Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Pemantauan hemodinamik adalah suatu pengukuran terhadap sistem kardiovaskuler yang dapat dilakukan baik secara invasif atau noninvasive. Pemantauan tersebut merupakan suatu teknik pengkajian pada pasien kritis, mengetahui kondisi perkembangan pasien, serta untuk antisipasi kondisi pasien yang memburuk. Pemantauan hemodinamik juga dapat membantu mengevaluasi respon pasien terhadap terapi, menentukan diagnosa medis, memberikan informasi mengenai keadaan pembuluh darah, jumlah darah dalam tubuh, dan kemampuan jantung untuk memompa darah (Burchell, L. & Powers, A., 2011). Pengkajian secara noninvasif dapat dilakukan melalui pemeriksaan, salah satunya adalah pemeriksaan vena jugularis (jugular venous pressure). Pemantauan hemodinamik invasive dilakukan dengan tujuan untuk mengukur dan mengetahui gelombang tekanan dalam ruang-ruang jantung. Kelebihan teknik invasif yaitu dapat digunakan sebagai salah satu cara dalam pengambilan sampel darah, pemeriksaan laboratorium, pemberian obat-obatan/cairan dan pemasangan pacu jantung. Salah satu teknik pengukuran hemodinamik invasive yaitu Central Venous Pressure (CVP). CVP merupakan pengukuran langsung dari atrium kanan atau vena cava superior. CVP mencerminkan preload ventrikel kanan dan kapasitas vena sehingga dapat diketahui volume pembuluh darah atau cairan, ketidakseimbangan cairan, dan efektifitas jantung sebagai pompa (Wooods, 2010). Menurut Dellinger, et al. (2013) dalam Surviving Sepsis Campaign Guidelines (SSCG), pengukuran CVP telah menjadi standar untuk manajemen pasien dengan sepsis berat dan septik syok dan dijadikan sebagai indikator untuk terapi cairan. Ada berbagai cara untuk mengukur CVP, mulai dari yang konvensional dengan menentukan titik nol dan kemudian memperhatikan undulasi pada manometer dan nilai dibaca pada akhir ekspirasi atau yang biasa disebut dengan water monometer, atau dengan cara yang lebih canggih yaitu dengan menyambungkan CVC dengan monitor sehingga nilai CVP muncul di monitor yang biasa disebut dengan transduser, dan ada juga dengan cara membaca gelombang CVP yang muncul di monitor. Membaca gelombang CVP ini biasa

dilakukan oleh para dokter yang berpengalaman untuk menentukan nilai CVP (Burchell, L & Powers, A, 2011). Jain, et al. (2010) menyatakan bahwa cara pengukuran CVP yang berbedabeda menghasilkan nilai CVP yang berbeda sehingga manajemen terapi cairan yang diberikan juga berbeda. Hal ini tentu saja menjadi sangat berbahaya jika terapi yang diberikan tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh yang akhirnya dapat menyebabkan kematian. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk menelaah jurnal yang berjudul Variability in Central Venous Pressure Management and the Potential Impact on Fluid Management ini lebih jauh tentang perbedaan cara mengukur CVP dan dampaknya pada manajemen terapi cairan yang diberikan kepada pasien.

B. Tujuan Penulisan 1. 2. Untuk mengetahui cara-cara yang digunakan untuk mengukur CVP. Untuk mengetahui dampak pengukuran CVP terhadap manajemen terapi cairan yang diberikan. 3. Untuk melihat implikasi keperawatan dari jurnal tersebut pada peningkatan pemberian asuhan keperawatan di Indonesia.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Tekanan vena sentral (Central venous pressure, CVP) adalah tekanan intravaskular di dalam vena cava torakal. Tekanan vena sentral menggambarkan banyaknya darah yang kembali ke dalam jantung dan kemampuan jantung untuk memompa darah kedalam sistem arterial. Perkiraan yang baik dari tekanan atrium kanan, merupakan faktor yang menentukan dari volume akhir diastolik ventrikel kanan. Tekanan vena sentral menggambarkan keseimbangan antara volume intravaskular, venous capacitance, dan fungsi ventrikel kanan. Prosedur memasukkan kateter intravena yang fleksibel ke dalam vena sentral bertujuan untuk memberikan terapi melalui vena sentral dengan ujung dari kateter berada pada superior vena cava. Kateter ini disebut Central Venous Catheter (CVC) (Burchell, L. & Powers, A., 2011).

