negeri Tahun 2010 – 2025 ................................. Kebutuhan DAN Kekurangan Tenaga Kesehatan Tahun 2014, 2019 Dan 2025 .................................................................................. Rencana Peningkatan Pengadaan/Produksi Tenaga Kesehatan Tahun 2014, 2019 Dan 2025 ............................................................ 9 10 11 13 14 15 25 26 26 27 27 28 29

29 30

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Undang-Undang Dasar 1945 mengamanatkan bahwa kesehatan adalah merupakan hak asasi manusia. Pada pasal 28 H dinyatakan bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Selanjutnya pada pasal 34 ayat 3 dinyatakan bahwa negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. Hal tersebut menunjukkan bahwa pemerintah berkewajiban untuk menyehatkan yang sakit dan berupaya mempertahankan yang sehat untuk tetap sehat. Berdasarkan UU Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan menyebutkan bahwa kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Dengan demikian kesehatan selain sebagai hak asasi manusia, kesehatan juga merupakan suatu investasi. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP-N) 2005 - 2025, dinyatakan bahwa dalam mewujudkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan berdaya saing, maka kesehatan bersama-sama dengan pendidikan dan peningkatan daya beli keluarga/masyarakat adalah tiga pilar utama untuk meningkatkan kualitas SDM dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia. Dalam RPJP-N, dinyatakan pula pembangunan nasional di bidang kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dapat terwujud. Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan didasarkan kepada perikemanusiaan, pemberdayaan dan kemandirian, adil dan merata, serta pengutamaan dan manfaat dengan perhatian khusus kepada penduduk rentan, antara lain ibu, bayi, anak, manusia usia lanjut dan keluarga miskin. Dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, juga diperhatikan dinamika kependudukan, epidemiologi penyakit, perubahan ekologi dan lingkungan, kemajuan IPTEK, serta globalisasi dan demokratisasi dengan semangat kemitraan dan kerjasama lintas sektoral. Berbagai studi menunjukkan bahwa tenaga kesehatan merupakan kunci utama dalam keberhasilan pencapaian tujuan pembangunan kesehatan. Tenaga kesehatan memberikan kontribusi hingga 80% dalam keberhasilan pembangunan kesehatan. Dalam laporan WHO tahun 2006, Indonesia termasuk salah satu dari 57 negara yang menghadapi krisis SDM kesehatan, baik jumlahnya yang kurang maupun distribusinya.

serta pembinaan dan pengawasan mutu tenaga kesehatan. perlu ikut mendukung dan melaksanakan prinsip-prinsip dan rekomendasi Global Code dalam migrasi internasional tenaga kesehatan. Indonesia sebagai negara anggota WHO. bidan. tenaga keterapian fisik. Oleh karena itu. tenaga gizi. Tujuan disusunnya Rencana Pengembangan Tenaga Kesehatan Tahun 2011 2025 adalah untuk mewujudkan sinergisme dan upaya yang saling mendukung serta melengkapi antara pemerintah dan masyarakat termasuk swasta yang memiliki kepentingan terhadap pengembangan tenaga kesehatan.2025 merupakan rencana jangka panjang dengan maksud memberikan arah dan acuan bagi seluruh pemangku kepentingan dalam pengembangan dan pemberdayaan tenaga kesehatan secara komprehensif dan menyeluruh. Tenaga kesehatan di Indonesia dewasa ini sangat banyak jenisnya. melalui Sidang Umum Kesehatan Sedunia Tahun 2010. Pengembangan tenaga kesehatan meliputi perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan. pengadaan/pendidikan. Indonesia mengupayakan dalam kepentingan perdagangan internasional jasa melalui WTO (World Trade Organization). dokter umum. B. asisten apoteker. Walaupun bersifat sukarela. CAFTA (ChinaASEAN Free Trade Agreement). tenaga kesehatan dibatasi pada 13 (tiga-belas) jenis tenaga. apoteker. Menghadapi era globalisasi. RUANG LINGKUP DAN BATASAN. perawat gigi. Di bidang kesehatan. adanya suatu Rencana Pengembangan Tenaga Kesehatan yang menyeluruh sangat diperlukan. dokter gigi. perawat. Salah satu moda dalam pasokan perdagangan jasa internasional adalah migrasi sumber daya manusia. AFAS (ASEAN Framework Agreement on Services) dan perjanjian bilateral. Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) telah mengadopsi Global Code of Practice on the International Recruitment of Health Personnel. perlu ditetapkan Rencana Pengembangan Tenaga Kesehatan Tahun 2011 – 2025.Guna mengatasi krisis termaksud. dan tenaga keteknisian medis. C. tenaga kesehatan masyarakat. sanitarian. Dalam hubungan ini. Semua ini perlu dapat diakomodasikan dalam Rencana Pengembangan Tenaga Kesehatan. MAKSUD DAN TUJUAN Rencana Pengembangan Tenaga Kesehatan Tahun 2011 . pendayagunaan. untuk menjadi acuan bagi semua pemangku kepentingan. pengembangan tenaga kesehatan perlu lebih ditingkatkan yang melibatkan semua komponen bangsa. yaitu dokter spesialis. . Dalam Rencana Pengembangan Tenaga Kesehatan ini. Di era globalisasi berarti terbukanya negara-negara di dunia bagi produk-produk baik barang maupun jasa yang datang dari negara manapun dan mau tidak mau harus dihadapi.

7. Undang-Undang No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. Peraturan Pemerintah No. Undang-Undang No. dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. terakhir dengan Undang-Undang No. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 5. Undang-Undang No. Inpres No. 2. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Peraturan Presiden No. 10. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. . 3. Undang-Undang No. Undang-Undang No. 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2010-2014. 8. Undang-Undang No. Inpres No. 16. Undang-Undang No. 12 Tahun 2010 tentang Badan Nasional Pengelola Perbatasan. 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. DASAR HUKUM 1. 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional Tahun 2010. 18. 23.38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah. Undang-Undang No. 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN). 4. 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan. 14. 22. 19. sebagaimana telah diubah beberapa kali. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit. 15. 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah. 13. 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Republik Indonesia. 9. 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional. 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang No. 6. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. 12. Undang-Undang No. Peraturan Pemerintah No. Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.D. 17. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik. Undang-Undang No. Undang-Undang No. 21. Peraturan Pemerintah No. 3 Tahun 2010 tentang Program Pembangunan Yang Berkeadilan. 11. Undang-Undang No. Pemerintah Daerah Provinsi. 20. Peraturan Pemerintah No. Peraturan Presiden No. Undang-Undang No. 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia.

meningkatkan akses terhadap fasilitas kesehatan. namun pada waktu yang bersamaan terjadi peningkatan penyakit tidak menular serta meningkatnya penyalahgunaan narkotik dan obat-obat terlarang. Namun perbaikan indikator kesehatan masyarakat tersebut masih belum seperti yang diharapkan. umur harapan hidup (UHH) meningkat dari 68. antara lain ditunjukkan dengan peningkatan status kesehatan.0000 kelahiran hidup pada tahun 1997 menjadi 228 per 100.4% pada tahun 2007 (Riskesdas 2007).9% (Riskesdas 2010). dan 17. dan gender. dan mengurangi beban ganda penyakit yaitu pola penyakit yang diderita oleh sebagian besar masyarakat adalah penyakit infeksi menular. Perhatian pada masyarakat miskin.5% pada akhir tahun 1997 menjadi sebesar 18. Dalam kaitannya dengan tantangan tersebut diatas dan mengantisipasi pelaksanaan SKN sebagai pengelolaan kesehatan. rentan. Demikian pula telah terjadi penurunan prevalensi kekurangan gizi pada balita dari 29.000 kelahiran hidup pada tahun 2007. Angka kematian ibu (AKI) juga mengalami penurunan dari 318 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1997 menjadi 34 per 1. dan beresiko tinggi masih kurang memadai.6 tahun pada tahun 2004 menjadi 70. Dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang RPJPN disebutkan bahwa tantangan pembangunan bidang kesehatan jangka panjang yang dihadapi antara lain adalah mengurangi kesenjangan status kesehatan masyarakat dan akses terhadap pelayanan kesehatan antar wilayah.BAB II PERKEMBANGAN DAN MASALAH A. Kinerja sistem kesehatan telah menunjukkan peningkatan. 2) Mutu.000 kelahiran hidup pada tahun 2007.5 tahun pada tahun 2007. yaitu: penurunan angka kematian bayi (AKB) dari 46 per 1. Sejalan dengan penurunan angka kematian bayi. Upaya percepatan pencapaian indikator kesehatan dalam lingkungan strategis baru harus terus diupayakan dengan menyelenggarakan pembangunan kesehatan sesuai dengan Sistem Kesehatan Nasional. isu satrategis yang dihadapi pembangunan kesehatan dewasa ini dan dimasa depan adalah: 1) Dalam perubahan epidemiologis dan demografi. tingkat sosial ekonomi. 3) Penelitian dan pengembangan kesehatan belum sepenuhnya menunjang pembangunan kesehatan. 4) Penggalian pembiayaan masih terbatas dan pengalokasian serta pembelanjaan . meningkatkan jumlah dan penyebaran tenaga kesehatan yang kurang memadai. PERKEMBANGAN DAN MASALAH PEMBANGUNAN KESEHATAN Pembangunan kesehatan yang dilaksanakan secara berkesinambungan telah berhasil meningkatkan status kesehatan masyarakat. pemerataan dan keterjangkauan upaya kesehatan belum optimal. tampak derajat kesehatan masyarakat pada umumnya masih rendah.

dokter gigi 7. 4. perawat 157. Sampai dengan tahun 2008. 2.7 dibanding target 11. 1.75 dibanding target 75. jenis. 1.000 penduduk adalah sebesar 7. dan hukum kesehatan masih kurang memadai. Penetapan pengembangan sumber daya manusia kesehatan sebagai salah satu prioritas adalah karena Indonesia masih menghadapi masalah tenaga kesehatan.956 tenaga kesehatan masyarakat. dan bidan 43. 6) Ketersediaan. 6. baik jumlah. dan 6.180 dokter umum. 1. 7) Manajemen/ administrasi. Pengembangan sumber daya manusia merupakan salah satu prioritas dari 8 (delapan) fokus prioritas pembangunan kesehatan dalam kurun waktu 2010 – 2014. 84 orang S-1 Farmasi/Apoteker. Perencanaan. 2.73 dibanding target 9. 902 dokter umum.677 perawat/bidan. 5) Pemerataan dan mutu sumber daya manusia kesehatan belum sepenuhnya menunjang penyelenggaraan pembangunan kesehatan. 68.000 penduduk belum memenuhi target yang ditetapkan sampai dengan tahun 2010. 194 tenaga gizi.3 dibanding target 30. 979 asisten apoteker. ketersediaan tenaga kesehatan di rumah sakit milik pemerintah (Kementerian Kesehatan dan Pemerintah Daerah). 6. 800 DAN MASALAH PENGEMBANGAN TENAGA .835 perawat/bidan. dokter umum 26.pembiayaan kesehatan masih kurang tepat. Dengan memperhatikan standard ketenagaan rumah sakit yang berlaku. Dari pendataan tenaga kesehatan pada tahun 2010. rasio tenaga kesehatan untuk dokter spesialis per 100. maka pada tahun 2010 masih terdapat kekurangan tenaga kesehatan di rumah sakit milik pemerintah (Kementerian Kesehatan dan Pemerintah Daerah). Keadaan tenaga kesehatan. Rasio tenaga kesehatan per 100. pemerataan. telah tersedia 7.680 tenaga keteknisian medis. manfaat. PERKEMBANGAN KESEHATAN. 243 sanitarian.787 S-1 Farmasi/Apoteker.660 dokter gigi. 8) Pemberdayaan masyarakat dalam bentuk pelayanan. dan mudahnya diakses masyarakat umumnya masih kurang. advokasi kesehatan serta pengawasan sosial dalam pembangunan kesehatan belum banyak dilaksanakan.75 dibanding target 158. 443 dokter gigi. pendayagunaan serta pembinaan dan pengawasan mutu sumber daya manusia kesehatan pada umumnya masih terbatas kemampuannya.221 sanitarian. 1. sejumlah 2.656 asisten apoteker.336 dokter spesialis. informasi. 1. dan 9) Berbagai lingkungan strategis yang terkait masih kurang mendukung pembangunan kesehatan.598 tenaga keterapian fisik. kualitas maupun distribusinya. dan mutu sumber daya obat. 149 tenaga kesehatan masyarakat.098 dokter spesialis. pengadaan. B. serta keterjangkauan. keamanan.703 tenaga gizi.