Dellinger, et al. (2013) dalam Surviving Sepsis Campaign Guidelines (SSCG) menyatakan bahwa pengukuran CVP telah menjadi standar untuk manajemen pasien dengan sepsis berat dan septik syok dan dijadikan sebagai indikator untuk terapi cairan. Nilai CVP pada pasien dengan sepsis berat atau

syok septic harus dipertahankan dalam rentang normal yaitu 8-12 mmHg dan 12-15 mmHg pada pasien dengan ventilator.

B. Penempatan CVC Penempatan kateter vena sentral bisa melalui: 1. 2. Vena jugularis interna Vena subklavia. Tempat yang paling umum digunakan untuk penempatan CVC 3. 4. Vena jugularis eksternal Vena femoralis.

C. Indikasi Pemasangan CVC Adapun indikasi dari pemasangan CVC antara lain: 1. Pemantauan tekanan vena sentral pada pasien akut. Hal ini memungkinkan pemberi perawatan untuk memiliki wawasan status keseimbangan cairan pasien. CVP tinggi akan menunjukkan overload cairan atau gagal jantung. CVP rendah akan menunjukkan tingkat dehidrasi atau kehilangan darah. Status cairan yang tepat hanya dapat dievaluasi dengan menghubungkan Hb, fungsi jantung, hasil lab, dan sejarah klinis pasien. 2. Jumlah total parenteral nutrition (TPN) Ketika pasien akut yang saluran pencernaannya tidak mampu menyerap nutrisi maka tim pengobatan dapat memutuskan untuk memberikan nutrisi yang disebut TPN. TPN dapat diberikan secara aman hanya melalui jalur CVP atau PICC. Umumnya TPN diberikan melalui CVC yang dimasukkan dalam vena subklavia atau jugularis. Pada bayi, vena umbilical digunakan paling sering. Dasar pemikiran untuk menggunakan vena dalam yang besar adalah kenyataan bahwa TPN menyebabkan flebitis pada vena perifer karena mengandung komponen kaustik banyak. Contohnya termasuk klorida, kalsium, dan potassium klorida. 3. Obat Obat-obat tertentu dapat diberikan secara aman hanya melalui saluran pusat. Oleh karena itu CVP mungkin dimasukkan untuk tujuan ini. Obat

yang kemungkinan akan menyebabkan flebitis mencakup agen kemoterapi yang digunakan dalam pengobatan dan pengelolaan kondisi keganasan. 4. Kurangnya akses perifer. Pada beberapa pasien akut, ketika tidak ada akses vena perifer, pemasangan CVC dapat dilakukan. Hal ini biasanya dilakukan untuk tujuan rehidrasi, administrasi pengobatan dan produk darah

D. Persiapan Untuk Pemasangan CVP 1. Persiapan pasien Memberikan penjelasan kepada klien dan keluarga tentang: Tujuan pemasangan Daerah pemasangan Prosedur yang akan dikerjakan

2. Persiapan alat Set CVC Spuit 2,5 cc Antiseptik Obat anaestesi lokal Sarung tangan steril Bengkok Cairan NaCl 0,9% (25 ml) Plester

3. Persiapan Alat Ukur Skala pengukur Selang penghubung (manometer line) Standar infus Three way stopcock Pipa U Set infuse

E. Langkah Pemasangan : Siapkan alat

Lakukan cuci tangan steril Gunakan sarung tangan steril Tentukan daerah yang akan dipasang ; vena yang biasa digunakan sebagai tempat pemasangan adalah vena subklavia atau internal jugular. Posisikan pasien trendelenberg, atur posisi kepala agar vena jugularis interna maupun vena subklavia lebih terlihat jelas, untuk mempermudah pemasangan. Lakukan desinfeksi pada daerah penusukan dengan cairan antiseptic Pasang duk lobang yang steril pada daerah pemasangan. Sebelum penusukan jarum / keteter, untuk mencegah terjadinya emboli udara, anjurkan pasien untuk bernafas dalam dan menahan nafas. Masukkan jarum / kateter secara gentle, ujung dari kateter harus tetap berada pada vena cava, jangan sampai masuk ke dalam jantung. Teknik pemasangan yang sering digunakan adalah teknik Seldinger, caranya adalah dengan menggunakan mandarin yang dimasukkan melalui jarum, jarum kemudian dilepaskan, dan kateter CVP dimasukkan melalui mandarin tersebut. Jika kateter sudah mencapai atrium kanan, mandarin ditarik, dan terakhir kateter disambungkan pada IV set yang telah disiapkan dan lakukan penjahitan daerah insersi Setelah selesai pemasangan sambungkan dengan selang yang

menghubungkan dengan IV set dan selang untuk mengukur CVP. Lakukan fiksasi / dressing pada daerah pemasangan , agar posisi kateter terjaga dengan baik. Rapikan peralatan dan cuci tangan kembali Catat laporan pemasangan, termasuk respon klien (tanda-tanda vital, kesadaran, dll), lokasi pemasangan, petugas yang memasang, dan hasil pengukuran CVP serta cairan yang digunakan. Setelah dipasang, sebaiknya dilakukan foto rontgent dada untuk memastikan posisi ujung kateter yang dimasukkan, serta memastikan tidak adanya hemothorax atau pneumothorax sebagai akibat dari pemasangan.

F. Cara Pengukuran Ada berbagai cara untuk mengukur CVP, mulai dari yang konvensional dengan menentukan titik nol dan kemudian memperhatikan undulasi pada manometer dan nilai dibaca pada akhir ekspirasi atau yang biasa disebut dengan water monometer, atau dengan cara yang lebih canggih yaitu dengan menyambungkan CVC dengan monitor sehingga nilai CVP muncul di layar monitor, dan ada juga dengan cara membaca gelombang CVP yang muncul di monitor. Membaca gelombang CVP ini biasa dilakukan oleh para dokter yang berpengalaman untuk menentukan nilai CVP (Burchell, L & Powers, A, 2011). Cara mengukur CVP dengan water monometer adalah sebagai berikut: Mensejajarkan letak jantung (atrium kanan) dengan skala pengukur Letak jantung dapat ditentukan dengan cara membuat garis pertemuan antara sela iga ke empat (ICS IV) dengan garis pertengahan axilla Menentukan nilai CVP, dengan memperhatikan undulasi pada manometer dan nilai dibaca pada akhir ekspirasi

Selain dengan menggunakan water monometer, CVP juga bisa diukur dengan menggunakan transduser. Transduser adalah alat yang mengubah satu bentuk energi ke dalam bentuk yang lain. Transduser dapat merasakan perubahan pada aliran, suhu, konsentrasi, tekanan, intensitas cahaya, dan variable-variabel fisiologis lainnya. Transduser yang paling umum digunakan adalah transduser eksternal, sekali pakai, mempunyai ukuran regangan dan tekanan. Sqwteaat tekanan diberikan pada diafragma dari transduser tipe ini, kawat-kawat sensitive yang dihubungkan pada permukaan bawah dari