7. 234 Tahun 2000 tentang Pedoman Pendidikan Tinggi dan Peraturan Menkes No. 5. 59 dokter gigi.840 dokter umum. Keputusan Mendiknas No. 53 perawat gigi. Pengembangan sistem pendidikan nasional merupakan tanggung jawab Kementerian Pendidikan Nasional. Dengan demikian kekurangan tenaga kesehatan di rumah sakit akan lebih besar lagi bila dihitung kebutuhan tenaga kesehatan di RS milik kementerian teknis lainnya.125 dokter gigi. 7. 13. 67 tenaga gizi.356 tenaga kesehatan masyarakat. dan 5.601 asisten apoteker. dan 2.351 orang S-1 Farmasi/Apoteker. 54 tenaga kesehatan masyarakat. perbatasan dan kepulauan tahun demi tahun diupayakan untuk ditingkatkan. maka pada tahun 2010 masih terdapat kekurangan tenaga kesehatan di Puskesmas. 303 tenaga gizi. 21. di Puskesmas di daerah terpencil. 6. 6. namun belum dapat mencapai harapan. Pengembangan sistem pendidikan tenaga kesehatan tidak terlepas dari sistem pendidikan nasional. 42 dokter gigi. 280 perawat gigi.771 tenaga keteknisian medis. 78.tenaga keterapian fisik. 8. dan 47 tenaga keteknisian medis. Sedangkan untuk Puskesmas DTPK juga masih dihadapi kekurangan tenaga kesehatan sejumlah 64 dokter umum. Rumah Sakit/Lembaga Kesehatan TNI dan POLRI serta Rumah Sakit Swasta. 472 sanitarian. 496 bidan. 955 perawat. 1192 Tahun 2004 . 25 sanitarian.547 tenaga gizi.045 asisten apoteker.675 perawat. 83. Pada era otonomi daerah diterbitkan beberapa keputusankeputusan antara lain.031 sanitarian. Pemenuhan kebutuhan tenaga kesehatan untuk daerah tertinggal. maka perlu perpaduan antara Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Kesehatan. 76 sanitarian.704 perawat gigi. Dengan memperhatikan standard ketenagaan Puskesmas yang berlaku. Sedangkan di Puskemas pada tahun 2010 telah tersedia 14. 2. Pengembangan sistem pendidikan tenaga kesehatan adalah untuk membentuk keahlian dan keterampilan tenaga kesehatan di bidang-bidang teknologi yang strategis serta mengantisipasi timbulnya kesenjangan keahlian sebagai akibat kemajuan teknologi.000 bidan.019 tenaga kesehatan masyarakat. Pada tahun yang sama. dan 54 tenaga keteknisian medis. 249 tenaga kesehatan masyarakat. sejumlah 149 dokter umum. Pengadaan/Pendidikan Tenaga Kesehatan. terpencil. 48 perawat gigi. namun pembinaan teknis pendidikan tenaga kesehatan merupakan kewenangan Kementerian Kesehatan.654 tenaga keteknisian medis. 34 tenaga gizi. 6.609 tenaga keteknisian medis. perbatasan dan kepulauan (DTPK) telah tersedia tenaga kesehatan sebanyak 130 dokter umum. 2. 60 asisten apoteker. Dalam upaya pengembangan sistem pendidikan tenaga kesehatan. 1. dan 2.093 dokter gigi.797 bidan. 35 asisten apoteker.

2009 2004 1 420 12 46 359 60 19 172 1. Kondisi tersebut didorong oleh adanya kebijakan pemerintah tentang penempatan bidan pada setiap desa dalam kerangka Desa Siaga. Tabel II-1 : Distribusi Institusi Pendidikan Tenaga Kesehatan Berdasarkan Jenjang Pendidikan`Tahun 2004 – 2008 Jenjang Pendidikan D1 D3 D4 Profesi * S1 S2 S3 Sp-1 Sp-2 Jumlah Peningkatan jumlah dan persentase Catatan: (*) Sumber: Ditjen Dikti.286 197 (18%) 2006 684 29 50 467 72 19 185 1. diketahui bahwa program studi bidan merupakan yang terbanyak dibandingkan program studi tenaga kesehatan lainnya. Kementerian Diknas. Perkembangan institusi pendidikan tenaga kesehatan cukup tinggi. Berikut ini adalah perkembangan program studi di bidang kesehatan dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2008.506 220 (17%) 2007 822 34 51 551 86 22 198 1. Jenjang pendidikan yang besar pertumbuhannya adalah jenjang pendidikan D3 dan S1.764 258 (17%) 2008 955 50 96 609 94 23 204 1 2032 268 (15%) Berdasarkan data Evaluasi Program Studi Berbasis Evaluasi Diri (EPSBED) tahun 2010.tentang Pendirian Diploma Bidang Kesehatan dapat diselenggarakan berdasarkan ijin dari Menteri Pendidikan Nasional setelah mendapat rekomendasi dari Menkes Republik Indonesia. Hal ini dapat dilihat dalam Tabel II-2 berikut ini: Tabel II-2 : Gambaran Bidang dan Jenjang Pendidikan Kesehatan Tahun 2010 Jenjang Pendidikan D3/D4 Kedokteran Kedokteran gigi Keperawatan Kebidanan Kefarmasian Kegizian 8 288 748 52 3 S1 71 25 308 2 51 24 S2 22 6 3 1 8 1 S3 11 2 1 0 2 3 Profesi 35 12 0 0 22 0 Spesialis 212 10 1 0 0 0 Bidang .089 2005 545 19 46 412 67 19 178 1.

Bahkan institusi pendidikan untuk perawat mencapai 82% institusi yang belum terakreditasi. 2010 0 143 24 2 1 0 Institusi pendidikan tenaga kesehatan yang ada saat ini masih belum memenuhi standar kualitas pendidikan. Pendirian institusi pendidikan tenaga kesehatan yang belum terencana sesuai dengan standar mutu dapat berdampak terhadap tidak terpenuhinya kompetensi tenaga kesehatan. 67% institusi pendidikan tenaga kesehatan belum terakreditasi. .Kesehatan Masyarakat Sumber: EPSBED. Pada Tabel II-3 di bawah ini dapat dilihat jumlah institusi pendidikan (program studi) tenaga kesehatan yang sudah terakreditasi. Berdasarkan data yang ada.

8 Akreditasi A 16 6 13 0 28 0 1 51 Akreditasi B 19 6 13 11 133 1 0 180 Akreditasi C 11 2 22 39 53 3 2 120 Catatan : . Pada masa itu semua tenaga kesehatan. Selanjutnya dalam beberapa tahun kemudian. Pendayagunaan tenaga kesehatan. Dalam perkembangan selanjutnya. program dokter dan dokter gigi PTT yang semula bersifat wajib menjadi sukarela. Dengan kebijakan ini.7 6.8 56 21. kepulauan dan daerah-daerah yang tidak diminati menjadi terabaikan. Sebagai tindak lanjut dari UndangUndang tersebut.5 50 32. dan ahli gizi diangkat sebagai pegawai negeri sipil pusat (PNS Pusat) dan ditempatkan ke daerah yang memerlukan untuk jangka waktu tertentu (antara 2 sampai 5 tahun sesuai dengan tingkat kesulitan daerah penempatan) melalui Inpres No. ditetapkanlah Peraturan Menkes No. 9 Tahun 1960 tentang Pokok-pokok Kesehatan. 2010 3. dokter gigi. kebijakan tersebut di atas mencerminkan penghargaan pemerintah terhadap Hak Asasi Manusia para tenaga kesehatan. Perkembangan distribusi tenaga kesehatan di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1960 dengan diterbitkannya Undang-Undang No. Undang-Undang ini menyatakan bahwa pemerintah bertanggung jawab dalam pemerataan tenaga kesehatan. sanitarian. 5 Tahun 1974.3 17. Namun disisi lain. 8 Tahun 1961 tentang Wajib Kerja Sarjana. bidan. Disatu sisi. Hak Asasi Manusia bagi rakyat terutama di daerah tertinggal. tenaga kesehatan melaksanakan Wajib Kerja Sarjana. utamanya dokter. 13 Tahun 2003 tentang Ketenaga-kerjaan yang mencabut Undang-Undang No. perbatasan.4 34.Tabel II-3 : Jumlah Institusi Pendidikan (Program Studi) Tenaga Kesehatan Yang Telah Terakreditasi Tahun 2009 Instutitusi Pendidikan (Prodi) Dokter Dokter Gigi Apoteker* Perawat D-3 Bidan D-3 Farmasi D-3 Gizi D-3 JUMLAH Jumlah Institusi (Prodi) 71 25 61 288 617 62 6 1. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 4 yang menyatakan bahwa setiap orang berhak atas kesehatan dan pasal 5 . 1540/Menkes/ Per/XII/2002 tentang Penempatan Tenaga Medis Melalui Masa Bakti dan Cara Lain.Diolah dari data BANPT dan Pusdiknakes. perawat. Hal ini bertentangan dengan UU No. 2009 .*) Sumber data Apoteker: Asosiasi Perguruan Tinggi Farmasi Indonesia (APTFI).069 Jumlah Institusi Pendidikan (Prodi) Terakreditasi 46 14 48 50 214 4 3 351 % Institusi Pendidikan (Prodi) Terakreditasi 64. maka ditetapkan Undang-Undang No.

832 2.208 135 226 64 30 265 946 3. Berikut adalah tabel pengangkatan tenaga kesehatan melalui formasi Pegawai Negeri Sipil (PNS) Pusat tahun 2005 sampai dengan tahun 2009. utamanya di sektor kesehatan dapat diangkat melalui: 1) formasi PNS baik pusat maupun daerah. pendidikan dan penelitian baik pemerintah maupun swasta. dan (4) di luar negeri sebagai Tenaga Kerja Kesehatan Indonesia (TKKI). Tenaga kesehatan yang didayagunakan di instansi pemerintah.738 2008 291 636 64 127 46 36 95 996 2. Kemenkes. perbatasan.291 2009 435 649 79 164 49 36 144 1.064 2006 10 397 49 13 9 2 60 1. (3) Sektor non pelayanan kesehatan termasuk industri. (2) Sektor pelayanan kesehatan swasta. Tabel II-4 : Pengangkatan PNS Pusat untuk pengisian Kebutuhan Tenaga Kesehatan Milik Kementerian Kesehatan Tahun 2005 – 2009 TAHUN PENGANGKATAN 2005 190 1. terutama untuk daerah terpencil.yang menyatakan setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh akses atas sumber daya di bidang kesehatan. 2) Pegawai Tidak Tetap (PTT) pusat maupun daerah. 2009 .968 JENIS TENAGA Tenaga Medis Tenaga Keperawatan Tenaga Kefarmasian Tenaga Kesehatan Masyarakat Tenaga Gizi Tenaga Keterapian Fisik Tenaga Keteknisian Medis Non Kesehatan JUMLAH Sumber : Biro Kepegawaian Setjen.372 2007 243 663 112 81 12 12 108 507 1. dan kepulauan (DTPK).412 2. Tenaga kesehatan dapat didayagunakan di : (1) Instansi pemerintah baik pusat maupun daerah termasuk TNI dan POLRI. 3) penugasan khusus baik residen maupun tenaga D3-Kesehatan.

perbatasan dan kepulauan (DTPK) tahun 2006 sampai dengan tahun 2010 dapat dilihat dalam Tabel II-6 berikut: .411 2008 4.638 2006 3.265 1.006 16. 2010.432 16.658 816 11.633 840 12. Secara umum telah terjadi peningkatan jumlah tenaga kesehatan yang ditempatkan melalui mekanisme PTT.843 2009 4.601 16.126 1.164 14.487 1.818 12. Formasi PNS yang tersedia diutamakan untuk pengangkatan tenaga honorer yang telah memenuhi syarat. Hal tersebut kemungkinan merupakan implikasi dari Peraturan Pemerintah No.181 13. Pendayagunaan tenaga kesehatan melalui penugasan khusus untuk daerah terpencil. Kemenkes.Berdasarkan data tersebut.269 11. terjadi fluktuasi jumlah PNS pusat yang diangkat pada institusi milik Kementerian Kesehatan. 48 Tahun 2005 tentang Pengangkatan Tenaga Honorer menjadi PNS.169 896 8.074 Sumber : Biro Kepegawaian Setjen.285 11.762 2010 2.883 2007 4.965 19. Pengangkatan tenaga kesehatan melalui formasi PTT pusat tahun 2005 sampai dengan tahun 2010 dapat dilihat dalam tabel berikut: Tabel II-5 : Pengangkatan Tenaga Kesehatan Melalui PTT Tahun 2005 – 2010 JENIS TENAGA Dokter Dokter Gigi Bidan Jumlah TAHUN PENGANGKATAN 2005 2.

Pembinaan dan pengawasan mutu tenaga dokter dan dokter gigi telah diatur dalam Undang-Undang No. penugasan khusus tenaga kesehatan dilaksanakan dan ditingkatkan target pencapaiannya. Pembinaan dan pengawasan mutu tenaga kesehatan.Tabel II-6 : Penugasan Khusus Tenaga Kesehatan di DTPK Tahun 2006 . penugasan khusus tenaga kesehatan selain dokter spesialis/residen senior ke DTPK tidak dilaksanakan disebabkan kurangnya dukungan anggaran. Pada tahun 2008. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dapat menerbitkan Surat Izin Praktik (SIP). Konsil Kedokteran Indonesia telah melaksanakan registrasi tenaga dokter dan dokter gigi. Untuk menjamin mutu pelayanan kedokteran/kedokteran gigi. Badan PPSDMK. STR dapat diterbitkan setelah dokter dan dokter gigi mengikuti dan dinyatakan lulus dalam uji kompetensi yang dilaksanakan oleh kolegium kedokteran dan kedokteran gigi. seorang dokter/dokter gigi. hanya diperbolehkan praktik maksimal di 3 (tiga) tempat.2010 TAHUN PENGANGKATAN 2006 8 26 63 101 64 79 341 2007 15 26 63 101 64 79 348 2008 52 52 2009 54 74 17 3 32 4 184 2010 374 210 33 14 33 13 677 JENIS TENAGA Dokter Spesialis / Residen Senior Dokter Bidan Perawat Gizi Analis Sanitarian Tenaga Kesehatan Lain Jumlah Sumber : Pusren-gun SDM Kesehatan. Berdasarkan STR. 2010 Penugasan khusus tenaga kesehatan ke DTPK dimulai tahun 2006 merupakan uji coba sampai dengan tahun 2007. . 4. Secara bertahap pada tahun 2009 dan tahun 2010. Sebagai implementasi dari Undang-Undang tersebut. dengan menerbitkan Surat Tanda Registrasi (STR). pada tahun 2005 telah dibentuk Konsil Kedokteran Indonesia. Rekrutmen tenaga dokter dan bidan untuk penugasan khusus ditiadakan namun diakomodasikan dalam penugasan PTT. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran.