diaragma ditekan, peningkatkan jumlah aliran listrik ke amplifier-monitor. Sistem amplifier-monitor kemudian mengubah sinyal listrik kecil yang yang diteruskan oleh transduser ke layar pada tingkat dapat dibaca. Ada beberapa tipe sistem amplifier-monitor yang digunakan tetapi semua mempunyai fungsi dasar yang sama. Alat ini terdiri dari tombol on-off, sebuah digital yang dapat dibaca dan oskiloskop untuk mendisplai tekanan, indicator untuk mendisplai sistolik, diastolic, atau nilai tekanan rata-rata, sistem alarm audible dengan batas tinggi dan rendah yang dapat diatur, pengontrol ukuran atau pencapaian bentuk gelombang, dan pengontrol pengaturan dan kalibrasi. Untuk memperoleh pengukuran yang akurat yakinkan bahwa posisi pasien datar, dengan titik nol manometer pada setinggi area interkostal keempat. Ketinggian ini tepat pada garis mid aksila klien dan dapat ditentukan dengan pengukuran sekitar 5 cm di bawah sternum. Titik ini dikenal sebagai aksis flebostatik. Konsistensi penting, dan semua pembacaan harus dilakukan pada pasien dengan posisi yang sama dan titik nol dihitung dengan cara yang sama. Jika penyimpangan dari prosedur yang rutin harus dilakukan, seperti bila pasien tidak dapat mentolerir posisi datar dan pembacaan harus dilakukan pasien dengan posisi semi fowler, ini bermanfaat untuk mencatat pada lembar atau rencana perawatan pasien untuk memberikan konsistensi pada pembacaan selanjutnya.

Gelombang CVP normal yang tertangkap pada monitor merupakan refleksi dari setiap peristiwa kontraksi jantung. Kateter CVP menunjukkan variasi tekanan yang terjadi selama siklus jantung dan ditransmisi sebagai

bentuk gelombang yang karakteristik. Pada gelombang CVP terdapat tiga gelombang positif (a, c, dan v) yang berkaitan dengan tiga peristiwa dalam siklus mekanis yang meningkatkan tekanan atrium dan dua gelombang (x dan y) yang dihubungkan dengan berbagai fase yang berbeda dari siklus jantung dan sesuai dengan gambaran EKG normal. Gelombang a : diakibatkan oleh peningkatan tekanan atrium pada saat kontraksi atrium kanan. Dikorelasikan dengan gelombang P pada EKG Gelombang c : timbul akibat penonjolan katup atrioventrikuler ke dalam atrium pada awal kontraksi ventrikel iso volumetrik. Dikorelasikan dengan akhir gelombang QRS segmen pada EKG Gelombang x descent : gelombang ini mungkin disebabkan gerakan ke bawah ventrikel selama kontraksi sistolik. Terjadi sebelum timbulnya gelombang T pada EKG Gelombang v : gelombang v timbul akibat pengisisan atrium selama injeksi ventrikel (ingat bahwa selama fase ini katup AV normal tetap tertutup) digambarkan pada akhir gelombang T pada EKG Gelombang y descendent : diakibatkan oleh terbukanya tricuspid valve saat diastol disertai aliran darah masuk ke ventrikel kanan. Terjadi sebelum gelombang P pada EKG.

Ada dua cara untuk membaca gelombang CVP, yaitu : 1. Tentukan gelombang A rata-rata dengan cara cara sebagai berikut :

Tentukan nilai tertinggi dari gelombang A Kemuadian tentukan nilai terendah dari gelombang A

Tambahkan nilai tertinggi dengan nilai terendah Bagi hasilnya dengan 2 Hasilnya adalah nilai CVP Gelombang A pada CVP muncul setelah gelombang P pada EKG

berakhir dan menggambarkan kontraksi atrium. Nilai yang tinggi dari gelombang A merupakan tekanan atrium saat kontraksi maksimal. Selama gelombang A muncul, tekanan atrium lebih besar dibandingkan dengan tekanan diastolic ventrikel sehingga katup trikuspid terbuka dan terjadi pengisian ventrikel.

2.