Tenaga kesehatan terus membaik dalam jumlah. perbatasan dan kepulauan. 2. sertifikasi. dapat diterbitkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Dengan demikian pembinaan dan pengawasan TKWNA dan dukungan regulasinya perlu ditingkatkan. pendidikan dan pelatihan berkelanjutan. saat ini sedang dalam penyusunan. ISU STRATEGIS PENGEMBANGAN TENAGA KESEHATAN. Pengembangan tenaga kesehatan belum dapat memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan untuk pelayanan/pembangunan kesehatan. yang melaksanakan registrasi bagi tenaga kesehatan non dokter/dokter gigi. Regulasi untuk mendukung upaya pengembangan tenaga kesehatan masih terbatas. Dalam beberapa tahun terakhir ini. migrasi TKWNA ke Indonesia tidak dapat dihindari. beberapa rumah sakit swasta telah mempekerjakan tenaga kesehatan warga Negara asing (TKWNA). 3. kualitas dan penyebarannya. pembinaan dan pengawasan tenaga kesehatan belum berjalan dengan semestinya. C. dewasa ini dan ke depan masih dihadapi isu strategis atau masalah pokok dalam pengembangan tenaga kesehatan sebagai berikut: 1. Mutu tenaga kesehatan belum memiliki daya saing dalam memenuhi permintaan tenaga kesehatan dari luar negeri.Untuk tenaga kesehatan lainnya. Tugas pokok dam fungsi MTKP dan tata hubungan kerjanya dengan MTKI. pembinaan dan pengawasan apoteker. Dalam hubungan ini. pada tahun 2011 telah dibentuk Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia (MTKI). Menilik perkembangan tenaga kesehatan sebagaimana telah diuraikan diatas. beberapa provinsi sudah mempunyai Majelis Tenaga Kesehatan Provinsi (MTKP). Ke depan sejalan dengan berlakunya pasar bebas. Rencana kebutuhan tenaga kesehatan yang menyeluruh belum disusun sesuai yang diharapkan. penggunaan TKWNA diperbolehkan hanya sebagai konsultan. Guna kelancaran tugas MTKI. dijumpai TKWNA juga memberikan pelayanan kesehatan langsung kepada pasien. Perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan masih perlu ditingkatkan dan belum didukung dengan sistem informasi tenaga kesehatan yang memadai. sehingga belum sepenuhnya dapat dipergunakan . namun masih belum mampu memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan di seluruh wilayah terutama pada daerah tertinggal. Namun pada kenyataannya di lapangan. Surat Ijin Praktik (SIP) dan Surat Izin Kerja. terpencil. Untuk meningkatkan dan menjamin mutu tenaga kefarmasian dalam melaksanakan pekerjaannya. telah dibentuk Komite Farmasi Nasional (KFN) yang mempunyai tugas melaksanakan registrasi. Sesuai peraturan dan ketentuan yang berlaku.

kepulauan dan daerah yang kurang diminati. pendayagunaan tenaga kesehatan. Sumber daya pendukung pengembangan dan pemberdayaan tenaga kesehatan masih terbatas. sebagai acuan dalam pengadaan/pendidikan tenaga kesehatan. Pembinaan dan pengawasan mutu tenaga kesehatan masih belum dapat dilaksanakan sebagaimana yang diharapkan. Telah disahkannya beberapa aturan perundang-undangan terkait tenaga kesehatan. Sistem informasi tenaga kesehatan belum sepenuhnya dapat menyediakan data yang akurat.4. Dalam upaya menjawab isu strategis atau masalah pokok dalam pengembangan tenaga kesehatan. terpencil. pemerataan dan pemanfaatan tenaga kesehatan yang berkualitas masih kurang. Selain itu pengembangan dan pelaksanaan pola pengembangan karir. Dalam pendayagunaan tenaga kesehatan. Sosialisasi dan penerapan peraturan perundang-perundangan di bidang pengembangan tenaga kesehatan belum dilaksanakan secara memadai. terpercaya dan tepat waktu. sistem penghargaan dan sanksi belum dilaksanakan sesuai yag diharapkan. Permasalahan pendidikan tenaga kesehatan pada umumnya bersifat sistemik. . 6. Pengembangan profesi yang berkelanjutan (Continue Professional Development= CPD). Masih kurang serasinya antara kebutuhan dan pengadaan/pendidikan berbagai jenis tenaga kesehatan. Indonesia memiliki beberapa modal dasar antara lain: 1. 7. Registrasi dan sertifikasi tenaga kesehatan masih terbatas pada tenaga dokter dan dokter gigi. Masih banyak institusi pendidikan tenaga kesehatan yang belum terakreditasi dan memenuhi standard. antara lain terdapat ketidaksesuaian kompetensi lulusan pendidikan dengan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan masyarakat. perbatasan. Kajian jenis tenaga kesehatan yang dibutuhkan tersebut belum dilakukan sebagaimana mestinya. budaya maupun kebijakan pemerintah daerah termasuk kondisi geografis antar daerah mengurangi minat tenaga kesehatan untuk ditempatkan di daerah tersebut. lebih dominannya pendidikan tenaga kesehatan yang berorientasi ke Rumah Sakit dibandingkan dengan Primary Health Care. serta Training Need Assesment (TNA) masih perlu dikembangkan. Hal ini disebabkan oleh disparitas sosial ekonomi. Hal ini akan berdampak terhadap kompetensi dan kualitas lulusan tenaga kesehatan. lemahnya kerjasama antara pelaku dalam pembangunan kesehatan dan pendidikan tenaga kesehatan. 5. utamanya di daerah tertinggal. Kualitas hasil pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan pada umumnya masih kurang memadai. serta pembinaan dan pengawasan mutu tenaga kesehatan. Dukungan sumber daya pembiayaan dan lain-lain sumber daya belum memadai.

Ikut sertanya Indonesia dalam meratifikasi aturan-aturan di tingkat Internasional terkait tenaga kesehatan seperti ‘International Code of Practice’. Mulai terbangunnya komitmen diantara pemangku kepentingan terkait pengembangan tenaga kesehatan seperti terbentuknya Tim Koordinasi dan Fasilitasi Pengembangan Tenaga Kesehatan. . 3. Hal ini ditandai dengan semakin banyaknya permintaan tenaga kesehatan Indonesia untuk bekerja di luar negeri. 4.2. Kepercayaan dunia Internasional semakin meningkat terhadap kualitas tenaga kesehatan Indonesia.

3. MISI. Meningkatkan pengadaan/pendidikan tenaga kesehatan guna memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan. VISI Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) mengamanatkan bahwa kesehatan adalah salah satu dari hak asasi manusia.BAB III VISI. Guna memenuhi hak dasar tersebut. serta pembiayaan yang memadai. dalam Pasal 34 ayat (3) dinyatakan “Sesuai dengan konstitusi. serta berkualitas sesuai dengan kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan. . harus didukung dengan sarana dan prasarana. dan dikembangkan secara berkeadilan. Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas umum yang layak”. SASARAN STRATEGIS DAN STRATEGI A. Oleh karena itu Visi Pengembangan Tenaga Kesehatan di Indonesia adalah : “Seluruh Penduduk Memperoleh Akses Terhadap Tenaga Kesehatan Yang Berkualitas” B. untuk pengembangan dan 2. ditetapkan Misi dalam pengembangan tenaga kesehatan sebagai berikut: 1. Agar fasilitas pelayanan kesehatan dapat berfungsi dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. MISI Untuk mewujudkan Visi “Seluruh Penduduk Memperoleh Akses Terhadap Tenaga Kesehatan Yang Berkualitas”. Tenaga kesehatan harus tersedia dan terdistribusi secara merata dalam jumlah dan jenis. Menguatkan regulasi dan perencanaan pemberdayaan tenaga kesehatan. tenaga kesehatan. TUJUAN. Meningkatkan pembinaan dan pengawasan mutu tenaga kesehatan dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan. termanfaatkan sesuai dengan kebutuhan seluruh penduduk Indonesia. Menjamin pendayagunaan tenaga kesehatan yang merata. 4. dalam mendukung penyelenggaraan pelayanan kesehatan kepada seluruh penduduk Indonesia.

C. mengemban Misi dan guna mencapai tujuan pengembangan tenaga kesehatan dalam tahun 2025. tenaga gizi 48 per 100. dokter gigi 11 per 100. D. perawat 158 per 100.000 penduduk. bidan 75 per 100. tenaga gizi 24 per 100. bidan 75 per 100. dokter gigi 11 per 100. SASARAN STRATEGIS Sesuai dengan Kepmenkes No.000 penduduk. sanitarian 35 per 100. .000 penduduk. terutama dengan mengacu pada metode perhitungan kebutuhan tenaga berdasarkan pendekatan rasio terhadap nilai tertentu.000 penduduk. Kabupaten/Kota serta Rumah Sakit. tenaga gizi 56 per 100. Penguatan regulasi untuk mendukung pengembangan dan pemberdayaan tenaga kesehatan melalui percepatan pelaksanaannya.000 penduduk.000 penduduk.000 penduduk. Pada tahun 2019 diharapkan ketersediaan tenaga dokter spesialis mencapai 24 per 100. dokter umum 112 per 100. E.000 penduduk.000 penduduk.000 penduduk. sanitarian 30 per 100. TUJUAN Tujuan pengembangan tenaga kesehatan adalah tersedianya tenaga kesehatan secara merata yang mencukupi dalam jumlah.000 penduduk. maka ditetapkan sasaran strategis sebagai berikut: 1. maka ditempuh strategi sebagai berikut: 1. dokter umum 48 per 100. Pada tahun 2014 diharapkan ketersediaan tenaga dokter spesialis mencapai 12 per 100.000 penduduk.000 penduduk.000 penduduk. sanitarian 15 per 100. perawat 158 per 100. jenis dan kualitas. 3. Penguatan regulasi pengembangan dan pemberdayaan tenaga kesehatan. dokter gigi 11 per 100. perawat 158 per 100.000 penduduk.000 penduduk. 2. serta termanfaatkan sesuai dengan kebutuhan pembangunan kesehatan bagi seluruh penduduk Indonesia. 81/Menkes/SK/I/2004 tentang Pedoman Penyusunan Perencanaan Sumber Daya Manusia Kesehatan di Tingkat Propinsi. bidan 75 per 100. peningkatan kerjasama lintas sektor dan peningkatan pengelolaannya secara berjenjang di pusat dan daerah.000 penduduk. STRATEGI Dalam mewujudkan Visi. Pada tahun 2025 diharapkan ketersediaan tenaga dokter spesialis mencapai 28 per 100.000 penduduk.000 penduduk.000 penduduk.000 penduduk. dokter umum 96 per 100.

penelitian dan pengembangan kesehatan. .2. serta profesional. Semua tenaga kesehatan dituntut untuk selalu menjunjung tinggi sumpah dan kode etik profesi. Peningkatan dan pengembangan pengadaan/pendidikan tenaga kesehatan. baik untuk fasilitas kesehatan milik pemerintah secara lintas sektor termasuk pemerintah daerah dan swasta. sumber daya pendukung dan pengembangan perencanaan penting untuk ditingkatkan. penelitian dan pengembangan kesehatan. serta pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan. berdaya saing tinggi. serta mengantisipasi keadaan darurat kesehatan dan pasar bebas di era globalisasi. baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta. Peningkatan dan pengembangan pendidikan tenaga kesehatan tersebut ditujukan untuk menghasilkan tenaga kesehatan yang berkualitas. Peningkatan dan Pengembangan Pengadaan/Pendidikan Tenaga Kesehatan. menerapkan nilainilai moral dan etika profesi yang tinggi. dilakukan melalui penambahan jumlah institusi pendidikan tenaga kesehatan tertentu sesuai kebutuhannya. serta sertifikasi tenaga pengajar. 3. pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan. Kebutuhan tenaga kesehatan guna mendukung pembangunan kesehatan harus disusun secara menyeluruh. yaitu tenaga kesehatan yang mengikuti perkembangan IPTEK. Pengadaan/pendidikan tenaga kesehatan dilakukan melalui peningkatan dan pengembangan pendidikan tenaga kesehatan. manajemen kesehatan. Oleh karenanya pengadaan/pendidikan tenaga kesehatan ditingkatkan melalui pengembangan standar pendidikan tenaga kesehatan guna memenuhi standar kompetensi yang diharapkan dan memenuhi daya saing baik secara nasional maupun internasional. Di samping itu kebutuhan tenaga kesehatan guna mendukung manajemen kesehatan (administrator dan regulator). akreditasi institusi pendidikan tenaga kesehatan. Pendidikan tenaga kesehatan perlu ditingkatkan dan disusun secara terarah dan menyeluruh dalam kerangka mewujudkan keterkaitan yang harmonis. perlu pula disusun kebutuhannya. Peningkatan Perencanaan Kebutuhan Tenaga Kesehatan. efektif dan efisien antara sistem kesehatan dan sistem pendidikan. Pengelolaan perencanaan. serta pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan. termasuk peningkatan sarana dan fasilitas belajar mengajar. Pengadaan/pendidikan tenaga kesehatan ditingkatkan dan dikembangkan guna memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan dalam pelayanan kesehatan. pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan.