Tentukan z-point. Tentukan z-point yang muncul di pertengahan sampai akhir kompleks QRS pada EKG Baca z-point Z-point muncul sebelum penutupan katup trikuspid. Oleh karena itu, z-point merupakan indikator end diastolic pressure ventrikel kanan. Zpoint sangat berguna saat gelombang A tidak muncul, misalnya pada atrial fibrilasi.

G. Kontraindikasi Pemasangan CVC Nyeri dan inflamasi pada area penusukan Bekuan darah karena tertekuknya kateter Perdarahan: ekimosis atau perdarahan besar bila jarum lepas Tromboplebitis Microshock

10

Disritmia jantung Pembedahan leher Insersi kawat pacemaker

H. Komplikasi Pemasangan CVC dapat mengakibatkan timbulnya beberapa hal antara lain : Infeksi lokal Disritmia Laserasi pada pembuluh darah Perforasi ventrikel kanan Tromboflebitis Hematoma pada daerah pemasangan CVC Pneumothorax Malpositioned catheter Emboli udara Untuk mencegah terjadinya infeksi, Centre for Disease Control and Prevention (CDC, 2011) memperbaharui panduan untuk pencegahan infeksi yang disebabkan karena pemasangan kateter intravaskular. CDC membaginya dalam dua kategori yaitu kategori IA yang sangat direkomendasikan untuk dilakukan dan didukung oleh evidence based yang kuat dan kategori IB yang direkomendasikan untuk dilakukan dan didukung oleh beberapa penelitian dan teori yang kuat tetapi evidence based-nya kurang. Menurut CDC (2011), yang termasuk dalam kategori IA adalah CVC harusnya tidak dipasang di daerah femoral karena kemungkinan tinggi terjadinya komplikasi, infeksi, dan trombosis iliofemoral. Jika pemasangan CVC di daerah femur dilakukan saat keadaan darurat, ada baiknya untuk segera mengganti lokasi pemasangan ke tempat yang lain. Selain itu, CDC mengharuskan pemakaian sarung tangan pada saat pemasangan CVC, dan segera melepas CVC jika tidak lagi dibutuhkan. Kategori IB menurut CDC (2011) adalah mempertahankan kondisi steril saat pemasangan dan perawatan CVC dan barrier precautions yang maksimal seperti penggunaan cap, masker, gaun steril, dan sarung tangan steril. Mencuci

11

tangan dengan sabun biasa atau hand rubs yang berbasis alkohol sebelum dan setelah palpasi lokasi pemasangan CVC, juga pada saat sebelum dan setelah memasang, dan saat mengganti, memperbaiki, atau membersihkan lokasi pemasangan dan kateternya. I. Peran perawat Perawat mempunyai peranan yang sangat penting pada klien yang terpasang CVC. Peranan perawat dimulai dari sebelum, saat pemasangan dan setelah CVC terpasang pada klien. 1. Sebelum pemasangan a. b. Mempersiapkan alat-alat pemasangan, penusukan dan pemantauan Mempersiapkan pasien yaitu memberikan penjelasan mengenai prosedur dan tujuan pemantauan serta mengatur posisi pasien. 2. Saat pemasangan a. b. Memelihara alat-alat yang digunakan selalu dalam keadaan steril Memantau tanda dan gejala komplikasi yang dapat terjadi pada saat pemasangan c. Membuat klien merasa nyaman dan aman selama prosedur dilakukan. 3. Setelah pemasangan a. b. c. d. Mengkorelasikan nilai CVP dengan keadaan klinis klien Mencatat nilai tekanan dan kecenderungan perubahan hemodinamik Memantau perubahan hemodinamik setelah pemberian obat-obatan Mencegah terjadinya komplikasi dan mengetahui gejala dan tanda komplikasi e. f. Memberikan rasa nyaman dan aman pada klien Memastikan letak alat-alat yang terpasang pada posisi yang tepat dengan memantau gelombang pada monitor dan monitor hasil foto toraks g. Mengevaluasi gelombang, menginterprestasi data, dan

mengkonsulkan pada dokter

12

BAB III PEMBAHASAN

Penelitian ini dilakukan di RS Universitas Wake Forest, North Carolina pada tahun 2006 dan merupakan studi observasi. Pada studi observasi, peneliti hanya mengamati perjalanan alamiah peristiwa, membuat catatan siapa yang terpapar dan tidak terpapar faktor peristiwa (Notoadmodjo & Soekidjo, 2010). Populasi dalam penelitian ini berjumlah 100 orang (antara bulan Juni 2006 dan Agustus 2006) di ruang ICU RS Universitas Wake Forest, North Carolina dan terpasang CVC di vena subclavia dan jugularis interna dengan usia 18 tahun ke atas. Kriteria eksklusi penelitian ini jika nilai CVP pasien diukur melalui kateter arteri pulmonal. Berikut ini merupakan data demografic sampel penelitian ini.

Dari tabel 1 di atas, dapat diketahui bahwa usia rata-rata sampel pada penelitian ini adalah antara usia 23-82 tahun dengan 50% diantaranya adalah lelaki. Pasien medikal 49% dan bedah 51% dengan 69% diantaranya terpasang ventilator mekanik. 18% dari sampel penelitian merupakan pasien yang hasil pengukuran CVP-nya harus dilaporkan kepada tim pengobatan untuk tujuan terapi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan nilai CVP yang diperoleh dari monitor dan nilai yang diperoleh dari dokter dengan membaca gelombang CVP yang nilai telah CVP dicetak. yang Penelitian ini dilakukan monitor dengan

membandingkan

diperoleh

dari

kemudian

didokumentasikan ke flow sheet dengan nilai CVP yang diperoleh dari hasil pembacaan gelombang CVP oleh empat orang dokter yang sedang menjalani residensi di bagian penyakit dalam dan anastesi. Rekaman gelombang CVP yang

13

diberikan kepada dokter terdiri dari gelombang CVP selama tiga kali siklus pernapasan. Setelah selesai membaca gelombang, para dokter ini kemudian diminta untuk menjelaskan cara mereka untuk menginterpretasikan gelombang CVP tersebut. Hasilnya, keempat dokter tersebut menggunakan metode yang sama dalam menginterpretasikan gelombang CVP tersebut. Nilai CVP-P dan CVP-M kemudian dibagi dalam tiga kelompok berdasarkan resusitasi cairan dari perspektif klinik yaitu kurang dari 8 mmHg, 8-10 mmHg, dan lebih dari 12 mmHg. Dari hasil analisa data menggunakan SPSS 13.0, dengan menggunakan analisis Cohen, diperoleh kesamaan antara CVP-P dan CVP-M paling tinggi pada kelompok kurang dari 8 mmHg (93%), kemudian pada kelompok lebih dari 12 mmHg (88%), dan yang paling rendah pada kelompok 8-12 mmHg (65.5%) Hal ini ditunjukkan dalam tabel berikut : Table 2. Percentage agreement for calssification of volume resuscitation (CVP) between physician and bedside monitor

Hasil pembacaan gelombang CVP tersebut kemudian diinterpretasikan sesuai dengan panduan untuk resusitasi cairan berdasarkan Sepsis Campaign Guidelines (SSCG) yang memnunujukkan apakah resusitasi cairan perlu ditingkatkan, dipertahankan atau dikurangi, maka diperoleh hasil sebagai berikut : Table 3. Clinical implications of CVP measurements