. juga perlu mendapatkan perhatian yang memadai. dan pengembangan tenaga kesehatan termasuk peningkatan karirnya. Peningkatan pendayagunaan tenaga kesehatan diupayakan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan kesehatan di semua lini dari daerah sampai pusat secara lintas sektor. terpencil. Pembinaan dan pengawasan mutu tenaga kesehatan dilakukan melalui peningkatan komitmen dan koordinasi semua pemangku kepentingan dalam pengembangan tenaga kesehatan serta legislasi yang meliputi antara lain sertifikasi melalui uji kompetensi. Pembinaan dan pengawasan mutu tenaga kesehatan utamanya ditujukan untuk meningkatkan kualitas tenaga kesehatan sesuai kompetensi yang diharapkan dalam mendukung penyelenggaraan pelayanan kesehatan bagi seluruh penduduk Indonesia. dan hak-hak tenaga kesehatan. institusi penelitian dan pengembangan kesehatan. dan mempermudah tenaga kesehatan memperoleh akses terhadap pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan. Pengembangan tenaga kesehatan termasuk peningkatan karirnya dilakukan melalui peningkatan motivasi tenaga kesehatan untuk mengembangkan diri. perbatasan dan kepulauan (DTPK) dan daerah bermasalah kesehatan (DBK). serta sertifikasi tenaga pelatih. registrasi. Pendayagunaan tenaga kesehatan di daerah tertinggal. serta pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan. serta memenuhi kebutuhan pasar dalam menghadapi pasar bebas di era globalisasi. Pembinaan dan Pengawasan Mutu Tenaga Kesehatan. institusi pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan. perizinan (licensing). Hak-hak tenaga kesehatan tersebut antara lain meliputi kesejahteraan dan kesempatan yang seluas-luasnya dalam rangka meningkatkan dan mengembangkan karirnya. juga dilakukan melalui akreditasi institusi pelatihan tenaga kesehatan. Peningkatan pelatihan tenaga kesehatan. Peningkatan pelatihan tenaga kesehatan dilakukan melalui pengembangan standar pelatihan tenaga kesehatan guna memenuhi standar kompetensi yang diharapkan oleh pelayanan kesehatan kepada seluruh penduduk Indonesia. perlu memperoleh perhatian khusus.4. Peningkatan Pendayagunaan Tenaga Kesehatan. Pendayagunaan tenaga kesehatan untuk manajemen kesehatan. 5. pemanfaatan tenaga kesehatan. termasuk swasta. Pendayagunaan tenaga kesehatan meliputi penyebaran tenaga kesehatan yang merata dan berkeadilan.

6. . penguatan sistem informasi tenaga kesehatan. Penguatan Sumber Daya Pengembangan Tenaga Kesehatan Penguatan sumber daya dalam mendukung pengembangan dan pemberdayaan tenaga kesehatan dilakukan melalui peningkatan kapasitas SDM Kesehatan. serta peningkatan pembiayaan dan fasilitas pendukung lainnya.

Menguatkan regulasi dan perencanaan pemberdayaan tenaga kesehatan. Meningkatkan pengadaan/pendidikan tenaga kesehatan guna memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan. Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas umum yang layak”. serta berkualitas sesuai dengan kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan. untuk pengembangan dan 2. MISI. dalam Pasal 34 ayat (3) dinyatakan “Sesuai dengan konstitusi. ditetapkan Misi dalam pengembangan tenaga kesehatan sebagai berikut: 1. Oleh karena itu Visi Pengembangan Tenaga Kesehatan di Indonesia adalah : “Seluruh Penduduk Memperoleh Akses Terhadap Tenaga Kesehatan Yang Berkualitas” G. termanfaatkan sesuai dengan kebutuhan seluruh penduduk Indonesia. VISI Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) mengamanatkan bahwa kesehatan adalah salah satu dari hak asasi manusia. SASARAN STRATEGIS DAN STRATEGI F. serta pembiayaan yang memadai. Agar fasilitas pelayanan kesehatan dapat berfungsi dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. dan dikembangkan secara berkeadilan. tenaga kesehatan. harus didukung dengan sarana dan prasarana. Meningkatkan pembinaan dan pengawasan mutu tenaga kesehatan dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan. MISI Untuk mewujudkan Visi “Seluruh Penduduk Memperoleh Akses Terhadap Tenaga Kesehatan Yang Berkualitas”. 3. Guna memenuhi hak dasar tersebut.BAB III VISI. Tenaga kesehatan harus tersedia dan terdistribusi secara merata dalam jumlah dan jenis. TUJUAN. Menjamin pendayagunaan tenaga kesehatan yang merata. 4. dalam mendukung penyelenggaraan pelayanan kesehatan kepada seluruh penduduk Indonesia. .

2. Kabupaten/Kota serta Rumah Sakit. tenaga gizi 48 per 100.000 penduduk.000 penduduk.H.000 penduduk.000 penduduk. STRATEGI Dalam mewujudkan Visi.000 penduduk. sanitarian 15 per 100. sanitarian 30 per 100. terutama dengan mengacu pada metode perhitungan kebutuhan tenaga berdasarkan pendekatan rasio terhadap nilai tertentu.000 penduduk. Pada tahun 2025 diharapkan ketersediaan tenaga dokter spesialis mencapai 28 per 100.000 penduduk.000 penduduk. Pada tahun 2019 diharapkan ketersediaan tenaga dokter spesialis mencapai 24 per 100. Penguatan regulasi untuk mendukung pengembangan dan pemberdayaan tenaga kesehatan melalui percepatan pelaksanaannya. dokter umum 48 per 100. bidan 75 per 100. bidan 75 per 100.000 penduduk. dokter umum 96 per 100. dokter umum 112 per 100. tenaga gizi 24 per 100. Penguatan regulasi pengembangan dan pemberdayaan tenaga kesehatan.000 penduduk. 3. peningkatan kerjasama lintas sektor dan peningkatan pengelolaannya secara berjenjang di pusat dan daerah. TUJUAN Tujuan pengembangan tenaga kesehatan adalah tersedianya tenaga kesehatan secara merata yang mencukupi dalam jumlah. maka ditetapkan sasaran strategis sebagai berikut: 1.000 penduduk.000 penduduk. bidan 75 per 100. mengemban Misi dan guna mencapai tujuan pengembangan tenaga kesehatan dalam tahun 2025. dokter gigi 11 per 100.000 penduduk. serta termanfaatkan sesuai dengan kebutuhan pembangunan kesehatan bagi seluruh penduduk Indonesia.000 penduduk. perawat 158 per 100. I. perawat 158 per 100. sanitarian 35 per 100. maka ditempuh strategi sebagai berikut: 7. J.000 penduduk. jenis dan kualitas.000 penduduk. perawat 158 per 100. Pada tahun 2014 diharapkan ketersediaan tenaga dokter spesialis mencapai 12 per 100.000 penduduk. 81/Menkes/SK/I/2004 tentang Pedoman Penyusunan Perencanaan Sumber Daya Manusia Kesehatan di Tingkat Propinsi. SASARAN STRATEGIS Sesuai dengan Kepmenkes No.000 penduduk. tenaga gizi 56 per 100.000 penduduk.000 penduduk. dokter gigi 11 per 100. dokter gigi 11 per 100.000 penduduk. .

perlu pula disusun kebutuhannya. berdaya saing tinggi. pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan. sumber daya pendukung dan pengembangan perencanaan penting untuk ditingkatkan. serta pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan. menerapkan nilainilai moral dan etika profesi yang tinggi. serta pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan. Oleh karenanya pengadaan/pendidikan tenaga kesehatan ditingkatkan melalui pengembangan standar pendidikan tenaga kesehatan guna memenuhi standar kompetensi yang diharapkan dan memenuhi daya saing baik secara nasional maupun internasional. Peningkatan Perencanaan Kebutuhan Tenaga Kesehatan. Peningkatan dan Pengembangan Pengadaan/Pendidikan Tenaga Kesehatan. Semua tenaga kesehatan dituntut untuk selalu menjunjung tinggi sumpah dan kode etik profesi. 9. serta sertifikasi tenaga pengajar. penelitian dan pengembangan kesehatan. efektif dan efisien antara sistem kesehatan dan sistem pendidikan. Di samping itu kebutuhan tenaga kesehatan guna mendukung manajemen kesehatan (administrator dan regulator). baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta.8. Pendidikan tenaga kesehatan perlu ditingkatkan dan disusun secara terarah dan menyeluruh dalam kerangka mewujudkan keterkaitan yang harmonis. baik untuk fasilitas kesehatan milik pemerintah secara lintas sektor termasuk pemerintah daerah dan swasta. dilakukan melalui penambahan jumlah institusi pendidikan tenaga kesehatan tertentu sesuai kebutuhannya. Peningkatan dan pengembangan pendidikan tenaga kesehatan tersebut ditujukan untuk menghasilkan tenaga kesehatan yang berkualitas. Pengadaan/pendidikan tenaga kesehatan dilakukan melalui peningkatan dan pengembangan pendidikan tenaga kesehatan. termasuk peningkatan sarana dan fasilitas belajar mengajar. Kebutuhan tenaga kesehatan guna mendukung pembangunan kesehatan harus disusun secara menyeluruh. serta mengantisipasi keadaan darurat kesehatan dan pasar bebas di era globalisasi. . Peningkatan dan pengembangan pengadaan/pendidikan tenaga kesehatan. Pengadaan/pendidikan tenaga kesehatan ditingkatkan dan dikembangkan guna memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan dalam pelayanan kesehatan. pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan. serta profesional. manajemen kesehatan. penelitian dan pengembangan kesehatan. yaitu tenaga kesehatan yang mengikuti perkembangan IPTEK. akreditasi institusi pendidikan tenaga kesehatan. Pengelolaan perencanaan.

Pembinaan dan Pengawasan Mutu Tenaga Kesehatan. Peningkatan pelatihan tenaga kesehatan dilakukan melalui pengembangan standar pelatihan tenaga kesehatan guna memenuhi standar kompetensi yang diharapkan oleh pelayanan kesehatan kepada seluruh penduduk Indonesia. Peningkatan pendayagunaan tenaga kesehatan diupayakan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan kesehatan di semua lini dari daerah sampai pusat secara lintas sektor. Hak-hak tenaga kesehatan tersebut antara lain meliputi kesejahteraan dan kesempatan yang seluas-luasnya dalam rangka meningkatkan dan mengembangkan karirnya. juga dilakukan melalui akreditasi institusi pelatihan tenaga kesehatan. perizinan (licensing).10. 11. serta memenuhi kebutuhan pasar dalam menghadapi pasar bebas di era globalisasi. serta sertifikasi tenaga pelatih. termasuk swasta. Pendayagunaan tenaga kesehatan di daerah tertinggal. Pendayagunaan tenaga kesehatan meliputi penyebaran tenaga kesehatan yang merata dan berkeadilan. juga perlu mendapatkan perhatian yang memadai. serta pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan. Pendayagunaan tenaga kesehatan untuk manajemen kesehatan. institusi penelitian dan pengembangan kesehatan. terpencil. perlu memperoleh perhatian khusus. Peningkatan Pendayagunaan Tenaga Kesehatan. Pembinaan dan pengawasan mutu tenaga kesehatan utamanya ditujukan untuk meningkatkan kualitas tenaga kesehatan sesuai kompetensi yang diharapkan dalam mendukung penyelenggaraan pelayanan kesehatan bagi seluruh penduduk Indonesia. . dan pengembangan tenaga kesehatan termasuk peningkatan karirnya. pemanfaatan tenaga kesehatan. registrasi. Peningkatan pelatihan tenaga kesehatan. perbatasan dan kepulauan (DTPK) dan daerah bermasalah kesehatan (DBK). institusi pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan. dan mempermudah tenaga kesehatan memperoleh akses terhadap pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan. Pengembangan tenaga kesehatan termasuk peningkatan karirnya dilakukan melalui peningkatan motivasi tenaga kesehatan untuk mengembangkan diri. Pembinaan dan pengawasan mutu tenaga kesehatan dilakukan melalui peningkatan komitmen dan koordinasi semua pemangku kepentingan dalam pengembangan tenaga kesehatan serta legislasi yang meliputi antara lain sertifikasi melalui uji kompetensi. dan hak-hak tenaga kesehatan.

Penguatan Sumber Daya Pengembangan Tenaga Kesehatan Penguatan sumber daya dalam mendukung pengembangan dan pemberdayaan tenaga kesehatan dilakukan melalui peningkatan kapasitas SDM Kesehatan. serta peningkatan pembiayaan dan fasilitas pendukung lainnya. .12. penguatan sistem informasi tenaga kesehatan.

Lingkup pembiayaan yang dihitung adalah untuk pemenuhan kebutuhan tenaga kesehatan (pendayagunaan tenaga kesehatan) dan untuk pengadaan/produksi tenaga kesehatan.000.000. menyesuaikan dengan periode kepemerintahan. 1.100. Komponen biaya yang dihitung mencakup biaya distribusi/penempatan. Secara rinci.000.BAB IX PEMBIAYAAN Kebutuhan biaya untuk pengembangan tenaga kesehatan dihitung untuk keperluan sampai dengan tahun 2014. biaya gaji yang dihitung per tahun mengacu pada besaran gaji PNS. estimasi besaran satuan biaya untuk masing-masing komponen adalah sebagai berikut: 1. Per diem (uang harian dan penginapan) sebesar Rp. 5. dan insentif untuk penempatan di DTPK serta biaya orientasi yang mengacu pada biaya pra jabatan CPNS. PEMBIAYAAN UNTUK PENDAYAGUNAAN TENAGA KESEHATAN Pembiayaan dalam rangka pendayagunaan tenaga kesehatan mencakup biaya yang dibutuhkan untuk pemenuhan total kebutuhan tenaga kesehatan yaitu jumlah tenaga kesehatan yang sudah ada/tersedia dan jumlah kekurangan tenaga kesehatan. A. Biaya distribusi/penempatan tenaga kesehatan yang baru direkrut (satu kali per orang): a.- .b. Transport sebesar Rp.

2.200.500.000.500.000.500. 100.per bulan b. Biaya manajemen dan rekrutmen sebesar Rp.c..7.per bulan.per bulan b. Setara golongan II : 5 juta .per bulan 2) Setara golongan IIIb: Rp.2. Tenaga kesehatan setara D3 sebesar Rp.000.per bulan 3. Setara golongan III :6 juta b..per bulan 2) Setara golongan IIId: Rp. 4.... 2.000. Biaya gaji per tahun (mempertimbangkan kenaikan 15% per tahun): a. Biaya insentif yang dihitung untuk 30% dari total kebutuhan tenaga kesehatan di DTPK sebesar: a. 2. Gaji yang dihitung untuk tenaga kesehatan yang baru direkrut: 1) Setara golongan IIc: Rp..000.000.per bulan c.. 5. 2.000.700.000. Dokter Spesialis sebesar Rp. a. Biaya orientasi tenaga kesehatan yang baru direkrut sebanyak 1 (satu) kali per orang.000. 2. Dokter dan tenaga kesehatan setara S1 lainnya sebesar Rp.000. Gaji yang dihitung untuk tenaga kesehatan yang sudah ada/tersedia: 1) Setara golongan IId: Rp.

963.317.933.333 1.222 181.273.333 151.548.393.277.931.578.170.667 19.174.333 1.439.583.753.864.829.050.333 171.498.333.931.333.836.111 Orientasi 168.836.408.787.888.864.889 181.889 Tabel IX-2: Estimasi Biaya Pendayagunaan Tenaga Kesehatan Tahun 2013 Instansi RS pemerintah dan puskesmas RS TNI RS POLRI Jumlah Insentif 4.518.108.222 Tabel IX-3: Estimasi Biaya Pendayagunaan Tenaga Kesehatan Tahun 2014 Instansi RS pemerintah dan puskesmas RS TNI RS POLRI Jumlah Insentif 4.829.333 171.784.208.963.836.219.374.724.231.000 Penempatan 209.273.333 171.317.277.277.444 Gaji 14.787.667 14.944.000 Penempatan 209.333 1.554.570.600.784.750.864.474.176.346.823.333 1.760.000 Penempatan 209.051.715.667 17.050.474.575.333 1.715.578.333.750.333.512.556 154.680.778 1.939.006.273.931.670.778 1.667 Jumlah 16.000 36.444 Gaji 9.583.444 1.017.000 178.838.667 29.333.522.933.784.852.937.836.603.578.Berikut adalah estimasi pembiayaan untuk pemenuhan kebutuhan tenaga kesehatan tahun 2012 sampai dengan tahun 2014.535.518.000 Jumlah 19.111 Orientasi 168.000 3.058.333.333.444 Gaji 11.870.051.333 213.575.111 Orientasi 168.695.170.017.667 39.766.444 1.266.444 1.000 4.088.000 10.026.667 178.058.558.000 26.556 .000 46.333 213.823.346.333.205.000 4.000 12.333 Jumlah 14.017.944.718.750.333.191.051.604.154.000 14.933.667 49. Tabel IX-1: Estimasi Biaya Pendayagunaan Tenaga Kesehatan Tahun 2012 Instansi RS pemerintah dan puskesmas RS TNI RS POLRI Jumlah Insentif 3.518.680.333 1.880.787.273.374.944.963.778 1.333 213.039.429.583.

per tahun dengan masa pendidikan rata-rata 5 tahun 5.) sebesar Rp. 70. 20..per tahun dengan masa pendidikan rata-rata 3 tahun . Dokter gigi sebesar Rp.000.per tahun dengan masa pendidikan rata-rata 4 tahun 6.000.per tahun dengan masa pendidikan rata-rata 5 tahun 2.000.000.per tahun dengan masa pendidikan rata-rata 5 tahun 3.B.000. 15. 55. sanitarian. Komponen biaya pengadaan/pendidikan yang dihitung adalah biaya pendidikan rata-rata per orang per tahun untuk jenis tenaga kesehatan tertentu. 125. Sarjana Kesehatan Masyarakat sebesar Rp.. bidan.000. keteknisian medis dan keterapian fisik.... Apoteker sebesar Rp. PEMBIAYAAN PENGADAAN/PENDIDIKAN KESEHATAN UNTUK TENAGA Pembiayaan dalam rangka pengadaan/pendidikan tenaga kesehatan dihitung untuk mengisi kekurangan jumlah tenaga kesehatan serta untuk meningkatkan kapasitas produksi.000. asisten apoteker.000.000. Estimasi rata-rata satuan biaya pendidikan adalah sebagai berikut: 1.. Dokter umum sebesar Rp. 60. Diploma 3 (perawat.000.000. gizi.per tahun dengan masa pendidikan rata-rata 5 tahun 4.000. Dokter spesialis sebesar Rp.

000 1.575.996.817 5.000.000 2.635 3.000.481.000.604.475.155.000.956 5.000 28.000 777.000 2.000.000 1.838 14.080.024.445.503.480.000.892.375.000 2.000.000 326.321 244.550.592 18.000.444.407.248 2.000.000.000 4.098 20.190 12.000 Peningkatan Kapasitas DIknakes Peningkatan Jml Lulusan Nakes 8.000 97.000 84.475.000 656.000 146.000.000.360.055 7.273 Biaya 1.000.245.632 6.360.000.000 19.640.160.000.755.125.000 98.505 55.000 .Pada Tabel IX-4 di bawah ini dapat dilihat estimasi pembiayaan pendidikan tenaga kesehatan berdasarkan data jumlah kekurangan tenaga kesehatan sampai dengan tahun 2014: Tabel IX-4: Estimasi Pembiayaan Pendidikan Tenaga Kesehatan dan Peningkatan Kapasitas Pendidikan Tenaga Kesehatan Tahun 2011-2014 Pendidikan Nakes Jenis Tenaga Kesehatan Dokter Spesialis Dokter Dokter gigi Perawat Bidan Perawat gigi Apoteker Asisten Apoteker SKM Sanitarian Gizi Keterapian fisik Keteknisian Medis Jumlah Jml Lulusan Nakes 20112013 1.025 86.000.036.000.000 554.760.000.917 35.725.000.000.477 1.291 12.000 3.000.255 11.522 5.101 Biaya 549.000 227.000.

BAB V RENCANA PENGADAAN/PENDIDIKAN TENAGA KESEHATAN A.872 4.477 1.070 22. Pada Tabel V-1 berikut dapat dilihat rencana peningkatan kapasitas pengadaan/pendidikan tenaga kesehatan: Tabel V-1: Rencana Peningkatan Kapasitas Pengadaan/Pendidikan Tenaga Kesehatan Tahun 2014.036 46.634 29. SKM. perlu dilakukan pengurangan jumlah lulusan.425 9. Dari kebutuhan tenaga kesehatan yang perlu disediakan pada tahun 2014.917 Tahun 2019 Jumlah lulusan th 20142018 1. 2019 dan 2025 Tahun 2014 N o Jenis tenaga Kekurangan Dokter Spesialis Dokter umum Asisten Apoteker Sanitarian Gizi Keterapian fisik 9.716 37.402 54.074 101. guna menjamin pemenuhan kebutuhan tenaga kesehatan.381 10. maka diperoleh kekurangan/kelebihan tenaga kesehatan.984 66.725 4. yang secara nasional dihitung dengan memperhatikan target pencapaian status kesehatan dan menggunakan metode dengan nilai tertentu.864 64.291 12. perawat gigi.941 105.196 41.248 2. Dari perhitungan tersebut didapatkan kebutuhan tenaga kesehatan yang harus disediakan menurut jenis tenaga kesehatan untuk tahun 2014.707 29. 2019.230 35. PENYESUAIAN KAPASITAS PENDIDIKAN TENAGA KESEHATAN Pengadaan/pendidikan tenaga kesehatan merupakan komponen upaya yang penting dari pengembangan tenaga kesehatan.687 13.320 8. dan 2025.389 33.650 Peningkatan kapasitas pendidikan 40.137 Kekurangan 57. dengan cara antara lain: . dan 2025. dan keteknisian medis yang diperkirakan jumlah lulusannya melebihi kebutuhan. perawat.722 18.110 10. seperti telah dikemukakan dalam Bab IV.817 14.141 48.184 10.695 24.487 Tahun 2025 Jumlah lulusan th 20192024 2.107 Jumlah lulusan th 20112013 1.773 6.662 14.380 Peningkatan kapasitas pendidikan 55.098 20.753 131. apoteker.198 18.551 Kekurangan 42.D.830 34.632 6.325 59. 2019.592 5. dan berdasarkan ketersediaan tenaga kesehatan pada tahun 2010 serta mempertimbangkan jumlah lulusan tenaga kesehatan dan atrisi setiap tahunnya. Untuk memenuhi kekurangan tenaga kesehatan tertentu diperlukan peningkatan jumlah lulusan tenaga kesehatan melalui peningkatan kapasitas pendidikan.949 172.964 90.931 1 2 3 4 5 6 Untuk jenis tenaga kesehatan lainnya yaitu dokter gigi.771 140.409 75.190 Peningkatan kapasitas pendidikan 8. Dalam Bab IV telah dihitung kebutuhan tenaga kesehatan. bidan.055 7.956 5.060 3.

Dengan memperhatikan hal-hal tersebut di atas. standar kompetensi. efektif dan efisien dengan sistem kesehatan. Pengurangan penerimaan mahasiswa pada program studi yang memenuhi syarat akreditasi. akses dan pemerataan pendidikan tenaga Peningkatan akses dan pemerataan pendidikan tenaga kesehatan dilakukan melalui distribusi program studi. yaitu didasarkan pada standar pelayanan kesehatan. Penutupan program studi yang tidak memenuhi persyaratan akreditasi. Tidak memberikan ijin operasional baru untuk pembukaan program studi. maka sistem pendidikan tenaga kesehatan perlu disusun secara terarah dan menyeluruh. Standar pendidikan tenaga kesehatan harus sesuai dengan standar kompetensi yang dibutuhkan dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan. perizinan program studi baru yang didasarkan atas “trace & need assessment”. Penataan kerangka pendidikan tenaga kesehatan. Dalam penentuan standar pendidikan tenaga kesehatan perlu mendasarkan pada penguatan pendidikan tenaga kesehatan setelah diadakan tinjauan yang luas. Untuk itu. 2. Kualifikasi dan jumlah lulusan tenaga kesehatan perlu memperhatikan dengan seksama kebutuhan pembangunan kesehatan. 4. Peningkatan kesehatan. 2. baik di dalam negeri maupun permintaan dari luar negeri. dapat dijadikan landasan dalam peningkatan kualitas pendidikan dan kualitas lulusan tenaga kesehatan. dan standar pelayanan kesehatan. serta dikaitkan secara harmonis. 2. Kualitas lulusan tenaga kesehatan harus dapat diakui dalam pasar kerja pelayanan kesehatan. maka upaya peningkatan pengadaan/pendidikan tenaga kesehatan dilakukan melalui upaya sebagai berikut : 1. B. 3.1. 3. PENGEMBANGAN PENDIDIKAN TENAGA KESEHATAN Pengembangan pendidikan tenaga kesehatan perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1. Penataan kerangka pendidikan tenaga kesehatan meliputi penyusunan roadmap jenis dan jenjang pendidikan tenaga kesehatan dengan mendasarkan pada standar pendidikan. Dengan adanya standar pendidikan tenaga kesehatan. .

Penataan aset/sumber daya pendidikan tenaga kesehatan. . Pengembangan sistem penjaminan kualitas pendidikan tenaga kesehatan. Pengembangan sistem penjaminan mutu pendidikan tenaga kesehatan meliputi kualitas calon peserta didik. dan wahana pendidikan).3. kualitas dosen dan kualitas pengelolaan institusi. Penataan aset/sumber daya pendidikan tenaga kesehatan meliputi sumber daya manusia (jumlah dan kualifikasi dosen). serta sarana dan prasarana (sarana institusi. sarana pembelajaran. kualitas lulusan tenaga kesehatan. Dalam kerangka pengembangan sistem penjaminan kualitas pendidikan tenaga kesehatan ini dapat dikembangkan kerjasama dengan institusi pendidikan di luar negeri. 4.

pendidik. Pendayagunaan tenaga kesehatan di dalam negeri termasuk pula pendayagunaan tenaga kesehatan Warga Negara Asing (WNA). perlu memperhatikan kekurangan tenaga kesehatan di rumah sakit umum milik Kementerian Kesehatan dan Pemerintah Daerah. Pengembangan tenaga kesehatan pada hakekatnya berfokus pada pengembangan karir. Pemerataan tenaga kesehatan juga dilakukan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan sebagai administrator kesehatan. baik untuk memenuhi kebutuhan pada fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah maupun fasilitas pelayanan kesehatan swasta. Kekurangan tenaga kesehatan dihitung dengan memperhatikan kebutuhan dan ketersediaan tenaga kesehatan serta pengurangan (atrisi). PENDAYAGUNAAN TENAGA KESEHATAN DI DALAM NEGERI. yaitu proses berkelanjutan yang terutama terdiri dari perencanaan karir. Peningkatan pemerataan dan pemanfaatan tenaga kesehatan. Upaya pemenuhan tenaga kesehatan di wilayah tertentu dapat dilaksanakan dengan cara memobilisasi tenaga kesehatan antar wilayah secara terkoordinasi. dan tenaga pemberdayaan masyarakat. dan pelaksanaan peningkatan karir serta dukungan pengembangan karir. TNI dan POLRI serta Puskesmas. regulator. Peningkatan karir dan profesionalisme tenaga kesehatan diupayakan melalui penyelenggaraan pendidikan berkelanjutan. Pendayagunaan tenaga kesehatan dalam kaitannya dengan peningkatan pemerataan dan pemanfaatannya diselenggarakan guna mengisi kekurangan tenaga kesehatan. utamanya dalam rangka pemerataan tenaga kesehatan dilaksanakan sesuai dengan rencana kebutuhan tenaga kesehatan. Pendayagunaan tenaga kesehatan. Sedangkan pendayagunaan tenaga kesehatan ke luar negeri adalah dalam kerangka pemenuhan permintaan tenaga kesehatan dari luar negeri dan penciptaan lapangan kerja yang lebih luas bagi tenaga kesehatan. Pendayagunaan tenaga kesehatan mencakup pendayagunaan tenaga kesehatan di dalam negeri dan di luar negeri. Pendayagunaan tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan pemerintah. 1. baik individual maupun organisasional. Pemerataan dan Pemanfaatan a. peneliti. A.BAB VI PENDAYAGUNAAN TENAGA KESEHATAN Pendayagunaan tenaga kesehatan adalah upaya pemerataan dan pemanfaatan serta pengembangan tenaga kesehatan. Kekurangan tersebut dapat dilihat pada Tabel VI-1 berikut: .