14

Kolom kedua sampai empat menunjukkan kriteria standar yang akan digunakan untuk menentukan resusitasi cairan berdasarkan nilai CVP hasil pengukuran dokter. Sedangkan kolom lima sampai tujuh menunjukkan perubahan strategi resusitasi berdasarkan nilai CVP dari monitor. Keterbatasan penelitian ini adalah bahwa peneliti tidak menentukan salah satu dari kedua metode pengukuran CVP yang digunakan dalam penelitian ini sebagai kriteria standar untuk mengukur nilai CVP sehingga resusitasi cairan tidak bisa dilakukan berdasarkan hasil penelitian ini. Empat dokter yang membaca gelombang CVP ada dalam institusi yang sama yang memungkinkan adanya bias yang sama pada metode interpretasi dan mengurangi variabilitas antar dokter. Selain itu, peneliti tidak menguji kemampuan perawat dalam cara

pendokumentasian nilai CVP-M ke flow sheet. Tujuannya adalah untuk melihat kemampuan pengambilan keputusan dokter atau perawat secara cepat dalam kondisi tertentu. Berdasarkan Surviving Sepsis Campaign Guidelines (SSCG), pengukuran CVP telah menjadi standar untuk manajemen pasien dengan sepsis berat dan septik syok dan dijadikan sebagai indikator untuk terapi cairan (Dellinger, et al., 2008). Akan tetapi, pada penelitian ini tidak banyak sampel penelitian yang merupakan pasien dengan sepsis saat pengukuran CVP dilakukan. Seandainya semua sampel penelitian adalah pasien sepsis, perbedaan antara nilai CVP-P dan nilai CVP-M akan berkurang. Terlepas dari semua keterbatasan yang dimiliki oleh penelitian ini, hasil penelitian Jain, et al. (2010) ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nilai CVP yang diperoleh dari metode pengukuran CVP dengan menggunakan monitor dan pengukuran nilai CVP dengan menggunakan gelombang CVP. Nilai CVP yang berbeda tentu saja memberi dampak pada strategi resusitasi cairan yang diberikan. Berdasarkan Surviving Sepsis Campaign Guidelines (SSCG), nilai CVP normal adalah 8-12 mmHg. Jika kurang dari 8 mmHg mengindikasikan hipovolemia dan jika lebih dari 12 mmHg mengindikasikan kelebihan volume cairan dalam tubuh atau hipervolemia. Pada pasien dengan sepsis berat dan septik syok, nilai CVP harus dipertahankan pada nilai normal yaitu 8-12 mmHg (Dellinger, et al., 2013). Penentuan strategi resusitasi cairan seperti penambahan atau pembatasan cairan harus berdasarkan nilai CVP yang diperoleh. Hal ini mengindikasikan bahwa

15

pengukuran nilai CVP harus dilakukan dengan akurat untuk memperoleh hasil yang akurat pula. Hasil pengukuran nilai CVP yang tidak akurat akan berdampak pada kesalahan pemberian terapi yang bisa berdampak pada kematian (Marik, et al. 2008) Murakawa & Kobayashi dalam Marik et al. (2011) menyatakan bahwa hipovolemia yang tidak terkoreksi meningkatkan hipoperfusi organ dan terjadinya iskemia. Hipervolemia yang ditunjukkan dengan nilai CVP yang tinggi pada pasien dengan penurunan fungsi jantung dan disfungsi renal juga meningkatkan risiko kematian (Damman, et al., 2009 ; Uthof, et al., 2010). Pemberian resusitasi cairan yang tepat dan sesegera mungkin menurunkan kemungkinan kegagalan organ dan memberikan hasil yang memuaskan pada proses penyembuhan pasien dengan sepsis berat dan syok septik (Rivers, et al., 2001).