299 1.581 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Jenis Tenaga Dokter Spesialis Dokter Umum Dokter Gigi Keperawatan Apoteker Asisten Apoteker SKM Sanitarian Gizi Keterapian Fisik Keteknisian Medis Catatan: Kebutuhan merupakan perhitungan dengan menggunakan standar ketenagaan pada fasilitas kesehatan.850 2025 Kebutuhan 23.480 2.284 2.007 2.422 10.879 Kekurangan 1.119 Kekurangan 10.472 2. dan 2025 Jenis Tenaga 2014 Kebutuhan TNI 1 2 3 4 5 Dokter Spesialis Dokter Umum Dokter Gigi Keperawatan Apoteker 550 1400 600 1870 230 POLRI 36 40 13 430 20 Kekurangan TNI 135 240 50 120 50 POLRI 36 40 13 430 20 Kebutuhan TNI 800 1500 700 1200 255 POLRI 72 80 26 516 30 2019 Kekurangan TNI 160 170 140 60 90 POLRI 108 120 39 602 40 Kebutuhan TNI 900 1600 800 2500 300 POLRI 108 120 39 602 40 2025 Kekurangan TNI 185 195 90 150 65 POLRI 108 120 39 602 40 N O .418 4.619 3.244 967 978 978 2. 2019 dan 2025 2014 Kebutuhan 8.137 3.682 Kekurangan 8.524 2.785 140.748 1.568 1.618 1.561 3. 2019.109 7.007 64.076 1.007 1.785 4.684 4.238 902 929 929 2.639 929 87.504 34.626 4.029 4.363 15.080 1.183 978 60.524 183.054 8.792 889 2019 Kebutuhan 18.697 17.524 6.479 20.785 1. Tabel VI-2: Kebutuhan dan Kekurangan Tenaga Kesehatan Di Fasilitas Kesehatan/ Rumah Sakit TNI/ Rumah sakit Bhayangkara Polri Tahun 2014.108 2.Tabel VI-1: Kebutuhan dan Kekurangan Tenaga Kesehatan Di Rumah Sakit Umum Milik Kementerian Kesehatan Dan Pemerintah Daerah Tahun 2014.943 994 1.022 1.038 6.622 3.

2010 .6 Asisten Apoteker SKM Sanitarian Gizi Keterapian Fisik Keteknisian Medis 650 150 120 120 100 150 30 15 45 45 45 45 80 35 60 60 60 60 30 15 45 45 45 45 680 160 130 130 110 125 45 25 48 48 48 48 30 50 50 50 50 50 60 30 51 51 51 51 850 175 145 145 125 135 60 30 51 51 51 51 110 35 55 55 55 55 60 30 51 51 51 51 7 8 9 10 11 Sumber: Pusdokkes Polri. 2010 Kesehatan Kemhan dan TNI.

558 8.005 Kekurangan 3.137 8.558 8.925 9.005 9.638 3. Tabel VI-4: Kebutuhan dan Kekurangan Tenaga Kesehatan di Kantor Kesehatan Pelabuhan Tahun 2014.248 1.473 8.515 2.111 8.197 4.225 2.111 8.774 3.111 220.005 240.847 2.479 88.636 837 24.005 9.558 8.111 8.005 9.005 9.768 837 837 837 837 837 837 Catatan: Kebutuhan merupakan perhitungan dengan menggunakan standar ketenagaan pada fasilitas kesehatan.558 230.994 2019 Kebutuhan 53.920 9.558 8.558 Kekurangan 43. 2019 dan 2025 NO Jenis Tenaga 2014 Kebutuhan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Dokter Umum Dokter Gigi Keperawatan Apoteker Asisten Apoteker SKM Sanitarian Gizi Keterapian Fisik Keteknisan Medis 11.681 2. 2019 dan 2025 NO Jenis Tenaga 2014 Kebutuhan 1 2 3 4 5 6 7 8 S2 Kesmas Dokter Umum S1 Kesmas D3 Kesling D3 Keperawatan Apoteker D3 Farmasi D3 Analis Kesehatan 229 344 281 653 653 88 32 56 Kekurangan 2019 Kebutuhan 249 359 294 678 678 94 37 57 Kekurangan 2025 Kebutuhan 315 443 364 863 863 118 49 69 Kekurangan .026 8.097 679 20.Tabel VI-3: Kebutuhan dan Kekurangan Tenaga Kesehatan di Puskesmas Tahun 2014.531 8.305 7.230 679 679 679 679 679 679 2025 Kebutuhan 98.111 8.111 Kekurangan 52.

dengan sudah dilaksanakannya program internship dokter. Prajurit TNI. . anggota TNI dan POLRI. Khusus untuk tenaga dokter. Khusus untuk DTPK. maupun penugasan khusus. tidak terbatas pada tenaga dokter. PNS Kemhan dan Pegawai Negeri pada POLRI dilaksanakan dengan memperhatikan kemampuan keuangan Negara. 1) Pengangkatan PNS. ke depan akan dapat menggantikan pengangkatan dokter sebagai PTT. Pengangkatan tenaga kesehatan sebagai PTT diupayakan dapat diperluas. Ikatan dinas ini dapat juga dilaksanakan untuk non penduduk DTPK. sejauh pasca pendidikan yang bersangkutan bersedia diangkat sebagai PNS dan ditempatkan di DTPK dalam waktu yang telah ditetapkan. dan otomatis diangkat sebagai PNS di daerah asal. baik dalam kenaikan pangkat. baik material maupun non material. Dengan demikian. pemerintah juga perlu memberikan imbalan/insentif khusus. PNS Kemhan dan Pegawai Negeri pada POLRI. dalam jangka panjang dapat ditempuh ikatan dinas untuk pendidikan tenaga kesehatan bagi penduduk setempat. dan pendidikan berkelanjutannya. dokter gigi dan bidan saja. Prajurit TNI. Untuk menjamin retensi tenaga kesehatan di DTPK.9 D3 Radiologi 32 37 49 Pendayagunaan tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan pemerintah dapat dilakukan sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Dalam kondisi masih terbatasnya formasi PNS. 2) Pegawai Tidak Tetap (PTT). pengangkatan tenaga kesehatan sebagai PTT masih dilakukan. pegawai tidak tetap (PTT). Untuk memenuhi tenaga kesehatan di daerah tertinggal. pengangkatan tenaga kesehatan sebagai PNS. kenaikan gaji berkala. pengembangan karir. dengan kewajiban untuk kembali ke tempat tugas asal dalam waktu masa bakti yang ditentukan. Tenaga kesehatan sebagai PNS diperhatikan pengembangan karirnya ke depan. 3) Penugasan khusus. perbatasan dan kepulauan (DTPK) diupayakan untuk diangkat sebagai PNS dan dapat melanjutkan pendidikan dengan bantuan pembiayaan dari pemerintah (tugas belajar).

Dalam menjamin kesinambungan pelayanan kesehatan utamanya di DTPK dan daerah yang tidak diminati. maka selain berbagai upaya tersebut diatas. Besaran insentif dapat ditentukan berdasarkan tingkat keterpencilan atau tingkat kesulitan lokasi penugasan serta kinerja atau luaran pekerjaan yang ditargetkan. . Tim tenaga kesehatan di RS lapangan. serta peningkatan kesehatan dan keselamatan lingkungan kerja.Untuk memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan di DTPK dan daerah bermasalah kesehatan (DBK). 4) Inovasi pendayagunaan lainnya Sebagai upaya distribusi/pemerataan dan pemanfaatan tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah dalam rangka peningkatan akses masyarakat kepada pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau. bantuan pendidikan (bea siswa). Prinsip dalam pemberian insentif mencakup besaran yang memadai. Imbalan non material antara lain berupa lingkungan kerja yang kondusif termasuk upaya peningkatan sarana dan prasarana di fasilitas pelayanan kesehatan di DTPK. Pemerintah mengupayakan sistem imbalan baik material maupun non material yang memadai sesuai dengan kondisi daerah penempatan. 1) Pemberian insentif Jenis insentif mencakup material dan non material. Dokter Terbang. Inovasi pendayagunaan antara lain dalam melayani daerah pegunungan dan kepulauan yang sulit dijangkau dan penduduknya tersebar. pemberian kewenangan tambahan terbatas untuk tenaga kesehatan di daerah terpencil/ sangat terpencil. Pemerintah mengupayakan adanya kesamaan perlakuan termasuk imbalan yang diperoleh antara tenaga kesehatan yang sudah ada sebagai PNS di DTPK dengan tenaga kesehatan dengan penugasan khusus. Insentif material diharapkan tidak terbatas diberikan pada tenaga kesehatan kontrak seperti PTT dan penugasan khusus namun juga pada tenaga kesehatan PNS. merata dan berkeadilan. Insentif non material lainnya adalah penghargaan sebagai tenaga kesehatan teladan. dapat disalurkan dan dimonitor. dapat dibentuk Tim Mobile. maupun kontrak tenaga kesehatan atas dasar kinerja atau output tertentu. dalam situasi keterbatasan formasi PNS. upaya retensi perlu dilakukan yang antara lain meliputi pemberian insentif. dilakukan dengan cara penugasan khusus. pemerintah pusat dan daerah dapat melakukan berbagai inovasi pendayagunaan tenaga kesehatan.

Di era globalisasi dengan berlakunya pasar bebas termasuk jasa di bidang kesehatan. pendayagunaan tenaga kesehatan Warga Negara Asing. Pemberian kewenangan tambahan terbatas bagi tenaga kesehatan yang melaksanakan praktik kesehatan diluar kewenangannya di daerah terpencil. 4) Peningkatan kesehatan dan keselamatan lingkungan kerja Masalah keamanan di tempat tugas yang berisiko pada kesehatan dan keselamatan jiwa perlu mendapatkan perhatian. Swasta juga harus mengembangkan dan menerapkan pola penggajian dan pengembangan karir tenaga kesehatan. selain bertujuan untuk peningkatan tenaga kesehatan secara jumlah. Pendayagunaan tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan swasta. c. juga dimaksudkan sebagai bagian dari insentif non material. mutu dan jenis. dapat dilaksanakan. Pemerintah dapat memfasilitasi upaya pemenuhan tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan swasta dengan kriteria yang telah ditetapkan. Pendayagunaan tenaga kesehatan Warga Negara Asing (WNA). 3) Pemberian kewenangan tambahan terbatas bagi tenaga kesehatan (privileging policy). perbatasan dan kepulauan (DTPK) sebagai bentuk perlindungan hukum bagi tenaga kesehatan untuk waktu tertentu dimana tidak ada tenaga kesehatan yang berwenang. Pengembangan Karir . Swasta melakukan rekrutmen dan penempatan tenaga kesehatan sesuai kebutuhannya.2) Bantuan pendidikan (bea siswa) Bantuan pendidikan yang disertai kewajiban menunaikan masa bakti pasca pendidikan selama waktu tertentu. 2. Pendayagunaan tenaga kesehatan WNA ini harus benar-benar memperhatikan kebutuhan dan diutamakan untuk jenis tenaga kesehatan yang terbatas pengadaannya di dalam negeri. serta adanya sistim imbalan baik material maupun non material yang memadai sesuai dengan jenis dan tempat tugas tenaga kesehatan. Asuransi kesehatan dan asuransi kecelakaan. b. Pengembangan Tenaga Kesehatan a. Untuk menjamin mutu dari pendayagunaan tenaga kesehatan Warga Negara Asing tersebut perlu dilakukan pengawasan pemanfaatannya. tertinggal. perlu dipertimbangkan untuk tenaga kesehatan yang bertugas di tempat kerja yang berisiko tersebut.

yang dilaksanakan dengan memperhatikan keserasian antara kebutuhan tenaga kesehatan di dalam negeri dan kemampuan pengadaannya. B. pendidikan dan pelatihan teknis terkait jabatan fungsional. Pendidikan berkelanjutan Pendidikan berkelanjutan merupakan suatu upaya sistematis untuk meningkatkan profesionalisme tenaga kesehatan. Di masa mendatang . 3) Prinsip objektifitas dan berkeadilan: bahwa pengembangan karir harus menjamin kesesuaian dengan alur karir yang telah ditetapkan dan memberikan kesempatan yang sama kepada PNS yang memiliki kompetensi yang sama. Dalam hal ini pendayagunaan tenaga kesehatan diutamakan pada pemenuhan kebutuhan dalam negeri. Pendayagunaan tenaga kesehatan juga dilakukan dalam kerangka pemenuhan permintaan tenaga kesehatan dari luar negeri. serta pendidikan dan pelatihan penjenjangan. In-service training sendiri lebih difokuskan kepada kompetensi khusus dari tenaga kesehatan tersebut. In-service training In-service training merupakan pelatihan jangka pendek bagi pegawai yang sudah bekerja. Pemerintah melakukan pembinaan dan pengawasan pendayagunaan tenaga kesehatan ke luar negeri yang dilakukan melalui PPTKIS. pemerintah daerah dan swasta mengembangkan dan menerapkan pola karir tenaga kesehatan yang dilakukan secara transparan. c. Pengembangan karir yang berkaitan dengan PNS dilaksanakan dengan mengacu pada prinsip penyusunan pola karir PNS yaitu: 1) Prinsip profesionalisme: bahwa pengembangan karir didasarkan pada kompetensi dan prestasi 2) Prinsip terbuka: bahwa dimungkinkan perpindahan secara instansional maupun lintas instansi. b. PENDAYAGUNAAN TENAGA KESEHATAN DI LUAR NEGERI. Upaya sistematis tersebut mencakup peningkatan kompetensi yang mengarah pada spesialisasi profesi tertentu. Pemerintah/Pemerintah Daerah bersama organisasi profesi dan swasta mengupayakan penyelenggaraan pendidikan berkelanjutan dalam rangka peningkatan karir dan profesionalisme tenaga kesehatan. Pelatihan ini bertujuan untuk mempertahankan serta meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan sehingga berdampak pada kinerja individu yang pada akhirnya dapat meningkatkan mutu pelayanan.Pemerintah. terbuka dan lintas institusi melalui jenjang jabatan struktural dan jabatan fungsional.