16

BAB IV IMPLIKASI KEPERAWATAN

Implikasi keperawatan dari jurnal yang berjudul Variability in Central Venous Pressure Management and the Potential Impact on Fluid Management adalah sebagai berikut : 1. Pemberian terapi cairan kepada pasien sepsis harus berlandaskan pada nilai CVP yang diperoleh. 2. Dari penelitian ini, diketahui bahwa selain dengan cara konvensional menggunakan water monometer, nilai CVP juga bisa diketahui melalui monitor dan pembacaan gelombang CVP 3. Diperlukan adanya kriteria standar untuk metode pengukuran CVP. Hal ini karena perbedaan metode pengukuran CVP yang digunakan akan berdampak pada nilai CVP yang diperoleh. 4. Akurasi dari pengukuran nilai CVP harus diperhatikan agar hasil yang diperoleh juga akurat. Hal ini disebabkan karena pemberian terapi cairan akan sangat bergantung pada hasil CVP yang diperoleh. Kesalahan nilai CVP yang diperoleh akan menyebabkan strategi terapi cairan yang diberikan juga salah hingga berdampak pada kematian.

17

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan uraian dari jurnal yang berjudul Variability in Central Venous Pressure Management and the Potential Impact on Fluid Management, penulis menarik kesimpulan bahwa ada berbagai metode pengukuran CVP yaitu dengan menggunakan water monometer, monitor, dan pembacaan gelombang CVP. Perbedaan metode pengukuran CVP yang digunakan akan berdampak pada nilai CVP yang diperoleh. Oleh karena itu, diperlukan kriteria standar metode yang digunakan untuk mengukur CVP sehingga strategi terapi cairan yang diberikan bisa cepat dan tepat.

B. Saran Berdasarkan uraian kesimpulan di atas, penulis memberi saran sebagai berikut : 1. Agar mahasiswa keperawatan dan perawat di Intensive Care Unit (ICU) secara khusus diajarkan semua metode pengukuran CVP, termasuk membaca gelombang CVP walaupun alat untuk merekam gelombang CVP belum umum digunakan di RS di Indonesia, khususnya di RS Universitas Hasanuddin 2. Perawat ICU memperhatikan rekomendasi CDC dalam tahap persiapan, pemasangan, dan perawatan CVC untuk mencegah terjadinya infeksi akibat pemasangan kateter intravaskular. 3. Penulis menyarankan agar dilakukan penelitian tentang pengukuran CVP menggunakan water monometer dan keakuratannya dalam menentukan nilai CVP.

18

DAFTAR PUSTAKA Burchell, L. P., Powers, A. K. (2011). Focus on central venous pressure monitoring in acute care setting. Journal of Nursing2011, 39-43 Damman, K., Deursen, V. M., Navis, G., Voors, A. A., Valduisen D. J., Hillege, H. L. (2009). Increased central venous pressure is associated with impaired renal function and mortality in a broad spectrum of patients with cardiovascular disease. Journal of the American College of Cardiology, 53(7), 582-588 Dellinger, R. P., Levy, M. M., Rhodes, A., Annane, D. (2013). Sepsis campaign : International guidelines for management of severe sepsis and septic shock: 2012. Critical Care Medicine Journal, 41(2), 580-637 Jain, R. K., Antonio, B. L., Bowton, D. L., Houle, T. T., MacGregor, D. A. (2010). Variability in central venous pressure measurements and the potentiaal impact on fluid management. SHOCK, 33(3), 253-257 Marik, E. Paul, Monnet, X., Teboul, J. (2011). Hemodynamic parameters to guide fluid therapy. Annals of Intensive Care, 1(1), 1-9 Notoadmojo, Soekidjo. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta Rivers, M., Nguyen, B., Havstad, S., Ressler, J., ...., Tomlanovich, M. (2001). Early goal-directed therapy in the treatment of severe sepsis and septic shock. The New England Journal of Medicine, 345(19), 1368-1377 Uthoff, H., Breidthard, T., Klima, T., Aschwanden, M., Arenja, N., ...., Mueller, C., (2011). Central venous pressure and impaired renal function in patients with acute heart failure. European Journal of Heart Failure, 13, 432-439 Woods, S. L., Froelicher, E. S. S., Motzer, S. U., Bridges, E. J. (2010). Cardiac Nursing (6th ed.). Philadelphia, PA : Wolters Kluwer Health/Lippincott Williams & Wilkins

19