Pemerintah melakukan pembinaan dan pengawasan dalam pemanfaatan tenaga kesehatan di luar negeri. .pemenuhan permintaan tenaga kesehatan dari luar negeri diarahkan melalui kerjasama antar pemerintahan (Government to Government). dalam mewujudkan atau melindungi hak-hak dan hak asasi tenaga kesehatan di luar negeri.

proses dan luaran (output) dari penyelenggaraan pembinaan tenaga kesehatan yang meliputi administrasi. jabatan dan pemberian penghargaan baik materiil maupun non materiil sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. yang dilaksanakan dengan memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.BAB VII PEMBINAAN DAN PENGAWASAN MUTU TENAGA KESEHATAN A. Pembinaan profesi tenaga kesehatan dilaksanakan melalui bimbingan. tenaga kerja kesehatan Indonesia (TKKI) yang bekerja di luar negeri. diperlukan suatu institusi independen yang berfungsi . pendidikan dan pelatihan berkelanjutan termasuk continuing professional development. serta mengawasi pengembangan tenaga kesehatan. yang dilakukan melalui pembinaan karir. Kegiatan pembinaan pada institusi. ditekankan pada asupan (input). teknis/substansi. serta penetapan standar profesi tenaga kesehatan. dan pembinaan etika profesi. Pembinaan tenaga kesehatan dapat dilakukan secara langsung/aktif dengan mengunjungi objek yang menjadi sasaran pembinaan. Pembinaan tenaga kesehatan sebagai individu dilakukan baik untuk tenaga kesehatan di dalam negeri. penegakan disiplin dan pembinaan profesi tenaga kesehatan. institusi pendidikan dan pelatihan. Untuk mengantisipasi diberlakukannya pasar bebas termasuk dalam sektor jasa. Pembinaan tenaga kesehatan dimulai dari institusi yang menggunakan/mendayagunakan tenaga kesehatan baik di fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah maupun swasta. Pembinaan tenaga kesehatan terhadap individu tenaga kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kinerja dan pengabdian profesi tenaga kesehatan. memberikan dukungan. Pembinaan profesi tenaga kesehatan diarahkan untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah bersama dengan organisasi profesi. PEMBINAAN TENAGA KESEHATAN Pembinaan tenaga kesehatan adalah upaya untuk mengarahkan. dan tenaga kesehatan sebagai individu. Penegakan disiplin tenaga kesehatan menjadi tanggung jawab penyelenggara dan/atau pimpinan institusi/fasilitas/sarana kesehatan yang bersangkutan. maupun secara tidak langsung yaitu dengan melakukan pengujian dan analisis atas laporan penyelenggaraan pembinaan tenaga kesehatan oleh institusi yang menggunakan/mendayagunakan tenaga kesehatan. fisik. Pembinaan karir tenaga kesehatan meliputi kenaikan pangkat. pusat/lembaga penelitian. maupun tenaga kesehatan warga negara asing (TKWNA) yang bekerja di Indonesia. instansi pemerintah.

Pengawasan praktik profesi bagi tenaga kesehatan profesi dilakukan melalui sertifikasi. Pengawasan mutu tenaga kesehatan adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas tenaga kesehatan sesuai kompetensi yang diharapkan dan pengetahuan serta keterampilan di bidangnya sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan pengawasan untuk tenaga kesehatan lainnya dilakukan oleh Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia (MTKI) di tingkat pusat dan Majelis Tenaga Kesehatan Provinsi (MTKP) di daerah. dilakukan oleh institusi independen yang disebut Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) yang berada di bawah Konsil Kedokteran Indonesia (KKI). instansi pemerintah. Untuk pengawasan keprofesian tenaga dokter dan dokter gigi. B. dan mengawasi tenaga kesehatan dalam rangka menjamin mutu tenaga kesehatan guna melindungi hak-hak masyarakat dan hak-hak tenaga kesehatan. Pengawasan keprofesian tenaga kefarmasian dilakukan oleh Komite Farmasi Nasional (KFN) yang berwenang menentukan ada tidaknya kesalahan yang dilakukan apoteker dalam penerapan disiplin ilmu kefarmasian serta menetapkan sanksi disiplin. PENGAWASAN MUTU TENAGA KESEHATAN Pengawasan mutu tenaga kesehatan diarahkan untuk memberikan dukungan. institusi yang menggunakan/ mendayagunakan tenaga kesehatan baik di fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah maupun swasta. Dalam rangka penegakan hukum sesuai peraturan perundangan yang berlaku. khususnya bagi tenaga kesehatan yang berstatus Pegawai Negeri Sipil/PNS. institusi pendidikan dan pelatihan. perlu dikembangkan dan ditingkatkan kembali Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS). registrasi. MKDKI berwenang menentukan ada tidaknya kesalahan yang dilakukan dokter dan dokter gigi dalam penerapan disiplin ilmu kedokteran dan kedokteran gigi serta menetapkan sanksi disiplin. dan pemberian lisensi bagi tenaga kesehatan yang memenuhi syarat. Hasil dari pembinaan untuk selanjutnya dipakai sebagai bahan analisis guna penyusunan kebijakan baik untuk memperbaiki kebijakan yang sudah ada atau menyusun kebijakan baru sesuai situasi dan kondisi yang dihadapi. maupun untuk pemenuhan hak-hak tenaga kesehatan. pusat/ lembaga penelitian.untuk membina dan mengawasi tenaga kesehatan asing yang bekerja di Indonesia. uji kompetensi. baik bagi pemenuhan hak-hak masyarakat akan pelayanan kesehatan yang berkualitas. Pengawasan mutu tenaga kesehatan dimulai dari institusi yang menghasilkan/ memproduksi tenaga kesehatan. dan tenaga kesehatan sebagai individu. .

pemerintah dapat melimpahkannya kepada KKI.Sertifikasi tenaga kesehatan diberikan dalam bentuk ijazah oleh institusi pendidikan tenaga kesehatan. Dalam pelaksanaan registrasi. dan MTKP. . setelah mendapatkan rekomendasi dari organisasi profesi terkait. Perizinan/lisensi tenaga kesehatan profesi untuk melaksanakan praktik diberikan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota yang dalam pelaksanaannya dilakukan oleh instansi kesehatan di wilayah bersangkutan. Hasil dari pengawasan mutu tenaga kesehatan selanjutnya digunakan sebagai bahan analisis dalam penyusunan kebijakan. baik memperbaiki kebijakan yang sudah ada atau menyusun kebijakan baru sesuai situasi dan kondisi yang dihadapi. MTKI. diberikan oleh Pemerintah yang dapat dilimpahkan kepada Pemerintah Daerah. Registrasi tenaga kesehatan untuk dapat melakukan praktik profesi di seluruh wilayah Indonesia. KFN. dan sertifikat kompetensi diberikan oleh pemerintah setelah dinyatakan lulus uji kompetensi yang dilaksanakan oleh organisasi profesi terkait.

A. Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat melaksanakan sosialisasi Rencana Pengembangan Tenaga Kesehatan. . 2. Sasaran sosialisasi adalah semua penentu kebijakan dan penanggung jawab kegiatan pengembangan tenaga kesehatan. integrasi dan sinergisme antar para pemangku kepentingan dalam pengembangan tenaga kesehatan. perlu ditetapkan sebagai produk peraturan perundangundangan yang mempunyai kepastian hukum yang mengikat sebagai pedoman atau acuan bagi semua pemangku kepentingan. dan masyarakat termasuk swasta. baik di lingkungan pemerintah secara lintas sektor. PROSES PENYELENGGARAAN RENCANA PENGEMBANGAN TENAGA KESEHATAN Penyelenggaraan Rencana Pengembangan Tenaga Kesehatan perlu menerapkan prinsip-prinsip koordinasi.BAB VIII PENYELENGGARAAN PENGEMBANGAN TENAGA KESEHATAN Rencana Strategis Pengembangan Tenaga Kesehatan telah disusun berdasarkan keadaan dan masalah yang dihadapi dewasa ini. cepat berubah dan sering tidak terduga. guna memperoleh komitmen dan kontribusi/dukungan dalam penyelenggaraan pengembangan tenaga kesehatan. maka penyelenggaraan Rencana Pengembangan Tenaga Kesehatan dilaksanakan melalui proses : 1. dan perkiraan keadaan kedepan sampai tahun 2025. Penetapan Rencana Pengembangan Tenaga Kesehatan Rencana Pengembangan Tenaga Kesehatan yang merupakan acuan bagi semua pemangku kepentingan dalam penyelenggaraan pengembangan tenaga kesehatan. Sosialisasi Rencana Pengembangan Tenaga Kesehatan Rencana Pengembangan Tenaga Kesehatan perlu disosialisasikan kepada semua pemangku kepentingan. Namun demikian bila terjadi perubahan lingkungan strategis yang memang bertambah kompleks. maka rencana ini perlu disesuaikan sesuai keperluannya. Sehubungan dengan hal tersebut di atas.

Evaluasi Rencana Pengembangan Tenaga Kesehatan Evaluasi Rencana Pengembangan Tenaga Kesehatan Tahun 2011 . Fasilitasi Penyelenggaraan Rencana Pengembangan Tenaga Kesehatan Agar penyelenggaraan pengembangan tenaga kesehatan dapat lebih terarah dalam mencapai tujuan dan sasaran seperti tercantum dalam Rencana Pengembangan Tenaga Kesehatan. Bab VI: Pendayagunaan Tenaga Kesehatan. baik pemerintah secara lintas sektor termasuk pemerintah daerah dan masyarakat termasuk swasta. 2. serta pelaksanaan upaya atau kegiatan pada Bab V: Rencana Pengadaan/Pendidikan Tenaga Kesehatan. B. Misi. dan Strategi. para pemangku kepentingan melakukan peran dan berkontribusi dalam pengembangan tenaga kesehatan sebagai berikut : RENCANA PENGEMBANGAN TENAGA . dan 2025 yang tercantum dalam Bab III: Visi.2025 dilakukan sebagai berikut : 1. Evaluasi Rencana Pengembangan Tenaga Kesehatan Tahun 2011-2025 dilakukan dengan menilai pencapaian sasaran atau target yang telah ditetapkan untuk tahun 2014. 2019 dan 2025. Dalam operasionalnya. 2019. yang dilaksanakan pada akhir tahun 2014. Tujuan. 4. dan Bab VII: Pembinaan dan Pengawasan Mutu Tenaga Kesehatan. Penilaian tahapan lima tahunan. Penilaian tengah periode lima tahunan yang dilaksanakan pada tahun 2017 dan 2023. Evaluasi Rencana Pengembangan Tenaga Kesehatan Tahun 2011 . Sesuai dengan tugas.2025 ditujukan untuk mengetahui kemajuan dan keberhasilan upaya pengembangan Tenaga Kesehatan selama kurun waktu 2011 . Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat dibantu oleh Tim Koordinasi dan Fasilitasi Pengembangan Tenaga Kesehatan yang dibentuk di pusat dan provinsi. fungsi serta kewenangannya masing-masing.3. Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat melakukan fasilitasi sesuai keperluannya.2025. Sasaran Strategis. PENYELENGGARAAN KESEHATAN Penyelenggaraan Rencana Pengembangan Tenaga Kesehatan ini merupakan tanggung jawab semua komponen bangsa.

2. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR): sebagai pembahas dan mengesahkan peraturan perundangan dan kebutuhan anggaran dalam pelaksanaan pengembangan tenaga kesehatan. pemerintah daerah provinsi dan pemerintah daerah kabupaten/kota. Kemenkes juga melaksanakan dan mengkoordinasikan penyusunan kebijakan dan NSPK (norma.1. baik jumlah maupun jenisnya guna penyelenggaraan pembangunan kesehatan dan pelayanan kesehatan bagi rakyat. prosedur dan kriteria) pengembangan tenaga kesehatan yang meliputi perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan. baik di provinsi maupun kabupaten/kota. Perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan a. Kementerian Keuangan (Kemenkeu): mengupayakan ketersediaan anggaran untuk mendukung pengembangan tenaga kesehatan. Sektor lainnya dalam pemerintahan termasuk TNI/POLRI dan Pemerintah Daerah serta swasta memberikan masukan dalam penyusunan kebijakan dan NSPK (norma. pendayagunaan tenaga kesehatan. Pengadaan/pendidikan tenaga kesehatan a. Dukungan pengembangan tenaga kesehatan a. standar. serta pembinaan dan pengawasan mutu tenaga kesehatan. pendayagunaan tenaga kesehatan. Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Kemenkokesra): mengkoordinasikan dan menyerasikan peran dan kontribusi semua pemangku kepentingan dalam pengembangan tenaga kesehatan. . prosedur dan kriteria) pengembangan tenaga kesehatan yang meliputi perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan. Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) : mengkoordinasikan dan bertanggung jawab dalam pengadaan/pendidikan tenaga kesehatan. c. Kementerian Kesehatan (Kemenkes): mengkoordinasikan dan melaksanakan perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan. c. serta swasta memberikan masukan dan usulan kebutuhan tenaga kesehatan. b. baik jumlah maupun jenisnya sesuai dengan kebutuhan tenaga kesehatan untuk penyelenggaraan pembangunan kesehatan dan pelayanan kesehatan bagi rakyat. d. 3. Kementerian Dalam Negeri: mengkoordinasikan dan melakukan pembinaan terhadap Pemerintah Daerah dalam pengembangan tenaga kesehatan di daerah. standar. d. serta pembinaan dan pengawasan mutu tenaga kesehatan. Sektor lainnya dalam pemerintahan termasuk TNI/POLRI. b.

prosedur dan kriteria) pengembangan tenaga kesehatan yang menyangkut pengadaan/ pendidikan tenaga kesehatan. yang dapat dipergunakan sebagai acuan dalam penyusunan standar kompetensi dan standar pendidikan tenaga kesehatan. Kemenkes memfasilitasi rekrutmen tenaga kesehatan yang dilakukan oleh semua pemangku kepentingan pengembangan tenaga kesehatan. b. d.b. MTKI. e. Kemendagri melakukan pembinaan terhadap pemerintah daerah provinsi dan pemerintah daerah kabupaten/kota dalam distribusi dan pemnfaatan tenaga kesehatan di daerah. 5. Kemenkes melakukan koordinasi dalam penyusunan standar pelayanan kesehatan. Kemenkes bekerjasama dengan KKI. Semua pemangku kepentingan dalam pengembangan tenaga kesehatan. Kemendiknas melaksanakan pembinaan dan pengawasan terhadap institusi pendidikan tenaga kesehatan. c. baik pemerintah secara lintas sektor termasuk TNI dan POLRI dan swasta sebagai pengguna tenaga kesehatan. standar. Kemenkes memberikan rekomendasi teknis sesuai bidangnya dalam pemberian izin pembukaan institusi pendidikan dan program studi tenaga kesehatan kepada Kemendiknas. termasuk pengaturan dalam perizinan pembukaan institusi pendidikan dan program studi tenaga kesehatan. Pembinaan dan pengawasan mutu tenaga kesehatan a. Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB) berkoordinasi dengan Badan Kepegawaian Negara (BKN) dalam penyediaan formasi Pegawai Negeri Sipil (PNS) untuk memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan. organisasi profesi kesehatan. melaksanakan pengembangan karir tenaga kesehatan termasuk “continuing professional development”. d. Pendayagunaan tenaga kesehatan a. 4. KFN. asosiasi institusi pendidikan tenaga kesehatan dan asosiasi fasilitas pelayanan kesehatan melaksanakan pembinaan dan pengawasan mutu tenaga kesehatan. . Kemenkes dan Kemennakertrans bekerja sama dalam rangka pendayagunaan tenaga kerja kesehatan Indonesia (TKKI) untuk pemenuhan permintaan tenaga kesehatan dari luar negeri. baik pemerintah secara lintas sector termasuk TNI/POLRI dan masyarakat termasuk swasta. Kemendiknas juga melaksanakan dan mengkoordinasikan penyusunan kebijakan dan NSPK (norma. c.

b) pelaksanaan sistem informasi tenaga kesehatan yang meliputi data. Kerjasama ini perlu mencakup pula pembinaan dan pengawasan mutu TKKI yang bekerja di luar negeri. Kemenkes bekerjasama dengan Kemennakertrans melakukan pembinaan dan pengawasan mutu TKKI dan pengawasan terhadap TKWNA. diupayakan dalam kerjasama antar pemerintahan (Government to Government). asosiasi institusi pendidikan tenaga kesehatan dan asosiasi fasilitas pelayanan kesehatan melaksanakan pembinaan dan pengawasan terhadap institusi pendidikan tenaga kesehatan melalui kegiatan akreditasi. Kerjasama internasional dalam pendidikan tenaga kesehatan dapat dilakukan antara institusi pendidikan tenaga kesehatan di Indonesia dengan institusi pendidikan tenaga kesehatan di Negara lain. informasi dan indikator. SUMBER DAYA PENGEMBANGAN TENAGA KESEHATAN Dalam penyelenggaraan pengembangan tenaga kesehatan diperlukan sumber daya yang memadai. KKI. c.b. sumber data dan pengumpulan. serta e) peningkatan produk. utamanya dalam pengiriman TKKI ke negara lain. Kerjasama internasional dalam pendayagunaan tenaga kesehatan. pengolahan. desiminasi dan penggunaan data dan informasi tenaga kesehatan. . utamanya sumber daya manusia. MTKI. Khusus untuk pengadaan sistem informasi tenaga kesehatan meliputi: a) pengelolaan sistem informasi tenaga kesehatan. Dalam hal ini Kemenkes berkoordinasi dengan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) dalam melakukan kerjasama dengan negara lain. KERJASAMA INTERNASIONAL Kerjasama internasional dalam pengembangan tenaga kesehatan dapat dilaksanakan dalam pengadaan/pendidikan tenaga kesehatan. KFN. organisasi profesi kesehatan. D. sistem informasi tenaga kesehatan dan pembiayaan serta sumber daya lainnya. peran dan kontribusinya dalam pengembangan tenaga kesehatan. Kemendiknas bekerjasama dengan Kemenkes. dengan koordinasi Kementerian Pendidikan Nasional. Semua pemangku kepentingan dalam pengembangan tenaga kesehatan mengupayakan ketersediaan sumber daya termaksud untuk melaksanakan kegiatan. d) pengembangan dan peningkatan sistem informasi tenaga kesehatan. pendayagunaan tenaga kesehatan. serta pembinaan dan pengawasan mutu tenaga kesehatan. C. penyajian serta analisa data dan informasi tenaga kesehatan.

karena hal ini merupakan suatu mata rantai sistem dimana apabila salah satu komponen pemangku kepentingan tidak melaksanakan tugas dan fungsinya akan berpengaruh terhadap sistem secara keseluruhan. Dalam pelaksanaannya seluruh pemangku kepentingan perlu memegang teguh prinsip-prinsip yang tertuang dalam dokumen ini sesuai dengan tugas dan fungsinya. masyarakat termasuk swasta yang memiliki kepentingan terhadap pengembangan tenaga kesehatan.BAB X PENUTUP Tujuan pembangunan kesehatan hanya dapat dicapai apabila didukung oleh tersedianya tenaga kesehatan yang memadai baik jumlah. Keberhasilan dari rencana pengembangan tenaga kesehatan ini sangat dipengaruhi oleh kompetensi dan komitment dari masing-masing pemangku kepentingan. tetapi juga harus realistis disesuaikan dengan kemampuan sumberdaya manusia. . pendayagunaan serta pembinaan dan pengawasan mutu adalah merupakan suatu rangkaian yang bertujuan untuk mendukung suksesnya pembangunan kesehatan secara nasional. Pengembangan tenaga kesehatan yang meliputi Perencanaan. Dengan disusunnya rencana pengembangan tenaga kesehatan ini diharapkan dapat mewujudkan sinergisme dan upaya yang saling mendukung serta melengkapi antara pemerintah. jenis maupun mutunya. pengadaan. Penyusunan rencana pengembangan tenaga kesehatan tahun 2011 – 2025 merupakan rencana jangka panjang dengan maksud memberikan arah dan acuan bagi seluruh pemangku kepentingan dalam pengembangan dan pemberdayaan tenaga kesehatan secara komprehensif dan menyeluruh. ketersediaan dana maupun sumberdaya lainnya. Rencana pengembangan tenaga kesehatan ini disusun dengan segala keterbatasan yang masih memerlukan penyempurnaan lebih lanjut sesuai perkembangan situasi dan kondisi di lapangan dan akan dievaluasi secara berkala. serta kondisi lingkungan.

9. Undang-Undang No. Peraturan 12. Kabupaten/Kota serta Rumah Sakit. 374 Tahun 2009 Tentang Sistem Kesehatan Nasional. Keputusan Menteri Pertahanan Keamanan Nomor : Kep/05/V/1996 Tentang Pokok-Pokok Pembinaan Pegawai Negeri Sipil Departemen Pertahanan Dan Keamanan Dan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia Sebagaimana Telah Dirubah Dengan Peraturan Menteri Pertahanan Nomor 09 Tahun 2009 Tentang Pokok-Pokok Pembinaan Pegawai Negeri Sipil Departemen Pertahanan. . 6. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit. 81/Menkes/SK/I/2004 Tentang Pedoman Penyusunan Perencanaan Sumber Daya Manusia Kesehatan Di Tingkat Propinsi. 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran. 17. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2010 Tentang Administrasi Prajurit Tentara Nasional Indonesia. 340/2010 Tentang Klasifikasi Rumah Sakit. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Republik Indonesia. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. Republik Indonesia. Republik Indonesia. Peraturan Menteri Pertahanan Nomor: Per/24/M/XII/2007 Tentang Postur Pertahanan Negara. Surat Keputusan Menteri Pertahanan RI Nomor : SKEP/89/89/XII/2007 Tentang Postur Kesehatan Pertahanan Negara tahun 2007-2017. 5 Tahun 2010 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014. 13. Peraturan Menteri Kesehatan No. 2. 15. 3. Republik Indonesia. 10. Republik Indonesia. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. Undang-Undang No. 16. Republik Indonesia. No. Peraturan Menteri Pertahanan Nomor: Per/22/M/XII/2007 Tentang Strategi Pertahanan Negara. Menteri Pertahanan Nomor 12 Tahun 2009 Tentang Ketentuan Tugas Belajar Perguruan Tinggi di Luar Lembaga Pendidikan Di luar Lembaga Pendidikan Departemen Pertahanan dan Tentara Nasional Indonesia Bagi Anggota Tentara Nasional Indonesia Dan Pegawai Negeri Sipil. 20. 375 Tahun 2009 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan Tahun 2005-2025. 4. 850/Menkes/SK/V/2000 Tentang Kebijakan Pengembangan Tenaga Kesehatan Tahun 2000-2010. Peraturan Menteri Pertahanan Nomor 16 tahun 2010 Tentang Organisasi Dan 14. 11. Peraturan Pemerintah RI No. 21. 32 Tahun 1996 Tentang Tenaga Kesehatan. Undang-Undang No. Undang-Undang No. Tata Kerja Kementerian Pertahanan RI. Peraturan Presiden Republik Indonesia. 5. 8. 19. Undang-Undang No. 17 Tahun 2007 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025. Surat Keputusan Menteri Pertahanan RI Nomor : SKEP/88/89/XII/2007 Tentang Sistem Kesehatan Pertahanan Negara. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 7.KEPUSTAKAAN 1. 18. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 Tentang PokokPokok Kepegawaian.

Julio. 2011. Rencana Aksi Program. Geneva. Badan Pusat Statistik. World Health Statistics. 2010. Geneva. World Health Organization. Geneva. Health Manpower Projections: the Indonesian Experiences. Strategies and Plans. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. et al. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Frenk. 24. Education of Health Professionals For The 21st Century: A Global Independent Commisions. Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan Tahun 2010-2014. Kementerian Kesehatan. Timothy Evans. 267 Tahun 2010 Tentang Penetapan Roadmap Reformasi Kesehatan Masyarakat. Kepustakaan dari Kemendiknas 31. 27. Bhutta. 161/2010 Tentang Registrasi Tenaga Kesehatan. Keputusan Menteri Kesehatan No. Linclon Chen. Working Together for Health.6 on Health Workforce Strengthening. Quarterly. Kepustakaan dari Kemenkokesra 29. United Nations. Resulution WHA 64. Population Fund. 2011.01/160/1/2010 Tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014. The World Health Report 2006. Resolution WHA 64. Harvey Fineberg.6 on Strengthening National Policy Dialogue to Build More Robust Health Policies . Jordan Cohen. 35. . The Lancet 376(9756): 1923-1858. Kepustakaan dari Polri 32. World Health Organization.22. Proyeksi Penduduk Indonesia 2000-2025. Nigel Crisp. Hapsara. 36. Jakarta 2010. 25. 26. Jakarta 2005. Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014. 2006. 28. Zulfiqar A. Revisi 22 November 2010. HK 03. 23. 34. Health Professionals for a New Century: Transforming Education to Strengthen Health System in an Interdependent World. Kementerian Kesehatan. Geneva. 33. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. Kepustakaan dari Kemendagri 30. 1984.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->